Terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Thalib

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

pisau darah

Saat Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma pada tahun 60 H meninggal, anaknya yang bernama Yazid dibai’at sebagai khalifah. Adapun Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma dan Abdullah bin Zubair termasuk yang enggan berbai’at kepada Yazid. Mereka berdua berangkat menuju Makkah dan menetap di sana. Kaum muslimin banyak yang mendatangi Husain radhiallahu ‘anhu untuk mendengar ilmu dan wejangan dari beliau. Adapun Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu menetap di tempat ibadahnya di sisi Ka’bah.

Tidak berapa lama kemudian, berdatanganlah surat-surat yang berasal dari penduduk Kufah yang menghendaki kedatangan Husain radhiallahu ‘anhu ke negeri mereka agar mereka segera membaiatnya sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah.

Yang pertama kali mendatangi Husain radhiallahu ‘anhu adalah Abdullah bin Saba’, al-Hamdani, dan Abdullah bin Wal. Mereka membawa surat yang berisi ucapan selamat atas kematian Muawiyah radhiallahu ‘anhu. Setelah itu, disusul oleh ratusan surat yang meminta Husain radhiallahu ‘anhu untuk segera datang ke Kufah.

Akhirnya Husain radhiallahu ‘anhu mengutus anak pamannya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib ke Irak untuk meneliti duduk permasalahan sebenarnya dan kesepakatan mereka. Apabila hal ini sesuatu yang jelas dan mesti, Husain akan berangkat bersama keluarga dan kerabatnya.

Tatkala Muslim bin Aqil tiba di Kufah, beliau singgah di rumah Muslim bin Ausajah al-Asadi. Ada pula yang berkata bahwa beliau singgah di rumah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Wallahu a’lam.

Penduduk Kufah berbondong-bondong mendatangi Muslim untuk membaiatnya atas nama kepemimpinan Husain radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Akhirnya, Muslim mengirim surat kepada Husain radhiallahu ‘anhu agar segera datang ke Kufah karena pembaiatan telah siap. Husain radhiallahu ‘anhu bersiap berangkat dari Makkah menuju Kufah.

Berita kedatangan Husain radhiallahu ‘anhu kian tersiar dan sampai kepada an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma yang ketika itu menjadi Gubernur Kufah bagi pemerintahan Yazid. Beliau seakan-akan tidak peduli dengan semakin gencarnya isu pembaiatan terhadap Husain radhiallahu ‘anhu.

Berita ketidakpedulian Nu’man radhiallahu ‘anhuma sampai kepada Yazid. Yazid melengserkan Nu’man radhiallahu ‘anhuma dari kedudukannya dan memerintah Ubaidullah bin Ziyad untuk menguasai Kufah dan Basrah sekaligus. Yazid berpesan kepada Ibnu Ziyad, “Jika engkau datang ke Kufah, carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau mampu membunuhnya, bunuhlah.”

Ibnu Ziyad berangkat dari Basrah menuju Kufah. Tatkala memasuki Kufah, ia menutup wajahnya dengan sorban hitam. Setiap kali dia melewati sekumpulan manusia, ia berkata, “Assalamu’alaikum.”

Mereka menjawab, “Wa‘alaikassalam, selamat datang wahai anak Rasulullah.”

Mereka menyangka bahwa dia adalah Husain radhiallahu ‘anhu, karena memang telah menunggu kedatangannya sampai akhirnya banyak penduduk mengerumuninya.

Muslim bin Amr berkata, “Mundurlah kalian, ini adalah Gubernur Ubaidullah bin Ziyad.”

Tatkala mereka mengetahui bahwa itu bukan Husain, mereka bersedih. Ubaidullah akhirnya yakin bahwa hal ini adalah kesungguhan.

Dia kemudian memasuki istana Gubernur Kufah dan mengutus Ma’qil, maula Ubaidullah bin Ziyad, untuk meneliti keadaan dan melacak siapa dalang utama yang mengatur pembaiatan terhadap Husain radhiallahu ‘anhu.

Ma’qil berangkat dengan membawa uang 3.000 dirham sambil menyamar sebagai orang yang berasal dari Hims yang datang untuk membaiat Husain radhiallahu ‘anhu. Dia terus berlemah lembut hingga ditunjukkan kepadanya tempat Muslim bin Aqil dibaiat; yaitu rumah milik Hani bin Urwah. Akhirnya, dia mengetahui bahwa Muslim bin Aqil merupakan otaknya. Dia pun kembali dan mengabarkan hal ini kepada Ubaidullah.

Setelah Muslim bin Aqil merasa bahwa segala sesuatu telah siap, dia mengirim berita kepada Husain radhiallahu ‘anhu untuk segera datang ke Kufah. Husain akhirnya berangkat menuju Kufah, sementara Ubaidullah mengetahui apa yang dilakukan oleh Muslim bin Aqil. Keberangkatan Husain radhiallahu ‘anhu bertepatan pada hari tarwiyah.

Tatkala Husain radhiallahu ‘anhu hendak berangkat, para sahabat Rasulullah g yang masih hidup ketika itu berusaha mencegah keberangkatan beliau.

Di antara yang berusaha mencegahnya adalah Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Ketika itu Ibnu ‘Umar sedang berada di Makkah. Tatkala mendengar Husain radhiallahu ‘anhu menuju Irak, ia menyusulnya dalam perjalanan selama 3 malam.

Setelah bertemu Husain, Ibnu ‘Umar bertanya, “Hendak kemana engkau?”

Husain menjawab, “Menuju Irak.” Sambil memperlihatkan surat-surat yang dikirim dari Irak kepadanya, “Ini surat-surat dan bai’at mereka.”

Ibnu Umar berkata, “Jangan engkau datangi mereka.”

Husain bersikeras berangkat sehingga Ibnu ‘Umar berpesan, “Aku memberitakan kepadamu satu hadits, bahwa Jibril q mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memberi pilihan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam antara dunia dan akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Sesungguhnya engkau adalah bagian dari diri beliau. Demi Allah, jangan sekali-kali ada di antara kalian yang memilih dunia. Tidaklah Allah ‘azza wa jalla palingkan kalian darinya kecuali kepada sesuatu yang jauh lebih baik.”

Namun, Husain enggan untuk kembali. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma menangis dan berkata, “Aku titipkan dirimu kepada Allah ‘azza wa jalla agar tidak menjadi orang yang terbunuh.”

Selain Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, yang berusaha mencegah beliau adalah Abdullah bin ‘Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, dan Abdullah bin Zubair g.

Di Kufah, Ubaidullah yang telah mengetahui bahwa Muslim bin Aqil bersembunyi di balik Hani bin Urwah, memanggil Hani ke istananya. Ubaidullah bertanya, “Di manakah Muslim bin Aqil berada?”

Hani menjawab, “Saya tidak tahu.”

Ubaidullah bin Ziyad memanggil Ma’qil yang pernah menyamar menjadi seorang dari Hims untuk membaiat Husain radhiallahu ‘anhu. Ubaidullah bertanya, “Apakah engkau mengenal orang ini?”

Hani menjawab, “Ya.”

Hani pun kebingungan. Akhirnya ia mengetahui bahwa hal ini ternyata makar dari Ubaidullah bin Ziyad.

Ubaidullah bertanya, “Di mana Muslim bin Aqil?”

Hani menjawab, “Demi Allah, seandainya dia berada di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya.”

Ubaidullah memukul wajah Hani dengan tongkat hingga melukai bagian keningnya dan mematahkan hidungnya. Dia lalu memerintahkan agar Hani dipenjara.

Muslim bin Aqil mendengar berita Hani ditahan. Ia mengerahkan para pendukungnya sejumlah 4.000 orang penduduk Kufah. Di antara mereka ialah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi yang memegang bendera hijau, dan Abdullah bin Harits bin Naufal yang memegang bendera merah. Keduanya diatur menjadi pasukan sayap kanan dan kiri.

Mendengar Muslim bin Aqil datang, Ubaidullah dan yang bersamanya segera memasuki istana dan menutup gerbangnya. Sebagian pemimpin kabilah yang berada di pihak Ubaidullah menasihati kaumnya agar meninggalkan Muslim bin Aqil. Sebagian lagi diperintahkan oleh Ubaidullah untuk mengelilingi Kufah untuk menghalangi bantuan kepada pasukan Muslim bin Aqil. Mereka pun melakukannya.

Sampai-sampai, seorang wanita berkata kepada anak dan saudaranya, “Kembalilah, yang lain telah mencukupimu.”

Seorang lelaki berkata, kepada anak dan saudaranya, “Sepertinya besok pasukan dari negeri Syam akan tiba. Apa yang dapat engkau perbuat menghadapi mereka?”

Akhirnya mereka yang berkumpul bersama Muslim meninggalkannya satu per satu. Belum tiba sore hari, jumlah pasukan Muslim tersisa 500 orang, lalu menjadi 300 orang, kemudian menjadi 30 orang.

Beliau shalat Maghrib bersama jamaahnya yang tersisa 10 orang. Setelah selesai shalat, Muslim pun tinggal sendirian, beliau bingung hendak pergi ke mana.

Ia pun mengetuk salah satu rumah, keluarlah seorang wanita. Muslim berkata, “Berilah aku air.” Wanita itu memberikan air kepadanya. Muslim menceritakan tentang jati dirinya, “Penduduk Kufah telah berdusta dan menipuku,” ujarnya.

Wanita itu memasukkan Muslim ke dalam rumah yang berdampingan dengan rumahnya. Anak wanita tersebut, Bilal bin Asid, mengetahui keberadaan Muslim. Ia segera memberitakan hal ini kepada Ubaidullah bin Ziyad.

Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy’ats memberitakan kepada ayahnya, Muhammad bin Asy’ats yang sedang berada di sisi Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad mengutus 70 orang tentara berkuda untuk mengepung rumah tempat Muslim berdiam. Muslim sempat melakukan perlawanan, meski akhirnya menyerahkan diri dan dibawa ke istana Ibnu Ziyad.

Ibnu Ziyad berkata kepada Muslim, “Aku akan membunuhmu.”

Muslim berkata, “Beri aku kesempatan untuk memberi wasiat.”

Ibnu Ziyad berkata, “Silakan beri wasiat.”

Muslim melihat di sekelilingnya lalu menatap Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Muslim berkata, “Engkau orang yang paling dekat hubungan kerabatnya denganku. Kemarilah, aku ingin memberi wasiat kepadamu.”

Muslim berpesan kepadanya agar menyampaikan kepada Husain radhiallahu ‘anhu, “Kembalilah engkau bersama keluargamu. Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya mereka telah berdusta kepadamu dan kepadaku. Dan pendusta tidak pantas memiliki pendapat.”

Setelah itu, dipenggallah kepala Muslim radhiallahu ‘anhu oleh Bukair bin Humran. Ini terjadi pada hari ‘Arafah bulan Dzulhijjah. Sementara itu, Husain telah berangkat dari Makkah pada hari tarwiyah.

Setiba Husain radhiallahu ‘anhu di Qadisiah, beliau mendengar berita terbunuhnya Muslim bin Aqil melalui utusan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Husain radhiallahu ‘anhu ingin kembali dan berdiskusi dengan anak-anak Muslim bin Aqil. Anak-anaknya menjawab, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan kembali hingga kami membalas kematian ayah kami.”

Akhirnya, Husain radhiallahu ‘anhu mengikuti kemauan mereka.

Setelah Ubaidullah bin Ziyad mengetahui bahwa Husain tetap berangkat menuju Irak, ia memerintahkan al-Hur bin Yazid at-Tamimi keluar membawa 1.000 tentara sebagai pasukan pembuka yang akan menemui Husain radhiallahu ‘anhu di tengah perjalanan.

Al-Hur menemui Husain di Qadisiah dan bertanya, “Hendak kemana wahai anak dari anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Beliau menjawab, “Menuju Irak.”

Al-Hur memerintahkan Husain untuk kembali atau menuju Syam dan tidak memasuki Kufah. Namun, Husain tidak mengindahkannya.

Tatkala Husain radhiallahu ‘anhu tiba di Karbala, beliau bertanya, “Tempat apakah ini?”

Dijawab, “Karbala.”

Husain berkata, “Karbun wa bala (kesulitan dan bencana).”

Setelah itu, tibalah pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dengan 4.000 tentara yang berusaha membujuk Husain radhiallahu ‘anhu agar mendatangi Irak untuk bertemu dengan Ubaidullah bin Ziyad. Tatkala Husain melihat bahwa urusannya semakin genting, Husain berkata kepada Umar bin Sa’ad, “Aku memberimu tiga pilihan, silahkan engkau pilih. (1) Engkau membiarkan aku kembali, (2) Aku pergi ke salah satu tempat berjihad kaum muslimin, atau (3) Aku mendatangi Yazid agar aku dapat meletakkan tanganku di bawah tangannya di Syam.”

Umar menjawab, “Ya. Silakan engkau kirim utusan kepada Yazid, dan aku mengirim utusan kepada Ubaidullah untuk melihat keputusannya.”

Namun, Husain tidak mengirim utusan kepada Yazid, sementara Umar telah mengirim utusan kepada Ubaidullah. Setibanya utusan Umar di hadapan Ubaidullah dan menceritakan apa yang dikatakan Husain radhiallahu ‘anhu, pada awalnya Ubaidullah menyetujui pilihan mana saja. Namun, di sisi Ubaidullah ada seorang yang bernama Syamir bin Dzil Jausyan, termasuk orang yang sangat dekat dengan Ubaidullah. Ia berkata, “Tidak demi Allah, hingga dia tunduk kepada hukum yang engkau tetapkan.”

Ubaidullah akhirnya menyetujui usulan Syamir dan berkata, “Ya, hingga ia tunduk kepada hukumku.”

Ubaidullah kemudian mengutus Syamir dan mengambil alih kepemimpinan Umar bin Sa’ad. Setelah Husain radhiallahu ‘anhu mengetahui berita bahwa dia harus tunduk kepada hukum Ubaidullah, beliau berkata, “Tidak demi Allah, Aku tidak akan tunduk kepada hukum Ubaidullah sama sekali.”

Jumlah pasukan berkuda yang bersama Husain radhiallahu ‘anhu ada 70 orang, sementara pasukan yang berasal dari Kufah berjumlah 5.000 orang. Pada hari Jumat, pertumpahan darah tak terelakkan tatkala Husain radhiallahu ‘anhu enggan menjadi tahanan bagi Ubaidullah bin Ziyad.

Dua kekuatan yang tidak seimbang. Satu-satunya keinginan pasukan Husain radhiallahu ‘anhu adalah meninggal sebagai pembela Husain radhiallahu ‘anhu. Satu per satu mereka gugur hingga tidak tinggal seorang pun selain Husain radhiallahu ‘anhu dan anaknya, Ali bin Husain radhiallahu ‘anhuma, yang ketika itu dalam keadaan sakit.

Sepanjang hari Husain radhiallahu ‘anhu sendirian, tidak seorang pun berani mendekatinya. Mereka tidak ingin menjadi pembunuh Husain radhiallahu ‘anhu. Hingga datanglah Syamir bin Dzil Jausyan yang dengan lantang, “Celaka kalian, kepung dia dan bunuhlah dia.”

Mereka mengepung Husain hingga beliau berkeliling dengan pedangnya sambil membunuh siapa saja yang mendekatinya. Namun, jumlah yang banyak tetap saja mengalahkan sikap kepahlawanan beliau.

Syamir pun berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Majulah kalian.”

Mereka pun merangsek maju mendekati Husain. Syamir termasuk yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu dengan tangannya. Sinan bin Anas an-Nakha’i adalah orang yang memenggal kepala beliau.

 

Jadi, Siapa yang Membunuh Husain?

Telah sepakat referensi Syiah dan Ahlus Sunnah bahwa yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu adalah kaum Syiah sendiri.

Dalam kitab-kitab Syiah, diriwayatkan bahwa Ali bin Husain yang dikenal dengan sebutan “Zainul Abidin”, berkata mencela kaum Syiah yang telah menipu dan membunuh ayahnya, Husain radhiallahu ‘anhu, “Wahai sekalian manusia, aku menuntut kalian karena Allah. Apakah kalian mengetahui bahwa kalian menulis surat kepada ayahku dan kalian telah menipunya? Kalian berikan kepadanya janji dan bai’at, lantas kalian membunuh dan menelantarkannya. Sungguh, celaka apa yang dilakukan oleh diri kalian dan buruknya sikap kalian. Dengan pandangan apa kalian melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berkata kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh keluargaku. Kalian telah merusak kehormatanku. Kalian bukanlah dari umatku’.”

Terangkatlah suara tangisan para wanita tangisan dari setiap sudut diselingi ucapan mereka kepada yang lain, “Kalian telah binasa dengan apa yang kalian ketahui.”

Ali bin Husain lalu berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menerima nasihatku, dan memelihara wasiatku tentang Allah, Rasul-Nya, serta keluargaku. Sesungguhnya pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada suri teladan yang baik bagi kita.” (ath-Thabrasi dalam kitab al-Ihtijaj, 2/32; Ibnu Thawus dalam al-Malhuf, hlm. 92)

Ketika al-Imam Zainul Abidin melihat penduduk Kufah meratap dan menangis, beliau menghardik mereka sambil berkata, “Kalian meratap dan menangis karena kami?! Siapa yang membunuh kami?!” (al-Malhuf, hlm. 357, Maqtal al-Husain, Murtadha ‘Iyadh, hlm. 83)

Ummu Kultsum bintu Ali radhiallahu ‘anhuma berkata, “Wahai penduduk Kufah, aib bagi kalian. Mengapa kalian tidak menolong Husain, namun justru membunuhnya. Kalian merampas hartanya lalu kalian warisi. Kalian menahan para wanitanya dan membuatnya binasa. Celaka kalian! Keanehan apa yang kalian lakukan? Dosa apa yang kalian pikul di atas punggung kalian? Darah apa yang telah kalian tumpahkan? Kemuliaan apa yang telah kalian raih? Anak wanita siapa yang telah kalian hilangkan kehormatannya? Harta apa yang telah kalian rampas? Kalian telah membunuh orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. Telah dicabut rasa kasih sayang dari hati-hati kalian.” (al-Malhuf, hlm. 91, Maqtal al-Husain, Murtadha Iyadh, hlm. 86)

Demikian pula yang diucapkan oleh Zainab bintu Ali radhiallahu ‘anhuma, “Wahai penduduk Kufah, kaum lelaki kalian membunuh kami, tetapi para wanita kalian menangisi kami. Yang menjadi hakim antara kami dan kalian adalah Allah ‘azza wa jalla, pada hari ditetapkannya segala keputusan.” (Ridha bin Nabi al-Qazwini dalam Tazhallumu az-Zahra, hlm. 264)

Kazhim al-Ahsa’i berkata, “Sesungguhnya, pasukan yang keluar untuk memerangi Imam Husain radhiallahu ‘anhu berjumlah 3.000 orang. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada seorang pun yang berasal dari Syam, Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika. Bahkan, mereka seluruhnya adalah penduduk Kufah, yang berkumpul dari berbagai kabilah.” (Asyura, hlm. 89)

Husain bin Ahmad al-Baraqi an-Najafi mengatakan, “Termasuk yang dicerca dari penduduk Kufah ialah tindakan mereka menusuk Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma dan membunuh Husain radhiallahu ‘anhuma setelah mereka memanggilnya.” (Tarikh al-Kufah, hlm. 113)

Muhsin al-Amin berkata, “Dua puluh ribu penduduk Irak yang telah membai’at Husain, menipu dan melakukan perlawanan terhadapnya. Bai’at berada di pundak mereka, sementara mereka membunuhnya.” (A’yanu asy-Syiah, 1/26)

Murtadha Muthahhari, salah seorang tokoh Syiah Rafidhah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa Penduduk Kufah adalah termasuk Syiah (pengikut) Ali radhiallahu ‘anhu. Yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu adalah Syiah sendiri.” (al-Malhamah al-Husainiyah, 1/129)

Ia berkata pula, “Kami juga mengatakan bahwa terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu di tangan kaum muslimin, tetapi di tangan kaum Syiah setelah 50 tahun kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini membingungkan dan tanda tanya mengherankan yang sangat menarik perhatian.” (al-Malhamah al-Husainiyah, 3/95)

Terbunuhnya Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

Pisau

Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif

Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Shan’a, Yaman, yang berpura-pura masuk Islam dan menampakkan rasa cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Dialah yang menjadi penyebab utama terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Meskipun ada di antara kaum Syiah yang berusaha menutupi keberadaan Abdullah bin Saba’ dan mengopinikan bahwa dia hanyalah seorang tokoh fiktif yang tidak pernah ada, namun riwayat sejarah—bahkan yang diriwayatkan oleh kaum Syiah sendiri—menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ ini.

Di antara bukti riwayat yang menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ adalah riwayat Syiah dari Abu Ja’far bahwa Abdullah bin Saba’ mengaku sebagai nabi dan meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu adalah Allah ‘azza wa jalla. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu memanggilnya dan bertanya kepadanya. Abdullah bin Saba mengakuinya dan berkata, “Ya, engkaulah Dia. Telah dibisikkan ke dalam sanubariku bahwa engkau adalah Allah ‘azza wa jalla, sedangkan aku adalah seorang nabi.”

Amirul Mukminin berkata radhiallahu ‘anhu, “Celaka kamu, sungguh setan telah menguasaimu. Tarik ucapanmu ini dan bertobatlah.”

Dia enggan bertobat sehingga Ali radhiallahu ‘anhu menahannya selama tiga hari dan menyuruhnya bertobat. Namun, dia enggan bertobat sehingga beliau membakarnya dengan api dan berkata, “Sesungguhnya setan menguasainya, datang  kepadanya, dan membisikkan hal itu ke dalam hatinya.”

Diriwayatkan oleh Syiah dari Abu Abdillah bahwa ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla melaknat Abdullah bin Saba. Sesungguhnya dia menganggap diri Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu sebagai Rabb, padahal Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla. Celaka bagi orang yang dusta atas nama kami. Sesungguhnya ada sebagian kaum yang berkata tentang kami yang kami sendiri tidak mengucapkan hal itu tentang diri kami. Kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka; kami berlepas diri kepada Allah ‘azza wa jalla dari mereka.” (Ma’rifat Akhbar ar-Rijal, karya al-Kisysyi, hlm. 70—71)

Al-Mamaqani berkata, “Abdullah bin Saba’ kembali kafir dan menampakkan sikap berlebih-lebihan.” Ia juga berkata, “Dia seorang yang ekstrem, terlaknat, dan dibakar oleh Amirul Mukminin dengan api. Dia menyangka bahwa Ali radhiallahu ‘anhu adalah ilah, sedangkan dirinya seorang nabi.” (Tanqihul Maqal fi Ma’rifat ar-Rijal, 2/183—184)

Dalam riwayat Syiah dari Ibnu Abil Hadid berkata, “Orang pertama yang menampakkan sikap ekstrem pada masa pemerintahannya (yaitu Ali radhiallahu ‘anhu -pen.) adalah Abdullah bin Saba’. Sambil berdiri tatkala Ali radhiallahu ‘anhu sedang berkhutbah, Ibnu Saba berkata, ‘Engkaulah, engkaulah…’ Dia terus mengulangnya.

Ali radhiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, ‘Celaka kamu, siapa aku?’

Ibnu Saba’ menjawab, ‘Engkaulah Allah.’

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan untuk menangkapnya, sedangkan sebagian kaum ada yang sejalan dengan pendapatnya .” (Syarah Nahjul Balaghah, 2/234)

Dari Ni’matullah al-Jazairi, Abdulah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkaulah ilah yang sebenarnya.”

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian mengucilkannya ke daerah Madain. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Yahudi lalu masuk Islam. Di kalangan Yahudi ada yang berkata tentang Yusya’ bin Nun dan Musa e seperti apa yang dia katakan tentang Ali radhiallahu ‘anhu. (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/234)

Adapun dari kalangan Ahlus Sunnah, seluruh ulama sunnah menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ sebagai salah satu tokoh fitnah dalam sejarah Islam. Di antara yang menetapkan adanya Ibnu Saba’ adalah Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tarikhnya, Ibnu Abdi Rabbihi dalam al-‘Aqdul Farid, Ibnu Hibban dalam al-Majruhin, al-Baghdadi dalam al-Farqu Bainal Firaq, Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Fashl fil Milal, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, as-Sam’ani dalam al-Ansab, dan yang lainnya.

 

Abdullah bin Saba’, Pencetus Pemikiran Rafidhah

Telah masyhur bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang mencetuskan pemikiran Rafidhah, dan asal pemikiran Rafidhah ialah dari Yahudi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama telah menyebutkan bahwa asal mula pemikiran Rafidhah berasal dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba’). Dia menampakkan diri sebagai muslim dan menyembunyikan pemikiran Yahudinya. Dia berkeinginan untuk merusak Islam seperti yang telah dilakukan oleh Paulus Si Nasrani yang sebelumnya adalah seorang Yahudi untuk merusak agama Nasrani.” (Majmu’ al-Fatawa, 28/483)

Beliau juga berkata, “Asal pemikiran Rafidhah dari kaum munafik zindiq yang dimunculkan oleh Ibnu Saba’ az-Zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrem terhadap Ali radhiallahu ‘anhu dengan alasan bahwa beliaulah yang berhak menjadi imam dan telah disebutkan nash tentang hal tersebut. Bahkan, ia menganggap Ali radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang maksum. Karena asal mula pemikiran ini dari kemunafikan, sebagian salaf berkata, ‘Mencintai Abu Bakr dan Umar merupakan iman, sedangkan membenci keduanya merupakan kemunafikan. Cinta Bani Hasyim merupakan keimanan, sedangkan membenci mereka adalah kemunafikan’.” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Demikian pula yang diterangkan oleh Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah, “Sesungguhnya asal Rafidhah dimunculkan oleh munafik zindiq yang bertujuan membatalkan agama Islam dan mencerca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagaimana yang telah diterangkan oleh para ulama. Tatkala Abdullah bin Saba’ menampakkan keislaman, dia ingin merusak agama Islam dengan makar dan kejahatannya, sebagaimana halnya Paulus yang berpura-pura sebagai ahli ibadah dalam agama Nasrani. Dia menyebabkan munculnya fitnah terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu dan terbunuhnya beliau.” (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 578)

 

Keterlibatan Abdullah bin Saba dalam Peristiwa Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu

Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Dia mengelilingi berbagai negeri untuk menyesatkan umat. Dimulai dari Hijaz, Kufah, lalu ke Syam.

Akan tetapi, dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia pun menuju Mesir dan menanamkan beberapa keyakinan Saba’iyah kepada penduduk Mesir.

Di antaranya adalah keyakinan alwashiyah. Ia berkata, “Sesungguhnya, dahulu ada seribu nabi dan setiap nabi memiliki washi (yang diserahi wasiat). Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dia berkata bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, sedangkan Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat. Siapakah yang paling zalim dari orang yang tidak menjalankan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melangkahi Ali radhiallahu ‘anhu yang diangkat sebagai penerima wasiat, dan mengambil alih kekuasaan?

Selanjutnya dia berkata, “Sesungguhnya Utsman radhiallahu ‘anhu telah mengambil kekuasaan tanpa hak, sementara Ali radhiallahu ‘anhu adalah penerima wasiat Nabi. Bangkitlah kalian, lakukanlah gerakan, dan mulailah celaan terhadap penguasa kalian. Tampakkan diri sebagai orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar agar kalian dapat menarik hati manusia. Ajaklah mereka melakukan hal ini.”

Akhirnya, dia berhasil menyebarkan berita ini di tengah-tengah umat Islam. Sekelompok orang yang berasal dari Basrah, Kufah, dan Mesir terhasut. Mereka berangkat menuju Madinah pada 35 H, seolah-olah pergi untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merahasiakan tujuan sebenarny untuk memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka diperselisihkan. Ada yang mengatakan 2.000 orang dari Basrah, 2.000 orang dari Kufah, dan 2.000 orang dari Mesir. Adapula yang mengatakan bahwa seluruhnya berjumlah 2.000 orang.

Mereka memasuki Madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu pada akhir Dzulqa’dah dan memerintahkan agar Utsman radhiallahu ‘anhu lengser dari jabatan khalifah. Pengepungan tersebut dimulai dari akhir Dzulqa’dah hingga hari Jum’at 18 Dzulhijjah yang merupakan hari terbunuhnya Utsman.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung selama empat puluh hari, sementara Utsman radhiallahu ‘anhu hanya berada di rumahnya, bahkan dilarang untuk mengambil air. Sementara itu, yang memimpin shalat jamaah adalah seseorang yang terlibat dalam fitnah.

Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar kemudian mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan bertanya, “Yang memimpin shalat kami adalah seorang imam fitnah. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”

Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Shalat adalah amalan terbaik yang diamalkan oleh manusia. Jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat keburukan, jauhilah kejelekan mereka.”

Sebagian sahabat g mengutarakan keinginan mereka kepada Utsman radhiallahu ‘anhu untuk membela beliau. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Zubair, g.

Namun, Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah mereka agar tidak melakukan perlawanan yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Sebab lainnya, beliau bermimpi yang menunjukkan telah dekatnya ajal beliau. Beliau radhiallahu ‘anhu berserah diri menerima keputusan Allah ‘azza wa jalla.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Para penolongmu telah ada di dekat pintu ini. Mereka berkata, ‘Jika engkau mau, kami akan menjadi ansharullah sebagaimana kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami akan melakukan perlawanan bersamamu’.”

Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Jika (yang dimaksud -pen.) peperangan, tidak.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu. Lalu Utsman radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Umar, perhatikanlah apa yang mereka ucapkan. Mereka berkata, ‘Tinggalkan kekuasaan itu dan jangan engkau membunuh dirimu’.”

Ibnu Umar berkata, “Jika engkau melepaskannya, apakah engkau akan dikekalkan hidup di dunia?”

Utsman menjawab, “Tidak.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku sarankan agar engkau tidak melepaskan sebuah pakaian yang telah Allah ‘azza wa jalla pakaikan kepadamu sehingga nantinya akan menjadi contoh. Setiap kali ada kaum yang membenci khalifah atau imamnya, mereka segera mencopot penguasanya dari jabatannya.”

Setelah sekian lama mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu, mereka masuk dan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu dalam keadaan beliau meletakkan mushaf di hadapannya. Tetesan darah Utsman radhiallahu ‘anhu tepat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,

“Jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan . Maka dari itu, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Mereka yang diketahui sebagai tokoh pergerakan yang menyebabkan terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu adalah Ruman al-Yamani, Kinanah bin Bisyr, Sudan bin Hamran, dan Malik bin al-Asytar an-Nakha’i. Adapun yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman radhiallahu ‘anhu adalah seseorang yang berasal dari Mesir yang bernama Jabalah.

Demikianlah akhir dari makar dan tipu daya Yahudi ini: terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu, khalifah rasyid yang ketiga, dengan cara yang zalim melalui tangan seorang Yahudi. Pembuat makar yang masuk Islam dalam rangka melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin dan menghancurkan persatuan mereka. (Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 10/ 277—344)

Syiah Menghalalkan Darah Ahlussunnah

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

tumpah-darah

Sejarah Kaum Syiah Rafidhah tidak terlepas dari perbuatan mereka yang menumpahkan darah kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mulai dari zaman Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga berita yang mereka riwayatkan tentang perbuatan Imam Mahdi mereka saat menampakkan diri ke permukaan bumi.

 

Sikap kaum Syiah yang menghalalkan darah kaum muslimin disebabkan dasar keyakinan Syiah terhadap Ahlus Sunnah bahwa:

 

  1. Ahlus Sunnah kafir

Mereka menganggap bahwa yang muslim hanyalah kaum Syiah Rafidhah, sedangkan yang lain dianggap kafir.

Dalam salah satu referensi Syiah, diriwayatkan oleh al-Barqi bahwa Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Tidak seorang pun yang berada di atas millah Ibrahim q kecuali kami dan Syiah kami, sedangkan manusia lainnya berlepas diri dari millah tersebut.” (al-Mahasin, 147)

Mereka meriwayatkan bahwa Ali bin Husain radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tidak satu pun yang berada di atas fitrah Islam selain kami dan Syiah kami, sedangkan manusia lainnya berlepas diri darinya.” (al-Mufid, al-Ikhtishah, hlm. 107)

 

  1. Ahlus Sunnah najis

Mereka juga menganggap bahwa Ahlus Sunnah itu najis sehingga harus dilenyapkan karena status mereka sebagai najis.

Ni’matullah al-Jazairi berkata tentang hukum Nawashib (yang dimaksud oleh mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah), “Mereka adalah orang kafir yang najis berdasarkan kesepakatan ulama Syiah imamiyah, lebih jahat dari Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya di antara tanda seorang nashibi adalah mendahulukan selain Ali radhiallahu ‘anhu dalam hal kepemimpinan.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, hlm. 206—207)

Karena menganggap Ahlus Sunnah kafir, mereka pun menghalalkan darah Ahlus Sunnah. Mereka meriwayatkan dari Dawud bin Farqad, ia berkata kepada Abu Abdillah rahimahullah, “Apa pendapatmu tentang membunuh seorang Nashibi?”

Ia menjawab, “Halal darahnya, namun aku mengkhawatirkan dirimu. Jika engkau mampu merobohkan dinding hingga menimpanya atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak seorang pun menjadi saksi atas perbuatanmu, lakukanlah!”

Lalu Dawud bertanya, “Apa pendapatmu tentang hartanya?”

Ia menjawab, “Habiskan semampumu.” (Diriwayatkan oleh al-Hur al-Amili dalam Wasail asy-Syiah, 18/463; dalam Biharul Anwar, 27/231)

 

  1. Ahlus Sunnah itu anak zina

Hal ini sebagaimana anggapan mereka bahwa siapa saja selain kaum Syiah dianggap sebagai anak zina.

Al-Kulaini meriwayatkan, “Seluruh manusia adalah anak zina (atau berkata, ‘anak-anak pelacur’) kecuali Syiah kami.” (Raudhatul Kafi, 8/135)

Berdasarkan hal ini, mereka menghalalkan ditumpahkannya darah Ahlus Sunnah dan harta mereka, yang dianggap sebagai harta rampasan perang.

Khomeini berkata tentang harta Ahlus Sunnah, “Jika engkau mampu mengambil hartanya, ambillah dan kirimkan kepada kami seperlimanya.” (Lillahi Tsumma Li at-Tarikh, hlm. 89)

Bahkan, mereka memvonis Ahlus Sunnah adalah penghuni neraka.

Diriwayatkan oleh ash-Shaduq dalam Tsawabul A’mal wa ‘Iqabul A’mal, dari ash-Shadiq berkata, “Seorang nashibi yang membenci kami—ahlul bait—, tidak peduli apakah dia berpuasa atau shalat, berzina atau mencuri; sesungguhnya ia dalam neraka; sesungguhnya dia dalam neraka.” (Tsawabul A’mal, 215. Riwayat ini disebutkan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar, 27/235)

Diriwayatkan dari Aban bin Taghlib, Abu Abdillah berkata, “Setiap nashibi, meskipun beribadah dan bersungguh-sungguh, pada akhirnya akan terjatuh ke dalam ayat ini,

“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” (al-Ghasyiyah: 3—4) (Tsawabul A’mal, hlm. 247)

Keyakinan rusak Syiah inilah yang menyebabkan mereka memenuhi lembaran sejarah dengan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan kesesatan dan penyimpangan mereka. Dimulai dari awal munculnya pencetus pemikiran Rafidhah, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, hingga munculnya Imam Mahdi versi kaum Syiah.

Rapor Merah Akidah Syiah

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

“Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. …”

bola

Sejak dahulu, kelompok sesat Syiah sangat agresif melakukan makar terselubung terhadap Islam dan umat Islam. Ambisi mereka untuk merobohkan pilar-pilar Islam pun sangat besar.

Kitab Suci al-Qur’an mereka klaim telah mengalami banyak perubahan bahkan pemalsuan.[1] Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul Mukminin (ibunda kaum mukminin) yang suci, mereka tuduh berbuat zina.[2] Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mereka vonis kafir.[3]

Sungguh, ini adalah penyimpangan besar dalam kehidupan beragama kaum Syiah, terutama dalam hal akidah.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. Sebab, jika beliau orang baik-baik, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang yang baik pula.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah (kepada kita) adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) demi mengenyahkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kekafiran.” (al-Kifayah, al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Akidah Syiah penuh dengan “catatan merah”. Beberapa poin akidah mereka pernah dimuat dalam edisi Asy-Syari’ah yang telah lalu.[4]

Di antara akidah Syiah yang menarik untuk dikaji dan dicermati lebih saksama adalah sikap mereka yang sebenarnya terhadap umat Islam (Sunni) yang kerap mereka sebut dengan Nashibi.[5] Hal ini sering luput dari pembahasan atau sengaja dikaburkan, bahkan dikubur, oleh pihak yang getol mengampanyekan persatuan antara Sunni dan Syiah.

Sebagai pendahuluan tentang potret nyata kehidupan kaum Syiah, marilah menyimak persaksian salah seorang (mantan) tokoh besar Syiah, Sayyid Husain al-Musawi berikut ini.

“Masih segar dalam ingatanku, ayahku pernah berjumpa dengan orang asing di salah satu pasar Kota Najef, Irak. Ayahku menyukai kebaikan, sehingga diajaklah orang tersebut ke rumah kami  sebagai tamu keluarga malam itu. Kami pun memuliakannya.

Selepas isya, kami duduk begadang menjamunya. Ketika itu, aku seorang pemuda yang baru mengawali belajar di al-Hauzah (pusat pendidikan ilmu agama kaum Syiah). Dari perbincangannya bersama kami, nyatalah bahwa dia seorang Sunni (sebutan untuk selain Syiah) dari Kota Samira yang datang ke Najef karena sebuah keperluan.

Malam itu, dia bermalam di rumah kami. Ketika datang waktu pagi, kami menyajikan makan pagi untuknya dan dia menyantapnya. Seusai makan pagi, dia berpamitan kepada kami. Ayahku menghadiahinya sejumlah uang untuk tambahan bekal dalam perjalanannya. Orang itu sangat berterima kasih atas penghormatan yang kami berikan kepadanya.

Selepas kepergiannya, ayahku memerintahkan agar kasur yang digunakan tidur oleh tamu tersebut dibakar dan peralatan makan yang digunakannya dicuci sebersih-bersihnya.” (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 66)

Mengapa sang ayah memerintahnya demikian?

Sayyid Husain al-Musawi menjelaskan, “Sebab, menurut akidah beliau, Sunni itu najis. Ini adalah akidah orang Syiah secara keseluruhan. Semua ahli fikih kami menyejajarkan Sunni dengan orang kafir, orang musyrik, babi, dan menggolongkannya sebagai jenis benda najis.” (Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 66)

 

SYIAH MENGAFIRKAN DAN MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM (SUNNI)

Mengafirkan umat Islam (Sunni) dan menghalalkan darah mereka termasuk prinsip dalam agama Syiah.

Penulis Awailul Maqalat berkata, “Aku katakan bahwa kekafiran Nashibi (baca: Sunni) sungguh termasuk hal prinsip dalam mazhab Syiah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Mufid dalam kitab al-Muqni’ah dan lainnya. Tidak ada seorang faqih (ahli fikih) pun yang menyelisihi hal ini.” (Awailul Maqalat, hlm. 285)[6]

Dalam kitab al-Hadaiq an-Nadhirah (10/42), disebutkan, “Tidak ada perselisihan di kalangan kawan-kawan kami ridhwanullah ‘alaihim tentang vonis kafir terhadap Nashibi (baca: Sunni), najis, halal darah dan hartanya, dan sama dengan kafir harbi.”[7]

Al-Khau’i, salah seorang rujukan mereka, menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang murtad, kafir harbi, kafir dzimmi, dan Nashibi (baca: Sunni). (Minhajus Shalihin 1/116)[8]

Para pembaca yang mulia, prinsip di atas bukanlah hasil kajian dari para tokoh Syiah semata. Akan tetapi, itulah akidah mereka yang dibangun di atas riwayat-riwayat para imam Syiah yang sangat banyak. Hal ini disebutkan oleh al-Jawahiri dalam kitabnya Jawahirul Kalam (41/436) dalam bab “Halalnya Darah Nashibi (baca: Sunni)”.

Di antaranya adalah riwayat dari Dawud bin Farqad, ia berkata, “Aku katakan kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) ‘alaihissalam, ‘Apa pendapatmu tentang membunuh Nashibi (baca: Sunni)?’

Beliau menjawab, ‘Halal darahnya, namun aku mengkhawatirkan dirimu. Jika kamu berkesempatan merobohkan dinding hingga menimpanya atau menenggelamkannya ke dalam air, lakukanlah! Semua itu agar tidak ada bukti kuat bahwa kamu membunuhnya.’

Aku pun berkata, ‘Bagaimana dengan hartanya?’

Beliau menjawab, ‘Silakan ambil, selama kamu mampu’.”

Dalam kitab mereka Tahdzibul Ahkam (10/213), disebutkan kisah orang yang mengingkari Abu Bujair—seorang Syiah—karena telah membunuh tujuh orang Sunni. Akhirnya keduanya berhukum kepada Abu Abdillah, imam mereka.

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Bagaimana caramu membunuh mereka, hai Abu Bujair?”

Dia berkata, “Di antara mereka ada yang aku panjat loteng rumahnya dengan menggunakan tangga, kemudian aku membunuhnya. Sebagian ada yang berpapasan denganku di sebuah jalan, lantas aku membunuhnya. Sebagian lagi ada yang aku masuki rumahnya kemudian aku membunuhnya. Semua itu aku lakukan secara senyap, tak ada orang yang mengetahui jejakku.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Hai Abu Bujair, wajib bagimu (membayar denda). Untuk setiap orang yang kamu bunuh, (dendanya) satu ekor kambing dan disembelih di Kota Mina, karena kamu melakukannya tanpa izin dari imam (Syiah). Sekiranya kamu membunuh mereka dengan seizin imam, niscaya kamu tidak dikenai denda sama sekali.”

Ni’matullah al-Jazairi—salah seorang ulama mereka—berkomentar tentang riwayat di atas, “Lihatlah denda yang sangat ringan tersebut. Sebuah denda yang lebih rendah daripada denda membunuh ‘adik laki-laki mereka’, yaitu anjing buruan, 25 dirham. Tidak pula menyamai denda membunuh ‘kakak laki-laki mereka’, yaitu Yahudi atau Majusi, 800 dirham. Sungguh, keadaan mereka (Sunni) di dunia ini lebih hina dan rendah.” (al-Anwar an- Nu’maniyyah 2/308)[9]

Betapa murahnya nyawa seorang Sunni di mata kaum Syiah. Dia lebih rendah daripada Yahudi atau Majusi, bahkan lebih rendah daripada seekor anjing buruan.

Demikianlah kaum Syiah. Makar terselubung terus mereka lakukan. Dengan semangat gerilya yang tinggi mereka tebarkan racun-racun akidah di tengah umat. Tampilan bersahaja dan bersahabat, mereka tonjolkan untuk menipu umat. Manakala ada peluang untuk menghabisi Sunni, secepat kilat akan mereka lakukan. Runtuhnya Daulah Abbasiyah di tangan Tartar, hancurnya Kota Baghdad, dan melayangnya jutaan nyawa umat Islam, termasuk sang khalifah kala itu, merupakan salah satu bukti sejarah atas kejahatan dan kesadisan kaum Syiah.[10]

Wallahul Musta’an.

MENGHALALKAN HARTA UMAT ISLAM

Tak hanya vonis kafir dan halalnya darah yang dijatuhkan oleh kaum Syiah terhadap umat Islam. Harta mereka pun halal diambil dan dimiliki.

Dalam beberapa kitab Syiah[11], diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihissalam, dia berkata, “Ambillah harta seorang Nashibi (baca: Sunni) di mana saja kamu mendapatinya dan serahkan kepada kami al-khumus (seperlima).”

Dalam kitab Syiah Bihar al-Anwar (93/194—195), disebutkan[12] bahwa Alba’ al-Asadi, seorang Syiah, menjadi pegawai di pemerintahan Bani Umayyah. Dia mendapati uang sebesar tujuh ratus ribu dinar, hewan tunggangan, dan budak (milik pemerintah). Lantas dia membawanya ke hadapan Abu Abdillah ‘alaihissalam dan menyerahkan semua harta itu kepadanya seraya berkata, “Sesungguhnya aku dipercaya oleh Bani Umayyah untuk memegang wilayah Bahrain. Aku berkesempatan mengambil kekayaannya sekian dan sekian, yang sekarang ini kubawa semuanya ke hadapan Anda. Aku meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikan harta itu untuk mereka, dan sungguh, semua itu untuk Anda.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Bawalah harta itu kemari!”

Harta itu diletakkan di hadapan Abu Abdillah ‘alaihissalam. Dia berkata, “Kami telah menerima harta ini darimu dan sekarang kami memberikannya kepadamu. Kami menghalalkannya untukmu dan kami menjaminmu di hadapan Allah ‘azza wa jalla masuk surga.”

 

HUKUM MENIKAHI UMAT ISLAM

Diriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir), disebutkan kepadanya tentang orang-orang Nashibi (baca: Sunni), dia lalu berkata, “Jangan kamu menikahi mereka, jangan memakan sembelihan mereka, jangan pula tinggal bersama mereka.”[13]

Salah seorang Syiah bertanya kepada Abu Ja’far tentang wanita Syiah Imamiyyah, apakah boleh dinikahi oleh seorang Nashibi (baca: Sunni)?

Dia menjawab, “Tidak boleh, karena Nashibi (baca: Sunni) itu kafir.”[14]

 

HUKUM SHALAT DI BELAKANG UMAT ISLAM

Ath-Thusi—salah seorang tokoh mereka—berkata dalam ringkasan fikihnya[15], “Jangan shalat di belakang orang Nashibi (baca: Sunni) dan orang yang mencintai Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib pen.) namun tidak berlepas diri dari musuh beliau kecuali dalam keadaan bertaqiyah.”

Muhammad al-Baqir ditanya tentang shalat di belakang selain Syiah. Dia menjawab, “Tidaklah mereka di sisiku kecuali seperti dinding.”[16]

Para pembaca yang mulia, dalam akidah Syiah tidak diperbolehkan shalat di belakang selain Syiah kecuali terpaksa sebagai bentuk taqiyah (berpura-pura). Itu pun dengan menganggap si imam tak ubahnya seperti dinding. Wallahul Musta’an.

 

HUKUM MENYALATI UMAT ISLAM

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang pernah melihat seorang Syiah turut menyalati jenazah seorang muslim (Sunni). Tentu, kesan yang ditangkap adalah masya Allah, alias bagus. Namun, perlu pembaca ketahui bahwa dia tidak melakukannya kecuali karena bertaqiyah (berpura-pura). Yang lebih mencengangkan, ternyata doa yang dibaca dalam shalat jenazah itu adalah doa kebinasaan untuk si mayit.

Al-Mufid dalam kitab al-Muqni’ah (hlm. 229—230) berkata, “Jika si mayit seorang Nashibi (baca: Sunni), shalatkanlah sebagai bentuk taqiyah (berpura-pura). Kemudian ucapkanlah setelah takbir keempat, ‘Ya Allah, hamba-Mu putra hamba-Mu ini, tidaklah kami mengetahuinya kecuali kejelekan. Hinakanlah dia di kalangan para hamba-Mu dan di negeri-negeri-Mu, masukkanlah dia ke dalam neraka-Mu yang paling dahsyat. Ya Allah, sesungguhnya dia mencintai para musuh-Mu, memerangi para wali-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu. Penuhilah kuburnya dengan api; dari arah depan, kanan, dan kirinya. Kuasakanlah ular dan kalajengking untuk membinasakannya di kuburnya’.”

Dalam riwayat lain, “Ya Allah, sesungguhnya si fulan ini, tidaklah kami mengetahuinya kecuali sebagai musuh-Mu dan musuh Rasul-Mu. Ya Allah, penuhilah kuburnya dengan api, penuhi pula perutnya dengan api, dan segerakanlah dia masuk ke dalam neraka, karena dia mencintai para musuh-Mu, memerangi para wali-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu. Ya Allah, sempitkanlah kuburnya.”

Ketika jenazahnya diangkat, ucapkanlah, “Ya Allah, jangan Engkau angkat derajatnya dan jangan pula Engkau sucikan dia.”[17]

 

VONIS NAJIS TERHADAP UMAT ISLAM

Sayyid Husain al-Musawi sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan di atas menjelaskan bahwa semua ahli fikih Syiah menyejajarkan Sunni dengan orang kafir, orang musyrik, babi, dan menggolongkannya sebagai jenis benda najis.

Sayyid Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya mereka—Ahlus Sunnah— adalah orang kafir dan najis, menurut kesepakatan ulama Syiah Imamiyah. Sesungguhnya mereka lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Di antara ciri-ciri Nashibi (baca: Sunni) adalah mendahulukan selain Ali bin Abi Thalib dalam hal imamah (khilafah).” (al-Anwar an-Nu’maniyyah 2/206—207; dinukil dari Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 71)

Satu hal yang sangat mencengangkan adalah keyakinan mereka bahwa seorang Sunni itu lebih najis dari makhluk yang paling najis sekalipun.

Dalam kitab Bihar al-Anwar (73/72), disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla belum pernah menciptakan makhluk yang lebih najis daripada anjing. Adapun seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami, ahlul bait, lebih najis darinya.

Bejana seorang Sunni hukumnya najis, tanpa diragukan. Yang lebih berhati-hati dalam membersihkannya adalah dengan debu dan air, sebagaimana yang dilakukan terhadap bejana yang terkena jilatan anjing.

Sayyid Musthafa al-Khomaeni dalam kitab Tahrir al-‘Urwah al-Wutsqa (1/89) berkata, “Bahkan, tidak diragukan lagi tentang najisnya seorang Nashibi (baca: Sunni)… dan yang lebih berhati-hati adalah membersihkan bejana Nashibi (baca: Sunni) dengan debu dan air sebagaimana yang dilakukan terhadap bejana yang terkena jilatan anjing.”

Diriwayatkan dari Abu Abdillah bahwasanya dia membenci bekas minum anak zina, Yahudi, Nasrani, musyrik, dan semua yang menyelisihi Islam. Yang paling dia benci adalah bekas minum seorang Nashibi (baca: Sunni).[18]

Bagaimanakah berjabat tangan dengan seorang Sunni?

Dalam akidah mereka, seusai berjabat tangan dengan seorang kafir dzimmi, cukup diusapkan ke tanah atau dinding. Namun, seusai berjabat tangan dengan seorang Sunni, harus dicuci dengan air. Wallahul Musta’an

Dalam kitab al-Kafi (2/650), disebutkan bahwa seseorang berkata kepada Abu Abdillah ‘alaihissalam, “Aku bertemu dengan seorang kafir dzimmi lalu dia mengajakku berjabat tangan.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Usapkanlah tanganmu itu ke tanah atau dinding.”

Orang itu pun berkata, “Bagaimanakah (usai berjabat tangan) dengan seorang Nashibi (baca: Sunni)?”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Cucilah tanganmu!”[19]

 

VONIS KEKAL DI NEREKA

Dalam kitab Bihar al-Anwar (27/234), disebutkan bahwa Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata, “Sekiranya semua malaikat yang diciptakan oleh Allah, semua nabi yang diutus oleh Allah, dan semua syahid memberikan syafaat kepada seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami, ahlul bait—maksudnya adalah Syiah—agar Allah mengeluarkannya dari neraka; Allah tidak akan mengeluarkannya dari neraka selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman dalam Kitab-Nya, ‘Mereka berada di dalamnya untuk selama-lamanya’.”

Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami ahlul bait—maksudnya adalah Syiah—tidak perlu dihiraukan, entah dia berpuasa atau shalat, berzina atau mencuri; karena sesungguhnya dia di neraka! Sesungguhnya dia di neraka!”[20]

Dari pemaparan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa umat Islam (Sunni) di mata kaum Syiah adalah kafir, halal darah dan hartanya, tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya kecuali jika bertaqiyah (berpura-pura), tidak boleh menyalati jenazahnya kecuali ketika bertaqiyah (berpura-pura) dan mendoakan kebinasaan atasnya, najis bahkan lebih najis dari anjing, dan kekal di dalam neraka selama-lamanya. Wallahul Musta’an.

Perlu diketahui, kesimpulan di atas bukanlah kesimpulan di atas kertas semata, melainkan sebuah prinsip keyakinan (akidah) yang terhunjam dalam sanubari setiap penganut Syiah, yang akan direalisasikan dalam bentuk nyata manakala ada peluang dan kesempatan.

Marilah kita simak bersama persaksian Sayyid Husain al-Musawi berikut ini.

“Ketika pemerintahan Pahlevi di Iran tumbang pascarevolusi Islam (baca: Syiah) dan Imam Khomaeni dikukuhkan sebagai pemimpin bangsa, menjadi kewajiban bagi ulama Syiah untuk berkunjung dan memberi ucapan selamat kepadanya atas kemenangan yang agung ini; yaitu berdirinya Negara Syiah pertama di era modern ini yang dipimpin oleh para fuqaha (ahli fikih). Kewajiban ini secara lebih khusus tertuju kepada diriku, karena hubunganku yang sangat dekat dengan Imam Khomaeni.

Berangkatlah aku ke Iran satu setengah bulan atau lebih setelah kedatangannya di Teheran, sepulang beliau dari tempat pengasingannya di Paris, Perancis. Beliau benar-benar menyambut hangat kunjunganku itu. Kebetulan, kunjungan kali ini tidak bersama para ulama Syiah Irak lainnya. Dalam pertemuan khusus itu, beliau berkata kepadaku, “Sayyid Husain, tibalah saatnya menerapkan wasiat para imam shalawatullah ‘alaihim. Kita akan tumpahkan darah orang-orang Nashibi (baca: Sunni). Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Takkan kita biarkan seorang pun dari mereka lolos dari penyiksaan. Harta mereka akan menjadi hak milik para pembela Ahlul Bait.

Kita akan enyahkan Makkah dan Madinah dari muka bumi ini karena telah menjadi markas Wahabi. Sudah seharusnya Kota Karbala menjadi bumi Allah yang diberkahi lagi suci, kiblat manusia dalam shalat. Dengan demikian, kita akan wujudkan impian para imam ‘alaihissalam.

Sungguh, telah berdiri sebuah negara yang sejak sekian tahun lamanya kita perjuangkan. Tidaklah tersisa bagi kita selain mewujudkan itu semua!!” (Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 73)

Akhir kata, demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam.

Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Amin….


[1] Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi umat Islam) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634.

Dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihassalam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa Mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di Mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

[2] Dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

[3] Dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi, hlm. 12—13 dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir), dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….”

Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah)….” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

[4] Di antaranya pada Majalah Asy-Syari’ah edisi 05, 18, dan 92.

[5] Dalam literatur Islam, sebutan Nashibi digunakan untuk seseorang yang membenci dan memusuhi ahlul bait (keluarga/keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beriman).

Berbeda halnya dalam literatur Syiah, sebutan Nashibi digunakan untuk semua orang yang menyelisihi Syiah dan mengingkari sistem keimamahan yang ada pada mereka. Demikianlah yang ditegaskan oleh al-Bahrani, seorang tokoh Syiah yang bergelar “al-Muhaqqiq” dalam kitabnya al-Hadaiq an-Nadhirah 14/159.

Bahkan, sekadar mendahulukan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab atas Ali bin Abi Thalib dalam hal kekhilafahan, sudah masuk dalam kategori Nashibi, sebagaimana dalam kitab Wasail as-Syiah (Alu al-Bait) karya al-Hur al-‘Amili 9/490—491. Tatkala seseorang divonis Nashibi, berarti dia telah kafir, musyrik, najis, serta halal harta dan darahnya.

[6] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.

[7] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.

[8] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 134.

[9] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 136.

[10] Anda bisa membaca Kajian Utama edisi ini. Untuk lebih rinci, silakan baca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir (13/200—211), Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi (48/33—40), dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi (hlm. 325—335).

[11] Wasail asy-Syiah 9/487, al-Hadaiq an-Nadhirah 10/361, Tahdzib al-Ahkam 4/121, dan Bihar al-Anwar 93/191. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 137.

[12] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 138.

[13] al-Istibshar 3/184, Tahdzib al-Ahkam 7/303, dan Wasail asy-Syiah 20/554. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 138.

[14] Tahdzib al-Ahkam 7/303

[15] an-Nihayah, hlm. 112.

[16] Jawahir al-Kalam 13/196.

[17] al-Kafi 3/189, Bihar al-Anwar 44/202, Wasail asy-Syiah 3/70, dan Tahdzib al-Ahkam 3/197. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 141.

[18] al-Kafi 3/11, dan Wasail asy-Syiah 1/229. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 143.

[19] Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 143.

[20] Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 144.

Surat Pembaca Edisi 101

Donasi Dakwah Muallaf Lauje

Saya sudah membaca majalah Asy-Syariah no. 100 rubrik “Potret”. Bisa minta nomor HP ustadz atau ikhwan yang koordinasi untuk dakwah muallaf Lauje?

085358xxxxxx

Setelah membaca Asy-Syariah no.100/lX/1435H/2014 kisah muallaf suku Lauje, saya ingin berpartisipasi untuk dakwah di sana dalam bentuk dana. Bagaimana caranya?

085640xxxxxx

Jawaban Redaksi:

Anda yang hendak berpartisipasi untuk kegiatan dakwah kepada suku Lauje bisa mengirimkan dana ke rekening berikut.

  • Bank BRI Poso No. Rek. 0072-01-006008-53-0 a.n. Sarmin Paroso

ATAU

  • Bank Syariah Mandiri Poso No. Rek. 70-699-3950-8 a.n. Atjo Ishak Andi Mapatoba

Untuk mengetahui informasi dakwah muallaf suku Lauje, silakan menghubungi al-Ustadz Abu Hafsh Umar 081383314075.

 

Koreksi Arti Hadits

Pada Asy-Syariah vol. IX no. 100 halaman 62, pada arti hadits tertulis, “Rasa malu itu akan mendatangkan kecuali kebaikan”. Bukankah seharusnya, “Rasa malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan”?

082231xxxxxx

 

Jawaban Redaksi:

Ya, Anda benar. Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.

 

Terjemahan Hadits Kurang

Pada Asy-Syariah vol. IX/No. 100/1435 H/2014 pada halaman 10 pada bagian pojok atas kanan

sepertinya ada lafadz hadits yang kurang.

085290xxxxxx

 

Jawaban Redaksi:

Lafadz hadits selengkapnya adalah sebagai berikut.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Jazakumullahu khairan atas koreksi Anda.

 

Permata Salaf Kurang Jelas?

Saya sulit memahami Permata Salaf edisi 100. Siapa imam Ahlus Sunnah dan siapa yang berpaham Asy’ariyah?

085646xxxxxx

 

Jawaban Redaksi:

Ad-Daraquthni adalah imam pada masanya. Di hadapan al-Harawi, beliau memuji al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani, yang memiliki pemahaman Asyariyah, dengan menyebutnya sebagai imam kaum muslimin dan pembela agama.

Pujian ad-Daraquthni terhadap al-Baqillani membuat al-Harawi (dan ayahnya) berguru kepada al-Baqillani. Akhirnya, al-Harawi mengikuti mazhab Asyariyah yang dianut oleh al-Baqillani.

Semoga keterangan ini bisa memperjelas kisah tersebut. Barakallahu fikum.

Syiah Berlumur Darah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Kebencian Nasrani dan Yahudi telah mengitari tembok-tembok sejarah Islam. Sebagaimana dinyatakan al-Qur’an, denyut kebencian ini tak akan pernah berhenti, hingga kita mau mengikuti agama mereka. Di antara makar mereka, adalah menciptakan pelbagai agama atau isme-isme baru yang sekilas mirip Islam namun sejatinya teramat menyimpang. Muaranya jelas, merusak Islam dari dalam dan memecah barisan muslimin.

Salah satu agama imitasi itu adalah Syiah Rafidhah. Agama ini sebenarnya tidak berbeda dengan agama-agama yang muncul belakangan seperti Ahmadiyah, Baha’i, dan Kristen Ortodoks Syria yang sudah mengglobal atau al-Qiyadah al-Islamiyah dalam lingkup lokal. Namun, karena sejarahnya yang tua—sudah muncul di zaman sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak heran jika agama ini telah berakar di sebagian orang dan mempunyai jutaan pengikut.

Syiah sendiri berakar dari akidah Majusi, agama resmi Kerajaan Persia yang pernah berdiri di wilayah Iran dan Irak sekarang—yang warga negaranya mayoritas Syiah. Rafidhah juga berakar dari kepercayaan Yahudi. Jika kebanyakan agama-agama palsu adalah gabungan Islam dengan Kristen, Syiah Rafidhah adalah gabungan tiga agama sekaligus yakni: Islam, Yahudi, dan Majusi. Jadi, dendam Persia dan kebencian Yahudi bahu-membahu melahirkan “musuh dalam selimut” bernama Syiah ini.

Karena itu, perbedaan-perbedaan mendasar antara Islam dan Syiah mesti dipahami oleh setiap muslim, agar kita tidak terbutakan dari kesesatan mereka. Syiah bukanlah mazhab di dalam Islam  tetapi agama yang berdiri sendiri. Masih kurangkah fatwa sahabat Nabi dan ulama yang menyatakan kekafiran mereka?

Atau lupakah kita dengan sejarah? Siapa dalang di balik terbunuhnya Utsman bin Affan dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhum? Siapakah yang membantu tentara Nasrani dalam merebut al-Quds? Siapakah pengkhianat Daulah Bani Abbasiyah, yang memberi kemudahan invasi bangsa Tartar ke Baghdad hingga menyebabkan runtuhnya daulah tersebut yang diikuti pembantaian besarbesaran terhadap umat Islam? Siapakah rezim Suriah dan Iran sekarang yang membantai umat Islam yang minoritas?

Didasari keyakinan bahwa di luar Syiah Rafidhah adalah kafir; Ahlus Sunnah itu najis sehingga harus dilenyapkan; harta kaum muslimin dianggap harta rampasan perang; dan vonis Ahlus Sunnah sebagai penghuni neraka, menyebabkan mereka memenuhi lembaran sejarah dengan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan kesesatan dan penyimpangan mereka.

Keyakinan berdarah-darah Syiah tak berhenti hingga di sini. Syiah meyakini bahwa saat Imam Mahdi mereka muncul, yang pertama kali ia lakukan adalah mengeluarkan dua khalifah Rasul, Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma dari kuburnya lalu menyiksa keduanya. Imam Mahdi ala mereka juga akan membantai bangsa Arab dan kaum Quraisy, serta akan menghancurkan Ka’bah dan Masjidil Haram.

Di panggung media, Syiah seolah berseberangan politik dengan Yahudi. Bahkan menjadi simbol perlawanan “Islam” terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah. Tak heran jika banyak yang mengelu-elukan Syiah (baca: Iran) dan tokoh-tokohnya seperti Khomeini, Ahmadinejad, dan sebagainya. Namun, soal goreng-menggoreng opini, Yahudi memang jagonya. Demonstrasi besarbesaran dan krisis politik dalam beberapa tahun terakhir yang berhasil menumbangkan sejumlah penguasa di Afrika dan Timur Tengah—diistilahkan media sebagai Arab Spring—tak lepas dari campur tangan dan kolaborasi Yahudi dan Syiah.

Itulah Syiah, bersenyawa dengan Yahudi, mereka akan terus melukis sejarah dengan tinta darah. Waspadalah!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Kekayaan dan Kefakiran

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

“Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang kaya, tiada seorang fakir pun di antara kalian. Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki pula, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang fakir, tiada seorang kaya pun di antara kalian. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menunjuki para hamba-Nya kepada akhlak yang mulia.

Dia ‘azza wa jalla berfirman,

 ‘Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung’.” (al-Hasyr: 9)

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

“Dahulu kami menganggap bahwa orang yang bakhil di antara kami ialah orang yang meminjamkan dirham kepada saudaranya. Sebab, dahulu kami bermuamalah dengan kebersamaan dan mendahulukan kepentingan orang lain. Demi Allah, sungguh, salah seorang yang pernah aku lihat dan aku bersahabat dengannya, membelah izar (pakaian bagian bawah, semacam sarung, -pent.)nya lantas memberikannya kepada saudaranya….”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 65—66)