Surat Pembaca Edisi 112

Rubrik “Jejak” Dibukukan

Bismillah. Ana usul Rubrik “Jejak” dapat dibuat bundel, mengingat masih sedikit buku berbahasa Indonesia yang membahas sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih sejarah setelah wafat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 


Rubrik “Seputar Hukum Islam” Dibukukan Juga

Bismillah. Majalah Asy Syari’ah, kami ada saran. Karena Rubrik “Seputar Hukum Islam” termasuk rubrik yang ‘naik-turun’, barangkali artikel yang terkumpul dalam Rubrik “Seputar Hukum Islam” dapat dibukukan (tentu disempurnakan pembahasannya sampai salam).

Kami pribadi memandang hal itu bi idznillah akan memberikan manfaat bagi umat Islam, yang tentu ingin sekali mencocoki cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi artikel-artikel dalam Rubrik “Seputar Hukum Islam” yang telah lalu memuat banyak bimbingan ulama, sehingga insya Allah bisa menjawab pertanyaan yang tebersit dalam hati ketika membaca hadits tentang suatu amalan. Semoga dimudahkan. Amin.

085642xxxxxx

 Jawaban Redaksi:

Kami ucapkan jazakumullah khairan atas usulan Anda. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kami mewujudkannya.


Kajian Utama Belum Selesai?

Bismillah. Lanjutan atau kesimpulan investasi forex (edisi 111, hlm. 22), boleh atau tidaknya mana? Jazakumullahu khairan.

Abu Ihsan—Magetan

 Jawaban Redaksi:

Artikel yang Anda maksud adalah sambungan dari hlm. 15. Jadi, lanjutan pembahasan bisa Anda baca pada artikel-artikel di hlm. 16 dan selanjutnya. Kesimpulan pembahasan tentang forex bisa dibaca pada hlm. 21—22, pada subjudul “Trading Forex Dibangun di Atas Akad Transaksi yang Cacat”.

Kami memohon maaf apabila artikel yang bersambung mengurangi konsentrasi membaca Anda.

 


Jadwal Terbit Asy Syariah

Maaf, mau tanya, Majalah Asy-Syari’ah terbit tiap bulan itu berdasarkan bulan Masehi atau Hijriah ya?

 Jawaban Redaksi:

Pada asalnya, kami mencanangkan bisa terbit setiap bulan berdasarkan urutan bulan Masehi. Akan tetapi, karena beberapa kendala, seringkali kami tidak bisa menepati jadwal tersebut. Kami memohon maaf kepada seluruh pembaca tercinta atas hal ini. Semoga Allah memudahkan kami untuk merealisasikan harapan kita semua.

 


Jadi 112 Halaman Lagi

Maaf, mau tanya, Majalah Asy-Syari’ah sejak beberapa edisi ini menjadi 104 halaman, bukan 112 lagi? Sekadar saran, barangkali untuk menyiasati kenaikan harga cetak dengan tetap mempertahankan 112 halaman bisa dengan memilih sampul seperti awal dahulu, sebelum seperti yang sekarang.

 Jawaban Redaksi:

Kami ucapkan jazakumullah khairan atas usulan Anda. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkannya.

Topeng Tebal Islam Nusantara

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebuah topeng baru berwajah rahmatan lil ‘alamin, muncul di negeri ini. Wajah keriput yang tebal dengan “kosmetika” moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Konon, Islam mereka adalah yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak tobat bukan menghujat, dan seterusnya.

Terbukti, kelompok bernama Islam Nusantara ini memang benar-benar merangkul mesra Syiah, Ahmadiyah, Nasrani, Hindu, Budha, dan kalangan non-Islam. Adapun terhadap saudara-saudara seislam yang mengamalkan ajaran Islam yang berbeda dengan versinya, mereka posisikan sebagai musuh sejadi-jadinya. Lebih-lebih terhadap muslimin yang mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ajak “tobat” dengan hujatan dan fitnah juga. Tampak jelas, Islam Nusantara hanya menjual istilah. Maka dari itu, demi mengakomodasi istilah-istilah “gaib” yang ditelorkan oleh kelompok ini, tampaknya perlu dibuat kamus JIN alias Jaringan Islam Nusantara.

Sikap “membina tidak menghina” ditunjukkan oleh salah satu tokoh JIN. Dengan (katanya) “memakai hati dan tidak memaki-maki”, ia tampakkan sikap sewot terhadap jenggot. Memelihara jenggot yang merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam —bahkan, banyak ulama yang mewajibkan—dikerdilkan sebagai adat Arab. Orang-orang berjenggot dibodoh-bodohkan. Lupakah dia, pendiri ormas yang dia pimpin sekarang berikut para kiainya juga berjenggot?

Kalau mengaku toleran, mengapa terhadap jenggot begitu antipati?! Kalau mengaku toleran, mengapa ketika ada orang memakai busana yang menutup aurat meradang? Kalau mengaku toleran, mengapa antipati dengan orang yang tidak mau tahlilan? Dengan logika bodoh saja, orang Nasrani, Budha, Hindu, Kong Hu Cu juga tidak tahlilan. Bukankah tidak tahlilan juga bagian dari keberagaman yang selama ini digembar-gemborkan? Lantas mengapa harus membawa-bawa nama Pancasila untuk urusan tahlilan? Siapa yang bodoh dan siapa yang diragukan Pancasila-nya?

Begitu paradoksnya Islam Nusantara. Sibuk menghina atribut Islam yang sejatinya bukan adat Arab, tetapi bungkam dengan banyaknya busana yang mengumbar aurat. Mari buka mata, hijab sebagai busana muslimah muncul setelah datangnya Islam, kala busana orang Arab jahiliah waktu itu mengumbar aurat.

Anggaplah busana itu meniru sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di Timur Tengah, haruskah kita sesewot itu? Mengapa dia tidak sewot dengan banyaknya orang yang membebek dengan Barat, tak hanya dalam hal busana, namun juga gaya hidupnya? Mengapa tidak jujur bahwa inti ajaran Islam Nusantara hanya anti-Arab? Kalau memang mengedepankan yang berbau Nusantara, mengapa Ahmadiyah dan Syiah yang notabene bukan Nusantara dirangkul demikian mesra?

JIN juga begitu semangat mengatakan bahwa yang di luar mereka sebagai Islam yang hanya menonjolkan simbol. Padahal mereka jauh lebih parah, lebih mengedepankan seremoni namun jauh dari substansi. Seremoni yang tidak ada bimbingannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibela mati-matian. Semakin kehilangan substansi manakala mengaku cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kala ada muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti memelihara jenggot, dicerca habis-habisan.

Sadar atau tidak, Islam Nusantara menahbiskan diri sebagai “karyawan” Salibis. JIN tak lebih dari aliran yang intoleran terhadap sesama Islam, tetapi begitu toleran terhadap non-Islam. Cuma mengelus dada saja dengan aliran yang paradoks ini. Aliran yang seharusnya masuk kelompok “aneh tapi nyata”.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Nasihat Umar Bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu

Wadi’ah al-Anshari mengatakan bahwa dia mendengar Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menasihati seseorang,

لاَ تَكَلَّمْ فِيمَا لاَ يَعْنِيكَ، وَاعْرِفْ عَدُوَّكَ، وَاحْذَرْ صَدِيقَكَ إِلاَّ الْأَمِينَ، وَلاَ أَمِينَ إِلاَّ مَنْ يَخْشَى اللهَ، وَ تَمْشِي مَعَ الْفَاجِرِ فَيُعَلِّمَكَ مِنْ فُجُورِهِ، وَ تُطَلِّعْهُ عَلَى سِرِّكَ، وَلاَ تُشَاوِرْ فِي أَمْرِكَ إِلاَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah engkau berbicara dalam urusan yang tidak engkau perlukan. Kenali musuhmu.

Waspadalah dari temanmu, kecuali yang tepercaya. Tidak ada orang tepercaya kecuali yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Janganlah engkau berjalan bersama orang yang rusak, sehingga dia akan mengajarimu sebagian keburukannya. Jangan pula engkau beri tahukan rahasiamu kepadanya.

Janganlah engkau bermusyawarah tentang urusanmu kecuali dengan orangorang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 109)

Zikir Setelah Shalat

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، حَوْلَ وَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، إِلَهَ إِ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Milik-Nya segala kenikmatan dan keutamaan serta sanjungan yang baik. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, kami memurnikan seluruh peribadatan ini hanya untuk-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”

(HR. Muslim no. 1342 dari Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu)