Bantuan Allah Sesuai Modal yang Diberikan

Selama hidup di dunia fana ini, kondisi seorang tidak menentu, selalu berubah-ubah. Adakalanya dia merasakan mudahnya kehidupan. Saat yang lain, ia harus menelan pahit dan susahnya kehidupan.

Apabila hanya mengandalkan kemampuan diri menghadapi perubahan situasi, tentu kita tidak akan mampu karena kita lemah dalam segala sisi. Kita sangat membutuhkan bantuan Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.

Akan tetapi, mengharap bantuan Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan menjadi angan-angan belaka bila kita tidak punya simpanan amal kebaikan. Sebab, bantuan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk kita sesuai dengan modal (amal saleh) yang kita suguhkan.

Telah banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan janji kebaikan bagi orang yang mengamalkan agama Islam ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Ini adalah janji yang mulia bagi siapapun yang menjalankan agama Allah subhanahu wa ta’ala, mengajak manusia kepada-Nya, dan memerangi para musuh agama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab kemenangan.

 Menjaga Hak-Hak Allah subhanahu wa ta’ala

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.” (HR.at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maksudnya, jagalah batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-Nya, perintah dan larangan-Nya, dengan cara menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan-batasan-Nya. Hal ini mencakup mengerjakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.”

Inilah yang dimaksud dengan “menjaga Allah subhanahu wa ta’ala”. Jadi, maksudnya bukanlah Allah subhanahu wa ta’ala membutuhkan penjagaan kita atau mengambil manfaat dari ketaatan kita. Sekiranya seluruh hamba menaati-Nya, kekuasaan-Nya tidak akan bertambah; sebagaimana tidak berkurang kekuasaan-Nya karena pembangkangan seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala Mahakaya lagi Mahaperkasa. Justru hambalah yang akan mengambil manfaat dari ketaatannya sebagaimana dia pula yang akan merasakan akibat dari dosanya.

Hak Allah subhanahu wa ta’ala terbesar yang harus kita jaga adalah menauhidkan (mengesakan) Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal ibadah. Apabila tidak menjaga hak ini, seseorang terancam gugur seluruh amalannya. Dia terancam dihalalkan darah dan hartanya serta kekal di dalam neraka. Berikutnya ialah hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang lain seperti shalat lima waktu dan rukun Islam yang lainnya.

Intinya, seorang muslim dituntut menjaga hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala. Hak-hak tersebut tidak diketahui kecuali dengan mendalami agama ini.

Di samping hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga, seseorang juga tertuntut menjaga hak-hak manusia dengan berbagai tingkatannya. Sebab, seorang tidak dikatakan baik sampai baik hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala, baik pula hubungannya dengan manusia. Tak ketinggalan pula, seorang hamba berkewajiban menjaga diri dan anggota tubuhnya dari semua hal yang bertentangan dengan norma-norma agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

Seseorang hendaknya tahu bahwa anggota tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bisa menjadi sebab kebinasaan apabila tidak dia jaga.

 

Buah Manis dari Kebaikan

Orang yang berbuat baik berhak diapresiasi dan diberi semangat agar selalu bersemangat dalam kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.”

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan, “Maksudnya, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak Nya, Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaganya. Sebab, balasan itu setimpal dengan amalan, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ

“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (al-Baqarah: 40)

 

Penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Hamba yang Taat

Allah subhanahu wa ta’ala menjaga hamba-Nya yang taat dalam dua bentuk:

  1. Allah menjaga kemaslahatan duniawinya, seperti badan, anak, keluarga, dan hartanya.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang alim tidak akan pikun. Abu ath-Thayyib ath-Thabari umurnya lebih dari seratus tahun, namun akalnya tetap tajam dan tubuhnya tetap kuat. Suatu hari beliau naik ke daratan dari perahunya dengan lompatan yang kuat. Beliau pun ditanya sebab bisa melakukan lompatan tersebut.

Beliau menjawab, ‘Anggota tubuh ini kami jaga dari kemaksiatan saat kami masih muda, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaga tubuh kami saat sudah tua’.”

Sebaliknya, al-Junaid pernah melihat seorang yang tua meminta-minta. Al-Junaid mengatakan, “Orang ini menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala di masa mudanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyia-nyiakannya saat tuanya.”

Bahkan, dengan sebab ketaatan seseorang, terkadang anak keturunannya pun ikut dijaga. Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberi penjagaan bagi orang yang saleh pada anak cucunya, kampung tempat tinggalnya, dan rumah-rumah yang ada di sekitarnya.”

Kapan pun seorang hamba menyibukkan diri dengan ketaatan, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaganya dalam kondisi ketaatannya. Dahulu Syaiban ar-Ra’i suka menggembala kambing di padang sahara. Apabila datang waktu Jum’atan, beliau memberi garis pada tempat yang ada kambingnya, lalu ia berangkat shalat Jum’at. Setelah selesai Jum’atan, ia kembali menuju kambing-kambingnya. Ia dapati kambing-kambing itu masih berada di tempatnya semula.

Orang yang saleh akan dijaga dari kejahatan manusia dan jin yang akan menimpakan kejelekan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan baginya jalan keluar dari segala hal yang membuat manusia merasa sempit.”

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Apabila kamu takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dia akan mencukupimu (dengan mereka segan kepadamu).”

Di antara keajaiban penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang menjaga hak-hak- Nya, Allah akan menjaganya dari binatang yang tabiatnya buas.

Hal ini dialami oleh Safinah, budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat perahu yang dinaikinya pecah dan terdampar di suatu pulau. Di sana dia melihat seekor binatang buas, maka Safinah mengatakan kepada binatang tersebut, “Saya Safinah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Binatang buas tersebut lalu berjalan di sisinya dan menunjukkan jalan keluar dari pulau itu. Ketika Safinah sudah berada di jalan yang dituju, binatang tersebut mengeluarkan suara dalam, seolah-olah ingin mengucapkan salam perpisahan.

Kisah lainnya dialami oleh Ibrahim bin Adham. Ia tidur di kebun. Ternyata, waktu itu di samping beliau ada ular yang menghalau binatang-binatang yang ingin mendekat, sampai beliau terbangun.

Seperti inilah orang yang menjaga Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari binatang buas, bahkan binatang itu menjaganya. Namun, orang yang menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala, ia disia-siakan di tengah-tengah makhluk-Nya. Sampai-sampai, Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan mudarat kepadanya dari sesuatu yang ia harapkan manfaatnya. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keluarganya yang terdekat menyakitinya.

Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu aku dapatkan akibatnya pada perangai pembantu dan keledaiku (tungganganku).”

Maksudnya, pembantunya menjadi berperangai buruk kepadanya dan tidak mau menaatinya. Keledai tunggangannya pun mogok dan tidak mau dinaiki.

Oleh karena itu, seluruh kebaikan terkumpul pada ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, segala kejelekan terkumpul pada sikap menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan berpaling dari-Nya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menjaga agamanya.

Ini tentu saja penjagaan terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba yang menjaga agama dan amalnya di dunia ini. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari pemahaman menyimpang (syubhat) yang membinasakan, kebid’ahan yang menyesatkan, dan syahwat yang diharamkan. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjaganya saat kematian mendatanginya sehingga Dia mewafatkan hamba-Nya di atas Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk memohon penjagaan agama kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah penjagaan yang terpenting. Sebab, penjagaan yang bersifat duniawi didapatkan oleh orang yang baik dan orang yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi seorang hamba tertimpa kejelekan dengan sebab yang terkadang tidak disadari oleh hamba. Ini seperti penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٢٤

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (tulus).” (Yusuf: 24)

Barang siapa tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia akan menyelamatkannya dari kejelekan dan kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari arah yang tidak disangka. Sebab-sebab kebinasaan akan terhalangi menimpanya.

Ada juga di antara hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang terjaga dari kemaksiatan melalui nasihat seseorang.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata tentang pelaku maksiat, “Mereka hina di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka adalah orang yang mulia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaga mereka.”

Di antara penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap agama hamba-Nya ialah Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkan suatu urusan duniawi, seperti kedudukan/kekuasaan atau usaha, seperti perniagaan.

Allah subhanahu wa ta’ala tahu bahwa apabila hamba ini diberi kekuasaan atau dilimpahkan kepadanya harta, ia akan menyimpang. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkannya.

Bahkan, terkadang seseorang masih belum dimudahkan melakukan suatu ketaatan karena apabila dia dimudahkan melakukannya, akan muncul pada dirinya sikap ujub (bangga diri) yang menghancurkan amalan.

Inti dari semua ini, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak-Nya, niscaya akan dijaga oleh-Nya dalam urusan agama dan duniawinya, di dunia dan di akhiratnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Sebagian salaf berkata, “Siapa yang ingin selalu sehat wal afiat, hendaknya ia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Disarikan dari kitab Nurul Iqtibas fi Misykati Washiyyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam libni Abbas, karya Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah)

Hanya Islam Agama yang Benar

Islam adalah nikmat terbesar bagi hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena:

 

  1. Islam Satu-Satunya Agama yang Haq di Sisi Allah subhanahu wa ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama yang haq disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mengharapkan selain Islam, tidak akan diterima darinya, di akhirat nanti dia termasuk orang-orang merugi.” (Ali Imran: 85)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan bahwa dalam dua ayat di atas ada bantahan terhadap orang-orang di zaman ini yang menyatakan bahwa tiga agama ini; Yahudi, Nasrani, dan Islam, semuanya benar dan akan mengantarkan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apa yang mereka ucapkan ini adalah dusta dan mengada-ada. Tidak ada agama yang haq setelah datangnya agama ini selain Islam.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan Islam datang, dihapuslah agama Yahudi dan Nasrani. Semua agama yang selain Islam telah ditahrif (diubah-ubah) dan diganti, atau telah mansukh, telah berakhir masanya, tidak ada lagi yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai selain Islam (yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Barang siapa ingin masuk surga, berpegang teguhlah dengan Islam ini. Barang siapa menginginkan agama yang lain, tidak ada bagian untuknya selain neraka. (Syarah Fadhlul Islam)

 

  1. Islam Agama yang Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, ayat ini membantah setiap orang yang melecehkan Islam dan mengatakan bahwa Islam tidak cocok untuk setiap tempat dan waktu. Seperti seruan orang-orang di masa ini yang menyatakan bahwa Islam itu untuk generasi telah lewat, untuk masa yang telah lewat, tidak cocok untuk akhir zaman. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan nikmat-ku untuk kalian, dan Aku ridhai Islam menjadi agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam cocok untuk segala zaman dan situasi…. (Syarah Fadhlul Islam hlm. 10)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa menyatakan boleh memilih agama selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia terjatuh dalam kekafiran.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, telah diketahui dengan pasti dalam agama dan disepakati oleh kaum muslimin bahwa barang siapa menyatakan seseorang boleh memilih selain Islam atau boleh mengikuti selain syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia kafir seperti kafirnya orang yang beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya. (Majmu’ Fatawa)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata dalam Nawaqidhul Islam, “Pembatal keislaman yang kesembilan: Barang siapa meyakini bolehnya sebagian orang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana keluarnya Khidhir dari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, berarti dia telah kafir.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, yang menyatakan bolehnya seseorang keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya Nabi Khidhir keluar dari syariat Nabi Musa adalah kaum Sufi ekstrem. Mereka menyatakan, kalau seorang Sufi telah sampai tingkatan ma’rifah, dia tidak lagi membutuhkan rasul. Rasul hanya diutus kepada orang awam. Adapun mereka adalah orang-orang khusus yang telah sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga tidak membutuhkan rasul.

Bahkan, mereka menyatakan bahwa beban syariat telah gugur dari mereka. Mereka tidak shalat dan beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut mereka, ibadah hanya untuk orang awam.

Demikian juga, tidak ada lagi yang haram bagi mereka. Halal dan haram hanya untuk yang masih awam, tidak berlaku bagi mereka. Mereka melakukan perzinaan, melakukan liwath (hubungan sesama jenis), dan perbuatan haram lainnya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyebutkan, termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah beberapa golongan manusia:

  1. Kaum sekuler

Mereka hendak memilah antara agama dan politik negara. Menurut mereka, agama dan ibadah hanya di masjid, sedangkan muamalah dan hukum-hukumnya, serta hukum-hukum politik tidaklah termasuk dalam agama.

  1. Ahlul kalam dan filsafat

Mereka termasuk dalam ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab karena tidak mau mengambil akidah dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka membangun akidah mereka di atas dasar ilmu kalam, perdebatan, dan ilmu mantiq. Ini adalah bentuk keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan yang paling penting, yakni akidah.

Asy-Syaikh al-Fauzan menerangkan, termasuk pula dalam makna ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ialah orang yang menyatakan bahwa syariat Islam hanya untuk masa lampau; adapun zaman sekarang, syariat Islam sudah tidak cocok lagi karena ada muamalah yang tidak tercakup oleh syariat Islam.

Ucapan mereka bermakna bahwa syariat Islam masih kurang dan bukan tidak berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata bahwa orang yang berkata demikian tidak diragukan lagi kafirnya. Demikian pula orang yang menyangka bolehnya keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinukil secara makna dari Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 179—182)

Islam adalah agama yang haq dan universal. Segala budaya atau adat kebiasaan setiap bangsa, harus tunduk mengikuti syariat Islam. Islam yang haq adalah agama yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau ajarkan kepada para sahabatnya, dan terus demikian sampai kepada kita. Tidak ada Islam Jawa, tidak ada Islam Sunda, tidak ada pula Islam Nusantara.

Islam yang haq hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Islam yang beliau sampaikan kepada para sahabatnya hingga sampai kepada kita. Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Islam yang haq yang beliau bawa adalah untuk seluruh umat manusia, bahkan jin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُإِلَى النَّاسِ كَافَّةً

“Nabi sebelum aku diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada segenap manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Barang siapa tidak mau menerima Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia telah kafir dan di akhirat nanti akan menjadi penduduk neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidak ada orang dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim)

Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir. Seorang muslim tidak boleh ragu tentang kekafiran Yahudi, Nasrani, dan lainnya, apalagi membenarkan jalan mereka.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan pembatal keislaman yang ketiga, “Orang yang tidak mengafirkan orang kafir, atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka.”

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Sebab, seorang muslim wajib mengafirkan orang-orang yang telah dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan musyrikin para penyembah berhala dan selain mereka yang menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkan orang-orang yang tidak beriman kepada para rasul atau sebagian mereka, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengkafirkan Yahudi, Nasrani, dan penyembah berhala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib meyakini dengan kalbunya tentang kafirnya mereka, karena Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah mengkafirkan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۚ

“Sungguh, telah kafir orang yang menyatakan Allah adalah al-Masih ibnu Maryam.” (al-Maidah: 17)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ

Orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” (Justru) tangan merekalah yang terbelenggu, mereka dilaknat karena apa yang mereka ucapkan. (al-Maidah: 64)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ١٨١

“Sungguh, Allah mendengar orang-orang (Yahudi) yang mengatakan Allah itu faqir.” (Ali Imran: 181)

Demikian pula ucapan-ucapan lain dari Ahlul Kitab, yang Allah subhanahu wa ta’ala hikayatkan dari mereka.

Cukuplah untuk mengafirkan mereka (yakni Yahudi dan Nasrani –pen.), kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad yang telah Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada seluruh manusia dan telah mereka temukan dalam kitab mereka, Taurat dan Injil….” (Syarah Nawaqidhul Islam hlm. 78)

Seorang muslim harus tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, mengkafirkan orang yang dikafirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Dia tidak boleh ragu tentang kekafiran mereka, apalagi membenarkan keyakinan mereka.

 

Makar Melemahkan Akidah Umat

Di antara yang mengancam akidah umat adalah munculnya orang-orang yang terus melancarkan propaganda untuk menolerir dan membenarkan Yahudi serta Nasrani. Di antara bentuk makar mereka ialah:

  1. Menyuarakan persatuan agama Seruan mereka berkonsekuensi bahwa Islam, Yahudi, dan Nasrani adalah agama samawi yang benar. Bahkan, mereka mengadakan forum untuk memulibkasikan seruan sesat mereka ini dalam berbagai bentuk kemasan.
  2. Seruan toleransi antaragama dengan meyakini kebenaran semuaagama.
  3. Menyuarakan bahwa agama yang tiga semuanya menyampaikan pemeluknya kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  4. Melakukan pembelaan dengan berdebat guna membela Yahudi dan Nasrani, dengan menyatakan, “Jangan sebut mereka sebagai orang kafir.”
  5. Mendoakan limpahan rahmat ketika ada berita kematian seorang pemuka agama Nasrani (uskup, paus, dll.).

(Lihat Syarah Nawaqidhul Islam karya asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hlm. 43)

Demikianlah makar Yahudi dan Nasrani serta para pembelanya. Mereka tak pernah bosan untuk mejerumuskan kaum muslimin ke dalam kesesatan. Ini adalah bukti kebenaran firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Maka dari itu, marilah kita bersemangat memperdalam ilmu agama, terkhusus ilmu akidah, agar bisa selamat dari makar dan tipu daya orang kafir. Bersemangatlah menyebarkan ilmu akidah kepada umat secara umum, mudah-mudahan menjadi sebab mereka terjaga dari berbagai penyimpangan dan kesesatan.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Mewaspadai Komunisme dan Bisikan Kaum Komunis

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

 Takhrij Hadits

Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,

يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْا ذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”

Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.

Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya

Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.

Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”

Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”

Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.

Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.

 

Komunisme, Buah Bisikan Setan

Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.

Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.

Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)

Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.

Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,

قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)

Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”

Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)

Pertanyaan bisikan setan ini,

  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?

apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.

Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.

 

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.

  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.

Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.

  1. Segera memutus bisikan.

Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.

Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,

فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

  1. Iman

Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.

Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,

آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’

Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.

Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’

Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.

Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.

Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)

 

Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan

Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)

Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”

 

Komunisme, Jalan Setan

Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.

Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.

Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.

Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan

agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.

Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )

Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٦

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)

 

Mewaspadai Komunisme di Indonesia

Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.

Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.

Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.

Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.

Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Apakah Pencipta Itu Ada?

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥  أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

 Ayat yang Menggetarkan Hati

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Thur dalam shalat maghrib. Tatkala sampai pada firman-Nya,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٧

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (ath-Thur: 35—36)

Jubair berkata, “Hampir saja hatiku melayang (karena tercengang mendengar hujah yang sangat kokoh dalam ayat ini).” (HR. al-Bukhari 6/4854)

Dalam riwayat lain pada Shahih al-Bukhari, Jubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Itu merupakan pertama kali iman menetap dalam hatiku.”

As-Sindi rahimahullah menjelaskan makna ‘hampir saja hatiku melayang’, “Karena begitu jelasnya kebenaran dan begitu terangnya kebatilan sesuatu yang batil.” (Hasyiah as-Sindi ala Sunan Ibni Majah, 1/275)

Tafsir Ayat

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun….”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini.

  1. Maksudnya, “apakah mereka diciptakan tanpa ada Rabb yang menciptakan?”

Tafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Diciptakan tanpa Rabb yang menciptakannya.”

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa ayah dan ibu sehingga mereka seperti benda-benda yang tidak berakal?”

Penafsiran ini dinyatakan kuat oleh ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu seperti halnya langit dan bumi?”

Maksudnya, manusia tidaklah lebih susah penciptaannya daripada langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi diciptakan tanpa sesuatu sebelumnya, sementara manusia diciptakan dari Adam, dan Adam alaihissalam dari tanah.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan bukan untuk sesuatu?” Kataمِنۡ di sini bermakna lam. Jadi, maksudnya, mereka tidaklah diciptakan dalam keadaan sia-sia tanpa ada perintah dan larangan. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Kebanyakan ulama menafsirkan dengan penafsiran yang pertama.

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan hujah yang membantah mereka dengan sesuatu yang tidak ada kemungkinan selain harus menerima kebenaran atau keluar dari akal sehat dan agama.

Penjelasannya, orang-orang yang mengingkari tauhid dalam hal ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendustakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berkonsekuensi mereka mengingkari bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah yang menciptakan mereka. Padahal akal menetapkan bahwa segala sesuatu yang berwujud ini tidaklah terlepas dari tiga kemungkinan:

1) Mereka diciptakan tanpa ada sesuatu, maksudnya tanpa ada pencipta yang menciptakan mereka. Mereka berwujud tanpa diwujudkan dan tanpa ada yang mewujudkannya. Ini hal yang mustahil.

2) Atau mereka mewujudkan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil karena tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang mewujudkan dirinya sendiri.

Jika dua kemungkinan di atas batil dan mustahil, tidak ada kemungkinan lain kecuali:

3) Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka.

Jika ini telah pasti, diketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla semata yang berhak untuk disembah. Tidak sepantasnya, bahkan tidak boleh, suatu ibadah diserahkan kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata.” (Taisiral Karimir Rahman)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa sesuatu, yakni tanpa ayah dan ibu, sehingga mereka seperti benda-benda lainnya yang tidak berakal dan tidak memahami hujah Allah ‘azza wa jalla, tidak dapat mengambil pelajaran, dan tidak bisa memetik sebuah nasihat?” (Tafsir ath-Thabari, 22/481)

Demikian pula yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Seorang manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum memiliki wujud, dia tidak ada. Tidak ada adalah bukan sesuatu, dan apa yang bukan sesuatu tidak mungkin mewujudkan sesuatu.

Ayahnya tidaklah menciptakannya, tidak pula ibunya, tidak pula seorang makhluk pun. Tidak mungkin pula dia muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang mewujudkan. Sebab, setiap yang ada permulaan wujudnya, ada yang mewujudkannya.

Adanya wujud seluruh makhluk yang teratur dan sepadan, saling melengkapi, menjadikan tidak mungkin hal tersebut terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Sebab, sesuatu yang terjadi secara spontan, tidaklah beraturan pada asal wujudnya. Bagaimana mungkin bisa tetap teratur dan tersusun rapi dalam perjalanan dan perkembangannya?!

Maka dari itu, sudah pasti bahwa Allah ‘azza wa jalla Dialah satu-satu-Nya pencipta. Tidak ada pencipta dan tidak ada yang menetapkan satu urusan pun selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Tidak diketahui ada seorang makhluk pun yang mengingkari rububiyah Allah ‘azza wa jalla, kecuali karena kesombongannya, seperti yang terjadi pada Fir’aun.” (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah hlm. 29)

Tiga pembagian yang disebutkan dalam ayat ini dikenal dalam istilah ushul dengan sebutan as-sabr wat-taqsim, yaitu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu karena suatu hal, lalu menyebutkan kebatilan berbagai kemungkinan itu dan menetapkan satu kebenaran yang pasti.

Hal ini diterangkan oleh al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan. Beliau rahimahullah berkata, “Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa keadaan ini tidak terlepas dari salah satu di antara tiga keadaan berdasarkan pembagian yang sahih:

1) Mereka diciptakan tanpa sesuatu, yaitu tanpa ada yang menciptakannya sama sekali.

2) Mereka menciptakan diri mereka sendiri

3) Ada Pencipta yang menciptakan mereka selain mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa dua poin yang pertama adalah batil. Kebatilannya merupakan hal yang pasti sebagaimana yang disaksikan. Karena itu, tidak perlu ditegakkan hujah untuk menjelaskan kebatilannya karena begitu jelasnya kebatilan tersebut. Poin yang ketiga adalah kebenaran yang tidak diragukan bahwa Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka, satu-satu-Nya yang berhak mereka ibadahi.” (Adhwaul Bayan 3/493)

 Wujud Allah, Sesuatu yang Pasti

Beriman kepada adanya Allah ‘azza wa jalla adalah kepastian yang tidak dapat diingkari, baik secara akal, pancaindra, fitrah, dan terlebih lagi berdasarkan tanda-tanda yang bersifat kauniyah (alam) dan syar’iyah (ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla).

Adapun secara akal, tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa ada pencipta yang menciptakannya terlebih ketika kejadian tersebut muncul dengan sangat teratur dan berjalan dengan begitu rapi. Ini merupakan kepastian yang diyakini tanpa harus dipelajari.

Seorang yang berasal dari suku Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui Rabbmu?”

Ia menjawab, “Jejak menunjukkan bekas perjalanan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka dari itu, langit yang berbintang, bumi yang memiliki jalan, lautan yang berombak, bukankah itu menunjukkan adanya Maha Mendengar dan Maha Melihat?”

Dikisahkan, ada sekelompok orang dari firqah (sekte) Sumaniyah (salah satu kelompok pengingkar adanya Rabb) mendatangi Abu Hanifah rahimahullah. Mereka berasal dari India. Mereka mendebat Abu Hanifah tentang Sang Pencipta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Abu Hanifah menjanjikan mereka untuk datang kembali setelah sehari atau dua hari.

Mereka pun datang pada hari yang ditentukan. Mereka berkata, “Apa yang hendak engkau katakan?”

Abu Hanifah berkata, “Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh barang dan berbagai rezeki. Ia datang membelah gelombang hingga tiba di sebuah pelabuhan. Lalu barang-barang itu turun dan kapal pun pergi. Kapal ini tidak memiliki nakhoda, tidak pula buruh.”

Mereka berkata, “Engkau berpikir demikian?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal, ada sebuah kapal yang datang tanpa nakhoda, lalu barang-barang turun sendiri dan kapal pun pergi? Ini tidak masuk akal.”

Abu Hanifah pun berkata kepada mereka, “Bagaimana bisa kalian menganggap itu tidak masuk akal, sedangkan kalian menganggap masuk akal bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, pegunungan, pepohonan, hewan, dan manusia, semuanya ada tanpa pencipta?!”

Akhirnya mereka sadar bahwa Abu Hanifah sedang mendebat mereka dengan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak mampu menemukan jawabannya.

Adapun secara pancaindra, ditetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dari dua sisi:

1) Kita mendengar berita tentang terkabulnya doa manusia dan pertolongan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan.

Ini jelas menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلۡكَرۡبِ ٱلۡعَظِيمِ ٧٦

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” (al-Anbiya: 76)

Demikian pula firman-Nya,

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu dikabulkan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (al-Anfal: 9)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki masuk ke dalam masjid pada hari Jum’at saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki itu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta (hewan ternak) dan perjalanan terhenti (karena lemahnya hewan tunggangan). Berdoalah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menurunkan hujan kepada kami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat ada kumpulan awan tebal maupun tipis di langit. Tiada penghalang antara kami dan Bukit Sala’, baik rumah maupun bangunan. Tibatiba, dari arah belakang bukit tersebut muncul sekumpulan awan yang berbentuk seperti perisai (bulat), Awan tersebut menuju ke arah tengah lalu menyebar dan segera menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak pernah menyaksikan matahari selama enam hari.

Jum’at berikutnya, seorang lelaki masuk dari pintu masjid tersebut saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa hewan ternak (disebabkan banyaknya air dan sulitnya memelihara hewan tersebut) dan perjalanan terhenti (karena sulitnya menempuh perjalanan yang dipenuhi air, -pen.). Berdoalah kepada Allah agar menahan hujan tersebut dari wilayah kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah, serta tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Hujan tiba-tiba berhenti. Kami pun keluar di tengah terik matahari.” (Muttafaq ‘alaihi)

Manusia masih terus merasakan terkabulnya doa tatkala mereka berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semua ini menunjukkan bahwa Dia benar-benar ada.

 2) Tanda-tanda kekuasaan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperlihatkan melalui kebenaran para rasul-Nya yang disebut mukjizat

Mukjizat para rasul disaksikan dan didengarkan oleh manusia. Mukjizat adalah urusan yang di luar kemampuan manusia. Mukjizat tersebut adalah bagian dari kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang menguatkan para rasul-Nya.

Misalnya, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk memukulkan tongkatnya ke lautan yang menyebabkan terbelahnya lautan tersebut dan membentuk dua belas jalan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ ٦٣

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Contoh yang kedua, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam diberi kemampuan menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya, dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٤٩

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka),  “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali Imran: 49)

Firman-Nya,

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ١١٠

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu waktu Aku menguatkanmu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia sewaktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) waktu Aku mengajarimu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikian pula mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala kaum Quraisy meminta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menampakkan tanda kebenaran wahyu Allah l yang beliau bawa. Beliau pun mengisyaratkan ke bulan, lalu bulan tersebut terbelah menjadi dua. Manusia melihat kejadian yang menakjubkan tersebut. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,

ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ ١  وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka  (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” (al-Qamar: 1—2)

Masih banyak mukjizat para rasul yang lain yang di luar kemampuan manusia. Semua itu menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dan senantiasa memberi pertolongan kepada para rasul-Nya.

Secara fitrah, yang menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla ialah bahwa fitrah setiap hamba meyakini adanya pencipta, tanpa harus berfikir secara mendalam dan waktu yang lama. Tidak ada seorang pun yang keluar dari fitrah ini kecuali yang fitrahnya telah dirusak oleh berbagai pemikiran sesat dan menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتِجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti halnya hewan melahirkan seekor hewan, apakah engkau melihat telinganya terpotong?” (Muttafaq ‘alaihi)

Semua bukti dan petunjuk ini merupakan hujah pasti yang menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada, Dzat yang menciptakan segala yang ada di jagad raya ini, dan Dia sajalah yang berhak untuk disembah. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia semata. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ٣٧

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Tanya Jawab Ringkas Edisi 113

Pernikahan yang Tidak Sah

Setelah berumah tangga 20 tahun, terbukti pernikahan ibu dan bapak tiri saya tidak sah secara agama dan pemerintah. Kami, anak-anak, menerangkan hal tersebut kepada orang tua, juga tentang dosa zina.

Alhamdulillah, ibu telah agak menjaga jarak, sementara bapak tiri tetap tidak merasa menyesal dan bersalah. Belum lagi dengan praktik perdukunan yang dilakukan bapak tiri.

Kami mohon nasihat, langkah apa yang harus kami lakukan? Kami sebagai anak-anak telah bersedia memproseskan pernikahan beliau berdua supaya sah secara agama dan pemerintah, dengan catatan bapak tiri bertobat. Akan tetapi, kenyataannya bapak tiri tetap pada perangai yang dahulu.

 Jawaban:

Urusannya kembali kepada ibu kalian selaku isterinya. Apabila ibu kalian tidak mampu bersabar terhadap suaminya (bapak tiri kalian) dan khawatir akan rusak pula akibat pengaruh akhlak buruk suaminya, sebaiknya minta cerai (khulu’).

Adapun jika dia masih menekuni perdukunan setelah nasihat yang cukup untuk penegakan hujah atasnya, pernikahan itu tidak boleh diteruskan sama sekali.

 


Mengucapkan Selamat Tahun Baru Cina

Bagaimana hukum mengucapkan selamat tahun baru Cina, Imlek, atau sejenis itu? Apakah itu juga menyangkut akidah?

 Jawaban:

Itu adalah hari raya orang kafir, tidak boleh mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir.

 


Jumlah Rakaat Kurang

Bagaimana shalatnya orang yang lupa (kurang jumlah rakaat shalatnya). Baru ingat saat mau salam.

 Jawaban:

Segera berdiri dan menyempurnakan rakaat yang kurang, lalu sujud sahwi setelah salam.

Bagaimana jika ini terjadi beberapa hari yang lalu karena sebelumnya tidak tahu? Apa yang harus dilakukan sekarang?

 Jawaban:

Diulang shalatnya dari awal sekarang juga. Ini dikiaskan dengan orang yang lupa dan tertidur. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

 Rakaat Kurang, Jamaah Sudah Bubar

Saya mau tanya, apakah sah shalat jamaah dengan imam yang melakukan kesalahan dalam hal jumlah rakaat? Imam shalat isya tiga rakaat. Namun, sampai akhir tidak ada yang mengingatkan. Apakah saya harus sujud sahwi?

 Jawaban:

Kalau rakaatnya kurang, semuanya wajib menambah kekurangannya jika waktunya masih dekat. Akan tetapi, kalau sudah lama selang waktunya, shalat diulang dari awal, tanpa sujud sahwi. Kecuali ketika menyempurnakan kekurangannya tersebut bersama-sama dengan imam, jika imamnya sujud sahwi, kita sujud sahwi bersamanya. Dalam kasus ini, sujud sahwi dilakukan setelah salam.

Jadi, maksudnya kita berdiri menyempurnakan satu rakaat tersebut? Bagaimana kalau jamaahnya tidak tahu ilmunya? Mereka bubar setelah35 shalat itu. Akhirnya saya sendirian menyempurnakannya, tanpa sujud sahwi.

 Jawaban:

Ya, yang Anda lakukan sudah betul. Jamaah lain yang masih mungkin diberitahu, disampaikan ilmunya. Adapun yang tidak memungkinkan, semoga Allah mengampuninya.

 


Dosa Meninggalkan Shalat

Orang yang meninggalkan shalat demi pekerjaan, apakah termasuk dosa terhadap Allah ataukah diri sendiri?

 Jawaban:

Dosa terhadap Allah di satu sisi, dan di sisi lain dia menzalimi diri sendiri, mendekatkan dirinya kepada murka Allah dan siksa-Nya.

 


Tawadhu Saat Salah

Apa bentuk sikap tawadhu yang berhubungan dengan kesalahan pribadi? Tolong dijawab.

 Jawaban:

Banyak minta ampun kepada Allah, istighfar.

 


Zikir Pagi Sore Berjamaah

Afwan apakah zikir pagi dan sore boleh dilakukan dengan berjamaah dalam satu suara? Bagaimana jika untuk anak-anak? Mereka masih butuh dibimbing dan dibiasakan.

 Jawaban:

Zikir tidak boleh dibaca secara bersama-sama. Akan tetapi, apabila dibutuhkan untuk mengajari anak-anak, boleh dilakukan seperti itu. Setelah mereka hafal, setiap anak membaca sendiri.

 


Akikah Anak 7 Tahun, Digundul?

Apakah anak umur 7 tahun harus dibotaki juga kepalanya ketika diakikahi?

 Jawaban:

Kalau sudah 7 tahun tidak perlu dicukur rambutnya. Cukup akikah saja.

 


Bacaan al-Fatihah bagi Makmum

Apakah dalam shalat maghrib & isya pada rakaat pertama dan kedua makmum diwajibkan mendengar bacaan imam dan tidak diwajibkan membaca surat al-Fatihah?

 Jawaban:

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat subuh mengimami para sahabat. Beliau mendengar ada makmum yang ikut membaca.

Setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Sepertinya di antara kalian ada yang ikut membaca. Janganlah kalian lakukan hal tersebut di belakang imam kalian, kecuali untuk membaca al-Fatihah karena tidak ada shalat tanpa membaca al-Fatihah.”

Hadis ini derajatnya hasan. Jadi, makmum tetap membaca al-Fatihah meskipun imam mengeraskan bacaannya seperti pada shalat subuh, dan dua rakaat pertama shalat magrib dan isya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah.

 

Dusta! Komunis Membela Kaum Tertindas

Ada di antara kalangan muda yang tertarik marxisme lantaran pembelaannya terhadap kaum miskin tertindas. Mereka cemburu melihat kaum papa dimarjinalkan. Mereka terusik melihat ketidakadilan menyelimuti kaum miskin yang dipinggirkan. Hatinya berontak melihat kaum kapitalis (sang pemilik modal) memeras para buruh nan papa.

Semangat pembelaannya meledak melihat para borjuis (tuan tanah) menyabot hak-hak petani guram. Ketertindasan telah membangkitkan jiwa untuk bangkit membela. Ketertindasan telah membakar kecemburuannya untuk melakukan perlawanan. Telapak tangan kiri yang terkepal diacungkan: lawan!

Itulah anak muda. Awal reformasi di negeri ini mereka tergabung dalam partai anak muda yang kekiri-kirian. Atas nama ketertindasan mereka lantang bersuara. Serdadu bersenjata pun mereka lawan. Seakan-akan kematian bagi mereka adalah sebuah kemuliaan.

Namun, setelah reformasi mereda… Setelah mereka tidak muda lagi semangatnya, setelah sepatu kulit mengkilat mereka kenakan, setelah kursi jabatan diduduki, setelah lembaran fulus mengelus mereka, tak ada lagi suara lantang melawan ketidakadilan. Lidah telah kelu. Tangan sudah tak mampu mengepal lagi. Mereka telah terpesona dan jatuh cinta dengan dunia. Dulu, kapitalis adalah lawannya. Kini, jadi teman kencannya. Dulu, borjuis adalah musuhnya. Kini, jadi sahabatnya.

Kaum buruh yang dahulu mereka eksploitasi, tak sedikit pun merasakan manis dunia yang telah mereka raih. Petani guram cuma bisa mengelus dada menikmati kemiskinan yang makin mengimpit. Tak ada lagi anak muda yang dahulu mengunjunginya, mengajak berunjuk rasa, berdemo yang konon katanya untuk memperjuangkan hak-haknya yang dikebiri.

Kaum buruh dan para petani kecil tentu tak memahami arti pertentangan kelas. Mereka adalah orang-orang polos yang tak pernah belajar beragitasi dalam sebuah pertarungan kelas. Mereka lugu.

Karena keluguannya, mereka dieksploitasi, digunakan sebagai alat politik. Mereka ditarungkan melawan kapitalis, melawan borjuis. Begitulah keadaan senyatanya. Jadi, jika komunis memperjuangkan kaum miskin, buruh, petani, rakyat kecil, pedagang kaki lima, sebenarnya hanya sebuah kedustaan. Rakyat kecil itu hanya sebagai alat untuk sebuah aksi pertentangan kelas ala mereka. Aksi politik.

Adakah kesejahteraan bagi rakyat kecil di alam komunis? Tidak! Justru rakyat hidup terkekang. Berani mengkritisi partai komunis, berarti bersiap untuk ditindas. Dahulu, di Uni Soviet, berani buka suara melawan komunis, berarti bersiap dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Di Korea Utara pun demikian. Para anti-komunis digelandang ke kamp konsentrasi di Kaechon.

Yang senyatanya memperjuangkan kaum fakir dan miskin hanyalah Islam. Pembelaan Islam terhadap kaum papa adalah tanpa mengeksploitasi mereka. Apalagi dijadikan alat pertarungan kelas. Pembelaan Islam terhadap mereka dengan memberdayakannya, memberi perhatian, menyayangi, dan membantu mengatasi kesulitannya.

Bagi yang tak memiliki kepedulian, Islam memberi peringatan keras. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama itu? Maka, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1—3)

Firman-Nya,

فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9—10)

Firman-Nya,

وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠  فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣  أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ١٤ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ١٥  أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ١٦ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧

“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.

Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling menasihati untuk bersabar dan berkasih sayang.” (al-Balad: 10—17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok yang sangat penyayang dan pemurah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128)

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan kala Jibril menemuinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat keluhan dari kaum fakir. Sesungguhnya orang-orang berharta telah melampaui kaum fakir dalam beramal (sedekah dan membebaskan budak).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat, “Maukah aku kabari sesuatu bilamana kalian mengamalkannya bisa menjangkau (amalan) yang melampauimu? Tidak akan bisa menjangkau amalan ini kecuali orang yang turut mengamalkan hal serupa ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setelah selesai shalat masing-masing 33 kali.”

Lantas kaum fakir itu pun mengamalkannya. Kemudian orang-orang berharta pun mengetahui hal itu. Apa yang diajarkan kepada kaum fakir itu diamalkan juga oleh orang-orang berharta.

Kaum fakir pun mengadukan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau,

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, betapa bersemangat para sahabat untuk melakukan kebaikan. Mereka berpacu untuk bisa beramal saleh. Mereka berlomba mengejar urusan akhirat. Kecemburuan mereka terhadap para pemilik harta lantaran dengan harta yang ada bisa beramal kebaikan. Mereka selalu merasa kurang dalam mengerjakan amal saleh.

Ini tentu sangat bertolak belakang dengan paham marxisme. Marxisme tak mengaitkan keberadaan materi untuk kehidupan akhirat. Mereka tak memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib. Bagi mereka, kehidupan hanya di dunia. Islam pun mengajarkan agar tidak meremehkan kaum lemah. Tak boleh merasa diri lebih dari yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan pertolongan dan rezeki dengan sebab kaum lemah. Ini dilatari karena doa, shalat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah.

Pesan itu terungkap dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, yang menyebutkan,

“Sesungguhnya Sa’ad menyangka memiliki keutamaan dari sahabat Nabi lainnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini dengan (kaum) yang lemah lantaran doa, shalat, dan keikhlasan mereka’.” (HR. an-Nasai, no. 3178)

Demikian pula yang disebutkan dalam hadits Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu. Ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ابْغُونِي الضَّعِيفَ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعُفُائِكُمْ

Carikanlah aku kaum yang lemah! Sungguh, kalian akan diberi rezeki dan pertolongan dengan sebab orang-orang lemah (di antara) kalian.” (HR. Abu Dawud, no. 2335. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

Kepedulian Islam terhadap kaum yang lemah, tertindas, marjinal (terpinggirkan), sedemikian kuat. Bentuk bantuan materi bisa diwujudkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah, atau bentuk bantuan lainnya. Islam senantiasa mendorong umatnya untuk tolong-menolong dalam perbuatan baik dan takwa. Islam tak menghendaki umatnya saling menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah subhanahu wa ta’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau membantu saudaranya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Islam adalah pembela sejati kaum miskin, kaum lemah, dan tertindas. Cara yang ditempuh dalam agama mulia ini pun tidak sebagaimana dilakukan kaum marxis. Islam mengentaskan kaum papa melalui cara yang elegan. Tanpa harus mengeksploitasi kaum miskin. Tanpa harus mempertarungkannya. Tanpa harus memperalatnya.

Kaum yang tak berdaya benar-benar diperlakukan dengan sebaik-baiknya, diperlakukan dengan penuh manusiawi. Perlakuan-perlakuan itu didasari penuh keikhlasan. Upaya bantuan tersebut dilakukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya mengharap balasan dari Yang Maha Pemurah, Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan kaum marxis yang peduli kepada kaum miskin karena ada unsur kepentingan dunia. Bantuan yang sarat muatan politis. Jadi, adalah dusta, komunis membela kaum papa tertindas. Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Komunis Kaum Pemberontak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu begitu menggetarkan hati sehingga air mata pun menetes. Seorang sahabat mulia, Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, pernah mengisahkan hal itu dalam sebuah hadits. Di antara nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah mendengar dan taat walau yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Sebuah wasiat agung. Wasiat yang mengajarkan prinsip untuk menaati penguasa kaum muslimin. Sebuah prinsip yang senantiasa dijaga dan ditegakkan oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan prinsip ini, seorang muslim dididik untuk tidak merongrong kewibawaan penguasa kaum muslimin. Dengan prinsip ini pula, seorang muslim dibimbing agar tidak terjatuh melakukan aksi angkat senjata ke hadapan penguasanya. Menentang dan memberontak.

Hendaknya seorang muslim menaatipenguasanya dalam hal yang ma’ruf, yang tidak menjadikannya bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim dibimbing untuk bersabar menghadapi situasi yang tak nyaman, penuh hiruk pikuk, dan kegaduhan politik. Sabar dalam memegang kukuh wasiat di atas.

Itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berbeda dengan orang-orang yang lalai dengan agamanya. Tak mengingat dan mengamalkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mudah terpancing situasi politik yang memanas. Tak sabar saat stabilitas negara dalam keadaan goncang. Kritik berhamburan di depan publik. Cacat cela penguasa tersingkap di hadapan rakyat jelata. Yang semestinya, bila hendak menasihati penguasa, dilakukan secara tertutup sebagaimana adab yang diajarkan agama yang mulia, Islam.

Aksi Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan potret berpolitik penuh nista. Cara berpolitik yang jauh dari kesantunan. Trik-trik politik yang penuh tipu muslihat. Aksi-aksi yang dilandasi kebencian, menyikut teman seiring, membantai lawan, haus kekuasaan, menghasut dan menghalalkan semua cara. Selama tampil di pentas jagat Nusantara, PKI cuma bisa menyajikan kekacauan demi kekacauan. Rakyat Indonesia, khususnya rakyat kecil, dimanipulasi untuk selalu menyibukkan diri dalam perpolitikan. Rakyat jelata diagitasi untuk selalu bangkit melakukan perlawanan terhadap siapa pun yang tak segaris dengan PKI.

Seakan-akan memperjuangkan kaum proletar, yaitu rakyat jelata. Padahal, senyatanya banyak menyengsarakan rakyat. Bahkan, mengorbankan rakyat. Ya, mengorbankan rakyat miskin. Tak semata miskin harta, namun miskin ilmu. Rakyat semacam ini yang dijadikan tumbal perjuangan PKI. Berkedok pertentangan kelas, rakyat jelata dibodohi segelintir elite partai. Rakyat disuguhi kebohongan demi kebohongan. Itulah PKI.

 Berjuang Berarti Memberontak

Tak bisa dimungkiri, doktrin pertentangan kelas yang ditanamkan kepada kader PKI telah banyak memberi pengaruh untuk berontak. Kaum miskin, buruh tani, buruh perkebunan, para pekerja tambang dan pabrik adalah sosok manusia yang sangat rentan disusupi paham komunis. Nyaris semua pemberontakan di Nusantara yang dilakukan komunis melibatkan kaum marjinal (pinggiran), seperti petani atau buruh.

Mengingat doktrin pertentangan kelas pula, kaum marxis-komunis membangun kekuatan massa di pusat-pusat perburuhan atau pertanian. Di situ banyak buruh, di situ pula kader-kader komunis melakukan perekrutan pengikut. Di situ banyak petani miskin, di situ pula agen-agen marxis bergerilya menancapkan cakar komunismenya.

Sebab, sesungguhnya, doktrin pertentangan kelas tak bisa diwujudkan manakala masyarakat tidak dipilah menjadi miskin-kaya, borjuis-proletar, atau kapitalis-proletar. Doktrin pertentangan kelas akan mengalami resistensi (penolakan) dari masyarakat, manakala masyarakat hidup harmoni. Yang kaya menolong yang miskin, yang miskin mengerti keadaan dirinya untuk bersabar dan membangun relasi baik terhadap yang kaya. Pemilik modal (kapitalis) tidak bersikap arogan terhadap kaum buruh atau petani. Begitu pula para buruh atau petani bisa membawa diri dalam bermuamalah. Manakala dibingkai akhlak yang baik, harmoni itu bisa terwujud. Biidznillah.

Sebagai agama yang sempurna dan universal, Islam telah memberikan bimbingan tentang hal itu. Antara kaya dan miskin tidak terjadi jurang pemisah. Ketentuan zakat, sedekah, dan infaq, di antara hikmahnya adalah membangun relasi yang sehat, penuh kasih, hangat, dan perhatian antara yang kaya dan miskin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta.” (adz-Dzariyat: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan untuk tidak meremehkan kaum yang lemah, memerhatikan dan peduli terhadap mereka. Berdasarkan hadits dari Mush’ab bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, dari ayahnya,

أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَبِصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

Sesungguhnya ia (Sa’ad) menyangka memiliki kelebihan atas para sahabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini melalui (kaum) yang lemah karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (HR. an-Nasai, no. 3178, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

 Upaya Pemberontakan 1926—1946

Tengoklah perjalanan sejarah. Pemberontakan di wilayah Banten pada November 1926, kaum komunis berhasil memprovokasi massa buruh dan petani untuk memberontak dan membuat kerusuhan.

Nyaris bersamaan waktu, terjadi pula pemberontakan di wilayah Karesidenan Jakarta dan wilayah Priangan, Jawa Barat. Beriring waktunya dengan pemberontakan komunis di Solo. Jelang tutup tahun 1926, di Kediri meletus pula pemberontakan orang-orang komunis. Awal Januari 1927, orang-orang komunis membuat onar, berontak, dan membantai masyarakat Silungkang, Sumatra Barat.

Sekian banyak makar ditorehkan oleh para pengusung ideologi marxisme di nusantara. Sekian banyak pula korban berjatuhan, kerugian finansial dan kerusakan infrastruktur masyarakat. Apa yang dilakukan orang-orang komunis tak memberi kebaikan sedikit pun terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Komunisme hanya menjadikan situasi tidak kondusif. Fakta sejarah yang terpapar di atas adalah fakta yang terekam saat kemerdekaan Republik Indonesia belum diproklamirkan.

Pasca-kemerdekaan, komunis berulah juga. Antara Oktober—Desember 1945, dikenal “Peristiwa Tiga Daerah”. Para pengusung PKI berusaha melakukan pemberontakan untuk menguasai Tegal, Brebes, dan Pemalang. Mereka melakukan konsentrasi massa di Desa Talang, Kabupaten Tegal. Namun, upaya permufakatan jahat kaum komunis berhasil ditebas pasukan pemerintah.

Pungkas di “Peristiwa Tiga Daerah” ternyata tak menjerakan para pengusung ideologi anti agama ini. Februari 1946, mereka membuat aksi berontak di Cirebon. Upaya merebut kekuasaan pemerintahan daerah tak mampu dilakukan. Massa PKI dipukul mundur oleh pasukan pemerintah dan kaum muslimin.

 Muso Datang, Madiun Meradang

Sekembali dari Rusia, Muso mengambil alih kendali partai. Tanggal 1 September 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) kali pertama terbentuk. Muso dipilih sebagai Ketua PKI. Aroma Rusia pun masih kental tercium. Bara revolusi kaum marxis-leninis di Rusia masih kuat membakarnya. Keberhasilan kaum komunis di Rusia coba ingin diwujudkan di Indonesia. Muso pun ambil langkah.

Sejak Muso memegang tali kekang partai, wajah garang PKI semakin menguat. Para pimpinan partai sering melakukan orasi di hadapan masa. Isi orasi pun sarat muatan yang membakar emosi masa. Menghasut. Memberi janji-janji muluk. Mendiskreditkan pemerintah Republik Indonesia.

Yogyakarta, Sragen, Solo, dan Madiun adalah jalur aksi agitasi mereka. SOBSI, sebagai organisasi sayap PKI untuk para buruh, menggalang kekuatan massa buruh di Klaten, Jawa Tengah untuk mogok kerja. Tak hanya itu, kaum komunis pun melakukan aksi-aksi teror terhadap orang-orang yang tak segaris, seperti terhadap para pegawai pemerintah dan tokoh kaum muslimin di daerah.

Akibat berbagai aksi itu, situasi pun memanas. Kerusuhan meletus di Solo. Darah merah tertumpah. Kolonel Soetarto, Panglima Divisi IV/Panembahan Senopati, dibunuh. Setelah itu, dr. Moewardi pun diculik dan dibantai. Nama terakhir ini kemudian disematkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta, RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang terletak di Jl. Kolonel Soetarto.

Saat perhatian terfokus ke Solo, di Madiun situasi menegang. Pada 18 September 1948, Muso memberi komando untuk menguasai Madiun dan sekitarnya. Operasi pemberontakan berhasil dilaksanakan. Hari itu Madiun dikuasai kaum komunis. Pasukan TNI terdesak ke pinggiran Madiun. Perkantoran pemerintah dan beberapa objek vital dikuasai komunis.

Proklamasi berdirinya negara “Republik Soviet Indonesia” segera dipublikasikan. Sebagai pimpinan pemberontakan, Muso membentuk Pemerintah Front Nasional. Tak berlangsung lama, komunis menguasai Karesidenan Madiun, Purwodadi, dan Cepu.

Pemberontakan ini memakan korban yang tidak sedikit. Di antara para korban pembantaian ialah para pejabat pemerintahan, TNI, polisi, dan tokoh masyarakat. Sebuah sumur tua di Desa Soco, Kecamatan Benda, Kabupaten Magetan merupakan tempat kuburan massal korban pembantaian PKI. Ada 108 jenazah ditemukan, 78 jenazah dikenali, sedang sisanya tak bisa dikenali. Di antara korban, Bupati Magetan Soedibjo. Juga ditemukan korban pembantaian PKI di sebuah sumur di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di tempat ini ada 17 nama korban, diantaranya Kolonel Marhadi. Adapun di sumur tua yang berada di Desa Cigrok ditemukan jenazah 22 orang. Di antaranya jenazah para kiai pengasuh pondok pesantren.

Pemberontakan PKI di Madiun tidak berlangsung lama. Dalam kurun kurang dari dua pekan, para pemberontak bertekuk lutut. Pasukan pemerintah membasmi anasir PKI. Bahkan, Muso ditembak mati saat melarikan diri ke luar kota Madiun. Para pelaku lainnya, seperti Amir Sjarifuddin, dieksekusi mati.

 G 30 S/PKI

Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI) merupakan gerakan penggulingan kekuasaan. G30 S/PKI, sering disebut juga Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), melancarkan pemberontakan dengan melakukan penculikan dan pembantaian terhadap para perwira tinggi TNI. Enam jenderal dan satu perwira menengah dibunuh secara keji oleh kelompok Gestapu. Sementara itu, satu jenderal yang menjadi target penculikan berhasil lolos. Para korban penculikan selanjutnya dibawa ke daerah Lubang Buaya, dekat Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

Pada 1 Oktober 1965 sekira jam 05.30, pasukan Gatotkaca dibawah pimpinan Mayor Udara Gathut Soekrisno menerima hasil penculikan dari pasukan Pasopati. Sementara itu, para sukwan (sukarelawan) PKI, di antaranya ada dari kalangan sukwati (sukarelawati) Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, organisasi sayap PKI untuk para wanita), telah menunggu kedatangan para korban penculikan. Mereka menunggu di dekat sumur tua Lubang Buaya. Tempat itu merupakan basis gerakan mereka.

Empat korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan mata ditutup kain merah dan kedua tangannya diikat ke belakang. Adapun tiga orang jenderal korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan telah meninggal. Tubuh ketiganya bersimbah darah akibat diberondong senjata api laras

panjang dan ditusuk sangkur terhunus. Mereka dibunuh ketika masih di rumahnya masing-masing. Adapun empat korban penculikan yang masih hidup disiksa hingga meninggal.

Saat fajar merekah, hutan karet Lubang Buaya menjadi area pembantaian. Setelah keempatnya meninggal, lalu para sukwan PKI melemparkan para korban ke dalam sumur tua. Untuk menghilangkan jejak, sumur tua itu ditimbun tanah dan ditanami pohon pisang.

Peristiwa 30 September 1965 tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Awan kelam menyelimuti persada. Pengkhiatan PKI terulang kembali. Karena ambisi politik, mereka menghalalkan segala cara. PKI membuat makar. Perilaku binatang nan menjijikan dipertontonkan dihadapan umat manusia. Sekian banyak pemberontakan dilakukan, dan pemberontakan G 30 S/PKI merupakan antiklimaks partai berlambang palu arit ini. Pupus sudah mimpi D.N. Aidit dan para pendukungnya untuk menjadikan republik ini sebagai negara komunis. Tekadnya untuk mengomuniskan Indonesia terhenti akibat perbuatan terkutuknya. Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan makar kaum komunis PKI.

Setelah kebiadaban yang dilakukan orang-orang PKI, maka rakyat Indonesia bersepakat untuk mengenyahkan PKI. Ideologi, organisasi, atribut partai dan segala bentuk kegiatan PKI dilarang di wilayah Republik Indonesia. PKI dibubarkan dan paham komunisme/marxisme-leninisme dilarang. Sebagai lembaga tertinggi di Republik Indonesia, Majelis Permusjawaratan Rakjat Sementara (MPRS) telah membuat ketetapan tentang pelarangan tersebut. Lahirlah Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Walau PKI telah dilarang di Indonesia, bukan berarti paham komunisme itu mati. Partai hanyalah sebuah kendaraan politik. Partai bisa dibubarkan. Namun, komunisme sebagai ideologi bisa terus hidup. Ketika kendaraan politik tidak dimiliki, kader komunis bisa menumpang ke dalam partai politik yang ada sekarang ini. Kader komunis bisa saja menyusup ke dalam partai yang berkuasa. Mereka mencari tempat yang aman. Karena itu, kewaspadaan harus tetap dijaga. Sebagai ideologi, PKI belum mati.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Referensi

Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994

Dari Seorang Marxis Lahirlah PKI

Nama H.J.F.M. Sneevliet atau dikenal juga Henk Sneevliet tak bisa dilepaskan dari sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Pria berkebangsaan Belanda yang datang ke Hindia Belanda (sekarang Republik Indonesia) tahun 1913 adalah seorang berhaluan marxis.

Saat di Belanda, Sneevliet adalah anggota sebuah partai politik bermanhaj komunis. Bahkan melalui Sociaal Democratisch Arbeiders Partij (SDAP: Partai Buruh Sosial Demokrat), ia sempat menjadi anggota perwakilan rakyat.

Di Hindia Belanda, Sneevliet bekerja pada sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya, Soerabajasche Handelsblad. Surat kabar ini milik sindikat perusahaan-perusahaan gula di Jawa Timur. Selang berapa lama ia pindah ke Semarang. Di Semarang inilah Sneevliet menemukan media untuk menebarkan paham marxisme. Saat itu, di Semarang, terdapat organisasi buruh kereta api yang bernama Vereniging van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP).

Melalui organisasi buruh kereta api inilah Sneevliet menanamkan pemahaman radikal marxis. Kondisi sosial politik yang menekan kaum buruh, serta jiwa imperialis kapitalis pemerintah Belanda di Hindia Belanda, menjadikan ajaran marxisme yang dibawa Sneevliet mendapat sambutan. Kaum buruh kereta api seakan mendapat daya untuk bangkit dari ketertindasan.

Mendapat kesempatan emas yang semacam ini, Sneevliet tak menyia-nyiakannya. Ia ajak rekan-rekannya yang berpaham marxis di negeri Belanda untuk tandang ke Hindia Belanda. Datanglah rekan-rekannya, J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma. Semuanya kader marxisme yang memiliki militansi tinggi.

Tak berselang lama dari kedatangan teman-temannya, pada 1914 mereka mendirikan organisasi bernama Indische Sociaal Democraticshe Vereniging (ISDV: Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda). ISDV merupakan organisasi pertama berhaluan marxisme di Asia Tenggara. Organisasi inilah yang kelak menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai media propaganda marxisme, diterbitkanlah majalah Het Vrije Woord (Suara Kebebasan). Selain itu, diterbitkan pula surat kabar Soeara Mardika dan Soeara Rakjat. Tiga media cetak yang mereka terbitkan merupakan sarana menanamkan paham komunisme kepada masyarakat. Mereka memahami benar arti penting sebuah media dalam melakukan aksi propaganda.

Metode infiltrasi (penyusupan) pun dilakukan. Mereka melakukan gerakan penyusupan ke dalam organisasi Sarikat Islam (SI). Akibat gerakan infiltrasi yang mereka lakukan, banyak kader SI yang kemudian menjadi penganut marxis. Di antara kader SI yang membelot dari SI adalah Semaoen dan Darsono. Nama kader SI yang disebutkan, di kemudian hari menjadi orang penting dalam membidani lahirnya PKI.

Dalam perkembangannya, ISDV yang menamakan dirinya sebagai kelompok merah, memperalat para serdadu dan pelaut untuk melakukan demonstrasi melawan polisi. Media cetak yang dikuasai ISDV pun menyajikan tulisan-tulisan yang menghasut massa. Tujuannya agar terjadi pemberontakan dan berkibarlah bendera merah (komunis).

Aksi kaum komunis yang tergabung dalam ISDV ini membangkitkan kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Pihak pemerintah akhirnya menangkap Sneevliet dan teman-temannya, kemudian mengusirnya pulang ke negeri Belanda. Pengusiran paksa dilakukan berturutan antara tahun 1918—1923.

Setelah pengusiran paksa Sneevliet dan teman-temannya, ISDV dikendalikan kader komunis binaan Sneevliet, Semaoen dan Darsono. Sejak itu mulailah organisasi perhimpunan marxisme di Hindia Belanda secara murni dipegang kaum pribumi. Komunis di Hindia Belanda sudah tidak lagi berkulit bule. Sudah tidak lagi makan keju dan roti. Komunis di negeri jajahan\ Belanda, semenjak itu telah sama dengan putra pribumi. Sneevliet telah menanam kader yang berkulit sawo matang, bisa makan nasi, dan berbicara dengan bahasa ibunya. Komunis dan komunisme telah memasuki babak baru dalam sejarah di wilayah Nusantara.

Sebuah hasil pertemanan yang membawa dampak buruk. Tak hanya memberi keburukan kepada orang bersangkutan. Bahkan, berdampak negatif dalam skala yang sangat luas, yaitu skala kehidupan bangsa Indonesia.

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkait pertemanan. Teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Adapun pandai besi bisa menjadikan pakaian seseorang terbakar. Atau, minimalnya bisa mencium sesuatu yang beraroma buruk. Itulah pengibaratan bagi seseorang yang bergaul dengan teman yang buruk.

Komunis tak semata menebar aroma bau busuk, lebih dari itu menjadikan seseorang terjungkal ke arah kekufuran. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَناَفِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً

Sesugguhya permisalan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk, seperti seorang pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi ia memberimu (minyak wangi), bisa juga engkau membelinya dari dia, dan bisa jadi pula engkau cuma mendapati aromanya yang harum. Adapun pandai besi, bisa menjadikan pakaianmu terbakar dan bisa pula engkau akan dapati bau yang tak sedap.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Seiring perjalanan waktu, peta perkembangan global pun mengalami perubahan. Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia telah memberi semangat melimpah bagi para penganut marxisme di berbagai belahan bumi. Tak terkecuali yang ada di Hindia Belanda saat itu. Berbagai konsolidasi pun dilakukan, termasuk melakukan konsolidasi struktural dalam partai.

Selang beberapa tahun dari revolusi di Rusia, setelah dirasa tepat untuk melakukan kongres, pada Juni 1924 diadakan kongres kali pertama kaum komunis di Jakarta. Pada kongres inilah nama PKI secara resmi disematkan menjadi nama partai untuk kaum pengusung marxisme. PKI pun lahir di bumi Nusantara.

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Proxy War, Kuasai Negara Tanpa Kirim Bala Tentara

Menteri Pertahanan Republik Indonesia menilai, fenomena kemunculan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia adalah bagian proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer.

Perang proksi dilakukan melalui proses cuci otak. Pemikiran seseorang diubah sesuai dengan kepentingan lawan. Apabila kemunculan LGBT saja sudah dinilai sebagai ancaman terhadap bangsa, sudah pasti geliat komunisme harus lebih diwaspadai.

Belajar dari perjalanan sejarah, sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) tumbuh meraksasa, proses cuci otak telah dilakukan secara sistematik. Berawal dari kehadiran seorang aktivis Belanda berhaluan Marxisme di Nusantara (saat itu masih bernama Hindia Belanda) bernama H.J.F.M Sneevliet. Melalui Sneevliet ajaran Marxisme mulai ditebar di Nusantara. Bahkan, Sneevliet berhasil menyusupkan paham Marxisme ke dalam tubuh organisasi Sarikat Islam (SI). Kader-kader SI, seperti Semaoen, berhasil dicuci otak sehingga menjadi kader SI berhaluan marxisme.

Keberhasilan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia—yang mengantar kaum komunis di bawah pimpinan Vladimir Lenin memegang kekuasaan—digunakan untuk mengarahkan kader-kader komunis di Nusantara untuk berpaling ke Rusia.

Selang beberapa tahun, terjadilah pengiriman orang-orang pribumi ke Rusia. Pengiriman para kader ini sebagai bagian proses cuci otak sehingga pergerakan komunis di Nusantara kelak dikendalikan oleh orang-orang pribumi. Melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), Rusia menanamkan paham Marxisme-Leninisme ke seluruh dunia. Kemudian muncullah nama-nama seperti Muso, D.N. Aidit, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin sebagai lokomotif pergerakan komunis di Bumi Nusantara.

Sejarah kemudian mencatat, mereka yang telah mengalami proses cuci otak sehingga menjadi komunis, melakukan pengkhianatan terhadap bangsa. Komunis melakukan gerakan bersenjata guna menghabisi lawan-lawan politiknya. Siapa tidak sepaham, dilibas!

Itu dahulu. Kini, perang proksi tentu lebih canggih dan tersistematis. Masih ingat Revolusi Februari 1979 di Iran? Apabila Rusia dengan Revolusi Bolshevik 1917, melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), berhasil mengekspor paham komunisme ke seluruh dunia; Iran dengan Revolusi Februari 1979 yang digerakkan oleh Khomeini, pun menebarkan pemahaman Syiah ke seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Setelah Shah Iran Reza Pahlevi digulingkan oleh Khomeini, kekuasaan beralih kepada kaum Syiah. Untuk mengelabui masyarakat muslim dunia, revolusi yang dicanangkan dilabeli dengan “Revolusi Islam”. Tak heran apabila kemudian banyak kaum muslimin tertipu. Tahun 1980-an, di Indonesia, foto-foto Khomeini berbagai ukuran menyebar secara masif di kalangan para aktivis Islam. Khomeini menjadi simbol perlawanan saat itu. Khomeini difigurkan.

Sebagaimana halnya Revolusi Bolshevik di Rusia yang dijadikan rujukan oleh para kader komunis, yang lantas disusul pengiriman kader-kadernya ke Rusia; setelah revolusi di Iran berlangsung, pengiriman para aktivis Islam ke Iran pun dilakukan. Melalui jaringan yang dirancang kaum Syiah di Indonesia, program cuci otak terhadap para aktivis Islam dari Indonesia dilakukan secara sistematis.

Kader-kader Syiah yang kembali dari Iran lantas melakukan pergerakan. Sebagaimana orang-orang komunis berhasil menyusup ke dalam tubuh Sarikat Islam, kaum Syiah pun melakukan gerakan penyusupan ke tubuh partai, organisasi massa, bahkan ke lembaga kekuasaan di tingkat pusat.

Berbahayakah kaum Syiah sehingga selalu perlu diwaspadai? Apabila berkaca pada sejarah, perjalanan panjang kaum Syiah di muka bumi ini telah menorehkan luka mendalam pada tubuh kaum muslimin.

Betapa tidak. Kaum Syiah senantiasa memunculkan konflik. Melalui doktrin sesatnya, kaum Syiah memiliki keyakinan yang keji terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum Syiah pun merusak tatanan hidup bermasyarakat dan berkeluarga melalui ajaran nikah mut’ah. Kaum Syiah pun mengajarkan hidup boleh berdusta melalui ajaran taqiyah. Bahkan, taqiyah adalah ibadah.

Masih sekian banyak lagi kesesatan ajaran Syiah. Ajaran-ajaran tersebut merupakan bom waktu yang bisa menjadi pemicu konflik horisontal di tengah masyarakat. Bahkan, apabila telah memiliki kekuatan, kaum Syiah tak segan melakukan perebutan kekuasaan. Pelajaran sejarah yang terbaik untuk menjadi cermin bangsa Indonesia adalah perjalanan kaum Syiah di Iran yang merebut kekuasaan dari Shah Iran, Reza Pahlevi. Di Yaman, kaum Hutsi (Syiah) berupaya yang melakukan gerakan pemberontakan bersenjata guna menggulingkan presiden yang sah. Demikian pula pergolakan kaum Syiah di Suriah.

Semua itu hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Haruskah menanti bangsa ini bersimbah darah lagi sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum komunis PKI dahulu?

Selain komunisme dan Syiah, jaringan liberal pun perlu diwaspadai. Paham liberalisme dalam memaknai syariat Islam sangat berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini bisa ditinjau dari sisi:

  1. Kaum muslimin di Indonesia merupakan populasi terbesar.

Jumlah mayoritas ini akan menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa manakala kaum muslimin memiliki pemahaman yang benar terhadap agamanya. Pemahaman yang benar tentu saja pemahaman yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pemahaman yang merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh salaf.

Ketika kaum muslimin memiliki pemahaman yang rusak terhadap agamanya, kelemahan akan meliputi kaum muslimin (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari hal itu). Kelemahan kaum muslimin akan berdampak besar kepada kondisi bangsa.

Karena itu, untuk merusak bangsa ini, kaum imperialis menggunakan strategi perang proksi. Kaum cendekia dicuci otak melalui agen-agen mereka yang ada di Tanah Air. Ada yang diberangkatkan langsung ke negara imperialis dengan kamuflase “tugas belajar”. Sekembali dari “tugas belajar”, ia menyuarakan berbagai keganjilan di tengah masyarakat. Mengusik stabilitas nasional.

Apa yang dilakukan oleh kaum liberal di Indonesia bisa mengancam kehidupan bermasyarakat. Lihatlah, dukungan kaum liberal terhadap LGBT. Tak mustahil kaum liberal akan mendukung kaum komunis dengan alasan hak asasi manusia, demokrasi, dan kebebasan. Menilik konsepsi berpikir kaum liberal, arah untuk memberi dukungan terhadap komunisme sangat terbuka. Allahu a’lam.

 

  1. Apabila kaum muslimin telah jauh dari agamanya, kehancuran bakal mengintai. Pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bisa terhambat.

Padahal kemerdekaan negara ini tak lepas dari pertolongan-Nya. Kemerdekaan bangsa ini adalah atas rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Jika bukan Allah subhanahu wa ta’ala yang membantu bangsa ini, siapa lagi yang bisa dijadikan penolong?

Sehebat apapun kekuatan dikerahkan, manusia tentu ada batasnya. Islam mengajarkan agar manusia tidak sombong di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Islam mengajarkan agar manusia taat kepada-Nya.

Kini, apa yang diajarkan oleh Islam, coba dirusak dengan pemahaman liberal. Kaum liberal, sebagai kaki tangan kepentingan asing, berupaya mereduksi kekuatan bangsa. Mereka melakukan pelemahan secara sistematis terhadap unsur penguat bangsa, yaitu kaum muslimin.

 

  1. Karena itu, sudah semestinya rakyat Indonesia yang mayoritas kaum muslimin didorong untuk menjadi orang-orang yang lurus imannya.

Mereka harus didorong menjadi manusia-manusia beriman sebenar-benarnya, bukan menjadi manusia-manusia yang membangkang terhadap Yang Maha Pencipta. Inilah yang dilakukan kaum liberal. Mereka mendorong rakyat Indonesia menjadi kaum pendurhaka, LGBT. Semoga pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala meliputi bangsa ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٤٧

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Perang pemikiran akan terus berlangsung. Bala tentara setan akan terus berupaya merongrong kehidupan masyarakat. Sekarang mereka memperjuangkan LGBT yang didukung organisasi sayap mereka dari kalangan intelektual, seperti kaum liberal. Kalangan yang dididik oleh orientalis tentu memiliki agenda tersembunyi terhadap kaum muslimin dan bangsa ini.

Ada apakah sehingga mereka mendukung penuh LGBT? Padahal telah tampak secara nyata kerusakan yang ditimbulkan LGBT di tengah masyarakat. Komunis, liberalis, Syiah, radikalis, dan teroris senantiasa berupaya merusak kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, bekali umat dengan pemahaman Islam yang benar. Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Komunisme, Ideologi Antiagama

Komunisme diartikan sebagai paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol negara. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Dengan kata lain, komunisme adalah sebuah paham yang menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi (seperti tanah, tenaga kerja, modal) yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa kelas dan semua orang sama. Komunis artinya orang yang menganut ideologi komunisme.

Sisi lain, komunisme merupakan ideologi yang mendasarkan segala sesuatu pada materi, mengingkari keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala dan tiap perkara yang bersifat gaib. (www.sahab.net/forums/indeks.php?showtopic=91799)

Karena bersandar kepada prinsip materialisme, komunisme tidak menerima kepercayaan mitos, takhayul, dan agama. Bahkan, agama dianggap sebagai candu yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional.

Dengan demikian, komunisme adalah ideologi antiagama. Komunisme adalah ideologi yang tidak mengakui adanya Allah subhanahu wa ta’ala (ateisme) dan hal-hal yang bersifat gaib karena dianggap sebagai mitos dan takhayul. Prinsip dasar itulah yang ditanamkan oleh Karl Marx dalam membangun ideologi komunismenya.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan, termasuk bentuk keyakinan yang kufur, bertentangan dengan akidah yang benar, menyelisihi syariat yang dibawa oleh para rasul ‘alaihimussalam, ialah keyakinan menyimpang (ateis) kalangan pengikut Marx, Lenin, serta para penyeru ateisme dan kekufuran. Ideologi mereka bisa bernama sosialisme, komunisme, ba’tsiyah (para pengikut Partai Ba’ts), atau lainnya. Mereka memiliki prinsip ideologi ateisme yang menyatakan tidak ada ilah (tuhan) dan kehidupan adalah sesuatu yang bersifat materi. Mereka memiliki prinsip ideologi yang mengingkari kehidupan akhirat, surga, dan neraka. (Arkanu al-Islam, hlm. 36)

Dinyatakan pula oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah bahwa Partai Ba’ts, Komunisme, dan seluruh ideologi yang sejenis, menjadikan para penganutnya kafir. Mereka lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.

Sebab, makanan dan sembelihan Yahudi dan Nasrani masih diperkenankan untuk seorang muslim. Demikian pula para wanita mereka (Yahudi dan Nasrani) masih diperkenankan dinikahi. Setiap ateis (orang yang tak meyakini keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala) tidak memercayai Islam, itu lebih jelek dari Yahudi dan Nasrani. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz, 6/85)

 Beriman Kepada Allah Meliputi Iman Kepada Wujud Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam Nubdzah fi al-‘Aqidah al-Islamiyah (hlm. 16), asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala meliputi keimanan terhadap wujud (keberadaan) Allah subhanahu wa ta’ala. Keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala bisa ditunjukkan secara fitrah, akal, syariat, dan fisik. Disebutkan dalam sebuah hadits,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tiada anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (HR. al-Bukhari, no. 1319)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Akidah Islam dibangun atas asas beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir, yang baik atau buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orangorang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kesusahan dan derita serta dalam masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

Juga firman-Nya,

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩

 “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (al-Qamar: 49)

Demikian pula di dalam hadits dijelaskan tentang prinsip keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْإيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهَ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْم الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Keimanan adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik dan buruknya.” (HR. Muslim no. 93)

Itulah keyakinan seorang muslim. Keyakinan yang sangat bertolak belakang dengan keyakinan seorang komunis. Sungguh lemah dasar pijak materialisme yang dianut oleh kaum komunis. Mereka bergantung pada sesuatu yang fana, mudah hancur, dan sirna. Mereka menjadikan materi sebagai pijakan keyakinannya.

Sungguh, apa yang dijajakan oleh Karl Marx, Vladimir Lenin (tokoh komunis Uni Soviet), atau Mao Tse-Tung (tokoh komunis Tiongkok) adalah kekufuran yang akan menghancurkan peradaban manusia. Ideologi yang menghalalkan segala cara. Ideologi yang mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk meraih kekuasaan.

Pertentangan Kelas adalah Adu Domba

Pertentangan kelas menjadi doktrin kuat yang dianut oleh para kader Marxisme. Karena prinsip ideologi komunis semacam itu, maka para petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin menjadi ladang garap utamanya.

Komunis Uni Soviet membangun kekuatan partai di lingkungan para pekerja (buruh). Adapun komunis Cina membangun garda pertahanan partainya di wilayah berbasis petani. Kalangan fakir, miskin, orang-orang lemah, orang-orang tertindas, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya komunisme.

Di Indonesia tak jauh berbeda. Sejarah perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) tak bisa dipisahkan dari kaum proletar (rakyat jelata, seperti kaum buruh, petani, dan nelayan). Dalam keorganisasian pun, PKI memiliki organisasi sayap, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), dan organisasi berbasis massa lainnya.

Melalui organisasi sayap petani, BTI, PKI melakukan aksi pertentangan kelas. Dengan dalih membela para petani miskin, PKI menuntut dilaksanakannya Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian (UU No. 2/1960) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5/1960).

Sejalan dengan propaganda yang dicanangkan, dalam rangka mempertajam pertentangan kelas sesuai dengan doktrin Marxisme-Leninisme, PKI mengampanyekan pula sikap anti “Tujuh Setan Desa”. Adapun yang dimaksud sebutan “Tujuh Setan Desa” adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemungut/pengumpul zakat.

Pada 26 Maret 1964, BTI Jawa Tengah melakukan aksi di Desa Kingkang, Kecamatan Wonosari. BTI memprovokasi para petani sehingga terjadi konflik. Atas hasutan BTI, massa anggota BTI melakukan tindak kekerasan terhadap tuan tanah di desa tersebut.

Melalui BTI, PKI menumbuhkan saling membenci di antara komponen masyarakat. Bahkan, penganiayaan secara fisik pun terjadi. Masyarakat diadu domba. Doktrin pertentangan kelas menjadi andalan kaum komunis untuk membenturkan antaranak bangsa.

Tanggal 15—16 Oktober 1964 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, aksi masa BTI pun tak kalah sadis. Tujuh anggota petugas perkebunan milik negara dianiaya oleh massa komunis dari BTI.

Sekali lagi, kampanye PKI untuk melakukan aksi pertentangan kelas terus digalakkan saat itu. Akhirnya, berbagai kasus konflik di tengah masyarakat bermunculan, seperti di Kediri (Jawa Timur), Simalungun (Sumatra Utara), dan tempat lainnya. (Lihat Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994)

Demikianlah orang-orang komunis. Melalui organisasi tani BTI, mereka menghasut anggota dan simpatisannya untuk bertindak onar tanpa kendali. Mereka hendak memaksa pemilik tanah untuk menyerahkan tanahnya dengan dalih melaksanakan undang-undang. Akibat tindakan mereka terjadilah konflik di berbagai daerah.

PKI menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Termasuk menggunakan cara adu domba, yang mereka sebut dengan “pertentangan kelas”. Pertentangan antara kelas borjuis (pemilik tanah) dan kaum proletar (rakyat jelata, buruh tani miskin). Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang suka mengadu domba.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu)

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin