Tanya Jawab Ringkas Edisi 115

Berikut ini beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-ustadz Muhammad as-Sarbini.

 Haid, Qadha Shalat?

Mau tanya, apakah benar wanita yang haid itu punya kewajiban untuk mengqadha shalat?

Jawaban:

Itu tidak benar. Pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan, wanita haid diperintah mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat. Berbeda halnya jika yang dimaksud adalah wanita mendapati waktu shalat, tetapi belum sempat menunaikannya lantas tertimpa haid. Ia wajib mengqadhanya, dengan syarat sempat mendapati waktu yang cukup untuk melaksanakan satu rakaat. Lihat rincian penjelasan masalah ini pada Rubrik Problema Anda edisi 97.

 

Nikah Tanpa Wali

Bagaimana hukumnya pernikahan seorang janda yang menikah tanpa wali, sah atau tidak pernikahannya? Kalau tidak sah, haruskah kami berpisah dahulu untuk sementara guna memperbarui pernikahan? Kami sudah menikah delapan tahun, anak kami ada lima. Kami menikah secara siri karena suami sudah punya istri. Suami sudah punya niat untuk ke pengadilan, tetapi qaddarallah banyak halangannya. Bagaimana cara kami memperbaiki semuanya, ustadz? Mohon solusinya.

Jawaban:

Pernikahan tanpa wali hukumnya tidak sah, baik perawan maupun janda. Apabila salah satu dari Anda berdua sudah mengetahui hukum ini saat menikah, tetapi tetap melangsungkannya karena dorongan hawa nafsu, berarti Anda berdua telah berzina. Lima anak itu berstatus anak zina, tidak punya bapak. Mereka dinisbahkan kepada ibunya.

Apabila Anda berdua benar-benar tidak tahu hukum ini, lima anak itu berstatus anak syubhat, seperti halnya anak syar’i (yang sah). Yang mana saja dari kedua kemungkinan di atas, Anda wajib langsung berpisah saat ilmu ini sampai. Setelah itu, perbarui pernikahan dengan wali yang sah, walau belum disahkan oleh pengadilan.

 ——————————————————————————————————————————

“Saya Selesai Jadi Suamimu”

Saya mempunyai suami yang bekerja di luar kota. Suami selingkuh dan saya maafkan. Suatu hari suami ketahuan selingkuh kembali dengan wanita yang mengaku sudah menjalin hubungan dengan suami saya selama 4 tahun. Atas kejadian itu, suami meminta maaf. Akan tetapi, setelah kejadian ini hati saya jadi gampang curiga.

Dengan kecurigaan itu, suami berkata kepada saya, “Selesai saya jadi suami kamu.” Dengan ucapan itu, apakah suami sudah menalak saya? Akan tetapi, suami masih pulang ke rumah dan masih memberi materi kepada anak-anak dan saya, tetapi tidak untuk nafkah batin.

Pertanyaannya, bagaimanakah hukum pernikahan saya secara Islam? Suami sudah sering mengucapkan kata talak kepada saya, sebanyak 4 kali. Akan tetapi, pada akhirnya suami mengajak saya rujuk kembali karena kasihan terhadap anak.

Jawaban:

Jika suami Anda sudah mengucapkan/menjatuhkan talak sampai3 kali yang diselingi oleh rujuk di antara setiap fase talak, Anda sudah bukan istrinya lagi.

Bahkan, Anda tidak bisa menikah lagi dengannya sampai Anda dinikahi oleh pria lain dan berhubungan biologis (senggama) dengannya, lalu terjadi perceraian dengannya atau ditinggal mati olehnya. Setelah itu baru boleh kembali kepada suami yang lama dengan akad yang baru.

 —————————————————————————————————————————–

Akikah dengan Harta Warisan

Bolehkah akikah dengan harta warisan?

Jawaban:

Jika Anda sudah mewarisi suatu harta, itu jadi milik Anda, terserah untuk apa.

——————————————————————————————————————————

Talak Tiga Sekaligus dalam Satu Kesempatan

Saya bertengkar dengan istri saya. Terus saya telepon ayahnya dan saya berkata, “Pak, hari ini Fulanah (nama istri) saya talak tiga.”

Apakah itu sah atau bagaimana itu? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Talaknya sah, tetapi hanya terhitung satu talak. Talak tiga dalam satu majelis sekaligus tidak sah.

 ——————————————————————————————————————————-

Niat Puasa Bulan Sya’ban

Saya mau bertanya, berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban, apakah niatnya khusus untuk puasa Sya’ban atau bisa dengan niat puasa sunnah lainnya, seperti puasa Senin Kamis, puasa Dawud, dll.?

Jawaban:

Semuanya disunnahkan, tergantung niatnya. Yang membedakan adalah niatnya, apakah puasa Syaban, puasa Senin-Kamis, atau puasa Dawud.

 ————————————————————————————————————————–

Puasa Ayyamul Bidh 2 Hari Saja

Kalau puasa ayyamul bidh dilakukan 2 hari bagaimana? Soalnya baru tahu pada hari ke-2 dan ke-3. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Puasa ayyamul bidh dilakukan tiga hari, yaitu tanggal 13, 14, 15 setiap bulan hijriah. Namun, ada hadits-hadits lain yang menganjurkan berpuasa 3 hari setiap bulan secara umum, kapan saja, berturut-turut ataupun tidak. Ada juga hadits yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa 3 hari dalam sebulan tanpa peduli kapan harinya. Pahalanya senilai puasa setahun. Tentunya dilaksanakan pada selain hari terlarang, seperti pengkhususan puasa hari Jumat.

——————————————————————————————————————————

Tukar Biodata untuk Taaruf

Bolehkah seorang wanita memberikan biodatanya kepada orang yang melamarnya?

Jawaban:

Boleh, sampaikan sejujur-jujurnya. Proses pria untuk melamar wanita melalui tahapan hingga tahap pelamaran. Tahap pertama adalah perkenalan dengan tukar menukar biodata yang disebut dengan istilah taaruf.

 ——————————————————————————————————————————–

Menikah dengan Orang Lain Setelah Talak Tiga

Delapan bulan yang lalu saya ditalak tiga oleh suami saya. Talak pertama, kami rujuk. Talak kedua kami juga rujuk. Setelah talak ketiga kami langsung pisah rumah. Sekarang kami tidak pernah berkomunikasi lagi, bahkan dia tidak menafkahi anak kami yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Yang menjadi pertanyaan, saya saat ini berencana menikah pada Idul Fitri tahun ini. Apakah itu boleh ustadz? Apakah pernikahan kami sah?

Jawaban:

Jika masa iddah Anda sudah selesai, sah menikah lagi dengan pria lain dengan syarat-syarat pernikahan yang syar’i, seperti dinikahkan oleh wali.

 ——————————————————————————————————————————–

Mandi Menjelang Ramadhan

Apakah ada sunnahnya untuk mandi khusus sebelum Ramadhan seperti yang sering dilakukan oleh kaum muslimin saat ini, baik di tempat pemandian umum, di rumah, memakai kembang, dll.?

Jawaban:

Hal itu tidak ada sunnahnya, justru tergolong bid’ah tercela.

 ——————————————————————————————————————————–

Waktu Sahur & Berbuka

Kapan waktu sahur dan berbuka?

Jawaban:

Waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam sampai menjelang tebitnya fajar. Semakin mendekati terbitnya fajar, semakin utama.

——————————————————————————————————————————–

Niat Puasa Ramadhan

Apakah niat melakukan amalan puasa Ramadhan dilakukan seperti niat-niat amalan lainnya, yakni cukup di dalam hati tanpa diucapkan? Kapan waktu melakukan niat ini, apakah sehari sebelum Ramadhan, malam akan puasa, atau sebelum sahur? Apakah ini dilakukan sekali saja untuk puasa sebulan atau setiap harinya?

Jawaban:

Niat adalah amalan hati, tidak boleh dilafadzkan. Niat puasa Ramadhan dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar yang ditandai dengan azan subuh, bisa dilakukan sebelum sahur atau setelah sahur; yang jelas sebelum masuk waktu shalat subuh.

——————————————————————————————————————————-

Sahur Belum Selesai, Azan Berkumandang

Bagaimana dengan makanan yang masih tersisa di dalam piring serta minuman yang tersisa dalam gelas saat sahur namun azan dikumandangkan? Apakah tetap dihabiskan atau hanya menghabiskan yang sudah berada di dalam mulut saja?

Bagaimana dengan makanan yang masih dikunyah di mulut, apakah dikeluarkan atau tetap ditelan?

Jawaban:

Jika azan dikumandangkan dengan berpatokan melihat fajar, yang berarti telah pasti terbitnya, tidak boleh sama sekali melanjutkan sahur. Anda wajib berhenti, yang di dalam mulut harus dikeluarkan. Jika azan berpatokan pada perkiraan jadwal waktu shalat, yang berarti tidak pasti tetapi hanya pendekatan, hati-hatinya berhenti dan mengeluarkan yang ada di mulut. Akan tetapi, jika menyelesaikan yang di mulut dan yang di piring/gelas, boleh sampai azan berakhir.

——————————————————————————————————————————–

Jumlah Rakaat Tarawih

Bagaimana dengan jumlah rakaat shalat tarawih yang sunnah, apakah 2, 2, 2, 2, 2, 1 atau 2, 2, 2, 2, 3 rakaat?

Jawaban:

Dua-duanya sunnah. Yang afdal adalah cara yang pertama, dan terkadang yang kedua.

 ——————————————————————————————————————————-

Ziarah Wali Songo

Mohon penjelasan hukum ziarah kubur wali songo, dengan tujuan mencari kesembuhan, usaha lancar, dll. Ini sedang marak di daerah kami.

Jawaban:

Jika ziarah itu untuk berdoa dan memohon kepada wali songo yang dikubur di situ, itu jelas syirik akbar (pembatal Islam).

Jika menziarahi kuburan mereka untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada mereka agar mereka menjadi wasilah kesembuhan, usaha lancar, dan lain-lain, itu juga syirik akbar.

 ——————————————————————————————————————————-

Jual Beli ‘Inah = Riba

Ketika ada orang membutuhkan uang semisal 250 ribu, saya memberikan emas 1 gram yang harganya 250 ribu tetapi saya jual kepada orang tersebut dengan harga 300 ribu karena secara angsuran. Setelah diterima, kemudian emas tersebut dijual lagi kepada saya dengan harga 245 ribu.

Apakah itu suatu riba, dan haramkah jual beli itu?

Jawaban:

Itu tergolong transaksi riba terlaknat yang direkayasa, yang dikenal dengan istilah ‘inah. Rekayasa itu tidak menjadikannya halal, tetapi semakin haram, karena mengandung unsur mempermainkan syariat pengharaman riba. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla tidak tahu, seperti mempermainkan anak kecil.

 

Kalau saya mengkreditkan emas 1 gram seharga 250 ribu, tetapi saya jual 300 ribu karena mengangsur 4 bulan, dan saya TIDAK mau membeli emas itu lagi dari orang tersebut. Saya serahkan mau diapakan emas tersebut oleh si pembeli; apakah itu tetap sama riba?

Jawaban:

Hal itu tetap tergolong riba, karena tidak kontan, tidak serah terima langsung dengan tuntas antara kedua belah pihak sebelum pisah majelis.

Ketahuilah bahwa emas, perak, dan uang adalah barang-barang ribawi yang illat (faktor) hukum ribawinya sama. Jika diperjualbelikan satu sama lainnya dengan sejenis, harus sama nilainya dan serah terima langsung (tuntas) sebelum pisah majelis. Jika diperjualbelikan dengan berbeda jenis, harus serah terima langsung (tuntas) sebelum pisah majelis. Jika syarat itu ada yang dilanggar, itu adalah riba.

——————————————————————————————————————————

Utang Puasa 60 Hari, Fidyah Saja?

Saya memiliki utang puasa yang banyak, 60 hari, karena melahirkan sebelum puasa dan menyusui. Saya tidak mampu mengqadha puasa di hari biasa karena bayi saya lemah jika saya berpuasa. Bagaimana jika saya membayar fidyah dengan mengundang orang-orang yang berpuasa untuk berbuka di rumah saya hingga kenyang? Apakah ini bisa mencukupi utang puasa saya?

Jawaban:

Hal itu tidak mencukupi. Sebab, yang benar dalam masalah ini wajib diganti dengan qadha puasa, bukan fidyah. Jadi, tunggu sampai Anda sehat dan bayi Anda tidak menyusui lagi, saat itulah Anda mengqadhanya.

———————————————————————————————————————–

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Kebebasan Berpendapat dalam Tinjauan Syariat

الْحَمْدُ ،ِلهلِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ؛

Amma ba’du;

Terjadi banyak perbincangan tentang dialog antaragama, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama di surat kabar, situs internet, ataupun di majelis-majelis umum dan khusus.

Apabila seorang muslim membahas tentang asal-muasal gagasan ini, dia tidak akan mendapatkannya melainkan dari musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nasrani, maupun kaum sekularis yang menanggalkan norma-norma agama dan akidah yang turun dari langit serta menanggalkan akhlak yang mulia.

Seorang muslim juga tidak akan menemukan adanya sandaran dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kebebasan yang mereka inginkan. Para pengusung kebebasan ini hanya melakukan pengaburan. Mereka tidak mampu membedakan antara perkataan serta perbuatan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan dan yang Allah ‘azza wa jalla larang. Mereka juga tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan.

Saya di sini tidak sedang berbicara dengan musuh Islam, tetapi bicara dengan orang yang telah ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb-Nya dan sebagai penetap syariat, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul—atau orang yang mengaku demikian.

Saya mengajak mereka untuk kokoh di atas Islam dan konsisten dengannya sebagai akidah, jalan hidup, dan syariatnya. Itulah jalan yang lurus. Itulah doa yang senantiasa dia mohon kepada Allah ‘azza wa jalla dalam shalatnya, agar Dia menunjukinya,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦

“Tunjukilah aku jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Itu pula yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk diikuti oleh kaum mukminin,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Dan bahwa ini merupakan jalanku yang lurus maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (al-Anam: 153)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa pada setiap jalan (yang menyimpang, –pent.) ada setan yang mengajak kepadanya, dan bahwa di sana ada para penyeru yang berada di atas Jahannam. Siapa saja yang menyambutnya, mereka akan melemparkannya ke dalamnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita darinya.

 

Saya katakan bahwa kebebasan yang benar sesungguhnya ada dalam agama Allah ‘azza wa jalla yang benar.

Agama yang datang dengan tujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kegelapan kebodohan, kekafiran, kesyirikan, dan akhlak yang rendah, menuju cahaya Islam yang mencakup tauhid, mengesakanAllah ‘azza wa jalla Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan yang memiliki sifat kesempurnaan dan sifat keagungan.

Agama yang mengesakan Allah ‘azza wa jalla satu-satu-Nya dalam hal ibadah dan hanya menghadap kepada-Nya dalam segala permohonan, berlindung kepada-Nya semata saat kesusahan.

Agama yang mengingkari thaghut (sembahan selain Allah ‘azza wa jalla) yang dijadikan oleh manusia yang sesat sebagai sembahan selain Allah ‘azza wa jalla, mengibadahinya, tunduk kepadanya, khusyuk kepadanya baik thaghut tersebut berbentuk manusia, batu, pohon, hewan-hewan, maupun makhluk lainnya, yang hidup maupun yang mati.

Inilah kebebasan yang benar. Ini pulalah pembebasan yang benar, yaitu seorang manusia yang dimuliakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan terbebas dari penghambaan terhadap selain-Nya ‘azza wa jalla.

 

Apakah para peletak asas kebebasan-kebebasan dan yang menyerukannya telah mengangkat manusia pada tingkat kebebasan tinggi ini yang pantas bagi kemuliaan manusia?

Jawabannya adalah tidak, dan tidak mungkin. Sesungguhnya mereka menginginkan manusia tetap terbelenggu dengan penghambaan yang hina sehingga setiap orang bisa menyembah apa saja yang dia maukan dan beragama dengan sesuai hawa nafsunya: agama-agama batil yang para nabi diutus dan diperintahkan untuk melenyapkannya, membersihkan bumi, membebaskan hamba-hamba akal-akal, keyakinan, dan akhlak darinya.

 

Manusia, baik rakyat maupun pemerintah, tidak akan merdeka kecuali dengan mengikuti agama dan syariat Allah ‘azza wa jalla yang adil dan hikmah yang:

  • menjaga agama manusia yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan,
  • menjaga kemuliaan, kehormatan, darah, nasab, dan harta mereka,
  • menjamin bagi mereka keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang hakiki,
  • memberangus kekacauan perundangan dan akhlak rendahan yang serbaboleh.
  • menanamkan pada jiwa manusia akidah yang benar, ibadah yang benar dan politik yang adil,
  • menanamkan pada jiwa mereka akhlak yang suci, di antaranya sifat jujur, amanah, adil, penyantun, dermawan, kelelakian dan keberanian, serta amar makruf nahi mungkar.
  • mengajak ke jalan Allah ‘azza wa jalla dengan hikmah dan nasihat yang baik,
  • menanamkan kebencian terhadap kekafiran, kefasikan, kemaksiatan, dan kekejian, baik dalam tutur kata maupun dalam perbuatan.

 

Pada seruan kepada kebebasan ini, apakah engkau dapatkan sebagian syariat yang datang dari Rabb, yang mengandung kesucian dan kebersihan, serta sifat membangun?

Adakah padanya kebebasan dari kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla serta peribadatan kepada selain-Nya yang tidak memiliki untuk diri mereka sendiri mudarat, manfaat, kematian, kehidupan, dan kehidupan setelah kematian?

Adakah padanya kebebasan dari akhlak yang rendahan dan ucapan yang batil?

Adakah padanya kebebasan dari kekacauan dan jiwa kehewanan dalam

hal agama dan akhlak?

Hal-hal yang disyariatkan dan diakui oleh berbagai seruan kepada kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan persaudaraan antaragama.

 

Wahai kaum muslimin, ambillah agama kalian dengan serius dan sekuatkuatnya. Gigitlah dengan gigi geraham. Tolaklah ajakan-ajakan kebebasan batil ini, yang dibuat oleh para musuh Allah ‘azza wa jalla dari kalangan setan berwujud manusia.

Tidak ada tujuan dan sasaran mereka selain kehancuran Islam berikut keyakinan-keyakinan yang agung, akhlak, dan ibadah suci yang ada di dalam Islam.

Seruan-seruan itu justru mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla, pengagungan terhadap syariat-Nya, dan terhadap para rasul-Nya, menuju peribadatan kepada setan, hawa nafsu, pepohonan, bebatuan, arca-arca, makhluk-makhluk lainnya, serta mengikuti hawa nafsu dan menjerumuskan dalam kubangan kerendahan.

Maka dari itu, berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Allah ‘azza wa jalla,  jangan berpecah-belah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang bersaudara dan saling menolong di atas kebenaran, serta antikebatilan.

 

Kaum muslimin semuanya wajib mengingat dan meyakini pada diri mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan mereka dengan sia-sia, tidak diberi perintah dan tidak pula diberi larangan, hingga setiap manusia boleh memilih apa yang dia inginkan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ٣٦

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perntah dan larangan)?” (al-Qiyamah: 36)

 

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

 

وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَٰطِلٗاۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ٢٧

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27)

 

Janganlah berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla semacam ini, dengan menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia sia-sia, Allah ‘azza wa jalla menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya tanpa hikmah dan tanpa tujuan.

Berbeda halnya dengan orang kafir yang tidak mengikuti para rasul, tidak membenarkan berita, janji, ancaman-ancaman-Nya, tidak menghormati syariat-Nya, tidak tunduk kepada perintah-Nya, tidak meninggalkan larangan-Nya, serta tidak mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

Tidak ada yang berburuk sangka dan membangkang terhadap Allah ‘azza wa jalla semacam itu kecuali orang-orang kafir. Orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla telah janjikan neraka bagi mereka, kekal di dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Apakah orang-orang yang mengikuti mereka dan mengajak untuk menelusuri jalan mereka—bahkan berbangga dengannya—mengambil pelajaran, memahami, dan memerhatikan akibatnya?

Mereka adalah para penyeru menuju neraka Jahannam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang penasihat yang amanah, telah memperingatkan dari mereka. Maka dari itu, para ulama muslimin wajib memperingatkan umat dari seruan menuju kebebasan ini dan memperingatkan dari para penyerunya. Para ulama wajib menyingkap kejelekan dan kedok mereka dengan hujah dan bukti-bukti nyata.

 

Semua manusia wajib meyakini bahwa hak penetapan syariat adalah milik Allah ‘azza wa jalla semata. Tidak seorang pun memilikinya selain-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (al-Isra: 23)

 

وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (asy-Syura: 10)

 

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yangmensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

 

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

          ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)

 

Demokrasi dan yang terlahir darinya—di antaranya kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan—artinya membolehkan selain Allah ‘azza wa jalla untuk menetapkan syariat, membolehkan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla dan kafir terhadap-Nya, membolehkan perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Selain itu, demokrasi membolehkan perbuatan dosa dan melampaui batas tanpa batas, membolehkan bicara atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu, dan membolehkan perdebatan dengan cara yang batil.

Pendahulu mereka mengatakan sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥

        “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (Ghafir: 5)

 

Kaum muslimin semuanya wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mensyariatkan untuk mereka kecuali yang bermanfaat bagi mereka, memperbaiki kalbu, keadaan, dan kehidupan mereka, serta membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Kaum muslimin wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengharamkan bagi mereka perkataan, perbuatan, akhlak, makanan, minuman, dan pernikahan, kecuali yang bermudarat, merusak kalbu, akhlak, dan kehidupan mereka.

Jadi, tidak ada suatu kebaikan dan kesempurnaan kecuali telah Allah ‘azza wa jalla syariatkan bagi umat ini. Tidak pula ada keburukan, mudarat, kesesatan, kezaliman, dan sikap melampaui batas, melainkan telah Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

          مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

 

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Jadi, apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh orang yang mengaku Islam tetapi mengikuti musuh Islam, dengan menuntut untuk berdemokrasi, menyerukan kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, penyatuan agama, dan persamaan derajat agama?

Keadaan mereka seolah-olah berkata, sesungguhnya yang paling sempurna adalah selain Islam, yaitu yang ada pada musuh Islam. Itulah kemodernan yang tinggi, fondasi hidup yang mulia, yang umat Islam wajib mengambil cahaya darinya, berporos padanya, dan diikuti sesuai alurnya.

Padahal, merekalah yang terkecoh dan mengecoh. Tidaklah diambil dari kemodernan ini kecuali yang justru bermudarat dan menjadi sebab kehancuran. Sesuatu yang tidak menambah mereka dan pengikutnya selain kerugian, kehancuran, dan kemunduran.

 

Di antara kehinaan terbesar dan kerendahan serta penyelewengan dari jalur Islam, akidah, dan jalannya, adalah kita bertaklid kepada musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, Rasul-Nya, dan agama-Nya, dalam hal undang-undang dan aturan mereka.

(Kehinaan terbesar) saat kaidah dan akhlak mereka menggantikan sikap berpegang teguh dengan agama Islam, merasa mulia dengan keyakinan yang sahih, syariat yang penuh hikmah, manhaj (jalan hidup), dan akhlak luhur yang ada pada Islam.

 

Seharusnya, mereka mengajak pada ketinggian yang digariskan Islam dan pemeluknya yang telah memahami Islam, berpegang teguh dengannya, serta menerapkannya pada puncak ketinggian.

Banyak kaum muslimin terjun menuju kerendahan, kebodohan, dan kesesatan mereka. Banyak kaum muslimin bergantung pada demokrasi, berhukum dengannya, dan dengan segala peraturan jahiliah yang tumbuh darinya, dalam urusan terbesar dalam Islam.

Mereka menuntut penyamaan antara Islam dan agama kafir, serta menuntut Rasul yang mulia untuk bersikap adil berdalihkan dengan demokrasi yang dicanangkan oleh Yahudi, Nasrani, dan para pengingkar tuhan; yang bermaksud menghinakan kaum muslimin dan menghabisi syariat Rabb sekalian alam.

 

Wahai kaum muslimin yang sedang terpesona, bagaimana cara kalian menghukumi? Di mana pikiran kalian?

Mengapa kalian tidak mendengar jeritan ulama dan orang-orang bijak kalian yang berpandangan jauh di tengah kalian?

Sesungguhnya masalah ini benar-benar berbahaya, apabila Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkan umat ini, kemudian para ulama dan orang bijak tidak melipatgandakan upaya dan kesungguhan mereka untuk menghalau arus yang kuat ini. Arus ini memiliki segala sarana jahat dan menghancurkan. Tujuannya adalah melenyapkan masyarakat muslimin, memberangus Islam, serta melemparkan mereka jauh dari agamanya.

 

Kaum muslimin wajib berbangga dengan agama mereka yang agung. Agama yang mensyariatkan mereka untuk mengatur ucapan dan perbuatan dalam segala urusan mereka, baik yang terkait dengan agama maupun dunia. Syariat agama mereka bermaksud menjauhkan mereka dari kehinaan, kehancuran, kezaliman, sikap melampaui batas, dan permusuhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran….” (an-Nahl: 90)

 

Maksudnya, dalam perkataan dan perbuatan. Apakah terdapat seperti syariat ini dalam kemajuan Barat dan demokrasinya?

Tidak, demi Allah ‘azza wa jalla, tidak ada keadilan, kebaikan, dan kesucian pada kemajuan dan demokrasi Barat. Yang ada hanyalah kezaliman dan melampaui batas. Tidak ada larangan dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi justru dianjurkan, dan dilindungi dengan dalih hak kebebasan.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

 

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi harga diri dari pengolok-olokan serta penyematan berbagai julukan yang tidak baik.

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla mencela perbuatan tersebut. Lihat pula, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi (manusia) dari ghibah. Allah ‘azza wa jalla menyerupakan pelakunya dengan seorang yang memakan daging orang lain yang telah mati. Allah ‘azza wa jalla menyebut demikian dalam rangka menampakkan kejelekan dan menjauhkan manusia dari perbuatan tersebut.

Apakah yang semacam ini ada pada kemodernan Barat, demokrasi dan segala aturan yang muncul darinya?

Sekali-kali tidak, demi Allah. Yang semacam ini tidak ada dalam demokrasi, yang membolehkan segala hal yang haram, termasuk zina, homoseksual, miras, dan riba. Demokrasi juga membolehkan keluar dari akhlak yang mulia, bahkan yang lebih parah dari itu.

Demokrasi juga memerangi agama Allah ‘azza wa jalla yang benar, bahkan kafir terhadapnya. Demokrasi berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memberangus agama Allah ‘azza wa jalla di tengah negeri muslimin.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ وَأُحِلَّتۡ لَكُمُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠ حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ ٣١  ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah (perintah Allah).

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 30—32)

 

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya, apakah Anda mendapati pengagungan terhadap hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla dan syiar-syiarnya?

Apakah ada padanya peraturan yang tegas untuk menjauhi berhala dan menjauhi ucapan palsu?

Apakah terdapat padanya peringatan—sedikit saja—dari perbuatan syirik terhadap Allah ‘azza wa jalla dan keterangan tentang bahayanya?

Sekali-kali tidak! Tidak ada padanya kecuali ajakan kepada kekafiran dan kesyirikan, serta perlindungan kepada berhala-berhala. Tidak ada padanya selain pembolehan ucapan dusta, kekafiran, dan kekejian, dengan dalih kebebasan beragama, kesucian agama-agama, serta kebebasan berpendapat.

 

Siapa saja yang menghormati Islam mestinya malu mengajak kepada demokrasi, berhukum padanya, atas nama kebebasan beragama dan kesucian agama-agama yang para rasul justru diutus untuk menghancurkan agamaagama batil tersebut.

Maksud dari semua ini, hanya dalam Islam terdapat keadilan dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Hanya dalam Islamlah terdapat bimbingan yang mengatur ucapan, keyakinan, dan perbuatan hamba.

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya terdapat kekacauan agama dan akhlak, dengan dalih kebebasan dan persamaan—yang dusta—antara yang hak dan yang batil. Kemajuan Barat justru mengunggulkan yang batil daripada kebenaran, mengunggulkan kekafiran dan kesyirikan daripada tauhid dan iman. Bahkan, mereka berusaha serius untuk menghabisi tauhid dan iman serta yang mengikuti keduanya.

 

Di antara ajaran Islam yang mengatur ucapan adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanamalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab: 70—71)

 

Perhatikan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan ucapkanlah ucapan yang tepat.” Perhatikan pula dalam ayat di atas perintah yang mengatur ucapan. Ini bertolak belakang dengan kekacaubalauan yang ada dalam kancah demokrasi. Orang diperbolehkan mengucapkan dan melakukan semaunya dengan alasan kebebasan berpendapat, walaupun itu adalah celaan dan cemoohan terhadap para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Muslim no. 47)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

”Sungguh, seorang hamba mengatakan sebuah kalimat yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya, ternyata menyebabkan dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

 

Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba mengatakan sebuah ucapan yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya,” adalah ia tidak memahami benar ucapannya serta tidak memikirkan keburukannya dan tidak takut akibatnya. Misalnya, ucapan di hadapan penguasa dan para pemimpin lainnya. Demikian pula tuduhan.

Atau maknanya adalah kalimat yang mencelakakan seorang muslim atau yang semacam itu. Ini semuanya terkandung padanya demi menjaga ucapan. Nabi juga melarang qila wa qala (mudah menerima dan menukil berita), serta banyak bertanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar lisan dijaga dan ditahan.

 

Sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Ibumu kehilangan kamu. Tidakkah manusia ditelungkupkan di neraka di atas wajah atau hidung mereka kecuali buah lisan mereka?!” (HR. at-Tirmidzi no 2616, dan beliau katakan, “Hadits hasan shahih.”)

 

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan membuatnya jelek. Dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1974)

 

Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya bagi seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, dan sungguh Allah membenci orang yang keji ucapannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2002)

 

Ayat dan hadits dalam masalah ini banyak. Di dalamnya terdapat adab-adab yang mulia dan pendidikan yang tinggi di atas keluhuran akhlak. Adab yang menyucikan jiwa, menjaga akidah, dan menjaga kehormatan dari penghinaan.

Namun, tidak ada yang mengetahui kemuliaannya kecuali orang-orang yang mulia, cerdas, para pemillik akal yang cendekia.

Apakah ada aturan semacam ini yang menjaga agama yang benar, akhlak yang luhur, dan kehormatan yang mulia, dalam kemajuan Barat, demokrasi, dan aturannya?!

 

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengutus para rasul membawa ayat-ayat yang nyata untuk membedakan antara iman dan kufur, tauhid dan syirik, al-haq dan al-bathil.

Allah ‘azza wa jalla menamai al-Qur’an yang diturunkan kepada penutup para rasul sebagai al-Furqan atau pembeda.

          تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al-Furqan: 1)

 

Dalam hadits disebutkan,

وَمُحَمَّدٌ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

“Muhammad adalah pembeda di antara manusia.”

 

Allah ‘azza wa jalla juga menamai Perang Badar dengan furqan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Anfal: 41)

 

Maksudnya, hari Perang Badar yang dengannya Allah ‘azza wa jalla memuliakan kaum

muslimin, agama Islam dan menolong pemeluknya, menjadikan mereka unggul di atas kekafiran dan orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hari dan perang ini yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

 

وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٧ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٨

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (al-Anfal: 7—8)

 

Membenarkan yang benar serta menyalahkan yang salah disyariatkan

oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla menghendakinya sebagai syariat di tiap waktu dan tempat.

Sementara itu, musuh-musuh Allah menginginkan selain yang diinginkan oleh Allah ‘azza wa jalla, para nabi-Nya, para Rasul-Nya, kaum mukminin yang jujur dan ikhlas, para pemilik ilmu dan akal yang cemerlang, yang tidak tertipu oleh tipu daya musuh Islam yang jahat.

Di antara makar mereka yang paling berbahaya adalah pencampuradukan antara Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi, bahkan komunis. Mereka memerangi pemilahan ini. Padahal Allah ‘azza wa jalla mensyariatkannya untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah walaupun orang-orang jahat membencinya.

Maka dari itu, kokohlah di ataskebenaran ini. Kokohlah di atas pemilahan ini, perbedaan antara muslim dan kafir.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا وَيُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢٩

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosadosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfal: 29)

 

          وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

        “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

 

          وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا ٢٧

        “Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (an-Nisa’: 27)

 

Yang lebih bahaya dan lebih parah daripada mereka adalah para penyeru penyatuan agama-agama, persaudaraan antaragama, kebebasan beragama, dan persamaan antaragama. Ingatlah firman Allah ‘azza wa jalla kepada Nabinya,

          وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡ‍ٔٗا قَلِيلًا ٧٤ إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَوٰةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرٗا ٧٥

        ”Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.

Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (al-Isra: 74—75)

 

Apa yang akan didapati oleh orang yang sangat condong kepada mereka, sementara Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠

        Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 100)

 

Orang Barat tetap tidak akan berdialog dengan kalian pada posisi yang sebanding antara kalian dan mereka. Mereka akan berdiskusi dengan kalian layaknya posisi seorang tuan yang agung terhadap budaknya yang hina, dengan cara dialog orang yang memaksakan kehendak.

Allah ‘azza wa jalla telah memberikan dua permisalan yang membedakan antara tauhid dan syirik.

          أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥

        “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24—25)

 

Yang dimaksud pohon yang bagus adalah pohon kurma yang memberikan buahkan setiap waktu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan kalimat yang baik La ilaha illallah berikut akidah, amal saleh, dan akhlak mulia yang tegak di atasnya.

Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ٢٦

        “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 26)

 

Para ahli tafsir menerangkan, “Sesungguhnya, pohon yang buruk tersebut adalah handzalah. Ia tidak punya batang dan tidak kokoh. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan bagi kesyirikan dan kekafiran yang telah dibuat oleh setan. Yang menyambutnya adalah para pemeluk agama-agama sesat yang dihinakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Seandainya mereka beramal seberapapun amalnya, Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerimanya.”

Hal ini seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

        “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (al-Furqan: 23)

 

Akhirnya mereka masuk ke neraka. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Akan tetapi, meski telah nyata pembedaan dari Allah ‘azza wa jalla antara Islam berikut muslimin dan kekafiran serta pemeluknya, masih saja ada orang yang mengaku Islam dan mengajak untuk mencampur dan menyamakan antara Islam dan agama agama kafir.

Mereka meminta kepada PBB serta badan-badan internasional untuk mengeluarkan keputusan penyamaan antara agama-agama. Bagi mereka, tidak ada penghalang jika Islam diletakkan paling belakang.

 

Kami berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari sikap hina semacam ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَرُدُّوكُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡ كَٰفِرِينَ ١٠٠ وَكَيۡفَ تَكۡفُرُونَ وَأَنتُمۡ تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ وَفِيكُمۡ رَسُولُهُۥۗ وَمَن يَعۡتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدۡ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٠١

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 100—101)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩  بَلِ ٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلنَّٰصِرِينَ ١٥٠

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149—150)

 

Mereka yang terkecoh dengan masalah dialog antaragama, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hendaknya memahami bahwa kaum imperialis Barat hanya ingin memaksakan pemikiran mereka. Mereka menolak dialog selain dengan diri mereka sendiri atau dengan pihak yang berjalan di atas jalur mereka.

Bacalah apa yang dikatakan oleh seorang ahli filsafat Barat sekaligus penulis berkebangsaan Prancis, Jules Regis Debray, saat memberi catatan atas karikatur yang menghina Rasulullah, “Jalan pemikiran orang Eropa masih bersifat menjajah.”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar mingguan, dia meminta Prancis sebagai bagian Eropa untuk tidak berusaha memaksakan pemikiran mereka kepada orang yang berilmu dan agama berperan besar pada dirinya.

Dia mengatakan juga, “Kita telah melepas topi besi, tetapi pemikiran kita masih tetap pemikiran penjajah.”

Dia mengatakan sebagai penjelasan (maksudnya), “Kami menginginkan agar dunia ini seluruhnya seperti kami. Kalau tidak, kami akan menilainya sebagai negara terbelakang dan anarkis.”

Dia tambahkan, “Sesungguhnya, cacat sejarah yang ada pada para pengacau dan yang membolehkan segala cara di negeri kita, menetes murni dari hati penjajah.”

Dia mengatakan pula, “Orang Barat berbangga dengan aturan ….. Akan tetapi, dia menolak berdialog kecuali dengan sesamanya, atau dengan orang Timur yang berwawasan Barat. Kami serahi mereka tugas untuk mengabari kami sesuatu yang menyenangkan kami.”

Bukti yang sangat nyata atas apa yang dia katakan—dan telah dipahami sebelumnya oleh orang cendekia dan sadar—sudah sejak sekitar 30 tahun lalu para petinggi Nasrani mengajak untuk berdialog antaragama. Diadakanlah seminar-seminar antaragama. Ternyata, mereka tidak bergerak menuju Islam walau selangkah. Justru pihak yang mereka ajak dialog bergerak menuju mereka dan jalan mereka.

Seandainya mereka dihadapkan pada hakikat yang ada pada Islam, tentu dialog akan berhenti. Orang-orang gereja akan lari sebagaimana larinya kelinci dari singa.

Orang yang berwawasan Barat dan bersemangat untuk dialog seperti ini wajib diwaspadai dan diketahui tujuan mereka, sebagaimana telah disadari oleh filosof Prancis ini yang kemudian menjelaskan hakikat mereka.

Akhirnya, saya mengajak kaum muslimin, baik pemerintah maupun rakyat, untuk secara serius berpegang teguh dengan agama Islam ini, berbangga dengannya.

Para penguasa hendaknya mendidik putra-putra mereka, rakyat,dan pasukan perang dengan nilai-nilai Islam, akidah, manhaj, hukum-hukum, dan siasatnya, melalui madrasah, universitas, surat kabar, majalah serta website-website.

Hendaknya pemerintah mengatur dan mengarahkan berbagai sarana ini dengan baik. Bahkan, penguasa hendaknya mengharuskan berbagai lembaga dan sarana tersebut menyebarkan akidah Islam, manhaj, dan akhlaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٤١

        “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 41)

Semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi-Nya, keluarga, dan para sahabat beliau, serta memberinya salam yang banyak.

Buah karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Prinsip Agung Antiliberalisme

Berikut ini beberapa prinsip agung dalam agama ini. Kami sebutkan dengan ringkas guna membentengi muslimin dari pengaruh paham liberalisme.

 

  1. Kebenaran Berasal dari Allah ‘azza wa jalla

Salah satu prinsip yang sangat agung adalah bahwa kebenaran itu datang dari Allah ‘azza wa jalla . Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” (al-Kahfi: 29)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan katakan, wahai Muhammad, kepada manusia,‘Inilah yang aku bawa dari Rabb kalian, itulah yang benar yaitu yang tiada keraguan padanya…’.” ( Tafsir al-Qur’anil al-Azhim, 3/86)

Salah satu asmaul husna adalah al-Haq (Yang Mahabenar), maka ucapannya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya tiada sekutu bagi-Nya itulah yang benar, dan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya itu benar.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 949 bagian “Ushul wa Kulliyat”)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, Allah Mahabenar, Kajian ucapan-Nya benar, agama-Nya benar, kebenaran adalah sifat-Nya, kebenaran dari-Nya dan untuk-Nya.” (Madarijus Salikin 2/333)

 

Jadi, dari Allah ‘azza wa jalla-lah kebenaran. Kebenaran bukan sesuatu yang nisbi atau relatif hingga setiap orang bisa mengklaimnya, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya.

Kebenaran bukan pula diambil dari kitab ‘tidak suci’ atau ajaran-ajaran selain Islam yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Bukan pula Islam sebagai “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, bahkan bisa ada dalam filsafat Marxisme, seperti kata Cak Nur dan orang sejenisnya, seperti Ulil Abshar Abdalla.

 

  1. Jalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan kebenaran yang akan menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hakikatnya hanya satu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

        “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal karena kebenaran hanya satu. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyebut jalan lain dengan bentuk jamak (jalan-jalan) karena bercabang-cabang dan berpencar-pencar.”

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ رَسُولُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ؛ ثُمَّ قَرَأَ:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan sebuah garis untuk kami lalu mengatakan, ‘Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla.’

Beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya kemudian berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan (lain) yang disetiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.’ Lalu beliau membaca ayat, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).’ (al-An’am: 153).” (Sahih, HR. Ahmad dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Zhilalul Jannah no.16 & 17 hlm. 13)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebab, jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hanya satu,yaitu ajaran yang Allah ‘azza wa jalla utus dengannya para Rasul-Nya dan Allah ‘azza wa jalla turunkan dengan-Nya kitab-kitab-Nya. Maka dari itu, tidak ada seorang pun akan sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan ini.

Seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan pada setiap pintu, semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuali jalan ini. Sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla dan akan menyampaikan kepada-Nya.”(at-Tafsirul Qayyim hlm. 14—15 dinukil dari Sittu Durar hlm. 53)

 

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabbmu Yang Benar. Tidak ada sesudah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

 

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ulama kami berkata, ‘Ayat ini menghukumi bahwa antara kebenaran dan kebatilan tidak ada pilihan ketiga dalam masalah ini, yaitu masalah tauhid. Demikian pula dalam masalah-masalah yang serupa yaitu masalah prinsip yang kebenaran itu hanya ada pada satu pihak.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 8/336)

 

Dengan demikian, prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan JIL dan para pengikutnya. Sebab, konsekuensi dari pendapat mereka, al-haq/kebenaran bukan hanya satu, dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, bahkan benar dan terpuji. Ini artinya menggugurkan prinsip amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Sungguh, pendapat ini menyelisihi kesepakatan orang-orang yang berakal waras/sehat, lebih-lebih orang yang berilmu. Selain itu, pendapat ini juga menyelisihi dalil.

 

  1. Agama Islam Telah Sempurna

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

        ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terbesar terhadap umat ini yang Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka. Dengan demikian, mereka tidak membutuhkan agama dan nabi selain Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah ‘azza wa jalla mengutusnya kepada jin dan manusia.

Maka dari itu, tidak ada yang halal kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan, tidak ada agama kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan; segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, tiada mengandung kedustaan dan penyelewengan….”

Ibnu Katsir lalu menyebutkan riwayat dari Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsiri ayat ini, katanya, “Yaitu Islam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin bahwa Dia ‘azza wa jalla telah melengkapi Islam untuk mereka sehingga mereka tidak butuh tambahan selama-lamanya.

Allah ‘azza wa jalla juga telah menyempurnakannya maka Dia ‘azza wa jalla tidak akan menguranginya selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla juga telah meridhainya sehingga tidak akan marah kepadanya selama-lamanya.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim 2/14)

 

Jadi, agama Islam ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan, pengurangan, atau perubahan dari siapapun. Barang siapa menganggapnya perlu ditambah, berarti ia menganggapnya belum sempurna. Barang siapa menganggapnya perlu dikurangi, itu adalah upaya meruntuhkan kesempurnaan Islam. Barang siapa ingin mengubahnya, itu adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap Islam.

Betapa berbahaya upaya orang-orang JIL dan ahli bid’ah seluruhnya ketika mengurangi sekian banyak hukum Islam. Di sisi lain, mereka menambah dengan yang baru dan mengubah-ubah hukum Islam. Allah ‘azza wa jalla sajalah tempat mengadu.

 

  1. Halal Adalah Apa yang Dihalalkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; Haram Adalah yang Diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

        Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla melarang untuk mengikuti jejak orang musyrikin yang menghalalkan dan mengharamkan sekadar dengan keputusan mereka berdasarkan rasio mereka…

Termasuk dalam ayat ini adalah setiap orang yang membuat bid’ah yang tidak ada sandaran syariatnya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan mengharamkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla halalkan sekadar dengan pendapat akal dan hawa nafsunya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim: 2/611)

 

Penentuan hukum halal dan haram sedemikian berat. Berdasarkan hal itu, kita mengetahui betapa jauhnya kesesatan siapa pun yang berani menghukumi ini dan itu halal atau haram tanpa ilmu, seperti orang-orang JIL. Di antara mereka ada yang menghalalkan nikah dan waris beda agama, menganggap vodka bisa jadi halal di Rusia, menggagas untuk mengubah aturan haji, dan berbagai kelancangan lainnya.

Mereka yang mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla halalkan dan sebaliknya, dalam keadaan tahu bahwa dengan begitu ia menyelisihi hukum Allah ‘azza wa jalla, berarti telah menempatkan dirinya pada posisi Rabb yang memiliki hak membuat syariat. Tentu saja, ini adalah kesyirikan.

 

  1. Seluruh Syariat Allah ‘azza wa jalla Mengandung Keadilan, Maslahat, dan Hikmah

Sebab, Allah Mahahakim. Salah satu asmaul husna adalah الْحَكِيمُ al- Hakim. Artinya, Dzat Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah ‘azza wa jalla bagi kaum yang yakin?” (al-Maidah: 50)

 

Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dia ‘azza wa jalla juga tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.

Di antara hikmah syariat Islam— di samping sebagai maslahat terbesar bagi hati, akhlak, amal, serta istiqamah dalam jalan yang lurus—adalah juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Urusan dunia tidak akan menjadi baik secara hakiki kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Sesungguhnya, ketika umat Muhammad menegakkan agama ini, pokok dan cabangnya, seluruh petunjuk dan bimbingannya, keadaan mereka akan sangat baik dan mapan.

Namun, ketika mereka melenceng darinya, sering meninggalkan petunjuknya, dan tidak mengikuti bimbingannya yang luhur, urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.”(diringkas dari penjelasan ahli tafsir, asy-Syaikh as-Sa’di)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١١٥

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 115)

 

Qatadah rahimahullah berkata, “(Yakni) benar dan jujur pada apa yang Dia katakan, adil pada hukum-Nya. Dia katakan dengan jujur dan benar pada berita-berita-Nya, adil dalam tuntutan/perintah-Nya.

Jadi, semua berita-Nya pasti benar, tiada keraguan padanya. Setiap perintah-Nya pasti adil, tiada keadilan selainnya. Setiap larangan-Nya pasti batil karena tidaklah Ia melarang kecuali karena mafsadatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/173, lihat pula Tafsir as-Sa’di hlm. 270 dan Zubdatut Tafsir hlm. 181)

 

Barang siapa mengubah sebagian syariat Allah ‘azza wa jalla, seperti yang dilakukan oleh JIL, dengan alasan apapun—walaupun alasan maslahat—sungguh, sebenarnya ia sedang mengarah dan mengarahkan manusia kepada kerusakan dan bahaya.

Sungguh, si pelaku sebenarnya tidak tahu alias jahil terhadap hikmah Allah ‘azza wa jalla dalam syariat-Nya. Akan tetapi, dirinya merasa lebih mengerti daripada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Bagaikan katak dalam tempurung.

Tidak benar pula bila dikatakan bahwa sebagian syariat Islam perlu dikaji ulang atau direvisi, bahkan diamandemen, dengan alasan tidak lagi relevan dengan abad ini atau dengan perkembangan zaman.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Pengaruh Liberalisme dalam Akhlak

Liberalisme tidak tumbuh dengan bimbingan agama, tetapi tumbuh untuk menentang dan bebas dari keterikatan agama. Sudah tentu pemahaman ini berkembang menuju kebebasan berekspresi.

Termasuk pula dampak terhadap akhlak manusia, pemahaman liberal tidak mau terikat dengan ikatan-ikatan dalam berperilaku. Pemahaman ini tidak menilai baik-buruknya sebuah perilaku dengan standar umum, apalagi dengan standar agama.

Prinsip kebebasan akan membuatnya lepas dari semua ikatan tersebut. Individualisme akan menumbuhkan sikap egoisme dan menang sendiri, lebih mementingkan kepentingan sendiri, dan memunculkan sikap pelit. Dari individualisme pula akan muncul sikap kurang peduli terhadap kaum duafa di sekitarnya, membuahkan sistem kapitalis, hanya berpikir untuk keuntungan pribadi dengan segala cara seperti riba.

Itu semua karena ia merasa bebas dalam menggunakan cara apapun. Tak ayal akan bermunculan kezaliman, mengikuti hawa nafsu, sombong, dan berbagai akhlak buruk yang lain.

Lihat keterpurukan akidah (keyakinan) dan akhlak liberalis. Ulil Abshar membela kaum LGBT dengan mengatakan, “Lihat saja apakah ada azab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua.”

Di antara mereka ada yang mendukung perkawinan sejenis dan menulis buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis.

Ulil Abshar pun membela Syiah dalam cuitannya (27/6/2015), “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

Ulil Abshar juga membela Ahmadiyah melalui cuitannya (14/10/2014), “Jawaban saya atas tuduhan ngawur Dubes Malaysia itu: Saya bukan orang Ahmadiyah. Tetapi saya membela hak Ahmadiyah ada di Indonesia.”

Mereka juga merendahkan orang yang mengikuti sunnah dalam berpakaian muslimah. Melalui akun twitternya (3/8/2014), Ulil mengomentari sebuah foto seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah, “Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?”

Kita berlindung kepada Allah dari segala kesesatan.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Bahaya Liberalisme dari Sudut Pandang Akidah

Seseorang yang memerhatikan paham liberalisme akan tahu bahwa paham ini hakikatnya adalah anti ajaran agama. Sebab, ia sejak awal tumbuh dalam cuaca penentangan terhadap ajaran agama. Tiga prinsip utamanya: kebebasan, individualisme, dan rasionalisme. Semuanya menunjukkan ketidaksiapan untuk terikat dengan ajaran agama, bahkan menentang ajaran agama.

Oleh karena itu, kita akan mendapati seorang penganut sejati liberalisme akan terjatuh pada sekian banyak perkara kekafiran.

Seorang liberalis murni yang sejak awal antiagama tidak termasuk dalam pembahasan kita. Akan tetapi, jika ada seorang muslim yang berjalan menuju gerbang liberal, maka perhatikanlah ke mana Anda melangkah!

Seorang muslim yang nekat memasuki gerbang liberalisme berarti sedang mempertaruhkan agamanya. Kasihilah diri kalian, selamatkan diri kalian dari murka Allah ‘azza wa jalla, lalu dari siksa-Nya. Masalah ini amat berbahaya bagi agama seseorang.

Berikut ini beberapa pokok pembatal keislaman yang akan menjerumuskan seorang liberalis sejati pada kesalahan tersebut.

 

  1. Menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla

Keyakinan bahwa suatu hal itu halal atau boleh-boleh saja, sedangkan hal tersebut telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan keharamannya disepakati ulama, maka ini berarti kemurtadan.

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata dalam kitab asy-Syifa, “Kaum muslimin sepakat tentang kafirnya orang yang menghalalkan pembunuhan, minuman keras, atau perbuatan zina; karena itu semua telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. (Dia divonis kafir) setelah dia tahu bahwa hal tersebut haram….”

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, kitab fikih bermazhab Syafi’i, disebutkan bahwa seseorang yang menghalalkan sesuatu yang haram dan disepakati keharamannya disebut kafir.

Dalam kitab lain dalam mazhab Syafi’i yang berjudul Asna al-Mathalib, karya asy-Syaikh Zakariya al-Anshari, beliau mengutip ucapan al-Bulqini, “Hal ini berkonsekuensi bahwa jika ada seseorang yang menghalalkan sesuatu yang memabukkan, maka dia kafir. Sebab, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal haramnya sesuatu yang memabukkan.”

Seorang liberalis sejati akan membolehkan atau menghalalkan siapapun untuk berkeyakinan apapun,[1] beragama apapun. Semuanya dianggap sah berdasarkan asas kebebasan yang mereka anut. Menurut mereka, hal itu adalah hak asasi masing-masing, hak individual.

Dalam keyakinan liberal, secara rasional seseorang boleh memandang agama tertentu sebagai agama yang saat ini pantas baginya. Sebagaimana dibenarkan juga pada waktu lain, liberalis memandang agama lain yang lebih pantas baginya dan iapun berpindah kepadanya.

Sebab, kebenaran adalah sesuatu yang relatif menurut mereka. Lebih parah lagi ketika mereka mengatakan bahwa semua agama sama, pluralisme.

Dalam kasus lain, bisa saja seorang liberalis mengatakan bahwa minuman keras hukumnya halal di suatu daerah tertentu, berdasarkan tinjauan rasional. Siapa pun berhak berpendapat demikian demi kebebasan berpendapat sebagai refleksi atas hak asasi manusia. Padahal khamr, minuman keras, apapun sebutannya dan apa pun merknya pada masa ini, hukumnya dalam agama adalah haram sebagaimana disepakati ulama.

Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, tokoh liberal, pernah mengatakan bahwa vodka (sejenis minuman keras) bisa dihalalkan di Rusia karena daerahnya sangat dingin.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menyatakan bahwa konsensus (kesepakatan) telah tegak bahwa minuman keras sedikit ataupun banyak adalah haram. Telah sahih sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua yang memabukkan adalah haram.” Barang siapa menghalalkan sesuatu yang disepakati haram, maka dia kafir. (Kitab Nailul Authar)

Penghalalan terhadap apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, mengandung takdzib dan juhud. Takdzib artinya ketidakpercayaan atau pendustaan. Juhud artinya ingkar setelah mengetahui.

Dengan menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, berarti dia tidak memercayai kebenaran itu berada pada hukum yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan. Ketika dia tahu bahwa suatu hukum merupakan ketetapan Islam lantas dia ingkari, maka dia terjatuh dalam sikap juhud.

Takdzib dan juhud merupakan kekafiran besar. Takdzib adalah sikap kafirnya orang-orang musyrik yang sejak awal tidak mengimani kebenaran yang datang. Adapun juhud adalah sikap kafirnya Fir’aun yang mengetahui kebenaran Nabi Musa ‘alaihissalam namun mengingkarinya. Demikian pula sikap kafirnya orang Yahudi yang mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mengingkarinya. Seperti itu pula sikap kafirnya sebagian orang musyrik yang sebenarnya mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai contoh antipengharaman secara syar’i, John Mill berkata, “Sesungguhnya pengharaman itu menyentuh kebebasan pribadi karena pengharaman berarti menganggap seseorang tidak tahu maslahat pribadinya.” (Hakikat Libraliyyah, hlm. 139)

 

  1. Keraguan

Yang dimaksud di sini adalah keraguan terhadap kebenaran sebuah hukum yang telah ditetapkan dengan tegas berdasarkan dalil yang sahih, al-Qur’an atau hadits yang sahih, merupakan kekafiran. Sebab, keraguan semacam ini adalah lawan dari iman, yang artinya membenarkan dengan yakin. Keraguan merupakan sikap kafir sebagian orang-orang munafik.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا يَسۡتَ‍ٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ٤٥

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.” (at-Taubah: 45)

Oleh karena itu, iman tidak akan benar selama masih ada keraguan. Di sisi lain, keyakinan merupakan syarat sahnya iman. Dalam ayat disebutkan,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)

 

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Barang siapa yang kamu jumpai di belakang kebun ini bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla dengan kalbunya yakin dengan kalimat itu, maka berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

 

Seorang liberalis sejati dengan prinsip kebebasan berpendapat tidak akan sampai pada keyakinan yang mantap bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain adalah salah, termasuk dalam hal keagamaan seseorang. Dia akan menganggap apa yang diyakini orang lain bisa saja benar dan dia tidak boleh memastikan bahwa orang lain salah, sebagaimana dia tidak boleh meyakini bahwa yang benar hanya yang dia yakini.

Ini jelas merupakan keraguan yang berlawanan dengan keyakinan dan percaya penuh, yang merupakan syarat sahnya iman.

Mungkin juga seorang liberalis akan terjatuh pada sikap kontraproduktif. Dia meyakini bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain juga benar. Padahal keduanya merupakan keyakinan yang bertolak belakang. Ini tampak jelas pada pluralisme yang mereka yakini.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Siapa yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta dalam hal yang beliau sampaikan dan beritakan, atau ragu akan kejujuran beliau, maka dia kafir menurut kesepakatan (ulama).”

 

  1. Kekafiran penolakan beserta kesombongan

Maknanya, menolak untuk tunduk kepada syariat dikarenakan sombong.

Ini adalah kekafiran iblis terlaknat. Karena kesombongannya terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam, dia menolak tunduk pada perintah Allah ‘azza wa jalla untuk sujud kepada Adam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

 

Syaikhul Islam berkata, “… Seseorang tidak menentang kewajibannya tetapi tidak mau melakukannya karena sombong, iri, atau benci kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Dia berkata, ‘Saya tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkannya atas muslimin, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jujur saat menyampaikan al-Qur’an.’

Akan tetapi, orang ini tidak mau melakukannya karena sombong, iri terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, fanatik terhadap keyakinannya, atau benci terhadap ajaran yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia juga kafir menurut kesepakatan ulama.

Sebab, sesungguhnya ketika tidak mau sujud sebagaimana yang diperintahkan, Iblis tidak mengingkari kewajibannya karena Allah ‘azza wa jalla langsung bicara dengannya. Akan tetapi, dia menolak dan sombong. Jadilah dia tergolong makhluk yang kafir.”(Kutub wa Rasail wa Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim)

Seorang liberalis sangat rawanterjatuh pada kekafiran semacam ini. Dengan prinsip rasionalnya, dia mengultuskan akal. Akhirnya, kebaikan dan kebenaran adalah yang sesuai dengan akalnya, dan yang salah adalah yang tidak sesuai dengan akalnya. Akan sangat mungkin seorang liberalis merendahkan pihak lain. Sangat mungkin pula dia menolak mengikuti syariat Islam dalam hal tertentu karena unsur kesombongan.

Tidak jarang kita dapati orang-orang liberal mengejek, menghina, dan mengolok-olok pihak lain yang sedang melaksanakan syariat Islam. Ini merupakan sikap sombong. Kemudian di atas kesombongannya tersebut, dia tidak mau tunduk kepada syariat, sama dengan sikap Iblis.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

[1] Membolehkan di sini bermakna ‘menghalalkan’, lawan dari ‘mengharamkan’. Berbeda hukumnya saat seseorang yang hidup dalam sebuah negara berkata, ‘Di sini boleh saja seorang beragama Nasrani.’ Maksudnya, dia menceritakan bahwa aturan dalam negara tersebut membolehkan seseorang untuk beragama selain Islam, tidak berarti dia berkeyakinan boleh dan halalnya seseorang beragama dengan selain Islam.

Seorang muslim, secara keyakinan agamanya tetap meyakini setiap orang di mana pun berada wajib beragama Islam, dan bahwa yang tidak beragama Islam berarti dia kafir.

Sebagai contoh, di negeri muslimin, seorang Nasrani tetap boleh hidup berdamai dengan muslimin. Dia berstatus sebagai kafir dzimmi, tetap dalam agamanya dan dijaga serta dilindungi oleh pemerintah Islam dengan dia membayar jizyah. Namun, seorang muslim secara agama tetap berkeyakinan bahwa Nasrani tersebut salah dalam beragama dan melanggar hukum Allah ‘azza wa jalla dalam hal kewajiban untuk beragama Islam.

Liberalisme Memasuki Berbagai Lini

Paham liberalisme tumbuh di tengah manusia yang bermasyarakat, hingga masuk ke berbagai lini kehidupan. Liberalisme masuk ke ranah politik, ekonomi, bahkan akhirnya masuk pula ke ranah agama. Paham ini lantas memengaruhi sebuah masyarakat, baik yang beragama maupun tidak.

 

  1. Liberalisme dalam ranah politik

Liberalisme masuk ke ranah politik, sehingga kehidupan politik dan tata negara tidak boleh bertentangan dengan asas liberalisme itu sendiri, yaitu kebebasan.

Dalam kacamata liberalis, negara hanya sebuah alat untuk melindungi hak asasi manusia yang merupakan hukum abadi, yang seluruh peraturan atau hukum yang dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya.

Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat. Kebijakan rakyat adalah kebijakan publik. Lahirlah darinya demokrasi.

Dengan asas kebebasan, sistem ini mempersilakan siapapun untuk berpendapat, memilih, dan mengkritik; sehingga ahli maksiat sekalipun memiliki hak untuk memasuki arena perpolitikan.

Repotnya, ketika para ahli maksiat itu menjadi jumlah terbesar, kebijakan mereka akan menjadi kebijakan publik yang akan dimenangkan, sehingga suara orang saleh akan tenggelam dan tak terdengar sekalipun sesaleh para wali, karena kesalihan agama tak punya nilai lebih dalam kancah perpolitikan kaum liberal.

Ayat Allah,

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ ٣٥

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (al-Qalam: 35)

tak mendapat tempat.

Karena asas kebebasan yang dianut, tak jarang dalam kancah perpolitikan liberal terjadi berbagai persaingan yang tak sehat. Sebab, liberalisme jauh dari norma-norma agama, tidak terikat dengan bimbingan agama. Bahkan, liberalisme menganggap agama tempatnya hanya di masjid, bukan dalam ranah ketatanegaraan. Urusan antara negara dan agama dipisah, sekuler.

Panggung kritik terbuka lebar dalam arena pergulatan politik liberal. Persaingan politik yang bernapaskan ambisi kekuasaan pun menjamur. Mereka saling mengkritik, menjatuhkan, dan membuka aib di arena terbuka. Semua itu sah-sah saja, sekalipun dilakukan kepada pemimpin muslim yang sedang berkuasa.

Dalam konteks politik liberalis, tak berlaku hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa, maka janganlah dia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya dia memegang tangannya dan menyendiri dengannya. Bila dia menerimanya, maka itu yang diharapkan. Kalaupun tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ibnu Abi Ashim, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Bisa kita bayangkan, bahkan kita rasakan, ketika politik ala liberal itu diberlakukan; yaitu kegaduhan politik yang mengganggu stabilitas keamanan. Sebab, penguasa lagi tidak mempunyai wibawa di mata rakyatnya, seorang rakyat bisa dengan semena-mena berbicara mengkritisi penguasanya bagaimanapun statusnya.

Entah sejauh mana jangkauan pandangnya, seluas apa wawasannya, ‘sebagus’ apa adabnya dalam menyampaikan kritik, sehingga orang semacamnya dibenarkan dan dibiarkan bebas menyampaikan pendapatnya.

 

Dalam bingkai politik liberal, ucapan sahabat mulia, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, tidak berlaku.

  نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ :لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تَبْغَضُوهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Para pembesar kami dari para sahabat melarang kami, “Janganlah kalian mencela penguasa penguasa kalian, jangan curang terhadap mereka, jangan membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah, dan sabarlah, urusan ini telah dekat.” (Riwayat Ibnu Abi Ashim dalam kitab as-Sunnah: asy-Syaikh al-Albani berkata, “Sanadnya bagus.”)

 

  1. Liberalisme dalam ranah ekonomi

Perkembangan liberalisme sangat terkait dengan kaum borjuis. John Locke, salah satu tokoh liberal, menyebutkan bahwa kepemilikan pribadi termasuk yang terpenting dari hak asasi manusia. Asas kebebasan harus dimanfaatkan untuk menjaga bahkan mengembangkan kepemilikan pribadi tersebut.

Kebebasan tatanan ekonomi memainkan peranan dalam memajukan masyarakat yang bebas. Kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas. Jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan.

Di sisi lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah cara yang sangat diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasar adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain.

Jadi, terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal. Sebab, kapitalisme adalah sebuah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan perekonomian, seperti: memproduksi, menjual, dan menyalurkan barang.

 

Dalam perekonomian kapitalis, setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.

Berbagai sistem ekonomi akan digali dan dicari tanpa mengacu kepada hukum agama dan norma masyarakat yang mulia. Istilah lintah darat tidak berlaku dalam sistem perekonomian liberal. Lintah itu telah berdasi, berada dalam ruangan AC duduk di kursi, sehingga tidak seram lagi. Tidak berlaku dalam sistem ekonomi liberal.

Firman Allah,

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

 

Liberalisme di Kalangan Muslimin

Barat sangat berkepentingan untuk memberikan tafsir terhadap Islam dengan tafsiran ala liberal sejak dini. Sebab, hal tersebut mewujudkan berbagai kepentingan untuk menguasai negeri muslimin. Mereka sangat paham bahwa melenyapkan Islam dari negeri muslimin adalah sesuatu yang mustahil.

Mereka mengetahui bahwa penyelewengan dari ajaran Islam merupakan cara yang manjur untuk menghilangkan pengaruh Islam pada kaum muslimin. Demikian pula, penafsiran Islam dengan tafsir liberal akan menguatkan hubungan negeri kaum muslimin dengan tradisi Barat yang akan semakin memperkuat cengkraman Barat terhadap muslimin.

Segala kepentingan mereka akan bisa mereka lakukan, baik politik maupun ekonomi. Lebih dari itu, mereka bisa mengubah keyakinan (akidah) dengan menanamkan sekularisme dan pluralisme di tengah muslimin.

Ketika liberalisme masuk ke ranah agama Islam, pastilah akan merusak ajaran Islam baik dari sisi akidah, ibadah, maupun akhlak. Ini sudah terbukti.

Tafsir liberalis terhadap Islam sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Parahnya, mereka tetap saja menyematkan nama Islam pada pemikirannya “Islam liberal”, padahal ajaran mereka itu anti-Islam.

Lihat saja dalam hal akidah. Mereka mengusung paham pluralisme yang meyakini semua agama sama dan benar sehingga menyerukan penyatuan agama. Paling tidak, mereka menanamkan keyakinan bahwa seseorang boleh memeluk agama selain Islam. Setiap orang berhak—menurut hak asasi manusia—untuk memilih agamanya, tidak meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkan Islam atas mereka.

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mewajibkan semua manusia untuk berislam. Firman Allah,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Dalam hal ibadah, kita dapati mereka dengan gegabah seenak selera mereka mengotak-atik ibadah dengan tafsir liberal, sampai-sampai waktu musim haji pun ingin mereka ubah.

Ibadah yang sifatnya sakral berani mereka politisir semau mereka. Bagaimana halnya dengan ibadah yang lain? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ.

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak atas dasar perintah kami, maka itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)

Dalam hal akhlak, kaum liberal merupakan kaum yang ingin berakhlak semau mereka sendiri dengan sikap mendukung LGBT (lesbi, gay, biseksual, dan transgender), merendahkan orang yang taat beragama, bahkan tidak lagi beradab terhadap Allah ‘azza wa jalla. Bagaimana akhlak mereka terhadap Nabinya dan terhadap sesama manusia?

Dalam hal politik bernegara, pastilah mereka akan memisahkan antara agama dengan negara, sekularisme. Mereka tidak mau terikat dengan aturan yang mengikat mereka. Negara justru harus mendukung kebebasan dengan makna yang luas.

Dalam hal ekonomi, prinsip mereka adalah bagaimana bisa menjaga kepemilikan pribadi dan menguntungkan pribadi tanpa perhatian dengan ajaran agama, sehingga terciptalah paham kapitalisme dalam bidang ekonomi.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Liberalisme Mengancam

Liberalisme menjadi alat perusak. Liberalisme menjadi tunggangan berbagai kepentingan. Liberalisme jahat.

Apa itu liberalisme?

Liberalisme mengandung makna ‘kebebasan’, kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris, liberalism.

Liberalisme adalah sebuah paham yang mengusung kebebasan pribadi dan berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan pribadi. Asal katanya adalah kata liberty (Inggris) dan liberte (Prancis), yang inti maknanya adalah ‘kebebasan’.

Menurut kaum liberal, tugas inti negara adalah melindungi kebebasan penduduknya, seperti: kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, kepemilikan pribadi, dan kebebasan pribadi.

Liberalisme bisa dimaknai sebagai suatu paham filsafat politik yang berkeyakinan bahwa kesatuan agama bukanlah sesuatu yang pasti dalam mengatur suatu masyarakat yang baik; bahkan undang-undang harus menjamin kebebasan pendapat dan keyakinan.

 

Prinsip Liberalisme

  1. Kebebasan

Kebebasan yang dimaksud adalah bebas dalam berperilaku, merdeka dalam perbuatan, tanpa ada campurtangan negara atau siapapun. Tugas negara adalah melindungi kebebasan tersebut.

Namun, bagaimanapun kebebasan tersebut tetap terikat dengan undang-undang, karena undang-undang merupakan suatu keharusan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, undang-undang bagi mereka bukan sesuatu yang bersifat memaksa dan membatasi kebebasan; karena menurut mereka, kebebasan merupakan hak asasi manusia.

 

  1. Individual

Individual sangat erat dengan kebebasan, sehingga individualisme bertujuan pada kemerdekaan pribadi dan kebebasannya. Di masyarakat Barat, egoisme menjadi sifat yang mendominasi pada masa kebebasan mereka dari tekanan ajaran gereja sampai abad ke-20. Inilah yang kemudian diikuti oleh para penganut ajaran liberalisme.

 

  1. Rasional

Yang dimaksud dengan prinsip rasional adalah kemerdekaan akal dalam mengetahui maslahat dan manfaat tanpa membutuhkan kekuatan dari luar.

Ketergantungan mereka terhadap akal kian menguat setelah masa kemerdekaan mereka dari pengaruh tekanan gereja. Puncaknya adalah abad ke-19 sebagai puncak kejayaan kaum liberal.

Di antara aplikasi mereka dalam hal rasionalisasi adalah negara berlepas dari keagamaan penduduknya, karena kebebasan memiliki konsekeunsi tidak adanya kepastian. Sebab, tidak mungkin sesuatu sampai kepada hakikatnya kecuali melalui penalaran akal dan percobaan. Sebelum menjalani percobaan, seorang manusia berada dalam kebodohan terhadap hal-hal yang sifatnya universal.

Inilah sebabnya mereka tidak pernah sampai kepada sesuatu yang pasti, ini yang kemudian disebut dengan prinsip toleransi. Hakikatnya adalah berlepas dari keterikatan dengan ajaran agama. Prinsip ini memberi manusia hak untuk meyakini apa saja yang dia maukan serta mengumumkannya, dan negara wajib memberikan jaminan hak ini kepada penduduknya.

Dengan demikian, kebertumpuan kepada akal serta keterlepasan dari nilai-nilai agama dan akhlak yang mulia menjadi ciri khas paham liberalisme. Sebab, akal liberalis adalah akal yang tidak beriman melainkan kepada sesuatu yang tampak saja, bukan yang gaib.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Ketika Kebatilan Merebak dan Pengusungnya Merajalela

Kebatilan, lawan dari kebenaran. Kebenaran, tinggi lagi mulia. Kebatilan, rendah lagi hina. Keduanya tidak bisa bersatu walaupun terkadang bertemu. Bagaikan air dan minyak. Walau terkadang bertemu, masing-masing bertahan di atas jatidirinya. Air tetap air, minyak pun tetap minyak.

Demikian halnya dengan pelaku kebenaran dan pengusungnya (ahlul haq). Secara fitrah mereka akan terpisahkan dengan pelaku kebatilan dan pengusungnya (ahlul batil). Jiwanya tidak bisa bersatu walaupun terkadang fisiknya bertemu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan prajurit yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal niscaya akan rukun, dan yang saling bermusuhan niscaya akan berselisih.” (HR. Muslim no. 4773, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Perseteruan antara kebenaran dan kebatilan tidak akan pernah usai. Demikian pula antara ahlul haq dan ahlul batil. Berawal dari para nabi yang berhadapan dengan musuh-musuhnya, dilanjutkan oleh para pengikut nabi (ahlul haq) dari masa ke masa. Allah ‘azza wa alla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setansetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Demikianlah sunnatullah yang tak akan pernah berubah. Ini tidak berarti bahwa Allah ‘azza wa alla menyukai permusuhan di antara hamba-Nya. Akan tetapi, Allah ‘azza wa alla hendak menguji siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Allah ‘azza wa alla berfirman,

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Dialah Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

 

Fenomena Kebatilan & Pengusungnya

Kebatilan dan pengusungnya bukan hal baru dalam kehidupan umat beragama. Kian hari kebatilan dari jenis syubhat dan syahwat kian merebak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Benar-benar akan terjadi pada umatku apa yang telah terjadi pada Bani Israil mirip layaknya sebuah sandal dengan sandal yang satunya. Sampai-sampai jikalau ada dari mereka yang menggauli ibunya dengan terang-terangan, niscaya pada umatku pun ada yang melakukannya.

Sesungguhnya Bani Israil (dalam riwayat lain, kaum Nasrani, pen.) telah terpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.

Beliau ditanya, ‘Siapakah dia, wahai Rasulullah?’

Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. at-Tirmidzi no. 2565, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma; dinyatakan hasan oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi no. 2556, al-Misykat no. 171, dan ash-Shahihah no. 1348)

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali muncul kesesatan (syubhat), pasti ada yang mengikutinya. Mungkin karena kebodohan, mungkin pula karena mengikuti hawa nafsu, tetapi tidak jarang pula karena keduanya.

Kebodohan pangkal kehinaan. Orang yang tak berilmu amat rawan terseret arus kesesatan yang dijajakan oleh para pengusungnya. Lebih-lebih manakala terputus komunikasinya dengan ahli ilmu yang lurus dalam beragama, baik dengan menghadiri majelis ilmu yang dibinanya maupun dengan media komunikasi lainnya.

Demikian pula hawa nafsu (syahwat), merupakan pangkal kebinasaan. Tak jarang orang berilmu menjadi sesat dan binasa karenanya. Sebut saja Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi, si pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu (semoga Allah ‘azza wa alla membalasnya dengan balasan yang setimpal). Dia adalah seorang ahli baca al-Qur’an di Kota Madinah. Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirimnya ke negeri Mesir untuk mengajarkan al-Qur’an di negeri yang baru ditaklukkan itu. Ketika muncul fitnah Khawarij di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia terseret dan hanyut bersamanya.

Semua diawali saat hasratnya untuk menikah muncul. Dia meminang wanita yang dicintainya. Si wanita menerimanya sebagai pendamping hidup, namun maskawinnya adalah darah (baca: membunuh) Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ternyata sang wanita (calon istrinya) dari keluarga Khawarij, ayah dan saudaranya tewas terbunuh oleh pasukan Islam atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Demi memperturutkan hawa nafsunya, Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi menyanggupi maskawin nista itu. Terjadilah apa yang terjadi. Akhirnya Sang Khalifah yang mulia terbunuh di tangannya. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/361)

Imran bin Hiththan tak jauh beda kisahnya. Dia pun terseret arus sesat Khawarij karena kecintaannya kepada seorang wanita. Padahal dia seorang yang berilmu dan sebelumnya berakidah lurus. Lagi-lagi wanita Khawarij.

Awalnya, dia menyadari bahwa langkahnya amat spekulatif dan berbahaya. Namun, dia yakin suatu ketika akan dapat membawa wanita tersebut kepada jalan yang lurus bila menjadi istrinya. Pernikahan berlangsung. Waktu pun berjalan.

Akan tetapi, fakta dan realitas berkata lain. Justru dia yang terbawa oleh si wanita sesat itu. Cintanya kepada sang istri membutakan mata hatinya. Cakrawala keilmuannya menjadi gelap. Pikiran jernihnya tak lagi berjalan seperti semula. Pada akhirnya dia tersesat dan menjadi tokoh Khawarij yang mengajak manusia kepada kesesatan. Tak urung, Abdur Rahman bin Muljam al-Muradi, si pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia puji setinggi langit. (Lihat Tahdzibut Tahdzib karya al-Hafizh Ibnu Hajar 8/108—109 dan al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/364)

Berbagai penyimpangan dan kesesatan semisal di atas terus berlanjut hingga hari ini. Syubhat dan syahwat selalu berperan sebagai penyebab utamanya. Korban banyak berjatuhan. Ada yang dahulu kawan, saudara, tetangga, bahkan guru kita. Satu demi satu berjatuhan, terseret arus kesesatan yang amat dahsyat itu. Sungguh mengerikan.

 

Peran Ulama di Masa Fitnah

Merupakan sunnatullah bahwa setiap muncul kebatilan pasti ada ulama yang memperingatkannya. Serapi apa pun pengusung kebatilan mengemas kebatilannya, pasti ada ulama yang membongkarnya. Sebuah nikmat besar yang Allah ‘azza wa alla anugerahkan kepada umat Islam yang patut disyukuri. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (tepercaya) dari tiap-tiap generasi yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari pemutarbalikan pemahaman agama yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan dari penakwilan agama yang salah yang dilakukan orang-orang jahil.” (HR. al-Khatib al-Baghdadi dalam Syaraf Ashhabil Hadits hlm. 11; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashabih 1/82)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Segala pujian kesempurnaan hanya milik Allah ‘azza wa alla, yang telah menjadikan sisa-sisa manusia dari kalangan ahli ilmu (ulama’) pada setiap masa kekosongan dari para rasul. Mereka menyeru orang-orang yang tersesat kepada petunjuk (huda) dan bersabar atas segala gangguan yang datang dari manusia. Mereka menghidupkan orang-orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah. Mereka menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya (ilmu) yang datang dari Allah ‘azza wa alla.

Betapa banyak korban iblis yang mereka bangkitkan kembali. Betapa banyak pula orang yang tersesat tak tahu jalan (kebenaran) yang mereka tunjuki. Betapa besar jasa mereka bagi umat manusia, namun betapa jelek sikap manusia terhadap mereka. Mereka membela Kitabullah dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil, yaitu orang-orang yang mengibarkan bendara-bendera bid’ah dan melepas ikatan (menebarkan) fitnah.

Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah, menyelisihinya, dan sepakat untuk menjauhinya. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah ‘azza wa alla, dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berkata dengan perkataan yang mutasyabih (samar) dan menipu orang-orang jahil (bodoh) dengan hal-hal yang menjadi syubhat bagi mereka. Kami berlindung kepada Allah ‘azza wa alla dari fitnah-fitnah (yang ditebarkan oleh) orang-orang yang menyesatkan itu.” (Muqaddimah ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wa al-Jahmiyyah)

Mutiara kata dari al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah di atas mengingatkan kita pada masa sekarang ini. Setiap kali muncul kebatilan, para ulama Ahlus Sunnah membentengi umat darinya. Setiap kali tampil pengusung kebatilan, para ulama Ahlus Sunnah pun tampil memperingatkan umat darinya.

Puji syukur hanya milik Allah ‘azza wa alla yang telah menganugerahkan kepada kita para ulama rabbani yang senantiasa menunjuki umat kepada kebenaran dan para pengusungnya. Para ulama yang istiqamah dalam membentengi umat dari kebatilan dan memperingatkan mereka dari tipu daya para pengusungnya.

Dengan peringatan yang dilakukan oleh para ulama tersebut, tidak sedikit orang yang terselamatkan dari makar dan tipu daya para pengusung kebatilan. Bahkan, tidak sedikit pula orang yang tenggelam dalam kebatilan, lantas rujuk dari kebatilan dan kembali kepada kebenaran.

 

Bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah Menyikapi Pengusung Kebatilan

Di dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat yang memperingatkan dari kebatilan dan para pengusungnya. Bahkan, surat al-Munafiqun secara khusus menjadi peringatan dari kaum munafik dan sifat-sifat buruk yang ada pada mereka. Banyak pula ayat-ayat yang bercerita tentang para pengusung kebatilan dan kesudahan mereka yang amat buruk, sebagai peringatan bagi umat manusia.

Tak jarang nama atau identitas mereka disebutkan dalam peringatan itu. Adakalanya sebagai individu, semisal Fir’aun, Haman, Qarun, Samiri, Abu Lahab, dan istrinya. Adakalanya pula sebagai komunitas; semisal kaum Nabi Nuh, ‘Aad (kaum Nabi Hud), Tsamud (kaum Nabi Shalih), Ashabur Rass/Madyan (kaum Nabi Syu’aib), kaum Nabi Luth yang negerinya dihancurkan (al-Mu’tafikah), penduduk negeri Saba’, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang mengatakan, “Peringatan dari ahlul bid’ah tidak ada di dalam al-Qur’an, mengapa masalahnya dibesar-besarkan?!”

Ketahuilah, para ulama menggolongkan ahlul bid’ah ke dalam kaum munafik. Karena tingkat bahaya mereka terhadap umat sangat tinggi, Allah ‘azza wa alla menyebutkan perihal mereka dalam satu surat khusus, yaitu surat al-Munafiqun.

Berikutnya, al-Imam ath-Thabari rahimahullah ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 7 berkata, “Pada ayat ini terdapat arahan yang jelas tentang larangan duduk-duduk bersama para pelaku kebatilan dengan segala jenisnya; dan ahlul bid’ah serta orang-orang fasik saat mereka tenggelam dalam kebatilannya.” (Tafsir ath-Thabari 5/330)

Peringatan dari kebatilan dan pengusungnya juga dijumpai dalam keteladanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-Sunnah), para sahabat yang mulia, dan para ulama yang meniti jejak mereka dengan sebaik-baiknya. Padahal mereka adalah orang-orang saleh yang berilmu tinggi, berjiwa bersih, dan berbudi pekerti luhur. Demikianlah sejarah mencatatnya.

Dalam momentum Hajjatul Wada’ (haji perpisahan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umat dari urusan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa bid’ah itu sesat,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ahmad dari sahabat al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil, no. 2455)

Pada kondisi tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sebatas memperingatkan umat dari kebatilan, namun memperingatkan juga dari para pengusungnya. Bahkan, adakalanya beliau menyebutkan nama mereka, tidak hanya sifat dan kebatilan mereka. Di antaranya, peringatan dari kelompok Khawarij dan gembong mereka Dzul Khuwaishirah,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya dari diri orang ini akan muncul sekelompok orang yang (selalu) membaca al-Qur’an namun tidaklah melewati tenggorokan mereka (tidak dihayati dan dipahami maknanyapen.). Mereka membunuhi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari (prinsip) agama ini sebagaimana keluarnya (menembusnya) anak panah dari tubuh hewan buruan. Jika aku menjumpai mereka, sungguh aku akan memberangus mereka sebagaimana diberangusnya kaum Aad.” (HR. Muslim no. 1064, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

 هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيْقَةِ

“Mereka adalah sejahat-jahat makhluk dan ciptaan.” (HR. Muslim no.1067, dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula peringatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kelompok Qadariyah (para pengingkar takdir),

اَلْقَدَرِيَّةُ مَجُوْسُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِنْ مَرِضُوْا فَلاَ تَعُوْدُوْهُمْ وَإِنْ مَاتُوْا فَلاَ تَشْهَدُوْهُمْ

“Al-Qadariyah adalah kaum Majusi umat ini. Jika mereka sakit, jangan dijenguk; jika meninggal dunia, jangan dihadiri jenazahnya.” ( HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah no. 338; dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Para sahabat radhiallahu ‘anhum memegang teguh prinsip dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal memperingatkan umat dari kebatilan dan pengusungnya.

Ketika sampai perihal Shabigh bin ‘Isl al-Iraqi yang suka menebar syubhat di tengah umat dengan menyoal ayat-ayat mutasyabih sehingga membuat bingung sebagian orang, Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu mengirim utusan untuk memanggilnya.

Ketika ia datang, Umar pun memukulnya dengan tangkai tandan kurma hingga benar-benar kesakitan dan mengucur darah dari kepalanya. Umar kemudian mengasingkannya ke negeri Bashrah dan menulis mandat kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu agar tidak seorang muslimin pun duduk-duduk bersamanya. (Lihat al-Bida’ wa an-Nahyu ‘Anha, karya al-Imam Ibnu Wadhdhah, hlm. 56, asy-Syari’ah karya al-Imam al-Ajurri 1/483, dan al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Bathtah 1/417)[1]

Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma—ketika disampaikan kepada beliau perihal kelompok Qadariyah (pengingkar takdir)—mengatakan, “Sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya (Allah ‘azza wa alla), jika salah seorang dari mereka mempunyai emas sebesar Gunung Uhud kemudian menginfakkannya, niscaya tidak diterima (oleh Allah ‘azza wa alla) sampai mereka beriman kepada takdir.” (HR. Muslim no. 1)

Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Jangan kalian duduk-duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahlul ahwa’), karena duduk-duduk bersama mereka membuat hati berpenyakit!” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/438)

Para tabi’in juga memegang teguh prinsip yang mulia ini. Diriwayatkan dari Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah, ia berkata, “Said bin Jubair telah berkata kepadaku, ‘Aku melihatmu bersama Thalq.’ Aku (Ayyub) berkata, ‘Ya, ada apa dengannya?’ Sa’id bin Jubair berkata, ‘Jangan duduk-duduk bersamanya karena dia seorang Murji’ah (yang berpemikiran irja’)’.”

Ayyub mengomentari nasihat Sa’id bin Jubair tersebut, “(Padahal) aku tidak meminta pendapatnya dalam hal ini. Namun, begitulah sepatutnya yang dilakukan seorang muslim, saat melihat sesuatu yang buruk pada saudaranya hendaknya mengingatkannya.” (asy-Syari’ah karya al-Imam al-Ajurri 2/681)

Al-Imam Thawus bin Kaisan rahimahullah memperingatkan umat dari Ma’bad al-Juhani, gembong Qadariyah, dengan menyebut namanya. Beliau berkata, “Hati-hatilah dari Ma’bad al-Juhani, karena sungguh dia seorang pengingkar takdir.” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/453)

Ketika al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah datang ke Kota Bashrah, beliau memerhatikan keadaan ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di kalangan umat. Beliau bertanya, “Apa manhajnya?”

Mereka menjawab, “Manhajnya tidak lain adalah as-Sunnah.”

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Siapakah kawan-kawan dekatnya?”

Mereka menjawab, “Para pengingkar takdir.”

Beliau pun berkata, “(Kalau begitu) dia adalah seorang Qadari (pengingkar takdir).” (al-Ibanah karya al-Imam Ibnu Baththah 2/453)

Abdullah bin al-Imam Ahmad berkata, “Abu Turab an-Nakhsyabi mendatangi ayahku (al-Imam Ahmad -pen.), lantas ayahku mengatakan, ‘Fulan lemah, dan fulan tsiqah (tepercaya).’

Abu Turab berkata, ‘Hai syaikh, janganlah Anda mengghibahi ulama!’

Ayahku berpaling ke arahnya seraya mengatakan, ‘Celaka kamu! Ini adalah nasihat, bukan ghibah’.” (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi karya al-Imam Ibnu Rajab 1/349—350)

Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Al-Mu’alla bin Hilal dialah orangnya, hanya saja dia berdusta dalam meriwayatkan hadits.”

Ada orang sufi berkata kepada beliau, “Hai Abu Abdirrahman, Anda berbuat ghibah!”

Beliau berkata, “Diam kamu! Jika kita tidak menjelaskan (keadaannya), bagaimana mungkin akan terbedakan antara yang haq dan yang batil?!” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi hlm. 45)

 

Kesimpulan Berharga

Demikianlah bimbingan al-Qur’an, as-Sunnah, keteladanan para sahabat dan ulama rabbani dalam hal menyikapi kebatilan dan para pengusungnya.

Ternyata, memperingatkan umat dari kebatilan dan pengusungnya memang dibenarkan oleh syariat yang mulia ini.

Bahkan, menyebut nama pengusung kebatilan atau tokoh bid’ah dalam peringatan tersebut pun tidak termasuk ghibah, justru sebagai nasihat. Tentu saja, semua ini dalam koridor “saat dibutuhkan”.

Sebagai bahan renungan, simaklah penuturan al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berikut ini, “Sebagian orang yang tidak berilmu telah mencela ulama hadits terkait dengan vonis mereka terhadap para perawi. Sungguh, kami telah mendapati sejumlah imam kalangan tabi’in memperingatkan umat dari tokoh-tokoh yang menyimpang.

Al-Hasan al-Bashri dan Thawus memperingatkan dari Ma’bad al-Juhani, Sa’id bin Jubair memperingatkan dari Thalq bin Habib, Ibrahim an-Nakha’i dan Amir asy-Sya’bi memperingatkan dari al-Harits al-A’war.

Demikian pula yang diriwayatkan dari Ayyub as-Sakhtiyani, Abdullah bin Aun, Sulaiman at-Taimi, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-Auza’i, Abdullah bin al-Mubarak, Yahya bin Sa’id al-Qaththan, Waki’ bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Mahdi, dan ulama selain mereka memperingatkan dan memvonis lemah orang-orang yang berhak mendapatkannya.

Menurut kami, tidaklah mereka melakukannya —wallahu a’lam— melainkan sebagai nasihat untuk umat Islam. Kami tidak meyakini bahwa tindakan yang mereka lakukan itu untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang atau mengghibahinya.

Akan tetapi, kami meyakini bahwa semua itu dilakukan dalam rangka menjelaskan sisi kelemahan (penyimpangan) mereka agar diketahui umat. Sebab, sebagian mereka adalah pelaku bid’ah, ada yang tertuduh memalsukan hadits, dan ada yang lalai serta banyak kesalahan dalam meriwayatkan.” (Syarh ‘Ilal at-Tirmidzi 1/43—44)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc


[1] Al-Imam Ibnu Baththah menyebutkan bahwa perlakuan Umar bin al-Khatthab radhiallahu ‘anhu terhadap Shabigh tersebut menjadi sebab keselamatannya dari pemahaman Haruriyah (Khawarij) di kemudian hari. Shabigh berkata, “Jauhilah (kelompok tersebut), sungguh telah bermanfaat bagiku nasihat seorang lelaki saleh (Umar bin al-Khatthab radhiallahu ‘anhu).” (al-Ibanah 1/417)

Surat Pembaca Edisi 115

Pengurusan Jenazah

Redaksi Asy-Syariah, mohon diangkat secara rinci berdasar dalil-dalil yang sahih tentang pengurusan jenazah, dari adab ketika sakit hingga penguburan jenazah, karena banyak penyimpangannya di tengah masyarakat. Jazakumullah khairan.

Rokhmadi—Banjarnegara

085328xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, pembahasan masalah pengurusan jenazah telah kami singgung pada Rubrik Wanita dalam Sorotan pada edisi 16—23.

Adapun pembahasan lebih rinci bisa Anda dapatkan pada buku Panduan Mudah Mengurus Jenazah karya al-Ustadz Muhammad Sarbini, yang telah kami terbitkan. Barakallahu fikum.

 ————————————————————————————————————————–

Sebarkan Edisi Khusus ke Pesantren

Kami pengurus masjid mengucapkan terima kasih atas pemberian Asy Syariah edisi khusus. Sangat penting dan bermanfaat sekali untuk menepis paham yang sesat, seperti komunis, dll., terutama bagi orang awam seperti saya dan anak-anak muda. Kalau bisa di pesantren-pesantren diberi buku ini untuk bekal para ustadz. Terima kasih atas pemberian bukunya.

Ilham—Temanggung

085225xxxxxx

 —————————————————————————————————————————–

Kenalkan Bahaya PKI kepada Generasi Penerus

Saya guru SD di Kabupaten Cilacap, mengajar kelas 5. Memang, dalam pelajaran IPS tak menyinggung sedikit pun tentang PKI. Setelah sekilas membaca Awas! Komunisme Bangkit Kembali, saya sangat cocok dan mendukung agar dikenalkan lagi kepada siswa tentang bahaya PKI agar tertanam dalam generasi penerus bangsa.

085227xxxxxx

 ——————————————————————————————————————————

Cetak Lagi Edisi Khusus

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Saudaraku yang dimuliakan Allah, kami mau menanyakan kepada pengurus Majalah Asy-Syariah dengan hormat, sehubungan menjelang tanggal 30 September 2016 apakah mencetak lagi majalah edisi khusus Awas! Komunisme Bangkit Kembali?

Kami pribadi sangat menunggu. Kami selaku umat Islam sangat berterima kasih sekali apabila majalah tersebut dicetak untuk mengingatkan generasi muda Islam agar waspada terhadap bahaya laten komunisme. Terima kasih atas bantuannya

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Satori, Kepala Desa Buniayu, Tambak, Banyumas

 

  • Jawaban Redaksi:

Wa’alaikumus salam warahmatullah wabarakatuh.

Alhamdulillah, semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah ‘azza wa jalla sehingga dijauhkan dari paham-paham yang sesat. Kami ucapkan terima kasih atas saran Anda. Semoga kami dimudahkan untuk merealisasikannya. Barakallahu fikum.

Mematahkan Logika Dangkal Islam Liberal

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Islam demikian bercahaya saat kaum muslimin mengagungkan ulamanya. Saat kita dihadapkan pada permasalahan agama, ulama menjadi tempat kita bertanya. Saat kita dibelit banyak kesulitan hidup, ulama menjadi tempat kita merujuk. Agama benar-benar terbentengi dengan keberadaan ulama.

Para ulama dengan banyak kemuliaan: hafal banyak hadits, bahasa Arab demikian fasih, ilmu tafsir yang mumpuni, dan amalan keseharian mereka yang sulit ditiru, namun mereka tetap terbingkai dengan akhlak mulia. Dengan segala kelebihan itu, mereka justru bersikap wara’ (berhatihati) saat berbicara soal agama. Lanjutkan membaca Mematahkan Logika Dangkal Islam Liberal