al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (19) : Perang Jalula

Peristiwa ini terjadi setelah perang Qadisiyah dan jatuhnya Madain. Kisra Yazdajird melarikan diri dari Madain menuju Hulwan. Selama dalam pelarian menuju Hulwan, dia melakukan konsolidasi dengan tentara dan pengikutnya yang ada di setiap wilayah yang dilewatinya. Akhirnya, terbentuklah satu pasukan besar, maka dia pun menunjuk Mihran sebagai panglima pasukan besar ini. Kisra terus melanjutkan perjalanannya menuju Hulwan setelah meninggalkan banyak harta untuk membiayai pasukan itu.

Pasukan besar itu bermarkas di Jalula. Mereka mulai menggali parit besar di sekeliling mereka sebagai pertahanan dan berdiam di tempat itu dengan bekal dan peralatan yang sangat memadai.

Sa’d segera memberi kabar kepada Amirul Mukminin, maka ‘Umar memberikan jawaban agar Sa’d tetap di Madain dan menunjuk Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash sebagai pimpinan pasukan menuju Jalula.

Sa’d segera menjalankan perintah tersebut dan mengutus keponakannya (Hasyim) membawa pasukan dalam jumlah yang besar (sekitar 12.000 personil) yang terdiri dari para sahabat senior, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para pemuka bangsa Arab lainnya.

Bagian depan pasukan muslimin itu dipimpin oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, sayap kanan dipimpin oleh Sa’d bin Malik, sayap kiri oleh ‘Umar bin Malik dan bagian belakang di pimpin oleh ‘Amr bin Murrah al-Juhani.[1]

Pasukan muslimin segera bergerak dan tiba di Jalula. Di sana mereka mendapati pasukan Majusi telah membuat pertahanan dengan parit yang mereka buat. Pasukan Hasyim mulai mengepung mereka.

Pasukan musuh sering keluar dari negeri mereka untuk berperang setiap saat. Mereka menyerang kaum muslimin dengan sehebat-hebatnya, dan belum pernah terjadi serbuan sehebat itu.

Kisra terus-menerus mengirimkan bala bantuan kepada pasukannya. Demikian pula Sa’d yang berada di Madain, selalu mengirimkan bantuan kepada pasukan muslimin yang dipimpin anak saudaranya.

Suasana perang mulai memanas, api peperangan mulai berkobar. Hasyim berkali-kali berorasi di hadapan pasukan muslimin untuk memotivasi mereka agar senantiasa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[2]

Bangsa Persia mengikat perjanjian dan kesepakatan dengan sekutu-sekutunya. Mereka bersumpah demi api—tuhan mereka—tidak akan lari dari pertempuran hingga seluruh bangsa Arab dapat dibasmi.

Pecahlah pertempuran dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga anak panah kedua belah pihak mulai habis dan berganti dengan tombak-tombak yang juga habis beterbangan dari kedua pasukan. Akhirnya mereka mulai saling menyerang dengan pedang.

Waktu Zuhur telah tiba dan kaum muslimin hanya mampu melaksanakan shalat dengan isyarat. Di pihak lawan, sekelompok tentara Majusi meninggalkan gelanggang, lalu posisi mereka digantikan oleh kelompok lainnya.

Qa’qa’ berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Apakah kalian takut dengan apa yang kalian lihat, wahai kaum muslimin?”

“Ya. Sebab, kita dalam posisi bertahan dan mereka menyerang.”

Kata Qa’qa’, “Mari kita gempur mereka secara serentak, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memutuskan perkara antara kita dan mereka.”

Kaum muslimin mulai bersiap menyerang secara serempak. Qa’qa’ sendiri membawa beberapa pasukan berkuda yang dikendarai oleh para pahlawan perang hingga mereka sampai di pintu parit.

Perlahan, malam mulai merayap. Ketika hari mulai gelap, beberapa pasukan berkuda kaum muslimin mendekati kubu pertahanan musuh dengan diam-diam. Di antara para kesatria penunggang kuda tersebut adalah para jagoan, seperti Thulaihah al-Asadi, ‘Amru bin Ma’di Karib, Qais bin Maksyuh, dan Hijr bin Adi.

Pasukan Majusi sendiri dalam keadaan tidak mengetahui sama sekali apa yang dilakukan pasukan Qa’qa’ dalam kegelapan. Mereka tidak menyadari semua itu hingga terdengar teriakan, “Di mana kamu, wahai kaum muslimin? Ini, pemimpin kalian sudah di depan pintu parit musuh.”[3]

Ketika orang-orang Majusi mendengar teriakan itu, mereka segera melarikan diri. Kaum muslimin langsung menyerbu bergabung dengan Qa’qa’ bin ‘Amru yang ternyata sudah menguasai pintu parit.

Tentara Persia berlari kocar-kacir dikejar kaum muslimin dari segala penjuru dan dihadang ke mana pun mereka lari. Tidak kurang dari 100.000 prajurit Persia tewas bersimbah darah di tangan kaum muslimin. Permukaan bumi dipenuhi mayatmayat yang bergelimpangan. Itulah sebabnya peperangan ini dinamakan dengan Perang Jalula (yang bergelimpangan).

Hasyim bin ‘Utbah mengirim Qa’qa’ mengejar mereka yang lari menyusul Kisra sampai bertemu dengan panglima Mihran. Qa’qa’ berhasil membunuh Mihran, tetapi Fairuzan berhasil menyelamatkan diri.

Kaum muslimin berhasil mendapatkan ghanimah berupa harta, senjata, emas dan perak yang jumlahnya hampir sama dengan harta yang mereka dapati di Madain.

Ghanimah yang diperoleh segera dibagi dan dikirim oleh Hasyim kepada pamannya, Sa’d. Kemudian Sa’d mengeluarkan seperlimanya untuk dikirimkan ke Amirul Mukminin di Madinah. Yang menjadi pengawal ghanimah itu adalah Ziyad bin Abi Sufyan, Qudha’i bin ‘Amr, dan Abu Muqarrin al-Aswad.

Sesampainya di Madinah, ‘Umar bertanya kepada Ziyad tentang kemenangan yang mereka peroleh. Ziyad menceritakannya dengan ungkapan yang menakjubkan, karena dia seorang yang fasih dalam menjelaskan. Mendengar cara Ziyad menceritakan, ‘Umar ingin agar cerita heroik ini diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Kata ‘Umar kepada Ziyad, “Apakah kamu mampu berpidato kepada kaum muslimin menceritakan kemenangan ini?”

“Siap, wahai Amirul Mukminin. Tidak ada yang lebih saya segani di dunia ini selain Anda, maka bagaimana mungkin saya tidak mampu untuk berbicara kepada orang lain?”

Lalu dia pun menceritakannya kepada kaum muslimin dengan bahasa yang indah dan memukau. Dia menceritakan bagaimana mereka berperang, berapa yang terbunuh, dan berapa rampasan perang yang mereka peroleh.

Kata ‘Umar, “Sungguh, dia ini betul-betul orator ulung.”

Kata Ziyad, “Pasukan kami membuktikan ucapan kami dengan tindakan.”

Setelah itu, ‘Umar bersumpah tidak akan membiarkan harta itu tersimpan hingga dibagi-bagikan kepada yang berhak. Harta itu diletakkan di masjid, dijaga oleh ‘Abdullah bin Arqam radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu.

Usai shalat Subuh, setelah matahari terbit, ‘Umar memerintahkan agar penutup harta itu dibuka. Begitu melihat tumpukan emas, perak, dan permata yang berkilau itu, berlinanglah air mata ‘Umar, beliau menangis.

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdur Rahman bin ‘Auf, “Demi Allah, ini adalah waktunya bersyukur.”

“Demi Allah, bukan itu yang membuatku menangis. Demi Allah, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ini kepada suatu kaum kecuali mereka pasti akan saling iri, benci; dan tidaklah mereka saling mendengki kecuali tentu akan ditimpakan kejelekan di antara mereka.”

 

Jatuhnya Hulwan

Fairuzan yang berhasil melarikan diri tiba di tempat Kisra dan segera memberitahu Kisra tentang kekalahan mereka di Jalula dengan terbunuhnya 100.000 tentara Persia itu serta tewasnya Mihran.

Mendengar berita buruk ini Kisra segera melarikan diri dari Hulwan menuju Rai (Teheran sekarang) dan dia menunjuk seorang amir yang bernama Khasrusynum agar bertahan di Hulwan.

Qa’qa’ maju menyerbu mereka. Khasrusynum menantang Qa’qa’ untuk bertempur di suatu tempat yang berada di luar Hulwan. Qa’qa’ menyambut tantangan itu dan pecahlah pertempuran sengit dan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

Khasrusynum dan pasukannya kalah, dia sendiri melarikan diri.

Qa’qa’ terus menuju Hulwan dan berhasil merebutnya. Di dalam benteng, mereka mendapatkan harta rampasan perang dan para tawanan. Mereka menguasai tempat itu sambil memungut jizyah dari penduduk yang tinggal di sekitarnya setelah diajak masuk Islam tetapi menolak.

Qa’qa’ menetap di Hulwan sampai Sa’d pindah dari Madain ke Kufah.[4]

 

Kisah Hurmuzan

Menurut sebagian ahli sejarah, Hurmuzan termasuk di antara tentara Persia yang melarikan diri dalam peperangan Qadisiyah.

Abu Musa yang berada di Bashrah mulai berangkat, demikian pula ‘Utbah bin Ghazawan yang ketika itu di Kufah. Keduanya bersiap hendak memerangi Hurmuzan.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemenangan kepada keduanya. Mereka mengambil kembali daerah yang dikuasainya, antara Eufrat dan Tigris. Kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang dan tawanan.

Hurmuzan berpura-pura berdamai dengan mereka untuk menyelamatkan daerah-daerah lainnya. Akan tetapi, Hurmuzan melanggar perjanjian dan meminta bantuan kepada sebagian orang Kurdi.

Kaum muslimin berhasil mengalahkannya, hingga dia melarikan diri ke Tustar. Ketika negeri itu berhasil ditaklukkan, segera Hurmuzan melarikan diri ke benteng.

Para jagoan Islam, di antaranya adalah Ka’b bin Tsaur, al-Bara’, saudara Anas bin Malik, dan Majza-ah bin Tsaur, terus memburunya dan mengepungnya di satu tempat di benteng itu.

Hurmuzan tidak mempunyai pilihan lain, jika bukan dia yang mati, merekalah yang mati.

Setelah berhasil membunuh al-Bara’ dan Majza-ah, Hurmuzan berkata kepada mereka, “Sungguh, di dalam tempat busurku ada seratus anak panah. Tidak satu pun dari kalian yang mendekat kepadaku pasti akan kubinasakan dengan anak panahku. Setiap panahku akan menghabisi nyawa tiap orang dari kalian. Apa gunanya kalian menawanku setelah kubinasakan seratus orang dari kalian?”

“Lalu, apa maumu?”

“Kalian harus menjamin keamananku setelah aku menyerahkan kedua tanganku untuk kalian ikat lalu kamu menyerahkanku kepada ‘Umar bin al-Khaththab agar menjatuhkan hukuman untukku sesuai dengan yang dia inginkan.”

Mereka menerimanya, maka Hurmuzan segera melempar busur dan anak panahnya. Tangannya segera diikat sekuatnya untuk dikirim kepada ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya kaum muslimin berhasil menguasai semua yang ada di negeri tersebut berupa harta dan hasil buminya. Setelah disisihkan 4/5 bagiannya, maka setiap penunggang kuda menerima 3.000 dirham dan pasukan pejalan kaki 1.000 dirham.

Setelah itu, Abu Saburah segera mengirim seperlima dari harta rampasan berikut Hurmuzan yang sudah terikat. Abu Saburah mengutus pula sekelompok utusan yang di dalamnya ada Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais.

Menjelang tiba di kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin. Rombongan itu bertanya di mana Amirul Mukminin berada.

Orang-orang yang ditanya memberitahukan bahwa beliau tadi pergi ke masjid, menerima utusan dari Kufah. Akan tetapi, mereka tidak menjumpai ‘Umar. Mereka kembali keluar dan bertanya kepada beberapa remaja yang sedang bermain di halaman masjid.

“Beliau sedang tidur dengan beralas jubahnya yang bertopi (burnus) di masjid,” kata mereka.

Mereka segera kembali ke masjid dan melihatnya dalam keadaan tertidur dengan alas jubahnya itu. Tidak ada orang lain di masjid selain beliau, sementara tongkatnya tergantung di tangannya.

Hurmuzan bertanya, “Mana ‘Umar?”

Kata mereka, “Inilah dia.”

Mereka berbicara dengan suara lirih agar tidak membangunkannya.

Tetapi Hurmuzan bertanya lagi, “Mana pengawal pribadinya?”

“Dia tidak mempunyai pengawal pribadi ataupun penjaga.”

Hurmuzan berkata, “Seharusnya dia seorang nabi.”

“Bukan, tetapi dia menjalankan tugas para nabi.”

Orang-orang bertambah banyak yang datang, ‘Umar pun bangun mendengar keramaian itu dan langsung duduk.

‘Umar mengamati Hurmuzan dan bertanya, “Inikah Hurmuzan?”

“Ya,” kata mereka.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

Kemudian ‘Umar melanjutkan, “Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap.”

Salah satu utusan tersebut berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya.”

Mereka pun segera mereka menggantinya dengan pakaian biasa.

Setelah itu ‘Umar berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

Kata Hurmuzan, “Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami.”

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”

Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkannya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

“Sebetulnya, aku tidak memerlukan air, tetapi aku ingin menenangkan jiwa dengannya.”

“Aku akan membunuhmu.”

“Engkau telah memberiku jaminan keamanan.”

“Kau dusta.”

Anas yang ikut menyaksikan berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Celaka kamu, hai Anas? Apakah aku menjamin keamanan orang yang telah membunuh Majza-ah dan Bara’? Kamu harus mendatangkan bukti. Kalau tidak, aku akan menghukummu!”

Anas segera berkata, “Tadi Anda mengatakan, ‘Tidak apa-apa, minumlah sampai kamu menerangkannya kepadaku,’ dan Anda juga mengatakan, ‘Tidak apa-apa, hingga engkau minum’ dan semua yang ada di sana mengatakan hal yang sama.”

‘Umar segera mendekati Hurmuzan dan berkata, “Kamu berhasil menipuku. Demi Allah, aku tidak mau tertipu kecuali jika engkau masuk Islam.”

Akhirnya, Hurmuzan masuk Islam lalu dia diberi 2.000 dirham dan disuruh tetap tinggal di Madinah.

Kata Ibnu Katsir, “Hurmuzan masuk Islam dan baik Islamnya. Dia tidak pernah berpisah dari ‘Umar hingga ‘Umar terbunuh.”

Ada yang meriwayatkan bahwa ketika ‘Umar berhaji, Hurmuzan ada di dekatnya.

Tetapi, sebagian orang ada yang menuduhnya ikut andil dalam pembunuhan ‘Umar, yaitu persekongkolan antara dia dan Jufainah dengan menugaskan Abu Lu’lu’ah untuk membunuh ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Karena itulah, ‘Ubaidullah bin Umar membunuh Hurmuzan dan Jufainah.

Diriwayatkan bahwa ketika ‘Ubaidullah menikamkan pedangnya kepada Hurmuzan, Hurmuzan mengucapkan La ilaha illallah. Adapun Jufainah mati disalib.

Terakhir, Kisra Yazdajird berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya untuk menyelamatkan diri. Berita terakhir menyebutkan bahwa dia bermukim di Isfahan. Namun, dia terbunuh juga di Thahhan.

Setelah itu, pasukan dan para pembesar serta keluarganya tercerai berai di seluruh pelosok, dan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, kekuatan Persia lenyap. Allah subhanahu wa ta’ala sudah meruntuhkan kesombongan mereka dan mencerai-beraikan mereka.

Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai kaum muslimin,

berpegangteguhlah kamu dengan agama ini,

ikutilah petunjuk Nabi kalian.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ibrah

[1] al-Bidayah wan Nihayah 7/79.

[2] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[3] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[4] al-Bidayah wan Nihayah 7/82.

Takwa & Tawakal Cara Menghadapi Makar Musuh

Berbagai tuduhan, tudingan, dan hujatan dicurahkan kepada para dai tauhid dan sunnah. Demikian pula kepada negara tauhid dan sunnah, Kerajaan Arab Saudi, bahwa mereka adalah wahabi dan kerajaan yang menebarkan ajaran/doktrin wahabiyah.

Bahkan, tuduhan tersebut tidak sampai pada tahapan itu saja. Mereka menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme di dunia ini sumbernya adalah wahabi, salafi, dan para tokohnya, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh Sufi, Syiah, kaum liberal, komunis, dan paham menyimpang lainnya melalui berbagai media ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para dai tauhid yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Kerajaan Arab Saudi yang berjalan membelanya.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang hakikat makar mereka dan cara menghadapinya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik untuk memahami dan berjalan di atasnya.

 

Pergulatan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Pergulatan antara orang-orang yang mengikuti kebenaran (ahlul haq) dan orang-orang yang mengikuti kebatilan (ahlul batil) merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala) yang pasti terjadi. Hal itu tidak bisa dihindari. Ia merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ

        “Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Hukum-hukum yang disebutkan terkait dengan diujinya orang beriman dengan orang kafir, silih bergantinya kemenangan di antara mereka, dan tertolongnya sebagian mereka menghadapi sebagian lainnya; jika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, sungguh Dia akan menolong orang-orang yang beriman.

Sebab, Dia adalah Dzat yang Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Dia Mahakuasa untuk tidak menakdirkan kemenangan bagi orang-orang kafir di satu tempat pun selama-lamanya sehingga orang-orang beriman berhasil membinasakan kebun-kebun mereka.

Akan tetapi, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji sebagian kalian dengan yang lainnya agar terjadi jihad fi sabilillah. Dengan ujian itu, tampak jelas keadaan para hamba-Nya, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Dengan demikian, orang yang beriman bisa beriman dengan yang benar berlandaskan bashirah (ilmu dan keyakinan), bukan iman yang dibangun karena mengikuti kelompok yang menang. Sebab, iman yang seperti itu lemah sekali. Iman yang seperti itu tidak akan bertahan saat pemiliknya menghadapi ujian dan cobaan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 785)

Para nabi dan rasul r adalah golongan hamba-Nya yang paling mulia. Mereka juga dibenturkan dengan para musuhnya. Demikian berita Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

        “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

“Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangimu, dan dengki terhadapmu—ini adalah sunnah (ketentuan)-Ku—demikian pula Aku menjadikan musuh bagi setiap nabi yang Aku utus kepada makhluk. Musuh-musuh mereka adalah setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menghadang dan menentang dakwah para rasul.

Sebagian mereka menghias-hiasi perkara batil yang mereka serukan kepada yang lain. Mereka kemas dengan ungkapan yang menarik hingga menampilkannya dalam bentuk yang terbaik. Tujuannya adalah menipu orang-orang bodoh. Orang dungu yang tidak memahami hakikatnya dan makna sebenarnya akan menerimanya. Slogan yang dikemas dan dihias tersebut membuat takjub orang yang bodoh. Mereka pun meyakini bahwa yang benar adalah batil, sedangkan yang batil dianggap sebagai kebenaran.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hati orang yang tidak beriman terhadap akhirat akan condong terhadap slogan/ucapan kosong itu. Sebab, ketiadaan iman terhadap hari akhir dan ketiadaan akal yang bermanfaat di hati mereka, telah mendorong mereka (untuk condong terhadapnya).

 

Penyebaran Opini Dusta, Makar Mereka

Di antara makar-makar ahlul batil dalam rangka menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap ahlul haq dan para dai yang mengajak kepada kebenaran adalah menyebarkan opini-opini yang buruk terhadap seluruh umat manusia melalui seluruh media massa. Bahkan, opini itu mereka sebarkan melalui kajian, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Makar mereka ini bukanlah hal yang baru. Ini sudah dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap para nabi dan para rasul r. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢  أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang dikatakan orang musyrik kepadamu, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dahulu juga diucapkan kepada para rasul ‘alaihimussalam. Seperti itulah. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka (para pendusta) kecuali mereka akan berkata terhadap rasul itu sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apakah mereka saling mewasiatkan ucapan itu? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas (zalim).’

Maknanya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. Hati mereka serupa sehingga apa yang diucapkan oleh generasi belakangan sama dengan yang dikatakan oleh para pendahulunya. Maka dari itu, wahai Muhammad, berpalinglah dari mereka. Kami tidaklah mencelamu dengan sikapmu tersebut.” (Tafsir al- Qur’an al-‘Azhim, 4/201)

Bahkan, Fir’aun la’natullah ‘alaihi mengelabui kaumnya dengan opini dusta kepada kaumnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam dan dakwahnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam kitab-Nya,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

        Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan Fir’aun ini adalah kalimat yang paling mengherankan. Orang yang paling jahat menasihati rakyatnya supaya tidak mengikuti orang terbaik (Musa ‘alaihissalam). Itu adalah penipuan dan pemutarbalikan fakta.

Pada zaman sekarang ini, kaum Sufi, demikian pula Syiah, kaum liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya, melalui berbagai media menyematkan julukan “wahabi”, “salafi wahabi” kepada orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan opini tersebut dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari para dai sunnah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Julukan tersebut bertujuan menanamkan kebencian dan menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kalian wajib teliti dalam urusan tersebut dan memerhatikan maknanya.

Penamaan ‘wahabi’ adalah penisbatan kepada seorang alim ulama, bukan penisbatan kepada Marx atau Lenin, bukan kepada Amerika atau Rusia, bukan pula kepada salah seorang pemimpin yang memusuhi Islam. Meski demikian, kita tidak boleh menisbatkan diri kecuali kepada Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mushara’ah, hlm. 294—295)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang berkata, ‘Orang ini wahabi,’ ketahuilah bahwa orang tersebut memiliki dua kemungkinan:

  1. Orang jelek yang berbuat kejelekan,
  2. Orang bodoh yang tidak bisa membedakan.

Semua ini adalah kedustaan besar yang dituduhkan kepada seorang dai yang mengajak umat untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Saudara-saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menamai kita muslimin. Kita adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti oleh yang lain. Kita tidak rela dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i, Zaidi, Wahabi, atau yang lainnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah seorang alim yang mulia. Dengan menisbatkan seseorang kepada beliau, mereka menganggap bisa berbuat buruk (menjauhkan umat darinya).

Aku nasihatkan kepada saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Kitab at-Tauhid. Niscaya akan kalian lihat di dalamnya ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu adalah sebuah kitab yang mulia. Walaupun ada beberapa hadits dhaif di dalamnya, tetapi tidak berbahaya. Sungguh, aku telah menjelaskannya di dalam kitabku an-Nahju Sadid. Bacalah!

Janganlah engkau menjadi pembebek kejelekan dengan menyatakan, ‘Apabila orang-orang berbuat baik kepadaku, aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, akupun akan berbuat buruk kepada mereka.’

(Jangan seperti itu,) perhatikan diri-diri kalian. Apabila orang-orang berbuat baik kepadamu, berbuat baiklah kepada mereka. Apabila mereka berbuat buruk, janganlah engkau menzalimi mereka. Wallahu a’lam.” (al-Mushara’ah, hlm. 398)

 

Intimidasi dan Provokasi

Musuh-musuh dakwah ini, seperti kaum Sufi, Syiah, liberalis, sosialis, komunis, dll., tidak segan melakukan intimidasi dan provokasi terhadap para dai yang mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Modus ini pun bukan makar yang baru.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ ١٧٤

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.”

Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 173—175)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, intimidasi yang dilakukan oleh salah seorang musyrikin dengan ucapannya, “Sesungguhnya mereka (musuh-musuh kalian) telah bersatu untuk melibas kalian,” sebenarnya dia adalah salah seorang dai setan yang menakut-nakuti (mengintimidasi) para walinya yang tidak beriman dan orang yang imannya lemah.

“Oleh karena itu, janganlah kalian (wahai orang yang beriman) takut terhadap mereka. Namun, takutlah kalian kepada-Ku. Jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”

Maksudnya, kata as-Sa’di rahimahullah, “Janganlah kalian takut terhadap kaum musyrikin yang menjadi wali setan, karena ubun-ubun mereka di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan mampu berbuat apa pun kecuali dengan takdir-Nya. Akan tetapi, takutlah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menolong para wali-Nya yang takut kepada-Nya dan yang menyambut seruan-Nya.”

Ketika mereka tidak memiliki hujah dan kalah dalam berargumentasi, mereka melakukan provokasi terhadap massa untuk membendung dan memberangus dakwah tauhid dan sunnah ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan niat jahat mereka dalam firman-Nya,

          يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Makar jahat ini juga bukan sesuatu yang baru. Ia hanyalah warisan dari para pendahulu mereka yang menentang dakwah para nabi dan rasul r.

Perhatikanlah provokasi Fir’aun untuk menghalangi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٢٧

وَقَالَ رَجُلٞ مُّؤۡمِنٞ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَكۡتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 26—28)

 

Demikian pula sikap mereka terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah kalah hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨ قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠

        Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”

Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 68—70)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin berkata, “Bunuhlah dia dengan cara yang paling jahat (dibakar),” karena mereka marah terhadap Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka membela sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin itu betul-betul celaka. Mereka beribadah kepada sesembahan yang mereka akui sendiri bahwa ia membutuhkan pertolongan mereka, tetapi justru mereka jadikan sesembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menolong kekasih-Nya ketika para musuh melemparkannya ke dalam api.

 

Kemenangan Bagi yang Bertakwa dan Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Berbagai makar mereka lakukan terhadap para dai yang mengajak untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, makar itu akan kembali kepada diri mereka dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

          وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

        “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Kemenangan itu pasti akan berakhir bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

          تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

        “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, kita semua wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita wajib kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggantungkan serta menyandarkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan berikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

          وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Dialah yang akan memberi kecukupan, Dia pula sebaik-baik pelindung dan penolong.

Engkau bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusanmu. Makna tawakal tidaklah sebagaimana yang dipahami oleh orang Sufi yang menyimpang, yaitu tidak mau menjalani sebab atau tidak mau berusaha.

Akan tetapi, makna tawakal yang dijelaskan oleh para ulama adalah ‘bersandar kepada sebab adalah syirik, sedangkan tidak mau menjalani sebab adalah mencela syariat’ (Maknanya, lakukan sebab/usaha diiringi dengan doa dalam keadaan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata). (al-Mushara’ah, hlm. 12)

Tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surah ath-Thalaq ayat 3 di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ingin mendapatkan kemanfaatan dan menolak madarat, dengan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kemudahan dari-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kecukupan.

Apabila suatu urasan itu berada dalam jaminan Dzat yang Mahakaya, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Maha Penyayang, urusan itu adalah yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, terkadang hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut urusan tersebut ditunda sampai waktu yang tepat bagi si hamba.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Sikap orang mukmin adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١

        Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Apabila tawakalmu benar/lurus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, engkau tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau rahimahullah katakan pula, “Apabila hati seorang muslim dipenuhi dengan kekhawatiran karena bid’ah dan khurafat, atau hatinya dipenuhi keraguan, dia akan terus-menerus goncang. Seperti keadaan orang munafik, akan memikirkan setiap komentar terhadap mereka.” (al-Mushara’ah, hlm. 11)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengokohkan hati kaum muslimin, terkhusus para dai dan ulama yang berada di atas tauhid dan sunnah, dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Akidah Syiah Meruntuhkan Tauhid

Kaum muslimin sepakat bahwa fondasi Islam adalah dua kalimat syahadat sebagai rukun Islam pertama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

        بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَا ةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَ الْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima dasar: (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berhaji, dan (5) berpuasa pada bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Saat fondasi rusak atau runtuh, niscaya segala yang dibangun di atasnya akan runtuh pula. Barang siapa berupaya atau telah berupaya merusak atau meruntuhkannya, dia adalah seseorang yang telah keluar dari Islam.

Dua kalimat syahadat sebagai fondasi Islam mengandung makna yang besar dan agung. La ilaha illallah mengandung makna tauhidullah dan Muhammad rasulullah mengandung makna tauhidurrasul. Tauhidullah maknanya mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala bentuk peribadahan. Adapun makna tauhidurrasul adalah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya anutan dan teladan dalam menjalankan tauhidullah.

Di atas dua kalimat inilah dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dijalankan, bendera jihad dikibarkan, amar ma’ruf dan nahi mungkar ditegakkan. Di atas dasar ini pula dibangun dan dinilai semua bentuk ibadah, ketaatan, serta segala bentuk pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti shalat, zakat, puasa, berhaji, berdoa, berzikir, membaca al-Qur’an, berinfak, dan bentuk ketaatan lainnya.

Tauhidullah merupakan fondasi dakwah para rasul. Ia menjadi asas untuk memperbaiki segala bentuk perusakan dan kerusakan di muka bumi ini. Untuk tauhidullah, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jin dan manusia, seluruh makhluk, langit dan bumi, adanya pahala dan dosa, adanya surga dan neraka.

Sekali lagi, sebagai fondasi dan dasar berislam, kapan saja ia runtuh dan tumbang, segala amalan yang dibangun di atasnya akan ikut runtuh. Pelaku perusakan fondasi tersebut menjadi kafir, keluar dari koridor Islam.

Contohnya, para ulama sepakat bahwa apabila seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berzakat, berpuasa, namun menentang ibadah haji, berarti dia telah keluar dari Islam.

Contoh lain, apabila dia mengakui semua rukun Islam, namun mengingkari adanya azab di dalam kubur atau mengingkari adanya hari kebangkitan, dia telah kafir dan keluar dari Islam.

Misal yang lain, para sahabat bersepakat memerangi Bani Hanifah. Bani Hanifah adalah murid-murid para sahabat dan belajar agama dari mereka. Bani Hanifah mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat, berpuasa, berhaji, bahkan berjihad bersama, beriman pada semua yang terkait dengan kehidupan akhirat. Akan tetapi, mereka diperangi karena mengangkat Musailamah al-Kadzdzab setara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini menyebabkan darah mereka halal untuk ditumpahkan, harta mereka halal untuk dirampas, dan kehormatan mereka direnggut.

Dengan gambaran di atas, jelaslah bahwa murtad (keluar dari Islam) bukan hanya pindah agama menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, atau agama yang lain. Para ulama setiap mazhab menyebutkan pembahasan fikih tentang “Hukum Orang Murtad”, murtad adalah seorang muslim yang keluar dari agamanya menjadi kafir. Para ulama setiap mazhab juga menyebutkan sekian perkara yang akan mengeluarkan seseorang dari Islam.

Di antara sebab kemurtadan adalah ucapan yang mengandung kekufuran dan kesyirikan, baik secara serius (karena keyakinan) maupun secara senda gurau dan main-main belaka. Simak ayat di bawah ini.

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥ لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, katakan (Muhammad) apakah kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada maaf bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah berimannya kalian.” (at-Taubah: 65—66)

Ayat ini turun terkait dengan kaum yang berangkat berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, lantas lisan mereka mengucapkan kalimat yang mengandung olokan dan ejekan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka pun menjadi kafir karenanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Nawaqidhu al- Islam, setelah menyebutkan sepuluh dari pembatal-pembatal keislaman yang besar menjelaskan, “Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal keislaman ini antara orang yang bermain-main, bersungguh-sungguh, dan takut; kecuali orang dipaksa. Semua ini adalah pembatal keislaman yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Sepantasnya setiap muslim berhati-hati, merasa takut akan ditimpa pembatal-pembatal tersebut. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari murka-Nya yang pasti dan azab-Nya yang pedih.” (Lihat Nawaqidhu al-Islam dan Kasyfu asy-Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha wa Nawaqidhu al-Islam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Seseorang akan menjadi kafir-murtad karena menentang satu bagian dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Dua kalimat syahadat yang telah diucapkannya menjadi tidak berguna, apabila yang ditentang adalah dua kalimat syahadat itu sendiri. Padahal kedua kalimat ini adalah bagian agama yang paling besar dan agung. Bukankah dia lebih pantas untuk dikafirkan dan menjadi murtad?

Contoh pelanggaran terbesar terhadap tauhidullah ialah mengangkat seorang manusia setara dengan Allah subhanahu wa ta’ala; meminta-minta di kuburan; menggantungkan nasib dan hidup di tangan para dukun dan paranormal; beristighatsah kepada ruh-ruh leluhur; menyembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala, baik untuk jin, tempat keramat, maupun kuburan tertentu;bernadzar untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala seperti bernadzar untuk kuburan tertentu; mengangkat para wali sebagai perantara dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala atau menjadikannya sebagai tujuan dalam berdoa, berharap, dan takut.

 

Propaganda Para Perusak Tauhidullah

Muncullah nama dan tokoh “pujaan” yang berbaju muslim di panggung dunia. Mereka menampilkan diri sebagai pejuang Islam, penyelamat kaum muslimin, penentang segala bentuk kezaliman, penegak keadilan, pembela hak kaum muslimin, dan menyuarakan permusuhan terhadap kaum non-Islam.

Slogan-slogannya yang penuh polesan seringkali menipu kaum muslimin sehingga para tokoh itu dianggap sejalan dengan apa yang diucapkannya. Padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang siap menerkam mangsanya.

Siapakah mangsa mereka? Kaum muslimin yang tidak bergabung dalam lingkaran mereka secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Mereka siap melakukan pembantaian kapan dan di mana pun saat ada peluang.

Sebutlah sejarah berdarah pada 312 H. Jamaah haji yang berangkat pulang dibantai, kaum lelakinya dibunuh, kaum wanitanya ditawan, dan harta benda mereka lebih dari 1 juta dinar dirampas.

Pada 317 H terulang peristiwa berdarah, yaitu pembantaian orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji pada 8 Dzulhijjah (hari Tarwiyah). Mayat-mayat mereka dibuang ke sumur Zamzam.

Siapakah dalangnya? Pasukan Qaramithah, sekte Syiah, yang dipimpin Abu Thahir al-Qirmithi, yang mendengungkan slogan cinta keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berlagak sebagai pejuang hak kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, justru kaum muslimin yang menjadi mangsa dan incaran mereka.

Jangan kita menganggap bahwa kampanye mereka dengan mengangkat slogan-slogan yang gagah seolah membela Islam itu tidak mendulang hasil dan memetik buah. Mereka telah berhasil mengikat akal pikiran kaum muslimin dan menancapkan kesesatan mereka di dalam sanubari orang-orang Islam.

Ini semua karena kaum muslimin tidak memiliki standar penilaian yang akurat dan benar karena jauhnya mereka dari ilmu agama. Ini adalah dampak dari sikap pembodohan yang ditanamkan oleh para tokoh-tokoh tersebut dengan penuh manipulasi dan dusta.

Propaganda para perusak tauhidullah itu sesungguhnya akhlak dan penampilan yang kotor, walaupun para tokoh kekafiran itu menampilkan diri kepada para pengikutnya sebagai penyelamat. Sementara itu, para rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dituduh sebagai juru perusak dan penukar keyakinan yang benar.

Tidak ada yang menerima cara kotor seperti ini kecuali orang-orang yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai orang fasik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ ٥٤

        “Lalu Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (az-Zukhruf: 54)

Bukankah Fir’aun yang telah mengatakan,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir Dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Dia mengaku dengan penuh kedustaan,

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata,“Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepada kalian selain jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

Kaum munafik yang hidup sebagai kaum perusak di muka bumi juga memproklamirkan dirinya sebagai ahli perbaikan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢

        Dan apabila dikatakan kepada mereka, jangan kalian melakukan pengrusakan di muka bumi, mereka menjawab,“Sesungguhnya kami hanya melakukan perbaikan. Ketahuilah bahwa mereka adalah para perusak namun mereka tidak menyadari.” (al-Baqarah: 11—12)

Saudaraku, ini adalah propaganda lama yang diikuti oleh kaum perusak tauhidullah di masa sekarang. Mereka menempuh cara kotor seperti ini dengan tujuan-tujuan berikut.

  1. Ingin mendapatkan dukungan dari semua pihak.
  2. Ketakutan dan kekhawatiran apabila para pengikutnya lari meninggalkan dirinya.

radhiallahu ‘anhuma. Menyingkirkan dan melenyapkan siapapun yang dianggap menghalangi segala keinginan dan tujuan jahatnya, baik muslim maupun kafir.

Langkah seperti ini, menurut as-Sa’di, adalah memutarbalikkan fakta kebenaran. Jika dia sekadar mengajak orang lain untuk mengikutinya dalam kekafiran dan kesesatannya, kejahatan itu akan lebih ringan. Namun, dia mengajak untuk mengikutinya sekaligus menanamkan bahwa dengan mengikuti dirinya berarti pengikutnya telah mengikuti kebenaran, padahal sejatinya mengikuti kesesatan. (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 43)

Beliau mengatakan juga, “Ini adalah hal yang paling aneh terjadi. Bagaimana bisa manusia yang paling jahat menasihati orang yang mengikuti hamba terbaik? Ini termasuk langkah pengaburan dan sikap melariskan (kekufuran dan kesesatan). Tidak ada yang terpikat selain akal orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya, ‘Maka Fir’aun memengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya, karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik’.” (Lihat Tafsir as-Sa’di)

 

Keyakinan Kaum Elite Iran Meruntuhkan Tauhidullah

Iran adalah negara yang identik dengan ajaran Syiah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Sekte Syiah yang ada di Iran adalah Syiah Rafidhah yang telah dikafirkan oleh para ulama sunnah.

Kerusakan yang mereka perbuat terhadap kaum muslimin melebihi kerusakan yang diperbuat oleh Yahudi dan Nasrani. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin, lebih-lebih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kebencian mereka sangat mengakar dan mendalam. Kebencian mereka bukan seumur jagung, tetapi sudah ada sejak para sahabat masih hidup menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Prinsip yang fundamen dalam ajaran mereka adalah “Tidak ada cinta kecuali dengan kebencian”. Yang mereka maksud dengan kata “benci” adalah membenci Abu Bakr dan Umar. Loyalitas dalam agama mereka adalah dengan membenci sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal membenci mereka adalah kekafiran.

Siapakah di umat ini yang pertama kali mengikuti jejak ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i, pencetus pertama kesyirikan di jazirah kelahiran Rasulullah?

Jawabannya adalah kaum Rafidhah.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdur Rahman bin Hasan alu Syaikh mengatakan, “Yang pertama kali mengadakan kesyirikan di umat adalah kelompok ini (Syiah Rafidhah). Mereka meyakini bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan).” (Lihat Mulakhkhash Minhajus Sunnah karya asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan hlm. 153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan semua kebid’ahan dibangun di atas dusta dan mengada-ada. Karena itu, siapa yang jauh dari tauhid dan sunnah, dia akan lebih dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan sikap mengada-ada.

Contohnya, Syiah Rafidhah. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang paling pendusta dan yang paling besar tingkat kesyirikannya. Tidak ada para pengekor hawa nafsu yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan dengan mereka.

Mereka keluar dari rumah-rumah Allah subhanahu wa ta’ala (masjid-masjid), tempat yang disebut nama Allah subhanahu wa ta’ala padanya. Mereka kosongkan masjid dari shalat jum’at dan shalat berjamaah, lalu meramaikan bangunan-bangunan yang berada di atas kuburan-kuburan, sebuah perbuatan yang telah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Lihat Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 501)

Beliau rahimahullah menjelaskan pula (hlm. 545), “Sungguh, Umar telah datang ke negeri Syam lebih dari satu kali, sejumlah sahabat juga telah tinggal (di negeri tersebut). Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang melakukan hal itu (mengagungkan kuburan). Kaum muslimin tidak pernah membangun sebuah masjid pun di atas kuburan.

Namun, kaum Nasrani bisa berkuasa di semua tempat pada akhir abad ke-4 dengan merampas Baitul Maqdis. Ini disebabkan berkuasanya kaum Rafidhah di Syam dan Mesir.

Rafidhah adalah umat yang terhina, tidak memiliki akal yang jelas, dalil yang sahih, agama yang diterima, dan tidak memiliki dunia yang terjaga. Kaum Nasrani menjadi kuat dan merampas daerah-daerah pantai dan selainnya dari kaum Syiah Rafidhah.

Mereka berulah dengan melubangi kamar al-Khalil ‘alaihissalam lalu membuat pintu—dan bekas lubang tersebut tampak di pintunya—dan menjadikannya tempat beribadah. Penampilan ini adalah sebuah rekayasa kaum Nasrani, bukan perbuatan salaf umat ini dan orang terbaik mereka.”

Dari uraian singkat ini jelaslah bahwa keyakinan kaum elite Iran adalah meruntuhkan tauhidullah demi menyembah dan mengagungkan kuburan-kuburan.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Negeri Para Pengikut Dajjal

Dari sahabat Anas bin Malik al-Anshari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

        “Akan mengikuti Dajjal tujuh puluh ribu orang Yahudi Asfahan, mereka memakai jubah-jubah.”

 

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih, Kitabul Fitan (4/2266 no. 2944) melalui jalan Manshur bin Abi Muzahim, dari Yahya bin Hamzah, dari al-Auza’I, dari Ishaq bin Abdillah, dari pamannya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

 

Makna Hadits

Di antara ujian besar yang menimpa umat manusia adalah fitnah (ujian) al-Masih ad-Dajjal.

Di antara kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, seluruh para nabi dan rasul memperingatkan umatnya dari ujian ad-Dajjal, termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau telah memberikan keterangan-keterangan yang lebih lengkap dan gamblang ketimbang nabi-nabi sebelum beliau.

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di antara para pengikut al-Masih ad-Dajjal adalah orang-orang Yahudi Asbahan.

Asbahan atau Asfahan adalah salah satu provinsi di Republik Iran, negara yang dibangun di atas agama Syiah Rafidhah. Asbahan sekarang lebih dikenal dengan Isfahan atau Esfahan.

Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin membuka mata kita tentang hakikat negara Iran. Iran bukan kiblat kaum muslimin. Revolusi Iran yang digembar-gemborkan Khomeini yang keji dan kotor bukanlah revolusi Islam, melainkan revolusi Syiah Rafidhah.

Sejak dahulu hingga kini Iran adalah negeri cobaan. Iran adalah negeri sumber kejelekan. Di negara Iran inilah para pengikut Dajjal berdiam, menanti kedatangan Dajjal, kemudian mengikutinya.

Cepat atau lambat, Yahudi akan berkumpul di Asbahan, Iran. Bahkan, saat ini, komunitas Yahudi telah terbentuk di Iran. Yahudi tinggal di Iran, terutama Isfahan, Hadan, dan Teheran. Mereka mendapatkan pengakuan—berbeda dengan Ahlus Sunnah yang terus menjadi sasaran intimidasi dan pembantaian.

Jangan heran apabila Yahudi tinggal nyaman di Iran. Hubungan mesra antara Iran (Syiah Rafidhah) dan Yahudi kasatmata. Keduanya, Syiah Rafidhah (Iran) dan Yahudi ibarat saudara kembar, hanya saja Rafidhah menisbatkan dirinya kepada Islam padahal Islam berlepas diri dari mereka, sementara Yahudi tetap di atas keyahudiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa nanti di akhir zaman, tujuh puluh ribu Yahudi Asbahan akan mengikuti Dajjal. Apa yang beliau kabarkan akan terjadi dan pasti terjadi.

 

Di Antara Prinsip Salaf: Mengimani Keluarnya Dajjal

Keluarnya al-Masih ad-Dajjal di akhir zaman adalah salah satu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang membedakan dari ahlul ahwa’ wal bida’. Hadits-hadits tentang keluarnya Dajjal sangat banyak, bahkan mencapai derajat mutawatir.

Al-Imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, berkata, “Wajib mengimani bahwa al-Masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara dua matanya ‘Kafir’, demikian pula mengimani semua hadits-hadits tentang Dajjal, dan mengimani bahwa semua itu akan terjadi.”

Sangat disayangkan, perkara yang sesungguhnya telah disepakati salaf ini diingkari oleh sebagian kaum muslimin, bahkan orang yang ditokohkan, seperti Muhammad Abduh, Abul A’la al-Maududi, Muhammad Farid Wajdi, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Abul A’la Al-Maududi mengatakan bahwa Dajjal itu hanyalah simbol, bukan sosok manusia yang berwujud.

Pernyataan ini tentu saja bertentangan dengan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara tegas menyatakan bahwa al-Masih ad-Dajjal bersosok manusia.

Tokoh lainnya, Muhammad Farid Wajdi, menyatakan bahwa hadits-hadits Dajjal semuanya palsu dan lemah.

Sebuah statemen yang menunjukkan jauhnya orang ini dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits tentang al-Masih ad-Dajjal mencapai derajat mutawatir dan dikeluarkan dalam kitab-kitab Shahih, seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya.

Serupa dengan Abul A’la al-Maududi, Muhammad Rasyid Ridha berkata, “Sesungguhnya keluarnya Dajjal adalah simbol bermunculannya berbagai kebatilan. Adapun turunnya Isa dan berita bahwa Isa akan membunuh Dajjal adalah simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan.”

Keluarnya Dajjal adalah ujian yang sangat besar hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk selalu berlindung kepada Allah dari fitnah al-Masih ad-Dajjal. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Jika kalian bertasyahud, mintalah perlindungan kepada Allah dari empat perkara, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta aku berlindung dari kejelekan fitnah al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim)

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dajjal sudah ada. Dia terbelenggu di sebuah pulau sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwasanya Dajjal akan keluar dari arah timur, dari Khurasan.

Bisa jadi, muncul pertanyaan, bukankah hadits sahih mengabarkan bahwa Dajjal berada di sebuah pulau? Mengapa dikatakan Dajjal keluar dari Khurasan? Bukankah Khurasan bukan sebuah pulau?

Hadits-hadits sahih tidak bertentangan satu dengan yang lain. Semua datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dajjal memang akan keluar dari sebuah pulau di arah timur. Setelah keluar, dia menuju Khurasan. Dari Khurasan inilah kemudian Dajjal mengelilingi bumi, timur dan barat.

Setelah muncul, Dajjal berkeliling di muka bumi selama empat puluh hari. Hari pertama berumur satu tahun, hari kedua berumur satu bulan, hari ketiga berumur satu minggu, dan selebihnya seperti hari-hari biasa.

 

Melalui Asfahan dan Diikuti Yahudi Asfahan

Ketika Dajjal keluar, tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan mengikuti Dajjal, sebagaimana tertera dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Mereka bertekad memerangi kaum muslimin.

Apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan terjadi. Sungguh, saat ini orang-orang Yahudi hidup terhormat dan terlindungi di Asfahan bersama orangorang Syiah Rafidhah Iran. Demikian pula di tempat-tempat lain di seluruh penjuru Iran.

Sungguh mengherankan, bersama Yahudi, kaum Syiah Rafidhah hidup dengan mesra, sedangkan terhadap muslimin Ahlus Sunnah, Syiah Rafidhah terus melakukan teror.

Iran adalah negeri sumber fitnah dan kejelekan. Tidak samar pula bagi kita bahwa Iran adalah sebuah negara yang berasas Syiah Rafidhah. Dari asas mereka ini saja, kita sudah mengerti kejelekan yang tersimpan pada diri mereka.

Dalam Undang-Undang Dasar Iran, Bab I, Pasal ke-12, disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna Asyariyah Ja’fari (dalam akidah dan fikih), dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah. Ini adalah asas kafir, sebuah agama yang bertentangan dengan Islam. Wal ‘iyadzubillah.

Lebih-lebih ketika kita melihat kiprah dan reputasi buruk mereka dalam kancah pergaulan dunia. Niscaya dengan penuh keyakinan kita akan katakan bahwa mereka adalah sebab kejelekan dan sumber fitnah.

 

Ke Mana Dajjal dan Bala Tentaranya Berjalan?

Bersama para pengikutnya, Dajjal menuju Madinah. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kota Madinah. Semua celah menuju Madinah dijaga oleh malaikat dengan pedang-pedang terhunus.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

        وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إلاَّ مَكَّةَ وَالمَدِينَةَ؛ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهِمَا إلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّينَ تَحْرُسُهُمَا، فَيَنْزِلُ بالسَّبَخَةِ، فَتَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، يُخْرِجُ اللهُ مِنْهَا كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ

Dari Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sebuah negeri pun melainkan Dajjal akan menguasainya, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di Makkah dan Madinah kecuali para malaikat bershaf-shaf menjaga keduanya. Singgahlah ad-Dajjal di sebuah tempat (di pinggir Madinah), Madinah pun bergoncang tiga kali. Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan dari Madinah semua orang yang kafir dan munafik.”

Ibnul Atsir berkata, “Kata السَّبَخَةِ adalah jenis tanah yang tinggi kadar garamnya hingga tidak tumbuh padanya kecuali tanaman tertentu.” (an-Nihayah 2/333)

Dalam hadits lain, al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ ا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ مَرَّةً: حَتَّى يَأْتِيَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَامًا عَدْ وَحَكَمًا مُقْسِطًا

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungiku saat aku sedang menangis. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Aku jawab, “Wahai Rasulullah, engkau telah menceritakan tentang Dajjal. Itu yang membuatku menangis.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya Dajjal keluar dan aku masih hidup, cukup aku bagi kalian. Seandainya Dajjal keluar sepeninggalku, ketahuilah sesesungguhnya Rabb kalian tidak buta (sebagaimana Dajjal buta).”

Dajjal akan keluar di tengah-tengah Yahudi Asbahan menuju Madinah. Dajjal hanya singgah di perbatasan Madinah (tidak bisa masuk ke dalamnya –pen.). Saat itu Madinah memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu masuk ada dua malaikat. Lalu orang-orang jelek dari penduduk Madinah keluar menuju Dajjal.”

Kemudian tibalah di Palestina di Bab Ludd. Turunlah Isa bin Maryam lalu membunuh Dajjal. Nabi Isa tinggal selama 40 tahun di bumi sebagai imam dan penguasa yang adil.”

 

Nasib Yahudi Para Pengikut Dajjal

Bukan hanya Dajjal yang dibunuh dan dihinakan. Para pengikutnya juga dihinakan dan diperangi oleh kaum mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ ا هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ ! إِ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka. Sampai ketika ada Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku. Kemari dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia termasuk pohon Yahudi.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Peperangan yang disebutkan dalam hadits di atas saat kaum muslimin membunuh orang-orang Yahudi, adalah perang di zaman Dajjal. Dajjal dibunuh oleh Isa bin Maryam. Adapun Yahudi para pengikut Dajjal diperangi oleh kaum muslimin. Allahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits panjang dari Abu Umamah al-Bahili dalam as-Sunan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ، فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرِي لِيَتَقَدَّمَ عِيَسى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيَفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ،

فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّ مَالُ: إِنَّ لِي فِيكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزَمُ اللهُ الْيَهُودَ فَ يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلاَّ أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءُ لاَ حَجَرٌ وَ شَجَرٌ وَ حَائِطٌ وَ دَابَّةٌ إ الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ تَنْطِقُ إِلاَّ قَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلِمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ

Tatkala imam mereka (al-Mahdi) maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turun kepada mereka ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam. Bergegaslah Imam Mahdi mundur ke belakang agar Nabi ‘Isa ‘alaihissalam mengimami manusia. Nabi ‘Isa q pun meletakkan tangan beliau di antara pundak al-Mahdi seraya berkata,

“Maju dan shalatlah, karena untukmu shalat ini ditegakkan.”

Seusai shalat, Isa ‘alaihissalam berkata, “Bukalah pintu!”

        Dibukalah pintu, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, semuanya menenteng pedang dan memakai jubah. Ketika Dajjal menatap Isa ‘alaihissalam, ia meleleh sebagaimana melelehnya garam dalam air. Larilah Dajjal.

Nabi Isa berkata, “Sungguh, aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.”

Isa mendapatkan Dajjal di Bab Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu Allah kalahkan Yahudi hingga tidak ada satu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya berbicara; batu, pohon, tembok, atau hewan—semua berbicara— kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi—semua berbicara,

“Wahai hamba Allah yang muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…!”

Hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu di dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits (Abu Umamah radhiallahu ‘anhu) dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan panjang, dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini, yaitu hadits Samurah radhiallahu ‘anhu pada riwayat al-Imam Ahmad (dalam al-Musnad) dengan sanad hasan, dan dikeluarkan Ibnu Mandah dalam ‘Kitab al-Iman’ dari hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dengan sanad sahih. (Fathul Bari, 6/610)

Walhamdulillah.

 

Al-Masih versi Yahudi adalah Dajjal

Yahudi meyakini akan kemunculan seseorang yang diklaim bakal mengembalikan kejayaan mereka. Mereka menyebutnya al-Masih al-Muntazhar, yakni al-Masih yang dinanti.

Dalam keyakinan mereka, orang tersebut berasal dari keluarga Nabi Dawud, yang nantinya akan menundukkan umat, memperbudak mereka, dan mengembalikan kejayaan Yahudi. Masih ada berbagai keyakinan dan harapan yang dibumbui bermacam-macam kedustaan, sebagaimana tertera dalam kitab Talmud

mereka. Akidah ini terus mereka yakini hingga saat ini, terbukti dengan tercantumnya hal itu dalam Protokolat Yahudi Zionis. (Dirasat fil Adyan, hlm. 265)

Yahudi tidak mengakui bahwa al-Masih al-Muntazhar adalah Isa bin Maryam. Mereka mengkufurinya. mengingkarinya, dan melontarkan tuduhan-tuduhan keji, serta tuduhan kekafiran kepada Isa dan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana termaktub dalam kitab Talmud mereka.

Karena itu, tidak heran ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun di akhir zaman, mereka menjadi musuh-musuh utama beliau. Mereka bersama barisan Dajjal.

Ya, al-Masih ad-Dajjal itulah sejatinya al-Masih Muntazhar menurut keyakinan Yahudi. Nabi Isa ‘alaihissalam akan membunuh Dajjal di Bab Lud, demikian pula Yahudi akan diperangi kaum muslimin.

Pembaca rahimakumullah, inilahsekelumit kejadian di akhir zaman. Dajjal akan muncul dan diikuti Yahudi Asfahan, di negeri Iran, Mereka menyangka bahwa bersama Dajjal, kejayaan akan dicapai, namun hakikatnya mereka menuju kebinasaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Tanya Jawab Ringkas Edisi 116

Berikut ini beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Mengambil Untung Sebagai Perantara

Seseorang membeli barang melalui internet dengan alamat orang lain. Setelah barang sampai, orang tersebut mengirim uang kepada orang yang membelikan tadi. Apakah orang yang membelikan tadi boleh mengambil keuntungan dari barang tersebut?

 Jawaban:

Jawabannya dirinci sesuai dengan keadaan orang tersebut:

  1. Apabila sifatnya menolong, dia tidak boleh mengambil keuntungan kecuali dapat upah dari pihak yang menyuruh. Semua keuntungan yang didapat, baik berupa diskon atau semisalnya, menjadi milik yang menyuruh.
  2. Dia sebagai makelar, wakil, atau cabang dari yang menyuruh. Dia mendapat upah sesuai dengan kesepakatan bersama sebelumnya. Segala keuntungan yang didapat, semisal diskon, dll., hukum asalnya kembali kepada yang menyuruh kecuali apabila ada kesepakatan lain sebelumnya.

Wallahul Muwaffiq.

 —————————————————————————————————————————————–

Puasa Agar Lulus Ujian

Di sebagian daerah terbiasa berpuasa pada hari-hari yang diharapkan keberhasilannya, seperti tes kelulusan, ujian, dan perlombaan. Harapannya supaya menang dalam perlombaan atau ujian tersebut. Apakah yang demikian itu disyariatkan?

Jawaban:

Puasa dengan niat-niat semacam itu tidak dibenarkan karena orientasinya adalah dunia, dan justru untuk urusan yang mungkar. Yang benar, niatnya ikhlas mengharap pahala hanya dari Allah semata. Buahnya nanti adalah kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

——————————————————————————————————————————————-

Minta Diruqyah Agar Semangat Ibadah

Apakah boleh seseorang minta diruqyah karena dirinya merasa kurang semangat dalam beribadah, seperti:

  • sering melalaikan shalat (mengakhirkan waktu shalat)
  • sering ragu-ragu jumlah rakaat ketika sedang shalat
  • sering merasa mengulangi beberapa ayat al-Fatihah, bahkan ragu al-Fatihah yang dibacanya
  • berzikir setelah shalat seadanya (seperti doa untuk kebaikan dunia dan akhirat serta doa untuk orang tua saja), namun dalam hati ingin sekali untuk berzikir lebih lama.
  • sering lalai dalam mengaji dan menghadiri kajian-kajian ilmu.

 

Jawaban:

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan:

  1. Minta diruqyah hukumnya makruh. Pelakunya luput dari kesempatan menjadi orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab.
  2. Tidak semua keluhan dan masalah kejiwaan harus dengan cara ruqyah.
  3. Malas belajar dan ibadah adalah penyakit futur. Solusinya:
  4. Tanamkan dalam hati fadhilah (keutamaan) amal.
  5. Bergaullah dengan sahabat yang saleh salafi.
  6. Mendatangi orang yang saleh salafi untuk mendapatkan nasihat dan secara langsung melihat amaliahnya.
  7. Banyak membaca sejarah para nabi dan para salaf untuk diambil ibrahnya.
  8. Keluhan lainnya yang disebutkan di atas disebut waswas. Solusinya:
  9. Membangun semua amalan di atas ilmu syar’i.
  10. Menanamkan rasa yakin dalam beramal dengan dasar ilmu.
  11. Menolak semua bisikan yang membuat ragu dalam beramal. Misalnya, dia shalat dan sudah membaca al-Fatihah lalu muncul waswas. Dia langsung melawan dan yakin sudah membaca al-Fatihah dan yakin shalatnya sah.

 Mengobati waswas perlu kesungguhan, kesabaran, dan proses waktu.

——————————————————————————————————————————————

Jumlah Rakaat Tarawih

Bagaimana cara shalat tarawih dengan munfarid (sendirian) 11 rakaat yang dituntunkan oleh Nabi, apakah 4 rakaat 4 rakaat dilanjutkan witir 3 rakaat? Ataukah 2 rakaat sebanyak 4 kali lalu 2 rakaat dan 1 rakaat witir?

 Jawaban:

Semuanya diperbolehkan karena ada riwayat yang menjelaskannya. Namun, yang paling afdal adalah 2 rakaat 2 rakaat, terakhir 1 rakaat.

—————————————————————————————————————————————–

Bacaan Rakaat Terakhir Shalat Witir

Apakah benar dituntunkan oleh Nabi, pada rakaat terakhir witir membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas sekaligus?

 Jawaban:

Hadits yang sahih hanya membaca al-Ikhlas. Hadits yang menyebutkan tambahan al-Falaq dan an-Nas derajatnya dha’if.

 ——————————————————————————————————————————————

Memisahkan Waktu Tarawih & Witir

Bolehkah setelah shalat tarawih tidak dilanjutkan dengan witir karena berniat pada sepertiga malam nanti akan melakukan qiyamul lail lainnya lagi? Sebab, yang saya tahu, witir dilakukan setelah/untuk menutup qiyamul lail yang telah dilakukan.

Jawaban:

Boleh, asalkan belum melaksanakan shalat witir. Yang afdal dilakukan 11 rakaat dan shalat bersama imam hingga selesai witir.

 —————————————————————————————————————————————-

Doa Khusus Selesai Baca al-Qur’an

Apakah ada doa khusus setelah selesai baca al-Qur’an?

Jawaban:

Ada hadits sahih yang menunjukkan bahwa yang dibaca setelah membaca al-Qur’an adalah doa kaffaratul majlis. Adapun bacaan shadaqallahul ‘azhim tidak ada sunnahnya.

 —————————————————————————————————————————————-

Harta Gonogini

Apa hukum harta gonogini dan bagaimana menurut timbangan syariat tentang hal tersebut?

Jawaban:

Terkait harta gonogini dalam kasus perceraian, harus diperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Dalam Islam, setiap orang memiliki harta sendiri, termasuk pasangan suami istri. Hanya saja, suami diwajibkan memberikan nafkah kepada istri.
  2. Ketika terjadi perceraian, maka ada beberapa keadaan:
    1. Harta yang ada baik properti maupun lainnya adalah murni milik suami. Dalam keadaan ini, tidak ada harta gonogini untuk istri karena semuanya milik suami, kecuali harta yang diberikan suami kepada istrinya semampunya untuk mut’ah (menyenangkan hati).
    2. Semua harta adalah milik istri. Dalam keadaan ini, tidak ada harta gonogini untuk suami, tidak ada pula harta mut’ah. Semuanya kembali kepada istri. Justru suami yang memberi harta mut’ah kepada istri.
    3. Harta yang bercampur kepemilikan antara suami dan istri. Dalam hal ini ada 2 perincian:
  3. Bisa diupayakan identifikasi harta masing-masing; maka harta suami untuk suami dan harta istri untuk istri, lalu suami memberi harta mut’ah.
  4. Tidak bisa diidentifikasi; maka harta dibagi dua untuk suami dan istri, lalu suami memberi harta mut’ah.

 ——————————————————————————————————————————————

Wanita Haid Memegang Mushaf

Bolehkah wanita yang sedang haid memegang dan membca al-Qur’an?

 Jawaban:

Wanita haid boleh membaca al-Qur’an baik dengan hafalan maupun dari mushaf. Sebab, waktu sucinya lama. Berbeda halnya dengan junub, yang bisa langsung bersuci.

 ——————————————————————————————————————————————-

Sumpah Tidak Mau Melayani Suami

Saya pernah bersumpah tidak akan memberikan hak suami untuk menggauli saya. Itu spontan terucap karena rasa marah. Bagaimana hukumnya, ustadz? Apa saya harus membayar kafarah?

Jawaban:

Ada dua rincian keadaan:

  1. Apabila amarah tersebut sampai pada tingkat tidak sadar apa yang dia ucapkan, tidak ada hukum baik dalam hal talak, khulu’, maupun sumpah.
  2. Apabila masih sadar apa yang dia ucapkan, jatuh hukum, dalam hal ini yaitu kafarah sumpah.

 ——————————————————————————————————————————————-

Membunuh Semut

Apa hukumnya membunuh sekawanan semut dengan kapur khusus serangga, meskipun tidak memberi gangguan berupa gigitan?

 Jawaban:

Membunuh semut hukum asalnya terlarang. Kecuali apabila semut itu menyakiti, semut tersebut bisa dibunuh; atau apabila mengganggu, bisa dihalau sebisa mungkin dengan kapur atau yang lain. Kalau tidak mungkin kecuali dengan membunuhnya, tidak masalah.

——————————————————————————————————————————————-

Zakat Fitrah Diberikan kepada Orang Kafir

Apakah boleh memberi zakat fitrah kepada nonmuslim yang tidak mampu?

 Jawaban:

Boleh, terutama dalam rangka ta’lif (melembutkan hati) supaya tertarik masuk Islam. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Batas Akhir Bayar Fidyah

Kapan batas akhir membayar fidyah, apakah boleh setelah bulan Ramadhan?

Jawaban:

Utamakan membayar fidyah dalam bulan Ramadhan. Bisa di awal, tengah, atau akhir Ramadhan. Bisa dibayarkan tiap hari atau 30 hari langsung. Bisa dalam bentuk bahan mentah atau matang, bisa untuk orang miskin yang sama atau yang berbeda.

 ——————————————————————————————————————————————

Rebonding Rambut

Bolehkah wanita meluruskan (rebonding) rambutnya agar terlihat lebih rapi?

 Jawaban:

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Setiap insan diciptakan oleh Allah dengan kondisi rambut yang berbeda. Ada yang keriting, lurus, berombak, dll. Itu merupakan asal penciptaan yang Allah kodratkan untuknya.
  2. Islam tidak memperbolehkan pengubahan sesuatu dari asal penciptaannya.
  3. Jadi, rambut yang asalnya lurus tidak boleh dibuat keriting, atau yang asalnya keriting tidak boleh dibuat lurus, dengan cara apa pun.
  4. Adapun mengembalikan sesuatu kepada asal penciptaannya, hukumnya boleh. Misalnya, seseorang memiliki gigi yang sangat menonjol keluar. Ini di luar kebiasaan gigi manusia pada umumnya, maka boleh dikembalikan kepada asalnya dengan kawat gigi atau lainnya. Dalam hal ini, para fuqaha memberikan batasan, yaitu apabila kondisi gigi tersebut merusak bentuk normal wajah manusia atau membuatnya kesulitan beraktivitas, seperti makan.
  5. Apabila tindakan rebonding hanya sedikit memperbagus yang sudah ada, tidak sampai mengubah asal penciptaan, hal ini tidak masalah.

 ——————————————————————————————————————————————-

Menahan Buang Angin Saat Shalat

Saya dengar bahwa hukum menahan buang angin ketika shalat adalah makruh. Yang makruh perbuatannya atau shalatnya?

 Jawaban:

Menahan buang angin saat shalat ada beberapa keadaan:

  1. Sedikit pun tidak mengurangi kekhusyukan shalat, maka tidak masalah.
  2. Mengganggu atau mengurangi kekhusyukan shalat, maka hukumnya makruh.
  3. Membuat pelakunya tidak bisa lagi khusyuk dan konsentrasi dalam shalatnya, maka hukumnya terlarang dan shalatnya batal.

 ——————————————————————————————————————————————-

Bacaan Tasyahud pada Shalat 2 Rakaat

Bagaimana kaidah fikih tentang bacaan pada tasyahud shalat dua rakaat? Apakah membaca kalimat tasyahud awal kemudian salam, ataukah membaca kalimat tasyahud akhir kemudian salam?

Jawaban:

Pada tasyahud akhir, baik itu shalat yang 1, 2, 3, atau 4 rakaat, yang dibaca adalah:

  1. Tasyahud.
  2. Shalawat.
  3. Ta’awudz dari empat perkara
  4. Membaca doa sesuai dengan kehendak kita baru salam.

Bacaan di atas ada yang hukumnya wajib, ada yang sunnah.

——————————————————————————————————————————————-

Makanan yang Dimasak, Membatalkan Wudhu?

Saya mendengar bahwa memakan dan meminum makanan dan minuman yang dimasak/direbus dengan api dapat mengakibatkan batalnya wudhu. Apakah benar?

 Jawaban:

Benar, namun itu dahulu di masa awal Islam. Setelah itu hukum tersebut dihapus. Jadi, hal tersebut tidak membatalkan wudhu.

——————————————————————————————————————————————-

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Sekilas Tentang Iran

Iran mempunyai nama resmi Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran). Republik Iran berdiri secara resmi pada 1 April 1979. Teheran menjadi ibukota untuk Iran, negara yang berpenduduk 70,4 juta jiwa menurut sensus tahun 2007. Agama resmi yang dianut adalah ajaran Syiah Itsna Asyariah. (Website Kemenlu RI)

Pada zaman dahulu, seluruh wilayah Iran berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia. Persia sendiri adalah imperium adikuasa yang telah berdiri 1.000 tahun lebih. Hanya dalam 10 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, imperium Persia runtuh dan lenyap. Kekaisaran Persia berhasil ditaklukkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam referensi sejarah, surat yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Kaisar Persia, malah dirobek-robek. Surat tersebut berisikan ajakan untuk masuk Islam. Kaisar Persia merasa terhina dengan hal itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakan supaya Kekaisaran Persia menjadi hancur lebur, sebagaimana surat beliau dirobek-robek. Akhirnya Kekaisaran Persia memang benar-benar hancur.

Sejak itu, agama Islam yang murni masuk dan diterima oleh penduduk Persia. Selama hampir 9 abad, Islam yang dianut oleh penduduk Iran adalah Islam dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan tidak sedikit ulama-ulama Islam berasal dari wilayah Iran.

Masa berganti masa, sebagaimana wilayah lain, Iran pun mengalami berbagai peristiwa besar. Peristiwa yang kemudian cukup memengaruhi masa depan Iran adalah kekuasaan Raja Ismail ash-Shafawi atas Iran. Pada 906 H (1500 M), Ismail ash-Shafawi menguasai Iran dan memaksakan keyakinan Syiah Itsna Asyariyah (Imam 12) sebagai ideologi negara.

Setiap orang yang tidak meyakini ideologi tersebut akan dibunuh. Akhirnya, terjadilah pembantaian kaum muslimin secara besar-besaran. Ismail ash-Shafawi mengaku bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah dari 12 Imam. Penduduk Iran dipaksa untuk mendengar cercaan dan cacian terhadap tiga khalifah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman.

Pada masa Ismail ash-Shafawi, sekolah-sekolah berpemahaman Syiah didirikan secara masif. Masjid-masjid Sunni dihancurkan dan diubah fungsinya. Setiap khatib dan penceramah diharuskan untuk mencaci-maki para sahabat; Abu Bakr, Umar, dan Utsman karena dianggap telah merampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Sejak saat itulah, Syiah menjadi agama resmi di Iran dan mayoritas penduduknya beragama Syiah.

 

Dendam Persia Terhadap Islam

Cobalah bayangkan! Persia adalah sebuah imperium yang berdiri dan berkuasa secara turun-temurun selama lebih dari 1.000 tahun. Persia dengan agama Majusinya dan kitab Zoroaster-nya, tentu telah melekat kuat pada jutaan penduduknya. Hal itu tentu akan menyisakan pengikut fanatik yang memendam dendam terhadap Islam, Arab, dan para pemimpinnya.

Ambil contoh adalah panglima Islam bernama Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima terdepan yang ditunjuk oleh Khalifah Abu Bakar untuk menaklukan Persia. Pasukan Persia yang lebih banyak dalam jumlah selalu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam di bawah komando Khalid bin Walid. Lebih dari 100.000 tentara Persia tewas disebabkan peperangan melawan pasukan Khalid. Artinya, berapa banyak anak, istri, dan keluarga yang mendendam?

Persia dalam menjalankan dendam, berpikir dengan keras. Jika melalui pertempuran secara langsung, sejarah tentu tidak dapat mereka lupakan, yakni pasti kalah. Karena itu, cara yang ditempuh adalah dengan merusak Islam dari dalam. Mereka menggunakan isu cinta kepada Ahlul Bait untuk menciptakan kekacauan di dalam Islam. Mengenai hal ini, Pembaca dapat menelaah kembali kajian-kajian tentang Syiah pada Majalah Asy Syariah yang telah terbit sebelumnya.

Setelah Raja Ismail ash-Shafawi berkuasa, ajaran Syiah yang diciptakan oleh bangsa Persia sebagai alat untuk melampiaskan dendam, menjadi ideologi resmi negara.

Namun, pengaruh Ismail ash-Shafawi juga tidak bertahan selamanya. Gerakan-gerakan kekacauan tidak bisa dikatakan padam. Berturut-turut yang menguasai Iran setelah Dinasti Shafawi adalah Dinasti Ashfar, Dinasti Zand, dan Dinasti Qajar. Pada 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi.

Revolusi Iran pada 1979 adalah Revolusi Syiah, walaupun dinamakan Revolusi Islam. Khomeini menjadi pelopor revolusi Syiah. Keberhasilan Revolusi Syiah pada 1979 adalah upaya untuk mengokohkan kembali ajaran-ajaran Syiah yang sempat menjadi besar dan ideologi resmi pada masa dinasti Shafawiyah.

Kita bisa menemukan banyak kesamaan antara ajaran Syiah—yang ditetapkan sebagai ideologi resmi negara Iran—dan keyakinan kaum Majusi Persia. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

  1. Kultur agama Majusi Persia adalah memosisikan kaisar dan keturunannya sebagai dewa atau tuhan.
  • Ajaran Syiah Itsna Asyariah (12 Imam) pun demikian. Kaum Syiah memosisikan para imam mereka layaknya Rabb. Mereka meyakini para imam mempunyai dan mampu melakukan hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Lihat Majalah Asy Syariah edisi 092)

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Sebab, pada masa beliau bertiga, Kekaisaran Persia runtuh dan tumbang. Kebencian itu lebih kuat lagi terhadap sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahan Umar, Kekaisaran Persia benar-benar hilang dari percaturan dunia.
  • Kaum Syiah juga membenci Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Walaupun mereka beralasan karena beliau bertiga telah merampas hak kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib, namun alasan tersebut hanya dibuat-buat saja.

 

  1. Kaum Majusi Persia sangat mengagungkan Abu Lu’luah al-Majusi, orang yang telah membunuh Khalifah Umar dengan menggunakan pisau beracun.
  • Kaum Syiah juga menghormati dan memuliakan Abu Lu’luah tersebut. Kaum Syiah membangun sebuah kuburan untuk Abu Lu’luah di kota Kasyan, Iran. Kuburan tersebut dibangun, direnovasi menjadi megah, dan diagung-agungkan oleh kaum Syiah. Bahkan, sebagian kaum Syiah menetapkan hari kematiannya sebagai salah satu hari besar yang patut dirayakan.

 

  1. Kaum Majusi sangat menghormati dan mengagungkan api, bahkan mereka menuhankan api.
  • Kaum Syiah dalam beberapa kegiatan mereka, seperti hari raya Ghadir, juga menggunakan api sebagai rangkaian perayaan tersebut.

 

Selain hal di atas, warisan kultur budaya kaum Majusi Persia juga terus dipertahankan. Misalnya, bahasa resmi Iran adalah bahasa Persia; penanggalan yang digunakan juga penanggalan Persia; Iran juga menjadi pihak yang paling ngotot untuk menamakan teluk yang memisahkan antara Persia dan Arab dengan Teluk Persia.

Bahkan, Hari Nairuz yang merupakan hari raya kaum Majusi masih dipertahankan sebagai hari besar di Iran.

Oleh sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa banyak kesamaan antara negara Iran dan Kekaisaran Persia di masa lalu.

Wallahul musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Jejak Iran di Balik Tragedi Haji

Tanggal 10 Dzulhijah 1436 H bertepatan dengan 24 September 2015, kurang lebih setahun yang lalu adalah sejarah pahit bagi umat Islam dunia. Hari itu, sebuah peristiwa duka terjadi di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Tragedi Mina 1436 H.

Tragedi itu bermula ketika serombongan jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan menerobos dan melewati rute jamaah dari negara lain. Jamaah haji Iran juga meneriakkan yel-yel mengenai Revolusi Iran. Petugas haji yang mencoba untuk mengatur, justru ditolak dan ditentang. Padahal petugas haji telah berusahameminta mereka untuk kembali ke rute yang seharusnya.

Sekian banyak saksi mata melaporkan bahwa jamaah haji Iran berjalan pulang dari lokasi jamarat dengan mengambil rute berangkat jamaah dari negara lain. Hal ini mengakibatkan tabrakan disebabkan bertemunya dua gelombang jamaah dari arah yang berlawanan. Apalagi jamaah haji Iran memang terbukti telah bermaksud untuk melakukan provokasi dan kekacauan. Terjadilah Tragedi Mina 1436 H.

Dalam grand scenario Iran, cara paling mudah untuk membuat malu Arab Saudi adalah dengan merusak dan mengacaukan kegiatan haji. Saat seluruh mata kaum muslimin sedang tertuju ke Arab Saudi, kekacauan dan kerusuhan dilakukan oleh Iran untuk kemudian menyalahkan Arab Saudi serta menjatuhkan nama baik Arab Saudi sebagai pihak yang melayani ibadah haji.

 

Sikap Iran

Terkait dengan Tragedi Mina 1436 H, Iran adalah satu-satunya pihak yang mengecam dan menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Berbagai fitnah keji ditujukan Iran kepada Arab Saudi. Berikut ini beberapa contoh dari pernyataan yang dilontarkan Iran.

 

  1. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Syiah Iran
  • Dia menyatakan bahwa Kerajaan Saudi melakukan politisasi dalam ibadah haji. Ali menuduh bahwa Kerajaan Saudi menjadi setan kecil yang lemah dan takut terhadap kepentingan setan besar, yaitu Amerika Serikat.
  • Ali Khamenei menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kematian ratusan jamaah haji Iran. Petugas haji, menurut Ali, sengaja mengunci korban yang masih hidup di dalam ruang tertutup dan menganiaya mereka.
  • Ali Khamenei menyerukan revolusi dan kudeta haji yang selama ini dipegang oleh Arab Saudi.

 

  1. Presiden Iran, Ayatullah Rauhani

Dia menuntut Arab Saudi untuk bertanggung jawab atas Tragedi Mina.

 

  1. Muhammad Imam Kasani, seorang ulama sentral Iran

Dia menyatakan bahwa dunia tidak menerima alasan-alasan semacam cuaca panas atau jamaan haji yang sulit diatur.

 

  1. Jaksa Agung Iran, Ibrahim Raisi

Dia meminta pengadilan internasional untuk mengadili Arab Saudi dengan tuduhan telah melakukan tindak kejahatan terhadap jamaah haji.

Media-media Iran dan yang pro-Iran secara gencar memosisikan Arab Saudi sebagai pihak yang bersalah. Hal itu merupakan kelanjutan dari usaha Iran di dekade 80-an yang ingin mengangkat isu internasionalisasi Makkah dan Madinah. Iran mendesak agar pelaksanaan haji dibawah kendali Komite Islam Internasional, dan tidak dipegang oleh Arab Saudi. Dari sana, Iran ingin melakukan intervensi di dalam pengaturan haji. Dengan tujuan akhir, hendak menguasai dua kota suci, yakni Makkah dan Madinah.

 

Jejak Iran Sejak Dahulu

Mufti Kerajaan Saudi Arabia, asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu asy-Syaikh menegaskan bahwa sejak 30 tahun sebelumnya, pemerintah Iran selalu bersikap buruk dan negatif terhadap pelaksanaan ibadah haji.

Mufti menjelaskan bahwa pemerintah Iran terlibat dalam banyak peristiwa kekacauan di musim haji. Beliau mengatakan, “Mereka sering terlibat dalam berbagai peristiwa dan kejadian, berbagai kesalahan dan tindakan melampaui batas di Baitullah al-Haram. Yang terbesar adalah peristiwa pada 1407 H, demonstrasi dan kekacauan yang mereka lakukan mengancam para jamaah yang telah dijamin keamanannya. Akhirnya rencana jahat mereka berhasil digagalkan.”

Yang dimaksud oleh Mufti adalah tragedi haji pada 1987 M. Ketika itu Garda Revolusi Iran melakukan kerja sama dengan milisi Hizbullah dan didukung oleh jamaah haji asal Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota Makkah.

Para demonstran membawa poster dan gambar Khomeini sambil meneriakkan yel-yel yang berisikan cacian dan ancaman terhadap Arab Saudi. Selain itu, mereka juga terang-terangan mengafirkan pemerintah Arab Saudi.

Demonstrasi tersebut berujung dengan kerusuhan dan kekacauan besar. Tercatat 402 orang meninggal dunia dengan 85 orang dari jumlah tersebut adalah petugas keamanan Arab Saudi. Selain itu, puluhan bangunan hancur, ratusan anak, lanjut usia, dan kaum wanita terluka, serta ratusan ribu jamaah haji terhambat untuk melaksanakan ibadah haji.

 

Tanpa Iran

Tahun ini, 1437 H/2016 M, adalah tahun pelaksanaan haji tanpa keberadaan jamaah haji Iran. Apa yang dirasakan oleh jamaah haji?

Pelaksanaan haji tahun ini berjalan lancar dan tertib. Tidak ada kendala dan problem yang berarti. Dalam banyak kesempatan, jamaah haji memberikan pujian dan ucapan terima kasih kepada para petugas haji. Pemerintah Arab Saudi semakin menambah dan meningkatkan kualitas pelayanan haji. Jamaah haji merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam pelaksanaan ibadah haji.

Pangeran Khalid bin Faishal, yang juga menjabat Ketua Panitia Pengurusan Haji, dalam keterangan pers menyatakan bahwa aman dan tertibnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini adalah jawaban untuk segala kebohongan dan fitnah yang dituduhkan oleh Iran kepada Arab Saudi.

Dengan demikian, setelah melihat perbandingan pelaksanaan haji saat ada jamaah haji Iran dengan pelaksanaan ibadah haji tanpa mereka, kita pasti mampu menyimpulkan bahwa selama ini jamaah haji Iran menjadi pihak yang menimbulkan ketidaktenangan dan kekurangnyamanan dalam beribadah haji.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran dalam Pandangan Negara-Negara Islam

OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) atau dalam bahasa Arabnya Munazhamah at-Ta’awun al-Islami adalah perkumpulan negara-negara muslim di dunia. Kantor pusat OKI terletak di Jeddah, Arab Saudi. Indonesia adalah anggota aktif OKI, bahkan termasuk yang terlibat di dalam pendiriannya.

Menurut website resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dibentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam mengadakan konferensi di Rabat, Maroko, pada 22—25 September 1969, dan menyepakati Deklarasi Rabat yang menegaskan keyakinan atas agama Islam, penghormatan pada Piagam PBB, dan hak asasi manusia.

Pembentukan OKI semula didorong oleh keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya setelah unsur Zionis Yahudi membakar bagian dari Masjid Suci al-Aqsha pada 21 Agustus 1969.

Pembentukan OKI antara lain ditujukan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota, mengoordinasikan kerja sama antarnegara anggota, mendukung perdamaian dan keamanan internasional, serta melindungi tempat-tempat suci Islam, dan membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika.

Awalnya, OKI menjadi organisasi internasional yang lebih banyak menekankan pada masalah politik, terutama masalah Palestina. Dalam perkembangannya OKI berubah menjadi wadah kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmu pengetahuan antarnegara muslim di seluruh dunia.

 

Sikap OKI Terhadap Iran

Pada KTT OKI ke-13 di Turki tahun 2016, sebuah keputusan resmi ditetapkan dan ditandatangani oleh para pemimpin lebih dari 50 negara Islam. Dari beberapa poin yang disepakati, negara-negara Islam juga mengambil sikap terhadap Iran. Sebelum ditetapkan, Presiden Iran Hasan Rauhani melakukan aksi walk out dari pertemuan tersebut.

Berikut ini beberapa poin yang telah disepakati oleh negara-negara Islam dalam KTT OKI ke-13 di Turki 2016.

  1. Mengecam campur tangan dan intervensi negara Iran dalam urusan intern negara-negara Islam, seperti Bahrain, Yaman, Suriah, dan Somalia.

Mengutuk kelanjutan dukungan Iran atas aksi terorisme di negara-negara tersebut.

 

  1. Mengecam tindakan anarkis dan perusakan yang menimpa Kantor Kedutaan Arab Saudi di dua lokasi, yaitu Teheran dan sebuah gedung pertemuan di Iran.

 

  1. Mencabut izin visa bagi warga negara Iran sesuai keputusan Majlis Tanfidziyah atas beberapa orang berkebangsaan Iran karena keterlibatan aksi-aksi anarkis dan terorisme di dalam negeri Arab Saudi.

 

  1. Mengecam organisasi Hizbullah di Lebanon (binaan Iran) atas turut campurnya mereka dalam aksi terorisme di Suriah, Bahrain, Kuwait, dan Yaman.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adil al-Jubair menegaskan bahwa sikap dunia Islam adalah menolak kebijakankebijakan Iran dan intervensinya dalam urusan negara-negara lain, serta menolak dukungan Iran terhadap terorisme, upayanya mendirikan milisi-milisi di berbagai negara, dan tindakannya menggoncang stabilitas keamanan dan ketenangan di negara-negara tersebut.

Adil al-Jubair juga menyatakan di sela-sela KTT OKI saat diwawancarai, “Pernyataan yang dikeluarkan oleh pertemuan tingkat tinggi negara-negara Islam sangat jelas mengutuk tindakan-tindakan tersebut dan mengutuk dukungan apa pun untuk terorisme dan ekstremisme, sekaligus pesan kepada Iran sangat jelas; dan dunia Islam tidak menerima semua itu dan menolaknya.

Iran harus mengubah kebijakan-kebijakannya dan menerapkan prinsip bertetangga yang baik dan tidak ikut campur tangan dalam urusan negara lain, serta mematuhi norma-norma dan hukum internasional.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Iran Dalang Kekacauan Global

Ideologi Syiah sebagai dasar negara telah menempatkan Iran sebagai pihak yang mempunyai kepentingan di berbagai belahan dunia.

Konsep Wilayatul Faqih yang ditetapkan sebagai salah satu prinsip penting kaum Syiah, mendorong Iran mewujudkan cita-cita untuk membentuk sebuah sistem pemerintahan dengan kepemimpinan di bawah kekuasaan seorang faqih (baca: ulama Syiah) yang memenuhi syarat sebagai wakil Imam Mahdi yang masih dalam masa kegaiban yang panjang, yang selalu dinanti kedatangannya.

Wilayatul Faqih adalah keyakinan dan ideologi kaum Syiah bahwa mereka adalah satu-satunya pihak yang mempunyai hak dan wewenang untuk menguasai dan mengatur dunia.

Menurut mereka, seluruh bumi—tanpa terkecuali walau hanya sejengkal—harus berada di bawah kekuasaan ulama Syiah. Oleh sebab itu, melalui dan atas nama negara Iran, kaum Syiah selalu berperan dan campur tangan dalam banyak konflik global.

 

Konflik Suriah

Walaupun telah berlangsung bertahun-tahun, konflik Suriah belum menunjukkan tanda akan berakhir. Bahkan, sebagian kalangan mengkhawatirkan jika konflik Suriah tidak segera berakhir, akan mengakibatkan pecahnya perang dunia ke-3. Kekhawatiran semacam ini wajar dimunculkan, sebab sekian banyak negara plus kepentingan masing-masing, terlibat di dalam konflik Suriah.

Konflik Suriah tidak serta-merta pecah begitu saja. Perang berkepanjangan di sana merupakan akibat dan akumulasi dari sekian puluh tahun sebelumnya. Kaum Syiah menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, baik sebagai sebab, pelaku, maupun penerus kekacauan.

Hafidz al-Asad menjadi presiden Suriah pertama yang berideologi Syiah. Setelah melakukan serangkaian gerakan untuk kudeta, Hafidz—seorang perwira tinggi militer, dibantu sejumlah perwira tinggi lainnya—akhirnya ditetapkan sebagai Presiden Suriah pada 22 Februari 1971.

Sebagai seorang penganut ideologi Syiah, Hafidz al-Asad melakukan pembersihan di seluruh lini pemerintahan dan militer Suriah. Hampir semuanya diserahkan dan dikuasai oleh kaum Syiah. Presiden Hafidz memerintah Suriah dengan gaya diktator yang penuh kezaliman dan kekerasan.

Salah satu peristiwa besar di dalam sejarah Suriah adalah pengepungan kota Hama selama 27 hari. Dengan alasan melakukan aksi balas atas penyerangan terhadap pihak pemerintah di kota Hama yang berlatar belakang Syiah, pasukan Presiden Hafidz mengerahkan pesawat tempur dan tank untuk menghancurkan kota Hama.

Februari 1982 menjadi bagian sejarah yang sulit terlupakan. Sepertiga kota Hama hancur. Lebih dari 30.000 orang Sunni tewas menjadi korban. Belasan ribu lainnya tidak diketahui keberadaannya, dan kurang lebih 100.000 orang terusir dari Hama. Selain menggunakan alat-alat perang yang berat, pasukan Hafidz juga menggunakan senjata kimia untuk melakukan pembantaian, yaitu hidrogen sianida.

Bashar al-Asad, putra Hafidz yang menjadi Presiden Suriah sepeninggalnya, melanjutkan gaya kepemimpinan ayahnya. Posisi kaum Syiah semakin kuat dan memegang posisi-posisi strategis di bidang politik, pemerintahan, dan ekonomi. Presiden Bashar melakukan tindakan represif terhadap rakyat. Seluruh media massa diatur negara, yang tidak tunduk akan ditangkap lalu dipenjarakan.

Tahun 2011 adalah tahun pertama konflik Suriah yang berkepanjangan sampai saat ini. Presiden Bashar yang berideologi Syiah melakukan pembantaian massal terhadap warga Sunni. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa selama kurun lima tahun, korban tewas akibat konflik Suriah mencapai angka 400.000 orang. Jumlah yang menyedihkan.

Konflik Suriah yang berkepanjangan ini rupanya tidak lepas dari peran Iran. Secara tegas, Wakil Komandan Garda Revolusi Iran, Jenderal Husein, menyatakan bahwa kehadiran dan keterlibatan tentara Iran di dalam konflik Suriah adalah demi kepentingan Revolusi Iran.

Sejak awal konflik, Iran berada di samping Presiden Bashar guna mendukung penuh rezimnya. Iran adalah sekutu regional Presiden Bashar. Dukungan secara militer dan ekonomi diberikan Iran untuk pemerintahan Bashar. Satu hal yang mempertemukan mereka adalah sama-sama berideologi Syiah.

Garda Revolusi Iran dinilai sebagai pihak yang sangat menentukan kebijakan-kebijakan militer di Suriah. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika pernah ada seorang jenderal Garda Revolusi Iran yang dinyatakan tewas di dekat Aleppo, Suriah, dalam sebuah pertempuran pada awal Oktober 2015. Husein Hamdani, jenderal yang tewas tersebut, adalah seorang penasihat militer Presiden Bashar yang berasal dari Garda Revolusi Iran.

Walhasil, Iran menjadi pihak yang paling banyak berperan di dalam konflik Suriah yang berkepanjangan.

 

Konflik Irak

Kaum Syiah di Irak terhitung mayoritas. Mereka adalah 60% dari total jumlah penduduk. Bagi kaum Syiah dunia, Irak memiliki keistimewaan dan kelebihan tersendiri. Di Irak terdapat dua kota suci menurut kaum Syiah, yaitu Najaf dan Karbala. Dalam keyakinan sebagian sekte Syiah, Najaf adalah lokasi Ali bin Abi Thalib dimakamkan. Adapun Karbala merupakan tempat wafat dan dikuburkannya Husein bin Ali.

Konflik Irak tidak lepas dari keberadaan milisi-milisi bersenjata yang didirikan oleh kaum Syiah. Milisi-milisi tersebut menjadi faktor utama yang menyebabkan berbagai konflik fisik di Irak. Sasaran dan target mereka adalah masyarakat Sunni, yakni masyarakat yang tidak sejalan dengan ideologi Syiah.

Hanya dalam tempo enam tahun, milisi-milisi Syiah telah membunuh lebih dari 650.000 orang Sunni. Sebuah angka yang cukup menggambarkan posisi dan peran kaum Syiah dalam peta konflik di Irak. Keberadaan milisi-milisi tersebut, ternyata tidak lepas dari sokongan dan dukungan Iran sebagai induk semang kekacauan di Timur Tengah.

Pada 2008, keterlibatan Iran dalam konflik Irak telah tersingkap. Senjata-senjata modern dikirim oleh Iran untuk milisi-milisi Syiah di Irak. Hal ini diperkuat oleh tertangkapnya sejumlah anggota milisi Syiah dan anggota Kesatuan Quds (Qods Force) yang melakukan misi di Irak. Qods Force adalah pasukan elite dari Garda Revolusi Iran (Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps).

Di Irak, dikenal sebuah sebutan “Special Groups/SGs”. Sebutan ini diberikan kepada milisi-milisi Syiah di Irak yang didukung oleh Iran. Mereka dilatih, dibantu, dan dibiayai oleh Iran. Beberapa milisi yang didukung oleh Iran adalah Korps Badar (Failaq Badr), Jaisy al-Mahdi, Asha-ib Ahlil Haqq, Jaisy al-Mukhtar, Liwa Abil Fadhl al-Abbas, dan Korps Ramazan dari Pasukan Garda Revolusi Iran.

Jadi, jika dicermati secara lebih mendalam, Iran mengambil peran yang cukup besar dalam konflik Irak. Bagaimanapun juga, dua kota suci kaum Syiah ada di wilayah Irak. Oleh sebab itu, kaum Syiah Iran akan terus berupaya untuk menciptakan konflik guna menguasai kedua kota tersebut.

 

Konflik Bahrain

Bahrain adalah sebuah negara di Teluk Persia dengan wilayah yang tidak begitu luas. Ternyata, Iran turut berperan di dalam berbagai bentuk konflik di Bahrain.

Setelah Revolusi Iran dicetuskan, beberapa kelompok politik yang berdasarkan ideologi Syiah didirikan, seperti The Islamic National Liberation, al-Jamaah al-Islamiyah, Harakat Syabab Muslim Bahrain, dan al-Jabhah al- Wathaniyyah li Tahriril Bahrain.

Kelompok yang disebutkan terakhir, diumumkan pembentukannya pada 2 September 1979 oleh Hujjatul Islam Hadi al-Mudarrisi. Al-Mudarrisi adalah seorang tokoh Syiah yang berasal dari Iran. Kelompok ini dikenal dengan sebutan IFLB atau Islamic Front For The Liberation of Bahrain.

Sebagian besar anggota IFLB adalah kaum Syiah yang mempunyai garis keturunan Iran. IFLB dibentuk di Iran, dilatih dan dibiayai oleh intelijen Iran dan Garda Revolusi Iran. Adapun salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah melepaskan negara Bahrain dari persatuan negara-negara Teluk untuk kemudian digabungkan dengan negara Iran.

Pada 1981, tidak berselang lama dari Revolusi Iran, IFLB mencoba melakukan kudeta di Bahrain. Namun, usaha mereka dapat digagalkan oleh pemerintah Bahrain. Setelah itu, beberapa pemimpin IFLB melakukan kesepakatan dengan para pejabat intelijen Iran untuk membentuk sayap militer di Bahrain. Dari sana, lahirlah sayap militer bernama Hizbullah Bahrain.

Sejak awal pergerakan, mereka melakukan pelatihan militer dengan melibatkan ribuan kaum Syiah Bahrain. Salah seorang tokoh yang pernah memimpin Hizbullah Bahrain adalah Ali Salman, seorang tokoh Syiah yang dididik di kota Qumm, Iran. Ali Salman sering melakukan kritik, bahkan hasutan untuk membenci dan memusuhi pemerintah Bahrain.

Akhirnya Ali Salman ditangkap dan diasingkan. Ali Salman lalu mencari suaka di Inggris. Sekembalinya dari Inggris, Ali Salman kembali ke Bahrain dan masih terus melakukan upaya-upaya penghasutan.

Hizbullah Bahrain mempunyai tujuan utama untuk melakukan kudeta guna mengubah sistem pemerintahan menjadi pro-Iran. Setelah gagal melakukan kudeta pada 1981, Hizbullah Bahrain mencoba lagi untuk melakukan kudeta pada 1996. Radio dan siaran berita dari Teheran Iran terus meningkatkan hasutan dan kebencian terhadap pemerintah Bahrain.

Bahkan, pemerintah Bahrain sempat memanggil pulang duta besarnya dari Iran setelah terkuak skenario kudeta ternyata dibuat oleh Iran melalui sayap militer mereka, Hizbullah Bahrain.

 

Bagaimana dengan kondisi saat ini?

Ayatullah Rauhani pernah mengatakan, “Bahrain adalah pengikut Iran. Bahrain merupakan bagian dari Republik Islam Iran.”

Kaum Syiah dan Iran tidak akan berhenti untuk mengupayakan agar Bahrain menjadi negara Syiah. Melihat kegagalan-kegagalan dalam aksi fisik, saat ini Iran menjalankan politik halus dengan mendorong Syiah Bahrain masuk dan aktif di parlemen.

Meskipun demikian, gerakan Syiah masih saja menggunakan langkah-langkah kekerasan. Terbaru, pada Oktober 2015, aparat keamanan Bahrain menemukan 1,5 ton bahan peledak, beberapa senjata api, granat, dan perlengkapan perang lainnya di beberapa tempat berbeda. Menteri Dalam Negeri Bahrain mengungkapkan bahwa orang-orang yang tertangkap memiliki hubungan dekat dengan terorisme di Iran.

 

Iran dan Konflik-Konflik Lain

Keterangan di atas hanyalah sekelumit informasi tentang peran dan posisi Iran di dalam konflik yang terjadi di Timur Tengah dan daerah lainnya. Selain di ketiga negara di atas, Iran pun sangat berperan dalam konflik di Pakistan, Lebanon, Turki, dan yang cukup besar adalah di negeri Yaman.

Tokoh utama milisi Houthi, yaitu Badruddin al-Houthi, tercatat pernah tinggal di Iran antara tahun 1994—1997. Milisi Houthi adalah milisi Syiah yang menjadi dalang kekacauan dan konflik di Yaman. Hingga saat ini, kekacauan di Yaman belum juga berakhir.

Milisi Houthi seakan tidak mengenal menyerah untuk mewujudkan cita-cita mereka, mendirikan negara Syiah Yaman. Di dalam konflik Yaman, Iran terbukti telah menyuplai senjata dan alat-alat perang untuk milisi Houthi. Beberapa kali, kiriman senjata, bom, bahkan rudal dari Iran untuk milisi Houthi melalui jalur laut dapat digagalkan oleh pemerintah Yaman.

Bahkan, pada salah satu upaya penggagalan penyelundupan, Menteri Dalam Negeri Yaman sempat menyatakan bahwa senjata dan alat-alat perang itu sudah cukup untuk menghancurkan Yaman.

 

Kesimpulan

Intinya, di dalam konflik global dan peta dunia, Iran selalu ikut campur tangan untuk mewujudkan prinsip Wilayatul Faqih, yakni mensyiahkan dunia.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing dan memberikan hidayah untuk kaum muslimin di Indonesia agar selalu waspada dari bahaya Syiah dan Iran. Terutama para pemimpin bangsa ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada mereka.

Amin.

anDitulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i

Khomeini Pujaan Ikhwanul Muslimin

Dalam pandangan umum, sebagian kalangan menyebut Revolusi Iran sebagai revolusi terbesar nomor urut ketiga setelah Revolusi Perancis dan Revolusi Bolshevik.

Revolusi Iran sendiri digerakkan secara massif mulai Januari 1978 sampai Desember 1979. Revolusi Iran dinyatakan selesai setelah Khomeini ditetapkan sebagai Pemimpin Besar dan sistem pemerintahan yang baru resmi diputuskan.

Mereka yang termakan propaganda dan isu liar yang di-blow-up penuh oleh kaum Syiah, memandang Revolusi Iran sebagai era kebangkitan Islam. Revolusi Iran adalah perlawanan terhadap kaum kafir, khususnya Amerika, Israel, dan Soviet. Apalagi yel-yel dan slogan yang diteriakkan para demonstran diungkapkan dalam bentuk permusuhan dan kebencian kepada Amerika, Israel, dan Soviet. Klop sudah.

Apakah memang demikian?

Pada artikel sebelumnya, sedikit banyak telah diterangkan bahwa hakikat Revolusi Iran adalah revolusi yang ditempuh oleh kaum Syiah sebagai landasan pacu untuk mensyiahkan dunia. Pemahaman sesat dan ideologi-ideologi menyimpang kaum Syiah dikemas seakan-akan mereka sedang memperjuangkan Islam. Namun, sekian banyak bukti dan data akurat membantah itu semua.

Salah satu pihak yang mendukung dan memback-up Revolusi Iran, Khomeini, dan ideologi-ideologi Syiah adalah gerakan IM (Ikhwanul Muslimin). Gerakan yang berpusat di Mesir ini secara terang dan tegas menyatakan dukungan untuk Khomeini. Sejumlah pimpinan teras dan tokoh sentral Ikhwanul Muslimin mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyokong gerakan Khomeini ketika terjadi Revolusi Iran.

Ulama masa kini, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi (al-Maurid al-‘Adzbu az-Zulal hlm. 163) menceritakan, “Pada saat Khomeini menggerakkan revolusinya di Iran, pendukung-pendukung Ikhwanul Muslimin segera menyatakan dukungan. Sebagian mengirim telegram dukungan, sebagian yang lain menulis kolom di surat-surat kabar. Ada juga yang mengoordinir unjuk rasa guna mendukung Khomeini dengan alasan Khomeini adalah al-Imam al-Haq, serta negaranya adalah satu-satunya negara yang beriman, lainnya tidak.”

Asy-Syaikh An-Najmi juga menukil beberapa bait syair yang ditulis oleh Yusuf al-‘Adzm, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin,

Dengan Khomeini sebagai pemimpin dan imam, ia menghancurkan bangunan kezaliman dan tidak takut kematian

Sungguh, kami telah menyerahkan mahkota dan tanda untuknya, dari darah kami dan kami akan berangkat maju ke depan

Kami akan menghancurkan kesyirikan dan memerangi kezaliman, supaya dunia kembali bercahaya dan penuh kedamaian

Menanggapi syair di atas, asy-Syaikh an-Najmi menyatakan, “Perhatikanlah, wahai Saudara pembaca. Perhatikan kebutaan dan kebodohan ini! Kesyirikan macam apa yang dihancurkan oleh Khomeini?

Bukankah kesyirikan telah benar-benar tumbuh dan berkembang di kalangan Syiah? Kesyirikan macam apa yang dihancurkan oleh Ikhwanul Muslimin? Justru mereka sejak pertama berdiri telah ridha dan menyetujui kesyirikan, bahkan mereka sendiri terjatuh dalam kesyirikan.”

 

Revolusi Iran & Ikhwanul Muslimin

Mengenai keterkaitan erat antara Revolusi Iran dan Ikhwanul Muslimin, marilah kita membaca bukti-buktinya dari seorang penulis yang berlatar belakang Ikhwanul Muslimin. Sebuah buku ditulis oleh Dr. Izzudin Ibrahim dan diberi judul Mauqifu Ulama al-Muslimin min asy-Syi’ah wa ats-Tsaurah al-Islamiyyah. Secara bebas, judul buku tersebut dapat diterjemahkan menjadi Pandangan Ulama Kaum Muslimin Terhadap Syiah dan Revolusi Islam.

Buku dimaksud berisikan tulisan dan ceramah para pemimpin gerakan Ikhwanul Muslimin. Selain itu juga berisikan ceramah tokoh-tokoh pergerakan lainnya, semacam al-Maududi dan an-Nadwi.

Di Iran, buku di atas memperoleh sambutan hangat. Bahkan, pada 1986, buku tersebut dicetak di Teheran, Iran, oleh penerbit Syiah dalam jumlah eksemplar yang cukup banyak. Jika membaca buku ini, kita akan memahami betul mengapa Iran sangat berkepentingan untuk mencetak dan menyebarluaskan. Sebab, penulis benar-benar memberikan dukungan dan pembelaan terhadap kaum Syiah dan revolusinya.

Dr. Izzudin (hlm. 44) menulis dalam rangka memuji, “Adapun di Mesir, majalah ad-Dakwah, al-I’tisham, dan al-Mukhtar, berada di barisan Revolusi untuk mendukung dan membela Revolusi Iran sebagai revolusi Islam.”

Pada halaman 10, Izzudin menukil tulisan wartawan senior Ikhwanul Muslimin bernama Jabir Rizq, “Sungguh, masa berkecamuknya perang ini adalah masa yang sama dengan gagalnya agenda-agenda Amerika dan koalisinya terhadap revolusi Islam dari bangsa Iran.”

Kemudian pada halaman 49, Izzudin menukil ucapan seorang tokoh sentral Ikhwanul Muslimin bernama Fathi Yakan, “Beberapa waktu lalu ada bukti kuat untuk pernyataan kami, yaitu usaha revolusi Islam di Iran. Usaha ini diperangi dan dimusuhi secara besar-besaran oleh kaum kafir dan masih saja berlangsung. (Revolusi ini dimusuhi) karena itu adalah revolusi Islam, tidak berpihak ke barat maupun ke timur.”

Dr. Izzudin (hlm. 41—42) menggambarkan betapa gegap gempitanya kaum muslimin menyambut Revolusi Iran dan Khomeini. Izzudin menulis, “… Revolusi Iran telah membangkitkan ruh umat Islam di seantero dunia yang membentang dari Thanjah sampai Jakarta. Perkembangan Revolusi Iran semakin menambah negara-negara yang menyambutnya. Negara-negara yang mengungkapkan kegembiraan dan suka cita di jalan-jalan kota Kairo al-Mu’izz, Damaskus, Syam, Karachi, Khurtum, Istanbul, dan di sekitar Baitul Maqdis, serta di setiap tempat yang ada kaum muslimin di sana.”

Setelah itu, Dr. Izzudin melukiskan satu per satu negara dengan Ikhwanul Muslimin sebagai penggeraknya dalam mendukung Khomeini serta Revolusi Iran. Salah satu yang disebut Izzudin adalah Sudan. Mahasiswa dan pendukung Ikhwanul Muslimin turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk dukungan kepada Khomeini dan Revolusi Iran. Bahkan, Dr. Hasan at-Turabi, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Sudan berangkat ke Iran untuk menemui Khomeini dan menyatakan dukungan secara langsung.

Tokoh dan pemimpin Ikhwanul Muslimin di Tunisia yang bernama al-Ghannusyi mengangkat sebuah tulisan untuk mendukung penuh Khomeini. Al-Ghannusyi memandang bahwa arah Islam di masa kini ditentukan oleh Hasan al-Banna, Khomeini, al-Maududi, dan Sayyid Quthub.

 

Ikhwanul Muslimin dan Syiah

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi (al-Maurid al-‘Adzbu az-Zulal hlm. 162—163) menukil ucapan Dr. Izzudin Ibrahim dalam buku Mauqifu Ulama-il Muslimin yang menjelaskan hubungan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dengan Syiah.

Izzudin menyebutkan nama mereka satu per satu, yaitu Subhi as-Sulhi, Dr. Abdul Karim Zaidan, Muhammad Abu Zahrah, Dr. Musthofa asy-Syik’ah, asy-Syaikh Hasan Ayyub, Hasan at-Turabi, Fathi Yakan, Said Hawwa, Anwar al-Jundi, Ustadz Samih ‘Athif az-Zain, Ustadz Shabir Tha-imah, Ustadz Sami an-Nasyar, Dr. Ali Abdul Wahid Wafi, Zainab al-Ghazali, at-Tilmisani, Yusuf al-‘Adzm, dan al-Ghannusyi. Kemudian asy-Syaikh an-Najmi mengatakan, “Semua tokoh di atas mempunyai pendapat yang terpublikasi melalui karya tulis atau jawaban-jawaban.

Mereka mendukung usaha untuk menyatukan antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Mereka menyatakan bahwa Syiah tidak mempunyai akidah menyimpang yang mengharuskan untuk dihukumi kafir atau fasik. Mereka juga menyatakan bahwa Syiah adalah kaum muslimin sebagaimana kaum muslimin lainnya karena sama-sama mengucapkan La ilaaha illallah, shalat, puasa dan haji. Mereka juga memandang bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah seperti perbedaan mazhab saja.”

Apa kesimpulannya?

Ikhwanul Muslimin adalah pihak yang paling mendukung dan membela Khomeini, Revolusi Iran, dan kaum Syiah. Ideologi-ideologi sesat kaum Syiah tidak dianggap sesat oleh Ikhwanul Muslimin. Mereka berupaya untuk menyatukan antara Ahlus Sunnah dan kaum Syiah.

Dengan demikian, Ikhwanul Muslim setali dua uang dengan kaum Syiah. Sama-sama sesat dan menyesatkan!

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i