Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Pengantar

Satu hari pada pengujung tahun 2006, di Shan’a, ibukota Republik Yaman. Seorang pemuda Indonesia duduk di sebuah rumah makan menunggu jamuan makan siang dihidangkan. Saat itu, tiba-tiba seorang warga Yaman duduk  di hadapan pemuda tadi dan mengajak berbincang.

Kala warga Yaman itu mengetahui bahwa pemuda yang diajak berbincang adalah penuntut ilmu di Dammaj, Sha’dah, ia langsung menyebut nama Asy-Syaikh Muqbil. “Asy-Syaikh Muqbil pencela ulama,” katanya seraya menampakkan ketidaksukaan.

Melihat sikap tidak terpuji dari lawan bicaranya, pemuda Indonesia itu menjawab tegas, “Ya, benar. Asy-Syaikh Muqbil seorang pencela ulama. Ulama su’ (buruk).” Lanjutkan membaca Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Surat Pembaca Edisi 109

Bundel Majalah Berlanjut?

Alhamdulillah, Majalah Asy Syariah telah menerbitkan beberapa edisi bundel. Jika akan terus tersambung menerbitkan bundel hingga edisi yang terkini (anyar dan terbaru), apakah Majalah Asy Syariah yang setiap bulannya terbit, akan tetap diterbitkan? Apakah tidak ada perencanaan untuk dibundel juga, di edisi per bulan yang terbaru?

08560xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Insya Allah kami akan berusaha menerbitkan bundel Majalah Asy Syariah. Hanya saja, kami akan memprioritaskan penerbitan bundel edisi-edisi lama, mengingat edisi tersebut sudah tidak ada stok sementara pembahasan yang termuat di dalamnya masih banyak dicari dan diminati.

 

Salah Simbol

Afwan, koreksi Majalah Asy Syariah edisi 108 vol.IX/1436 H/2015 pada hlm. 86 pada kalimat, “Hal ini sebagaimana persaksian Rabbnya…” mengapa di sampingnya tercetak lambang rahimahullah, bukan azza wa jalla atau yang semisalnya? Atas perhatiannya jazakumullah khairan.

08564xxxxxxx

Salah Kata?

Afwan, sepertinya ada beberapa kata yang salah dalam Asy Syariah edisi 107.

  1. Hlm. 10, Rubrik Manhaji: “Padahal tahdzir terhadap individu atau kelompok menyimpang yang dilakukan oleh para ulama Ahlus Sunnah yang mulia tiada bertujuan untuk memberi nasihat…”, seharusnya “tiada lain/hanya bertujuan…” dst., agar para pembaca tidak salah paham.
  2. Hlm. 38, Rubrik Kajian Utama, tertulis “Al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali rahimahullahu”, seharusnya hafizhahullahu.
  3. Hlm. 56, Rubrik Hadits, tertulis “Muhammad ‘alaihis salam”, seharusnya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam. Wal ‘afwu minkum. Barakallahu fikum. Jazakumullahu khairan.

08536xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Wa antum fajazakumullah khairan. Anda benar, ada kesalahan cetak sebagaimana yang Anda sebutkan.

 

Harga Bundel Naik?

Afwan, mau tanya, kok bundel Asy Syariah harganya naik banyak ya?

08572xxxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Harap dimaklumi. Kami menyesuaikan harga Bundel Asy Syariah dengan kenaikan biaya cetak yang cukup signifikan. Oleh karena itu, dengan berat hati kami harus menaikkan harga jual Bundel tersebut. Barakallahu fikum.

Mengenal Pembaru dari Yaman

Kala itu, dari sebuah desa terpencil bernama Dammaj, yang berjarak sekitar 250 km dari ibukota Yaman, terpancar sebuah dakwah yang mampu menyinari sebagian besar wilayah Yaman. Dengan kondisi Yaman yang dipenuhi orang-orang (Syiah) Rafidhah, Syi’ah Zaidiyah, Sufi, dan komunis, tentu berdakwah di negara ini bukan perkara mudah. Apalagi Yaman terhitung sebagai negara miskin, tentu menambah beban dakwah tersendiri.

Namun, ketika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, apa pun bisa terjadi. Di tengah karut-marut keberagamaan Yaman, muncullah seorang asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i yang menebar dakwah tauhid, memerangi segala kesyirikan yang bercokol di negeri tersebut. Membendung laju Sufi dan Syiah dengan dakwah as-Sunnah.

Berawal dari mengajari al-Qur’an kepada anak-anak di kampungnya yang kecil yang dikelilingi gunung-gunung, pelan namun pasti, cahaya dakwah asy-Syaikh Muqbil bertebaran ke seantero Yaman. Setiap beliau mengisi muhadharah (taklim) di kota-kota di Yaman, selalu dihadiri ribuan orang, hingga masjid tidak mampu menampung jumlah yang hadir.

Asy-Syaikh Muqbil memang telah diberikan banyak kelebihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, salah satunya adalah ilmu hadits. Tak heran jika masyarakat Yaman memberi tempat bagi dakwah beliau. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala kemudian dengan kesabaran beliau, masyarakat Yaman sedikit-sedikit mulai meninggalkan kesyirikan dan kemaksiatan yang telah mengakar menjadi kebiasaan.

Berdirilah kemudian ma’had (pondok pesantren) Ahlus Sunnah yang pertama dan terbesar di Yaman di desa Dammaj bernama Darul Hadits. Yang menakjubkan, tidak hanya dari masyarakat setempat, berdatanganlah para penuntut ilmu dari dari luar Yaman seperti Saudi Arabia, Indonesia, Mesir, Kuwait, Libia, Aljazair, Maroko, Turki, Inggris, Amerika Serikat, Somalia, Belgia, dan negara-negara lainnya.

Tentu sudah menjadi keniscayaan, para penentang selalu siap sedia menghadang. Apalagi beliau dikenal berani dalam mengingkari kemungkaran. Beliau banyak membantah kesesatan sekaligus menyingkap kedok kelompok-kelompok menyimpang seperti Syi’ah, Sufi, Ikhwanul Muslimin (baca: Ikhwanul Muflisin), Jum’iyatul Hikmah, Jum’iyatul Ihsan, atau ‘Ilmaniyun (sekuler) melalui muhadharah atau tulisan dilengkapi dengan pendalilan yang sangat kuat yang teramat sulit dibantah.

Upaya-upaya pembunuhan yang dilakukan musuh-musuh dakwah untuk menghabisi nyawa asy-Syaikh, bahkan murid-muridnya, tidak pernah menyurutkan langkah asy-Syaikh dan dakwah as-Sunnah.

Kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kezuhudan, kesederhanaan, kedermawanan, dan sikap wara’nya, setelah taufik Allah subhanahu wa ta’ala, menjadi kunci keberhasilan dakwah asy-Syaikh Muqbil di Yaman hingga mampu menembus belantara paham Syiah dan Sufi yang mengakar di Yaman. Dakwah beliau begitu menyentuh hingga banyak berpengaruh di hati-hati manusia. Beliau selalu mengajak untuk beragama dengan menyandarkan diri kepada dalil yang sahih. Beliau juga mewariskan banyak tulisan dan nasihat untuk umat. Tak heran jika banyak pujian ulama mengalir ke pribadi beliau.

“Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk umat ini di setiap ujung seratus tahun orang yang memperbarui untuk mereka agama mereka.” (HR. Abu Dawud [no. 4291] dan yang lainnya)

Ya, asy-Syaikh Muqbil menjadi pembaru agama di negara yang kemurnian Islamnya telah mulai memudar. Wallahu a’lam.

Waspadai Kemaksiatan!

Sa’id ibnul Musayyab rahimahullah berkata,

“Tidaklah para hamba memuliakan jiwanya dengan sesuatu (yang lebih baik daripada) ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Tidak pula para hamba menghinakan jiwanya dengan sesuatu (yang lebih buruk daripada) kemaksiatan kepada-Nya. Cukuplah sebagai pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang mukmin, ketika dia melihat musuhnya melakukan kemaksiatan kepada-Nya.” (Shifatu ash-Shafwah, 2/81)

 

Urwah ibnu az-Zubair rahimahullah berkata,

“Apabila engkau melihat seseorang beramal sebuah kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki saudara-saudara (yakni ada kebaikan-kebaikan lain pada dirinya, -pent.). Apabila engkau melihatnya melakukan suatu keburukan, ketahui pula bahwa keburukan itu memiliki saudara-saudara (yakni ada keburukan-keburukan lain pada dirinya, -pent.). Sebab, sebuah kebaikan akan menunjukkan pada saudaranya (kebaikan yang lain), sedangkan sebuah keburukan akan menunjukkan pada saudaranya (keburukan yang lain).” (Shifatu ash-Shafwah, 2/85)

Meminta Surga dan Berlindung dari Neraka

Anas radhiallahu ‘anhu menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘allaihi wa sallam bersabda,

مَا يَسْأَلُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثًا إِلَّا قَالَتْ الْجَنَّةُ :اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ. وَلَا

اسْتَجَارَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ اللهَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثًا إِلَّا قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ

“Tidaklah seorang muslim meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali, melainkan surga akan berkata, ‘Ya Allah, masukkanlah dia.’ Dan tidaklah seorang muslim berlindung dari neraka sebanyak tiga kali, melainkan neraka akan berkata, ‘Ya Allah lindungilah dia’.” (HR. Ahmad juz 2 hlm. 141) Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini sahih. (al-Jami’ ash-Shahih mimma Laisa fi ash-Shahihain juz 2 hlm. 472)