Suami Ingkar Janji

Saya sudah menikah selama 7 bulan, belum dikaruniai anak. Yang menjadi masalah adalah, saya menikah dengan warga negara Cina. Pernikahan dilangsungkan di Indonesia dan secara Islam, karena dia mau untuk diislamkan dan berjanji akan menaati syariat Islam.Tapi pada kenyataannya dia sama sekali tidak mau belajar bahkan menjalankan hidupnya seperti sebelum dia memeluk Islam. Saya merasa tertipu, apalagi ini adalah hal prinsip dan seumur hidup. Yang ingin saya tanyakan adalah, bisakah saya membatalkan pernikahan saya?
Masih mungkinkah saya membatalkannya? Terima kasih dan mohon penjelasannya. Wassalam.
M.A.
…alsya@yahoo.com.hk

Dijawab oleh:
Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Yang pertama, harus dibedakan dulu antara nikah itu batal dan gugur. Karena membatalkan nikah harus ada syarat-syarat yang harus dipenuhi atau harus ada pada pernikahan itu, sehingga dianggap batal. Nah, sekarang permasalahan yang ditanyakan di sini, anda sudah menikah selama 7 bulan. Kalau memang pernikahan itu pada awalnya adalah pernikahan yang syar’i, maka tidak ada lagi istilah batal. Yang ada adalah bagaimana supaya anda bisa berpisah dari suami, yaitu dengan cara khulu’. Jadi di sini bukan lagi membatalkan pernikahan itu karena sudah terjadi, tetapi bagaimana caranya berpisah dari suami.
Kalau memang keadaan suami masih demikian, yaitu kufur kepada Allah I, maka istri boleh meminta untuk di-khulu’. Sekali lagi, kalau memang pernikahan itu syar’i, sesuai dengan aturan-aturan agama Islam. Bila istri minta di-khulu’ maka ia harus siap untuk membayar mahar yang telah diberikan suami kepadanya. Sebaliknya, di pihak suami tidak boleh untuk menekan istrinya agar melebihkan pembayaran semula (membayar lebih mahal dari mahar yang telah diberikan).
Jika sudah terjadi khulu’ maka gugurlah pernikahan itu, bukan lagi cerai atau talak. Barakallahu fi kum (semoga Allah memberkahi anda).

Makanan Syubhat

Kepada pengasuh majalah Syariah yang kami hormati. Berikut surat ini kami tulis karena ada beberapa pertanyaan yang ingin kami tanyakan.
Dalam ingatan ana yang tersamar, pernah ber-’azam (bahkan dengan melafadzkannya) untuk tidak memakan daging ayam potong dan mie instant serta seluruh makanan yang tidak thoyyib dan belum jelas halalnya. Karena seingat ana, makanan tadi bila disembelih tidak melafadzkan asma Allah I, maka haram dan para ahlul hadits meninggalkan makanan semacam tadi. Nah suatu ketika, tetangga ana memberi ana makanan tadi. Sebagai tetangga yang baik ana memakannya. Apakah ana berdosa?
Jazaakumullahu khairan katsira.
Afaf
m83s@yahoo.com

Dijawab oleh:
Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

Selama anda tidak mengharamkan untuk diri sendiri, maka tidak ada larangan atau kewajiban untuk membayar apapun. Lain halnya kalau anda mengharamkan diri anda untuk makan daging potong atau mie instant. Untuk mengharamkan atau menghalalkan sesuatu itu harus ada dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Karena kita punya kaidah, yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah I dan Rasul-Nya dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah I dan Rasul-Nya.
Jika seandainya kita belum mengetahui secara jelas keadaan ayam potong itu, bagi anda ini masuk dalam kategori syubhat. Namun bukan berarti hukum ini kemudian bisa ditimpakan kepada orang lain. Karena bisa jadi orang lain mengerti bahwa yang memotong ayam tersebut adalah muslim dan membaca bismillah, misalnya.
Jika memang dia memiliki azam untuk meninggalkan hal yang demikian itu, terlebih kalau diiringi dengan sikap wara’ (menjaga diri dari perkara-perkara yang belum jelas), ini tentu akan mendapat fadhilah (keutamaan) dari Allah I. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari shahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir c, bahwa Rasulullah r berkata:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara yang masih samar (syubhat). Barangsiapa menjaga diri dari perkara yang syubhat itu maka ia telah menjaga diri dan agamanya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari-Muslim)
Kalau memang anda menganggap barang-barang tersebut masih samar (syubhat) dan berusaha meninggalkannya, maka mudah-mudahan Allah I memberikan fadhilah. Sekali lagi, keadaan syubhat ini adalah bagi anda sendiri dan tidak boleh memaksa orang lain untuk bersikap sama. Karena bisa jadi bagi orang lain barang-barang tersebut bukan merupakan syubhat.
Kalau saudara anda yang memberikan daging ayam itu adalah muslim, maka dihukumi secara dzahir, yaitu sebagai seorang muslim yang sembelihannya adalah halal. Karena Allah I dan Rasul-Nya memerintahkan agar menghukumi seseorang itu sesuai dengan dzahirnya. Kalau dia seorang muslim maka praduga kita dia menyembelih dengan mengucapkan bismillah. Jadi tidak mengapa anda makan daging tersebut dan tidak berdosa.
Barakallahu fi kum.

Mengenal Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah I, tapi mereka tidak cinta kepada Allah I. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah I. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allah I dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah I bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah I sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah I yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah I tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah I kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah I sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat mengenal Allah I dan bisa memetik buahnya dalam wujud amal.
Mengenal Allah I ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah I, mengenal Rububiyah Allah I, mengenal Uluhiyah Allah I, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah I.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah I di dalam Al-Qur`an dan di dalam As-Sunnah baik secara global maupun terperinci.
Ibnul Qayyim dalam Al-Fawaid (hal. 29), mengatakan: “Allah I mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al-Qur`an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah I dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah U seperti dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (Ali ‘Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang telah Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Baqarah: 164)

Mengenal Wujud Allah I
Yaitu beriman bahwa Allah I itu ada. Dan adanya Allah I telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syariat.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah I yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah I di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah I dan meminta sesuatu, lalu Allah I mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah I di dalam Al-Qur`an:

“Dan ingatlah ketika Rabbmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Rabb kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (Al-A’raf: 172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah I dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syariat, kita menyakini bahwa syariat Allah I yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syariat itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 41-45)

Mengenal Rububiyah Allah I
Rububiyah Allah I adalah mengesakan Allah I dalam tiga perkara yaitu penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah I adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah I.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah I dalam hal ini. Allah I mengatakan:

“’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah I ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah I dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah I, sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah I semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah ’tuhan’ yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?
Allah I telah menceritakan di dalam Al Qur`an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allah I dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (Az-Zumar: 3)
Kedua, agar mereka memberikan syafaat (pembelaan) di sisi Allah I. Allah I berfirman:

“Dan mereka menyembah selain Allah berupa apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafaat kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18) [lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab]
Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah I telah dijelaskan Allah I dalam beberapa firman-Nya:

“Kalau kamu bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Az-Zukhruf: 87)

“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Al-’Ankabut: 61)

“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah.” (Al-’Ankabut: 63)
Demikianlah Allah I menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid rububiyah Allah I. Sekedar keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah r mengumumkan peperangan melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah I, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan manfaat, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.
Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah I.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah I. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah I semata dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allah I
Uluhiyah Allah I adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah I, seperti berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah I dan Rasulullah r.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah I termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah I.
Allah I berfirman di dalam Al-Qur`an:

“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (Al-Fatihah: 5)
Rasulullah r telah membimbing Ibnu ‘Abbas c dengan sabda beliau:

“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan hasan shahih)
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa`: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah I dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah I. Karena, semuanya itu hanyalah milik Allah I semata.
Rasulullah r bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” (Shahih, HR. Muslim dari Anas bin Malik z)
Rasulullah r bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barangsiapa melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Contoh konkret penyimpangan uluhiyah Allah I di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qayyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah I.”

Mengenal Nama-nama & Sifat-sifat Allah I
Maksudnya, kita beriman bahwa Allah I memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah I memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah I memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah I:

“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al-A’raf: 180)

“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (An-Nahl: 60)
Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah I sesuai dengan apa yang dimaukan Allah I dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Al-Imam Asy-Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama dan sifat-sifat Allah I sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah I dan apa-apa yang datang dari Allah I dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah I. Aku beriman kepada Rasulullah r dan apa-apa yang datang dari Rasulullah r sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah r.” (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 36)
Ketika berbicara tentang sifat dan nama-nama Allah I yang menyimpang dari yang dimaukan  Allah I dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah I tanpa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah I berfirman:

“Katakanlah: ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.” (Al-A’raf: 33)

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (Al-Isra`: 36)
Wallahu a’lam.

Syirik

Syirik adalah menjadikan sekutu bagi Allah I pada sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik uluhiyah, rububiyah, atau asma dan sifat-Nya.
Yang menjadi kekhususan Allah I dalam uluhiyah maksudnya adalah ibadah. Sedangkan rububiyah adalah perbuatan-perbuatan Allah I, dan asma serta sifat-Nya.
Sehingga, syirik bisa terjadi pada tiga hal:
1. Ibadah, yaitu dengan beribadah kepada selain Allah I baik kepada berhala, jin, orang shalih yang telah mati, atau benda mati yang dikeramatkan. Dan ini disebut syirik dalam hal uluhiyah.
2. Perbuatan-perbuatan yang menjadi kekhususan Allah I seperti menciptakan alam, mengaturnya, menjaganya, memberi rizki makhluk yang di dalamnya, menghidupkan, mematikan, menyembuhkan sakit dan semacamnya. Orang yang meyakini bahwa selain Allah I bisa melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, berarti ia telah berbuat syirik dalam hal rububiyah.
3. Asma dan sifat Allah I. Allah I memiliki nama dan sifat yang khusus untuk-Nya seperti tersebut di dalam ayat Al Qur`an maupun hadits Nabi yang shahih. Maka barangsiapa yang meyakini bahwa selain Allah I ada yang juga memiliki seperti sifat Allah I walaupun satu sifat, berarti ia telah berbuat syirik dalam hal sifat.
Contoh, dua buah bait syair yang memuji Nabi r dengan berlebihan, bunyinya:
Wahai makhluk yang paling mulia
Tiada bagiku yang kumohon padanya keinginanku selainmu
Dan sungguh dunia dan akhirat adalah sebagian kebaikanmu
Di antara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudz dan pena penulis takdir
Dua bait syair ini mengandung ketiga macam syirik tersebut di atas.
Pada ucapan “Tiada bagiku yang kumohon padanya keinginanku selainmu”, mengandung syirik dalam uluhiyah, karena memohon pertolongan dalam hal semacam ini adalah ibadah. Berarti dia telah memberikan suatu jenis ibadah kepada Nabi n.
Pada ucapan “Dan sungguh dunia dan akhirat adalah sebagian kebaikanmu”, mengandung syirik dalam rububiyah, karena kepemilikan keduanya di tangan Allah I.
Dan pada ucapan “Di antara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfuzh dan pena penulis takdir”, mengandung syirik dalam sifat Allah I yaitu sifat ilmu pada perkara itu, karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui hal itu.

Kesalahan Memahami Makna Syirik
Kesalahan-kesalahan dalam memahami makna syirik di antaranya:
1. Aliran Mu’tazilah memahami bahwa meyakini sifat-sifat Allah I yang banyak itu syirik, karena menurut mereka sifat-sifat yang banyak itu berarti banyaknya yang disifati. Pemahaman ini jelas keliru, karena satu hal yang sangat wajar sesuatu memiliki sifat lebih dari satu.
2. Memahami bahwa syirik itu hanya dalam rububiyah, oleh karenanya sebagian orang berbuat syirik dalam hal uluhiyah dan bertauhid dalam hal rububiyah.
3. Meyakini bahwa syirik terbatas pada peribadatan kepada berhala.
4. Memahami syirik dalam istilah syariat dengan makna iri atau dengki.

Sumber bacaan:
1.    Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq (catatan kaki) Asy-Syaikh Al-Albani hal. 31-32
2.    Kasyfusy Syubuhat dengan syarah Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 35 dan 96.
3.    Al-Qawa’id Al-Mutsla hal. 25
4.    Firaq Mu’ashirah hal. 1032
5.    Al-Qaulul Mufid hal. 11

Lahirnya Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Di tengah kondisi masyarakat jahiliyah yang diwarnai dengan paganisme dan kemaksiatan, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah, lahirlah Rasulullah r. Beliau r yang berada di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah, lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya, Abdullah bin ‘Abdul Muththalib meninggal ketika Rasulullah r berada dalam rahim ibunya, Aminah bintu Wahb. Kelahiran ini disambut dengan sukacita oleh kakeknya, ‘Abdul Mutthalib, yang kemudian memberinya nama Muhammad, suatu nama yang pada waktu itu belum dikenal di kalangan Arab.
Sebagaimana adat di kalangan bangsa Arab, Aminah bintu Wahb mencari ibu susuan bagi putranya yang baru lahir. Wanita pertama yang menjadi ibu susu Rasulullah r adalah Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab. Kemudian bersama Halimah bintu Al-Harits As-Sa’diyyah, ibu susunya setelah Tsuwaibah, dan Al-Harits bin Abdil ‘Uzza, suami Halimah, beliau tinggal di tengah-tengah Bani Sa’d. Dengan hadirnya Rasulullah r di tengah keluarga Al-Harits, Allah I menurunkan limpahan barakah-Nya kepada keluarga ini.
Saat Rasulullah r –yang waktu itu masih berusia kanak-kanak– berada di tengah Bani Sa’d, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau oleh dua malaikat. Dikeluarkan dari dalam hati beliau gumpalan darah hitam, kemudian hati itu dicuci dan dituangkan ke dalamnya ketenangan, serta diberikan kepada beliau tanda kenabian. Peristiwa ini mengantarkan Rasulullah r kembali dalam asuhan ibunya.
Tak lama beliau menikmati kebersamaan itu, Aminah meninggal dunia karena sakit di Abwa` dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Madinah, setelah mengajak putranya berkunjung pada keluarga ayahnya dari Bani ‘Adi bin An-Najjar. Saat itu, usia beliau baru menginjak enam tahun. Maka berpindahlah asuhan pada kakek beliau Abdul Muththalib bin Hisyam yang amat sangat mencintai cucunya ini.
Akan tetapi, asuhan yang penuh kasih sayang itu juga tidak berlangsung lama, karena Abdul Mutthalib meninggal dunia ketika Rasulullah r berusia delapan tahun. Kini Rasulullah r berada dalam asuhan Abu Thalib bin Abdul Mutthalib, saudara kandung ayah beliau. Abu Thalib sangat mengasihi dan mengutamakan beliau r melebihi anak-anaknya sendiri.
Tatkala berusia dua belas tahun, Rasulullah r turut dalam rombongan Abu Thalib beserta beberapa orang Quraisy untuk berdagang ke Syam. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu dengan pendeta yang bernama Bahira. Pendeta inilah yang mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad r kelak akan menjadi seorang nabi. Dia mengetahui hal ini dari sifat-sifat beliau r yang dia kenali sebagai tanda-tanda kenabian. Bahira menyarankan agar tidak membawa Rasulullah r ke Syam, karena khawatir orang-orang Yahudi akan menimpakan bahaya kepada beliau apabila mengetahui di antara rombongan itu ada seseorang yang kelak akan diangkat sebagai nabi.
Ketika usia beliau mencapai dua puluh lima tahun, beliau pergi ke Syam membawa barang-barang perdagangan Khadijah bintu Khuwailid. Perjalanan beliau disertai oleh pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Selama bersama Rasulullah r, Maisarah terkesan dengan sifat-sifat beliau yang mulia serta kejujurannya. Maka diceritakanlah semua yang dilihat pada diri beliau kepada Khadijah yang juga tercengang dengan keuntungan perniagaan yang melimpah yang dibawa oleh Rasulullah r. Tergeraklah hati wanita yang mulia ini untuk menikah dengan beliau. Rasulullah r menerima tawaran tersebut dan meminang Khadijah melalui paman-paman beliau. Dari pernikahan ini Allah I mengaruniai anak-anak, Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Namun di antara putra-putri beliau hanya anak-anak perempuan beliau saja yang mencapai usia dewasa.
Dengan sifatnya yang mulia, beliau mendapatkan gelar Al-Amin (yang terpercaya). Oleh karena itulah para pemuka Quraisy mempercayai beliau untuk menjadi penengah ketika mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula saat melakukan renovasi Ka’bah. Maka beliau meminta sebuah kain dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta masing-masing pemuka kabilah untuk memegang ujung-ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama, kemudian beliau letakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula dengan tangan beliau.
Dengan penjagaan Allah I, di kalangan kaumnya Rasulullah r menjadi orang yang paling utama kesantunannya, paling baik akhlaknya, paling mulia pergaulannya, paling besar kesabarannya, paling benar perkataannya, dan paling menjaga amanah yang dibebankan. Berbeda dengan kondisi kaumnya, Rasulullah r sangat membenci penyembahan berhala. Bahkan tidak ada yang lebih beliau benci daripada hal ini. Beliau senang mengasingkan diri ke Gua Hira`. Di sana beliau merenungkan keadaan manusia yang diselimuti kegelapan jahiliyah yang tidak akan diterima oleh akal dan fitrah yang selamat. Hal ini menjadi kebiasaan beliau hingga suatu saat nanti Allah I mengutus Jibril u menemui beliau di gua itu untuk menyampaikan wahyu.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Sumber bacaan:
1.    Ar-Rahiqul Makhtum, karya Asy-Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
2.    Mukhtashar Sirah Ar-Rasul, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab
3.    Shahihus Sirah An-Nabawiyah, karya Asy-Syaikh Ibrahim Al-’Ali

Rihlah untuk Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu terkadang harus melakukan perjalanan yang jauh (rihlah) ke daerah lain. Bahkan tak jarang dilakukan lintas negara. Demikian para salaf melakukannya demi satu atau dua hadits. Bagaimana dengan kita?

Dalam kitab Hilyah Thalibul Ilmi (hal. 51) disebutkan, seseorang tidak pantas dikunjungi para penuntut ilmu untuk diambil ilmunya, jika orang tersebut dahulu tidak melakukan perjalanan untuk mencari guru dan mengambil ilmu darinya. Karena para ulama yang dikunjungi telah melewatkan waktunya dalam belajar dan mengajar, memiliki faedah-faedah ilmiah dan pengalaman atau yang semacamnya yang jarang diperoleh dari perut-perut buku.
Oleh karenanya para ulama terdahulu hampir semuanya melakukan rihlah dari satu negeri ke negeri yang lain, menyusuri lembah, mendaki gunung, menyeberangi lautan, dan membelah padang pasir untuk menuntut ilmu meski dengan bekal yang sangat minim.
Salah satu dari mereka adalah Abdullah bin Al-Mubarak. Al-Imam Ahmad mengisahkan, di masa Abdullah tidak ada yang lebih semangat menuntut ilmu daripadanya. Ia merantau ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah dan ke Kufah (keduanya masuk dalam wilayah Irak, red.). Beliau termasuk para perawi ilmu dan ahli untuk itu (Qawa’id Fitta’amul Ma’al ‘Ulama, hal. 34)
Seorang tabi’in, Sa’id bin Al-Musayyib berkata: “Sungguh aku dulu melakukan safar berhari-hari dalam mencari satu hadits.” Asy-Sya’bi mengatakan: “Kalau seandainya seorang melakukan safar dari ujung Syam (ujung jazirah Arab, red.) sampai ke ujung Yaman lalu mendengar satu kata yang bermanfaat baginya di masa yang akan datang dalam urusannya, saya berpendapat safarnya tidak sia-sia.” (Adab Syar’iyyah, 2/55)
Sebelum mereka, para shahabat juga telah mencontohkan yang demikian ini. Jabir bin Abdillah menceritakan: “Sampai kepadaku sebuah hadits yang berasal dari seseorang yang mendengar langsung dari Nabi r. Maka aku beli seekor unta, lalu aku persiapkan perjalanan, kemudian aku jalani perjalanan selama satu bulan sehingga aku sampai di negeri Syam (sekarang mencakup Palestina, Yordania, Syiria, dan sekitarnya, red.).
Maka aku dapati di sana Abdullah bin Unais, lantas aku katakan kepada penjaga pintu: “Katakan kepadanya bahwa Jabir ada di depan pintu.” Dia menjawab: “Bin (anak) Abdullah?” Jabir jawab: “Ya.” Lalu Abdullah bin Unais keluar dan memelukku, maka kukatakan: “Ada sebuah hadits sampai kepadaku dari seseorang kemudian darimu bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah r. Aku khawatir kalau aku atau kamu meninggal sebelum aku mendengarnya langsung darimu.”  Kemudian Abdullah bin Unais berkata: Aku mendengar Rasulullah r bersabda: “Allah mengumpulkan hamba-hamba –atau manusia– pada hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak disunat dan buhman. Kami bertanya: “Apa makna buhman?” Beliau menjawab: “Tidak membawa apapun. Lalu Allah menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh –saya menyangka beliau mengatakan: sebagaimana mendengarnya yang dekat– Akulah raja, tidak pantas seorang dari penduduk jannah (surga) masuk jannah padahal masih ada penduduk neraka yang menuntut dari dirinya sebuah kedzaliman. Dan tidak pantas seorang ahli neraka masuk neraka sedang salah seorang dari penduduk jannah menuntutnya sebuah kedzaliman.” Maka kukatakan: “Bagaimana? Padahal kita datang kepada Allah dalam keadaan telanjang dan tidak membawa apapun?” Beliau menjawab: “Dengan kebaikan dan kejelekan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 746 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad hal. 371-372 no. 746 dan lihat Fathul Bari, 1/173-174)
Wallahu a’lam.

Hal-hal yang Membantu dalam Menuntut Ilmu

Ada beberapa hal yang seyogyanya seorang penuntut ilmu menghiasi diri dengannya, karena hal itu akan membantu dia dalam mancari ilmu atau mengokohkan ilmunya. Di antaranya:
1.    Bertakwa kepada Allah.
Dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan untuk kalian furqan (pembeda).” (Al-Anfal: 29)
Dijelaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin, Allah I akan menjadikan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian gunakan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, manfaat dan mudharat. Dan ilmu termasuk di dalamnya, di mana Allah I akan membukakan untuk seseorang ilmu-ilmu yang tidak dibukakan bagi selainnya. Karena dengan bertakwa akan diperoleh petunjuk, tambahan ilmu, dan tambahan hafalan. (Abdullah bin Mas’ud z mengatakan: “Belajarlah, barangsiapa telah berilmu maka hendaknya beramal.” Beliau juga berkata: “Sungguh aku menyangka bahwa seseorang akan lupa ilmunya dengan sebab dosa yang dia lakukan.”) (Adab Syar’iyyah, 2/41, red.)
2.    Memulai dengan yang lebih penting.
Hal ini disebabkan karena terbatasnya kesempatan dan kemampuan, sementara ilmu yang akan dituntut sangat banyak. Dan sungguh bagus ucapan seorang penyair:
Ilmu itu jika kamu cari sangat banyak
Sedang umur untuk mendapatkannya terlalu pendek.
Maka mulailah dengan yang paling penting lalu yang penting.
3.    Sabar dan kontinyu dalam menuntut ilmu.
Yahya bin Abi Katsir Al-Yamani berkata: “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan jasmani yang santai.” (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat Ash-Shalawat Al-Khams, lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi dengan tahqiq Abul Asybal no. 553). Demikian pula sebagian salaf mengatakan: “Ilmu, jika engkau berikan seluruh dirimu untuknya, dia akan memberimu sebagiannya.” Begitulah para ulama terdahulu, mereka tidak mencapai derajat yang mereka capai kecuali dengan kesabaran dan kesinambungan dalam menuntut ilmu. Al-Imam Ahmad ditanya: “Sampai kapan seseorang menulis hadits?” Jawabnya: “Sampai mati.” Beliaupun mengatakan: “Saya menuntut ilmu sampai saya masuk liang kubur.” Ibnul Mubarak ditanya: “Sampai berapa lama kamu akan menulis hadits?” Jawabnya: “Barangkali ada sebuah kata yang aku akan memanfaatkannya dan aku belum mendengarnya sama sekali.” (Qawa’id fi At-Ta’amul ma’al ‘Ulama` hal. 33). Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Kita akan belajar terus selama kita mendapati ada yang mengajari kita.” (Adab Syar’iyyah, 2/63)
4.    Menulis, yakni menulis ilmu yang diperoleh baik dalam kajian atau dari bacaan atau yang lain. Dan jangan menerima ilmu hanya sepintas lalu karena hal ini akan menghilangkan ilmu yang didapat.

“Ikatlah ilmu dengan menulis. (HR. Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Taqyidul Ilmi dan Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi no. 395 dari Anas bin Malik dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam footnote Kitabul ‘Ilmi karya Ibnu Abi Khaitsamah no. 55).
Dalam bait syair dikatakan:
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Termasuk dari kebodohan bila engkau berburu kijang
lalu kau tinggalkan lepas di antara manusia.
(Kitabul ‘Ilmi, Ibn ‘Utsaimin hal. 63)
5.    Menjaga ilmu, di antaranya dengan menjaga catatan. Oleh karena itu, semestinya seseorang menulis ilmu tersebut pada buku catatan yang layak, bukan sembarang kertas, sehingga hal ini akan membantu dia untuk menjaganya. Atau menjaga ilmu tersebut dengan menghafalnya sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu maupun sekarang, di antara mereka adalah Al-Hasan bin ‘Ali, katanya:

“Saya hafal dari Nabi r sabdanya: Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa`i, dan At-Tirmidzi mengatakan, hadits ini hasan shahih)
6.    Mulazamah, yakni berguru kepada seorang ulama dan bersamanya dalam waktu yang lama.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menjelaskan: “Wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk memohon pertolongan kepada Allah I kemudian minta bantuan kepada para ulama dan memanfaatkan apa yang telah mereka tulis. Karena kalau hanya dengan membaca dan menelaah akan membutuhkan waktu yang banyak. Ini berbeda ketika duduk dengan seorang yang alim yang bisa menerangkan kepadanya dan menunjuki jalannya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu tidak akan didapat kecuali dari seorang guru, akan tetapi cara yang paling baik adalah mengambil ilmu dari para guru.”
(Lihat Kitabul ‘Ilmi, hal. 57-64 tentang perincian lain dari point-point di atas).

Hal-hal yang Mesti Dihindari dalam Menuntut Ilmu

Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu, karena perkara-perkara tersebut ibarat penyakit ganas yang menjangkiti seorang pasien. Jika tidak menghindarinya, maka ia akan binasa.
1.    Hasad, yaitu membenci apa yang Allah karuniakan atas seorang hamba.
Hampir tidak seorangpun yang lepas dari sifat ini. Jika sifat ini melekat pada seseorang, diwajibkan atas manusia untuk tidak berbuat jahat kepadanya dengan perkataan ataupun perbuatan.
2.    Berfatwa tanpa ilmu.
Berfatwa adalah kedudukan yang agung. Oleh karenanya, tidak boleh sembarangan dilakukan kecuali oleh pribadi yang benar-benar pantas. Al-Imam Ahmad berkata: “Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia ia telah membawa urusan yang besar. Semestinya orang yang berfatwa mengetahui pendapat-pendapat ulama yang terdahulu. Kalau tidak, jangan berfatwa. Barangsiapa berbicara pada sesuatu yang dia tidak memiliki sandaran (dalil) atas hal tersebut, saya khawatir dia akan salah.” Abdurrahman bin Abi Laila mengatakan: “Saya mendapati 120 orang Anshar dari para shahabat Nabi r. Tidak seorangpun dari mereka menyebutkan sebuah hadits kecuali ia berharap seandainya shahabat yang lain telah mencukupi. Dan tidaklah mereka dimintai fatwa tentang sesuatu kecuali ia berharap bahwa shahabat yang lain telah mencukupinya dalam berfatwa.” (Adab Syar’iyyah, 2/63-64)
3.    Sombong. Nabi bersabda:

“…Tidak akan masuk jannah (surga) siapa yang terdapat dalam hatinya seberat dzarrah (atom) dari kesombongan.” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah bagaimana dengan seseorang yang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus?” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Shahih, HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud z)
4.    Ta’ashub, yaitu fanatik baik kepada golongan, guru, kelompok, organisasi tertentu, syi’ar, tertentu atau yang semacamnya. Karena hal ini adalah syiar atau ciri khas ahlul bid’ah yang menyimpang dari jalan Nabi r, yang merupakan sifat yang tercela, apalagi pada seorang penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu syar’i semestinya menjadikan ittiba’ kepada Nabi r sebagai syi’ar yang selalu ia junjung tinggi. Ia jadikan syi’ar itu sebagai landasannya dalam ber-wala‘ (loyalitas) dan ber-bara‘ (berlepas diri).
5.    Tashaddur, yaitu tampil sebelum waktunya, karena ini menunjukkan kebanggaannya pada diri sendiri, dan ketidaktahuannya pada banyak permasalahan. Ini akan mengakibatkan dia terjerumus kepada dosa yang besar yaitu berkata tentang agama Allah I tanpa ilmu yaitu mengatakan sebuah hukum dengan mengatasnamakan ini adalah hukum Allah I tanpa dilandasi ilmu yang benar dan akan membawa dia kepada sifat sombong.
6.    Ber-su‘uzhan (buruk sangka) kepada yang lain, baik temannya sendiri lebih-lebih gurunya.

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah oleh kalian banyak sangkaan.” (Al-Hujurat: 12)
(Lihat Kitabul ‘Ilmi, hal. 71-83)

Ilmu yang Bermanfaat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Ilmu yang dianugerahkan Allah I kepada hamba-Nya ada yang memberikan manfaat, ada pula yang tidak. Di sisi lain, ada pula ilmu yang pada asalnya sama sekali tidak memberikan manfaat, sehingga manusia harus menjauhinya.

Allah I telah menyebut ilmu dalam Kitab-Nya Al Qur`an terkadang dengan memujinya seperti dalam firman-Nya:
“Katakanlah, adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az -Zumar: 9)

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu. Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Ali ‘Imran: 13)
Terkadang Allah I menyebutnya dengan celaan. Ilmu yang Allah I puji itu adalah ilmu yang bermanfaat dan yang Allah I cela adalah ilmu yang asalnya tidak bermanfaat, atau bisa jadi pada asalnya bermanfaat, tapi orang yang dikaruniainya tidak bisa mengambil manfaat darinya. Sebagaimana Allah I beritakan tentang sebuah kaum yang Allah I beri ilmu namun ilmu itu tidak memberi mereka manfaat. Allah I berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami. Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (hingga dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Al-A’raf: 175)
Ayat ini menjelaskan, ilmu itu sesungguhnya bermanfaat akan tetapi orang yang dikaruniainya tidak bisa memanfaatkannya. Adapun ilmu yang pada dasarnya dicela oleh Allah I adalah seperti tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 102 dan Surat Ar-Rum ayat 7.
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan pada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari dua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat kepada seorangpun dengan sihirnya kecuali atas izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukar kitab Allah dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menukar dirinya dengan sihir kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)

“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang kehidupan akhirat.” (Ar-Rum: 7)
Karena ilmu itu ada yang terpuji yaitu yang bermanfaat dan ada yang tercela yaitu yang tidak bermanfaat, maka kita dianjurkan untuk memohon kepada Allah I ilmu yang bermanfaat dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat. (Fadhl ‘Ilmis Salaf hal. 11-13)

Ilmu yang Bermanfaat
Ibnu Rajab Al-Hanbali t menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau mengatakan, pokok segala ilmu adalah mengenal Allah I yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu berilmu tentang hukum-hukum Allah I, apa yang dicintai dan diridhai-Nya dari perbuatan, perkataan, keadaan atau keyakinan hamba.
Orang yang mewujudkan dua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ia, dengan itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang puas dan doa yang mustajab. Sebaliknya yang tidak mewujudkan dua ilmu yang bermanfaat itu, ia akan terjatuh ke dalam empat perkara yang Nabi r berlindung darinya. Bahkan ilmunya menjadi bencana buatnya, ia tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Allah I, jiwanya tidak merasa puas dengan dunia, bahkan semakin berambisi terhadapnya. Doanya pun tidak didengar oleh Allah I karena ia tidak merealisasikan perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan dan apa yang dibenci-Nya.
Lebih-lebih apabila ilmu tersebut bukan diambil dari Al Qur‘an dan As Sunnah, maka ilmu itu tidak bermanfaat atau tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang terjadi, kejelekannya lebih besar dari manfaatnya.
Ibnu Rajab juga menjelaskan, ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits Nabi r serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang berasal dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mempelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan. Kemudian berusaha untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya.
Apa yang telah disebutkan tadi sudah cukup bagi orang yang berakal dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat. (Fadhl ‘Ilmis Salaf ‘Alal Khalaf, hal. 41, 45, 46, 52, 53)
Ilmu yang bermanfaat akan nampak pada seseorang dengan tanda-tandanya, yaitu:
1. Beramal dengannya.
2. Benci bila disanjung, dipuji, atau takabbur atas orang lain.
3. Semakin tawadhu’ ketika ilmunya semakin banyak.
4. Menghindar dari cinta kepemimpinan, ketenaran dan dunia.
5. Menghindar untuk mengaku berilmu.
6. Ber-su’uzhan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnuzhan (baik sangka) kepada orang lain dalam rangka menghindari celaan kepada orang lain. (Lihat Fadhl ‘Ilmis Salaf, hal. 56-57 dan Hilyah Thalibil ‘Ilm, hal. 71)
Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat juga akan nampak tanda-tandanya pada orang yang menyandangnya yaitu:
1.    Tumbuhnya sifat sombong, sangat berambisi dalam dunia dan berlomba-lomba padanya, sombong terhadap ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan perhatian manusia kepadanya.
2.    Mengaku sebagai wali Allah I, atau merasa suci diri.
3.    Tidak mau menerima yang hak dan tunduk kepada kebenaran, dan sombong kepada orang yang mengucapkan kebenaran jika derajatnya di bawahnya dalam pandangan manusia, serta tetap dalam kebatilan.
4.    Menganggap yang lainnya bodoh dan mencela mereka dalam rangka menaikkan derajat dirinya di atas mereka. Bahkan terkadang menilai ulama terdahulu dengan kebodohan, lalai, atau lupa sehingga hal itu menjadikan ia mencintai kelebihan yang dimilikinya dan berburuk sangka kepada ulama yang terdahulu. (Lihat Fadhl ‘Ilmis Salaf, hal. 53, 54, 57, 58)
Wallahu a’lam.

Yang Diniatkan ketika Menuntut Ilmu

Ilmu merupakan ibadah. Sebagian ulama bahkan mengatakan: “Ilmu adalah shalat yang tersembunyi dan ibadah hati.” (Hilyah Thalibul ‘Ilm, hal. 9)
Maka tentunya dibutuhkan keikhlasan dalam menuntutnya, yakni benar-benar karena Allah I, bukan karena kepentingan dunia. Allah I berfirman:

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)
Nabi r juga bersabda:

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah I (ilmu syariat, -pent.), ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau jannah (surga) pada hari kiamat.” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Lihat Shahihul Jami’ no. 6159)
Juga hendaknya ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya karena bodoh itu sifat tercela, lebih-lebih menurut agama. Oleh karenanya, Nabi Musa u berlindung kepada Allah I dari kebodohan, katanya:

“Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (Al-Baqarah: 67)
Demikian pula Nabi Yusuf u berlindung kepada Allah I dari kebodohan. Allah I juga menasehatkan hal ini kepada Nabi Nuh u:

“…Sesungguhnya Aku memperingatkanmu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46)
Sebaliknya, ilmu syariat adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan. Maka tentu saja, niat untuk berilmu dan menghindari kebodohan adalah niat yang baik.

Al-Imam Ahmad t pernah ditanya oleh muridnya yang bernama Al-Muhanna. Katanya: “Apakah amalan yang terbaik?” Jawab Al-Imam Ahmad: “Menuntut ilmu.” Aku katakan: “Untuk siapa keutamaan ini?” Jawabnya: “Bagi yang niatnya benar.” Aku katakan: “Bagaimana niat yang benar?” Jawabnya: “Berniat untuk ber-tawadhu’ padanya dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.” Dalam riwayat lain: “Juga dari umatnya.” (Adab Syar’iyyah, 2/38 dan Kitabul ‘Ilmi, Ibnu ‘Utsaimin hal. 27)
Termasuk niat yang baik adalah untuk membela syariat. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menjelaskan, hendaknya penuntut ilmu berniat mencari ilmu untuk membela syariat. Karena membela syariat tidak mungkin dilakukan kecuali oleh para pembawa syariat itu. Ilmu itu persis seperti senjata, … dan sesungguhnya bid’ah baru akan terus muncul sehingga terkadang sebuah bid’ah tidak muncul di jaman terdahulu dan tidak terdapat dalam buku-buku. Sehingga tidak mungkin membela syariat ini kecuali seorang penuntut ilmu. (Kitabul ‘Ilmi, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 28)
Wallahu a’lam.