Menaruh Kepercayaan Terhadap Ulama

Banyak orang yang tidak percaya lagi dengan ulama. Mereka menganggap ulama sebagai orang yang tidak tahu realitas sosial.

Permasalahan ini perlu dikaji karena tidak sedikit orang-orang yang hanya terdorong ghirah dan semangat keagamaan yang tinggi namun tidak terdidik di atas ilmu yang mapan dan di bawah bimbingan Ahlussunnah, menyangsikan fatwa para ulama dan nasehatnya di saat tidak sesuai dengan keinginan mereka. Dalam pandangan mereka, para ulama tidak mengetahui realita, tidak mengerti makar-makar musuh, ilmu mereka hanya sebatas haid dan nifas atau masalah thaharah (bersuci). Sedang mereka merasa lebih tahu realita sehingga merasa lebih berhak berfatwa dan dianggap ucapannya.

Komentar orang-orang semacam ini di samping mengandung celaan terhadap para ulama yang jelas terlarang dalam agama -apapun alasannya-,  juga menyelisihi aturan agama. Karena ayat, hadits, dan uraian para ulama yang lalu dalam hal perintah atau anjuran rujuk kepada para ulama menyiratkan makna kepercayaan kepada mereka dalam urusan-urusan ini.Sangat naif jika tidak percaya kepada orang yang telah dipercaya Allah subhanahu wa ta’ala serta Rasul-Nya.

Ada sebuah kisah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang barangkali dari situ kita bisa mengambil ‘ibrah. Saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan antara kaum muslimin dengan musyrikin Quraisy di antaranya kaum muslimin harus menangguhkan keinginan umrah pada tahun itu, tidak sedikit dari shahabat merasa keberatan dengan perjanjian itu dan menampakkan ketidaksetujuannya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyepakati perjanjian tersebut.

Para shahabat itu menilai ada diskriminasi dari pihak musuh sehingga merasa keberatan meski akhirnya mau menerima. Di antara shahabat itu adalah Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, orang terbaik setelah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Dan ternyata keputusan Nabi itu membawa manfaat sangat banyak di kemudian hari dan membawa kerugian besar bagi musyrikin, sehingga mereka sendirilah yang mengkhianatinya.

Kenyataan itu menyampaikan Umar bin Al-Khaththab -setelah taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala– untuk menyesali perbuatannya dan mengatakan: “Wahai manusia, ragulah terhadap pendapat akal dalam masalah agama, sungguh aku telah melihat diriku pernah membantah keputusan Nabi dengan pendapatku karena ijtihad. Demi Allah, saya tidak akan pergi dari kebenaran, dan kejadian itu pada pagi hari Abi Jandal, yakni perjanjian Hudaibiyyah.” (Marwiyat Ghazwah Hudaibiyyah hal. 301)

Perhatikan kisah ini, bagaimana Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mesti menundukkan penilaian-penilaian pribadi di hadapan keputusan agama. Tidak heran bila seorang ulama bernama Abu Bakar Ath-Turthusyi setelah menyebutkan hadits, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan dicabut dari hati-hati manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan meninggalnya para ulama sehingga tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, maka mereka akan ditanya sehingga berfatwa tanpa ilmu akhirnya sesat dan menyesatkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Beliau menyatakan, “Perhatikan hadits ini! Hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan tertimpa musibah disebabkan ulama mereka sama sekali, akan tetapi sebabnya jika ulama mereka meninggal, akhirnya yang bukan ulama berfatwa…

Dari situlah berawalnya musibah.” (Al-Ba’its hal. 179)

Rabi’ah bin Abdurrahman, guru Al-Imam Malik, ketika melihat tanda-tanda itu di masanya beliau menangis tersedu-sedu. Maka Al-Imam Malik bertanya, “Apa yang menjadikanmu menangis. Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Beliau menjawab, “Tidak. Tapi karena orang-orang yang tidak berilmu telah dimintai fatwa dan muncullah perkara besar dalam Islam.” (Al-Ba’its hal. 179)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Rujuk Kepada Ulama adalah Jalan Keluar dari Fitnah

Fitnah atau ujian senantiasa hadir dalam perjalanan hidup manusia. Fitnah akan semakin besar ketika manusia jauh dari agamanya. Kembali kepada ulama sebagai orang yang paling mengerti hukum-hukum Allah dan yang paling takut kepada-Nya merupakan jalan yang mesti ditempuh bila ingin keluar dari lingkaran fitnah.

Fitnah adalah sebuah ungkapan yang sangat ditakuti oleh segenap manusia. Hampir-hampir tak seorang pun kecuali akan berusaha menghindarinya.
Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan tabiat manusia ingin selalu terhindar dari hal-hal yang menakutkan atau membahayakan.

Lebih dari itu, dalam pandangan syariat Islam, secara umum fitnah adalah sesuatu yang harus dihindari. Oleh karenanya, ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak mewanti-wanti kita dari fitnah sehingga tidak sedikit dari para ulama menulis buku khusus atau meletakkan bab khusus dalam buku-buku mereka, menjelaskan perkara fitnah baik dari sisi makna atau bentuk dan gambarannya, atau sikap yang mesti diambil saat menghadapi fitnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu.” (al-Anfal: 25)

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

“Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Zaman-zaman akan saling berdekatan, amalan akan berkurang, sifat pelit akan diberikan, fitnah dan haraj akan banyak.” Para shahabat berkata, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan.”

Demikian pula Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma menceritakan apa yang beliau alami dari peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap fitnah,  “Kami dahulu duduk-duduk bersama Nabi, maka beliau menyebut fitnah dan berulang kali menyebutnya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 42431)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan, “Segeralah beramal, karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap, seorang di waktu pagi sebagai mukmin dan masuk sore menjadi kafir atau di waktu sore sebagai mukmin, di waktu pagi menjadi kafir, ia menukar agamanya dengan harta benda dunia.” (HR. Muslim)

Demikian mengerikan fitnah-fitnah itu. Karenanya beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang benar-benar dijauhkan dari fitnah-fitnah dan yang diberi cobaan lalu bersabar.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 975) Bahkan dalam lafadz yang lain beliau mengulang-ulang kalimat pertamanya sampai 3 kali.

Makna Fitnah

Apa yang dimaksud dengan fitnah? Apakah berarti tuduhan tanpa bukti sebagaimana makna yang dipahami masyarakat? Untuk mengetahui maksudnya kami akan menukilkan penjelasan salah seorang ulama ahli tafsir Al Qur’an yaitu Asy-Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi. Beliau berkata: “Penelitian Al Qur’an menunjukkan bahwa kata fitnah dalam Al Qur’an jika disebut secara mutlak memiliki 4 makna, yaitu membakar dengan api, cobaan dan ujian, hasil yang jelek dari cobaan, dan hujjah.” (Lihat Adhwa’ul Bayan 6/254-255)

Disebut pula dalam kamus-kamus bahasa Arab bahwa artinya perbedaan-perbedaan pendapat manusia dan kegoncangan pemikiran mereka (Kamus Al-Muhith dan Al-Mu’jam Al-Wasith).

Dari uraian makna fitnah di atas, menjadi jelas gambaran-gambaran fitnah di dunia ini, di antaranya:

Pertama, banyaknya kelompok dan aliran yang menisbatkan diri mereka kepada Islam.

Kedua, pembantaian yang menimpa kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Ketiga, kedzaliman yang dilakukan oleh para umara (penguasa).

Keempat, kesimpangsiuran pendapat dalam perkara-perkara baru yang membutuhkan pembahasan para ulama dan lain-lain.

Dalam menghadapi fitnah-fitnah yang ada, Ahlus Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah itu atau meminimalkannya. Di antara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingan dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.

Mengapa demikian? Kenapa perkara ini tidak diserahkan kepada masing-masing individu saja agar mereka menentukan sikap sendiri-sendiri? Menjawab pertanyaan yang terkadang muncul itu, kita katakan bahwa perkara fitnah bukan perkara biasa, bahkan perkara yang amat berbahaya sebagaimana telah disinggung. Dan tidak setiap orang bisa menyikapinya dengan tepat dan bijak sehingga kita kembalikan kepada para ulama karena beberapa hal.

Pertama, karena fitnah pada awal munculnya tidak ada yang mengetahui kecuali para ulama. Kalau sudah pergi baru orang-orang jahil ikut mengetahuinya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Kedua, menyikapi fitnah sangat diperlukan pertimbangan maslahat (keuntungan) dan mafsadah (kerusakan) yang akan diakibatkan, terutama yang berkaitan erat dengan syariat. Dan yang sangat mengerti dalam masalah ini adalah para ulama. Juga peninjauan perkara itu dilihat dari sekian banyak sisi syariat yang tidak mungkin bagi orang awam bahkan pemula thalibul ilmi (penuntut ilmu agama) untuk memahami perkara yang sifatnya umum dan menyeluruh.
Sehubungan dengan ini Al-Imam An-Nawawi menjelaskan, jika sebuah kemungkaran ada pada masalah-masalah yang pelik baik dari perbuatan atau perkataan dan membutuhkan ijtihad, maka tiada jalan bagi orang awam untuk terlibat di dalamnya. Itu hanya hak para ulama.

Ketiga, bahwa Islam telah memberikan tuntunan-tuntunan yang berkaitan dengan fitnah dan yang mengetahuinya adalah para ulama.

Keempat, Islam memerintahkan dan menganjurkan untuk bertanya kepada ahlu dzikir (ulama) pada permasalahan yang tidak diketahuinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Bertanyalah kepada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Kelima, mengembalikan perkara ini kepada orang-orang awam akan mengakibatkan terpecahnya persatuan kaum muslimin.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menyatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perkara-perkara perdamaian dan peperangan serta urusan-urusan yang sifatnya umum dan menyeluruh kembalinya kepada para umara dan ulama secara khusus. Dan tidak boleh masing-masing individu terlibat dalam masalah ini, karena yang demikian akan mengacaukan urusan dan memecah persatuan serta memberikan peluang kepada orang-orang yang memiliki tujuan jahat yang selalu menanti-nanti bencana untuk kaum muslimin.” (Lihat Qawa’id fitta’amul ma’al ulama’: 120-122)

Keenam, yang mampu menganalisa hakekat akibat dari fitnah adalah para ulama yang benar-benar kokoh dalam berilmu.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Tidak setiap orang yang mengerti fiqh dalam bidang agama mengerti takwil, hakekat yang berakhir padanya sebuah makna. Yang mengetahui perkara ini khusus orang-orang yang kokoh dalam berilmu.” (subhanahu wa ta’ala’lamul Muwaqqi’in 1:332)

Beberapa alasan tersebut sangat cukup untuk menjadi landasan dalam berpijak di atas prinsip ini yaitu merujuk para ulama dalam perkara fitnah. Dan alangkah baiknya kalau kita merenungi beberapa ayat atau hadits yang memerintahkan atau mengandung anjuran untuk melakukan hal ini sebagaimana telah diisyaratkan di atas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Bertanyalah kepada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya, “Bertanyalah kepada ahli ilmu… sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan siapa saja yang tidak mengetahui untuk rujuk kepada mereka dalam seluruh kejadian…” (Taisir al-Karimir Rahman hal. 441)

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

“Dan apabila datang kepada mereka suatu cerita tentang ketentraman atau ketakutan mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang mampu menyimpulkan di antara mereka akan mengetahuinya.” (an-Nisa: 83)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menerangkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, katanya, “Ini adalah teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dari perbuatan yang tidak sepantasnya. Seharusnya jika sampai kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara penting dan maslahat yang bersifat menyeluruh yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum muslimin, atau ketakutan yang mengandung musibah, mereka mengecek dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar, tapi mengembalikan pada Rasul dan kepada Ulil Amri di antara mereka. Yaitu orang-orang yang memiliki pendapat yang baik, ilmu, keinginan yang baik, berakal dan memiliki kebijakan, yang memahami perkara-perkara dan mengetahui maslahat serta mafsadah. Jika mereka (ulil amri dan para ulama) memandang panyebarannya ada maslahat dan memberi semangat kaum mukminin, kebahagiaan dan keselamatan dari musuh, mereka akan melakukannya. Tapi jika mereka memandang tidak ada maslahat atau ada tapi mudharatnya lebih besar, mereka tidak akan menyiarkannya.”

Lalu beliau menyatakan, “Dalam penjelasan ini terkandung sebuah kaedah beradab, yaitu jika ada pembahasan sebuah perkara, hendaknya diserahkan kepada ahlinya (dalam hal ini ulama) dan jangan mendahului mereka. Itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Dan ayat itu mengandung larangan terburu-buru menyebarkan berita saat mendengarnya. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk berfikir sebelum berbicara, bila ada maslahatnya maka dia maju, bila tidak maka menahan diri. (Taisir Al-Karimir Rahman: 198)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Masalah fitnah biasanya juga mengundang kontroversi. Makanya kita mesti mengembalikannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya yakni Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan yang memahami benar-benar hukum yang terkandung di dalamnya adalah para ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah mereka bertanya ketika mereka tidak tahu, sesungguhnya obatnya bodoh itu hanya bertanya…” (HR. Abu Dawud dari Jabir bin Abdillah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no: 4362)

Telah dimaklumi bahwa kita diperintah untuk bertanya kepada Ahlu Dzikr yakni ulama, sebagaimana ayat yang lalu.

Dalam kisah seorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ingin bertaubat disebut di sana: Maka ia ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, lalu ia mendatanginya dan menyatakan bahwa telah membunuh 99 jiwa, bisakah bertaubat? Jawabnya: “Tidak.” Maka dibunuhnya sekalian sehingga genap menjadi 100.

Kemudian ia mencari orang yang paling alim dimuka bumi ini, maka ditunjukkanlah dia kepada seorang ulama lalu ia katakan kepadanya bahwa telah membunuh 100 jiwa apakah bisa bertaubat? Jawabnya: “Ya, apa yang menghalangi antara kamu dengan taubat?” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini nampak jelas perbedaan antara seorang ulama dengan ahli ibadah. Fatwa seorang ulama membawa maslahat, sebaliknya fatwa seorang ahli ibadah tapi tanpa ilmu membawa mafsadah. Oleh karenanya Asy-Sya’bi menyatakan: “Apa yang datang kepadamu dari para shahabat Nabi, ambillah. Dan tinggalkan olehmu Sha’afiqah. Yakni yang tidak berilmu.”(Syarhus Sunnah Baghawi 1/318)

Atas dasar itu, prinsip ini menjadi pilihan para ulama Ahlus Sunnah sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi, “Pilihan kami dalam masalah-masalah yang tidak terdapat padanya riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat dan tabi’in, adalah apa yang dipilih para imam Ahlus Sunnah di berbagai negeri…, dan meninggalkan (membuang) ide serta pendapat orang-orang yang mengaburkan masalah (dan seakan) menghiasinya, yaitu dari kalangan para pendusta.” (Syarh Ushul subhanahu wa ta’ala’tiqad Al Lalika’i: 1/202-323)

Hal ini juga ditegaskan Ibnul Qayyim melalui penjelasannya, “Seorang yang memahami kitab Allah subhanahu wa ta’ala, Sunnah Rasulullah, dan ucapan shahabat dialah yang berhak berijtihad pada perkara nawazil (kejadian atau masalah yang baru). Golongan inilah yang boleh berijtihad dan boleh diminta fatwa.” (subhanahu wa ta’ala’lamul Muwaq’in, 4/212)

Uraian di atas baik dari ayat, hadits serta penjelasan para ulama merupakan dasar yang sangat kuat yang melandasi tegaknya prinsip ini. Maka hendaknya kita berusaha keras untuk tidak bergeser darinya meskipun hanya sejengkal?

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akankah Amalku Diterima?

Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tidak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah subhanahu wa ta’ala murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan.

Dalam mengarungi lautan hidup ini banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah hidup bagi setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil-kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun di antara mereka ada yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

Kerikil dan duri-duri hidup itu demikian banyak dan untuk menyingkirkannya jelas membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut, jika seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah subhanahu wa ta’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada orang yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?
Maka sebelum semua itu terjadi, sekarang kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha untuk menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut.

Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, orang-orang yang saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.” (al-’Ashr: 1-3)

Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan masa, menunjukkan waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shalih dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala. Empat perkara yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab beliau Al-Ushul Ats-Tsalasah dan Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dan melawan hawa nafsu ketika dia memaksa agar kita terjerumus ke dalam kesesatan dan tersandung dengan batu dan duri-duri tersebut di tengah perjalanan.

Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

Mengucapkan “saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya dengan itu kemudian seseorang menjadi sempurna imannya. Ketika seseorang memproklamirkan dirinya beriman, ia memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima. Demikianlah tuntutan dari iman tersebut. Artinya, mengikrarkan keimanan konsekuensinya adalah siap untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai ataupun tidak disukai.

Konsekuensi iman ini banyak macamnya. Kesiapan kita untuk menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah subhanahu wa ta’ala termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala juga konsekuensi iman. Menghamba di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan itu adalah konsekuensi iman. Mengamalkan seluruh syariat Allah subhanahu wa ta’ala itu merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara-perkara ghaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau itu merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang di larang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka itu merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanaan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, mencintai serta membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

الٓمٓ ١  أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (al-’Ankabut: 1-3)

Al-Imam As-Sa’di dalam tafsir ayat ini mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya ada keimanan, tidak dibiarkan berada hanya dalam satu keadaan, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena jika seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya) niscaya tidak akan bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang pura-pura beriman. Dan tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhuma)

Jelasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Artinya, mengucapkan dengan lisan dan beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan di mana konsekuensinya itu adalah amal.

Amal

Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan yang demikian itu di dalam Al-Qur’an,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 133)

Al-Imam As-Sa’di mengatakan dalam tafsirnya halaman 115, “Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga tersebut.”

Maka jelas melalui ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyeru hamba-hamba-Nya agar bersegera menuju amal kebajikan dan bersegera untuk mendapatkan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan agar segera pula  berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. (Lihat Bahjatun Nadzirin, 1/169)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ

“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan.” (al-Baqarah: 148)

Al-Imam As-Sa’di dalam Tafsir-nya hal. 55 mengatakan, “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan. Karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Maka barangsiapa berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

Dalam ayat ini, jelas sekali Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersegeralah kalian menuju amal shalih karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir. Dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan At-Tirmidzi)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya wajibnya kita berpegang dengan agama Allah subhanahu wa ta’ala dan bersegera untuk beramal shalih sebelum datang perkara-perkara yang akan menghalanginya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti  dan ketika berakhir satu fitnah, akan muncul lagi fitnah yang lain. (Lihat Bahjatun Nadzirin, 1/170)

Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shalih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (al-Baqarah: 153)

Kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran, apakah amal kita pasti diterima?

Syarat Diterimanya Amal

Amal yang akan diterima Allah subhanahu wa ta’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal yang demikian itu telah disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri di dalam Kitab-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut

Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari kedua dalil ini sangat jelas bagi kita bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, amal tersebut sesuai dengan Sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau  bersabda,

“Dan barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “Yang penting kan niatnya”. Tidak demikian, harus ada kecocokan amal itu dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau istilah “yang penting niat” adalah benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam)  dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya.

Hal ini akan mengundang banyak pertanyaan, di antaranya apabila seseorang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, apakah perbuatannya bisa dibenarkan? Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.

Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya amalan itu. Oleh karena itulah sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

Masalahnya bukanlah sekedar memperbanyak amal, akan tetapi adalah benar atau tidakkah amal tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا

“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup agar menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (al-Mulk: 2)

Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396)

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah diucapkan Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri.

Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat “Laa ilaaha illallah – Muhammadar rasulullah.” Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Pengantar Redaksi Majalah Islam Syariah Edisi 1

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan panjang, SYARIAH edisi 01 bisa hadir di tangan pembaca. Sebagai media yang baru lahir, kami sadar akan banyaknya kekurangan yang ada. Apalagi kami lahir di tengah puluhan bahkan mungkin ratusan media Islam yang saat ini dibaca umat Islam Indonesia.
Apapun, kami tetap terpacu untuk berupaya menyuguhkan sesuatu yang lain kepada pembaca. Tak lupa, berjalan di atas koridor syariat menjadi prinsip yang selalu kami kedepankan.

Menjadi majalah yang besar dan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat memang menjadi harapan kami. Tapi kami juga tidak ingin menjadi besar dengan mengorbankan syariat demi kelangsungan bisnis semata. Yang terpenting, adalah memberikan dakwah ilmiah yang sesuai Al Qur’an dan As Sunnah kepada pembaca khususnya dan masyarakat umumnya.

Kepada pembaca, doakan agar Syariah bisa terbit rutin dan tampil makin baik. Sebagai majalah yang mengemban misi dakwah bermanhaj salaf, beban yang diemban Syariah memang tidak ringan. Di satu sisi, kami harus selalu memperhatikan rambu-rambu syariat, di sisi lain kami juga dituntut menyajikan bacaan yang mudah diterima pembaca. Ibaratnya, seperti dua kutub yang sulit disatukan.

Tak banyak yang bisa kami janjikan. Fakta akan lebih dipercaya pembaca dari banyaknya janji yang diumbar. Yang jelas, sebisa mungkin kami ingin menampilkan bacaan Islami yang enak dan mudah dibaca. Syariah ingin mengubah imej bahwa Majalah Islam identik dengan bacaan kaku dan berat. Kami ingin Syariah dibaca tanpa harus mengernyitkan dahi berkali-kali.

Akhir kata, kritik dan saran terus kami nantikan. Kritik dan saran pembaca tentu akan menjadi cambuk yang memacu semangat kami, insya Allah.

و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Sebab Hilangnya Agama

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

“Janganlah kalian taklid kepada siapapun dalam perkara agama sehingga bila ia beriman (kamu) ikut beriman dan bila ia kafir (kamu) ikut pula kafir. Jika kamu ingin berteladan, ambillah contoh orang-orang yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah.”

Abdullah bin Ad-Dailami rahimahullah berkata:

“Sebab pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya As-Sunnah (ajaran Nabi). Agama ini akan hilang sunnah demi sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.”

Abdullah bin ‘Athiyah rahimahullah berkata:

“Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama kecuali Allah I akan mencabut dari mereka satu sunnah yang semisalnya. Dan sunnah itu tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat.”

Az-Zuhri rahimahullah berkata:

“Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan segera. Tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia. Sedangkan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya.”

(Diambil dari kitab Lammud Durril Mantsur Minal Qaulil Ma`tsur yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi)