Ilmu Syariat, Kewajiban yang Terlupakan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Namun ilmu yang dimaksud bukan seperti yang kebanyakan dipahami selama ini.

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” Hadits ini sudah sangat sering disebut, baik dalam khutbah-khutbah, majelis-majelis taklim, maupun dalam pelajaran agama Islam di sekolah. Namun sayangnya, hadits ini masih dipahami dengan sangat global. Walhasil, banyak yang mencukupkan kewajiban itu dengan menimba ilmu-ilmu umum seperti matematika, fisika, kimia, biologi, akuntansi, psikologi, dan lain sebagainya.

Definisi Ilmu
Secara etimologis, ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai kenyataannya dengan pengetahuan yang mantap (lihat Kitabul Ilmi, Ibnu ‘Utsaimin dan Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, An-Najdi, hal. 6)
Sedang ilmu dalam terminologi syariat adalah apa yang Allah I turunkan kepada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk (Kitabul Ilmi, hal. 11) atau mengetahui Al-Qur‘an dan As-Sunnah, serta ucapan para shahabat yang menafsirkan keduanya dan mengamalkannya dengan diiringi rasa takut kepada Allah I. (Al-Haqiqatusy Syar’iyyah, hal.  119)

Keutamaan Ilmu Syariat
Ilmu syariat memiliki keutamaan yang banyak di antaranya:
1.    Ilmu adalah warisan para Nabi sebagaimana terdapat dalam hadits:

“…Para ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham akan tetapi mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang cukup.” (Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297)
2.    Allah I mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya:

“…Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al Mujadalah: 11).
Dalam ayat lain:

“…Kami akan mengangkat derajat siapa yang kami kehendaki…” (Yusuf: 76).
Al-Imam Malik berkata: “Dengan ilmu.” (Madarikun Nazhar, hal. 36)
3.    Ilmu akan dimanfaatkan oleh pemiliknya meski telah mati, seperti disebutkan dalam hadits:

“Jika seorang manusia meninggal maka amalannya terputus kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
4.    Ilmu merupakan tanda keinginan baik dari Allah I kepada orang tersebut. Dalam hadits disebutkan:

“…Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (Shahih, HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Mu’awiyah z, lihat Shahih Al-Jami’, no. 6612)
5.    Ilmu akan memudahkan jalan menuju jannah (surga). Dalam hadits disebutkan:

“Barangsiapa yang menelusuri jalan yang ia cari ilmu padanya, maka Allah akan memudahkannya jalan menuju jannah.” (Shahih, HR Muslim)
6.    Orang yang benar-benar takut kepada Allah I adalah orang-orang yang berilmu. Allah I berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)
Dan masih banyak lagi keutamaan ilmu, apa yang tersebut adalah sebagian kecil dari keutamaan ilmu.

Hukum Menuntut Ilmu
Nabi r bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (Shahih, HR Al-Baihaqi dan lainnya dari Anas dan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul Jami’ no. 3913)
Ishaq bin Rahwiyah berkata: “Maknanya yaitu wajib menuntut ilmu pada apa yang dibutuhkan: tentang wudhunya, shalatnya, zakatnya jika dia punya harta, begitu pula haji dan yang lainnya”. (Jami’ Bayanil Ilmi,  1/52)
Kewajiban menuntut ilmu bisa menjadi wajib kifayah jika ada sekelompok orang yang telah mempelajarinya, dan kewajiban itu gugur bagi yang lainnya. Namun bisa juga wajib ‘ain yakni setiap orang dari kaum muslimin harus mempelajarinya, sebagaimana diterangkan Ibnu Abdil Bar: “Ulama telah ber-ijma’ bahwa di antara ilmu itu ada yang fardhu ‘ain, wajib atas setiap orang pada dirinya. Dan ada yang fardhu kifayah, jika telah ada yang melakukannya maka gugur kewajiban itu bagi yang lain di daerah itu.” (Jami Bayanil Ilmi, 1/56-57)
Untuk mengetahui mana yang wajib ‘ain dan mana yang wajib kifayah, maka perlu melihat penjelasan para ulama berikut ini:
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan: “Menuntut ilmu syariat adalah fardhu kifayah jika sebagian orang dalam jumlah cukup telah melakukannya. Maka bagi yang lain hukumnya sunnah… Dan bisa jadi fardhu ‘ain atas seseorang… Patokannya adalah ketika pengetahuan tentang seluk beluk ibadah atau muamalah yang akan segera dilakukan itu tergantung padanya (maka itu fardhu ‘ain untuk dipelajari, red).” (Lihat Kitabul Ilmi, hal.  21-22)
Menurut Al-Imam Ahmad t, ilmu yang wajib (‘ain, red.) untuk dituntut adalah yang akan menegakkan agama seseorang, dan tidak boleh ia menyepelekannya. Beliau lalu ditanya: “Seluruh ilmu itu akan menegakkan agama?” Beliau menjawab: “Yakni kewajiban yang wajib atas dirinya maka wajib ia menuntutnya.” Beliau ditanya: “Seperti apa?” Jawabnya: “Yaitu yang ia tidak boleh bodoh dalam urusan shalatnya, puasanya dan sejenisnya.” (Hasyiyah Ushul Ats-Tsalatsah hal. 10 dan Adab Syar’iyyah, 2/35)
Asy-Syaikh Abdurrahman An-Najdi t mengomentari ucapan Al-Imam Ahmad tersebut, katanya: “Berarti yang wajib atas manusia untuk mengamalkannya adalah dasar-dasar iman, syariat -syariat Islam, perkara yang wajib ditinggalkan berupa hal-hal yang haram, lalu muamalat yang dibutuhkan dan yang lainnya. Sesuatu yang wajib itu tidak sempurna kecuali dengannya, maka hal itu wajib atasnya untuk dipelajari.” (Hasyiyah Ushul Ats-Tsalatsah, hal. 10)
Adapun yang fardhu kifayah, para ulama juga telah menjelaskannya, sebagaimana telah diterangkan Asy-Syaikh Abdurrahman An-Najdi. Katanya: “Lain halnya dengan sesuatu yang lebih dari itu (yakni yang fardhu ‘ain) maka itu termasuk fardhu kifayah jika orang dalam jumlah memadai telah mempelajarinya. Maka dosa (tidak mempelajarinya) gugur bagi yang lain.” (Hasyiyah Ushul Ats-Tsalatsah hal. 10)
Namun demikian, ada hal-hal yang menjadikan menuntut ilmu itu semakin ditekankan. Dijelaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin t: “Kemudian, di sana ada tiga hal yang dengannya tuntutan menuntut ilmu semakin kuat atas manusia:
1.    Adanya bid’ah yang muncul. Hasan bin Tsawab berkata: Ahmad bin Hanbal mengatakan kepadaku: “Aku tak tahu sebuah zaman yang manusia lebih membutuhkan mencari hadits daripada zaman ini.” Maka saya katakan: “Mengapa?” Katanya: “Karena telah muncul bid’ah, sehingga orang yang tidak punya hadits akan terjatuh padanya.” (Adab Syar’iyyah 2/38, red)
2.    Adanya orang-orang yang berani berfatwa tanpa ilmu.
3.    Banyak orang yang berdebat pada masalah yang bisa jadi sudah jelas permasalahannya menurut para ulama, tapi masih ada saja yang berdebat tentangnya dan tanpa ilmu. (Lihat Kitabul Ilmi, hal. 21-22)

Siapakah Ahlussunnah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?

Telah menjadi ciri perjuangan Iblis dan tentara-tentaranya untuk terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah I merupakan tujuan tertinggi mereka.
Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui Iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusaknya, atau minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah I. Iblis mengatakan di hadapan Allah I:

“Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.” (Al-A’raf: 17)
Dalam upaya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan:

“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah r dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai seperti yang digambarkan sebuah sya’ir:
Semua mengaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila tidak mengakui yang demikian itu
Yaitu, tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.
Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka bersimbol dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mereka akan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut bisa jadi merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek di antara mereka.

As-Sunnah
Berbicara tentang As-Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah, padahal bukan. Mendefinisikan As-Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu menurut bahasa, syariat dan menurut generasi pertama, ahlul hadits, ulama ushul fiqih, dan ahli fiqih.

As-Sunnah menurut Bahasa
As-Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), yang baik ataupun yang buruk. Khalid bin Zuhair Al-Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena sunnah yang kamu tempuh
Orang yang pertama ridha terhadap suatu sunnah adalah yang menjalaninya.
Sunnah dalam ucapan tersebut di atas berarti jalan.

As Sunnah menurut Syariat dan Generasi yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah r atau dalam ucapan para shahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau amal, baik hukumnya wajib, sunnah atau mubah.
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (10/341) berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah jika terdapat dalam hadits Rasulullah r, maka yang dimaksud bukanlah sunnah sebagai lawan wajib (apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa, pent.).”
Ibnu ‘Ajlan berkata dalam kitab Dalilul Falihin (1/415) ketika beliau mensyarah hadits fa’alaikum bisunnati (maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku): “Artinya jalan dan langkahku yang aku berjalan di atasnya, berupa apa-apa yang telah aku rincikan kepada kalian berupa hukum-hukum i’tiqad (keyakinan) dan amalan-amalan, baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
Al-Imam Ash-Shan’ani di dalam kitab Subulus Salam (1/187), ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, berkata: “Di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashabta As Sunnah’ (kamu telah menepati sunnah), yaitu jalan yang sesuai dengan syariat.”
Jika meneliti nash-nash yang menyebutkan kata As Sunnah, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah r.” Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih saja sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.

As-Sunnah menurut Ahli Hadits
As-Sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah r baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).

As-Sunnah menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut ahli ushul fiqih, As-Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syariat dan juga dalil-dalilnya.
Al-Amidi dalam kitab Al-Ihkam (1/169) mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah r berupa dalil-dalil syariat, yang bukan dibaca (maksudnya bukan Al-Qur`an, red) dan bukan mu’jizat…”

As-Sunnah Menurut Ulama Fiqih
As Sunnah menurut mereka adalah segala sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah –dengan hanya menyandarkan istilah ahli fiqih–, tidaklah memiliki dalil yang kokoh sedikitpun dan tidak memiliki rujukan. Jika merujuk pada istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika bersandar pada istilah ulama ushul, merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika menggunakan istilah ulama hadits, orang-orang yang mengaku Ahlus Sunnah tidak layak sedikitpun untuk menyandang istilah tersebut.
Barangkali hanya istilah bahasa yang bisa dijadikan ‘dalil’. Itupun, tidak bisa dijadikan hujjah dalam melangkah, terlebih dalam menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.

Ahlus Sunnah dan Ciri-cirinya
Jadi, definisi Ahlus Sunnah seperti dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, adalah yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan apa yang telah disepakati oleh para pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Majmu’ Fatawa, juz 3 hal. 375)
Adapun ciri-ciri Ahlus Sunnah yang menunjukkan hakikat mereka adalah:
q Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah r dan jalan para shahabatnya, yang menyandarkan pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih. Yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah r bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)
q Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah I dan Rasulullah r. Allah I berfirman:

“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)

“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)
q Mereka mendahulukan ucapan Allah I dan Rasul r di atas ucapan selainnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul) di atas ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
q Menghidupkan Sunnah Rasulullah r baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah r bersabda tentang mereka:

“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dan keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.” (Shahih, HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar c)
q Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatik kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah r. Al-Imam Malik t mengatakan: “Setiap orang ucapannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali ucapan Rasulullah r .”
q Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan Sunnah Rasulullah r dan sunnah para shahabatnya.
q  Mereka adalah orang-orang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah I dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan mengingkari kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.
q Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah I dan Rasulullah r.
q Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.
Asy-Syaikh Rabi’ dalam kitab Makanatu Ahlil Hadits (hal. 3-4) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para shahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah r dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mereka mendahulukan keduanya di atas setiap ucapan dan petunjuk, baik yang terkait dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlak, politik, maupun persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah I kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad r. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat, dan takwil orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Murji`ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah I, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat. Dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

Ciri Khas Mereka
Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah r bersabda:

“Berbahagialah orang yang asing itu, (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang jahat yang banyak. Dan orang yang tidak menaati mereka lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 3921)
Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin (3/199-200), berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama manusia. Dia asing dalam berpegangnya terhadap As Sunnah karena manusia berpegang kepada bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan manusia, asing pada shalatnya dikarenakan jeleknya shalat manusia, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan manusia, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah manusia, asing dalam pergaulannya bersama manusia dikarenakan dia bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu manusia.”
Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu di tengah orang-orang jahil, pemegang As Sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah  I dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana sesuatu yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”
Ibnu Rajab t dalam kitab Kasyfu Al-Kurbah Fi Washfi Ahlil Ghurbah (hal. 16-17) mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah r: “Dan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya dari siapapun yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
Mereka adalah orang yang di akhir jaman dalam keadaan asing sebagaimana telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki Sunnah Rasulullah r yang telah dirusak oleh manusia. Merekalah orang-orang yang lari dari fitnah dengan membawa agama mereka. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al-Auza’i t mengatakan tentang sabda Rasulullah r: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing”: “Adapun Islam itu tidak akan pergi, akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji As Sunnah dan menyifatinya dengan asing serta menyifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum Ath-Tha`ifah Al-Manshurah, hal. 103-104)
Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah I berfiman:

“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba`: 13)
Dari pembahasan singkat ini, akan jelas siapa sebenarnya Ahlus Sunnah itu dan siapa-siapa yang hanya mengaku-ngaku Ahlus Sunnah. Benarlah ucapan seorang penyair yang mengatakan:
Semua mengaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila tidak mengakui yang demikian itu
Jadi, Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur`an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.
Wallahu a’lam.

Doa, Mohon Ilmu yang Bermanfaat

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima.”
{HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir dengan sanad yang dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani (lihat Misykatul Mashabih jilid 2 hal.770 no.2498), juga diriwayatkan Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah, dari Ummu Salamah bahwa Nabi r jika masuk waktu pagi mengucapkan doa ini}

“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak merasa puas, dan doa yang tidak didengar.”
(Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya dari shahabat Zaid bin Al-Arqam bahwa Nabi r berdoa dengan doa ini)

Zuhud Terhadap Dunia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ahmad Hamdani)

‘Umar bin Al-Khaththab z mendatangi negeri Syam. Kedatangannya disambut para amir dan pembesar. ‘Umar berkata: “Di mana saudaraku Abu ‘Ubaidah?”
Mereka menjawab: “Ia akan datang kepadamu sekarang juga.”
Tak lama kemudian Abu ‘Ubaidah datang sambil menaiki seekor unta yang hidungnya diikat dengan tali. Ia mengucapkan salam kepada ‘Umar kemudian berkata kepada orang-orang: “Tinggalkanlah kami!”
‘Umar pun berjalan bersama Abu ‘Ubaidah hingga tiba di rumahnya. Ia pun singgah di dalam rumah itu. Ternyata di dalam rumah itu, ‘Umar tidak menjumpai barang apapun kecuali hanya pedang, perisai, dan pelana untuk kuda. Maka ‘Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mengumpulkan harta?”
Abu ‘Ubaidah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya barang-barang inilah yang bisa menyampaikan kami ke tempat peristirahatan (akhirat) dengan selamat.” (Siyar A’lamin Nubala, 1/16)

Abdullah bin Mas’ud z berkata: “Barangsiapa yang menginginkan akhirat, berarti dia akan mengalami kesulitan di dunia. Barangsiapa menghendaki dunia, maka dia akan mengalami kesulitan di akhirat. Wahai sekalian manusia, bersusah payahlah kalian dengan sesuatu yang musnah untuk kebahagiaan yang kekal.” (Siyar A’lamin Nubala, 1/496)

Abu Ad-Darda z berkata: “Aku memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang bercerai-berai.” Ia ditanya: “Bagaimana hati yang bercerai-berai itu?” Abu Ad-Darda menjawab: “Di setiap lembah milikku selalu ada hartanya.” (Siyar A’lamin Nubala, 2/348)