Nabi Adam dikeluarkan dari Jannah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Iblis telah bersumpah akan menghalangi manusia dari jalan Allah. Dengan berbagai cara, ia berusaha menyesatkan manusia. Namun Allah tidak membiarkan manusia begitu saja diperdayakan Iblis.

Bagi keturunan Adam yang terpilih, maka Allah tidak akan menguasakan Iblis atas mereka. Allah I membekalinya dengan senjata yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabbnya.

“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (An-Nahl: 99)
Juga Allah I membantu mereka dalam menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari kejelekan.
Allah I juga mengutus para rasul yang membawa kabar gembira kepada mereka yang beriman kepada Allah I dan menaati-Nya. Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang mendustakan dan berpaling dari Allah dengan berbagai macam hukuman. Allah I menjamin bahwa orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya tidak akan sesat di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat. Tidak merasa takut serta tidak tertimpa perasaan sedih.
Allah I membimbing mereka melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini. Allah I pun menerangkan kepada hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga Allah I membimbing mereka kepada jalan yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar kemampuan mereka. Yaitu, ketika mereka mengeluarkan segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah I, jalan mana saja yang dituju akan mudah bagi mereka.
Setelah itu Allah I sempurnakan nikmat kepada Adam u dengan menciptakan Hawa, istrinya, dari dirinya dan jenisnya. Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan, dan adanya anak keturunan.
Allah I juga memperingatkan Adam dan istrinya untuk berhati-hati dari setan karena sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua. Jangan sampai Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari jannah (surga) Allah I. Ketika itu, Allah mempersilakan mereka makan buah-buahan apa saja yang ada di dalam jannah dan menikmati segala kenikmatan yang ada padanya, kecuali pohon tertentu yang dilarang Allah. Allah I katakan kepada mereka berdua:

“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (Al-A’raf: 19)

“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak telanjang, dan sungguh engkau tidak akan dahaga padanya dan tidak tertimpa panas matahari.” (Thaha: 118-119)
Maka keduanya tinggal di jannah selama dikehendaki Allah I dengan segala kenikmatannya. Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat senangnya Adam di dalamnya dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan: “Wahai Adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di jannah ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak akan rusak?”
Terus menerus ia rayu Adam u. Ia janjikan, ia bisikkan, ia berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya keduanya makan dari pohon terlarang itu.
Maka ketika makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga terlihat auratnya. Akhirnya keduanya cepat-cepat mengambil daun-daun jannah untuk menutupi badan mereka yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka. Seketika itu pula nampak hukuman Allah I atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah I menyeru mereka berdua:

“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian berdua.” (Al-A’raf: 22)
Kemudian Allah tumbuhkan pada hati mereka taubat yang sungguh-sungguh.

“Adam memperoleh beberapa kalimat dari Rabb-nya.” (Al-Baqarah: 37)
Maka keduanya berkata:

“Wahai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23)
Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari jannah jika mereka memakan dari pohon itu, sudah menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan keburukannya, kesenangannya dicampuri dengan kesusahannya.
Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah I pasti akan memberikan cobaan pada keduanya dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal. Allah I ingatkan anak cucu Adam tentang hal itu, firman-Nya:

“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu kalian dari jannah, ia tanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari sesuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Allah I kemudian mengganti pakaian yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi mereka secara lahir.
Juga dengan pakaian yang lebih baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan hiasan dengan segala akhlak yang indah serta menanggalkan segala akhlak yang hina. Dari Adam u dan istrinya, Allah I tebarkan anak turun yang banyak, laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti mereka generasi demi generasi untuk Dia lihat apa yang mereka lakukan.

Faidah yang Dipetik
1.    Allah I jadikan kisah itu sebagai ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong, dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian Iblis membawanya kepada apa yang kita lihat. Demikian juga keinginan kuat Adam u dan istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon larangan Allah. Kalaulah rahmat Allah I tidak segera menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang telah jatuh.
2.    Kisah Adam ini membantah teori evolusi Darwin, bahwasanya manusia berasal dari kera.
3.    Seseorang yang terjatuh dalam per­buatan dosa, agar cepat-cepat bertaubat kepada Allah dan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan Adam dan Hawa, karena Allah menyebutkan kisah tersebut untuk kita teladani.
Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
Taisir Al-Lathifil Mannan, karya Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

Kesamaran yang Mengancam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

An-Nu‘man bin Basyir z berkata: Aku mendengar Rasulullah r bersabda:

An-Nu‘man bin Basyir z berkata: Aku mendengar Rasulullah r bersabda:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara samar (syubhat/tidak jelas halal haramnya) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa berhati-hati dari perkara samar (syubhat) ini, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa jatuh dalam perkara syubhat, berarti ia jatuh dalam keharaman, seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir ia melanggar daerah larangan tersebut. Ketahuilah, setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, daerah larangan Allah adalah perkara-perkara yang Allah haramkan. Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila baik segumpal darah itu maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati1.”
(HR. Al-Bukhari no. 52, 2051 dan Muslim no. 1599)

Seputar Sanad Hadits
Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali t berkata: “Hadits yang disepakati keshahihannya ini diriwayatkan Asy-Sya’bidari An-Nu’man bin Basyir c. Pada sebagian lafadznya ada beberapa tambahan dan pengurangan namun maknanya satu ataupun hampir sama. Hadits ini diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar bin Yasir, Jabir, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas –semoga Allah I meridhai mereka semuanya– , namun hadits An-Nu’man inilah yang shahih di antara hadits-hadits yang lain di dalam bab ini.” (Jami’ul ‘Ulum, 1/193)
Penduduk Madinah, Al-Waqidi dan selainnya mempertanyakan sima‘ (pendengaran) An-Nu‘man2 terhadap hadits ini dari Rasulullah r. Namun Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits ini dengan sanadnya sampai kepada Asy-Sya‘bi, ia berkata:

“Aku mendengar An-Nu’man berkata: “Aku mendengar Rasulullah r bersabda (sambil ia mengisyaratkan dengan dua jarinya ke arah dua telinganya).” Lalu An-Nu’man menyebutkan hadits tersebut.
Dengan riwayat ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar t mengatakan bahwa di sini ada bantahan terhadap pendapat Al-Waqidi dan orang-orang yang mengikutinya yang mereka menyatakan bahwa tidak benar An-Nu‘man mendengar dari Rasulullah r.” (Fathul Bari, 1/158)
Begitu pula Yahya ibnu Ma‘in menetapkan sima‘ An-Nu’man dari Rasulullah r dalam hadits ini. (Tahdzib, 10/400)
Karena hadits ini diriwayatkan dari jalan Zakariya ibnu Abi Zaidah dari Asy-Sya’bi, maka yang dipermasalahkan di sini adalah Zakariya. Ia disifati dengan tadlis3 khususnya dalam riwayatnya dari Asy-Sya‘bi. Sebagaimana dikatakan Abu Zur‘ah, Abu Hatim, dan Abu Dawud bahwasanya Zakariya ini adalah rawi yang shaduq (terpercaya) namun ia biasa melakukan tadlis dalam riwayatnya dari Asy-Sya‘bi. Ad-Daraquthni juga mensifatkannya dengan tadlis. (Hadyus Sari hal. 538, Thabaqatul Mudallisin hal. 31, Tabyinul Asma Al-Mudallisin hal. 82)
Dijawab oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar t: “Tidaklah aku dapatkan periwayatan Zakariya dari Asy-Sya’bi dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya kecuali mu’an’an (periwayatan perawi dengan mengatakan ‘an (dari)).  Kemudian aku dapatkan dalam Fawaid Ibnu Abil Haitsam dari jalan Yazid bin Harun dari Zakariya, ia mengatakan dengan lafadz haddatsana (telah menceritakan kepada kami) Asy-Sya’bi (). Dengan adanya riwayat yang demikian ini, amanlah kita dari kekhawatiran tadlis Zakariya dari Asy-Sya’bi (dalam hadits ini).” (Fathul Bari 1/158)
Sebenarnya dalam riwayat Al-Imam Ahmad t (Musnad Ahmad, 4/270) didapatkan bahwa Zakariya juga secara jelas menyatakan tahdits (ia mendengar langsung dari Asy-Sya‘bi), demikian dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ghayatul Maram (hal. 32).
Perlu kita ketahui pula bahwa Al-Imam Al-Bukhari ataupun Al-Imam Muslim menjauhkan perawi-perawi mudallis dalam periwayatannya, kecuali perawi mudallis itu telah disaring hadits-haditsnya ataupun periwayatannya dengan mutaba’ah (pengikutan) karena ketatnya persyaratan kedua imam tersebut. Oleh karena itu, kita aman dari tadlis Zakariya. Terlebih lagi, terdapat pula mutaba‘ah (pengikutan) dari Abu Farwah dan yang lainnya. Juga dalam riwayat Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya.
Abu ‘Amr Ad-Dani menyatakan bahwa hadits ini tidak ada yang meriwayatkan dari Nabi r kecuali An-Nu‘man bin Basyir. Namun sebelumnya sudah kita paparkan di atas dari perkataan Al-Hafidz Ibnu Rajab bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat-shahabat yang lainnya. Demikian pula Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa kalau yang dimaksud itu dari sisi keshahihannya maka itu bisa diterima (yakni tidak ada yang shahih dari riwayat shahabat yang lain kecuali riwayatnya An-Nu‘man ini). Namun kalau bukan itu yang dimaksud maka sebenarnya hadits ini diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Umar dan ‘Ammar dalam Al-Ausath oleh Al-Imam Ath-Thabrani, Ibnu ‘Abbas dalam Al-Kabir dan dari Watsilah dalam At-Targhib oleh Al-Ashbahani. Namun terdapat kritikan (yang mencacatkan hadits) pada semua sanadnya. (Fathul Bari, 1/158)
Abu ‘Amr Ad-Dani dan selainnya mengatakan bahwa lafadz yang menunjukkan permisalan:

“…seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah larangan…”
adalah mudraj dari Asy-Sya‘bi (sisipan ucapan perawi, bukan sabda Nabi r).
Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar: “Aku tidak mendapatkan bukti dari anggapan demikian, hanya saja didapatkan dari Ibnul Jarud dan Al-Isma’ili dari riwayat Ibnu ‘Aun dari Asy-Sya’bi, adanya perkataan Ibnu ‘Aun pada akhir hadits: “Aku tidak tahu apakah permisalan ini merupakan sabda Nabi r atau perkataan Asy-Sya’bi.”
Kemudian beliau berkata: “Keraguan Ibnu ‘Aun dalam menyandarkan hadits ini kepada Rasulullah r tidaklah memastikan lafadz ini mudraj. Karena mereka yang menetapkan lafadz ini sebagai sabda Nabi telah memastikan bahwa lafadz ini memang diucapkan oleh Nabi r, maka keraguan sebagian mereka tidak mencacatkannya. Begitu pula gugurnya permisalan ini dalam riwayat sebagian rawi seperti riwayat Abu Farwah dari Asy-Sya’bi, tidaklah mencacatkan orang/rawi yang menetapkannya karena mereka semua adalah huffadz (para penghafal hadits, yang terkadang melafadzkan hadits secara sempurna dan dalam keadaan yang lain tidak secara sempurna).” (Fathul Bari, 1/160)

Kandungan Hadits
Di dalam hadits yang agung ini kita pahami bahwa perkara itu terbagi tiga, yaitu halal, haram dan syubhat. Apa yang Allah sebutkan kehalalannya dalam Al Qur`an maka ia halal dengan kehalalan yang jelas seperti firman-Nya:

“Pada hari ini aku halalkan untuk kalian hal-hal yang baik, dan makanan (sembelihan) ahlul kitab itu halal bagimu dan makanan kamu halal pula bagi mereka.” (Al-Maidah: 5)
Dan apa yang Allah sebutkan keharamannya dalam Al Qur`an maka ia haram dengan jelas seperti firman-Nya:

“Diharamkan bagi kalian untuk menikahi ibu-ibu kalian dan putri-putri kalian…” (An-Nisa: 23)
Allah I mengutus Nabi-Nya dan menurunkan kitab-Nya yang di dalamnya telah menjelaskan segala yang diperlukan oleh umat ini berupa yang halal ataupun yang haram. Dia Yang Mahaagung berfirman:

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab sebagai penjelas bagi segala sesuatu…” (An-Nahl: 89)
Mujahid dan selainnya berkata: “Yakni sebagai penjelas bagi segala sesuatu yang diperintahkan kepada mereka dan yang dilarang.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/603)
Allah menyerahkan kepada Nabi-Nya untuk menerangkan kepada umat ini apa yang tidak dipahami dari Al Qur`an sebagaimana firman-Nya:

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz Dzikr agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Halal dan haram ini dikatakan jelas dan gamblang karena tidak butuh penerangan dan setiap orang mengetahuinya.” (Fathul Bari, 4/356)
Sementara di antara dua perkara yang jelas dan gamblang ini ada perkara yang samar bagi kebanyakan orang, tidak jelas halal haramnya bagi mereka, yang dinamakan dengan syubhat.
Syubhat, kata Al-Imam An-Nawawi t, adalah sesuatu yang tidak jelas halalnya ataupun haramnya, karena itu kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Adapun ulama, mereka mengetahui hukumnya dengan nash atau qiyas atau istishaab4 atau dengan selainnya.” (Syarah Muslim, 11/27-28)
Ibnu Daqiqil Ied t berkata: “Syubhat adalah setiap perkara di mana dalil-dalil yang ada dari Al Qur`an dan As Sunnah kelihatannya bertentangan dan maknanya saling tarik menarik. Maka menahan diri darinya merupakan sikap wara’ (kehati-hatian).” (Syarhul Arba’in An-Nawawiyah hal. 29)
Dengan pengertian di atas dapat kita pahami bahwasanya perkara syubhat itu hanya tersamarkan bagi sebagian orang, adapun bagi sebagian yang lainnya tidak tersamarkan. Dan penilaian syubhat itu sendiri bukan pada dzatnya tapi kembali pada pandangan orang yang menilainya, karena Allah I tidaklah meninggalkan sesuatu yang wajib hukumnya melainkan Dia telah menerangkannya dan menegakkan dalil terhadapnya. Hanya saja, mungkin dalil tersebut tersamarkan bagi kebanyakan manusia kecuali orang-orang yang khusus dari kalangan ulama, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau r:

“(ada perkara syubhat) yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
Dari sini dipahami bahwa ada sebagian manusia yang mengetahuinya walaupun jumlahnya sedikit. (‘Aunul Ma‘bud, 9/128, dinukilkan dari Al-Khaththabi secara makna)
Namun dalam keadaan lain, terkadang seorang ulama (mujtahid) juga mendapatkan kesamaran apabila tidak tampak baginya mana yang kuat dari dua dalil yang ada, apakah sisi halalnya ataukah sisi haramnya. (Fathul Bari, 1/158)
Kemudian perkataan Rasulullah r:

“Maka siapa yang berhati-hati dari perkara syubhat ini …”
Ibnu Daqiqil Ied t berkata: “Ulama berselisih tentang syubhat yang disebutkan di atas. Kelompok pertama mengatakan syubhat ini haram berdasarkan sabda beliau:  (berarti ia telah menjaga agamanya dan kehormatannya). Sehingga siapa yang tidak menjaga agamanya dan kehormatannya maka berarti ia jatuh dalam keharaman.
Kelompok yang kedua mengatakan syubhat ini halal dengan dalil sabda beliau:

“seperti seorang penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir ia melanggar daerah larangan tersebut.”
Namun meninggalkan perkara syubhat tersebut walaupun halal termasuk sikap wara’ (kehati-hatian agar tidak jatuh dalam keharaman).
Kelompok yang ketiga mengatakan: Syubhat yang dinyatakan dalam hadits ini tidak bisa kita katakan halal atau haram karena Nabi r sendiri menempatkannya antara halal dan haram, maka sepantasnya kita berdiam diri terhadap perkara syubhat tersebut dan hal ini juga merupakan sikap wara’.” (Syarhul Arba’in hal. 27)
Dan sabda Nabi r:

“Dan siapa yang jatuh dalam perkara syubhat berarti ia jatuh dalam keharaman…”
ditafsirkan dengan dua makna oleh ulama:
Pertama: seseorang melakukan perkara syubhat disertai pengetahuannya hal itu adalah syubhat. Sikap bermudah-mudahnya ini akan membawa dia untuk berani melakukan perkara yang haram.
Kedua: seseorang yang berani dan sering melakukan perkara yang syubhat dalam keadaan ia tidak tahu apakah perkara itu halal ataukah haram. Orang yang demikian ini akan gelap hatinya karena telah hilang darinya cahaya ilmu dan wara’. Orang seperti ini tidak aman untuk jatuh dalam perkara yang diharamkan. (Jami‘ul ‘Ulum, 1/203-204 dan Syarhul Arba’in hal. 29-30)
Dengan demikian orang yang berhati-hati dari syubhat berarti ia telah menyelamatkan agamanya dari kekurangan dan menyelamatkan kehormatannya dari celaan. Karena orang yang dikenal suka mendatangi syubhat, ia tidak akan selamat dari celaan orang lain. Sehingga yang namanya syubhat sepantasnya kita jauhi, karena bila ternyata perkara itu haram maka kita telah melepaskan diri kita dari melakukan perkara tersebut, namun bila ternyata perkara itu halal maka dengan kehendak Allah kita akan diberi pahala karena kita meninggalkan syubhat dalam rangka wara’. (Fathul Bari 1/159, 4/356, Syarah Al-Imam As-Sindi terhadap Sunan Ibni Majah)
Dan sabda beliau r:
“Ketahuilah, setiap raja itu memiliki daerah larangan. Ketahuilah, daerah larangan Allah adalah perkara-perkara yang Allah haramkan.”

Al-Imam An-Nawawi t menerangkan: “Setiap raja dari kalangan Arab dan selain mereka memiliki daerah larangan yang mereka menjaganya dari manusia dan melarang manusia untuk memasukinya. Siapa yang berani masuk ke dalamnya, ia akan diberi hukuman dan siapa yang menjaga dirinya maka dia tidak akan mendekati daerah tersebut karena takut mendapatkan hukuman. Allah I juga memiliki daerah larangan tersebut berupa perkara-perkara yang Dia haramkan seperti membunuh, zina, mencuri, menuduh orang lain berzina, minum khamr, dusta, ghibah, namimah, memakan harta dengan cara batil dan yang semisal itu. Hal ini semua merupakan daerah larangan Allah.
Siapa yang memasukinya dengan melakukan salah satu perkara-perkara tersebut maka ia pantas mendapatkan hukuman, dan siapa yang coba-coba mendekatinya, dikhawatirkan ia akan terjatuh ke dalamnya. Namun siapa yang membentengi dirinya, tidak mendekati perkara tersebut dan tidak bergantung dengan sesuatu yang dapat mendekatkannya, hendaknya dia tidak mendatangi satu perkara syubhat pun.” (Syarah Muslim, 11/28)
Dengan keterangan di atas dan meninjau kenyataan yang ada pada hari ini, maka kita dapati keadaan manusia sangatlah mempri­hatinkan. Jangankan yang syubhat, yang jelas halalnya dan jelas haramnya saja mereka tidak mengetahuinya. Hal ini merupakan musibah yang seharusnya kita mengupayakan untuk menghilangkan musibah itu dan memperbaiki diri dengan mempelajari agama Allah.
Wallahu al-musta‘an.5

Catatan Kaki:

1  Makna qalbu ()  yang sebenarnya adalah jantung. Namun orang-orang Indonesia mengartikannya dengan hati sehingga kami menukil dengan apa yang telah lazim di masyarakat.
2 An-Nu‘man bin Basyir c ini termasuk shahabat yang kecil.
3 Tadlis artinya menyembunyikan aib. Pelakunya dinamakan mudallis.
4 Istishaab adalah menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya, hingga adanya dalil yang menunjukkan adanya perubahan keadaan itu
5 Sengaja kami tidak membicarakan masalah hati karena di sana ada pembahasan tersendiri.

Iman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah keyakinan dengan hati, pengikraran dengan lisan, serta pengamalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan maksiat.
Jadi, iman terdiri dari tiga bagian:
Pertama, keyakinan hati dan amalan hati, yakni keyakinan dan pembenaran terhadap apa yang datang dari Allah I dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah I:

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik.” (Az-Zumar: 33-34)
Adapun amalan hati di antaranya adalah niat yang benar, ikhlas, cinta, tunduk dan semacamnya, terhadap apa yang datang dari Allah I dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah I dalam surat Al-Anfal ayat 2 atau yang lainnya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb merekalah mereka bertawakkal.”
Kedua, ikrar lisan dan amalan lisan. Ikrar lisan yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengakui konsekuensi dari kedua kalimat tersebut. Nabi r bersabda yang artinya: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengatakan La Ilaha illallah dan bahwasanya aku adalah Rasulullah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sedangkan amalan lisan adalah sebuah amalan yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan lisan, seperti membaca Al Qur`an, dzikir, tasbih, tahmid, takbir, doa, istighfar, dan lain-lain. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 29)
Ketiga, amalan anggota badan yaitu sebuah amalan yang tidak terlaksana kecuali dengan anggota badan seperti ruku’, sujud, jihad, haji dan lain-lain. Allah I berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 77-78, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah kebajikan agar kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

Kesalahan Memahami Hakekat Iman
Ada beberapa kelompok yang salah dalam memahami makna iman dari hakekatnya yang terdapat dalam Al Qur‘an dan As Sunnah. Mereka adalah:
1.    Khawarij dan Mu’tazilah, mereka meyakini bahwa iman adalah ucapan, keyakinan, dan amal. Namun menurut mereka iman itu satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi atau bercabang-cabang, tidak bertambah juga tidak berkurang, sehingga jika sebagian iman hilang berarti hilang semua. Karena itu mereka menghukumi orang yang tidak beramal atau orang yang berdosa besar adalah kekal di dalam neraka.
2.    Murji`ah, mereka terdiri dari tiga kelompok:
q Iman adalah hanya yang terdapat dalam hati, yakni pengetahuan hati saja. Ini keyakinan kelompok Jahmiyyah. Kelompok yang lainnya mengatakan, iman adalah juga amalan hati.
q Iman hanya ucapan lisan. Mereka adalah pengikut kelompok Karramiyyah.
q Iman hanya pembenaran dalam hati dan ucapan lisan. Mereka adalah kelompok Murji`atul Fuqaha`.

Sumber bacaan:
Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu karya Asy-Syaikh Abdurrazzaq Al-’Abbad

Hukum Asal Segala Sesuatu Itu Suci bagian 2

Pada edisi yang lalu dibahas beberapa hal yang diperselisihkan kenajisannya oleh para ulama, antara lain: air liur anjing, mani, darah, orang kafir, khamr, dan muntah manusia. Berikut lanjutan pembahasannya.

Daging Babi
Ulama berbeda pendapat dalam menghukumi najis atau tidaknya daging babi. Namun yang rajih (kuat) daging babi ini suci bukan najis. Ini merupakan pendapat Al-Imam Malik dan Dawud Adz-Dhahiri. (Tahqiq fi Ahaditsil Khilaf, 1/70)
Mereka yang mengatakan daging babi najis berdalil dengan firman Allah I dalam surat Al-An‘am ayat 145:
“Katakanlah; Dari apa yang diwahyukan kepadaku, aku tidak mendapatkan sesuatu yang diharamkan untuk memakannya kecuali bila makanan itu berupa bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena dia merupakan rijs atau merupakan sebab kefasikan dan keluar dari ketaatan atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah…”
Rijs dalam ayat di atas mereka maknakan dengan najis. Tapi yang benar maknanya adalah haram, karena memang demikian yang ditunjukkan dalam konteks ayat ini, di mana ayat ini menjelaskan perkara yang diharamkan untuk memakannya, bukan perkara yang najis. Dan sesuatu yang haram tidak berarti ia najis, bahkan terkadang didapati sesuatu yang haram itu suci. Seperti firman Allah I yang menyatakan haramnya menikahi ibu dan yang seterusnya dari ayat ini, sementara seorang ibu tidaklah najis.
Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Tsa‘labah Al-Khasyani yang menunjukkan perintah untuk mencuci bekas bejana ahlul kitab dengan alasan mereka menggunakan bejana tersebut untuk memasak babi dan untuk minum khamr. Dalil mereka ini dijawab bahwa perintah mencuci bejana di sini bukan karena najisnya tapi untuk menghilangkan sisa makanan dan minuman yang diharamkan untuk mengkonsumsinya. Demikian dijelaskan oleh Al-Imam Asy-Syaukani dalam As-Sailul Jarrar (1/38).

Bekas makanan dan minuman hewan
Ibnul Mundzir t berkata: “Seluruh ahlul ilmi yang kami hafal berpandangan bahwa bekas makanan/minuman hewan yang dimakan dagingnya itu suci. Di antara yang kami hafal berpendapat demikian ini Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Ini merupakan pendapat ahlul Madinah dan ashabur ra`yi dari ahlul Kufah” (Al-Ausath 1/313). Bahkan dinukilkan dari beliau adanya ijma’ (kesepakatan) dalam masalah ini.
Adapun hewan yang tidak dimakan dagingnya diperselisihkan oleh ahlul ilmi. Namun kebanyakan mereka, di antaranya Al-Imam Asy-Syafi‘i dan Malik, berpendapat sucinya bekas makanan/ minuman tersebut. Dan pendapat ini yang rajih, dengan alasan bahwasanya secara umum sulit untuk menghindar dari hewan-hewan ini, karena bejana-bejana milik penduduk di pedesaan terbuka sehingga didatangi oleh hewan-hewan liar ini dan minum darinya. Seandainya kita mengharuskan mereka untuk menumpahkan air tersebut dan mewajibkan mereka untuk mencuci bejana bekas jilatan hewan tersebut niscaya hal itu menyulitkan mereka. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/396)
Pendapat ini berpegang dengan hukum asal, karena sesuatu itu dihukumi suci selama tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya (bau, warna, atau rasa).

Pembagian Jenis Air

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin t ketika ditanya tentang pembagian air, beliau menjawab: “Yang rajih, air itu terbagi dua, thahur (suci dan mensucikan –red) dan najis. Air yang berubah karena masuknya benda najis maka air itu najis. Sedangkan air yang tidak berubah dengan masuknya benda najis maka air itu suci.  Adapun menetapkan jenis air yang ketiga, yaitu air yang thahir (suci tapi tidak mensucikan, –red.) maka tidak ada asalnya dalam syariat. Dalil dalam hal ini adalah karena tidak adanya dalil. Kalau memang ada dalam syariat  pembagian air yang thahir, niscaya  akan diketahui dan dipahami dengan hadits-hadits yang menjelaskannya. Karena perkara ini sangat dibutuhkan penjelasannya dan hal ini bukanlah perkara yang remeh, permasalahannya berkaitan dengan pilihan apakah seseorang bisa menggunakan air tersebut untuk bersuci atau tidak, sehingga ia harus tayammum.”  (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/85, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 1/187)

Indahnya Kesucian

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Membersihkan najis ternyata tidak sulit bila tahu ilmunya. Karenanya kita mesti tahu tata cara membersihkan najis seperti yang dituntunkan syariat. Supaya kita tidak berlebih-lebihan dalam membersihkan najis tersebut dan tidak pula meremehkannya.

Membersihkan najis merupakan perkara yang disyariatkan menurut kesepakatan ulama. Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengetahuinya. Padahal perkara ini sangat penting baginya, khususnya berkaitan dengan masalah ibadah yang hendak dia tunaikan kepada Allah I, seperti shalat ataupun ibadah lainnya. Oleh karena itu setelah kami membahas tentang najis, berikut ini kami ingin memaparkan tata cara membersihkan najis tersebut. Mudah-mudahan Allah I memberi taufik.
Asal pembersihan terhadap perkara najis adalah dengan menggunakan air. Allah I berfirman:
“Dia menurunkan kepada kalian air dari langit (hujan) agar Dia mensucikan kalian dengannya…” (Al-Anfal: 11)

“Dan Kami menurunkan air dari langit sebagai pensuci.” (Al-Furqan: 48)
Pembersihan najis dengan air ini dapat berpindah kepada sarana lain, seperti hadits Abu Sa’id Al-Khudri z yang menyebutkan sabda Nabi r tentang cara membersihkan najis pada sandal dengan digosokkan ke tanah atau hadits tentang istijmar (bersuci dengan menggunakan batu). Oleh karena itu, kita lihat pembersihan beberapa perkara najis yang dijelaskan di dalam hadits Rasulullah r.
1. Kencing
Ketika ada seorang a‘rabi (Arab gunung) kencing di salah satu sudut masjid Rasulullah r, para shahabat yang ada di tempat tersebut berteriak mencerca orang tersebut. Namun Rasulullah r melarang mereka berbuat demikian dan setelahnya beliau bersabda:

“Tuangkan di atas kencingnya itu satu timba penuh yang berisi air1…” (HR. Al-Bukhari no. 220, 6128 dan Muslim no. 285)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tanah yang terkena najis dapat disucikan dengan menuangkan air di atasnya dan tidak disyaratkan tanah itu harus digali. Ini merupakan pendapat kami dan jumhur ulama.” (Syarah Muslim, 3/190-191)
Ibnu Daqiqil ‘Ied t menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tanah dapat disucikan dari najis dengan menuangkan air yang banyak tanpa harus memindahkan tanah yang terkena najis ke tempat lain. (Ihkamul Ahkam, 1/83)
Tanah ini bisa disucikan dengan cara tersebut, sama saja baik tanah itu lembek atau padat, demikian dikatakan oleh Al-Imam Ash-Shan’ani. (Subulus Salam, 1/42)
Adapun kalau kencing tersebut mengenai pakaian maka dicuci bagian yang terkena najis sebagaimana mencuci sesuatu yang kotor/ najis. Tidak seperti perbuatan orang-orang Yahudi yang menggunting pakaian mereka bila terkena kencing, sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahih Al-Bukhari (no. 226) dan Shahih Muslim (no. 273).

2. Kotoran Manusia
Rasulullah r bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia membalikkan dan melihat sandalnya. Jika ia melihat ada kotoran manusia padanya, hendaknya digosokkan ke tanah kemudian dipakai untuk shalat.” (HR. Al-Imam Ahmad, 3/20. Hadits ini shahih, kata Asy-Syaikh Muqbil t dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/526)
Dalam hadits di atas Rasulullah r mengajarkan cara membersihkan alas kaki (sandal ataupun sepatu) yang menginjak kotoran yaitu dibersihkan dengan menggosokkannya ke tanah. Ini menunjukkan bahwa tanah itu bisa sebagai pensuci dari najis selain air.
Al-Imam Asy-Syaukani t: “Dzahir hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara berbagai jenis najis, bahkan setiap yang menempel pada sandal yang dianggap sebagai kotoran maka pensuciannya dengan mengusapkannya ke tanah.” (Nailul Authar, 1/76)
Rasulullah r juga mengajarkan cara bersuci dari buang air kecil dan buang air besar selain dengan air, yaitu dengan menggunakan batu yang diistilahkan dengan istijmar, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah z bahwasanya Rasulullah r bersabda:

“Dan siapa yang bersuci dengan menggunakan batu, hendaklah ia mengganjilkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278)
Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah r sebagaimana beliau memerintahkan Abdullah ibnu Mas’ud z untuk mencari batu (HR. Al-Bukhari no.156) dan juga perintah beliau kepada Abu Hurairah z untuk mengambil batu yang hendak beliau gunakan untuk bersuci (HR. Al-Bukhari no. 155). Kedua riwayat ini mengandung perintah sehingga menunjukkan bahwasanya istijmar bisa dilakukan dalam keadaan apa pun walaupun ada air, karena Rasulullah r akan meminta diambilkan air apabila beliau memang ingin bersuci dengan air.
Dikatakan pula oleh Al-Hafidz ketika menerangkan bab Al-Istinja‘ bil Hijarah (bersuci dari buang air besar dan kecil dengan menggunakan batu) bahwa bab ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang berpandangan bahwa istinja hanya khusus menggunakan air. (Fathul Bari, 1/321)
Hitungan ganjil yang dimaksud dalam hadits ini minimal dengan tiga batu sebagaimana dalam hadits Salman z, di antaranya ia berkata: “Sungguh Rasulullah r melarang kami untuk istinja (cebok) dengan menggunakan kurang dari tiga batu.” (HR. Muslim no. 262)
Demikian pula pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad dan ash-habul hadits, bahkan mereka mensyaratkan tidak boleh kurang dari tiga batu agar najis itu bersih. Apabila pembersihan itu belum tercapai hanya dengan tiga batu, maka dia boleh menambahnya sampai bersih, dan dalam hal ini disenangi untuk mengganjilkan jumlah batu tersebut. (Fathul Bari, 1/323)
Dibolehkan pula untuk mengganti ketika tidak ada batu dengan selainnya, kecuali tulang dan kotoran (tahi) kering karena terdapat larangan dari Rasulullah r tentang pemakaian keduanya. Ini pendapat jumhur ahlul ilmi. (Syarah Muslim, 3/157)

3. Wadi
Pembersihannya hanya dengan mencuci kemaluan dengan air seperti halnya bersuci dari kencing dan buang air besar.

4. Madzi
Ketika ‘Ali z menyuruh seorang shahabat, Miqdad ibnul Aswad z, menanyakan kepada Rasulullah r tentang tata cara membersihkan madzi yang mengenai kemaluan, beliau menjawab:

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)
Nabi r memerintahkan untuk mencuci kemaluan bila keluar madzi. Yang dimaksud dengan mencuci di sini menurut pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama adalah mencuci bagian yang terkena madzi saja (dari kemaluan dan anggota badan lainnya yang terkena) tidak perlu mencuci seluruh kemaluan.  (Syarah Muslim, 3/213)
Ibnu Hazm t berkata: “Mewajibkan pencucian kemaluan secara keseluruhan adalah pensyariatan yang tidak ada dalil padanya.” (Al-Muhalla, 1/107)

5. Darah haid yang mengenai pakaian
Asma` bintu Abi Bakr x menceritakan:
“Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah r: “Ya Rasulullah, jika salah seorang dari kami terkena darah haid pada pakaiannya, apa yang harus ia lakukan?’ Maka Rasulullah r bersabda, ‘Apabila darah haid mengenai pakaian salah seorang dari kalian, hendaknya dia mengeriknya lalu membasuhnya, kemudian ia boleh shalat memakai pakaian tersebut’.” (HR. Al-Bukhari no. 227, 307 dan Muslim no. 291)
Al-Imam Ash-Shan’ani mengatakan: “Wajib untuk mencuci pakaian yang terkena darah haid dan bersungguh-sungguh untuk menghilangkan bekasnya berdasarkan apa yang disebutkan dalam hadits dengan dikerik memakai jari, dikucek dengan air dan dicuci untuk menghilangkan bekas darah tersebut. Dan dzahir hadits menunjukkan tidak wajibnya melakukan selain hal tersebut. Kalau masih terlihat bekas darah maka tidak wajib menggosoknya dengan menggunakan benda yang keras/kesat karena tidak disebutkan hal demikian dalam hadits Asma` x, sementara hadits ini merupakan tempat keterangan. Dan juga karena terdapat riwayat pada selain hadits ini dengan lafadz: “Tidak bermasalah bagimu bekas darah tersebut (setelah berusaha menghilangkannya dengan tata cara yang disebutkan).” (Subulus Salam, 1/60)
Disenangi mencuci darah haid yang terkena pada pakaian dengan menggunakan air dan daun bidara2 serta dikerik dengan ranting karena hal ini bisa menghilangkan bekas darah dari pakaian tersebut daripada sekedar dicuci dengan air saja3. Demikian dikatakan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1/141) dengan membawakan hadits Ummu Qais bintu Mihshan yang bertanya kepada Rasulullah r tentang darah haid yang mengenai pakaian. Sedangkan hadits Ummu Qais ini dikatakan oleh Ibnul Qaththan: “Sanadnya benar-benar shahih dan saya tidak mengetahui padanya ada cacat.” (Talkhisul Habir, 1/52)

6. Kulit bangkai
Bangkai hewan termasuk perkara najis, demikian pula kulitnya. Oleh karena itu bila kulit bangkai itu hendak dimanfaatkan harus disucikan terlebih dahulu dengan cara disamak.
Rasulullah r bersabda:

“Apabila kulit telah disamak maka itu merupakan pensuciannya.” (HR. Muslim no. 366)
Yang dimaksud dengan menyamak adalah menghilangkan bau busuk dan lendir (cairan) yang najis dengan mengunakan benda-benda atau obat-obatan tertentu dan selainnya. Kata Ibrahim An-Nakha‘i: “Penyamakan adalah segala sesuatu yang mencegah rusaknya kulit.” (Tuhfatul Ahwadzi, 5/327)
Asy-Syaikh Abul Qasim berkata sebagaimana dinukil dalam Al-Muntaqa Syarah Al-Muwaththa Al-Imam Malik: “Kulit bangkai sebelum disamak itu najis namun setelah disamak menjadi suci dengan kesucian yang khusus.”
Dengan penyamakan ini kulit tersebut menjadi suci, luar dan dalamnya, sama saja baik kulit itu berasal dari hewan yang dimakan dagingnya ataupun tidak. Setelah kulit disamak, boleh dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan benda-benda yang kering dan yang cair. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/327)

7.  Air liur anjing pada bejana
Nabi r bersabda:

“Apabila anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaklah ia mencuci bejana tadi sebanyak tujuh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 172 dan Muslim no. 279)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

“Cucian yang pertama dicampur dengan tanah.”
Hadits di atas menunjukkan bejana yang dijilat anjing dicuci dengan air sebanyak tujuh kali dan cucian yang pertama dicampur dengan tanah. Kita mengambil riwayat:

“Cucian yang pertama dicampur dengan tanah.” sementara di sana ada riwayat-riwayat lainnya, karena riwayat ini lebih kuat dari sisi banyaknya, lebih terjaga dari keganjilan dalam periwayatannya dan juga lebih kuat dari sisi makna, demikian kata Al-Hafidz Ibnu Hajar. (Fathul Bari, 1/346)
Al-Imam Ash-Shan’ani mengatakan: “Riwayat yang menyebutkan pencucian pertama dengan tanah lebih kuat karena banyak yang meriwayatkannya, juga karena dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Yang demikian ini dipakai ketika men-tarjih (menguatkan) riwayat-riwayat yang saling berbeda.” (Subulus Salam, 1/39)
Dan pencucian sebanyak tujuh kali ini hukumnya wajib, demikian pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad dan jumhur ulama. (‘Aunul Ma‘bud, 1/94)
Pembersihan jilatan anjing ini bisa dengan cara menuangkan air ke atas tanah, atau menuangkan tanah di atas air, atau bisa pula dengan cara mengambil tanah yang telah bercampur dengan air lalu digunakan untuk mencuci bejana tersebut. Adapun sekedar mengusap bekas najis dengan tanah maka tidaklah mencukupi. (Taisirul ‘Allam, 1/35)
Mungkin muncul pertanyaan, apakah tanah bisa digantikan oleh pembersih yang lain seperti sabun/deterjen? Perkara ini diperselisihkan oleh ulama, namun yang kuat adalah tanah tidak bisa digantikan oleh yang lain.
Karena apabila telah ada nash yang menunjukkan terhadap makna tertentu dan dimungkinkan makna yang khusus terhadap makna tertentu tersebut, maka tidak boleh mengesampingkan ataupun membuang nash tersebut. Demikian dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied dalam Ihkamul Ahkam (1/31). Wallahu ta’ala a’lam.

Catatan Kaki:

1 Dalam bahasa Arabberarti timba yang lebar timba besar yang penuh dengan air. (Fathul Bari, 1/404, Ihkamul Ahkam,1/83)
2  Bisa juga memakai sabun dan sejenisnya.
3  Namun kalaupun masih membekas maka tidak bermasalah bekas tersebut sebagaimana keterangan Al-Imam Ash-Shan’ani di atas.

Memohon Perlindungan dari Bid’ah

“Ya Allah, jauhkanlah aku dari kemungkaran akhlak, bid’ah-bid’ah dan penyakit-penyakit.”  (Shahih, HR. Ibnu Abi Ashim dari Ziyad bin ‘Ilaqah dari ayahnya bahwasanya Nabi berdoa dengan doa-doa tersebut. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam takhrij Kitabussunnah no. 13)

Jual Beli Secara Kredit

Kepada ustadz, saya mempunyai pertanyaan dan mohon penjelasannya.
Bagaimana hukumnya jual-beli barang dengan sistem kredit? Apakah sama dengan riba? Demikian pertanyaan saya, atas jawaban ustadz, saya ucapkan jazakallahu khairan katsiran.
Halimah
asy…@plasa.com

Jual beli dengan sistem kredit (cicilan), yang ada di masyarakat digolongkan menjadi dua jenis:
Jenis pertama, kredit dengan bunga. Ini hukumnya haram dan tidak ada keraguan dalam hal keharamannya, karena jelas-jelas mengandung riba.
Jenis kedua, kredit tanpa bunga. Para fuqaha mengistilahkan kredit jenis ini dengan bai’ at-taqsith. Sistem jual beli dengan bai’ at-taqsith ini telah dikaji sejumlah ulama, di antaranya:

Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani
Dalam kitab Ash-Shahihah jilid 5, terbitan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh, hadits no. 2326 tentang “Jual Beli dengan Kredit”, beliau menyebutkan adanya tiga pendapat di kalangan para ulama. Yang rajih (kuat) adalah pendapat yang tidak memperbolehkan menjual dengan kredit apabila harganya berbeda dengan harga kontan (yaitu lebih mahal, red). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh An-Nasa`i dan At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah r melarang transaksi jual beli (2 harga) dalam satu transaksi jual beli.
Asy-Syaikh Al-Albani menjelaskan, maksud larangan dalam hadits tersebut adalah larangan adanya dua harga dalam satu transaksi jual beli, seperti perkataan seorang penjual kepada pembeli: Jika kamu membeli dengan kontan maka harganya sekian, dan apabila kredit maka harganya sekian (yakni lebih tinggi).
Hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Simak bin Harb dalam As-Sunnah (karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazi), Ibnu Sirin dalam Mushannaf Abdirrazzaq jilid 8 hal. 137 no. 14630, Thawus dalam Mushannaf Abdirrazaq jilid 8 no. 14631, Ats-Tsauri dalam Mushannaf Abdirrazzaq jilid 8 no. 14632, Al-Auza’i sebagaimana disebutkan oleh Al-Khaththabi dalam Ma’alim As-Sunan jilid 5 hal. 99, An Nasa‘i, Ibnu Hibban dalam Shahih Ibni Hibban jilid 7 hal. 225, dan Ibnul Atsir dalam Gharibul Hadits.
Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah r bersabda:

“Barangsiapa menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”
Misalnya seseorang menjual dengan harga kontan Rp 100.000,00, dan kredit dengan harga Rp 120.000,00. Maka ia harus menjual dengan harga Rp 100.000,00. Jika tidak, maka ia telah melakukan riba.
Atas dasar inilah, jual beli dengan sistem kredit (yakni ada perbedaan harga kontan dengan cicilan) dilarang, dikarenakan jenis ini adalah jenis jual beli dengan riba.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
Dalam kitabnya Ijabatus Sail hal. 632 pertanyaan no. 376, beliau menjelaskan bahwa hukum jual beli seperti tersebut di atas adalah dilarang, karena mengandung unsur riba. Dan beliau menasehatkan kepada setiap muslim untuk menghindari cara jual beli seperti ini.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh An-Nasa‘i dan At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah r melarang transaksi jual beli (2 harga) dalam satu transaksi jual beli.
Namun beliau menganggap lemahnya hadits Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”
Hal ini sebagaimana disebutkan beliau dalam kitabnya Al-Ahadits Al-Mu’allah Zhahiruha Ash-Shihhah, hadits no. 369.
Dalam perkara jual beli kredit ini, kami nukilkan nasehat Asy-Syaikh Al-Albani:
“Ketahuilah wahai saudaraku muslimin, bahwa cara jual beli yang seperti ini yang telah banyak tersebar di kalangan pedagang di masa kita ini, yaitu jual beli at-taqsith (kredit), dengan mengambil tambahan harga dibandingkan dengan harga kontan, adalah cara jual beli yang tidak disyariatkan. Di samping mengandung unsur riba, cara seperti ini juga bertentangan dengan ruh Islam, di mana Islam didirikan atas pemberian kemudahan atas umat manusia, dan kasih sayang terhadap mereka serta meringankan beban mereka, sebagaimana sabda Rasulullah r yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari:
“Allah merahmati seorang hamba yang suka memberi kemudahan ketika menjual dan ketika membeli…”
Dan kalau seandainya salah satu dari mereka mau bertakwa kepada Allah I, menjual dengan cara kredit dengan harga yang sama sebagaimana harga kontan, maka hal itu lebih menguntungkan baginya, juga dari sisi keuntungan materi. Karena dengan itu menyebabkan orang suka membeli darinya, dan diberkahinya oleh Allah I pada rizkinya, sebagaimana firman Allah I:
“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath-Thalaq: 2-3)
Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Al-Albani. Sebagai kesimpulan, kami nasehatkan kepada kaum muslimin, hendaknya memilih cara kontan jika menghadapi sistem jual beli semacam ini.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tauhid, Wahai Para Da’i!

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)

Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah r itu?  

Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’ ilallah (menuju Allah I) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah I?
Beragamnya seruan itu sendiri telah menjadi sunnatullah. Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari shahabat Abdullah bin Mas’ud z, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah r membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.”
Asy-Syaikh As-Sa’di menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan yang lurus tersebut di dalam kitab tafsirnya: “Adalah jalan yang sangat jelas yang akan menyampaikan kita kepada Allah I dan kepada jannah (surga)-Nya. Jalan yang lurus itu adalah mengenal yang hak dan mengamalkannya.”
Rasulullah r juga telah menjelaskan akan munculnya para da’i yang menyeru di atas jurang an-naar (neraka). Dalam hadits Hudzaifah ibnul Yaman yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah r tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu an-naar. Dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka mereka akan mencampakkannya ke jurang an-naar tersebut.”
Kedua hadits di atas menjelaskan tentang sunnatullah munculnya berbagai seruan yang semuanya mengangkat panji Islam dan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi seruan yang benar adalah satu. Dan jalan yang benar adalah satu dan tidak berbilang. Allah I berfirman:

“Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)
Hadits tadi juga menjelaskan bahwa jalan yang tidak benar itu lebih banyak daripada jalan yang benar. Demikian juga dengan da’i yang menyeru kepada kesesatan, lebih banyak dibanding dengan para penyeru kebenaran.

Kedudukan Tauhid
Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal z. Rasulullah r berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

1.    Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini.
Rasulullah r bersabda:

“Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibnu ‘Umar c)
2.    Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur‘an, sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur`an, sebagaimana firman Allah I:

“Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah.” (Al-Baqarah: 21-22)
Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah I “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah.”
3.    Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para rasul, sejak rasul yang pertama hingga penutup para rasul yaitu Muhammad r. Allah I berfirman:

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” (An-Nahl: 36)
4. Tauhid merupakan perintah Allah I yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan.
Allah I berfirman:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al-Isra`: 23)

“Dan sembahlah oleh kalian Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa`: 36)
5.    Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam jannah dan terlindungi dari neraka Allah I. Sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam an-naar dan diharamkan dari jannah Allah I. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya jannah dan tempat kembalinya adalah an-naar, dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Rasulullah r bersabda:

“Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam jannah.” (Shahih, HR. Muslim no. 26 dari ‘Utsman bin ‘Affan z)
Rasulullah r bersabda:

“Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap La ilaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan jannah.” (Shahih, HR. Muslim no. 31 dari Abu Hurairah z)
6.    Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah I. Allah I berfirman:

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama.” (Al-Bayyinah: 5)

Tauhid Poros Dakwah Para Rasul
Jika kita menelusuri dakwah para rasul dan sepak terjang mereka dalam memikul amanat dakwah ini, niscaya akan kita temukan keanehan di atas keanehan yang seandainya kita yang memikulnya, sunggguh kita tidak akan sanggup.
Dakwah membutuhkan keikhlasan agar bisa bernilai di sisi Allah I dan untuk mengikat diri kita dengan pemilik dakwah itu, yaitu Allah I, serta mendapatkan segala apa yang dipersiapkan di negeri akhirat. Dakwah membutuhkan keberanian untuk tidak gentar, takut, dan lari ketika menghadapi segala tantangan. Dakwah membutuhkan kesabaran terhadap segala ujian dan tantangan di atasnya. Dakwah membutuhkan istiqamah untuk selalu bersemangat di atas dakwah meskipun kebanyakan orang tidak menerimanya. Dakwah membutuhkan iman yang kuat dan yakin terhadap pertolongan pemilik dakwah ini yaitu Allah I. Dakwah membutuhkan tawakal, kelembutan, dan segala bentuk akhlak yang mulia.
Allah I telah menjelaskan di dalam Al Qur`an bahwa yang menjadi poros dakwah para rasul adalah seruan untuk mentauhidkan Allah I, sebagaimana firman Allah I:

“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” (An-Nahl: 36)
Dari ayat ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengambil beberapa faidah di dalam kitabnya At-Tauhid, di antaranya: Hikmah dari diutusnya seluruh para rasul, bahwa risalah itu mencakup seluruh umat, dan agama para nabi itu adalah satu.
Dari semua faidah ini, sangat jelas bahwa risalah para Rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah I agar umat ini menyembah hanya kepada-Nya. Atau dengan kata lain, memerdekakan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Rabb manusia.

Tauhid, Wahai Para Da’i!
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan dalam risalahnya Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam: “Melihat jeleknya situasi yang menimpa saudara kita se-Islam, maka kita mengatakan situasi yang jelek ini tidak lebih jelek dibanding dengan kejahatan situasi jahiliyah dulu ketika Allah I mengutus Rasulullah…”
Berdasarkan hal itu, maka obatnya adalah obat yang disebarkan oleh Rasulullah r di masa jahiliyyah. Maka dari itu, hendaknya setiap da’i tampil mengobati jeleknya pemahaman umat terhadap kalimat La ilaha illallah dan mengobati keadaan itu dengan obat tersebut. Yang demikian itu sangat jelas jika kita mencoba untuk merenungi apa yang difirmankan Allah I:

“Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Kemudian beliau (Asy-Syaikh Al-Albani) mengatakan: “Maka Rasul kita Muhammad r adalah suri teladan yang baik dalam mengentaskan segala problem yang menimpa kaum muslimin di masa kita sekarang ini, bahkan dalam setiap waktu dan keadaan. Yang demikian itu menuntut kita agar seharusnya memulai sebagaimana Rasulullah r memulai, yaitu pertama kali memperbaiki akidah kaum muslimin yang sudah rusak, yang kedua ibadah mereka, dan yang ketiga akhlak. Bukan berarti saya ingin memisahkan antara yang pertama dari yang paling penting menuju yang penting berikutnya yang di bawahnya lagi. Akan tetapi yang saya maksudkan adalah agar setiap orang Islam terlebih khusus da’inya untuk memberikan perhatian yang besar (terhadap akidah, red.).”
Kenyataan yang menimpa umat secara menyeluruh dan kaum muslimin secara khusus adalah kerusakan hubungan mereka dengan Allah I. Bahkan sampai kepada puncak menyekutukan Allah I dalam peribadatan dan mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah I, baik itu dalam wujud manusia atau benda-benda yang tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa.
Penyakit ini telah mendarah daging seperti pohon yang telah menancap akarnya. Bahkan telah menjadi penyakit kanker yang setiap saat merenggut nyawa manusia. Oleh karena itu, sungguh sangat dibutuhkan obat yang tepat dan dokter yang telaten untuk mengawali perombakan akar-akar pohon tersebut dan mengobati penyakit-penyakit kanker tersebut. Ketahuilah, dokter umat ini adalah mereka-mereka yang mengikuti langkah Rasulullah r dalam berdakwah yang memulai dari tauhid yang merupakan dasar bangunan Islam ini, sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Umar c yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu Tauhidullah.
Wahai para da’i, mulailah darimana Allah I dan Rasul-Nya memulai dan persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan gangguan dan cobaan yang dahsyat yang terkadang harus mengalami kegagalan di tengah jalan. Mulailah wahai para da’i dari tauhidullah!
Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
1.    Al Qur‘an
2.    Kitab Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
3.    Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Muhammad Al-Wushabi
4.    Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam, Asy-Syaikh Al-Albani

Turunnya Cahaya Nubuwwah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits)

Menginjak usia ke-40, Muhammad r kian sering melakukan tahannuts (beribadah) dengan cara menyendiri di gua Hira’.  Telah tertanam dalam sanubarinya, kebencian terhadap berhala-berhala, bahkan terhadap segenap kejelekan yang ada pada masyarakatnya. Allah I telah mempersiapkan beliau untuk menerima al-haq sebagai ilmu dan amal.
Allah I mensucikan hati dan jiwa Muhammad r. Setiap kali haAbis bekalnya, beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal baru. Hati Muhammad r betul-betul dalam keadaan bergantung hanya kepada Rabb-nya. Beliau beribadah dengan apa yang diketahuinya di masa jahiliyah yang kosong dari ilmu.
Ketika mencapai usia sempurna 40 tahun, Muhammad r telah matang kedewasaan dan pemikirannya serta pantas untuk menerima penugasan yang agung. Allah I pun mengutus salah satu ciptaan-Nya, yakni Jibril u, yang kemudian menampakkan diri kepada beliau r. Muhammad r melihat pemandangan yang menakutkan dan menggelisahkan. Betapa tidak, karena belum ada kejadian apapun sebelumnya kecuali mimpi yang dilihat dalam tidurnya. Dan tidak ada mimpi yang dilihat kecuali seperti cahaya subuh.
Kemudian Allah I memuliakan Muhammad r dengan “Nubuwwah”. Datanglah Jibril tatkala beliau sedang berada di gua Hira`, dan berkata: “Bacalah!”
Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Lalu Jibril mendekap dan menyelubungi beliau sambil mengatakan; “Bacalah!” Demikian berulang-ulang, hingga akhirnya beliau mengikuti apa yang dibaca Jibril, yaitu lima ayat pertama Surat Al-’Alaq.
Kemudian Muhammad pulang dengan hati yang gelisah ketakutan dan berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku!” Khadijah menyelimuti Muhammad sampai hilang takutnya.
Setelah itu Muhammad berkata kepada Khadijah: “Apa yang terjadi pada diriku?”
Khadijah menenangkan hati suaminya tercinta, “Gembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau orang yang suka menyambung hubungan silaturahmi, menjamu para tamu, berbicara jujur, membantu orang yang lemah, orang tidak punya dan yang terkena musibah.”
Dengan kalimat ini, Khadijah bermaksud menegaskan bahwa orang yang memiliki sifat seperti ini justru akan mengundang datangnya nikmat-nikmat dari Allah I yang lebih besar lagi. Dan ini merupakan taufik dari Allah I kepada Khadijah dan kepada Nabi-Nya, sekaligus meringankan kegelisahan yang beliau alami.
Khadijah kemudian membawa Muhammad r menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya (sepupu Khadijah), seorang pemeluk agama Nasrani di masa jahiliyah, seorang yang sudah tua renta dan buta. Dia biasa menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab.
Khadijah berkata: “Wahai anak pamanku, dengarkan penuturan Muhammad ini!”
Kata Waraqah, “Ada apa, wahai anak saudaraku?” Lalu Rasulullah r menceritakan apa yang dilihatnya.
Serta merta Waraqah berseru, “Ini adalah Namus Al-Akbar (Jibril), yang pernah datang kepada Musa. Duhai, seandainya aku hidup ketika itu, tatkala kaummu mengusirmu.”
“Apakah kaumku akan mengusirku?” tanya Muhammad.
“Ya,” kata Waraqah. “Tidak satu pun yang membawa seperti yang kau bawa melainkan pasti dimusuhi,” lanjutnya.
“Dan seandainya aku mendapatkan hari-hari yang akan kau lalui itu, aku pasti membelamu dengan pembelaan yang sebenar-benarnya,” kata Waraqah kemudian.
Tak lama berselang, Waraqah  meninggal dunia. Bersamaan dengan itu berhenti pula wahyu, hingga Rasulullah r sangat berduka. Sering beliau mendaki puncak-puncak gunung saking sedihnya. Suatu kali, ketika beliau berada di puncak sebuah bukit, muncullah Jibril seraya menyatakan, “Hai Muhammad, sungguh engkau betul-betul Rasulullah (utusan Allah I).” Maka agak reda kegelisahan beliau. Mendengar hal itu beliau pulang.
Demikian terjadi beberapa kali. Dan dengan lima ayat seperti Surat Al-‘Alaq tersebut, jelaslah penobatan beliau sebagai nabi. Kemudian wahyu terhenti beberapa saat. Suatu ketika beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Peristiwa ini membuat Muhammad ketakutan, sehingga beliau pulang ke Khadijah dan minta diselimuti. Ketika itulah turun ayat 1-5 Surat Al-Muddatstsir:

“Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu beri peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.”
Di dalam ayat ini terkandung perintah agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan. Maka beliau pun menyingsingkan lengan baju, memompa semangat dan tekadnya untuk berdakwah padahal beliau sadar pasti akan mendapat tantangan. Namun, Allah I pun dipastikan akan membela dan memantapkan kedudukan beliau.
Dan setelah itu, beliau pun mulai berdakwah dengan sembunyi-sembunyi mengajak manusia untuk menyerahkan segenap peribadatan (doa, tawakal, sembelihan, dan sebagainya) hanya untuk Allah I satu-satunya.                                     (Bersambung)