Mewaspadai Penyeru Kebinasaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Jalan-jalan kesesatan jumlahnya sangat banyak dan bentuknya pun bermacam-macam. Demikian banyaknya sampai masyarakat sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Salah satunya adalah ilmu filsafat.
Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan beberapa point yang menunjukkan keharusan berhati hati dalam mengambil ilmu sebagaimana tersebut dalam ayat:
“Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (Ali ‘Imran: 7)
‘Aisyah x mengatakan: Ketika Nabi r membaca ayat ini, beliau bersabda: “Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (yang tidak jelas maksudnya) maka merekalah yang disebut oleh Allah I, maka hati-hatilah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Jelaslah, bahwa akan ada dari umat ini orang-orang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat saja dengan tujuan agar mereka bisa menyelewengkan semau mereka, dan mereka sebarkan di kalangan umat untuk menyesatkan mereka dari jalan yang lurus, baik mereka sadari ataupun tidak. Padahal semestinya ayat-ayat yang semacam itu kita fahami maknanya sesuai dengan ayat yang muhkamat (yang sudah jelas maknanya) sehingga tidak terkesan ada pertentangan antara ayat Al Qur`an.
Inilah cara yang benar dalam memahami ayat. Dalam hadits, ketika Nabi r menyebutkan adanya kebaikan lalu adanya kaum yang menjalani selain Sunnah Nabi dan mengambil selain petunjuknya, ditanya oleh Hudzaifah z katanya: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?” Beliau menjawab:

“Ya, para da’i yang berada di pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.”
Hudzaifah berkata: “Wahai Rasulullah, berikan sifatnya kepada kami.” Jawabnya: “Ya, sebuah kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita…” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Demikian Nabi r memberitakan akan adanya para da’i yang mengajak ke neraka jahannam, sehingga dalam hadits lainpun beliau mengatakan:

“Sesunggguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dan yang lain dari Tsauban z dishahihkan As-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1582)
Hadits-hadits tersebut menunjukkan perhatian Nabi r kepada kita di mana beliau sangat mengkhawatirkan kesesatan umatnya dengan sebab mengikuti para da’i yang membawa pemikiran atau ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi r. Karena inilah penyebab hancurnya agama.
Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan: “Tidak merusak agama ini kecuali raja-raja, ulama yang jelek dan ahli ibadah yang jelek.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 204)
Oleh karenanya, perlu dijelaskan jenis-jenis manusia yang harus diwaspadai ketika kita mengambil ilmu sebagaimana disebutkan para ulama. Di antara mereka adalah:
q    Ashabur Ra`yi, yaitu orang-orang yang memahami agama dengan rasio mereka. Termasuk di sini adalah orang-orang yang menafsirkan ayat atau hadits dari akal mereka sendiri tanpa merujuk kepada tafsir para ulama. ‘Umar bin Al-Khaththab z mengatakan: “Jauhi oleh kalian Ashabur Ra‘yi, mereka adalah para musuh As-Sunnah. Hadits-hadits Nabi tidak mampu mereka hafalkan, akhirnya mereka mengatakan dengan akal sehingga sesat dan menyesatkan.” (Al-Intishar Li Ahlil Hadits no. 21)
q    Al-Ashaghir, yaitu orang-orang kecil. Nabi r bersabda:

“Di antara tanda hari kiamat ada tiga, salah satuya adalah dituntutnya ilmu dari Al-Ashaghir.” (Shahih atau hasan, HR. Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 612 tahqiq Abul Asybal dan dihasankannya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bashair Dzawisy Syaraf hal. 41)
Abdullah bin Mas’ud z mengatakan, jika ilmu datang dari Al-Ashaghir maka mereka akan binasa (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 616). Abdullah bin Al-Mubarak ditanya tentang makna Al-Ashaghir, katanya, yaitu orang yang berpendapat (dalam masalah agama) dengan pendapat mereka sendiri… yakni ahlul bid’ah (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 612). Karena memang ahlul bid’ah kecil dalam hal ilmu.
Sebagian ulama yang lain mengatakan yang dimaksud adalah yang tidak punya ilmu (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 617). Yang lain lagi mengatakan: “Bisa jadi yang dimaksud adalah orang yang tidak terhormat, dan hal itu tidak terjadi kecuali karena ia membuang agama dan kehormatannya. Adapun yang selalu menjaga keduanya pasti dia akan terhormat.” (Al-I’tisham, 2/682)
q    Ahlul Bid’ah, seseorang bisa dikatakan sebagai ahlul bid’ah jika ia menyelisihi hal-hal yang telah disepakati oleh Ahlussunah wal Jamaah (Al-Farqu Bainal Firaq hal. 14-15). Ibnu Taimiyyah menjelaskan, bid’ah yang dengannya seseorang bisa dianggap sebagai ahlul ahwa` (ahlul bid’ah) adalah sebuah bid’ah yang telah masyhur di kalangan ahlul ilmi dan Ahlussunnah bahwa hal itu menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah seperti bid’ah Khawarij, Syi’ah, Qadariyyah dan Murji‘ah (Majmu’ Fatawa, 35/414 dari Mauqif Ahlissunnah, 1/119). Maka jika kita ketahui bahwa seseorang memiliki sebuah paham atau keyakinan yang masyhur dan jelas menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah menurut pandangan ulama Ahlussunnah atau menyelisihi sesuatu yang telah disepakati oleh Ahlussunnah, maka ia tergolong ahlul bid’ah.
Contoh yang paling jelas dalam hal ini seperti pribadi/ kelompok yang memiliki pemahaman mengkafirkan mayoritas kaum muslimin, menolak hadits-hadits ahad (bukan mutawatir) dalam hal akidah, mencela sebagian shahabat Nabi r, meremehkan masalah tauhid, menolak sifat-sifat Allah I, mengatakan Al Qur‘an bukan Kalamullah, dan menafikan takdir.
Seseorang yang mencari ilmu agama harus hati-hati dari orang yang semacam ini. Allah I  berfirman:

“Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain.” (Al-An’am: 153)
Seorang tabi’in bernama Mujahid menafsirkan ayat ini, katanya: “(Yang dimaksud adalah) bid’ah dan syubhat-syubhat.” (Al-Bid’ah, Dhowabituha … hal. 12)
Al-Imam Malik mengatakan: “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang –di antaranya– : seorang ahli bid’ah yang mengajak kepada bid’ahnya” (Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 821). Dan banyak lagi dalil atau ucapan salaf di dalam hal ini.
q Ahli filsafat. Yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang berusaha memahami perkara-perkara agama melalui teori-teori filsafat yang berasal dari Yunani yang mereka namakan dengan ‘Ushuluddin’.
Masalah penimbangan amal di akhirat kelak, misalnya. Menurut mereka –dengan teori filsafat–, amal bukanlah dzat yang berujud sehingga tidak bisa ditimbang. Walhasil dengan pemahaman ini, mereka mengingkari nash-nash tentang timbangan amal. Padahal menurut pemahaman yang benar, kita wajib meyakininya karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Memahami agama melalui teori atau kaidah filsafat jika kebetulan sesuai dengan kebenaran maka tidak akan menyampaikan kepada kemantapan dalam berakidah, karena akan selalu tergoyahkan dengan teori lainnya yang menurut orang lain atau menurut dia sendiri di waktu lain lebih kuat.
Sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan: “Aku berbaring di atas tempat tidurku dan aku tutupkan selimut di atas wajahku lalu aku adu antara dalil-dalil mereka (ahli filsafat), sampai terbit fajar dan aku tidak mendapatkan mana yang lebih kuat.” (Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 209)
Oleh karenanya para ulama Ahlussunnah dari dulu sampai sekarang sangat keras melarang ‘ilmu’ ini dan mewaspadai orang-orangnya. Sampai-sampai, hampir tidak satu kitab pun dari kitab-kitab Ahlussunnah yang membahas akidah kecuali mencela filsafat. Bahkan tidak sedikit mereka yang menulis buku secara khusus mengingatkan umat tentang bahayanya filsafat.
Abu Yusuf, murid Abu Hanifah mengatakan: “Barangsiapa yang mencari ilmu agama dengan ‘ilmu’ kalam (filsafat), ia akan menjadi zindiq (orang yang menyembunyikan kekafiran).” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 209). Adz-Dzahabi mengatakan: “Barangsiapa ingin menggabungkan antara ilmu para Nabi r dan ‘ilmu’ para filosof dengan kepandaiannya, maka ia pasti menyelisihi mereka semua.” (Mizanul I’tidal, 3/144 dari Al-Intishar, hal. 97)
Oleh karenanya para tokoh filsafat dari muslimin menyesali tenggelamnya mereka ke dalam ‘ilmu’ filsafat seperti Al-Ghazali, Ar-Razi, Asy-Syihristani, Al-Juwaini dan yang lain. Sebetulnya penyesalan mereka itu cukup sebagai pelajaran bagi yang menginginkan keselamatan akidahnya, dan –demi Allah I– cukup baginya merenungi dan mentadabburi firman Allah I:

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur`an yang dibacakan kepada mereka, sesungguhnya di dalamnya terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-’Ankabut: 51)

“Katakanlah wahai Nabi: ‘Sesungguhnya aku hanya memperingatkan kalian dengan wahyu’.” (Al-Anbiya: 45)
Jalan para rasul adalah wahyu, bukan filsafat.
q    Orang-orang yang memiliki sifat-sifat berikut: tidak ikhlas dalam berilmu tapi mengharapkan harta duniawi, kedudukan atau jabatan dengan ilmunya, yang mencampur antara kebenaran dan kebatilan, dan yang tidak mengamalkan ilmunya. Karena ini adalah sifat-sifat ulama Yahudi sehingga jika ada ulama muslim yang semacam itu berarti ia menyerupai Yahudi dan termasuk ulama yang jelek (Syarh Ushulus Sittah, Al-Ubailan hal. 16). Ibnu Qudamah berkata: “Ulama yang jelek adalah yang punya maksud dengan ilmunya untuk bernikmat-nikmat dengan dunia dan mencapai kedudukan di sisi ahli dunia.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 35)
q    Para pengikut aliran tarekat sufi yang meyakini bahwa Allah I tidak di atas langit tapi di mana-mana, atau bersatu dengan para wali. Mereka memiliki amalan-amalan dzikir yang tata caranya mereka buat sendiri dan bukan berasal dari ajaran Nabi r. Ini sesungguhnya termasuk ahlul bid’ah.
q    Orang-orang yang mengaku muslim tapi terpengaruh paham-paham sosialis, sekularis, materialis atau sejenisnya. Atau orang-orang kafir orientalis misalnya.
Semua itu mesti kita hindari, dan hal ini sebetulnya jelas. Namun kita sebutkan karena adanya sebagian muslimin yang lengah dalam masalah ini atau menyepelekannya sehingga belajar ilmu agama Islam dari mereka. Bahkan yang sangat disayangkan ada pula yang berbangga dengan guru-guru yang semacam itu. Padahal dalam pepatah Arab disebutkan  “orang yang tidak punya tidak bisa memberi.”
Akibat buruk yang nyata dari perbuatan ini adalah munculnya orang-orang yang phobi terhadap Islam seperti gerakan JIL (Jaringan Islam Liberal) misalnya. Mereka sesungguhnya tidak menyebarkan Islam tapi justru meruntuhkan Islam dan membikin keraguan terhadap agama Islam dan ajaran-ajarannya.
Semoga Allah I memusnahkan atau mempersedikit orang-orang semacam ini, dan sebaliknya memperbanyak ahlul haq dan melindungi kaum muslimin dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.
Wallahu a’lam.

Prinsip-prinsip Mengkaji Agama

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya, agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang!

Dewasa ini banyak sekali ‘jalan’ yang ditawarkan untuk mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru umat untuk segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak manusia ramai-ramai ke masjid.
Namun lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih menyelimuti. Bahkan sepertinya makin bertambah parah.
Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, bila melihat kondisi umat yang semakin tenggelam dalam kegelapan, sudah pasti ada yang salah. Mengapa mereka tidak mengajak umat untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka justru menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung kesia-siaan?
Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pewaris Nabi r selalu berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah r untuk mengajak umat kembali mempelajari agamanya. Dalam berbagai hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan yang telah digariskan oleh Nabi r. Lebih-lebih dalam mengambil dan memahami agama yang merupakan sesuatu yang sangat asasi pada kehidupan. Inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan umat.
Berikut kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam mengkaji agama, namun hanya kami sebutkan hal-hal yang sangat pokok dan mendesak untuk diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena keterbatasan ruang yang ada.

Makna Manhaj
Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah I:

“Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan minhaj.” (Al-Maidah: 48)
Kata minhaj (), sama dengan kata manhaj (). Kata minhaj dalam ayat tersebut diterangkan oleh imam ahli tafsir Ibnu ‘Abbas c, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/67-68 dan Al-Mu’jamul Wasith).
Yang diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan jalan yang ditempuh Ahlussunnah dalam mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah, insya Allah I kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan dalam mendapatkan ilmu agama. Inilah rambu-rambu yang harus dipegang dalam mencari ilmu agama:
1. Mengambil ilmu agama dari sumber aslinya yaitu Al-Qur‘an dan As-Sunnah.
Allah I berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pimpinan selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya.” (Al-A’raf: 3)
Dan Rasulullah r bersabda: “Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al-Qur`an dan yang serupa dengannya bersamanya.” (Shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib. Lihat Ash-Shahihul Jami’ no. 2643)
2. Memahami Al Qur‘an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih yakni para shahabat dan yang mengikuti mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebagaimana sabda Nabi r:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kebaikan yang melekat pada mereka adalah kebaikan yang mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik ilmu, pemahaman, pengamalan, dan dakwah.
Ibnul Qayyim berkata: “Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu kebaikan. Jika tidak demikian, yakni mereka baik dalam sebagian sisi saja, maka mereka bukan sebaik-baik generasi secara mutlak.” (lihat Bashair Dzawis Syaraf, hal. 62)
Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini sudah dijamin oleh Nabi r. Sehingga kita tidak meragukannya lagi bahwa kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu setelah Nabi r. Mereka menyaksikan di mana dan kapan turunnya wahyu, dan mereka tahu di saat apa Nabi r mengucapkan hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangat mendukung terhadap pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa ketika para shahabat bersepakat terhadap sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi mereka. Dan tatkala mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu dari pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru di luar pendapat mereka.
Al-Imam Asy-Syafi’i t mengatakan: “Mereka (para shahabat) di atas kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara’ (sikap hati-hati), akal dan pada perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil darinya ilmu. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama bagi kita dari pendapat kita sendiri –wallahu a’lam–… Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat, kami mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka memiliki sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain maka kita mengambil pendapatnya dan jika mereka berbeda pendapat maka kami mengambil sebagian pendapat mereka. Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka secara keseluruhan.” (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra hal. 110 dari Intishar li Ahlil Hadits hal. 78)
Begitu pula Muhammad bin Al-Hasan mengatakan: “Ilmu itu empat macam. Pertama, apa yang terdapat dalam kitab Allah I atau yang serupa dengannya. Kedua, apa yang terdapat dalam Sunnah Rasulullah r atau yang semacamnya. Ketiga, apa yang disepakati para shahabat Nabi r atau yang serupa dengannya. Dan jika mereka berselisih di dalamnya, kita tidak boleh keluar dari perselisihan mereka… Keempat, apa yang dianggap baik oleh para ahli fiqih atau yang sejenisnya. Ilmu itu tidak keluar dari empat macam ini.” (Intishar li Ahlil Hadits hal. 31)
Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap pendapat yang dikatakan hanya oleh seseorang yang hidup di masa ini dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun yang terdahulu, maka itu salah.” Al-Imam Ahmad mengatakan: “Jangan sampai engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah yang engkau tidak memiliki pendahulu dalam hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 21/291)
Hal itu –wallahu a’lam– karena Nabi r bersabda:

“Sesungguhnya Allah melindungi umatku untuk berkumpul di atas kesesatan.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4253, Ibnu Majah no. 395, dan Ibnu Abi ‘Ashim dari Ka’b bin ‘Ashim no. 82, 83, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash- Shahihah no. 1331)
Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah. Karena jika demikian berarti mereka telah berkumpul di atas kesalahan. Karenanya pasti kebenaran itu ada pada salah satu pendapat mereka, sehingga kita tidak boleh keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari pendapat mereka, maka dipastikan salah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di atas.
3. Tidak melakukan taqlid atau ta’ashshub (fanatik) madzhab.
Allah I berfirman:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (Al-A’raf: 3)

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)
Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah I baik berupa Al-Qur`an atau hadits. Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya berarti harus ditinggalkan. Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapapun yang telah jelas baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh berpaling darinya kepada ucapan seseorang, siapapun dia.” (Sifat Shalat An-Nabi hal. 50)
Demikian pula, kebenaran itu tidak terbatas pada pendapat salah satu dari imam madzhab yang empat. Selain mereka, masih banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang lebih dulu dari mereka. Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Sesungguhnya tidak ada seorang Ahlussunnah pun yang mengatakan bahwa kesepakatan empat imam itu adalah hujjah yang tidak mungkin salah. Dan tidak seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar darinya berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari pengikut imam-imam itu seperti Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d dan yang sebelum mereka atau ahlul ijtihad yang setelah mereka mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi pendapat imam-imam itu, maka perselisihan mereka dikembalikan kepada Allah I dan Rasul-Nya. Dan pendapat yang paling kuat adalah yang berada di atas dalil.” (Minhajus Sunnah, 3/412 dari Al-Iqna’ hal. 95)
Sebaliknya, ta’ashshub (fanatik) pada madzhab akan menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab mengatakan: “Setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus ditak­wil­kan (yakni diarahkan kepada makna yang lain).”
Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran, bukan ayat atau hadits. Bahkan ta’ashub semacam itu membuat kesan jelek terhadap agama Islam sehingga menghalangi masuk Islamnya seseorang. Sebagaimana terjadi di Tokyo ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan ditunjukkan kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang Jawa atau Indonesia mereka menyarankan untuk memilih madzhab Syafi’i. Mendengar jawaban-jawaban itu mereka sangat keheranan dan bingung sehingga sempat menghambat dari jalan Islam. (Lihat Muqaddimah Sifat Shalat An-Nabi hal. 68 edisi bahasa Arab)
4. Waspada dari para da’i jahat.
Jahat yang dimaksud bukan dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, baik sedikit atau banyak. Di antara ciri-ciri mereka adalah suka berdalil dengan ayat-ayat yang belum begitu jelas maknanya untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan itu mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para pengikutnya. Allah I berfirman:

“Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (Ali ’Imran: 7)
Ibnu Katsir mengatakan: “Menginginkan fitnah artinya ingin menyesatkan para pengikut mereka dengan mengesankan bahwa mereka berhujjah dengan Al-Qur`an untuk (membela) bid’ah mereka. Padahal Al-Qur`an itu sendiri menyelisihi mereka. Ingin mentakwilkannya artinya menyelewengkan maknanya sesuai dengan apa yang mereka maukan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/353)
5. Memilih guru yang dikenal berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan muamalah.
Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam mengambilnya tanpa peduli dari siapa dia dapatkan, karena ini akan berakibat fatal sampai di akhirat kelak. Maka ia harus tahu siapa yang akan ia ambil ilmu agamanya.
Jangan sampai dia ambil agamanya dari orang yang memusuhi As Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah. Atau tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini yang dipelajari adalah akidah-akidah yang salah, atau mendapat ilmu hanya sekedar hasil bacaan tanpa bimbingan para ulama Ahlussunnah. Sangat dikhawatirkan, ia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.
Seorang tabi’in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: ‘Sebutkan kepada kami sanad kalian’, sehingga mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)
Nabi r bersabda:

“Keberkahan itu ada pada orang-orang besar kalian.” (Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Abdil Bar dari Ibnu ‘Abbas c, dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilm hal. 614 dengan tahqiq Abul Asybal, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2887 dan Ash-Shahihah no. 1778)
Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud z:

“Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka akan binasa.”
Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab z. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil Ilm hal. 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal dan dishahihkan olehnya)
Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama) maksud dari hadits di atas: “Bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits ‘Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa padahal tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang berilmu tentang segala hal, atau yang mengambil ilmu dari para shahabat.” (Lihat Jami’ Bayanil Ilm hal. 617)
6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal atau rasio, karena agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan akal. Allah I berkata kepada Nabi-Nya:

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.’.” (Al-Anbiya: 45)

“Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Sungguh berbeda antara wahyu yang bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti dan memiliki kesempurnaan, dibandingkan akal yang berasal dari manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun lemah.
Jadi tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang jelas dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih karena tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan akalnya di hadapan keduanya.
‘Ali bin Abi Thalib z berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki/ sepatu yang terbuat dari kulit yang tingginya di atas mata kaki) lebih utama untuk diusap (pada saat berwudhu, –red.) daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” (Shahih, HR. Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 162)
Pada ucapan beliau terdapat keterangan bahwa diperbolehkan seseorang mengusap bagian atas khuf, kaos kaki, atau sepatunya ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya jika terpenuhi syaratnya sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab fiqih. Yang jadi bahasan kita disini adalah ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian bawahnya. Padahal secara akal yang lebih berhak diusap adalah bagian bawahnya karena itulah yang kotor.
Ini menunjukkan bahwa agama ini murni dari wahyu dan kita yakin tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi syariat melihat dari pertimbangan lain yang belum kita mengerti.
Jangan sampai ketidakmengertian kita menjadikan kita menolak hadits yang shahih atau ayat Al-Qur‘an yang datang dari Allah I yang pasti membawa kebaikan pada makhluk-Nya. Hendaknya kita mencontoh sikap ‘Ali bin Abi Thalib z di atas.
Abul Muzhaffar As-Sam’ani menerangkan akidah Ahlussunnah, katanya: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai panutan mereka, mencari agama dari keduanya. Adapun apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. Jika didapati sesuai dengan keduanya, mereka menerimanya dan bersyukur kepada Allah I yang telah memperlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik. Namun jika didapati tidak sesuai dengan keduanya, mereka meninggalkannya dan mengambil Al-Kitab dan As-Sunnah lalu menganggap salah akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang haq (kebenaran), sedangkan pendapat manusia kadang benar kadang salah.” (Al-Intishar li Ahlil Hadits hal. 99)
Ibnul Qayyim menyimpulkan bahwa pendapat akal yang tercela itu ada beberapa macam:
a.     Pendapat akal yang menyelisihi nash Al-Qur‘an atau As-Sunnah.
b.     Berbicara masalah agama dengan praduga dan perkiraan yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum dengan itu.
c.     Pendapat akal yang berujung pada sikap  menolak asma` (nama-nama), sifat-sifat dan perbuatan Allah I dengan teori atau qiyas yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.
d.     Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid’ah dan matinya As-Sunnah.
e.     Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dengan anggapan baik dan prasangka.
Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil syariat. (lihat I’lamul Muwaqqi’in, 1/104-106, Al- Intishar hal. 21, 24, dan Al-’Aql wa Manzilatuhu)
7. Menghindari perdebatan dalam agama.
Nabi r bersabda:

“Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: ‘Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan’.” (Hasan, HR. At-Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5633)
Ibnu Rajab mengatakan: “Di antara sesuatu yang diingkari para imam salafush shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalan para imam agama ini.” (Fadhl ‘Ilmis Salaf hal. 57 dari Al-Intishar hal. 94)
Ibnu Abil ‘Izz menerangkan makna mira` (berbantah-bantahan) dalam agama Allah I adalah membantah ahlul haq (pemegang kebenaran) dengan menyebutkan syubhat-syubhat ahlul bathil, dengan tujuan membuat keraguan pada permasalahan tersebut dan menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini mengandung ajakan kepada kebatilan dan menyamarkan yang hak serta merusak agama Islam. (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 313)
Oleh karenanya Allah I memerintahkan berdebat dengan yang paling baik. Firman-Nya:

“Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhah (nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling baik.” (An-Nahl: 125)
Para ulama menerangkan bahwa perdebatan paling baik bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak adalah baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan mereka. Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran. (Lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlissunnah, 2/587-611 dan Ar-Rad ‘Alal Mukhalif, hal. 56-62)
Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu’ Fatawa, 24/172)
Inilah beberapa rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama sebagaimana terdapat dalam Al-Qur`an maupun hadits yang shahih serta keterangan para ulama. Kiranya hal itu bisa menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini, sehingga kita berharap bisa beragama sesuai yang diinginkan oleh Allah I dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam.

Kemurnian Agama Bersama Salaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman An-Nawawi)

Dekatnya sebuah generasi dari sumber kebenaran memberikan corak dan dampak yang sangat baik. Dan sebaliknya, semakin jauh dari sumber kebenaran akan memberikan dampak yang sangat negatif. Namun, seburuk-buruknya suatu generasi, Allah I tetap akan membangkitkan orang-orang yang akan membela kebenaran dan ini merupakan sunnatullah. Allah I berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka suatu generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun.’. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (Al-A’raf: 169)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan dalam tafsirnya: “Maka datanglah setelah mereka generasi yang (jahat) yang kejahatannya melebihi sebelumnya dan mereka mewariskan Taurat. Kepada merekalah kembalinya kitab Taurat tersebut sehingga mereka berbuat dengan hawa nafsu mereka dan harta benda dikorbankan untuk mereka, berhukum dengan tidak benar, dan merajalelanya suap-menyuap.”
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah I berfirman:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsir ayat ini mengatakan: “Tatkala Allah I menyebutkan para nabi yang ikhlas dan mengikuti keridhaan Rabb mereka, dan yang selalu kembali kepada-Nya, lalu Allah I menyebutkan generasi yang datang setelah mereka yang telah menukar apa-apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka kembali ke belakang, meninggalkan shalat yang telah diperintahkan kepada mereka untuk menjaganya, namun mereka meremehkannya. Meremehkan perintah shalat, yang merupakan tiang agama dan merupakan timbangan iman dan keikhlasan di hadapan Allah I, yang merupakan amalan yang sangat ditekankan dan yang paling utama. Dan tatkala mereka demikian, Allah I menjadikan amalan shalat termasuk dari ajaran agama. Mereka menyia-nyiakannya bahkan menolaknya. Yang mendorong mereka melakukan hal ini karena mereka mengikuti hawa nafsu dan keinginan-keinginan mereka. Sehingga, semua yang mereka inginkan adalah kembali kepada hawa nafsu tersebut dan mendahulukannya daripada hak-hak Allah I. Mereka mengutamakan keinginan hawa nafsu, bagaimanapun sulitnya mereka berusaha untuk mencapainya dan apapun dikorbankan ketika mereka berusaha untuk itu.”
Rasulullah r menceritakan di dalam sabdanya: “Tiadalah seorang nabi yang diutus kepada suatu umat melainkan ada para pembela dari umat mereka dan shahabat yang memegang sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah itu, datanglah generasi yang jahat di mana mereka mengucapkan apa yang tidak mereka perbuat dan mereka berbuat apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, dia adalah seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang yang beriman. Serta barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka dia adalah seseorang yang beriman. Dan di belakang ini tidak ada iman yang dia miliki sebesar dzarrahpun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Semakin dekat generasi dengan sumber kemurnian agama, semakin dekat pula jaminan kemurniannya. Karena mereka langsung menimba kebenaran itu dari Rasulullah r. Ucapan mereka adalah ucapan Rasulullah r, perbuatan mereka adalah perbuatan Rasulullah r, jalan mereka adalah jalan Rasululah r. Ibadah mereka adalah ibadah Rasulullah r, akidah mereka adalah akidah Rasulullah r, dan akhlak mereka adalah akhlak Rasulullah r.
Ringkasnya, jika kita menginginkan kemurnian syariat itu, maka kembalilah kepada mereka yang mendapatkan kemurnian syariat itu sendiri, yaitu para shahabat Rasulullah r. Kepada mereka-lah kita merujuk. Kemurnian Islam itu ada pada apa yang mereka pahami, yang mereka amalkan, dan yang mereka dakwahkan tentang Islam. Maka dari itu, ikutilah jalan mereka! Jalan, akidah, ibadah, dan akhlak mereka diridhai oleh Allah I dari atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
1.    Al-Qur`an
2.    Riyadhush Shalihin, Al-Imam An-Nawawi
3.    Taisirul Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa’di
4.    Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
5.    Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Asy-Syaikh Al- Albani
6.    Makanatu Ahlil Hadits, Asy-Syaikh Dr. Rabi’

Jalan Salaf Jaminan Kebenaran

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

“Kembali kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah” telah menjadi slogan umum. Namun memahami keduanya dan mengamalkan kandungannya, agar sesuai dengan yang dimaukan Rasulullah r, merupakan persoalan tersendiri. Kepada siapa kita harus merujuk?

Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan, siapa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan manhaj (jalan/metode) yang mereka tempuh. Mereka bukanlah manusia khusus yang diciptakan Allah I untuk membawa amanat syariat-Nya. Juga bukan malaikat yang diutus Allah I untuk mengajarkan manusia tentang agama-Nya. Mereka adalah kaum muslimin itu sendiri yang memahami agamanya dengan benar berdasarkan Al-Qur‘an dan As-Sunnah di atas pemahaman as-salafush shalih (pendahulu yang shalih).
Mereka (para shahabat g) adalah umat terbaik yang diciptakan untuk mendakwahkan kebenaran agama ini kepada seluruh umat. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti mereka di atas kebenaran. Mereka adalah as-salafush shalih, al-firqatun najiyah (orang-orang yang selamat), ath-tha`ifah al-manshurah (orang-orang yang selalu ditolong), ahlul hadits, ahlul atsar, dan mereka adalah salafiyyun.
Mereka adalah pilihan Allah I dari seluruh hamba-Nya yang akan menyuarakan kebenaran di mana dan kapan saja, bagaimanapun besar tantangan dan rintangan yang dihadapi. Slogan mereka adalah firman Allah I:

“Kebenaran itu datang dari Rabbmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)
Juga sabda Rasulullah r: “Katakan yang benar walaupun pahit dan jangan kamu gentar cercaan orang yang mencerca.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari shahabat Abu Dzar z. Lihat Al-Misykat, 3/1365)
Dari sinilah nama as-salafush shalih diabadikan oleh sejarah. Ditulis dengan tinta emas, terus dikenang, serta menjadi rujukan generasi sesudahnya. Bukankah ini merupakan satu kemuliaan dari Allah I karena apa yang telah mereka berikan untuk agama-Nya? Dan karena apa yang mereka tempuh ketika Rasulullah r masih hidup dan setelah wafat beliau?
Jawabannya adalah ya. Mereka mendapatkan yang demikian ini karena mereka berjalan di atas jalan Rasul-Nya. Abu Bakar z, khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah r sebagai pemimpin umat ini, telah mendapatkan jaminan masuk jannah (surga), padahal ketika itu beliau masih hidup. Bukankah ini kemuliaan bagi beliau? Apakah manhaj Abu Bakar z sesuai manhaj Rasulullah r? Jawabannya tentu ya.
Begitu juga ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan para shahabat g yang lain yang telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah r untuk masuk jannah, padahal kaki-kaki mereka masih menapaki kehidupan. Merekalah yang juga disebutkan Allah I di dalam Al-Qur`an:

“Merekalah orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.” (An-Nisa`: 69)
Siapa lagi yang dimaksud dalam ayat ini setelah para nabi, kalau bukan orang-orang yang mengikuti mereka di atas manhaj Allah I dari kalangan shahabat?
Mereka adalah generasi yang berusaha untuk mendapatkan dan mengambil warisan terbanyak dari Rasulullah r. Duduk dan keluar dari majelis Rasulullah r dalam keadaan membawa kemurnian agama Islam yang malamnya seperti siangnya. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang menyimpang, melainkan akan binasa seumur hidup jika tidak segera bertaubat kepada Allah I.

Manhaj Salaf
Cerminan Kemurnian Islam
Rentang waktu yang panjang sangat memungkinkan menyebabkan jauhnya umat dari kemurnian ajaran Islam. Apalagi, umat ini terus berganti generasi demi generasi. Hal ini telah dirasakan dan disaksikan oleh orang-orang yang diberikan bashirah (ilmu) oleh Allah I. Banyak kita jumpai penampilan Islam yang berwarna-warni, baik dari amalan, ucapan, dan keyakinan.
“Warna-warni” inilah yang sering menimbulkan friksi di antara sesama muslim hingga berujung pada pudarnya persatuan dan kesatuan umat Islam. Walhasil, umat ini menjadi sangat lemah dan siap menjadi santapan musuh-musuhnya.
Munculnya kelompok-kelompok di dalam Islam, merupakan bukti konkrit adanya perbedaan yang besar dan warna-warninya penampilan Islam itu. Yang satu berpakaian serba merah dan mengangkat Islam sebagai simbol. Yang lain dengan warna hijau, hitam, kuning, putih, dan sebagainya. Masing-masing memiliki konsep, prinsip, jalan, dan tujuan yang berbeda dengan yang lainnya. Bahkan, karena perbedaan mendasar itu, ada yang siap menumpahkan darah yang lainnya. Apakah demikian Islam itu? Lalu manakah yang benar? Dan manakah yang harus diikuti?
Yang demikian ini, setelah berlalunya masa risalah (masa kenabian) dan pergantian generasi demi generasi, sangat terasa. Ironisnya, Islam dalam pandangan kaum muslimin saat ini hanya sebatas “yang penting Islam”, apapun alirannya, ajarannya, warnanya, jalannya, baunya, dan sebagainya. Padahal justru dengan sebab ini, hilanglah kemuliaan, kewibawaan, kejayaan, dan kekuatan umat Islam, serta menjadikan musuh-musuh Islam berani dan memiliki kewibawaan di mata kaum muslimin.
Kemurnian dan kesempurnaan Islam itu pun kian jauh panggang dari api. Yang satu ingin menambah dan yang lain ingin mengurangi, bahkan mempretelinya. Hanya dengan mencari sumber kemurniannya kepada orang yang telah dinobatkan oleh Allah I sebagai penelusur jejak Rasulullah r -para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in- saja, niscaya kemurnian Islam itu akan diperoleh.

Manhaj Salaf adalah Ridha, Cinta, dan Ampunan Allah I
Selain sebagai cermin kemurnian Islam, manhaj salaf juga merupakan perwujudan ridha Allah I, cinta, dan ampunan-Nya. Allah I berfirman tentang mereka yang berjalan di atas manhaj salaf ini:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Asy-Syaikh As-Sa’di1 t dalam tafsir ayat ini mengatakan, mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan yang terlebih dahulu dalam keimanan, hijrah, jihad, dan memperjuangkan agama Allah I. Kaum Muhajirin adalah orang-orang yang dikeluarkan dari negeri mereka dan dipisahkan dari harta benda mereka, semata-mata hanya mencari keutamaan dari Allah I dan keridhaan-Nya. Mereka membela agama Allah I dan Rasul-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang jujur.
Sementara kaum Anshar adalah orang-orang yang menetap di kota Madinah, mencintai orang-orang yang berhijrah. Mereka tidak dihinggapi perasaan berat hati atas apa-apa yang mereka infakkan kepada kaum Muhajirin, serta lebih mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka membutuhkannya.
Merekalah kaum yang mendapatkan keselamatan dari cercaan dan mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah I. Allah I meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah I. Allah I mempersiapkan bagi mereka jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dan kekal di dalamnya.
Allah I di dalam Al Qur`an berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan tolok ukur cinta seseorang kepada Allah I dengan sebenar-benarnya cinta atau hanya pura-pura mengaku cinta. Tanda cinta kepada Allah I adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah r, yang Allah I telah menjadikan sikap ini (ittiba’) dan segala apa yang diserukan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah I. Dan tidak akan didapati kecintaan dari Allah I, ridha dan pahala-Nya, melainkan dengan cara membenarkan apa yang dibawa Rasulullah r sebagaimana yang ada di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan cara melaksanakan apa yang dikandung keduanya dan menjauhi apa yang dilarangnya. Maka barangsiapa melakukan hal ini, sungguh ia telah dicintai oleh Allah I, dia dibalas sebagaimana balasan terhadap kekasih Allah I, diampuni dosanya, dan ditutupi segala aibnya. Maka (ayat ini) seakan-akan (menjelaskan) bagaimana hakekat mengikuti Rasulullah r dan bagaimana sifatnya.”

Simbol Kemenangan dan Kejayaan Umat
Meskipun Islam semakin kabur, namun pewaris kemurnian Islam akan tetap ada sepanjang kehidupan manusia ini sampai hari kiamat. Mereka telah dipersiapkan Allah I untuk meneruskan perjuangan Rasulullah r dan generasi beliau yang terbaik. Merekalah yang akan terus menyuarakan kemurnian Islam. Dan bersama merekalah kemenangan dan kejayaannya. Itulah janji Allah I yang tidak bisa dipungkiri.
Merekalah yang disebut Rasulullah r sebagai generasi pejuang yang telah mengambil pedang perjuangan Rasulullah r yang diwariskan setelah wafatnya, untuk membabat gerakan-gerakan penjegalan terhadap syariat Allah I. Dan mereka pulalah yang dipersiapkan Allah I sebagai perisai dan benteng terhadap kebenaran dalam pertarungan antara yang hak dan batil. Allah I menjelaskan di dalam Al Qur`an:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin di dalam kitab Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 25) mengatakan, “Akan tetapi semua pujian bagi Allah I semata. Tiadalah seseorang melakukan kebid’ahan, melainkan Allah I membangkitkan –dengan nikmat dan karunia-Nya– orang-orang yang akan menjelaskan kebid’ahan tersebut dan yang akan melumatkannya dengan kebenaran. Dan ini termasuk makna yang terkandung dalam firman Allah I (Al-Hijr: 9). Dan ini merupakan wujud nyata penjagaan Allah I terhadap Adz-Dzikr (maksudnya Al-Qur`an, red.) dan ini juga merupakan konsekuensi hikmah Allah I.”
Rasulullah r bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari shahabat Mua’wiyah dan Mughirah bin Syu’bah c, dan diriwayatkan Al-Imam Muslim dari shahabat Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash g:

“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang memperjuangkan kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang berusaha menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan yang demikian itu.” (Shahih, HR. Muslim dengan lafadznya)
Siapakah yang dimaksud Rasulullah r dengan “satu kelompok dari umatnya itu yang selalu memperjuangkan kebenaran dan selalu mendapatkan kemenangan”?
Al-Imam Ahmad mengatakan: “ Kalau bukan ahli hadits yang dimaksud, maka saya tidak mengetahui (lagi) siapa mereka.”
‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats mengatakan: “Aku telah mendengar ayahku ketika ditanyakan kepadanya: ‘Tidakkah kamu melihat ahlul hadits dan apa-apa yang mereka berada di atasnya?’ Dia menjawab: ‘Mereka adalah sebaik-baik penduduk dunia’.”
Abu Bakar bin ‘Ayyash mengatakan, “Aku berharap bahwa ahlul hadits adalah sebaik-baik manusia.” (Lihat kitab Makanatu Ahlil Hadits, hal. 53-54)
Rasulullah r bersabda: “Tidak ada seorangpun dari nabi yang diutus sebelumku kepada suatu umat melainkan ada pada umatnya hawariyyun (para pembela) dan shahabatnya yang memegang sunnahnya dan yang mengikuti perintahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abdullah bin Mas’ud z)
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada setiap awal seratus tahun orang-orang yang akan mengadakan pembaharuan terhadap agama umat ini.” (Shahih, HR. Abu Dawud dari shahabat Abu Hurairah z dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 3656 dan di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 599 dan di dalam Shahih Jami’ush Shaghir no. 1874)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, sebagaimana dinukil Al-Imam Adz-Dzahabi dalam kitab As-Siyar (10/46): “Sesungguhnya Allah I akan membangkitkan pada umat, di awal setiap seratus tahun, orang-orang yang akan mengajarkan mereka As Sunnah dan membungkam setiap kedustaan atas nama Rasulullah r. Maka tatkala kami melihat dan memeriksa, ternyata pada awal seratus tahun pertama muncul ‘Umar bin Abdul ‘Aziz dan pada seratus tahun kedua Al-Imam Asy-Syafi’i.” (Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 2/148)

Manhaj Salaf Manhaj yang Benar
Manhaj inilah yang mendapatkan pujian kebaikan dari lisan Rasulullah r berikut dengan orang-orang yang berjalan di atasnya, sebagaimana sabda beliau:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Imran bin Hushain dan Abdullah bin Mas’ud c)
Maka, para pengikut manhaj ini adalah generasi terbaik yang diridhai Allah I. Di dalam kitab Manhajus Salaf Fit Ta’amul Ma’a Kutubi Ahlil Bida’i (hal. 3) karya Abu Ibrahim Muhammad bin Muhammad bin Abdillah bin Mani’ dikatakan: “Pujian kebaikan menunjukkan kebenaran akidah, mengikuti Rasulullah r dengan benar. Maka para shahabat adalah orang yang paling baik keyakinannya, paling dekat dengan Sunnah Rasulullah r, paling jauh dari kesyirikan, kebid’ahan, dan perpecahan. Para shahabat adalah orang yang paling baik dari sisi pemahaman dan ilmu. Maka barangsiapa yang tidak merasa cukup dengan para shahabat, maka Allah I tidak akan mencukupkan mereka.”  Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
1.    Al-Qur`an
2.     Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi
3.    Taisir Al-Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa’di
4.    Syarah Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
5.    Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Asy-Syaikh Al-Albani
6.    Makanatu Ahlil Hadits, Asy-Syaikh Dr. Rabi’
7.    Manhajus Salaf Fitta’amul Ma’a Kutubi Ahlil Bida’, Asy-Syaikh Muhammad bin Mani’

Catatn Kaki:

1 Nama beliau adalah Abu Abdillah Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah bin Nashir dari keluarga As-Sa’di dari suku Tamim. Beliau adalah ahli ilmu Al Qur`an dan tafsir pada pertengahan abad 14 H. Dilahirkan di ‘Unaizah, Arab Saudi, 12 Muharram 1307 H. Setelah 69 tahun mengorbankan umurnya untuk mengabdi kepada ilmu, beliau wafat tahun 1376 H di kota kelahirannya.

Sabar

‘Umar bin Al-Khaththab z berkata:
“Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar. Jika sabar itu ada pada seseorang, pasti ia tergolong orang dermawan.”

‘Ali bin Abi Thalib z berkata:
“Posisi sabar bagi iman seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah badan. Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak sabar.”

‘Umar bin Abdul ‘Aziz t berkata:
“Allah I tidak memberikan suatu kenikmatan kepada salah seorang hamba-Nya kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar. Maka penggantinya itu lebih baik daripada apa yang dicabut darinya.”

Al-Hasan Al-Bashri t berkata:
“Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik. Allah I tidak memberikan kecuali kepada hamba-Nya yang mulia di sisi-Nya.”