Pintu Itu Dipecah : Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (20)

Tidak ada lagi Kisra di Persia. Tidak ada lagi istana putih yang megah berdiri angkuh. Tidak ada lagi Rustum, tidak ada lagi Yazdajird. Berhala api di kuil-kuil pemujaan padam. Masjid-masjid mulai didirikan, lalu berkumandanglah azan di seluruh negeri Persia itu.

Akan tetapi, lelatu api dendam itu ternyata tidak padam, bahkan tak pernah padam.

Sampai hari ini, sampai detik ini. Di balik hati gelap seorang budak api, budak yang seharusnya menjadi mulia karena dipelihara oleh orang-orang yang terhormat, agar menjadi orang yang mulia karena mendengar Kalam Ilahi setiap waktu. Namun, dia lebih memilih kehinaan dalam dendam kesumat keruntuhan bangsanya.

 

Pintu Itu Dipecah

Suatu ketika, Amirul Mukminin berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatnya, dia bertanya, “Siapa di antara kamu yang hafal sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menyebut-nyebut berbagai fitnah, sebagaimana yang beliau ucapkan?”

“Aku. Aku hapal sebagaimana yang diucapkan oleh beliau,” kata Hudzaifah radhiallahu ‘anhu.

“Ayo, sebutkan. Sungguh, kamu benar-benar berani,” kata ‘Umar.

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّ ةَالُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ .

‘Fitnah (ujian yang menimpa) seseorang dalam urusan keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya, dihapus oleh puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar’.”

‘Umar berkata, “Bukan ini yang aku inginkan, melainkan tentang fitnah yang melanda seperti gelombang lautan.”

“Ada urusan apa antara Anda dan fitnah itu, wahai Amirul Mukminin? Sungguh, antara Anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

‘Umar bertanya, “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka?”

Hudzaifah berkata, “Tidak (dibuka), tetapi dipecah.”

‘Umar berkata, “Itu lebih pantas untuk tidak akan terkunci lagi selamanya.”

Rawi berkata, “Kami bertanya kepada Hudzaifah, ‘Apakah ‘Umar tahu perihal pintu itu?’.”

“Ya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah siang adalah malam. Sungguh, aku pernah menyampaikan satu hadis kepadanya yang bukan aghalith (yang tidak pasti dan jelas -ed).”

Akan tetapi, kami segan menanyakan kepadanya (kepada Hudzaifah) siapa pintu itu. Kami kemudian menyuruh Masruq untuk bertanya kepadanya,

“Siapakah pintu itu?”

Hudzaifah berkata, “(Pintu itu) adalah ‘Umar.”[1]

Pintu itu adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Pintu itu pecah berantakan.

Namun, dia jatuh bagai mutiara yang pecah berserakan. Setelah itu, badai fitnah mulai melanda kaum muslimin persis seperti gelombang lautan yang susul-menyusul. Satu demi satu korban berjatuhan. Ada yang gugur sebagai syahid, karena tetap tegar di atas alhaq; ada yang terbenam dalam kehinaan kesesatan bahkan kekufuran.

 

Dendam Budak Majusi

Kebencian orang-orang Iran (Persia) tidak hanya tertuju kepada bangsa Arab, tetapi juga kepada Islam. Sebab, dengan Islamlah, Allah ‘azza wa jalla mengangkat harkat martabat bangsa Arab—juga manusia seluruhnya—sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla yang utuh. Islamlah yang melepaskan mereka dari belenggu perbudakan antarsesama menuju penghambaan hanya kepada Rabb semesta alam.

Islam pula yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang lurus, mengakui dan mencintai kebenaran serta cenderung kepadanya.

Ibnu Abi Syaibah menukil riwayat dari ‘Abdullah bin al-Harits al-Khuza’i yang mengatakan, “Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, ‘Sungguh, aku melihat dalam mimpi, seekor ayam jantan mematukku, dan aku melihat orang-orang menyingkirkannya dariku’.”

Seperti itu juga diceritakan oleh al-Imam Ahmad, dari Juwairiyah bin Qudamah yang datang ke Madinah pada tahun terbunuhnya ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhu menceritakan mimpinya kepada istrinya, Asma’ bintu ‘Umais bahwa dia dipatuk oleh seekor ayam merah. Asma menafsirkan mimpi itu bahwa beliau akan dibunuh oleh seseorang dari kalangan ajam (non-Arab).

Beberapa hari setelah itu, beliaupun ditikam oleh budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

Di antara peraturan yang dibuat oleh ‘Umar adalah melarang budak kaum muslimin—yang masih kafir—yang telah dewasa, memasuki Madinah.

Al-Mughirah bin Syu’bah yang berada di Kufah menyurati ‘Umar agar mengizinkan budaknya Abu Lu’luah ini memasuki Madinah. Dia adalah seorang pandai besi yang ahli, mampu membuat peralatan dari besi yang diperlukan manusia.

Budak itu datang ke Madinah dan mengadukan al-Mughirah yang mengambil pajaknya setiap hari empat dirham.

Abu Lu’lu’ah menemui ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, al-Mughirah menaikkan pajakku, bicaralah kepadanya agar menurunkannya.”

‘Umar berkata, “Bertakwalah kamu kepada Allah, berbuat baiklah kepada majikanmu. Bekerjalah, bekerjalah!”

“Aku dengar, kamu pandai membuat penggilingan yang digerakkan oleh angin? Buatkan untukku.”

“Ya, akan kubuatkan untukmu agar jadi buah bibir orang-orang yang di kota.”

Abu Rafi’, salah satu sumber yang mengisahkan kejadian itu berkata, “Sebetulnya, ‘Umar berniat menemui al-Mughirah dan memintanya meringankan beban budak itu.”

Namun, budak itu marah mendengar perkataan ‘Umar, diapun berkata, “Keadilanmu hanya berlaku untuk orang lain, tidak buatku.”

Budak itu membuat sebilah belati bermata dua, lalu melumurinya dengan racun. Kemudian dia menunjukkannya kepada Hurmuzan dan berkata, “Bagaimana menurutmu belati ini?”

Hurmuzan berkata, “Menurutku, tidak ada yang terkena belati ini kecuali pasti mati.”

Kemudian dia menunggu waktu lengahnya ‘Umar.

Rabu, empat hari menjelang akhir bulan Dzulhijjah 23 H, saat shalat subuh sudah mulai diiqamatkan. ‘Amr bin Maimun, salah seorang saksi mata menceritakan kejadian tragis itu.

“Aku berada di saf kedua. Tidak ada yang menghalangiku dari saf pertama selain rasa segan karena wibawa ‘Umar.”

Amirul Mukminin melangkah maju untuk memimpin shalat. Beliaupun mulai merapikan barisan kaum muslimin.

Belum sempat bertakbir, dari kegelapan subuh hari itu, sosok tubuh dengan cepat menyelinap, langsung menuju ke arah sang imam, tiba-tiba….

“Aku diterkam serigala!!” Terdengar teriakan sang imam.

Beberapa orang sahabat di barisan depan berusaha menangkap bayangan yang menyelinap hendak lari itu. Sebagian lagi mengangkat tubuh sang imam yang sudah berlumur darah dan membawanya ke sudut masjid.

Sosok bayangan tadi mengayunkan belatinya yang ternyata bermata dua ke kiri dan ke kanan. Lima atau enam orang bahkan lebih, segera meregang nyawa terkena sabetan dan tusukan belati itu yang ternyata beracun.

Tiba-tiba, salah seorang jamaah melemparkan sehelai kain menutupi pembunuh itu. Orang itu kaget dan panik. Akal pendeknya melihat tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri, dia yakin pasti terbunuh. Dengan cepat dia menikamkan belati ke tubuhnya, maka diapun tewas seketika.

Siapa orang ini?

Ternyata dia adalah budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu masih sempat mengingatkan agar shalat segera dilaksanakan, maka ‘Abdur Rahman bin ‘Auf segera maju mengimami kaum muslimin.

Shalat subuh itu dikerjakan dengan cepat. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf hanya membaca dua surat pendek dalam dua rakaat tersebut.

Usai shalat, kaum muslimin menjenguk ‘Umar yang sudah dibawa ke rumahnya. Ada yang menanyakan kabarnya, ada pula yang mendoakan kebaikan baginya.

Beliau meminta diberi perasan air kurma, lalu meminumnya. Ternyata air kurma itu keluar bersama darah. Setelah itu, beliau minta segelas susu, ternyata susu itu keluar dari luka yang menganga bersama darah.

Melihat hal itu, ‘Umar yakin tidak mungkin lolos dari kematian. Kemudian beliau bertanya kepada orang-orang yang di sekelilingnya, “Siapa yang (mau) membunuhku?”

“Budak al-Mughirah bin Syu’bah,” kata mereka.

“Semoga Allah ‘azza wa jalla membinasakannya. Aku pernah menyuruhnya kepada yang baik. Segala puji bagi Allah yang tidak menyebabkan kematianku di tangan seseorang yang mengaku muslim.”

Satu per satu sahabat menyebut-nyebut kebaikan beliau, tetapi ‘Umar justru mengatakan, “Demi Yang jiwa ‘Umar di Tangan-Nya. Aku sangat senang seandainya bagianku di akhirat hanya pas-pasan, tidak untung dan tidak rugi.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang ada di dekat kepala beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, Anda tidak kembali dalam keadaan hanya membawa apa yang dapat digenggam kedua tanganmu.

Anda sudah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baik persahabatan. Anda selalu melaksanakan perintahnya dan menjadi sebaik-baik pembantu sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan beliau meridhaimu.

“Kemudian Anda mendampingi Abu Bakr yang diangkat sebagai khalifah dan melaksanakan perintahnya serta menjadi sebaik-baik pembantu baginya sampai beliau wafat, radhiallahu ‘anhu. Kemudian Anda diangkat sebagai wali dan memimpin dengan sebaik-baiknya.”

‘Umar diam mendengarkan, lalu memintanya mengulangi kata-kata tersebut dan berkata, “Demi Allah, seandainya aku mempunyai emas sepenuh bumi ini, pasti aku tebus diriku agar lepas dari kengerian hari kiamat.”

Seperti itu juga yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Selamat dengan syahid yang akan kau terima. Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Aku datang dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar, dan aku pergi dengan Abu Bakr dan ‘Umar,’ aku memohon kepada Allah agar Dia mengumpulkan engkau bersama kedua sahabatmu itu.”

‘Umar menangis dan berkata, “Duhai kiranya aku selamat, tanpa pahala dan dosa.”

Tiba-tiba, terdengar suara Shuhaib berseru sambil mendekati pembaringan ‘Umar, “Ooh, saudaraku, saudaraku.”

“Tenanglah, wahai Shuhaib, tenanglah. Apakah kamu lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa mayit akan disiksa karena diratapi?”

Beliau pun memanggil putranya, ‘Abdullah, dan menyuruhnya menghitung utangnya lalu melunasi utang-utang tersebut. Ternyata semuanya berjumlah 86 ribu (dirham). Penguasa sepertiga belahan dunia ini ternyata menyimpan utang sekian banyak, padahal kunci kekayaan negara ada di tangannya.

Setelah itu, beliau memerintahkannya agar menemui Ibunda ‘Aisyah untuk memintakan izin agar dapat dikuburkan bersama kedua sahabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu.

Ternyata Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengizinkan dan lebih mendahulukan beliau, padahal Ibunda ‘Aisyah justru ingin dikuburkan di dekat kubur suami dan ayahnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

Namun, ‘Umar justru berkata, “Kalau aku mati, bawalah jenazahku menemui beliau lalu katakanlah, ‘Umar meminta izin,’ kalau diizinkan, bawalah masuk. Kalau beliau tidak mengizinkan, kuburkanlah aku di kuburan kaum muslimin.”

‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya yang paling akhir menyertai ‘Umar. Saya masuk menemuinya, dan saya lihat kepalanya di atas paha putranya, ‘Abdullah. ‘Umar berkata kepada putranya, ‘Letakkan pipiku di tanah’.”

“Pahaku dan tanah sama saja,” kata ‘Abdullah.

“Letakkanlah pipiku di tanah, kecewa ibumu,” kata ‘Umar.

Kemudian saya (‘Utsman) berkata, “Aku mendengarnya berkata, ‘Celakalah aku dan ibuku kalau Engkau (Ya Allah) tidak mengampuni dosa-dosaku,’ sampai beliau wafat.”

Inilah ‘Umar, tidak ada seorang wanita pun sanggup melahirkan seorang anak seperti ‘Umar. Mereka, khususnya yang bersama ‘Umar dari orang-orang yang telah dijamin surga oleh Allah ‘azza wa jalla melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, meraih kedudukan yang agung ini tidak lain adalah karena agama yang mulia ini.

Tidak ada kemuliaan tanpa Islam. Akan tetapi, seberapa banyak orang yang mengerti akan hal ini?

Oleh karena itu, siapa yang bersemangat ingin berjaya dan mulia, ambillah dari mana mereka mengambil. Berpeganglah dengan sekuat-kuatnya kepada apa yang menjadi pegangan mereka dalam hidup.

Surga yang diinginkan oleh setiap jiwa yang berakal sehat adalah ciptaan Allah ‘azza wa jalla dan disediakannya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Jalan menuju surga itu telah pula dibentangkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Tidak hanya itu, bagaimana cara menempuh jalan tersebut juga telah diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, disertai pula contoh konkret berupa orang-orang yang pernah melintasi jalan tersebut. Salah satunya adalah ‘Umar, radhiallahu ‘anhu.

Merekalah contoh nyata yang telahmeraih keridhaan dan kemuliaan yang disediakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka bukan orang-orang yang maksum dari dosa dan kesalahan. Namun, juga bukan orang-orang yang membiarkan dirinya selamanya terkotori oleh dosa dan kesalahan. Perjuangan dan upaya mereka meraih keridhaan dari Allah ‘azza wa jalla diakui dan diterima oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga mereka menjadi teladan untuk orang-orang yang datang setelah mereka.

Bahkan Allah ‘azza wa jalla menegaskan dalam firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

        “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Sebelum wafat, ‘Umar menunjuk enam orang sahabat besar yang termasuk orang-orang yang dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga, agar membahas siapa yang akan menjadi khalifah menggantikan ‘Umar.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. al-Bukhari (6567) dan Muslim (5150).

al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (19) : Perang Jalula

Peristiwa ini terjadi setelah perang Qadisiyah dan jatuhnya Madain. Kisra Yazdajird melarikan diri dari Madain menuju Hulwan. Selama dalam pelarian menuju Hulwan, dia melakukan konsolidasi dengan tentara dan pengikutnya yang ada di setiap wilayah yang dilewatinya. Akhirnya, terbentuklah satu pasukan besar, maka dia pun menunjuk Mihran sebagai panglima pasukan besar ini. Kisra terus melanjutkan perjalanannya menuju Hulwan setelah meninggalkan banyak harta untuk membiayai pasukan itu.

Pasukan besar itu bermarkas di Jalula. Mereka mulai menggali parit besar di sekeliling mereka sebagai pertahanan dan berdiam di tempat itu dengan bekal dan peralatan yang sangat memadai.

Sa’d segera memberi kabar kepada Amirul Mukminin, maka ‘Umar memberikan jawaban agar Sa’d tetap di Madain dan menunjuk Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash sebagai pimpinan pasukan menuju Jalula.

Sa’d segera menjalankan perintah tersebut dan mengutus keponakannya (Hasyim) membawa pasukan dalam jumlah yang besar (sekitar 12.000 personil) yang terdiri dari para sahabat senior, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para pemuka bangsa Arab lainnya.

Bagian depan pasukan muslimin itu dipimpin oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, sayap kanan dipimpin oleh Sa’d bin Malik, sayap kiri oleh ‘Umar bin Malik dan bagian belakang di pimpin oleh ‘Amr bin Murrah al-Juhani.[1]

Pasukan muslimin segera bergerak dan tiba di Jalula. Di sana mereka mendapati pasukan Majusi telah membuat pertahanan dengan parit yang mereka buat. Pasukan Hasyim mulai mengepung mereka.

Pasukan musuh sering keluar dari negeri mereka untuk berperang setiap saat. Mereka menyerang kaum muslimin dengan sehebat-hebatnya, dan belum pernah terjadi serbuan sehebat itu.

Kisra terus-menerus mengirimkan bala bantuan kepada pasukannya. Demikian pula Sa’d yang berada di Madain, selalu mengirimkan bantuan kepada pasukan muslimin yang dipimpin anak saudaranya.

Suasana perang mulai memanas, api peperangan mulai berkobar. Hasyim berkali-kali berorasi di hadapan pasukan muslimin untuk memotivasi mereka agar senantiasa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[2]

Bangsa Persia mengikat perjanjian dan kesepakatan dengan sekutu-sekutunya. Mereka bersumpah demi api—tuhan mereka—tidak akan lari dari pertempuran hingga seluruh bangsa Arab dapat dibasmi.

Pecahlah pertempuran dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga anak panah kedua belah pihak mulai habis dan berganti dengan tombak-tombak yang juga habis beterbangan dari kedua pasukan. Akhirnya mereka mulai saling menyerang dengan pedang.

Waktu Zuhur telah tiba dan kaum muslimin hanya mampu melaksanakan shalat dengan isyarat. Di pihak lawan, sekelompok tentara Majusi meninggalkan gelanggang, lalu posisi mereka digantikan oleh kelompok lainnya.

Qa’qa’ berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Apakah kalian takut dengan apa yang kalian lihat, wahai kaum muslimin?”

“Ya. Sebab, kita dalam posisi bertahan dan mereka menyerang.”

Kata Qa’qa’, “Mari kita gempur mereka secara serentak, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memutuskan perkara antara kita dan mereka.”

Kaum muslimin mulai bersiap menyerang secara serempak. Qa’qa’ sendiri membawa beberapa pasukan berkuda yang dikendarai oleh para pahlawan perang hingga mereka sampai di pintu parit.

Perlahan, malam mulai merayap. Ketika hari mulai gelap, beberapa pasukan berkuda kaum muslimin mendekati kubu pertahanan musuh dengan diam-diam. Di antara para kesatria penunggang kuda tersebut adalah para jagoan, seperti Thulaihah al-Asadi, ‘Amru bin Ma’di Karib, Qais bin Maksyuh, dan Hijr bin Adi.

Pasukan Majusi sendiri dalam keadaan tidak mengetahui sama sekali apa yang dilakukan pasukan Qa’qa’ dalam kegelapan. Mereka tidak menyadari semua itu hingga terdengar teriakan, “Di mana kamu, wahai kaum muslimin? Ini, pemimpin kalian sudah di depan pintu parit musuh.”[3]

Ketika orang-orang Majusi mendengar teriakan itu, mereka segera melarikan diri. Kaum muslimin langsung menyerbu bergabung dengan Qa’qa’ bin ‘Amru yang ternyata sudah menguasai pintu parit.

Tentara Persia berlari kocar-kacir dikejar kaum muslimin dari segala penjuru dan dihadang ke mana pun mereka lari. Tidak kurang dari 100.000 prajurit Persia tewas bersimbah darah di tangan kaum muslimin. Permukaan bumi dipenuhi mayatmayat yang bergelimpangan. Itulah sebabnya peperangan ini dinamakan dengan Perang Jalula (yang bergelimpangan).

Hasyim bin ‘Utbah mengirim Qa’qa’ mengejar mereka yang lari menyusul Kisra sampai bertemu dengan panglima Mihran. Qa’qa’ berhasil membunuh Mihran, tetapi Fairuzan berhasil menyelamatkan diri.

Kaum muslimin berhasil mendapatkan ghanimah berupa harta, senjata, emas dan perak yang jumlahnya hampir sama dengan harta yang mereka dapati di Madain.

Ghanimah yang diperoleh segera dibagi dan dikirim oleh Hasyim kepada pamannya, Sa’d. Kemudian Sa’d mengeluarkan seperlimanya untuk dikirimkan ke Amirul Mukminin di Madinah. Yang menjadi pengawal ghanimah itu adalah Ziyad bin Abi Sufyan, Qudha’i bin ‘Amr, dan Abu Muqarrin al-Aswad.

Sesampainya di Madinah, ‘Umar bertanya kepada Ziyad tentang kemenangan yang mereka peroleh. Ziyad menceritakannya dengan ungkapan yang menakjubkan, karena dia seorang yang fasih dalam menjelaskan. Mendengar cara Ziyad menceritakan, ‘Umar ingin agar cerita heroik ini diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Kata ‘Umar kepada Ziyad, “Apakah kamu mampu berpidato kepada kaum muslimin menceritakan kemenangan ini?”

“Siap, wahai Amirul Mukminin. Tidak ada yang lebih saya segani di dunia ini selain Anda, maka bagaimana mungkin saya tidak mampu untuk berbicara kepada orang lain?”

Lalu dia pun menceritakannya kepada kaum muslimin dengan bahasa yang indah dan memukau. Dia menceritakan bagaimana mereka berperang, berapa yang terbunuh, dan berapa rampasan perang yang mereka peroleh.

Kata ‘Umar, “Sungguh, dia ini betul-betul orator ulung.”

Kata Ziyad, “Pasukan kami membuktikan ucapan kami dengan tindakan.”

Setelah itu, ‘Umar bersumpah tidak akan membiarkan harta itu tersimpan hingga dibagi-bagikan kepada yang berhak. Harta itu diletakkan di masjid, dijaga oleh ‘Abdullah bin Arqam radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu.

Usai shalat Subuh, setelah matahari terbit, ‘Umar memerintahkan agar penutup harta itu dibuka. Begitu melihat tumpukan emas, perak, dan permata yang berkilau itu, berlinanglah air mata ‘Umar, beliau menangis.

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdur Rahman bin ‘Auf, “Demi Allah, ini adalah waktunya bersyukur.”

“Demi Allah, bukan itu yang membuatku menangis. Demi Allah, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ini kepada suatu kaum kecuali mereka pasti akan saling iri, benci; dan tidaklah mereka saling mendengki kecuali tentu akan ditimpakan kejelekan di antara mereka.”

 

Jatuhnya Hulwan

Fairuzan yang berhasil melarikan diri tiba di tempat Kisra dan segera memberitahu Kisra tentang kekalahan mereka di Jalula dengan terbunuhnya 100.000 tentara Persia itu serta tewasnya Mihran.

Mendengar berita buruk ini Kisra segera melarikan diri dari Hulwan menuju Rai (Teheran sekarang) dan dia menunjuk seorang amir yang bernama Khasrusynum agar bertahan di Hulwan.

Qa’qa’ maju menyerbu mereka. Khasrusynum menantang Qa’qa’ untuk bertempur di suatu tempat yang berada di luar Hulwan. Qa’qa’ menyambut tantangan itu dan pecahlah pertempuran sengit dan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

Khasrusynum dan pasukannya kalah, dia sendiri melarikan diri.

Qa’qa’ terus menuju Hulwan dan berhasil merebutnya. Di dalam benteng, mereka mendapatkan harta rampasan perang dan para tawanan. Mereka menguasai tempat itu sambil memungut jizyah dari penduduk yang tinggal di sekitarnya setelah diajak masuk Islam tetapi menolak.

Qa’qa’ menetap di Hulwan sampai Sa’d pindah dari Madain ke Kufah.[4]

 

Kisah Hurmuzan

Menurut sebagian ahli sejarah, Hurmuzan termasuk di antara tentara Persia yang melarikan diri dalam peperangan Qadisiyah.

Abu Musa yang berada di Bashrah mulai berangkat, demikian pula ‘Utbah bin Ghazawan yang ketika itu di Kufah. Keduanya bersiap hendak memerangi Hurmuzan.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemenangan kepada keduanya. Mereka mengambil kembali daerah yang dikuasainya, antara Eufrat dan Tigris. Kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang dan tawanan.

Hurmuzan berpura-pura berdamai dengan mereka untuk menyelamatkan daerah-daerah lainnya. Akan tetapi, Hurmuzan melanggar perjanjian dan meminta bantuan kepada sebagian orang Kurdi.

Kaum muslimin berhasil mengalahkannya, hingga dia melarikan diri ke Tustar. Ketika negeri itu berhasil ditaklukkan, segera Hurmuzan melarikan diri ke benteng.

Para jagoan Islam, di antaranya adalah Ka’b bin Tsaur, al-Bara’, saudara Anas bin Malik, dan Majza-ah bin Tsaur, terus memburunya dan mengepungnya di satu tempat di benteng itu.

Hurmuzan tidak mempunyai pilihan lain, jika bukan dia yang mati, merekalah yang mati.

Setelah berhasil membunuh al-Bara’ dan Majza-ah, Hurmuzan berkata kepada mereka, “Sungguh, di dalam tempat busurku ada seratus anak panah. Tidak satu pun dari kalian yang mendekat kepadaku pasti akan kubinasakan dengan anak panahku. Setiap panahku akan menghabisi nyawa tiap orang dari kalian. Apa gunanya kalian menawanku setelah kubinasakan seratus orang dari kalian?”

“Lalu, apa maumu?”

“Kalian harus menjamin keamananku setelah aku menyerahkan kedua tanganku untuk kalian ikat lalu kamu menyerahkanku kepada ‘Umar bin al-Khaththab agar menjatuhkan hukuman untukku sesuai dengan yang dia inginkan.”

Mereka menerimanya, maka Hurmuzan segera melempar busur dan anak panahnya. Tangannya segera diikat sekuatnya untuk dikirim kepada ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya kaum muslimin berhasil menguasai semua yang ada di negeri tersebut berupa harta dan hasil buminya. Setelah disisihkan 4/5 bagiannya, maka setiap penunggang kuda menerima 3.000 dirham dan pasukan pejalan kaki 1.000 dirham.

Setelah itu, Abu Saburah segera mengirim seperlima dari harta rampasan berikut Hurmuzan yang sudah terikat. Abu Saburah mengutus pula sekelompok utusan yang di dalamnya ada Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais.

Menjelang tiba di kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin. Rombongan itu bertanya di mana Amirul Mukminin berada.

Orang-orang yang ditanya memberitahukan bahwa beliau tadi pergi ke masjid, menerima utusan dari Kufah. Akan tetapi, mereka tidak menjumpai ‘Umar. Mereka kembali keluar dan bertanya kepada beberapa remaja yang sedang bermain di halaman masjid.

“Beliau sedang tidur dengan beralas jubahnya yang bertopi (burnus) di masjid,” kata mereka.

Mereka segera kembali ke masjid dan melihatnya dalam keadaan tertidur dengan alas jubahnya itu. Tidak ada orang lain di masjid selain beliau, sementara tongkatnya tergantung di tangannya.

Hurmuzan bertanya, “Mana ‘Umar?”

Kata mereka, “Inilah dia.”

Mereka berbicara dengan suara lirih agar tidak membangunkannya.

Tetapi Hurmuzan bertanya lagi, “Mana pengawal pribadinya?”

“Dia tidak mempunyai pengawal pribadi ataupun penjaga.”

Hurmuzan berkata, “Seharusnya dia seorang nabi.”

“Bukan, tetapi dia menjalankan tugas para nabi.”

Orang-orang bertambah banyak yang datang, ‘Umar pun bangun mendengar keramaian itu dan langsung duduk.

‘Umar mengamati Hurmuzan dan bertanya, “Inikah Hurmuzan?”

“Ya,” kata mereka.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

Kemudian ‘Umar melanjutkan, “Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap.”

Salah satu utusan tersebut berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya.”

Mereka pun segera mereka menggantinya dengan pakaian biasa.

Setelah itu ‘Umar berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

Kata Hurmuzan, “Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami.”

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”

Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkannya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

“Sebetulnya, aku tidak memerlukan air, tetapi aku ingin menenangkan jiwa dengannya.”

“Aku akan membunuhmu.”

“Engkau telah memberiku jaminan keamanan.”

“Kau dusta.”

Anas yang ikut menyaksikan berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Celaka kamu, hai Anas? Apakah aku menjamin keamanan orang yang telah membunuh Majza-ah dan Bara’? Kamu harus mendatangkan bukti. Kalau tidak, aku akan menghukummu!”

Anas segera berkata, “Tadi Anda mengatakan, ‘Tidak apa-apa, minumlah sampai kamu menerangkannya kepadaku,’ dan Anda juga mengatakan, ‘Tidak apa-apa, hingga engkau minum’ dan semua yang ada di sana mengatakan hal yang sama.”

‘Umar segera mendekati Hurmuzan dan berkata, “Kamu berhasil menipuku. Demi Allah, aku tidak mau tertipu kecuali jika engkau masuk Islam.”

Akhirnya, Hurmuzan masuk Islam lalu dia diberi 2.000 dirham dan disuruh tetap tinggal di Madinah.

Kata Ibnu Katsir, “Hurmuzan masuk Islam dan baik Islamnya. Dia tidak pernah berpisah dari ‘Umar hingga ‘Umar terbunuh.”

Ada yang meriwayatkan bahwa ketika ‘Umar berhaji, Hurmuzan ada di dekatnya.

Tetapi, sebagian orang ada yang menuduhnya ikut andil dalam pembunuhan ‘Umar, yaitu persekongkolan antara dia dan Jufainah dengan menugaskan Abu Lu’lu’ah untuk membunuh ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Karena itulah, ‘Ubaidullah bin Umar membunuh Hurmuzan dan Jufainah.

Diriwayatkan bahwa ketika ‘Ubaidullah menikamkan pedangnya kepada Hurmuzan, Hurmuzan mengucapkan La ilaha illallah. Adapun Jufainah mati disalib.

Terakhir, Kisra Yazdajird berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya untuk menyelamatkan diri. Berita terakhir menyebutkan bahwa dia bermukim di Isfahan. Namun, dia terbunuh juga di Thahhan.

Setelah itu, pasukan dan para pembesar serta keluarganya tercerai berai di seluruh pelosok, dan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, kekuatan Persia lenyap. Allah subhanahu wa ta’ala sudah meruntuhkan kesombongan mereka dan mencerai-beraikan mereka.

Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai kaum muslimin,

berpegangteguhlah kamu dengan agama ini,

ikutilah petunjuk Nabi kalian.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ibrah

[1] al-Bidayah wan Nihayah 7/79.

[2] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[3] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[4] al-Bidayah wan Nihayah 7/82.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (12) : Perang Jalula

Jatuhnya al-Madain bulan Shafar tahun 16 H, telah meruntuhkan mental bangsa Persia. Lebih-lebih lagi ketika mengetahui bahwa kaum muslimin berhasil memasuki wilayah al-Madain setelah menyeberangi sungai Dajlah (Tigris) dengan selamat, tanpa alat penyeberangan seperti rakit, perahu, atau jembatan. Sebab, semua sarana untuk menyeberang sudah dimusnahkan oleh tentara-tentara Persia itu agar kaum muslimin tidak sampai menyerbu ke dalam ibu kota negara.

Akan tetapi, Allah Mahakuasa. Kehendak-Nya jua yang berlaku. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

Kemenangan yang sudah dijanjikan-Nya untuk kaum mukminin melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehendak yang sudah pasti. Oleh karena itu, pasti ada saja jalan untuk mewujudkannya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang memberi taufik kepada pasukan muslimin yang dipimpin oleh Sa’d untuk menyeberangi sungai yang saat itu meluap dan mengalir deras.

Bukankah sungai itu juga salah satu tentara Allah subhanahu wa ta’ala? Ini pula salah satu dari sekian rahasia—sesudah Allah subhanahu wa ta’ala—mengapa kaum muslimin selamat dan tenang berjalan di atas air yang sedang banjir itu.

Itulah sebuah hubungan yang serasi. Ketika manusia-manusianya beriman dan tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semua yang di alam ini menjadi sahabat dan saudaranya. Semua terpanggil untuk membantu saudaranya.

Keadaan ini akan semakin terbukti nanti suatu saat, ketika kaum mukminin menumpas musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dari kalangan Yahudi. Semua batu dan pepohonan akan memanggil setiap muslimin dan mengadukan bahwa di belakangnya ada Yahudi yang bersembunyi.

Bukan pula suatu hal yang aneh, pasukan muslimin berjalan dengan santainya di atas air sungai yang sedang meluap dan banjir itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menahan kaki-kaki kuda mereka agar tidak tenggelam. Dia subhanahu wa ta’ala juga yang memerintahkan sungai itu untuk tidak menenggelamkan tentara-tentara-Nya yang sedang berjihad di jalan-Nya. Itu hanyalah sebagian kecil dari kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang menahan langit agar tidak jatuh menimpa bumi dan membinasakan penghuninya. Dia subhanahu wa ta’ala pula yang menahan burung-burung agar terbang melayang di angkasa. Karena itu, tidak sulit bagi Allah subhanahu wa ta’ala menahan para hamba-Nya yang sedang berjuang menegakkan kalimat-Nya agar tinggi mulia sehingga tidak tenggelam atau terbawa aliran sungai yang sedang meluap itu.

Selain itu, berita gembira yang pernah terucap dari lisan ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasul (Utusan) Allah yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Apa yang disampaikannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjanjikan bahwa kaum muslimin akan menguras simpanan kekayaan Kisra Persia dan membelanjakannya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Semua itu menambah semangat dan keyakinan semua prajurit muslim yang dipimpin Sa’d, lalu mendorong mereka menyambut tawaran Panglima itu untuk menyeberangi sungai dengan kuda-kuda perang mereka.

Demikianlah, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu, kaum muslimin berhasil menembus jantung ibu kota dan menguras semua kekayaan istana lalu mengirimnya kepada Amirul Mukminin ‘Umar di Kota Madinah.

Melihat kiriman ghanimah yang luar biasa banyaknya, Khalifah ‘Umar bergumam, “Sungguh, orang-orang yang menunaikan ini semua adalah orang-orang yang tepercaya menjaga amanah.”

‘Ali yang mendengar ucapan itu menimpali, “Anda adalah orang yang menjaga kehormatan, maka rakyat Anda juga menjaga kehormatan mereka.”

 Perang Jalula’

Malu, takut, dan putus asa, serta dendam. Itulah yang dibawa lari oleh tentara Persia yang tersisa meninggalkan al-Madain. Mereka terus melarikan diri hingga ke Jalula’. Sebuah daerah kecil di perbatasan Irak dan Iran, sekitar 185 km sebelah tenggara Baghdad sekarang. Daerah ini adalah basis pertahanan terakhir Kerajaan Sasan dalam menghadapi kaum muslimin.

Di saat-saat bangsa Persia tercerai-berai di wilayah itu, tampillah dua perwira tinggi militer Persia yang sudah merasakan pahitnya kekalahan di Qadisiyah. Keduanya adalah Hurmuzan dan Mahran ar-Razi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, berbekal dendam yang bergelora, keduanya menyatukan seluruh prajurit Persia yang masih tersisa dan membuat markas di Jalula’. Sebuah lokasi yang sebetulnya sangat strategis, dengan tembok yang tinggi dan kuat di sekelilingnya.

Kedua perwira itu berusaha menyalakan semangat tempur prajurit Persia yang nyaris padam. “Kalau kalian bercerai berai, niscaya tidak akan pernah lagi bersatu padu selamanya. Inilah lokasi yang menentukan di antara kita. Karena itu, mari bersatu, kita serang orang-orang Arab itu. Kalau kita menang, itulah harapan kita; dan kalau kalah, kita sudah berjuang.”

Kemudian, Mahran meminta kepada Yazdajird tambahan pasukan dan bahan makanan pokok. Dia memerintahkan agar para prajurit membuat parit perlindungan yang besar dan dalam, mengitari tembok kota. Dia juga memerintahkan agar dipasang ranjau besi untuk menghalangi kuda-kuda kaum muslimin memasuki kota.

Sementara itu, Panglima Sa’d radhiallahu ‘anhu masih menunggu perintah dari Khalifah  ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia sudah memberi laporan tentang keadaan al-Madain dan menyampaikan pula bahwa pasukan Persia sudah berkumpul di Jalula’.

Khalifah memerintahkan agar Sa’d tetap di Qadisiyah dan mengirim pasukan tersendiri ke Jalula’, diperkuat oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah.

Setelah menerima perintah, Sa’d menyuruh putra saudaranya, Hasyim bin ‘Utbah, agar bertolak dengan 12.000 personil menuju Jalula’. Di dalam pasukan itu masih banyak sahabat Muhajirin dan Anshar yang ikut.

Pasukan ini adalah ujung tombak yang diarahkan kepada pasukan Persia di Jalula yang kekuatannya 15 kali lipat pasukan muslimin. Bahkan, Mahran membuat taktik perang baru, yaitu dengan cara maraton. Dia membagi dua pasukan Persia, separuhnya dengan kekuatan penuh akan menyerang kaum muslimin, yang lain istirahat.

Penyerangan akan dilakukan bergantian, kalau pasukan pertama menyerang, yang kedua istirahat. Pada gilirannya, pasukan yang tadi istirahat akan menyerang kaum muslimin, begitu seterusnya sampai kaum muslimin—menurut mereka—kehabisan tenaga dan mudah dilumpuhkan.

Sudah tentu, menurut hitungan manusia, lawan kaum muslimin ini tidak seimbang dengan kaum muslimin. Ditambah lagi, pasukan lawan sudah terlatih. Akan tetapi, itu tidak ada gunanya, dan sudah terbukti.

Begitu tiba di Jalula’, mereka kaget melihat pertahanan yang dibuat pasukan Persia. Mereka hanya mempunyai dua pilihan, menang atau kalah. Mahran betul-betul menjadi harapan terakhir bangsa Persia untuk memukul mundur kaum muslimin.

Persiapan tentara Persia luar biasa. Mereka menyiapkan ransum yang cukup untuk hidup berbulan-bulan di dalam kota itu. Semua persediaan lengkap. Kaum muslimin mengepung kota itu hampir tujuh bulan. Setiap ada kesempatan, tentara Persia dengan kekuatan besar menyerang kaum muslimin kemudian kembali ke balik parit perlindungan. Tentu saja, kaum muslimin semakin lama merasakan tekanan dan kepayahan. Mereka dipaksa untuk selalu siaga penuh menyambut serbuan pasukan Persia yang datang dengan kekuatan besar.

Melihat situasi semakin sulit, Hasyim mengirim utusan kepada Panglima Sa’d meminta bantuan. Segera saja dikirim pasukan baru dengan diperkuat oleh Qa’qa, ‘Amr bin Ma’dikarib, dan Thulaihah al-Asadi serta yang lainnya. Masing-masing sama kekuatannya, yakni dengan seribu orang.

 Pukulan Terakhir

Lambat laun, pasukan Persia juga merasa bosan. Melihat ketabahan kaum muslimin yang luar biasa, Mahran mengajak para perwira lainnya bermusyawarah, langkah apa yang harus dilakukan mengakhiri keadaan ini.

Allah Mahakuasa, Dia takdirkan mereka menyetujui untuk menyerang kaum muslimin dengan kekuatan lengkap. Ahad pagi, 15 Dzulqa’dah tahun 16 H, pasukan Persia keluar dari markas mereka dengan kekuatan penuh. Seakan-akan ini adalah pasukan penentu yang akan memusnahkan pasukan muslimin—menurut mereka.

Hasyim mengingatkan, “Kedudukan hari ini ditentukan oleh yang setelahnya. Berbuatlah karena Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ucapan ringkas ini cukup menyulut semangat tempur kaum muslimin.

Keduanya saling mendekat dan mulai menyerang. Saking dahsyatnya pertempuran hari itu, seperti hari terakhir Qadisiyah. Tidak ada yang terdengar kecuali teriakan kesakitan atau jerit kematian, dan denting senjata serta desingan panah dan tombak yang dilemparkan. Begitu hebatnya pertempuran, sampai-sampai kaum muslimin menunaikan shalat zhuhur dengan isyarat.

Tidak ada kesempatan buat menata barisan untuk shalat, musuh betul-betul bertekad melenyapkan kaum muslimin. Namun, itulah keimanan. Dalam situasi genting seperti itu, shalat yang merupakan kewajiban indvidu tidak mereka tinggalkan. Padahal, banyak orang di masa kini yang mengaku dirinya muslim, shalat tidak lagi mereka anggap kewajiban, bahkan sering tidak diperhatikan.

Bagaimana mereka akan sukses, dunia akhirat, apabila shalat disia-siakan? Bagaimana mungkin mereka meraih kebahagiaan, kemenangan dan kejayaan, apabila shalat ditinggalkan? Tidakkah kaum muslimin meniru keadaan generasi awal umat ini? Para pendahulu mereka yang saleh?

Nyawa mereka terancam oleh musuh yang mengepung dan menyerang dari semua penjuru. Jika lengah, kepala mereka bisa lepas dan nyawa mereka melayang. Akan tetapi, shalat untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, menunjukkan ketaatan kepada-Nya dan mensyukuri-Nya, tidak mereka lupakan sekejap matapun.

Akan tetapi, memang hanya orang-orang yang masih mempunyai hati yang hidup, sehat, dan bersih serta terisi dengan rasa takut dan harap serta cinta kepada Allah yang akan mampu mengambil pelajaran.

Pertempuran masih berlangsung. Silih berganti pasukan Persia menyerang kaum muslimin. Jika satu kelompok menyerang, yang lain istirahat, dan begitu seterusnya.

Qa’qa’ melihat situasi tersebut dan cepat mengambil keputusan. Kaum muslimin harus bisa memutus jalur balik pasukan Persia menuju benteng perlindungan. Kaum muslimin harus bisa menerobos dan mengambil posisi di belakang pasukan Persia, di antara parit dan tembok benteng.

Dengan lantang, dia berseru, “Seranglah mereka dengan serempak, sampai bisa berbaur dengan mereka.”

Mendengar perintah komandan mereka, kaum muslimin mengerahkan seluruh kemampuan mereka menyerang pasukan Persia. Mereka terus mendesak dan berusaha menerobos agar tiba di pintu parit perlindungan itu.

Dengan mengerahkan segenap kekuatan mereka, Qa’qa’ dan pasukannya mendesak tentara Persia sampai di pintu parit perlindungan di luar tembok kota.

Malam mulai menjulurkan tirainya menyelimuti persada. Bumi mulai gelap dan pasukan saling berjaga karena kegelapan. Qa’qa’ justru ingin perang terus berlanjut agar segera bisa menguasai parit itu dan memutus jalur balik pasukan Persia ke kota.

Dengan lantang Qa’qa’ berseru, “Wahai kaum muslimin, ini Amir (pemimpin) kalian, di pintu parit, segera ke sini. Jangan ada yang menghalangi kalian untuk memasukinya!”

Demi mendengar teriakan itu, kaum muslimin segera membuka jalan dengan menerobos barisan musuh untuk mendekat ke arah Panglima mereka, Hasyim.

Akhirnya, pasukan muslimin berhasil mendekati pintu parit perlindungan itu, dan ternyata mereka melihat Qa’qa’ di sana sudah membuat kocar kacir pasukan Persia. Ranjau-ranjau yang dipasang pasukan Persia justru melumpuhkan kuda-kuda mereka sendiri. Angin kencang bertiup menambah kekacauan di barisan musuh.

Tentara Persia mulai di ambang kekalahan. Mereka melarikan diri tanpa kuda dan dikejar oleh kaum muslimin. Tidak ada yang lolos dari kaum muslimin kecuali yang tidak melarikan diri. Mayat-mayat tentara Persia berserakan di bumi Jalula’, seakan-akan menutupi permukaannya. Karena itulah, ia dinamakan Jalula’.

Kemenangan itu lebih hebat dari Qadisiyah. Rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin juga lebih banyak. Semua dikumpulkan kepada Hasyim dan dikirimkan kepada Panglima Sa’d untuk diteruskan ke Madinah.

Mengetahui kekalahan Persia di Jalula’, Yazdajird lari ke Hulwan bersama pengawalnya.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu (17) : Hari-hari berdarah di Qadasiyah

Dengan taufik dan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, pertempuran akhirnya berhenti. Siapa yang menang dan yang kalah telah jelas. Sebuah kemenangan gemilang bagi kaum muslimin, dan kekalahan memalukan bagi musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla.

Perang Qadisiyah benar-benar sebuah pertempuran yang dahsyat. Tiga hari pertama, pasukan Persia sanggup bertahan menghadang serangan kaum muslimin, bahkan sempat membuat kaum muslimin kewalahan dengan bantuan pasukan gajah mereka.

Belum pernah kaum muslimin menghadapi pertempuran sehebat itu selama berhari-hari. Biasanya, mereka menaklukkan lawan dalam pertempuran hebat sehari saja. Mengapa bangsa Persia begitu kuat dan semangat bertahan? Tidak lain adalah karena Perang Qadisiyah ini merupakan penentu hidup matinya Kerajaan Sasanid. Kalau mereka kalah, lenyaplah Persia, padamlah api suci di kuil-kuil pemujaan mereka. Kalau mereka menang, mereka betul-betul akan memusnahkan dan melenyapkan bangsa Arab dari percaturan dunia.

Selain tekad mempertahankan keangkuhan kekuasaan dan paganisme yang menjadi budaya bangsa, mereka merasa kuat karena dipimpin oleh Rustum. Selain ahli nujum (tukang ramal), dia juga seorang ahli perang tersohor, dengan pengalaman tempur yang luas. Ditambah pula jumlah personil yang besar, lebih dari seratus ribu pasukan inti, dengan persenjataan dan perbekalan yang lengkap. Bahkan, setiap hari dikirimi pula bantuan oleh Yazdajird dari kota raja. Ternyata kekuatan dan persenjataan mereka tidak ada artinya menghadapi tentara-tentara yang sudah mendaftarkan dirinya untuk membeli surga yang dijual oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala memang memberitakan bahwa Dia menjual surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga yang berisi kesenangan abadi yang belum pernah terbetik dalam benak manusia, belum pernah pula terlihat ataupun terdengar oleh mereka.

Dengan surga itu, Allah ‘azza wa jalla membeli jiwa raga dan harta orang-orang yang menyatakan dirinya beriman.

Dan…

Orang-orang yang sudah menyatakan keimanannya itu serempak menyambut penawaran tersebut. Dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla, ‘kehebatan’ pasukan Persia harus takluk di hadapan tentara-tentara Allah ‘azza wa jalla. Runtuh sudah kesombongan mereka. Lenyap sudah kekuasaan dinasti Sasanid.

Dan kebatilan itu pasti lenyap, cepat atau lambat.

 Berita dari Qadisiyah

Di Madinah, Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq senantiasa mencari berita tentang keadaan Sa’d dan pasukannya di Qadisiyah.

Suatu hari, seorang penunggang kuda terlihat mendekati gerbang Madinah dengan cepat. ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu segera memapak penunggang kuda itu dan bertanya tentang kaum muslimin di Qadisiyah.

“Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kemenangan kepada kaum muslimin dan mereka memperoleh ghanimah yang sangat banyak,” kata orang itu sambil terus bercerita tanpa mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Siapakah ‘Umar hingga setiap orang harus mengenalnya?

Ya, siapakah ‘Umar? Inilah yang selalu dinasihatkannya kepada dirinya sendiri.

Sambil terus bercerita dari atas kudanya, sementara ‘Umar mengiringinya sambil berjalan kaki, mereka memasuki kota Madinah.

Di dalam kota, kaum muslimin memberi salam sambil menyebut kedudukan beliau, “Assalaamu ‘alaika, wahai Amirul Mukminin.”

Penunggang kuda yang baru datang terperangah dan merasa malu, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda, wahai Amirul Mukminin. Mengapa Anda tidak menerangkan jati diri Anda, wahai Khalifah?”

“Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku.”

Subhanallah. ‘Engkau tidak bersalah, wahai saudaraku’, ucapan ini hampir mustahil terdengar spontan keluar dari sebagian pembesar ketika tidak ‘dianggap’ dan tidak menerima penghormatan yang sesuai dengan kedudukannya. Bahkan, tidak jarang mereka yang diperlakukan seperti ini, menyimpan kejengkelan ketika disepelekan dan tidak dihormati sebagaimana layaknya.

Inilah ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, penguasa sepertiga belahan dunia. Kemudian, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat agar Sa’d tetap di tempatnya.

 Beberapa Hasil Penting

Perang Qadisiyah boleh dikatakan sebagai penentu jalannya sejarah di wilayah timur. Dengan kemenangan pasukan muslimin ini terjadi perubahan total dalam kehidupan baik politik maupun agama penduduk secara umum, dan Persia khususnya.

Kekalahan tentara Persia mengakibatkan lenyapnya kekuasaan dinasti Sasan di Irak yang kemudian menjadi salah satu unit politik dan geografi daulah Islamiyah.

Peristiwa Qadisiyah menggariskan perubahan Irak dan dakwah Islam di sana. Irak akhirnya langsung berada di bawah kekuasaan Khalifah Rasyidah yang membantu kaum muslimin menyebarkan dakwah Islam.

Usai pertempuran, empat ribu prajurit Rustum masuk Islam. Bahkan, beberapa kabilah Arab di tepi sungai Eufrat datang menampakkan keislaman mereka di hadapan Sa’d bin Abi Waqqash. Kemudian, beberapa penduduk Irak dan pembesarnya juga berdatangan masuk Islam.

Kemenangan pasukan muslimin di Qadisiyah adalah awal kemenangan Islam di wilayah tersebut. Yang paling penting adalah jatuhnya ibu kota Persia, Madain. Kemudian perang Jalula dan jatuhnya Hulwan tahun itu juga.

Beberapa wilayah Irak yang ditaklukkan Khalid bin al-Walid dan al-Mutsanna bin Haritsah radhiallahu ‘anhuma melanggar perjanjian, selain penduduk Baniqia, Basma, dan Ulais. Setelah kaum muslimin menang dalam Perang Qadisiyah, mereka kembali kepada kesepakatan perjanjian tersebut. Mereka mengajukan alasan bahwa mereka melanggar perjanjian itu karena tekanan tentara Persia. Kaum muslimin menerima pengakuan mereka untuk melunakkan hati mereka.

Akhirnya, ahlu sawad dan para petani serta yang lainnya menjadi ahli dzimmah. Dengan demikian, keamanan di Irak semakin stabil dan menjadi negara Islam.

Ghanimah yang diperoleh kaum muslimin dari perang Qadisiyah ini berlimpah. Di antaranya adalah bendera perang Persia yang dibuat dari kulit harimau, yang lebarnya kira-kira 24 m per segi (6x4m) dan diikatkan pada tiang yang tinggi bersambung-sambung. Bendera itu dihiasi dengan batu-batu permata dan mutiara.

 Merebut Kotaraja Madain

Sa’d masih tetap di Qadisiyah selama dua bulan, hingga seluruh pasukan bisa memulihkan tenaga dan semangat mereka. Selain itu, tindakan tersebut sangat membantu terjaganya stabilitas keamanan dan kehidupan masyarakat setempat.

Kemudian, Sa’d mulai bertolak menuju wilayah barat Madain dengan arahan dari Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Sa’d mulai membagi pasukannya. Sebagian ditinggalkan untuk menjaga wanita dan anak-anak kaum muslimin serta keamanan pasukan induk dari arah belakang.

Bulan Dzulhijjah 15 H, Sa’d tiba di Bahrasir. Kota itu ternyata memiliki tembok yang tinggi dan pertahanan yang kuat. Sa’d mengirim beberapa pasukan menelusuri wilayah itu. Sama sekali tidak ditemukan jejak-jejak pasukan Persia. Yang ada hanya sekitar seratus ribu petani wilayah tersebut.

Sa’d mengirim surat meminta pendapat Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu. Ternyata Khalifah ‘Umar menyerahkan urusan penduduk tersebut kepada Sa’d. Akhirnya Sa’d memaafkan mereka, bersikap lemah lembut kepada mereka, dan bergaul dengan baik bersama mereka. Para petani hanya dikenai pajak. Sawah ladang mereka tetap diakui sebagai milik mereka. Semua gembira dan menerima ketetapan Islam serta merasa damai.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman al-Farisi kepada penduduk Bahrasir menawarkan kepada mereka salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau pedang. Ternyata mereka memilih pedang dan menolak dua tawaran pertama dengan sengit dan marah.

Pasukan Persia segera menyiapkan manjaniq (pelontar peluru) untuk memukul mundur kaum muslimin. Sa’d mulai mengepung Bahrasir dan bersiap menggempur mereka. Dua puluh manjaniq kaum muslimin digelar, begitu pula kendaraan tempur yang terbuat dari kulit, kayu, dan kepingan besi. Kepungan ini menekan penduduk Bahrasir, hingga mereka kehabisan bekal. Akhirnya, mereka melarikan diri menuju Madain timur.

Sa’d berhasil memasuki Bahrasir dan menempatkannya di bawah kekuasaan Daulah Islam. Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 16 H.

Pasukan muslimin tiba di Ctesifon, Madain timur. Akan tetapi, mereka masih belum bisa memasuki kota itu karena terhalang Sungai Tigris. Ketika Yazdajird mengetahui bahwa pasukan muslimin telah hampir tiba di ibu kota kerajaannya, dia segera menuju Hulwan. Di sana, dia tinggal bersama para pembesar kerajaan dan keluarganya.

Selama beberapa hari, Sa’d berusaha mencari perahu untuk menyeberang. Sebab, orang-orang Persia telah mengangkat titi penyeberangan dan menahan perahu di tepi Sungai Tigris sebelah timur. Sebagian jembatan ada yang dibakar musnah. Hal ini sempat menggelisahkan pasukan muslimin karena mereka tidak mempunyai sarana untuk menyeberang.

Seorang penduduk pribumi menunjukkan jalan tembus ke kota. Akan tetapi, Sa’d ragu-ragu untuk melewati jalan itu. Ketika masih dalam keadaan demikian, kaum muslimin dikejutkan oleh luapan Sungai Tigris yang membawa lumpur dan kotoran.

Sa’d adalah Sa’d, salah seorang murid dari madrasah nubuwah yang langsung dididik oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesulitan itu tidak membuat Sa’d putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak membuatnya kalah.

Sa’d mulai memikirkan situasi ini dan bermusyawarah dengan pasukannya. Malam hari, Sa’d bermimpi melihat kuda-kuda kaum muslimin melintasi Sungai Tigris, padahal banjir demikian hebatnya.

Sa’d bertekad akan menyeberangi sungai itu bersama pasukannya. Dia menceritakan mimpinya. Ternyata sambutan kaum muslimin demikian semangat, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi keteguhan pada kami dan Anda di atas petunjuk, laksanakan.”

Panglima Sa’d memberi komando agar seluruh pasukan bersiap-siap menyeberang. Beliau mengatur strategi dengan menempatkan pasukan berkuda kaum muslimin di kepala jembatan di timur Sungai Tigris. Mereka harus mampu menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di sisi timur itu.

Sa’d memerintahkan agar pasukan pelopor dan pemukul melaksanakan taktik yang direncanakannya. Yang pertama menyeberang adalah 60 prajurit komando ahwal yang dipimpin oleh ‘Ashim bin ‘Amr. Pasukan ini berhasil menerobos rintangan dan menghancurkan pasukan musuh yang berjaga di Furadh lalu menguasai daerah itu.

Kemudian disusul pasukan kharsa yang dipimpin Qa’qa’ bin ‘Amr. Kedua pasukan ini menjadi kepala jembatan di atas dermaga timur Sungai Tigris dan menjadi pengawal penyeberangan pasukan muslimin.

Setelah merasa aman—dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala—dengan berhasilnya taktik tersebut, Sa’d mulai memerintah seluruh pasukan untuk menyeberang dengan aman sambil berdoa, “Kami meminta pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Kemudian Sa’d memajukan kudanya memasuki sungai Tigris diikuti seluruh kaum muslimin, tidak ada satu pun yang tertinggal. Akhirnya mereka berjalan di Sungai Tigris itu seakan-akan sedang berada di daratan.

Mereka menyeberang sambil berbincang, santai. Tidak ubahnya seperti ketika di daratan. Itulah ketenangan dan rasa aman yang merupakan buah kepercayaan penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan yakin akan janji serta pertolongan-Nya.

Salman al-Farisi berjalan bersama Sa’d radhiallahu ‘anhuma. Dia mendengar Sa’d berkata, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung. Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala pasti menolong wali-Nya dan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan memenangkan agama-Nya. Pasti Allah subhanahu wa ta’ala mengalahkan musuh-musuh-Nya, jika di dalam pasukan tidak ada kejahatan atau dosa yang mengalahkan kebaikan pemiliknya.”

Sa’d sendiri dikenal sebagai orang yang doanya terkabul. Beliau mendoakan keselamatan dan kemenangan bagi pasukannya.

Pasukan muslimin menyeberang dengan aman dan santai, tidak ada yang kehilangan dan tidak ada yang tenggelam. Sungguh, tidak pernah terbayangkan oleh penduduk Persia, Bahrasir khususnya, bahwa mereka merasa aman dengan benteng alami, yaitu Sungai Tigris. Mereka yakin terlindung dari serangan kaum muslimin. Lebih-lebih lagi, mereka sudah menahan perahu untuk menyeberang, membakar jembatan, dan ditambah pula Sungai Tigris sedang meluap hebat.

Ketika melihat pasukan muslimin ternyata sudah berada di tepian timur sungai itu, mereka terkejut luar biasa. Rasa takut dan bayang-bayang kematian segera menyelinap dan meruntuhkan semangat tempur prajurit api setan itu. Akhirnya mereka lari tanpa membawa sesuatu.

Dua pasukan pemukul yang lebih dahulu tiba segera memasuki kota. Ternyata, kota itu sepi dan hanya ada beberapa orang yang berusaha berlindung di sebuah istana putih. Kedua pasukan itu mengepung istana sampai Sa’d dan pasukan induknya tiba.

Kemudian, Sa’d mengutus Salman kepada mereka yang berlindung di istana putih itu menawarkan salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau perang. Mereka memilih jizyah dan tunduk di bawah perlindungan kaum muslimin. Sa’d menerima dan berdamai dengan mereka. Akan tetapi, beliau menyisihkan keluarga Kisra dan yang ikut bersama mereka, karena dijadikan sebagai ghanimah untuk kaum muslimin dan Baitul Mal.

Sa’d memasuki istana itu sampai menuju balairung, kemudian membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كَمۡ تَرَكُواْ مِن جَنَّٰتٖ وَعُيُونٖ ٢٥  وَزُرُوعٖ وَمَقَامٖ كَرِيمٖ ٢٦ وَنَعۡمَةٖ كَانُواْ فِيهَا فَٰكِهِينَ ٢٧  كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ ٢٨

“Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah, Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (ad-Dukhan: 25—28)

Kemudian tempat itu dijadikan masjid.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Umar Ibnul Khathtab (1): Hari-hari Berdarah di Qadasiyah

Pertempuran hari kedua sudah berhenti, korban bertambah banyak dari kedua pasukan.

Pada hari ketiga, kaum muslimin dan pasukan Persia kembali berhadapan. Jarak antara kedua pasukan ini tidak berubah, hampir satu mil. Di pihak kaum muslimin telah gugur hampir dua ribu orang, sementara di pihak lawan sudah terbunuh sepuluh ribu orang.

Kata Sa’d, “Siapa yang mau memandikan para syuhada silakan, dan siapa yang mau menguburkan mereka, segeralah kubur dengan sisa-sisa darah di tubuh mereka.”

Kemudian kaum muslimin menguburkan saudara-saudara mereka di belakang barisan muslimin.

 al-qadisiyah

Yaumu ‘Imas

Malam itu, Qa’qa’ bin ‘Amr berjaga sambil mengawasi pasukannya yang ditinggalkannya kemarin. Kemudian dia memerintah mereka, apabila matahari terbit, hendaklah maju seratus orang disusul seratus orang berikutnya. Kalau datang Hisyam dari Syam, itulah yang diharapkan. Kalau belum, mereka harus memperbarui harapan kaum muslimin. Pasukan menjalankan perintah, yang tanpa mereka sadari, ternyata itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka.

Setelah matahari muncul di hari ketiga itu, Qa’qa’ kembali mengawasi dari kejauhan. Matanya yang tajam melihat kepala-kepala kuda bergerak-gerak di kejauhan. Qa’qa’ bertakbir, diikuti oleh kaum muslimin, “Bala bantuan datang.”

Sementara itu, pasukan Persia sudah memperbaiki keadaan gajah-gajah mereka sehingga di hari ‘Imas itu kembali menimbulkan bencana bagi pasukan muslimin.

Pada hari ‘Imas, seorang prajurit musuh maju ke tengah-tengah lapangan di antara kedua pasukan tersebut. Dia menantang agar satu prajurit muslim maju untuk bertanding satu lawan satu dengannya.

Dari barisan muslimin, seorang laki-laki bernama Syibr bin ‘Alqamah maju menyambut tantangannya. Laki-laki ini berwajah buruk dan tubuhnya pendek. Dia berkata, “Wahai kaum muslimin, dia telah berbuat adil menantang satu lawan satu!”

Akan tetapi, tidak ada satu pun dari barisan muslimin yang maju menghadapi orang ajam itu.

“Demi Allah, seandainya kamu tidak merendahkanku, pasti aku maju menerima tantangannya.”

Ketika dia melihat tidak seorang pun yang menghalanginya, dia segera menghunus pedangnya dan melangkah maju.

Melihat laki-laki ini, orang Persia itu segera maju dan turun menghadapinya. Orang Persia itu mengangkat dan membanting prajurit muslim itu kemudian menindihnya dan mulai mencabut pedangnya untuk menyembelih si muslim. Tidak disadari oleh prajurit Persia itu bahwa kakinya terbelit tali kekang kudanya.

Ketika si Persia itu menghunus pedangnya untuk menyembelih Syibr, tiba-tiba kuda itu mengangkat kedua kakinya. Akibatnya, tali kekang itu menarik kaki prajurit Persia tersebut dan membuatnya terjatuh. Prajurit muslim itu berdiri di dada si Persia. Terdengar teriakan dari barisan muslimin, membuat Syibr semakin berani, “Bersoraklah sekehendak kamu, demi Allah, saya tidak akan membiarkannya sampai berhasil membunuhnya lalu merampas perlengkapannya.”

Akhirnya dia berhasil membunuh prajurit Persia itu dan membawa semua barang perlengkapan si Persia yang sudah tewas kepada Panglima Sa’d. Kemudian, Sa’d menyerahkan barang-barang itu kepadanya. Kemudian prajurit itu menjualnya seharga dua belas ribu dirham.

Ketika Sa’d melihat jalannya pertempuran, ternyata gajah-gajah itu kembali mencerai-beraikan barisan muslimin dan berbuat seperti kemarin. Dia bertanya, “Apa yang bisa membunuh gajah itu?”

Ada yang menjawab, “Mata dan belalai, kalau sudah hilang, gajah-gajah itu tidak ada gunanya.”

Kemudian dia memanggil Qa’qa’ dan ‘Ashim, “Selesaikan gajah putih itu oleh kamu berdua.”

Setelah itu, Sa’d memanggil Hammal dan Rubayyil dari Bani Asad, “Kamu berdua, selesaikan gajah yang abu-abu itu,” perintah Sa’d.

Qa’qa’ dan ‘Amr segera menyiapkan tombak mereka dan mendekat bersama beberapa prajurit berkuda dan jalan kaki, “Dekati gajah putih itu.”

Akhirnya, gajah putih itu berhasil mereka bunuh dan yang abu-abu berhasil dilukai. Kedua gajah itu menjerit seperti jeritan babi. Gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari dan menceburkan diri ke dalam sungai ‘Atiq.

Melihat gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari, gajah-gajah lain segera mengikuti gajah abu-abu itu. Gajah-gajah itu menerobos pasukan Persia hingga pasukan itu kocar-kacir. Mereka terus berlari membawa peti-peti tempat para sais yang sudah tewas semuanya, sampai tiba di Madain.

Setelah gajah-gajah itu pergi, tinggallah pasukan Persia berhadapan dengan kaum muslimin dengan apa yang ada pada mereka. Pedang-pedang dan tombak serta desingan panah berkecamuk lagi.

Pertempuran masih berlangsung seru sampai hari mulai gelap. Kedua pasukan tetap saling menyerang, tidak seperti kemarin. Malam itu, selesai shalat Isya, pasukan muslimin maju kembali menyerang pasukan Persia. Saking hebatnya suasana pertempuran, tidak ada yang bersuara kecuali seperti bergumam, sehingga malam itu dinamakan lailatul hariri.

Kaum muslimin bertempur hebat dengan pedang di tangan mereka dari permulaan malam sampai menjelang subuh. Mereka benar-benar menumpahkan kesabaran mereka menghadapi musuh, menang atau syahid. Malam itu juga dikenal sebagai lailatul qadisiyah. Tidak terjadi pertempuran di malam hari kecuali malam itu (lailatul hariri).

Malam itu kaum muslimin membagi pasukan mereka menjadi tiga barisan, yaitu barisan pasukan jalan kaki, tombak dan pedang, barisan pemanah dan barisan berkuda yang berada di depan pasukan jalan kaki. Semua pasukan menyerang, dan bertambah hebat serangan itu di waktu subuh. Malam itu tidak kurang dari sepuluh ribu dari pasukan musuh yang terbunuh, selain yang sudah tewas hari-hari sebelumnya.

Begitu sengitnya pertempuran, hingga berita tentang jalannya pertempuran terputus, tidak sampai kepada Sa’d dan Rustum.

Malam itu, Sa’d menghabiskan malamnya dengan gelisah, menunggu berita pasukannya, bagaimana keadaan mereka? Berapa yang terluka, atau syahid, ataukah berhasil mengalahkan musuh? Akhirnya, beliau habiskan malam itu dengan shalat dan doa, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala, sampai subuh.

 

Hari Keempat (Yaumul Qadisiyah)

Pagi hari keempat itu, pertempuran sengit bukan semakin berkurang, melainkan bertambah hebat. Kaum muslimin semakin tinggi semangat tempur mereka. Yang mereka cari hanya ridha Allah subhanahu wa ta’ala, menang atau syahid. Sayatan pedang, tusukan tombak dan panah, serta luka yang menganga di sekujur tubuh, seakan-akan menjadi obat kuat yang menambah tenaga mereka berlipat ganda.

Persenjataan dan bekal yang jauh di bawah pasukan Persia, keterampilan dan seni tempur yang tidak pernah mereka pelajari seperti halnya pasukan musyrik ini, tidak membuat mereka jeri terhadap ‘nama besar’ Persia yang pernah mengalahkan Romawi dan mencuri Salib besar milik Kerajaan Bizantium itu.

Menang atau mati sebagai syuhada dan meraih surga, itulah tekad mereka. Didorong niat mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan membuktikan janji-Nya yang pasti benar, lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang benar lagi dibenarkan, mereka semakin gigih menyerang.

Lebih dari dua ratus ribu kekuatan musyrik Persia seakan-akan tidak ada artinya di hadapan mereka. Teknik perang dan persenjataan yang lengkap lawan tidak menyurutkan keberanian mereka, tetapi justru menambah kekuatan mereka.

Apalagi yang mereka cari? Tidak ada lain, menang dan Islam tersebar atau mati sebagai syahid dan ditunggu bidadari surga.

Inilah yang tidak ada di hati budak-budak api itu. Inilah yang tidak pernah terbetik dalam benak para pecinta dunia. Mereka menganggap materi adalah segalanya, yang akan membuat mereka dan kekuasaan mereka abadi. Ternyata tidak.

Kekuatan tubuh mereka, perlengkapan dan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak dari pasukan muslimin, ternyata tidak ada artinya. Sebab, yang mereka lawan bukanlah kekuatan manusia biasa. Yang mereka lawan adalah kekuatan iman yang ada di dalam dada kaum muslimin, yang lebih kokoh dari gunung yang tinggi menjulang. Allah subhanahu wa ta’ala yang menggerakkan tangan, kaki dan tubuh mereka mengayunkan pedang, mengejar dan menerjang musuh mereka.

Pedang-pedang Allah subhanahu wa ta’ala itu semakin kuat mendesak musuh mereka. Serangan mereka semakin sengit, lebih-lebih gempuran para komandan pasukan muslimin. Semua punya cita-cita dan tujuan yang sama, menang dan Islam tersebar, atau mati sebagai syuhada.

Qa’qa’ dan saudaranya, ‘Ashim, Khalid bin ‘Urfuthah yang mewakili panglima Sa’d, Dhirar bin al-Azwar, Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali, dan Thulaihah al-Asadi—yang sempat murtad lalu kembali ke dalam Islam—serta ‘Amr bin Ma’dikarib, punya peran yang sangat penting dalam pertempuran hari itu. Mereka menjadi bintang pertempuran sengit siang hari keempat tersebut.

debu

Di tengah-tengah pasukan itu banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang pernah mendengar janji pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar lagi dibenarkan. Memang tidak ada wahyu yang turun, atau Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi panglima di depan mereka. Akan tetapi, janji yang pernah diucapkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terbukti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِمْ، ثُمَّ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ لَهُمْ

Akan datang kepada manusia suatu masa, mereka akan berperang. Lalu dikatakan kepada mereka, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang pernah menyertai (bersahabat dengan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka berkata, “Ya,” maka diberilah mereka kemenangan.

Kemudian mereka berperang, lalu dikatakan kepada mereka, “Adakah di tengah-tengah kalian orang yang pernah menyertai sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka menjawab, “Ya,” maka mereka juga diberi kemenangan. (HR. al-Bukhari (359) dan Muslim (2532) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu.)

Dalam pasukan muslimin, masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula murid-murid mereka dari kalangan tabi’in.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendaharaan Kerajaan Persia kepada kaum muslimin untuk mereka nafkahkan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Itu semua sudah ditakdirkan dan disiapkan oleh Allah ‘azza wa jalla bagi orang-orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala akan mewariskan bumi ini untuk orang-orang yang senantiasa tunduk dan menaati-Nya.

Kemenangan itu menyertai kesabaran, dengan semua jenis kesabaran. Inilah yang selalu terpatri dalam hati orang-orang yang beriman. Inilah yang tidak ada dalam hati orang-orang musyrik Persia.

Pagi itu, setelah semalaman mereka tidak tidur sekejap pun, Qa’qa’ mengingatkan pasukannya, “Sungguh, kekalahan adalah sesudah waktu ini, bagi yang memulai (menyerang) pada hari ini. Maka dari itu, bersabarlah dan bertahanlah, karena kemenangan itu bersama kesabaran.”

Saat itu juga mendekatlah Hilal bin ‘Ulaffah, Malik bin Rabi’ah, al-Kalih bin adh-Dhabbi, Dhirar bin al-Khaththab dan Dhirah bin al-Hudzail, Ghalib, Thulaihah, dan ‘Ashim kepada Qa’qa’. Kemudian mereka bersama-sama bergerak menyerbu ke arah pengawal Rustum.

Beberapa kabilah lain melihat kejadian ini, berseru, “Jangan sampai mereka lebih berani mati daripada kalian dan jiwa mereka lebih tidak peduli akan urusan dunia daripada kalian. Karena itu, berlombalah dengan mereka.”

Mereka pun bergerak menyerang pasukan lawan di hadapan mereka. ‘Utbah bin Nahhas, Furat bin Hayyan, Mu’anna bin Haritsah, dan Sa’id bin Murrah bangkit memompa semangat orang-orang suku Rabi’ah, “Kalian lebih tahu tentang Persia dan lebih berani di masa lalu. Apa yang menghalangi kalian untuk tidak berani seperti dahulu?”

Mereka segera bangkit menyerbu lebih semangat.

Kedua pasukan betul-betul mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Kaum muslimin sudah menetapkan pilihan, menang dan Islam tersebar, atau mati syahid. Karena itu, mereka bertempur seakan-akan telah mati rasa sakit di tubuh mereka.

Pertempuran saat itu benar-benar dahsyat dan mengerikan. Jantung orang-orang musyrik seakan-akan pecah karena ketakutan melihat semangat kaum muslimin. Hilang akal mereka. Tidak berguna keterampilan dan persenjataan mereka.

Mana Jalenus, Rustum, Hurmuzan, yang kata mereka satu saja di antara panglima ini sama kekuatannya dengan seribu prajurit?

Siang itu bumi seolah-olah terpanggang panas matahari. Angin kencang bertiup menerbangkan debu pasir dan rumputan kering ke arah pasukan Persia. Kemah besar Rustum diterjang angin hingga menjungkirbalikkan singgasananya. Rustum yang sudah dihantui ketakutan dan dugaan akan kekalahan pasukannya semakin bertambah kalut. Melihat kemahnya hancur, dia segera menuju bighalnya yang datang dengan sejumlah harta.

Akan tetapi, sebelum melarikan diri, Rustum mencoba mengelabui pasukan muslimin dengan bersembunyi di balik bighal.

Hilal bin ‘Ulaffah mendekati bighal dan memotong tandu yang ada di atas bighal. Rustum bersembunyi di bawah tandu itu, tetapi tidak terlihat dan disadari oleh Hilal. Kemudian Hilal memotong tandu itu. Rustum segera berlari menuju sungai ‘Atiq dan menceburkan diri ke dalamnya.

Hilal segera mengejarnya dan melompat ke dalam sungai, bahkan berhasil menangkap kaki Rustum yang sudah berenang. Hilal menyeret Rustum ke tepi sungai dan memukul kening Rustum sampai Rustum mati.

Kemudian Rustum yang sudah mati diseret oleh Hilal dan dilemparkannya ke bawah kaki bighal. Kemudian Hilal menaiki singgasana Rustum dan berseru, “Demi Rabb Ka’bah, aku sudah membunuh Rustum. Kemarilah.”

Kaum muslimin berlari mendekatinya dan mengelilinginya, lalu bertakbir. Semakin pecah hati kaum musyrikin ketika mengetahui panglima mereka sudah terbunuh. Kegoncangan merasuki jiwa mereka yang sudah semakin kalut ketakutan.

Jalenus memerintahkan mundur, tetapi tetap dikejar oleh pasukan muslimin. Ketika sampai di sebuah tempat dan merasa aman dari kejaran kaum muslimin, mereka berpesta. Saat itulah mereka diserbu oleh kaum muslimin. Jalenus akhirnya dibunuh oleh Zuhrah bin Hawiyah.

Hurmuzan dan Mahran ar-Razi serta komandan perang Persia lainnya juga tewas di tangan pasukan muslimin. Tiga puluh ribu prajurit yang tergabung dalam pasukan rantai, mencoba melarikan diri ke sungai, tetapi tidak satu pun dari mereka yang selamat, karena kaum muslimin segera menyergap mereka. Semua pasukan rantai tewas.

Pasukan Persia lainnya segera lari meninggalkan gelanggang pertempuran, tetapi dikejar oleh pasukan muslimin. Hari itu, tidak kurang dari seratus ribu prajurit Persia terbunuh. Belum lagi yang tewas tadi malam, hampir sepuluh ribu orang. Sementara itu, di barisan muslimin, yang gugur sebagai syuhada hampir tiga ribu orang, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka.

Di siang hari, mereka lebih ganas dari singa-singa padang pasir. Di malam hari terdengar dengungan suara mereka membaca al-Qur’an seperti dengungan lebah.

Menjelang usai pertempuran, Sa’d menemui Hilal dan bertanya, “Di mana lawanmu itu?”

“Aku lemparkan di bawah bighal,” katanya.

“Bawalah kemari dan ambil mana yang kamu mau dari perlengkapannya.”

Hilal mengambil semuanya dan diceritakan bahwa kemudian dia menjualnya seharga tujuh puluh ribu dirham. Dia tidak menemukan kopiah Rustum yang nilainya hampir seratus ribu dirham.

 Pasukan Persia kalah total. Yang masih hidup digiring oleh pasukan muslimin menuju Jalula dan terus masuk ke Kotaraja Madain, tempat istana Kisra Persia.

Kemenangan itu sangat mengesankan kaum muslimin. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja api setan itu. Mereka benar-benar terpukul.

Betapa tidak?

Bangsa yang dianggap terbelakang, tidak berbudaya, dan tidak mengenal peradaban seperti mereka yang sudah maju, ternyata berhasil meluluhlantakkan pasukan mereka dengan memberikan kekalahan yang memalukan?

Ya. Kekalahan yang memalukan dalam sejarah Persia (Iran). Di tangan bangsa yang tidak terkenal dalam sejarah saat itu.

Mereka tidak begitu kecewa ketika dikalahkan Romawi dan Salib besar berhasil direbut kembali oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi, bangsa Arab, yang hampir tidak diperhitungkan dalam sejarah dunia ketika itu? Berhasil menundukkan dua kerajaan besar dunia dalam waktu yang singkat?

Dari mana kekuatan mereka?

Tentu saja, dari hati mereka yang terisi iman yang lurus dan kokoh, sehingga menimbulkan kekuatan dahsyat bagai gugur gunung. Bagaimana mungkin mampu ditahan oleh budak-budak api yang memiliki hati yang rapuh, kosong dari keimanan?

Kekalahan ini akhirnya menimbulkan dendam berkarat dalam dada bangsa Persia, sampai hari ini.

(insya Allah bersambung, Faedah Kemenangan Qadisiyah, Perang Jalula)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Setelah gagal menangkap panglima Sa’d di markasnya, Rustum semakin marah sekaligus cemas. Bayang-bayang kekalahan semakin menghantuinya. Dengan setengah hati dia mengatur pasukannya. Semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi pasukan muslimin. Tiga puluh tiga ekor gajah dikerahkan bersama pawangnya. Puluhan ribu pasukan berjalan kaki diperintahkan memasang rantai di kaki-kaki mereka, agar mereka bertempur sampai mati. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (14) :Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Sejak keberangkatan Rustum hingga bertemu dengan Sa’d, terhitung empat bulan. Hal itu disengaja oleh Rustum karena dia sudah mencium kegagalan dan bencana yang akan menimpa pasukannya.

Rustum selain ahli perang, juga seorang dukun, ahli nujum. Dia pernah bermimpi melihat tanda-tanda kekalahan Persia di tangan bangsa Arab ini. Karena itulah dia setengah hati menjalankan perintah Yazdajird serta berusaha mengulur-ulur waktu agar kaum muslimin bosan dan pulang ke negeri mereka. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (14) :Runtuhnya Dinasti Sasanid

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (13) : Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Muharram tahun 14 H. Sa’d masih bertahan di ‘Uzaib dan memperkuat pasukan muslimin di daerah itu. Setelah itu, Sa’d mulai bertolak menuju Qadisiyah sambil tetap melaporkan situasi Qadisiyah kepada Amirul Mukminin di Madinah.

Beberapa prajurit disebar untuk mencari berita tentang pasukan Persia. Di antara mereka ada yang diutus ke Hirah. Pasukan intelijen itu segera berangkat dan tidak lama kemudian kembali membawa berita bahwa Raja Persia, Yazdajird, telah menyiapkan pasukan besar untuk mengusir pasukan muslimin dari Irak.

Yazdajird betul-betul menyiapkan semua yang dimiliki oleh Kerajaan Persia baik personil maupun perlengkapannya untuk menyerang kaum muslimin. Bahkan, tokoh-tokoh pilihan dan ahli-ahli perang Persia diturunkan untuk memperkuat pasukan, seperti Jalinus, Hurmuzan, Mahran ar-Razi, Bairuzan, dan Dzul Hajib. Yazdajird menyerahkan pimpinan tertinggi pasukan ini kepada Rustum bin al-Farrakhzad.

Sa’d mulai menceritakan keadaan Qadisiyah kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab. Dalam suratnya, beliau menjelaskan bahwa Persia sudah menyiapkan pasukan besar untuk menghadapi kaum muslimin dan sudah bermarkas di Sabath.

Amirul Mukminin tetap memberi arahan, seakan-akan beliaulah yang mengatur jalannya peperangan, sedangkan Sa’d hanya melaksanakan perintah dan arahan Amirul Mukminin.

Di antara nasihat Amirul Mukmin kepada Sa’d ialah agar Sa’d dan pasukannya tidak merasa risau dan tetap yakin akan menang. “Seakan-akan dibisikkan ke dalam hatiku, bahwa engkau akan mengalahkan mereka. Mintalah pertolongan kepada Allah dan serahkanlah semua urusan ini kepada-Nya.”

Setelah itu, Amirul memerintahkan agar menepati perjanjian, tidak berbuat khianat, dan mengirim beberapa tokoh untuk mengajak pembesar Persia kepada Islam.

Berangkatlah Nu’man bin Muqarrin dan teman-temannya hingga melewati Sabath, di barat daya Madain. Setibanya di Madain, mereka bertemu dengan para panglima dan menawarkan Islam dengan lemah lembut.

“Kami mengajak anda kepada Islam. Agama yang menampakan kebaikan yang baik dan menyatakan buruknya semua yang buruk. Kalau anda menerima, kami tinggalkan pada anda Kitab Allah (al-Qur’an), agar anda berhukum dengannya dan kami biarkan anda mengatur urusan negeri anda. Kalau anda tidak menerima, anda harus menyerahkan jizyah; dan kalau tidak, anda kami perangi.”

Melihat sikap para delegasi itu, lemah lembut dalam berdialog, Yazdajird mengira itu adalah kelemahan dan dia mulai mengingatkan keadaan duta-duta itu sebelum Islam.“Dahulu kamu adalah bangsa yang paling terbelakang, sangat sedikit jumlahnya, paling lemah dan paling buruk keadaannya. Jangan mimpi ingin bertempur dengan pasukan Persia. Kalau kamu kesulitan, kami akan beri kamu makanan, pakaian, bahkan kami siapkan seorang raja untuk mengurusi kamu.”

Akhirnya, Qais bin Zurarah mulai berbicara, “Anda menyebutkan keadaan kami tanpa ilmu.” Kemudian beliau menceritakan bagaimana buruknya keadaan mereka sebelum menerima hidayah Islam. Mereka berada dalam kesesatan, perpecahan dan kehinaan, tetapi Allah menggantikan semua itu dengan Islam.

Setelah itu, bangsa Arab menjadi bangsa yang terhormat, keyakinan mereka adalah keyakinan yang paling baik, akhlak mereka adalah akhlak yang paling mulia, hati merekapun bersatu, dan kokoh di atas kebenaran.

Kemudian, kata Qais, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kami mengajak orang-orang yang ada di sekeliling kami kepada Islam. Karena itu, pilihlah apa yang kamu mau; kamu masuk Islam agar dirimu selamat, atau menyerahkan jizyah (pajak) dengan tanganmu sendiri dalam keadaan hina, atau pedang.”

Dengan berang, Yazdajird berkata, “Apakah seperti ini caranya kamu menghadapku?”

Kata Qais pula, “Saya tidak menghadapi kecuali orang yang mengajak saya bicara. Seandainya orang lain yang mengajak bicara, juga akan saya hadapi seperti ini.”

Yazdajird bertambah marah. Kesombongan bangkit, apalagi dia termasuk orang yang tidak beradab, gampang tersinggung, dan tidak suka bertukar pikiran atau bermusyawarah. Dia menyuruh para utusan itu pulang, “Kalau bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, pasti kubunuh kamu. Pulanglah kamu. Aku akan kirimkan Rustum untuk mengubur kalian di parit Qadisiyah.”

Kemudian dia memerintahkan agar diambil sekeranjang tanah dan berkata, “Suruh orang yang paling mulia di antara mereka memikulnya.”

‘Ashim bin ‘Amr berkata, “Saya yang paling mulia di antara mereka.”

Lalu diapun memikul tanah itu menemui teman-temannya yang bertanya-tanya, “Untuk apa kamu membawa tanah itu?”

“Harapan positif. Allah sudah memberi kamu kekuatan menguasai tanah mereka.”

Para utusan itu kembali menemui Panglima Sa’d bin Abi Waqqash dan berkata, “Gembiralah, Allah telah memberi kita ikatan kerajaan mereka.”

Semakin hari, kaum muslimin semakin kuat dan optimis. Berbeda halnya dengan Persia, mereka semakin lemah dan bertambah lemah pula keadaan para pembesar Yazdajird melihat kegembiraan kaum muslimin mendapat sekeranjang tanah Persia.

Rustum yang berada di Sabath berangkat menemui Yazdajird untuk menanyakan, mengapa kaum muslimin kelihatan tenang, bahkan bergembira? Yazdajird menerangkan apa yang telah terjadi.

Kata Rustum menyalahkan, “Wahai Paduka, tanah itu diambil oleh orang yang paling cerdik di antara mereka. Mereka memikulnya karena tidak lain sebagai sikap optimis bahwa mereka pasti menguasai tanah Persia.”

Sambil menahan marah, Rustum keluar dan memerintahkan prajuritnya mengejar utusan yang membawa tanah itu, “Jangan sampai dia membawanya pulang ke negeri mereka. Kalau kamu gagal, pasti Allah lepaskan tanah kamu untuk mereka.”

Beberapa prajurit segera berangkat mengejar, tetapi mereka gagal dan kembali menemui Rustum. Kata Rustum, “Mereka telah pergi membawa tanah kamu. Mereka telah membawa kunci-kunci bumi Persia.”

Kejadian itu semakin menambah kekalutan dan kecemasan di kalangan Persia. Rustum sendiri adalah seorang ahli nujum dan seakan-akan telah melihat tanda-tanda kekalahan Persia. Oleh karena itu, dia berusaha mengulur-ulur waktu, agar kaum muslimin bosan dan pergi meninggalkan Persia. Ternyata, kaum muslimin semakin kuat bertahan dan tetap menunggu terjadinya pertempuran.

Di sisi lain, Rustum yang sengaja menunda-nunda, justru mendapat tekanan dari Yazdajird agar segera menyerang dan mengusir kaum muslimin. Mau tidak mau, Rustum pun berangkat bersama 60.000 tentara Persia, dengan Jalinus di bagian depan dengan jumlah yang sama.

Di sayap kanan ada Hurmuzan, sedangkan di sayap kiri ada Mahran bin Bahram ar-Razi. Pasukan ini membawa pula 30 ekor gajah. Lima belas ekor ditempatkan di bagian inti pasukan, sedangkan lima belas lainnya di kedua sayap pasukan.

Dalam perjalanannya, Rustum singgah di Kautsa dan menangkap seorang laki-laki Arab. Rustum bertanya, “Apa yang kamu cari di sini?”

Pria itu menjawab, “Kami hanya mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah, yaitu negerimu dan anak-anakmu, jika kamu tidak masuk Islam.”

“Kalau kalian kalah dan terbunuh?” tanya Rustum.

“Kalau kami ada yang terbunuh, kami masuk surga, sedangkan yang masih hidup, pasti Allah buktikan janji-Nya.”

“Kalau kami menjadi tawanan di tangan kalian?”

“Amalan kamu itulah yang membuat kamu tertawan, dan semoga Allah menyelamatkan kamu karenanya. Janganlah kamu terkecoh dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Kamu bukannya menghadapi manusia, melainkan menghadapi takdir.”

Rustum sangat marah dan membunuh orang tersebut. Setelah itu, Rustum membawa pasukannya hingga tiba di Hirah. Di tempat lain, Sa’d mulai mengirim beberapa orang tentara muslimin menuju Sawad. Rustum mengetahui hal ini, maka diapun mengirim pasukannya untuk menghadang.

Sa’d mendengar berita ini lalu mengirim ‘Ashim bin ‘Amr untuk memperkuat pasukan kecil itu. Begitu melihat pasukan ‘Ashim, tentara Persia itu lari ketakutan. ‘Ashim pun kembali ke pasukan induk dengan ghanimah.

 

“Dua Ribu” Prajurit Musuh

Kemudian, Sa’d mengirim ‘Amr bin Ma’dikariba dan Thulaihah al-Asadi untuk mengintai pasukan Persia. Setelah berjalan sejauh satu farsakh lebih, keduanya sampai di gudang senjata Persia.

‘Amr berhenti di sana, sedangkan Thulaihah terus melanjutkan pengintaiannya. Tidak lama, dia sampai di perkemahan pasukan Persia. Ketika malam mulai menjulurkan tirainya, Thulaihah mendekam di tempat persembunyiannya.

Ketika malam semakin gelap, Thulaihah mendekati tenda yang lebih bagus dan melihat seekor kuda yang baik. Perlahan, Thulaihah merayap lalu mematahkan satu atau dua tiang tenda dan membawa lari kuda itu. Pasukan yang berjumlah sekitar 70.000 orang itu tersentak.

Tiga orang prajurit Persia segera mengejar. Menjelang pagi, mereka berhasil mendekati Thulaihah. Thulaihah sengaja berhenti, menunggu mereka mendekat.

Prajurit pertama yang paling depan segera menyerang Thulaihah, tetapi dengan mudah Thulaihah membunuhnya. Begitu pula prajurit kedua. Prajurit ketiga semakin marah, dua prajurit tadi adalah sepupunya.

Dia nekat menyerang, tetapi dengan mudah serangannya dipatahkan oleh Thulaihah. Akhirnya, dia menyerah dan minta ditawan oleh Thulaihah. Thulaihah menyuruhnya berjalan di depan dan membawanya ke induk pasukan lalu menghadapkannya kepada Panglima Sa’d.

Mulanya Sa’d marah melihat ketidakdisiplinan Thulaihah, “Ke mana kamu dan apa yang kamu bawa?”

“Dia prajurit Persia, tanyailah tentang pasukan mereka.”

Prajurit itu mulai takut, tetapi dia berkata, “Apakah kamu menjamin keselamatanku kalau aku jujur?”

“Ya, jujur meskipun dalam peperangan, lebih kami sukai daripada kebohongan,” kata Sa’d.

“Aku akan ceritakan kejadian yang aku alami dengan orang ini (dia menunjuk Thulaihah) sebelum yang lainnya (boleh)?” prajurit itu mulai bercerita.

Aku sudah terjun dalam berbagai pertempuran dan sering mendengar cerita tentang para pahlawan, bahkan sudah pernah bertemu dengan mereka sejak masih belia. Sampai aku mengalami kejadian yang kamu lihat ini. Aku belum pernah mendengar ada seorang laki-laki yang sendirian menerobos perkemahan 70.000 tentara.

Dia membawa lari seekor kuda dan kami bertiga mengejarnya. Prajurit pertama, yang kekuatannya setanding dengan seribu prajurit berhasil mendekat dan menyerang orang itu, tetapi dengan mudah dia mengalahkan dan membunuhnya. Begitu pula yang kedua, yang juga mempunyai kekuatan yang setanding dengan seribu prajurit. Kemudian aku berhasil mengejarnya dan aku tidak tahu berapa yang setanding denganku. Aku sangat dendam dengan terbunuhnya dua prajurit pertama, karena mereka adalah sepupuku.

Kematian seakan membayang di mataku, maka akupun menyerah dan membiarkannya membawaku kepadamu. Pasukan Persia dipimpin langsung oleh Rustum dengan kekuatan 120. 000 orang. Para pengikut yang melayani mereka, sebanyak itu juga. Orang itu masuk Islam dan diganti namanya oleh Sa’d menjadi Muslim.

Dia kembali kepada Thulaihah dan berkata, “Demi Allah, kamu tidak akan terkalahkan selama kamu tetap seperti yang aku lihat, menepati janji, jujur, dan berupaya memperbaiki serta menyantuni orang lain. Aku tidak lagi perlu bergaul dengan orang Persia.” Laki-laki Persia, yang kemudian bernama Muslim ini gugur sebagai syahid dalam pertempuran itu.

(Insya Allah bersambung)

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Ketika menerima tugas ketentaraan itu, Sa’d menyadari bahwa dengan pasukannya yang serbakekurangan baik bekal dan perlengkapan, dia harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah besar, kuat, dan terlatih, serta bersenjata lengkap. Akan tetapi, Sa’d sangat yakin, janji Allah subhanahu wa ta’ala yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti terlaksana.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendarahan Persia dan Romawi kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerajaan Bizantium Romawi telah dipatahkan oleh kaum muslimin di Yarmuk. Kini, Istana Putih Persia, pasti di ambang kehancurannya.

Pasukan al-Mutsanna bin Haritsah telah memulai penaklukan di sekitar tanah Persia.

Ketika hendak melepas Sa’d, ‘Umar memberi pesan, “Hai Sa’d, putra Ibu Sa’d. Janganlah kamu tertipu karena dipanggil khali (paman dari pihak ibu)[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Dia menghapus kejelekan dengan kebaikan. Tidak ada antara Allah subhanahu wa ta’ala dan siapa pun hubungan, kecuali dengan menaati-Nya.

Manusia di dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala ini, sama. Allah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara) mereka, dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berbeda-beda dalam hal kesejahteraan dan mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya dengan ketaatan. Karena itu, perhatikanlah urusan yang kalian lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakannya, maka tekunilah dan bersabarlah.”

Sebelum berpisah, ‘Umar berkata lagi, “Kamu akan menghadapi urusan berat, maka bersabarlah menerima semuanya. Pusatkan rasa takutmu hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ketahuilah rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu berpangkal pada dua hal, yaitu menaati-Nya dan menjauhi maksiat terhadap-Nya. Ketaatan orang yang menaati-Nya adalah dengan membenci dunia dan mencintai akhirat, sedangkan kedurhakaan orang yang mendurhakai-Nya adalah karena mencintai dunia dan membenci akhirat.”

Setelah itu, bergeraklah rombongan pasukan yang berjumlah empat ribu orang itu menuju Irak (Persia).

Berturut-turut, untuk memperkuat pasukan kaum muslimin yang dipimpin Sa’d, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirim Ba’ashmah bin ‘Abdullah dengan sepasukan tentara, menugaskan pula al-Mutsanna bin Haritsah yang sudah berada di tanah Persia sejak masa Khalid Saifullah, agar bergabung dengan Sa’d. Bahkan, al-‘Ala’ bin al-Hadhrami yang sedang bertugas di Bahrain juga diperintahkan bergerak menuju Babil.

Al-‘Ala’ berangkat setelah menunjuk Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menggantikannya di Bahrain. Tetapi, dalam perjalanan, al-‘Ala meninggal dunia.

Al-Mutsanna bin Haritsah juga sudah bertolak. Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala berlaku lain. Luka yang dideritanya dalam peristiwa jembatan (al-Jusr) yang heroik, pecah kembali hingga membawa kematiannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.

 

Mengatur Barisan Muslimin

Muharram tahun empat belas hijriah. Pasukan Persia sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan orang-orang Arab. Tujuh belas ekor gajah diikutsertakan dalam pasukan Persia diiringi dua puluh prajurit khusus. Di atas gajah-gajah itu diberi tutup dari besi. Gading-gadingnya dibungkus sutra berhias dan setiap gajah dikawal oleh pasukan berkuda.

Setelah keberangkatan Sa’d, beberapa kekuatan prajurit tiba di Madinah memenuhi panggilan jihad dari Amirul Mukminin. Tanpa menunggu waktu, ‘Umar mengirim mereka menyusul Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, kekuatan pasukan Sa’d semakin bertambah.

Berturut-turut, para pahlawan Islam di Tanah Arab mulai bergabung dalam pasukan yang dipimpin Sa’d. Para pahlawan itu sendiri tidak hanya jago dalam memainkan pedang dan tombak, tetapi juga ahli dalam berpidato dan bersyair. Mereka mempunyai kedudukan di kabilah dan negeri mereka masing-masing. Di antara mereka ada Asy’ats bin Qais, Thulaihah al-Asadi, dan ‘Amr bin Ma’dikariba, serta yang lainnya.

Mendekati Zamrud, kekuatan pasukan muslimin sudah bertambah menjadi 20.000 orang. Setelah pasukan al-Mutsanna dan beberapa kabilah berdekatan bergabung, demikian pula yang akan datang dari Syam, jumlah pasukan menjadi 36.000 orang.

Sambil menunggu pasukan yang datang dari Syam, Sa’d berhenti di Syaraf. Menunggu kedatangan sahabatnya al-Mutsanna. Akan tetapi, yang muncul adalah saudara al-Mutsanna, Mu’anna bin Haritsah bersama Salma, istri al-Mutsanna.

Setelah bertemu dengan Sa’d, Mu’anna menyampaikan pesan-pesan al-Mutsanna, di antaranya agar tidak menyerang Persia di dalam wilayah mereka sendiri, tetapi seranglah mereka di perbatasan yang dekat tanah Arab, tetapi tidak jauh dari perkotaan. Sebab, jika kaum muslimin menang, semua yang dibawa bangsa Persia akan menjadi milik kaum muslimin dan bila kebalikannya, orang-orang Majusi itu lebih tahu menyelamatkan diri dan lebih berani di negeri mereka sendiri.

Sa’d memahami pendapat dan pesan al-Mutsanna yang disampaikan Mu’anna. Hal ini membuat Sa’d semakin sedih, maka dia pun mendoakan al-Mutsanna. Sebetulnya, jarak pertemuan antara Sa’d dan al-Mutsanna sudah dekat, tetapi kematian lebih dahulu menjemput al-Mutsanna. Pahlawan besar itu pun berangkat memenuhi janjinya.

Al-Mutsanna memang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, keimanan dan keberaniannya serta keahliannya dalam peperangan telah mengantarkannya menjadi panglima kaum muslimin sesudah Khalid, untuk memimpin pasukan menaklukkan Persia. Selain itu, sebagaimana telah diceritakan, al-Mutsanna sangat mengenal keadaan di wilayah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Sa’d melamar Salma dan menikahinya. Inilah salah satu kebiasaan orang Arab sebagai penghargaan dan mengenang jasa serta kemuliaan pemimpin yang sudah meninggal dunia, sekaligus penghormatan terhadap jandanya, agar dengan demikian wanita yang mulia itu tetap berstatus mulia sebagaimana bersama suaminya dahulu.

Qadisiyah, di zaman jahiliah adalah gerbang menuju tanah Persia. Daerah ini pintu masuk berbagai bahan keperluan bangsa ini. Pelabuhan-pelabuhannya luas, tanahnya subur dan diperkuat dengan benteng-benteng yang kokoh serta jembatan penyeberangan yang melengkung dengan sungai-sungai yang jarang ada.

Sa’d juga melaporkan keadaan di setiap tempat yang disinggahi pasukannya. Dia menceritakan keadaan Qadisiyah yang hijau membentang panjang ke Hirah. Dia melaporkan bagaimana penduduk Sawad yang pernah berdamai dengan pasukan muslimin sekarang bergabung dengan Persia.

Amirul Mukminin tetap memantau dan meminta Sa’d agar tetap di tempatnya, dan baru betul-betul menyerang setelah berada di Madain. Sebab, menurut beliau di situlah kehancuran mereka, Insya Allah. Keyakinan Amirul Mukminin bukan karena meremehkan bangsa Persia, melainkan janji yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu pun, bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala menzalimi bangsa Persia, melainkan merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan kesyirikan dan kekejaman serta keingkaran yang mereka perbuat. Wallahu a’lam.

Setelah menerima perintah dari Amirul Mukminin melalui surat-menyurat yang terus berlangsung sampai peperangan berlangsung, Sa’d pun bergerak menuju Qadisiyah sesudah mengatur pasukannya sedemikian rupa.

Sa’d mulai menunjuk beberapa komandan pasukan dan memecahnya menjadi beberapa regu. Kemudian, Sa’d menetapkan posisi masing-masing regu dengan komandannya.

Di barisan depan, beliau tempatkan para sahabat senior yang pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang. Tujuh puluh orang di antara mereka adalah veteran Perang Badr. Sekitar 300-an sisanya adalah orang-orang yang pernah ikut dalam Sumpah Setia di Hudaibiyah (Bai’atur Ridhwan).

Sa’d membawa mereka ke ‘Uzaib dan menetap beberapa lama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Qadisiyah. ‘Uzaib adalah sebuah gudang senjata bangsa Persia yang dijaga ketat. Di setiap benteng ada orang yang mengawasi. Pasukan muslimin yang bertindak sebagai perintis sudah tiba di waktu subuh. Mereka tidak segera maju sampai datang satu regu pasukan yang akan menyerang benteng itu.

Setelah mendekat ke arah benteng, mereka melihat ada orang yang memacu kudanya menuju Qadisiyah. Ternyata orang-orang yang mereka lihat adalah bagian taktik Persia untuk mengintai kekuatan pasukan muslimin yang datang ke negeri mereka. Begitu kaum muslimin memasuki benteng, orang-orang itu sudah tidak ada di sana. Kaum muslimin hanya menemukan sejumlah tombak dan panah.

Sa’d tetap di ‘Uzaib walaupun pasukan Persia sudah tidak ada di sana. Kesempatan itu digunakan Sa’d menanamkan rasa takut di hati penduduk di sekitar ‘Uzaib dengan serangkaian serangan kecil. Ketika mereka tiba di ibu kota Bani Lakhm, mereka menyergap iring-iringan pengantin putri yang akan diserahkan kepada seorang pejabat di Sinnain.

Barang-barang berharga berikut pengiring rombongan itu ditawan dan diserahkan kepada Sa’d. Kemudian, Sa’d membagi-bagikannya kepada pasukan muslimin.

Demi mengetahui kejadian tersebut, penduduk Irak semakin ketakutan. Mereka tidak lagi mampu membangkang terhadap pasukan muslimin.

Sa’d semakin kuat di ‘Uzaib dan mulai membuat markas di Qudais.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sa’d dari Bani Zuhrah, kabilah Ibunda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Baiknya rakyat baru terwujud jika pemimpinnya telah memperbaiki dirinya. Walau tidak mutlak, tetapi kalimat ini banyak benarnya. Sebab, bisa jadi pula jika rakyat itu rusak iman dan akhlaknya, Allah subhanahu wa ta’ala akan pilihkan bagi mereka pemimpin yang sama seperti mereka. Bahkan, bisa jadi lebih jahat, sebagai hukuman terhadap mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Demikianlah sunnatullah, Dia menjadikan sebagian orang zalim itu menguasai orang yang zalim lainnya, mengajaknya kepada kejahatan, membuatnya tidak memerhatikan kebaikan, bahkan membuat mereka meninggalkan kebaikan itu. Itu semua adalah sebagian hukuman yang Allah subhanahu wa ta’ala timpakan kepada mereka.

Oleh karena itu, kaum muslimin di mana saja mereka bermukim, mendapati penguasa mereka berbuat zalim terhadap mereka, hendaklah mereka menyadari keadaan diri mereka sendiri lebih dahulu, sebelum mereka menyalahkan penguasa mereka. Sebagaimana dalam ayat yang mulia ini, bisa jadi penguasa yang mereka anggap berbuat zalim terhadap mereka, merampas hak-hak mereka, tidak mengayomi mereka, tidak membimbing mereka kepada yang haq, adalah hukuman atas kezaliman yang telah mereka lakukan lebih dahulu.

Kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang mereka lakukan akhirnya membuahkan kejelekan demi kejelekan, sampai munculnya penguasa yang menimpakan kejelekan yang lebih berat kepada mereka. Wallahul musta’an.

Ketika kaum muslimin yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu masih berpegang teguh dengan agamanya, menjalankan sunnah Nabi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan untuk mereka pemimpin yang setara dengan mereka. Sama baiknya, bahkan lebih, baik dalam hal ilmu, iman, takwa, maupun amal.

Itulah ‘Umar bin al-Khththab radhiallahu ‘anhu. Dia telah memperbaiki dirinya lebih dahulu sejak mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikrarkan keislamannya. Demikian pula selama menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendampingi Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

‘Umar selalu memperbaiki hubungan antara dia dan Rabbnya k. Kaum muslimin juga telah memperbaiki hubungan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala, juga dengan sesama mereka, maka Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan mereka dengan memilihkan seorang pemimpin yang sebaik mereka, bahkan lebih.

‘Umar sangat takut kalau dia ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagaimana bisa jiwa seorang muslim melayang begitu saja. Sering beliau terlihat mengantuk di siang hari, hingga ada yang menyarankan agar beliau tidur saja.

“Kalau aku tidur lelap di malam hari, hilang bagianku dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau aku tidur di siang hari, telantarlah urusan rakyat yang menjadi tanggung jawabku,”

Tidak hanya urusan rakyat di dalam kota Madinah yang menjadi perhatian beliau, tetapi juga pasukan muslimin yang sedang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Beliau selalu mengingatkan para panglima agar jangan membawa pasukannya ke dalam bahaya.

Pernah diceritakan, salah seorang prajurit muslim mengalami kelumpuhan karena kedinginan. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin. Beliau kemudian berkata kepada Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, yang menjadi komandan, “Hai Jarir, ini sum’ah (agar didengar dan dipuji orang). Sesungguhnya siapa yang berbuat sum’ah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala perdengarkan.”

Maksudnya, seseorang berangkat pada musim dingin agar disebut-sebut bahwa dirinya berperang di musim dingin.

Begitu besar perhatian beliau terhadap jiwa pasukan muslimin, sampai-sampai beliau melarang mereka mengendarai kapal dan bertempur di laut. Ketika Mu’awiyah mendesak untuk berperang di laut, ‘Umar bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash bagaimana naik kapal. ‘Amr menerangkan, “Seperti seekor ulat di atas sebatang ranting, kalau oleng, ulat itu tenggelam….”

Kemudian beliau menulis surat kepada Mu’awiyah, “Demi yang mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa al-haq, Aku tidak akan membawa seorang muslimin pun dengan kapal.”

Cintanya yang besar kepada seorang muslim dan antusiasnya atas keselamatan mereka membawa kepada keadaan yang mengherankan kaum muslimin; baik yang berada bersama beliau di Madinah, maupun yang sedang berada jauh di negeri lain, berhadapan dengan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu ketika, Amirul Mukminin berdiri menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Nabawi. Belum lama berkhutbah, beliau berseru, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan. Siapa yang mengambil serigala sebagai penggembala, berarti dia zalim.”

Kaum muslimin yang sedang mendengarkan khutbah tercengang keheranan. Ada apa dengan Amirul Mukminin? Mereka tidak paham apa maksud beliau berkata demikian? Siapa yang dimaksud?

Selesai shalat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang Anda serukan ini?”

“Apakah kamu mendengarnya?” beliau balik bertanya.

Kata ‘Ali, “Ya. Saya dan semua yang di Masjid mendengarnya.”

“Muncul dalam batinku, orang-orang yang musyrik itu menyerang saudara-saudara kita dan mendesak mereka, sementara mereka (kaum muslimin) melewati sebuah gunung. Kalau mereka menuju ke gunung itu tentu mereka bisa menyerang siapa saja yang mereka temui dan pasti mereka menang. Kalau mereka melampauinya, niscaya mereka binasa, maka terucaplah olehku kalimat tadi.”

Sebulan kemudian, datanglah seorang kurir membawa berita gembira, lalu dia menyebutkan bahwa pada hari Jum’at itu, ketika mereka melewati sebuah gunung, mendengar suara yang mirip dengan suara ‘Umar yang menyerukan, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan.” Mereka segera ke gunung itu, lalu Allah memberi kemenangan kepada mereka.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa wahyu turun menyetujui pendapatnya. Firasatnya sering terbukti terhadap beberapa kejadian. Namun, beliau tidak selalu mengandalkan firasatnya memutuskan persoalan. Sebaliknya, beliau sering bermusyawarah dengan para sahabat.

Nun, di negeri seberang, dari balik gunung-gunung batu dan padang sahara, terdengar berita bahwa bangsa Persia telah bersiap-siap menyerang kaum muslimin. Amirul Mukminin segera mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Beliau berniat memimpin sendiri pasukan kaum muslimin.

Akan tetapi, beberapa sahabat senior melarang beliau berbuat demikian. Mereka meminta agar Amirul Mukminin tetap di Madinah dan menunjuk seseorang untuk menjadi panglima kaum muslimin menghadapi Persia.

Siapakah dia?

Waktu itu, Sa’d bin Abi Waqqash sedang bertugas menarik zakat di Hawazin. Beliau menulis surat kepada Amirul Mukminin melaporkan tugasnya, bertepatan saat Amirul Mukminin sedang berdiskusi dengan para sahabatnya tentang siapa yang layak ditunjuk sebagai panglima.

Saat mereka berdiskusi, tiba-tiba ‘Abdurrahman bin ‘Auf berseru, “Saya menemukan calonnya, wahai Amirul Mukminin.”

“Siapa?” tanya ‘Umar.

“Si Singa, Sa’d bin Abi Waqqash,” jawab ‘Abdurrahman.

Ketika semua menyetujui Sa’d sebagai panglima, ‘Umar berkata, “Dia memang pemberani, juga ahli pedang dan panah.”

Setelah itu, Amirul Mukminin memerintahkan agar Sa’d segera pulang ke Madinah. Begitu keduanya bertemu, ‘Umar berkata, “Saya ingin memberimu tugas besar.”

“Kalau menarik zakat atau jizyah, saya tidak mau. Kalau berperang, saya siap,” jawab Sa’d dengan gagah.

“Memang untuk perang.”

Akhirnya, Sa’d menerima tugas panglima itu dalam keadaan menyadari betul bahaya besar yang akan dihadapi, karena mereka akan melawan para Kisra Persia, yang terkenal sebagai ahli-ahli perang. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (10)

 

Penyebaran Islam
III: Penyebaran Islam di Masa Khalifah Umar bin al-Khaththab

 

Futuhat Islamiyah Di Masa ‘Umar

Bermula dari sumpah setia para sahabat Anshar di bukit ‘Aqabah, dekat kota Makkah. Beberapa bulan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah hijrah ke Madinah. Selesai menunaikan ibadah haji, orang-orang Anshar membuat kesepakatan untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bukit ‘Aqabah.

Dalam pertemuan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan, “Aku membai’at kalian semua untuk membelaku seperti kalian membela anak istri kalian.”

Barra’ bin Ma’rur segera menggenggam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Siap. Demi Yang mengutus Anda membawa yang haq, pasti kami betul-betul membela Anda seperti kami membela keluarga kami. Bai’atlah kami, ya Rasulullah. Kami ahli perang dan ahli pertahanan yang kami warisi turun-temurun….”

Tiba-tiba Abul Haitsam bin at-Taihan memotong sambil bertanya, “Sebetulnya, antara kami dan mereka (Yahudi) ada ikatan perjanjian dan kami akan memutuskannya. Apakah kalau kami melakukannya, kemudian Allah ‘azza wa jalla memenangkan Anda, lalu Anda akan kembali kepada kerabat Anda dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan berkata, “Bahkan, darah darah (sama-sama luka), hancur hancur (sama-sama binasa). Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dariku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan siapa saja kalian berdamai.”

Setelah itu beliau meminta dua belas orang ditunjuk sebagai pemuka bagi dua masyarakat Anshar. Mereka menunjuk tiga dari Aus dan sembilan dari Khazraj.

Inilah peristiwa bersejarah yang dianggap sebagai mata rantai pertama dari Futuhat Islamiyah hingga terjadinya peristiwa Badr, sampai jatuhnya kota Makkah ke dalam pangkuan Islam. Dan kemenangan itu tidak berhenti hanya sampai di situ….

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengirim Pedang Allah ‘azza wa jalla menembus batas negeri Irak, setelah menundukkan orang-orang yang murtad. Kemudian, beliau mengarahkannya ke Syam untuk menghadang ambisi Romawi.

Kemudian, diteruskan oleh al-Faruq radhiallahu ‘anhu.

Sesungguhnya, Futuhat yang terjadi di beberapa wilayah yang berdekatan dengan negara Islam, ataupun yang lebih jauh, tidak lain adalah gerakan hidayah kepada manusia yang terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Gerakan besar untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kesyirikan, kekafiran, kebodohan, dan kamaksiatan menuju cahaya tauhid, keimanan, ilmu, dan ketaatan.

Kaum muslimin yang meninggalkan kampung halaman mereka, menembus padang sahara adalah untuk meninggikan Kalam Allah, menyampaikan berita gembira kepada manusia dengan agama-Nya, serta rela mengorbankan jiwa raga dan harta mereka, bukan untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Tujuan utama mereka adalah agar manusia terangkat derajatnya sebagai manusia, beribadah hanya kepada Rabb yang telah menciptakan manusia dan memberi mereka rezeki, bukan kepada sesama makhluk yang sarat dengan kekurangan.

Ketika negeri yang mereka datangi menolak semua pilihan yang ditawarkan, mereka mulai menyerang. Itu pun tanpa melakukan penganiayaan atau penyiksaan terhadap yang luka, dan tidak mengganggu wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah renta. Tidak pula menghancurkan rumah ibadah penduduk setempat, apalagi membakar rumah penduduk.

Bukan harta rampasan yang mereka cari, bukan pula kemuliaan, ketenaran sebagai penakluk. Mereka lakukan semua hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, meninggikan Kalimat-Nya (al-Islam). Senantiasa terbayang di depan mata mereka ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Seseorang berperang demi memperoleh rampasan perang, seseorang berperang agar dikenang (sebagai pahlawan) dan seseorang berperang agar diketahui kedudukannya, maka siapakah yang dikatakan (berperang) di jalan Allah ‘azza wa jalla?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Siapa yang berperang agar Kalimat Allah itulah yang tinggi, dialah yang (dikatakan) berperang di jalan Allah.” (HR. al-Bukhari (2810) dan Muslim (1904) dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Itulah tujuan utama mereka. Kekayaan negeri yang mereka taklukan, tidak menyilaukan mata mereka, hingga melalaikan mereka dari tujuan tersebut. Secantik apa pun wanita yang ada di negeri itu, tidak pula memabukkan mereka sehingga lupa dengan tujuan mulia ini.

Setelah mengalahkan semua prajurit lawan dan menembus ibu kota mereka, pasukan muslimin tidak menjadi sombong dan merendahkan orang-orang yang telah mereka taklukkan. Lebih-lebih lagi, ketika di antara penduduk pribumi ada yang menerima Islam. Kaum muslimin menyambutnya gembira, menjadikannya salah seorang saudara mereka, dengan hak dan kewajiban yang sama.

Memang, pasukan muslimin di negeri taklukan tidak hanya menampakkan Islam dari ritual ibadah, tetapi juga dari akhlak dan kepribadian mereka. Karena itulah, dengan mudah penduduk setempat menerima Islam.

Itu pula sebabnya, Futuhat Islamiyah menjadi monumen abadi dalam sejarah peradaban manusia. Sudah seharusnya dunia berterima kasih kepada Islam dan kaum muslimin yang melebarkan sayapnya sampai ke negeri-negeri yang jauh, mulai dari Granada, Spanyol, Belanda, terus ke Rusia, atau ke pedalaman Afrika dan ujung timur India.

Akan tetapi, kebanyakan manusia itu ingkar kepada kebaikan. Yang mereka tonjolkan adalah dendam jahiliah. Tidak menerima kenyataan bahwa mereka dikalahkan oleh orang-orang yang menurut mereka selama ini bukan apa-apa.

Bandingkan dengan penaklukan yang dilakukan imperium Romawi dan Persia. Demikian pula yang dilakukan oleh negeri-negeri kafir ke mana saja mereka meluaskan wilayah. Apa yang terjadi di negeri taklukan?

Para pemimpin negeri-negeri yang mereka taklukan menjadi tawanan, atau budak-budak hina yang melayani dan memuaskan hawa nafsu dan keserakahan mereka. Tanah yang subur dan kaya dengan sumber alamnya, mereka kuras lalu dibawa ke negeri mereka, bukan untuk memakmurkan penduduk yang mereka taklukan.

Belum lagi perilaku dan kepribadian penduduk yang mereka datangi. Mereka merusaknya dengan akhlak dan akidah mereka yang sudah rusak. Semua itu adalah bukti yang tidak mungkin terbantah oleh mereka yang masih hidup hatinya dan sehat akalnya.

Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin, hingga akhir tiga generasi terbaik umat ini. Dan sudah menjadi sunnah (ketetapan) Allah ‘azza wa jalla, bahwa setiap kenikmatan tentu ada yang dengki terhadap mereka yang merasakannya. Begitulah sampai semesta ini diwarisi oleh Allah ‘azza wa jalla.

Orang-orang yang menekuni sejarah dari kalangan Nasrani dan orientalis berusaha menampilkan kemenangan Islam ini dengan rupa yang sangat buruk. Mereka menuduh bahwa kemenangan (Futuhat) Islam tidak lain adalah perang agama, yang kaum muslimin memaksakan Islam kepada penduduk wilayah yang mereka taklukkan. Mereka gambarkan seakan-akan, di tangan kanannya seorang muslim memegang Kitab Suci al-Quran, sedang yang lain menggenggam senjata.

Mereka menutup mata dengan kenyataan yang menjadi sebab mereka ditaklukkan oleh tentara Allah ‘azza wa jalla.

Mereka lupa, kekalahan mereka yang sangat tragis sekalipun tidak lain adalah karena dosa yang mereka lakukan. Kedurhakaan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah sumber kelemahan dan kemunduran serta kehancuran mereka. Ditambah pula kezaliman penguasa mereka terhadap rakyat, mempercepat jatuhnya kekuasaan raja-raja mereka.

Lagi pula, dengan persenjataan dan perbekalan yang serba lengkap dan terlatih, jumlah prajurit yang jauh lebih banyak daripada tentara muslimin, bagaimana mereka bisa dihancurkan? Dari mana kekalahan itu?

Alhasil, jelas tidak sama antara Futuhat dan penjajahan. Itulah realita yang ditorehkan sejarah dengan tinta emas, walaupun orangorang yang buta hatinya tidak menyukai.

Namun, di balik itu semua, kita juga tidak boleh lupa siapa tokoh yang berperan dalam berbagai Futuhat tersebut. Mulai dari panglimanya, hingga pucuk pimpinan tertinggi yang mengirim mereka ke wilayah-wilayah tersebut.

Tentu, setelah Abu Bakr ash-Shiddiq, tidak ada nama lain yang kedua kecuali ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan olah keprajuritan seperti yang dilakukan di negara maju, Byzantium dan Persia, pasukan yang beliau kirim mampu meruntuhkan kesombongan kedua kekaisaran besar dunia saat itu.

Sebagaimana ketatnya sikap ‘Umar dalam memilih gubernur wilayah yang dikuasai kaum muslimin, begitu pula dalam memilih panglima perang untuk memimpin pasukan muslimin.

Panglima harus dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya beliau terpaksa mengangkat seseorang yang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menekankan agar panglima tidak bertindak sebelum bermusyawarah dengan sahabat.

Di antara mereka, yang didahulukan oleh ‘Umar adalah para sahabat yang terdahulu dan mula-mula masuk Islam, kecuali jika dia kurang mampu dalam bidangnya.

Bagi ‘Umar, seorang panglima adalah orang yang tenang dan tidak ceroboh, sehingga mampu memanfaatkan setiap peluang, kapan dia menyerang, kapan pula dia berhenti menyerang.

Seorang panglima harus memiliki kekuatan dan pengaruh, juga harus memiliki keberanian dan ahli tempur, apakah memanah, melempar tombak, bermain pedang atau senjata lainnya.

Adalah ‘Umar, jika pasukan sudah berkumpul, beliau mengangkat seorang amir yang memiliki ilmu dan ahli fikih.

Ringkasnya, seorang panglima perang dalam kriteria ‘Umar adalah laki-laki yang ahli dalam bertempur, besar khidmatnya terhadap Islam, tenang dan cermat, memiliki kepribadian yang berpengaruh, dan pemberani.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (9)

 

Traditional-Arabic-Chair

Memberhentikan Pejabat

Di antara bukti kezuhudan para pejabat yang sangat diperhatikan oleh beliau radhiallahu ‘anhu ketika menugaskannya adalah sikap zuhud mereka terhadap jabatan itu sendiri. ‘Umar radhiallahu ‘anhu menganggap orang-orang yang memiliki keinginan terhadap jabatan tertentu adalah orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas, apalagi ikhlas dalam melaksanakannya.

Dalam beberapa kesempatan, ‘Umar radhiallahu ‘anhu menegaskan, “Siapa saja yang berambisi terhadap kepemimpinan, niscaya dia tidak akan bisa berlaku adil di dalamnya.”

Dalam benaknya, urusan kaum muslimin adalah persoalan yang sangat penting dan berat. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah berandai-andai, jika saja tokoh utama di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah-tengah mereka, tentu merekalah yang akan ditugaskan memimpin kaum muslimin di daerah mereka.

“Berangan-anganlah kalian,” katanya suatu ketika kepada para sahabat dekatnya.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan emas, lalu aku infakkan di jalan Allah ‘azza wa jalla dan aku sedekahkan,” kata sebagian mereka.

“Aku ingin, seandainya rumah ini penuh dengan intan permata, lalu aku infakkan dan sedekahkan di jalan Allah ‘azza wa jalla,” kata yang lain.

“Berangan-anganlah kalian,” lanjut ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

“Kami tidak mengerti, wahai Amirul Mukminin,” sahut mereka.

“Aku ingin, seandainya negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang keadaannya seperti Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhum, lalu aku angkat mereka menjadi pejabat di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Nama-nama sahabat g yang disebutkan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu ini adalah orang-orang yang utama di kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang yang mula-mula masuk Islam, dikenal takwa, wara’, zuhud, berilmu, ahli fikih, pemberani, dan sifat terpuji lainnya.

Karena itulah, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan kaum muslimin, ‘Umar radhiallahu ‘anhu benar-benar meneliti secara cermat orang-orang yang akan ditugaskannya di sebagian wilayah Islam. Sudah tentu, ketika melihat sebagian pejabatnya ternyata kurang baik menjalankan tugasnya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu segera menggantinya dengan yang lain.

Dari sejarah hidup beliau radhiallahu ‘anhu, disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa ada beberapa alasan beliau radhiallahu ‘anhu mencopot pejabat yang pernah ditunjuknya. Hal ini memberikan gambaran bahwa ‘Umar betul-betul cermat dalam memilih dan menggeser kedudukan seseorang, bukan karena sentimen pribadi.

Beberapa alasan itu antara lain sebagai berikut.

  1. Ketidakmampuan pejabat itu dalam bertugas atau kurang sempurna dalam menjalankannya.

Siapapun tidak meragukan keutamaan ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, sahabat yang diberitakan diselamatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Akan tetapi, ketika sebagian sahabat lain menjadi saksi akan kelemahannya dalam sebagian kewajibannya, ‘Umar radhiallahu ‘anhu mencopot ‘Ammar radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai pemimpin.

Demikian pula yang dialami oleh Syurahbil bin Hasanah radhiallahu ‘anhu. Panglima ini dicopot oleh ‘Umar dan digantikan dengan orang yang lebih ahli daripadanya.

  1. Adanya pengaduan rakyat tentang pejabat tersebut

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah diberi tugas sebagai gubernur di Kufah. Akan tetapi, sebagian penduduk Kufah mencelanya dan menuduh bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu tidak shalat dengan benar ketika mengimami mereka. Sa’ad radhiallahu ‘anhu juga dituduh tidak membagi dengan adil.

Meskipun yakin bahwa tuduhan itu tidak benar, ‘Umar radhiallahu ‘anhu tetap mencopot Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari kedudukannya sebagai gubernur. Semua itu beliau radhiallahu ‘anhu lakukan untuk menutup celah timbulnya kejelekan, yaitu tidak senangnya rakyat kepada penguasa mereka lalu tidak mau menaatinya dalam kebaikan.

Dalam sebagian kesempatan, beliau radhiallahu ‘anhu menjelaskan bahwa Sa’ad radhiallahu ‘anhu dicopot bukan karena dia khianat atau ketidakmampuannya menjalankan tugas.

radhiallahu ‘anhuma. Pejabat melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu

Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang pulang membawa harta yang cukup banyak dari Bahrain. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ditanya dari mana kekayaan tersebut. Abu Hurairah menjelaskan dengan jujur. Akan tetapi, tabiat ‘Umar yang tidak ingin pejabatnya dicurigai oleh rakyatnya menggunakan jabatannya untuk memperkaya diri, mencopot Abu Hurairah dari jabatannya. Setelah diteliti dengan saksama, ternyata harta itu memang sebagaimana yang diterangkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. ‘Umar radhiallahu ‘anhu memanggilnya untuk ditugaskan kembali.

Akan tetapi, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menolak, karena khawatir kehormatannya rusak dan punggungnya dicambuk, apabila salah melangkah.

Bahkan, seringan apapun kesalahan seorang pejabatnya, tetapi tidak layak dilakukannya karena dia adalah orang yang menjadi ikutan, beliau radhiallahu ‘anhu tidak segan-segan mencopotnya dari kedudukannya. Seperti yang beliau radhiallahu ‘anhu lakukan terhadap seorang sahabat yang menyenandungkan syair berisi pujian terhadap khamr. Meskipun hanya sekadar bersyair dan alasan itu diterima oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu, namun ‘Umar tetap menurunkan sahabat tersebut dari jabatannya.

  1. Pejabat mengajukan uzur syar’i untuk menolak tugas.

Seperti yang terjadi pada Nu’man bin Muqarrin radhiallahu ‘anhu.

Wallahu a’lam.

 

Penyayang terhadap Rakyatnya

Kita mengenang kembali ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam. Betapa ganas dan tanpa belas kasihan dia menyiksa seorang budak wanita yang beriman. Siksaan itu berhenti setelah ‘Umar radhiallahu ‘anhu kepayahan, sedangkan budak itu tetap tegar dalam keimanannya.

Hampir tidak kita dapati dalam riwayat bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu pernah merasa iba melihat penderitaan orang lain, lebih-lebih kaum muslimin. Kecuali saat itu, ketika dia melihat Ummu ‘Abdillah bintu Abi Hatsmah radhiallahu ‘anha yang menyiapkan bekal untuk hijrah ke Habasyah. Ummu ‘Abdillah radhiallahu ‘anha melihat seolah-olah ‘Umar radhiallahu ‘anhu merasa kasihan kepada mereka. Akan tetapi, ‘Amir radhiallahu ‘anhu sang suami mengingkari, “Dia tidak akan masuk Islam sampai keledai al-Khahthab masuk Islam.” Abu ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu merasa putus asa melihat kekejaman dan kekasaran ‘Umar radhiallahu ‘anhu terhadap kaum muslimin.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu sebelum masuk Islam.

Setelah masuk Islam, hampir sepanjang kehidupannya yang sampai kepada kita, banyak menceritakan betapa pilu hatinya ketika mengetahui kesengsaraan dan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian kaum muslimin.

Beliau radhiallahu ‘anhu juga tidak rela apabila kesulitan yang dirasakan oleh rakyat itu diperparah oleh kelakuan sebagian pejabat yang ditugaskannya.

Diceritakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu selalu meminta para pejabatnya bertemu dengannya di setiap musim haji. Di situ, Amirul Mukminin radhiallahu ‘anhu selalu mengingatkan mereka, “Hai kaum muslimin, saya tidak mengangkat petugas kalian atau pejabatku itu untuk memukul kalian atau merampas harta kalian. Tidak pula meruntuhkan kehormatan kalian. Akan tetapi, saya mengangkat seorang pejabat untuk menjadi pelindung kalian dan membagi ghanimah di antara kalian. Karena itu, siapa saja di antara kalian yang terzalimi oleh mereka, hendaklah dia berdiri.”

Namun, tidak ada yang berdiri kecuali seorang laki-laki yang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seorang petugasmu memukulku seratus kali cambukan.”

Kata beliau radhiallahu ‘anhu, “Bangkitlah dan balaslah.”

Tiba-tiba ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya Anda membuka masalah ini terhadap para pejabatmu, tentu akan menjadi sunnah yang tetap diberlakukan oleh orang-orang yang datang sesudahmu.”

Beliaupun berkata, “Saya tidak mengkisasnya, tetapi saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan dirinya untuk dikisas.”

Kata ‘Amr radhiallahu ‘anhu, “Biarkan kami meminta kerelaannya.”

“Buatlah dia rela,” kata ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya, mereka membuat orang itu rela dengan menerima tebusan sebanyak duaratus dinar. Setiap cambukan dihargai dua dinar.[1]

Itulah ‘Umar al-Faruq putra al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dia juga tidak senang keluarganya menerima fasilitas negara karena hubungan mereka dengan pribadinya. Oleh sebab itu, ketika dibuat sensus penduduk untuk menerima jatah subsidi dari pemerintah, ada beberapa orang menyarankan agar memasukkan keluarga ‘Umar (Bani ‘Adi) di deretan atas. Akan tetapi, dengan tegas beliau menolak dan justru menempatkannya di bagian paling akhir.

“Jangan sampai orang mengatakan bahwa mereka menerima fasilitas atau jatah itu karena keluarga Amirul Mukminin.”

Pernah diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunannya, al-Kubra, dari Salim, bahwa ayahnya, ‘Abdullah bin ‘Umar bercerita,

Dahulu kami pernah tinggal di Mesir, pada masa ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu menjadi gubernur. Saudaraku, ‘Abdurrahman bin ‘Umar dan Abu Sirwa’ah ‘Uqbah bin al-Harits radhiallahu ‘anhuma minum khamr sampai mabuk. Setelah keduanya sadar, mereka menemui ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Sucikan kami, karena kami mabuk oleh minuman yang kami minum.”

Kata ‘Abdullah, “Saya tidak tahu kalau mereka ternyata sudah menemui ‘Amr bin ‘Ash.”

Saudaraku itu mengatakan bahwa dia mabuk.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Masuklah ke rumah, aku akan menghukummu.”

Dia mengatakan bahwa dia telah menyampaikan kepada gubernur.

Kata ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, “Demi Allah, kamu tidak akan dicukur di hadapan orang banyak. Masuklah, aku akan mencukur kepalamu.”

Dahulu, mereka mencukur rambut orang yang mabuk ditambah dengan hukuman had (cambukan). Diapun masuk bersamaku, lalu aku mencukur saudaraku dengan tanganku sendiri, kemudian dicambuk oleh ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu.

Ternyata, peristiwa ini didengar oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, maka beliau radhiallahu ‘anhu menulis surat memerintahkan ‘Amr radhiallahu ‘anhu mengirim ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu pulang ke Madinah.

Setelah sampai di Madinah, ‘Umar zmencambuk putranya dan menghukumnya karena kedudukannya sebagai putra Amirul Mukminin. Setelah itu, beliau melepaskan putranya. Beberapa bulan kemudian, dalam keadaan sudah sehat, takdir Allah ‘azza wa jalla harus dijalaninya, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu meninggal dunia. Orang banyak mengira dia meninggal karena dicambuk oleh ayahnya, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, padahal tidak demikian.

Sesungguhnya demikianlah, ‘Abdurrahman radhiallahu ‘anhu dicambuk oleh ayahnya sendiri bukan sebagai hukuman had, melainkan ta’zir (hukuman ringan), karena hukuman had itu tidak diulangjika sudah dijatuhkan.

Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (al-Kubra) secara maushul dan mursal.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (8)

 minbar 1

Memilih Para Pejabat

Kita masih ingat dengan khutbah pertama beliau dibai’at menjadi khalifah. Selama ini, di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar merasa dirinya adalah sebilah pedang tajam yang setiap saat dapat dihunus atau disimpan dalam sarungnya. Di masa itu, juga pada masa khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar hanya menjalankan perintah, memberi saran yang dipandangnya bermanfaat.

Kini, setelah menjadi khalifah, dia merasakan betapa berat sebenarnya beban yang dipikulnya. Betapa besar tanggung jawabnya di hadapan umat dan di hadapan Allah ‘azza wa jalla kelak. Tanggung jawab yang tidak terbayangkan oleh para pemegang kekuasaan sesudah beliau, kecuali yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.

Karena itulah, beliau mulai memikirkan untuk menunjuk para pejabat yang mewakilinya mengurus kepentingan kaum muslimin di wilayah muslimin, yang jauh dari Madinah. Beliau tidak rela bila ada sebagian petugasnya yang menyimpang dari keadilan yang telah diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sering mengingatkan bahwa beliau menugaskan para pejabat itu, bukan untuk menzalimi rakyatnya, melainkan mengajari mereka agama dan mengurus kepentingan mereka.

Bahkan, beberapa tokoh yang dianggap sebagai anutan umat, yaitu sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, menerima perhatian yang sangat ketat dari beliau.

Pernah dikisahkan, dalam sebuah perjalanan haji, Umar melihat pakaian Thalhah bin ‘Ubaidillah ada bekas za’faran, padahal sedang ihram. Amirul mukminin segera mendekati dan bertanya,mengapa ada bekas za’faran di pakaian beliau. Thalhah menerangkan bahwa itu tidak sengaja terkena, belum bisa hilang. Namun, Amirul Mukminin Umar mengingatkan Thalhah.

“Wahai Thalhah, Anda adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senior. Anda adalah salah seorang tokoh anutan kaum muslimin. Yang hadir di sini tidak semuanya berpikiran panjang, bisa jadi ada orang yang kurang paham, melihat bahwa salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terkena za’faran, lalu mengira, berarti boleh memakainya ketika ihram. Oleh karena itu, hendaklah Anda melepasnya dan mengganti dengan yang lain.”

Karena itu pula, beliau tidak segan-segan memberikan teguran keras atau mencopot mereka yang tidak bertugas sebagaimana yang diinginkan beliau.

Sebagian penulis sejarah, khususnya tentang pribadi sahabat jenius ini, menerangkan bahwa dalam memilih pejabat di wilayah yang jauh tersebut, Umar mempunyai kriteria tersendiri, di antaranya;

  • Yang menjadi pucuk pimpinan di sana harus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik lebih dahulu masuk Islam, maupun tidak setelah Hudaibiyah, atau Fath Makkah.

Beliau menyebutkan, “Sungguh demi Allah, aku tahu kapan bangsa Arab itu binasa. (Yaitu) apabila mereka dipimpin oleh orang-orang yang bukan sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah menangani atau merasakan jahiliah.”[1]

  • Yang menjadi pucuk pimpinan tidak boleh dari kerabat beliau (dari Bani ‘Adi, kabilah Umar bin al-Khaththab). Bahkan, meskipun beberapa sahabat mencalonkan putranya, ‘Abdullah yang dikenal hampir menyerupai bapaknya. Akan tetapi, Umar menolaknya.

Menjelang wafatnya, Amirul Mukminin juga berwasiat agar tidak menempatkan kerabatnya dalam pemerintahan, sebagai apa pun. Itu juga yang dipesankan oleh beliau kepada ahli syura yang beliau tunjuk untuk memilih khalifah sepeninggal beliau.

  • Beliau menetapkan bahwa pejabatnya haruslah orang yang istiqamah di atas kebenaran dan kesalehan.

Beliau berpandangan baiknya penguasa akan mendorong baiknya rakyat yang dipimpinnya, “Manusia akan selalu dalam kebaikan selama para pemimpin dan pembimbing mereka lurus di atas al-haq.”

Kata beliau pula, “Orang fajir itu tidak mengangkat pekerja kecuali orang yang fajir (jahat) juga. Kalau ada orang yang memanfaatkan orang fajir dalam keadaan dia tahu pegawainya fajir, dia adalah fajir seperti pegawainya.”

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang ahli dalam memimpin dan mengatur urusan orang banyak.

Oleh sebab itulah, tidak semua sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau tunjuk sebagai pejabat di beberapa wilayah.

Bahkan, beliau juga mencopot sebagian mereka bila ada pengaduan dari rakyat di mana mereka tinggal sebagai pejabat, atau karena alasan tertentu. Beliau mencopot jabatan Khalid sebagai panglima demi menghindari mafsadah yang lebih besar, sebagaimana telah diceritakan.

Seperti itu juga yang pernah diperbuat oleh junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak mengangkat orang yang meminta jabatan, tetapi menunjuk orang-orang yang beliau pandang ahli dalam bidang tersebut.

Abu Dzar pernah memintanya, tetapi dinasihati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun menerima.

Umar juga pernah mencopot ‘Ammar bin Yasir dan menggantinya dengan al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhum.

  • Pejabat yang ditunjuk adalah orang yang cerdik dan pintar.

Suatu ketika, beliau pernah bertemu satu rombongan yang sedang menuju Baitul Haram. Beliau pun bertanya, “Siapa kalian?”

Orang termuda di kalangan mereka berkata, “Kami hamba-hamba Allah, muslimin.”

“Dari mana kalian?”

“Dari pelosok yang jauh.”

“Hendak ke mana kalian?” tanya beliau.

“Baitil ‘Atiq (Ka’bah),” jawab pemuda itu.

“Takwilkanlah, demi Allah,” kata beliau, lalu melanjutkan, “Siapa amir (pemimpin) kalian?”

Dia memberi isyarat kepada seorang syaikh (yang sudah tua) di antara mereka, maka Umar berkata, “Yang benar, kamulah amir mereka,” sambil menunjuk pemuda yang menjawab dengan baik itu.

  • Pejabat itu memiliki perasaan penyayang dan belas kasih, sebab akan membuat hubungannya dengan rakyat menjadi baik, sehingga mereka mudah menyampaikan keluhan mereka kepada penguasa mereka.
  • Zuhud dan tidak berambisi terhadap kekuasaan.

Penguasa atau pemimpin yang memiliki sifat ini akan lebih ikhlas dalam bekerja, dan lebih jauh dari ambisi terhadap dunia.

Malik ad-Dar rahimahullah bercerita, “Suatu hari Umar mengambil 400 dinar dan membungkusnya lalu berkata kepada seorang pelayan, ‘Pergilah, antarkan kepada Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah. Kemudian, tunggulah di rumah itu dan lihat apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan setelah bertemu, dia berkata, ‘Amirul Mukminin menitip salam untukmu dan memerintahkan agar ini digunakan untuk sebagian keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Abu ‘Ubaidah, lalu, ‘Hai jariyah, kemarilah. Bawa 7 dinar ini untuk si Fulan, 5 dinar untuk si Fulan lainnya,’ sampai habis.

Pelayan itu pulang menemui Umar dan menceritakan kejadian yang dilihatnya. Ternyata Umar telah menyiapkan yang serupa untuk dibawa kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu. ‘Bawakan ini untuk Mu’adz dan tunggulah apa yang dilakukannya.’

Pelayan itu segera berangkat dan berkata, ‘Amirul Mukminin menyuruh agar menggunakan harta ini untuk keperluanmu.’

‘Semoga Allah menyambung dan merahmati beliau,’ kata Mu’adz, lalu, ‘Hai jariyah, pergilah. Bawakan untuk si Fulan sekian, rumah si Fulan lain sekian, dan rumah lainnya sekian.”

Tiba-tiba istri Mu’adz melihat dan berkata, ‘Demi Allah, kita juga miskin. berilah kami.’ Tidak ada yang tersisa kecuali dua dinar, lalu beliau memberikannya kepada sang istri.

Pelayan itu segera pulang dan bercerita. Betapa senangnya Umar, maka beliau berkata, ‘Sungguh, mereka benar-benar bersaudara. Yang satu adalah bagian dari yang lainnya’.”[2]

Semua itu tidak berarti beliau menghalangi mereka dari hal-hal yang mubah, tetapi tidak senang jika mereka terjerumus dalam sikap berlebihan atau boros.

Oleh sebab itulah, para pejabat yang ditunjuk oleh Umar selama kekhalifahannya adalah teladan mulia dalam takwa, kesalehan, dan kezuhudan serta pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Wallahu a’lam.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Atsar sahih, dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d (Thabaqat 6/129).

[2] Az-Zuhd karya Ibnul Mubarak (178).

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (7) : Tindakan Pertama

Tindakan Pertama

Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ash- Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah berangkat menyusul kekasihnya yang sangat dicintainya, Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, ‘Umar bin al-Khaththab dibai’at sebagai pengganti beliau.

Nun di seberang sahara yang membara, di balik bukit-bukit cadas dan lembah berbatu, pasukan muslimin yang dipimpin Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah itu sedang menyabung nyawa menyebarkan dan membela agama Allah. Satu demi satu tanah Arab yang menjadi jajahan Romawi telah dibebaskan. Sampai akhirnya mereka berhasil dengan gemilang meluluhlantakkan pasukan salibis di Yarmuk.

Yarmuk, menjadi saksi bisu sejarah kepahlawanan orang-orang yang jujur dalam ber-Islam. Meskipun mereka baru saja meninggalkan kejahiliahan, ternyata tidak rela tertinggal menuju surga.

Salah seorang dari mereka berkata,

“Di dunia kita dikalahkan oleh mereka (yang terlebih dahulu masuk Islam, –ed.). Di akhirat kita berdesakan dengan mereka di surga.”

Allahu Akbar.

Dan itu, telah mereka buktikan. Inilah murid-murid sejati Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Manusia Agung yang mengemban risalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi untuk seluruh manusia dan jin.

Hampir dua ratus ribu tentara salibis yang terkenal dengan keahlian mereka dalam berperang, bertubuh tegap dan lengkap dengan persenjataan serta perbekalannya, tanpa ampun harus merasakan sakitnya dicabik-cabik pedang-pedang tentara Allah subhanahu wa ta’ala. Kekalahan tragis itu hanya menyisakan dendam berkarat di dada anak cucu Nasrani, kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak ada gunanya latihan militer yang mereka jalankan selama ini. Semua tumpul di hadapan hati-hati yang membaja dengan keimanan sempurna kepada Penguasa langit dan bumi.

Mari, kita kenang kembali, bagaimana pemuda Bani Makhzum yang belum lama masuk Islam. Dahulu, di masa remajanya, dia beranjak dewasa bahu membahu bersama bapaknya menjadi petaka bagi kaum muslimin. Penentang nomor satu dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, bapaknya harus puas menerima gelar Fir’aun umat ini.

Betul, dia adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahl ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi radhiallahu ‘anhu. Di tengah-tengah berkecamuknya pertempuran yang tidak sebanding jumlah kedua kubu yang berhadapan itu, ‘Ikrimah menarik kekang kudanya ke depan dan berseru, “Siapa yang mau berbai’at untuk mati syahid, hari ini?!!”

Dua ratus lebih prajurit muslim yang meyakini angin surga sedang bertiup di bumi Yarmuk menyambut tantangan satria tersebut.

Derap ratusan kuda yang dipimpin ‘Ikrimah menerjang ke tengah musuh yang berjumlah dua ratus ribuan orang itu. Pekik Allahu Akbar menggema diiringi ringkik kuda dan dentingan pedang yang beradu.

Satu demi satu mereka jatuh ke bumi, setelah membuat pasukan musuh benar-benar harus menelan pil pahit di hari itu.

Yarmouk

Nun, di kota suci, Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat setelah mengukuhkan ‘Umar sebagai penggantinya. ‘Umar tidak menunda-nunda menjalankan tugasnya. Setelah menjadi khalifah, yang pertama dikerjakan beliau adalah memberhentikan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu dari jabatan panglima kaum muslimin dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu sebagai penggantinya.

Ada yang berpendapat bahwa langkah ini sangat tepat. Alasan mereka, ‘Umar dan Khalid sama-sama memiliki sifat keras dan tegas, sedangkan Abu ‘Ubaidah berwatak lembut dan mudah. Karena itu, ‘Umar melihat, watak kerasnya harus ada yang mengimbangi dan menahannya. Beliau melihat Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu adalah yang tepat untuk itu.

Ada pula yang menceritakan bahwa pemecatan Khalid dari kedudukannya sebagai panglima adalah upaya Amirul Mukmin memangkas akar-akar fanatisme jahiliah di hati kaum muslimin. Beliau khawatir, kaum muslimin terfitnah karena mereka selalu berhasil mengalahkan musuh jika dipimpin oleh Khalid. Oleh karena itu, demi menjaga keutuhan tauhid dan tawakal mereka kepada Allah, Amirul Mukminin memecat Khalid untuk menanamkan keyakinan kepada kaum muslimin, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lah yang memberi kemenangan itu, sama sekali bukan karena kelihaian dan kejeniusan Khalid dalam menjalankan taktik perang.

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin menegaskan, “Aku memecat Khalid bukan karena dia lemah atau khianat, melainkan karena khawatir kaum muslimin terfitnah. Karena itu, aku ingin mereka menyadari bahwa semua (kemenangan) ini adalah Allah yang mengaturnya.”

Ada beberapa versi yang menerangkan peristiwa tersebut. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa kurir dari Madinah menyerahkan surat Amirul Mukminin langsung kepada Abu ‘Ubaidah, tetapi oleh Abu ‘Ubaidah dia disuruh diam dan menunggu sampai keadaan tenang. Setelah keadaan agak tenang, pasukan beristirahat, Abu ‘Ubaidah menemui kurir tersebut dan membaca surat yang dibawanya.

Abu ‘Ubaidah meminta kepada kurir itu agar tidak menceritakan isi surat tersebut kepada siapapun sampai keadaan benar-benar tenang, agar pencopotan Khalid tidak membuat goyah semangat tempur kaum muslimin.

Yang lain berpendapat bahwa surat itu sampai ke tangan Khalid, kemudian beliau mendoakan kebaikan untuk Amirul Mukminin. Kata Khalid, “Aku tidak berperang karena ‘Umar, tetapi karena Allah.” Kemudian, dia menemui Abu ‘Ubaidah untuk menyerahkan surat tersebut.

Begitu bertemu, beliau langsung memberi salam penghormatan sebagai prajurit biasa kepada panglima. Abu ‘Ubaidah tentu saja kaget menerima penghormatan itu, kemudian dia membaca surat yang diserahkan oleh Khalid.

Keadaan tetap tenang, seakan-akan tidak ada kejadian apapun dalam barisan kaum muslimin.

Khalid tetap bertempur dengan penuh semangat untuk mencari syahid. Dia merasa yakin, apapun kedudukannya, di manapun posisinya dia adalah tentara Allah. Sebelum itu, dia sebagai panglima, tetapi juga prajurit, bertempur sengit menerjang musuh untuk meraih syahid. Adapun sekarang, dia adalah prajurit biasa tetapi juga panglima.

Ya, dia panglima meskipun statusnya adalah prajurit biasa, karena dia tetap memimpin pasukan muslimin dengan memberikan saran dan arahan serta taktik yang jitu kepada panglima baru. Bahkan, diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Segala puji milik Allah yang menetapkan aku mencintai Amirul Mukminin.”

Ketika dalam keadaan terbaring menjemput maut, Khalid ditanya, “Siapa yang engkau wasiatkan mengurusi anak-anakmu?”

“Amirul Mukminin ‘Umar bin al- Khathathab,” jawab beliau. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (6)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya ‘Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau.

Sungguh, apabila dikenang sikap tegas dalam memegang kebenaran, ‘Umar pasti disebut-sebut. Jika diingat keadilan dalam memutuskan dan bersikap, nama ‘Umar pasti diingat. Setiap kali kita menyebut kasih sayang kepada orangorang yang lemah dan miskin, beliaulah contoh nyata dalam tindakan. Kalau kita bangga dengan berbagai penaklukan dan pembebasan, beliaulah pahlawan.

Semua kebaikan ada padanya. Pria yang tidak pernah duduk di madrasah atau kursus ilmu-ilmu sosial, politik, dan pemerintahan ini, ternyata mampu menjadi penguasa sepertiga belahan dunia. Sepuluh tahun memegang kendali urusan kaum muslimin, baik bangsa Arab maupun ajamnya, tidak menyisakan celah untuk menjadi sasaran cemoohan dan kritikan.

Jenius yang sangat berhati-hati memegang amanah yang dipikulkan di pundaknya. Sampai-sampai sebagian sahabat besar berkata, “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, Anda memberi beban berat kepada khalifah sepeninggal Anda.”

Benar. Mereka yang melihat kesungguhan ‘Umar mengurusi kepentingan kaum muslimin secara khusus atau rakyat secara umum, akan merasa takut dan enggan untuk memikul amanah ini. Betapa tidak, hampir tidak ada dalam benak beliau mengambil keuntungan dunia ketika menjalankan pemerintahannya, mengurusi kepentingan rakyat, khususnya kaum muslimin. Bahkan, beliau tidak rela keluarga beliau menanggung beban seperti yang dirasakannya. Cukup satu ‘Umar memikulnya. Pernah suatu ketika, beliau terlihat mengantuk. Sebagian sahabatnya menegur beliau agar menjaga istirahat yang cukup. Apa jawab pria jenius berhati lembut ini?

“Kalau malam hari aku tidur, pasti aku kehilangan bagianku dari Rabbku. Dan kalau aku tidur di siang hari, pasti aku tidak bisa menjalankan tugasku mengurusi kepentingan orang banyak.”

Subhanallah. Adakah penguasa atau pemimpin yang memikirkan ucapan ini? Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada mereka yang mengurusi kepentingan kaum muslimin serta memperbaiki kekeliruan mereka.

Wallahul Muwaffiq.

Kekuasaan yang Membawa Rahmat

Setelah selesai dibai’at, ‘Umar duduk di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum muslimin duduk rapi di hadapan beliau. Beliaupun berdiri, membuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertasyahud (mengucapkan syahadat).

Ternyata, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang keras, maka lembutkanlah aku. Aku lemah, maka kuatkanlah aku. Aku kikir, maka jadikanlah aku dermawan.”1[1]

Melalui jalur asy-Sya’bi, disebutkan bahwa setelah dibai’at sebagai khalifah, ‘Umar naik mimbar, lalu berkata, “Jangan sampai Allah melihatku merasa pantas menempati posisi Abu Bakr.” Lalu dia turun satu tingkat dari tempat yang biasa diduduki oleh Abu Bakr.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau berpidato,

“Bacalah al-Quran, niscaya kalian dikenal dengannya. Amalkanlah al-Qur’an, niscaya kalian menjadi ahlinya. Timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang. Berhiaslah menghadapi hari

‘ardhul akbar (kiamat), ketika kalian dihadapkan kepada Allah, tidak ada satupun yang tersembunyi dari kalian sedikit pun. Sungguh, tidak akan sampai hak orang-orang yang mempunyai hak, untuk ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku menempatkan diriku dalam urusan harta Allah ini seperti wali anak yatim. Kalau aku merasa cukup, aku menahan diri, dan kalau aku mempunyai keperluan, aku memakannya dengan cara yang baik.”2[2]

Pernyataan sederhana tetapi tegas, dan beliau telah menepati kata-katanya, hingga akhir hayatnya. Semoga Allahmeridhai beliau.

Sebagian ahli sejarah menerangkan bahwa perbedaan isi khutbah beliau adalah karena beberapa kemungkinan, di antaranya adalah perbedaan dalam penyampaian dari sebagian orang yang meriwayatkannya, sesuai dengan yang diingat oleh mereka.

Wallahu a’lam.

Ada pula yang menyebutkan bahwa banyak kaum muslimin merasa khawatir dengan ketegasan dan kekerasan watak ‘Umar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillah kepada Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika riwayat itu sahih. Ketika sampai berita ini kepada ‘Umar, beliau segera berpidato menyampaikan keadaan dirinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meninggalkan dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Kemudian beliau mengatakan, “Sikap tegas dan keras itu hanya tertuju kepada mereka yang zalim dan melanggar hak orang lain. Aku tidak akan membiarkan siapapun menzalimi orang lain, atau melanggar haknya sampai aku letakkan pipinya di tanah dan menginjaknya sampai dia tunduk kepada yang hak. Dengan kekerasanku itu, aku akan menyerahkan pipiku kepada mereka yang menjaga kehormatan dan menahan dirinya. Kalian semua punya hak yang harus aku tunaikan; pertama, aku tidak akan menyembunyikan hak kalian sedikitpun, begitu pula rampasan perang yang diberikan oleh Allah untuk kalian, tidak aku tahan. Aku akan mengeluarkannya dengan cara yang benar, dan andaikata jatuh ke tanganku, niscaya aku salurkan pada haknya. Aku juga akan menambah jatah pemberian untuk kalian insya Allah dan menutupi kebutuhan kalian. Hak kalian yang harus aku tunaikan juga ialah bahwa aku tidak akan menggiring kalian kepada kebinasaan.

Kalau kalian tidak ada di tempat, akulah yang menjaga keluarga kalian sampai kalian kembali kepada mereka. Maka dari itu, bertakwalah wahai hambahamba Allah, dan bantulah aku menahan diri kalian terhadapku. Bantulah aku menghadapi diriku dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dalam urusan yang Allah tugaskan aku mengatur urusan kalian.

Aku ucapkan perkataan ini dan aku mohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kamu sekalian.”

Melalui khutbah ini, beliau menyadarkan kita bahwa kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah amanat yang berat dan beliau merasa yakin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliau merasa yakin pula bahwa ini semua adalah ujian, bukan sebuah kehormatan dan kemuliaan.

Kerendahan hati beliau terlihat dengan merelakan diri melayani dan memuliakan orang-orang yang menahan diri dan memelihara kehormatan mereka. Akan tetapi, terhadap orang-orang yang zalim dan melanggar hak orang lain, beliau tidak akan memberikan apapun selain hukuman.

Melalui khutbah ini pula beliau mengisyaratkan dan memperingatkan para pejabatnya bahwa dia akan selalu mengawasi mereka dalam menjalankan tugas, meskipun jauh dari pandangan mata beliau. Dalam khutbah ini pula beliau menuntut kepada rakyatnya, agar tidak segan-segan menyampaikan nasihat dan meluruskan beliau jika terlihat menyimpang dari tugasnya. Beliau juga menuntut mereka agar menahan diri dari kekurangan yang mungkin muncul dari beliau, dengan tetap mendengar dan taat kepada beliau.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

[2] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (5) : Menjadi Amirul Mukminin

Kembali kaum muslimin dirundung oleh kesedihan. Seorang bapak, teman, dan teladan telah memenuhi janjinya, menemui Allah Subhanahu wata’ala. Pengganti/Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ash- Shiddiq, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu telah wafat. Saat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan beberapa sahabat lainnya tentang siapa yang menggantikannya mengatur urusan kaum muslimin. Kata beliau, “Telah datang kepada saya apa yang kamu lihat, dan saya yakin sebentar lagi saya akan dipanggil, maka angkatlah seorang amir yang kamu cintai. Kalau kamu mengangkatnya saat saya masih hidup, tentu kamu tidak akan berselisih sepeninggalku.”

Beberapa sahabat yang diundang untuk bermusyawarah meninggalkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan berdiskusi sesama mereka. Setelah itu, mereka datang kembali dan meminta beliau saja yang menunjuk satu calon. Melihat keadaan mereka, Abu Bakr mengira mereka berselisih, kata beliau, “Apakah ada perselisihan di antara kamu dalam masalah ini?” “Tidak,” kata mereka. “Kalau begitu, demi Allah, kamu siap untuk ridha dengan pilihanku?”

“Ya,” kata mereka.

“Beri saya kesempatan agar bisa melihat mana yang terbaik untuk Allah, agama-Nya, dan hamba-hamba-Nya.”

Setelah itu, beliau mengundang ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan berbincang. ‘Utsman mencalonkan ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr setuju dan memerintahkan menulis sebuah surat penetapannya sebagai Khalifah. Diriwayatkan pula ketika terdengar nama ‘Umar disebut sebagai calon khalifah sesudah Abu Bakr, Thalhah radhiyallahu ‘anhu datang menemui Khalifah yang terbaring lemah. Katanya, “Apakah benar ‘Umar yang dicalonkan sebagai khalifah? Anda sudah mengetahui apa yang diterima kaum muslimin darinya, padahal Anda ada bersama dia. Bagaimana keadaan mereka seandainya hanya dia yang di hadapan mereka? Dan Anda akan bertemu dengan Rabb Anda lalu menanyai Anda tentang rakyat Anda?”

Abu Bakr marah mendengar ucapan Thalhah, “Dudukkan saya. Apakah kamu mau menakut-nakuti saya dengan Allah? Kalau saya bertemu Allah Subhanahu wata’ala dan ditanya tentang urusan ini, saya akan mengatakan, ‘Saya telah mengangkat untuk golongan-Mu orang terbaik dari golongan-Mu’.”

Lepas dari itu semua, yang masyhur adalah Abu Bakr sendiri yang menetapkan pilihannya. Bisa jadi, alasannya adalah seperti yang dikemukakan dalam riwayat Thalhah di atas. Bisa jadi pula ada alasan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang menyebutkan kelayakan ‘Umar menjadi khalifah. Memang ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab sesudahnya.

Bahkan, hadits-hadits itu menegaskan bahwa keduanya berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hadits-hadits tersebut tidak secara tegas menetapkan keduanya sebagai khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa hadits itu, antara lain sebagai berikut. Dari Ibnu ‘Abbas Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ ظُلَّةً تَنْطُفُ السَّمْنَ وَالْعَسَلَ فَأَرَ ى النَّاسَ يَتَكَفَّفُونَ مِنْهَا فَالْمُسْتَكْثِرُ وَالْمُسْتَقِلُّ وَإِذَا سَبَبٌ وَاصِلٌ مِنَ الْأَرْضِ إِلَى السَّمَاءِ فَأَرَاكَ أَخَذْتَ بِهِ فَعَلَوْتَ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَانْقَطَعَ ثُمَّ وُصِلَ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، وَاللهِ لَتَدَعَنِّي فَأَعْبُرَهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اعْبُرْهَا. قَالَ: أَمَّا الظُّلَّةُ فَالْإِسْلَامُ وَأَمَّا الَّذِي يَنْطُفُ مِنَ الْعَسَلِ وَالسَّمْنِ فَالْقُرْآنُ حَلَاوَتُهُ تَنْطُفُ فَالْمُسْتَكْثِرُ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْمُسْتَقِلُّ وَأَمَّا السَّبَبُ الْوَاصِلُ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ فَالْحَقُّ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ تَأْخُذُ بِهِ فَيُعْلِيكَ اللهُ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَعْدِكَ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُهُ رَجُلٌ آخَرُ فَيَنْقَطِعُ بِهِ ثُمَّ يُوَصَّلُ لَهُ فَيَعْلُو بِهِ، فَأَخْبِرْنِي يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، أَصَبْتُ أَمْ أَخْطَأْتُ؟قَالَ النَّبِيُّ أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا. : قَالَ: فَوَا ،َهللِ يَا رَسُولَ اللهِ، لَتُحَدِّثَنِّي بِالَّذِي أَخْطَأْتُ. قَالَ لَا تُقْسِمْ

Ada seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Saya tadi malam melihat dalam mimpi, sebuah awan yang menaungi, mencucurkan minyak samin dan madu. Saya melihat manusia menampungnya dengan tangan mereka,ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tiba-tiba ada tali yang menjulur dari bumi ke langit dan saya melihat Anda memegangnya lalu naik. Kemudian ada orang lain yang memegangnya lalu naik, dan ada seorang lagi memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan.”

Kata Abu Bakr, “Ya Rasulullah, ibu bapakku jadi tebusanmu, demi Allah, biarkanlah saya menakwilkannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Takwilkanlah!” “Adapun awan, artinya Islam, dan yang mencucurkan samin dan madu artinya adalah al-Qur’an dan  kelezatannya, maka ada yang banyak menerima al-Qur’an dan ada yang sedikit.

Adapun tali dari langit ke bumi ialah al-haq yang engkau berjalan di atasnya lalu engkau memegangnya dan Allah Subhanahu wata’ala meninggikan engkau dengannya. Kemudian ada yang memegangnya sesudah engkau lalu naik dengannya. Kemudian ada lagi yang memegangnya dan naik dengannya, lalu ada pula yang memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan untuknya dan naik dengannya. Terangkanlah kepadaku wahai Rasulullah, bapak dan ibuku tebusanmu, apakah saya benar ataukah salah?”

Kata Nabi n, “Kamu benar sebagian dan salah pada bagian lain.” Kata Abu Bakr, “Demi Allah, wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku mana yang salah.” Kata beliau,”Jangan bersumpah.”

Kata Ibnu Hajar rahimahumallah, “Yang memegang tali itu satu demi satu adalah ketiga khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Kemudian hadits Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu ‘anhu,

إِنِّي لَشَاهِدٌ عِنْدَ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَلَقَةٍ، وَفِي   يَدِهِ حَصًى، فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، وَفِينَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعِلِيٌّ، فَسَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ,إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَسَبَّحْنَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَى النَّبِيِّ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ،  ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُمَرَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ   فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَيْنَا فَلَمْ يُسَبِحْنَ مَعَ أَحَدٍ مِنَّا

“Sungguh, aku benar-benar saksi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah halaqah dan di tangan beliau ada beberapa kerikil. Lalu kerikil-kerikil itu bertasbih di tangan beliau, sementara di antara kami ada Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada Abu Bakr lalu kerikil-kerikil itu bertasbih bersama Abu Bakr, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil itu.

Kemudian dia menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih bertasbih di tangan beliau. Lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Umar dan bertasbih di tangannya, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil tersebut.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Utsman bin ‘Affan dan bertasbih di tangannya, lalu beliau menyerahkannya kepada kami, tetapi tidak bertasbih bersama siapa pun di antara kami.”

Ibnu Abi ‘Ashim berdalil dengan hadits ini tentang kekhalifahan ketiga sahabat yang mulia tersebut. Akan tetapi, tidak secara tegas menunjukkan beliau menetapkan kedua sahabat yang mulia ini sebagai khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dinukil pula dari ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu sendiri bahwa beliau mengatakan, “Andaikata saya mau menunjuk pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Abu Bakr. Tetapi, kalau saya tidak menetapkan pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Demikianlah. Sebelum wafat, Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu telah menetapkan ‘Umar sebagai penggantinya untuk melanjutkan tugas mengurusi kepentingan kaum muslimin.

Bismillahirrahmanirrahim,Ini adalah keputusan Abu Bakr saat-saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat-saat ketika orangyang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), yang baiklah yang saya harapkan dan saya mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara’: 227)

Kemudian, secara khusus pula beliau mengingatkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah wasiat;

Wahai ‘Umar. Saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya, ada hak Allah Subhanahu wata’ala di malam hari yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima kalau ditunaikan pada siang hari. Dan ada pula hak-Nya di siang hari, yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima, apabila ditunaikan pada malam hari.

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menerima amalan sunnah sampai yang wajib dikerjakan lebih dahulu. Beratnya timbangan amalan orangorang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (mengikuti) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu terasa berat atas mereka.

Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya al-haq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia.

Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan. Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’alaersama ayat tentang raja’. Hal itu adalah agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak haq.

Kalau kamu menghafal wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal dia mesti kamu hadapi. Dan kalau kamu menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.”

Setelah itu, pengangkatan tersebut diumumkan di Masjid Nabawi, lalu kaum muslimin satu demi satu menyatakan bai’at kepada al-Faruq radhiyallahu ‘anhu.

Kedudukan Kekhalifahan ‘Umar

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh, islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan dan pertolongan , sedangkan kepemimpinannya adalah rahmat.”

Dari uraian Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini dan kenyataan sejarah tentang kepemimpinan ‘Umar dapat dikatakan bahwa kekhalifahan beliau adalah simbol keamanan dan kekuatan sebuah negara yang berdaulat serta kemuliaan umat Islam. Hal ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah n sendiri, demikian pula para sahabat lainnya.

Suatu hari, ‘Umar berkata kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kamu yang menghafal sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah?”

“Saya menghafalnya sebagaimana diucapkan beliau (Shallallahu ‘alaihi wasallam),” kata Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.

“Bacakan, sungguh kamu sangat berani,” kata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.Kata Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Kekeliruan seseorang dalam urusan keluarga, harta dan tetangganya, dihapus oleh shalat, sedekah, amar ma’ruf nahi munkar’.”

Kata ‘ Umar , “ Saya tidak memaksudkan ini, tetapi fitnah yang bergelombang seperti ombak di lautan.” Hudzaifah berkata, “Hai Amirul Mukminin, tidak ada kejelekan atasmu dari fitnah itu, karena sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

“Apakah pintu itu dibuka atau dihancurkan?” tanya ‘Umar.

“Dihancurkan,” kata Hudaaifah.

“Kalau begitu, pintu itu tidak akan tertutup lagi selama-lamanya,” kata ‘Umar. Kami berkata kepada Hudzaifah, “Apakah ‘Umar mengetahui ihwal pintu tersebut?”

“Ya, sebagaimana dia tahu setelah siang adalah malam.”

“Sungguh aku telah menyampaikan kepadanya hadits yang tidak mengadaada, maka kami segan menanyakannya. Lalu kami memerintahkan Masruq agar menanyakan kepadanya siapa pintu itu.” Kata beliau, “Pintu itu adalah ‘Umar.” Di dalam hadits ini diberitakan tidak terjadinya fitnah di masa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Bahkan, perumpamaan beliau adalah seperti pintu yang menghalangi masuknya fitnah menerpa umat Muhammad n. Kematian beliau z yang digambarkan dengan pecahnya pintu tersebut, sehingga tidak mungkin akan tertutup selamanya. Semua itu adalah isyarat bahwa kekacauan itu seperti gelombang yang menerjang umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gugurnya ‘Umar sebagai syahid. Ujian pertama yang terjadi setelah kekhalifahannya adalah terbunuhnya Dzun Nurain Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bermunculan hawa nafsu dan kebid’ahan melanda kaum muslimin. Wallahul Musta’an.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ النَّاسَ مُجْتَمِعِينَ فِي صَعِيدٍ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِي بَعْضِ نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَا يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ بِيَدِهِ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا فِي النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ

“Saya melihat manusia berkumpul di satu tanah lapang, lalu berdirilah Abu Bakr menimba satu atau dua timba, dan pada sebagian tarikannya ada kelemahan, semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh ‘Umar dan berubah menjadi timba yang sangat besar. Saya belum pernah melihat orang yang sangat kuat menarik timbanya, hingga manusia menggiring unta mereka ke tempat istirahatnya (negara bertambah luas, –red.).”8

Dalam riwayat lain disebutkan, hingga dia menguasai telaga sampai memancarkan air. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah isyarat bahwa ‘Umar tidak mati kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya dan urusan agama ini kokoh. Semua itu karena panjangnya masa pemerintahan beliau radhiyallahu ‘anhu dan kesungguhan beliau dalam menanganinya. Berita nubuwah itu telah menjadi kenyataan. Di zaman beliau dua kerajaan besar dihancurkan, yaitu Romawi dan Persia, hingga menimbulkan dendam berkarat di dalam dada anak cucu mereka sampai saat ini. Kekuasaan Islam semakin meluas, hingga meliputi sepertiga belahan dunia.

Beberapa sahabat juga mengakui keutamaan masa kekhalifahan beliau, seperti ungkapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas. Hudzaifah mengatakan, “Islam di masa ‘Umar seperti orang yang sedang mendekat, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah beliau terbunuh, Islam seperti orang yang pergi, semakin lama semakin jauh.” Setelah ‘Umar gugur sebagai syahid, Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha menyatakan, “Hari ini Islam menjadi lemah.” Wallahul muwaffiq.

(Insya Allah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (4) : Menjadi Penasehat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

Mendampingi Abu Bakr

Berita wafatnya Rasulullah n benarbenar menggoncang Madinah. Kota itu seakan berubah demikian gelap kehilangan cahayanya. Rintihan pilu terdengar dari setiap rumah kaum muslimin. Mereka benar-benar kehilangan seorang ayah, pemimpin, guru, sekaligus sahabat dan saudara yang lebih mereka cintai daripada jiwa raga mereka. Kaum muslimin seakan tidak percaya menerima kenyataan itu. Bahkan, salah seorang dari mereka yang dikenal tegar dan tegas serta berani, yaitu ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, juga terpukul akibat rasa kehilangan ini. Dengan pedang terhunus, ‘Umar memasuki Masjid Nabawi, berdiri di sisi mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berseru lantang, “Beberapa orang munafik mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat.

Beliau tidak mati, tetapi menemui Rabbnya seperti Nabi Musa, yang meninggalkan kaumnya empat puluh malam lalu kembali kepada mereka. Demi Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti kembali sebagaimana Nabi Musa kembali dan pasti akan memotongmotong tangan dan kaki mereka yang mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggal dunia.” Itulah yang sempat dicatat sebagian ahli sejarah. Tiba-tiba, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid. Di wajahnya yang keriput tetapi bercahaya, masih tersisa tetes air mata.

Abu Bakr memang baru saja dari rumah putrinya, ‘Aisyah, tempat jasad suci manusia agung Shallallahu ‘alaihi wasallam terbaring. Dia masih sempat mencium Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diselimuti sehelai kain. “Alangkah harumnya engkau ketika hidup dan setelah meninggal dunia,” katanya. “Bapak ibuku tebusanmu. Demi Allah, Allah tidak mengumpulkan untukmu dua kematian. Adapun kematian yang sudah ditetapkan bagimu telah engkau alami.” Setelah itu, Abu Bakr keluar rumah dan berjalan mendekati ‘Umar lalu menegurnya, “Duduklah, hai ‘Umar.” ‘Umar seperti tuli.

Dia enggan duduk dan masih mengangkat pedangnya di hadapan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat sikap ‘Umar, Abu Bakr tidak memaksanya lebih lanjut, tetapi terus melangkah menaiki mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melihat Abu Bakr berdiri di atas mimbar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muslimin segera meninggalkan ‘Umar yang tetap berdiri gagah. Abu Bakr memulai pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan berpidato, yang di antara ucapannya yang terkenal ialah, “Siapa yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Akan tetapi, siapa yang menyembah Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi Rezeki dan Mengatur) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.’1 (Ali ‘Imran: 144)

Begitu mendengar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat tersebut, pedang di tangan ‘Umar terlepas dan dia pun jatuh terduduk. Seketika itu juga terdengarlah isak tangis para sahabat yang ada di masjid. Mereka benar-benar yakin bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sang junjungan telah pergi mendahului mereka menemui Rabbnya. Mereka pun kembali ke rumah masingmasing sambil tetap menangis, lebih dari sekadar kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mereka sedihkan adalah terhentinya wahyu dari langit. Kesedihan itu tidak berlangsung lama. Para sahabat Anshar mulai membicarakan siapa yang akan memegang kendali urusan Islam dan kaum muslimin sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka berkumpul di Saqifah bani Sa’idah. ‘Umar segera mengajak Abu Bakr agar segera menemui sahabat-sahabat Anshar di Saqifah tersebut. Ternyata beberapa Muhajirin juga sudah ada di sana, tetapi majelis itu didominasi oleh Aus dan Khazraj. Terjadi dialog yang cukup seru, setiap pihak mengemukakan pendapatnya. Ada yang berpendapat bahwa kendali urusan ini dipegang oleh Anshar karena Madinah adalah tanah air mereka. Yang lain mengusulkan agar Muhajirinlah yang menjadi pemimpin. Keributan sempat terjadi di antara mereka, namun setelah Abu Bakr menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa pemimpin itu dari Quraisy, para sahabat lain menerimanya.

Setelah mereka menerima, Abu Bakr menggenggam tangan ‘Umar mencalonkannya sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi dengan sigap ‘Umar membalikkan tangan dan berkata, “Demi Allah, andaikata leherku dipenggal tanpa dosa, lebih aku sukai daripada menjadi pemimpin rakyat yang di situ ada Abu Bakr.” Kemudian, ‘Umar meminta Abu Bakr membentangkan tangannya. Tanpa curiga Abu Bakr membentangkan tangannya. Dengan segera ‘Umar menggenggam tangan itu lalu membaiatnya. Orang-orang Muhajirin yang ada segera mengikuti ‘Umar, demikian pula orang-orang Anshar.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai mereka. Sejak saat itu, Abu Bakr telah resmi menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin kaum muslimin. Beliau lebih suka dipanggil sebagai Khalifah Rasulullah n. Selama kepemimpinan Abu Bakr, ‘Umar adalah penasihat andalannya di samping beberapa sahabat senior lainnya, seperti ‘Utsman, ‘Ali, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah . Pada awal kepemimpinannya, kaum muslimin disentakkan oleh berita murtadnya sebagian saudara mereka di beberapa tempat di Jazirah Arab. Beberapa kabilah dengan lantang menyatakan lepas dari Madinah. Mereka menolak zakat yang dahulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Menurut mereka, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada yang berhak menarik zakat dari mereka. Lebih mengerikan lagi, orangorang bani Hanifah dengan berani mengangkat Musailamah al-Kadzdzab sebagai nabi sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, beberapa kabilah di sekeliling Madinah, juga sudah mulai bergabung dengan Musailamah al- Kadzdzab. Jauh di sana, di sebelah utara Jazirah Arab, imperium Romawi dan beberapa jajahannya yang ada di wilayah Syam, seperti raja-raja Ghassan telah pula merencanakan serangan besar-besaran untuk memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Menurut mereka, pemimpin kaum muslimin sudah meninggal dunia, tentu mereka masih dalam keadaan lemah dan belum memikirkan siapa yang diangkat sebagai pengganti. Kalaupun ada, belum tentu seperti nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka melakukan tipu daya, tetapi Allah Subhanahu wata’ala sebaik-baik yang membalas tipu daya. Iman yang ada di hati orang-orang yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beliau ridha, bukan iman yang mentah, karena ikut-ikutan atau karena terpaksa. Iman mereka adalah iman yang telah matang dengan berbagai ujian dan tempaan. Seperti kata pepatah Arab yang menyebutkan bahwa ujian itu menampakkan kecemerlangan seseorang. Ibarat emas, yang semakin berkilau dengan ditempa. Iman mereka lebih tegar dari sebuah gunung batu yang tinggi menjulang. Iman, yang bagi sebagian mereka, memindahkan sebuah gunung dari tempatnya lebih mudah daripada mengerjakan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Subhanallah. Ya Allah, hati seperti apa yang Engkau letakkan di dadadada mereka sehingga mereka memiliki keyakinan demikian kuat. Iman seperti apa yang Engkau tanamkan di hatihati mereka hingga ketika mereka tidak mempunyai perahu menyeberangi sebuah sungai, mereka shalat dan berdoa kepada Allah l, kemudian mereka bawa untaunta dan kuda-kuda perang mereka menyeberangi sungai yang dalam itu. Ternyata kaki-kaki kuda mereka tidak basah, bahkan tidak tenggelam. Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman. Janganlah Engkau letakkan dendam dan kedengkian di dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau menyiapkan sebuah pasukan di bawah pemuda yang disayang oleh beliau, putra orang yang disayang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada 20 tahun usia anak muda itu. Kulitnya hitam, mungkin karena ibunya berkulit hitam. Dia adalah putra maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Zaid bin Haritsah dari istrinya yang pernah menjadi inang pengasuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ummu Aiman . Pemuda gagah berkulit hitam itu adalah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma. Sama seperti ketika ayahnya diangkat sebagai panglima kaum muslimin, mengundang tanda tanya dari beberapa sahabat, mengapa bukan dari Quraisy atau yang sederajat? Kepemimpinan Usamah juga demikian.

Akan tetapi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengatakan bahwa Usamah sangat layak menjadi panglima, sebagaimana ayahnya juga layak menjadi panglima. Jawaban ini sudah cukup menenteramkan hati para sahabat. Tepat di hari-hari menjelang sakit beliau n, pasukan Usamah sudah siap meninggalkan Madinah. Di dalam pasukan tersebut terdapat sejumlah sahabat senior dari Muhajirin dan Anshar. Berbaris pula di dalamnya para tokoh pemuka masyarakat sejumlah kabilah di Tanah Arab. Itulah mungkin yang jadi tanda tanya para sahabat. Akan tetapi, iman yang ada di dalam hati mereka yang jujur dan lurus, langsung berhadapan dengan jawaban Rasulullah n yang tidak mungkin mengucapkan sesuatu yang batil.

Mendengar jawaban Rasulullah n, keraguan dalam hati mereka segera lenyap bagai debu yang menempel di batu cadas yang licin lalu disiram oleh hujan yang deras. Mereka yakin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin salah pilih, lebih-lebih dalam keadaan seperti ini. Mereka pun berangkat. Tepat ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah parah, pasukan ini sudah berada di perbatasan Madinah. Begitu mendengar keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam cukup parah, pasukan itu berhenti dan berkemah sambil menunggu perkembangan. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menemui Allah Subhanahu wata’ala, pasukan itu tidak jadi berangkat, bahkan kembali ke Madinah. Kini, kekhalifahan ada di tangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Kaum muslimin telah sepakat menerima dan mengakui kekhalifahannya.

Begitu pula keluarga bani Hasyim yang sempat tertunda memberikan baiat. Abu Bakr bukan tidak mendengar berita tentang kabilah Arab yang murtad di sekeliling Madinah. Abu Bakr bukan tidak mengerti bahwa pihak Romawi tidak akan tinggal diam dan pasti mengambil kesempatan seperti keadaan genting saat ini. Beberapa sahabat dimintai pendapat, termasuk ‘Umar al-Faruq. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sudah bertekad tetap akan melepas pasukan Usamah menghadapi Romawi di tempat gugurnya Zaid bin Haritsah ayah Usamah. Tetapi, para sahabat lain memberi pertimbangan lain. “Lebih baik pasukan Usamah tetap di Madinah,” kata sebagian di antara mereka. Mungkin mereka bermaksud agar pasukan itu dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas keamanan di kota Madinah. Yang lain ada yang memberi saran, jangan Usamah yang dijadikan panglima.

Hampir semua sahabat yang dimintai pendapat berusaha menahan tekad kuat sang Khalifah radhiyallahu ‘anhu. Pertimbangan yang mereka ajukan sangat manusiawi dan masuk akal. Tetapi, tidak demikian menurut Abu Bakr yang pandangannya sering bersesuaian dengan pandangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketajaman firasat beliau yang sering menerima taufik dari Allah Subhanahu wata’ala mementahkan semua pendapat yang disodorkan kepadanya. Dengan tegas Abu Bakr menyatakan, “Demi Yang jiwaku di tangan-Nya (Allah), seandainya aku yakin bahwa binatang buas pasti menyergapku, niscaya aku tetap akan melepaskan pasukan Usamah, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya tidak ada yang tersisa di negeri ini selainku, maka pasti aku tetap melepasnya.” Usamah sendiri pernah meminta ‘Umar agar memintakan izin kepada Khalifah agar dia kembali ke Madinah.

Akan tetapi, Abu Bakr berkata, “Seandainya anjing-anjing dan serigala menerkamku, aku tidak akan membantah keputusan yang telah dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” ‘Umar juga pernah diminta oleh sebagian pemuka Anshar agar memberi pertimbangan kepada Khalifah tentang kepemimpinan Usamah. Kata beliau, “Beberapa tokoh Anshar memintaku menyampaikan bahwa mereka meminta Anda mengangkat panglima yang lebih senior daripada Usamah.” Abu Bakr yang sedang duduk segera melompat ke arah ‘Umar dan menarik janggutnya, “Sedihnya ibumu, hai putra al-Khaththab. Usamah itu diangkat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara engkau menyuruhku mencopotnya?” Setelah mendengar ketegasan Abu Bakr, ‘Umar menemui orang-orang yang mengutusnya. Kata mereka, “Apa yang engkau lakukan?” “Sedihnya ibu kalian, pergilah.

Disebabkan oleh kalian, aku tidak menerima sesuatu yang baik dari Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Pasukan Usamah mulai berangkat diiringi oleh Khalifah yang berjalan kaki mengantar ke gerbang kota. Sebelum berpisah, Khalifah meminta izin Panglima muda itu agar ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tinggal di Madinah menemaninya. Panglima muda Usamah memberi izin. Akhirnya, ‘Umar tidak jadi berangkat dan tetap di Madinah sebagai pembantu dan teman diskusi Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketajaman berpikir ‘Umar telah terlihat sejak beliau diminta mendampingi Khalifah. Suatu ketika, datang dua orang dari sebuah desa, mengadu kepada Khalifah bahwa di desa mereka ada sebidang tanah yang berair, tidak ada rumput dan manfaatnya.

Mereka ingin Khalifah memberi mereka tanah itu untuk ditanami dan diolah, dengan harapan semoga sesudah hari itu Allah Subhanahu wata’ala memberikan keuntungan dengan tanah itu. Abu Bakr meminta pendapat sahabat yang ada ketika itu, sementara ‘Umar sedang mengurus untanya. Para sahabat menyarankan agar tanah itu diserahkan kepada mereka dengan harapan Allah Subhanahu wata’ala memberi mereka manfaat sesudah itu. Abu Bakr menerima saran mereka dan menuliskan sebuah surat lalu menyuruh mereka menemui ‘Umar untuk menjadi saksi. Kedua orang itu segera menemui ‘Umar dan membacakan isi surat tersebut.

Setelah selesai dibacakan, ‘Umar meminta surat itu lalu menghapus isinya dan mengembalikannya kepada mereka. Kedua orang itu segera kembali sambil menahan jengkel. Begitu berhadapan dengan Khalifah, mereka berkata, “Yang jadi Khalifah itu Anda atau ‘Umar?” “Sebetulnya dia, kalau dia mau.” ‘Umar datang sambil menahan marah lalu berdiri di depan Khalifah, “Terangkan kepadaku tentang tanah yang Anda serahkan kepada dua orang ini, apakah tanah itu milik Anda sendiri, ataukah milik seluruh kaum muslimin?” “Milik kaum muslimin.” ‘Umar mencecar, “Apa yang mendorong Anda mengistimewakan dua orang ini di luar kaum muslimin lain?” “Saya sudah meminta pendapat mereka yang ada di sini dan mereka menyarankan hal itu kepada saya.” “Kalau Anda sudah bermusyawarah dengan mereka yang ada di sekeliling Anda ini, maka seluruh kaum muslimin harus menerima dan meridhainya.”

Kata ‘Abu Bakr, “Saya sudah pernah mengatakan bahwa dalam urusan ini engkau lebih kuat/pantas daripada saya, tetapi engkau mengalahkan saya.” Terakhir, tentu kita masih ingat saat terjadinya Perang Yamamah. Prajurit muslimin banyak yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an. ‘Umar melihat keadaan ini membahayakan. Untuk itu, ‘Umar segera menemui Khalifah dan memberi saran agar segera diadakan pengumpulan ayat-ayat suci al-Qur’anul Karim. Jangan sampai kaum muslimin tidak mempunyai pegangan di dalam mempelajari dan mengamalkan agama mereka. Sebab, jika semakin banyak prajurit muslim yang gugur, khususnya para penghafal al-Qur’an, dikhawatirkan al-Qur’an akan ikut lenyap.

Mulanya Khalifah menolak, bahkan mengingkari saran ‘Umar dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berbuat demikian. Namun, Abu Bakr menerima juga saran ‘Umar dan menyerahkan pengerjaan proyek ini kepada Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Zaid yang pada awalnya menolak, akhirnya menerima tugas berat tetapi mulia ini. Itulah salah satu jasa besar ‘Umar bagi Islam dan kaum muslimin. Benarlah kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (3)

Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Dalam edisi yang lalu telah diceritakan sebagian sikap tegas ‘Umar terhadap orang-orang yang kafir. Begitu dalam rasa bencinya terhadap kekafiran dan segala bentuknya berikut para pengusungnya, sampaisampai beliau siap menebas leher sebagian kerabatnya sendiri yang masih kafir. Dalam edisi ini akan kami lanjutkan dengan beberapa kejadian yang menunjukkan kedudukan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua itu didasari atas keilmuan dan ketakwaannya serta kejujuran iman dan persahabatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Permulaan Azan

Mulailah kehidupan baru masyarakat muslim dengan hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membangun masjid yang tidak hanya sebagai tempat untuk mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga sebagai markas pembinaan dan pendidikan masyarakat saat itu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, seperti saudara sekandung, saling menyayangi, saling menolong, bahkan saling mewarisi.

Setelah Masjid Nabawi berdiri, setiap waktu shalat tiba, kaum muslimin berkumpul untuk shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada tanda khusus untuk mengingatkan mereka agar segera mendatangi masjid. Beberapa sahabat berbincang-bincang membahas masalah ini. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka bermusyawarah apa yang harus mereka lakukan untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa waktu shalat sudah tiba.

Di antara sahabat, ada yang mengemukakan pendapat agar menancapkan bendera di puncak masjid setiap waktu shalat tiba, agar apabila bendera itu terlihat, sebagian akan memanggil yang lain untuk segera ke masjid. Akan tetapi, pendapat ini tidak mengagumkan beliau n. Yang lain berpendapat agar menyalakan api setiap waktu shalattiba. Yang lain menyarankan agar menggunakan lonceng seperti perbuatan orang-orang Nasrani, dan yang lain mengusulkan agar menggunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Semua saran tersebut tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena menyerupai kebiasaan khusus orang-orang kafir.

Kata ‘Abdullah bin Zaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, “Malam itu saya bermimpi melihat seseorang berpakaian hijau membawa genta, saya pun berkata kepadanya, ‘Hai hamba Allah, juallah genta itu kepadaku.’ Orang itu bertanya, ‘Mau kamu gunakan untuk apa?’ Saya berkata, ‘Agar kami bisa memanggil orang banyak untuk shalat.’ Dia pun berkata, ‘Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik daripada itu?’ ‘Tentu,’ kata saya, kemudian dia mengajarkan beberapa kalimat azan yang dikenal sekarang ini. Setelah itu dia mundur tidak begitu jauh dan berkata, ‘Kalau hendak iqamat ucapkanlah Allahu Akbar, (dan seterusnya)’.”

“Begitu terjaga dari tidur, aku segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakannya kepada beliau. Beliau pun berkata, ‘Sungguh, itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Ajarkanlah kepada Bilal karena suaranya lebih nyaring daripada kamu’.” Kami pun menuju masjid dan saya mengajarkannya kepada Bilal.

Sementara itu, ‘Umar yang masih di rumahnya tersentak mendengarnazan tersebut. Dengan bergegas sambil menyeret kainnya, dia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Demi yang mengutus Anda membawa yang haq, wahai Rasulullah. Aku bermimpi seperti yang dilihatnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin senang dengan keterangan itu dan berkata, “Alhamdulillah.”

Sejak itu , suara Bilal mengumandangkan azan menggema memenuhi angkasa Madinah, lima kali sehari semalam. Bilal tetap sebagai muazin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Adapun kalimat yang tertera dalam azan tersebut masih terus berkumandang hingga saat ini.

Kejujuran, Kekuatan Imannya

Adalah ‘Umar termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dekat dan dipersaksikan oleh beliau mempunyai berbagai keutamaan dan kemuliaan. Di antara bukti kejujuran dan keimanannya ialah ucapannya ketika menyentuh dan mencium Hajar Aswad, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa kamu hanya sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Seandainya aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Perkataan ini menegaskan sikap bara’-nya (berlepas diri dan benci serta menjauh) dari meminta berkah kepada sebuah batu, sekaligus menampakkan ketaatannya kepada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar juga berada pada barisan depan bersama sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak melakukan ketaatan. Beliau banyak berpuasa, berdoa, bersedekah, dan shalat malam yang merupakan sebagian sifat orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya shalat witir di awal malam,” kata Abu Bakr. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada ‘Umar, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya tidur kemudian witir di akhir malam,” jawab ‘Umar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang Abu Bakr, “Dia berpegang dengan hazm (kehati-hatian).”

Adapun tentang ‘Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Adapun dia ini, berpegang dengan kekuatan,” karena yakin akan terbangun malam hari menunjukkan kekuatan. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi, kata beliau,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ رَأَيْتُ قَدَحًا أُتِيتُ بِهِ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّى لأَرَى الرِّىَّ يَجْرِى فِى أَظْفَارِى ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا : فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ ا ؟َّهللِ قَالَ: الْعِلْمَ

“Ketika saya sedang tidur, saya melihat sebuah tempat minum diberikan kepada saya, di dalamnya ada susu. Kemudian saya meminumnya sampai saya melihat alirannya mengalir sampai di kuku-kuku saya, lalu saya memberikan sisanya kepada ‘Umar bin al-Khaththab.” Kata para sahabat, “Apa yang Anda takwilkan, ya Rasulullah?” “Ilmu,” kata beliau.

Al-Hafizh rahimahullah menyebutkan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang mengatur manusia berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Diistimewakannya ‘Umar dengan keadaan ini karena lamanya masa pemerintahannya dibandingkan dengan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu serta kesepakatan kaum muslimin untuk menaatinya.

Bahkan, dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Allah Subhanahu wata’ala meletakkan al-haq itu di lisan ‘Umar.” Oleh sebab itu, adalah perkara yang sangat jauh kalau yang benar itu ada pada mereka yang menyelisihi perkataan ‘Umar dalam berfatwa, memutuskan hukum, padahal tidak ada satu sahabat pun yang menggugatnya. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan mimpinya,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اَّهللِ

“Ketika saya bermimpi, saya melihat seakan-akan di dalam surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudhu disamping sebuah istana. Saya bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Kata mereka, ‘Milik ‘Umar bin al-Khaththab.’ Saya teringat kecemburuannya, maka saya berbalik ke belakang.”

Kata rawi, “‘Umar pun menangis sambil berkata, ‘Apakah terhadap engkau saya cemburu, wahai Rasulullah?’.” Inilah berita gembira buat ‘Umar, berupa istana miliknya yang sudah ada di surga, dan mimpi para nabi adalah wahyu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,“Seandainya ada nabi sepeninggalku, maka itu adalah ‘Umar.”

Antara ‘Umar dan Wahyu

Semangatnya beramal dengan didasari keikhlasan dan kejujuran dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta mencintai semua yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, membenci apa saja yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala menempatkannya sebagai sahabat yang dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Cintanya yang jujur kepada Islam dan kaum muslimin mendorongnya sering memberikan masukan penting kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Bahkan banyak persoalan yang beliau sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disetujui pula oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan menurunkan wahyu menguatkannya. Inilah beberapa hal yang mengusik pikiran ‘Umar kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah Subhanahu wata’ala pun menurunkan wahyu menyetujuinya.

a. Tentang tawanan Perang Badrdan rampasan perangnya. Peristiwa ini telah diceritakan dalam edisi lalu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih saran Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang juga terdorong kasih sayang beliau yang besar kepada sesama, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ () لَّوْلَا كِتَابٌ مِّنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ () فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Anfal: 67—69)

Kisah sebab turunnya ayat ini dinyatakan sahih oleh guru kami asy- Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul.

b. Menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Suatu ketika, ‘Umar pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah seandainya Anda menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,” maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

c. Turunnya ayat hijab dan kecemburuan beliau terhadap istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar pernah pula menyarankan, “Wahai Rasulullah, seandainya Anda memerintahkan para istri Anda berhijab, karena yang berbicara dengan mereka itu, ada yang baik, ada pula yang jahat.”

Kemudian turunlah ayat hijab. Demikian pula ketika para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan kecemburuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau merasa susah, ‘Umar berkata kepada mereka, “Boleh jadi, kalau beliau menceraikan kalian, pasti Allah Subhanahu wata’ala akan memberinya ganti yang lebih baik daripada kalian,”

maka turunlah ayat 5 surat at-Tahrim.5 Itulah beberapa kejadian di mana wahyu turun menguatkan pendapat ‘Umar. Tentunya ini—setelah taufik dari Allah Subhanahu wata’ala—didorong oleh keimanan dan keikhlasan serta kejujurannya dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Buah Keikhlasan

Dalam sebagian riwayat, dari ibunda orang-orang yang beriman, ash-Shiddiqah (wanita yang banyak membenarkan) putri ash-Shiddiq, Habibatu (Kekasih) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita, “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk (bersama kami), tiba tiba kami mendengar suara riuh dan suara anak-anak, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri. Ternyata orang-orang Habasyah sedang bersilat ditonton oleh anak-anak di sekeliling mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Hai ‘Aisyah, kemarilah dan lihatlah!’ Aku pun mendekat dan meletakkan dagu di pundak Rasulullah n lalu mulai menonton dari dekat kepala beliau.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah puas? Apakah engkau sudah puas?’ Aku pun berkata, ‘Belum, karena ingin mengetahui kedudukanku di sisi beliau.’ Tiba-tiba ‘Umar muncul. Orangorang yang ada di situ bubar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي نَألَْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ. قَالَتْ: فَرَجَعْتُ

‘Sungguh, aku benar-benar melihat setan dari kalangan jin dan manusia lari dari ‘Umar.’

Aku pun pulang.”

Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada ‘Umar,

“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah setan menjumpaimu ketika menempuh satu jalan, kecuali pasti mengambil jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebab, apabila hati itu bersih dari semua yang disenangi oleh setan, tentu akan terisi dengan keagungan sifat-sifat ilahiyah, sehingga tidak mungkin unsurunsur syaitani mampu menghadapi apalagi mengalahkannya, yang akhirnya siapa pun yang melihatnya akan merasa takut dan segan. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, pernah mengatakan, “Tongkat kecil di tangan ‘Umar lebih menakutkan manusia daripada pedang di tangan orang selain beliau. Jika mereka ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, mereka menemui putrinya, Hafshah, karena segan kepada beliau.”

Hal ini menegaskan keteguhan ‘Umar di dalam beragama, dan selalu dalam keadaan konsisten, hingga di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Umar diumpamakan seperti pedang tajam, yang jika diayunkan dia akan membelah apa yang dikenainya, dan jika tidak, dia akan diam. Namun disayangkan, setan dari kalangan manusia, yaitu orang-orang yang beragama Syiah, tidak henti-henti menghujat dan mencaci bahkan melaknat beliau. Itu semua karena watak mereka yang pengecut, selama hidup beliau, mereka tidak mampu berhadap-hadapan, padahal mereka tidak akan memperoleh apa-apa selain kebinasaan. Wallahu a’lam. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (2)

Gangguan Quraisy Terhadap ‘Umar

Bagaimana pun, beberapa riwayat— meskipun lemah—yang kami nukilkan dalam edisi yang lalu, saling menguatkan bahwa keislaman ‘Umar terjadi karena pengaruh ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya. Yang jelas, keislaman beliau z adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri juga kaum muslimin. Setelah masuk Islam, ‘Umar bertanya kepada beberapa orang temannya, “Siapa penduduk Makkah yang paling cepat menyebarkan berita?” “Jumail bin Ma’mar al-Jumahi,” kata mereka. ‘Umar segera mencarinya dan berkata, “Hai Jumail, apakah engkau sudah tahu bahwa aku masuk Islam?” Jumail tidak menjawab sepatah kata pun, tetapi segera mengambil mantelnya dan keluar diikuti oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Setibanya di Masjdil Haram, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Hai orang-orang bagian ke-2 Quraisy, ‘Umar sudah menjadi orang Shabi’!”1 “Dia dusta. Aku sudah masuk Islam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Subhanahu wata’ala dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Mendengar seruan ‘Umar, seluruh musyrikin Quraisy yang ada di sekitar Masjidil Haram segera menyerang ‘Umar. Dengan beringas mereka memukuli ‘Umar. Tetapi ‘Umar adalah ‘Umar, yang sudah bertekad ingin merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya kaum muslimin. Dia juga bertekad, tidak satu pun tempat yang dahulu diisinya dengan kekufuran, kecuali akan diisinya dengan keimanan.‘Umar tidak membiarkan dirinya dipukuli begitu saja, dia pun membalas pukulan mereka. Pukulan dan tendangannya mengenai beberapa orang musyrik. Tetapi, mereka seakan tiada habisnya. Satu roboh, sepuluh maju menyerang.

Sampai matahari di puncak kepala mereka, barulah mereka berhenti memukuli ‘Umar yang juga kelelahan. Melihat ‘Umar kelelahan, mereka pun mengepung ‘Umar, dan ‘Umar berkata, “Lakukanlah apa yang kalian mau!” Orang-orang musyrik itu masih mencoba mengerubuti ‘Umar. Tiba-tiba, datanglah seorang tokoh tua Quraisy dengan pakaian mentereng, berdiri di antara mereka, “Ada apa dengan kalian?” Kata mereka, “Umar ini telah menjadi Shabi’.” “Biarkan saja dia. Orang sudah memilih sesuatu untuk dirinya. Apa yang kalian inginkan? Apa kalian kira banim ‘Adi akan membiarkan anak kabilah mereka kalian perlakukan seperti ini? Tinggalkan dia!” Akhirnya, mereka meninggalkan ‘Umar yang kelelahan. Musyrikin Quraisy semakin beringas dan putus asa melihat keislaman ‘Umar.

Mereka melihat, dengan masuknya Hamzah dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ke dalam barisan muslimin, berarti kekuatan kaum muslimin semakin bertambah. Kaum muslimin mulai berani menampakkan syiar agama mereka secara terang-terangan. Mereka mulai berani duduk di Masjidil Haram, padahal tidak jauh di situ orang-orang musyrikin juga berkelompok-kelompok. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami selalu merasa lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam. Keislaman ‘Umar adalah pembebasan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.

Sesudah beliau masuk Islam, beliaulah yang menghadang mereka sampai mereka membiarkan kami shalat.” Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan. “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah n merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.” An-Nawawi rahimahullah menukilkan bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, maka Islam itu seperti orang yang datang, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah dia terbunuh, maka Islam itu seperti seseorang yang pergi, semakin lama semakin jauh.”

Hijrah Ke Madinah
Semakin hari tekanan kaum musyrikin terhadap pribadi Nabi n dan kaum muslimin semakin berat. Akhirnya, Rasulullah n memerintah kaum muslimin hijrah ke Madinah. Kaum muslimin yang masih ada di Makkah mulai bersiap-siap meninggalkan tanah kelahiran mereka. Satu demi satu, rombongan demi rombongan, mulai pergi meninggalkan Makkah dengan diamdiam. Berbeda halnya dengan ‘Umar. Ibnu ‘Asakir rahimahullah menukil dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Saya tidak mengetahui ada seseorang yang hijrah kecuali sembunyi-sembunyi, selain ‘Umar bin al-Khaththab. Ketika hendak hijrah, ‘Umar menghunus pedangnya, menyandang busur dan anak panahnya, lantas mengunjungi Ka’bah. Sementara itu, beberapa pemuka Quraisy sedang duduk di halaman Ka’bah. Kemudian ‘Umar tawaf tujuh kali dan shalat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu beliau mendatangi kumpulan musyrikin itu satu demi satu, dan dengan lantang ‘Umar berkata, ‘Wajah-wajah buruk. Siapa yang mau ibunya kehilangan anak, istrinya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim, hadanglah aku di balik lembah ini.’ Ternyata, tidak ada seorang pun yang berani mengejarnya.”

Itulah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, hijrahnya menjadi lambang kepahlawanan. Beliau berangkat hijrah setelah tersebar beritanya di tengah-tengah para pembesar Quraisy, di saat kaum muslimin hijrah dengan sembunyi-sembunyi, beliau justru mengeluarkan tantangan dan berangkat terang-terangan di bawah tatapan hampa para pembesar itu.5 Dalam riwayat lain diceritakan, ‘Umar berangkat hijrah bersama dua puluh orang lainnya. ‘Umar menceritakan, “Sebetulnya kami berjalan sembunyi-sembunyi dan berjanji untuk bertemu di Tanadhub dari Idha’ah bani Ghifar. Siapa yang tidak menepati kesepakatan, hendaknya menyusul pagi hari di Idha’ah. Ternyata, sebagian mendapat halangan (terkena cobaan), sementara saya dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah ketika itu meneruskan perjalanan sampai ke Madinah. Setibanya di al-‘Aqiq, kami berbelok ke ‘Ashabah sampai ke Quba lalu berhenti di rumah Rifa’ah bin ‘Abdul Mundzir.

Tidak lama, sampai pula dua saudara seibu ‘Ayyasy, yaitu Abu Jahl dan al- Harits bin Hisyam. Ibu mereka adalah putri Mukharribah dari bani Tamim. Adapun Nabi n masih berada di Makkah. Keduanya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Ibumu telah bernazar bahwa dia tidak akan berteduh dan tidak akan meminyaki kepalanya sampai dia melihatmu.’ Saya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Demi Allah, mereka berdua tidak punya keinginan lain selain mengeluarkan kamu dari agamamu. Hati-hatilah terhadap agamamu. Bawalah untaku, dia sangat cerdik, dan jangan turun dari punggungnya.’ Kata ‘Ayyasy, ‘Saya masih memiliki harta di Makkah, mungkin bisa saya ambil dan menjadi kekuatan bagi kita. Saya ingin meluluskan sumpah ibuku.’

Akhirnya, dia ikut bersama mereka berdua. Setibanya di Badhjanan, dia turun dari kendaraan. Kedua saudaranya itu menyusul dan mengikatnya dengan kuat, lalu membawanya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, mereka berseru, ‘Hai penduduk Makkah, seperti inilah yang harus kalian lakukan terhadap orang-orang yang bodoh di antara kalian.’ Lalu mereka memenjarakannya.” Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Tidak lama setelah ‘Umar tiba di Madinah, rombongan Rasulullah n juga tiba. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka di atas al-haq dan saling berbagi, bahkan saling mewarisi.

Namun, yang terakhir dihapus dengan turunnya ayat tentang faraidh (waris). Persaudaraan itu juga dimaksudkan agar hilang rasa asing dari para sahabat dan saling membela satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu dengan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dipersaudarakan dengan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Di Madinah, ‘Umar tinggal di perkampungan bani Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf, di dataran tinggi Madinah (4 mil dari Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau bertetangga dengan seorang sahabat Anshar dan bergantian menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah keadaan ‘Umar di Madinah, selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap kesempatan. Kecerdasan dan kesungguhannya meraih hidayah— setelah taufik Allah Subhanahu wata’ala—menjadikannya sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tibalah Perang Badr al-Kubra. Gembong-gembong kesyirikan bertekad untuk menumpas kaum muslimin dan memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala. Dengan kekuatan 900—1.000 orang, para pemimpin dan tokoh utama mereka keluar dengan angkuh. Perlengkapan dan perbekalan yang lengkap dengan jumlah yang banyak, membuat mereka merasa yakin akan berhasil membunuh Rasulullah n sekaligus memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala tidak menginginkan kecuali memenangkan agama-Nya. Para pemuja berhala itu dihancurkan oleh tentara Allah Subhanahu wata’ala, baik yang berasal dari langit maupun bumi. Dengan kekuatan hanya tiga ratus orang lebih, perlengkapan seadanya, karena semula Rasulullah n dan kaum muslimin tidak berniat untuk berperang, setelah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, mereka berhasil meluluhlantakkan kesombongan para pengusung kesyirikan itu. Tujuh puluh orang berikut para pemimpinnya, seperti Abu Jahl, Walid bin Utbah, dan Umayyah bin Khalaf, tewas dan dilemparkan ke dalam sumur Badr. Tujuh puluh orang lainnya, ditawan oleh kaum muslimin. Perang Badr usai. Kemenangan telak berada pada tentara Allah Subhanahu wata’ala, dan itulah kepastian yang tidak tertolak. Tentara Allah Subhanahu wata’ala pasti menang, meskipun suatu ketika mereka diuji dengan kekalahan. Yang jelas, akhir yang baik dan menyenangkan pasti diraih oleh orang-orang yang bertakwa.

Mulailah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mengurusi tawanan Perang Badr itu. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutuskan sendiri, apa yang harus diperbuat terhadap mereka. Itulah kebiasaan yang beliau ajarkan kepada umatnya. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memberi saran agar menerima tebusan dari keluarga tawanan untuk memperkuat kaum muslimin, juga dengan harapan suatu saat tawanan itu mendapat hidayah kepada Islam. Tidak demikian halnya dengan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Kebenciannya kepada kekafiran setelah dia mengenal dan mencintai Islam benar-benar tidak rela menyisakan segala bentuk kekafiran berdiri di hadapannya.

Dengan tegas ‘Umar berkata, “Mereka ini adalah gembong-gembong kesyirikan, wahai Rasulullah. Tebaslah leher mereka. Serahkan bani ‘Adi kepadaku agar kutebas lehernya, serahkan ‘Aqil kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka telah menyakiti Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Itulah ganjaran yang pantas buat mereka.” Dengan lembut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat sayang kepada umatnya, yang sangat ingin manusia menerima hidayah dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala, berkata, “Engkau wahai Abu Bakr, kalau di kalangan malaikat adalah seperti Mikail yang membawa rahmat dan hujan, menumbuhkan tanaman.

Kalau dari kalangan para nabi, engkau seperti Nabi Ibrahim dan ‘Isa e. Adapun engkau, hai ‘Umar, perumpamaanmu di kalangan malaikat adalah seperti Jibril yang membawa azab kepada para pembangkang dan pendurhaka, sedangkan dari kalangan nabi adalah seperti Nabi Nuh dan Musa ‘Alaihissalam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memilih pendapat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, menerima tebusan dan membiarkan sebagian tawanan itu kembali ke kampung mereka. Ada juga tawanan yang menebus dirinya dengan mengajari anak-anak kaum muslimin membaca dan menulis.

Bahkan, ada pula yang dibebaskan tanpa membayar tebusan. Tidak lama setelah itu, ‘Umar datang ke tempat Rasulullah n. Dia terkejut melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu duduk sambil menangis tersedusedu. Sambil terheran-heran, ‘Umar bertanya, “Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda ini menangis, wahai junjungan? Ceritakanlah, kalau saya bisa menangis, saya akan menangis bersama Anda berdua. Kalau tidak, saya akan menangis karena melihat Anda berdua menangis.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan,

أَبْكِي لِلَّذِي عَرَضَ عَلَيَّ أَصْحَابُكَ مِنْ أَخْذِهِمُالْفِدَاءَ، لَقَدْ عُرِضَ عَلَيَّ عَذَابُهُمْ أَدْنَى مِنهَذِهِ الشَّجَرَةِ-شَجَرَةٍ قَرِيبَةٍ مِنْ نَبِيِّ اللهِوَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ } إِلَى قَوْلِه: {فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ} فَأَحَلَّ اللهُ الْغَنِيمَةَ لَهُمْ.

“Aku menangis karena tawaran sahabat-sahabatmu agar menerima tebusan dari mereka (tawanan itu). Padahal sungguh, azab mereka telah ditampakkan kepadaku lebih dekat dari pohon ini.”—pohon yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ

‘Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.’ (al-Anfal: 67) sampai (ayat 69),

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ

‘Makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik,’ maka Allah menghalalkan ghanimah itu bagi mereka.”
Itulah salah satu kesesuaian beliau radhiyallahu ‘anhu dengan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Tahun berikutnya, genderang Perang Uhud mulai memanggil para mujahidin. Mereka yang tertinggal, tidak ikut dalam Perang Badr, berlombalomba mendaftarkan diri sebagai prajurit. Tidak ketinggalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang belum baligh juga mendaftarkan dirinya meskipun tidak diterima karena belum cukup umur. Ibnu ‘Umar dengan lesu kembali sambil tetap berharap suatu saat dapat tampil sebagai prajurit Islam. ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang lain dengan terpincangpincang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu, “Wahai junjungan, kata anakanak ini—kemenakannya—saya diberi keringanan untuk tidak ikut serta dalam jihad ini, benarkah demikian?” Dengan lembut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan. ‘Amr tidak mundur, dengan bersungguh-sungguh dia mendesak, “Ya Rasulullah, demi Allah, saya ingin memasuki surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ‘Amr berbalik dan segera menyiapkan perlengkapan perangnya. Tekad dan sumpahnya diluluskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ‘Amr gugur setelah bertempur hebat membela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setelah pertempuran usai, Abu Sufyan yang menjadi pemimpin Quraisy ketika itu berteriak sampai tiga kali, “Apakah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) masih hidup?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjawabnya. Abu Sufyan berteriak lagi sampai tiga kali, “Apakah putra Abu Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?” Abu Sufyan berteriak lagi tiga kali, “Apakah Ibnul Khaththab (‘Umar) masih hidup?” Kemudian dia kembali kepada teman-temannya dan berkata, “Agaknya tiga orang ini sudah terbunuh.” ‘Umar tidak dapat menahan kemarahan, lalu membalas, “Kamu dusta, hai musuh Allah. Sesungguhnya yang kamu sebut itu semua masih hidup dan masih tersisa apa yang menyakitkanmu.” Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman , tiba-tiba gunung itu bergetar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah, wahai Uhud, karena sesungguhnya di atasmu ini adalah nabi, shiddiq, dan dua orang syuhada.”
(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (1)

Pengantar Tiga belas tahun setelah hancurnya Tentara Bergajah, bani ‘Adi bin Ka’b, terkhusus keluarga al- Khaththab bin Nufail, kembali merayakan kegembiraan karena telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat. Bayi yang menjadi kebanggaan bagi setiap suku apabila wanita mereka melahirkan anak. Bayi yang akan menguatkan barisan mereka dan menaikkan pamor mereka. Bayi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bani ‘Adi saat itu, tetapi juga di masa yang akan datang. Bayi itu kelak akan menjadi saksi bagi para penguasa dan politikus di belahan dunia mana pun. Bayi itu adalah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi.

Nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’b bin Luai. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumi. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hajar. Kulitnya putih kemerah-merahan, dadanya bidang, tubuhnya tegap, dan tingginya melebihi yang lain, seolaholah kalau berjalan bersama sahabat sahabatnya, dia seperti sedang menaiki kendaraan. Rambutnya terjurai di kedua sisi kepalanya, dan bagian atasnya botak, kumisnya lebat, sedangkan janggutnya diberi warna kuning dan rambutnya dipoles inai. Di masa jahiliah, ‘Umar sering ikut meramaikan pasar ‘Ukkazh dengan kemampuannya bergulat, bahkan sering mengalahkan lawannya. Selalu terlihat berpakaian kasar, dan biasanya dari wol dengan hampir dua puluh tambalan dari kulit. Ini juga yang diikuti oleh semua pejabatnya, yang ada di tempat (Madinah dan sekitarnya) ataupun yang ada di negeri yang jauh. Bahkan, gaya hidup sederhana ‘Umar ditiru oleh mereka, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kemenangan untuk mereka.

 

Di Masa Jahiliah

Hampir separuh usianya beliau habiskan di Makkah, pada zaman jahiliah, tumbuh di lingkungan keluarga besar bani ‘Adi bin Ka’b. Seperti kebanyakan anak-anak Quraisy lainnya, ‘Umar tidak asing dengan pemujaan terhadap berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Bahkan, ia termasuk penganut agama paganis yang sangat fanatik. Begitu pula dengan kebiasaan minum khamr di sebagian kalangan masyarakat Quraisy. Masa kecilnya dihabiskan di tanah suci Makkah, di kaki gunung bernama al-‘Aqir, yang kemudian dinamai gunung ‘Umar. Meskipun langka, ‘Umar termasuk salah seorang yang sempat belajar membaca dan menulis. Bahkan, di masa dewasanya, termasuk orang yang andal dalam hal menilai sebuah tulisan, bermutu ataukah tidak. Ia tumbuh dengan sehat dan cerdas, serta kasar. Sikap kasar dan kaku ini, mungkin karena didikan ayahnya, al-Khaththab, yang memaksa ‘Umar menggembalakan unta-unta ayahnya di Dhajnan.

Selain itu, ‘Umar juga menggembalakan unta-unta milik kerabat ibunya dari bani Makhzum. Sejak kecil, ‘Umar tidak pernah mengenal hidup mewah. Bahkan, beliau sendiri pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya yang penuh kesulitan dan kekerasan. Setiap hari dia harus bekerja, tidak kenal istirahat dan santai. Keadaan tersebut mendorongnya untuk sanggup memikul beban di usia yang relatif muda. Beranjak dewasa, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, ‘Umar juga ikut merantau berniaga. Di musim dingin, dia ikut berangkat ke Yaman, dan di musim panas menuju Syam. Keuletannya membuat ‘Umar layak menempati salah satu posisi penting dalam elite masyarakat Makkah, meskipun usianya masih muda. Karena kekayaan, kecerdasan, dan kedudukan nenek moyangnya, ‘Umar diterima dalam majelis para pemuka Quraisy. Itu pula sebabnya tugas sebagai duta diberikan kepadanya dan mereka menyetujui semua tindakannya.

 

Sebab-Sebab Keislaman

Kita kembali mengenang keadaan ketika kaum muslimin bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di awal Islam. Kaum muslimin mendapat tekanan yang semakin berat dengan ikut sertanya ‘Umar mengganggu dan menyakiti mereka. Tanpa belas kasihan, ‘Umar menyiksa seorang budak wanita bani Muammil, dan baru berhenti menyiksa setelah dia bosan dan kecapaian. Akhirnya, budak itu dibeli dan dibebaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Semakin hari tekanan Quraisy semakin bertambah. Melihat keadaan kaum muslimin semakin menyedihkan, tidak lagi mampu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tenang, Rasulullah memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah (Etiopia). Tahun keenam setelah Nabi n diutus, ‘Umar menyerahkan tangannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan sumpah setia dan keislamannya. Kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu bertakbir dan memuji Allah Subhanahu wata’ala. Kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami dalam keadaan lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam.

Keislaman ‘Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.” Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab tumbuhnya Islam di dalam hati ‘Umar. Riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, menyebutkan: Pada suatu hari ‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari bani Zuhrah dan dia berkata, “Akan ke mana engkau, hai ‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab, “Mau membunuh Muhammad.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Bagaimana engkau bisa merasa aman dari bani Hasyim dan bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula, “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu mengelak sambil mengatakan, “Maukah aku tunjukkan hal yang lebih mencengangkan? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.” Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik menuju ke rumah saudari dan iparnya. Kebetulan Khabbab sedang berada di sana mengajari mereka al- Qur’an. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, Khabbab segera bersembunyi di dalam salah satu ruangan di rumah itu. ‘Umar pun masuk dan berkata, “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata, “Tidak ada, kami hanya berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar, “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab, “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?” Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya.

Tetapi ‘Umar segera meninjunya hingga darah mengucur dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah, “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Mungkin melihat darah di wajah adiknya, ‘Umar merasa menyesal dan kasihan. Dia pun berkata, “Coba berikan apa yang kalian baca tadi, aku mau melihat.” Saudarinya menjawab, “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha sampai pada ayat,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

‘Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata, “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’ (Abu Jahl).” Waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah al-Arqam bin Abil Arqam di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lainnya. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kebaikan buat dia, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalam, beliau pun diberi tahu lalu keluar.

Begitu ‘Umar masuk, beliau segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar, sampai Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin Mughirah?!” ‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada ilah selain Allah dan engkau (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dalam riwayat lain, Ibnu Ishaq menyebutkan sebagian sebab ‘Umar masuk Islam, dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari ibunya, Laila radhiyallahu ‘anha: ‘Umar adalah salah seorang pemuda Quraisy yang sangat keras memperlakukan kami karena keislaman kami. Ketika kami bersiap-siap hendak hijrah ke Habasyah, ‘Umar mendatangiku yang sudah berada di atas unta, hendak berangkat.

Dia pun berkata, “Hendak ke mana, hai Ummu ‘Abdillah?” “Kalian telah menyakiti kami karena agama kami, maka kami hendak pergi ke bumi Allah Subhanahu wata’ala yang lain. Di sana kami tidak akan disakiti karena beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.” “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyertai kalian,” katanya lalu dia pergi. Setelah itu, suamiku ‘Amir bin Rabi’ah tiba dari keperluannya. Saya pun menceritakan rasa iba yang kulihat pada ‘Umar tadi, padahal selama ini belum pernah seperti itu. Suamiku berkata, “Apakah engkau mengharapkan dia akan masuk Islam?” “Ya,” jawabku. “Demi Allah, dia tidak akan masuk Islam, kecuali bila keledai al-Khaththab masuk Islam.” Dia merasa putus asa mengharapkan keislaman ‘Umar karena bengisnya terhadap kaum muslimin. Riwayat lainnya, dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan, “Saya pernah keluar untuk menghadang Rasulullah n sebelum masuk Islam.

Ternyata saya dapati beliau telah lebih dahulu masuk ke Masjidil Haram. Diam-diam saya pun berdiri di belakangnya. Beliau mulai membaca surat al-Haqqah. Saya pun merasa takjub dengan susunan al-Qur’an. Dalam hati, saya berkata, ‘Demi Allah, orang ini adalah penyair, seperti kata orangorang Quraisy.’ Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (ayat 40—41),

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ () وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ

‘Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya.’ Kemudian saya berkata, ‘(Orang ini) dukun.’ Beliau pun membaca (ayat 42—47),

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ () تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ () وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ () لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ () ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ () فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

‘Dan bukan pula perkataan tukang tenung (dukun), sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,’ sampai akhir surat ini, hingga masuklah Islam ke dalam hati saya.”

Ada pula riwayat lain dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan: “Dahulu, saya sangat jauh dari Islam. Di zaman jahiliah, saya sangat menyukai minuman keras. Kami mempunyai majelis tempat berkumpul beberapa pemuka Quraisy, di Hazwarah (dekat tempat sa’i, dari arah terbitnya matahari, sekarang bernama Qasysyasyiyah, salah satu pasar Makkah dan telah digusur untuk perluasan Masjidil Haram, -pen.). Suatu malam, saya keluar untuk berkumpul dengan teman-teman di majelis itu. Ternyata, tidak seorang pun yang saya temui di sana. Saya berkata dalam hati, ‘Mungkin di warung tuak si Fulan.’ Saya pun ke sana untuk membeli khamr. Di sana juga tidak ada seorang pun yang saya temui. Saya coba ke Ka’bah lalu thawaf 7 kali atau 70 kali. Sesampainya di Masjidil Haram, ternyata ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat. Beliau menghadap ke arah Baitul Maqdis di Syam dan memosisikan Ka’bah di hadapan beliau.

Beliau berdiri di antara Hajar Aswad dan Yamani. Melihat beliau, saya berkata dalam hati, ‘Demi Allah, seandainya saya bisa mendengarkan apa yang dibacanya malam ini. Coba saya mendekat dari arah Hijr, lalu sembunyi di balik kelambu Ka’bah. Perlahan-lahan saya mulai mendekati beliau yang sedang membaca al-Qur’an. Begitu mendengar beberapa ayatnya, hati saya menjadi lembut, saya pun menangis. Islam mulai menyelinap dalam hati saya. Saya terus berdiri di sana sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan pulang menuju rumahnya. Diam-diam, saya mengikuti beliau. Tetapi, beliau mendengar suara saya, dan mengira bahwa saya ingin menyakiti beliau, maka beliau membentak saya, “Ada apa denganmu, hai putra al-Khaththab, malam-malam begini?” ‘Saya, datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa yang datang dari sisi Allah.’ Mendengar ucapan saya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah Subhanahu wata’ala dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu hidayah, hai ‘Umar.”

Kemudian beliau mengusap dada saya dan mendoakan keteguhan bagi saya. Setelah itu, saya meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun memasuki rumahnya. Bagaimanapun, beberapa riwayat ini saling menguatkan. Yang jelas, keislaman beliau radhiyallahu ‘anhu adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri dan juga kaum muslimin. (bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits