Wasiat Khalifah Ash-Shiddiq radhiyallahu‘anhu

Penulis Kanzul ‘Ummal menukil dari Abu Bakr bin Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar, yang meriwayatkan bahwa menjelang wafatnya, Abu Bakr menulis wasiat yang isinya antara lain. Bismillahirrahmanirrahim, Ini adalah keputusan Abu Bakr saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat saat ketika orang yang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu ‘anhu) sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), perkara baiklah yang saya harapkan dan saya tidak mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara: 227)

Setelah itu, beliau menujukan wasiatnya kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dinukil Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. “Sungguh, saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mempunyai hak di malam hari yang tidak diterima- Nya kalau ditunaikan pada siang hari. Allah Subhanahu wata’ala juga mempunyai hak di siang hari, yang tidak diterima-Nya jika ditunaikan pada malam hari.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala tidak menerima amalan sunnah sampai yang wajib ditunaikan lebih dahulu. Sesungguhnya, beratnya timbangan amalan orang-orang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (meneladani) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu berat atas mereka. Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya alhaq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia. Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan.

Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat tentang raja’ (harapan) bersama ayat tentang syiddah (kesulitan, kekerasan), dan menurunkan ayat tentang syiddah bersama ayat tentang raja’. Hal itu agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak benar. Kalau kamu telah mengingat wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal itu mesti kamu hadapi. Dan kalau kalian menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.” Di saat terakhir, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melihat ayahandanya sedang menanti ajal, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, Demi Allah, tiadalah guna kekayaan bagi pemuda Jika napasnya tersengal menjemput ajal dan dada terasa sesak Tiba-tiba Abu Bakr menyingkap kain dari mukanya dan berkata, “Bukan begitu, tetapi bacalah,

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.’ (Qaf: 19)

Perhatikan dua pakaianku ini, basuhlah keduanya dan jadikan sebagai kafanku, karena orang yang masih hidup lebih pantas mengenakan yang baru daripada orang mati.” Kemudian, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya adalah istrinya, Asma’ bintu ‘Umais radhiyallahu ‘anha.

Madinah Kembali Duka

Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah, beliau berkata bahwa Aisyah pernah bermimpi seolaholah ada tiga buah bulan yang jatuh di rumahnya. Beliau pun menceritakannya kepada Abu Bakr yang memang dikenal pandai menakwilkan mimpi. Kata Abu Bakr, “Kalau benar mimpimu, pasti akan dikebumikan di dalam rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan dimakamkan di situ, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hai ‘Aisyah, inilah salah satu bulanmu yang terbaik itu.”1

Keadaan Abu Bakr bertambah berat. Putrinya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, merawatnya dengan telaten. Saat-saat terakhir itu, Abu Bakr berpesan lagi, “Periksalah berapa sisa hartaku sejak aku jadi khalifah dan serahkanlah kepada khalifah sesudahku.” Sepeninggal beliau, mereka menghitungnya. Ternyata yang ada hanya seorang budak dan seekor unta untuk menyirami kebun. Harta itu kemudian diserahkan kepada ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Melihat hal ini, ‘Umar menangis dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Abu Bakr. Sungguh, beliau membuat payah orang yang sesudahnya (untuk bisa berbuat hal yang sama).” Senin malam, 22 Jumadil Akhir 13 H, atau 22 Agustus 634 M, dalam usia 63 tahun, seusia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika wafat, berangkatlah jiwa yang tenang itu ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, terdengar bisikannya yang terakhir dengan suara yang lirih membaca,

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Yusuf: 101)

Madinah kembali diguncang oleh tangis dan kesedihan. Sekali lagi kaum muslimin kehilangan pemimpin yang mereka cintai dan hormati, manusia terbaik setelah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan beberapa wanita yang ada di dalamnya menangis, tetapi mereka segera dilarang oleh ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dengan memerintahkan Hisyam bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan mereka. Jenazah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dibawa ke Masjid Nabawi dan dishalati di antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian, beliau dibawa ke rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan dikuburkan di sebelah makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan posisi kepala di dekat pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika masih hidup mereka bersahabat dekat, setelah wafat kubur mereka berdampingan, dan di akhirat— sebagaimana diriwayatkan—mereka juga berdekatan. Inilah bulan kedua yang jatuh dalam rumah ‘Aisyah sebagaimana mimpi beliau yang ditakwil oleh ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Setelah beliau wafat, datanglah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sambil menangis dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau segera menuju rumah duka dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatimu, wahai Abu Bakr. Demi Allah, engkau adalah yang orang pertama masuk Islam, paling dalam imannya, paling kuat keyakinannya, paling besar kekayaannya, paling menjaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, paling cemburu terhadap Islam dan sangat membela pemeluknya, serta paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal akhlak, keutamaan, bimbingan, dan kepribadian. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu balasan yang baik atas jasamu terhadap Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kaum muslimin. Engkau membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di saat manusia mendustakan beliau, menyantuni beliau ketika mereka kikir terhadap beliau, engkau berdiri bersama beliau ketika mereka duduk, dan Allah Subhanahu wata’ala menamakanmu Shiddiq di dalam Kitab-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya.’ (az-Zumar: 33)

yang dimaksud adalah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) dan dirimu. Engkau, demi Allah, benar-benar benteng bagi kaum muslimin dan bencana bagi orang-orang yang kafir. Argumenmu tidak salah, bashirah (mata hatimu) tidak lemah, dan jiwamu tidak pernah gentar, seperti gunung yang tidak bergerak diterpa oleh angin kencang dan tidak runtuh dihantam oleh badai. Engkau seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lemah fisikmu, tetapi kuat agamamu. Rendah hatimu, agung jiwamu di sisi Allah Subhanahu wata’ala, mulia di muka bumi, besar di kalangan orang-orang yang beriman.

Tidak ada seorang pun mempunyai ambisi dan hawa nafsu di hadapanmu. Yang lemah bagimu adalah kuat, dan yang kuat itu lemah, sampai engkau mengambil hak orang lemah dari yang kuat lalu dikembalikan kepada si lemah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala tidak mengharamkan kami memperoleh pahalamu, dan tidak menyesatkan kami sepeninggal engkau.” Inilah salah satu pujian ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terhadap Abu Bakr ash- Shiddiq. Adapun orang-orang yang sesat dari kalangan Syiah Rafidhah selalu menyimpan dendam dan kebencian terhadap beliau radhiyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam. (Selanjutnya insya Allah: Amirul Mukminin ‘Umar al-Faruq radhiallahu ‘anhu)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Saat Terakhir Khilafah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

Kemenangan tentara kaum muslimin yang dipimpin Khalid radhiyallahu ‘anhu disambut oleh Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh syukur. Sementara itu, di Persia, kekalahan Hurmuz telah mengobarkan dendam para pembesar dan sebagian rakyatnya. Raja Ardasyir mengirim pasukan lain di bawah pimpinan Qarin bin Qaryanus. Setibanya di Madzar, datanglah sebagian pasukan Hurmuz yang tadi melarikan diri dari Khalid dan pasukannya. Pasukan muslimin di bawah pimpinan Khalid tetap mengejar, dan bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh al- Mutsanna. Kedua pasukan pun bergabung. Sementara itu, tentara Persia yang melarikan diri dan bergabung dengan pasukan yang dikirim Ardasyir merasa mendapat kekuatan. Mereka mulai bergerak.

Di Madzar, kedua pasukan pembela dan pemuja api, mulai berhadapan dengan tentara Allah Subhanahu wata’ala. Pertempuran pun berlangsung hebat. Meskipun perlengkapan para pemuja api itu demikian hebat dan jumlah mereka lebih banyak, mereka tetap tidak mampu menghadapi tentara Allah Subhanahu wata’ala. Ahli sejarah menyebutkan ada kira-kira 30.000 orang tentara api yang tewas di tangan tentara Allah Subhanahu wata’ala, belum lagi yang mati di sungai ketika melarikan diri. Lebar dan dalamnya sungai ats- Tsana, anak sungai Tigris, menghalangi kaum muslimin menumpas pasukan lawan. Ghanimah yang diperoleh sangat banyak.

Tawanan yang terdiri dari wanita dan anak-anak juga banyak, salah satunya adalah ayahanda Al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang ketika itu masih beragama Nasrani. Satu demi satu benteng Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Terakhir, di bawah pimpinan Khalid, adalah benteng Hirah. Setelah terjadi pertempuran dan pengepungan, penduduk Hirah menyerah dan menerima salah satu dari tiga pilihan yang ditawarkan kaum muslimin. Mereka lebih memilih membayar jizyah. Kebanyakan mereka yang berada di benteng Hirah adalah orang-orang Arab yang beragama Nasrani. Melihat mereka memilih jizyah,

Khalid mencela mereka, “Kalian benarbenar bodoh, kekafiran itu seperti padang sunyi yang menyesatkan, sebodoh-bodoh orang Arab adalah mereka yang lebih memilih kekafiran.” Si Pedang Allah benar. Bahkan, di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang tidak berakal, dan lebih bodoh dari hewan ternak. Wal ‘iyadzu billahi.

Membebaskan Negeri Syam

Khalifah mulai berencana membebaskan Syam dari kesyirikan dan kezaliman. Lama beliau memikirkan, dan sama sekali belum beliau utarakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab atau sahabat besar lainnya radhiyallahu ‘anhuma. Suatu hari, datanglah Syurahbil bin Hasanah radhiyallahu ‘anhu yang pernah memimpin kaum muslimin memerangi orangorang murtad. Setelah berhadapan dengan Khalifah, Syurahbil berkata, “Wahai Khalifah Rasulillah, apakah Anda berencana untuk mengirim pasukan ke Syam?” “Betul. Saya memang merencanakan hal itu dan belum ada yang mengetahuinya. Engkau tidak menanyakan hal ini kepada saya kecuali karena ada sebabnya?” “Betul.

Saya bermimpi, hai Khalifah Rasulullah, seakan-akan Anda berjalan bersama orang banyak di atas kharsyafah (jalan yang sulit) di sebuah bukit hingga Anda mendaki puncak yang tinggi lalu melihat ke arah orang banyak, dan Anda saat itu bersama para sahabat Anda. Kemudian Anda menuruni puncak itu ke tanah datar yang lembut. Di situ terdapat sawah ladang, perkampungan, dan benteng. Lalu Anda berkata kepada kaum muslimin, ‘Seranglah musuh-musuh Allah! Saya jamin kalian pasti memperoleh kemenangan dan ghanimah’,” tutur Syurahbil. “Sementara itu, saya ada di antara mereka sambil memegang bendera perang yang saya hadapkan ke arah penduduk kampung itu.

Kemudian mereka memintaku jaminan keamanan, dan saya memberikan jaminan keamanan untuk mereka. Kemudian saya melihat Anda telah tiba di sebuah benteng yang sangat besar, dan Allah Subhanahu wata’ala memberi Anda kemenangan, bahkan mereka pun meminta damai kepada Anda. Allah Subhanahu wata’ala meletakkan tempat duduk untuk Anda lalu Anda duduk di atasnya. Kemudian dikatakan kepada Anda, ‘Allah telah memberimu kemenangan, kamu juga sudah ditolong, maka bersyukurlah kepada Rabbmu dan kerjakanlah amal menaati- Nya.’ Kemudian dia membacakan,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ () وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondongbondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada- Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.’ (an-Nashr: 1—3)

Kemudian saya terbangun.” Khalifah berkata kepadanya, “Benar tertidur matamu. Semoga kebaikanlah yang kamu lihat dan semoga kebaikanlah yang terjadi, insya Allah.” Kemudian beliau berkata, “Kamu sudah menyampaikan berita gembira berupa kemenangan dan berita kematian kepada saya.” Setelah itu, air mata Khalifah bercucuran, beliau pun melanjutkan, “Adapun jalan yang sulit (kharsyafah) yang kamu lihat dan kita mendakinya sampai puncak lalu melihat kepada orang banyak, artinya kita memberi kesulitan kepada pasukan ini dan musuh, dengan kesulitan yang benar-benar mereka rasakan. Kemudian kita mengalahkan musuh dan urusan kita pun menjulang.

Adapun turunnya kita dari puncak itu ke tanah yang datar dan lembut, sawah ladang, mata air, kampung, dan benteng, artinya kita mendapatkan kemudahan, dengan kesuburan dan penghidupan yang baik.” Khalifah melanjutkan, “Adapun ucapan saya kepada kaum muslimin, ‘Seranglah musuh-musuh Allah! Saya jamin kemenangan dan ghanimah bagi kalian,’ artinya dekatnya kaum muslimin kepada negeri musyrikin dan dorongan saya agar memerangi mereka dan memperoleh pahala serta ghanimah yang dibagikan dan penerimaan mereka. Adapun bendera yang ada bersamamu, dan kamu hadapkan ke kampung itu lalu kamu memasukinya, kemudian mereka meminta jaminan keamanan darimu dan kamu memberinya, artinya kamu adalah salah seorang pemimpin kaum muslimin yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan kemenangan lewat tanganmu.

Adapun benteng yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuk saya adalah arah yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuk saya. Dan singgasana yang kamu lihat saya duduk di atasnya, artinya sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menaikkan derajatku dan merendahkan kaum musyrikin. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ

‘Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana….’ (Yusuf: 100).”

Khalifah melanjutkan, “Adapun perintah kepadaku agar menaati Allah Subhanahu wata’ala dan membacakan surat itu kepada saya, itu adalah berita kematian saya. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wafat beliau dengan turunnya surat ini, dan beliau mengetahui bahwa tanda kematiannya telah diberitakan.” Kembali air mata Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengalir, beliau pun berkata, “Benarbenar saya akan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Saya akan benar-benar berjihad memerangi mereka yang meninggalkan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan akan saya siapkan pasukan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala di timur dan barat bumi ini sampai mereka mengucapkan, ‘Allah itu Ahad (Maha Esa), Ahad, tidak ada sekutu bagi-Nya.’ Atau, mereka menyerahkan jizyah dengan tangan mereka sendiri dalam keadaan terhina. Inilah perintah Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah Rasul-Nya. Kalau Allah Subhanahu wata’ala mewafatkan saya, semoga Allah Subhanahu wata’ala tidak melihat saya dalam keadaan lemah dan malas, atau tidak memerlukan pahala mujahid.”

Sebuah berita gembira yang merupakan satu bagian dari empat puluh bagian nubuwah, sebagaimana diberitakan ash-Shadiqul Mashduq Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menafsirkannya dengan tepat, karena kejadian yang disebutkan itu benar-benar dialami oleh kaum muslimin. Setelah itu, Khalifah memanggil beberapa pembesar sahabat Muhajirin dan Anshar, termasuk ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Khalifah mengutarakan kepada mereka rencananya, setelah itu meminta pendapat dan saran mereka. Ternyata, hadirin setuju dan beliau pun menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin.

Khalid bin al-Walid Naik Haji

Tahun 12 H. Setelah membebaskan al-Faradh dan Hirah di wilayah Persia, serta yakin bahwa musuh telah takluk, tebersit kerinduan dalam hati Khalid untuk berkunjung ke Baitullah al-Haram di Tanah Suci Makkah. Muncul keinginan Khalid untuk menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Kepada beberapa sahabat dekatnya, Khalid mengutarakan maksudnya, dan meminta mereka untuk tidak menceritakan

hal ini kepada siapa pun, termasuk Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Para sahabatnya setuju, tetapi mereka harus segera kembali sebelum diketahui oleh Khalifah. Mereka pun sepakat, akan mencari jalan paling singkat untuk tiba di Makkah dan kembali ke Irak. Akhirnya, Khalid memerintahkan

pasukan muslimin kembali ke Hirah, dan dia sendiri menampakkan seolaholah bergerak bersama pasukan itu, di barisan paling belakang. Tanggal 25 Dzul Qa’dah tahun 12 H, Khalid segera bertolak, tanpa seorang penunjuk jalan. Dengan tekad kuat, Khalid dan para sahabatnya menembus padang pasir yang tandus. Mereka menempuh jalan yang tidak pernah dilalui oleh orang. Bukit-bukit cadas yang terjal mereka daki untuk mempersingkat waktu tiba di Makkah. Pada waktu itu, Khalifah ash-Shiddiq z juga berangkat menunaikan haji bersama kaum muslimin. Singkat cerita, Khalid dan beberapa sahabatnya itu tiba di Makkah tanpa dikenali oleh seorang pun. Mereka melihat rombongan Khalifah, tetapi Khalifah tidak mengetahui keberadaan mereka.

Setelah sempurna pelaksanaan ibadah haji, Khalid segera berangkat kembali ke pasukan muslimin yang sedang menuju Hirah. Ternyata, pasukan muslimin belum tiba di Hirah, maka Khalid dan rombongannya segera berbaur dengan pasukan. Kemudian, mereka bersamasama memasuki Hirah. Pasukan muslimin mengira bahwa selama ini Khalid tetap bersama mereka. Khalifah Abu Bakr juga tidak menyangka sama sekali. Beberapa waktu setelah itu, sampailah berita kepada beliau bahwa ketika beliau berhaji, Khalid juga berhaji dan meninggalkan pasukan muslimin. Khalifah menegur Khalid dan menghukumnya dengan mengirim Khalid untuk membantu kaum muslimin di Syam.

Kata Khalifah dalam suratnya kepada Panglima Khalid, “Berangkatlah sampai kamu bergabung dengan kaum muslimin di Yarmuk, karena mereka telah merasakan kesedihan dan membuat sedih (lawan). Jangan kamu ulangi perbuatanmu, karena tidaklah bersedih sekelompok orang dengan pertolongan Allah l, sebagaimana dirimu, dan tidak hilang kesedihan itu seperti halnya dirimu. Sebab itu, perbaikilah niat, hai Abu Sulaiman, dan sempurnakanlah, semoga Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan (pahala) untukmu. Janganlah kamu dihinggapi oleh rasa ujub sehingga kamu akan merugi dan menjadi hina. Jauhilah, jangan kamu merasa telah memberi jasa dengan amalanmu, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki karunia dan Dia pula yang memberi balasan.” Setelah itu, Khalid segera bergerak bersama sebagian kaum muslimin menuju negeri Syam.

Wasiat Khalifah

Di kota Rasul, Madinah—semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu menjaganya. Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit. Ada yang mengatakan beliau diracun oleh seorang Yahudi. Yang lain menyebutkan bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu wafat karena mandi ketika musim dingin yang berat, hingga demam selama lima belas hari. Beberapa sahabat membesuk beliau yang sedang sakit dan menawarkan akan memanggilkan seorang tabib (semacam dokter di masa sekarang, -red.).

Namun, beliau radhiyallahu ‘anhu justru berkata, “Sudah datang tabibnya.” “Saya melakukan apa yang saya kehendaki,” lanjut beliau. Para sahabat memahami maksud beliau. Sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa sebelum meninggal dunia, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya adalah istrinya, Asma’ bintu Umais radhiyallahu ‘anha, dan putranya, ‘Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Beliau meminta dikafani dengan kain seperti yang dipakai untuk kafan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Khalifah meminta keluarganya agar mengembalikan sisa harta baitul mal yang pernah beliau terima ke baitul mal kembali.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Perang Dzatu As-Salasil (Pasukan Berantai)

Khalid tiba bersama pasukannya yang berjumlah 2.000 orang yang sebelumnya ikut memerangi orang-orang murtad. Bergabung pula 8.000 orang dari kabilah Rabi’ah. Khalid kemudian menulis surat kepada tiga orang pembesar yang ada di Irak, yang juga sudah siap berjihad, agar bersatu menyerang Irak. Ketiga pembesar itu adalah Ma’dzur bin ‘Adi al-‘Ijli, Sulma bin al-Qain at-Tamimi, dan Harmalah bin Murabthah at-Tamimi.

Surat itu diterima baik dan ketiga pembesar itu pun menggabungkan pasukan mereka yang jumlahnya bersama pasukan al-Mutsanna adalah 8.000 personil. Akhirnya, kekuatan pasukan muslimin bertambah menjadi 18.000 personil. Mereka berkumpul di Ubulla. Sebagaimana telah diceritakan, sebelum memasuki Irak, Khalid sudah menulis surat peringatan kepada Hurmuz, pemimpin Persia, di perbatasan Ubulla.

Setelah mendekati wilayah pertempuran, Khalid memecah pasukannya menjadi tiga dan memerintahkan setiap pasukan memilih jalannya sendiri-sendiri, tidak dari satu jalan saja. Strategi ini disengaja Khalid untuk menepis adanya blokade-blokade. Akhirnya, di bagian depan, berangkatlah al-Mutsanna, kemudian pasukan kedua adalah pasukan ‘Adi bin Hatim ath-Tha’i, dan terakhir adalah pasukan Khalid. Mereka bersepakat bertemu di Hudhair.

 

Pasukan Rantai

Hurmuz sudah mengetahui arah pergerakan pasukan Khalid dan tahu pula bahwa kaum muslimin berjanji untuk bertemu di Hudhair. Ia pun mempercepat gerak pasukannya untuk mendahului kaum muslimin tiba di tempat tersebut. Hurmuz menempatkan Qubbadz dan Anusyjan di bagian depan pasukan.

Sampailah berita kepada Khalid bahwa orang-orang Persia sudah bersegera menuju Hudhair. Sebab itu, Khalid membawa pasukannya menjauh dari Hudhair menuju Kazhimah, tetapi Hurmuz sudah mendahului pula dan berhenti di tempat yang cukup persediaan airnya.

Adapun Khalid berhenti di tempat yang tidak ada persediaan airnya. Khalid berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Turunkan beban-beban kalian kemudian rebut air mereka. Demi Allah, air itu akan mengalir untuk golongan pasukan yang paling sabar dan tentara paling mulia.”

Kaum muslimin segera menurunkan beban-beban mereka dalam keadaan kuda-kuda masih berdiri tegak dan pasukan pejalan kaki mulai mendekati orang-orang kafir.

Allah Yang Maha Pemurah mulai mengirimkan awan dan menurunkan hujan di bagian belakang barisan kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin menjadi kuat dengan tersedianya air yang melimpah untuk bekal mereka. Itulah sebagian bukti kebersamaan Allah Subhanahu wata’ala dengan para wali-Nya yang beriman. Akhirnya, kedua pasukan itu saling berhadapan.

Hurmuz adalah Panglima Persia yang dikenal sebagai orang yang jahat dan curang, bahkan menjadi simbol dengan kejahatannya. Hurmuz sudah mendengar ketangguhan Khalid di medan laga sehingga ia berusaha melakukan muslihat untuk menwgalahkan Khalid dan kaum muslimin dengan cepat.

Beberapa pengawalnya diperintahkan untuk maju bersamanya ke tengah-tengah lapangan antara pasukan kaum muslimin dan Persia. Hurmuz mulai berjalan ke depan dan menantang Khalid agar maju bertanding satu lawan satu dengannya. Khalid menyambut tantangan itu dan turun dari kudanya. Dengan tenang, Khalid berjalan ke tengah gelanggang sambil menghunus pedangnya. Hurmuz juga mulai maju. Tiba-tiba, begitu mendekat, Hurmuz menyerang Khalid. Tetapi, dengan enteng Khalid mengelakkan serangan lawan. Kedua pedang mulai beradu. Beberapa saat keduanya masih tangguh dan saling tebas.

Dalam satu kesempatan, Khalid berhasil menelikung Hurmuz. Tetapi, beberapa pengawal Hurmuz segera maju hendak menyergap Khalid ketika beliau lengah.

Qa’qa’ bin ‘Amr yang diturunkan dalam pasukan Khalid melihat kecurangan itu segera memacu kudanya bersama beberapa orang berkuda lainnya menyerang pengawal Hurmuz. Melihat keadaan ini, kaum muslimin di belakang Qa’qa’ segera menyerbu. Tentara Persia dengan kekuatan dan persenjataan lengkap segera menyambut serangan muslimin.

Bunyi gemerincing rantai menggema menyelingi suara takbir dan jerit kematian. Pasukan Persia memang menggunakan rantai. Mereka mengikat kaki-kaki mereka agar tidak lari dari medang perang. Inilah salah satu alasan perang ini dinamakan juga Dzatu as-Salasil (pasukan rantai).

Walaupun jumlah kaum muslimin kalah jauh dibandingkan dengan tentara Persia, tetapi semangat iman yang ada di hati mereka seakan-akan meruntuhkan gunung. Kekuatan inilah yang sesungguhnya dihadapi oleh tentara penyembah api. Bagaimana mungkin mereka menang?

Dengan cepat pertempuran itu diselesaikan oleh kaum muslimin. Puluhan ribu prajurit Persia yang bertahun-tahun terlatih dalam strategi perang yang canggih saat itu bergelimpangan sia-sia. Kenyataan ini pula menambah dendam anak cucu dinasti Sasanid hingga saat ini terhadap kaum muslimin, khususnya bangsa Arab (Quraisy, ed.).

Akhirnya, kaum muslimin memperoleh ghanimah yang berlimpah, dibawa oleh seribu ekor unta. Tetapi, kaum muslimin tidak menyerang para petani yang mereka jumpai di wilayah Persia. Para petani secara baik-baik ditawari untuk menerima Islam. Kalau mereka menerima, ada kewajiban zakat dari hasil pertanian mereka. Kalau tidak, mereka harus menyerahkan jizyah yang nilainya tetap jauh lebih kecil daripada yang dirampas oleh raja-raja Persia dari petani-petani tersebut.

Dari ghanimah tadi, seperlimanya dikirim oleh Khalid kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq, sedangkan sisanya dibagi-bagi di antara para prajurit muslim.Termasuk yang dikirimkan kepada Khalifah adalah mahkota Hurmuz yang bertakhtakan permata, yang harganya mencapai seratus ribu dinar. Akan tetapi, mahkota itu justru dikembalikan Khalifah kepada Khalid sebagai hadiah untuk si Pedang Allah.

Berturut-turut, wilayah Irak mulai membuka dan menyerahkan diri kepada tentara Allah Subhanahu wata’ala. Bala bantuan yang diinginkan oleh Hurmuz terlambat datang. Bahkan, kedatangan mereka pun sia-sia karena menghadapi orang-orang yang merindukan bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana orang-orang Persia yang sangat mencintai hidup. Hampir 30.000 orang prajurit Persia mati di tangan kaum muslimin setelah mereka memasuki wilayah Madzar.

Jatuhnya Madzar semakin menambah kemarahan dan dendam orang-orang Persia. Raja mereka segera mengirim pasukan besar untuk menghentikan laju kaum muslimin. Tetapi, siapa yang dapat menahan tentara Allah Subhanahu wata’ala? Siapa yang dapat mencegah kekuatan iman jika sudah menerjang?

Dalam pertempuran di wilayah Waljah, kekalahan Persia demikian memalukan. Khalid bertanding dengan seorang tentara Persia yang kekuatannya setara dengan seribu prajurit. Tetapi, dengan mudah Khalid membunuhnya. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

Penaklukan Irak

Upaya Pembunuhan Terhadap Panglima Khalid

Setelah selesai berunding dengan sisa-sisa pengikut Musailamah al-Kadzdzab dan mereka pun kembali kepada Islam yang haq, selesailah peperangan di Yamamah. Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak cukup besar. Pengikut Musailamah al-Kadzdzab yang tewas tidak kurang dari 14.000 orang, sedangkan pasukan muslimin yang gugur sekitar enam ratus orang.

Situasi perang masih menyelimuti Yamamah. Suatu hari setelah sisa-sisa bani Hanifah sepakat untuk berbaiat, salah seorang pemuka mereka, Salamah bin ‘Umair meminta izin kepada Majja’ah agar dapat menemui Panglima Khalid radhiyallahu ‘anhuma. Majja’ah mengizinkan. Tanpa setahu mereka, Salamah menyelipkan pedang di balik bajunya lalu berangkat menemui Khalid. “Siapa yang datang ini?” tanya Khalid, naluri prajuritnya menggetarkan adanya bahaya. “Ia ingin berbicara dengan Anda,” kata Majja’ah, “Dan sudah saya izinkan.” “Keluarkanlah dia dari sini!” perintah Panglima, seakan-akan tahu maksud kedatangan Salamah.

Dengan segera orang-orang yang menemaninya membawa Salamah bin Al-Ustadz Abu Muhammad Harits ‘Umair keluar sambil menggeledah tubuhnya, ternyata di balik bajunya terdapat sebilah pedang. Mereka mencacinya bahkan mengutuknya, “Kau mau membantai kaummu sendiri? Kalau Panglima Khalid tahu kau membawa senjata, pasti sisa-sisa bani Hanifah ini akan dibantai, anak-anak dan kaum wanita akan dijadikan tawanan? Kau senang dengan tindakanmu ini?” Akhirnya, mereka mengikatnya dan memenjarakannya di dalam benteng.

Salamah berjanji tidak akan melakukan yang membahayakan lagi, dan meminta agar mereka melepaskannya. Tetapi, mereka belum mau percaya dengan katakatanya. Mereka masih mengkhawatirkan kebodohannya akan mendorongnya melakukan tindakan nekat. Ternyata benar. Malam harinya, Salamah melarikan diri dan menerobos pasukan penjaga Panglima. Para pengawal pun ribut, dan tentu saja orang-orang bani Hanifah menjadi geger. Mereka segera mengejar dan menangkap Salamah.  Begitu tertangkap, mereka segera membunuh Salamah dengan pedang mereka sendiri.

Khalid Menikahi Putri Majja’ah

Telah diceritakan sebelumnya bahwa  Khalid menikahi Ummu Tamim, istri Malik bin Nuwairah, setelah membunuh Malik. Khalid kemudian dipanggil oleh Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mendapat teguran yang sangat keras. Sekarang, setelah kemenangan kaum muslimin di Yamamah, Khalid melamar putri Majja’ah yang baru berusia belasan tahun, “Nikahkan saya dengan putrimu.” Mulanya, Majja’ah menolak. Panglima Khalid kembali mengulangi permintaannya, “Nikahkan saya dengan putrimu.”

Akhirnya, Majja’ah menikahkan putrinya dengan Panglima Khalid. Berita ini gaungnya sampai juga ke telinga Khalifah ash-Shiddiq. Beberapa utusan yang dikirim oleh Panglima Khalid, dipimpin oleh Abu Khaitsamah, termasuk sebagian bekas pengikut Musailamah yang telah kembali kepada Islam, menceritakan keadaan di Yamamah. Begitu mengetahui tindakan Panglima yang menikah dengan putri Majja’ah dan perdamaian yang dilakukannya, Khalifah Abu Bakr segera menulis surat teguran untuk Khalid: “Demi Allah, hai putra ibu Khalid, kamu betul-betul telah berbuat siasia. Kamu menikahi seorang perawan sementara di pelataran rumahmu masih tergenang darah 1.200 kaum muslimin? Kemudian kamu berhasil dikelabui oleh Majja’ah sehingga ia berdamai denganmu padahal Allah Subhanahu wata’ala telah mengalahkan mereka?”

Segera saja Khalid mengirim surat balasan di antaranya sebagai penjelasan terhadap tindakan yang dilakukannya. Surat itu dititipkannya bersama Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma.

“… Amma ba’du;

Demi Allah, saya tidak menikahi seorang wanita kecuali betul-betul dalam keadaan senang dan aman. Saya tidak menikah kecuali dengan putri seseorang yang seandainya saya melamar di Madinah, saya tidak dipedulikan. Biarkanlah saya melamarnya sendiri. Kalau Anda tidak menyukai hal ini karena urusan agama atau dunia, saya memaafkan Anda. Adapun kesedihan saya terhadap kaum muslimin yang gugur, maka demi Allah, seandainya kesedihan saya dapat membuat yang hidup itu tetap hidup atau dapat mengembalikan yang sudah mati, pasti kesedihan itu sudah membuat yang hidup tetap hidup dan yang mati bangkit kembali. Saya sudah berusaha mencari syahadah, hingga putus asa untuk tetap hidup.

Kemudian, tindakan Majja’ah mengecoh pendapat saya, sebetulnya tidak. Saya merasa yakin pendapat saya tidak keliru. Saya juga tidak mengetahui perkara gaib. Di sisi lain, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kebaikan bagi kaum muslimin. Dia mewariskan tanah Yamamah kepada kaum muslimin, dan kesudahan itu adalah untuk orang-orang yang bertakwa.”

Setelah membaca surat itu, hati Khalifah ash-Shiddiq menjadi lembut, beliau pun menerima alasan Si Pedang Allah itu . Mengetahui hal itu, beberapa tokoh Quraisy lain tergerak memberikan alasan membela Khalid, termasuk Abu Barzah al-Aslami, kata beliau, “Wahai Khalifah Rasulillah, Khalid itu bukanlah seorang pengecut dan pengkhianat. Dia sudah mati-matian berusaha untuk mati sebagai syahid, tetapi gagal. Dia tetap bertahan sampai akhirnya diberi kemenangan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Khalid tidak berdamai dengan mereka kecuali dengan sukarela dan pendapatnya tidak salah ketika berdamai, karena dia mengira kaum wanita yang dilihatnya di atas benteng adalah pasukan musuh.” “Kau benar,” kata ash-Shiddiq, “Alasanmu ini lebih bagus daripada yang ditulis Khalid.”

Dari sini, jelaslah bahwa pembelaan Khalid terhadap dirinya bukan tanpa alasan. Dapat pula ditambahkan beberapa hal yang menunjukkan keutamaan Khalid, sebagai berikut.

1. Pernikahan Khalid ini terjadi setelah keadaan benar-benar aman dan tenang.

2. Dia menikah dengan putri seorang pemuka masyarakat.

3. Pernikahan itu tanpa ada upaya yang menyusahkan dirinya dan yang lain.

4. Pernikahan itu terjadi tanpa ada sesuatu yang menyelisihi agama ataupun dunia.

5. Jihad yang dilakukannya bukan karena urusan dunia, tetapi mencari syahadah karena Allah l.

6. Khalid mengikat hubungan keluarga dengan Majja’ah karena kagum melihat pembelaan Majja’ah terhadap kaumnya.

 Keberanian Khalid tidak pernah disangsikan. Dalam setiap pertempuran,  dia selalu di barisan terdepan, walaupun sebagai panglima. Pernah, dalam sebuah pertempuran, Khalid menerjang musuh bersama kudanya. Beberapa prajurit muslim berteriak mengingatkan, “(Ingatlah) Allah, (ingatlah) Allah. Anda adalah pemimpin kaum muslimin. Tidak pantas Anda maju seperti ini!” Akan tetapi, Khalid adalah Khalid, “Demi Allah, saya tahu apa yang kalian katakan, tetapi saya tidak dapat menahan diri, khawatir kaum muslimin kalah.”

Bahkan seperti telah diceritakan, dalam Perang Yamamah ini, Khalid sendiri maju menantang duel satu lawan satu dengan pihak musuh. Begitu pula ketika terjadi pertempuran di kebun “maut”, Khalid sempat bertarung dengan salah seorang pengikut Musailamah al- Kadzdzab. Ternyata lawannya adalah seorang ahli berkuda juga. Setelah bertarung beberapa saat, keduanya terjatuh dari kuda masingmasing. Lawan Khalid segera menerkam. Keduanya bergumul di atas pasir. Khalid segera mengeluarkan belatinya menikam lawannya. Tetapi orang itu cukup tangkas, dia berhasil pula menusuk Khalid hingga luka tujuh tusukan.

Akhirnya, Khalid tergeletak karena luka-lukanya sambil berusaha bangkit, sedangkan lawannya itu sudah mati lebih dahulu.

Persiapan

Setelah Islam semakin kuat di Yamamah, keadaan pun aman dan tenang. Kabilah-kabilah Arab semakin yakin dengan kekuatan kaum muslimin. Untuk sementara, Khalifah merasa tenang, karena sudah tidak ada lagi kemungkinan serangan dari orang-orang Arab yang ingin memberontak.

Khalifah mulai mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Terkenang dengan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Dahulu, ketika bersama-sama memecah batu, menggali parit Khandaq, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah mengatakan bahwa beliau melihat Kerajaan Persia, dan kekayaan negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin lalu digunakan untuk jalan Allah Subhanahu wata’alal. Khalifah ingin mewujudkannya, dan agaknya saatnya telah tiba.

Khalifah segera mengirim surat kepada Panglima Khalid memberi perintah agar membawa pasukan muslimin menuju Irak, dimulai dari Ubullah yang terletak di tepi sungai Tigris (Dijlah). Khalifah mengingatkan agar tetap mengajak manusia kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, atau membayar jizyah, atau perang. Khalifah juga mengingatkan agar tidak memaksa kaum muslimin untuk ikut dan tidak meminta bantuan kepada mereka yang pernah murtad dari Islam walaupun sudah kembali.

Sebagian ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa Khalid berangkat setelah pulang ke Madinah. Tetapi yang masyhur adalah bahwa beliau berangkat langsung dari Yamamah.

Wallahu a’lam.

Khalifah juga mengirim surat kepada ‘Iyadh bin Ghunm yang telah berhasil menaklukkan Daumatil Jandal agar bergerak menuju Irak. Kepada Khalid dan ‘Iyadh, Khalifah ash-Shiddiq menegaskan bahwa siapa saja di antara mereka yang lebih dahulu sampai di Irak, dialah yang memimpin seluruh pasukan. Dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala, Khalid dan pasukannya lebih dahulu tiba di Irak. Sementara itu, al-Mutsanna bin Haritsah yang memperoleh kemenangan dalam peperangan di Bahrain meminta izin kepada Khalifah agar ikut memerangi Irak.

Khalifah pun mengizinkan, maka berangkatlah al-Mutsanna dengan kekuatan 8.000 orang menyusul pasukan Khalid bin al-Walid. Setelah bertemu dengan seluruh pasukan, segera Panglima memecah pasukannya menjadi tiga kelompok, masing-masing menempuh jalan yang berbeda. Kelompok pertama, dipimpin oleh al-Mutsanna dengan Zhufar sebagai penunjuk jalan, berangkat dua hari sebelum Khalid bertolak. Kelompok kedua, ‘Adi bin Hatim dan ‘Isham bin ‘Amr, dengan penunjuk jalan masingmasing Malik bin ‘Abbad dan Salim bin Nashr, salah satu dari kedua kelompok ini mendahului yang lain satu hari sebelumnya. Setelah itu, Khalid dan pasukannya mulai bergerak dengan penunjuk jalan Rafi’. Khalid menjanjikan akan bertemu mereka di al-Hafir.

Memasuki Wilayah Persia

Farjul Hindi adalah tapal batas Persia yang sangat kuat. Pemimpin mereka, Hurmuz selalu menyerang bangsa Arab di daratan dan menyerang Hindia di lautan. Sesampainya di wilayah Persia itu, Panglima memulai gerakan militernya dengan mengirim surat kepada seluruh pembesar Kerajaan Persia, termasuk para gubernur di wilayah Irak.

Isi surat itu tidak hanya seruan dakwah kepada Islam, melainkan juga menampilkan sikap kepahlawanan barisan muslimin, bahwa yang mereka cari hanya dua, kemenangan atau mati syahid. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid Ibnu Walid kepada para pembesar Persia. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.

Amma ba’du;

Segala puji kepunyaan Allah Subhanahu wata’ala yang telah memorakporandakan kaki tangan kalian, merenggut kerajaan kalian, serta melemahkan tipu daya kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menghadap kiblat kami, jadilah ia seorang muslim. Ia akan mendapatkan hak seperti yang kami dapatkan, dan ia mempunyai kewajiban seperti kewajiban kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini, maka hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah perlindungan dariku. Kalau tidak, maka demi Allah Subhanahu wata’ala yang tiada  sesembahan yang haq selain Dia, akan kukirimkan kepada kalian satu kaum yang mencintai kematian, seperti kalian yang masih sangat mencintai hidup…!”

Para pembesar yang menerima surat tersebut terheran-heran melihat keberanian dan seruan Khalid. Tetapi, kesombongan telah menutupi mata dan__ hati mereka. Hurmuz yang menerima surat itu segera mengirimkannya kepada Syira bin Kisra dan Azdasyir bin Syira. Hurmuz segera mengumpulkan kekuatan dan segera bertolak menuju Kazhimah.

Masing-masing sayap pasukan itu dipimpin oleh Qabbadz dan Anusyjan, dari keluarga kerajaan. Hurmuz sendiri adalah seorang pembesar yang paling bengis dan cerdik, serta paling kafir. Kedudukannya cukup tinggi, dan ini diketahui dari mahkota yang dikenakannya. Semakin mahal perhiasan mahkota tersebut, semakin tinggi pula kedudukan pemiliknya. Mahkota Hurmuz ditaksir seharga seratus ribu (dinar). (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Muhammad Harist

Mengumpulkan Al-Qur’an

Kisah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu

Di Masa Nubuwah

Sejak al-Qur’anul Karim turun, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah membiasakan para sahabat mengumpulkan al-Qur’an, menuliskannya, bahkan memerintahkannya dan mendiktekannya. Tidak hanya itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajari para sahabat radhiyallahu anhuma cara membacanya secara tepat dan menerangkan pula makna-maknanya serta memberi contoh penerapannya. Setelah 23 tahun mengajarkan al- Qur’an, beliau pun meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan al-Qur’anul Karim ini sudah dihafal oleh sebagian besar sahabatnya dan dipahami makna maknanya oleh mereka.

Semoga Allah Subhanahuwata’ala melimpahkan shalawat dan salam- Nya untuk beliau. Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya). Setelah berhenti masa turunnya al-Qur’an dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahuwata’ala mengilhamkan kepada para al-Khulafa ar-Rasyidin untuk mengumpulkannya. Allah Subhanahuwata’ala memenuhi janji-Nya yang pasti dan benar—bahkan Dia tidak pernah menyalahi janji—bahwa Dia menjamin akan memelihara Kitab-Nya untuk umat ini, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al- Hijr: 19)

Inilah janji Allah Subhanahuwata’ala, bahwa Dia akan memelihara Kitab Suci yang mulia ini, baik di saat turunnya maupun setelahnya. Pada saat turunnya, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari setan yang ingin mencurinya, sedangkan setelah turunnya, Allah Subhanahuwata’ala meletakkannya di dada Rasul- Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian di dada umatnya. Termasuk di sini, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari perubahan terhadap lafadznya, apakah dengan penambahan ataukah pengurangan.

 Allah Subhanahuwata’ala memelihara pula makna-maknanya, maka tidak ada seorang pun yang berusaha menyelewengkan maknanya melainkan Allah Subhanahuwata’ala membangkitkan sebagian hamba-Nya yang akan menjelaskan mana yang haq. Segala puji dan syukur hanya milik Allah Subhanahuwata’ala.

Badruddinaz –Zarkasyi rahimahumullah menukilkan bahwa penulisan al-Qur’an bukanlah perkara muhdats (bid’ah dalam masalah agama). Sebab, semasa hidupnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memerintahkan agar para sahabat menuliskannya. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai beberapa orang penulis wahyu di antara para sahabat radhiyallahu anhuma.

Akan tetapi, penulisan tersebut masih terserak-serak di beberapa tempat. Ada yang ditulis di pelepah pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, lembaranlembaran kulit, tulang-tulang binatang ternak kalau sudah kering, dan kayu kayu tempat duduk yang diletakkan di punggung-punggung unta.

Pengumpulan al-Qur’an sendiri bisa bermakna menghafalnya dan membacanya tanpa melihat tulisannya. Bisa juga bermakna penulisannya, baik huruf, kata, maupun surat-suratnya. Jadi, yang pertama adalah pengumpulan di dalam dada, sedangkan yang kedua adalah pengumpulan di lembaran-lembaran kertas atau mushaf.

Pengumpulan al-Qur’anul Karim dalam bentuk penulisan terjadi tiga kali pada masa generasi pertama. Yang pertama pada masa Rasulullah n, yang kedua pada masa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan yang ketiga terjadi pada masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu. Pada masa Khalifah ‘Utsman inilah dibuat beberapa mushaf lalu dikirim ke seluruh penjuru di mana kaum muslimin berada. Pada masa inilah muncul berbagai penilaian yang membuat kabur persoalan ini bagi sebagian besar kaum muslimin.

Masa Khalifah Abu Bakr

Dalam Perang Yamamah—yang diceritakan dalam edisi lalu—banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an gugur sebagai syuhada. Melihat keadaan ini, ‘Umar al-Faruq radhiyallahu anhu segera menemui Khalifah dan berkata, “Sebagaimana Anda ketahui, dalam Perang Yamamah ini telah gugur banyak para penghafal al-Qur’an. Saya khawatir, kalau terjadi peristiwa seperti ini, banyak al-Qur’an yang akan hilang. Menurut saya, sebaiknya Anda segera memberi perintah agar kaum muslimin mengumpulkan al-Qur’an.”

Abu Bakr ash-Shiddiq segera menjawab, “Bagaimana mungkin aku mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” ‘Umar z mengajukan beberapa alasan hingga memantapkan hati Abu Bakr menerima sarannya. Setelah hati Abu Bakr dilapangkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk menerima kebenaran yang disampaikan ‘Umar, keduanya berangkat mencari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu. Setelah itu, Khalifah Abu Bakr berkata kepada Zaid, “Tadi ‘Umar menemuiku dan mengatakan bahwa para penghafal al-Qur’an dalam Perang Yamamah banyak yang gugur dan ia khawatir kalau terjadi peperangan di beberapa tempat lagi akan menjadi sebab banyaknya al-Qur’an yang hilang, lalu ia menyarankan agar aku memerintahkan agar al-Qur’an dikumpulkan. Saya katakan kepadanya bahwa bagaimana mungkin kita mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah adalah baik.

Dia pun menerangkan beberapa alasan sampai Allah Subhanahuwata’ala melapangkan hatiku menerimanya.” Kemudian Abu Bakr melanjutkan, “Dan engkau, Zaid, adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak mencurigaimu. Apalagi engkau pernah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Carilah ayat-ayat al-Qur’an yang terserak-serak itu dan kumpulkanlah.”

Mendengar penuturan Khalifah ini, Zaid berkata, “Demi Allah, seandainya Anda berdua menugaskan saya memindahkan sebuah gunung, itu lebih mudah daripada mengerjakan apa yang Anda berdua perintahkan kepada saya.” “Bagaimana mungkin saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” lanjut Zaid.

Khalifah dan sahabatnya, al-Faruq, tidak henti-hentinya menerangkan kepada Zaid kebaikan dan maslahat yang besar dari pekerjaan tersebut. Akhirnya, Allah Subhanahuwata’ala membukakan hati Zaid untuk menerima penjelasan mereka berdua, lalu ia pun mengerjakannya.

Ketika itu, Zaid bin Tsabit berusia 22 tahun. Beliau pernah ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari bahasa Ibrani (bahasa ibu orang-orang Yahudi). Mulailah Zaid mengumpulkan al- Qur’an. Zaid sendiri adalah seorang penghafal al-Qur’an, bahkan beliau menyimpan catatan al-Qur’an itu untuk dirinya, namun beliau tidak mengandalkan apa yang beliau hafal dan beliau tulis.

Hal itu karena pekerjaan beliau ini bukan sekadar mengumpulkan al-Qur’an, melainkan juga meneliti dan memastikan kevalidan apa yang ditulisnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalifah sendiri menugaskan ‘Umar dan Zaid radhiyallahu anhu agar duduk di pintu masjid, kemudian kalau ada yang membawakan dua saksi tentang Kitab Allah, tulislah.

Keduanya segera menjalankan tugas, dan ‘Umar pun berkata, “Siapa yang pernah menerima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagian al-Qur’an hendaklah dia menemui kami membawa al-Qur’an tersebut.” Demikian pula Zaid yang ditugaskan oleh Khalifah. Zaid segera mendatangi para sahabat untuk menanyai mereka ayat yang ada pada mereka.

Akhirnya, beliau pun mendapatkan al-Qur’an itu dari pelepah-pelepah kurma, lempenganlempengan batu, dan hafalan para sahabat, sampai beliau menerima ayat terakhir surat at-Taubah (128 sampai selesai) dari Khuzaimah bin Tsabit .

Jadi, tujuan mereka sebetulnya ialah tidak menuliskan sesuatu dari al-Qur’an selain apa yang pernah mereka tulis di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekadar hafalan. Pekerjaan Zaid bin Tsabit ini berlangsung hampir lima belas bulan, sejak Pertempuran Yamamah hingga akhir tahun 11 H atau awal 12 H, dan selesai sebelum wafatnya Abu Bakr ash-Shiddiq adhiyallahu anhu, pada malam Selasa, 17 Jumadi Tsani 13 H.

Mengapa Khalifah dan al-Faruq memilih Zaid yang masih belia, bukan sahabat yang lainnya? Sebagian sejarawan menyebutkan beberapa alasan, berdasarkan perkataan Khalifah ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya, yaitu sebagai berikut.

1. Zaid adalah salah seorang sahabat yang hafal al-Qur’an sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

2. Zaid menyaksikan pembacaan terakhir al-Qur’anul Karim ini lalu Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya).membacakannya kepada kaum muslimin sampai beliau wafat. Sebab itulah, Khalifah dan ‘Umar menjadikannya sebagai acuan.

3. Zaid termasuk salah seorang penulis wahyu yang diakui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan yang paling terkenal dan paling sering.

4. Zaid mempunyai kecerdasan dan sikap wara’ yang tinggi, demikian pula akhlaknya yang mulia, agamanya yang kokoh, dan bisa menjaga amanat.

5. Usianya yang masih muda, sehingga lebih semangat dan rajin serta lebih giat menjalan tugasnya. Bisa dipertimbangkan juga, selain hal-hal di atas, tulisannya yang bagus dan jelas, karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ia yang sering diminta menulis wahyu atau risalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah selesai mengumpulkan al- Qur’an di dalam lembaran-lembaran kertas, Khalifah Abu Bakr meminta pendapat sebagian sahabat tentang namanya. Ada yang berpendapat namanya adalah sifr, ada pula yang menamakannya mushaf. Yang terakhir inilah yang dipilih oleh Khalifah ash- Shiddiq dan berlaku sampai sekarang.

Inilah salah satu kebaikan dan jasa Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sampai ‘Ali bin Abi Thalib z mengatakan, “Semoga Allah Subhanahiwata’ala merahmati Abu Bakr, beliaulah yang pertama kali mengumpulkan al- Qur’an dalam lembaran mushaf.” Dengan pernyataan tegas ‘Ali Radhiyallahu anhu ini masih ada segolongan orang yang menyatakan bahwa yang pertama mengumpulkan al-Qur’an adalah ‘Ali Radhiyallahu anhu. Sekiranya ada yang sahih riwayat tentang beliau  dalam masalah ini, kemungkinan maknanya adalah pengumpulan dalam bentuk hafalan, atau beliau mengumpulkannya dengan cara lain dan tujuan lain.

 Bahkan, sebagian mufasir dari kalangan Syi’ah menyatakan bahwa ‘Ali Radhiyallahu anhu mengumpulkannya berdasarkan waktu turunnya, nama orang-orang yang turun al-Qur’an itu tentang mereka, takwil ayat-ayat mustasyabih, penentuan nasikhmansukhnya, manayangumum dan khususnya, serta menjelaskan ilmuilmu yang terkait dengan ayat tersebut dan cara membacanya.

Seandainya pendapat ini sahih dan tampaknya yang benar adalah sebaliknya tidak juga menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang pertama mengumpulkan al-Qur’an. Mengapa tidak? Karena Ibnu Sirin pernah bertanya kepada ‘Ikrimah, salah seorang murid Ibnu ‘Abbas, “Apakah para sahabat mengumpulkannya sebagaimana turunnya, yang pertama, kemudian yang berikutnya?” Kata ‘Ikrimah, “Seandainya jin dan manusia bersatu melakukannya, mereka tetap tidak mampu.”

Akhirnya, sejak itu mushaf tersebut berada di tangan Khalifah hingga beliau wafat. Kemudian, berada di tangan ‘Umar selama hidupnya dan setelah itu di tangan Hafshah bintu ‘Umar. Mushaf tersebut tetap di tangan Ummul Mukminin Hafshah sampai diminta oleh Khalifah ‘Utsman untuk disalin dan dibuat beberapa kopiannya lalu disebarkan ke beberapa penjuru wilayah Islam.

Setelah itu, mushaf tersebut disimpan ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu, tetapi kemudian diminta oleh Marwan bin al-Hakam ketika pulang menguburkan jenazah Ummul Mukminin Hafshah Radhiyallahu anhu, lalu merobeknya karena khawatir ada sesuatu yang berbeda dengan salinan mushaf yang dibuat oleh ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Wallahu a’lam. (insyaAllah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Menumpas Musailamahal-Kadzdzab (2)

Awal Peperangan Pasukan muslimin akhirnya bertemu dengan pasukan Musailamah di ‘Aqriba’. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah pasukan muslimin ketika itu sekitar belasan ribu orang, sedangkan pengikut Musailamah al-Kadzdzab hampir seratus ribu orang. Bendera Muhajirin dipegang oleh Salim, maula Abu Hudzaifah. Sebelum itu, bendera ada di tangan ‘Abdullah bin Hafsh bin Ghanim hingga beliau gugur. Kaum muslimin juga mengkhawatirkan keselamatan Salim, tetapi kata Salim, “Kalau begitu (kalau aku mencari selamat) aku adalah pembawa al-Qur’an yang paling buruk.”

Bendera Anshar dibawa oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Demikianlah suku-suku Arab lainnya, mereka berada di bawah bendera masing-masing bersama pemimpin mereka.

Setelah kedua pasukan saling berhadapan, Musailamah berkata di hadapan pengikutnya, “Hari ini adalah hari kecemburuan. Hari, yang kalau kalian kalah, istri-istri kalian akan dinikahi sebagai tawanan, tanpa mahar. Karena itu, bertempurlah demi kehormatan kalian dan belalah istri-istri kalian.”

Peperangan mulai berkobar, beberapa kabilah Arab kocar-kacir menerima serangan pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Mereka melarikan diri dari gelanggang pertempuran.

Denting pedang dan tombak masih menggema di tanah Yamamah. Ringkik kuda yang menari-nari di tengah-tengah kedua pasukan dan jerit kematian mengoyak cakrawala siang itu. Bumi Yamamah mulai dibasahi darah kedua pasukan, yang satu demi membela harga diri, yang lain demi menegakkan Kalam Ilahi.

Orang-orang Arab pengikut Musailamah terus menyerang sampai mendekati kemah Khalid, bahkan hampir membunuh istrinya, Ummu Tamim. Tetapi, wanita itu diselamatkan oleh Majja’ah, katanya, “Sebaik-baik wanita merdeka adalah wanita ini.”

Melihat kepanikan di barisan muslimin, sebagian sahabat saling menegur. Tsabit berkata, “Alangkah buruknya yang dibiasakan teman kalian. Bukan begini kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Tsabit segera menyiapkan dirinya dengan perlengkapan jenazah dan menggali lubang hingga betisnya, lalu berdiri di dalamnya sambil tetap memegang bendera Anshar. Tidak ada satu pun prajurit musuh yang mendekat kecuali terkena sabetan pedangnya.

Satu persatu musuh berjatuhandi tangan Tsabit, hingga Allah Subhanahu wata’ala menjalankan ketetapan-Nya, bahwa Tsabit harus pulang menghadap, meraih janji yang sudah disediakan. Bertiuplah angin surga menyambar tubuh kasar Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Jasad kasar itu pun ambruk ke bumi, tetapi ruhnya dengan cepat menembus petala langit menghadap penciptanya, Allah ‘azza wa jalla. Semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya.

Dialah yang dahulu ketika mendengar firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآ لَاتَرْفَعُوآ اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْطِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَا لُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ۝

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (al-Hujurat: 2)

mengurung diri di rumahnya selama berhari-hari, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasa kehilangan. Kemudian, beliau menanyakan perihal Tsabit kepada sebagian sahabat.

Salah seorang sahabat (Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu) menyanggupi akan mencari keterangan tentang Tsabit. Sahabat itu menemui Tsabit yang ternyata sedang menangis sambil menundukkan kepalanya di dalam rumah. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Sa’d kepada Tsabit.

“Buruk,” kata Tsabit, “Kalian tahu, akulah yang paling keras suaranya melebihi suara Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan akulah yang selalu berbicara lantang kepada beliau. Sekarang amalanku gugur dan menjadi penduduk neraka.”

Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan ucapan Tsabit radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, “Tidak. Bahkan, sebetulnya dia termasuk penghuni surga.”1

Allahu Akbar.

Itulah hasil gemblengan wahyu melalui tangan mahaguru yang paling ahli mendidik jiwa manusia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adakah kita meyakini bahwa ayat-ayat itu ditujukan juga kepada kita, walaupun berkisah tentang orang-orang Yahudi, atau yang lainnya?

Duhai, kiranya kita merasakan pula apa yang dirasakan oleh Tsabit ketika melewati ayat demi ayat Kitab Suci al-Qur’an. Wallahul Musta’an.

Duhai, sangatlah pantas, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka dan menjadikan mereka sebagai anutan dan teladan bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya memperoleh keridhaan sebagaimana pendahulu mereka yang saleh ini.

Kebun Maut2

Bani Hanifah semakin hebat menyerang kaum muslimin, hingga membuat kaum muslimin kepayahan. Satu demi satu para penghafal al-Qur’an di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berguguran sebagai kembang syuhada. Namun, pasukan musuh juga mulai kocar-kacir.

Musailamah al-Kadzdzab masih memompa semangat tempur para pengikutnya. “Maju terus, bela dan pertahankanlah kehormatan kalian, hai bani Hanifah!” teriaknya.

Sementara itu, para pengikut Musailamah mulai bertanya-tanya, “Mana yang kau janjikan kepada kami?”

Musailamah al-Kadzdzab hanya menjawab dengan dorongan untuk terus berperang membela harga diri mereka, jangan kalah dari Quraisy.

Perlahan tapi pasti, barisan muslimin yang tadi sempat kocar-kacir, mulai merapat. Di sana-sini terdengar seruan, “Hai para penghafal surat al-Baqarah, wahai penghafal al-Qur’an. Hari ini hancurlah sihir!”

Abu Hudzaifah pun berseru, “Hai para ahli al-Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan perbuatan kalian!”

Zaid bin al-Khaththab, saudara ‘Umar juga mengingatkan para pembawa al-Qur’an, agar bertempur dengan penuh semangat.

Sementara itu, Khalid sang panglima mulai maju ke kancah pertempuran. Khalid mencari keberadaan Musailamah. Beberapa saat belum menemukannya, Khalid mengatur barisan, dan mulai menantang duel satu lawan satu. Tidak ada musuh yang maju selain binasa di tangannya.

Perang semakin seru, sedangkan Khalid tetap menawarkan agar musuh kembali kepada al-haq. Namun, setan yang bercokol dalam diri Musailamah tidak menerima sedikit pun, dia terus berusaha memutar leher Musailamah agar tetap dalam kekafiran.

Akhirnya, Khalid mengalihkan perhatian memisahkan orang-orang Arab dari Muhajirin dan Anshar. Para sahabat masih bertahan dengan kesabaran luar biasa dalam pertempuran itu. Mereka terus maju seolah-olah mengantarkan nyawa kepada musuh-musuh mereka sampai Allah Subhanahu wata’ala memberi kemenangan.

Perlahan tetapi pasti, kekalahan mulai membayangi pasukan si nabi palsu. Kaum muslimin terus mendesak lawan mereka. Pedang di tangan kaum muslimin menebas tanpa rintangan semaunya, hingga musuh masuk ke dalam kebun milik Musailamah al-Kadzdzab.

Kebun inidinamai HadiqatuRahman, karena Musailamah mengangkat dirinya sebagai Rahmanul Yamamah. Gelar ini dikenal oleh bangsa Arab ketika itu. Namun, karena kelancangannya mencatut salah satu nama yang khusus bagi Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala pun menghinakannya dengan serendah-rendahnya.

Pengikut Musailamah al-Kadzdzab berlarian menuju kebun tersebut. Terdengar pula suara Muhkam bin Thufail memberi komando bani Hanifah agar segera menuju kebun itu. Adapun dia

sendiri menghadang pasukan muslimin yang mengejar.

‘Abdurrahman bin Abi Bakr mendekati Muhkam, lalu melesatkan panahnya. Dengan deras panah itu meluncur hingga menembus leher Muhkam. Tubuh Muhkam ambruk, pengikutnya pun melarikan diri dan mengunci pintu kebun itu dari dalam.

Kaum muslimin tidak tinggal diam. Mereka maju mengepung benteng kebun itu.

Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu, saudara Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berseru, “Wahai kaum muslimin, lemparkan aku ke dalam kebun itu!”

Mereka pun dengan cekatan mengangkat tubuh Barra’ dalam alat pelempar, hingga melewati tembok kebun tersebut.

Sesampainya di dalam, Barra’ disambut oleh pengikut Musailamah al-Kadzdzab. Namun, Barra’ tidak gentar. Ratusan orang itu dihadapinya seorang diri sampai dia berhasil membuka pintu gerbang kebun tersebut.

Dengan suara gegap gempita, kaum muslimin menerobos kebun itu. Tubuh-tubuh pengikut Musailamah al-Kadzdzab mulai bertumbangan. Musailamah al-Kadzdzab sendiri mencoba bersandar di dinding kebun itu sambil menutupi dirinya, bagai unta hijau. Saking marah dan kecewanya melihat kekalahan mulai membayang di depan matanya, Musailamah kehilangan akal.

Dengan cepat pula, Wahsyi bin Harb radhiyallahu ‘anhu, yang dahulu pernah membunuh Hamzah radhiyallahu ‘anhu dalam Perang Uhud, melemparkan tombak yang dipakainya membunuh Hamzah. Tombak itu dengan telak bersarang di tubuh Musailamah al-Kadzdzab. Beberapa saat kemudian, seorang prajurit muslim lainnya, Abu Dujanah radhiyallahu ‘anhu, menebas tubuh nabi palsu itu sampai tersungkur ke tanah.

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari atas rumah Musailamah al-Kadzdzab, “Tolong! Amirul Mukminin dibunuh oleh budak hitam itu!”

Setelah peperangan agak reda, Khalid membawa Majja’ah yang terbelenggu ke medan pertempuran untuk menunjukkan mana Musailamah al-Kadzdzab. Ketika melewati Rajjal, Khalid bertanya, “Inikah Musailamah?”

“Bukan. Demi Allah, dia ini lebih baik daripada Musailamah. Ini Rajjal bin ‘Unfuwah.”

Kemudian mereka melewati satu tubuh yang ditembus tombak dan kepala putus, berkulit kuning dan bermuka buruk.

“Inilah dia,” kata Majja’ah.

“Semoga Allah memburukkan muka kalian. Manusia sejelek ini yang kalian ikuti?”

Setelah itu, Khalid mengirim pasukan berkuda mengambil yang tercecer dalam pertempuran itu, baik tawanan maupun perlengkapan. Beliau sendiri bertekad untuk menyerang benteng yang ada di Yamamah. Padahal, yang ada di sana hanya wanita, anak-anak, dan orang-orang yang sudah tua.

Majja’ah yang ingin menyelamatkan sisa-sisa kabilahnya berusaha mengecoh Khalid, “Di sana masih banyak prajurit, marilah buat perdamaian dengan saya dalam urusan mereka.”

Melihat keadaan kaum muslimin yang juga cukup payah, Khalid menerima tawaran tersebut.

“Biarkan saya ke sana untuk berunding.”

Sesampainya di sana, Majja’ah menyuruh kaum wanita mengenakan baju besi dan berdiri di puncak benteng, seolah-olah pasukan yang siap tempur.

Panglima Khalid melihat ke atas benteng, ternyata masih banyak ‘pasukan’ yang siap melanjutkan pertempuran, seperti yang diberitakan Majja’ah. Akhirnya Khalid menerima usul gencatan senjata dan berdamai, serta menawarkan Islam kepada mereka. Ternyata, mereka menerima dan semua kembali kepada al-haq. Sebagian tawanan yang telah dikuasai kaum muslimin pun dikembalikan. Adapun sisanya, dikirim kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq di Madinah.

Dari salah seorang tawanan itu pula ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengambil seorang wanita yang kemudian melahirkan putranya Muhammad, yang dikenal dengan Muhammad ibnul Hanafiah. (insyaAllah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

—————————————————

  1. HR. al-Bukhari (4846) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  2. Tajul ‘Arus (6/310).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam Wafat

Jamaah haji yang mulia itu telah tiba di Madinah, namun bukan untuk beristirahat dan santai, melainkan melanjutkan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kapankah seorang mukmin dapat merasakan santai? Musuh-musuhnya, baik yang terlihat maupun tidak, setiap saat mengintai dan berusaha membinasakannya. Terlebih lagi junjungan kita, Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejak Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat beliau menjadi nabi dan rasul, kapankah beliau merasakan istirahat dan santai? Mata beliau terpejam dalam tidurnya, tetapi hatinya terjaga dan senantiasa menunggu wahyu yang datang.

Alangkah tepat untuk direnungkan pernyataan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah ini, “Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan rehat (ketenangan, kesantaian) seorang mukmin melainkan di dalam jannah (surga).”

Terlebih lagi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengatakan, “Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin.”

Artinya, perjuangan memang belum usai. Peperangan ini baru berhenti setelah al-haq kokoh di dalam hati seorang mukmin saat dia menghadap Rabbnya.
Diceritakan dalam Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi rahimahullah, dan beliau menukilnya dari putra al-Imam Ahmad yang bernama Saleh rahimahumullah, bahwa pada saat al-Imam Ahmad terbaring sakit yang membawa ajalnya, tiba-tiba al-Imam Ahmad menggerakkan tangannya memberi isyarat (seolah-olah mengatakan), “Tidak (belum).”

Ketika hal ini ditanyakan kepada al-Imam Ahmad, beliau mengatakan, “Iblis menampakkan diri kepadaku dan berkata, ‘Sekarang engkau selamat dariku, wahai Ahmad’.”
Aku pun menjawab, “Belum.”1

Demikianlah. Alangkah minimnya kesempatan bagi seorang mukmin ‘menikmati’ dunianya. Apalagi jika dia adalah seorang da’i yang mengajak manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Lebih-lebih lagi junjungan kita Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kasih sayangnya kepada umat manusia, mendorong beliau berusaha bagaimana caranya agar mereka selamat dari azab dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mahabenar Allah subhanahu wa ta’ala yang berfirman:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

Nun jauh di sana, di sebelah utara. Imperium Romawi dengan segenap keangkuhannya, mulai dihinggapi kekhawatiran melihat beberapa kerajaan kecil jajahan mereka sudah ada yang memeluk Islam. Mereka memandang bahwa hal ini akan membahayakan keutuhan dan kewibawaan Bizantium dengan “salib agung”-nya.

Akhirnya, mulailah mereka menyerang raja-raja kecil yang telah memeluk Islam itu, seperti yang mereka lakukan terhadap Farwah bin ‘Amr al-Judzami di Ma’an. Demi mengetahui kejahatan tersebut, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyiapkan pasukan besar untuk menghentikannya.

Senin, beberapa hari menjelang berakhirnya bulan Shafar tahun 11 H, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin agar bersiap-siap menyerang Romawi. Esok paginya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma agar membawa pasukan tersebut menuju tempat gugurnya Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu, ayah Usamah, lalu melintasi Balqa’ dan Darum, di Palestina.

Persiapan pasukan ini, terutama pengangkatan Usamah sebagai panglima perang, mulai mendapat sorotan dari sebagian kaum muslimin. Mengapa harus Usamah? Bukankah masih ada para sahabat senior yang ahli dan berpengalaman di medan tempur? Di sana ada Khalid bin al-Walid, Si Pedang Allah, ada Ikrimah bin Abi Jahl, keduanya adalah pahlawan pilih tanding dari Bani Makhzum. Ada pula Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan Muhajirin lain yang senior dan tangguh.
Usamah yang masih belia, baru berumur 18 atau 19 tahun, sudah diserahi tugas sebagai panglima perang? Itulah keputusan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Melihat para sahabat masih berlambat-lambat melepas pasukan Usamah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara di hadapan mereka, “Kalau kalian mengkritik kepemimpinan Usamah, sungguh kalian juga pernah mengkritik kepemimpinan ayahandanya sebelum ini. Demi Allah, ayahanda Usamah (Zaid bin Haritsah) memang pantas menjadi panglima, dan dia termasuk orang yang paling aku cintai. Sungguh, Usamah juga termasuk orang yang paling aku cintai sesudah ayahandanya.”2

Akhirnya, kaum muslimin bergabung dalam pasukan Usamah bin Zaid. Dalam keadaan menahan sakit, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar melepas pasukan Usamah.

Pasukan mulai bertolak meninggalkan kota Madinah dengan setengah hati karena mendengar berita sakitnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah berjalan beberapa mil dari Madinah, mereka pun singgah di Jurf sambil menanti-nanti berita tentang keadaan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanggal 28 atau 29 Shafar tahun 11 H, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masih sempat turut serta menyalatkan jenazah di Baqi’. Dalam perjalanan pulang, beliau mulai merasakan sakit kepala yang berat, demam yang tinggi.

Setiba di rumah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Duh, kepalaku (sakitnya)….”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali, “Bahkan akulah… kepalaku sangat sakit…”

Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Tidak rugilah engkau. Andaikata engkau meninggal dunia sebelumku, tentu aku akan memandikanmu, mengafanimu, dan menyalatkan jenazahmu.”

“Kalau begitu, demi Allah, pasti setelah itu engkau akan kembali berpengantinan dengan istri-istrimu yang lain,” kata ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Mendengar ini, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. Sejak itu, mulailah beliau merasakan sakit yang sangat berat.

Biasanya, secara bergiliran, istri-istri beliau yang tercinta selalu menjaga dan merawat beliau, jika beliau sakit. Sampai pada suatu ketika, sekitar sepekan sebelum wafat, beliau mulai bertanya-tanya, “Di mana saya besok? Di mana saya besok?” Beliau terlihat sangat antusias dirawat di rumah istri tercinta ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Para istri beliau yang lain pun mengizinkan beliau dirawat di rumah ‘Aisyah.
Ibunda ‘Aisyah menuturkan, “Setelah mereka mengizinkan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ditemani dua orang lelaki dari keluarganya, salah satunya adalah al-Fadhl bin ‘Abbas.”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan keluar perlahan-lahan berpegangan dengan dua sahabat tersebut dengan kepala yang dibelit sehelai kain untuk menahan sakit. Setelah berada di rumah ‘Aisyah, mulailah beliau terlihat tenang.

Beberapa kali Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sadarkan diri karena beratnya sakit yang beliau derita. Dua kali lebih berat dari yang dirasakan orang biasa. Itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas beliau.

Setelah siuman, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta dimandikan dengan air tujuh qirbah dari beberapa sumur. Kemudian, beliau keluar menuju mimbar menemui para sahabatnya.

Setelah memanjatkan puji-pujian untuk Allah subhanahu wa ta’ala, yang pertama beliau ucapkan adalah mendoakan dan memintakan ampunan buat para sahabat.
Setelah itu, beliau berkata, “Sesungguhnya, ada salah seorang di antara hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala, diberi pilihan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, apakah dia mau memilih dunia atau apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.”

Mendengar perkataan ini, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu tak dapat menahan isak tangisnya, sambil berlinang air mata, beliau berkata, “Kami tebus Anda dengan jiwa raga kami dan anak-anak kami, wahai Rasulullah!”
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum menanggapi, “Tenanglah, wahai Abu Bakr. Janganlah engkau menangis!”

Para sahabat yang lain terheran-heran mendengar perkataan Abu Bakr tadi. Ada apa dengan orang tua ini, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan seorang hamba, tetapi dia malah mengucapkan kata-kata seperti ini? Aneh. Bukankah sudah sewajarnya, seorang hamba yang mukmin lebih mencintai apa yang ada di sisi Allah?

Itulah Abu Bakr. Pengenalannya yang utuh terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya membuat hatinya demikian peka. Beliau paham bahwa hamba itu adalah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dan itu berarti Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala daripada berlama-lama hidup bersama mereka. Inilah yang menyedihkan Abu Bakr. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya dan para sahabat lainnya.

Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Tidak ada yang paling bermanfaat dalam persahabatan dan hartanya bagi saya selain Abu Bakr. Sungguh, saya berlepas diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengambil khalil dari kalangan kalian. Karena sesungguhnya, Allah telah menjadikan saya sebagai khalil. Seandainya saya mau mengambil kekasih yang sangat disayang (khalil) dari kalangan manusia, pasti aku jadikan Abu Bakr sebagai khalil. Akan tetapi, dia adalah saudara saya seiman dan sahabat saya. Tidak boleh ada celah atau pintu yang tersisa selain pintu Abu Bakr.”

“Wahai manusia,” lanjut beliau, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian terbiasa menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (tempat beribadah), maka janganlah kalian menjadikan kuburan itu sebagai masjid. Sungguh, saya melarang kalian melakukannya.”

Larangan ini, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam ulangi lagi pada saat beliau menghadapi maut. Setelah menyingkap kain yang menutup wajahnya yang mulia, beliau bersabda, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, (karena) mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.”3

“Siapa yang selama ini pernah saya cambuk punggungnya, maka inilah punggung saya. Silakan membalas! Dan siapa yang dulu pernah saya nodai kehormatannya, maka inilah kehormatan saya. Silakan membalas!”

Setelah itu, beliau turun dari mimbar, shalat zhuhur, dan kembali duduk di mimbar mengulang perkataannya tadi. Tiba-tiba seorang sahabat berkata, “Anda masih punya utang kepada saya tiga dirham.”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam segera berkata, “Lunasilah, wahai Fadhl!”

Kemudian, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan tentang orang-orang Anshar, “Saya ingatkan kalian tentang kaum Anshar. Mereka adalah tempat saya menyimpan rahasia dan mereka telah menunaikan kewajiban mereka, sementara hak mereka belum mereka peroleh. Oleh karena itu, terimalah dari orang-orang yang baik di kalangan mereka dan maafkanlah yang salah di antara mereka.”
Dalam riwayat lain, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Orang-orang bertambah banyak, sementara kaum Anshar semakin sedikit jumlahnya, seperti garam dalam makanan. Oleh sebab itu, siapa yang diangkat menjadi penguasa di antara kalian, hendaklah menerima dari orang yang baik di kalangan Anshar dan memaafkan yang salah di antara mereka.”

Setelah itu, beliau kembali ke rumah dengan rasa sakit memuncak.
Sejak saat itu, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak sanggup keluar untuk shalat berjamaah. Sementara itu, para sahabat menunggu-nunggu, mungkin mereka masih menikmati suara Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Kalam Ilahi, mengimami mereka.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah kaum muslimin sudah shalat?”

“Belum, ya Rasulullah. Mereka menunggu Anda,” kata ‘Aisyah.

“Ambilkan air untukku,” kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah air itu diberikan kepada beliau, beliau pun mandi. Tetapi, beliau kembali tidak sadarkan diri. Akhirnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar Abu Bakr menjadi imam.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Umar saja. Jangan Abu Bakr, karena dia terlalu perasa, gampang menangis. Bisa jadi, dia tidak sanggup mengimami kaum muslimin.”
Kemudian ibunda ‘Aisyah meminta Hafshah radhiallahu ‘anha agar memanggil ‘Umar menjadi imam. Tetapi, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka dan tetap menyuruh agar Abu Bakr menjadi imam. Akhirnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang dan berkata, “Kalian seperti perempuan di zaman Nabi Yusuf, pergilah!”

Hafshah berkata kepada ‘Aisyah, “Belum pernah saya mendapatkan yang baik darimu.”

Sejak saat itu para sahabat meminta Abu Bakr agar menjadi imam shalat mereka. Ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa agak ringan, beliau keluar sambil dipapah dua orang kerabatnya, lalu duduk di sebelah kiri Abu Bakr. Melihat hal ini, Abu Bakr mundur. Tetapi Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat agar Abu Bakr tetap di tempatnya.

Akhirnya, Abu Bakr shalat mengikuti shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan para sahabat tetap berimam kepada Abu Bakr.4

Para sahabat tidak menduga apa-apa ketika Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tersenyum membuka tabir rumahnya, memandang ke arah mereka yang sedang shalat shubuh. Abu Bakr pun mundur, mengira Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar mengimami mereka. Bahkan, para sahabat hampir memutus shalat mereka karena gembira melihat keadaan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulai membaik.

Namun, itu tak lama. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kembali ke rumah dan menutupkan tirainya.

Ketika matahari mulai sepenggalan, Fathimah datang menjenguk. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut dengan gembira sebagaimana biasa, lalu berbisik. Tiba-tiba Fathimah radhiallahu ‘anha menangis. Setelah itu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik sekali lagi, dan Fathimah tertawa.
Akan tetapi, kesedihan tetap menggayut di wajah Fathimah, melihat penderitaan ayahandanya. “Duhai, ayahanda. Alangkah beratnya penderitaanmu.”

“Tidak ada lagi penderitaan bagi ayahmu sesudah hari ini,” kata beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam.5

Sambil menudingkan tangan ke langit, beliau berkata, “Bersama teman yang tertinggi.”

Pada saat seperti itu, masuklah Abdurrahman bin ‘Abu Bakr sambil bersiwak. Pandangan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam terpaku pada siwak yang di tangannya. ‘Aisyah segera bertanya, “Saya ambilkan untukmu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat, “Ya.”

‘Aisyah meminta siwak itu dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sambil tetap bersandar di pangkuan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosok mulutnya dengan siwak yang sudah dilembutkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Kejadian ini tidak pernah lekang dari ingatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Air liurnya bercampur dengan liur Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat-saat perjalanan terakhir Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan dunia, dan awal perjalanan menuju akhirat. Terlebih lagi, Allah subhanahu wa ta’ala mengambil ruh Khalil-Nya yang paling mulia di atas pangkuan ‘Aisyah, dalam pelukan beliau radhiallahu ‘anha.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mencelupkan tangannya ke dalam air yang ada di hadapannya. Kemudian beliau mengusapkan air itu ke wajahnya sambil berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. Sungguh, kematian itu ada rasa sakitnya.”6

Setelah itu beliau mengangkat tangannya dan berkata, “Bersama teman yang tertinggi.” Kalimat ini beliau ulang-ulang sampai beliau mengembuskan nafas yang terakhir. Ucapan ini menunjukkan betapa rindunya beliau bertemu dengan Kekasihnya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Tangan yang mulia itu pun terkulai. Ruh suci itu telah kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Fathimah radhiallahu ‘anha yang turut melepas keberangkatan ayahanda tercinta tak dapat membendung tangisnya. Sambil berurai air mata, beliau radhiallahu ‘anha berseru lirih, “Duhai Ayahanda, kepada Jibril kusampaikan berita duka ini. Duhai Ayahanda, alangkah dekatnya kepada Rabbnya. Duhai Ayahanda, surga Firdaus tempat kembalinya. Duhai Ayahanda, dia sambut panggilan Rabbnya.”7

Senin, di bulan Rabi’ul Awwal tahun 11 H, Manusia Agung telah pergi. Mewariskan landasan hidup yang kekal abadi, bagi para pencari kebahagiaan yang sejati.

Tangis pun meledak. Hujan air mata di kamar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Tak ada ratapan, dan tak ada kata yang terucap selain yang diserukan Fathimah radhiallahu ‘anha. Semua yang ada di dalam rumah itu tak kuasa menahan duka. Bagaimana mungkin? Tidak ada musibah yang lebih hebat daripada kehilangan kekasih yang sangat dicintai. Oleh sebab itu, menangislah wahai kaum muslimin, wahai umat Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, ingatlah, musibah di atas musibah, adalah jika kita tidak bertemu juga dengan beliau di telaga al-Haudh. Tidak pula menjadi tetangga beliau di dalam jannah (surga). Na’udzu billah min dzalik.

Gelap. Kota Madinah seakan gelap gulita. Kekasih mulia telah pergi memenuhi janji bertemu Rabbnya di tempat yang tertinggi. Mimbar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan turut merasakan kesedihan yang melanda para sahabat.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih indah dan cerah dibandingkan ketika masuknya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Madinah. Dan (sekarang) aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih buruk dan pekat dibandingkan saat wafatnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.”8

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, wahai junjungan! Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalasimu dengan kebaikan atas jasamu terhadap umatmu. Shalawat dan salam semoga senantiasa Dia limpahkan atasmu, keluarga, dan para sahabatmu, serta orang-orang yang mengikutimu dengan baik hingga hari pembalasan.

(Insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Catatan Kaki:

1 Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi (1/81). Kata beliau, “Al-Imam Ahmad mempunyai salaf (pendahulu) yang benar dalam masalah ini.” Diriwayatkan yang seperti itu juga dari Atha’ bin Yasar rahimahullah.

2 HR. al-Bukhari (2/612).

3 HR. al-Bukhari (1/408) dan Muslim (1/376).

4 HR. Ibnu Majah (1/389), disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani.

5 HR. al-Bukhari (2/641).

6 HR. al-Bukhari (2/640).

7 HR. Ibnu Majah (1630), disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani.

8 HR. At-Tirmidzi (5/588).

 

Tahun Perutusan

 (Bagian ke-1)

Keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan ‘usrah (kesulitan) beberapa malam di Tabuk tanpa ada upaya pihak Romawi melakukan penyerangan walau sekecil apa pun, telah menaikkan pamor kaum muslimin di mata bangsa Arab ketika itu. Bagi bangsa Arab, hal ini merupakan puncak kekuatan kaum muslimin, karena berani menyambut tantangan bangsa “adidaya” Romawi yang sebelumnya mengancam hendak menyerang Madinah. Lanjutkan membaca Tahun Perutusan

Perang Bani Nadhir

Sejak jaman dahulu, bangsa Yahudi memang dikenal sebagai ahli makar. Pembunuhan terhadap para Nabi dan kekejian lainnya tidak lepas dari tangan-tangan mereka. Berbagai peperangan yang muncul di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lahir dari persekongkolan jahat mereka. Salah satunya adalah Peperangan Bani Nadhir.

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, sudah ada tiga kabilah besar bangsa Yahudi yang menetap di negeri tersebut. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Masing-masing kabilah ini mempunyai sekutu dari kalangan penduduk asli Madinah yaitu Aus dan Khazraj. Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj, sedangkan Bani Quraizhah menjadi sekutu Aus.

Setiap kali terjadi peperangan di antara mereka dengan sekutu masing-masing, orang-orang Yahudi mengancam kaum musyrikin (Aus dan Khazraj) ketika itu dengan mengatakan: “Sudah tiba masanya kedatangan nabi kami. Dan kami akan memerangi kalian seperti memerangi ‘Ad dan Iram.”

Ketika muncul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan Quraisy, berimanlah Aus dan Khazraj. Sementara orang-orang Yahudi justru kafir kepada beliau. Tentang merekalah turunnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩

“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur`an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, namun setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

Bani Nadhir adalah salah satu kabilah terbesar bangsa Yahudi yang bermukim di sebelah selatan Madinah sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka pun kafir kepada beliau bersama orang-orang kafir Yahudi lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengadakan ikatan perjanjian dengan seluruh golongan Yahudi yang menjadi tetangga beliau di Madinah.

Sebab-sebab Terjadinya Peperangan

Ketika perang Badr usai, enam bulan setelah peristiwa besar tersebut[1], Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui dan meminta mereka agar membantu beliau dalam urusan diyat (tebusan) orang-orang Bani Kilab yang dibunuh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari. Merekapun berkata: “Kami akan bantu, wahai Abul Qasim (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,red.). Duduklah di sini sampai kami selesaikan keperluanmu!”

Kemudian sebagian mereka memencilkan diri dari yang lain. Lalu setan membisikkan kepada mereka ‘kehinaan’ yang telah ditakdirkan atas mereka. (Dengan bisikan itu) mereka mencoba melakukan intrik keji untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata: “Siapa di antara kalian yang memegang penggilingan ini, lalu naik ke loteng dan melemparkannya ke kepalanya sampai remuk?”

Orang paling celaka dari mereka, ‘Amr bin Jihasy, berkata: “Aku.”

Namun Sallam bin Misykam berkata kepada mereka: “Jangan lakukan. Demi Allah, pasti Dia akan membongkar apa yang kalian rencanakan terhadapnya. Sungguh, ini artinya melanggar perjanjian antara kita dengannya.”

Lalu datanglah Jibril menceritakan persekongkolan busuk mereka. Beliaupun bangkit dengan cepat dan segera menuju ke Madinah. Para shahabatpun menyusul beliau dan berkata: “Anda bangkit tanpa kami sadari?” Beliau pun menceritakan rencana keji orang-orang Yahudi itu atas beliau.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan kepada mereka untuk memerintahkan: “Keluarlah kalian dari Madinah dan jangan bertetangga denganku di sini. Aku beri waktu sepuluh hari. Siapa yang masih kedapatan di Madinah setelah hari itu, tentu aku tebas lehernya.”

Akhirnya mereka mempersiapkan diri selama beberapa hari. Datanglah kepada mereka gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, sembari mengatakan: “Janganlah kalian keluar dari rumah kalian. Karena saat ini aku memiliki sekitar duaribu pasukan yang siap bertahan bersama di benteng kalian ini. Mereka siap mati membela kalian. Bahkan Bani Quraizhah serta para sekutu kalian dari Ghathafan tentu akan membela kalian.”

Akhirnya Huyai bin Akhthab (pemimpin Bani Nadhir,-red.) tergiur dengan bujukan ini dan mengutus seseorang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengatakan: “Kami tidak akan keluar dari kampung (rumah-rumah) kami. Berbuatlah sesukamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat bertakbir, lalu berangkat menuju perkampungan mereka. Saat itu, ‘Ali bin Abi Thalib lah yang membawa bendera beliau.

Merekapun mengepung benteng Yahudi ini dan melemparinya dengan panah dan batu. Ternyata Bani Quraizhah meninggalkan Bani Nadhir. Bahkan sekutu mereka, Ibnu Ubay dan Ghathafan juga mengkhianati mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka selama enam hari. Beliau menebang pokok-pokok (pohon) kurma milik mereka dan membakarnya.

Kemudian orang-orang Yahudi itu mengutus seseorang untuk memohon: “Kami akan keluar dari Madinah.” Beliau akhirnya memperkenankan mereka keluar dari kota itu dengan hanya membawa anak-cucu mereka serta barang-barang yang dapat diangkut seekor unta kecuali senjata. Dari sinilah kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat memperoleh harta dan senjata.

Seperlima bagian dari rampasan perang Bani Nadhir ini tidak dibagikan, dikhususkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengganti beliau (para pemimpin, khalifah,-pent.) demi kepentingan kaum muslimin. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikannya kepada beliau sebagai fai’, tanpa kaum muslimin mengerahkan seekor kuda ataupun unta untuk mendapatkannya.

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka termasuk pembesar mereka, Huyai bin Akhthab, ke wilayah Khaibar. Beliau menguasai tanah dan rumah-rumah berikut senjata. Ketika itu diperoleh sekitar 50 perisai, 50 buah topi baja, dan 340 bilah pedang. Inilah kisah mereka yang diuraikan oleh sejumlah ahli sejarah.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan tentang hal ini:

Dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu, katanya: “Harta Bani Nadhir merupakan harta fai’ yang Allah berikan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa kaum muslimin mengerahkan kuda dan unta untuk memperolehnya. Harta itu milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus. Beliau menginfakkannya untuk keluarganya sebagai nafkah selama setahun, kemudian sisanya berupa senjata dan tanah sebagai persiapan bekal (jihad) di jalan Allah.”

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini

Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah subhanahu wa ta’ala turunkan awal surat al-Hasyr (1-5) dan ditegaskan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Al-Maghazi dan Tafsir Al-Qur`an) dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma:

Dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Surat al-Hasyr.’ Kata beliau: “Katakanlah: ‘Surat an-Nadhir’.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ مِن دِيَٰرِهِمۡ لِأَوَّلِ ٱلۡحَشۡرِۚ مَا ظَنَنتُمۡ أَن يَخۡرُجُواْۖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ٢ وَلَوۡلَآ أَن كَتَبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡجَلَآءَ لَعَذَّبَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابُ ٱلنَّارِ ٣ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٤ مَا قَطَعۡتُم مِّن لِّينَةٍ أَوۡ تَرَكۡتُمُوهَا قَآئِمَةً عَلَىٰٓ أُصُولِهَا فَبِإِذۡنِ ٱللَّهِ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama kali. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah benamkan rasa takut ke dalam hati mereka; mereka musnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (peristiwa itu) sebagai pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan makna ayat ini dalam tafsirnya sebagai berikut:

Allah subhanahu wa ta’ala mengawali surat ini dengan penjelasan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih memuji Rabbnya, mensucikan-Nya dari semua perkara yang tidak sesuai dengan kemuliaan-Nya, menghambakan diri dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi-Nya serta tidak ada sesuatupun yang sulit bagi-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mempunyai hikmah, dalam penciptaan dan perintah-Nya. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Dan Dia tidak menetapkan syariat yang tidak mengandung kemaslahatan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak berbuat kecuali sesuai dengan hikmah-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas orang-orang kafir ahli kitab dari Bani Nadhir yang melanggar perjanjian dengan Rasul-Nya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala keluarkan mereka dari rumah dan tempat tinggal yang mereka cintai.

Pengusiran mereka ini merupakan pengusiran pertama yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala atas mereka melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka diusir hingga ke Khaibar.

Ayat yang mulia ini memberi isyarat bahwa pengusiran mereka tidak hanya terjadi dalam peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka sekali lagi dari Khaibar. Juga di masa pemerintahan ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang mengeluarkan seluruh Yahudi dari jazirah Arab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: مَا ظَنَنتُمۡ  (Kamu tiada menyangka), wahai kaum muslimin.

Dan firman Allah: أَن يَخۡرُجُواْۖ    (bahwa mereka akan keluar).

Yakni, keluar dari rumah mereka karena kuatnya benteng pertahanan mereka dan mereka merasa mulia di dalamnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala: وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ

(dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah subhanahu wa ta’ala).

Artinya, kokohnya pertahanan mereka ini membuat mereka bangga. Namun hal ini justru memperdaya mereka. Mereka merasa tidak akan mungkin bisa dikalahkan dan tidak ada satupun yang sanggup menghadapi mereka. Padahal kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala ada di balik itu semua. Benteng mereka sama sekali tidak dapat melepaskan diri mereka dari adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kekuatan pertahanan mereka sedikitpun tidak berguna bagi mereka.

Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ

(maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka).

Tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka bahwa mereka akan didatangi dari arah tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ

(Dan Allah benamkan ketakutan ke dalam hati mereka).

Yaitu rasa takut yang sangat hebat. Rasa takut ini merupakan tentara Allah subhanahu wa ta’ala paling besar, yang tidak mungkin dilawan dengan jumlah dan persenjataan sebesar apapun. Tidak mungkin dihadapi oleh kekuatan dan kehebatan yang bagaimana-pun.

Kalaupun kekalahan menimpa mereka dari arah tertentu, mereka beranggapan bahwa itu tidak lain karena benteng pertahanan mereka. Mereka merasa tenteram dengan kekokohannya. Padahal, siapa yang mempercayakan sepenuhnya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, dia pasti akan terhina. Dan siapa yang bersandar kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala pasti hal itu menjadi bencana atasnya.

Maka datanglah ketetapan dari langit yang menerpa hati sanubari mereka yang sebenarnya merupakan lahan keteguhan dan kesabaran atau kelemahan. Allah subhanahu wa ta’ala lenyapkan kekuatan dan kekokohan hati itu, dan membiarkan kelemahan serta ketakutan bertahta di dalamnya. Alhasil, tidak ada lagi tipu daya serta kekuatannya. Dan keadaan ini justru menjadi kemenangan kaum mukminin atas mereka.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

(mereka musnahkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman).

Semua itu karena mereka pernah mengadakan kesepakatan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka boleh membawa barang-barang yang dapat diangkut seekor unta. Karena itulah mereka menghancurkan atap-atap rumah yang masih mereka anggap baik. Mereka berikan keleluasaan bagi kaum mukminin –akibat kejahatan mereka sendiri– untuk menghancurkan rumah dan benteng-benteng mereka. Dengan demikian, sesungguhnya mereka sendirilah yang berbuat jahat terhadap diri mereka. Jadilah mereka sendiri yang mempunyai andil besar dalam kekalahan dan kehinaan tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ

(Maka ambillah (peristiwa itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan).

Artinya, bashirah yang tajam, akal yang sempurna. Karena sesungguhnya di dalam kejadian ini terdapat pelajaran yang membantu mengenal bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala bertindak terhadap orang-orang yang keras kepala dan menentang kebenaran (al-Haq), serta mengikuti hawa nafsunya. Kemuliaan mereka tidak lagi berguna. Kekuatan mereka pun tidak mampu menolong mereka. Bahkan benteng mereka tidak dapat melindungi mereka sedikitpun ketika keputusan Allah subhanahu wa ta’ala datang kepada mereka. Hukuman atas dosa-dosa mereka pun menimpa mereka.

Pelajaran (hukum) yang diambil berdasarkan keumuman lafadz suatu nash (ayat atau hadits) bukan berdasarkan sebab yang khusus. Sehingga, dapat dipahami bahwa ayat yang mulia ini merupakan alasan (dalil) adanya perintah untuk melakukan i’tibar (perbandingan, mengambil pelajaran). Termasuk di sini menilai suatu hal dengan hal yang semisal dengannya, atau menganalogikan (kias) suatu perkara dengan yang menyerupainya. Juga merenungkan makna dan hukum yang terdapat di dalam ketetapan-ketetapan tersebut. Di sinilah letak peranan akal dan pikiran. Melalui hal ini, pemahaman akan semakin bertambah, bashirah semakin terang, dan iman juga semakin meningkat. Selanjutnya, pemahaman yang hakikipun akan dapat diperoleh.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa orang-orang Yahudi ini tidaklah merasakan semua hukuman yang pantas mereka terima. Artinya, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi keringanan bagi mereka.

Seandainya bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan pengusiran terhadap mereka dan menentukan takdir yang sama sekali tidak dapat diganti dan berubah, tentulah ada perkara lain berupa adzab dunia yang akan mereka rasakan. Akan tetapi mereka –meskipun tidak mengalami adzab yang berat di dunia– sesungguhnya mereka di akhirat telah disediakan adzab neraka yang tidak satupun mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa hukuman mereka telah selesai dan tidak ada lagi yang tersisa. Karena siksaan yang Allah subhanahu wa ta’ala sediakan bagi mereka di akhirat jauh lebih berat dan lebih mengerikan. Semua ini karena mereka telah menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka memusuhi dan memerangi Allah subhanahu wa ta’ala serta Rasul-Nya. Bahkan bersegera dalam mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Demikianlah sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala) terhadap orang-orang yang menentang-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

(Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya).

Artinya, tatkala orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin yang menebang pohon-pohon kurma, bahkan menuduh mereka berbuat kerusakan, mereka merasa mendapat celah untuk mengecam kaum muslimin. Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa penebangan pohon-pohon kurma ataupun membiarkannya tetap tumbuh adalah dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala dan perintah-Nya. Juga:

وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

(dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik).

Artinya, di sini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekuasaan kepada kaum mukminin untuk menebang dan membakar pohon-pohon tersebut agar menjadi hukuman dan kehinaan bagi mereka di dunia. Kemudian, dengan tindakan ini dapat diketahui betapa lengkapnya kelemahan mereka, di mana sama sekali tidak mampu menyelamatkan pohon-pohon kurma yang merupakan modal kekuatan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لِّينَةٍ

adalah kata yang meliputi semua pohon kurma, menurut pendapat yang paling tepat dan lebih utama.

Inilah keadaan Bani Nadhir. Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghukum mereka di dunia, kemudian menerangkan tentang kepada siapa jatuhnya semua harta benda dan kekayaan mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(Dan apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (berupa harta benda) mereka), yakni dari Bani Nadhir.

Sesungguhnya kalian –wahai kaum muslimin– untuk mendapatkan itu sama sekali:  (kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun).

Maksudnya, kalian wahai muslimin, sama sekali tidak harus bersusah payah memperolehnya, dengan mengerahkan jiwa raga dan kendaraan kalian. Allah subhanahu wa ta’ala telah melemparkan rasa takut yang sangat hebat ke dalam hati mereka, hingga akhirnya mereka datang menyerah kepada kalian. Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Akan tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sebagai kesempurnaan kodrat-Nya, tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya dan tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkan-Nya.

Al-Fai’ menurut istilah para ulama ahli fiqih adalah harta orang-orang kafir yang diambil dengan alasan yang haq (benar) tanpa melalui pertempuran. Seperti harta (Bani Nadhir ) ini, di mana mereka lari dan meninggalkannya karena takut kepada kaum muslimin. Harta ini dinamakan fai’, karena harta ini berpindah dari tangan orang-orang kafir yang tidak berhak, kepada kaum muslimin yang lebih berhak dan hukumnya berlaku secara umum.

Wallahu a’lam. (insya Allah bersambung: Perang Dzatu Riqa)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib

[1] Ini berdasarkan keterangan Ibnu Syihab Az-Zuhri dan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah yang menyatakan bahwa perang Bani Nadhir ini terjadi 6 bulan sesudah perang Badr Al-Kubra. Dan ini adalah kekeliruan Az-Zuhri, atau kesalahan orang yang menukil dari beliau. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/249) menerangkan: “Tidak ragu lagi bahwa peristiwa ini terjadi setelah perang Uhud. Adapun yang terjadi setelah perang Badr adalah perang Bani Qainuqa’. Jadi, peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melawan Yahudi terjadi empat kali. Yang pertama dengan Bani Qainuqa’ yaitu setelah perang Badr, yang kedua dengan Bani Nadhir setelah perang Uhud, yang ketiga dengan Bani Quraizhah setelah peristiwa Khandaq, dan keempat dengan Yahudi Khaibar setelah peristiwa Hudaibiyah. Wallahu a’lam.

 

Perang Uhud (2): Kekalahan Akibat Kelalaian

        Kemenangan yang sudah berada di depan mata, dalam sekejap berubah menjadi kekalahan. Inilah keadaan kaum muslimin dalam Perang Uhud. Kemenangan yang sudah hampir diraih berubah menjadi kekalahan karena pasukan pemanah yang ditempatkan di atas Bukit Uhud tidak mematuhi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akibat kelalaian ini, pasukan musyrikin berkesempatan memukul balik pasukan muslimin.

  Lanjutkan membaca Perang Uhud (2): Kekalahan Akibat Kelalaian