Lawan Hawa Nafsumu, Kenali Sumber Keyakinanmu!

Al-Ustadz Qomar Suaidi

10 Bahan Renungan

Renungan Kedelapan: Lawan Hawa Nafsumu

Seseorang semestinya melakukan hal yang bertentangan dengan hawa nafsunya dalam hal yang hawa nafsunya jelas salah. Ia tidak boleh memberinya toleransi dalam hal meninggalkan yang wajib, atau yang mendekatkannya untuk meninggalkan yang wajib, demikian pula dalam hal melakukan maksiat, atau mendekatkan kepada maksiat, demikian pula dalam menerjang perkara yang syubhat.

Setelah itu, hendaknya ia melatih jiwanya untuk selalu kokoh di atas kebenaran dan tunduk kepadanya. Hendaknya ia juga menekankan hal tersebut. Dengan demikian, sikap selalu tunduk kepada kebenaran dan menyelisihi hawa nafsu akan menjadi kebiasaannya.

 

Renungan Kesembilan: Kenali Sumber Keyakinanmu

Berusahalah membedakan antara sumber hujah (keterangan yang pasti benar) dan sumber syubhat (yakni segala sesuatu yang tidak jelas kebenarannya. Sumber hujah yang dimaksud adalah fitrah yang masih suci dan syariat, sedangkan sumber syubhat adalah selain itu).

Apabila seseorang sudah menyadari dengan sempurna perbedaan dua sumber tersebut, jalan akan mudah baginya. Sebab, tidaklah datang kepadanya sesuatu pun yang berasal dari sumber yang benar selain kebenaran juga. Jadi, kalau memang menginginkan kebenaran dan puas dengannya, ia tidak perlu mengelak sedikit pun dari segala yang datang dari sumber kebenaran tersebut. Ia pun tidak perlu sama sekali mendekat kepada segala sesuatu yang datang dari sumber syubhat.

Akan tetapi, ahli bid’ah berusaha menyamarkan dan mengaburkan kebenaran. Maka dari itu, yang wajib dilakukan oleh seseorang yang menginginkan kebenaran ialah tidak melihat sesuatu yang datang kepadanya dari sumber kebenaran dengan kacamata ahli bid’ah yang berwarna warni. Ia seharusnya melihatnya sebagaimana halnya pemeluk kebenaran memandangnya (secara langsung).

Wallahu a’lam.

Ibadah yang Paling Utama

 

kabah

Dalam hal memandang amalan ibadah yang paling afdal, paling bermanfaat, dan paling tepat untuk diprioritaskan oleh seorang hamba, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan pandangan tersebut dalam kitab Madarij as-Salikin dan menguatkan salah satunya. Pendapat yang dipilih oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ini juga disebutkan oleh al- Imam al-Miqrizi dalam kitab beliau, Tajrid at-Tauhid al-Mufid. Berikut ringkasan yang mereka berdua sampaikan dengan sedikit perubahan dari kami sebagai penjelasan makna. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ibadah yang paling afdal ialah beramal sesuai dengan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala di setiap waktu, dengan amalan yang paling dituntut dan paling sesuai dengan kondisi saat itu.

Ibadah yang paling afdal saat dikumandangkan seruan jihad ialah memenuhinya dan berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta, walaupun membuatnya terhalangi mengerjakan shalat malam dan puasa yang biasa dia lakukan. Bahkan, walaupun hal ini membuatnya terhalang dari menyempurnakan rukun-rukun shalat wajib.

Contoh lain, saat seorang tamu datang, maka ibadah yang paling afdal adalah menyambut dan melayaninya, walaupun hal ini menyibukkannya dari mengerjakan ibadah-ibadah sunnah yang lain.

Ibadah yang paling afdal di sepertiga malam terakhir adalah menyibukkan diri dengan shalat, membaca al-Qur’an, berzikir, beristighfar, dan memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang paling afdal saat ada orang yang membutuhkan pengarahan tentang masalah agama dari Anda adalah memfokuskan diri untuk membimbing dan mengajarkan ilmu kepadanya.

Ibadah yang paling afdal saat datangnya waktu shalat fardhu lima waktu adalah bersemangat dan bersungguhsungguh mengerjakannya sesempurna mungkin, bersegera mengerjakannya di awal waktu, keluar menuju masjid untuk mengerjakannya secara berjamaah. Semakin jauh masjid yang dituju, maka semakin afdal.

Ibadah yang paling afdal saat ada orang yang membutuhkan bantuan adalah membantunya semaksimal mungkin dengan tenaga, harta, atau kedudukan. Anda memfokuskan kegiatan untuk mencurahkan bantuan dan lebih memprioritaskan hal itu daripada amalan sunnah yang lain.

Ketika sedang membaca al-Qur’an, yang paling afdal adalah memusatkan hati dan pikiran untuk mentadabburi dan memahami kandungan maknanya hingga seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang langsung berfirman kepada Anda dengan al-Qur’an tersebut. Anda pusatkan hati dan pikiran untuk mentadabburi dan memahami maknanya serta membulatkan tekad untuk melaksanakan perintah yang ada di dalamnya. Anda lakukan semua itu melebihi seorang yang sedang memusatkan hati dan pikirannya ketika sedang membaca surat perintah dari seorang kepala negara.

Saat wukuf di padang Arafah, ibadah yang paling afdal adalah bersungguh-sungguh merendah, berdoa, dan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini lebih utama daripada berpuasa yang menyebabkan diri lemah untuk berdoa dan berzikir pada hari itu.

Pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang paling afdal adalah memperbanyak ibadah, terkhusus bertakbir, bertahlil, dan bertahmid. Ini semua lebih afdal pada hari itu daripada berjihad yang bukan wajib ‘ain.

Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yang paling afdal adalah menetap di masjid, menyendiri beribadah, dan beriktikaf. Ini semua lebih baik daripada berbaur dan bercengkerama bersama manusia pada saat itu. Bahkan, hal ini lebih afdal daripada menyampaikan ilmu agama dan mengajarkan al-Qur’an pada sepuluh hari tersebut, menurut pendapat jumhur ulama.

Ibadah yang paling afdal saat ada saudara muslim tertimpa sakit atau meninggal adalah menjenguk atau melayat dan mengantarkan jenazahnya. Ini hendaknya lebih diprioritaskan daripada Anda berkonsentrasi beribadah seorang diri.

Ibadah yang paling afdal saat Anda ditimpa ujian dan gangguan dari manusia adalah melaksanakan kewajiban bersabar atas gangguan mereka. Anda tetap berbaur dan tidak lari meninggalkan mereka. Sebab, seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih afdal daripada seorang mukmin yang tidak mengalami ujian berupa gangguan dari manusia.

Berbaur dengan manusia dalam urusan kebaikan lebih afdal daripada mengasingkan diri dari mereka. Mengasingkan diri dari manusia dalam urusan kejelekan lebih afdal daripada berbaur dengan mereka saat itu. Akan tetapi, apabila dia tahu bahwa jika berbaur dengan mereka dirinya mampu menghilangkan kejelekan tersebut atau meminimalkannya, berbaur dengan mereka lebih afdal.

Ibadah yang paling afdal di setiap waktu dan kondisi adalah memprioritaskan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala pada setiap waktu dan kondisi tersebut. Anda menyibukkan diri dengan kewajiban yang dituntut untuk dilaksanakan pada waktu tersebut, melaksanakan tugas dan keharusan yang sesuai dengan waktu serta kondisi.

Mereka inilah hamba-hamba yang bebas dan fleksibel, sedangkan selain mereka adalah hamba yang kaku dan terikat; hamba yang fleksibel dan tidak terikat dengan suatu ibadah tertentu. Kesibukan utamanya hanyalah mencari keridhaan Rabbnya, di manapun keridhaan-Nya berada. Di situlah poros peredaran ibadah mereka, mencari ridha Rabb semata.

Dia terus-menerus berpindah dari satu amalan ibadah ke amalan ibadah lainnya. Setiap tampak baginya tingkatan ibadah yang paling afdal, dia segera menyibukkan diri untuk mengamalkannya hingga tampak baginya tingkatan lain yang lebih afdal untuk dikerjakan saat itu. Demikianlah kegiatan kesehariannya hingga akhir perjalanan hidupnya.

Jika memerhatikan orang-orang yang ilmu keagamaannya mendalam, Anda akan melihat dirinya bersama mereka.

Ketika memerhatikan orang-orang yang gemar beribadah, Anda akan melihat dirinya bersama mereka pula.

Ketika memerhatikan pasukan mujahidin, Anda pun akan melihatnya di antara mereka.

Saat memerhatikan orang-orang yang gemar berzikir, Anda juga akan melihatnya bersama mereka.

Jika memerhatikan orang-orang yang gemar bersedekah dan berbuat baik, Anda melihatnya lagi di tengah-tengah mereka.

Jika memerhatikan orang-orang yang selalu memusatkan hatinya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, Anda pun akan melihatnya bersama mereka.

Setiap orang yang baik akan merasa nyaman jika dia ada. Sebaliknya, orang yang jelek akan merasa sesak dengan keberadaannya.

Dia bagaikan hujan, di manapun singgah akan memberikan manfaat.

Bagaikan pohon kurma, seluruh bagian dirinya bermanfaat hingga durinya.

Dia begitu keras terhadap setiap orang yang menyelisihi perintah Allah subhanahu wa ta’ala, begitu marah ketika larangan Allah subhanahu wa ta’ala dilanggar.

Dia mempersembahkan amalannya hanya untuk Allah, dengan selalu meminta pertolongan kepada-Nya dan senantiasa membela agama-Nya.

Dia bermuamalah dengan Allah subhanahu wa ta’ala tanpa memedulikan pujian dan cercaan manusia.

Dia bermuamalah dengan manusia tanpa menghiraukan kepentingan pribadinya. (Madarij as-Salikin, hlm. 58, dan Tajrid at-Tauhid al-Mufid, hlm. 84)

Subhanallah, betapa menakjubkan keadaan hamba yang seperti ini. Sampai-sampai, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah melabeli hamba yang seperti ini sebagai hamba yang telah menegakkan kalimat,

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

dengan sebenar-benarnya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita semua untuk meraih keridhaan-Nya di setiap waktu yang kita lalui. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Merenungi Akibat Amal Saleh dan Akibat Maksiat (7)

 

Jurang

Renungan Ketujuh

Tak jarang, seseorang berpikir pendek ketika akan melakukan suatu perbuatan. Apalagi terdorong hawa nafsu, seolah ia menjadi buta karenanya. Yang penting tujuannya tersampaikan, meski kenikmatan sesaat. Ternyata perbuatan itu berbuntut panjang, penderitaan, kegelisahan, dan tanggung jawab di dunia ataupun akhirat.

Asy-Syaikh Abdurahman al-Mu’allimi mengatakan, “Seseorang hendaknya merenungi apa yang menjadi harapan bagi orang yang lebih mengutamakan kebenaran, yaitu keridhaan Rabb sekalian alam, bantuan-Nya yang bagus di dunia, dan kemenangan yang langgeng di akhirat.

Selain itu, renungi apa yang bakal diperoleh oleh seorang pengekor hawa nafsu, yaitu kemurkaan Allah ‘azza wa jalla, dan kemarahan-Nya di dunia, serta azab yang pedih di akhirat.”

Apakah orang yang berakal akan ridha dirinya membeli kelezatan mengikuti hawa nafsunya dengan (membayarkan) kebaikan bantuan Rabb sekalian alam, keridhaan-Nya, kedekatan kepada-Nya, serta kenikmatan yang besar di sisi-Nya? Siapkah ia menerima kemurkaan dan siksa-Nya yang pedih?

Tidak sepantasnya seseorang terjatuh pada keadaan seperti ini, walau orang yang paling dangkal akalnya sekalipun. Sama saja, apakah dia seorang yang beriman dan sangat yakin dengan akibat ini, atau yang menduga bahwa akibatnya akan begini, atau bahkan yang ragu sekalipun pada akibat tersebut dan keberadaannya.

Dua orang yang terakhir ini (saja) akan bersikap hati-hati.

Sebagaimana halnya jual beli tersebut pasti dilakukan oleh orang yang dikenal sebagai pengikut hawa nafsu, demikian pula akan dilakukan oleh orang yang lunak terhadap dirinya, tidak menegur dirinya, dan tidak berhati-hati.

Wallahul Muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Yang Terpenting, Selamatkan Diri Anda! : 10 Bahan Renungan

Renungan Keenam

Bisa jadi, seseorang merenungi nenek moyang atau para pendahulunya, lalu bersedih dan khawatir akan keselamatan dirinya di akhirat, karena keadaan mereka yang buruk. Bisa jadi pula, ia senang dan merasa bangga karena keadaan mereka yang baik. Janganlah demikian . Anda mempertanggungjawabkan amal Anda sendiri. Selamatkan diri Anda, itu yang terpenting.

Asy-Syaikh Abdurrahman al- Mu’allimi berkata, “Ingatlah selalu, yang terpenting bagi seseorang dan yang hendak dia pertanggungjawabkan kelak adalah keadaan dirinya sendiri. Tidak akan mencelakakan Anda—baik di sisi Allah Subhanahu wata’ala, di hadapan para ulama, tokoh agama, maupun para cendekia— apabila ada kekurangan pada guru Anda, pembimbing Anda, nenek moyang Anda, atau syaikh Anda. Para nabi saja tidak selamat dari kekurangan tersebut. Generasi paling afdal umat ini, yakni para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, nenek moyang mereka dahulu musyrik.

Padahal bisa jadi, nenek moyang Anda ada alasan dalam kekurangan itu, apabila memang mereka tidak diingatkan dalam kekurangan tersebut dan hujah pun belum tegak atas mereka. Anggaplah para pendahulu Anda berada dalam kesalahan yang tidak diampuni. Apabila Anda mengikuti dan fanatik terhadap mereka, hal itu tidak memberi manfaat kepada mereka sedikit pun. Hal itu justru sangat mencelakakan mereka, karena mereka akan ditimpa seukuran dosa yang menimpa Anda dan dosa orang yang mengikuti Anda dari kalangan anak-anak Anda dan pengikut pengikut Anda sampai hari kiamat.

Di samping tertimpa dosa Anda sendiri, Anda juga tertimpa dosa orang yang mengikuti Anda sampai hari kiamat. Tidakkah Anda memandang bahwa tindakan Anda kembali kepada kebenaran itu berarti kebaikan juga untuk para pendahulu Anda, bagaimanapun keadaan mereka?

Wallahul muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Sebab yang Menguatkan Kecintaan Hamba kepada Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَ ،ِلهلِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada seseorang, akan membuatnya merasakan manisnya keimanan: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya; jika mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan dia membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci menuju api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ

“Dan (adapun) orang-orang yang beriman, kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat.” (al-Baqarah: 165)

Mukmin sejati yang selalu mendambakan mengecap manisnya keimanan tentu akan terus berusaha menguatkan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyaht menyebutkan beberapa sebab yangdapat menguatkan kecintaan seorang hamba kepada Allah di dalam kitab beliau, Madarij as-Salikin. Berikut ini adalah rangkuman dari kitab tersebut yang dapat kami rumuskan. Sebab yang menumbuhkan dan membangkitkan kecintaan hamba kepada Allah ada sepuluh:

1. Membaca al-Qur’an dengan tadabbur dan memahami maknanya layaknya seseorang yang berusaha memahami dan mensyarah sebuah kitab yang telah ia hapal.

2. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan amalan sunnah setelah menyempurnakan amalan wajib. Dengan hal ini, seorang hamba akan mencapai derajat “hamba yang dicintai Allah” setelah melampaui derajat “hamba yang mencintai Allah”.

3. Senantiasa berzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan, dengan lisan dan hati, serta dengan amalan badan dan hati. Kadar kecintaan hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadarzikir dan ingatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

4. Selalu mengedepankan perkara yang Allah Subhanahu wata’ala cintai dibandingkan dengan perkara yang kita cintai dan inginkan saat hawa nafsu menguasai; selalu berusaha meraih perkara yang Dia Subhanahu wata’ala cintai walau jalan begitu mendaki.

5. Menyibukkan hati untuk mengenal dan mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala. Ia berulang merenungi dan menyaksikan nama dan sifat-Nya. Sebab, hamba yang mengenal kesempurnaan Allah Subhanahu wata’ala dalam hal nama, sifat, dan perbuatan-Nya, pasti akan mencintai- Nya.

Para ahlu ta’thil (pengingkar namanama dan sifat-sifat Allah) dari kalangan Jahmiyah yang satu mazhab dengan Fir’aun1 pada hakikatnya adalah para pembegal yang menghalangi para hamba untuk bisa mencintai Allah. Sebab, mereka tidak mengakui nama-nama dan sifatsifat Allah yang merupakan sumber rasa cinta seorang hamba kepada Allah l. Tanpa mengenal nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala, mustahil seorang hamba mencapai derajat mahabbah.

6. Merenungi segala kebaikan, karunia, pemberian, dan nikmat lahirbatin yang Allah l limpahkan kepada hamba.

7. Tunduk dan luluhnya hati seutuhnya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, seperti saat seorang hamba tunduk luluh meminta hajatnya yang mendesak atau meminta ampunan dan bertobat kepada Allah dengan sungguh-sungguh hingga air matanya bercucuran. Ini termasuk sebab yang paling menakjubkan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

8. Beribadah seorang diri menghadap Allah Subhanahu wata’ala pada waktu sepertiga malam terakhir saat Allah Subhanahu wata’ala turun ke langit dunia; berdoa kepada-Nya dan membaca al-Qur’an, kalam-Nya yang mulia; melaksanakan tata cara ibadah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan-Nya, kemudian menutup wirid malamnya itu dengan tobat dan istighfar.

9. Bermajlis dan berkumpul bersama orang-orang yang jujur kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala; memetik manisnya buah ucapan mereka seperti memanen buah-buahan yang telah masak. Ia tidak berbicara kecuali jika berbicara lebih bermaslahat dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

10. Menjauhi segala perkara yang memalingkan hati dari Allah Subhanahu wata’ala, seperti perbuatan maksiat, makruh, sia-sia, dsb.

Dengan perantara sepuluh sebab inilah para pecinta mencapai derajat mahabbah, yaitu kemurnian cinta hingga mereka bertemu Dzat yang mereka cintai, Allah Subhanahu wata’ala. Kunci keberhasilan semua ini ada dua:

1. Kesiapan jiwa dan roh untuk menempuh jalan cinta ini,

2. Terbukanya mata hati untuk memahami rambu-rambunya.

Wallahul muwafiq.2

Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai ilmu bermanfaat yang mengantarkan kita menuju kecintaan- Nya dan keridhaan-Nya. Wallahu a’lam.

Al-Ustadz Abdul Jabbar

Saat Anda Dalam Kebatilan : 10 Bahan Renungan

Renungan Kelima
Renungkan, anggaplah bahwa Anda tumbuh dalam kebatilan. Itu tidak lepas dari (dua keadaan): didahului oleh sikap menyepelekan dan tidak. Pada kondisi yang pertama, apabila dia terus melakukan kekurangan tersebut dan tidak meninggalkannya, itu berarti kehancurannya. Jika ia kemudian belajar dan kebenaran menjadi jelas baginya, lalu kembali kepada kebenaran, berarti ia memperoleh kesempurnaan. Hilanglah darinya kekurangan yang ada sebelumnya. Sebab, tobat menghilangkan kekurangan yang sebelumnya. Orang yang bertobat dari dosa seperti halnya orang yang tidak pernah berdosa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.” (al-Baqarah: 222)

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak Adam sering salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat.” (HR . at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, dan Ahmad)

Kondisi kedua, seseorang tumbuh dalam kebatilan tanpa didahului oleh sikap menyepelekan. Pada kondisi ini, ia tidak tercela sama sekali dengan sebab kekurangan yang lalu. Penilaian itu berlaku terhadap kondisinya setelah dia diingatkan. Kalau setelah diingatkan, ia berpikir dan sadar, lalu mengetahui yang benar dan mengikutinya, ia beruntung. Demikian pula jika dia mengalami ketidakjelasan, lalu bersikap hati-hati (ia juga termasuk yang beruntung). Namun, apabila saat diingatkan dia berpaling dan menjauh, itulah kebinasaannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Manusia Terbaik dan Terburuk

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي ل يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا

“Permisalan seorang mukmin yang membaca (mempelajari) al-Qur’an seperti buah limau, enak rasanya, dan harum baunya. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, enak rasanya tetapi tidak ada baunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dua jenis manusia ini adalah golongan manusia yang terbaik. Sebab, manusia terbagi menjadi empat jenis:

1. Manusia yang memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Inilah jenis manusia yang terbaik, yaitu seorang mukmin yang membaca al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia diberkahi di mana pun berada. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 31)

2. Manusia yang memiliki kebaikan pada dirinya sendiri.

Dia adalah seorang mukmin yang tidak memiliki ilmu agama yang dapat diajarkan kepada orang lain. Dua jenis manusia ini adalah manusia yang terbaik. Sumber kebaikan yang ada pada keduanya terletak pada keimanan mereka, baik keimanan tersebut bermanfaat bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan keadaan setiap mukmin.

3. Manusia yang tidak memiliki kebaikan, tetapi kejelekannya tidak  berpengaruh kepada orang lain.

4. Manusia yang memiliki kejelekan dan berpengaruh kepada orang lain.

Inilah jenis manusia yang terburuk. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan karena mereka selalu berbuat kerusakan.” (an-Nahl: 88)

Jadi, seluruh kebaikan bersumber dari keimanan pada diri seseorang dan yang menyertai keimanan tersebut. Adapun seluruh kejelekan bersumber dari ketiadaan iman pada diri seseorang dan adanya sifat-sifat yang bertentangan dengan keimanan dalam dirinya. Wallahul muwaffiq. Ini semakna dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah  Subhanahu wata’ala dari mukmin yang lemah, dan semua (mukmin) memiliki kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi orang mukmin menjadi dua golongan:

1. Golongan mukmin yang kuat beramal, kuat keimanannya, kuat memberikan manfaat kepada orang lain, dan

2. Golongan mukmin yang lemah dalam hal tersebut.

Meski demikian, beliau menjelaskan bahwa kedua golongan mukmin tersebut tetap memiliki kebaikan. Sebab, keimanan dan buah-buahnya, semuanya adalah kebaikan, walaupun setiap mukmin berbeda tingkatannya dalam kebaikan tersebut. Ini pun semisal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي ل يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berkumpul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak berkumpul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Dipahami dari hadits sahih di atas, seseorang yang tidak memiliki keimanan berarti tidak ada sedikit pun kebaikan pada dirinya. Sebab, orang yang tidak memiliki keimanan bisa jadi keadaannya selalu jelek, membahayakan dirinya sendiri dan masyarakatnya dalam segala sisi. Bisa jadi pula, dia memiliki sedikit kebaikan yang larut dalam kejelekannya. Kejelekannya akan mengalahkan kebaikannya karena ketika kebaikan terlarut dan tenggelam dalam kerusakan, ia akan menjadi kejelekan.

Kebaikan yang ada padanya akan diimbangi oleh kejelekan yang semisal. Akhirnya, gugurlah kebaikan dan kejelekan tersebut. Yang tersisa hanyalah kejelekan yang tiada lagi kebaikan untuk mengimbanginya. Siapa pun yang memerhatikan kenyataan yang ada pada manusia akan mendapati keadaan mereka sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi n. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 60—62, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Buah Keimanan (8)

Keimanan yang benar akan mencegah seorang hamba dari terjatuh ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan. Hal ini disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina yang berzina saat ia berzina dikatakan orang yang beriman. Tidaklah seorang pencuri saat ia mencuri dikatakan orang yang beriman. Tidaklah peminum khamr saat ia meminumnya dikatakan orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Barang siapa terjatuh ke dalamnya, itu disebabkan oleh imannya yang lemah. Hilang cahaya iman pada dirinya, ia tidak memiliki rasa malu dari Dzat yang selalu melihat padahal Dia Subhanahu wata’ala telah melarang perbuatan tersebut. Ini adalah hal yang nyata dan dapat disaksikan. Keimanan yang jujur dan benar, senantiasa disertai oleh rasa malu terhadap Allah Subhanahu wata’ala, rasa cinta kepada- Nya, rasa harap yang kuat akan pahala dari-Nya, rasa takut akan hukuman- Nya, dan cahaya yang menghilangkan kegelapan dalam hati. Hal-hal yang menjadi penyempurna keimanan tersebut—tidak diragukan lagi—akan mendorong pemiliknya menuju segala amalan kebaikan dan mencegahnya dari segala amalan keburukan. Ketahuilah, apabila keimanan menyertai seseorang saat dihadapkan pada sebab-sebab yang dapat mengantarkannya pada perbuatan keji, cahaya keimanan akan mencegahnya untuk terjatuh ke dalam perbuatan keji tersebut. Rasa malunya kepada Allah Subhanahu wata’ala—yang merupakan salah satu cabang keimanan terbesar—akan mencegahnya dari terjatuh ke dalam perbuatanperbuatan keji tersebut. (diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 59—60, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Buah keimanan (7)

Iman adalah sandaran kaum mukminin di setiap keadaan mereka, baik suka maupun duka, takut maupun aman, ketika mengerjakan ketaatan maupun jatuh ke dalam kemaksiatan, dan setiap urusan yang dilalui oleh setiap manusia. Saat mendapat kebahagiaan dan kesenangan, mereka bersandar kepada keimanan sehingga mereka memuji Allah Subhanahu wata’ala, menyanjung-Nya, dan menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal yang dicintai oleh Dzat yang memberikannya.

Saat ditimpa kesusahan dan kesedihan, mereka bersandar kepada keimanan dari berbagai sisi. Mereka menghibur diri dengan iman dan kemanisannya. Mereka menghibur diri dengan mengharap pahala yang akan diperoleh dari musibah itu. Mereka menghadapi kesedihan dan kegoncangan dengan hati yang lapang. Kehidupan bahagia pun menjadi penangkal segala kesedihan dan duka. Ketika datang rasa takut, mereka bersandar pada keimanan sehingga merasa tenang dengannya. Saat datang rasa takut, justru bertambah keimanan, kekokohan, kekuatan, dan keberanian mereka. Sirnalah ketakutan yang menimpa. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang para manusia pilihan, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhuma,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ {}فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Mereka pun kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. Mereka tidak mendapat bencana apaapa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali ‘Imran: 173—174)

Telah sirna rasa takut dari hati orang-orang pilihan itu. Kekuatan dan kemanisan iman, kuatnya tawakal, serta keyakinan terhadap janji-Nya telah menggantikan rasa takut yang hinggap di hati mereka. Ketika mendapat rasa aman, mereka kembali kepada keimanan sehingga rasa aman tersebut tidak membuat mereka angkuh dan sombong. Mereka justru bertawadhu’, bersikap rendah hati. Mereka menyadari bahwa rasa aman itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala, karunia dan kemudahan dari-Nya. Mereka bersyukur kepada Dzat yang telah memberi kenikmatan kepada mereka berupa keamanan dan sebab-sebabnya. Mereka sadar, apabila mereka mampu mengalahkan musuh-musuh, itu hanyalah daya, upaya, dan karunia dari Allah  Subhanahu wata’ala semata, bukan daya dan upaya mereka. Ketika mendapatkan taufik untuk berbuat ketaatan dan mengerjakan amalan saleh, mereka bersandar kepada keimanan. Mereka menyadari bahwa amalan saleh tersebut adalah nikmat Allah  Subhanahu wata’ala atas mereka.

Mereka meyakini bahwa nikmat berupa amal saleh itu lebih besar daripada nikmat yang berupa rezeki dan kesehatan. Demikian pula, mereka bersemangat untuk menyempurnakan amalan dan menjalani segala sebab agar amalan diterima, tidak tertolak, dan tidak terdapat kekurangan di dalamnya. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka agar menyempurnakan nikmat tersebut dengan menerima amalan mereka. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka untuk menjalankan pokok sebuah amalan agar menyempurnakan berbagai kekurangan amalan mereka. Mereka bersandar kepada keimanan saat mereka tertimpa musibah, terjatuh dalam perbuatan maksiat. Mereka bersegera bertobat darinya, sekaligus berjuang sekuat tenaga menjalankan amalan kebaikan untuk menutupi segala kekurangan yang disebabkan oleh kemaksiatannya. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” ( al-A’raf: 201)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ الْمَرْبُوطِ فِي آخِيَتِهِ، يَجُولُ مَا يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَتِهِ

“Permisalan mukmin dan permisalan iman bagaikan kuda yang terikat di tali pancangnya. Ia pergi ke mana ia pergi, kemudian kembali ke tali pancangnya.” (HR. Ahmad, Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dll, dinyatakan dhaif oleh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 6637)

Demikianlah keadaan orang yang beriman. Ia pergi sekehendaknya dalam kelalaian dan kelancangan, mengerjakan sebagian dosa, kemudian segera kembali dengan cepat menuju keimanan yang seluruh urusannya dibangun di atasnya. Seorang mukmin hendaknya senantiasa bersandar kepada iman dalam kondisi apa pun. Keinginan mereka hanyalah merealisasikan iman dan menolak segala hal yang bertentangan dengan keimanan. Itulah keutamaan dan karunia dari Allah Subhanahu wata’ala untuk mereka. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman karya asy-Syaikh as- Sa’di, hlm. 57-59)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Merenungi Ketaatan dan Kemaksiatan (2)

Sepeluh Bahan Renungan – Bagian 2

Ketiga: Seseorang merenungi kondisi dirinya, dengan mengintrospeksi amalannya, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatannya. Seorang mukmin akan melakukan ketaatannya dengan penuh semangat, tidak mengharapkan selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan negeri akhirat. Apabila muncul keinginan pada sesuatu yang sifatnya duniawi, ia arahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ia arahkan pada sesuatu yang diharapkan bisa membantunya dalam usaha menuju akhiratnya. Kalau memang harus mengambil duniawinya, maka pada sesuatu yang dia perhitungkan tidak akan menghambatnya dalam usahanya

menuju akhirat. Dalam semua keadaannya, dia tetap bertawakal kepada AllahSubhanahu wata’ala, berharap kepada-Nya untuk memilihkan untuknya apa yang baik dan bermanfaat baginya. Setelah itu, ia melaksanakan ketaatan dengan penuh kekhusyukan, dengan merasa bahwa Allah Subhanahu wata’alamelihat dirinya

dan melihat apa yang ada dalam dirinya, lalu melakukan ketaatan itu sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wata’alasyariatkan. Bersamaan dengan itu, ia seperti yang Allah Subhanahu wata’ala katakan,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (al- Mukminun: 60)

Dia khawatir niatnya tidak ikhlas, karena niat ikhlas itu bisa jadi dari seseorang yang imannya kuat, bisa jadi pula dari orang yang imannya lemah yang ketaatannya itu hanya dalam rangka kehati-hatian. Namun, bisa jadi pula tidak ikhlas, bahkan tercampuri oleh keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi demi dunia juga. Di antaranya bertujuan meredam syahwatnya pada sesuatu yang

tidak disyariatkan (meredamnya); atau bertujuan menguatkan fisik, atau agar bermanfaat untuk badannya, seperti yang berpuasa agar sehat, shalat tarawih agar melancarkan pencernaan makanannya, dll. Contoh lainnya, melaksanakan ketaatan tetapi tujuannya adalah menyegarkan jiwa (refreshing), seperti datang shalat Jum’at dengan tujuan sambil jalan-jalan, agar bisa bertemu teman-temannya dan tahu berita mereka. Atau bertujuan untuk mencari perhatian manusia agar mereka memuji dan menyanjungnya, sehingga kedudukannya semakin tinggi. Dengan demikian, ia bisa mencapai tujuan-tujannya tanpa mereka membencinya, dan berbagai niat lainnya. Misalnya, seseorang yang berilmu yang ingin agar orang-orang melihatnya, mengagungkannya, dan meminta fatwa kepadanya, sehingga ilmunya terkenal dan semakin tinggi kedudukannya, atau tujuan-tujuan selain itu.

Seorang mukmin, walaupun niatnya sendiri telah ikhlas, dia pribadi tidak bisa meyakinkan hal itu pada dirinya. Seorang mukmin senantiasa khawatir dan takut untuk tidak melakukan ketaatan sesuai dengan yang disyariatkan. Kekhawatiran seorang mukmin senantiasa berlanjut saat menengok kembali ketaatan-kataatannya yang telah lalu. Ia hanya berharap bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mengabulkannya dengan ampunan dan kemurahan-Nya. Ia khawatir kalau amal itu tertolak disebabkan cacat yang ada pada dirinya— walaupun ia tidak merasa—atau ada cacat pada fondasinya, yaitu iman. Inilah keadaan seorang mukmin dalam hal ketaatan, lantas bagaimana halnya dengan maksiatnya? Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ () وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ

“Sesungguhnya apabila orang-orang yang bertakwa ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (al- A’raf: 201—202)

Dalam diri seorang mukmin, iman bertarung dengan hawa nafsu. Terkadang setan mengendalikannya hingga melenakannya dari kekuatan iman, sehingga hawa nafsunya mengalahkannya dan menyungkurkannya. Saat berbuat maksiat, jiwanya memeranginya, sehingga kenikmatan maksiat itu tidak murni dia rasakan. Tidaklah sisi tubuhnya hampir terjatuh di atas bumi melainkan ia telah tersadar. Ia kemudian berusaha mengembalikan kekuatan imannya sehingga ia menggigit jarinya karena rasa sesal dan sedih atas kelalaiannya yang telah dimanfaatkan oleh musuhnya untuk mengalahkan dirinya. Ia bertekad untuk tidak kembali kepada kelalaiannya tersebut.

Adapun teman-teman setan, setan akan memberikan bantuannya dalam kesesatannya. Mereka pun terdukung oleh setan dalam kesesatan tersebut. Setan akan menghias-hiasi angan–angan mereka, sehingga mereka merasa puas (dengan maksiat dan kesesatannya). Di antara angan-angan setan itu adalah ia berkata (baik terucap maupun dalam batin), “Allah Subhanahu wata’ala telah takdirkan ini pada diri saya, apa yang Dia kehendaki mesti terjadi….”, “Ulama berbeda pendapat tentang hukum perbuatan ini, apakah ini dosa besar atau bukan, dan dosa kecil itu gampang urusannya….”, “Saya masih punya banyak kebaikan yang bisa menutupi dosa ini….”, “Barangkali Allah Subhanahu wata’ala mengampuni saya….”, “Barangkali fulan akan memberi saya syafaat….”, “Nanti saya akan bertobat….”, Paling bagusnya, dia hanya akan mengucap “astaghfirullah”, merasa telah bertobat, dan telah terhapus dosanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا () يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا () أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا () وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا () لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا () وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

(Setan berkata,) “Dan aku benarbenar akan menyesatkan mereka, akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya.” Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari darinya.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan sesuai dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka  tidak dianiaya walau sedikit pun. (an- Nisa: 119—124)

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِن يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِم مِّيثَاقُ الْكِتَابِ أَن لَّا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, “Kami akan diberi ampun.” Kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah

perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (al- A’raf: 169)

Dalam sebuah hadits pada kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah gunung, khawatir gunung itu akan menjatuhinya. Adapun pendosa, ia melihat dosadosanya bagaikan lalat yang hinggap pada hidungnya, lalu dia halau begitu saja.”

(diterjemahkan dan diringkas oleh al-Ustadz Qomar Suaidi ZA dari kitab al-Qaid ila Tashihil Aqaid) (Bersambung, insya Allah)