Buah Keimanan (6)

Sesungguhnya keimanan akan menghilangkan keragu-raguan yang menghinggapi kebanyakan manusia sehingga merusak agama mereka. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)

Maknanya, keimanan yang benar akan menolak keragu-raguan yang ada pada mereka, menghilangkan seluruhnya, mengobati keragu-raguan yang dibisikbisikkan setan-setan dari kalangan manusia dan jin, serta menolak jiwa yang mengajak kepada kejelekan. Karena itu, tidak ada obat bagi penyakit yang membinasakan ini selain keimanan yang benar.

Oleh karena itu, telah datang dalam ash-Shahihain sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya),

“Manusia akan terus-menerus saling bertanya sampai-sampai akan dikatakan, ‘Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan makhluk- Nya, lantas siapa yang menciptakan Allah Subhanahu wata’ala?’ Barang siapa yang mendapatkan demikian itu, hendaklah mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berhenti dan berlindung kepada Allah dari godaan setan’.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan penyakit yang berbahaya ini beserta obat yang bermanfaat untuknya berupa tiga perkara,

a. berhenti/meninggalkan waswas setan ini,

b. berlindung (kepada Allah Subhanahu wata’ala) dari (setan) yang membisikkannya dan yang membuat kerancuan padanya untuk menyurutkan hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala,

c. berpegang teguh dengan keimanan yang benar, karena barang siapa yang berpegang teguh dengannya, maka ia termasuk orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Sebab, kebatilan akan tampak jelas dengan banyak perkara. Di antaranya yang paling besar adalah dengan ilmu, sedangkan semua perkara yang bertentangan dengan kebenaran (al- Haq) adalah kebatilan.

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ

“Tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan.” (Yunus: 32)

(Diambil dari at-Taudhih wal Bayan lisy Syajaratil Iman hlm. 56—57 karya asy-Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di)

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

10 Bahan Renungan

Marilah kita duduk sesaat, tinggalkan segala kesibukan pikiran. Sejenak kita merenung, niscaya kita akan mendapat manfaat, insya Allah. Pertama, merenungi mulianya kebenaran dan rendahnya kebatilan.

Caranya adalah dengan merenungi keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb sekalian alam,bahwa Dia mencintai kebenaran dan membenci kebatilan. Barang siapa mengikuti kebenaran, ia berhak memperoleh ridha-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun akan menjadi penolongnya di duniadan akhirat, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala akan memilihkan segala sesuatu yang Dia  ketahui baik dan mulia baginya hingga Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga akan mengangkat derajatnya, mendekatkannya kepada-Nya, serta menempatkannya di sisi-Nya dalam keadaan mulia, diberi nikmat yang langgeng dan kemuliaan yang abadi, yang angan-angan tidak akan mampu membayangkan kebesarannya.

Adapun seseorang yang condong kepada kebatilan, dia berhak mendapat kemurkaan Rabb sekalian alam dan hukuman-Nya. Barang siapa di antara Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi  rahimahullah. mereka diberi-Nya sedikit kenikmatan dunia, hal itu sesungguhnya karena rendahnya dia di sisi-Nya, untuk menambahnya semakin jauh dari-Nya dan agar Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan untuknya siksaan di akhirat dengan siksaan yang pedih lagi kekal dan tidak dapat dibayangkan kedahsyatannya oleh akal siapapun.

Kedua, merenungi perbandingan kenikmatan dunia dengan ridha Rabbul Alamin beserta kenikmatan akhirat. Juga perbandingan kesengsaraan dunia dengan murka Rabb sekalian alam dan siksaan akhirat. Juga mentadaburi firman Allah subhanahu wa ta’ala,

  وَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ وَإِنَّا بِهِۦ كَٰفِرُونَ ٣٠  وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١  أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢  وَلَوۡلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ لَّجَعَلۡنَا لِمَن يَكۡفُرُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ لِبُيُوتِهِمۡ سُقُفٗا مِّن فِضَّةٖ وَمَعَارِجَ عَلَيۡهَا يَظۡهَرُونَ ٣٣  وَلِبُيُوتِهِمۡ أَبۡوَٰبٗا وَسُرُرًا عَلَيۡهَا يَتَّكِ‍ُٔونَ ٣٤  وَزُخۡرُفٗاۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَٱلۡأٓخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُتَّقِينَ ٣٥

Tatkala kebenaran (al-Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.” Dan mereka berkata, “Mengapa al Qur’an ini tidak diturunkan  kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?” Kami telah menentukan antara mereka penghidupa nmereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Rabbmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang orang yang kafir kepada Rabb Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga tangga (perak) yang merekame naikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan di atasnya. Dan ( Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu disisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (az-Zukhruf: 30—35)

Dipahami dari ayat di atas, apabila manusia tidak jadi satu umat, tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi ujian bagi kaum mukminin dengan sesuatu yang luar biasa, di antaranya dengan kafakiran yang sangat, mudarat, rasa takut, kesedihan, dan selain itu. Cukup (bukti) bagi Anda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi-Nya dan orang-orang pilihannya.

Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yangartinya),

“… permisalan seorang mukmin bagaikan ranting yang lentur dari sebuah pohon, angin menggerakkannya, terkadang membuatnya miring dan terkadang menegakkannya sampai kering. Adapun permisalan orang fajir adalah bagaikan pohon khamah yang kaku, tegak pada pangkalnya, tidak ada yang bisa menggerakkannya sehingga (bila tumbang) tumbangnya sekaligus.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, ini sebagai pendidikan bagi kaum muslimin, agar seorang mukmin tetap merasa tenang dengan kepenatan kehidupan dan musibahnya, menghadapinya dengan ridha, sabar, dan berharap pahala di sisi Rabbnya, dengan kalbu yang tulus, tidak menganganangankan berbagai nikmat duniawi, serta tidak iri kepada pemiliknya.

Kemudian ia tidak merasa tenteram dengan keselamatan dan nikmat (yang sementara ini ada pada dirinya) serta tidak terus condong kepadanya. Bahkan ia menyambut semua itu dengan tetap merasa khawatir dan penuh kehati-hatian, disertai rasa takut. Khawatir bilamana semua itu ternyata disediakan untuknyakarena adanya cacat pada imannya.

Oleh karena itu, jiwanya berkeinginan menyalurkan nikmat-nikmat itu menuju jalan Allah subhanahu wa ta’ala , tidak merasa tenteram dengan kelonggarannya dan juga tidak akan kikir, tidak bangga diri dengan karunia yang diberikan kepadanya, tidak sombong, dan tidak teperdaya.

Hadits tersebut tidak menyinggung keadaan orang-orang kafir karena hujah terhadapnya telah jelas bagaimana pun keadaannya.

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah di antara manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى

“Para nabi kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka berikutnya, sehingga seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Bila agamanya kokoh, maka ujiannya semakin menguat. Tapi bila agamanya tipis maka dia pun akan diuji sesuai dengannya. Maka ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sehingga Allah subhanahu wa ta’ala akan biarkan dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya salah.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan ad-Darimi)

Sungguh, Nabi Ayyub Alaihissalam telah diuji dengan ujian yang telah banyak kita dengar. Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan kehilangan dua putranya, dan sungguh pengaruhnya begitu besar pada kalbunya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan dalam kitab-Nya,

وَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبۡيَضَّتۡ عَيۡنَاهُ مِنَ ٱلۡحُزۡنِ فَهُوَ كَظِيمٞ ٨٤

Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dikedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf: 84)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah diuji dengan ujian seperti yang telah kita baca pada kisah perjalanan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada beliau tugas untuk mengajak kaumnya agar meninggalkan tradisi yang mereka tumbuh di atasnya, yang mereka ikuti dari nenek moyang mereka, baik berupa perbuatan syirik maupun kesesatan.

Dengan tegas beliau mengajak mereka secara sembunyi ataupun dengan terang-terangan, siang dan malam berkeliling di tempat-tempat perkumpulan mereka dan desa-desa mereka. Terus beliau melakukan itu selama tiga belas tahun, sedangkan mereka justru menyakiti beliau dengan sekeras kerasnya.

Padahal, sebelum itu, beliau telah hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh tahun atau lebih, dan beliau tidak pernah tahu ada yang mengganggu beliau. Beliau berasal dari kabilah yang mulia, di rumah keluarga yang terhormat, serta beliau pun tumbuh di atas akhlak yang mulia, karenanya beliau dihormati manusia dan dimuliakan manusia.

Beliau juga pada puncak rasa malu, ghirah, dan kemuliaan jiwa. Barang siapa yang seperti ini keadaannya tentu terasa sangat pedih saat diganggu, sangat berat baginya untuk maju menghadapi beragam gangguan, semakin terasa berat cobaan itu dengan jenis gangguannya. Yang ini merendahkannya, yang itu mencelanya, yang lain meludahi mukanya, dan yang ini berusaha menginjak lehernya saat beliau bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sementara itu, yang lain meletakkan ari-ari unta di atas punggung beliau saat sujud, yang ini memegang kerah bajunya dan mencekiknya, serta yang ini menusuk hewan tunggangannya sehingga tunggangannya memelantingkan beliau. Bahkan, pamannya sendiri selalu mengikutinya ke mana dia pergi untuk mengganggunya dan memperingatkan orang-orang darinya serta mengatakan bahwa dia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah pendusta, orang gila.

Ada pula yang menghasut orang orang bodoh untuk mengganggu beliau sehingga melemparinya dengan batu sampai kedua kaki beliau bercucuran darah. Mereka memboikotnya bersama keluarganya dalam waktu lama di sebuah lembah agar mati kelaparan. Mereka menyiksa para pengikutnya dengan siksaan yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang mereka baringkan di atas pasir yang panas saat terik matahari tanpa diberi air.

Ada pula di antara mereka yang dilempar ke dalam api sehingga tidak ada yang memadamkannya selain punggungnya. Bahkan, di antara mereka ada seorang wanita yang mereka siksa agar mau kembali ke agamanya. Ketika mereka putus asa dari kembalinya wanita itu, salah seorang dari mereka menikamnya pada kemaluannya sehingga mati.

Semua itu tidak lain karena beliau mengajak mereka untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kerusakan menuju kebaikan, dari kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala menuju keridhaan-Nya, dari siksa- Nya yang kekal menuju kenikmatan-Nya yang abadi. Tetapi mereka tidak menoleh kepada semua itu, padahal bukti begitu nyata. Keinginan mereka, yang penting menyelisihi kemauan muslimin.

Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan wafatnya kedua orang tuanya saat beliau masih kecil, lalu kakeknya, lalu pamannya yang dahulu melindunginya, lalu istrinya yang selama itu menenteramkannya dan meringankan bebannya. Kemudian cobaan terus menimpanya—dan perincian masalah ini panjang—padahal beliau adalah pemuka anak Adam, bahkan yangpaling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Perhatikanlah ini semua, agar kita mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa apa yang kita perebutkan matimatian berupa kenikmatan dunia berikut kedudukannya, ternyata tidak ada artinya di hadapan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kenikmatan yang abadi di sisi-Nya. Apa yang kita hindari, seperti kesengsaraan dunia dan kesusahannya, ternyata juga tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala, kemarahan-Nya, dan kekekalan di neraka jahannam.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Didatangkan orang yang paling merasakan nikmat dari pendudukdunia dari penghuni neraka pada hari kiamat, lalu dicelupkan di dalam neraka satu kali celupan, lalu dikatakan kepadanya‘,Wahai anak Adam, apakahkamupernahsekalisajamelihat keindahan, apakah pernah sedikit saja melewatimus uatuk enikmatan?Maka ia menjawab,‘ Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’ Di datangkan pula orang yang palingsengsara selama di dunia dari penduduksurgalalu dicelupkandengan satu kali celupan disurga, kemudian dikatakan kepadanya,‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesengsaraan sedikit saja? Apakah pernah melewatimu kesusahan sedikit saja? Ia menjawab,‘ Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah melewatiku kesengsaraan sama sekali dan aku tidak pernah melihat kesusahan samasekali’.” (Sahih, HR. Muslim) (insya Allah bersambung)

(diterjemahkan oleh Qomar Suaidi ZA dari kitab al-Qa’idila Tashihil‘Aqaid)

 

Buah Keimanan

Keimanan yang benar memiliki banyak faedah dan buah terhadap kalbu, badan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik di dunia serta akhirat, baik dalam waktu yang dekat maupun yang akan datang.

  1. Buah keimanan yang paling besar adalah mendapatkan kebahagiaan sebagai wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63)

Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

“Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (al-Baqarah: 257)

Maksudnya, Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan, dan dari kegelapan kelalaian menuju cahaya kesadaran dan ingat.

Ringkasnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengeluarkan mereka dari kegelapan berbagai kejelekan menuju cahaya-cahaya kebaikan, dalam waktu yang dekat atau yang akan datang. Sesungguhnya mereka mendapatkan anugerah yang besar ini karena mereka memiliki keimanan yang benar dan mewujudkannya dengan ketakwaan. Sungguh, takwa merupakan kesempurnaan iman.

  1. Berbahagia karena mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan jannah (surga)-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 71—72)

Mereka mendapatkan ridha Rabb mereka dan rahmat-Nya serta keberuntungan berupa tempat tinggal yang baik karena keimanan mereka. Dengan keimanan itu pula mereka menyempurnakan diri mereka dan orang lain dengan cara menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya serta beramar ma’ruf nahi mungkar.

  1. Iman yang sempurna akan menghalangi mereka dari masuk neraka. Adapun iman, walaupun sedikit, akan menghalanginya dari kekekalan di dalam neraka.
  2. Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong orang-orang mukmin dari segala hal yang tidak disukai dan akan menyelamatkan mereka (memberi jalan keluar) dari segala kesulitan.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (al-Hajj: 38)

Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan membela mereka dari setiap hal yang tidak mereka sukai, kejelekan setan dari kalangan jin dan manusia, musuh-musuh, dan hal-hal yang tidak disukai, sebelum menimpa mereka atau meringankannya setelah menimpa mereka.

Allah menyebutkan keadaan Nabi Yunus ‘alaihissalam:

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa “Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (al-Anbiya: 87—88)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam surah ath-Thalaq ayat 2:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah…”, dengan menjalankan keimanan dan konsekuensinya, maka: “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Wallahu a’lam.

Sumber bacaan: Syajaratul Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di hlm. 43—46 dengan sedikit perubahan. At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Jabbar

Ad-Din

Secara bahasa, ad-Din artinya taat, tunduk, dan berserah diri. Adapun secara istilah berarti sesuatu yang dijadikan jalan oleh manusia dan diikuti (ditaati) baik berupa keyakinan, aturan, ibadah, maupun yang semacamnya, benar maupun salah. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

“Untukmulah agama (terjemahan din, red)-mu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 6)

Ad-Din yang benar adalah Islam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya din (yang diridhai) di sisi Allah, hanyalah Islam….” (Ali ‘Imran: 19)

Dinul Islam mencakup akidah (keyakinan), ibadah, muamalah, dan akhlak sebagaimana dalam hadits Jibril yang menyebutkan tentang rukun Islam, rukun iman, dan ihsan. Dikatakan pada akhir hadits tersebut, “Ini Jibril, datang kepada kalian mengajari din kalian.”

 

Salah Paham

Sebagian orang memahami kata ad-Din hanya berkutat pada hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah dan ibadah. Mereka memilah-milah bahwa perkara ini adalah perkara din, adapun perkara itu adalah perkara akhlak, dan seterusnya. Pemahaman semacam ini salah. Yang benar adalah sebagaimana telah diterangkan di atas.

 

Al-Islam

Secara bahasa berarti berserah diri, pasrah, tunduk, dan merendah. Diambil dari kata yang berarti berdamai. Secara istilah artinya berserah, patuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dengan menaati-Nya, serta berlepas diri dari perbuatan syirik dan dari para pelakunya.

 

Asy-Syariah

Dilihat dari asal bahasanya berarti jalan menuju tempat pengambilan air. Jadi asy-syariah artinya jalan yang terang, jelas, dan lurus. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ فَٱتَّبِعۡهَا وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ١٨

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama) itu. Maka ikutilah syariat itudan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 18)

yaitu di atas (jalan, sunnah, dan minhaj).

Dalam istilah diartikan sebagai agama, yaitu apa yang Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan atau syariatkan untuk hamba-hamba-Nya. Termasuk dalam pengertian ini yang berkaitan dengan akidah (keyakinan) atau amal.

Terkadang orang menyebut kata asy-Syariah untuk hal-hal yang berkaitan dengan fikih seperti ibadah dan muamalah. Terkadang juga menyebutnya untuk hal yang berkaitan dengan akidah saja. Namun bila dipahami atau dibatasi bahwa asy-Syariah hanya terbatas pada fikih saja atau akidah saja, tentu hal ini salah.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

 


Sumber Bacaan:

  1. Al-Haqiqah asy-Syar’iyyah, hlm. 92 dan 110
  2. Al-‘Aqidah wal Adyan, hlm. 3
  3. Mukadimah tahqiq kitab Asy-Syari’ah, 1/172
  4. Al-Qamus al-Muhith, hlm. 946
  5. Al-Mishbahul Munir, hlm. 310
  6. Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, hlm. 46—47

Mengenal Tabiat Jiwa

Membahas hakikat jiwa manusia amatlah penting karena seluruh penyakit kalbu timbul dari sana. Dari jiwalah, benih-benih yang rusak menjalar ke seluruh anggota tubuh. Yang pertama kali terkena adalah kalbu.

Oleh karenanya, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar melindunginya dari kejahatan jiwa manusia:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya pujian itu milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan dari-Nya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari sifat dan amal jiwa itu. Telah disepakati bahwa jiwa dapat memutus hubungan perjalanan kalbu menuju Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam menghadapi jiwa ini, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok dari mereka telah berhasil mengalahkan jiwanya dan menundukkannya sehingga selalu taat terhadap perintah agama. Tapi sekelompok yang lain justru jiwanya yang menguasai sehingga ia selalu tunduk kepada semua titah jiwanya yang akhirnya membinasakannya.

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Perjalanan para penuntut ridha Allah berakhir dengan menundukkan jiwa mereka. Maka barang siapa yang menang atas jiwanya, ia telah menang dan berhasil. Barang siapa yang jiwanya menguasainya, ia rugi dan binasa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ٣٧ وَءَاثَرَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ٣٨  فَإِنَّ ٱلۡجَحِيمَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٣٩ وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (an-Nazi’at: 37—41)

Jiwa mengajak untuk melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala mengajak untuk takut kepada-Nya dan menahan jiwa dari keinginan-keinginannya. Maka kalbu berada di antara dua penyeru. Terkadang cenderung kepada yang satu dan terkadang cenderung kepada yang lainnya. Inilah tempat cobaan dan ujian.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyifati jiwa dalam Al-Qur’an dengan tiga sifat: al-muthmainnah, al-ammarah bis-suu’, dan al-lawwamah.

Nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang) yaitu yang tenteram menuju Allah subhanahu wa ta’ala, tenang dengan berzikir kepada-Nya, kembali kepada-Nya, merindukan pertemuan dengan-Nya, dan tenteram dengan kedekatan-Nya. Jiwa itulah yang akan diberi kabar gembira ketika wafatnya, seperti dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧  ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27—28)

Yaitu seorang mukmin yang jiwanya tenang terhadap apa yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan, demikian ditafsirkan oleh Qatadah rahimahullah. Al-Hasan rahimahullah menafsirkan, yaitu yang merasa tenang dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dan membenarkannya. Mujahid rahimahullah mengatakan, yaitu jiwa yang kembali dan tunduk (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Rabbnya. Hatinya tunduk kepada perintah-Nya dan taat kepada-Nya, serta yakin dengan pertemuan dengan-Nya.

Jadi hakikat thuma’ninah jiwa adalah ketenteraman dan ketenangan. Tenteram bersama Allah subhanahu wa ta’ala, ketaatan-Nya, dan dengan mengingat-Nya, serta tidak tenteram kepada selain-Nya. Tenang dengan cinta-Nya, peribadatan-Nya, dan berzikir kepada-Nya. Juga tenteram kepada perintah-Nya, larangan-Nya, dan berita-Nya. Tenteram dengan membenarkan hakikat asma dan sifat-Nya, dan ridha akan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasulnya. Tenteram dengan qadha dan qadar-Nya. Tenteram dengan perlindungan dan jaminan-Nya. Tenteram dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabbnya, ilahnya, sesembahannya, yang memiliki dirinya, dan segala urusannya, serta bahwa kembalinya hanya kepada-Nya, dan ia tidak pernah bisa lepas darinya sekejap mata pun.

Jika sebuah jiwa memiliki lawan dari sifat-sifat di atas, maka itu adalah jiwa ammarah bis-suu’ (suka memerintahkan kepada kejelekan). Yang menitahkan kepada jiwa untuk mengikuti apa yang diinginkannya, yang melenceng, dan mengekor kepada kebatilan. Maka jiwa semacam itu adalah sarang segala kejelekan. Jika ditaati, akan menyeretnya pada segala kejelekan.

Ammarah artinya selalu memerintahkan. Maksudnya, telah menjadi kebiasaan dan adatnya karena sifat kebodohan dan kezaliman yang ada padanya. Ia terus akan seperti itu kecuali jika dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaulah tidak karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka tidak satu jiwa pun akan suci dari sifat-sifat tercela itu.

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya apakah nafsu lawwamah itu? Jawabnya, “Yaitu yang suka mencela (dirinya).” Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin—demi Allah—tidak engkau lihat kecuali mencela dirinya dalam segala keadaannya. Ia merasa kurang dalam segala apa yang ia lakukan sehingga menyesali dan mencelanya. Adapun orang yang jahat, ia akan terus melaju tanpa mencela dirinya.”

Mujahid rahimahullah mengatakan, yaitu yang menyesali atas apa yang terlewatkan dan mencela dirinya.

Nafsu lawwamah karena seringnya bimbang maka ia mencela dirinya.

Kesimpulannya, sebuah jiwa terkadang menjadi nafsu ammarah, terkadang menjadi nafsu lawwamah, dan terkadang menjadi nafsu muthmainnah. Bahkan dalam satu hari atau satu saat, terkadang jadi seperti ini atau seperti itu. Yang akan menguasai adalah yang banyak mendominasi keadaannya.

Sifat muthmainnah adalah sifat yang terpuji. Sifat ammarah adalah sifat tercela baginya. Sedangkan sifat lawwamah bisa jadi pujian dan bisa jadi celaan, tergantung pada apa yang ia sesali.

(Diterjemahkan dan diringkas dari Ighatsatul Lahafan, hlm. 82—86 karya Ibnul Qayyim)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Qur’an Penyejuk Kalbu

Al-Qur’an mengandung obat segala penyakit kalbu. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran (mau’izhah) dari Rabb kalian dan penyembuh apa yang ada dalam hati.” (Yunus: 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an ini sesuatu yang merupakan penyembuh dan rahmat buat kaum mukminin.” (al-Isra’: 82)

Lanjutkan membaca Al-Qur’an Penyejuk Kalbu

Beberapa Penyakit Kalbu

Penyakit kalbu ada dua macam.

Pertama, sakit yang tidak dirasakan oleh yang mengidapnya. Contohnya adalah kebodohan, syubhat (kekaburan), keraguan, dan godaan syahwat. Keadaan ini sesungguhnya lebih menyakitkan, akan tetapi karena kalbu telah rusak dengan penyakit itu maka ia tidak merasakannya. Kebodohan dan hawa nafsunya menghalangi untuk menemukan sakitnya. Rasa sakit itu sebenarnya sudah ada namun karena tersibukkan oleh hal-hal lain, maka sakitnya tersembunyi. Ini lebih berbahaya dari penyakit yang satunya dan lebih susah untuk menyembuhkannya.

Obatnya ada pada para rasul dan para pengikut mereka. Merekalah para dokter penyakit ini.

Kedua, penyakit yang dirasakan langsung saat itu. Seperti kesedihan, gundah gulana, dan kemarahan. Penyakit ini bisa dihilangkan dengan menghilangkan sebab-sebabnya atau dengan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan sebabnya.

Sebagai contoh adalah marah. Marah termasuk menyakitkan kalbu dan obatnya adalah dengan menghilangkan sebab kemarahan itu. Jika ia melakukan penyembuhan dengan cara yang benar maka sakitnya akan hilang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ

“Perangilah mereka, maka Allah akan azab mereka dengan tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian atas mereka dan menyembuhkan dada-dada kaum mukminin serta menghilangkan kemarahan mereka dan Allah akan memberikan taubat-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki.” (at-Taubah: 14—15)

Keberadaan orang-orang kafir itu merupakan sebab kemarahan orang-orang mukmin yang membuat sakit hati mereka. Maka dengan memerangi orang kafir kemarahan kaum mukminin hilang sehingga sembuh dari penyakit ini.

Namun jika mencari kesembuhan dengan cara kezaliman justru akan menambah sakitnya yang ia sangka akan menyembuhkannya.

Kesedihan dan gundah gulana juga merupakan penyakit kalbu. Menyembuhkannya dengan memunculkan rasa gembira dan senang. Jika ia menyembuhkan dengan cara yang haq maka akan hilang sakitnya. Namun jika kesembuhannya didapat dengan cara yang batil maka sakitnya akan bersembunyi dan akan menimbulkan penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya serta lebih sulit untuk disembuhkan.

Penyakit yang lain adalah kebodohan. Obatnya adalah dengan ilmu yang bermanfaat. Jika ia obati dengan ilmu yang tidak bermanfaat, ia bakal menyangka telah sembuh dari sakitnya. Padahal hakikatnya justru menambah penyakitnya. Ia sibuk dengan ilmu yang tidak bermanfaat hingga tidak mampu menangkap sakit yang tersembunyi pada dirinya. Padahal ilmu yang bermanfaat merupakan syarat untuk bisa sehat dan sembuhnya kalbu.

Penyakit lainnya adalah keraguan, obatnya adalah ilmu dan keyakinan yang didapatkan dengan cara yang haq.

Jadi obat bagi penyakit-penyakit hati ada yang bersifat tabiat serta ada yang bersifat keimanan dan syariat sesuai dengan penyakitnya.

Diterjemahkan oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc dengan penambahan dan pengurangan dari kitab Ighatsatul Lahafan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah hlm. 22—23

Kalbu Mengeras Karena Jauh dari Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٢

“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya kalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) diciptakan untuk melunakkan kalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang keras. Jika kalbu sudah keras, mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana halnya jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula kalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan dengan nasihat.

Barang siapa hendak menyucikan kalbunya, ia harus mengutamakan Allah subhanahu wa ta’ala dibanding dengan keinginan dan nafsu jiwanya. Sebab, kalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sesuai kadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan kalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat, tentu kalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang tampak ini. Ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah.

Jika kalbu disuapi dengan berzikir dan disirami dengan berpikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan kalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh kalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, tidak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya kalbu adalah karena lalai dan merasa aman. Adapun makmurnya kalbu adalah karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan zikir. Maka dari itu, jika sebuah kalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya, jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa kalbu. Membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapa pun yang menempatkan kalbunya di sisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tenteram. Siapa pun yang melepaskan kalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah  subhanahu wa ta’ala tidaklah akan masuk ke dalam kalbu yang mencintai dunia, melainkan seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala juga akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya senantiasa basah dengan berzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Kalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Kalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berzikir. Kalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah takwa. Kalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakal, bertaubat, dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab al-Fawa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah hlm. 111—112)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc