al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (19) : Perang Jalula

Peristiwa ini terjadi setelah perang Qadisiyah dan jatuhnya Madain. Kisra Yazdajird melarikan diri dari Madain menuju Hulwan. Selama dalam pelarian menuju Hulwan, dia melakukan konsolidasi dengan tentara dan pengikutnya yang ada di setiap wilayah yang dilewatinya. Akhirnya, terbentuklah satu pasukan besar, maka dia pun menunjuk Mihran sebagai panglima pasukan besar ini. Kisra terus melanjutkan perjalanannya menuju Hulwan setelah meninggalkan banyak harta untuk membiayai pasukan itu.

Pasukan besar itu bermarkas di Jalula. Mereka mulai menggali parit besar di sekeliling mereka sebagai pertahanan dan berdiam di tempat itu dengan bekal dan peralatan yang sangat memadai.

Sa’d segera memberi kabar kepada Amirul Mukminin, maka ‘Umar memberikan jawaban agar Sa’d tetap di Madain dan menunjuk Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash sebagai pimpinan pasukan menuju Jalula.

Sa’d segera menjalankan perintah tersebut dan mengutus keponakannya (Hasyim) membawa pasukan dalam jumlah yang besar (sekitar 12.000 personil) yang terdiri dari para sahabat senior, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta para pemuka bangsa Arab lainnya.

Bagian depan pasukan muslimin itu dipimpin oleh Qa’qa’ bin ‘Amr, sayap kanan dipimpin oleh Sa’d bin Malik, sayap kiri oleh ‘Umar bin Malik dan bagian belakang di pimpin oleh ‘Amr bin Murrah al-Juhani.[1]

Pasukan muslimin segera bergerak dan tiba di Jalula. Di sana mereka mendapati pasukan Majusi telah membuat pertahanan dengan parit yang mereka buat. Pasukan Hasyim mulai mengepung mereka.

Pasukan musuh sering keluar dari negeri mereka untuk berperang setiap saat. Mereka menyerang kaum muslimin dengan sehebat-hebatnya, dan belum pernah terjadi serbuan sehebat itu.

Kisra terus-menerus mengirimkan bala bantuan kepada pasukannya. Demikian pula Sa’d yang berada di Madain, selalu mengirimkan bantuan kepada pasukan muslimin yang dipimpin anak saudaranya.

Suasana perang mulai memanas, api peperangan mulai berkobar. Hasyim berkali-kali berorasi di hadapan pasukan muslimin untuk memotivasi mereka agar senantiasa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[2]

Bangsa Persia mengikat perjanjian dan kesepakatan dengan sekutu-sekutunya. Mereka bersumpah demi api—tuhan mereka—tidak akan lari dari pertempuran hingga seluruh bangsa Arab dapat dibasmi.

Pecahlah pertempuran dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga anak panah kedua belah pihak mulai habis dan berganti dengan tombak-tombak yang juga habis beterbangan dari kedua pasukan. Akhirnya mereka mulai saling menyerang dengan pedang.

Waktu Zuhur telah tiba dan kaum muslimin hanya mampu melaksanakan shalat dengan isyarat. Di pihak lawan, sekelompok tentara Majusi meninggalkan gelanggang, lalu posisi mereka digantikan oleh kelompok lainnya.

Qa’qa’ berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, “Apakah kalian takut dengan apa yang kalian lihat, wahai kaum muslimin?”

“Ya. Sebab, kita dalam posisi bertahan dan mereka menyerang.”

Kata Qa’qa’, “Mari kita gempur mereka secara serentak, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memutuskan perkara antara kita dan mereka.”

Kaum muslimin mulai bersiap menyerang secara serempak. Qa’qa’ sendiri membawa beberapa pasukan berkuda yang dikendarai oleh para pahlawan perang hingga mereka sampai di pintu parit.

Perlahan, malam mulai merayap. Ketika hari mulai gelap, beberapa pasukan berkuda kaum muslimin mendekati kubu pertahanan musuh dengan diam-diam. Di antara para kesatria penunggang kuda tersebut adalah para jagoan, seperti Thulaihah al-Asadi, ‘Amru bin Ma’di Karib, Qais bin Maksyuh, dan Hijr bin Adi.

Pasukan Majusi sendiri dalam keadaan tidak mengetahui sama sekali apa yang dilakukan pasukan Qa’qa’ dalam kegelapan. Mereka tidak menyadari semua itu hingga terdengar teriakan, “Di mana kamu, wahai kaum muslimin? Ini, pemimpin kalian sudah di depan pintu parit musuh.”[3]

Ketika orang-orang Majusi mendengar teriakan itu, mereka segera melarikan diri. Kaum muslimin langsung menyerbu bergabung dengan Qa’qa’ bin ‘Amru yang ternyata sudah menguasai pintu parit.

Tentara Persia berlari kocar-kacir dikejar kaum muslimin dari segala penjuru dan dihadang ke mana pun mereka lari. Tidak kurang dari 100.000 prajurit Persia tewas bersimbah darah di tangan kaum muslimin. Permukaan bumi dipenuhi mayatmayat yang bergelimpangan. Itulah sebabnya peperangan ini dinamakan dengan Perang Jalula (yang bergelimpangan).

Hasyim bin ‘Utbah mengirim Qa’qa’ mengejar mereka yang lari menyusul Kisra sampai bertemu dengan panglima Mihran. Qa’qa’ berhasil membunuh Mihran, tetapi Fairuzan berhasil menyelamatkan diri.

Kaum muslimin berhasil mendapatkan ghanimah berupa harta, senjata, emas dan perak yang jumlahnya hampir sama dengan harta yang mereka dapati di Madain.

Ghanimah yang diperoleh segera dibagi dan dikirim oleh Hasyim kepada pamannya, Sa’d. Kemudian Sa’d mengeluarkan seperlimanya untuk dikirimkan ke Amirul Mukminin di Madinah. Yang menjadi pengawal ghanimah itu adalah Ziyad bin Abi Sufyan, Qudha’i bin ‘Amr, dan Abu Muqarrin al-Aswad.

Sesampainya di Madinah, ‘Umar bertanya kepada Ziyad tentang kemenangan yang mereka peroleh. Ziyad menceritakannya dengan ungkapan yang menakjubkan, karena dia seorang yang fasih dalam menjelaskan. Mendengar cara Ziyad menceritakan, ‘Umar ingin agar cerita heroik ini diketahui oleh seluruh kaum muslimin.

Kata ‘Umar kepada Ziyad, “Apakah kamu mampu berpidato kepada kaum muslimin menceritakan kemenangan ini?”

“Siap, wahai Amirul Mukminin. Tidak ada yang lebih saya segani di dunia ini selain Anda, maka bagaimana mungkin saya tidak mampu untuk berbicara kepada orang lain?”

Lalu dia pun menceritakannya kepada kaum muslimin dengan bahasa yang indah dan memukau. Dia menceritakan bagaimana mereka berperang, berapa yang terbunuh, dan berapa rampasan perang yang mereka peroleh.

Kata ‘Umar, “Sungguh, dia ini betul-betul orator ulung.”

Kata Ziyad, “Pasukan kami membuktikan ucapan kami dengan tindakan.”

Setelah itu, ‘Umar bersumpah tidak akan membiarkan harta itu tersimpan hingga dibagi-bagikan kepada yang berhak. Harta itu diletakkan di masjid, dijaga oleh ‘Abdullah bin Arqam radhiallahu ‘anhu dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu.

Usai shalat Subuh, setelah matahari terbit, ‘Umar memerintahkan agar penutup harta itu dibuka. Begitu melihat tumpukan emas, perak, dan permata yang berkilau itu, berlinanglah air mata ‘Umar, beliau menangis.

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdur Rahman bin ‘Auf, “Demi Allah, ini adalah waktunya bersyukur.”

“Demi Allah, bukan itu yang membuatku menangis. Demi Allah, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan ini kepada suatu kaum kecuali mereka pasti akan saling iri, benci; dan tidaklah mereka saling mendengki kecuali tentu akan ditimpakan kejelekan di antara mereka.”

 

Jatuhnya Hulwan

Fairuzan yang berhasil melarikan diri tiba di tempat Kisra dan segera memberitahu Kisra tentang kekalahan mereka di Jalula dengan terbunuhnya 100.000 tentara Persia itu serta tewasnya Mihran.

Mendengar berita buruk ini Kisra segera melarikan diri dari Hulwan menuju Rai (Teheran sekarang) dan dia menunjuk seorang amir yang bernama Khasrusynum agar bertahan di Hulwan.

Qa’qa’ maju menyerbu mereka. Khasrusynum menantang Qa’qa’ untuk bertempur di suatu tempat yang berada di luar Hulwan. Qa’qa’ menyambut tantangan itu dan pecahlah pertempuran sengit dan berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

Khasrusynum dan pasukannya kalah, dia sendiri melarikan diri.

Qa’qa’ terus menuju Hulwan dan berhasil merebutnya. Di dalam benteng, mereka mendapatkan harta rampasan perang dan para tawanan. Mereka menguasai tempat itu sambil memungut jizyah dari penduduk yang tinggal di sekitarnya setelah diajak masuk Islam tetapi menolak.

Qa’qa’ menetap di Hulwan sampai Sa’d pindah dari Madain ke Kufah.[4]

 

Kisah Hurmuzan

Menurut sebagian ahli sejarah, Hurmuzan termasuk di antara tentara Persia yang melarikan diri dalam peperangan Qadisiyah.

Abu Musa yang berada di Bashrah mulai berangkat, demikian pula ‘Utbah bin Ghazawan yang ketika itu di Kufah. Keduanya bersiap hendak memerangi Hurmuzan.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kemenangan kepada keduanya. Mereka mengambil kembali daerah yang dikuasainya, antara Eufrat dan Tigris. Kaum muslimin memperoleh banyak rampasan perang dan tawanan.

Hurmuzan berpura-pura berdamai dengan mereka untuk menyelamatkan daerah-daerah lainnya. Akan tetapi, Hurmuzan melanggar perjanjian dan meminta bantuan kepada sebagian orang Kurdi.

Kaum muslimin berhasil mengalahkannya, hingga dia melarikan diri ke Tustar. Ketika negeri itu berhasil ditaklukkan, segera Hurmuzan melarikan diri ke benteng.

Para jagoan Islam, di antaranya adalah Ka’b bin Tsaur, al-Bara’, saudara Anas bin Malik, dan Majza-ah bin Tsaur, terus memburunya dan mengepungnya di satu tempat di benteng itu.

Hurmuzan tidak mempunyai pilihan lain, jika bukan dia yang mati, merekalah yang mati.

Setelah berhasil membunuh al-Bara’ dan Majza-ah, Hurmuzan berkata kepada mereka, “Sungguh, di dalam tempat busurku ada seratus anak panah. Tidak satu pun dari kalian yang mendekat kepadaku pasti akan kubinasakan dengan anak panahku. Setiap panahku akan menghabisi nyawa tiap orang dari kalian. Apa gunanya kalian menawanku setelah kubinasakan seratus orang dari kalian?”

“Lalu, apa maumu?”

“Kalian harus menjamin keamananku setelah aku menyerahkan kedua tanganku untuk kalian ikat lalu kamu menyerahkanku kepada ‘Umar bin al-Khaththab agar menjatuhkan hukuman untukku sesuai dengan yang dia inginkan.”

Mereka menerimanya, maka Hurmuzan segera melempar busur dan anak panahnya. Tangannya segera diikat sekuatnya untuk dikirim kepada ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Akhirnya kaum muslimin berhasil menguasai semua yang ada di negeri tersebut berupa harta dan hasil buminya. Setelah disisihkan 4/5 bagiannya, maka setiap penunggang kuda menerima 3.000 dirham dan pasukan pejalan kaki 1.000 dirham.

Setelah itu, Abu Saburah segera mengirim seperlima dari harta rampasan berikut Hurmuzan yang sudah terikat. Abu Saburah mengutus pula sekelompok utusan yang di dalamnya ada Anas bin Malik dan Ahnaf bin Qais.

Menjelang tiba di kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin. Rombongan itu bertanya di mana Amirul Mukminin berada.

Orang-orang yang ditanya memberitahukan bahwa beliau tadi pergi ke masjid, menerima utusan dari Kufah. Akan tetapi, mereka tidak menjumpai ‘Umar. Mereka kembali keluar dan bertanya kepada beberapa remaja yang sedang bermain di halaman masjid.

“Beliau sedang tidur dengan beralas jubahnya yang bertopi (burnus) di masjid,” kata mereka.

Mereka segera kembali ke masjid dan melihatnya dalam keadaan tertidur dengan alas jubahnya itu. Tidak ada orang lain di masjid selain beliau, sementara tongkatnya tergantung di tangannya.

Hurmuzan bertanya, “Mana ‘Umar?”

Kata mereka, “Inilah dia.”

Mereka berbicara dengan suara lirih agar tidak membangunkannya.

Tetapi Hurmuzan bertanya lagi, “Mana pengawal pribadinya?”

“Dia tidak mempunyai pengawal pribadi ataupun penjaga.”

Hurmuzan berkata, “Seharusnya dia seorang nabi.”

“Bukan, tetapi dia menjalankan tugas para nabi.”

Orang-orang bertambah banyak yang datang, ‘Umar pun bangun mendengar keramaian itu dan langsung duduk.

‘Umar mengamati Hurmuzan dan bertanya, “Inikah Hurmuzan?”

“Ya,” kata mereka.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

Kemudian ‘Umar melanjutkan, “Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap.”

Salah satu utusan tersebut berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya.”

Mereka pun segera mereka menggantinya dengan pakaian biasa.

Setelah itu ‘Umar berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

Kata Hurmuzan, “Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami.”

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”

Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkannya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

“Sebetulnya, aku tidak memerlukan air, tetapi aku ingin menenangkan jiwa dengannya.”

“Aku akan membunuhmu.”

“Engkau telah memberiku jaminan keamanan.”

“Kau dusta.”

Anas yang ikut menyaksikan berkata, “Dia benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Celaka kamu, hai Anas? Apakah aku menjamin keamanan orang yang telah membunuh Majza-ah dan Bara’? Kamu harus mendatangkan bukti. Kalau tidak, aku akan menghukummu!”

Anas segera berkata, “Tadi Anda mengatakan, ‘Tidak apa-apa, minumlah sampai kamu menerangkannya kepadaku,’ dan Anda juga mengatakan, ‘Tidak apa-apa, hingga engkau minum’ dan semua yang ada di sana mengatakan hal yang sama.”

‘Umar segera mendekati Hurmuzan dan berkata, “Kamu berhasil menipuku. Demi Allah, aku tidak mau tertipu kecuali jika engkau masuk Islam.”

Akhirnya, Hurmuzan masuk Islam lalu dia diberi 2.000 dirham dan disuruh tetap tinggal di Madinah.

Kata Ibnu Katsir, “Hurmuzan masuk Islam dan baik Islamnya. Dia tidak pernah berpisah dari ‘Umar hingga ‘Umar terbunuh.”

Ada yang meriwayatkan bahwa ketika ‘Umar berhaji, Hurmuzan ada di dekatnya.

Tetapi, sebagian orang ada yang menuduhnya ikut andil dalam pembunuhan ‘Umar, yaitu persekongkolan antara dia dan Jufainah dengan menugaskan Abu Lu’lu’ah untuk membunuh ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Karena itulah, ‘Ubaidullah bin Umar membunuh Hurmuzan dan Jufainah.

Diriwayatkan bahwa ketika ‘Ubaidullah menikamkan pedangnya kepada Hurmuzan, Hurmuzan mengucapkan La ilaha illallah. Adapun Jufainah mati disalib.

Terakhir, Kisra Yazdajird berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya untuk menyelamatkan diri. Berita terakhir menyebutkan bahwa dia bermukim di Isfahan. Namun, dia terbunuh juga di Thahhan.

Setelah itu, pasukan dan para pembesar serta keluarganya tercerai berai di seluruh pelosok, dan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, kekuatan Persia lenyap. Allah subhanahu wa ta’ala sudah meruntuhkan kesombongan mereka dan mencerai-beraikan mereka.

Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai kaum muslimin,

berpegangteguhlah kamu dengan agama ini,

ikutilah petunjuk Nabi kalian.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ibrah

[1] al-Bidayah wan Nihayah 7/79.

[2] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[3] al-Bidayah wan Nihayah 7/80.

[4] al-Bidayah wan Nihayah 7/82.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 116

Berikut ini beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Mengambil Untung Sebagai Perantara

Seseorang membeli barang melalui internet dengan alamat orang lain. Setelah barang sampai, orang tersebut mengirim uang kepada orang yang membelikan tadi. Apakah orang yang membelikan tadi boleh mengambil keuntungan dari barang tersebut?

 Jawaban:

Jawabannya dirinci sesuai dengan keadaan orang tersebut:

  1. Apabila sifatnya menolong, dia tidak boleh mengambil keuntungan kecuali dapat upah dari pihak yang menyuruh. Semua keuntungan yang didapat, baik berupa diskon atau semisalnya, menjadi milik yang menyuruh.
  2. Dia sebagai makelar, wakil, atau cabang dari yang menyuruh. Dia mendapat upah sesuai dengan kesepakatan bersama sebelumnya. Segala keuntungan yang didapat, semisal diskon, dll., hukum asalnya kembali kepada yang menyuruh kecuali apabila ada kesepakatan lain sebelumnya.

Wallahul Muwaffiq.

 —————————————————————————————————————————————–

Puasa Agar Lulus Ujian

Di sebagian daerah terbiasa berpuasa pada hari-hari yang diharapkan keberhasilannya, seperti tes kelulusan, ujian, dan perlombaan. Harapannya supaya menang dalam perlombaan atau ujian tersebut. Apakah yang demikian itu disyariatkan?

Jawaban:

Puasa dengan niat-niat semacam itu tidak dibenarkan karena orientasinya adalah dunia, dan justru untuk urusan yang mungkar. Yang benar, niatnya ikhlas mengharap pahala hanya dari Allah semata. Buahnya nanti adalah kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

——————————————————————————————————————————————-

Minta Diruqyah Agar Semangat Ibadah

Apakah boleh seseorang minta diruqyah karena dirinya merasa kurang semangat dalam beribadah, seperti:

  • sering melalaikan shalat (mengakhirkan waktu shalat)
  • sering ragu-ragu jumlah rakaat ketika sedang shalat
  • sering merasa mengulangi beberapa ayat al-Fatihah, bahkan ragu al-Fatihah yang dibacanya
  • berzikir setelah shalat seadanya (seperti doa untuk kebaikan dunia dan akhirat serta doa untuk orang tua saja), namun dalam hati ingin sekali untuk berzikir lebih lama.
  • sering lalai dalam mengaji dan menghadiri kajian-kajian ilmu.

 

Jawaban:

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan:

  1. Minta diruqyah hukumnya makruh. Pelakunya luput dari kesempatan menjadi orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab.
  2. Tidak semua keluhan dan masalah kejiwaan harus dengan cara ruqyah.
  3. Malas belajar dan ibadah adalah penyakit futur. Solusinya:
  4. Tanamkan dalam hati fadhilah (keutamaan) amal.
  5. Bergaullah dengan sahabat yang saleh salafi.
  6. Mendatangi orang yang saleh salafi untuk mendapatkan nasihat dan secara langsung melihat amaliahnya.
  7. Banyak membaca sejarah para nabi dan para salaf untuk diambil ibrahnya.
  8. Keluhan lainnya yang disebutkan di atas disebut waswas. Solusinya:
  9. Membangun semua amalan di atas ilmu syar’i.
  10. Menanamkan rasa yakin dalam beramal dengan dasar ilmu.
  11. Menolak semua bisikan yang membuat ragu dalam beramal. Misalnya, dia shalat dan sudah membaca al-Fatihah lalu muncul waswas. Dia langsung melawan dan yakin sudah membaca al-Fatihah dan yakin shalatnya sah.

 Mengobati waswas perlu kesungguhan, kesabaran, dan proses waktu.

——————————————————————————————————————————————

Jumlah Rakaat Tarawih

Bagaimana cara shalat tarawih dengan munfarid (sendirian) 11 rakaat yang dituntunkan oleh Nabi, apakah 4 rakaat 4 rakaat dilanjutkan witir 3 rakaat? Ataukah 2 rakaat sebanyak 4 kali lalu 2 rakaat dan 1 rakaat witir?

 Jawaban:

Semuanya diperbolehkan karena ada riwayat yang menjelaskannya. Namun, yang paling afdal adalah 2 rakaat 2 rakaat, terakhir 1 rakaat.

—————————————————————————————————————————————–

Bacaan Rakaat Terakhir Shalat Witir

Apakah benar dituntunkan oleh Nabi, pada rakaat terakhir witir membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas sekaligus?

 Jawaban:

Hadits yang sahih hanya membaca al-Ikhlas. Hadits yang menyebutkan tambahan al-Falaq dan an-Nas derajatnya dha’if.

 ——————————————————————————————————————————————

Memisahkan Waktu Tarawih & Witir

Bolehkah setelah shalat tarawih tidak dilanjutkan dengan witir karena berniat pada sepertiga malam nanti akan melakukan qiyamul lail lainnya lagi? Sebab, yang saya tahu, witir dilakukan setelah/untuk menutup qiyamul lail yang telah dilakukan.

Jawaban:

Boleh, asalkan belum melaksanakan shalat witir. Yang afdal dilakukan 11 rakaat dan shalat bersama imam hingga selesai witir.

 —————————————————————————————————————————————-

Doa Khusus Selesai Baca al-Qur’an

Apakah ada doa khusus setelah selesai baca al-Qur’an?

Jawaban:

Ada hadits sahih yang menunjukkan bahwa yang dibaca setelah membaca al-Qur’an adalah doa kaffaratul majlis. Adapun bacaan shadaqallahul ‘azhim tidak ada sunnahnya.

 —————————————————————————————————————————————-

Harta Gonogini

Apa hukum harta gonogini dan bagaimana menurut timbangan syariat tentang hal tersebut?

Jawaban:

Terkait harta gonogini dalam kasus perceraian, harus diperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Dalam Islam, setiap orang memiliki harta sendiri, termasuk pasangan suami istri. Hanya saja, suami diwajibkan memberikan nafkah kepada istri.
  2. Ketika terjadi perceraian, maka ada beberapa keadaan:
    1. Harta yang ada baik properti maupun lainnya adalah murni milik suami. Dalam keadaan ini, tidak ada harta gonogini untuk istri karena semuanya milik suami, kecuali harta yang diberikan suami kepada istrinya semampunya untuk mut’ah (menyenangkan hati).
    2. Semua harta adalah milik istri. Dalam keadaan ini, tidak ada harta gonogini untuk suami, tidak ada pula harta mut’ah. Semuanya kembali kepada istri. Justru suami yang memberi harta mut’ah kepada istri.
    3. Harta yang bercampur kepemilikan antara suami dan istri. Dalam hal ini ada 2 perincian:
  3. Bisa diupayakan identifikasi harta masing-masing; maka harta suami untuk suami dan harta istri untuk istri, lalu suami memberi harta mut’ah.
  4. Tidak bisa diidentifikasi; maka harta dibagi dua untuk suami dan istri, lalu suami memberi harta mut’ah.

 ——————————————————————————————————————————————

Wanita Haid Memegang Mushaf

Bolehkah wanita yang sedang haid memegang dan membca al-Qur’an?

 Jawaban:

Wanita haid boleh membaca al-Qur’an baik dengan hafalan maupun dari mushaf. Sebab, waktu sucinya lama. Berbeda halnya dengan junub, yang bisa langsung bersuci.

 ——————————————————————————————————————————————-

Sumpah Tidak Mau Melayani Suami

Saya pernah bersumpah tidak akan memberikan hak suami untuk menggauli saya. Itu spontan terucap karena rasa marah. Bagaimana hukumnya, ustadz? Apa saya harus membayar kafarah?

Jawaban:

Ada dua rincian keadaan:

  1. Apabila amarah tersebut sampai pada tingkat tidak sadar apa yang dia ucapkan, tidak ada hukum baik dalam hal talak, khulu’, maupun sumpah.
  2. Apabila masih sadar apa yang dia ucapkan, jatuh hukum, dalam hal ini yaitu kafarah sumpah.

 ——————————————————————————————————————————————-

Membunuh Semut

Apa hukumnya membunuh sekawanan semut dengan kapur khusus serangga, meskipun tidak memberi gangguan berupa gigitan?

 Jawaban:

Membunuh semut hukum asalnya terlarang. Kecuali apabila semut itu menyakiti, semut tersebut bisa dibunuh; atau apabila mengganggu, bisa dihalau sebisa mungkin dengan kapur atau yang lain. Kalau tidak mungkin kecuali dengan membunuhnya, tidak masalah.

——————————————————————————————————————————————-

Zakat Fitrah Diberikan kepada Orang Kafir

Apakah boleh memberi zakat fitrah kepada nonmuslim yang tidak mampu?

 Jawaban:

Boleh, terutama dalam rangka ta’lif (melembutkan hati) supaya tertarik masuk Islam. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Batas Akhir Bayar Fidyah

Kapan batas akhir membayar fidyah, apakah boleh setelah bulan Ramadhan?

Jawaban:

Utamakan membayar fidyah dalam bulan Ramadhan. Bisa di awal, tengah, atau akhir Ramadhan. Bisa dibayarkan tiap hari atau 30 hari langsung. Bisa dalam bentuk bahan mentah atau matang, bisa untuk orang miskin yang sama atau yang berbeda.

 ——————————————————————————————————————————————

Rebonding Rambut

Bolehkah wanita meluruskan (rebonding) rambutnya agar terlihat lebih rapi?

 Jawaban:

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Setiap insan diciptakan oleh Allah dengan kondisi rambut yang berbeda. Ada yang keriting, lurus, berombak, dll. Itu merupakan asal penciptaan yang Allah kodratkan untuknya.
  2. Islam tidak memperbolehkan pengubahan sesuatu dari asal penciptaannya.
  3. Jadi, rambut yang asalnya lurus tidak boleh dibuat keriting, atau yang asalnya keriting tidak boleh dibuat lurus, dengan cara apa pun.
  4. Adapun mengembalikan sesuatu kepada asal penciptaannya, hukumnya boleh. Misalnya, seseorang memiliki gigi yang sangat menonjol keluar. Ini di luar kebiasaan gigi manusia pada umumnya, maka boleh dikembalikan kepada asalnya dengan kawat gigi atau lainnya. Dalam hal ini, para fuqaha memberikan batasan, yaitu apabila kondisi gigi tersebut merusak bentuk normal wajah manusia atau membuatnya kesulitan beraktivitas, seperti makan.
  5. Apabila tindakan rebonding hanya sedikit memperbagus yang sudah ada, tidak sampai mengubah asal penciptaan, hal ini tidak masalah.

 ——————————————————————————————————————————————-

Menahan Buang Angin Saat Shalat

Saya dengar bahwa hukum menahan buang angin ketika shalat adalah makruh. Yang makruh perbuatannya atau shalatnya?

 Jawaban:

Menahan buang angin saat shalat ada beberapa keadaan:

  1. Sedikit pun tidak mengurangi kekhusyukan shalat, maka tidak masalah.
  2. Mengganggu atau mengurangi kekhusyukan shalat, maka hukumnya makruh.
  3. Membuat pelakunya tidak bisa lagi khusyuk dan konsentrasi dalam shalatnya, maka hukumnya terlarang dan shalatnya batal.

 ——————————————————————————————————————————————-

Bacaan Tasyahud pada Shalat 2 Rakaat

Bagaimana kaidah fikih tentang bacaan pada tasyahud shalat dua rakaat? Apakah membaca kalimat tasyahud awal kemudian salam, ataukah membaca kalimat tasyahud akhir kemudian salam?

Jawaban:

Pada tasyahud akhir, baik itu shalat yang 1, 2, 3, atau 4 rakaat, yang dibaca adalah:

  1. Tasyahud.
  2. Shalawat.
  3. Ta’awudz dari empat perkara
  4. Membaca doa sesuai dengan kehendak kita baru salam.

Bacaan di atas ada yang hukumnya wajib, ada yang sunnah.

——————————————————————————————————————————————-

Makanan yang Dimasak, Membatalkan Wudhu?

Saya mendengar bahwa memakan dan meminum makanan dan minuman yang dimasak/direbus dengan api dapat mengakibatkan batalnya wudhu. Apakah benar?

 Jawaban:

Benar, namun itu dahulu di masa awal Islam. Setelah itu hukum tersebut dihapus. Jadi, hal tersebut tidak membatalkan wudhu.

——————————————————————————————————————————————-

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seputar Qunut Witir (1)

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke Redaksi seputar qunut witir. Di antaranya:

Saya mau bertanya, saat imam membaca qunut witir, apa yang dilakukan oleh makmum? Apakah mengamini di sela-sela doa qunut ada syariatnya? Saat itu bolehkah mengangkat kedua tangan menengadah?

IRT di Wonosari

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

 Kesimpulan masalah qunut witir kami rangkum sebagai berikut.

  1. Hukumnya sunnah, tidak hanya di separuh terakhir Ramadhan, tetapi disunnahkan dilakukan sepanjang tahun; tidak secara terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang qunut dan terkadang tidak. Ini menurut pendapat yang rajih.
  2. Dilakukan di rakaat terakhir, bisa sebelum rukuk (setelah membaca surat) atau setelah rukuk (seusai baca zikir i’tidal).
  3. Qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Membaca doa qunut yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan radhiallahu ‘anhu dan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Pada shalat jamaah, imam mengeraskan doa qunut dengan mengganti dhamir (kata ganti diri) dengan dhamir yang bermakna “kami” agar doa itu mencakup imam dan makmum. Adapun makmum cukup mengaminkan saja.

Adapun keterangannya secara detail akan kami jabarkan satu per satu, bi idznillah.

 Hukum Qunut Witir

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup alot di antara ulama mengenai hukum qunut witir dan intensitas pelaksanaannya. Kami menyimpulkan pendapat-pendapat itu menjadi tiga golongan.

  1. Golongan yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.
  2. Golongan yang berpendapat tidak ada ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

radhiallahu ‘anhuma. Golongan yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat yang melakukan qunut witir sepanjang tahun, tanpa pembatasan di separuh terakhir Ramadhan.

 Golongan pertama, ulama yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau tidak qunut witir. Diriwayatkan pula pengingkaran terhadap qunut witir dari al-Imam Malik.

Ibnu Abdil Barr menerangkan dalam kitab al-Istidzkar (2/Kitab ash-Shalah

fi Ramadhan, Bab Ma Ja’a fi Qiyam Ramadhan) bahwa ada perbedaan versi riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, “Salah satunya adalah riwayat Ibnu Numair, dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ وَلاَ فِي الْوِتْرِ

        “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak pernah qunut pada shalat subuh dan shalat witir.”[1]

Riwayat Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma semisal dengan itu.”

Riwayat dengan versi lain dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma akan disebutkan pada pengkhususan qunut witir di pertengahan terakhir Ramadhan.

Dalam kitab al-Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr menukil pengingkaran al-Imam Malik terhadap riwayat ahlu Mishr (sahabat Malik dari kalangan penduduk Mesir, yaitu Ibnul Qasim, Asyhab, dan Ibnu Wahbin) bahwa Malik ditanya apakah disyariatkan seseorang melakukan qunut witir? Ia menjawab, “Tidak.”

 Golongan kedua, yang berpandangan tidak ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

Al-Khallal meriwayatkan bahwa al-Imam Ahmad berkata, “Tidak ada hadits sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir. Akan tetapi, ‘Umar radhiallahu ‘anhu lah yang melakukan qunut witir.”

Kata Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, “Tidak ada hadits musnad (yang sanadnya bersambung) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih tentang qunut witir.”

Ibnul ‘Abdil Barr juga berkata, “Adapun (pengamalan) qunut witir oleh sahabat radhiallahu ‘anhum telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat radhiallahu ‘anhum.”

Ibnu ‘Abdil Barr kemudian berkata, “Ulama yang membolehkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarawih di sepuluh terakhir Ramadhan berhujah dengan riwayat-riwayat tersebut. Sebab, hal itu telah dicontohkan oleh sejumlah sahabat yang mulia. Ia adalah amalan yang nyata di kota Madinah di zaman itu, dan tidak diketahui seorang pun dari kalangan sahabat yang mengingkarinya.”

Di antara riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/no. 1100, terbitan al-Maktab al-Islami) dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani[2] dengan lafadz,

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ لَيْلَةَ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ مَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْقَارِي، فَطَافَ بِالْمَسْجِدِ وَأَهْلُ الْمَسْجِدِ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّيْ الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّيْ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ.

فَقَالَ عُمَرُ: وَاللهِ إِنِّيْ أَظُنُّ لَوْ جَمَعْنَا هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَمَرَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَنْ يَقُوْمَ لَهُمْ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ عُمَرُ عَلَيْهِمْ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ.

فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَ، وَالَّتِيْ تَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ تَقُوْمُوْنَيُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِفَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ.

وَكَانُوْا يَلْعَنُوْنَ الْكَفَرَةَ فِي النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلهُ الْحَقُّ.

 ثُمَّ يُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَدْعُو لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ خَيْرٍ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. وَكَانَ يَقُوْلُ إِذَا فَرَغَ مِنْ لَعْنَةِ الْكَفَرَةِ وَصَلاَتِهِ عَلَى النَّبِيِّ وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَمَسْأَلَتَهُ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الجِدَّ، إِنْ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ؛ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِيْ سَاجِدًا.

Sesungguhnya Umar radhiallahu ‘anhu pernah keluar dari rumahnya di bulan Ramadhan dan Abdur Rahman bin Abdil Qari ikut keluar bersamanya. Umar radhiallahu ‘anhu berkeliling di dalam masjid, sementara penghuni masjid shalat tarawih berjamaah dengan berpencar-pencar; setiap imam mengimami sekitar 3—10 orang.

Lantas Umar berkata, “Demi Allah, sungguh aku beranggapan bahwa seandainya kami kumpulkan mereka semua dengan seorang imam, hal itu lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Umar kemudian bertekad atas hal itu dan memerintah Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Lalu Umar keluar untuk melihat mereka, sementara mereka shalat tarawih berjamaah dengan imam mereka.

Umar berkata, “Ini adalah sebaik-baik perkara baru (yang dihidupkan kembali setelah lama ditinggalkan). Shalat tarawih di akhir malam (saat kalian tidur) lebih baik daripada shalat yang kalian laksanakan sekarang di awal malam.”

Mereka melaksanakannya di awal malam. Mereka berdoa qunut melaknat orang-orang kafir di separuh terakhir Ramadhan, “Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikanlah persatuan mereka, campakkanlah ke dalam kalbu-kalbu mereka rasa takut, timpakanlah azab atas mereka. Engkaulah Ilah (sembahan) yang Mahabenar.”

Ubay kemudian bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan semampunya kebaikan bagi kaum muslimin, kemudian memintakan ampun bagi mereka. Setelah melaknat orang-orang kafir, bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beristigfar untuk kaum mukminin dan mukminat, dan apa yang dimintanya, Ubay membaca,

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud, hanya kepada-Mu kami bergegas dan bersegera dalam beramal, kami berharap rahmat-Mu, wahai Rabb kami. Kami takut azab-Mu yang benar adanya, sesungguhnya azab-Mu pasti akan menimpa orang yang memusuhi-Mu.”

Ia kemudian bertakbir dan sujud.

 Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan riwayat Ibnu Juraij dari Atha’ dari Umar radhiallahu ‘anhuma,

قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: الْقُنُوتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ قَنَتَ. قُلْتُ: النِّصْفُ الْآخِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Kata Ibnu Juraij, “Aku berkata kepada Atha’, apakah qunut dilakukan pada bulan Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Yang pertama kali melakukannya adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.”

Ibnu Juraij berkata, “Di pertengahan terakhir Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Ya.”[3]

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya juga mengeluarkan riwayat al-Hasan al-Bashari bahwa Umar radhiallahu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu untuk mengimami kaum muslimin shalat tarawih dan menyuruhnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan.

Namun, riwayat ini divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if Sunan Abi Dawud—al-Umm (2/no. 258, terbitan Muassasah Ghiras), karena sanadnya putus antara al-Hasan dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Hal ini juga telah diamalkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pada riwayat versi kedua darinya yang dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, yaitu riwayat Ibnu ‘Ulayyah, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma tidak melakukan qunut witir kecuali pada separuh terakhir Ramadhan.”[4]

Kata asy-Syaukani dalam Nailul Authar (Kitab ash-Shalah, Bab Waqti Shalatil Witri wal Qira’ah fiha wal Qunut), “Muhammad bin Nashr telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak qunut subuh dan tidak qunut witir selain pada separuh terakhir Ramadhan.”

Berdasarkan ini, muncullah pendapat bahwa qunut hanya disunnahkan pada rakaat terakhir shalat witir pada separuh terakhir Ramadhan (setelah 16 Ramadhan), tidak di malam-malam selainnya sepanjang tahun. An-Nawawi menukil dalam kitab al-Majmu’ (3/510) bahwa ini yang masyhur pada mazhab Syafi’i, yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan telah ditegaskan langsung oleh al-Imam asy-Syafi’i.

Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Istidzkar menukil pendapat ini dari Malik pada riwayat penduduk Madinah.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (2/580) dan al-Murdawi dalam kitab al-Inshaf (2/170) menukil bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad.

Ibnu Qudamah juga menukil bahwa ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan az-Zuhri dari kalangan tabi’in, sebagaimana telah diriwayatkan hal itu dari keduanya.[5]

 Golongan ketiga, yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun di setiap shalat, tanpa pembatasan pada separuh terakhir Ramadhan.

Hadits itu adalah hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma,

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku kalimat-kalimat untuk kubaca pada qunut witir,

“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah; berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat; perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya; berkahilah aku pada apa-apa yang yang Engkau berikan; jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan; sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi; Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya; dinilai sahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ [2/no. 429] dan al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih [2/144—147])[6]

Hal ini didukung pula oleh beberapa amalan sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun. Di antaranya adalah atsar Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr, sebagaimana kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalah.

Berdasarkan ini semua, sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada rakaat terakhir setiap shalat witir yang dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya pada separuh terakhir Ramadhan.

Setelah meriwayatkan hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tersebut, at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi (2/Kitab ash-Shalah, bab Ma Ja’a fil Qunut fil Witri) mengatakan, “Ini adalah pendapat sebagian ulama. Yang berpendapat dengan ini ialah Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ishaq, dan ulama penduduk Kufah.”

Ini juga pendapat al-Imam Ahmad—pada riwayat lain darinya—yang dipilih oleh mayoritas fuqaha mazhab Hanbali dan menjadi pegangan pada mazhab tersebut.

Ibnu Qudamah menukil riwayat al-Marrudzi dari Ahmad bahwa beliau rujuk kepada pendapat ini dan meninggalkan pendapat yang mengkhususkan qunut witir hanya dilakukan pada pertengahan terakhir Ramadhan. Al-Murdawi juga menukil riwayat Khaththab dari Ahmad mengenai rujuknya beliau dalam masalah ini.

Al-Imam Ibnu Baz mendukung pendapat ini dalam Majmu’ al-Fatawa (30/32—33) dengan hujah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa qunut witir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahnya untuk terkadang meninggalkannya ataupun untuk terus-menerus melakukannya.

Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa qunut witir disunnahkan terus-menerus sepanjang tahun.

Menurut Ibnu Baz, amalan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu meninggalkannya pada separuh pertama Ramadhan, barangkali untuk menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib.

Adapun al-‘Utsaimin dan al-Albani, keduanya berpendapat bahwa qunut witir disunnahkan secara mutlak kapan saja sepanjang tahun, tidak khusus pada separuh terakhir Ramadhan. Hanya saja, qunut tidak dilakukan terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang dilakukan dan terkadang tidak.

Kata al-‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/19-20), “Yang mengamati shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut pada witirnya, tetapi hanya mengakhiri shalat malamnya dengan satu rakaat witir. Inilah yang terbaik.

“Anda jangan melakukan qunut witir terus menerus karena hal itu tidak tsabit (benar) riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa yang dibaca pada qunut witir, yang menunjukkan bahwa qunut witir hukumnya sunnah. Hal itu berdasarkan sabdanya, bukan berdasarkan amalannya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahkan, dalam hal ini al-Albani menilai sahih hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa qunut witir sebelum rukuk.” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya)

Dengan pendapat ini, al-Albani menyelisihi sejumlah imam-imam ahli hadits masa lalu yang memvonis hadits ini dha’if (lemah), terutama al-Imam Ahmad—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Abu Dawud memvonis hadits ini cacat dengan alasan penyebutan qunut pada riwayat ini berstatus syadz (keliru/ganjil). Begitu pula Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi memvonisnya dha’if.

Akan tetapi, al-Albani berupaya menghukuminya dengan menilainya sebagai tambahan riwayat dari sejumlah rawi tsiqah (tepercaya) yang patut diterima (ziyadah ats-tsiqah) dan dikuatkan pula oleh hadits-hadits yang semakna dengannya (syawahid).[7]

Lantas al-Albani berkata dalam Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970), “Ketahuilah, kami mengatakan bahwa qunut witir hanyalah disunnahkan dengan sifat kadang-kadang (tidak terus-menerus setiap kali witir). Sebab, kami telah menelusuri/meneliti hadits-hadits mengenai witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang jumlahnya banyak—lantas kami menemukan mayoritas hadits-hadits itu tidak menyinggung qunut sama sekali, seperti hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dan lainnya.

“Kaidah menuntut untuk memadukan antara hadits-hadits itu, hadits Ubay, dan hadits yang semakna dengannya, dengan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang qunut witir dan terkadang tidak. Sebab, andaikan beliau melakukan qunut terus-menerus, tentulah tidak akan tersembunyi dari pengetahuan mayoritas sahabat yang telah meriwayatkan shalat witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Inilah yang terbaik dalam masalah ini. Wallahul muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

[1] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Kana La Yaqnutu fil witri, no. 7018).

[2] Pada kitab Shifat ash-Shalah (hlm. 180).

[3] Lihat kitab Mushannaf Abdir Razzaq (4/Kitab ash-Shiyam, bab Qiyam Ramadhan, no. 7728, terbitan al-Maktabah al-Islami) dan Mushannaf Ibni Abi Syaibah (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7009).

[4] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7005)

[5] Sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarwih di bulan Ramadhan sebulan penuh, tidak di luar Ramadhan. Ibnu ‘Abdil Barr menukil pendapat ini dari al-Auza’i; dan an-Nawawi menukilnya dari sebagian fuqaha mazhab Syafi’i.

[6] Guru besar kami, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menukil bahwa hadits ini termasuk dari sederetan hadits-hadits yang ad-Daraquthni menuntut al-Imam al-Bukhari dan Muslim seharusnya mengeluarkannya dalam kitab Shahih keduanya.

[7] Lihat kitab Talkhish Habir (2/39, no. 533, Muassasah Qurthubah), al-Irwa’ (2/167-168, no. 426), dan Ashlu Shifat ash-Shalah (3/968-969).

[8] Kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalati (3/970) , “Hal itu menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib, tetapi hanya sunnah sebagaimana mazhab jumhur sahabat, tabi’in dan ulama setelahnya. Ini pula mazhab Abu Yusuf dan Muhammad (asy-Syaibani), berbeda dengan mazhab ustadz mereka yang mengatakan bahwa qunut witir wajib.” Maksudnya, wajib pada setiap kali witir.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 115

Berikut ini beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-ustadz Muhammad as-Sarbini.

 Haid, Qadha Shalat?

Mau tanya, apakah benar wanita yang haid itu punya kewajiban untuk mengqadha shalat?

Jawaban:

Itu tidak benar. Pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan, wanita haid diperintah mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat. Berbeda halnya jika yang dimaksud adalah wanita mendapati waktu shalat, tetapi belum sempat menunaikannya lantas tertimpa haid. Ia wajib mengqadhanya, dengan syarat sempat mendapati waktu yang cukup untuk melaksanakan satu rakaat. Lihat rincian penjelasan masalah ini pada Rubrik Problema Anda edisi 97.

 

Nikah Tanpa Wali

Bagaimana hukumnya pernikahan seorang janda yang menikah tanpa wali, sah atau tidak pernikahannya? Kalau tidak sah, haruskah kami berpisah dahulu untuk sementara guna memperbarui pernikahan? Kami sudah menikah delapan tahun, anak kami ada lima. Kami menikah secara siri karena suami sudah punya istri. Suami sudah punya niat untuk ke pengadilan, tetapi qaddarallah banyak halangannya. Bagaimana cara kami memperbaiki semuanya, ustadz? Mohon solusinya.

Jawaban:

Pernikahan tanpa wali hukumnya tidak sah, baik perawan maupun janda. Apabila salah satu dari Anda berdua sudah mengetahui hukum ini saat menikah, tetapi tetap melangsungkannya karena dorongan hawa nafsu, berarti Anda berdua telah berzina. Lima anak itu berstatus anak zina, tidak punya bapak. Mereka dinisbahkan kepada ibunya.

Apabila Anda berdua benar-benar tidak tahu hukum ini, lima anak itu berstatus anak syubhat, seperti halnya anak syar’i (yang sah). Yang mana saja dari kedua kemungkinan di atas, Anda wajib langsung berpisah saat ilmu ini sampai. Setelah itu, perbarui pernikahan dengan wali yang sah, walau belum disahkan oleh pengadilan.

 ——————————————————————————————————————————

“Saya Selesai Jadi Suamimu”

Saya mempunyai suami yang bekerja di luar kota. Suami selingkuh dan saya maafkan. Suatu hari suami ketahuan selingkuh kembali dengan wanita yang mengaku sudah menjalin hubungan dengan suami saya selama 4 tahun. Atas kejadian itu, suami meminta maaf. Akan tetapi, setelah kejadian ini hati saya jadi gampang curiga.

Dengan kecurigaan itu, suami berkata kepada saya, “Selesai saya jadi suami kamu.” Dengan ucapan itu, apakah suami sudah menalak saya? Akan tetapi, suami masih pulang ke rumah dan masih memberi materi kepada anak-anak dan saya, tetapi tidak untuk nafkah batin.

Pertanyaannya, bagaimanakah hukum pernikahan saya secara Islam? Suami sudah sering mengucapkan kata talak kepada saya, sebanyak 4 kali. Akan tetapi, pada akhirnya suami mengajak saya rujuk kembali karena kasihan terhadap anak.

Jawaban:

Jika suami Anda sudah mengucapkan/menjatuhkan talak sampai3 kali yang diselingi oleh rujuk di antara setiap fase talak, Anda sudah bukan istrinya lagi.

Bahkan, Anda tidak bisa menikah lagi dengannya sampai Anda dinikahi oleh pria lain dan berhubungan biologis (senggama) dengannya, lalu terjadi perceraian dengannya atau ditinggal mati olehnya. Setelah itu baru boleh kembali kepada suami yang lama dengan akad yang baru.

 —————————————————————————————————————————–

Akikah dengan Harta Warisan

Bolehkah akikah dengan harta warisan?

Jawaban:

Jika Anda sudah mewarisi suatu harta, itu jadi milik Anda, terserah untuk apa.

——————————————————————————————————————————

Talak Tiga Sekaligus dalam Satu Kesempatan

Saya bertengkar dengan istri saya. Terus saya telepon ayahnya dan saya berkata, “Pak, hari ini Fulanah (nama istri) saya talak tiga.”

Apakah itu sah atau bagaimana itu? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Talaknya sah, tetapi hanya terhitung satu talak. Talak tiga dalam satu majelis sekaligus tidak sah.

 ——————————————————————————————————————————-

Niat Puasa Bulan Sya’ban

Saya mau bertanya, berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban, apakah niatnya khusus untuk puasa Sya’ban atau bisa dengan niat puasa sunnah lainnya, seperti puasa Senin Kamis, puasa Dawud, dll.?

Jawaban:

Semuanya disunnahkan, tergantung niatnya. Yang membedakan adalah niatnya, apakah puasa Syaban, puasa Senin-Kamis, atau puasa Dawud.

 ————————————————————————————————————————–

Puasa Ayyamul Bidh 2 Hari Saja

Kalau puasa ayyamul bidh dilakukan 2 hari bagaimana? Soalnya baru tahu pada hari ke-2 dan ke-3. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Puasa ayyamul bidh dilakukan tiga hari, yaitu tanggal 13, 14, 15 setiap bulan hijriah. Namun, ada hadits-hadits lain yang menganjurkan berpuasa 3 hari setiap bulan secara umum, kapan saja, berturut-turut ataupun tidak. Ada juga hadits yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa 3 hari dalam sebulan tanpa peduli kapan harinya. Pahalanya senilai puasa setahun. Tentunya dilaksanakan pada selain hari terlarang, seperti pengkhususan puasa hari Jumat.

——————————————————————————————————————————

Tukar Biodata untuk Taaruf

Bolehkah seorang wanita memberikan biodatanya kepada orang yang melamarnya?

Jawaban:

Boleh, sampaikan sejujur-jujurnya. Proses pria untuk melamar wanita melalui tahapan hingga tahap pelamaran. Tahap pertama adalah perkenalan dengan tukar menukar biodata yang disebut dengan istilah taaruf.

 ——————————————————————————————————————————–

Menikah dengan Orang Lain Setelah Talak Tiga

Delapan bulan yang lalu saya ditalak tiga oleh suami saya. Talak pertama, kami rujuk. Talak kedua kami juga rujuk. Setelah talak ketiga kami langsung pisah rumah. Sekarang kami tidak pernah berkomunikasi lagi, bahkan dia tidak menafkahi anak kami yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Yang menjadi pertanyaan, saya saat ini berencana menikah pada Idul Fitri tahun ini. Apakah itu boleh ustadz? Apakah pernikahan kami sah?

Jawaban:

Jika masa iddah Anda sudah selesai, sah menikah lagi dengan pria lain dengan syarat-syarat pernikahan yang syar’i, seperti dinikahkan oleh wali.

 ——————————————————————————————————————————–

Mandi Menjelang Ramadhan

Apakah ada sunnahnya untuk mandi khusus sebelum Ramadhan seperti yang sering dilakukan oleh kaum muslimin saat ini, baik di tempat pemandian umum, di rumah, memakai kembang, dll.?

Jawaban:

Hal itu tidak ada sunnahnya, justru tergolong bid’ah tercela.

 ——————————————————————————————————————————–

Waktu Sahur & Berbuka

Kapan waktu sahur dan berbuka?

Jawaban:

Waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam sampai menjelang tebitnya fajar. Semakin mendekati terbitnya fajar, semakin utama.

——————————————————————————————————————————–

Niat Puasa Ramadhan

Apakah niat melakukan amalan puasa Ramadhan dilakukan seperti niat-niat amalan lainnya, yakni cukup di dalam hati tanpa diucapkan? Kapan waktu melakukan niat ini, apakah sehari sebelum Ramadhan, malam akan puasa, atau sebelum sahur? Apakah ini dilakukan sekali saja untuk puasa sebulan atau setiap harinya?

Jawaban:

Niat adalah amalan hati, tidak boleh dilafadzkan. Niat puasa Ramadhan dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar yang ditandai dengan azan subuh, bisa dilakukan sebelum sahur atau setelah sahur; yang jelas sebelum masuk waktu shalat subuh.

——————————————————————————————————————————-

Sahur Belum Selesai, Azan Berkumandang

Bagaimana dengan makanan yang masih tersisa di dalam piring serta minuman yang tersisa dalam gelas saat sahur namun azan dikumandangkan? Apakah tetap dihabiskan atau hanya menghabiskan yang sudah berada di dalam mulut saja?

Bagaimana dengan makanan yang masih dikunyah di mulut, apakah dikeluarkan atau tetap ditelan?

Jawaban:

Jika azan dikumandangkan dengan berpatokan melihat fajar, yang berarti telah pasti terbitnya, tidak boleh sama sekali melanjutkan sahur. Anda wajib berhenti, yang di dalam mulut harus dikeluarkan. Jika azan berpatokan pada perkiraan jadwal waktu shalat, yang berarti tidak pasti tetapi hanya pendekatan, hati-hatinya berhenti dan mengeluarkan yang ada di mulut. Akan tetapi, jika menyelesaikan yang di mulut dan yang di piring/gelas, boleh sampai azan berakhir.

——————————————————————————————————————————–

Jumlah Rakaat Tarawih

Bagaimana dengan jumlah rakaat shalat tarawih yang sunnah, apakah 2, 2, 2, 2, 2, 1 atau 2, 2, 2, 2, 3 rakaat?

Jawaban:

Dua-duanya sunnah. Yang afdal adalah cara yang pertama, dan terkadang yang kedua.

 ——————————————————————————————————————————-

Ziarah Wali Songo

Mohon penjelasan hukum ziarah kubur wali songo, dengan tujuan mencari kesembuhan, usaha lancar, dll. Ini sedang marak di daerah kami.

Jawaban:

Jika ziarah itu untuk berdoa dan memohon kepada wali songo yang dikubur di situ, itu jelas syirik akbar (pembatal Islam).

Jika menziarahi kuburan mereka untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada mereka agar mereka menjadi wasilah kesembuhan, usaha lancar, dan lain-lain, itu juga syirik akbar.

 ——————————————————————————————————————————-

Jual Beli ‘Inah = Riba

Ketika ada orang membutuhkan uang semisal 250 ribu, saya memberikan emas 1 gram yang harganya 250 ribu tetapi saya jual kepada orang tersebut dengan harga 300 ribu karena secara angsuran. Setelah diterima, kemudian emas tersebut dijual lagi kepada saya dengan harga 245 ribu.

Apakah itu suatu riba, dan haramkah jual beli itu?

Jawaban:

Itu tergolong transaksi riba terlaknat yang direkayasa, yang dikenal dengan istilah ‘inah. Rekayasa itu tidak menjadikannya halal, tetapi semakin haram, karena mengandung unsur mempermainkan syariat pengharaman riba. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla tidak tahu, seperti mempermainkan anak kecil.

 

Kalau saya mengkreditkan emas 1 gram seharga 250 ribu, tetapi saya jual 300 ribu karena mengangsur 4 bulan, dan saya TIDAK mau membeli emas itu lagi dari orang tersebut. Saya serahkan mau diapakan emas tersebut oleh si pembeli; apakah itu tetap sama riba?

Jawaban:

Hal itu tetap tergolong riba, karena tidak kontan, tidak serah terima langsung dengan tuntas antara kedua belah pihak sebelum pisah majelis.

Ketahuilah bahwa emas, perak, dan uang adalah barang-barang ribawi yang illat (faktor) hukum ribawinya sama. Jika diperjualbelikan satu sama lainnya dengan sejenis, harus sama nilainya dan serah terima langsung (tuntas) sebelum pisah majelis. Jika diperjualbelikan dengan berbeda jenis, harus serah terima langsung (tuntas) sebelum pisah majelis. Jika syarat itu ada yang dilanggar, itu adalah riba.

——————————————————————————————————————————

Utang Puasa 60 Hari, Fidyah Saja?

Saya memiliki utang puasa yang banyak, 60 hari, karena melahirkan sebelum puasa dan menyusui. Saya tidak mampu mengqadha puasa di hari biasa karena bayi saya lemah jika saya berpuasa. Bagaimana jika saya membayar fidyah dengan mengundang orang-orang yang berpuasa untuk berbuka di rumah saya hingga kenyang? Apakah ini bisa mencukupi utang puasa saya?

Jawaban:

Hal itu tidak mencukupi. Sebab, yang benar dalam masalah ini wajib diganti dengan qadha puasa, bukan fidyah. Jadi, tunggu sampai Anda sehat dan bayi Anda tidak menyusui lagi, saat itulah Anda mengqadhanya.

———————————————————————————————————————–

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Jual Beli Barang Yang Belum Dikuasai

Ada calon pembeli pesan barang kepada penjual. Sudah terjadi kesepakatan harga, namun pembeli belum melakukan pembayaran. Kemudian penjual membeli barang dimaksud ke pemilik barang/supplier. Terjadi transaksi antara penjual dan supplier, lantas penjual membayar ke supplier. Barang dikirim ke penjual, kemudian penjual mengirimnya ke pembeli. Apakah model transaksi ini dibenarkan oleh syariat?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Model transaksi yang digambarkan pada pertanyaan di atas tidak dibolehkandalam syariat yang agung ini, karena tergolong transaksi jual beli barang yang belum dimiliki.

Telah terjadi kesepakatan harga barang antara penjual dan pembeli meskipun belum dibayar. Artinya, telah terjadi akad transaksi jual beli antara keduanya padahal penjual belum punya barangnya. Setelah transaksi itu barulah penjual membeli barang tersebut kepada pemilik barang/supplier, lantas barang itu dikirim ke pembeli dan minta dikirim bayarannya.

Sebagian berdalih bahwa dirinya adalah wakil pemilik barang/supplier dan telah terjadi pembicaraan untuk menjualkan barangnya. Akan tetapi, realitasnya adalah setelah dia bertransaksi dengan pembeli, dia baru menghubungi pemilik barang/supplier untuk membeli darinya barang yang telah dipesan oleh pembeli.

Transaksi yang dilakukan antara penjual dan supplier—setelah penjual melakukan transaksi dengan pembeli—menunjukkan bahwa sesungguhnya dia bukan wakil, dan dia telah menjual barang yang tidak dimilikinya.

Yang namanya wakil adalah orang diamanati sebagai wakil pemilik barang untuk menjualkan barangnya kepada pembeli yang mau, dengan kesepakatan tertentu antara pemilik barang dengan wakil mengenai harga jual dan jasanya sebagai wakil dalam melariskan barangnya.

Misalkan, wakil dipersilakan menjual di atas harga yang ditetapkan supplier dan selisihnya sebagai jasanya, atau wakil diberi kebebasan menentukan harga jual lantas ia diberi jasa sekian persen dari harga jual itu. Jadi, transaksi yang terjadi hanya satu kali, yaitu antara pembeli dengan wakil pemilik barang.

Adapun mengaku sebagai wakil, tetapi setelah bertransaksi dengan pembeli ia pun bertransaksi dengan pemilik barang sesuai yang diinginkan pembeli, itu bukan perwakilan. Itu namanya menjual sesuatu yang belum dimiliki dan hal itu haram.

Di antara syarat jual beli adalah transaksi dilakukan oleh pemilik barang atau wakilnya. Begitu pula, di antara syarat jual beli adalah menjual sesuatu yang telah dikuasai penuh sehingga mampu diserahkan kepada pembeli. Apabila kedua syarat ini dilanggar, berarti ia menjual sesuatu yang tidak dimiliki dan termasuk dalam kategori gharar (spekulasi judi) yang merupakan transaksi yang batil.

Terdapat nash dalam as-Sunnah yang menetapkan syarat kepemilikan barang, yaitu hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu,

        يَارَسُولَ اللهِ، يَأْتِينِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ، أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ؟ فَقَالَ: لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Wahai Rasulullah, seorang pria datang kepadaku lalu ia ingin bertransaksi jual beli denganku yang tidak kumiliki. Apakah boleh aku belikan untuknya dari pasar?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu jangan menjual apa yang tidak kamu miliki.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi—dengan berkata, “Hadits ini hasan”—, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya. Dinilai sahih oleh al-Albani)[1]

Terdapat tiga pendapat yang berbeda dalam menafsirkan hadits ini yang dinukil oleh Ibnu Taimiyah dan dinukil darinya oleh muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad.[2]

Tafsir yang dianggap paling tampak kebenarannya oleh Ibnul Qayyim rahimahullah adalah larangan penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab tanpa penentuan fisik barangnya (bersifat mutlak) yang tidak dimiliki dan tidak mampu diserahkan kepada pembeli.

Dengan akad itu berarti penjual telah mengeruk laba sebelum dia memiliki barangnya, sebelum menjadi tanggung jawabnya, dan sebelum mampu ia serahkan. Ini termasuk dalam kategori jual beli yang mengandung gharar (spekulasi judi).

Apabila hadits ini melarang penjualan sesuatu yang disifatkan dalam dzimmah/tanggung jawab (bersifat mutlak), lebih terlarang lagi tidak boleh menjual sesuatu barang yang telah ditentukan fisik barangnya (bersifat mua’yyan) yang merupakan harta benda milik orang lain.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan bahwa spekulasi (mukhatharah) ada dua macam:

  1. Spekulasi perdagangan.

Seseorang membeli barang dagangan dengan maksud berdagang dan meraih laba, dan ia bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada perdagangannya. Pedagang yang berspekulasi dengan membeli barang dagangan, kemudian harganya turun di pasaran (sehingga pedagang rugi), hal seperti itu Allah subhanahu wa ta’ala yang mengaturnya, tidak ada upaya manusia atas hal ini.

Pada perdagangan ini, pihak pembeli tidak terzalimi oleh penjual (ketika mengambil untung dari penjualannya).

 

  1. Spekulasi perjudian.

Ini adalah spekulasi adu nasib yang mengandung perbuatan memakan harta secara batil. Lantas Ibnul Qayyim menyebutkan contoh-contohnya.

Kemudian Ibnul Qayyim menegaskan pula bahwa penjualan sesuatu yang tidak dimiliki adalah termasuk kategori perjudian/mengadu nasib. Dalam hal ini pembeli tidak tahu bahwa penjual telah menjual kepadanya suatu barang yang tidak dimilikinya, lalu ia membelinya dari orang lain setelah itu. Jika orang banyak mengetahui hal itu, mereka tidak akan mau membeli darinya. Tentu saja mereka akan pergi sendiri ke tempat ia membelinya.

Jenis ini bukan spekulasi para pedagang yang berdagang, melainkan spekulasi orang yang terburu-buru menjual suatu barang sebelum ia berkemampuan menyerahkannya kepada pembeli. Apabila pedagang telah membeli barang yang ingin diperdagangkannya dan telah menggenggam dan menguasainya, hal itu masuk dalam kategori spekulasi perdagangan. Dia menjualnya dalam perdagangan sesuai dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan pada firman-Nya,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٖ مِّنكُمۡۚ

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan rela sama rela di antara kalian.’ (an-Nisa’: 29)[3]

Dari keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, kita ketahui bahwa kendati seseorang telah memiliki suatu barang dengan membelinya melalui akad yang sempurna, barang itu belum boleh ia jual kembali kepada siapapun hingga ia kuasai secara penuh, karena masih mengandung gharar (spekulasi judi). Sebab, selama ia belum menguasainya secara penuh, boleh jadi penjual menyerahkan kepadanya dan boleh jadi tidak.

Apalagi jika penjual melihatnya telah mengeruk laba dari barang itu sebelum diangkut dari tempatnya, sehingga ia berusaha membatalkan akad dengan mengingkari atau rekayasa pembatalan.

Di samping itu, dikhawatirkan pula timbul kebencian/permusuhan antara keduanya. Inilah sebab/faktor dilarangnya hal itu dilarang—menurut pendapat yang rajih—sebagaimana telah ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin.

Jadi, untuk bisa menjual barang belian itu, ia terlebih dahulu harus menggenggamnya/menguasainya secara penuh dengan cara mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempatnya, seperti rumah, toko, atau semisalnya. Dalilnya adalah:

  • Hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

إِنَّ رَسُولَ اللهِ نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى يَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penjualan barang-barang dagangan di tempat dibelinya barang-barang itu hingga para pedagang mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh al-Albani dengan penguatnya)[4]

  • Hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدْ رَأَيْتُ النَّاسَ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ إِذَا ابْتَاعُوا الطَّعَامَ جِزَافًا يُضْرَبُونَ فِيْ أَنْ يَبِيعُوهُ فِي مَكَانِهِمْ، وَذَلِكِ حَتَّى يُؤْوُوهُ إِلَى رِحَالِهِمْ

“Sungguh, aku telah menyaksikan di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka membeli makanan dengan system borong, mereka dipukul[5] karena menjualnya di tempat pembeliannya, hingga mereka mengangkutnya ke rumah-rumah mereka.” (Muttafaq ‘alaih)

Namun, jika pembeli telah mengangkutnya/memindahnya dari tempat penjual ke tempat lain yang berada di luar wewenang penjual, hal itu sudah cukup.

Ini adalah pendapat jumhur ulama yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah (yang saat itu diketuai oleh Ibnu Baz). Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma di atas pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا نَشْتَرِي الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا، فَنَهَانَا رَسُولُ اللهِ أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ

“Kami membeli makanan dari para pedagang asing dengan system borong, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjualnya hingga kami mengangkutnya dari tempatnya.”

Pada riwayat Muslim lainnya dengan lafadz,

كُنَّا فِي زَمَانِ رَسُولِ اللهِ نَبْتَاعُ الطَّعَامَ، فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ

“Pada zaman Rasulullah, kami membeli makanan, lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepada kami petugas yang memerintahkan agar barang itu diangkut dari tempat kami membelinya ke tempat lain sebelum kami menjualnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah pada salah satu riwayat darinya mengkhususkan hukum ini berlaku pada makanan. Beliau berdalil dengan hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ابْتَعْتَ طَعَامًا فَلَا تَبِعْهُ حَتَّى تَسْتَوْفِيَهُ

“Apabila engkau membeli makanan, jangan engkau jual hingga engkau mengangkutnya ke tempatmu.” ( HR. Muslim)

Menurut pendapat ini, jika membeli binatang, kendaraan, perabot rumah, dan semacamnya selain makanan, boleh dijual lagi walaupun di tempat transaksi.

Namun, pendapat ini lemah. Yang rajih, hukum ini umum meliputi seluruh jenis barang. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, asy-Syafi’i, dan riwayat lain dari Ahmad, yang dipilih Ibnu ‘Aqil, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, ash-Shan’ani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah keumuman makna hadits Zaid bin Tsabit yang telah disebutkan sebelumnya dan hadits Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا اشْتَرَيْتَ بَيْعًا فَلاَ تَبِعْهُ حَتَّى تَقْبِضَهُ

“Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu jual hingga kamu menggenggamnya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban; dinyatakan sahih oleh al-Albani)[6]

Hanya saja, untuk harta yang bersifat tetap (tidak bergerak), seperti tanah, rumah, gedung, dan semacamnya, penggenggamannya dilakukan dengan cara takhliyah (pembeli dipersilakan dan dibiarkan dengan harta itu secara bebas tanpa ada penghalang).[7]

Buah di pohon boleh dijual setelah takhliyah meskipun belum dipetik, menurut riwayat terkuat dari Ahmad yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Utsaimin. Sebab, menggenggam buah di pohon selama masa penantian waktu panen adalah di luar kemampuan pembeli.

Ini seperti dibolehkannya penyewa suatu barang untuk menyewakannya kepada orang lain setelah diserahkan kepadanya, padahal tanggung jawab harta itu—pada kedua masalah ini—masih di tangan pemiliknya.

Ibnu Taimiyah memperkecualikan dua perkara yang dibolehkan kendati belum digenggam/dikuasai penuh, yaitu,

  1. menjualnya kembali kepada penjual itu sendiri
  2. menjualnya kepada orang lain secara tauliyah (kembali modal), tidak mengeruk keuntungan sepeser pun.

Alasannya, illat/faktor hukum larangan itu ternafikan pada kedua masalah ini.

Sementara itu, Ibnu ‘Utsaimin tidak menyetujui pengecualian tersebut, karena illat hukum tersebut adalah hasil ijtihad semata, yang mungkin benar dan mungkin pula keliru. Jadi, ia tidak kuat untuk dijadikan alasan pengkhususan sebagian masalah keluar dari keumuman makna nash.

Yang terbaik adalah menetapkan keumuman makna hadits tanpa pengecualian apapun demi mengikuti lahiriah hadits. Tentu saja, apa yang dikatakan Ibnu ‘Utsaimin lebih hati-hati. Wallahu a’lam.[8]

[1] Lihat kitab al-Irwa’ no. 1292.

[2] Lihat kitab ZadulMa’ad (5/811—813)

[3] Lihat kitab Zadul Ma’ad (5/816).

[4] Lihat kitab Shahih Sunan Abi Dawud (no. 3499).

[5] Yakni sebagai hukuman agar jera.

[6] Lihat kitab Shahih al-Jami’ (no. 342).

[7] Misalnya, jika harta itu berupa rumah, caranya ialah diberi kuncinya.

[8] Lihat kitab Syarhu Muslim lin Nawawi (pada “Bab Buthlan Bai’ al-Mabi’I Qabla al-Qabdhi”), Fathul Bari (pada “Bab Bai’ ath-Tha’am Qabla an Yuqbadha”), al-Mughni (6/181—184, 186—191, 194), al-Ikhtiyarat (hlm. 187—188), Nailul Authar (pada “Bab Nahyi al-Musytari ‘an Bai’ Ma Isytarahu Qabla Qabdhihi”), as-Sail al-Jarrar (3/15—16), Subulus Salam, Fathu Dzil Jalal wal Ikram (pada “Bab Syuruthihi wa Ma Nuhiya ‘anhu” syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan hadits Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu), asy-Syarh al-Mumti’ (8/366—372, 376—380, 385—387), dan Fatawa al-Lajnah (13/ 240, 247, 258—259).

Perumpamaan Al-Haq dan Al-Bathil (1)

Terhadap setiap kenikmatan yang dirasakan oleh seorang manusia tentu ada yang mendengkinya. Terutama kenikmatan yang paling utama yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang manusia, yaitu nikmat keimanan. Itulah salah satu bentuk ujian yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan bagi manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 1—2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا ٧

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)

          وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَكَانَ عَرۡشُهُۥ عَلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۗ

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Hud: 7)

Ayat-ayat yang mulia ini menerangkan kepada kita bahwa di antara hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang ada di alam semesta ini tidak lain adalah sebagai ujian bagi para hamba-Nya, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya. Yang dimaksud dengan yang lebih baik amalnya ialah yang paling ikhlas (beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala) dan yang paling benar (paling sesuai dengan sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Tidak ada satu pun manusia yang akan lolos dari ujian tersebut. Ujian-ujian yang diberikan kepada manusia beraneka ragam dan sesuai dengan keadaan iman yang ada di dalam hati setiap manusia. Semakin kuat keimanannya, semakin berat ujian yang diterima oleh seorang manusia.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?”

Kata beliau, “(Yaitu) para nabi, kemudian orang-orang yang mulia dan baik (satu demi satu sesuai kedudukannya, –ed.). Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, ujiannya pun berat. Jika dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya.

Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa ada dosa melekat pada dirinya.” (HR. Ahmad (1607), at-Tirmidzi (2398), dinyatakan hasan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.)

Menurut ath-Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar[1], ujian yang disesuaikan dengan kadar iman ini, berlaku atas manusia biasa, bukan atas para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim. Alasannya, karena pada para nabi itu tidak ada kelemahan atau kerapuhan di dalam agama mereka. Di dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa kaum muslimin, selain para nabi dan rasul, dibersihkan dari dosa atau kesalahan mereka melalui ujian tersebut. Itu pun berlaku jika mereka mengharapkan pahala dan bersabar menghadapinya. Adapun para nabi tidak seperti orang biasa, karena para nabi itu tidak mempunyai dosa.

Karena kemaksuman inilah, sebagian ulama memandang bahwa ujian yang ditimpakan kepada para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim adalah untuk menaikkan derajat mereka lebih tinggi lagi. Jadi, bukan sebagai pembersih bagi dosa, karena mereka terpelihara dari dosa. Wallahu a’lam.

Ujian-ujian tersebut sudah dimulai sejak Allah subhanahu wa ta’ala menguji bapak kita, Adam ‘alaihissalam, dengan sosok Iblis yang enggan dan merasa tinggi (sombong) untuk meletakkan kepalanya sejajar dengan kakinya demi menghormati Adam. Padahal, sujud tersebut sejatinya adalah wujud ketaatan kepada Allah ’azza wa jalla yang telah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada.

Karena membangkang dan menolak perintah Allah ’azza wa jalla untuk sujud, Iblis diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala sampai hari kiamat. Akan tetapi, bukannya bertobat, Iblis justru semakin angkuh karena dendam dan dengki melihat keutamaan Adam ‘alaihissalam.

Karena itu, dia bersumpah, sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Mulanya, ketika dia mengucapkan sumpah tersebut, Iblis tidak yakin akan berhasil. Akan tetapi, pada kenyataannya, usahanya berhasil dan banyak manusia yang menjadi korban. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan hal ini,

          وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقٗا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (Saba’: 20)

 

Antara Al-Haq dan Al-Bathil

Demikianlah perjalanan hidup manusia, dan sejak saat itu pula dimulailah pertentangan antara yang haq dan yang batil. Tidak akan pernah berhenti perseteruan dan pertarungan antara yang haq dan yang batil, kapan dan di mana pun.

Tidak mungkin pula al-haq dan al-bathil hidup rukun dan damai, selamanya. Pasti, salah satu dari keduanya akan berusaha menyingkirkan yang lain, karena keduanya bertolak belakang dan saling bertentangan.

Hal itu sudah pasti, meskipun kadang-kadang al-haq itu yang menang, tetapi tidak jarang pula kebatilan dan kesesatan itu yang merajalela. Al-haq dan para pembelanya terkucil, ditindas serta terusir dari kampung halaman mereka. Bahkan, tidak sedikit para pembela al-haq itu harus menanggung siksa atau dibunuh.

Demikianlah, Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguji wali-wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya, atau sebaliknya, silih berganti. Terkadang musuh-musuh-Nya yang menang dan menindas para wali-Nya, tetapi tidak jarang pula para wali Allah subhanahu wa ta’ala itu yang berkuasa. Dan ujian itu terus berlangsung sampai Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mewarisi alam semesta ini.

Belakangan ini, dakwah salafiyah khususnya, dan Islam secara umum semakin gencar mendapat tekanan dan gangguan dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah. Dengan berbagai cara mereka berusaha memadamkan cahaya Islam dengan dakwah salafiyah ini melalui berbagai propaganda lisan dan tulisan mereka di berbagai media.

Musuh-musuh dakwah salafiyah yang penuh berkah ini bergandengan tangan dengan mesra sesama mereka. Tidak hanya di kalangan mereka yang masih mengaku muslim, tetapi juga dengan musuh-musuh dari luar diri mereka, baik itu musyrikin, ateis, maupun ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

Sungguh, tidak ada yang paling dibenci oleh mereka selain dakwah salafiyah yang ingin mengembalikan manusia kepada fitrah yang suci. Melalui dakwah ini mereka dikembalikan kepada keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan semua konsekuensi keimanan itu, sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 

 

[1] Syarh Musykilul Atsar (5/457).

Tanya Jawab Ringkas Edisi 114

Azan, Bisa Langsung Shalat?

Kapankah terhitung masuk waktu shalat? Dan kapan kita bisa shalat, apakah sejak azan berkumandang ataukah harus menunggu selesai iqamah? Mohon penjelasannya.

 Jawaban:

Masuknya waktu shalat biasanya ditandai dengan azan yang dikumandangkan oleh para muazin di masjid-masjid kaum muslimin. Sejak itu, shalat sudah bisa dilakukan, tidak harus menunggu iqamah selesai. Akan tetapi, alangkah bagusnya apabila bisa mengamalkan beberapa amalan berikut sebelum shalat fardhu.

  1. Menjawab azan; hukumnya sunnah muakkadah menurut jumhur ulama.
  2. Shalat rawatib qabliah pada shalat yang ada rawatibnya, atau shalat ba’da wudhu, atau ba’da azan; hukumnya mustahab (sunnah).
  3. Berdoa; sebab waktu antara azan dan iqamah termasuk waktu dikabulkannya doa. Setelah itu, seseorang menunaikan shalat fardhu secara berjamaah.

 


Menikah Tanpa Mahar

Ustadz, apa hukum menikah tanpa mahar, padahal lelakinya mampu?

 Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah. Menikah harus ada mahar.

 


 

Melahirkan, Diampuni Semua Dosanya?

Ada dalil yang berbunyi bahwa wanita yang melahirkan diampuni segala dosanya. Dosa seperti apakah yang diampuni? Jika wanita itu hamil di luar nikah karena zina, apa mungkin dosa zina itu akan diampuni hanya karena melahirkan? Kemudian dosa-dosa lain seperti durhaka kepada kedua orang tua atau dosa karena tidak pernah berhijab, apakah juga diampuni?

 

Jawaban:

Dosa-dosa besar akan terampuni dengan tobat secara khusus darinya.

 


Menggauli Istri Saat Haid

Bagaimana kalau terjerembab dalam godaan setan sehingga sampai terjadi dua kali seseorang menggauli istrinya yang sedang haid dalam rentang waktu antara yang pertama dan yang kedua sekitar setahun. Apakah kafarahnya cukup dengan 1 kali ditebus dengan 1 dinar?

 

Jawaban:

Kafarahnya dua kali, karena dua kali melanggar. Setiap kafarah memilih antara 1/2 dinar atau 1 dinar. Satu dinar islami setara dengan 4,25 gram emas.

 


Surat Nikah Menurut Syariat

Apakah dalam syariat Islam ketika menikah diharuskan punya surat nikah? Apakah ada dalilnya?

 

Jawaban:

Secara syariat tidak. Akan tetapi, itu adalah aturan pemerintah. Apabila tidak punya surat nikah, dia akan kesulitan dalam urusan-urusannya. Misalnya, anaknya tidak bisa dibuatkan akte kelahiran dan KTP.

 


Hamil di Luar Nikah

Jika ada dua orang yang hubungan lalu hamil di luar nikah, apakah mereka dinikahkan?

 

Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah, sampai keduanya tobat dengan benar dan anak zina itu lahir.

 


Gumpalan Sebelum Cairan Putih

Bagaimana hukum gumpalan sangat kecil yang keluar setelah darah haid sebelum cairan putih? Masihkah dihitung haid? Bagaimana pula hukumnya jika ia keluar setelah cairan putih bening? Demikian pula gumpalan berwarna kuning yang keluar setelah 3 hari suci dari haid, masihkah dihitung sebagai haid?

 

Jawaban:

Yang keluar sebelum cairan putih (tanda suci) terhitung haid. Yang keluar setelah cairan putih bukan haid, baik itu gumpalan kuning atau lainnya, selama itu bukan darah haid dengan ciri/sifatnya.


 

Barang Temuan

Kita menemukan barang, seperti peci, di tempat umum, seperti sekolah/ pondok, sudah lama tetapi tidak ada yang mencari/mengakui. Bagaimana kita memperlakukan barang tersebut? Apakah boleh dimanfaatkan?

 

Jawaban:

Jika harganya murah, sekitar Rp5.000 atau semisalnya, yang biasanya dianggap remeh dan tidak dicari pemiliknya apabila hilang, boleh dimanfaatkan. Apabila peci itu bagus, harganya mahal, dan bakal dicari pemiliknya ketika hilang, harus diumumkan setahun penuh. Setelah itu jika pemiliknya tidak datang, boleh dimanfaatkan sendiri atau disedekahkan atas nama pemiliknya.

 


Hadiah dari Pegawai Bank

Bolehkah menerima hadiah atau uang dari orang yang bekerja di bank?

 

Jawaban:

Boleh. Akan tetapi, jika dipastikan bahwa uang itu bersumber dari gajinya bekerja di bank dan Anda ingin bersikap wara’, dihindari.

 


Beli Emas Tidak Kontan

Mau bertanya, ustadz. Jika pesan emas atau perak, misalnya pesan cincin sesuai keinginan, dengan cara kita bayar dulu DP-nya dan dilunasi apabila pesanan sudah selesai. Apakah ini terkena riba?

 

Jawaban:

Itu termasuk riba nasi’ah. Emas, perak, dan uang adalah badang-barang ribawi yang illat (faktor hukum) ribawinya sama. Apabila diperjualbelikan dengan yang sejenis, harus sama nilainya dan serah terima langsung. Apabila berbeda jenisnya, hanya dipersyaratkan serah terima langsung.

Berbeda halnya jika Anda membeli terlebih dahulu emasnya dan sudah dilakukan serah terima barang dan pembayaran, setelah itu Anda minta dibuatkan cincin dengan emas yang sudah Anda miliki itu dengan akad upah pembuatan.

 


Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Najiskah Tubuh Orang Kafir?

Bismillah. Apakah orang kafir dianggap najis?

 Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah orang kafir najis secara fisik atau tidak, termasuk masalah khilafiah di antara alim ulama.

  1. Pendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa dan mayatnya adalah najis dinyatakan oleh mazhab sebagian fuqaha Zahiriah, seperti Ibnu Hazm az-Zahiri dalam kitab al-Muhalla.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Yang dimaksud adalah fisik orang kafir adalah najis sehingga tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya.

 

  1. Ada pula yang berpendapat bahwa fisik orang kafir yang bernyawa adalah suci seperti kesucian fisik muslim.

Pendapat ini adalah mazhab jumhur (mayoritas) ulama, termasuk empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad).

Pendapat ini dirajihkan (dikuatkan) oleh an-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, asy-Syaukani, dan al-‘Utsaimin.

Dalilnya adalah,

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

بَعَثَ النَّبِيُّ خَيْلاً قِبَلَ نَجْدٍ، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ مِنْ بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ لَهُ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ فَقَالَ: أَطْلِقُوا ثُمَامَةَ !فَانْطَلَقَ إِلَى نَخْلٍ قَرِيبٍ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan berkuda ke arah Najd. Kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa seorang tawanan dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal. Mereka lantas mengikatnya di salah satu tiang Masjid Nabawi. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemuinya, beliau berkata, ‘Bebaskan Tsumamah!’ Lalu Tsumamah beranjak ke pohon kurma yang tidak jauh dari Masjid Nabawi, mandi, lalu masuk masjid, lantas berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam hadits ini, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat tubuh Tsumamah yang masih kafir di salah satu tiang masjid. Seandainya fisik orang kafir itu najis, tidak mungkin ia dimasukkan ke Masjid Nabawi yang suci.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan memakan sembelihan ahli kitab dan menikah dengan wanita mereka, sebagaimana pada surat al-Ma’idah ayat 5.

Tentu tidak bisa dimungkiri bahwa ahli kitab menjamah sembelihan mereka, dan muslim yang menikahi wanita ahli kitab akan menjamah tubuh istrinya, sementara tidak ada perintah untuk menyucikan diri dari najis akibat persentuhan itu.

 

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan penggunaan bejana-bejana makan/minum bekas orang kafir tanpa harus dicuci.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu,

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللهِ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَ يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ

“Adalah kami biasa berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami berhasil merampas bejana-bejana dan wadah-wadah air dari kulit milik orang-orang musyrik. Lantas kami menggunakannya (untuk makan dan minum). Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela mereka karena hal itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)[1]

Dalam hadits ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang panjang, di antara isinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya berwudhu dari mazadah (kantong air yang terbuat dari kulit bangkai yang telah disamak) milik wanita musyrik. (Muttafaq ‘alaih)[2]

Namun, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ تَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلاَ تَأْكُلُوا فِيهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا، ثُمَّ كُلُوا فِيهَا

“Adapun yang kamu sebutkan bahwa kamu berada di daerah ahli kitab, yang kamu makan dari bejana-bejana mereka; Jika kamu bisa mendapatkan selain bejana-bejana mereka, jangan makan dari bejana-bejana mereka. Jika kamu tidak bisa mendapatkan selain dari bejana-bejana mereka, cucilah terlebih dahulu lalu makanlah darinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Jawabannya, terdapat dua tafsir dalam memahami hadits ini.

  1. Larangan pada hadits ini bersifat makruh, tidak haram.
  2. Hadits ini tertuju kepada orang-orang kafir yang sering makan daging babi dan mereka menampakkan hal itu secara terang-terangan.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mendukung tafsir yang kedua. Al-Albani rahimahullah juga memilih tafsir yang kedua berdasarkan riwayat lain dari hadits tersebut dengan lafadz, Abu Tsa’labah al-Khusyani radhiallahu ‘anhu berkata,

يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَرْضَنَا أَرْضُ أَهْلِ كِتَابٍ وَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَيَشْرَبُونَ الْخَمْرَ، فَكَيْفَ أَصْنَعُ بِآنِيَتِهِمْ وَقُدُورِهِمْ؟ قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا وَاطْبَخُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya daerah kami adalah daerah ahli kitab dan mereka makan daging babi dan minum khamr. Apa yang mesti saya lakukan dengan bejana-bejana dan panci-panci mereka?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, cucilah terlebih dahulu, memasaklah dengannya, dan minumlah darinya.” (HR. Ahmad. Dinyatakan sahih oleh al-Albani menurut syarat al-Bukhari & Muslim)[3]

Berdasarkan dalil-dalil di atas, tampak jelas bahwa fisik orang kafir tidak najis. Tampak pula bahwa yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)

Najis dalam ayat di atas adalah najis maknawi (akidah dan amalan mereka). Artinya, mereka najis dengan kekufuran dan kesyirikan mereka sehingga tidak pantas dan tidak boleh mendekati Masjidil Haram, apalagi memasukinya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Adapun mayatnya, jumhur berbeda pendapat. Ada yang mengatakan suci dan ada yang mengatakan najis.

Di kalangan fuqaha mazhab Hanbali dan Syafi’i, terdapat dua pendapat tersebut. Akan tetapi, yang dianggap benar dan menjadi pegangan mazhab Hanbali dan Syafi’i adalah pendapat yang mengatakan suci.

Ulama yang berpendapat najis berdalil dengan ayat di atas dan berhujah bahwa mayat orang kafir tidak disyariatkan dimandikan. Hal itu menunjukkan kenajisannya, karena sesuatu yang substansinya najis, tidak ada gunanya dicuci/dimandikan.

Yang berpendapat suci menjawab bahwa yang dimaksud dengan najis pada ayat itu adalah najis maknawi sebagaimana telah diulas di atas.

Adapun bahwa mayat kafir tidak dimandikan, itu bukan karena kenajisannya. Illat (faktor) hukum mayat muslim dimandikan adalah untuk memuliakannya, sedangkan orang kafir tidak pantas dan tidak berhak dimuliakan sehingga mayatnya tidak dimandikan.

An-Nawawi, Ibnu Qudamah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin merajihkan pendapat bahwa mayat orang kafir adalah suci.

Wallahu a’lam.[4]



SYARAT TOBAT

Jika seorang muslim mencabut diri dari dosa-dosa yang dahulu dia lakukan, apa saja syarat yang harus dipenuhi terkait orang yang bertobat dari sebuah dosa? Apa nasihat Anda untuk orang yang melakukan kemaksiatan agar dia bisa bertobat sebelum datang ajalnya—sehingga dia merugi dan menyesal?

 Jawab:

  1. Dia harus memenuhi syarat-syarat taubat sebagai berikut:
    • Seseorang bertobat dengan tobat yang jujur dan tulus,
    • menyesali dosa yang telah dilakukan,
    • bertekad kuat untuk tidak mengulanginya,
    • jika dosanya terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan seperti harta, dia kembalikan kepada pemiliknya; jika tidak terkait dengan sesuatu yang bisa dikembalikan, dia meminta kemurahan dan maaf dari pihak-pihak yang dizalimi, disertai doa kebaikan untuk mereka dan pujian terhadap kebaikan mereka yang dia ketahui.
  1. Kami nasihatkan agar dia:
    • membaca al-Qur’an dan hadits-hadits tentang targhib (anjuran berbuat kebaikan) dan tarhib (ancaman atas perbuatan dosa),
    • mengingat negeri akhirat dan berbagai keadaannya yang menakutkan,
    • bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi orang-orang yang buruk.

Semoga Rabbnya akan menerima tobatnya dari dosa dan mengampuninya, dan dia bisa menolak bisikan nafsunya yang mengajak kepada maksiat.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/297—298, pertanyaan ke-6 dari fatwa no. 3866)


APAKAH SHALAT ADALAH SYARAT TOBAT?

Saya telah kembali kepada Allah dan bertobat dari segala dosa—saya memohon ampunan kepada Allah. Saya mendengar bahwa orang yang bertobat harus melakukan shalat dua rakaat tanpa ada waswas padanya, lalu dia bertobat setelah atau saat sedang melakukan shalat tersebut.

Saya telah bertanya kepada salah seorang saudara di jalan Allah, dia menjawab, “Tobat dilakukan tanpa harus shalat. Kapanpun waktunya, engkau bisa bertobat. Engkau tidak perlu shalat (untuk bertobat).

Apa yang seharusnya saya lakukan? Berilah bimbingan kepada saya. Semoga Allah membalasi Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Shalat dua rakaat tidak menjadi syarat sahnya tobat.

Yang dipersyaratkan adalah mencabut diri dari dosa, bertekad kuat untuk tidak mengulangi, menyesali apa yang telah luput, dan membebaskan diri dari hak-hak para makhluk. Allah akan menerima tobat kami dan Anda.

Akan tetapi, barang siapa bersuci dan shalat dua rakaat kemudian bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesali dosa yang telah berlalu, mencabut diri darinya, bertekad dengan jujur tidak mengulanginya, tentu ini lebih sempurna dan lebih mendekatkan kemungkinan tobatnya diterima.

Ini berdasarkan hadits dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَيَسْتَغْفِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا غَفَرَ لَهُ

“Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu berwudhu dan memperbagusnya, kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kecuali Dia subhanahu wa ta’ala akan mengampuninya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)[5]

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh;

Anggota: Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(Fatawa al-Lajnah, 24/309—310, pertanyaan kedua dari fatwa no. 19045)

 


TOBAT, TETAPI BERBUAT DOSA LAGI

Apa hukum orang yang bertobat dari sebuah dosa kemudian jatuh lagi pada dosa yang sama?

 Jawab:

Apabila dahulu dia telah bertobat dari dosa tersebut dengan ikhlas, niat yang jujur, mencabut diri dari dosa tersebut, dan menyesalinya, kemudian setan membisikinya dan dia dikalahkan oleh hawa nafsunya yang memerintahkan kepada kejelekan hingga terjatuh lagi dalam dosa yang sama untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya; tidak akan kembali dosa yang dahulu dia telah bertobat darinya dengan jujur.

Hendaknya dia kembali bertobat setelah melakukan dosa tersebut yang kedua kali atau ketiga kali. Selain itu, hendaknya ia juga menempuh sebab yang menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa tersebut.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi

(Fatawa al-Lajnah, 24/318—319, pertanyaan ketiga dari fatwa no. 3025)

 


Seseorang berbuat dosa lalu beristighfar, kemudian berbuat dosa lagi dan beristighfar lagi, begitu seterusnya. Selama beberapa waktu dia berhenti berbuat dosa, tetapi kemudian melakukannya lagi. Bagaimana hukumnya?

 Jawab:

Apabila dia beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menerima tobatnya dan mengampuninya.

Apabila ia kembali melakukan dosa tersebut lalu memohon ampunan (kepada Allah), bertobat dengan tobat nasuha, dan mencabut diri dari dosa tersebut, Allah akan menerima tobatnya dan mengampuninya. Demikian seterusnya.

Dosa yang terdahulu tidaklah kembali setelah dia melakukan tobat yang jujur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٞ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ثُمَّ ٱهۡتَدَىٰ ٨٢

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ

        “Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunan-Nya.” (an-Najm: 32)

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud

(Fatawa al-Lajnah 24/319, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 7825)

[1] al-Irwa’ (1/76) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/429).

[2] Kitab Bulughul Maram (Bab “al-Aniyah” no. 22 ), al-Irwa’ (1/no. 36), dan ats-Tsamar al-Mustathab (1/8).

[3] ats-Tsamar al-Mustathab (1/8)

[4] al-Muhalla (1/no.134), al-Mughni (1/63), al-Inshaf (1/337—338), Manhajus Salikin li as-Sa’di, al-Majmu’ (2/579—581), al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (4/Kitab al-Haidh, Bab “ad-Dalil ‘ala Anna al-Muslima La Yanjusu”), Fathul Bari (1/Kitab al-Ghusli, Bab “Araq al-Junubwa Anna al-Muslima La Yanjus”, 3/Kitab al-Jana’iz, Bab “Ghusli al-Mayyit wa Wudhu’ihi”), Majmu’ al-Fatawa (21/67), Nailul Authar (1/Kitab ath-Thaharah, Bab “Thaharah al-Ma’i al-Mutawadhdhai bihi”, syarah hadits Hudzaifah radhiallahu ‘anhu), as-Sail al-Jarrar (1/38—39), Fathul Qadir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), Tafsir Ibni Katsir (tafsir at-Taubah ayat ke-28), dan asy-Syarh al-Mumti’ (1/447—448).

[5] HR. Ahmad (1/2) Abu Dawud (2/180 no. 1521), at-Tirmidzi (2/258, 5/228 no. 406 & 3006), dan lainnya.

Agar Sabar Menghadapi Gangguan (2)

Berikut ini lanjutan penjelasan tentang beberapa hal yang bisa membantu seorang hamba untuk bersabar menghadapi gangguan orang lain.

  1. Apabila dia disakiti karena amalannya yang ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala, karena ketaatan yang diperintah oleh-Nya, atau karena maksiat yang dilarang oleh-Nya, dia wajib bersabar dan tidak boleh membalas.

Sebab, dia disakiti di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala yang akan memberi pahala untuknya. Karena itulah, ketika para mujahidin fi sabilillah kehilangan darah dan harta mereka di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada ganti ruginya.

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah membeli jiwa dan harta mereka dari diri-diri mereka, sedangkan harganya akan dibayar oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bukan oleh makhluk. Barang siapa meminta bayaran dari makhluk, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberinya bayaran. Sebab, barang siapa yang binasa karena Allah subhanahu wa ta’ala, Dia-lah yang akan memberinya ganti.

Apabila disakiti karena mendapat musibah, kembalikanlah celaan kepada diri sendiri. Mencela diri sendiri akan menyibukkan diri sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mencela orang yang menyakitinya.

Apabila disakiti karena mendapatkan karunia, mantapkanlah diri untuk bersabar. Sebab, tidak mendapatkan karunia, urusannya lebih pahit daripada bersabar.

Barang siapa tidak sabar terhadap teriknya tengah hari, hujan, salju, kesusahan dalam safar, dan perampok, tidak perlu dia berada di tempat dagangnya.

Ini adalah urusan yang sudah diketahui oleh manusia: siapa yang jujur mencari sesuatu, kesabaran untuk mendapatkannya akan diganti sesuai dengan kadar kejujurannya saat mencarinya.

 

  1. Menyadari kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala dengannya, kecintaan, dan keridhaan-Nya apabila dia bersabar.

Barang siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala bersamanya, Dia akan menghindarkan segala macam gangguan dan bahaya dari dirinya, dengan penghindaran yang tidak bisa dilakukan oleh salah satu makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

        “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”  (al-Anfal: 46)

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٤٦

        “Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran adalah separuh iman.

Dengan demikian, dia tidak akan mengganti sebagian keimanannya dengan balasan berupa pembelaan pribadinya. Jika bersabar, sungguh dia telah menjaga keimanannya dan melindunginya dari kekurangan. Dan Allah subhanahu wa ta’ala lah yang akan membela orang-orang yang beriman.

 

  1. Menyadari bahwa kesabaran hamba akan mengatur, mengalahkan, dan mendominasi nafsunya.

Ketika nafsu terkalahkan dan didominasi oleh kesabaran, nafsu tidak akan memperbudak dan menawan dirinya lantas mencampakkannya dalam kebinasaan.

Sebaliknya, apabila dirinya taat, mendengar, dan dikalahkan oleh nafsu, nafsunya akan senantiasa bersama dirinya hingga menghancurkannya, kecuali jika dirinya diselamatkan oleh rahmat dari Rabbnya.

Seandainya tidak ada faedah kesabaran selain menundukkan nafsu dan setannya, sehingga kekuasaan kalbu tampak nyata, bala tentaranya pun teguh, gembira dan bertambah kuat, dan mengusir musuh, (tentu hal ini sudah cukup).

 

  1. Mengetahui bahwa apabila hamba bersabar, Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menolongnya, dan itu pasti.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah pelindung orang yang bersabar dan menyerahkan orang

yang menzaliminya kepada-Nya. Adapun orang yang membela kepentingan pribadinya, Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan dia kepada jiwanya. Jadilah dirinya semata yang menolong jiwanya.

Manakah yang lebih lemah penolongnya, orang yang menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebaik-baik pemberi pertolongan ataukah orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai penolong?

 

  1. Kesabaran dan ketabahan hamba menanggung gangguan orang lain akan menyebabkan musuhnya rujuk dari kezaliman, menyesal, meminta maaf, dan manusia akan mencela orang tersebut.

Setelah menyakiti, dia pun pulang dengan menanggung malu dan menyesali perbuatannya. Bahkan, dia akan menjadi orang yang paling loyal terhadap si hamba. Inilah makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

 

  1. Pembalasan yang hamba lakukan bisa jadi menyebabkan musuhnya semakin jahat, semakin bernafsu, dan semakin memikirkan beragam gangguan yang akan dilancarkan terhadap diri si hamba.

Hal ini terjadi sebagaimana yang telah disaksikan.

Apabila bersabar dan memaafkan, hamba akan aman dari bahaya ini. Orang yang berakal tidak akan memilih bahaya yang lebih besar dan menyingkirkan bahaya yang lebih kecil.

Betapa sering pembalasan justru menyebabkan kejahatan lain yang hamba tidak mampu menghindarinya. Betapa banyak jiwa, kekuasaan, dan harta yang hilang, padahal jika orang yang terzalimi mau memaafkan, semua itu akan tetap ada pada dirinya.

 

  1. Barang siapa membiasakan diri membalas keburukan dan tidak bersabar, pasti dia berbuat zalim.

Sebab, jiwa tidak puas jika hanya membalas dengan yang seimbang. Terkadang jiwa tidak mampu menahan diri untuk membalas sekadar haknya. Kemarahan akan membawa pemiliknya sampai pada taraf tidak mampu memikirkan apa yang dia ucapkan dan lakukan.

Akibatnya, dia yang sebelumnya berstatus “terzalimi” dan menunggu pertolongan serta pemuliaan (dari Allah subhanahu wa ta’ala), berubah menjadi “menzalimi” dan ditunggu oleh kemurkaan dan hukuman (dari Allah subhanahu wa ta’ala).

 

  1. Kezaliman yang dilakukan terhadap hamba akan menghapus keburukan-keburukan yang pernah dilakukannya atau mengangkat derajatnya.

Apabila dia membalas dan tidak bersabar, kezaliman tersebut tidak bisa menghapus keburukan ataupun mengangkat derajatnya.

  1. Pemaafan dan kesabaran hamba adalah bala tentara terbesar menghadapi musuhnya.

Sebab, kesabaran dan pemaafan hamba tersebut akan merendahkan musuhnya, membuatnya takut dari hamba tersebut dan dari manusia. Orang lain tidak akan tinggal diam terhadap musuhnya, meskipun si hamba diam.

Akan tetapi, ketika hamba membalas, hilanglah semua hal tersebut. Oleh karena itu, Anda dapati mayoritas manusia ketika mencela atau menyakiti orang lain, dia ingin agar orang lain tersebut juga mengambil haknya dari dirinya. Ketika orang lain mengimbanginya, dia pun merasa lapang dan mencampakkan rasa berat yang sebelumnya dia rasakan.

 

  1. Apabila si hamba memaafkan, musuhnya akan menyadari bahwa si hamba tersebut lebih tinggi kedudukannya.

Musuhnya pun merasa bahwa si hamba telah berhasil mengambil keuntungan darinya. Setelah itu, musuhnya akan selalu memandang bahwa dirinya lebih rendah dari si hamba.

Cukuplah hal ini menjadi keutamaan dan kemuliaan sikap memaafkan.

 

  1. Apabila hamba memaafkan dan tidak lagi mengungkitnya, hal ini menjadi kebaikan baginya, yang akan melahirkan kebaikan yang lain.

Kebaikan yang lain itu akan melahirkan kebaikan berikutnya, begitu seterusnya. Dengan demikian, kebaikan si hamba akan senantiasa bertambah. Sebab, di antara balasan kebaikan adalah kebaikan pula, sebagaimana halnya balasan kejelekan adalah kejelekan berikutnya.

Bisa jadi, ini menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan yang abadi bagi hamba. Akan tetapi, jika dia membalas dan membela diri, hilanglah semua hal tersebut.

 

(Jami’ul Masail li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, 1/168—174; diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=1061, dengan beberapa penyesuaian)

Al-Muqit

Di antara asmaul husna adalah al-Muqit. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini pada satu ayat dalam al-Qur’an,

مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah adalah Muqit atas segala sesuatu.” (an-Nisa’: 85)

Para ulama menyebutkan beberapa makna nama Allah subhanahu wa ta’ala al-Muqit sebagaimana berikut.

  1. Yang Mahamampu, al-Muqtadir. Makna ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Jarir, Abu Ubaid, dll.
  2. Yang Maha Menjaga, yakni yang memberikan penjagaan terhadap sesuatu sesuai dengan kebutuhannya, al-Hafizh. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Abbas, Qatadah, dan yang lain.
  3. Yang Maha Menyaksikan, asy-Syahid. Ini dinyatakan oleh Mujahid.
  4. Al-Hasib, Yang Maha Mencukupi. Ini diriwayatkan dari Mujahid.
  5. Yang Maha Mengawasi. Makna ini diriwayatkan dari Atha’.
  6. Yang Mahakekal. Makna ini diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari Abdullah bin Katsir.
  7. Yang Maha Memberi makanan pokok. Ini diriwayatkan dari Muqatil bin Sulaiman dan al-Khaththabi.

Itulah beberapa makna al-Muqit sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Pembaca bisa melihat dalam buku-buku tafsir, seperti Zadul Masir karya Ibnul Jauzi rahimahullah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Baghawi, dan lain-lain. Tafsiran-tafsiran tersebut tidaklah saling bertentangan.

 

Buah Mengimani Nama Allah, al-Muqit

Seperti disebutkan oleh para ulama, al-Muqit memiliki beberapa makna. Mengimani dan mengetahui maknanya akan membuahkan banyak hal dalam perilaku kita.

  1. Kita akan mengagungkan-Nya karena Dia Mahamampu.
  2. Kita akan bersyukur kepada-Nya, karena Dia Maha Menjaga dan Maha Memberi Rezeki kepada kita serta mencukupi kita.
  3. Kita akan berhati-hati dalam berbuat, karena Dia Maha Menyaksikan dan Maha Mengawasi.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa merahmati kita.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.