Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Hijrah ke Madinah

Peperangan Bangsa Rum (Romawi) dan Persia

Secara ringkas, kami paparkan sebagian sejarah tentang bangsa Romawi dan Persia yang diceritakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (3/514—515). Beliau mengisahkan:

Bangsa Rum adalah keturunan al-‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim, saudara sepupu Bani Israil. Dinamakan pula dengan Bani al-Ashfar. Mereka menganut agama orang-orang Yunani. Bangsa Yunani sendiri adalah keturunan Yafuts bin Nuh yang mereka adalah para penyembah bintang.

Bangsa Rum inilah yang membangun kota Damsyik (Damaskus) berikut tempat-tempat ibadahnya. Bangsa ini masih menganut agama mereka sampai datangnya ‘Isa al-Masih ‘alaihissalam, kira-kira selama 300 tahun. Setiap raja yang memerintah mereka, disebut “kaisar”.

Orang pertama yang masuk agama Nasrani dari raja-raja bangsa Rum adalah Konstantin. Namun kemudian orang-orang Nasrani berselisih paham, di mana kemudian para pendetanya (melalui konsili/pertemuan Nicea tahun 325 M, red.) merumuskan suatu undang-undang doktrin agama bagi negara dan mengubah agama Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka tambah dan kurangi agama Nabi ‘Isa ‘alaihissalam semau mereka (salah satu hasil “terpenting” adalah menetapkan Isa sebagai Tuhan melalui pemungutan suara, red.). Mereka juga membuat berbagai acara perayaan atau peringatan serta membagi tingkatan-tingkatan keuskupan atau kependetaan dalam beberapa tingkat seperti yang kita kenal sekarang ini (Paus, Uskup, dan sebagainya). Tak cuma itu, orang-orang Nasrani (Kristen) juga sangat keterlaluan dalam memuliakan dan mengagungkan kaisar. Yang jelas, mereka tetap memeluk agama tersebut hingga diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap mati seorang kaisar, muncul kaisar penggantinya, sampai akhirnya datang masa pemerintahan Heraklius. Heraklius termasuk seorang raja yang cerdas dan cermat. Kekuasaannya cukup besar dan luas, sehingga Kisra Persia Sabur memusuhinya. Padahal kerajaannya lebih luas daripada Kaisar (Heraklius). Sabur sendiri merupakan penganut Majusi (penyembah api).

Bagian termasyhur dari sejarah ini adalah ketika Kisra pernah maju sendiri menghadapi Kaisar di negerinya, mengalahkan dan mengepungnya. Tidak ada kota yang tersisa kecuali Konstantinopel (sekarang Istanbul-Turki, red.) yang juga dikepung cukup lama.

Kisra sendiri merasa tidak sanggup menembus pertahanan di wilayah Konstantin ini, karena sebagian wilayahnya berdekatan dengan laut bebas dan sebagian lagi berada di daratan luas.

Sekian lama berselang, Kaisar kemudian mencoba sebuah tipu muslihat. Dia minta Kisra agar melepas wilayahnya dengan menjanjikan sejumlah harta dan beberapa persyaratan. Kisra pun memenuhi dan menuntut sejumlah harta yang demikian besar yang tidak mungkin dihimpun oleh seorang raja mana pun di muka bumi ini. Akhirnya Kaisar meminta agar dibolehkan keluar menuju beberapa wilayah kekuasaan Romawi untuk mengumpulkan harta tersebut. Kemudian dia memanggil seluruh pembesar agama dan kerajaannya serta berkata, “Aku akan keluar untuk suatu urusan yang telah diputuskan untuk aku laksanakan dengan sepasukan prajurit pilihan. Kalau aku kembali ke tengah-tengah kalian sebelum satu tahun, maka aku tetap raja kalian. Kalau aku tidak kembali dalam waktu tersebut, kalian boleh pilih, tetap mengakuiku sebagai raja atau mengangkat salah seorang dari kalian sebagai pengganti raja buat kalian.”

Mereka mengatakan, “Anda tetap raja kami dalam keadaan bagaimanapun.”
Akhirnya Kaisar berhasil keluar dan dengan cepat menuju kerajaan Persia. Dengan gerakan cepat bersama beberapa prajurit pilihannya, dia berhasil menghancurkan beberapa wilayah kerajaan Persia seperti Mada’in. Bahkan berhasil membunuh putra mahkota Persia, menawan para wanita dan istri-istri raja, merampas harta benda yang ada dan mengirimkan semua itu kepada Kisra. Tentu saja Kisra Persia yang menerimanya sangat terkejut dan berduka. Tekanannya terhadap pengepungan itu pun semakin keras.

Setelah merasa tidak sanggup menembus pertahanan Kaisar, Kisra Persia mencoba jalan lain melalui sungai Jaihun yang merupakan satu-satunya jalan menuju ke Konstantinopel.

Ketika hal ini diketahui Kaisar yang hendak memasuki Konstantinopel, ia pun melancarkan satu taktik jitu yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dia mempersiapkan pasukan pengintai yang bersamanya di dekat alur sungai. Pasukan lain diperintahkannya untuk mengangkut jerami dan kotoran hewan kemudian dilemparkan ke sungai. Ketika benda-benda itu melewati Kisra, dia menyangka bahwa Kaisar dan pasukannya telah menyelam di arah depan, maka dia pun memerintahkan untuk mengejar.

Kaisar kemudian tiba di tengah-tengah pasukan induknya dan memerintahkan untuk bergegas dan menyelam. Mereka pun menyelam dan bergerak cepat. Akhirnya mereka lolos dari Kisra dan pasukannya, serta berhasil masuk Konstantinopel kembali. Tinggallah Kisra dalam keadaan penuh kebingungan dan terheran-heran, apa yang mereka kerjakan? Negeri Kaisar tidak berhasil ditundukkan, malah negeri sendiri diporak-porandakan oleh Kaisar. Inilah kemenangan Romawi terhadap kerajaan Persia yang terjadi dalam waktu sekitar sembilan tahun setelah mereka dikalahkan oleh Persia. Peristiwa pertempuran kedua negara super power ini terjadi di dekat wilayah jazirah Arab.

Firman Allah ‘azza wa jalla:

الٓمٓ ١  غُلِبَتِ ٱلرُّومُ ٢  فِيٓ أَدۡنَى ٱلۡأَرۡضِ وَهُم مِّنۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَيَغۡلِبُونَ ٣ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ وَيَوۡمَئِذٖ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٤ بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ٥

“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rum, di negeri terdekat dan sesudah dikalahkan itu mereka akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya. Dan pada hari itu kaum mukminin bergembira, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (ar-Rum: 1—5)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ayat ini turun ketika Raja (Kisra) Persia Sabur menguasai negeri Syam dan koloninya yang meliputi beberapa wilayah di jazirah Arab serta pedalaman negeri Romawi. Hal ini memaksa Heraklius, Raja Romawi menyingkir dan berlindung di Konstantinopel. (at-Tafsir, 3/512)

Al-Imam Ahmad, al-Baihaqi, at-Tirmidzi, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini, dia mengatakan,

“Mereka (Romawi) dikalahkan dan (kemudian) mengalahkan. Kaum musyrikin sangat senang apabila orang-orang Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi, karena Persia dan mereka sama-sama penyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin menginginkan agar bangsa Romawi yang menaklukkan Persia karena mereka adalah orang-orang ahli kitab.”

Dalam riwayat at-Tirmidzi dari Niyar bin Mukarram al-Aslami radhiallahu ‘anhu dia mengatakan, “Ketika turun ayat-ayat ini, bangsa Persia berhasil mengalahkan bangsa Romawi. Kaum muslimin sangat menginginkan kemenangan ada di pihak Romawi, karena mereka ahlul kitab. Sedangkan kaum musyrikin sangat gembira dengan kemenangan Persia ini, karena mereka bukan ahli kitab dan tidak pula beriman dengan hari kemudian. Tatkala ayat ini turun, Abu Bakr radhiallahu ‘anhu membacakannya dengan lantang.”

Sebagian orang Quraisy yang mengetahui ini menantang, “Baik. Ini kesepakatan di antara kita. Temanmu itu menyangka bahwa Romawi akan mengalahkan Persia dalam waktu beberapa tahun. Maukah kamu, kita bertaruh masalah ini?”

Abu Bakr menjawab, “Boleh.”

Pertaruhan ini terjadi sebelum perkara ini dilarang. Orang-orang musyrik itu berkata kepada Abu Bakr, “Berapa tahun kita tetapkan? Yakni antara tiga sampai sembilan tahun. Sebutkan supaya kita jadikan putusan akhir.”

Kemudian mereka menetapkan waktu enam tahun.
Setelah berlalu enam tahun, belum juga tampak kemenangan itu, akhirnya taruhan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu diambil oleh Quraisy. Namun masuk tahun ketujuh, terjadilah kemenangan itu. Disebutkan oleh perawi bahwa sebagian kaum muslimin mencela Abu Bakr radhiallahu ‘anhu yang membatasi hanya enam tahun, karena Allah ‘azza wa jalla menyatakan:

فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ

“Dalam beberapa tahun.” (ar-Rum: 4)

Ketika itu, banyaklah orang yang masuk Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

أَمَا إِنَّهُمْ سَيَغْلِبُونَ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya mereka akan menang.”

Berita ini segera disampaikan oleh Abu Bakr radhiallahu ‘anhu kepada orang-orang Quraisy. Lalu mereka pun berkata, “Buatlah kesepakatan di antara kita dengan satu tempo. Kalau kami yang menang kami berhak mendapatkan sesuatu. Dan kalau kalian yang menang kalian berhak mendapatkan sesuatu pula.”

Maka Abu Bakr radhiallahu ‘anhu memberikan batasan bahwa Romawi akan menang dalam waktu lima tahun, namun ternyata belum juga terbukti. Hal ini juga beliau sampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

أَلَا جَعَلْتَهَا إِلَى دُونِ –أَرَاهُ قَالَ: الْعَشْرِ

“Apakah tidak engkau jadikan sampai masa di bawah—saya kira beliau menyebut— 10 tahun.”

Sa’id bin Jubair mengatakan الْبِضْعُ artinya bilangan yang ada di bawah sepuluh. Dan memang akhirnya pasukan Romawi menang. (Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, wallahu a’lam).

Sebagian ulama ada yang menyebutkan bahwa kemenangan Romawi tersebut terjadi bertepatan dengan peristiwa Badr al-Kubra. Ada pula yang menyatakan hal itu pada masa Hudaibiyah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib


Sumber bacaan:

  1. Tafsir Ibnu Katsir (jilid 3), Ibnu Katsir
  2. Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim
  3. Shahih as-Sirah an-Nabawiyyah, asy-Syaikh al-Albani
  4. Mukhtashar Siratur Rasul, asy-Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahab

Beberapa Penyakit Kalbu

Penyakit kalbu ada dua macam.

Pertama, sakit yang tidak dirasakan oleh yang mengidapnya. Contohnya adalah kebodohan, syubhat (kekaburan), keraguan, dan godaan syahwat. Keadaan ini sesungguhnya lebih menyakitkan, akan tetapi karena kalbu telah rusak dengan penyakit itu maka ia tidak merasakannya. Kebodohan dan hawa nafsunya menghalangi untuk menemukan sakitnya. Rasa sakit itu sebenarnya sudah ada namun karena tersibukkan oleh hal-hal lain, maka sakitnya tersembunyi. Ini lebih berbahaya dari penyakit yang satunya dan lebih susah untuk menyembuhkannya.

Obatnya ada pada para rasul dan para pengikut mereka. Merekalah para dokter penyakit ini.

Kedua, penyakit yang dirasakan langsung saat itu. Seperti kesedihan, gundah gulana, dan kemarahan. Penyakit ini bisa dihilangkan dengan menghilangkan sebab-sebabnya atau dengan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan sebabnya.

Sebagai contoh adalah marah. Marah termasuk menyakitkan kalbu dan obatnya adalah dengan menghilangkan sebab kemarahan itu. Jika ia melakukan penyembuhan dengan cara yang benar maka sakitnya akan hilang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَيَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۗ

“Perangilah mereka, maka Allah akan azab mereka dengan tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian atas mereka dan menyembuhkan dada-dada kaum mukminin serta menghilangkan kemarahan mereka dan Allah akan memberikan taubat-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki.” (at-Taubah: 14—15)

Keberadaan orang-orang kafir itu merupakan sebab kemarahan orang-orang mukmin yang membuat sakit hati mereka. Maka dengan memerangi orang kafir kemarahan kaum mukminin hilang sehingga sembuh dari penyakit ini.

Namun jika mencari kesembuhan dengan cara kezaliman justru akan menambah sakitnya yang ia sangka akan menyembuhkannya.

Kesedihan dan gundah gulana juga merupakan penyakit kalbu. Menyembuhkannya dengan memunculkan rasa gembira dan senang. Jika ia menyembuhkan dengan cara yang haq maka akan hilang sakitnya. Namun jika kesembuhannya didapat dengan cara yang batil maka sakitnya akan bersembunyi dan akan menimbulkan penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya serta lebih sulit untuk disembuhkan.

Penyakit yang lain adalah kebodohan. Obatnya adalah dengan ilmu yang bermanfaat. Jika ia obati dengan ilmu yang tidak bermanfaat, ia bakal menyangka telah sembuh dari sakitnya. Padahal hakikatnya justru menambah penyakitnya. Ia sibuk dengan ilmu yang tidak bermanfaat hingga tidak mampu menangkap sakit yang tersembunyi pada dirinya. Padahal ilmu yang bermanfaat merupakan syarat untuk bisa sehat dan sembuhnya kalbu.

Penyakit lainnya adalah keraguan, obatnya adalah ilmu dan keyakinan yang didapatkan dengan cara yang haq.

Jadi obat bagi penyakit-penyakit hati ada yang bersifat tabiat serta ada yang bersifat keimanan dan syariat sesuai dengan penyakitnya.

Diterjemahkan oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc dengan penambahan dan pengurangan dari kitab Ighatsatul Lahafan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah hlm. 22—23

Hukum Nadzar

Saya pernah bernadzar untuk puasa Dawud tapi tanpa melafadzkannya secara jahr (dengan suara keras) dan tidak menentukan batas waktunya sampai kapan. Sementara orang tua saya melarang untuk melakukannya karena kondisi tubuh saya yang lemah dan saya sendiri memang merasakannya cukup berat. Apakah wajib bagi saya untuk puasa Dawud seumur hidup?
Afaf
m_m…@yahoo.com

Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad al-Makassari

Alhamdulillah. Jika keterangan yang ada pada konteks pertanyaan ‘tanpa melafadzkannya’, yang dimaksud bahwa Anda hanya bertekad dalam hati tanpa mengucapkannya sama sekali, maka tidak termasuk dalam kategori nadzar. Namun bila yang dimaksud bahwa Anda melafadzkannya secara sirr (dengan suara pelan), tidak secara jahr (dengan suara keras, didengar orang lain) maka termasuk dalam kategori nadzar karena tidak ada perbedaan antara sirr dan jahr, yang jelas sudah dilafadzkan (diucapkan).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kaset Syarh Bulughul Maram mengatakan, “Nadzar adalah meng-ilzam-kan (mewajibkan) sesuatu atas dirinya, baik dengan lafadz nadzar, ‘ahd (perjanjian), atau yang lainnya.”

Dalam kitabnya, asy-Syarhul Mumti’ (6/450—451), setelah menerangkan pengertian nadzar, beliau mengatakan, “Suatu nadzar dianggap sah (yaitu dihitung sebagai suatu nadzar) dengan ucapan (melafadzkannya) dan tidak ada konteks tertentu untuk itu. Bahkan seluruh konteks kalimat yang menunjukkan makna meng-ilzam-kan sesuatu atas dirinya maka dikategorikan sebagai nadzar, baik dengan mengucapkan:

للهِ عَلَيَّ عَهْدٌ

‘Wajib atas diri saya suatu janji karena Allah’,

mengucapkan:

لِلهِ عَلَيَّ نذَرٌ

‘Wajib atas diri saya suatu nadzar karena Allah’,

maupun lafadz-lafadz serupa yang menunjukkan ilzam, seperti:

لِلهِ عَلَيَّ أَنْ أَفْعَلَ كَذَا

‘Wajib atas diri saya untuk melakukan demikian’, meskipun tidak menyebut kata janji atau nadzar.”

Jadi, seandainya Anda sudah mengucapkan, baik dengan jahr maupun sirr, maka mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menunaikan nadzar tersebut. Karena nadzar Anda termasuk dalam kategori nadzar ketaatan (نَذْرُ الطَّاعَةِ), dan dinamakan pula dengan nadzar tabarrur (نَذْرُ التَّبَرُّرِ) yaitu nadzar untuk melakukan suatu amalan saleh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jenis nadzar seperti ini hukumnya wajib untuk ditunaikan dan tidak bisa dibayar dengan kaffarah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

“Barang siapa yang bernadzar untuk menaati Allah hendaklah dia melaksanakannya, dan barang siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah dia melakukannya.” (HR. al-Bukhari)

Berdasarkan hadits ini, suatu amalan yang hukumnya sunnah (mustahab) ketika dinadzarkan berubah menjadi wajib, sehingga puasa Dawud yang asalnya sunnah menjadi wajib bagi Anda. Dan karena Anda menadzarkannya secara mutlak tanpa batasan waktu maka wajib bagi Anda untuk puasa Dawud selamanya.

Adapun hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِيْنِ

“Kaffarah nadzar sama dengan kaffarah sumpah.” (Sahih, HR. Muslim)

yang menunjukkan bahwa seseorang yang bernadzar untuk suatu perkara maka dia memiliki dua pilihan yaitu melaksanakan isi nadzarnya atau membatalkannya dengan membayar kaffarah. Maka sebagian ahlul ilmi—sebagaimana dinukilkan oleh an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (11/88)—mengambil dzahir (tekstual) hadits ini yang mencakup seluruh jenis nadzar tanpa kecuali. Namun pendapat ini keliru, karena meskipun dzahir hadits menunjukkan hal itu akan tetapi dikecualikan darinya nadzar ketaatan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini ditegaskan oleh asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam al-Qawa’id wal Ushul al-Jami’ah (hlm. 141), juga asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kaset Syarh Bulughul Maram.

ilustrasi-puasa

Namun bila Anda sudah berusaha melaksanakan nadzar tersebut dan ternyata sangat menyiksa diri Anda serta mengakibatkan Anda sulit untuk menunaikan kewajiban yang lain sebagaimana biasanya, berarti Anda terhitung tidak mampu. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

“Tidaklah Allah membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (at-Taghabun: 16)

maka mungkin kita dapat mengategorikannya dalam jenis bernadzar dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan (نَذْرٌ بِمَا لاَ يُطَاقُ) sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki tua dipapah oleh kedua anaknya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Ada apa dengan orang ini?

Mereka menjawab, “Dia bernadzar untuk berjalan.” (an-Nasa’i menambahkan dalam sebuah riwayatnya, “Dia bernadzar untuk berjalan ke Baitullah.”)[1]

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahacukup (tidak butuh) dari perbuatan orang ini menyiksa dirinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan dia untuk berkendaraan.

Akan tetapi Anda wajib untuk membayar kaffarah berdasarkan hadits ‘Uqbah bin ‘Amir yang telah disebutkan sebelumnya, dan dikuatkan dengan atsar mauquf dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya:

وَمَنْ نَذَرَ نَذْراً لاَ يُطِيْقُهُ فَعَلَيْهِ كَفَّارَةُ يَمِيْنٍ

“Barang siapa yang bernadzar dengan sesuatu yang tidak sanggup dilakukannya maka wajib atasnya membayar kaffarah sumpah.”

Sebenarnya Abu Dawud dan al-Baihaqi meriwayatkannya secara marfu’ dari ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun riwayatnya syadz (ganjil)[2], sebagaimana diisyaratkan oleh Abu Dawud dan dibenarkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib Sunan Abi Dawud serta asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil (8/210—211).

Adapun kaffarah yang dimaksud sebagaimana dalam ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu adalah kaffarah sumpah, yaitu sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Ma’idah ayat 89:

  1. Memberi makan sepuluh orang fakir/miskin[3] dengan makanan yang layak sebagaimana yang dihidangkan untuk keluarga. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara:
  2. Menyediakan makanan yang sudah siap disantap kemudian mengundang sepuluh orang miskin/fakir untuk makan siang atau makan malam.
  3. Memberikan beras atau yang semacamnya kepada sepuluh orang miskin/fakir masing-masing 1 kg, dan sebaiknya menyertakan lauk-pauknya berupa daging, telur, sayur, atau yang semacamnya.
  4. Memberikan kepada masing-masing dari 10 orang miskin atau fakir pakaian yang layak dan sesuai dengan keadaannya, kalau laki-laki dewasa—misalnya—berupa baju dan sirwal atau sarung ukuran orang dewasa.
  5. Membebaskan seorang budak dengan syarat mukmin menurut jumhur, dan ini yang rajih.
  6. Berpuasa tiga hari berturut-turut menurut sebagian ulama, berdasarkan qiraah (bacaan) Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dan hal ini dipilih oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Dan itu yang rajih, insya Allah.

Tiga-Jari

Inilah kaffarah yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tiga perkara yang disebut pertama bebas dipilih salah satunya. Apabila tidak memungkinkan salah satu dari ketiganya, maka barulah melangkah ke perkara yang keempat. Apabila seseorang langsung melakukan perkara yang keempat padahal salah satu dari ketiga perkara yang pertama memungkinkan untuk dilakukan, maka kaffarahnya tidak sah dan dia masih dituntut kewajiban membayar kaffarah. Adapun puasanya dianggap sebagai amalan tathawwu’ (sunnah) yang dia diberi pahala atasnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, asy-Syarhul Mumti’, 6/422—428 dan kaset Syarah Bulughul Maram)

Sebagai kesempurnaan faedah, saya mengingatkan kepada Anda dan yang lainnya bahwa bukan berarti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikan nadzar ketaatan menunjukkan bahwa bernadzar adalah amalan yang terpuji yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ عَنِ النَّذْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari nadzar.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (11/578) sangat heran terhadap sebagian ulama yang berpendapat bahwa nadzar hukumnya sunnah (mustahab) seperti an-Nawawi rahimahullah, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang darinya. Maka yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bernadzar hukumnya makruh. Ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (35/354) dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam berbagai kitabnya, di antaranya asy-Syarhul Mumti’ (6/451).

Sesungguhnya larangan yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada asalnya menunjukkan haram, melainkan jika ada qarinah (dalil) yang memalingkan dari hukum asal itu, maka hukumnya menjadi makruh. Di sini, qarinah itu adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits lain yang memerintahkan untuk menunaikan nadzar. Karena bila nadzar itu haram maka bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikannya. Bahkan ada sebagian ulama dari kalangan Hanabilah (mazhab Hambali) yang berpendapat bahwa nadzar itu haram sebagaimana dalam Fathul Bari. Bahkan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menukilkan bahwa Ibnu Taimiyah condong kepada pendapat ini. Beliau (asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) mengatakan bahwa pendapat ini kuat[4] dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Orang yang bernadzar melazimkan (mewajibkan) atas dirinya suatu amalan yang sebelumnya dia terbebas darinya. Betapa banyak orang yang bernadzar akhirnya menyesal, dan bahkan boleh jadi dia tidak menunaikannya.
  2. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِنۡ أَمَرۡتَهُمۡ لَيَخۡرُجُنَّۖ

“Dan mereka (kaum munafikin yang tidak ikut berjihad) bersumpah demi Allah dengan penuh kesungguhan, jika engkau memerintahkan mereka (untuk keluar berperang) sungguh mereka akan melakukannya.” (an-Nur: 53)

Ayat ini menunjukkan sifat orang-orang munafik, yaitu mewajibkan atas diri mereka suatu amalan yang dipertegas dengan sumpah. Ini serupa dengan nadzar. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala membantahnya dalam lanjutan ayat tersebut:

قُل لَّا تُقۡسِمُواْۖ طَاعَةٞ مَّعۡرُوفَةٌۚ

“Katakanlah (wahai Muhammad), janganlah kalian bersumpah, (atas kalian) ketaatan yang ma’ruf.” (an-Nur: 53)

Yaitu, hendaklah kalian melaksanakan ketaatan tanpa disertai sumpah. Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa seseorang yang tidak melaksanakan ketaatan kecuali dengan bernadzar atau bersumpah atas dirinya, artinya ketaatan tersebut merupakan hal yang berat baginya.

  1. Khususnya nadzar ketaatan yang bentuknya mu’allaq yaitu menggantungkan ketaatan dengan dihasilkannya sesuatu yang diinginkan, seakan-akan dia tidak percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Jadi, sepertinya dia berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberikan kesembuhan (misalnya) kecuali jika dia memberikan sesuatu kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai balasannya. Oleh karena itu, jika mereka sudah putus asa dari kesembuhan, mereka pun bernadzar[5]. Hal yang seperti ini merupakan buruk sangka terhadap Allah ‘azza wa jalla (lihat al-Qaulul Mufid, 1/247—248).

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] Riwayat ini disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih an-Nasa’i no. 3604.

[2] Riwayat yang syadz (ganjil) bukanlah hujjah, karena tergolong riwayat yang dha’if (lemah).

[3] Dzahir ayat ini mencakup laki-laki atau perempuan, baik dewasa maupun masih kecil. (lihat asy-Syarhul Mumti’, 6/422-423)

[4] Bukan berarti bahwa Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin merajihkan haramnya nadzar. Karena sebagaimana dalam kaset Syarh Bulughul Maram, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Sulit bagi seseorang untuk mengatakan dengan tegas bahwa hukumnya (nadzar) adalah haram.”Hanya saja hal ini menunjukkan tingkat kemakruhan yang sangat.

[5] Dengan mengatakan (misalnya), “Jika saya sembuh maka saya akan berpuasa tujuh hari.”

Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar

Saat Hamzah dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kendor. Melalui paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum musyrikin meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Lanjutkan membaca Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar

Kalbu Mengeras Karena Jauh dari Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٢

“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya kalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) diciptakan untuk melunakkan kalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah kalbu yang keras. Jika kalbu sudah keras, mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana halnya jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula kalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan dengan nasihat.

Barang siapa hendak menyucikan kalbunya, ia harus mengutamakan Allah subhanahu wa ta’ala dibanding dengan keinginan dan nafsu jiwanya. Sebab, kalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sesuai kadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan kalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat, tentu kalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang tampak ini. Ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah.

Jika kalbu disuapi dengan berzikir dan disirami dengan berpikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan kalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh kalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, tidak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya kalbu adalah karena lalai dan merasa aman. Adapun makmurnya kalbu adalah karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan zikir. Maka dari itu, jika sebuah kalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya, jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa kalbu. Membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapa pun yang menempatkan kalbunya di sisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tenteram. Siapa pun yang melepaskan kalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah  subhanahu wa ta’ala tidaklah akan masuk ke dalam kalbu yang mencintai dunia, melainkan seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala juga akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lisannya senantiasa basah dengan berzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Kalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Kalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berzikir. Kalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah takwa. Kalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakal, bertaubat, dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab al-Fawa’id karya Ibnul Qayyim rahimahullah hlm. 111—112)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc