Makelar dalam Jual Beli

Bismilah. Saya mau bertanya tentang permasalahan seputar jual beli.

  1. Jual beli yang dikenal dengan istilah “belantik”, caranya menjualkan barang dari pemilik barang kepada pembeli.

Contohnya, A berniat menjual sepeda seharga Rp50.000, lalu saya menjualkan sepeda A kepada B sebagai pembeli dengan penawaran harga Rp100.000. Si B membayar sepeda tersebut Rp100.000 kepada saya. Lalu saya bayarkan Rp50.000 kepada A dan saya mendapat keuntungan Rp50.000 dari hasil menjualkan sepeda A tersebut. Pertanyaannya, apakah jual beli yang saya lakukan tersebut sesuai dengan syariat?

  1. Saya menitipkan dagangan kepada pemilik toko untuk dijualkan.

Caranya, saya titip barang ke toko dengan harga Rp.1.000, lalu terserah toko, barang tersebut akan dijual dengan harga berapa. Yang penting, jika barang terjual, toko membayar Rp.1.000 kepada saya, sesuai dengan harga yang saya tetapkan.

Bolehkah jual beli seperti ini? Saya mohon penjelasannya, karena saya berdagang dengan cara seperti ini. Saya khawatir terjatuh ke dalam jual beli yang diharamkan.

Abu Abdul Aziz—Lampung

 

handshake

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Sistem jual beli yang ditanyakan hukumnya boleh. Hal ini dikenal dalam syariat dengan istilah samsarah atau makelaran. Akan tetapi, pada contoh yang pertama, makelar harus mendapat izin dari pemilik barang untuk mengambil keuntungan sekehendaknya (tentunya dalam batas kewajaran).

Makelaran disebut dalam bahasa Arab samsarah atau dallalah. Pelakunya atau makelar disebut simsar atau dallal. Upahnya dinamai ujratu samsarah atau as-sa’yu, atau al-ju’’azza wa jalla atau ad-dallalah.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), yang dimaksud makelar adalah perantara antara penjual dan pembeli. Disebut pula broker, makelar, cengkau, dan pialang.

 

Kriteria Seorang Makelar

Seorang makelar harus memiliki kriteria sebagai berikut.

  1. Berpengalaman menjual barang dagangan tersebut dan tentang barangnya.

Hal ini supaya dia tidak membuat kecewa atau merugikan penjual atau pembeli.

  1. Jujur dan amanah.
  2. Tidak berbasa-basi dengan salah satu pihak, sehingga dia menerangkan kelebihan dan kekurangan barang tersebut apa adanya.
  3. Tidak menipu pihak manapun.

 

Upah Makelar

Para ulama membolehkan upah makelar. Al-Imam Malik pernah ditanya tentang upah makelar, beliau menjawab tidak mengapa.

Al-Imam al-Bukhari menyebutkan sebuah bab dalam kitab Shahih al-Bukhari, “Bab Upah Makelar”.

Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim (an-Nakha’i), dan al-Hasan (al-Bashri) memandang bolehnya upah bagi makelar.

Ibnu Abbas mengatakan, “Seseorang boleh mengatakan, ‘Juallah pakaian ini. Apa yang lebih dari (harga) sekian dan sekian, itu untukmu’.”

Ibnu Sirin mengatakan, “Jika seseorang mengatakan, ‘Juallah barang ini dengan harga sekian, dan keuntungan selebihnya untukmu—atau kita bagi dua,’ hal ini boleh saja. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

”Kaum muslimin itu sesuai dengan syarat-syarat mereka.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللهِ ، أَنْ يُتَلَقَّى الرُّكْبَانُ، وَلاَ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قُلْتُ: يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، مَا قَوْلُهُ لاَ يَبِيعُ حَاضِرٌ لِبَادٍ. قَالَ: لاَ يَكُونُ لَهُ سِمْسَارًا

Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menghadang rombongan pedagang (yakni sebelum sampai pasar) dan melarang orang yang di kota menjualkan barang milik orang yang datang dari pedesaan.”

Aku (perawi) mengatakan, “Wahai Ibnu Abbas, apa maksudnya ‘orang yang di kota tidak boleh menjualkan barang orang yang datang dari pedesaan’?”

Beliau menjawab, “Tidak menjadi makelar bagi mereka.”

Sisi pendalilan dari hadits di atas adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang kota menjualkan (barang) orang desa yang datang ke kota, berarti selain itu adalah boleh. Orang kota menjualkan (barang) orang kota, orang desa menjualkan (barang) orang desa, atau orang desa menjualkan (barang) orang kota. Lihat keterangan yang semakna dengan ini pada Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Ibnu Qudamah mengatakan, “Seseorang boleh menyewa makelar untuk membeli pakaian. Ibnu Sirin, Atha’, dan an-Nakha’i membolehkan hal itu…

(Makelar) boleh diberi waktu tertentu, seperti sepuluh hari, selama itu dia membelikan barang, karena waktu dan pekerjaannya diketahui…

Apabila pekerjaannya saja yang ditentukan, tetapi waktunya tidak, dan ditetapkan bahwa dari setiap 1.000 dirham dia mendapat nominal tertentu, ini juga sah saja. Apabila seseorang menyewa (makelar) untuk menjualkan pakaian, itu juga sah.

Pendapat ini yang dipegang oleh al-Imam asy-Syafi’i, karena itu adalah pekerjaan mubah yang boleh diwakilkan dan sesuatu yang telah diketahui. Maka dari itu, diperbolehkan pula akad sewamenyewa padanya, seperti pembelian baju.”

  • Al-Lajnah ad-Daimah ditanya tentang masalah berikut. Seorang pemilik kantor perdagangan bertindak sebagai perantara bagi perusahaan tertentu untuk memasarkan produknya. Perusahaan tersebut mengirimkan sampel kepadanya untuk dia tawarkan kepada para pedagang di pasar. Dia kemudian menjual produk tersebut kepada konsumen dengan harga yang ditetapkan perusahaan tersebut. Dia mendapatkan upah yang telah dia sepakati dengan perusahaan tersebut. Apakah dia berdosa dengan pekerjaan ini?

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab bahwa apabila kenyataannya seperti yang disebutkan, ia boleh mengambil upah tersebut dan tidak ada dosa padanya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum seseorang mencarikan toko atau apartemen (untuk orang lain) dan mendapatkan imbalan untuk itu.

Beliau menjawab bahwa hal itu tidak mengapa. Ini adalah imbalan yang disebut as-sa’yu. Hendaknya orang itu bersungguh-sungguh mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaan orang yang hendak menyewanya. Apabila dia membantunya dan mencarikan tempat yang sesuai dengan permintaannya, lalu dia membantu mewujudkan kesepakatan antara penyewa dan pemiliknya, dan disepakati pula upahnya, semua ini tidak mengapa, insya Allah.

Akan tetapi, hal ini dengan syarat tidak ada pengkhianatan dan penipuan, tetapi yang ada adalah amanah dan kejujuran. Apabila dia jujur dan amanah ketika mencarikan apa yang diminta (calon penyewa), tanpa menipu dan menzalimi (calon penyewa) atau pemilik toko/apartemen, dia berada dalam kebaikan, insya Allah.

  • Ibnu Qudamah mengatakan, “Perwakilan diperbolehkan, baik dengan upah maupun tidak. Sebab, Nabi mewakilkan kepada sahabat Unais untuk melaksanakan hukuman had, dan mewakilkan kepada sahabat Urwah dalam hal pembelian kambing, tanpa upah. Beliau juga pernah mengutus para pegawai untuk mengambil zakat lalu memberi upah kepada mereka. Oleh karena itu, kedua anak paman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya saja Anda mengutus kami untuk mengambil zakat sehingga kami tunaikan kepada Anda sebagaimana manusia menunaikannya kepada Anda, dan kami mendapatkan sesuatu sebagaimana orang juga mendapatkannya—yakni mendapat upah’.” (HR . Muslim)

Maka dari itu, jika seseorang dijadikan wakil dalam penjualan dan pembelian, dia berhak mendapatkan upah jika melakukannya.

  • Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Tidak mengapa menjadi makelar untuk penjual atau pedagang. Persyaratan upah tersebut boleh.” (Fatawa Ibni Baz)
  • Al-Lajnah ad-Daimah pernah ditanya, “Banyak perdebatan tentang rasio upah yang diperoleh oleh makelar. Ada yang mengatakan 2,5%, ada yang mengatakan 5%. Berapakah sebenarnya upah yang syar’i bagi makelar? Ataukah hal itu tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli?”

Berikut ini jawaban al-Lajnah ad- Daimah.

Apabila terjadi kesepakatan antara makelar, penjual, dan pembeli, apakah makelar mengambil upah dari pembeli, atau dari penjual, atau dari keduanya, upah yang diketahui ukurannya maka hal itu boleh saja. Tidak ada batasan atau prosentase upah tertentu.

Kesepakatan yang terjadi dan saling ridha tentang siapakah yang akan memberikan upah, hal itu boleh. Akan tetapi, semestinya itu semua sesuai dengan batasan kebiasaan yang berjalan di tengah masyarakat tentang upah yang didapatkan oleh makelar dapat imbalan pekerjaannya yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Selain itu, tidak boleh ada mudarat atas penjual maupun pembeli dengan upah yang melebihi kebiasaan. (Fatawa al-Lajnah)

Apabila prosentase upah itu dari laba, bukan dari harga penjualan, para fuqaha mazhab Hanbali membolehkannya, dan itu menyerupai mudharabah. (Kasysyaful Qana’ [3/615], Mathalib Ulin Nuha [3/542], sebagian kutipan diambil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab)

Dana Sedekah Tidak Jadi Dipakai

DIBERI DANA UNTUK BEROBAT, TIDAK JADI DIGUNAKAN

 Seseorang mengurusi orang sakit yang harus berobat ke luar negeri. Dia diberi dana 9.000 real untuk transportasi, biaya berobat, dan ongkos bagi pendampingnya. Akan tetapi, si sakit sudah meninggal sebelum sempat pergi berobat. Pertanyaannya, apa yang harus dia perbuat terhadap dana tersebut?

 Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Apabila urusannya seperti yang disebutkan oleh penanya dalam pertanyaan bahwa dana tersebut diberikan kepada si sakit untuk berobat ke luar negeri, namun dia meninggal sebelum sempat pergi berobat; orang tersebut harus mengembalikannya kepada pihak yang memberi.

Sebab, dana itu sudah tidak mungkin digunakan sebagaimana tujuan semula.Dia tidak boleh mengambil dana itu sedikit pun karena sama sekali tidak berhak atasnya.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Sulaiman bin Mani’

(Fatawa al-Lajnah 25/100, fatwa no. 505)

Tidak Bisa Melayani Suami Karena Gangguan Jin

Saya seorang perempuan yang menderita penyakit jiwa sejak berusia sebelas tahun yang tampaknya disebabkan oleh gangguan jin. Perlu diketahui, saya—berkat keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala —bersemangat dalam hal agama.

Saya telah menikah dan memiliki beberapa anak. Kemudian saya menyingkir dari suami dan tidak mau didekati ketika akan digauli. Saya merasa seakan-akan ada seorang lelaki yang menggauli saya sebagaimana digaulinya seorang istri oleh suaminya.

Seseorang menuliskan beberapa ayat al-Qur’an untuk saya letakkan di atas mushaf lalu saya letakkan di bawah kepala. Akan tetapi, tindakan ini tidak berpengaruh apa pun terhadap saya. (Perasaan telah digauli) ini saya alami ketika tidur. Ketika malam hari pun, dikhayalkan bahwa saya telah digauli. Ini sebuah kesulitan besar yang tidak bisa diketahui kadarnya selain oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Apakah saya berdosa kepada Allah subhanahu wa ta’ala?
  2. Apakah ada cara menyembuhkan penyakit ini? Berilah saya faedah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalasi Anda dengan yang lebih baik.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

  1. Apa yang Anda rasakan ketika tidur—yaitu perasaan bahwa ada lelaki yang menggauli Anda sebagaimana seorang suami menggauli istrinya—tidak ada dosa bagi Anda. Sebab, menurut syariat, dosa terangkat dari orang yang tidur. Hanya saja, apabila mengeluarkan air mani sebagaimana yang dikenal, Anda harus mandi (junub).

Anda juga hendaknya memberikan kesempatan kepada suami Anda untuk menunaikan kebutuhan biologisnya melalui diri Anda, semampu Anda. Apabila Anda tidak mampu, atau suami mengalah dan merelakan haknya, tidak ada dosa pula bagi Anda.

  1. Penyakit ini diobati dengan hal-hal berikut ini.
  2. Tawakal, menyandarkan diri, berdoa, dan beristighatsah kepada Allah k, disertai keikhlasan dan perendahan diri agar Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan penyakit tersebut.

Penyakit ini juga bisa diobati dengan ruqyah menggunakan al-Qur’an, zikir-zikir, dan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, dengan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas (tiga kali), diikuti meludah sedikit di kedua telapak tangan setiap kali selesai membaca tiga surat tersebut lantas diusapkan ke bagian tubuh yang bisa dijangkau. Misalnya pula, ruqyah dengan membaca surat al-Fatihah, membaca Ayat Kursi ketika berbaring hendak tidur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing orang yang hendak tidur untuk berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian berbaring di sisi kanan tubuhnya dan berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، مَلْجَأَ وَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, memasrahkan urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap kepada-Mu dan cemas terhadap-Mu. Tidak ada tempat bersandar dan tempat melarikan diri dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah engkau utus.”

Di antara doa yang dengannya diharapkan Allah subhanahu wa ta’ala akan melindungi hamba-Nya dari bahaya ialah doa ketika pagi dan petang,

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 “Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada yang bisa memberi mudarat sesuatu pun di bumi dan di langit, dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (tiga kali)

Demikian pula doa yang diucapkan setiap singgah di sebuah tempat,

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

 “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejelekan segala sesuatu yang Dia ciptakan.”

Masih banyak lagi doa dan zikir yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini mengandung pengobatan terhadap jiwa, roh, dan badan, serta menjaganya dari gangguan setan dari kalangan manusia dan jin.

  1. Berkonsultasi dengan dokter penyakit jiwa dan memeriksakan diri di poliklinik syaraf di rumah sakit jiwa. Semoga mereka bisa memberikan solusi pengobatan terhadap penyakit Anda.

Kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberikan kesehatan dan keselamatan bagi Anda. Sekali lagi, kami wasiatkan kepada Anda untuk memperbanyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan merendahkan diri di hadapan-Nya, dan meminta kesembuhan kepada-Nya dari penyakit yang menimpa diri Anda. Sebab, Dialah yang berfirman,

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa al-Lajnah 19/232, fatwa no. 1533)

Muamalah dengan Orangtua

IBU MARAH KETIKA DINASIHATI

Ayahku sudah meninggal dua tahun lalu. Kebiasaan penduduk negeriku, mereka mengeluarkan para perempuan dan lelaki ke pekuburan, membuat kue, dan mengundang para penghafal al-Qur’an untuk membaca bagi ruh si mayit. Aku sama sekali tidak mengikuti acara tersebut. Aku katakan kepada ibuku bahwa hal ini haram. Aku juga berusaha menunjuki dan membimbingnya kepada kebenaran dan hal yang lebih utama. Akan tetapi, ibuku tidak senang terhadap tindakanku.

Pada malam perayaan (masuk) bulan Ramadhan dia mengatakan kepadaku, “Mari kita pergi ke pekuburan.”

Aku jawab, “Perbuatan ini haram.”

Dia pun beranjak dari sisiku dengan marah. Ia juga mendoakan kejelekan untukku dengan ucapan yang membangkitkan amarahku. Namun, aku tidak membalas ucapan ibuku. Ia lalu memutus hubungan denganku.

Aku pergi mengunjunginya di rumahnya, namun ia tidak menjawab ucapanku. Sampai sekarang, ia masih marah terhadapku. Berikanlah faedah kepadaku. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalasi Anda dengan yang lebih baik.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Teruslah menasihati ibu Anda dengan baik dan lemah lembut. Teruslah mengunjunginya dan berbakti kepadanya. Jadilah Anda orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya, meski dia tidak mau menjawabnya. Jangan patuhi ibu Anda dalam hal kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila dia menerima nasihat, alhamdulillah. Jika dia terus-menerus melakukan hal yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bergaullah dengannya dengan baik di dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 14—15)

Nasihat Anda kepadanya tidak teranggap sebagai kedurhakaan, meskipun membuatnya marah, selama hal itu dalam hal yang baik dan wejangan yang baik.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa al-Lajnah 25/183—184, fatwa no. 9449)

BERSEDEKAH ATAS NAMA ORANG TUA

Kedua orang tuaku sudah meninggal. Apabila aku menyembelih kambing lalu aku sedekahkan kepada orang-orang fakir, apakah bermanfaat kepada ayah dan ibuku yang sudah meninggal?

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Jika Anda menyedekahkan daging, makanan, atau lainnya, atas nama kedua orang tua Anda, hal ini disyariatkan. Diharapkan pahalanya sampai kepada keduanya. Hal ini berdasarkan hadits Sa’d radhiallahu ‘anhu ketika bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apakah aku bersedekah atas nama ibuku yang sudah meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahnya untuk bersedekah atas nama ibunya. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: Abdul Aziz alusy Syaikh, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Bakr bin Abdillah Abu Zaid

(Fatawa al-Lajnah 25/237—238, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 15918)

Muamalah dengan Nonmuslim

Memiliki Kerabat Nonmuslim

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki saudara lelaki, saudara perempuan, atau anak yang nonmuslim?

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Hendaknya dia mendakwahi kerabatnya yang bukan muslim atau lainnya kepada Islam. Ia terangkan kepada mereka tentang berbagai keistimewaan agama ini, syariat dan hukum-hukumnya yang penuh toleransi. Ia sampaikan pula bahwa pada hari kiamat tidak ada agama yang diterima dari seorang pun selain Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberinya hidayah melalui tangan Anda. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang jelas,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik; dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

Demikian pula firman-Nya,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa menunjuki (orang lain) kepada kebaikan, dia mendapat pahalasemisal pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kami dan Anda kepada keridhaan-Nya.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Mani’

(Fatawa al-Lajnah 25/378—379, pertanyaan ke-3 dari fatwa no. 6872)

MENOLONG ORANG KAFIR YANG KELAPARAN

Jika seorang muslim sedang menempuh perjalanan dan mendapatkan seorang kafir yang keadaannya sangat mengenaskan karena kelaparan dan kehausan, bolehkah ia menyelamatkan orang kafir tersebut? Apakah dia mendapat pahala karena perbuatan itu?

 

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Ya, dia boleh menyelamatkannya. Bahkan, sudah seharusnya ia melakukannya. Ia akan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pada setiap hati yang basah ada pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

Selain itu, amal saleh ini seringkali membuahkan efek yang positif. Bisa jadi, orang kafir tersebut mendapatkan hidayah ketika dia tahu bahwa agama Islam memerintahkan perbuatan baik secara umum.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Mani’

(Fatawa al-Lajnah 25/380, pertanyaan ke-6 dari fatwa no. 264)

Metode Mendidik Anak

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Metode yang baik dalam hal mendidik anak ialah yang pertengahan, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan. Tidak boleh ada sikap kaku dan keras, namun juga tidak boleh ada sikap pembiaran.

Seorang ayah mentarbiyah anakanaknya, mengajari mereka, mengarahkan dan membimbing mereka kepada akhlak yang utama dan adab yang bagus. Di samping itu, ia juga melarang anaknya dari setiap perangai dan akhlak yang tercela.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa al-Lajnah 25/290—291, pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 14755)

 

MELAMPIASKAN EMOSI DENGAN MEMUKUL ANAK

 

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab:

Anda seharusnya melatih jiwa Anda untuk bersabar saat ditimpa oleh kesempitan dan musibah. Hendaknya dia mengisi waktunya dengan shalat, zikrullah, dan berdoa kepada-Nya. Tidak sepantasnya Anda memukul anak-anak tanpa tujuan memberinya pelajaran.

Wabillahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil: Abdur Razzaq Afifi;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan

(Fatawa al-Lajnah 25/290, pertanyaan ke-1 dari fatwa no. 10447)

 

Kotoran di Bawah Kuku, Wudhu Tidak Sah?

Ada silang pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam al-Mughni (1/174 terbitan Darul ‘Alam al-Kutub) setelah menukilkan pendapat yang mengatakan wudhunya tidak sah, “Ada kemungkinan dia tidak diharuskan menghilangkan kotoran yang menutup itu. Sebab, biasanya memang ada kotoran yang menutup di bawah kuku. Maka dari itu, seandainya bagian yang tertutup itu wajib dibasuh, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkannya kepada umat, karena tidak boleh menunda penjelasan suatu perkara dari waktu dibutuhkannya penjelasan itu.”

Ini adalah salah satu pendapat yang kuat di kalangan fuqaha (ahli fiqih) mazhab Hanbali dan dipilih oleh Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam al-Ikhtiyarat al-’Ilmiyyah (hlm. 21).

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang kotoran di bawah kuku yang panjang dan menghalangi air untuk membasuh bagian itu dalam Fathu Dzil Jalali wal Ikram (pada syarah hadits Anas tentang lelaki yang pada kakinya ada bagian sebesar potongan kuku/ sebesar kuku yang tidak terbasuh air wudhu). Beliau berkata, “Syaikhul Islam memilih pendapat bahwa hal itu dimaafkan dan fuqaha mazhab Hanbali menyetujuinya, karena sulit untuk menjaga diri dan menghindar darinya. Kalau kita mengatakan wajib untuk mencungkilnya setiap kali hendak berwudhu, tentu hal itu memberatkan.”

Pendapat ini pula yang difatwakan oleh al-Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa (10/50). Beliau berkata, “Wudhunya sah. Kotoran yang mungkin saja ada di bawah kuku tidak menghalangi sahnya wudhu, karena hal itu ringan dan dimaafkan.”

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

 

Mengalami Haid, Tapi Belum Sempat Shalat

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

 

Wanita mendapati haid sesudah masuk waktu shalat, tetapi belum mengerjakannya, apa wajib qadha? Jika shalat maghrib, apakah waktu qadha ketika suci juga waktu maghrib, misal suci di siang hari?

Terdapat silang pendapat di antara ulama mengenai wanita yang mendapati waktu shalat lantas datang bulan (haid) sebelum sempat mengerjakannya.

 

  1. Tidak wajib mengqadhanya, kecuali jika menundanya hingga sempit waktunya lantas datang bulan (haid), ia wajib mengqadhanya.

Alasannya, kewajiban qadha shalat harus berdasarkan perintah khusus yang memerintahkan hal itu, sedangkan dalam hal ini tidak ada. Lagi pula, ia menunda pelaksanaan shalat masih dalam batas yang dibolehkan. Jika kemudian datang bulan sebelum melaksanakannya, ia tidak tergolong sengaja melalaikannya sehingga diharuskan mengqadhanya. Berbeda halnya jika ia menundanya hingga batas waktu yang sudah sempit untuk pelaksanaannya lantas haid, ia wajib mengqadhanya.

Ini pendapat Malik dan Zufar. Zufar juga meriwayatkan pendapat ini dari Abu Hanifah. Pendapat ini yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagaimana dalam kitab al-Ikhtiyarat. Al-‘Utsaimin mengakui dalam kitab asy-Syarh al-Mumti bahwa alasan pendapat ini sangat kuat.

  1. Wajib mengqadhanya.

Namun, alim ulama yang memegang pendapat ini berbeda pendapat mengenai kriteria kadar waktu yang didapati olehnya lantas datang bulan. Terdapat tiga mazhab di antara mereka.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk takbiratul ihram.

Alasannya, ia mendapati bagian awal shalat sehingga seakan-akan mendapatkan shalat secara utuh dari awal hingga akhir. Sebab, satu shalat tersusun dari serangkaian gerakan dan bacaan yang merupakan satu kesatuan yang utuh, itu tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Ini yang masyhur pada mazhab Ahmad.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan satu rakaat.

Dalilnya adalah hadits umum yang menyatakan bahwa mendapati satu rakaat[1] dianggap mendapati shalat secara utuh, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa mendapati satu rakaat dari suatu shalat berarti dia telah mendapati shalat tersebut.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ini pendapat sebagian fuqaha mazhab Syafi’i. Al-‘Utsaimin menyatakan dalam kitab asy-Syarh al-Mumti’ dan Fath Dzil Jalal wal Ikram bahwa pendapat ini lebih hati-hati. Bahkan, beliau memfatwakan pendapat ini dengan tegas dalam kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il.

  1. Kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan shalat wajib waktu itu secara utuh dari awal sampai akhir.

Menurut pendapat ini, masalah ini berbeda dengan wanita haid yang suci di akhir waktu dengan mendapatkan kadar waktu untuk satu rakaat. Wanita haid yang suci di akhir waktu dengan mendapatkan kadar waktu untuk satu rakaat tercakup dalam keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, karena memungkinkan baginya menyempurnakan shalat itu meskipun waktunya telah keluar. Adapun masalah ini, artinya ia hanya sempat shalat satu rakaat lantas datang haid sehingga tidak bisa meneruskan shalatnya.

Ini adalah mazhab Syafi’i yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan riwayat kedua dari Ahmad. An-Nawawi rahimahullah menukil silang pendapat yang ada pada mazhab Syafi’i mengenai diperhitungkan tidaknya kadar waktu untuk bersuci selain waktu untuk pelaksanaan shalat itu secara utuh. Ada yang memperhitungkan hal itu, ada pula yang tidak. Yang tidak memperhitungkan kadar waktu untuk bersuci berhujah bahwa memungkinkan baginya bersuci sebelum masuk waktu shalat, kecuali pada orang yang tidak sah bersuci sebelum masuk waktu shalat, seperti wanita yang istihadhah (keluar darah terus-menerus)[2], hal itu diperhitungkan. Inilah yang terkuat dari kedua pendapat tersebut.

Terus terang, pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah (pendapat pertama) dan pendapat terakhir tergolong kuat, tetapi sulit untuk menyelisihi keumuman makna hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, apalagi mengingat bahwa hal itu lebih hati-hati—seperti kata Ibnu ‘Utsaimin. Jika demikian, yang terbaik adalah mengikuti apa yang difatwakan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam hal ini.

Jadi, jika seorang wanita mendapati kadar waktu yang cukup untuk pelaksanaan satu rakaat lantas haid, ia wajib mengqadhanya. Berdasarkan pendapat ini, yang diperhitungkan adalah kadar waktu untuk pelaksanaan satu rakaat semata tanpa memperhitungkan kadar waktu untuk bersuci, sesuai zahir (makna yang tampak dari) hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Wallahu a’lam.[3]

Adapun mengenai waktu mengqadhanya, wajib mengqadhanya kapan saja ia suci dari haid setelah bersuci terlebih dahulu. Jika yang harus diqadha adalah shalat maghrib (misalnya) dan ia suci di siang hari, ia tidak perlu menunggu sampai maghrib, tetapi saat itu juga harus mengqadhanya kemudian menunaikan shalat fardhu yang tiba waktu itu.

Berbeda halnya jika ia suci di ujung waktu shalat fardhu yang hadir waktunya dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untuk pelaksanaan shalat fardhu yang hadir atau satu rakaat darinya[4], ia harus mendahulukan pelaksanaan shalat fardhu yang hadir/tiba itu kemudian mengqadha shalat maghribnya.

Misalnya, ia suci di pertengahan waktu shalat zuhur. Ia segera bersuci, kemudian mengqadha shalat maghrib, kemudian menunaikan shalat zuhur. Jika ia suci menjelang masuknya waktu shalat ashar dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untuk menuaikan shalat zuhur atau hanya cukup untuk menunaikan satu rakaat darinya, hendaknya ia segera bersuci, kemudian menunaikan shalat zuhur, kemudian mengqadha shalat maghrib, kemudian menunaikan shalat ashar.

Contoh lain, seorang wanita suci di pengujung waktu dengan kadar waktu yang hanya cukup untuk pelaksanaan shalat ashar sebelum matahari menguning yang merupakan waktu darurat. Hendaknya ia mendahulukan shalat ashar agar tertunaikan sebelum waktu darurat mengingat tidak boleh menunda pelaksanaan shalat ashar hingga masuk waktu darurat kecuali bagi yang beruzur, baru kemudian mengqadha shalat maghrib.[5]

Wallahul muwaffiq.

 

[1] Satu rakaat yang dimaksud berupa takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, rukuk, i’tidal (bangkit dari rukuk), sujud dua kali yang diselingi oleh duduk di antara dua sujud. Lihat jawaban “Problema Anda” bertajuk Wanita Suci Dari Haid Setelah Waktu Shalat, Majalah Asy Syariah edisi 6.

[2] Lihat tata cara bersuci wanita istihadhah pada buku kami yang bertajuk Panduan Syar’i Cara Bersuci (hlm. 235 dst.). Adapun tayammum tidak dipersyaratkan harus setelah masuk waktu shalat, tetapi sah kapan saja hendak tayammum. Lihat pula buku kami tersebut pada (hlm. 157).

 

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/47, Dar ‘Alam al-Kutub), al-Inshaf (2/441), al-Majmu’ (3/71—72), Majmu’ al-Fatawa (23/334—335), al-Ikhtiyarat (hlm. 53), asy-Syarh al-Mumti’ (2/128—132, Dar Ibnul Jauzi), Fath Dzil Jalal wal Ikram (1/Kitab ash-Shalah, Bab “Al-Mawaqith” syarah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu “Man Adraka Rak’atan min ash-Shubhi….”, dan Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (12/218).

[4] Sebab, suci dari haid di pengujung waktu shalat dengan kadar waktu yang tersisa hanya cukup untukpelaksanaan satu rakaat, terhitung mendapatkan shalat secara utuh, sehingga terkena kewajiban menunaikan shalat tersebut. Lihat kembali “Problema Anda” dengan tajuk Wanita Suci Dari Haid Setelah Waktu Shalat, Majalah Asy Syariah edisi 6.

[5] Lihat kitab al-Mughni (2/340—344) dan asy-Syarh al-Mumti’ (2/144—145).

Perbedaan Hukum Bersuci dari Hadats & dari Najis

Bismillah. Pada Asy-Syariah edisi 94 halaman 42 dinyatakan,

apabila lupa terkena najis, dimaafkan dan shalatnya sah. Akan

tetapi, apabila lupa berwudhu, tidak dimaafkan dan shalat wajib

diulang. Apa yang membedakan kedua hukum ini padahal

penyebabnya sama, yaitu lupa syarat shalat? Apakah ada lupa

yang dimaafkan dan yang tidak? Mohon penjelasan.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

thaharah

Bersuci dari hadats besar dan kecil adalah syarat sahnya shalat. Ibnul Mundzir rahimahullah telah menukil ijma’ ulama mengenai hal ini selama ada jalan untuk bersuci dari hadats. Begitu pula an-Nawawi rahimahullah telah menukil ijma’ dalam masalah ini. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dengan lafadz,

“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci dari hadats.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

“Shalat orang yang berhadats tidak akan diterima hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada riwayat al-Bukhari rahimahullah ada tambahan lafadz,

Seorang pria dari Hadramaut berkata, “Wahai Abu Hurairah, apakah hadats itu?” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Buang angin tanpa bunyi atau buang angin dengan bunyi.”

Apa yang disebutkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu hanya contoh, karena hadats kecil tidak terbatas dengan buang angin saja.

Ini adalah nash yang sangat gamblang bahwa bersuci dari hadats adalah syarat sahnya shalat. Oleh karena itu, tidak dimaafkan karena tidak tahu atau lupa. Apabila seseorang lupa mandi atau wudhu lantas shalat, ia wajib mengulang shalat-shalat yang telah dilaksanakan tanpa bersuci itu. Apabila shalat tanpa mandi atau wudhu karena tidak tahu hukum, seseorang wajib mengulang shalat yang masih tersisa waktunya saat itu, tidak meliputi shalat-shalat sebelumnya yang telah lewat waktunya.

Adapun hukum bersuci dari najis yang mengenai tubuh, pakaian, dan tempat shalat, terdapat silang pendapat yang cukup kuat di antara ulama. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat wajib sebagai syarat sahnya shalat, tetapi mereka berbeda pendapat apakah shalatnya diulang atau tidak apabila terjadi karena lupa atau tidak tahu. Yang benar, pendapat yang mengatakan dimaafkan jika lupa atau tidak tahu.

Ini adalah riwayat yang terkuat dan termasyhur dari Malik, pendapat lama asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnul Mundzir dan an-Nawawi dari kalangan fuqaha mazhab Syafi’i, serta Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin dari kalangan fuqaha mazhab Hanbali.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban bersuci dari najis adalah:

  • Seluruh hadits yang mewajibkan istinja (cebok dengan air) dan istijmar (bersuci dengan batu atau semisalnya) dari najis yang keluar melalui qubul (lubang kemaluan depan) dan dubur (lubang kemaluan belakang), yang hal itu bertujuan untuk membersihkan tempat keluarnya najis. Hadits-hadits tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
  • Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengenai dua penghuni kubur yang disiksa dalam kuburnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Adapun salah satunya, ia disiksa karena tidak memerhatikan kesucian dirinya dari air kencingnya (tidak peduli terkena air kencingnya dan tidak membersihkan air kencing yang mengenainya).” (Muttafaq ‘alaih)

  • Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat, tiba-tiba beliau melepaskan kedua sendal yang dikenakannya dan meletakkannya di samping kirinya. Ketika para sahabat melihat hal itu, serta-merta mereka ikut melepaskan sendal-sendal mereka. Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian melepaskan sendal-sendal kalian?”

Mereka berkata, “Kami melihat Anda melepaskan sendal, lantas kami pun melepaskannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkan kepadaku bahwa pada kedua telapak sandalku ada najis yang menempel,” lalu beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia memeriksa kedua telapak sendalnya. Apabila dia melihat ada najis yang menempel, hendaklah dia menggosokkannya (pada riwayat Ahmad: hendaklah dia menggosokkannya ke tanah), kemudian shalat dengannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, dan lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Hakim menurut syarat Muslim, disetujui oleh adz-Dzahabi, al-Albani, dan al-Wadi’i)1[1]

  • Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang seorang a’rabi (Arab badui) yang buang air kecil dalam masjid Nabawi dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Biarkan dia dan guyurkan di atas kencingnya setimba air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (Muttafaq ‘alaih).

Dalil-dalil di atas menunjukkan wajibnya membersihkan tubuh, pakaian, dan tempat shalat dari najis, yaitu tempat diletakkannya anggota tubuh dan yang bersentuhan dengan pakaian dalam shalat.

Barang siapa sengaja melaksanakan shalat dalam keadaan ada najis di tubuh, pakaian, atau tempat shalatnya, shalatnya tidak sah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, jika terjadi tanpa sengaja karena lupa atau tidak tahu, hal itu adalah uzur yang dimaafkan dan shalatnya sah. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhuma di atas yang menunjukkan bahwa hal itu dimaafkan jika terjadi karena tidak tahu lantaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan shalatnya, tidak mengulanginya dari awal. Begitu pula halnya jika terjadi karena lupa berdasarkan kesamaan makna antara tidak tahu dan lupa secara metode qiyas (analogi).

Perbedaan masalah ini dengan bersuci dari hadats dari segi makna adalah karena bersuci dari hadats sifatnya perintah melakukan sesuatu, yaitu kewajiban bersuci dari hadats. Adapun bersuci dari najis sifatnya perintah menghindari sesuatu yang terlarang, yaitu haramnya shalat dengan terkena najis pada tubuh, pakaian, ataupun tempat shalat. Dengan demikian, keduanya tidak dapat disamakan hukumnya.

Adapun pendapat yang dipilih oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan ad-Darari bahwa hukumnya wajib tetapi shalat tetap sah dengan melalaikannya—meskipun pelakunya berdosa—ini adalah pendapat yang lemah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lebih-lebih lagi riwayat ketiga dari Malik bahwa hukumnya hanya sunnah, ini jelas-jelas lemah dan bertentangan dengan perintah Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersuci dari najis dalam shalat.[2]

Wallahu a’lam


[1] Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil (no. 284) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/459—460)

[2] Lihat kitab al-Ijma’ (no. 1), al-Muhalla (no. 343 & 344), Bidayah al-Mujtahid (1/116—117), al-Majmu’ (3/139—140, 163), al-Mughni (2/464—466), al-Ikhtiyarat (hlm. 66—67), Nailul Authar (“Kitab ash-Shalah”, Bab “Ijtinab an-Najasat fi ash-Shalah”), ad-Darari (hlm. 57), al-Mukhtarat al-Jaliyyah (hlm. 34), dan asy-Syarh al-Mumti’ (2/90—91, 219—221, 228—230).

Akikah dengan Selain Kambing

Apakah akikah dapat digantikan dengan hewan lain selain kambing? Jika bisa, apakah ada dasarnya? Syukran.Abu Hafidh s*******@ymail.com

Akikah dengan selain kambing tidak boleh, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ، وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ

Dari ‘Atha, seseorang berkata di hadapan Aisyah, “Seandainya istri fulan melahirkan, kami akan menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, sunnahnya untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu ekor.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ucapan Aisyah, ‘Tidak,’ adalah penegasan bahwa akikah tidak boleh dengan selain kambing.” (ash-Shahihah, no. 2720)

Dalam riwayat lain, dari jalan Ibnu Abi Mulaikah, ia mengatakan,

نُفِسَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ غُلَامٍ،فَقِيلَ لِعَائِشَةَ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، عِقِي  عَنْهُ جَزُورًا. فَقَالَتْ: مَعَاذَ اللهِ، وَلَكِنْ مَا قَالَ  رَسُولُ اللهِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ.

Anak Abdurrahman bin Abi Bakr lahir. Dikatakan kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, akikahilah dengan seekor unta.” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tetapi (bukankah) Rasulullah mengatakan, ‘Dua kambing yang seimbang?’.”

Ada pendapat lain yang mengatakan bolehnya akikah dengan unta atau sapi. Pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik dan sahabat Abu Bakrah lalu dipegangi oleh mayoritas para ulama. Diriwayatkan bahwa Anas dan Abu Bakrah mengakikahi anaknya dengan unta. Dasar pendapat ini—menurut Ibnul Mundzir—bisa jadi karena Nabi bersabda,

…فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا …

“Maka tumpahkanlah darah untuknya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan darah hewan tertentu. Hewan apapun yang disembelih untuk akikah anak itu maka mencukupi. Dasar yang kedua, hadits,

مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعُقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ

“Barang siapa yang dilahirkan seorang anak laki-laki baginya, akikahilah dia dengan unta, sapi, atau kambing.”

Jawaban atas dalil tersebut adalah sebagai berikut.

Adapun yang pertama, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut masih global. Sementara itu, riwayat yang menyebutkan kambing telah menerangkan maksud darah tersebut, yaitu darah kambing. Tentu saja dalil yang menjelaskan dan memperinci lebih utama dipakai.

Adapun dalil kedua adalah hadits yang batil karena dalam sanadnya ada rawi bernama Mas’adah, dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami. (ash-Shahihah, no. 2720, Tuhfatul Maudud dan sumber lainnya)

 

PASIEN MEMINTA DIAKHIRI HIDUP NYA (EUTA NASIA )

Saya meminta fatwa kepada Anda—dengan izin Allah—tentang sebuah pembahasan yang saya dengar dari sebuah program siaran kesehatan yang saya dengarkan. Apakah boleh orang yang mengidap penyakit yang secara medis tidak ada harapan sembuh untuk meminta dipercepat kematiannya? Apakah boleh permintaannya itu dikabulkan dalam rangka meringankan rasa sakit yang dideritanya? Narasumber waktu itu mengatakan bahwa penderita kanker—misalnya—yang tidak memiliki harapan sembuh lebih baik dia mati. olehkah permintaan si sakit dikabulkan dan kita membunuhnya untuk meringankan sakit dan derita yang berkepanjangan? Narasumber membicarakan tentang sebuah buku yang berjudul “Hak-Hak Asasi”. Dia mengatakan bahwa di antara hak asasi manusia adalah menentukan sendiri kapan hidupnya berhenti—apabila kehidupannya menyiksa dan menjadi derita bagi dirinya serta orang lain. Bagaimana pandangan agama tentang masalah ini? Jazakumullah khairan.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Orang yang sakit diharamkan mempercepat kematiannya baik dengan cara bunuh diri maupun menggunakan obat-obatan yang menyebabkan kematian. Haram pula hukumnya bagi dokter atau petugas medis lainnya untuk mengabulkan permintaannya, meski penyakitnya tidak memiliki harapan sembuh. Siapa yang menolongnya melakukan perbuatan tersebut, sungguh telah berserikat menanggung dosanya. Sebab, dia telah sengaja dan tanpa hak menjadi sebab terbunuhnya jiwa yang tidak boleh dibunuh.

Dalil-dalil dengan tegas menunjukkan diharamkannya perbuatan membunuh jiwa tanpa hak. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (al-An’am: 151)

وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا () وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yangmdemikian itu adalah mudah bagi Allah.” (an-Nisa: 29—30)

Dalam sebuah hadits sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجْأَبُهَا بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sebuah benda tajam, benda itu akan berada di tangannya membelah perutnya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya dengan meminum racun, dia senantiasa meminumnya di neraka Jahannam dalam jangka waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya yang menjatuhkan diri dari puncak gunung, dia akan senantiasa menjatuhkan dirinya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Tsabit bin adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diazab dengan benda itu pada hari kiamat.” (HR. al- Jamaah)

Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Pada umat sebelum kalian ada seorang lelaki yang terluka. Dia merasa putus asa lantas mengambil pisau untuk memotong tangannya. Darah pun terus mengalir hingga ia mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah lancang mendahului-Ku dalam hal jiwanya. Aku haramkan surga atasnya’.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz al-Bukhari)

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menginginkan kematian disebabkan musibah yang menimpanya dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ ل بُدَّ فَاعِلًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَت الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

ِ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang dia harus melakukannya, katakanlah, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku apabila hidup memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku’.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz al-Bukhari)

Al-Bukhari juga mengeluarkan sebuah riwayat dengan lafadz yang berbeda dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian. Bisa jadi, dia telah berbuat baik (selama ini) sehingga akan bertambah kebaikannya (dengan tetap hidup); bisa jadi pula, dia selama ini berbuat buruk sehingga (dengan tetap hidup) akan bisa memperbaiki diri.”

Apabila sekadar menginginkan kematian dan memintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala itu dilarang, terlebih lagi seseorang sengaja mengajukan diri agar dirinya dibunuh atau ikut serta dalam proses pembunuhan itu. Hal ini tentu melanggar batasan Allah dan merusak kehormatan- Nya. Sebab, melakukan perbuatan ini berarti tidak sabar dan menentang terhadap ketentuan dan takdir-Nya. Selain itu, perbuatan ini juga mengandung makna lancang dan mendahului hikmah Allah ketika memberi musibah berupa kebaikan dan keburukan dalam rangka menguji hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)

Allah l telah menguji sebagian hamba-Nya dengan sakit—dan Dia Maha Memiliki hikmah dalam segala perbuatan- Nya, Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba—yang justru hal itu lebih baik bagi hamba, menambah perbuatan baiknya dan kekuatan imannya, lebih mendekatkan dirinya kepada AllahS ubhanahu wata’ala dengan rasa tenang, tunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya, tawakal dan berdoa hanya kepada-Nya.

Karena itu, apabila seseorang ditimpa musibah berupa penyakit, seyogianya dia (1) mengharap pahala dan (2) bersabar terhadap musibah yang menimpanya— karena di antara jenis-jenis kesabaran adalah sabar terhadap musibah yang menimpa. Dengan demikian, dirinya akan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ditambah bagi amalan baiknya, diangkat derajatnya di akhirat. Semua ini ditunjukkan oleh riwayat Shuhaib z, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجِبْتُ مِنْ أَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا

“Aku kagum dengan keadaan seorang mukmin. Sungguh, urusan seorang mukmin itu baik seluruhnya, dan hal ini tidak didapatkan oleh seorang pun selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan, ia bersyukur; hal ini baik baginya. Apabila ditimpa musibah, dia bersabar; ini pun baik baginya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad dalam al-Musnad, dan ini lafadz al- Imam Ahmad)

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ

“Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka.” (al-Hajj: 35)

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (al- Baqarah: 155—156)

وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ

“Laki-laki dan perempuan yang sabar.” (al-Ahzab: 35)

Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Anas, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَم الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Sungguh, apabila Allah Subhanahu wata’ala mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha (terhadap ujian itu), dia akan mendapatkan ridha (Allah) juga. Barang siapa marah (terhadap ujian itu), dia pun mendapatkan kemarahan (Allah).” (HR. at-Tirmidzi dalam Jami’-nya, beliau mengatakan, “Hasan gharib dari jalur ini.”)

Demikian pula hadits Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Apabila agamanya kuat, ujian yang menimpanya pun keras. Apabila agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Senantiasa cobaan menimpa seorang hamba hingga menjadikannya berjalan di muka bumi tanpa ada satu (dosa) kesalahan pun pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Ini hadits hasan sahih.”)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya; hingga ia bertemu Allah tanpa membawa satu  kesalahan pun.” (HR. at-Tirmidzi)

Oleh karena itu, seseorang yang tertimpa musibah penyakit diharamkan berusaha membunuh dirinya. Sebab, kehidupan dirinya bukanlah miliknya. Kehidupannya itu milik Allah yang telah menentukan berbagai takdir dan jangka waktu. Selain itu, jika telah mati, seorang hamba tidak lagi bisa beramal. Dari kehidupan yang dijalaninya, seorang mukmin diharapkan mendapatkan yang lebih baik. Bisa jadi, ia akan bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dari dosa-dosanya yang telah lalu, kemudiaan mempersiapkan bekal amal saleh: shalat, puasa, zakat, haji, zikir, berdoa kepada Allah, dan membaca al-Qur’an. Dengan demikian, dia akan mencapai derajat tertinggi di sisi Allah.

Di samping itu pula, seorang yang sakit akan dituliskan baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan semasa sehatnya. Hal ini disebutkan oleh haditshadits yang sahih. Adapun dokter dan tenaga medis yang mau menerima permintaan si sakit untuk membunuh dirinya dan menolongnya melakukannya, mereka berdosa.

Pandangan mereka sangat pendek, ini menunjukkan kebodohan mereka. Sebab, mereka hanya memandang kehidupan manusia dan kelanjutannya dari sisi kelayakan dan kekuatan hidup secara fisik, memiliki kemampuan, bisa bersenang-senang, dan berlaku sombong.

Mereka tidak memandang kehidupannya akan berlanjut hingga bertemu Rabbnya dengan membawa bekal amal saleh, kalbu yang lembut luluh, tunduk, tenang, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Keadaan hamba yang seperti ini lebih disukai dan lebih dekat kepada Allah daripada seseorang yang sombong, melampaui batas, dan menggunakan kekuatan fisiknya dalam hal yang dimurkai oleh Allah. Allah Subhanahu wata’ala pun Mahamampu untuk menyembuhkannya. Apa yang sekarang mustahil menurut pandangan manusia, bisa jadi mudah pengobatannya pada masa yang akan datang, dengan takdir Allah, Dzat yang tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu melemahkan-Nya. Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Bakr Abu Zaid. (Fatawa al-  Lajnah 25/85—91, fatwa no. 19165)

 

BEDAH MAYAT & OTOPSI JENAZAH

Kami mengharapkan jawaban tentang hukum Islam terhadap mahasiswa kedokteran yang ketika masa kuliahnya melakukan praktikum bedah mayat. Selain itu mereka harus menyingkap aurat wanita atau sebagiannya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut dalam rangka mempelajari kedokteran dan harus dilakukan agar mereka tidak menjadi dokter yang bodoh (tentang anatomi) dan tidak bisa mengobati penyakit yang diderita wanita. Apabila ini terjadi, tentulah para wanita muslimah akan ditangani oleh dokter-dokter Nasrani atau yang lain.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Pertama; tentang operasi bedah mayat, telah keluar ketetapan dari Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi yang garis besarnya sebagai berikut. Masalah ini terbagi tampak memiliki tiga keadaan:

a. Bedah mayat (otopsi) untuk meneliti sebuah kasus kriminalitas.

b. Otopsi untuk meneliti sebuah penyakit yang mewabah dalam rangka menemukan prosedur perlindungan (masyarakat) dari penyakit tersebut.

c. Bedah mayat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, yakni kegiatan belajar dan mengajar. Setelah komisi yang terkait bertukar pikiran, beradu argumentasi, dan mempelajari masalah di atas, forum  mengeluarkan ketetapan sebagai berikut. Tentang dua keadaan yang pertama (yakni poin a dan b), forum memandang bahwa pembolehannya bisa mewujudkan banyak maslahat dalam bidang keamanan dan pengadilan, serta perlindungan masyarakat dari penyakit yang mewabah. Efek negatif tindakan otopsi tersebut akan tertutup oleh sekian banyak maslahat yang nyata dan berdampak luas.

Oleh karena itu, forum sepakat menetapkan bolehnya pembedahan mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat tersebut terlindungi (oleh hukum syariat, –pent.) maupun tidak. Adapun terkait dengan jenis bedah mayat yang ketiga, yaitu untuk kepentingan ilmiah, dengan mempertimbangkan bahwa:

• syariat Islam membawa terwujudnya maslahat dan memperbanyaknya,

• syariat Islam mencegah mafsadat dan mempersedikitnya,

• bolehnya dilakukan sebuah tindakan yang lebih kecil kerusakannya untuk menghilangkan hal yang kerusakannya lebih besar,

• apabila dua hal yang bermaslahat ternyata kontradiktif, dipilih yang lebih banyak efek positifnya,

• pembedahan terhadap hewan tidak bisa menggantikan pembedahan mayat,

• operasi bedah mayat berefek positif terhadap kemajuan berbagai bidang ilmu kedokteran; maka forum memandang bolehnya operasi bedah mayat manusia secara global. Di sisi lain, forum mempertimbangkan:

• perhatian syariat Islam terhadap kemuliaan seorang muslim yang telah meninggal sebagaimana saat hidupnya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَسْرُ عَظْم الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Mematahkan tulang mayat (hukumnya) seperti mematahkannya saat ia hidup.”

• pembedahan mayat mengandung perendahan terhadap kemuliaan seorang muslim,

• kebutuhan operasi bedah mayat muslim bisa diganti dengan mayat yang tidak dilindungi (oleh syariat); maka forum memandang hendaknya dicukupkan dengan operasi bedah terhadap mayat yang semacam ini dan tidak melakukannya terhadap mayat yang dilindungi (oleh syariat), dalam keadaan yang telah disebutkan.

Wallahul muwaffiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Haiah Kibarul Ulama

Kedua; tentang menyingkap aurat wanita, apabila ada wanita lain yang bisa melakukannya, seorang lelaki tidak boleh melakukannya. Apabila tidak ada wanita yang bisa melakukannya—sementara ada faktor yang mengharuskan aurat si wanita disingkap—seorang lelaki muslim boleh melakukannya sekadarnya, dalam rangka mengetahui penyakit si wanita. Apabila mayatnya adalah wanita nonmuslim atau yang tidak dilindungi (oleh syariat), tidak ada halangan auratnya disingkap dalam rangka kegiatan belajar mengajar dan mengetahui penyakit-penyakit yang diderita wanita sekaligus cara penyembuhannya, berdasarkan ketetapan Haiah Kibarul Ulama yang disebutkan di atas.

Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa)

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil: Abdur Razzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud (Fatawa al-Lajnah 25/93—95,

pertanyaan ke-4 dari fatwa no. 3685)

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc