Hukum Shalat di Masjid Nabawi, di mana terdapat Kuburan Nabi di dalamnya

Setelah membaca pembahasan “Problema Anda” tentang larangan shalat di area pekuburan (termasuk masjid yang dibangun di atas kuburan) dan shalat menghadap kuburan, banyak pembaca setia majalah Asy Syariah yang menanyakan hukum shalat di masjid Nabawi di Madinah mengingat kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalam masjid.

Lanjutkan membaca Hukum Shalat di Masjid Nabawi, di mana terdapat Kuburan Nabi di dalamnya

Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya

Bagaimana hukum shalat di masjid yang di sekitarnya (depan, belakang, kanan atau kiri) ada kuburan walaupun hanya satu kuburan. Jadi masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan (kuburan berada di luar dinding masjid dengan jarak ±2 atau 3 meter) atau kuburan tersebut tidak berada di luar masjid?

Arif Rahmanto

arif…@yahoo.com

Pertanyaan senada datang dari Hadi, Bintaro)

  Lanjutkan membaca Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya

Wanita Suci dari Haid Setelah Waktu Shalat

Benarkah apabila wanita haid suci setelah Ashar, maka diharuskan shalat Dzuhur dan Ashar? Dan bila suci setelah shalat ‘Isya, maka harus shalat Maghrib dan ‘Isya? Apakah ada hadits sahih yang menunjukkan hal tersebut?
Ukhti Zahrah


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini

 

Alhamdulillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi waman walah.

Sesungguhnya apa yang ditanyakan di sini adalah permasalahan khilafiyyah yang diperselisihkan oleh para ulama:

  1. Mazhab al-Imam Ahmad, asy-Syafi’i, tujuh fuqaha Madinah (al-fuqaha as-sab’ah), dan lainnya adalah sebagaimana yang dituturkan dalam pertanyaan. Dengan dalil, bahwa waktu shalat Ashar merupakan waktu untuk shalat Dzuhur, begitu pula waktu shalat ‘Isya merupakan waktu untuk shalat maghrib bagi orang yang menjama’ shalat karena udzur safar. Maka wanita haid yang suci di waktu Ashar kehilangan waktu Dzuhur karena udzur, yaitu haid. Sehingga, wajib baginya untuk shalat Dzuhur dan Ashar. Demikian pula bagi yang suci di waktu ‘Isya. Hadits khusus yang menunjukkan hal itu sendiri tidak ada. Yang ada adalah atsar yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, bahwa Ibnu ‘Abbas dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhuma berfatwa demikian.
  2. Mazhab al-Hasan al-Bashri, ats-Tsauri, Abu Hanifah, al-Imam Malik, Dawud adz-Dzahiri, dan yang lainnya, bahwa dia hanya diwajibkan shalat Ashar saja apabila suci pada waktu Ashar atau shalat ‘Isya saja apabila suci pada waktu ‘Isya. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, muttafaqun ‘alaihi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ

“Barang siapa yang mendapati satu rakaat dari waktu shalat berarti dia telah mendapati shalat tersebut.”

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila wanita yang suci dari haidnya mendapati waktu suatu shalat yang memungkinkan dia untuk melaksanakan satu rakaat dari shalat tersebut, maka wajib baginya untuk melaksanakan shalat tersebut. Adapun shalat yang sebelumnya maka tidak diwajibkan atasnya, karena dia tidak mendapati waktunya sedikit pun dan shalat tersebut telah berlalu waktunya. Dia lalui waktu tersebut dalam keadaan tidak terbebani untuk melaksanakan shalat tersebut karena haid yang dialaminya. Maka bagaimana mungkin kita mewajibkan atasnya untuk melaksanakan suatu shalat yang dia lalui waktunya dalam keadaan tidak terbebani dengannya?

Oleh karena itu, kami memandang bahwa yang rajih adalah pendapat kedua, dan pendapat ini adalah tarjih (yang dikuatkan oleh) asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. (al-Majmu’, 3/70, al-Mughni, 1/95, asy-Syarhul Mumti’, 2/129—131)

Kemudian berdasarkan hadits di atas, maka yang rajih (kuat) bahwa wanita yang baru suci dari haid, yang wajib melaksanakan shalat adalah yang dia dapati waktunya. Dipersyaratkan minimal dia mendapati sisa waktu untuk menunaikan satu rakaat. Ini adalah salah satu pendapat al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad, yang di-tarjih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Adapun jika dia suci dari haid dan tidak tersisa dari waktunya untuk bisa menunaikan satu rakaat maka tidak wajib atasnya untuk melaksanakan shalat tersebut. (al-Mughni, 1/273, asy-Syarhul Mumti’, 2/ 117)

Satu rakaat yang dimaksud berupa takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, ruku’, i’tidal (bangkit dari ruku’), sujud dua kali yang diselai duduk di antara dua sujud, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, dan asy-Syaukani. (Fathul Bari, 2/56, Nailul Authar, 2/22)

Namun apakah dipersyaratkan bersama satu rakaat tersebut waktu yang digunakan untuk bersuci atau tidak?

Ada dua pendapat di kalangan ulama, namun al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dzahir hadits (yang tampak dari hadits) adalah tidak dipersyaratkan. Wallahu a’lam. (al-Majmu’, 3/69)

Siapa Saja Mahram Itu

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah مُحْرِمٌ , mimnya di-dhammah, yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Adapun mahram bahasa Arabnya adalah ,مَحْرَمٌ mimnya di-fathah.

Lanjutkan membaca Siapa Saja Mahram Itu

Sisa Mani Keluar dari Farji, Membatalkan Wudhu?

Bagaimana hukumnya bila seorang istri saat shalat mengeluarkan sisa mani dari farjinya? Dikarenakan sebelumnya dia berjima’ dengan suaminya. Apakah dia harus membatalkan shalatnya. Dan apakah itu membatalkan wudhu?

and…@hotmail.com


Dijawab Oleh: al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

Alhamdulillah. Perlu diketahui bahwa mani yang keluar dari dzakar (penis) lelaki dan farji (vagina) wanita dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) bentuknya ada dua.

Pertama, yang keluar (karena syahwat, red.) dengan memancar, disertai rasa nikmat dan mengakibatkan futur (lemahnya badan). Inilah yang dinamakan inzal, seperti yang terjadi saat mencapai puncak hubungan suami istri (orgasme).

Kedua, keluar tanpa disertai sifat-sifat di atas (atau tanpa syahwat, red.).
Menurut pendapat yang rajih (kuat), yang menimbulkan hadats akbar (besar)—disebut janabah—dan mewajibkan mandi adalah bentuk yang pertama. Itulah yang dimaksudkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ

“Jika kalian junub, maka hendaknya kalian bersuci dengan mandi.” (al-Maidah: 6)

Hal ini dikuatkan dengan hadits ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya:

إِذَا حَذَفْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفاً فَلاَ تَغْتَسِلْ

“Jika kamu memancarkan mani, maka hendaknya kamu mandi karena janabah. Dan jika keluar tanpa memancar maka jangan mandi.” (Hadits ini disahihkan asy-Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 125)

Adapun mani yang keluar dengan bentuk yang kedua hanya menimbulkan hadats ashghar (kecil) dan membatalkan wudhu. Ini adalah mazhab jumhur, seperti Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah. Adapun pendapat asy-Syafi’i rahimahullah bahwa kedua bentuk ini mewajibkan mandi menurut kami adalah pendapat yang marjuh (lemah). (Lihat Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, 2/158, karya an-Nawawi, Majmu’ Fatawa, 21/296 dan asy-Syarhul Mumti’, 1/278—279)

Jadi apa yang dialami oleh wanita sebagaimana pertanyaan di atas, merupakan hadats kecil yang membatalkan wudhu dan shalat, meskipun yang keluar tersebut mani suaminya yang tertampung ketika jima’ (berhubungan dengan suaminya). Ini sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Zaid radhiallahu ‘anhu, az-Zuhri, Qatadah, al-Auza’i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah, serta dipilih oleh kalangan asy-Syafi’iyyah (para pengikut mazhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah).

Adapun pendapat Ibnu Hazm rahimahullah yang mengatakan bahwa mani suami yang keluar dari farji istrinya bukan hadats, merupakan pendapat yang lemah. Karena mani tersebut keluar melalui farjinya ditambah lagi bahwa tentunya mani tersebut tidak lepas dari percampuran dengan ruthubah (cairan farji wanita) itu sendiri. Bahkan apabila sang istri pun mengalami inzal ketika jima’ maka berarti kedua mani tersebut telah bercampur dan keluar bersama-sama. Hal ini dikatakan oleh sebagian ulama asy-Syafi’iyyah. (Lihat Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, 2/172, karya an-Nawawi rahimahullah, Jami’ Ahkamin Nisa, 1/77—78)

Wallahu a’lam.

Angin yang Keluar dari Kemaluan

Apakah termasuk membatalkan wudhu dan shalat apabila keluar angin dari kemaluan setelah melahirkan dan setelah nifas, dan hal itu selalu terjadi ketika itu ruku’ ataupun sujud dalam shalat?

Ummu Ubaidurrahman-Poso


Dijawab Oleh: al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

Alhamdulillah. Perlu diketahui bahwa angin yang keluar dari lubang kemaluan (qubul) bukanlah perkara yang biasa dan bukan hal yang sering terjadi, berbeda dengan angin yang keluar dari dubur. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Angin ini terkadang keluar dari lubang kemaluan (qubul) para wanita. Aku beranggapan tidak akan keluar dari qubul laki-laki, dan boleh jadi keluar, akan tetapi itu jarang sekali.”

Oleh karena itulah, para ulama berselisih pendapat apakah hal itu membatalkan wudhu atau tidak:

  1. 1. Mazhab jumhur ulama, di antaranya Ibnul Mubarak, asy-Syafi’i, dan Ahmad, bahwa hal itu membatalkan wudhu dengan dalil-dalil sebagai berikut.

Pertama, hal itu masuk dalam keumuman hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim dan hadits Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma yang muttafaqun ‘alaih, tentang orang yang merasakan sesuatu pada perutnya ketika shalat kemudian dia ragu apakah ada sesuatu yang keluar atau tidak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيْحاً

“Janganlah dia membatalkan shalatnya sampai dia mendengar ada bunyi (angin yang keluar) atau mencium baunya.”

Artinya sampai dia yakin adanya angin yang keluar meskipun tidak mendengarnya atau mencium baunya. Jadi hadits ini umum menunjukkan bahwa angin yang keluar melalui salah satu dari dua lubang kemaluan depan (qubul) dan belakang (dubur) membatalkan wudhu. Hanya saja yang lazim terjadi adalah dari dubur.

Kedua, pengkiasan terhadap benda-benda lain yang keluar sebagaimana lazimnya melalui salah satu lubang kemaluan seperti kencing, berak, keluarnya madzi, dan yang lainnya. Karena, penyebutan perkara-perkara tersebut dalam banyak hadits bukanlah sebagai suatu bentuk pengkhususan, akan tetapi merupakan penyebutan sebagian (contoh) dari segala sesuatu yang keluar melalui dua lubang kemaluan. Hanya saja konteks ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya berkaitan dengan perkara-perkara yang umum dan lazim terjadi.

  1. 2. Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu.

Wallahu a’lam, yang kami pandang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur. (lihat Sunan at-Tirmidzi dalam penjelasan hadits no. 74, al-Majmu’ karya an-Nawawi rahimahullah, 2/4—8, Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd rahimahullah, 1/24—25, asy-Syarhul Mumti’, 1/220)

Namun apabila angin tersebut senantiasa keluar dari qubul seorang ibu setiap kali ruku’ dan sujud sehingga merupakan hadats yang terus-menerus, maka dinamakan salasil ar-rih (angin yang keluar terus-menerus). Hukumnya sama dengan salasil al-hadats lain seperti salasil al-baul (air kencing yang keluar terus-menerus), salasil al-madzi (madzi yang keluar terus-menerus), dan yang lainnya. Wanita yang mengalami salasil ar-rih cukup baginya berwudhu setiap kali hendak melaksanakan shalat fardhu (wajib) ketika waktu shalat tersebut telah masuk, kemudian dia shalat dan berusaha menjaga agar tidak berhadats semampunya. Sedangkan angin yang keluar dari qubulnya di tengah-tengah shalatnya tidak membatalkan wudhu dan shalatnya, kecuali bila terjadi hadats yang lain seperti angin yang keluar dari duburnya, maka ini tentunya membatalkan wudhu dan shalatnya. Namun apabila ada waktu-waktu tertentu yang salasil al-hadats tersebut reda atau berhenti, maka wajib baginya untuk menanti kemudian berwudhu dan shalat pada saat-saat tersebut, selama tidak keluar dari batasan waktu shalat. (Lihat Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, 21/221, asy-Syarhul Mumti’ karya asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 1/392, terbitan Muassasah Asam)

Hukum Memberi Ucapan Selamat Ulang Tahun

Bagaimana hukumnya mengucapkan selamat ulang tahun, adakah penggantinya yang lebih baik dari ucapan itu?
Rasyid Ariefiandy

salafy…@myquran.com


Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

Berkaitan dengan masalah ini ada dua pembahasan:

Pertama, hukum perayaan ulang tahun itu sendiri.

Kedua, hukum mengucapkan selamat ulang tahun.

Permasalahan pertama telah dibahas oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab al-Qaulul Mufid (1/382). Beliau mengatakan, “Setiap perkara yang dijadikan ‘ied atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bid’ah. Dalil yang menunjukkan bid’ahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahwa pembuat syariat ini, yaitu Allah ‘azza wa jalla, yang mewahyukannya kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan acara aqiqah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu. Sedangkan kegiatan mereka merayakan hari-hari tersebut yang berulang setiap pekan atau setiap tahun berarti menyamakannya dengan hari raya Islam. Padahal tidak ada dalam Islam kecuali tiga hari raya atau ‘ied yaitu ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha, dan ‘Iedul Usbu’ (hari raya tiap pekan), yaitu hari Jum’at. Ini bukanlah perkara adat kebiasaan belaka, karena dilakukan berulang-ulang. Oleh karena itu, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah dan mendapati kaum Anshar merayakan dua ‘ied, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fitri.”[1]

Padahal kedua hari yang mereka rayakan itu merupakan perkara yang biasa bagi mereka.”

Begitu pula asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah telah berfatwa yang sama, kata beliau, “Tidak boleh mengadakan perayaan maulid, baik hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun (hari kelahiran) selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sesungguhnya itu merupakan bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para al-Khulafa ar-Rasyidin serta yang lainnya dari kalangan sahabat radhiallahu ‘anhum, tidak pernah mengadakannya. Tidak pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi-generasi yang mufadhdhalah (dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari generasi-generasi yang lainnya). Padahal mereka rahimahumullah adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna kecintaan dan mutaba’ah-nya (pengikutannya) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya maka tertolak.”[2]

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menyebutkan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum dalam menjalani kehidupan ini. (Majmu’ al-Fatawa, 1/178—182)

Adapun hukum mengucapkan selamat ulang tahun, pembahasannya sama dengan permasalahan pertama karena merupakan bagian dari perayaan. Tidak dibenarkan seseorang untuk turut andil dalam menyukseskan acara tersebut, seperti membantu menata ruang tempat acara atau yang lainnya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla:

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Bahkan sekadar hadir pun tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla:

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

“Dan mereka hamba-hamba Allah yang beriman tidak menyaksikan/menghadiri perkara yang mungkar.” (al-Furqan: 72)

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua sehingga kita terjaga dari amalan yang tidak diridhai oleh-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan yang lainnya, disahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/442) dan al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1134.

[2] Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah.