Makna Hadits “Mukmin yang Kuat”

Sahihkah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِل اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Jika sahih, apa maknanya dan kekuatan itu ditinjau dari sisi apa?

Lanjutkan membaca Makna Hadits “Mukmin yang Kuat”

Kitab-kitab yang Perlu Dipelajari

Kitab Akidah

Dengan penuh rasa syukur, saya berharap agar diberi arahan tentang kitab-kitab yang terbaik dalam masalah akidah dan kitab-kitab yang memerangi kebid’ahan dan khurafat, hingga saya bisa mendapatkannya berapa pun harganya. Semoga dengan mempelajari kitab-kitab tersebut, saya bisa memerangi kebid’ahan dengan izin Allah ‘azza wa jalla, dilandasi hujah yang pasti dan dalil al-Qur’an, atau dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jazakumullah khairan.

 

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah memberimu anugerah berupa mengenal al-haq dan tahu mana yang benar. Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menambah ilmumu dan menjadikanmu faqih dalam agama-Nya. Semoga Dia mengokohkan kami dan Anda di atas al-haq. Adapun kitab-kitab yang mengajarkan akidah tauhid, alhamdulillah banyak dan mudah. Di antaranya:

  1. Fathul Majid, syarah/penjelasan dari Kitab at-Tauhid, karya asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah.
  2. Tsalatsah al-Ushul dan Kasyfu asy-Syubuhat, keduanya karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.

Saya nasihatkan agar Anda mendapatkan kitab Majmu’ah at-Tauhid an-Najdiyah. Di dalamnya ada risalah-risalah yang ringkas tentang tauhid dan masalah akidah yang bermanfaat. Karena itu, sepantasnya Anda mencari kumpulan kitab yang diberkahi tersebut.

Demikian pula kitab Syarhu ath-Thahawiyah karya al-Imam al-’Izz ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah, yang merupakan syarah yang berfaedah dan panjang lebar (dari kitab Aqidah ath-Thahawiyah). Kitab ini mencakup bab akidah.

Demikian pula kitab Ighatsah al-Lahafan min Mashaid asy-Syaithan, karya al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Sebab, kitab ini berfaedah dalam hal akidah, berisi peringatan dari kebid’ahan dan peringatan dari penyelisihan (terhadap al-haq). Kitab ini begitu berharga, tidak pantas penuntut ilmu tidak tahu tentangnya.

Demikianlah beberapa kitab yang khusus berbicara tentang akidah.

Adapun kitab-kitab yang khusus membahas tentang bid’ah dan peringatan dari bid’ah, terdapat kitab-kitab yang berfaedah dan mudah, hanya milik Allah-lah segala pujian. Di antaranya,

  1. Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim Mukhalafah Ashabul Jahim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
  2. al-I’tisham, karya al-Imam asy-Syathibi rahimahullah
  3. al-Hawadits wa al-Bida’, karya al-Imam ath-Thurthusyi rahimahullah
  4. al-Bida’ wa an-Nahyu ‘anha, karya Ibnu Wadhdhah rahimahullah
  5. al-Ba’its ‘ala Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, al-Imam Abu Syamah rahimahullah
  6. al-Ibda’ fi Madhar al-Ibtida’, karya Syaikh Ali Mahfuzh
  7. as-Sunan wa al-Mubtada’at, karya asy-Syaikh Muhammad Abdus Salam Khidhir
  8. at-Tahdzir min al-Bida’, karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Inilah kitab-kitab yang mudah. Ada di antaranya yang dibagikan gratis, dan ada pula yang dijual dengan harga murah. Karena itu, semestinya Anda mendapatkannya atau mendapatkan apa yang mudah untuk Anda dapatkan dari beberapa kitab tersebut. Di dalamnya ada kebaikan, insya Allah.

Akan tetapi, di samping itu semua, aku nasihati Anda dan orang-orang semisal Anda agar tidak mencukupkan diri dengan membaca dan memahami sendiri kitab tersebut.

Seharusnya Anda mencari ahli ilmu yang muhaqqiq. Anda baca kitab tersebut di hadapannya agar orang yang berilmu tersebut memberikan penjelasan kepadamu tentang hal yang rumit atau sesuatu yang tidak jelas yang ada di dalamnya, dan dia menerangkan kepadamu al-haq yang ada di dalamnya. Allah ‘azza wa jalla-lah yang memberi taufik.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/65—66)

Kitab Tentang Surga dan Neraka

Saya berharap diberikan arahan tentang kitab-kitab yang memberi kabar gembira tentang surga serta kenikmatannya dan kitab-kitab yang memperingatkan dari neraka serta azabnya.

Jawab:

“Yang membahas tentang hal tersebut adalah Kitabullah. Seharusnya Anda membaca al-Qur’anul Azhim dan mentadabburi kandungannya. Dalam al-Qur’an, ada dorongan untuk memeroleh surga dan anjuran melakukan amalan saleh. Di dalamnya ada ancaman yang menakut-nakuti dari neraka dan larangan melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan ke neraka.

Al-Qur’an yang agung mengandung janji dan ancaman. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا وَصَرَّفۡنَا فِيهِ مِنَ ٱلۡوَعِيدِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ أَوۡ يُحۡدِثُ لَهُمۡ ذِكۡرٗا ١١٣

Demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau agar al-Qur’an itu membuat peringatan/pelajaran untuk mereka.” (Thaha: 113)

Oleh karena itu, semestinya Anda memperbanyak membaca al-Qur’an al-‘Azhim dengan tadabbur dan berupaya memahami apa yang dituntut oleh al-Qur’an terhadap seorang muslim.

Beberapa hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berisi targhib (mendorong/memberikan kabar gembira) dan tarhib (menakut-nakuti/mengancam). Kitab yang membahas tentang hal ini di antaranya at-Targhib wa at-Tarhib karya al-Hafizh al-Mundziri rahimahullah. Kitab ini bernilai tinggi, di dalamnya ada bab tentang targhib dan tarhib. Dibawakan di dalamnya hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembahasan ini. Semestinya Anda mendapatkannya dan banyak membacanya. Demikian pula kitab Riyadhus Shalihin karya al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/67—68)

Membaca Surat dalam Shalat dengan Melihat Mushaf

Apakah diperbolehkan membawa mushaf dalam shalat dan membaca dari mushaf tersebut (dengan melihat mushaf), jika orang yang shalat tidak hafal surat yang dibaca? Demikian pula doa, apakah boleh ditulis di kertas dan dibaca di dalam shalat?

Bagaimana cara yang benar lagi berfaedah untuk menghafal al-Qur’an serta aman dari hilangnya hafalan tersebut dari dada ?

Jawab:

“Cara untuk mengokohkan hafalan al-Qur’an dalam dada adalah Anda harus banyak membacanya dan menjaganya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan untuk menjaga al-Qur’an ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ ف عُقُلِهَا

“Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada unta yang lepas dari ikatannya.” (HR Muslim)

Anda harus banyak membaca dan mengulang-ulanginya hingga kokoh dalam dada. Sama saja baik dibaca dalam shalat maupun di luar shalat, karena memang tidak ada cara yang efektif untuk menghafal al-Qur’an kecuali dengan dua hal:

  1. Memperbanyak membacanya.
  2. Mengamalkan al-Qur’an.

Sebab, mengamalkannya akan mengantarkan kepada kokohnya al-Qur’an di dalam kalbu dan terus teringat kepadanya. Ini yang aku pesankan kepada Anda.

Adapun menulis doa-doa di lembaran kertas untuk dibaca dalam shalat, saya memandang agar hal itu tidak dilakukan. Berdoalah dengan doa yang mudah bagi Anda dan yang Anda hafal. Tidak perlu membebani diri dengan menulis dan membacanya pada lembar tertulis, karena hal itu akan menyibukkan Anda dalam shalat.

Membaca al-Qur’an dari mushaf dalam keadaan shalat, jika memang seseorang sama sekali tidak memiliki hafalan al-Qur’an, tidaklah terlarang. Sebagian salaf memberikan keringanan untuk melakukannya. Ini adalah mazhab sekelompok ahlul ilmi. Dengan syarat, orang tersebut memang tidak mampu membaca dari hafalannya dan tidak punya hafalan sama sekali. Atau dia ingin shalat malam, misalnya, dan dia ingin membaca surat al-Qur’an yang banyak atau panjang, padahal dia tidak hafal. Dalam hal ini, tidak ada larangan baginya untuk membaca dari mushaf. Demikian pula dalam shalat tarawih, jika dia tidak hafal al-Qur’an, tidak ada larangan baginya membaca dari mushaf karena adanya kebutuhan.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/115)

Mengakikahi Anak yang Sudah Meninggal

Allah ‘azza wa jalla memberi saya rezeki berupa tiga anak perempuan. Hanya saja, mereka meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, sementara saya belum sempat mengakikahi mereka. Padahal saya pernah mendengar bahwa syafaat anak-anak kecil[1] dikaitkan dengan akikah[2]. Maka dari itu, apakah sah saya mengakikahi mereka setelah meninggalnya? Apakah saya gabungkan akikah mereka dalam satu sembelihan atau masing-masing disembelihkan sembelihan tersendiri?

 

Jawab:

Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Akikah untuk anak yang baru lahir hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), menurut pendapat jumhur (mayoritas) ahlul ilmi (ulama). Akan tetapi, hukum ini berlaku untuk anak-anak yang masih hidup, tanpa ada keraguan di dalamnya, karena hal ini adalah sunnah yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun akikah untuk anak-anak yang sudah meninggal (yang belum diakikahi saat hidupnya), tidak tampak disyariatkan bagi Anda. Sebab, akikah itu disembelih hanya sebagai tebusan bagi anak yang lahir, untuk tafaul (berharap/optimis) akan keselamatannya, dan untuk mengusir setan dari si anak, sebagaimana hal ini ditetapkan oleh al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfah al-Maudud fi Ahkam al-Maulud. Tujuan-tujuan ini tidak ada pada anak-anak yang sudah meninggal.

Adapun hal yang diisyaratkan oleh penanya bahwa akikah masuk dalam (syarat) syafaat anak yang lahir bagi ayahnya apabila ayah mengakikahinya, hal ini tidaklah benar dan telah didhaifkan (dilemahkan) oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau menyebutkan bahwa rahasia dalam akikah itu adalah:

  1. Akikah menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala beliau menebus putranya, Ismail ‘alaihissalam.
  2. Akikah bertujuan untuk mengusir setan dari anak yang lahir, sementara makna hadits,

كُل غُلاَمٍ رَهيْنَةٌ بعَقيْقَتِهِ

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya.” (HR Ahmad (5/12), Abu Dawud no. 2837, at-Tirmidzi no. 1522, dll.; dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 4541.)

Maknanya, si anak tergadai pembebasannya dari setan dengan akikahnya.

Apabila si anak tidak diakikahi, niscaya dia tetap sebagai tawanan bagi setan. Jika diakikahi dengan akikah yang syar’i, dengan izin Allah ‘azza wa jalla hal itu akan menjadi sebab terbebasnya dia dari tawanan setan. Demikian makna yang dihikayatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.

Bagaimana pun, apabila si penanya ingin mengakikahi anak-anak perempuannya yang sudah meninggal dan menganggap baik hal tersebut, silakan dia lakukan. Akan tetapi, yang rajih/kuat menurut saya, hal tersebut tidaklah disyariatkan.

Kapan waktu yang afdal/lebih utama untuk mengakikahi anak yang lahir dan hidup?

Yang afdal adalah hari ketujuhnya. Inilah waktu yang paling utama. Sebagaimana disebutkan dalam nash/dalil. Namun, seandainya ditunda dari hari ke tujuh, tidaklah apa-apa. Tidak ada batasan untuk akhir waktunya. Hanya saja sebagian ahlul ilmi memandang apabila anak telah dewasa, berarti waktu akikah telah gugur. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa tidak ada akikah untuk orang yang sudah dewasa. Sementara itu, jumhur ulama berpandangan tidak ada larangan untuk hal tersebut meskipun yang diakikahi sudah dewasa.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/573—574)


[1] Anak-anak kecil yang meninggal sebelum baligh, bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

[2] Bisa memberi syafaat kepada orang tuanya asalkan si anak sudah diakikahi.

Wanita Menikah Tanpa Izin Wali

Seorang pemuda yang taat beragama sekaligus memiliki sifat-sifat yang terpuji melamar saya. Akan tetapi, ayah saya menolak lamarannya dengan alasan tidak sekufu dengan saya dari sisi kedudukan dan nasab. Ayah menginginkan saya menikah dengan seorang pemuda dari keluarga ningrat yang kaya dan punya martabat/kedudukan.

Sementara itu, saya telah ridha dengan pemuda yang melamar saya dan tidak menginginkan yang selainnya. Apakah dibolehkan bagi saya menikah dengannya tanpa sepersetujuan wali saya? Saya pernah membaca dalam Fiqh as-Sunnah, bahwa Abu Hanifah membolehkan pernikahan yang demikian.

Sungguh Allah ‘azza wa jalla menyerahkan urusan seorang hamba kepada dirinya sendiri, termasuk di antaranya urusan pernikahan. Apabila ayah saya menghalangi saya untuk menikah dengan lelaki yang sesuai bagi saya, seorang lelaki yang begitu bersungguh-sungguh ingin menjaga kemuliaan saya, menjaga kehormatan saya, dan dia sendiri seorang yang berpegang teguh dengan agama, namun ayah saya justru ingin saya menikah dengan lelaki yang tidak memiliki sifat-sifat yang saya sebutkan; bukankah berarti saya berhak untuk tidak meminta izinnya dalam urusan pernikahan saya dengan seorang yang salih tersebut?

Saya urusi sendiri pernikahan saya di hadapan qadhi (hakim) atau saya meminta izin kepada salah seorang kerabat saya yang lain yang mau menerima pandangan saya dan menjadi wali dalam urusan pernikahan saya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berfatwa sebagai berikut.

Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Siapa pun yang melakukannya, pernikahan tersebut batil, menurut mayoritas ulama, baik yang terdahulu maupun yang belakangannya. Sebab, dalam urusan pernikahan, Allah ‘azza wa jalla menujukan pembicaraan kepada para wali yang mengurusi para wanita (bukan wanita yang diajak bicara).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri (belum punya pasangan) di antara kalian dan orang-orang salih dari kalangan budak-budak kalian.” (an-Nur: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ ديْنَهُ وَحُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ

“Apabila datang kepada kalian (untuk melamar wanita kalian) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah dia (dengan wanita yang berada di bawah perwalian kalian).”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ نكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”[2]

Adapun pendapat yang Anda baca dalam sebagian kitab fiqih bahwa wanita boleh menikahkan dirinya sendiri, itu adalah pendapat yang dhaif/lemah dan marjuh (tidak kuat, lawan dari rajih). Pendapat yang benar, yang tegak di atas dalil, adalah pendapat yang menyelisihinya, sehingga pendapat yang lemah tersebut tidak boleh diamalkan.

Penanya mengajukan pertanyaan terkait dengan adanya perselisihan pendapat antara dia dan ayahnya. Ayahnya menginginkannya bersuamikan seseorang yang punya martabat, dari keturunan yang sekufu dengan dirinya, sementara si wanita sendiri tidak memandang demikian. Dia hanyalah condong untuk menikah dengan seorang lelaki yang dipandangnya memiliki agama, walaupun tidak memiliki kedudukan dan tidak bernasab tinggi.

Dalam hal ini, kebenaran bersama ayahnya karena ayahnya lebih jauh pandangannya daripada dirinya. Terkadang dibayangkan oleh si wanita bahwa lelaki yang datang melamarnya tersebut sesuai untuknya padahal sebenarnya tidak sesuai.[3] Oleh karena itu, tidak sepantasnya dia menentang ayahnya selama si ayah menginginkan kemaslahatan putrinya.

Namun, jika ternyata dipastikan lelaki yang datang melamar si wanita itu memang sesuai, pantas dan cocok dengannya, sekufu dalam hal kedudukan, martabat, dan agamanya, sementara si ayah enggan menikahkan putrinya dengan lelaki yang demikian, si ayah menjadi ‘adhil.[4] Jika demikian, perwalian dalam pernikahan berpindah kepada wali yang berikutnya setelah sang ayah.

Akan tetapi, urusan ini harus dengan pertimbangan qadhi/hakim yang nantinya memindahkan perwalian dari ayah yang berbuat ‘adhal kepada wali yang setelahnya dari kalangan para lelaki yang berhak menjadi wali si wanita.

Dalam hal ini, si wanita tidak boleh mengurusi sendiri urusan seperti ini. Tidak boleh pula salah seorang wali mengurusinya tanpa ada keridhaan dari ayahnya. Jadi, dalam urusan ini harus kembali kepada qadhi yang syar’i. Hakim yang akan melihat permasalahan dan menilai fakta yang ada. Apabila dia memandang bolehnya perpindahan wali kepada yang lain, dipindahkan sesuai kemaslahatan. Oleh karena itu, dalam hal pernikahan ini harus dipastikan perkaranya.

Para wanita tidak boleh mengurus sendiri urusan pernikahannya. Urusan ini harus ditangani dengan semestinya oleh walinya yang berhak. Sebab, wanita itu pandangannya terbatas/dangkal, tidak jauh ke depan. Para wali dari kalangan lelaki yang mengurus wanita tentu harus memiliki semangat untuk memberikan penjagaan kepada wanita yang di bawah perwaliannya dan punya kecemburuan terhadap mereka. Semua ini tentu tidak dimiliki oleh para wanita. Oleh karena itu, sepantasnya hal ini menjadi perhatian.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/536—537)


[1] HR at-Tirmidzi (no. 1085), Ibnu Majah (no. 1968), dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami no. 270.

[2] HR ad-Daraquthni dalam as-Sunan (3/226), Ibnu Hibban (no. 1247) dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ (no. 7557).

[3] Sebab, wanita lebih sering menilai dengan perasaannya, tanpa pertimbangan yang matang dan jauh ke depan sebagaimana halnya kaum lelaki.

[4] Lafadz ‘adhal, yang pelakunya disebut ‘adhil, terambil dari ayat,

فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحۡنَ أَزۡوَٰجَهُنَّ

“… maka janganlah kalian (para wali) berbuat ‘adhal/mencegah atau menghalangi mereka (wanita yang di bawah perwalian kalian) untuk menikah kembali dengan (mantan) suami-suami mereka.” (al-Baqarah: 232)

Makna ‘adhal sama dengan mana’a, yaitu menahan, mencegah, atau menghalangi.

Apabila seorang ayah mencegah, melarang, atau tidak menerima pinangan seorang lelaki terhadap putrinya dan enggan menikahkannya, padahal si lelaki sekufu dengan putrinya dalam hal agama, akhlak, atau harta, dalam keadaan putrinya sendiri ridha/suka dengan si lelaki, perwalian ayah bisa dipindahkan kepada wali berikutnya. Misalnya, saudara laki-laki si wanita, paman (dari pihak ayah/saudara lelaki ayah), atau keponakan lelaki dari saudara lelakinya. Sebab, tidak ada hak bagi si ayah untuk menolak pinangan lelaki baik-baik tersebut. Sebagai wali, seharusnya dia melakukan apa yang paling bermaslahat atau yang terbaik untuk putrinya. Apabila si ayah tidak mau melakukannya, hak perwaliannya berpindah kepada selainnya. Demikian keterangan dalam asy-Syarhu al-Mumti’ (12/86).

Ternyata Istri Sudah Tidak Perawan

Seorang lelaki menikahi seorang gadis. Ketika berhubungan intim si lelaki mendapati istrinya tersebut tidak perawan lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Kehilangan keperawanan bisa karena beberapa sebab selain zina. Yang wajib bagi si lelaki untuk berbaik sangka apabila secara zahir si istri adalah perempuan baik-baik dan istiqamah. Sekali lagi wajib husnuzhan dalam hal ini.

Memang dahulu si perempuan telah melakukan perbuatan zina kemudian dia bertobat dan menyesal. Keperawanan juga bisa hilang karena mengalami haid yang deras. Hal ini disebutkan oleh ulama. Bisa pula keperawanan hilang karena melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, atau si perempuan jatuh dari tempat yang tinggi. Tidak mesti keperawanan hilang karena perbuatan zina.

Jika si perempuan mengaku keperawanannya hilang karena selain perbuatan zina, tidak ada permasalahan bagi si lelaki. Bisa jadi, dia mengaku hilang karena zina, tetapi dia diperkosa ketika itu, hal ini juga tidak bermudarat, apabila telah berlalu pada si perempuan satu kali haid setelah kejadian tersebut.[1]

Bisa jadi pula dia melakukannya dahulu saat dia masih lugu dan bodoh, namun sekarang dia telah bertobat dan menyesali perbuatannya. Hal ini pun tidak memudaratkan si lelaki (suaminya). Tidak sepantasnya si lelaki menyebarkan hal tersebut, justru seharusnya ditutupi/dirahasiakan. Apabila besar prasangkanya bahwa si perempuan itu jujur dan istiqamah, hendaklah tetap dia pertahankan sebagai istri. Jika tidak, dia bisa menceraikannya dengan baik-baik dengan menutupi keadaannya dan tidak membongkar rahasianya yang akan menjadi sebab fitnah dan kejelekan.

(Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibni Baz, pertanyaan no. 152, 20/286—287)


[1] Istibra’ rahim: tidak ada janin yang tumbuh dalam rahimnya dengan dia mengalami satu kali haid.

Membunuh Nyamuk dengan Raket Listrik

MEMBUNUH NYAMUK DENGAN RAKET LISTRIK

Apa hukum menggunakan alat (raket) listrik untuk memberantas serangga?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa menggunakan alat tersebut karena beberapa alasan.

  1. Membunuh serangga dengan alat tersebut tidaklah membakarnya, tetapi serangga tersebut mati biasa (bukan mati terbakar). Buktinya, apabila Anda meletakkan kertas di atas alat tersebut, kertas tidak akan terbakar.
  2. Orang yang menggunakan alat tersebut tidaklah bermaksud menyiksa nyamuk dan serangga dengan api. Tujuannya hanyalah menghindari gangguan yang ditimbulkan binatang-binatang itu. Sementara itu, hadits yang ada berisi larangan menyiksa dengan api, dan ini bukanlah tindakan menyiksa dengan api, melainkan menghalau gangguannya.
  3. Umumnya membasmi serangga-serangga tersebut tidaklah mungkin kecuali dengan alat listrik atau obat-obatan pembasmi serangga (insektisida) yang menebarkan aroma menyengat (tidak enak dihirup), dan di antara insektisida tersebut ada yang kadang bermudarat bagi tubuh. Berikutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah membakar pohon-pohon kurma Yahudi Bani Nadhir, padahal di pohon kurma biasanya ada burung-burung yang bersarang di atasnya atau serangga-serangga atau binatang yang semisalnya.” (Fatawa Nurun ‘alad Darb dinukil dari www.ibnothaimeen.com)

Melahirkan Akan Menggugurkan Dosa?

MELAHIRKAN MENGGUGURKAN DOSA?

Apakah benar ada dalil yang menyatakan bahwa setiap wanita yang melahirkan akan berguguran semua dosanya, semua itu karena rasa sakit dan kepayahan yang dialaminya saat melahirkan, maka melahirkan menjadi pembersih dosa-dosanya?

Jawab:

Tidak benar. Akan tetapi, wanita sebagaimana anak Adam yang lainnya, apabila menimpanya suatu kesulitan atau musibah, lalu bersabar dan mengharapkan pahala, dia akan beroleh ganjaran atas rasa sakit dan musibah tersebut. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan permisalan yang lebih ringan dari itu, seperti seseorang yang terkena duri pun akan dihapuskan kesalahannya.

Ketahuilah, jika seseorang bersabar menghadapi musibah yang menimpa dan mengharapkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla, dia akan diberi balasan pahala karena kesabaran dan ihtisab (harapan pahala)nya. Asal musibah itu sendiri adalah penghapusan dosa. Dengan demikian, musibah merupakan penghapus dosa, bagaimana pun keadaannya. Apabila dihadapi dengan kesabaran, orang tersebut akan diberi pahala karena sabarnya menghadapi musibah.

Saat melahirkan, tidaklah diragukan, wanita pasti merasa kesakitan dan kepayahan. Sakit tersebut akan menjadi kaffarah (penghapus dosa) baginya. Jika dia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah ‘azza wa jalla, bersama dengan kaffarah tersebut ada tambahan dalam pahalanya dan kebaikannya.

Berhiasnya Wanita

HUKUM MEMAKAI MAKE UP

Apa hukum make up modern yang biasa dipakai wanita, ada yang dioleskan di bibir, di wajah, di mata, ataupun di kuku. Semua itu hanya untuk diperlihatkan di hadapan suami, tidak ditunjukkan pada lelaki yang bukan mahram. Sebab, saya pernah mendengar bahwa sebagian orang yang memiliki ilmu agama tidak membolehkan pemakaian make up tersebut, walaupun hanya untuk diperlihatkan di depan suami, dengan alasan termasuk tasyabbuh dengan wanita-wanita kafir. Bagaimana sebenarnya masalah make up ini?

make-up-kit

Jawab:

Berhias itu ada dua macam.

  1. Berhias atau memperindah diri yang sifatnya permanen atau selamanya.

Yang seperti ini hukumnya haram, seperti wasyr, wasym, dan namsh. Wasyr adalah mengikir gigi agar jarang dengan menggunakan gergaji atau alat tertentu hingga gigi geligi tampak cantik. Wasym adalah melubangi kulit lalu diletakkan di dalamnya celak atau semisalnya dengan celupan dan benda tersebut tetap akan menempel di situ (tatto). Namsh adalah mencabut rambut yang tumbuh di wajah seperti rambut alis dan semisalnya. Semua ini diharamkan dan termasuk dosa besar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pelakunya.

 

  1. Berhias yang sifatnya tidak permanen, bisa dihilangkan.

Yang seperti ini tidak apa-apa, seperti berhias dengan memakai celak, wars (jenis dedaunan yang dipakai untuk memerahkan wajah), dan yang semisalnya. Akan tetapi, dengan syarat tidak mengantarkan pada hal yang terlarang atau berbahaya menurut syariat, seperti berhias meniru gaya wanita-wanita kafir (tasyabbuh dengan wanita kafir). Atau berhias untuk tabarruj, dipertontonkan kepada lelaki yang bukan mahram dan semisalnya. Berhias dengan pelanggaran yang seperti ini haram dan haramnya karena faktor yang lain, bukan karena berhiasnya.

 

MENYEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM

Saya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang menyemir rambut dengan warna hitam. Apakah hadits tersebut sahih? Apakah larangan tersebut berlaku umum untuk lelaki dan wanita, ataukah khusus bagi lelaki saja? Lalu apa hikmah dibalik larangan tersebut?

Kuas Sisir

Jawab:

Hadits tersebut sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengubah uban dan menyuruh untuk menjauhi warna hitam. Beliau mengancam orang yang menyemir jenggotnya dengan warna hitam bahwa mereka tidak akan mencium wanginya surga. Hal ini menunjukkan semiran dengan warna hitam termasuk dosa besar.

Maka dari itu, wajib bagi seseorang untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi apa yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dia termasuk orang-orang yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠

“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah beruntung dengan keberuntungan yang besar.” (al-Ahzab: 71)

Dia ‘azza wa jalla juga berfirman,

وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sunguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Hikmah dari larangan tersebut adalah menyemir rambut dengan warna hitam berarti menentang atau melawan hikmah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan manusia di atasnya. Sebab, jika seseorang mengubah rambut ubannya yang putih menjadi warna hitam, seakan-akan dia ingin mengembalikan ketuaannya kepada kemudaan. Ini adalah sikap penentangan hikmah yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan manusia di atasnya, yaitu rambut-rambut mereka akan memutih yang sebelumnya berwarna hitam ketika mereka telah berusia tua.

Sementara itu, kita maklum bahwa menentang kodrat Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang tidak sepantasnya. Tidak boleh seorang pun melawan Allah ‘azza wa jalla dalam hal ciptaan-Nya, sebagaimana tidak boleh dirinya melawan Allah ‘azza wa jalla dalam hal syariat-Nya.

Adapun menghilangkan cacat yang sifatnya tidak biasa, tidaklah terlarang. Misalnya, seseorang punya jari lebih dari yang semestinya lalu menjalani operasi untuk menghilangkan kelebihan jari tersebut. Hal ini tidak apa-apa selama tidak berdampak bahaya. Misalnya lagi, seseorang memiliki bibir sumbing, lalu dibetulkan dengan cara operasi dan semisalnya, maka semua ini tidak apa-apa, karena termasuk menghilangkan cacat yang tidak biasa.

 

HUKUM BERSISIR SAAT HAID

Ada yang mengatakan bahwa menyisir rambut, menggunting kuku, dan mandi tidak boleh dilakukan wanita selama masa haid. Apakah ucapan ini benar?

sisir

Jawab:

Perkataan tersebut tidak benar. Wanita haid boleh menggunting kukunya, menyisir rambutnya, dan melakukan mandi janabah—misalnya dia ihtilam (mimpi basah) dalam keadaan haid atau suaminya menggaulinya pada selain kemaluannya hingga dia keluar mani, maka dia pun mandi janabah.

 

 

Sementara itu, ucapan yang tersebar di kalangan sebagian wanita bahwa wanita haid tidak boleh mandi, tidak boleh bersisir, tidak boleh menggaruk kepalanya, dan tidak boleh menggunting kuku, sama sekali tidak ada dasarnya dalam syariat sepanjang yang kami ketahui.

 

HUKUM SHALAT WANITA YANG BERCAT KUKU

Apa hukum shalat wanita yang memakai cat kuku (kuteks)?

kuteks-cat-kuku

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Wudhunya tidak sah, shalatnya pun tidak sah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian apabila dia berhadats sampai berwudhu.” (HR. al-Bukhari)

Jadi, selama wudhunya tidak sah, shalatnya pun tidak sah.”

 

APAKAH SHALATNYA DIULANGI?

Apakah shalat wanita yang bercat kuku itu harus diulangi?

Jawab:

Apabila si wanita mengetahui bahwa dia tidak boleh shalat dalam keadaan memakai cat kuku karena wudhunya tidak sah, dia harus mengulang shalatnya. Namun, apabila tidak mengetahui hukumnya (jahil), dia tidak wajib mengulang shalatnya.

Hal ini berdasarkan kaidah yang dikenal oleh ahlul ilmi, yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, yaitu orang yang jahil atau bodoh tidak wajib mengulangi kewajiban yang dia tinggalkan dan tidak berdosa atas perbuatan terlarang yang dilakukannya.

Akan tetapi, perlu dipahami bahwa terkadang seseorang jahil karena bersikap masa bodoh, tidak peduli, tidak mau bertanya, dan tidak mau mencari tahu kebenaran. Orang jahil yang seperti ini kita haruskan dia mengulangi ibadahnya, karena kejahilannya disebabkan dia meninggalkan kewajiban belajar ilmu agama.

Adapun apabila dia jahil tanpa bersikap masa bodoh, tetapi dia memang benar-benar tidak tahu perkara-perkara tersebut dan tidak pula terbetik di hatinya bahwa itu haram atau yang semisalnya, hukum diangkat darinya[1].

Karena itulah, orang yang salah dalam shalatnya (al-musi’u fi shalatihi) karena tidak thuma’ninah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruhnya mengulangi shalat-shalatnya yang dahulu dikerjakannya, dalam keadaan orang tersebut tidak bisa lagi shalat sebaik yang dikerjakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[2]. Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

ارْجِعْ فَصَلِ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِ

“Kembalilah engkau lalu shalatlah lagi, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”(HR. al-Bukhari dan Muslim.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyuruhnya mengulang shalat yang dikerjakannya saat itu[3], karena waktunya belum habis (masih ada waktu shalat). Jadi, untuk shalat yang masih tersisa waktunya tersebut, dia dituntut untuk mengerjakannya dengan cara yang sempurna[4].

 


 

[1] Tidak dibebani pengulangan ibadah dan tidak berdosa karena meninggalkan kewajiban.

[2] Itulah shalat terbaik yang bisa dilakukannya sebatas pengetahuannya tentang tata cara shalat.

[3] Diulang shalatnya saat itu karena shalatnya tidak benar, ada rukun yang luput dikerjakannya karena ketidaktahuannya.

[4] Adapun shalat yang sudah lewat waktunya tidak diperintahkan untuk diulangi.

Fatwa Seputar Shalatnya Wanita (2)

TIDAK MENYADARI ADA NAJIS PADA PAKAIAN SAAT SHALAT

Ada seseorang shalat lima waktu dari shalat Subuh sampai shalat Isya dalam keadaan pada pakaiannya ada najis sementara dia tidak menyadarinya. Apakah dia harus mengulang shalatnya? Atau apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Orang yang telah mengerjakan shalat lima waktu dalam keadaan pada pakaiannya ada najis tanpa diketahuinya, maka shalatnya sah, tidak perlu diulangi. Argumennya di antaranya adalah saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat beliau dalam keadaan memakai sendal, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sendal beliau. Para sahabat pun mengikuti beliau, melepas sendal mereka.

Setelah salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyai mereka, “Mengapa kalian melepas sendal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami melihat Anda melepas sendal anda, maka kami pun melepas sendal-sendal kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ جِبْرَائِيْلَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيْهِمَا قَذَرًا

“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku lalu mengabariku bahwa pada kedua sendalku ada kotoran/najis.”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan oleh Jibril q tentang adanya kotoran pada kedua sendal beliau. Beliau kemudian melepaskan keduanya di tengah shalat tanpa mengulang shalat yang telah dikerjakan saat masih memakai dua sendal yang terdapat najis tersebut.

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa ketika seorang muslim shalat dalam keadaan tidak menyadari pada pakaiannya ada najis dan baru mengetahuinya setelah selesai shalat, tidak diharuskan baginya mengulang shalat. Sebab, dia dalam posisi beruzur, dan shalatnya saat itu sah.

Dari sini ulama membedakan antara najis dan janabah atau hadats kecil atau hadats besar. Jika seseorang shalat dalam keadaan junub (berhadats besar, –pen.), ia wajib mengulangi shalatnya (setelah mandi janabah, –pen.).

Demikian pula seseorang yang shalat dalam keadaan berhadats kecil (seperti buang angin, buang air kecil, atau besar, –pen.), kemudian ingat bahwa dia telah mengerjakan satu shalat fardhu atau lebih dalam keadaan berhadats kecil atau besar, ia wajib mengulang shalatnya.

Pernah terjadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah siap memimpin shalat setelah diserukannya iqamah. Tatkala shaf telah lurus, beliau berkata, “Tetaplah kalian di tempat kalian!” Kemudian beliau pergi, lalu mandi (karena janabah) dan kembali lagi. Setelah itu, beliau mengimami mereka.

Ulama memandang bahwa hadats besar dan kecil membatalkan shalat. Apabila seseorang shalat lalu ingat bahwa dia sedang berhadats besar atau kecil, shalatnya dia batalkan[2]. Setelah (bersuci), dia mengulangi shalatnya dari awal.

Adapun najis, hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.”

(Pertanyaan dalam kitab ‘Aun al-Bari bi Bayan Ma Tadhammanahu Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahari, 2/650—651)

SYARAT WANITA JADI IMAM

Apa syarat-syarat wanita bisa menjadi imam bagi sesama wanita di dalam shalat?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdullah bin Humaid[3] rahimahullah menjawab, “Apabila si wanita paling bagus dan paling pandai membaca Kitabullah, tidak ada larangan baginya menjadi imam para wanita sebagaimana lelaki[4]. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh Ummu Waraqah radhiallahu ‘anha mengimami orang-orang di rumahnya.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, 1/419)

WANITA MENGIMAMI ANAK LELAKI

Apa hukumnya wanita mengimami anak lelaki?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab sebagai berikut.

“Yang benar, wanita tidak boleh mengimami lelaki, baik si lelaki masih kecil maupun sudah besar. Berdasarkan hal ini, apabila seorang wanita ingin menegakkan shalat berjamaah, hendaknya dia menjadikan anak lelaki kecil (yang ada bersamanya untuk shalat) sebagai imam dan dia shalat di belakang si anak. Sebab, anak lelaki dibolehkan menjadi imam, meskipun dalam shalat fardhu.

Hal ini telah pasti haditsnya dari ‘Amr ibnu Salamah al-Jurmi, beliau berkata, “Ayahku berkata, ‘Aku benar-benar datang dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — karena ayahnya adalah salah seorang utusan yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 9 H. Beliau berkata, “Aku benar-benar datang kepada kalian dari sisi Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَ لْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً

‘Apabila telah datang waktu shalat, hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan hendaknya mengimami kalian orang yang paling banyak hapalan Qur’annya di antara kalian’.”

Ayahku berkata, “Mereka pun melihat siapa di antara mereka yang paling banyak hafalannya. Ternyata mereka tidak dapati orang yang paling banyak hafalannya daripada aku. Mereka mengedepankan aku (sebagai imam), padahal di saat itu usiaku baru 6 tahun atau 7 tahun.” (Shahih al-Bukhari no. 3402)

Hadits di atas menjadi dalil bolehnya anak kecil menjadi imam dalam shalat fardhu.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 15/147)

SHALAT TARAWIH DI RUMAH ATAU DI MASJID?

Manakah yang lebih utama bagi wanita apakah shalat tarawih di rumahnya ataukah di masjid bersama kaum muslimin?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Yang afdal bagi wanita adalah shalat di rumahnya. Namun, ia boleh shalat di masjid bersama jamaah, baik shalat fardhu, shalat tarawih, shalat kusuf, maupun shalat jenazah, dengan syarat dia mengenakan hijab yang sempurna dan jauh dari perbuatan berhias, baik pada tubuh maupun pakaiannya, serta tidak memakai wewangian pada tubuh dan pakaiannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا إِماءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلاَتٍ.

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah subhanahu wa ta’ala dari masjid-masjid Allah. Namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. (Kalaupun mereka keluar ke masjid), hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat.” (HR. Abu Dawud no. 567 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Adapun baris pertama diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu)

Makna tafilat dalam hadits adalah tidak berhias dan tidak memakai wewangian.

Hadits ini menunjukkan boleh wanita keluar shalat ke masjid dengan syarat yang disebutkan, yaitu dia berpegang dengan rasa malu dan menutup diri, tidak berhias, tidak memakai wewangian dan bershaf di belakang jamaah laki-laki.

Namun, bersamaan dengan keharusannya berpegang dengan syarat yang disebutkan, shalatnya di rumahnya lebih baik baginya karena lebih memberikan penjagaan kepadanya, dia tidak terfitnah dan tidak menjadi fitnah.

Adapun apabila si wanita tidak memegangi syarat yang ada, maka keluarnya ke masjid hukumnya haram, dia berdosa, walaupun tujuannya untuk mengerjakan shalat.” (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/180-181)

MENGIKUTI BACAAN IMAM DENGAN MELIHAT MUSHAF

Bolehkah seorang wanita atau lelaki yang sedang shalat mengikuti bacaan imam dalam shalat tarawih dengan melihat mushaf, baik yang mengikuti ini mengeraskan suaranya maupun hanya membaca dalam hati?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Tidak boleh bagi makmum lelaki ataupun wanita mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf. Sebab, hal itu akan menyibukkannya dari amalan shalat tanpa kebutuhan. Ini yang tampak dari perbuatan sebagian pemuda sekarang ini, padahal ini bukanlah termasuk amalan salaf menurut apa yang kuketahui. Perbuatan ini wajib ditinggalkan dan dilarang.

Ulama berbeda pendapat tentang hukum imam membaca al-Qur’an di dalam shalat (qiraah dalam shalat) dengan melihat mushaf pada saat dibutuhkan. Lantas, bagaimana halnya dengan makmum?”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/204)


[1] HR. Abu Dawud no. 650 dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak dan disepakati oleh adz-Dzahabi; dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Katsir dalam Tuhfah ath-Thalib hlm. 135 dan penulis Fathul Bari (1/348) menukilkan pensahihan Ibnu Khuzaimah terhadap hadits ini. tersebut.

[2] Untuk menghilangkan hadatsnya dengan mandi kalau berhadats besar atau wudhu apabila berhadats kecil.

[3] Beliau adalah asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Abdirrahman bin Husain bin Humaid dari Bani Khalid. Lahir di Riyadh pada 1329 H dan wafat 1402 H. Kehilangan penglihatan di usia kanak-kanak tidak mengendurkan semangat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau menimba ilmu dari ulama besar di negerinya, di antaranya asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim alusy Syaikh rahimahullah, mufti Kerajaan Saudi di zamannya. Semasa hidupnya, beliau diamanahi beberapa tugas dakwah yang dengannya beliau berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas.

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ. فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ, فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ . فَإِنْ كَانُوْا فِي السُّنَّةِ سَوَاءٌ, . فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً . فَإِنْ كاَنوُاْ فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءٌ, فَأَقْدَمُهُمِ سِلْمًا

Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling pandai membaca Kitabullah di antara mereka. Jika mereka semua-sama dalam hal membaca Kitabullah, maka yang jadi imam adalah yang paling berilmu tentang as-Sunnah. Jika mereka juga sama, maka yang paling dahulu berhijrah. Jika mereka sama dalam hal berhijrah, maka yang terdahulu masuk Islam.(HR. Muslim)

Fatwa Seputar Shalat, Tilawah, dan Taubat

Memperdengarkan Bacaan al-Qur’an kepada Lelaki

Kami sekelompok wanita belajar al-Qur’an di masjid dengan seorang mu’allimah (guru wanita). Sekali waktu masuk ke tempat belajar kami seorang pengawas (atau semacam ta’mir masjid) dan meminta sebagian wanita untuk memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepadanya. Tujuannya, agar dia bisa mengetahui kadar kemampuan (atau kemajuan yang dicapai dalam belajar) si pelajar dan memberikan nilai kepada si pengajar. Apakah dibolehkan bagi kami memperdengarkan bacaan kami kepadanya (padahal dia seorang lelaki)? Kalau kami tidak melakukannya, pengajar kami bisa diusir (tidak diperkenankan lagi mengajar) di masjid tersebut.

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ubaid al-Jabiri[1] hafizhahullah menjawab, “Apabila seperti itu, saya nasihatkan kepada kalian untuk tidak belajar al-Qur’an di masjid. Sebab, si pengawas tersebut orang jahil/bodoh, jelek adabnya terhadap putri-putri kaum muslimin, dan tidak punya rasa malu. Bisa jadi, yang menyuruhnya melakukan tugas tersebut sama dengannya atau lebih jahil lagi.

Saat seorang wanita membaca al-Qur’an dan ingin membaguskan suaranya, ia tidak boleh perdengarkan bacaannya tersebut terkecuali kepada sesama wanita. Apabila dia melakukannya di hadapan lelaki, ini termasuk al-khudhu[2] yang dilarang, walaupun yang diucapkannya itu adalah kalamullah. Sebab, suara wanita berbeda dengan suara lelaki.

Maka dari itu, saya nasihatkan kepada kalian agar tidak lagi belajar al-Qur’an di masjid tersebut. Cukup bagi kalian, walillahil hamdu (hanya untuk Allah ‘azza wa jalla lah segala pujian), apa yang kalian ketahui dari bacaan al-Qur’an. Jika memungkinkan untuk belajar pada si mu’allimah di rumahnya, tidaklah terlarang, walaupun kalian harus memberinya sesuatu sesuai dengan kemampuan, hal ini tidak apa-apa, insya Allah.” (Diambil dari situs al-Mirats al-Anbiya, www.al-Miraath.net/fatawah)

 

Memutus Shalat Wajib Karena Tangis Anak

Saya memiliki seorang putri yang masih kecil. Seringnya tangis anak saya ini memutus shalat saya. Apakah memang diperkenankan saya memutus shalat ketika mendengar tangisannya karena saya merasa tidak tenang dalam shalat? Tangisnya pecah saat saya shalat, terjadi berulang setiap harinya.

Jawab:

Pertama, yang perlu diketahui wahai anakku (si penanya), termasuk contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau pernah shalat dan berniat memanjangkan bacaan shalat tersebut. Namun, di tengah tengah shalat beliau mendengar tangis seorang anak kecil, maka beliau meringankan (memendekkan) shalatnya karena kasihan kepada ibu si anak.

Karena itu, saya katakan kepada Anda, ketika anak Anda menangis saat Anda sedang shalat, pendekkanlah shalat Anda; dan shalat Anda sah karena hal ini adalah uzur syar’i bagi Anda.

Kedua, apabila anak Anda menangis dengan keras sampai berteriak-teriak dalam tangisnya, susuilah si anak, yang seperti ini akan menenangkannya. Apabila sebelum shalat Anda telah memberinya makanan dan makanan tersebut ada bersamanya, masukkan sedikit ke dalam mulutnya. Ini akan memalingkannya dari Anda sehingga Anda bisa menyelesaikan shalat Anda, insya Allah.

Ketiga, Jika tangisan dan teriakannya semakin keras, tidak berhenti juga, akibatnya Anda tidak mampu menyempurnakan shalat, kecuali harus memutus atau membatalkan shalat tersebut, putuskanlah shalat dan lakukan apa yang bisa menenangkannya. Apabila dia telah tenang, Anda shalat kembali dan mengulangi shalat. Insya Allah Anda akan beroleh pahala.

Tentang Shaf Wanita

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

شَرُّ صُفُوْفِ النِّسَاءِ أَوَّلُهَا

“Sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.”

Apakah hukumnya sebagaimana zahirnya (yaitu selamanya paling jelek) padahal sekarang ada pemisah antara jamaah lelaki dan jamaah wanita berupa kayu dan semisalnya?

Jawab:

Hukum ini mu’allal bi’illah (berlaku apabila ada alasannya atau apabila terjadi perkara yang dikhawatirkan).

Mengapa shaf wanita yang paling depan itu dikatakan paling buruk? Karena bisa terlihat oleh para lelaki yang berada di shaf paling akhir dari jamaah lelaki[3].

Apabila alasan ini hilang atau tidak ada, karena adanya pemisah atau penutup antara jamaah lelaki dan jamaah wanita sehingga lelaki tidak mungkin sama sekali bisa melihat wanita di sela-selanya, tidak ada pencegah bagi wanita untuk berada di shaf terdepan, insya Allah.

Shalat Dengan Pakaian Najis

Saya tengah melakukan shalat tiba-tiba teringat bahwa putri saya yang berusia empat tahun telah mengencingi pakaian saya. Apakah saya harus memutuskan shalat dan mengulanginya?

Jawab:

Ucapan ‘si anak telah mengencingi pakaian’ bisa memuat dua maksud:

  1. Putri kecil Anda kencing di popoknya dan najis tersebut tertahan di popoknya tanpa sedikit pun mengenai pakaianmu. Apabila maksudnya seperti ini, shalat Anda sah, terus dilanjutkan sampai selesai.
  2. Kencingnya mengenai pakaian Anda hingga menajisi pakaian Anda.

Maksud pertanyaan Anda tentu salah satu dari dua sisi di atas, tidak mungkin kedua-duanya.

Jika maksud Anda sisi yang kedua ini, cuci bagian yang terkena kencing tersebut apabila di dekat tempat shalat Anda ada tempat cucian (semacam wastafel, -pen.) atau ada wadah berisi air. Cucilah bagian yang terkena kencing dalam keadaan kamu tetap shalat, tidak membatalkannya.

Namun, jika mencucinya membutuhkan banyak gerakan dan berpaling total dari arah kiblat, saya memandang tidak ada larangan insya Allah Anda memutus shalat Anda, kemudian membersihkan bagian pakaian yang terkena kencing tersebut. Wallahu a’lam.

Tidak Bisa Qiyamul Lail Dan Shalat Nafilah

Saya tinggal di Prancis. Sejak empat bulan yang lalu aku tidak bisa mengerjakan shalat nafilah/sunnah dan qiyamul lail. Tidak bisa pula saya menangis karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Saya sering merasakan waswas setan yang membuat saya ketakutan, sampai-sampai saya menyangka bahwa saya telah kafir. Wahai Syaikh kami, saya merasa seakan-akan kalbuku telah mati. Nasihatilah saya karena Allah ‘azza wa jalla. Saya takut lalai. Saya ingin arahan Anda tentang buku-buku yang bisa saya baca untuk memperbaiki kalbu saya dan agar jujur bersama Allah‘azza wa jalla. Jazakumullah khairan.

Jawab:

            Bisa jadi, Anda, wahai anakku, telah membuka pintu waswas tersebut. Yang seharusnya Anda lakukan dalam urusan ibadah adalah bersungguh-sungguh dan terus menambah kebaikan. Shalat sunnah dituntut dari hamba sebagai suatu amalan tambahan—bukan kewajiban—dan disenangi bagi hamba untuk memperbanyaknya. Apabila Anda tidak bisa memperbanyaknya, kerjakan apa yang mudah dan dimampui.

Masalah kedua, tidak bisa mengerjakan qiyamul lail. Ini banyak terjadi pada manusia, disebabkan ada penghalang yang menghalanginya. Penghalang tersebut karena ada suatu sebab, seperti seseorang menderita sakit atau dia biasa bergadang di waktu malam hingga larut (akibatnya dia tidak bisa bangun untuk qiyamul lail). Apabila Anda tidak bisa mengerjakan qiyamul lail karena adanya penghalang ini, singkirkanlah penghalang tersebut hingga bisa mengembalikan semangat Anda untuk qiyamul lail, insya Allah.

Masalah ketiga, menangis karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila ini mudah dilakukan, tentu bagus sekali. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan, apakah seseorang diwajibkan menangis karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla? Yang saya ketahui dengan meneliti dan menelaah serta apa yang saya pahami, seseorang haruslah menghadirkan kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan melunakkan hatinya untuk mengingat Allah ‘azza wa jalla. Adapun menangis, itu perkara tambahan.

Yang terakhir, sampai saat ini saya tidak tahu tentang buku-buku yang bisa menguatkan atau menenangkan kalbu, selain dzikrullah[4]; dan yang zikir paling agung adalah al-Qur’an yang mulia. Karena itu, perbanyaklah dzikrullah, tobat, istighfar, tasbih, tahlil, dan takbir.

Saat Anda merasakan kegundahan atau semacamnya, teruslah Anda mengulang-ulangi ucapan; subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah, demikianlah.

Perbanyak dzikrullah, perbanyak baca al-Qur’an, seringlah berkumpul dengan orang-orang baik di daerahmu dan yang Anda jumpai di masjid. Apabila mudah, kunjungi mereka dan undang mereka untuk berkunjung ke tempatmu.

Janganlah Anda membuka pintu waswas pada diri Anda. Bacalah sunnah Nabi n yang Anda ketahui berupa hadits-hadits sahih yang memberi dorongan untuk berbuat kebaikan dan mengandung larangan dari kemungkaran.

Saya memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, Rabb Pemilik Arsy yang agung agar menganugerahi Anda kesembuhan dan memberikan akhir yang baik untuk Anda dalam urusan Anda yang segera ataupun yang belakangan (di dunia dan di akhiratmu).

 

Tidak Jadi Berbuat Dosa

Ada seseorang yang ingin berbuat maksiat. Namun, dia tidak jadi melakukannya karena ketidakmampuannya, apakah dia tetap dianggap berdosa?

Jawab:

Ya, dia berdosa, apabila memang dia bertekad melakukan maksiat tersebut andai dia punya kemampuan melakukannya dan dalam keadaan tahu bahwa itu adalah dosa, namun dia memang sengaja ingin berbuat dosa.

Berbeda halnya apabila dia takut kepada Allah ‘azza wa jalla setelah itu dan meninggalkan tekadnya karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla, tidak ada dosa baginya insya Allah.

Pada keadaan pertama, yang tidak ada yang mencegahnya berbuat dosa selain ketidakmampuan untuk melakukannya dan ada tekad untuk melakukannya, dia harus beristighfar dan bertobat.


[1] Semua pertanyaan dalam lembar fatawa ini dijawab oleh Fadhilatusy Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah yang kami nukil dari situs al-Mirats al-Anbiya, www.Al-Miraath.net/fatawah.

[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Maka janganlah kalian (para istri Nabi) khudhu’ dalam berbicara sehingga berkeinginan buruklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

[3] Apabila tidak ada hijab atau penghalang yang memisahkan antara jamaah lelaki dan jamaah wanita.

[4] Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Ketahuilah sungguh dengan berzikir kepada Allah kalbu-kalbu akan menjadi tenang.” (ar-Ra’d: 28)