Kewajibanmu dalam Keluarga

Dalam Islam, peran domestik kaum istri memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun musuh-musuh Islam terus berusaha meruntuhkan sendi dasar rumah tangga ini dengan menggalang berbagai opini menyesatkan. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak wanita-wanita Islam.

Lanjutkan membaca Kewajibanmu dalam Keluarga

Wanita Juga Ihtilam

Ada satu dari sekian banyak bimbingan ilmu nubuwwah yang tidak sepantasnya dilewatkan oleh setiap muslim dan muslimah, terkhusus bagi mereka yang telah berumah tangga. Bimbingan ini diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat pertanyaan seorang wanita yang rasa malu tidak menghalanginya untuk tafaqquh fid din.

Lanjutkan membaca Wanita Juga Ihtilam

Engkau Istimewa Karena Takwa

        Pernikahan insan selalu saja menjadi saat yang berharga dan spesial dalam hidupnya. Siapa gerangan yang tidak berbahagia menghadapinya, kecuali mungkin mereka yang “kawin paksa”, dan kejadian yang seperti itu sedikit.

Sebelum ke jenjang pernikahan, orang biasa pilah pilih, siapa yang bakal menjadi teman hidupnya. Si lelaki memilih, si perempuan pun memilih. Karena perempuan berhak memilih, dia boleh menolak pinangan lelaki yang datang apabila memang dia tak suka.

Perempuan biasa dipilih karena empat hal, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ، لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah oleh kalian perempuan yang baik agamanya, taribat yadak.” (HR. Muslim no. 3620)

Perhatikan hadits di atas! Memang, ketaatan beragama selalu saja menjadi prioritas terdepan dalam urusan pernikahan. Siapa pun dia dan dari mana pun dia. Jadi, apabila seorang perempuan cantik jelita, kaya raya, memiliki kedudukan dan martabat tinggi di tengah-tengah manusia, dari keturunan bangsawan pula, namun agamanya ‘hampa’, dia bukan perempuan salihah. Adakah kebaikan yang diharapkan darinya, padahal kebaikan yang hakiki adalah kebaikan agama?

Apabila perempuan dituntut kesalihannya, demikian pula lelaki. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada para wali perempuan yang didatangi oleh lelaki saleh yang ingin melamar putri atau saudari mereka,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. at-Tirmidzi, hadits hasan sahih, lihat Shahih at-Tirmidzi no. 1084, al-Irwa no. 1868, ash-Shahihah no. 1022)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan makna hadits di atas sebagai berikut. Jika seseorang yang kalian anggap baik agama dan pergaulannya meminta kalian untuk menikahkannya dengan seorang perempuan dari kalangan anak-anak atau karib kerabat kalian, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Apabila tidak kalian lakukan, padahal agama dan perangai si lelaki bagus, karena kalian hanya menginginkan seseorang yang terpandang nasabnya, bagus fisiknya (tampan rupawan), atau hartanya, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar.

Sebab, kalau kalian tidak mau menikahkan perempuan kalian kecuali dengan lelaki yang berharta atau berkedudukan, bisa jadi banyak perempuan kalian yang hidup tanpa memiliki suami. Akan banyak pula lelaki kalian yang tidak memiliki istri. Akhirnya. merebaklah bencana dengan terjadinya perbuatan zina. Bisa jadi, para wali perempuan mendapatkan cela hingga bergejolaklah bencana demi bencana dan kerusakan, dan berdampak terputusnya nasab, sedikitnya kesalihan dan sedikitnya iffah ( kehormatan diri). (Kitab an-Nikah, bab “Ma Ja’a, Idza Ja’akum man Tardhauna Dinahu Fa Zawwijuhu”)

Demikianlah bimbingan agama yang mulia bagi para pendamba kemuliaan. Akan tetapi, banyak manusia berpaling darinya, sadar ataupun tidak. Tidak murni salah memang apabila seseorang memilih pasangan karena kebagusan fisiknya. Tidak pula disalahkan seseorang yang mengutamakan nasab tertentu atau memilih yang sesuku. Ingin yang bangsawan dan orang terpandang, ingin yang berharta… dst.

Semuanya keinginan yang manusiawi, boleh-boleh saja. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati dan memberikan arahan kepada Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha agar tidak menerima lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, karena Muawiyah seorang yang fakir, tidak berharta?[1]

Sebelum jauh mengurus proses pernikahan, bukankah disyariatkan nazhar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu? Kira-kira apa fungsinya? Melihat fisik, bukan?

Yang dicela hanyalah apabila sisi agama diabaikan dan tidak dijadikan prioritas. Maka dari itu, janganlah manusia hanya dinilai dari kedudukan, keturunan, dan kekayaannya. Yang keturunan bangsawan enggan menikah dengan yang bukan bangsawan. Kabilah yang dianggap mulia hanya mau menikah dengan yang sederajat. Keturunan Arab berpikir seribu kali untuk menikah dengan orang ajam (non-Arab).

Apabila ada yang beralasan bahwa menikah haruslah dengan yang sekufu, perlu dipahami terlebih dahulu apa maksud sekufu tersebut. Makna sekufu, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, adalah sama dan semisal. Sekufu yang teranggap adalah sekufu dalam hal agama. (Subulus Salam, 6/57)

Jadi, si lelaki dan si perempuan seagama[2], dan keduanya adalah orang baik-baik. Sebab, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan dalam Tanzil-Nya,

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan lakilaki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji pula. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.” (an-Nur: 26)

Al-Imam Malik rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa kafa’ah (sekufu) yang teranggap hanyalah dalam masalah agama, bukan yang lain. (al-Mughni, Kitab an-Nikah, Mas’alah Wal Kuf’u Dzud Din wa al-Manshib)

Dinukilkan pula pendapat seperti ini dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Demikian pula Ibnu Sirin rahimahullah dan Umar bin Abdil Aziz rahimahullah dari kalangan tabi’in. (Fathul Bari, 9/165—166)[3]

Dalilnya, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, ialah ayat 13 dari surah al-Hujurat dan hadits,

النَّاسُ كُلُّهُمْ وَلَدُ آدَمَ

“Manusia semuanya adalah anak Adam.” (HR. Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat 1/25. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunannya dengan sedikit perbedaan lafadz no. 5116 dan at-Tirmidzi no. 3955; dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi) (Subulus Salam, 6/57)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengisyaratkan dukungan terhadap pendapat ini. Dalam Kitab an-Nikah dalam Shahih-nya, beliau membuat judul bab: al-Ikfa’ fid Din (bab “Sekufu Itu dalam Agama”). Kemudian beliau membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤

“Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan bermushaharah (hubungan yang terjalin karena pernikahan)….” (al-Furqan: 54)

Beliau bawakan pula beberapa hadits, di antaranya hadits Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha tentang Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah radhiallahu ‘anhu yang memiliki anak angkat bernama Salim, seorang maula (bekas budak), dan dinikahkannya dengan keponakannya, Hindun bintu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah. (Hadits no. 5088)

Dengan demikian, apabila engkau, wahai lelaki, ingin menikah dengan perempuan yang mulia, carilah perempuan yang bertakwa. Sebab, kemuliaan ada pada takwa, bukan yang lain. Setelah itu, baru engkau memperhitungkan paras si perempuan, nasabnya, dan seterusnya. Demikian pula dirimu, wahai perempuan, pilihlah seorang yang bertakwa sebagai suamimu, setelah itu baru engkau melihat sisi yang lain.

Jadi, tidak masalah engkau yang bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan, asal saling ridha. Tidak masalah engkau yang kaya menikah dengan yang miskin. Sebab, semua itu bukan standar kemuliaan. Kemuliaan, sekali lagi, hanya ada pada takwa.

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ulama Islam sepakat tentang bolehnya seorang lelaki menikahi perempuan yang bukan dari kabilahnya, apabila agama mereka sama. Ulama pun sepakat tentang bolehnya seorang muslim menikahi perempuan ahlul kitab yang menjaga kehormatan dirinya, walaupun si perempuan bukan dari kalangan bangsa Arab. Dalil tentang hal ini banyak didapatkan dari al-Quran, as-Sunnah, dan amalan salaf. Di antaranya,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan kepada para hamba-Nya, tidak ada kelebihan atau keistimewaan seseorang terhadap orang lain di sisi Allah ‘azza wa jalla selain dengan takwa. Maka dari itu, orang yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah yang paling bertakwa di antara mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa di antara manusia.”

Ayat dan hadits yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa kabilahkabilah yang ada di tengah-tengah masyarakat manusia adalah sekufu, sama, dan sederajat. Oleh karena itu, seorang lelaki dari kabilah Quraisy (Qurasyi) dan dari Bani Hasyim (Hasyimi) boleh menikah dengan seorang perempuan dari Bani Tamim dan Qahthan, atau selain keduanya. Demikian pula sebaliknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, yang merupakan seorang dari Bani Hasyim yang paling mulia, menikah dengan Zainab bintu Jahsyin dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zainab bukanlah dari suku Quraisy. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Hafshah bintu Umar, Juwairiyah bintu al-Harits, Saudah bintu Zam’ah, Ummu Salamah dan Aisyah, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, semuanya bukan dari kalangan Bani Hasyim. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi Shafiyah bintu Huyai, seorang keturunan Bani Israil.

Umar ibnu al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menikahi Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal Umar dari Bani ‘Adi sedangkan Ummu Kultsum dari Bani Hasyim.

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menikah dengan dua putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam , secara berurutan yang satu setelah meninggal yang lain, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Utsman dari Bani Umayyah sementara dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas dari Bani Hasyim.

Kenyataan seperti ini banyak sekali (menikah dengan kabilah yang berbeda). Semua ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau g adalah orang-orang yang tidak lagi memedulikan urusan nasab ketika urusan agama telah lurus.

Termasuk bukti yang menunjukkan akan hal ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Usamah bintu Zaid radhiallahu ‘anhu dengan Fathimah bintu Qais, seorang perempuan dari suku Quraisy. Padahal, Usamah adalah seorang bekas budak dari Bani Kalb.

Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams radhiallahu ‘anhu menikahkan putri saudara lelakinya (keponakannya) dengan bekas budaknya yang bernama Salim, padahal keponakannya dari suku Quraisy, sedangkan Salim seorang mantan budak.

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan al-Asy’ats bin Qais. Abu Bakr dari Bani Tamim dari suku Quraisy, sedangkan al-Asy’ats dari Bani Kindah (al-Kindi).

Abdur rahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal bin Rabah, sang muazin, padahal saudarinya adalah Zuhriyah Quraisyiyah sedangkan Bilal seorang Habasyi (dari Afrika).

Semua ini menunjukkan kepada pencari ilmu tentang bolehnya pernikahan dengan selain kabilahnya jika memang urusan agama sudah lurus. Dalil dan kenyataan yang disebutkan di atas kiranya mencukupi, insya Allah.” (Fatwa ini disampaikan Samahatusy Syaikh tatkala beliau masih menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah. Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, hlm. 401—403)

Seseorang hanyalah istimewa dengan takwa. Maka dari itu,ketika memilih pasangan ataupun memilihkan pasangan untuk orang lain, utamakan takwa, setelahnya baru mempertimbangkan hal lain. Tidak boleh menganggap remeh urusan agama si calon. Periksalah, apakah dia seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan menjalankan rukun-rukun Islam yang lain? Apakah dia seorang yang selalu berupaya meninggalkan kemaksiatan? Apakah dia seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, suka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai kebaikan lainnya?

Seseorang yang mengesampingkan perkara agama dalam urusan ini menunjukkan bahwa dia seorang yang lemah agamanya, lemah keimanannya, dan sedikit takwanya.

Para wali yang mengurusi perempuan mereka, baik putri, saudara perempuan, maupun keponakan perempuan, hendaknya mengedepankan kesalihan seorang lelaki yang meminang perempuan mereka.

Apabila si perempuan ridha terhadap lelaki yang datang, tanpa ada cela pada agama dan akhlak si lelaki, wali wajib menikahkannya, walaupun si lelaki bukan dari kasta atau “kelas” yang sama dengan mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Wali tidak boleh memaksa seorang perempuan untuk menikah dengan lelaki pilihan walinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Anak gadis tidak boleh dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, tidak ada kehinaan bagi seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan. Tidak ada kerendahan bagi seorang Arab ketika menikah dengan non-Arab. Tidak ada cela satu suku menikah dengan suku yang berbeda. Manusia semuanya sama, anak keturunan Adam q. Yang membuatmu istimewa hanyalah karena takwa. Karena takwa pula engkau pantas diutamakan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Ketika Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha selesai dari iddahnya, datanglah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm melamarnya. Fathimah menyampaikan perihal lamaran tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam guna meminta bimbingan beliau. Beliau menasihatkan, “Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sementara itu, Muawiyah seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid….” (HR. Muslim)

[2] Walaupun ada kebolehan bagi lelaki untuk menikah dengan perempuan dari kalangan ahlul kitab.

[3] Adapun jumhur ulama memandang bahwa selain agama maka nasab juga termasuk dalam kafa’ah. (Fathul Bari, 9/166)

Untuk Pendamba Bahagia

Siapa gerangan yang tak ingin berbahagia dalam hidup ini? Tentu kita sepakat menjawab, “Tidak ada seorang pun.” Ya, semua pasti mendamba yang namanya bahagia.

Insan yang menjalin rumah tangga pun ingin meraih bahagia. Pengantin barukah atau pengantin lama, tidak ada beda dalam keinginan yang satu ini. Namun kenyataan yang ada walau semua ingin beroleh bahagia, ada yang berhasil meraihnya dan banyak pula yang gagal. Dalam kehidupan rumah tangga pula, tidak semua sukses meraih bahagianya. Awalnya saja bahagia, setelah waktu berlalu, entah ke mana raibnya bahagia itu….?

Ambisi meraih bahagia dalam hidup ini tidaklah tercela dan tidak pula seseorang disalahkan ketika menempuh sebab-sebab bahagia, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat. Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, menyampaikan hadits yang agung dari sang junjungan shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ باِللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَ لكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah. Pada semuanya ada kebaikan. Berambisilah untuk beroleh apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta jangan kamu merasa lemah.

Jika menimpamu sesuatu, janganlah kamu berkata, “Seandainya aku melakukan ini dan itu niscaya akan begini dan begitu.” Akan tetapi katakanlah, “Qadarullah wa masya’a fa’ala (Ini adalah ketetapan takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),” karena kalimat ‘lau’ (seandainya) itu membuka perbuatan setan. (HR. Muslim)

Yang tercela hanyalah bila seseorang berambisi terhadap sesuatu yang bermudarat dengan kebodohannya dan buruk sangkanya, sementara dia yakin upayanya itu merupakan kebahagiaan. Padahal sejatinya merupakan kesengsaraan walaupun ada nikmat sesaat yang dirasa. Seperti seseorang yang mencari kebahagiaan dengan menghisap obat-obat terlarang. Disangkanya apa yang dihisapnya adalah obat bahagia padahal racun yang membunuh bahagianya.

Banyak manusia yang keadaannya seperti itu. Mereka mencari kebahagiaan namun tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh dan tidak mengerti pintu mana yang harus diketuk. Jadilah mereka berdiri dalam keadaan bimbang, ke sana kemari, atau berjalan serampangan menuju kebahagiaan semu, hingga datanglah suatu hari yang mereka meratap di dalamnya:

قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ١٠٦

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (al-Mukminun: 106)

Ada manusia yang menganggap kebahagiaan itu terletak pada materi. Mereka pun berlomba-lomba mengumpulkannya karena disangka sumber bahagia. Ada yang mencari bahagia dalam jabatan, kedudukan, dan kekuasaan hingga mereka rakus untuk menggapainya. Segala cara ditempuh tanpa peduli halal atau haram. Ada yang memandang kebahagiaan itu dengan memuaskan syahwat perut dan kemaluan. Apa saja yang dituntut oleh perut dan kemaluan diturutinya karena disangkanya kebahagiaan ada di situ. Semua yang telah disebutkan tidak lain hanyalah kesenangan dalam kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Lalu apa sebenarnya bahagia itu? Benarkah kebahagiaan hanya dimiliki orang berduit, berkedudukan, dan terkenal serta bisa mendapatkan apa saja yang dimaui? Bagaimana dengan orang-orang miskin, tidak punya apaapa, tidak kedudukan, tidak pula jabatan, apakah mereka tidak bisa berbahagia?

Anda, wahai pendamba bahagia dalam rumah tangga, kebahagiaan apakah yang Anda cari dalam kehidupan rumah tangga?

Seperti yang telah disinggung di atas, Anda jangan mematok kebahagiaan itu hanya dalam pandangan materi. Namun, lihatlah bahagia itu dengan makna yang lain yang lebih mendalam dan jauh ke depan, kebahagiaan yang sebenarnya! Jadi, walaupun rumah tangga Anda sulit ekonominya misalnya, Anda dan pasangan bisa tetap berbahagia.

Anda belum dapat keturunan dalam kebersamaan Anda dengan pasangan sehingga Anda tidak merasa bahagia?

Oh… jangan demikian. Anda tetap bisa berbahagia bila Anda menyadari tentang keadilan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Anda tidak berbahagia karena tidak dicintai atau tidak bisa mencintai pasangan Anda? Rumah tangga Anda banyak masalah sehingga jauh dari kebahagiaan?

Semua ini telah diberikan solusinya oleh Islam, tinggal Anda mau mencarinya atau tidak, mau mempelajarinya ataukah tidak. Sungguh, dengan belajar Islam yang haq kemudian diamalkan, hati menjadi lapang. Persoalan dapat dicarikan solusinya hingga kebahagiaan pun lebih dekat.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Apabila Anda ingin mengetahui tanda-tanda seseorang telah benar langkahnya dalam menempuh jalan orang-orang yang berbahagia, renungkanlah ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid (hlm. 400) berikut.

“Di antara tanda kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat tawadhu (rendah hati kepada sesama), dan kasih sayangnya. Semakin bertambah umurnya, berkuranglah ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya, dan kegemarannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kedekatannya dengan orang-orang, semakin bersemangat memenuhi kebutuhan mereka dan rendah hati terhadap mereka.

Sementara itu, di antara tanda kesengsaraan dan kecelakaan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat sombongnya. Semakin bertambah amalnya, bertambah congkaknya, merendahkan manusia, dan berbaik sangka kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya, bertambah pula ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kikirnya dan keengganannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kesombongannya.

Ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia timpakan atas para hamba, maka ada orang-orang yang berbahagia dengannya dan ada yang sengsara karenanya.”

Kesimpulan dari apa yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mana kala ditambah nikmat untuknya, maka dihadapinya nikmat tadi dengan amalan kebaikan.

Dalam kitab lain, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kenikmatan kepadanya, maka dia bersyukur. Jika dia diberikan ujian, dia pun bersabar. Jika dia berbuat dosa, dia memohon ampun. Tiga perkara ini (syukur, sabar, dan istighfar) merupakan alamat kebahagiaan hamba dan tanda kesuksesannya di dunia dan di akhirat. Tidak bisa seorang hamba terlepas darinya selama-lamanya. Senantiasa dia berbolak-balik di antara tiga tingkatan ini.” (al-Wabil ash-Shayib, hlm. 11)

Kesimpulannya, orang yang benar-benar bahagia adalah yang bersyukur ketika mendapat tambahan nikmat dan bersabar saat hilang nikmat. Dia menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai sebagai bentuk rasa syukur dan enggan menggunakan nikmat dalam urusan maksiat kepada Sang Pemberi nikmat.

Dia adalah orang yang suka kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala (inabah), bertobat dari seluruh dosa, enggan menceburkan diri dalam maksiat walaupun di dalamnya ada kenikmatan dan kelezatan sesaat.

Karena itu, Anda yang mendamba kebahagiaan sejati dalam rumah tangga, jadikanlah kehidupan rumah tangga Anda beredar di antara syukur dan sabar, inabah (selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala) tobat dan istighfar, niscaya Anda akan dapati bahagia itu dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Walimah al-Urs

Setelah ijab qabul sepasang pengantin, biasanya karib kerabat, handai taulan, dan orang-orang di sekitar, diundang untuk jamuan makan. Acara makan-makan ini dikenal dengan walimah al-urs. Dalam semua pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diadakan walimah al-urs, kadang dengan jamuan daging dan pernah pula tanpa daging, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan saat itu.

Walimah pernikahan merupakan perkara yang disyariatkan dan seperti disebutkan di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu untuk mengadakan walimah atas pernikahannya dengan seorang wanita Anshar. Berikut ini kisahnya dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

Suatu hari Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tampak bekas wewangian wanita berwarna kuning kemerah-merahan pada pakaiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum tahu bahwa Abdurrahman telah menikah bertanya heran, “Ada apa denganmu?” atau “Wewangian apa ini?”

Abdurrahman pun menjelaskan, “Wahai Rasulullah, saya telah menikah dengan seorang wanita Anshar. “

“Apa mahar yang engkau berikan?” tanya Rasulullah.

“Emas seberat biji kurma,” jawab Abdurrahman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendoakan keberkahan untuknya dan mengatakan,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dalam Shahihnya)

Ada pula perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang menikahi Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buraidah ibnul Hushaib radhiallahu ‘anhu berkisah sebagai berikut.

Sejumlah orang Anshar berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Lamarlah Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mengikuti saran orang-orang Anshar, Ali pun memberanikan diri mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah bertanya, “Apa keperluanmu, wahai Ali?”

Ali menjawab, “Aku menginginkan Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Marhaban wa ahlan,” kata Rasulullah, tidak menambah selain ucapan tersebut.

Ali bin Abi Thalib lalu keluar dari rumah beliau dan menemui sekelompok orang-orang Anshar yang tengah menantinya. “Bagaimana hasilnya?” tanya mereka penasaran.

“Aku tidak tahu, Rasulullah hanya berkata, ‘Marhaban wa ahlan’,” jawab Ali.

Mereka berkata, “Sudah cukup bagimu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satu dari keduanya. Beliau memberimu al-ahl dan al-marhab.”

Setelah berlalu beberapa waktu dan Ali telah menikahi Fathimah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَلِيُّ، إِنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْعَرُوْسِ مِنْ وَلِيْمَةٍ

“Wahai Ali, harus diadakan walimah untuk pengantin.”

Sa’d berkata menawarkan bantuannya, “Saya punya domba (bisa disembelih untuk hidangan walimah).” Sekelompok orang Anshar ikut membantu Ali. Mereka mengumpulkan beberapa sha’ dzarrah.

Pada malam pengantin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Ali, “Jangan kamu melakukan apa-apa sampai kamu menemuiku.” Kemudian Rasulullah meminta diambi lkan air dalam wadah, lalu beliau berwudhu dalam wadah tersebut. Setelahnya beliau mencurahkan air bekas wudhu beliau ke tubuh Ali dan berdoa[1],

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا وَبَارِكْ لَهُمَا فِي بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah dalam pernikahan keduanya, dan berkahilah keduanya dalam malam pengantin keduanya.”[2]

Boleh Walimah Tanpa Hidangan Daging

Hidangan makanan berupa daging memang lazim kita jumpai dalam jamuan walimah. Bisa jadi, kita akan heran saat menghadiri walimah tanpa ada daging yang disajikan. Padahal yang punya hajat boleh menyajikan makanan apa pun sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana disinggung di atas, pernah mengadakan walimah tanpa daging. Berikut ini kisahnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah selama tiga malam di sebuah tempat yang terletak antara Khaibar dan Madinah guna berpengantinan dengan Shafiyah bintu Huyai. Aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah beliau. Dalam jamuan walimah tersebut tidak ada roti, tidak pula daging. Di atas tanah dibentangkan alas dari kulit yang telah disamak, lalu disajikan di atasnya kurma, keju, dan minyak samin. Orang-orang yang hadir pun kenyang dengan hidangan yang ada.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Hidangan Walimah Boleh Dibantu Orang Lain

Hidangan walimah tidak harus ditanggung sendiri oleh yang punya hajat. Bahkan, disenangi bagi orang-orang yang memiliki kelapangan untuk membantu menyiapkan hidangan apabila yang punya hajat memang tidak mampu.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ali radhiallahu ‘anhu yang telah dibawakan di atas dan hadits Anas radhiallahu ‘anhu tentang kisah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Shafiyah bintu Huyai. Saat dibentangkan di atas tanah hamparan dari kulit, diumumkanlah, “Siapa yang memiliki kelebihan makanan, hendaknya dia mendatangkannya ke kami.”

Berdatanganlah orang membawa keju, membawa kurma, dan membawa minyak samin….”

Sunnah dalam Walimah

Ada beberapa bimbingan sunnah yang perlu diperhatikan oleh yang mengadakan walimah, di antaranya:

  1. Walimah diadakan tiga hari setelah dukhul (masuk dan bertemunya pengantin lelaki dengan perempuan).

Demikian yang ternukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Shafiyah, diadakan walimah pada hari ketiga. (HR . Abu Ya’la)[3]

  1. Mengundang orang-orang saleh dalam jamuan walimah, tanpa membedakan dia miskin atau kaya. Sebab, Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah kamu berteman kecuali dengan seorang mukmin. Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR . Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll.)[4]

Haram hukumnya apabila dalam walimah hanya diundang orang-orang kaya dan meninggalkan orang-orang miskin. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيمنعهَا الْمَسَاكِي

“Hidangan yang paling buruk adalah hidangan walimah yang di dalam jamuannya hanya diundang orang-orang kaya, dan orang-orang miskin terhalangi menikmatinya (tidak diundang).” (HR . Muslim dalam Shahihnya)

  1. Hidangan walimah dengan seekor kambing atau lebih kalau memang ada kelapangan.

Haditsnya jelas tentang kisah pernikahan Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu yang telah dibawakan di atas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

           “Adakanlah walimah, walaupun hanya dengan seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dalam Shahihnya)

Ada lagi hadits lain yang menunjukkan hal ini. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang selalu dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau adalah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kembali menyampaikannya kepada kita,

مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ أَوْلَمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ، فَإِنَّهُ ذَبَحَ شَاةً.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidangkan makanan walimah atas pernikahannya dengan seorang pun dari istri-istri beliau sebagaimana hidangan walimah yang beliau sajikan saat menikahi Zainab bintu Jahsy[5]. Saat itu beliau menyembelih seekor kambing.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

Pengantin Melayani Hadirin

Biasanya dalam acara walimah, pengantin duduk manis di pelaminannya. Pengantin perempuan di tempat khusus para wanita dan pengantin lelaki di tempat para lelaki[6]. Namun, tidak ada larangan pengantin ikut melayani tamu undangan, seperti mengambilkan piring, menuangkan air minum, dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh istri Abu Usaid as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu. Saat walimahnya yang dihadiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sendiri yang membuatkan makanan walimah dan dia pula yang menghidangkannya. (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

cincin

“Cincin Kawin” dalam Catatan

Ada beberapa kebiasaan menyimpang yang kerap terjadi di tengah kita dalam pesta pernikahan, di antaranya apa yang disebut cincin kawin.

Dalam acara pernikahan, biasanya pengantin lelaki bertukar cincin dengan pengantin perempuan. Lalu cincin itu dikenakan di jari kelingking pengantin. Padahal kebiasaan ini bukanlah dari Islam, melainkan dari agama Nasrani. Sementara itu, kita—orang Islam— dilarang menyerupai orang-orang kafir, termasuk Nasrani, dalam kebiasaan mereka yang khusus.

Selain jatuh dalam perbuatan tasyabbuh, pemakaian cincin ini juga ada yang memaksudkan untuk mengikat cinta di antara suami istri, suami mencintai istrinya dan istri mencintai suaminya. Hal ini adalah bentuk kesyirikan karena pemakaian cincin bukanlah sebab syar’i untuk mengikat cinta dan bukan pula sebab qadari. Maksudnya, tidak ada hubungan sebab akibat yang dibenarkan oleh hukum syariat dan hukum alam, antara memakai cincin kawin dan rasa cinta.

Ada anggapan bahwa selama cincin itu dikenakan oleh suami berarti pernikahannya dengan istrinya tetap terjaga. Sebaliknya apabila suami melepaskan cincin kawin berarti ada sesuatu dalam pernikahannya. Apabila sampai niat dan keyakinan seperti ini ada pada si pemakai, jelas hukumnya syirik ashghar. Namun, apabila tanpa keyakinan demikian, dia hanya sekedar memakai karena tradisi di masyarakatnya, dia jatuh dalam perbuatan tasyabbuh.

Ada lagi satu kemungkaran cincin kawin tersebut, yaitu apabila cincin terbuat dari emas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang lelaki memakai cincin dari emas, sebagaimana hadits berikut ini,

نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai cincin emas.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya) (Lihat al-Qaul al-Mufid Syarhu Kitab at-Tauhid, 1/78)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Doa lain untuk pengantin adalah,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

[2] Lihat kitab Adab az-Zafaf, hlm. 175, karya al-Imam al-Albani.

HR Ahmad 5/359, dll. Kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tentang sanadnya dalam Fathul Bari, “La ba’sa bih.” Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, dalam catatan kaki Adabuz Zafaf hlm. 145, “Rijalnya tsiqat, rijal al-Imam Muslim, selain Abdul Karim. Sejumlah orang-orang tsiqat meriwayatkan darinya, Ibnu Hibban membawakannya dalam kitabnya ats-Tsiqat, 2/183.”

Kata al-Hafizh dalam at-Taqrib, “Dia maqbul/diterima.”

Kisah lengkapnya diriwayatkan oleh Ibnu Sa`d (8/20—21), ath-Thabarani dalam al-Kabir (1/112/1) dengan sanad hasan, dan Ibnu Asakir (12/88/2).

[3] Sanadnya hasan sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari (9/199) dan secara makna ada dalam Shahih al-Bukhari.

[4] Al-Hakim berkata, “Sahih sanadnya”, dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat catatan kaki Adab az-Zafaf.

[5] Saat menikah dengan Zainab, hidangan walimahnya lebih istimewa.

[6] Harus dipisah tamu lelaki dan perempuan di tempat masing-masing agar tidak terjadi ikthilath yang diharamkan. Pengantin lelaki tentu tidak boleh didudukkan di ruang khusus para wanita.

Cinta Bukan Kuasa Kita

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Perkara yang paling disenangi oleh Iblis dan bala tentaranya adalah memisahkan orang-orang yang saling mencintai.

 Mawaddah

Cinta itu datang dari dalam kalbu. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya. Suami istri dalam ikatan pernikahan yang sah bisa saling mencinta karena Dia Yang Mahakuasa yang menumbuhkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari diri-diri kalian agar kalian merasa tenang kepadanya dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang….” (ar-Rum: 21)

Cinta bukanlah kuasa kita, melainkan anugerah-Nya semata. Maka dari itu, tidak salah kalau dikatakan, cinta itu tak dapat dipaksakan, walaupun kita bisa belajar untuk mencinta dan dicinta. Seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri (berpoligami) tidak bisa disalahkan manakala dia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain. Dia tidak mungkin kuasa menyamakan cinta dan berlaku adil di dalamnya karena ini di luar kemampuannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan, sangat berlaku adil di antara istri-istri beliau dalam perkara yang tampak. Namun, bukan rahasia bahwa cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang istrinya yang bernama Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma melebihi cinta beliau kepada istri-istri yang lain.

Amr Ibnul Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku memimpin sebuah pasukan. Di antara anggota pasukan ada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Ketika pulang dari memimpin pasukan tersebut, aku bertanya kepada beliau,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ: وَمَا تُرِيْدُ؟ قُلْتُ: أُحِبُّ أَنْ أَعْلَمَ. قَالَ: عَائِشَةُ. قُلْتُ: إِنَّمَا أَعْنِي مِنَ الرِّجَالِ. قَالَ: أَبُوْهَا

‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling Anda cintai?’

Beliau balik bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan?’

‘Saya ingin sekali mengetahuinya,’ jawabku.

‘Aisyah,’ kata beliau.

‘Maksud saya dari kalangan lelaki,’ kataku menjelaskan.

‘Ayah Aisyah,’ tukas beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Fathimah radhiallahu ‘anha , putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sebab, mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya[1].

Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang sedang berbaring bersama ‘Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan.

Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam hal putri Abu Quhafah (yakni ‘Aisyah)”[2].

‘Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap,

أَلَسْتِ تُحِبِّيْنَ مَا أُحِبُّ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَأَحِبِّي هَذِهِ

Wahai putriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Ya.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu cintailah dia ini (Aisyah).” (HR. Muslim)

Pernah Anda dengar kisah Barirah dan suaminya, Mughits?

Setelah Barirah merdeka dari perbudakan, sementara suaminya masih berstatus budak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada Barirah, apakah meneruskan pernikahannya atau mengakhirinya. Barirah akhirnya memilih lepas dari Mughits. Ketika itu, tampaklah Mughits berjalan di belakang Barirah, mantan istrinya, dalam keadaan air mata Mughits berlinang membasahi kedua pipinya, menangisi perpisahan mereka.

Melihat hal tersebut, bersabdalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيْثٍ بَرِيْرَةَ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةَ مُغِيْثًا؟ ثُمَّ قَالَ لَهَا: لَوْ رَاجَعْتِهِ. فَقَالَتْ: أَتَأْمُرُنِي؟ فَقَالَ: إِنَّمَا أَنَا شَافِعٌ قَالَتْ: لاَ حَاجَةَ لِي فِيْهِ

“Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub melihat cinta Mughits kepada Barirah, dan kebencian Barirah kepada Mughits?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah, “Seandainya engkau mau kembali kepada Mughits.”

“Apakah Anda memerintah saya untuk berbuat demikian?” tanya Barirah.

“Saya hanya pemberi syafaat,” jawab beliau.

“Saya tidak berminat kepadanya,” kata Barirah. (HR. al-Bukhari)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan komentar terhadap hadits Barirah di atas, “Ini adalah syafaat dari pemuka para pemberi syafaat untuk orang yang mencinta kepada orang yang dicintainya. Ini adalah syafaat yang paling utama dan paling besar pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, syafaat ini mengandung penyatuan orang-orang yang bercinta di atas apa yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya cintai (cinta dalam pernikahan).

Oleh sebab itu, perkara yang paling disenangi oleh Iblis dan bala tentaranya adalah memisahkan orang-orang yang saling mencintai.” (Raudhah al-Muhibbin)

Hal ini sebagaimana berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ.

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengirim tentara-tentaranya. Yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.

Salah seorang dari mereka datang seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.”

Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.”

Datang lagi yang lain seraya berkata, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.”

Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut kepadanya dan memujinya dengan berkata, “Ya, engkaulah.” (HR. Muslim)

Ketik ada seorang lelaki mengadukan istrinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa istrinya ‘tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya’, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

طَلِّقْها .قَالَ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي.فَقَالَ: اسْتَمْتِعْ بِهَا.

“Kalau begitu, ceraikan istrimu tersebut.”

Si lelaki menjawab, “Aku khawatir jiwaku akan terus-menerus mengikutinya.”[3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, bersenang-senanglah dengannya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dll.)

Dalam riwayat lain ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh si lelaki menceraikan istrinya, dia menjawab, “Saya tidak bisa bersabar (berpisah) darinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyarankan, “Kalau begitu tahanlah istrimu (tidak dicerai).” (Din yatakan sahih sanadnya oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang si lelaki mencintai istrinya padahal keadaan istrinya demikian. Sebab, cintanya tersebut bukan kuasa dia.”

Terkait dengan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar si lelaki tetap mempertahankan istrinya, tidak menceraikannya, sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menolak mafsadat (kerusakan) yang lebih besar yang akan timbul dengan melakukan mafsadat yang lebih ringan.

Ketika si lelaki mengadu bahwa dia tidak bisa bersabar bila berpisah dengan istrinya dan bisa jadi cintanya akan menyeretnya kepada maksiat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan si lelaki untuk tetap mempertahankan istrinya guna menjaga rasa dalam kalbunya dan mencegah mafsadat yang dikhawatirkannya. Walaupun dia terpaksa menanggung mafsadat yang diadukannya, yaitu istrinya tidak menolak tangan lelaki yang menyentuhnya.

Banyak tafsiran tentang makna ‘tidak menolak tangan lelaki yang menyentuh’ ini. Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah sebagai berikut. Si lelaki tidaklah mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa istrinya berzina dengan setiap lelaki yang menginginkannya. Sebab, kalau itu yang diadukannya, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menyuruhnya mempertahankan perempuan yang suka berzina. Selain itu, berarti si lelaki adalah dayyuts[4], karena membiarkan istrinya berzina.

Namun, yang diadukan oleh si lelaki adalah istrinya tidak menarik jiwanya dari orang yang menggodanya (tidak tegas), membiarkan tangan lelaki mencoleknya, menarik bajunya, dan yang semisalnya. Sebab, ada perempuan yang lemah lembut ketika berbicara dengan lelaki, suka bercanda, dan semisalnya; dalam keadaan dia menjaga diri dan menolak ketika ada yang mengajaknya berzina.[5] (Raudhah al-Muhibbin, hlm. 130)

Cinta adalah anugerah, telah kita maklumi. Namun, alasan ini tidak berarti seseorang menganggap sah-sah saja mencintai lawan jenis di luar pernikahan, toh cinta itu datang sendiri, Allah subhanahu wa ta’ala yang memberi. Sungguh ini hias-hiasan syaitan.

Mengapa? Karena cinta lawan jenis yang Allah subhanahu wa ta’ala perkenankan dan ridhai hanyalah cinta yang tumbuh dalam ikatan pernikahan yang sah. Adapun di luar itu adalah percintaan yang diharamkan oleh syariat.

Ketahuilah, di antara sumber datangnya cinta terhadap lawan jenis adalah pandangan yang terus-menerus. Satu pandangan diikuti oleh pandangan berikutnya, dan seterusnya. Demikian pula ikhtilath, campur baur lelaki perempuan yang bukan mahram tanpa ada pemisah.

Karena khawatir menjerumuskan dalam cinta yang terlarang, syariat mengharamkan segala perantara yang mengantarkan kepadanya, di antaranya melarang memandang lawan jenis yang tidak halal untuk dipandang. Apabila tidak sengaja, pandangan harus segera dipalingkan. Di samping itu, syariat melarang ikhtilath lelaki dan perempuan yang bukan mahram.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Kalian tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara para istri walaupun kalian sangat ingin untuk berlaku adil.(an-Nisa: 129)

[2] Mereka meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan di antara mereka dalam hal cinta. (Syarhu Shahih Muslim, 15/205)

‘Abidah as-Salmani rahimahullah mengatakan, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.”

Namun, apabila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam hal jima’, itu lebih baik dan lebih utama. (al-Mughni, 7/35)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang suami tidak boleh melebihkan salah seorang istrinya dalam hal pembagian. Akan tetapi, apabila ia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain, begitu pula ia menggaulinya lebih dari yang lain, tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269)

[3] Karena sangat mencintainya, sebagaimana pengakuan si suami dalam riwayat lain, “Saya memiliki istri, dia adalah orang yang paling saya cintai.”

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dayyuts ini,

ثَلاَثٌ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوْثُ الَّذِي يُقِرُّ الْخَبَثَ فِي أَهْلِهِ.

“Ada tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan surga atas mereka, yaitu; pecandu khamr (miras), anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kemaksiatan pada keluarganya.” (Hadits ini dinyatakan hasan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2512)

[5] Intinya, si istri tidak sampai berzina sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memperkenankan si suami untuk mempertahankan pernikahannya. Seandainya si istri berzina, tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan demikian. Sebab, perempuan pezina hanya untuk lelaki pezina, sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an.

Tidak Mau Menikah Setelah Suami Meninggal

Semula tak saling kenal. Tak pernah bersua apatah lagi bertegur sapa. Namun, tatkala ikatan sah telah dijalin kuat, pandangan halal saling bertaut, dua hati pun bertemu dan menyatu. Timbullah sebuah rasa yang sebelumnya tak pernah ada. Itulah mawaddah, mahabbah, dan ithmi’nan (tenang dan tenteram) anugerah Ilahi.

Seolah keduanya telah saling kenal sejak lama.

 dua-bunga

Demikianlah pengaruh rahmat Allah ‘azza wa jalla terhadap hamba-hamba-Nya dan sebagian tanda kekuasaan-Nya, penunjuk rububiyah-Nya yang sempurna, sebagaimana firman-Nya,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari diri-diri kalian, agar kalian merasakan ketenangan kepadanya dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah.” (ar-Rum: 21)

Mawaddah dan mahabbah—yang secara bebas kita artikan ‘rasa cinta’—di antara keduanya terkadang demikian mendalam. Sampai-sampai ketika ajal harus memisahkan keduanya, yang ditinggal enggan untuk menikah lagi selamanya sebagai pembuktian kesetiaan kepada pasangannya dan tak ingin membuka hati untuk cinta yang baru.

Perlu kita ketahui, agama Islam tidak menghendaki pemeluknya memilih hidup sendiri selama-lamanya tanpa pasangan. Islam justru mendorong terjadinya pernikahan guna menjaga kehormatan lelaki dan perempuan. Dengan banyaknya pernikahan, akan langgenglah kehidupan di muka bumi karena keturunan anak manusia seharusnya hanya terlahir lewat akad sah yang bernama pernikahan.

Semestinya, ketika seseorang menduda atau menjanda lantas merasa perlu untuk menikah, dia tidak menahan dirinya. Seorang istri yang “ditinggal” suaminya dan telah mengakhiri masa iddah dan ihdadnya, tidak perlu disalahkan dengan keputusannya untuk ‘melangkah ke pelaminan’, apabila memang lelaki yang datang melamar dipandang cocok dan sesuai untuknya. Ini bukanlah bentuk pengkhianatan kepada suami yang telah meninggal.

Sebab, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya lantas menahan diri untuk menikah karena ingin mengurus anak-anak yatimnya, bukan sebuah persyaratan yang diharuskan. Ketika di belakang hari dia merasa butuh menikah atau menganggap sudah saatnya untuk menikah sehingga dia pun menikah, keputusan menikah ini tidaklah dicela. Tidaklah dikatakan dia telah melakukan sesuatu yang terlarang.

Dengan demikian, seorang istri yang menjanda bisa melakukan apa yang dipandangnya ada kebaikan dan kemaslahatan baginya. Kalau yang lebih maslahat baginya adalah menikah, hendaknya dia menikah. Apalagi ketika dia membutuhkannya, tidak boleh ada seorang pun yang menahannya, walaupun ada anak-anak yatim dari suaminya yang telah meninggal dunia.

Namun, kalau dia memandang yang maslahat adalah tidak menikah agar bisa konsentrasi penuh memberikan perhatian, pendidikan, dan pengajaran kepada anak-anaknya, itu adalah haknya. Apalagi dia ingin beroleh keutamaan memelihara anak yatim sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْم فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ. وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ يَعْنِي السَّبَابَة وَالْوُسْطى.

“Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga nanti seperti ini.” Beliau memberi isyarat dengan dua jari: telunjuk dan jari tengah. (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam Shahih at-Tirmidzi dan ash-Shahihah no. 800)

Apabila dia memandang bahwa menikah lagi akan menghalangi dirinya dari keutamaan yang besar tersebut, lalu dia memutuskan untuk tidak menikah, itu adalah haknya pula.

Demikian pula ketika dia tidak ingin menikah lagi karena berharap bisa berkumpul bersama suaminya kelak di surga. Sebab, seorang muslimah yang memiliki beberapa suami saat di dunia, apabila dia dan semua suaminya masuk surga di akhirat kelak, Allah ‘azza wa jalla mengumpulkannya bersama suaminya yang terakhir.

Ketika Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu meminang Ummud Darda setelah wafat Abud Darda radhiallahu ‘anhu, berkatalah Ummud Darda radhiallahu ‘anha, “Aku pernah mendengar Abud Darda radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا, فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ لآخِرِ أَزْوَاجِهَا.

‘Istri mana saja yang wafat suaminya, lalu menikah lagi sepeninggal suaminya, dia bersama suaminya yang terakhir.’

“Dalam hal ini, aku tidak ingin mengutamakanmu dari Abud Darda[1].”

Muawiyah lalu mengirim surat kepada Ummud Darda berisi pesan, “Hendaknya engkau banyak puasa karena puasa adalah pemutus (syahwat).” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 3/275, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1281)

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada istrinya, “Apabila engkau suka menjadi istriku di surga jika kelak Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita di sana, janganlah engkau menikah sepeninggalku[2]. Sebab, perempuan itu di surga adalah milik suaminya yang terakhir di dunia. Karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga kelak.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan, 7/69—70. Perawinya tsiqah seandainya tidak ada ‘an’anah dan ikhtilathnya Abu Ishaq as-Sabi’i, demikian kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah, 3/277)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Disarikan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari Lin Nisa’ Ahkam wa Adab Syarh al-Arba’in an-Nisa’iyah, Muhammad Syakir asy-Syarif, hlm. 215—223, Dar Thaybah, Riyadh, cet. pertama)


[1] Ummud Darda memilih untuk tetap menjadi istri Abud Darda di surga nanti.

[2] Hudzaifah tidaklah mempersyaratkan kepada istrinya untuk tidak menikah sepeninggalnya, namun dia memberikan pilihan, sebagaimana tampak dalam kalimatnya, “Bila kamu suka menjadi istriku di surga….

Jangan Mudah Minta Cerai!

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

208990_gelas-pecah_663_382

Ikatan suami istri merupakan pertalian yang tidak ada duanya dan tidak ada yang menyamainya. Karena kedua belah pihak masing-masing leluasa tanpa batas melihat diri pasangannya. Ibarat mereka adalah dua jiwa yang seolah melebur jadi satu, yang hal ini tidak didapatkan dalam hubungan yang lain. Karenanya memang tepat bila dikatakan, tidak ada hubungan yang dapat menandingi hubungan pernikahan.

Dalam jalinan pernikahan, terlihat dengan jelas fisik dan akhlak kedua belah pihak oleh pasangannya tanpa bisa ditutup-tutupi. Semua ini pada akhirnya dapat mengantarkan kepada rasa cinta atau bahkan sebaliknya muncul rasa tidak suka. Keduanya pada akhirnya semakin lekat atau justru menjauh. Berdasar rasa tersebut, timbul keinginan kuat untuk tetap menjaga kelanggengan hubungan nikah atau sebaliknya, terbetik keinginan untuk mengakhirinya.

Namun perlu dicamkan, mempertahankan sebuah pernikahan merupakan perkara yang diharapkan oleh syariat. Karena menguraikannya bisa berdampak banyak madarat.

Hanya saja kebersamaan suami istri memang tidak bisa lepas dari satu atau sekian hal yang mengeruhkan kemurniannya. Sebab, kecocokan dan kesesuaian tidak bisa sempurna dalam banyak sisi, hanya di surgalah didapatkan Ikatan suami istri merupakan pertalian yang tidak ada duanya dan tidak ada yang menyamainya. Karena kedua belah pihak masing-masing leluasa tanpa batas melihat diri pasangannya. Ibarat mereka adalah dua jiwa yang seolah melebur jadi satu, yang hal ini tidak didapatkan dalam hubungan yang lain. Karenanya memang tepat bila dikatakan, tidak ada hubungan yang dapat menandingi hubungan pernikahan. tersebut dijadikan alasan, niscaya tidak tersisa satu pun ikatan nikah di dunia ini kecuali semuanya akan terurai.

Syariat membolehkan perpisahan manakala hidup bersama menjadi suatu kemustahilan dikarenakan adanya pertikaian yang tidak mungkin terselesaikan atau adanya kezalimanyang mengkhawatirkan tidak tertunaikannya hak dengan semestinya.

Mengakhiri Pernikahan

Kita ketahui bahwa ikatan pernikahan bisa terurai dengan dua cara.

  1. Dengan talak atau cerai

Suami menalak istrinya dengan mengucapkan perkataan yang dipahami sebagai talak. Saat dibolehkan talak adalah pada masa suci istri, tanpa pernah digauli sewaktu itu; atau pada saat istri sedang mengandung janinnya. Selama masa iddah (untuk talak raj’i), istri tetap tinggal serumah dengan suaminya karena statusnya tetap sebagai istri sampai selesainya masa iddah.

  1. Dengan khulu’

Istri melepaskan diri dari suaminya karena keinginan si istri, dengan memberi iwadh, semacam tebusan, kepada suaminya.

Khulu’ ini diperbolehkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ketika ada sebab. Dalam al-Qur’an, kita dapati penyebutannya dalam ayat berikut.

“Jika kalian khawatir keduanya (suami istri tersebut) tidak dapat menegakkan batasan-batasan atau hukum-hukum Allah, tidak ada dosa bagi keduanya terhadap tebusan yang diberikan istri kepada suaminya.” (al-Baqarah: 229)

Adapun dalam as-Sunnah, pada hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتٍ بْنِ قَيْسٍ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا أنْقَمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقٍ، إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ فَتَرِدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيْقَتَهُ؟ : فَقَالَتْ: نَعَمْ. فَردَّتْ عَلَيْهِ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا..

Istri Tsabit bin Qais bin Syammas radhiallahu ‘anha datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah mencela Tsabit pada agama dan tidak pula pada akhlaknya. Akan tetapi, aku khawatir jatuh dalam kekufuran.”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya kepadanya?”

Si wanita menjawab, “Ya.”

Dia pun mengembalikan kebun yang dimaksud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Tsabit radhiallahu ‘anhu untuk melepaskannya. (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya, Kitab ath-Thalaq)

Dalam satu riwayat, istri Tsabit radhiallahu ‘anha mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلَكِنِّي لاَ أُطِيْقُهُ

Maknanya, ‘Aku tidak sanggup hidup bersamanya’.

Dalam kasus khulu’, tebusan yang diberikan oleh si istri boleh diterima oleh si suami. Hanya saja dengan syarat khulu’ terjadi karena keinginan istri, bukan karena ada tindakan suami yang menyakiti dan memudaratkannya hingga dia terpaksa menebus dirinya agar terlepas dari suaminya yang zalim dan tidak mencintainya. Bila seperti ini, khulu’ tidak sah. (al-Mulakhkhash al-Fiqhi, Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/320)

Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Bila suami menyusahkan istrinya dan memudaratkannya dengan pukulan, menyempitkannya, menahan hak-haknya berupa nafkah, pembagian giliran (bila suami punya istri yang lain), dan semisalnya; dengan tujuan agar si istri menebus dirinya dan si istri memang melakukannya, maka khulu’seperti ini batil dan tebusan yang diberikan tertolak.” (al-Mughni)

Pensyariatan iwadh/tebusan dari istri memiliki hikmah yang agung. Di antaranya menjaga hak-hak para lelaki, menjaga keutuhan keluarga; karena istri tidak bermudah-mudah minta khulu’disebabkan ada konsekuensinya, yaitu mengembalikan pemberian suami. Seandainya khulu’ diperbolehkan tanpa iwadh, niscaya banyak wanita bersegera melakukannya walau karena permasalahan yang kecil yang terjadi antara dia dengan suami.

Istri Minta Cerai

Memutuskan perceraian atau menjatuhkan talak merupakan hak suami. Adapun istri tidak bisa mencerai suaminya. Namun, istri menuntut cerai biasa kita dengar. Bagaimanakah hukum masalah ini?

Datang ancaman yang keras dari penetap syariat terhadap istri yang  menuntut lepas dari ikatan nikah tanpa alasan yang diperbolehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الَجنَّةِ.

“Perempuan (istri) mana saja yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang diperkenankan, maka haram baginya mencium wangi surga.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 2226, at-Tirmidzi no. 1187, dan selain keduanya, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.)

Haram mencium wanginya surga di akhirat kelak, itulah sangsi yang diancamkan penetap syariat. Apakah si istri yang minta cerai tersebut tidak bisa mencium wangi surga pada waktu tertentu, atau dia tidak dapat mencium wangi surga pada awal pertama kali orang-orang yang berbuat baik dapat menciumnya, atau bahkan dia tidak dapat mencium wangi surga sama sekali. (Aunul Ma’bud, Kitab ath-Thalaq, Bab “Fil Khulu’”)

Tahukah Anda, surga itu sangat harum dan wanginya dapat tercium dari jarak yang sangat jauh? Bila demikian, amat merugi orang yang diharamkan mencium aroma wangi surga nan semerbak, wallahul musta’an.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kedatangan berita yang berisi tarhib (menakut-nakuti atau mengancam) istri yang minta cerai dari suaminya, dibawa kepada keadaan yang si istri minta cerai tanpa ada sebab yang menuntut hal tersebut.” (Fathul Bari, 9/314)

Lalu apakah yang dimaksud dengan ‘alasan yang tidak diperkenankan’ seperti tersebut dalam hadits, مَا بَأْسٍ غَيْرِ مِنْ? Yaitu, si istri meminta cerai bukan karena dia berada dalam suatu kesempitan atau kesulitan yang sangat yang memaksanya untuk meminta berpisah. (Tuhfah al-Ahwazi, Kitab ath-Thalaq, Bab “Ma Ja’a fi al-Mukhtali’at”)

Misalnya, dia tidak sanggup hidup dan bersabar bersama suaminya karena sifat fisik atau akhlak suami.

Seorang istri yang salihah tentunya tidak akan bermudah-mudah meminta cerai hanya karena suatu alasan yang sepele atau mengada-ada. Dalam berumah tangga dengan suaminya, dia berada di antara sifat syukur dan sabar. Kebaikan dan kelebihan suaminya dia syukuri. Adapun kekurangan yang diterimanya dalam berumah tangga, dia sabari. Tidaklah dia jadikan setiap permasalahan dengan suaminya sebagai alasan untuk minta cerai.

Bagaimana halnya dengan minta khulu’?

Ada hadits yang memperingatkan dari meminta khulu’, di antaranya hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Al-Mukhtali’at adalah munafik.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1186, dinyatakan sahihdalam ash-Shahih al-Jami’, 2/1133)

Yang dimaksud al-mukhtali’at adalah istri yang minta khulu’ dan minta cerai dari suami tanpa alasan yang diperkenankan. Mereka dikatakan munafik, yakni bermaksiat secara batin dan menampakkan ketaatan secara zahir.

Ath-Thibi rahimahullah mengatakan bahwa ucapan ini adalah bentuk mubalaghah, yang sangat ditekankan dari berbuat demikian. (Tuhfatul Ahwadzi)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengomentari, “Hal ini menunjukkan haramnya meminta khulu’ tanpa ada kebutuhan, karena akan memudaratkan dan suaminya, serta menghilangkan maslahat nikah tanpa ada kebutuhan.” (al-Mughni)

Kata Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, “Khulu’ hukumnya mubah (dibolehkan) bila terkumpul sebab-sebabnya yang diisyaratkan dalam ayat yang mulia2. Yaitu kekhawatiran sepasang suami istri bila keduanya mempertahankan pernikahan, niscaya keduanya tidak dapat menegakkan hudud/batasan yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan. Bila tidak ada kebutuhan untuk khulu’, maka dibenci, bahkan haram menurut sebagian ulama berdasar hadits,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الَجنَّةِ

“Perempuan (istri) mana saja yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang diperkenankan, maka haram baginya mencium wangi surga.” (al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2/320)

Antara Khulu’ dan Talak

Syariat memerhatikan keseimbangan hak dan kewajiban antara pria dan wanita dalam akad nikah. Tidak ada pihak yang bersikap semena-mena dan melampaui batas terhadap yang lain.

Syariat memberikan hak bagi lelaki untuk mencerai istrinya bila dibutuhkan, sebagaimana memberikan hak kepada istri untuk meminta khulu’ dari suaminya di saat ada kebutuhan.

Dengan demikian, salah satunya tidak berkuasa untuk menahan yang lain agar tetap hidup bersama dalam keadaan pihak lain benci akan hal tersebut. Sebab, hubungan suami-istri dibangun dan tegak di atas cinta, kasih sayang, dan as-sakan (ketenangan dan ketentraman). Apabila salah satu pihak tidak bisa memenuhi hak yang lain dan melampaui batasan yang disyariatkan, ada kesempatan bagi pihak lain untuk menghentikan hubungan tersebut menurut cara yang sesuai dengan hukum syariat.

Akan tetapi, tentu tiap pihak harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan jangan menjadikan ayat Allah ‘azza wa jalla sebagai permainan. Tidak sepantasnya seseorang menjadikan talak dan khulu’ sebagai sesuatu yang harus segera dituju kecuali ketika hubungan burukdi antara keduanya sampai pada taraf yang tidak mungkin diatasi denganmempertahankan kebersamaan keduanya.

Sebelum menutup pembahasan, ada beberapa faedah dan hukum yang ditunjukkan dalam hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu tentang larangan istri meminta cerai sebagaimana telah dibawakan di atas. Di antaranya,

  1. Besarnya hak suami terhadap istrinya.
  2. Tidak halal minta talak dan khulu’ tanpa ada sebab.
  3. Keinginan syariat untuk melanggengkan kebersamaan suami istri.
  4. Talak berada di tangan suami sehingga seorang istri tidak dapat memutuskannya.
  5. Surga itu memiliki aroma yang wangi.
  6. Tidak mesti orang yang haram mencium wanginya surga itu divonis kafir. (Lin Nisa’, Ahkam wa Adab, Syarh al-Arba’in an-Nisaiyah, hlm. 232)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Yang dimaksud oleh istri Tsabit radhiallahu ‘anha, dia khawatir jatuh dalam perbuatan mengufuri kebaikan suami padahal hal ini terlarang dan dia khawatir tidak bisa menunaikan hak suaminya dan kewajibannya sebagai istri dengan semestinya karena kebenciannya yang sangat kepada suaminya. (al-Mulakhkhash al-Fiqhi, 2/321)

Hukum Menggugurkan Kandungan

Anak termasuk anugerah terindah yang dkaruniakan oleh al-Wahhab[1] dalam kehidupan sepasang suami istri. Tidak terbayang ada suatu pernikahan syar’i yang dilangsungkan sepasang insan yang tidak mengharapkan lahirnya anak di tengah mereka.

Apatah lagi sudah kita maklumi keinginan sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbanyak umat beliau sebagai kebanggaan beliau di hari kiamat nanti. Karena itu pula, beliau melarang lelaki untuk menikah kecuali dengan wanita yang subur rahimnya. Semua ini cukuplah memberi gambaran kepada kita pentingnya mengharapkan keturunan dalam pernikahan.

Suatu kegembiraan bagi sepasang suami istri ketika Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kehidupan dalam rahim si istri, apatah lagi kehamilan itu adalah sesuatu yang diharap-harap karena kerinduan akan hadirnya anak di tengah mereka. Namun, terkadang sebelum sempurna kehidupan terbentuk, janin tersebut harus dikeluarkan karena suatu alasan. Bisa jadi, janin tidak berkembang dengan semestinya, atau si ibu menderita sakit tertentu. Ini satu sisi.

Di sisi lain, ada pula orang-orang yang tidak berharap tumbuhnya janin di dalam rahim sang bunda sehingga secara paksa dikeluarkan, baik dengan alasan tidak ingin punya anak lagi maupun si janin tumbuh akibat hubungan di luar nikah, naudzu billah min dzalik.

Bagaimana sebenarnya tinjauan syariat dalam hal ini, yaitu janin dikeluarkan sebelum waktunya atau dengan kata lain digugurkan?

Hukum Menggugurkan Kandungan

Ulama berselisih pandang tentang hukum menggugurkan kandungan sebelum ditiupkannya ruh. Di antara mereka ada yang melarang secara mutlak, sama sekali tidak boleh. Mereka berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan nuthfah (setetes mani) dalam tempat berdiam yang kokoh[2], maka tidak boleh dia dikeluarkan dari tempatnya kecuali dengan satu sebab yang syar’i.” Demikian pelarangan mutlak ini datang dalam mazhab Maliki.

Di antara ulama , ada yang membolehkan menggugurkan janin sebelum berusia 40 hari. Ini satu pendapat dalam mazhab Syafi’i. Pendapat lainnya menyatakan janin memiliki kehormatan sehingga tidak boleh dirusak. Sebagian Syafi’i memandang boleh menggugurkan janin dalam dua tahapan, yaitu saat masih berupa nuthfah dan ‘alaqah, sebelum berubah ke tahapan mudhghah.

Di antaranya ada pula yang berpendapat boleh sebelum berbentuk, karena ketika belum terbentuk, baru berupa nuthfah (setetes mani) atau ‘alaqah (segumpal darah) atau mudhghah (segumpal daging) belum dipastikan apakah akan berlanjut menjadi seorang anak atau tidak[3].

Ada pula yang berpendapat dibolehkan sebelum janin berusia empat bulan (sebelum ditiupkan ruh), sebagaimana pendapat fuqaha mazhab Hanafi yang dinukilkan oleh Ibnu ‘Abidin dari an-Nahr.

Apabila janin sudah memiliki ruh, ulama sepakat menyatakan haramnya tindakan pengguguran tersebut. (Ahkam ath-Thifl, hlm. 70—71, fatwa Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Nurun ‘alad Darb, 2/632)

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berpandangan, kapan saja dipastikan seorang wanita hamil maka tidak boleh kandungannya digugurkan kecuali karena sebab yang syar’i. Misalnya, dokter menganalisis janin tersebut memiliki cacat yang menyebabkan dia tidak bisa hidup dengan semestinya[4], maka ketika itu boleh dilakukan pengguguran karena adanya kebutuhan.

Hal ini hanya bisa dilakukan sebelum ditiupkannya ruh pada si janin, yaitu sebelum sempurna berusia empat bulan. Apabila ruh telah ditiup sehingga hidup dan bergeraklah si janin, saat itu haram menggugurkannya walaupun para dokter memvonis si ibu akan meninggal apabila janinnya tidak digugurkan. Sebab, kita tidak boleh mengorbankan satu jiwa untuk jiwa yang lain.

Apabila ada yang berkata, “Kalau janin dibiarkan saja dalam rahim ibunya sehingga ibunya meninggal karenanya, janin juga akan mati, yang berarti hilang dua jiwa. Namun, apabila janinnya kita keluarkan/gugurkan, bisa jadi ibunya selamat.”

Jawabannya, “Apabila kita biarkan saja janin dalam rahim ibunya, tidak digugurkan, yang berakibat si ibu meninggal, kemudian selang waktu berikutnya setelah kematian ibunya janin pun menyusul meninggal; kematian ibunya bukanlah karena perbuatan kita melainkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dia-lah yang menetapkan kematian pada sang ibu dengan sebab menanggung kehamilan tersebut. Adapun apabila kita paksa janin keluar atau kita gugurkan, yang semula hidup kemudian meninggal karena pengguguran yang dilakukan; kematian janin adalah karena perbuatan kita, dan hal itu tidak halal kita lakukan.”

Demikian yang difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh rahimahullah dalam Fatawa Nurun ‘alad Darb (2/632—633).

Ketika mensyarah hadits keempat dari 50 hadits yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menyatakan, ada sekelompok fuqaha memberi rukhshah/keringanan atau kelapangan bagi wanita untuk menggugurkan kandungannya selama belum ditiupkan ruh dan menganalogikannya dengan ‘azl[5].

Namun, menurut Ibnu Rajab rahimahullah, penyamaan ini adalah pendapat yang lemah. Sebab, janin adalah anak yang sudah ada (dalam rahim) dan terkadang sudah berbentuk. Sementara itu, dalam perbuatan ‘azl belumlah didapati anak sama sekali dan ‘azl hanyalah sebab untuk mencegah adanya anak dalam rahim. Terkadang ‘azl yang dilakukan tidak bermanfaat karena si wanita tetap saja hamil apabila Allah subhanahu wa ta’ala memang menghendaki penciptaannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang ‘azl,

وَإِنَّكُمْ لَتَفْعَلُوْنَ، وَإِنَّكُمْ لَتَفْعَلُوْنَ، وَإِنَّكُمْ لَتَفْعَلُوْنَ، مَا مِنْ نَسْمَةٍ كَائِنَةٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة إِلاَّ هِيَ كَائِنَةٌ

 

“Kalian sungguh melakukannya, kalian sungguh melakukannya, kalian sungguh melakukannya? Padahal tidak ada satu jiwa pun sampai hari kiamat yang harus ada/tercipta (dengan ketetapan, kehendak dan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala) melainkan jiwa itu pasti ada.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan, “Teman-teman kami (ulama mazhab Hanbali) secara jelas menyatakan, apabila bakal janin telah berubah menjadi ‘alaqah, tidak boleh digugurkan karena sudah menjadi calon anak. Berbeda halnya apabila masih berbentuk nuthfah, belum dipastikan apakah akan menjadi anak ataukah tidak.” (Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/156—157)

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyatakan, menggugurkan kandungan tidak boleh dilakukan karena perbuatan tersebut bermudarat, apalagi alasannya tidak syar’i, misal si ibu tidak ingin meneruskan kehamilannya karena khawatir menghalangi karirnya.

Janin yang dikandung itu memiliki hak untuk dibiarkan terus berkembang dan hidup, punya hak untuk dijaga dan dihargai, karena dia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Seharusnya si ibu yang mengandungnya menjaganya, berlaku lembut kepadanya. Bisa jadi, janin itu kelak akan lahir sebagai anak yang saleh dan bermanfaat bagi si ibu. Alllah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu lebih baik bagi kalian. Bisa jadi pula, kalian mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kalian. Allah-lah Yang Mengetahui, dan kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Apabila si ibu yang mengandungnya memaksakan untuk menggugurkannya, berarti si ibu telah melakukan sebuah kejahatan. Dia harus bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas perbuatan tersebut dan tidak mengulanginya.

Orang yang memberikan bantuan, saran, dan semisalnya untuk kelanjutan tindakan pengguguran tersebut, semuanya berdosa, karena telah membantu terlaksananya suatu perbuatan dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyatakan, sebagian fuqaha memandang bolehnya menggugurkan kandungan sebelum berusia 40 hari dengan obat-obatan yang diperkenankan/tidak berbahaya. Akan tetapi, sebenarnya ini tidak sepantasnya dilakukan, karena kehamilan itu diinginkan oleh syariat guna mendapat keturunan yang banyak.

Jika Kehamilan Menyusahkan Ibu

Bagaimana halnya apabila kehamilan tersebut memadaratkan kesehatan si ibu atau si ibu menderita sakit yang berat akibat menanggung kehamilan?

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullahu menyatakan tidak bolehnya menggugurkan kandungan walaupun menyusahkan si ibu, karena kehamilan—tanpa diragukan—memang menimbulkan kesulitan. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan berat dan melahirkannya dalam keadaan berat pula . Mengandungnya dan (pada akhirnya) menyapihnya adalah selama tiga puluh bulan[6].” (al-Ahqaf: 15)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, ibu harus menanggung kesulitan, kepenatan, ketidaknyamanan, keberatan, dan sebagainya karena kehamilannya. Demikian pula saat melahirkan, ibu menanggung rasa sakit dan kepayahan. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 7/215)

Saat kehamilan memang saat yang sulit. Ada berbagai keluhan sakit dan kelelahan demi kelelahan. Karena itulah, hak seorang ibu begitu besar terhadap anaknya. Ibu didahulukan haknya tiga kali, sebagaimana berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah itu baru hak ayah[7]. Sebab, seorang ibu harus menanggung sendirian kehamilan, kelahiran, dan menyusui, sebagaimana diisyaratkan dalam surat al-Ahqaf di atas. (Tuhfah al- Ahwadzi, “Kitab al-Birr wa ash-Shilah”, bab “Ma Ja’a fi Birr al-Walidain”)

Ketika seorang ibu bersabar dengan kehamilannya dan siap menanggung semua kesulitan, tentu dia akan beroleh pahala. Bisa jadi, dengan sebab si anak kelak dia akan beroleh kebaikan, demikian pula masyarakatnya.

Apabila ada ibu yang disarankan oleh dokter untuk menggugurkan kandungannya karena menurut diagnosa dokter kelak janin tersebut tidak mungkin lahir kecuali dengan cara operasi, saran ini tetap tidak boleh dituruti. Sebab, janin adalah amanat yang diletakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam rahim sehingga tidak boleh diperlakukan dengan buruk atau dihadapkan kepada kebinasaan. Ucapan seseorang dalam hal ini tidak boleh dijadikan sebagai sandaran karena permasalahan yang ada berkaitan dengan hukum syar’i. Hukum syar’i tentu dikedepankan daripada ucapan siapa pun.

Adapun kelak kelahiran si janin harus dengan cara operasi, urusannya di zaman sekarang mudah, tidak berbahaya. Banyak wanita telah menjalaninya karena mereka tidak bisa melahirkan kandungannya selain dengan cara operasi. Dengan demikian, menjalani kelahiran dengan cara operasi bukanlah alasan yang diperkenankan oleh syariat untuk menggugurkan kandungan. Seorang wanita tidak boleh bermain-main dalam urusan kandungannya, dia hamil lantas dia gugurkan begitu saja.

Kafarat Pengguguran Janin

Apakah ada kafarat apabila janin digugurkan?

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apabila janin telah ditiupi ruh dan telah bergerak, lantas digugurkan, perbuatan tersebut teranggap membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh. Karena itu, pelakunya harus membayar kafarat yang berupa memerdekakan seorang budak. Apabila ia tidak mendapatkan budak, penggantinya adalah berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai bentuk tobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.[8]” (Majmu’ Fatawa, hlm. 564—568)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Dzat Yang Maha Memberi dan Melimpahkan anugerah.

[2] Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kemudian Kami menjadikannya nuthfah (setetes mani) dalam tempat berdiam yang kokoh.” (al-Mu’minun: 13)

Yaitu rahim yang memang telah tersedia dan telah disiapkan untuk menerimanya. (al-Mishbah al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, asy-Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri)

Di dalam rahim, nuthfah itu akan terjaga dari kerusakan, dari angin, dan selainnya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di, hlm. 548)

[3] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya (berbentuk) dan yang tidak sempurna….” (al-Hajj: 5)

Awalnya segumpal daging itu tidak ada bentuknya. Apabila Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk menyempurnakan penciptaan/kejadiannya, mulailah segumpal daging itu berbentuk, menjadi bentuk kepala, dua tangan, dada, perut, dua paha, dua kaki, dan anggota tubuh lainnya. Namun, apabila Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghendaki segumpal daging itu berkembang menjadi manusia, rahim pun mengeluarkannya (keguguran).

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hatim dan Ibnu Jarir dari hadits Dawud ibnu Abi Hindun, dari asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Apabila nuthfah telah menetap dalam rahim, malaikat yang menjaga rahim/janin mengambilnya dengan telapak tangannya, lalu bertanya, ‘Wahai Rabbku, apakah akan disempurnakan kejadiannya atau tidak?’ Kalau dijawab tidak disempurnakan kejadiannya, nuthfah tersebut tidak akan menjadi satu jiwa dan akan dikeluarkan oleh rahim dalam bentuk darah. Apabila dijawab disempurnakan kejadiannya, malaikat akan bertanya lebih lanjut, ‘Wahai Rabbku, apakah jenisnya laki-laki ataukah perempuan? Apakah dia golongan yang sengsara ataukah yang bahagia? Kapan ajalnya? Apa yang diperbuatnya? Di bumi manakah dia akan meninggal?’.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 5/292, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/160)

[4] Bisa jadi, si ibu terinfeksi virus atau kuman penyakit yang menyebabkan kerusakan pada janin atau terganggunya perkembangan janin.

[5] Dalam Fathul Bari disebutkan, ‘azl adalah menarik zakar setelah masuk agar sperma/mani tumpah di luar kemaluan istri.

[6] Masa 30 bulan tersebut dengan perincian sebagai berikut. Minimal masa kehamilan adalah 6 bulan, karena apabila janin lahir ke dunia saat berusia 6 bulan dalam kandungan, dia masih berpeluang hidup. Berbeda halnya apabila lahir kurang dari 6 bulan, janin tidak bisa hidup.

Waktu 6 bulan dalam kandungan ini ditambah dengan 24 bulan (2 tahun) masa penyusuan yang sempurna seperti yang tersebut dalam surah al-Baqarah ayat 233,

“Dan para ibu hendaknya menyusui anak-anak mereka selama dua tahun yang sempurna, bagi siapa yang ingin menyempurnakan masa penyusuan.”

Jadilah semuanya 30 bulan seperti tersebut dalam ayat.

[7] Ketika ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.”

Orang itu bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, “Siapakah orang (berikutnya) yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ucapan yang sama, “Ibumu.”

Untuk ketiga kalinya orang itu bertanya, “Siapakah orang (berikutnya) yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menjawab, “Ibumu.”

Setelah bertanya untuk keempat kalinya dengan pertanyaan yang sama, barulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayahmu.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan hasan dalam al-Irwa’ no. 2232)

[8] Dalil untuk kafarat berupa memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut disebutkan dalam surat an-Nisa ayat 92.