Menikah, Memperbanyak Umat Rasul

 

 Janur Kuning

Pernikahan dalam Islam sebagai satu sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia memiliki banyak tujuan yang bermanfaat bagi insan. Di antara tujuannya yang paling agung adalah mendapatkan keturunan.

Mengapa dikatakan paling agung? Karena anak-anak yang terlahir dari pernikahan yang syar’i akan melanggengkan keberadaan manusia di muka bumi, selama umur bumi masih ada. Selain itu, anak-anak tersebut akan memperbanyak umat manusia, terkhusus umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dorongan untuk hal tersebut dalam titahnya yang agung,

“Nikahilah perempuan yang wadud, yang walud karena aku membanggakan banyaknya kalian[1].” (HR. an-Nasa’i, al- Imam al-Albani rahimahullah menyatakan derajat hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zifaf hlm. 61)

Wadud adalah sangat mencintai suami[2]. Adapun walud adalah banyak melahirkan atau subur rahimnya[3]. Lalu apa hubungannya sifat wadud dengan walud? Karena rasa cinta adalah perantara menuju hubungan yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al- Imam as-Sindi, 6/66)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian karena kata Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, “Datang seorang lelaki menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Aku menyenangi seorang wanita yang punya nasab yang mulia dan punya kedudukan (di mata manusia), hanya saja dia mandul[4]. Apakah boleh saya menikahinya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si lelaki untuk menikahi wanita tersebut. Sampai-sampai dia datang meminta izin untuk ketiga kalinya, namun tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan justru mengucapkan titah di atas.”

Di kali lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mendorong para sahabatnya untuk “mencampuri” istri-istri mereka sepulang dari safar, dengan tujuan salah satunya adalah akan didapatkan anak dari hubungan tersebut. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian terburu-buru menemui keluarga kalian sampai kalian tiba di waktu malam, yakni isya (awal malam), agar para istri (yang mendengar kepulangan kalian) sempat merapikan/menyisiri rambutnya yang acak-acakan dan yang belum mencukur rambut kemaluannya sempat pula melakukannya[5]. Kemudian (setelah bertemu istri kalian) al-kais, al-kais.” (HR. al-Bukhari no. 5245 dan Muslim no. 3625)

Al-Kais yang dimaksud di sini adalah mencampuri istri, demikian kata al- Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan selainnya. (Fathul Bari, 9/424)

Maknanya adalah dorongan untuk mendapatkan keturunan (dari hubungan tersebut). (al-Minhaj, 10/296)

Apabila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki umat beliau menjadi umat yang terbanyak dibanding umat nabi-nabi selain beliau, tentu keinginan yang menyelisihinya berupa ‘pembatasan keturunan’ tidaklah pantas. Menetapkan jumlah anak harus sekian dan sekian adalah aturan yang menyimpang dari syariat.

Kalau alasan ekonomi yang dikemukakan, ‘zaman semakin sulit, susah memberi makan’, ‘takut tidak bisa memberi makan’, ‘sekarang lagi krisis moneter’, atau ‘sedang masa krisis ekonomi’, telah dijawab oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kalian membunuh anakanak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Allah ‘azza wa jalla yang memiliki nama ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Memberikan rezeki)-lah yang menanggung rezeki hamba-hamba-Nya, baik di langit maupun di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya.

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.” (Hud: 6)

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepada kalian.” (al-Ankabut: 60)

Bukankah sejak janin berusia empat bulan dalam kandungan ibunya telah ditetapkan rezekinya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu?

Karena itu, harus diyakini tanpa keraguan bahwa setiap anak lahir membawa rezekinya masing-masing. Orang tuanya tidak perlu mengkhawatirkan rezeki mereka. Berbeda halnya kalau pengaturan jarak untuk ‘punya anak lagi’ atau pembatasan ‘tidak bisa punya anak lagi’ karena alasan yang dibolehkan oleh syariat, sebagaimana akan dijelaskan.

 

Hukum Pemutusan Keturunan

Memutus keturunan sama sekali hukumnya haram sebagaimana pernyataan para ulama karena menentang apa yang diinginkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari umat beliau. Selain itu, perbuatan tersebut termasuk sebab kelemahan dan kehinaan kaum muslimin. Apabila kaum muslimin jumlahnya banyak, itu adalah kemuliaan dan ketinggian bagi mereka.

Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan anugerah-Nya kepada bani Israil ketika Dia ‘azza wa jalla memperbanyak jumlah mereka,

“Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar.” (al-Isra: 6)

Nabi Syu’aib q mengingatkan kaumnya tentang nikmat Allah ‘azza wa jalla atas mereka dengan banyaknya jumlah mereka,

“Ingatlah waktu dahulu kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian.” (al-A’raf: 86)

Kenyataan membuktikan hal ini. Umat yang banyak tidak akan tergantung dan membutuhkan yang selain mereka. Karena itu, mereka berwibawa di hadapan musuh-musuhnya.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan sesuatu yang mengarah pada memutus keturunan sama sekali, kecuali karena alasan darurat, mau tidak mau harus

dilakukan. Misalnya, jika seorang wanita berisiko kematian apabila sampai hamil, menurut keterangan dokter muslim yang tepercaya. Keadaan seperti ini adalah darurat, tidak apa-apa dilakukan terhadap si ibu. Inilah uzur yang membolehkan pemutusan keturunan (tidak punya anak lagi).

Demikian pula apabila rahim ibu mengalami gangguan/penyakit yang apabila hamil dikhawatirkan akan memudaratkan dirinya dan rahimnya terpaksa diangkat, yang seperti ini tidak apa-apa. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 2/836)

 

Hukum Pembatasan Keturunan

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang pembatasan jumlah anak. Beliau menegaskan, “Membatasi keturunan karena khawatir rezeki yang sempit tidaklah dibolehkan, karena rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla, Dialah yang menentukan ajal dan rezeki hambahamba- Nya. Tidak ada satu anak pun yang lahir melainkan telah ditentukan rezekinya sebagaimana telah ditentukan ajalnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Perbuatan membatasi keturunan serupa dengan perbuatan orang-orang jahiliah yang membunuh anak-anak mereka karena takut fakir. Hanya saja, perbuatan orang-orang belakangan dalam bentuk mencegah punya anak karena takut miskin, sedangkan orangorang jahiliah benar-benar membunuh anak mereka yang sudah lahir karena takut miskin.

Bagaimana pun keadaannya, alasannya sama dan tentu hal semisal ini tidak dibolehkan. Yakinlah rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla. Perbuatan membatasi keturunan karena takut miskin adalah sikap berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang wajib bagi kita, orang tua, adalah bertawakal kepada Allah ‘azza wa jalla. Percayalah bahwa Allah ‘azza wa jalla memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batasan. Karena itu, berbaik sangkalah kepada Rabbmu. Jangan sampai berbagai bisikan dan kekhawatiran yang tidak sepantasnya mengusikmu, sedangkan engkau tidak tahu mana yang baik dan bermaslahat bagimu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagi kalian. Allah-lah Yang Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Di kesempatan lain, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menginginkan anak dan keturunan adalah hal yang disyariatkan. Hal itu akan memperbanyak jumlah umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberikan anjuran agar seorang lelaki menikahi perempuan yang subur rahimnya. Kata beliau, ‘Aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain dengan banyaknya kalian pada hari kiamat’.”

Jadi, menginginkan anak adalah hal yang disyariatkan bagi kaum muslimin dan sepantasnya menjadi perhatian dan semangat (orang-orang didorong untuk memperbanyak keturunan).

Adapun membatasi keturunan, ini adalah pemikiran buruk yang disisipkan oleh musuh-musuh Islam yang ingin melemahkah kaum muslimin dan meminimalkan jumlah mereka.

Membatasi keturunan tidak dibolehkan oleh Islam karena bertentangan dengan tujuan syar’i, yaitu memperbanyak individu umat Islam dan memperbanyak orang-orang yang beramal di tengah masyarakat.

Membatasi keturunan berarti juga mengurangi kemampuan manusia yang telah Allah ‘azza wa jalla ciptakan mereka untuk memakmurkan alam ini. Dengan banyaknya keturunan anak manusia, akan tercapai kemaslahatan bagi individu, masyarakat, dan umat.

Pemikiran untuk membatasi keturunan yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin berhasil memengaruhi sebagian orang yang lalai atau lemah iman. Mereka terpengaruh dan mengikutinya (bahkan turut mempropagandakannya dan menjadi pendukungnya di garis depan). Padahal yang wajib atas mereka adalah menghapus pemikiran ini dari benak mereka (dan dari orang lain). Semestinya mereka justru bersemangat punya keturunan yang banyak. Rezeki anak-anak itu di tangan Allah ‘azza wa jalla.

Banyaknya keturunan akan mendatangkan kebaikan, karena Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan satu jiwa kecuali telah menciptakan rezekinya. Selain itu, Dia memudahkan kemaslahatan bagi jiwa tersebut. Adapun keluhan atau ancaman dengan krisis ekonomi dan (teori bahwa) banyaknya penduduk akan berdampak kurangnya pangan dan rezeki, adalah wahyu dari setan dan pengikutnya yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan takdir-Nya.

Orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)

Kebiasaan orang-orang musyrikin dahulu mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin maka Allah ‘azza wa jalla melarang dengan firman-Nya,

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Hal ini menunjukkan rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla dan setiap jiwa telah Dia ‘azza wa jalla tentukan rezekinya. Memperbanyak keturunan akan memperbanyak rezeki, meningkatkan produksi/hasil, dan memperbanyak orang-orang yang bekerja (untuk memakmurkan alam ini), atau orang-orang yang beramal. (al- Muntaqa, 4/172—173)

 

Hukum Pengaturan Jarak Kehamilan

Apabila pengaturan ‘punya anak’ atau menunda kehamilan karena faktor kesehatan istri, seperti tidak bisa menanggung kehamilan atau tidak boleh melahirkan karena sakit yang dideritanya, tidak apa-apa dia menggunakan ‘sesuatu’ yang bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (tidak selamanya) hingga hilang kondisi yang memberatkannya untuk menanggung kehamilan dan persalinan.

Perbuatan seperti ini termasuk penjagaan dan pengobatan, bukan pembatasan keturunan atau tidak ingin punya keturunan (lagi) karena takut miskin. (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 3/157)

Al-Imam al-Albani rahimahullah berfatwa tentang pengaturan keturunan bahwa hal tersebut termasuk problem yang menimpa kaum muslimin pada hari ini di negeri-negeri Islam. Apabila pengaturan tersebut dilakukan karena mengikuti saran dokter muslim yang pakar dalam bidangnya, yang benar-benar ingin memberikan nasihat yang baik, untuk menjaga kesehatan istri yang terganggu karena sering melahirkan, banyak anaknya, hal ini adalah uzur yang membolehkan.

Namun, apabila pendorong untuk melakukan pengaturan tersebut adalah karena takut miskin, perhitungan materi yang layaknya dilakukan oleh orang-orang kafir, tentu tidak dibolehkan. Sampai-sampai salah seorang yang melakukan pengaturan keturunan ini menyatakan, “Aku dan istriku sudah berdua. Aku cukup punya dua anak.”

Masing-masing melakukan perhitungan jumlah penghasilannya, berapa anggota keluarga yang bisa dihidupi dengan penghasilan sejumlah itu? Hal ini tidak dibolehkan oleh Islam karena faktor melakukan pengaturan keturunan muncul dari perbuatan orang jahiliah yang telah dinasihatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Lebih-lebih lagi kaum muslimin, seharusnya mengimani bahwa anak itu datang (lahir ke dunia) dalam keadaan rezekinya bersamanya, karena sebelum si anak lahir ke alam dunia, saat dia masih berada dalam perut ibunya telah dicatat rezekinya. Pembatasan anak karena alasan materi tidaklah diperkenankan selama-lamanya. (al-Hawi min Fatawa asy-Syaikh al-Albani, hlm. 332-333)

 

Obat Pencegah Kehamilan

Samahatul Walid al-Imam Ibnu Baz rahimahullah menyatakan, seorang wanita tidak boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan. Sebab, Allah ‘azza wa jalla justru mensyariatkan sebaliknya, yaitu berupaya mendapatkan keturunan dan memperbanyak umat Islam. Umat sangat membutuhkan jumlah yang banyak untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berjihad fi sabilillah, dan melindungi eksistensi muslimin, dengan izin dan taufik Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula apabila seseorang memiliki anak yang banyak, dengan jarak kelahiran yang dekat dan menyusahkan ibu apabila hamil lagi, tidak apa-apa si ibu memakai obat-obatan pencegah kehamilan dalam masa tertentu, seperti setahun atau dua tahun selama masa penyusuan. Dengan demikian, urusannya menjadi ringan dan dia bisa mendidik anak-anaknya dengan semestinya.

Adapun seorang wanita menggunakan obat-obatan pencegah kehamilan karena ingin berkonsentrasi pada profesi/pekerjaannya, mengejar karir, atau yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari ini, tidaklah dibolehkan. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 285-286)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Di hadapan para nabi pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Ibnu Hibban.

[2] Hal ini tercapai dengan menikahi wanita yang masih gadis/perawan. Karena sebelumnya si gadis tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya, sehingga cintanya kepada suaminya adalah cinta yang awal; atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya. Berbeda halnya apabila yang dinikahi adalah janda, bisa jadi cintanya sudah atau masih terpaut pada suami yang sebelumnya.

[3] Hal ini bisa diketahui dengan melihat ibu si wanita atau saudara perempuannya, atau karib kerabatnya yang perempuan, apakah mereka punya banyak anak atau tidak.

Untuk melihat apakah seorang wanita bersifat wadud—memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami—bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya, ibunya misalnya, bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[4] Bisa jadi, si lelaki mengetahui wanita tersebut mandul karena tidak mengalami haid, atau si wanita pernahmenikah dengan lelaki lain dan tidak punya keturunan. (Hasyiyah as-Sindi)

[5] Istri sempat berdandan menata dirinya dan menghilangkan apa yang tidak pantas terlihat oleh suami dalam rangka menyambut kedatangan sang suami, sehingga suami tidak kecewa ketika melihatnya.

Dikisahkan bahwa mereka hendak datang tiba-tiba di awal siang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka dan memerintahkan agar mereka menundanya hingga akhir siang. Dengan demikian, berita kedatangan mereka telah sampai kepada istri-istri mereka sehingga para istri telah bersiap untuk menyambut suaminya. (Tuhfatul Ahwadzi)

Dalam Fathul Bari (9/391) dijelaskan, perintah untuk masuk menemui keluarga di waktu malam ketika pulang bepergian yang ada pada hadits ini dan larangan masuk menemui keluarga di waktu malam pada hadits yang lain, bisa dikompromikan Perintah dalam hadits ini yang dimaksud adalah masuk pada awal malam, sedangkan larangan dalam hadits yang lain ialah masuk pada tengah malam.

Bisa juga dikompromikan bahwa perintah masuk menemui keluarga di malam hari ini bagi orang yang telah mengabari keluarganya tentang kepulangannya, sedangkan larangan dalam hadits lain berlaku bagi orang yang belum memberitahu keluarganya tentang kepulangannya.

Saat Terjadi Pertikaian

Hidup berumah tangga tak selamanya berjalan mulus tanpa masalah. Bahkan, masalah pasti muncul saat dua insan telah mengikat perjanjian suci yang dinyatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai mitsaqan ghalizha1. Sudah menjadi kemestian bahwa menikah dan hidup bersama, seatap, bahkan satu selimut dengan anak manusia yang memiliki sifat banyak kesalahan dan khilaf, pasti suatu saat memunculkan persoalan, kecil atau besar, remeh atau berat. Hanya di surga kelak barulah didapatkan rumah tangga tanpa problem, selalu seia sekata dalam limpahan nikmat yang tiada berkesudahan dari Sang Pemberi kenikmatan, Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun rumah tangga di dunia sebagaimana yang kita maklumi….

Namun, sebenarnya jika pihak suami dan istri menunaikan dengan semestinya kewajiban yang dituntut darinya dan tidak berlebihan menuntut haknya, niscaya tidak ada kesempatan munculnya perselisihan yang membahayakan keutuhan rumah tangga. Yang ada hanyalah kebersamaan sepasang insan, suami istri, yang bahagia dengan sedikit riak-riak kehidupan sebagai bumbu pernikahan. Akan tetapi, sekali lagi, hidup mesti tak lepas dari masalah karena kesempurnaan hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimanapun seorang suami atau seorang istri berupaya agar tidak timbul persoalan dalam kebersamaan mereka, terkadang tetap saja ada permasalahan. Demikianlah manusia dengan sifat lemah dan kurang yang dimilikinya.

Lalu bagaimana cara kita bersikap saat muncul persoalan, pertikaian, atau percekcokan?
Ada beberapa hal yang sebaiknya ditempuh saat terjadi permasalahan/pertikaian dalam rumah tangga, sebagaimana dinasihatkan oleh ahlul ilmi. Berikut ini kami paparkan sebagiannya kepada pembaca yang mulia.

  1. Setiap pihak—dalam hal ini suami dan istri—harus berhias dengan kesabaran, tabah menahan diri, dan tidak serampangan/tergesa-gesa bertindak ketika sedang marah dan emosi.

Terlebih seorang istri, hendaknya ia tidak membantah/menjawab seluruh kalimat yang dilemparkan suaminya kepadanya saat marah. Demikian pula suami, ia harus bisa menahan diri sehingga tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti hati istrinya, atau melontarkan cacian dan celaan yang dapat menorehkan luka.

  1. Suami hendaknya meninggalkan kamar/ruangan tempat terjadinya perselisihan atau pertengkaran.

Jika memang terpaksa ia harus keluar rumah, itu lebih baik hingga urat sarafnya yang tegang kembali tenang dan marahnya reda. Urusan pun kembali berjalan pada posisinya yang normal. Jika si suami kembali ke rumahnya, hendaknya ia tidak lupa menunaikan hak seorang muslim terhadap muslim yang lain,2 apalagi si muslim itu adalah istrinya sendiri. Di samping itu, ia juga menjalankan adab ketika masuk rumah, yaitu mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Mendapatkan ucapan salam demikian, maka seorang istri hendaklah mengingat kewajibannya kepada saudaranya sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Lima hal yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim terhadap saudaranya, yaitu menjawab salam, mendoakan, “Yarhamukallah” kepada orang yang bersin (yang memuji Allah ketika bersinnya), memenuhi undangan, menjenguk orang yang sakit, dan mengikuti jenazah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jadi, ia tetap menjawab salam suaminya walaupun sedang marahan dengannya. Tentu sebagai penyerta ucapan salam, hendaknya keduanya saling memberikan senyuman kecil, karena tidak mungkin kalimat yang berisi doa dan salam kedamaian ini diucapkan dengan wajah cemberut. Semestinya senyuman yang tersungging dari keduanya ini dapat mengetuk hati yang terkunci karena emosi, meredam marah, bahkan menghilangkannya, dan berujung dengan berakhirnya percekcokan. Ini adalah langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan.

Mungkin kita masih ingat akan kisah yang pernah terjadi di zaman nubuwwah, pada rumah tangga putri Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Fathimah az-Zahra radhiallahu ‘anhu dan suaminya yang mulia, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika ada percekcokan antara keduanya, Ali radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya, meninggalkan istrinya. Untuk lebih lengkapnya kita baca haditsnya.

Sahl ibnu Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu berkata:

“Nama yang paling dicintai oleh Ali radhiallahu ‘anhu adalah Abu Turab, dia senang jika dipanggil dengan sebutan itu. Yang menyebutnya dengan Abu Turab tidak lain adalah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari Ali saling bermarahan dengan istrinya Fathimah. Ali pun keluar dari rumahnya lalu pergi ke masjid dan berbaring di dekat dindingnya. Datanglah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menyusul Ali setelah beliau tidak mendapatinya di rumahnya. Ketika beliau menanyakan keberadaan Ali, orang pun menunjukkan, “Dia sedang berbaring dekat dinding.” Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mendekat kepada Ali sementara punggung Ali penuh dengan debu atau tanah. Mulailah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap debu tersebut dari punggung Ali seraya berkata, “Duduklah, wahai Abu Turab!” (HR. al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya)

  1. Saat terjadi perselisihan dan kemarahan, seorang suami tidak boleh berpikir untuk bercerai.

Keinginan bercerai ini harus dijauhkan dari benaknya karena setan bisa mengambil kesempatan dalam keadaan si insan labil akibat kemarahan seperti ini. Jika bisikan setan dituruti, dilakukanlah tindakan dan dijatuhkanlah keputusan yang tidak akan diambil saat hati itu tenang dan keadaan stabil. Akhirnya, sesal datang kemudian, ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Perceraian adalah jalan keluar terakhir yang diberikan oleh Islam saat hidup bersama sebagai sepasang suami istri tidak mungkin lagi diteruskan dan mustahil tetap dipertahankan. Perceraian bukanlah pedang atau cambuk yang dilecutkan kepada istri setiap kali si suami marah. Bahkan, termasuk kedunguan jika ada orang yang menyangka bahwa perceraian adalah solusi dari problemnya, padahal masih mungkin ditempuh cara-cara lain yang positif.

  1. Seorang istri yang dijatuhi talak satu atau dua oleh suaminya, hendaknya tidak berkeinginan keluar dari rumah suaminya lalu tinggal di rumah orang tua/keluarganya selama masih dalam masa iddah, walaupun suami yang menyuruhnya pergi/mengusirnya dalam keadaan marah.

Tuntutan suami itu tidaklah benar. Akan tetapi, emosi dan kemarahan telah membutakan dan menghilangkan kesadarannya3.

Oleh sebab itu, si istri tidak boleh terpengaruh oleh emosi suami. Tetaplah ia diam di rumah suaminya dan tidak keluar darinya. Keluar meninggalkan rumah suami adalah urusan yang mudah dilakukan. Keputusannya ada di tangan istri. Akan tetapi, kembali ke rumah suami, bersatu kembali dalam kedamaian setelah meninggalkannya adalah urusan yang sulit karena keputusannya bukan di tangan istri, tetapi di tangan suami. Jika sebuah urusan berada di tangan orang lain, tentu tidak mudah bertindak-tanduk di dalamnya.

Di sisi lain, diimbau kepada istri untuk tidak bermudah-mudah meminta cerai dari suami ketika ada percekcokan.

  1. Ketika seorang suami melihat kekurangan istrinya dalam menunaikan kewajibannya dan memenuhi kebutuhan suaminya, seharusnya suami menyadari bahwa istri yang sempurna tidak ada di dunia, hanya ada di akhirat saja.
    Bagaimanapun sempurnanya seorang wanita, pasti ia memiliki kekurangan. Oleh karena itu, suami hendaklah melihat sisi-sisi positif yang ada pada istrinya dan memandang celah-celah kebaikan pada istrinya. Inilah makna bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangai dari si mukminah, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. al-Imam Muslim dalam Shahih-nya)

Suami hendaknya mengingat bahwa wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, padahal sifat tulang rusuk itu bengkok. Maka dari itu, mau tidak mau, suami bernikmat-nikmat dan bersenang-senang dengan istrinya di atas kebengkokan yang merupakan tabiatnya. Jika suami menuntut, hal itu akan mematahkannya. Patahnya adalah menalaknya4. Padahal menalaknya akan memberi mudarat bagi suami dan istri sekaligus, di samping mudarat bagi masyarakat. Namun, jika ada kebutuhan darurat yang syar’i, barulah ditempuh jalan perpisahan.

  1. Seorang istri tidak boleh menceritakan masalah yang terjadi antara dia dan suaminya kepada ayahnya, ibunya, salah seorang kerabatnya, atau kerabat suami.
    Hal ini akan memperluas/memperuncing masalah dan membuat keluarga istri tidak suka kepada si suami. Di sisi lain, istri juga tidak beroleh faedah apapun selain pandangan kebencian keluarganya kepada suaminya. Perselisihan yang ada juga akan terus diingat, tidak bisa dilupakan.

Beda halnya jika pertikaian dijaga hanya berputar di dalam rumah, tidak diketahui pihak luar, niscaya akan berakhir dan terlupakan bersama dengan terjadinya perdamaian antara keduanya atau saat tersungging senyuman dari salah satunya kepada yang lain.

Dengan demikian, tidak sepantasnya istri menceritakan persoalan/percekcokannya dengan suaminya kepada keluarganya, apa pun bentuk masalahnya, selama si istri ingin tetap hidup bersama suaminya. Bahkan, sampaipun hidup bersama tidak mungkin lagi diharapkan, bahtera tidak mungkin lagi diselamatkan, dan jatuh keputusan akhir harus bercerai dengan sang suami, si istri tetap tidak boleh menceritakannya. Maka dari itu, tidak sepantasnya seorang istri menyebarkan keburukan mantan suaminya, berbuat jelek kepadanya, dan membongkar aib/cacat/celanya sehingga menjatuhkan nama baiknya. Perbuatan seperti ini berarti merobek tabir yang ditutupkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya. Di samping itu, seorang muslim juga diperintah untuk menutup aib saudaranya. Perbuatan ini juga merupakan sikap penentangan terhadap ikatan kuat yang pernah terjalin di antara keduanya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan:

“Janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian.” (al-Baqarah: 237)
Maksudnya, janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/378)

  1. Tidak sepantasnya suami memberitakan kepada keluarganya atau kepada keluarga istrinya tentang apa yang terjadi antara dia dan istrinya. Ia juga tidak boleh mengadukan istri kepada pihak keluarga istri.

Problem yang ada adalah problemnya, dan dia sendiri yang harus menghadapinya. Tidak boleh ia melibatkan orang lain ke dalam masalahnya.

  1. Ketika seorang istri melihat atau menangkap satu tanda dari suaminya yang menunjukkan si suami ingin berdamai atau baikan kembali, hendaknya istri saat itu juga dengan segera menyambut ajakan atau isyarat damai tersebut. Istri hendaknya bersyukur dengan baiknya tabiat suaminya.

Demikian pula, seorang suami seharusnya menerima upaya apa pun yang dilakukan oleh istri guna mencari keridhaannya, selama tidak melanggar keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, atau selama upaya tersebut merupakan hal yang ma’ruf (baik), bukan yang mungkar. Suami hendaknya juga mensyukuri upaya sang istri tersebut.

Demikian sedikit bimbingan saat terjadi pertikaian…

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi kalian berdua dan mengumpulkan kalian selalu dalam kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Disarikan dari Risalah ilal ‘Arusin wa Nashihah liz Zaujain)

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq alAtsariyah

 

Suapan yang Halal

Salah satu “bentuk” pendidikan orangtua kepada anak-anak adalah memberikan makanan atau suapan yang halal kepada mereka. Karena, disadari atau tidak, pemenuhan kebutuhan hidup yang bersumber dari yang haram, bisa membentuk kejelekan pada diri sang anak.

Mungkin tak akan asing lagi di telinga setiap orang bila kita katakan bahwa salah satu kewajiban orangtua adalah memberikan nafkah kepada anak-anaknya. Segala yang dibutuhkan si anak menjadi kewajiban orangtua untuk memenuhinya sesuai dengan kemampuannya. Makanan dan minuman sehari-hari, pakaian, biaya untuk keperluan sekolah, dan segala tetek-bengek yang diperlukan oleh anak menjadi tanggungan orangtua.

Untuk mencukupi semua itu, tidak segan orangtua peras keringat banting tulang. Bahkan terkadang permasalahan inilah yang memenuhi pikiran orangtua. Bagaimana segala kebutuhan, permintaan dan keinginan anak dapat dipenuhi. Tidak didapat hasil dari jalan yang ini, diusahakan dari jalan yang lain.

Memang, memberi nafkah kepada anak merupakan kewajiban orangtua. Demikian yang ada dalam kehidupan. Namun tak hanya berhenti sampai di situ. Syariat menjelaskan bahwa memberi nafkah bukan sekedar tuntutan, namun di sana ada janji pahala bagi yang menunaikannya. Tentunya yang disertai niat untuk mendapatkan pahala, karena setiap perbuatan akan diberi balasan sesuai dengan niatnya, sebagaimana disampaikan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu:

 

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Berkaitan dengan hal ini, Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu ‘anhu menukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ– وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا –كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya –yang dia inginkan nafkah itu untuk mengharap pahala dari Allah– maka itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 5351)

Menerangkan hadits ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar  rahimahullah menukilkan perkataan Al-Muhallab, bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan kewajiban menurut kesepakatan kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya dengan sedekah karena dikhawatirkan ada orang-orang yang menyangka, pelaksanaan kewajiban (memberi nafkah, pen.) ini tidak ada pahalanya.

Sementara mereka telah mengetahui bahwa sedekah itu berpahala. Maka beliau memberitahukan bahwa nafkah ini adalah sedekah bagi mereka, agar mereka tidak mengeluarkan nafkah untuk selain keluarga kecuali setelah mencukupi keluarganya. Hal ini sebagai hasungan bagi mereka untuk mendahulukan sedekah yang wajib sebelum sedekah yang tathawwu’ (sunnah). (Fathul Bari, 9/618)

Datang pula riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَالْيَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

“Sedekah yang paling utama adalah yang masih menyisakan kecukupan, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan mulailah dengan orang-orang yang ada dalam tanggunganmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5355)

Ini permasalahan yang harus diketahui oleh setiap orangtua. Memberi nafkah kepada anak-anak bukan tuntutan kehidupan semata, namun akan membuahkan pahala jika diniatkan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak hanya itu, dalam pemberian nafkah ini ada permasalahan lain yang harus pula diperhatikan; masalah kehalalan nafkah yang kita berikan, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima kecuali segala sesuatu yang baik dan halal. Jangan sampai kita suapkan ke mulut anak-anak makanan yang haram atau didapat dari hasil yang haram. Begitu pula minuman yang mereka teguk, pakaian yang mereka kenakan, dan segala kebutuhan yang mereka dapatkan dari orangtua.

Jangan sampai karena belum mendapatkan jalan yang lapang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, kita melirik berbagai praktik haram yang menjanjikan hasil berlipat. Dari korupsi, riba, penggelapan, penipuan, hingga praktik bisnis dengan sistem yang tidak dibenarkan oleh syariat. Perlu kita sadari, segala sesuatu yang haram itu akan berpengaruh pada diri anak-anak. Lebih-lebih lagi, orangtua yang memberi nafkah yang tidak halal bagi anak-anaknya berarti menghalangi doa mereka untuk dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الذَّيِنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: {يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu suci dari segala kekurangan dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik, dan berbuatlah amalan-amalan shalih, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat’, dan Allah berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik yang telah Kami rizkikan kepada kalian’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut masai rambutnya dan berdebu. Dia tengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku!’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan disuapi dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?” (HR. Muslim no. 1015)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan para rasul untuk makan segala sesuatu yang baik, yaitu segala sesuatu yang dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan didapatkan dari jalan yang dibenarkan oleh syariat. Apabila tidak dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, seperti khamr misalnya, maka tidak boleh dimakan. Juga bila makanan itu dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi didapat dari jalan yang haram, maka ini pun tidak boleh dimakan. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 164)

Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam perintah-Nya kepada orang-orang yang beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (al-Baqarah: 172)

sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala katakan kepada para rasul:

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik.” (al-Mu`minun: 51)

Sehingga di sini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 165)

Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan hasungan untuk memberikan nafkah dari sesuatu yang halal dan larangan memberikan nafkah dengan sesuatu yang tidak halal. Selain itu juga menunjukkan bahwa minuman, makanan, pakaian dan yang semacamnya seharusnya berupa sesuatu yang halal, bersih, dan tidak mengandung syubhat. Hadits ini pun menunjukkan bahwa seseorang yang ingin berdoa hendaknya lebih memerhatikan hal ini dibandingkan yang lainnya. (Syarh Shahih Muslim, 7/99)

Ini pun merupakan peringatan keras dari memakan segala sesuatu yang haram, karena hal itu termasuk sebab tertolaknya doa, walaupun dia juga melakukan hal-hal yang merupakan sebab terkabulnya doa. Di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka bagaimana akan dikabulkan doa orang yang seperti ini?”

Di samping itu, makan makanan yang haram –wal ‘iyadzu billah– merupakan sebab seseorang meninggalkan kewajiban-kewajiban agamanya, karena jasmaninya telah disuapi dengan sesuatu yang jelek. Segala suapan yang jelek ini pun akan berpengaruh pada dirinya. Wallahul musta’an. (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hal. 175)

Contoh yang begitu jelas bisa kita lihat, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berhati-hati dan menjauhkan dirinya dari sesuatu yang dikhawatirkan berasal dari perkara yang haram. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

“Aku pernah datang menemui keluargaku. Kemudian aku dapatkan sebutir kurma jatuh di atas tempat tidurku. Aku pun mengambilnya untuk kumakan. Lalu aku merasa khawatir jika kurma itu adalah kurma sedekah, maka kuletakkan lagi kurma itu.”

Selain dirinya, beliau juga berusaha menjauhkan cucunya dari makan sesuatu yang haram. Beliau melarang cucunya makan sekedar sebutir kurma yang berasal dari kurma sedekah –sementara sedekah diharamkan bagi keluarga beliau– dan memperingatkan sang cucu. Diceritakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

 

Al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kikh, kikh[1]! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)

Yang demikian semestinya menjadi contoh bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan dan kebaikan bagi anak-anaknya. Kasih sayang bukanlah berarti menuruti setiap tuntutan, memberikan setiap keinginan hingga melampaui batasan-batasan Rabb seluruh alam.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

[1] Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, “Tinggalkan dan buang barang itu!”

Mawaddah, Mahabbah wa Rahmah Dalam Kehidupan Sepasang Insan

Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tidak layu terlebih mati.

 

Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan anak Adam ‘alaihissalam memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam ‘alaihissalam. Di saat awal-awal menghuni surga,  bersamaan dengan limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam ‘alaihissalam hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah subhanahu wa ta’ala pun melengkapi kebahagiaan Adam dengan menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.

Hingga akhirnya dengan ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi untuk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah,1/81). Mereka didera derita dan sepi sampai Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka kembali.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala menutup “sepi” hidup-nya seorang lelaki keturunan Adam dengan memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (ar-Ruum: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang dan memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan dan saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan dan saling menjauh. (Ruhul Ma’ani,11/265)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَجَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا لِيَسۡكُنَ إِلَيۡهَاۖ

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (al-A’raf: 189)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah : “Yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah Hawa. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dengan pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, dan Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah yaitu cinta dan rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuhkannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, dan sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)

Mawaddah dan rahmah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak didapatkan mawaddah dan rahmah di antara  sesama manusia sebagaimana mawaddah dan rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)

Allah subhanahu wa ta’ala tumbuhkan mawaddah dan rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan ‘Ikrimah rahimuhumullah berkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tidak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)

Cinta Suami Istri adalah Anugerah Ilahi

Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada keduanya, dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Munafiqun:9)

رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (an-Nur: 37) (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)

Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tidak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dalam firman-Nya :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٤

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)

Kecintaan kepada Istri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dalam sabdanya:

Dicintakan kepadaku dari dunia kalian[1], para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”[2]

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:

“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”

Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”

“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.[3]

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata membela dan memuji Khadijah bintu Khuwailid  radhiallahu ‘anha  ketika ‘Aisyah  radhiallahu ‘anha cemburu kepadanya:

“Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah ingin menjadi perantara dan penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya untuk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dalam ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan dan tetap memilih untuk berpisah, sebagaimana kisah Mughits dan Barirah. Barirah[5] adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dengan suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas radhiallahu ‘anhu:

“Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa cinta Mughits pada Barirah dan rasa benci Barirah terhadap Mughits?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”

“Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”

“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.[6]

 

Tiga Macam Cinta Menurut Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah

Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah  rahimahullah ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:

Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram dan mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi manusia.

Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala dan akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama dan dunia seorang hamba. Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dengan penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, hingga ia terusir dari pintu-Nya dan jauh hatinya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah subhanahu wa ta’ala. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum Luth ‘alaihissalam hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ٧٢

“Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan.” (al-Hijr: 72)

Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, menyibukkan diri dengan berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dengan cinta kepada-Nya dan mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu dan hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dalam cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dalam shalat jenazah[7]. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah dan petaka telah menyelimuti dan menyelubunginya.

Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tidak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tidak mengantarnya untuk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tidak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat untuk dilakukan adalah menolak perasaan itu dan menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) dan bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya pahala dan menggantinya dengan perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah subhanahu wa ta’ala dan menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan untuk menaati hawa nafsunya dengan lebih mengutamakan keridlaan Allah subhanahu wa ta’ala dan ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`’alaihissalam wad Dawa`, hal. 370-371)

Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri untuk mencintai, atau paling tidak belajar mencintai teman hidupnya?

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

 

[1] Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi dan shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)

[2] HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)

[3] HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” dan Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

[4] HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin  radhiallahu ‘anha

[5] Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tidak berkulit hitam. Beda halnya dengan Mughits, suaminya. Barirah menikah dengan Mughits dalam keadaan ia tidak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dengan suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dalam pernikahan dengan suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah subhanahu wa ta’ala walaupun ia tidak menyukai suaminya. Dan ia tetap tidak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kelapangan dan jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)

[6] Lihat hadits dalam Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd dan no. 5283, bab Syafa’atun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Zauji Barirah.

[7] Artinya dia telah mati

 

Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Membuat suami senang merupakan salah satu tugas seorang istri. Akan tetapi, caranya tentu bukan dengan berprinsip Asal Suami Senang. Tidak semua hal yang membuat senang suami boleh dilakukan. Apa saja yang membuat suami senang tetapi dilarang oleh syariat?

Lanjutkan membaca Menyenangkan Suami Ada Batasnya

Arti Sebuah Kejujuran

Dalam kehidupan rumah tangga, dusta kepada pasangan barangkali telah menjadi hal lumrah. Lebih-lebih bila aroma perselingkuhan sudah merebak di antara mereka. Tak pelak, rasa percaya dan cinta pun akan terurai menjadi kebencian yang berujung pada kehancuran rumah tangga. Namun, dalam keadaan tertentu, dusta terkadang boleh dilakukan suami/istri. Kapan? Simak bahasan berikut.

Lanjutkan membaca Arti Sebuah Kejujuran

Setiap Problema Haruskah Diakhiri dengan Perceraian?

Perselisihan yang terjadi antara sepasang suami istri dalam sebuah rumah tangga merupakan perkara yang tidak bisa dihindari. Dalam menghadapi perselisihan tersebut diperlukan sikap arif, sabar, dan pikiran jernih. Bila yang muncul adalah sikap sebaliknya, perselisihan bisa semakin besar, bahkan tak jarang muncul ancaman dari salah satu pihak atau kedua pihak untuk bercerai. Padahal perceraian merupakan perkara yang menimbulkan banyak kejelekan, dan tidak semua perselisihan mesti diakhiri dengan perceraian.

Lanjutkan membaca Setiap Problema Haruskah Diakhiri dengan Perceraian?

Permasalahan Rumah Tangga Sebuah Kemestian

Beragam persoalan, dari yang ringan hingga yang sifatnya berat, akan selalu mendera setiap rumah tangga. Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia termulia di muka bumi, juga tak luput dari terpaan “badai” yang menggoncang rumah tangganya. Di sini, jelas dibutuhkan ilmu dalam memecahkan setiap persoalan agar tidak berkembang menjadi prahara yang mengancam keutuhan rumah tangga.

Lanjutkan membaca Permasalahan Rumah Tangga Sebuah Kemestian

Berkhidmat Pada Suami

Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun, banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri salihah menyikapi hal ini?

Lanjutkan membaca Berkhidmat Pada Suami