Meniru yang Terlarang

Lelaki meniru atau menyerupakan diri dengan wanita dalam hal yang khusus atau sebaliknya wanita menyerupai lelaki dalam sesuatu yang menjadi kekhususan laki-laki adalah perilaku yang terlarang. Dalilnya telah kita baca pada edisi sebelum ini. Berikut ini kita akan melihat sisi-sisi penyerupaan yang dilarang tersebut.

Tasyabbuh (Penyerupaan) dalam Berbusana

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُوْلُ الله الرجُلَ يَلْبَسُ لبْسَةَ الْمَرْأَة وَ الْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لبْسَةَ الرجُل.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang mengenakan pakaian wanita dan melaknat wanita yang mengenakan pakaian lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Larangan menyerupai pakaian lawan jenis ini mencakup macam atau jenis pakaiannya, tata cara, dan modelnya. Bahan sutra, misalnya, tidak boleh dipakai lelaki karena sutra adalah jenis pakaian khusus wanita. Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَريْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإنَاثِهِمْ

“Diharamkan pakaian sutra dan emas bagi lelaki dari kalangan umatku dan dihalalkan untuk kaum wanita mereka.” (HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Jenis pakaian yang dicelup dengan ushfur (mu’ashfar) tidak boleh dipakai oleh lelaki karena merupakan pakaian khas wanita. Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَينِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا؟ قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[1]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[2]?”

Beliau bersabda, “Bahkan bakarlah dua pakaian tersebut!”[3] (HR. Muslim no. 5401)

Dalam satu riwayat Abu Dawud disebutkan oleh Abdullah radhiallahu ‘anhuma,

هَبَطْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله مِنْ ثَنِيَّةٍ فَالْتَفَتَ إلَيَّ وَعَلَيَّ رَيْطَةٌ مُضَرَّجَةٌ بالْعُصْفُورِ، فَقَالَ: مَا هَذِهِ الرَّيْطَةُ عَلَيْكَ؟ فَعَرَفْتُ مَا كَرِهَ فَأَتَيْتُ أَهْلِي وَهُمْ يَسْجُرُونَ تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتُهَا فِيهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنَ الْغَدِ فَقاَلَ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا فَعَلَتِ الرَّيْطَةُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَال: أَلاَ كَسَوْتَهَا بَعْضَ أَهْلِكَ، فَإنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لِلنِّسَاءِ

Kami turun bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Tsaniyah (dataran tinggi), beliau lalu menoleh kepadaku sementara aku mengenakan pakaian yang dicelup dengan ushfur. Beliau pun bersabda, “Pakaian apa yang kamu kenakan ini?”

Aku melihat ketidaksukaan beliau, aku pun mendatangi keluargaku yang saat itu tengah menyalakan tungku api mereka. Pakaian yang dicelup ushfur itu pun (setelah kutanggalkan) aku lemparkan ke dalam tungku api. Keesokan harinya aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Wahai Abdullah, apa yang diperbuat pakaianmu (yang kemarin)[4]?”

Aku pun memberitahukan kepada beliau apa yang telah kuperbuat terhadap pakaian tersebut.

Setelah mendengar penuturanku beliau bersabda, “Mengapa tidak kau pakaikan saja kepada istrimu, karena pakaian demikian tidak apa-apa dipakai oleh kaum wanita.” (HR. Abu Dawud no. 4066, dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud)

Kaum wanita ketika keluar rumah atau di hadapan lelaki ajnabi dilarang memakai pakaian yang menampakkan wajah[5], kepala, atau lehernya, atau menampakkan bagian tubuhnya yang diperintahkan untuk ditutup di hadapan nonmahram. Selain karena semua itu merupakan aurat bagi kaum wanita, juga agar mereka berbeda dengan lelaki.

Kalaupun ada model pakaian yang menutup tubuh tetapi model yang khusus bagi lelaki, si wanita tetap tidak boleh memakainya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata menukilkan ucapan al-Imam ath-Thabari rahimahullah, “Maknanya, tidak boleh kaum lelaki bertasyabbuh dengan kaum wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang merupakan kekhususan wanita. Demikian pula sebaliknya.”

Al-Hafizh rahimahullah menambahkan, “Demikian pula dalam cara berbicara dan cara berjalan. Adapun model pakaian maka berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan setiap negeri. Bisa jadi, ada kaum (di satu negeri) tidak membedakan pakaian khas wanita dari pakaian khas lelaki. Akan tetapi, untuk wanita ditambah dengan hijab dan menutup tubuh.” (Fathul Bari, 10/409)

 

Tasyabbuh dalam Cara Berjalan

Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said putri Abu Jahl berselempang busur dan berjalan seperti cara berjalan kaum lelaki. Berkatalah Abdullah, “Siapa perempuan ini?”

Dijawab, “Ini Ummu Said bintu Abi Jahl.”

Abdullah berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

        ‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/199—200, lihat penjelasan panjang lebar tentang hadits ini dalam catatan kaki kitab Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, karya al-Imam al-Albani, hlm. 142—144)

Ini adalah peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa pelaku tasyabbuh dengan lawan jenis tersebut ‘bukan termasuk golongan kami’, yakni bukan orang yang mengikuti sunnah kami atau bukan orang yang berjalan di atas jalan kami, jalan Islam.

Tasyabbuh dalam Suara

Di antara wanita ada yang memberat-beratkan suaranya meniru suara lelaki sebagaimana ada lelaki yang melembut-lembutkan suaranya, dibuat mendayu-dayu meniru suara wanita. Keinginan agar seperti lawan jenis ini menunjukkan terbaliknya fitrah mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melaknat lelaki yang menyerupai wanita ataupun sebaliknya.

        Bagaimana bila ada wanita yang memang dari asalnya bersuara berat, bukan karena dibuat-buat, apalagi bermaksud meniru lelaki?

        Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan pencerahan terhadap pertanyaan semisal ini. Kata al-Hafizh, “Celaan tasyabbuh (dengan lawan jenis) dalam hal ucapan dan cara jalan dikhususkan bagi orang yang bersengaja melakukannya. Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, maka dia diperintah untuk memaksakan dirinya meninggalkan kelainan perilaku tersebut dan terus berupaya meninggalkannya walau secara bertahap. Apabila tidak melakukannya dan terus ‘memelihara kelainan’ tersebut, dia pun masuk dalam celaan. Lebih-lebih lagi apabila tampak darinya hal-hal yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya.” (Fathul Bari, 10/409)

Tasyabbuh dalam Berhias

Contohnya memakai hena/pacar di tangan dan kaki, yang merupakan cara berhias kaum wanita. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitakan, pernah didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang banci yang mewarnai kedua tangan dan kedua kakinya dengan hena/daun pacar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

        مَا بَالُ هَذَا؟ قَالُوا: يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ. فَأُمِرَ بِهِ فَنُقِّيَ إِلَى النَّقِيعِ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّيْنَ

“Ada apa dengan orang ini?”

Dijawab, “Wahai Rasulullah, orang ini menyerupai wanita.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan orang tersebut diasingkan ke an-Naqi’.

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuhnya saja?”

“Aku dilarang membunuh orang__ orang yang shalat,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(HR. Abu Dawud no. kitab al-Adab, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam al-Misykat no. 4481)

Dari hadits di atas dipahami bahwa mewarnai tangan dan kaki merupakan kekhususan kaum wanita, tidak boleh dilakukan kaum lelaki. Buktinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukum lelaki banci yang melakukannya.

Adapun mewarnai rambut dengan hena untuk mengubah uban boleh dilakukan, bahkan disyariatkan bagi wanita dan lelaki, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh as-Sunnah.

Diperkenankan pula menggunakan hena untuk pengobatan. Abu ‘Amr ibnu Shalah rahimahullah mengatakan, “Memacari jenggot guna mengubah uban dibolehkan dan merupakan ajaran sunnah. Adapun menggunakan hena bagi lelaki untuk selain mengubah uban rambut/jenggot, maka dilihat. Kalau si lelaki memakainya untuk pengobatan, hukumnya boleh. Jika maksudnya untuk berhias dan semisal dengan maksud wanita memakainya, hukumnya tidak boleh.” (Adab al-Mufti wa al-Mustafti, 2/502)

Penyembuhan dan Hukuman bagi Pelaku

Telah dijelaskan di atas bahwa seseorang yang terkena penyakit penyimpangan perilaku dengan menyerupai lawan jenis, dia harus berusaha “sembuh” dari kelainan tersebut, bila tidak maka dia akan jatuh ke dalam laknat. Lalu bagaimana bila kelainan tersebut bawaan sejak lahir?

Menurut an-Naawi rahimahullah, mukhannats khalqi (seseorang yang terlahir banci) tidaklah ditujukan kepadanya celaan (karena di luar kuasanya, alias bukan kesengajaan)[6].

Akan tetapi, kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, apa yang dinyatakan oleh an-Nawawi dan yang sependapat dengannya di atas berlaku ketika seorang banci tersebut sama sekali tidak mampu lagi meninggalkan sifat keperempuan-perempuanannya, sulit meninggalkan gemulainya saat berjalan dan berbicara, setelah dia melakukan upaya penyembuhan untuk bisa meninggalkan kelainan tersebut. Sebab, hal itu masih mungkin dihilangkan walaupun dengan bertahap, dia harus mengupayakannya. Jika dia tidak berupaya menghilangkannya tanpa ada uzur padahal dia bisa sembuh, dia pun terkena celaan. (Fathul Bari, 10/409)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya, al-Kabair, menyebutkan dosa tasyabbuh dengan lawan jenis ini sebagai salah satu dari dosa besar. Beliau menyatakan bahwa apabila wanita memakai pakaian khusus lelaki, berarti si wanita telah menyerupai lelaki dalam hal pakaian, sehingga dia masuk dalam laknat Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Suami si wanita menanggung pula dosanya apabila si suami memberi kelapangan bagi istrinya untuk melakukannya atau dia menyenanginya dan tidak melarangnya. Suami turut menanggung dosanya karena dia diperintah untuk meluruskan istrinya di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan melarangnya berbuat maksiat. Hal ini berdasar firman Allah ‘azza wa jalla,

قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Dan berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقيَامَةِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang rakyatnya (yang dipimpinnya). Seorang lelaki adalah pemimpin di keluarganya dan dia akan ditanya/dimintai pertanggungjawaban tentang mereka pada hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaihi) (al-Kabair, hlm. 129)

Al-Imam al-Haitsami rahimahullah dalam az-Zawajir (1/126) berkata, “Perbuatan tasyabbuh dengan lawan jenis terhitung dalam dosa besar adalah merupakan hal yang jelas berdasarkan hadits-hadits yang Anda ketahui dan ancaman keras yang di dalamnya.

Yang aku lihat dalam tasyabbuh ini, para imam (ulama) kita memiliki dua pendapat: satu pendapat mengatakan haram. Pendapat ini yang dinyatakan sahih oleh an-Nawawi, bahkan beliau benarkan. Pendapat kedua mengatakan makruh dan ini dinyatakan sahih oleh ar-Rafi’i dalam satu tempat.

Namun, yang sahih, bahkan yang benar, adalah pendapat yang dinyatakan oleh an-Nawawi bahwa hal tersebut haram, bahkan termasuk dosa besar—sebagaimana telah aku kemukakan.

Aku juga melihat sebagian orang yang membahas tentang dosa-dosa besar menggolongkan tasyabbuh dengan lawan jenis sebagai dosa besar, dan inilah pendapat yang zahir.” (Sebagaimana dinukil dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 148—149)

Ibnu at-Tin rahimahullah berkata, “Pihak yang mendapat laknat dalam hadits ini adalah para lelaki yang bertasyabbuh dengan para wanita atau para wanita bertasyabbuh dengan para lelaki dalam hal pakaian khusus (masing-masing).

Adapun para lelaki yang perbuatan tasyabbuhnya dengan para wanita (si lelaki telah menjelmakan dirinya atau memosisikan dirinya sebagai wanita) sampai pada taraf berhubungan badan dengan sesama lelaki pada duburnya (melakukan liwath/sodomi sebagaimana perbuatan kaum Luth ‘alaihissalam), atau tasyabbuh para wanita dengan lelaki (si wanita telah menjelma menjadi lelaki) sampai pada taraf dia “mendatangi” sesama wanita dengan melakukan sahq (dimaklumi dari perbuatan para lesbian), na’udzubillah, kedua macam penyimpangan moral ini sangat pantas beroleh celaan dan hukuman lebih keras[7] daripada pelaku yang belum sampai pada taraf demikian.” (Fathul Bari, 10/409)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan (dalam urusan orang banci dan lesbian),

أَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ

“Keluarkan (usirlah) mereka dari rumah-rumah kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir Fulan (seorang banci) dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu mengusir Fulanah (seorang wanita yang menyerupai lelaki).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengusir mukhannats (banci) dan mutarajjilah (lesbian) dengan maksud agar tasyabbuh yang mereka lakukan dengan lawan jenis tidak sampai pada taraf melakukan perbuatan mungkar di atas (melakuan liwath dan sahq). (Fathul Bari, 10/409)

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mengusir mereka dan memerintahkan mengusir mereka, mengapa ada orang-orang yang sok berteriak-teriak agar para banci dan para lesbian ini diberi tempat dan diakui keberadaannya, lalu menganggap sah-sah saja adanya transgender? Wallahul musta’an.

Sebagai penutup, kita bawakan sebuah hadits yang apabila dibaca oleh orang-orang yang berperilaku menyimpang tersebut, semoga mereka mau segera bertobat dan memaksimalkan pengobatan penyakit ‘kelainan’nya. Mereka yang belum terkena, jangan coba-coba mendekati penyakit tersebut.

Abdullah ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ لاَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَنْظُرُ اللهُ إلَيْهِمْ يَوْمَ الْقْيَامَةِ: الْعَاقُّ وَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ، وَالدَّيُّوثُ

“Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah ‘azza wa jalla tidak akan melihat mereka pada hari kiamat kelak,

  • anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya,
  • wanita mutarajjilah (kelelaki-lelakian) yang menyerupai kaum lelaki, dan
  • dayyuts.”[8]

(HR. an-Nasa’i, kata al-Imam al-Hakim rahimahullah, “Shahihul isnad,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah, “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya, insya Allah.” Catatan kaki Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 145)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warna pakaian yang dicelup tersebut berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[2] Sehingga warna celupannya luntur.

[3] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan demikian sebagai peringatan keras bagi lelaki yang memakai pakaian mu’ashfar.

[4] Yakni bagaimana kabarnya.

[5] Menurut pendapat yang mewajibkan menutup wajah bagi wanita. Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat.

[6] Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berdalil untuk pendapat ini dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak melarang seorang banci masuk ke tempat para wanita sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar si banci tersebut menyebutkan secara rinci sifat seorang wanita. Ketika itu barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si banci masuk ke tempat para wanita. Dikabarkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sisinya saat di rumahnya ada seorang banci. Si banci berkata kepada Abdullah saudara lelaki Ummu Salamah, “Wahai Abdullah, apabila besok Allah ‘azza wa jalla memberikan kemenangan kepada kalian atas negeri Thaif, aku akan menunjukkan kepadamu putri Ghailan, karena dia menghadap dengan empat dan membelakang dengan delapan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali mereka ini masuk ke tempat kalian.”

Hal ini menunjukkan tidak ada celaan bagi seorang banci yang memang asal penciptaannya demikian. (Fathul Bari, 10/409)

[7] Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang hukuman bagi pelaku liwath/sodomi, disampaikan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ

“Siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah (pelaku) dan yang menjadi obyek).”

(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll. Al-Imam Ahmad berargumen dengan hadits ini. Sanad haditsnya menurut syarat al-Bukhari, kata al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ [hlm. 262—263]. Beliau juga menyatakannya sahih dalam Zadul Ma’ad.)

[8] Suami/kepala keluarga yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya dengan membiarkan kemungkaran di tengah-tengah mereka.

Melanggar Kodrat

Banci, wadam, dan waria adalah sebutan yang membuat kita bergidik. Bukan karena mereka menyeramkan, melainkan karena mereka yang menyengaja berbuat demikian jelas abnormal, berperilaku menyimpang. Memalukan rasanya bila ada kerabat kita yang mengalami problem demikian. Ejekan, cibiran, jangan ditanya lagi. Bahkan, tak jarang menjadi tontonan yang menggelikan.

Allah subhanahu wa ta’ala, Sang pencipta, menciptakan jenis lelaki di atas tabiatnya. Dia pun menciptakan jenis wanita di atas tabiatnya. Dia memiliki hikmah yang agung dalam membedakan antara lelaki dan wanita, agar masing-masingnya menunaikan tugas yang sesuai dengan tabiatnya dalam kehidupan ini.

Bila ada lelaki yang mengubah diri menjadi wanita atau berperilaku khas wanita, dan sebaliknya wanita mengubah diri menjadi lelaki, atau berperilaku khas lelaki, tentu melanggar tabiat yang telah ditetapkan-Nya.

Nah, perilaku jenis manusia yang disebut di atas (baca, menjadi banci dengan sengaja) bukan hanya penyimpangan dalam kehidupan sosial masyarakat, tak sekadar memalukan, tetapi lebih penting dari itu melanggar syariat.

Ada hadits yang disampaikan sahabat yang mulia, Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang mereka yang berperilaku menyimpang tersebut,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِبْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki.” (HR.al- Bukhari no. 5885)

Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga menyampaikan hadits berikut ini,

لَعَنَ النَّبّيُ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang keperempuan-perempuanan dan wanita yang kelelaki-lelakian.” (HR. al-Bukhari no. 5886)

Abdullah ibnu Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma pernah melihat Ummu Said bintu Abi Jahl menyandang busur panah dan berjalan seperti jalannya lelaki. Ibnu Amr menegur dengan ucapannya, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ.

‘Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai lelaki dan lelaki yang menyerupai wanita’.” (HR. Ahmad 2/201, dinyatakan hasan sanadnya oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai lelaki. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan setiap jenis makhluk hidup dan menjadikan kebaikan serta kesempurnaannya pada urusan yang berserikat di antara satu jenis dan jenis yang lain, dan pada urusan yang menjadi kekhususan masing-masing. Urusan yang mereka berserikat (boleh dilakukan oleh semuanya, yang berjenis lelaki ataupun wanita –pen.) tidak menjadi kekhususan bagi satu jenis saja. Karena itulah, hal seperti ini tidak dilarang. Yang dilarang hanyalah yang bersangkutan dengan hal yang khusus. Apabila sesuatu telah menjadi kekhususan bagi kaum wanita, tidaklah boleh kaum lelaki melakukannya sehingga menyerupai wanita. Sebaliknya, yang menjadi kekhususan kaum lelaki, tidaklah boleh kaum wanita menyerupainya.” (Majmu’ Fatawa, 32/259—260)

Selain itu, menyerupai lawan jenis menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya. Seakan-akan si pelaku berjenis lelaki protes, tidak terima dengan kelelakiannya sehingga mengubah diri menjadi wanita, atau tetap tampil sebagai lelaki namun berperilaku seperti wanita. Sebaliknya, ada wanita yang berperilaku seperti lelaki, tomboi, atau mengubah diri menjadi lelaki, seakanakan dia protes dan menganggap pilihannya lebih baik dari ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam penciptaan-Nya.

Berperilaku menyimpang seperti ini, lelaki menyerupai wanita atau wanita memiripkan dirinya dengan lelaki, juga menunjukkan adanya kelainan pada diri si pelaku, Dia mengubah dirinya kepada sesuatu yang bukan asal penciptaannya. Semua ini merupakan kezaliman yang melampaui batas. Karena itu, pantaslah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya wanita menyerupai lelaki, baik dalam hal ucapan (cara atau gaya berbicara), pakaian, cara berjalan, maupun selainnya.” (Nailul Authar, 4/529)

Laknat sendiri maknanya adalah terusir dan dijauhkan dari rahmat ataupun kebaikan. Kalimat laknat jelas mengandung celaan. Di samping itu, laknat menunjukkan keharaman yang ditekankan. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melaknat kecuali terhadap pelaku dosa yang besar.

Dengan demikian, laknat yang disebutkan dalam hadits di atas menunjukkan perbuatan menyerupai lawan jenis dalam hal yang menjadi kekhususan jenis masing-masing, bukan dalam urusan yang berserikat, termasuk keharaman yang besar atau dosa besar.

Sebab dilaknatnya pelaku perbuatan demikian adalah karena dia telah mengeluarkan atau menyimpangkan sesuatu dari sifat yang diletakkan oleh Ahkamul Hakimin (Allah subhanahu wa ta’ala Dzat Yang Mahahakim/Memiliki hikmah). (Fathul Bari, 10/410)

Penyerupaan yang dilarang seperti yang telah disinggung adalah dalam hal pakaian khas, sebagian sifat, gerakan, dan semisalnya. Adapun lelaki menyerupai wanita dan sebaliknya dalam hal kebaikan, tentunya tidak masuk dalam pelarangan. (Fathul Bari, 10/409)

Karena menyerupai lawan jenis itu diharamkan, ada beberapa hal yang tidaklah dilarang kecuali karena alasan menyerupai lawan jenis. Contohnya berikut ini.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabat beliau tentang tashfiq[1] (tepuk tangan) di dalam shalat,

التَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ وَالتَّصْفِيْقُ للنِّسَاءِ

“Tasbih (mengucapkan ‘subhanallah’) untuk lelaki dan tashfiq untuk wanita.” (HR. al-Bukhari no. 1203 dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan bagi lelaki dan wanita dalam hal cara menegur atau mengingatkan imam dalam shalat. Lelaki mengucapkan tasbih, sedangkan wanita melakukan tashfiq. Lelaki tidak boleh melakukan tashfiq karena hal itu menyerupai wanita.

  • Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma berkata,

رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَال  :أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا. قَالَ: بَلْ أَحْرِقْهُمَا.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku mengenakan dua pakaian mu’ashfar[2]. Beliau pun bersabda, “Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?”

Aku menjawab, “Apakah saya cuci saja dua pakaian ini[3]?”

Beliau bersabda, “Bahkan, bakarlah dua pakaian tersebut!” (HR. Muslim no. 5401)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah ibumu yang menyuruhmu untuk memakainya?’, maknanya adalah pakaian yang kamu kenakan ini termasuk pakaian kaum wanita, pakaian khas mereka dan akhlak mereka.” (al-Minhaj, 13/280)

  • Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ.

“Diharamkan memakai sutra dan emas bagi kalangan lelaki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum wanitanya.(HR. at-Tirmidzi no. 1720, an-Nasa’i no. 5148, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Di antara hikmah pelarangan lelaki memakai sutra adalah karena sutra menjadi pakaian perhiasan khas wanita, sesuai dengan kehalusan dan kelembutan wanita. Karena itu, sutra tidak cocok dipakai oleh lelaki karena menyelisihi kejantanan dan keperwiraannya.

Apabila lelaki dibolehkan memakai sutra, niscaya akan timbul mafsadat berupa menyerupai wanita. Bisa jadi, akhirnya akan berefek si lelaki menjadi ‘keperempuan-perempuanan’, gemulai seperti gaya wanita. Padahal lelaki dituntut menjadi seorang yang kuat, gagah, dan tidak lembek, karena harus menghadapi kerasnya hidup dan beratnya pekerjaan di luar sana.

  • Ya’la bin Murrah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki memakai khaluq, maka beliau bersabda,

اذْهَبْ فَاغْسِلْهُ، ثُمَّ اغْسِلْهُ، ثُمَّ لاَ تَعُدْ.

“Pergilah untuk mencuci bekas khaluq ini, lalu cuci lagi, kemudian jangan kamu ulangi.” (HR. an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if Sunan at-Tirmidzi)

Wewangian khaluq dilarang bagi lelaki karena merupakan wewangian khas wanita.

  • Pensyariatan membiarkan jenggot bagi lelaki juga termasuk dalam bab ini, ‘agar tidak seperti wanita’ dan masih banyak lagi.

Para ulama pun berfatwa melarang beberapa hal dengan alasan ‘tasyabbuh’ (menyerupai lawan jenis). Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Tidaklah aku membenci lelaki memakai mutiara kecuali karena mutiara adalah perhiasan khas wanita.” (Fathul Bari, 10/410)

Tasyabbuh yang Dicela

Telah disebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang laknat bagi lelaki yang menyerupai wanita dan sebaliknya. Laknat yang ditujukan pada suatu perbuatan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tercela.

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan bahwa laknat tersebut khusus bagi orang yang bersengaja melakukannya. Artinya, si lelaki memang sengaja menyerupai wanita dan si wanita sengaja menyerupai lelaki.

Adapun seseorang yang asal tabiatnya memang demikian, dia terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki kelainan berupa tampaknya sifat kewanita-wanitaan, atau sebaliknya terlahir sebagai wanita tetapi punya sifat kelelaki-lelakian, dia diperintah untuk mengubah kelainan sifat tersebut, memaksa dirinya dan melatihnya secara bertahap.

Apabila dia tidak melakukannya dan terus ‘memelihara’ kelainan tersebut, orang ini pun masuk dalam celaan. Terlebih lagi apabila tampak darinya tanda yang menunjukkan dia senang dengan kelainan yang ada padanya. (Fathul Bari, 10/409)

Nah, apabila seseorang yang asalnya memang mengidap kelainan saja diperintah untuk berusaha mengobati kelainannya walau secara berlahan dan bertahap, lantas bagaimana halnya dengan seseorang yang lahir normal sebagai lelaki dengan sifat-sifat lelaki atau lahir sebagai wanita dengan sifat-sifat wanita, namun karena pengaruh lingkungan atau salah asuh, dia berubah; ‘lelaki tetapi seperti wanita’, ‘wanita tetapi seperti lelaki’? Bagaimana pula dengan seseorang yang mengubah penampilannya karena tuntutan profesi atau pekerjaan?

Apabila karena salah asuh, dia harus memiliki kesadaran diri untuk berubah sebagaimana asal penciptaannya.

Apabila dia terlahir sebagai lelaki, dia harus sadar untuk menjadi lelaki yang sebenarnya dan ridha dengan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila dia terlahir sebagai wanita, dia harus sadar untuk menjadi wanita dan ridha pula. Tentu Allah subhanahu wa ta’ala melihat usahanya dan tidak membebaninya selain yang dia mampu setelah mencurahkan segala upaya.

Bagaimana halnya dengan orang yang mengubah dirinya karena tuntunan profesi atau pekerjaan? Dia lelaki tulen, tetapi karena harus berlakon sebagai wanita, dia mengubah penampilan sebagai wanita, atau tetap berpenampilan lelaki namun bergaya banci. Tentu yang seperti ini tidak pantas, dan sangat tepat dia diancam dengan hadits-hadits di atas.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Bedakan dengan tepuk tangan yang dilakukan oleh orang-orang jahil yang meniru orang-orang kafir.

[2] Pakaian yang dicelup dengan ushfur, sejenis tumbuhan yang tumbuh di Jazirah Arab, sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah yang khas.

[3] Sehingga warna celupannya luntur.

Untuk yang Diundang Walimah

Saudari muslimah….

Ketika Anda diundang sanak famili, tetangga, atau teman untuk suatu acara pernikahan atau walimah al-urs, selama tidak ada penghalang syar’i, Anda harus menghadiri undangan tersebut. Hal ini berpijak dengan hadits berikut,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Apabila salah seorang dari kalian diundang acara walimah, hendaknya dia menghadirinya.” (HR . al-Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 3495, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat Muslim (no. 3499) ada lafadz,

عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ

“(Sama saja) apakah undangan walimah urs atau semisalnya.”

Dalam riwayat al-Bukhari (no. 5177) dan Muslim (no. 3511) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

وَمَنْ تَرَكَ (وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: وَمَنْ لم يُجِبِ) الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Siapa yang meninggalkan (dalam lafadz al-Imam Muslim: tidak memenuhi) undangan, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Hadits ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan. Sebab, maksiat tidaklah disematkan pada diri seseorang melainkan karena dia telah meninggalkan kewajiban. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah. (Fathul Bari, 9/305)

Janur Kuning

Bagaimana Apabila Bertepatan Anda Sedang Berpuasa?

Ada hadits yang menjawab masalah ini. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَ نْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang, hendaknya dia memenuhinya. Apabila dia sedang berpuasa, hendaknya dia mendoakan. Namun, jika dia tidak berpuasa, hendaknya dia makan.” (HR . Muslim no. 3506)

Tentang makna ‘mendoakan’ dalam hadits di atas, kata jumhur ulama adalah mendoakan yang menyajikan makanan dengan ampunan, berkah, dan semisalnya. (al-Minhaj, 9/237)

Apabila puasa yang sedang dilakukan adalah puasa sunnah, boleh bagi yang diundang membatalkan puasanya. Lebih-lebih lagi apabila tuan rumah memintanya terus-menerus untuk makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ. فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, hendaknya dia memenuhinya. Kalau mau, dia makan. Kalau dia mau pula, dia tidak makan.” (HR . Muslim no. 3504 dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

Kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Jika puasanya adalah puasa sunnah dan yang menyajikan makanan (si pengundang) merasa berat dengan puasanya (kecewa karena dia tidak makan), yang afdal dia berbuka.” (al-Minhaj, 9/237)

Ummu Hani radhiallahu ‘anha menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيْرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang berpuasa sunnah adalah pimpinan bagi dirinya. Jika mau, dia tetap puasa; dan jika mau, dia berbuka.” (HR . an-Nasa’i, menurut al-Hakim sanadnya sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan keduanya, kata al-Imam Albani rahimahullah dalam kitabnya Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 156)

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku lalu bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?’

‘Tidak,’ jawabku.

‘Kalau begitu aku berpuasa,’ ujar beliau.

Di hari yang lain, ada yang mengirimiku makanan hais sebagai hadiah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai hais. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah kita dihadiahi hais.’

‘Sajikan untukku,’ jawab beliau, ‘Sebenarnya sejak tadi pagi saya berpuasa.’

Beliau menyantap hais tersebut, kemudian berkata,

إِنَّمَا مَثَلُ صَوْمِ الْمُتَطَوِّعِ مِثْلُ الرَّجُلِ يُخْرِجُ مِنْ مَالِهِ الصَّدَقَةَ، فَإِنْ شَاءَ أَمْضَاهَا وَإِنْ شَاءَ حَبَسَهَا

‘Permisalan seseorang yang berpuasa sunnah hanyalah seperti seorang lelaki yang mengeluarkan sedekah dari hartanya. Kalau dia mau dia berikan sedekah tersebut dan kalau mau dia tahan (tidak memberikannya).’ (HR . an-Nasa’i dengan sanad yang sahih. Lihat al-Irwa 4/136)

 

Bagaimana Apabila Ada Maksiat?

Apabila di tempat undangan tersebut ada perbuatan maksiat, Anda jangan menghadirinya, kecuali apabila Anda ingin melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Kalau berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak, Anda harus meninggalkan tempat acara tersebut.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah membuat makanan lalu kuundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantapnya. Beliau pun datang lalu melihat di dalam rumah ada gambar-gambar (makhluk bernyawa). Beliau pun kembali. Ketika ditanya alasan beliau kembali, beliau bersabda,

إِنَّ فِي الْبَيْتِ سِتْرًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَصَاوِيْرُ

“Di dalam rumah itu ada satir yang bergambar. Sungguh malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar-gambar di dalamnya.” (HR . Ibnu Majah dengan sanad yang sahih. Lihat kitab Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 161)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلاَ يَقْعَدَنَّ عَلىَ مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ

“Siapa yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, janganlah sekali-kali dia duduk di meja hidangan yang di atasnya diedarkan khamr.” (HR . Ahmad, lihat al-Irwa no. 1949)

Al-Imam al-Auza’i rahimahullah pernah berkata, “Kami tidak masuk ke tempat walimah yang di dalamnya ada gendang dan alat musik.” (Adab az-Zafaf, hlm. 166)

 

Yang Sunnah Dilakukan oleh Tamu Undangan

Ada dua hal yang disenangi untuk Anda lakukan saat menghadiri undangan, yaitu:

  1. Mendoakan si pengundang setelah selesai menyantap hidangannya.

Dalam hal ini ada beberapa doa yang dicontohkan.

  1. Abdullah bin Busr menyatakan bahwa ayahnya membuatkan makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengundang beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi undangan tersebut. Selesai menyantap hidangan beliau berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَباَرِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah, ampuni mereka, rahmatilah mereka, dan berkahilah mereka dalam apa yang Engkau rezekikan kepada mereka.” (HR . Muslim)

  1. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai menikmati hidangan yang disajikan Sa’d bin Ubadah radhiallahu ‘anhu di rumahnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

أَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ

“Telah makan makanan kalian orang-orang baik dan para malaikat bershalawat atas kalian. Orang-orang yang berpuasa berbuka puasa di sisi kalian.” (HR . Ahmad 3/138, dll. Sanadnya sahih, lihat catatan kaki adab az-Zafaf, hlm. 170)

 

  1. Mendoakan pengantin dengan doa kebaikan dan keberkahan

Berikut ini doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Saat mendoakan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu,

بَارَكَ اللهُ لَكَ

“Semoga Allah memberkahimu.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

  1. Ketika mendoakan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu saat menikahi putri beliau, Fathimah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا وَبَارِكْ لَهُمَا فِي بِنَائِهِمَا

“Ya Allah, berkahilah dalam pernikahan keduanya dan berkahilah keduanya dalam malam pengantin keduanya.” (HR . Ahmad 3/359, dll. Kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam catatan kaki Adabuz Zafaf hlm. 145, Niswah “Rijalnya tsiqat, rijal al-Imam Muslim, selain Abdul Karim. Sejumlah orang tsiqat meriwayatkan darinya. Kata al-Hafizh dalam at-Taqrib, “Dia maqbul/ diterima.”)

  1. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan pengantin dengan ucapan,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

(HR . Abu Dawud, Tirmidzi, dll. Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)

 

Tidak diperkenankan kita mengucapkan ucapan selamat seperti yang biasa diucapkan orang-orang jahiliah, misalnya,

بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْنَ

“Semoga dianugerahi kerukunan dan banyak anak.”

Ketika Uqail bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menikah dengan seorang wanita dari Jusyam, orang-orang mengucapkan selamat dengan ucapan بِالرّفَاءِ وَالْبَنِيْن . Uqail berkata, “Jangan kalian mengucapkan demikian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.”

Mereka bertanya, “Lantas apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid?”

“Ucapkanlah,

بَارَكَ اللهُ لَكُمْ وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ

Sungguh, dengan itu kami diperintah.” (HR . Ibnu Abi Syaibah, Abdur Razzaq, dll. Lihat Adab az-Zafaf, catatan kaki hlm. 176)

Demikian bimbingan dalam as-Sunnah.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Si Tumit Tinggi

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 hak-tinggi

Berbusana modis ala zaman ‘sesuai anggapan mereka’ lengkap dengan sepatu berhak tinggi merupakan pemandangan yang terlalu sering dan sangat biasa terlihat di luar sana. Seakan-akan semua itu merupakan penampilan yang harus diikuti oleh perempuan modern.

Sepatu berhak tinggi yang dianggap kelayakan dari sebuah penampilan ini sungguh merupakan musibah, karena terlalu banyak perempuan (baca: muslimah) yang tergoda untuk memakainya. Padahal kalau mau dirunut, budaya memakai alas kaki “kelebihan hak” ini bukanlah dari Islam. Lantas, budaya dari mana? Kita pun teringat dengan perempuan Bani Israil atau Yahudi, bagaimana mereka mengada-ada dalam berhias sehingga terjatuh dalam pelanggaran syariat.

Sebagai contoh, akan kita bawakan beberapa kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat tentang hal tersebut.

Sahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisah,

كَانَتِ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ امْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ، فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ، ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ، فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا

“Ada seorang wanita bertubuh pendek dari kalangan Bani Israil berjalan bersama dua wanita yang berpostur tinggi. Yang bertubuh pendek memakai dua kaki dari kayu (semacam sandal atau sepatu untuk menambah tingginya) dan mengenakan cincin dari emas yang digantung, yang ditutup. Kemudian dia memenuhinya dengan misik yang merupakan minyak wangi paling harum. Lalu dia lewat di antara dua wanita yang tinggi sementara mereka tidak mengenalinya.” (HR. Muslim, kitab al-Alfazh, no. 5842)

Said ibnul Musayyab rahimahullah, tokoh ulama tabi’in, berkata, “Muawiyah radhiallahu ‘anhu datang ke Madinah, lalu berkhutbah dan mengeluarkan gelungan rambut[1].

Beliau pun berkata,

مَا كُنْتُ أَرَى أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُهُ إِلاَّ الْيَهُوْدُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَلَغَهُ فَسَمَّاهُ الزُّوْرَ

‘Semula aku tidak mengira bahwa ada seseorang yang melakukannya[2] selain Yahudi. Sesungguhnya telah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (berita) tentang menyambung rambut, maka beliau menamakannya dengan kedustaan’.” (HR. Muslim, kitab al-Libas, no. 5545)

Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah, alim dari negeri Yaman pada masanya, membawakan riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata,

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ أَرْجُلاً مِنْ خَشَبٍ يَتَشَرَّفْنَ لِلرِّجَالِ فِي الْمَسَاجِدِ، فَحَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِنَّ الْمَسَاجِدَ وَسُلِّطَتْ عَلَيِهْنَّ الْحَيْضَةُ

“Dahulu para perempuan Bani Israil mengenakan kaki-kaki dari kayu agar mereka terlihat lebih tinggi oleh para lelaki di masjid-masjid. Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengharamkan bagi mereka mendatangi masjid dan ditimpakan kepada mereka haid.” (Mushannaf Abdur Razzaq 3/149)

Kata Ibnu Hajar rahimahullah, “Sanadnya sahih.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Walaupun hadits ini mauquf (ucapan sahabat, yaitu Aisyah radhiallahu ‘anha), tetapi hukumnya marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sebab, urusan seperti ini tidak bisa dikatakan bersumber dari pendapat sendiri atau akal-akalan. Maksud ‘ditimpakan kepada mereka haid’ dalam hadits di atas adalah masa haid perempuan Bani Israil panjang. Mereka harus menjalani waktu yang lama untuk sampai kepada masa suci. Hal ini termasuk hukuman yang ditimpakan akibat perbuatan mereka yang disebutkan dalam hadits.” (Fathul Bari, 2/407)

Maksud ‘kaki-kaki dari kayu’ menjadi lebih jelas dengan atsar dari sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Ishaq ibnu Rahuyah rahimahullah dalam Musnadnya (2/147),

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ قَوَالِبَ

Kata قَوَالِب adalah bentuk jamak dari قاَلِبٌ , artinya ‘sandal dari kayu’. (Lisanul ‘Arab, maddah qalaba, 1/689)

Berita tentang perbuatan perempuan Yahudi dan kerusakan yang mereka adaadakan adalah bukti bahwa sumber mayoritas kejelekan dan kerusakan di muka bumi ini adalah mereka, bangsa Yahudi.

Kita tidak heran dengan ulah bangsa yang dimurkai[3] dan dilaknat ini[4] karena mereka memang cinta kerusakan dan membenci perbaikan, cinta kekafiran dan benci kepada keimanan berikut ahlul iman[5], kecuali mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan dengan mendapat petunjuk.[6]

Karena ulah kaum perempuan Yahudi tersebut, kaum lelaki mereka tergoda. Kita pun teringat dengan hadits yang menyatakan bahwa bencana pertama yang menimpa Bani Israil bersumber dari kaum perempuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيِلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah dari wanita[7], karena sesungguhnya awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada godaan wanita.” (HR. Muslim, kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a, no. 6883)

Nah, sepatu tinggi ternyata diadopsi dari kaki kayu yang dibuat oleh perempuan Yahudi untuk mengesankan tubuhnya lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kita katakan seperti ini karena merekalah yang pertama kali berhias dan tampil di hadapan lelaki dengan model seperti itu, sebagaimana tersebut dalam hadits.

Jadi, memakai sandal atau sepatu tinggi berarti bertasyabbuh (menyerupai atau meniru) dengan Yahudi, padahal mereka adalah orang-orang kafir penghuni neraka. Tasyabbuh dengan ashabun nar (penghuni neraka) dalam hal yang merupakan kekhususan mereka adalah terlarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam haditsnya,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, kitab al-Libas, no. 4031. Dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’, 2/1059)

Menyerupai orang kafir secara lahiriah akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Tasyabbuh dengan orang yang buruk adalah keburukan dan sebaliknya tasyabbuh dengan orang yang baik adalah kebaikan.

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana apabila perempuan yang mengenakan sepatu tinggi tersebut tidak berniat tasyabbuh sama sekali?”

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, al-Iqtidha’, berikut ini adalah jawabannya. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa termasuk tasyabbuh dengan orang kafir ialah melakukan sesuatu yang asalnya merupakan perbuatan mereka.

Berdasarkan hal ini, wanita yang memakai sepatu tinggi berarti ber-tasyabbuh dengan wanita kafir, walaupun tujuannya bukan meniru mereka. Hanya saja, karena asal perbuatan tersebut diambil dari mereka, jadilah yang berbuat terjatuh dalam tasyabbuh.

Ternyata, bukan hanya kerusakan tasyabbuh yang dihindari dari pemakaian sepatu berhak tinggi ini. Namun, ada kerusakan atau pelanggaran lain pada pemakaiannya. Apakah itu? Perempuan yang keluar rumah memakai sepatu atau sandal bertumit tinggi telah melanggar salah satu adab syar’i bagi muslimah saat keluar rumah.

Adab yang dimaksud adalah tidak bersengaja memperdengarkan suara langkah kaki atau apa yang tersembunyi di baliknya dari perhiasan yang dikenakan, seperti suara gelang kaki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan….” (an-Nur: 31)

Apabila perempuan bersepatu tinggi melangkah, satu, dua, tiga langkah, dan seterusnya…. Apakah Anda mendengar suara sepatunya? Ya…. tuk…tuk…tuk atau suara semacam itu. Belum lagi apabila dia mengenakan gelang kaki, tentu lebih ramai lagi suaranya.

Kata Ummu Abdillah al-Wadi’iyah hafizhahallah, seorang penuntut ilmu senior dari negeri Yaman, putri al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’I rahimahullah, “Kita ditimpa bencana di zaman ini dengan al-ka’bul ‘ali (alas kaki bertumit tinggi). Kita dapati perempuan mengenakannya. Saking tingginya sandal tersebut, sampai memiliki suara (saat dipakai melangkah). Kadang si perempuan bertingkah genit ketika berjalan.[8]

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat. Jika dia keluar rumah, setan memerhatikannya dan menghiasinya (dalam pandangan lelaki[9]).” (HR. at-Tirmidzi, kitab ar-Radha’, no. 1173, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Misykat no. 3109 dan al-Irwa’ no. 273.  Lihat Nashihati lin Nisa’, hlm. 99)

Ada lagi satu madarat ketika perempuan mengenakan alas kaki yang tinggi. Si perempuan menghadapkan dirinya kepada bahaya, yaitu bisa saja terpeleset jatuh saat berjalan karena hak tinggi yang dikenakannya. Apalagi ketika dia berjalan terburu-buru.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ ketika ditanya tentang hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita memberikan jawaban sebagai berikut.

“Memakai sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan. Sebab, perempuan yang memakainya bisa terjatuh. Sementara itu, syariat ini memerintah manusia untuk menjauhi segala yang berbahaya, semisal keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian kepada kebinasaan.” (al- Baqarah: 195)

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (an-Nisa: 29)

Selain itu, sepatu ini menampakkan perawakan si perempuan lebih dari yang semestinya (tampak lebih tinggi) sehingga ada unsur tadlis (menipu, menampakkan kepalsuan).

Di samping itu, mengenakan sepatu tinggi berarti memperlihatkan sebagian perhiasaan perempuan mukminah (di hadapan lelaki yang tidak halal melihatnya)[10]. Hal ini dilarang berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah mereka (para perempuan) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suami mereka, ayah-ayah mereka, mertua lelaki mereka, anak-anak lelaki mereka, anak-anak lelaki dari suami mereka, saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak lelaki dari saudara-saudara lelaki mereka (keponakan), anak-anak lelaki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka.” (an-Nur: 31) (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 475)

Yang jelas, seorang muslimah yang taat bukanlah pengikut setiap gaya dan mode yang ditawarkan di luar sana. Seorang muslimah sejati bukanlah seseorang yang latah atau ikut-ikutan dengan manusia di sekitarnya.

Dia adalah seseorang yang selalu berpegang dan terikat dengan aturan agamanya. Dia selalu memerhatikan, apakah sesuatu itu sesuai dengan ketentuan agamanya atau tidak? Adakah pelanggaran ataukah tidak? Apabila ternyata melanggar dan berbahaya, dia tidak merasa berat untuk meninggalkannya.

Nasihat untuk muslimah, jadilah seorang yang memerhatikan perhiasan untuk negeri akhiratmu, beroleh keridhaan sang Rabb. Sebab, sebentar lagi akan tiba hari perjumpaan dengan-Nya.

Janganlah perhatian diri hanya tertuang untuk berhias di negeri dunia hingga tidak peduli, apakah melanggar aturan Rabb atau tidak. Agama kita tidak melarang berhias dan berpenampilan, namun tentu dengan sesuatu yang tidak melanggar syariat dan mengandung dosa.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] Rambut palsu ini biasa dipakai oleh wanita untuk disambungkan dengan rambut aslinya.

[2] Menyambung rambut.

[3] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan doa orang-orang beriman yang memohon kepada-Nya ash-shirathal mustaqim dan berlindung dari jalan Yahudi,

… bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai….(al-Fatihah)

[4] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Yahudi,

Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil lewat lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Mereka tidak saling melarang terhadap perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu lihat kebanyakan dari mereka berloyalitas dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam azab.(al-Maidah: 7880)

[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Sungguh-sungguh kamu akan mendapati manusia yang paling sengit permusuhannya terhadap orang-orang

yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.(al-Maidah: 82)

[6] Di antara orang-orang Yahudi yang beroleh kemuliaan dengan petunjuk tersebut ialah Ummul Mukminin Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha dan sahabat yang mulia, Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya.

[7] Maknanya, hindarilah, jangan sampai kalian para lelaki tergoda dengan perempuan. (al-Minhaj, 17/58)

[8] Karena sepatu yang tinggi mendorong pemakainya berlenggak-lenggok ketika berjalan, dan ini bisa kita buktikan.

[9] Akibatnya lelaki tergoda dengannya.

[10] Dalam hal ini sepatu tinggi tersebut merupakan perhiasan si perempuan yang sengaja dipakainya untuk memberi nilai lebih atau menambah indah penampilannya.

Melepas Ikatan Rambut Saat Mandi

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Bersuci

Mandi menjadi rutinitas kita sehari-hari. Paling tidak dua kali sehari kita melakukannya, pagi dan sore. Mandi seperti ini tidak ditentukan oleh syariat. Artinya, urusannya mubah saja, mau dikerjakan, ‘silakan’; ditinggalkan pun tidak berdosa, walau sebenarnya mengerjakan yang mubah bisa mendatangkan pahala kalau disertai niat kebaikan.

Ada mandi yang diatur oleh syariat karena mengiringi urusan ibadah. Apabila mandi itu tidak dilakukan, seseorang tidak bisa menjalankan ibadah shalat dan beberapa ibadah lainnya. Mandi yang dimaksud adalah mandi selesai dari haid, nifas, dan mandi janabah.

Di sini kita tidak membicarakan secara lengkap tata cara mandi yang disebutkan. Kita membatasi satu permasalahan terkait dengan mandi-mandi tersebut, yaitu apa hukumnya wanita melepas ikatan atau gelungan rambutnya saat mandi suci dari haid, nifas, dan janabah?

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضُفْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ، إِنَّماَ يَكْفِيْكِ أَنْ تَحِثِّي عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ، ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ، فَتَطْهُرِيْنَ

“Wahai Rasulullah, saya adalah wanita yang menjalin rambut dengan kuat. Apakah saya harus melepaskan jalinan rambut tersebut saat mandi janabah?”

Rasulullah menjawab, “Tidak. Cukuplah bagimu menuangkan (air) di atas kepalamu tiga tuangan[1], lalu engkau siramkan air di atas tubuhmu, maka engkau pun suci.” (HR. Muslim no. 742)

Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan bahwa Asma bintu Syakal[2] radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara mandi suci dari haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهَا دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air mandi dan sidr[3], lalu bersuci dengan sebaik-baiknya[4], kemudian dia tuangkan air di atas kepalanya, lalu digosok-gosoknya dengan kuat hingga mencapai pokok rambutnya[5]….” (HR. Muslim no. 748)

Pembaca yang mulia, perhatikanlah dua hadits di atas, hadits dua ibunda kita Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dan Aisyah radhiallahu ‘anha. Yang satu berbicara tentang mandi janabah seorang wanita dan yang satu lagi tentang mandi haid.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menggerai rambutnya saat mandi. Artinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha boleh mandi dalam keadaan rambutnya tetap terjalin, terkepang, atau terikat.

Adapun dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, saat menyiram air ke kepala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah wanita yang mandi haid untuk menggosok-gosokkan air tersebut dengan sangat ke kepalanya agar air sampai ke pangkal rambut.

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat tentang hukum melepas ikatan atau jalinan rambut saat mandi janabah dan mandi haid/nifas, apakah wajib atau tidak?

 

Perbedaan Pendapat Ulama

Penulis kitab asy-Syarhul Kabir (1/189—190), al-Imam ar-Rafi’ rahimahullah, menyatakan bahwa wanita tidak wajib melepas ikatan rambutnya saat mandi janabah, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini, kecuali dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan an-Nakha’i rahimahullah. Tidak ada yang menyepakati keduanya menurut pengetahuan beliau. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha di atas.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, menyatakan adanya kesepakatan imam yang empat tentang tidak wajibnya hal ini. (al-Mughni, “Kitab ath-Thaharah”)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, “Yang diamalkan oleh para ulama ialah apabila seorang wanita mandi janabah tanpa melepaskan ikatan rambutnya, maka hal itu mencukupinya setelah dia mencurahkan air ke atas kepalanya.“ (Jami’ at-Tirmidzi, 1/71)

Adapun untuk mandi haid dan nifas, ulama berselisih pendapat, apakah wajib atau tidak melepas ikatan rambut saat mandi suci.

  1. Wajib melepas ikatan rambut.

Demikian pendapat yang masyhur dari ulama mazhab Hanbali (al-Mughni), Zhahiri (al-Muhalla, 2/53) dan sebagian ulama Maliki (al-Muntaqa, 1/96). Pendapat ini dipegangi oleh al-Hasan, Thawus, dan an-Nakha’i.

  1. Mustahab, tidak wajib.

Demikian pendapat jumhur ulama, di antara mereka ialah ulama mazhab Hanafi (Fath al-Qadir, 1/59I), ulama mazhab Maliki (al-Maunah, 1/132), ulama mazhab Syafi’i ( al-Majmu, 2/187), dan satu pendapat dalam mazhab Hanbali (satu riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahullah yang dipilih oleh al-Muwaffaq, al-Majd, pensyarahnya, dan asy-Syaikh Taqiyuddin, serta selain mereka). Demikian pendapat yang dipegangi oleh Atha, al-Hakam, dan az-Zuhri. (al-Mughni, Fathul Bari, 1/542)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah, Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada masanya, berpendapat (sebagaimana dinukil dalam Taudhihul Ahkam) bahwa yang kuat secara dalil adalah pendapat yang menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi haid, sebagaimana tidak wajib dalam mandi janabah. Hanya saja, saat mandi haid disunnahkan melepaskannya berdasarkan dalil-dalil yang ada, namun hal ini tidak wajib, dengan dalil hadits Ummu Sa lamah radhiallahu ‘anha . Pendapat ini yang dipilih oleh penulis kitab al-Inshaf. Adapun dalam mandi janabah, maka melepas ikatan rambut tidak disunnahkan sebagaimana disunnahkan dalam mandi haid.

Dalil mereka yang tidak mewajibkan adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan haid dan janabah[6]. Namun, kata al-Imam Ibnu Qayyim al- Jauziyah rahimahullah, yang sahih dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha hanyalah penyebutan janabah tanpa ada penyebutan haid, sedangkan melepas ikatan rambut untuk wanita yang mandi haid, maka tidak ada riwayat yang mahfuzh.

Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata bahwa riwayatnya syadz. Dengan demikian, kata asy-Syaikh Alu Bassam, penulis Taudhihul Ahkam, mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah dalam masalah ini kuat, dan memaknai dua hadits di atas dengan istihbab (hukumnya disunnahkan) adalah bagus. (Taudhihul Ahkam, 1/400—401)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan, mazhab jumhur tentang ikatan rambut wanita yang mandi adalah jika memungkinkan sampainya air ke seluruh rambut, baik bagian luar maupun bagian dalam, tanpa harus melepas ikatan rambut tersebut (mengurai rambut) maka mengurainya tidaklah wajib.

Namun, ketika tidak memungkinkan menyampaikan air ke seluruh rambut kecuali dengan mengurai, maka mengurainya wajib, tanpa membedakan mandi janabah dengan mandi haid dan nifas.

Adapun hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dipahami bahwa air bisa sampai ke seluruh bagian kepala dan rambut tanpa harus mengurai rambut tersebut. An-Nakha’i berpendapat wajibnya melepas ikatan rambut dalam seluruh keadaan. Al-Hasan dan Thawus berpendapat wajib ketika mandi haid dan tidak wajib saat mandi janabah dengan dalil hadits Ummu Salamahradhiallahu ‘anha. (al-Minhaj, 4/237)

Al-Imam al-Albani rahimahullah dalam kitabnya, Tamamul Minnah fi Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hlm. 125), menyebutkan adanya perbedaan mandi janabah seorang wanita dengan mandi haidnya. Ketika mandi haid, si wanita harus menggosok-gosokkan air dengan kuat ke kepalanya, sedangkan saat mandi janabah tidak diharuskan demikian, sebagaimana hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menunjukkan tidak wajib mengurai rambut yang terikat saat mandi janabah.

Itulah sebabnya Aisyah radhiallahu ‘anha menyatakan pengingkaran terhadap Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai kabar kepada Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma menyuruh kaum wanita agar melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

يَا عَجَبًا بِالْنِ عَمْرٍو هَذَا! يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوسَهُنَّ، أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُؤُوسَهُنَّ؟ لَقَدْ أَغْتَسِلُ أَناَ وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، فَمَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ  عَلَى رَأْسِي ثَلاَثَ إِفْرَغَاتٍ

“Aneh sekali Ibnu Amr itu! Dia memerintah para wanita melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Mengapa dia tidak menyuruh mereka mencukur rambut sekalian? Dahulu aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana[7], dan aku tidak lebih dari sekadar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan.” (HR. Muslim no. 745)

Dengan demikian kata al-Imam rahimahullah, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits tersebut berdasarkan perincian ini, yaitu saat mandi haid diwajibkan melepas ikatan rambut, sedangkan ketika mandi janabah tidak wajib. Di antara yang berpendapat dengan perincian ini adalah al-Imam Ahmad rahimahullah dan pendapat ini dinyatakan benar oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib as-Sunan (91/165—168). Ini juga pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Muhalla (2/37—40).

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah dalam syarahnya terhadap Bulughul Maram, yaitu Tashil al-Ilmam (1/282—284) menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi janabah karena hal itu akan menyulitkan. Sebab, mandi ini bisa berulang-ulang dilakukan sehingga apabila si wanita harus mengurai rambutnya setiap kali mandi tentu akan menyulitkannya. Sementara itu, agama ini datang memberikan keringanan dan menghilangkan segala kesulitan dari pemeluknya. Adapun untuk mandi haid ada tiga pendapat ulama:

  1. Rambut harus diurai karena mandi haid dan nifas tidak berulang-ulang dilakukan sehingga tidak mendatangkan kesulitan apabila harus melepas ikatan rambut.

Selain itu, ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Aisyah radhiallahu ‘anha melepas ikatan rambutnya saat mandi haid[8]. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan al-Imam Malik. (al-Mughni dan al-Mudawwanah 1/28)

  1. Tidak wajib mengurai rambut saat mandi janabah, demikian pula mandi haid dan nifas, tetapi cukup menuangkan air tiga tuangan sebagaimana disebutkan dalam hadits[9].

Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i dan Hanafi[10] (lihat al-Umm dan al-Bahru ar-Raiq 1/54)

  1. Melepas ikatan rambut saat mandi haid dan nifas hukumnya sunnah, tidak wajib.

Pendapat ini diriwayatkan dari al- Imam Ahmad dan sekelompok ulama. (Kasysyaf al-Qana’ 1/367)

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor no. 1191 menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Apakah ada perbedaan antara mandi janabah lelaki dan wanita?
  • Apakah wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali berdasar hadits yang ada?
  • Apa perbedaan mandi janabah dengan mandi haid?

Al-Lajnah menjawab, tidak ada perbedaan tata cara mandi janabah lelaki dan wanita. Masing-masing tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi. Dia cukup menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian menuangkan air di atas seluruh tubuhnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

Apabila rambut lelaki atau wanita itu dilumuri daun bidara, daun inai, atau semisalnya yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit kepala, wajib dihilangkan. Akan tetap, apabila lumuran tersebut tipis sehingga tidak menghalangi sampainya air ke kulit kepala, tidak wajib dihilangkan[11].

Adapun tentang mandi haid wanita, ada perselisihan masalah wajib tidaknya ikatan rambut dilepas saat mandi. Pendapat yang benar ialah tidak wajib, berdasarkan sebagian riwayat hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha[12]. Namun, afdalnya dilepas dalam rangka kehatihatian dan keluar dari perselisihan serta mengumpulkan dalil-dalil yang ada.

Kesimpulan masalah ini, untuk mandi janabah tidak ada kewajiban ikatan rambut dilepas sebagaimana dipahami dengan jelas dari hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Yang menjadi pembahasan panjang adalah mandi haid dan nifas, antara yang mengatakan wajib dan mustahab/sunnah[13]. Wallahu a’lam.

 

Faedah Hadits Ummu Salamah

Sebelum menutup pembicaraan, kami ingin berbagi dengan pembaca yang mulia beberapa faedah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang disebutkan oleh dua syaikh yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah berikut ini.

  1. Rasa malu tidak menghalangi para wanita sahabiyah untuk bertanya tentang masalah agama mereka.
  2. Merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka ketika ada urusan agama yang tidak dipahami. Sebab, seseorang tidak boleh diam dalam kebodohannya, tidak boleh pula sekadar menebak-nebak dan menduga-duga. Dia harus bertanya, namun tidak kepada orang-orang bodoh, tetapi kepada ulama. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bertanyalah kepada ahlu adz-dzikr jika memang kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 42)

Yang dimaksud ahlu adz-dzikr adalah ulama.

  1. Wanita boleh mengikat rambut, mengepang, atau mengurainya.

Yang terlarang ialah mengumpulkan rambut di atas kepala karena bisa menjadi sebab dia menjadikan kepalanya seperti punuk unta yang miring. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat keduanya:

(1) orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan

(2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Kepala mereka seperti punuk unta al-bukht yang miring.

Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium wanginya, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 5547)

Al-Bukht dalam hadits di atas ialah unta-unta dari timur yang memiliki dua punuk. Jadi, wanita yang mengumpulkan rambutnya di atas kepala lantas mengikatnya hingga rambutnya tampak besar, seakan-akan dia memiliki dua kepala, yaitu kepalanya yang sebenarnya dan kepala palsu dari rambutnya.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan rambut sehingga bisa diikat atau dijalin. Sebab, rambut yang panjang ialah perhiasan keindahan bagi wanita sebagaimana jenggot menjadi ketampanan bagi lelaki. Maka dari itu, biarkanlah rambut itu tumbuh panjang terkecuali karena suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan.
  2. Hadits ini menjadi dalil kaidah raf’ul haraj (dihilangkannya keberatan atau kesulitan) dalam syariat Islam. Ini tersirat dari tidak diwajibkannya melepas ikatan rambut saat mandi karena adanya kesulitan sebagaimana disinggung di atas. Cukup menuangkan air ke rambut kepala sebanyak tiga kali.

Bisa jadi, akan timbul pertanyaan, apakah boleh kurang dari tiga tuangan? Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan boleh, tetapi kepala yang memiliki rambut tentu perlu dibersihkan dengan sungguh-sungguh sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan agar dituangkan air tiga kali ke atasnya. Akan tetapi, apabila satu tuangan kita yakini dapat mencapai pokok rambut, maka tidak harus menambah lebih darinya, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah)….” (al-Maidah: 6)

(Fathu Dzil Jalal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, hlm. 612—613; Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Sepenuh dua telapak tangan.

[2] Demikian kabar yang masyhur, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Adapun menurut al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya, al-Asma’ al-Mubhamah, dan ulama yang lain, si penanya adalah Asma bintu Yazid ibnus Sakan radhiallahu ‘anha yang digelari khathibah an-nisa’, artinya kurang lebih juru bicara para wanita. Wallahu a’lam.

[3] Daun bidara dalam bahasa kita. Fungsinya sebagai pembersih seperti sabun.

[4] Menurut al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, bersuci di sini maksudnya adalah membersihkan diri dari darah haid dan bagian tubuh yang terkena darah tersebut. Namun, yang tampak, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, yang dimaksud dengan bersuci di sini adalah berwudhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang tentang tata cara mandi janabah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, tata cara mandi janabah sama dengan mandi haid dan nifas. Yang membedakan hanyalah ketika mandi haid dan nifas disunnahkan mengusap bagian sekitar kemaluan yang terkena darah dengan kain atau kapas yang telah diberi misik, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha (HR. al-Bukhari no. 314 dan Muslim no. 746)

Makna membaguskan atau membaikkan wudhu ialah menyempurnakan tata caranya. (al-Minhaj, 4/238—240)

[5] Bagian rambut yang paling bawah.

[6] Dari jalur Abdur Razzaq disebutkan dengan lafadz,

أَفَأَنْقُضُهُ لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ؟

(HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 743)

Namun, tambahan lafadz لِلْحَيْضَةِ ini bermasalah, sebagaimana akan disebutkan.

[7] Yang tampak, mandi Aisyah bersama Rasulullah adalah mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits berikut ini. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلاَنَا جُنُبٌ

Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.(HR. a-Bukhari no. 299)

[8] Namun, ada yang mengatakan bahwa mandi Aisyah radhiallahu ‘anha di saat itu bukanlah mandi suci dari haid, melainkan mandi untuk ihram. Sebab, semula Aisyah ingin melaksanakan haji dan berihram untuk umrah, kemudian beliau ditimpa haid sebelum sampai ke Baitullah sehingga hal tersebut menyedihkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji selain thawaf, sampai engkau suci dari haid.” (HR. al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 1411)

Ketika datang hari Arafah, Aisyah radhiallahu ‘anha masih dalam keadaan haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahnya berihram untuk haji dan memasukkan amalan haji ke umrah, sehingga hajinya adalah haji qiran sebagai pengganti haji tamattu’.

Dengan demikian, tujuan dari perintah melepas ikatan rambut saat itu ialah membersihkan diri dalam rangka ihram, bukan bersuci dari haid karena Aisyah radhiallahu ‘anha belum selesai dari haidnya. (Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

[9] Berdalil dengan tambahan lafadz haid dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

[10] Pendapat ini dipegangi oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani (Subulus Salam dan Nailul Authar).

[11] Ada hadits yang menyebutkan masalah ini. Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau menyatakan, “Kami mandi dalam keadaan di kepala kami ada balutan, dalam keadaan kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kami halal (tidak berihram) dan saat kami muhrim (berihram). “ (dinyatakan sahih oleh al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/547—548)

Diterangkan dalam Aunul Ma’bud yang dinukil oleh al-Imam al-Wadi`i dalam al-Jami’ ash-Shahih di atas, makna hadits ini ialah kami melumuri jalinan-jalinan rambut kami dengan wewangian, daun-daun yang berbau wangi dan selainnya, setelah itu kami mandi dalam keadaan apa yang kami lumurkan di atas rambut kami tidak hilang, tetap ada sebagaimana semula karena ikatan/jalinan rambut tersebut tidak dilepas.

[12] Namun, sudah diterangkan bahwa riwayat dengan tambahan ini adalah syadz.

[13] Kami (penyusun) sendiri lebih condong kepada pendapat jumhur yang mengatakan mustahab. Wallahu a’lam wal ‘ilmu ‘indallah. Namun, untuk keluar dari perselisihan serta kehati-hatian, ikatan/jalinan rambut dilepas agar bisa dipastikan air sampai ke kulit kepala, sebagaimana dinyatakan oleh fatwa al-Lajnah ad-Daimah di atas.

Belajar Tanpa Campur Baur

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

kitab-fikih

Serombongan wanita sahabiyah pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kabar Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Mereka datang untuk mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memohon jalan keluarnya.

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ. فَكاَنَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ: مَا مِنْكُمُ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ

“Kaum lelaki mengalahkan kami untuk mendapatkan ilmu darimu (karena banyaknya lelaki di majelismu). Oleh karena itu, mohon tentukanlah untuk kami satu hari yang engkau khususkan untuk kami belajar darimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut baik keinginan dan harapan mereka dengan menjanjikan satu hari yang khusus. Beliau akan menemui mereka di hari tersebut guna menasihati dan memberi perintah kepada mereka (dari urusan agama ini). Di antara yang beliau sampaikan kepada mereka di majelis khusus tersebut adalah, “Tidak ada satu wanita pun yang meninggal tiga anaknya[1] (lalu dia bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut), melainkan anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

Mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, berkatalah seorang wanita di antara mereka, “Bagaimana kalau yang meninggal itu dua anak?” Beliau menjawab, “Ya, dua anak juga.”

Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan tempat taklim mereka,

مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنَةَ. فَأَتَاهُنَّ فَحَدَّثَهُنَّ

“Tempat pertemuan dengan kalian adalah rumah Fulanah.” Beliau lalu mendatangi mereka di rumah tersebut dan menyampaikan ilmu kepada mereka.

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi, bab “Hal Yuj’al Lin-Nisa’ Yaumun ‘ala Hiddah fil ‘Ilm” (no. 101 dan 102).

Pembaca yang mulia, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Anda…

Dalam hal kewajiban mencari ilmu syar’i dan mengamalkannya, wanita memang sama dengan pria. Jadi, seorang wanita dituntut sebagaimana yang dituntut dari seorang pria terkait dengan ilmu yang wajib dia amalkan dalam kesehariannya[2].

Majelis ilmu di kota Madinah, di mana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu dari langit, disesaki oleh kaum pria. Mereka ini—para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum—sangat bersemangat mendapatkan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka berlomba-lomba mendatangi majelis beliau dan duduk dekat dengan beliau.

Mereka menyadari bahwa yang mereka cari adalah ilmu yang merupakan kebahagiaan, keselamatan, dan kesuksesan mereka di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kelak. Karena banyaknya lelaki yang hadir, kaum wanita dari kalangan sahabiyah tidak mungkin menembus kerumunan tersebut karena rasa malu bercampur baur dengan lelaki. Apalagi telah datang larangan ikhtilath (campur baur) dengan lawan jenis. Para wanita terpaksa harus puas mendengarkan sedikit ilmu karena mayoritas majelis Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam didominasi oleh kaum lelaki.

Namun, sebagian mereka tidak menginginkan hal itu terus berlarut. Sebab, mereka juga haus akan ilmu dan ingin meminumnya dari sumbernya yang asli. Permintaan majelis khusus mereka utarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disambut baik oleh beliau. Terjadilah kesepakatan waktu dan tempat antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka. Berlangsunglah majelis khusus tersebut….

Pesan yang tersampaikan lewat hadits di atas demikian jelas, yaitu tidak boleh wanita bercampur baur dengan lelaki, walaupun untuk belajar ilmu agama yang menjadi kewajiban setiap muslim—sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan beberapa sahabat yang lain,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama) wajib bagi setiap muslim.”[3]

Apabila belajar agama saja tidak boleh ikhtilath, lantas bagaimana gerangan jika yang dipelajari itu bukan ilmu agama? Tentu lebih tidak boleh! Seandainya bercampur baur dalam taklim dibolehkan, niscaya para wanita sahabiyah akan memaksakan diri hadir di majelis umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun harus menembus kumpulan lelaki yang banyak. Bukankah ilmu agama wajib dipelajari?! Akan tetapi, karena ikhtilath tidak diperbolehkan, mereka pun tidak melakukannya.

Namun, bukan berarti ketidakbolehan ikhtilath dijadikan dalil untuk meninggalkan belajar agama di majelis taklim. Sebab, ada solusi yang diberikan oleh hadits di atas, yaitu disiapkan waktu dan tempat yang khusus bagi para wanita yang ingin belajar. Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh maslahat yang murni, tidak bercampur dengan mafsadat.

Apabila sulit atau tidak memungkinkan pengkhususan waktu bagi wanita, maka bisa dengan cara memisahkan tempat belajar antara kedua jenis. Lelaki di tempat tersendiri, terpisah dari wanita, demikian pula sebaliknya.

Hal ini dicontohkan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pelaksanaan shalat Id. Setelah menyampaikan khutbah umum di hadapan jamaah laki-laki, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu menuju tempat kaum wanita dan menyampaikan nasihat khusus untuk mereka karena khawatir nasihat umum yang telah beliau sampaikan sebelumnya tidak terdengar disebabkan tempat mereka yang terpisah. Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam nasihatkan adalah agar mereka banyak bersedekah karena mayoritas penghuni neraka adalah kalangan wanita. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari hadits tentang shalat Id ini. Di antaranya ialah disenangi memberikan nasihat kepada kaum wanita, mengajari mereka hukum-hukum Islam, dan mengingatkan kewajiban mereka. Disenangi pula mendorong mereka untuk bersedekah dan mengkhususkan pemberian taklim bagi mereka di majelis yang terpisah. Hal itu dilakukan apabila aman dari godaan dan mafsadat[4]. (Fathul Bari, 2/603)

Kembali kepada hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menjadi pokok pembicaraan kita. Hadits ini adalah dalil larangan belajar dalam keadaan ikhtilath, yaitu pelajar putri berada dalam satu ruangan dengan pelajar putra tanpa pemisah di antara keduanya. Apalagi bila pelajar putri tidak memakai hijab yang syar’i, dan justru ber-tabarruj (bersolek menampakkan kecantikannya), hal ini adalah kerusakan tersendiri. Jadilah kerusakan di atas kerusakan. Kita bisa mengambil beberapa poin yang dipahami dari hadits ini[5]:

  1. Larangan bercampur baur antara pria dan wanita walaupun dalam belajar ilmu agama.
  2. Seorang lelaki atau seorang ustadz yang bersifat amanah[6] boleh memberikan taklim kepada sekelompok wanita, tetapi tidak boleh berdua-duaan dengan salah seorang dari mereka.
  3. Apabila lelaki/ustadz yang memberikan pengajaran tersebut bersamanya ada satu atau dua orang lelaki yang lain (yang bukan sebagai pengajar), hendaknya yang hadir itu memang dibutuhkan. Apabila tidak diperlukan, tidak sepantasnya dia hadir di majelis khusus wanita.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang menjadi pembicaraan kita. Abu Said radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bisa menyebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita di tempat taklim mereka yang khusus dan bisa menyebutkan pertanyaan si wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Secara zahir, ini menunjukkan bahwa keduanya hadir di situ hingga bisa menceritakan apa yang berlangsung di majelis tersebut.

Contoh lainnya adalah saat mendatangi tempat para wanita dalam shalat Id, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemani oleh Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas mengumpulkan sedekah dari para wanita dengan membentangkan bajunya hingga mereka melemparkan perhiasan yang mereka kenakan ke baju tersebut.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Di dalamnya ada adab mengajak bicara para wanita untuk memberikan nasihat atau hukum, yaitu hendaknya tidak ada lelaki yang hadir selain orang yang memang dibutuhkan kehadirannya, baik sebagai saksi maupun yang semisalnya.” (Fathul Bari, 2/600)

  1. Keberadaan seorang lelaki di tempat yang di situ ada sekumpulan wanita tidaklah dianggap khalwat (besepi-sepi/berduaan), karena khalwat adalah berdua-duaannya seorang pria dengan seorang wanita.
  2. Ketakwaan para wanita sahabiyah dan jauhnya mereka dari bercampur baur dengan para lelaki dalam keadaan mereka sangat ingin beroleh ilmu.
  3. Anak-anak kaum muslimin yang meninggal saat masih kecil adalah penghuni surga.
  4. Orang tua yang kehilangan tiga atau dua anaknya yang masih kecil, dalam keadaan dia bersabar dan mengharapkan pahala, akan dijauhkan dari api neraka serta dimasukkan ke dalam surga, setelah dia beriman dan bertauhid tentunya. Terlebih lagi apabila anaknya yang meninggal lebih dari tiga.
  5. Musibah yang menimpa seorang mukmin akan menghapuskan dosanya dan mengangkat derajatnya.
  6. Wanita boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu agama dan memenuhi kebutuhannya yang lain dengan memerhatikan adab ketika keluar rumah.

fsadat.

  1. Wanita boleh berbicara dengan pria untuk menyampaikan kebutuhannya—tentu saja bicara seperlunya tanpa berpanjang kata—atau bertanya tentang masalah agamanya, dengan memerhatikan adab berbicara dengan lawan jenis, di antaranya berbicara dengan baik, tidak mendayu-dayu atau bersuara manja dan tidak melembutkan suara sebagaimana ucapan seorang istri kepada suaminya.
  2. Dengan adanya perintah hijab, maka pengajaran yang disampaikan seorang lelaki kepada sekelompok wanita dianjurkan dari balik tabir dalam rangka menjaga kesucian hati masing-masing. Dan tidak boleh bermudah-mudah dalam hal ini dengan memasang tabir yang pendek sehingga kepala sang ustadz bisa terlihat ketika dia berdiri, atau tipis transparan sehingga gerak-gerik jamaah wanita yang hadir bisa terlihat oleh sang ustadz.

Jangan pula hijab hanya saat taklim. Adapun setelah bubar taklim, saat jamuan makan yang disediakan tuan rumah, misalnya, sang ustadz tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah para wanita.

Dari negeri Yaman, putri al-’Allamah asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i rahimahullah, Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah hafizhahallah pernah mengirim surat kepada kami sebagai balasan surat yang dikirimkan kepada beliau. Beliau adalah seorang mustafidah (seorang yang memberikan faedah ilmu kepada sesamanya) yang dipuji oleh sang ayah[7].

Di antara isi suratnya, beliau memberikan arahan kepada wanita yang menuntut ilmu agama untuk belajar dari seorang guru (tidak belajar sendiri/otodidak). Beliau juga menyebutkan, tidak mengapa belajar ilmu agama melalui tangan seorang syaikh (guru laki-laki atau ustadz), dengan syarat aman dari godaan dan dilakukan dari belakang hijab/tabir pemisah, karena selamatnya kalbu tidak bisa diimbangi oleh apa pun.[8]

Beliau juga mengatakan bahwa apabila ada guru/pengajar wanita yang berpegang dengan sunnah (sunni) yang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, belajar kepada mereka lebih baik….

Demikian penggalan surat yang bertanggal Sabtu, 20 Ramadhan 1418 H, 16 tahun yang lalu….

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pembatasan,

ثَلاَثَةً لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ

“Tiga anak yang belum mencapai usia baligh.

[2] Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang ilmu agama yang seperti apa yang wajib dipelajari. Beliau menjawab,

“Ilmu yang seseorang tidak boleh tidak tahu tentangnya, terkait dengan urusan shalatnya, puasanya, dan semisalnya. “ (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Muhammad bin Qasim al-Hambali an-Najdi rahimahullah—seorang alim yang hidup dalam rentang 1312—1392 H, dalam penjelasannya terhadap kitab al-Ushul ats-Tsalatsah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah—mengatakan, “Apa yang wajib diamalkan oleh seseorang, seperti pokok-pokok keimanan, syariat-syariat Islam, perkara-perkara haram yang wajib dihindari, perkara yang dibutuhkan dalam muamalah dan semisalnya yang sebuah kewajiban tidak akan sempurna terkecuali dengannya, maka semua itu wajib dipelajari.” (Hasyiyah Tsalatsah al-Ushul, hlm. 10)

[3] Hadits hasan dengan syawahidnya. Lihat tahqiq Abu al-Asybal az-Zuhairi terhadap kitab Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/69 dst.

[4] Sebab, yang mengajari mereka adalah lelaki, sehingga dikaitkan dengan aman dari godaan.

[5] Ditambahkan dari kitab Lin Nisa’ Ahkam wa Adab, Syarhu al-Arba’in an-Nisa’iyah, Muhammad ibnu Syakir asy-Syarif, hlm. 118—119.

[6] Seorang lelaki yang amanah dan menjaga agamanya tentu tidak akan bermudah-mudah berhubungan dengan wanita, walaupun dia adalah orang yang didakwahi atau muridnya, baik dalam bentuk menggampangkan berbicara via telepon, SMS, maupun sarana lainnya. Wallahul musta’an.

[7] Di antara ucapan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah tentang putrinya, “Allah ‘azza wa jalla lah yang memberi taufik kepada Ummu Abdillah untuk menuntut ilmu, kemudian menjadikannya cinta untuk meneliti permasalahan ilmu dan menulis.

Dia—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaganya—memberikan pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dalam bidang hadits, tajwid, mushthalah, dan nahwu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya berfaedah bagi sesama, dalam bentuk pengajaran kepada saudari-saudarinya fillah dan penelitiannya yang berkesinambungan terhadap kitab-kitab ulama.

Aku pernah berkata kepadanya (karena melihatnya terus menyibukkan diri dengan penelitian ilmiahnya), ‘Kasihanilah dirimu wahai putriku!’

Dia menjawab, ‘Sungguh, jika kami melihat perjalanan hidup para ulama kita, kami dapati diri kami bukanlah apa-apa (belum berbuat apa-apa terhadap agama Allah ‘azza wa jalla yang agung).’

Ucapannya ini membuatku terdiam. Ummu Abdillah tidak pernah belajar di bangku sekolah, apakah ibtidaiyah (SD), terlebih lagi mutawassithah (SMP) dan tsanawiyah (SMU). Dia tidak pernah duduk di bangku kuliah, tidak bergelar magister ataupun doktor. Namun, saya memandang penelitiannya lebih bagus daripada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Ini adalah keutamaan yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Mukaddimah kitab ash-Shahih al-Musnad min asy-Syamail al-Muhammadiyyah, 1/9, karya Ummu Abdillah)

[8] Selamatnya kalbu itu penting, wahai saudariku! Maka dari itu, janganlah Anda semua bermudah-mudah berhubungan dengan ajnabi, walaupun itu ustadz Anda!

Perhiasan yang Sempurna

Sudah menjadi tabiat wanita senang berperhiasan sebagaimana halnya ini dinyatakan dalam al-Qur’an. Namun, tahukah Anda, hampir-hampir tidak ada wanita yang tahu bentuk perhiasan yang paling sempurna, selain orang yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberi ilmu dan pemahaman tentangnya.

Yang jamak, kaum wanita berlomba-lomba menghiasi dirinya dengan berbagai bentuk, model, dan macam perhiasan yang lazim kita ketahui. Adapun perhiasan yang paling sempurna dan paling bernilai, jumlah wanita yang memerhatikannya bisa dihitung dengan jari.

Bagaimana halnya dengan diri Anda? Apakah Anda termasuk wanita yang memiliki pengetahuan tentangnya? Sukakah Anda mengenakan perhiasan yang paling sempurna sehingga setiap orang yang melihat akan menyenangi dan mengagumimu?

Sudah pasti jawaban Anda, ya.

Jika demikian, Anda harus berpegang dengan ash-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus).

Herankah Anda dengan pernyataan ini? “Lho, apa hubungannya perhiasan dengan ash-shirath al-mustaqim?” Bisajadi, itu pertanyaan yang terucap.

Ketahuilah, sungguh tidak ada di dunia ini yang lebih indah daripada seseorang berjalan di atas ash-shirath al-mustaqim, yaitu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya, seseorang akan meraih cinta Allah subhanahu wa ta’ala, cinta Jibril q, cinta penduduk langit dan penduduk bumi, termasuk di antara mereka adalah karib kerabat dan suami. Inilah yang dipahami dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menjadikan rasa cinta untuk mereka.” (Maryam: 96)

Menurut al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, hamba-hamba yang beriman dan mengerjakan amal saleh yang diridhai dan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah subhanahu wa ta’ala akan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang untuk mereka dalam kalbu para hamba-Nya yang saleh. Hal ini pasti, tidak mungkin tidak, sebagaimana ditekankan oleh sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: يَا جِبْرِيْلُ، إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. قَالَ: ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ الْسَّمَاءِ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ. قَالَ: فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ

 Sungguh, apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Allah subhanahu wa ta’ala memanggil Jibril lalu berkata, “Wahai Jibril, sungguh aku mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibril pun mencintai si Fulan. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, “Sungguh Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah penerimaan (rasa cinta) penghuni bumi terhadap si Fulan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan si hamba dicintai oleh manusia di muka bumi. Said bin Jubair, adh-Dhahak, dan selainnya rahimahumullah juga mengatakan yang senada, yakni si hamba mencintai mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan para hamba-Nya yang beriman mencintainya.

Harram bin Hayyan rahimahullah menerangkan, “Tidaklah seorang hamba menghadapkan kalbunya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kecuali Allah subhanahu wa ta’ala akan menghadapkan kalbu orang-orang beriman kepadanya, hingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rezeki berupa rasa cinta dan kasih sayang mereka kepadanya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5/198—199)

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan orang-orang yang mengumpulkan keimanan dan amal saleh ini mendapatkan cinta karena mereka mencintai-Nya, maka balasannya Dia jadikan mereka dicintai oleh para wali-Nya dan kekasih-kekasih-Nya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 501)

Jadi, tidaklah berlebihan apabila kita katakan bahwa ketaatan seorang wanita kepada Allah subhanahu wa ta’ala —dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menahan diri dari apa yang dilarang dan diperingatkan-Nya— merupakan kecantikan, kebagusan, dan perhiasan bagi si wanita. Hal ini akan menarik kecintaan orang lain kepadanya. Bukankah tujuan berhias, mempercantik, dan memperindah diri adalah agar orang lain cinta kepada kita, tertarik, memberi perhatian dan senang ketika melihat kita? Demikian pula keinginan agar mereka senang duduk-duduk atau berdekatan dengan kita.

Semua tujuan ini bisa didapatkan apabila kita dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan hadits di atas. Karena itulah, kita perlu mengetahui bagaimana cara mendapatkan cinta Alah subhanahu wa ta’ala, selanjutnya cinta Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat lainnya di atas langit sana, serta seluruh orang yang kita inginkan cintanya.

Ya, tidak perlu merogoh saku dalam-dalam alias mengeluarkan banyak duit. Tidak perlu bercapek-capek keluar masuk mall untuk mencarinya. Caranya mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan tentu saja sulit bagi orang yang Allah subhanahu wa ta’ala tidak ingin memberinya hidayah-Nya. Mari kita simak caranya berikut ini.

 

  1. Berperilaku dengan sifat-sifat orang yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai

Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang muhsin (berbuat baik), yang bertobat, dan yang menyucikan diri. Mereka adalah yang bertakwa, yang bersabar, yang bertawakal, yang adil, yang berlaku lembut terhadap orangorang beriman dan penuh kasih kepada mereka, serta banyak melakukan ibadah sunnah.

Inilah sifat-sifat wali Allah subhanahu wa ta’ala yang dinyatakan dalam hadits qudsi,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتُرِضَ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang diwajibkan kepadanya. Terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari)

Termasuk sifat yang pemiliknya dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah malu dan menutup aib (cacat dan cela) diri sendiri dan aib orang lain yang memang tidak pantas dibeberkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِّتْرَ

“Sesungguhnya Allah Mahamalu lagi Maha Menutup. Dia menyukai sifat malu dan menutup[1].” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

 

  1. Menjauhi perangai yang pelakunya dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Termasuk yang dibenci adalah orang-orang yang melampaui batas, suka ingkar lagi pendosa, orangorang zalim, sombong, suka berbuat fajir, berkhianat, gemar melakukan kejahatan, suka merusak, menghamburhamburkan uang, takabur, dan sifat-sifat buruk lainnya yang diperingatkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Karena itu, wahai saudariku seiman, berpeganglah Anda dengan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Menjauhlah dari seluruh sifat yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Dengan demikian, Anda akan meraih ridha Rabb, kemudian mendapatkan cinta semua orang baik yang Anda harapkan.

 

Malu, Perhiasan yang Paling Bercahaya

Malu adalah salah satu cabang iman sebagaimana dalam hadits,

الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِِ

“Iman itu ada tujuh puluh lebih cabangnya, dan malu adalah satu cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Malu merupakan perhiasan dan keindahan, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا كَانَ الْفُحشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَ كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah kekejian (tidak punya malu dalam hal ucapan dan perbuatan) ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya jelek, dan tidaklah sifat malu ada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibnu Majah)

Apabila benda mati bisa memiliki rasa malu, niscaya rasa malu akan memperindahnya. Lebih-lebih lagi ketika anak Adam (manusia) yang berhias dengannya. Bagaimana pula halnya apabila putri Hawa (wanita) yang berhias dengannya?

Apabila lelaki saja membutuhkan bersifat malu, tentu para wanita lebih membutuhkan dan lebih pantas memiliki rasa malu karena sesuai dengan tabiatnya. Ketika para sahabat menyebutkan sifat malu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka membandingkannya dengan sifat malu wanita. Kata Abu Said al- Khudri radhiallahu ‘anhu,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih kuat rasa malunya daripada gadis perawan dalam pingitannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Malu dan kecantikan wanita adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Alangkah manisnya ‘rona merah’ malu pada seorang wanita yang menghindar dari bercampur baur dengan lelaki ajnabi, tidak mau bersenda gurau dengan lelaki yang bukan mahramnya, enggan pula mengucapkan atau mendengarkan ucapan-ucapan yang menghilangkanrasa malunya.

Tidaklah mungkin Anda beroleh kecantikan dan keindahan yang sejati tanpa menyandang sifat malu yang merupakan perhiasan paling bersinar bagi wanita. Andai rasa malu ini telah tercabut dari seorang wanita, apa lagi yang tersisa pada dirinya? Betapa banyak wanita yang cantik rupawan, namun kecantikannya tiada bermakna dan tanpa ruh tatkala telah tercabut darinya sifat malu. Sebaliknya, betapa banyak wanita yang bertambah-tambah kecantikannya karena sifat malunya.

Wanita yang paling cantik sekalipun, andai hilang darinya rasa malu, sungguh Anda tidak dapati ada orang yang menoleh kepadanya, kecuali wanita yang juga sedikit rasa malunya. Lelaki baik-baik yang ingin menikah untuk membantu dirinya taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, pastilah akan mengamalkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) dirimu merugi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semakin bertambah rasa malu seorang wanita, semakin bertambah pula bagiannya dari sifat yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘memiliki agama’, karena malu itu bagian dari iman. Selain itu, malu adalah akhlak Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ لِكُلِّ الدِّينِ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak agama Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibnu Majah)

Wanita yang menjaga rasa malu ketika berucap dan berbuat berarti telah menempuh salah satu sebab mendapatkan kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian kecintaan manusia. Wanita yang malu menampakkan perhiasannya kepada selain mahramnya dan menutup dirinya dari pandangan ajnabi, dia telah menempuh salah satu sebab mendapatkan mahabbah sang Khaliq, kemudian cinta makhluk.

Sementara itu, wanita yang tidak tahu malu ketika berucap dan berbuat, suka memamerkan perhiasannya kepada selain mahramnya, dan tidak menutup dirinya dari pandangan ajnabi, dia telah menjauh dari sifat malu, dan paling jauh dari perhiasan yang sempurna.

Ketahuilah, malu itu ada dua macam. Ada yang merupakan sifat bawaan dan ada pula yang diupayakan. Orang yang tidak dianugerahi sifat malu bawaan, dia masih berkesempatan menyempurnakan dirinya dan imannya dengan malu yang diupayakan.

Apakah malu bisa diupayakan? Jawabannya pasti ya. Sebab, apabila malu tidak bisa diupayakan, bagaimana kita dituntut untuk memiliki sifat malu? Bagaimana bisa malu menjadi salah satu cabang keimanan?

Cara mengupayakannya adalah dengan latihan dan usaha berperangai dengannya dalam keadaan-keadaan yang memang menuntut, tanpa berputus asa mengupayakannya. Termasuk cara mengupayakannya adalah bermajelis dengan orang-orang yang memiliki sifat yang indah ini dan sering bergaul dengan mereka. Sebaliknya, harus dihindari sejauh-jauhnya orang yang tidak punya rasa malu, suka berbuat keji, tidak malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah membaca kisah perjalanan hidup orangorang yang punya sifat malu, menelisik berita mereka, dan mempelajari perilaku mereka. Selain itu, tentu saja membaca atau mendengarkan keutamaan sifat malu, kedudukannya, faedahnya dan maknanya yang hakiki, serta agungnya pahala yang didapatkan pemiliknya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Sumber: Asrar al- Jamal wa az- Zinah li al -Mar ’ah al -Muslimah, penyusun Ummu Nurani dan lainnya)

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Maksudnya adalah menutupi aurat. Sebab, hadits ini diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan seseorang yang mandi tanpa menutup auratnya dari pandangan orang lain yang tidak halal melihatnya. Termasuk dalam hal ini ialah menutupi kesalahan orang yang tidak sepantasnya dibeberkan kesalahan atau kealpaannya karena dia adalah seorang mukmin yang menjaga kehormatan dirinya, bukan orang yang terangterangan berbuat dosa dan maksiat. (Lihat Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud)

Untukmu Muslimah, Nasihat Penuh Hikmah dari ‘Alim Rabbani (2)

Wanita adalah bagian penting dari masyarakat manusia. Baiknya wanita akan membaikkan masyarakat dan sebaliknya. Bila wanita rusak, maka masyarakatnya pun akan menemui kehancuran. Karena itulah wanita harus terus beroleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupan. Upaya ulama yang dahulu dan belakangan tidak kurang-kurang dalam hal ini, termasuk salah seorang alim rabbani yang walhamdulillah masih ada di tengah kita, Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umur beliau dalam kebaikan dan memberkahinya. Berikut ini kelanjutan dari wejangan beliau.

Islam mengharamkan terjadinya khalwat/bersepi-sepi atau berduaannya lelaki dengan wanita yang bukan mahramnya. Sebab, hal itu akan mendorong keduanya jatuh ke dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,

“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita (ajnabiyah).” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda dengan alhamwu[1]?”

Rasulullah menjawb, “Al-Hamwu adalah maut.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah ibnu Amir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan kematian karena bahayanya lebih besar. Mengapa demikian? Karena karib kerabat suami dengan mudah keluar masuk ke rumah kita tanpa ada pengingkaran. Berbeda halnya apabila yang keluar masuk itu lelaki lain yang bukan kerabat.

Dengan demikian, kebiasaan membebaskan saudara dan paman suami serta kerabat suami untuk berduaan, bersalaman, dan berjabat tangan dengan istri adalah perbuatan yang batil dan mungkar.

Yang diajarkan oleh syariat justru lelaki ajnabi tidak boleh masuk ke dalam rumah yang di situ hanya ada seorang wanita, tidak ada bersamanya orang lain yang bisa menghilangkan makna berkhalwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah memperingatkan,

“Tidakkah seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita (ajnabiyah) terkecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. at-Tirmidzi dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.)

Termasuk khalwat yang diharamkan yang terjadi di zaman kita ini adalah wanita bepergian dalam mobil hanya berduaan dengan sopirnya yang duduk di belakang setir, apakah si wanita diantar ke pasar, ke sekolah, ataupun untuk ibadah ke masjid.

Khalwat yang diharamkan ini, sama saja apakah yang terjadi di rumah, di dalam mobil atau di mana saja, harus diperingatkan kepada para wanita muslimah secara khusus di masa kita sekarang ini di mana banyak didapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, untuk belanja, ziarah ke tempat karib kerabatnya, atau kepentingan yang selainnya.

Wanita muslimah memang tidak sepantasnya sering keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan yang mengharuskannya keluar rumah. Kalaupun dia keluar maka harus mengenakan hijabnya yang sempurna dan tidak memakai wangi-wangian.

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kepada wanita-wanita terbaik, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan qudwah hasanah dengan perintah berikut ini,

Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Tinggal di rumah akan lebih menjaga si wanita. Sampai-sampai wanita lebih disenangi mengerjakan shalat di rumahnya, tidak keluar ke masjid, padahal masjid merupakan rumah ibadah dan tempat yang suci, tetapi keluar menujunya memperhadapkan si wanita kepada keburukan. Karena itulah, shalatnya wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah ‘azza wa jalla dari masjid-masjid Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.)

Dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan, “… namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan al-Misykat no. 1062.)

Maksudnya shalat mereka di rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid. Kalaupun mereka hendak keluar ke masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

“Akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan nafilat.” (HR. Ahmad (2/438), Abu Dawud, dll., dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud.)

Nafilat maksudnya tidak berhias dan tidak memakai wangi-wangian. Banyak wanita pada hari ini suka keluar rumah tanpa ada kebutuhan kecuali sekadar jalan-jalan di pasar dengan berdandan, harum semerbak, dan memamerkan kecantikan wajahnya. Yang ngobrol bebas dengan lelaki, bergurau, dan tertawa. Entah di mana rasa malumu, wahai wanita muslimah? Tidakkah Anda bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla?

Bila wanita hendak keluar dari rumahnya, dia harus mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, lebar dan lapang, tanpa ada hiasan padanya, tidak membentuk lekuk tubuhnya atau menampakkan apa yang ada di balik pakaiannya.

Wanita muslimah hendaknya berhati-hati dari apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum melihat keduanya (sekarang), yaitu satu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, mumilat, mailat[2]. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang,” maksudnya mereka memakai pakaian namun tidak menutupi tubuh. Bisa jadi karena pendeknya sehingga tubuhnya ada yang terbuka, atau pakaian itu panjang namun tipis sehingga tidak menutupi apa yang ada di baliknya. Hal ini bisa disaksikan di negeri-negeri yang tidak berpegang dengan adab Islam. Ini merupakan kebiasaan jahiliah yang jauh dari bimbingan Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang terdahulu.” (al-Ahzab: 33)

Tabarruj adalah wanita menampakkan perhiasannya di hadapan lelaki ajnabi. Yang dituntut dari wanita saat keluar rumah adalah tidak tabarruj, walaupun dia wanita yang sudah tua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan wanita-wanita tua yang telah terhenti dari haid dan mengandung (menopause) yang tidak ada lagi keinginan untuk menikah, maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian luar mereka[3] tanpa bermasud tabarruj/ mempertontonkan perhiasan.” (an-Nur: 60)

Bila wanita tua yang sudah tidak memiliki keinginan untuk menikah saja dilarang bertabarruj, lantas bagaimana halnya dengan wanita yang masih muda? Bagaimana pula dengan wanita yang berparas rupawan, yang lelaki pasti tertarik bila melihatnya? Bagaimana kiranya kalau wanita-wanita ini yang bertabarruj?

Karena itu, wanita yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan berharap negeri akhirat hendaknya tidak bermudah-mudah dalam masalah hijab dan bergampang-gampang mengenakan pakaian yang ada hiasannya saat keluar rumah, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak wanita pada hari ini. Demikian pula memakai wangi-wangian, bercampur baur dengan lelaki, dan bersenda gurau dengan mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada istri-istri Nabi-Nya,

“Janganlah kalian melembutkan suara ketika berbicara (dengan ajnabi) sehingga berkeinginan buruklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

Bila wanita terpaksa harus berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya, hendaknya dia berkata dengan ucapan yang biasa, tidak mendayu-dayu, dengan bergurau, dan tertawa.

Yang keluar dari lisannya hanya suara yang datar, ucapan sebatas keperluan, baik bertanya maupun menjawab, tidak bertele-tele, dengan suara yang dilemahlembutkan, berirama, dan dimerdukan, hingga orang yang di hatinya ada penyakit syahwat punya keinginan jelek padanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Wanita muslimah pada hari ini harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan diri mereka dan urusan masyarakat mereka. Mereka wajib memberikan perhatian terhadap tarbiyah anak-anak mereka, putra ataupun putri, karena merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk memberikan perhatian kepada anak-anak.

Mereka harus mendidik putri-putri mereka agar berakhlak mulia, beradab yang baik, menutup aurat, dan menjaga kehormatan diri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Sebagaimana yang kita maklumi, dalam syariat Islam ini selain ada perintah juga ada larangan. Termasuk perkara yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla adalah mengubah-ubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang diinginkan oleh setan sebagaimana yang diikrarkannya di hadapan Rabbul ‘Alamin,

“Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka akan mengubahnya.” (an-Nisa:119)

Dalam tafsir ayat di atas disebutkan bahwa yang dimaukan dengan merubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla di antaranya adalah perbuatan namsh[4], wasym[5], wasyr[6], dan washl[7].

Dalam hadits dinyatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, serta melaknat perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato.” (HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma)

Alqamah rahimahullah berkata,

‘“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya), dan perempuan yang mengikir giginya[8] agar terlihat bagus; para perempuan yang mengubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu memberitakan bahwa wanita-wanita tersebut dilaknatnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka yang melakukannya untuk dirinya sendiri dan mereka yang melakukannya terhadap wanita lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat wanita yang melakukan niyahah/meratapi mayat dengan ucapan ataupun perbuatan dan orang yang sengaja mendengarkannya[9]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berteriak-teriak ketika ditimpa musibah (shaliqah), merobek bajunya (syaqah), dan memotong rambutnya (haliqah) sebagai tanda berdukacita[10].

Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar. Buktinya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan azab yang akan diterima oleh wanita yang berbuat demikian, bila dia tidak bertobat. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita yang melakukan niyahah bila tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan gamis dari ter dan pakaian dari kudis.”( HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Dahulu orang-orang jahiliah ketika ada musibah kematian biasa mengupah wanita-wanita yang melakukan niyahah ini. Yang seperti ini jelas keharamannya. Lalu, apakah tidak boleh menangis saat ditimpa musibah? Jawabannya, boleh asalkan menangis biasa tidak dengan suara keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menangis ketika mendapat musibah kematian dan beliau mengatakan,

“Ini adalah kasih sayang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan di kalbu para hamba-Nya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun berkeluh kesah, marah, menyesali, dan meratap, justru memudaratkan mayat di dalam kuburnya, sebagaimana dalam hadits,

“Mayat itu diazab di kuburnya karena niyahah yang dilakukan kepadanya.[11]”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu.)

Yang dituntut kala ada musibah justru sabar dan mengharapkan pahala. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah: 155-157)

Sebagai akhir, kita simpulkan bahwa wanita memiliki tanggung jawab dan tuntutan dalam kehidupan di dunia ini. Dia diberi beban, diperintah, dilarang, diberi pahala, dan diberi hukuman. Di pundaknya ada tanggung jawab yang besar. Tidaklah umat terdahulu ataupun yang belakangan binasa kecuali karena sebab para wanita secara umum (ketika mereka melanggar syariat).

Wanita menjadi perantara paling berbahaya yang dimanfaatkan oleh setan untuk merusak umat manusia, apabila ia tidak menjaga dirinya baik-baik dan tidak dijaga oleh masyarakatnya. Pembicaraan tentang wanita sebenarnya masih panjang, namun cukuplah apa yang telah kami sampaikan di sini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Muhadharat fil Aqidah wad Da’wah, 3/290-299, dengan ringkasan dan sedikit perubahan)


[1] Al-Laits ibnu Sa’d mengatakan al-hamwu adalah saudara ipar/adik ataupun kakak laki-laki suami, dan yang serupa mereka dari kalangan kerabat suami (yang bukan mahram istri) seperti sepupu (anak paman suami) dan semisalnya. (Ucapan ini dibawakan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Adapun ayah-ayah suami dan anak-anak suami tidak termasuk di dalamnya sehingga mereka boleh berduaan dengan istri. (al-Minhaj, 14/378)

 [2] Mailat maknanya wanita-wanita yang meninggalkan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang semestinya mereka jaga. Mumilat adalah mengajarkan orang lain perbuatan mereka yang tercela. Ada pula yang mengatakan makna mailat adalah wanita-wanita yang berjalan dengan congkak, mumilat adalah memiringkan/menggerak-gerakkan pundak mereka (ketika berjalan).

Makna yang lain, mailat adalah wanita-wanita yang menyisir rambut mereka dengan model sisiran miring/belah samping sebagaimana model sisiran wanita pelacur (pada zaman dahulu, -ed.). Mumilat adalah wanita-wanita yang menyisiri orang lain dengan model sisiran demikian. (al-Minhaj, 14/336)

 [3] Pakaian luar yang kalau dibuka tidak sampai menampakkan aurat.

[4] Namsh adalah menghilangkan rambut pada wajah/alis apakah dengan gunting, dicukur atau dengan cara apa pun yang dengannya bisa menghilangkan rambut tersebut.

[5] Wasym adalah membuat tato.

[6] Wasyr adalah mengikir gigi agar terlihat bagus padahal sebenarnya tidak bermasalah, tidak ada cacat padanya, dan tidak ada penyakit.

[7] Washl adalah menyambung rambut dengan rambut palsu sehingga orang menyangka itu rambut aslinya.

[8] Adapun memperbaiki gigi yang penampakannya buruk tidak apa-apa karena termasuk pengobatan atau menghilangkan cacat, bukan untuk menambah kecantikan.

[9] HR. Ahmad (3/65) dan Abu Dawud, dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Namun, hadits ini dinyatakan lemah sanadnya dalam Dhaif Abi Dawud.

[10] Dalam hadits disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari shaliqah, haliqah, dan syaqah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu)

[11] Tentang makna hadits ini ada beberapa pendapat, namun yang paling dekat kepada kebenaran ada dua:

Pertama: pendapat jumhur ulama, yaitu hadits ini dibawa pemahamannya kepada orang yang memang berpesan agar nantinya bila dia mati mayatnya diratapi. Atau dia tidak berpesan kepada karib kerabatnya untuk tidak diratapi saat mati padahal dia tahu kebiasaan manusia di tempatnya melakukan niyahah ketika ada musibah kematian. Adapun bila dia sudah berpesan namun tetap dilakukan niyahah maka dia tidak menanggung hukuman apa-apa.

Kedua: Makna diazab di dalam kubur adalah dia merasa sakit mendengarkan tangisan keluarganya, merasa kasihan dan sedih. Ini terjadi di alam barzakh, bukan pada hari kiamat. Demikian pendapat yang dipegangi ath-Thabari dan selainnya. Pendapat ini yang didukung oleh Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim. Kata al-Imam al-Albani, yang rajih/lebih kuat adalah pendapat jumhur. (lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 41—42)

Arti Penting Wanita dalam Kehidupan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, keluarga, dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang berjalan mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

Di dalam Islam, wanita muslimah memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar bagi kehidupan setiap muslim. Dia merupakan madrasah atau sekolah yang pertama dalam membangun masyarakat yang saleh, jika si wanita berjalan di atas petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena berpegang dengan keduanya akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan dalam segala hal. Kesesatan umat dan penyimpangannya tidak akan terjadi melainkan dengan menjauhkan wanita dari bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala serta dari wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا؛ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan di tengah kalian dua hal yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan sunnahku.”

Al-Qur’anul Karim menyebutkan arti penting seorang wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun anak perempuan. Di samping menyebutkan hak dan kewajiban mereka, As-Sunnah yang suci juga merinci hal tersebut.

Kepayahan dan beban yang mereka tanggung sebagiannya melebihi beban lelaki. Oleh karena itu, kewajiban yang paling penting bagi seseorang (setelah menunaikan kewajiban kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya) adalah bersyukur kepada ibu, berbakti, dan berbuat baik kepadanya. Kewajiban kepada ibu ini didahulukan daripada kepada ayah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Duhai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, serta supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (al-Ahqaf: 15)

Seseorang datang kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku berlaku baik kepadanya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa ?” tanya si lelaki. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Lalu siapa lagi?” tanya orang itu lagi. “Ibumu,” jawab Rasulullah untuk ketiga kalinya. Saat orang itu bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah mengatakan, “Ayahmu.”

Berdasar hadits di atas, hak ibu untuk mendapatkan kebaikan dari anaknya tiga kali lipat daripada hak ayah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyinggung peran seorang istri dalam kehidupan seorang lelaki.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian ada rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas, “Mawaddah adalah mahabbah (cinta), sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Hal ini karena seorang lelaki menahan seorang wanita (untuk tetap hidup bersamanya sebagai istri) mungkin karena ia mencintai si wanita atau ia menyayanginya karena mendapatkan anak dari si wanita.” (Tafsir Ibni Katsir)

Sungguh, peran tiada banding telah dilakukan seorang istri yang namanya harum sepanjang sejarah perjalanan anak manusia, Khadijah bintu Khuwailid, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Sosok istri yang terus dikenang oleh Khairul Anam, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khadijah telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menenangkan rasa takut yang sempat menyergap Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Jibril turun membawa wahyu pertama kali kepada beliau di Gua Hira. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui istrinya dalam keadaan gemetar seraya memerintahkan, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku.”

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah! Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta kepada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu, dan membantu orang yang membela kebenaran.”

Dalam bidang ilmu dan dakwah, kita tidak lupa dengan peran ash-Shiddiqah Aisyah bintu ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, istri tercinta Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tokoh-tokoh sahabat banyak mengambil hadits darinya. Demikian pula kebanyakan wanita mengambil hukum-hukum yang berkaitan dengan diri mereka dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

Pada masa lalu yang tidak terlalu jauh dari kita, di zaman al-Imam Muhammad ibnu Su’ud rahimahullah, istrinya menasihatinya agar menerima dakwah al-Imam al-Mujaddid Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, tatkala beliau menawarkan dakwahnya kepada Ibnu Su’ud[1]. Nasihat sang istri kepada sang suami ini sungguh berpengaruh besar dalam terjalinnya kesepakatan antara keduanya untuk memperbarui dakwah dan menyebarkannya. Sekarang kita bisa merasakan, alhamdulillah, pengaruh dakwah tersebut dengan tertancapnya akidah tauhid pada anak-anak jazirah ini.

Tidak pula saya sangsikan bahwa ibu saya memiliki keutamaan yang besar dan pengaruh yang tidak kecil dalam mendorong saya untuk belajar dan membantu saya dalam menuntut ilmu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan pahala bagi beliau atas kebaikan yang diberikannya kepada saya.

Sebagai akhir, tidak pula kita ragukan bahwa rumah yang dipenuhi dengan mawaddah, mahabbah, kasih sayang, dan tarbiyah Islamiah akan memberikan pengaruh bagi seseorang. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, orang tersebut akan diberi taufik dalam urusannya, sukses dalam pekerjaan apa saja yang dia upayakan, baik dalam menuntut ilmu, usaha perdagangan, perkebunan, maupun pekerjaan lainnya.

Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saya memohon agar memberi taufik kepada semuanya kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, dan para sahabatnya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Disusun kembali dengan sedikit perubahan/tambahan dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Ibnu Baz, 3/348—350, oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Ditulis oleh:  Samahatul Walid al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah

[1] Dikisahkan, tatkala asy-Syaikh al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah meninggalkan negeri Uyainah atas permintaan penguasanya karena tak kuasa memberikan pembelaan kepada beliau dan dakwah tauhid yang beliau serukan, beliau menuju ke negeri Dir’iyah, tempat tinggal salah seorang murid terbaiknya, Ibnu Suwailim. Menerima kedatangan sang guru, Ibnu Suwailim merasa takut dan gelisah. Ia mengkhawatirkan keselamatan diri dan gurunya dari ancaman penduduk negeri yang tidak senang dengan dakwah tauhid yang beliau tegakkan. Namun, asy-Syaikh menenangkan si murid, mengajaknya bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan menjanjikan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang mau menolong agama-Nya. Dalam keadaan demikian, sampai kabar tentang asy-Syaikh kepada istri penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Su’ud. Wanita salehah ini menawari suaminya untuk memberikan bantuan kepada asy-Syaikh. Ia juga mengingatkan suaminya bahwa kedatangan asy-Syaikh ke negeri mereka adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang digiring oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuknya sehingga sepatutnya bersegera merangkulnya. Si istri ini menyusupkan ketenangan kepada suaminya, membuat suaminya mencintai dakwah asy-Syaikh sekaligus pribadi beliau. Sang suami yang menjabat penguasa ini akhirnya berkata, “Biar dia yang datang kepadaku.”

Istrinya berkata, “Justru hendaknya engkau yang pergi menemuinya. Kalau engkau mengirim orang untuk menyuruhnya mendatangimu, bisa jadi orang-orang akan berkata bahwa amir mencarinya untuk menangkap dan menghukumnya. Namun, kalau engkau yang pergi menemuinya, hal itu merupakan kemuliaan baginya dan bagimu.” Akhirnya, pergilah sang amir menemui asy-Syaikh di rumah muridnya.

 

Istihadhah (1)

(Bagian ke-1)

Tak seperti haid, tidak semua wanita mengalami istihadhah karena haid merupakan kebiasaan rutin yang dialami wanita yang normal/sehat, sedangkan istihadhah adalah darah yang tidak biasa. Ia keluar karena ada gangguan pada urat yang diistilahkan ‘adzil (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/242).

Singkatnya, ada ketidaknormalan/penyakit pada wanita yang mengalaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha tentang darah istihadhah ini:

إِنَّمّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ

“Apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid.” (HR. al- Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Istihadhah ini telah dialami oleh wanita sejak dahulu. Kalangan sahabiyah pun mengalaminya. Dalam hitungan ulama mencapai sepuluh orang, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah. Tiga orang putri Jahsyin: Zainab Ummul Mukminin, Ummu Habibah istri Abdurrahman ibn Auf, dan Hamnah istri Thalhah bin Ubaidillah, radhiallahu ‘anhum, semuanya mengalami istihadhah. (Subulus Salam, 1/377)

Bahkan, Ummu Habibah radhiallahu ‘anha mengalaminya sampai tujuh tahun sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ : أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ بِنْتَ جَحْشٍ خَنَتَةَ رَسُوْلِ اللهِ وَتَحْتَ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اسْتُحِيْضَتْ سَبْعَ سِنِيْنَ

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengabarkan bahwasanya Ummu Habibah bintu Jahsyin—ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri Abdurrahman ibn Auf— mengalami istihadhah selama tujuh tahun…. (HR. al-Bukhari no. 327 dan Muslim no. 754)

Ada pula di antara sahabiyah yang keluar darah istihadhah dengan deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha. Ia pernah datang mengadukan keadaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً ….

“Aku ditimpa istihadhah yang sangat banyak dan deras…” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, dan at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Adapun istihadhah yang dialami istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ امْرَأَةٌ مُسْتَحَاضَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ، فَكَانَتْ تَرَى الْحُمْرَةَ وَالصُّفْرَةَ، فَرُبَّماَ وَضَعْنَا الطَّسْتَ تَحْتَهَا وَهِيَ تُصَلِّي

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengalami istihadhah beri’tikaf bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melihat darahnya yang keluar berwarna kemerahan dan kekuningan. Terkadang kami meletakkan bejana di bawahnya saat ia shalat.” (HR. al-Bukhari no. 2037)

Demikian gambaran istihadhah yang dialami wanita sahabiyah. Berikut ini kita akan melihat beberapa tinjauan hukum berkenaan dengan wanita yang mengalami istihadhah[1].

 payung-merah-di-tengah-salju

Darah Haid Tidak Sama dengan Darah Istihadhah

        Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, keberadaan darah istihadhah bersama darah haid merupakan suatu masalah yang rumit, sering membuat rancu sehingga keduanya harus dibedakan.

Cara membedakan keduanya bisa dengan ‘adat (kebiasaan haid), dengan tamyiz (membedakan sifat darah), atau dengan melihat kebiasaan umumnya wanita[2]. Demikian yang ditunjukkan dalam As-Sunnah. (Majmu’atul Fatawa, 21/630—631)

Tentang ‘adat (kebiasaan) haid ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyampaikan masalahnya. ‘Wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang mengalami istihadhah sehingga saya tak pernah suci. Apakah saya harus meninggalkan shalat saat mengalaminya?’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

لاَ إِنَّمَّا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

“Kamu tidak boleh meninggalkan shalat, (karena) apa yang kamu alami itu hanyalah darah dari urat bukan haid. Apabila datang haidmu, tinggalkanlah shalat. Jika haidmu telah berlalu, cucilah darah darimu (mandilah) dan shalatlah.” (HR. al-Bukhari no. 228 dan Muslim no. 751)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang mengeluhkan istihadhah yang menimpanya:

اُمْكُثِيْ قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِيْ

“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidmu, kemudian (setelah berlalu hari-hari tersebut) mandilah.” (HR. Muslim no. 758)

Jumhur ulama mengambil hadits ini untuk wanita yang tertimpa istihadhah yang memiliki kebiasaan haid yang tertentu setiap bulannya sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari kemaluannya, untuk mengetahui apakah ia haid atau istihadhah, ia kembali kepada kebiasaan haidnya[3]. Demikian mazhab Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan Ahmad. (Majmu’atul Fatawa, 21/628)

Adapun tamyiz ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha:

إِنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَتْ ذَلِكِ فَامْسِكِي عَنِ الصَّلاَةِ. فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ وَصَلِّيْ

“Apabila darah itu darah haid, dia berwarna hitam yang dikenal. Apabila demikian darah yang keluar darimu, tinggalkanlah shalat. Namun apabila bukan, berwudhulah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud no. 286, an-Nasa’i no. 363, dan selain keduanya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 204)

Tamyiz dilakukan oleh wanita yang tidak memiliki kebiasaan haid yang tetap ataupun ia lupa ‘adatnya, sebelum ditimpa istihadhah, dan ia bisa membedakan darah[4].

Perbedaan darah haid dan darah istihadhah bisa disimpulkan sebagai berikut.

  1. Darah haid umumnya berwarna hitam, sedangkan darah istihadhah umumnya berwarna merah.
  2. Darah haid sifatnya kental, sedangkan darah istihadhah encer.
  3. Aroma darah haid tidak sedap/berbau busuk, sedangkan darah istihadhah tidak berbau busuk.
  4. Darah haid tidak bisa membeku karena telah membeku di dalam rahim kemudian terpancar dan mengalir, sedangkan darah istihadhah bisa membeku karena merupakan darah urat. (asy-Syarhul Mumti’, 1/487—488)

Apabila si wanita mustahadhah (yang tertimpa istihadhah) mempunyai ‘adat dan bisa melakukan tamyiz, ulama berbeda pendapat, mana yang didahulukan, ‘adat ataukah tamyiz? Yang lebih kuat dalam masalah ini, kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, si wanita kembali kepada ‘adatnya, dengan alasan:

  1. Hadits yang menyebutkan tamyiz diperselisihkan kesahihannya[5].
  2. Kembali kepada ‘adat lebih mudah dan lebih meyakinkan bagi si wanita, karena sifat darah itu bisa berubah-ubah atau keluarnya bergeser ke akhir bulan atau ke awal bulan, atau keluarnya terputus-putus sehari berwarna hitam, di hari lainnya berwarna merah. (asy-Syarhul Mumti’, 1/492)

Adapun wanita yang tidak memiliki ‘adat dan tidak bisa melakukan tamyiz, ia mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha:

إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِيْ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فيِ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ، ثُمَّ اغْتَسِلِيْ. حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ وَاسْتَنْقَأْتِ، فَصَلِّيْ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُوْمِيْ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكِ، وَكَذَلِكِ فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيْضُ النِّسَاءُ وَكَمَا يَطْهُرْنَ

“Hal itu hanyalah sebuah gangguan dari setan. Anggaplah dirimu haid selama enam atau tujuh hari dalam ilmu Allah yang Mahatinggi sebutan-Nya. Setelah lewat dari itu mandilah. Ketika engkau melihat dirimu telah bersih dan suci, shalatlah selama 23 atau 24 malam berikut siangnya dan berpuasalah. Hal ini mencukupimu. Demikianlah yang engkau lakukan setiap bulannya sebagaimana para wanita biasa berhaid dan biasa suci.” (HR. Ahmad, Abu Dawud no. 287, at-Tirmidzi no. 128, dihasankan al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa’ul Ghalil no. 188)

Caranya, melihat kebiasaan haid dan suci para wanita yang dekat kekerabatannya dengannya, lalu kebiasaan itu ia terapkan pada dirinya (ia samakan dirinya dengan mereka).

 

Hukum Wanita Mustahadhah Sama Dengan Wanita yang Suci

Mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa wanita mustahadhah dalam kebanyakan hukumnya sama dengan wanita yang suci. (al-Minhaj, 3/242)

Berbeda halnya dengan wanita haid, wanita mustahadhah diperintah untuk tetap mengerjakan shalat dan puasa. Demikian ijma’/kesepakatan ulama. (al- Iqna’ fi Masa’il al-Ijma’, al-Imam Ibnul Qaththan, 1/106)

Ia juga diperintah/dibolehkan mengerjakan ibadah-ibadah yang lain, seperti kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Adapun shalat, puasa, i’tikaf, membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf, membawanya, sujud tilawah, sujud syukur, dan ibadah-ibadah yang wajib, hukumnya sama dengan orang yang suci. Ini merupakan masalah yang disepakati.” (al-Minhaj, 3/242)

 

Cara Bersuci Wanita Mustahadhah untuk Shalat

Apabila wanita mustahadhah hendak bersuci untuk mengerjakan shalat, ia harus membersihkan tempat keluarnya darah kemudian menyumpal/menutupnya dengan pembalut atau semisalnya untuk menahan darah agar tidak tembus keluar. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hamnah bintu Jahsyin radhiallahu ‘anha yang telah disinggung di atas ketika ia mengeluhkan banyaknya darah yang keluar:

أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ

“Aku terangkan kepadamu, pakailah kapas[6], karena kapas bisa menghilangkan darah.”

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha disebutkan:

لِتَسْتَثْفِرَ بِثَوْبٍ

“Hendaklah ia istitsfar[7] dengan kain.” (HR. Abu Dawud no. 274, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Ahlul ilmi menyatakan, jika ia sudah melakukan hal tersebut, namun darah tetap keluar/tembus hingga keluar dari pembalut/kain/handuk yang dipakai sebagai penutup darah, karena longgarnya ikatan penyumpal darah tersebut maka dikuatkan lagi dan ia kembali bersuci dengan membersihkan darah[8]. Apabila darah tembus keluar dari sumpalan karena derasnya dan sudah diupayakan menyumpalnya dengan kuat, namun tetap tidak dapat mencegah darah, si wanita tetap melanjutkan shalat walaupun darahnya menetes keluar, karena tidak memungkinkan lagi baginya menghindari hal tersebut. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang telah dibawakan di atas tentang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shalat dalam keadaan di bawahnya ada bejana guna menampung darah yang menetes keluar. (al-Mughni, “Kitab ath-Tharahah, Mas’alah: al-Mubtala bi Salasil Baul wa Katsratil Madzi….”, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 2/551—552)

ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah


[1] Masalah istihadhah ini sebenarnya sudah pernah kami bahas dalam majalah ini, dalam edisi no. 04 tahun perdana Juli 2003/1424 H, pada rubrik “Wanita dalam Sorotan”.

[2] Dalam hal ini, ia melihat kerabatnya dari kalangan wanita seperti ibunya atau saudara perempuannya. Kesamaan seorang wanita dengan kerabat-kerabatnya lebih dekat daripada kesamaannya dengan keumuman wanita yang bukan kerabatnya. (asy-Syarhul Mumti’, 1/489)

[3] Kapan ia biasa mengalami haid dan berapa hari lamanya. Misalnya, ia biasa haid di awal bulan selama tujuh hari, berarti itulah ‘adatnya.

[4] Misalnya, ia keluar darah selama sebulan. Pada sepuluh hari yang awal, darah yang keluar berwarna hitam dan beraroma khas darah haid, sedangkan selebihnya darahnya berwarna merah. Berdasarkan hal ini, sepuluh hari yang awal itu dihitung sebagai hari haidnya, selebihnya dianggap istihadhah.

[5] Sementara hadits yang menyebutkan ‘adat lebih kuat karena diriwayatkan dalam Shahihain.

[6] Disumbat dengan kapas.

[7] Makna istitsfar adalah menutup/menyumpal tempat keluarnya darah dengan kain yang dapat menahan keluarnya darah tersebut.

[8] Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah yang memandang keluarnya darah merupakan hadats bagi wanita mustahadhah. Sementara al-Imam Malik, Rabi’ah dan jama’ahnya dari kalangan ahlul ilmi berpendapat wanita mustahadhah tidak wajib wudhu dengan keluarnya darah, maka tidak wajib baginya berwudhu setiap kali hendak shalat selama tidak menimpanya perkara yang membatalkan wudhu.