Baiknya Kalbu Baiknya Seluruh Jasad

Anda tentu pernah mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas adalah penggalan akhir dari sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Abdillah an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang awalnya berbicara tentang halal, haram, dan musytabihat (syubhat, tidak jelas halal haramnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa di dalam tubuh kita ada mudhghah, yaitu potongan daging yang ukurannya bisa dikunyah. Ukurannya kecil, namun kedudukannya besar. Dialah kalbu atau dalam bahasa kita jantung. Dalam ungkapan sehari-hari, sering disebut dengan istilah “hati”, meski sebenarnya jantung.

Jantung adalah organ yang vital bagi makhluk hidup. Di dalam jantung, Allah ‘azza wa jalla meletakkan pengaturan kemaslahatan yang diinginkan makhluk hidup. Anda dapati hewan dengan beragam jenisnya bisa mengetahui apa yang maslahat baginya. Ia dapat membedakan antara maslahat dan mudarat.

Adapun makhluk hidup yang bernama manusia, saya, Anda dan kita semua, Allah ‘azza wa jalla mengistimewakan dengan akal, yang Dia letakkan di jantung.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ

“Tidakkah mereka berjalan di muka bumi hingga mereka memiliki jantung-jantung yang dengannya mereka bisa berpikir (berakal) atau telinga yang dengannya mereka bisa mendengar?” (al-Hajj: 46) (Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, karya al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah, hlm. 30—31)

 

Bagaimanakah keterkaitan jantung dengan akal?

Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kita mengimani keterangan al-Qur’an bahwa akal terletak dalam jantung, meski kita tidak mengetahui bagaimana keterkaitannya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hlm. 134)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan seluruh tubuh tunduk patuh kepada jantung. Apa yang menetap di dalam jantung akan tampak pada pergerakan tubuh. Jika jantung tersebut baik, tubuh baik pula. Sebaliknya, apabila buruk, tubuh pun buruk. Sebab, jantung merupakan sumber gerakan tubuh dan keinginan jiwa. Jika jantung menginginkan hal yang baik, tubuh bergerak dengan pergerakan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Kesimpulannya, kata sebagian ulama, jantung seperti raja dan tubuh seperti rakyat. Adapula yang mengatakan, jantung adalah raja, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah tentaranya yang sangat patuh, mengikuti semua titah sang raja tanpa sedikit pun menyelisihinya.

Jantung bisa pula seperti sumber air, sementara tubuh adalah ladangnya. Atau ungkapan lain, jantung adalah tanah, sedangkan gerakan tubuh adalah tetumbuhan yang ada di atasnya.

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدٗاۚ

“Tanah yang baik akan keluar (tumbuh subur) tanam-tanamannya dengan izin Allah dan tanah yang jelek tidak bisa tumbuh (di atasnya) tumbuh-tumbuhan kecuali dalam keadaan merana.” (al-A’raf: 58)

Ada yang mengatakan, baiknya jantung bisa dicapai dengan lima hal:

  1. Membaca al-Qur’an dengan mentadabburinya,
  2. Mengosongkan perut (dengan banyak berpuasa),
  3. Shalat malam,
  4. Merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla ketika waktu sahur, dan
  5. Bermajelis dengan orang-orang salih.

Satu lagi sebagai pokoknya adalah memakan makanan yang halal. (al-Mu’in ‘ala Tafahhum al-Arba’in, al-Allamah Ibnul Mulaqqin rahimahullah, hlm. 126—127)

Hadits tentang kalbu alias jantung di atas mendorong agar kita memerhatikan kalbu kita lebih dari perhatian kita terhadap amalan anggota tubuh. Sebab, kalbu itulah poros amalan. Apa yang tersimpan dalam kalbu, itulah yang akan ditampakkan kelak pada hari kiamat.

أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ ٩ وَحُصِّلَ مَا فِي ٱلصُّدُورِ ١٠

“Maka apakah dia (manusia yang ingkar) tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan (ditampakkan) apa yang ada di dalam dada.” (al-‘Adiyat: 9—10)

إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجۡعِهِۦ لَقَادِرٞ ٨  يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ ٩

“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya setelah mematikannya). Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (ath-Thariq: 8—9)

Karena itu, pesan untuk kita semua: bersihkanlah kalbu dari noda syirik, kotoran bid’ah, sampah maksiat, dan kerendahan akhlak.

Satu lagi yang perlu menjadi perhatian kita. Hadits ini memuat bantahan kepada para pelaku maksiat yang ketika dilarang dari maksiat mereka berkata, “Yang penting itu yang di sini!” sembari menunjuk dada mereka. Seperti perempuan yang tidak berhijab, ketika dinasihati untuk menutup aurat, dia berkata, “Bagi saya yang paling penting adalah menghijabi hati.”

Subhanallah! Memang benar, yang penting adalah apa yang ada di dalam dada, yaitu kalbu. Di dalamnyalah letak takwa. Akan tetapi, apabila kalbu bertakwa, niscaya akan tampak pengaruhnya pada amalan tubuh. Pastilah amalan tubuhnya pun berupa ketakwaan.

Bagaimana bisa seseorang yang tubuhnya dia bawa berbuat maksiat, tubuhnya tidak dihijabi dari pandangan yang bukan mahram, lalu berdalih, “Yang penting yang di dalam, yang penting hijab hati.” Wallahul musta’an. (Lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 133—134)

Kalbu yang Sehat

Jika kalbu hamba sehat, tidak ada di dalamnya selain kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla, mencintai apa yang dicintai-Nya, takut kepada-Nya, dan takut apabila terjatuh dalam perbuatan yang dibenci-Nya, niscaya akan baik gerakan seluruh anggota tubuhnya.

Ini akan mengantarkan hamba untuk menjauhi seluruh yang diharamkan dan menjaga diri dari syubhat karena khawatir jatuh ke dalam yang haram.

Adapun kalbu yang rusak dan dikuasai oleh hawa nafsu, lantas mengikuti semua kesenangan jiwa walaupun dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla , niscaya akan rusak seluruh gerakan anggota tubuhnya. Disusul pula dengan melakukan seluruh maksiat, mendekati yang syubhat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.

Di sisi Allah ‘azza wa jalla kelak, tidak bermanfaat selain qalbun salim, kalbu yang sehat, sebagaimana firman-Nya,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Hari yang tidak bermanfaat padanya harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara: 88—89)

Maksudnya, kalbu yang selamat dari penyakit-penyakit dan seluruh hal yang dibenci. Kalbu yang tidak ada di dalamnya selain mahabbatullah (cinta kepada Allah ‘azza wa jalla), takut kepada-Nya, dan khawatir jatuh ke dalam urusan yang dapat menjauhkan dari Allah ‘azza wa jalla.

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah (mengenal Allah ‘azza wa jalla ), mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sebagai penutup, kita nukilkan ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berikut ini. Beliau rahimahullah menghikayatkan dirinya, “Tidaklah aku memandang mataku, tidaklah lisanku berucap, tidak pula tanganku menggenggam, dan tidaklah kakiku melangkah, hingga aku memikirkan, apakah ini di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah di atas maksiat? Jika untuk ketaatan, aku lakukan. Jika ternyata untuk maksiat, aku mundur, tidak jadi melanjutkannya.”

Masya Allah! Saya, Anda, dan kita semua, bagaimana?

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah tergolong orang yang tatkala baik kalbunya dan tidak menyisakan keinginan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, akan baiklah anggota tubuhnya yang lain. Anggota badannya tersebut tidak bergerak kecuali karena Allah ‘azza wa jalla, untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya. Wallahu a’lam. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, hlm. 119—121)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 

Hajinya Wanita

Memakai Cincin Emas Saat Ihram

Apa hukum mengenakan cincin emas dan selainnya bagi wanita ketika sedang berihram, sementara wanita tersebut akan sering terlihat atau berada di antara lelaki yang bukan mahramnya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak apa-apa wanita mengenakan perhiasan emas yang diinginkannya saat berihram, berupa cincin ataupun gelang pada kedua tangan. Asalkan tidak berlebih-lebihan. Akan tetapi, perhiasan yang dikenakannya tersebut harus dia tutup dari pandangan lelaki ajnabi (bukan mahram) karena khawatir (bila terlihat) akan timbul godaan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 22/201)

—————————————————————————————————————————

Pakaian Khusus Bagi Wanita Saat Haji

Apakah diharuskan wanita mengenakan pakaian berwarna tertentu di saat melaksanakan manasik haji?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Tidak ada pakaian khusus yang harus dikenakan wanita saat berhaji. Pakaian yang dikenakannya adalah yang biasa dia pakai (saat keluar rumah atau di hadapan yang bukan mahram -pen.), yaitu pakaian yang menutupi tubuhnya, tidak diberi hiasan, dan tidak menyerupai lelaki.

Yang dilarang bagi wanita yang sedang berihram hanyalah mengenakan burqu’ dan niqab (cadar) yang dijahit atau ditenun untuk menutup wajah secara khusus, sebagaimana wanita dilarang mengenakan quffazain (kaos tangan) yang dijahit atau ditenun untuk menutup kedua telapak tangan secara khusus.

Wanita diharuskan tetap menutup wajahnya (saat berihram) dengan selain burqu’ dan niqab. Dia harus menutupi kedua telapak tangannya dengan selain quffazain. Sebab, wajah dan telapak tangan termasuk aurat yang harus ditutup.

Kesimpulannya, wanita tidaklah dilarang secara mutlak menutupi wajah dan kedua telapak tangannya saat ihram. Yang dilarang hanyalah menutup keduanya dengan burqu’, niqab, dan quffazain.”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/184)

——————————————————————————————————————————

Wanita Berhaji Tanpa Mahram

Ada seorang ibu dari Saba yang dikenal salihah. Usianya sudah pertengahan, bahkan mendekati usia lanjut. Dia ingin melaksanakan ibadah haji, namun tidak memiliki mahram. Dari negerinya ada seorang lelaki yang juga dikenal saleh akan berhaji bersama para wanita dari kalangan mahramnya. Apakah dibolehkan ibu tersebut berhaji bersama lelaki tersebut karena si ibu tidak punya mahram yang bisa menemaninya berhaji, padahal dia memiliki kemampuan dari sisi harta? Berilah fatwa kepada kami.

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab, “Tidak halal bagi ibu tersebut untuk berangkat haji tanpa mahram walaupun dia berangkat bersama rombongan wanita dan seorang lelaki yang tepercaya. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah dengan menyatakan,

لَا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ. فَقَامَ رَجُلٌ وَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا. فَقَال النَّبِيُّ: انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ  

“Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dalam kejadian di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meminta perincian, apakah istrinya aman (dalam perjalanan nanti) ataukah tidak? Apakah bersamanya ada rombongan wanita dan lelaki yang bisa dipercaya, ataukah tidak? Karena tuntutan keadaan, sementara si suami telah tercatat untuk mengikuti peperangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah si suami untuk meninggalkan peperangan dan keluar berhaji menemani istrinya.

Para ulama menyebutkan bahwa apabila wanita tidak memiliki mahram, ibadah haji tidaklah wajib baginya. Sampai pun dia meninggal dunia, dia tidak dihajikan dari harta yang ditinggalkannya. Sebab, semasa hidupnya dia tidak mampu (ada syarat yang tidak terpenuhi sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk berhaji, -pen.), sedangkan Allah ‘azza wa jalla mewajibkan haji bagi orang yang mampu.”

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, 2/592)

 

Wanita yang Berhaji Tanpa Mahram, Haruskah Mengulang?

Apabila seorang wanita telah berhaji tanpa ditemani mahramnya, haruskah dia berangkat haji lagi (mengulangi hajinya)?

 

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab, “Apabila seorang wanita berhaji tanpa ditemani mahramnya, dia telah bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wanita tidak boleh safar kecuali bersama mahramnya.”

Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya sungguh akan berangkat haji, sementara saya telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah engkau, berhajilah bersama istrimu.”

 

Akan tetapi, haji yang telah ditunaikannya sudah mencukupi baginya. Maksudnya, dia tidak perlu lagi mengulanginya (karena kewajiban haji yang sekali seumur hidup telah terpenuhi). Yang wajib dilakukannya (karena dahulu berhaji tanpa mahram) adalah bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan beristighfar dari apa yang telah dia lakukan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, 21/190)

Wahyu Turun Menjawab Masalah Seorang Wanita

Betapa dimuliakannya wanita dalam Islam. Bagaimana pun upaya musuh-musuh agama ini untuk mengaburkan kemuliaan tersebut, mereka tidak akan berhasil. Hanya orang-orang bodoh dan suka mengikuti hawa nafsu yang bisa mereka tipu, hingga ikut menuduh seperti tuduhan mereka.

Ayat Allah ‘azza wa jalla berikut ini pasti membuat orang-orang kafir putus asa dari makar mereka.

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka sementara Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci.” (ash-Shaf: 8)

Ada lima pendapat mufassirin, kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, tentang maksud ‘cahaya (nur) Allah’:

1 . Al-Qur’an, mereka ingin membatilkannya dan mendustakannya dengan perkataan. Demikian pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid radhiallahu ‘anhuma.

  1. Islam, mereka ingin menolaknya dengan ucapan-ucapan. Demikian kata as-Suddi rahimahullah.
  2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka ingin membinasakan beliau dengan goncangan-goncangan. Demikian pendapat adh-Dhahhak rahimahullah.
  3. Hujah-hujah dan bukti-bukti dari Allah ‘azza wa jalla, mereka ingin membatilkannya dengan pengingkaran dan pendustaan mereka. Demikian kata Ibnu Bahr rahimahullah.
  4. Permisalan yang dibuat, yaitu siapa yang ingin memadamkan cahaya matahari dengan mulutnya, niscaya dia dapati itu mustahil, tidak akan sanggup dia lakukan, demikian pula bagi siapa yang ingin membatilkan al-haq. Ini dihikayatkan dari Ibnu Isa rahimahullah.

 

Menurut Atha rahimahullah , menuki ‘azza wa jalla keterangan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, sebab turunnya (sabab an-nuzul) ayat ini adalah wahyu dari langit pernah terlambat turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai 40 hari.

Seorang Yahudi, Ka’b ibnul Asyraf, berkata, “Wahai sekalian orang Yahudi, bergembiralah kalian! Sungguh, Allah telah memadamkan cahaya Muhammad dalam apa yang Dia turunkan kepada Muhammad. Allah tidak akan menyempurnakan urusan Muhammad.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersedih. Allah ‘azza wa jalla lalu menurunkan ayat ini. Setelah itu, turunlah wahyu secara berkesinambungan (tidak terputus).

Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan cahaya-Nya dengan memenangkannya di berbagai penjuru ufuk. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 18/56)

Banyak bukti yang menunjukkan pemuliaan dan perhatian Islam terhadap wanita. Salah satunya adalah pernah turun wahyu dari langit untuk menjawab keluhan seorang wanita dan memberikan solusi atas masalahnya.

Anda pernah membaca surah al-Mujadilah, kan? Itulah wahyu yang kita maksudkan di sini.

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, menyampaikan,

تَبَارَكَ الَّذِي أَوْعَى سَمْعهُ كُلّ شَيْءٍ إِنِّي لَأَسْمَعُ كَلاَمَ خَوْلَةَ بِنْتِ ثَعْلَبةَ وَيَخْفَى عَلَيَّ بَعْضُهُ وَهِيَ تَشْتَكِي زَوْجَهَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ وَهِيَ تَقُوْلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَكَلَ مَالِيْ، وَأَفْنَى شَبَابِي، وَنَثَرْتُ لَهُ بَطْنِي، حَتَّى إِذَا كَبُرَتْ سِنّيِ وَانْقَطَعَ وَلَدِي ظَاهَرَ مِنّيِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُوْ إِلَيْكَ.

قَالَتْ: فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى جَاءَ جِبْرِيْلُ بِهَذِهِ ا يْآلَةِ:

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

Mahasuci Dzat yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Sungguh, aku mendengar ucapan Khaulah bintu Tsa’labah dan sebagiannya tidak terdengar olehku.

Dia mengeluhkan suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berkata, “Wahai Rasulullah, dia telah memakan hartaku, menghabiskan masa mudaku, dan aku telah melahirkan banyak anak untuknya. Ketika usiaku telah tua dan tidak bisa melahirkan lagi, dia menzhiharku. Ya Allah, aku adukan hal ini kepada-Mu.”

Kata Aisyah, “Tidaklah berapa lama hingga datang Jibril dengan ayat ini (yang artinya), ‘Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’.” (HR. Ibnu Abi Hatim, dibawakan oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya, 23/226)

Dalam riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/46), disebutkan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

“Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya luas meliputi semua suara. Sungguh, pernah datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berbicara kepada Nabi sedangkan aku berada di satu sisi rumah. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan wanita tersebut.

 

Allah ‘azza wa jalla pun menurunkan ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

        “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan seorang wanita yang mendebatmu dalam urusan suaminya dan mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan antara kalian berdua (Rasul dan wanita tersebut). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadilah: 1)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya, pada “Kitab at-Tauhid”, secara mu’allaq (tanpa membawakan sanad), an-Nasa’i, Ibnu Majah, dll. (ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, hlm. 235)

Wahyu di atas turun dari atas langit sebagai jawaban atas keluhan Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha, seorang wanita salihah, yang mengadukan perkaranya kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendebat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait urusannya dengan suaminya, Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan bahwa Aus menzhihar[1] istrinya, kemudian pergi begitu saja. Khaulah, sang istri, datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta fatwa tentang masalahnya dan mengadukan urusannya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah (6/410) berikut ini lebih menjelaskan kisahnya.

Khuwailah[2] bintu Tsa’labah berkata,

“Demi Allah, tentang aku dan Aus bin ash-Shamit lah, Allah ‘azza wa jalla menurunkan awal ayat surat al-Mujadilah.” Khuwailah lalu berkisah….

Aku adalah istri Aus. Dia sudah tua renta, telah buruk perilakunya. Suatu hari dia menemuiku, aku menjawab (membantah) ucapannya dalam suatu urusan. Dia marah hingga berkata, ‘Kamu bagiku seperti punggung ibuku[3].’

Lalu dia keluar rumah. Dia duduk di tempat perkumpulan kaumnya beberapa waktu.

Aus masuk lagi ke rumah menemuiku, ternyata dia “menginginkan” diriku.

Aku katakan, “Jangan, demi Dzat yang jiwa Khuwailah berada di tangan-Nya. Janganlah kamu menggauliku karena kamu telah mengatakan apa yang kamu katakan, sampai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya memutuskan urusan kita ini dengan hukum-Nya.”

Aus pun melompat untuk menguasaiku, namun aku menolaknya dan bisa mengalahkannya dengan kemampuan seorang wanita saat menghadapi lelaki tua yang lemah. Aku pun mendorongnya dariku.

Aku lalu keluar rumah menuju seorang tetanggaku. Aku pinjam darinya sebuah pakaian, lalu pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku duduk di hadapan beliau. Aku ceritakan kepada beliau apa yang aku dapati dari Aus. Mulailah aku mengadu kepada beliau atas buruknya perilaku Aus yang aku dapati.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Khuwailah, anak pamanmu itu (suamimu) adalah lelaki yang sudah tua. Bertakwalah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla terkait dengan urusannya.”

“Demi Allah!” lanjut Khuwailah, “Aku terus-menerus mengadukan urusanku hingga turun ayat tentangku.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami apa yang biasa dialami manakala wahyu sedang turun. Setelah selesai, hilanglah apa yang tampak berat bagi beliau. Beliau lalu berkata kepadaku, “Wahai Khuwailah, Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan ayat tentang urusanmu dan suamimu.”

Kemudian beliau membacakan kepadaku ayat,

قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١

sampai firman-Nya,

وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٤

 

“Suruhlah Aus untuk memerdekakan seorang budak,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.

“Wahai Rasulullah, dia tidak punya apa-apa yang bisa digunakan untuk memerdekakan budak,” jawab Khuwailah.

“Kalau begitu, suruh dia puasa dua bulan berturut-turut,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi berikutnya.

“Demi Allah, dia lelaki tua yang sudah tidak mampu puasa,” jawab Khuwailah.

“Jika demikian, hendaknya dia memberi makan 60 orang miskin dengan satu wasaq[4] kurma,” titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak punya makanan tersebut,” jawab Khuwailah mengisyaratkan kemiskinan suaminya.

“Kami akan bantu dia dengan satu ‘araq[5] kurma,” kata Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, saya juga akan membantunya dengan satu ‘araq.”

Rasulullah menanggapi, “Kamu benar dan telah berbuat baik. Pergilah lalu bersedekahlah dengan kurma tersebut untuk melepaskan suamimu dari masalahnya. Kemudian berbuat baiklah terhadap anak pamanmu itu.”

Kata Khuwailah, “Aku pun melakukan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud no. 2214 dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud)

 

Hukum Zhihar

Terkait kasus Khaulah inilah ditetapkan hukum zhihar dan solusi untuk lepas darinya.

Hukum seorang suami menzhihar istrinya adalah haram berdasar al-Qur ’an, as-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).

Dari al-Qur’an, dalil pengharamannya adalah ayat,

          وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ

“Sungguh mereka mengucapkan ucapan yang mungkar dan dusta.” (al-Mujadilah: 2)

Berucap mungkar dan dusta termasuk dosa besar. Sebab, makna ucapan suami yang menzhihar istrinya, “Engkau seperti punggung ibuku” adalah istrinya haram dia gauli sebagaimana ibunya haram baginya. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ

“Istri-istri (para suami yang melakukan zhihar) bukanlah ibu-ibu mereka. Karena ibu-ibu mereka tidak lain kecuali perempuan-perempuan yang telah melahirkan mereka.” (al-Mujadilah: 2)

Dari as-Sunnah, dalilnya hadits Khaulah di atas.

Adapun ijma’ pengharaman zhihar dinyatakan oleh Ibnul Mundzir rahimahullah. (Taudhihul Ahkam, 5/534)

Bagaimana apabila ada suami yang mengucapkan kalimat zhihar dengan bercanda, apakah berlaku ketentuan zhihar terhadapnya?

Jawabannya bisa didapatkan dari penjelasan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah terhadap akhir ayat ke-2 surah al- Mujadilah. Allah ‘azza wa jalla menutup ayat ke-2 dengan firman-Nya,

وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ٢

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

Kata beliau rahimahullah, “Sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun terhadap apa yang kalian lakukan dalam keadaan jahiliah. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memaafkan dan mengampuni ucapan yang keluar dari lisan tanpa sengaja, si pengucap tidak memaksudkan hal tersebut sama sekali. Namun, apabila si pengucap memang memaksudkan demikian, istrinya haram ‘digauli’[6]. (al-Mishbah al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hlm. 1373)

 

Pelajaran dari Ayat Zhihar

  1. Kelembutan Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya dan perhatian-Nya

terhadap mereka

Perhatikanlah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan keluhan si wanita yang sedang dibelit problem, kemudian Allah ‘azza wa jalla menghilangkan kesulitannya. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menurunkan hukum yang bersifat umum bagi siapa saja yang mengalami masalah sepertinya.

  1. Zhihar diharamkan karena Allah ‘azza wa jalla menyebutnya sebagai ucapan mungkar.
  2. Kafarah zhihar ditunaikan manakala si suami ingin ‘aud (kembali). Tentang makna ‘aud, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah suami berkeinginan untuk menggauli istrinya yang semula dizhihar. Ada pula yang berpendapat maknanya jima’ itu sendiri.
  3. Hikmah diwajibkannya kafarah sebelum jima’ adalah lebih mendorong si suami untuk menunaikan kafarahnya. Sebab, saat dia “berkeinginan” dan tidak mungkin terwujud keinginannya kecuali setelah menunaikan kafarah, mau tidak mau dia akan bersegera mengeluarkannya. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 845)
  4. Kafarah zhihar itu berurutan, jika tidak mampu yang pertama baru beralih ke yang berikutnya sebagaimana tersebut di dalam ayat.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Akan datang penjelasan tentang zhihar ini.

[2] Disebutkan nama Khaulah dengan tashghir dalam riwayat ini, Khuwailah.

[3] Aus menyamakan istrinya dengan ibunya, ‘sebagaimana ibu haram digauli, maka demikian pula kamu, haram bagiku’. Inilah yang dimaksud dengan zhihar. Dengan kalimat tersebut seorang suami ingin mengharamkan menggauli istrinya.

Ucapan zhihar tidak sebatas menyebut punggung, tetapi juga anggota tubuh yang lain. Tidak pula sebatas menyamakan dengan ibu, tetapi juga penyamaan dengan seluruh perempuan mahram yang haram digauli oleh si suami. Misalnya, si suami berkata, “Engkau seperti punggung adik perempuanku.”

Di masa jahiliah, zhihar ini dianggap talak. Jadi, apabila seorang suami menzhihar istrinya, berarti dia telah menalaknya. Namun, Allah ‘azza wa jalla memberikan keringanan bagi umat ini dengan menetapkan bahwa zhihar bukanlah talak, melainkan ucapan yang mungkar lagi dusta. Karena itu, suami yang menzhihar istrinya harus membayar kafarah manakala hendak kembali menggauli istrinya. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari seorang dari kalangan salaf. (Tafsir Ibni Katsir, 8/39)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apabila seorang suami di masa jahiliah bila berkata kepada istrinya, ‘Kamu seperti punggung ibuku’, maka si istri menjadi haram baginya. Orang pertama yang melakukan zhihar setelah datangnya Islam adalah Aus bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu. Istrinya adalah putri pamannya (saudari sepupunya) bernama Khaulah bintu Tsa’labah radhiallahu ‘anha.” (Tafsir ath-Thabari)

[4] Satu wasaq = 60 sha’, setara kurang lebih 122,4 kg.

[5] Satu ‘araq = 15 sha’, setara kurang lebih 30,6 kg.

Hadits ini menunjukkan bahwa Khaulah membayarkan kafarah suaminya tanpa meminta pendapat atau disuruh suaminya. Demikian kata Abu Dawud rahimahullah dalam Sunannya.

[6] Suami haram menggauli istri yang dizhihar sampai ditunaikan kafarah zhihar. Ini adalah kesepakatan ulama. (Taudhihul Ahkam, 5/536)

Rumahku Ketenteraman Kami

Telah kita sebutkan dalam edisi sebelum ini bahwa salah satu tugas perempuan atau istri di dalam rumah tangganya adalah menjadi sakan bagi suaminya dan berupaya agar rumahnya menjadi sakan bagi anggotanya.

Makna sakan pun telah kita pahami, di antaranya dari keterangan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah yang berkata tentang ayat

لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا[1]

yakni “Kalian merasa akrab dengannya dan hati kalian condong/cenderung kepadanya.” (Fathul Qadir, 4/263)

Jadi, dalam kata ini termuat makna kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan. Berarti rumah yang merupakan sakan bagi anggotanya adalah rumah yang memberikan ketenangan, ketenteraman bagi anggotanya, yang dipenuhi dengan cinta dan kecondongan hati.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang perempuan untuk mewujudkan tujuan ini sebagaimana dijabarkan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam ceramahnya, yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peranan Wanita dalam Mendidik Keluarga). Maka cobalah engkau, wahai perempuan, wahai istri muslimah, memerhatikan penjelasan di bawah ini.

 

  1. Ketaatan dan kepatuhan penuh kepada suami, dalam urusan yang bukan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita….” (an-Nisa: 34)

Ketaatan istri kepada suaminya merupakan fondasi ketenteraman rumah tangga. Suami hanya bisa menjalankan fungsinya dengan baik sebagai qawwam, pemimpin keluarga, bila dia ditaati. Terbayang tidak, apabila pemimpin tidak ditaati? Tentu kekacauan yang akan timbul. Kalau ditanya, apa hukumnya seorang istri menaati suaminya? Hukumnya wajib secara syar’i. Karena itu, seorang istri yang taat kepada suaminya akan beroleh pahala.

Sadarkah seorang istri bahwa taat kepada suami lebih dikedepankan daripada ibadah nafilah[2]? Hadits berikut ini merupakan salah satu buktinya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَصُوْم الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

        “Seorang istri tidak boleh puasa dalam keadaan suaminya ada (di rumah) terkecuali dengan izinnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

 

Dalam hadits ini ada isyarat tentang pentingnya menaati suami sampai-sampai ketaatan tersebut didahulukan daripada ibadah puasa sunnah.

 

  1. Menunaikan pekerjaan rumah tangga yang merupakan penegak kehidupan keluarga, seperti memasak, mencuci, menjaga kebersihan, dan lain sebagainya.

Seorang istri harus pandai dalam tugas-tugas ini. Dia tidak boleh bekerja dengan asal-asalan dan merasa terbebani. Hendaknya dia mengerjakannya dengan hati lapang, senang, dan ridha serta menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga tersebut bernilai ibadah apabila dia meniatkannya.

Perempuan-perempuan mulia sebelum kita juga melakukan pekerjaan rumah tangga. Jadi, tugas ini tidak boleh dianggap remeh dan sepele. Siapa pun dirimu, keturunan orang yang paling ningrat sekalipun, sekaya apa pun, setinggi mana pun kedudukanmu, Anda tidak mungkin melampaui kemuliaan perempuan yang akan kita bawakan kisahnya berikut ini.

Dia tidak enggan menjalankan tugasnya dalam rumah suaminya, seberapa pun berat dan sulitnya. Karena itu, kita tidak patut enggan untuk mengambilnya sebagai uswah.

Perempuan mulia itu adalah putri terkasih dari Khairul Anam shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemuka para wanita penduduk surga, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhainya.

Dalam Musnad al-Imam Ahmad rahimahullah (1/153) disebutkan dengan sanad sampai kepada Ibnu A’bud, dia berkata,

“Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepadaku, “Maukah aku beritakan kepadamu tentang aku dan Fathimah radhiallahu ‘anha? Dia adalah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang paling beliau muliakan dan kasihi di antara keluarga beliau, dan dia adalah istriku.

Dia menggiling gandum dengan alat penggilingan hingga alat tadi membekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah (wadah dari kulit) yang dikalungkan pada lehernya hingga qirbah tersebut membekas pada lehernya. Dia membersihkan rumah hingga berdebu pakaiannya. Dia menyalakan api di bawah periuk hingga kotor bajunya. Semua itu membuatnya tertimpa kepayahan.

(Suatu hari) didatangkan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tawanan perang atau pembantu. Ali berkata, “Aku pun berkata kepada Fathimah, ‘Pergilah engkau menemui Rasulullah. Mintalah kepada beliau seorang pembantu yang akan meringankanmu dari kepayahan yang engkau dapati dalam pekerjaanmu.’

Fathimah pergi menemui sang ayah. Didapatinya di sisi beliau ada sekian pembantu. Namun, Fathimah segan sehingga dia pun pulang tanpa menyampaikan permintaannya. Lalu disebutkan kisahnya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

أَلآ أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتِ إِلَى فِرَاشِكِ سَبِّحِيْ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ, وَاحْمَدِي ثَلاَثاً وَثَلاَثِينَ، وَكَبِّرِي أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ. فَأَخْرَجَتْ رَأْسَهَا فَقَالَتْ: رَضِيْتُ عَنِ اللهِ وَرَسُوْلِهِمَرَّتَيْنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada seorang pembantu? Apabila engkau beranjak ke tempat tidurmu (pada malam hari), bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 34 kali. “

Fathimah mengeluarkan kepalanya dari selimut yang menutupinya seraya berkata, “Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Dinyatakan hasan sanadnya oleh Ahmad Syakir. Hadits ini termasuk tambahan yang dimasukkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam Musnad ayahnya)

Dalam kitab al-Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, karya Ibnu Sa’d (8/159) disebutkan saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengusulkan agar Fathimah radhiallahu ‘anha meminta pembantu kepada ayahnya, Fathimah menyanggupi. Namun, saat sudah berhadapan dengan sang ayah, Fathimah merasa segan dan malu menyampaikan maksudnya.

Ketika ditanya oleh ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ada keperluan apa engkau datang ke sini, wahai putriku?”

Fathimah menjawab, “Ananda datang untuk menyampaikan salam kepadamu, Ayah.”

Fathimah kembali pulang dan menyampaikan kepada Ali, suaminya, bahwa dia belum bicara tentang pembantu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena malu. Ali pun mengajak istrinya untuk bersama-sama menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Ali menyampaikan kepada Rasulullah tentang keadaan Fathimah terkait dengan pekerjaannya dalam rumah, sekiranya ada pembantu tentu akan meringankan tugas Fathimah.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memenuhi permintaan keduanya. Beliau bersabda, “Tidak, demi Allah! Aku tidak akan memberikan pembantu kepada kalian berdua, sementara ahlus suffah aku biarkan menekuk perut mereka karena lapar. Aku tidak punya harta untuk memberi infak kepada mereka. Akan tetapi, aku akan jual budak-budak ini dan uang penjualannya akan aku infakkan kepada mereka.”

Ali dan Fathimah pun kembali ke rumah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah keduanya saat keduanya telah berbaring dengan tutupan selimut pendek. Selimut itu, apabila ditutupkan ke bagian kepala, akan tampaklah kaki keduanya. Apabila ditutupkan ke kaki, tersingkap bagian kepala keduanya.

Keduanya hendak bangkit, tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan agar mereka tetap di tempatnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari keduanya sebuah amalan yang lebih baik daripada pembantu.

Kisah di atas juga dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya (Kitab an-Nafaqat, bab Amal al-Mar’ah fi Baiti Zaujiha dan bab Khadim al-Mar’ah, hadits no. 5361 dan 5362) dan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya (Kitab adz-Dzikr wad Du’a, bab at-Tasbih Awwal an-Nahar wa inda an-Naum, hadits no. 6853, 6854, 6855, dan 6856), namun kisahnya tidak sepanjang yang disebutkan dalam Musnad al-Imam Ahmad.

Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim ini, disebutkan bahwa Fathimah radhiallahu ‘anha tidak mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hanya bertemu dengan Aisyah radhiallahu ‘anha. Kepada Aisyah, pesan untuk sang ayah disampaikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan kedatangan Fathimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendatangi rumah putrinya. Beliau mendapati sang putri dan menantu terkasih telah berbaring di pembaringan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta keduanya tetap berbaring.

Beliau duduk di antara keduanya hingga kata Fathimah radhiallahu ‘anha, “Aku dapati dinginnya kedua telapak kaki beliau pada perutku (atau dadaku).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa yang diharapkan oleh putrinya. Beliau justru menghimbau agar putrinya meneruskan apa yang biasa di lakukan dalam rumah suaminya. Beliau membimbing sang putri untuk melakukan ibadah zikir yang membantunya menjalankan pekerjaannya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa ibadah yang beliau ajarkan itu lebih baik daripada pembantu.

Kata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Yang tampak, maksud dari ‘lebih baik daripada pembantu’ adalah manfaat zikir (tasbih dsb.) khusus di negeri akhirat,sedangkan manfaat pembantu hanya didapatkan di kehidupan dunia. Dan dipastikan bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Fathul Bari, 9/627)

Sekarang kita kembali mengulang pertanyaan, adakah istri yang lebih mulia daripada Fathimah radhiallahu ‘anha?

Teladan berikutnya adalah Asma bintu Umais radhiallahu ‘anha. Tahukah Anda siapa dia?

Ya, sahabiyah yang mulia, pelaku dua kali hijrah; ke Habasyah dan ke Madinah. Beliau bersuamikan para lelaki yang mulia, tokoh para sahabat. Setelah menjanda dari Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang gugur dalam Perang Mu’tah, Asma dinikahi oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakr radhiallahu ‘anhu wafat, Asma diperistri oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anha.

Sungguh, kemuliaan bagi Asma pernah bersanding dengan lelaki-lelaki ahlul jannah[3].

Apa yang dilakukan Asma di dalam rumahnya? Berikut ini beritanya.

Asma bintu Umais radhiallahu ‘anha berkisah,

لَمَّا أُصِيْبَ جَعْفَرٌ وَأَصْحَابُهُ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ وَدَبَغْتُ أَرْبَعِ إِهاَبًا، وَعَجِنْتُ عَجِيْنِي، وَغَسَلْتُ بُنَيَّ وَدَهَنْتُهُمْ وَنَظَّفْتُهُمْ .قَالَتْ :فَقَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ :اِتِيْنِي بِبَنِي جَعْفَرٍ .قَالَتْ :فَأَتَيْتُهُ بِهِمْ فَشَمَّمَهُمْ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ. فَقَالَتْ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، مَا يُبْكِيْكَ؟ أَبَلَغَكَ عَنْ جَعْفَرٍ وَأَصْحَابِهِ شَيْءٌ؟ قَالَ :نَعَمْ، أُصِيْبُوْا هَذَا الْيَوْمَ

        Ketika Ja’far dan teman-temannya gugur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah kami. Waktu itu aku telah menyamak 40 kulit, mengadon adonan rotiku, memandikan anak-anakku, meminyaki rambut mereka dan membersihkan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Datangkan putra-putra Ja’far ke hadapanku.”

Aku pun menghadirkan mereka ke hadapan beliau. Beliau mencium mereka dan mengalirlah air mata dari kedua mata beliau.

Asma berkata, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu, apa yang membuat Anda menangis? Apakah sampai sesuatu berita kepadamu tentang Jafar dan teman-temannya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, mereka semua gugur pada hari ini….” (Sirah Ibni Hisyam, 4/22)

Dalam ath-Thabaqah al-Kubra karya Ibnu Sa’d disebutkan,

Aku berpagi hari dengan kegiatanku pada hari gugurnya Ja’far dan temantemannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuiku. Saat itu aku telah menyamak 40 samakan dari kulit dan mengadon adonan rotiku. Aku ambil anak-anakku lalu membasuh wajah mereka dan meminyaki rambut mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahku, lalu berkata, “Wahai Asma, di mana putra-putra Ja’far?”

Aku pun mendatangkan anak-anakku ke hadapan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluk dan mencium mereka. Mengalirlah air mata beliau. Beliau menangis.

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mungkin ada sesuatu berita yang telah sampai kepada Anda tentang Ja’far?”

“Ya, dia terbunuh pada hari ini,” jawab beliau.

“Berdirilah aku seraya menjerit (menangis),” kata Asma, “Lalu berkumpullah para wanita di sekitarku (untuk menghiburku).”

Mendengar tangisku pecah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Wahai Asma, jangan kamu mengucapkan ucapan yang mengandung dosa (karena meratapi musibah ini) dan jangan kamu memukul-mukul dadamu.” (10/267)

 

  1. Bersegera memenuhi “ajakan” suami dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla halalkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

       إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ، فَبَات غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلآئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu si istri menolak hingga suaminya bermalam dalam keadaan marah kepadanya, istri tersebut dilaknat oleh malaikat sampai pagi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, seorang istri tidak boleh “jual mahal” kepada suaminya, seakan-akan menghalangi suami dari dirinya, menjauh dari suaminya.

Semestinya istri selalu mendekat kepada suaminya tanpa harus diminta. Dia senantiasa bersolek dan berhias untuk suaminya.

 

  1. Menjaga rahasia suami dan kehormatannya.

Jangan sampai seorang istri membawa dirinya kepada keburukan dan keluar rumah dengan bertabarruj.

Janganlah seorang istri bermudah-mudah menampakkan dirinya kepada lelaki ajnabi, dengan berdiri di depan pintu rumah, melongok di jendela, atau keluar dari rumahnya. Apabila terpaksa keluar rumah, hendaknya seorang istri menjaga rasa malunya.

Jangan sekali-kali seorang istri memasukkan ke dalam rumah suaminya orang yang tidak disukai oleh suami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa hal tersebut termasuk hak seorang suami terhadap istrinya.

Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِينَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ

“Adapun hak kalian terhadap istri-istri kalian adalah mereka tidak boleh membiarkan orang yang kalian benci menginjak permadani kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat at-Tirmidzi ada tambahan,

وَلاَ يَأْذَنْ فِي بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ

        “Dan tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci masuk ke rumah kalian.” (Dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 

  1. Menjaga harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda terkait tanggung jawab istri di rumah suaminya,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain,

خَيْرُ النِّسَاءِ رَكِبْنَ الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik perempuan yang menunggang unta adalah perempuan Quraisy yang saleh[4], paling penyayang terhadap anak ketika masih kecilnya, dan paling memerhatikan (menjaga) suami dalam harta yang dimiliki suami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maksud paling memerhatikan harta suami adalah paling menjaga dan memelihara harta suami dengan berbuat amanah dan tidak mubazir membelanjakannya. (Fathul Bari, 9/157)

Seorang istri dibebani tugas mengatur ‘dalam rumah’ suaminya, dan apa yang ada di dalam rumah umumnya adalah harta suami yang harus dijaga. Urusan penjagaan harta ini terkait beberapa hal, di antaranya:

  1. Menjaga dan merawat baik-baik apa yang ada di dalam rumah suami.
  2. Tidak mubazir dan boros.

radhiallahu ‘anhuma. Tidak membebani dan menuntut suami dengan nafkah yang melampaui kemampuannya.

 

  1. Bergaul dengan baik

Seorang istri harus dapat bermuamalah dengan baik terhadap suami yang sekaligus adalah pemimpinnya. Di antara bentuk muamalah yang baik dengan suami adalah sabar dan memaafkan kesalahan suami, meminta keridhaannya ketika dia marah, menampakkan rasa cinta dan pemuliaan kepada suami, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik saat berbicara dengan suami, dan menampakkan wajah berseri-seri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu terhadap saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam ash- Shahihah no. 572)

Apabila senyuman kepada saudara dianggap sebagai kebaikan, bagaimana halnya dengan senyuman yang selalu disuguhkan istri di hadapan suaminya?

 

  1. Pandai mengatur waktu

Seorang istri harus pandai dan bersemangat mengatur dan memanfaatkan waktunya sehingga pekerjaan bisa tertunaikan.

 

  1. Menata rumah

Jadikanlah rumahmu laksana sebuah taman yang selalu terjaga kebersihan dan keteraturannya. Rumah itu menunjukkan “siapa” perempuan yang menghuninya. Dengan selalu bersih dan teratur rapi, niscaya rumah tampak menarik walaupun hanya sebuah gubuk yang diisi dengan perabotan ala kadarnya.

Sebaliknya, jika rumah kotor, tidak terawat dan semrawut, walau bangunannya megah, perabotannya mewah, niscaya ‘mata tak sedap memandang, hati pun enggan untuk tinggal’.

Saat suami dan anak-anak pulang dari pekerjaan dan sekolah mereka dalam keadaan lelah lagi penat, lantas mendapati rumah mereka bersih, tertata rapi, niscaya kelelahan terasa berkurang.

Sebaliknya, jika mereka kembali dalam keadaan rumah kotor, berantakan dan sebagainya, niscaya kepayahan mereka akan bertambah.

Dengan demikian, kebersihan dan kerapian tempat tinggal termasuk sebab yang paling penting untuk menjadikannya sebagai sakan.

 

  1. Jujur terhadap suami terkhusus saat suami tidak ada di rumah.

Seorang istri tidak boleh berdustadan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak boleh disembunyikan dari suaminya. Apabila satu kali istri selamat dari kedustaannya, saat itu suaminya tidak tahu bahwa dia dibohongi. Namun, pada waktu yang lain, belum tentu istri selamat. Bisa jadi, kedustaannya yang dahulu terbongkar hingga sirnalah kepercayaan suami kepadanya.

Bisa terbayang rasanya bila suami sudah tidak percaya pada kita? Tentu rumah tidak bisa lagi menjadi sakan yang menyenangkan, apalagi menjadi tempat tarbiyah yang baik.

 

  1. Apa yang Anda lakukan saat terjadi perselisihan dengan suami?

Kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang pasti ada kelemahan. Suatu waktu pasti ada perselisihan dengan orang lain yang tinggal di sekitar kita atau yang kita berinteraksi dengannya. Tentu saja dengan suami yang selalu dekat dengan kita, tinggal serumah, sekamar dan setiap hari berinteraksi, lebih mungkin ada masalah yang timbul!

Yang penting dari semua itu bukanlah membahas ada atau tidak ada masalah, muncul atau tidaknya problem, perselisihan dan pertikaian. Yang penting adalah menyelesaikan persoalan yang muncul di antara suami istri.

Berikut ini beberapa arahan yang harusnya diperhatikan seorang istri saat terjadi perselisihan dengan suami.

  1. Jauhilah adu mulut saat dalam keadaan emosi. Biarkanlah kemarahan reda dan urat syaraf mengendor dari yang semula tegang. Lakukanlah upaya untuk menghilangkan kemarahan sebagaimana bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Pakailah metode ‘membahas’, mencari tahu akar masalah dan sebabnya, bukan bertengkar.

radhiallahu ‘anhuma. Seorang istri tidak boleh berani membentak suaminya, bersuara keras dan kasar terhadap suami. Ingat selalu hal ini, walau sedang emosi.

  1. Hindari memotong pembicaraan dan enggan mendengar apa yang disampaikan.
  2. Setiap pihak tetap menunjukkan kecintaan kepada pasangannya sambil berusaha menyelesaikan masalah.
  3. Semestinya bersiap untuk mengalah. Jika tidak ada yang mau mengalah, niscaya perselisihan tidak akan selesai. Ia justru bertambah berat,bahkan terkadang berakhir dengan keluarnya ucapan, “Sudah, kita cerai saja!”

 

Demikianlah beberapa kiat yang sepantasnya dilakukan istri dalam rumahnya hingga bisa mewujudkan sakan yang hakiki, dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla.

Sebuah rumah yang dihuni oleh suami yang bisa merasakan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan, hingga suami bisa berbuat dan menghasilkan yang terbaik untuk umat.

Sebuah rumah yang di dalamnya anak-anak dididik dengan tarbiyah yang baik, hingga menjadi baiklah umat ini karena baiknya generasi yang terlahir dan keluar di tengah mereka.

Suami dan istri adalah dua asas keluarga. Apabila hubungan antara keduanya buruk, niscaya tidak ada ketenteraman dalam rumah yang dihuni keduanya.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Surat ar-Rum: 21

[2] Ibadah tambahan di luar yang diwajibkan.

[3] Sebab, ketiga sahabat ini—Abu Bakr ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan saudaranya Ja’far, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka semua—telah diberi janji dengan surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[4] Yang dimaksud saleh, kata al-Hafizh Ibnu Hajar, adalah baik agamanya dan bagus pergaulannya dengan suami. (Fathul Bari, 9/157)

Jangan Dekati Zina!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penyampai risalah dari langit, pernah bersabda,

        إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah Mahacemburu. Cemburunya Allah subhanahu wa ta’ala adalah apabila seseorang (dari hamba-Nya) melakukan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan atasnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Manusia yang paling tahu tentang Sang Rabb ini memberitakan bahwa Dia Yang Mahasuci memiliki sifat cemburu sebagai suatu sifat yang hakiki bagi-Nya. Jangan merasa heran apabila Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan sifat ini! Apabila Anda heran, pastilah Anda sedang membayangkan cemburunya manusia.

Sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah sama dengan cemburu kita, para makhluk.

        لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia….” (asy-Syura: 11)

Cemburu Allah subhanahu wa ta’ala sangat agung dan mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan bagi hamba-hamba-Nya berbagai kewajiban. Dia mengharamkan atas mereka apa yang buruk, dan Dia menghalalkan apa yang baik dalam hukum-Nya.

Semua yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala pastilah baik bagi kita untuk agama dan dunia kita. Itu pastilah baik bagi kita untuk sekarang dan masa yang akan datang. Sebaliknya, yang diharamkan-Nya pastilah buruk bagi kita untuk semuanya; agama, dunia, waktu sekarang, dan masa yang akan datang.

Apabila Allah subhanahu wa ta’ala sudah mengharamkan sesuatu lantas masih saja seorang hamba melakukannya, Dia subhanahu wa ta’ala cemburu. Mengapa si hamba berbuat demikian padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya demi kemaslahatan si hamba?

Allah subhanahu wa ta’ala sendiri tidaklah termudaratkan dengan maksiat si hamba, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala tidak beroleh manfaat dari ketaatan hamba.

Lantas, mengapa Allah subhanahu wa ta’ala cemburu?

Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Penyayang. Dia tidaklah melarang hamba-Nya dari sesuatu karena kikir terhadap mereka, tetapi demi kemaslahatan mereka.

Kemudian datanglah hamba yang lancang. Dengan kebodohan dan hawa nafsunya, dia terjang larangan Sang Khaliq. Dia lampaui batasan yang ditetapkan ar-Rahman. Dia bermaksiat kepada Rabbnya yang sebenarnya sangat sayang kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala cemburu karenanya.

 

Allah Cemburu Bila Hamba-Nya Berzina

Ada satu perbuatan haram yang dikaitkan secara khusus dengan sifat cemburu Allah subhanahu wa ta’ala . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتَهُ

“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wa ta’ala apabila hamba laki-laki-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa demikian? Karena zina adalah perbuatan yang keji, amat rendah, dan sangat buruk. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perbuatan zina, bahkan semua hal yang mengantarkan kepada zina[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Janganlah kalian mendekati zina, sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (al-Isra: 32)

Apabila seorang hamba berzina, na’udzubillah, Allah subhanahu wa ta’ala sangat cemburu dan lebih besar kecemburuan-Nya daripada jika seorang hamba melakukan perbuatan haram selain zina. (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/338—339)

 

Mut’ah=Zina

Anehnya, ada zina yang dilegalkan atas nama agama. Ya , mut’ah namanya. Boleh kita sebut kawin kontrak; kontraknya bisa setahun, sebulan, sepekan, bahkan semalam, na’udzubillah. Setelah itu berpisah begitu saja, tanpa ada pertanggungjawaban. Lantas bagaimana jika perempuan yang dimut’ah itu akhirnya hamil?

Ada juga yang tidak menetapkan waktu. Artinya sesukanya, kalau sudah bosan ya pisah, cari yang lain lagi, sebagaimana praktik mut’ah yang terdata dilakukan oleh mahasiswa di universitas tertentu yang terkena racun Syi’ah.

Pada praktiknya, mut’ah dilakukan tanpa wali, tanpa saksi, tanpa pemberitahuan kepada orang-orang (tidak disebarkan beritanya), tanpa memberitahu wali si perempuan, dan tidak ada hubungan waris-mewarisi antara kedua pihak. Jadi, bagaimana hakikatnya? Si perempuan hanyalah berstatus istri sewaan.

Masih ragu bahwa mut’ah adalah zina?

Memang benar, dahulu pernikahan dengan cara mut’ah ini pernah dibolehkan[2]. Akan tetapi, kebolehannya telah dihapus dan diharamkan sampai hari kiamat. Kaum yang gemar mengumbar hawa nafsu, hanya mengejar kesenangan perut dan kemaluan, justru melegalisasi zina dengan istilah mut’ah. Merekalah Syiah Rafidhah.

Menurut mereka, seseorang yang melakukan mut’ah memiliki keutamaan yang besar. Tiga kali bermut’ah ganjarannya akan dikumpulkan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Sebaliknya, mereka mengklaim siapa yang tidak pernah bermut’ah, dia bukanlah seorang muslim, dan siapa yang tidak menerima mut’ah berarti dia kafir. (sebagaimana disebutkan dalam kitab pegangan Syi’ah: Man La Yahdhuruhu al-Faqih, ash-Shaduq al-Qummi 3/366, dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 33—34)

Mereka membolehkan lelaki bermut’ah tidak hanya dengan para gadis atau janda. Bahkan, boleh bermut’ah dengan istri orang dan yang afdal tanpa sepengetahuan suaminya. Inna lillahi…. (kitab Syi’ah Furu’ al-Kafi, al-Kulaini, 5/463, dinukil dalam Lillahi Tsumma lit Tarikh hlm. 41)

Dilegalkannya mut’ah atas nama agama di kalangan orang-orang Syi’ah Rafidhah di Iran, sampai menyeret kepada pembolehan i’aratul farj (menyewakan farji). Pembolehannya difatwakan oleh tokoh ulama mereka, seperti as-Sayyid Luthfullah ash-Shafi.

Bagaimana bentuk i’aratul farj ini? Seorang lelaki memberikan istri atau budak perempuannya kepada lelaki lain dan memperbolehkan si lelaki “berhubungan” dengan istrinya atau melakukan terhadap istrinya sekehendak si lelaki.

Apabila seorang suami hendak safar, dia menitipkan istrinya kepada lelaki tetangganya, temannya, atau siapa saja yang dipilihnya. Dia membolehkan lelaki tersebut melakukan apa saja terhadap istrinya selama dia safar. Tujuannya agar dia bisa tenang dalam safarnya dan tidak khawatir istrinya melakukan perzinaan selama dia tinggalkan. Lho!

Bentuk yang kedua, apabila suatu kaum atau keluarga kedatangan tamu dan mereka hendak memuliakan tamu tersebut, si tuan rumah meminjamkan istrinya kepada si tamu selama dia tinggal bersama mereka. Si tamu boleh melakukan apa saja terhadap si istri. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 46—47)

Apa hakikat dari semua itu kalau bukan zina? Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas-jelas mengharamkan zina?!

 

Liwath Lebih Parah daripada Zina

Ada lagi yang lebih keji dari perbuatan zina yaitu liwath, perbuatan kaum Luth. Allah subhanahu wa ta’ala menukilkan ucapan Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya,

أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ٨١

“Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang tidak ada seorang pun dari penghuni alam semesta ini yang mendahului kalian (melakukannya).

Sungguh, kalian mendatangi lelaki untuk melampiaskan syahwat kalian, bukannya mendatangi perempuan. Sungguh, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)

Perhatikan ayat di atas! Perbuatan liwath disebut dengan fahisyah memakai alif lam (ma’rifah, yang berarti sudah tertentu), sedangkan zina dalam surat al-Isra ayat 32, disebut tanpa alim lam (nakirah, masih umum, tidak tertentu). Apa bedanya?

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Zina adalah satu fahisyah/perbuatan keji dan kotor dari sekian banyak perbuatan fahsiyah. Adapun liwath adalah fahisyah yang paling besar.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/339)

Ternyata, kaum liberal dan yang sebarisan dengan mereka sama suaranya dengan Syiah ketika menyerukan agar LGBT dilegalkan di negeri tercinta ini—semoga Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan negeri ini.

Mengapa demikian? Syi’ah adalah penyuka liwath, “berhubungan” sesama lelaki, terutama dengan amrad (anak muda belia yang belum tumbuh jenggotnya). Hal ini telah difatwakan oleh kebanyakan ulama mereka, seperti as-Sayyid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi. (Lihat Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 52—54)

Laa haula wa laa quwwata illa billah! Lengkap sudah kebejatan Syi’ah Rafidhah. Kalau mereka tidak mengaku Islam, tentu lebih ringan. Yang parah, mereka mengaku beragama Islam dan mengatasnamakan kebejatan akhlak mereka sebagai ajaran Islam.

Mereka membawakan riwayat-riwayat palsu penuh kedustaan atas nama para imam ahlul bait terkait penyimpangan moral yang diabsahkan. Hakikatnya, mereka ingin menjatuhkan kehormatan imam-imam ahlul bait dengan riwayat yang dibuat-buat oleh para zindiq. Sebab, kerendahan akhlak dan penyimpangan moral nantinya akan dianggap sebagai seruan dan ajaran para imam.

Mengapa para hamba demikian lancang berbuat dosa?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan wasilah (sarana yang mengantarkan) kepada zina, seperti memandang lawan jenis yang bukan mahram, ikhtilath (campur baur) lelaki dan perempuan tanpa hijab, khalwat (berdua saja) lelaki dan perempuan yang bukan mahram, bersentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram dengan berjabat tangan misalnya, perempuan melembutkan suaranya saat berbicara dengan lelaki, perempuan keluar rumah bertabarruj, memakai wangi-wangian, dsb. Semua itu dalam rangka mencegah terjadinya zina.

[2] Silakan baca kembali Rubrik “Mengayuh Biduk” edisi ini yang membawakan sedikit riwayat tentang mut’ah.

Apa Itu Nikah Mut’ah?

Apa nikah mut’ah itu? Adakah ayat al-Qur’an atau hadits tentang nikah mut’ah? Apakah ada hadits yang mengharamkan nikah mut’ah ataukah sekadar makruh?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab:

“Mut’ah adalah seorang lelaki menikahi seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah mengizinkan para sahabat pada sebagian peperangan untuk melakukan nikah mut’ah (dengan perempuan setempat). Beliau juga mengizinkannya pada tahun Fathu Makkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan nikah mut’ah ini pada sebagian peperangan[1] lalu melarangnya pada tahun Perang Khaibar[2]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan lagi saat tahun Fathu Makkah sebagaimana disebutkan dalam hadits ar-Rabi’ ibnu Sabrah dari bapaknya[3], lalu melarangnya. Diizinkan juga dalam perang Hunain[4], kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

Maka dari itu, kaum muslimin semuanya mengharamkan nikah mut’ah. Sebagian sahabat, seperti Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, membolehkan nikah mut’ah dan menyangka bahwa nikah mut’ah ini dibolehkan karena darurat. Namun, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengingkari pendapat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tersebut. Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sungguh, kamu adalah orang yang bingung yang keluar dari jalan yang lurus (dalam urusan ini).”[5] Adalah pantas Ali radhiallahu ‘anhu mengingkari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Nikah mut’ah haram sampai hari kiamat. Mereka yang membolehkan nikah mut’ah (orang-orang Syi’ah –pent.) menampakkan bukti terbesar bahwa mereka tidak mengikuti Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mut’ah itu haram sampai hari kiamat. Ali radhiallahu ‘anhu juga mengingkari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang membolehkan mut’ah.

Orang-orang Syi’ah menganggap secara batil bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَمَا ٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهِۦ مِنۡهُنَّ فَ‍َٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةٗۚ

“Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar-mahar mereka dengan sempurna sebagai suatu kewajiban.” (an-Nisa: 24)

turun tentang nikah mut’ah, padahal tidaklah demikian.

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 534—535)


Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam

Apa hukum nikah mut’ah dalam Islam yang marak dilakukan oleh penganut agama Syi’ah?

 

Al-Lajnah ad-Daimah’[6] menjawab:

“Nikah mut’ah diharamkan dan batil (tidak sah) seandainya terjadi, berdasar riwayat al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahullah dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa pada waktu Perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan melarang memakan daging keledai ahliyah (keledai negeri/peliharaan). Dalam satu riwayat disebutkan, pada hari Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memut’ah perempuan.

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah itu haram menurut ijma/kesepakatan ulama kaum muslimin, kecuali sebagian pengikut Syi’ah. Tidak sah kaidah mereka (orang-orang Syi’ah) untuk rujuk kepada Ali radhiallahu ‘anhu dalam urusan yang diperselisihkan. (Riwayat) yang sahih dari Ali radhiallahu ‘anhu justru menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah dihapus (mansukh) pembolehannya.

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah menukilkan dari Jafar bin Muhammad, yang pernah ditanya tentang nikah mut’ah. Beliau menjawab, “Nikah mut’ah adalah zina itu sendiri (tidak beda dengan perzinaan).”

Pengharaman nikah mut’ah juga didasarkan hadits yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya dari Sabrah ibnu Ma’bad al-Juhani radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

        إِنِّي كُنْتُ قَدْ أَذَنْتُ لَكُمْ فِي الْاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيخل سَبِيْلَهُ وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para perempuan. Sungguh, (kemudian) Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kalian memiliki istri yang dinikahi dengan cara mut’ah, hendaknya dia lepaskan dan jangan kalian ambil sedikit pun harta/pemberian yang telah kalian berikan kepada mereka.”

(Fatwa no. 3810, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/441)


Menikah untuk Jangka Waktu Tertentu

Apa hukumnya dalam Islam, menikah hanya untuk jangka waktu tertentu?

Al-Lajnah ad-Daimah[7] menjawab:

“Menikah hanya untuk masa tertentu (setelah itu berpisah begitu saja) adalah nikah mut’ah yang batil, menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, nikah seperti ini hukumnya mansukh[8] oleh riwayat yang pasti dari hadits-hadits sahih yang melarang mut’ah. Apa yang dinyatakan terlarang berarti pernikahan yang batil/tidak sah.

‘Hubungan intim’ yang terjadi dengan pernikahan mut’ah itu teranggap zina sehingga berlaku hukuman berzina bagi diri pelakunya[9] dalam keadaan dia tahu batilnya mut’ah tersebut.”

(Fatwa no. 15952, Fatawa al-Lajnah, 18/445)


Menikah dengan Syiah Rafidhah

Apakah sah pernikahan dengan seorang Rafidhah atau dengan orang yang berkata bahwa shalat lima waktu tidak wajib baginya?

Jika dia bertobat dari pemahaman Rafidhah atau dia melakukan shalat dalam beberapa masa, kemudian dia kembali lagi menjadi Rafidhah atau kembali meninggalkan shalat, apakah dianggap sah pernikahan yang telah dilakukan dengannya?

Syaikhul Islam rahimahullah menjawab,

“Tidak boleh seorang pun menikahkan perempuan yang di bawah perwaliannya dengan lelaki Rafidhah, sebagaimana tidak boleh menikahkannya dengan lelaki yang meninggalkan shalat.

Namun, apabila wali perempuan menikahkan perempuan mereka dengan lelaki yang dikira sunni dan mengerjakan shalat, kemudian di belakang hari diketahui bahwa si lelaki adalah Rafidhah yang tidak mengerjakan shalat, atau dia kembali menjadi Rafidhah (setelah rujuk menjadi sunni) lantas meninggalkan shalat, para wali tersebut dapat mem-fasakh pernikahannya.”

(Majmu’ Fatawa, 16/261)


Apakah Syiah Rafidhah Itu Muslim?

Apakah boleh menamakan Rafidhah dan orang-orang Iran sebagai kaum muslimin?

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab,

“Rafidhah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa. Mereka ini tidak boleh kita kafirkan dan hukum asal mereka adalah Islam. Di antara mereka ada yang mengetahui akidah Rafidhah dan meyakininya, ini yang teranggap kafir. Yang saya maksudkan adalah akidah Khomeini.

Siapa di antara mereka yang meyakini akidah Khomeini atau akidah al-Kulaini penulis al-Kafi, dia kafir. Di antara mereka ada ulama yang tidak meyakini akidah tersebut, tetapi mereka terus-menerus di atas Rafidhahnya, maka mereka adalah mubtadi’.

Jadi, kita harus adil dalam hal ini. Siapa di antara mereka yang akidahnya seperti akidah Khomeini atau al-Kulaini, barulah dia dianggap kafir.

Mengapa kita mengatakan Khomeini kafir? Karena dia mengatakan sebagaimana dalam al-Hukumah al-Islamiyah, “Sungguh, para imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh seorang nabi yang diutus, tidak pula bisa dicapai oleh malaikat yang dekat.” Ini baru satu kesesatan.

Yang kedua, “Nash-nash yang disampaikan oleh para imam kita sama dengan nash-nash al-Qur’an.”

Yang ketiga, “Sungguh, para nabi dan para imam ahlil bait tidak sukses melaksanakan tugas mereka sebagaimana kesuksesan yang akan diraih oleh al-Mahdi dalam tugasnya.”

Yang dimaksud al-Mahdi adalah khurafat mereka, yaitu penghuni Sirdab. Siapa yang meyakini akidah semacam ini, dia kafir. Wallahul musta’an.

Orang-orang awamnya tidak boleh kita hukumi kafir. Demikian pula ulama mereka yang tidak meyakini akidah tersebut dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur.”

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 526—527)

[1] Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa serta istri kami.

Kami berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kita mengebiri diri kita?’ Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukannya.

Beliau memberi rukhshah untuk kami menikahi perempuan setempat dengan mahar berupa pakaian sampai tempo waktu tertentu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, –pent.)

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. (–pent.)

[3] Kata Sabrah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami melakukan mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami masuk kota Makkah. Tidaklah kami keluar dari Makkah hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan mut’ah.” (HR Muslim, –pent.)

[4] Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah. (–pent.)

[5] HR. al-Bukhari dan Muslim. (–pent.)

[6] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

[7] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh

Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.

[8] Dahulu pernah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang. (–pent.)

[9] Kalau masih lajang dicambuk 100 kali dan diasingkan. Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Penegakan hukum had ini dilakukan oleh pihak penguasa, bukan individu atau kelompok. (–pent.)

Syiah Menistakan Kaum Hawa

Jika ingin tahu di mana ajaran yang ‘aneh tapi nyata’, jawabannya ada di agama Syiah. Kalau mau tahu ajaran sesat-menyesatkan, semuanya ada di Syiah.

Bagaimana tidak? Syiah mengoleksi demikian banyak keanehan, kejanggalan, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, penyimpangan akidah, moral dan akhlak, serta menyelisihi fitrah manusia. Pun begitu, Syiah dianggap bagian dari Islam padahal Islam berlepas diri dari Syiah.

Berikut ini beberapa daftar kejahatan kaum yang rendah tersebut.

Dalam agama Syiah, kesyirikan bukanlah sesuatu yang dimungkiri. Seruan “Ya Husain!” biasa mereka ucapkan dalam perkumpulan mereka, dalam acara Husainiyat misalnya, seraya menepuk-nepuk dada. Lebih ngeri lagi syiriknya, mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib, ayahanda Husain, adalah Rabb mereka pada hari kiamat.

Dalam agama Syiah ada pengagungan terhadap kuburan. Bahkan, beribadah dan sujud kepada kuburan tokoh-tokoh mereka adalah sesuatu yang biasa.

Dalam agama Syiah ada tuduhan bahwa al-Qur’an yang di tangan kaum muslimin itu kurang, tidak lengkap. Dalam agama Syiah ada penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ahlul bait beliau.

Dalam agama Syiah ada pengafiran terhadap orang-orang terbaik dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, kecuali sedikit dari mereka.

Dalam agama Syiah ada legalisasi dusta dengan nama taqiyah. Bahkan, barang siapa tidak bertaqiyah, dia tidaklah beragama. Demikian anggapan mereka.

Dalam agama Syiah ada penghalalan darah orang-orang yang tidak mengikuti agama mereka, terutama darah Sunni (Ahlus sunnah) musuh besar Syiah.

Dalam agama Syiah ada kecintaan kepada Yahudi karena Syiah memang terlahir dari rahim Yahudi.

Dalam agama Syiah ada tindakan memakan harta manusia dengan cara batil yang dilakukan oleh tokoh agama mereka. Mereka menyebutnya khumus.

Dalam agama Syiah, shalat Jum’at tidak disyariatkan kecuali sekadar taqiyah, berpura-pura saja tanpa keyakinan. Bahkan, shalat lima waktu dikurangi menjadi tiga waktu. Yang lebih ngeri lagi, shalat dilakukan dengan menghadap foto atau poster tokoh agama mereka.

Dalam agama Syiah ada ritual menyantap najis, yaitu makan dan minum “kotoran” imam mereka. Mereka menganggap, barang siapa memakannya, ia akan selamat dari api neraka.

Dalam agama Syiah ada ritual sadis dengan memukul-mukul dahi dan punggung dengan benda tajam dalam peringatan Asyura.

Dalam agama Syiah ada kejahatan dan kezaliman yang diatasnamakan agama terhadap anak-anak kecil dengan menjadikan mereka berdarah-darah akibat pukulan pedang di dahi mereka. Anehnya, ini dilakukan sendiri oleh orang tua mereka dalam ritual acara Asyura.

Dalam agama Syiah dibolehkan sodomi, perbuatan kaum Luth (homoseks) juga dianggap halal.

Dalam agama Syiah ada penghalalan zina, penistaan terhadap perempuan atas nama mut’ah. Yang terakhir inilah yang ingin kita bicarakan secara khusus.

 

Nasib Perempuan Sebelum dan Setelah Islam

Islam dibawa oleh Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tengah manusia dalam keadaan nasib perempuan demikian terpuruk. Terkhusus di kalangan bangsa Arab pada masa jahiliah. Mereka membenci kelahiran bayi perempuan. Ada yang mengubur bayi perempuannya hidup-hidup. Ada pula yang membiarkannya hidup tetapi dalam keadaan terhina.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ ٥٨ يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِي ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ٥٩

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) wajahnya dan dia sangat marah.

Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak perempuan tersebut dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (an-Nahl: 58—59)

Kalau ada bayi perempuan yang selamat dari penguburan hidup-hidup, dia tidak dipelihara dengan baik. Dia dibiarkan tumbuh dalam keadaan sengsara dan tersia-siakan.

Dia tidak berhak beroleh warisan dari kerabatnya yang meninggal walaupun kerabatnya tersebut kaya raya dan si perempuan fakir. Sebab, yang berhak mendapat warisan hanyalah kaum lelaki . Bahkan, apabila suaminya meninggal, si perempuan dan hartanya (apabila punya harta) menjadi warisan yang akan diambil oleh ahli waris suaminya. Mereka akan berbuat sesuka hati mereka kepadanya.

Di masa sebelum datangnya Islam, seorang lelaki bisa semaunya menikahi perempuan tanpa pembatasan dan tanpa peduli dengan keadaan istri-istri; kesempitan dan kezaliman, tidak ada mahar yang bisa dimiliki, tidak ada hak dan tidak ada pergaulan yang baik.

Keadaan pun berganti. Tatkala cahaya Islam bersinar menerangi bumi yang gulita, diangkatlah kezaliman terhadap perempuan. Islam menetapkan bahwa perempuan adalah manusia sebagaimana lelaki, keduanya berserikat dalam membentuk keturunan bangsa manusia.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan….” (al-Hujurat: 13)

Keduanya pun berserikat dalam hal mendapatkan pahala atau hukuman atas perbuatan yang dilakukan.

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

          لِّيُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَ

“…sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan….” (al-Ahzab: 73)

Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan perempuan dijadikan barang warisan.

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan dengan cara paksa….” (an-Nisa: 19)

        Bahkan, perempuan menjadi ahli waris atas harta yang ditinggalkan oleh kerabatnya yang wafat sebagaimana halnya kaum lelaki.

          لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا ٧

“Bagi para lelaki ada bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat. Dan bagi perempuan ada pula bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisa: 7)

        Dalam urusan nikah, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi seorang lelaki untuk mengumpulkan maksimal empat orang istri, dengan syarat suami bisa berlaku adil di antara istri-istrinya dan bisa bergaul dengan baik dengan mereka.

          وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

        “Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (an-Nisa: 19)

Diwajibkan bagi seorang lelaki untuk menyerahkan mahar kepada perempuan yang dinikahinya.

          وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ

“Berikanlah mahar kepada perempuan yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan….” (an-Nisa: 4)

Selain itu, suami diwajibkan memberi makan dan pakaian kepada istrinya, menurut penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hak istri dalam hadits beliau yang agung. (Tanbihat ‘ala Ahkam Takhtashshu bil Mu’minat, Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 5—6)

 

Perempuan dalam Ajaran Syiah

Lain perempuan dalam ajaran Islam, lain pula dalam ajaran Syiah. Syiah memperlakukan perempuan tidak seperti nilai-nilai yang ditanamkan oleh Islam. Mereka menjadikan perempuan sebagai budak nafsu mereka yang kotor. Namun, mereka menyembunyikan kebusukan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Mut’ah namanya. Dibuatlah riwayat-riwayat yang palsu oleh para zindiq tentang keutamaan mut ’ah, lalu mereka sandarkan secara dusta kepada para imam ahlul bait yang mulia.

Dengan mut’ah, seorang lelaki dalam agama Syiah—apalagi sekelas Sayyid atau Ayatullah—bisa sesukanya “menikahi” perempuan, tidak harus ada wali dan tanpa harus ada saksi. Ketemuan berdua di jalan, suka sama suka, si lelaki berkata, “Aku ingin mut’ah denganmu.”

Jika si perempuan setuju, disepakatilah maharnya (baca: sewanya) dan bisa ditentukan berapa lama ingin menjalani mut’ah tersebut, hanya satu jam, semalam, atau lebih dari itu.

Disebutkan riwayat dari kitabrujukan utama mereka “al-Kafi[1], Khalaf bin Hammad berkata, “Aku mengutus seseorang untuk bertanya kepada Abu Hasan tentang batas minimal waktu mut’ah. Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan?” Jawabnya, “Ya, boleh.” (al-Kafi, 5/460)

Perempuan yang dinikahi secara mut’ah memang tidak layak disebut istri, tetapi perempuan sewaan (lantas apa bedanya dengan pelacur?). Mereka meriwayatkan secara jahat dan dusta lalu mereka sandarkan kepada Abu Abdillah al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma. Kata riwayat dusta itu, Abu Abdillah berkata, “Menikahlah dengan seribu perempuan, karena perempuan yang dimut’ah adalah perempuan sewaan.” (al-Kafi, 5/452)

Setelah kontrak mut’ah habis, terus bagaimana? Ya, bubar begitu saja. Tidak ada hak dan kewajiban, tidak ada hubungan waris-mewarisi. Demikian pernyataan Ayatullah mereka, Ali as-Sistani, dalam bukunya, Minhaj as-Salihin (3/80, masalah ke-255).

Bagaimana kalau ternyata si perempuan yang dimut’ah hamil akibat hubungan tersebut, apakah si lelaki bertanggung jawab menafkahi anak yang dikandung?

Kata Ali as-Sistani dalam masalah ke-256 di kitab yang sama, “Laki-laki yang nikah mu’tah dengan seorang perempuan tidaklah wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya, walaupun sedang hamil dari bibitnya.”

Bahkan, banyak kejadian di negeri Syiah sana, tidak diketahui siapa lelaki yang berhasil menanamkan benih di rahim si perempuan karena si perempuan berulang kali melakukan mut’ah dengan banyak lelaki dalam sebulan. Na’udzu billah.

Yang lucu, untuk mengobati hati perempuan pelaku mut’ah yang mungkin ‘hancur lebur’ karena hamil tanpa suami yang sah/permanen, dibuatlah ‘riwayat’ bahwa anak yang terlahir dari nikah mut’ah lebih utama daripada anak yang lahir dari pernikahan yang sah. Imam Ja’far versi mereka di kitab mereka berkata, “Dan anak hasil mut’ah lebih utama daripada anak dari istri da’im (dari nikah permanen).” (Tafsir Minhajus Shadiqin, al-Mulla al-Kasyani, 2/495)

Di negeri pengekspor ajaran Syiah atau yang mayoritas penduduknya beragama Syiah, anak-anak perempuan yang terlahir dari hasil mut’ah dibuatkan perkumpulan yang dinamakan Zainabiyat. Para perempuan Zainabiyat ini kelak siap dan suka hati menjadi “istri-istri” mut’ah.

Di sisi lain, para suami sah-sah saja menjadi dayyuts yang telah kehilangan akal sehatnya. Telah hilang rasa cemburu kepada istri-istri mereka. Mereka rela meminjamkan istrinya kepada tetangga, sahabat, atau siapa pun laki-laki yang dititipi selama si suami safar. Terserah yang dititipi mau berbuat apa saja terhadap istrinya.

Ini terjadi karena adanya fatwa ulama mereka tentang bolehnya i’aratul farj (menyewakan kemaluan). Ketika lelaki yang dititipi tersebut menggauli si istri, perbuatannya tidak dianggap zina, tetapi menikah sementara alias mut’ah selama suaminya safar. Na’udzu billah.

Lebih jauh lagi, mut’ah tidak hanya dilakukan dengan seorang gadis atau perempuan yang tidak memiliki suami sah. Mut’ah boleh dilakukan dengan istri orang lain, walau tanpa sepengetahuan dan ridha suaminya. Tidak hanya perempuan baligh yang menjadi korban ganasnya mut’ah, bahkan gadis kecil berusia kurang dari sepuluh tahun pun boleh dimut’ah, menurut fatwa ulama mereka.

Bahkan dikisahkan oleh Husain al-Musawi[2], Khomeini—imam Syiah yang sangat jahat dan Allah subhanahu wa ta’ala cukupkan kita dari kejahatannya dengan kematiannya—pernah melakukan mut’ah dengan bocah perempuan berusia 4 atau 5 tahun. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi, hlm. 35—37)

Melengkapi kejahatannya, Khomeini memandang bolehnya mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu sekalipun, sebagaimana dalam bukunya Tahrir al-Wasilah (2/241, masalah no. 12).

Apa yang kita simpulkan dari pemaparan di atas?

Perempuan, dari bayi sampai yang dewasa, tidak memiliki kehormatan di sisi Syiah. Perempuan dihinakan, hanya menjadi objek pemuas nafsu setan. Kalau si lelaki masih suka, dia tahan dalam hubungan mut’ah. Apabila sudah bosan, ditinggalkan begitu saja. Sungguh sengsara!

Betapa banyak lelaki yang melakukan mut’ah dengan seorang perempuan dan dengan ibunya. Dia melakukan mut’ah dengan si ibu dan dengan putri si ibu. Terjadi juga perempuan bersaudara dimut’ah oleh lelaki yang sama. Bahkan, ada seorang perempuan dimut’ah oleh seorang lelaki. Di belakang hari, si lelaki memut’ah putrinya sendiri dari hasil mut’ah sekian tahun sebelumnya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Husain al-Musawi memberikan persaksian, “Pernah datang kepadaku[3] seorang ibu, meminta penjelasan dariku tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia beritakan kepadaku bahwa seorang tokoh agama Syiah, yaitu Sayyid Husain ash-Shadr, pernah mut’ah dengannya lebih dari 20 tahun yang lalu. Dia hamil dari hasil hubungan tersebut. Ketika Sayyid Husain ash-Shadr sudah tidak menginginkan dirinya, dia pun ditinggalkan.

Beberapa waktu kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa anak itu adalah hasil hubungannya dengan Sayyid Husain ash-Shadr karena waktu itu tidak ada seorang lelaki pun yang melakukan mut’ah dengannya selain Sayyid Husain.

Setelah si anak perempuan tumbuh besar, menjadi seorang remaja putri yang cantik dan siap menikah, ternyata si ibu mengetahui bahwa putrinya telah hamil. Saat ditanya sebab hamilnya, putrinya memberitakan bahwa Sayyid Husain ash-Shadr telah melakukan mut’ah dengannya hingga hamil. Si ibu bingung, apa yang semestinya dia lakukan?”

Kemudian al-Musawi mengatakan bahwa kejadian seperti di atas sering sekali terjadi. Ada yang melakukan mut’ah dengan seorang remaja putri yang ternyata adalah saudari perempuannya dari hasil mut’ah. Ada yang melakukan mut’ah dengan istri ayahnya. Di Iran, kejadian seperti ini tidak mampu dihitung karena banyaknya. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 44)

Demikian gambaran penistaan kaum Syiah terhadap kaum wanita. Maka dari itu, wahai kaum Hawa, jagalah dirimu jangan sampai mengikuti ajaran sesat Syiah! Jangan sampai engkau tertipu oleh mulut manis saudara setan dengan dalih agama.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Merupakan kitab hadits dan riwayat. Al-Kafi ini kedudukannya seperti Shahih al-Bukhari dalam agama Syiah. Penulisnya, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, digelari Tsiqatul Islam.

[2] Beliau mantan ulama Syiah yang sudah bertobat. Beliau menulis buku berjudul Lillahi Tsumma lit Tarikh, yang membeberkan kebobrokan Syiah.

[3] Saat beliau masih bergabung dengan Syiah.

Nasib Malang Anak-Anak dalam Cengkeraman Syiah

Berbicara tentang anak-anak, tentu yang tergambar di benak adalah sesosok makhluk yang lemah. Cinta dan kasih sayang, itu yang terlintas untuk diberikan kepada mereka. Namun, apakah manusia-manusia yang terbelenggu pemahaman Syiah seperti itu juga?

Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan cinta dan kasih sayang yang amat besar kepada seorang anak melalui kedua orang tuanya. Syariat ini pun memuji setiap orang yang memiliki rasa kasih sayang kepada anak-anak.

Bila kita membuka lembaran kitabullah, tercantum ayat-ayat tentang kisah Luqman tatkala mewujudkan kasih sayangnya kepada anaknya dalam bentuk bimbingan yang penuh hikmah. Luqman menyampaikan wasiat kepada putranya, seseorang yang paling dikasihi dan dicintainya serta paling berhak mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling utama. Karena itulah, wasiat pertama yang dia sampaikan adalah agar sang putra hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 6/192)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga keluarga—termasuk anak-anak mereka—dari ancaman api neraka.

        يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di neraka itu ada malaikat-malaikat penjaga yang keras lagi kasar, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya dan senantiasa melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Karena itulah, seorang hamba yang beriman harus menjaga dirinya dengan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala , menjauhi segala larangan Allah subhanahu wa ta’ala, serta bertobat dari setiap perbuatan yang membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala dan mendatangkan azab-Nya. Diiringi pula dengan upaya menjaga istri dan anak-anak dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta mengharuskan mereka melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

Dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa mudahnya kita menemukan berbagai bimbingan dan teladan untuk orang tua dalam mencurahkan kecintaan dan kasih sayang kepada anak-anak.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengungkapkan, bagaimana rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putranya yang lahir dari rahim Mariyah al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ، فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيَدَّخِنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ

“Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Anas berkata lagi, “Waktu itu Ibrahim sedang dalam penyusuan di daerah ‘Awali dekat Madinah. Beliau berangkat untuk menjenguknya dan kami menyertai beliau. Kemudian beliau masuk rumah yang saat itu tengah berasap hitam, karena ayah susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Kemudian beliau merengkuh Ibrahim dan menciumnya, lalu beliau kembali. (HR. Muslim no. 2316)

Tak hanya kepada putra-putri beliau sendiri, bahkan pada keumuman anak-anak para sahabat. Tak cukup satu-dua lembar untuk mengungkapkan teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wujud kasih sayang dan bimbingan beliau kepada mereka. Begitu pula anjuran beliau terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk memupuk kasih sayang pada anak-anak.

Demikianlah Islam menjaga dan memupuk anugerah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang tua, berupa rasa kasih sayang yang besar kepada anak-anak.

Namun, betapa tersayat jika kita menyaksikan perlakuan penganut agama Syi’ah terhadap anak-anak, baik anak sendiri, terlebih lagi anak-anak kaum muslimin. Sungguh, hampir tak sanggup tangan menuliskan ungkapan gambaran kebengisan dan kekejaman mereka. Tak sekadar merusak fisik dan mental, agamanya pun mereka berangus.

 

Syiah Mengajari Anak Kekufuran dan Kesesatan

Dalam Islam, orang tua memikul kewajiban untuk mengajari anak mengucapkan kalimat tauhid. Ketika anak beranjak dewasa, orang tua berkewajiban memahamkan makna kalimat mulia tersebut. Orang tua juga berkewajiban menanamkan kecintaan dan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang mencipta, memberi rezeki, dan menolong saat berada dalam kesusahan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Namun, apa yang diajarkan oleh penganut agama Syiah kepada anakanak? Amat jauh bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana tidak? Karena mereka bukan Islam, tentu yang mereka ajarkan pada anak-anak mereka adalah akidah dan agama kufur. Agama yang jauh dari sebutan agama rahmah, tetapi agama sadis dan bengis!

Dalam perayaan hari Asyura, dengan dalih mengenang penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, mereka tak sekadar membacok dan melukai kepala mereka sendiri. Sampai hati pula mereka mengarahkan dan mengayunkan pisau besar nan tajam atau sebilah pedang, lalu membacok dan melukai kepala anak-anak dan bayi-bayi mereka. Sembari tersenyum mereka menyaksikan anak-anak itu bersimbah darah, seakan-akan itu bukan buah hati mereka!

Mendapatkan bukti tentang hal ini insya Allah tidaklah sulit bagi yang menginginkannya. Berbagai media informasi yang tersebar di seluruh penjuru dunia telah memuatnya.

Masih berkenaan dengan hari Asyura, mereka mengajari anak-anak mereka melakukan ritual penyiksaan diri. Diiringi dendangan “Ya Husain… Ya Husain…!” dengan bertelanjang dada, anak-anak laki-laki itu sepenuh tenaga memukuli tubuhnya sendiri dengan segepok besi berbentuk pisau.

(lihat http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=jgtOlAiJnhs)

Nas’alullaha as-salamah!

Penindasan terhadap agama anak tak hanya terjadi pada anak-anak mereka. Sebutlah apa yang terjadi di Suriah, negeri yang hancur di bawah kekuasaan seorang Syiah Nushairiyah. Pemerintahnya memaksa rakyat untuk menuhankan pemimpin negerinya, sebagai bagian dari akidah sesat mereka.

Yang menolak mengikrarkan atau bersujud pada potret penguasa, niscaya akan berhadapan dengan beragam bentuk siksaan atau pembunuhan yang sadis. Wal ‘iyadzu billah… Kaum muslimin di sana benar-benar tertindas dan terusir.

Kekufuran semacam itu tidak hanya mereka jejalkan kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak. Suatu ketika, seorang anak kaum muslimin tertangkap oleh tentara Syiah. Dia pun diancam dan dipaksa menyatakan ucapan kufur. Akhirnya terjadi dialog antara orang-orang Syiah dengan anak yang malang ini. Berikut ini kurang lebih isi dialog itu.

“Siapakah penciptamu?”

“Bashar Assad.”

“Kepada siapa kamu berdoa?”

“Bashar Assad.”

“Siapa yang kamu sembah?”

“Bashar Assad.”

“Sekarang kamu paham…. Siapa Allah?”

“Bashar Assad.”

“Siapa Muhammad?”

“Bashar Assad.”

“Siapa        yang lebih kuat? Allah atau Bashar?”

“Allah Syria, Bashar.”

“Siapakah yang lebih baik? Allah atau Bashar?”

“Bashar.”

Anak itu pun dipaksa mengatakan, “Laa ilaha illa Bashar!”

(https://youtu.be/nkB0in0mtkg)

Sungguh, sekali lagi terasa berat untuk menukilkan dan menuliskan peristiwa semacam ini. Suatu peristiwa yang akan menghunjamkan luka yang tak terperikan sakit dan pedihnya dalam kalbu seorang yang bertauhid. Ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di sana.

 

Syiah Melegalkan Prostitusi terhadap Anak

Salah satu syariat yang menunjukkan rusaknya agama Syiah adalah nikah mut’ah. Nikah yang telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pun dianggap sebagai bagian dari agama mereka. Bahkan, mereka hiasi dengan sederet janji palsu bagi pelakunya.

Kenyataan ini semakin menyesakkan dada orang yang mengetahui kebenaran, manakala melihat pelaksanaan mut’ah tak hanya pada wanita dewasa. Anak-anak balita, bahkan bayi yang masih menyusu pun menjadi incaran pelampiasan syahwat mereka.

Sayyid Husain al-Musawi, seorang ulama Syiah yang akhirnya kembali kepada kebenaran, adalah satu di antara murid dan orang terdekat pemimpin besar Syiah pada masanya, Khomeini. Dia menuturkan apa yang pernah terjadi pada pemimpin besar Syiah ini dalam perjalanan pulang dari salah satu lawatannya.

Ketika tiba di Baghdad, mereka melepas lelah di rumah Sayyid Shahib, seorang lelaki asal Iran, yang berada di kawasan al-’Athifiyah. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah yang memang kenal dekat dengan Khomeini. Singkat cerita, dituturkan oleh al-Musawi berikut ini.

Menjelang waktu tidur, saat semua hadirin meninggalkan tempat kecuali sang tuan rumah, Imam Khomeini melihat gadis kecil berusia empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta kepada ayahnya, Sayyid Shahib, untuk mut’ah dengan gadis kecil itu. Ayahnya pun menyetujui dengan amat gembira.

Imam Khomeini bermalam dan gadis kecil itu berada dalam dekapannya. Sementara itu, kami mendengar suara tangisan dan teriakannya! Yang jelas, imam telah melalui malam itu.

Ketika pagi tiba, kami duduk sarapan pagi bersama. Imam memandangku dan melihat tanda ketidaksenangan tampak jelas di wajahku. Bagaimana dia bisa melakukan mut’ah dengan seorang anak kecil, sedangkan di rumah itu banyak wanita muda yang baligh, berakal, yang memungkinkan bagi Khomeini melakukan mut’ah dengan salah seorang dari mereka? Mengapa dia tidak berbuat demikian?

Dia pun bertanya, “Sayyid Husain, apa pendapatmu tentang mut’ah dengan anak kecil?”

Aku menjawab, “Kata pemutus adalah ucapan Anda, kebenaran adalah perbuatan Anda, dan Anda adalah imam mujtahid. Orang seperti saya tidak mungkin berpandangan dan berpendapat kecuali sebagaimana pandangan dan pendapat Anda.”

Amat tidak memungkinkan bagiku untuk membantahnya saat itu.

Dia lalu mengatakan, “Sayyid Husain, sesungguhnya dibolehkan mut’ah dengan anak kecil, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman, dan tafkhidz (menghimpitkan kemaluan di antara dua paha, –pent). Adapun jima’, dia belum mampu melakukannya.”

Imam Khomeini juga membolehkan mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu. Dia mengatakan, “Tidak mengapa mut’ah dengan bayi yang masih menyusu, dengan pelukan, tafkhidz, dan ciuman.” Lihat kitabnya Tahrirul Wasilah 2/241, masalah no. 12. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 36—37)

 

Syiah Membenarkan Hubungan sejenis

Satu lagi yang menunjukkan tindakan amoral Syiah kepada anak-anak. Dituturkan oleh al-Musawi, ulama Syiah tidak hanya membolehkan menggauli

istri melalui duburnya, bahkan membolehkan liwath (hubungan seks sejenis) dengan laki-laki atau anak lelaki yang masih belia. Pembolehan itu didukung dengan riwayat palsu yang mereka sandarkan kepada imam mereka, Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq.

Dalam kitabnya ini, al-Musawi juga menuturkan kejadian-kejadian liwath yang dilakukan oleh para sayyid kepada anak-anak lelaki yang masih belia. (Lillahi tsumma lit Tarikh, hlm. 52—55)

Apakah masih ada orang yang sehat akalnya dan bersih jiwanya merasa aman dan yakin dengan agama palsu ini? Nas’alullaha as-salamah!

 

Syiah Membantai Anak-anak Kaum Muslimin

Apabila kaum muslimin hidup di negeri yang dikuasai oleh orang-orang Syiah, mereka hidup dalam keadaan dinistakan, dianiaya, bahkan dibunuh dengan berbagai cara yang sungguh jauh dari kata beradab. Sebutlah negeri-negeri seperti Iran, Lebanon, dan Suriah. Peperangan dilancarkan oleh penguasa Syiah beserta kaki-tangannya untuk menindas kaum muslimin, tanpa pandang bulu. Tak memandang usia, wanita, anak-anak dan lanjut usia, semua dibinasakan tanpa sedikit pun belas kasihan.

Sudah terlalu banyak bukti terpampang di berbagai media. Keterangan saksi mata, foto dan video sudah banyak tersebar berbicara kepada dunia, mengungkap tindakan sadis dan bengis mereka terhadap anak-anak. Padahal mereka bukanlah orang yang dibolehkan dibunuh dalam peperangan.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

Didapati seorang wanita terbunuh di salah satu peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah pun melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. al-Bukhari no. 3015)

Memang, Syiah bukan Islam. Mereka sangat membenci Islam dan kaum muslimin. Karena itu, mereka tumpahkan kebencian itu dalam tindakan-tindakan yang sesuai dengan ajaran agama mereka, yang tentu saja jauh dari kata beradab sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Masihkah kita akan percaya dengan agama amoral seperti ini?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

Pembelaan untuk Aisyah dari Celaan Syiah Rafidhah

Terlahir dari dua orang tua yang telah beriman dan memiliki kemuliaan, merupakan keistimewaan tersendiri bagi ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[1]. Belum lagi sekian banyak kelebihan dan keutamaan yang disandang Humaira’[2], sebutan yang disematkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau[3], dari sisi kebaikan akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah, dan sebagainya.

Semua itu mengokohkan rasa cinta dan penghormatan kaum muslimin kepada beliau radhiallahu ‘anha. Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai oleh orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka (orang-orang beriman).” (al-Ahzab: 6)

Tidak ada seorang Ahlus Sunnah pun kecuali mencintai dan memuliakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai salah seorang dari ibu mereka. Bahkan, beliau adalah yang paling afdal di antara ummahatul mukminin bersama dengan Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Menuliskan keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha niscaya akan memenuhi lembaran-lembaran kita. Beberapa di antaranya bisa kita nukilkan di bawah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Keutamaan ‘Aisyah dibanding semua wanita seperti keistimewaan tsarid[4] dibanding semua makanan.” (HR. al-Bukhari no. 3770 dan Muslim no. 6249)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menempati tempat yang istimewa di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi ummahatul mukminin yang lain. Ini bukanlah rahasia karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakuinya.

Sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aisyah.[5] (HR. al-Bukhari no. 4358 dan Muslim no. 6127)

Rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ini pun tak tersamarkan oleh para sahabat beliau. Jadi, apabila ingin memberi hadiah kepada Rasul, mereka menunggu saat hari giliran ‘Aisyah, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Aisyah radhiallahu ‘anha, agar lebih menyenangkan hati dan membuat ridha beliau[6].

Kenyataannya, saat-saat bersama ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah sesuatu yang dinantikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa mengurangi hak istri-istri beliau yang lain karena beliau adalah suami yang sangat adil.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafat, beliau selalu bertanya, “Di rumah siapa saya hari ini? Di rumah siapa saya besok?”, dalam keadaan beliau mengharapkan giliran Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah, para istri beliau yang salihah mengizinkan beliau untuk dirawat di rumah istri yang mana pun yang beliau inginkan.

Akhirnya, asa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu dekat dengan al-Humaira’ terpenuhi. Beliau dirawat di rumah ‘Aisyah hingga ajal menjemput dalam keadaan kepala beliau berada dalam dekapan ‘Aisyah[7].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada putri beliau Fathimah radhiallahu ‘anha, “Wahai putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Tentu.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, cintai dia ( yakni ‘Aisyah).” (HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 6240)

Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bukan semata didorong karena ‘Aisyah adalah putri sahabat beliau yang utama, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, melainkan karena wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau.” (HR. al-Bukhari no. 5125 dan Muslim no. 6233)

Keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tampak dengan wahyu yang turun dari langit hanya saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam selimut ‘Aisyah, tidak dalam selimut istri-istri yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang istri beliau, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang dari kalian selain ‘Aisyah.” (HR. al-Bukhari no. 3775)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mendapatkan salam dari malaikat yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampainya, kata beliau, “Malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu.”

‘Aisyah menjawab, “Wa’alaihissalam wa rahmatullah.” (HR. al-Bukhari no. 6253 dan Muslim no. 6251)

Orang-orang munafik pernah mencoba menjatuhkan kehormatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya berzina dengan sahabat Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu saat tertinggal dari rombongan dalam perjalanan pulang dari pertempuran menghadapi Bani Musthaliq.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak membiarkan derita ‘Aisyah dan kehormatan keluarga Nabi-Nya terus diinjak-injak. Turunlah ayat-ayat dari atas langit sebagai pembelaan atas kehormatan ‘Aisyah. Surat an-Nur ayat 11 sampai 26 membantah tuduhan keji dan dusta kepada belahan jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan dalam ayat-ayat tersebut bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik dan menjaga kesuciannya. Adapun orang-orang yang memfitnahnya, Allah subhanahu wa ta’ala ancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.

Adapula satu kejadian yang menimpa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menjadi sebab keberkahan bagi umat Islam. Dalam satu safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengenakan kalung yang dipinjamnya dari saudarinya, Asma’ radhiallahu ‘anha. Kalung itu hilang dalam perjalanan. Merasa bertanggung jawab dengan kalung pinjaman tersebut, ‘Aisyah menyampaikan kepada suaminya tentang perihal kalung itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengutus sahabatnya untuk mencarinya sampai masuk waktu shalat. Padahal di tempat tersebut tidak ada air untuk berwudhu. Mereka pun shalat tanpa berwudhu. Ketika berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adukan hal itu kepada beliau. Allah subhanahu wa ta’ala lalu menurunkan ayat tentang tayammum.

Hal ini mendorong Usaid bin Hudhair radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Jazakillahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan keberkahan bagi kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 3773)

Menjadi istri pengajar kebaikan bagi umat manusia tidak disia-disiakan begitu saja oleh Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha belajar, berguru, dan mengambil ilmu serta keteladanan dari suami shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apabila ‘Aisyah mengumpulkan banyak ilmu dan riwayat. Bahkan, ‘Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keilmuan yang mendalam ini dipersaksikan oleh para sahabat dan tabi’in yang berguru kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Abu Musa al-As’ari radhiallahu ‘anhu, mengatakan, “Tidaklah para sahabat Rasulullah mengeluhkan sesuatu kecuali mereka bertanya kepada ‘Aisyah. Mereka akan mendapati di sisi ‘Aisyah ada ilmu tentang hal tersebut.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 2/322)

Urwah bin az-Zubair mempersaksikan keilmuan bibinya, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan, dan syair daripada ‘Aisyah.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/183)

Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris?”

Dia menjawab, “Demi Allah, aku menyaksikan para pemuka sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 10/66)

Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, pastilah ilmu ‘Aisyah lebih banyak.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/185)

Adz-Dzahabi menyebut ‘Aisyah sebagai wanita umat ini yang paling faqih secara mutlak. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/135)

 

Syiah Membenci Aisyah radhiallahu ‘anha

Lain Ahlus Sunnah, lain pula Syiah. Keduanya tidak bisa didekatkan apalagi disatukan. Bak minyak dan air, tidak mungkin keduanya menyatu.

Amat dekat dengan sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri dari orang yang dekat dengan Rasul dan berilmu banyak tentang syariat Islam. Bisa jadi, itu sebabnya Syiah sangat membenci ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di samping juga membenci dan mengafirkan para sahabat yang lain, selain sejumlah nama yang tidak melampaui lima jari.

Syiah ingin meruntuhkan Islam dan membangun kembali imperium Majusi Persia yang dahulu diluluhlantakkan oleh kaum Muslimin. Caranya ialah dengan mencela para pembawa panji Islam. Syiah hendak menghancurkan kemuliaan Rasul umat Islam dengan mencacati orang-orang dekat beliau. Tujuan akhirnya ialah kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jelek karena beristrikan para perempuan jelek, bersahabat dengan manusia-manusia buruk. Na’udzubillah!

‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai, justru dinista oleh Syiah. Celaan, hinaan, sumpah serapah, mereka tujukan kepada Ibunda kaum mukminin tersebut. Tujuannya agar semua hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah ditolak dan tidak dijadikan pedoman dalam syariat Islam. Padahal dikatakan bahwa seperempat hukum syariat dinukilkan dari ‘Aisyah. (Fathul Bari, 7/135)

Bayangkan, apa jadinya apabila Syiah berhasil menanamkan kebencian tersebut di hati kaum muslimin. Na’udzubillah.

Sebenarnya, tidak sanggup tangan ini untuk menuliskan celaan dan hinaan Syiah yang sangat keji kepada Sang Ibunda. Hati pun tidak sanggup menanggungnya. Akan tetapi, bukti perlu didatangkan agar kaum muslimin yakin bahwa Syiah amat jauh dari Islam; tidak mungkin berkompromi dengan mereka; dan tidak tertipu dengan taqiyah mereka bahwa Syiah tidak membenci ‘Aisyah.

Berikut ini beberapa bentuk penghinaan dan tuduhan mereka kepada Aisyah.

  1. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam Tafsir-nya (2/192) menyebutkan bahwa ‘Aisyah memiliki akhlak dan perangai yang buruk.
  2. Dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya ath-Thusi (hlm. 57—60) dinukilkan secara dusta bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  3. Ali al-’Amili al-Bayadhi dalam kitabnya, ash Shirathal Mustaqim (3/135 & 161) mengatakan bahwa ‘Aisyah digelari Ummu asy-Syurur (ibu kejelekan) dan Ummu asy-Syaithan (ibu setan).
  4. Di dalam Tafsirul Ayyasyi (1/342) karya Muhammad bin Mahmud al-Ayyasyi disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
  5. Al-Bayadhi juga menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala belum membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik dalam peristiwa haditsul ‘ifk.

Sebab, menurut mereka surat an-Nur ayat 26 turun tidak untuk membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan, tetapi menyucikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan zina. Jadi, mereka sepakat dengan orang-orang munafik bahwa ‘Aisyah benar-benar berbuat serong. (ash-Shirathal Mustaqim, 2/165)

  1. Ash-Shaduq dalam ‘Ilal asy-Syara’i (hlm. 303) dari Abdurrahim al-Qushahir berkata, “Abu Ja’far berkata kepadaku, ‘Ketika Imam kami (al-Qaim, imam Mahdi versi Syiah) sudah bangkit, Humaira’ akan dibawa kepadanya hingga Imam mencambuknya sebagai hukuman had dan membalaskan dendam untuk putri Muhammad, yaitu Fathimah’.”
  2. Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya yang berbahasa Persia Haqqul Yaqin (hlm. 519) mengatakan, “Akidah kami (Syiah) dalam berlepas diri adalah sungguh kami berlepas diri dari empat berhala; Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan Mu’awiyah. Kami berlepas diri dari empat wanita; ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri dari semua pengikut dan kelompok mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.”
  3. Dalam al-Kafi (hlm. 17) disebutkan klaim mereka bahwa ‘Aisyah kafir sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam.
  4. Khomeini yang dielu-elukan sebagai pahlawan revolusi Islam Iran dalam bukunya, Thaharah (3/457) berkata, “Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah, dan orang-orang yang sejenisnya—meskipun secara lahiriah tidak najis—lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi.”
  5. Pada 10 Muharram, orang Syiah mendatangkan kambing betina yang diberi nama ‘Aisyah. Mereka lalu mencabuti bulunya memukulinya dengan sepatu sampai mati. (Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyam, hlm. 27)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan kaum yang ingin merusak kehormatan wanita yang mulia ini. Wanita yang telah beroleh jaminan menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di surga kelak[8].

Kita tentu akan mendustakan semua celaan dan hinaan Syiah terhadap wanita yang kita agungkan. Kemuliaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak luntur di mata dan sanubari kaum muslimin karena celaan Syiah, kaum pendusta yang amat jahat. Al-Qur’an dan hadits yang menjadi pegangan kita, bukan ucapan para pendusta dan pendengki.

Orang Syiah jelas tidak percaya kalau kita sampaikan kepada mereka hadits-hadits tentang keutamaan ‘Aisyah. Sebab, mereka tidak memercayai hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah. Mereka hanya percaya dengan hadits-hadits yang ada di kitab mereka, seperti al-Kafi yang hendak dijadikan tandingan bagi Shahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an.

Kita katakan, “Berbahagialah Humaira dengan keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, dan sungguh celaka Syiah yang membencinya….”

Wallahu ta’ala bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

[1] Beliau adalah Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’aI al-Qurasyiyah at-Taimiyah al-Makkiyah—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai beliau dan ayahnya.

[2] Disebut demikian karena ‘Aisyah adalah wanita jelita yang berkulit putih. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/140)

Syiah tidak setuju bila dikatakan ‘Aisyah adalah wanita jelita berkulit putih.

[3] Silakan lihat kembali Majalah Syariah, lembar Sakinah, vol. I, No. 03, Juni 2003/Rabiul Akhir 1424 H

[4] Tsarid adalah bubur daging dan roti, makanan istimewa dan kebanggaan bangsa Arab.

[5] Dalam lanjutan hadits ini, ‘Amr bertanya siapa yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai dari kalangan lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayah ‘Aisyah.”

Ini adalah berita yang pasti, kata al-Imam adz-Dzahabi, walaupun Syiah Rafidhah membencinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai lelaki yang paling utama dari umat beliau dan mencintai wanita yang paling utama dari umat beliau. Jadi, barang siapa membenci kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pantas dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Siyar, 2/142)

[6] (HR. al-Bukhari no. 2574 dan Muslim no. 6239)

[7] (HR. al-Bukhari no. 3774 dan Muslim no. 6242)

[8] (HR. al-Bukhari no. 3772)

Pernikahan Rasulullah & Zainab Dalam Pandangan Syiah Rafidhah

Setahun sudah masa yang dilalui oleh Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu mengayuh bahtera rumah tangganya bersama sang istri, Zainab bintu Jahsy al-Asadiyah radhiallahu ‘anha. Hanya saja ketidakcocokan di antara keduanya terus membayangi keutuhan rumah tangga tersebut. Pernikahan keduanya yang sebenarnya diurus langsung oleh insan termulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di ambang kehancuran.

Masalahnya mungkin bisa dirunut sebelum rumah tangga itu terbentuk. Zaid bin Haritsah al-Kalbi radhiallahu ‘anhuma adalah bekas budak yang kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Saking sayangnya, sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala , beliau mengangkat Zaid sebagai anak sehingga sempat disebut Zaid bin Muhammad.

Demikian keadaannya sampai turun ayat yang melarang menisbatkan nasab kepada selain ayah kandung.

وَمَا جَعَلَ أَدۡعِيَآءَكُمۡ أَبۡنَآءَكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ قَوۡلُكُم بِأَفۡوَٰهِكُمۡۖ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلۡحَقَّ وَهُوَ يَهۡدِي ٱلسَّبِيلَ ٤ ٱدۡعُوهُمۡ لِأٓبَآئِهِمۡ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ

“Allah tidaklah menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kandung kalian. Hal itu sekadar ucapan di mulut-mulut kalian. Dan Allah mengucapkan yang haq (ucapan yang adil) dan Dia memberi petunjuk kepada jalan (yang lurus).

Panggillah mereka (anak-anak angkat tersebut) dengan menasabkan mereka kepada bapak-bapak (kandung) mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah.” (al-Ahzab: 4—5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mencarikan pendamping hidup untuk orang yang beliau kasihi tersebut. Pilihan beliau jatuh kepada Zainab bintu Jahsy radhiallahu ‘anha yang masih kerabat dekat beliau, saudari sepupu. Ibu Zainab adalah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayah, Umaimah bintu Abdil Muththalib.

Awalnya, saat dipinang untuk Zaid, Zainab keberatan. Sebab, dari sisi nasab dia merasa lebih mulia. Dia dari keturunan bangsawan, sementara Zaid adalah maula, bekas budak. Kemudian turunlah ayat menegur keengganan tersebut,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman dan tidak pula bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu perkara, lalu ada pilihan lain bagi mereka (tidak tunduk kepada pilihan Allah dan Rasul-Nya). Siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)[1]

Zainab radhiallahu ‘anha akhirnya menerima pinangan tersebut dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mewujudkan harapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menginginkan agar pinangan beliau untuk maulanya bisa diterima.

Singkat cerita, keduanya menikah. Namun, memasuki tahun pertama, pilar rumah tangga itu tidak mampu lagi berdiri tegak. Mengadulah Zaid kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Zainab menyakitiku dengan ucapannya, dia melakukan ini dan itu. Aku ingin menceraikannya,” ujar Zaid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Zaid dari keinginannya tersebut dan menyuruhnya bersabar dengan istrinya. “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah engkau kepada Allah!” nasihat sang Rasul.

Sementara itu, kabar dari atas langit telah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Zaid akan menceraikan Zainab dan setelah ‘iddah berlalu, Zainab akan menjadi istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kabar samawi tersebut membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir dan takut dengan omongan orang bahwa beliau menikahi bekas istri anak beliau. Hal tersebut tabu dan terlarang di masa jahiliah.

Allah subhanahu wa ta’ala menegur dan mengingatkan Rasul-Nya dalam ayat berikut ini,

          وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِيٓ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَيۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِي فِي نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِيهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah!” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang akan Allah tampakkan. Engkau takut kepada manusia padahal Allah-lah yang lebih patut engkau takuti. (al-Ahzab: 37)

مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ مِنۡ حَرَجٖ فِيمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِي ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرٗا مَّقۡدُورًا ٣٨

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi terdahulu. Dan adalah keputusan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegur oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena menyembunyikan apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala beritahukan kepada beliau, yaitu terjadinya perceraian Zaid dan Zainab, kemudian beliau akan menikahi Zainab.

وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ

“Engkau khawatir dengan ucapan manusia dan celaan mereka kepadamu padahal Allah subhanahu wa ta’ala lah yang lebih pantas untuk engkau takuti. Karena itu, sampaikanlah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepadamu tanpa peduli dengan celaan manusia,” demikian makna ayat.

Setelah berlalu masa ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminangnya untuk diri beliau. Allah subhanahu wa ta’ala yang menikahkan keduanya dari atas Arsy-Nya, dengan Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk menemui Zainab yang telah sah menjadi istrinya dengan titah Allah subhanahu wa ta’ala. ‘Pernikahan istimewa lagi khusus’ tanpa ada wali, tanpa akad, tanpa mahar, dan tanpa saksi dari kalangan manusia.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيۡدٞ مِّنۡهَا وَطَرٗا زَوَّجۡنَٰكَهَا لِكَيۡ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ حَرَجٞ فِيٓ أَزۡوَٰجِ أَدۡعِيَآئِهِمۡ إِذَا قَضَوۡاْ مِنۡهُنَّ وَطَرٗاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولٗا ٣٧

“Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, agar supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka. Dan perkara yang telah Allah tetapkan dan tentukan, pastilah terlaksana.” (al-Ahzab: 37)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan,

لمَاَّ انْقَضَتْ عِدَّةُ زَيْنَبَ قَالَ رَسُوْلُ الله لِزَيْدٍ: فَاذْكُرْهَا عَلَيَّ قَالَ: فَانْطَلَقَ زَيْدٌ حَتَّى أَتَاهَا وَهِيَ تُخَمِّرُ عَجِيْنَهَا. قَالَ: فَلَمَّا رَأَيْتُهَا عَظُمَتْ فِي صَدْرِيْ حَتَّى مَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَنْظُرَ إِلَيْهَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرَهَا فَوَلَّيْتُهَا ظَهْرِيْ وَنَكَصْتُ عَلَى عَقَبِي . فَقُلْتُ: يَا زَيْنَبُ، أَرْسَلَ رَسُولُ اللهِ يَذْكُرُكِ. قَالَتْ: مَا أَنَا بِصَانِعَةٍ شَيْئًا حَتَّى أُوَامِرَ رَبِّي. فَقَامَتْ إِلَى مَسْجِدِهَا وَنَزَلَ القُرْآنُ. وَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا بِغَيْرِ إِذْنٍ

Ketika selesai ‘iddah Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, “Sampaikan kepada Zainab, aku ingin meminangnya.”

Zaid pun pergi menemui Zainab yang sedang memberi ragi ke adonannya. Kata Zaid, “Ketika aku melihat Zainab, dia begitu agung dalam dadaku hingga aku tidak sanggup memandangnya[2], karena Rasulullah menyebutnya.” Aku pun memunggunginya dan berbalik ke belakang, lalu berkata, “Wahai Zainab, Rasulullah mengutusku, beliau ingin meminangmu.”

Zainab menjawab, “Saya tidak akan melakukan apa-apa sampai saya memohon petunjuk kepada Rabbku.”

Zainab pun bangkit menuju tempat shalatnya. Ketika itu al-Qur’an telah turun. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu masuk menemui Zainab tanpa meminta izin. (Shahih Muslim, no. 3488)

Dengan pernikahan yang mubarak tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala membatalkan kebiasaan mengangkat anak yang dikenal di kalangan orang-orang jahiliah dengan menasabkan anak angkat kepada ayah angkatnya[3], dengan penghalalan menikah dengan istri anak angkat setelah si anak angkat menceraikan istrinya atau dia meninggal dunia (cerai mati).

Yang haram dinikahi hanyalah mantan istri anak kandung sebagaimana firman-Nya tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi,

            وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“(Diharamkan pula bagi kalian untuk menikahi) istri-istri dari putra-putra kalian yang terlahir dari sulbi kalian (anak lelaki kandung).” (an-Nisa: 23)

Demikianlah kisah pernikahan yang penuh hikmah Ilahi tersebut. Kisah yang melapangkan hati orang-orang beriman dan membuat takjub mereka. Pernikahan yang tidak ada duanya. Bayangkan! Allah subhanahu wa ta’ala yang langsung menikahkan kedua mempelai dengan menurunkan ayat dari atas langitnya,

زَوَّجۡنَٰكَهَا

     “Kami nikahkan engkau (wahai Muhammad) dengannya (Zainab).”

Orang-orang yang menyimpan kebenc ian dan dendam kepada Islam tidak senang kecuali sesuatu yang memperkeruh atau mencoreng kebaikan Islam. Di antara yang tidak senang tersebut adalah Syiah Rafidhah. Mereka mencari celah untuk memburukkan Islam dan Nabi umat Islam, walau dengan cara dusta dan khianat.

Terkait dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha, ada riwayat batil yang menyenangkan hati orang-orang Rafidhah. Apakah itu?

Disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mencari Zaid di rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab sedang berdiri. Zainab adalah wanita yang berkulit putih, cantik, dan berpostur bagus, termasuk wanita Quraisy yang paling sempurna keindahannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyukainya dan berkata, “Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati.”

Zainab mendengar ucapan tasbih tersebut maka dia menceritakannya kepada Zaid. Zaid pun paham. Dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk menceraikan Zainab, karena pada dirinya ada sifat sombong, merasa lebih mulia daripada saya, dan dia menyakiti saya dengan ucapannya.”

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah berkata, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Adapula riwayat batil lain yang menyebutkan bahwa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Zaid, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus angin sehingga terangkatlah gorden yang menutupi dalam rumah. Ketika itu Zainab mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh seorang istri dalam rumahnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat Zainab hingga jatuh hati kepadanya.

Saat itu Zainab merasa bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertarik kepadanya. Ketika Zaid pulang, Zainab menceritakan hal tersebut, maka Zaid ingin menceraikan Zainab.“Engkau sembunyikan dalam jiwamu rasa cinta kepada Zainab dan engkau takut, merasa malu kepada manusia.“ Demikian ayat mereka tafsirkan.

Lihatlah kisah di atas. Entah siapa yang pertama kali mengarangnya. Tanpa melihat sanad riwayat pun, hati orang-orang beriman pastilah menolaknya.

Dusta! Tidak mungkin!

Apalagi tidak ada satu pun jalur yang sahih untuk kisah di atas.

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, justru yang dipegangi oleh ahlu tahqiq dari kalangan mufassirin dan ulama rasikhin (yang mendalam ilmunya) seperti az-Zuhri, al-Qadhi Bakr ibnu al-‘Ala’ al-Qusyairi, al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi, adalah kisah yang telah kita bawakan di awal tulisan.

Riwayat yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab bersumber dari orang yang tidak tahu tentang kemaksuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan semacam itu, atau dari orang yang ingin merendahkan kehormatan/kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 14/124)

Para nabi adalah orang-orang yang kedudukannya agung, paling menjaga ‘iffah, paling mulia akhlaknya, paling tinggi dan paling mulia martabatnya untuk melakukan hal yang disebutkan oleh kisah dusta di atas.

Selain itu, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminang Zainab untuk Zaid? Seandainya dari awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terpaut hatinya kepada Zainab, tentu beliau yang akan menikahi Zainab, bukan malah diberikan kepada Zaid. Apalagi Zainab pada awalnya keberatan menikah dengan Zaid. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/138—140)

Kalau dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baru melihat kecantikan Zainab setelah diperistri Zaid, ini mustahil. Sebab, dekatnya hubungan kekerabatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab memberi kemungkinan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu “bagaimana” Zainab. Bukankah saat itu syariat hijab belum turun?

Dengan demikian, makna ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, bukanlah rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab yang masih berstatus sebagai istri Zaid; bukan pula keinginan kuat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Zaid menceraikan Zainab sehingga beliau bisa memperistri Zainab.

Yang benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kabar dari langit bahwa Zaid akan menceraikan Zainab, kemudian akan diperistri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sembunyikan? Karena khawatir dan malu, apa kata orang apabila beliau menikah dengan mantan istri anak angkatnya?

Ketika Zaid mengutarakan keinginannya untuk bercerai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengiyakan. Beliau justru mengatakan, “Tahanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah!”

Dalil kebenaran penafsiran ini dari dua sisi, kata al-Imam asy-Syinqithi,

  1. Ayat “Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya”, ternyata yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan adalah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha pada firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya….”

Allah ‘azza wa jalla sama sekali tidak menampakkan kebenaran tuduhan mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh cinta kepada Zainab. Seandainya demikian, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menunjukkannya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala secara jelas menyebutkan dalam ayat bahwa Dia-lah yang menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah ilahi dalam pernikahan tersebut adalah untuk memutus anggapan haramnya menikahi mantan istri anak angkat.

Firman-Nya, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya (tidak ada lagi keinginannya kepada Zainab dan menceraikannya dengan kemauan sendiri), Kami nikahkan engkau dengannya, supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat tersebut telah menceraikan istri-istri mereka.”

Firman-Nya, “supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang beriman…”, adalah alasan yang jelas Allah ‘azza wa jalla menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab radhiallahu ‘anha.

Hikmah agung pernikahan ini juga menunjukkan secara nyata bahwa sebab pernikahan itu bukanlah karena Rasulullah jatuh cinta kepada Zainab—yang mereka katakan sebagai sebab Zaid menceraikan Zainab.

Yang lebih memperjelas hal ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Tatkala Zaid telah menyelesaikan hajatnya dari istrinya….

Ayat ini menunjukkan bahwa Zaid sudah menyelesaikan urusannya dengan Zainab. Tidak tersisa lagi keinginan kepada Zainab, lalu Zaid menceraikan Zainab dengan kemauan sendiri. (Adhwa’ul Bayan, 6/582—583)

Kalau ditanya, apa bukti bahwa kaum Rafidhah memiliki tuduhan jelek kepada sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait hubungan beliau dengan Zainab?

Dalam kitab pegangan Rafidhah yang berjudul ‘Uyun Akhbar ar-Ridha (hlm. 113) disebutkan bahwa ash-Shaduq menukilkan dari ar-Ridha tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat al-Ahzab ayat 37, “Ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah berikan nikmat kepadanya dan engkau pun telah memberinya nikmat (yakni Zaid bin Haritsah), “Tahanlah istrimu untuk tetap bersamamu dan bertakwalah kepada Allah.” Engkau sembunyikan dalam jiwamu apa yang Allah akan menampakkannya.

Ar-Ridha menafsirkan ayat ini, “Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Zaid bin Haritsah untuk suatu urusan yang beliau inginkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Zainab, istri Zaid, sedang mandi.

Beliau berkata shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Zainab, “Mahasuci Dzat yang menciptakanmu.” (Sebagaimana dinukil dalam kitab Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 20, karya as-Sayyid Husain al-Musawi[4])

As-Sayyid Husain al-Musawi mengomentari setelah itu, “Apakah mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang istri seorang muslim, menyukainya, dan terkagum-kagum kepadanya dengan mengatakan kepadanya, ‘Mahasuci Dzat yang telah menciptakanmu’?! Bukankah ini celaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!”

Kemudian Sayyid Husain menukilkan celaan-celaan lain yang diarahkan Syiah Rafidhah kepada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia[5]. Semuanya menjadi bukti bahwa Syiah tidak memuliakan dan tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ahlul bait beliau.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber Bacaan:

  • Adhwaul Bayan, al-Imam asy-Syinqithi
  • al-Jami’ li Ahkamil Quran, al-Imam al-Qurthubi
  • ash-Shahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
  • Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta
  • Lillahi Tsumma lit Tarikh, as-Sayyid Husain al-Musawi
  • Shahih Muslim, al-Imam Muslim an-Naisaburi
  • Tafsir al-Qur’an al-Azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir

[1]              Ada sebab lain yang disebutkan sebagai sababun nuzul ayat ini, selain kejadian Zainab di atas, yaitu kisah Julaibib yang meminang seorang gadis dari kalangan Anshar. Kedua kejadian tersebut bisa tercakup dalam ayat, sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Ayat ini umum dalam seluruh urusan. Sebab, apabila Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum sesuatu, tidak boleh bagi seorang pun menyelisihinya. Tidak ada lagi pilihan lain bagi seorang pun, tidak pula pendapat dan ucapan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim pemutus dalam apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati adanya keberatan dalam jiwa mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan sebenar-benarnya.” (an-Nisa: 65)

[2]               Saat itu belum turun perintah hijab. Ayat tentang hijab baru turun ketika walimah pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[3]               Ayatnya telah turun terlebih dahulu dan ditekankan lagi dengan pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mantan istri anak angkat beliau.

[4] Mantan ulama Syiah yang bertobat dan kembali kepada al-haq kemudian membongkar kesesatan Syiah.

[5] Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 21