Merasa Diawasi Allah

Muraqabah, sebuah kata yang asing bagi kita karena memang bukan berasal dari bahasa kita. Kata ini berasal dari bahasa Arab.

Lantas apa gerangan makna kata ini hingga kita bisa menjawab pertanyaan pada judul di atas?

Muraqabah memiliki dua sisi:

  1. Engkau selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, engkau selalu mawas diri, memerhatikan dirimu yang engkau sadar dirimu senantiasa diawasi oleh-Nya.
  2. Engkau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengawasimu, sebagaimana firman-Nya,

          وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢

“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab: 52)

Dengan muraqabah ini, engkau yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala tindak tandukmu, apakah itu ucapanmu, perbuatanmu, ataupun keyakinan yang tersembunyi dalam kalbumu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨  وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩

“Bertawakallah engkau kepada Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang Dia melihatmu ketika engkau berdiri (melakukan ibadah). Dan Dia melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 217—219)

Allah subhanahu wa ta’ala melihat apa yang engkau lakukan di tengah malam yang gulita saat tidak ada seorang pun melihat dirimu. Saat engkau berdiri untuk ibadah kepada-Nya, Dia tahu. Saat engkau sujud, Dia pun tahu.

Dengan muraqabah, engkau yakin Allah subhanahu wa ta’ala mendengar semua yang terucap oleh lisanmu. Karena itu, engkau jaga lisanmu agar tidak berucap kecuali kebenaran atau diam, sebagaimana bimbingan agung sang Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam.”

Dengan muraqabah, engkau jaga pandangan matamu agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan walau sembunyi-sembunyi. Sebab, engkau yakin dengan firman-Nya,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ ١٩

“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersimpan dalam dada.” (Ghafir: 19)

Dengan muraqabah, engkau selalu memerhatikan kalbumu. Adakah di dalamnya penyakit yang harus dibasmi seperti syirik, riya, penyimpangan, iri dengki, benci, amarah, loyal kepada orang kafir, dan semisalnya, yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala ridhai?

Engkau selalu memerhatikan kalbumu dan berusaha memperbaikinya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.” (Qaf: 16)

Bagaimana pun rapatnya engkau menyimpannya, di sudut hatimu yang paling dalam, Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengetahuinya. Jangankan yang ada di kalbu, semua yang di bumi dan di langit, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Dia Yang Mahaagung berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٥

“Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit yang tersembunyi bagi-Nya.” (Ali Imran: 5)

Segala sesuatu yang di bumi dan di langit itu ada yang dirinci-Nya sebagaimana dalam ayat berikut,

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩

“Di sisi-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, tidak pula biji dalam kegelapan bumi, tidak pula yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Apabila demikian keluasan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah setiap mukmin senantiasa merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala . Dia takut kepada-Nya di saat sendirian, sebagaimana halnya takut kepada-Nya saat terang-terangan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah gaib dari hamba-hamba-Nya. Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (al-Hadid: 4)

Allah subhanahu wa ta’ala bersama kita tentu bukan maknanya Dia di bumi, satu tempat dengan kita. Tidak sama sekali! Ini pemahaman yang sesat dan batil. Mahasuci Dia!

Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala di atas segala sesuatu, sebagaimana disebutkan dalam banyak firman-Nya, di antaranya,

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

“Ar-Rahman beristiwa (tinggi) di atas Arsy.” (Thaha: 5)

وَهُوَ ٱلۡقَاهِرُ فَوۡقَ عِبَادِهِۦۚ

“Dia Maha Memaksa di atas hamba-hamba-Nya.” (al-An’am: 18)

وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Dia Mahatinggi lagi Mahaagung.” (al-Baqarah: 255)

Allah subhanahu wa ta’ala tinggi dalam kedekatan-Nya dan dekat dalam ketinggian-Nya. Dzat Allah subhanahu wa ta’ala di atas sana, di atas seluruh makhluk-Nya, namun Dia senantiasa bersama para hamba-Nya karena ilmu-Nya meliputi mereka. Demikian pula pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, pengaturan-Nya, dan selainnya. Tidak ada yang lepas dari-Nya subhanahu wa ta’ala.

Barang siapa memiliki muraqabah ini, niscaya dia dapat beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ihsan. Apa ihsan itu?

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan, beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa merasa melihat-Nya, (yakinlah) bahwa Dia melihatmu.”

Al-Ihsan adalah derajat yang paling tinggi dalam dienul Islam, setelah derajat al-islam (amaliah zahir) dan aliman (amaliah batin).

Maka dari itu, beribadahlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan derajat ihsan, seakanakan engkau melihat dan menyaksikan-Nya dengan mata kepala. Inilah ibadah karena berharap dan rindu kepada Dzat yang diibadahi (ibadah raghbah).

Jika tidak bisa demikian, turunlah kepada derajat yang kedua, yaitu meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melihatmu dalam ibadahmu. Inilah ibadah karena takut kepada Dzat yang diibadahi (ibadah rahbah).

Dengan muraqabah, seorang hamba akan berupaya menjadi pribadi yang senantiasa bertakwa kepada Rabbnya, menjalankan semua yang diperintahkan karena berharap pahala dari-Nya dan menjauhi semua yang dilarang karena takut akan siksa dan azab-Nya. Dia bersegera menyambut seruan kebaikan dan meninggalkan ajakan kepada keburukan.

Kalau pun terjatuh dalam kejelekan, sebagai layaknya anak Adam, dia segera bangkit menengadahkan kedua tangannya memohon ampun kepada Rabbnya, bertobat dengan sebenarnya (taubatan nashuha), beristighfar, dan memperbanyak kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Ikutkanlah (susullah) keburukan dengan (perbuatan) kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan.”

Setelah penjelasan ini, sudahkah kita memahami apa itu muraqabah dan sudahkah kita memilikinya?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Menikah adalah Setengah Agama

Sejauh manakah kebenaran orang yang berkata ketika hendak menikah, “Aku hendak menyempurnakan setengah agamaku,” maksudnya menikah.

Jawab:

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta[1] menjawab,

“As-Sunnah menunjukkan disyariatkannya menikah. Menikah merupakan salah satu sunnah para rasul. Dengan menikah—setelah taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala—seseorang mampu mengalahkan banyak ajakan kejelekan. Sebab, menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari Anas radhiallahu ‘anhu secara marfu’,

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ اللهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهِ, فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الْبَاقِي

“Barang siapa yang Allah berikan rezeki berupa istri yang salihah, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah membantunya atas setengah agamanya. Selanjutnya, hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang tersisa.”[2]

Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab meriwayatkan dari ar-Raqasyi dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْآخَرِ

“Apabila seorang hamba telah menikah, sungguh dia telahmenyempurnakan setengah agamanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang lain.”[3]

Wa billahi at-taufiq.” (Fatwa no. 18121)


Yang Menjauhkan dari Syahwat

Apa sajakah yang dapat menjauhkan seseorang dari syahwat untuk berbuat zina atau masturbasi?

 Jawab:

Di antara yang dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan yang diharamkan adalah takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya subhanahu wa ta’ala berupa kenikmatan yang diperuntukkan bagi para hamba yang taat dan (takut) dari neraka yang disiapkan-Nya untuk orang-orang yang durhaka.

Seorang muslim semestinya mengenal Rabbnya dengan sebenar-benarnya bahwa Allah adalah Yang Satu, Esa, Yang Melihat seluruh keadaan manusia dan rahasia-rahasianya (yang disembunyikannya), mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Mahakuat yang tidak dapat dipaksa, Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang meliputi segala sesuatu.

Dia subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dalam kehidupan dunia ini untuk beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya. Dia subhanahu wa ta’ala menjadikan manusia di dunia ini dalam keadaan diuji dan diberi cobaan, untuk dibalas-Nya orang yang beruntung mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan surga.

Sebaliknya, pelaku maksiat yang menyelisihi perintah-Nya dan justru melakukan larangan-Nya akan dibalas-Nya dengan neraka. Di dalam surga ada kenikmatan abadi yang tidak akan sirna. Di dalam neraka, ada azab yang pedih yang tidak akan sanggup dipikul.

Apabila seorang muslim mengetahui hal tersebut, tentu akan muncul pada dirinya rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berharap dengan apa yang ada di sisi-Nya.

Untukmu (wahai penanya), hendaknya menjauhi segala hal yang dapat membangkitkan syahwatmu, seperti tempat-tempat orang tidak memakai busana[4] (atau berpakaian minim), nyanyian, alat musik, dan memandang wanita (nonmahram).

Anda harus bermajelis (duduk berkawan) dengan orang-orang saleh. Anda menyibukkan diri dengan urusan-urusan dunia yang bermanfaat dan tentu saja menyibukkan diri dengan urusan agama. Bacalah beberapa kitab yang bisa memberimu faedah, seperti kitab Riyadhush Shalihin. Bersamaan dengan itu, Anda memperbanyak tilawah al-Qur’an.

Siapa yang selamat dari maksiat ini, diharapkan dia beroleh kebaikan, bertambah derajatnya, dan tinggi kedudukannya di akhirat. Ini berdasarkan hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya….”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh golongan tersebut, di antaranya,

شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ

Anak muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun si lelaki berkata, “Sungguh, aku takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”[5]

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 14778)


Saudara Lelaki Jadi Wali, Ayah Masih Ada

Ada wanita dinikahkan oleh saudara lelakinya padahal ayah atau kakeknya masih hidup. Peralihan wali tersebut dengan persetujuan sang ayah atau kakek. Apakah sah akad nikah tersebut?

Jawab:

Apabila wali yang jauh menikahkan seorang wanita padahal ada wali yang lebih dekat, dalam keadaan wali yang lebih dekat tersebut tidak memiliki alasan syar’i untuk dialihkan perwaliannya, tidak ada pula wasiat atau pesan darinya untuk memindahkan hak perwaliannya, akad nikah tersebut batil, tidak sah pernikahan tersebut.

Sebab, wali yang lebih jauh tidak memiliki hak perwalian terhadap si wanita apabila ada wali yang lebih dekat dan lebih berhak daripada dirinya.

Akan tetapi, apabila yang berhak menikahkan seorang wanita (sebagai walinya) menyerahkan hak perwaliannya kepada wali yang di bawahnya atau mewasiatkan kepada orang yang pantas menjadi wali untuk menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, akad tersebut dibolehkan. Artinya, pernikahan tersebut sah.

Sebab, si wali berhak menyerahkan perwaliannya kepada orang yang diwakilkannya untuk menduduki posisinya. Berdasarkan hal ini, saudara lelaki boleh mengurusi akad nikah saudari perempuannya, jika memang wali yang lebih berhak telah mewakilkan dan menyerahkan urusan kepadanya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19627)


Berjabat Tangan dengan Mantan Istri Ayah

Ayahku pernah menikah dengan seorang wanita, tetapi ayahku menalaknya sebelum “mencampuri”-nya. Apakah aku boleh menemui mantan istri ayahku, mengucapkan salam kepadanya, dan berjabat tangan dengannya?

Jawab:

Wanita yang telah melangsungkan akad nikah dengan ayahmu, walau kemudian dicerai sebelum ayahmu “mencampuri”-nya, dia telah menjadi haram bagimu dengan pengharaman selamanya (tidak terbatas waktu)[6].

Jadi, Anda termasuk dari kalangan mahram si wanita, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 20503)


Menikahi Mantan Istri Ayah & Mantan Istri Anak

Apakah boleh seorang lelaki menikahi mantan istri ayahnya jika ayahnya belum sempat “bercampur” dengan si mantan istri?

Bolehkah seorang ayah menikahi mantan istri putranya jika si putra belum sempat “bercampur” dengan mantannya?

Jawab:

Istri ayah—walaupun ayah karena hubungan penyusuan[7]—dan istri semua kakek seterusnya ke atas[8], haram dinikahi untuk selama-lamanya oleh putra si ayah atau cucu si kakek walaupun terus ke garis bawah[9], dengan semata-mata berlangsungnya akad nikah, walaupun belum terjadi “percampuran”.

Bahkan, meski belum berduaan sekali pun. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ ءَابَآؤُكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَۚ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَمَقۡتٗا وَسَآءَ سَبِيلًا ٢٢

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah-ayah kalian kecuali kejadian yang telah lampau (sebelum datangnya larangan). Sesungguhnya menikahi mantan istri ayah merupakan perbuatan yang amat keji, dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (an-Nisa: 22)

Demikian pula apabila seorang lelaki telah melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita, wanita tersebut menjadi haram untuk dinikahi oleh ayah si lelaki (mertuanya), kakek si lelaki (kakek mertua), dan seterusnya ke atas[10].

Keharaman ini bersifat abadi, baik hubungan ayah-anak itu karena nasab maupun karena penyusuan, walaupun pasangan tersebut belum “bercampur” dan belum khalwat/berdua-duaan. Yang menunjukkan hal ini adalah keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki,

وَحَلَٰٓئِلُ أَبۡنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنۡ أَصۡلَٰبِكُمۡ

“Dan istri-istri dari putra-putra kandung kalian.” (an-Nisa: 23)

dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Diharamkan karena penyusuan apa yang diharamkan karena nasab.”[11]

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam ayat bahwa yang haram dinikahi adalah mantan istri dari anak lelaki kandung untuk mengecualikan dari anak lelaki angkat. Perbuatan mengangkat anak lantas dinasabkan kepada ayah angkatnya[12] dahulu dilakukan oleh orang-orang jahiliah dan Islam datang mengharamkannya.

Wa billahi at-taufiq. (Fatwa no. 19764)

[1] Saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Semua fatwa yang akan disebutkan dalam lembar fatwa kali ini dari al-Lajnah ad-Daimah, dinukil dari kitab Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, kitab an-Nikah, jilid 17. (–pent.)

[2] Dinyatakan dha’if oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam adh-Dhaifah dan Dhaif al-Jami’ no. 5599. –pent.

[3] Hadits ini hasan sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 625 dan Shahih al-Jami’ no. 430 dengan lafadz,

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

[4] Seperti kolam renang atau pantai tempat wisata. (–pent.)

[5] HR. Muslim. (-pent.)

[6] Diharamkan untuk menikah dengan mantan istri ayah (ibu tiri) selama-lamanya, dengan semata-mata akad, tidak dipersyaratkan harus “bercampur”. (–pent.)

[7] Bukan ayah kandung/karena hubungan nasab. (-pent.)

[8] Kakek langsung (ayahnya ayah) atau kakek buyut (kakeknya ayah) dan terus ke atas. (-pent.)

[9] Maksudnya, cucu dan seterusnya ke bawah dari garis keturunan seseorang, seperti cicit (anaknya cucu), anaknya cicit (cucunya cucu), dst. (-pent.)

[10] Buyut suami, ayah dari buyut suami, kakeknya, dan seterusnya. (-pent.)

[11] HR. Muslim. Kesimpulannya, mantan istri anak laki-laki kandung atau anak laki-laki karena susuan haram selamanya untuk dinikahi oleh ayah mertuanya. (-pent.)

[12] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya sebelum turun ayat yang melarang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu sebagai anak angkat yang sangat beliau sayangi. Sampai-sampai Zaid dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Islam datang membatalkan kebiasaan jahiliah ini dan memerintahkan agar anak angkat dipanggil dengan penasaban kepada orang tua yang melahirkannya, bukan kepada orang tua angkatnya.

Menikahi mantan istri anak angkat tidak diharamkan oleh syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab bintu Jahsyin radhiallahu ‘anhu, mantan istri Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu. (-pent.)

Tak Ingin Menjadi yang Mayoritas…

Jumlah yang banyak sering kali menjadi tujuan dan kebanggaan. Akan tetapi, menurut syariat agama ini jumlah yang banyak bukanlah standar kebaikan, justru sebaliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ

“Jika engkau menaati kebanyakan orang yang ada di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)

وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ ١٠٣

“Tidaklah kebanyakan manusia itu beriman walau engkau sangat menginginkan (mereka beriman).” (Yusuf: 103)

          وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

“Sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba: 13)

Apalagi untuk berita yang satu ini, tentu semua akan berkata, “Aku tak ingin menjadi yang mayoritas.”

Berita apakah gerangan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan berita besar bahwa penghuni neraka kebanyakannya adalah para wanita. Artinya, mayoritas kaum hawa adalah calon penghuni neraka. Duhai, karena dosa apakah? Silakan baca dan renungkan hadits-hadits berikut ini.

  1. Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ إِلَى الْمُصَلَّى فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ الْلَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang pada hari Idul Adha atau Idul Fithri. Beliau melewati para wanita. Beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat mayoritas kalian adalah penghuni neraka.”

Para wanita pun bertanya, “Kenapa demikian, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikansuami. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79)

  1. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan yang kufur.

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah ?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukainya), dia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari no. 29)

  1. Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَكَانَ عَامَّةَ مَنْ دَخَلَهُ الْمَسَاكِيْنُ وَأَصْحَابُ الْجَدِّ مَحْبُوسُوْنَ غَيْرَ أَنَّ أَصْحَابَ النَّارِ قَدْ أُمِرَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

“Aku berdiri di pintu surga. Ternyata keumuman yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orang kaya masih tertahan. Hanya saja, penghuni neraka telah diperintahkan masuk ke dalam neraka, dan teryata keumuman penghuni neraka adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5196 dan Muslim no. 6872)

  1. Imran radhiallahu ‘anhu menyampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

اِطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“Aku melongok ke dalam surga, ternyata aku lihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku melongok ke dalam neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para perempuan.” (HR. al-Bukhari no. 5198 dan Muslim no. 6873)

  1. Mutharrif ibnu Abdillah memiliki dua istri. Suatu ketika Mutharrif pulang dari tempat salah seorang istrinya.

Istri yang lain bertanya (dengan cemburu), “Apakah engkau baru kembali dari tempat si Fulanah?”

Mutharrif menjawab, “Aku baru kembali dari tempat Imran bin Hushain. Dia menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَقَلَّ ساَكِنِي الْجَنَّةَ النِّسَاءُ

“Sesungguhnya minoritas penduduk surga adalah kaum perempuan.” (HR. Muslim no. 6877)

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَشَرُّ نِسَائِكُمُ الْمُتَبَرِّجَاتُ الْمُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ الْمُنَافِقَاتُ، لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْهُنَّ إِلاَّ مِثْلُ الْغُرَابِ الْأَعْصَمِ

“Seburuk-buruk istri kalian adalah yang senang bertabarruj dan angkuh. Mereka adalah perempuan-perempuan munafik. Tidak akan masuk surga dari kalangan mereka kecuali semisal burung gagak yang paruh dan kedua kakinya berwarna merah.” (HR. al-Baihaqi dalam Sunannya no. 13478, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1849)

  1. ‘Ammarah bin Khuzaimah berkisah,

كُنَّا مَعَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ. فَلَمَّا كُنَّا بِمَرِّ الظَّهْرَانِ إِذَا نَحْنُ بِامْرَأَةٍ فِي هَوْدَجِهَا وَاضِعَةً يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا. فَلَمَّا نَزَلَ دَخَلَ الشِّعْبَ وَدَخَلْنَا مَعَهُ، فَقَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ فِي هَذَا الْمَكَانِ، فَإِذَا نَحْنُ بِغِرْبَانٍ كَثِيْرٍ، فِيْهَا غُرَابٌ أَعْصَمُ أَحْمَرُ الْمِنْقَارِ وَالرِّجْلَيْنِ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ كَقَدْرِ هَذَا الْغُرَابِ مَعَ هَذَا الْغِرْبَانِ

Kami pernah bersama ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan haji atau umrah. Tatkala di Marru azh-Zhahran, kami berpapasan dengan seorang perempuan di dalam sekedupnya yang meletakkan tangannya di atas sekedupnya.

Saat kami singgah, ‘Amr masuk ke lembah. Kami pun masuk bersamanya. ‘Amr berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tempat ini. Tiba-tiba, kami berada mendapati sekumpulan burung gagak. Di antaranya ada seekor burung gagak yang paruh dan dua kakinya berwarna merah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum perempuan tidak akan masuk surga, kecuali semisal burung gagak ini di antara burung-burung gagak yang lain.” (HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra no. 9223)

Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadraknya, perawi hadits ini berkata,

وَاضِعَةٌ يَدَهَا عَلَى هَوْدَجِهَا فِيْهَا خَوَاتِيْمُ

“Si perempuan meletakkan tangannya di atas sekedupnya dalam keadaan cincin-cincin melingkar pada jari-jemarinya.”

Abu Ya’la dalam Musnadnya menyebutkan dengan lafadz,

فَإِذَا نَحْنُ باِمْرَأَةٍ عَلَيْهَا جَبَائِرَأَيْ أَسَاوِرَ فِ مِعْصَمِهَا مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍلَهاَ وَخَوَاتِيْم وَقَدْ بَسَطَتْ يَدَهَا إِلَى الْهَوْدَجِ

“Tiba-tiba kami berpapasan dengan seorang perempuan yang pergelangan tangannya mengenakan gelang-gelang dari emas atau perak, begitu pula pada jemarinya ada cincin-cincin. Si perempuan membentangkan tangannya ke sekedupnya.” (Hadits di atas dinyatakan sahih sanadnya dalam ash-Shahihah no. 1850)

Burung gagak dengan sifat yang disebutkan dalam hadits yaitu ala’sham, sangat jarang ditemukan. Paruhnya berwarna merah, demikian pula kedua kakinya, langka ditemukan pada kumpulan burung gagak. Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas merupakan kiasan untuk menunjukkan sedikitnya perempuan yang masuk surga. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits)

Apabila tidak masuk ke surga, berarti di mana tempatnya?

Wanita menghuni surga karena perbuatan mereka sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidaklah menzalimi seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Hadits-hadits di atas tidaklah dimaksudkan untuk membuat kaum perempuan putus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala . Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya sebagai nasihat dan peringatan kepada mereka dari berbagai hal yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala dan hukuman-Nya.

Alangkah pantasnya seorang perempuan yang mengaku beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir merenungi hadits-hadits di atas, lalu menjauh dari sebab-sebab datangnya siksa.

Seharusnya seorang muslimah menjaga diri dari perbuatan mencaci maki, tidak bersyukur kepada suami, melupakan kebaikannya, bertabarruj, bersikap angkuh, melakukan tindakan yang meenimbulkan godaan bagi lelaki. Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat menghilangkan akal lelaki yang kokoh daripada kalian.”

Ketika sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhu, melihat seorang perempuan yang membiarkan tangannya terbuka, terlihat dari luar sekedupnya, dengan tangan dihiasi gelang dan cincin emas, beliau teringat dengan titah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Kira-kira,bagaimana reaksi beliau bila melihat banyak perempuan di masa ini yang tampil keluar rumah dengan bertabarruj, mempertontonkan keindahan tubuh dan perhiasannya, bersolek dengan aneka hiasan, dengan harum semerbak, dan lenggak-lenggok tubuh yang menggoda? Wallahul musta’an.

Tidakkah para perempuan itu bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Tidakkah mereka takut saat nanti berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka saat hidup di dunia?

Perempuan yang cerdas tentu akan menjauh dari perbuatan yang terlarang tersebut karena rasa takut kepada Allah Rabbul Alamin subhanahu wa ta’ala dan semangat untuk menaati serta meraih ridha-Nya.

Cobalah perempuan yang salihah memerhatikan hadits yang diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnadnya dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang perempuan menegakkan shalat lima waktu, berpuasa di bulan puasa (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya (pada hari kiamat kelak), “Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau mau.”

Berbahagialah perempuan muslimah dengan janji yang mulia dan keutamaan yang agung ini. Dia selalu membingkai cerita hidupnya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitabullah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bergembiralah dia pada hari kiamat kelak dengan keridhaan Rabbnya, pahala yang besar, selamat dari azab neraka; tidak menjadi yang mayoritas, bahkan sukses memasuki Darussalam nan penuh kenikmatan.

وَٱلَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُصۡلِحِينَ ١٧٠

“Orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan mereka menegakkan shalat, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat islah (melakukan perbaikan di muka bumi dengan amal ketaatan).” (al-A’raf: 170)

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Hijab & Anak-Anak

Tidak Wajib Berhijab di Hadapan Anak yang Belum Baligh

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyah wal Ifta’,

“Apakah ada dalil bahwa seorang wanita harus berhijab bila ditemui oleh anak kecil yang berusia 7 atau 9 tahun? Sebab, ada wanita yang jika melihat anak berusia tujuh tahun, dia mengenakan penutup wajahnya. Tentu tidak diragukan lagi, wahai Syaikh, wanita harus berhijab apabila bertemu dengan laki-laki yang sudah baligh. Ini hal yang disepakati.

Namun, apakah ada dalil tentang anak-anak? Jika memang harus berhijab, apakah makna ayat,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Kami mengharapkan jawaban Anda.

Jawab:

Hijab wanita wajib hukumnya (bila berhadapan, -pent.) dengan lakilaki baligh yang bukan mahramnya. Adapun terhadap anak-anak atau laki-laki dari kalangan mahramnya, wanita tidak wajib berhijab. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١

“Dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak dari mereka, dan hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka, atau anak laki-laki mereka, atau anak laki-laki suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki saudara mereka, atau anak laki-laki saudari mereka, atau wanita-wanita mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita, atau anakanak yang belum mengerti tentang aurat wanita, dan hendaknya mereka tidak memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka, dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

       وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ فَلۡيَسۡتَ‍ٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَ‍ٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ

“Dan apabila anak-anak kalian telah sampai pada usia baligh, hendaknya mereka meminta izin sebagaimana orang-orang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nur: 59)

(Fatawa al-Lajnah no. 16390)

 

Kapan Anak Laki-laki Dilarang Masuk Menemui Wanita?

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Kapan anak laki-laki dilarangmasuk menemui wanita yang bukan mahramnya? Dan apa makna firman Allah,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jawab:

Jika anak laki-laki itu masih kecil dan belum ihtilam, belum paham sedikit pun tentang berbagai keadaan wanita, tidak mengapa dia masuk menemui wanita.Para wanita pun tidak harus berhijab darinya.

Adapun makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Karena kecilnya (usia, -pent.) mereka, mereka belum memahami segala macam keadaan wanita dan auratnya, seperti ucapan mereka yang lembut, gemulainya mereka ketika berjalan, gerakan dan diamnya mereka. Jika si anak masih kecil, belum memahami itu semua, ia boleh masuk menemui wanita.”

(Fatawa al-Lajnah no. 6011)

 

Usia Anak Laki-laki yang Mewajibkan Wanita Berhijab Darinya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Berapa batasan usia anak laki-laki yang para wanita diwajibkan berhijab darinya? Apakah usia tamyiz ataukah baligh?”

Jawab:

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ketika menerangkan pihak yang para wanita boleh menampakkan perhiasan mereka kepadanya,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jika anak kecil telah mengerti aurat wanita sehingga tertarik memandang wanita dan sering membicarakan tentang mereka, wanita tidak boleh membuka hijab di hadapannya. Ini berbeda-beda tergantung dengan siapa mereka biasa bergaul. Terkadang anak kecil punya pikiran tertentu tentang wanita karena sering bergaul dengan orang-orang yang sering membicarakan wanita. Kalau tidak demikian, biasanya anak kecil tidak punya perhatian khusus terhadap wanita.

(Majmu’atu As’ilah Tuhimmul Usrah)

 

Batasan Usia Anak Perempuan Harus Berhijab

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmi yah wal Ifta’,

“Berapa batasan usia seorang remaja putri diwajibkan mengenakan hijab? Apakah kami juga harus mewajibkannya terhadap para siswi, meski mereka tidak suka mengenakannya?”

Jawab:

“Jika anak perempuan telah mencapai usia baligh, dia wajib mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya, termasuk wajah, kepala, dan telapak tangan, baik dia seorang siswi maupun bukan.

Walinya wajib mengharuskan dia untuk mengenakannya jika dia enggan. Semestinya, walinya melatihnya berhijab sebelum dia mencapai usia baligh sehingga akan terbiasa dan akhirnya mudah untuk melaksanakannya.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4470)

 

Anak Perempuan Keluar Tanpa Mengenakan Hijab

Pernah ditanyakan kepada Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Bagaimana hukum anak perempuan yang belum baligh, bolehkah keluar tanpa mengenakan hijab? Bolehkah dia shalat tanpa mengenakan kerudung?”

Jawab:

“Wajib atas wali anak itu untuk mendidiknya dengan adab Islami. Maka dari itu, walinya harus memerintah si anak agar tidak keluar rumah kecuali mengenakan pakaian yang menutup auratnya karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Di samping itu, perintah ini juga agar anak mengenal akhlak yang mulia, sehingga dia tidak menjadi penyebab tersebarnya kerusakan.

Selain itu, hendaknya wali juga memerintahnya untuk shalat mengenakan kerudung. Kalaupun dia shalat tanpa mengenakan kerudung, shalatnya sah. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat seorang wanita yang telah haid kecuali dengan mengenakan kerudung.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4246)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-’Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cetakan ke-2, 1435H/2014M, hlm. 39—43)

Wanita dalam Istananya

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.” (an-Nisa’: 1)

Dalam ayat di atas, Rabb kita memberitakan bahwa bangsa manusia itu awalnya dari satu keluarga, dari sepasang suami istri, bapak kita, Adam dan ibu kita, Hawwa. Dari pasangan tersebut Allah subhanahu wa ta’ala mengembangbiakkan keluarga yang banyak.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤

“Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia tadi memiliki nasab (keturunan) dan periparan (atau hubungan yang terjalin karena pernikahan).” (al-Furqan: 54)

Dari satu keluarga manusia berasal, kemudian berkembang menjadi keluarga yang banyak. Keluarga-keluarga baru tersebut terbentuk dengan adanya pernikahan. Seandainya tidak ada pembentukan keluarga lewat pernikahan yang sah, niscaya bangsa manusia akan hidup dalam kekacauan dan tidak dapat berkembang dengan tatanan yang semestinya.

Karena pentingnya keberadaan keluarga bagi kelangsungan hidup umat manusia, Islam mendorong pemeluknya untuk membentuk keluarga manakala ada kemampuan untuk itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para pemuda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ...

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang memil iki kemampuan, hendaknyalah dia menikah….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sabda yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasung para lelaki yang ingin menikah untuk memilih wanita yang bisa melahirkan keturunan yang banyak.

Bagaimana caranya?

Tentu dengan melihat ibu atau saudari si perempuan; berapa anak yang dilahirkan ibunya, atau berapa anak yang dimiliki sejumlah saudarinya yang telah menikah. Sebab, biasanya seseorang itu menyerupai karib kerabatnya. (Aunul Ma’bud, Kitab an-Nikah, Bab an-Nahyu ‘an Tazawwuj Man lam Yalid min an-Nisa’)

Pertimbangan ini menjadi sangat penting ketika memilih perempuan yang akan dinikahi. Seperti yang dinyatakan di atas sang Rasul-lah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkannya,

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَم

“Menikahlah kalian dengan perempuan yang penyayang lagi subur rahimnya karena aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat (yang lain).(HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i. Hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zafaaf hlm. 61)

Karena ada perintah demikian, berarti seorang lelaki dilarang menikahi seorang perempuan yang diketahui mandul atau sulit memiliki keturunan, walau mengagumkan parasnya.

Karena itulah, al-Imam Abu Dawud rahimahullah memberi judul dalam Shahihnya untuk hadits di atas, Bab “an-Nahyu ‘an Tazawwuj Man lam Yalid min an-Nisa’”. Artinya, Bab “Larangan Menikah dengan Perempuan yang Tidak Bisa Melahirkan (Mandul)”.

Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah memberinya judul Bab “Karahiyah Tazwij al-’Aqim”, artinya Bab “Dibenci Menikahi Perempuan yang Mandul”.

Hadits di atas sendiri dititahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena suatu sebab, sebagaimana penuturan sahabat yang mulia berikut ini. Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu berkata, “Seorang lelaki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Saya tertarik dengan seorang perempuan yang berparas cantik dan bernasab tinggi, hanya saja dia tidak bisa melahirkan. Apakah boleh saya menikahinya?’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak boleh.’

Lelaki itu datang lagi pada kali yang kedua untuk meminta izin menikahi si perempuan, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Demikian juga pada kali yang ketiga, ia masih meminta izin untuk menikahi si perempuan yang mandul. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memberikan bimbingan di atas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan sifat wadud (sangat mencintai)[1] dengan walud (banyak melahirkan atau subur rahimnya). Sebab, rasa cinta merupakan perantara kepada “hubungan” yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al-Imam as-Sindi, 6/66)

Semua itu bertujuan untuk memperbanyak populasi umat dan keluarga yang terbentuk dalam Islam.

Syariat Islam mengatur tatanan keluarga dan menjaganya agar tidak tercerai berai. Karena itulah, dalam Islam ada hukum-hukum yang mengatur tentang pernikahan, talak, iddah, hak ayah dan ibu, dan selainnya. Ini menunjukkan pentingnya keberadaan keluarga dalam Islam, karena memang keluarga adalah tempat tumbuhnya generasi umat manusia.

Bagaimana keadaan keluarga, maka demikianlah gambaran masa depan umat. Apabila keluarga dalam masyarakat Islam baik, baik pula masa depan umat ini.

 

Peran Penting Kaum Hawa dalam Keluarga

Perempuan adalah pilar yang penting dalam bangunan keluarga. “Di belakang setiap tokoh, ada perempuan yang mendidiknya”, kalimat ini bukan sekadar isapan jempol, namun memang pantas diucapkan.

Lantas, mengapa ada tudingan bahwa perempuan yang mengkhususkan diri untuk “mengurusi” rumah dan keluarganya adalah pengangguran? Tidak memberikan keuntungan materi bagi masyarakatnya, bahkan merugikan setengah dari potensi masyarakat manusia?

Sungguh,tuduhan yang tidak berdasar!

Sadarilah, sebagai ibu di rumah tangganya, seorang perempuan tidak hanya bertugas mengandung dan melahirkan ‘manusia’. Di pundaknya ada tanggung jawab tarbiyah guna mempersiapkan pribadi yang saleh.

Tugas perempuan di rumahnya membutuhkan keahlian khusus: ilmu, pemikiran, ketelitian, strategi, kelembutan, dan kasih sayang, yang sejatinya kaum lelaki tidak sanggup mengembannya.

Pekerjaan perempuan di rumahnya bernilai ibadah, bukan sekadar rutinitas, bila dia niatkan untuk beroleh pahala dan ridha Ilahi. Pekerjaannya memiliki ruh yang bisa dirasakan oleh orang yang mengerti tujuan kehidupan dan rahasia adanya manusia.

Demikian kata alim yang mulia Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah. (Dari ceramah yang beliau sampaikan di Riyadh pada tanggal 6/11/1411 H, berjudul Daur al-Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah)

Kita akan menengok apa saja tugas perempuan di rumahnya yang insya Allah mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa tugasnya tersebut tidak bisa dianggap remeh. Ia justru bernilai amat agung.

  1. Di rumahnya, seorang perempuan bisa dengan tenang menunaikan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Untuk itulah manusia dicipta, untuk menghamba kepada-Nya.

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Karena itu pula, tatkala para ibu orang-orang yang beriman ‘ummahatul mukminin’, istri Khairul Anam (sebaik-baik manusia) shallallahu ‘alaihi wa sallam, diperintah untuk berdiam di rumah mereka—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya—Allah subhanahu wa ta’ala mengarahkan mereka untuk melakukan ibadah kepada-Nya di dalam rumah mereka.

          وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ

 “Dan berdiamlah kalian (wahai istri-istri Nabi) di dalam rumah-rumah kalian, janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal, tegakkanlah shalat, bayarkanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (al-Ahzab: 33)

Walaupun pelaksanaan syiar-syiar ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan semisalnya, termasuk tujuan ibadah yang terbesar, sebenarnya ibadah itu lebih luas lagi cakupan dan maknanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mendefinisikan ibadah sebagai,

اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ

“Nama yang mencakup seluruh perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala cintai dan ridhai, baik ucapan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.” (Fathul Majid Syarhu Kitab at-Tauhid, hlm. 17)

Menunaikan ibadah dengan baik dan benar merupakan pendukung terbesar bagi wanita untuk menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya di dalam rumahnya.

Wanita salihah yang menunaikan ibadah kepada Rabbnya dengan khusyuk dan thuma’ninah akan memberi pengaruh yang besar terhadap orang-orang di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya maupun selainnya.

Ketika seorang wanita mukminah membaguskan wudhu, misalnya, kemudian berdiri di hadapan Rabbnya dengan tunduk khusyuk, niscaya makna ini akan membekas pada anak-anaknya sebagai qudwah hasanah atau teladan. Ini akan menambah makna bimbingan yang dia berikan lewat ucapan.

 

  1. Wanita di rumahnya adalah sakan, memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi suaminya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ

 “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian agar kalian merasa tenang kepadanya (istri tersebut) dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah.” (ar-Rum: 21)

Sakan adalah kalimat yang mencakup makna menetapi, ketenangan, dan kesenangan di dalam rumah. Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata tentang ayat لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا, “Kalian merasa akrab dengannya dan condong/cenderung hati kalian kepadanya.” (Fathul Qadir, 4/263)

Sebelumnya, perhatikanlah! Di dalam ayat di atas Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dengan lafadz , لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا (sakan ila) yang berarti, “agar kalian merasa tenang kepadanya.”

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyebutkan dengan lafadz لِّتَسۡكُنُوٓاْ مَعَهَا (sakan ma’a), karena sakan bersama sesuatu (sakan ma’a) sifatnya umum, bisa disertai kecintaan kepada sesuatu tersebut dan bisa pula tanpa cinta.

Adapun sakan kepada sesuatu (sakan ila), mengandung makna yang lebih besar, berupa kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan. Sepanjang apa pun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan jiwanya tenteram saat berdekatan, dia tidak akan dapatkan teman yang semisal seorang istri.

Sebaliknya juga demikian, seorang perempuan tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insan yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.

Seorang perempuan tidak akan mampu menjadi sakan bagi suaminya sampai dia memahami hak suaminya dan kedudukannya , kemudian menunaikannya dalam rangka menaati Rabbnya, dengan hati gembira dan ridha.

Mengapa wanita harus memerhatikan muamalahnya dengan suaminya?

Jawabannya, karena Islam mengukuhkan tingginya kedudukan suami atas istrinya dan besarnya hak suami terhadap istrinya. Hadits-hadits berikut ini memberikan gambarannya, maka pahamilah, wahai para istri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ, لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintah seorang istri untuk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya.” (HR. Ahmad, sahih dalam Irwa’ul Ghalil no. 1998 dan ash-Shahihah no. 3366)

Bibi Hushain bin Mihshan radhiallahu ‘anhu pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

أَ ذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قاَلَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَ نَارُكِ

“Apakah engkau punya suami?”

Dia menjawab, “Ya.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi, “Bagaimana yang engkau lakukan terhadap suamimu?”

Dia menjawab, “Aku tidak pernah mengurang-ngurangi dalam menaatinya dan berkhidmat padanya kecuali dalam urusan yang memang aku tidak mampu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati, “Perhatikanlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim. Sanadnya sahih, lihat Adabuz Zafaf, hlm. 214 dan ash-Shahihah no. 2612)

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مفْرقِ رَأْسِهِ قرْحَةٌ تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمّ اسْتَقْبَلَتْهُ فََلَحِسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian istri menghadap suaminya dan menjilati luka/borok tersebut, niscaya dia belum purna menunaikan hak suaminya.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Haitsami 4/9, al-Mundziri 3/55, dan Abu Nu’aim dalam ad-Dalail 137. Catatan kaki Musnad al-Imam Ahmad, 10/513)

Abdul lah ibnu Abi Aufa radhiallahu ‘anhu memberitakan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Rabbnya hingga dia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) saat dia sedang berada di atas qatab[2], dia tidak boleh mencegah suaminya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad. Lihat ash-Shahihah, no 173)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ باِللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Diperlihatkan kepadaku neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita yang kufur.

Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukainya), dia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktunya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dia akan masuk surga dari pintu surga mana pun yang dia inginkan.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath, Ibnu Hibban dalam Shahihnya sebagaimana dalam at-Targhib, 3/73)

Bahkan, setelah seorang suami wafat mendahului istrinya, dia masih memiliki kedudukan. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini mengisyaratkan hal tersebut.

لاَ يَحِلُّ مِالْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ إِلاَّ مِنْ زَوْجٍ تُحِدُّ أَرْبَعَةَ عَشَرَ وَعِشْرِيْنَ

“Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir untuk berihdad[3] karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali\ karena kematian suami. Dia harus berihdad selama 4 bulan 10 hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Insya Allah bersambung)

ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Hal ini tercapai, wallahu a’lam, dengan menikahi perempuan yang masih gadis/perawan. Sebab, seorang gadis—yang terjaga dalam bimbingan Islam—tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya. Dengan demikian, cintanya kepada suaminya adalah cinta yang pertama, atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya.

Sifat wadud, memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami, bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya. Ibunya,misalnya,bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[2] Qatab adalah rahl (pelana). Dalam ash-Shihhah disebutkan, maknanya adalah pelana kecil seukuran punuk unta.

Makna hadits ini adalah dorongan kepada para istri untuk menaati suami mereka. Sungguh, mereka tidak boleh menolak ajakan suami mereka walau dalam keadaan demikian (di atas pelana). Lantas bagaimana halnya pada keadaan selainnya?

[3] Ihdad berarti meninggalkan perhiasan dan semua yang bermakna berhias.

Kemurahan dan Keadilan-Mu, Ya Rabb!

Rabb kita ‘azza wa jalla, senantiasa mencurahkan kebaikan kepada para hamba. Dia selalu memberi dengan kemurahan dan keutamaan-Nya. Kalaupun tidak memberi, maka dengan keadilan-Nya.

Setiap hamba di muka bumi ini merasakan atsar dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, siapa pun dia, orang baik atau orang jahat, mukmin atau kafir.

Cobalah kita renungkan, setiap hamba bisa menghirup udara sepanjang hari, merasakan manfaat sinar matahari, beroleh rezeki, merasakan keamanan, menikmati kesehatan dan fisik yang kuat, dan sebagainya. Semua itu jelas pemberian-Nya, Dzat Yang Maha Pemurah.

Ada lagi nikmat lain yang dilimpahkan-Nya dalam hidup di dunia ini, namun hanya untuk hamba pilihan, seperti nikmat iman dan takwa, nikmat yakin akan Dia subhanahu wa ta’ala dan saat perjumpaan dengan-Nya.

Hadits berikut ini termasuk hadits yang menunjukkan besarnya keutamaan dan kemurahan Allah ‘azza wa jalla, di samping menunjukkan keadilan-Nya.

Abul Abbas Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berita yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala (hadits qudsi), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ.ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشَرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهُ اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya, Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan kejelekankejelekan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya[1],  “Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan namun tidak melakukannya, Allah mencatat niat baik tersebut sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat untuk berbuat baik lalu dia kerjakan, Allah subhanahu wa ta’ala catat baginya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak. (Sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek, namun tidak dikerjakannya (dalam amal nyata), Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Apabila dia berniat jelek lalu dia lakukan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala catat untuknya satu kejelekan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kita selami kandungan hadits yang mulia di atas melalui keterangan Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah[2] berikut ini.

Pencatata shallallahu ‘alaihi wa sallam (kitabah) yang disebutkan dalam hadits mencakup dua makna,

  1. Kitabah sabiqah, yaitu pencatatan atau penulisan di al-Lauh al-Mahfuzh.

Di dalamnya, Allah subhanahu wa ta’ala mencatat segala sesuatu sebelum terjadinya sebagaimana firman-Nya,

وَكُلُّ صَغِيرٖ وَكَبِيرٖ مُّسۡتَطَرٌ ٥٣

 “Dan semua yang kecil dan yang besar tercatat.” (al-Qamar: 53)

Pencatatan di sini tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Kitabah lahiqah, adalah pencatatan yang dilakukan saat si hamba telah berbuat.

Amalnya dicatat untuknya sesuai dengan kandungan hikmah, keadilan, dan keutamaan.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan bagaimana pencatatan tersebut. Seseorang yang ingin berbuat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya, maka dia beroleh satu kebaikan. Misalnya, seseorang berniat mengerjakan shalat dhuha namun tidak jadi melakukannya. Dicatat untuk orang ini satu kebaikan.

Contoh lain, seseorang berniat membaca al-Qur’an namun tidak jadi melakukannya, maka dicatat untuknya satu kebaikan. Mengapa demikian, padahal dia tidak jadi beramal?

Jawabannya adalah sungguh keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala itu luas. Niat dalam kalbu untuk berbuat baik teranggap sebagai kebaikan. Kalbu adalah tempat keinginan dan niat—yang baik dan yang buruk. Manakala kalbu ingin berbuat baik, hal tersebut terhitung satu kebaikan.

Apabila orang yang berniat benar-benar melakukan apa yang diniatkan kalbunya, dia ingin shalat witir dan dia benar-benar melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan.

Bahkan, bisa dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat atau lebih, hingga berlipat-lipat yang tidak terhitung, sesuai dengan kadar keikhlasan, ketakwaan, dan mutaba’ah (pengikutan) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manakala seseorang beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ikhlas untuk-Nya semata, niscaya pahalanya lebih besar. Seseorang yang bersemangat mengikuti ajaran sunnah dalam beribadah, tentu ibadahnya sempurna dan beroleh pahala yang besar.

Adapun terkait dengan kejelekan yang diniatkan oleh jiwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa (sebaliknya) jika seseorang berniat untuk berbuat jelek namun tidak dikerjakan (dalam amal nyata), Allah catat untuknya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.

Sebagai contoh, seseorang berniat mencuri milik orang lain, namun kemudian dia ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Muncul rasa takut di hatinya. Dia pun meninggalkan niat mencuri tersebut. Orang ini mendapat satu kebaikan karena dia meninggalkan maksiat karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Yang perlu diperhatikan, apabila seseorang tidak jadi bermaksiat karena tidak mampu melakukannya, bukan karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak mendapatkan kebaikan. Dia tetap berdosa.

Misalnya, seseorang ingin mencuri, namun urung dilakukannya karena tenyata di tempat tersebut ada pengamanan ketat dari pihak sekuriti. Seandainya tidak ada sekuriti, niscaya dia akan menjalankan niatnya. Orang seperti ini tidak diberi pahala, justru dihukumi berdosa.

Kita ingat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Bakrah Nufai’ ibnul Harits ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu berikut ini.

       إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُوْلُ فِي النَّارِ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُوْلِ؟ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيْصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang muslim berhadapan dengan pedang masingmasing (untuk saling membunuh), si pembunuh dan yang terbunuh samasama di neraka.”

Abu Bakrah bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau si pembunuh yang di neraka (maka jelas), namun yang terbunuh juga di neraka?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, (Dia di neraka) karena sungguh dia berambisi untuk membunuh lawannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Si terbunuh tidak jadi membunuh karena didahului oleh lawannya, sementara dia sangat berambisi untuk membunuh. Ini terbukti dengan pedang yang dibawanya dalam pertarungan.

Hanya saja, pedang lawannya terlebih dahulu menghabisi nyawanya. Meski niatnya tidak terlaksana, dia teranggap sebagai pelaku pembunuhan, sehingga dia dan pembunuhnya sama-sama di neraka.

Siapa yang berniat jelek dan dilakukannya, maka dicatat baginya satu kejelekan saja, tidak lebih. Hal ini berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Siapa yang berbuat satu kebaikan maka dia akan beroleh (pahala setara) sepuluh kebaikan dan siapa yang berbuat satu kejelekan maka dia tidaklah dibalas kecuali dengan satu kejelekan yang sebanding, dalam keadaan mereka tidaklah dizalimi.” (al-An’am: 160)

Duhai Rabbi, betapa penyayang Engkau, dan betapa zalim diri ini dengan tidak mensyukuri-Mu.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 [1] Yakni bagaimana penulisan tersebut.

[2] Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin, 1/46, hlm. 50—51.

Istri Pernah Disusui Ibu Tiri Suami

Saya seorang istri yang telah menikah sejak 15 tahun lalu dan telah dikarunia 6 anak. Setelah lewat masa 15 tahun pernikahan, saya baru mengetahui bahwa saya pernah disusui bersama-sama saudari seayah dari suamiku[1].

Sementara itu, saya pernah mendengar sebuah hadits yang maknanya bahwa Nabi mengatakan untuk kondisi seperti ini, “Air susu itu dinisbatkan kepada ayah.[2]

Jika demikian keadaannya, apa yang harus kami lakukan sekarang?

 Jawab:

Benar bahwa air susu itu milik atau dinisbatkan kepada ayah sebagaimana yang anda sebutkan. Ini permasalahan ‘laban al-fuhl’ yang dikenal di kalangan ahlul ilmi.

Yang sahih, dengan penyusuan tersebut ditetapkanlah hubungan kemahraman. Apabila ada seorang anak perempuan menyusu dari salah satu istri seseorang, berarti seluruh anak laki-laki dari seseorang itu haram untuk menikah dengan anak perempuan susu tersebut[3]. Sama saja apakah si perempuan menyusu dari ibu suaminya atau dari istri ayah suaminya (ibu tiri suami).

Akan tetapi, untuk kasus yang disebutkan dalam pertanyaan, selama akad nikah telah selesai dilangsungkan dan telah terjadi pernikahan, maka hukum asalnya ‘baqa’un nikah’, yaitu pernikahan tetap teranggap ada. Pernikahan tersebut tidak batal sampai diperoleh kepastian bahwa dalam penyusuan tersebut tercapai batasan penyusuan yang menyebabkan terjalinnya kemahraman, yaitu 5 kali penyusuan yang diketahui (tidak diragukan jumlahnya –pent.).

Apabila dipastikan si perempuan pernah menyusu dari salah seorang istri bapak mertuanya sebanyak 5 kali penyusuan yang dimaklumi, si perempuan wajib dipisahkan dari suaminya. Suaminya haram menikahinya karena si perempuan adalah mahramnya dengan sebab penyusuan.

Adapun pernikahan yang sudah berlangsung adalah nikah syubhat. Anak-anak yang terlahir dari hubungan tersebut digabungkan nasabnya dengan ayahnya (diakui sebagai anak sah bukan anak zina).

Namun, apabila semata-mata berita bahwa pernah terjadi penyusuan, tanpa diketahui bagaimana tata cara atau bentuk penyusuan tersebut, serta berapa jumlah penyusuan; hukum asalnya pernikahan tersebut tetap berlanjut.

Si perempuan tetap statusnya sebagai istri si lelaki, selama tidak dipastikan terjadi penyusuan yang menjadi sebab pengharaman.

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/579—580)

 


Wanita Berhias Setelah Selesai Masa Iddah

Apakah seorang perempuan yang telah selesai masa iddahnya, baik iddah karena ditalak maupun iddah karena suami wafat, diperkenankan berhias untuk menerima pinangan? Jika diperbolehkan, apakah tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh al-Qur’an al-Karim bahwa perempuan tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau lelaki dari kalangan mahramnya?

Jawab:

Perempuan yang telah selesai dari iddah talak atau iddah wafat diperbolehkan berhias dengan apa yang diperbolehkan oleh Allah menurut yang ma’ruf. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا فَعَلۡنَ فِيٓ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ

“Apabila telah habis iddahnya, tidak ada dosa bagi kalian (para wali) ketika membiarkan mereka (para perempuan yang telah selesai iddah) untuk berbuat terhadap diri mereka menurut yang ma’ruf (biasa dilakukan)….” (al-Baqarah: 234)

Maknanya, berhias dengan sesuatu yang wajar secara kebiasaan, tidak menimbulkan godaan, dan tidak menimbulkan kerusakan. Dia boleh berhias menggunakan celak, pacar, dan mengenakan pakaian yang indah.

Namun, tidak bermakna bahwa dia menampakkan diri di hadapan para lelaki ajnabi dengan perhiasan tersebut. Sebab, diharamkan baginya memperlihatkan perhiasannya meski hanya sedikit, di hadapan lelaki ajnabi. Hal ini berlaku ketika dia sudah keluar dari iddahnya maupun belum.

Di hadapan lelaki, perempuan muslimah diharamkan menampakkan sesuatu yang membuat pandangan mata menoleh kepadanya (karena mengagumi keindahannya), baik berupa perhiasan tubuhnya (keindahan tubuh) atau perhiasan pakaian yang dikenakannya.

Ayat yang disebutkan di atas tidaklah bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka (para perempuan) menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami-suami mereka….” (an-Nur: 31)

Sebab, yang dimaksud oleh ayat yang sebelumnya adalah perempuan diperbolehkan berhias di dalam rumahnya (di tengah-tengah mahramnya –pent.) dan di hadapan sesama perempuan.

Adapun dia keluar di hadapan para lelaki ajnabi dengan menampakkan perhiasannya, sama sekali tidaklah dibolehkan. Tidak bagi dirinya yang sudah selesai dari masa iddah, tidak pula bagi muslimah selain dirinya.

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 2/580)

[1] Berarti si penanya disusui oleh istri dari ayah suaminya (istri bapak mertua), yang berarti ibu tiri suaminya, ibu dari saudari seayah suaminya. (-pent.)

[2] Karena dengan sebab melahirkan anaknya, si istri bisa menghasilkan air susu. (-pent.)

[3] Baik yang terlahir dari istrinya yang menyusui si anak perempuan susu maupun yang terlahir dari istri-istrinya yang lain. Semua anak laki-laki ayah susu adalah saudara lelaki sepersusuannya.

Pelajaran dari Kisah Qailah

Saat itu di kota Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, fajar shadiq baru saja menyingsing. Suara azan pun menyambutnya, menggema menembus setiap sudut kota Madinah yang sarat dengan keimanan. Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah menunaikan qabliyah fajar di rumah, beliau keluar untuk memimpin shalat subuh. Di belakang beliau, berbaris rapi insan-insan mulia.

Ketika hari masih pekat itulah, Qailah bintu Makhramah radhiallahu ‘anha, seorang wanita dari Bani Tamim yang baru saja menanggalkan keimanannya kepada berhala menuju kepada penyembahan kepada Rabbul Alamin semata, masuk dalam shaf untuk turut menjalankan ibadah shalat berjamaah. Namun, terjadi kesalahan karena ketidaktahuannya.

Qailah menuturkan kisahnya. “Aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau shalat subuh mengimami manusia. Shalat ditegakkan di awal waktu, saat fajar baru membelah kegelapan malam. Bintang-bintang masih terlihat banyak di langit sana.

Karena masih tersisa gelapnya malam, hampir-hampir orang-orang yang ikut shalat berjamaah tidak saling mengenal satu sama lain. Aku bergabung dalam shaf jamaah lelaki karena ketidaktahuanku tentang hukumnya karena aku baru saja meninggalkan masa jahiliah.”[1]

Selanjutnya Qailah berkisah, Lelaki yang berada di sebelahku dalam barisan shaf bertanya, “Kamu perempuan atau lelaki?”

“Aku bukan lelaki, melainkan perempuan,” jawabku.

Lelaki itu berkata, “Hampir-hampir kamu menjadi fitnah bagiku. Jangan shalat di sini, shalatlah di shaf perempuan di belakangmu.”

Qailah akhirnya mengetahui kekeliruannya. Dia pun menuju shaf perempuan. Katanya, “Ternyata shaf perempuan berada di sisi kamar-kamar. Saat masuk masjid aku tidak melihatnya. Aku pun bergabung dalam shaf perempuan.”

Kisah Qailah ini panjang, dibawakan secara lengkap oleh ath-Thabarani dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir no. 20525. Adapun kisah di atas hanyalah penggalannya.

Perhatikanlah kisah Qailah di atas. Dia keliru masuk ke shaf lelaki karena ketidaktahuannya bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan. Dia meminta uzur atas kealpaannya dengan menyatakan bahwa dia baru saja meninggalkan agama kekafiran, lalu masuk Islam. Dia belum mengerti tentang Islam, rinciannya, hukum-hukumnya, dan bimbingannya.

Peristiwa itu terjadi di tempat yang mulia, yaitu Masjid Nabawi, saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, pada waktu yang memiliki keutamaan, yaitu waktu dilaksanakannya shalat subuh. Bersamaan dengan itu semua, lelaki yang menegur Qailah berkata dengan khawatir, “Hampir-hampir kamu menjadi fitnah bagiku.”

Apa maksudnya? Silakan cermati sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma berikut ini,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku godaan yang lebih berbahaya bagi lelaki selain godaan wanita.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah kalian dari wanita, karena awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya.” (HR. Muslim)

Wanita merupakan godaan syahwat yang bisa mengguncang seorang lelaki. Seorang lelaki bisa terbius oleh kecantikan seorang perempuan, keindahan tubuh, perhiasan, dandanan, aroma yang harum semerbak, tutur kata yang lembut manja lagi menggoda, atau terpesona memandang gerak-gerik tubuhnya.

Dia bisa lupa diri sehingga dia bisa terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Imannya goyah! Jarang lelaki yang selamat saat berhadapan dengan godaan wanita.

Sahabat yang mulia, dalam kisah di atas, khawatir terhadap Qailah sebagai seorang perempuan. Padahal dia berada di dalam Masjid Nabawi, sedang shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu yang masih tersaput sisa gelapnya malam, tidak jelas terlihat siapa di sebelahnya. Akan tetapi, dia tetap bertanya, “Lelaki atau perempuankah engkau?”

Lantas bagaimana halnya ketika perempuan bercampur baur dengan lelaki dalam keadaan bisa saling melihat dengan jelas?

Ditambah lagi, ini terjadi bukan di tempat yang mulia, melainkan di ranah publik: jalan, pasar, pertokoan atau pusat perbelanjaan, perkantoran, perkumpulan atau komunitas, tempat-tempat pesta, dan sebagainya. Lebih parah lagi, si perempuan berhias sempurna, mengenakan aksesoris lengkap dan parfumnya harum semerbak.

Tentu sangat mengerikan akibat yang akan timbul, seperti yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bani Israil menjadi hina, moral dan akhlak mereka hancur karena wanita mereka “dibebaskan” bercampur baur dengan para lelakinya. Para wanita dibiarkan tampil bersolek di hadapan lelaki ajnabi hingga menggoda para lelaki. Terjadilah kerusakan!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umat beliau dari bahaya godaan perempuan sebagaimana yang telah menimpa Bani Israil. Namun, apa yang dilakukan oleh sebagian umat beliau? Peringatan sang Rasul mereka tabrak! Nas’alullah assalamah wal ‘afiyah….

Di masjid saja, salah satu tempat yang mulia di kolong langit ini, tempat ketenteraman, keimanan, dan tempat menghadap dengan tulus kepada ar-Rahman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan lelaki dari wanita. Hal ini dipahami dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling depan dan sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)

Shaf terdepan lelaki jauh dari jamaah perempuan. Sebaliknya, shaf terakhirnya dekat dengan jamaah perempuan. Sebab, setelah shaf terakhir jamaah lelaki adalah shaf pertamanya jamaah perempuan.

Dipahami dari hadits di atas, sekalipun dalam masjid, manakala kaum perempuan terpisah jauh dari lelaki, keadaan itu paling baik dan paling utama bagi kaum perempuan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong kaum perempuan untuk mengerjakan shalat fardhu di rumah mereka. Dengan demikian, mereka tidak harus keluar ke masjid yang memungkinkan mereka bercampur dengan lelaki. Mereka melihat lelaki, lelaki melihat mereka.

Ummu Humaid as-Sa’diyah radhiallahu ‘anha berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مَعَكَ فِي مَسْجِدِكَ هَذَا. قَالَ :قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّيْنَ الصَّلاَةَ مَعِيْ،  وَصَلاَتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي مَسْجدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِيْ

Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kunyatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sungguh aku suka shalat bersamamu di masjidmu ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku tahu bahwa engkau suka shalat bersamaku. Akan tetapi, shalatmu di dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di hujrah (teras rumah)mu. Shalatmu di hujrahmu lebih baik daripada shalatmu di daar (halaman rumah)mu. Shalatmu di daarmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku ini.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dll, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 155)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha memberitakan,

أَنَّ النِّسَاءَ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ كُنَّ إِذَا سَلَّمْنَ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ قُمْنَ وَثَبَتَ رَسُوْلُ اللهِ وَمَنْ صَلَّى مِنَ الرِّجَالِ مَا شَاءَ اللهُ. فَإِذَا قَامَ رَسُوْلُ اللهِ قَامَ الرِّجَالُ

“Para wanita pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah salam dari shalat wajib, mereka bangkit. Sementara itu, Rasulullah dan jamaah lelaki tetap di tempat mereka sekadar waktu yang Allah subhanahu wa ta’ala inginkan. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit, bangkit pula para lelaki.” (HR. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِيْنَ يَقْضِي تَسْلِيْمَهُ وَيَمْكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيْرًا قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam dari shalat, bangkitlah para wanita (meninggalkan masjid) saat selesai salamnya beliau. Sementara itu, beliau tetap diam sebentar di tempatnya sebelum bangkit berdiri.”

Az-Zuhri rahimahullah, perawi hadits di atas, berkata, “Kami memandang, wallahu a’lam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut agar wanita (yang ikut shalat berjamaah) pulang ke rumah mereka sebelum seorang lelaki pun sempat berpapasan dengan mereka.” (HR. al-Bukhari)

Menghindari ikhtilath, campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram, ternyata telah dilakukan oleh umat terdahulu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang pelarian Nabi Musa ‘alaihissalam ke negeri Madyan,

وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَاۖ قَالَتَا لَا نَسۡقِي حَتَّىٰ يُصۡدِرَ ٱلرِّعَآءُۖ وَأَبُونَا شَيۡخٞ كَبِيرٞ ٢٣ فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ٢٤

Ketika Musa sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum kepada ternak-ternak mereka. Musa mendapati di belakang mereka ada dua perempuan yang sedang menghambat ternak-ternaknya agar tidak bercampur dengan ternak-ternak yang lain.

Musa bertanya kepada kedua perempuan tersebut, “Mengapa kalian berdua melakukan hal ini?”

Keduanya menjawab, “Kami tidak bisa memberi minum ternak-ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka. Sementara itu, ayah kami sudah tua renta (tidak memungkinkan melakukan pekerjaan ini).”

Musa pun membantu memberikan minum untuk ternak-ternak keduanya. (al-Qashash: 23—24)

Lihat dua perempuan putri seorang yang saleh dari negeri Madyan pada ayat di atas. Keduanya enggan dan merasa malu untuk bercampur baur dengan penggembala—yang semuanya lelaki—untuk memberi minum hewan-hewan gembalaan mereka.

Keduanya memilih menunggu dengan sabar, walau hewan-hewannya sudah tidak sabar. Keduanya menunggu para penggembala yang lain selesai meminumkan hewan gembalaan mereka dan berlalu dari tempat tersebut.

Mengapa keduanya memaksakan diri keluar rumah untuk memberi minum hewan gembalaan mereka, sementara mereka berdua tahu bahwa sumber air dipenuhi oleh para lelaki?

Keduanya memberi jawaban tatkala ditanya Nabi Musa ‘alaihissalam, “Ayah kami sudah tua renta.” Itulah alasan mereka berdua.

Engkau, wahai muslimah, hendaknya memerhatikan bimbingan agamamu untuk menghindari ikhtilath. Engkau tidak boleh meremehkan hal ini. Kelak engkau akan ditanya di akhirat tentang pengamalanmu terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul, maka siapkanlah jawaban yang tepat!

Jawaban itu hanyalah dengan engkau bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menjalankan syariat-Nya, berpegang dengan ajaran agama-Nya, dan adab agama ini. Hal itu adalah kemuliaan, kesuksesan, dan kebahagiaanmu di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab

 Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Pada zaman itu belum ada penerangan seperti sekarang.

Fatwa Ulama Seputar Pembenahan Perilaku Anak

Anak Bermain-Main Saat Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Jika anak menolah-noleh ketika berdiri di tengah shaf shalat atau terlalu sering bergerak, bagaimana bimbingan Anda tentang hal ini?”

Beliau menjawab, “Hendaknya diberi isyarat agar tenang, sampai dia bisa tenang. Selama di dalam shalat, maka dilakukan dengan isyarat. Anak-anak harus terus dibimbing sampai dia terbiasa dengan kebaikan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no. 301)

Anak Lewat di Depan Ibunya yang Sedang Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ketika shalat, apakah seorang wanita wajib mencegah anaknya lewat di hadapannya? Dia tahu bahwa hal itu akan terjadi berkali-kali di tengah shalat, sehingga tindakannya akan menghilangkan kekhusyukan. Jika shalat sendirian, dia mengkhawatirkan terjadi bahaya pada anaknya.”

Beliau menjawab, “Tidak mengapa dalam keadaan seperti ini dia menahan anaknya agar tidak lewat di hadapannya ketika shalat, jika anak itu berkali-kali lewat dan dia mengkhawatirkan kekhusyukannya dengan tindakannya menahan anaknya itu, sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

Akan tetapi, dalam keadaan seperti ini anaknya diberi sesuatu yang mengasyikkan, namun tetap berada di dekat ibunya. Jika anak diberi sesuatu yang mengasyikkan, ia akan lalai dari hal-hal yang lainnya.

Jika si anak menggelayuti ibunya karena lapar atau haus, sebaiknya sang ibu menunda shalatnya untuk memenuhi keperluan anaknya. Setelah itu, ia kembali menunaikan shalat.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

Menggambar Makhluk Bernyawa

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ada siswa beberapa sekolah diminta untuk menggambar makhluk bernyawa. Misalnya, ditugaskan menggambar bagian badan ayam, kemudian diperintahkan untuk menyempurnakan bagian yang lainnya. Terkadang dia diminta menggunting gambar itu kemudian menempelkannya di kertas, atau diberi gambar semacam itu untuk diwarnai. Bagaimana pandangan Anda tentang hal ini?”

Beliau menjawab, “Saya memandang hal ini haram dan wajib dilarang. Hendaknya para penanggung jawab bidang pendidikan mengharuskan para pengajar untuk menunaikan amanat dalam urusan ini.

Selain itu, mereka juga harus melarang hal-hal semacam ini. Jika ingin menguji tingkat inteligensi siswa, masih memungkinkan untuk memerintah si anak menggambar sebuah mobil, pohon, atau apa saja yang diketahui oleh si anak. Dengan demikian, akan diketahui sejauh mana tingkat kecerdasan atau inteligensi anak dalam berbagai hal.

Perbuatan ini (menyuruh anak menggambar makhluk bernyawa, -ed.) termasuk menguji seseorang menggunakan sarana setan. Akan tetapi—tak diragukan lagi—sebenarnya tidak ada perbedaan bagusnya gambar atau lukisan antara seseorang menggambar pohon, mobil, istana, ataupun manusia.

Karena itu, saya berpandangan agar otoritas bidang pendidikan melarang hal-hal semacam ini. Jika seorang siswa diperintah menggambar hewan dan ini harus dilakukan, hendaknya dia menggambar hewan tanpa kepala.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/332)

Tidak Lulus Ujian Apabila Tidak Menggambar Kepala

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Dalam fatwa Anda di atas, Anda mengatakan bahwa jika seorang siswa diperintahkan menggambar hewan dan ini harus dilakukan, hendaknya dia menggambar hewan tanpa kepala. Namun, terkadang murid dianggap tidak lulus ujian jika tidak mau menggambar kepala. Apa yang harus dilakukan?”

Beliau menjawab, “Kalau demikian, maka siswa tersebut dalam keadaan terpaksa. Dosanya ditanggung oleh orang yang memerintah dan membebaninya dengan hal itu. Namun, aku berharap, pihak-pihak yang berkompeten tidak membiarkan urusannya sampai seperti ini, hingga memaksa hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala untuk durhaka kepada-Nya subhanahu wa ta’ala .” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/333)

Memukul Anak

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ada seorang pria yang sedang berhaji bersama putrinya yang masih kecil. Kemudian dia memukul putrinya ini dalam rangka ta’dib (mendidik). Apa hukum perbuatan seperti ini?”

Beliau menjawab, “Memukul anak dalam rangka mendidik tidak mengapa. Abu Bakr pernah memukul budaknya ketika beliau dalam keadaan ihram.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 24/56)

Menghukum Anak dengan Pukulan Atau Hukuman Lain

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah boleh seorang ayah atau ibu menghukum anak dengan memukul atau memasukkan sesuatu yang pahit atau pedas di dalam mulut si anak, seperti cabai, jika anak berbuat suatu kesalahan?”

Beliau menjawab, “Memberikan ta’dib (pendidikan) dengan pukulan diperbolehkan jika si anak memang telah mencapai usia yang layak untuk diberikan ta’dib, dan umumnya pada usia sepuluh tahun.

Adapun memberi sesuatu yang pedas, ini tidak boleh, karena akan berdampak negatif pada anak. Bisa jadi, mulutnya terasa terbakar atau perutnya terasa panas. Ini justru bisa membahayakan.

Berbeda halnya dengan pukulan, ia hanya mengenai bagian luar tubuh. Tidak mengapa dilakukan dalam rangka mendidik, dengan pukulan yang tidak melukai.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

Beliau ditanya pula, “Bolehkah memukul anak yang berumur kurang dari sepuluh tahun?” Beliau menjawab, “Dilihat terlebih dahulu. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan pukulan pada anak yang berumur sepuluh tahun karena meninggalkan shalat.

Adapun yang umurnya kurang dari itu, dilihat dahulu. Terkadang ada anak yang memiliki pemahaman, cerdas, dan badannya besar, sehingga dia mampu menanggung pukulan, kemarahan, dan tindakan pendidikan. Akan tetapi, ada pula yang keadaannya tidak seperti itu.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 23—24, 26—28, 36—39 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Bergaul Baiklah Dengannya…

Menjadi suami yang baik merupakan keinginan seorang lelaki saleh saat membangun mahligai rumah tangganya. Demikian pula, memiliki suami yang baik adalah harapan dan dambaan setiap wanita. Salah satu kesuksesan suami yang baik adalah dia bisa “mu’asyarah bil ma’ruf”, bergaul secara baik dengan istrinya.

Hal ini telah dibimbingkan oleh Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan hal yang sepatutnya dilakukan oleh suami agar bisa bergaul baik dengan istrinya, baik lewat sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun praktik amaliah dengan para istrinya.

Hadits-hadits berikut ini memuat bimbingan tersebut.

  1. Al-Imam al-Bukhari dan Muslim—semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati keduanya—dalam Shahih-nya membawakan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا باِلنِّسَاءِ خَيْرًا

“Mintalah oleh kalian wasiat kebaikan dalam masalah para wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk itu adalah yang paling atas.

Apabila engkau paksakan untuk meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Namun, apabila engkau biarkan, dia akan terus-menerus bengkok. Mintalah wasiat kebaikan dalam masalah para wanita.”

Dalam riwayat Muslim,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِن ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا، وَكَسْرُهَا طَلاقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok).[1] Dia tidak akan lurus untukmu di atas satu jalan. Jika engkau bersenang-senang dengannya, engkau bisa melakukannya; namun padanya ada kebengkokan. Apabila engkau paksakan untuk meluruskannya, engkau akan mematahkannya; dan patahnya adalah menceraikannya.”[2]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam فَاسْتَوْصُوْا maksudnya adalah aku wasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada para wanita (istri). Terimalah wasiatku ini berkenaan dengan diri mereka, dan amalkanlah.”

Beliau melanjutkan, “Dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam خَيْرًا باِلنِّسَاءِ seakan-akan ada isyarat agar suami meluruskan istrinya dengan lembut, tidak berlebih-lebihan hingga mematahkannya. Tidak pula membiarkannya terus-menerus di atas kebengkokan.” (Fathul Bari, 9/306)

Dalam hadits ini ada beberapa faedah. Di antaranya adalah

  1. Dianjurkan bersikap baik dan lemah lembut terhadap istri untuk menyenangkan hatinya.
  2. Hadits di atas menunjukkan bagaimana seharusnya seorang lelaki mendidik wanita, yaitu dengan memaafkan dan bersabar atas kebengkokan mereka.

Siapa yang tidak berupaya meluruskan mereka (dengan cara yang halus), dia tidak akan dapat mengambil manfaat darinya. Padahal, tidak ada seorang lelaki pun yang tidak membutuhkan wanita, guna beroleh ketenangan bersamanya dan membantu kehidupannya.

Jadi, seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Merasakan kenikmatan dengan istri tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadapnya.”

radhiallahu ‘anhuma. Seorang suami tidak patut menceraikan istrinya tanpa sebab yang jelas. (Fathul Bari, 9/306 dan al-Minhaj, 10/299)

Perhatikanlah hadits di atas, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan wasiat berbuat baik kepada para istri bersama dengan penjelasan beliau tentang hakikat mereka.

Tujuannya agar para suami—ketika bermuamalah dengan istri—bisa memahami bahwa tabiat wanita itu bengkok, sehingga mereka harus bersabar menghadapi istri. Jangan mengangankan istri terus berada di atas kelurusan, karena wanita mesti menuju kepada tabiat asal dari penciptaannya, yaitu bengkok.

 

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang wasiat untuk berbuat baik kepada wanita saat menyampaikan khutbah agung beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haji Wada’.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelipkan pesan kepada para suami terkait dengan hubungan mereka bersama para istri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلاَّ أَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ. فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا. إِنَّ لَكُمْ مِنْ نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا. فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ. أَلآ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ

Mintalah wasiat kebaikan dalam masalah para wanita (para istri)[3] karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Kalian tidak menguasai mereka sedikit pun kecuali hanya itu, terkecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata[4].

Jika mereka melakukan hal itu, boikotlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak memberi cacat. Apabila mereka menaati kalian, tidak ada jalan bagi kalian untuk menyakiti mereka.

Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seorang yang kalian benci untuk menginjak permadani kalian, dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci untuk masuk ke rumah kalian. Hak mereka terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.” (HR. at-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851, dinyatakan hasan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibni Majah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang pesan beliau kepada para lelaki terkait urusan wanita karena beliau paham betul keadaan para wanita yang beliau terangkan dalam hadits di atas. Keadaan ini tidak sanggup ditanggung dan tidak dapat disabari oleh sebagian lelaki yang tidak memiliki kontrol diri saat marah. Kebengkokan sang istri akhirnya mengantarnya untuk menjatuhkan vonis cerai. Akibatnya, hancurlah keutuhan keluarga dan tercerai-berai anggotanya.

 

  1. Karena itulah, dalam hadits yang lain, Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing para suami kepada sesuatu yang memberikan kebaikan bagi keadaan mereka bersama para istri.

Berikut ini sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ يَفْرُكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِي مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya, (bisa jadi) ia senang dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci). Sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya. Jika dia mendapatkan istrinya memiliki satu perangai yang tidak dia sukai, bisa jadi istrinya mempunyai perangai lain yang disenanginya. Misalnya, istrinya tidak baik perilakunya. Akan tetapi, dia seorang yang berparas cantik, menjaga kehormatan diri, bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang semisalnya.” (al-Minhaj, 10/300)

Dengan demikian, seorang suami tidak semestinya membenci istrinya dengan penuh kebencian hingga mendorongnya untuk menceraikannya. Yang sepantasnya justru dia memaafkan kejelekan istrinya dengan melihat kebaikannya. Dia menutup mata dari apa yang tidak disukainya dengan melihat apa yang disenanginya dari istrinya.

Ibnul Arabi rahimahullah bercerita, “Abul Qasim bin Hubaib telah mengabarkan kepadaku di al-Mahdiyah, dari Abul Qasim as-Sayuri, dari Abu Bakr bin Abdir Rahman, ia berkata, ‘Asy-Syaikh Abu Muhammad bin Zaid punya pengetahuan yang mendalam dalam hal ilmu dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama. Beliau beristrikan seorang wanita yang buruk pergaulannya dengan suami. Istrinya ini tidak sepenuhnya memenuhi haknya, justru meremehkan dan menyakiti beliau dengan ucapannya. Ada yang berbicara pada beliau tentang keberadaan istrinya, namun beliau memilih tetap bersabar hidup bersama istrinya.”

Beliau pernah berkata, “Aku telah dianugerahi kesempurnaan nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kesehatan tubuhku, pengetahuanku, dan budak yang kumiliki. Bisa jadi, istriku dikirim sebagai hukuman atas dosaku. Maka dari itu, aku khawatir apabila aku menceraikannya, akan turun padaku hukuman yang lebih keras daripada apa yang selama ini aku dapatkan darinya.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 5/65)

 

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنَسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad 2/527 dan at-Tirmidzi no. 1172; dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam ash-Shahihul Musnad, 2/336—337)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah suami yang paling baik kepada istri-istrinya, sebagaimana berita beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Adapun aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).” (HR. at-Tirmidzi no. 3895, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 285)

 

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعَ خِصَالٍ: مَشْيُ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرْضَيْنِ، وَتَأْدِيْبُهُ فَرَسَهُ، وَمُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ، وَتَعْلِيْمُ السِّبَاحَة

“Segala sesuatu yang bukan dzikrullah (berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla) adalah sia-sia atau kelalaian, kecuali empat hal; yaitu (1) berjalan di antara dua sasaran (panahnya), (2) melatih kudanya, (3) bermesraan dengan istrinya, dan (4) belajar renang.” (HR. an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa’ dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir; dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 315)

Perhatikanlah hadits di atas pada lafadz أَهْلَهُ مُلاَعَبَتُهُ. Seorang suami yang sedang bergurau, bercumbu rayu, berkasih mesra dengan istrinya; jelas tidak sedang berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Namun, perbuatan tersebut tidak tergolong kelalaian, apalagi dosa. Sebaliknya, dia justru mendapat pahala karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَها فِي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Salah seorang dari kalian ‘mendatangi’ istrinya adalah sedekah.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya dan dia mendapat pahala karena perbuatan tersebut?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa pendapat kalian jika dia menempatkan kemaluannya pada yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Demikian pula apabila dia meletakkan kemaluannya pada tempat yang halal, dia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Seorang suami yang bercumbu dengan istrinya hingga membawanya “berhubungan” dengan sang istri, telah dianggap bersedekah. Mengapa demikian? Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberitakan hal tersebut. Alasan lainnya, coba perhatikan dua hal berikut ini.

Manusia diperintah untuk tidak menahan dirinya dari sesuatu yang diinginkan jiwanya, asalkan bukan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Hal ini berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

        “Sungguh, jiwamu memiliki hak terhadapmu.” (HR. al-Bukhari)

Jika seorang suami “mendatangi” istrinya, sungguh dia telah berbuat baik kepada istrinya; karena istri juga memiliki syahwat sebagaimana suami. Dia punya keinginan sebagaimana keinginan lelaki. Dengan berbuat baik kepada istri, itu adalah sedekah[5]. (Syarhu al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hadits yang ke-25, hlm. 283)

Masih banyak hadits lain yang memberi anjuran dan dorongan untuk menumbuhkan pergaulan yang baik terhadap istri dan keluarga.

Pengajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap istri-istri beliau

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergaul sangat baik dengan para istri beliau, lembut, penuh kasih sayang kepada mereka. Hal ini sudah kita maklumi. Namun, semua itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajari para istri beliau.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati, memarahi, bahkan pernah mendiamkan istri-istri beliau. Sebab, beliau memiliki sifat hikmah, yakni dapat dengan tepat menempatkan sesuatu pada kedudukannya yang pantas.

Wanita yang tabiatnya bengkok dan peka memang membutuhkan arahan, pendidikan, dan pengajaran. Karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada para lelaki. Firman-Nya,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan kita, menjalankan fungsi qawamah dalam pergaulannya dengan para istri beliau. Ketika dibutuhkan sikap tegas kepada para istri, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya sebagai bentuk pendidikan terhadap mereka.

Satu contoh, ketika istri-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntut nafkah yang melampaui kemampuan beliau, beliau marah hingga bersumpah tidak akan menemui mereka selama sebulan. Sampai Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا ٢٨ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٢٩

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah aku berikan mut’ah[6] untuk kalian dan aku ceraikan kalian dengan cara baik-baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28—29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menawarkan pilihan kepada mereka, tetap hidup berdampingan dengan beliau namun harus bersabar dengan kekurangan harta duniawi, atau berpisah dengan beliau. Ternyata semua istri beliau memilih Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Demikianlah hasil pendidikan madrasah nubuwwah.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Dalam hadits ini ada dalil atas ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwasanya Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا

Dia menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya.” (al-Minhaj, 10/299)

[2] Apabila engkau menginginkan istrimu meninggalkan kebengkokannya, ujungnya adalah berpisah (cerai) dengannya. (Fathul Bari, 6/447)

[3] Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, “Al-Istisha’ adalah menerima wasiat. Jadi, makna ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan terhadap para istri, maka terimalah wasiatku ini.” (Tuhfatul Ahwadzi)

[4] Seperti nusyuz, buruknya pergaulan dengan suami, dan tidak menjaga kehormatan diri. (Tuhfatul Ahwadzi)

[5] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ

“Semua yang dikenali sebagai kebaikan adalah sedekah.”

[6] Mut’ah adalah pemberian sesuatu atau materi untuk menyenangkan istri yang dicerai.