Tarbiyah yang Baik Adalah Perhatian dan Pengawasan

“Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.”

Ketahuilah, (kedudukan) anak-anak itu seperti harta. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Oleh karena itu, sebagaimana halnya diuji dengan harta, manusia juga diuji dengan anak-anak. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” (al-Anbiya: 35)

Jadi, Allah ‘azza wa jalla akan menguji kedua orang tua dengan anak-anak. Apakah mereka berdua berusaha memperbaiki dan mendidiknya di atas kebaikan, ataukah justru menelantarkannya dan bermudah-mudah tentang urusannya? Kedua sikap tersebut memiliki akibat yang berbeda, bisa jadi baik atau buruk.

Anak adalah tanggung jawab ayah. Dia akan diuji dengan anak, apakah dia peduli ataukah acuh tak acuh? Jika orang tua peduli dengan anak, anak akan menjadi penyejuk matanya di dunia dan di akhirat. Jika dia membiarkannya, anak akan menjadi penyesalan bagi dirinya. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَأَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٨٥

        “Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (at-Taubah: 85)

Kebaikan dan kerusakan anak, masing-masing ada sebabnya. Benar bahwa baik atau rusaknya anak telah ditakdirkan oleh Allah k, tetapi takdir tersebut memiliki sebab-sebab dari sisi hamba itu sendiri.

Apabila orang tua berusaha mentarbiyah anak-anaknya di atas kebaikan sejak kecil, mereka akan menjadi anak-anak yang saleh—dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Sebab, orang tua mereka telah berusaha menempuh sebabnya, dan Allah ‘azza wa jalla akan menolongnya untuk mewujudkannya.

Adapun jika orang tua membiarkan anaknya, tidak pernah bertanya tentang keadaan mereka, anak-anak akan tumbuh di atas pembiaran. Ketika itu, orang tua akan sulit mengembalikan mereka pada kebaikan.

Oleh karena itu, bersegeralah kalian mendidik anak kalian dengan baik—semoga Allah ‘azza wa jalla memberi taufik kepada kalian—dan jangan membiarkan mereka. Sebab, kalian berada pada sebuah zaman yang dipenuhi keburukan, syahwat, dan syubhat. Selain itu, banyak pula penyeru kesesatan dan kejelekan berikut tokoh-tokoh dan sarana yang mereka sebarkan.

Bertakwalah kalian dalam hal anak-anak kalian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Jadi, asal mula keadaan seorang anak adalah di atas fitrah, yaitu agama Islam. Firman Allah ‘azza wa jalla,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Rum: 30)

Apabila orang tua menjaga dan mengembangkan fitrah anaknya di atas kebaikan, dia akan memasuki masa muda, masa dewasa, dan seterusnya, di atas fitrah tersebut—dengan izin Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, apabila orang tua merusak fitrah tersebut, akan rusaklah fitrah ini. Permisalannya seperti tanah yang bagus yang menumbuhkan kebaikan dan produktif, ketika dirusak, tanah tersebut tidak lagi produktif. Demikian pula halnya fitrah. Fitrah siap menerima kebaikan, arahkanlah menuju perbaikan dan kebaikan. Akan tetapi, jika ada gangguan yang merusaknya, fitrah pun akan rusak. Sebab yang merusaknya ialah orang tua.

Oleh karena itu, jagalah fitrah anak-anak kalian. Kembangkanlah fitrah tersebut di atas kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ لسَبْعِ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Pengembangan fitrah anak ini dilakukan bertahap sejak usia tamyiz. Ketika berusia 7 tahun, anak diperintah untuk menunaikan shalat. Hal ini juga berkonsekuensi bahwa anak dibiasakan dan diajari berwudhu dan bersuci, tata cara shalat, hal-hal yang wajib dan yang sunnah dalam shalat, hingga terbiasa dan tumbuh di atasnya.

Setelah mencapai usia 10 tahun, bisa jadi anak mengalami ihtilam (mimpi basah) atau telah memasuki masa baligh, tarbiyah anak berpindah ke tahapan kedua,

وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ

“Dan pukullah dia (jika tidak mau melaksanakannya) ketika berumur sepuluh tahun.”

Apabila si anak meremehkan urusan shalat, dia dipukul sehingga merasakan sakitnya hukuman. Dengan demikian, si anak akan menjaga urusan shalat dan senantiasa begitu. Demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita dalam hal mendidik anak, yakni kita bertahap sesuai dengan umur mereka.

Adapun opini yang tersebar sekarang bahwa mendidik anak, memukulnya[1], dan mengajarinya adab teranggap sebagai tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); ini adalah pemikiran yang datang dari musuh kita dari kalangan Barat, para perusak.

Mereka ingin merusak diri kita, istri-istri, dan anak-anak kita. Mereka sebut tarbiyah ini sebagai KDRT. Justru inilah tarbiyah Islam yang telah menghasilkan sekian generasi yang baik dan mengadakan perbaikan. KDRT yang sesungguhnya ialah menelantarkan dan menyia-nyiakan anak dan istri. Inilah hakikat KDRT. Mengupayakan kebaikan bagi mereka, inilah kebaikan dan perbaikan sejati yang dibawa oleh agama kita.

Hak anak yang wajib ditunaikan oleh orang tua, sudah ada terlebih dahulu dan melekat pada diri orang tua. Sebagian orang mengatakan, “Saya memiliki hak yang harus ditunaikan oleh anak saya.”

Ya, benar bahwa Anda memiliki hak. Akan tetapi, anak Anda juga memiliki hak yang harus Anda tunaikan terlebih dahulu sebelum dia menunaikan hak Anda. Hak anak itu adalah Anda mendidiknya.

Oleh karena itu, ketika anak telah baligh dan menjadi orang yang saleh dengan sebab tarbiyah yang baik, sedangkan sang orang tua memasuki usia senja dan membutuhkan bakti dari anak, Allah ‘azza wa jalla pun memerintah si anak untuk mengatakan (sebagaimana firman-Nya),

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

“Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (al-Isra: 24)

Bagaimana halnya jika orang tua tidak mendidik anaknya sewaktu kecil? Pantaskah dia mengharap bakti dari anaknya? Tidak. Sekali-kali tidak. Bahkan, seribu kali tidak.

Anak yang saleh menjadi penyejuk mata orang tuanya semasa hidup dan setelah matinya. Ketika orang tua masih hidup, si anak menunaikan bakti kepada orang tua, melayaninya, dan melakukan berbagai urusan demi kemaslahatannya, terkhusus apabila orang tua sudah lanjut usia.

Adapun setelah kematian orang tua, sang anak mendoakan orang tua, melaksanakan berbagai wasiat dan wakafnya. Anak yang saleh juga akan memikul berbagai urusan orang tua setelah kematiannya, menggantikan kedudukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الِإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, akan terputus amalannya kecuali dari tiga hal: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, dan (3) anak saleh yang mendoakannya.”

Akan tetapi, jika anaknya rusak, tidak saleh, dia justru mendoakan kejelekan bagi orang tuanya, bukan kebaikan. Ternyata, sebabnya ialah orang tua telah menelantarkan (membiarkan, tidak mendidik) anaknya sewaktu kecil. Akhirnya, sang anak pun durhaka ketika orang tua berusia lanjut, baik semasa hidup maupun setelah kematiannya.

Karena itu, bertakwalah kalian dalam urusan anak-anak kalian. Jangan kalian menelantarkan mereka. Ada orang yang menyangka bahwa mendidik anak ialah dengan cara memberinya harta, membelikan mobil, dan memenuhi segala keinginannya. Setelah itu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak menyian-yiakan anakku.”

Ya, Anda tidak menyia-nyiakannya kecuali dalam hal ini. Justru inilah bentuk menyia-nyiakan dan menelantarkan. Harta yang Anda berikan kepadanya, mobil yang Anda belikan untuknya, inilah penyia-nyiaan terhadap anak.

إنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالِجدَه

مَفْسَدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيُّ مَفسَدَة        

Sungguh, masa muda, waktu luang, dan serba ada

         adalah kerusakan bagi seorang manusia, serusak-rusaknya

Anda telah memberinya sarana kerusakan. Anda penuhi sakunya dengan harta. Anda beri dia mobil yang akan membawanya kemana pun dia kehendaki. Jadi, hakikatnya justru Anda yang menjerumuskan anak pada kerusakan.

Ya, kita katakan, “Berilah anakmu (harta), nafkahilah dia, belikanlah dia mobil. Akan tetapi, awasi dan perhatikan perilakunya. Jangan sampai Anda lalai mengawasinya. Jangan sampai Anda lalai terhadap anak hingga mereka dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Selama anak belum baligh, dia menjadi tanggung jawab Anda. Anda akan ditanya tentangnya di hadapan Rabb Anda, tentang kerusakan dia yang disebabkan oleh Anda dan pembiaran yang Anda lakukan terhadapnya.”

Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan anak-anak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian.” (an-Nisa:  11)

Jadi, anak adalah beban yang dipikulkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada orang tua. Maka dari itu, orang tua hendaknya bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Anak adalah amanat yang dititipkan kepada orang tua. Karena itu, hendaknya orang tua bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam hal amanat tersebut.

Tidak diragukan lagi, (merawat dan mendidik) anak mendatangkan rasa lelah, membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak memiliki kesabaran dan tidak sabar menghadapi rasa lelah saat merawat anaknya, dia akan menelantarkan anaknya.

Ada orang yang berkata, “Aku tidak mampu. Hidayah di tangan Allah ‘azza wa jalla.”

Anda tidak bisa berkata seperti itu sementara Anda sendiri tidak berusaha sedikit pun. Apabila Anda menjadi sebab anak mencari hidayah, sungguh Allah Mahadekat dan Maha Mengabulkan. Akan tetapi, jika Anda tidak mengusahakan sebab-sebab hidayah, tentu saja Anda tidak akan mendapat hidayah. Anda justru mendapatkan yang sebaliknya.

Sebelum sebab-sebab yang lain, hendaknya orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak. Orang tua sendiri yang menjadi teladan. Bagaimana halnya apabila orang tua sendiri yang rusak dan biasa melakukan kerusakan? Menyia-nyiakan shalat; tertidur ketika waktu shalat tiba; tidak pulang ke rumah selain untuk makan dan minum…. Dia tidak pernah menanyakan keadaan anak-anaknya. Ini adalah orang tua yang seperti hewan, bukan orang tua yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla….

        Selain itu, doakanlah anak-anak. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata (sebagaimana firman Allah),

وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

        “Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Beliau juga menyertakan anak keturunan beliau dalam doa beliau,

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

        “Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Doakanlah anak-anak kalian disertai dengan menempuh sebab-sebab kebaikannya, yakni dengan mendidiknya. Berdoalah agar Allah ‘azza wa jalla membantu Anda dan memperbaiki anak-anak Anda. Bersihkan rumah Anda dari berbagai sarana kerusakan dan media yang merusak, berupa lagu-lagu, alat-alat musik, dan gambar-gambar wanita telanjang. Jika tidak demikian, rumah Anda akan menjadi sarang kerusakan.

Jadikan rumah Anda bersih, sebagai tempat beribadah dan berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla. Tidak didengar di dalamnya selain zikir, bacaan al-Qur’an, ucapan yang baik, bagus, dan bersih. Ajari anak Anda sedikit dari al-Qur’an atau suruhlah dia menghafalnya sesuatu dari al-Qur’an.

Pilihkanlah untuknya tempat belajar yang baik berikut kepala sekolah, para pengajar, dan murid-muridnya. Pilihkanlah sekolah yang baik, lalu ikuti perkembangan belajarnya. Tanyakanlah (kepada sekolah) tentang keadaan anaknya. Bantulah dia belajar dan berilah motivasi.

Jika Anda memberi sesuatu kepada salah satu anak, berilah anak-anak Anda yang lain sesuatu semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.”

Kisahnya, seorang sahabat memberikan sesuatu kepada anaknya. Ibunya berkata, “Hingga engkau persaksikan (pemberian ini) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sahabat tersebut menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mempersaksikan pemberian terhadap anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah semua anakmu engkau beri semisal ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah orang lain untuk mempersaksikan pemberian ini. Sungguh, aku tidak bersaksi atas sebuah kezaliman.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau senang apabila bakti anak-anakmu kepadamu sama?”

Dia menjawab, “Ya.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, jangan.”

Maksudnya, jangan engkau beri sebagian anakmu dan tidak memberi yang lain.

Sampai pun dalam hal berbicara,Anda tidak boleh berbicara, tertawa, dan memuji hanya salah seorang anak. Perhatikan pula anak-anak Anda yang lain. Anda ajak bicara semuanya. Anda beri motivasi semua anak Anda. Doakan semua anak Anda, meskipun mereka tidak sebaik anak yang Anda kagumi. Bagaimanapun, mereka semua adalah anak Anda. Mereka semua memiliki hak yang harus Anda tunaikan. Perhatikanlah anak-anak Anda.

Akan tetapi, apa yang bisa kita katakan sekarang ketika ayah tidak lagi mengenali anak-anaknya? Bisa jadi karena sibuk mencari materi dan berbisnis, bisa jadi pula karena dia berada di tempat permainan, kelalaian, begadang di tempat hiburan atau tempat lain di luar rumah. Dia tidak pernah bertanya tentang keadaan anak-anaknya.

Demikian pula ibu yang keadaannya seperti sang ayah. Dia tidak berdiam di rumah, tetapi keluar untuk bekerja, kuliah, atau bertemu teman-temannya. Dia tinggalkan anak-anak di rumah.

Lantas di mana anak-anak? Di tempat penitipan anak. Mereka dididik oleh orang yang tidak menyayangi dan tidak berlemah lembut terhadap mereka. Mereka diasuh oleh orang yang tidak akan dimintai tanggung jawabnya tentang mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang dibayar. Ini serupa dengan orang yang menggembalakan sekumpulan domba untuk mendapatkan upah.

Mereka tidak perhatian terhadap akhlak dan agama anak-anak, itu adalah urusan orang tua. Yang bukan orang tuanya tidak akan peduli tentang baik atau rusaknya anak. Mereka hanyalah orang yang dibayar layaknya penggembala domba yang tugasnya hanya menjaga agar domba-domba itu tidak hilang….

Salah satu pengaruh tarbiyah yang buruk dan menelantarkan anak ialah berbagai perilaku buruk yang dilakukan oleh para pemuda yang kalian saksikan sekarang. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana menggeber mobil di jalanan, meski membahayakan diri dan orang lain. Berapa banyak kematian terjadi akibat kebut-kebutan? Berapa banyak harta yang terbuang sia-sia dan mobil yang hancur? Apa hasilnya?

Jika anak ingin sesuatu, dia akan melakukannya. Sebab, dia tidak disibukkan dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat. Dia hanya diberi sarana kerusakan lantas dibiarkan begitu saja…

Akhirnya, orang-orang mendoakan kejelekan bagi orang tua si anak, bahkan sampai-sampai ada yang mendoakan laknat. Melaknat orang tua yang membiarkan anaknya mengganggu dan membahayakan orang lain.

Perhatikanlah tembok rumah-rumah. Lihatlah bagaimana para pelajar membuat tulisan-tulisan jelek di sana. Tulisan yang menggambarkan bahwa jiwa penulisnya menyimpan kerusakan, yang lantas dituangkan ke tembok.

Semua tindak kriminalitas di atas dengan jelas menunjukkan pengaruh tarbiyah yang buruk. Pengaruh tersebut terlihat dengan jelas di masyarakat.

Lihatlah, orang-orang kafir pun mendidik anak mereka di rumah, meski dalam bentuk pendidikan duniawi. Anda tidak melihat mereka membiarkan anak mereka berkeliaran di jalanan membawa mobil, padahal mereka orang kafir. Bagaimana bisa kaum muslimin justru dalam keadaan yang buruk seperti ini?

Sekali lagi, perhatikan dan awasi anak-anak kalian. Sadarilah bahwa anak-anak adalah ujian bagi kalian, apakah kalian memperbaiki ataukah merusak mereka. Kalian akan ditanya di hadapan Allah ‘azza wa jalla tentang mereka.

Apabila menjadi anak saleh, mereka akan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua, sampai pun di surga kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

        “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Para ahli tafsir berkata, “Apabila anak dan ayah masuk surga, sedangkan kedudukan ayah lebih tinggi dari si anak, Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat anak tersebut menjadi sama dengan ayahnya agar ayah merasa tenteram dan sejuk matanya. Dengan demikian, anak akan menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, di dunia dan di akhirat.

 

Buah karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

(diterjemahkan dan diringkas dari http://www.alfawzan.af.org.sa/ node/14450)


[1] Perlu diingat bahwa dalam hal memukul anak, Islam memiliki aturan, sehingga tidak dibolehkan sembarangan memukul. Di antara aturannya ialah pukulan tersebut tidak keras. (-ed)

Perhatikan Pergaulan Anak Kita

asy-Syaikh Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdur Rahman al-Junaid

Sebagian orang tua—semoga Allah meluruskan mereka—ketika melihat anak mereka bergaul dengan orang yang tampak baik dan istiqamah—apalagi melihat perubahan keadaan anaknya yang semula malas dan meremehkan urusan shalat, puasa, haji, umrah, sedekah, menghafal al-Qur’an, dan mengamalkan kebaikan—mereka pun lalai mengikuti dan memerhatikan anak mereka.

Orang tua tidak lagi menganggap penting untuk tahu:

  • buku apa yang dipelajari oleh anaknya, siapa guru yang mengajarinya buku tersebut,
  • kaset dan CD apa yang didengarnya,
  • apa yang dia dengar dan lihat kutipan suara melalui internet,
  • siapa dai dan penasihat yang dia dengarkan,
  • asupan apa yang didapat dari internet, dan situs mana yang diikuti oleh anak,
  • apa saja kicauan anak di Twitter, siapa saja yang menjadi followernya, dan siapa saja yang membalas kicauannya.

Anda dapat pula mengatakan seluruh hal di atas atau sebagiannya untuk anak perempuan.

Tidak diragukan lagi bahwa ini tindakan yang salah, menganggap enteng masalah, pembiaran, penyia-nyiaan, tidak menjaga dan merawat, serta lari dari tanggung jawab.

Hal ini akan menjadi jelas dengan mengetahui beberapa hal berikut, merenunginya secara mendalam, dengan melibatkan akal sehat dan rasa kasih sayang.

Ayah dan ibu—semoga Allah memberi keduanya keselamatan—adalah orang yang pertama kali terkena kewajiban dan keharusan mendidik anak lelaki dan perempuan, baik menurut syariat, akal, maupun kebiasaan masyarakat.

Tanggung jawab perhatian dan pendidikan orang tua ini tidak gugur, hilang, atau berkurang dengan adanya teman si anak atau murabbi (pendidik) yang istiqamah dan saleh.

Ketika mewajibkan seseorang menjaga keluarganya dari api neraka, Allah menujukan kewajiban tersebut kepada seorang mukmin terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Di samping itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membebankan tanggung jawab terbesar dalam hal mendidik anak dan mewajibkannya kepada ayah dan ibu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemerintah yang menguasai manusia adalah pemimpin dan akan ditanya tentang mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak-anaknya, dan akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan ditanya tentangnya. Ingatlah, setiap kalian adalah pemimpin, dan masing-masing akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)

Orang yang dengan baik menjaga anak lelaki dan anak perempuannya, ketika mendapatkan pihak lain yang membantunya untuk memperbaiki anaknya, dia tetap bersungguh-sungguh, dan tidak lantas menyepelekan urusan anaknya. Dia justru akan tetap bersemangat, tidak bermalas-malasan. Dia akan mendukung dan saling membantu dengan pihak lain tersebut, tidak lantas diam. Dia akan terus mengikuti perkembangan anaknya, tidak lantas lalai.

Ketika anaknya berubah ke arah yang lebih utama dan lebih bagus, sesuai dengan naluri dan kasih sayang seorang ayah, dia ingin agar anaknya meraih kedudukan yang tertinggi, keadaan yang terbaik, dan orientasi yang paling selamat.

Dia tidak ingin dirinya bertindak berlebih-lebihan yang justru akan mengantarkan dirinya bertindak melampaui batas dan zalim terhadap keluarganya, sehingga dia mencelakakan mereka dan dirinya sendiri. Atau sebaliknya; bersikap meremehkan yang akan melemahkan dirinya (dalam hal mendidik anak) seiring dengan berlalunya waktu, sehingga anaknya kembali ke keadaan semula atau lebih jelek dari itu.

Beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang yang baik dan istiqamah ternyata bukanlah orang saleh dan istiqamah pada urusan tertentu.

Bisa jadi, dia terlumuri kesyirikan tertentu, kebid’ahan, atau kesesatan dalam keadaan manusia tidak mengetahui dan menyadarinya. Bisa jadi pula, dia terpengaruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, seperti pengkafiran tanpa hak.

Hal-hal tersebut akan dia tularkan kepada anak Anda, dan disusupkan ke dalam rumah Anda. Kemudian saudara lelaki atau saudara perempuannya akan terpengaruh dengan pemikiran yang sama. Bisa jadi pula orang tersebut ternyata bersimpati terhadap kelompok yang menyimpang, yang lantas mengajak anak Anda bergabung dengannya dalam organisasi tersebut, atau bahkan dia sudah menjadi anggota, bahkan tokoh dan dai kelompok menyimpang tersebut.

  • Bukankah kita telah melihat ada anak-anak yang terpengaruh pemikiran takfir, pengikutnya, dan dainya?

Selanjutnya, mereka berbuat jahat terhadap diri mereka sendiri dan kaum muslimin (dengan aksi bom bunuh diri -red.), di masjid-masjid muslimin, tempat perdagangan muslimin,bangunan, kantor, dan tempat kerja kaum muslimin.

Mereka melakukan kejahatan terhadap para pegawai negara, pekerja, orang yang sedang melintas, para wanita, dan anak-anak. Mereka melakukan kejahatan pula terhadap orang kafir musta’man[1] dan mu’ahad[2], di negeri yang orang kafir itu masuk dengan perjanjian dan jaminan (pemerintah kaum muslimin).

Mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad. Mereka saling memberi kabar gembira sesama mereka dengan surga, bersenang-senang dengan berbagai kenikmatannya dan bidadarinya.

Sungguh, demi Allah, kita telah melihat, mengetahui, dan mendengar hal seperti itu. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti hal tersebut.

  • Bukankah kita juga melihat beberapa orang yang penampilan lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah ternyata biasa melakukan kesyirikan?

Kita melihat dan mendengar dia berdoa dan beristighatsah kepada para wali dan orang saleh. Dia meminta pertolongan dan dilepaskan dari kesulitan kepada mereka. Dia katakan, “Beri kami jalan keluar, wahai Rasulullah,”

“Lepaskanlah kami dari kesusahan, wahai (Abdul Qadir) al-Jailani,”

“Tolonglah kami, wahai Badawi.”

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya saleh dan istiqamah ternyata tidak beriman terhadap ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, yang salafush shalih dari kalangan generasi terdahulu telah bersepakat atasnya, bahwa Allah k ber-istiwa’ di atas Arsy-Nya di atas langit; lantas ia berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana atau ada di hati para hamba yang beriman?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat orang yang lahiriahnya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata biasa melakukan bid’ah dan kesesatan, saat hari raya, kelahiran, pemakaman, di kuburan, dalam wirid, shalat, haji, dan selainnya?

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

  • Bukankah kita melihat ada orang yang sifat dan penampilannya seperti orang saleh dan istiqamah, ternyata bersimpati kepada partai, kelompok sempalan, organisasi, dan lembaga yang menisbatkan dirinya kepada agama dan Islam?

Padahal telah diketahui para pemimpin, pembesar, dai, dan tokohtokohnya, dikenal pula buku, pemikiran, jalan, metode, dan pengajaran mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akidah, amalan, jalan, dan metode salafush shalih.

Sungguh, demi Allah, kita melihat, mengetahui dan mendengarnya. Sejarah dan realita kita penuh oleh bukti-bukti akan hal tersebut.

Apabila anak-anak lelaki dan perempuan ditimpa kejelekan yang bersumber dari berbagai jenis orang, organisasi, lembaga, pusat dakwah,  kelompok sempalan, partai, dan mazhab tersebut, lantas mereka:

  • melakukan hal yang dilarang,
  • menggabungkan diri kepada sesuatu yang tidak halal,
  • meyakini akidah yang menyelisihi kebenaran,
  • bersikap ghuluw dan keras,
  • memisahkan diri dari tauhid menuju kesyirikan,
  • memisahkan diri dari sunnah menuju bid’ah,
  • memisahkan diri dari persatuan menuju perpecahan dan kesendirian, dari keluarga menuju orang-orang yang serupa dan kolega;

yang pertama kali dan palingberhak dicela dan dikoreksi, dituduh bersikap meremehkan, menganggap enteng urusan, menggampangkan masalah, ditimpa rasa sempit dada, risau, duka, dan sedih, menderita, sakit, serta menyesal, ialah kedua orang tua. Sebab, keduanyalah yang diperintah untuk menjaga dan merawat mereka, bukan orang lain.

Semoga Allah merahmati seorang imam yang mengadakan perbaikan dan tulus memberi nasihat, yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah saat berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (hlm. 337, dan 351—352) ,

“Barang siapa tidak mengajari anaknya, dia tidak akan mendapat manfaat dari anak tersebut. Siapa yang membiarkan anaknya (tidak diajari dan dididik), sungguh telah berbuat hal yang terburuk terhadap anaknya. Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah.”

“Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya akan menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyianyiakanmu saat engkau tua renta’.”

“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, karena tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. “

“Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat.”

“Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tua.”

“Tidak ada sesuatu yang lebih merusak diri anak daripada kelalaian orang tua, pembiaran mereka, dan anggapan enteng mereka terhadap jahatnya api di antara pakaian.”

 

(diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=146943 dengan beberapa penyesuaian)


[1] Orang kafir yang meminta perlindungan kepada kaum muslimin.

[2] Orang kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak muslimin.

Mendidik Anak Perempuan

asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri

 buku-mermud

Tidak ada seorang pun kecuali akan dibangkitkan oleh Allah nanti setelah meninggal dunia. Allah ‘azza wa jalla akan menanyai dan menghisabnya tentang apa yang telah ia lakukan di dunia, baik dalam urusan agama maupun dunia.

Di antara yang akan ditanyakan kepada seorang hamba kelak ialah tentang keluarga dan anak-anaknya. Dia akan ditanya tentang caranya dahulu dia memimpin dan mendidik mereka. Tentang hal inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Seorang lelaki adalah pemimpin terhadap anggota keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dia pun akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari)

Di antara hal yang penting untuk diperhatikan terkait dengan masalah pendidikan anak ialah yang terkait secara khusus dengan tarbiyah anak perempuan. Hal ini karena besarnya urusan mereka, dan begitu jelasnya pengaruh mereka membentuk akhlak dan perilaku masyarakat. Sebab, ketika telah dewasa, seorang anak perempuan akan menjadi istri, ibu, pengajar, dan selainnya. Ini semua adalah peran-peran yang akan menunggu mereka dalam berbagai aspek kehidupan.

Oleh karena itu, apabila anak-anak perempuan itu baik, akan baik pula sekian banyak urusan. Sebaliknya, apabila rusak, akan rusak pula sekian banyak urusan. Apabila melihat Kitabullah, kita akan dapatkan celaan terhadap masyarakat jahiliah terdahulu. Apabila salah seorang dari mereka dikabari tentang kelahiran anak perempuannya, menjadi hitamlah wajahnya sembari menahan amarah. Karena sangat malu terhadap kaumnya, ia pun bersembunyi. Saat itulah, perasaannya berkecamuk, apakah ia akan mengubur bayi perempuannya itu hidup-hidup ataukah akan ia pelihara meski menanggung kehinaan dan kerendahan. Allah ‘azza wa jalla pun mencela perbuatan mereka.

Syiar-syiar jahiliah ini ternyata masih ada pada hati sebagian orang. Terlebih lagi ketika istrinya melahirkan banyak anak perempuan. Padahal istri hanyalah seperti ladang, tergantung benih apa yang ditanam padanya. Sampai-sampai sebagian orang menceraikan istrinya hanya karena melahirkan seorang anak perempuan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahilan dan sikap kaku.

Sesungguhnya, keturunan yang dilahirkan seorang wanita adalah urusan takdir Allah. Urusannya di Tangan Allah. Dia menganugerahkan anak perempuan saja kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia pula yang menganugerahkan anak lelaki saja kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia pula yang memberikan anugerah berupa anak lelaki dan perempuan kepada orang yang Dia kehendaki. Allah ‘azza wa jalla pula yang menguji sebagaian yang lain dengan menjadikan mereka mandul, tidak memiliki keturunan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.” (asy-Syura: 49—50)

Perhatikanlah, Allah mendahulukan penyebutan anak perempuan sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menganggap hina, remeh, bahkan menganggap mereka tidak berharga sedikit pun. Karena itu, hendaknya Anda rela dengan bagian yang Allah berikan kepada Anda. Sebab, Anda tidak mengetahui, di mana letak kebaikan untuk Anda.

Betapa banyak ayah yang gembira saat diberitahu tentang lahirnya anak lelakinya. Akan tetapi, anak tersebut justru menjadi kecelakaan baginya, sebab kesusahan hidupnya, dan sebab kesedihan serta kegundahgulanaan yang berkepanjangan.

Betapa banyak pula ayah yang murka ketika diberitahu tentang kelahiran anak perempuannya padahal dia mengharapkan kehadiran anak lelaki. Akan tetapi, ternyata anak perempuannya tersebut menjadi tangan yang penuh kasih sayang dan membantu mengatur urusan rumah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُكْرِهُوا الْبَنَاتِ فَإِنَّهُنَّ الْمُؤْنِسَاتُ الْغَالِيَاتُ

“Janganlah engkau membenci anak-anak perempuan. Sesungguhnya mereka adalah sumber kegembiraan yang mahal.” (HR. Ahmad no. 16922 dari Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu)

Dari sini kita mengetahui bahwa penyejuk mata yang sejati bukanlah ketika anak yang lahir itu lelaki atau perempuan. Penyejuk hati yang sejati akan terwujud ketika mereka menjadi keturunan yang saleh dan baik, lelaki ataupun perempuan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan sifat para hamba ar-Rahman,

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Jadi, ketika Allah ‘azza wa jalla memberikan rezeki kepada kita berupa anak perempuan, berbuat baiklah dengan mendidik, menafkahi, dan bergaul dengan mereka. Lakukanlah semua itu karena mengharap pahala dari Allah ‘azza wa jalla. Tahukah Anda, pahala apa yang ada di sisi Allah apabila Anda melakukan semua itu?

Jika Anda melakukannya, Anda akan bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat. Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَن عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبلُغَا جَاءَ يَومَ القِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barang siapa merawat dua anak perempuan hingga balig, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan seperti ini.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

مَنِ ابتُلِيَ مِن هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيءٍ فَأَحسَنَ إِلَيهِنَّ كُنَّ سِ ر تًا لَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lantas dia berbuat baik kepada mereka, niscara mereka akan menjadi penghalang dirinya dari api neraka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berbuat baik kepada mereka bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Di antaranya,

  1. Memilihkan ibu yang baik bagi mereka. Ini adalah perbuatan baik yang pertama kali dilakukan terhadap anak keturunan. Sebab, kesalehan seorang ibu akan menjadi sebab kesalehan anak-anaknya. Betapa banyak anak yang dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla dengan sebab kesalehan orang tuanya.
  2. Memilihkan nama yang baik.
  3. Memenuhi kebutuhan fisik anak, baik dalam bentuk makanan, pakaian, dan obat-obatan.

Semua hal yang mengantarkan kepada tujuan di atas merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga.

Suatu saat, seorang wanita bersama dua anak perempuannya masuk menemui Aisyah radhiallahu ‘anha. Wanita tersebut fakir dan tidak memiliki apa-apa. Kata Aisyah radhiallahu ‘anha, wanita tersebut meminta sesuatu kepada beliau. Namun, beliau radhiallahu ‘anha tidak memiliki apa-apa selain sebutir kurma. Beliau radhiallahu ‘anha pun memberikan sebutir kurma tersebut kepada si wanita. Wanita itu mengambilnya lalu membaginya untuk kedua anak perempuannya. Dia sendiri sama sekali tidak memakan kurma itu. Setelah itu, wanita itu pun bangkit dan keluar bersama kedua anak perempuannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian masuk ke rumah Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha lantas menceritakan kisah wanita tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ قَد أَوجَبَ لها بِهَا الَجنَّةَ أَو أَعتَقَهَا بِهَا مِن النَّارِ

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan surga untuk wanita tersebut—atau memerdekakannya dari api neraka.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Sudah sepantasnya anak perempuan dimuliakan, dikasihi, dan disayangi.

Dahulu, apabila Fathimah radhiallahu ‘anha masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَرحَبًا بِابْنَت

“Selamat datang, anak perempuanku.”

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat sambil menggendong cucu perempuannya , Umamah anak perempuan Zainab radhiallahu ‘anha, anak perempuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila rukuk, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkannya. Ketika berdiri, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendongnya kembali.

  1. Semakin besar, anak perempuan butuh semakin dihargai dan dihormati.

Apabila Anda penuhi kebutuhan ini dan dia merasa bahwa dirinya dihargai dan memiliki kedudukan dalam rumah kedua orang tuanya, hal ini akan melahirkan kemantapan jiwa, ketenangan, dan keistiqamahan keadaan dirinya.

Sebaliknya, ketika dia melihat dirinya direndahkan dan tidak diurusi, tidak diajak berkomunikasi selain dengan kalimat perintah dan larangan, tuntutan, dan melayani, hal ini akan mewariskan rasa benci terhadap rumah dan keluarganya.

Bisa jadi, setan membisikkan waswas kepadanya sehingga dia berusaha mencari kasih sayang dan keramahan yang tidak dia dapatkan di rumahnya, dengan cara dan sarana yang diharamkan. Hal ini akan mengantarkan dirinya ke dalam kebinasaan. Jika sudah demikian, hanya Allah ‘azza wa jalla yang yang tahu di mana dia berada.

Oleh karena itu, Anda wajib mentarbiyah anak-anak perempuan Anda secara islami dan melakukannya sejak tingkatan umur yang terendah. Mereka dididik untuk meminta izin, adab makan dan minum, berpakaian, dituntun membaca al-Qur’an dan zikir yang mudah bagi mereka. Mereka diajari wudhu dan shalat. Mereka diperintah menunaikan shalat ketika sudah berumur tujuh tahun. Setelah berusia sepuluh tahun, mereka diharuskan menunaikannya. Sebab, apabila tumbuh di atas kebaikan, dia akan terbiasa, mencintai, dan selalu melakukannya.

Termasuk urusan terpenting yang tidak boleh dilupakan terkait dengan anak-anak perempuan adalah segera menikahkannya ketika sudah dewasa; saat datang seorang lelaki yang diridhai agama, amanah, dan akhlaknya, sementara anak perempuan kita pun ridha terhadapnya. Sebab, menunda pernikahannya akan sangat merusak.

Menunda pernikahan seorang anak perempuan termasuk sebab terbesar yang memalingkan dirinya dari jalan yang lurus. Terlebih lagi di masa ini, godaan dan ujian banyak sekali.

Wali hendaknya meringankan urusan pernikahan anak perempuannya, dalam hal mahar dan tuntutan lainnya. Sebab, hal ini akan mendorong pemuda untuk menikahinya. Hal ini juga akan membuat para saudarinya setelahnya mudah mendapatkan suami.

Ketika anak perempuan sudah menikah, usahakan untuk selalu menjaga hubungan dengannya, mencari tahu berbagai kebutuhan hidupnya, dan membantunya menyelesaikan beragam problem yang dihadapinya. Usahakan selalu untuk menyertainya dalam kegembiraan dan kesedihannya.

Akan tetapi, keluarga besar—terutama ibu—hendaknya menghindari turut campur secara langsung dalam kehidupannya. Sebab, terlalu banyak mencampuri urusannya—padahal tidak diperlukan—sering kali mengganggu kehidupan rumah tangganya.

Suami hendaknya bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam hal pergaulannya dengan istrinya. Ia telah meninggalkan rumah dan keluarganya, meninggalkan kemuliaan yang ada dalam rumahnya. Sekarang dia berada di bawah kekuasaan suami dan tanggung jawabnya.

Karena itu, suami hendaknya beramar ma’ruf dan nahi mungkar terhadap istrinya, bergaul dengannya secara baik, menemaninya dengan baik pula. Suami tidak boleh menzalimi dan merendahkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاستَوصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِندَكُمْ

“Berwasiatlah kepada perempuan dengan kebaikan karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian.” (HR. at-Tirmidzi)

خَيْرُكُم خَيْرُكُم لِأَهْلِهِ

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang terbaik terhadap keluarga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Waspadalah dalam hal berbuat adil terhadap para istri. Apabila seseorang diberi rezeki dua orang istri atau lebih, dia wajib berbuat adil dalam hal pembagian (bermalam) dan nafkah yang mereka butuhkan. Barang siapa menyelisihi syariat dalam hal pembagian (bermalam) dan keadilan, sungguh dia telah melakukan dosa besar.

Ada suami yang tidak melihat dan mengajak berbicara dengan istrinya kecuali ketika hari gilirannya saja. Ini termasuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Hendaknya suami senantiasa menyambung hubungan dengan istrinya dengan menelepon, mengunjungi, dan memeriksa keadaannya. Sebab, sang istri telah relakan dirinya menjadi yang kedua, ketiga, atau keempat.

Maka dari itu, janganlah Anda membuat istri Anda sendirian dan bersedih di rumahnya ketika selain hari gilirannya; tidak pernah ditanyai, diperiksa keadaannya, dan tidak dijaga. Sang istri dipermainkan oleh waswas, kesedihan, dan penyesalan. Padahal berbagai fitnah dan pintu kejelekan mengepungnya.

Karena itu, wahai para suami, bertakwalah kepada Allah dalam hal istri-istri kalian. Anda akan diminta pertanggungjawaban dan akan dihisab tentang urusan mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَومَ القِيَامَةِ وَشِقُهُ مَائِلٌ

“Barang siapa memiliki dua orang istri lantas ia condong kepada salah satunya, dia akan datang ada hari kiamat dalam keadaan tubuhnya condong ke samping.”

Tidak samar lagi bahwa kita hidup pada masa yang banyak kejelekan. Berbagai sarana menuju kerusakan dan kesesatan tersedia sedemikian rupa. Belum pernah hal ini ada pada masa dahulu. Tentu hal ini lebih mendorong kita untuk menunaikan tanggung jawab. Kita wajib melipatgandakan upaya dalam hal mendidik, membimbing, menasihati, dan menempuh sebab-sebab keselamatan.

Secara ringkas, di antara faktor perlindungan dan kebaikan anak perempuan adalah:

  1. Keistiqamahan dan kesalehan ayah dan ibu.
  2. Berdoa kepada Allah, karena doa memiliki pengaruh yang besar.
  3. Mengajari dan mendikte anak-anak dengan doa yang bermanfaat.
  4. Senantiasa menasihati dan memberi peringatan kepada mereka, dengan metode yang tepat, baik secara langsung maupun dengan isyarat, sesuai dengan keadaan.
  5. Terkhusus bagi ibu, hendaknya mengarahkan mereka untuk memilih teman yang baik.

Sebab, pertemanan memiliki pengaruh besar dalam hal perilaku, pemikiran, dan sebagainya.

  1. Menjauhkan rumah dari segala sarana yang merusak dan menghancurkan anak, seperti TV satelit dan situs-situs internet.

Hal-hal ini lebih besar kerusakannya daripada sisi positifnya. Betapa banyak hal mulia yang tersia-siakan akibat sarana ini. Betapa banyak pula kehormatan yang ternodai gara-gara hal tersebut. Jalan keselamatan hanyalah dengan menjauh darinya.

Apabila ada sarana ini di rumah, hendaknya kepala keluarga benar-benar menjaganya agar sarana tersebut tidak dibuka secara mutlak bagi anggota keluarganya. Jangan sampai anggota keluarganya mengikuti (saluran) sekehendak mereka. Jangan sampai mereka bisa membuka situs-situs kapan pun mereka inginkan. Sebab, hal ini akan sangat membahayakan anggota keluarganya.

Demikian pula yang terkait dengan HP, sungguh HP yang ada sekarang ini bukan sekadar sarana telepon. Karena itu, berilah peringatan dan awasilah mereka. Janganlah Anda lalai menjaga anak keturunan Anda.

Ya Allah, perbaikilah untuk kami anak keturunan kami. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbagai ujian dan cobaan, yang tampak maupun tidak.

 

(diterjemahkan dengan penyesuaian dari khotbah Jum’at yang disampaikan oleh asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri, 11 Jumadal Akhirah 1435 H/ 11 April 2014 M)

Mempersiapkan Masa Depan Anak

Orang tua memang harus memiliki kesadaran bahwa melalui tangannyalah masa depan anak-anak akan terbentuk. Bagaimana kondisi generasi harapan itu, tergantung upaya dan arahan yang sekarang dikerahkan. Karena itulah, kita harus memiliki perhatian dan upaya penuh untuk membekali anak-anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat untuk mereka, di dunia dan di akhirat. Inilah bimbingan yang sarat faedah bagi kita, dari Fadhilatusy Syaikh Dr. Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah.

cahaya

Salah satu hal penting yang bermanfaat bagi agama dan dunia seorang anak adalah penanaman keyakinan yang lurus dalam diri mereka. Diiringi dorongan untuk berbuat baik dan bergaul dengan orang-orang yang baik, serta memperingatkan mereka dari perbuatan dan pergaulan yang buruk. Di samping itu, membiasakan mereka untuk menegakkan shalat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam memerintahkannya. Kami tidaklah meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberimu rezeki. Dan kesudahan baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Bersabda pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الَمضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk menegakkan shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika mencapai usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud, menjelaskan, “Dalam hadits ini, terkandung tiga macam pendidikan adab: memerintahkan anak-anak untuk menegakkan shalat, memukul mereka jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun, dan memisahkan tempat tidur mereka.”

Pada tempat yang lain, beliau menerangkan pula, “Seorang anak walaupun belum mukallaf, namun walinya adalah seorang mukallaf. Seorang wali tidak boleh membiarkan anaknya melakukan sesuatu yang haram. Sebab, dia nanti akan terbiasa dan amat sulit memisahkannya dari perbuatan itu. Ini pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat ulama.

Orang yang berpendapat anak-anak tidak haram melakukan perbuatan haram beralasan bahwa mereka itu belum mukallaf sehingga belum diharamkan bagi mereka (anak laki-laki) mengenakan pakaian sutra misalnya, sebagaimana halnya hewan boleh melakukan sesuatu yang haram.

Ini adalah kias yang paling rusak! Seorang anak—walaupun belum mukallaf— dia dipersiapkan untuk menerima beban syariat. Oleh karena itu, tidak boleh ia dibiarkan shalat tanpa wudhu, shalat tanpa menutup aurat dan dalam keadaan bernajis, tidak boleh pula minum khamr, berjudi, dan berbuat homoseks.”

Selanjutnya, beliau menjelaskan pula, “Tatkala anak telah berumur sepuluh tahun, kekuatan, akal, dan kemampuannya untuk menunaikan berbagai ibadah semakin bertambah. Karena itu, pada usia ini dia harus dipukul jika meninggalkan shalat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pukulan ini adalah pukulan untuk mendidik dan melatih si anak.

Pada usia sepuluh tahun ini, anak-anak juga memiliki kondisi lain, yaitu kemampuannya untuk membedakan yang benar dan yang salah (tamyiz) ataupun kemampuan pemahamannya telah semakin kuat. Oleh karena itu, kebanyakan fuqaha berpendapat wajibnya anak yang seperti ini untuk beriman dan dihukum jika enggan untuk beriman. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Abul Khaththab danyang lainnya. Ini adalah pendapat yang sangat kuat. Walaupun anak ini belum dicatat amalannya dalam perkara-perkara cabang (selain perkara keimanan, -pen.), sesungguhnya dia telah dianugerahi alat untuk mengenali Sang Pencipta, mengakui keesaan-Nya, membenarkan rasul-rasul-Nya, dan mampu memahami hal semisal ini serta mengambil kesimpulan darinya. Dia juga telah mampu memahami berbagai pengetahuan, pekerjaan, dan segala sesuatu yang baik dalam kehidupan dunianya. Karena itulah, tidak ada lagi uzur baginya jika dia kufur kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sedangkan dalil-dalil tentang keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla ini lebih jelas daripada setiap pengetahuan dan bidang kerja yang dia pelajari.”

Berpijak dengan hal ini, maka keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla wajib ditanamkan dalam hati anak. Keimanan ini adalah suatu hal yang paling baik, paling sempurna, dan paling agung pahalanya di sisi Allah ‘azza wa jalla dari segala hal yang ditanamkan oleh ayah dan ibu dalam hati si anak. Keimanan ini menjadi pembuka bagi segala kebaikan, fondasi segala ketaatan dan kebaktian, serta prinsip paling pokok agar dapat beristiqamah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah memberikan penerangan kepada Ibnu ‘Abbas kecil yang kala itu sedangmembonceng di belakang beliau,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

“Nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Allah ada di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jikalau seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, sungguh mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Jika mereka semua berkumpul untuk membahayakanmu, sungguh mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran (catatan takdir).”

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menjelaskan hadits ini, “Barang siapa menjaga Allah ‘azza wa jalla ketika masa kecil dan di saat kuatnya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan menjaganya di masa tua dan di saat lemah kekuatannya, dan Allah ‘azza wa jalla akan menganugerahinya pendengaran, penglihatan, kemampuan, kekuatan, dan akalnya.”

Memenuhi hati dengan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, mewujudkan tauhid kepada- Nya, dan menanamkan itu semua dalam hati anak merupakan salah satu bentuk pengagungan kepada Allah ‘azza wa jalla dalam jiwa mereka, dan bimbingan terhadap mereka untuk menuju kebaikan.  Dalam hal ini, terkandung manfaat bagi seluruh hamba, baik dia seorang ayah maupun seorang anak, di dunia dan di akhirat.

Kemudian, ketika si anak telah mencapai usia baligh, dia diajari perkara agama yang penting. Anak mulai diajari perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban agamanya, karena kini dia telah mukallaf. Dia diajari perkara mandi dan semisalnya, diajari berhijab jika dia seorang wanita.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Mayoritas kerusakan anak justru disebabkan oleh orang tua dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Anak tidak diajari kewajiban ataupun sunnah dalam agama. Mereka sia-siakan si anak semasa kecilnya, sehingga tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang tuanya di saat orang tuanya telah renta. Ada orang tua yang mencelai anaknya karena kedurhakaannya. Si anak pun menukas, ‘Wahai, Ayah! Dahulu engkau berbuat durhaka padaku sewaktu aku masih kecil, maka sekarang aku mendurhakaimu saat engkau telah tua!’.”

Ringkasnya, pada tahapan ini, orang tua wajib mengajari anak-anaknya segala sesuatu yang harus dimengerti oleh seorang mukallaf, yaitu perkara syar’i yang seorang muslim tidak boleh tidak mengetahuinya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari kitab Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat, karya Fadhilatusy Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 33—36 dan 42)

Membantu Anak Menghadapi Masalah

Sebagai orang tua, terkadang kita bertanya-tanya ketika anak kita tiba-tiba melakukan sebuah tindakan menyimpang, apa sebabnya? Ketika anak yang memasuki usia remaja mengalami problem, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Berikut ini pemaparan asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah tentang hak anak dalam masalah tersebut. Kami bawakan dari kitab beliau, Huquq al-Aulad ‘alal Aba wal Ummahat.

Bright-mixed-colors-bright-colors

Memerhatikan Kebutuhan Anak dan Duduk Bersama Mereka untuk Menyelesaikan Problem yang Mereka Hadapi

Tidak diragukan lagi, di antara sifat seorang manusia—terkhusus anak-anak kita, yang lelaki dan perempuan—adalah selalu menghadapi masalah dan kesulitan hidup. Apalagi jika mereka sudah beranjak dewasa. Perhatian yang mereka dapatkan tidak lagi sebagaimana ketika masih pada fase kanak-kanak.

Benar bahwa mereka memiliki hak-hak yang bahkan harus sudah ditunaikan oleh orang tua sejak sebelum dilahirkan ke dunia, ketika masih berada dalam perut sang ibu, ketika menjadi bayi yang menyusu, memasuki masa kanak-kanak, fase setelahnya, kemudian memasuki masa remaja dan pemuda, lalu masa dewasa. Pada setiap fase tersebut, mereka memiliki hak yang harus dipenuhi. Hak itu pun tidak lantas berhenti ditunaikan ketika mereka memasuki fase berikutnya. Setiap fase memiliki hal-hal spesifik yang terkait dengannya. Selain itu, setiap fase juga memiliki penanganan dan metode tersendiri.

Penumbuhan yang baik sejak kecil akan bermanfaat bagi seseorang ketika dewasa. Barang siapa yang melalaikan sisi ini—yakni tarbiyah anak semasa kecil—, perilaku anak menjadi jelek ketika dewasa. Jelek pula sikapnya terhadap ayah ibunya, dan akan muncul sejenis pembangkangan. Bisa jadi, saat itu orang tua akan bertanya-tanya, apa sebabnya? Padahal, sebabnya bisa jadi terletak pada diri orang tua: mereka melalaikan tarbiyah anaknya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud biAhkamil Maulud, hlm. 351)

Oleh karena itu, saya (asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, -pent.) katakan, di antara hak anak yang wajib ditunaikan oleh ayah dan ibunya ialah memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak, mencari solusinya dengan akal yang bagus dan mencermatinya dengan hikmah yang sempurna.

Sebagian masalah perlu diperketat, sebagian lain perlu dibiarkan, sesuai dengan kadar masalah dan kesulitan yang dihadapi. Bisa jadi, sebenarnya tidak ada masalah, tetapi bagi si remaja hal itu menjadi urusan mengkhawatirkan yang perlu dimusyawarahkan. Dan orang terbaik yang bisa dia ajak bermusyawarah ialah kedua orang tua.

Apabila hubungan dengan orang tua telah terjalin dengan baik dan “jembatan” telah terbentang, di atas rasa percaya penuh kepada Allah ‘azza wa jalla dan kejujuran kepada-Nya ketika mendidik anak dengan baik, tentu hal ini akan sangat meringankan masalah yang dihadapi oleh anak dan membantu dirinya untuk melaluinya—dengan izin Allah. Berbeda halnya jika ternyata ada dinding penghalang dan penolakan, tentu orang tua tidak bisa ikut menyelesaikan masalah seperti itu.

Walhasil, pada masa kita ini banyak sekali hal-hal yang memalingkan dari kebenaran. Demikian pula hal-hal yang menyibukkan, lebih banyak. Hal-hal yang melalaikan pun sangat banyak. Anak-anak kita—yang lelaki dan perempuan—membutuhkan bantuan dan perhatian penuh. Mereka perlu dibiasakan merasa takut, berharap, cinta kepada Allah ‘azza wa jalla, memasrahkan diri di hadapan-Nya, dan menanamkan hal itu dalam jiwa mereka. Semua ini adalah hal penting yang wajib ditanamkan kepada anak-anak.

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah beberapa hari dan malam yang akan terhenti. Barang siapa mempersiapkan kebaikan, dia pun akan mendapat kebaikan. Sebaliknya, siapa yang mempersiapkan keburukan, dia pun akan mendapatkan keburukan. Hendaknya seseorang tidak mencela selain dirinya sendiri.

Apabila dia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘azza wa jalla, sungguh dia telah terbebas dari beban yang menjadi tanggung jawabnya. Allah tidak membebani sebuah jiwa selain apa yang telah Dia berikan kepadanya.

 

Menyibukkan Waktu Luang Mereka dengan Hal yang Bermanfaat

Tidak tersembunyi bagi orang yang berakal dan cerdik tentang pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. AlImam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu akan memutus Anda dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutus Anda dari dunia dan penghuninya.” (al-Fawaid hlm. 33)

Oleh karena itu, apabila tidak diisi dengan hal yang bermanfaat, waktu akan terisi dengan hal-hal yang berbahaya dan buruk. Kita memohon perlindungan kepada Allah. Orang yang memerhatikan perjalanan hidup para salaf—semoga Allah meridhai mereka dan membuat mereka ridha—akan mendapati bahwa mereka tidak menyia-nyiakan waktu atau hari mereka dengan sesuatu yang berbahaya atau buruk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia teperdaya padanya, kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku pernah mendapati beberapa kaum, yang semuanya sangat pelit terhadap umur mereka daripada dirham mereka.” (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 14/225)

Al-‘Allamah Muhammad bin Abdil Baqi as-Sulami rahimahullah, “Aku tidak pernah mengetahui bahwa aku menyia-nyiakan sepotong waktu dari umurku dalam hal yang sia-sia dan main-main.” (Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 20/26; al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 3/467)

Disebutkan dalam biografi Abdul Wahhab bin Abdil Wahhab bin al-Amin dalam Ma’rifat al-Qurra’ al-Kibar (2/283) karya adz-Dzahabi bahwa seluruh waktunya terjaga. Tidak berlalu sesaat pun kecuali beliau dalam keadaan membaca, berzikir, tahajud, atau tasmi’ (memperdengarkan hafalan al-Qur’an).

Dahulu, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang ulama bahasa Arab yang masyhur mengatakan, “Waktu yang paling berat aku lalui ialah waktu untuk makan.” (al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi, Abu Hilal al-‘Askari hlm. 87)

Intinya, hendaknya waktu sang anak diisi dengan hal yang bermanfaat yang faedahnya akan kembali kepada kebaikan diri mereka di dunia dan di akhirat; berupa ilmu yang bermanfaat dan mengajari mereka urusan yang agama dan akhirat.

Tidak mengapa orang tua memberi waktu khusus dan mengaturnya. Dia bisa membuat waktu-waktu—atau bisa Anda sebut jadwal—yang mengatur kegiatan mereka: kegiatan yang terkait dengan ilmu (baca: belajar), hiburan, wawasan, makan, dan seterusnya. Kegiatan-kegiatan yang mengisi waktu mereka akan bermanfaat bagi mereka, mereka pun bisa bermanfaat kelak bagi masyarakatnya. Mereka bisa menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat ini.

Demikian pula, berbagai metode yang beragam bisa dipakai untuk mengisi waktu anak dengan hal yang bermanfaat.

Apabila kita memandang sebagian anak kita yang pikirannya menyeleweng, baik pikiran syahwat dan kebebasan maupun pikiran syubhat dan penyimpangan (dalam hal agama), kita dapati sebab terbesarnya ialah tidak adanya perhatian keluarga dari kedua orang tua dan tidak ditunaikannya hak-hak anak.

Penjelasannya mudah. Sebabnya ialah tidak adanya kesibukan untuk mengisi waktu mereka dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Atau bisa jadi, justru orang tualah yang berada dalam penyimpangan sehingga anak-anak tumbuh sebagaimana keadaan orang tuanya.

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا

 عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ            

Pemuda yang baru tumbuh di antara kami

               Tumbuh di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya

Karena teladan yang baik tidak ada, dia pun menyimpang, baik ke arah syahwat maupun syubhat. Karena itu, kita dapati sebagian ahli bid’ah mencuri waktu luang para penuntut ilmu dan pemuda di antara anak-anak kita, lalu dia mengumpulkan dan memalingkan mereka dari jalan yang lurus. Ini terjadi ketika kedua orang tua tidak menemukan atau tidak mengetahui metode untuk mengisi waktu anak-anak mereka.

Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia dapati anaknya menentangnya dan mendurhakainya dari sisi yang lain. Anaknya, misalnya, terpengaruh oleh pemikiran dari luar yang menyimpang dan sesat atau satu bentuk penyimpangan dalam hal akidah dan manhaj. Bisa jadi pula, si remaja menyimpang dalam hal perilaku (akhlak).

Ketika itu, sang ayah pun menjerit. Akan tetapi, (sudah terlambat), itu bukan saatnya menyesal! Jeritan ini tidak lagi bermanfaat. Tidak pula ratapan ini (bermanfaat) setelah lewat waktunya! Bisa jadi, sebabnya ada pada kedua orang tua, yaitu mereka berdua memang menyimpang. Atau bisa jadi pula tidak seperti itu, yaitu hal itu memang semata-mata ujian, namun keduanya tidak menyempatkan diri untuk berdoa secara sembunyi-sembunyi dan tidak jujur mengembalikan urusan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 351)

Beliau mengatakan pula, “Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah. Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Sebagaimana ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Maka, sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyia-nyiakanmu saat engkau tua renta’.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 337)

Oleh karena itu, teladan yang baik adalah sangat penting dalam hal mendidik anak. Hal ini wajib diperhatikan oleh orang tua. Orang tua hendaknya selalu berhias dengan akhlak yang baik dan perilaku yang lurus. Seseorang tidak boleh menyuruh anak lelaki atau perempuannya melakukan sesuatu sementara ia sendiri meremehkannya. Hal ini diketahui secara teori dan akal.

وَغَيرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ باِلتُّقَى

طَبِيْبٌ يُدَاوِي وَالطَّبِيبُ عَلِيلُ             

Orang yang tidak bertakwa menyuruh manusia untuk bertakwa

       (layaknya) dokter yang mengobati, namun dia sendiri berpenyakit

Hal ini tidak mungkin. Sebab, anak-anak memiliki tabiat meniru orang tua, baik dia ingin maupun tidak. Karena itu, kita dapati bahwa penyimpangan terkadang disebabkan (pergaulan) di rumah. Si pemuda atau pemudi melihat ayah atau ibunya melakukan sesuatu, maka dia menyerapnya, baik dia tahu maupun tidak, sadar maupun tidak. Setelah itu, dia meniru perkara yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut.

Jadi, perhatian terhadap hal ini (teladan yang baik) sangat besar pengaruhnya. Teladan yang baik merupakan suatu hal yang dituntut dan dianjurkan oleh agama kita. Agama kita memosisikan keteladanan yang baik sebagai sebab kebahagiaan bagi yang menginginkan keselamatan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Jadi, barang siapa menginginkan keselamatan bagi anak-anaknya, hendaknya dia menjadi teladan yang baik, mengadakan perbaikan, lurus, menegakkan perintah Allah ‘azza wa jalla, tidak melanggar batasan-batasan Allah dan melampauinya.

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.” (al-Baqarah: 229)

“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (al-Baqarah: 187)

“Dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri.” (ath-Thalaq: 1)

Ringkasnya, pendidikan anak adalah urusan yang penting, agung, besar, dan berat. Akan tetapi, hal itu menjadi mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Karena itu, sepantasnya seorang hamba berdoa kepada Allah di awal dan di akhir, serta memohon pertolongan kepada-Nya agar memberinya petunjuk ke jalan yang lurus, memberinya karunia berupa keturunan yang baik, dan memperbaiki keadaan dirinya dan semuanya, sekarang dan masa yang akan datang.

Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memberikan karunia kepada kita dan Anda berupa keturunan yang baik, memberi manfaat, dan mengadakan perbaikan. Sesungguhnya Dia Maha Memberi dan Mahadermawan.

(diterjemahkan dari Huququl Aulad ‘alal Aba wal Ummahat, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 44—50)

Sebuah Asa dari Rasul Pertama

Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran

Harapan akan anak yang saleh—yang baik dan selamat dunia akhirat—bukan semata-mata milik kita. Harapan ini bahkan dimiliki oleh para nabi dan rasul yang menjadi teladan kita. Ini menunjukkan bahwa harapan seperti ini adalah harapan yang mulia. Inilah yang kita lihat dalam diri Rasul yang pertama, Nuh ‘alaihissalam.

 Hope

Rentang waktu perjalanan dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam bukanlah waktu yang pendek. Sembilan ratus lima puluh tahun beliau menyeru umat dengan berbagai cara, disertai kesabaran dan ketelatenan, untuk meninggalkan kehinaan paganisme, kembali mulia dengan berpegang teguh kepada tauhidullah. Termasuk pula keluarga beliau yang menjadi sasaran dakwah mulia ini. Akan tetapi, tidak ada yang menerima dakwah beliau selain sedikit.

Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau bahwa kaumnya yang mendustakan beliau itu akan dibinasakan. Diperintahkanlah Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk membuat sebuah bahtera guna menyelamatkan orangorang yang berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Beliau pun melaksanakan perintah itu dengan penuh ketundukan dan ketaatan, di tengah-tengah gencarnya olokan, hinaan, cercaan, dan seluruh bentuk pendustaan kaumnya yang durhaka.

Allah ‘azza wa jalla mengabadikan kisah kebinasaan kaum Nuh—termasuk anak beliau sendiri—dalam Kitab-Nya yang mulia,

“Hingga apabila perintah Kami datang dan permukaan bumi telah memancarkan air, Kami berfirman, ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang, dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya, dan muatkanlah pula orang-orang yang beriman’. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Hud: 40—41)

Berlayarlah bahtera itu mengarungi air bah yang bakal membinasakan orang-orang yang kafir dengan izin Allah. Di tengah terpaan gelombang air bah yang laksana gunung itu, Nabi Nuh ‘alaihissalam melihat anaknya, darah dagingnya, berada di tempat yang jauh dan terpencil, berusaha menyelamatkan diri dari kebinasaan. Nabi Nuh ‘alaihissalam mengetahui, pada hari itu tidak akan ada orang kafir yang selamat dari azab dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Begitu pula anak beliau ini. Masih tebersit asa dalam hati Nabi Nuh ‘alaihissalam agar anaknya selamat dari kemurkaan Rabbul ‘alamin yang menimpa orangorang kafir. Beliau memanggil dan menyeru anaknya agar mau mendekat dan turut ke dalam bahtera.

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku! Naiklah bersama kami, dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir!’.” (Hud: 42)

Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ternyata anak yang diseru dengan penuh kesabaran ini memilih sebagaimana pilihan kaum yang ingkar. Masih dengan kesombongannya, dia tetap mendustakan seruan sang ayah. Allah ‘azza wa jalla menetapkan anak Nabi yang mulia ini termasuk orang yang celaka.

Dengan pongah dia katakan, dia akan mendaki gunung yang bisa melindunginya dari amukan gelombang pasang yang dahsyat melanda.

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” (Hud: 43)

Nabi Nuh ‘alaihissalam masih belum berhenti menyadarkan anaknya yang durhaka ini. Beliau ingatkan, tak ada satu pun—baik gunung maupun selainnya—yang dapat menyelamatkan apabila Allah ‘azza wa jalla telah murka, walaupun segala upaya yang mungkin telah dia lakukan. Dirinya tidak akan selamat jika Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkannya.

Nuh berkata, “Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah, kecuali orang yang dirahmati-Nya.” (Hud: 43)

Namun, ketetapan Allah ‘azza wa jalla tetaplah berlaku.

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang- orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 43)

Menyaksikan anaknya ditelan gelombang air bah, Nabi Nuh ‘alaihissalam merasa sedih. Didorong oleh rasa sayang kepada sang anak, Nabi Nuh ‘alaihissalam memohon kepada Allah ‘azza wa jalla apa yang telah Dia janjikan ketika memerintahkan agar Nabi Nuh ‘alaihissalam mengangkut dalam bahteranya setiap binatang sepasang, serta keluarga beliau. Allah ‘azza wa jalla menjanjikan akan menyelamatkan keluarga beliau.

Dan Nuh menyeru Rabbnya sembari berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadiladilnya.” (Hud: 45)

Nabi Nuh ‘alaihissalam menyangka, janji itu berlaku untuk seluruh keluarga beliau. Karena itulah, beliau berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan permohonan seperti itu. Namun, di sisi lain, Nabi Nuh ‘alaihissalam tetap mengembalikan urusan ini sepenuhnya kepada hikmah Allah ‘azza wa jalla yang Mahasempurna. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menerangkan bahwa anak Nabi Nuh termasuk orang-orang yang ingkar, enggan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sehingga tidak layak untuk diselamatkan. Allah ‘azza wa jalla menegur Nabi Nuh ‘alaihissalam pula agar tidak memohon kepada-Nya sesuatu yang tidak beliau ketahui kesudahannya, apakah kebaikan atau keburukan.

Allah berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Karena itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (kesudahan)nya. Sesungguhnya Aku memberikan peringatan kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (Hud: 46)

Nabi Nuh ‘alaihissalam amat menyesali perbuatannya itu. Beliau pun memohon ampun kepada Rabbnya.

Nuh berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (kesudahan)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan kepadaku, serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)

Kisah kesabaran beliau yang diabadikan di dalam al-Qur’an ini membuahkan sebuah keteladanan betapa beliau sangat bersemangat memberikan bimbingan dan arahan kepada anaknya. Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.

 

Sumber Bacaan:

Al-Huda an-Nabawi fi Tarbiyatil Aulad, asy-Syaikh Dr. Sa ’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 6—7

Pentingnya Pendidikan Anak

Di antara hak seorang anak yang wajib ditunaikan oleh orang tua adalah mendapatkan pengajaran akhlak mulia dan diperingatkan dari akhlak yang buruk. Hal ini termasuk ilmu yang bermanfaat.

malankota

Akhlak memiliki kedudukan yang tinggi dalam syariat Islam yang suci. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengisahkan ucapan Luqman kepada anaknya,

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 17—19)

Jadi, di antara bentuk perbuatan baik kepada anak adalah mendidik mereka dengan tarbiyah yang baik lagi bermanfaat, berupa ilmu terbaik yang dipelajari oleh anak, lelaki atau perempuan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Al-Hafizh asy-Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir[1] berkata ketika menerangkan ayat ini, “Abdur Razzaq, al-Firyabi, Said bin Manshur, Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, dan al-Hakim meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dan dinyatakan sahih oleh al-Hakim, tentang makna firman Allah,

قُواْ أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيكُمْ نَارًا

Beliau radhiallahu ‘anhu mengatakan, ‘Ajarkanlah kebaikan kepada diri dan keluarga kalian, serta berilah pendidikan adab.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Wahai engkau, perbaiki adab anakmu, karena kelak engkau akan ditanya tentang hal ini. Adapun anakmu, ia akan ditanya tentang sikap berbaktinya kepadamu.”[2]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata menafsirkan ayat at-Tahrim di atas, “Didiklah adab mereka dan ajarilah mereka.”[3]

Di antara hal yang tidak diragukan lagi ialah apabila menanam kebaikan, Anda akan mendapati kebaikan pula. Sebaliknya, apabila menanam keburukan, Anda pun akan menuai keburukan. Ini sesuatu yang pasti. Maka dari itu, tarbiyah yang buruk akan menimbulkan efek yang merusak terhadap anak, terhadap orang tua, bahkan terhadap masyarakat secara keseluruhan.

Sebagaimana halnya Anda akan ditanya tentang tarbiyahnya, anak juga akan ditanya tentang sikap berbaktinya kepada Anda. Jadi, mengajari anak lelaki dan perempuan dengan berbagai akhlak yang baik ini: menjaga kehormatan, jujur, berbakti, menjaga lisan, menjaga waktu, menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, dengan izin Allah akan menjauhkan anak dari terjerumus dalam kesalahan dan hal-hal yang tidak disukai. Apabila yang dilakukan adalah sebaliknya, hasilnya juga akan sebaliknya. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا

عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ

Seorang anak muda di antara kita tumbuh

menurut apa yang dibiasakan oleh ayahnya

Jadi, tarbiyah yang baik —yaitu di atas akhlak mulia dan memperingatkan mereka dari perangai yang jelek— adalah urusan yang agung. Apalagi dalil-dalil syariat memerintah (kita) untuk

memerhatikan urusan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidak ada anak yang terlahir kecuali di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana halnya binatang ternak melahirkan binatang ternak yang sempurna, apakah kalian melihat ada yang terpotong anggota badannya?” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kita diperintah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk memiliki akhlak yang baik. Menjadi kewajiban bagi para ayah untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka dan mentarbiyah mereka di atas adab-adab yang agung tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)

Sang ayah mengajari anaknya akhlak yang agung: menepati janji, mengasihi orang lemah, jujur ketika berucap, ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersemangat menjaga waktu, menunaikan amanat, berbakti kepada orang tua, memerhatikan hakhak tetangga, menjaga sifat malu, suka memaafkan dan santun, serta berbagai akhlak yang tinggi dan mulia.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, “Di antara hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah perhatian terhadap urusan akhlak. Sebab, sesungguhnya dia akan tumbuh di atas kebiasaan yang ditanamkan oleh pembimbingnya semasa kecil: murka dan marah, keras kepala, gampang mengikuti hawa nafsu, gegabah, tajam lidahnya, serta tamak.

Apabila demikian, akan susah diperbaiki ketika ia sudah dewasa. Berbagai akhlak yang buruk ini akan menjadi sifat dan bentuk yang mengakar pada dirinya. Meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga agar tidak tampak, suatu saat akhlak yang buruk itu pasti akan mempermalukan dirinya. Karena itu, Anda dapati mayoritas orang yang akhlaknya menyimpang disebabkan tarbiyah (yang salah) di masa pertumbuhannya.

Maka dari itu, ketika sudah mulai bisa menggunakan akalnya, seorang anak kecil wajib dijauhkan dari majelis yang sia-sia dan penuh kebatilan, nyanyian, mendengarkan ucapan yang kotor, bid’ah, dan perkataan yang buruk. Sebab, apabila pendengarannya sudah terjerat, akan sulit baginya untuk berpisah dengan hal-hal tersebut ketika dewasa. Akan sulit pula bagi walinya untuk menyelamatkannya dari semua itu. Mengubah kebiasaan adalah salah satu hal yang paling susah dilakukan. Orang yang seperti ini harus memperbarui tabiatnya untuk kedua kalinya, sedangkan keluar dari tabiat yang sudah mapan sangatlah sulit….

Selain itu, anak kecil tersebut juga dijauhkan dari sifat dusta dan khianat lebih kuat daripada dijauhkan dari racun yang mematikan. Sebab, apabila dimudahkan jalan baginya untuk berdusta dan berkhianat, hal ini akan merusak kebahagiaannya di dunia dan di akhirat. Ia pun akan terhalangi dari setiap kebaikan.

Di samping itu, ia dijauhkan pula dari sifat malas, menganggur tanpa kegiatan, hidup sekadar bersenang-senang, dan berleha-leha. Seharusnya sang ayah membiasakan hal yang sebaliknya….

Ayah hendaknya membiasakan anak untuk terjaga di akhir malam, karena itu adalah waktu pembagian ghanimah dan pemberian hadiah. Manusia terbagi, antara yang mendapatkannya sedikit, ada yang banyak, ada pula yang sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Apabila sudah dibiasakan sejak kecil, akan mudah baginya ketika dewasa kelak.”[4]

Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Orang yang paling utama mendapatkan perbuatan baikmu dan paling berhak mendapat kebaikanmu adalah anak-anakmu. Sebab, mereka adalah amanat yang Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepadamu. Allah subhanahu wa ta’ala berwasiat kepadamu untuk mentarbiyah tubuh dan hati mereka dengan baik.

Semua hal yang engkau lakukan bersama mereka terkait urusan (tarbiyah) ini, baik yang kecil maupun besar, terhitung sebagai penunaian kewajibanmu dan sarana terbaik yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Karena itu, bersungguh-sungguhlah melakukannya dan harapkanlah pahala di sisi Allah.

Sebagaimana halnya memberi mereka makan dan pakaian serta mentarbiyah badan mereka berarti engkau menunaikan hak dan mendapat pahala, demikian pula ketika engkau mentarbiyah hati dan roh mereka dengan ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang benar, bimbingan kepada akhlak yang terpuji, dan peringatan dari kebalikannya….

Adab yang mulia lebih baik bagi diri anak-anak, untuk masa sekarang dan yang akan datang, daripada memberi mereka emas, perak, dan berbagai perhiasan dunia lainnya. Sebab, adab yang baik dan akhlak yang bagus akan mengangkat derajat mereka. Mereka akan mendapatkan kebahagiaan karenanya.

Selain itu, dengan sebab adab dan akhlak yang baik, mereka akan menunaikan semua hak Allah dan hak hamba yang menjadi kewajiban mereka. Dengan keduanya pula, mereka akan menjauhi berbagai madarat. Mereka bisa menunaikan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua mereka secara sempurna, juga dengan sebab adab dan akhlak yang baik.”[5]

(diterjemahkan dari Huququl Aulad ‘alal Aba wal Ummahat hlm. 36—40, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahim al-Bukhari hafizhahullah)


[1] 5/355. Lihat pula Kitabul ‘Iyal karya Ibnu Abi ad-Dunya (1/ no. 323) dan Tuhfatul Maudud hlm. 328.

[2] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 8662) dan dalam al-Kubra (3/84).

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam Kitabul ‘Iyal (1/ no. 324). Lihat pula Tuhfatul Maudud hlm. 328.

[4] Tuhfatul Maudud (hlm. 349—351).

[5] Bahjatu Qulub al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun al-Ahyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar (hlm. 125, hadits ke-67).

Hukuman yang Mendidik

Acapkali seorang pendidik -baik orang tua maupun guru- harus menghadapi anak didiknya dengan menjatuhkan hukuman. Tentu saja disertai harapan, tindakannya ini bisa menghentikan kesalahan sang anak. Alangkah baiknya bila setiap pendidik memerhatikan metode pengajaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, kembali kita telaah nasihat asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah.

Tanda Seru

Ada bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, yang bisa diharapkan keberhasilannya. Seyogianya setiap pendidik menerapkan hukuman seperti ini terhadap anak yang kurang beradab dalam mengikuti pelajaran atau memandang remeh gurunya. Ini merupakan metode pendidikan yang aman dari dampak negatif dan bisa diharap keberhasilannya—dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla tentunya.

 

Nasihat dan Arahan

Ini adalah metode yang amat mendasar dalam pendidikan dan pengajaran. Kalaupun tanpa disertai metode lain, metode ini pun sudah cukup. Metode inilah yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak dan orang dewasa.

  1. Nasihat kepada anak-anak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatseorang anak yang tangannya berkeliling mengambil makanan. Beliau pun mengajarinya cara makan yang benar,

“Nak, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Jangan ada seorang pun yang menyatakan bahwa metode seperti ini hanya sedikit memberikan pengaruh terhadap anak-anak. Saya sendiri (asy-Syaikh bin Jamil Zainu –pen.) pernah mengalaminya berkali-kali. Ternyata metode seperti ini memberikan pengaruh yang paling baik.

Pernah ada seorang anak yang mencela agama temannya. Saya pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu, nak? Kelas berapa dan dari sekolah mana?”

Setelah dia menjawab, saya pun bertanya, “Siapa yang menciptakanmu?”

“Allah,” jawabnya.

“Siapa yang memberimu pendengaran dan penglihatan? Siapa pula yang memberimu makanan berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran?” tanya saya lagi.

“Allah,” jawabnya.

Saya tanya lagi, “Lalu apa kewajibanmu terhadap yang memberimu semua nikmat ini tadi?”

“Bersyukur kepada-Nya,” jawab anak itu lagi.

“Apa yang tadi baru saja kaukatakan kepada temanmu?” tanya saya.

Dia pun merasa malu. “Tadi temanku itu yang nakal kepadaku!”

Saya jelaskan kepadanya, “Memang, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerima perbuatan zalim, bahkan melarangnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

‘… dan janganlah kalian berbuat melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.’ (al-Baqarah: 190).”

“Tetapi, sebenarnya siapa yang membisiki temanmu itu hingga memukulmu?”

Dia menjawab, “Setan.”

“Kalau begitu, seharusnya kau mencela setannya!” kata saya.

Dia pun mengatakan kepada temannya, “Semoga setanmu itu

dilaknat!”

Kemudian saya menasihatinya, “Sekarang kau harus bertobat kepada Allah dan memohon ampun pada-Nya, karena mencela agama itu perbuatan kufur.”

Dia segera mengatakan, “Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya dan memintanya tidak mengulangi perbuatannya itu serta menasihati teman-temannya apabila ada di antara mereka yang mencela agama.

Suatu kali, saya sedang berjalan bersama seorang guru. Tiba-tiba kami melihat seorang anak kecil buang air kecil di tengah jalan. Guru itu pun berteriak, “Celaka kamu! Celaka kamu! Jangan kaulakukan!”

Anak kecil itu ketakutan. Dia segera memutus kencingnya dan lari.

Melihat itu, kukatakan kepada guru tadi, “Engkau telah menyia-nyiakan kesempatan kita untuk memberikan nasihat kepada anak itu.”

“Apa boleh kubiarkan anak itu kencing di tengah jalan di depan orang banyak?” katanya.

“Apakah engkau mau melakukan sesuatu yang tidak seperti apa yang kaulakukan tadi?” kata saya, “Biarkan anak itu sampai selesai buang air, lalu panggil dia kemari. Aku akan memperkenalkan diri, lalu akan kukatakan padanya, ‘Nak, jalanan ini tempat orang lalu lalang. Jadi, tidak boleh buang air kecil di sini. Di dekat sini ada tempat buang air. Jangan pernah kau ulangi lagi perbuatan seperti ini, supaya kau jadi anak yang baik. Semoga engkau mendapatkan petunjuk dan taufik’.”

Mendengar penjelasan itu, guru tadi menyatakan, “Ini metode yang bijaksana dan amat berfaedah.”

Kujelaskan padanya, “Ini metode pendidik seluruh manusia, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu saya sebutkan kepadanya kisah seorang Arab gunung yang amat masyhur itu.

 

  1. Nasihat kepada yang telah baligh

Contoh nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teramat besar pengaruhnya bagi orang yang menerimanya adalah kisah A’rabi (Arab gunung) yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Suatu ketika, kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi, lalu buang air kecil sambil berdiri di masjid. Para sahabat pun berteriak menegur, “Jangan! Jangan!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian putuskan dia! Biarkan dia!”

Para sahabat membiarkan orang itu hingga selesai buang air kecil. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan menasihatinya, “Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak sepantasnya untuk buang air kecil ataupun buang air besar. Masjid itu hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al- Qur’an.”

Beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pemberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan. Guyurlah bekas air kencing itu dengan seember air!”

Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, A’rabi itu berdoa, “Ya Allah, kasihilah diriku dan Muhammad, dan jangan Engkau kasihi seorang pun selain kami berdua!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Engkau telah menyempitkan yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Menunjukkan Wajah Masam

Kadangkala, bisa pula seorang pendidik menunjukkan muka masam terhadap muridnya saat mereka gaduh, untuk menjaga jalannya pelajaran dan menjaga wibawanya. Ini lebih baik daripada menggampangkan perbuatan mereka yang seperti itu, namun akhirnya langsung menghukum mereka.

 

Memberi Peringatan Keras

Banyak guru yang mengambil jalan dengan memberi peringatan keras terhadap muridnya yang banyak tanya untuk mengulur waktu pelajaran, bermaksud meremehkan gurunya, atau melakukan kesalahan lainnya. Ketika guru telah memberi peringatan keras dan bersuara lantang, murid itu pun akan terdiam dan duduk dengan santun.

Metode ini dilakukan oleh Rasulullah ketika melihat seseorang menggiring badanah1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur, “Tunggangi unta itu!” [1]

“Sesungguhnya unta ini badanah,” jawab orang itu.

Rasulullah menegur lagi, “Tunggangi!”

Akhirnya orang itu menunggangi badanahnya, berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sandalnya dia letakkan di leher untanya. (HR. al-Bukhari)

 

Menyuruh Murid Menghentikan Perbuatannya

Ketika melihat ada murid-muridnya yang bercakap-cakap saat pelajaran berlangsung, guru bisa menyuruh mereka untuk diam dengan suara yang lantang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh seseorang yang bersendawa di hadapan beliau,

“Tahanlah sendawamu di hadapan kami!” (Hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ no. 4367)

 

Berpaling

Bisa pula seorang pendidik berpaling dari anaknya atau muridnya jika melihatnya berkata bohong, memaksa meminta sesuatu yang tidak semestinya diberikan, atau kesalahankesalahan yang lain. Si anak akan merasakan sikap tidak peduli dari sang guru atau sang ayah, sehingga akan tersadar dari kesalahannya.

 

Hajr (Mendiamkan)

Seorang pendidik bisa mendiamkan anak atau muridnya jika mereka meninggalkan shalat, menonton film, atau melakukan perbuatan yang menyelisihi adab belajar. Hajr ini paling lama tiga hari, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Sahih, lihat Shahihul Jami’ no. 753)

Tindakan hajr ini mengandung pendidikan adab, baik bagi anak maupun murid. Seorang penyair pernah mengatakan,

Wahai kalbu, bersabarlah dengan hajr dari orang yang kau cinta

jangan kau putus asa karenanya, karena pendidikan kesantunan ada padanya

 

Teguran Keras

Jika nasihat dan arahan tidak memberikan hasil, pendidik boleh menegur anak atau muridnya dengan keras ketika melakukan suatu kesalahan besar.

 

Duduk Qurfusha’

Apabila seorang guru kewalahan mengatasi murid yang malas, tebal muka, atau yang semisalnya, sang guru bisa memerintahnya untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyuruhnya duduk qurfusha’ di depan kelas, di atas kedua telapak kakinya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Ini bisa membuat lelah si murid dan menjadi hukuman baginya. Di samping itu, lebih utama daripada menghukumnya dengan tangan atau tongkat.

 

Hukuman dari Ayah

Apabila seorang murid terus menerus mengulangi kesalahannya, hendaknya guru menulis surat kepada wali murid tersebut dan menyerahkan hukumannya kepada sang wali terhadap si murid setelah menasihatinya. Dengan demikian, lengkaplah kerjasama antara sekolah dan rumah tangga dalam mendidik anak.

 

Menggantungkan Tongkat

Disenangi apabila seorang pendidik—baik guru maupun ayah— menggantungkan cambuk yang bisa digunakan untuk memukul dinding agar anak-anak bisa menyaksikannya dan merasa takut terhadap hukuman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga kalian, karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka.” (Dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 4022)

Ucapan beliau, “bisa dilihat oleh anggota keluarga”, maksudnya agar menjadi rintangan bagi mereka melakukan berbagai kejelekan, karena takut tertimpa hukuman sebagai akibatnya.

Ucapan beliau, “karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka”, maksudnya bisa membuat mereka bersikap santun, berakhlak dengan akhlak yang mulia dan menyandang berbagai keutamaan yang sempurna. (Faidhul Qadir, al-Munawi, 4/325)

 

Pukulan Ringan

Seorang pendidik boleh memukul dengan ringan, jika segala cara di atas tidak memberi manfaat. Lebih-lebih lagi dalam hal penunaian shalat bagi seorang anak yang telah berusia sepuluh tahun, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ajari anak-anak kalian shalat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika telah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sahih, HR. al-Bazzar dan yang lainnya)

Tentu amat indah pengajaran apabila disertai metode yang sesuai syariat. Karena itu, bekal berharga seperti ini sudah semestinya dimiliki oleh seorang pendidik sejati.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyyin wal Murabbiyyat karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)


[1] Badanah adalah unta yang hendak dijadikan sebagai hadyu dalam ibadah haji.

Empat Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Mendidik anak bukan hal yang mudah. Salah langkah bisa mengakibatkan salah asuhan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa yang semestinya dilakukan dan apa yang semestinya dihindari. Ditambah pula faktor-faktor yang akan mendukung pendidikan yang sedang kita lakukan. Lanjutkan membaca Empat Kesalahan Dalam Mendidik Anak