Sejarah Berbicara

Syiah memiliki rekam jejak sangat buruk dan kelam dalam sejarah pelaksanaan ibadah haji. Mereka kerap kali melakukan kekacauan yang menimbulkan korban jiwa kaum muslimin yang sedang khusyuk menunaikan ibadah haji.

Berikut ini beberapa peristiwa berdarah dari sekian banyak kekacauan yang dilakukan oleh Syiah sepanjang sejarah.

 

312 H

Di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qirmithi, pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji di Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Merampas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/149)

 

317 H

Abu Thahir al-Qirmithi memasuki Masjidil Haram pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya:

  • Membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kiswah Ka’bah.
  • Merampas harta mereka. Tidak hanya itu, Abu Thahir al-Qaramithi kemudian memerintahkan jasad jamaah haji yang mereka bunuh itu dimasukkan ke sumur Zamzam. Lahaula wala quwwata illa billah.
  • Melepas kiswah (kain penutup Ka’bah –red.) dan pintu Ka’bah.
  • Dengan pongah mencuri Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya pulang ke kerajaan mereka. Hajar Aswad tetap berada di sana sampai 339 H (selama kurang lebih 22 tahun). (al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir al-Syafi’i 9/160)

 

1406 H/1986 M

Jamaah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jamaah yang berjumlah 500 orang itu menyembunyikan bahan peledak jenis C4 pada bagian bawah tas mereka. Ketika disita petugas dan dikumpulkan, beratnya mencapai berat 150 kg.

 

1407 H/ 1987 M

Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, didukung oleh jamaah haji Syiah dari Arab Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H.

Mereka mengafirkan dan mengancam Kerajaan Arab Saudi sambil membawa poster Khomeini. Demonstrasi ini membuat arus jamaah haji tersumbat dan hanya membentuk pusaran. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 orang di antaranya adalah petugas keamanan.

Kerusuhan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak; serta ratusan ribu jamaah haji terhambat melaksanakan manasik.

 

1409 H

Anggota Hizbullah bekerja sama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah. Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat Kedubes Kuwait di Saudi yang ternyata penganut Syiah.

Para pelaku peristiwa itu oleh Syiah disebut-sebut sebagai syuhada dan dinobatkan sebagai para wali.

 

1410 H

Kejahatan Syiah kembali terjadi dalam bentuk menyemprotkan gas beracun kepada para jamaah haji di terowongan al-Mu’aishim, yang menyebabkan ribuan jamaah haji meninggal dunia.

 

Masih banyak lagi rentetan peristiwa kejahatan Syiah di Tanah Haram pada musim haji. Catatan di atas hanyalah rekaman singkat peristiwa berdarah yang dilakukan oleh Syiah di Tanah Haram, pada bulan Haram, ketika musim haji. Sebab, bagi Syiah, Makkah memang sudah tidak ada kehormatannya.

Kejanggalan-kejanggalan yang Menarik untuk Dicermati

Di luar dugaan, jumlah korban meninggal Tragedi Mina kali ini sangat besar, ditambah korban cedera dan luka-luka. Tampaknya ada yang tidak wajar. Mengapa?

Dahulu saat jamarat masih sempit dan tidak seluas sekarang, ketika terjadi insiden desak-desakan, jumlah korban meninggal tidak sampai di atas 200 jamaah.

Petugas haji Arab Saudi yang diturunkan saat ini sangat banyak dan sangat lebih dari cukup. Mereka sigap dan tangkas bekerja di lapangan memberikan pelayanan yang terbaik. Mereka adalah para petugas yang terlatih, profesional, dan berpengalaman.

Komitmen Pemerintah Arab Saudi tidak main-main dalam memberikan khidmat terhadap Haramain dan pelayanan haji. Biaya besar dikeluarkan, berbagai saran dan masukan diterima dengan lapang dada, serta berbagai evaluasi dan perbaikan pelayanan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Bahkan, ada departemen dan kementerian khusus yang mengatur urusan haji dan pengelolaannya.

Di antara hasil nyatanya, dalam waktu 10 tahun terakhir hampir-hampir tidak terdengar ada musibah yang berarti. Tentu saja, itu semua berkat karunia Allah subhanahu wa ta’ala Sang Pencipta dan Pemelihara manusia beserta jagat raya ini.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pada jam yang sama dengan waktu kejadian tragedi Mina kemarin, arus jamaah memang padat. Namun, karena tertib dan teratur, semuanya berjalan dengan lancar. Jamaah haji bisa melempar jumrah dengan tertib, lancar, dan aman.

Tragedi kemarin terjadi bukan di jalan utama, melainkan di jalan cabang, di tengah perkemahan resmi jamaah haji, sebagaimana dilaporkan oleh Jubir Resmi Pemerintah Arab Saudi. Penumpukan jamaah dalam jumlah besar di jalan cabang tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain itu, tempat TKP masih sangat jauh dari Jamarat, kurang lebih 2 km. Korbannya kemungkinan besar adalah jamaah haji resmi yang memiliki tenda resmi.

Jadi sekali lagi, insiden bukan di Jamarat, bukan pula di jalur utama pejalan kaki. Biasanya di jalan cabang ini, minim kerawanan insiden. Tingkat kepadatannya pun tidak seperti di jalur utama pejalan kaki. Kalau jamaah berjalan searah, walaupun dalam jumlah banyak, insya Allah aman dan lancar, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Sangat besar kemungkinan bahwa tragedi memilukan ini memang sudah direncanakan sedemikian rupa. Ada orang-orang yang disiapkan untuk membuat kegaduhan dan keributan, kemudian sudah disiapkan pula pernyataan-pernyataan politiknya.

Jelas ada kepentingan besar untuk menjatuhkan Arab Saudi di mata internasional. Musim haji merupakan waktu yang sangat tepat untuk membuat kegaduhan. Cara itu sangat efektif untuk memojokkan Pemerintah Negeri Tauhid tersebut.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa tragedi berawal dari jamaah haji Iran yang sengaja bergerak melawan arus. Sebagaimana dilaporkan media, salah seorang pimpinan Jamaah haji Iran mengakui, gerakan 300 jamaah haji Iran yang melawan arus menjadi sebab di balik tragedi Mina.

Iran sangat berkepentingan untuk membuat keributan pada musim haji, untuk menjatuhkan Arab Saudi, menyusul kekalahan Syi’ah Hutsi di Yaman dukungan Iran. Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, bala tentara tauhid berhasil memukul mundur kaum Syi’ah Hutsi di Yaman.

Dilaporkan oleh salah satu media, mantan diplomat Iran mengungkap rencana intelijen pemerintah Iran untuk mempermalukan Kerajaan Arab Saudi dengan merusak pelaksanaan haji di musim ini. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen ISIS dan beberapa elemen yang berada di bawah intelijen Iran.

Dinyatakan pula oleh mantan diplomat Iran tersebut bahwa pemerintah Iran telah menyepakati cara dan waktu terbaik untuk menghadapi Arab Saudi adalah ketika musim haji. Pemerintah Iran juga bersepakat bahwa sekiranya tidak bisa menimbulkan keributan pada musim haji tahun ini, mereka akan kehilangan kesempatan dan harapan untuk membalas kekalahan sekutu mereka di Yaman (kelompok Hutsi) yang diserang oleh koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi.

Mantan diplomat Iran tersebut juga menuturkan bahwa rencana ini telah dibahas dalam sebuah pertemuan, sepekan setelah bulan suci Ramadhan. Hadir dalam perencanaan tersebut adalah Ali Khamenei, beserta dengan pejabat-pejabat keamanan Iran seperti Qasem Sulaimany, Ali Akbar Wilayaty, Ali Larijani, dan Alauddin Baroujerdi. Pertemuan tersebut digelar selama berjam-jam.

Tepat sehari sebelum tragedi Mina, ketika jamaah haji kaum muslimin sedang khusyuk melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, sebuah akun facebook milik Hassan M. Assegaf menebar provokasi melakukan pergerakan. Ternyata isi tulisan di facebook milik Irancorner Hassan M. Assegaf itu sama persis dengan isi akun resmi IJABI Pusat; diposting sehari sebelum tragedi Mina. Berikut ini petikannya.

 RAFIDHAH MELAWAN ARUS MENUJU KEMATIAN

Hasan M. Assegaf

23 September pukul 11:36

Hari ini, …..

Mereka tidak bergerak menuju Mina, tapi Karbala.

Mereka tidak berdoa untuk diri, melainkan sesama.

Mereka tanggalkan kain ihram, tapi mereka kenakan kain kafan.

Mereka tidak serahkan hewan sembelihan, melainkan leher yang terlentang.

Hari ini semua yang menyeru Tuhan berharap kembali pada tanah air mereka, kecuali satu umat saja.

Mereka bergerak menuju kematian. Itulah Arafah yang sesungguhnya, pengakuan akan kebesaran Dia.

Mereka bergerak menuju syahadah. Itulah Mina, cinta yang sejati, rindu yang sebenarnya.

Mereka bergerak menuju altar kepasrahan. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Ya Husain!

Ya Husain!

Ya Husain!

(https://www.facebook.com/pazdaran/posts/10204881985163566?pnref=story)

 

Patut kita renungkan….

Bertahun-tahun pemerintah Arab Saudi memberi pelayanan tanpa insiden. Pernahkah ada yang memberi apresiasi? Khususnya Iran, pernahkah mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih pada saat musim haji yang telah lalu yang berlangsung sangat tertib dan khidmat?

Namun, mengapa begitu ada musibah, Iran tidak menampakkan keinginan membantu pemerintah Saudi, tetapi justru berlaku murka. Itu ditandai dengan kecaman Ali Khameini terhadap pemerintah Arab Saudi.

Ada apa di balik ini semua?

Di mana suara kaum liberal, Syiah, dan orang yang menyimpang hatinya kala pemerintah Arab Saudi bertahun-tahun mampu dan sangat perhatian terhadap keberlangsungan ibadah haji dengan penuh khidmat? Adakah mereka mengapresiasi pemerintah Saudi?

Tahun ini pun pelayanan pemerintah Arab Saudi terhadap jamaah haji tidak ada yang berkurang, bahkan makin meningkat. sebagaimana diakui oleh para jamaah haji.

Namun, tidak ada seorang pun yang bisa melawan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan hikmah dan keadilan-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya tragedi ini.

Sungguh bertentangan dengan agama dan akal yang sehat, apabila tragedi ini dijadikan alasan untuk memojokkan dan menjatuhkan Arab Saudi, seraya melupakan berbagai jasa baik yang sangat banyak, bahkan lupa atas kekuasaan dan keadilan Allah ‘azza wa jalla.

Memberikan pelayanan untuk dua tanah haram merupakan kehormatan bagi Arab Saudi. Raja Salman bin Abdul Aziz berkata, “Allah telah memuliakan Kerajaan Arab Saudi untuk memberikan pelayanan kepada dua Tanah Haram yang mulia. Kami tegaskan tekad kami untuk mengokohkan persatuan dan tidak membiarkan adanya tangan-tangan tersembunyi yang bermain!” (Dikutip oleh @SaudiNews50)

Itu semua semata-mata berkat karunia dan rahmat Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan melindungi Pemerintah Arab Saudi, serta membimbing mereka untuk selalu di atas kebenaran.

Amin Ya Rabbal Alamin.

[Lagi] Syiah Berulah Mina Berdarah

Duka kembali menyelimuti kaum muslimin. Ratusan jamaah haji meninggal dalam sebuah insiden di Mina dalam rangkaian ibadah haji 1436 H. Musibah ini memang terasa menyesakkan, karena sudah terjadi sekian kali. Apalagi musibah ini didahului musibah ambruknya crane beberapa hari sebelumnya.

Peristiwa ini menimpa jamaah haji, di Tanah Suci pula. Tentu bisa dibayangkan, hal ini menjadi kabar gembira bagi kalangan nonmuslim. Bahkan, bisa dijadikan pembenar bagi keyakinan atau akidah mereka.

Namun, sebagai seorang muslim, sikap pertama yang mesti dikedepankan, walaupun tampaknya pahit, adalah bertawakal. Ini adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa kita tolak. Berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menentukan yang terbaik.

Salah satunya, peristiwa ini kemudian menyingkap siapa dan bagaimana peristiwa ini terjadi. Lagi-lagi jamaah haji Iran (baca: Syiah) yang berada di balik ini semua. Peristiwa ini menambah daftar panjang aksi-aksi berdarah Syiah dalam musim haji di Tanah Suci. Makkah nyata-nyata tak dianggap suci oleh para penganut Syiah.

Sejarah menjadi saksi betapa Syiah telah melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin. Tak hanya dalam satu, dua, atau tiga dekade silam, tapi berabad-abad yang lalu, Syiah telah menodai Masjidil Haram dengan darah ribuan kaum muslimin. (Lihat: Sejarah Berbicara)

Jamaah haji yang meninggal lebih dari seribu orang. Dengan gegap gempita, sebagian pihak menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan, lantas dengan nyaringnya menyalahkan pihak lain.

Orang-orang yang sangat membenci Arab Saudi atau Wahabi, kemudian ikut kegirangan saat banyaknya hujatan dialamatkan ke Arab Saudi, terutama kalangan sufi, pecinta kubur, dan sejenisnya.

Suara nyaring itu intinya menggugat “ketidakbecusan” pemerintah Arab Saudi sebagai khadimul haramain (pelayan dua tanah suci). Desakan internasionalisasi pelaksanaan ibadah haji dicitrakan menguat oleh media-media yang juga asbun, walaupun sejatinya hanya usulan segelintir pihak. Pelaksanaan ibadah haji “semestinya” tidak hanya melibatkan pemerintah Arab Saudi, tetapi juga negara-negara Islam lain yang tergabung dalam OKI. Demikian kata mereka. Sebuah opsi yang sangat berisiko ditunggangi kepentingan politis.

Untuk menegaskan “ketidakbecusan” Arab Saudi ini, ditampilkanlah berita bahwa musibah ini disebabkan iring-iringan putra Raja Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman. Berita ini “diperkuat” dengan tayangan video saat sang pangeran melakukan ibadah haji. Namun, kemudian terbukti bahwa berita ini tidak benar.

Yang lebih lucu adalah tuntutan transparansi pelaksanaan ibadah haji, seolah-olah dana pelaksanaan haji jadi ajang korupsi. Padahal pemerintah Arab Saudi tidak mencari profit apa pun dari pelaksanaan ibadah haji. Dana triliunan rupiah digelontorkan guna memperbaiki sarana dan prasarana ibadah haji dari tahun ke tahun.

Semua itu gratis demi berkhidmat (pelayanan) kepada jamaah haji. Tuduhan bahwa pemerintah Saudi berambisi untuk meningkatkan devisa negara melalui proyek raksasa ini, jelas tuduhan tak bertanggung jawab.

Seluruh pemasukan selama pelaksanaan haji masuk ke pihak swasta atau masyarakat setempat. Dari hotel, penginapan, belanja jamaah, jelas tidak masuk ke kas negara. Padahal, secara kasatmata, pelaksanaan ibadah haji jelas menyedot dana yang tidak sedikit.

Mampukah pemerintah negara lain menyelenggarakan ibadah haji secara swadana dan tanpa korupsi? Pertanyaan ini seharusnya menjadi pijakan kita becermin sebelum kita latah menyalahkan pihak lain.

Demi pelayanan haji ini, dana besar memang harus dikeluarkan. Memperluas Masjidil Haram berikut fasilitasnya, penataan kota Makkah, dan sebagainya, jelas bukan proyek kecil-kecilan. Apalagi ini dilakukan di tengah keramaian jamaah haji dan umrah di kota Makkah yang tak pernah sepi.

Beberapa flyover dibangun untuk mengurai risiko kemacetan. Itu pun selesai dalam waktu cepat. Hasilnya, kemacetan jarang sekali ditemui saat musim haji. Kalaulah ada, biasanya saat hari haji yang banyak kendaraan tidak tertib dan parkir di bahu jalan.

Soal air, Pemerintah Arab Saudi juga tak kurang-kurang memaksimalkan teknologi penyulingan air laut. Hasilnya, tak ada istilah kekurangan air di negara yang sejatinya sangat kering ini. Namun, asbun tetaplah asbun.

Ketika ada satu hotel jamaah haji yang krannya macet, beritanya demikian heboh sampai tanah air. Seolah-olah tragedi kemanusiaan bernama kran macet itu terjadi di seluruh Timur Tengah.

Demikian juga ketika ada satu kamar terbakar yang itu adalah faktor keteledoran jamaah haji sendiri. Berita di tanah air melebihi kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Kesigapan tenaga, terutama tim kesehatan Arab Saudi, memang patut diapresiasi. Mengurus dan mengatur jamaah haji yang jumlahnya hampir 3 juta jiwa tidaklah mudah. Butuh kerja keras dan manajemen luar biasa, yang dilakukan atas dasar ikhlas semata-mata mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Peristiwa crane misalnya. Dalam hitungan 2 jam, area TKP sudah bisa dipergunakan kembali. Demikian juga dengan area Mina pascamusibah. Hanya dalam hitungan 5—6 jam, TKP bisa dilalui kembali. Padahal proses evakuasi ribuan jamaah dilakukan di tengah derasnya arus manusia. Bahkan, banyak jamaah haji yang tidak menyadari bahwa baru saja terjadi peristiwa yang menelan banyak korban jiwa.

Bayangkanlah kecelakaan di jalan raya yang melibatkan beberapa kendaraan bermotor saja. Butuh sekian jam agar lalu lintas bisa normal kembali. Ini tentu patut menjadi catatan kita semua.

 

Kronologis Kejadian Mina

Sejumlah saksi mata di lokasi tragedi Mina mengatakan bahwa insiden diawali ketika para jamaah haji dari Iran melakukan pelanggaran dengan melewati dan menerobos rute jamaah lainnya seraya menyerukan ide revolusi Iran.

Mereka menolak diatur saat diminta oleh para petugas haji untuk kembali ke rute yang sudah ditentukan. Otoritas keamanan Arab Saudi mengatakan bahwa penyebab insiden Mina lantaran jamaah haji dari Iran tidak mengikuti rute yang sudah ditentukan pemerintah Saudi. Hal seperti ini selalu terjadi setiap tahun.

“Jamaah Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi, kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya musibah Mina,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi seperti dikutip akun @ SaudiNews50, Kamis (24/9).

Petugas haji IRAN mengatakan kepada harian Syarq Ausath bahwa 300 jamaah haji Iran menyalahi pengaturan gelombang melempar. Hal ini menyebabkan dorong-mendorong di jalan 204 yang mengakibatkan seribuan orang wafat (131 orang dari jamaah Iran).

Para saksi mata mengungkapkan bahwa mereka sering menyaksikan jamaah

haji Iran mempropagandakan hal yang mereka sebut “Revolusi Islam” kepada jamaah haji dari negara lain.

“Mereka juga kerap mengambil keuntungan dengan memprovokasi jamaah untuk bentrok antarjamaah dan pasukan keamanan Arab Saudi.”

Saksi mata di lokasi kejadian melaporkan bahwa jamaah haji Iran kembali dari jamarat melalui jalan yang sama, padahal seharusnya melalui jalur lain. Tentu saja, arus jamaah haji Iran ini berlawanan arah dengan arus jamaah yang hendak berangkat ke Mina untuk melontar jumrah…. Terjadilah musibah Mina tersebut.

Jadi, sangat ironis ketika pemerintah Iran menampilkan diri sebagai pihak yang menuntut, menghujat, dan menyalahkan pemerintah Arab Saudi.

 

(disarikan dari berbagai sumber)

Islam Nusantara Penerus Islam Liberal

Umat Islam di Indonesia yang masih mencintai al-Qur’an dan as-Sunnah, kian dibuat sakit hati dengan munculnya orang-orang yang memiliki keyakinan bebas berbicara atas nama agama seenaknya. Merekalah orang-orang liberal yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL).

Para liberalis seperti mereka memiliki pemikiran bahwa agama Islam bisa dibuat warna-warni, tergantung pada penafsirnya. Menurut mereka, kita bisa menafsirkan agama sesuai dengan akal dan pemikiran yang kita miliki. Semua orang tidak boleh mengklaim bahwa penafsirannya paling benar.

Jika demikian yang mereka inginkan, sungguh hal ini mengerikan. Orang bisa menafsirkan agama Islam sesuai selera masing-masing; sementara semua orang wajib saling menghormati penafsiran setiap individu. Artinya, kebenaran yang diyakini oleh seseorang bisa jadi benar, bisa jadi pula salah. Lebih parah lagi: agama Islam belum tentu benar, karena agama lain bisa jadi memiliki kebenaran.

Astaghfirullah. Mereka tidak meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar. Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh nonmuslim, bisa dimaklumi. Akan tetapi, mereka menyatakan diri sebagai muslim. Sebagian mereka membanggakan diri sebagai anggota salah satu ormas Islam besar di Indonesia.

Berawal dari obrolan di Jl. Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, mereka membuat sebuah forum sederhana. Tokoh liberal pun bermunculan, seperti Goenawan Mohamad (redaktur senior Majalah “Tempo”), Akhmad Sahal, Nong Darol Mahmada (aktivis perempuan), M. Luthfi Assyaukani, dan Ulil Abshar Abdalla—yang sebenarnya diharapkan menjadi tokoh kiai Nahdhatul Ulama (NU).

Forum tersebut pada hakikatnya adalah kumpulan pegandrung sastra, seni, teater, musik, film, dan seni rupa. Awalnya mereka berbicara di dunia maya lewat milis (mailing list). Kemudian berlanjut di radio-radio dengan tema “Agama dan Toleransi”. Jalur media cetak juga mereka tempuh dengan menulis bahasan “Kajian Islam”.

Melalui media cetak, muncul tokoh seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Jalaludin Rakhmat, Masdar F. Mas’udi, dll. Mereka selalu membahas pengutakatikan masalah agama yang tidak perlu dibahas, di antaranya tentang emansipasi wanita, perbandingan antaragama, dan kebebasan dari kungkungan agama tertentu. Sebuah harian yang terbit di Surabaya menampilkan rubrik khusus satu halaman yang menampilkan kajian liberal. Demikian pula beberapa harian lokal di bawah manajemennya.

Berikutnya, muncul secara resmi situs liberal www.islamlib.com yang dipublikasikan pada akhir Juli 2001. Dengan situs tersebut, kaum liberalis menegaskan bahwa mereka mengusung pemikiran Islam liberal.

Tentu saja, pihak yang diuntungkan dalam kondisi ini adalah para musuh Islam dari kalangan kaum kafir Yahudi dan Nasrani, para politikus dan orang-orang yang hanya memiliki pemikiran nasionalis tanpa berpikir tentang agama.

Upaya yang dilakukan oleh JIL sudah pernah dilakukan oleh sekian banyak pihak, tetapi tidak berhasil. Di antaranya Musthafa Kemal Ata Turk yang dikenal sebagai “Bapak Turki”. Dia berupaya menjadikan Islam memiliki warna budaya Turki murni, seperti azan dengan bahasa Turki. Siapa pendukungnya? Michel Aflaq, seorang Nasrani.

Demikian pula Islam Liberal. Mereka didukung oleh penyandang dana asing sehingga jaringannya semakin besar. Sebagian pihak yang merasa diuntungkan oleh adanya Islam Liberal memberi bantuan dana lantaran khawatir akan munculnya “Islam Radikal” atau Islam fundamentalis. Sebenarnya, yang mereka maksud adalah kekhawatiran munculnya Islam yang bersungguh-sungguh mengamalkan agamanya.

Ini adalah hal yang aneh. Jika mereka adalah orang kafir, kemudian takut dengan Islam yang sesungguhnya, itu wajar. Namun, jika mereka juga sesama muslim, apa yang dikhawatirkan? Sebab, jika Islam ditegakkan, sungguh kehidupan akan damai, indah, dan mengayomi seluruh masyarakat, bahkan nonmuslim sekalipun. Jika Islam ditegakkan, nonmuslim mendapatkan perlindungan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًاوَفِي رِوَايَةٍ: ذِمِّيًّالَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Barang siapa membunuh seorang kafir mua’had, tidak akan mencium wangi surga.”

Mengapa harus khawatir dan takut dengan agama Allah subhanahu wa ta’ala yang sempurna, lengkap, dan penuh rahmat?

Mereka khawatir, jika Islam fundamentalis bangkit, akan membahayakan dan membantai mereka. Padahal, yang mereka khawatirkan tidak muncul dari Islam, tetapi dari pemikiran sesat, baik Syiah maupun Khawarij yang ekstrem dan ghuluw.

Demikian sekilas perkembangan kaum Islam liberal. Bermula dari obrolan, siaran, tulisan, pembentukan jaringan, hingga pemaksaan pemikiran dengan menuduh orang-orang yang bersemangat belajar agama Islam dengan tuduhan yang buruk.

Ada sedikit perbedaan antara kaum liberal di Indonesia dan di negeri Barat. Kaum liberalis di negeri barat diisi oleh orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti ajaran agama mana pun, baik Nasrani, Yahudi, maupun Islam. Sampai-sampai mereka berupaya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis dan menyerukan penerimaan terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Adapun kaum liberal di Indonesia masih menggunakan nama Islam, Islam liberal. Akan tetapi, pemikiran yang mereka serukan mirip: reaktualisasi Islam, persamaan gender, dan lainnya. Menurut pikiran mereka, al-Qur’an tidak adil. Aturan hukum waris harus diubah karena dianggap tidak adil.

Setelah itu, muncul M. Quraish Shihab dengan bukunya, Membumikan Al-Qur’an, yang bertujuan memunculkan Islam yang sesuai dengan budaya bumi persada Indonesia. Berikutnya, muncul Islam Nusantara, bentuk Islam khusus yang dirombak dan disesuaikan agar sesuai dengan kondisi di Nusantara, Indonesia.

Sekian banyak kelompok di atas memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin menunjukkan Islam toleran, Islam yang lembut, Islam yang mengayomi; bukan Islam yang kaku, Islam Arab, Islam yang hanya bertujuan untuk perang. Mereka menginginkan agama Islam sesuai dengan budaya Indonesia yang lembut. Padahal dengan melihat berita, kita tahu bahwa hampir setiap hari di Indonesia terjadi pembunuhan, pemerkosaan, mutilasi, pembakaran, dan kasus kriminalitas yang lain.

Demikianlah keadaan umum sebuah negara, ketika tidak dibimbing oleh agama, ia akan hancur. Namun, ketika dibimbing oleh agama, negara itu akan aman, tenteram, damai, dan sejahtera.

Oleh karena itu, jangan menyalahkan dan menuduh bahwa agama menyebabkan negara menjadi kacau sehingga muncul keinginan untuk merombak agama.

Orang kafir di Amerika saja punya slogan, “Kita cinta damai, tetapi kita lebih cinta kemerdekaan.” Maksudnya, mereka mencintai kedamaian, tetapi siap berperang untuk mempertahankan kedamaian tersebut.

Jadi, sebenarnya mereka sepakat bahwa perang diperlukan untuk menegakkan kedamaian. Jika kaum liberalis Indonesia menentang peperangan, lantas bagaimana cara pemerintah memerangi para pemberontak? Karena itulah, jihad diperlukan. Inilah yang disyariatkan oleh Islam yang sempurna dan lengkap.

Said Agil Siraj pada awal kepulangannya ke Indonesia dari studinya sempat mengatakan bahwa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu pikun. Mulai dari situ, disinyalir bahwa orang ini akan menjadi orang berbahaya pemikirannya. Akhirnya, saat ini, setelah menjadi pemimpin ormas besar di Indonesia, dia mulai berbicara hal-hal yang aneh.

Di antara pernyataannya ialah Islam Nusantara lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab. Apa yang dimaksud Islam Arab oleh Said? Apakah Islam yang menggunakan al-Qur’an yang berbahasa Arab? Ataukah agama Islam yang diajarkan oleh orang Arab?

Padahal sudah kita ketahui, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang Arab, dari suku Quraisy, bani Hasyim, keturunan Nabi Ismail q. Lantas, apa yang dipermasalahkan?

Jika orang Indonesia beragama Islam, orang Arab beragama Islam, orang dari negara lain juga beragama Islam, seharusnya orang Islam di dunia seperti ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

“Kalian semua dari Adam, sedangkan Adam dari tanah.”

Tidak ada keutamaan orang Arab di atas ajam, tidak ada keutamaan orang ajam di atas orang Arab kecuali dengan ketakwaan.

Oleh karena itu, hendaknya jangan kita permasalahkan beda Islam Arab, Islam Indonesia, ataupun Islam Turki. Yang dipertanyakan, apakah sebuah amalan berasal dari agama Allah subhanahu wa ta’ala, al-Qur’an, dan as-Sunnah? Jika ya, amalan tersebut berlaku untuk seluruh bangsa dan negara di dunia.

Kalimat dan tuduhan seperti di atas yang sejatinya menjadi pemicu perpecahan. Dampaknya, orang yang tidak mendalami agama Islam mulai meragukan dan mempertanyakan syariat Islam. Salah satunya menyatakan bahwa hijab muslimah adalah budaya Arab sehingga tidak perlu digunakan oleh bangsa lain. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ditemukan bahwa hijab juga bukan budaya Arab. Budaya Arab dalam berpakaian sebelum Islam datang adalah penggunaan pakaian yang terbuka. Dengan datangnya Islam, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para wanita menutup aurat.

Agama Allah subhanahu wa ta’ala itu dari Allah subhanahu wa ta’ala, disampaikan oleh utusan-Nya, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah (hlm. 113), “Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan Nabi-Nya, dan Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya lewat ajaran Nabi-Nya. Agama ini sudah sempurna, tidak perlu tambahan untuk Islam dan umatnya, baik dari akal, nukilan, pendapat, mimpi, maupun kasyaf siapa pun.”

Agama Islam sudah sempurna. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Jika Islam harus mengikuti budaya setiap negeri, akan jadi berapa macam agama Islam ini?

 

Di antara prinsip kaum liberalis adalah membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Mereka menganggap bahwa ijtihad adalah penalaran rasional. Jadi, semua orang boleh berijtihad. Jika demikian adanya, konsekuensinya seluruh kitab para ulama dan kitab tentang kaidah penafsiran tidak perlu dibaca. Sebab, setiap orang boleh menafsirkan ayat al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya. Ujung-ujungnya, agama akan hancur dengan dibukanya pintu ijtihad bagi setiap orang.

Kita meyakini bahwa para kiai di belakang mereka mengetahui kaidah tafsir bahwa ayat ditafsirkan dengan ayat, dengan hadits, dan dengan ucapan para sahabat radhiallahu ‘anhum. Kita meyakini pula bahwa para kiai mereka tahu—sesuai dengan ajaran al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah—tentang siapa saja yang boleh berijtihad, yaitu yang mengetahui bahasa Arab, tafsir, kaidah ilmu tafsir, hadits, dan penjelasannya. Jadi, ijtihad harus berdasarkan ilmu, bukan lamunan.

Bermula dari lamunan, ada liberalis yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet. Hal itu didukung oleh Nurcholis Majid. Dia menguatkan pendapat itu dengan dalih ayat al-Qur’an, “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah.” Ja’ilun berasal dari kata ja’ala, yang membutuhkan dua maf’ul, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala hanya menyebutkan satu saja. Jadi, perlu satu maf’ul lagi dalam ayat, “Sesungguhnya Aku menjadikan …. sebagai khalifah.” Titik-titik yang masih kosong itu menurut kaum liberalis bisa jadi monyet.

Kebebasan berpikir yang mereka serukan seperti ini bertujuan untuk merusak agama, baik sengaja maupun tidak. Akibatnya, semua orang, dengan latar pendidikan apa pun, berani berbicara masalah agama. Mereka membahas agama dari sisi sosial, ekonomi, dan ritual seenaknya.

Akan tetapi, ketika dibalik, apakah mereka mau menerimanya? Jika para kiai turut berbicara tentang ilmu yang mereka bidangi, apakah mereka mau menerima? Tentu jawabnya tidak boleh, karena setiap ilmu itu ada ahli yang membidanginya. Sungguh, pemikiran mereka itu sangat tidak adil.

 

Kaum liberal lebih mengutamakan semangat religio-etik (penafsiran baru yang universal), bukan makna literal-teks (penafsiran lama yang telah ditetapkan).

Mereka menafsirkan ayat al-Qur’an tidak tekstual, tetapi kontekstual; sehingga mereka memutarbalikkan ayat dan hadits. Mereka sebut hal ini sebagai tafsir. Memang benar bahwa ada beberapa ayat yang memang perlu dijelaskan secara kontekstual, tetapi dengan qarinah; tidak sembarangan sabagaimana halnya penafsiran kaum liberal. Semua hal ini diterangkan dalam ilmu ushul tafsir.

Masuknya pemikiran liberal ke beberapa ormas Islam di Indonesia adalah musibah besar. Kericuhan pada Muktamar NU 2015 memberi sinyalemen bahwa masih ada para kiai yang membaca kitab para ulama Ahlus Sunnah sehingga kaum liberal tidak mudah memasuki organisasi NU.

 

Di antara prinsip kaum liberal ialah meyakini bahwa kebenaran itu relatif.

Padahal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah disebutkan bahwa meragukan kebenaran agama Allah subhanahu wa ta’ala adalah kekafiran.

Dinukil dari ucapan salah seorang liberalis yang mempermainkan dan mendustakan perkara agama, Muhammad Amin, “Nanti, akan ketemu Muhammad, Yesus, dan Gusdur. ‘Muhammad, maaf ya. Kemarin umat saya membakar masjid umatmu,’ Kata Yesus. ‘Oh, ndak apa-apa kok. Umat saya juga pernah membakar gereja umatmu,’ Jawab Muhammad. Gusdur menyahut, ‘Sudah, dibuat saja Gerejid (Gereja-Masjid). Jadi kalau hari Ahad dipakai Misa, hari Jumat dipakai Jumatan. Kan beres, gitu aja kok repot.’

Dinukil pula dari orang yang sama, “Nanti ketika laporan di hari kiamat, Allah cuma tersenyum dan melihat surga sangat luas. Begitu dia melihat surga, di sana ada Muhammad, Yesus, Mahatma Gandhi, Martin Luther, dan Bunda Theresa.

Penyimpangan kaum liberal yang semakin jelas ini semoga membuat para kiai semakin berpikir untuk kembali kepada agamanya, membuka kembali kitab para ulama, seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumullah sehingga mengetahui agama Islam sebenar-benarnya.

 

Di antara pemikiran liberalisme adalah berpihak kepada minoritas yang tertindas, baik dalam hal agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, maupun ekonomi.

Padahal, jika mengaku beragama Islam, seharusnya mereka berpihak kepada yang benar. Kita harus mengakui bahwa seluruh manusia tidak tahu hal terbaik untuk manusia sendiri. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kebaikan yang paling baik untuk umat manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menggariskan wahyu-Nya sejak diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam bentuk al-Qur’an lengkap 30 juz dan diajarkan dengan sempurna. Al-Qur’an sudah memberi solusi terhadap hal yang mereka khawatirkan berupa peperangan, perpecahan, pertikaian, dan kekacauan.

Munculnya kaum liberal semacam ini bermula dari adanya kaum radikal dan ekstrem yang mengafirkan pemerintah dan kaum muslimin. Akan tetapi, keekstreman dilawan dengan keekstreman pula.

Mereka selalu meneriakkan pembelaan terhadap kaum minoritas. Kaum Kristiani yang membakar masjid dibela. Kaum perempuan dibela karena dianggap minoritas. Mereka terus meneriakkan emansipasi wanita. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ

“Dan tidaklah laki-laki itu sama dengan perempuan.” (Ali Imran: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya. Semestinya para liberalis berpikir bahwa para wanita yang lemah itu perlu dilindungi oleh kaum lelaki, karena mereka lemah agama dan lemah akalnya. Para wanita perlu dibimbing dan dijaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

“Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa’: 34)

Mereka meneriakkan emansipasi agar para wanita dianggap sejajar dengan para lelaki. Mereka menganggap wanita boleh menjadi pemimpin atau khatib. Di Amerika, pernah terjadi shalat Jumat dengan khatib seorang perempuan, dan jamaah laki-laki bercampur dengan perempuan tanpa hijab.

Kebebasan berpikir ala kaum liberal dikhawatirkan juga akan mengarah ke dalam masalah pemerintahan. Mereka akan bebas berbicara dan berkomentar tentang masalah pemerintahan.

Jika pemikiran liberal yang diterapkan di Barat benar-benar diterapkan di Indonesia, seharusnya tidak muncul istilah Islam Nusantara. Akan tetapi, mestinya dinamakan Islam Barat atau bahkan sama sekali tanpa embel-embel Islam. Sebab, jika dinamakan Islam Nusantara, seharusnya tidak boleh meniru cara orang kafir di negeri Barat. Inilah keanehan yang mereka buat, mereka menamakan Islam, tetapi liberal. Dua hal yang tak bisa disatukan.

 

Kaum liberal meyakini kebebasan memeluk agama. Hal ini didasarkan pemikiran mereka yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sungguh, agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Ketika kaum muslimin menyebut kaum Nasrani, Yahudi, Hindu, dan Budha adalah kafir, apakah bisa disebut Islam mengajarkan permusuhan, perpecahan, dan pertikaian? Jawabnya, tidak.

Kaum muslimin harus membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Menurut kaum muslimin, orang yang masuk surga adalah yang beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang berjalan di agama lain adalah penduduk neraka.

Islam tidak memaksa orang yang beragama lain untuk memeluk agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ

“Tidak ada paksaan dalam agama.” (al-Baqarah: 256)

Toleransi yang diberikan kaum muslimin kepada nonmuslim adalah memberikan keleluasaan bagi mereka untuk memilih menjadi mukmin atau kafir tanpa paksaan. Kaum muslimin hanya menjelaskan mana yang benar mana yang salah, dan mana agama yang lurus mana agama yang kafir. Toleransi kaum muslimin juga berarti bahwa mereka tidak mengganggu kaum Nasrani di gereja-gereja.

Jika kaum muslimin di Indonesia berpegang al-Qur’an dan as-Sunnah, Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik yang diampuni oleh Rabb) yang diturunkan berkah dari langit dan bumi. Namun, jika kita berdusta, yang datang dari langit dan bumi adalah azab.

Di Indonesia, pernah dicetuskan bahwa tidak akan bisa menjadi persatuan dalam perbedaan kecuali jika ditanamkan pemikiran bahwa semua agama sama. Padahal, hal itu justru menjadi pemicu perpecahan. Biarkan setiap pemeluk agama mengamalkan ajaran masing-masing dan tidak saling mengganggu. Al-Qur’an menyebutkan,

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Katakanlah, “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

Jika kandungan surat ini diajarkan di Indonesia, niscaya negeri ini akan aman. Toleransi melebihi batasan syariat justru akan mendatangkan kerusakan dan azab Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Di antara pemikiran kaum liberal ialah memisahkan antara otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Mereka meyakini bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Mereka melarang pembicaraan agama disangkutpautkan dengan politik, sosial, bahkan dunia. Jadi, ketika ada yang mencoba membahas salah satu isu di atas dengan sisi pandang agama, mereka akan menjulukinya sektarian.

Inilah yang menyebabkan kaum muslimin tidak mau berpegang dengan ajaran agama pada bidang-bidang yang dianggap terpisah dari agama menurut kaum liberal.

Hal semacam ini pernah terjadi pada agama Nasrani beberapa abad yang lalu. Saat itu para pendeta gereja bertentangan dengan para ilmuwan di universitas. Perseteruan itu berujung pada perdebatan yang memberi solusi agar ilmu agama dipisahkan dengan ilmu pengetahuan alam.

Akan tetapi, itu adalah agama Nasrani, yang berbeda dengan agama Islam. Agama Islam adalah agama yang sempurna dan mencakup segala urusan manusia di dunia. Allah subhanahu wa ta’ala menjamin akan menjaga agama Islam sampai hari akhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Kami yang menurunkan adz-Dzikr, kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Dari pemaparan di atas, bisa kita nyatakan bahwa Islam liberal sebenarnya mencampurkan beberapa pemikiran sesat sekaligus: sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

 

Di antara yang didengungkan sebagai ciri Islam Nusantara adalah:

  1. Sifat rahmatan lil alamin.

Said Aqil Siraj menyebutnya sebagai salah satu ciri Islam Nusantara. Berbeda halnya dengan “Islam Arabyang kaku, penuh teror, dan kekerasan.

Pernyataan ini sudah dibahas di atas.

  1. Tidak memusuhi Syiah.

Ciri ini disebutkan oleh Ulil Abshar Abdalla. Menurutnya, Islam Nusantara menganggap Syiah sebagai bagian yang sah dari umat Islam. Tentu saja, ini adalah cerminan prinsip liberalisme: kebenaran itu relatif dan kebebasan berpikir & berpendapat.

Akan tetapi, Ulil ternyata tidak konsekuen. Ia tidak mau mengatakan Islam “Wahabisebagai bagian yang sah dari umat Islam.

  1. Mengikuti budaya setempat.

Misalnya, tradisi sesajen yang merupakan warisan budaya Hindu. Islam Nusantara mengikuti alur budaya tersebut dengan memberi makna baru, yaitu kepedulian terhadap sesama. Ini diucapkan oleh Abdul Muqsith Gazali, seorang tokoh Islam liberal.

Jadi, yang mereka gambarkan tentang Islam Nusantara ialah Islam yang sejuk dan lembut, tidak pernah keras dan berkonfrontasi. Namun, ironisnya, ketika muktamar membahas Islam Nusantara, terjadi keributan dan kericuhan (baca: konfrontasi, kekerasan, dan caci maki). Jadi, ketika di satu sisi mencerca “Islam Arab, mereka sendiri terjatuh dalam hal yang mereka sematkan dan tuduhkan terhadap “Islam Arab.

Tentu saja, hal ini tidak luput dari pengamatan para kiai sepuh mereka. Mereka pun mengungkapkan keprihatinan dan rasa malu atas apa yang terjadi pada muktamar tersebut.

 

Himbauan & Seruan

Kita yakin bahwa selama mengaku muslimin, tentu mereka memiliki pegangan dan anutan yang sama. Kita berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai anutan.

Oleh karena itu, tidak perlu dibuat hal-hal baru dalam agama hanya karena ingin menampakkan wajah Islam yang lebih toleran, lebih sejuk. Seakan-akan dia bisa membuat yang lebih bagus dari apa yang ada dalam al-Qur’an dan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnah beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥١

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) sedangkan dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (al-Ankabut: 51)

Sikap keras dan marah pada keadaan tertentu diperlukan sebagai bentuk sikap rahmat (kasih sayang). Kita bersikap keras terhadap kelompok yang menyimpang sebagai sikap rahmat kita terhadap mereka agar berhenti, dan terhadap kaum muslimin agar tidak mendapatkan keburukannya.

Ingatlah ucapan al-Imam al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah,

إِنَّ الدِّينَ إِنَّمَا جَاءَ مِنْ قِبَلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، لَمْ يُوْضَعْ عَلَى عُقُولِ الرِّجَالِ وَآرَائِهِمْ، وَعِلْمُهُ عِنْدَ اللهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ، فَلاَ تَتَّبِعْ شَيْئًا بِهَوَاكَ فَتَمْرُقَ مِنَ الدِّينِ فَتَخْرُجَ مِنَ الْإِسْ مَالِ

“… Sungguh, agama ini hanyalah datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dibuat dan diada-adakan oleh akal manusia. Ilmunya ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan di sisi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga keluar dari agama Islam….”

Wallahul Mustaan.

 Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Pelajaran dari Sejarah Munculnya Khawarij

Sungguh, dengan mengenali sejarah generasi awal Khawarij akan menumbuhkan sikap waspada terhadap mereka. Sebab, mereka akan senantiasa muncul, hingga Dajjal muncul di tengah-tengah mereka, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Cikal bakal mereka yang paling awal adalah seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah. Jenggotnya tebal, tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, dahinya timbul, dan kepalanya gundul. Dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang membagi ghanimah (harta rampasan perang) Perang Hunain, “Berbuat adillah, wahai Muhammad!”— atau—“Bertakwalah engkau, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Siapa lagi yang akan menaati Allah kalau aku bermaksiat kepada-Nya? Allah telah memercayaiku (untuk diutus) terhadap penduduk bumi, namun kalian tidak memercayaiku?”

Lelaki itu kemudian berpaling. Setelah itu, ada seorang sahabat yang hadir—disebutkan bahwa dia adalah Khalid bin al-Walid—meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuhnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dari tulang sulbi orang itu akan keluar sekelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Jika aku mendapati mereka, sungguh aku akan memerangi mereka sebagaimana kaum Ad diperangi.” (HR. Muslim)

Awal munculnya mereka dalam bentuk kelompok ialah pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Terjadi perselisihan antara mereka dan Ali radhiallahu ‘anhu, ketika Ali menunjuk orang sebagai hakim dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma dalam rangka menjaga agar darah kaum muslimin tidak ditumpahkan.

Sepulang dari Syam setelah peristiwa Shiffin, Ali radhiallahu ‘anhu memasuki Kufah. Saat memasuki Kufah, sekelompok pasukannya memisahkan diri dari Ali radhiallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa jumlah kelompok itu sekitar 16 ribu orang atau 12 ribu orang. Ada juga yang menyebutkan jumlah kurang dari itu.

Mereka memisahkan diri dari Ali lalu memberontak kepada beliau. Mereka mengingkari Ali radhiallahu ‘anhu dalam beberapa masalah. Ali radhiallahu ‘anhu lalu mengutus Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma untuk menemui mereka untuk berdialog dalam beberapa masalah tersebut dan membantah syubhat mereka. Urusan yang mereka persoalkan sebenarnya tidak ada hakikatnya. Sebagian mereka rujuk kepada kebenaran, namun sebagian yang lain tetap bersikeras dalam kesesatan mereka.

Selanjutnya, Ali radhiallahu ‘anhu sendiri yang keluar menemui mereka yang tersisa. Beliau radhiallahu ‘anhu terus-menerus berdialog dan mendebat mereka hingga mereka kembali bersama Ali radhiallahu ‘anhu ke Kufah. Mereka kemudian mulai menentang ucapan beliau dan memperdengarkan cercaan terhadap beliau. Selain itu, ayat-ayat tentang syirik dan kekafiran terhadap Allah mereka tujukan kepada diri Ali radhiallahu ‘anhu.

Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan, suatu hari Ali radhiallahu ‘anhu sedang berpidato. Ketika itu, berdirilah salah seorang Khawarij dan berkata, “Wahai Ali, engkau telah berbuat syirik dalam agama Allah dengan (menunjuk) manusia (sebagai hakim). La hukma illa lillah (Tidak ada hukum kecuali milik Allah).”

Lantas bersahutanlah suara dari setiap sudut, “La hukma illa lillah, la hukma illa lillah.”

Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Ini adalah kalimat yang benar, tetapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan.”

Beliau kemudian berkata, “Kalian memiliki hak atas kami untuk kami tidak menghentikan pemberian fai’ selama tangan kalian masih (berbai’at) bersama kami, kami tidak menghalangi kalian mendatangi masjid-masjid Allah, dan kami tidak akan memulai memerangi kalian sampai kalian sendiri yang memulai memerangi kami.”

Setelah itu, kaum Khawarij berkumpul di tempat tinggal Abdullah bin Wahb ar-Rasibi. Abdullah bin Wahb berpidato di hadapan mereka dengan ucapan yang menggugah mereka. Dia menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia, mendorong mereka untuk urusan akhirat dan surga, dan memberi semangat mereka untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Setelah, itu naiklah Hurqus bin Zuhair berpidato, dilanjutkan oleh Zaid bin Hishn, yang juga menyemangati mereka untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Dia membaca beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shad: 26)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Demikian pula ayat yang selanjutnya, yang menyebutkan “mereka itu adalah orang-orang yang zalim” dan “mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.

Setelah itu, dia berkata, “Aku mempersaksikan bahwa orang-orang yang kita dakwahi, orang-orang yang sama kiblatnya dengan kita, bahwa mereka telah mengikuti hawa nafsu, mencampakkan hukum al-Qur’an, zalim dalam hal ucapan dan amalan, serta bahwa berjihad melawan mereka adalah sebuah keharusan bagi kaum mukminin.”

Menangislah seseorang di antara mereka yang bernama Abdullah bin Sakhbarah. Dia pun memprovokasi mereka untuk melakukan pemberontakan. Dia berkata, “Tikamlah wajah dan kening mereka dengan pedang, sehingga ditaatilah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, “Manusia jenis ini adalah keturunan Adam yang paling aneh. Mahasuci Dzat yang telah menciptakan makhluk-Nya beraneka ragam sesuai dengan kehendak-Nya, dan telah terdahulu dalam takdir Allah Yang Mahaagung.

Betapa bagusnya ucapan sebagian salaf, bahwa mereka (Khawarij) lah yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)

Ringkasnya, mereka yang bodoh, sesat, celaka dalam hal ucapan dan perbuatan ini, bersepakat untuk memberontak di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka bersepakat pergi menuju Madain untuk merebutnya kemudian berlindung di dalamnya. Mereka pun mengirim utusan kepada saudara-saudara dan teman-teman mereka yang memiliki pemikiran serupa di Basrah dan kota lainnya. Orang-orang tersebut memenuhi ajakan tersebut dan bergabung dengan mereka.

Zaid bin Hishn berkata, “Madain tidak mampu kalian kuasai. Di sana ada pasukan yang tidak mampu kalian hadapi, yang akan menghalangi kalian memasukinya. Buatlah kesepakatan dengan teman-teman kalian untuk pergi ke arah jembatan Sungai Jaukha. Janganlah kalian keluar dari Kufah secara berkelompok, tetapi seorang demi seorang agar tidak ada yang menyadari kalian.”

Mereka menulis surat terbuka kepada penduduk Basrah dan kota lainnya yang memiliki pemikiran dan tindakan yang sama dengan mereka. Mereka mengirimkan pesan tersebut agar bergabung di sisi sungai, agar mereka menjadi satu kekuatan menghadapi manusia.

Setelah itu, mereka keluar secara sembunyi-sembunyi, seorang demi seorang, agar tidak diketahui. Jika ada yang tahu, tentu mereka akan dihalangi sehingga tidak bisa memisahkan diri dari ayah, ibu, paman, dan seluruh kerabat sehingga mereka memutus tali silaturahim.

Dengan kebodohan, pendeknya akal, dan sedikitnya ilmu, mereka berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini membuat Allah ‘azza wa jalla—Rabb langit dan bumi—ridha. Mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka tersebut termasuk salah satu dosa besar yang membinasakan, problem berat, dan kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan mereka merupakan hasil hiasan Iblis—yang terlaknat, diusir dari langit, dan telah memancangkan tonggak permusuhan kepada bapak kita, Adam dan keturunannya selama ruh mereka masih ada dalam jasad. Hanya Allah sajalah Dzat yang kita minta untuk melindungi kita dengan daya dan upaya dari-Nya. Sesungguhnya, Dialah Dzat yang mengabulkan doa-doa.

Sekelompok orang berhasil menyusul sebagian anak dan saudara mereka lantas memulangkannya, memberi pelajaran, dan menyatakan buruknya perbuatan orang-orang tersebut. Di antara mereka ada yang kemudian istiqamah di atas kebenaran, namun ada pula yang melarikan diri. Yang melarikan diri kemudian bergabung dengan Khawarij. Dia pun ditimpa kerugian hingga hari kiamat.

Kaum Khawarij yang tersisa ini akhirnya pergi ke tempat yang direncanakan. Penduduk Basrah dan kota lainnya yang mereka kirimi pesan dahulu memenuhi ajakan mereka. Mereka semua berkumpul di Nahrawan. Mereka memiliki kekuatan dan menjadi pasukan tersendiri. Mereka berani dan berkeyakinan bahwa perbuatan mereka ini adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Sungguh, amat buruklah sangkaan dan kesalahan mereka.

Ketika Ali radhiallahu ‘anhu sedang menyiapkan pasukan menuju Syam dan berpidato memberi semangat pasukannya, sampai kepada beliau berita bahwa Khawarij telah membuat kerusakan di muka bumi, menumpahkan darah yang tidak boleh ditumpahkan, merampok di jalan, dan menganggap halal para wanita.

Di antara yang mereka bunuh ialah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu. Mereka menawan Abdullah dan istrinya yang sedang hamil. Mereka bertanya, “Siapa engkau?”

Abdullah menjawab, “Aku Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian telah membuatku takut.”

Mereka berkata, “Engkau tidak apa-apa. Sampaikanlah hadits yang pernah engkau dengar dari ayahmu.”

Abdullah berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خُيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari kecil.”

Mereka lalu mengikat tangan Abdullah. Ketika sedang berjalan bersama beliau, mereka pun mendapati seekor babi milik kafir dzimmi. Sebagian mereka membunuhnya dan merobek kulitnya. Sebagian yang lain berkata, “Mengapa kalian lakukan ini, padahal babi itu milik seorang kafir dzimmi?” Yang membunuh babi tersebut kemudian pergi menuju kafir dzimmi pemilik babi, dan meminta kehalalan perbuatannya dan membuatnya ridha.

Ketika Abdullah masih bersama mereka, ada buah kurma yang jatuh dari pohon. Salah seorang mereka memungutnya lantas memasukkannya ke dalam mulut. Ada yang berkata kepadanya, “(Engkau mengambil dan memakannya) tanpa izin dan tanpa harga?”

Dia pun segera mengeluarkan kurma tadi dari mulutnya. Namun, bersamaan dengan sikap wara’ ini, mereka membunuh Abdullah bin Khabbab, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah sikap wara’ dusta ini.

Setelah itu, mereka mendatangi istri Abdullah. Istri Abdullah berkata, “Aku sedang hamil. Tidakkah kalian takut kepada Allah?”

Mereka tetap membunuhnya, bahkan kemudian merobek perutnya untuk mengeluarkan janinnya.

Ketika sampai kepada kaum muslimin bahwa begitulah perbuatan mereka, kaum muslimin khawatir apabila pergi ke Syam dan sibuk berperang dengan penduduknya, sementara kaum Khawarij tertinggal di sekitar rumah dan negeri mereka dengan perbuatan tersebut.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mengirim al-Harits bin Murrah al-‘Abdi sebagai utusannya kepada Khawarij. Namun, mereka membunuhnya tanpa peringatan. Ketika hal ini terdengar oleh Ali radhiallahu ‘anhu, beliau bertekad kuat untuk pergi menghadapi Khawarij terlebih dahulu sebelum pergi ke Syam. Beliau dan pasukannya berangkat dan berkumpul di sana.

Ali radhiallahu ‘anhu kembali mengirim utusan untuk menyampaikan, “Serahkan para pembunuh saudara kami agar kami balas membunuhnya (dengan qishash). Setelah itu, kami akan tinggalkan kalian dan pergi ke negeri Arab. Semoga setelah itu Allah mengarahkan hati kalian kepada sesuatu yang lebih baik daripada apa yang sekarang kalian berada di atasnya.”

Mereka menjawab, “Kami semua yang membunuh saudara-saudaramu. Kami anggap halal darah kalian dan darah mereka (yang telah kami bunuh).”

Qais bin Sa’d kemudian menemui mereka. Ia menasihati mereka tentang urusan besar dan kesalahan berat yang telah mereka lakukan. Namun, nasihat tersebut tidak bermanfaat.

Demikian pula Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu. Beliau memarahi dan mencela mereka. Namun, tidak bermanfaat juga. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang mendatangi mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu menasihati dan menakut-nakuti mereka. Beliau radhiallahu ‘anhu peringatkan dan mengancam mereka. Di antara ucapan beliau kepada mereka, “Sungguh, hawa nafsu kalian telah membujuk kalian. Kalian telah membunuh kaum muslimin. Demi Allah, kalau kalian membunuh seekor ayam milik mereka, sungguh hal itu sangat besar dosanya di sisi Allah. Lantas bagaimana halnya dengan darah kaum muslimin?”

Mereka tidak menjawab kecuali saling menyeru di antara mereka, “Jangan kalian berdialog dengannya. Jangan kalian berbicara dengannya. Bersiaplah untuk bertemu dengan Rabb ‘azza wa jalla. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

Inilah seruan Khawarij, baik di masa silam maupun sekarang. Mereka pun maju dan membentuk barisan untuk berperang. Mereka bersiap sedia untuk bertempur. Mereka berdiri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau.

Kaum Khawarij beramai-ramai menuju Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu telah menyiapkan pasukan berkuda dan pemanah di depan beliau, barisan pejalan kaki di belakang pasukan berkuda. Beliau berkata kepada pasukannya, “Tahanlah diri kalian, sampai mereka yang lebih dahulu menyerang.”

Kaum Khawarij datang seraya mengatakan, “La hukma illa lillah. Bergegaslah, bergegaslah menuju surga.”

kaki-kuda

Mereka pun menyerang pasukan berkuda yang disiapkan oleh Ali radhiallahu ‘anhu. Sebagian pasukan berkuda tersudut ke kanan, sebagian lagi ke arah kiri. Mereka pun dihadapi oleh pasukan pemanah dengan anak panah yang diarahkan ke wajah mereka. Setelah itu, pasukan berkuda menyerang mereka dari arah kanan dan kiri. Kemudian pasukan pejalan kaki menyerang mereka dengan tombak dan pedang. Pasukan Ali radhiallahu ‘anhu berhasil membunuh kaum Khawarij yang lantas bergelimpangan menjadi mayat di bawah kaki-kaki kuda. Terbunuhlah pimpinan mereka Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, Hurqus bin Zuhair, Syuraih bin Aufa, dan Abdullah bin Sakhbarah. Semoga Allah menjelekkan mereka.

Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku menusuk seorang Khawarij dengan tombak dan aku tembuskan hingga ke punggungnya. Aku katakan kepadanya, ‘Bergembiralah engkau, wahai musuh Allah, dengan neraka.’ Ternyata si Khawarij ini menjawab, “Engkau akan tahu nanti, siapa yang lebih pantas masuk ke dalamnya’.” Bayangkan, dia katakan hal itu kepada seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiallahu ‘anhu pun mulai berjalan di antara mayat mereka dan berkata, “Kejelekan bagi kalian. Sungguh, yang menipu kalian telah memudaratkan kalian.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang telah menipu mereka?”

Ali menjawab, “Setan, dan jiwa yang selalu memerintah kepada kejelekan. Jiwa itu menipu mereka dengan angan-angan dan menghias-hiasi kemaksiatan untuk mereka. Jiwa itu memberitahu bahwa mereka akan membantunya.”

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian memerintahkan agar kaum Khawarij yang terluka dikembalikan kepada kabilah mereka masing-masing untuk diobati. Jumlah mereka sekitar empat ratus orang. Ali radhiallahu ‘anhu membagi-bagi senjata dan barang yang tersisa dari mereka.

Ali radhiallahu ‘anhu kemudian keluar untuk mencari seorang lelaki yang dijadikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda kaum Khawarij. Kedua lengan atau salah satunya seperti payudara wanita. Beliau radhiallahu ‘anhu menemukannya di sebuah lubang di tepi sungai, bersama dengan 40 atau 50 mayat lainnya. Ketika menemukannya, Ali radhiallahu ‘anhu pun sujud kepada Allah dengan sujud yang lama, sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan kepada kita ciri-ciri Khawarij dan pahala yang besar bagi yang membunuh mereka di bawah komando pemerintah, atau terbunuh oleh mereka. Ali radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh (tidak punya hikmah). Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Demikian pula hadits-hadits lainnya. Dari peristiwa ini kita ketahui bahwa:

  1. Perjuangan Khawarij adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan dunia.
  2. Mereka menujukan ayat-ayat tentang kekafiran dan kesyirikan kepada pemerintah.
  3. Mereka mengafirkan hakim sekaligus orang yang berhukum kepadanya.
  4. Mereka tidak akan ridha terhadap seorang hakim, seadil apa pun dia, apabila bukan dari kelompok mereka dan sejalan dengan pemahaman mereka.

Mereka tidak ridha dengan pembagian dan hukum yang ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga tidak ridha terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu seingga mereka membunuh beliau. Mereka juga tidak ridha dengan Ali radhiallahu ‘anhu dan para sahabat terbaik yang bersama beliau. Bagaimana mungkin mereka akan ridha terhadap pemerintah-pemerintah kita sekarang ini?

  1. Mereka menipu manusia dengan penampilan religius, slogan amar ma’ruf nahi mungkar, dan upaya perbaikan. Akan tetapi, sungguh mereka adalah orang yang paling jauh dari hakikat agama dan sunnah.
  2. Mereka tidak segan menumpahkan darah kaum muslimin.

Mereka membunuh orang yang tidak bersalah, wanita, sampaipun bayi yang masih dalam kandungan. Hal ini sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Abdullah bin Khabbab radhiallahu ‘anhu.

Disebutkan pula dalam hadits, “Mereka membunuh para pemeluk Islam, namun membiarkan para penyembah berhala.”

Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang. Apabila kita melihat kenyataan kita sekarang, engkau dapati kaum Khawarij terus-menerus ada.

Bahkan, kaum Khawarij sekarang lebih jelek daripada generasi yang terdahulu. Kaum Khawarij terdahulu menampakkan shalat, ibadah, dan membaca al-Qur’an, secara lahiriah. Adapun Khawarij sekarang tidak memiliki agama. Agama mereka adalah penipuan dan khianat. Bacaan mereka pun bukan al-Qur’an, melainkan nasyid-nasyid provokatif.

Ketika kaum Khawarij terdahulu meninggalkan ulama dari kalangan para sahabat radhiallahu ‘anhum, bahkan mengafirkannya, mereka pun sesat dan menyimpang. Ini merupakan sebab terbesar jatuhnya seseorang dalam kesesatan. Demikian pula Khawarij masa kini, ketika mereka mencela dan mengafirkan ulama kita, mengatakan bahwa ulama kita sebagai budak penguasa dan sebutan jelek lainnya, mereka pun menyimpang dan sesat.

Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, engkau akan berjalan di atas ashshirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Semoga Allah memberikan keamanan di negeri kita dan menjadikannya—serta negeri-negeri kaum muslimin yang lain—sebagai negeri yang baik dan damai.

 

(Dipetik dari khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri di Masjid as-Sa’idi, Jahra, Kuwait, 25 Syawwal1435 H/ 22 Agustus 2014 M)

Bahaya Khawarij Terhadap Umat

Di antara tema penting yang perlu dibahas adalah sikap ghuluw/berlebih-lebihan yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di sisi lain ada sikap bermudah-mudahan, tamyi’ (menganggap mudah, remeh, tidak kokoh di atas kebenaran). Dua hal ini menjadi musibah bagi agama dan umat ini, khususnya bagi Ahlus Sunnah. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan sisi pertama, sikap keras dan sikap berlebihan dalam urusan agama.

Ghuluw adalah salah satu sebab kesyirikan di tengah-tengah Bani Adam, sebagaimana kisah kaum Nabi Nuh radhiallahu ‘anhum. Kesyirikan pertama kali yang ada pada umat Nuh adalah sikap melampaui batasan agama dalam hal menyanjung dan menghormati orang-orang saleh.

Kemudian lihatlah, bagaimana sikap berlebih-lebihan mengantarkan umat kepada hal lain. Oleh karena itu, dahulu ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dilarang dari sikap tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ

“Wahai ahlul kitab, jangan kalian bersikap melampaui batas dalam agama kalian. Dan jangan kalian berucap sesuatu kecuali kebenaran.” (an-Nisa’: 171)

Agama ini melarang sikap tersebut dan memerintahkan bersikap adil serta pertengahan (tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan). Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Demikianlah umat ini Kami jadikan sebagai umat pertengahan.” (al-Baqarah: 143)

Demikian pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sahabat radhiallahu ‘anhum melempar jumrah ketika haji. Sebagian mereka melampaui batas dengan melempar bebatuan besar (bukan dengan kerikil kecil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum, “Hati-hatilah kalian terhadap ghuluw, karena sesungguhnya yang menghancurkan umat sebelum kalian adalah sikap melampaui batas dalam urusan agama.”

Dalil tentang hal ini sangatlah banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umat ini dari suatu kaum yang melampaui batas dan memberatkan diri dalam urusan agama padahal tidak ada perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada pula suatu kelompok yang tidak ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling adil; tidak ridha terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum sehingga memerangi dan mengafirkan mereka. Tentu saja, kelompok ini lebih tidak ridha dengan hukum kaum muslimin dan pemerintahnya.

Rifle_AK-47

Mereka (orang yang melampaui batas) ada di tengah-tengah umat ini. Kelompok tersebut disebut Khawarij. Inilah nama yang sesuai dengan syariat bagi kelompok tersebut yang semestinya kita sematkan. Mereka memiliki nama yang banyak sepanjang sejarah, di antaranya al-Azariqah, ash-Shufariyah, an-Najdat. Ini adalah kelompok pecahan khawarij.

Mereka memiliki pemikiran dan pengikut yang masih muncul pada masa kini dengan nama/sebutan yang lain, seperti, Quthbiyyun (pengikut Sayyid Quthb yang memiliki paham takfir), al-Qaedah/Daulah Islamiyah/ISIS—yang bersikap ghuluw, keras, dan melakukan kekerasan di tengah-tengah umat; Islam berlepas diri dari tindakan semacam itu)—dan Jabhatun Nushrah. Semua itu adalah bagian kelompok sesat dan politik yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Cikal bakal mereka ketika muncul pada masa Rasulullah adalah orang yang bernama Dzul Khuwaishirah, seorang munafik. Dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat membagi harta rampasan perang Hunain. Yang dikatakannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil! Aku melihatmu tidak berbuat adil.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Celaka engkau! Siapa yang bisa berbuat adil jika aku tidak bisa berbuat adil.”

Orang ini tidak ridha dengan pembagian Rasulullah, tidak ridha dengan ketentuan beliau; bagaimana bisa orang ini ridha terhadap kita dan para pimpinan kita?

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan menunjuk orang ini, “Suatu kaum akan keluar dari orang ini (keturunan dan para pengikutnya) yang kalian merasa shalat kalian lebih sedikit dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian lebih sedikit dibandingan dengan puasa mereka. Mereka akan banyak membaca al-Qur’an.”

Maknanya, para sahabat radhiallahu ‘anhum yang ahli ibadah akan merasa bahwa ibadahnya masih sedikit dibandingkan ibadah mereka. Sebab, orang Khawarij gemar beribadah, shalat, dan membaca al-Qur’an. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa bacaan mereka tidak melampaui tenggorokan mereka; yakni hanya sampai lisan mereka, tidak sampai kepada kalbu mereka. Mereka tidak memahami dan mengamalkannya dengan benar. Karena itu, walaupun ibadah mereka seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka keluar dari agama ini seperti anak panah yang melesat cepat dari sasarannya. Perbuatan mereka ini bukan dari Islam dan tidak boleh disandarkan pada Islam.

Di antara sifat lain yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka (Khawarij) dari kalangan anak-anak muda. Inilah mayoritas yang ada pada Khawarij pada masa ini. Mereka merekrut anak-anak muda, lalu mereka gunakan untuk melakukan operasi bom bunuh diri, membunuh muslimin yang tidak berdosa, dan semacamnya.

Sifat berikutnya adalah orang yang bodoh akalnya. Mereka tidak punya hikmah dan ilmu, yang ada hanya kebodohan.

Sifat berikutnya, mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala (nonmuslim). Oleh karena itu, jika diperhatikan tempat perkumpulan dan aksi mereka, baik pada masa lampau maupun masa kini, mereka melakukannya di tengah-tengah kaum muslimin, di negeri Islam. Mereka melakukan pengeboman dan pembunuhan, termasuk terhadap wanita dan anak-anak. Fokus mereka adalah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Perhatikanlah, kelompok sempalan ISIS mengancam akan masuk dan menyerang negara Saudi Arabia dengan pasukannya. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Sementara itu, Yahudi dan Masjidil Aqsa yang demikian keadaannya, yang berada di sebelah mereka, tidak pernah mereka lemparkan satu peluru pun terhadapnya.

Oleh karena itu, saya peringatkan kalian dengan sebenar-benarnya, siapa pun yang berbaik sangka terhadap mereka dan Khawarij secara umum, baik ISIS atau selainnya. Saya peringatkan umat ini agar tidak bergabung dengan mereka dan kekhalifahan mereka yang menyelisihi syariat.

Mereka yang bergabung dengan Khawarij, apakah kalian kira akan berjihad? Mereka justru menggunakan anak muda yang bergabung dengan mereka sebagai pelaku bom bunuh diri. Ketika seorang anak muda datang, mereka beri beberapa latihan. Setelah itu, bahan peledak dipasangkan pada tubuh mereka dan diperintahkan untuk melakukan bom bunuh diri ke tempat tertentu. Yang pasti, anak muda tersebut akan mati. Dengan perbuatan itu, bukankah dia memasukkan dirinya pada hal yang haram, yaitu bunuh diri?

Lebih jauh lagi, perbuatan yang dilakukannya bisa jadi membahayakan orang lain, bisa jadi pula tidak. Terbunuhnya pelaku adalah hal yang pasti. Sangat disayangkan, kebanyakan aksi bom bunuh diri mereka dilakukan di dalam komunitas kaum muslimin. Oleh karena itu, berhati-hatilah dari mereka dengan sebenar-benarnya.

Lihatlah sejarah mereka dahulu bagaimana Khawarij membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu. Mereka memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu, mengepung, dan membunuh beliau di rumahnya. Utsman radhiallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid. Mereka juga membunuh Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij, di antaranya, “Kalau sempat menjumpai mereka, aku akan memerangi mereka dan menghancurkan mereka seperti dihancurkannya kaum ‘Ad.”

Nabi juga mengatakan bahwa orang yang terbunuh oleh kaum Khawarij adalah orang yang mati syahid dan orang yang berhasil membunuh mereka akan mendapatkan surga. Oleh karena itu, Ali radhiallahu ‘anhu menyambut seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memerangi Khawarij. Namun, perlu diketahui bahwa peperangan melawan Khawarij tidak dilakukan oleh perorangan, tetapi oleh pemerintah kaum muslimin.

Pada peristiwa perang Nahrawan, orang Khawarij berlomba menyeberangi jembatan sungai Nahrawan untuk membunuh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Bahkan, sebagian mereka jatuh dari jembatan itu karena berlomba-lomba membunuh kaum muslimin. Lihatlah perbuatan Khawarij terhadap para sahabat. Mereka berusaha melakukan makar pembunuhan terhadap Utsman, Muawiyah, dan Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhum. Mereka juga memberontak terhadap Daulah Umawiyah dan Daulah Abbasiyah.

Mereka terus melakukan hal itu sampai disebutkan dalam hadits bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah mereka. Artinya, Khawarij akan terus ada, sampai munculnya Dajjal, sang pendusta. Ini menjadi bukti bahwa Khawarij itu sesat.

Khawarij adalah salah satu kelompok sesat. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa Khawarij tidak termasuk kaum muslimin. Perbuatan Khawarij mencoreng muka umat Islam. Mereka menampakkan kekerasan di tengah-tengah umat, seperti menyembelih manusia, membakar manusia hidup-hidup, dan membunuh kaum wanita. Sebagian mereka memfatwakan bolehnya membelah perut wanita hamil dan membunuh janinnya sebagaimana membunuh anak-anak. Alasan mereka, orang kafir akan melahirkan orang kafir sehingga janin harus dibunuh. Semua ini menunjukkan betapa bodoh dan jauhnya mereka dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Khawarij telah menyempitkan keluasan kasih sayang Islam. Mereka tidak menampilkannya kepada umat. Lihatlah sebagai contoh, dalam kitab al-Imam al-Lalikai, beliau mengisahkan dua orang Khawarij ketika thawaf sekitar Ka’bah. Kita ketahui bahwa jumlah orang yang thawaf dan haji tentulah sangat banyak. Orang pertama berkata kepada yang kedua, “Engkau melihat betapa banyaknya orang yang berhaji ini?”

Orang kedua menjawab, “Ya.”

Orang pertama berkata, “Ketahuilah, dari sekian banyak orang ini, tidak ada yang akan masuk surga kecuali kita berdua.” Sebab, mereka menganggap hanya mereka yang muslim. Selain mereka, semuanya kafir.

Orang kedua pun tersadar dan berkata, “Surga yang luasnya langit dan bumi tidak akan dimasuki kecuali oleh kita berdua? Ini tidak benar. Aku tinggalkan dirimu dan mazhabmu.”

Akhirnya dia meninggalkan orang pertama yang berpemikiran Khawarij. Inilah akidah Khawarij. Bagi mereka, yang muslim hanyalah diri dan kelompoknya, muslimin di seluruh dunia adalah orang kafir. Bahkan, sesama faksi mereka sendiri saling mengafirkan dan membunuh.

Yang perlu diperhatikan, penyebab terbesar kesesatan dan penyimpangan itu adalah jauhnya mereka dari bimbingan para ulama. Mereka tidak mengikuti fatwa dan arahan para ulama. Mereka menyebut ulama Ahlus Sunnah sebagai munafik, budak penguasa, dan julukan jelek lain yang mereka sematkan.

Oleh karena itu, ketika para pemuda bergabung dengan mereka, yang pertama kali mereka lakukan adalah menanamkan syubhat ini sehingga menjauhi dan tidak merasa terikat oleh para ulama. Jika pemuda merasa tidak terikat kepada ulama Ahlus Sunnah, dia akan menyimpang. Ketahuilah, ulama Ahlus Sunnah masa kini di antaranya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, guru kami asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, dan selain mereka yang banyak jumlahnya. Kita semua wajib senantiasa terikat dengan mereka dan mengambil ilmu darinya.

Saya akhiri dengan suatu wasiat, hendaknya kita benar-benar mementingkan urusan ilmu dan mempelajarinya. Setiap muslim wajib mementingkan urusan ilmu, mempelajarinya di ma’had salafiyin, mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya, fikih, dan lebih penting lagi mempelajari akidah/keyakinan/tauhid yang benar dari kitab-kitab yang sahih, kitab para ulama Ahlus Sunnah.

Sebab, umumnya mereka yang sesat itu seperti kata Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Kebanyakan pengikut aliran takfir adalah orang bodoh. Mereka mencari dan merekrut orang yang kurang pengetahuan agamanya.”

Jika tidak mengetahui urusan agama, kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga terseret bersama orang-orang sesat tersebut.

Kami memohon kepada Allah azza wa jalla agar mengokohkan kita semua di atas sunnah dan tauhid, menjauhkan kita dari segala keburukan dan penyimpangan, yang tampak maupun tidak. Semoga Allah mengokohkan kita di atas as-Sunnah. Kita berlindung kepada Allah dari segala keburukan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Aku mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan negeri ini dan negeri muslimin secara umum sebagai negeri yang aman, damai, sentosa, jauh dari segala kekacauan dan keburukan.

 

(Dipetik dari ceramah Asy-Syaikh Dr. Khalid bin Dhahwi bin azh-Zhafiri pada hari Sabtu, 20 Syawwal 1435 H/16 Agustus 2014 M, di Masjid Shirathal Mustaqim, Komplek Jasa Marga Tangerang)

ISIS dan Al-Qaeda Tidak Mewakili Islam

Penjelasan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad alu asy-Syaikh Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi; Ketua Dewan Ulama Besar; Ketua Umum Komite Tetap untuk Pembahasan dan Fatwa

Segala pujian hanya milik Allah Rabb alam semesta. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du,

Saudara dan saudari sekalian, perkenankan saya memberi ucapan penghormatan dengan penghormatan Islam yang abadi, yang memiliki beragam kandungan mulia dan tujuan yang tinggi. Semoga keselamatan dari Allah atas kalian, demikian pula rahmat dan barakah-Nya. Saya wasiatkan kepada Anda semua—dan diri saya pribadi—untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menyibukkan diri dengan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan mencukupinya.

Kondisi yang umat Islam alami ini, banyak negeri mereka menjadi kacau. Berbagai pemahaman telah menyusup pula ke dalam tubuh umat Islam. Tidak diragukan lagi, pemikiran yang paling berbahaya ialah yang mengatasnamakan agama karena akan dianggap suci sehingga ringan bagi jiwa untuk menjalankannya. Ketika itulah, manusia beralih—kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla—dari perpecahan yang agama mencegahnya, kepada perpecahan dalam hal agama itu sendiri. Inilah yang diperingatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفۡعَلُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Pada ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla memperingatkan kaum muslimin agar tidak terjadi dalam agama mereka sebagaimana yang terjadai pada kaum musyrikin. Memecah belah dalam agama Islam adalah dengan memecah belah pokok agama mereka yang sebelumnya bersatu, yaitu setiap pemecahbelahan yang mengantarkan pemiliknya saling mengafirkan dan saling berperang dalam hal agama.

Dalam Islam, tidak ada tindak kejahatan yang lebih berat di sisi Allah ‘azza wa jalla dibandingkan kekafiran karena memecah belah jamaah. Jamaah yang membuat hati-hati manusia saling mengasihi dan menyatukan kalimat mereka, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Hendaknya kalian taat dan bersatu (di bawah pemerintah kalian). Sebab, itulah tali Allah ‘azza wa jalla yang kita diperintahkan untuk berpegang dengannya. Apa yang kalian benci ketika berada di bawah pemerintah, itu lebih baik daripada apa yang kalian sukai ketika berpecah belah.”

Perpecahan dan perselisihan tidaklah terjadi kecuali akibat kebodohan dan memperturuti hawa nafsu, sebagaimana persatuan dan rasa cinta tumbuh dari ilmu dan ketakwaan.

Kaum muslimin saat ini—sebagaimana diketahui oleh semuanya—sangat butuh mendalami ilmu dan mengenali agama yang sempurna ini, sebelum pihak lain. Tidak hanya dalam hal hukum (fikih), tetapi juga mengetahui tujuan yang agung dan luas, yang menjadi sebab pensyariatan dan diturunkannya. Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengutus para rasul dan menurunkan syariat-syariat kecuali untuk menegakkan tata aturan (kehidupan) manusia, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ٢٥

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Syariat Islam adalah syariat yang paling agung dan paling sempurna, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Sungguh, syariat Islam datang membawa kebaikan bagi manusia di dunia dan akhirat. Tujuan umum syariat Islam ialah memakmurkan bumi dan menjaga aturan kehidupan di bumi yang dengannya akan terwujud kebaikan bumi dan kebaikan para penduduknya.

Di antara asas al-Qur’an yang luas ialah hukum asal segala sesuatu adalah boleh,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al-Baqarah: 29)

dan hukum asal manusia adalah al-baraah (terlepas dari hukum syariat),

فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (ar-Rum: 30)

Dua kaidah di atas merupakan fondasi segala pensyariatan dan kebebasan. Setiap asas di atas tidak akan sempurna dan tegak berdiri kecuali dengan mengetahui bahwa toleransi adalah sifat utama syariat Islam dan tujuannya yang terbesar. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.” (al-Baqarah: 286)

Dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَحَبُّ الدِيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang hanifiyah dan samhah.”

Hanifiyah adalah lawan dari syirik, sedangkan samhah adalah lawan dari kesempitan dan memberat-berati diri.

Dalam hadits yang lain dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatberati diri dalam agama ini kecuali agama ini akan mengalahkannya.”

Penelitian terhadap syariat ini menunjukkan bahwa toleransi dan kemudahan merupakan salah satu tujuan agama ini. Menampakkan toleransi berpengaruh besar terhadap tersebarnya agama ini dan keberlangsungannya. Akan diketahui bahwa kemudahan merupakan bagian dari fitrah, karena fitrah manusia menyenangi kelemahlembutan.

Hakikat toleransi adalah sikap pertengahan antara dua kutub: sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Sikap pertengahan dengan makna ini adalah sumber berbagai kesempurnaan. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang sifat umat ini,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat yang adil.” (al-Baqarah: 143)

Di bawah cahaya tujuan yang agung ini akan tampak hakikat sikap pertengahan dan kelurusan. Akan tampak pula bahwa sikap pertengahan merupakan kesempurnaan dan keindahan Islam ini. Akan jelas pula bahwa pemikiran ekstrem, kekerasan, dan terorisme yang membuat kerusakan di muka bumi, menghancurkan lahan pertanian dan keturunan, sama sekali bukan dari Islam. Justru pemikiran inilah yang pertama kali menjadi musuh Islam. Kaum musliminlah yang pertama kali menjadi korban.

no_isis

Sebagaimana hal ini disaksikan berupa kejahatan kelompok yang disebut ISIS dan al-Qaeda, serta berbagai kelompok pecahannya. Sangat tepat ditujukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman nanti, sekelompok orang yang masih muda umurnya dan berpemikiran bodoh. Mereka mengatakan ucapan makhluk yang terbaik. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama ini sebagaimana halnya melesatnya anak panah dari binatang buruannya. Apabila kalian mendapati mereka, bunuhlah mereka. Sebab, orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah pada hari kiamat.”

Kelompok-kelompok Khawarij ini tidak boleh dinisbatkan kepada Islam dan para pemeluknya yang memegang teguh petunjuk Islam. Mereka adalah wujud lain dari Khawarij, kelompok sempalan yang pertama kali melesat keluar dari agama karena mengafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa besar sehingga menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.

Dalam kesempatan ini, kami menyeru untuk menyatukan dan menyusun kesungguhan dalam hal pendidikan, taklim, dakwah, dan pengembangan dalam rangka menguatkan sikap pertengahan dan keadilan, yang bersumber dari syariat Islam kita yang berkilau; dengan menanamkan garis yang sempurna, disertai tujuan-tujuan yang jelas, yang diperkuat oleh instruksi pelaksanaan guna mewujudkan dan mengejawantahkan tujuan-tujuan tersebut.

Demikianlah… Sesungguhnya dunia berguncang di sekitar kita. Karena itu, kita di Kerajaan Arab Saudi yang telah diberi anugerah oleh Allah ‘azza wa jalla berupa persatuan kalimat dan barisan di bawah para pemimpin kita, yang terepresentasikan dalam diri Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz alu Su’ud, Putra Mahkota al-Amin, dan penerusnya—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga mereka semua—hendaknya menjaga keadaan yang stabil ini, di mana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Hendaknya kita juga tidak menjadikan perselisihan di luar garis perbatasan sebagai sebab timbulnya perselisihan di antara kita.

Setiap kita di Kerajaan Arab Saudi—segala puji hanya bagi Allah—orang yang bertauhid dan orang Islam. Kita jaga persatuan di bawah pemerintah kita, kita senantiasa taat (kepada pemerintah) dalam hal yang baik. Kita mengemban amanah ilmu, pemikiran, pendapat, dan pena. Kita berloyalitas secara umum sesama kita. Kita memaafkan sesama kita ketika tidak sengaja jatuh dalam kesalahan, baik di antara ulama, ustadz, penulis, kaum intelektual, maupun seluruh warga negara.

Kita mengarahkan dialog kita seputar pembahasan yang penting bagi kita, terkait agama dan negara, dengan bahasa yang santun, tanpa menuduh berkhianat atau tuduhan lain. Kita semua di negara ini sama, masing-masing memiliki hak dan kewajiban.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengabadikan berbagai nikmat-Nya, yang lahir dan yang batin, atas diri kita. Kita juga memohon agar Allah ‘azza wa jalla menjaga negeri kita dan negeri-negeri kaum muslimin dari segala keburukan.

Semoga Allah menjaga kita dan kaum muslimin lainnya dari berbagai ujian dan cobaan, yang lahir dan yang batin, serta memperbaiki keadaan kaum muslimin. Sesungguhnya, Allah ‘azza wa jalla lah yang Mahamampu atas hal tersebut.

[Potret] Kisah Mualaf Suku Lauje

Kabar Tentang Para Muallaf
Akhir bulan Muharram 1435 H, seorang teman dari Poso mengabarkan bahwa beberapa orang suku terasing di Desa Dongkalan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (PARIMO), Sulawesi Tengah telah memeluk Islam. Mereka adalah suku terasing Lauje atau yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan “Orang Bela”, walaupun Bupati PARIMO lebih menganjurkan untuk memanggil mereka dengan sebutan “Orang Lauje Asli”, agar lebih menghargai mereka.

jalan-menuju-kampung-suku-lauje
Jalan menuju kampung muallaf suku terasing Lauje

Mereka mendiami pegunungan Pantai Timur (istilah untuk wilayah pesisir timur Provinsi Sulawesi Tengah). Mayoritas dari mereka memang sudah dikristenkan karena adanya kegiatan misionaris Kanada atau Amerika Serikat. Alhamdullillah, beberapa orang dari mereka yang tersentuh hidayah untuk memeluk Islam sehingga menjadi muallaf.

Tentu saja para muallaf ini sangat membutuhkan bimbingan demi memperkuat keimanan mereka. “Kami tidak ingin berislam sekadar Islam KTP,” kata salah seorang muallaf. Akan tetapi sayang, mereka belum mendapatkan penanganan serius. Kondisi yang seperti ini membuat mereka rentan kembali lagi kepada kekafiran. Berdasarkan pengalaman, banyak warga muallaf yang tidak terbina kembali murtad.

Perjalanan Menuju Kampung Muallaf
Mendengar berita keislaman beberapa orang tersebut, sejumlah da’i Ahlus Sunnah di Poso dan Palu menyambut bahagia dengan menemui para muallaf. Jarak dari Poso menuju menuju Kecamatan Palasa sekitar 300 km, sedangkan dari Palu sekitar 200 km. Rombongan da’i Poso sepakat untuk bertemu dengan rombongan da’i Palu di Parigi. Kemudian mereka bersama-sama menuju Kecamatan Palasa.

pemandangan-dari-lereng
Pemandangan dari lereng menuju kampung suku terasing Lauje

Dengan bermodalkan nomor HP, pada pukul 14.30 WITA, rombongan meluncur dari Parigi menuju tempat tinggal para muallaf. Pada pukul 18.30 WITA, rombongan sudah tiba di desa Dongkalan. Kemudian rombongan langsung disambut ramah oleh Pak Arsyad (lebih akrab disapa Pak Acat). Beliau merupakan warga desa Dongkalan yang sering berinteraksi dengan orang-orang Bela. Dari Pak Acat inilah informasi awal tentang para muallaf ini didapat.

Beberapa Orang Bela Menjadi Muallaf
Setiap hari Sabtu (hari pasaran Dongkalan), orang Bela turun membawa barang dagangan dari gunung, seperti: kayu manis, rotan, bawang merah, dan hasil bumi lainnya untuk dijual di pasar. Uang yang didapat mereka gunakan untuk membeli ikan asin, garam, minyak goreng, dan keperluan lainnya.

Sehari sebelum hari pasar, orang Bela yang turun gunung berinteraksi dengan kaum muslimin, termasuk Pak Arsyad. Sebagian mereka masuk Islam lantaran interaksi tersebut, tanpa paksaan. Mereka masuk Islam dengan dibimbing imam masjid setempat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dimandikan oleh Imam Masjid. Sebagian mereka juga masuk Islam lantaran pernikahan dengan warga muslim di sekitar desa Dongkalan.

IMG-20140315-WA0005

Namun, setelah mereka masuk Islam, mereka belum mendapatkan pembinaan intensif dari tokoh setempat sehingga keadaan mereka cukup memprihatinkan. Kebanyakan mereka belum mengerti dan mengamalkan amal ibadah wajib.  Seorang warga yang sudah masuk Islam sejak satu/dua tahun lalu bahkan masih belum mengerti shalat, puasa, dan dasar-dasar Islam yang lain.

Penulis juga mendapati seseorang yang masih terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kami baru bersyahadat satu kali saja pak,” ujar salah seorang muallaf.

Jumlah para muallaf desa Dongkalan hingga sekarang ada 18 KK atau sekitar 60 jiwa. Semuanya membutuhkan bimbingan. Kehidupan mereka yang di bawah garis kemiskinan membuat mereka sangat rawan untuk kembali murtad ke ajaran Nasrani.

Taklim Bersama Para Muallaf
Keesokan hari, sekitar jam 08.00 WITA, rombongan naik ke SD Punsung Lemo guna bertemu langsung dengan para muallaf dengan menggunakan motor ojek. Karena medan terjal, jalanan naik turun, dan jarak yang jauh (sekitar 8 km), tarif ojek pun menyesuaikan. Tarif pulang pergi sejumlah Rp70.000,00, sekali antar Rp40.000,00.

rumah-suku-terasing-lauje
Rumah suku terasing Lauje

Setelah menaiki banyak tanjakan, tak terlihat perkumpulan rumah layaknya perkampungan. Akan tetapi, yang terlihat rumah-rumah yang terpencar di antara kebun yang terjal. Jarang sekali didapati tanah yang rata. Itulah tempat tinggal mereka, layaknya gubuk-gubuk tempat beristirahat di kebun. Hanya saja, mereka telah mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga atapnya sudah terbuat dari seng dan berdinding papan. Rumah mereka yang masih asli hanya berdinding kulit kayu dan beratap daun rotan tanpa paku, sebatas diikat dengan rotan.

pelataran-rumah
Pelataran rumah

Rombongan tiba di SD Terpencil Punsung Lemo. Terlihat sekumpulan warga yang berjalan menaiki bukit. Merekalah para muallaf yang hendak menghadiri taklim (pengajian) di SD Punsung Lemo. Di antara mereka ada pula warga Bela yang memang sudah muslim sejak lahir. Tidak lama, mereka masuk ke ruangan kelas untuk mendengarkan kajian. Disampaikan saran agar jamaah wanita dipisah di ruang sebelahnya, mereka memahaminya; sementara anak-anak mereka bermain di halaman sekolah.

Taklim pun dimulai. Salah satu dari rombongan menyampaikan beberapa materi kajian Islam: Makna dan Keutamaan Dua Kalimat Syahadat, Rukun Islam, Tata Cara Thaharah, Berwudhu, Tata Cara Shalat, dan beberapa adab Islam lain. Setiap 4—5 menit penyampaian materi, Pak Andi menerjemahkannya ke bahasa Lauje, karena memang kebanyakan mereka belum paham bahasa Indonesia.

Alhamdulillah, mereka mendengarkan dengan saksama. Seusai kajian, salah satu dari rombongan membagikan mie instan kepada muallaf.

Kristenisasi di Tinombo, Palasa, dan Sekitarnya
Menurut warga, misionaris dari Kanada sudah melakukan misi kristenisasi di Pantai Timur sejak sekitar tahun 40-an. Awal mulanya, ada beberapa penginjil bule yang datang ke kecamatan Tinombo (sebelah Kec. Palasa). Mereka meminta salah seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah setempat untuk menulis kamus Inggris-Lauje sampai akhirnya mereka menguasai bahasa Lauje. Mereka kemudian menerjemahkan injil ke dalam bahasa Lauje.

Para penginjil Kanada tersebut tinggal bertahun-tahun di pegunungan suku terasing La Uje. Dahulu mereka sempat menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah terpencil dalam menjalankan misi kristenisasi. (Alhamdulillah, sekarang helikopter tersebut sudah tidak terlihat lagi, wallahu a’lam apa sebabnya). Setelah itu, mereka mulai mendekati beberapa tokoh dan kepala suku orang Bela. Dengan diiming-imingi pakaian dan makanan, mereka berhasil mengkristenkan tokoh-tokoh orang Bela tersebut. Ketika kepala sukunya sudah masuk Kristen, dengan mudah masyarakat mengikutinya. Lebih-lebih mereka juga membagikan beras dan pakaian kepada masyarakat gunung
tersebut.

Beberapa kepala suku yang berhasil mereka rekrut ada yang dikirim ke Kanada. Akhirnya, kepala suku tersebut menjadi pendeta dan penginjil di gunung. Beberapa pemuda/pemudi orang Bela juga mereka kirim ke Perguruan Theology, seperti ke Manado, Tentena (Poso), atau tempat lainnya. Pada akhirnya mereka pulang menjadi pendeta di gunung.

Seorang Mantan Penginjil Yang Menjadi Muallaf
Setiba rombongan berada di rumah Pak Acat, beliau langsung menelepon salah satu muallaf untuk turun ke rumah beliau. Sepulang dari shalat Isya, rombongan sudah mendapati dua orang duduk di teras rumah Pak Acat. Mereka langsung menyalami keduanya, Pak Andi dan Pak Asmin.

Pak Andi adalah seorang mantan penginjil yang baru satu pekan masuk Islam. Beliau sempat mengenyam pelatihan Penginjil di Manado selama sebulan. Sementara itu, Pak Asmin sudah berislam sejak lahir, hanya saja istri beliau adalah seorang muallaf. Dalam kesempatan berjumpa dengan muallaf itu, salah seorang rombongan menawarkan untuk menyampaikan beberapa ajaran Islam. Keduanya pun mengiyakan. Sambil berbincang santai, salah seorang di antara mereka menyampaikan makna dua kalimat syahadat secara ringkas, rukun Islam lainnya, tata cara thaharah, dan adab Islam lainnya.

Dua orang tersebut mendengarkan dengan saksama. Bahkan, Pak Andi sempat merekam beberapa penjelasan tersebut dengan HP-nya. Dengan harapan bisa didengar ulang nanti di rumahnya. Kemudian mereka menyampaikan kepada Pak Andi, rencana akan naik ke gunung besok pagi, insya Allah. Rencana tersebut disambut baik Pak Andi, bahkan beliau meminta diadakan pengajaran Islam di gunung untuk warga muallaf lainnya.

Tidak berapa lama, datanglah Sekdes dan Ketua P3N. Pembicaraan beralih ke topik kondisi orang-orang Bela. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA, kedua orang Bela tersebut berpamitan untuk pulang ke rumahnya di gunung.

Semangat Belajar Seorang Muallaf
Walaupun malam mulai larut, Pak Andi dan Pak Asmin tetap berangkat pulang ke gunung. Dengan sebuah motor bebek, keduanya menaiki jalan terjal di kegelapan malam sejauh 8 km untuk sampai di rumahnya.

Setibanya di rumah, Pak Andi bukannya langsung tidur, tetapi membangunkan keluarganya yang sudah tertidur. “Bangun-bangun, ini ada rekaman pelajaran agama Islam dari Pak Ustadz. Mari kita dengarkan!”

Mereka pun bangun dan mendengarkan rekaman tersebut. Pak Andi mengatakan, “Kami mengulang-ulang mendengarkan rekaman tersebut hingga jam 2 malam, baru kami tidur.” Waktu itu istri Pak Andi masih Nasrani. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, beberapa pekan kemudian masuk Islam. Masya Allah, demikianlah semangat seorang muallaf yang ingin mengetahui ajaran Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan iman Pak Andi sekeluarga.

Esok harinya, masih pagi sekali, Pak Andi dan Pak Asmin berjalan naik turun bukit untuk menyampaikan undangan taklim kepada para muallaf lainnya yang akan dilaksanakan di Ruang Kelas SD terpencil Punsung Lemo.

Sekilas Tentang Kampung Muallaf
Dusun Solongan dan Pungsu, adalah dua dusun yang bersebelahan, keduanya masih di bawah pemerintahan Desa Dongkalan. Solongan berjarak sekitar 8 km dari jalan poros, sementara Pungsu terletak di bawah Solongan. Mayoritas warga Solongan beragama Nasrani, sementara Pungsu mayoritas muslim. Di kedua dusun inilah para muallaf tinggal.  Warga Bela di sana hidup dari sektor pertanian.

Secara geografis, kedua dusun tersebut terletak di atas perbukitan terjal dan berbatu. Lereng-lereng gunung yang sangat terjal mereka olah menjadi kebun-kebun. Mereka bercocok tanam ubi, singkong, padi ladang, bawang, cabai, coklat atau cengkih. Pengetahuan mereka tentang pertanian sangat minim sehingga hasil panennya pun sangat terbatas. Hal inilah yang melatarbelakangi program pembinaan pertanian kepada mereka demi lebih menambah produktivitas hasil pertanian. Makanan pokok mereka adalah talas, ubi, singkong, kadang nasi.
Ubi/singkong kadang dibakar atau direbus. Lauk yang paling mereka sukai adalah ikan asin. Kalau tidak ada ikan asin mereka makan dengan lauk garam dicampur cabai.

Tidak ada masjid di sana, demikian pula gereja.

Sekilas Tentang Dusun Salamayang
Salamayang adalah dusun yang sangat terpencil, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah hari bagi orang Bela yang sudah biasa.  Adalah Pak Nani Hati, beliau adalah warga Salamayang yang sudah masuk Islam dua tahun lalu. Hanya saja, beliau masih belum mengenal Islam. Anak dan istrinya masih belum dibimbing bersyahadat oleh Imam Dongkalan.

Beliau adalah satu-satunya guru di sana. Sekolah yang beliau kelola hanya beratap terpal, berlantai papan, tanpa ada dindingnya. Jumlah siswanya 120 orang. Di sana ada 400 KK atau sekitar 3.000 jiwa yang mayoritasnya masih beragama Nasrani. Hanya saja kegiatan gereja sudah tidak aktif lagi. Dahulu pernah ada pendeta Kanada yang tinggal menetap di sana. Akan tetapi, karena suatu kasus, dia diusir dari Salamayang.

Pak Nani Hati menjelaskan bahwa jika warga Salamayang disentuh dengan bantuan, insya Allah mereka bisa diajak masuk Islam. Beliau siap menjembatani untuk sampainya program dakwah kepada suku terasing di sana.

Pernah ada seorang warga Solongan yang pernah bertemu dengan sepuluh laki-laki Salamayang yang baru pulang dari kampung Dongkalan. Ketika ditanya keperluan mereka dari Desa Dongkalan, mereka menjawab, “Kami ada 10 keluarga ingin masuk Islam, tetapi tidak ada tanggapan dari Pak Imam.” Kesepuluh keluarga ini dengan penuh kesedihan pulang ke Salamayang tidak jadi masuk Islam.

Sungguh ironis, sepuluh keluarga tersebut tidak tersalurkan keinginannya untuk memeluk Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka dengan hidayah.

Dari sisi mata pencaharian, mayoritas warga Salamayang bercocok tanam bawang merah. Bagi yang pernah berkunjung ke Palu, mungkin sudah mengenal oleh-oleh Bawang Goreng renyah. Dari Salamayang-lah asal bawang goreng itu ditanam. Mereka berjalan selama setengah hari memikul hasil panen dari Salamayang menuju pasar. Terkadang bawang hasil panen mereka muat dengan rakit menyusuri sungai Palasa menuju jalan raya.

Keadaan Salamayang yang sangat terpencil tersebut membuat petugas pemerintah merasa kesulitan dalam membina mereka. Pembinaan dari para misionaris Kristen yang sempat menyentuh mereka sehingga mereka sekarang memeluk agama Kristen.

Pembangunan Gereja Ilegal
Sekitar 3 tahun lalu, masyarakat Desa Dongkalan sedang disibukkan dengan kerja bakti membangun pasar Dongkalan. Mereka hampir tidak pernah naik ke kebun di gunung. Ternyata secara diam-diam, para penginjil Pantekosta di Dusun Pungsu membangun sebuah gereja, tanpa izin pemerintah dan warga setempat. Warga dikagetkan dengan adanya undangan kebaktian dari seorang pendeta perempuan bernama Selvi. Warga bertambah kaget lagi ketika jemaat gereja yang datang itu ternyata dari luar daerah, seperti dari tentena (Poso), Bondoyong (Tinombo), dan Manado.

Warga sangat tersinggung dengan perbuatan para penginjil tersebut. Spontan warga langsung naik ke gunung dan merobohkan gereja ilegal tersebut. Konon kabarnya, gereja itu adalah yang terbesar di kecamatan tersebut. Tidak lama kemudian Danramil, Camat, dan Kades naik ke lokasi. Mereka juga menyalahkan tindakan para penginjil tersebut yang membangun gereja tanpa izin pemerintah dan warga setempat.

Akhirnya, Pendeta Muda Itu Masuk Islam
Para penginjil ternyata sudah menyiapkan seorang pendeta muda perempuan untuk memimpin jemaat gereja pantekosta di dusun Pungsu. Arina, seorang gadis belia suku Bela yang telah mereka kirim ke sebuah sekolah Theology di Manado. Dia mengenyam pendidikan Pendeta sekitar 3 Tahun di Manado. Mereka harap Arina bisa melanjutkan misi di dusun Pungsu. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala memusnahkan impian mereka.

Walaupun gereja ilegal tersebut sudah dirobohkan warga, Pendeta Selvi masih ngotot terus melakukan kebaktian di rumah seorang warga. Hanya saja Pendeta Arina sudah tidak begitu aktif memimpin jemaat lagi. Entah apa yang menyebabkan pendeta Arina tidak aktif memimpin jemaat.

Karena kevakumannya, Pendeta Selvi sempat memukul Pendeta Arina. Kurang lebih dua bulan yang lalu, kaum muslimin Dongkalan mendapat kabar gembira dengan masuk Islamnya Pendeta muda Arina, menyusul dua kakaknya yang terlebih dahulu masuk Islam. Ada seorang pria muslim dari dusun Tingkulang yang mempersunting mantan Pendeta Arina. Akhirnya, mereka berdua dinikahkan
oleh imam di masjid setempat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menambah keimanan beliau. Sekarang, mantan pendeta Arina berpindah ikut sang suami tinggal di Tingkulang.

Keinginan Membangun Masjid
Para muallaf sangat mendambakan berdirinya sebuah masjid di Dusun Pungsu-Solongan. Mereka sangat menginginkan bisa belajar Islam bersama anak dan istri mereka di masjid tersebut. Akan tetapi, karena kurang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait, keinginan mulia ini belum tercapai.

Sepulang rombongan da’i Ahlus Sunnah dari kampung muallaf itu, mereka terus menyampaikan kabar tentang kondisi para muallaf tersebut kepada kaum muslimin di Poso, Parigi, dan Palu. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala gerakkan hati kaum muslimin untuk membantu para muallaf dalam meraih cita-cita mulia tersebut.

masjid-yang-sedang-dibangun
Masjid yang sedang dibangun di tempat suku terasing Lauje

Tidak lama, terkumpullah belasan karung pakaian pantas pakai serta sejumlah dana dakwah dan pembangunan masjid. Sekarang program pembangunan masjid kayu dengan ukuran 8x8m secara bertahap. Kerangka bangunan dan atap seng sudah terpasang. Karena keterbatasan tenaga tukang, pembangunan belum berlanjut. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai kayu dan dinding kayu.

Program Dakwah yang Lain
Berikut ini rencana program dakwah yang akan dilaksanakan di kampung muallaf.

1. Rencana pengadaan sarana MCK, tempat wudhu, dan pengadaan air bersih. Mengingat langkanya sumber air, pengadaan air bersih rencana diambil dari sebuah mata air di bukit yang berjarak sekitar 600 m. Dibutuhkan selang air sebanyak 12 rol dan dua buah tandon penampungan air.

2. Program pemberangkatan 5 guru ngaji setiap pekan sekali bergiliran. Mengingat jarak Poso-Palasa sekitar 300 km, dibutuhkan biaya akomodasi para ikhwah Poso yang mengajar mengaji.

3. Program pembagian santunan rutin (bulanan) kepada 18 keluarga muallaf. Banyaknya isu fitnah yang ditebarkan orang yang tidak bertanggung jawab, menyebabkan beberapa keluarga muallaf terhasut dan tidak mau menghadiri taklim lagi. Dakwah kepada mereka dilanjutkan dalam bentuk bantuan santunan rutin atau pembagian sembako dalam rangka melembutkan hati-hati mereka.

Tatkala penulis menyerahkan santunan sejumlah uang kepada seorang muallaf terlihat matanya berkaca-kaca.
Sampai sekarang, belum ada santunan rutin yang diberikan kepada tiap warga muallaf, selain pembagian pakaian pantas pakai, sabun, dan garam dapur. Itu pun baru terlaksana satu kali.

Demi meredam berbagai isu fitnah, program santunan juga ditujukan kepada beberapa tokoh adat dan kepala dusun (orang Bela yang sudah muslim sejak lahir) yang hidup di bawah garis kemiskinan.

4. Program biaya belajar santri La Uje, alhamdulillah, ada dua santri muallaf yang sudah dikirim ke Poso untuk belajar di Ma’had al-Manshurah dan Pra Tahfizh Poso. Insya Allah, ada beberapa anak muallaf lain yang ingin menyusul mereka untuk belajar di Poso.

5. Pembebasan tanah untuk tempat tinggal imam masjid dan beberapa keluarga muallaf.

6. Program pembangunan beberapa unit rumah kayu untuk beberapa orang Bela. Aji, seorang muallaf yang tinggal di dusun Silongkohung. Jika hendak ke lokasi masjid, dia mesti berjalan kaki sekitar empat puluh menit. Dia sangat menginginkan berpindah ke dekat masjid agar lebih intensif belajar Islam. Hanya saja karena terkendala biaya, Aji masih belum bisa membangun rumah dekat
masjid. Selain Aji, masih ada beberapa warga Bela yang menginginkan mendekat ke lokasi Masjid.

Setelah masjid dibangun, insya Allah akan diresmikan oleh pemerintah setempat: Camat, Kepala KUA, atau Kepala Desa. Sekaligus diadakan bakti sosial sunatan masal, pengobatan gratis, dan pembagian santunan terhadap para muallaf.

Perizinan Dakwah Kepada Para Muallaf
Sudah menjadi prinsip dakwah Ahlus Sunnah, setiap langkah dakwahnya selalu berkoordinasi dengan pemerintah. Sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah dalam hal ma’ruf. Para du’at yang hendak berdakwah kepada para muallaf ini menemui Kepala Desa Dongkalan, Camat, dan Kapolsek Palasa. Para pejabat tersebut secara umum mendukung program mulia ini.

Proses perizinan dilanjutkan ke tingkat lebih tinggi dengan menghadap Kapolres Parimo, Sekda Parimo, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Parimo. Dengan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, surat izin kegiatan dakwah dari Polres dan Kankemenag Kab. Parimo telah keluar.
Demikian gambaran singkat dakwah kepada para muallaf suku terasing Lauje.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan keimanan mereka semua. Amin.

(al-Ustadz Abu Hafsh Umar al-Atsari, Poso)

Bagi Anda yang ingin membantu kelanjutan program dakwah ini, dapat disalurkan melalui:

Bank BRI Poso No. Rek. 0072-01-006008-53-0  a.n. SARMIN PAROSO

ATAU

Bank Syariah Mandiri Poso No. Rek. 70-699-3950-8 a.n. ATJO ISHAK ANDI MAPATOBA

 

CP: al-Ustadz Umar Abu Hafsh (081 383 314 075)

Laporan donasi yang masuk bisa dilihat di sini.

Bacaan-Bacaan Tasyahud

Dahulu sebelum diajari tasyahud, dalam shalat para sahabat mengucapkan,

السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، السَّلاَمُ عَلىَ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ

“Keselamatan atas Allah. Keselamatan atas Jibril dan Mikail. Keselamatan atas Fulan dan Fulan (yang mereka maksudkan adalah para malaikat).”

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap mereka seraya berkata,

لاَ تَقُوْلُوا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ

Janganlah kalian mengatakan, “Keselamatan atas Allah; karena Allah adalah as-Salam.”

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka bacaan tasyahud. (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

Membaca Tasyahud Disunnahkan dengan Sirr

Abdullah ibnu Mas ’udz mengatakan, “Merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tasyahud dibaca secara sirr.” (HR. Abu Dawud no. 986, at-Tirmidzi no. 291, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)

Al-Imam Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh para ulama.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/179)

An-Nawawi rahimahumallah berkata, “Ulama sepakat disirrkannya bacaan tasyahud dan dibenci membacanya dengan jahr. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud.” (al-Majmu’, 3/444)

Bacaan Tasyahud

Bacaan tasyahud yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam sehingga memberikan kelapangan kepada umat beliau untuk memilih di antara bacaanbacaan tersebut.

1. Tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Ini adalah bacaan tasyahud yang paling sahih di antara bacaan-bacaan yang ada menurut para ulama.

Ibnu Mas’ud Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Rasulullah n mengajariku tasyahud, dalam keadaan telapak tanganku berada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surat al-Qur’an” (HR. al-Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 899).

Adapun bacaannya adalah sebagai berikut,

التَّحِيَّاتُ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh1. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

Sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dengan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ

menggantikan,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

Di antara yang meriwayatkan demikian adalah Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari (no. 6265) dan selainnya, dengan jalur selain jalur riwayat di atas. Beliau berkata, “Kami mengatakan saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ

“Keselamatan atasmu….”

Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, kami mengatakan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ

“Keselamatan atas Nabi….”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Menurut tambahan riwayat ini, zahirnya para sahabat mengucapkan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

dengan huruf kaf yang menunjukkan kata ganti orang kedua (yang diajak bicara) ketika Nabi n masih hidup. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal, mereka menyebutkan dengan lafadz ghaib (kata ganti orang ketiga yang tidak hadir). Mereka mengatakan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيُّ

(lihat Fathul Bari, 11/48) Al-Imam al-Albani t mengatakan, “Dalam hal ini masalahnya lapang. Sebab, lafadz mana pun yang diucapkan oleh seorang yang shalat, asalkan itu tsabit/ pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia telah menepati sunnah.(al-Ashl, 3/891)

Pendapat Ibnu Utsaimin dalam Masalah Ini

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah, “Menurut saya, ini adalah ijtihad Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, ijtihad ini tidak benar dari tiga sisi:

1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengajari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu hadits ini dan tidak mengaitkannya dengan menyatakan, “Selama aku masih

hidup (ucapkan begini…).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu untuk mengajari manusia lafadz seperti ini.

2. Orang yang mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat tidaklah sama dengan orang yang mengucapkan salam dalam keadaan berhadapan/ bertemu, yang saling bertemu ini tidak terjadi lagi setelah wafat beliau (karena itu lafadznya perlu diganti).

Akan tetapi, orang yang mengucapkan salam kepada beliau di dalam shalat hanyalah sebagai bentuk doa, bukan salam karena mengajak bicara.

3. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajari tasyahud kepada manusia dalam posisi beliau sebagai khalifah di atas mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

Hal ini disaksikan oleh para sahabat  dan dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Namun, tidak ada seorang pun yang mengingkari lafadz yang diajarkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Di samping itu, tidak diragukan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu lebih berilmu dan lebih faqih daripada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ يَكُنْ فِيْكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَعُمَرُ

“Jika di antara kalian ada muhaddatsun2, dia adalah Umar.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram, 3/394)

Dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah dinyatakan, “Yang benar, seorang yang shalat mengucapkan dalam tasyahudnya,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebab, inilah yang tsabit dalam hadits-hadits. Adapun riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam masalah tasyahud, jika memang haditsnya sahih, hal itu merupakan ijthad dari pelakunya yang tidak bisa dipertentangkan dengan hadits-hadits yang tsabit. Seandainya hukumnya berbeda antara semasa hidup Rasulullah dan sepeninggal beliau, niscaya beliau akan menerangkannya kepada mereka.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 7/10—11)

Hukum Tambahan Lafadz “Wa Maghfiratuh”

Rabi’ bin Haitsam pernah datang kepada Alqamah, meminta pendapat Alqamah untuk menambah setelah ‘warahmatullahi’ dengan lafadz ‘wa maghfiratuh’. Alqamah berkata, “Kita hanyalah mencukupkan dengan apa yang telah diajarkan kepada kita (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Mushannaf Abdirrazzaq ash-Shan’ani, no. 3062)

2. Tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

Menurut al-Imam asy-Syafi’i rahimahumallah, tasyahud ini paling beliau senangi karena paling sempurna. Meski demikian, beliau,tidak mempermasalahkan orang lain yang mengamalkan tasyahud selain ini selama haditsnya sahih. (al-Umm, Bab “at-Tasyahud wash Shalah ‘alan Nabi”)

Adapun bacaannya,

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan, keberkahan-keberkahan, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah l) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 900)

3. Tasyahud Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 902)

4. Tasyahud Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doadoa= pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Abu Daud no. 971, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)

5. Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Umar mengajarkannya kepada manusia dalam keadaan beliau berada di atas mimbar. Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ ،ِلهلِ الزَّاكِيَاتُ ،ِلهلِ الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ لهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah, demikian pula ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’, no. 207)

Walaupun riwayat ini mauquf sampai Umar, namun hukumnya marfu’ sebagaimana kata Ibnu Abdil Barr rahimahumallah, “Dimaklumi, dalam urusan seperti ini tidaklah mungkin (seorang sahabat) mengatakan dengan ra’yu/akal-akalan/ pendapat pribadi.” (al-Istidzkar, 4/274)

6. Tasyahud Aisyah radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ، الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ، الزَّكِيَاتُ ،ِلهلِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

“Semua salam/keselamatan, ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), shalawat(doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Salam kesejahteraan atas kalian.” (HR. Malik no. 209)

Bacaan Tasyahud Manakah yang Paling Utama?

Yang mana saja dari bacaan di atas diamalkan oleh orang yang shalat, semuanya sahih dan mencukupinya. Kata an-Nawawi rahimahumallah, “Ulama sepakat bolehnya membaca semua tasyahud yang ada, namun mereka berselisih tentang mana yang paling utama dibaca. Mazhab asy-Syafi’i rahimahumallah dan sebagian pengikut al-Imam Malik rahimahumallah berpandangan tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena ada tambahan lafadz al-mubarakat di dalamnya dan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,

تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Tahiyyat dari sisi Allah yang mubarakah thayyibah.” (an-Nur: 61)

Selain itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menegaskan tasyahud yang diperolehnya dengan pernyataan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat dari al- Qur’an.” Abu Hanifah dan Ahmadrahimahumallah serta jumhur fuqaha dan ahlul hadits berpendapat, tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena haditsnya paling sahih menurut ahli hadits, walaupun seluruh bacaan tasyahud di atas haditsnya yang sahih.

Al-Imam Malik rahimahumallah berkata, “Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu  yang mauquf3 lebih utama karena Umar mengajarkamnya kepada manusia dalam keadaan beliau di atas mimbar dan tidak ada seorang pun (yang hadir) menentangnya (menyalahkan bacaannya). Ini menunjukkan keutamaan bacaan tersebut.” (al-Minhaj, 4/336)

Kata al-Imam at-Tirmidzi rahimahumallah, hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan lebih dari satu jalur dan merupakan hadits yang paling sahih dari Nabi n dalam masalah tasyahud. Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kalangan tabi’in setelah mereka. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan at-Tirmidzi, 1/177—178)

Kata al-Bazzar rahimahumallah, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumallah dalam Fathul Bari (2/408), “Aku tidak mengetahui dalam hal tasyahud ada hadits yang lebih kokoh, lebih sahih sanadnya, dan lebih masyhur para rawinya daripada hadits ini.”

Memulai Tasyahud dengan Zikir Selain Tahiyat

Abul Aliyah berkata, “Ibnu Abbas mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum membaca tasyahud. Ibnu Abbas menghardiknya seraya mengatakan, ‘Mulailah dengan tasyahud ’.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 3058)

Dalam riwayat al-Baihaqi (2/143) disebutkan, Ibnu Abbas mendengar ada seseorang berkata dalam tasyahhudnya, ‘Bismillah, at-tahiyyatu lillah’, maka Ibnu Abbas menghardiknya. Ada riwayat dari Ibnu Abbas juga, dia mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum  membaca tasyahud. Ibnu Abbas lalu menghardiknya dan berkata, “Mulailah dengan tasyahud.”

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahumallah mengatakan tentang mengawali bacaan tasyahud dengan zikir yang lain, “Tidak ada satu pun berita yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan adanya bacaan tasmiyah (mengucapkan bismillah) sebelum bertasyahud. Aku tidak mengetahui penyebutan yang demikian selain hadits Aiman, dari Abu az-Zubair, dari Jabir. Namun, dikatakan bahwa Aiman keliru dalam masalah ini dan tidak ada yang meyepakatinya. Jadi, dia tidak kokoh dari sisi penukilan. Semua ulama yang kami jumpai memandang bahwa (bacaan tasyahud) dimulai dengan tasyahud (tanpa ucapan lain sebelumnya) berdasar kabar yang tsabit dari Rasulullah n. Dalam hadits Abu Musa ada dalil yang menunjukkan benarnya ucapan ini. Aku pun telah menyebutkannya dalam kitab ini. Ini adalah pendapat ulama penduduk Madinah, ulama penduduk Kufah, dan asy-Syafi’i serta pengikutnya. Seandainya seseorang ingin bertasyahud dengan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala sebelumnya, tidak ada dosa baginya.” (al-Ausath min as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf, 2/382—383)

Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Posisi Kedua Tangan Saat Tasyahud

Di saat duduk dalam tasyahud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanan dan telapak tangan kiri di atas paha kiri. Ini sebagaimana disbutkan oleh hadits Abdullah ibnu az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى

“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanan dan tangan kirinya di atas paha kiri.” (HR . Muslim no. 1308)

Demikian pula disebutkan oleh hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (HR . Muslim no. 1311) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan bawahnya di atas pahanya dan tidak menjauhkannya, hingga ujung siku beliau berada di akhir pahanya. Adapun lengan kiri dalam keadaan jari-jemarinya dibentangkan di atas paha kiri.” (Zadul Ma’ad, 1/256) Atau telapak tangan tersebut diletakkan di atas lutut, sebagaimana dalam riwayat yang lain,

وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى

“Beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kiri dan tangan kanannya di atas lutut kanan.” (HR . Muslim no. 1310)

Ujung siku kanan beliau letakkan di atas paha kanan, sementara jari telunjuk kanan beliau berisyarat dengan menunjuk. Adapun jari kelingking kanan dan jari manis dilipat. Ibu jari dan jari tengah beliau membuat lingkaran, sebagaimana dalam hadits Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan sifat duduk tasyahud ini, di antaranya,

وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَقَ، وَرَأَيْتُهُ يَقُوْلُ هَكَذَا

“Beliau meletakkan ujung siku beliau yang kanan di atas paha kanan. Dua jari beliau lipat/genggam (kelingking dan jari manis) dan beliau membentuk lingkaran (dengan dua jari beliau). Aku melihat beliau melakukan seperti ini.” Bisyr ibnul Mufadhdhal (seorang rawi yang meriwayatkan hadits ini mencontohkan) mengisyaratkan jari telunjuk (meluruskannya seperti menunjuk), sedangkan jari tengah dan ibu jari membentuk lingkaran. (HR . Abu Daud no. 726, 957, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud)

Berisyarat dengan Telunjuk Saat Tasyahud

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitakan bahwa ketika duduk untuk tasyahud, Rasulullah n meletakkan telapak tangan kirinya terbentang di atas lutut kirinya, sedangkan telapak tangan kanan yang berada di atas lutut kanan beliau genggam seluruh jari-jemarinya dan memberi isyarat ke kiblat dengan jari telunjuknya dan pandangan beliau diarahkan ke telunjuk tersebut. (HR . Malik 1/111—112, Muslim no. 1311)

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad t (2/119) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ

“Jari telunjuk itu lebih keras bagi setan daripada besi.”

Al-Imam al-Albani rahimahullah menerangkan tentang hadits ini, “Sanadnya hasan atau mendekati hasan, karena rijalnya semua tsiqah, perawi kutubus sittah, selain Katsir ibnu Zaid, dia shaduq yukhthi’, seperti dalam at-Taqrib.” (al-Ashl, 3/839) Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, “Berisyarat dengan jari telunjuk dalam tasyahud ini merupakan perkara yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi n dan tabi’in. Ini pula pendapat yang dipegangi oleh teman-teman kami (ahlul hadits).” (Sunan at-Tirmidzi, kitab ash-Shalah, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Al-Imam Muhammad ibnul Hasan rahimahullah berkata dalam Muwaththa’nya, “Kami berqudwah dengan perbuatan Rasulullah n dan ini adalah pendapat Abu Hanifah1.” (sebagaimana dalam al-Ashl, 3/841) Al-Imam ‘Ali al-Qari al-Hanafi t mengatakan, “Demikian pendapat Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad, dan tidak diketahui ada perselisihan dari ulama salaf dalam masalah ini. Yang ada hanyalah penyelisihan sebagian fuqaha khalaf dari kalangan mazhab kami.” (sebagaimana dalam Tuhfah al-Ahwadzi, bab “Ma Ja’a fil Isyarah fit Tasyahud”)

Setelah membawakan sejumlah hadits tentang isyarat dengan jari telunjuk, al-Imam Ali al-Qari al-Hanafi rahimahullah dalam risalah Tazyin al-Ibarah li Tahsin al-Isyarah menyatakan, “Ini adalah hadits-hadits yang banyak, dengan jalur-jalur yang banyak, yang masyhur, dan tidak diragukan karenanya, yang menunjukkan sahihnya asal isyarat, karena sebagian sanad hadits-hadits ini ada dalam Shahih Muslim. Amalan yang satu ini bisa dikatakan mencapai mutawatir secara makna.

Karena itu, tidak boleh bagi orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya enggan mengamalkannya. Adapun ucapan mereka yang menolak berisyarat dengan telunjuk beralasan bahwa mengangkat telunjuk adalah perbuatan yang tidak dibutuhkan sehingga meninggalkannya lebih utama karena shalat dibangun di atas ketenangan, alasan ini tertolak. Sebab, andai meninggalkannya lebih utama, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan melakukannya, karena beliau memiliki sifat kewibawaan dan ketenangan yang paling tinggi, tidak ada yang menyamai.” (Sebagaimana dinukil dalam al-Ashl, 3/842)

 

Tata Cara Isyarah dalam Tasyahud

Tata cara isyarah dalam tasyahud ada dua, sebagaimana yang datang dalam riwayat yang kuat.

1. Jari kelingking dan jari manis dilipat ke bagian dalam telapak tangan, demikian pula jari tengah dan ibu jari. Hanya saja, ibu jari diletakkan di atas jari tengah, sedangkan jari telunjuk diluruskan (menunjuk), sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu yang telah lalu.

2. Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat lingkaran dengan jari tengah dan ibu jari, sebagaimana riwayat Wail ibnu Hujr z yang juga telah disebutkan di atas. Kedua cara di atas adaakeragaman beribadah dalam hal tata cara isyarah. Para ulama menyatakannya dengan istilah tanawwu’at fil ibadah, sehingga bisa diamalkan salah satu di antara keduanya. Terkadang mengamalkan yang ini, di waktu lain yang itu. Al-Imam Ali al-Qari t berkata, “Hal ini memberikan faedah bahwa kita diberi pilihan dua cara berisyarat, yang kedua-duanya sama-sama datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapat dan pengumpulan yang bagus. Karena itu, orang yang berjalan di atas sunnah sepantasnya terkadang melakukan yang satu dan di lain waktu yang lainnya.” (al-Ashl, 3/851—852)

 

Kapan Mulai Isyarah?

Penulis Tuhfah al-Ahwadzi, al- Mubarakfuri berkata, “Secara zahir (yang tampak), hadits-hadits isyarah semuanya menunjukkan bahwa isyarah dengan jari telunjuk dimulai dari awal duduk tasyahud. Saya tidak melihat satu pun dalil yang sahih yang menunjukkan apa yang dikatakan oleh para ulama mazhab Syafi’i dan Hanafi2.”

 

Duduk yang Dilarang saat Tasyahud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang duduk dalam keadaan bersandar di atas tangan kirinya saat duduk dalam shalat. Beliau katakan, “Itu merupakan shalatnya Yahudi.” Dalam satu lafadz,

لاَ تَجْلِسْ هَكَذَا: إِنَّمَا هَذِهِ جِلْسَةُ الَّذِيْنَ يُعَذَّبُوْنَ

“Jangan kamu duduk seperti itu, karena hal itu hanyalah duduknya orangorang yang diazab.” ( HR . al-Hakim 1/272, dinyatakan sahih dalam al-Irwa no. 380)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari