Sifat Shalat Nabi (2)

Tidak mendahului imam dalam bertakbir

Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

 

Mengangkat tangan

Mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat merupakan perkara yang disyariatkan, bahkan perkara yang disepakati (ijma’). (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)

Telah dinukilkan pernyataan ijma’ ini oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan Ibnus Subki. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/6, Nailul Authar 2/11)

Akan tetapi, telah dinukilkan dari Al-Imam Malik rahimahullah riwayat tidak mengangkat tangan sama sekali. Namun demikian, dikatakan oleh Al- Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib (2/446) bahwa riwayat ini syadz (ganjil). Demikian pula Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menafikannya dan menyatakan bahwa periwayatan tersebut nampaknya tidak benar dari Malik, karena hadits mengangkat tangan adalah hadits yang disepakati keshahihannya dan tidak didapati celaan seorang pun terhadap perawinya. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)

Namun demikian para ulama berselisih, apakah hukumnya wajib atau mustahab. Sebagian besar ahlul ilmi, yakni jumhur dan termasuk dalam hal ini imam yang empat, mengatakan hukumnya sunnah (Subulus Salam 2/169). Dalilnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan perkara tersebut sebagaimana dalam hadits al-musi’i shalatahu di atas. Beliau hanya mengajarkan takbir saja. Seandainya mengangkat tangan itu seperti hukum takbir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya beliau akan mengajarkan pada orang tersebut (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/297). Pendapat inilah yang rajih, wallahu a’lam.

Kata Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, mengangkat tangan dalam shalat tidaklah wajib. Tidak ada ulama yang berpendapat demikian kecuali Dawud Azh-Zhahiri. Ia mengatakan wajib mengangkat tangan ketika takbiratul ihram. Namun sebagian pengikut madzhab/murid-muridnya menyelisihi pendapatnya ini. Mereka tidak mewajibkannya. (Ikmalul Mu’lim 2/261-262)

Yang berpendapat wajib di antaranya adalah Al-Humaidi, Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad bin Yasar, ‘Ali ibnul Madini, Ishaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Auza’i. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296-297, Nailul Authar 2/11)
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram pada awal shalat adalah perkara fardhu. Shalat tidak teranggap (sah) tanpa perkara ini.” (Al-Muhalla 2/264)

Dalil mereka di antaranya adalah hadits: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

 

Keadaan tangan ketika bertakbir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:

– Bersamaan dengan takbir

Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)

Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.

– Sebelum takbir

Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma juga, ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)

– Setelah takbir

Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau….” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)

Abu Qilabah mengabarkan: Ia pernah melihat Malik ibnul Huwairits apabila shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Bila ia ingin ruku’, ia mengangkat kedua tangannya. Demikian pula ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan ia menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. (HR. Muslim no. 862 dan Al-Bukhari no. 737)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah menerangkan, “…Masing-masing cara yang telah disebutkan merupakan sunnah yang tsabitah (pasti ketetapannya) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga semestinya seorang muslim mengamalkannya dalam shalatnya. Jangan sampai ia tinggalkan salah satu dari tiga cara ini. Yang sepantasnya, di satu waktu ia melakukan yang ini, di kali lain cara yang itu, dan di waktu selanjutnya ia amalkan cara yang satunya lagi.” (Al-Ashl 1/198-199)

 

Tata cara mengangkat tangan

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya, beliau membentangkan/meluruskan jari-jemarinya. Satu jari dengan jari yang lain tidak terlalu direnggangkan, namun tidak pula dirapatkan/digabungkan satu dengan yang lainnya, dan diarahkan ke kiblat (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61). Ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk dalam shalatnya (memulai shalatnya dengan takbiratul ihram), beliau mengangkat tangannya dengan membentangkan jari-jarinya.” (HR. Abu Dawud no. 753 dan selainnya, dishahihkan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/95)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam mengangkat kedua tangan beliau, sampai-sampai terlihat kedua ketiak beliau. Sebagaimana kata Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Seandainya aku berada di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku dapat melihat kedua ketiak beliau.” (HR. Abu Dawud no. 746, shahih menurut syarat Muslim, seperti kata guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/96)

Dalam hadits yang telah dibawakan, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya hingga setentang (sejajar) dengan kedua pundak beliau, dan di waktu lain beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua telinga beliau. Karena dua tata cara ini ada dalilnya, maka keduanya merupakan sunnah dan dua-duanya bisa diamalkan. Al-Imam Abul Hasan As-Sindi rahimahullah berkata, “Tidaklah saling bertentangan di antara amalan-amalan/tata cara yang berbeda-beda. Karena boleh jadi semua tata cara tersebut terjadi di waktu-waktu yang berbeda. Sehingga, semuanya merupakan sunnah, terkecuali ada dalil yang menunjukkan mansukh (terhapus)nya sebagian tata cara tersebut…” (Hasyiyah Sunan An-Nasa’i lis Sindi 2/122)

 

Faedah
Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ulama –semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka– berbeda pendapat tentang sejumlah ibadah yang disebutkan dengan cara yang beragam. Apakah yang afdhal mencukupkan satu cara saja, ataukah yang afdhal melakukan semuanya pada waktu-waktu yang berbeda, ataukah yang afdhal menjamak (mengumpulkan) apa yang mungkin dijamak?

Yang benar dalam hal ini adalah pendapat kedua yang pertengahan, yaitu ibadah yang datang dengan cara yang beragam sekali waktu diamalkan satu cara dan di kali lain dilakukan cara yang satunya lagi.”

Beliau melanjutkan, “Kalau engkau hanya mengamalkan satu cara dan meninggalkan cara lain, niscaya akan mati cara yang lain. Karena suatu sunnah tidak mungkin tetap hidup terkecuali bila kita sekali waktu mengamalkannya, di kali lain mengamalkan yang lain lagi. Alasan lain, bila seseorang di satu waktu mengamalkan satu cara, di kali lain ia melakukan cara yang lain lagi, niscaya hatinya akan hadir ketika menunaikan amalan yang diajarkan oleh As-Sunnah[1]. Perkara ini nyata, dapat disaksikan. Karena itulah orang yang setiap kali istiftah mengucapkan: “Subhanaka allahumma wa bihamdika…. “, engkau dapati dirinya dari awal ia bertakbir langsung lanjut dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdika…” tanpa ia sadari. Karena ia sudah terbiasa dengan bacaan tersebut. Akan tetapi bila suatu waktu ia mengucapkan bacaan ini dan di kali lain ia mengucapkan doa yang lain, niscaya ia akan (lebih) perhatian.

Ada beberapa faedah mengamalkan ibadah yang memiliki tata cara beragam:

  1. Mengikuti sunnah
  2. Menghidupkan sunnah
  3. Menghadirkan hati (dalam melakukan ibadah)

Bisa juga kita dapati faedah yang keempat: Bila salah satu cara dari beberapa cara itu ada yang lebih pendek/ringkas dari yang lain, seperti zikir setelah shalat, maka seseorang terkadang ingin mempercepat selesai dari zikir tersebut, sehingga ia mencukupkan dengan mengucapkan Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu akbar 10 kali. Maka orang ini melakukan amalan yang menepati As-Sunnah dengan waktu yang lebih singkat, karena ingin menunaikan hajatnya. Dan tidak ada keberatan/dosa bagi seseorang melakukan hal itu, apatah lagi bila ada hajatnya yang ingin ditunaikan….” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/19-20)

 

Perhatian
Sebagian orang mengangkat kedua tangannya tanpa melewati dadanya, seakan-akan ia memberi isyarat dengan kedua tangannya. Yang seperti ini lebih mirip dengan perbuatan sia-sia/bermain-main dalam shalat. Ini sama sekali bukan termasuk dari ajaran As-Sunnah. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61)

Faedah
Al-Hafizh rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan lelaki dan perempuan dalam hal mengangkat tangan.” (Fathul Bari 2/287)
Adapun Hanafiyah berpandangan, lelaki mengangkat tangannya sampai kedua telinganya sedangkan perempuan sampai dua pundaknya, karena ini lebih menutup (cukup) baginya. Dan dinukilkan dari Ummud Darda’  radhiallahu ‘anha bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dua bahunya. Demikian pula pendapat Az-Zuhri. Sementara ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Hammad bin Abi Sulaiman berpendapat wanita mengangkat kedua tangannya sejajar payudaranya, dan ini yang diamalkan Hafshah bintu Sirin rahimahallah.

‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah mengatakan bahwa wanita memiliki keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Kalaupun dia tidak melakukan yang demikian, maka tidak mengapa. (Tharhut Tatsrib 2/450)

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yang benar, tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dan shalat perempuan. Perbedaan yang disebutkan oleh sebagian fuqaha tersebut tidak ada dalilnya. Sementara ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Merupakan pokok yang mencakup keseluruhan shalat. Juga, pensyariatan agama ini mencakup laki-laki maupun perempuan, kecuali bila ada dalil yang memang mengkhususkannya.

Karena itu, sunnah bagi wanita untuk shalat sebagaimana laki-laki shalat, baik dalam ruku’, sujud, bacaan, meletakkan kedua tangan di atas dada, ataupun yang lainnya. Ini lebih utama. Demikian pula dalam hal meletakkan tangan di atas lutut ketika ruku’, meletakkan tangan di atas tanah ketika sujud sejajar pundak atau sejajar telinga, meluruskan punggung ketika ruku’, apa yang dibaca ketika ruku’, sujud, setelah bangkit dari ruku’, setelah bangkit dari sujud, ataupun di antara dua sujud. Semuanya sama dengan laki-laki, sebagai pengamalan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya. (Majmu’ Fatawa 11/80)

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

[1] Ia akan perhatian dengan amalan/gerakan yang sedang dilakukannya. Beda halnya bila ia terbiasa terus-menerus hanya melakukan satu cara, niscaya gerakannya ibarat gerakan yang spontan, tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Karena sudah terbiasa dilakukan, sehingga hatinya tidak ia hadirkan. Shalatnya bergulir begitu saja tanpa ia pikirkan apa saja yang telah dilakukan dan diucapkannya dalam shalat tersebut. Wallahu a’lam. -pen.

 

Sifat Shalat Nabi (1)

Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

  1. Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Niat adalah maksud. Maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang hendak dikerjakan dan sifat shalat yang wajib ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardhu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.” (Raudhatuth Thalibin, 1/243-244)

Sudah berulang kali disebutkan bahwa niat tidak boleh dilafadzkan. Sehingga seseorang tidak boleh menyatakan sebelum shalatnya, “Nawaitu an ushalliya lillahi ta’ala kadza raka’atin mustaqbilal qiblah…” (Aku berniat mengerjakan shalat karena Allah subhanahu wa ta’ala sebanyak sekian rakaat dalam keadaan menghadap kiblat…).

Melafadzkan niat tidak ada asalnya dalam As-Sunnah. Tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membolehkan melafadzkan niat. Tidak ada pula seorang tabi’in pun yang menganggapnya baik. Demikian pula para imam yang empat. Sementara kita maklumi bahwa yang namanya kebaikan adalah mengikuti bimbingan As-Salafush Shalih.

Ada kesalahpahaman dari sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ucapan beliau, dalam masalah haji, “Apabila seseorang berihram dan telah berniat dengan hatinya, maka ia tidak diharuskan menyebut niat itu dengan lisannya. Haji itu tidak seperti shalat, di mana tidak shahih penunaiannya terkecuali dengan nathq (pelafadzan dengan lisan).”

Maka hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-’Aziz Syarhul Wajiz yang dikenal dengan nama Syarhul Kabir (1/470): “Jumhur ulama kalangan Syafi’iyyah berkata: ‘Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya– tidaklah memaksudkan dengan ucapannya tersebut adanya pelafadzan niat dengan lisan (tatkala hendak mengerjakan shalat). Yang beliau maksudkan adalah takbir (yaitu takbiratul ihram,-pen.), karena dengan takbir tersebut sahlah shalat yang dikerjakan. Sementara dalam haji, seseorang menjadi muhrim walaupun tanpa ada pelafadzan.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan, ‘Aku tunaikan untuk Allah subhanahu wa ta’ala shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum’. Demikian pula ucapan ada’an atau qadha’an ataupun fardhal waqti.

Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dengan sanad yang shahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (tidak bersambung). Bahkan tidak ada nukilan dari para sahabat, demikian pula tabi’in maupun imam yang empat, tak seorang pun dari mereka yang menganggap baik hal ini.

Hanya saja sebagian mutaakhirin (orang-orang belakangan) keliru memahami ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah–semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya–tentang shalat. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan zikir.”

Mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud adalah ucapan niat seseorang yang hendak shalat. Padahal yang dimaksudkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan zikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyukai perkara yang tidak dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu shalat pun, begitu pula para khalifah beliau dan para sahabat yang lain? Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf saja dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan penuh ketundukan dan penerimaan. Karena, tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari sang pembawa syariat shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Zaadul Ma’ad, 1/201)

  1. Takbiratul ihram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan mengucapkan: Allahu Akbar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Apabila ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya. Apabila bangkit dari ruku’, beliau tidak sujud sampai beliau berdiri lurus. Dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga beliau tegak duduknya. Pada setiap dua rakaat beliau membaca tahiyat. Beliau membentangkan kakinya yang kiri dan menegakkan (telapak) kakinya yang kanan. Beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan melarang seseorang membentangkan kedua lengan bawahnya seperti binatang buas membentangkannya (yakni meletakkan lengan di lantai ketika sujud). Dan beliau menutup shalat dengan salam.” (HR. Muslim no. 1110)

Hadits ini memiliki jalan lain, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Yusuf bin Ya’qub, ia berkata: Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Budail telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Hadits lain yang menunjukkan amalan ini adalah hadits Abu Humaid As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakan shalat, beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan berkata: ‘Allahu Akbar’.” (HR. Ibnu Majah no. 803 dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

Takbiratul ihram ini merupakan salah satu rukun shalat menurut pendapat jumhur[1]. Adapun Hanafiyyah berpandangan takbir ini merupakan syarat, demikian pula satu sisi dari pendapat Syafi’iyyah. Sementara Az-Zuhri bersendirian dalam memandang sunnahnya, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnul Mundzir. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama 2/7, Fathul Bari 2/282)

Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana telah disebutkan sebagian nashnya. Dengan demikian, tidak sah shalat bila takbir ini sampai terluputkan/ditinggalkan. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang yang salah shalatnya untuk melakukan takbir ini.

Hadits yang kami maksudkan adalah hadits yang masyhur dengan sebutan hadits al-musi’ shalatuhu, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Khallad ibnu Rafi’radhiallahu ‘anhu, masuk masjid untuk mengerjakan shalat, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di salah satu sudut masjid. Seselesainya dari shalat, Khallad ini mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamnya lalu bersabda kepadanya:

“Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Orang itu pun kembali lalu mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya yang sebelumnya. Setelahnya ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, maka beliau menjawab, “Wa ‘alaikas salam.” Kemudian beliau melanjutkan, “Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Demikian Rasulullah memerintahkan sampai orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Pada akhirnya orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa mengerjakan shalat lebih bagus daripada apa yang telah kukerjakan. Kalau begitu ajari aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberi bimbingan, “Bila engkau hendak berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Setelahnya, bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Lalu angkat kepalamu hingga engkau berdiri lurus. Setelahnya sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan sujud. Setelah itu angkatlah kepalamu hingga engkau lurus dan thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah apa yang telah disebutkan tadi dalam shalatmu seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

Perhatian

Semua amalan shalat yang disebutkan dalam hadits al-musi’ shalatuhu (hadits di atas) ini merupakan rukun, tidak sah shalat tanpanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19)

Faedah

Bagi makmum yang shalat di belakang imam dan orang yang shalat sendiri (munfarid) hendaklah memerhatikan bahwa takbir ini diucapkan dengan lisan, dengan menggerakkannya, sehingga tidak cukup bila hanya diucapkan dalam hati. Namun, bilamana seseorang itu bisu, tidak bisa berbicara, maka ia meniatkan takbir dalam hatinya tanpa perlu menggerakkan bibir dan lisannya, karena hal itu perbuatan sia-sia dan melakukan gerakan tanpa hajat. Toh dengan kebisuannya, suaranya tidak akan keluar.

Ketika bertakbir ini tidak diharuskan seseorang mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh kedua telinganya[2], walaupun dalam masalah ini ada khilaf. Namun yang rajih adalah sebagaimana yang kami sebutkan. Karena mengharuskan suara takbir itu terdengar oleh telinga pengucapnya merupakan amrun zaid (perkara yang lebih) dari ucapan dan lafadz. Sementara, apa yang lebih dari keterangan As-Sunnah harus ada dalilnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19-21)

Dengan diucapkannya takbiratul ihram berarti haram seseorang melakukan pekerjaan selain amalan shalat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kunci shalat adalah bersuci/wudhu, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam.” (HR. Abu Dawud no. 61, 618, At-Tirmidzi no. 3, 238 dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud: “Hasan shahih.”)

Dalam hadits ini ada dalil bahwa shalat hanya bisa dibuka dengan takbir Allahu akbar, tidak sah dengan zikir-zikir yang lain. Hal ini merupakan pendapat jumhur. Adapun pendapat Abu Hanifah “Shalat bisa dibuka dengan setiap lafadz yang menunjukkan pengagungan (kepada Allah subhanahu wa ta’ala),” adalah pendapat yang marjuh (lemah). (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/7, Nailul Authar 2/6)

Mengeraskan suara ketika bertakbir

Ketika bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh orang di belakang beliau, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/223), Ahmad (3/18), dan lainnya, dari Fulaih ibnu Sulaiman, dari Sa’id ibnul Harits, ia berkata, “Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang biasa mengimami orang-orang jatuh sakit atau sedang pergi, maka Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu pun menggantikan posisi imam. Beliau mengeraskan suara ketika bertakbiratul ihram, demikian pula ketika hendak ruku’, ketika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ketika mengangkat kepalanya dari sujud, ketika hendak sujud, ketika mengangkat kepala dan ketika bangkit dari dua rakaat, sampai akhirnya beliau menyelesaikan shalat. Ternyata ada yang menyampaikan kepada beliau bahwa orang-orang berselisih dalam perkara shalat beliau tadi. Abu Sa’id pun naik mimbar dan berkata, “Wahai manusia! Demi Allah, aku tidak peduli apakah shalat kalian berbeda ataupun tidak dengan shalatku. Yang penting demikianlah aku dulunya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (Al-Hakim menshahihkannya menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi rahimahullah)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan disenangi bagi imam untuk mengeraskan suaranya saat bertakbir agar makmum tahu perpindahan gerakan imam. Bila si imam suaranya lemah (tidak bisa keras) karena sakit atau alasan lainnya, maka sunnah bagi muadzdzin atau selainnya dari kalangan makmum untuk menjahrkan/mengeraskannya dalam kadar yang dapat didengar oleh manusia. Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami manusia dalam keadaan suara beliau lemah karena sakit[3]

Adapun menyampaikan takbir imam yang dilakukan makmum tanpa ada kebutuhan, sebagaimana biasa dilakukan oleh kebanyakan orang di zaman kita ini dalam bulan Ramadhan, sampaipun di masjid yang kecil, tidaklah disyariatkan menurut kesepakatan ulama, sebagaimana dihikayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa (1/69-70 dan 107). Dulunya, Bilal radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya tidak pernah meneruskan takbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para makmum di belakang beliau. Begitu pula di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, tidak ada yang menyampaikan takbir mereka di belakang mereka. Karena itulah mayoritas ulama terang-terangan menyatakannya makruh. Bahkan ada yang mengatakan batal shalat pelakunya tersebut. Ini ada dalam madzhab Malik, Ahmad, dan selain keduanya…

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Tidaklah diragukan bahwa tabligh (menyampaikan takbir imam kepada makmum) tanpa ada kebutuhan merupakan bid’ah. Siapa yang meyakininya sebagai amalan qurbah secara mutlak maka tidak diragukan dia adalah imam yang jahil, atau memang ia seorang yang menentang dan bersengaja dengan penyelisihannya. Karena permasalahan ini telah dinyatakan oleh para ulama dari berbagai madzhab dalam kitab-kitab mereka, sampaipun dalam kitab-kitab yang ringkas. Mereka semua menyatakan, ‘Tidak boleh ada satu pun takbir yang dikeraskan di dalam shalat, terkecuali bila ia seorang imam. Siapa yang terus-menerus meyakini perbuatan seperti ini merupakan qurbah maka ia diberi hukuman karena menyelisihi ijma’.’ Wallahu a’lam.” (Al-Ashl, 1/187-188)

Takbir dalam setiap gerakan

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan disyariatkannya takbir dalam setiap gerakan turun dan bangkit dalam shalat. Ini merupakan pendapat keumuman fuqaha dan para ulama. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (1/160) menyatakan bahwa bertakbir ketika ruku’ dan sujud diamalkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka g, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in rahimahumullah. Dan inilah yang dipegangi oleh keumuman fuqaha dan ulama.

Pendapat ini dikuatkan pula dengan hadits yang lainnya, di antaranya hadits Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa ia pernah shalat bersama Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di Bashrah, ia berkata, “Orang ini mengingatkan kami dengan shalat yang dulunya kami kerjakan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imran menyebutkan bahwa dalam shalatnya itu, Ali bertakbir setiap kalian mengangkat tubuhnya (naik) dan setiap kali meletakkannya (turun). (HR. Al-Bukhari no. 784 dan selainnya)

 Faedah

Ulama berbeda pendapat tentang hukum takbir selain takbiratul ihram. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Jumhur berpendapat sunnah. Sedang Al-Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ahlu zhahir menyatakan wajibnya seluruh takbir.” (Fathul Bari, 2/349)

Hujjah mereka yang menghukumi wajib adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Fathul Bari berkata: “Inilah pendapat yang lebih zhahir dari sisi dalil. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga amalan ini (terus melakukannya) serta memerintahkan umatnya untuk mengerjakannya, sementara asal perintah adalah wajib. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.’

Adapun riwayat dari Utsman dan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma, yang menyebutkan bahwa keduanya tidak menyempurnakan takbir maka dibawa kepada pemahaman bahwa keduanya tidak mengeraskan takbir, bukan keduanya meninggalkan takbir. Riwayat tersebut harus dipahami seperti ini, dalam rangka berbaik sangka kepada keduanya. Kalaupun mau diterima keduanya meninggalkan takbir, maka hujjah lebih dikedepankan daripada pendapat keduanya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati keduanya dan seluruh sahabat. Wallahu a’lam.”

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

[1] Rukun adalah suatu amalan yang bila ditinggalkan sengaja ataupun tidak maka ibadah itu tidak sah. Untuk ibadah shalat, amalan itu tidak bisa diganti dengan sekadar sujud sahwi tapi harus ditunaikan sesuai aturan yang ada.

[2] Suara tersebut tidak terdengar bisa jadi karena ada suara-suara bising di sekitar tempat tersebut, atau karena lemahnya pendengaran, atau alasan lainnya.

[3] Dalam hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit saat kami shalat di belakang beliau, dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pun memperdengarkan kepada manusia takbir beliau. Beliau lalu menoleh kepada kami, ternyata beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada kami agar kami duduk. Kami pun duduk dan kami shalat diimami oleh beliau dalam keadaan duduk. Tatkala beliau mengucapkan salam pertanda selesainya shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tadi hampir-hampir berbuat seperti perbuatannya orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka sementara raja-raja ini duduk. Maka janganlah kalian lakukan. Contohlah imam kalian, jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Namun bila ia shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dengan duduk.” (HR. Muslim no. 927)

 

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Hendak Shalat

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah  ‘azza wa jalla, pembahasan syarat-syarat shalat telah dibawakan dalam edisi terdahulu, berikut ini ada beberapa tambahan yang semoga bisa memberi faedah ilmu bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

Shalat dengan pakaian yang diharamkan

Sebuah pakaian bisa diharamkan bagi seseorang, mungkin dari sisi diperolehnya pakaian tersebut dengan cara yang haram, atau zat pakaian itu sendiri yang haram atau sifatnya yang haram.

– Diperoleh dengan cara yang haram, mungkin dengan mencuri ataupun merampasnya dari orang lain atau yang semisalnya.

– Zat pakaian itu haram, seperti pakaian sutera dan emas1 yang diharamkan bagi laki-laki2 untuk memakainya atau pakaian yang bergambar makhluk hidup (manusia dan hewan).

– Sifat pakaian itu haram, seperti seorang laki-laki memakai pakaian wanita atau sebaliknya3.

Shalat mengenakan pakaian yang diharamkan tersebut hukumnya haram. Lantas, apakah shalat yang dikerjakan sah ataukah batal? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Namun pendapat yang menenangkan hati kami dan ini merupakan pendapat mayoritas ahlul ilmi adalah shalatnya tetap sah, tidak batal. Pelakunya dianggap telah berbuat maksiat karena melakukan perkara yang diharamkan, yakni memakai pakaian yang diharamkan. Ketika syariat melarang mengenakan sebuah pakaian secara mutlak pada saat menunaikan shalat ataupun di luar shalat, maka ini tidaklah mengandung konsekuensi batalnya shalat yang dikerjakan dengan memakai pakaian tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/448)

 

Shalat dengan memakai pakaian bercorak/bergambar4

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

أًنَّ النَّبِيَّ صَلَّى فِي خَمِيْصَةٍ لَـهَا أَعْلاَمٌ، فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اذْهَبُوْا بِخَمِيْصَتِيْ هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَائْتُوْنِي أَنْبِجَانِيَّةَ أَبِي جَهْمٍ، فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ: قَالَ النَّيِيُّ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلاَةِ، فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan khamishah5yang memiliki corak/gambar-gambar. Beliau memandang sekali ke arah gambar-gambarnya. Maka selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Bawalah khamishahku ini kepada Abu Jahm6 dan datangkan untukku anbijaniyyah7nya Abu Jahm8, karena khamishah ini hampir menyibukkanku dari shalatku tadi9.” Hisyam bin Urwah berkata dari bapaknya dari Aisyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketika sedang shalat tadi aku sempat melihat ke gambarnya, maka aku khawatir gambar ini akan melalaikan/ menggodaku10.” (HR. Al-Bukhari no. 373 dan Muslim no. 1239)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul bagi hadits di atas dengan “Karahiyatush Shalah fi Tsaubin Lahu A’lam” artinya makruhnya shalat dengan mengenakan pakaian bergambar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa gambar-gambar yang ada pada khamishah tersebut sempat menyibukkan beliau. Maksudnya, hati beliau tersibukkan sesaat dari perhatian secara sempurna terhadap shalat yang sedang dikerjakan, dari mentadabburi dzikir-dzikir dan bacaannya karena memandang gambar yang ada pada khamishah yang sedang dikenakannya. Karena khawatir hati beliau akan tersibukkan dengannya, beliau pun enggan mengenakan khamishah itu dan memerintahkan agar mengembalikannya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu. Dari sini kita pahami, tidak disenanginya mengenakan pakaian yang bercorak/bergambar ketika shalat karena dikhawatirkan akan mengganggu ibadah shalat tersebut, walaupun shalat yang dikerjakan tetap sah. Diambil istimbath hukum dari hadits ini bahwa dimakruhkan segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat seperti hiasan, warna-warni, dan ukiran pada dinding masjid, atau hal-hal lain yang dapat menyibukkan serta memalingkan hati orang yang sedang shalat. (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz Dzikr ‘Aqibash Shalah, Al-Minhaj 5/46, Fathul Bari 1/627, Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/290)

Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bersegeranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbaiki shalat (melakukan hal-hal yang memberi kemashalatan bagi ibadah shalat) serta menyingkirkan apa yang mungkin menodai pelaksanaannya. Di mana beliau melepas khamishah yang dikenakannya, menyuruh sahabatnya untuk mengembalikannya dan meminta penggantinya berupa pakaian lain yang tidak menyibukkan.” (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz-Dzikr ‘Aqibash Shalah)

Zainuddin Abul Fadhl Al-’Iraqi rahimahullah menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keharusan menyingkirkan apa saja yang dapat menyibukkan orang yang shalat dari ibadah shalatnya dan melalaikannya. Hadits ini juga mengandung hasungan untuk menghadap sepenuhnya pada amalan shalat dan khusyuk di dalamnya. Sebagaimana pula hadits ini menunjukkan bahwa pikiran sedikit/sejenak tersibukkan dengan perkara selain shalat tidaklah mencacati keabsahan shalat.” (Tharhu At-Tatsrib, 2/585)

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tidak disenangi untuk shalat di tempat yang padanya ada hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Sehingga, sekiranya hal yang mengganggu itu dapat disingkirkan maka hendaknya disingkirkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aisyah memiliki qiram11 yang dipakainya untuk menutupi sisi rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلاَتِي

“Singkirkan dari kami qirammu ini, karena gambar-gambarnya terus menerus terbayang-bayang dalam shalatku.” (HR. Al-Bukhari no. 374)

 

Shalat membawa gambar

Bila seseorang shalat sementara di sakunya ada dompet yang di dalamnya terdapat uang kertas bergambar makhluk hidup, KTP, SIM yang tentunya ada pas fotonya, apakah shalatnya sah?

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab, “Shalatnya sah. Adapun gambar-gambar yang dibawanya dalam shalat tidaklah mencacati shalatnya karena ia dalam keadaan terpaksa atau ada kebutuhan untuk selalu membawanya. Adapun gambar/foto kenang-kenangan, untuk mengingat seseorang dan semisalnya, tidak boleh dibawa. Bahkan tidak boleh dibiarkan tetap ada di dalam rumah, namun wajib dimusnahkan. Dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

لاَ تَدَعْ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan engkau membiarkan satu gambar (makhluk hidup) kecuali engkau hapus dan jangan pula membiarkan ada satu kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.” (HR. Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Kemudian Asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan beberapa hadits yang lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/417)

 

Shalat di tempat yang ada gambar

Shalat di tempat yang di situ ada gambar-gambar bernyawa seperti gambar-gambar pada surat kabar, majalah dan buku-buku, atau gambar yang digantung di dinding hukumnya sah apabila si muslim yang shalat tersebut menunaikan shalatnya dengan tata cara yang diajarkan dalam syariat. Akan tetapi bila ia mencari tempat lain yang tidak ada gambarnya maka itu lebih utama dan lebih afdhal. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/418)

 

Shalat beralaskan tikar

Dibolehkan shalat dengan memakai alas, baik berupa tikar, sajadah, kain atau yang lainnya selama alas tersebut tidak akan mengganggu orang yang shalat. Misalnya sajadahnya bergambar dan berwarna-warni, yang tentunya dapat menarik perhatian orang yang shalat. Di saat shalat, mungkin ia akan menoleh ke gambar-gambarnya, lalu mengamatinya, terus memerhatikannya hingga ia lupa dari shalatnya, apa yang sedang dibacanya dan berapa rakaat yang telah dikerjakannya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya memakai sajadah yang padanya ada gambar masjid, karena bisa jadi akan mengganggu orang yang shalat dan membuatnya menoleh ke gambar tersebut sehingga bisa mencacati shalatnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/362)

Dalil tentang bolehnya shalat dengan memakai alas adalah sebagai berikut:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa neneknya yang bernama Mulaikah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantap hidangan yang dibuatnya. Beliau pun datang memenuhinya serta memakan hidangan yang disajikan. Seselesainya, beliau bersabda, “Bangkitlah, aku akan shalat mengimami kalian.” Anas berkata, “Aku pun bangkit untuk mengambil tikar kami yang telah menghitam karena lamanya dipakai. Aku percikkan air untuk membersihkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri. Aku dan seorang anak yatim membuat shaf di belakang beliau, sementara nenekku berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat mengimami kami, kemudian beliau pergi.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 1497)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyatakan:

أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam، فَوَجَدَهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيْرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

“Ia pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia dapatkan beliau sedang shalat di atas tikar, beliau sujud di atas tikar tersebut.” (HR. Muslim no. 1503)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كَانَ يُصَلِّي عَلَى الْـخُمْرَةِ

“Adalah Rasulullah shalat beralaskan khumrah12.” (HR. Al-Bukhari no. 379 dan diriwayatkan pula oleh Muslim no. 1502 dari hadits Maimunah radhiallahu ‘anha)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha di berbagai negeri tentang bolehnya shalat di atas/beralas khumrah. Kecuali perbuatan yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah bahwa ia pernah meminta tanah lalu diletakkannya di atas khumrahnya untuk kemudian sujud di atas tanah tersebut. Mungkin apa yang dilakukan oleh ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah ini karena berlebih-lebihannya beliau dalam sikap tawadhu’ dan khusyuk. Dengan begitu, dalam perbuatan beliau ini tidak ada penyelisihan dengan pendapat jamaah (yang menyatakan bolehnya sujud di atas khumrah, pent.) Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari ‘Urwah ibnuz Zubair bahwa ia membenci (memakruhkan) shalat di atas sesuatu selain bumi/tanah (membenci shalat dengan memakai alas, pent.) Demikian pula riwayat dari selain ‘Urwah. Namun dimungkinkan makruhnya di sini adalah karahah tanzih (bukan haram).” (Fathul Bari, 1/633)

Namun perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini cukuplah menunjukkan kebolehan shalat di atas alas. Wallahu a’lam.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan, “Orang-orang dalam mazhab kami berkata, ‘Tidak dibenci shalat di atas wol, bulu, hamparan, permadani, dan benda-benda seluruhnya. Inilah pendapat dalam mazhab kami’.” (Al-Majmu’, 3/169)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa shalat di atas hamparan/tikar dan permadani dari wol, kulit, dan bulu. Sebagaimana dibolehkan shalat di atas kain dari katun, linen, dan seluruh bahan yang suci.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, fashl Tashihhu Ash-Shalah ‘alal Hashir wal Bisath minash Shuf)

 

Shalat dengan pakaian yang dikenakan saat buang hajat/di WC

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini, karena memungkinkan ketika keluar dari WC pakaian mereka terkena najis dan tidak diragukan WC tidak lepas dari najis. Bila demikian, apakah sah shalat mereka dengan mengenakan pakaian tersebut? Beliau rahimahullah menjawab, “Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku hendak mengatakan bahwa syariat Islam ini, alhamdulillah, telah sempurna dari seluruh sisi. Cocok dengan fitrah manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan makhluk di atas fitrah tersebut. Di mana pula, agama ini datang dengan kemudahan dan keringanan, bahkan datang untuk menjauhkan manusia dari kebingungan dalam was-was dan bayangan-bayangan yang tidak ada asalnya. Berdasarkan hal ini, seseorang dengan pakaian yang dikenakannya berada di atas kesucian, karena hukum asalnya demikian, selama ia tidak yakin tubuh dan pakaiannya terkena najis. Inilah hukum asal yang dipersaksikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ada seseorang mengadu kepada beliau bahwa ia merasa berhadats ketika sedang mengerjakan shalatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

“Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar suara (angin) atau ia mendapati baunya.”13

Maka hukum asalnya adalah tetapnya sesuatu di atas keadaannya semula (dalam hal ini: suci). Dengan begitu, basahnya pakaian yang dikenakan mereka saat masuk WC, bisakah dipastikan bahwa cairan tersebut adalah cairan yang najis dari air kencing, tahi, atau semisalnya? Bila kita tidak bisa memastikan (tidak yakin) dengan perkara ini, maka dikembalikan kepada hukum asal, yaitu suci. Memang benar, menurut persangkaan yang kuat pakaian itu bisa jadi terkena sedikit najis. Akan tetapi selama kita tidak yakin (sekedar menduga-duga) maka tetap hukum asal sesuatu itu suci, sehingga tidak wajib bagi mereka membasuh pakaian mereka. Dan mereka boleh shalat mengenakan pakaian tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/369)

 

Shalat memakai sandal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat tanpa alas kaki dan terkadang pula dengan memakai sandal. Beliau membolehkan hal itu kepada umat beliau dengan sabdanya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَلاَ يُؤْذِي بِهِمَا غَيْرَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan di antara kedua kakinya, dan jangan ia mengganggu orang lain dengan kedua sandalnya.” (HR. Al-Hakim 1/259, ia berkata, “Shahih di atas syarat Muslim.” Disepakati oleh Adz-Dzahabi. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/108, “Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.”)

Didapatkan pula adanya penekanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengenakan sandal ketika shalat sebagaimana dalam hadits:

خَالِفُوا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالـِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

“Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.” (HR. Abu Dawud no. 652, dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa Fish Shahihain, hadits no. 471, 1/399)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini memberi faedah disenanginya shalat dengan memakai sandal14 karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi. Minimal hukumnya adalah mustahab, walaupun secara dzahir hukumnya wajib15, namun di sini tidaklah wajib hukumnya, dengan dalil sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا…

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan keduanya…”

Dari ucapan beliau ini menunjukkan seseorang yang shalat diberi pilihan (antara memakai sandal atau melepaskannya) akan tetapi hal ini tidaklah meniadakan hukum mustahabnya….” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/109,110)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari berkata, “Mustahabnya dari sisi tujuan menyelisihi Yahudi.”

Sunnah ini tentunya akan dianggap asing oleh masyarakat kita karena ketidaktahuan mereka terhadap hukum-hukum yang rinci dalam agama ini. Juga karena pandangan mereka, apabila seseorang masuk masjid dalam keadaan memakai sandal berarti dia menghinakan masjid dan mengotorinya. Sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan sunnah harus pandai-pandai melihat keadaan dan super hati-hati. Jangan sampai karena ingin menghidupkan sunnah namun hasilnya malahan mendatangkan mudarat dan membuat fitnah di tengah masyarakatnya yang awam tersebut, yang menyebabkan sunnah ini justru dibenci dan agama ini semakin dijauhi. Wallahul musta’an.

Oleh karena itu, ajarilah dulu manusia agama yang mudah ini dengan penuh hikmah, sehingga mereka mengerti dan paham, dan pada akhirnya mereka cinta terhadap agama ini dan mengamalkan semua yang datang dari agama yang mulia ini, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

(bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————————

1 Baik emas itu berupa perhiasan seperti cincin, kalung, dan sebagainya, ataupun berupa benang emas yang dengannya ditenun sebuah kain.

2 Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan memakai sutera dan emas bagi kalangan laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kalangan wanitanya.”

Hadits di atas menurut lafadz At-Tirmidzi (no. 1720), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku pakaian dari sutera bergaris maka akupun keluar mengenakannya. Ketika beliau melihat apa yang aku lakukan, tampaklah kemarahan di wajah beliau, maka aku pun membagi-bagikan pakaian sutera tersebut di antara wanita-wanitaku.” (HR. Al-Bukhari no. 5840 dan Muslim no. 5390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu paham bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang ia mengenakan pakaian dari sutera. Maka ia pun memotong sutera tersebut hingga dapat digunakan sebagai kerudung lalu membagi-bagikannya kepada Fathimah bintu Rasulullah istrinya, Fathimah bintu Asad bin Hasyim ibunya, dan Fathimah bintu Hamzah bin Abdil Muththalib, sepupunya.” (Fathul Bari, 10/310)

Sutera dan emas merupakan pakaian/perhiasan yang diperuntukkan bagi wanita di dunia sehingga bila seorang lelaki memakainya berarti ia telah menyerupai wanita.

Keharaman sutera bagi laki-laki ini dikecualikan bila ada uzur seperti yang diberitakan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

رَخَّصَ النَّبِيُّ shallallahu ‘alaihi wa sallam لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيْرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada Zubair ibnul Awwam dan Abdurrahman bin Auf –semoga Allah meridhai keduanya– untuk memakai sutera karena penyakit gatal-gatal yang diderita oleh keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5839 dan Muslim no. 5398)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah menyatakan sebagaimana dinukilkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (10/308), “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutera (bagi laki-laki) dikecualikan bagi orang yang menderita penyakit yang penyakitnya itu dapat diringankan dengan memakai sutera.”

3 Dalam hal ini terdapat hadits dari Ibnu ‘Abbas c, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam الْـمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْـمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah memaknakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dengan, “Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita dan tidak boleh pula sebaliknya (wanita menyerupai laki-laki).” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: “Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun dalam penampilan/bentuk pakaian, maka ini berbeda-beda dengan adanya perbedaan adat kebiasaan pada setiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tidak membedakan model pakaian laki-laki dengan model pakaian wanita (sama saja), akan tetapi untuk wanita ditambah dengan hijab.” (Fathul Bari, 10/345)

Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ الله shallallahu ‘alaihi wa sallam الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْـمَرْأَةِ وَالْـمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud no. 3575. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan menurut syarat Muslim.”)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitabnya Al-Jami’ush Shahih (3/92) menempatkan hadits ini dalam kitab An-Nikah wath Thalaq, bab Tahrimu Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya wanita menyerupai laki-laki), dan beliau membawakannya kembali dalam kitab Al-Libas, bab Tahrimu Tasyabbuhir Rijal bin Nisa` wa Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki) (4/314).

4 Tentunya bukan gambar manusia dan hewan (makhluk hidup). Karena gambar manusia dan hewan telah jelas keharamannya dan tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakannya.

5 Khamishah adalah pakaian tipis bersegi empat terbuat dari wol. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

Dalam At-Tamhid (3/306) disebutkan, khamishah adalah pakaian tipis terkadang bergambar dan terkadang tanpa gambar, bisa jadi warnanya putih bergambar, atau kuning, merah, dan hitam. Khamishah ini termasuk pakaian para pembesar/bangsawan Arab.

6 Namanya Ubaidullah. Adapula yang mengatakan namanya ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur. (Fathul Bari 1/626, Al Minhaj 5/69)

7 Anbajaniyyah adalah pakaian yang tebal tidak bergambar.

8 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sahabatnya untuk mengirim khamishahnya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu, karena Abu Jahm yang menghadiahkannya kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Malik rahimahullah dalam kitabnya Al-Muwaththa` (bab 58, hadits no. 216) dari jalan lain dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

أَهْدَى أَبُو جَهْمٍ بْنُ حُذَيْفَةَ لِرَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam خَمِيْصَةً شَامِيَّةً لَهَا عَلَمٌ فَشَهِدَ فِيْهَا الصَّلاَةَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ: رُدِّي هَذِهِ الْخَمِيْصَةَ إِلَى أَبِي جَهْمٍ، فَإِنِّي نَظَرْتُ إِلَى عَلَمِهَا فِي الصَّلاَةِ فَكَادَ يَفْتِنُنِي

“Abu Jahm bin Hudzaifah menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah khamishah Syamiyyah yang bergambar. Rasulullah pun mengenakannya dan mengerjakan shalat dalam keadaan memakai pakaian tersebut. Tatkala selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Kembalikanlah khamishah ini kepada Abu Jahm, karena ketika shalat aku sempat melihat gambarnya dan hampir-hampir gambarnya memfitnahku (menggodaku).”

9 Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pakaian yang lain kepada Abu Jahm agar Abu Jahm tahu bahwa beliau tidak menolak hadiahnya karena meremehkannya.” (Fathul Bari, 1/626)

10 Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai terlalaikan dari shalat beliau karena godaan yang beliau khawatirkan tidak terjadi namun hampir saja terjadi. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

11 Qiram adalah satir (kain penutup) yang tipis terbuat dari wol yang berwarna-warni. (Fathul Bari, 1/628)

12 Khumrah adalah alas yang kecil sekedar untuk meletakkan wajah ketika sujud.

13 Karena angin yang keluar dari dubur ada yang mengeluarkan bunyi dan ada yang tidak. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.

14 Tentunya setelah melihatnya terlebih dahulu, apakah ada kotoran atau tidak. Bila ada, maka wajib dibersihkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

إِذَا جاَءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah ia membersihkannya dan setelah bersih ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.” (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284, dan Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/110)

15 Karena hukum asal dari perintah adalah wajib, kecuali ada nash yang memalingkannya dari hukum wajib tersebut.

 

Mandi Janabah (3)

Masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita ketika mandi. Di antaranya:

Menjaga Aurat dari Pandangan Mata Orang Lain

Ya‘la rahimahullah bercerita:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki mandi di tempat terbuka. Maka beliau pun naik mimbar, lalu memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda:“Sesungguhnya Allah itu Maha Malu, Menutup (aib/cacat/cela dan keburukan). Dia menyukai sifat malu dan menutup, maka apabila salah seorang dari kalian mandi hendaklah ia menutupi dirinya.”1

Menutup aurat ketika mandi wajib dilakukan bila di tempat tersebut ada orang lain yang diharamkan melihat auratnya, atau dikhawatirkan auratnya akan terlihat oleh orang yang tidak halal untuk melihatnya2. Dan hukumnya bisa menjadi sunnah bila tidak ada kekhawatiran tersebut. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Al-Hammam, bab An-Nahyu ‘anit Ta’ariy). Dan ketika seseorang mandi sendirian di mana tidak ada orang yang akan melihat auratnya, atau mandi di tempat tertutup seperti di kamar mandi, maka tidak wajib menutup auratnya. Bahkan diperbolehkan mandi tanpa busana,  sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut:

“Bani Israil biasa mandi bersama-sama dalam keadaan telanjang, sebagian mereka melihat aurat sebagian yang lain. Sementara Nabi Musa u, beliau mandi sendirian (dengan tanpa busana,–pent.).  Mereka berkata: ‘Demi Allah! Tidak ada yang mencegah Musa untuk mandi bersama-sama kita kecuali karena dia memiliki biji pelir yang besar (bengkak).’

Suatu kali Musa pergi mandi. Ia meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Ternyata batu itu lari membawa pakaian Musa. Musa pun berlari mengejar batu tersebut seraya berkata: ‘Wahai batu, pakaianku! Wahai batu, pakaianku!’  Hingga Bani Israil dapat melihat aurat Musa, mereka pun berkata: ‘Demi Allah! Ternyata Musa tidak memiliki cacat apa-apa (pada kemaluannya,–pent).’ Batu itu tegak hingga dapat dilihat, lalu Musa pun mengambil pakaiannya dan mulailah ia memukul batu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 278 dan Muslim no. 768)

Hadits ini diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah: Bab Man Ightasala ‘Uryanan Wahdahu fil Khulwah wa Man Tasattar Fat Tasattur Afdhal (Seseorang yang mandi sendirian dalam keadaan telanjang tanpa kehadiran orang lain dan yang menutup diri, maka menutup diri itu lebih utama). Sedangkan Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul: Bab Jawazul Ightisal ‘Uryanan fil Khulwah (bolehnya mandi dalam keadaan telanjang ketika sendirian/tidak ada orang lain).

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Boleh membuka aurat ketika dibutuhkan dalam keadaan sendiri, tidak ada orang lain. Seperti ketika mandi, buang air kecil, berhubungan dengan istri, dan semisalnya. Semua keadaan ini dibolehkan membuka aurat ketika sendirian. Adapun bila di hadapan orang lain (selain suami/istri,–pent.) maka haram membuka aurat dalam seluruh keadaan tersebut.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/255)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mencontohkan menutup diri ketika mandi di hadapan orang lain, seperti ketika peristiwa Fathu Makkah. Ummu Hani bintu Abi Thalib radhiallahu ‘anha berkisah:

Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah. Aku dapati beliau sedang mandi sementara Fathimah menutupi beliau. Beliau bertanya: “Siapa yang datang ini?”. “Saya Ummu Hani`,” jawabku.3

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah  membawakan hadits di atas dalam Shahih-nya dengan judul bab Menutup Diri ketika Mandi di Hadapan Manusia.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits di atas: “Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya seseorang mandi di hadapan seorang wanita yang merupakan mahramnya (sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dengan ditutupi Fathimah radhiallahu ‘anha putri beliau,–pent.), apabila antara dia dengan wanita tersebut ada penutup dari kain atau lainnya.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 4/252)

 

Suami Istri Boleh Mandi Janabah Bersama-sama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita untuk menjaga aurat, kecuali di hadapan istri dan budak wanita yang dimiliki, sebagaimana dalam hadits:

“Jagalah auratmu kecuali dari istrimu dan budak wanita yang engkau miliki.”4

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada batasan aurat antara suami dengan istrinya. Demikian pula sebaliknya. Sehingga suami istri boleh mandi bersama, baik mandi biasa maupun mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana. Tangan kami bergantian menciduk air di dalam bejana tersebut.”5

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma juga mengabarkan dari bibinya, Maimunah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Bahwasanya ia pernah mandi bersama Nabi (dengan menggunakan air) dari satu bejana.”6

Ad-Dawudi berdalil dengan hadits yang semakna dengan hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas7 untuk menyatakan bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya dan sebaliknya.

Yang lebih memperkuat pendapat Ad-Dawudi ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa. Ia pernah ditanya tentang boleh tidaknya seorang suami melihat kemaluan istrinya. Sulaiman berkata: “Aku tanyakan hal itu kepada ‘Atha`, maka ia berkata: ‘Aku pernah menanyakannya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, lalu beliau menyebutkan hadits ini secara makna. Dan ini merupakan nash/dalil dalam masalah ini’.” (Fathul Bari, 1/473)

 

Bolehkah Seorang Lelaki Memakai Sisa Air Mandi Seorang Wanita dan Sebaliknya?

Humaid Al-Himyari rahimahullah berkata: Aku bertemu dengan seseorang yang bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bersahabat dengan beliau. Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berkata:

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita mandi dari sisa laki-laki atau laki-laki mandi dari sisa wanita.” Musaddad menambahkan: “Hendaknya keduanya menciduknya bersama-sama.”8

Hadits di atas menunjukkan dilarangnya seorang wanita mandi menggunakan sisa air mandi seorang lelaki, baik mandinya dilakukan secara bersama-sama (bila keduanya suami istri) atau setelah selesainya lelaki tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Makna : hendaklah seorang lelaki dan seorang wanita mengambil cidukan demi cidukan dari air tersebut ketika keduanya mandi. Keduanya menciduk bersama-sama, bukan saling bergantian, yang satu baru kemudian yang lain.

Dzahir hadits di atas menunjukkan bahwa lelaki ataupun wanita dilarang untuk mandi suci (janabah) menggunakan sisa air yang lainnya, baik keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, masing-masing menggunakan sisa air pasangannya, atau mandinya satu demi satu, yang lelaki terlebih dahulu atau si wanita. Namun boleh bagi keduanya untuk mandi bersama-sama dari satu bejana dengan menciduk air dari bejana tersebut secara bersamaan, bukannya bergantian mengambil air di dalam bejana.

Demikian salah satu pendapat kalangan ahlul ilmi. Memang dalam masalah menggunakan sisa air laki-laki atau sisa air wanita ada beberapa pendapat:

Pendapat pertama: laki-laki boleh bersuci dengan menggunakan sisa air wanita. Demikian pula sebaliknya, baik mandinya bersama-sama atau sendiri-sendiri.
Pendapat kedua: laki-laki makruh menggunakan sisa air mandi wanita dan sebaliknya.
Pendapat ketiga: masing-masing boleh bersuci/mandi dengan menggunakan sisa air pasangannya, bila keduanya menciduknya secara bersama-sama.
Pendapat keempat: boleh bersuci dengan menggunakan sisa air tersebut, bila si wanita tidak dalam keadaan haid dan si lelaki tidak dalam keadaan junub.
Pendapat kelima: wanita boleh menggunakan sisa air laki-laki, namun laki-laki makruh menggunakan sisa air wanita.

Pendapat keenam: masing-masing boleh menggunakan air yang ada bila keduanya mandi bersama-sama dari satu bejana, baik menciduknya secara bersama-sama ataupun tidak. (‘Aunul Ma‘bud, kitab Ath-Thaharah, bab An-Nahyu ‘an Dzalik)

Dari beberapa pendapat di atas, yang penulis pandang kuat adalah pendapat yang membolehkan, karena adanya hadits berikut ini:

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah.”9

Dalam riwayat Ashabus Sunan disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma  menyatakan:

Salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai mandi dari satu bejana yang besar. Lalu datanglah Nabi untuk mandi menggunakan air yang masih ada dalam bejana besar tersebut. Istri beliau berkata:“Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut).” Nabi bersabda:“Sesungguhnya air tidak membuat junub.”10

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata:“Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menunjukkan bolehnya bersuci/mandi menggunakan sisa air mandi wanita. Sementara hadits Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari yang telah lewat dalam bab terdahulu11 menunjukkan larangan dari hal tersebut.

Dua hadits tersebut digabungkan dengan pernyataan bahwa larangan yang ada adalah bila air yang digunakan merupakan air yang berjatuhan dari anggota-anggota tubuh si wanita, karena air tersebut telah menjadi air musta‘mal. Sementara air yang masih tersisa di ember/bejana atau tempat air lainnya boleh digunakan (tidak dilarang). Demikian penggabungan yang dilakukan oleh Al-Khaththabi.

(Dan cara lain menggabungkan dua hadits yang secara dzahir nampak bertentangan tersebut adalah) bahwa larangan yang ada dibawa kepada larangan tanzih (yakni makruh, bukan larangan yang menunjukkan keharaman/tahrim), dengan adanya hadits-hadits yang membolehkan (laki-laki menggunakan sisa air wanita).

Adapula yang berpendapat bahwa ucapan sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Tadi aku mandi junub (dengan menggunakan air tersebut)’, dia nyatakan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berwudhu dengan sisa air mandi istrinya. Ini menunjukkan bahwa larangan menggunakan sisa air wanita itu telah ada lebih dahulu, lalu datanglah hadits yang menunjukkan kebolehan sebagai penghapus hadits yang melarang, wallahu a‘lam.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan permasalahan ini pula dalam kitab beliau Al-Majmu’ Syar-hul Muhadzdzab (2/220-222).

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul ‘Arabi Al-Maliki rahimahullah dalam syarahnya terhadap Sunan At-Tirmidzi (‘Aridhatul Ahwadzi, 1/72) berkata tentang permasalahan ini: “Dari sisi sanad, hadits yang membolehkan berwudhu dengan sisa wudhu wanita, seluruhnya shahih. Adapun hadits Al-Hakami, kata Al-Bukhari: ‘Abu Hajib Sawadah bin ‘Ashim Al-Ghanawi12 –demikian disebutkan Al-Imam Ahmad dan selainnya– termasuk kalangan orang-orang Mesir (Mishriyyun).’ Al-Ghifari berkata: ‘Aku tidak memandangnya shahih dari Al-Hakam bin ‘Amr.’

Adapun hukum dari permasalahan ini, jumhur ulama berkata: ‘Seorang laki-laki boleh berwudhu dengan sisa air wudhu dan mandi seorang wanita.’

Sedangkan Al-Imam Ahmad bin Hambal berkata: ‘Hal itu tidak boleh, bila si wanita telah menggunakan air tersebut sendirian (tidak menggunakannya bersama-sama)’.

Al-Hasan, Ibnul Musayyib, dan Ishaq memakruhkannya. Dan diriwayatkan kemakruhannya dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, bila si wanita menggunakan air tersebut dalam keadaan ia sedang haid, junub, atau bersendiri menggunakannya. Yang menjadi sandaran mereka adalah hadits Al-Hakam yang telah lewat.

Namun hadits kami (yang membolehkan) lebih utama dari dua sisi:
Pertama: haditsnya lebih shahih.

Kedua: haditsnya lebih belakangan daripada hadits yang melarang. Dengan dalil bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mandi dari bejana, Maimunah berkata kepada beliau: ‘Sungguh aku telah berwudhu menggunakan air tersebut’.

(Ucapan Maimunah ini) menunjukkan bahwa larangan itu telah ada sebelumnya, lalu Nabi menerangkan bahwa air itu tidak membuat junub. Berarti terangkatlah larangan yang terdahulu (sehingga hukumnya menjadi boleh,–pent.)”. Wallahu a’lam.

Sebagai kesimpulan, mandi orang yang junub atau wudhu seseorang dari satu bejana tidaklah mempengaruhi kesucian air, karena air (dalam bejana) tersebut tetap dalam keadaan suci. Sehingga laki-laki boleh mandi menggunakan sisa air wanita walaupun wanita tersebut junub. Adapun larangan yang ada, bukanlah larangan yang menunjukkan keharaman, namun larangan lit tanzih. (Taudhihul Ahkam 1/133, Subulus Salam 1/37)

Perselisihan yang ada ini khusus dalam masalah bersucinya seorang lelaki menggunakan sisa air wanita. Adapun bersucinya wanita dengan sisa air mandi laki-laki, kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah: “Boleh dengan kesepakatan yang ada.” Namun Al-Hafizh memberi komentar bahwa Ath-Thahawi telah menetapkan adanya perselisihan pendapat pula dalam permasalahan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thaharah, bab Ma Ja`a fir Rukhshah fi Dzalik).

 

Catatan
Tata cara mandi janabah bagi wanita sama dengan laki-laki. Dan tidak ada kewajiban bagi wanita untuk memasukkan air ke dalam kemaluannya ketika mandi janabah ataupun mandi haid, karena tidak adanya perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Seandainya hal tersebut wajib dilakukan, niscaya akan ada keterangannya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri, dengan kata lain mencumbui istri tanpa melakukan jima’ –tentu juga bukan pada duburnya karena itu haram dan terlaknat–, apakah si suami tetap wajib mandi?

Bila seorang suami menggauli istrinya pada selain kemaluannya, yakni sama sekali tidak memasukkan zakarnya ke dalam farji istrinya, namun si suami mengeluarkan mani pada selain kemaluan istrinya, maka telah kita ketahui dari penjelasan-penjelasan yang telah lewat bahwa ia tetap wajib mandi. Dengan dalil hadits:

“Hanyalah air itu dicurahkan karena keluar air (yakni mandi itu hanyalah diwajibkan karena keluar mani,–pent).” (HR. Muslim no. 343)

Juga dengan adanya kesepakatan ulama akan wajibnya mandi karena keluar mani.
Bagaimana dengan si istri, apakah ia juga wajib mandi?

Dalam hal ini perlu perincian. Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia wajib mandi. Namun bila ia tidak mengeluarkan mani, dan khitannya sama sekali tidak bersentuhan (dimasuki) oleh khitan suaminya13 maka tidak ada kewajiban mandi baginya.

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata tentang seorang suami yang menggauli istrinya pada selain kemaluan si istri lalu si suami keluar mani:

Si suami mandi, sedangkan istrinya tidak, akan tetapi ia membasuh/mencuci bagian tubuhnya yang terkena.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 981)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

Bila si istri juga mengeluarkan mani maka ia mandi. Namun bila tidak, maka ia cukup berwudhu dan mencuci bagian tubuhnya yang terkena mani suaminya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/93).

Wallahu ta’ala a’lam bishshawab. Untuk selanjutnya dalam edisi mendatang kita akan membahas tentang mandi yang diperselisihkan kewajibannya dan mandi yang sunnah, Insya Allah.

Wallahu al-muwaffiq.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

Catatan Kaki:

1 HR. Ahmad 4/224, Abu Dawud no. 4012, An-Nasa`i no. 406. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i, Al-Irwa` 2335 dan Al-Misykat 447.

2 Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim no. 766, kitab Al-Haidh, bab Tahrimun Nazhar ilal ‘Aurat)

3 HR. Al-Bukhari no. 280 dan Muslim no. 762.

4 HR. Abu Dawud no. 4017, At-Tirmidzi no. 2769 dan yang lainnya. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, Shahih At-Tirmidzi.

5 HR. Al-Bukhari no. 261 dan Muslim no. 729.

6 HR. Muslim no. 731

7 Yaitu hadits:

“Aku dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi (dengan menggunakan air) dari satu bejana, dari bejana yang disebut al-faraq.”  (HR. Al-Bukhari no. 250 dan Muslim no. 725)

Kata Qutaibah: Berkata Sufyan: “Al-faraq adalah (bejana yang isinya) tiga sha’.”
8 HR. Abu Dawud no. 81 dan An-Nasa`i no. 238. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, Shahih An-Nasa`i. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih (1/547) dari riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/110.

9  HR. Muslim no. 732

10  HR. Abu Dawud no. 68 dan Ashabus Sunan lainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan selainnya.

11  Yaitu hadits:

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang lelaki berwudhu menggunakan sisa air wanita.”

12 Nama perawi yang meriwayatkan hadits tentang larangan laki-laki berwudhu menggunakan sisa air wanita dari Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari.

13 Sementara dalam hadits disebutkan:

“Apabila seorang laki-laki telah duduk di antara empat cabang seorang wanita kemudian ia memasukkan khitan (nya,–pent.) ke khitan (istrinya,–pent.) maka sungguh telah wajib mandi.” (Sunan Abi Dawud no.216,dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa pewajiban mandi karena jima‘ tidak tergantung dengan keluarnya mani bahkan kapan hasyafah (pucuk dzakar) masuk ke dalam farji hingga tersembunyi, telah wajib mandi bagi laki-laki dan wanita tersebut. (Syarhu Shahih Muslim 4/41)

 

Mandi Janabah (2)

Melanjutkan pembahasan tentang mandi janabah edisi lalu, simak penjelasan berikut!

Seorang Wanita Tidak Harus Melepas Jalinan atau Kepangan Rambutnya

Tidak ada perbedaan cara mandi janabah antara laki-laki dan wanita1. Namun dalam hal ini, ada permasalahan yang berkaitan dengan rambut wanita. Bila si wanita sebelum mandi janabah menggelung atau menjalin rambutnya, apakah ia wajib melepas kepangan atau jalinannya ketika hendak mandi? Tentang ini, Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Ya Rasulullah, aku adalah wanita yang sangat kuat kepangan/jalinan rambutku, apakah aku harus melepaskannya saat mandi janabah?” Beliau menjawab: “Tidak perlu, namun cukup bagimu untuk menuangkan air tiga tuangan ke atas kepalamu, kemudian engkau curahkan air ke tubuhmu, maka engkau suci.”2

‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga pernah mengingkari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai berita kepadanya bahwa Abdullah memerintahkan para wanita untuk melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka ketika mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Alangkah mengherankan Ibnu ‘Amr itu. Ia memerintahkan para wanita apabila mereka mandi agar melepaskan kepangan atau jalinan rambut mereka. Mengapa ia tidak perintahkan saja mereka agar mencukur rambut-rambut mereka? Sungguh dulu aku dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi dari satu bejana, ketika mandi itu aku tidak menambah dari sekedar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan. (HR. Muslim no. 331)

Al-Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya, apakah wanita yang mandi janabah harus melepaskan jalinan atau kepangan rambutnya? Beliau menjawab, tidak wajib dengan dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, masalah Wa Tanqudhul Mar`ah Sya’raha li Ghusliha minal Haidh wa Laisa ‘alaiha Naqdhuhu minal Janabah Idza Arwat Ushulaha)

Apakah Wajib Menggosok Anggota Tubuh ketika Mandi?

Menggosok anggota tubuh saat mandi diperselisihkan kewajibannya oleh ulama3. Dinukilkan wajibnya menggosok ini dari Al-Imam Malik4 dan mayoritas pengikutnya, Al-Muzani dari pengikut/murid Al-Imam Asy-Syafi’i.5 Mereka berdalil dengan hadits ‘Aisyah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk mandi janabah. Kemudian beliau berkata di akhir perintah beliau tersebut:

“Wahai ‘Aisyah, basuh bagian kepalamu yang tersisa, lalu gosoklah kulitmu, dan ratakanlah.”
Mereka juga berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya di bawah setiap rambut itu ada janabah, maka basuhlah rambut dan bersihkanlah kulit.”

Juga hadits yang berisi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada wanita yang mandi haid untuk menggosok kepalanya dengan gosokan yang kuat, dengan membawa hadits ini kepada permasalahan menggosok tubuh saat mandi janabah.

Sementara pendapat kedua yang tidak mewajibkan penggosokan tubuh dipegangi oleh mayoritas ulama. Dan pendapat ini yang penulis kuatkan, wallahu ta’ala a’lamu bishshawab. Pendapat ini didasari dalil hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha tentang tidak dibukanya kepangan rambut, di mana beliau menyampaikan bahwa cukup untuk dituangkan air saja sebanyak tiga kali tuangan pada waktu mandi janabah.

Dan hadits ini merupakan dalil yang kuat dalam permasalahan ini.
Sementara dalil yang dibawakan oleh pihak yang mewajibkan, yakni hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah hadits mursal, di mana pada sanadnya ada Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair. Dia tidak bertemu ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sedangkan hadits Abu Hurairah  radhiallahu ‘anhu pada sanadnya ada Al-Harits bin Wajih, dan dia ini dha’if. Adapun hadits tentang menggosok kepala bagi wanita yang mandi haid hanyalah berlaku untuk mandi haid saja. Dan mengkiaskan mandi janabah terhadap pembersihan najis adalah kias yang amat jauh, sebagaimana pengkiasan tersebut juga menjadi hujjah bagi mereka yang mewajibkannya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan: “Tidak wajib bagi orang yang mandi (janabah) untuk menggosok anggota tubuhnya. Ini merupakan pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Ahmad bin Hanbal, Dawud, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i.” (Al-Muhalla, 1/276)

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Ucapan ‘Aisyah: (kemudian beliau mencurahkan air), maknanya mengucurkan/mengalirkan/mencurahkan. Ini dijadikan dalil atas tidak wajibnya menggosok. Di samping memang istilah (ghusl/mandi) tidaklah masuk di dalamnya menggosok. Karena Maimunah menyatakannya dengan , sedangkan ‘Aisyah menyatakannya dengan , sedangkan maknanya satu. itu tidak masuk di dalamnya penggosokan, maka demikian pula …” (Subulus Salam, 1/141)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Madzhab kami menyatakan bahwa menggosok anggota badan saat mandi dan wudhu itu sunnah, tidak wajib. Seandainya seseorang menuangkan air ke atas tubuhnya hingga air itu sampai ke tubuhnya walaupun ia tidak menyentuh air dengan kedua tangannya, ia mencelupkan dirinya ke dalam air6 yang banyak, ia berdiri di bawah pancuran, atau di bawah curah hujan, dengan niat mandi janabah hingga air membasahi rambut dan kulitnya, maka hal itu mencukupi wudhu dan mandinya.

Demikian pendapat ulama seluruhnya kecuali Al-Imam Malik dan Al-Muzani. Karena keduanya mensyaratkan sahnya mandi dan wudhu bila disertai menggosok anggota tubuh yang dibasuh. Juga dengan alasan bahwa mandi itu adalah menjalan-kan tangan di atas tubuh sehingga orang yang berdiri di bawah curah hujan tidaklah ia dikatakan mandi. Al-Muzani berkata: “Karena dalam tayammum itu disyaratkan menjalankan tangan7, maka demikian pula dalam mandi dan wudhu.” (Al-Majmu’, 2/214)

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata: “Tidaklah wajib menjalankan/mengedarkan tangan di atas tubuh ketika wudhu dan mandi, bila memang diyakini atau diduga kuat air sampai ke seluruh tubuh. Ini pendapat Al-Hasan, An-Nakha’i, Asy-Sya’bi, Hammad, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan Ashabur Ra`yi.” (Al-Mughni, kitab Ath-Tharahah, bab La Yajibu `alaihi Imraru Yadihi `ala Jasadihi fil Ghusl)

Hemat dalam Pemakaian Air

Umat sepakat bahwa tidak ada persyaratan kadar banyaknya air untuk wudhu dan mandi.8 Namun disenangi bagi seseorang untuk hemat dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air ketika wudhu dan mandinya. Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud9 dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud.”10

Boleh Mandi Hanya Sekali Setelah Men-jima’i Beberapa Istri
Anas bin Malik  radhiallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengelilingi istri-istrinya (menjima’i mereka secara bergantian-pent.) dengan satu kali mandi.”11

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan menukilkan adanya ijma’ tentang suami yang menjima’i seorang istrinya secara berulang-ulang, atau menjima’i beberapa istrinya, boleh baginya untuk mandi sekali saja. (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99)

Namun berwudhu ketika akan mengulangi jima’ merupakan hal yang disenangi untuk diamalkan, sebagaimana telah dijelaskan pada edisi yang lalu. Dan demikian pula halnya mengulang mandi setelah menjima’i masing-masing istri, hal ini lebih baik dan lebih mensucikan. Sebagaimana ditunjukkan hadits Abu Rafi’ shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari mengelilingi istrinya (menggauli mereka satu persatu secara bergantian,-pent.), beliau mandi setelah menjima’i istri yang ini, dan mandi lagi setelah menjima’i istri yang satunya. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mencukupkan dengan satu kali mandi (setelah menjima’i semua istri-pent.)?” Beliau menjawab:

“Yang demikian ini lebih suci, lebih baik, dan lebih mensucikan.”12

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————–

Catatan Kaki:

1 Al-Hawil Kabir 1/225, Al-Majmu’ 2/215

2 HR. Muslim no. 330

3 Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Mudawwanah Al-Kubra 1/133, Adz-Dzakhirah 1/309

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 Asy-Sya’bi, An-Nakha’i dan Al-Hasan berpendapat bila seseorang yang junub menyeburkan dirinya ke dalam air maka mencukupinya dari mandi janabah. (Al-Muhalla 1/277)

7 Namun pendapat yang benar, menjalankan tangan bukanlah syarat dalam tayammum (Al-Majmu’ 2/214).

8 Al-Majmu’ 2/219, Al Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/100.

9 1 mud adalah ukuran sepenuh dua telapak tangan laki-laki yang sedang, sementara 1 sha sama dengan 4 mud.

10 HR. Al-Bukhari no. 201 dan Muslim no. 735

11 HR. Muslim no. 706 dan mandinya disini dilakukan ketika selesai jima yang akhir.

12 HR. Abu Dawud no. 219, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud

 

Mandi Janabah (1)

Mandi janabah tentu bukan hal yang asing bagi orang yang sudah dewasa (baligh). Namun bagaimana mengamalkan mandi janabah seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu masih sedikit yang tahu. Amat disayangkan bila amalan yang termasuk sering dilakukan ini ternyata dilakukan secara asal-asalan, tanpa dilandasi ilmu yang benar. Berikut ini penjelasan bagaimana tata cara mandi janabah seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tata Cara Mandi Janabah

Ada dua tata cara dalam mandi janabah.

Pertama: Tata cara minimal yang hanya meliputi perkara yang wajib saja

Kedua: Tata cara sempurna yang mencakup kewajiban dan sunnah-sunnah mandi.1

Yang mencukupi untuk dilakukan dalam mandi janabah adalah membasuh seluruh anggota badan, menyampaikan air ke kulit dan rambut. Dan ini merupakan perkara wajib dalam mandi janabah2. Demikian kesepakatan yang ada.3 Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Mandi tidaklah sempurna kecuali dengan meratakan air ke seluruh tubuh.” (As-Sailul Jarrar, 1/287)

Adapun mandi janabah seperti tata cara yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya sunnah4 dan “Sepantasnya seseorang yang mandi melakukan mandinya menurut tata cara yang dinukilkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan bentuk yang diriwayatkan dari beliau dalam hadits-hadits yang shahih tsabit dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya. Yang di dalamnya terkandung pendahuluan anggota wudhu, kemudian menuangkan air ke atas kepala, lalu mencuci bagian kanan kemudian yang kiri. Yang demikian ini adalah sunnah yang shahih.” (As-Sailul Jarrar, 1/292-293)

Ada beberapa hadits yang menyebutkan tata cara mandi janabah yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain hadits yang disampaikan oleh dua istri beliau ‘Aisyah dan Maimunah radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain. Ulama bersepakat, tata cara mandi yang disebutkan dalam hadits keduanya ini merupakan tata cara yang paling sempurna.5

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila hendak mandi janabah, beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, lalu beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air dan menyela-nyela pangkal rambutnya dengan jari-jemari yang telah dibasahi air tersebut. Setelahnya beliau menuangkan air ke kepala beliau sebanyak tiga tuangan dengan kedua tangan beliau (menciduknya), kemudian barulah menuangkan air ke seluruh tubuh beliau.”6

Dalam riwayat yang dikeluarkan Al-Imam Muslim,7 disebutkan dengan lafadz:

“Beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya –dalam satu riwayat: sebelum memasukkannya ke dalam bejana (tempat air untuk mandi) –kemudian dengan tangan kanannya beliau menuangkan air ke tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu seperti wudhu beliau untuk mengerjakan shalat.”

Dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha disebutkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan air untuk mandi janabah. Beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya dua atau tiga kali. Kemudian mencuci kemaluannya. Setelahnya beliau menggosokkan tangannya ke bumi/tanah –atau dinding/tembok– dua atau tiga kali. Lalu beliau madhmadhah (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung lalu istinsyar yakni mengeluarkannya kembali–pent.) Beliau mencuci wajahnya dan dua lengannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepalanya. Lalu membasuh tubuhnya. Setelahnya beliau menyingkir/berpindah dari tempatnya, lalu mencuci kedua kakinya. Maimunah berkata: Aku pun memberikan kain/handuk kepada beliau (untuk mengusap/mengelap tubuh beliau) namun beliau tidak menginginkannya. Maka mulailah beliau mengibaskan air dengan tangannya.”8

Dari berita yang disampaikan kedua Ummul Mukminin di atas, dapat kita simpulkan bahwa tata cara mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perinciannya adalah sebagai berikut:

  1.  Mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan/dicelupkan ke dalam bejana/tempat air.
  2.  Menuangkan air dengan tangan kanan ke tangan kiri, lalu digunakan untuk mencuci kemaluan. Ini dilakukan sebanyak dua atau tiga kali.
  3.  Tangan kiri yang digunakan untuk mencuci kemaluan digosokkan/ diusapkan ke bumi/tanah atau ke tembok sebanyak dua atau tiga kali. Dan pengusapan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Kemudian beliau mengusap tanah dengan tangan kirinya lalu menggosoknya dengan gosokan yang sungguh-sungguh….”9

  1.  Berwudhu sebagaimana wudhu untuk mengerjakan shalat, yang berarti melakukan madhmadhah (berkumur-kumur), istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkan air dari hidung), mencuci wajah, dua lengan, mengusap kepala dan telinga.
  2.  Kemudian beliau memasukkan jari-jemarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya. Faidah penyela-nyelaan ini adalah menyampaikan air ke rambut dan kulit kepala.10 Hal ini dilakukan sampai dipastikan kulit kepala terkena air. Setelah itu beliau menuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Kemudian beliau menyela-nyela rambutnya dengan tangannya hingga ketika beliau memastikan telah membasahi kulit kepalanya, beliau pun menuangkan air ke kepalanya tiga kali.”11

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata:

“Adapun aku, aku menuangkan air ke kepalaku tiga kali.” Dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangannya.12

Ketika membasuh kepala dimulai dari belahan rambut bagian kanan kemudian bagian kiri13 sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

“Rasulullah mengambil air dengan telapak tangannya lalu mulai menuang-kannya ke belahan kepalanya yang kanan kemudian yang kiri.”14

  1.  Membasuh seluruh tubuh
  2.  Mengakhirkan mencuci kaki, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Maimunah radhiallahu ‘anha:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhu untuk mengerjakan shalat hanya saja beliau tidak mencuci kakinya. Dan (sebelumnya) beliau telah mencuci kemaluannya dan kotoran yang mengenainya. Kemudian beliau menuangkan air ke atas tubuhnya, setelahnya beliau memindahkan kedua kakinya (berpindah dari tempat semula), lalu mencuci keduanya.”15

Ulama berbeda pendapat tentang hukum mengakhirkan mencuci kaki dalam    mandi janabah ini. Jumhur ulama berpandangan mustahab hukumnya. Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bila tempatnya tidak bersih maka mustahab mengakhirkannya, bila bersih (tidak kotor) maka didahulukan (ketika wudhu dalam mandi janabah).

Al-Imam Ahmad rahimahullah memiliki beberapa pendapat dalam masalah ini.

Dalam  satu riwayat beliau mengatakan: “Lebih menyenangkan bagiku untuk mencuci     kedua kaki setelah mandi dengan dalil hadits Maimunah radhiallahu ‘anha.” Dalam riwayat lain beliau menyatakan: “Yang diamalkan adalah hadits ‘Aisyah16 yang di dalamnya menunjukkan bahwa sebelum mandi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhunya untuk mengerjakan shalat.”

Pada tempat lain Al-Imam Ahmad mengatakan: “Mencuci kedua kaki pada tempatnya, setelah mandi dan sebelum mandi sama saja.” (Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, pasal Al-Ghusli minal Janabah)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata mengomentari hadits Maimunah: “Hadits ini merupakan nash yang menunjukkan bolehnya mengakhirkan pencucian kedua kaki dalam mandi janabah, berbeda dengan hadits ‘Aisyah. Dalam perkara ini bisa saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan keduanya, sehingga terkadang beliau mencuci kedua kakinya setelah mencuci anggota wudhu yang lain (mengawalkan) dan terkadang beliau mengakhirkan mencuci keduanya ketika telah selesai mandi, wallahua’lam.” (Al-Irwa’, 1/362)

Wallahu ta’ala ‘alamu bishshawab, dan pendapat ini yang penulis kuatkan.
Adapun hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki, Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Hikmah diakhirkannya mencuci kedua kaki agar dalam mandi janabah itu diawali dan diakhiri dengan membasuh anggota wudhu.” (Fathul Bari, 1/470)

  1. Tidak berwudhu lagi setelah mandi. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan setelahnya shalat dua rakaat (qabliyyah subuh) dan shalat shubuh dan aku tidak melihat beliau memperbaharui wudhu setelah mandi.”17

Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan oleh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak lagi berwudhu setelah mandi”.18

Al-’Allamah Al-’Azhim Abadi rahimahullah berkata dalam syarahnya terhadap Sunan Abi Dawud: “Tidak diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wudhu saat mandinya. Berwudhu sebelum menyempurnakan mandi (janabah) merupakan sunnah yang tsabitah (shahih) dari beliau. Adapun berwudhu setelah selesai mandi, perbuatan demikian tidak dikenal dan tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (‘Aunul Ma’bud, kitab Ath-Thaharah, bab Fil Wudhu Ba’dal Ghusl)

Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan rahimahullah berkata: “Ahlul ilmi sepakat sunnahnya wudhu sebelum mandi dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun setelah mandi maka tidaklah disunnahkan” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99-100). Demikian pula disebutkan dalam Adz-Dzakhirah lil Al-Imam Al-Qarafi (1/310).

Dengan demikian bila seseorang hendak mengerjakan shalat setelah mandi janabah maka wudhu yang dilakukan saat mandi janabah mencukupinya selama wudhu tersebut belum batal, sehingga ia tidak perlu mengulangi wudhu nya setelah mandi.

  1. Mengeringkan air dari tubuh dengan mengeringkan/mengibaskan air dengan tangannya. Dari Ucapan Maimunah radhiallahu ‘anha tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai mandi:

(Mulailah beliau melakukan begini terhadap air yang menempel di tubuhnya) yakni  (mengibaskannya)19 ada dalil tidak terlarangnya mengibaskan atau menepiskan air dengan tangan dari anggota tubuh setelah wudhu dan mandi. (Subulus Salam, 1/141).

Adapun menyekanya dengan menggunakan kain, handuk atau yang selainnya maka kita dapati ulama berselisih pendapat dalam hal ini. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Para shahabat dan orang-orang selain mereka berbeda pendapat tentang tansyif (menyeka tubuh dengan kain/handuk setelah mandi) menjadi tiga madzhab/pendapat:

Pertama: Tidak mengapa melakukannya setelah berwudhu dan mandi, demikian pendapat Anas bin Malik dan Ats-Tsauri.

Kedua: Makruh untuk dilakukan setelah wudhu dan mandi, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Abi Laila.

Ketiga: Dimakruhkan dalam wudhu namun tidak makruh bila dilakukan setelah mandi, demikian pandangan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/222)

Dalam hal ini kami, penulis, lebih memilih pendapat yang pertama karena tidak adanya dalil yang melarang dalam masalah ini. Adapun penolakan beliau bukan berarti larangan, namun beliau lebih menyenangi mengibaskannya dengan tangan beliau atau karena perkara yang lainnya. Sehingga apabila mengibaskan dengan tangan dibolehkan (mubah) berarti tansyif semisalnya juga dibolehkan, karena mengibaskan dengan tangan dan menyeka dengan handuk sama-sama bertujuan menghilangkan air yang menempel di tubuh, wallahu a’lam.

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied menyatakan seandainya tansyif itu makruh niscaya dimakruhkan pula menepiskan air dengan tangan karena akan menghilangkan air dari anggota tubuh. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kain/ handuk yang ditawarkan bukan karena beliau memakruhkan tansyif namun karena perkara lain, bisa jadi karena keadaan kain/handuk yang ditawarkan atau selainnya. (Ihkamul Ahkam, kitab Ath-Thaharah, bab Al-Janabah, hadits ke-30)

Demikian tata cara mandi janabah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari awal sampai akhir yang mustahab/sunnah yang dapat kami kumpulkan untuk dilakukan oleh seseorang yang hendak mandi janabah.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Catatan Kaki:

1 Al-Mughni, kitab Ath-Thaharah, Pasal Al-Ghusli minal Janabah, Ar-Raudhul Murbi’ 1/61, Asy-Syarhul Mumti’ 1/ 230.

2 Al-Hawil Kabir 1/220, Al-Majmu’ 2/212, Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/99, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah 1/189, As-Sailul Jarar 1/292, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah fi Fiqhil Kitab
was Sunnah Al-Muthahharah, 1/198

3 Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/99

4 Al-Hawil Kabir 1/227, Al-Majmu’ 2/213, Al- Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah, 1/199

5 Bidayatul Mujtahid, hal. 41

6 HR. Al-Bukhari no. 248 dan Muslim no. 716

7 No. 716, 719

8 HR. Al-Bukhari no. 274 dan Muslim no. 720

9 HR. Muslim no. 720

10 Fathul Bari, 1/469

11 HR. Al-Bukhari no. 272dan Muslim no. 716

12 HR. Al-Bukhari no. 254 dan Muslim no. 738

13 Ini menunjukkan disenanginya mendahulukan anggota tubuh yang kanan dalam mandi janabah. (At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatun Nadiyyah, 1/192)

14 HR. Al-Bukhari no. 258 dan Muslim no. 723

15 HR. Al-Bukhari no. 249 dan Muslim no. 720

16Hadits ‘Aisyah menunjukkan ketika berwudhu dalam mandi janabah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya secara sempurna dengan mencuci kedua kaki beliau sehingga pencucian kaki ini dilakukan di awal mandi bukan pada akhirnya, wallahu a’lam.
17 HR. Abu Dawud no. 250, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud

18 HR. At-Tirmidzi no. 107, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi

19 HR. Muslim no. 722

 

Mandi Janabah (2)

Edisi lalu telah membahas sebagian hal yang berkaitan dengan orang junub. Berikut ini beberapa permasalahan yang masih tersisa tentang janabah.

  1. Membaca Al-Qur`an

Ahlul ilmi berselisih pendapat tentang boleh tidaknya seorang yang junub membaca al-Qur`an. Mayoritas ulama dari empat madzhab (jumhur ulama) berpendapat tidak boleh. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Umar ibnul Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib dan selain keduanya. Diriwayatkan pula pendapat ini dari Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, An-Nakha’i dan selain mereka. Al-Imam Malik berpendapat, wanita haid boleh membaca al-Qur`an sesuai keinginannya, dan orang yang junub dibolehkan membaca dua ayat dan semisalnya. Sementara Abu Hanifah berpandangan hanya dibolehkan bila membacanya tidak sempurna satu ayat.1 (Al-Muhalla, 1/95, Al-Majmu’ 2/182, Al-Mughni kitab Ath-Thaharah Fashl Yuhramu ‘alal Junub Qira‘ah Ayah, Nailul Authar 1/317, Fatwa Lajnah Ad-Da‘imah 4/106-108, Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Baz 10/208-211)

Adapun mereka yang melarang sama sekali bagi orang junub untuk membaca al-Qur`an berdalil dengan hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah n keluar dari WC, lalu beliau membaca al-Qur`an dan makan bersama kami. Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi beliau dari al-Qur`an kecuali janabah.”2

Namun hadits ini dhaif (lemah). Al-Imam Asy-Syaukani menyatakan hadits ini diperbincangkan keshahihannya (mutakallam fihi), dan juga dari sisi marfu’ atau mauqufnya (Nailul Authar 1/317). Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkannya dalam Dha’if Kutubus Sunan dan Irwa`ul Ghalil no. 485.

Mereka yang melarang juga berdalil dengan hadits:

“Orang yang haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari al-Qur`an.”3

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

——————————————————————————————————————————–

Catatan kaki

1 Al-Imam Ibnu Hazm menyatakan bahwa semua pendapat ini salah, karena tidak didukung oleh dalil dari al-Qur`an, tidak pula dari as-Sunnah baik yang shahih ataupun dhaif, tidak ada pula ijma’, ataupun ucapan shahabat ataupun dari qiyas. Karena sebagian ataupun satu ayat adalah bagian dari al-Qur`an juga tanpa diragukan, lalu mengapa ada pembedaan satu ayat boleh sedangkan lebih dari satu ayat tidak boleh? Demikian pula pembedaan yang mereka lakukan antara wanita haid dengan orang junub. Wanita haid boleh membaca al-Qur`an dengan alasan masa haid itu panjang. Perkara ini mustahil karena bila baca al-Qur`an itu haram bagi wanita haid maka tidak dibolehkan baginya membacanya sepanjang masa haidnya. Sedangkan bila baca al-Qur`an halal baginya maka tidak ada maknanya berhujjah dengan panjangnya masa haid. (Al-Muhalla 1/95)

2 HR. An-Nasa`i no. 260, Abu Dawud no. 229 dan yang lainnya.

3 HR. At-Tirmidzi no. 131 dan Ibnu Majah no. 595, 596.

4 HR. Abu Dawud no. 17. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani, Ash-Shahihah no. 834

5 Telah disebutkan haditsnya secara lengkap.

6 HR. Al-Atsram dan Ad-Daraquthni secara muttashil, dan Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` secara mursal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 122.

7 HR. Al-Bukhari no. 2990 dan Muslim no. 4816.

8 HR. Al-Bukhari no. 290 dan Muslim no. 702

9 HR. Muslim no. 689.

10 HR. Muslim no. 705.

11 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 263

 

 

Mandi Janabah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

 

Bolehkah seseorang yang tengah junub membaca Al Qur’an, masuk masjid, dan berdzikir? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa jadi sering muncul di tengah masyarakat kita. Lalu apa jawabnya? Simak kajian berikut!

Dalam edisi yang lalu telah kita ketahui bahwa di antara hal-hal yang mewajibkan mandi adalah keluar mani, baik karena jima’ atau selainnya (ihtilam), dalam keadaan jaga ataupun tidur, dan bertemunya khitan seorang lelaki dan khitan seorang wanita, baik keluar mani (inzal) ataupun tidak. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas permasalahan yang berkaitan dengan janabah ataupun junub.
Junub secara bahasa merupakan lawan dari qurb dan qarabah yang bermakna dekat, sehingga junub artinya jauh. Istilah junub secara syar’i, diberikan kepada orang yang mengeluarkan mani atau orang yang telah melakukan jima’. Orang yang demikian dikatakan junub dikarenakan menjauhi dan meninggalkan apa yang dilarang pelaksanaannya oleh syariat dalam keadaan junub tersebut. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 16/47)
Dalam pembicaraan tentang janabah dan seorang yang junub, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:

Perkara yang Tidak Dibolehkan bagi Seorang yang Junub
1.    Shalat
Haram bagi seorang yang junub untuk melakukan shalat, baik shalat wajib ataukah shalat sunnah/ nafilah. Karena thaharah merupakan syarat sahnya shalat, sedangkan orang yang junub tidak dalam keadaan suci. Oleh karena itu, Allah I memerintahkan orang yang junub untuk bersuci dalam firman-Nya:

“Jika kalian junub maka bersucilah.” (Al-Maidah: 6)
Rasulullah r juga telah bersabda:

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.”1
Demikian ijma’ ahlul ilmi. Al-Imam Ibnul Qaththan t berkata: “Ahlul ilmi tidak berbeda pendapat tentang tidak sahnya shalat seseorang yang junub, sampai ia bersuci.” (Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’, 1/97)

2.    Thawaf di Baitullah
Orang yang sedang junub tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah, baik thawaf yang wajib atau nafilah. Karena thawaf itu semakna dengan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah r:

“Thawaf di Baitullah itu shalat maka hendaklah kalian mempersedikit berbicara saat thawaf.”2
Dalam riwayat At-Tirmidzi:

“Thawaf di sekitar Baitullah itu seperti shalat, hanya saja kalian dibolehkan berbicara saat thawaf. Siapa yang berbicara saat thawaf, maka janganlah ia berbicara kecuali kebaikan.”3

Sehingga bila ada seseorang thawaf dalam keadaan junub, thawafnya tersebut tidaklah sah. Demikian pendapat madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Adapun menurut madzhab Hanafiyyah, thawafnya tersebut sah namun ia wajib menyembelih badanah (unta atau sapi), karena thaharah dalam thawaf menurut mereka bukanlah syarat tapi hanyalah kewajiban. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 16/52, Al-Majmu’ 2/178, Adz-Dzakhirah, karya Al-Imam Al-Qarafi 3/339, Jami’ Fiqhil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 1/303)

3.    Berdiam di masjid
Ulama terbagi dalam tiga pendapat tentang hukum orang yang junub masuk ke dalam masjid:
1. Melarang sama sekali, walau hanya sekedar lewat. Demikian pendapat Al-Imam Malik, Abu Hanifah dan pengikutnya (Al-Mudawwanah Al-Kubra 1/137, Adz Dzakhirah 1/314, Nailul Authar 1/321). Namun, wallahu a’lam, kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang secara mutlak bagi orang junub untuk masuk ke dalam masjid walau hanya sekedar lewat, kecuali hadits:

“Aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan tidak pula bagi orang yang junub.”4
Dan hadits ini didhaifkan oleh sekelompok ulama, di antaranya Al-Imam Al-Baihaqi, Ibnu Hazm dan Abdul Haq Al-Asybili. Bahkan Ibnu Hazm berkata: “Hadits ini batil.” (Irwa`ul Ghalil 1/162)

2. Melarang, namun dibolehkan bila hanya sekedar lewat, tidak berdiam di dalam masjid. Demikian pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ahlul ilmi, baik ia punya kebutuhan untuk lewat atau tidak. Sedangkan Al-Imam Ahmad mensyaratkan boleh lewat bila ada kebutuhan. Kebolehan lewat ini dinukilkan pula dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ibnul Musayyib, Ibnu Jubair dan Al-Hasan. (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab Mamarril Junub wal Musyrik ‘alal Ardhi wa Masyihima ‘alaihima, Al-Majmu’ 2/178,184, Al-Mughni pasal Hukmi Labtsil Junub wal Haidh fil Masjid, Ar-Raudhul Murbi’ 1/60, Asy-Syarhul Mumti’ 1/227, Nailul Authar 1/320)

3. Membolehkan secara mutlak, lewat ataupun berdiam di masjid. Demikian pendapat Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad, Al-Muzani dan Asy-Syaikh Al-Albani dari kalangan mutaakhirin. (Syarhus Sunnah 2/46, Subulus Salam 1/142, Nailul Authar 1/322, Tamamul Minnah hal. 119)
Perbedaan pendapat antara pendapat yang kedua dengan pendapat yang ketiga disebabkan perbedaan dalam memahami ayat Allah I:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati/ mengerjakan shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (dan jangan pula) orang yang junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kalian mandi.” (An-Nisa`: 43)

Mereka yang berpendapat bolehnya orang junub masuk masjid bila hanya sekedar lewat (seperti pendapatnya Al-Imam Asy-Syafi’i dan yang lainnya) memahami bahwa kata ash-shalah yang tersebut di dalam ayat (jangan kalian mendekati ash-shalah) adalah majaz (bukan makna yang sebenarnya). Sehingga di sana ada kata yang mahdzuf muqaddar (dihapus/dihilangkan yang kata tersebut bisa ditaqdirkan/ diperkirakan), yaitu (tempat shalat) sehingga yang dimaksud dalam ayat ini adalah (jangan kalian mendekati tempat shalat). Namun bila orang yang junub sekedar lewat di tempat shalat tersebut/ masjid, maka diperkenankan karena adanya pengecualian dalam ayat: (kecuali hanya sekedar lewat). Dan pendapat inilah yang kami pilih, wal ‘ilmu ‘indallah.

Adapun mereka yang membolehkan secara mutlak seperti pendapat madzhab Zhahiriyyah, memahami ayat tersebut sesuai dengan hakikatnya, tidak ada yang majaz dan tidak ada yang mahdzuf. Sehingga ayat maknanya adalah (jangan kalian mengerjakan shalat). Adapun yang dikecualikan dalam pelarangan adalah musafir yang tidak mendapatkan air sementara ia sedang junub, maka dibolehkan baginya menger-jakan shalat walaupun ia belum mandi janabah (karena tidak ada air) dengan bertayammum. (Al-Umm, kitab Ath-Thaharah, bab Mamarril Junub wal Musyrik ‘alal Ardhi wa Masyihima ‘alaihima, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an 4/99-102, An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi 1/489-490, Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim 2/224-226, Fathul Qadir 1/625-627)

Faidah
Adapun bila orang yang junub itu telah berwudhu maka dibolehkan baginya berdiam di masjid. ‘Atha` t berkata: “Aku melihat orang-orang dari kalangan shahabat Rasulullah duduk di masjid dalam keadaan mereka junub. (Hal itu mereka lakukan) bila mereka telah berwudhu seperti wudhu untuk shalat.” Karena wudhu yang dilakukan akan meringankan janabah. Demikian pendapat dalam madzhab Al-Imam Ahmad dan selainnya. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi 1/26, Jami’ Fiqhil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 1/230, Al-Mughni fashl Idza Tawadha`a Junub falahu Al-Lubts fil Masjid, Nailul Authar 1/322)

Perkara yang Dibolehkan bagi Seorang yang Junub
1.    Berdzikir pada Allah I
Boleh bagi orang yang junub untuk berdzikir kepada Allah I, karena Ummul Mukminin ‘Aisyah x mengatakan:

“Adalah Nabi n berdzikir kepada Allah U pada setiap keadaannya.”5

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Hadits ini merupakan dasar dibolehkannya berdzikir kepada Allah I dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid dan semisalnya dzikir-dzikir. Hal ini boleh menurut kesepakatan kaum muslimin.” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 3/290)

Dalam Al-Majmu’ (2/189), beliau juga menyatakan adanya kesepakatan kaum muslimin tentang bolehnya orang junub dan haid untuk bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid, bershalawat atas Rasulullah r dan mengucapkan dzikir-dzikir yang lainnya selain Al-Qur`an6.
Rasulullah r telah menuntunkan:

“Siapa yang terbangun di waktu malam lalu berucap: Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nyalah kerajaan dan hanya milik-Nya lah segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Kemudian ia berkata: Ya Allah, ampunilah aku. Atau ia berdoa, niscaya akan dikabulkan doanya tersebut. Bila ia berwudhu dan shalat niscaya diterima shalatnya.”7

Dari tuntunan Rasulullah r ini, kita pahami bahwa bila seseorang hendak berdzikir kepada Allah I tidaklah disya-ratkan harus berwudhu terlebih dahulu. Dan tidaklah disyaratkan ia harus suci dari hadats kecil ataupun hadats besar, karena orang yang tidur kemudian terbangun bisa jadi ia dalam keadaan junub karena sebelum tidur ia jima’ dengan istrinya atau ia telah ihtilam.

2.    Berjalan di jalan umum dan berjabat tangan
Tidak mengapa bagi orang junub untuk keluar dari rumahnya, berjalan di jalan umum, duduk bersama orang-orang dan berbincang-bincang dengan mereka, sebagaimana yang pernah terjadi pada Abu Hurairah z. Ia keluar dari rumahnya dalam keadaan junub dan berjalan bersama Rasulullah r di jalanan. Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah r bertemu denganku ketika aku dalam keadaan junub. Beliau memegang tanganku, akupun berjalan bersama beliau sampai beliau duduk. Setelah itu aku menyelinap dengan sembunyi-sembunyi dan pulang ke rumah, lalu aku mandi, kemudian datang lagi menemui beliau yang ketika itu sedang duduk. Beliau bertanya: “Dari mana engkau tadi, wahai Aba Hirr (yakni Abu Hurairah)?” Aku menceritakan apa yang kualami. Beliau bersabda: “Subhanallah, wahai Aba Hirr!! Sungguh mukmin itu tidaklah najis.”8

Demikian halnya Hudzaifah z memiliki kisah yang hampir sama dengan Abu Hurairah z. Nabi r berjumpa dengannya, kemudian beliau mengulurkan tangan beliau kepadanya (mengajak berjabat tangan, –pent.). Hudzaifah z berkata: “Aku sedang junub.” Beliau r menjawab:

“Sungguh seorang muslim itu tidaklah najis.”9

3.    Mengakhirkan mandi janabah
Boleh bagi orang yang junub mengakhirkan mandinya (Nailul Authar 1/305). Hal ini karena adanya riwayat Ghudhaif ibnul Harits, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah x: “Apakah engkau melihat Rasulullah r mandi janabah di awal atau di akhir malam?” Aisyah x menjawab: “Terkadang beliau mandi di awal malam dan terkadang beliau mandi di akhir malam.” Ghudhaif berkata: “Allahu Akbar! Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kelapangan dalam perkara ini.”10
Ketika men-syarah (menerangkan) hadits Abu Hurairah z yang telah disebutkan di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Hadits ini menunjukkan bolehnya meng-akhirkan mandi dari awal waktu diwajib-kannya mandi tersebut.” (Fathul Bari 1/507)

(bersambung insya Allah)


1 HR. Muslim no. 534
2 HR. An-Nasa`i no. 2922. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa‘i dan Shahihul Jami‘ no. 3954-3956
3 Riwayat At-Tirmidzi no. 960. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Irwa‘ul Ghalil no. 1102
4 HR. Abu Dawud no. 232. Didhaifkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa‘ul Ghalil no. 124, Dha’if Al-Jami‘ush Shaghir no. 6117 dan Dha’if Sunan Abi Dawud.
5 HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam kitab Al-Adzan, bab Hal Yatatabba’ul Muadzdzin Fahu Hahuna wa Hahuna dan Muslim no. 824.
6 Karena masalah boleh tidaknya membaca Al-Qur`an bagi wanita haid dan orang yang junub diperselisihkan oleh ahlul ilmi.
7 HR. Al-Bukhari no. 1154.
8 HR. Al-Bukhari no. 285 dan Muslim no. 822.
9 HR. Abu Dawud no. 230. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud
10 HR. Abu Dawud no. 226. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/542.

Tayammum (3)

Islam adalah agama yang mudah dan ringan. Salah satu bukti kemudahannya adalah syariat tayammum sebagai pengganti wudhu menggunakan air. Pembahasan tayammum dalam berbagai kitab fiqih sebenarnya cukup panjang, tetapi kami mencoba membahasnya dengan ringkas agar mudah dicernam tanpa menafikan patokan-patokan ilmiah sebuah ilmu. Meski demikian, ternyata pembahasan ini masih dirasa panjang sehingga kami memuatnya secara berseri dalam beberapa edisi. Melanjutkan pembahasan tayammum edisi yang lalu, berikut ini adalah pembahasan yang terakhir.

  Lanjutkan membaca Tayammum (3)

Tayammum (bagian 2)

Tayammum adalah kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang khusus diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Posisi tayammum adalah sebagai pengganti wudhu saat tidak dijumpai air atau saat seseorang tidak boleh terkena air karena sedang sakit. Bolehkah orang yang junub bersuci dengan cara tayammum?

Lanjutkan membaca Tayammum (bagian 2)