Orang yang Bangkrut

Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.

Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

 

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hukuman yang Mengerikan

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”

Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.

Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩

        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

 

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢

        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)

Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

 

Kezaliman Itu Beragam

Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.

Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.

Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.

Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

 

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kehormatan Seorang Muslim

Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

 

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.

Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).

Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

 

Muslim yang Baik

Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.

Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.

Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.

Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)

Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.

Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

 

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

 

Orang yang Merugi Amalnya

Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.

Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.

Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.

Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.

Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?

Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?

Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.

Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.

Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Mengapa mereka tidak menyesalinya?

Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.

Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.

Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.

Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم

Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Takwa & Tawakal Cara Menghadapi Makar Musuh

Berbagai tuduhan, tudingan, dan hujatan dicurahkan kepada para dai tauhid dan sunnah. Demikian pula kepada negara tauhid dan sunnah, Kerajaan Arab Saudi, bahwa mereka adalah wahabi dan kerajaan yang menebarkan ajaran/doktrin wahabiyah.

Bahkan, tuduhan tersebut tidak sampai pada tahapan itu saja. Mereka menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme di dunia ini sumbernya adalah wahabi, salafi, dan para tokohnya, seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll.

Kalau kita perhatikan dengan saksama, tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh Sufi, Syiah, kaum liberal, komunis, dan paham menyimpang lainnya melalui berbagai media ternyata memiliki tujuan yang sama, yaitu menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap para dai tauhid yang berjalan di atas Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula Kerajaan Arab Saudi yang berjalan membelanya.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang hakikat makar mereka dan cara menghadapinya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik untuk memahami dan berjalan di atasnya.

 

Pergulatan Antara Kebenaran dan Kebatilan

Pergulatan antara orang-orang yang mengikuti kebenaran (ahlul haq) dan orang-orang yang mengikuti kebatilan (ahlul batil) merupakan sunnatullah (ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala) yang pasti terjadi. Hal itu tidak bisa dihindari. Ia merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala terhadap para hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ

        “Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (Muhammad: 4)

Asy-Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas,

“Hukum-hukum yang disebutkan terkait dengan diujinya orang beriman dengan orang kafir, silih bergantinya kemenangan di antara mereka, dan tertolongnya sebagian mereka menghadapi sebagian lainnya; jika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak, sungguh Dia akan menolong orang-orang yang beriman.

Sebab, Dia adalah Dzat yang Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Dia Mahakuasa untuk tidak menakdirkan kemenangan bagi orang-orang kafir di satu tempat pun selama-lamanya sehingga orang-orang beriman berhasil membinasakan kebun-kebun mereka.

Akan tetapi, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan menguji sebagian kalian dengan yang lainnya agar terjadi jihad fi sabilillah. Dengan ujian itu, tampak jelas keadaan para hamba-Nya, mana yang jujur dan mana yang dusta.

Dengan demikian, orang yang beriman bisa beriman dengan yang benar berlandaskan bashirah (ilmu dan keyakinan), bukan iman yang dibangun karena mengikuti kelompok yang menang. Sebab, iman yang seperti itu lemah sekali. Iman yang seperti itu tidak akan bertahan saat pemiliknya menghadapi ujian dan cobaan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 785)

Para nabi dan rasul r adalah golongan hamba-Nya yang paling mulia. Mereka juga dibenturkan dengan para musuhnya. Demikian berita Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab-Nya,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

        “Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata menafsirkan ayat di atas,

“Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangimu, dan dengki terhadapmu—ini adalah sunnah (ketentuan)-Ku—demikian pula Aku menjadikan musuh bagi setiap nabi yang Aku utus kepada makhluk. Musuh-musuh mereka adalah setan-setan dari golongan jin dan manusia. Mereka menghadang dan menentang dakwah para rasul.

Sebagian mereka menghias-hiasi perkara batil yang mereka serukan kepada yang lain. Mereka kemas dengan ungkapan yang menarik hingga menampilkannya dalam bentuk yang terbaik. Tujuannya adalah menipu orang-orang bodoh. Orang dungu yang tidak memahami hakikatnya dan makna sebenarnya akan menerimanya. Slogan yang dikemas dan dihias tersebut membuat takjub orang yang bodoh. Mereka pun meyakini bahwa yang benar adalah batil, sedangkan yang batil dianggap sebagai kebenaran.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hati orang yang tidak beriman terhadap akhirat akan condong terhadap slogan/ucapan kosong itu. Sebab, ketiadaan iman terhadap hari akhir dan ketiadaan akal yang bermanfaat di hati mereka, telah mendorong mereka (untuk condong terhadapnya).

 

Penyebaran Opini Dusta, Makar Mereka

Di antara makar-makar ahlul batil dalam rangka menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap ahlul haq dan para dai yang mengajak kepada kebenaran adalah menyebarkan opini-opini yang buruk terhadap seluruh umat manusia melalui seluruh media massa. Bahkan, opini itu mereka sebarkan melalui kajian, pelajaran di sekolah, dan sebagainya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Makar mereka ini bukanlah hal yang baru. Ini sudah dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap para nabi dan para rasul r. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢  أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa yang dikatakan orang musyrik kepadamu, wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dahulu juga diucapkan kepada para rasul ‘alaihimussalam. Seperti itulah. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka (para pendusta) kecuali mereka akan berkata terhadap rasul itu sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apakah mereka saling mewasiatkan ucapan itu? Bahkan, mereka adalah kaum yang melampaui batas (zalim).’

Maknanya, mereka adalah kaum yang melampaui batas. Hati mereka serupa sehingga apa yang diucapkan oleh generasi belakangan sama dengan yang dikatakan oleh para pendahulunya. Maka dari itu, wahai Muhammad, berpalinglah dari mereka. Kami tidaklah mencelamu dengan sikapmu tersebut.” (Tafsir al- Qur’an al-‘Azhim, 4/201)

Bahkan, Fir’aun la’natullah ‘alaihi mengelabui kaumnya dengan opini dusta kepada kaumnya tentang Nabi Musa ‘alaihissalam dan dakwahnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam kitab-Nya,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

        Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ucapan Fir’aun ini adalah kalimat yang paling mengherankan. Orang yang paling jahat menasihati rakyatnya supaya tidak mengikuti orang terbaik (Musa ‘alaihissalam). Itu adalah penipuan dan pemutarbalikan fakta.

Pada zaman sekarang ini, kaum Sufi, demikian pula Syiah, kaum liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya, melalui berbagai media menyematkan julukan “wahabi”, “salafi wahabi” kepada orang yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyebarkan opini tersebut dalam rangka menjauhkan kaum muslimin dari para dai sunnah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan, “Julukan tersebut bertujuan menanamkan kebencian dan menjauhkan umat dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, kalian wajib teliti dalam urusan tersebut dan memerhatikan maknanya.

Penamaan ‘wahabi’ adalah penisbatan kepada seorang alim ulama, bukan penisbatan kepada Marx atau Lenin, bukan kepada Amerika atau Rusia, bukan pula kepada salah seorang pemimpin yang memusuhi Islam. Meski demikian, kita tidak boleh menisbatkan diri kecuali kepada Islam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mushara’ah, hlm. 294—295)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang berkata, ‘Orang ini wahabi,’ ketahuilah bahwa orang tersebut memiliki dua kemungkinan:

  1. Orang jelek yang berbuat kejelekan,
  2. Orang bodoh yang tidak bisa membedakan.

Semua ini adalah kedustaan besar yang dituduhkan kepada seorang dai yang mengajak umat untuk mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

        “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Saudara-saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menamai kita muslimin. Kita adalah umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita tidak rela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti oleh yang lain. Kita tidak rela dinisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i, Zaidi, Wahabi, atau yang lainnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah seorang alim yang mulia. Dengan menisbatkan seseorang kepada beliau, mereka menganggap bisa berbuat buruk (menjauhkan umat darinya).

Aku nasihatkan kepada saudaraku di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Kitab at-Tauhid. Niscaya akan kalian lihat di dalamnya ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu adalah sebuah kitab yang mulia. Walaupun ada beberapa hadits dhaif di dalamnya, tetapi tidak berbahaya. Sungguh, aku telah menjelaskannya di dalam kitabku an-Nahju Sadid. Bacalah!

Janganlah engkau menjadi pembebek kejelekan dengan menyatakan, ‘Apabila orang-orang berbuat baik kepadaku, aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, akupun akan berbuat buruk kepada mereka.’

(Jangan seperti itu,) perhatikan diri-diri kalian. Apabila orang-orang berbuat baik kepadamu, berbuat baiklah kepada mereka. Apabila mereka berbuat buruk, janganlah engkau menzalimi mereka. Wallahu a’lam.” (al-Mushara’ah, hlm. 398)

 

Intimidasi dan Provokasi

Musuh-musuh dakwah ini, seperti kaum Sufi, Syiah, liberalis, sosialis, komunis, dll., tidak segan melakukan intimidasi dan provokasi terhadap para dai yang mengajak kepada tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Modus ini pun bukan makar yang baru.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang munafik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣

فَٱنقَلَبُواْ بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ ١٧٤

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.”

Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Ali Imran: 173—175)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, intimidasi yang dilakukan oleh salah seorang musyrikin dengan ucapannya, “Sesungguhnya mereka (musuh-musuh kalian) telah bersatu untuk melibas kalian,” sebenarnya dia adalah salah seorang dai setan yang menakut-nakuti (mengintimidasi) para walinya yang tidak beriman dan orang yang imannya lemah.

“Oleh karena itu, janganlah kalian (wahai orang yang beriman) takut terhadap mereka. Namun, takutlah kalian kepada-Ku. Jika kalian adalah orang-orang yang beriman.”

Maksudnya, kata as-Sa’di rahimahullah, “Janganlah kalian takut terhadap kaum musyrikin yang menjadi wali setan, karena ubun-ubun mereka di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak akan mampu berbuat apa pun kecuali dengan takdir-Nya. Akan tetapi, takutlah kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang akan menolong para wali-Nya yang takut kepada-Nya dan yang menyambut seruan-Nya.”

Ketika mereka tidak memiliki hujah dan kalah dalam berargumentasi, mereka melakukan provokasi terhadap massa untuk membendung dan memberangus dakwah tauhid dan sunnah ini. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan niat jahat mereka dalam firman-Nya,

          يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

        “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Makar jahat ini juga bukan sesuatu yang baru. Ia hanyalah warisan dari para pendahulu mereka yang menentang dakwah para nabi dan rasul r.

Perhatikanlah provokasi Fir’aun untuk menghalangi dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam,

          وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ٢٧

وَقَالَ رَجُلٞ مُّؤۡمِنٞ مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَكۡتُمُ إِيمَٰنَهُۥٓ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ كَذَّابٞ ٢٨

Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabbmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 26—28)

 

Demikian pula sikap mereka terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah kalah hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨ قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩ وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠

        Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.”

Kami berfirman, “Hai api, jadilah dingin, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.”

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. (al-Anbiya: 68—70)

 

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin berkata, “Bunuhlah dia dengan cara yang paling jahat (dibakar),” karena mereka marah terhadap Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka membela sesembahan mereka.

Orang-orang musyrikin itu betul-betul celaka. Mereka beribadah kepada sesembahan yang mereka akui sendiri bahwa ia membutuhkan pertolongan mereka, tetapi justru mereka jadikan sesembahan. Allah subhanahu wa ta’ala menolong kekasih-Nya ketika para musuh melemparkannya ke dalam api.

 

Kemenangan Bagi yang Bertakwa dan Bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Berbagai makar mereka lakukan terhadap para dai yang mengajak untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, makar itu akan kembali kepada diri mereka dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

          وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

        “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)

Kemenangan itu pasti akan berakhir bagi hamba yang bertakwa dan bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

          تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادٗاۚ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ٨٣

        “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, kita semua wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita wajib kembali kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggantungkan serta menyandarkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan berikan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

          وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Dialah yang akan memberi kecukupan, Dia pula sebaik-baik pelindung dan penolong.

Engkau bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusanmu. Makna tawakal tidaklah sebagaimana yang dipahami oleh orang Sufi yang menyimpang, yaitu tidak mau menjalani sebab atau tidak mau berusaha.

Akan tetapi, makna tawakal yang dijelaskan oleh para ulama adalah ‘bersandar kepada sebab adalah syirik, sedangkan tidak mau menjalani sebab adalah mencela syariat’ (Maknanya, lakukan sebab/usaha diiringi dengan doa dalam keadaan engkau menyerahkan hasilnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata). (al-Mushara’ah, hlm. 12)

Tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surah ath-Thalaq ayat 3 di atas, asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan agama dan dunianya, dengan menyandarkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ingin mendapatkan kemanfaatan dan menolak madarat, dengan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan kemudahan dari-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kecukupan.

Apabila suatu urasan itu berada dalam jaminan Dzat yang Mahakaya, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Maha Penyayang, urusan itu adalah yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, terkadang hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut urusan tersebut ditunda sampai waktu yang tepat bagi si hamba.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Sikap orang mukmin adalah menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١

        Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Apabila tawakalmu benar/lurus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, engkau tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak usah memedulikan orang yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau rahimahullah katakan pula, “Apabila hati seorang muslim dipenuhi dengan kekhawatiran karena bid’ah dan khurafat, atau hatinya dipenuhi keraguan, dia akan terus-menerus goncang. Seperti keadaan orang munafik, akan memikirkan setiap komentar terhadap mereka.” (al-Mushara’ah, hlm. 11)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengokohkan hati kaum muslimin, terkhusus para dai dan ulama yang berada di atas tauhid dan sunnah, dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan.

Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Sekelumit Akhlak Kaum Liberal

Adab dan akhlak mulia merupakan salah satu pilar utama untuk tegaknya suatu bangsa. Ia pula yang menjadi perekat hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Bilamana pilar utama ini tidak lagi dijunjung tinggi oleh suatu bangsa, dengan sendirinya bangsa itu akan lenyap. Hubungan di tengah-tengah masyarakat menjadi retak. Kedamaian yang sebelumnya dirasakan oleh segala lapisan masyarakat menjadi sirna.

Sebagai contoh dan perbandingan adalah apa yang dialami oleh Kisra, Raja Persia, dan Kaisar Romawi (Heraklius). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat kepada keduanya mengajak mereka masuk Islam. Keduanya menolak masuk Islam. Bedanya, Kaisar Heraklius memuliakan surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan utusannya, sedangkan Kisra sebaliknya. Ia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinakan utusannya. Tidak berselang lama setelah perbuatan Kisra ini, Allah ‘azza wa jalla menghinakannya dan mencabik-cabik kerajaannya hingga lenyap kekuasaannya. (ash-Sharimul Maslul hlm. 164)

Berbicara tentang adab tidak hanya yang berkaitan dengan interaksi antarsesama manusia, tetapi juga adab terhadap Allah ‘azza wa jalla Sang Pengatur jagat raya. Bahkan, adab terhadap Allah ‘azza wa jalla adalah seutama-utama adab. Manakala ini dilanggar, ancamannya adalah azab yang pedih.

Adab terhadap Allah ‘azza wa jalla terkumpul dalam memercayai seluruh berita yang datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam di hadapan Fir’aun,

إِنَّا قَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡنَآ أَنَّ ٱلۡعَذَابَ عَلَىٰ مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ ٤٨

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu( ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Maksudnya, azab semata-mata diperuntukkan bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan berpaling dari menaati-Nya.

Fir’aun dan kaumnya tetap keras kepala dan menentang kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam, padahal beragam mukjizat telah dipaparkan. Akibatnya, mereka ditenggelamkan di Laut Merah sebagai azab.

Beragam hukuman yang Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada penentang kebenaran yang datang dari Allah ‘azza wa jalla, semestinya menjadi pelajaran. Sebab, siapa pun yang menentang kebenaran, dia akan mengalami nasib yang serupa.

Penentangan orang kafir terhadap kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya bisa dikatakan hal yang ‘lumrah’ karena mereka tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Namun, akan sangat ironis bila penentangan itu muncul dari orang yang masih mengaku sebagai muslim. Muslim tetapi bergabung dalam barisan kaum liberalis.

Sungguh, fenomena munculnya kaum liberalis di tengah umat tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, mereka sangat berani mengkritisi kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta merendahkan nilai-nilai syariat Islam.

 

Modus Lama

Munculnya Jaringan Islam Liberal (JIL)—yang sejatinya adalah para pemuja akal, bahkan tak mustahil sekaligus menjadi jongos bayaran orang kafir—di tengah-tengah umat Islam sesungguhnya tidak mengherankan.

Dahulu juga sudah muncul kelompok yang disebut Mu’tazilah. Kelompok ini mempunyai beberapa pandangan yang sesat. Di antaranya, apabila dalil-dalil syariat (al-Qur’an dan Hadits) bertolak belakang dengan akal, mereka akan menolaknya atau berusaha menafsirkan dengan penafsiran yang sangat jauh dari kebenaran.

Dari sisi ini, orang-orang JIL ada kemiripan dengan orang-orang Mu’tazilah, bahkan lebih sesat, karena kaum JIL sudah terang-terangan melecehkan Islam dan menerjang syariat. Mereka juga menganggap seluruh agama itu sama. Hal ini memperkuat anggapan bahwa mereka adalah corong-corong orang kafir untuk mengobok-obok Islam dan muslimin.

Ya, mereka tercatat dalam sejarah sebagai pengkhianat umat. Mereka seperti kaum munafik di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi duri dalam daging.

 

Tidak Beda dengan Teroris

Keberadaan dan bahaya kaum JIL di tengah-tengah umat bak kaum teroris semisal ISIS. Apabila para teroris dengan aksi-aksi konyolnya telah mencoreng citra Islam dan muslimin, demikian pula orang-orang JIL dengan statemen miring mereka—berupa pelecehan terhadap syariat Islam yang membuat umat bingung. Akibat ulah para teroris dan pernyataan kaum liberal, umat berpecah-belah dan mengarah kepada konflik yang mengancam stabilitas umat dan bangsa.

Kemunculan mereka tidak memberi kontribusi apa pun bagi umat selain memunculkan sikap ragu tentang kebenaran Islam. Apabila umat telah terkotak-kotak menyikapi keberadaan mereka, jangan ditanya lagi tentang orang kafir; seperti apa kebencian mereka terhadap Islam dan muslimin. Alih-alih masuk Islam, mereka tidak memberikan statemen miring terhadap Islam itu sudah ‘mending’.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada dengan kaum JIL. Meski tidak frontal dengan aksi terornya seperti ISIS, namun mereka frontal dengan berbagai pernyataannya yang meneror akidah umat. Lagi pula, mereka bisa menyusup di tengah-tengah ormas, partai politik, bahkan masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Umat tidak boleh tertipu dengan gaya intelektual dan ilmiah mereka serta gelar yang disandangnya. Sebab, sesungguhnya kebodohan mereka amat jelas bagi orang yang sedikit saja telah menimba khazanah keilmuan Islam.

 

Bodoh, Tetapi Lancang

Kaum JIL berbicara tentang Islam, namun tidak mau kembali kepada pemahaman sahabat dan pemahaman ulama Islam yang alim dan saleh. Mereka hanya menggunakan tinjauan-tinjauan akal yang dangkal. Mungkin saja mereka memosisikan akal mereka sejajar dengan wahyu syariat (al-Qur’an dan hadits), atau bahkan lebih tinggi, sehingga mereka bebas menggugat dan merendahkan wahyu.

Lihatlah bagaimana seorang dosen universitas kenamaan, UI, dengan lancangnya mengatakan bahwa hadits-hadits (Sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menggelikan. Ia mencontohkan tentang hadits anjuran makan dan minum dengan tangan kanan. Dia berkata, “Apa salahnya makan dengan tangan kiri, dan masak sih hanya setan yang makan dengan tangan kiri?”

Ada juga di antara mereka yang mengelu-elukan komunis sebagai ideologi yang bagus. Umat tidak boleh lengah tentang bahaya mereka karena sebagian mereka adalah tokoh sentral dalam ormas keagamaan, dosen di perguruan tinggi (Islam), tokoh masyarakat, bahkan pejabat di pemerintahan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ مِنْهُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

        “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3207)

Membentengi umat dari bahaya mereka lebih penting daripada berperang melawan orang kafir. Sebab, hal ini merupakan upaya untuk menjaga modal, yaitu menjaga umat Islam agar tetap kokoh di atas Islamnya dan tidak ragu tentang agamanya.

Al-Imam Yahya an-Naisaburi rahimahullah berkata, “Membela Sunnah (agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih utama dari jihad.”  (Manhaju Ahlis Sunnah fi Naqdi ar-Rijal hlm. 191)

 

Media Sekuler Mendukung JIL

Pemikiran liberal dan pemahaman sesat lainnya tidak hanya dimonopoli oleh para pengusung dan pengikutnya, tetapi mereka jajakan di tengah-tengah manusia. Mereka pun berusaha mencari mangsa.

Berangkat dari sini, umat Islam sudah semestinya memproteksi diri dengan meningkatkan kualitas ilmu dan amalannya. Kaum liberal sangat aktif menebarkan kesesatannya dengan beragam media. Bahkan, tidak sedikit media masa sekuler secara massif menampilkan dan menayangkan pemahaman-pemahaman kaum liberal.

Ada apa dengan media-media tersebut sehingga gencar menampilkan pemikiran-pemikiran liberal?

Ya, karena pernyataan JIL sangat menguntungkan orang-orang kafir dari sisi bisa melanggengkan kekufuran dan pelecehan mereka terhadap Islam yang mereka anggap sebagai musuh dan benalu.

 

Sekelumit Adab Pengusung JIL

Apabila kalbu sudah menjadi sarang pemahaman yang menyimpang dari syariat Islam, jangan Anda tanya tentang apa yang akan mencuat dari kalbu yang busuk tersebut.

Akibat ulah JIL, umat berpecah-belah, syariat dan ketentuan agama dilecehkan, dan sebagian umat Islam menjadi ragu dengan agamanya sendiri sedangkan orang kafir tetap di atas kekafirannya. Bahkan, seolah mereka menemukan jalan untuk mengolok-olok Islam dan muslimin. Ini minimalnya dampak negatif dari pemahaman liberal yang terasa di tengah-tengah umat.

Apabila demikian, lalu apa kontribusi kaum JIL untuk umat? Bisa jadi, kaum tersebut akan menjawab bahwa dengan pemahaman ini, keragaman di masyarakat akan terjaga.

Kita katakan bahwa tidak sedikit pernyataan mereka justru menimbulkan polemik di tengah-tengah umat dan mengotak-kotakkan mereka. Bahkan, kalangan nonmuslim seolah-olah menemukan alat dan mendapat energi untuk menghujat Islam serta muslimin.

Kaum JIL berlagak ingin menampilkan Islam moderat yang menurut mereka akan dihargai dan dihormati. Padahal apabila tidak buta sejarah, kita akan menemukan bahwa indahnya Islam betul-betul terwujud di tengah-tengah masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat Islam yang saleh. Kala itu Islam dan muslimin betul-betul mulia dan berwibawa.

Kaum JIL mencontohkan bentuk sikap moderat mereka dengan meminta kaum muslimin untuk menghargai hak-hak nonmuslim. Di sisi lain, mereka membisu saat hak-hak muslimin dipasung oleh kalangan nonmuslim. Mereka seakanakan buta tentang Islam yang telah menjaga hak-hak binatang lebih-lebih hak manusia, tentu saja hak-hak yang tidak bertentangan dengan ketentuan agama dan aturan pemerintah yang baik.

Saat pemerintah suatu daerah yang penduduknya mayoritas muslimin menerbitkan Perda tentang larangan buka rumah makan siang hari Ramadhan untuk menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa, kaum JIL tanpa malu-malu meminta untuk mencabut Perda tersebut dengan dalih menjaga keragaman. Sikap moderat ala JIL ini akan berbeda bila kondisi muslimin menjadi minoritas dan hak-hak mereka dipasung oleh mayoritas yang nonmuslim.

 

Berikut ini beberapa akhlak kaum JIL selain yang telah disinggung di atas.

 

  1. Mengkritisi Kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Prinsip “bebas berpikir, berpendapat, dan berekspresi” yang dianut oleh JIL telah merusak tatanan hidup beragama dan bermasyarakat. Dengan prinsip tersebut, seseorang bisa saja menuduh Allah ‘azza wa jalla tidak adil atau ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak lagi relevan.

Dengan prinsip ini, orang bisa saja menabrak norma-norma kesopanan masyarakat. Akhirnya seseorang menjadi tidak tahu kadar dirinya dan sombong. Dia lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Yang Maha mengatur.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

        “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin ,apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan ,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

 

Di antara hasil produk prinsip di atas, website Islam liberal memuat ucapan Moeslim Abdurrahman yang mengatakan, “Kalau syariat Islam diterapkan, maka yang jadi korban pertama adalah perempuan.”

Ucapan ini tentu mengandung konsekuensi bahwa Allah ‘azza wa jalla itu zalim, padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun.” (al-Kahfi: 49)

Ada pula tokoh JIL perempuan yang mengatakan bahwa poligami tidak sah, waris laki-laki dan perempuan sama. Kaum JIL tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Tidaklah Allah ‘azza wa jalla menentukan sesuatu kecuali karena sifat adil dan bijak yang ada pada-Nya. Allah ‘azza wa jalla lebih tahu kemaslahatan hamba daripada diri hamba sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Islamlah yang mengangkat harkat dan martabat wanita yang sebelumnya dipasung oleh adat istiadat jahiliah.

Ketika umat dibuat heboh dengan munculnya karikatur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memakai serban dengan bom di tangan, kaum JIL berpandangan bahwa karikatur seperti itu adalah lumrah, karena itu adalah karya seni. Padahal masalahnya bukan hanya haramnya menggambar makhluk bernyawa, lebih dari itu adanya pesan yang terkandung bahwa Islam datang membawa teror dan Nabi Islam sang penebar teror.

Apabila kaum JIL beralasan bahwa karikatur tersebut sebagai reaksi balik atas banyaknya aksi-aksi teror kaum teroris, hal itu juga tidak bisa diterima. Sebab, aksi kaum teroris tidaklah mewakili ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi justru bertentangan.

 

  1. Menghalalkan yang Haram

Ini tentu saja sebuah bentuk kekufuran, apa pun alasannya. Lebih-lebih apabila yang haram itu justru dikampanyekan sebagai sesuatu yang lumrah. Misalnya, mereka memandang bolehnya homoseks, lesbi, dan kawin sesama jenis.

Dalam sebuah diskusi, tokoh perempuan JIL, Siti Musdah Mulia, mengeluarkan pernyataan, “Homoseksual dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam.”

Begitu jauh melencengnya kaum tersebut, tidak cukup menisbatkan halalnya homoseks kepada pendapat mereka, tetapi menisbatkannya kepada Islam!

Datangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits tentang bolehnya homoseks, wahai kaum JIL!

Dalam al-Kabair (hlm. 90) al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menceritakan kepada kita kisah kaum Luth (kaum yang kebiasaannya melakukan homoseks) pada banyak ayat al-Qur’an dan bahwa Dia ‘azza wa jalla membinasakan mereka karena perbuatan mereka yang jelek.”

Kaum muslimin dari seluruh golongan telah sepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          أَتَأۡتُونَ ٱلذُّكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ ١٦٦

        “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabbmu untukmu? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165—166)

Jangan disangka bahwa kaum Luth diazab karena kekafirannya saja. Karena di samping mereka kafir mereka melakukan perbuatan yang sangat keji ini sehingga azab yang ditimpakan kepada mereka sangat mengerikan. Jangan pula ada yang menyangka bahwa itu hanya dilarang di zaman Nabi Luth saja, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Bunuhlah pelaku (homoseks) dan objeknya.” ( HR . Abu Dawud, at- Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kalau kaum JIL mengatakan bahwa efek homoseks tidak seperti zina, dari sisi hamil di luar nikah dan perasaan malu di tengah masyarakat, sehingga dibolehkan; kita katakan, cara pandang yang seperti itu sangat keliru. Sebab, apa pun yang diharamkan agama tetap haram dan homoseks merupakan seks yang menyimpang yang menyelisihi kodrat yang akan memunculkan banyak kemudaratan.

Kalau mereka mengatakan bahwa itu adalah anugerah Tuhan, kita katakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak meridhai kemaksiatan. Benar bahwa Allah ‘azza wa jalla yang mencipta kebaikan dan kejelekan, namun Allah ‘azza wa jalla juga memberi kemampuan kepada manusia untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan. Kalau dalih mereka dibenarkan, siapa pun yang berbuat maksiat seperti mencuri, korupsi, dsb., bisa berdalih bahwa ini adalah anugerah Tuhan. Akal sehat mana yang bisa menerima?

 

  1. Mengolok-Olok Orang yang Mengamalkan Agama

Termasuk ciri-ciri munafik adalah menggembosi orang-orang yang beramal kebaikan. Tidak mendukung kebaikan, tetapi malah mencela. Tidak menambal yang bolong, tetapi justru merusak.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمِنۡهُم مَّن يَلۡمِزُكَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ

        “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat.” (at-Taubah: 58)

Muhammad Guntur Romli berkata, “Pramugari Garuda kan gak pake jilbab, kok rajin shalat ya? Kan jadi aneh ya, gak jilbab juga shalihah? Gak jilbab juga banyak rajin shalat.”

Dia juga berkata, “Lucu juga orang kota, liat pramugari pesawat Garuda shalat di pesawat jd berita berhari2.”

Kita katakan, apakah kalau orang tidak berjilbab harus tidak shalat, padahal dua-duanya adalah kewajiban agama? Wanita yang keluar rumah dan tidak berjilbab/berhijab, dia telah meninggalkan satu kewajiban. Tentu lebih jelek lagi apabila dia juga tidak shalat tanpa ada alasan.

 

  1. Ingin Mengubah-Ubah Ketentuan Allah

Sebagian kaum JIL mengusulkan agar pelaksanaan ibadah haji bisa diselesaikan pada salah satu dari tiga bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, bukan hanya 8—13 Dzulhijjah saja. Hal ini adalah bentuk mengubah waktu-waktu haji yang telah ditentukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sekiranya mereka beralasan bahwa itu untuk menghindari jatuhnya korban berdesak-desakan di Mina (jamarat), kita katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sayang kepada umatnya daripada mereka. Ibadah haji sudah ada ketentuannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak perlu diubah-ubah.

Seharusnya, yang dipikirkan adalah teknik agar jamaah haji terhindar dari berdesak-desakan yang membahayakan; bukan mengubah-ubah syariat yang sudah ada ketentuannya dalam agama.

 

Demikian sekelumit sikap mereka yang nyeleneh. Apabila disimpulkan, prinsip bebas berpendapat dijadikan alat untuk menumbangkan sendi-sendi akidah dan moralitas.

Hal ini jauh berbeda dengan muslim yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; mereka siap menjalankan perintah agama, meninggalkan larangan-Nya, dan memercayai berita-berita syariat.

Seorang muslim mengetahui kadar dirinya sebagai hamba yang diatur, sedangkan Allah ‘azza wa jalla adalahg Dzat Yang Mengatur. Seorang muslim tidak akan protes dan menentang kebijakan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Mut’ah Lebih Keji Daripada Zina

Pada Rubrik Akhlak edisi ini, redaksi akan berusaha melengkapi beberapa artikel terkait dengan nikah mut’ah yang pernah dimuat di Majalah Asy-Syariah. Penulis mengharapkan hidayah, taufik, dan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala semata.

 Islam Menjaga Kehormatan dan Kesucian

Seorang muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu berkeyakinan bahwa Islam datang membawa syariat yang mulia dan sempurna.

Di antara bukti kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri dari berbagai hal yang keji, seperti zina, mut’ah, hubungan sesama jenis, dan onani.

Di antara dalil-dalil dari al-Qur’an yang memerintahkan menjaga kehormatan dan kesucian adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ٣٠ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya….” (an-Nur: 30—31)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-Nya,

“… Agar mereka menjaga kemaluan mereka tidak bersetubuh dengan cara yang haram, pada kemaluan, dubur, atau lainnya. Demikian pula, mereka tidak membiarkan orang lain meraba dan melihatnya. Sebab, menjaga pandangan dan kemaluan lebih terhormat dan lebih suci, serta akan menumbuhkan amalan-amalan yang baik bagi mereka.

Sebab, barang siapa menjaga kemaluan dan pandangan mata, niscaya dia akan suci dari hal-hal yang keji/kotor. Amalan-amalannya pun akan bersih karena dia menjauhi hal-hal yang haram tersebut.

Meski demikian, hawa nafsu tentu tetap akan condong dan mengajak melakukan yang diharamkan itu. Maka dari itu, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat-sifat para pewaris surga,

          وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (al-Mu’minun: 5—6)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga kehormatan dari perbuatan zina. Termasuk yang akan menyempurnakan penjagaan kehormatan adalah menjauhi segala sesuatu yang akan menyeret pada perbuatan zina, seperti memandang, meraba, dan lainnya.

Mereka menjaga kehormatan dari siapapun selain istri dan budak perempuan yang mereka miliki sepenuhnya. ‘Mendekati’ istri dan budak perempuan tidaklah tercela karena Allah subhanahu wa ta’ala menghalalkan keduanya.

Barang siapa mencari selain itu—selain istri dan budak perempuan miliknya—berarti telah melampaui batas yang dihalalkan oleh Allah, menuju hal-hal yang diharamkan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang lancang terhadap keharaman yang Allah tetapkan.”

Selanjutnya, beliau rahimahullah mengatakan, “Keumuman ayat menunjukkan haramnya nikah mut’ah. Sebab, wanita yang dinikah mut’ah bukanlah istri hakiki yang diniatkan untuk terus mendampinginya, bukan pula budak yang dimiliki.”

Menjaga kehormatan adalah salah satu prinsip dasar yang diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul ‘alaihimussalam, terkhusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tecermin dari kisah pertemuan Heraklius penguasa Romawi di Syam dengan Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu yang saat itu belum masuk Islam.

Heraklius bertanya, “Apa yang dia (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) perintahkan”

Abu Sufyan menjawab, “Dia berkata, ‘Tinggalkanlah kepercayaan nenek moyang kalian.’ Dia juga memerintah kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturahim.” (Muttafaqun alaih)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan perintahnya untuk menjaga kehormatan dalam sabdanya,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa menjaga apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan/mulut) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga.” (Muttafaqun alaih dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

 

Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengharamkan Mut’ah

Sebelum kita paparkan beberapa dalil yang mengharamkan nikah mut’ah, kita perlu membaca dan memahami penjelasan asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Alu Bassam dalam kitabnya, Taudhihul Ahkam (5/294) tentang nikah mut’ah.

“Mut’ah adalah pecahan kata dari التمتع بالشيء (bersenang-senang dengan sesuatu). Ikatan perjanjan tersebut disebut mut’ah karena seorang lelaki bertujuan untuk bersenang-senang dengan seorang wanita dengan perjanjian tersebut sampai waktu tertentu.

Pengertian ikatan perjanjiannya adalah seorang lelaki menikahi seorang wanita sampai waktu tertentu atau waktu yang belum ditentukan. Aturannya menurut Syiah Rafidhah, adalah menikah dengan batas waktu tertentu, baik yang disepakati maupun belum, dan paling lama adalah 45 hari. Setelah itu, ikatan perjanjian tersebut secara otomatis selesai dengan berakhirnya batas waktu tersebut.

Menurut mereka, ikatan tersebut

  • tidak berkonsekuensi pemberian nafkah kepada si wanita,
  • tidak mengakibatkan saling mewarisi (jika salah satu pihak meninggal saat masih dalam ikatan perjanjian),
  • (jika si wanita hamil karena hubungan itu) anaknya tidak dinasabkan kepada si lelaki,
  • tidak memiliki masa iddah, hanya memastikan bahwa rahim bersih dari janin.”

Di antara dalil yang mengharamkan nikah mut’ah adalah hadits Rabi’ bin Sabrah, dari ayahnya radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سِالْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku dahulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah terhadap para wanita. Dan sungguh, sekarang Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya sampai hari kiamat.

Barang siapa masih memiliki suatu ikatan dengan mereka, hendaknya dia melepaskannya. Apabila kalian telah memberikannya kepada mereka, jangan kalian ambil sedikit pun.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah pada tahun Perang Khaibar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Zina Berujung Kerusakan Dunia & Agama

Allah subhanahu wa ta’ala melarang para hamba-Nya berbuat zina,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas dalam Tafsir-nya,

“Allah menyebutkan zina dan kejelekannya sebagai perbuatan yang keji dan kotor. Maksudnya, ia adalah perbuatan dosa besar yang dianggap keji oleh syariat, akal sehat, dan fitrah. Sebab, zina mengandung sikap lancang terhadap hak Allah subhanahu wa ta’ala, hak wanita yang dizinai, dan hak keluarga atau suaminya. Selain itu, zina merusak rumah tangga, dan menyebabkan tercampurnya nasab dan berbagai kerusakan lainnya. “

Karena itu, pantas apabila Allah subhanahu wa ta’ala mengancam para pezina dengan hukuman yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah Yang Mahaperkasa berfirman,

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang yang beriman.” (an-Nur: 2)

Hukuman yang Allah ancamkan dalam ayat di atas adalah bagi pelaku zina laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Adapun pelaku zina yang sudah menikah dan telah merasakan kehidupan suami istri, di dunia mendapat hukuman dibunuh dengan cara dirajam.

Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan al-Qur’an kepada beliau. Termasuk wahyu yang Allah turunkan kepada beliau adalah ayat rajam. Kami telah membaca, menghafal, dan memahaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam, kami pun akan merajam sepeninggal beliau.

Dengan berlalunya masa yang panjang pada umat manusia, aku khawatir akan ada yang berkata, ‘Kami tidak mendapati hukum rajam dalam Kitabullah.’ Lantas mereka tersesat karena meninggalkan kewajiban yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan ini.

Hukum rajam benar adanya dalam Kitabullah, terhadap pelaku zina yang sudah menikah, baik lelaki maupun perempuan; apabila telah tegak para saksi, atau (si wanita) hamil, atau mengakuinya.” (Muttafaqun alaih)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan berbagai kerusakan akibat zina. Kata beliau, “Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina bertentangan dengan kepentingan hidup manusia. Jika berzina, seorang wanita telah memasukkan hal yang sangat memalukan terhadap keluarga, suami, dan sanak kerabatnya. Dia membuat mereka sangat malu di hadapan masyarakat.

Jika dia hamil karena zina, lantas dia membunuh anaknya itu, dia telah mengumpukan dosa zina dan dosa membunuh anak. Jika dia menisbahkan si anak kepada suaminya, berbarti dia telah memasukkan orang asing ke dalam keluarga suami dan keluarganya sendiri.

Selanjutnya, si anak akan mendapatkan warisan dari mereka padahal dia bukan ahli waris. Selain itu, si anak akan melihat dan berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang dari mereka. Si anak akan menisbahkan diri kepada mereka padahal bukan bagian mereka. Dan masih ada berbagai kerusakan lain yang ditimbulkan oleh wanita yang berzina.

Lelaki yang berzina juga akan mengakibatkan rusaknya nasab. Dia juga telah merusak seorang wanita yang terjaga. Dia telah menghadapkan si wanita pada kebinasaan dan kerusakan. Jadi, perbuatan dosa besar ini akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam hal dunia dan agama.” (ad-Da’u wad Dawa’ hlm. 232)

Di samping itu, perbuatan zina juga merusak kesehatan masyarakat dengan munculnya berbagai jenis penyakit seperti AIDS, gonorrhea, dan sipilis.

 

Nikah Mut’ah Lebih Keji & Kotor daripada Zina

Berbagai kerusakan dunia dan agama yang ditimbulkan oleh perbuatan zina sebagaimana disebutkan di atas, juga ditimbulkan oleh nikah mut’ah yang diajarkan oleh Syiah Rafidhah. Bahkan, dalam beberapa hal, nikah mut’ah lebih keji dan kotor daripada zina.

Mengapa demikian?

Sebab, mut’ah adalah bid’ah yang dianggap sebagai ajaran agama Islam, padahal telah dihapus hukumnya (dimansukh). Adapun zina, setiap muslim, bahkan nonmuslim pun, mengakui bahwa itu adalah perbuatan keji, kotor, dan menjijikkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan kedustaan orang yang mengada-ada dalam urusan agama,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman tentang kezaliman dan kejahatan mereka,

          وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٧ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 7—8)

Di sisi lain, Syiah Rafidhah telah menjadikan imam-imam mereka sebagai rabb dan tandingan bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Tentang kaum yang menjadikan pembesar mereka sebagai tandingan bagi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah….” (at-Taubah: 31)

Oleh karena itulah, para imam kaum muslimin senantiasa memperingatkan umat dari bid’ah dan ahli bid’ah. Peringatan mereka terhadap bid’ah dan ahli bid’ah lebih keras daripada terhadap kemaksiatan dan pelakunya.

Di antara para imam tersebut ialah al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. Beliau berkata, “Bid’ah lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat. Sebab, kemaksiatan (masih diharapkan pelakunya) bertobat, sedangkan bid’ah (hampir tidak mungkin pelakunya) bertobat darinya.”

Di antara mereka pula ialah Yunus bin Ubaid rahimahullah. Dia menasihati anaknya, “Aku melarangmu berzina, mencuri, dan meminum khamr. Sungguh, apabila engkau bertemu dengan Allah membawa dosa ini, lebih aku senangi daripada engkau bertemu dengan-Nya membawa bid’ah pemikiran Amr bin Ubaid dan para muridnya.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ahli bid’ah lebih keras azabnya daripada pelaku kemaksiatan. Sebab, bid’ah lebih jahat daripada maksiat. Bid’ah lebih disukai oleh setan daripada maksiat. Pelaku maksiat (ada harapan) untuk bertobat. Adapun ahli bid’ah, amat sedikit yang bertobat (dari bid’ahnya) karena dia merasa berada di atas kebenaran.

Berbeda halnya dengan pelaku kemaksiatan, dia menyadari bahwa dirinya melakukan kemaksiatan. Adapun ahli bid’ah berkeyakinan bahwa yang dilakukannya adalah ketaatan. Dia meyakini dirinya di atas ketaatan.

Oleh karena itu, bid’ah lebih jelek daripada maksiat. Karena itu pula, para ulama salaf (senantiasa) memperingatkan umat dari ahli bid’ah karena mereka akan mempengaruhi teman-teman duduknya untuk mengikuti bid’ahnya. Jadi, bahaya mereka lebih besar.

Tidak ada keraguan lagi bahwa bid’ah lebih jelek/berbahaya daripada kemaksiatan. Bahaya ahli bid’ah lebih besar daripada bahaya pelaku kemaksiatan terhadap umat manusia.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 26)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai bid’ah yang menyesatkan dari jalan-Nya yang lurus. Amin.

Bantuan Allah Sesuai Modal yang Diberikan

Selama hidup di dunia fana ini, kondisi seorang tidak menentu, selalu berubah-ubah. Adakalanya dia merasakan mudahnya kehidupan. Saat yang lain, ia harus menelan pahit dan susahnya kehidupan.

Apabila hanya mengandalkan kemampuan diri menghadapi perubahan situasi, tentu kita tidak akan mampu karena kita lemah dalam segala sisi. Kita sangat membutuhkan bantuan Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.

Akan tetapi, mengharap bantuan Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan menjadi angan-angan belaka bila kita tidak punya simpanan amal kebaikan. Sebab, bantuan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk kita sesuai dengan modal (amal saleh) yang kita suguhkan.

Telah banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan janji kebaikan bagi orang yang mengamalkan agama Islam ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Ini adalah janji yang mulia bagi siapapun yang menjalankan agama Allah subhanahu wa ta’ala, mengajak manusia kepada-Nya, dan memerangi para musuh agama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab kemenangan.

 Menjaga Hak-Hak Allah subhanahu wa ta’ala

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.” (HR.at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Maksudnya, jagalah batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-Nya, perintah dan larangan-Nya, dengan cara menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasan-batasan-Nya. Hal ini mencakup mengerjakan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.”

Inilah yang dimaksud dengan “menjaga Allah subhanahu wa ta’ala”. Jadi, maksudnya bukanlah Allah subhanahu wa ta’ala membutuhkan penjagaan kita atau mengambil manfaat dari ketaatan kita. Sekiranya seluruh hamba menaati-Nya, kekuasaan-Nya tidak akan bertambah; sebagaimana tidak berkurang kekuasaan-Nya karena pembangkangan seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala Mahakaya lagi Mahaperkasa. Justru hambalah yang akan mengambil manfaat dari ketaatannya sebagaimana dia pula yang akan merasakan akibat dari dosanya.

Hak Allah subhanahu wa ta’ala terbesar yang harus kita jaga adalah menauhidkan (mengesakan) Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal ibadah. Apabila tidak menjaga hak ini, seseorang terancam gugur seluruh amalannya. Dia terancam dihalalkan darah dan hartanya serta kekal di dalam neraka. Berikutnya ialah hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang lain seperti shalat lima waktu dan rukun Islam yang lainnya.

Intinya, seorang muslim dituntut menjaga hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala. Hak-hak tersebut tidak diketahui kecuali dengan mendalami agama ini.

Di samping hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga, seseorang juga tertuntut menjaga hak-hak manusia dengan berbagai tingkatannya. Sebab, seorang tidak dikatakan baik sampai baik hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala, baik pula hubungannya dengan manusia. Tak ketinggalan pula, seorang hamba berkewajiban menjaga diri dan anggota tubuhnya dari semua hal yang bertentangan dengan norma-norma agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

Seseorang hendaknya tahu bahwa anggota tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, bisa menjadi sebab kebinasaan apabila tidak dia jaga.

 

Buah Manis dari Kebaikan

Orang yang berbuat baik berhak diapresiasi dan diberi semangat agar selalu bersemangat dalam kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya Dia akan menjagamu.”

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan, “Maksudnya, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak Nya, Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaganya. Sebab, balasan itu setimpal dengan amalan, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ

“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (al-Baqarah: 40)

 

Penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Hamba yang Taat

Allah subhanahu wa ta’ala menjaga hamba-Nya yang taat dalam dua bentuk:

  1. Allah menjaga kemaslahatan duniawinya, seperti badan, anak, keluarga, dan hartanya.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang alim tidak akan pikun. Abu ath-Thayyib ath-Thabari umurnya lebih dari seratus tahun, namun akalnya tetap tajam dan tubuhnya tetap kuat. Suatu hari beliau naik ke daratan dari perahunya dengan lompatan yang kuat. Beliau pun ditanya sebab bisa melakukan lompatan tersebut.

Beliau menjawab, ‘Anggota tubuh ini kami jaga dari kemaksiatan saat kami masih muda, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaga tubuh kami saat sudah tua’.”

Sebaliknya, al-Junaid pernah melihat seorang yang tua meminta-minta. Al-Junaid mengatakan, “Orang ini menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala di masa mudanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menyia-nyiakannya saat tuanya.”

Bahkan, dengan sebab ketaatan seseorang, terkadang anak keturunannya pun ikut dijaga. Muhammad bin al-Munkadir rahimahullah berkata, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberi penjagaan bagi orang yang saleh pada anak cucunya, kampung tempat tinggalnya, dan rumah-rumah yang ada di sekitarnya.”

Kapan pun seorang hamba menyibukkan diri dengan ketaatan, maka Allah subhanahu wa ta’ala menjaganya dalam kondisi ketaatannya. Dahulu Syaiban ar-Ra’i suka menggembala kambing di padang sahara. Apabila datang waktu Jum’atan, beliau memberi garis pada tempat yang ada kambingnya, lalu ia berangkat shalat Jum’at. Setelah selesai Jum’atan, ia kembali menuju kambing-kambingnya. Ia dapati kambing-kambing itu masih berada di tempatnya semula.

Orang yang saleh akan dijaga dari kejahatan manusia dan jin yang akan menimpakan kejelekan kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan baginya jalan keluar dari segala hal yang membuat manusia merasa sempit.”

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Apabila kamu takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dia akan mencukupimu (dengan mereka segan kepadamu).”

Di antara keajaiban penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang yang menjaga hak-hak- Nya, Allah akan menjaganya dari binatang yang tabiatnya buas.

Hal ini dialami oleh Safinah, budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat perahu yang dinaikinya pecah dan terdampar di suatu pulau. Di sana dia melihat seekor binatang buas, maka Safinah mengatakan kepada binatang tersebut, “Saya Safinah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Binatang buas tersebut lalu berjalan di sisinya dan menunjukkan jalan keluar dari pulau itu. Ketika Safinah sudah berada di jalan yang dituju, binatang tersebut mengeluarkan suara dalam, seolah-olah ingin mengucapkan salam perpisahan.

Kisah lainnya dialami oleh Ibrahim bin Adham. Ia tidur di kebun. Ternyata, waktu itu di samping beliau ada ular yang menghalau binatang-binatang yang ingin mendekat, sampai beliau terbangun.

Seperti inilah orang yang menjaga Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari binatang buas, bahkan binatang itu menjaganya. Namun, orang yang menyia-nyiakan hak Allah subhanahu wa ta’ala, ia disia-siakan di tengah-tengah makhluk-Nya. Sampai-sampai, Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan mudarat kepadanya dari sesuatu yang ia harapkan manfaatnya. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keluarganya yang terdekat menyakitinya.

Sebagian salaf berkata, “Sungguh, aku berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu aku dapatkan akibatnya pada perangai pembantu dan keledaiku (tungganganku).”

Maksudnya, pembantunya menjadi berperangai buruk kepadanya dan tidak mau menaatinya. Keledai tunggangannya pun mogok dan tidak mau dinaiki.

Oleh karena itu, seluruh kebaikan terkumpul pada ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, segala kejelekan terkumpul pada sikap menentang Allah subhanahu wa ta’ala dan berpaling dari-Nya.

 

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menjaga agamanya.

Ini tentu saja penjagaan terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba yang menjaga agama dan amalnya di dunia ini. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari pemahaman menyimpang (syubhat) yang membinasakan, kebid’ahan yang menyesatkan, dan syahwat yang diharamkan. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjaganya saat kematian mendatanginya sehingga Dia mewafatkan hamba-Nya di atas Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk memohon penjagaan agama kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah penjagaan yang terpenting. Sebab, penjagaan yang bersifat duniawi didapatkan oleh orang yang baik dan orang yang jahat.

Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi seorang hamba tertimpa kejelekan dengan sebab yang terkadang tidak disadari oleh hamba. Ini seperti penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٢٤

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (tulus).” (Yusuf: 24)

Barang siapa tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia akan menyelamatkannya dari kejelekan dan kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya dari arah yang tidak disangka. Sebab-sebab kebinasaan akan terhalangi menimpanya.

Ada juga di antara hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang terjaga dari kemaksiatan melalui nasihat seseorang.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata tentang pelaku maksiat, “Mereka hina di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka adalah orang yang mulia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Dia subhanahu wa ta’ala akan menjaga mereka.”

Di antara penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap agama hamba-Nya ialah Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkan suatu urusan duniawi, seperti kedudukan/kekuasaan atau usaha, seperti perniagaan.

Allah subhanahu wa ta’ala tahu bahwa apabila hamba ini diberi kekuasaan atau dilimpahkan kepadanya harta, ia akan menyimpang. Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala menghalanginya mendapatkannya.

Bahkan, terkadang seseorang masih belum dimudahkan melakukan suatu ketaatan karena apabila dia dimudahkan melakukannya, akan muncul pada dirinya sikap ujub (bangga diri) yang menghancurkan amalan.

Inti dari semua ini, orang yang menjaga batasan-batasan Allah subhanahu wa ta’ala dan memerhatikan hak-hak-Nya, niscaya akan dijaga oleh-Nya dalam urusan agama dan duniawinya, di dunia dan di akhiratnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Sebagian salaf berkata, “Siapa yang ingin selalu sehat wal afiat, hendaknya ia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Disarikan dari kitab Nurul Iqtibas fi Misykati Washiyyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam libni Abbas, karya Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah)

Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Tiada hentinya umat Islam diterpa beragam ujian dan fitnah yang bisa menggerogoti keimanan mereka. Isu-isu murahan sengaja diembuskan oleh orang-orang kafir, para munafik, dan yang tertipu dengan mereka.

Di antara yang mereka opinikan bahwa ajaran Islam sudah tidak selaras dengan perkembangan zaman dan tidak cocok dipraktikkan di Indonesia. Menurut mereka, berkomitmen dengan ajaran Islam akan menghambat kemajuan, bahkan bisa memicu tindak terorisme. Seabrek jurus mereka munculkan agar umat ini takut menampakkan identitas keislamannya, bahkan muncul keraguan terhadap kebenaran Islam.

Apabila kita cermati, propaganda-propaganda tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum cahaya Islam datang, bumi dipenuhi oleh gelapnya kekafiran dan kebodohan. Ketika Islam datang, muncul beragam perlawanan untuk meredupkan cahaya ini. Seorang muslim yang mencium sedikit saja aroma harumnya Islam akan bisa mengetahui murahnya propaganda tersebut.

Namun, tentu tidak boleh kita lalaikan bahwa pukulan lawan yang bertubi-tubi tentu memberikan pesan. Di antaranya:

  1. Akan diketahui siapa yang tulus keimanannya dan yang berdusta dan gampang terseret ombak fitnah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 3)

  1. Menggugah seorang muslim untuk mempersenjatai diri dengan ilmu yang memadai dan amal saleh yang membentengi diri.
  2. Seorang muslim hendaknya semakin mantap berpegang dengan agamanya.

Dia semakin tahu bahwa timbangan kebenaran adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan yang dipahami dan dipraktikkan oleh generasi awal umat ini.

 Keharusan Tunduk pada Syariat Allah subhanahu wa ta’ala

Sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala yang mencipta alam semesta dan mengatur jagat raya. Dialah yang berhak untuk menentukan syariat-Nya dan memilih hamba-Nya yang akan memikul amanat risalah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al-Qashash: 68)

Oleh karena itu, kita harus menerima ketentuan yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dengan sepenuh penerimaan. Tidak ada penolakan dan penentangan, karena Allah lebih tahu maslahat hamba-Nya.

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah mengatakan bahwa risalah itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan tugas rasul hanya menyampaikan. Kewajiban kita hanyalah menerima. (Siyar A’lam an-Nubala, 5/346)

 Kesempurnaan Islam

Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan Nabi-Nya kecuali Islam telah sempurna, tidak memerlukan penambahan ataupun pengurangan. Sungguh, sempurnanya Islam merupakan nikmat bagi umat ini yang menjadikan orang-orang kafir iri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam menjadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kalian membaca suatu ayat yang seandainya ayat itu turun kepada kami, niscaya akan kami jadikan sebagai perayaan.” (Shahih al-Bukhari, no 4606)

Yang mereka maksud adalah ayat ketiga surat al-Maidah.

Apabila orang-orang Yahudi tahu besarnya arti kesempurnaan Islam, mengapa sebagian kaum mulimin tidak mengerti kemuliaan agama ini, justru terkadang minder dengan agamanya?!

Sungguh, kemerosotan yang dialami oleh kaum muslimin dalam berbagai bidang terjadi karena mereka meninggalkan sumber kemuliaannya, yaitu ajaran Islam.

Apabila ingin mengetahui indahnya Islam dipraktikkan di alam nyata, kita perlu membuka lembaran sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan generasi awal umat ini. Mereka telah memenuhi bumi dengan keadilan, kedamaian, kemakmuran, dan kemajuan di berbagai bidang dan disiplin ilmu.

Kalau kita mencari perwujudan keindahan Islam di tengah-tengah masyarakat muslimin dewasa ini, barangkali kita sulit menemukannya dari sebagian muslimin. Sebab, kaum muslimin sekarang telah jauh dari pengajaran dan pengamalan terhadap Islam.

Islam Nusantara dalam Sorotan

Luka yang dirasakan oleh umat akibat serangan-serangan orang kafir berupa penistaan terhadap Islam belumlah pulih. Tiba-tiba umat Islam dikejutkan oleh munculnya gagasan Islam Nusantara. Terlepas dari motif digulirkannya isu ini, sungguh gagasan ini telah menjadi tugas tersendiri yang menyibukkan.

Apabila dicermati, gagasan ini sangat membahayakan keutuhan agama Islam, mengotak-ngotak muslimin, dan rentan memunculkan konflik di tengah–tengah umat. Terlebih lagi, beberapa pengusungnya adalah para penganut paham liberalis yang sering menyudutkan Islam dan muslimin. Jelas, pemahaman seperti ini merupakan bentuk mengada-adakan perkara baru dalam agama.

Munculnya pemahaman yang menyimpang dari Islam disebabkan oleh dua faktor utama.

  1. Ketidaktahuan tentang keindahan Islam.

Faktor ini menjadi sebab dilahapnya pemikiran-pemikiran sesat yang indah menawan secara lahiriah, padahal kenyataannya sangat menghancurkan.

  1. Mengikuti hawa nafsu.

Hal ini lebih parah. Sebab, tidak mustahil para pengusung pemahaman tersebut tahu bobroknya pemahaman ini. Akan tetapi, mereka getol menyebarkannya karena dengki dengan kelompok tertentu, ras tertentu, tekanan dari pihak tertentu, atau bahkan membalas budi pihak tertentu.

 Akhlak Pengusung Islam Nusantara

Serapat-rapat bangkai disembunyikan, akhirnya tercium juga. Dalam pepatah Arab disebutkan,

كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَحُ

“Setiap bejana (wadah air) akan menumpahkan apa yang menjadi isinya.”

Hari-hari ini, sebagian pengusung Islam Nusantara mempertontonkan dangkalnya pemahaman keislaman mereka dan ketidakhormatannya terhadap kemuliaan Islam.

Di antara kebobrokan mereka adalah:

  1. Lancang berbicara tentang hal yang gaib, padahal hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu perkara yang gaib.

Misalnya, seorang tokoh utama Islam Nusantara mengatakan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir masih antri untuk menanyai Gus Dur di kuburannya, karena kuburannya selalu ramai dengan para pengunjung.

Pantaskah ucapan seperti ini keluar dari seorang kiai haji?!

 

  1. Mencaci maki

Seorang muslim yang sejati tidak suka mencela dan mencaci maki. Lebih-lebih apabila cacian tidak pada tempatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencerca seorang muslim adalah tindak kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Repotnya, mereka lontarkan celaan terhadap pihak yang menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, salah seorang tokoh mereka mencela orang yang berjenggot. Dia menghukumi orang yang berjenggot sebagai orang yang goblok. Padahal itu adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau memerintahkan untuk memelihara jenggot.

Di sisi lain, mereka mengagungkan orang yang mengerok jenggotnya. Dia menilai bahwa orang yang pintar itu tidak memiliki jenggot. Padahal kepintaran yang bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya tunduk dan menghormati syariat, tidak menyelisihinya. Sungguh, vonis goblok lebih tepat diberikan kepada orang yang merendahkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang perintah memelihara jenggot, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْفُوا اللِّحَى وَجُزُّوا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوا شَيْبَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

“Biarkan (pelihara) jenggot, pangkaslah kumis, dan ubahlah uban kalian. Janganlah kalian menyerupai orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ no. 1067)

Kata al-Munawi, membiarkan jenggot ialah memperbanyaknya dan menguranginya. (Faidhul Qadir, 4/417)

Jadi, memelihara jenggot adalah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan tradisi Arab. Ia adalah upaya tampil berbeda dengan Yahudi dan Nasrani. Sebab, di antara tuntutan menelusuri jalan yang lurus adalah dia harus menyelisihi cara dan jalan orang kafir.

Ucapan dan pernyataan siapapun, apabila bertentangan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dianggap dan tidak ada nilainya.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak rambut jenggotnya.” ( HR. Muslim dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Merendahkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ini tentu kejahatan yang luar biasa terhadap syariat. Sopan santun terhadap orang lain menjadi tidak ada nilainya, apabila disertai sikap melecehkan syariat. Setinggi apapun kedudukan seseorang di mata manusia, ia tetap menjadi orang rendahan apabila mengolok-olok sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, menolak hadits, atau menginginkan (dalil) selain hadits, ragukan keislamannya. Tidak diragukan bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.” (Syarhus Sunnah)

Di antara yang mereka perolok-olokan adalah merapatkan barisan shalat (shaf) dan pakaian cingkrang, yakni seorang memakai pakaian di atas mata kaki. Padahal telah jelas hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Kain yang menjulur sampai bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari dan an-Nasai dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Mengangkat kain di atas mata kaki, di samping bentuk ketundukan kepada bimbingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga lebih menunjukkan ketakwaan seorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikan pakaian tidak cepat kotor dan rusak.

 

  1. Tidak ilmiah

Misalnya, mereka menyatakan bahwa cadar (hijab) adalah budaya Arab, dan kita tidak perlu meniru orang Arab. Padahal budaya wanita bangsa Arab sebelum Islam datang ialah tidak menutup aurat.

Perintah bagi wanita untuk menutupi wajahnya juga bukan di awal-awal Islam. Jadi, dari sisi mana memakai cadar bisa disebut budaya Arab?!

Saat mereka mengomentari wanita pemakai cadar yang menutup auratnya, mereka tutup mulut dari para wanita yang membuka auratnya. Mereka tak ubahnya seperti kaum Khawarij yang membunuhi kaum muslimin, namun membiarkan para penyembah berhala.

 

  1. Tidak menghargai keragaman

Para pengusung Islam Nusantara kurang suka yang berbau kearab-araban, dalam hal berpakaian, penamaan, bahkan masalah isi hati seseorang. Misalnya, mereka menyatakan bahwa orang yang berjubah tidak boleh merasa lebih baik daripada yang tidak berjubah. Padahal, kapan orang-orang yang berjubah pernah menyatakan demikian?!

Kalau seseorang ingin meniru pakaian seperti pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun katakanlah itu adat orang Arab—apakah patut dicela?

Di sisi lain, yang memakai jins, dasi, dan rok mini yang merupakan budaya pakaian Barat sama sekali tidak disindir? Ada apa di balik ini?

Menurut Islam, tidak mengapa seseorang memakai pakaian yang biasa dipakai oleh penduduk negerinya, selama memenuhi kriteria pakaian yang tidak melanggar aturan syariat.

 

  1. Mereka anggap bahwa Islam yang santun adalah yang menghargai kearifan lokal dan membiarkan budaya masyarakat untuk dilestarikan.

Padahal, masalah ini perlu dirinci. Sebab, ada budaya yang berbenturan dengan ajaran Islam yang mulia dan harus ditinggalkan. Ada juga budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama sehingga boleh dilestarikan.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, bangsa Arab memiliki sekian budaya, seperti menyembah berhala, yang kuat mencaplok yang lemah, membunuh bayi perempuan, dan seabreg budaya lain. Apakah karena ingin menjaga budaya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal-hal tersebut?!

Tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberantasnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

  1. Sombong

Konsep Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai konsep yang terbaik. Mereka membanggakannya dan menganggap bahwa konsep inilah yang akan mendunia serta bisa menjadi contoh bagi negara lain.

Alih-alih negara lain akan mencontohnya, masyarakat di negeri ini saja banyak yang menentang karena bertentangan dengan konsep Islam rahmatan lil ’alamin!

Sungguh, para pengusung konsep Islam Nusantara adalah orang-orang yang sok pintar; padahal bodoh, sok ilmiah, dan sok rasional di hadapan orang awam.

Di hadapan para ulama, mereka orang yang serampangan. Mereka menafsirkan agama semaunya, meremehkan syariat, para pengagung syariat, serta menistai agama; tetapi mereka tidak merasa.

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”

Lanjutkan membaca Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Akhlak Seorang Dai

Mengajak manusia kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala (berdakwah) adalah sebaik-baik amalan. Orang yang menjalankannya merupakan manusia pilihan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Lanjutkan membaca Akhlak Seorang Dai

Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi

Nasrani (Kristen) adalah salah satu agama kafir yang mengajarkan berbagai kekafiran, kesyirikan, dan kemungkaran. Agama itu dinisbatkan kepada Nabi Isa al-Masih ‘alaihissalam yang mereka sebut “Yesus Kristus”.

Namun, Nabi Isa bin Maryam al-Masih ‘alaihissalam berlepas diri dari ajaran tersebut. Lanjutkan membaca Jangan Frustasi Menghadapi Kristenisasi

Globalisasi Menghancurkan Generasi

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati.

Islam datang membawa syariat yang mulia lagi sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kitab-Nya,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitakan tentang misi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad, Malik, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/75)

Akan tetapi, kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam tidak akan disadari dan diyakini selain oleh orang-orang yang diberi hidayah taufik dari Allah ‘azza wa jalla.

Apalagi di zaman sekarang, yang disebut era globalisasi dan teknologi informasi. Cepat dan dahsyatnya informasi ternyata tidak identik dengan kemajuan pada bidang yang lain. Terkhusus bidang agama, moral dan spiritual kaum muslimin secara umum dan generasi mudanya secara khusus telah dirusak oleh berbagai asupan yang bersumber dari media massa, baik elektronik maupun cetak.

Media massa yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh Yahudi dan Nasrani. Kalaupun ada yang dimiliki oleh kaum muslimin, tetap tidak terlepas dari berbagai hal mungkar yang terjadi di dalamnya. Karena itu, berbagai bentuk media penyaji informasi tersebut dimanfaatkan untuk menghancurkan moral dan agama bangsa ini, terkhusus generasi muda kaum muslimin. Perhatikanlah acara-acara televisi, terkhusus film, sinetron, hiburan, iklan, dan bahkan berita yang disajikan pun mengandung kemungkaran.

Hal ini diperparah oleh ketersediaan layanan internet yang mudah, murah, dan cepat; yang bisa diakses melalui ponsel pintar yang tergenggam di tangan generasi muda muslimin. Belum lagi kalau kita mengengok media cetak, seperti majalah, koran, dan tabloid, yang dipenuhi gambar-gambar tidak pantas yang membangkitkan nafsu syahwat. Akibatnya, tidak ada yang selamat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh media massa selain orang-orang yang dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla.

Di antara bentuk kerusakan moral terbesar yang ditimbulkan oleh media massa adalah sebagai berikut.

 

Hilangnya Rasa Malu

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan keutamaan rasa malu melalui sabdanya,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” ( Muttafaqun alaih dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Di antara hukuman akibat perbuatan dosa adalah hilangnya rasa malu yang merupakan unsur pokok yang menentukan hidupnya hati. Rasa malu adalah dasar seluruh kebaikan. Maka dari itu, hilangnya rasa malu akan menyebabkan sirnanya seluruh kebaikan.” (ad-Da’ wad-Dawa’ hlm. 105)

Berdasarkan penjelasan di atas, barang siapa yang sudah tidak memiliki rasa malu disebabkan oleh kemaksiatannya, dia akan melakukan berbagai kemaksiatan yang lain tanpa rasa malu pula. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya, di antara perkataan nubuwah terdahulu yang masih didapatkan oleh manusia ialah apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan, “Perintah dalam hadits ini (‘berbuatlah sesukamu’) bermakna berita. Artinya, barang siapa tidak memiliki rasa malu, dia akan berbuat semaunya. Sebab, yang menghalangi seseorang berbuat jelek adalah rasa malu. Jadi, ketika seseorang tidak memiliki rasa malu, niscaya dia akan bersemangat melakukan seluruh perbuatan keji dan mungkar.” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/498)

Di antara akibat buruk yang ditimbulkan oleh hilangnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat ialah sebagai berikut.

 

  1. Campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram (ikhtilath)

Hal ini terjadi di sekolah, perguruan tinggi, kantor, dan tempat lainnya. Mereka bercampur baur dengan berbagai bentuk penampilan, dandanan, dan wewangian, meniru apa yang dilihat di televisi.

Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai keburukan dan godaan terhadap lawan jenis. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Nabi-Nya dan istri-istri beliau—yang menjadi teladan bagi kaum muslimah,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya, “Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian, karena hal itu lebih selamat dan lebih menjaga kehormatan. Janganlah kalian sering keluar rumah dalam keadaan bersolek dan memakai wewangian sebagaimana halnya kebiasaan orang-orang jahiliah sebelum kedatangan Islam yang tidak memiliki ilmu dan agama. Sebab, semua hal itu akan menyeret ke dalam berbagai kejelekan dan sebabnya.”

 

  1. Pacaran telah menjadi hal yang biasa

Di antara fitnah yang terjadi karena ikhtilath ialah khalwat (pacaran), terkhusus di tempat-tempat hiburan/wisata. Ini pun mereka lakukan karena meniru apa yang mereka dapatkan dari berbagai media.

Perlu diketahui, ikhtilath dan khalwat akan menyeret kepada perbuatan keji yang lain, seperti onani, zina, dan pemerkosaan. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla melarang berbagai hal yang menyeret manusia menuju zina.

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

        Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang umatnya melakukan khalwat,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan hadits di atas, “Yang dimaksud adalah wanita yang bukan mahramnya, seperti anak perempuan bibi atau paman, atau yang tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan Anda. Jadi, berdua-duaan dengan wanita yang seperti ini hukumnya haram. Tidaklah seseorang lelaki berkhalwat dengan perempuan kecuali setan akan menjadi pihak yang ketiga. Bagaimana menurut Anda tentang orang yang berkhalwat (berpacaran) yang disertai oleh setan? Sungguh, kita yakin keduanya akan menceburkan diri ke dalam kejelekan. Kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/167)

Karena itu, benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Ditetapkan bagian dari perbuatan zina bagi anak Adam, dia pasti akan mendapatkannya, tidak mungkin selamat.

Dua mata zinanya dengan melihat (halhal yang haram dilihat), dua telinga zinanya dengan mendengarkan (hal-hal yang haram didengar). Lisan zinanya dengan mengucapkan (hal-hal yang keji). Tangan zinanya dengan menyentuh/meraba. Adapun kalbu menginginkan dan berangan-angan (melakukan zina). Yang akan membenarkan atau mendustakannya adalah kemaluan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

  1. Perzinaan dan pemerkosaan

Ikhtilath dan khalwat yang terjadi di tengah-tengah masyarakat sudah menjadi adat kebiasaan. Bahkan, sebagian orang tua mengkhawatirkan anak mereka yang sudah menginjak dewasa namun belum punya pacar. Mereka khawatir, jangan-jangan anaknya memiliki kelainan. Na’udzu billah min dzalik.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas dan pacaran ialah merebaknya perzinaan. Padahal, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua itu sebagai bentuk kasih sayang kepada para hamba. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan salah satu sifat calon penghuni surga Firdaus,

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (al-Mukminun: 5—7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرَجُ

“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (HR. ar-Tirmidzi)

Ketika menerangkan hadits,

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal darah seorang muslim, yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, ditumpahkan kecuali dengan tiga sebab, zina muhshan, membunuh jiwa (qishash), dan yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menyebutkan perbuatan zina beriringan dengan kekafiran dan membunuh jiwa, sebagaimana surat al-Furqan ayat 68. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dengan menyebutkan dosa yang paling banyak dilakukan, kemudian yang berikutnya. Jadi, zina adalah perbuatan dosa yang paling sering dilakukan dibandingkan dengan membunuh jiwa. Membunuh jiwa lebih sering dilakukan dibandingkan dengan kemurtadan.

Penyebutan perbuatan dosa dalam hadits ini dimulai dari yang besar menuju yang lebih besar lagi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan zina bertentangan dengan kepentingan umat manusia. Ketika berbuat zina, seorang wanita telah memasukkan aib yang memalukan dalam keluarga, suami, dan kerabatnya. Dia menyebabkan kepala mereka tertunduk malu di hadapan masyarakatnya. Terlebih lagi apabila sampai hamil karena zina, lalu dia membunuh bayinya. Dia telah mengumpulkan dua macam dosa, yaitu zina dan membunuh jiwa.

Apabila dia mengaku-aku bahwa hamilnya adalah karena suami, berarti dia menyisipkan anak hasil zina tersebut ke dalam keluarga suaminya, padahal anak tersebut bukan bagian dari mereka. Selanjutnya, anak tersebut akan mendapat warisan dari mereka padahal dia tidak berhak. Selain itu, anak tersebut akan melihat, bercampur, dan dinasabkan kepada keluarga suaminya, padahal sama sekali bukan bagian dari mereka. Masih banyak lagi kerusakan lain yang disebabkan oleh perbuatan zina seorang wanita.

Jika lelaki yang berbuat zina, akan mengakibatkan tercampurnya nasab, merusak wanita yang sudah bersuami, dan menyebabkan kerusakan serta kebinasaan wanita yang dizinainya. Jadi, perbuatan dosa besar yang satu ini akan menghancurkan urusan dunia dan agama.” (ad-Da’ wad-Dawa’, hlm. 232)

 

Tasyabbuh

Di antara kerusakan yang timbul karena gencarnya media massa baik elektronik maupun cetak adalah kekaguman mayoritas kaum muslimin terkhusus generasi muda terhadap tokoh yang sering ditampilkan di media massa, baik bintang iklan, bintang sinetron/film, bintang sepak bola, maupun lainnya.

Mereka mengagumi cara berpakaian, penampilan, gaya hidup, gaya bicara, dll. Bahkan, tidak sedikit pula kaum muslimin yang kagum dengan gaya hidup orang kafir atau fasik di suatu negara/wilayah sehingga mayoritas kaum muslimin terkena penyakit “tasyabuh” (penyerupaan yang diharamkan dalam agama).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6149)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada umat tentang akan terjadinya wabah tasyabuh ini dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قاَلُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

“Sungguh, akan ada di antara kalian orang-orang yang mengikuti cara/adat orang-orang sebelum kalian sebagaimana bulu anak panah terhadap yang lainnya. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam liang kadal padang pasir, sungguh kalian akan ikut memasukinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksudnya orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Siapa lagi?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Jenis tasyabuh yang diharamkan ialah sebagai berikut.

  1. Tasyabuh laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya, baik dalam hal pakaian, gerakan, maupun penampilan.

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan dan para perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 3454)

Jika kita perhatikan kehidupan masyarakat, betapa banyak orang yang berhak mendapat laknat Rasulullah dengan sebab ini. Laki-laki berpenampilan seperti perempuan, baik berambut panjang, memakai perhiasan wanita, dsb. Wanita menyerupai laki-laki dalam hal potongan rambut, bahkan sampai botak, demikian pula cara berpakaian dan berpenampilan. Semua hal tersebut terjadi salah satu sebabnya adalah pengaruh media massa.

  1. Tasyabuh dengan orang fasik.

Di antara dampak negatif media massa, terkhusus televisi, ialah menyebabkan kaum muslimin tasyabuh dengan orang-orang fasik. Misalnya, bermudah-mudahan dalam kawin-cerai sebagaimana yang dilakukan oleh para selebritis dalam kehidupan rumah tangga mereka. Jika salah satu pasangan tidak cocok atau salah paham, ujungnya adalah perceraian. Dampaknya, sebagian kaum muslimin meniru mereka ketika menghadapi problem rumah tangga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

        “Janganlah seorang suami membenci istrinya (secara total). Apabila dia membenci salah satu perangai istrinya, dia akan senang terhadap perangai yang lainnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Contoh lain, seorang istri berani membentak suaminya, bahkan memukulnya lantaran istri sering menonton sinetron. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ

        “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an-Nisa’: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia kecuali calon istrinya dari bidadari-bidadari akan berkata, ‘Jangan engkau sakiti dia, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memerangimu,’ hanya saja dia (suamimu) itu ibarat tamu di sisimu yang hampir-hampir akan berpisah denganmu menuju kami.” (HR. at-Tirmidzi)

radhiallahu ‘anhuma. Tasyabuh dengan orang kafir dan setan

Melalui media massa inilah ditanamkan simpati, kecintaan, dan pembelaan terhadap orang-orang kafir. Dengan gencar dipropagandakan bahwa peradaban modern adalah peradaban Barat. Tidak jarang kita dapatkan sikap dan perbuatan yang menyerupai orang kafir Barat.

Allah ‘azza wa jalla telah memperingatkan,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini memuat larangan keras mengikuti hawa nafsu orang Yahudi dan Nasrani. Selain itu, terkandung pula larangan menyerupai mereka, terkhusus dalam hal agama. Walaupun ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, larangan ini juga tertuju kepada kaum muslimin. Sebab, pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman makna, bukan karena kekhususan yang diajak bicara. Hal ini sebagaimana pelajaran itu diambil dengan sebab keumuman lafal, bukan kekhususan sebab.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 65)

Tasyabuh yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin terhadap Barat terjadi dalam banyak hal. Sampai-sampai dalam urusan pakaian dan rambut pun meniru mereka, misalnya gaya berpakaian dan rambut punk. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنِ الْقَزَعِ

        “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari al-qaza’.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Al-Qaza’ bermakna mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lainnya. Sama saja apakah pada satu sisi kepala atau seluruh sisi, baik dari sebelah atas, sebelah kanan, maupun sebelah kiri; sisi belakang ataupun depan. Yang jelas, mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain, itulah qaza’ yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/174)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang tasyabuh terhadap setan,

لاَ تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Jangan kalian makan dengan tangan kiri, karena setan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sungguh, engkau heran terhadap suatu kaum pada masa kini yang membaur dengan orang kafir dan menyaksikan kehidupan mereka (lewat media massa), lantas meniru pimpinan mereka, yaitu setan, dalam hal makan dan minum dengan tangan kiri. Engkau heran terhadap sekelompok muslimin yang makan dan minum dengan tangan kiri, padahal mereka mendakwahkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka justru menyerupai setan dan orang kafir. Mereka tidak mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, justru menyelisihi petunjuk dan sunnah beliau.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/172)

Tulisan ini hanyalah contoh kecil kerusakan yang ditimbulkan oleh media

massa. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla akan senantiasa menjaga kita, keluarga, dan anak-anak kita secara khusus dan kaum muslimin secara umum dari berbagai hal yang menghancurkan moral dan agama.

Amin.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Doa Orang Tua untuk Anak

Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna menjadikan dunia yang fana ini sebagai ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ١١٦

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arsy yang mulia.” (al-Mu’minun: 115—116)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apakah kalian, wahai manusia, mengira bahwa Kami menciptakan kalian di dunia yang fana ini dengan sia-sia (tanpa tujuan yang mulia)? Kalian makan, minum, Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan bersenang-senang, dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan dunia lantas Kami biarkan begitu saja tanpa Kami perintah dan Kami larang? Apakah Kami tidak membalas dan menghukum (perbuatan kalian) sehingga kalian menganggap tidak akan kembali kepada Kami (untuk mempertanggungjawabkan amalan kalian)? Jangan sampai anggapan hal seperti ini terlintas pada hati-hati kalian! Sebab, Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari anggapan seperti ini; karena hal ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya.”

Di antara ujian dan cobaan yang dihadapkan kepada para hamba-Nya adalah orang tua diuji dengan anak-anak mereka. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan hal ini dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ وَأَوۡلَٰدِكُمۡ عَدُوّٗا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٤ إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)

Tatkala orang tua menghadapi berbagai problem tarbiyah (mendidik dan mengasuh) anak-anak, apa yang harus dilakukan? Siapakah yang berkuasa untuk mengubah berbagai penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada mereka? Berikut ini sebagian prinsip yang harus kita pahami. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah taufik agar kita berjalan di atasnya.

 

Pemberi Petunjuk Hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam upaya memperbaiki dan membenahi tarbiyah orang tua terhadap anak, hal yang paling mendasar yang harus diyakini oleh para orang tua adalah bahwa pemberi petunjuk (hidayah taufik) itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Dialah satu-satunya Dzat yang berkuasa untuk menjadikan saleh atau tidaknya kita dan anak-anak kita, bahkan muslim atau kafirnya kita semua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ فَمِنكُمۡ كَافِرٞ وَمِنكُم مُّؤۡمِنٞۚ

“Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (at-Taghabun: 2)

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِيۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ١٧٨

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)

Dalam pembukaan khutbah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia berkata,

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya; dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.”

Masih banyak ayat dan hadits sahih yang semakna dengan ayat dan hadits di atas.

Para nabi ‘alaihim as salam adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia. Akan tetapi, mereka tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada orang yang mereka cintai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya kamu (wahai Rasulullah) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash: 56)

Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam pun tidak mampu memberi petunjuk kepada anak dan istrinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٤٢

قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ ٤٣

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”

Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)

Tatkala Allah telah menakdirkan kekafiran anak laki-laki Nabi Nuh ‘alaihissallam, berbagai upaya beliau agar anaknya beriman tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana ucapan beliau ‘alaihissallam, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَا يَنفَعُكُمۡ نُصۡحِيٓ إِنۡ أَرَدتُّ أَنۡ أَنصَحَ لَكُمۡ إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغۡوِيَكُمۡۚ هُوَ رَبُّكُمۡ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ٣٤

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Hud: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sesungguhnya, kehendak (takdir) Allah subhanahu wa ta’ala yang menang. Apabila Dia subhanahu wa ta’ala berkehendak menyesatkan kalian karena kalian menolak kebenaran—walaupun aku bersemangat mencurahkan seluruh kemampuanku (demi kebaikanmu), menasihatimu dengan nasihat yang paling bagus, (dan beliau ‘alaihissallam sungguh telah menunaikan hal ini)—hal itu tidak bermanfaat bagi kalian sedikit pun. Sebab, Dia subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kalian yang melakukan (menakdirkan) apa saja yang Dia kehendaki pada kalian. Dia pula yang menghukumi segala sesuatu yang terjadi pada kalian dengan apa yang Dia kehendaki. Hanya saja, kalian akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala lalu Dia akan membalas kalian sesuai dengan amalan kalian.”

Demikian pula keturunan para nabi dan rasul ‘alaihim as salam, tidak ada jaminan menjadi orang yang saleh. Jika demikian, terlebih lagi golongan hamba Allah yang berada di bawah mereka. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihissallam dengan anaknya di atas. Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang keturunan Nabiyullah Ibrahim dan Ishaq ‘alaihimassalam,

وَبَٰرَكۡنَا عَلَيۡهِ وَعَلَىٰٓ إِسۡحَٰقَۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحۡسِنٞ وَظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ مُبِينٞ ١١٣

“Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (ash-Shaffat: 113)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kami turunkan barakah kepada mereka berdua. Maksudnya adalah tumbuh dan bertambah ilmu, amal, dan keturunan mereka berdua. Allah subhanahu wa ta’ala menumbuhkembangkan keturunan mereka menjadi tiga umat yang besar. Bangsa Arab adalah keturunan Nabi Ismail ‘alaihissallam, sedangkan bani Israil dan bangsa Romawi adalah keturunan Nabi Ishaq ‘alaihissallam. Di antara keturunan mereka, ada yang saleh dan ada pula yang tidak saleh; ada yang adil dan ada yang zalim yang sangat jelas kezalimannya dengan kekafiran dan kemusyrikannya.

Boleh jadi, firman Allah subhanahu wa ta’ala ini bertujuan menghilangkan kesalahpahaman terhadap firman-Nya, ‘Dan Kami turunkan barakah kepada Ibrahim dan Ismail.’ Sebab, konsekuensi barakah yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada keturunan mereka ialah keturunan mereka semua bagus. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa keturunan mereka ada yang bagus dan ada yang zalim. Wallahu a’lam.”

Dengan penjelasan di atas, kita bisa mengambil faedah bahwa penentu kebaikan bagi kita dan anak-anak kita adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak boleh bagi kita untuk bersandar kepada keturunan, kemampuan, kesungguhan, fasilitas pendidikan, kurikulum sekolah, dan sebagainya. Ketahuilah bahwa itu semua hanyalah upaya dan usaha, sedangkan penentunya adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Doa Orang Tua Demi Kebaikan Anak-Anaknya

Kunci kebaikan itu berada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah taufik bagi kita dan anak-anak kita selain dengan terus meminta dan berdoa kepada pemiliknya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa memohon hidayah taufik-Nya dalam setiap rakaat kita, demi kebaikan kita pula.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.” (al-Fatihah: 6—7)

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian adalah orang yang sesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah hidayah kepada-Ku, Aku pasti memberi hidayah kepada kalian.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu no. 2577)

Dalam masalah tarbiyah, orang tua memiliki peran penentu yang sangat besar dan menjadi salah satu sebab keselamatan, kebaikan, dan kebahagiaan bagi anak-anaknya, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga macam doa yang tidak diragukan bahwa doa itu mustajabah (akan terkabulkan): doa orang yang dizalimi, doa orang safar, dan doa orang tua atas anaknya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 372)

Terlebih lagi Allah subhanahu wa ta’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta segala hajat mereka, baik urusan dunia maupun agama. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji untuk mengabulkannya. Allah subhanahu wa ta’ala memberi perintah,

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Oleh karena itu, jangan biarkan kesempatan mulia ini berlalu begitu saja!

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara harapan dan angan-angan dalam ad-Da’u wa ad-Dawa’ (hlm. 60), “Termasuk hal yang harus diketahui, siapa saja yang mengharapkan sesuatu, harapan/citacita itu berkonsekuensi tiga hal:

  1. Mencintai hal yang diharapkan itu,
  2. Mengkhawatirkan hal itu akan lepas/hilang,
  3. Berusaha mendapatkan hal itu dengan berbagai cara (yang dihalalkan).

Adapun harapan yang tidak diiringi oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas, berarti itu hanya angan-angan (bukan harapan). Harapan adalah suatu urusan, sedangkan angan-angan adalah urusan yang lain.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu, akan khawatir apabila yang dia harapkan hilang. Misalnya, orang yang berjalan di jalanan, apabila dia takut/khawatir, dia akan mempercepat jalannya karena khawatir harapan/cita-citanya lepas.”

Berpijak dari perkataan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, tatkala orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi saleh dan salehah, maka harapannya menuntut tiga hal yang disebutkan di atas. Ketiga hal di atas menjadi bukti akan harapannya. Jika tidak diiringi dengan usaha, upaya, dan doa secara terus-menerus dengan segenap kemampuannya, ketahuilah bahwa itu hanya angan-angan, bukan harapan.

Di antara upaya dan usaha yang terus bisa dilakukan oleh orang tua adalah doa. Adapun doa orang tua untuk kebaikan anaknya terbagi menjadi dua.

 

  1. Doa sebelum anak dilahirkan

Contohnya ialah doa Nabiyullah Zakaria ‘alaihissallam. Dengan sebab doa tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan Yahya ‘alaihissallam kepada beliau ‘alaihissallam.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩

Di sanalah Zakaria mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab. (Katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.” (Ali Imran: 38—39)

Contoh lain ialah doa yang diajarkan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat seorang suami hendak menggauli istrinya,

Jika salah seorang di antara kalian ingin menggauli istrinya, berdoalah,

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari yang Engkau karuniakan kepada kami.”

Apabila dari hubungan mereka berdua ditakdirkan tercipta seorang anak, niscaya setan tidak akan mampu membahayakannya selamanya. (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjelaskan, “Ini adalah suatu hal yang jelas. Pengikut sunnah dalam urusan ini termasuk hal yang agung, karena merupakan realisasi terhadap peribadatan dan memurnikan ittiba’/mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada keraguan bahwa seorang hamba tentu benar-benar bersemangat untuk menjauh dari setan, dan dirinya dia serta anak-anaknya dijauhkan dari berbagai tipu daya setan. Dia memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan dan tipu dayanya. Sampai-sampai dia memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjauhkan anak yang dikaruniakan kepadanya dari tipu daya setan.

Perhatikanlah bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini. Sudah selayaknya seorang hamba mengikuti sunnah sampai pun dalam hal seperti ini. Mengikuti sunnah adalah kebaikan.” (Huququl Aulad, hlm. 19)

 

  1. Doa kebaikan bagi anak setelah dilahirkan

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ

“Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu.” (al-Ahqaf: 15)

Doa kebaikan bagi anak kita adalah sebaik-baik sedekah yang bisa kita berikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 1009)

Demikian pula, itu adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala. Kita menginginkan keselamatan dan kebahagiaan.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لَِأخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dari Anas radhiallahu ‘anhu no. 13)

 

Peringatan: Orang tua tidak boleh mendoakan kejelekan bagi anak-anaknya dalam kondisi apa pun, baik senang maupun susah, taat maupun maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Jangan kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim no. 3014)

Dikisahkan, ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah. Dia mengeluhkan kelakuan sebagian anak-anaknya kepada beliau. Beliau rahimahullah balik bertanya, “Apakah kamu pernah mendoakan kejelekan atasnya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Beliau rahimahullah berkata, “Engkau telah merusaknya (dengan doamu).”

 

Adab Berdoa dan Sebab Terkabulnya Doa

Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan empat adab berdoa dan sebab terkabulnya doa.

 

  1. Bepergian jauh (safar)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tatkala menempuh safar, hal itu akan lebih mendekatkan terkabulnya doa. Sebab, keadaan yang seperti itu akan menjadikan jiwa dan hati seseorang hancur karena jauh dari kampung halamannya. Dia menanggung berbagai kesusahan dalam safarnya. Remuknya hati merupakan sebab yang paling besar akan terkabulnya doa.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/269)

 

  1. Penampilan dan pakaian yang lusuh, kusut, serta berdebu

Hal ini diterangkan oleh hadits,

رُبَّ أَشْعَثَ أَغَبْرَ مَدْفُوعٍ بِالَأبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأبَرَّهُ

“Boleh jadi, orang yang kusut rambutnya, berdebu (pakaiannya), ditolak di pintu-pintu, seandainya dia bersumpah atas nama Allah subhanahu wa ta’ala, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan mengabulkannya.” (HR. Muslim)

 

  1. Menengadahkan kedua tangan ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Salman radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

            “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahamalu dan Mahamulia. Dia subhanahu wa ta’ala malu apabila seorang hamba mengangkat kedua tangannya dan meminta kepada-Nya, lalu dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong lagi kecewa (tidak dikabulkan).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

 

  1. Mengulang-ulangi doa dengan menyebut Rabbnya

Hal ini menunjukkan seorang hamba sangat berharap terkabulkan doa-doanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا، وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

“Apabila berdoa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sampai tiga kali. Apabila meminta, beliau n mengulangi permintaannya tiga kali.” (HR. Muslim)

 

Peringatan: Sungguh, makanan, minuman, dan pakaian yang haram bisa menjadi penghalang terkabulnya doa, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’d radhiallahu ‘anhu, “Perbaguslah makananmu (dengan makanan yang halal), niscaya doamu terkabulkan.”

Oleh karena itu, hendaknya para orang tua tidak merasa bosan dan putus asa untuk mengharapkan kebaikan dan perbaikan bagi anak-anaknya. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengabulkan doa-doa kita demi kebaikan kita dan mereka. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Tiga Hal yang Menyelamatkan

Ketika Iblis dikutuk oleh Allah ‘azza wa jalla dan dikeluarkan dari jannah (surga) karena membangkang terhadap perintah-Nya, ia bersumpah di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk menyesatkan bani Adam dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Tujuannya agar mereka menjadi teman-temannya dalam api neraka.

Ancaman Iblis ini tidak hanya isapan jempol, tetapi ia buktikan dengan mengirim bala tentaranya ke seluruh penjuru bumi. Disesatkannya bani Adam dengan beragam bujuk rayu dan janji-janji yang menipu. Tiada yang selamat dari kejahatan Iblis beserta kroni-kroninya kecuali orang yang mendapat perlindungan dari Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, Allah Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Tidak dibiarkan para hamba menjadi santapan empuk makhluk jahat tersebut. Melalui lisan Rasul-Nya, Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan jalan-jalan keselamatan dari kejelekan Iblis, bahkan kejelekan dunia dan akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّوَالْعَلَانِيَّةِ، وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى

“Tiga hal yang menyelamatkan: takut kepada Allah ‘azza wa jalla saat sendirian dan di hadapan orang,bersikap adil saat senang dan marah dan bersikap pertengahan di saat fakir dan kaya.” (HR. Abu asy-Syaikh dalam at-Taubikh dan ath-Thabarani dalam al-Ausath dari Anas radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hasan dengan banyaknya jalan periwayatan. Lihat ash-Shahihah no. 1082)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Empat perkara yang siapa memilikinya akan dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla dari setan dan dicegah dari api neraka, yaitu mampu mengendalikan dirinya di saat senang, pada saat takut, saat dorongan syahwat, dan saat marah.” (al-Wafi fi Syarhil Arba’in hlm. 103)

 Tiga-Jari

Takut kepada Allah

Seperti telah disebutkan di atas bahwa manusia menjadi target setan untuk disesatkan dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Apabila seseorang tidak memiliki perisai yang tangguh, akan sangat mudah bagi setan untuk mencelakakannya.

Di antara perisai yang kuat adalah sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dalam segala keadaan. Ketika seorang memiliki sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan merasa selalu diawasi oleh-Nya, dia akan menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. Dengan demikian, dia akan selamat dan sukses dunia serta akhiratnya.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla tidak akan muncul kecuali dari orang yang mengenal keagungan Allah ‘azza wa jalla, kerasnya siksa dan kemampuan-Nya untuk membalas perbuatan hamba- Nya. Tanpa mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benar pengenalan, maka rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla mustahil akan muncul, sebagaimana dikatakan, “Tak kenal maka tak sayang.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

        إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kenal dengan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Orang yang membaca sirah/perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menemukan buktinya. Apabila dalam shalat beliau membaca ayat yang berkaitan dengan azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari azab. Bahkan, beliau terkadang menangis dalam shalatnya.

Orang yang mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sepenuh pengenalan akan merasa ucapan dan perbuatannya selalu dipantau, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang. Inilah rasa takut yang benar, bukan seperti umumnya orang yang menampakkan seolah-olah takut dan taat kepada Allah ‘azza wa jalla ketika di hadapan banyak orang, namun saat sendiri berani bermaksiat kapada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang takut kepada-Nya saat sendirian, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ ١٢

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al-Mulk: 12)

Rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan faktor pendorong yang kuat untuk meninggalkan larangan Allah ‘azza wa jalla.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang takut bukan (hanya) yang menangis dan menitikan air mata. Orang yang takut (sesungguhnya) ialah orang yang meninggalkan apa yang perkara haram yang ia sukai padahal dia mampu untuk menjalankannya.”

Dari penjelasan ini, kita mengetahui sangat besar pula pahala orang yang melakukan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sembunyi-sembunyi, hanya antara ia dan Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula orang yang meninggalkan yang haram dalam kondisi sunyi padahal ia mampu melakukannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang tujuh golongan yang dinaungi dengan naungan Allah ‘azza wa jalla pada hari yang tiada naungan selainnaungan-Nya.

Di antara mereka ialah seorang yang berzikir mengingat Allah ‘azza wa jalla saat sendirian lalu meneteskan air matanya, dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dalam hadits tersebut juga disebutkan tentang seorang lelaki yang diajak berbuat zina oleh seorang wanita yang cantik dan bangsawan lantas ia berkata, “Aku takut kepada Allah ‘azza wa jalla, Rabb alam semesta.”

 

Bersikap Adil Saat Senang dan Marah

Hal ini tidak mudah tentunya, karena umumnya manusia menjadi buta dan tuli apabila mencintai sesuatu. Maksudnya, ia tidak memandang kejelekan yang ada pada yang dicintainya sebagai suatu kejelekan, sebagaimana ia tuli dan tidak bisa mendengarkan nasihat tentangbahayanya apa yang ia cintai. Berbeda halnya dengan seseorang yang membenci sesuatu (walaupun menurut timbangan syariat bukan sesuatu yang harus dibenci), ia akan mencari-cari kelemahan yang dibencinya.

Karena itu, sikap yang adil dan berucap yang benar menjadi sesuatu yang sangat langka kita jumpai di tengahtengah masyarakat. Bagaimana tidak?! Tidak jarang kita dapati di tengah-tengah masyarakat, orang yang berlaku zalim terhadap orang lain karena cintanya terhadap orang tersebut. Segala kritikan membangun yang diarahkan kepada orang yang dicintainya akan dia tolak mentah-mentah. Terkadang dia justru melakukan perlawanan secara fisik demi membela orang yang dicintainya, meskipun ia salah secara timbangan agama. Inilah yang dinamakan fanatik buta.

Misal yang sangat nyata adalah para pengagum Sayid Quthub. Mereka membela Sayid Quthub mati-matian, seolah-olah ia seorang nabi yang maksum. Namun, di sisi lain mereka menjelek-jelekkan para ulama, semisal asy-Syaikh Rabi’, yang membeberkan kekeliruan Sayid Quthub dalam kitab-kitabnya, terutama kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yang lebih memiliki corak tafsir secara sastra. Asy-Syaikh Rabi’ melakukan kritikan terhadap kesalahan-kesalahan Sayid Quthub seperti ini sebagai wujud membentengi umat dari kebatilan dan agar kesalahan-kesalahan Sayid Quthub tidak diikuti.

Demikian pula, kadang ada orang tua yang melebihkan pemberian kepada anak yang dicintainya daripada anak-anaknya yang lain hingga timbul keretakan di tengah-tengah keluarga. Ini sebabnya karena tidak mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperturuti nafsu yang sesat.

Seperti itu pula halnya, sulit bagi seseorang untuk bersikap adil di kala ia marah. Sebab, saat marah, biasanya orang lebih suka memperturuti hawa nafsunya dan sulit mengendalikan dirinya. Orang yang marah fisiknya goncang dan benaknya kacau. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah, sebagaimana hadits riwayat Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasai dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Sikap adil dan ucapan yang benar hendaknya selalu dipegang erat oleh seorang muslim, baik terhadap kawan maupun lawan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Hal ini tentu menjadi salah satu di antara sekian banyak keindahan agama Islam ini. Sejarah menjadi saksi tentang indahnya Islam yang bisa dirasakan oleh kaum muslimin, bahkan oleh orang kafir sekalipun.

Disebutkan dalam hadits sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa dahulu ada seorang wanita dari kabilah Makhzum mencuri dan akan dipotong tangannya. Keluarga wanita tersebut tidak ingin tangan wanita itu dipotong. Mereka pun mencari seorang sahabat agar menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya wanita itu tidak dipotong tangannya. Mereka menemukan sahabat yangdicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pesan mereka kepadaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah menyampaikan pesan mereka. Nabi pun menegurnya seraya mengatakan, “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Di kala seorang marah, sulit baginya untuk mengontrol ucapan dan perbuatannya. Karena itu, dahulu dikatakan, “Kemarahan awal timbulnya seperti kegilaan, dan ujungnya hanyalah penyesalan.”

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang menahan amarahnya dan mempersiapkan bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133—134)

Syariat memandang bahwa orang yang memperturuti nafsu amarahnya dan tidak mampu mengendalikan dirinya adalah orang lemah yang telah dikuasai oleh kejelekan.

Apabila dirunut, marah itu timbulnya dari setan. Maka dari itu, ketika marah seseorang dianjurkan berta’awudz (berlindung) kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan.

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dahulu ada dua orang sahabat bertengkar di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya mencela temannya dalam kondisi marah dan wajahnya memerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila ia ucapkan niscaya akan hilang darinya apa yang ia alami. Seandainya ia membaca,

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan yang terkutuk.”

Malik bin Dinar berkata, “Sejak aku mengenal orang, aku tidak memedulikan pujian mereka dan tidak pula celaan mereka. Sebab, aku tidak melihat kecuali orang yang berlebih-lebihan ketika memuji atau mencela.” (Syarh Hadits “Allahumma bi’ilmikal ghaib” karya Ibnu Rajab hlm. 47)

 

Bersikap Sederhana Saat Miskin dan Kaya

Sikap seperti ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat miskin, terkadang seorang berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama, misalnya mencari penghasilan dengan cara-cara yang dilarang. Demikian pula terkadang ia menjadi kikir untuk beramal dan berinfak karena takut hartanya habis. Sebaliknya ketika seorang kondisinya kaya, ia cenderung berfoya-foya dan melampaui batas, bahkan menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Seorang muslim dibimbing untuk bersikap lurus dalam dua keadaan tersebut. Dia memandang bahwa nikmat adalah ujian, sebagaimana penyakit dan kefakiran adalah cobaan.

Seorang mukmin sejati akan selalu meniru kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terkumpul padanya sikap syukur dan sabar. Apabila punya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kikir barang sedikit pun. Bahkan, orang yang meminta kepadanya tidak akan pulang dengan tangan hampa. Di kala punya, beliau memberi dengan pemberian orang yang tidak takut fakir karena percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketika haji wada’ beliau berkurban dengan seratus ekor unta.

Sikap yang pertengahan seperti ini pula yang beliau contohkan. Di saat sulit dan sempit beliau bersabar dan tidak mengeluh. Beliau tinggal beserta keluarganya sekian hari lamanya tanpa ada yang dimakan selain kurma dan yang diminum hanya air biasa. Ketika beliau mendatangi sebagian istrinya pada suatu hari dan menanyakan adakah makanan pada mereka, lalu dijawab bahwa tidak ada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Apabila seseorang itu fakir, (hendaknya) ia tidak kikir karena takut hartanya habis, namun juga tidak boros sehingga terbebani dengan sesuatu yang sulit baginya.”

Hal ini sebagaimana bimbingan Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya,

وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا مَّحۡسُورًا ٢٩

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam membelanjakan) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (al-Isra’: 29)

Apabila seorang itu kaya, janganlah kekayaannya mendorongnya bersikap boros dan melampaui batas. Hendaknya ia tetap bersikap pertengahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (al-Furqan: 67)

Meskipun saat kaya seorang muslim melebihkan pembelanjaan hartanya dibandingkan ketika fakir, tetapi ia sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang kekayaannya menyeretnya kepada sikap melampaui batas…

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah ditegur oleh (orang) pada masa kekhalifahannya karena berpakaian sederhana. Ali radhiallahu ‘anhu menjawab bahwa hal ini lebih jauh dari sikap sombong dan lebih tepat agar beliau dicontoh oleh muslim yang lain.

Demikian pula Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah ditegur di masa kepemimpinannya tentang sikap membatasi (nafkah) atas dirinya (sederhana). Beliau berkata, “Sungguh, kesederhanaan yang paling utama adalah ketika seorang itu kaya, dan pemberian maaf yang paling utama adalah ketika seorang mampu membalas.” (Syarh hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib hlm. 46—47)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis Oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Dusta, Prinsip Agama Rafidhah (Syiah)

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

dusta

Fitrah manusia mencintai kejujuran dan membenci kedustaan. Namun, apabila hawa nafsu telah menguasai seorang dan fanatik buta telah merasuki dirinya, fitrah kesuciannya menjadi rusak dan berubah. Kedustaan yang sebelumnya ia benci akan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan, ada yang lebih parah dari itu, kedustaan dijadikan sebagai salah satu prinsip beragama, seperti agama Rafidhah (Syiah).

 

Kedustaan, Ciri Khas Munafik

Orang-orang munafik yang tinggal bersama masyarakat muslimin ibarat duri dalam daging. Di satu sisi, orang-orang munafik secara lahiriah menampakkan seolah-olah bagian muslimin. Akan tetapi, di sisi lain mereka memendam kebencian kepada Islam dan muslimin.  Kapan pun ada peluang untuk menjelek-jelekkan Islam, akan mereka lakukan. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan tentang mereka, di antaranya,

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, sesungguhnya kamu benarbenar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, memungkirinya; dan apabila diamanahi, ia berkhianat.” ( HR. al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kemunafikan Yahudi dan Syiah

Kemunafikan merupakan sifat Yahudi yang menonjol. Watak jahat ini sudah muncul sejak awal munculnya bangsa Yahudi. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di antara bentuk kemunafikan mereka,

Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman”; dan apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. (Ali Imran: 119)

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Bisa jadi, seseorang akan heran, bagaimana bisa orang-orang Yahudi suka bermunafik padahal mereka memiliki kitab agama? Bahkan, bermunafik merupakan sifat yang selalu melekat pada mereka?

Apabila seseorang menelaah kitab-kitab Yahudi, terkhusus kitab Talmud, niscaya akan didapatkan jawaban bahwa sifat jelek tersebut ada pada mereka karena para penulis kitab Talmud telah menanamkan kemunafikan pada jiwa mereka. Mereka memoles kedustaan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan sebuah cara untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang berkaitan dengan agama atau pribadi mereka.

Di antara yang disebutkan dari mereka ialah seorang Yahudi boleh berbasa-basi dengan non-Yahudi secara lahiriah demi menghindari kejelekannya, dengan syarat ia tetap memendam kebencian kepadanya.

Salah seorang penulis Talmud mengatakan, “Bermunafik dibolehkan. Seorang—Yahudi—memungkinkan untuk berlaku sopan dengan orang kafir dan mengatakan kecintaan kepadanya secara dusta, apabila dikhawatirkan ia akan tertimpa mudarat.”

Selain itu, mereka menampakkan seolah-olah mengucapkan salam kepada muslimin padahal mereka menyembunyikan pada diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan. Oleh karena itu, setelah penjelasan ini seorang muslim tidak pantas tertipu oleh trik-trik Yahudi dalam bermunafik, seperti apa pun mereka menampakkan kecintaan.

Allah ‘azza wa jalla telah membeberkan trik-trik jahat mereka dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman-Nya,

“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.” (al-Mujadalah: 8)

Di antara bentuk kemunafikan mereka ialah menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara ikut serta dalam perayaannya, bahkan berpura-pura memeluk agama orang lain.

Hal ini seperti tertera dalam kitab Talmud, “Apabila seorang Yahudi bisa menipu para penyembah berhala dengan mengaku-ngaku bahwa ia termasuk penyembah bintang (berhala), boleh ia lakukan.”

Sengaja kami menyebutkan trik-trik kemunafikan Yahudi agak panjang, karena ada sisi kesamaan dengan orang-orang Rafidhah (Syiah). Bagaimana tidak?! Bahkan, yang memunculkan agama Syiah adalah seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’. Ia berpura-pura masuk Islam demi merusak kaum muslimin dari dalam. Hal ini juga diakui oleh orang-orang Syiah sendiri, sebagaimana yang dinukil oleh al-Mamiqani dalam kitab mereka, yaitu Tanqihul Maqal (2/184), dari al-Kisysyi—pimpinan ulama Syiah dalam bidang al-jarh wat ta’dil.

Berikut ini teks terjemahannya, “Ulama telah menyebutkan bahwa dahulu Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi, lalu masuk Islam dan menyatakan kecintaannya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, Abdullah bin Saba’ mengatakan tentang Yusya bin Nun bahwa ia adalah orang yang diwasiati oleh Nabi Musa (untuk memimpin Bani Israil sepeninggal Musa). Ketika masuk Islam, dia pun mengatakan seperti itu tentang Ali (yaitu yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang memasyhurkan keyakinan tentang keimaman Ali dan menampakkan sikap benci kepada lawan-lawan Ali[1].” (lihat mukadimah Muhibbuddin al-Khathib terhadap kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsnai al-‘Asyariyah)

Dari penjelasan di atas, teranglah bahwa memang ada benang merah antara Yahudi dan Syiah. Karena itu, didapatkan banyak titik kesamaan antara dua agama tersebut, tak terkecuali dalam masalah tipu-menipu dan berdusta.

Orang-orang Syiah membolehkan berdusta terhadap orang yang bukan kelompoknya, terlebih lagi terhadap Ahlus Sunnah.

Orang-orang Syiah punya trik untuk menyembunyikan keyakinan dan agamanya di sisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan sampai pada tingkatan berpura-pura mengikuti agama atau kelompok selain mereka. Mereka mengatakan bahwa ini adalah bentuk taqiyyah ( تَقِيَّةٌ ), yang sebenarnya merupakan bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, apabila mereka merasa memiliki kekuatan, mereka berterus terang tentang agamanya (Syiahnya) dan menampakkan permusuhan serta kebencian kepada selain kelompok mereka, lebih-lebih terhadap Ahlus Sunnah. Mereka akan membuka agama yang selama ini mereka sembunyikan.

 

Hakekat Taqiyyah Menurut Syiah

Yusuf al-Bahrani—salah seorang pembesar Syiah di abad ke-12 H—, “Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kecocokan kepada orang yang tidak sepaham pada apa yang mereka yakini karena takut.”

Al-Khumaini berkata, “Taqiyah artinya seseorang mengatakan suatu perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat. Hal itu dilakukan demi menjaga darah, kehormatan, atau hartanya.”

Dari pemaparan para tokoh Syiah di atas, bisa diambil empat kesimpulan, yaitu:

  1. Makna taqiyah adalah menampakkan kepada orang lain sesuatu yang menyelisihi batinnya.
  2. Taqiyyah digunakan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, sehingga seluruh muslimin masuk dalam keumuman (orang yang tak sepaham dengan mereka).[2]
  3. Taqiyyah digunakan pada perkara agama yang diyakini oleh orang-orang yang tidak sepaham.
  4. Taqiyyah dilakukan ketika dia mengkhawatirkan agama, jiwa, atau hartanya.

 

Kedudukan Taqiyyah Menurut Syiah

Taqiyyah dalam agama Rafidhah (Syiah) memiliki posisi yang tinggi, seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab induk mereka.

Al-Kulaini dan yang lainnya meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq bahwa ia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah.”

Ali bin Muhammad berkata kepada Dawud ash-Sharmi, “Wahai Dawud, kalau aku katakan kepadamu bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan shalat, niscaya aku benar (ucapannya).”

Diriwayatkan juga dari al-Baqir bahwa ia berkata, “Akhlak termulia dari para imam dan orang mulia kalangan Syiah kita adalah menggunakan taqiyyah.”

Orang-orang Syiah melakukan taqiyyah berdalilkan dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Rafidhah mengaku mengamalkan ayat ini (Ali Imran ayat 28), padahal ayat ini merupakan bantahan atas mereka. Sebab, yang pertama kali diajak bicara dengan ayat ini adalah orang-orang mukmin yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikatakan kepada mereka, ‘Orang-orang yang beriman tidak (boleh) menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong/teman dekat selain orang-orang yang beriman…’

Dan telah maklum bahwa tidak ada dari kaum mukminin yang ada di Madinah pada zaman Nabi yang menyembunyikan keimanannya dan tidak menampakkannya kepada orang-orang kafir, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah terhadap mayoritas (kaum muslimin)…

Orang Rafidhah adalah orang yang paling besar menampakkan “kecintaan” kepada Ahlus Sunnah, kala mereka tidak mau menampakkan agamanya. Mereka justru menghafal (dalil-dalil) tentang keutamaan sahabat Nabi dan syair-syair yang memuji sahabat dan mencela Rafidhah. Suatu hal yang dengan itu mereka mengharapkan kecintaan dari Ahlus Sunnah.

Salah seorang mereka tidak mau menampakkan agama (Syiah)nya sebagaimana halnya orang-orang beriman menampakkan agamanya kepada orangorang musyrikin dan ahli kitab.

Dari penjelasan ini, diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jauh pengamalan ayat ini. Adapun firman Allah ‘azza wa jalla,

“Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)

Mujahid rahimahullah berkata, “Kecuali karena siasat. Siasat (di sini) bukan dengan (mengatakan), ‘Aku berdusta dan mengatakan dengan lisanku apa yang tidak ada pada hatiku.’ Sebab, yang seperti ini adalah bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, yang dimaksud dengan siasat adalah aku melakukan (agama) sesuai kemampuanku….

Apabila seorang mukmin berada di antara orang-orang kafir dan jahat, tidak bisa menjihadi mereka dengan tangan karena tidak mampu, jika mampu ia lakukan dengan lisannya; apabila tidak mampu, dengan hatinya. Namun, dia tidak melakukan kedustaan dan mengatakan dengan lisannya apa-apa yang tidak ada pada hatinya.

Adakalanya seorang mukmin yang tinggal di tengah-tengah mereka menampakkan agamanya, adakalanya menyembunyikannya, namun bersamaan dengan itu ia tidak mencocoki agama orang-orang kafir….

Adapun orang Rafidhah tidaklah bergaul dengan seorang pun kecuali menggunakan cara-cara kemunafikan. Sebab, agama yang ada pada hatinya adalah agama rusak yang mendorongnya untuk berdusta, berkhianat, menipu manusia, dan menghendaki kejelekan kepada manusia.” (Minhajus Sunnah 6/421—425)

 

Rafidhah Berkolaborasi dengan Orang-Orang Kafir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (1/20) tentang mereka, ‘Sesungguhnya, mereka adalah para pengekor hawa nafsu yang paling bodoh dan zalim. Mereka memusuhi waliwali Allah ‘azza wa jalla yang terbaik setelah para nabi, dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka (Rafidhah) loyal kepada orang-orang kafir dan munafik dari Yahudi, Nasrani, dan musyrikin, serta segenap orang-orang atheis seperti kelompok Nushairiyah, Isma’iliyah, dan orang-orang sesat selain mereka.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 133)

Husain bin Ali Hasyimi mengatakan, “Kerjasama militer antara Israel dan Iran terus berlanjut dan tidak terputus.”

Menteri Luar Negeri Israel (negeri Yahudi) di masa pemerintahan Netayahu, David Levi, mengatakan, “Sesungguhnya Israel tidak pernah mengatakan pada suatu hari bahwa Iran (negeri Syiah) adalah musuh.”

Mantan Perdana Menteri Yahudi, Ariel Sharon, mengatakan, “Aku tidak memandang bahwa Syiah adalah musuh Israel lebih lanjut.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 134)

Dari sini, jelas bahwa apa yang sering diberitakan di beberapa media bahwa negeri Syiah akan menyerang Israel hanyalah sandiwara politik guna menarik simpati dunia Islam kepada negeri Syiah, Iran.

 

Orang-Orang Rafidhah (Syiah) di Mata Ulama

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Jangan ajak bicara mereka dan jangan ambil riwayat dari mereka. Sebab, mereka biasa berdusta.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang lebih berani bersaksi palsu daripada orang Rafidhah.”

Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “(Riwayat) ditulis dari setiap ahli bidah—apabila ia bukan penyeru kebid’ahan—selain orang-orang Rafidhah, karena mereka biasa berdusta.” (al-Muntaqa min Minhajil I’tidal, adz-Dzahabi hlm. 23)

Setelah pemaparan di atas, bisa jadi ada yang bertanya, mengapa Syiah menjadikan taqiyyah sebagai bagian agama mereka?

Jawabannya, di antara sebabnya adalah bobroknya keyakinan-keyakinan mereka. Mereka sadar, jika manusia sampai mengetahui hakikat agama Syiah, akan membahayakan orang-orang Syiah dan agamanya. Sebab, dalam agama Syiah terdapat kebatilan besar yang tidak bisa diterima oleh syariat yang benar, fitrah, dan akal sehat.

Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita dari makar-makar jahat mereka. Wallahu a’lam.


[1] Yang dimaksud “lawan-lawan Ali” oleh al-Kisysyi ini sebenarnya adalah teman-teman Ali radhiallahu ‘anhu, yaitu para sahabat Nabi g.

[2] Bahkan, terkadang mereka bertaqiyah dengan sesama mereka sendiri. (-ed.)

Demokrasi Merusak Moral Generasi

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

anti-demokrasi

Allah mengabarkan dalam kitab-Nya,

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Rabbmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian).” (al-Baqarah: 105)

Yahudi dan Nasrani terus berupaya memurtadkan kaum muslimin dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan.

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (al-Baqarah: 217)

Bahkan, mereka rela mengorbankan materi yang banyak demi kepentingan ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (al-Anfal: 36)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Kemudian Allah memberitakan bahwa orang-orang kafir terus-menerus akan memerangi orangorang yang beriman. Tujuan mereka bukan semata-mata harta dan jiwa kaum muslimin. Ada yang memurtadkan kaum muslimin dari agamanya hanya bertujuan agar kaum muslimin menjadi calon penghuni neraka yang menyala-nyala.

Mereka mengerahkan segala kemampuan untuk merealisasikan tujuan itu. Berbagai cara akan mereka lakukan. Terkhusus ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka menggunakan beragam lembaga guna menebarkan dakwahnya, mengirim para dokter, dan membangun sekolah-sekolah untuk menarik umat ini ke dalam agama mereka. Mereka juga memasukkan berbagai syubhat (kerancuan-kerancuan) kepada kaum muslimin agar ragu terhadap agamanya.” (Taisir al-Karimir Rahman)

Di antara makar mereka untuk mewujudkan ambisi busuk tersebut adalah pemaksaan ideologi demokrasi ke negaranegara yang mayoritas penduduknya muslim, seperti Indonesia, Yaman, Mesir, dan sebagainya. Berikut ini bukti-bukti kebobrokan pemilu, salah satu bagian dari demokrasi yang telah dan terus akan merusak moral generasi kaum muslimin.

 

Godaan Wanita dan Pemilu

Yahudi dan Nasrani menjadikan demokrasi dan pemilunya sebagai senjata yang ampuh untuk merusak moral kaum muslimin, terutama kaum hawa, dengan berbagai cara. Di antaranya ialah isu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, baik dalam hak pilih/suara maupun hak jabatan atau kedudukan.

Bahkan, demi membangkitkan semangat para wanita untuk tutut berlomba-lomba mendapatkan kedudukan/jabatan itu, dibuatlah perundang-undangan secara khusus dengan argumentasi yang rusak bagi kaum hawa agar suara mereka terwakili di parlemen atau DPR, demikian juga di KPU (Komisi Pemilihan Umum). Dalam pemilu ini, ditargetkan minimal 305 (30%) anggota dewan atau anggota KPU diduduki oleh kaum hawa. Hal ini temaktub di dalam UU no. 15 tahun 2011 tentang penyelenggaraan pemilihan umum pasal 6 ayat 5 bahwa, “Komposisi KPU, KPU propinsi, dan KPU kabupaten/kota memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen).”

Dengan demokrasi dan pemilunya ini, rusaklah fitrah wanita pada khususnya dan hancurlah moral kaum muslimin pada umumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya tentang akan hancurnya umat dengan sebab wanita, sebagaimana dalam hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرَّ عَلَى رِجَالٍ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan suatu cobaan yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada godaan para wanita.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dalam hadits sahih yang lain,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) hijau (di pandangan mata) dan sesungguhnya Allah yang menjadikan kalian silih berganti untuk mendapatkan dunia (dari orang-orang) sebelum kalian. Dia akan melihat bagaimana kalian akan beramal. Karena itu, takutlah kalian dengan (ujian) dunia dan (godaan) wanita karena ujian yang pertama kali menimpa bani Israil adalah ujian wanita.” (HR. Muslim)

Di antara keburukan yang terjadi pada masa pemilu adalah,

  • Hilangnya rasa malu para wanita pada khususnya dan kaum laki-laki pada umumnya, tatkala mereka bercampur baur tempat kampanye, TPS (Tempat Pemungutan Suara), dan yang sejenisnya. Ditambah lagi penampilan sebagian mereka yang membangkitkan syahwat. Padahal, rasa malu adalah sumber keselamatan dan kebaikan, sebagaimana sabda Nabi,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu itu tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa rasa malu adalah ajaran nabi sebelumnya,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَ مَالِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Di antara ucapan kenabian terdahulu yang masih didapati oleh manusia ialah apabila engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari no. 5769)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Perintah ini bermakna ancaman. Jadi, makna hadits di atas ialah, apabila engkau sudah tidak memiliki rasa malu, perbuatlah sesukamu dan Allah ‘azza wa jalla akan membalas perbuatanmu itu, sebagaimana firman-Nya,

“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushshilat: 40)

  • Terpampangnya foto-foto wanita yang mencalonkan diri dengan berbagai gaya, seperti jilbab gaul dan bermacam dandanan yang menimbulkan godaan. Bahkan, tidak sedikit foto itu dijejerkan dengan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Allah ‘azza wa jalla memerintah para wanita muslimah,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِي تَالٌ مَائِ تَالٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya; (pertama) suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka pakai untuk memukul orang lain, dan (kedua) para wanita yang berpakaian namun telanjang (tipis dan tidak menutup aurat). (Kalau berjalan) melekuk-lekukkan tubuhnya, dan kepala mereka seperti punuk-punuk unta (disambung dan dibesarkan ikatan rambutnya). Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan bau wanginya, padahal bau wanginya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.”

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan gambar makhluk hidup, lebih-lebih foto wanita yang menimbulkan godaan syahwat. Sabda beliau,

لا تَدَعَنَّ صُورَةً إِ طَمَسْتَهَا

“Sungguh, janganlah engkau meninggalkan sebuah gambar (makhluk bernyawa) kecuali engkau menghapusnya.” (HR. Muslim no. 969 dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain telah menjelaskan hikmahnya,

لا تَدْخُلُ الْملائَكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَ صُورَةٌ

“Malaikat rahmat tidak akan masuk ke sebuah rumah yang ada anjing dan gambar (makhluk hidup) di dalamnya.” (Muttafaqun alaih dari Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu)

  • Upaya menjadikan sebagian para wanita sebagai pemimpin atau wakil rakyat

 Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita).” (an-Nisa’: 34)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan lainnya,

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةٌ

“Tidak akan mendapatkan kebahagiaan, suatu kaum yang menjadikan wanita mereka sebagai pemimpin.”

 

Penghamburan Harta

Pesta demokrasi yang mungkar tentu membutuhkan dana yang amat besar. Betapa banyak harta yang dihamburhamburkan demi suksesnya megaproyekini, padahal ini perkara yang haram. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (al-Isra’: 26-27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang salah satu yang dimurkai Allah ‘azza wa jalla,

وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Dia membenci (perbuatan) kalian (tiga perkara): memberitakan segala sesuatu yang dia dengar (tanpa memerhatikan terlebih dahulu kebenaran dan kemanfaatannya), banyak bertanya yang tidak ada kepentingannya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Betapa banyak harta yang harus dialokasikan untuk pemilu oleh negara sejak persiapan, pelaksanaan, dan setelahnya. Akhirnya, kemiskinan dan keterpurukan ekonomi menjadi risiko yang harus ditanggung oleh bangsa dan negara.

Sebagai bukti hal ini termaktub di dalam UU. Pemilu no. 15 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum Bab VI tentang Keuangan Pasal 116 ayat 2, “Pendanaan penyelenggaraan dan pengawasan Pemilu anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden wajib dianggarkan dalam APBN.” Pasal 5,“Pendanaan penyelenggaraan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota wajib dianggarkan dalam APBD.”

Timbul pertanyaan, apakah dengan demokrasi dan pemilu, rakyat akan menjadi makmur ataukah sebaliknya? Demikian pula partai peserta pemilu dan calon anggota dewan, bupati, gubernur maupun presiden; mereka mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mendapatkan simpati masyarakat dan memenangi pemilu.

Mereka menghalalkan berbagai cara demi satu tujuan saja, yaitu menang. Senjata utamanya adalah harta. Betapa banyak harta yang mereka keluarkan untuk kampanye, pemasangan gambar atau bendera, upah anggota tim sukses/kader di daerah, amplop-amplop untuk serangan fajar pada hari pelaksanaan pemilu, dan sebagainya.

Sampai terucap oleh sebagian orang, “Barang siapa mau memberi uang yang paling banyak, aku akan memilihnya.”Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Celaka orang yang diperbudak oleh dinar, dirham, pakaian sutra, pakaian kemegahan. Apabila dia diberi apa yang menjadi keinginannya, dia akan senang (rela). Apabila dia tidak diberi, dia akan marah.” (HR. al-Bukhari no. 2730)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan terjadinya hal ini dalam hadits yang sahih,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُبَالِي الرَّجُلُ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَ مَالَهُ أَمِنْ حَرَامٍ أَمْ مِنْ حَلَالٍ

“Sungguh, akan datang suatu zaman kepada umat manusia yang setiap orang tidak peduli darimana dia akan mendapatkan harta, dari jalan yang haram atau yang halal.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Apakah partai-partai atau calon-calon yang melakukan hal ini masih diharapkan akan membela agama, bangsa, dan negara?

Boleh jadi, berbagai problem bangsa dan negara ini, seperti kasus-kasus korupsi, terjadi karena sistem demokrasi yang bobrok ini. Oleh karena itu, seorang ulama besar seperti asy-Syaikh Muqbil mengatakan, “Pemilu tidak akan mendatangkan kebaikan dunia ataupun akhirat.” (Tuhfatul Mujib, hlm. 306)

Tidak ada jalan untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini kecuali kembali kepada syariat yang mulia dan sempurna berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla melimpahkan hidayah taufik kepada masyarakat Indonesia pada khususnya untuk kembali kepada agama Islam yang mulia dan sempurna, baik secara lahir maupun batin, baik secara ilmu maupun amal.

Wallahu alam.

Adab Para Pembawa Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

quran_cover

Sepanjang sejarah manusia, belum pernah terdengar ada sebuah kitab yang seagung kitab suci al-Qur’an. Di dalamnya termuat beragam ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan terkandung ajakan kepada segala kebaikan yang dengan mengamalkannya manusia akan menjadi sebaik-baik makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Padanya ada kisah-kisah umat terdahulu yang dijadikan pelajaran bagi orang yang datang setelahnya.

Barang siapa berhukum dengan al-Qur’an niscaya ia akan menemukan keadilan yang sesungguhnya. Ayat-ayatnya bagaikan lampu dan rambu-rambu jalan yang menyinari dan menunjuki manusia dalam menapaki kehidupan dunia yang fana ini untuk menuju alam yang hakiki nan abadi.

Al-Qur’an memiliki keutamaan yang banyak, yang terbesarnya adalah al-Qur’an merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla telah memuji al-Qur’an dalam ayat-ayat-Nya yang banyak, seperti firman-Nya,

“Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi.” (al-An’am: 92)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)

Di antara keistimewaan al-Qur’an, ia telah mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah ‘azza wa jalla sehingga ia selalu terjaga kemurniannya dari ulah tangan-tangan yang jahat. Hal ini tentu berbeda denganat-Taurat dan al-Injil.

Al-Qur’an telah disifati dengan sifat-sifat kemuliaan, seperti petunjuk, rahmat, cahaya, obat, diberkahi, dan mulia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin’.” (Fushshilat: 44)

Sifat-sifat kemuliaan yang ada pada al-Qur’an juga akan didapat pada orang yang membacanya, memahaminya, dan yang mengamalkannya.

 

Berita Gembira

Bagi seorang mukmin, mengimani al-Qur’an adalah suatu keharusan karena meyakininya merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Bentuk mengimaninya adalah dengan meyakini al-Qur’an adalah kalam Allah ‘azza wa jalla dan bukan makhluk, memercayai seluruh berita yang ada padanya, menjalankan segala perintah yang termuat di dalamnya dan meninggalkan semua larangan yang tertera pada ayat-ayatnya.

Jika seperti ini keyakinan seseorang terhadap al-Qur’an, ia berhak mendapat berita gembira dari Allah ‘azza wa jalla berupa kesejahteraan hidup di dunia yang berlanjut dengan kehidupan yang serba menyenangkan di akhirat kelak. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Petunjuk Allah ‘azza wa jalla di sini adalah al-Qur’an.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, Allah ‘azza wa jalla telah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya bahwa ia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. (Tafsir ath-Thabari, 16/225)

Dengan mengikuti al-Qur’an seseorang akan terangkat harkat dan martabatnya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan Allah ‘azza wa jalla rendahkan dengan al-Qur’an ini kaum yang lain.” (HR. Muslim dari sahabat Umar radhiallahu ‘anhu)

Diangkat kedudukan orang yang mengikuti al-Qur’an pada posisi yang terpandang yang tak terbayang sebelumnya dan dihinakan orang yang menentangnya meskipun ia berangkat dari keluarga yang terpandang.

Tiada bukti yang lebih jelas untuk hal ini melebihi kondisi bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sebelumnya telah berada di tepi jurang kehancuran di mana telah berlaku di tengah-tengah mereka hukum rimba, yang kuat mencaplok yang lemah, kejahatan sosial merupakan pemandangan yang lumrah, sehingga bangsa-bangsa lain menganggapnya remeh dan rendah.

Namun, ketika cahaya kenabian menyinari Jazirah Arab, kemudian mereka mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengimani kitab yang dibawanya, berubahlah mereka menjadi bangsa yang disegani dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Dalam waktu yang singkat mereka mampu mematahkan kecongkakan dua negeri adikuasa di masa itu yaitu Persia dan Romawi, ketika dua bangsa ini menentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kitab suci yang dibawanya.

Sungguh, telah datang dalil yang banyak tentang keutamaan ahli al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (al-A’raf: 170)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa al-Qur’an nanti datang di hari kiamat memberi syafaat (pembelaan) kepada orang yang membacanya. Bagi yang membacanya, setiap satu huruf yang ia baca akan memperoleh satu kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Bahkan, orang yang mahir (pandai) dalam membaca al-Qur’an di akhirat kelak akan bersama para utusan yang mulia dari kalangan malaikat, sedangkan yang membacanya terbata-bata maka mendapat dua pahala.

 

Macam-Macam Pembawa al-Qur’an

Membaca al-Qur’an termasuk sebaik-baik zikir dan para pembawanya tergolong manusia yang terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu)

Akan tetapi untuk mendapatkan predikat sebaik-baik manusia tidak cukup hanya membaca dan mempelajarinya, tentu di sana ada persyaratan yang lain seperti ikhlas dan mengamalkan isi kandungannya.

Berikut ini macam-macam pembawa al-Qur’an.

  1. Orang yang membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an dengan memahami ayat-ayatnya serta mengamalkannya. Berita-beritanya ia percayai, segala perintahnya ia laksanakan dan semua larangannya ia tinggalkan. Ia lakukan semua ini karena mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla. Orang seperti ini tergolong manusia terbaik. Ia mulia di hadapan Allah ‘azza wa jalla dan terhormat di tengah-tengah manusia.
  2. Orang yang menegakkan hurufhurufnya, yakni ia membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah bacaannya namun tidak menegakkan hukum-hukum al-Qur’an.

Ini jenis orang yang merugi, kelak al-Qur’an akan menjadi penghujat atasnya.

  1. Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai jembatan untuk meraih pengakuan di mata manusia dan untuk menggapai posisi duniawi.

Ia tidak memuliakan al-Qur’an sebagaimana mestinya. Yang halal tidak dihalalkan dan yang haram tidak diharamkan. Orang seperti ini tak ada bedanya dengan orang yang bodoh.

  1. Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai tangga untuk mendapatkan pekerjaan yang rendah, seperti seorang menghafal al-Qur’an agar kelak disewa pada banyak kesempatan. Tujuannya, ia bisa mendapatkan uang/materi darinya.

Misalnya, ia disewa untuk membaca al-Qur’an pada acara-acara kematian dan di sisi kuburan. Seperti inilah bagiannya dari menghafal al-Qur’an. Apabila kita lihat akhlak kesehariannya, sangat bertolak belakang dari petunjuk al-Qur’an.

 

Etika-Etika Pembawa al-Qur’an

Karena mulianya al-Qur’an dan tingginya kedudukan orang yang membawanya maka sudah sepantasnya bagi para pembawa al-Qur’an untuk mengetahui adab-adab yang sesuai dengan kedudukannya.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

  1. Selalu menjaga keikhlasan hati dan hanya mengharap ridha Allah ‘azza wa jalla ketika ia membaca al-Qur’an atau menghafalnya. Tiada ambisi keduniawian di saat membacanya baik berupa pujian, harta, kepemimpinan, kedudukan di mata manusia, atau merasa tinggi di sisi rekan-rekannya.
  2. Hendaknya waspada dari sikap sombong dan bangga diri di saat banyak manusia yang belajar kepadanya. Demikian pula waspada dari sikap iri dan tidak suka jika ada orang belajar al-Qur’an dari selain dia.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan, “Aku ingin bila manusia itu mempelajari ilmu ini—yakni ilmu dan kitab-kitabnya—lalu tidak disandarkan kepadaku satu huruf pun darinya.”

  1. Menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan perangai yang diridhai, seperti sifat zuhud (tidak ada ketergantungan) terhadap dunia, dermawan, wajah yang murah senyum, sabar, tidak terburu-buru dalam menyikapi sesuatu, menjaga diri dari menggeluti usaha yang tidak mulia, khusyuk dan rendah hati, serta menjauhkan diri dari (banyak) tertawa dan sering bercanda.
  2. Menjaga kebersihan badan dengan menghilangkan kotoran yang melekat dan hal-hal yang diperintahkan oleh syariat untuk dibersihkan dari tubuh seperti memangkas kumis, memotong kuku, dan menghilangkan bau-bau yang tidak sedap.
  3. Waspada dari sifat iri dengki, riya, bangga diri, dan dari sikap merendahkan orang lain meskipun orang tersebut kedudukannya di bawahnya.
  4. Mempraktikkan hadits-hadits yang datang tentang (keutamaan) bertasbih, bertahlil, dan yang lainnya dari wirid-wirid dan doa.
  5. Selalu merasa diawasi oleh Allah ‘azza wa jalla baik di saat sepi maupun di hadapan orang lain, serta selalu bersandar (bertawakal) kepada Allah ‘azza wa jalla dalam setiap urusannya. (lihat Adab Hamatil Qur’an, al-Imam an-Nawawi hlm. 50—54)
  6. Tidak pantas pembawa al-Qur’an untuk memiliki perangai yang kaku, sikap masa bodoh, suka berteriak-teriak, dan gampang marah.

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seyogianya orang yang membawa al-Qur’an dikenal (ketaatannya) di malam hari saat manusia tidur, dan dikenal (puasanya) di siang hari saat manusia tidak berpuasa, dikenal kesedihannya (karena memikirkan dirinya) saat manusia bersuka ria, diketahui sedang menangis saat manusia sedang tertawa-tawa, diketahui bersikap diam (berbicara seperlunya) saat manusia tenggelam dalam pembicaraan, dan dikenal khusyuk saat manusia memiliki sikap angkuh.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Pembawa al-Qur’an adalah pembawa panji-panji Islam. Ia tidak pantas berkatakata yang sia-sia dan tidak pantas untuk lalai dan bermain-main bersama orang yang lalai dan bermain-main karena mengagungkan Allah ‘azza wa jalla.”

  1. Tidak pantas bagi pembawa al-Qur’an untuk meletakkan kebutuhannya kepada orang lain. Semestinya, manusialah yang menaruh kebutuhan mereka kepadanya. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin 66)

 

Beberapa Adab Saat Membaca Al-Qur’an

  1. Bila seorang ingin membaca al-Qur’an seyogianya untuk membersihkan mulutnya dengan siwak atau semisalnya.
  2. Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan suci dan seandainya seorang membaca dalam keadaan berhadats maka boleh menurut kesepakatan (ulama) kaum muslimin.
  3. Disunnahkan untuk membaca al-Qur’an di tempat yang bersih seperti masjid.
  4. Bagus kiranya orang yang membaca al-Qur’an selain dalam shalat untuk menghadap kiblat dan duduk dengan tenang. Akan tetapi, boleh juga membaca dengan berdiri ataupun berbaring karena dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca al-Qur’an dan kepala beliau pada pangkuan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. ( al-Bukhari)
  5. Ketika akan membaca al-Qur’an membaca ta’awudz.
  6. Ketika membaca hendaklah ia tenang dan memahami isi kandungannya, karena seperti inilah tujuan al-Qur’an diturunkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memahami (isi kandungan) al-Qur’an?!” (Muhammad: 24)

  1. Disunnahkan bila melewati ayat tentang rahmat (kasih sayang Allah ‘azza wa jalla) untuk meminta rahmat dan bila melewati ayat azab ia meminta perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Shahih Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, lihat at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, karya an-Nawawi)

Wallahu a’lam.

Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

 Well

Berbagai kerusakan dan kehancuran terjadi dalam urusan dunia, lebih-lebih lagi urusan agama. Penyebab utamanya adalah jauhnya umat ini dari ilmu kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jauhnya mereka dari para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits yang lainnya tentang akibat dicabutnya ilmu.

يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ

“Ilmu akan dicabut, (akibatnya) akan merebak kebodohan, berbagai fitnah,dan akan timbul banyak pembunuhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Amalan-amalan jelek ibarat penyakit, sedangkan para ulama ibarat obatnya. Apabila para ulama rusak, siapa yang akan mengobati penyakit?” (al-Hilyah, 6/361)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau tidak ada para ulama, niscaya umat manusia akan menjadi seperti binatang-binatang ternak (tidak tahu halal dan haram).” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm.167)

 

Siapakah Para Ulama?

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang keutamaan mereka dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Mereka itulah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sifat-sifat para ulama yang pantas dijadikan sebagai ikutan dan suri teladan ialah orang-orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

Orang-orang yang pantas dijadikan suri teladan adalah orang-orang yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh (pada dirinya). Orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, tidak boleh diikuti. Demikian pula orang jahil yang tidak berilmu, tidak boleh diikuti.

Tidak boleh diikuti dan diteladani kecuali orang yang mengumpulkan dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh. Adapun orang yang berilmu dan tidak sengaja berbuat salah atau menyimpang dalam perjalanan atau pemikirannya, maka pantas diambil ilmunya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 251)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Orang alim adalah orang yang ada pada dirinya sifat-sifat berikut ini,

  • Mengikuti segala sesuatu yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah,
  • Mengaitkan pemahamannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf ash-shalih,
  • Komitmen dengan ketaatan dan jauh dari kefasikan, maksiat, dan dosadosa,
  • Menjauhkan dirinya dari bid’ah, kesesatan, kebodohan, dan mentahdzir (umat) darinya,
  • Mengembalikan (dalil-dalil) yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas pengertiannya) dan tidak mengikuti (dalil-dalil) yang mutasyabih itu,
  • Khusyuk dan tunduk terhadap perintah Allah,
  • Ahli istinbath (mengambil kesimpulan hukum dari dalil) dan memahaminya. (Syarh Qaul Ibni Sirin, 116—117)

 

Perintah Menimba Ilmu dari Mereka, Bukan dari Pihak Lain

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya,

“Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata, ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari salah mengambil rujukan ilmu. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat, orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini mengandung penjelasan bahwa seorang muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang muslim tidak akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Di dalamnya ada penjelasan bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)

 

Cara Mengenali Ahli Ilmu

Ada tiga cara untuk mengenali ahlul ilmu yang berhak diambil ilmunya.

  1. Orang-orang yang berilmu dan terkenal akan keilmuannya.
  2. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’bah rahimahullah, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang masyhur/terkenal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Jarh wa Ta’dil, 2/28)

Sebagai permisalan di masa kita adalah seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dll.

  1. Bertanya pada ahlul ilmi pada zaman tersebut.
  2. Orang-orang yang masyhur bahwa dia menuntut ilmu di majelis-majelis para ulama.

Syu’bah berkata, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang terkenal (keilmuannya).” (Diriwayatkan oleh al-Khatib di dalam al-Kifayah, hlm. 161)

Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Tidak boleh diambil ilmu ini kecuali dari orang-orang yang dipersaksikan dengan menuntut ilmu.”

 

Orang-Orang yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Memerhatikan keadaan orang-orang yang berbicara di majelis untuk memberi faedah kepada orang lain akan membuahkan pembeda yang akan memilah antara orang-orang yang berhak diambil ilmunya dan yang tidak berhak.”

Ibnu Sirin berkata rahimahullah, “(Salaf) dahulu tidak bertanya tentang sanad. Tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami para perawi kalian.’ Setelah itu diteliti, perawi-perawi dari Ahlus Sunnah diambil haditsnya. Adapun perawi-perawi dari kalangan ahli bid’ah tidak diambil haditsnya.”

Sungguh, sebagian orang asing telah mengaku-aku berilmu. Sebagian ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu juga telah berbicara di majelis-majelis untuk memberi faedah kepada umat (dengan bid’ahnya). Orang yang sebenarnya lebih membutuhkan ilmu dan dakwah daripada orang-orang yang bodoh, sudah berani naik mimbar. Sungguh, salaf ash-shalih telah memperingatkan umat dari mereka.

Ahlul ilmi dan iman yang mengikuti salaf ash-shalih dengan baik senantiasa mentahdzir umat dari orang yang semacam ini dan melarang mengambil ilmu darinya disebabkan bahaya mereka terhadap masyarakat dan kesesatan serta penyimpangan yang muncul darinya.

Selanjutnya, asy-Syaikh Ahmad Bazmul menjelaskan bahwa kita bisa menyimpulkan tentang sebab-sebab pokok orang yang tidak berhak diambil ilmunya.

  1. Jahil (orang bodoh)
  2. Menyelisihi kebenaran karena syahwat dan syubhat

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menggolongkan ulama menjadi tiga.

  1. Orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia), tetapi tidak berilmu tentang perintah (syariat) Allah ‘azza wa jalla.
  2. Orang yang berilmu tentang perintah Allah ‘azza wa jalla dan berilmu tentang syariat-Nya. Orang ini adalah yang takut terhadap Allah ‘azza wa jalla dan itulah orang alim yang sempurna
  3. Orang berilmu tentang syariat Allah ‘azza wa jalla, namun tidak berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah orang yang tidak takut terhadap Allah ‘azza wa jalla, dan dialah alim yang jahat. (Syarh Qaul Ibni Sirin, hlm. 121—122)

Syaikhul Islam berkata, “Setiap muslim wajib memerhatikan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas mengamalkannya. Dia juga wajib memerhatikan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas meninggalkannya. Inilah jalan Allah ‘azza wa jalla dan agama-Nya, yaitu ash-shirath al-mustaqim. Jalan orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Ash-shirath al-mustaqim adalah jalan yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu yang syar’i dan amal yang syar’i. Barang siapa telah berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, berarti dia adalah orang yang jahat. Barang siapa beramal tanpa ilmu, berarti dia sesat.” (Majmu’ Fatawa, 11/26)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita sehingga terkumpul pada diri kita semua dua hal yang mulia, yaitu ilmu dan amal.

Amin.

Bila Suami Membiarkan Istrinya Bermaksiat

Tali pernikahan menuntut seorang suami sebagai kepala keluarga untuk memikul tanggung jawab yang tidak ringan dalam mengurusi istri dan anak-anaknya. Tanggung jawab ini tidak hanya berupa pemberian nafkah dan kebutuhan lahiriah saja. Namun lebih dari itu, yaitu memerhatikan perkara agama dengan membimbing mereka kepada ketaatan serta mencegah mereka dari kemaksiatan dan penyimpangan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Dahulu sahabat Malik bin al-Huwairits radhiallahu ‘anhu bercerita bahwa dia dan beberapa orang dari kaumnya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimba ilmu dan tinggal di sisi beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Malik bin al-Huwairits z mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang penyayang. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, beliau menanyai kami tentang orang-orang yang kami tinggalkan. Kami pun memberi tahu beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kembalilah kalian kepada keluarga kalian. Tinggallah di tengah-tengah mereka dan ajarilah serta perintahlah mereka…’.” ( Shahih al-Bukhari, no. 631)

Orang yang terdekat dengan suami adalah anak-anak dan istrinya. Merekalah orang yang paling berhak mendapatkan arahan dan bimbingan kepada kebaikan. Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya (semangat beribadah) dan membangunkan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)

Di antara sifat kemuliaan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang diabadikan oleh al-Qur’an,

“Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 55)

Apabila seorang suami memberi perhatian penuh terhadap istri dari sisi bimbingan agama, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, istrinya akan menjadi penyejuk mata baginya. Wanita yang seperti ini diharapkan mampu memberikan bimbingan yang baik terhadap putra-putrinya.

Dengan demikian, ia memiliki andil mencetak generasi masa depan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang tua, masyarakat, dan agamanya.

 

Suami yang Jelek

Suami yang mencintai istrinya tidak akan membiarkannya terjerumus dalam perilaku yang menyimpang. Sebab, cinta yang sejati menuntut seseorang untuk membentengi kekasihnya dari jurang kehancuran.

Suami yang tidak peduli dengan kondisi istrinya dan membiarkannya larut dalam kenistaan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajibannya dalam membimbing istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Seorang penguasa adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya, dan seorang lelaki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan ia akan ditanyai tentang tugasnya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar c)

Lelaki yang tidak peduli terhadap istrinya yang melanggar batasan-batasan agama adalah lelaki yang jelek. Ia berhak mendapatkan murka dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan mereka dari (memasuki) surga: orang yang kecanduan khamr, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan ad-dayyuts, yaitu yang membiarkan istrinya berbuat zina.” (HR. Ahmad dalam Musnad dari Ibnu Umar c dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami no. 3052)

Al-Munawi rahimahullah menerangkan, “Tiga golongan ini dihukumi kafir jika mereka menganggap halal perbuatannya. Surga itu haram atas orang-orang kafir selama-lamanya.

Apabila mereka menganggap perbuatan itu haram, yang dimaksud dengan surga itu haram atas mereka ialah mereka terhalangi dari memasukinya sebelum dibersihkan dengan api neraka. Apabila mereka sudah bersih, baru dimasukkan ke dalam surga.” (Faidhul Qadir 3/420)

 

Kecemburuan yang Nyaris Hilang

Cemburu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji dalah kecemburuan seseorang ketika melihat kekasihnya berbuat yang tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya cemburu ada yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan ada yang dibenci Allah…. Adapun cemburu yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu dalam perkara yang mencurigakan, sedang cemburu yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2221)

Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud (7/320) bahwa cemburu dalam perkara yang mencurigakan, seperti seorang lelaki cemburu terhadap para mahramnya bila melihat mereka melakukan perbuatan yang diharamkan, termasuk yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan, seperti seorang cemburu kepada ibunya jika ia dinikahi oleh ayah tiri, demikian pula kecemburuan para mahramnya, yang seperti ini termasuk yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan bagi kita, kita wajib meridhainya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga cemburu bila hamba-Nya berbuat maksiat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala cemburu dan sesungguhnya seorang mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah subhanahu wa ta’ala adalah jika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnul Arabi rahimahullah menerangkan, “Orang mukmin yang paling kuat cemburunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau tegas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan melakukan pembalasan hukuman karena Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau tidak peduli dalam hal ini pada celaan orang yang mencela.” (Faidhul Qadir 2/387)

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Orang yang paling mulia dan paling tinggi tekadnya adalah orang yang paling cemburu. Seorang mukmin yang cemburu pada tempatnya telah mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya. Barang siapa mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya, sifat itu akan menjadi kendalinya dan akan memasukkannya ke (hadapan) Allah subhanahu wa ta’ala serta mendekatnya kepada rahmat-Nya.” (Tuhfatul Arus, Istambuli, hlm. 387)

Seperti inilah bimbingan Islam yang sangat mulia. Masih adakah kiranya arahan seperti ini pada hati-hati para lelaki di zaman sekarang?! Sungguh, sulit didapatkan. Justru kebanyakan mereka membawa istri atau anak-anak perempuannya ke jalan-jalan umum untuk dipamerkan dan membiarkan mereka membuka aurat di jalan-jalan hingga menjadi umpan para perampok kehormatan dan kesucian.

 

Fenomena Pembiaran Maksiat pada Istri

Entah karena takut istri atau bersikap masa bodoh, dan yang pasti karena lemahnya iman, kita dapatkan tidak sedikit lelaki yang membiarkan istrinya terpaparkan pada kemudaratan. Hal ini bisa dilihat dalam banyak hal, di antaranya:

  1. Istri dibiarkan bepergian tanpa mahram.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah wanita bepergian kecuali dengan mahramnya.” ( HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Telah banyak korban berjatuhan karena melanggar aturan agama ini. Ada yang menjadi korban penipuan, perampokan, hingga pelecehan seksual.

Hukum larangan bepergian bagi wanita tanpa mahram berlaku umum, apakah bepergian dalam rangka ketaatan atau perkara yang mubah. Sesungguhnya syariat sangat sayang kepada manusia, namun amat disesalkan bahwa aturan yang mulia ini dianggap mengekang kebebasan mereka. Kadang kondisi suami lebih parah, ia justru menyuruh istrinya bekerja di luar negeri mencarikan nafkah untuknya dengan mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya.

 

  1. Berbaurnya laki-laki dan perempuan sudah menjadi pemandangan yang dianggap lumrah.

  1. Padahal ini merupakan pintu yang lebar untuk terjadinya kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

 

  1. Membiarkan istrinya berpenampilan seperti wanita-wanita yang fasik dan kafir, baik bentuk rambutnya, pakaiannya, gaya bicaranya, maupun yang semisalnya.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  1. “Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian mereka.” ( Abu Dawud dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Lihat Shahih al-Jami’ no. 6149)

Lebih parah lagi, dia bangga ketika istrinya tampil di hadapan manusia dengan penampilan ala barat (kafir).

 

  1. Tidak menasihati istrinya ketika berpakaian seperti para lelaki.

Padahal wanita yang seperti ini diancam dengan laknat,

“Allah subhanahu wa ta’ala melaknat wanita yang menyerupai lelaki dan para lelaki yang menyerupai wanita.” ( HR. Ahmad dan lain-lain, serta dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’)

 

  1. Membiarkan istrinya melakukan perbuatan mungkar dan ucapan yang maksiat.

Pembiaran seperti ini terjadi terkadang dilandasi oleh keyakinan suaminya yang sesat, yaitu bahwa setiap orang punya hak untuk bersuara dan mengekspresikan kemauannya. Orang seperti ini sangat bodoh karena dia tidak tahu bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

 

  1. Membiarkan istri digoda oleh lelaki lain dan dicandai hingga sudah kelewat batas.

Misalnya, dicium oleh lelaki lain, dicolek, dan dipegang-pegang tubuh atau bajunya. Lelaki seperti ini masih bercokol pada otaknya kebiasaan jahiliah yang memandang bahwa haknya suami dari istrinya adalah bagian setengah istrinya sampai bawah, adapun setengah tubuh istri ke atas maka siapa suka dan menaruh benih cinta. (Raudlatul Muhibbin 116, cetakan Dar ash-Shuma’i)

 

  1. Mendiamkan istrinya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lelaki yang bukan mahram.

Padahal ini termasuk jalan pintas untuk terjadinya perzinaan.

 

  1. Membiarkan istrinya dibonceng oleh lelaki yang bukan mahram dan terkadang oleh saudara laki-laki suami (ipar istri).

Padahal bermudah-mudah dalam hal ini bisa mengantarkan kepada penyimpangan istri dan tidak mustahil terjadi perselingkuhan dengan iparnya.

Masih banyak lagi bentuk ketidakberesan tingkah laku dan ucapan yang dilakukan oleh wanita yang disikapi dingin oleh suaminya. Sudah hilang darinya sifat kecemburuan dan telah lenyap jiwa kelaki-lakiannya. Yang paling mengerikan, suami yang seperti ini diancam dengan azab yang abadi, apabila ia meyakini bahwa hal tersbut halal/boleh, sebagaimana keterangan al-Munawi rahimahullah di atas.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan bimbingannya kepada kita untuk bisa menempuh jalan keselamatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Kabar Gembira bagi Orang Tua

 

12375

Ar-Rahmah adalah salah satu sifat Allah ‘azza wa jalla yang mulia, sempurna, dan terkandung dua nama dari nama-nama-Nya yang husna, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat rahmah-Nya sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)

Para malaikat yang bertugas memikul Arsy-Nya dan yang ada di sekitarnya senantiasa pun memohon kepada-Nya agar senantiasa meluaskan rahmat-Nya.

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa ‘Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu’ maksudnya meliputi alam yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang jahat, yang beriman dan yang kafir, Jadi, tidak ada satu makhluk pun kecuali benar-benar telah mendapatkan rahmat, karunia, keutamaan, dan kebaikan-Nya.

Namun, rahmat (kasih sayang) yang khusus, yang membuat seorang hamba mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, belum pasti didapatkan oleh setiap makhluk. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang siapa yang berhak mendapatkan rahmat yang khusus itu dalam firman-Nya, ‘… maka Aku tetapkan rahmat (yang khusus itu) bagi hamba-hamba yang bertakwa.’

Yaitu orang-orang yang bertakwa, yang takut terhadap berbagai kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. (Tafsir as-Sa’di)

Itulah rahasia yang terkandung dalam firman-Nya,

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab:43)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan firman Allah, “Dia Maha Penyayang hanya kepada orang-orang yang beriman,” yaitu di dunia dan di akhirat. Kasih sayang-Nya di dunia terwujud dengan Dia ‘azza wa jalla menunjuki mereka kepada al-haq (kebenaran) yang tidak diketahui oleh selain mereka. Dia menjadikan mereka melihat jalan yang lurus dengan mata hati mereka. Adapun orang-orang selain mereka menyimpang dan tersesat, baik kalangan dai yang mengajak kepada kekafiran atau kebid’ahan maupun para pengikutnya.

Adapun kasih sayang-Nya bagi mereka di akhirat, Allah ‘azza wa jalla akan melimpahkan keamanan dari rasa takut yang dahsyat sekaligus memerintah para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan kesuksesan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka. Namun, hal itu tidak mungkin didapatkan kecuali karena kecintaan dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)

Kabar Gembira bagi Mereka

Di antara bukti kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap para hamba-Nya yang bertakwa dan bersabar menghadapi berbagai problem kehidupan mereka di dunia adalah kabar gembira bagi mereka dalam rangka membesarkan hati mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya.” (at-Taubah: 21)

Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya.

“Dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

Dzat Yang Maha Penyayang memerintah Rasul-Nya untuk memberikan kabar gembira kepada para hamba-Nya yang senantiasa sabar dengan berbagai macam musibah yang menimpanya.

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah bersama orangorang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kesimpulannya, kabar gembira itu bisa terjadi pada urusan dunia dan akhirat. Maka dari itu, selayaknya seseorang senantiasa optimis dan senang dengan kebaikan, serta tidak melihat dunia yang ada di hadapannya dengan pandangan masam dan gelap hingga patah semangat dan putus asa.

Apabila dia berhasil mendapatkan kebaikan, dia mendapat ucapan selamat. Adapun kabar gembira dengan kebaikan yang dia akan dapatkan, maka berilah kabar gembira suadaramu! Jadikanlah senang hatinya! Kalau engkau melihat seseorang sedang berduka, seakan-akan dunia sempit baginya karena berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya, sampaikanlah kepadanya untuk berbahagia dengan jalan keluar (yang sudah dekat).

Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yakinilah, pertolongan itu (akan didapat) bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesusahan, dan kemudahan itu (akan datang) bersama kesulitan.” (HR. Ahmad)

 

Tiga Golongan yang Diuji dengan Anak

  1. Orang yang Belum/Tidak Dikaruniai Anak dari Perkawinannya

Allah ‘azza wa jalla lah yang menciptakan seluruh alam semesta ini. Dia pula yang berkuasa menjadikan apa saja yang Dia kehendaki. Dia berfirman,

“Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 50)

Pasangan suami istri yang belum dikaruniai atau tidak mendapatkan anak dari perkawinannya, kami nasihatkan untuk:

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengembalikan hal itu kepada-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 2-3)

  1. Boleh melakukan usaha-usaha medis, terapi, dan yang lainnya, sebagai upaya mendapatkan keturunan selama cara-cara tersebut tidak dilarang oleh agama dan disertai doa, karena Dia adalah Maha Pencipta. Allah ‘azza wa jalla menceritakan upaya Nabi Zakaria ‘alaihissalam mendapatkan keturunan di awal surat Maryam.

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra.” (Maryam: 2-5)

  1. Kasih sayang pasangan suami istri yang belum atau tidak dikaruniai keturunan bisa dicurahkan kepada anak yatim yang dipeliharanya atau anak asuh yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, mereka tidak boleh mengadopsi dengan menisbatkan nasab anak itu kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan keutamaan memelihara anak-anak yatim baik dari kerabat dekat maupun bukan, dalam sabdanya,

“Penanggung jawab anak yatimyang memiliki hubungan kekerabatan atau tidakkedudukannya di surga antara aku dan dia sangat dekat, seperti jari telunjuk dengan jari tengah.” Perawi hadits ini, yaitu Malik bin Anas rahimahullah, mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menisbatkan nasab kepada selain bapak kandungnya dalam sabdanya,

“Barang siapa mengaku-aku nasab kepada orang yang bukan bapaknya padahal dia tahu bahwa orang tersebut bukan bapaknya, haram baginya surga.” (Muttafaqun alaih)

2 . Orang-orang yang mendapatkan keturunan sedikit/banyak dari perkawinannya, baik laki-laki saja, perempuan saja, maupun keduanya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya).” (asy-Syura: 49—50)

Lahirnya keturunan adalah salah satu tujuan mulia di dalam pernikahan. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepada kaum pria untuk menikahi wanita subur yang memiliki potensi mempunyai anak. Beliau bersabda,

“Nikahilah wanita yang penyayang, yang berpotensi punya anak (subur), karena aku sungguh berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di antara para nabi nanti pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Adab az-Zifaf hlm. 16)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, seorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintai seorang wanita yang memiliki nasab dan cantik, hanya saja dia tidak bisa punya anak. Apakah aku boleh menikahinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan!”

Dia datang lagi untuk kedua kalinya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Kemudian dia datang lagi ketiga kalinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang semakna dengan hadits di atas. (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Nasihat bagi orang tua yang dikaruniai anak, sedikit atau banyak, adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, takwa adalah modal utama untuk menghadapi berbagai problem kehidupan, terutama dalam hal menunaikan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Dengan takwa, semua urusan menjadi mudah sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

  1. Sabar dan ikhlas menunaikan tanggung jawabnya terhadap mereka, terutama tanggung jawab tarbiyah (mendidik) dan memberikan nafkah, karena hal itu termasuk cobaan baginya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya hartamu dan anakanakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya yang beriman untuk mentarbiyah diri, keluarga, dan anak-anaknya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada siapa saja yang senantiasa memerhatikan dan menunaikan kewajiban ini di dalam sabdanya,

“Terus-menerus ujian dan cobaan akan dihadapi orang mukmin ataupun mukminah baik yang berkaitan dengan dirinya, anaknya, maupun hartanya sampai dia bertemu dengan Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tidak ada dosa pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5815)

Terlebih lagi mendidik anak-anak perempuan, karena lemahnya mereka dan susahnya menjaga agama maupun kehormatan mereka di zaman sekarang ini . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira di dalam sabda-Nya,

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dan dia berbuat baik kepada mereka, pada hari kiamat nanti mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

  1. Senantiasa memohon pertolongan Allah ‘azza wa jalla dalam menunaikan tanggung jawab yang berat ini.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semangatlah kamu untuk mendapatkan segala sesuatu yang akan bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Orang-orang yang dikaruniai anak, tetapi sebagian atau seluruhnya meninggal, khususnya sebelum baligh.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna,

“Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah dia ketahui.” (al-Hajj: 5)

Nasihat dan kabar gembira bagi mereka adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (ath-Thalaq: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati seorang wanita yang anaknya meninggal,

“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

  1. Bersabar dan mengharapkan pahala Allah ‘azza wa jalla dari musibah itu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku tidak memiliki balasan bagi hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil kekasihnya (orang yang dicintai) dari penduduk dunia lalu dia mengharapkan balasan dengannya kecuali surga’.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita (muslimah) mana saja yang tiga anaknya mati, maka mereka akan menjadi tameng bagi orang tuanya dari api neraka.” Ada seorang wanita bertanya, “Kalau dua anak?” Beliau menjawab, “Dua anak juga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah dua orang muslim (suami istri) yang meninggal tiga anak yang lahir dari tulang sulbinya dan mereka belum baligh kecuali Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka dan kedua orang tuanya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mereka (anak-anak itu) masih menunggu di salah satu pintu surga kemudian mereka diperintah, ‘Masuklah kalian ke surga.’ Mereka berkata, ‘(Kami akan menunggu) sampai bapak ibu kami datang.’ Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian dan kedua orang tua kalian ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat Allah ‘azza wa jalla’.” (HR. an-Nasa’i dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hlm. 34)

Akhirnya, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa bersabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan dalam kehidupan dunia ini, terkhusus dalam rumah tangga. Semoga Allah menjadikan semuanya sebagai penghapus dosa-dosa kita sehingga kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Etika Terhadap Penguasa

Suatu hal yang telah diketahui bersama bahwa urusan manusia di muka bumi ini tidak akan beres tanpa adanya penguasa yang mengatur dan mengurusi mereka. Namun pemerintah juga tidak mungkin menjalankan program-programnya yang baik tanpa ada dukungan dari rakyatnya. Oleh karena itu, Islam telah mengatur hubungan antara rakyat dengan penguasanya. Setiap pihak memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan kepada yang lain. Dengan demikian, akan terjalin komunikasi yang baik sehingga terwujud kemaslahatan bersama yaitu tegaknya agama dan lurusnya perkara dunia.

Sungguh, betapa indah kehidupanketika penguasa mencintai rakyatnya dan mengerti tanggung jawab yang dipikul di atas pundaknya lalu dijalankan dengan sepenuh ketulusan. Dengan ini rakyat akan menaruh rasa hormat dan mencintai penguasanya. Keadilan ditegakkan, Kebaikan dijunjung tinggi dan kejelekan ditumbangkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُأَئِمَّتِكُمْ الَّذِ يْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْ نَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian; serta kalian melaknat mereka dan dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Adab Rakyat Terhadap Penguasa

Karena penguasa memikul tanggung jawab yang berat dalam mengurusi perkara rakyatnya maka sudah semestinya rakyat memberikan dukungan kepada mereka dalam mewujudkan program-program yang baik. Dukungan rakyat sangat berarti sehingga penguasa semakin tulus dalam menjalankan roda kepemerintahannya. Di antara yang harus diberikan oleh rakyat kepada penguasanya adalah taat dan mendengar terhadap perintah penguasa sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa: 59)

Ketaatan kepada penguasa selalu dijalankan, baik dalam kondisi sempit atau lapang dan seperti apa pun kondisi penguasa meskipun dia berasal dari budak sahaya atau bahkan seorang muslim yang fasik. Ketaatan seorang muslim kepada penguasa semata-mata karena melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta menjaga kekondusifan suasana, bukan karena ingin cari muka, berharap materi, ataupun ambisi jabatan/ takhta. Akan tetapi, ketaatan terhadap perintah mereka pada perkara yang bukan maksiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR . Ahmad dan al-Hakim dari Imran radhiyallahu ‘anhu. Shahih al-Jami’, 7520)

Rakyat juga semestinya mendudukkan penguasa pada kedudukannya dan menghormatinya. Sebab, orang yang menghormati penguasa akan dihormati oleh Allah Subhanahu wata’ala , sedangkan yang menghinakan penguasa akan dihinakan oleh Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Abi ‘Ashim dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah (no. 1024).

Rakyat juga tidak boleh menggunjing penguasa.

Asy- Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan,  “Membicarakan (keburukan) penguasa termasuk bentuk menggunjing dan mengadu domba. Keduanya adalah perbuatan yang sangat diharamkan setelah syirik, lebih-lebih bila yang digunjing adalah para ulama dan penguasa, tentu lebih diharamkan, karena akan timbul darinya sejumlah kerusakan yaitu: tercerai-berainya persatuan dan munculnya sikap buruk sangka dan pesimis pada jiwa-jiwa manusia.” (al- Ajwibah al-Mufidah hlm. 66—67)

Mendekati Pintu-Pintu Penguasa

Kekuasaan adalah ladang yang sangat menggoda seseorang yang berkuasa untuk memenuhi hasrat nafsunya sehingga tidak sedikit penguasa yang lemah imannya menjadikan kekuasaan sebagai jembatan untuk menzalimi manusia. Dalam benaknya tersirat kalimat “mumpung menjabat.”

Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim untuk mendekati pintupintu penguasa kecuali ketika terpaksa dan keperluan yang mendesak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتُتِنَ

“Barang siapa mendatangi pintupintu penguasa, dia akan terfitnah (tergoda agamanya).” (HR . ath-Thabarani dalam al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Shahih al-Jami’ no. 6124)

Ibnu Muflih al-Hanbali rahimahumallah menerangkan, “Hadits ini dibawa (penafsirannya) kepada orang yang mendatangi penguasa untuk mencari dunia, lebih-lebih bila penguasa itu zalim. Dimaknakan pula orang yang terbiasa mendatangi pintu penguasa, karena dikhawatirkan ia akan tergoda (agamanya) dan dihinggapi sikap bangga diri.” (al-Adab asy-Syar’iyah 3/458)

Al-Munawi rahimahumallah berkata (yang maknanya) bahwa orang yang masuk kepada penguasa bisa jadi akan melihat bergelimangnya penguasa dalam beragam nikmat sehingga akan menyebabkan dirinya meremehkan nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya. Bisa jadi pula ia melihat kemungkaran pada penguasa lalu tidak mengingkarinya, padahal itu wajib dia lakukan. Adakalanya orang yang masuk kepada mereka karena menginginkan harta benda penguasa sehingga ia mengambil sesuatu yang haram.” (Faidhul Qadir 6/122)

Karena kehati-hatian para ulama, kebanyakan mereka tidak mau masuk kepada penguasa karena agama dan ilmu adalah segala-galanya. Di antara mereka adalah al-Imam Ahmad, Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, al-Fudhail, dan yang lain rahimahumullah. Bahkan, Said bin Musayyib rahimahumallah berkata, “Apabila kamu melihat seorang alim masuk kepada penguasa, waspadailah dia, karena ia adalah pencuri.”

Akan tetapi, sebagian ulama memandang bolehnya masuk kepada penguasa untuk memberi nasihat dan mengingatkan mereka. Lebih-lebih jika penguasa itu adil dan baik sehingga mendukung kebaikan penguasa. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah ‘Urwah bin az-Zubair dan Ibnu Syihab ketika menyertai khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah.” (al-Adab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al- Hanbali 3/457—467)

Menasihati Penguasa

Mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengingatkan orang yang lalai, adalah tugas yang mulia karena termasuk bagian dari dakwah. Hukum dalam berdakwah adalah mendahulukan sikap hikmah, kemudian mau’izhah hasanah. Sikap bijak dalam menasihati manusia berlaku terhadap siapa pun, lebih-lebih dalam manasihati penguasa. Berikut beberapa etika manasihati penguasa:

1. Sembunyi-sembunyi dan tidak terang-terangan

Hal ini berlandaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْابِهِ فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati penguasa hendaknya tidak menampakkannya terang-terangan, tetapi ia memegang tangannya lalu menyepi dengannya. Apabila penguasa itu menerimanya, itulah (yang diharapkan). Jika tidak, dia telah menjalankan apa yang menjadi kewajibannya.” ( HR . Ibnu Abi ‘Ashim dari sahabat ‘Iyadh bin Ghunmin radhiyallahu ‘anhu, dan dinyatakan sahih sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani)

Cara yang seperti ini, di samping merupakan petunjuk agama, juga akan menjadikan nasihat lebih mudah diterima karena penguasa tidak merasa dicemarkan namanya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang menasihati penguasa terang-terangan dan membeberkan kesalahan mereka di mimbar-mimbar, melalui surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, atau disiarkan melalui media, tentu sangat bertentangan dengan bimbingan Nabi n yang mulia.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Bukan cara salaf (generasi awal umat Islam yang terbaik) menyebarkan kekurangan-kekurangan penguasa dan membeberkannya di mimbar-mimbar. Sebab, hal itu bisa menyulut kudeta, tidak didengar dan tidak ditaatinya pemerintah dalam hal yang baik, serta mengarah kepada pemberontakan yang membawa madarat, bahkan tidak ada manfaatnya. Akan tetapi, cara yang tepat menurut salaf adalah memberikan nasihat (secara tertutup) antara mereka dan penguasa, mengirim surat kepadanya, atau menghubungi ulama yang bisa menyampaikan kepada penguasa sehingga penguasa tersebut akan dibimbing kepada kebaikan.” (Mu’malatul Hukkam karya, Abdus Salam Barjas hlm. 43)

2. Bersikap santun

Ketika mengingatkan penguasa dan menyampaikan aspirasi hendaknyammemiliki sikap santun. Jika ada yang mengatakan bahwa menyampaikanmaspirasi kepada penguasa dengan berorasi di depan publik dan berdemonstrasi adalah perkara yang sah-sah saja selama tidak mengganggu ketertiban umum, jawabannya bahwa aksi demonstrasi, baik itu aksi damai—katanya—maupun anarkis telah menimbulkan sekian banyak kemudaratan.

Misalnya, banyak layanan publik terganggu, para pengguna jalan terjebak aksi demo sehingga mereka harus mengalihkan rute, mengorbankan waktu dan biaya yang tidak sedikit secara siasia. Belum lagi seringkali ujungnya ialah aksi anarkis yang membawa dampak yang sangat serius. Ini hanya beberapa kebobrokan berdemonstrasi. Lebih-lebih bila dilihat dengan kacamata Islam, sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan adab kesopanan.

3. Tidak menggunakan katakata kasar

Cukup bagi orang yang ingin amar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa untuk mengingatkan dan menasihatinya. Adapun kalimat, ‘Wahai orang zalim,’ yang seperti ini akan menimbulkan kekacauan dan kemungkaran yang lebih besar. Cara yang seperti ini tidak diperbolehkan karena akan menimbulkan mudarat yang lebih besar. (Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 169)

Coba perhatikan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam untuk mengatakan kepada Fir’aun ucapan yang lembut padahal Fir’aun tergolong orang terjahat dan terkafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

4. Tulus dalam memberikan nasihat dan menjaga keikhlasan hati dari niat duniawi.

Ketulusan saat memberikan nasihat akan membuahkan hasil dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, baik cepat maupun lambat. Dahulu ‘Atha bin Abi Rabah masuk kepada Amiril Mukminin (Khalifah) Hisyam. Ia mengingatkan Khalifah tentang orang-orang yang berhak disantuni dari kaum muslimin. Ia juga mengingatkan Khalifah agar tidak membebani orang kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negeri muslimin) lebih dari kemampuannya. Sang Khalifah pun mengikuti nasihatnya. Lalu Khalifah mengatakan kepadanya, “Adakah keperluan yang lain?”

‘Atha menjawab, “Ya. Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala karena engkau dicipta sendirian, meninggal sendirian, dibangkitkan sendirian, dan dihisab sendirian. Sungguh, demi Allah, tidak ada seorang pun yang engkau lihat sekarang ikut menyertaimu nanti!”

Hisyam pun menangis, lalu Atha berdiri (untuk pergi). Ketika Atha sudah berada di pintu tiba-tiba ada seorang yang mengikutinya dengan membawa kantung. Tidak diketahui persis, apakah isinya perak atau emas.

Orang itu berkata, “Sesungguhnya Amiril Mukminin memberimu ini.” Atha lantas membacakan ayat,

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (asy-Syu’ara: 127)

Kemudian ‘Atha keluar. Sungguh, demi Allah, ‘Atha tidaklah minum seteguk pun dari air yang ada di sisi mereka (majelis Khalifah), bahkan tidak pula yang kurang dari itu. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin hlm. 174—175)

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc