Agar Tetap Sabar

Kesabaran menghadapi berbagai problem kehidupan adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan seorang hamba di dunia fana ini dan di akhirat nanti. Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan keutamaan bagi mereka di dunia.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)

Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Penyayang juga mengabarkan tentang kemuliaan yang akan mereka dapat di akhirat nanti,

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang yang dibalasidengan martabat yang tinggi (dalam Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (al- Furqan: 75)

Di samping itu, orang-orang yang sabar adalah golongan yang senantiasa mendapatkan pertolongan, perlindungan, dan pembelaan dari Pencipta-Nya karena Dia mencintai mereka. Hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan di dalam firman-Nya,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah kepada musuh. Allah menyukai orangorang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 146)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

…وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

“Sesungguhnya pertolongan itu (akan datang) bersama dengan kesabaran.” (HR. Ahmad)

Kesabaran, Bukti Kesempurnaan Iman Hamba

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah  menjelaskan , “ Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu tergantung pada dua hal:

1. Mengilmui kebenaran sehingga terbedakan dari kebatilan,

2. Lebih memilih kebenaran daripada kebatilan.

Tidaklah akan terbedakan kedudukan para hamba di sisi Allah Subhanahu wata’ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali karena perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dengan keduanya, Allah Subhanahu wata’ala menguji para nabi-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

Al-aidi adalah kekuatan dalam merealisasikan kebenaran (di dalam amalan), sedangkan al-abshar adalah pandangan hati terhadap kebenaran. Allah menyebutkan dua sifat mereka, yaitu kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam merealisasikannya.” (al-Jawabul Kafi, hlm. 139)

Adapun yang berkaitan dengan kesabaran, al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah menjelaskan, karena sabar adalah suatu perkara yang diperintahkan, Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kesabaran itu mempunyai sebab-sebab yang akan memudahkannya sekaligus mengantarkan (seorang hamba) untuk mendapatkan derajat kesabaran (yang mulia).

Demikianlah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan suatu hal kecuali Dia akan menolong dan mempersiapkan berbagai sebab yang akan membantu dan memudahkannya, sebagaimana Dia tidaklah menakdirkan suatu penyakit kecuali pasti telah menentukan obat baginya, sekaligus menjamin kesembuhan orang yang menggunakan obat itu. Sabar, walaupun sulit dan berat bagi jiwa, namun sangat mungkin untuk didapatkan. Sebab atau cara untuk mendapatkannya harus memenuhi dua syarat, yaitu ilmu dan amal. Kedua unsur ini adalah asal seluruh terapi yang dipakai untuk mengobati (penyakit) hati dan jasad: unsur ilmu dan amal. Dua unsur ini akan teramu menjadi obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat untuk pengobatan.

Adapun unsur ilmu, maknanya adalah memahami dan mengerti hikmah yang terkandung pada segala sesuatu yang diperintahkan, seperti kebaikan, kemanfaatan, kenikmatan, kesempurnaan. Di samping itu, memahami dan mengerti tentang hikmah yang terkandung pada segala sesuatu yang dilarang, seperti kejelekan, kerugian, atau kekurangan. Apabila seorang hamba telah memahami dan mengerti dua hal ini sebagaimana mestinya, diiringi oleh keinginan yang kuat, cita-cita yang tinggi, semangat, dan menjaga kehormatan, terbentuklah ramuan antara hal yang pertama dan yang kedua yang mengantarkannya mendapatkan derajat kesabaran. Berbagai kesulitan akan menjadi mudah, yang pahit akan berubah menjadi manis, dan kesusahan pun berubah menjadi kenikmatan. (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 46)

Kalau kita perhatikan dan simpulkan penjelasan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah, kesabaran itu akan menjadi mudah dan ringan kala terpenuhi tiga unsur: ilmu, amal, dan mujahadah (perjuangan dan kesungguh-sungguhan). Hanya saja, semua itu akan terwujud setelah adanya hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.

Sebab-Sebab yang Memudahkan Kita Bersabar

Setelah memahami penjelasan al- Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah di atas, kita akan mengulas secara terperinci tentang sebabsebab yang memudahkan seorang hamba untuk senantiasa bersabar menghadapi berbagai problem kehidupannya. Faktorfaktor tersebut akan mengantarnya mendapatkan keridhaan dan ampunan Allah Subhanahu wata’ala berdasarkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman salafus shalih.

1. Hidayah taufik dari Rabb-Nya

Seorang hamba tidak mampu melakukan dan mendapatkan suatu kebaikan sekecil apa pun, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, kecuali dengan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia Subhanahu wata’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dalam setiap rakaat shalat dengan doa yang paling mulia dan sempurna.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Berilah kami hidayah ke jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 5)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan tafsir ayat di atas, “Ya Allah, tunjukilah kami, bimbinglah kami, dan karuniakanlah hidayah taufik kepada kami ke jalan yang lurus (jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh), jalan yang jelas yang mengantarkan (orangorang yang berjalan di atasnya) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ke jannah-Nya, yaitu jalan (orang-orang yang) mengilmui kebenaran dan mengamalkannya.” (Tafsir as-Sa’di)

Para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh adalah orangorang yang senantiasa bersabar di atas agama yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’alamemerintah para hamba-Nya untuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Bersabarlah kamu seperti orangorang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

Dari Abu Abdillah Khabbab bin al- Aratt radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami mengadukan (perlakuan orang-orang musyrikin Quraisy terhadap kaum muslimin) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu beliau sedang tiduran berbantal burdah di bawah naungan Ka’bah. Kami katakan, ‘Tidakkah Anda memohon pertolongan Allah Subhanahu wata’ala untuk kami? Tidakkah Anda berdoa untuk kami?’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sungguh, orang-orang sebelum kalian ada yang disiksa dengan dikubur hidup-hidup. Ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga terpisahlah antara daging dan tulangnya. Namun, hal itu tidak menggesernya dari agamanya’.” (HR. al-Bukhari)

2. Ilmu

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yang membuahkan khasyah (rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala semata). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Semakin seseorang mengenal Allah Subhanahu wata’ala (nama, sifat, dan perbuatan-Nya yang mulia), niscaya akan semakin takut kepada-Nya. Sebab, ilmu itu akan mengharuskan dia takut kepada-Nya sehingga dia menahan diri dari berbagai maksiat. Selain itu, ia akan terus berusaha mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti (yaitu Allah Subhanahu wata’ala). Hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu.” (Tafsir as-Sa’di)

Di samping membuahkan rasa takut (khasyah), ilmu juga akan membuahkan raja’ (harapan), mahabbah (kecintaan), dan haya’ (rasa malu) terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Semua itu akan memudahkan seorang hamba senantiasa sabar di atas agama. Contohnya:

• Rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala menyebabkan seorang hamba mampu menahan hawa nafsunya sehingga tidak jatuh ke dalam hal yang dimurkai oleh Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hadits sahih tentang kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka bertawasul dengan amal salehnya ketika memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berucap, “Ya Allah, sungguh dahulu aku mencintai seorang gadis yang cantik, ia adalah anak perempuan pamanku. Dia adalah seorang wanita yang paling aku cintai. Aku menginginkannya (bergaul layaknya seorang suami istri bersamanya).

Akan tetapi, dia tidak mau. Sampailah saat kemarau panjang menimpanya (jatuh miskin) hingga dia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar kepadanya dengan syarat dia mau berduaan denganku. Dia pun mau melakukannya. Saat aku sudah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata kepadaku, ‘Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan janganlah kau jatuhkan kehormatanku kecuali dengan haknya (yaitu menikahiku).’ Lalu aku tinggalkan dia padahal dia adalah seorang yang sangat aku cintai. Aku tinggalkan pula uang dinar (emas) yang telah aku berikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

• Raja’ (mengharapkan) pertemuan dengan-Nya dan mendapatkan ampunan serta keridhaan-Nya akan menyebabkannya bersemangat untuk beramal saleh dan menganggap ringan berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)

Allah Subhanahu wata’ala menghibur Rasul-Nya dan para sahabat yang tertimpa luka-luka tatkala berjihad di jalan-Nya,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 104)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan di dalam tafsirnya, “Kalian (wahai para mujahidin fi sabilillah) dan mereka (musuh kalian) sama-sama terkena luka dan penderitaan karena perang. Namun, (yang berbeda adalah) kalian mengharapkan pahala, pertolongan, dan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang telah Dia janjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, sedangkan janji-Nya adalah benar. Adapun musuh-musuh kalian tidak memiliki harapan sedikit pun terhadap hal tersebut. Jadi, kalian adalah golongan yang lebih pantas untuk berjihad/berperang daripada mereka, lebih pantas bersemangat dalam berjihad, menegakkan dan meninggikan kalimatullah.”

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seseorang bertanya kepada Nabi n pada waktu Perang Uhud, ‘Beri tahukanlah kepadaku, apabila aku terbunuh, di mana tempat tinggalku nanti?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Di surga.’ Lalu orang itu melemparkan beberapa butir kurma yang ada di genggaman tangannya, kemudian berperang sampai terbunuh.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mahabbah (kecintaan) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan segala sesuatu yang dicintai oleh-Nya.

Hal ini juga akan meringankan berbagai kesulitan dan keberatan di dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

Allah Subhanahu wata’ala menceritakan sikap orangorang yang berilmu dari kaum Nabi Musa ‘Alaihissalam ketika mendengar komentar orang-orang yang diperbudak oleh dunia. Ketika itu, mereka menyaksikan penampilan Qarun dengan perhiasanperhiasannya. Firman-Nya,

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ () وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orangorang yang menghendaki kehidupan dunia, “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu,“Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Dan tidak diperoleh pahala itu kecuali olehorang-orang yang sabar.” (al-Qashash: 79—80)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah menjelaskan, “Sebagian salaf berkata, ‘Bagaimana aku tidak sabar, padahal Allah Subhanahu wata’ala sungguh telah menjanjikan untukku—kalau aku sabar—tiga hal (shalawat, rahmat, dan petunjuk), yang masing-masing lebih baik daripada dunia dan seisinya’.” (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 61)

• Rasa malu Seorang hamba yang beriman akan yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala senantiasa dekat dengan para hamba-Nya; senantiasa melihat, mendengar, dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Ini akan menjadikan hamba tersebut malu tatkala terbetik di dalam hatinya keinginan untuk melakukan atau mengucapkan suatu hal yang dibenci atau dimurkai oleh Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apayang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghabun: 4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (an-Nisa: 108)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengabarkan kepada kita tentang keutamaan rasa malu karena Allah Subhanahu wata’ala, dengan sabdanya,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Muslim)

Dari Atha’ bin Abi Rabah rahimahumallah, ia berkata, “Ibnu Abbas c berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan seorang wanita calon penghuni surga kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Beliau berkata, ‘Suatu hari, seorang perempuan hitam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, [Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi). Jika kambuh, auratku akan tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk kebaikanku]. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, [Kalau kamu mau bersabar, kamu akan mendapatkan jannah. Namun, kalau yang kamu inginkan adalah aku berdoa kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar menyembuhkanmu, (maka aku doakan).] Wanita itu berkata, ‘Aku akan berusaha sabar, tetapi aku khawatir jika penyakitku kambuh, tersingkap auratku. Berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar tidak tersingkap auratku.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala

Sadarilah bahwa kita tidak mungkin mampu bersabar di atas ketaatan, sabar menahan diri dari berbagai kemaksiatan, dan sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang Allah Subhanahu wata’ala takdirkan menimpa diri, keluarga, anak keturunan, harta, atau usaha kita. Kita yakin bahwa tidak mungkin kita bisa bersabar kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala semata karena kita adalah makhluk yang lemah.

Allah Subhanahu wata’alaberfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada orang mukmin yang lemah. Namun, masing-masing memiliki kebaikan. Semangatlah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu (baik urusan dunia maupun agama). Mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

4. Beriman terhadap takdir

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at- Taghabun: 11)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “(Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah Subhanahu wata’ala) maknanya ‘dengan kehendak dan takdir- Nya’. (Barang siapa beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Dia akan menunjuki hatinya), maknanya barang siapa ditimpa oleh suatu musibah dan yakin bahwa musibah itu terjadi dengan ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menunjuki hatinya dan akan mengganti urusan dunia yang hilang dari dirinya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Beriman kepada takdir Allah Subhanahu wata’ala akan membuahkan sikap yang menakjubkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang yang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya baik. Namun, hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali yang beriman saja. Apabila dia mendapat segala sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur, dan hal itu lebih baik baginya. Apabila dia ditimpa oleh perkara yang merugikan/menyedihkan, dia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

5. Berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala

Husnuzhan (berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala) adalah salah satu hal mulia. Ia adalah buah dari iman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengannya, hati seorang hamba senantiasa tenang dan sabar menghadapi problem kehidupannya; dalam keadaan kaya, miskin, senang, susah, sehat, sakit, sukses, gagal, dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Sungguh, janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala menakdirkan satu musibah pun kepada kita kecuali karena dosa-dosa kita. Itupun demi kebaikan kita, yaitu Dia l ingin menghapus dosa-dosa kita itu dengannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, dia akan menyegerakan balasan bagi perbuatan dosanya di dunia ini. Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kejelekan bagi seorang hamba, Dia akan menahan (tidak segera membalas) perbuatan dosanya sampai Dia akan membalasnya nanti pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi)

Ketahuilah, musibah itu akan menghapus dosa dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Ujian itu akan terus-menerus dihadapi oleh seorang mukmin atau mukminah; baik pada diri, anak, maupun hartanya, hingga dia akan bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

6. Teman dan lingkungan yang baik

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat rahmat-Nya yang sempurna,

يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa:28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan di dalam tafsirnya, “(Keringanan tersebut) karena rahmat-Nya yang sempurna, kebaikan- Nya juga menyeluruh; karena ilmu dan hikmah-Nya (yang mengetahui) tentang kelemahan manusia dari berbagai sisi: lemah fisik, lemah keinginan, lemah tekad, lemah iman, dan lemah kesabaran. Karena itu, keadaan tersebut cocok dengan keringanan yang Allah Subhanahu wata’ala karuniakan kepada mereka.”

Karena kita adalah makhluk yang lemah keimanan, kesabaran, dan kekuatan, kita membutuhkan bantuan, pertolongan, dan kepedulian dari saudara-saudara kita lainnya. Ringkasnya, agar senantiasa sabar, kita membutuhkan teman dan lingkungan yang baik sehingga hal-hal tersebut bisa terealisasi. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Dan saling menolonglah pada kebaikan dan ketakwaan, dan jangan saling menolong pada perbuatan dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan nasihat seorang alim terhadap seorang yang telah membunuh 100 jiwa dalam rangkanmerealisasikan tobatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala,

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ

“Pergilah ke desa dengan ciriciri demikian dan demikian karena masyarakatnya beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beribadahlah kepada Allah Subhanahu wata’ala semata bersama mereka dan jangan kembali ke desamu karena desamu itu desa yang jelek.” (HR. al-Bukhari dan Muslim

dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu Perhatikanlah kisah di atas. Teman dan lingkungan yang jelek akan membentuk kepribadian yang jelek, sedangkan teman dan lingkungan yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pula, dengan izin Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, carilah teman dan lingkungan yang baik demi keselamatan dan kebaikan diri serta keluarga Anda.

Pada akhirnya, tentu kita kembalikan semuanya kepada Allah Subhanahu wata’ala sembari memanjatkan doa kepada-Nya, karena hanya Dia yang bisa menjadikan kita bersabar di atas agama-Nya. Amin.

Berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari Empat Hal

Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.

1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.

Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:

a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.

b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)

c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.

d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.

2. Hati yang Tidak Khusyuk

Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:

a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.

b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. Nabi n bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah n berlindung kepada AllahSubhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.

e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.

Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ

“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)

3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas

Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah l.” (HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.

a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.

b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.

c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.

Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi n bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.

4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah l ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)

Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Taqiyah=Dusta

Makna Taqiyah

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata, “Taqiyah menurut mereka (Syiah) adalah menampakkan sesuatu dengan menyelisihi yang mereka sembunyikan atau menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan.” (asy-Syiah was- Sunnah, hlm. 100)

Taqiyah adalah perlindungan dengan maksud seseorang melindungi keselamatan  dan kehormatan diri dan harta dari bahaya musuh dengan menyembunyikan sesuatu serta melahirkan apa yang berlainan dengan hakikat (yang benar) yang tersembunyi di dalam hati. Dengan kata lain, taqiyah ialah tindakan berpura-pura atau hipokrit karena terpaksa. (Wikipedia)

Taqiyah dan Keyakinan Syiah

Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qumi (salah seorang ahli hadits Syiah) berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban. Barang siapa meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” Dia juga berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sampai keluar penegak keadilan (Imam Mahdi versi mereka). Barang siapa meninggalkannya sebelum penegak keadilan tersebut keluar, berarti dia keluar dari agama Allah Subhanahu wata’ala dan dari ajaran Imamiyah serta menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam (mereka). (al-I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1374 H)

Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah berkata, “Sebab utama yang menghalangi terjadinya tanya jawab yang jujur dan ikhlas di antara kita dan mereka (Syiah) adalah taqiyah. Sebab, taqiyah adalah keyakinan agama yang menghalalkan mereka untuk menampakkan kepada kita segala sesuatu yang menyelisihi apa yang mereka sembunyikan di dalam hati. Karena itu, ada sebagian kita (Ahlus Sunnah) yang pada dasarnya hatinya selamat (baik) bisa tertipu oleh zahir yang mereka tampakkan karena ambisi mereka supaya dipahami dan dimengerti. Padahal mereka sendiri tidak ingin dan tidak ridha melakukannya. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 8—9)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 100), “Taqiyah adalah ajaran dan keyakinan mereka. Hakikatnya adalah menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebatilan. Sampai-sampai mereka membuat hadits palsu untuk melegalkannya. Mereka meriwayatkan dari Sulaiman bin Khalid, ia berkata, “Abu Abdillah (Jafar bin al-Baqir yang mereka gelari dengan ash-Shadiq), mengatakan, “Wahai Salman, sesungguhnya engkau berada di atas suatu ajaran agama yang barang siapa menyembunyikannya, niscaya Allah akan memuliakannya; dan barang siapa menampakkannya niscaya Allah akan menghinakannya’.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 222 terbitan Iran)

Selanjutnya asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan, “Setelah penjelasan ini, apakah mungkin seseorang memercayai dan membenarkan ucapan mereka, berjalan bersama dan membuat kesepakatan dengan mereka?” Sungguh benar pengakuan seorang ulama Syiah, “Sesungguhnya, mazhab Imamiyah dan mazhab Ahlus Sunnah ibarat dua mata air yang mengalir berlawanan arah. Sampai hari kiamat, dua mata air tersebut demikianlah berjauhan sehingga tidak mungkin bertemu selamalamanya.” (Mishbahu azh-Zhulam, hlm. 41—42)

Mengapa dan Sampai Kapan Bertaqiyah?

Syiah melakukan taqiyah untuk menjaga jiwa, harta, dan yang lainnya. Mereka menukil dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Taqiyah termasuk amalan-amalan yang paling mulia. Dengan taqiyah, seseorang menjaga diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 163)

Al-Kulaini meriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Jafar, dia berkata, “Taqiyah (dilakukan) pada kondisi darurat.Pelakunya lebih paham, kapan harus melakukannya.” (al-Kafi fi al-Ushul, bab at-Taqiyah) Dalam riwayat lain, Abu Jafar berkata, “Ada tiga perkara yang aku tidak akan bertaqiyah terhadapa seorang pun: minum arak (khamr), mengusap bagian atas kedua khuf, dan haji tamattu’.

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir (seorang ulama Sunni) berkomentar, “Yang benar adalah mereka berkeyakinan bahwa taqiyah itu wajib dalam seluruh perkara apakah untuk menjaga (melindungi) jiwa atau yang lainnya. Mereka membiasakan dusta, kemudian melegalisasikannya dan menyebutnya dengan nama yang lain (baca: taqiyah). Setelah itu, mereka membuat hadits-hadits palsu yang menunjukkan keutamaannya.” (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 117)

Mereka melakukan taqiyah ini sampai mati atau keluarnya imam Mahdi versi mereka. Ali bin Musa bin Jafar (imam ke-8 versi Syiah) berkata, “Tidak ada agama bagi orang yang memiliki sikap wara’ dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah karena yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah yang paling bertakwa (baca: bertaqiyah).” Lalu dia ditanya sampai kapan? Dia menjawab, “Sampai waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari keluarnya (Imam Mahdi) yang menegakkan keadilan. Barang siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi, berarti dia bukan golongan kita.” (Kasyful Ghummah [sebuah buku Syiah], hlm. 241)

Dusta, Ajaran Agama Syiah

Dalam rangka melegalisasikan ajaranajarannya yang sesat dan menyesatkan, Syiah menghalalkan dusta demi agama (baca: agama Syiah) Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan di dalam kitabnya, asy- Syiah was-Sunnah (hlm. 100), “Tidaklah terucap kata-kata Syiah kecuali akan tergambarkan kedustaan senantiasa bersamanya, seakan-akan dua kata yang sinonim (semakna) yang tidak ada perbedaannya. Dua perkara tersebut saling menuntut dari sejak awal munculnya mazhab ini (baca: agama ini). Syiah sejak awal munculnya berasal dari kedustaan dan diiringi dengan kedustaan pula.” Tatkala Syiah adalah induknya kedustaan, maka mereka memberi label kedustaan tersebut dengan bungkus pengultusan dan pengagungan yang mereka menamainya (at-Taqiyah) yaitu nama yang bukan aslinya. Mereka menginginkan dengan taqiyah supaya bisa menampakkan segala sesuatu yang menyelisihi dengan apa yang mereka sembunyikan dan menyatakan (segala sesuatu) yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan, sampai-sampai mereka berlebih-lebihan dengan taqiyah ini sehingga mereka menjadikannya sebagai keyakinan agama mereka dan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip ajaran agama mereka. Lalu mereka menisbatkan prinsip ini kepada salah seorang imam mereka yang ma’shum menurut mereka yaitu Abu Jafar bin Yaqub al-Kulaini, “At-Taqiyah itu termasuk agamaku (keyakinanku) dan keyakinannya bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 terbitan Iran)

Macam-Macam Kedustaan Syiah

1. Dusta atas Nama Allah Subhanahu wata’ala Rabb kita Subhanahu wata’ala mengharamkan kedustaan atas nama-Nya di dalam firman-Nya,

ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-An’am: 144)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al- Baqarah: 169)

Namun dengan larangan Allah Subhanahu wata’ala itu yang sangat keras, mereka orangorang Syiah berarti mengada-ngadakan kedustaan atas nama Rabb kita Subhanahu wata’ala dalam rangka membenarkan prinsip taqiyah yang jahat dengan tujuan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Mereka menukilkan ucapan Abu Abdillah al-Baqir, imam ke-6 versi Syiah, yang mereka gelari ash-Shadiq, Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah  tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. tatkala ditanya tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13)

Lalu dia menjawab, “Yang beramal dengan taqiyah di antara kalian.” (al- I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1347 H) Demikian juga “Imam Bukhari” mereka yang bernama Muhammad bin Yaqub al-Kulaini meriwayatkan di dalam Shahih-nya (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 yang diterbitkan di Iran) dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah berkata, “Taqiyah itu bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.” Maka aku (Abu Bashir) bertanya, “Termasuk dari agama Allah Subhanahu wata’ala?” Lalu dia menjawab, “Ya, demi Allah, termasuk bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.”

2. Dusta atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam umatnya yang berani berdusta atas namanya dengan sabdanya,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Golongan manusia yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah. Sebab, tidak ditemukan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang lebih sering berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada mereka. Hal ini ditegaskan oleh para ulama ahli hadits tatkala membahas tentang hadits palsu. Merekaberkata, ‘Sesungguhnya yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah.’ Ini adalah realitas yang dapat diketahui oleh orang yang meneliti kitab-kitab mereka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 4/70)

Adapun bukti kedustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut. Mereka menukil dari Abu Abdillah, dia berkata bahwa ketika Abdullah bin Ubai bin Salul (pemimpin munafikin)meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri jenazahnya. Umar berkata kepada Rasulullah, “Bukankah Allah Subhanahu wata’ala telah melarangmu dari menyalatinya?” Beliau diam. Umar bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah melarangmu dari menshalatinya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya, “Celaka kamu! Apa yang kamu ketahui tentang apa yang aku ucapkan (pada doaku)? Sesungguhnya aku telah berdoa, ‘Ya Allah, penuhilah rongga perutnya dengan api neraka dan masukkanlah dia ke dalam neraka’.” Abu Abdillah berkomentar, “Dia (Umar) mendapat kejelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah (yang mulanya) dia membencinya.” (al-Kafi fi al-Furu’, Kitab al-Janaiz hlm. 188 terbitan Iran)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengomentarinya, “Inilah akidah Syiah dalam masalah taqiyah. Menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdaya para sahabat, wal-iyadzubillah. Beliau tampakkan seolah-olah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk si munafik padahal Allah Subhanahu wata’ala telah melarangnya. Demikian pula, beliau tampakkan bahwa beliau menyelisihi perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan sebuah amalan yang tidak dilakukan oleh para sahabat  sesuai dengan apa yang mereka lihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Sebab, mereka tidak mengetahui apakah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan ataukejelekan bagi si munafik. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menampilkan diri sebagai hamba yang belas kasih terhadapnya, padahal yang beliau rahasiakan adalah menyelisihi yang beliau tampakkan. Jadi, lahiriah beliau menyelisihi batinnya (berdasarkan riwayat mereka).”

Beliau berkata pula, “Anda boleh bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan beliau takut sehingga memaksa beliau menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul si munafik, padahal waktu itu Islam dalam posisi yang sangat kuat. Demikian pula, tidaklah si munafik ini menyembunyikan kekafirannya kecuali karena takut terhadap Islam dan kekuatan Islam serta ambisi mendapatkan keuntungan pribadi dari Islam. Syiah tidaklah mengada-adakan kedustaan ini kecuali untuk melegalkan akidah mereka yang najis ini, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan taqiyah atau dusta sebagaimana halnya yang dilakukan oleh imam-imam mereka. Inilah taqiyah menurut Syiah. Taqiyah yang mereka nyatakan, Tidak dilakukan kecuali dengan menyembunyikan suatu perkara untuk menyelamatkan jiwa dan menjaga diri dari kejahatan.Adakah seorang muslim yang bimbang bahwa ini adalah kemunafikan dan kedustaan?” (asy-Syiah wa as- Sunnah, hlm. 106—107)

Ash-Shadiq meriwayatkan dari Jabir, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.” Beliau menjawab, “Wahai Jabir, Rabbmu lebih mengetahui yang gaib. Tatkala aku isra mi’raj ke langit dan sampai di Arsy, aku melihat empat cahaya. Dikatakan kepadaku, ‘Ini Abdul Muthalib, ini pamanmu Abu Thalib, ini bapakmu Abdullah, dan ini anak laki-laki pamanmu, Ja’far bin Abu Thalib.’ Aku bertanya, ‘Sembahanku, mengapa mereka bisa mendapatkan kedudukan yang mulia ini?’ Dia menjawab, ‘Mereka menyembunyikan keimanan dan menampakkan kekafiran, sampai mereka mati dalam keadaan seperti itu’.” (Jami’ al-Akhbar, hlm. 140)

Mereka membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Permisalan seorang muslim yang tidak bertaqiyah seperti tubuh yang tidak berkepala.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 162)

Taqiyah dan Tauriyah

Taqiyah berbeda dengan tauriyah. Tauriyah, menurut an-Nawawi radhiyallahu ‘anhu dalam Riyadhus Shalihin, adalah memaksudkan perkataannya dengan maksud yang benar, bukan maksud dusta kalau dilihat niatnya; walaupun perkataan itu kalau dilihat zahirnya adalah dusta kalau dilihat dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara’. (Sebagai contoh) apabila seorang muslim bersembunyi dari orang zalim yang ingin membunuhnya atau mengambil hartanya dan dia menyembunyikan harta itu. Jika seorang ditanya tentang orang muslim itu, wajib dia berdusta dengan cara menyembunyikannya. Demikian pula apabila dirinya dititipi sebuah barang yang ingin dirampas oleh orang zalim, ia harus berdusta dengan menyembunyikan titipan itu. Yang lebih hati-hati dalam hal ini semuanya adalah melakukan tauriyah. (Riyadhus Shalihin, bab “Bayanu ma Yajuzu minal Kadzib”)

Dusta Atas Nama Ahlul Bait

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik yang salah satu tandanya adalah,

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Apabila berbicara, dia berdusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullan bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

Syiah menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib z berkata, “Taqiyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling mulia. Dengan taqiyah itu dia menjaga/ melindungi diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang yang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Husain bin Ali berkata, “Kalau tidak ada taqiyah, tidak bisa dibedakan antara wali/saudara kita dengan musuh kita.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Ali bin Husain bin Ali berkata, “Allah Subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan akan menyucikannya dari dosa di dunia dan di akhirat, kecuali dua macam dosa, yaitu meninggalkan taqiyah dan meninggalkan hak-hak saudara.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 164)

Semua ini adalah nukilan dusta dari ahlul bait, padahal mereka lebih suci dari mengatakan hal tersebut.

Islam Mengajarkan Kejujuran dan Melarang Dusta

Agama Islam membawa syariat yang mulia dan sempurna. Ia senantiasa memerintah para hamba-Nya untuk berlaku jujur dan menjauhi dusta. Sebagian bukti yang menunjukkannya adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintah hamba-hamba-Nya agar berjalan bersama dengan orang-orang jujur setelah perintah untuk bertakwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

Orang-orang yang jujur adalah salah satu golongan yang Allah Subhanahu wata’ala janjikan bagi mereka ampunan dan pahala yang agung,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al- Ahzab: 35)

Demikianlah karena kejujuran akan mendatangkan ketenangan, keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib berkata,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا :n حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رَيْبَةٌ

“Aku hafal dari Rasulullah, ‘Tinggalkanlah segala sesuatu yang membingungkanmu kepada yang tidak membingungkanmu, karena kejujuran itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta menimbulkan kegundahan/ ketidaktenangan’.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau menyatakan, “Ini hadits yang sahih)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menuntun untuk masukke dalam jannah. Sungguh seseorang berbuat jujur sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai orang yang sangat jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan menyeret pelakunya ke dalam kejahatan dan kejahatan akan menyeret pelaku ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang berbuat dusta sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai pendusta.”

Adapun dusta adalah ciri khas orang-orang munafik sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orangorang munafik itu benar-benar orang pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Ciri khas mereka yang lain adalah nifaq (kemunafikan), yaitu menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setansetan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah berolokolok.” (al-Baqarah: 14)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلُةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal; barang siapa yang ada pada dirinya empat hal itu, berarti dia adalah orang yang munafik; dan barang siapa yang ada pada dirinya salah satu darinya, berarti ada pada dirinya perangai nifaq sehingga dia meninggalkannya. (Empat perkara tersebut adalah) apabila dia dipercaya dia khianat, apabila dia berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkarinya, dan apabila dia berbantah-bantahan maka dia curang.” (Muttafaqun alaih)

Pembahasan ini kita akhiri dengan sebuah pertanyaan, “Apakah mungkin mempertemukan dan menyatukan antara Islam dengan Syiah atau antara Sunnah dengan Syiah?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang alim yang sangat paham dengan kesesatan dan kebobrokan Syiah, yaitu asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Beliau katakan, “Bagaimana mungkin menyatukan orang yang jujur dengan pendusta? Perbuatan dustanya bukan karena keadaan darurat yang mengharuskan dusta, melainkan keyakinan bahwa dusta adalah kewajiban. Terlebih lagi dusta itu diyakini sebagai amalan ibadah yang agung yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Orang-orang yang Mendapatkan Pahala Dua Kali

Sesungguhnya setiap amal kebaikan ada pahalanya. Sesuai dengan kadar ketulusan niat dan besarnya manfaat yang dihasilkan, sebesar itulah ganjaran yang akan didapatkannya. Sungguh, Allah Maha Pemurah. Ia memberi pahala amal kebaikan dua kali lipat, tiga kali lipat, bahkan lebih dari itu. Ada beberapa golongan yang mendapatkan pahala dua kali lipat yang disebutkan oleh hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali: (1) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala; (2) budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah l dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan (3) seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam Kitabul Iman, dan hadits ini lafadz Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ada tiga golongan manusia yang berhak meraih pahala dua kali, yaitu:

1. Seorang ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) yang beriman kepada rasul yang diutus kepadanya, mengimani kitab yang diturunkan kepada rasulnya, dan mengamalkan kandungannya. Ketika mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, dia beriman kepada beliau dan mengikuti ajarannya.

Orang yang seperti ini mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mengimani rasul yang diutus kepadanya dan pahala mengimani rasul yang diutus setelahnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini tentu mendorong ahli kitab untuk bersegera memeluk agama Islam yang merupakan penutup agama-agama yang ada dan satu-satunya agama yang diterima oleh Allah l. Sungguh, mereka akan mendapatkan pahala yang mereka harapkan saat menjaga agamanya, ditambah pahala yang lain saat memeluk Islam. Sebab, Islam tidak akan mengurangi hak seorang pun, sebagaimana halnya Islam juga tidak menghalangi pahala orang yang beramal.

Jika ahli kitab menolak masuk Islam dan enggan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti mereka telah mengingkari kitab-kitab mereka yang menyebutkan sifat-sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara jelas dan perintah untuk mengikutinya bila diutus kelak. Padahal, seandainya Nabi Musa ‘Alaihissalam masih hidup di kala Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, niscaya Nabi Musa ‘Alahissalam akan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Seandainya saudaraku, Musa, masih hidup, tidak ada kesempatan selain mengikutiku.” (HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa al-Ghalil)

Ketika turun nanti di akhir zaman, Nabi Isa ‘Alaihissalam pun akan menjadi bagian umat ini dan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendengar aku (diutus), baik dia Yahudi maupun Nasrani, lantas ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” ( Shahih Muslim,Kitabul Iman”, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hendaknya mereka memeluk agama ini karena besarnya pahala yang telah menunggu. Lebih-lebih, orang kafir yang berbuat kebaikan di saat jahiliah lalu masuk Islam, kebaikan di masa jahiliah itu tetap dicatat sebagai pahala. Dahulu Hakim bin Hizam z bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal kebaikan yang ia lakukan di saat jahiliah, seperti silaturahim, memerdekakan budak, dan sedekah, apakah ada pahalanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau masuk Islam di atas kebaikankebaikan yang kaulakukan.” (Shahih al-Bukhari, Kitabuz Zakat)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Apabila seorang hamba masuk Islam kemudian baik keislamannya, Allah Subhanahu wata’ala mencatat segala kebaikan yang telah dilakukannya dan menghapus segala kejelekan yang pernah dikerjakannya.” (HR. Malik dan an-Nasai, lihat Shahih al-Jami’ no. 336)

2. Seorang budak sahaya yang menunaikan hak Allah Subhanahu wata’ala dan hak tuannya.

Dia menjadi pelayan yang taat kepada tuannya dan penjaga yang tepercaya. Dia tulus menjalankan tugas, berusaha mengembangkan harta tuannya, serta menjaga anak-anaknya. Di samping itu, ia juga mengarahkan tuannya ke arah kebaikan dan mengingatkannya dari kejelekan. Tidak hanya itu, ia juga selalu menjaga hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala. Kesibukannya memberi pelayanan yang terbaik kepada tuannya tidak melalaikannya dari kewajibannya kepada Sang Khalik. Apabila panggilan shalat dikumandangkan, ia bergegas mendatanginya. Seandainya disuruh oleh tuannya untuk melakukan pelanggaran agama, dia menasihati tuannya dan lebih memilih taat kepada Rabbnya. Ia melaksanakan kewajiban agama dan menjauhkan diri dari larangannya. Budak yang seperti ini akan meraih dua pahala. (Lihat kitab al-Adab an-Nabawi hlm. 100—101, karya Abdul Aziz al-Khauli)

Karena agungnya sifat budak yang seperti ini, sampai-sampai sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkeinginan meninggal dalam keadaan sebagai budak sahaya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada di tangan- Nya (demi Allah), kalau bukan karena jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan melaksanakan haji serta berbakti kepada ibuku, sungguh aku ingin mati dalam keadaan sebagai budak sahaya.” (HR. Muslim no. 1665)

Tidak tanggung-tanggung, karena kerinduan kepada pahala Allah Subhanahu wata’ala yang berlipat, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ingin meninggal dalam keadaan sebagai budak sahaya. Dia tidak peduli dengan status sosial yang disandangnya asalkan Sang Maula (Allah Subhanahu wata’ala) ridha kepadanya. Seperti inilah orang yang jauh pandangannya dan tinggi seleranya. Oleh karena itu, betapa malangnya nasib orang yang mengaku merdeka dan menghirup alam kebebasan, namun senantiasa menjadi budak syahwat dan hawa nafsunya. Jangankan berpikir untuk menanam kebajikan, keluar dari lumpur kesesatan saja tidak mampu. Masihkah orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang yang merdeka dan hidup leluasa?! Menurut kacamata syariat, kemuliaan terletak kepada ketulusan mengamalkan kebaikan dan kesiapan menerima aturan agama (takwa). Kemuliaan tidak berarti memiliki harta yang melimpah, berpenampilan serba wah, dan jabatan tinggi jabatan yang membuat ngiler orang-orang kelas bawah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian.” (al-Hujarat: 13)

3 . Seorang lelaki yang memiliki budak sahaya wanita yang memerhatikan sisi pendidikan agamanya dan mencukupi kebutuhan jasmaninya. Ia bimbing budaknya kepada hal-hal yang bermanfaat, baik dari segi agama maupun dunia. Setelah itu, ia memerdekakan dan menikahinya.

Lelaki seperti ini telah mengangkat kedudukan budaknya dengan mengubah statusnya menjadi orang yang merdeka. Orang seperti ini pantas mendapatkan pahala dua kali lipat karena usahanya yang baik. Bagaimana tidak, dia telah mengeluarkan budaknya dari gelapnya kebodohan kepada cahaya ilmu. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya secara maksimal, sedangkan budak sahaya umumnya mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari tuannya. Setelah budak sahaya tersebut menjadi mahal nilainya dan tinggi harganya karena kemuliaan lahiriah dan batiniah yang disandangnya, sang tuan memerdekakannya. Ia lepaskan sahaya tersebut dari belenggu perbudakan ketika ia yakin bahwa budaknya telah baik kondisinya. Padahal, jika mau menjual budak tersebut, niscaya ia akan mendapat materi yang tidak sedikit. Akan tetapi, ia dengan tulus memerdekakannya. Ia hanya mengharap, biaya dan tenaga yang telah ia keluarkan untuk memperbagus agama dan keterampilan duniawi sang budak, diganti dengan pahala dan ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Tidak hanya itu, bahkan ia menikahinya sehingga menyejajarkannya dengan istrinya yang lain dalam masalah hak dan menyamakannya dengan wanitawanita lain yang merdeka. Padahal, sebelumnya budak wanita ini dikuasai oleh orang lain, sampai pun anak-anak kecil menyuruh dan memerintahnya serta memanggilnya sebagai budak. Namun, panggilan yang seperti itu kini sudah tidak melekat pada dirinya. Setelah penjelasan yang gamblang seperti ini, masih adakah orang yang menuduh bahwa Islam menzalimi kaum hawa dan tidak memerhatikan pendidikan para wanita?! Sungguh, amat keji bualan yang keluar dari mulutnya. Berangkat dari sini, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendidik anak-anak kita, anak-anak kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama dan masyarakatnya, setelah bermanfaat bagi dirinya.

Perlu diketahui, perbudakan akan ada selama masih ada orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin melakukan perlawanan sehingga sebagian orang kafir ada yang tertawan dan menjadi budak. Akan tetapi, ketika mereka menjadi budak lalu masuk Islam dan baik keislamannya, agama Islam menganjurkan pemiliknya untuk memerdekakannya dengan menjanjikan pahala yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Lelaki mana saja yang memerdekakan seorang (budak) muslim, Allah Subhanahu wata’ala akan menyelamatkannya dari neraka setiap anggota tubuh darinya dengan anggota tubuh dari (budak)nya.” (HR. al-Bukhari no. 2517)

Sa’id bin Marjanah, perawi hadits ini, berkata, “Saya bawa hadits ini kepada Ali bin al-Husain rahimahullah lalu dia (Ali) menuju kepada budaknya yang (akan) dibeli sepuluh ribu dirham atau seribu dinar oleh Abdullah bin Ja’far, lantas memerdekakannya.” Seperti inilah bersegeranya generasi awal umat ini melakukan kebaikan kapan pun ada kesempatan. Ketika budak yang dimerdekakan itu mahal harganya dan sangat disenangi oleh pemiliknya, semakin besar pula pahala memerdekakannya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 2518)

Islam yang indah ini juga menjadikan memerdekakan budak sebagai ketentuan dalam beberapa hukumnya. Misalnya, hukuman bagi orang yang melakukan hubungan suami istri ketika puasa di siang hari Ramadhan, di antaranya adalah memerdekakan budak. Islam juga telah memberikan bagian harta zakat untuk memerdekakan budak sahaya. Kata asy-Syaikh Muhibbuddin al- Khathib, Sungguh, ketika Islam datang, masalah perbudakan adalah aturan yang umum pada seluruh umat yang ada di muka bumi. Perbudakan di Jazirah Arab adalah yang paling minim dan  paling lembut dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Di antara tujuan risalah (syariat) Islami yang terpenting adalah anjuran membebaskan budak dan memerdekakannya dalam berbagai kondisi dan kesempatan. Sebuah aturan yang belum pernah ada umat yang bisa menandinginya.” (Ta’liq Shahih al- Bukhari 2/213)

Golongan Lain yang Mendapat Pahala Dua Kali

Orang-orang yang mendapat pahala dua kali tidak terbatas hanya pada tiga golongan yang tersebut dalam hadits di atas. Ada beberapa golongan yang lain, di antaranya:

1. Istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

“Barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberinya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.” (al-Ahzab: 31)

2. Orang yang bersedekah kepada karib kerabat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),

“Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, dan bersedekah kepada kerabat ada dua (pahala): sedekah dan silaturrahim.” ( HR. an-Nasai dan at-Tirmidzi, lihat Shahih at-Targhib no. 879).

Ketika ditanya oleh dua wanita kalangan sahabat tentang sedekah kepada suami dan anak-anak yatim yang berada dalam asuhannya, Nabi n bersabda, “Keduanya mendapat pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala sedekah.” (Shahih Muslim, Kitab Zakat no. 1000)

3. Seorang hakim dan ulama ahli ijtihad yang keputusan/hukumnya sesuai dengan hukum Allah l setelah berusaha mencapai hukum yang benar .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَاحَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَاحَكَمَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌوَاحِدٌ

“Ketika seorang hakim (akan) menghukumi lalu bersungguh-sungguh kemudian benar (hukumannya) maka dia mendapat dua pahala. Apabila keliru, dia mendapat satu pahala.” (HR. Muslim dan selainnya)

Dua pahala tersebut karena hukumnya sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wata’ala dan karena usaha kerasnya untuk mencapai kebenaran. Hakim yang dimaksud dalam hadits di atas adalah yang memang memiliki ilmu alat yang cukup untuk menghukumi dan mengerti kaidah-kaidah syariat serta qiyas (kias). Adapun orang yang bodoh lantas menghukumi, dia tidak dapat pahala. Ia justru berdosa karena bukan ahlinya. (Lihat penjelasan al-Imam al-Khaththabi rahimahullah tentang masalah ini dalam ‘Aunul Ma’bud 9/488—489, Maktabah Ibnu Taimiyah)

4. Orang yang memberi contoh/ keteladanan dalam hal yang baik menurut kacamata agama

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa memberi contoh yang baik dalam Islam, dia mendapatkan pahala (amalnya) dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Ahmad, Muslim, dll, dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu)

5. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dua orang lelaki keluar untuk bepergian (safar). Waktu shalat tiba padahal keduanya tidak membawa air. Keduanya lantas bertayamum dengan tanah yang suci lalu shalat. Setelah shalat, keduanya mendapatkan air pada waktu (shalat tersebut). Salah satunya mengulangi shalatnya dengan berwudhu, sedangkan yang satunya tidak mengulangi. Keduanya kemudian mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, ‘Engkau sesuai dengan sunnah dan shalatmu telah sah.’ Adapun kepada yang berwudhu dan mengulangi shalatnya, Nabi n bersabda, “Engkau mendapat pahala dua kali.” (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya lemah. Padanya ada Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh, ia lemah hafalannya… Tetapi, Ibnu as-Sakan meriwayatkannya dengan sanad yang sahih secara bersambung sebagaimana yang saya jelaskan dalam Shahih Abu Dawud no. 365.” Lihat ta’liq asy-Syaikh al-Albani terhadap al-Misykat, 1/166, cetakan al-Maktabul Islami)

6. Orang yang berusaha membaca al-Qur’an dengan benar meskipun terbata-bata.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِى يَقْرَؤُهُ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang pandai membaca al- Qur’an akan bersama malaikat pencatat yang mulia lagi baik. Sementara itu, yang membaca al-Qur’an dengan terbatabata dalam keadaan merasa berat, ia mendapatkan dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dua pahala di sini yaitu pahala membaca al-Qur’an dan pahala atas kesulitan yang dihadapinya. Dengan mencermati penjelasan di atas, tentu kita semakin mengetahui besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala terhadap para hamba-Nya. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Mereka Adalah Suri Teladan Kita

Kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu sumber pelajaran yang sangat berharga dan mulia bagi siapa saja yang mau mengambil manfaat. Allah Subhanahu wata’ala sering mengulang-ulang kisah mereka ‘Alaihissalam di dalam kitab-Nya yang mulia, al-Qur’an al-Karim. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah penciptaan manusia pertama kali yaitu Adam dan Hawa ‘Alaihissalam, serta perintah-Nya kepada para malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam?

Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah Nabi Nuh ‘Alaihissalam bersama keluarga dan kaumnya? Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan satu surat khusus tentang kisah dakwah beliau ‘Alaihissalam, yaitu surat Nuh. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah bapak para nabi, Ibrahim ‘Alaihissalam, bersama bapaknya, Azar, Raja Namrud, dan kaumnya? Demikian pula kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mengulangulangnya di dalam al-Qur’anul Karim. Allah Yang Mahabijaksana melakukannya agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi para hamba-Nya.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitabkitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf: 111)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sungguh, dalam kisah-kisah para nabi ‘Alaihissalam bersama umat mereka ada berbagai pelajaran yang baik bagi orang-orang yang berakal. Dikisahkan di dalamnya orang yang baik dan buruk. Barang siapa melakukan seperti yang mereka perbuat, niscaya dia akan mendapatkan balasan sebagaimana yang mereka dapatkan, kemuliaan (bagi orang yang mengamalkan kebaikan) ataukah kehinaan (bagi orang yang mengamalkan kejelekan).

Mereka juga bisa mendapat pelajaran dari berbagai sifat Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna dan hikmah yang agung; yang tidak sepantasnya ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Berbagai hal gaib yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan kepada kita dalam al-Qur’an bukanlah berita yang mengada-ada atau dusta.

Al-Qur’an membenarkan berbagai hal yang disebutkan oleh kitabkitab sebelumnya; ia selaras sekaligus mempersaksikan kebenarannya. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala memerinci segala hal yang dibutuhkan oleh para hamba-Nya, baik masalah ushul (prinsip) maupun cabang. Dengan sebab al-Qur’an, mereka mendapatkan ilmu yang benar lantas lebih memilihnya sehingga akhirnya mendapat petunjuk dan rahmat-Nya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Wajib untuk kita yakini bahwa pujian-pujian Allah Subhanahu wata’ala terhadap salah seorang makhluk- Nya tidak dimaksudkan agar pujian itu sampai kepada kita. Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah dua hal penting berikut.

1. Kita mencintai hamba yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala tersebut, sebagaimana kita membenci makhluk yang dicela oleh Allah Subhanahu wata’ala. Kita mencintai Ibrahim ‘Alaihissalam karena beliau adalah seorang imam yang hanif, senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan bukanlah golongan orang musyrik. Kita membenci kaumnya karena mereka adalah orang-orang sesat. Kita mencintai para malaikat walaupun mereka bukan golongan manusia karena mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala. Kita membenci setan karena ia durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala sekaligus menjadi musuh-Nya dan musuh kita. Demikian pula kita membenci para pengikut setan karena durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mereka menjadi musuh Allah Subhanahu wata’ala serta musuh kita pula.

2. Kita meneladani sifat-sifat yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi sebab Dia Subhanahu wata’ala memujinya.

Dengan demikian, kita pun mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadar kita mencontohnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ( Yusuf: 111) (al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 1/94)

Di antara pelajaran yang sangat mulia dan berharga adalah akhlak luhur yang telah disebutkan contohnya oleh kitab- Nya atau sunnah Rasul-Nya. Berikut ini beberapa di antaranya.

 

Ikhlas dalam Berdakwah

Dalam surat asy-Syu’ara, Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan dakwah beberapa nabi kepada umat mereka, seperti Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib yang menggambarkan keikhlasan dakwah para nabi r. Asy – Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang kisah dakwah nabi Hud ‘Alaihissalam kepada kaum ‘Ad di dalam tafsirnya, “Kabilah ‘Ad mendustakan seorang rasul yang diutus kepada mereka, Hud ‘Alaihissalam. Konsekuensinya, mereka mendustakan para rasul yang lainnya ‘Alaihissalam karena dakwahnya sama.

Tatkala saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam, berkata dengan lemah lembut dan baik kepada, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga meninggalkan syirik dan peribadahan yang ditujukan kepada selain-Nya? Sebab, aku adalah rasul yang tepercaya bagi kalian. Allah Subhanahu wata’ala mengutusku sebagai bukti kasih sayang dan perhatian-Nya kepada kalian. Aku adalah orang tepercaya yang kalian telah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahuwata’ala dan taatlah kepadaku.’ Maknanya ‘Tunaikanlah hak Allah Subhanahuwata’ala, yaitu takwa. Tunaikanlah hakku, yaitu menaatiku semua hal yang aku perintahkan dan yang aku larang. Jadi, ini mengharuskan kalian untuk mengikuti dan menaatiku’.

Tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi kalian untuk beriman. Aku tidak meminta upah kepada kalian dengan dakwah dan nasihatku ini, yang kalau aku meminta upah tentu kalian berat menanggung utang. Hanya saja balasan (amalku ini) menjadi tanggungan Allah Rabbul alamin, Dzat yang memelihara mereka dengan nikmat-Nya, yang mencurahkan keutamaan serta kedermawanan-Nya kepada mereka, terkhusus para wali dan nabi.

 

Kasih Sayang Terhadap Umat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitab-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya: 107)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,

Permisalan antara aku dan kalian seperti seseorang yang menyalakan api (unggun di malam hari). Mulailah serangga dan kupu-kupu malam masuk ke dalam api. Padahal si pemilik api telah menghalaunya supaya tidak masuk ke dalamnya. Aku memegang pinggang-pinggang kalian agar tidak terjatuh ke dalam api. Namun, kalian berusaha lepas dari (pegangan) kedua tanganku.

Al – Imam Ibnu Katsir t menjelaskan, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bukti kasih sayang (rahmat)-Nya kepada mereka semua. Siapa yang mau menerima rahmat ini dan mensyukurinya, niscaya dia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Namun, siapa yang menolak dan menentangnya, dia akan rugi di dunia dan di akhirat.” Di antara contoh yang menunjukkan rahmat para nabi terhadap umatnya adalah sebagai berikut.

1. Kasih sayang Nabi Nuh ‘Alaihissalam terhadap anaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan dialog mereka,

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ () قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! Nuh berkata, Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 4243)

2. Kasih sayang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam terhadap bapaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا () إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al- Quran) ini. Sesungguhnya ia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (Maryam: 4142)

3. Belas kasih sayang Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap orang-orang yang lemah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ () فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab, Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembalapenggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (al- Qashash: 2324)

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Khidir tatkala bersama Musa ‘Alaihissalam sebagaimana yang diceritakan di dalam surat al-Kahfi ayat 79.

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.

Kesabaran

Para nabi ‘Alaihissalam adalah suri teladan kita dalam menghadapi berbagai problem, baik yang berkaitan dengan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan bersabar sebagaimana kesabaran para rasul.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati. (al-Ahqaf: 35)

Mereka bersabar saat berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menahan diri dari berbagai hal yang dilarang-Nya Subhanahu wata’ala. Berikut ini sebagian contoh yang menggambarkan kesabaran mereka ‘Alaihissalam.

a. Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala untuk menyembelih anak lelaki satu-satunya saat itu, yang dicintainya, Isma’il ‘Alaihissalam. Demikian pula kesabaran Nabi Isma’il ‘Alaihissalam membantu ayahnya berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (ash-Shaffat: 103)

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Isma’il ‘Alaihissalam menginjak masa. Umumnya, usia dewasa lebih disenangi oleh kedua orang tuanya. Sungguh, masa susah mengasuh dan mengawasi telah berlalu. Telah datang masa sang anak memberi manfaat. Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai ayahnya berkata, ‘Sungguh aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu.’ Maknanya, adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintahku untuk menyembelihmu (karena mimpi para nabi ‘Alaihissalam adalah wahyu). Pikirkanlah, apa pendapatmu? Karena perintah Allah Subhanahu wata’ala harus dilaksanakan, Isma’il ‘Alaihissalam menjawab dengan sabar dan mengharapkan pahala serta rela terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus dalam rangka berbuat baik kepada ayahnya. Ia katakan, ‘Wahai ayahanda, tunaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapati diriku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar’.”

b. Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam tatkala menghadapi godaan dan makar istri pembesar. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Wanita (istri pembesar) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam menghadapi godaan istri pembesar dalam berbagai keadaan itu lebih sempurna daripada kesabarannya menghadapi makar saudara-saudaranya yang memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya (sebagai budak), dan memisahkannya dengan ayahnya. Sebab, dia tidak mampu mengelak menghadapi cobaan dari saudar-saudaranya. Jadi, pada keadaan tersebut, seorang hamba tidak memiliki pilihan selain sikap sabar. Adapun kesabarannya terhadap maksiat adalah karena pilihan, keridhaan, dan kewajiban memerangi hawa nafsu. Padahal, banyak faktor yang mendukungnya bermaksiat itu:  (1) Syahwat sebagai seorang pemuda yang lazimnya memiliki nafsu kuat;  (2) seorang lajang yang tidak memiliki tempat untuk menyalurkan syahwatnya; (3) seorang asing di negeri itu; orang asing biasanya tidak malu melakukan sesuatu yang menyebabkan malu kalau dilakukan di depan teman, kenalan, dan keluarganya; (4) statusnya sebagai budak; status budak biasanya tidak menjadi penghalang untuk melakukan perbuatan itu, berbeda halnya dengan orang merdeka; (5) istri si pembesar adalah wanita yang cantik, berkedudukan, sekaligus sebagai tuannya, dalam keadaan para pelayan yang lain tidak ada; (6) wanita itu juga yang mengajaknya bermaksiat, dalam keadaan sangat bernafsu; (7) wanita itu mengancam beliau q dengan penjara dan hinaan apabila tidak mau menurutinya. Meski demikian, Yusufq memilih bersabar. Beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wata’ala. (Madarijus Salikin, 2/156)

c. Kesabaran Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam menghadapi para penguasa yang zalim, seperti Fir’aun, Qarun, dan Haman lanatullah alaihim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ () فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْحَقِّ مِنْ عِندِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Kepada Firaun, Haman, dan Qarun; mereka berkata, (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta. Tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, Bunuhlah anak-anak orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka. Tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). (Ghafir: 2425)

d. Kesabaran Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menghadapi dan menasihati anakanaknya yang berbuat zalim terhadap saudara mereka, Yusuf ‘Alaihissalam . Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ () وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Yaqub berkata, Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Semoga Allah mendatangkan mereka semua kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Yaqub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf: 8284)

Rasa Syukur

Allah Yang Mahabijaksana tidaklah mengaruniakan satu nikmat pun kecuali agar hamba bersyukur kepada-Nya dan semakin menyempurnakan keimanan serta ketakwaan kepada-Nya Subhanahu wata’ala. Suri teladan kita adalah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang meminta kepada para pembesar di kerajaan untuk mendatangkan singgasana Ratu Saba.

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.  (an-Naml: 40)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menjelaskan, “Sulaiman ‘Alaihissalam tidak tertipu (menjadi sombong dan angkuh) dengan kekayaan dan kekuasaannya. Beliau justru sadar bahwa hal itu adalah ujian dari Rabbnya sehingga khawatir kalau beliau tidak mensyukuri nikmat itu. Kemudian beliau menjelaskan bahwa rasa syukur hamba itu tidak memberikan manfaat bagi Allah Subhanahu wata’ala, tetapi bagi pelakunya.” Ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sempurna menunjukkan rasa syukurnya yang sempurna kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, Suatu malam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dengan lama hingga kedua tumitnya pecah-pecah dan berdarah. Aku berkata, Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Tidak pantaskah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?. ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kejujuran

Kejujuran baik dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitab-Nya dan Sunnahnya. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (at-Taubah: 119)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam jannah. (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Berikut ini kisah beberapa nabi yang menunjukkan kejujuran mereka.

a. Kejujuran Isa bin Maryam ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ  () مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?. Isa menjawab, Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui urusan yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu, Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu, dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al-Maidah: 116-117)

b. Kejujuran Adam dan Hawa ‘Alaihissalam Mereka berdua dilarang oleh Rabbnya makan dari sebuah pohon. Setelah itu, keduanya sadar dari tipu daya iblis lanatullah yang menghasut mereka berdua sehingga melanggar larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan pengakuan keduanya,

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?. (al-Araf: 22)

c. Kejujuran seorang nabi yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Ada seorang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berperang, dia berkata kepada kaumnya, Tidak boleh ikut perang bersamaku seorang lakilaki yang baru menikah dan belum membangun rumah tangganya padahal dia menginginkannya; demikian pula seorang yang harus membangun rumah dalam keadaan belum menaikkan atapnya; dan seorang yang telah membeli kambing atau unta betina yang bunting sedangkan dia menunggu kelahiran anak-anaknya. Kemudian dia berperang hingga sudah dekat desa itu pada waktu shalat ashar. Dia berkata kepada matahari, Engkau adalah makhluk yang diperintah, aku pun diperintah.

Ya Allah, tahanlah dia (matahari) untuk kami! Matahari pun tertahan (tidak segera tenggelam) sampai Allah Subhanahu wata’ala memberikan kemenangan kepadanya. Lalu nabi itu mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang) agar api datang membakarnya, tetapi ternyata tidak terbakar. Dia berkata, Sesungguhnya ada di antara kalian yang berkhianat. Hendaknya setiap kabilah mengirimkan wakil untuk membaiatku. Tangan seseorang menempel di tangannya. Dia berkata, Terjadi pengkhianatan di antara kalian. Hendaknya kabilahmu membaiatku! Melekatlah tangan dua atau tiga orang. Dia berkata, Terjadi di antara kalian pengkhianatan? Mereka lalu membawa emas sebesar kepala sapi betina. Dia pun meletakkannya hingga datanglah api yang membakarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Tidak halal harta rampasan perang bagi seorang pun sebelum kita. Allah Subhanahu wata’ala menghalalkannya bagi kita, karena mengetahui kelemahan dan kekurangan kita.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita untuk berlaku ikhlas, jujur, dan rahmat dalam berdakwah; berlaku sabar dan bersyukur menghadapi berbagai ujian dan cobaan sehingga kita termasuk golongan para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya yang mulia. Amin ya Rabbal alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Bercanda Ada Etikanya

Bercanda atau bersenda gurau adalah salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Ia terkadang diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban, namun tentunya bila disajikan dengan bagus sesuai porsinya dan melihat kondisi yang ada. Sebab, setiap tempat dan suasana memang ada bahasa yang tepat untuk diutarakan. Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia dalam penjara (terkekang) apabila tidak saling bercanda.” Pada suatu hari, al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah al-Imam asy-Sya’bi, -red.), apakah kamu bercanda?” Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (al-Adab asy-Syar’iyah, 2/214) Namun, jika sendau gurau ini tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati, dan trauma berkepanjangan. Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasanbatasan syariat.

Sebab, Islam tidak melarang sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh manusia sebagaimana Islam melarang hal-hal yang membahayakan dan tidak diperlukan oleh manusia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai.” (Shahih al-Bukhari, Kitabul Adab)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat Bercanda Manakala kita membuka kembali lembaran sejarah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang bijak dan ramah dalam pergaulan. Beliau bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mendudukkan orang sesuai kedudukannya. Beliau berbaur dengan sahabat dan bercanda dengan mereka. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi n bergaul (dekat) dengan kita. Sampai-sampai beliau mengatakan kepada adikku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh an-Nughair?’.” (Shahih al-Bukhari no. 6129)

An-Nughair adalah burung kecil sebangsa burung pipit. Alkisah, Abu Umair ini dahulu bermain-main dengan burung kecil miliknya. Pada suatu hari burung itu mati dan bersedihlah dia karenanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui hal itu mencandainya agar tenteram hatinya dan hilang kesedihannya. Maha benar Allah Subhanahu wata’ala ketika berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Memang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dekat dengan para sahabatnya sehingga tahu persis kebutuhan dan problem yang mereka hadapi, kemudian beliau membantu mencarikan jalan keluarnya. Masih kaitannya dengan senda gurau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada beberapa riwayat yang diabadikan oleh ulama hadits, di antaranya:

1. Dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah kendaraan untuk dinaiki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu (heran) lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi n bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selain unta (juga)?’.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al- Misykat no. 4886)

Orang ini menyangka bahwa yang namanya anak unta mesti kecil, padahal kalau sedikit berpikir, dia tidak akan menyangka seperti itu, karena unta yang dewasa juga anak dari seekor unta. Dalam hadits ini, di samping mencandai orang tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi bimbingan kepadanya dan yang lainnya agar orang yang mendengar suatu ucapan seyogianya mencermati lebih dahulu dan tidak langsung membantahnya, kecuali setelah tahu secara mendalam maksudnya. (Tuhfatul Ahwadzi 6/128)

2. Dahulu, ada seorang sahabat bernama Zahir bin Haram radhiyallahu ‘anhu. Dia biasa membawa barang-barang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari badui (pedalaman) karena dia seorang badui. Apabila Zahir ingin pulang ke kampungnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan Zahir di tempat tinggalnya. Zahir ini jelek mukanya, tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenanginya. Pada suatu hari ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjual barang dagangannya. Diam-diam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekapnya dari belakang. Zahir berkata,“Siapa ini? Lepaskan saya!” Zahir lalu menoleh, ternyata ia adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Zahir pun menempelkan punggungnya pada dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kalau begitu, niscaya engkau akan mendapatiku sebagai barang (budak) yang tidak laku dijual (karena jeleknya wajah).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wata’ala bukan orang yang tidak laku dijual.”—atau beliau bersabda—”Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wata’ala itu mahal.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad 3/161 dan al-Baghawi dalam Syarhu as-Sunnah)

Di sini, di samping bercanda dengan ucapan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bercanda dengan perbuatan. Ini adalah sebagian contoh senda guraunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan, perlu diketahui bahwa senda gurau beliau adalah haq, bukan kedustaan. At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat bertanya,“Wahai Rasulullah, Anda mencandai kami?” Beliau bersabda,

إِنِّي لَا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًّا

“Saya tidak berkata selain kebenaran.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1990)

Seolah-olah, mereka ingin mengatakan bahwa tidak pantas bagi beliau yang membawa risalah (tugas) dari Allah Subhanahu wata’ala dan mulia kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala untuk bercanda. Beliau pun mengatakan bahwa beliau memang bercanda, namun tidak mengatakan kecuali kebenaran. (lihat Syarhul Misykat karya ath-Thibi, 10/3140) Demikian juga para sahabat. Bakr bin Abdullah mengisahkan, “Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (bercanda dengan) saling melempar semangka. Tetapi, ketika mereka dituntut melakukan sesuatu yang serius, mereka adalah para lelaki.” (lihat Shahih al-Adabul al-Mufrad no. 201)

Kisah di atas menunjukkan bolehnya bercanda dengan perbuatan sebagaimana ucapan. Namun, tidaklah seluruh waktu para sahabat habis untuk bersenda gurau. Mereka hanyalah melakukannya kadangkadang. Dan tampaknya, mereka di sini tidak saling melempar buah semangka, namun hanya kulitnya. Wallahu a’lam.

Bolehnya bercanda juga tidak bisa menjadi alasan untuk menjadikannya sebagai profesi (sebagai pelawak/ komedian, -red.). Ini adalah sebuah kekeliruan. (Fathul Bari 10/527)

 

Bercanda Ada Batasannya

Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan oleh seorang ketika bercanda, di antaranya:

1. Tidak bercanda dengan ayat ayat Allah Subhanahu wata’ala dan hukum syariat-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘Alahissalam ketika menyuruh kaumnya (bani Israil) untuk menyembelih sapi.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (al- Baqarah: 67)

Maksudnya, aku (Musa) tidaklah bercanda dalam hukum-hukum agama karena hal itu adalah perbuatan orang orang yang bodoh. (Faidhul Qadir 3/18)

2. Tidak berdusta dalam bergurau

Nabi n bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dari jalan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

3. Tidak menghina orang lain

Misalnya, menjelek-jelekkan warna kulit seseorang dan cacat fisiknya.

4. Tidak bercanda di saat seseorang dituntut untuk serius

Sebab, hal ini bertentangan dengan adab kesopanan dan bisa jadi mengakibatkan kejelekan bagi pelakunya atau orang lain.

5. Tidak mencandai orang yang tidak suka dengan candaan

Sebab, hal ini bisa menimbulkan permusuhan dan memutus tali persaudaraan.

6. Tidak tertawa terbahak-bahak

Dahulu, tawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah dengan senyuman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita sering tertawa sebagaimana sabdanya.

لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hati.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Al – Imam an – Nawawi rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah, bercanda yang dilarang adalah yang mengandung bentuk melampaui batas dan dilakukan secara terus-menerus. Sebab, hal ini bisa menimbulkan tawa (yang berlebihan), kerasnya hati, melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan memikirkan hal-hal penting dalam agama. Bahkan, seringnya berujung pada menyakiti orang, menimbulkan kedengkian, dan menjatuhkan kewibawaan. Adapun candaan yang jauh dari ini semua, dibolehkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu, namun tidak terlalu sering. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan dan menenteramkan hati orang yang diajak bicara. Yang seperti ini sunnah. (Syarah ath-Thibi rahimahullah terhadap al-Misykat 10/3140)

7. Tidak mengacungkan/ menodongkan senjata kepada saudaranya

Terkadang, ada orang yang bercanda dengan mengacungkan senjatanya (pisau atau senjata api) kepada temannya. Hal ini tentu sangat berbahaya karena bisa melukai, bahkan membunuhnya. Sering terjadi, seseorang bermainmain menodongkan pistolnya kepada orang lain. Ia menyangka pistolnya kosong dari peluru, namun ternyata masih ada sehingga mengakibatkan kematian orang lain. Akhirnya dia pun menyesal karena ternyata masih tersisa padanya “peluru setan” yang mematikan. Namun, apa mau dikata, nyawa orang lain melayang karena kedunguannya. Ini akibat menyelisihi bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Janganlah salah seorang kalian menunjuk kepada saudaranya dengan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mencabut dari tangannya, lalu dia terjerumus ke dalam neraka.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula sabda beliau (yang artinya), “Barang siapa mengacungkan besi kepada saudaranya, para malaikat akan melaknatnya, meskipun ia saudara kandungnya.” (HR. Muslim dan at- Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Larangan mengacungkan senjata kepada saudara ini bersifat umum, baik serius maupun bercanda. Sebab, manusia menjadi target setan untuk dijerumuskan kepada kebinasaan. Dengan sedikit saja tersulut kemarahan, seseorang bisa tega membunuh saudaranya dengan senjata itu. Adapun mengacungkan senjata kepada orang zalim yang menyerangnya dan akan membunuhnya, merampas hartanya, atau melukai kehormatannya, boleh bagi seseorang untuk menakutinakutinya dengan senjata supaya terhindar dari kejahatannya. Apabila upaya menakuti-nakuti ini berhasil, selesailah masalahnya. Namun, bila orang zalim itu tetap menyerang, ia boleh melakukan perlawanan. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Barang siapa menyerang kamu, seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (al- Baqarah: 194)

Tidaklah Nabi n melarang kita dari bercanda dengan senjata kecuali karena khawatir dari (godaan) setan kepada orang yang beriman. Setan telah mengarahkan perangkapnya kepada orang yang beriman agar terjerumus dalam perkara yang menyeretnya kepada neraka dan kemurkaan Allah  Subhanahu wata’ala. Demi menutup jalan yang berbahaya ini, kita dilarang bercanda= yang bisa menimbulkan kejelekan dan menakut-nakuti muslimin atau bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa. Betapa banyak petaka yang kita saksikan karena candaan yang seperti ini. Misalnya, seseorang bercanda dengan berteriak keras dari belakang punggung saudaranya yang sedang santai atau di sisi telinganya sehingga dia terkejut. Semisal ini pula adalah mengejutkan seseorang dengan memuntahkan peluru di atas kepala saudaranya untuk menakutnakuti. Demikian pula mengejutkan orang dengan membunyikan klakson mobil sekeras-kerasnya ketika lewat di sisinya sehingga berdebar-debar jantungnya dan hampir copot. Ada juga mainan ular-ularan yang mirip ular sungguhan yang dilemparkan kepada orang lain yang tidak mengetahuinya. Ia sangka itu ular sungguhan sehingga terkejut dan takut tidak kepalang. Sungguh, candaan yang tersebut di atas dan semisalnya telah banyak menyisakan kepiluan dan trauma yang mendalam.” (lihat Ishlahul Mujtama’ hlm. 36—37)

8. Mengambil harta orang dengan bercanda

Tidak dibenarkan menurut agama seseorang bercanda dengan mengambil harta atau barang milik saudaranya, lalu dia sembunyikan di suatu tempat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا وَإِنْ أَخَذَ عَصَا صَاحِبِهِ فَلْيَرُدَّهَا عَلَيْهِ

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim. Asy-Syaikh al-Albani t menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)

Sisi dilarangnya mengambil barang saudaranya secara serius itu jelas, yaitu itu adalah bentuk pencurian. Adapun  larangan mengambil barang orang lain dengan bergurau karena hal itu memang tidak ada manfaatnya, bahkan terkadang menjadi sebab timbulnya kejengkelan dan tersakitinya pemilik barang tersebut. (Aunul Ma’bud 13/346—347)

9. Tidak menakut-nakuti di jalan kaum muslimin

Menciptakan ketenangan di tengahtengah masyarakat adalah hal yang dituntut dari setiap individu. Tetapi, karena kebodohan dan jauhnya manusia dari bimbingan agama, masih saja didapati orang-orang yang iseng dan bergurau dengan menakut-nakuti di jalan yang biasa dilalui oleh orang. Bentuk menakut – nakutinya beragam. Ada yang modusnya dengan penampakan bentuk yang menakutkan, seperti pocongan atau suara-suara yang mengerikan, terutama di jalan-jalan yang gelap. Model bercanda seperti ini sungguh keterlaluan karena bisa menyisakan trauma yang berkepanjangan, terhalanginya seseorang dari keperluannya, bahkan terhalanginya seseorang dari masjid dan majelis-majelis kebaikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’no. 7659)

10. Berdusta untuk menimbulkan tawa

Apabila seorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al-Jami’)

Ia celaka karena dusta sendiri adalah pokok segala kejelekan dan cela, sehingga apabila digabungkan dengan hal yang mengundang tawa yang bisa mematikan hati, mendatangkan kelalaian, dan menyebabkan kedunguan, tentu hal ini lebih buruk. (Faidhul Qadir 6/477) Akhirnya, kita memohon kepada Allah  Subhanahu wata’ala agar diberi taufik dan bimbingan- Nya untuk selalu lurus dalam berbuat dan berkata-kata.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Akibat Mencela Ulama

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al-Ahzab: 58)

Sebab Turunnya Ayat

Sebagian ulama tafsir, seperti al- Baghawi, al-Alusi, al-Baidhawi, dan yang lain, menyebutkan dalam kitab tafsirnya, beberapa pendapat terkait dengan sebab turunnya ayat ini. Ada yang menyatakan bahwa ayat ini turun sehubungan dengan tindakan kaum munafikin terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seperti pada riwayat Muqatil. Pendapat lain menyatakan, ayat ini turun kepada Abdullah bin Ubay dan orang-orang yang bersamanya yang mereka melontarkan tuduhan palsu terhadap Aisyah x, seperti pada riwayat adh-Dhahhak. (al-Maktabah asy-Syamilah)

Makna Ayat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

 “Dan orang-orang yang menyakiti.”

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna al-adza adalah menyelisihi perintah Allah Subhanahu wata’ala dan berbuat maksiat kepada-Nya. Lalu beliau menukil ucapan Mujahid rahimahullah, menyakiti bermakna mereka yang mencela, memfitnah, dan menuduh kaum mukminin tanpa dosa dan kesalahan. Adapun ath-Thabari rahimahullah menyatakan, makna ucapan Mujahid rahimahullah dengan tafsir seperti ini adalah orangorang yang mencela kaum mukminin dan mukminat, serta menjelek-jelekkannya, dengan harapan kejelekan dan keburukan itu ada pada mereka (kaum mukminin).

Al-Alusi rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah mereka yang melakukan tindakan yang menyakiti kaum mukminin, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ibnu Katsir rahimahullah (3/496) menjelaskan, maknanya adalah mereka yang menisbatkan (menuduh) kaum mukminin suatu perkara, yang kaum mukminin sendiri berlepas diri darinya, yaitu perkara yang tidak mereka lakukan dan tidak mereka perbuat.

بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا

“Tanpa kesalahan yang mereka perbuat.”

Artinya, tanpa dosa dan kesalahan yang mengharuskan mereka (kaum mukminin) disakiti. Mujahid rahimahullah berkata, Dengan perkara yang tidak mereka lakukan.

فَقَدِ احْتَمَلُوا

“Maka sesungguhnya mereka telah memikul.”

Maksudnya, di atas punggungpunggung mereka.

بُهْتَانًا

“Kebohongan dan dosa yang nyata.”

Al-Alusi rahimahullah menerangkan, kata buhtan bermakna perbuatan jelek, keji. Ada pula yang memaknai dengan kebohongan, berupa kebohongan yang sangat jelek. Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, maknanya adalah kebohongan, kedustaan, fitnah, laporan yang jahat, dan keji (palsu). “Buhtan” adalah kebohongan yang paling buruk, keji, dan jelek. (asy- Syamilah) Disebutkan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsirnya, Fathul Qadir (1/814), al-buhtan diambil dari kata al-buht. Artinya, kebohongan yang dituduhkan kepada orang yang bersih (dari tuduhan) dengan sesuatu yang diada-adakan. Dikatakan, bahata buhtan wa buhtaanan, jika seseorang mengatakan terhadap orang lain yang tidak ia ucapkan (yang tidak ada padanya). Kata buhita bisa dibaca dengan mengkasrah ha’ atau mendhammahnya, bahuta, bermakna tercengang, heran, diam dalam kebingungan. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

Lalu heran terdiamlah orang kafir itu.(al-Baqarah: 258)

وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dosa yang nyata,” yaitu yang tampak dan jelas.

Tafsir Ayat

Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Zadul Masir berkata, “Ulama tafsir sepakat bahwa makna ayat ini adalah menjelaskan adanya orang-orang yang menuduh kaum mukminin dan mukminat dengan perkara yang tidak ada pada mereka.” Ibnu Katsir rahimahullah (3/496—497) berkata, “Kebohongan terbesar adalah menceritakan dan menukil dari orangorang mukmin laki-laki ataupun perempuan, perkara yang tidak mereka perbuat, dengan tujuan mengaibkan, mencemarkan, dan mencela mereka. Kebanyakan orang yang masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya.

Kemudian kaum Rafidhah, yang mencela dan menjelek-jelekkan para sahabat dengan perkara yang Allah Subhanahu wata’ala telah menyucikan mereka darinya. Mereka (Rafidhah) juga menyifati para sahabat dengan hal-hal yang bertentangan dengan yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan tentang mereka. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan bahwa Ia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar serta memuji mereka. Adapun mereka adalah orang-orang yang bodoh dan dungu, yang selalu mencaci maki dan mencela para sahabat, selalu menyebutkan perkara yang tidak ada pada mereka dan yang sama sekali tidak mereka lakukan. Maka dari itu, mereka (kaum Rafidhah) pada hakikatnya adalah orangorang yang terbalik hatinya karena mencela orang-orang yang terpuji dan memuji orang-orang yang tercela.” Kemudian beliau memaparkan riwayat dengan sanadnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai Rasulullah, apa itu ghibah?” Beliau menjawab, “Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Lalu beliau ditanya, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku sebut itu memang ada pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau sebut itu ada pada dirinya, engkau telah mengghibah dia. Namun, jika yang engkau sebut itu tidak ada padanya, engkau telah berbuat buhtan (berdusta) terhadap dia.” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau juga memaparkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya,

“Apakah perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’ala?” Mereka menjawab, “Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’alaadalah orang yang menghalalkan kehormatan/harga diri seorang muslim.” Kemudian beliau membaca ayat,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al- Ahzab: 58)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Oleh karena itu, mencela atau memaki salah seorang dari kaum mukminin mengharuskan dia diberi hukuman, sebatas keadaan dan kedudukan orang yang dicelanya. Jadi, hukuman bagi orang yang mencela sahabat lebih berat. Hukuman bagi orang yang mencela para ulama dan orang-orang yang beragama Islam dengan baik, lebih besar daripada yang selain mereka.” Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang disifati oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana tersebut dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Asy-Syaikh bin Baz pernah ditanya tentang tafsir ayat ini, (Majmu’ Fatawa, 24/268—270). Beliau menjawab, “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ulama itu adalah orang yang tahu tentang Allah Subhanahu wata’ala, agama, kitab (al-Qur’an) yang agung, dan sunnah Rasul-Nya yang mulia. Mereka adalah manusia yang sempurna takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala, sempurna takwanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan sempurna ketaatannya kepada-Nya. Yang terdepan dari mereka adalah para rasul dan nabi.” Maka dari itu, yang dimaksud dengan “sesungguhnya yang takut kepada Allah” adalah rasa takut yang sempurna dari hamba-Nya, yaitu para ulama. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-Nya serta keagungan hak-Nya. Mereka memahami syariat-Nya, mengimani apa yang ada di sisi-Nya, yaitu kenikmatan bagi yang bertakwa kepada-Nya serta azab bagi yang durhaka dan menyelisihi perintah-Nya.

Karena kesempurnaan ilmu tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kesempurnaan pemahaman tentang kebenaran, mereka menjadi manusia yang paling takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia yang banyak rasa takutnya dan pengagungannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ayat ini tidaklah bermakna bahwa tidak ada yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala selain para ulama. Sebab, setiap muslim laki-laki dan perempuan serta setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun, rasa takut tersebut berbeda, tidak sama. Setiap orang mukmin yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih paham terhadap agama, tentu ia akan memiliki lebih banyak rasa takut dan lebih sempurna khasyahnya.

Demikian pula halnya dengan seorang wanita yang beriman, jika keadaannya seperti itu. Setiap orang yang berkurang ilmu dan bashirahnya, akan berkurang pula rasa takut dan khasyahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak sama dalam hal ini. Bahkan, keadaan para ulama pun demikian. Setiap alim yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih menjalankan hak dan agama-Nya, lebih berilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takutnya kepada Allah l tentu lebih sempurna daripada alim yang lain. Semakin sedikit ilmunya, semakin sedikit pula rasa takutnya. Namun, setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah l, sebatas ilmu dan derajat mereka dalam hal iman. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ {} جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada- Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (al-Bayyinah: 7—8)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.(al- Mulk: 12)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga. (ar-Rahman: 46)

Jadi, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan balasan sebatas rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala, meskipun mereka bukan para ulama, melainkan kalangan orang biasa. Akan tetapi, kesempurnaan rasa takut hanya ada pada ulama karena kesempurnaan pengetahuan dan ilmu mereka terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Dengan demikian, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala lebih agung.

Wallahu waliyyu at-taufiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Akhlak Orang Berilmu

Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala karena ilmu mereka, yaitu ilmu tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka di kehidupan dunia yang fana ini dan kelak di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang paling beruntung karena menjadi pewaris para nabi. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa berhasil mengambilnya berarti dia telah berhasil mendapatkan keuntungan yang banyak.” (HR . Abu Dawud dan at- Tirmidzi dari Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana telah diketahui, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mewariskan selain apa yang telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada umatnya selama hidupnya, yaitu kitabullah al-Qur’an al-Karim dan sunnah-Nya yang suci. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayatayat- Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“ Aku telah meninggalkan (mewariskan) dua hal bagi kalian. Apabila berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamalamanya sepeninggalku. (Dua hal itu) adalah kitabullah dan sunnahku.”

Di antara hal-hal termulia yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama adalah akhlak dan kepribadian yang terpuji. Allah Subhanahu wata’ala memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena sifat tersebut dalam firman-Nya,

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ {} مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ {} وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ {} وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 1—4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya. Al-Imam al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

“Apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ini adalah sebuah kalimat yang agung. Beliau membimbing kita untuk berakhlak seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mengikuti al-Qur’an, istiqamah di atas (ajaran) al-Qur’an pada seluruh urusan yang diperintahkan dan yang dilarang. Di samping itu, menjauhi seluruh akhlak jelek yang dicela oleh al-Qur’an dan dicela pula pemiliknya. Ini adalah akhlak yang dipuji dan disanjung oleh al-Qur’an. Orang-orang berilmu, seperti para dai, pendidik, dan penuntut ilmu, seyogianya benar-benar memerhatikan kitabullah dan menerimanya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, mereka akan berhasil mengambil akhlak-akhlak yang dicintai oleh Allah l dari al-Qur’an itu. Setelah itu, mereka beristiqamah di atasnya. Akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang memiliki akhlak dan manhaj (metodologi) di atasnya (al- Qur’an) di mana pun berada.” (Akhlaqu Ahlil ‘Ilmi, hlm. 1)

Melalui rubrik “Akhlak” edisi kali ini, penulis ingin menukilkan sebagian persaksian seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah, tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Pemaparan beliau ini disampaikan dalam ceramah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H, di masjid Universitas Islam di Madinah. Diharapkan penjelasan ini bisa menjadi pelajaran dan teladan yang baik bagi kita semua. Inti pembahasan yang beliau sampaikan pada kesempatan tersebut adalah sebagai berikut.

Kesabaran dan Kesungguh-Sungguhan dalam Menuntut Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Mushin al-‘Abbad berkata, “Beliau, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dilahirkan di kota Riyadh pada 12 Dzulhijjah1330 H. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang mulia. Di dalamnya ada orang-orang yang berilmu dan mulia. Sejak kecil beliau memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat mendapatkan ilmu. Bahkan, beliau telah hafal al-Qur’an sebelum baligh. Beliau dahulu memiliki penglihatan yang sempurna. Sakit yang beliau derita pada umur 16 tahun mengakibatkan penglihatan beliau melemah. Indra penglihatan beliau bertambah lemah sampai tidak mampu melihat sama sekali pada umur 20 tahun. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau pandangan, cahaya, dan iman di dalam hatinya sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, semangat, dan kesungguhsungguhan untuk mencari ilmu.

Mengamalkan Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad melanjutkan, “Beliau adalah alim yang besar. Hal ini diketahui oleh orang-orang khusus dan orang-orang umum. Beliau adalah seorang yang alim lagi pendidik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menulis di dalam kitabnya, Fathul Bari, dari Ibnu A’rabi rahimahullah bahwa dia berkata, ‘Seorang alim tidak disebut sebagai rabbani (pendidik) hingga dia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya.’ Sungguh, asy-Syaikh Abdul Aziz adalah orang yang seperti itu. Beliau berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya sekaligus mengajak kepada mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dengan bashirah (ilmu dan keyakinan).

Khasyah (Rasa Takut) dan Ibadah

Asy-Syaikh Abdul Muhsin berkata, “Asy-Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang senantiasa mengamalkan ilmunya karena buah ilmu adalah amal. Beliau sering berzikir, berdoa, dan senantiasa berusaha untuk menunaikan ibadah haji hingga 47 kali. Saya (asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad) mengetahui hal itu tatkala beliau berkunjung ke daerah al-Bahah pada Sya’ban 1400 H. Ketika itu beliau ditanya tentang hal tersebut. Di antara jawabannya, beliau menyebutkan bahwa umurnya saat itu 70 tahun dan telah menunaikan haji 28 kali. Salah seorang hadirin mengabarkan hal itu kepada saya.

Setelah itu beliau setiap tahun menunaikan ibadah haji hingga terhenti pada 1418 H. Jadi, beliau berhaji 28 kali ditambah 19 kali, jumlahnya 47 kali. Termasuk bukti perhatian beliau yang sangat besar terhadap ibadah dan menyibukkan diri dengannya adalah sebuah peristiwa pada 1397 H akhir bulan Dzul Qa’dah. Ketika itu, saya pergi dari Madinah ke Makkah karena sebuah urusan yang terkait dengan pekerjaan saya. Saat itu saya menjadi wakil beliau (beliau menjabat rektor, -red.) di Universitas Islam Madinah. Saya bermalam di rumah beliau. Di rumah beliau ada sebuah tempat yang luas. Di tempat itu beliau berjamjam mondar-mandir sambil membaca al-Qur’an. Beliau ingin menggerakkan badan (sambil membaca al-Qur’an).

Saya juga mengingat sebuah kejadian pada saat beliau masih memimpin Universitas Islam Madinah. Saya bersama beliau masuk ke Masjid Nabawi setelah azan zuhur. Saya berada di samping beliau. Beliau lantas shalat empat rakaat, sedangkan saya shalat dua rakaat. Sudah dimaklumi jumlah shalat rawatib ada 10 rakaat menurut sebuah riwayat, dan menurut riwayat lainnya 12 rakaat. Namun, yang lebih utama dan sempurna adalah 12 rakaat. Tatkala selesai shalat, beliau menoleh kepada saya sambil berkata, ‘Engkau tidak shalat selain dua rakaat saja.’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya yang dua belas rakaat itu lebih utama dan lebih sempurna.’ Beliau senantiasa memilih yang lebih utama dan lebih sempurna. Beliau senantiasa memberi peringatan, bimbingan, dan arahan untuk meraih yang paling mulia dan paling sempurna.”

Ketegaran dan Keberanian Berdakwah

Beliau senantiasa berusaha memberi manfaat kepada umat baik dengan ilmu maupun nasihatnya, baik dengan amar ma’ruf maupun nahi munkar, dengan ajakan maupun dakwah ke jalan yang baik, serta membantu mereka dengan harta dan kedudukan beliau. Beliau berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik, melalui ceramah, nasihat, dan tulisan. Ketika beliau mendapatkan kesalahan-kesalahan yang terdapat di koran atau majalah, beliau akan memperingatkannya. Peringatan beliau itu disebarkan melalui koran-koran ataupun risalah-risalah yang ditulis dan dicetak oleh beliau sendiri.

Ketawadhuan dan Kepedulian

Rumah beliau senantiasa didatangi oleh orang-orang fakir dan orang-orang yang punya berbagai keperluan. Ada yang datang meminta fatwa, ada pula yang meminta bantuan. Mereka semua makan siang atau makan malam bersama beliau. Beliau telah menyiapkan makanan setiap hari dengan jumlah yang cukup bagi tamunya. Musim haji tahun 1419 H. Beliau berhalangan menunaikan ibadah haji karena sakit yang menyebabkan beliau meninggal. Para dokter menyarankan beliau untuk tidak pergi haji. Karena itu, beliau menugaskan beberapa orang untuk membuka pintu rumahnya di Makkah dan tempat kemahnya di Mina. Beliau perintahkan pula untuk membuatkan jamuan guna diberikan kepada orang-orang yang biasa datang untuk mendapatkan faedah dari ilmu beliau dan makan bersama beliau. Beliau pun senantiasa menelepon orang-orang yang diberi tugas tersebut supaya tenang.

Beliau sangat bersemangat membantu orang-orang yang membutuhkan dan membangun masjid-masjid, baik di dalam maupun di luar negeri. Di atas meja khusus beliau di rumahnya, tertumpuk daftar orang-orang dan proposalproposal yang mengharapkan bantuan, baik orang-orang yang fakir maupun para dai, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Bukan hanya ini usaha beliau untuk memberi manfaat kepada umat dan semangat beliau membantu mereka. Beliau menulis surat kepada seorang syaikh besar pada tanggal 8-3-1418 H. Beliau tuliskan di dalam surat itu, “Saya senang memberi kabar kepadamu yang sudah sekian tahun saya berusaha banyak membantu orang-orang berhajat, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, membangun masjid-masjid baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, menunjuk para dai di luar Kerajaan Saudi, yang itu semua dengan biaya Raja Saudi, para pembantunya, beberapa pejabat, orang-orang yang dermawan, dan pengusaha.” Beliau lalu berkata, “Kekekalan itu hanya milik Allah Subhanahu wata’ala…. Jika saya meninggal, saya berharap engkaulah yang akan menggantikan saya mengurusi tugas-tugas ini dan hendaknya engkau mengharap pahalanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Kasih Sayang terhadap Umat

Beliau sangat penyayang, dermawan, dan menghormati tamu. Tatkala datang kepada beliau tamu yang berasal dari berbagai daerah atau negara, beliau segera mengundangnya untuk makan siang atau makan malam. Beliau juga akan bertanya tentang kabarnya dan kabar ayah ibunya, bertanya tentang sebagian kerabatnya, serta tentang orang-orang yang dikenal sebagai ulama di negeri asal sang tamu. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah mengisahkan kunjungannya kepada gurunya, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, “Pada tahun terakhir sebelum beliau meninggal, saya pergi ke Makkah, dua hari sebelum pergi ke Thaif bertepatan dengan hari Kamis, 29 Dzulhijah. Saya dan beberapa anak saya pergi untuk mengunjungi beliau secara khusus. Tatkala kami sampai dan mengucapkan salam, sebagaimana biasanya beliau rahimahullah segera bertanya kepada kami tentang kabar kami dan kabar kedua orang tua kami, sekaligus mengundang makan siang. Saya katakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami datang dari Madinah dengan tujuan khusus untuk mengunjungi Anda dan makan siang bersama Anda. Setelah itu, kami kembali ke Madinah.” Beliau menjawab, ‘Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi,

وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِيْنَ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ

‘Kecintaan-Ku wajib didapatkan oleh orang-orang yang saling mencintai dan mengunjungi karena Aku’.

Adab Terhadap Para Ulama

“Beliau rahimahullah sangat memerhatikan permasalahan fikih. Beliau sendiri adalah rujukan dalam hal fatwa, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi. Beliau adalah seorang mufti (ahli fatwa) dunia. Sebagaimana yang telah saya sebutkan, umat manusia atau kaum muslimin bahkan merujuk kepada beliau dalam berbagai masalah yang diperselisihkan. Beliau rahimahullah sangat teliti menyebutkan sebuah pendapat atau hukum dengan disertai dalilnya dan menjelaskan sisi pendalilannya, baik dalil-dalil wahyu maupun dalil secara logika. Ketika mengkritisi sebuah pendapat yang menurut keyakinan beliau menyelisihi kebenaran, beliau sangat beradab terhadap para ulama rahimahumullah. Beliau berkata, ‘Pendapat ini perlu diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian.’ Barang siapa menelaah catatan kaki beliau dalam kitab Fathul Bari jilid ketiga, niscaya dia akan mendapatkan hal itu dengan jelas dan terang.

Tatkala beliau mengkritisi al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah atau para ulama yang beliau nukil pendapatnya, beliau mengawali kritikannya dengan ucapan, ‘Pendapat ini butuh diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian,’ sambil menyebutkan dalilnya. Adapun pendapat yang jelas-jelas salah atau batil yang menyelisihi alhaq dan dalil, beliau akan berkata, ‘Pendapat ini sangat jelas kebatilannya’, ‘Pendapat ini tidak benar’, atau ‘Ini adalah pendapat yang batil’, atau ungkapan yang semisalnya.” Demikianlah sedikit gambaran yang menakjubkan tentang akhlak dan kepribadian sebuah pribadi yang menjadi suri teladan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik kepada kita semua untuk terus-menerus berusaha memperbaiki akhlak dan kepribadian kita sehingga termasuk golongan para hamba-Nya yang beruntung dengan mendapatkan bagian warisan dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin ya Rabbal-alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Adab-Adab di dalam Masjid

Masjid memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Islam dan di mata para pemeluknya. Ia adalah tempat bersatunya jiwa-jiwa kaum mukminin dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dan wadah untuk berkumpulnya jasmani mereka agar saling mempererat tali persaudaraan serta bertukar manfaat dan informasi. Di dalam masjid pula, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya di atas agama ini. Dari masjid beliau muncul generasi umat Islam pertama yang menebarkan cahaya ke seluruh penjuru bumi. Karena itu, masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah bisa dikatakan sebagai universitas Islam pertama, dengan guru besarnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat sebagai mahasiswanya. Masjid mempunyai sejarah panjang yang mampu menetaskan para ulama dan da’i yang handal keilmuannya serta mampu memberikan kontribusi yang besar bagi umat.

Karena masjid adalah sarana vital untuk membentuk karakteristik umat dan syiar Islam yang menonjol, maka sesampainya di Madinah ketika berhijrah, yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali adalah membangun masjid bersama para sahabat. Setelah berdiri tegak masjid tersebut dengan segala kesederhanaan yang ada, masjid beliau tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan dan ritual keagamaan. Bahkan, dari sanalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatur urusan kenegaraan, menentukan strategi perang dan mengirim pasukan, mengobati orang yang sakit, serta menyambut delegasi asing.

Intinya, masjid adalah syiar Islam yang besar dan mempunyai peran yang sangat strategis demi tercapainya kemuliaan Islam dan muslimin. Umat Islam senantiasa mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi awal umat ini. Karena sedemikian besar kedudukan masjid, maka ada beberapa adab/sopan santun yang ditentukan oleh agama ketika seorang berada di dalamnya. Siapa saja yang mengagungkan syiar Allah Subhanahu wata’ala, maka itu pertanda ketakwaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al- Hajj: 32)

Adab Seorang Muslim di Dalam Masjid

Ketika seorang muslim hendak masuk masjid, dia mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan salam atau shalawat atas Nabi lalu membaca doa yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti doa,

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakan bagiku pintupintu rahmat-Mu.”

Apabila hendak keluar masjid, didahulukan kaki kiri lalu membaca salam atau shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan-Mu/ tambahan nikmat-Mu.”

Doa di atas sangat tepat. Kala seseorang hendak masuk masjid, ia memohon rahmat Allah Subhanahu wata’ala karena akan menyibukkan diri dengan ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala, pahala dan surga-Nya. Ketika akan keluar, dia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala tambahan rezeki-Nya karena dia akan menjalani aktivitas duniawi. (lihat Faidhul Qadir 1/432) Jika seseorang telah masuk masjid, disyariatkan baginya shalat dua rakaat tahiyyatul masjid sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, hendaknya ia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (HR. al- Bukhari no. 444)

Yang diinginkan dari hadits ini adalah orang yang masuk masjid agar tidak duduk sampai ia shalat terlebih dahulu. Jadi, apabila ia masuk masjid lalu shalat sunnah qabliyah atau shalat wajib yang akan dia lakukan, hal itu telah mencukupinya sehingga tidak perlu shalat tahiyyatul masjid. Demikian pula apabila ia masuk dalam kondisi iqamat telah dikumandangkan, shalat fardhu yang ada telah mencukupinya dari shalat tahiyyatul masjid. (lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/270)

Apabila telah berada di masjid, hendaknya dia menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan, seperti zikir, membaca al-Qur’an, mempelajari ilmu, dan yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika menasihati seorang badui yang kencing di masjid, “Sesungguhnya masjidmasjid ini tidak boleh dikencingi dan dikotori. Ia tidak lain (tempat) untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (Shahih Muslim no. 285 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Orang yang duduk menanti dikumandangkan iqamat alangkah bagusnya apabila dia berdoa karena saat itu adalah waktu yang mustajab. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّعَاءُ ل يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa antara azan dan iqamat tidak ditolak (oleh Allah Subhanahu wata’ala).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi 1/133 no. 212)

Ketika seorang telah shalat di suatu masjid atau tempat, lalu dia mendatangi masjid yang lain dan mendapati jamaah masjid tersebut sedang melangsungkan shalat berjamaah, hendaknya dia ikut berjamaah bersama mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Apabila salah seorang dari kalian shalat di rumahnya, kemudian dia masuk masjid dan orangorang (yang di dalamnya) sedang shalat, hendaknya ia shalat bersama mereka. Shalat tersebut baginya (hukumnya) sunnah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 654)

Hendaknya seseorang berusaha menempati shaf-shaf awal apabila masih ada tempat karena keutamaannya yang besar. Hal ini seperti disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا

“Andai manusia tahu apa yang ada pada azan dan shaf awal (yakni keutamaannya), lalu mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan berundi untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Orang yang berusaha mengisi shafshaf terdepan menunjukkan bahwa dia bersemangat meraih keutamaan. Akan tetapi, caranya tidak seperti yang dilakukan sebagian orang: sengaja meletakkan sajadahnya di shaf-shaf awal, lalu keluar dari masjid dan sibuk dengan aktivitas dunia; ketika telah datang waktu shalat ia pun datang untuk menempati shaf tersebut. Hal ini tidak diperbolehkan, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya. Sebab, tempat yang ada di masjid tidaklah dimiliki oleh siapa pun secara khusus. Yang diinginkan adalah seseorang datang lebih awal dan menempati shaf awal, bukan sajadahnya (wallahu a’lam).

Di antara hal yang juga perlu diperhatikan oleh orang yang berada dalam masjid ialah apabila azan sudah dikumandangkan di masjid tersebut, janganlah ia keluar kecuali ada keperluan yang ia akan kembali lagi ke masjid itu, seperti mengambil air wudhu, mengganti pakaiannya yang terkena najis, dan semisalnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang azan telah mendapatkannya di masjid kemudian ia keluar, ia tidak keluar karena suatu keperluan, yang ia tidak ingin kembali (ke masjid) maka dia munafik.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 606)

Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin al-Musayyib t untuk mengucapkan salam perpisahan ketika mau haji atau umrah. Sa’id berkata kepadanya, ‘Engkau jangan pergi dahulu sebelum shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan selain orang munafik, kecuali seseorang yang keluar karena suatu keperluan dan ia ingin kembali lagi ke masjid.’ Lelaki tersebut berkata, ‘Sesungguhnya rekanrekan saya ada di Harrah (tempat yang tanahnya berbatu hitam di Madinah).’ Orang itu (tetap) pergi.” Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Sa’id pun bertanya dan mencari berita orang tersebut, sampai dia diberi tahu bahwa orang tersebut terjatuh dari kendaraannya hingga retak pahanya.” (Sunan ad-Darimi 1/125 no. 452)

Tidak Mengganggu Orang yang Shalat atau yang Sedang Menjalankan Ketaatan Lainnya

Orang yang sedang menjalankan ibadah di dalam masjid membutuhkan ketenangan sehingga dilarang mengganggu kekhusyukan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Di antara bentuknya adalah:

1. Melangkahi pundak-pundak mereka untuk mendapatkan shaf depan, padahal shaf telah rapat.

Bentuk lainnya, dia menggeser-geser tempat duduk saudaranya yang telah sempit sehingga ia merampas sebagian tempat duduk saudaranya. Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa dahulu ada seorang lelaki masuk ke masjid pada hari Jum’at dan Nabi n sedang menyampaikan khutbahnya. Orang tersebut melangkahi para manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya, “Duduklah kamu! Kamu telah menyakiti dan telah terlambat datang.” (Shahih Sunan Ibni Majah no. 923)

2. Menyuruh seorang yang duduk untuk berdiri lalu dia menempati tempat tersebut.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Janganlah salah seorang dari kalian menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk padanya. Namun, berilah kelapangan!” (Muttafaqun ‘alaih)

Seorang muslim hendaknya menjaga perasaan orang lain dan tidak menyakitinya. Dalam hadits di atas juga ada perintah untuk melapangkan tempat duduk bagi saudaranya yang baru datang sehingga bisa mendapatkan tempat duduk. Tidak pantas seorang muslim rakus dengan tempat duduk dengan mengambil tempat yang melebihi kebutuhannya sehingga menghalangi orang lain mendapatkannya.

3. Berteriak-teriak dan membuat gaduh di dalam masjid

Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisikbisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

Apabila mengeraskan bacaan al-Qur’an saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suarasuara gaduh yang tidak bermanfaat?! Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang—terutama anak-anak muda—tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang tiada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam rukuk, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh untuk mendapatkan rukuk bersama imam. Untuk yang seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut karena mereka tidak membaca al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu.

Tetapi, mereka meninggalkannya dan justru mengganggu saudara-saudaranya yang sedang shalat. Hal ini berbeda dengan kondisi sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu yang ketika datang untuk shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam didapatkannya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang rukuk lalu ia ikut rukuk bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah.

4. Apabila Anda masuk masjid membawa senjata, pastikan bahwa Anda telah menutup bagian yang tajam, runcing, atau yang berbahaya, sehingga aman dan tidak melukai orang lain

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seorang lelaki masuk masjid dengan membawa anak panah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memerintahkan orang tersebut untuk memegang bagian yang runcing dari anak panah itu.” (lihat Shahih al- Bukhari no. 451)

Membersihkan Masjid dari Kotoran

Masjid sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini harus kita jaga kebersihannya. Oleh karena itu, dilarang meludah dan mengeluarkan dahak dan membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun di lantai masjid atau temboknya, hal ini dilarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا

“Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut.” (Shahih al-Bukhari no. 40)

Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain. (lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t seputar masalah ini dalam kitabnya Riyadhush Shalihin bab “an-Nahyu ‘anil Bushaq fil Masjid”)

Apabila seseorang melihat di dalam masjid atau pada dindingnya ada dahak atau semisalnya, hendaknya dia membersihkannya. Sebab, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak yang melekat pada dinding masjid lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil batu kerikil untuk mengeriknya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 408 dan 409)

Hadits tersebut mengandung sejumlah faedah, di antaranya adalah menghilangkan sesuatu yang kotor dari masjid, dan seorang imam/penguasa hendaknya memerhatikan kondisi masjidmasjid yang ada, serta sikap rendah hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mau turun langsung membersihkan kotoran. Dengan dibersihkannya masjid dari kotoran, maka orang yang melaksanakan ibadah padanya akan merasa nyaman, di samping pelakunya akan mendapat pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda (yang artinya),

“Diperlihatkan (kepadaku) amalanamalan umatku yang baiknya dan yang buruknya. Aku melihat pada amalan kebaikannya (adalah) menyingkirkan gangguan dari jalan, dan aku melihat pada amalan jeleknya (adalah) dahak yang ada di masjid yang dia tidak menimbunnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah dari Abu Dzar z)

Oleh karena itu, orang yang akan shalat dengan memakai sandalnya di masjid1 hendaknya sebelum masuk masjid ia membalikkan sandalnya untuk melihat apakah ada kotoran atau tidak sehingga dia bisa membuangnya terlebih dahulu.

Menjauhkan Masjid dari Bau yang Tidak Sedap

Apabila seseorang memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid maka ia dilarang masuk ke masjid. Contohnya, seseorang memakan bawang merah atau bawang putih yang masih mentah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّوْمِ وَالْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ، فَلَا يَقْرَبَنَّا فِي مَسَاجِدِنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ

“Barang siapa memakan sayuran ini: bawang putih, bawang merah, dan seledri, janganlah mendekati kami di masjid-masjid kami. Sebab, para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim)

Apabila seseorang dilarang masuk masjid karena mengonsumsi sesuatu yang baunya tidak sedap seperti bawang mentah, padahal bawang itu halal, lantas bagaimana halnya dengan orang yang mengisap rokok di masjid?

Menjaga dari Ucapan yang Jorok dan Tidak Layak di Masjid

Tempat yang suci tentu tidak pantas kecuali untuk ucapan-ucapan yang suci dan terpuji pula. Oleh karena itu, tidak boleh bertengkar, berteriak-teriak, melantunkan syair yang tidak baik di masjid, dan yang semisalnya. Demikian pula dilarang berjual beli di dalam masjid dan mengumumkan barang yang hilang. Nabi n bersabda (yang artinya), “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah l tidak memberi keberuntungan dalam jual belimu!’ Dan apabila kamu melihat ada orang yang mengeraskan suara di dalam masjid untuk mencari barang yang hilang, katakanlah, ‘Semoga Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengembalikannya kepadamu’.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/63—64 no. 1321)

Beberapa Adab Lain di Dalam Masjid

1. Dilarang bermain-main di masjid selain permainan yang mengandung bentuk melatih ketangkasan dalam perang.

Hal ini sebagaimana dahulu orangorang Habasyah bermain perangperangan di masjid dan tidak dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Shahih al-Bukhari no. 454)

2. Dibolehkan tidur di masjid.

Sebab, dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian sahabat tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan yang lainnya .

3. Dibolehkan makan di masjid dengan memerhatikan adab-adabnya dan tidak mengotori masjid.

4. Diharamkan lewat di depan orang yang shalat, yakni antara orang yang shalat dan sutrah (pembatas) yang di hadapannya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 510)

5. Apabila Anda shalat menghadap sutrah lalu ada orang ingin melewatinya, hendaknya ia dicegah. Apabila dia tetap memaksa untuk melewatinya, boleh didorong. (lihat Shahih al-Bukhari no.

509)

6. Tidak shalat di antara dua tiang saat shalat berjamaah karena tiangtiang itu memutus shaf (barisan) shalat, sedangkan merapikan shaf adalah perkara yang diperintahkan.

Adapun apabila shalat sunnah sendirian, boleh baginya shalat di antara dua tiang sebagaimana dahulu Nabi n shalat sunnah di dalam Ka’bah berdiri di antara dua tiang. (lihat Shahih al- Bukhari no. 505)

Demikianlah sebagian adab yang semestinya diperhatikan oleh seorang muslim ketika berada dalam masjid. Kami mengajak para pembaca untuk menelaah kitab-kitab hadits yang berkaitan dengan adab-adab dalam masjid. Ada sebuah kitab bagus yang ditulis oleh al-Imam az-Zarkasyi asy-Syafi’i yang berkaitan dengan hukum-hukum masjid dengan judul I’lamus Sajid bi Ahkamil Masajid. Demikianlah, semoga ulasan singkat ini bermanfaat.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Penyebab Maraknya Kesesatan

Pergulatan antara penganut kebenaran dan pengikut kebatilan adalah kepastian dari Allah Subhanahu wata’ala. Dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia Subhanahu wata’ala telah menakdirkan terjadinya sampai datangnya hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang awal pergulatan tersebut, yaitu antara Bapak kita, Adam ‘Alaihissalam, dan Iblis la’natullah ‘alaih. Iblis telah menyatakan permusuhan kepada manusia di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benarbenar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya.”  (Dan Allah berfirman), “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buahbuahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim.”

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepadakeduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,” maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (al-A’raf: 16—22)

Kepastian ini juga akan dihadapi oleh seluruh nabi setelah Adam  beserta para pengikut mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

 “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan  (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indahindah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka adaadakan.” (al-An’am: 112)

Terlebih lagi pergulatan yang harus dihadapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melawan pembela kebatilan sehingga Allah Subhanahu wata’alamengibur beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman- Nya (yang artinya),

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalimitu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (al-An’am: 33—34)

Kita meyakini bahwa perseteruan yang terjadi antara ahlul haq (pengikut kebenaran) dan ahlul batil (pengikut kebatian) di dunia fana ini terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala dan disertai oleh hikmah- Nya yang sempurna karena Allah Subhanahu wata’ala adalah Yang Mahabijaksana. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan hikmah tersebut dalam firman-Nya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرً

 “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

 “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (al-Baqarah: 251)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan, “Di antara hikmah Allah menjadikan musuh-musuh bagi para nabi dan adanya pembela kebatilan yang mengajak pada kebatilannya adalah sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, akan terpisahkan antara yang jujur dan yang berdusta, yang berakal sehat dan yang jahil, serta yang melihat (dengan mata hatinya) dan yang buta. Selain itu, hikmah (adanya ujian dan cobaan tersebut) adalah penjelasan dan penerangan tentang kebenaran karena kebenaran akan bercahaya dan tampak jelas saat kebatilan menghadang dan memeranginya. Saat itu terpisahkanlah dalil-dalil dan saksisaksi yang menunjukkan pada kebenaran tersebut beserta hakikatnya, dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh kebatilan. Hal ini (terpisahnya kebenaran dan kebatilan) termasuk hal yang paling dicari oleh para hamba.” (Taisir al-Karimirrahman hlm. 270)

Dua Sebab Maraknya Ideologi Sempalan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُم

“Sabarlah kalian karena tidak datang sebuah masa kecuali yang setelahnya lebih jelek dari yang sebelumnya, sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian.” (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ

“Sesungguhnya termasuk tandatanda kiamat adalah dicabutnya ilmu dan merebaknya kebodohan.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik)

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,

إِنَّ ا لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah l tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan sekaligus. Akan tetapi, Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama (ahli ilmu).Ketika Dia tidak menyisakan seorang alim pun, umat manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka, kemudian para pemimpin itu ditanya. Mereka pun berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Tiga hadits di atas menunjukkan bahwa merebak dan semaraknya berbagai kesesatan dalam agama ini disebabkan oleh jauhnya umat manusia dari ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ahlinya (para ulama). Lebih jelasnya, kedua sebab itu adalah sebagai berikut.

1. Kebodohan

Kebodohan terhadap syariat Islam yang mulia dan sempurna adalah penyakit yang membahayakan dan membinasakan. Namun, tidak ada yang menyadari bahwa kebodohan itu adalah penyakit, selain orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا سَأَلُوا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوا، إِنَّمَا شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَالُ

“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu? Hanyalah obat ketidaktahuan (kebodohan) adalah bertanya.” ( HR. Abu Dawud dan

dinyatakan sahih oleh al-Albani) Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah berkata (Bidayatul Inhiraf hlm. 133), “Kebodohan adalah musuh semua risalah yang dibawa oleh para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memisalkan orang yang bodoh sebagai makhluk yang paling jelek yang berjalan di muka bumi ini. Firman-Nya,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (al-Anfal: 22)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan akibat jelek dari kebodohan dalam kitabnya, Miftah Dar as- Sa’adah (1/382), “Pohon kejahilan akan membuahkan seluruh kejelekan,__ kezaliman, permusuhan (tanpa alasan yang benar), ….

Seluruh kejelekan dan kerusakan yang telah dan akan terjadi di alam semesta ini hingga hari kiamat dan setelahnya (yakni di akhirat) disebabkan oleh penyelisihan terhadap apa yang dibawa oleh para rasul e baik dalam hal ilmu maupun amalan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pelopor dan perintis mazhab Syiah Rafidhah adalah seorang zindiq kafir yang memusuhi agama Islam dan kaum muslimin. Dia bukan ahli bdi’ah yang sesat karena takwil, seperti Khawarij dan Qadariyah. Meski demikian, keyakinan-keyakinan Syiah Rafidhah laris di kalangan kaum muslimin yang masih memiliki iman karena sangat bodohnya mereka.” (Minhajus Sunnah 4/363)

2. Jauhnya umat dari ulama syariat

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan para ulama syariat sebagai para pemimpin yang harus ditaati dalam urusan yang ma’ruf sebagaimana dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an- Nisa: 59)

Mereka adalah tempat untuk mengembalikan dan mengadukan seluruh problem umat manusia, terkhusus dalam masalah agama. Umat senantiasa menunggu dan mengharapkan bimbingan dan nasihat mereka. Sebab, mereka adalah orang yang paling memahami syariat dan hal-hal yang akan bermanfaat bagiumat, baik yang terkait dengan urusan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa: 83)

Di samping itu, mereka adalah orang yang paling peduli dan penyayang terhadap umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي

“Permisalanku dengan kalian ibarat seorang yang menyalakan api (di malam hari). Lalu datanglah serangga dan kupu-kupu ingin masuk ke dalamnya dalam keadaan dia menghalanginya agar tidak masuk ke dalam api. Dan aku memegangi pinggang kalian (supaya kalian selamat) dari api (neraka), namun kalian senantiasa berusaha melepaskan diri dari kedua tanganku.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Para ulama lebih sayang terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada ayah dan ibu mereka.” Beliau rahimahullah ditanya, “Bagaimana itu terjadi?” Jawab beliau, “Ayah dan ibu mereka menjaga mereka (agar selamat) dari api dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka (sehingga selamat) dari api neraka.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits hlm. 167)

Itulah kedudukan mulia dan urgensi keberadaan ulama di tengah-tengah umat yang tergambarkan dalam beberapa ayat dan hadits. Lantas apa yang terjadi ketika umat jauh dari mereka? Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang umat yang jauh dari ilmu dan ulama dalam hadits Abdullah bin Amr di atas. Disebutkan bahwa umat akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pimpinan mereka sehingga mereka sesat dan menyesatkan umat. Tidak ada musibah yang lebih dahsyat yang menimpa sebuah umat selain jauhnya mereka dari ilmu dan ulama sehingga rusaklah urusan dunia dan agama mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau bukan karena adanya ulama, sungguh umat manusia akan seperti binatang ternak.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits)

Ada dua kemungkinan yang menyebabkan umat jauh dari ulama syariat.

a. Sedikitnya jumlah ulama dibandingkan dengan kebutuhan umat.

Hal ini adalah salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma di atas. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para dai yang mengajak umat kepada berbagai kesesatan, seperti sufi, hizbiyah (fanatisme golongan), politik, dan sebagainya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Hati-hatilah kalian dari para dai yang menyeru kepada kesesatan. Mereka memburu para pemuda dan berusaha memutuskan hubungan para pemuda itu dengan keluarga dan masyarakatnya. Lantas mereka mencekoki para pemuda tersebut dengan berbagai pemikiran sesat. Akhirnya, Anda akan dapati seorang pemuda terpisah dari kedua orang tua dan keluarganya,lalu menjauh dari masjid-masjid kaum muslimin, shalat Jumat,dan shalat jamaah. Setelah itu tidak diketahui lagi di mana dia, sampai terdengar berita bahwa dia terbunuh bersama perusuh atau ditangkap bersama mereka oleh aparat. Inilah buah yang akan dipetik apabila para pemuda tidak memedulikan dan mengikuti nasihat para ulama.

Mereka tidak mau mengambil sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan untuk berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin, penguasa mereka, berbakti dan membantu kedua orang tua, dan menjaga shalat Jumat dan shalat jamaah. Tatkala mereka tidak memerhatikan hal-hal ini, niscaya mereka akan jatuh ke tangan musuh mereka. Musuh-musuh itu akan mencari mereka, lalu mencekoki dengan doktrin-doktrin yang akan menghancurkan kehidupan mereka. Kalaupun sebagian mereka masih tersisa, akan susah sekali diobati karena pemikirannya sudah rusak dan sudah dicuci otak. Mereka layaknya orang yang terkena penyakit yang belum ada obatnya semacam kanker atau lainnya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 36)

b. Dijatuhkannya kewibawaan para ulama di hadapan umat Islam dengan berbagai cara.

Di antara cara yang ditempuh adalah menjuluki ulama syariat sebagai ulama sulthan (pemerintah), ulama haid dan nifas yang tidak paham realitas, ulama antijihad, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan, cara yang mereka lakukan untuk menjauhkan umat dari para ulamanya adalah cara-cara orang kafir yang menentang dakwah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya,

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ ( ) أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Bahkan, ketika Fir’aun berusaha menghadang dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, dia mengatakan kepada umatnya,

ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

 “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Demikian pula, cara inilah yang ditempuh oleh ahli bid’ah untuk menjauhkan umat dari para ulama. Cara ini mereka warisi dari generasi ke generasi. Karena itu, al-Imam Abu Utsman Ismail ash-Shabuni mengatakan, “Ciri-ciri ahli bid’ah itu tampak sekali pada orangnya. Ciri dan tanda yang paling jelas adalah sangat kerasnya permusuhan, pelecehan, dan penghinaan mereka terhadap para pembawa hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yakni para ulama ahli hadits).” (‘Aqidatu as-Salaf hlm. 101)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kaum muslimin wajib menghormati para ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Melecehkan mereka berarti melecehkan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ilmu syariat yang mereka bawa. Barang siapa berani melecehkan ulama, tentu lebih berani melecehkan kaum muslimin selain mereka. Para ulama adalah orang-orang yang wajib dihormati karena ilmu dan kedudukan mereka di tengah-tengah umat, serta tanggung jawab yang mereka emban demi kebaikan Islam dan kaum muslimin. Apabila para ulama sudah tidak dipercaya, siapa lagi yang akan dipercaya? Apabila kepercayaan umat terhadap para ulama telah hilang, kepada siapa lagi kaum muslimin bisa mengadukan berbagai problem mereka? Siapa lagi yang dipercaya menjelaskan hukum-hukum syariat? Ketika semua itu terjadi, umat pun akan terlantar, kekacauan pun akan tersebar.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 188)

Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa

melimpahkan hidayah taufik kepada kita semua untuk senantiasa ikhlas, sabar, dan istiqamah untuk menuntut ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman salafus saleh, di bawah bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, agar selamat jiwa kita dan keluarga kita serta seluruh kaum muslimin. Amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan