Keharusan Membenci dan Berlepas Diri dari Orang Kafir

Di antara prinsip yang agung dalam akidah Islam adalah al-wala wal bara’. Al-wala wal bara’ adalah prinsip yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Jadi, prinsip ini sangat erat kaitannya dengan masalah akidah.

Asy-Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab berkata ketika mendefinisikan Islam, “Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan ber-bara’ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan orang-orang berbuat kesyirikan.”

Apakah yang dimaksud dengan alwala’ wal bara’ karena Allah? Lanjutkan membaca Keharusan Membenci dan Berlepas Diri dari Orang Kafir

Pengaruh Media Massa Terhadap Akidah Umat

Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia di atas fitrah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

        “Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus, (tetaplah di atas) fitrah dari Allah yang menfitrahkan manusia di atasnya, tiada yang akan bisa merubah ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.” (ar-Rum: 30)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizahullah berkata, “Fitrah adalah agama Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

.كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

 

Perusak Fitrah

Fitrah yang suci ini tentu harus dipupuk dengan ilmu, iman, dan dijaga dari berbagai hal yang akan merusaknya. Fitrah manusia yang suci ini dirusak oleh berbagai hal yang dilakukan setan baik dari kalangan jin maupun manusia.

Dalam hadits qudsi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sungguh, Aku menciptakan hamba-Ku hunafa (lurus di atas tauhid) seluruhnya. Lalu setan mendatangi mereka dan menggelincirkan mereka dari agamanya.” (HR. Muslim no. 2865)

Setan ada dari kalangan jin dan manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦

“Yang melontarkan bisikan-bisikan jelek kepada manusia.dari kalangan jin dan manusia.” (an-Nas: 5—6)

 

Tarbiyah Orang Tua Memiliki Andil Besar dalam Lurusnya Akidah Anak

Selain setan, tarbiyah orang tua juga memiliki andil besar dalam lurusnya akidah seorang anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Ini menunjukkan, pada asalnya fitrah manusia adalah di atas Islam. Seandainya dia selamat dari tarbiyah yang jelek dan dua orang tua yang kafir, niscaya dia akan mengarah kepada agama Islam dan mengikuti para rasul. Akan tetapi, seseorang bisa sesat/menyimpang adalah karena dai-dai (yang menyeru) kepada kesesatan.” (Syarah Fadhlul Islam, hlm. 111)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzhullah juga berkata, “Seandainya manusia selamat dari penyeru-penyeru kepada kesesatan, niscaya fitrah akan menerima al-haq dan mereka akan mengikuti para rasul….”

 

Media Massa Sebagai Sarana Perusak Akidah

Dari ucapan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan di atas, kita mendapat kesimpulan bahwasanya di antara yang menyebabkan rusaknya fitrah, menyimpangnya seseorang dari tauhid dan akidah yang benar adalah bermunculannya dai-dai yang menyeru kepada kesesatan.

Kemajuan teknologi di zaman sekarang ini juga dimanfaatkan para penyeru kepada kesesatan untuk melakukan propaganda dan mempromosikan kesesatan mereka. Di antara sarana yang dimanfaatkan adalah media massa.

Kalau dahulu mereka menyebarkan kesesatan mereka di mimbar dan majelis, dalam jumlah pendengar yang terbatas, kini mereka tampil menyebarkannya di berbagai media kepada jumlah orang yang tak terbatas.

Media massa adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk menjangkau masyarakat yang sangat luas.

Media massa ada yang berupa media cetak, seperti koran, tabloid, majalah, buletin, dan lainnya. Media massa juga ada yang berupa media elektronik, seperti televisi dan radio. Media massa yang lain di zaman kita ini ialah media maya (online) yang terwujud dalam bentuk internet.

Ketahuilah, ketiga bentuk media massa di atas memiliki pengaruh besar dalam merusak fitrah seorang muslim.

 

Kemungkaran dalam Media Massa

Berbagai ragam kemungkaran yang ada dalam media massa sangatlah berpengaruh pada akidah seorang yang membaca dan melihatnya. Pengaruh tersebut selanjutnya akan menyebabkan rusaknya akidah.

Di antara kemungkaran yang ada dalam media massa yang merusak akidah umat adalah:

 

  1. Kesyirikan

Banyak media yang menyuguhkan tayangan syirik dan tulisan berbau syirik, bahkan ada majalah dan tabloid khusus “menjajakan” kesyirikan, ini sebagian bukti media massa dijadikan sarana menjajakan kesyirikan.

  1. Promosi Perdukunan

Perdukunan adalah satu praktik kesyirikan yang banyak digandrungi masyarakat. Di antara media yang mengandung kesyirikan adalah buku primbon dan buku mujarabat.

Dahulu dukun-dukun tidak ada yang berpromosi. Namun, kini mereka melakukan promosi di surat kabar, bahkan tanpa malu berpromosi di televisi. Para dukun yang dahulunya bersembunyi, kini tampil bak selebritis di televisi dan media lainnya. Tokoh-tokoh seperti Ki Joko Bodo, Mbah Maridjan, Mama Lauren dikenal layaknya selebritas. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dahulu seorang yang mau berdukun harus bersusah payah datang ke tempat si dukun, namun kini mereka bisa berdukun via SMS.

Bahkan, praktik perdukunan bisa meraup ratusan juta rupiah dari “program layanan perdukunan via SMS”. Tampil seorang dukun dalam satu tayangan dan berkata, “Jika Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan, ketik REG (spasi) xxxx kirim.”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kaum muslimin seakan-akan sudah lupa tentang ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang mendatangi dukun, atau bertanya kepada mereka, memercayai mereka.

Mungkin masih terlintas di ingatan kita, bagaimana media massa mempopulerkan Ponari yang mereka anggap tahu yang gaib dan diberi julukan “dukun cilik”.

  1. Siaran Ritual Syirik

        Kesyirikan yang seharusnya diingkari dan dihilangkan justru menjadi satu ritual budaya yang disiarkan berbagai media. Akhirnya, tidak ada lagi kebencian kepada syirik sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Generasi muda dan anak-anak tumbuh dalam keadaan demikian.

Media-media saat ini banyak mempertontonkan acara yang akan merusak akidah muslim: pocong, penampakan, sihir, dan semisalnya. Media mempertontonkan bahwa tokoh politik A sowan ke Mbah B, selebritis C sering datang ke penasihat spiritualnya, Eyang D, yang notabene adalah dukun dan tukang ramal.

Disiarkan dan ditayangkan pula praktik pengobatan alternatif yang mengandung kesyirikan, seperti memindahkan penyakit ke hewan dan lainnya.

Demikianlah berbagai praktik, acara, dan ritual syirik disuguhkan kepada masyarakat, yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesyirikan.

Hampir semua media cetak menampilkan zodiak; meramal rezeki seseorang, jodoh, dan peruntungan lainnya. Ini adalah satu perkara yang sangat batil karena sudah melanggar perkara iman kepada yang gaib. Masalah rezeki dan jodoh adalah urusan gaib, tidak boleh seseorang meramal atau mengaku-aku tahu urusannya.

  1. Promosi Paham Sesat

Banyak paham sesat yang tumbuh berkembang melalui media massa. Bahkan, hampir setiap kelompok sesat memiliki media untuk menyebarkan paham mereka baik dalam bentuk televisi, radio, atau minimalnya website. Mereka pun menerbitkan buku-buku untuk menyebarkan kesesatan mereka.

Media massa adalah sarana yang paling ideal bagi kaum liberal untuk menjajakan paham liberal. Kita telah mendengar bagaimana JIL (Jaringan Islam Liberal) dengan bebasnya memaparkan paham mereka di hadapan umat, dalam dialog, ceramah dan tulisan di surat kabar.

  1. Mengikis Prinsip al-Wala wal Bara

Prinsip al-wala wal-bara adalah satu prinsip yang agung dalam agama Islam. Namun, media massa telah banyak memberi andil dalam mengikis prinsip ini. Umat digiring untuk menerima propaganda bahwa semua agama itu sama.

Lebih-lebih saat ini, umat digiring untuk berbasa-basi dengan Nasrani, mengucapkan selamat kepada mereka, mengadiri acara Natal, bahkan membantu perayaan hari raya mereka. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman, menjelaskan ciri-ciri hamba yang beriman,

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

        “Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri zur.” (al-Furqan: 72)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata bahwa maksudnya ialah tidak menghadiri hari raya mereka.

Para ulama pun telah menegaskan haramnya memberikan ucapan selamat kepada orang-orang kafir dalam perayaan hari besar mereka.

Demikianlah kenyataan yang ada di sekitar kita.

Oleh karena itu, kita harus terus bersemangat belajar tauhid dan bersemangat mendakwahi umat tentang pentingnya tauhid dan bahaya syirik. Kita harus tahu bahwa setan akan terus berusaha merusak akidah dengan menjajakan kesyirikan dan kesesatan di tengah-tengah umat.

Kita juga sangat berharap kepada instansi terkait agar melarang tayangan, acara, promo, dan tulisan yang mengandung kesyirikan dan penyimpangan.

Seorang muslim hendaknya berusaha kuat menjaga kesucian akidahnya. Di antara wujud penjagaan tersebut adalah selektif mencari bahan bacaan dan informasi yang masuk, serta menjauhi media massa yang menyuguhkan berbagai kesesatan yang akan merusak akidahnya.

Kata para ulama kita,

الْقُلُوبُ ضَعِيفَةٌ وَالشُّبُهَاتُ خَطَّافَةٌ

Kalbu itu lemah, sedangkat syubahat gampang menyambar (menyesatkan).

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla terus memberikan hidayah dan keistiqamahan kepada kita semua.

Amin ya Rabbal alamin.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Anakku, Kokohkan Fondasi Hidupmu

Anakku…

Hidup di dunia hanya satu kali. Yang telah berlalu tidak mungkin akan terulang kembali. Yang telah luput pun sulit untuk bisa diraih lagi. Ingat bahwa ujian hidup selalu ada,  kian hari kian bertambah. Waspadalah kalian, karena di belakang ujian itu ada kelulusan dan kegagalan. Bercita-citalah engkau menjadi orang yang lulus dan berhasil.

Anakku… Sungguh, terlalu banyak anak yang sebaya denganmu telah hancur masa depannya, rusak moral dan akhlaknya, terjatuh ke dalam jurang kehancuran dan kehinaan. Masa depanmu adalah masa yang sangat berharga, terlebih masa depan di akhiratmu. Masa depanmu di akhirat tidak akan didapatkan selain dengan kelurusan di dunia ini.

Anakku… Ingatlah, kelulusan itu adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan yang berujung kalah atau menang, dan pengorbanan yang berakhir dengan untung atau merugi. Tidak sedikit orang yang kalah dan menyerah dalam perjuangannya; tidak sedikit pula yang rugi besar dalam pengorbanannya. Dengarkan pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab suci-Nya,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

Katakanlah, “Maukah kami beri tahukan kepada kalian tentang orang-orang yang merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat amalnya di dunia dan mereka menyangka telah melakukan yang terbaik.” (al-Kahfi: 103—104)

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

“Dan kami hadirkan apa yang mereka telah kerjakan dari amal-amal dan kami menjadikannya bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Korbankanlah segala yang engkau miliki untuk menyelamatkan diri dan agamamu dan. Engkau tidak akan bisa bangkit berjuang dan mau berkorban apabila tidak memiliki mesin penggerak. Mesin penggerakmu tidak akan berarti besar apabila tidak ditopang dengan penyangga yang kokoh, kuat, dan handal.

Ada empat hal yang harus engkau perhatikan sebagai dasar melangkah yang akan menjadi pelitamu dalam kegelapan dan menjadi senjatamu ketika berjuang dan berkorban.

  1. Engkau harus berilmu tentang Rabbmu, tentang Nabimu, dan agamamu dengan dalil-dalilnya.
  2. Engkau harus berani dan kuat untuk mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui.
  3. Engkau harus berani menyuarakan kebenaran yang telah engkau ilmui dan amalkan.
  4. Engkau harus berhias dengan kesabaran baik ketika mendalami ilmu atau saat beramal dan menyuarakan kebenaran.

Empat pilar inilah yang akan menjadi pelita hidupmu dan senjatamu saat bertarung. Pada akhirnya engkau termasuk orang yang berhasil dan lulus dengan, izin Allah subhanahu wa ta’ala. Empat pilar ini telah dirangkum oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab suci-Nya dalam satu surat, yaitu surat al-‘Ashr.

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Zadul Ma’ad (4/38), menyebutkan, “Berjuang ada empat tingkatan: (1) berjuang melawan diri sendiri, (2) berjuang melawan setan, (3) berjuang melawan orang kafir, dan (4) berjuang melawan kaum munafik.” Adapun berjuang melawan diri sendiri ada empat tingkatan pula.

 

  1. Berjuang agar dirinya mau belajar petunjuk dan agama yang benar.

Tidak ada kemenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat selain dengannya. Jika ini luput darinya, dia akan celaka di dua negeri tersebut.

 

  1. Berjuang agar dirinya tunduk beramal setelah mengetahui ilmu.

Sebab, sebatas berilmu tanpa amal, jika tidak mendatangkan mudarat, minimalnya akan menjadi tidak berguna.

 

3 . Berjuang agar dirinya mendakwahkan ilmu tersebut dan mengajari orang yang tidak mengetahuinya.

Jika dia tidak melakukannya, niscaya dia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Berjuang agar dirinya bersabar menanggung beban ketika berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bersabar dari gangguan manusia serta menanggung semuanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Apabila telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, dia tergolong rabbaniyyin. Telah ijma’ (sepakat) ulama salaf umat ini bahwa seorang alim tidak dikatakan sebagai rabbani sampai dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengilmui kebenaran, mengamalkan, dan mengajarkannya, dia dipuji dalam kehidupan penduduk langit.

Anakku…

Engkau hidup di dunia ini akan berhadapan dengan kenyataan yang pahit dan manis, yang kamu sukai dan kamu benci. Jadilah engkau orang yang memiliki hati dan dada yang lapang untuk menerimanya. Ketentuan yang engkau akan hadapi itu adalah pasti dan tidak akan berubah dan tersalah. Sebab, semua itu telah ada dalam suratan takdirmu sejak 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.

Anakku…

Di sinilah engkau membutuhkan fondasi hidup yang kokoh dan kuat sehingga tidak bimbang dan goyah saat berhadapan dengan kenyataan pahit yang dibenci. Fondasi hidup itu adalah akidah yang kokoh dan kuat.

Bagaimanapun badai ujian mengempas, duri-duri hidup menusuk, kerikil-kerikil tajam merintangi; apabila memiliki fondasi hidup yang kuat, engkau bagaikan karang di laut, tidak akan goyah dengan ombak yang besar. Engkau bagaikan gunung yang tinggi menjulang yang tidak akan oleng oleh badai topan. Engkau bergembira saat orang-orang dirundung kesedihan. Engkau tenang dan tenteram saat kebanyakan orang gundah gulana. Engkau selalu tersenyum saat orang banyak dirundung kesedihan dan meneteskan air mata. Engkau pun tegar dan tabah ketika kebanyakan orang dihantui ketakutan.

Anakku…

Pentingnya membangun hidup di atas fondasi akidah ini tecermin dalam beberapa nuansa sejarah yang besar.

 

Pengutusan Para Nabi dan Rasul

Saat dunia ini berada dalam krisis kerusakan dan kehancuran, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk menjawab segala kerusakan tersebut dan melakukan perombakan dan perbaikan. Tugas besar disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang bertugas) menyerukan mereka agar beribadah kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain Allah.” (an-Nahl: 36)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa agama para rasul adalah satu, tugas yang mereka emban pun sama. Tugas mereka yang besar tersebut adalah mengajak umat untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.

Jika ada yang lebih penting dari persoalan tauhid dan akidah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikannya mandat pertama dan utama kepada para rasul yang diutus. Saat kita tidak menemukan hal itu, berarti masalah tauhid dan akidah menjadi persoalan yang inti dan fundamental.

Kejahatan besar dalam hidup ini adalah saat sebagian kaum muslimin menganggap persoalan akidah dan tauhid sebagai qusyur (kulit agama); meremehkan dan mengentengkan permasalahannya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menjadikannya perkara yang sangat besar dalam agama.

Sungguh, betapa jahat ucapan ini dan betapa jelek sikap tersebut. Ucapan yang akan menyebabkan seseorang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Lantunan Doa Nabi Ibrahim

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini adalah negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku serta anak keturunanku dari menyembah patung-patung’.” (Ibrahim: 35)

Nabi Ibrahim ‘alaihissallam adalah bapak orang-orang yang bertauhid. Semua kehidupan beliau digunakan untuk berdakwah kepada tauhidullah.

Beliau harus berhadapan dengan bapak yang kufur dan ingkar kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau juga menghadapi penguasa yang menobatkan dirinya menjadi tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Amanat yang besar dan tugas yang berisiko tinggi beliau hadapi dengan penuh keberanian dan ketegaran, ketabahan, dan kesabaran. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah dalam kehidupan manusia.

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara Kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibrahim adalah imam sebagaimana dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah (Sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin atas manusia). Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nubuwwah, menurunkan kitab-kitab, dan risalah pada anak keturunan beliau. Mereka semua dari keluarga beliau, yaitu keluarga yang telah diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (Amradhul Qulub, hlm. 61)

Kendati demikian. beliau tetap mendoakan anak keturunannya agar terpelihara dan terlindungi dari perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Wasiat Luqman Al-Hakim kepada Anaknya

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

“Dan ingatlah tatkala Luqman berkata kepada anaknya dan dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, jangan kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah itu adalah kezaliman yang besar’.” (Luqman: 13)

 

Warisan Ya’qub kepada Putra-Putranya

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

“Apakah kalian menyaksikan saat kematian mendatangi Ya’qub, saat dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’

Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, dan kami kepada-Nya berserah diri.” (al-Baqarah: 133)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Saat orang-orang Yahudi mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim dan Ya’qub, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengingkari mereka, ‘Apakah kalian menghadiri saat tanda-tanda kematian datang kepada Nabi Ya’qub ‘alaihissallam, ketika itu beliau menguji anak-anaknya agar menyejukkan matanya saat masih hidup dalam melaksanakan wasiat-wasiatnya.’

Mereka memberikan jawaban yang menyejukkan mata beliau yaitu, ‘Menyembah kepada Ilahmu dan Ilah bapakmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Ilah yang satu, kami tidak menyekutukan- Nya dan tidak meninggalkan-Nya.’

Mereka menghimpun antara tauhid dan amal.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 49)

 

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ؛ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Suatu hari saat saya berada di belakang Rasulullah, beliau berkata, “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. (Yaitu) jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu. Jagalah Allah, subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menjumpai-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kamu meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, jika umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukmu. Jika mereka bersatu untuk memudaratkanmu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Telah terangkat pena dan telah kering lembaran.” (HR. at-Tirmidzi no. 2440)

Pendidikan yang agung nan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sahabat yang lain serta umatnya. Ini adalah penanaman fondasi hidup yang agung dan mulia pada diri Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang akan menjadi cikal bakal imam dalam agama setelah itu.

Ada beberapa pelajaran berharga buat kita melalui pendidikan nabawi yang langsung dilakoni oleh imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Pelajaran pertama

احْفَظْ اللهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, dan jagalah Allah subhanahu wa ta’ala niscaya kamu akan menemukannya di depanmu.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Jagalah perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakannya dan tinggalkan segala larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu dalam semua keadaan dan menjagamu di dunia dan di akhirat.”

Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah berkata, “Jadilah kamu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jagalah hukum-hukum dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga agamamu, keluargamu, hartamu, dan dirimu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaga orang yang berbuat baik dengan sebab kebaikannya. Dari sini diketahui bahwa siapa saja yang tidak menjaga Allah subhanahu wa ta’ala, dia tidak berhak mendapatkan pemeliharaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Di sini juga terdapat dorongan untuk menjaga hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 224)

Tentu saja ini adalah nasihat besar bagi kita sebagai orang tua dan bagi para pendidik anak kaum muslimin, agar kita melindungi putra, putri, serta anak didik kita untuk tidak melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala sekecil apa pun. Jangan meremehkan dosa dan pelanggaran tersebut. Jangan suka memberi atau membuat-buat alasan untuk mereka. Misalnya, anak masih kecil dan belum dikenai dosa, anak tidak boleh dipaksa dan terlalu ditekan, atau alasan-alasan yang lain.

Saudaraku, dosa adalah masalah besar, kita tidak boleh berkompromi dengannya. Kita wajib melakukan pengingkaran terhadap dosa siapa pun yang mengerjakannya dan bagaimana pun bentuk dosa tersebut, besar atau kecil.

 

Pelajaran kedua

 إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala; dan apabila kamu minta tolong, minta tolonglah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa manusia selalu memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia. Di sinilah letak pendidikan akidah, yaitu menggantungkan tawakal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, dalam urusan kecil dan yang besar, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang akan memberikan kecukupan kepadanya.” (ath-Thalaq: 3)

Apabila seseorang cenderung kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala ketika membutuhkan sesuatu walaupun kecenderungan itu hanya dalam hati dan angan-angannya, seukuran itu pula dia berpaling dari Rabbnya kepada makhluk yang tidak mampu memberi mudharat dan manfaat.

Apabila engkau menginginkan bantuan, janganlah kamu memintanya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, di Tangan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Dialah yang menolongmu apabila Dia menghendaki. Apabila engkau mengikhlaskan diri dalam meminta pertolongan kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, niscaya Dia akan menolongmu. Apabila engkau meminta pertolongan kepada makhluk dan dia mampu, yakinilah bahwa itu semua sebagai sebab, dan Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang telah menundukkannya untukmu. (Syarah Arbain Nawawiyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 225)

 

Pelajaran ketiga

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah jika umat ini bersatu atau sepakat untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan sanggup memberikan manfaat kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah untukmu. Apabila mereka bersepakat untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak sanggup melakukannya kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah atasmu.

Dari sini kita ketahui bahwa manfaat yang kita rasakan dari uluran tangan makhluk sesungguhnya bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dialah yang telah menentukan hal itu untukmu. Selain itu, kita dianjurkan menyandarkan semua urusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita tahu bahwa manusia tidak akan bisa memberikan satu kebaikan kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula, apabila engkau mendapatkan suatu bahaya dari seseorang, sadarilah bahwa itu adalah sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atasmu. Oleh karena itu, hendaknya engkau ridha dengan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan keputusan-Nya.

Tidak mengapa pula engkau menolak sesuatu yang membahayakanmu, karena Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan,

“Imbalan kejelakan itu adalah kejelekan yang serupa.” (Syarah Arbain Nawawiyyah, Majmu’ah Ulama, hlm. 228)

 

Pelajaran keempat

رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Telah terangkat pena dan dan telah kering lembaran-lembaran.

Segala ketentuan dalam hidup ini sudah terangkum dalam catatan takdir dan telah selesai ditulis. Lembaran catatan sudah mengering dan tidak akan ada lagi perubahan dan kesalahan setelahnya. Semuanya berjalan di atas kepastian dan apa yang telah dicatat.

Beruntunglah orang-orang yang beriman dengan takdir sebagai rukun iman yang keenam. Merugilah orang-orang yang menentangnya dan tidak memercayainya.

Wallahul Muwaffiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Bahaya Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Alangkah banyak sekarang ini orang-orang yang lancang, tanpa rasa takut mereka berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla atau atas nama agama, tanpa ilmu. Padahal Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah perkara yang lebih besar dari kesyirikan. Berikut ini kami bawakan nukilan penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hal di atas.

Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam fatwa dan memutuskan hukum, serta menjadikannya sebagai perkara haram yang paling besar, bahkan pada tingkatan tertinggi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Allah ‘azza wa jalla menyebutkan urutan perkara yang diharamkannya menjadi empat tingkatan. Allah ‘azza wa jalla memulai dengan yang paling ringan, yaitu fawahisy (perbuatan keji). Urutan kedua ialah yang lebih keras keharamannya, yaitu dosa dan perbuatan zalim. Urutan ketiga, yang lebih besar keharamannya dari dua hal sebelumnya, yaitu perbuatan syirik. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan pada urutan keempat, sesuatu yang lebih besar keharamannya dari semua hal di atas, yaitu berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hal ini mencakup berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam hal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam agama serta syariat-Nya. (I’lamul Muwaqqi’in)

 

Setan Memerintah Manusia Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Perlu diingat, setan terus berupaya menyesatkan bani Adam. Di antara langkah mereka menyesatkan bani Adam adalah membisikkan dan memerintahkan seseorang untuk berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ١٦٩

“Wahai manusia, makanlah oleh kalian apa yang di bumi yang halal dan baik, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.

Dia hanyalah memerintahkan kalian untuk berbuat jelek dan kekejian dan agar kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-Baqarah: 169)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu termasuk perkara haram yang paling besar. Ini merupakan jalan setan yang dia serukan. Ini adalah jalan setan dan bala tentaranya yang mereka serukan. Mereka mengerahkan makar dan tipu muslihat mereka. Hal tersebut (mereka lakukan) untuk menyesatkan makhluk dengan cara apa pun yang mereka bisa.” (Tafsir as-Sa’di)

 

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

halal-haram 

Bentuk Nyata Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak bentuk amaliah yang menunjukkan seorang terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Di antaranya:

  1. Seseorang berkata bahwa ini halal dan itu haram, tanpa didasari ilmu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

“Jangan katakan atas sesuatu yang disipati oleh lisan kalian yang dusta; ini halal dan ini haram, untuk mengadakan kedustaan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang berdusta atas nama Allah tidak akan mendapatkan kemenangan.” (an-Nahl: 116)

 

  1. Berbagai bentuk kebid’ahan

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Masuk dalam bab ini ialah semua yang melakukan kebid’ahan yang tidak ada sandaran syar’i padanya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, atau mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla bolehkan, dengan berlandaskan ra’yu (akal pikiran) dan keinginannya semata.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

  1. Menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan, melakukan tahrif dan takwil batil terhadap ayat-ayat tentang nama dan sifat Allah ‘azza wa jalla

Asy-Syaikh Khalil Harras rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah bab yang luas. Masuk padanya semua pemberitaan (mengatasnamakan) tentang Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tanpa dalil dan hujah. Misalnya, menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan dan menetapkan apa yang Allah ‘azza wa jalla nafikan, atau berbuat ilhad terhadap ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dengan men-tahrif dan menakwilnya.” (Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah hlm. 146)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Masuk ke dalam bab ini ialah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tentang syariat dan takdir-Nya. Barang siapa menyifati Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu yang tidak disifati oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya untuk Diri-Nya, atau menafikan sifat yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Barang siapa menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki tandingan berupa berhala, yang mampu mendekatkan orang yang beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Barang siapa berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla menghalalkan itu, mengharamkan ini, memerintahkan itu, dan melarang ini tanpa bashirah, berarti telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu….” (Tafsir as-Sa’di surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla terkait Dzat, nama, sifat, dan perbuatan Allah ‘azza wa jalla, serta hukum-hukum-Nya

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu terkait Dzat-Nya, namanama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan, dan hukum-hukum-Nya adalah termasuk perintah-perintah setan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169, 2/240)

 

  1. Berfatwa tanpa ilmu

Al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Sungguh, ada di antara kalian yang berfatwa tentang sebuah masalah, yang apabila masalah itu ditanyakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu niscaya beliau akan bermusyawarah dengan para sahabat yang ikut Perang Badr.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Saya ingin memberikan peringatan kepada seluruh saudaraku kaum muslimin agar tidak berfatwa tanpa ilmu. Sebab, berfatwa tanpa ilmu adalah pelanggaran besar yang telah Allah ‘azza wa jalla gandengkan dengan kesyirikan dalam firman-Nya,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Sebab, firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

itu mencakup berkata tentang nama-nama Allah ‘azza wa jalla, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukumhukum-Nya, tanpa ilmu.”

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

Maka dari itu, dia harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan menahan diri. Hendaknya dia berhenti dari perbuatan menghalangi manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla.

 

Upaya Agar Terhindar dari Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak upaya yang bisa kita lakukan agar terhindar dari perbuatan di atas. Di antara sebab yang terpenting adalah:

 

  1. Terus memperdalam ilmu agama

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu sangatlah besar bahaya dan kerusakannya. Sebab, seorang yang berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu akan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, akan melarang yang haq dan memerintahkan yang batil, karena kebodohannya.

Maka dari itu, para ulama dan penuntut ilmu wajib menjauhkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hendaknya mereka memiliki perhatian penuh pada dalil-dalil syar’i. Dengan demikian, mereka berlandaskan ilmu ketika menyeru dan melarang sesuatu, serta tidak terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.” (Fatawa Ibn Baz, 4/82)

 

  1. Menjauhkan diri dari rasa cinta ketenaran, senang ditokohkan, dan senang kedudukan

Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji, seperti tawadhu, disertai dengan menjauhkan diri dari akhlak-akhlak yang jelek. Sebab, ada beberapa akhlak yang jelek menyeret pada perbuatan yang haram ini.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mayoritas sebab yang membawa seorang berbuat demikian (berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu) adalah senang kemuliaan, ditokohkan, dan ingin kedudukan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berani menyatakan “Wallahu a’lam (Allah lebih tahu), saya tidak tahu”

Di antara upaya untuk menghindarkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu ialah menghiasi diri dengan ucapan, “Allahu a’lam, saya tidak tahu.”

Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat beliau, dan para ulama kita.

Ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Muslim)

Demikian juga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Umar bin al-Khaththab menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” (HR. Muslim)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, apa hak Allah ‘azza wa jalla atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah ‘azza wa jalla?”

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu menjawab, “Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Dengan membiasakan diri berterus terang menyatakan tidak tahu dalam masalah yang memang dirinya tidak mengetahui ilmunya, seseorang akan terjaga dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan kepada kita taufik untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui serta menjadikannya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Debat dalam Urusan Agama, Jaring dan Perangkap Setan

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 jaring

Renungan

Tidak henti-hentinya musibah itu datang menimpa kaum muslimin. Satu musibah disusul dengan musibah yang lain. Namun, musibah yang paling mengerikan dan yang paling menakutkan adalah musibah yang menimpa agama dan keyakinan mereka. Sebab, musibah tersebut di dunia akan mengakibatkan orang tersesat, dan kelak di akhirat mendapatkan azab dan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

Musibah seperti tanah longsor, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya, akan berakibat hancurnya tatanan kehidupan, rusaknya lahan, dan sandang pangan; hancurnya negeri dan hilangnya tempat tinggal, bahkan berakibat hilangnya nyawa, dan sebagainya.

Berbeda halnya apabila musibah itu menimpa agama dan keyakinan. Tidak hanya berakibat rusaknya dunia semata, tetapi juga akan merusak masa depan kita dalam kehidupan yang abadi dan kekal di akhirat.

Coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut mana yang lebih besar? Orang yang telah merasakan sedikit manisnya ilmu sunnah tentu akan menjawab musibah yang menimpa agamalah yang lebih besar.

Saudaraku… Betapa sering kita menemukan seseoang hidup dengan jasad yang sehat, tegar, segar, dan bugar. Namun, kenyataannya dia tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya pada ketaatan di dalam hidupnya. Justru seseorang itu tampil melakukan perusakan di muka bumi dengan berbagai jenis kemaksiatan. Itulah musibah bila menimpa agama dan keyakinan.

Banyaknya tempat yang dikeramatkan, kuburan yang dianggap berkah tempat mengadukan segala urusan hidup, dan para dukun tempat mengundi nasib menjadi pusat keramaian. Itulah bila musibah menimpa agama dan keyakinan. Tersebarnya perjudian, perampokan, pembunuhan, penjarahan, perzinaan, kezaliman, pemerasan, penipuan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya; juga karena musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Kesimpulannya, segala bentuk kerusakan di daratan dan di lautan itu semua akibat musibah yang menimpa agama dan keyakinan. Sekali lagi, coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut dan bandingkan pula mana kerusakan yang lebih menakutkan dan mengerikan? Tentu kita akan menjawab, musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Yang lebih menyedihkan, pada saat musibah ini melanda kaum muslimin kita menemukan tidak adanya lagi semangat dari kaum muslimin untuk mau belajar tentang agamanya yang haq.

Banyak orang tua yang sudah tidak memiliki ghirah kepada agama untuk mencari solusi dalam semua musibah sehingga anak keturunannyalah yang harus menelan pahit akibat ulah kedua orang tuanya. Di sisi lain, seruan menuju kekufuran, penyimpangan dalam agama, dan kesesatan sangat gencar.

Melihat fenomena seperti ini, kita hanya bisa berucap, “Allahul musta’an wa ilaihil musytaka (kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta bantuan dan kepaada-Nya pula kita mengeluhkan),” sambil kita berusaha melakukan yang terbaik di dalam hidup yaitu melindungi diri dan keluarga kita sebagaimana pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam tafsir beliau, “Wahai segenap orang yang telah dianugerahi Allah subhanahu wa ta’ala keimanan, bangkitlah kalian untuk melaksanakan konsekuensi dan syarat-syarat iman tersebut, menjaga diri dengan melaksanakan petuah-petuah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bertobat dari segala yang menyebabkan murka Allah subhanahu wa ta’ala dan azab-Nya; melindungi keluarga dengan cara membimbing adab mereka, mengajari dan mendidik mereka agar mau melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang hamba tidaklah akan selamat kecuali dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala atas dirinya dan pada siapa pun yang masuk dalam tanggungan hidupnya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.”

 

Seruan Kebatilan Sangat Gencar

Kita semua mengetahui pelopor kesesatan dan penyesatan hamba Allah subhanahu wa ta’ala, itulah iblis la’natullah yang tidak akan berhenti mengajak dan menarik hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala menuju langkah dan jalannya.

“Sesungguhnya setan itu musuh kalian, maka jadikanlah mereka musuh dan setan itu menyeru pengikutnya agar menjadi penduduk neraka Sa’ir.” (Fathir: 6)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ خَطًّا وَقَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ وَقَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Rasululah telah menggaris satu garisan lalu berkata, ‘Ini adalah jalan Allah subhanahu wa ta’ala.’ Lalu beliau membuat garis yang banyak dari kanan dan kiri lalu berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan, yang setiap dari jalan tersebut setan menyeru kepadanya’.” ( HR. Ahmad 3928, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani dalam takhrij beliau terhadap kitab Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izzi)

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا.

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan lurus semua, lalu setan mendatangi mereka dan setelah itu memalingkan mereka dari agama mereka. Mengharamkan bagi mereka apa yang aku telah halalkan dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku yang Aku tidak pernah menurunkan bukti (pembenaran)nya.” (HR. Muslim no. 5109)

Dengan ajakan dan seruan ini, tidak sedikit hamba Allah subhanahu wa ta’ala memenuhinya, bahkan mayoritas mereka menyambutnya, berjalan di atas langkah-langkahnya sekaligus menjadi penyeru dan pelaris dagangan iblis di tengah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir hal ini dan menjelaskannya melalui sabda beliau sebagaimana dalam hadits iftiraqul ummah,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلبُ لِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصَلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab telah terpecah menjadi 72 sekte. Umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran, 72 golongan berada di dalam neraka dan satu di dalam surga. Itulah al-jama’ah.

Sesungguhnya akan keluar dari umatku kaum yang penyakit hawa nafsu telah berjangkit pada diri mereka sebagaimana penyakit rabies menjangkiti seseorang sehingga tidak tersisa satu urat dan persendian pun melainkan akan dimasukinya.” (Shahihul Jami’ no. 2641 dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu)

Saudaraku…

  1. Coba bandingkan antara 72 golongan yang tersesat dan 1 yang selamat, berarti mayoritas umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kesesatan.
  2. Setiap muncul seruan kebatilan dan kesesatan bahkan seruan kekafiran, selalu membawa para pengikut dan anak buah.
  3. Para penyeru dan para pecundang kebatilan itu dalam setiap masa selalu berada pada label yang paling tinggi dan dalam papan teratas.
  4. Kendatipun demikian akan tetap ada para pejuang kebenaran serta orang-orang yang menolak ajakan dan seruan iblis dan balatentaranya, dan jumlah mereka sangatlah sedikit.
  5. Mahalnya keselamatan dari musibah yang menimpa agama dan keyakinan, karena itu dengan hidayah dan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa itu, seseorang tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari banyaknya seruan kesesatan dan kekufuran, serta tidak mungkin akan bisa melepaskan diri bila telah terjaring dalam perangkap kebatilan.
  6. Musuh kebenaran sepanjang masa sangatlah banyak, sehingga ahlul haq dituntut untuk selalu menenteng “senjata” dalam hidup, dan tidak ada senjata yang paling ampuh sesungguhnya melainkan ilmu agama.

Gencarnya seruan menuju kebatilan dan kekufuran, serta lemahnya pertahanan kaum muslimin untuk menangkal ajakan mereka, mendorong kita untuk berusaha mencari jalan keselamatan dan berusaha menggabungkan diri dalam satu golongan yang selamat sebagaimana dalam hadits di atas.

Golongan yang selamat itu adalah golongan yang meniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para sahabat beliau dalam beragama—mengilmui dan mengamalkannya.

 

Perangkap-Perangkap Kebatilan

Saudaraku, kebatilan itu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang suci dan lurus sebagaimana sebelumnya bertentangan dengan kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahihah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kenapa kebatilan tersebut mudah dan gampang diterima oleh kaum muslimin? Ada beberapa sisi yang perlu dikoreksi dalam hal ini.

Kemungkinan orang tersebut jahil, tidak mengetahui tentang kebenaran agamanya, sehingga dengan mudah dan gampang terbelenggu oleh jejaring kesesatan tersebut.

Sangat licinnya pelaris kesesatan tersebut sehingga gampang dan mudah kaum muslimin terpeleset dan terjebak di dalam pusarannya.

Kamuflase para penyeru kesesatan tersebut di hadapan kaum muslimin dengan penampilan yang sangat heroik, sehingga banyak kaum muslimin teperdaya padahal mereka itu tak ubahnya singa yang siap menerkam mangsanya.

Mereka membalik kenyataan sesungguhnya, sehingga tidak mengherankan jika kebenaran berubah menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Mereka mencitrakan ahlul haq seolah-olah tidak bisa diterima oleh fitrah banyak orang, bertentangan dengan adat-istiadat yang berlaku, tidak bisa diterima oleh akal, serta dianggap asing dari masyarakat.

Berbicara tentang perangkap kesesatan, sesungguhnya ahlul batil memiliki perangkap yang banyak, jitu dan bagus, karena mereka memiliki ilmu tentang hal itu. Mereka terdidik dalam madrasah yang sangat istimewa, yaitu madrasah kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjelaskan, “Hizbiyah ini dibangun dan didirikan di atas kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta. Ahli ilmu wajib membongkar kedok mereka dan memperingatkan kaum muslimin darinya. Sungguh, hizbiyah itu telah merusak pemuda kaum muslimin dan menyia-nyiakan umur mereka, mencabik-cabik persatuan mereka sehingga menjadi bersekte-sekte dan berkelompok-kelompok. Hizbiyah telah menyibukkan mereka dari menghadapi lawan mereka.” (Risalah an-Nushhul Amin, hlm. 19)

Berdasarkan ucapan beliau, jelas bahwa ahli kebatilan memiliki ranjau yang mematikan dan perangkap yang jitu serta penjaring yang kuat dan berbahaya. Ada empat perangkap untuk mengelabui mangsa lalu menjebaknya dalam kail maut mereka. Mereka siap berdusta kendati berdusta itu hukumnya haram dalam agama. Mereka menempuh jalan berdusta untuk melariskan kesesatan mereka.

Padahal kita tidak mengetahui agama membolehkan dusta kecuali pada tiga kondisi:

  1. Saat ingin mendamaikan dua orang yang berselisih;
  2. Ucapan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya untuk menumbuhkan keridhaannya;
  3. Ketika dalam peperangan; sebagaimana dijelaskan oleh riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim serta selain keduanya.

Ringkasnya, mereka menempuh segala cara untuk menebar kesesatan kendati harus menempuh langkah-langkah kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah jelas diharamkan di dalam agama atau menempuh langkah-langkah iblis la’natullah ‘alaih.

 

Menempuh Langkah Jidal (Debat)

Perdebatan dalam agama ada dua macam:

 

  1. Yang dibolehkan, bahkan disyariatkan.

Hal ini apabila debat tersebut dilakukan dengan niat untuk mencari kebenaran, dan tentang hal-hal yang bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Jadi, perdebatan tersebut bukan tentang hal-hal gaib yang seseorang tidak mengetahuinya selain dengan menerima berita dari wahyu, bukan pula tentang hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan.

Selain itu, perdebatan tersebut harus dilakukan dengan adab yang baik.

 

  1. Yang dilarang.

Debat yang dilarang ialah yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Contohnya, berdebat hanya untuk mempertahankan pendapat, mencari kemenangan, membuat keraguan, atau dalam urusan gaib yang tidak bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh para pengusung kesesatan guna memperkenalkan dan melariskan kesesatannya adalah melakukan perdebatan jenis yang kedua.

Mereka tidak segan mendatangi ahlul haq untuk mendebatnya dengan cara yang sangat licin dan licik. Mereka melakukannya untuk menebar bara kerusakan di tengah kaum muslimin dan memancing orang yang lemah hatinya terseret pada kesesatan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah seseorang yang sangat keras membantah (berdebat).” (HR. al-Bukhari no. 2277 dan Muslim no. 4821 dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ.

“Tidaklah satu kaum itu tersesat setelah mereka mendapatkan hidayah kecuali mereka diberikan ilmu debat. Kemudian beliau membacakan ayat, ‘Namun mereka adalah kaum yang suka mendebat’.” (HR. Ibnu Majah no. 47 dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu)

Abu Bakr Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah menjelaskan, “Saat ahli ilmu dari kalangan tabi’in dan para imam muslimin setelahnya mendengar (nash yang menjelaskan tentang haramnya berdebat), mereka tidak melakukan hal itu dalam agama. Bahkan, mereka tidak mau berdialog dalam hal agama. Mereka memperingatkan kaum muslimin dari berdebat dan berdialog, serta memerintahkan mereka agar berpegang dengan sunnah dan apa yang telah ditempuh oleh para sahabat g. Inilah langkah ahlul haq, yaitu orang yang telah mendapatkan taufik Allah subhanahu wa ta’ala.” (asy-Syari’ah, hlm. 61)

Muslim bin Yasar rahimahullah berkata, “Hati-hati kalian dari berdebat. Sebab, hal itu adalah waktu kejahilan seorang alim, dan dengan cara ini setan mencari ketergelincirannya.”

Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Jangan kalian duduk bersama ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) dan jangan berdialog bersama mereka. Sebab, saya tidak merasa aman mereka mencampakkan kalian dalam kesesatan atau mengaburkan kepada kalian urusan agama kalian yang telah menimpa mereka.”

Mu’awaiyah bin Qurrah rahimahullah berkata, “Berdebat dalam urusan agama akan membatalkan amalan-amalan.”

Sallam bin Abi Muthi’ rahimahullah bercerita, “Seorang pengikut hawa nafsu berkata kepada Ayyub as-Sikhtiyani, ‘Wahai Abu Bakr (kuniah Ayyub), saya mau bertanya kepadamu tentang satu kalimat.’ Ayyub berpaling dan hanya mengisyaratkan dengan tangannya, (tidak berbicara sedikit pun) walaupun setengah kalimat.”

Yahya bin Sa’id berkata, “Umar bin Abdul ‘Aziz berucap, ‘Barang siapa menjadikan agamanya sebagai ajang perdebatan, dia akan sering berpindah (keyakinan)’.”

Hisyam bin Hassan berkata, “Seseorang mendatangi al-Hasan lalu berkata, ‘Wahai Abu Sa’id, kemarilah, saya mau mendebatmu dalam urusan agama.’ Al-Hasan berkata, ‘Adapun saya telah berilmu tentang agamaku. Jika kamu tersesat, carilah agamamu’.”

Isma’il bin Kharijah bercerita, “Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu menemui Muhammad bin Sirin, lalu berkata, ‘Wahai Abu Bakr, kami akan menyampaikan kepadamu satu hadits.’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ ‘Kalau begitu kami bacakan kepada Anda satu ayat dari kitabullah?’ Beliau tetap menjawab, ‘Tidak. Menyingkirlah kalian dariku atau aku yang akan pergi’.”

Sufyan bin ‘Amr bin Qais berkata, “Saya berkata kepada al-Hakam, ‘Dengan apa seseorang itu cepat terjatuh dalam kubangan hawa nafsu?’ Beliau menjawab, ‘Berdebat’.” (Lihat asy-Syari’ah karya al-Imam Ajurri bab “Dzammul Jidal Wal Khushumat Fiddin”)

Saudaraku, apabila kita nukilkan ucapan salafus shalih tentang peringatan keras mereka dari berdebat dalam urusan agama, niscaya tidak akan cukup ruangan ini,

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

“Apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak ditinggal mayoritasnya.”

Alhamdulillah, ahlul haq sepanjang masa tidak berhenti memperingatkan umat tentang bahaya sebuah kesesatan dan para pengusungnya.

Mereka adalah bala tentara yang dipersiapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga dan melindungi agama-Nya.

Mereka tetap menyuarakan kebenaran di mana pun mereka berada, dan mengingkari kebatilan bagaimanapun risikonya.

Mereka tidak gentar dan takut terhadap caci makian orang. Tidak pula mereka mundur karena banyaknya orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka.

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Akan terus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan alhaq, yang tidak akan membahayakan mereka siapa pun yang menghinakan dan menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka tetap berada di atas kondisi itu.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk barisan pembela agama-Nya yang diliputi oleh berkah dan membangkitkan kita dalam barisan mereka yang mendapatkan jaminan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan surganya. Amin.

Ternyata Syiah Juga Penyembah Kubur

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

makam-keramat-cinunuk-garut

Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk bertauhid dan melarang mereka berbuat syirik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan hendaknya kalian beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah maka janganlah berdoa kepada Allah diserta berdoa kepada selain-Nya.” (al-Jin: 18)

Sangat banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang memerintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi perbuatan syirik. Namun, masih banyak hamba Allah ‘azza wa jalla yang terus melakukan berbagai kesyirikan, kekufuran, dan kebid’ahan. Di antara mereka yang banyak melakukan kesyirikan dan kebid’ahan adalah orang-orang Syiah Rafidhah.

 

Siapakah Rafidhah?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Rafidhah adalah orang-orang yang ghuluw (berlebihan dalam mengagungkan) terhadap ahlul bait, mengafirkan para sahabat yang lainnya, dan menyatakan bahwa para sahabat adalah orang fasik (bahkan kafir, -ed.). Mereka terdiri dari banyak kelompok. Di antara mereka ada golongan ekstrem yang menyatakan Ali adalah ilah, ada pula yang kesesatannya di bawah itu.

Awal mula kemunculan mereka adalah di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ketika Abdullah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkau adalah ilah.” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pun memerintahkan mereka dibakar, sementara tokoh mereka Abdullah bin Saba melarikan diri ke Madain.

Mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ‘azza wa jalla berbeda-beda: di antara mereka ada musyabbihah, ada yang mu’athilah, dan di antara mereka ada yang tidak demikian.

Mereka dinamakan Rafidhah karena menolak (meninggalkan) Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Hal ini terjadi ketika mereka minta beliau berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma, namun beliau justru mendoakan rahmat bagi keduanya. Maka dari itu, mereka pun menolak dan menjauhkan diri dari beliau.

Mereka menamakan diri mereka dengan Syiah karena mengklaim sebagai orang yang membela dan menolong ahlul bait dan menuntut hak mereka menjadi imam. (Syarah Lum’atul Itiqad, Ibnu Utsaimin)

 

Rafidhah Adalah Syiah

Sebuah pertanyaan pernah disampaikan kepada asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah, “Apakah benar menamakan Syiah dengan Rafidhah, jika benar mengapa mereka dinamakan demikian?”

Rafidhah asalnya adalah Syiah. Tasyayu’ asalnya adalah menolong. Namun, keadaan mereka sebagaimana kelompok-kelompok sesat lainnya, mengklaim menolong Ali dan ahlul bait, mengaku sebagai kelompok Ali dan pembela Ali radhiallahu ‘anhu—padahal itu hanyalah pengakuan belaka, -pen.

Sebagaimana telah maklum mereka terpecah karena mereka menuntut Zaid bin Ali untuk berbara’ dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata, “Ma’adzallah, keduanya adalah orang dekat kakekku.” Mereka pun menjauhkan Zaid bin Ali hingga mereka disebut Rafidhah, dan terbagilah Syiah menjadi Zaidiyah dan Rafidhah.

Para ulama yang menulis tentang firqah-firqah seperti al-Asy’ari, as-Syihristani, dan al-Baghdadi menyebutkan kelompok-kelompok Syiah, bahwa mereka terbagi sekian kelompok, namun mereka lebih senang dinamakan Syiah padahal kenyataannya mereka adalah Rafidhah, Kisaniyah, Qaramithah, Ismailiyah, Nashiriyah, atau (sekte Syiah) lainnya (Fatwa asy-Syaikh Hamud at- Tuwaijiri).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Asal ucapan sesat Rafidhah adalah (pernyataan mereka) bahwa nabi telah menetapkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah dengan nash yang memutuskan adanya uzur dan menegaskan bahwasanya Ali radhiallahu ‘anhu adalah imam yang maksum. Karena itu, barang siapa menyelisihinya berarti telah kafir. Mereka berpandangan bahwa Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan nash tersebut dan mengingkari imam maksum dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Menurut mereka, Muhajirin dan Anshar telah mengubah agama dan syariat, berbuat zalim dan melampaui batas, bahkan telah kafir kecuali segelintir orang yang berjumlah sedikit….” (Majmu’ Fatawa, 3/356)

 

Syiah, Kelompok yang Paling Mirip dengan Yahudi

Sebelum kita menyebutkan bentuk kesyirikan Syiah Rafidhah, kita akan mengingat kembali kemiripan Rafidhah dengan Yahudi. Jika kita membaca dalam al-Qur’an dan hadits tentang celaan Allah ‘azza wa jalla kepada Yahudi dan Nasrani, kemudian kita melihat keadaan Rafidhah, niscaya akan didapati bahwasanya perbuatan Yahudi telah banyak ditiru oleh Syiah Rafidhah.

Imam ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi pernah berkata kepada Malik bin Muawiyah, “Wahai Malik, aku peringatkan engkau dari kebid’ahan-kebid’ahan yang menyesatkan. Yang paling jeleknya adalah Rafidhah, karena Rafidhah adalah Yahudinya umat ini. Mereka membenci Islam sebagaimana Yahudi membenci Nasrani….”

Di antara contoh persamaan mereka:

  1. Yahudi paling benci kaum muslimin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras kebenciannya kepada orang beriman adalah orang-orang Yahudi….” (al-Maidah: 82)

Demikian juga Syiah Rafidhah, demikian membenci kaum muslimin khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  1. Yahudi membenci dan memusuhi Malaikat Jibril.

Demikian juga Syiah, mereka membenci dan memusuhi Malaikat Jibril karena menurut mereka telah salah dalam menyampaikan wahyu.

  1. Ahlul kitab membenci, bahkan membunuh nabi-nabi mereka. Demikian juga Syiah sangat membenci Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab meninggalkan kitab-kitab mereka. Demikian juga Syiah, meninggalkan al-Qur’anul Karim.
  3. Di antara perbuatan syirik Yahudi adalah:
  4. Menyembah rahib dan ahbar Yahudi mengultuskan orang-orang saleh mereka hingga menjadikannya sesembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Mereka menjadikan rahib dan ahbar mereka sebagai Rabb selain Allah.” (at- Taubah: 31)

  1. Menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah ‘azza wa jalla melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari)

Demikian juga Syiah, mereka adalah orang-orang yang sangat mengultuskan imam-imam mereka dan mengagungkan kubur mereka.

 

Bukti Syiah Mengultuskan Tokoh-Tokoh Mereka

Di antara bukti bahwa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka adalah:

  1. 1. Seorang Rafidhi, yakni al-Kulaini penulis kitab al-Kafi, kitab yang merupakan kitab terbesar di sisi mereka seperti kedudukan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah.

Dia telah membuat beberapa bab dalam kitabnya yang berjudul Ushulul Kafi kemudian menyebutkan beberapa hadits yang semuanya menunjukkan ghuluw mereka dalam hal mengultuskan tokoh-tokoh mereka.

Kita cukupkan dengan menyebutkan beberapa bab yang menunjukkan rendahnya Rafidhah karena ghuluw yang telah menyebabkan binasanya orang-orang terdahulu. Di antara bab yang dia sebutkan:

  • BAB PARA IMAM ADALAH WULATU AMRILLAH DAN PENJAGA ILMUNYA
  • BAB PARA IMAM MENGETAHUI ILMU YANG DIKELUARKAN KEPADA PARA MALAIKAT, NABI, DAN RASUL
  • BAB PARA IMAM TAHU KAPAN AKAN MATI DAN MEREKA TIDAK MATI KECUALI DENGAN PILIHAN MEREKA
  • BAB PARA IMAM TAHU APA YANG TELAH TERJADI DAN YANG AKAN TERJADI

Dan beberapa bab lainnya yang menunjukkan betapa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka hingga terjatuh dalam syirik dalam hal rububiyah dengan meyakini bahwa tokoh mereka tahu perkara gaib, kapan akan meninggal, dan kekufuran lainnya.

 

Ternyata, Syiah Penyembah Kubur

Bentuk praktik amalan syirik sangatlah beragam. Kalau kita mau menelaah keadaan orang-orang Rafidhah maka akan kita dapati mereka banyak melakukan bentuk kesyirikan di atas dan perbuatan kesyirikan lainnya. Di antara bukti akan hal tersebut adalah:

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab Rafidhahlah dibangunnya kubah-kubah di atas kubur dan disembahnya orang-orang yang telah mati.” (Lihat Syarah Wasithiyah, Alu Syaikh)

Yang dimaksud oleh beliau adalah Rafidhah yang telah mendirikan Daulah Fatimiyah di Maroko yang banyak melakukan kesyirikan dan kekufuran.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa tokoh Rafidhah yang bernama Ibnu Nu’man membuat satu kitab dia beri judul Manasikul Masyahid (Amalan- Amalan ketika Menziarahi Bangunan-Bangunan Kubur), di dalam kitab tersebut dia membolehkan menjadikan kuburan sebagai tempat haji sebagaimana Makkah. (Minhajus Sunnah)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan seluruh kebid’ahan dibangun di atas kedustaan dan mengada-ada. Oleh karena itu, orang yang paling jauh dari tauhid dan sunnah adalah orang yang paling dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan mengada-ada, seperti halnya Rafidhah yang merupakan kelompok ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling besar kesyirikannya.”

Tidak ada ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan Rafidhah. Oleh karena itu, mereka merobohkan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang disebut di situ nama Allah ‘azza wa jalla, mengosongkannya dari shalat jamaah dan Jumat, serta memakmurkan tempat-tempat berbuat syirik yang ada di atas kubur, padahal Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya melarang berbuat demikian.” (Iqtidha Shiratal Mustaqim)

 

Ada Apa dengan Karbala?

Rafidhah sangat mengagungkan Karbala, mereka menganggapnya sebagai salah satu tanah suci, bahkan sebagian mereka meyakininya lebih utama dan lebih suci dari Makkah al-Mukaramah. Karbala adalah satu tempat berjarak 100 km dari kota Baghdad. Mereka menganggapnya suci karena di sanalah al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, syahid dalam keadaan terzalimi, padahal mereka sendiri yang menyebabkan terbunuhnya beliau.

Setiap tanggal 10 Muharam diadakan ritual berdarah di sana sebagai bentuk perayaan meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Di antara keburukan Rafidhah adalah menjadikan hari meninggalnya al-Husain sebagai hari berkabung. Di hari tersebut mereka tidak berhias dan menampakkan kesedihan, mengumpulkan orang-orang yang mau meratap untuk menangis, kemudian mereka menggambar kubur al-Husain menghias dan mengaraknya di ganggang seraya menyeru: Ya Husain….

Adapun meninggalkan berhias adalah termasuk ihdad yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih. Adapun niyahah adalah di antara kemungkaran jahiliah yang paling besar dan terjadilah dari perbuatan tersebut berbagai kemungkaran dan keharaman yang tidak bisa terhitung.

Semua perbuatan tersebut adalah bid’ah. Pelakunya, orang yang ridha dengannya, yang membantunya dan pekerjaannya, semua mereka bersekutu dalam kebid’ahan…. (ar-Rudud ‘ala Rafidhah, dengan sedikit perubahan redaksi)

 

Ternyata Merekalah Pembunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma

Mereka rayakan tanggal sepuluh ‘Asyura sebagai hari berkabung, karena itu adalah hari meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Muncul pertanyaan: Siapa sebenarnya yang telah membunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma?

Disebutkan dalam tarikh, al-Husain datang ke Kufah karena panggilan penduduk Kufah yang hendak membaiatnya.

Ketika beliau hendak berangkat beliau dinasihati oleh beberapa orang sahabat, di antaranya oleh saudara beliau Muhamad bin al-Hanafiyah rahimahullah, putra Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah tahu pengkhianatan mereka kepada ayah dan saudaramu, aku khawatir keadaanmu seperti keadaan orang yang terdahulu.”

Diriwayatkan juga dalam tarikh, al-Husain sendiri pernah berkata di hadapan mereka, “… Apabila kalian tidak melakukannya dan kalian membatalkan perjanjian kalian dan melepaskan baiat kepadaku, itu bukanlah sesuatu yang aneh, kalian telah melakukannya kepada ayahku, saudaraku, dan anak pamanku muslim.…”

Demikianlah yang terjadi, mereka ahlul Kufah yang mengundang beliau untuk berbaiat kepadanya. Kemudian mereka berkhianat dan memerangi beliau radhiallahu ‘anhu hingga terbunuh. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh Syiah sendiri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Minhajus Sunnah, “Allah Mahatahu, dan cukuplah Allah ‘azza wa jalla yang tahu bahwasanya tidak ada pada kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam—dengan kebid’ahan dan kesesatan yang ada pada mereka—yang lebih jahat, lebih bodoh, lebih dusta, lebih zalim, dan lebih dekat kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dan paling jauh dari hakikat iman dibandingkan Rafidhah.” (Minhajus Sunnah)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita semua dari kesesatan Syiah dan memberikan taufik kepada penguasa negeri ini kepada al-haq dan membimbing mereka dalam menyikapi Rafidhah sesuai dengan bimbingan syariat Allah ‘azza wa jalla. Amin.

Mengejar Impian dengan Klenik

Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah

fire-8837_640

Setiap orang tentu mengidamkan kebahagiaan, kesenangan, ketenteraman, dan ketenangan dalam hidup. Namun, banyak yang beranggapan bahwa kebahagiaan terletak pada harta benda yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, atau nama yang tersohor dan menjadi buah bibir banyak orang.

Tentu, ini adalah anggapan yang sangat dangkal dan keliru. Anggapan ini sering kali menyeret orang terjatuh ke jurang keputusasaan. Bunuh diri, menjadi gila, terjadinya pembunuhan, pelacuran, perampokan, pencurian, penjambretan, perjudian, dan berbagai macam kejahatan lainnya dipicu oleh keputusasaan ini.

Tidak cukup sampai di situ, seseorang akan terbawa untuk melakukan tindakan-tindakan yang menghancurkan keyakinannya sampai ke tingkatan kufur kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti murtad, memelihara jin alias tuyul, dan melakukan praktik-praktik perdukunan.

Anggapan yang salah tersebut seringkali menjadikan orang lupa daratan, mengkhayal kalau dirinya sedang terbang ke angkasa dan bisa meraih segala apa yang diimpikannya, padahal dia berada dalam kerendahan dan kehinaan karena menjadi budak dunia.

Tidak sedikit pula yang kemudian menjadikan agama sebagai barang dagangan yang menjanjikan. Sudah masyhur, di tengah kita sederetan nama penyanyi, pelawak, bintang film, tiba-tiba menjadi dai kondang yang menyampaikan ilmu agama, menukar serta melelang ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dengan harga yang sangat murah dan rendah sebagaimana yang telah diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an.

Dengan anggapan ini pula, tidak jarang seseorang yang sebelumnya berjalan di atas kebenaran menjadi goncang, lalu sedikit demi sedikit meninggalkan kebenaran, dan akhirnya menjual kekokohannya di atas al-haq dengan harga murah.

Sungguh, betapa meruginya mereka. Itulah ucapan yang keluar dari lisan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَم وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Telah celaka budak dinar, telah celaka budak dirham, telah celaka budak pakaian yang polos, dan telah celaka budak pakaian yang bermotif, jika diberi, dia ridha; apabila tidak diberi dia tidak ridha.” ( HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu no. 5955)

فَوَاللهِ، الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, namun yang mengkhawatirkanku adalah dibentangkannya atas kalian dunia sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orag sebelum kalian sehingga kalian berlomba-lomba (mengejarnya) sebagaimana mereka dan akhirnya membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. al-Bukhari no. 2924 dan Muslim no. 5261 dari ‘Amr bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu)

Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ وَنَحْنُ نَذْكُرُ الْفَقْرَ وَنَتَخَوَّفُهُ فَقَالَ: أَالْفَقْرَ تَخَافُونَ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا حَتَّى يُزِيغَ قَلْبَ أَحَدِكُمْ إِزَاغَةً إِ هِيَهْ

“Telah keluar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami dan kami sedang mengingat kefakiran yang mengkhawatirkan kami. Beliau bersabda, ‘Kefakirankah yang kalian khawatirkan? Demi Allah, yang jiwaku berada di tangannya, benar-benar akan dituangkan kepada kalian dunia sehingga tidak akan tersesat hati salah seorang kalian kecuali dengannya (dunia)’.” (HR. Ibnu Majah no. 5 dari Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 9 dan Silsilah ash-Shahihah no. 688)

Orang-orang miskin dan fakir berlomba mengejar dunia kemudian menjadi orang yang kaya dan bisa berbuat apa saja, sesungguhnya merupakan salah satu tanda hari kiamat yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sahih,

وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، فِي خَمْسٍ يَعْلَمُهُنَّ إِ اللهُ

“Jika seseorang yang dahulunya telanjang (tidak berpakaian) dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin maka itulah sebagai tanda hari kiamat, dan bila para penggembala kambing berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan maka itu pula menjadi tanda-tandanya dalam lima perkara yang tidak ada mengetahuinya kecuali Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 9 dari Umar ibnul Khaththab dan no. 10 dari Abu Hurairah, dan ini lafadz Abu Hurairah)

 

Dunia Memang Memikat

Dunia itu indah dan memikat, menjanjikan kepuasan jiwa. Itulah ungkapan yang pas buatnya dan itulah ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، مَنْ أَصَابَهُ بِحَقِّهِ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيمَا شَاءَتْ بِهِ نَفْسُهُ مِنْ مَالِ اللهِ وَرَسُولِهِ لَيْسَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِ النَّارُ

“Sesungguhnya harta ini adalah hijau dan manis. Barang siapa memperolehnya dengan cara yang benar, niscaya akan diberkahi. Bisa jadi, ada orang berbuat sesuai dengan hawa nafsunya terhadap harta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, karena itu tidak ada balasan baginya kecuali neraka.” (HR. at-Tirmidzi 2296 dari Khaulah bintu Qais x, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 2251)

Datang pula riwayat yang sama dari ‘Amrah bintu al-Harits bin Abu Dhirar x dengan lafadz, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Barang siapa mendapatkannya dengan cara yang benar, itulah yang akan beberkah….”

Datang riwayat yang semisal hadits ‘Amrah dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma dan Maimunah x, dan semua riwayatnya sahih. Lihat Shahih al-Jami’ no. 1608, 3410, dan 3411.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih beliau no. 4925 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya perkara yang sangat mengkhawatirkanku atas kalian adalah apa yang akan dikeluarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari barokaat dunia ini.’

Beliau ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan barokaat dunia?’

Beliau bersabda, ‘Perhiasan dunia.’

Seseorang berkata kepada beliau, ‘Apakah kebaikan itu datang dengan kejelekan?’

Beliau terdiam dan kami menduga wahyu sedang turun, dan beliau mengusap keringat dari keningnya dan berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’

Orang itu menjawab, ‘Saya’.”

Abu Sa’id berkata, “Kami berterima kasih dengan munculnya pertanyaan tersebut. Rasulullah bersabda, ‘Tidak akan datang kebaikan itu kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya harta benda itu hijau dan manis…’.”

Kita juga masih mengingat sabda oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah no. 4925 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah, dan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan kalian silih berganti di dunia untuk melihat apa yang kalian kerjakan. Maka dari itu, takutlah kalian kepada dunia dan takutlah kepada wanita, karena sesungguhnya musibah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah ujian kaum wanita.”

Dunia memang tempat keangkuhan, ujub, kesombongan dan kecongkakan, tempat hasad, iri hati dan dengki, tempat pertumpahan darah, tempat saling injak, jatuh-menjatuhkan, jegal-menjegal, tempat saling curiga-mencurigai, tempat melelang kehormatan, tempat saling menuduh, tempat kezaliman, dan sebagainya. Semua ini akan berakhir pada pintu kegagalan, kerugian, kehancuran, dan kebinasaan.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah kekal.” (an-Nahl: 96)

“Apakah kamu tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 21)

“Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” (al-Hadid: 20)

Al-Imam al-Alusi rahimahullah berkata, “Yang tidak tergoda oleh dunia adalah orang-orang yang berakal. Bagaimana mungkin dunia akan mendatangkan ketenangan dan ketenteraman? Semuanya adalah main-main. Tidak ada buah yang akan dipetik selain kelelahan.” (Lihat Tafsir al-Alusi tafsir surat al-Hadid ayat 20)

Dalam tafsir ayat yang sama, as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah ‘azza wa jalla telah memberitahukan tentang hakikat dunia dan segala yang ada di atasnya. Allah juga menjelaskan akhir kehidupan dunia dan ahli dunia. Kehidupan dunia adalah main-main dan sia-sia. Badan akan kepayahan dengan permainan dunia dan hati menjadi lalai. Inilah hakikat anak-anak dunia. Engkau dapati mereka telah menghabiskan umur dalam kelalaian hati dan lalai dari berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, lalai dari mengejar janji-janji, dan lalai dari ancaman. Engkau menjumpai mereka telah menjadikan agama sebagai mainan dan kesia-siaan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang berakal dan pekerja-pekerja akhirat. Sungguh, hati mereka diramaikan oleh zikir kepada Allah ‘azza wa jalla, berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, dan mencintai-Nya. Mereka mengisi umur mereka dengan amalan-amalan yang akan mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla, baik dengan manfaat terbatas (hanya untuk dirinya) maupun meluas (mencakup orang lain).”

Bagi orang beriman, semua urusan dunia adalah kebahagiaan yang semu dan senda gurau. Berlomba-lomba mengejarnya adalah kerugian, kegagalan, dan sia-sia belaka. Dengarkan permisalan indah dari Rabb kita,

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (al-A’raf: 176)

Pesta demokrasi menjadi bukti yang sangat jelas akan hal ini. Semua orang tampil mengusung jargon-jargon kosong pejuang demokrasi dan pembelanya. Semua orang berjejal, saling sikut dan sikat, lawan jadi kawan, dan kawan jadi lawan. Semua orang siap mengobankan apa pun yang dimiliki, hanya demi meraih impian semu. Jadi, tidak aneh lagi jika mereka rela meski harus mengorbankan akhiratnya.

Di panggung politik ini, cela-mencela, jatuh-menjatuhkan, dan membongkar aib saudara bukan lagi sesuatu yang tabu dan berdosa besar. Semuanya hanya demi mengejar impian belaka. Obral janji pun mengetuk pintu setiap rumah, meminta dukungan guna mengejar impian. Rumah “angker” milik sang dukun bagaikan pasar malam yang banyak dikunjungi para kandidat/caleg.

Sungguh, betapa lucunya. Sang dukun yang tidak mengerti nasibnya sendiri, meramal nasib orang lain. Lebih lucu lagi ketika sang dukun bodoh tersebut meramal nasib mujur bagi sang calon, lalu menggantungkan sejuta harapan lolos dalam pesta demokrasi demi mengejar impian itu. Aduhai, betapa malang nasib orang bodoh, dibodohi oleh orangorang bodoh.

 

Huru-Hara dan Perdukunan

Seribu macam masalah dan problem muncul akibat dunia. Berbagai kejahatan mencuat di permukaan karena dunia. Hancurnya persaudaraan karena dunia, runtuhnya pertemanan dan persahabatan pun dengan dunia. Hancurnya dunia dan akhirat seseorang adalah karena persoalan dunia.

Karena dunia, seseorang mau menyudahi kehidupannya di tiang gantungan, menyudahinya dengan minum racun, melempar dirinya ke jurang kematian dan kebinasaan.

Karena dunia, seseorang menjadi gila dan melakukan tindakan-tindakan nekat.

Karena dunia, seorang anak menikam bapaknya dan sebaliknya. Karena dunia, seseorang melakukan tindakan keji, yaitu membunuh ibu kandungnya sendiri.

Karena dunia pula, seseorang melelang agama dan akhiratnya, serta menjatuhkan diri pada kubangan dosa-dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla bercerita dalam al-Qur’an tentang kesudahan Qarun dan orang-orang yang bersamanya. Allah ‘azza wa jalla telah bercerita pula tentang para penguasa dunia yang angkuh, sombong, dan congkak. Ternyata mereka adalah manusia biasa yang tidak bisa berbuat dan menolak keputusan Allah ‘azza wa jalla tenang hidup mereka. Apakah Anda masih belum bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah mereka atau menentang keputusan itu?

Huru-hara kehidupan dunia ini seringkali bermuara di tangan paranormal alias dukun. Mereka dianggap penguasa besar kehidupan, yang mengerti nasib mujur dan rugi setiap orang. Saat akan membangun rumah, dia mendatangi sang dukun untuk bertanya hari apa yang tepat untuk meletakkan batu pertama. Ketika akan membuka toko, dia tidak luput meminta petuah sang dukun. Apabila akan melakukan perjalanan jauh, dia harus mencari penjelasan hari baik dan hari sial. Saat akan menikah, kembali dia meminta saran ke dukun. Berbagai kondisi hidupnya, mayoritas tertumpu kepada para dukun.

Era globalisasi, kemajuan dalam segala bidang, media informasi yang demikian pesat dan tingkat kecerdasan yang tinggi, ternyata tidak cukup untuk menghukumi paranormal sebagai pendusta.

Lebih aneh lagi, sekarang masih ada orang-orang yang diperbudak oleh legenda-legenda jahiliah, yaitu meratap nasib di tempat-tempat yang dianggap punya mitos tinggi, yaitu nilai kekeramatan, kuburan-kuburan yang konon penghuninya adalah para wali yang bisa memberi wangsit untuk membimbing semua sepak terjang yang akan menguntungkan.

Semua bentuk penampilan hidup ini adalah sikap perbudakan terhadap akal, pelecehan terhadap kerasulan, dan penghancuran masa depan di dunia dan akhirat.

 

Lantas bagaimana pandangan agama tentang hukum mendatangi dukun atau yang semisalnya untuk mengundi nasib?

Agama sebagai aturan yang telah disempurnakan, tidak hanya menyisakan kebaikan untuk kehidupan, tetapi juga menjelaskannya. Begitu pula semua yang membahayakan hidup, agama telah memperingatkan agar dijauhi. Termasuk dalam hal ini ialah mendatangi dukun.

Agama kita mengharamkan mendatangi dukun berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud, an-Nasai, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 2006)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa dukun dan tukang sihir itu kafir karena mengaku mengetahui ilmu gaib, dan itu adalah sebuah kekafiran. Membenarkan keduanya dan meyakini serta menerima hal itu adalah kekafiran pula.” (Fathul Majid hlm. 356)

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَ ةَالٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya, niscaya tidak akan diterima shalatnya empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari Hafshah bintu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ مِنَّا رِجَا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ؟ فَقَالَ: فَلا تَأْتِهِمْ

“Sesungguhnya di antara kami ada yang mendatangi dukun?” Beliau bersabda, “Janganlah kalian mendatangi mereka.” (HR. Muslim no. 836)

Bagi orang yang beriman, peringatan agama sudah cukup menjadi lampu merah dalam hidupnya. Mereka tidak mungkin percaya kepada dukun yang notabene adalah pendusta, orang yang jauh dari Allah ‘azza wa jalla dan dekat dengan musuh-Nya ‘azza wa jalla, yaitu setan.

Asy-Syaikh al-Albani dalam takhrij beliau terhadap syarah Aqidah Thahawiyyah berkata, “Kita tidak boleh percaya kepada para dukun dan para tukang ramal, tidak pula kepada siapa pun yang mengaku sesuatu yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ijma’ umat.”

Wallahu a’lam.

Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Al_Quran

Pembaca yang budiman, ketahuilah Allah ‘azza wa jalla telah menjamin jika seorang berpegang dengan al-Qur’an, dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apabila datang petunjuk dari-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tak akan tersesat dan tak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya, tak akan tersesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Tafsir at-Thabari)

Adapun orang yang berpaling darinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit,

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (dari al-Qur’an), maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (Thaha:124)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat satu kaum dengan al-Qur’an dan merendahkan sebagian kaum dengannya.” (HR. Muslim)

Dengan ini kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan jika seorang muslim senantiasa berpegang teguh dengannya dan beramal dengannya. Namun, jika seorang berpaling dari al-Qur’an, dia terancam dengan kehinaan dan kecelakaan. Lebih-lebih lagi jika melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan al-Qur’anul Karim.

 

Sebelas Perkara yang Menyelisihi Tuntunan al-Qur’an

Pembaca yang budiman, dalam tulisan ini penulis ingin menyebutkan beberapa perbuatan sebagian muslimin yang jauh bahkan bertentangan dengan tuntunan al-Qur’an.

Perkara-perkara ini terjadi ketika seorang muslim tidak mempelajari al-Qur’an sebagaimana mestinya dan tidak mengamalkan al-Qur’an sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Hal ini kita paparkan untuk kita bisa menjauhi dan meninggalkannya, sebagaimana sahabat yang mulia Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan mengenai diriku.”

Di antara perkara yang harus kita jauhi adalah:

  1. Mengingkari keyakinan al-Qur’an kalamullah

 Telah kita singgung dalam edisi sebelumnya[1] bahwa akidah kita Ahlus Sunnah adalah meyakini al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Kemudian muncullah bid’ah jahmiyah yang menyuarakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan, pada masa al-Imam Ahmad hidup, penguasa ketika itu memaksakan kepada rakyatnya untuk menyatakan demikian.

Bid’ah Mu’tazilah ini terus bergulir di zaman kita ini seiring menyebarnya tokoh-tokoh mereka. Demikian juga di Indonesia, sebagai contoh tokoh-tokoh JIL terus menyerukan dan mempropagandakan pemikiran Mu’tazilah tersebut.[2]

 

  1. Istihza’ (memperolok) ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla

Al-Qur’an adalah kalamullah yang harus diagungkan. Melecehkan dan memperolok al-Qur’an adalah satu bentuk kekufuran. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (wahai Muhamad), “Apakah kepada Allah, kepada ayat-ayat dan rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada uzur bagi kalian. Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (at-Taubah: 66—65)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mengolok-olok Allah ‘azza wa jalla, ayat, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam.…” (Tafsir as-Sa’di)

Di antara bentuk istihza’ kepada al-Qur’an,

  1. Menyebut satu ayat tertentu untuk bahan tertawaan atau membuat tertawa orang lain,
  2. Membawakan ayat Allah k dalam lagu-lagu dan semisalnya.
  3. Menggantungkan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla sebagai hiasan termasuk bentuk istihza’ (Liqa’ Bab al-Maftuh).

Di antara bentuk istihza adalah apa yang dilakukan Muhammad al-‘Arifi ketika dia mengucapkan beberapa kalimat kemudian dengan lancang dia sebut sebagai surat tuffah (apel). Alhamdulillah, ucapan kufurnya tersebut telah dibantah oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.

 

  1. Tabarruk dengan al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan apa yang terkandung padanya; bukan untuk dicari berkah dengan lembaran kertas mushafnya.

Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah mencari berkah dengan lembaran-lembaran mushaf semata seperti:

  1. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah air untuk mencari berkah dengan meminum airnya.
  2. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah berisi air kemudian meminum airnya supaya bisa hafal al-Qur’an.

Di sebagian daerah Jawa Barat terdapat hari “Rebo wekasan” yang biasa dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka melakukan acara pada hari tersebut dengan mengaji meletakkan lembaran-lembaran ayat Kursi di wadah yang telah berisi air. Kemudian mereka membagikan air ini dengan keyakinan bisa menolak penyakit yang menyebar pada waktu tersebut.

Cara mencari berkah al-Qur’an yang benar dari Allah ialah dengan membacanya dan mengamalkannya.

  1. Menjadikan al-Qur’an sebagai tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan atau dipakaikan seseorang pada tubuhnya, anaknya, hewan tunggangannya, atau rumahnya dengan keyakinan untuk menolak bala. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya ruqyah[3], tamimah[4], dan thiyarah[5] adalah perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud, sahih)

Apakah boleh membuat tamimah dari al-Qur’an?

Inilah pembahasan kita. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh telah menjawab bahwa tidak bolehnya membuat tamimah dari al-Qur’an dengan tiga alasan,

  1. Keumuman larangan menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil khusus yang membolehkan.
  2. Dalam rangka menutup pintu kesyirikan.
  3. Jika dibolehkan tamimah dari al-Qur’an, tentu akan mengantarkan kepada perbuatan menghinakan al-Qur’an. (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi rahimahullah menyampaikan bahwa tamimah yang terbuat dari al-Qur’an adalah bid’ah. (al-Qaulul Mufid fi Adilati at-Tauhid)

 

  1. Tathayur dengan al-Qur’an

Sebagaimana telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya, tathayur adalah satu perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh seorang muslim.

Sangat disayangkan, karena jauhnya sebagian muslimin hingga mereka mencari sebab kebaikan dengan cara apa pun. Salah satu yang mereka lakukan adalah bertatahyur dengan mushaf al-Qur’an. Di antara bentuk tathayur yang mereka lakukan adalah saat membuka lembaran mushaf dan terbuka ayat tentang surga, maka mereka menganggap ini tanda kebaikan. Namun, bila yang terbuka tentang neraka, maka ini adalah tanda kejelekan

 

  1. Mentahrif al-Qur’an

Di antara perkara yang dilakukan ahlul batil adalah men-tahrif kitabullah; yakni menyelewengkan makna ayat dari makna yang sebenarnya. Tahrif ada dua; tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.

Tahrif lafdzi adalah mengubah makna ayat dari makna yang benar kepada makna yang batil disertai mengubah lafadznya. Sebagai contohnya adalah tahrif yang dilakukan pada ayat Allah ‘azza wa jalla,

“Ar-Rahman berada di atas arsy.” (Thaha: 5)

Inilah makna yang haq dari ayat ini. Muncullah ahlul ahwa memaknakan ayat ini dengan mengartikannya ‘menguasai Arsy’.

Ini adalah tahrif yang batil, menyelewengkan makna ayat dari makna sebenarnya. Kalau kita perhatikan, mereka mengartikan seperti ini setelah mengubah lafadz اسْتَوَى menjadi .اسْتَوْلَى

Adapun tahrif maknawi adalah mengubah makna ayat tanpa mengubah lafadznya. Misalnya, memaknai yad (tangan) sebagai kekuasaan.

 

  1. Membaca al-Qur’an di kuburan

Di antara perkara bid’ah yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah membaca al-Qur’an di kuburan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Membaca al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah, baik yang dibaca itu al-Fatihah, al-Ikhlas, maupun Yasin. Seorang tidak sepatutnya membaca al-Qur’an di pekuburan. Dia cukup mengucapkan apa yang ada dalam sunnah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ، وَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni negeri (kubur) ini dari kalangan orang mukmin dan muslim. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati yang terdahulu di antara kalian dan yang kemudian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk diri kami dan kalian. Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala mereka bagi kami, janganlah engkau meimpakan musibah kepada kami sepeninggal mereka, ampunilah kami dan mereka.”

Kemudian pergi tanpa menambahnya dengan membaca surat tersebut ataupun yang lainnya. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menghinakan al-Qur’an

Di antara perkara yang harus dijauhi seorang muslim adalah menghinakan al-Qur’an. Kadang seorang muslim tidak tahu kalau perkara yang dilakukannya adalah bentuk menghinakan al-Qur’an.

Di bawah ini adalah perkara-perkara yang dihukumi oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebagai bentuk menghinakan al-Qur’an,

  1. Memutar murotal di mobil, padahal speaker ada di bawah telapak kaki.
  2. Memutar murotal tetapi tersibukkan dengan yang lain.
  3. Menulis ayat kursi dan semisalnya di meja tempat bertelekan atau lembaran alas makanan. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menggantungkan mushaf atau lembaran mushaf di rumah

Ada pertanyaan kepada asy-Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Apa hukum menggantungkan al-Qur’an atau ayat al-Qur’an di rumah? Apakah termasuk tiwalah?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Menggantungkan ayat al-Qur’an di rumah, kalau diniatkan mencari berkah, maka ini adalah bid’ah. Demikian pula kalau berniat ibadah dengannya, maka itu adalah bid’ah. Adapun kalau niatnya untuk mengingatkan, maka itu pun tak ada faedahnya, karena kadang ditulis di majelis dan orang yang duduk tahu ada tulisan di atas kepala mereka

“Janganlah sebagian kalian menggibahi yang lain.” (al-Hujurat: 12)

Namun, keadaan perbincangan mereka semuanya adalah ghibah. Ini adalah bentuk penghinaan kepada al-Qur’an, bahkan bisa masuk ke dalam memperolok ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla.

Demikian salafus shalih adalah orang lebih semangat dari kita dalam memberikan peringatan dan mengingatkan. Namun mereka tidak melakukan hal yang demikian. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Membakar al Qur’an

Membakar mushaf al-Qur’an kalau didasari kebencian kepadanya adalah satu bentuk kekufuran. Pernah dilontarkan satu pertanyaan kepada syaikh Ibnu Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Apa balasan bagi seorang yang pernah membakar al-Qur’anul karim karena lupa dan tidak mengetahuinya kecuali setelah beberapa lama?”

Asy-Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak ada kewajiban apa pun atas dia jika melakukan karena lupa, seperti dia membakarnya dalam keadaan tidak tahu itu adalah al-Qur’an. Dia juga tidak berdosa jika membakar potongan (lembaran) mushaf yang tidak dimanfaatkan lagi agar tidak dihinakan. Sebab, al-Qur’an yang tercecer, robek, dan tidak dimanfaaatkan lagi, dibakar atau ditimbun di tempat yang baik hingga tidak dihinakan. Adapun jika membakar al-Qur’an karena ketidaksenangan, mencerca, dan membencinya, ini kemungkaran yang besar dan kemurtadan dari Islam.

Demikian pula kalau dia menduduki mushaf al-Qur’an, menginjaknya dengan kaki dalam rangka menghinakannya, melumurinya dengan najis, atau mencercanya dan mencerca orang yang berbicara dengannya, ini semua adalah kufur akbar dan kemurtadan dari Islam—kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla darinya.” (Fatawa Nur Ala Darb asy-Syaikh Ibn Baz)

 

  1. Meninggalkan al-Qur’an

Di antara masalah yang ingin penulis ingatkan adalah jauhnya sebagian muslimin dari al-Qur’an; dari membaca, menelaah makna, dan mengamalkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” (al-Furqan: 30)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa perkara yang dimasukkan sebagai bentuk hajr al-Qur’an.

  1. Meninggalkan iman kepada-Nya, tidak mendengar, dan memerhatikannya
  2. Meninggalkan amal dengannya serta tidak mengikuti apa yang dihalalkan dan diharamkannya, walaupun membacadan mengimaninya.
  3. Tidak berhukum dengannya dalam perkara ushuluddin dan furu’-nya.
  4. Tidak mentadaburinya untuk mengetahui maksud yang mengucapkannya.
  5. Tidak berobat dengannya untuk mengobati seluruh penyakit hati. Dia justru mencari obat selain al-Qur’an dan tidak berobat dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa semua hal ini termasuk makna surat al-Furqan ayat 30 (yang telah kami sebutkan di atas, -ed) walaupun sebagiannya lebih ringan dibandingkan dengan yang lain. (al-Fawaid)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik kepada kita untuk membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’anul Karim.

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat rubrik “Akidah” Majalah Asy Syariah edisi 93.

[2] Tentang kelompok JIL dan faham sesat mereka silahkan lihat Majalah Asy Syariah edisi 09. Bisa dibaca pula di www.asysyariah.com.

[3] Ruqyah adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allahluntuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (-red.)

[4] Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah. (-red.)

[5] Thiyarah atau tathayur ialah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (-red.)

Islam, Jalan dan Akidahnya

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

  Horizontal Road

Islam adalah solusi hidup sekaligus solusi mutlak untuk membebaskan diri dari kungkungan kerendahan dan kehinaan. Bahkan, Islam adalah asas yang sangat kokoh untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Meniti jalan Islam adalah sebuah jaminan yang akan menyampaikan seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla dan surga-Nya, sekaligus langkah yang menjamin dari berbagai kesesatan dan penyimpangan hidup dalam beragama, serta memelihara dari kecelakaan dan kebinasaan kelak di akhirat.

Manhaj dan akidahnya merupakan solusi dari berbagai bentuk krisis yang menimpa umat ini. Krisis dalam segala lini kehidupan, bahkan sampai menyentuh persoalan yang paling fundamental di dalam beragama yaitu krisis bermanhaj dan berakidah.

Para pakar, para cendekiawan dunia dan agama—menurut pandangan kaum muslimin—telah melakukan usaha yang maksimal untuk memberikan jawaban dan solusi dari beragam krisis tersebut. Mereka pun menemukan jalan buntu yang penuh dengan kerikil dan duri-duri, seakan-akan membuka benteng yang kokoh dan alot. Bagaimana bisa kaum muslimin menjawab krisis hidup, sementara mereka sendiri ditimpa oleh krisis yang lebih fatal?

Krisis akidah; Ia adalah sebuah krisis yang sangat besar dan berbahaya baik dalam eksistensi hidup di dunia maupun akhirat. Sebuah krisis yang telah menggoyahkan segala bangunan syariat yang dibangun di atasnya. Banyak syiar kemuliaan agama tumbang karena krisis ini. Sebaliknya, panji-panji iblis dan bala tentaranya semakin berkibar. Terdengar seruan-seruan kekafiran dan kesyirikan dengan lantang dan penuh keberanian.

Dengan krisis ini, seruan tauhid yang merupakan intisari dakwah para nabi dan rasul terkubur dalam reruntuhan zaman.

Krisis ini pula yang telah menyulap dan membalik barometer penilaian sehingga yang haq menjadi batil, tauhid menjadi syirik, sunnah menjadi bid’ah, halal menjadi haram, dan petunjuk menjadi kesesatan.

Betapa mengerikan akibat krisis besar ini yang telah menjerat banyak lapisan; menjerat banyak pemimpin kaum muslimin di dunia ini. Yang lebih mengherankan lagi, krisis ini bahkan menjerat orang yang dianggap tokoh agama.

Bukti nyata hal itu adalah banyaknya kuburan yang diagungkan dan dipertuhankan di negeri kaum muslimin. Tempat-tempat bertuah dan dikeramatkan, manusia yang dikultuskan dan disetarakan dengan Allah ‘azza wa jalla, para dukun, tukang ramal dan ahli nujum dipuja serta diangkat ilmunya setinggi ilmu Rabb. Tersebarlah ilmu perdukunan, ilmu sihir, ilmu nujum, dan ilmu ramal. Berbagai jimat diperdagangkan. Seruan mengembalikan ajaran-ajaran nenek moyang sebagai landasan berkeyakinan, pengambilan hukum, muamalah, pun naik ke permukaan. Dan masih banyak lagi bentuk kerusakan akidah lainnya.

Krisis manhaj; Sebuah krisis yang menumbuhkembangkan manhaj-manhaj batil di tengah kaum muslimin sehingga mereka jauh dari manhaj yang haq. Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan adanya perpecahan umat ini menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu merupakan bukti wahyu akan adanya krisis besar ini. Setiap golongan yang tersesat itu mengibarkan bendera masingmasing dengan lambang dan manhaj yang beragam.

Karena seruan 72 golongan inilah, mayoritas kaum muslimin meninggalkan jalan pendahulu yang saleh, yaitu jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan jalan mereka sebagai barometer keselamatan di dunia dari berbagai kesesatan dan keselamatan di akhirat dari ancaman neraka.

Krisis amal; dengan menghidupkan syiar-syiar yang bukan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dimasukkan ke dalam Islam, sampai pada klimaksnya, membela dan membangun jihad di atasnya. Tidak mengherankan jika tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dimusuhi dan diperangi. Krisis ini sangat menyenangkan iblis dan bala tentaranya. Krisis ini juga memunculkan sikap mengadopsi sistem-sistem muamalah yang bukan dari Islam atau yang telah diharamkan oleh Islam, seperti praktik ribawi dengan segala bentuk dan cabangnya, menipu dengan segala jenisnya, berbuat curang dalam menakar dan menimbang, berdusta dengan segala bagiannya, dan sebagainya.

Krisis akhlak dan adab; yaitu meniru serta menjiplak akhlak dan adab orang-orang kafir dalam banyak hal. Mulai dari yang ringan sampai kepada yang berat, dan dari yang mudah hingga yang sulit.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir, penjiplakan tersebut menyebabkan tampilan mereka sama dan serupa. Hal itu tidak hanya terjadi dalam masalah akhlak dan adab, namun dalam semua urusan agama.

Saudaraku, segala bentuk krisis dalam beragama ini butuh solusi yang tepat dan jalan keluar yang akan menyelesaikannya. Mungkinkah tergambar dalam benak Anda, ada jalan keluar lagi selain Islam, akidah, dan manhajnya?

Apabila tergambar ada selain Islam sebagai solusi, selain akidah dan manhajnya, berarti Anda telah terjerat perangkap dan jaring setan.

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-Baqarah: 168—169)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (al-A’raf: 142)

 

Meraba dan Berkhayal

Saudaraku, kita seringkali menganggap bahwa apa yang kita lakukan dan ide yang kita munculkan bisa menjawab krisis yang menimpa. Di sisi lain, kita tidak melihat dan mengkaji langkah-langkah pasti yang telah dilakukan oleh pendahulu kita yang saleh.

Seringkali kita mengukur sebuah keberhasilan itu dengan titel yang tinggi atau popularitas kita. Kita membangun berbagai bentuk pendidikan, formal atau informal, dengan berbagai jenjangnya mulai tingkat TK sampai perguruan tinggi. Sementara itu, kita tidak memerhatikan langkah pendahulu kita yang saleh. Seringkali kita mengentengkan dan meremehkan serta berbasa-basi di hadapan kesalahan yang besar menurut pandangan agama dan manhaj kita. Kita beralasan Allah Maha Pengampun, atau ini kesalahan ringan yang akan dihapuskan dengan istighfar dan kebaikan yang besar, atau yang penting akidahnya benar, dan semuanya akan terhapuskan dengan akidah yang benar, serta berbagai alasan yang menyenangkan dan menggembirakan setan. Bahkan, dengan kesalahan dan dosa tersebut, terkadang kita berbesar hati bisa mengenalkan dakwah yang benar kepada umat dan menghentikan permusuhan serta kebencian mereka terhadapnya.

Sungguh, ini adalah alasan yang tidak pernah kita dengar dari lisan pendahulu kita yang saleh. Yang mereka bimbingkan kepada kita adalah mengejar ridha, cinta, dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla semata. Mereka membimbing kita untuk mengejar keberkahan hidup dari Allah ‘azza wa jalla. Adapun dosa dan kesalahan tidak akan mendatangkan sesuatu selain kebencian dari Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya menulis bab “Ketakutan Seorang Mukmin untuk Terhapus Amalnya dan Dia Tidak Menyangka,” lalu membawakan ucapan-ucapan pendahulu kita yang saleh.

Ibrahim at-Taimi rahimahullah menerangkan, “Saya tidaklah melakukan koreksi terhadap ucapanku dengan amalku melainkan karena ketakutan saya menjadi munafik.”

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Sungguh, saya telah bertemu dengan tiga puluh sahabat nabi. Semuanya takut kemunafikan akan menimpa diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata bahwa imannya di atas iman Jibril dan Mikail.”

Disebutkan juga sebuah riwayat dari al-Hasan, “Tiadalah yang takut darinya (kemunafikan) selain orang yang beriman. Tidaklah ada yang merasa aman darinya selain seorang munafik. Tidaklah diperingatkan dari kemunafikan dan kemaksiatan melainkan terus-menerus tanpa taubat darinya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan mereka tidak terus-menerus atas apa yang mereka kerjakan dan mereka mengetahui.”

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya (no. 6011) mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Abu al-Walid, dan telah menyampaikan kepadaku al-Mahdi, dari Ghailan, dari Anas, beliau berkata, ‘Sesungguhnya kalian melakukan satu perbuatan (dosa), dalam pandangan kalian lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dari perkara yang membinasakan’.

Di mana kita dengan para pendahulu kita yang saleh, yang kita menggabungkan diri di atas jalan mereka? Apa yang kita akan katakan di hadapan Rabb, jika kita digolongkan dalam barisan kaum munafik?

Pengakuan yang tidak sesuai dengan perbuatan, dan ucapan yang tidak sama dengan praktik. Apa yang kita akan perbuat, jika amal yang kita lakukan terhapuskan dalam keadan kita tidak menduga? Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita semuanya.

 

Wahyu, Solusi Mutlak dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Jalan keluar yang aman, lurus, dan pasti dari semua krisis adalah wahyu Allah ‘azza wa jalla. Mari kita dengarkan bimbingan Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat ini menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman memerintah kaum mukminin yang membenarkan pengutusan Rasul-Nya, agar mereka mengambil ikatan Islam dan semua syariatnya, serta mengamalkan semua perintah-Nya sesuai dengan kemampuannya, serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini adalah perintah Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tidak meninggalkannya sedikit pun, sekaligus larangan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Apabila aturan syariat sesuai dengan hawa nafsunya, dia mengambilnya. Apabila tidak sesuai, dia menolaknya. Padahal, hawa nafsu wajib tunduk kepada agama.

Dan melakukan segala amal kebajikan yang sanggup dia lakukan. Adapun amalan yang belum sanggup dia laksanakan, dia berniat untuknya sehingga mendapatkan apa yang dia niatkan. Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh tidak mungkin dan tidak tergambar kecuali dengan menyelisihi jalan setan.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Dan janganlah kalian mengikuti langkahlangkah setan’.”

“Jika datang kepadamu petunjukdari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Solusi dari Rabb kita untuk tidak terjatuh di dalam kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat ialah mengikuti petunjuk Allah ‘azza wa jalla.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menjamin, siapa yang membaca al-Qur’an lalu mengamalkan kandungannya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hendaklah diketahui bahwa kebanyakan orang tersesat pada masalah ini atau lemah untuk mengetahui kebenaran, karena tidak mau mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mendalami dan mengkaji jalan yang akan menyampaikan kepadanya. Tatkala berpaling dari kitabullah, mereka pun tersesat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

“Sungguh, aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu dan kalian tidak akan tesesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitabullah.” (HR. Muslim no. 2137 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

“Saya telah tinggalkan pada kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syaikh al-Albani di dalam kitab at-Tawassul mengatakan, “Diriwayatkan oleh al-Imam Malik rahimahullah secara mursal dan al-Hakim secara bersambung dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sanadnya hasan. Ia memiliki syahid dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dan saya bawakan di dalam kitab ash-Shahihah no. 1761.)

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Sungguh, saya telah meninggalkan kalian di atas (hujah) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, dan tidak seorang pun menyimpang darinya melainkan akan binasa.” ( HR. Ibnu Majah dari Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu dan dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, lihat ash- Shahihah no. 937)

 

Mencari Solusi Keselamatan Butuh Pengorbanan

Allah ‘azza wa jalla telah memberitakan bahwa Dia pasti akan menurunkan ujian dan cobaan kepada setiap hamba-Nya tanpa pandang bulu. Itu adalah kepastian hidup yang mengiringi hamba di dunia ini. Surga dan neraka yang menjadi akhir dan pengujung kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai ujian dan cobaan. Dua tempat yang tidak ada ketiganya di akhirat kelak, akan menjadi lambang keberhasilan hidup di dunia atau lambang kegagalan dan kecelakaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga diliputi oleh segala yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh segala yang menggiurkan.” (HR. al-Bukhari no. 6006 dan Muslim no. 5049, dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, sementara belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, ‘Sesungguhnya pertolongan Allah ‘azza wa jalla itu amat dekat’.” (al-Baqarah: 214)

Adakah keselamatan dan jaminan hidup yang paling berharga selain masuk surga? Adakah kesengsaraan yang lebih besar daripada ancaman dengan neraka?

Diperlukan pengorbanan dan perjuangan untuk meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, serta menghilangkan kenistaan dan kerendahan yang abadi. Belilah kemuliaan yang abadi itu dengan pengorbanan jiwa dan harta.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (ash-Shaf: 10—11)

 

Salaf ash-Shalih, Meniti Jalan Keselamatan & Menjawab Krisis Hidup

Kaum salaf yang saleh umat ini telah membuktikan bahwa agama, akidah, dan manhajnya adalah solusi mutlak dari semua krisis hidup. Tidak ada seorang pun meragukan krisis hidup yang menyelimuti kaum jahiliah. Akan tetapi, krisis besar tersebut sirna dengan agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah telah mendengar Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir hal itu akan menimpaku.

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita berada di dalam masa jahiliah dan kejelekan, lalu Allah ‘azza wa jalla menurunkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?’

Beliau bersabda, ‘Ya.’

‘Apakah setelah kejelekan ini akan ada kebaikan lagi?’

Beliau berkata, ‘Ya, namun ada asapnya.’

Saya bertanya, ‘Apakah asapnya itu?’

Beliau bersabda, ‘Kaum yang berjalan di atas selain jalan dan petunjukku. Kamu mengenali mereka dan kamu mengingkarinya.’

Saya berkata, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan lagi?

Beliau bersabda, ‘Ya, para dai yang berada di pintu neraka Jahannam dan barang siapa memenuhi ajakan mereka niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.’

Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan sifatnya kepada kami, siapa mereka?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka adalah satu kulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.’

‘Apa perintahmu jika aku menjumpai hal itu?’

Beliau bersabda, ‘Konsekuenlah engkau bersama jamah kaum muslimin dan imam mereka.’

Saya berkata, ‘Jika mereka tidak memiliki jamaah dan imam?’

Beliau bersabda, ‘Menyingkirlah dari kelompok-kelompok itu semuanya, meski engkau harus menggigit (makan) akar kayu sampai kematian menjemput, sementara engkau tetap di atas kondisi itu’.” (HR. al-Bukhari no. 6557 dan Muslim no. 3434)

Ini adalah contoh yang sangat singkat, menggambarkan semangat mereka untuk mendapatkan jalan keluar dari krisis besar yang akan menimpa diri mereka dan orang lain. Dan masih banyak contoh lain yang tidak mungkin dibawakan dalam pembahasan yang singkat ini.

Wallahu a’lam.