Jagalah Akidah Keluarga

 Seorang muslim yang telah menikah tentunya menginginkan keluarga yang bahagia. Mendambakan rumah tangga yang sakinah penuh dengan mawaddah warahmah seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan. Mendapatkan anak keturunan yang saleh, yang dapat menjadi pelipur lara orang tuanya, serta bermanfaat bagi orang tuanya di dunia dan akhirat.

Namun, hanya sebagian mereka yang mendapatkan kebahagiaan yang mereka cita-citakan. Adapun yang lainnya telah gagal atau belum mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Untuk meraih kebahagiaan tersebut tentunya butuh keistiqamahan dalam Islam, banyak beramal saleh dalam kehidupannya.

“Barang siapa yang beramal saleh dari kalangan pria ataupun wanita dalam keadaan dia beriman, Kami akan hidupkan dia dalam kehidupan yang baik…. ”

Senantiasa berusaha pula dalam menjauhi penyimpangan syariat Islam baik besar maupun kecil, apalagi penyimpangan yang terjadi dalam masalah akidah. Karena perbuatan dosa dan penyimpangan sangatlah besar pengaruhnya bagi pribadi dan keluarga seorang hamba. Silakan pembaca melihat dan membaca kitab Ibnul Qayyim rahimahullah yang berjudul ad-Da’u wa Dawa, akan didapati di sana betapa banyak akibat jelek perbuatan maksiat hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Berikut adalah sebagian kecil dari penyimpangan yang ada dalam rumah tangga. Seorang muslim hendaknya menjauhi perkara-perkara berikut ini ketika mereka hendak berumah tangga atau ketika telah berumah tangga. Di antara penyimpangan dalam masalah akidah yang terkait dengan rumah tangga adalah sebagai berikut.

  1. Memilih pasangan suami/istri yang tidak baik agamanya, bahkan menikahi seorang musyrik atau kafir (nikah beda agama).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Wanita dinikahi karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Utamakanlah yang bagus agamanya. (Jika kamu tidak mengutamakan agamanya) merugilah kamu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Disebutkan oleh para ulama kita bahwa hadits ini walaupun teksnya ditujukan untuk kaum pria, namun wanita pun harus demikian. Mereka harus mendahulukan agama calon suaminya.

Namun disayangkan, banyak orang tidak memerhatikan hal ini. Sebagian mereka lebih mengutamakan materi, wajah/penampilan, dan nasab tanpa memperhitungkan agama calon pasangan hidupnya, sehingga rusaklah rumah tangga mereka.

 

Hukum Menikah dengan Orang Kafir

Sebagian mereka bahkan lancang dengan memilih pasangan yang kafir. Para ulama kita menjelaskan bahwa seorang muslimah diharamkan menikah dengan orang kafir secara mutlak, baik dari kalangan ahlul kitab, musyrikin, maupun orang yang murtad.

Adapun muslim, tidak boleh menikahi wanita musyrikah atau kafir kecuali ahlul kitab. Namun, para ulama kita menasihati untuk tidak melakukannya, karena berbahaya bagi diri dan anak keturunannya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Walaupun diperbolehkan, namun yang lebih utama tidak menikahi wanita ahlul kitab. Karena perempuan tersebut akan memengaruhi anak-anaknya atau bahkan memengaruhi suaminya yang muslim tadi, jika dia mengagumi kecantikan atau kecerdasannya, ilmu atau akhlaknya, hingga menghilangkan akalnya atau bahkan menyeretnya kepada kekufuran.” (Tafsir Surat al-Baqarah, 2/79)

 

  1. Mencari “hari baik” untuk akad nikah

Di antara penyimpangan yang terjadi adalah mencari “hari baik untuk hari pernikahan”. Hal seperti ini adalah satu perbuatan syirik, karena masuk ke dalam makna tathayur. Tathayur adalah beranggapan sial dengan sesuatu yang dilihat, didengar, waktu atau tempat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Thiyarah adalah syirik.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

  1. Akad nikah yang mengandung kesyirikan

Di sebagian tempat ada yang melakukan kesyirikan di hari pernikahan. Pengantin baru yang hendak masuk rumah diharuskan menginjakkan kaki mereka ke darah hewan sembelihan tersebut. Para ulama kita menyatakan ini adalah kesyirikan. Ini termasuk penyembelihan untuk jin. (al-Qaulul Mufid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi menyebutkan beberapa bentuk penyembelihan untuk jin, yang ini tentunya adalah perbuatan syirik. Di antaranya:

  1. Penyembelihan untuk sumur baru atau ketika kering air sumur tersebut.
  2. Ketika selesai membangun rumah baru sebelum ditinggali agar terjaga dari jin.
  3. Sembelihan untuk seorang yang sedang kemasukan jin agar jin keluar darinya.
  4. Menyembelih untuk jin ketika menemukan harta di satu tempat.

Selain bentuk kesyirikan, ada pula perbuatan mungkar yang biasa terjadi di acara pernikahan. Di antaranya:

  1. Di beberapa tempat bahkan membuat sesajen di hari pesta pernikahan, sesajen untuk “karuhun” katanya. Ini adalah satu kesyirikan yang harus dijauhi dan dingkari seorang muslim.
  2. Datang ke dukun minta agar menahan hujan di hari pesta pernikahan.
  3. Tukar cincin di antara kedua mempelai.

Disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa kalau sampai seseorang memiliki keyakinan pernikahan akan utuh selama kedua mempelai memakai cincin, ini dihukumi sebagai tamimah (yang merupakan syirik kecil). Terlebih lagi jika cincin tersebut terbuat dari emas, terdapat larangan bagi kaum lelaki memakai emas.

 

  1. Tidak mendidik istri dengan agama

Seorang suami diwajibkan untuk mengajari istri-istri tentang agamanya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Para ulama tafsir menyatakan bahwa maknanya adalah “ajarilah mereka perkara agama, perintahlah mereka kepada yang ma’ruf dan laranglah mereka dari yang mungkar.”

Mengajari istri tentang agama dan menyuruhnya untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah hak yang paling besar yang harus ditunaikan seorang suami.

“Perintahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah di atasnya.…” (Thaha: 132)

Tentu, urusan pertama dan utama yang harus disampaikan adalah perintah untuk bertauhid dan menjauhi kesyirikan.

  1. Tidak mendidik anak dengan akidah yang sahih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

“Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya peran orang tua dalam menjaga akidah putra-putri mereka. Namun sangat disayangkan, sebagian orang tua terkesan “membiarkan” anak mereka melakukan perkara-perkara yang akan menjadi sebab penyimpangan mereka. Mereka lalai dari pendidikan agama mereka. Padahal disebutkan oleh para ulama kita, di antaranya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Hak anak yang paling besar adalah hak tarbiyah diniyah, pendidikan agama mereka.” (Huquq Da’at Ilaiha Fitrah)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan di antara sebab menyimpangnya seorang pemuda adalah:

  1. Memiliki teman yang jelek.
  2. Membaca bacaan atau mendengar sesuatu yang merusak agama dan akhlaknya.
  3. Tidak memiliki wawasan yang benar tentang Islam.

(Musykilatus Syabab)

Kewajiban orang tua selain mengajari mereka perkara tauhid, shalat, dan ibadah lainnya; adalah memilihkan teman yang baik bagi anak-anak mereka, mengawasi, dan mengontrol bacaanbacaan mereka. Yang lebih penting dari itu, adalah menanamkan kepada mereka akan keindahan Islam. Islam adalah agama yang menghargai hak-hak hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Islam adalah agama yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan kita dalam kitabnya Tuhfatul Maudud, “Kebanyakan anak, kerusakan mereka adalah karena bapak mereka menelantarkan mereka, tidak mengajari mereka perkara agama ini, yang wajib dan yang sunnahnya….”

 

  1. Menyekolahkan putra dan putrinya ke sekolah atau lembaga pendidikan yang menyimpang manhaj dan akidahnya.

Di antara bentuknya ialah sekolah dengan kurikulum yang mengandung penyimpangan akidah dan akhlak, mengajarkan akidah Asy’ariyah Maturidiyah, ilmu kalam, tasyabuh dengan orang kafir, demokrasi, dan kemungkaran lainnya.

Demikian juga pengajar-pengajar yang tidak paham akidah Ahlus Sunnah atau memiliki manhaj yang tidak jelas. Padahal guru adalah panutan murid-muridnya, ia akan berpengaruh besar pada akidah, manhaj, dan akhlak murid-muridnya. Ini adalah musibah yang besar.

 

  1. Menamai anak dengan nama-nama orang kafir

Di antara hak anak kita adalah mendapatkan nama yang baik. Di antara amalan di hari ketujuh hari kelahiran anak kita adalah memberinya nama. Nama yang terbaik adalah Abdullah dan Abdurahman.

Sangat disayangkan, banyak muslimin yang memberi nama anak mereka dengan nama orang-orang kafir.

 

  1. Pembantu rumah tangga/ pengasuh anak yang tidak bagus agamanya

Di antara kesalahan sebuah rumah tangga muslim adalah mendatangkan orang-orang kafir atau yang jelek agamanya sebagai pembantu rumah tangga. Para ulama kita telah menjelaskan bahayanya hal tersebut.

 

  1. Tinggal di lingkungan yang mengancam agamanya

Lingkungan tempat tinggal adalah di antara faktor yang penting dalam keistiqamahan seorang hamba di atas akidah yang sahih. Para ulama kita menjelaskan tentang haramnya tinggal di negeri kafir dan haramnya bepergian untuk tamasya ke negeri kafir. Bahkan wajib hukumnya hijrah dari negeri kafir bila seorang tidak bisa menampakkan syiar Islam di negeri tersebut.

 

  1. Lalai memanjatkan doa yang baik untuk anak dan istri

Doa adalah perkara penting yang harus senantiasa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Kita mestinya senantiasa berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala meminta kebaikan untuk istri dan anak-anak. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah memberikan contoh kepada kita,

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini menjadi negeri yang aman, dan jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung.

Wahai Rabbku, patung-patung tersebut telah menyesatkan banyak manusia.…” (Ibrahim: 35—36)

Dalam ayat lain,

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan demikian juga anak keturunanku. Wahai Rabb, kabulkanlah doa kami.” (Ibrahim: 40)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhkan kita dari segala bentuk penyimpangan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan rumah tangga kita rumah tangga yang sakinah penuh dengan mawaddah dan rahmah.

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (pasangan hidup) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Manusia Berharap, Allah yang Menentukan

Manusia Hamba yang Terhormat

Manusia adalah makhluk Allah ‘azza wa jalla yang paling terhormat di muka bumi ini karena Allah ‘azza wa jalla mengangkat martabat mereka serta memosisikan pada tempat yang tinggi dan terhormat di hadapan makhluk yang lain, memuji dan menyanjung mereka dalam banyak kesempatan. Merekalah yang telah dinobatkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mengurus urusan dunia ini di hadapan para malaikat.

“Dan ingatlah di saat Rabbmu berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi’.” (al-Baqarah: 30)

Para malaikat dengan keterbatasan ilmunya tentang manusia seraya berkata,

“Apakah Engkau akan menjadikan di atasnya orang yang akan melakukan perusakan dan melakukan pertumpahan darah?” (al-Baqarah: 30)

Ini adalah batas ilmu para malaikat tentang manusia yang akan diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, dan mereka bermaksud menyucikan dan mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dari hal seperti itu. Mereka memberitakan bahwa mereka adalah makhluk yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan bebas dari perbuatan merusak, dan mereka mengatakan,

Dan kami menyucikan dengan memuji Engkau dan membersihkan Engkau.(al-Baqarah: 30)

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui makhluk manusia, lahiriah dan batiniah mereka. Allah Maha Mengetahui kebaikan yang berlipat ganda dalam penciptaan manusia dibanding dengan kekhawatiran para malaikat atas kejelekan yang akan muncul dari mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak mengetahuinya.(al-Baqarah: 30)

Menjadi makhluk yang terhormat tidak otomatis menjadi yang termulia di sisi Allah ‘azza wa jalla karena jati dirinya sebagai manusia. Akan tetapi, kemuliaan itu akan diperoleh di saat manusia itu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan beramal saleh.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al-Bayyinah: 7)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain.” (HR. Muslim no. 1353 dari sahabat Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat derajat seorang hamba sesuai dengan berpegang teguhnya dia dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

 

Kebanyakan Manusia Memilih Kerendahan dan Kehinaan

Itulah realita yang dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam as-Sunnah, mayoritas manusia memilih kerendahan dan kehinaan di dalam hidup. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba- Ku yang berterima kasih.” (Saba’: 13)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (Shad: 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, dan semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-Jamaah.” (HR. Ibnu Majah no. 3993)

Maka dari itu, jangan heran bila kita sulit untuk mendapatkan yang satu tersebut di tengah umat ini. Jangan heran apabila seseorang dengan gampang dan mudah tersesat jalannya di dalam beragama. Kalaulah bukan karena taufik dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla, niscaya seseorang tidak akan bertemu dan berjumpa dengan satu golongan yang selamat tersebut.

Urusan Manusia Segalanya di Tangan Allah ‘azza wa jalla

Sering sekali manusia ini mengungkapkan penolakan atas segala yang berlangsung di dalam hidup mereka, lebih-lebih bila terjadi apa yang tidak sesuai dengan harapannya. Banyak yang akan dijadikan kambing hitam, dijadikan tumpuan kesalahan, tentunya dengan mengangkat dan membersihkan dirinya bahwa bukan dia yang salah dan keliru.

Manusia seringnya berangan-angan dan bercita-cita bahkan menggantungnya setinggi langit, angan-angan pada sesuatu yang dia tidak berilmu tentangnya dan setelah itu memastikan dirinya untuk bisa menggapai segala yang dicita-citakan.

Dengan menutup mata bahwa semua perjalanan hidup yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, ada dalam ilmu dan pengaturan Allah ‘azza wa jalla. Dia menyadari bahwa banyak peristiwa di luar dugaan dan di luar batas daya pikirnya, terjadi dengan spontan dan tanpa pendahuluan. Tentu saja, orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla akan menerima segala peristiwa di dalam hidupnya dengan lapang dada dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam,

Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Rabbku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Saba’: 2—3)

 

Manusia Memiliki Kehendak, Allah ‘azza wa jalla Berkehendak

Termasuk prinsip Ahlus Sunnah adalah manusia memiliki kehendak dan kehendak mereka di bawah kehendak Allah ‘azza wa jalla. Prinsip ini membantah dua bentuk keyakinan sesat dan paham berbahaya:

  1. Keyakinan bahwa manusia memiliki kehendak mutlak, sanggup mewujudkan semua kehendaknya tanpa terkait dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. Paham dan keyakinan ini diusung dan diproklamirkan oleh kaum Qadariyah.
  2. Keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kehendak sedikit pun dan mereka berada dalam keterpaksaan untuk berbuat segala-galanya di dalam hidup ini dan semuanya karena kehendak Allah ‘azza wa jalla. Apabila Allah ‘azza wa jalla menyiksa manusia karena dipaksa—dalam pandangan mereka—Allah ‘azza wa jalla telah berbuat zalim atas mereka. Paham ini diusung dan disuarakan oleh kaum Jabriyah.

Mari kita menyimak apa kata Rabb kita di dalam masalah ini.

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al- Insan: 30)

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 29)

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orangorang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’am: 111)

Dalil-dalil di atas menjelaskan bahwa, segala apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi, dan bagaimana mungkin terjadi dalam kekuasaan-Nya apa yang tidak dikehendaki. Kalau demikian siapa lagi yang paling sesat dan paling kufur dari seseorang yang menganggap Allah ‘azza wa jalla menghendaki keimanan dari seorang kafir sementara si kafir menginginkan kekufuran, lalu kehendak sang kafir mengalahkan kehendak Allah ‘azza wa jalla, Mahatinggi Allah ‘azza wa jalla dari apa yang mereka katakan.” (Syarah Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izzi hlm. 161)

Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salamah al-Azdi al- Hajari al-Mishri ath-Thahawi al-Hanafi dalam Aqidah Thahawiyyah berkata,

“Segala sesuatu terjadi dalam ketentuan takdir dan kehendak Allah ‘azza wa jalla, dan kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tidaklah terlaksana kehendak hamba kecuali apa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki buat mereka, sehingga apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla buat mereka pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.”

 

Jujur dalam Menggantungkan Harapan kepada Allah ‘azza wa jalla

Seringkali manusia berharap akan sebuah karunia Allah ‘azza wa jalla, namun sangat sedikit dari mereka yang mau menyambut panggilan Allah ‘azza wa jalla. Manusia juga sangat gampang dan mudah melupakan Dzat yang telah memberinya nikmat. Mudah berkeluh kesah di dalam hidup. Apabila Allah ‘azza wa jalla tidak memberikannya atau belum menganugerahkan kepadanya apa yang diharapkan, ia tampakkan kekufuran dan kekafiran.

Sebaliknya, bila Allah ‘azza wa jalla memberikan apa yang dimintanya dia justru menyombongkan diri, sehingga tidak sedikit dari mereka melontarkan ungkapan-ungkapan keangkuhan seperti; ‘Ini karena ilmu dan keahlian saya’, ‘Ini karena keturunan saya’, ‘Ini memang kesuksesan yang sudah turun-temurun’, ‘Ini karena strategi-strategi saya yang tepat dan jitu’, ‘Ini karena anak buah saya yang handal dan berpengalaman’, ‘Ini karena kemuliaan saya, maka pantas saya mendapatkannya’, dan sebagainya.

Dia tidak merasa jika semuanya ini datang dari Allah ‘azza wa jalla yang menuntutnya untuk bersyukur bila menyenangkan dan sabar bila tidak sesuai dengan harapan.

“Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. Jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (asy-Syura: 48)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa apabila dia mendapatkan nikmat, dia menjadi jahat dan sombong dan bila dia diuji, dia berputus asa, sebagaimana ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita,

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian! Sebab, aku benar-benar melihat kebanyakan kalian penghuni neraka.”

Seorang wanita bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian itu banyak mengeluh dan jelek pergaulan (bersama suami kalian) dan jika kamu (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, lalu suatu hari kamu meninggalkan kebaikan itu, wanita itu berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Muslim no. 79, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dan pada no. 80 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah kondisi kebanyakan orang, kecuali yang telah mendapatkan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla dan mendapatkan bimbingan-Nya, serta termasuk golongan orangorang yang beriman dan beramal saleh.

Orang yang beriman itu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan bila menimpanya sesuatu yang menyedihkan, dia bersabar. Itu adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak didapatkan selain oleh orang yang beriman’.” (HR. Muslim no. 299 dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/121.

Berharap Keturunan, Allah ‘azza wa jalla yang Menentukan dan Memutuskan

Allah ‘azza wa jalla bercerita tentang para nabi dan rasul serta orang-orang saleh di dalam al-Qur’an bahwa mereka sangat berharap untuk mendapatkan keturunan yang baik dan beberkah. Seperti di dalam firman-Nya,

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (ash-Shaffat: 100)

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa para nabi dan rasul serta orangorang saleh mengharapkan keturunan yang baik di dalam hidup. Mereka menggantungkan harapannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah ‘azza wa jalla jika mengatakan kun (jadilah) maka akan terjadi apa yang diinginkan-Nya. Walaupun hal itu dalam catatan ilmu manusia tidak mungkin terjadi.

Allah ‘azza wa jalla yang memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi siapa yang diinginkan-Nya, tidak ada yang sanggup menghalangi bila Dia akan memberi dan tidak ada yang akan sanggup untuk memberi, bila Allah ‘azza wa jalla menghalanginya. Allah ‘azza wa jalla-lah yang akan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berkuasa atas mereka serta Dia Allah ‘azza wa jalla memutuskan di atas ilmu dan keadilan-Nya.
Dia Allah ‘azza wa jalla yang akan memberi keturunan kepada seseorang dan tidak memberinya kepada yang lain. Menjadikan seseorang wanita itu subur dan tidak subur bahkan menjadikan seseorang itu mandul. Menganugerahkan hanya anak-anak wanita kepada seseorang, seperti anugerah-Nya kepada Nabi Luth ‘alaihissalam, atau semuanya lelaki seperti anugerah-Nya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, atau memberinya keturunan laki-laki dan wanita seperti anugerah-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ‘azza wa jalla pula yang tidak menganugerahkan keturunan seperti kepada Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘alaihimassalam.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam firman-Nya,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 49-50)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Mewaspadai Makar Setan

Di antara masalah ilmu yang harus kita yakini ialah semua perkara yang dinisbatkan kepada jahiliah itu tercela. Betapa banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Di antara dalil tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Tinggallah di rumah-rumah kalian. Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarruj orang jahiliah dahulu.” (al- Ahzab: 33)

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar pertikaian seorang Anshar dan seorang Muhajirin dalam satu peperangan. Orang Anshar berkata, “Wahai orang-orang Anshar (minta bantuan mereka)!” Orang Muhajirin pun berkata, “Wahai orang-orang Muhajirin (minta bantuan kepada mereka)!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, “Apakah seruan jahiliah kalian lakukan, padahalaku ada di antara kalian? Tinggalkanlah seruan-seruan jahiliah karena itu adalah buruk.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kesimpulannya: semua perkara jahiliah adalah tercela dan kita dilarang meniru perilaku jahiliah dalam segala hal.” (Syarah Masail Jahiliah)

 

Menghidupkan Jejak Para Nabi dan Orang-Orang Saleh adalah Amalan Jahiliah

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumallah berkata, “(Di antara perilaku jahiliah) adalah menjadikan jejak tempat para nabi sebagai tempat ibadah.” Beliau juga berkata, “(Di antara perilaku jahiliah adalah) mencari berkah jejak peninggalan orang–orang besar mereka, seperti darun nadwah.”

Dan berbangga-bangganya orang yang memiliki peninggalan orang besar. Seperti dikatakan kepada Hakim bin Hizam, “Kamu menjual kemuliaan Quraisy.”

Beliau menjawab, “Telah hilang semua (sebab) kemuliaan kecuali ketakwaan.” (Masail Jahiliah; masalah no. 81, 86, dan 87)

Tiga perbuatan jahiliah inilah yang sering dilakukan sekarang ini; menghidupkan dan mengenang jejak para nabi dan orang saleh serta mencari berkah dengannya. Akhirnya, orang-orang kafir berani memberikan dana yang banyak untuk melakukan proyek “jahiliah” ini. Sebab, mereka tahu ini adalah salah satu sarana menjauhkan muslimin dari agamanya. Yang dimaksud jejak di sini adalah tempat yang pernah didatangi oleh seorang nabi, orang saleh, tempat shalat, atau tempat-tempat persinggahan mereka.

Sekarang ini sering dilakukan pencarian jejak (situs) para nabi dan orang saleh kemudian dijadikan tempat kunjungan dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di tempat-tempat tersebut. Mereka beranggapan, shalat di tempat tersebut adalah satu keutamaan. Bahkan, akhirnya sebagian orang mencari-cari dan mendatangi tempat yang pernah didatangi oleh tokoh-tokoh dari negara tertentu; melakukan napak tilas untuk mencari berkah dengan kunjungan tersebut. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Contoh Tempat yang Dianggap Berkah

Di antara sekian tempat yang dijadikan tempat kunjungan dengan niat tabaruk adalah Gua Tsur dan Gua Hira. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “… sekarang ini seperti yang pergi ke Gua Hira dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah di situ sebelum diangkat jadi nabi. Mereka pergi ke sana untuk shalat dan berdoa di sana, padahal nabi saja tidak mengunjungi gua tersebut setelah diangkat menjadi nabi, juga tak ada seorang sahabat pun yang pernah ke Gua Hira karena mereka tahu hal tersebut tidak disyariatkan. Demikian pula mereka pergi ke Gua Tsur, dengan alasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersembunyi di sana sebelum hijrah.” Namun orang-orang sekarang ini pergi ke Gua Tsur untuk shalat di sana, meletakkan wewangian di sana, dan kadang melemparkan uang ke sana. Ini semua adalah perbuatan jahiliah, jahiliahlah yang telah mengagungagungkan jejak nabi mereka. (Syarah Masail Jahiliah)

Tatkala di zaman Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ada orang-orang yang berbolak-balik mengunjungi pohon tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaiat para sahabat Anshar.

Ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengetahuinya beliau pun memerintahkan untuk menebang pohon tersebut. Dan beliau berkata, “Dengan amalan seperti inilah agama hancur.” Di antara tempat yang dijadikan tempat cari berkah adalah Jabal Rahmah. Sebagian rombongan umrah dari Indonesia bahkan dianjurkan oleh pembimbing mereka untuk berdoa di Jabal Rahmah, minta jodoh atau poligami.__Mudah – mudahan Allah lmemberikan taufik kepada kita dan kepada para pembimbing jamaah haji dan umrah, agar senantiasa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Apakah Semua Tempat yang Pernah Didatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Disyariatkan untuk Didatangi?

Di antara perkara yang perlu diketahui, tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk menunjukkan bahwa shalat di tempat tersebut disyariatkan bagi umatnya berbeda dengan tempat yang beliau singgahi dan shalat di sana secara kebetulan. Tempat pertama yang beliau datangi sebagai syariat di antaranya Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, Ka’bah, dan Masjid Quba. Disyariatkan bagi umatnya untuk mengunjungi tempat tersebut dan mengamalkan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap tempat tersebut.

Adapun tempat yang beliau singgahi secara kebetulan, tidak disyariatkan bagi umat mengikutinya. Misalnya, Gua Tsur dan tempat lainnya yang dilalui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hijrah ke Madinah. Haruslah dibedakan antara satu tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syariat bagi umatnya dan tempat lain yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datangi secara kebetulan atau karena ada kebutuhan. Tempat-tempat yang dikunjungi Rasulullah n sebagai syariat bagi umatnya, disyariatkan bagi umat ini mendatanginya dengan niat ibadah, dengan catatan ibadah yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara kebetulan, tidak boleh dikunjungi dengan niat ibadah. Itu adalah kebid’ahan, jalan orangorang jahiliah. Gua Hira misalnya. Tidak boleh seseorang berniat ibadah dengan mengunjungi Gua Hira. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak mengunjunginya setelah menjadi nabi. Demikian juga para sahabatnya, tidak pernah mengunjungi Gua Hira. (Syarah Masail Jahiliah, asy-Syaikh al-Fauzan)

 

Menghidupkan Peninggalan Orang- Orang Besar, Sarana Menuju Kesyirikan

Di antara sebab kesyirikan yang saat ini gencar dilakukan adalah mencari-cari dan menghidupkan kembali peninggalanpeninggalan orang dahulu, walaupun peninggalan orang-orang kafir. Penelitian-penelitian dilakukan untuk menemukan peninggalan “bersejarah”, yang tentunya kebanyakannya adalah peninggalan orang-orang kafir, musyirikin, dan animisme. Bahkan, mereka mencaricari dan membesar-besarkan peninggalan Fira’un. Innalillahi wainnailaihi raji’un.

Tidaklah kaum Nuh ‘Alaihissalam terjatuh kecuali melalui pintu ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Mereka berkata, Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian; Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (an-Nuh: 23)

Al-Imam Bukhari rahimahumallah membawakan ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Ini adalah nama-nama orang saleh di kaum Nuh, ketika mereka meninggal maka setan pun memberikan wangsit kepada kaumnya, hendaknya kalian membuat gambargambar dan patung di majelis-majelis yang mereka bermajelis di sana dan berilah nama-nama mereka. Maka mereka pun membuatnya namun tidak menyembahnya. Hingga ketika mereka mati dan ilmu telah dilupakan, akhirnya gambar dan patung tersebut disembah.”

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkata salaf: ketika orang-orang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf dikubur-kubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.” Demikian juga kesyirikan di bangsa Arab adalah ketika setan memberikan wangsit kepada Amr bin Luhai untuk menggali dan membawa berhala-berhala tersebut ke Jazirah Arab.

Faedah Kisah Kaum Nuh ‘Alaihissalam Kisah kaum Nuh ‘Alaihissalam di atas mengandung banyak faedah berharga. Di antaranya:

1. Tidak boleh melakukan kebid’ahan walaupun tampaknya kebid’ahan tersebut bagus.

2. Peringatan akan bahayanya gambar makhluk bernyawa. Gambar seperti ini mengandung dua kerusakan: sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan dan bentuk menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.

3. Menggantungkan gambar di tembok dan memancang patung di majelis dan lapangan adalah perkara yang akan

mengantarkan umat kepada kesyirikan.

4 . Semangat setan untuk menyesatkan bani Adam. Terkadang ia datang kepada bani Adam dengan memanfaatkan perasaan.

5. Setan tidaklah menyesatkan umat yang ada sekarang, tetapi generasi yang akan datang.

6. Tidak boleh bermudah-mudah terhadap sarana kejelekan bahkan wajib memutus dan menutupnya.

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkatansalaf: ketika orangorang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf di kuburkubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.”

7. Keutamaan ulama yang mengamalkan ilmunya. (Bayan Hakikat Tauhid hlm. 10— 11 dan I’anatul Mustafid)

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini bisa menjadi tambahan ilmu dan amal kita semua.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Sabar Tidak Berarti Diam Dari Kemungkaran

Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu. Ungkapan yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu. Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu, kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk melampiaskannya, kemampuan untuk melaksanakannya ada, tidak ada mata manusia yang melihatnya, gejolak nafsu membara, oleh Allah Subhanahu wata’ala kita diperintahkan untuk mengerem diri dan menahannya. Sungguh, betapa berat.

Di saat kita berada dalam amal saleh dan ketaatan, bisa jadi amal itu berisikopada hilangnya nyawa, harta benda, dan keturunan, kita diperintahkan untuk tegar di atasnya. Tidak boleh mundur dan goyah, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaannya. Lebih-lebih, ketaatan tersebut sangat tidak disenangi oleh hawa nafsu serta dibenci oleh iblis dan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin. Sungguh, betapa berat sabar di atasnya. Di saat kita mengerahkan segala kemampuan untuk mengejar sebuah cita-cita dalam hidup ini, pengorbanan yang tidak sedikit telah dikeluarkan, usaha dengan segala cara sudah ditempuh, segala yang dibutuhkan untuk mengejar cita-cita tersebut telah dikerahkan, keberhasilan sudah di ujung tanduk dan di pelupuk mata—menurut perkiraan—, teman teman dan saudara telah menyaksikan akan terjadinya sebuah keberhasilan, sanjungan dan pujian kerap kali menyapa dan menggiurkan seolah-olah dunia berada dalam genggaman, tiba-tiba tanpa diduga terjadi sebaliknya. Kegagalan yang sangat dalam. Luluh lantak segala usaha yang kita bangun. Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Itulah sabar, betapa beratnya. Sungguh, pahit dan berat, namun akibatnya di kemudian hari akan manis nan indah.

Sabar, Lentera Jiwa

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ

“Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk di dalam hatinya.” (at-Taghabun: 11)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abu Hatim dari Alqamah, ia berkata, “Yaitu seseorang yang ditimpa oleh sebuah musibah dan dia mengetahui bahwa semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala, lalu dia ridha dan menerimanya.”

Saudaraku, adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat hidayah yang telah merasuk dalam sanubari? Adakah nikmat yang lebih besar daripada hati yang telah dilumuri hidayah Allah Subhanahu wata’ala? Tentu, tidak ada akhir dan akibat dari kesabaran selain kebahagiaan dan kelezatan. Allah Subhanahu wata’ala  akan menggantikan dunia yang telah luput darinya dengan petunjuk di dalam hati, keyakinan yang penuh kejujuran. Allah Subhanahu wata’ala pun akan mengganti apa yang telah diambil-Nya.

Al-Imam Ahmad rahimahumallah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sabar dalam sembilan puluh tempat di dalam kitab-Nya.”

Sabar, Senjata yang Ampuh dan Berharga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa (10/48), menjelaskan, “Musibah-musibah adalah nikmat. Sebab, ia akan menghapus dosa-dosa dan mendorong seseorang untuk bersabar sehingga mendapatkan ganjaran. Musibah akan mengajakseseorang untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan merendah diri di hadapan-Nya, berpaling dari makhluk (yang tidakmampu berbuat apa-apa, -pen.), dan  berbagai maslahat lain. Cobaan itu sendiri berfungsi menghapuskan segala dosa dan kesalahan, dan ini sendiri sudah termasuk nikmat yang sangat besar.”

Musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat bagi seluruh manusia, kecualiapabila musibah itu menyeretnya ke  dalam kubangan maksiat, tentu ini adalah musibah yang lebih besar lagi dibanding sebelumnya. Dari sisi inilah, yaitu akibat yang akan merusak agamanya, musibah itu menjadi kejelekan baginya. Di antara manusia ada yang ditimpa oleh kefakiran, penyakit, atau rasa sakit lalu timbullah pada dirinya kemunafikan, keluh kesah, penyakit di dalam hati, meninggalkan beberapa kewajiban, dan melaksanakan hal-hal yang diharamkan. Ini mengakibatkan kemudaratan bagi agamanya.

Karena itu, sehat lebih baik baginya ditinjau dari musibah yang terjadi setelahnya, bukan ditinjau dari esensi musibah itu sendiri. Sebagaimana halnya jika musibah itu membuahkan kesabaran dan ketaatan, berarti di dalamnya terkandung nikmat agama. Musibah itu merupakan perbuatan Allah Subhanahu wata’ala yang akan menjadi rahmat bagi si makhluk.

Allah Maha Terpuji atas semuanya. Barang siapa diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan musibah dan diberi kesabaran, kesabaran itu menjadi sebuah nikmat dalam agamanya. Setelah kesalahankesalahannya dihapuskan, niscaya dia akan mendapatkan taburan rahmat. Bila dia memuji Allah Subhanahu wata’ala atas ujian yang dia derita, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memujinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka.” (al- Baqarah: 157)

Dia akan memetik buahnya, yaitudiampuni kesalahan-kesalahannya dan diangkat derajatnya. Karena itu, barang siapa menerima musibah itu dengan kesabaran yang wajib, niscaya dia akan  memperoleh semuanya.”

Sabar dan Cinta, Teman Sejoli?

Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/162) menjelaskan, “Sesungguhnya kesabarandalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala  adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta.

Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, namun saat Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain orang-orang yang bersabar. Kalaulah tidak sabar memikul segala beban berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta. Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, tentang kekasih-Nya Ayyub ‘Alaihissalam,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia dalam keadaan bersabar, dia adalah sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia orang yang banyak bertobat.” (Shad: 44)

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan hamba- Nya yang terbaik untuk bersabar terhadap segala hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’alamemberitakan pula bahwa Dia yang telah menjadikan beliau bersabar. Allah Subhanahu wata’ala memuji orang-orang yang bersabar dengan sebaik-baik pujian dan telah menjamin dengan ganjaran yang besar. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan ganjaran selain orang-orang yang bersabar terbilang, sedangkan ganjaran untuk mereka tidak terbatas. Allah Subhanahu wata’ala menggandengkan sabar dengan Islam, iman, dan ihsan.Allah menjadikan sabar sebagai saudara yakin, tawakal, iman, amalan-amalan, dan takwa.

Allah Subhanahu wata’ala memberitakan bahwa orang yang bersabarlah yang akan mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Da memberitakan juga bahwa kesabaran itu benar-benar sebuah keberuntunganbagi pemiliknya, dan para malaikat mengucapkan salam kepada mereka di dalam surga karena kesabaran mereka.”

Kesabaran Sebagian Ulul ‘Azmi

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul. Janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

As-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar dari gangguan para pendusta dan penentang agar beliau terus mendakwahi mereka ke jalan Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil ibrah dengan kesabaran ulul azmi dari para rasul—para pemimpin makhluk ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki azam dan keinginan yang tinggi, kesabaran yang mendalam, keyakinan yang sempurna. Mereka paling berhak untuk diteladani, diikuti langkahlangkahnya dan diterima bimbingan mereka. Rasulullah n melaksanakan perintah Rabbnya, lalu bersabar dengan kesabaran yang tidak pernah terwujud pada nabi dan rasul sebelum beliau.

Para musuhnya melemparkan panahnya dari satu busur. Mereka bangkit untuk menghadapi beliau dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk permusuhan dan peperangan. Namun, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tabah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, bersabar menanggung beban gangguan hingga Allah Subhanahu wata’ala mengokohkan beliau di muka bumi, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas seluruh umat. Shalawat dan salam atas beliau. Jangan engkau tergesa-gesa terhadap para pendusta yang menantang azab Allah Subhanahu wata’ala disegerakan.

Ini merupakan bukti kejahilan dan ketololan mereka. Jangan pula sekali-kali engkau berputus asa karena kejahilan mereka. Jangan pula permintaan mereka untuk disegerakannya azab Allah Subhanahu wata’ala menyebabkanmu mendoakan kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang pasti datang itu adalah dekat.

Di saat mereka melihat apa yang telah dijanjikan, mereka merasa tinggal di dunia ini hanyalah sesaat. Janganlah engkau sedih karena bernikmat-nikmatnya mereka di dunia, padahal mereka sedang berjalan menuju azab yang sangat pedih. Sementara itu, dunia ini, kenikmatan di dalamnya, syahwat-syahwatnya, hanya sementara dan penghilang dahaga yang berkamuflase. Kami telah jelaskan al-Qur’an yang agung ini dengan terang dan gamblang sebagai bekal kalian (di dunia) serta sebagai bekal untuk ke negeri akhirat. Sebaik-baik bekal adalah bekal yang akan menyampaikan ke negeri kenikmatan dan yang menjaga dari azab yang pedih.

Sungguh, al-Qur’an merupakan sebaik-baik bekal bagi setiap makhluk dan nikmat teragung yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka. Tidaklah akan binasa dengan azab dan hukuman kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka telah keluar dari ketaatan kepada Rabb mereka dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan uzur kepada mereka dan memberikan peringatan, namun setelah itu mereka terus-menerus berada dalam pendustaan dan kekafiran. Kita meminta dari Allah Subhanahu wata’ala perlindungan.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Allah Subhanahu wata’ala banyak bercerita di dalam al-Qur’an tentang kepribadian Nabi Nuh’Alaihissalam sebagai rasul pertama kali di muka bumi ini. Ayat-ayat tersebut menggambarkan kepribadian yang tangguh, kesabaran yang tinggi, semangat yang kuat, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Umur panjang yang dianugerahkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, 950 tahun, dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yangsuci, siang dan malam tanpa rasa lelah dan bosan.

Di sisi lain, keluarga beliau, yaitu istri dan anak, bangkit melakukan manuver-manuver penentangan dan pembangkangan terhadap segala yang dibawanya. Begitu pula mayoritas kaum beliau, menentang seruan beliau. Yang ada hanya kesedihan dan pasrah atas semuanya itu. Sebab, apa yang bisa diperbuat tatkala keputusan Allah Subhanahu wata’ala  berbeda dengan keinginan diri. Beban derita yang didapatinya dalam mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala tidak menyebabkan beliau putus asa dalam tugas yang berat itu. Justru sebaliknya, hal itu menambah keyakinan dan semangat beliau akan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Beragam ejekan, olokan, dan cemoohan kaumnya datang silih berganti, namun tidak menggoyahkan beliau sedikit pun. Kegigihan beliau berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan kesabaran menanggung beban derita di jalan dakwah tidak menjadi penghalang beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sosok nabi yang tabah dan sabar. Hal itu tergambar dalam sirah (sejarah) hidupnya yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an.

Tatkala bertambah umur dan belum dikaruniai keturunan, beliau bermunajat kepada Allah Subhanahu wata’ala  agar mendapatkan keturunan. Allah Subhanahu wata’ala mendengar dan mengabulkan permintaannya. Tatkala si buah hati tumbuh berkembang hingga menjadi dewasa, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau. Allah perintahkan si buah hati yang diidam-idamkannya disembelih. Bagaimanakah beliau menyikapi perintah tersebut?

Ternyata, perintah itu sedikit pun tidak menggoyahkan keimanan beliau kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak melemahkan dan menodai cintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Perintah itu beliau junjung tinggi dan laksanakan tanpa keraguan sedikit pun. Sungguh, sangat berat ujian menimpa beliau. Beliau lulus dan berhasil menjalani ujian tersebut. Itulah akhir bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau dengan kekafiran sang bapak dan penentangan kaumnya yang sangat besar. Beliau menghadapi semuanya dengan penuh keberanian, kesabaran, ketabahan, dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sang bapak mengancam untukmerajam dan mengusirnya jika tidak berhenti dari seruannya. Kaumnya sendiri dengan angkara murka mengobarkan api menggunung untuk membakarnya. Semua itu tidak menjadikan beliau berhenti mengingkari kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan.

Kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan agama-Nya dengan pengutusan beliau sekaligus sebagai penyempurna atas agama yang lain. Nasib beliau dalam dakwah tidaklah berbeda dengan para rasul sebelumnya. Bahkan, beliau mendapatkan ujian yang lebih berat dibandingkan dengan para nabi dan rasul sebelum beliau. Orang yang pernah membaca sirah beliau pasti mengetahuinya.

Siang dan malam, tanpa rasa lelah dan bosan beliau menyeru umatnya untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata. Keluarga terdekat beliau bangkit menghadang dakwahnya. Celaan dan caci makian bertubi-tubi datang dengan berbagai bentuk. Bahkan, tindak kekerasan dan ancaman kerap menimpa beliau. Sekali lagi, kemenangan bagi hamba-Nya yang bertakwa. Semuanya tidak menjadikan beliau takut untuk menyuarakan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala.

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasululah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka dari kalangan manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kokoh, bertambahlah ujian itu. Jika pada agamanya kelemahan, dikurangi ujiannya. Terus-menerus ujian itu menyertai seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi ini tanpa membawa kesalahan.” ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 143)

Contoh Ujian yang Menimpa Ulama

Umat Rasulullah adalah umat terbaik di tengah umat-umat yang ada. Mereka umat terakhir, namun menjadi umat yang pertama kelak di akhirat, sebagaimana halnya nabi dan rasul mereka adalah yang terbaik dan imam para rasul. Kemurnian dan kesempurnaan agama yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dijaga dan dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai akhir zaman. Allah Subhanahu wata’ala membangkitkan tokoh umat ini sebagai tentara-Nya untuk mengawal dan menjaga kesempurnaan serta kemurnian agama-Nya. Dia membangkitkan para mujaddid yang akan melakukan pembaruan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang telah dirusak, dinodai, dikotori, dan dimatikan.

Tepatnya pada abad ke-3 H, Allah Subhanahu wata’ala memunculkan sederetan mujaddid dan mujtahid, di antaranya al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu Abdillah. Beliau harus berhadapan dengan tiga penguasa bani Abbasiah yang telah terperosok ke jurang kesesatan, yaitu pemahaman bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Tiga pengausa itu adalah al- Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq. Al-Baihaqi berkata, “Tidak ada khalifah sebelumnya (al-Ma’mun) kecuali berada di atas mazhab dan manhaj salaf.” Hidup di bawah kekuasaan mereka, al-Imam Ahmad rahimahumallah mendapatkan teror, ancaman, dan penyiksaan.

Mereka memaksa agar al-Imam Ahmad mau mengikrarkan, “Al-Qur’an itu makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahumallah kokoh dalam prinsip, “Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.” Beliau tampil menghadapi ancaman tanpa rasa gentar dan takut, bagaikan kokohnya gunung batu yang menjulang tinggi. Bak pohon yang akarnya kokoh menancap di bumi, tidak diombang-ambingkan oleh badai. Bagaikan karang menggunung di lautan, tidak tergoyahkan oleh ombak yang dahsyat.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah dalam kitab beliau al-Bidayah wa an-Nihayah (14/396—399) menceritakan perjalanan pahit hidup al-Imam Ahmad di bawah tekanan tiga penguasa bani Abbasiah tersebut. Semuanya menunjukkan tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala  di umat ini dan akhir yang baik bersama orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi. Ulamaulama di masa al-Imam Ahmad rahimahumallah, serta umat ini turut menyaksikan kekokohan, kekuatan, kesabaran, keberanian, kecerdasan, keilmuan, kezuhudan, ketakwaan, ketawadhuan, serta berbagai sifat agung dan mulia lainnya. Kesabaran beliau menanggung beban hidup dalam memperjuangkan kebenaran tidak menghalangi beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah

Akidah Salaf tentang Al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim adalah kitab Allah yang paling mulia. Allah Subhanahu wata’ala menguatkan Rasul-Nya yang mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mukjizat teragung, yakni al-Qur’anul Karim. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam —yang merupakan tanda/bukti bahwa beliau adalah Rasul Allah yang haq—banyak sekali. Mukjizat teragung yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ ۖ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ () أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan orang-orang kafir Makkah berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Rabbnya?” Katakanlah, “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) yang sedang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (al- Ankabut: 50—51)

Al-Qur’anul Azhim adalah mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbesar dan paling bermanfaat bagi orang yang mau mentadaburi dan mengikutinya, karena al-Qur’an adalah mukjizat yang akan terus ada sampai hari kiamat.” (al-Muntaqa) Allah Subhanahu wata’ala telah menantang bangsa Arab—padahal mereka adalah orang  yang paling fasih berbahasa—untuk mendatangkan yang semisal al-Qur’an dan mereka tidak mampu melakukannya. Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan tantangan-Nya dalam firman-Nya,

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)

Ada beberapa masalah akidah yang penting dan harus diyakini seorang muslim terkait dengan al-Qur’an. Seorang muslim haruslah mengetahui masalah-masalah tersebut sehingga memiliki keyakinan yang benar dalam keimanannya kepada al-Qur’an. Di antara masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut.

Kedudukan Al-Qur’an di Antara Kitab- Kitab Lain yang Allah Subhanahu wata’ala Turunkan

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seluruh kitab-kitab yang terdahulu mansukh (terhapus hukumnya) oleh al-Qur’anul Azhim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

‘Kami turunkan kepadamu kitab (yakni al-Qur’an) dengan haq membenarkan kitab-kitab yang mendahuluinya dan sebagai hakim atasnya.’ (al-Maidah: 48)

Maksudnya, sebagai hakim atasnya. Oleh karena itu, tidak boleh mengamalkan hukum apa pun yang ada dalam kitab terdahulu kecuali yang sahih dan dibenarkan oleh al-Qur’an.” (Syarah Tsalatsatil Ushul)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an adalah kitab samawi yang paling akhir, penutup kitab-kitab yang diturunkan, kitab yang paling panjang, paling mencakup, dan sebagai hakim bagi kitab-kitab lainnya.

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَن يُفْتَرَىٰ مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ الْعَالَمِينَ

‘Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukumhukum yang telah ditetapkannya.Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam.(Yunus: 37)

مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

‘Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan sebagai pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman’ (Yusuf: 111).”

Kemudian beliau berkata, “Al-Qur’an adalah risalah Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh makhluk. Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin penjagaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

‘Kamilah yang menurunkan al- Qur’an dan Kami yang akan menjaganya. (al-Hijr: 9)

Allah Subhanahu wata’ala tak akan menerima dari siapa pun agama selain yang dibawa oleh al-Qur’an.”

Allah Subhanahu wata’ala Menjaga Al-Qur’an

Allah Subhanahu wata’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini. Allah Subhanahu wata’ala menjaganya dari perubahan, penambahan, pengurangan, dan penggantian. Allah Subhanahu wata’ala telah menjamin penjagaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Kamilah yang menurunkan al- Qur’an dan Kami yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Penjagaan Allah Subhanahu wata’ala mencakup penjagaan terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala menjaga al-Qur’an lafadz dan maknanya, sedangkan makna al- Qur’an dijelaskan oleh sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan al-Qur’an kepadamu agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (an-Nahl: 44)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Qur’an dijaga ketika diturunkan dan setelahnya. Ketika diturunkan, ia dijaga dari pencurian semua setan yang terkutuk. Setelah turun, dijaga dengan cara Allah Subhanahu wata’ala masukkan ke dalam kalbu Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga terjaga di dalam kalbu Rasul-Nya dan umatnya. Allah Subhanahu wata’ala menjaga lafadz-lafadznya dari perubahan, penambahan, dan pengurangan. Allah Subhanahu wata’ala menjaga maknamaknanya dari penggantian. Tidak ada orang yang mencoba menyelewengkan maknanya dari makna yang benar kecuali Allah Subhanahu wata’ala akan memunculkan orang yang menjelaskan kebenaran yang jelas.

Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala yang agung dan nikmat-Nya yang terbesar bagi hamba-Nya yang beriman. Di antara bentuk penjagaan-Nya kepada al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menjaga ahlul Qur’an dari musuh-musuh mereka. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menguasakan musuh mereka untuk menguasai mereka.” (Taisir al-Karimirrahman) Isi Al-Qur’an Semua Tentang Tauhid Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “Mayoritas surat dalam al-Qur’an, bahkan semuanya, mengandung dua macam tauhid ini, mempersaksikan dan menyeru kepadanya. Sebab, al-Qur’an bisa jadi:

• Berupa berita tentang Allah Subhanahu wata’ala, tentang nama, sifat, perbuatan, dan ucapan Allah Subhanahu wata’ala. Itu adalah tauhid ilmi khabari.

• Berupa seruan untuk beribadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi- Nya, dan berlepas diri dari sesuatu yang dijadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah tauhid iradi thalabi.

• Berupa perintah dan larangan, mengharuskan untuk taat kepada-Nya, mengikuti perintah dan larangan-Nya. Ini adalah penyempurna tauhid.

• Berupa berita tentang kemuliaan bagi orang bertauhid, bagaimana mereka diperlakukan di dunia dan di akhirat kelak. Ini adalah balasan bagi orang yang mentauhidkan-Nya.

• Berupa berita tentang orang yang berbuat syirik dan bagaimana mereka diperlakukan di dunia dengan bencana dan di akhirat kelak dengan azab. Ini adalah balasan bagi orang yang keluar dari mentauhidkan-Nya. Al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak serta balasannya, tentang syirik, dan pelakunya serta balasan bagi mereka.” (Madariju as-Salikin)

Al-Qur’an Akan Diangkat di Akhir Zaman

Menjelang terjadinya hari kiamat, Allah Subhanahu wata’ala mengangkat al-Qur’an dari dada-dada manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Perkara pertama yang akan hilang dari agama kalian adalah amanat dan yang paling akhir adalah shalat. Akan ada satu kaum yang shalat dalam keadaan mereka tidak memiliki agama. Al-Qur’an yang ada di antara kalian sebentar lagi akan diangkat.” Seorang muridnya berkata, “Wahai Abu Abdirahman, bagaimana diangkatnya? Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkannya di hatiNo. hati kami dan dalam mushaf kami.” Ibnu Masud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Akan diangkat dalam satu malam, tidak akan ada lagi yang tertinggal di dada ataupun mushaf.” Di dalam Sunan ad-Darimi juga, dari Ibnu Masud radhiyallahu ‘anhu, “Al-Qur’an akan diangkat pada suatu malam. Tidak ada lagi satu ayat pun di mushaf atau dada manusia kecuali akan diangkat.” Al-Qur’an adalah Firman Allah Subhanahu wata’ala, Bukan Makhluk Di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah yang terpenting dalam masalah ini adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wata’ala, bukan makhluk. Allah Subhanahu wata’alaberfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seorang di antara orangorang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (at-Taubah: 6)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dalam firman Allah Subhanahu wata’ala ini, ada hujah yang kokoh bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menegaskan bahwasanya al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wata’ala, bukan makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Al- Qur’an adalah kalamullah dan bukanlah makhluk. Janganlah kamu lemah untuk menyatakan, ‘Al-Qur’an bukan makhluk.’ Sesungguhnya kalamullah (al-Qur’an) itu datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Sesuatu yang berasal dari Dzat-Nya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang rendahan dalam masalah ini dan dengan orang lafdziyah (ahlul bid’ah yang mengatakan, ‘Lafadzku ketika membaca al-Qur’an adalah makhluk’) dan orang lainnya; atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini yang berkata, ‘Aku tidak tahu, al- Qur’an itu makhluk atau bukan, yang jelas al-Qur’an itu adalah kalamullah.’ Ketahuilah (bahwasanya keyakinan Ahlus Sunnah adalah), al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.” Jaminan Bagi yang Berpegang Teguh dengan Al-Qur’an Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah Subhanahu wata’ala menjamin seorang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian beliau radhiyallahu ‘anhu membaca,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ() قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا () قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau mengumpulkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Demikian sebagian masalah akidah yang terkait dengan al-Qur’anul Karim. Mudah-mudahan kita senantiasa bisa memahami perkara agama ini sesuai dengan pemahaman salafus shalih dan mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wata’ala untuk beramal sebagaimana salafus shalih beramal. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Kepalsuan Doktrin Imamah Syiah

Jika kita mencermati perjalanan dakwah al-haq sejak diutusnya para nabi dan rasul, akan kita temukan berbagai bentuk penentangan dan penyelisihan terhadap al-haq. Ini menjadi bukti bahwa kebanyakan hamba- Nya tidak menginginkan kelurusan hidup.  Mereka memberontak, menyerukan kebebasan beragama dan berkeyakinan, dengan slogan-slogan kekufuran. Di antara slogan itu ialah menghidupkan budaya dan peninggalan nenek moyang, serta menjaga eksistensi ajaran mereka. Dalam pandangan mereka, agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala itu universal dan fleksibel. Ia bisa diotakatik dan ditarik ulur sesuai dengan kondisi dan zaman yang berlangsung.

Alhasil, yang ada adalah menghakimi ajaran agama, sebagaimana halnya perbuatan orang-orang kafir terhadap agama mereka. Akibatnya, muncullah dalam tubuh kaum muslimin istilah para “pembaru”, aliran-aliran modern di dalam Islam, pemikiran dan gerakan pembaruan, periode modern dalam sejarah Islam, dan berbagai istilah lain, yang notabene semuanya mempertanyakan (menggugat) sakralisasi Islam sebagai agama wahyu. Jika kita tarik benang merah, secara jujur, akan kita dapati bahwa penolakan mereka terhadap al-haq adalah titipan Iblis la’natullah alaih.

Dakwah para nabi dan rasul yang menebar rahmat kepada segenap manusia dianggap sebagai aturan yang mengekang kebebasan, membunuh karakteristik berpikir yang hidup dan luas, serta menumpulkan ketajaman akal. Dalam anggapan mereka, wahyu menjerat semua kehendak dan keinginan. Mengapa mereka tidak berpikir ringan dan mudah, yaitu bukankah Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakan kita? Bukankah Allah yang mengatur urusan hidup ini? Bukankah Allah Subhanahu wata’ala yang telah memenuhi segala kebutuhan mereka?

Bukankah Allah Yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup setiap hamba? Dzat yang seperti ini tentu Mahaadil, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui akan seluk-beluk maslahat dan mafsadah bagi kehidupan manusia. Sungguh, Iblis la’natullah alaih bergembira melihat perilaku hambahamba Allah itu. Sebab, memperoleh banyak sahabat untuk memenuhi isi jahannam bersama dirinya. Ia mendapat banyak teman yang akan mendapatkan murka Allah Subhanahu wata’ala, dan banyak pengikut yang merasakan azab-Nya.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh, maka jadikanlah dia sebagai musuh kalian, dan sesungguhnya setan menyeru pengikutnya menjadi penghuni neraka Sa’ir (yang menyala-nyala).” (Fathir: 6)

Syiah Salah Satunya

Munculnya ajaran dan aliran Syiah sesungguhnya menjadi bukti nyata akan hal itu. Dengan kedok mengangkat eksistensi “ahlul bait” dan memperjuangkan hakhak mereka, agama ini dicetuskan oleh Abdullah bin Saba’, si Yahudi. Syiah pun menyasar kaum muslimin yang jahil tentang agama dengan menggugah sifat dasar pada setiap bani Adam, yaitu kerakusan hidup dan tidak pernah puas. Cukuplah untuk membuktikan hal itu adalah ajaran kebinatangan melalui hubungan seks bebas yang diseting oleh mereka sebagai bagian dari ajarannya. Kemudian perbuatan keji dan kotor itu mereka istilahkan dengan nikah mut’ah, sebuah bentuk pernikahan yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kebebasan hubungan seks ala Syiah itu telah memunculkan berbagai penyakit kelamin yang mengerikan dan kotor: GO (kencing nanah), AIDS, dan sebagainya. Tidak mengherankan jika kelakuan binatang itu akan menyusup di pelosokpelosok daerah kaum muslimin yang Syiah berkembang di situ. Oleh karena itu, segenap kaum muslimin mesti mewaspadai ajaran tersebut. Cukuplah kitab suci al-Qur’an dan wahyu yang kedua, yaitu Sunnah Rasul, sebagai dasar menghukumi bahwa ajaran mereka itu sesat dan menyesatkan. Mewaspadai mereka berikut ajaran mereka termasuk pelaksanaan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah berhati-hati orangorang yang menyelisihi perintahnya untuk tertimpa fitnah (musibah) dan azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Syiah Memorak-porandakan Umat Islam

Kaum Syiah telah terang-terangan memorak-porandakan ajaran Islam dan umat Islam. Hal itu terjadi sejak ada anggapan mereka bahwa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali bin Abu Thalib dan 12 keturunannya yang dianggap sebagai imam-imam yang maksum (terbebas dari dosa dan kesalahan). Mereka menganggap bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Ali. Ini pun tidak sekadar anggapan, tetapi ada konsekuensi di belakangnya, yaitu mereka mengafirkan dan memvonis para sahabat sebagai orang-orang munafik. Menurut pandangan mereka Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat yang bersama mereka, tak ubahnya komplotan penjegal, perampok, pencuri, dan perampas.

Mulla Baqir al-Majlisi berkata di dalam kitabnya, Hayatul Qulub, “Rasulullah memproklamirkan pada hari Ghadir, ‘Sesungguhnya Ali adalah waliku, wasiatku, dan pengganti setelahku.Namun, teman-temannya telah berbuat kepadanya seperti perbuatan kaum Musa. Mereka mengikuti anak sapi umat ini dan Samiri-nya. Yang aku maksudkan adalah Abu Bakr dan Umar….

Kaum munafik murka atas kekhilafahan Ali sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal beliau. Mereka melakukan kezaliman terhadap kitabullah. Mereka selewengkan, rombak, dan berbuat sesuai dengan kehendak mereka.” (Baina asy-Syiah wa Ahlis Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhahir hlm. 71)

Mereka mengafirkan Abu Bakr dan Umar dengan mengatakan, “Sesungguhnya keduanya tidak memilki nilai atau kebaikan dalam Islam, walaupun hanya sebesar biji sawi.” Tentang Utsman, mereka berkata, “Sesungguhnya dia telah berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan oleh Allah.”

Tentang Muawiyah, mereka berkata, “Sesungguhnya dia telah memikul kedengkian yang memuncak dan kekafiran yang tersembunyi.” Tentang Aisyah, mereka berkata, “Rasulullah berkhutbah. Beliau mengisyaratkan ke arah kamar Aisyah dan mengatakan, ‘Dari sinilah fitnah muncul.Beliau mengulanginya tiga kali.” Kata mereka pula, “Rasulullah keluar dari rumah Aisyah lalu bersabda, ‘Dari  ini munculnya otak kekafiran.” Mereka mengatakan, “Sunnah Nabi diriwayatkan dari para sahabat Rasulullah, padahal mereka telah murtad semuanya, termasuk tokoh-tokoh bani Hasyim dan selainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar, kecuali tiga orang, yaitu Miqdad, Abu Dzar, dan Salman. Orang yang meriwayatkan dari mereka sedikit sekali. Adapun perawi-perawi dari selain mereka bertiga tidak menenteramkan hati, karena mereka kembali kafir.” (Baina asy-Syiah wa Ahlis Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhahir hlm. 104 )

Perselisihan Syiah dalam Menetapkan Hak Imamah

Syiah telah berselisih pendapat dalam hal penetapan imamah di kalangan mereka. Perselisihannya cukup banyak dan sengit. Ini menjadi bukti goncang/ rapuhnya ajaran mereka. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa imamah tetap di tangan Ja’far bin Muhammad. Ada pula yang mengatakan bahwa imamah itu di tangan anaknya, yaitu Musa. Ada yang mengatakan bahwa imamah di tangan Abdullah bin Mu’awiyah. Ada juga yang mengatakan dengan jelas bahwa Ali telah menunjuk Hasan dan Husain.

Ada yang mengatakan, yang dimaksud ialah Muhammad bin Hanafiyyah. Ada yang berpendapat, Ali bin Husain telah berwasiat kepada putranya, Abu Ja’far. Masih banyak lagi perselisihan pendapat di kalangan mereka tentang hal ini. (Lihat Aujaz al-Khithab fi Bayan Mauqif asy-Syiah minal Ashhab 1/10 )

Saudaraku, dari perselisihan yang sangat pelik tersebut, orang yang memiliki dasar ilmu yang paling rendah pun akan bisa menyimpulkan, betapa bingungnya mereka meletakkan prinsip beragama dan betapa jauhnya mereka dari kebenaran.

Tujuan Menghalalkan Segala Cara

Syiah telah melakukan banyak manuver untuk melariskan dagangan kesesatan mereka. Intinya, bagaimana tujuan mereka bisa tercapai. Manuver-manuver sesat yang mereka lakukan di antaranya adalah menodai keabsahan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, meragukan penukilan riwayat dari para sahabat selain tiga orang, yaitu Miqdad, Abu Dzar, dan Salman, karena mayoritas sahabat murtad dan menjadi munafik sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tanpa rasa malu, mereka menjadikan amalan kekafiran tersebut sebagai sarana menggapai tujuan. Sungguh, sangat mengherankan. Di mana mereka letakkan akal mereka? Seharusnya, mereka meragukan kebenaran ajaran mereka karena banyaknya dosa dan kemaksiatan mereka. Mereka melakukan berbagai kesyirikan dan ribuan kebid’ahan. Bukankah mereka itu yang semestinya menyandang tuduhan yang mereka sematkan kepada para sahabat yang mulia dan agung? Padahal para sahabat telah mendapatkan predikat tinggi dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Apalagi ajaran mereka membolehkan berdusta untuk kepentingan dakwah. Tidak hanya boleh, bahkan mereka menjadikan dusta sebagai salah satu prinsip beragama. Mereka menyebutnya taqiyah. Al-ghayah tubarrirul wasilah (Tujuan menghalalkan segala cara). Inilah kaidah Iblis dalam menentang perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Benarkah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Mewasiatkan Khilafah Untuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu?

Kaum Syiah tidak akan habishabisnya menunggangi syariat Allah Subhanahu wata’ala dan mengotorinya, sampai keputusan Allah Subhanahu wata’ala datang atas mereka. Mereka akan melakukan segala cara, yang penting tujuan mereka bisa tercapai. Salah satunya adalah menukilkan riwayat-riwayat dusta dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Syiah adalah kelompok yang paling pendusta.” Kaum Syiah menganggap, hadits Ghadir Khum menjelaskan bahwa Rasulullah hallallahu ‘alaihi wasallam langsung menobatkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah sepeninggal beliau. Mereka mengatakan, penobatan tersebut di hadapan 120 ribu kaum muslimin. Ghadir Khum adalah persimpangan jalan menuju kota Madinah, Irak, Mesir, dan Yaman. Versi mereka, Malaikat Jibril ‘Alaihissalam turun membawa wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang isinya,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Maidah: 67)

Selain itu, Jibril ‘Alaihissalam menyampaikan kepada Rasulullah n bahwa Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau agar menjadikan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin umatnya dan sebagai pemegang wasiat beliau setelah beliau wafat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menghentikan perjalanan dan memerintah orang-orang yang berada di barisan belakang untuk segera menyusul dan yang telah mendahului untuk kembali. Mereka semuanya pun berkumpul di sekeliling beliau.

Saat waktu zuhur tiba, beliau mengimami shalat dan menyampaikan pidato yang isinya adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan bahwa keimamahan itu kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang hadir diminta untuk menyampaikan kepada yang tidak hadir. Di antara ucapan beliau dalam pidato tersebut, Taatilah dan patuhilah, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala adalah pelindung kalian, Ali adalah pemimpin kalian.

Kemudian kepemimpinan ada di tangan anak cucuku dari keturunannya hingga hari kiamat. Sabdaku dari Jibril, dari Allah Subhanahu wata’ala. Hendaknya setiap jiwa melihat apa yang telah dipersiapkan untuk hari esoknya.”

Tinjauan Ulama Sunnah Tentang Hadits Ghadir Khum Ala Syiah

a. Sahihkah riwayat hadits Ghadir Khum?

Saudaraku, kita memiliki ulamaulama sunnah yang akan menjelaskan kepada kita tentang kebenaran riwayat tersebut. Dengan demikian, kita bisa berada di atas bashirah dan mengetahui kejahatan, kerusakan, dan kesesatan agama Syiah. Hadits Ghadir Khum benar datangnya dari Rasulullah n. Sepulang beliau dari haji wada’, pada 18 Dzulhijjah, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum, antara kota Makkah dan Madinah, beliau berwasiat,

كَأَنِّي دُعِيتُ فَأَجَبْتُ وَإِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ أَحَدِهِمَا أَكْبرُ مِنَ الْآخَرِ: كِتَابُ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلِ بَيْتِي، فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا فَإِنَّهُمَا لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ اللهَ مَوْ يَالَ وَأَنَا وَلِيُّ كَلِّ مُؤْمِنٍ. ثُمَّ إِنَّهُ أَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ: مَنْ كُنْتُ وَلِيَّهُ   فَهَذَا وَلِيُّهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَا هَالُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

“Seolah-olah aku dipanggil lalu aku menyambutnya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yang satu lebih besar dari yang lain. Itulah kitabullah dan ‘itrati (keluargaku). Perhatikanlah apa yang kalian perbuat sepeninggalku terhadap keduanya. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga kelak.Lalu beliau berkata, “SesungguhnyaAllah adalah waliku, dan aku adalah wali setiap orang yang beriman.” Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya berkata, “Barang siapa menjadi waliku, Ali pun menjadi walinya. Ya Allah, lindungilah orang yang melindunginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Hadits di atas dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash- Shahihah no. 1750. Beliau bawakan pula syawahid (penguat-penguat) yang sangat banyak. Riwayat serupa datang dari banyak sahabat, seperti sahabat Zaid bin Arqam, Sa’d bin Abi Waqqash, Buraidah bin Hushaib, Ali bin Abu Thalib, Abu Ayyub al-Anshari, al-Bara’ bin ‘Azib, Abdulah bin Abbas, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah g.

b. Riwayat hadits Ghadir Khum ala Syiah

Ingat, Syiah adalah kelompok yang paling pendusta, sebagaimana ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas. Tentu saja gambaran yang melekat di benak kita, mereka akan menguatkan segala prinsip agamanya di atas standar dusta. Kedustaan adalah simbol agama dan syiar ajaran mereka. Pantaslah apabila mereka mencoba memanipulasi hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengokohkan ajaran mereka sehingga bisa mudah diterima oleh banyak pihak. Contoh konkret adalah hadits Ghadir Khum yang mereka tambah-tambahi, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika kamu tidak melakukannya, kamu tidak menyampaikan risalah-Nya.” (al-Maidah: 67)

Kata mereka, ayat ini turun pada peristiwa Ghadir Khum saat pengokohan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah pengganti beliau. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah satu bentuk kedustaan. Ayat di atas sudah turun lama sebelum haji wada’. Sementara itu, peristiwa Ghadir Khum terjadi pada haji wada’, tanggal 18 Dzulhijjah, sekembalinya beliau dari menunaikan haji. Setelah itu, beliau menjalani hidup selama dua bulan. Adapun ayat yang terakhir turun adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“ Pada hari ini , Aku telah menyempurnakan agama kalian dan telah mencukupkan atas kalian nikmat- Ku.” (al-Maidah: 3)

Ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah, dalam rentetan amalan haji wada’. Ayat ini turun saat beliau wukuf di Arafah, sebagaimana termaktub di dalam kitabkitab Shahih dan Sunan. Seluruh ahli tafsir dan ulama hadits selain mereka pun menyatakan demikian. Sementara itu, peristiwa Ghadir Khum terjadi setelah beliau kembali ke Madinah pada 18 Dzulhijjah, sembilan hari setelah haji wada’. Bagaimana bisa dikatakan bahwa ayat al-Maidah: 67 turun pada waktu itu? Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa ayat di atas turun sebelum itu. Ayat di atas termasuk ayat-ayat pertama kali turun di kota Madinah, walaupun terdapat dalam surat al-Maidah. Di samping itu, kaum Syiah juga menambahkan riwayat pada peristiwa Ghadir Khum,

هَذَا أَخِي وَوَصِيِّي وَخَلِيفَتِي فِيكُمْ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا-يَعْنِي عَلِيًّ

“Ini adalah saudaraku, wasiatku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Karena itu, dengarlah dan taatlah kepadanya, yaitu Ali.” Dengan demikian, jelaslah kepalsuan hadits ini sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Sunnah. Lihat keterangan lebih lanjut pada Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 4932.

Wilayah Imamah Ala Syiah, Angan- Angan Belaka

Dengan keterangan ini, jelaslah bahwa apa pun yang mereka serukan, akui, serta yakini, semuanya hanyalah kamuflase kesesatan. Tujuannya adalah menggiring umat kepada ideologi Abdullah bin Saba’, sebuah ajaran untuk memerangi orang-orang Islam secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kaum muslimin dari kesesatan mereka. Amin.

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Fatwa-Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Prinsip Al-Wala wal Bara

Di antara prinsip pokok dalam akidah Islam adalah mencintai orang yang seakidah dan memusuhi orang yang memusuhi akidah Islam; mencintai dan berloyalitas kepada orang yang ikhlas dan bertauhid; serta membenci orang-orang kafir musyrik. Semua hal di atas termasuk millah Ibrahim dan yang bersamanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Prinsip ini pun menjadi agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orangorang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengharamkan wala’ (loyalitas) kepada semua orang kafir secara umum,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (al-Mumtahanah: 1)

Bahkan , Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan atas mukminin berwala’ kepada orang kafir1 walaupun mereka itu orang yang paling dekat nasabnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian jadikan bapak-bapak dan saudarasaudaramu menjadi wali(mu). Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kalian yang menjadikan mereka wali, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at- Taubah: 23)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Namun, sangat disayangkan, banyak sekali kaum muslimin yang tidak mengetahui pokok agama yang agung ini. Sampai-sampai ada orang yang dianggap ulama dan dai berkata bahwasanya Nasrani adalah saudarasaudara kita. Alangkah bahayanya ucapan mereka ini. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tentang hal ini dalam fatwa-fatwa yang pernah beliau sampaikan. Mudahmudahan bisa menjadi bekal bagi kita dalam beramal.

Hukum Orang yang Menyatakan Tidak Boleh Mengafirkan Yahudi dan Nasrani

Asy-Syaikh ditanya tentang seorang pemberi nasihat di salah satu masjid di Eropa. Dia menyatakan bahwasanya Yahudi dan Nasrani tidak boleh tidak boleh dikafirkan.

Jawaban asy-Syaikh Ibnu Utsaimin: Ucapan seperti ini telontar dari seorang yang sesat atau kafir, karena Yahudi dan Nasrani telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ () اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang satu, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 30—31)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang musyrik. Dalam ayat lain, dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala menerangkan kekafiran mereka,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orangorang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam.” (al-Maidah: 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Allah salah seorang dari yang tiga.” (al-Maidah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (al-Maidah: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayinah: 6)

Ayat-ayat dalam masalah ini sangatlah banyak. Demikian juga dengan hadits. Barang siapa mengingkari kekafiran Yahudi dan Nasrani, berarti tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendustakan beliau, di samping mendustakan Allah Subhanahu wata’ala. Mendustakan Allah Subhanahu wata’ala adalah kekufuran. Jadi, barang siapa ragu tentang kekafiran Yahudi dan Nasrani, tidak diragukan lagi kekafirannya…. (Fatawa Aqidah)

Hukum Mencintai Orang Kafir dan Lebih Mengutamakan Mereka daripada Kaum Muslimin

Asy-Syaikh ditanya tentang hukum menyayangi orang kafir dan lebih mengutamakannya daripada muslimin.

Jawaban: Tidak diragukan lagi, orang yang lebih mencintai orang kafir daripada kaum muslimin berarti telah melakukan keharaman yang besar. Sebab, mencintai kaum muslimin dan mencintai kebaikan untuk mereka, hukumnya wajib. Oleh karena itu, mencintai musuhmusuh Allah Subhanahu wata’ala melebihi kecintaan kepada muslimin adalah bahaya besar dan haram hukumnya. Bahkan, tidak diperbolehkan mencintai orang kafir walau lebih kecil dari cintanya kepada muslimin. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungaisungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian.” (al-Mumtahanah: 1)

Demikian juga orang yang memuji orang kafir, menyanjung, dan mengutamakan mereka daripada kaum muslimin dalam hal amalan dan lainnya. Dia telah melakukan dosa dengan berburuk sangka kepada saudaranya yang muslim dan berbaik sangka kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya. Seorang mukmin wajib mengutamakan kaum muslimin atas selain mereka dalam segala urusan, baik amalan maupun lainnya. Jika ada kekurangan pada kaum muslimin, hendaknya mereka dinasihati dan diingatkan tentang akibat jelek dari perbuatan zalim. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka melalui perantaraannya.

Turut Serta dengan Orang Kafir dalam Perayaan Hari Besar Mereka

Apa hukum kaum muslimin turut serta/berbaur dengan orang kafir dalam perayaan hari besar orang-orang kafir?

Jawaban: Haram hukumnya bagi kaum muslimin berbaur (turut serta) dalam perayaan hari-hari besar orang kafir. Sebab, ini termasuk membantu orang lain dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam perbuatan kebajikan dan takwa serta jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Jika hari-hari besar tersebut bersifat keagamaan, turut serta bersama mereka adalah bentuk setuju dan ridha dengan kekafiran mereka. Kalau tidak bersifat keagamaan, seandainya saja hari raya itu ada pada kaum muslimin, tentu tidak akan dirayakan, lebih-lebih lagi jika ada pada orang-orang kafir. Oleh karena itu, para ulama menyatakan, kaum muslimin tidak boleh turut serta dengan orang kafir dalam perayaan hari besar mereka. Sebab, hal itu adalah bentuk persetujuan dan ridha dengan kekufuran dan kebatilan mereka. Selain itu, hal itu termasuk bentuk membantu mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan. Para ulama berselisih pendapat terkait dengan masalah menerima hadiah dari orang kafir ketika mereka merayakan hari besar mereka, apakah boleh menerimanya atau tidak? Sebagian ulama menyatakan tidak boleh menerima hadiah yang terkait dengan perayaan hari besar mereka karena hal itu adalah pertanda ridhanya. Sebagian ulama membolehkan menerimanya. Dengan syarat, apabila hadiah itu diterima tanpa menimbulkan bahaya syar’i—yakni orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa seorang muslim yang menerima hadiah berarti ridha dengan kekafiran mereka—tidak mengapa menerimanya.

Namun, apabila akan menimbulkan bahaya syar’i, tidak menerimanya lebih utama. Alangkah baiknya apabila saya sebutkan apa yang telah diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Ahli Dzimmah, “Adapun mengucapkan selamat kepada syiar-syiar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka, hal itu disepakati keharamannya, seperti memberikan ucapan selamat di hari besar dan puasa mereka dengan mengucapkan: hari raya penuh berkah, selamat hari raya, dan ucapan semisalnya.” Orang yang mengucapkan ucapan selamat seperti ini, kalaupun selamat dari kekufuran, maka itu adalah perbuatan haram. Keadaannya seperti orang yang memberi ucapan selamat kepada seorang yang sujud kepada salib…. Banyak orang yang tidak memiliki kekokohan agama terjatuh pada perbuatan seperti ini.

Bepergian ke Negeri Kafir

Apa hukum bepergian ke negeri kafir dan hukum bepergian untuk tamasya?

Jawaban: Bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat:

1. Memiliki ilmu sehingga ia bisa menolak syubhat.

2. Memiliki agama yang baik sehingga ia bisa menjaga diri dari syahwat.

3. Memiliki keperluan untuk bepergian ke sana.

Jika tiga syarat ini tidak terpenuhi, tidak boleh bepergian ke negeri kafir. Sebab, hal itu akan menjadi kejelekan bagi dirinya atau dikhawatirkan ada keburukan yang menimpanya. Selain itu, hal ini hanya akan menghamburkan harta karena butuh biaya besar untuk bepergian ke negara-negara tersebut. Namun, jika seseorang terdesak kebutuhan yang mengharuskannya bepergian ke negeri kafir, untuk berobat atau belajar ilmu yang tidak ada di negerinya—dalam keadaan dia memiliki ilmu dan agama yang kokoh sebagaimana kita sebutkan—ia boleh berangkat ke negeri kafir.

Mengucapkan “Wahai Saudaraku” kepada Seorang Kafir

Apa hukum ucapan, “Wahai saudaraku” kepada orang kafir? Demikian juga ucapan, “Wahai teman, wahai sobat” dan hukum tertawa kepada orang kafir demi mendapatkan kecintaannya?

Jawaban: Ucapan “Wahai saudaraku” kepada seorang kafir hukumnya adalah haram. Tidak boleh dia dipanggil demikian kecuali ada hubungan saudara karena nasab atau susuan. Sebab, kalau tidak ada hubungan nasab dan susuan, tersisa hubungan saudara karena agama. Padahal seorang kafir bukanlah saudara seorang mukmin dalam agamanya. Ingatlah ucapan Nabi Nuh ‘Alahissalam,

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ () قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ

Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu….” (Hud: 45—46)

Adapun memanggilnya, “Wahai sobat, wahai teman”, kalau hanya ucapan spontan untuk memanggil seseorang yang tidak diketahui namanya, tidaklah mengapa. Namun, apabila maksudnya mengharapkan kecintaan dan kedekatan orang kafir, hal ini diterangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Semua ucapan lemah lembut yang bertujuan mendatangkan kecintaan tidak boleh diucapkan seorang mukmin kepada orang kafir. Demikian pula tertawa kepada mereka untuk menciptakan rasa sayang/ suka antara si mukmin dan si kafir, tidak boleh dilakukan. Engkau telah mengetahuinya dalam ayat di atas.

Hukum Mengucapkan Salam kepada Muslim dengan: السَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

Apa hukum mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan bentuk salam: السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى Bagaimana cara mengucapkan salam kepada orang di sebuah tempat yang ada muslim dan kafirnya?

Jawaban: Tidak boleh seorang mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan mengucapkan,

السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Sebab, bentuk salam seperti ini hanyalah diucapkan oleh Rasulullah n ketika menulis surat kepada selain muslimin. Adapun kepada saudara Anda yang muslim ucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ Adapun kalau Anda ucapkan,

السَّلاَم علَىَ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Kandungan kalimat ini berarti teman Anda bukan seorang yang mengikuti petunjuk. Apabila sekelompok orang yang hendak Anda salami adalah sekumpulan orang yang ada muslim dan Nasrani, Anda ucapkan salam yang biasa diucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Namun, Anda maksudkan dengan ucapan salam ini adalah salam kepada kaum muslimin.

Mudah-mudahan beberapa fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah yang kami bawakan menjadi bekal untuk mengamalkan salah satu prinsip dalam agama kita, yaitu al-wala’ wal bara’. Walhamdulillah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Ketika Orang Islam Telah Meniru Orang Kafir

Islam dengan konsep, aturan, dan jalannya telah meletakkan jurang pemisah antara kekafiran dan keimanan, kesyirikan dan ketauhidan, kebatilan dan kebenaran, kebid’ahan dan sunnah. Jurang pemisah ini sesungguhnya menjadi ujian besar bagi manusia dalam hidup. Maukah mereka tunduk pada aturan itu atau mereka lebih memilih kebebasan dari semua tuntutan itu? Islam, sebagai agama yang telah disempurnakan, menjunjung tinggi nilai-nilai ketinggian dan kesakralan, melindungi kehormatan, darah, dan harta benda manusia. Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang mengajak orang-orang kafir untuk meninggalkan agama mereka dan masuk ke dalam Islam. Islam pun mengobarkan peperangan kepada siapa pun yang menolak dan memeranginya. Jurang pemisah ini menjadi lampu merah bagi kaum muslimin dan mukminin agar tidak meniru gaya hidup orangorang kafir, musyrik, dan ahlul batil.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al- Hadid: 16)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, Kalimat: Dan jangan mereka seperti ahli kitab, ini adalah larangan yang bersifat mutlak dalam hal meniru mereka. Ayat ini lebih khusus menekankan larangan menyerupai mereka dalam hal kekerasan hati. Kerasnya hati adalah salah satu buah kemaksiatan.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 81)

Berita yang Pasti, Umat Ini Pasti Meniru Mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Di dalam riwayat hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِّ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ؟

“Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengambil langkah generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah bangsa Persi dan Romawi?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 6774)

Berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini sesungguhnya sebagai pemberitahuan akan terjadinya sikap meniru orang kafir dalam semua lini kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Berita ini menggambarkan sebuah kenyataan yang akan terjadi sekaligus sebagai celaan atas orang yang mengerjakannya. Beliau pun memberitakan apa yang akan dilakukan oleh manusia mendekati hari kiamat, berupa tanda-tanda kedatangannya berikut segala perkara yang diharamkan. Maka dari itu, diketahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n mencela umat ini apabila menyerupai Yahudi, Nasrani, Persi, dan Romawi. Inilah faedah yang dicari.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 44)

Allah Subhanahu wata’ala telah melarang keras kaum muslimin meniru mereka, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {} مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kalian seperti orang musyrik. Orang-orang yang telah memecah belah agama mereka sehingga mereka berkeping-keping dan setiap kelompok menyombongkan diri atas yang lain.” (ar-Rum: 31—32)

Bahkan, Allah  Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk berdoa agar tidak termasuk golongan mereka dalam banyak ayat. Di antaranya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat atas mereka dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan sesatkan.” (al- Fatihah: 6—7)

Suri Teladan dari Dua Khalilullah

Teladan hidup, sungguh sangat dibutuhkan setiap saat, lebih-lebih ketika dilanda krisis keteladanan. Tentu saja teladan yang tidak mengecewakan kita. Tentu pula teladan itu adalah orang-orang yang terdidik, suci dan bersih, terbaik, terhormat, orang yang jujur, amanah, bertakwa kepada Allah  Subhanahu wata’ala, taat beribadah kepada Allah  Subhanahu wata’ala, serta memiliki sifat-sifat mulia dan agung lainnya. Apakah ada pendidikan yang lebih tinggi daripada pendidikan Allah  Subhanahu wata’ala melalui wahyu-Nya? Adakah orang yang lebih baik dari utusan dan kepercayaan Allah  Subhanahu wata’ala dalam hal mengemban amanat risalah-Nya? Adakah yang paling lurus hidupnya daripada orang yang telah didekatkan oleh Allah  Subhanahu wata’ala kepada-Nya? Adakah orang yang lebih selamat daripada seseorang yang telah dipilih oleh Allah  Subhanahu wata’ala untuk menapaki jalan-Nya sekaligus sebagai imam dalam hal ini? Adakah yang lebih jujur, amanah, dan lebih takut kepada Allah  Subhanahu wata’ala selain para nabi dan rasul? Tentu kita akan memberikan jawaban, “Tidak ada.”

Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah  Subhanahu wata’ala sering menampilkan sosok manusia yang bisa dijadikan teladan di dalam hidup, teladan yang tidak akan mengecewakan. Mereka adalah orang-orang yang telah teruji dalam segala kondisi. Mereka telah berjuang dengan segala kemampuan, siang dan malam, tanpa mengenal lelah dan patah semangat. Mereka telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia sedikit pun. Mereka hanya mengejar ridha Allah  Subhanahu wata’ala yang mengutus mereka. Allah l telah menceritakan sosok Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad, dan nabi-nabi yang lain. As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Tidaklah setiap orang bisa menjadikan mereka teladan. Yang mendapatkan kemudahan untuk meneladani mereka adalah orang yang mengharapkan Allah  Subhanahu wata’ala dan ganjaran pada hari akhirat. Keimanan dan harapan akan pahala akan memudahkan setiap hamba menghadapi segala kesulitan dan mengurangi beban hidup yang banyak. Selain itu, keimanan akan mendorong untuk meneladani hamba-hamba Allah  Subhanahu wata’ala yang saleh, para nabi dan rasul. Dia pun akan melihat dirinya sangat membutuhkannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 794)

Dalam bersikap terhadap orang kafir, Allah  Subhanahu wata’ala telah menceritakan di dalam al-Qur’an sikap dua khalil-Nya agar kita meneladani mereka berdua.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya Kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu serta telah nyata antara Kami dengan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ {} لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ {} وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ {} لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah (sesembahan) yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)

 

Karena Kebodohan, Meniru Mereka

Kebodohan adalah penyakit kronis, bagaikan tong sampah yang akan menampung segala kotoran dan najis. Tidaklah mengherankan jika mereka diumpamakan bagai orang-orang yang tuli lagi buta. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang bisa diperbuat? Tidaklah mengherankan jika di hadapan orang-orang jahil, yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haq menjadi batil dan yang batil menjadi haq. Tidak pula mengherankan pula jika kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam semua lini kehidupan. Mulai dari perkara yang kecil sampai kepada yang besar, mulai dari masalah pakaian sampai kepada masalah keyakinan dan ibadah. Bahkan, kebodohan ini sering mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan buat orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bercerita dalam hadits yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan Muslim rahimahullahdari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang seseorang yang telah membunuh 99 jiwa. Karena kejahilannya tentang pintu tobat, dia mencari seseorang yang akan bisa membimbing dirinya keluar dari lumuran dosa tersebut. Bertemulah dia dengan seorang pendeta. Ia pun mengutarakan hajatnya dan menceritakan dosa yang telah diperbuatnya. Dengan kejahilan, sang pendeta memberitahukan bahwa pintu tobat sudah tertutup baginya. Dengan spontan, jiwa sang pendeta melayang di tangannya, sekaligus menggenapkan bilangan yang ganjil, dari 99 menjadi 100. Sungguh karena ketidaktahuan itu, telah terenggut nyawa seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengetahui hal itu, beliau marah dengan kemarahan yang sangat. Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang peristiwa tersebut,

ثُمَّ n أَصَابَ رَجُلاً جُرْحٌ فِي عَهْدِ رَسُولُ اللهِ احْتَلَمَ، فَأُمِرَ بِالْاِغْتِسَالِ، فَاغْتَسَلَ، فَمَاتَ، فَبَلَغَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ؛ قَاتَلَهُمُ اللهُ،  ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ؟

“Di masa Rasulullah n , ada seseorang terluka, lalu dia bermimpi (janabah). Kemudian dia diperintahkan untuk mandi lantas dia pun mandi. Karena itu, dia meninggal dunia. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah lalu beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah l memerangi mereka. Bukankah obat tidak tahu itu adalah bertanya?” (HR. Abu Dawud no. 285)

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya hasan dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban rahimahumallah dalam Shahih keduanya.” (Lihat Shahih Sunan Abu Daud no. 365)

 

Hukum Meniru Orang Kafir

Saudaraku, kita masih mengingat pembahasan al-wala’ dan al-bara’ dalam hukum agama dalam Asy-Syari’ah Vol. Vl/No. 68/1432 H/2011. Tergambar di dalamnya bentuk-bentuk loyalitas seorang muslim terhadap orangorang kafir. Ternyata, tidak hanya dalam hal ideologi semata, tetapi dalam hal muamalah dengan mereka yang keluar dari tuntunan agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika membawakan hadits,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”

Setelah menjelaskan kondisi para perawi haditsnya, beliau mengatakan, “Hukum yang paling ringan (dalam meniru orang kafir) di dalam hadits ini adalah keharaman, kendatipun lahiriah haditsnya menunjukkan kafirnya orang yang menyerupai mereka, sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala,

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (al-Maidah: 51)

Ini semakna dengan ucapan Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, “Barang siapa tinggal di negeri kaum musyrikin dan melakukan hari ulang tahun mereka, pesta besar mereka, dan meniru mereka sampai meninggal dunia, dia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat.” Terkadang, hal ini dibawa kepada hukum tasyabuh yang bersifat mutlak, yaitu tasyabuh yang menyebabkan seseorang kafir dan sebagiannya mengandung hukum haram. Bisa juga dibawa pada makna bahwa dia seperti mereka sebatas apa yang dia tiru. Jika yang dia tiru itu dalam hal kekafiran (dia menjadi kafir, -pen.), dan jika maksiat, (ia telah bermaksiat). Jika dalam hal syiar kekufuran mereka atau syiar kemaksiatan mereka, hukumnya semisal itu.” (Lihat al-Iqtidha hlm. 82—83)

Kita juga telah mengetahui bahwa hukum-hukum dalam agama tidak keluar dari lima hal. Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Hukum-hukum yang terkait dengan ubudiyah itu ada lima, yaitu wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah.” (Madarijus Salikin 1/109) Telah dijelaskan di atas tentang haramnya meniru orang kafir secara mutlak. Namun, ada pembolehan, yakni jika hal yang akan kita tiru tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan urusan agama dan keyakinan, serta tidak ada kaitannya dengan ciri khas dan adat istiadat mereka. Hal itu bukan perilaku dan kebiasaan mereka, melainkan sebatas ursan dunia yang tidak ada keharaman padanya. Yang seperti ini dibolehkan. Misalnya, orang-orang kafir bisa membuat motor, mobil, pesawat, atau peranti teknologi lain yang hukumnya secara zat tidak haram, lalu kaum muslimin menirunya. Hal ini tidak mengapa.

 

Akibat Meniru Mereka

Tidaklah tersembunyi bagi setiap muslim bahwa orang-orang kafir itu adalah musuh Allah Subhanahu wata’ala, para rasul, dan kaum mukminin. Mereka adalah manusia yang telah menyandang predikat-predikat yang buruk, jelek, dan keji dari Allah  Subhanahu wata’ala. Mereka adalah manusia yang berada dalam taraf makhluk yang paling rendah, hina, tercela, terburuk, dan terkutuk, yang binatang ternak yang tidak berakal lebih baik dari mereka.

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih jelek dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)

إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Tiadalah mereka itu melainkan seperti binatang ternak dan bahkan mereka lebih jelek jalannya.” (al-Furqan: 44)

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (al-Baqarah: 65)

فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina.” (al-A’raf: 166)

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللَّهِ ۚ مَن لَّعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orangorang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 60)

Kerendahan dan kehinaan hidup— kendatipun mereka orang yang paling kaya, paling tinggi kedudukan dan pangkatnya, dan bisa jadi paling kuat— adalah stempel yang tidak akan berubah, cap yang terus melekat, tidak akan hilang dan sirna. Allah  Subhanahu wata’ala telah menghancurkan dan membinasakan mereka ketika mereka menantang kekuasaan Allah  Subhanahu wata’ala, yaitu saat mereka menolak dan ingkar terhadap syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Allah  Subhanahu wata’ala juga telah mempersiapkan pintu kehancuran dan kebinasaan untuk mereka, di dunia dan di akhirat. Setelah ini semua, pantaskah seseorang yang beriman kepada Allah  Subhanahu wata’ala, para rasul-Nya, dan hari kiamat, meneladani, meniru, dan mencontoh mereka? Adakah akal dan hati jika seorang yang beriman meniru gaya hidup binatang yang tidak berakal, bahkan lebih jelek dari binatang ternak? Adakah pintu bagi orang-orang beriman untuk masuk lalu hidup bermesraan bersama orang-orang yang rendah, hina, jelek, keji, dan terkutuk? Pantaskah orang-orang yang beriman mengangkat orang yang divonis sebagai musuh Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan mereka sendiri sebagai figur hidupnya? Jika ada orang yang mengaku beriman meniru mereka, ini berarti sebuah keputusan hidup yang akan melemparkan dirinya ke jurang kehancuran dan kebinasaan, sebagaimana hancur dan binasanya mereka. Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Fatawa Akidah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang alim Ahlus Sunnah yang tidak asing bagi kaum muslimin. Beliau adalah seorang alim yang sangat menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Di antara buktinya adalah surat-surat yang beliau kirim kepada tokoh-tokoh penguasa di pelbagai negeri, sebagaimana bisa kita lihat di dalam MajmuFatawa beliau. Di antara yang menunjukkan semangat beliau untuk kebaikan muslimin adalah nasihat, arahan, dan fatwa-fatwa beliau dalam menjawab pertanyaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia.

Dalam tulisan ini, kami ingin membawakan beberapa fatwa beliau yang terkait dengan akidah. Semoga bisa menjadi jawaban pertanyaan kita selama ini dan membimbing kita beramal.

Syarat Islam

Pertanyaan: Apakah syarat Islam?

Jawaban: Syarat Islam ada dua. Syarat yang pertama: Ikhlas. Anda meniatkan keislaman Anda dan semua amal Anda untuk mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Ini syarat yang harus ada. Sebab, semua amalan yang Anda lakukan bukan demi wajah Allah Subhanahu wata’ala, baik shalat, sedekah, puasa, maupun yang lainnya, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima. Sampaipun dua kalimat syahadat, jika Anda melakukannya karena riya (ingin dilihat) dan kemunafikan, tidak akan bermanfaat dan tidak diterima, bahkan Anda termasuk kaum munafik. Ucapan dua kalimat syahadat yang Anda lafalkan, haruslah jujur dari kalbu Anda. Anda beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala saja, Dia adalah sesembahan yang haq, bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar serta diutus kepada seluruh jin dan manusia, sebagai penutup para nabi. Jika syahadat Anda dilakukan dengan jujur dan ikhlas, niscaya bermanfaat bagi Anda.

Demikian juga shalat Anda. Anda hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam shalat Anda. Pun sedekah, bacaan al- Qur’an, ucapan tahlil (La ilaha illallah), puasa, dan ibadah haji Anda, semuanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata. Syarat kedua: Sesuai dengan syariat. Amalan-amalan haruslah sesuai dengan syariat, bukan dari hasil pikiran dan ijtihad Anda. Anda harus berusaha mencocoki syariat dalam beramal. Anda melakukan shalat sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala  syariatkan, Anda puasa sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala syariatkan, Anda berzakat juga harus sebagaimana tuntunan syariat Allah Subhanahu wata’ala. (Nurun ‘ala Darb)

 

Banyaknya Kelompok yang Mengaku sebagai Thaifah Manshurah

Pertanyaan: Banyak golongan dan kelompok yang mengaku sebagai aththaifah al-manshurah sehingga masalah ini menjadi samar bagi manusia. Apa yang mesti kami lakukan, terkhusus di sana ada banyak kelompok Islam, seperti Sufi, salafiyah, dan kelompok lainnya, bagaimana kami membedakannya?

Jawaban: Telah ada hadits dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata, “Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, semuanya masuk neraka kecuali kelompok yang mengikuti Nabi Musa ‘Alahissalam. Nasrani juga terpecah menjadi 72 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu mereka yang mengikuti Nabi Isa ‘Alaihissalam. Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Siapakah firqatun najiyah (golongan yang selamat)?” Beliau menjawab, “Al-Jamaah.” Dalam lafadz lain, “Orang-orang yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.” Inilah al-firqah an-najiyah, golongan yang selamat. Mereka adalah orang orang yang bersatu di atas kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka istiqamah di atasnya, berjalan mengikuti manhaj Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits yang mulia, salafiyun yang mengikuti salafus shalih serta berjalan dengan beramal berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua kelompok yang menyelisihi mereka diancam dengan neraka.

Maka dari itu, wajib atas Anda—wahai penanya— untuk meneliti setiap kelompok yang mengaku sebagai al-firqah an-najiyah. Anda lihat amalannya, kalau sesuai dengan syariat, merekalah kelompok yang selamat. Maksudnya, yang dijadikan mizan (timbangan/tolok ukur) untuk menilai setiap kelompok adalah al-Qur’anul ‘Azhim dan as-Sunnah yang suci. Barang siapa amalannya di atas kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk alfirqah an-najiyah. Barang siapa tidak demikian, seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, Murjiah, dan selainnya, juga mayoritas kelompok sufi—yang mengadaadakan dalam agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala—semua termasuk dalam kelompok yang diancam oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan neraka, sampai mereka bertobat dari penyelisihan terhadap syariat. Semua kelompok yang terjatuh pada penyelisihan syariat yang suci wajib bertobat dari penyelisihannya dan kembali kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, dia selamat dari ancaman.

Adapun jika mereka terus berada dalam kebid’ahan dalam agama yang mereka ada-adakan dan tidak istiqamah di atas jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia termasuk dalam kelompok yang diancam dengan neraka. Tidak semuanya kafir, namun semua terancam dengan neraka. Ada yang kafir karena melakukan satu kekufuran. Ada juga yang tidak kafir, namun terancam neraka karena perbuatan bid’ahnya dalam agama dan menetapkan sesuatu yang tidak diizinkan Allah Subhanahu wata’ala dalam syariat. (Nurun ‘ala Darb)

Penjelasan tentang Kesesatan Syiah

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, kepada saudara yang mulia…. Mudah – mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik kepada semua kebaikan. Saya telah menerima surat Anda dan memahami kandungan surat tersebut. Saya akan memberikan faedah untuk Anda bahwa Syiah itu banyak sektenya. Setiap sekte ada kebid’ahannya. Sekte Syiah yang paling berbahaya adalah Syiah Rafidhah Khumainiyah Itsna Atsariyah, karena mereka melakukan kesyirikan berupa syirik besar; seperti istighatsah kepada ahlul bait, meyakini bahwa ahlul bait mengetahui ilmu gaib, terkhusus dua belas imam yang mereka yakini. Mereka juga mengafirkan dan mencela mayoritas sahabat, seperti Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhu.

Mudah mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita dari kesesatan yang ada pada mereka. Namun, hal ini tidak menghalangi kita untuk mendakwahi dan membimbing mereka ke jalan yang benar serta memperingatkan mereka dari kesesatan mereka. Tentu saja semua itu dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk Anda dan teman Anda tambahan taufik kepada yang diridhai-Nya dan dorongan kepada semua kebaikan. Saya wasiatkan kepada Anda untuk ikhlas, jujur, sabar, dan tatsabut dalam seluruh urusan, serta memerhatikan hikmah dan metode yang baik di medan dakwah, memperbanyak membaca al- Qur’an dan mentadaburi maknanya, mempelajari serta merujuk kepada kitab tafsir para ulama dalam ayat-ayat yang sulit Anda pahami, seperti kitab Tafsir Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, dan al-Baghawi.

Saya juga mewasiatkan untuk menghafal yang mudah dari hadits Rasulullah n, seperti kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan Umdatul Ahkam karya asy- Syaikh Abdul Ghani rahimahullah. Seseorang wajib bertanya masalah agama yang sulit baginya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Tanyalah oleh kalian ahlu dzikr apabila kalian tidak mengetahui.” (an- Nahl: 43)

Bersama surat ini, saya kirimkan pula beberapa kitab. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberi manfaat dengan kitab tersebut dan memberi manfaat kepada temanteman kalian. Saya juga meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk saya dan kalian kekokohan di atas al-haq, serta menjadikan kita sebagai pembela agama-Nya, penjaga syariat-Nya, yang berdakwah kepada- Nya di atas bashirah. Allah Mahakuasa atas itu semua. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Jawaban dikeluarkan dari ruang kerja beliau pada 22/1/1409 dengan no. 1/136.

Hukum Zikir dengan Membaca هو هو atau الله الله

Pertanyaan: Di tempat kami ada orang-orang tarekat Tijaniyah. Mereka berkumpul setiap Jumat dan Senin dengan berzikir. Mereka berkata di akhir zikir, الله الله dengan suara yang keras. Apa hukum syariat terhadap amalan mereka?

Jawaban: Tarekat tijaniyah adalah tarekat yang bid’ah dan tarekat yang batil. Pada tarekat tersebut banyak kekufuran yang tidak boleh diikuti, bahkan wajib ditinggalkan. Kami wasiatkan kepada para pengikut tarekat ini untuk meninggalkannya dan mengikuti jalan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu jalan yang telah dilalui oleh para sahabat Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang mereka terima dari Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam; kemudian diterima dari para sahabat oleh imam imam agama ini, seperti al-Imam Malik, al-Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, ats-Tsauri, dan ulama selain mereka rahimahumullah. Mereka menerimanya dan berjalan di atasnya, dan Ahlus Sunnah berjalan di atasnya pula; yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dalam ibadah kepada-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, haji ke baitullah, serta menaati perintah-perintah Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan larangannya. Inilah jalan yang dibawa oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun tarekat sufi, wajib untuk ditinggalkan…. (Nurun ‘Ala Darb)

Apakah Nabi n Diciptakan dari Cahaya?

Pertanyaan: Kami mendengar pada sebuah khutbah di tempat kami bahwa Rasulullah n diciptakan dari nur, bukan dari tanah seperti manusia yang lain. Kami bertanya tentang kebenaran ucapan ini.

Jawaban: Ini adalah ucapan yang batil, tidak ada asalnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan Nabi-Nya  Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana halnya seperti menciptakan manusia yang lain, dari air yang hina, dari air bapaknya, Abdullah, dan ibundanya, Aminah. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (as-Sajdah: 8)

Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keturunan Nabi Adam’Alaihisslam, dan seluruh keturunan Adam diciptakan dari air yang hina. Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa beliau diciptakan dari nur, tidak ada asalnya. Itu adalah hadits maudhu’ (palsu), dusta, batil, dan tidak ada asalnya. Sebagian orang menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, padahal tidak ada. Sebagian lagi menyatakan ada dalam Mushanaf Abdurrazaq, padahal juga tidak ada. Maksudnya, itu adalah hadits batil, tidak ada asalnya dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diciptakan seperti halnya anak keturunan Adam lainnya. Seluruh nabi pun diciptakan darinya, yaitu air pria dan wanita. Ini adalah hal yang diketahui. Apa yang disangka oleh sebagian sufi ekstrem dan sebagian orang bodoh bahwa beliau diciptakan dari cahaya adalah sangkaan yang batil, tidak ada asalnya dalam syariat. Memang, beliau adalah cahaya. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai cahaya bagi manusia dengan petunjuk yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya berupa al- Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ

“Telah datang kepada kalian cahaya dan kitab yang jelas.”(al-Maidah:15)

Nur (cahaya) yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena nur yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya. Allah Subhanahu wata’ala menamakannya nur karena beliau menjadi cahaya dengan sebab cahaya yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadanya, sebagaimana dalam ayat lain,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا {} وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (al-Ahzab: 45—46)

Beliau adalah cahaya yang menerangi. Beliau menjadi nur karena wahyu agung yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah Subhanahu wata’ala menerangi jalan dengan keduanya, menjelaskan ash-shirath al-mustaqim dengan keduanya, memberikan hidayah kepada umat manusia dengan keduanya. Oleh karena itu, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nur, namun bukan maknanya beliau diciptakan dari cahaya, melainkan beliau adalah nur karena hidayah yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya dan ilmu yang Allah Subhanahu wata’ala berikan yang kemudian beliau ajarkan kepada manusia. Dengan demikian, para rasul adalah nur, para ulama juga adalah nur, yakni ulama al-haq yang Allah l beri hidayah. Mereka adalah cahaya bagi alam semesta dengan sebab apa yang mereka ambil dari wahyu yang dibawa oleh para rasul alaihum ash-shalatu was salam. (Nur ‘ala Darb)

Peringatan untuk Menjauhi Buku- Buku Sihir dan Perdukunan

Pertanyaan: Saya berharap Anda menjelaskan tentang haramnya menggunakan dan membaca buku-buku sihir dan ilmu nujum, karena buku-buku seperti ini banyak. Sebagian teman saya ingin membelinya. Mereka berkata, “Jika tidak digunakan untuk yang bermudarat, tidaklah diharamkan.” Kami berharap faedah dari Anda.

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah washalatu wasalamu ala rasulillah waala alihi waashabihi waman walah; amma ba’du: Apa yang disampaikan penanya adalah kebenaran. Kaum muslimin wajib menjauhi buku-buku sihir dan ilmu nujum. Orang yang menemukannya wajib memusnahkannya. Sebab, bukubuku seperti itu bermudarat bagi seorang muslim dan menjatuhkannya kepada kesyirikan. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Barang siapa mengambil satu cabang ilmu nujum berarti telah mengambil satu cabang ilmu sihir. Semakin dia menambah ilmu nujum berarti semakin menambah ilmu sihir.” (HR . Abu Dawud)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang dua malaikat,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Tidaklah keduanya mengajari sihir kepada seseorang kecuali keduanya berkata, ‘Kami adalah ujian, janganlah Anda kafir!’.” (al-Baqarah: 102)

Ini menunjukkan bahwa belajar dan melakukan sihir adalah kekafiran. Kaum muslimin wajib memerangi buku-buku yang mengajarkan sihir dan ilmu nujum serta memusnahkannya, di mana pun ditemukan; dan ini hukumnya wajib. Seorang penuntut ilmu atau bukan, tidak boleh membaca atau mempelajari buku-buku seperti itu, karena buku-buku tersebut menggiring kepada kekufuran. Ia wajib memusnahkannya. Demikian juga halnya dengan buku-buku yang mengagung-agungkan sihir dan ilmu nujum, wajib dimusnahkan. (Nurun ‘ala Darb)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Shalat, Antara Diterima Dan Tidak

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan setiap hamba, baik di dunia maupun di akhirat melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah membentangkan jalan untuk mencapainya dan membimbing ke arah jalan tersebut. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang membahayakan dan memudaratkan mereka, melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan wahyu-Nya serta mengutus utusan-Nya untuk menjelaskan dan memperingatkan darinya. Salah satu jalan kebaikan yang sangat besar dan bernilai tinggi dalam hidup mereka adalah ketaatan dalam bentuk penghambaan dan penghinaan diri yang tinggi, serta bentuk kedekatan hamba yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala yaitu shalat lima waktu sehari semalam. Ini semua sebagai bukti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memuliakan setiap hamba dan tidak menciptakan mereka secara sia-sia, tanpa arti.

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Ketaatan dengan Pertolongan Allah Subhanahu wata’ala

Setiap hamba semestinya mengetahui dengan diperintahkannya mereka untuk melaksanakan sesuatu atau dilarangnya mereka dari sesuatu semata-mata untuk hamba itu sendiri dan tidak ada kepentingannya bagi Allah Subhanahu wata’ala sedikit pun. Hamba itu pun harus mengetahui bahwa kemampuan dia untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya serta kemampuan dia untuk menjauh dari segala larangan, sesungguhnya itu merupakan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala semata. Tanpa hal itu, manusia tidak akan sanggup untuk melaksanakannya karena,

Pertama: Adanya hawa nafsu yang sangat berlawanan dengan niatan niatan baik setiap manusia serta selalu mendorong untuk menyelisihi segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia akan mengundang siapa pun untuk menjadi orang yang berani meninggalkan perintah dan menjadi orang yang tidak punya malu melanggar larangan. Jika perintah dan larangan itu diserahkan pelaksanaannya semata mata pada kemampuan manusia dan tidak ada bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, niscaya semuanya akan menjadi tersesat. Tentu saja Allah Subhanahu wata’ala menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya karena karunia- Nya, dan tidak menolong yang lain karena keadilan.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (al-Qur’an) tetapi mereka berpaling darinya.” (al-Mu’minun: 71)

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Qashash: 50)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.” (al- Ibanah ash-Shugra hlm. 122)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sebuah penyakit yang lebih dahsyat daripada penyakit hawa nafsu yang mengenai hati.” (al-Ibanah ash-Shugra hlm. 124)

Abdullah bin ‘Aun al-Bashri rahimahullah berkata, “Bila hawa nafsu telah berkuasa di dalam hati, niscaya dia akan menganggap baik segala apa yang dahulunya dipandang jelek.” (al-Ibanah as-Shugra 131) (Lihat kitab Sallus Suyuf wal Asinnah secara ringkas hlm. 24—26)

Kedua: Setan dari luar manusia yang setiap saat mengintai mereka untuk kemudian menyerunya menuju penyelisihan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setan telah menjadikan diri sebagai lawan atas siapa saja yang menaati Allah Subhanahu wata’ala, serta kawan bagi siapa yang melanggar perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dialah yang mengatakan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Firman-Nya pula,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata, “Ya Rabbku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al- Hijr: 39)

Dengan semuanya ini, sudah sepantasnya bagi seorang hamba bila dia menemukan dirinya menjadi orang yang mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan ketaatan dan ringan dalam menjauhi larangan agar selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena semuanya dengan bantuan-Nya. Bila seorang hamba menemukan dirinya sangat mudah untuk melanggar ketentuan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, hendaklah dia mencela dirinya sendiri. Setelah itu, dia harus berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya di atas syariat Allah Subhanahu wata’ala dan melawan setan sebagai teman yang mengajak dia bermaksiat.

Setiap hamba semestinya mengetahui bahwa jalan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta menjalankan segala aturan Allah Subhanahu wata’ala di dalam wahyu-Nya. Karena tanpa itu semua, jangan bermimpi akan menang dalam setiap perjuangan, jangan berkhayal kejayaan, kemuliaan, kewibawaan Islam dan kaum muslimin akan kembali, serta jangan berharap akan meraih kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki. Yang ada adalah kegagalan, kekalahan, kerendahan dan kehinaan, serta kehancuran dan kebinasaan. Cukuplah berita ilahi di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih sebagai berita yang akurat yang tidak ada kedustaan di dalamnya.

Jalan-Jalan Ketaatan dan Keikhlasan

Pintu-pintu kebaikan yang begitu banyak sungguh telah dijelaskan secara rinci dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada sesuatu yang masih tersisa. Kesempurnaan syariat-Nya juga membuktikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kemuliaan atas setiap hamba-Nya. Sebuah kebajikan yang besar tentunya untuk meraih nilai yang besar pula di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Nilai nilai yang besar tersebut tidak akan didapatkan melainkan pelaksanaannya harus berada di atas koridor agama.

Dengan kata lain, harus berada di atas syarat-syarat diterimanya amal. Di antara ketentuan yang harus ada dalam pengabdian setiap hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah dua hal yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Barang siapa yang tidak ada pada amalnya kedua syarat tersebut atau salah satu di antaranya, maka jelas ditolak dan masuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami sodorkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Kedua sifat tersebut, ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah dihimpun oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (an-Nisa: 125)

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112) (Lihat kitab Bahjatu Qulubul Abrar hlm. 14 karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah)

Shalat, Amalan Besar yang Butuh Keikhlasan dan Mutaba’ah

Di antara sederetan kewajiban yang besar serta bernilai agung dan tinggi adalah shalat lima waktu sehari semalam. Amal besar yang tidak ada seorang muslim pun meragukannya karena dalil yang menjelaskannya sangat terang layaknya matahari di siang bolong. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku muslim mengingkari dan tidak mengerjakan shalat berarti dia telah menanggalkan pakaian keislamannya, dia sadari atau tidak. Sebab, dia telah menentang hujah yang sangat terang dan jelas. Contoh perintahnya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Adakah dari kaum muslimin yang memahami perintah shalat di dalam ayat ini dengan makna bukan sebenarnya yaitu shalat yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika ada, berarti jelas bahwa dia adalah orang yang sesat dan jika dia tidak melaksanakannya akan bisa menjadikan dia kafir, keluar dari Islam. Karena shalat adalah amal ibadah besar kepada Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya tidak dicari di baliknya selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan ridha-Nya. Itulah keikhlasan, sebab:

1. Jika melaksanakannya dan ingin semata-mata pujian dari manusia, ingin terpandang, atau ingin memiliki kedudukan di hati banyak orang, ini adalah sebuah kesyirikan, walaupun dia mengerjakannya dengan penuh ketaatan. Allah Subhanahu wata’ala bercerita tentang ibadah shalat orang-orang munafik yaitu nifak akbar (besar),

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisa: 142)

2. Jika melaksanakannya karena Allah Subhanahu wata’ala dan ingin mendapatkan sanjungan dari manusia, ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (Allah Subhanahu wata’ala berfirman,)

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tidak butuh kepada sekutu sekutu dalam kesyirikan. Barang siapa yang melakukan amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan biarkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا : بَلَى. قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيَزِينُ صَلَاتَهُ لَمَّا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku khawatirkan daripada fitnah Dajjal?” Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syirik tersembunyi, yaitu seseorang melaksanakan shalat dan memperindahnya karena ada yang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Keikhlasan adalah dia tidak mengharapkan dalam segala jenis ibadahnya, termasuk shalat, selain ridha dan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Jika seseorang telah mengerjakannya dengan landasan keikhlasan, Allah Subhanahu wata’ala akan mengganjarnya di dunia sebelum di akhirat, mengangkat namanya, berkedudukan di hadapan manusia tanpa dia mencari dan mengejarnya. Itulah ganjaran setiap kebaikan di dunia sebelum akhirat. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tidak akan merugi, baik dunia maupun akhirat, seseorang yang melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan landasan keikhlasan.

Banyak amal kecil dan ringan karena niatnya yang baik menjadi amalan yang bernilai besar dan berat. Amalan yang besar menjadi ringan bahkan nihil dari nilai, karena niatnya. Sungguh ini adalah kerugian yang nyata dan kesia-siaan yang besar. Perlu diketahui pula bahwa kebenaran niat seseorang dalam sebuah ibadahnya tidak menjamin amalnya tersebut diterima. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hal ini dalam sebuah sabda beliau,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan amalan dan tidak ada perintahnya dari kami, niscaya amal tersebut tertolak.”

Manthuq (makna lahiriah) hadits ini adalah setiap perkara bid’ah yang dibuat-buat dalam urusan agama yang tidak memiliki landasan di dalam al- Qur’an dan as-Sunnah—baik bid’ah ucapan dan keyakinan, seperti bid’ah Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah, serta selainnya, maupun bid’ah perbuatan, seperti beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak ada syariatnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya— maka semua amalan tersebut tertolak. Pelakunya tercela dan ketercelaannya sesuai dengan tingkat kebid’ahan dan jauhnya dia dari agama.

Barang siapa memberitakan tidak seperti berita Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya atau dia beribadah dengan sesuatu yang tidak ada izin dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia adalah seorang mubtadi’. Barang siapa mengharamkan perkara-perkara yang dibolehkan atau beribadah tanpa ada syariatnya, maka dia juga seorang mubtadi’. Mafhum hadits ini, barang siapa melaksanakan sebuah amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan keyakinan yang benar dan amal saleh, baik yang bersifat wajib maupun mustahab (sunnah), maka segala pengabdiannya diterima dan usahanya patut disyukuri.

Hadits ini menjelaskan pula bahwa setiap ibadah yang dikerjakan dalam bentuk yang dilarang maka ibadah tersebut menjadi rusak karena tidak ada perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dan adanya larangan tersebut. Konsekuensinya adalah rusak, dan setiap bentuk muamalah yang syariat melarangnya adalah ibadah yang sia-sia dan tidak tergolong dalam kategori ibadah. (Lihat Bahjatul Qulubul Abrar hlm. 17)

Mereguk Nilai di Balik Keikhlasan

Tidak ada satu bentuk pengorbanan dalam sebuah peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala melainkan telah dipersiapkan ganjaran yang lebih besar dari apa yang telah dia korbankan. Itulah janji Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya di dalam as-Sunnah. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan secara umum jaminan nilai yang akan didapatkan pada semua bentuk peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala seperti dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 21)

Dari sinilah, orang yang beriman mengetahui bahwa siapa saja mengharapkan urusannya yang sulit segera terselesaikan, problem hidupnya yang berat diringankan, dimudahkan urusan rezekinya, mulia dan bahagia, hendaklah dia mencarinya melalui jalur ibadah. Adapun tentang ibadah shalat, Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan nilai khusus padanya yaitu di samping akan menjadikan seseorang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, juga akan menjadi benteng dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan dari perbuatan-perbuatan yang keji. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Shalat itu tidak cukup bila mendatanginya hanya dalam bentuk pelaksanaan lahiriah semata. Namun, shalat itu adalah menegakkannya baik secara lahiriah dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan menegakkan syarat-syarat-Nya. Menegakkan secara batin artinya menegakkan ruhnya, yaitu hadirnya hati di dalam shalat tersebut, memahami apa yang diucapkan dan dilakukannya. Inilah shalat yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45) (Tafsir as-Sa’di hlm. 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, apabila dikerjakan sesuai dengan perintah, niscaya shalat akan mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Jika shalat tersebut tidak mencegah dia dari kejelekan dan kemungkaran, ini pertanda bahwa dia telah menyia-nyiakan hak-hak shalat itu kendatipun dia dalam kondisi taat.”

Beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Sesungguhnya shalat itu akan menolak adanya perkara yang dibenci yaitu kejelekan dan kemungkaran, dan sekaligus karenanya, juga akan meraih kecintaan yaitu zikrullah; dan terwujudnya kecintaan melalui (shalat) itu lebih besar dibandingkan dengan tertolaknya kejelekan. Hal ini karena zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah ibadah, dan ibadah hati sebagai tujuan dari semua bentuk peribadatan tersebut. Adapun tertahannya dia dari kejelekan sebagai tujuan yang lain.”

Beliau rahimahullah berkata, “Yang benar, makna ayat itu adalah shalat memiliki dua tujuan dan satu tujuan dari keduanya itu lebih besar daripada yang lain. Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Shalat itu sendiri mengandung makna zikir, dan shalat berikut zikir-zikirnya itu lebih besar dibandingkan keberadaannya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran.

Ibnu Abi Dunia rahimahullah telah menyebutkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau rahimahullah berkata, ‘Berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.’ Di dalam as-Sunan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

‘Dan dijadikannya thawaf di baitullah, sa’i antara Shafa’ dan Marwa, serta melempar jumrah, semuanya untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan dan sahih). (Lihat Majmu’ Fatawa 10/188)

Adapun hadits yang mengatakan,

كُلُّ صَلَاةٍ لَمْ تَنْهَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ صَاحِبُهَا مِنَ اللهِ إلَّا بُعْدًا

“Setiap shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, tidak akan menambah bagi pelakunya selain kejauhan dari Allah Subhanahu wata’ala.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lihat penjelasan tentang kelemahan haditsnya di dalam kitab Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid 1 hadits ke-2. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman