Ketika Hendak Tidur

Ketika Hendak Tidur

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلْفَهُ عَلَيْه، ثُمَّ يَقُولُ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ؛ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاْرحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا، فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Jika salah seorang dari kalian hendak berbaring di tempat tidurnya, hendaknya ia mengibaskan bagian dalam sarungnya ke tempat tidur itu karena dia tidak tahu apa yang ada di baliknya. Setelahnya, ia mengucapkan:

بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ؛ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاْرحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا، فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

“Dengan nama-Mu, wahai Rabbku, aku meletakkan lambungku dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau mengambil jiwaku, rahmatilah ia. Jika Engkau melepasnya kembali, jagalah ia sebagaimana penjagaan-Mu terhadap para hamba-Mu yang saleh.” (Muttafaqun alaih)

Meruqyah dengan al-Qur’an dan al-Mu’awwidzat

عَنْ عَا ئِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ, فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيهِ بِهِنَّ وَ أَمْسَحُ بِيَدِهِ نَفْسَهُ لِبَرَكَتِهَا

 

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika beliau sakit yang membawa kepada wafatnya, membaca al-Mu’awwidzat (surat al-Falaq dan an-Naas, -pen). Kemudian beliau meludah disertai dengan tiupan pada kedua telapak tangannya, kemudian diusapkan ke wajah dan badannya.

Ketika sakitnya bertambah parah, aku yang membacakan Al-Mu’awwidzat dan aku yang mengusapkan tangan beliau ke badannya dan mencari barakah dari kedua telapak tangannya.” (HR. al-Bukhari)

 

Faedah:

        Al-Imam al-Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih-nya sebelum membawakan hadits ini: Bab Meruqyah dengan al-Qur’an dan al-Mu’awwidzat. (Fathul Bari, 10/205)

Doa Bagi Kaum Mukminin

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.

Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (al-Hasyr: 10)

Doa Memohon Ampunan dan Rahmat Sebelum Salam

 

       عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِ: عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي. قَالَ :قُلْ :اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dari Abdullah bin ‘Amr ibnil ‘Ash radhiallahu ‘anhuma, dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ajarilah aku doa yang akan aku baca dalam shalatku.”

Beliau mengatakan, “Bacalah,

       اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

‘Ya Allah, aku telah banyak menganiaya diriku, tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (HR. al-Bukhari no. 834, Kitabul Adzan, Bab “Doa Sebelum Salam,” dan Muslim no. 2705, Kitab adz-Dzikr wad Du’a,” Bab “Merendahkan Suara Ketika Berzikir”)

Dua Kalimat yang Berfaedah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ :ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيم

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan dan dicintai oleh Ar-Rahman (adalah): Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘adzim.” (Shahih al-Bukhari hadits no. 7008; Shahih Muslim hadits no. 4860)

Doa Ziarah Kubur

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ) وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah subhanahu wa ta’la merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim 2/671 dan Ibnu Majah 2/494)

Doa Pergi ke Masjid

 اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْراً، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَفِي سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِي بَصَرِي نَوْرًا، وَمِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَمِنْ َتْحْتِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ شِمَالِي نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِي نُوْراً، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْراً، وَاجْعَلْ فيِ نَفْسِي نُوْراً، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْراً، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِي نُوْرًا، وَفِي لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِي شَعْرِي نُوْرًا، وَفِي بَشَرِيْ نُوْرًا

“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya pada lisanku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di depanku, dan cahaya di belakangku. Jadikanlah pada diriku cahaya, besarkanlah untukku cahayanya, besarkanlah cahayaku, jadikanlah untukku cahaya, jadikanlah aku cahaya. Ya Allah, berikanlah aku cahaya, jadikanlah pada otakku cahaya, jadikanlah dalam dagingku cahaya, dalam darahku cahaya, dalam rambutku cahaya, dan dalam kulitku cahaya!” (HR. al-Bukhari 2/116 no. 6316 dan Muslim 1/526, 529, 530 no. 763)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah—menukil perkataan para ulama—berkata, “Rasulullah n meminta cahaya kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk seluruh anggota badannya dan seluruh arah. Maksudnya adalah minta ditunjuki kepada kebenaran, keterangan, dan cahaya kebenaran. Sehingga beliau meminta cahaya untuk badan, perbuatan, segala keadaan, dan arah yang enam sehingga beliau tidak menyimpang sedikit pun dari kebenaran.” (Syarh Shahih Muslim, al-Imam an-Nawawi, 5/45)

Doa

َتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ 

“Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian.”

Jubair bin Nufair rahimahullah berkata, “Adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, jika bertemu di hari ‘Ied saling mengucapkan kalimat di atas.” (HR. al-Mukamili, asy-Syaikh al-Albani menyatakan bahwa sanadnya sahih dalam Tamamul Minnah hlm. 355. Lihat juga Fathul Bari, 2/446)

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, memulai kalimat tersebut bukanlah Sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang diperintahkan, namun bukan pula perkara yang dilarang. Sebagian ulama seperti al-Imam ِAhmad rahimahullah  membolehkannya, dan jika diucapkan kepada seseorang maka ia wajib menjawab. (Majmu’ Fatawa, 24/214 dan Ahkamul ‘Iedain, hlm. 25)

Doa Berbuka Puasa

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat serta telah tetap pahala, insya Allah.”

(HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)