Kejujuran dalam Jual Beli

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Abu Hurairah z mengisahkan:
“Rasulullah n melewati setumpuk makanan. Beliau pun memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut hingga jari-jemari beliau menyentuh bagian yang basah. ‘Apa yang basah ini, wahai pemilik makanan?’ tanya beliau. Penjualnya menjawab: ‘Makanan itu basah karena terkena hujan, wahai Rasulullah.’ Rasulullah n bersabda: ‘Mengapa engkau tidak meletakkan bagian yang basah ini di atas hingga manusia dapat melihatnya? Siapa yang menipu maka ia bukan dariku’.”

Dalam lafadz lain:

“Siapa yang menipu kami maka ia bukan dari kami.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya no. 280, 279, Kitabul Iman, bab Qaulun Nabi n: “Man Ghasysyana Falaisa Minna”. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 1315, Kitab Al-Buyu’, bab Ma Ja`a fi Karahiyatil Ghisy fil Buyu’, dan selainnya.
Dalam riwayat Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 3452, Kitab Al-Buyu’, bab An-Nahyu ‘anil Ghisy disebutkan dengan lafadz:

“Rasulullah n melewati seseorang yang sedang berjualan makanan. Beliau pun bertanya kepada penjual tersebut: ‘Bagai-mana engkau berjualan?’ Penjual itu lalu mengabarkan kepada beliau. Lalu Allah mewahyukan kepada beliau: ‘Masukkanlah tanganmu ke dalam tumpukan makanan yang dijual pedagang tersebut.’ Ketika beliau melakukannya, ternyata beliau dapatkan bagian bawah/bagian dalam makanan tersebut basah. Maka Rasulullah n bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1765)
Dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits disebutkan makna lafadz adalah bukan termasuk akhlak kami, bukan pula sunnah kami. Al-Imam An-Nawawi t menyebutkan bahwa ada yang memaknakan dengan makna orang yang berbuat demikian ia tidak berada di atas perjalanan hidup kami yang sempurna dan petunjuk kami. Namun Sufyan bin ‘Uyainah t membenci ucapan orang yang menafsirkannya dengan: “Tidak di atas petunjuk kami.” Beliau memaksudkan hal ini agar kita menahan diri dari mentakwil/menafsirkan lafadz tersebut, dan membiarkan apa adanya agar lebih masuk/menghunjam ke dalam jiwa dan lebih tajam dalam memberikan cercaan atas perbuatan tersebut. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/291)
Adapun Syaikhul Islam Ibnu Tai-miyyah, beliau memiliki ucapan yang masyhur tentang hal ini: “Tidak mengapa dijatuhkan padanya ancaman jika memang terkumpul syarat-syarat dan tidak ada faktor-faktor yang menghalanginya.”

Pemahaman Hadits
Ketika Rasulullah n melewati sebuah pasar, beliau mendapatkan penjual ma-kanan yang menumpuk bahan makanan-nya. Bisa jadi seperti tumpukan biji-bijian, ada yang di atas ada yang di bawah. Bahan makanan yang di atas tampak bagus, tidak ada cacat/rusaknya. Namun ketika mema-sukkan jari-jemari beliau ke dalam tumpukan bahan makanan tersebut, beliau dapatkan ada yang basah karena kehujanan (yang berarti bahan makanan itu ada yang cacat/rusak). Penjualnya meletakkannya di bagian bawah agar hanya bagian yang bagus yang dilihat pembeli. Rasulullah n pun menegur perbuatan tersebut dan mengecam demikian kerasnya. Karena hal ini berarti menipu pembeli, yang akan menyangka bahwa seluruh bahan makanan itu bagus.
Seharusnya seorang mukmin mene-rangkan keadaan barang yang akan dijualnya, terlebih lagi apabila barang tersebut memiliki cacat ataupun aib. Sebagaimana sabda beliau n:

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dan tidak halal bagi seorang muslim menjual suatu barang kepada saudaranya sementara barang itu ada cacat/ rusaknya kecuali ia harus menerang-kannya kepada saudaranya (yang akan membeli tersebut).” (HR. Ibnu Majah no. 2246. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah dan Irwa`ul Ghalil no. 1321)
Juga sebagaimana sabda beliau n:

“Tidak halal bagi seseorang menjual barang dagangan yang ia ketahui padanya ada cacat/rusak kecuali ia beritahukan (kepada pembeli, -pent.).” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1775)
Ketika dia tidak menerangkannya, berarti dia telah melakukan ghisy (penipuan) seperti yang beliau peringatkan dan beliau kecam.

Jual Beli yang tidak Beroleh Barakah
Praktek tipu menipu dalam jual beli atau perdagangan sepertinya telah menjadi suatu kelaziman. Nilai kejujuran merupakan sesuatu yang teramat mahal harganya, karena jarang didapatkan pedagang yang jujur dan lurus. Wallahul musta’an.
Menurut orang-orang yang materialis, yang suka berburu keuntungan dunia, kejujuran hampir identik dengan kerugian. Bukan rugi karena hartanya habis atau dagangannya tidak dapat untung sama sekali, tapi rugi karena untungnya sedikit atau tidak seberapa. Sementara teori mereka adalah mengeluarkan biaya sekecil mungkin untuk mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya. Mereka terapkan teori ini dalam usaha dagang mereka, sehingga mereka menargetkan untuk meraih keuntungan yang berlipat. Akibatnya, segala cara mereka lakukan untuk melariskan dagangan mereka, walaupun cara tersebut diharamkan Allah I, seperti dusta, penipuan, dan menyembu-nyikan keadaan barang. Padahal Rasulullah n telah bersabda:

“Penjual dan pembeli itu diberi pilihan (antara meneruskan jual beli atau membatal-kannya, -pent.) selama keduanya belum berpisah –atau beliau berkata: sampai keduanya berpisah–. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang –pent.) maka keduanya diberkahi dalam jual belinya, namun bila keduanya menyembunyikan dan berdusta akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 3836)
Watsilah ibnul Asqa’ z berkata:

“Dahulu Rasulullah n keluar menemui kami sedangkan kami adalah para pedagang. Beliau bersabda: ‘Wahai sekalian pedagang, hati-hati kalian dari dusta’.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir. Kata Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1793: Shahih li ghairi)
Sumpah dusta pun sering terucap dari lisan pedagang yang dijerat oleh semangat materialis. Walaupun tampaknya sumpah dusta itu menambah harta/memberi keun-tungan, namun hakikatnya sumpah itu menghilangkan barakah. Sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sumpah (dalam jual beli, –pent.) itu melariskan barang dagangan namun menghilangkan barakahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 2087 dan Muslim no. 4101)
Dalam satu riwayat:

“Hati-hati kalian dari banyak ber-sumpah dalam jual beli, karena sumpah itu melariskan dagangan kemudian menghilang-kan barakahnya.” (HR. Muslim no. 4102, Kitab Al-Musaqah, Bab An-Nahyu ‘anil Halifi fil Bai’)
Al-Imam An-Nawawi t mengata-kan: “Bersumpah tanpa ada kebutuhan adalah makruh. Termasuk (bersumpah tanpa ada kebutuhan) adalah bersumpah dalam rangka melariskan barang dagangan, yang terkadang pembeli tertipu dengan sumpah tersebut.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/46)
Demikian pula mengurangi takaran dan timbangan barang yang dijual kepada pembeli, termasuk perbuatan menipu. Padahal menipu seperti ini jelas menyakiti kaum mukminin yang terjerat dalam tipuan tersebut. Sementara Allah I telah mengan-cam orang yang melakukan perbuatan menyakiti kaum mukminin ini dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh orang-orang itu telah memikul buhtan (kebohongan) dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58)
Ibnu ‘Abbas c mengisahkan:

“Tatkala Nabi n datang ke Madinah, penduduk Madinah merupakan orang yang paling buruk dalam melakukan takaran (dalam jual beli) maka Allah U pun menurunkan ayat: ‘Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang berbuat curang.’ Mereka pun membaikkan takaran setelah itu.” (HR. Ibnu Majah no. 2223, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan Al-Baihaqi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Ibnu Majah, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1760)
Perbuatan tidak jujur/curang dalam jual beli, khususnya dalam mengurangi takaran dan timbangan, mendapatkan ancaman azab seperti yang disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar c berikut:

“Rasulullah n menghadap pada kami seraya berkata: ‘Wahai sekalian Muhajirin, ada lima perkara (yang aku khawatir) bila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah jangan sampai kalian mendapatkan perkara itu. (Pertama) Tidaklah tampak fahisyah (perbuatan keji) pada suatu kaum sama sekali lalu mereka melakukannya dengan terang-terangan, melainkan akan  tersebarlah penyakit tha’un dan kelaparan di kalangan mereka, yang belum pernah menimpa para pendahulu mereka yang telah lalu. (Kedua) Tidaklah mereka mengu-rangi takaran dan timbangan melain-kan mereka tentu diazab dengan ditimpakan paceklik, kesulitan makan-an dan kezaliman penguasa terhadap mereka… dst’.” (HR. Ibnu Majah no. 4019, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi. Dihasankan dalam Shahih Ibnu Majah, Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1761 dan Ash-Shahihah no. 106)
Perdagangan yang curang seperti inilah yang luput dari keberkahan, sebagaimana kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t: “Barakah bagi pembeli dan penjual diperoleh bila terpenuhi syarat jujur dan menjelaskan keadaan barang. Sebaliknya, bila ada unsur dusta dan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diterangkan akan menghilang-kan barakah.” (Fathul Bari, 4/394)
Dengan demikian, kejujuran dan menerangkan keadaan barang apa adanya merupakan suatu kemestian bagi penjual maupun pembeli, seperti kata Al-Imam An-Nawawi t: “Masing-masing menerang-kan kepada temannya hal-hal yang memang perlu dijelaskan, berupa cacat dan semisal-nya pada barang dagangan. Demikian pula dalam permasalahan harga. Dan dia harus jujur dalam penjelasan tersebut.” (Al-Minhaj, 10/416-417)

Anjuran bagi Para Pedagang untuk Berlaku Jujur dan Ancaman bila Berbuat Dusta serta Peringatan dari Sumpah Palsu dalam Jual Beli
Berikut ini kita bawakan beberapa hadits yang berisi anjuran bagi pedagang untuk berlaku jujur dan ancaman dari dusta. Semoga dapat menjadi nasehat bagi mereka dan kita semua.
Shahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri z menyampaikan sabda Nabi n:

“Pedagang yang jujur lagi dipercaya itu bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.” (HR. At-Tirmidzi no. 1209, kata Asy-Syaikh Al-Albani tentang hadits ini dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1782: Shahih lighairi)
Ibnu ‘Umar c berkata: “Rasulullah n bersabda:

“Pedagang yang dipercaya, jujur, muslim/beragama Islam, ia bersama para syuhada pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah no. 2139, dinyatakan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1783: Hasan shahih, dan Ash-Shahihah no. 34531)
Isma’il bin ‘Ubaid bin Rifa’ah menyampaikan hadits dari bapaknya dari kakeknya c:

“Kakeknya pernah keluar bersama Rasulullah n ke mushalla (tanah lapang –red.). Beliau melihat manusia sedang berjual beli. Beliau pun berseru: ‘Wahai sekalian pedagang!’ Mereka menjawab seruan Rasulullah n tersebut dan mengangkat leher-leher dan pandangan mata mereka kepada beliau. Rasulullah n pun bersabda: ‘Sesung-guhnya para pedagang itu dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang fajir/jahat, kecuali orang/pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur’.”2 (HR. At-Tirmidzi no. 1210, ia berkata: Hadits hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani berkata tentang hadits ini dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1785: Shahih lighairi; dan Ash-Shahihah no. 994)
Abdurrahman bin Syibl z berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

Sesungguhnya para pedagang itu adalah orang-orang fajir. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Beliau menjawab: “Ya (memang Allah menghalalkan jual beli), namun mereka itu suka bersumpah tapi mereka pun berbuat dosa dan mereka berbi-cara tapi mereka berdusta.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1786 dan Ash-Shahihah no. 366)
Adapun peringatan dari bersumpah dalam jual beli telah disebutkan dalam beberapa hadits berikut ini:
Abu Dzar z menyampaikan bahwa Nabi n bersabda:

“Tiga golongan yang Allah tidak akan mengajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak akan melihat mereka, tidak akan mensucikan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih.” Rasulullah n membacanya tiga kali. Abu Dzar berkata: “Merugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang/laki-laki yang musbil (memanjangkan pakaiannya sampai ke bawah mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta.” (HR. Muslim no. 289)
Abu Sa’id Al-Khudri z berkata:

“Seorang A’rabi (Arab pedalaman) lewat membawa seekor kambing, maka aku berkata: ‘Apakah engkau mau menjual kambingmu seharga tiga dirham?” A’rabi itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah.’ Kemudian ia menjualnya (dengan harga tersebut). Lalu aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah n maka beliau bersabda: ‘Ia telah menjual akhiratnya dengan dunianya (yakni untuk memperoleh dunianya)’.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1792)
Di antara faedah yang bisa kita ambil dari pembahasan hadits Abu Hurairah yang kita bawakan di awal pembahasan:
1.    Haramnya melariskan barang dagangan dengan sesuatu yang mengandung unsur penipuan. Perbuatan menipu adalah haram dengan kesepakatan umat, karena bertentangan dengan sifat ketulusan (niat baik).
2.    Pemimpin/penguasa bertanggung jawab untuk mengawasi pasar dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang menipu hamba-hamba Allah dan memakan harta mereka dengan cara batil.
3.    Sengaja melakukan penipuan akan memberikan kemudharatan/bahaya dan kerugian yang besar kepada perekonomian umat Islam. Hal ini menyebabkan pelakunya menjadi musuh umat Islam yang ditujukan kepadanya doa kebinasaan dan kejelekan. (‘Aridhatul Ahwadzi bi Syarhi Shahih At-Tirmidzi, Ibnul ‘Arabi, 6/45)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Faedah: Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah (7/1338): “Inilah yang menenangkan jiwaku pada akhirnya dan melapangkan dadaku setelah sebelumnya aku melemahkan/mendhaifkan hadits ini dalam sebagian takhrijat. Ya Allah, ampunilah aku!!!”
2 Al-Qadhi berkata: “Termasuk kebiasaan para pedagang adalah berbuat tadlis (pemalsuan) dalam muamalah dan melariskan barang dagangannya dengan melakukan sumpah dusta dan semisalnya. Karena itu Rasulullah n menghukumi mereka sebagai orang-orang fajir. Dan beliau mengecualikan pedagang yang menjaga diri dari perkara-perkara yang diharamkan, berlaku baik dalam sumpahnya dan jujur dalam ucapannya.” (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Al-Buyu’, bab Ma Ja`a fit Tujjar wa Tasmiyatun Nabiyyi n Iyyahum)

Thibbun Nabawi Bukan Alternatif

Shahabat yang mulia Abu Sa‘id Al-Khudri rahimahullah berkata:

Sejumlah shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam sebuah safar (perjalanan) yang mereka tempuh, hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka, namun penduduk kampung itu menolak.

Tak lama setelah itu, kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan, namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian, mungkin saja ada di antara mereka punya obat (yang bisa menghilangkan sakit yang diderita pemimpin kita).” Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan shahabat Rasulullah yang tengah beristirahat tersebut, seraya berkata: “Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakitnya, namun tidak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?” Salah seorang shahabat berkata: “Iya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi, demi Allah, tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.”

Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing2 sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan. Shahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca3: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” (Surah al-Fatihah). Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan, tidak ada lagi rasa sakit (yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur).

Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Sebagian shahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun shahabat yang meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu, sampai kita menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita ceritakan kejadiannya, dan kita tunggu apa yang beliau perintahkan.” Mereka pun menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengisahkan apa yang telah terjadi. Beliau bertanya kepada shahabat yang melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa al-Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar, bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.”

Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.

Beberapa faedah yang dapat kita ambil dari hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas adalah:

  1. Surah Al-Fatihah mustahab untuk dibacakan kepada orang yang disengat binatang berbisa dan orang sakit.
  2. Boleh mengambil upah dari ruqyah dan upah itu halal.4
  3. Seluruh kambing itu sebenarnya milik orang yang meruqyah adapun yang lainnya tidak memiliki hak, namun dibagi-kannya kepada teman-temannya karena kedermawanan dan kebaikan.
  4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minta bagian dalam rangka lebih menenangkan hati para shahabatnya dan untuk lebih menunjukkan bahwa upah yang didapatkan tersebut halal, tidak mengandung syubhat.

Demikian faedah yang disebutkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim (14/410).

 

Pengobatan Nabawiyyah (At-Thibbun Nabawi) Bukan Pengobatan Alternatif

Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyyah yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Penyakit-penyakit itu merupakan musibah dan ujian yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala atas hamba-hamba-Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi rahimahullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh mengagumkan perkara  seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Termasuk keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada kaum mukminin, Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas‘ud rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggu-gurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)

Di sisi lain, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya.  (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)
Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)

Al-Qur`anul Karim dan As-Sunnah yang shahihsarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga mestinya kita tidak terlebih dahulu berpaling dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang ini5. (Shahih Ath-Thibbun Nabawi, hal. 5-6, Abu Anas Majid Al-Bankani Al-‘Iraqi)

Karena itulah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Sungguh para tabib telah sepakat bahwa ketika memung-kinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan (kimiawi, –pent.). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Mereka mengatakan: ‘Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan’.”

Ibnul Qayyim juga berkata: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.” (Ath-Thibbun Nabawi, hal. 6, 29)

Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah sekedar sebagai pengobatan alternatif. Justru sepantasnya dia menjadi-kannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kepastiannya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan thibbun nabawi. Pengobatan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini kesembuhannya karena bersumber dari wahyu. Sementara pengobatan dari selain Nabi kebanyakannya dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba. (Fathul Bari, 10/210)

Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu. Dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah  yang menyembuhkan sakitnya. Namun seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar kepada-Nya dalam segala keadaannya. Hendaknya ia selalu berdoa memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan yang tengah menimpanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ ٱلۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ ٱلسُّوٓءَ

“Siapakah yang mengijabahi (menjawab/mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?” (an-Naml: 62)

Sungguh tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala semata. Karena itulah, Nabi Ibrahim u berkata memuji Rabbnya:

 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ ٨٠

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (asy-Syu’ara: 80)

 

Contoh Pengobatan Nabawi

Banyak sekali cara pengobatan nabawi. Kami hanya menyebutkan beberapa di antaranya, karena keterbatasan halaman yang ada:

  1. Pengobatan dengan madu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang madu yang keluar dari perut lebah:

يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (an-Nahl: 69)

Madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Di antaranya untuk mengobati sakit perut, seperti ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

“Ada seseorang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya6.’ Nabi berkata: ‘Minumkan ia madu.’ Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata:  ‘Minumkan ia madu.’ Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: ‘Minumkan ia madu.’

Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: ‘Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret).’7 Nabi bersabda: ‘Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta8. Minumkan lagi madu.’ Orang itu meminum-kannya lagi, maka saudaranya pun sembuh.” (HR. Al-Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731)

  1. Pengobatan dengan habbahsauda` (jintan hitam, red.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya habbah sauda` ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit as-samu”. Aku (yakni`Aisyah x) bertanya: “Apakah as-samu itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)

  1. Pengobatan dengan susu dan kencing unta

Anas radhiallahu ‘anhu menceritakan: “Ada sekelompok orang ‘Urainah dari penduduk Hijaz menderita sakit (karena kelaparan atau keletihan). Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, berilah tempat kepada kami dan berilah kami makan.’ Ketika telah sehat, mereka berkata: ‘Sesungguhnya udara kota Madinah tidak cocok bagi kami (hingga kami menderita sakit,–pent.).’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menempatkan mereka di Harrah, di dekat tempat pemeliharaan unta-unta beliau (yang berjumlah 3-30 ekor). Beliau berkata: ‘Minumlah dari susu dan kencing unta-unta itu.’9

Tatkala mereka telah sehat, mereka justru membunuh penggembala unta-unta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah sebelumnya mereka mencungkil matanya) dan menggiring unta-unta tersebut (dalam keadaan mereka juga murtad dari Islam,-pent.). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim utusan untuk mengejar mereka, hingga mereka tertangkap dan diberi hukuman dengan dipotong tangan dan kaki-kaki mereka serta dicungkil mata mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 5685, 5686 dan Muslim no. 4329)

  1. Pengobatan dengan berbekam (hijamah)10

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5701)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Obat/kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan kay, namun aku melarang umatku dari kay.”11 (HR. Al-Bukhari no. 5680)

 

Ruqyah,Salah Satu Pengobatan Nabawi

Di antara cara pengobatan nabawi yang bermanfaat dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala adalah ruqyah yang syar’i, yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Ketahuilah, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Al-Qur`anul Karim sebagai syifa` (obat/penyembuh) sebagaimana firman-Nya:

وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ قُرۡءَانًا أَعۡجَمِيّٗا لَّقَالُواْ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ

“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang yang beriman’. (Fushshilat: 44)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٢

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an apa yang merupakan syifa` dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Isra: 82)

Huruf مِنَ dalam ayat di atas untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan tab‘idh (makna sebagian). Karena Al-Qur`an seluruhnya adalah syifa` dan rahmat bagi orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya (yaitu surat al-Fushshilat: 44).” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 7)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani.

Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:

Pertama: Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat/tujuannya.

Kedua: Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan/arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari 10/115)

Dalam hadits Abu Sa‘id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang ruqyah dengan surat al-Fatihah yang dilakukan salah seorang shahabat, benar-benar terlihat pengaruh obat tersebut pada penyakit yang diderita sang pemimpin kampung. Sehingga obat itu mampu menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Cara seperti ini merupakan pengobatan yang paling mudah dan ringan. Seandainya seorang hamba melakukan pengobatan ruqyah dengan membaca al-Fatihah secara bagus, niscaya ia akan melihat pengaruh yang mengagumkan dalam kesembuhan.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”

Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca al-Fatihah. (Ad-Da`u wad Dawa`  hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan   berkata: “Sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan al-Qur`an sebagai syifa` bagi penyakit-penyakit hissi (yang dapat dirasakan indera) dan maknawi berupa penyakit-penyakit hati dan badan. Namun dengan syarat, peruqyah dan yang diruqyah harus mengikhlaskan niat. Dan masing-masing meyakini bahwa kesembuhan itu datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ruqyah dengan Kalamullah merupakan salah satu di antara sebab-sebab yang bermanfaat.”

 

Beliau juga berkata: “Pengobatan dengan ruqyah al-Qur`an merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amalan salaf. Mereka dahulu mengobati orang yang terkena ‘ain, kesurupan jin, sihir dan seluruh penyakit dengan ruqyah. Mereka meyakini bahwa ruqyah termasuk sarana yang mubah12 lagi bermanfaat, sementara yang menyembuhkan hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala saja.” (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, juz 1, jawaban soal  no. 77)

 

Thibbun Nabawi Memberi Pengaruh bagi Kesembuhan dengan Izin Allah subhanahu wa ta’ala

Mungkin ada di antara kita yang pernah mencoba melakukan pengobatan dengan thibbun nabawi dengan minum madu13 misalnya atau habbahsauda`. Atau dengan ruqyah membaca ayat-ayat al-Qur`an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak merasakan pengaruh apa-apa. Penyakitnya tak kunjung hilang. Ujung-ujungnya, kita meninggalkan thibbun nabawi karena kurang percaya akan khasiatnya, lalu beralih ke obat-obatan kimiawi. Mengapa demikian? Mengapa kita tidak mendapatkan khasiat sebagaimana yang didapatkan Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah ketika meruqyah dirinya dengan al-Fatihah? Atau seperti yang dilakukan oleh seorang shahabat ketika meruqyah kepala suku yang tersengat binatang berbisa di mana usai pengobatan si kepala suku (pemimpin kampung) sembuh seakan-akan tidak pernah merasakan sakit?

Di antara jawabannya, sebagaimana ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah yang telah lewat, bahwasanya manjurnya ruqyah (pengobatan dengan membaca doa-doa dan ayat-ayat al-Qur`an) hanyalah diperoleh bila terpenuhi dua hal:

Pertama: Dari sisi si penderita, harus lurus dan benar niat/tujuannya.

Kedua: Dari sisi yang mengobati, harus memiliki kekuatan dalam memberi bimbingan/arahan dan kekuatan hati dengan takwa dan tawakkal.

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Ada hal yang semestinya dipahami, yakni zikir, ayat, dan doa-doa yang dibacakan sebagai obat dan yang dibaca ketika meruqyah, memang merupakan obat yang bermanfaat. Namun dibutuhkan respon pada tempat, kuatnya semangat dan pengaruh orang yang meruqyah. Bila obat itu tidak memberi pengaruh, hal itu dikarenakan lemahnya pengaruh peruqyah, tidak adanya respon pada tempat terhadap orang yang diruqyah, atau adanya penghalang yang kuat yang mencegah khasiat obat tersebut, sebagaimana hal itu terdapat pada obat dan penyakit hissi.

Tidak adanya pengaruh obat itu bisa jadi karena tidak adanya penerimaan thabi’ah terhadap obat tersebut. Terkadang pula karena adanya penghalang yang kuat yang mencegah bekerjanya obat tersebut. Karena bila thabi’ah mengambil obat dengan penerimaan yang sempurna, niscaya manfaat yang diperoleh tubuh dari obat itu sesuai dengan penerimaan tersebut.

Demikian pula hati. Bila hati mengambil ruqyah dan doa-doa perlindungan dengan penerimaan yang sempurna, bersamaan dengan orang yang meruqyah memiliki semangat yang berpengaruh, niscaya ruqyah tersebut lebih berpengaruh dalam menghilangkan penyakit.” (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 8)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan, terkadang sebagian orang yang menggunakan thibbun nabawi tidak mendapatkan kesembuhan. Yang demikian itu karena adanya penghalang pada diri orang yang menggunakan pengobatan tersebut. Penghalang itu berupa lemahnya keyakinan akan kesembuhan yang diperoleh dengan obat tersebut, dan lemahnya penerimaan terhadap obat tersebut.

Contoh yang paling tampak/jelas dalam hal ini adalah al-Qur`an, yang merupakan obat penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada. Meskipun demikian, ternyata sebagian manusia tidak mendapatkan kesembuhan atas penyakit yang ada dalam dadanya. (Hal ini tentunya terjadi,-pent.) karena kurangnya keyakinan dan penerimaannya. Bahkan bagi orang munafik, tidak menambah kecuali kotoran di atas kotoran yang telah ada pada dirinya, dan menambah sakit di atas sakit yang ada.

Dengan demikian thibbun nabawi tidak cocok/pantas kecuali bagi tubuh-tubuh yang baik, sebagaimana kesembuhan dengan al-Qur`an tidak cocok kecuali bagi hati-hati yang baik. (Fathul Bari, 10/210)

Tentunya perlu diketahui bahwa kesembuhan itu merupakan perkara yang ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala. Dia Yang Maha Kuasa sebagai Dzat yang memberikan kesembuhan  terkadang menunda pemberian kesembuhan tersebut, walaupun si hamba telah menempuh sebab-sebab kesembuhan. Dia menundanya hingga waktu yang ditetapkan hilangnya penyakit tersebut dengan hikmah-Nya.

Yang jelas kesembuhan dapat diperoleh dengan obat-obatan jika dikonsumsi secara tepat, sebagaimana  rasa lapar dapat hilang dengan makan dan rasa haus dapat hilang dengan minum. Jadi secara umum obat itu akan bermanfaat. Namun terkadang kemanfaatan itu luput diperoleh karena adanya penghalang. (Fathul Bari, 10/210)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 ———————————————————————————————————————————–

Catatan kaki

1Rahthun adalah kelompok yang terdiri dari 3 sampai 10 orang

2 Qathi’, kata ahli bahasa, umumnya digunakan untuk jumlah antara 10 sampai 40. Ada pula yang berpendapat 15 sampai 25. Namun yang dimaukan dalam hadits ini adalah 30 ekor kambing sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Al-A‘masy. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim 14/409, Fathul Bari 4/576)

3 Ibnu Abi Hamzah berkata: “Saat meniup disertai meludah kecil dalam meruqyah adalah setelah qira`ah, agar diperoleh barakah qira`ah pada anggota badan yang diusapkan ludah di atasnya.” (Fathul Bari, 4/576)

4 Tentang mengambil upah dalam ruqyah, bisa dilihat lebih lanjut pembahasannya dalam rubrik Kajian Utama.

5 Namun bukan berarti di sini kita mengharamkan pengobatan kimiawi, selama hal tersebut dibolehkan dan jelas kehalalannya.

6 Dalam lafadz lain, disebutkan orang itu berkata: Makna  ( ) adalah banyak yang keluar dari isi perutnya yakni mencret/ diare. (Fathul Bari, 10/208)

7 Sebagaimana dalam riwayat Muslim, orang itu berkata:  “Aku telah meminumkannya madu namun tidak menambah bagi dia kecuali mencret.”

8 Maknanya, perutnya tidak pantas untuk menerima obat bahkan menolaknya. Di sini juga ada isyarat bahwa madu itu adalah obat yang bermanfaat. Adapun jika penyakit tetap ada dan tidak hilang setelah minum madu, bukan karena jeleknya madu, namun karena banyaknya unsur yang rusak dalam tubuh. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulang minum madu. (Fathul Bari, 10/209, 210)

9 Kencing unta bermanfaat khususnya untuk penyakit gangguan perut/pencernaan, sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Ibnul Mundzir dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’. (Fathul Bari, 10/177)

10 Dengan cara mengeluarkan darah kotor (darah penyakit) pada bagian tubuh tertentu.
11 Kay adalah pengobatan dengan cara menempelkan sambil menekan (mencobloskan) besi panas yang membara pada bagian tubuh yang sakit.

12 Dan kebolehan di sini adalah bagi orang yang tidak meminta agar dirinya diruqyah, juga karena hukum permasalahan ini ada pembahasan sendiri.

13 Dalam hadits yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan orang yang sakit perut untuk minum madu. Pada awalnya, madu yang diminumnya tidak menghentikan penyakit yang diderita karena obat harus memiliki kadar yang seimbang dengan penyakit. Bila obatnya kurang maka tidak menghilangkan penyakit secara keseluruhan, namun bila dosisnya berlebih malah melemahkan kekuatan dan menimbulkan kemudharatan lainnya. (Fathul Bari, 10/210)

 

 

Petunjuk Bagi Orang-orang yang Bingung (Terhadap Buku Ahlul Kitab dan Orang2 yang sesat)

Sahabat yang mulia bernama Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu menuturkan,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ .فَقَرَأَهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوْنَ[1] فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahli kitab.

        Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya lalu beliau marah seraya bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.

        Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahli kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian lantas kalian mendustakannya. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lantas kalian membenarkannya.

        Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam masih hidup, niscaya tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti aku.”

 

        Hadits ini diriwayatkan al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan ad-Darimi dalam “Mukadimah” kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim asy-Syaibani dalam as-Sunnah no. 50.

        Hadits ini dihukumi hasan oleh imam ahlul hadits pada zaman ini, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah dan Irwa’ul Ghalil no. 1589.

Dalam riwayat ad-Darimi hadits di atas disebutkan dengan lafadz,

       أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه أَتَى رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ هَذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ. فَسَكَتَ فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ[2]، مَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُوْلِهِ، رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ بَدَا لَكُم مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ، وَلَو كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَّبَعَنِيْ

      Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, ini salinan dari kitab Taurat.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam. Umar mulai membacanya dalam keadaan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah. Melihat hal itu, Abu Bakr berkata kepada Umar, “Betapa ibumu kehilanganmu, tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?”

        Umar melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya. Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.”

        Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa alaihis salam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”

Sikap Seorang Muslim terhadap Berita-Berita Ahli Kitabs

        Berita-berita yang datang dari ahli kitab—Yahudi atau Nasrani—dan tidak ada keterangannya dalam syariat, tidak boleh kita pastikan kebenaran atau kedustaannya. Berita itu bisa jadi benar atau haq, bisa jadi pula dusta atau batil. Jika kita benarkan, dikhawatirkan itu adalah batil. Apabila kita dustakan, dikhawatirkan itu adalah haq. Jadi, dua keadaan ini bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa.

        Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengabarkan,

        كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَؤُوْنَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُوْنَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ، وَقُوْلُوْا : {آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا …} الآية

        Ahli kitab membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab uorang-orang Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami…’. (al-Baqarah: 136) (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485)

        Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakannya,”

        Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, “Berita yang mereka kabarkan itu mengandung kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Karena itu, jangan sampai beritanya benar lantas kalian mendustakannya, atau beritanya dusta lalu kalian membenarkannya. Kalian pun terjatuh dalam dosa. Tidak ada larangan mendustakan mereka dalam urusan yang diselisihi oleh syariat kita. Tidak pula ada larangan membenarkan mereka dalam urusan yang disepakati oleh syariat kita. Demikian penjelasan al-Imam asy-Syafi’i.” (Fathul Bari 8/214)

        Kita dilarang bertanya tentang urusan agama kepada ahli kitab. Karena itulah, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

        كَيْفَ تَسْأَلُوْنَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَ كِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَحْدَثُ. تَقْرَؤُوْنَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ، وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَغَيَّرُوْهُ وَكَتَبُوْا بِأَيْدِيْهِم الْكِتَابَ وَقَالُوْا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً؛ لاَ يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ، لاَ وَاللهِ، مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

        “Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu, sementara kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang paling akhir (turun dari sisi Allah)? Kalian membacanya dalam keadaan murni, tidak bercampur (dengan kepalsuan). Allah telah menyampaikan (keterangan) kepada kalian bahwa ahli kitab telah mengganti dan mengubah-ubah Kitabullah.

       “Mereka menulis kitab itu dengan tangan mereka (mereka mengarang sendiri) kemudian mereka mengatakan, ‘Ini (yang mereka tulis) diturunkan dari sisi Allah.’ Mereka melakukannya untuk memperoleh keuntungan yang sedikit.

       “Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian melarang kalian bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhari no. 7363, “Kitab al-subhanahu wa ta’ala’tisham bil Kitab was Sunnah”, “Bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: La Tas’alu Ahlal Kitab ‘an Syai’in”)

        Dengan kalimat, “Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian,” seakan-akan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma hendak menyatakan, “Mereka ahli kitab tidak pernah menanyakan tentang sesuatu pun kepada kalian, sementara mereka tahu bahwa kitab kalian tidak ada penyimpangan/perubahan. Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka sedangkan kalian benar-benar mengetahui bahwa kitab mereka telah diubah dari aslinya?” (Fathul Bari 13/621)

        Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya[3] (no. 19212) dari jalan Huraits bin Zhuhair, ia berkata, “Abdullah (yakni Ibnu Mas‘ud) berkata,

        لاَ تَسْأَلُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوْكُمْ وَقَدْ أَضَلُّوا أَنْفُسَهُمْ، فَتُكَذِّبُوْنَ بِحَقٍّ أَوْ تُصَدِّقُوْنَ بِبَاطِلٍ

     “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahli kitab karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan petunjuk kepada kalian. Mereka sendiri telah menyesatkan diri mereka. (Apabila kalian bertanya kepada mereka kemudian mereka menjawab pertanyaan kalian, dikhawatirkan) kalian akan mendustakan yang haq atau membenarkan yang batil.”

        Apabila ada yang menyatakan bahwa larangan bertanya kepada ahli kitab ini seakan-akan bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya,

          فَسۡ‍َٔلِ ٱلَّذِينَ يَقۡرَءُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكَ

    “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca al-Kitab sebelummu.” (Yunus: 94)

        Jawabannya, ayat ini tidak bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits. Sebab, yang dimaksud oleh ayat ini adalah bertanya kepada ahli kitab yang telah beriman. Adapun larangan yang tersebut dalam hadits adalah larangan bertanya kepada ahli kitab yang belum beriman. (Fathul Bari 13/408)

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Agar Tidak Membaca Buku Ahli Kitab

        Dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ahli kitab telah mengubah-ubah kitab mereka. Semula kitab mereka adalah kalamullah yang diturunkan dari atas langit, namun karena ulah para pendeta Yahudi dan Nasrani bercampurlah kalamullah tersebut dengan ucapan manusia. Bahkan, kalamullah itu sendiri mereka ubah dan pindahkan dari tempatnya. Karena itu, kitab mereka tidak lagi murni sebagaimana keadaan saat awal diturunkan. Kitab mereka telah tercampur dengan kepalsuan dan kedustaan, susah untuk dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil.

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

        Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah,” untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan[4]. (al-Baqarah: 79)

        Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya ini adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah melakukan tahrif terhadap Kitabullah. Mereka menulis sebuah kitab berdasarkan penakwilan/penafsiran menyimpang yang mereka buat, menyelisihi apa yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam.

        Kemudian orang-orang Yahudi tersebut menjual kitab karangan mereka itu kepada suatu kaum yang tidak memiliki ilmu tentang penakwilan tersebut. Kaum tersebut tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang terdapat dalam Taurat. Orang-orang Yahudi itu menjualnya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka melakukan hal ini karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 1/422)

        Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa pendeta-pendeta Yahudi itu khawatir kehilangan sumber penghidupan dan kepemimpinan mereka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Mereka lalu melakukan tipu daya untuk menyimpangkan orang-orang Yahudi agar tidak beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

        Mereka telah memahami ciri-ciri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Taurat bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi, tidak pula pendek. Mereka lalu mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan “tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya”. Saat orang-orang bodoh yang tidak mengerti Taurat bertanya tentang ciri-ciri nabi yang terakhir kepada para pendeta ini, mereka akan membacakan apa yang telah mereka tulis.

        Akhirnya, orang-orang bodoh tersebut menemukan bahwa ciri-ciri nabi yang akhir itu berbeda dengan ciri-ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akibatnya, mereka mendustakan beliau.” (Ma’alimut Tanzil, 1/54—55)

        Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

    “Mereka (orang-orang Yahudi) mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisa: 46)

        Ayat di atas menunjukkan bahwa sifat orang-orang Yahudi suka mengganti dan mengubah-ubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya. (Jami‘ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur’an 4/121)

        Perubahan yang mereka lakukan bisa berupa lafadz atau makna, bisa jadi pula pada kedua hal tersebut sekaligus. Mereka mengubah hakikat yang ada, menempatkan al-haq di atas al-batil, dan menentang al-haq itu. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 181)

        Diriwayatkan bahwa sambil membawa sebuah mushaf, Ka‘b al-Ahbar pernah menemui Umar ibnul Khaththab radhiyallahu anhu yang ketika itu menjabat Amirul Mukminin. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dalam mushaf ini tertulis Taurat. Apakah aku boleh membacanya?”

        Umar menjawab, “Jika memang engkau yakin itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam pada hari Thursina, silakan membacanya. Jika tidak, jangan membacanya.” (Syarhus Sunnah 1/271)

        Karena bercampurnya al-haq dengan al-batil inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan Umar rahimahullah yang memegang Taurat sebagaimana tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kepada Umar,

        أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

        “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.”

        Di samping itu, syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat memadai sehingga umat beliau tidak lagi membutuhkan syariat lain atau syariat umat terdahulu. Umat ini tidak lagi membutuhkan nabi dan rasul lain setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu masih hidup dan menemui masa kenabian beliau, niscaya para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa.

        Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar radhiyallahu anhu,

        وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

        “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihis salam masih hidup, niscaya tidak boleh kecuali mengikutiku.”

Kitab Suci Yahudi dan Nasrani Tidak Lagi Asli

        Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan jaminan penjagaan atas kalam-Nya yang termaktub dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana jaminan penjagaan yang diberikan-Nya kepada al-Qur’an,

        إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

        “Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan sungguh Kami-lah yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

        Karena penjagaan Allah ini, al-Qur’an tidak akan dapat dipalsukan selama-lamanya sampai kelak diangkat kembali dari lembaran dan dada manusia (dari hafalan mereka) menjelang hari kiamat. Adapun kitab samawi lainnya, seperti Taurat dan Injil, tidak selamat dari pemalsuan.

        Karena itu, wajar apabila kita katakan bahwa kitab-kitab yang dipegang ahli kitab telah dipalsukan oleh para rahib dan pendeta mereka. Hal ini ini berdasarkan kabar dari Allah subhanahu wa ta’ala sendiri melalui al-Qur’an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari atsar, dan dari bukti-bukti sejarah, serta pertentangan dan keganjilan-keganjilan yang ada di dalam Taurat dan Injil sendiri.

        Dalam kitabnya, al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan secara panjang lebar sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam untuk membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli, tetapi telah diubah-ubah.

        Disebutkan bahwa sepeninggal Nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil dipimpin oleh Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Selanjutnya, mereka dipimpin Fainuhas ibnul ‘Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Setelah Fainuhas wafat, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan. Sejak itulah mereka dipimpin oleh penguasa-penguasa kafir. Meski diselingi oleh kepemimpinan penguasa yang beriman, mereka lebih dominan dikuasai oleh penguasa kafir yang berkubang dalam kekafiran dan penyembahan terhadap berhala[5].

        Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Sejak Bani Israil memasuki tanah yang disucikan (Palestina) sepeninggal Musa ‘alaihis salam sampai masa pemerintahan raja mereka, Syawul, mereka meninggalkan keimanan dan terang-terangan menyembah berhala sebanyak tujuh kali.”

        Beliau rahimahullah juga berkata, “Perhatikanlah, kitab apa yang masih tertinggal bersama dengan kekufuran yang terus-menerus dan menolak keimanan selama masa yang panjang[6] di sebuah negeri yang kecil. Sementara itu, ketika itu tidak ada seorang pun di muka bumi yang berada di atas agama mereka dan mengikuti kitab mereka selain mereka sendiri.” (al-Fishal 1/215)

        Berikut ini beberapa contoh kedustaan yang terdapat dalam Taurat.

        Di dalam Taurat dihikayatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….”

        Ibnu Hazm menyatakan, ucapan ini menunjukkan mereka meyakini bahwa ilah atau sesembahan itu lebih dari satu, dan Adam termasuk ilah tersebut[7].

        Disebutkan pula dalam Taurat, “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam, maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian mereka.”

        Ibnu Hazm membantah kedustaan mereka ini dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah kedunguan dan kedustaan yang besar. Mereka menjadikan Allah memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam, yang berarti Allah dan Adam berbesanan. Mahasuci Allah dari kedustaan ini[8].

        Selain itu, di dalam Taurat yang mereka pegangi disebutkan bahwa Nabi Luth ‘alaihis salam digauli oleh dua putrinya secara bergantian saat beliau telah renta, setelah dibuat mabuk dengan diberi minum khamr. Akibatnya, kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya.

        Kita berlindung kepada Allah dari tuduhan keji mereka yang membuat gemetar kulit orang-orang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi[9].

        Ibnul Qayyim rahimahullah mendustakan ucapan orang-orang Yahudi bahwa lembaran-lembaran yang bertuliskan Taurat yang ada di belahan bumi timur dan barat saling bersesuaian. Ibnul Qayyim berkata, “Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab, Taurat yang berada di tangan orang-orang Nasrani berbeda dengan Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi. Taurat yang ada di tangan Samiri berbeda pula dengan keduanya. Demikian pula Injil, sebagiannya berbeda dengan yang lain dan saling bertentangan.”

        Ibnul Qayyim melanjutkan, “Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi memuat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang kentara bagi orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka (orang yang berilmu) yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam. Demikian pula Injil yang berada di tangan orang-orang Nasrani. Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan, dan pengurangan yang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang yang ilmunya mendalam. Mereka yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Injil yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada al-Masih Isa ‘alaihis salam.” (Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara, hlm. 101)

        Al-‘Allamah asy-Syaikh Rahmatullah bin Khalilur Rahman al-Kairanawi al-Hindi rahimahullah menyebutkan beberapa bukti bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Di antaranya, beliau menyebutkan fakta sejarah berkenaan dengan Taurat bahwa Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman Raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada 638 SM. Naskah (manuskrip) bertuliskan Taurat yang didapatkan setelah 18 tahun ia berkuasa tidak bisa dijadikan sandaran karena naskah itu dibuat-buat oleh al-Kahin Hilqiyya. Selain tidak bisa dijadikan sandaran, secara umum naskah itu hilang sebelum Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada 587 SM.

        Seandainya kita anggap naskah itu tidak hilang, ketika Bukhtanashar menguasai Palestina tentu ia akan memusnahkan Taurat dan seluruh Kitab Perjanjian Lama hingga tidak tersisa. Orang-orang Yahudi berdalih bahwa Uzara telah menulis sebagian lembaran Taurat di Babil, namun yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan Palestina.

        Ketika Suraya berkuasa antara 175—163 SM, ia berencana memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran helenisme Yunani. Ia pun menjual jabatan-jabatan pendeta Yahudi, membunuh sejumlah 40—80 juta pendeta Yahudi, merampas barang-barang yang ada di seluruh tempat ibadah Yahudi, beribadah kepada sesembahannya dengan menyembelih babi dan menyalakan api di atas tempat penyembelihan orang Yahudi, serta memerintahkan 20 ribu tentara untuk mengepung dan akhirnya menyerbu al-Quds pada hari Sabtu ketika orang-orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas al-Quds, meruntuhkan rumah dan pagar-pagar, menyalakan api di dalamnya serta membunuh semua orang yang ada di dalamnya sampai pun para wanita dan anak-anak. Tidak ada yang selamat pada hari itu kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua.” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 20—21)

        Demikian pula keberadaan Injil yang dipegangi orang-orang Nasrani. Injil ditulis jauh setelah diangkatnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, baik Injil yang konon katanya ditulis oleh Yohanes yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas, maupun Injil Matius. Cukuplah sebagai bukti ketidakotentikan Injil tersebut bahwa ada empat Injil ini yang isinya terdapat pertentangan satu sama lain. Injil-Injil itu bukanlah Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam.

        Asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi berkata, “Kitab samawi (yang diturunkan dari langit) yang wajib kita terima adalah kitab yang ditulis dengan perantara salah seorang nabi, dan sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung tanpa ada perubahan dan penggantian. Adapun kitab yang disandarkan kepada seseorang yang memiliki ilham dengan semata-mata persangkaan dan dugaan, tidaklah cukup untuk menetapkan bahwa kitab tersebut adalah karya orang itu, sekalipun ada satu atau beberapa kelompok yang mengaku-aku penyandaran tersebut.

        Tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama yang disandarkan kepada Musa, Uzra, Isy’aya`, Irmiya, dan Sulaiman ‘alaihis salam?! Tidaklah ada satu dalil pun yang tsabit (pasti benar) menunjukkan kesahihan penyandarannya kepada mereka karena hilangnya sanad yang bersambung atas kitab-kitab tersebut.

        Tidakkah engkau lihat juga bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru yang lebih dari 70 (buah) disandarkan kepada Isa, Maryam, Hawariyun dan pengikut mereka?! Kelompok-kelompok Nasrani yang ada sekarang telah sepakat tentang ketidaksahihan penyandaran kitab-kitab tersebut kepada Isa dan lainnya. Kitab-kitab itu justru termasuk kedustaan yang dibuat-buat. Berikutnya, ada kitab yang wajib diterima oleh menurut penganut Katolik, namun wajib ditolak menurut orang-orang Yahudi dan penganut Protestan….” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm.19)

        Dengan demikian, dari fakta-fakta yang ada semakin pasti bahwa kitab-kitab yang dipegangi oleh Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang disebutkan dalam al-Qur’anul Karim sehingga kita tidak wajib menerimanya. Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut ditempatkan sebagai berikut:

  • Setiap riwayat yang terdapat di dalamnya, apabila dibenarkan oleh al-Qur’anul Karim, riwayat tersebut diterima dengan yakin. Kita membenarkannya tanpa rasa berat.\
  • Namun, apabila riwayatnya didustakan al-Qur’an, kita menolaknya dengan yakin pula. Kita mesdustakannya tanpa keberatan.
  • Apabila al-Qur’an mendiamkannya—tidak membenarkan dan tidak mendustakan—, kita pun mendiamkannya. Kita tidak membenarkannya, tidak pula mendustakannya.

        Al-Qur’anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya. Maksudnya, al-Qur’an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya.

        Ulama Islam yang membantah isi Taurat dan Injil serta menampakkan kedustaan serta perubahan yang ada di dalamnya, tidaklah menujukan bantahannya kepada Taurat dan Injil yang diturunkan oleh Allah kepada Musa ‘alaihis salam dan Isa ‘alaihis salam. Yang dibantah adalah kisah dan riwayat-riwayat yang dikumpulkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepanjang beberapa kurun, yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wahyu dan ilham. Sungguh, Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa hanya satu, Injil yang diturunkan kepada ‘Isa hanya satu pula. Bagaimana bisa sekarang didapatkan ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?[10]” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hlm. 35—37)

        Wallahul musta’an.

Sikap yang Benar Terhadap Buku Ahlul Bid’ah

        Melihat Umar radhiyallahu anhu memegang lembaran yang bertuliskan Taurat sudah membuat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah karena marah. Padahal kitab Taurat merupakan salah satu kitab samawi, Kalamullah yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala dari langit, meski kemudian diubah-ubah dan diganti oleh Yahudi. Bagaimana kiranya jika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat buku-buku yang jelas tidak diturunkan dari langit, dan isinya justru bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah? Bagaimana kira-kira kemarahan beliau bila melihat kita membolak-balik buku tersebut dan membacanya? Apalagi ingin menyelami kebenaran yang—katanya—ada atau mungkin ada di dalamnya? Tentu saja kemurkaan beliau jauh lebih besar lagi. Wallahul musta’an.

        Bisa jadi, buku-buku yang ditulis ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu memiliki satu atau beberapa titik nilai kebenaran. Akan tetapi, kebenaran apa yang bisa diharapkan apabila ia dibalut dan diselimuti oleh sekian banyak kebatilan? Bukankah buku-buku yang selamat dari kebatilan masih banyak? Buku-buku yang ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah juga masih menggunung? Mengapa harus mempersulit diri dengan menyelami samudra kebatilan nan pekat karena ingin mendapatkan sebutir kecil mutiara kebenaran?

        Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah pernah memperingatkan seseorang untuk tidak membaca buku tulisan al-Harits al-Muhasibi dengan menyatakan, “Hati-hati engkau dari buku-buku ini, karena ini adalah buku-buku bid’ah dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar (hadits atau Sunnah Nabi) karena di dalamnya engkau akan mendapatkan kecukupan.”

        Ternyata orang itu berkelit dengan mengatakan, “Dalam buku-buku ini ada ibrah/pelajaran.”

        Apa jawaban Abu Zur’ah rahimahullah? Beliau menegaskan, “Siapa yang tidak mendapatkan ibrah dalam Kitabullah, niscaya tidak ada baginya ibrah dalam buku-buku ini.” (al-Mizan 2/165)

        Memberi peringatan (tahdzir) terhadap kitab-kitab yang memuat kebid’ahan dan kesesatan merupakan manhaj as-Salafus Shalih dengan mencontoh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengingkari perbuatan Umar ibnul Khaththab rahimahullah. Tahdzir ini bertujuan menjaga manhaj kaum muslimin dari mudarat dan bahaya yang terkandung dalam buku-buku tersebut. Tidak termasuk perbuatan zalim saat seorang muslim menasihati saudaranya untuk menjauhi buku-buku yang demikian karena ingin agar saudaranya terhindar dari mudarat, dengan semata menyebutkan kejelekan buku tersebut tanpa menyinggung kebaikannya. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hlm. 128, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi‘ bin Hadi al-Madkhali)

        Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Asy-Syaikh Muwaffaquddin rahimahullah menyebutkan larangan melihat buku-buku ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, ‘Generasi salaf melarang bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan mendengar ucapan mereka’.” (al-Adabus Syar’iyah, 1/251)

        Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata menukilkan ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, “Setiap buku yang menyelisihi as-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Justru yang diizinkan oleh syariat adalah menghapus dan memusnahkannya.”

        Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, “Para sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Utsman karena kekhawatiran akan timbulnya perselisihan di tengah-tengah umat. Bagaimana kiranya apabila mereka melihat buku-buku ini, yang menciptakan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat….”

        Ibnul Qayyim berkata lagi, “Maksud dari semua ini, buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib dimusnahkan dan dipunahkan. Memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat lagu dan musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Sebab, bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. Karena itu, tidak ada ganti rugi terhadap buku-buku tersebut sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam penghancuran bejana-bejana khamr.” (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa’if, hlm. 134)

        Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari

 

 


          [1] Ibnu ‘Aun mengatakan bahwa dia bertanya kepada al-Hasan, “Apa yang dimaksud dengan مُتَهَوِّكُوْنَ ?”

          Al-Hasan menjawab, “Orang-orang yang bingung.”

          Demikian disebutkan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/132), sebagaimana dinukilkan dalam al-Irwa’ (6/38). Al-Imam al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah apakah kalian bingung dalam ber-Islam? Kalian tidak mengetahui agama kalian hingga harus mengambil agama tersebut dari Yahudi dan Nasrani? (Syarhus Sunnah 1/271)

          [2] Artinya, betapa ibumu kehilanganmu. Orang yang mengucapkan hal ini seakan-akan mendoakan kematian lawan bicaranya karena jeleknya perbuatan atau ucapannya.

Bisa jadi, ia mengucapkannya untuk menyatakan, “Apabila engkau berbuat/berucap demikian, kematian lebih baik bagimu agar engkau tidak menambah kejelekan lagi.”

Bisa jadi pula, ucapan ini termasuk lafadz-lafadz yang biasa diucapkan orang Arab tanpa dimaksudkan sebagai doa, seperti ucapan mereka تربت يداك dan قاتلك الله. (an-Nihayah, hlm. 123)

          [3] Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai sanadnya hasan (Fathul Bari 13/408).

        [4] Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa dalam ayat ini dan yang sebelumnya ada peringatan agar tidak mengganti, mengubah, dan menambahi syariat. Maka dari itu, semua orang yang mengganti, mengubah, atau mengadakan hal baru (bid’ah) dalam agama Allah yang bukan bagian dari agama dan terlarang dalam agama, ia masuk dalam ancaman yang keras dan azab yang pedih tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/9)

          [5] al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 1/ 213—215

          [6] Lebih dari 114 tahun.

[7] al-Fishal 1/146.

[8] al-Fishal 1/147

          [9] al-Fishal 1/161

[10] Karena terbatasnya lembaran rubrik ini, kami tidak dapat memaparkan semuanya. Pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh dipersilakan membaca kitab-kitab seperti al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal karya Ibnu Hazm, al-Jawab ash-Shahih liman Baddala Dinal Masih karya al-Imam Ibnu Taimiyah, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara karya al-Imam Ibnul Qayyim, Izharul Haq karya asy-Syaikh Rahmatullah al-Hindi atau Mukhtasarnya.

Apakah Ahlul Bait Maksum?

        Jabir ibnu Abdillah radhiallahu ‘anhuma berkisah, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat haji Wada’ pada hari Arafah. Beliau menyampaikan khutbah sambil menunggangi untanya yang bernama al-Qashwa. Aku mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا: كِتَابَ الله وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْت

        “Wahai sekalian manusia! Sungguh, aku telah meninggalkan pada kalian dua hal, yang jika kalian mengambilnya, kalian tidak akan sesat, yaitu kitabullah dan ‘itrati ahlul baitku.”

  Lanjutkan membaca Apakah Ahlul Bait Maksum?

Sayyid Quthb, Pencela Sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum

Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, niscaya tidak mencapai (tidak bisa menyamai) infak satu mud salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.”

Lanjutkan membaca Sayyid Quthb, Pencela Sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum

Khilafah, Imamah dan Pemberontakan

Arfajah al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ، فَاقْتُلُوْهُ

“Siapa yang mendatangi kalian dalam keadaan kalian telah berkumpul/ bersatu dalam satu kepemimpinan, kemudian dia ingin memecahkan persatuan kalian atau ingin memecah belah jamaah kalian, maka perangilah/bunuhlah orang tersebut.”

Dalam lafadz lain,

إِنَّهُ سَتَكُوْنُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ، وَهِيَ جَمِيْعٌ، فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ

“Sungguh akan terjadi fitnah dan perkara-perkara baru. Barang siapa ingin memecah-belah urusan umat ini padahal umat ini dalam keadaan telah berkumpul/ bersatu dalam satu kepemimpinan, penggallah orang tersebut, siapa pun dia.”

Lanjutkan membaca Khilafah, Imamah dan Pemberontakan

Perpecahan Umat Antara Kemestian dan Azab

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ رَسُوْلُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ وَلَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهَا شَيْطاَنٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ قَرَأَ :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya, kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Setelahnya beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan-jalan. Tidak ada satu jalan pun dari jalan-jalan ini melainkan di atasnya ada setan yang mengajak kepadanya.” Beliau lalu membaca ayat, “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan ini dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Lanjutkan membaca Perpecahan Umat Antara Kemestian dan Azab

‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah[1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ وَخَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ.

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.

Lanjutkan membaca ‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Meninggalkan Jihad sebab Kehinaan dan Kerendahan

Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُم

‘Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan kuasakan/timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian’.”

  Lanjutkan membaca Meninggalkan Jihad sebab Kehinaan dan Kerendahan

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anha suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

‘Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki kebaikan baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama’.”

Lanjutkan membaca Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya