Kebebasan Berpendapat dalam Tinjauan Syariat

الْحَمْدُ ،ِلهلِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ؛

Amma ba’du;

Terjadi banyak perbincangan tentang dialog antaragama, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama di surat kabar, situs internet, ataupun di majelis-majelis umum dan khusus.

Apabila seorang muslim membahas tentang asal-muasal gagasan ini, dia tidak akan mendapatkannya melainkan dari musuh-musuh Islam, baik Yahudi, Nasrani, maupun kaum sekularis yang menanggalkan norma-norma agama dan akidah yang turun dari langit serta menanggalkan akhlak yang mulia.

Seorang muslim juga tidak akan menemukan adanya sandaran dari al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kebebasan yang mereka inginkan. Para pengusung kebebasan ini hanya melakukan pengaburan. Mereka tidak mampu membedakan antara perkataan serta perbuatan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan dan yang Allah ‘azza wa jalla larang. Mereka juga tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan.

Saya di sini tidak sedang berbicara dengan musuh Islam, tetapi bicara dengan orang yang telah ridha Allah ‘azza wa jalla sebagai Rabb-Nya dan sebagai penetap syariat, ridha Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul—atau orang yang mengaku demikian.

Saya mengajak mereka untuk kokoh di atas Islam dan konsisten dengannya sebagai akidah, jalan hidup, dan syariatnya. Itulah jalan yang lurus. Itulah doa yang senantiasa dia mohon kepada Allah ‘azza wa jalla dalam shalatnya, agar Dia menunjukinya,

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦

“Tunjukilah aku jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Itu pula yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk diikuti oleh kaum mukminin,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Dan bahwa ini merupakan jalanku yang lurus maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (al-Anam: 153)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa pada setiap jalan (yang menyimpang, –pent.) ada setan yang mengajak kepadanya, dan bahwa di sana ada para penyeru yang berada di atas Jahannam. Siapa saja yang menyambutnya, mereka akan melemparkannya ke dalamnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita darinya.

 

Saya katakan bahwa kebebasan yang benar sesungguhnya ada dalam agama Allah ‘azza wa jalla yang benar.

Agama yang datang dengan tujuan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kegelapan kebodohan, kekafiran, kesyirikan, dan akhlak yang rendah, menuju cahaya Islam yang mencakup tauhid, mengesakanAllah ‘azza wa jalla Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan yang memiliki sifat kesempurnaan dan sifat keagungan.

Agama yang mengesakan Allah ‘azza wa jalla satu-satu-Nya dalam hal ibadah dan hanya menghadap kepada-Nya dalam segala permohonan, berlindung kepada-Nya semata saat kesusahan.

Agama yang mengingkari thaghut (sembahan selain Allah ‘azza wa jalla) yang dijadikan oleh manusia yang sesat sebagai sembahan selain Allah ‘azza wa jalla, mengibadahinya, tunduk kepadanya, khusyuk kepadanya baik thaghut tersebut berbentuk manusia, batu, pohon, hewan-hewan, maupun makhluk lainnya, yang hidup maupun yang mati.

Inilah kebebasan yang benar. Ini pulalah pembebasan yang benar, yaitu seorang manusia yang dimuliakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan terbebas dari penghambaan terhadap selain-Nya ‘azza wa jalla.

 

Apakah para peletak asas kebebasan-kebebasan dan yang menyerukannya telah mengangkat manusia pada tingkat kebebasan tinggi ini yang pantas bagi kemuliaan manusia?

Jawabannya adalah tidak, dan tidak mungkin. Sesungguhnya mereka menginginkan manusia tetap terbelenggu dengan penghambaan yang hina sehingga setiap orang bisa menyembah apa saja yang dia maukan dan beragama dengan sesuai hawa nafsunya: agama-agama batil yang para nabi diutus dan diperintahkan untuk melenyapkannya, membersihkan bumi, membebaskan hamba-hamba akal-akal, keyakinan, dan akhlak darinya.

 

Manusia, baik rakyat maupun pemerintah, tidak akan merdeka kecuali dengan mengikuti agama dan syariat Allah ‘azza wa jalla yang adil dan hikmah yang:

  • menjaga agama manusia yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan,
  • menjaga kemuliaan, kehormatan, darah, nasab, dan harta mereka,
  • menjamin bagi mereka keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang hakiki,
  • memberangus kekacauan perundangan dan akhlak rendahan yang serbaboleh.
  • menanamkan pada jiwa manusia akidah yang benar, ibadah yang benar dan politik yang adil,
  • menanamkan pada jiwa mereka akhlak yang suci, di antaranya sifat jujur, amanah, adil, penyantun, dermawan, kelelakian dan keberanian, serta amar makruf nahi mungkar.
  • mengajak ke jalan Allah ‘azza wa jalla dengan hikmah dan nasihat yang baik,
  • menanamkan kebencian terhadap kekafiran, kefasikan, kemaksiatan, dan kekejian, baik dalam tutur kata maupun dalam perbuatan.

 

Pada seruan kepada kebebasan ini, apakah engkau dapatkan sebagian syariat yang datang dari Rabb, yang mengandung kesucian dan kebersihan, serta sifat membangun?

Adakah padanya kebebasan dari kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla serta peribadatan kepada selain-Nya yang tidak memiliki untuk diri mereka sendiri mudarat, manfaat, kematian, kehidupan, dan kehidupan setelah kematian?

Adakah padanya kebebasan dari akhlak yang rendahan dan ucapan yang batil?

Adakah padanya kebebasan dari kekacauan dan jiwa kehewanan dalam

hal agama dan akhlak?

Hal-hal yang disyariatkan dan diakui oleh berbagai seruan kepada kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan persaudaraan antaragama.

 

Wahai kaum muslimin, ambillah agama kalian dengan serius dan sekuatkuatnya. Gigitlah dengan gigi geraham. Tolaklah ajakan-ajakan kebebasan batil ini, yang dibuat oleh para musuh Allah ‘azza wa jalla dari kalangan setan berwujud manusia.

Tidak ada tujuan dan sasaran mereka selain kehancuran Islam berikut keyakinan-keyakinan yang agung, akhlak, dan ibadah suci yang ada di dalam Islam.

Seruan-seruan itu justru mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada Allah ‘azza wa jalla, pengagungan terhadap syariat-Nya, dan terhadap para rasul-Nya, menuju peribadatan kepada setan, hawa nafsu, pepohonan, bebatuan, arca-arca, makhluk-makhluk lainnya, serta mengikuti hawa nafsu dan menjerumuskan dalam kubangan kerendahan.

Maka dari itu, berpegangteguhlah kalian semua dengan tali Allah ‘azza wa jalla,  jangan berpecah-belah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang bersaudara dan saling menolong di atas kebenaran, serta antikebatilan.

 

Kaum muslimin semuanya wajib mengingat dan meyakini pada diri mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan mereka dengan sia-sia, tidak diberi perintah dan tidak pula diberi larangan, hingga setiap manusia boleh memilih apa yang dia inginkan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَن يُتۡرَكَ سُدًى ٣٦

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa ada perntah dan larangan)?” (al-Qiyamah: 36)

 

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mukminun: 115)

 

وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا بَٰطِلٗاۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ ٢٧

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Shad: 27)

 

Janganlah berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla semacam ini, dengan menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia sia-sia, Allah ‘azza wa jalla menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya tanpa hikmah dan tanpa tujuan.

Berbeda halnya dengan orang kafir yang tidak mengikuti para rasul, tidak membenarkan berita, janji, ancaman-ancaman-Nya, tidak menghormati syariat-Nya, tidak tunduk kepada perintah-Nya, tidak meninggalkan larangan-Nya, serta tidak mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

Tidak ada yang berburuk sangka dan membangkang terhadap Allah ‘azza wa jalla semacam itu kecuali orang-orang kafir. Orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla telah janjikan neraka bagi mereka, kekal di dalamnya dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Apakah orang-orang yang mengikuti mereka dan mengajak untuk menelusuri jalan mereka—bahkan berbangga dengannya—mengambil pelajaran, memahami, dan memerhatikan akibatnya?

Mereka adalah para penyeru menuju neraka Jahannam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang penasihat yang amanah, telah memperingatkan dari mereka. Maka dari itu, para ulama muslimin wajib memperingatkan umat dari seruan menuju kebebasan ini dan memperingatkan dari para penyerunya. Para ulama wajib menyingkap kejelekan dan kedok mereka dengan hujah dan bukti-bukti nyata.

 

Semua manusia wajib meyakini bahwa hak penetapan syariat adalah milik Allah ‘azza wa jalla semata. Tidak seorang pun memilikinya selain-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Yusuf: 40)

 

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (al-Isra: 23)

 

وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (asy-Syura: 10)

 

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yangmensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

 

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

          ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٥٧

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)

 

Demokrasi dan yang terlahir darinya—di antaranya kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan—artinya membolehkan selain Allah ‘azza wa jalla untuk menetapkan syariat, membolehkan syirik kepada Allah ‘azza wa jalla dan kafir terhadap-Nya, membolehkan perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Selain itu, demokrasi membolehkan perbuatan dosa dan melampaui batas tanpa batas, membolehkan bicara atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu, dan membolehkan perdebatan dengan cara yang batil.

Pendahulu mereka mengatakan sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

          كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحٖ وَٱلۡأَحۡزَابُ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۖ وَهَمَّتۡ كُلُّ أُمَّةِۢ بِرَسُولِهِمۡ لِيَأۡخُذُوهُۖ وَجَٰدَلُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّ فَأَخَذۡتُهُمۡۖ فَكَيۡفَ كَانَ عِقَابِ ٥

        “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku?” (Ghafir: 5)

 

Kaum muslimin semuanya wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mensyariatkan untuk mereka kecuali yang bermanfaat bagi mereka, memperbaiki kalbu, keadaan, dan kehidupan mereka, serta membahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Kaum muslimin wajib meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidaklah mengharamkan bagi mereka perkataan, perbuatan, akhlak, makanan, minuman, dan pernikahan, kecuali yang bermudarat, merusak kalbu, akhlak, dan kehidupan mereka.

Jadi, tidak ada suatu kebaikan dan kesempurnaan kecuali telah Allah ‘azza wa jalla syariatkan bagi umat ini. Tidak pula ada keburukan, mudarat, kesesatan, kezaliman, dan sikap melampaui batas, melainkan telah Allah ‘azza wa jalla haramkan.

 

          مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

 

          ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Jadi, apa sesungguhnya yang dikehendaki oleh orang yang mengaku Islam tetapi mengikuti musuh Islam, dengan menuntut untuk berdemokrasi, menyerukan kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, penyatuan agama, dan persamaan derajat agama?

Keadaan mereka seolah-olah berkata, sesungguhnya yang paling sempurna adalah selain Islam, yaitu yang ada pada musuh Islam. Itulah kemodernan yang tinggi, fondasi hidup yang mulia, yang umat Islam wajib mengambil cahaya darinya, berporos padanya, dan diikuti sesuai alurnya.

Padahal, merekalah yang terkecoh dan mengecoh. Tidaklah diambil dari kemodernan ini kecuali yang justru bermudarat dan menjadi sebab kehancuran. Sesuatu yang tidak menambah mereka dan pengikutnya selain kerugian, kehancuran, dan kemunduran.

 

Di antara kehinaan terbesar dan kerendahan serta penyelewengan dari jalur Islam, akidah, dan jalannya, adalah kita bertaklid kepada musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, Rasul-Nya, dan agama-Nya, dalam hal undang-undang dan aturan mereka.

(Kehinaan terbesar) saat kaidah dan akhlak mereka menggantikan sikap berpegang teguh dengan agama Islam, merasa mulia dengan keyakinan yang sahih, syariat yang penuh hikmah, manhaj (jalan hidup), dan akhlak luhur yang ada pada Islam.

 

Seharusnya, mereka mengajak pada ketinggian yang digariskan Islam dan pemeluknya yang telah memahami Islam, berpegang teguh dengannya, serta menerapkannya pada puncak ketinggian.

Banyak kaum muslimin terjun menuju kerendahan, kebodohan, dan kesesatan mereka. Banyak kaum muslimin bergantung pada demokrasi, berhukum dengannya, dan dengan segala peraturan jahiliah yang tumbuh darinya, dalam urusan terbesar dalam Islam.

Mereka menuntut penyamaan antara Islam dan agama kafir, serta menuntut Rasul yang mulia untuk bersikap adil berdalihkan dengan demokrasi yang dicanangkan oleh Yahudi, Nasrani, dan para pengingkar tuhan; yang bermaksud menghinakan kaum muslimin dan menghabisi syariat Rabb sekalian alam.

 

Wahai kaum muslimin yang sedang terpesona, bagaimana cara kalian menghukumi? Di mana pikiran kalian?

Mengapa kalian tidak mendengar jeritan ulama dan orang-orang bijak kalian yang berpandangan jauh di tengah kalian?

Sesungguhnya masalah ini benar-benar berbahaya, apabila Allah ‘azza wa jalla tidak menyelamatkan umat ini, kemudian para ulama dan orang bijak tidak melipatgandakan upaya dan kesungguhan mereka untuk menghalau arus yang kuat ini. Arus ini memiliki segala sarana jahat dan menghancurkan. Tujuannya adalah melenyapkan masyarakat muslimin, memberangus Islam, serta melemparkan mereka jauh dari agamanya.

 

Kaum muslimin wajib berbangga dengan agama mereka yang agung. Agama yang mensyariatkan mereka untuk mengatur ucapan dan perbuatan dalam segala urusan mereka, baik yang terkait dengan agama maupun dunia. Syariat agama mereka bermaksud menjauhkan mereka dari kehinaan, kehancuran, kezaliman, sikap melampaui batas, dan permusuhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran….” (an-Nahl: 90)

 

Maksudnya, dalam perkataan dan perbuatan. Apakah terdapat seperti syariat ini dalam kemajuan Barat dan demokrasinya?

Tidak, demi Allah ‘azza wa jalla, tidak ada keadilan, kebaikan, dan kesucian pada kemajuan dan demokrasi Barat. Yang ada hanyalah kezaliman dan melampaui batas. Tidak ada larangan dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi justru dianjurkan, dan dilindungi dengan dalih hak kebebasan.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)

 

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi harga diri dari pengolok-olokan serta penyematan berbagai julukan yang tidak baik.

Lihatlah, bagaimana Allah ‘azza wa jalla mencela perbuatan tersebut. Lihat pula, bagaimana Allah ‘azza wa jalla melindungi (manusia) dari ghibah. Allah ‘azza wa jalla menyerupakan pelakunya dengan seorang yang memakan daging orang lain yang telah mati. Allah ‘azza wa jalla menyebut demikian dalam rangka menampakkan kejelekan dan menjauhkan manusia dari perbuatan tersebut.

Apakah yang semacam ini ada pada kemodernan Barat, demokrasi dan segala aturan yang muncul darinya?

Sekali-kali tidak, demi Allah. Yang semacam ini tidak ada dalam demokrasi, yang membolehkan segala hal yang haram, termasuk zina, homoseksual, miras, dan riba. Demokrasi juga membolehkan keluar dari akhlak yang mulia, bahkan yang lebih parah dari itu.

Demokrasi juga memerangi agama Allah ‘azza wa jalla yang benar, bahkan kafir terhadapnya. Demokrasi berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memberangus agama Allah ‘azza wa jalla di tengah negeri muslimin.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ وَأُحِلَّتۡ لَكُمُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ إِلَّا مَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡۖ فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوۡثَٰنِ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠ حُنَفَآءَ لِلَّهِ غَيۡرَ مُشۡرِكِينَ بِهِۦۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَتَخۡطَفُهُ ٱلطَّيۡرُ أَوۡ تَهۡوِي بِهِ ٱلرِّيحُ فِي مَكَانٖ سَحِيقٖ ٣١  ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah (perintah Allah).

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 30—32)

 

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya, apakah Anda mendapati pengagungan terhadap hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla dan syiar-syiarnya?

Apakah ada padanya peraturan yang tegas untuk menjauhi berhala dan menjauhi ucapan palsu?

Apakah terdapat padanya peringatan—sedikit saja—dari perbuatan syirik terhadap Allah ‘azza wa jalla dan keterangan tentang bahayanya?

Sekali-kali tidak! Tidak ada padanya kecuali ajakan kepada kekafiran dan kesyirikan, serta perlindungan kepada berhala-berhala. Tidak ada padanya selain pembolehan ucapan dusta, kekafiran, dan kekejian, dengan dalih kebebasan beragama, kesucian agama-agama, serta kebebasan berpendapat.

 

Siapa saja yang menghormati Islam mestinya malu mengajak kepada demokrasi, berhukum padanya, atas nama kebebasan beragama dan kesucian agama-agama yang para rasul justru diutus untuk menghancurkan agamaagama batil tersebut.

Maksud dari semua ini, hanya dalam Islam terdapat keadilan dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Hanya dalam Islamlah terdapat bimbingan yang mengatur ucapan, keyakinan, dan perbuatan hamba.

Dalam kemajuan Barat dan demokrasinya terdapat kekacauan agama dan akhlak, dengan dalih kebebasan dan persamaan—yang dusta—antara yang hak dan yang batil. Kemajuan Barat justru mengunggulkan yang batil daripada kebenaran, mengunggulkan kekafiran dan kesyirikan daripada tauhid dan iman. Bahkan, mereka berusaha serius untuk menghabisi tauhid dan iman serta yang mengikuti keduanya.

 

Di antara ajaran Islam yang mengatur ucapan adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanamalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab: 70—71)

 

Perhatikan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan ucapkanlah ucapan yang tepat.” Perhatikan pula dalam ayat di atas perintah yang mengatur ucapan. Ini bertolak belakang dengan kekacaubalauan yang ada dalam kancah demokrasi. Orang diperbolehkan mengucapkan dan melakukan semaunya dengan alasan kebebasan berpendapat, walaupun itu adalah celaan dan cemoohan terhadap para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Muslim no. 47)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

”Sungguh, seorang hamba mengatakan sebuah kalimat yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya, ternyata menyebabkan dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)

 

Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang hamba mengatakan sebuah ucapan yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya,” adalah ia tidak memahami benar ucapannya serta tidak memikirkan keburukannya dan tidak takut akibatnya. Misalnya, ucapan di hadapan penguasa dan para pemimpin lainnya. Demikian pula tuduhan.

Atau maknanya adalah kalimat yang mencelakakan seorang muslim atau yang semacam itu. Ini semuanya terkandung padanya demi menjaga ucapan. Nabi juga melarang qila wa qala (mudah menerima dan menukil berita), serta banyak bertanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan agar lisan dijaga dan ditahan.

 

Sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Ibumu kehilangan kamu. Tidakkah manusia ditelungkupkan di neraka di atas wajah atau hidung mereka kecuali buah lisan mereka?!” (HR. at-Tirmidzi no 2616, dan beliau katakan, “Hadits hasan shahih.”)

 

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah kekejian ada pada sesuatu melainkan akan membuatnya jelek. Dan tidaklah rasa malu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1974)

 

Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya bagi seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, dan sungguh Allah membenci orang yang keji ucapannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2002)

 

Ayat dan hadits dalam masalah ini banyak. Di dalamnya terdapat adab-adab yang mulia dan pendidikan yang tinggi di atas keluhuran akhlak. Adab yang menyucikan jiwa, menjaga akidah, dan menjaga kehormatan dari penghinaan.

Namun, tidak ada yang mengetahui kemuliaannya kecuali orang-orang yang mulia, cerdas, para pemillik akal yang cendekia.

Apakah ada aturan semacam ini yang menjaga agama yang benar, akhlak yang luhur, dan kehormatan yang mulia, dalam kemajuan Barat, demokrasi, dan aturannya?!

 

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengutus para rasul membawa ayat-ayat yang nyata untuk membedakan antara iman dan kufur, tauhid dan syirik, al-haq dan al-bathil.

Allah ‘azza wa jalla menamai al-Qur’an yang diturunkan kepada penutup para rasul sebagai al-Furqan atau pembeda.

          تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (al-Furqan: 1)

 

Dalam hadits disebutkan,

وَمُحَمَّدٌ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

“Muhammad adalah pembeda di antara manusia.”

 

Allah ‘azza wa jalla juga menamai Perang Badar dengan furqan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Anfal: 41)

 

Maksudnya, hari Perang Badar yang dengannya Allah ‘azza wa jalla memuliakan kaum

muslimin, agama Islam dan menolong pemeluknya, menjadikan mereka unggul di atas kekafiran dan orang-orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hari dan perang ini yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

 

وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٧ لِيُحِقَّ ٱلۡحَقَّ وَيُبۡطِلَ ٱلۡبَٰطِلَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٨

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (al-Anfal: 7—8)

 

Membenarkan yang benar serta menyalahkan yang salah disyariatkan

oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla menghendakinya sebagai syariat di tiap waktu dan tempat.

Sementara itu, musuh-musuh Allah menginginkan selain yang diinginkan oleh Allah ‘azza wa jalla, para nabi-Nya, para Rasul-Nya, kaum mukminin yang jujur dan ikhlas, para pemilik ilmu dan akal yang cemerlang, yang tidak tertipu oleh tipu daya musuh Islam yang jahat.

Di antara makar mereka yang paling berbahaya adalah pencampuradukan antara Islam, Yahudi, Nasrani, dan Majusi, bahkan komunis. Mereka memerangi pemilahan ini. Padahal Allah ‘azza wa jalla mensyariatkannya untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah walaupun orang-orang jahat membencinya.

Maka dari itu, kokohlah di ataskebenaran ini. Kokohlah di atas pemilahan ini, perbedaan antara muslim dan kafir.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَتَّقُواْ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّكُمۡ فُرۡقَانٗا وَيُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ٢٩

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosadosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfal: 29)

 

          وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢

        “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

 

          وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ وَيُرِيدُ ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلشَّهَوَٰتِ أَن تَمِيلُواْ مَيۡلًا عَظِيمٗا ٢٧

        “Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (an-Nisa’: 27)

 

Yang lebih bahaya dan lebih parah daripada mereka adalah para penyeru penyatuan agama-agama, persaudaraan antaragama, kebebasan beragama, dan persamaan antaragama. Ingatlah firman Allah ‘azza wa jalla kepada Nabinya,

          وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡ‍ٔٗا قَلِيلًا ٧٤ إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَوٰةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرٗا ٧٥

        ”Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.

Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (al-Isra: 74—75)

 

Apa yang akan didapati oleh orang yang sangat condong kepada mereka, sementara Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          قُل لَّا يَسۡتَوِي ٱلۡخَبِيثُ وَٱلطَّيِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِيثِۚ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠٠

        Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 100)

 

Orang Barat tetap tidak akan berdialog dengan kalian pada posisi yang sebanding antara kalian dan mereka. Mereka akan berdiskusi dengan kalian layaknya posisi seorang tuan yang agung terhadap budaknya yang hina, dengan cara dialog orang yang memaksakan kehendak.

Allah ‘azza wa jalla telah memberikan dua permisalan yang membedakan antara tauhid dan syirik.

          أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥

        “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24—25)

 

Yang dimaksud pohon yang bagus adalah pohon kurma yang memberikan buahkan setiap waktu. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan kalimat yang baik La ilaha illallah berikut akidah, amal saleh, dan akhlak mulia yang tegak di atasnya.

Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ٢٦

        “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 26)

 

Para ahli tafsir menerangkan, “Sesungguhnya, pohon yang buruk tersebut adalah handzalah. Ia tidak punya batang dan tidak kokoh. Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai perumpamaan bagi kesyirikan dan kekafiran yang telah dibuat oleh setan. Yang menyambutnya adalah para pemeluk agama-agama sesat yang dihinakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Seandainya mereka beramal seberapapun amalnya, Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerimanya.”

Hal ini seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

          وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ٢٣

        “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (al-Furqan: 23)

 

Akhirnya mereka masuk ke neraka. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Akan tetapi, meski telah nyata pembedaan dari Allah ‘azza wa jalla antara Islam berikut muslimin dan kekafiran serta pemeluknya, masih saja ada orang yang mengaku Islam dan mengajak untuk mencampur dan menyamakan antara Islam dan agama agama kafir.

Mereka meminta kepada PBB serta badan-badan internasional untuk mengeluarkan keputusan penyamaan antara agama-agama. Bagi mereka, tidak ada penghalang jika Islam diletakkan paling belakang.

 

Kami berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari sikap hina semacam ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَرُدُّوكُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡ كَٰفِرِينَ ١٠٠ وَكَيۡفَ تَكۡفُرُونَ وَأَنتُمۡ تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ وَفِيكُمۡ رَسُولُهُۥۗ وَمَن يَعۡتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدۡ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٠١

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 100—101)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩  بَلِ ٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلنَّٰصِرِينَ ١٥٠

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran: 149—150)

 

Mereka yang terkecoh dengan masalah dialog antaragama, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hendaknya memahami bahwa kaum imperialis Barat hanya ingin memaksakan pemikiran mereka. Mereka menolak dialog selain dengan diri mereka sendiri atau dengan pihak yang berjalan di atas jalur mereka.

Bacalah apa yang dikatakan oleh seorang ahli filsafat Barat sekaligus penulis berkebangsaan Prancis, Jules Regis Debray, saat memberi catatan atas karikatur yang menghina Rasulullah, “Jalan pemikiran orang Eropa masih bersifat menjajah.”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar mingguan, dia meminta Prancis sebagai bagian Eropa untuk tidak berusaha memaksakan pemikiran mereka kepada orang yang berilmu dan agama berperan besar pada dirinya.

Dia mengatakan juga, “Kita telah melepas topi besi, tetapi pemikiran kita masih tetap pemikiran penjajah.”

Dia mengatakan sebagai penjelasan (maksudnya), “Kami menginginkan agar dunia ini seluruhnya seperti kami. Kalau tidak, kami akan menilainya sebagai negara terbelakang dan anarkis.”

Dia tambahkan, “Sesungguhnya, cacat sejarah yang ada pada para pengacau dan yang membolehkan segala cara di negeri kita, menetes murni dari hati penjajah.”

Dia mengatakan pula, “Orang Barat berbangga dengan aturan ….. Akan tetapi, dia menolak berdialog kecuali dengan sesamanya, atau dengan orang Timur yang berwawasan Barat. Kami serahi mereka tugas untuk mengabari kami sesuatu yang menyenangkan kami.”

Bukti yang sangat nyata atas apa yang dia katakan—dan telah dipahami sebelumnya oleh orang cendekia dan sadar—sudah sejak sekitar 30 tahun lalu para petinggi Nasrani mengajak untuk berdialog antaragama. Diadakanlah seminar-seminar antaragama. Ternyata, mereka tidak bergerak menuju Islam walau selangkah. Justru pihak yang mereka ajak dialog bergerak menuju mereka dan jalan mereka.

Seandainya mereka dihadapkan pada hakikat yang ada pada Islam, tentu dialog akan berhenti. Orang-orang gereja akan lari sebagaimana larinya kelinci dari singa.

Orang yang berwawasan Barat dan bersemangat untuk dialog seperti ini wajib diwaspadai dan diketahui tujuan mereka, sebagaimana telah disadari oleh filosof Prancis ini yang kemudian menjelaskan hakikat mereka.

Akhirnya, saya mengajak kaum muslimin, baik pemerintah maupun rakyat, untuk secara serius berpegang teguh dengan agama Islam ini, berbangga dengannya.

Para penguasa hendaknya mendidik putra-putra mereka, rakyat,dan pasukan perang dengan nilai-nilai Islam, akidah, manhaj, hukum-hukum, dan siasatnya, melalui madrasah, universitas, surat kabar, majalah serta website-website.

Hendaknya pemerintah mengatur dan mengarahkan berbagai sarana ini dengan baik. Bahkan, penguasa hendaknya mengharuskan berbagai lembaga dan sarana tersebut menyebarkan akidah Islam, manhaj, dan akhlaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٤١

        “Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 41)

Semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi-Nya, keluarga, dan para sahabat beliau, serta memberinya salam yang banyak.

Buah karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Prinsip Agung Antiliberalisme

Berikut ini beberapa prinsip agung dalam agama ini. Kami sebutkan dengan ringkas guna membentengi muslimin dari pengaruh paham liberalisme.

 

  1. Kebenaran Berasal dari Allah ‘azza wa jalla

Salah satu prinsip yang sangat agung adalah bahwa kebenaran itu datang dari Allah ‘azza wa jalla . Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” (al-Kahfi: 29)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan katakan, wahai Muhammad, kepada manusia,‘Inilah yang aku bawa dari Rabb kalian, itulah yang benar yaitu yang tiada keraguan padanya…’.” ( Tafsir al-Qur’anil al-Azhim, 3/86)

Salah satu asmaul husna adalah al-Haq (Yang Mahabenar), maka ucapannya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya tiada sekutu bagi-Nya itulah yang benar, dan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada-Nya itu benar.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 949 bagian “Ushul wa Kulliyat”)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, Allah Mahabenar, Kajian ucapan-Nya benar, agama-Nya benar, kebenaran adalah sifat-Nya, kebenaran dari-Nya dan untuk-Nya.” (Madarijus Salikin 2/333)

 

Jadi, dari Allah ‘azza wa jalla-lah kebenaran. Kebenaran bukan sesuatu yang nisbi atau relatif hingga setiap orang bisa mengklaimnya, seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya.

Kebenaran bukan pula diambil dari kitab ‘tidak suci’ atau ajaran-ajaran selain Islam yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Bukan pula Islam sebagai “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, bahkan bisa ada dalam filsafat Marxisme, seperti kata Cak Nur dan orang sejenisnya, seperti Ulil Abshar Abdalla.

 

  1. Jalan Kebenaran Hanya Satu

Jalan kebenaran yang akan menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hakikatnya hanya satu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٥٣

        “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah ‘azza wa jalla kepadamu agar kamu bertakwa.” (al-An’am: 153)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kata sabil (jalan-Nya) dengan bentuk tunggal karena kebenaran hanya satu. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyebut jalan lain dengan bentuk jamak (jalan-jalan) karena bercabang-cabang dan berpencar-pencar.”

 

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ رَسُولُ اللهِ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ مُسْتَقِيمًا. قَالَ: ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ السُّبُلُ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ؛ ثُمَّ قَرَأَ:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggariskan sebuah garis untuk kami lalu mengatakan, ‘Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla.’

Beliau membuat garis-garis di kanan-kirinya kemudian berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan (lain) yang disetiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.’ Lalu beliau membaca ayat, ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain).’ (al-An’am: 153).” (Sahih, HR. Ahmad dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Zhilalul Jannah no.16 & 17 hlm. 13)

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebab, jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla hanya satu,yaitu ajaran yang Allah ‘azza wa jalla utus dengannya para Rasul-Nya dan Allah ‘azza wa jalla turunkan dengan-Nya kitab-kitab-Nya. Maka dari itu, tidak ada seorang pun akan sampai kepada-Nya kecuali melalui jalan ini.

Seandainya semua manusia datang dari segala jalan dan minta dibukakan pada setiap pintu, semua jalan itu tertutup dan semua pintu itu terkunci kecuali jalan ini. Sesungguhnya jalan itu berhubungan dengan Allah ‘azza wa jalla dan akan menyampaikan kepada-Nya.”(at-Tafsirul Qayyim hlm. 14—15 dinukil dari Sittu Durar hlm. 53)

 

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabbmu Yang Benar. Tidak ada sesudah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (Yunus: 32)

 

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ulama kami berkata, ‘Ayat ini menghukumi bahwa antara kebenaran dan kebatilan tidak ada pilihan ketiga dalam masalah ini, yaitu masalah tauhid. Demikian pula dalam masalah-masalah yang serupa yaitu masalah prinsip yang kebenaran itu hanya ada pada satu pihak.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 8/336)

 

Dengan demikian, prinsip ini membabat habis teologi pluralis dan gagasan bahwa kebenaran itu nisbi, seperti yang dikatakan JIL dan para pengikutnya. Sebab, konsekuensi dari pendapat mereka, al-haq/kebenaran bukan hanya satu, dan bahwa perpecahan tidak salah atau tercela, bahkan benar dan terpuji. Ini artinya menggugurkan prinsip amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Sungguh, pendapat ini menyelisihi kesepakatan orang-orang yang berakal waras/sehat, lebih-lebih orang yang berilmu. Selain itu, pendapat ini juga menyelisihi dalil.

 

  1. Agama Islam Telah Sempurna

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

        ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang terbesar terhadap umat ini yang Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka. Dengan demikian, mereka tidak membutuhkan agama dan nabi selain Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Allah ‘azza wa jalla mengutusnya kepada jin dan manusia.

Maka dari itu, tidak ada yang halal kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan, tidak ada agama kecuali yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan; segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, tiada mengandung kedustaan dan penyelewengan….”

Ibnu Katsir lalu menyebutkan riwayat dari Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau menafsiri ayat ini, katanya, “Yaitu Islam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin bahwa Dia ‘azza wa jalla telah melengkapi Islam untuk mereka sehingga mereka tidak butuh tambahan selama-lamanya.

Allah ‘azza wa jalla juga telah menyempurnakannya maka Dia ‘azza wa jalla tidak akan menguranginya selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla juga telah meridhainya sehingga tidak akan marah kepadanya selama-lamanya.” (Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim 2/14)

 

Jadi, agama Islam ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan, pengurangan, atau perubahan dari siapapun. Barang siapa menganggapnya perlu ditambah, berarti ia menganggapnya belum sempurna. Barang siapa menganggapnya perlu dikurangi, itu adalah upaya meruntuhkan kesempurnaan Islam. Barang siapa ingin mengubahnya, itu adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap Islam.

Betapa berbahaya upaya orang-orang JIL dan ahli bid’ah seluruhnya ketika mengurangi sekian banyak hukum Islam. Di sisi lain, mereka menambah dengan yang baru dan mengubah-ubah hukum Islam. Allah ‘azza wa jalla sajalah tempat mengadu.

 

  1. Halal Adalah Apa yang Dihalalkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; Haram Adalah yang Diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

        Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla tiadalah beruntung. (an-Nahl: 116)

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla melarang untuk mengikuti jejak orang musyrikin yang menghalalkan dan mengharamkan sekadar dengan keputusan mereka berdasarkan rasio mereka…

Termasuk dalam ayat ini adalah setiap orang yang membuat bid’ah yang tidak ada sandaran syariatnya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan mengharamkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla halalkan sekadar dengan pendapat akal dan hawa nafsunya.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim: 2/611)

 

Penentuan hukum halal dan haram sedemikian berat. Berdasarkan hal itu, kita mengetahui betapa jauhnya kesesatan siapa pun yang berani menghukumi ini dan itu halal atau haram tanpa ilmu, seperti orang-orang JIL. Di antara mereka ada yang menghalalkan nikah dan waris beda agama, menganggap vodka bisa jadi halal di Rusia, menggagas untuk mengubah aturan haji, dan berbagai kelancangan lainnya.

Mereka yang mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla halalkan dan sebaliknya, dalam keadaan tahu bahwa dengan begitu ia menyelisihi hukum Allah ‘azza wa jalla, berarti telah menempatkan dirinya pada posisi Rabb yang memiliki hak membuat syariat. Tentu saja, ini adalah kesyirikan.

 

  1. Seluruh Syariat Allah ‘azza wa jalla Mengandung Keadilan, Maslahat, dan Hikmah

Sebab, Allah Mahahakim. Salah satu asmaul husna adalah الْحَكِيمُ al- Hakim. Artinya, Dzat Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah ‘azza wa jalla bagi kaum yang yakin?” (al-Maidah: 50)

 

Allah ‘azza wa jalla tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dia ‘azza wa jalla juga tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.

Di antara hikmah syariat Islam— di samping sebagai maslahat terbesar bagi hati, akhlak, amal, serta istiqamah dalam jalan yang lurus—adalah juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Urusan dunia tidak akan menjadi baik secara hakiki kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Sesungguhnya, ketika umat Muhammad menegakkan agama ini, pokok dan cabangnya, seluruh petunjuk dan bimbingannya, keadaan mereka akan sangat baik dan mapan.

Namun, ketika mereka melenceng darinya, sering meninggalkan petunjuknya, dan tidak mengikuti bimbingannya yang luhur, urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.”(diringkas dari penjelasan ahli tafsir, asy-Syaikh as-Sa’di)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

          وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١١٥

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 115)

 

Qatadah rahimahullah berkata, “(Yakni) benar dan jujur pada apa yang Dia katakan, adil pada hukum-Nya. Dia katakan dengan jujur dan benar pada berita-berita-Nya, adil dalam tuntutan/perintah-Nya.

Jadi, semua berita-Nya pasti benar, tiada keraguan padanya. Setiap perintah-Nya pasti adil, tiada keadilan selainnya. Setiap larangan-Nya pasti batil karena tidaklah Ia melarang kecuali karena mafsadatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 2/173, lihat pula Tafsir as-Sa’di hlm. 270 dan Zubdatut Tafsir hlm. 181)

 

Barang siapa mengubah sebagian syariat Allah ‘azza wa jalla, seperti yang dilakukan oleh JIL, dengan alasan apapun—walaupun alasan maslahat—sungguh, sebenarnya ia sedang mengarah dan mengarahkan manusia kepada kerusakan dan bahaya.

Sungguh, si pelaku sebenarnya tidak tahu alias jahil terhadap hikmah Allah ‘azza wa jalla dalam syariat-Nya. Akan tetapi, dirinya merasa lebih mengerti daripada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Bagaikan katak dalam tempurung.

Tidak benar pula bila dikatakan bahwa sebagian syariat Islam perlu dikaji ulang atau direvisi, bahkan diamandemen, dengan alasan tidak lagi relevan dengan abad ini atau dengan perkembangan zaman.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Pengaruh Liberalisme dalam Akhlak

Liberalisme tidak tumbuh dengan bimbingan agama, tetapi tumbuh untuk menentang dan bebas dari keterikatan agama. Sudah tentu pemahaman ini berkembang menuju kebebasan berekspresi.

Termasuk pula dampak terhadap akhlak manusia, pemahaman liberal tidak mau terikat dengan ikatan-ikatan dalam berperilaku. Pemahaman ini tidak menilai baik-buruknya sebuah perilaku dengan standar umum, apalagi dengan standar agama.

Prinsip kebebasan akan membuatnya lepas dari semua ikatan tersebut. Individualisme akan menumbuhkan sikap egoisme dan menang sendiri, lebih mementingkan kepentingan sendiri, dan memunculkan sikap pelit. Dari individualisme pula akan muncul sikap kurang peduli terhadap kaum duafa di sekitarnya, membuahkan sistem kapitalis, hanya berpikir untuk keuntungan pribadi dengan segala cara seperti riba.

Itu semua karena ia merasa bebas dalam menggunakan cara apapun. Tak ayal akan bermunculan kezaliman, mengikuti hawa nafsu, sombong, dan berbagai akhlak buruk yang lain.

Lihat keterpurukan akidah (keyakinan) dan akhlak liberalis. Ulil Abshar membela kaum LGBT dengan mengatakan, “Lihat saja apakah ada azab untuk negeri2 yg menolerir LGBT? Mereka malah pada makmur semua.”

Di antara mereka ada yang mendukung perkawinan sejenis dan menulis buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis.

Ulil Abshar pun membela Syiah dalam cuitannya (27/6/2015), “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

Ulil Abshar juga membela Ahmadiyah melalui cuitannya (14/10/2014), “Jawaban saya atas tuduhan ngawur Dubes Malaysia itu: Saya bukan orang Ahmadiyah. Tetapi saya membela hak Ahmadiyah ada di Indonesia.”

Mereka juga merendahkan orang yang mengikuti sunnah dalam berpakaian muslimah. Melalui akun twitternya (3/8/2014), Ulil mengomentari sebuah foto seorang ibu dan putri muslimah bercadar beserta dua kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah, “Take care of your trashes. Cleanliness is part of faith. Wait, which one is the trash?

Artinya, “Urus sampahmu. Kebersihan sebagian dari iman. Tunggu, yang mana sampahnya?”

Kita berlindung kepada Allah dari segala kesesatan.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Bahaya Liberalisme dari Sudut Pandang Akidah

Seseorang yang memerhatikan paham liberalisme akan tahu bahwa paham ini hakikatnya adalah anti ajaran agama. Sebab, ia sejak awal tumbuh dalam cuaca penentangan terhadap ajaran agama. Tiga prinsip utamanya: kebebasan, individualisme, dan rasionalisme. Semuanya menunjukkan ketidaksiapan untuk terikat dengan ajaran agama, bahkan menentang ajaran agama.

Oleh karena itu, kita akan mendapati seorang penganut sejati liberalisme akan terjatuh pada sekian banyak perkara kekafiran.

Seorang liberalis murni yang sejak awal antiagama tidak termasuk dalam pembahasan kita. Akan tetapi, jika ada seorang muslim yang berjalan menuju gerbang liberal, maka perhatikanlah ke mana Anda melangkah!

Seorang muslim yang nekat memasuki gerbang liberalisme berarti sedang mempertaruhkan agamanya. Kasihilah diri kalian, selamatkan diri kalian dari murka Allah ‘azza wa jalla, lalu dari siksa-Nya. Masalah ini amat berbahaya bagi agama seseorang.

Berikut ini beberapa pokok pembatal keislaman yang akan menjerumuskan seorang liberalis sejati pada kesalahan tersebut.

 

  1. Menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah ‘azza wa jalla

Keyakinan bahwa suatu hal itu halal atau boleh-boleh saja, sedangkan hal tersebut telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan keharamannya disepakati ulama, maka ini berarti kemurtadan.

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata dalam kitab asy-Syifa, “Kaum muslimin sepakat tentang kafirnya orang yang menghalalkan pembunuhan, minuman keras, atau perbuatan zina; karena itu semua telah diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. (Dia divonis kafir) setelah dia tahu bahwa hal tersebut haram….”

Dalam kitab Kifayatul Akhyar, kitab fikih bermazhab Syafi’i, disebutkan bahwa seseorang yang menghalalkan sesuatu yang haram dan disepakati keharamannya disebut kafir.

Dalam kitab lain dalam mazhab Syafi’i yang berjudul Asna al-Mathalib, karya asy-Syaikh Zakariya al-Anshari, beliau mengutip ucapan al-Bulqini, “Hal ini berkonsekuensi bahwa jika ada seseorang yang menghalalkan sesuatu yang memabukkan, maka dia kafir. Sebab, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal haramnya sesuatu yang memabukkan.”

Seorang liberalis sejati akan membolehkan atau menghalalkan siapapun untuk berkeyakinan apapun,[1] beragama apapun. Semuanya dianggap sah berdasarkan asas kebebasan yang mereka anut. Menurut mereka, hal itu adalah hak asasi masing-masing, hak individual.

Dalam keyakinan liberal, secara rasional seseorang boleh memandang agama tertentu sebagai agama yang saat ini pantas baginya. Sebagaimana dibenarkan juga pada waktu lain, liberalis memandang agama lain yang lebih pantas baginya dan iapun berpindah kepadanya.

Sebab, kebenaran adalah sesuatu yang relatif menurut mereka. Lebih parah lagi ketika mereka mengatakan bahwa semua agama sama, pluralisme.

Dalam kasus lain, bisa saja seorang liberalis mengatakan bahwa minuman keras hukumnya halal di suatu daerah tertentu, berdasarkan tinjauan rasional. Siapa pun berhak berpendapat demikian demi kebebasan berpendapat sebagai refleksi atas hak asasi manusia. Padahal khamr, minuman keras, apapun sebutannya dan apa pun merknya pada masa ini, hukumnya dalam agama adalah haram sebagaimana disepakati ulama.

Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, tokoh liberal, pernah mengatakan bahwa vodka (sejenis minuman keras) bisa dihalalkan di Rusia karena daerahnya sangat dingin.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menyatakan bahwa konsensus (kesepakatan) telah tegak bahwa minuman keras sedikit ataupun banyak adalah haram. Telah sahih sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua yang memabukkan adalah haram.” Barang siapa menghalalkan sesuatu yang disepakati haram, maka dia kafir. (Kitab Nailul Authar)

Penghalalan terhadap apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, mengandung takdzib dan juhud. Takdzib artinya ketidakpercayaan atau pendustaan. Juhud artinya ingkar setelah mengetahui.

Dengan menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, berarti dia tidak memercayai kebenaran itu berada pada hukum yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan. Ketika dia tahu bahwa suatu hukum merupakan ketetapan Islam lantas dia ingkari, maka dia terjatuh dalam sikap juhud.

Takdzib dan juhud merupakan kekafiran besar. Takdzib adalah sikap kafirnya orang-orang musyrik yang sejak awal tidak mengimani kebenaran yang datang. Adapun juhud adalah sikap kafirnya Fir’aun yang mengetahui kebenaran Nabi Musa ‘alaihissalam namun mengingkarinya. Demikian pula sikap kafirnya orang Yahudi yang mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun mengingkarinya. Seperti itu pula sikap kafirnya sebagian orang musyrik yang sebenarnya mengetahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai contoh antipengharaman secara syar’i, John Mill berkata, “Sesungguhnya pengharaman itu menyentuh kebebasan pribadi karena pengharaman berarti menganggap seseorang tidak tahu maslahat pribadinya.” (Hakikat Libraliyyah, hlm. 139)

 

  1. Keraguan

Yang dimaksud di sini adalah keraguan terhadap kebenaran sebuah hukum yang telah ditetapkan dengan tegas berdasarkan dalil yang sahih, al-Qur’an atau hadits yang sahih, merupakan kekafiran. Sebab, keraguan semacam ini adalah lawan dari iman, yang artinya membenarkan dengan yakin. Keraguan merupakan sikap kafir sebagian orang-orang munafik.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا يَسۡتَ‍ٔۡذِنُكَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِي رَيۡبِهِمۡ يَتَرَدَّدُونَ ٤٥

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.” (at-Taubah: 45)

Oleh karena itu, iman tidak akan benar selama masih ada keraguan. Di sisi lain, keyakinan merupakan syarat sahnya iman. Dalam ayat disebutkan,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)

 

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Barang siapa yang kamu jumpai di belakang kebun ini bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla dengan kalbunya yakin dengan kalimat itu, maka berikan kabar gembira kepadanya bahwa ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

 

Seorang liberalis sejati dengan prinsip kebebasan berpendapat tidak akan sampai pada keyakinan yang mantap bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain adalah salah, termasuk dalam hal keagamaan seseorang. Dia akan menganggap apa yang diyakini orang lain bisa saja benar dan dia tidak boleh memastikan bahwa orang lain salah, sebagaimana dia tidak boleh meyakini bahwa yang benar hanya yang dia yakini.

Ini jelas merupakan keraguan yang berlawanan dengan keyakinan dan percaya penuh, yang merupakan syarat sahnya iman.

Mungkin juga seorang liberalis akan terjatuh pada sikap kontraproduktif. Dia meyakini bahwa yang dia yakini adalah benar dan yang diyakini orang lain juga benar. Padahal keduanya merupakan keyakinan yang bertolak belakang. Ini tampak jelas pada pluralisme yang mereka yakini.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Siapa yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdusta dalam hal yang beliau sampaikan dan beritakan, atau ragu akan kejujuran beliau, maka dia kafir menurut kesepakatan (ulama).”

 

  1. Kekafiran penolakan beserta kesombongan

Maknanya, menolak untuk tunduk kepada syariat dikarenakan sombong.

Ini adalah kekafiran iblis terlaknat. Karena kesombongannya terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam, dia menolak tunduk pada perintah Allah ‘azza wa jalla untuk sujud kepada Adam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (al-Baqarah: 34)

 

Syaikhul Islam berkata, “… Seseorang tidak menentang kewajibannya tetapi tidak mau melakukannya karena sombong, iri, atau benci kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Dia berkata, ‘Saya tahu bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkannya atas muslimin, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jujur saat menyampaikan al-Qur’an.’

Akan tetapi, orang ini tidak mau melakukannya karena sombong, iri terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, fanatik terhadap keyakinannya, atau benci terhadap ajaran yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia juga kafir menurut kesepakatan ulama.

Sebab, sesungguhnya ketika tidak mau sujud sebagaimana yang diperintahkan, Iblis tidak mengingkari kewajibannya karena Allah ‘azza wa jalla langsung bicara dengannya. Akan tetapi, dia menolak dan sombong. Jadilah dia tergolong makhluk yang kafir.”(Kutub wa Rasail wa Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim)

Seorang liberalis sangat rawanterjatuh pada kekafiran semacam ini. Dengan prinsip rasionalnya, dia mengultuskan akal. Akhirnya, kebaikan dan kebenaran adalah yang sesuai dengan akalnya, dan yang salah adalah yang tidak sesuai dengan akalnya. Akan sangat mungkin seorang liberalis merendahkan pihak lain. Sangat mungkin pula dia menolak mengikuti syariat Islam dalam hal tertentu karena unsur kesombongan.

Tidak jarang kita dapati orang-orang liberal mengejek, menghina, dan mengolok-olok pihak lain yang sedang melaksanakan syariat Islam. Ini merupakan sikap sombong. Kemudian di atas kesombongannya tersebut, dia tidak mau tunduk kepada syariat, sama dengan sikap Iblis.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

[1] Membolehkan di sini bermakna ‘menghalalkan’, lawan dari ‘mengharamkan’. Berbeda hukumnya saat seseorang yang hidup dalam sebuah negara berkata, ‘Di sini boleh saja seorang beragama Nasrani.’ Maksudnya, dia menceritakan bahwa aturan dalam negara tersebut membolehkan seseorang untuk beragama selain Islam, tidak berarti dia berkeyakinan boleh dan halalnya seseorang beragama dengan selain Islam.

Seorang muslim, secara keyakinan agamanya tetap meyakini setiap orang di mana pun berada wajib beragama Islam, dan bahwa yang tidak beragama Islam berarti dia kafir.

Sebagai contoh, di negeri muslimin, seorang Nasrani tetap boleh hidup berdamai dengan muslimin. Dia berstatus sebagai kafir dzimmi, tetap dalam agamanya dan dijaga serta dilindungi oleh pemerintah Islam dengan dia membayar jizyah. Namun, seorang muslim secara agama tetap berkeyakinan bahwa Nasrani tersebut salah dalam beragama dan melanggar hukum Allah ‘azza wa jalla dalam hal kewajiban untuk beragama Islam.

Liberalisme Memasuki Berbagai Lini

Paham liberalisme tumbuh di tengah manusia yang bermasyarakat, hingga masuk ke berbagai lini kehidupan. Liberalisme masuk ke ranah politik, ekonomi, bahkan akhirnya masuk pula ke ranah agama. Paham ini lantas memengaruhi sebuah masyarakat, baik yang beragama maupun tidak.

 

  1. Liberalisme dalam ranah politik

Liberalisme masuk ke ranah politik, sehingga kehidupan politik dan tata negara tidak boleh bertentangan dengan asas liberalisme itu sendiri, yaitu kebebasan.

Dalam kacamata liberalis, negara hanya sebuah alat untuk melindungi hak asasi manusia yang merupakan hukum abadi, yang seluruh peraturan atau hukum yang dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya.

Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat. Kebijakan rakyat adalah kebijakan publik. Lahirlah darinya demokrasi.

Dengan asas kebebasan, sistem ini mempersilakan siapapun untuk berpendapat, memilih, dan mengkritik; sehingga ahli maksiat sekalipun memiliki hak untuk memasuki arena perpolitikan.

Repotnya, ketika para ahli maksiat itu menjadi jumlah terbesar, kebijakan mereka akan menjadi kebijakan publik yang akan dimenangkan, sehingga suara orang saleh akan tenggelam dan tak terdengar sekalipun sesaleh para wali, karena kesalihan agama tak punya nilai lebih dalam kancah perpolitikan kaum liberal.

Ayat Allah,

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ ٣٥

“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (al-Qalam: 35)

tak mendapat tempat.

Karena asas kebebasan yang dianut, tak jarang dalam kancah perpolitikan liberal terjadi berbagai persaingan yang tak sehat. Sebab, liberalisme jauh dari norma-norma agama, tidak terikat dengan bimbingan agama. Bahkan, liberalisme menganggap agama tempatnya hanya di masjid, bukan dalam ranah ketatanegaraan. Urusan antara negara dan agama dipisah, sekuler.

Panggung kritik terbuka lebar dalam arena pergulatan politik liberal. Persaingan politik yang bernapaskan ambisi kekuasaan pun menjamur. Mereka saling mengkritik, menjatuhkan, dan membuka aib di arena terbuka. Semua itu sah-sah saja, sekalipun dilakukan kepada pemimpin muslim yang sedang berkuasa.

Dalam konteks politik liberalis, tak berlaku hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيهِ

“Barang siapa hendak menasihati seorang penguasa, maka janganlah dia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya dia memegang tangannya dan menyendiri dengannya. Bila dia menerimanya, maka itu yang diharapkan. Kalaupun tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ibnu Abi Ashim, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Bisa kita bayangkan, bahkan kita rasakan, ketika politik ala liberal itu diberlakukan; yaitu kegaduhan politik yang mengganggu stabilitas keamanan. Sebab, penguasa lagi tidak mempunyai wibawa di mata rakyatnya, seorang rakyat bisa dengan semena-mena berbicara mengkritisi penguasanya bagaimanapun statusnya.

Entah sejauh mana jangkauan pandangnya, seluas apa wawasannya, ‘sebagus’ apa adabnya dalam menyampaikan kritik, sehingga orang semacamnya dibenarkan dan dibiarkan bebas menyampaikan pendapatnya.

 

Dalam bingkai politik liberal, ucapan sahabat mulia, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, tidak berlaku.

  نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ :لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ وَلَا تَبْغَضُوهُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Para pembesar kami dari para sahabat melarang kami, “Janganlah kalian mencela penguasa penguasa kalian, jangan curang terhadap mereka, jangan membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah, dan sabarlah, urusan ini telah dekat.” (Riwayat Ibnu Abi Ashim dalam kitab as-Sunnah: asy-Syaikh al-Albani berkata, “Sanadnya bagus.”)

 

  1. Liberalisme dalam ranah ekonomi

Perkembangan liberalisme sangat terkait dengan kaum borjuis. John Locke, salah satu tokoh liberal, menyebutkan bahwa kepemilikan pribadi termasuk yang terpenting dari hak asasi manusia. Asas kebebasan harus dimanfaatkan untuk menjaga bahkan mengembangkan kepemilikan pribadi tersebut.

Kebebasan tatanan ekonomi memainkan peranan dalam memajukan masyarakat yang bebas. Kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas. Jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan.

Di sisi lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah cara yang sangat diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasar adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain.

Jadi, terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal. Sebab, kapitalisme adalah sebuah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan perekonomian, seperti: memproduksi, menjual, dan menyalurkan barang.

 

Dalam perekonomian kapitalis, setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.

Berbagai sistem ekonomi akan digali dan dicari tanpa mengacu kepada hukum agama dan norma masyarakat yang mulia. Istilah lintah darat tidak berlaku dalam sistem perekonomian liberal. Lintah itu telah berdasi, berada dalam ruangan AC duduk di kursi, sehingga tidak seram lagi. Tidak berlaku dalam sistem ekonomi liberal.

Firman Allah,

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

 

Liberalisme di Kalangan Muslimin

Barat sangat berkepentingan untuk memberikan tafsir terhadap Islam dengan tafsiran ala liberal sejak dini. Sebab, hal tersebut mewujudkan berbagai kepentingan untuk menguasai negeri muslimin. Mereka sangat paham bahwa melenyapkan Islam dari negeri muslimin adalah sesuatu yang mustahil.

Mereka mengetahui bahwa penyelewengan dari ajaran Islam merupakan cara yang manjur untuk menghilangkan pengaruh Islam pada kaum muslimin. Demikian pula, penafsiran Islam dengan tafsir liberal akan menguatkan hubungan negeri kaum muslimin dengan tradisi Barat yang akan semakin memperkuat cengkraman Barat terhadap muslimin.

Segala kepentingan mereka akan bisa mereka lakukan, baik politik maupun ekonomi. Lebih dari itu, mereka bisa mengubah keyakinan (akidah) dengan menanamkan sekularisme dan pluralisme di tengah muslimin.

Ketika liberalisme masuk ke ranah agama Islam, pastilah akan merusak ajaran Islam baik dari sisi akidah, ibadah, maupun akhlak. Ini sudah terbukti.

Tafsir liberalis terhadap Islam sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Parahnya, mereka tetap saja menyematkan nama Islam pada pemikirannya “Islam liberal”, padahal ajaran mereka itu anti-Islam.

Lihat saja dalam hal akidah. Mereka mengusung paham pluralisme yang meyakini semua agama sama dan benar sehingga menyerukan penyatuan agama. Paling tidak, mereka menanamkan keyakinan bahwa seseorang boleh memeluk agama selain Islam. Setiap orang berhak—menurut hak asasi manusia—untuk memilih agamanya, tidak meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkan Islam atas mereka.

Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mewajibkan semua manusia untuk berislam. Firman Allah,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Dalam hal ibadah, kita dapati mereka dengan gegabah seenak selera mereka mengotak-atik ibadah dengan tafsir liberal, sampai-sampai waktu musim haji pun ingin mereka ubah.

Ibadah yang sifatnya sakral berani mereka politisir semau mereka. Bagaimana halnya dengan ibadah yang lain? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ.

“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak atas dasar perintah kami, maka itu tertolak.” (Sahih, HR. Muslim)

Dalam hal akhlak, kaum liberal merupakan kaum yang ingin berakhlak semau mereka sendiri dengan sikap mendukung LGBT (lesbi, gay, biseksual, dan transgender), merendahkan orang yang taat beragama, bahkan tidak lagi beradab terhadap Allah ‘azza wa jalla. Bagaimana akhlak mereka terhadap Nabinya dan terhadap sesama manusia?

Dalam hal politik bernegara, pastilah mereka akan memisahkan antara agama dengan negara, sekularisme. Mereka tidak mau terikat dengan aturan yang mengikat mereka. Negara justru harus mendukung kebebasan dengan makna yang luas.

Dalam hal ekonomi, prinsip mereka adalah bagaimana bisa menjaga kepemilikan pribadi dan menguntungkan pribadi tanpa perhatian dengan ajaran agama, sehingga terciptalah paham kapitalisme dalam bidang ekonomi.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Liberalisme Mengancam

Liberalisme menjadi alat perusak. Liberalisme menjadi tunggangan berbagai kepentingan. Liberalisme jahat.

Apa itu liberalisme?

Liberalisme mengandung makna ‘kebebasan’, kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris, liberalism.

Liberalisme adalah sebuah paham yang mengusung kebebasan pribadi dan berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan pribadi. Asal katanya adalah kata liberty (Inggris) dan liberte (Prancis), yang inti maknanya adalah ‘kebebasan’.

Menurut kaum liberal, tugas inti negara adalah melindungi kebebasan penduduknya, seperti: kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, kepemilikan pribadi, dan kebebasan pribadi.

Liberalisme bisa dimaknai sebagai suatu paham filsafat politik yang berkeyakinan bahwa kesatuan agama bukanlah sesuatu yang pasti dalam mengatur suatu masyarakat yang baik; bahkan undang-undang harus menjamin kebebasan pendapat dan keyakinan.

 

Prinsip Liberalisme

  1. Kebebasan

Kebebasan yang dimaksud adalah bebas dalam berperilaku, merdeka dalam perbuatan, tanpa ada campurtangan negara atau siapapun. Tugas negara adalah melindungi kebebasan tersebut.

Namun, bagaimanapun kebebasan tersebut tetap terikat dengan undang-undang, karena undang-undang merupakan suatu keharusan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, undang-undang bagi mereka bukan sesuatu yang bersifat memaksa dan membatasi kebebasan; karena menurut mereka, kebebasan merupakan hak asasi manusia.

 

  1. Individual

Individual sangat erat dengan kebebasan, sehingga individualisme bertujuan pada kemerdekaan pribadi dan kebebasannya. Di masyarakat Barat, egoisme menjadi sifat yang mendominasi pada masa kebebasan mereka dari tekanan ajaran gereja sampai abad ke-20. Inilah yang kemudian diikuti oleh para penganut ajaran liberalisme.

 

  1. Rasional

Yang dimaksud dengan prinsip rasional adalah kemerdekaan akal dalam mengetahui maslahat dan manfaat tanpa membutuhkan kekuatan dari luar.

Ketergantungan mereka terhadap akal kian menguat setelah masa kemerdekaan mereka dari pengaruh tekanan gereja. Puncaknya adalah abad ke-19 sebagai puncak kejayaan kaum liberal.

Di antara aplikasi mereka dalam hal rasionalisasi adalah negara berlepas dari keagamaan penduduknya, karena kebebasan memiliki konsekeunsi tidak adanya kepastian. Sebab, tidak mungkin sesuatu sampai kepada hakikatnya kecuali melalui penalaran akal dan percobaan. Sebelum menjalani percobaan, seorang manusia berada dalam kebodohan terhadap hal-hal yang sifatnya universal.

Inilah sebabnya mereka tidak pernah sampai kepada sesuatu yang pasti, ini yang kemudian disebut dengan prinsip toleransi. Hakikatnya adalah berlepas dari keterikatan dengan ajaran agama. Prinsip ini memberi manusia hak untuk meyakini apa saja yang dia maukan serta mengumumkannya, dan negara wajib memberikan jaminan hak ini kepada penduduknya.

Dengan demikian, kebertumpuan kepada akal serta keterlepasan dari nilai-nilai agama dan akhlak yang mulia menjadi ciri khas paham liberalisme. Sebab, akal liberalis adalah akal yang tidak beriman melainkan kepada sesuatu yang tampak saja, bukan yang gaib.

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Sahabat Nabi di Mata Syiah

Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi terbaik. Mereka adalah kaum yang telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan kalimat Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi. Mereka telah mengorbankan darah, harta, dan jiwa untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala pun telah meridhai mereka.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah menjaga lisan dan tidak mencela para sahabat, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara sahabat-sahabatku. Sebab, seandainya kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidaklah infak itu mencapai (pahala infak) salah seorang sahabatku sebanyak satu mud atau separuhnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim (4/1967) no. 2541)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa membenci kaum Anshar adalah tanda kemunafikan. Sebaliknya, mencintai sahabat Anshar adalah tanda keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

Tanda keimanan adalah mencintai sahabat Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Anshar.” (HR. Muslim)

 

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Sahabat Nabi

Syiah Rafidhah memenuhi mulut mereka dengan caci maki kepada generasi terbaik umat Islam. Bahkan, mereka mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari Syiah Rafidhah. Sebab, ketika Yahudi dan Nasrani ditanya tentang manusia yang terbaik di sisi mereka, pastilah mereka mengatakan para sahabat Musa dan para sahabat Isa. Ketika Syiah Rafidhah ditanya siapa manusia yang terburuk, mereka akan menjawab, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akidah ini tertuang dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah Rafidhah. Semua buku mereka dihiasi dengan celaan dan cercaan serta pengkafiran terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini beberapa nukilan dari buku-buku mereka.

 

  1. Al-Kisysyi, “imam al-jarh wat ta’dil Syiah Rafidhah”, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?”

Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian ia menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144.

          وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Rijalul Kisysyi hlm. 12—13, dinukil dari asy-Syi’ah al- Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

 

  1. Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Keyakinan ini dinyatakan pula oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya, Hayatul Qulub (3/640). (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

 

  1. Muhammad Baqir al-Majlisi berkata, “Akidah kami tentang sahabat ialah kami berlepas diri dari empat berhala: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Mu’awiyah. Kami juga berlepas diri dari empat wanita: Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri pula dari semua pendukung dan pengikut mereka. Mereka semua sejelek-jelek makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.

Sungguh, tidaklah sempurna iman seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam kecuali dengan berlepas diri dari musuh-musuh mereka (yakni seluruh sahabat dan orang-orang yang mencintai sahabat).” (Haqqul Yaqin hlm. 519, Muhammad Baqir al-Majlisi)

 

Tiga riwayat dari sumber-sumber pokok Syiah Rafidhah di atas menunjukkan keyakinan mereka yang tidak mungkin mereka elak bahwa semua sahabat Rasul sepeninggal beliau murtad, kecuali beberapa orang yang mereka sebut namanya.

Pada riwayat di atas tampak pula keyakinan Syiah Rafidhah terhadap sahabat Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencela dan melaknat keduanya. Bahkan mereka menyebutnya sebagai berhala, thaghut.

Mengafirkan, melaknat, dan berlepas diri dari keduanya, adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114) wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….”[1] (al-Khuthuth al-’Aridhah, hlm. 18, Muhibbuddin al-Khathib)

Mereka juga mengkafirkan Utsman bin Affan dan melontarkan sekian banyak tuduhan keji kepada beliau. Di antara tuduhan mereka, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu telah membunuh istri beliau sendiri, Ruqayyah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keyakinan ini disebutkan dalam sebuah kitab Ahlus Sunnah yang merangkum ucapan-ucapan sesat Syiah, yaitu Aujazul Khithab fi Bayani Mauqif asy-Syi’ah minal Ash-hab (hlm. 94, Abu Muhammad al-Husaini).

Mereka meyakini pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan mengetahui pembunuhan yang dilakukan oleh Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu terhadap putrinya, Ruqayyah radhiallahu ‘anha. Sungguh, keyakinan dan tuduhan Rafidhah tentang Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu adalah celaan dan pelecehan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita katakan kepada mereka, “Wahai Syiah Rafidhah, wahai musuh Allah, setelah Ruqayyah dibunuh oleh Utsman bin Affan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Utsman dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum? Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak punya kasih sayang? Bahkan, ketika Ummu Kultsum meninggal, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya aku masih memiliki putri yang lain, sungguh akan kunikahkan dia dengan Utsman.”

Lebih keji lagi, sebenarnya mereka telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhianat. Mengapa beliau tidak menegakkan qishash terhadap Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu atas perbuatannya membunuh Ruqayyah?!

Wahai Rafidhah, benarlah ucapan para ulama, bukan para sahabat yang kafir, melainkan kalianlah orang-orang yang menyandang kekafiran. Di samping itu, Syiah Rafidhah meyakini bahwa istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan para istri beliau lainnya, adalah pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Keyakinan mereka ini terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) ucapan Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara min ar-Rafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demi Allah, jawablah pertanyaan ini, “Jika istri, ibu, atau anak wanita Anda dituduh berzina, ridhakah Anda? Lantas bagaimana jika yang dituduh adalah Ummahatul Mukminin, para ibunda kaum mukminin, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah pantas seorang muslim diam dan duduk manis?”

Jawablah, wahai Rafidhah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa mendidik istriistrinya? “Apakah Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa memilihkan istri terbaik untuk Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya, “Tidaklah Allah menjadikan Aisyah sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali karena beliau sosok wanita yang baik, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik di antara manusia terbaik. Seandainya Aisyah adalah seorang yang buruk, niscaya tidak pantas menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demikian nukilan-nukilan celaan mereka terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum. Yang sangat aneh dan sangat menjijikkan, Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, adalah pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (sang pemberani dan pembela agama).

Berikutnya, hari kematian ‘Umar mereka jadikan sebagai hari Iedul Akbar, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari berkah, dan hari bersukaria. (al-Khuthuth al-’Aridhah hlm. 18)

Demikian keji dan kotor mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka adalah sekelompok orang yang berambisi untuk menghabisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya, agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh juga.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

 

Khatimah

Demikian beberapa kesesatan Syiah Rafidhah. Semua yang telah kita sebutkan adalah pokok-pokok agama yang mereka selisihi. Masih banyak kesesatan mereka yang lain, di antaranya:

  • keyakinan tentang imamah,
  • kebencian yang sangat besar terhadap para ulama ahlu hadits, seperti al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim,
  • pengkafiran seluruh kaum muslimin (Ahlus Sunnah),
  • pengagungan terhadap Tanah Karbala (yang mereka yakini sebagai tempat terbunuhnya sahabat Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma) melebihi Tanah Suci Makkah dan Madinah,
  • pengagungan terhadap makam yang mereka yakini sebagai makam ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
  • pengagungan makam para pemimpin mereka melebihi Ka’bah Baitullah al-Haram,
  • penyakralan hari yang mereka anggap sebagai hari terbunuhnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib (hari Asyura, 10 Muharram),
  • perayaan hari tersebut besar-besaran.
  • syirik dalam peribadatan,
  • keyakinan bolehnya nikah kontrak (nikah mut’ah), yaitu akad nikah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk jangka waktu tertentu (sehari, dua hari, atau lebih) tanpa wali, bahkan sangat mengagungkannya,
  • penamaan diri mereka sebagai Jamaah Ahlul Bait yang mengaku mencintai ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) padahal mereka sangat mencela ahlul bait.

 

Saudaraku muslim, inilah potret Syiah Rafidhah, sekaligus potret Iran sebagai perwujudan Negara Syiah Rafidhah.

Kekufuran yang nyata dari kaum Syiah Rafidhah dan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah tentang kesesatan mereka menunjukkan bahwa kampanye taqrib (penyatuan dan persaudaraan) antara Sunni dan Syiah Rafidhah di Indonesia adalah sebuah makar besar untuk menghancuran negeri ini dan kaum muslimin di dalamnya.

Hasbunallahu wa ni’mal wakil.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dan Hafshah radhiallahu ‘anha

Kedustaan di Balik Revolusi Iran

Banyak orang tertipu dengan revolusi Iran. Mereka menyangka itu adalah revolusi Islam. Revolusi Iran adalah kedustaan, seakan-akan memperjuangkan kemuliaan Islam melawan Amerika, antek Yahudi, namun sejatinya adalah revolusi untuk menyebarkan Syiah dan menancapkan kekuasaan Syiah di dunia.

Dengan lantang Khomeini meneriakkan slogan la syarqiyah wa la gharbiyah Islamiyah Islamiyah, (Tidak timur tidak barat, namun perjuangan Islam, perjuangan Islam). Bahkan, dengan lantang Khomeini berani mengatakan bahwa Amerika adalah setan besar.

Luar biasa, di saat negara-negara Islam tidak terdengar perlawanannya, dengan penuh keberanian Khomeini menantang Amerika.

Manusia terkagum-kagum hingga lupa hakikat Syiah Rafidhah yang demikian dengki dan licik dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin. Manusia tersihir dengan bualan kosong Khomeini. Semua itu hanya kamuflase. Revolusi Syiah mengesankan bahwa Iran bermusuhan dengan Amerika, senyatanya ia adalah sekutu.

Sejenak kita renungkan, sejak revolusi 1979 hingga saat ini, pernahkah terjadi perang antara Amerika dan Iran? Pernahkah rudal nuklir Iran diarahkan kepada Amerika dan sekutunya? Tidak sama sekali. Semua ini adalah sandiwara dan kedustaan Syiah Rafidhah.

 

Hakikat Syiah Rafidhah

Jangan tertipu dengan sandiwara Rafidhah. Sesungguhnya mereka memiliki keyakinan-keyakinan kufur yang sangat bertolak belakang dengan Ahlus Sunnah. Secara resmi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa Syiah bukan sekadar kelompok biasa. Ia adalah aliran yang telah divonis sesat dan keluar dari akidah Islam oleh para ulama.

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional pada Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang paham Syiah sebagai berikut.

Paham Syiah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya:

  1. Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait[1], sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membeda-bedakan, asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadits.
  2. Syiah memandang “Imam” itu maksum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syiah tidak mengakui ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam.”
  4. Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
  5. Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Baar as-Shiddiq, Umar Ibnul Khaththab, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakr, Umar, Usman, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah (Pemerintahan)” Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah.

Demikian pernyataan MUI dalam Rapat Kerja Nasional Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984. Pada bulan April 2013 MUI juga menerbitkan membagi-bagikan buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia.”

Dalam Kata Pengantar buku tersebut hlm. 7, dikatakan, “Buku ini berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah, yang disusun berdasarkan referensi primer dan data yang valid, serta yang dapat diketahui dari aktivitas Syiah di Indonesia. Buku saku ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi umat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah, sebagaimana yang terjadi di Indonesia, sebagai ‘Bayan’ resmi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tujuan agar umat Islam tidak terpengaruh oleh paham Syiah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI.”

Kesesatan Syiah Rafidhah sejatinya perkara yang terang benderang dan tidak perlu diperdebatkan. Pernyataan MUI telah memberikan gambaran umum kepada masyarakat tentang bahaya Syiah Rafidhah.

Untuk lebih mengenal kekufuran kaum Syiah Rafidhah, berikut ini kita ulas kembali beberapa kesesatan mereka dan perbandingannya dengan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

Pertama: Tentang Al-Qur’an

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, al-Qur’an adalah kitab hidayah. Allah subhanahu wa ta’ala berjanji menjaga lafadz-lafadznya dari penambahan atau pengurangan, demikian pula menjaga maknanya hingga hari kiamat. Al-Qur’an dinukilkan kepada umat secara mutawatir. Allah subhanahu wa ta’ala mudahkan dada-dada kaum muslimin, bahkan anak-anak kecil, menghafalkannya. Allah subhanahu wa ta’ala menyiapkan para ulama yang gigih memperjuangkan dan menjaga al-Qur’an.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sedikit pun kebatilan dalam al-Qur’an sebagai sumber utama dalam memahami Islam.

Adapun Rafidhah, keyakinan mereka terhadap al-Qur’an adalah keyakinan kufur. Mereka meyakini para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah ditambah dan dikurangi. Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjaga al-Qur’anul Karim.

Menurut mereka, al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan. Al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah. Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Keyakinan-keyakinan kufur ini bukan tuduhan tanpa bukti. Keyakinan ini tertera dalam kitab-kitab induk Syiah Rafidhah. Dalam kitab al-Kafi karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini diriwayatkan bahwa Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])

Dari Abu Abdillah, ia berkata, “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu.”

Abu Bashir berkata, “Apa mushaf Fathimah itu?”

Ia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian….” (al-Kafi 1/239—240, dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Abu Abdillah berkata, “Surat al-Ahzab membuka keburukan-keburukan wanita Quraisy. Surat itu lebih panjang daripada surat al-Baqarah, tetapi oleh para sahabat dikurangi dan diubah.” (Bihar al-Anwar, 89/50)

Bahkan, ahli hadits mereka, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum Syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarang pada 1292 H itu mengumpulkan sekian banyak riwayat dusta dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah diubah dan menyimpang.

Keyakinan ini sesungguhnya merupakan celaan dan tikaman terhadap Ali bin Abi Thalib dan ahlul bait, bahkan merupakan celaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun celaan kepada Ali, karena mereka telah menuduh Ali berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar. Bukankah beliau ketika itu menjadi khalifah? Mengapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Mengapa al-Hasan dan al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi mereka?

Mereka juga mencela Allah subhanahu wa ta’ala dengan keyakinan tersebut. Sebab, makna ucapan mereka adalah Allah subhanahu wa ta’ala telah berdusta dan tidak memenuhi janji untuk menjaga al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala lemah, tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?

Wahai Syiah Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangka itu? Empat belas abad lamanya disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah menurut akidah kalian—yang batil—mereka maksum (terbebas dari dosa)? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan dosa yang besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.

Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab? Apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabad-abad manusia dalam keadaan tidak tahu kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian?

Sungguh, ini adalah celaan kalian kepada Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan, celaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Kedua: Metode Memahami Al-Qur’an

Dalam memahami al-Qur’an, Ahlus Sunnah selalu berpegang dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ahlus Sunnah menjauhi jalan orang-orang yang berbicara tanpa ilmu. Ahlus Sunnah mengembalikan tafsir al-Qur’an kepada hadits-hadits Rasul yang sahih dan pemahaman salaful ummah. Ahlus Sunnah sangat jauh dari jalan-jalan Yahudi dan Nasrani yang selalu mengubah ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan Syiah Rafidhah, mereka seperti Yahudi dan Nasrani. Menambah lafadz dan menguranginya. Mereka juga lancang menafsirkan ayat al-Qur’an sekehendak akal dan hawa nafsu mereka.

Siapa saja yang membaca tafsir Syiah Rafidhah, akan mendapati bahwa pengubahan terhadap agama Allah subhanahu wa ta’ala dan al-Qur’an yang mereka lakukan lebih parah daripada yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani.

Pada kesempatan ini kita coba ketengahkan beberapa contoh penyimpangan tafsir Rafidhah sekaligus menjelaskan tentang beberapa ushul tafsir Syiah Rafidhah dan perubahan yang telah mereka lakukan terhadap al-Qur’an.

Di awal surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

“Alif Laam Mim. Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 1—2)

Orang-orang yang bertakwa, mereka tafsirkan sebagai ‘pengikut Ali radhiallahu ‘anhu’ yakni kaum Syiah Rafidhah! Selain Syiah Rafidhah, kafir!

Masih dalam surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.” (al-Baqarah: 26)

Mereka mengatakan yang dimaksud nyamuk adalah Ali radhiallahu ‘anhu, sedangkan yang lebih rendah dari nyamuk adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali radhiallahu ‘anhu mereka anggap seperti nyamuk, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih rendah dari itu. Ini termasuk perbuatan zindiq sekaligus dan cercaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mengherankan penafsiran mereka. Terkadang Ali radhiallahu ‘anhu dianggap sebagai binatang yang melata di muka bumi. Terkadang Ali adalah bintang, terkadang matahari, terkadang langit, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai buah Tin dan Ali radhiallahu ‘anhu sebagai buah zaitun, para imam (mereka) sebagai bukit Sinai.

Masih dalam surat al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah Musa dan kaumnya,

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تَذۡبَحُواْ بَقَرَةٗۖ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” (al-Baqarah: 67)

Syiah Rafidhah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sapi betina yang diperintahkan untuk disembelih adalah Aisyah binti Abu Bakr ash-Siddiq radhiallahu ‘anha.

Penafsiran al-Qur’an mereka benar-benar mencapai puncak kekufuran. Dengan penafsiran itulah mereka mengubah-ubah al-Qur’an, lebih keji daripada perbuatan Yahudi dan Nasrani. Semua ayat tentang tanda-tanda kemunafikan, kekufuran, siksaan, ayat-ayat celaan dan ancaman, diterapkan kepada para sahabat, terkhusus Abu Bakr radhiallahu ‘anhu. Mereka meyakini bahwa Abu Bakr akan disiksa dengan siksaan yang paling keras, seperti Iblis. Penyebutan setan dalam ayat-ayat al-Qur’an mereka tafsirkan dengan Umar bin al-Khaththab.

Ayat-ayat tentang Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan, menurut mereka adalah keluarnya sang penegak hukum, yakni Imam Mahdi versi mereka! Dan berbagai macam penyelewengan yang tak terhitung banyaknya terhadap kitab Allah.

 

Ketiga: Penetapan Sifat Rububiyah bagi Imam Mereka

Ahlus Sunnah wal Jamaah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, serta dalam nama-nama dan sifat-Nya. Terhadap para nabi dan orang-orang saleh, Ahlus Sunnah mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka sesuai dengan koridor syariat. Ahlus Sunnah tidak mengultuskan dan mengangkat derajat mereka lebih dari yang semestinya, apalagi memberikan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka.

Adapun Syiah Rafidhah memiliki keyakinan syirik. Sifat khusus bagi Allah subhanahu wa ta’ala mereka berikan untuk imam-imam mereka. Mereka meyakini bahwa para imam mengetahui perkara yang gaib. Di samping itu, mereka menetapkan kemaksuman untuk seluruh imam mereka. Keyakinan ini tertera dalam literatur-literatur utama Syiah Rafidhah dan terucap dari lisan tokoh-tokoh mereka.

Salah satu kalimat kekufuran terlontar dari tokoh besar Syiah Rafidhah, Khomeini. Dia berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang maksum, sejak ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia, al-Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman—baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (al-Washiyah al-Ilahiyah, hlm. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

 

Keempat: Tentang Taqiyah

Taqiyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka kemunafikan, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan asy-Syiah al-Itsna ‘Asyariyah, hlm. 80)

Tokoh mereka, Khomeini mendefinisikan keyakinan sesatnya, “Taqiyah maknanya berkata sesuatu yang menyelisihi kenyataan, atau mengamalkan amalan yang menyelisihi timbangan syariat (agama Syiah Rafidhah). Itu semua dilakukan untuk menjaga darah, kehormatan, dan harta.” (Kasyful Asrar hlm. 147)

Akidah ini sangat bermanfaat bagi penganut agama Syiah Rafidhah. Apabila bersendiri di tengah-tengah Ahlus Sunnah, mereka berpura-pura bersama Ahlus Sunnah. Mereka berkata dan berbuat sesuatu yang tidak mereka yakini, sembari mencari celah untuk memasukkan kerancuan-kerancuan agama dan kesesatan mereka.

Taqiyah hakikatnya adalah kemunafikan, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (al-Baqarah: 14)

Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah berusaha menetapi perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk selalu jujur dan bersama dengan orang-orang yang jujur. Ahlus Sunnah jujur dalam mengucapkan kalimat tauhid, jujur dalam beramal, jauh dari kemunafikan, riya, dan kesyirikan. Ahlus Sunnah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ahlus Sunnah mengatakan bahwa yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil.

Syiah Rafidhah justru berkeyakinan bahwa taqiyah (kedustaan dan kemunafikan) adalah bagian dari agama. Bahkan, mereka meyakini bahwa taqiyah adalah sembilan per sepuluh dari agama.

Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami, “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya 9/10 dari agama ini adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyah.” (al-Kafi 2/175, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)

Lebih keji lagi, mereka menisbatkan taqiyah (baca: kedustaan dan kemunafikan) kepada imam-imam mereka.

Ketika Syiah Rafidhah ditanya, “Mengapa Ali bin Abi Thalib tidak terang-terangan menampakkan keyakinannya? Mengapa beliau tidak mengeluarkan al-Qur’an Fathimah, justru mendiamkan para sahabat mengubah al-Qur’an? Mengapa beliau membiarkan umat dalam kesesatan?”

Syiah Rafidhah akan menjawab bahwa Ali melakukan hal itu karena taqiyah, menyembunyikan hakikat keyakinan beliau. Artinya, Ali berbuat kemunafikan di hadapan seluruh manusia dan berpura-pura bersama yang lain. Beliau melakukan itu karena takut terancam harta, jiwa, dan kehormatannya dengan sebab kezaliman Abu Bakr, Umar, dan Utsman yang ketika itu menjadi khalifah.

Allahu akbar! Celaan yang luar biasa terhadap Ali radhiallahu ‘anhu.

Syiah telah menyematkan sifat pendusta kepada Ali radhiallahu ‘anhu dan menuduhnya sebagai penakut. Padahal beliau orang yang sangat pemberani. Beliaulah orang yang dengan berani menggantikan posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, siap untuk dibunuh. Beliaulah pembawa bendera Perang Khaibar sekaligus penakluk benteng Khaibar.

Kemudian kita tanyakan lagi kepada Syiah Rafidhah, “Wahai Syiah Rafidhah, setelah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menjadi khalifah, mengapa beliau tetap saja berdusta kepada umat, tidak menyatakan bahwa Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum telah berkhianat merebut kekhalifahan dari Ali dan mengubah al-Qur’an? Mengapa pula al-Qur’an Fathimah masih tetap beliau pegang?”

Demikianlah keadaan Syiah Rafidhah. Agama mereka dibangun di atas kedustaan. Oleh karena itu, ketika ditanya tentang mereka, al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka. Jangan pula meriwayatkan dari mereka. Sebab, sungguh mereka itu selalu berdusta.”

Demikian pula al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam hal persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27—28, karya al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah)

 

Kelima: Tentang Raj’ah (Reinkarnasi)

Di antara keyakinan sesat Syiah Rafidhah adalah keyakinan raj’ah. Raj’ah adalah keyakinan bahwa orang-orang yang telah meninggal akan hidup kembali di dunia.

Tentang surat al-Qashash ayat 85,

          إِنَّ ٱلَّذِي فَرَضَ عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لَرَآدُّكَ إِلَىٰ مَعَادٖۚ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.”

‘Ahli tafsir’ mereka, al-Qummi berkata, “Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah raj’ah (hidup kembali di dunia setelah kematian).”

Kemudian dia menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini, “Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘alar Riwayatit Tarikhiyah, hlm. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

Mereka meyakini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan imam-imam mereka akan datang lagi dan hidup di dunia. Di antara yang mereka yakini, kelak pada zaman Imam Mahdi (versi Syiah Rafidhah) Abu Bakr dan Umar akan dibangkitkan lalu disalib pada tiang salib, karena kekufuran keduanya dan perampasan hak imamah dari Ali bin Abi Thalib. (al-Khuthuth al-‘Aridhah)

 

Keenam: Tentang al-Bada’

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ilmu. Ilmu Allah Mahasempurna. Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala meliputi segala sesuatu: yang belum terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah juga Maha Mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi. Tidak ada sedikit pun yang tersembunyi di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang baru bagi Allah subhanahu wa ta’ala, yang sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak tahu kemudian menjadi tahu.

Adapun Syiah Rafidhah memiliki keyakinan kufur tentang Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Bada’.

Al-Bada’ maknanya mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Artinya, mereka menetapkan sifat jahil (bodoh) bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Akidah kufur ini sebelumnya telah diyakini oleh Yahudi.

Mereka benar-benar melampaui batas dalam hal menetapkan akidah al-Bada’. Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Abdillah, “Tidak ada pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang melebihi al-Bada’.” (al-Kafi 1/111, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252)

Apa manfaat akidah ini bagi Syiah Rafidhah? Akidah ini sangat penting untuk menolak semua nas (dalil-dalil tegas) syariat yang tidak sesuai dengan kesesatan mereka.

Sebagai contoh, Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dijamin masuk jannah (surga), sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih. Akan tetapi, Rafidhah meyakini bahwa Abu Bakr, Umar, dan Utsman adalah kafir, kekal dalam neraka dan mendapatkan azab yang terpedih sebagaimana halnya Iblis.

Ketika Ahlus Sunnah mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak percaya wahyu Allah subhanahu wa ta’ala bahwa mereka dijamin masuk surga?”

Syiah Rafidhah mengatakan, “Kita yakin degan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Rasul-Nya. Hanya saja, sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala memberi jaminan jannah, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala baru mengetahui bahwa mereka lebih pantas untuk kekal di dalam neraka. Allah subhanahu wa ta’ala lalu mengubah keputusan-Nya sesuai dengan ilmu yang baru saja Allah subhanahu wa ta’ala ketahui.”

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Ahlul Bait yang dimaksud tentu saja menurut versi Syiah Rafidhah yang menyimpang. Di antara penyimpangan Rafidhah dalam masalah ahlul bait, mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari lingkaran ahlul bait, bahkan mengatakan bahwa istri-istri Rasul adalah pezina dan kafir. Wal ‘iyadzubillah.

Selamatkan Indonesia dari Makar Syiah Rafidhah!

Indonesia adalah sebuah negara yang berpotensi besar. Negeri yang subur, kaya dengan sumber daya alam, memiliki wilayah darat yang sangat luas membentang dari timur ke barat. Indonesia juga memiliki wilayah perairan yang lebih luas dari daratan dengan kekayaan bahari yang luar biasa. Walhamdulillah.

Lebih istimewa dari itu semua, Indonesia adalah negara dengan sumber daya manusia yang sangat besar dengan mayoritas penduduknya kaum muslimin.

Dengan kekayaan yang demikian besar, tidak mengherankan kalau dahulu Belanda menjajah negeri ini selama kurang lebih 350 tahun. Jepang tidak pula ketinggalan menginginkan kekuasaan di negeri ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, upaya-upaya untuk menumbangkan negeri kita tidak berhenti. Muncul berbagai pemberontakan seperti pemberontakan G30S/PKI dan gerakan-gerakan separatis yang berusaha merusak stabilitas dan keamanan negeri. Kasus Timor Leste, pemberontakan RMS di Maluku, adalah sekian dari upaya orang kafir untuk mengobrak-abrik negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Kita tidak boleh merasa aman, dipastikan Yahudi terus berupaya menggoyangkan stabilitas NKRI dalam menghancurkan kaum muslimin atau negeri Islam. Syiah Rafidhah telah berhasil memanaskan suhu politik Timur Tengah, yang mana berhasil melemahkan negeri-negeri Islam di Tanah Arab.

Yahudi sepertinya—bahkan dipastikan, dengan senantiasa melihat sejarah masa lalu—berupaya menancapkan kekuasaan Syiah Rafidhah di Republik Indonesia.

Syiah Rafidhah di negeri kita ini ternyata terus bekerja, berupaya keras menyusup di tengah kaum muslimin demi menebarkan kesesatan mereka seperti yang dilakukan kakek mereka, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi.

Tokoh Syiah Rafidhah Indonesia sekaligus ketua IJABI, Jalaludin Rahmat pernah berkata, “… Kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus-menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya, tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Irak ke Indonesia?”

Kita harus menyadari rekam jejak yang buruk dari kaum Rafidhah, kebusukan makar mereka sudah semestinya menjadikan kita berhati-hati. Kita juga harus menyadari bahwa, saat ini Rafidhah telah memiliki daulah yang cukup kuat dengan persenjataan lengkap, Republik Iran.

Dalam Perang Yaman, Iran punya andil besar dalam memasok senjata untuk kaum Rafidhah Houthi dalam memerangi Ahlus Sunnah. Hingga saat ini perang masih terus berkecamuk.

Kita juga harus menyadari bahwa mereka benar-benar bekerjasama dengan Yahudi (Amerika) dalam meluluskan misinya, walaupun di media massa ditampakkan seolah-olah mereka anti-Amerika, termasuk bualan Khomeini di masa revolusinya. Namun semua itu dusta dan skenario Yahudi.

Dalam kurun terakhir ini, kita saksikan perkembangan Syiah di negeri ini cukup pesat. Banyak bentuk makar Rafidhah di negeri ini. Di antara upaya yang mereka lakukan adalah sebagai berikut.

 

Pengiriman Pelajar ke Iran

Pengiriman ini telah mereka lakukan cukup lama. Banyak mahasiswa Indonesia yang sedang dan telah belajar di Iran. Pada 20 Mei 2014, situs Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menayangkan berita tentang wisuda sejumlah mahasiswi Indonesia di Iran. Disebutkan bahwa mahasiswi Indonesia yang tengah kuliah di beberapa universitas di Iran berjumlah 200 orang yang terdiri dari 148 orang di kota Qom, 10 orang di Tehran, 8 orang di Esfahan, 7 orang di Gorgan, 14 orang di Mashhad, dan 13 orang di Qeshm.[1]

Sumber lain menyebutkan bahwa pada 2007, ada ribuan pemuda Indonesia yang belajar Syiah langsung di Iran. Beberapa tahun lagi mereka akan kembali. Sekembalinya dari Iran, banyak kader mereka menjadi pegiat dakwah Syiah di negeri ini dengan berbagai lembaga pendidikan atau yayasan yang mereka bina dan kelola.

 

Pendirian Islamic Cultural Center (ICC)

Di Indonesia, Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran disebut ICC (Islamic Cultural Center). Lembaga ini berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah kemudian didirikan Iranian Corner di beberapa tempat di UIN dan Universitas Muhammadiyah.

Di antara tokoh-tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab (salah seorang Ketua MUI—Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof. Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr. Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

 

Pendirian Iranian Corner di Perguruan Tinggi

Di antara upaya menyebarkan agama Syiah yang menyasar kalangan mahasiswa dan akademisi, Rafidhah membuka Iranian Corner. Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya perguruan tinggi cukup marak. Pada tahun 2015 saja sudah didirikan 12 Iranian Corner di berbagai perguruan tinggi. Yang sangat menyedihkan, Iranian Corner ditempatkan di universitas-universitas bernuansa Islam, IAIN, UIN, dan Universitas Muhammadiyah.

Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di Yogyakarta, kota sejarah dan kota pelajar, bahkan ditempatkan tiga Iranian corner, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di Malang, Universitas Muhammadiyah Malang tidak ketinggalan menempatkan Iranian Corner di universitasnya. Demikian pula di UIN Bandung dan UIN Riau. Allahul Musta’an.

Melalui Iranian Corner, terbuka lebar pintu pertukaran budaya dan transfer ideologi Syiah Rafidhah, pemutaran film, seminar-seminar tentang Khomeini dan revolusinya. Demikian pula hibah gratis buku-buku budaya, beasiswa gratis di negeri Iran bagi kader-kader yang diharapkan menjadi ujung tombak perjuangan Rafidhah di Indonesia pada masa depan.

 

Kampanye Persaudaraan Sunni Syiah

Di antara makar Syiah Rafidhah adalah upaya menyerukan bahwa Syiah Rafidhah sama dengan Ahlus Sunnah. Tidak ada perbedaan prinsip yang mendasar antara Sunni dan Syiah Rafidhah. Hebatnya, kampanye ini juga dilakukan dengan meminjam tangan orang-orang yang ditokohkan di negeri ini.

Sebuah pernyataan aneh diungkapkan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam terkait permasalahan Sunni dan Syiah di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Senin (22/02/2016).

Dia mengatakan bahwa Ahlus Sunnah bersaudara dengan Syiah, tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, ajaran Syiah dekat dengan Ahlus Sunnah. Perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada masalah imamiah. Syiah mengatakan imamiah bagian dari ushuluddin, adapun kita mengatakan sebagai masalah furu’.

Ini di antara kampanye besar-besaran di Indonesia untuk memasukkan agama Syiah Rafidhah di negeri ini. Di Indonesia, benar-benar ada upaya menebarkan opini di tengah masyarakat bahwa Syiah dan Sunni bedanya sedikit, hanya masalah furu’ (cabang) dan tidak menyentuh masalah ushul. Banyak masyarakat awam menilai bahwa Syiah (Rafidhah) adalah “mazhab kelima” dalam Islam. Penilaian ini semakin kuat dengan ucapan para penyeru kesesatan yang menyatakan tidak ada beda antara Sunni dan Syiah.

Mengapa ucapan ini dibesar-besarkan di negeri Indonesia, saat mata manusia menyaksikan kekejian Syiah Rafidhah terhadap Sunni di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman?

Seakan-akan mereka mengatakan, “Tenanglah kalian, wahai muslimin Indonesia, Syiah Rafidhah di Indonesia tidak sama dengan Syiah Rafidhah yang ada di negara-negara konflik. Tetap tidurlah kalian dan tetaplah nyaman di negeri kalian.”

Mengapa kalimat ini diucapkan di Indonesia, bahkan di Kantor MUI Jakarta? Padahal ulama Ahlus Sunnah bersepakat tentang kesesatan Rafidhah. Bahkan, MUI sendiri telah menerbitkan buku tentang kesesatan Syiah?

 

Upaya Merusak Akhlak dan Moral Kaum Muslimin

Termasuk daya tarik (baca: kebejatan moral) dari agama sesat adalah ajaran kawin kontrak (mut’ah) yang sesungguhnya adalah zina, mengatasnamakan agama. Di satu sisi ajaran kotor ini akan merekrut banyak pengikut. Di sisi lain, ajaran ini akan merusak moral bangsa dan melemahkan negara.

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.

Seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah” memaparkan hasil survei yang dilakukannya bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika. Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapat menunjukkan bahwa di antara mereka ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

Kawin kontrak dalam agama Syiah Rafidhah adalah ibadah. Bahkan, Khomeini melakukan kawin kontrak dengan bocah perempuan berumur lima tahun. Sebuah kebejatan moral yang tidak pernah terbayangkan.

Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini disebutkan dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

 

Menebarkan Kebencian Terhadap Islam

Ini makar lain dari musuh-musuh Islam. Mereka memahami bahwa kemuliaan Islam akan diperoleh dengan kembali kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni. Sungguh, apabila kaum muslimin bersemangat menempuh jalan untuk mempelajari Islam, mengerti tentang ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, niscaya jalan menuju kemuliaan benar-benar terbuka lebar. Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan jalan menuju jannah.

Agar kaum muslimin berpaling dari ajaran Islam, musuh-musuh Islam berupaya mencoreng Islam dengan menyematkan label terorisme dan radikalisme kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah. Intinya ialah agar umat Islam jauh dari agama yang lurus.

Sungguh, makar Rafidhah di negeri ini sangat banyak. Dengan taqiyah, penganut Syiah membaur di tengah masyarakat awam dan menampakkan diri sebagai pecinta dan pembela ahlul bait. Di lingkungan putih mereka berwarna putih, di lingkungan hitam mereka berwarna hitam, sembari menebarkan racun-racun kesesatannya.

Yayasan-yayasan Syiah dan lembaga pendidikan mereka dirikan. Buku-buku Syiah mereka terbitkan dan tebarkan. Mereka terus bekerja mengusahakan kebinasaan Islam—menurut anggapan mereka—padahal merekalah yang akan binasa.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (al-Baqarah: 9)

Sesungguhnya berbagai usaha mereka di atas semakin menunjukkan adanya gerakan mensyiahkan negeri ini. Dipastikan, mereka memiliki program yang sistematis.

Apa yang disebutkan tidak bermaksud melemahkan semangat Ahlus Sunnah. Kita yakin, makar mereka pasti akan dikalahkan. Akan tetapi, sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mencintai Islam, sudah seharusnya kita menempuh jalan guna memberikan andil bagi kemenangan Islam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] http://www.kemlu.go.id/tehran/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/UNIVERSITAS-TEHRAN-WISUDAMAHASISWA-INDONESIA.aspx

Negeri Islam Target Operasi Syiah

Seperti nenek moyangnya, yaitu Yahudi, Syiah Rafidhah tidak akan ridha kepada kaum muslimin sampai mengikuti millah (agama) mereka[1]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Tarikh membuktikan berbagai pengkhianatan Syiah Rafidhah kepada Islam dan negeri-negeri Islam, serta kerja samanya yang erat dan mesra dengan ahlul kitab, baik Yahudi dan Nasrani.

Daulah Abbasiyah tumbang karena pengkhianatan Syiah. Demikian pula lemah dan runtuhnya daulah Turki Utsmani. Bahkan, hingga saat ini, huru-hara yang terjadi di Irak, Lebanon, Suriah, Bahrain, Yaman, sesungguhnya adalah ulah Syiah Rafidhah.

 

Ambisi Mendirikan & Meluaskan Daulah

Rafidhah telah dan terus berupaya merusak akidah umat—dalam upayanya menguasai kaum muslimin dan negeri-negeri Islam.

Syiah Rafidhah tidak semata-mata bertujuan menyebarkan akidah, tetapi juga berupaya keras mendirikan daulah Rafidhah, dan bertekad meluaskan kekuasaan daulah Rafidhah dengan segala cara, termasuk dengan membantai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sejarah telah membuktikan, demikian pula kenyataan di lapangan saat ini yang tidak bisa didustakan bahwa Rafidhah adalah kaum yang berambisi menguasai negara-negara Islam dan menciptakan berbagai kekacauan dan kerusakan, sama dengan nenek moyang mereka, Yahudi.

Lihatlah perang berkepanjangan yang terjadi di Irak, berakhir dengan dikuasainya Irak oleh orang-orang Syiah. Lihat pula berapa ribu Ahlus Sunnah dibantai di Irak dengan sadis, hampir tidak pernah diekspose.

 

Benarkah Mereka Berambisi Mendirikan Negara Syiah Rafidhah?

Dalam lintasan sejarah, tercatat bahwa kaum Syiah selalu berupaya mendirikan daulah. Apa yang mereka cita-citakan telah terwujud. Yang perlu pula dicatat, setiap daulah Syiah selalu membuat kerusakan di muka bumi, menyebarkan akidah kufur, berbagai kebid’ahan, dan menumpahkan darah Ahlus Sunnah.

 

Di antara daulah Syiah yang berhasil mereka tegakkan adalah:

  1. Daulah Qaramithah

Nama daulah ini dinisbahkan kepada pemimpin mereka, Hamdan Qirmith. Selanjutnya para pengikutnya dikenal dengan Qaramithah. Daulah Qaramithah didirikan oleh Abu Said al-Jannabi pada 278 H dan berpusat di Bahrain.

Daulah Qaramithah berideologi Syiah Isma’iliyah, ideologi sesat yang meyakini imamah (kepemimpinan) Ismail bin Ja’far ash-Shadiq. Kurang lebih 188 tahun daulah ini eksis. Mereka menguasai daerah Ahsa’, Hajar, Qathif, Bahrain, Oman, dan Syam[2].

 

  1. Daulah Fathimiyah

Daulah yang berasas Syiah ini berdiri pada 287 H, berpusat di Maroko, selanjutnya pindah ke Mesir. Daulah ini mengusung pemikiran Syiah Ismailiyah dan berkuasa selama kurang lebih 280 tahun. Mereka menguasai Syam, Mesir, Nablus, Asqalan, Beirut, Sis, dan sekitarnya.

 

  1. Daulah Buwaihiyah (321 H—447 H)

Buwaihiyah adalah salah satu sekte Syiah yang dinisbatkan kepada Buwaihi bin Fannakhasru ad-Dailami al-Farisi. Mereka berkuasa di Irak dan Persia lebih kurang satu abad ketika kekhalifahan ‘Abbasiyah sedang melemah di Baghdad.

 

  1. Hingga berdirilah Negara Iran

Republik Iran adalah negara Syiah Rafidhah, dibangun di atas asas Rafidhah dan berjuang untuk kepentingan Rafidhah. Dalam UUD Iran, Bab I, pasal ke-12 disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyah Ja’fari [dalam hal akidah dan fikih], dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah, yang sejatinya Islam berlepas diri darinya. Mereka juga telah bertekad untuk tidak pernah mengubah asas tersebut selama-lamanya.

Semua ini membuktikan bahwa Rafidhah tidak semata memperjuangkan pemikiran, tetapi juga berjuang memiliki wilayah dan menguasai negeri-negeri Islam.

 

Syiah Rafidhah Selalu Membuat Kerusakan dalam Islam dan Menguasai Negeri Islam

Sejarah Syiah yang kelam adalah bukti atas apa yang kita sebutkan. Berbagai aksi teror kepada kaum muslimin, makar kepada Islam dan daulah-daulah Islam, adalah catatan yang kita tidak boleh melupakannya. Dengan itu, kita akan memahami berbagai fitnah yang terjadi saat ini dan makar-makar Syiah yang telah dipancangkan di bumi Indonesia.

Pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu didalangi oleh Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, sang arsitek agama Rafidhah.

Pada masa Daulah Qaramithah, kaum Syiah sering melakukan teror, bahkan pembantaian kepada kaum muslimin. Sebagai contoh, pada 317 H, Qaramithah dengan tentara sebanyak 700 orang dipimpin oleh Abu Thahir, menuju Makkah saat musim haji.

Mereka membantai para jamaah haji yang berada dalam Masjidil Haram lalu membuang mayat-mayatnya ke sumur Zamzam. Mereka bunuh pula orang-orang di jalan-jalan kota Makkah dan sekitarnya.

Makkah bersimbah darah. Jumlah korban dalam peristiwa itu mencapai tiga puluh ribu jiwa. Kelambu Ka’bah mereka rampas dan dibagi-bagikan kepada pasukan Syiah. Rumah-rumah penduduk dijarah, Hajar Aswad mereka cungkil dan mereka bawa ke Hajar, ibukota daulah mereka di Bahrain[3].

Demikian pula di masa daulah Buwaihiyah. Dinasti ini membuat banyak tradisi baru dalam Syiah. Mereka memperingati hari Ghadir Khum pada 18 Dzul Hijjah. Mereka membuat sebuah keyakinan dusta bahwa pada hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Ali sebagai washi (orang yang diserahi wasiat) dan khalifah sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari raya besar Rafidhah.

Tradisi Buwaihi ini kemudian diikuti oleh penguasa-penguasa Syiah lainnya. Dari keyakinan dusta ini nantinya mereka mengafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya karena dianggap murtad mengingkari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menuduh Abu Bakr, Umar, dan Utsman merebut kekhalifahan Ali.

Masih pada masa Daulah Buwaihiyah, pada 351 H kaum Syiah di Baghdad dengan dukungan Mu’izzud Daulah—seorang penguasa daulah Buwaihiyah—mewajibkan masjid-masjid untuk melaknat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan tiga Khalifah Rasyid (Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum). (al-Kamil, 8/542)

Bahkan, pada 352 H, Mu’izzud Daulah menyuruh kaum muslimin untuk menutup toko-toko mereka, mengosongkan pasar, meliburkan jual beli, dan menyuruh mereka untuk meratap. Para wanita disuruh keluar rumah tanpa penutup kepala dan wajah dicoreng-moreng, lalu berkeliling kota sambil meratap dan menampar-nampar pipi atas kematian Husain bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma.

Kaum muslimin pun melakukannya. Sementara itu, Ahlus Sunnah tidak mampu mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syiah dan kekuasaan kala itu berada di tangan mereka (kaum Buwaihiyun).

Sampai-sampai al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkomentar, “Sungguh, telah telantar urusan agama Islam dengan berdirinya daulah Bani Buwaihi dan Bani ‘Ubaid yang bermazhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad dan mendukung kaum Nasrani Romawi, serta merampas kota Madain.”[4]

 

Runtuhnya Baghdad dan Daulah Abbasiyah

Inilah bukti lain pengkhianatan Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka berkhianat terhadap Khalifah al-Musta’shim Billah. Pengkhianatan ini dimotori oleh dua tokoh Rafidhah, Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi. Di mata orang-orang Rafidhah kedua orang ini dianggap sebagai pahlawan.

Keruntuhan kota Baghdad yang kala itu adalah ibukota Daulah Abbasiyah di tangan pasukan Tatar (Mongol) tak lepas dari konspirasi yang dilakukan oleh Ibnul Alqami dan ath-Thusi.

Ia sangat berambisi meruntuhkan kekuatan Ahlu Sunnah dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Hal itu ia lampiaskan ketika memegang jabatan menteri dalam pemerintahan Khalifah al-Musta’shim billah dengan cara memberi jalan bagi pasukan Tatar untuk masuk Baghdad.

Pada 656 H, Hulagu Khan dan pasukannya yang berjumlah dua ratus ribu personil mengepung Baghdad dan menghujani istana Khalifah dengan anak panah. Pengamanan sekitar istana saat itu lemah karena sebelumnya Ibnul Alqami secara diam-diam telah mengurangi jumlah personil tentara Khalifah. Dia memecat sejumlah besar perwira dan mencoret nama mereka dari dinas ketentaraan.

Pada masa kekhalifahan sebelumnya, Khalifah al-Mustanshir, jumlah pasukan mencapai 100.000 personil. Sementara itu, pada masa al-Musta’shim billah jumlahnya menyusut menjadi 10.000 personil saja.

Saat kelemahan sudah tampak di Baghdad, Ibnul Alqami mengirim surat rahasia kepada bangsa Tatar dan memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Dalam surat rahasia itu dia menyebutkan kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah di Baghdad. Itulah sebabnya bangsa Tatar dengan sangat mudah dapat merebutnya.

Terwujudlah cita-cita Ibnul Alqami. Baghdad dikepung oleh Tatar sejak 12 Muharram 656 H. Ibnul Alqami segera menemui pasukan Tatar. Bersama keluarganya, dia menemui Hulagu Khan mencari perlindungan darinya. Kemudian ia membujuk Khalifah agar ikut keluar bersamanya menemui Hulagu Khan untuk mengadakan perdamaian, dengan memberikan separuh hasil devisa negara kepada bangsa Tatar.

Berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, fuqaha, tokoh-tokoh negara dan masyarakat, serta para pejabat tinggi negara lainnya dengan 700 kendaraan. Ketika sudah mendekati markas Hulagu Khan, mereka ditahan oleh pasukan Tatar dan tidak diizinkan menemui Hulagu Khan kecuali Khalifah bersama 17 orang saja. Permintaan ini dipenuhi oleh Khalifah. Ia berangkat bersama 17 orang, sementara yang lain menunggu.

Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan itu dirampok dan dibunuh oleh pasukan Tatar. Selanjutnya Khalifah dibawa ke hadapan Hulagu Khan seperti seorang pesakitan yang tak berdaya.

Atas permintaan Hulagu Khan, Khalifah kembali ke Baghdad ditemani oleh Ibnul Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi. Di bawah rasa takut dan tekanan yang hebat, Khalifah mengeluarkan emas, perhiasan, dan permata dalam jumlah yang sangat banyak.

Tanpa disadari oleh Khalifah, para pengkhianat Syiah ini telah membisiki Hulagu Khan agar menampik tawaran damai dari Khalifah. Ibnul Alqami ini berhasil meyakinkan Hulagu Khan dan membujuknya untuk membunuh Khalifah.

Tatkala Khalifah kembali membawa perbendaharaan negara yang banyak untuk diserahkan, Hulagu Khan memerintahkan agar Khalifah dieksekusi. Yang mengisyaratkan untuk membunuh Khalifah adalah Ibnul Alqami dan ath-Thusi.

Dengan terbunuhnya Khalifah, pasukan Tatar leluasa menyerbu Baghdad tanpa perlawanan berarti. Jatuhlah Baghdad ke tangan musuh. Disebutkan bahwa jumlah korban tewas saat itu lebih kurang dua juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali Yahudi, Nasrani, dan orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Tatar, atau berlindung di rumah Ibnul Alqami dan orang-orang kaya yang menebus jiwa mereka dengan menyerahkan harta kepada pasukan Tatar[5].

 

Pengkhianatan Syiah Dinasti Shafawi

Dinasti Shafawi adalah cikal bakal negara Iran. Syah pertama Dinasti Shafawi adalah Syah Ismail yang naik takhta pada 907 H. Ketika itu Iran belum menjadi kawasan Syiah secara keseluruhan. Hanya beberapa kota yang penghuninya adalah orang-orang Syiah, seperti Qum, Qasyan, dan Naisabur.

Syah Ismail memiliki fanatisme yang tinggi untuk menyebarkan agama Syiah ke seluruh penjuru Iran. Ia mengutus delegasi dai dan para propagandis Syiah ke negeri-negeri yang akan ditaklukkan guna mengajak mereka memeluk agama Syiah.

Di samping bekerja sama dengan ulama-ulama Syiah, Syah Ismail sering melakukan teror dan mengancam bunuh orang yang tidak mau memeluk ajaran Syiah.

Pada masa Syah Ismail, telah terjalin hubungan kerjasama politik keamanan dan ekonomi dengan barat (Eropa) untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Daulah Turki Utsmani yang bukan Syiah.

Hal itu bermula dengan adanya persetujuan Syah Ismail atas pakta militer dengan Portugal. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa Syah Ismail tidak akan menuntut Portugal mengembalikan Pulau Hurmuz dan pelabuhan Kamberun, sementara Portugal sepakat untuk membantu Syah Ismail ash-Shafawi melawan Turki Utsmani.

Berdasarkan kajian yang merujuk ke berbagai literatur tentang Iran, baik yang ditulis dalam bahasa Persia, Arab, maupun Inggris, didapatkan fakta-fakta adanya kerja sama erat antara Dinasti Shafawi dan negara-negara Eropa untuk melawan musuh bersama, yaitu Turki Utsmani. Kerja sama tersebut semakin meningkat pada masa Syah Abbas ash-Shafawi (966—1038 H/1588—1629 M).

Penguasa dinasti Shafawi sadar sepenuhnya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi dan mengalahkan Turki Utsmani adalah kerja sama di bidang militer dengan Barat. Untuk kepentingan itulah dikirim utusan ke berbagai negara Eropa, antara lain Spanyol, Jerman, Rusia, Inggris, dan Belanda, guna mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan menghadapi dan memerangi Daulah Turki Utsmani.

Syah Abbas bahkan menghubungi Paus Paulus V dan memintanya untuk mendorong agar raja-raja Eropa yang beragama Kristen bersatu padu dan bekerja sama dengan Iran untuk memusnahkan Daulah Turki Utsmani.

Kesempatan ini digunakan oleh Paus untuk mengirim berbagai surat ke Syah Abbas guna mengukuhkan posisi orang Kristen di Iran, agar mereka selalu dihormati, diizinkan membangun gereja, dan melaksanakan peribadatan mereka.

Di antara surat Paus Paulus V adalah ucapan selamat atas kemenangan Syah Abbas mengalahkan orang-orang Uzbek yang Sunni sambil terus mendorongnya untuk terus memerangi Turki Utsmani. Selain itu, dia menegaskan kesediaannya mendorong bersatunya raja-raja Nasrani di Eropa untuk bersama-sama menyerbu Turki Utsmani dari arah barat sementara Syah Abbas menyerbu Turki Utsmani dari arah timur.

Paus juga berjanji untuk mengirimkan ahli-ahli militer dan persenjataan dalam rangka memperkuat pasukan Iran. Syah Abbas kemudian mendapatkan bantuan delegasi ahli militer Inggris, yang melatih serta memodernisasi angkatan perang Iran.

Mereka juga menjadi supervisor pendirian pabrik-pabrik senjata di Isfahan, yang memungkinkannya untuk mengalahkan pasukan Turki Utsmani di Azerbaijan. Bahkan salah seorang delegasi Inggris, yaitu Robert Carles, pernah menjadi panglima salah satu pasukan Iran dalam perang melawan pasukan Turki Utsmani pada 1013—1014 H.

 

Republik Iran Mengikuti Jejak Para Pendahulunya

Demikian pula Iran saat ini. Sesungguhnya mereka telah dan sedang melakukan berbagai aksi teror, perusakan dan makar kepada Islam, kaum muslimin dan negeri-negeri Islam.

Apa yang terjadi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman, merekalah otak dan dalang segala kerusakan yang terjadi. Tentu saja bersama nenek moyang mereka, Yahudi. Hingga saat ini pun kita masih menyaksikan peperangan sengit antara tentara tauhid “Asifatul Hazm”, koalisi negara-negara Islam di bawah kepemimpinan Raja Salman bin Abdul Aziz Alu Su’ud, melawan tentara Houthi Rafidhah yang didukung Republik Iran.

Khomeini sebagai tokoh tertinggi Republik Iran pernah berwasiat, “Inilah wasiatku: Apabila perang dengan Irak telah usai, kita wajib memulai perang dengan negara yang lainnya. Saya memimpikan bendera kita (Syiah Iran -pen.) berkibar di Amman (ibukota Yordania -pen.), Riyadh (ibukota Saudi Arabia -pen.), Damaskus (ibukota Suriah -pen.), Kairo (ibukota Mesir -pen.), dan (negara) Kuwait.”

Sungguh, wasiat Khomeni adalah titah agung bagi kaum Rafidhah untuk mewujudkannya. Sebab, sesuai isi Undang Undang Dasar Negara Syiah Iran, Khomeini memiliki kedudukan fundamental sebagai Rujukan Utama Taqlid Agung Republik “Islam” Iran.

Kedudukan ini mengikat segenap penganut ajaran Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah untuk tunduk patuh melaksanakan titahnya (sebagaimana yang diyakini Syiah) selaku wakil Imam Mahdi Syiah yang masih bersembunyi sejak ratusan tahun yang lalu dalam gua di Samarra, Irak.

Disebutkan dalam UUD Iran, Bab 1 Pasal 1:

“The form of government of Iran is that of an Islamic Republic, endorsed by the people of Iran on the basis of their longstanding belief in the sovereignty of truth and Qur’anic justice, in the referendum of Farwardin 9 and 10 in the year 1358 of the solar Islamic calendar, corresponding to Jamadi al-Awwal 1 and 2 in the year 1399 of the lunar Islamic calendar (March 29 and 30, 1979), through the affirmative vote of a majority of 98.2% of eligible voters, held after the victorious Islamic Revolution led by the eminent marji’ al-taqlid, Ayatullah al-Uzma Imam Khumayni.[6]

“Sistem pemerintahan Iran adalah Republik Islam yang telah disetujui oleh rakyat Iran, berdasarkan keyakinan tradisional mereka dalam kedaulatan kebenaran dan keadilan Qur’an dan mengikuti kemenangan revolusi mereka di bawah pimpinan Rujukan Taklid Agung, Ayatullah Imam Khomeini, dengan mayoritas 98,2% suara dari semua yang berhak memilih dalam referendum yang diadakan pada 9 dan 10 Farwardin[7] 1358 tahun Hijriah matahari, 1 dan 2 Jumadil Awal 1399 Hijriah bulan (29 dan 30 Maret 1979).”

Itulah fakta Wasiat Agung Revolusi Syiah Khomeini yang mengikat seluruh kaum Syiah di mana pun berada. Ucapan Khomeini Rujukan Taklid Agung Konstitusi negara Syiah Iran diterbitkan oleh majalah Dustur Lebanon pada 1983, edisi no. 297, hlm. 16—18.

Lihatlah tahun-tahun terakhir ini, bagaimana kuku-kuku revolusi Syiah Imamiyah Khomeini telah ditancapkan kuat-kuat di Suriah dan Lebanon (dengan milisi Hizbullahnya). Mereka mulai memasuki negeri Yaman, tentu untuk menuju Haramain: Makkah dan Madinah.

 

Makkah Menjadi Sasaran Teror Syiah Rafidhah

Makkah dan Madinah adalah dua kota suci, dua kota pusat peradaban Islam, sumber awal cahaya Islam. Sudah barang tentu Syiah Rafidhah sangat membenci dan memusuhi dua negeri ini. Data dan fakta menunjukkan bahwa permusuhan Iran sungguh sangat kental terhadap Haramain: Makkah dan Madinah.

Permusuhan ini tampak dalam perkataan Khomeini, “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran sekarang lebih utama daripada masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah -pen.) pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta lebih utama daripada masyarakat Kufah dan Irak pada masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (al-Washiyah al-Ilahiyah, hlm. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hlm. 192)

Dalam sebuah pidatonya, Khomeini berkata, “Aku katakan dengan terus terang, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin di seluruh dunia, Makkah al-Mukarramah sebagai tanah suci Allah yang aman sedang dijajah oleh sekelompok orang yang lebih jelek daripada Yahudi….”

Pidato Khomeini ini disiarkan oleh Suara Revolusi Islam dari Abadan jam 12 siang pada 17 Maret 1979.

Pidato dan statemen-statemen Khomeini menunjukkan kebencian yang luar biasa terhadap Islam dan negeri-negeri Islam, terkhusus Makkah dan Madinah. Bukan hanya ucapan, makar-makar Syiah untuk membuat kekacauan di dua kota suci ini sangat banyak buktinya.

Bukti terdekat yang mungkin bisa kita sebutkan adalah Tragedi Mina pada Musim Haji tahun 2015. Jamaah haji Iran sengaja membuat keonaran di kota Makkah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Kita akan menyaksikan sebagian kemesraan Syiah dengan Nasrani, ketika mereka bekerjasama guna menghadapi Daulah Turki Utsmani.

[2] Lihat al-Milal wan Nihal (I/191—192).

[3] Lihat Tarikh Akhbar Qaramithah hlm. 54.

[4] Siyar A’lamin Nubala’ (16/232)

[5] Lihat al-Bidayah wan Nihayah (18/213—224)

[6] Lihat http://www.iranonline.com/iran/iran-info/government/constitution-1.html

[7] Bulan pertama dalam kalender Persia.