Syiah Rafidhah Anak Yahudi ; Memusuhi Islam dan Negeri Islam

Syiah Rafidhah adalah musuh Islam dan negeri-negeri Islam. Sejarah adalah fakta yang tidak pernah berdusta. Mereka adalah kepanjangan tangan Yahudi dalam memusuhi Islam dan negeri Islam, karena kelahiran Syiah Rafidhah sebagai sekte sesat, secara historis tidak lepas dari peran Yahudi.

Rafidhah dan Yahudi ibarat dua saudara kembar. Banyak kesamaan dan kemiripan di antara keduanya. Rafidhah adalah anak Yahudi. Hakikat ini tidak boleh dilupakan, agar kita waspada dan memahami berbagai makar Yahudi dan Rafidhah terhadap Islam dan negara Indonesia serta negeri Islam lainnya.

Di masa kejayaan Islam, Yahudi berhasil menanamkan salah satu agennya, Abdullah bin Saba’ al-Himyari menyusup di tengah kaum muslimin. Lelaki dari negeri Yaman ini secara lahiriah menampakkan keislamannya pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, namun hakikatnya seorang zindiq (munafik). Ia adalah seorang Yahudi yang telah menyiapkan berbagai makar.

Di balik topeng kemunafikannya inilah, ia menghembuskan api kerusakan yang demikian besar di tengah umat hingga berkobar kerusakan demi kerusakan. Peran Ibnu Saba’ sangat besar dalam tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu. Demikian pula peristiwa-peristiwa berikutnya pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Termasuk kelahiran agama Syiah Rafidhah, dialah yang membidaninya.

Dalam upaya menyusupkan pemahaman-pemahaman sesatnya, Ibnu Saba’ menyisir wilayah-wilayah Islam dari Hijaz, Bashrah, Kufah, dan Syam. Akan tetapi, di negeri-negeri tersebut usahanya gagal. Abdullah bin Saba’ kemudian menuju Mesir. Di negeri inilah, dia bisa menyemai pemahaman-pemahaman sesatnya dan berhasil mengelabui sebagian umat yang jahil hingga terprovokasi.

Ibnu Saba’ melakukan gerakan propaganda anti-‘Utsman bin ‘Affan. Masyarakat dihasut agar menentang pemerintah. Fitnah dan api kebencian terhadap pemerintah disebar. Tuduhan-tuduhan miring tertuju kepada pribadi Utsman radhiallahu ‘anhu dan pemerintahannya, dia ramu dengan pikiran-pikiran busuknya. Keadaan bertambah parah hingga terjadilah musibah besar, terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.

Dalam tragedi pembunuhan Utsman bin Affan, Yahudi—melalui Abdullah bin Saba—berhasil memengaruhi kaum muslimin yang jahil untuk keluar dari prinsip-prinsip agama yang sangat agung, yaitu (1) taat kepada waliyul amr (pemerintah) muslim, (2) prinsip mencintai sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum, dan (3) mengikuti jalan al-Khulafa ar-Rasyidin.

Kabut kelam menyelimuti kaum muslimin. Api fitnah tak kunjung memadam. Sepeninggal Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ia melancarkan makar baru. Ia membangkitkan fanatisme buta terhadap kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya. Akhirnya, tertanam akidah (keyakinan) di kalangan para pengikut Abdullah bin Saba’ bahwa keimamahan (kepemimpinan) yang pertama dipegang oleh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan berakhir pada imam ke-12, Muhammad bin al-Husain al-Mahdi.

Inilah keyakinan kalangan Syiah; sebuah keyakinan yang sesat. (‘Aqa’idu asy-Syiah, asy-Syaikh Mahmud Abdul Hamid al-‘Asqalani, hlm. 21)

 

Antara Ibnu Saba’ al-Yahudi dan Syiah Rafidhah

Rafidhah (Syiah) adalah agama baru yang berakar dari agama Yahudi. Sisi kesamaan antara agama Syiah Rafidhah dan Yahudi banyak kita dapati. Semua itu menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara Yahudi dan Rafidhah.

Berikut adalah beberapa sisi kesamaan antara Rafidhah dan pemikiran Ibnu Saba’ al-Yahudi.

  1. Dia adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan rububiyah dan uluhiyah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ali radhiallahu ‘anhu adalah ilah (sesembahan) dan Rabb (pengatur alam semesta).

Keyakinan Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah. Referensi Syiah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ menyebarkan keyakinan kufur tersebut. Lihat sebagai bukti pada kitab rujukan mereka: (1) Rijal al-Kisysyi hlm. 98 cetakan Karbala, dan (2) Tanqihul Maqal fi Ahwali ar-Rijal (2/183—184) cetakan Najef 1350 H.[1]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan akidah wasiat, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada Ali radhiallahu ‘anhu untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau.

Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah, bahkan bagian penting dari akidah Rafidhah. Bukankah hal ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara agama Rafidhah dan Ibnu Saba? Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ adalah hasil pemikiran Yahudinya sebelum ia menyusup di tengah-tengah muslimin.

Buku-buku rujukan Syiah sendiri yang menetapkan bahwa keyakinan wasiat berasal dari Abdullah bin Saba’. Al-Mamaqani dalam bukunya Tanqih al-Maqal (2/184) menukil ucapan Muhammad bin ‘Umar al-Kisysyi—seorang tokoh Rafidhah, “Ahlul ilmi menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulu seorang Yahudi lalu masuk Islam dan berwala’ kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang mendapat wasiat dari Musa. Adapun setelah masuk Islam, dia juga mengatakan hal semisal (yakni wasiat –pen.) terhadap ‘Ali.”[2]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan kebencian terhadap Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Keyakinan ini adalah bagian terpenting dalam akidah Rafidhah.

Abu Ishaq al-Fazari menyebutkan riwayat dengan sanadnya kepada Suwaid bin Ghafalah, bahwa dia mengunjungi ‘Ali radhiallahu ‘anhu di masa kekhalifahannya. Suwaid berkata, “Sungguh, aku melewati suatu kaum yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga menyatakan bahwa engkau menyembunyikan celaan padakeduanya (yakni Abu Bakr dan ‘Umar). Di antara kaum itu adalah Abdullah bin Saba’.”—dan dia adalah orang pertama yang menampakkan keyakinan ini.

Ali berkata, “Apa urusanku dengan si hitam yang busuk ini (Ibnu Saba’)?! Aku berlindung kepada Allah dari memendam dalam hati sesuatu terhadap keduanya selain kebaikan.” Kemudian ‘Ali radhiallahu ‘anhu membuang Ibnu Saba’ ke Madain.

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan riwayat kisah di atas dalam Lisanul Mizan (3/290) dengan sanad yang sahih.

Itulah beberapa akidah Ibnu Saba’ si Yahudi yang diembuskan di tengah kaum muslimin untuk merusak akidah. Akidah tersebut benar-benar serupa dengan akidah Rafidhah (Syiah) yang memang ditumbuhkan oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah, menyebutkan banyak sisi kesamaan Syiah Rafidhah.[3]

Tidak diragukan, ketika akidah batil ini masuk dalam tubuh kaum muslimin dan berkembang di sebuah negeri Islam, akan sangat mudah bagi musuh-musuh Islam melumpuhkan negeri Islam.

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Lihat Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.

[2] Dinukil dari ta’liq Muhibudin al-Khathib terhadap kitab al-Muntaqa Min Minhajil I’tidal hlm. 318.

[3] Untuk menyembunyikan hubungan mesranya dengan Yahudi, Syiah Rafidhah bersama dengan orientalis berusaha menghilangkan jejak Ibnu Saba’. Namun, usaha mereka sia-sia. Sebab, keberadaan Ibnu Saba’ adalah kesepakatan (ijma’) Ahli Hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, demikian pula kesepakatan ahli tarikh. Bahkan, kitab-kitab rujukan Rafidhah sendiri menetapkan keberadaan Ibnu Saba’.

Apakah masuk akal, jika mereka mengingkari kitab-kitab yang mereka sucikan dan agungkan? Mustahil tentunya, kecuali jika mereka telah dungu atau kehilangan akal, atau telah berubah menjadi kera sebagaimana nenek moyang mereka. Dan inilah kenyataannya!

Doa Untuk Makkah dan Madinah

Keamanan sebuah negeri adalah harapan setiap manusia. Lebih-lebih seorang muslim yang ingin menegakkan agamanya dalam keadaan tenteram, mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah.

Keamanan adalah nikmat Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ٣ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۢ ٤

“Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 3—4)

Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alahissalam berdoa untuk kota Makkah, memohon agar Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya aman dan mendapatkan limpahan rezeki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٢٦

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman sentosa, berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan kepada orang yang kafir pun, Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.(al-Baqarah: 126)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam agar menjadikan Makkah sebagai negeri yang aman serta memohon agar beliau dan keturunannya dijauhkan dari sebab dicabutnya keamanan, yaitu syirik.

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Doa-doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam terkabul. Allah menjadikan Makkah aman dan diberkahi. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Ka’bah— yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail ‘alahimassalam —sebagai kiblat kaum muslimin, dan hati orang yang beriman tertuju kepada negeri ini untuk menunaikan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Kunci Keamanan

Al-Qur’an mengabarkan bahwa kunci keamanan dan keberkahan sebuah negeri adalah iman dan takwa, menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi kesyirikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96)

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

Ketika sebuah negeri jauh dari tauhid, jauh dari keimanan dan takwa, bahkan diliputi kesyirikan, ketika itu keamanan akan dicabut sesuai kadar kemaksiatan mereka.

Dahulu, kota Makkah pernah diliputi masa jahiliah. Patung-patung diibadahi di sekeliling Ka’bah. Berhala-berhala dijadikan sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika kesyirikan merebak, Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan berbagai kejelekan di kota Makkah.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala bangkitkan nabi terakhir di kota Makkah, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk memperbarui kembali agama Nabi Ibrahim ‘alahissalam.

Sekali lagi, doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam ribuan tahun yang lalu terkabul.

رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٢٩

“Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah: 129)

Makkah kembali menjadi negeri yang aman dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makkah kembali menjadi negeri tauhid. Keberkahan Allah subhanahu wa ta’ala tercurah ketika keimanan dan takwa meliputi kota Makkah.

Seperti halnya Makkah, tempat hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Madinah, juga menjadi negeri yang aman. Sebelumnya, negeri tersebut diliputi kesyirikan, peperangan, pembunuhan, dan berbagai kejelekan. Keamanan terwujud ketika penduduk Madinah menerima dakwah Rasul, beriman dan bertakwa.

Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendoakan keberkahan bagi Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim mendoakan keberkahan Makkah al-Mukarramah.

Pembaca, sejarah Makkah dan Madinah adalah contoh bagi negeri kita Indonesia dan negeri lainnya. Mustahil bagi Indonesia mencapai keamanan dan ketenteraman kecuali dengan kunci yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, yaitu iman dan takwa.

Pertanyaannya; sudahkah penduduk negeri ini berjuang untuk beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir? Sudahkan penduduk negeri ini memurnikan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan segala kesyirikan?

 

Musuh Islam Tidak Ridha Negeri Islam Aman

Musuh-musuh Islam tidak pernah ridha dengan kejayaan Islam. Dada mereka menjadi sempit ketika melihat negeri-negeri Islam diliputi keamanan. Upaya mengacaukan negeri-negeri Islam pun menjadi cita-cita dan perjuangan mereka.

Mereka mengerti bahwa umat Islam mencapai kejayaannya ketika berpegang dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, tidak ada jalan untuk menghancurkan Islam dan mengacaukan keamanan negeri Islam kecuali dengan menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Proyek besar musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dipancangkan. Berbagai makar dan strategi dirancang untuk menjauhkan kaum muslimin dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesyirikan dan kebid’ahan ditumbuhsuburkan, kran-kran kemaksiatan dibuka sebesar-besarnya.

Saudaraku, perhatikan apa yang menimpa negeri Saba’. Sebelumnya negeri Saba diliputi kesejahteraan dan keamanan. Allah subhanahu wa ta’ala lalu mencabut dari mereka nikmat-nikmat tersebut karena mereka berpaling dari agama Allah subhanahu wa ta’ala dan kufur kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ ١٥

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Saba’: 15)

فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ ١٦  ذَٰلِكَ جَزَيۡنَٰهُم بِمَا كَفَرُواْۖ وَهَلۡ نُجَٰزِيٓ إِلَّا ٱلۡكَفُورَ ١٧

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka.

Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16—17)

Musuh-musuh Islam, terutama ahlul kitab—Yahudi dan Nasrani—memahami bahwa untuk cara menguasai dan merusak negeri Islam adalah dengan menjauhkan penduduknya dari agama Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala sisinya, akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan adab. Mereka berusaha keras agar umat Islam mau mengikuti langkah-langkah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya,

          وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Indonesia dipastikan tidak lepas dari bidikan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala. Upaya-upaya penggerogotan keamanan telah dan sedang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Yahudi dan saudaranya, Syiah Rafidhah. Sadarkah kita? Sadarkah kaum muslimin di negeri ini? Atau kita justru terbuai dan terbawa arus makar musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Dusta! Komunis Membela Kaum Tertindas

Ada di antara kalangan muda yang tertarik marxisme lantaran pembelaannya terhadap kaum miskin tertindas. Mereka cemburu melihat kaum papa dimarjinalkan. Mereka terusik melihat ketidakadilan menyelimuti kaum miskin yang dipinggirkan. Hatinya berontak melihat kaum kapitalis (sang pemilik modal) memeras para buruh nan papa.

Semangat pembelaannya meledak melihat para borjuis (tuan tanah) menyabot hak-hak petani guram. Ketertindasan telah membangkitkan jiwa untuk bangkit membela. Ketertindasan telah membakar kecemburuannya untuk melakukan perlawanan. Telapak tangan kiri yang terkepal diacungkan: lawan!

Itulah anak muda. Awal reformasi di negeri ini mereka tergabung dalam partai anak muda yang kekiri-kirian. Atas nama ketertindasan mereka lantang bersuara. Serdadu bersenjata pun mereka lawan. Seakan-akan kematian bagi mereka adalah sebuah kemuliaan.

Namun, setelah reformasi mereda… Setelah mereka tidak muda lagi semangatnya, setelah sepatu kulit mengkilat mereka kenakan, setelah kursi jabatan diduduki, setelah lembaran fulus mengelus mereka, tak ada lagi suara lantang melawan ketidakadilan. Lidah telah kelu. Tangan sudah tak mampu mengepal lagi. Mereka telah terpesona dan jatuh cinta dengan dunia. Dulu, kapitalis adalah lawannya. Kini, jadi teman kencannya. Dulu, borjuis adalah musuhnya. Kini, jadi sahabatnya.

Kaum buruh yang dahulu mereka eksploitasi, tak sedikit pun merasakan manis dunia yang telah mereka raih. Petani guram cuma bisa mengelus dada menikmati kemiskinan yang makin mengimpit. Tak ada lagi anak muda yang dahulu mengunjunginya, mengajak berunjuk rasa, berdemo yang konon katanya untuk memperjuangkan hak-haknya yang dikebiri.

Kaum buruh dan para petani kecil tentu tak memahami arti pertentangan kelas. Mereka adalah orang-orang polos yang tak pernah belajar beragitasi dalam sebuah pertarungan kelas. Mereka lugu.

Karena keluguannya, mereka dieksploitasi, digunakan sebagai alat politik. Mereka ditarungkan melawan kapitalis, melawan borjuis. Begitulah keadaan senyatanya. Jadi, jika komunis memperjuangkan kaum miskin, buruh, petani, rakyat kecil, pedagang kaki lima, sebenarnya hanya sebuah kedustaan. Rakyat kecil itu hanya sebagai alat untuk sebuah aksi pertentangan kelas ala mereka. Aksi politik.

Adakah kesejahteraan bagi rakyat kecil di alam komunis? Tidak! Justru rakyat hidup terkekang. Berani mengkritisi partai komunis, berarti bersiap untuk ditindas. Dahulu, di Uni Soviet, berani buka suara melawan komunis, berarti bersiap dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Di Korea Utara pun demikian. Para anti-komunis digelandang ke kamp konsentrasi di Kaechon.

Yang senyatanya memperjuangkan kaum fakir dan miskin hanyalah Islam. Pembelaan Islam terhadap kaum papa adalah tanpa mengeksploitasi mereka. Apalagi dijadikan alat pertarungan kelas. Pembelaan Islam terhadap mereka dengan memberdayakannya, memberi perhatian, menyayangi, dan membantu mengatasi kesulitannya.

Bagi yang tak memiliki kepedulian, Islam memberi peringatan keras. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama itu? Maka, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1—3)

Firman-Nya,

فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9—10)

Firman-Nya,

وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠  فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣  أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ١٤ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ١٥  أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ١٦ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧

“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.

Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling menasihati untuk bersabar dan berkasih sayang.” (al-Balad: 10—17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok yang sangat penyayang dan pemurah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128)

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan kala Jibril menemuinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat keluhan dari kaum fakir. Sesungguhnya orang-orang berharta telah melampaui kaum fakir dalam beramal (sedekah dan membebaskan budak).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat, “Maukah aku kabari sesuatu bilamana kalian mengamalkannya bisa menjangkau (amalan) yang melampauimu? Tidak akan bisa menjangkau amalan ini kecuali orang yang turut mengamalkan hal serupa ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setelah selesai shalat masing-masing 33 kali.”

Lantas kaum fakir itu pun mengamalkannya. Kemudian orang-orang berharta pun mengetahui hal itu. Apa yang diajarkan kepada kaum fakir itu diamalkan juga oleh orang-orang berharta.

Kaum fakir pun mengadukan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau,

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, betapa bersemangat para sahabat untuk melakukan kebaikan. Mereka berpacu untuk bisa beramal saleh. Mereka berlomba mengejar urusan akhirat. Kecemburuan mereka terhadap para pemilik harta lantaran dengan harta yang ada bisa beramal kebaikan. Mereka selalu merasa kurang dalam mengerjakan amal saleh.

Ini tentu sangat bertolak belakang dengan paham marxisme. Marxisme tak mengaitkan keberadaan materi untuk kehidupan akhirat. Mereka tak memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib. Bagi mereka, kehidupan hanya di dunia. Islam pun mengajarkan agar tidak meremehkan kaum lemah. Tak boleh merasa diri lebih dari yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan pertolongan dan rezeki dengan sebab kaum lemah. Ini dilatari karena doa, shalat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah.

Pesan itu terungkap dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, yang menyebutkan,

“Sesungguhnya Sa’ad menyangka memiliki keutamaan dari sahabat Nabi lainnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini dengan (kaum) yang lemah lantaran doa, shalat, dan keikhlasan mereka’.” (HR. an-Nasai, no. 3178)

Demikian pula yang disebutkan dalam hadits Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu. Ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ابْغُونِي الضَّعِيفَ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعُفُائِكُمْ

Carikanlah aku kaum yang lemah! Sungguh, kalian akan diberi rezeki dan pertolongan dengan sebab orang-orang lemah (di antara) kalian.” (HR. Abu Dawud, no. 2335. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

Kepedulian Islam terhadap kaum yang lemah, tertindas, marjinal (terpinggirkan), sedemikian kuat. Bentuk bantuan materi bisa diwujudkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah, atau bentuk bantuan lainnya. Islam senantiasa mendorong umatnya untuk tolong-menolong dalam perbuatan baik dan takwa. Islam tak menghendaki umatnya saling menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah subhanahu wa ta’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau membantu saudaranya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Islam adalah pembela sejati kaum miskin, kaum lemah, dan tertindas. Cara yang ditempuh dalam agama mulia ini pun tidak sebagaimana dilakukan kaum marxis. Islam mengentaskan kaum papa melalui cara yang elegan. Tanpa harus mengeksploitasi kaum miskin. Tanpa harus mempertarungkannya. Tanpa harus memperalatnya.

Kaum yang tak berdaya benar-benar diperlakukan dengan sebaik-baiknya, diperlakukan dengan penuh manusiawi. Perlakuan-perlakuan itu didasari penuh keikhlasan. Upaya bantuan tersebut dilakukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya mengharap balasan dari Yang Maha Pemurah, Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan kaum marxis yang peduli kepada kaum miskin karena ada unsur kepentingan dunia. Bantuan yang sarat muatan politis. Jadi, adalah dusta, komunis membela kaum papa tertindas. Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Komunis Kaum Pemberontak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu begitu menggetarkan hati sehingga air mata pun menetes. Seorang sahabat mulia, Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, pernah mengisahkan hal itu dalam sebuah hadits. Di antara nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah mendengar dan taat walau yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Sebuah wasiat agung. Wasiat yang mengajarkan prinsip untuk menaati penguasa kaum muslimin. Sebuah prinsip yang senantiasa dijaga dan ditegakkan oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan prinsip ini, seorang muslim dididik untuk tidak merongrong kewibawaan penguasa kaum muslimin. Dengan prinsip ini pula, seorang muslim dibimbing agar tidak terjatuh melakukan aksi angkat senjata ke hadapan penguasanya. Menentang dan memberontak.

Hendaknya seorang muslim menaatipenguasanya dalam hal yang ma’ruf, yang tidak menjadikannya bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim dibimbing untuk bersabar menghadapi situasi yang tak nyaman, penuh hiruk pikuk, dan kegaduhan politik. Sabar dalam memegang kukuh wasiat di atas.

Itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berbeda dengan orang-orang yang lalai dengan agamanya. Tak mengingat dan mengamalkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mudah terpancing situasi politik yang memanas. Tak sabar saat stabilitas negara dalam keadaan goncang. Kritik berhamburan di depan publik. Cacat cela penguasa tersingkap di hadapan rakyat jelata. Yang semestinya, bila hendak menasihati penguasa, dilakukan secara tertutup sebagaimana adab yang diajarkan agama yang mulia, Islam.

Aksi Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan potret berpolitik penuh nista. Cara berpolitik yang jauh dari kesantunan. Trik-trik politik yang penuh tipu muslihat. Aksi-aksi yang dilandasi kebencian, menyikut teman seiring, membantai lawan, haus kekuasaan, menghasut dan menghalalkan semua cara. Selama tampil di pentas jagat Nusantara, PKI cuma bisa menyajikan kekacauan demi kekacauan. Rakyat Indonesia, khususnya rakyat kecil, dimanipulasi untuk selalu menyibukkan diri dalam perpolitikan. Rakyat jelata diagitasi untuk selalu bangkit melakukan perlawanan terhadap siapa pun yang tak segaris dengan PKI.

Seakan-akan memperjuangkan kaum proletar, yaitu rakyat jelata. Padahal, senyatanya banyak menyengsarakan rakyat. Bahkan, mengorbankan rakyat. Ya, mengorbankan rakyat miskin. Tak semata miskin harta, namun miskin ilmu. Rakyat semacam ini yang dijadikan tumbal perjuangan PKI. Berkedok pertentangan kelas, rakyat jelata dibodohi segelintir elite partai. Rakyat disuguhi kebohongan demi kebohongan. Itulah PKI.

 Berjuang Berarti Memberontak

Tak bisa dimungkiri, doktrin pertentangan kelas yang ditanamkan kepada kader PKI telah banyak memberi pengaruh untuk berontak. Kaum miskin, buruh tani, buruh perkebunan, para pekerja tambang dan pabrik adalah sosok manusia yang sangat rentan disusupi paham komunis. Nyaris semua pemberontakan di Nusantara yang dilakukan komunis melibatkan kaum marjinal (pinggiran), seperti petani atau buruh.

Mengingat doktrin pertentangan kelas pula, kaum marxis-komunis membangun kekuatan massa di pusat-pusat perburuhan atau pertanian. Di situ banyak buruh, di situ pula kader-kader komunis melakukan perekrutan pengikut. Di situ banyak petani miskin, di situ pula agen-agen marxis bergerilya menancapkan cakar komunismenya.

Sebab, sesungguhnya, doktrin pertentangan kelas tak bisa diwujudkan manakala masyarakat tidak dipilah menjadi miskin-kaya, borjuis-proletar, atau kapitalis-proletar. Doktrin pertentangan kelas akan mengalami resistensi (penolakan) dari masyarakat, manakala masyarakat hidup harmoni. Yang kaya menolong yang miskin, yang miskin mengerti keadaan dirinya untuk bersabar dan membangun relasi baik terhadap yang kaya. Pemilik modal (kapitalis) tidak bersikap arogan terhadap kaum buruh atau petani. Begitu pula para buruh atau petani bisa membawa diri dalam bermuamalah. Manakala dibingkai akhlak yang baik, harmoni itu bisa terwujud. Biidznillah.

Sebagai agama yang sempurna dan universal, Islam telah memberikan bimbingan tentang hal itu. Antara kaya dan miskin tidak terjadi jurang pemisah. Ketentuan zakat, sedekah, dan infaq, di antara hikmahnya adalah membangun relasi yang sehat, penuh kasih, hangat, dan perhatian antara yang kaya dan miskin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta.” (adz-Dzariyat: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan untuk tidak meremehkan kaum yang lemah, memerhatikan dan peduli terhadap mereka. Berdasarkan hadits dari Mush’ab bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, dari ayahnya,

أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَبِصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

Sesungguhnya ia (Sa’ad) menyangka memiliki kelebihan atas para sahabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini melalui (kaum) yang lemah karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (HR. an-Nasai, no. 3178, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

 Upaya Pemberontakan 1926—1946

Tengoklah perjalanan sejarah. Pemberontakan di wilayah Banten pada November 1926, kaum komunis berhasil memprovokasi massa buruh dan petani untuk memberontak dan membuat kerusuhan.

Nyaris bersamaan waktu, terjadi pula pemberontakan di wilayah Karesidenan Jakarta dan wilayah Priangan, Jawa Barat. Beriring waktunya dengan pemberontakan komunis di Solo. Jelang tutup tahun 1926, di Kediri meletus pula pemberontakan orang-orang komunis. Awal Januari 1927, orang-orang komunis membuat onar, berontak, dan membantai masyarakat Silungkang, Sumatra Barat.

Sekian banyak makar ditorehkan oleh para pengusung ideologi marxisme di nusantara. Sekian banyak pula korban berjatuhan, kerugian finansial dan kerusakan infrastruktur masyarakat. Apa yang dilakukan orang-orang komunis tak memberi kebaikan sedikit pun terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Komunisme hanya menjadikan situasi tidak kondusif. Fakta sejarah yang terpapar di atas adalah fakta yang terekam saat kemerdekaan Republik Indonesia belum diproklamirkan.

Pasca-kemerdekaan, komunis berulah juga. Antara Oktober—Desember 1945, dikenal “Peristiwa Tiga Daerah”. Para pengusung PKI berusaha melakukan pemberontakan untuk menguasai Tegal, Brebes, dan Pemalang. Mereka melakukan konsentrasi massa di Desa Talang, Kabupaten Tegal. Namun, upaya permufakatan jahat kaum komunis berhasil ditebas pasukan pemerintah.

Pungkas di “Peristiwa Tiga Daerah” ternyata tak menjerakan para pengusung ideologi anti agama ini. Februari 1946, mereka membuat aksi berontak di Cirebon. Upaya merebut kekuasaan pemerintahan daerah tak mampu dilakukan. Massa PKI dipukul mundur oleh pasukan pemerintah dan kaum muslimin.

 Muso Datang, Madiun Meradang

Sekembali dari Rusia, Muso mengambil alih kendali partai. Tanggal 1 September 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) kali pertama terbentuk. Muso dipilih sebagai Ketua PKI. Aroma Rusia pun masih kental tercium. Bara revolusi kaum marxis-leninis di Rusia masih kuat membakarnya. Keberhasilan kaum komunis di Rusia coba ingin diwujudkan di Indonesia. Muso pun ambil langkah.

Sejak Muso memegang tali kekang partai, wajah garang PKI semakin menguat. Para pimpinan partai sering melakukan orasi di hadapan masa. Isi orasi pun sarat muatan yang membakar emosi masa. Menghasut. Memberi janji-janji muluk. Mendiskreditkan pemerintah Republik Indonesia.

Yogyakarta, Sragen, Solo, dan Madiun adalah jalur aksi agitasi mereka. SOBSI, sebagai organisasi sayap PKI untuk para buruh, menggalang kekuatan massa buruh di Klaten, Jawa Tengah untuk mogok kerja. Tak hanya itu, kaum komunis pun melakukan aksi-aksi teror terhadap orang-orang yang tak segaris, seperti terhadap para pegawai pemerintah dan tokoh kaum muslimin di daerah.

Akibat berbagai aksi itu, situasi pun memanas. Kerusuhan meletus di Solo. Darah merah tertumpah. Kolonel Soetarto, Panglima Divisi IV/Panembahan Senopati, dibunuh. Setelah itu, dr. Moewardi pun diculik dan dibantai. Nama terakhir ini kemudian disematkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta, RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang terletak di Jl. Kolonel Soetarto.

Saat perhatian terfokus ke Solo, di Madiun situasi menegang. Pada 18 September 1948, Muso memberi komando untuk menguasai Madiun dan sekitarnya. Operasi pemberontakan berhasil dilaksanakan. Hari itu Madiun dikuasai kaum komunis. Pasukan TNI terdesak ke pinggiran Madiun. Perkantoran pemerintah dan beberapa objek vital dikuasai komunis.

Proklamasi berdirinya negara “Republik Soviet Indonesia” segera dipublikasikan. Sebagai pimpinan pemberontakan, Muso membentuk Pemerintah Front Nasional. Tak berlangsung lama, komunis menguasai Karesidenan Madiun, Purwodadi, dan Cepu.

Pemberontakan ini memakan korban yang tidak sedikit. Di antara para korban pembantaian ialah para pejabat pemerintahan, TNI, polisi, dan tokoh masyarakat. Sebuah sumur tua di Desa Soco, Kecamatan Benda, Kabupaten Magetan merupakan tempat kuburan massal korban pembantaian PKI. Ada 108 jenazah ditemukan, 78 jenazah dikenali, sedang sisanya tak bisa dikenali. Di antara korban, Bupati Magetan Soedibjo. Juga ditemukan korban pembantaian PKI di sebuah sumur di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di tempat ini ada 17 nama korban, diantaranya Kolonel Marhadi. Adapun di sumur tua yang berada di Desa Cigrok ditemukan jenazah 22 orang. Di antaranya jenazah para kiai pengasuh pondok pesantren.

Pemberontakan PKI di Madiun tidak berlangsung lama. Dalam kurun kurang dari dua pekan, para pemberontak bertekuk lutut. Pasukan pemerintah membasmi anasir PKI. Bahkan, Muso ditembak mati saat melarikan diri ke luar kota Madiun. Para pelaku lainnya, seperti Amir Sjarifuddin, dieksekusi mati.

 G 30 S/PKI

Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI) merupakan gerakan penggulingan kekuasaan. G30 S/PKI, sering disebut juga Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), melancarkan pemberontakan dengan melakukan penculikan dan pembantaian terhadap para perwira tinggi TNI. Enam jenderal dan satu perwira menengah dibunuh secara keji oleh kelompok Gestapu. Sementara itu, satu jenderal yang menjadi target penculikan berhasil lolos. Para korban penculikan selanjutnya dibawa ke daerah Lubang Buaya, dekat Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

Pada 1 Oktober 1965 sekira jam 05.30, pasukan Gatotkaca dibawah pimpinan Mayor Udara Gathut Soekrisno menerima hasil penculikan dari pasukan Pasopati. Sementara itu, para sukwan (sukarelawan) PKI, di antaranya ada dari kalangan sukwati (sukarelawati) Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, organisasi sayap PKI untuk para wanita), telah menunggu kedatangan para korban penculikan. Mereka menunggu di dekat sumur tua Lubang Buaya. Tempat itu merupakan basis gerakan mereka.

Empat korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan mata ditutup kain merah dan kedua tangannya diikat ke belakang. Adapun tiga orang jenderal korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan telah meninggal. Tubuh ketiganya bersimbah darah akibat diberondong senjata api laras

panjang dan ditusuk sangkur terhunus. Mereka dibunuh ketika masih di rumahnya masing-masing. Adapun empat korban penculikan yang masih hidup disiksa hingga meninggal.

Saat fajar merekah, hutan karet Lubang Buaya menjadi area pembantaian. Setelah keempatnya meninggal, lalu para sukwan PKI melemparkan para korban ke dalam sumur tua. Untuk menghilangkan jejak, sumur tua itu ditimbun tanah dan ditanami pohon pisang.

Peristiwa 30 September 1965 tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Awan kelam menyelimuti persada. Pengkhiatan PKI terulang kembali. Karena ambisi politik, mereka menghalalkan segala cara. PKI membuat makar. Perilaku binatang nan menjijikan dipertontonkan dihadapan umat manusia. Sekian banyak pemberontakan dilakukan, dan pemberontakan G 30 S/PKI merupakan antiklimaks partai berlambang palu arit ini. Pupus sudah mimpi D.N. Aidit dan para pendukungnya untuk menjadikan republik ini sebagai negara komunis. Tekadnya untuk mengomuniskan Indonesia terhenti akibat perbuatan terkutuknya. Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan makar kaum komunis PKI.

Setelah kebiadaban yang dilakukan orang-orang PKI, maka rakyat Indonesia bersepakat untuk mengenyahkan PKI. Ideologi, organisasi, atribut partai dan segala bentuk kegiatan PKI dilarang di wilayah Republik Indonesia. PKI dibubarkan dan paham komunisme/marxisme-leninisme dilarang. Sebagai lembaga tertinggi di Republik Indonesia, Majelis Permusjawaratan Rakjat Sementara (MPRS) telah membuat ketetapan tentang pelarangan tersebut. Lahirlah Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Walau PKI telah dilarang di Indonesia, bukan berarti paham komunisme itu mati. Partai hanyalah sebuah kendaraan politik. Partai bisa dibubarkan. Namun, komunisme sebagai ideologi bisa terus hidup. Ketika kendaraan politik tidak dimiliki, kader komunis bisa menumpang ke dalam partai politik yang ada sekarang ini. Kader komunis bisa saja menyusup ke dalam partai yang berkuasa. Mereka mencari tempat yang aman. Karena itu, kewaspadaan harus tetap dijaga. Sebagai ideologi, PKI belum mati.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Referensi

Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994

Dari Seorang Marxis Lahirlah PKI

Nama H.J.F.M. Sneevliet atau dikenal juga Henk Sneevliet tak bisa dilepaskan dari sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Pria berkebangsaan Belanda yang datang ke Hindia Belanda (sekarang Republik Indonesia) tahun 1913 adalah seorang berhaluan marxis.

Saat di Belanda, Sneevliet adalah anggota sebuah partai politik bermanhaj komunis. Bahkan melalui Sociaal Democratisch Arbeiders Partij (SDAP: Partai Buruh Sosial Demokrat), ia sempat menjadi anggota perwakilan rakyat.

Di Hindia Belanda, Sneevliet bekerja pada sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya, Soerabajasche Handelsblad. Surat kabar ini milik sindikat perusahaan-perusahaan gula di Jawa Timur. Selang berapa lama ia pindah ke Semarang. Di Semarang inilah Sneevliet menemukan media untuk menebarkan paham marxisme. Saat itu, di Semarang, terdapat organisasi buruh kereta api yang bernama Vereniging van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP).

Melalui organisasi buruh kereta api inilah Sneevliet menanamkan pemahaman radikal marxis. Kondisi sosial politik yang menekan kaum buruh, serta jiwa imperialis kapitalis pemerintah Belanda di Hindia Belanda, menjadikan ajaran marxisme yang dibawa Sneevliet mendapat sambutan. Kaum buruh kereta api seakan mendapat daya untuk bangkit dari ketertindasan.

Mendapat kesempatan emas yang semacam ini, Sneevliet tak menyia-nyiakannya. Ia ajak rekan-rekannya yang berpaham marxis di negeri Belanda untuk tandang ke Hindia Belanda. Datanglah rekan-rekannya, J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma. Semuanya kader marxisme yang memiliki militansi tinggi.

Tak berselang lama dari kedatangan teman-temannya, pada 1914 mereka mendirikan organisasi bernama Indische Sociaal Democraticshe Vereniging (ISDV: Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda). ISDV merupakan organisasi pertama berhaluan marxisme di Asia Tenggara. Organisasi inilah yang kelak menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai media propaganda marxisme, diterbitkanlah majalah Het Vrije Woord (Suara Kebebasan). Selain itu, diterbitkan pula surat kabar Soeara Mardika dan Soeara Rakjat. Tiga media cetak yang mereka terbitkan merupakan sarana menanamkan paham komunisme kepada masyarakat. Mereka memahami benar arti penting sebuah media dalam melakukan aksi propaganda.

Metode infiltrasi (penyusupan) pun dilakukan. Mereka melakukan gerakan penyusupan ke dalam organisasi Sarikat Islam (SI). Akibat gerakan infiltrasi yang mereka lakukan, banyak kader SI yang kemudian menjadi penganut marxis. Di antara kader SI yang membelot dari SI adalah Semaoen dan Darsono. Nama kader SI yang disebutkan, di kemudian hari menjadi orang penting dalam membidani lahirnya PKI.

Dalam perkembangannya, ISDV yang menamakan dirinya sebagai kelompok merah, memperalat para serdadu dan pelaut untuk melakukan demonstrasi melawan polisi. Media cetak yang dikuasai ISDV pun menyajikan tulisan-tulisan yang menghasut massa. Tujuannya agar terjadi pemberontakan dan berkibarlah bendera merah (komunis).

Aksi kaum komunis yang tergabung dalam ISDV ini membangkitkan kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Pihak pemerintah akhirnya menangkap Sneevliet dan teman-temannya, kemudian mengusirnya pulang ke negeri Belanda. Pengusiran paksa dilakukan berturutan antara tahun 1918—1923.

Setelah pengusiran paksa Sneevliet dan teman-temannya, ISDV dikendalikan kader komunis binaan Sneevliet, Semaoen dan Darsono. Sejak itu mulailah organisasi perhimpunan marxisme di Hindia Belanda secara murni dipegang kaum pribumi. Komunis di Hindia Belanda sudah tidak lagi berkulit bule. Sudah tidak lagi makan keju dan roti. Komunis di negeri jajahan\ Belanda, semenjak itu telah sama dengan putra pribumi. Sneevliet telah menanam kader yang berkulit sawo matang, bisa makan nasi, dan berbicara dengan bahasa ibunya. Komunis dan komunisme telah memasuki babak baru dalam sejarah di wilayah Nusantara.

Sebuah hasil pertemanan yang membawa dampak buruk. Tak hanya memberi keburukan kepada orang bersangkutan. Bahkan, berdampak negatif dalam skala yang sangat luas, yaitu skala kehidupan bangsa Indonesia.

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkait pertemanan. Teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Adapun pandai besi bisa menjadikan pakaian seseorang terbakar. Atau, minimalnya bisa mencium sesuatu yang beraroma buruk. Itulah pengibaratan bagi seseorang yang bergaul dengan teman yang buruk.

Komunis tak semata menebar aroma bau busuk, lebih dari itu menjadikan seseorang terjungkal ke arah kekufuran. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَناَفِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً

Sesugguhya permisalan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk, seperti seorang pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi ia memberimu (minyak wangi), bisa juga engkau membelinya dari dia, dan bisa jadi pula engkau cuma mendapati aromanya yang harum. Adapun pandai besi, bisa menjadikan pakaianmu terbakar dan bisa pula engkau akan dapati bau yang tak sedap.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Seiring perjalanan waktu, peta perkembangan global pun mengalami perubahan. Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia telah memberi semangat melimpah bagi para penganut marxisme di berbagai belahan bumi. Tak terkecuali yang ada di Hindia Belanda saat itu. Berbagai konsolidasi pun dilakukan, termasuk melakukan konsolidasi struktural dalam partai.

Selang beberapa tahun dari revolusi di Rusia, setelah dirasa tepat untuk melakukan kongres, pada Juni 1924 diadakan kongres kali pertama kaum komunis di Jakarta. Pada kongres inilah nama PKI secara resmi disematkan menjadi nama partai untuk kaum pengusung marxisme. PKI pun lahir di bumi Nusantara.

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Proxy War, Kuasai Negara Tanpa Kirim Bala Tentara

Menteri Pertahanan Republik Indonesia menilai, fenomena kemunculan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia adalah bagian proxy war atau perang proksi untuk menguasai suatu bangsa tanpa perlu mengirim pasukan militer.

Perang proksi dilakukan melalui proses cuci otak. Pemikiran seseorang diubah sesuai dengan kepentingan lawan. Apabila kemunculan LGBT saja sudah dinilai sebagai ancaman terhadap bangsa, sudah pasti geliat komunisme harus lebih diwaspadai.

Belajar dari perjalanan sejarah, sebelum Partai Komunis Indonesia (PKI) tumbuh meraksasa, proses cuci otak telah dilakukan secara sistematik. Berawal dari kehadiran seorang aktivis Belanda berhaluan Marxisme di Nusantara (saat itu masih bernama Hindia Belanda) bernama H.J.F.M Sneevliet. Melalui Sneevliet ajaran Marxisme mulai ditebar di Nusantara. Bahkan, Sneevliet berhasil menyusupkan paham Marxisme ke dalam tubuh organisasi Sarikat Islam (SI). Kader-kader SI, seperti Semaoen, berhasil dicuci otak sehingga menjadi kader SI berhaluan marxisme.

Keberhasilan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia—yang mengantar kaum komunis di bawah pimpinan Vladimir Lenin memegang kekuasaan—digunakan untuk mengarahkan kader-kader komunis di Nusantara untuk berpaling ke Rusia.

Selang beberapa tahun, terjadilah pengiriman orang-orang pribumi ke Rusia. Pengiriman para kader ini sebagai bagian proses cuci otak sehingga pergerakan komunis di Nusantara kelak dikendalikan oleh orang-orang pribumi. Melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), Rusia menanamkan paham Marxisme-Leninisme ke seluruh dunia. Kemudian muncullah nama-nama seperti Muso, D.N. Aidit, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin sebagai lokomotif pergerakan komunis di Bumi Nusantara.

Sejarah kemudian mencatat, mereka yang telah mengalami proses cuci otak sehingga menjadi komunis, melakukan pengkhianatan terhadap bangsa. Komunis melakukan gerakan bersenjata guna menghabisi lawan-lawan politiknya. Siapa tidak sepaham, dilibas!

Itu dahulu. Kini, perang proksi tentu lebih canggih dan tersistematis. Masih ingat Revolusi Februari 1979 di Iran? Apabila Rusia dengan Revolusi Bolshevik 1917, melalui jaringan Komunis Internasional (Komintern), berhasil mengekspor paham komunisme ke seluruh dunia; Iran dengan Revolusi Februari 1979 yang digerakkan oleh Khomeini, pun menebarkan pemahaman Syiah ke seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Setelah Shah Iran Reza Pahlevi digulingkan oleh Khomeini, kekuasaan beralih kepada kaum Syiah. Untuk mengelabui masyarakat muslim dunia, revolusi yang dicanangkan dilabeli dengan “Revolusi Islam”. Tak heran apabila kemudian banyak kaum muslimin tertipu. Tahun 1980-an, di Indonesia, foto-foto Khomeini berbagai ukuran menyebar secara masif di kalangan para aktivis Islam. Khomeini menjadi simbol perlawanan saat itu. Khomeini difigurkan.

Sebagaimana halnya Revolusi Bolshevik di Rusia yang dijadikan rujukan oleh para kader komunis, yang lantas disusul pengiriman kader-kadernya ke Rusia; setelah revolusi di Iran berlangsung, pengiriman para aktivis Islam ke Iran pun dilakukan. Melalui jaringan yang dirancang kaum Syiah di Indonesia, program cuci otak terhadap para aktivis Islam dari Indonesia dilakukan secara sistematis.

Kader-kader Syiah yang kembali dari Iran lantas melakukan pergerakan. Sebagaimana orang-orang komunis berhasil menyusup ke dalam tubuh Sarikat Islam, kaum Syiah pun melakukan gerakan penyusupan ke tubuh partai, organisasi massa, bahkan ke lembaga kekuasaan di tingkat pusat.

Berbahayakah kaum Syiah sehingga selalu perlu diwaspadai? Apabila berkaca pada sejarah, perjalanan panjang kaum Syiah di muka bumi ini telah menorehkan luka mendalam pada tubuh kaum muslimin.

Betapa tidak. Kaum Syiah senantiasa memunculkan konflik. Melalui doktrin sesatnya, kaum Syiah memiliki keyakinan yang keji terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum Syiah pun merusak tatanan hidup bermasyarakat dan berkeluarga melalui ajaran nikah mut’ah. Kaum Syiah pun mengajarkan hidup boleh berdusta melalui ajaran taqiyah. Bahkan, taqiyah adalah ibadah.

Masih sekian banyak lagi kesesatan ajaran Syiah. Ajaran-ajaran tersebut merupakan bom waktu yang bisa menjadi pemicu konflik horisontal di tengah masyarakat. Bahkan, apabila telah memiliki kekuatan, kaum Syiah tak segan melakukan perebutan kekuasaan. Pelajaran sejarah yang terbaik untuk menjadi cermin bangsa Indonesia adalah perjalanan kaum Syiah di Iran yang merebut kekuasaan dari Shah Iran, Reza Pahlevi. Di Yaman, kaum Hutsi (Syiah) berupaya yang melakukan gerakan pemberontakan bersenjata guna menggulingkan presiden yang sah. Demikian pula pergolakan kaum Syiah di Suriah.

Semua itu hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Haruskah menanti bangsa ini bersimbah darah lagi sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum komunis PKI dahulu?

Selain komunisme dan Syiah, jaringan liberal pun perlu diwaspadai. Paham liberalisme dalam memaknai syariat Islam sangat berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini bisa ditinjau dari sisi:

  1. Kaum muslimin di Indonesia merupakan populasi terbesar.

Jumlah mayoritas ini akan menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa manakala kaum muslimin memiliki pemahaman yang benar terhadap agamanya. Pemahaman yang benar tentu saja pemahaman yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pemahaman yang merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh salaf.

Ketika kaum muslimin memiliki pemahaman yang rusak terhadap agamanya, kelemahan akan meliputi kaum muslimin (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari hal itu). Kelemahan kaum muslimin akan berdampak besar kepada kondisi bangsa.

Karena itu, untuk merusak bangsa ini, kaum imperialis menggunakan strategi perang proksi. Kaum cendekia dicuci otak melalui agen-agen mereka yang ada di Tanah Air. Ada yang diberangkatkan langsung ke negara imperialis dengan kamuflase “tugas belajar”. Sekembali dari “tugas belajar”, ia menyuarakan berbagai keganjilan di tengah masyarakat. Mengusik stabilitas nasional.

Apa yang dilakukan oleh kaum liberal di Indonesia bisa mengancam kehidupan bermasyarakat. Lihatlah, dukungan kaum liberal terhadap LGBT. Tak mustahil kaum liberal akan mendukung kaum komunis dengan alasan hak asasi manusia, demokrasi, dan kebebasan. Menilik konsepsi berpikir kaum liberal, arah untuk memberi dukungan terhadap komunisme sangat terbuka. Allahu a’lam.

 

  1. Apabila kaum muslimin telah jauh dari agamanya, kehancuran bakal mengintai. Pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala bisa terhambat.

Padahal kemerdekaan negara ini tak lepas dari pertolongan-Nya. Kemerdekaan bangsa ini adalah atas rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Jika bukan Allah subhanahu wa ta’ala yang membantu bangsa ini, siapa lagi yang bisa dijadikan penolong?

Sehebat apapun kekuatan dikerahkan, manusia tentu ada batasnya. Islam mengajarkan agar manusia tidak sombong di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Islam mengajarkan agar manusia taat kepada-Nya.

Kini, apa yang diajarkan oleh Islam, coba dirusak dengan pemahaman liberal. Kaum liberal, sebagai kaki tangan kepentingan asing, berupaya mereduksi kekuatan bangsa. Mereka melakukan pelemahan secara sistematis terhadap unsur penguat bangsa, yaitu kaum muslimin.

 

  1. Karena itu, sudah semestinya rakyat Indonesia yang mayoritas kaum muslimin didorong untuk menjadi orang-orang yang lurus imannya.

Mereka harus didorong menjadi manusia-manusia beriman sebenar-benarnya, bukan menjadi manusia-manusia yang membangkang terhadap Yang Maha Pencipta. Inilah yang dilakukan kaum liberal. Mereka mendorong rakyat Indonesia menjadi kaum pendurhaka, LGBT. Semoga pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala meliputi bangsa ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٤٧

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Perang pemikiran akan terus berlangsung. Bala tentara setan akan terus berupaya merongrong kehidupan masyarakat. Sekarang mereka memperjuangkan LGBT yang didukung organisasi sayap mereka dari kalangan intelektual, seperti kaum liberal. Kalangan yang dididik oleh orientalis tentu memiliki agenda tersembunyi terhadap kaum muslimin dan bangsa ini.

Ada apakah sehingga mereka mendukung penuh LGBT? Padahal telah tampak secara nyata kerusakan yang ditimbulkan LGBT di tengah masyarakat. Komunis, liberalis, Syiah, radikalis, dan teroris senantiasa berupaya merusak kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, bekali umat dengan pemahaman Islam yang benar. Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Komunisme, Ideologi Antiagama

Komunisme diartikan sebagai paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol negara. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Dengan kata lain, komunisme adalah sebuah paham yang menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi (seperti tanah, tenaga kerja, modal) yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa kelas dan semua orang sama. Komunis artinya orang yang menganut ideologi komunisme.

Sisi lain, komunisme merupakan ideologi yang mendasarkan segala sesuatu pada materi, mengingkari keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala dan tiap perkara yang bersifat gaib. (www.sahab.net/forums/indeks.php?showtopic=91799)

Karena bersandar kepada prinsip materialisme, komunisme tidak menerima kepercayaan mitos, takhayul, dan agama. Bahkan, agama dianggap sebagai candu yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional.

Dengan demikian, komunisme adalah ideologi antiagama. Komunisme adalah ideologi yang tidak mengakui adanya Allah subhanahu wa ta’ala (ateisme) dan hal-hal yang bersifat gaib karena dianggap sebagai mitos dan takhayul. Prinsip dasar itulah yang ditanamkan oleh Karl Marx dalam membangun ideologi komunismenya.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan, termasuk bentuk keyakinan yang kufur, bertentangan dengan akidah yang benar, menyelisihi syariat yang dibawa oleh para rasul ‘alaihimussalam, ialah keyakinan menyimpang (ateis) kalangan pengikut Marx, Lenin, serta para penyeru ateisme dan kekufuran. Ideologi mereka bisa bernama sosialisme, komunisme, ba’tsiyah (para pengikut Partai Ba’ts), atau lainnya. Mereka memiliki prinsip ideologi ateisme yang menyatakan tidak ada ilah (tuhan) dan kehidupan adalah sesuatu yang bersifat materi. Mereka memiliki prinsip ideologi yang mengingkari kehidupan akhirat, surga, dan neraka. (Arkanu al-Islam, hlm. 36)

Dinyatakan pula oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah bahwa Partai Ba’ts, Komunisme, dan seluruh ideologi yang sejenis, menjadikan para penganutnya kafir. Mereka lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.

Sebab, makanan dan sembelihan Yahudi dan Nasrani masih diperkenankan untuk seorang muslim. Demikian pula para wanita mereka (Yahudi dan Nasrani) masih diperkenankan dinikahi. Setiap ateis (orang yang tak meyakini keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala) tidak memercayai Islam, itu lebih jelek dari Yahudi dan Nasrani. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz, 6/85)

 Beriman Kepada Allah Meliputi Iman Kepada Wujud Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam Nubdzah fi al-‘Aqidah al-Islamiyah (hlm. 16), asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala meliputi keimanan terhadap wujud (keberadaan) Allah subhanahu wa ta’ala. Keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala bisa ditunjukkan secara fitrah, akal, syariat, dan fisik. Disebutkan dalam sebuah hadits,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tiada anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (HR. al-Bukhari, no. 1319)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Akidah Islam dibangun atas asas beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir, yang baik atau buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orangorang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kesusahan dan derita serta dalam masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

Juga firman-Nya,

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩

 “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (al-Qamar: 49)

Demikian pula di dalam hadits dijelaskan tentang prinsip keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْإيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهَ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْم الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Keimanan adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik dan buruknya.” (HR. Muslim no. 93)

Itulah keyakinan seorang muslim. Keyakinan yang sangat bertolak belakang dengan keyakinan seorang komunis. Sungguh lemah dasar pijak materialisme yang dianut oleh kaum komunis. Mereka bergantung pada sesuatu yang fana, mudah hancur, dan sirna. Mereka menjadikan materi sebagai pijakan keyakinannya.

Sungguh, apa yang dijajakan oleh Karl Marx, Vladimir Lenin (tokoh komunis Uni Soviet), atau Mao Tse-Tung (tokoh komunis Tiongkok) adalah kekufuran yang akan menghancurkan peradaban manusia. Ideologi yang menghalalkan segala cara. Ideologi yang mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk meraih kekuasaan.

Pertentangan Kelas adalah Adu Domba

Pertentangan kelas menjadi doktrin kuat yang dianut oleh para kader Marxisme. Karena prinsip ideologi komunis semacam itu, maka para petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin menjadi ladang garap utamanya.

Komunis Uni Soviet membangun kekuatan partai di lingkungan para pekerja (buruh). Adapun komunis Cina membangun garda pertahanan partainya di wilayah berbasis petani. Kalangan fakir, miskin, orang-orang lemah, orang-orang tertindas, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya komunisme.

Di Indonesia tak jauh berbeda. Sejarah perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) tak bisa dipisahkan dari kaum proletar (rakyat jelata, seperti kaum buruh, petani, dan nelayan). Dalam keorganisasian pun, PKI memiliki organisasi sayap, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), dan organisasi berbasis massa lainnya.

Melalui organisasi sayap petani, BTI, PKI melakukan aksi pertentangan kelas. Dengan dalih membela para petani miskin, PKI menuntut dilaksanakannya Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian (UU No. 2/1960) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5/1960).

Sejalan dengan propaganda yang dicanangkan, dalam rangka mempertajam pertentangan kelas sesuai dengan doktrin Marxisme-Leninisme, PKI mengampanyekan pula sikap anti “Tujuh Setan Desa”. Adapun yang dimaksud sebutan “Tujuh Setan Desa” adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemungut/pengumpul zakat.

Pada 26 Maret 1964, BTI Jawa Tengah melakukan aksi di Desa Kingkang, Kecamatan Wonosari. BTI memprovokasi para petani sehingga terjadi konflik. Atas hasutan BTI, massa anggota BTI melakukan tindak kekerasan terhadap tuan tanah di desa tersebut.

Melalui BTI, PKI menumbuhkan saling membenci di antara komponen masyarakat. Bahkan, penganiayaan secara fisik pun terjadi. Masyarakat diadu domba. Doktrin pertentangan kelas menjadi andalan kaum komunis untuk membenturkan antaranak bangsa.

Tanggal 15—16 Oktober 1964 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, aksi masa BTI pun tak kalah sadis. Tujuh anggota petugas perkebunan milik negara dianiaya oleh massa komunis dari BTI.

Sekali lagi, kampanye PKI untuk melakukan aksi pertentangan kelas terus digalakkan saat itu. Akhirnya, berbagai kasus konflik di tengah masyarakat bermunculan, seperti di Kediri (Jawa Timur), Simalungun (Sumatra Utara), dan tempat lainnya. (Lihat Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994)

Demikianlah orang-orang komunis. Melalui organisasi tani BTI, mereka menghasut anggota dan simpatisannya untuk bertindak onar tanpa kendali. Mereka hendak memaksa pemilik tanah untuk menyerahkan tanahnya dengan dalih melaksanakan undang-undang. Akibat tindakan mereka terjadilah konflik di berbagai daerah.

PKI menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Termasuk menggunakan cara adu domba, yang mereka sebut dengan “pertentangan kelas”. Pertentangan antara kelas borjuis (pemilik tanah) dan kaum proletar (rakyat jelata, buruh tani miskin). Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang suka mengadu domba.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu)

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Geliat Komunisme Di Tanah Air

Tanpa risih anak muda itu mengenakan kaos bersimbol palu arit. Kaos bersimbol Partai Komunis itu dikenakan seakan tanpa beban sejarah. Anak muda di Jombang, Jawa Timur, yang mengenakan kaos bergambar palu arit itu mengungkapkan bila dirinya tak tahu itu lambang Partai Komunis.

Seorang lagi, yang tinggal di Jakarta, menyebutkan, kaos itu berasal dari temannya sebagai cinderamata saat ia kunjung ke Vietnam. Pemakai kaos palu arit itu dengan ringan menepis tuduhan mempropagandakan komunisme. Keduanya mengenakan kaos berlogo palu arit karena ketidaktahuan semata.

Anak-anak muda yang rabun sejarah semacam ini jumlahnya tak sedikit. Keterputusan dari akar sejarah bisa menjadi celah masuknya kepentingan paham kaum komunis.

Di sebuah universitas negeri di Jember, salah satu sudutnya ditulisi secara berderet memanjang grafiti palu arit. Aksi spontanitas ataukah aksi angkatan muda komunis?

Yang jelas, sekian banyak fenomena itu tidak bisa dianggap sepele. Beragam fenomena kebangkitan komunisme dengan tampilan kekinian tetap harus diwaspadai dan dicegah sedini mungkin. Mempertebal jiwa agamis nan lurus merupakan cara ampuh menolak komunisme dengan segala variannya.

Di Pamekasan, Jawa Timur, di tengah keramaian pawai bermunculan simbol-simbol Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak cuma gambar palu arit yang dipertunjukkan. Foto beberapa tokoh PKI pun disertakan dalam pawai itu. Tanpa beban sejarah, anak-anak sekolah itu dengan gagah membawa beragam atribut PKI.

Yang lebih memprihatinkan, membawa dan mempertunjukkan foto-foto tokoh PKI dan atribut komunisme lainnya itu atas perintah guru di sekolahnya. Walaupun setelah peristiwa itu tersebar di tengah masyarakat, pihak guru buru-buru mengklarifikasinya. Namun, apa pun di balik penayangan atribut PKI di depan umum, tentu merupakan insiden yang menodai kehidupan bangsa.

Aku Bangga Menjadi Anak PKI. Buku karya anak seorang tokoh PKI ini sempat mencuatkan polemik di tengah masyarakat. Betapa tidak. Anak PKI yang kini bisa duduk di lembaga legislatif pusat ini bertutur perihal dirinya yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut komunisme.

Sebuah tuturan tabu bagi masyarakat Indonesia yang telah merasakan pedihnya digasak orang-orang komunis. Pengkhianatan DN. Aidit dan kawan-kawannya terhadap Republik ini tentu masih sulit dilupakan. Bahkan, jauh sebelumnya, Muso, Amir Sjarifuddin, beserta teman-teman sealirannya, pada 1948 melakukan pemberontakan menentang pemerintahan Republik Indonesia di Madiun, Jawa Timur.

Akibat pengkhianatan ini, tak sedikit dari masyarakat Madiun yang menjadi korban keganasan orang-orang komunis. Semua peristiwa itu masih tetap segar dalam ingatan rakyat Indonesia.

Aroma komunisme pun terselip pula di spanduk sebuah partai politik. Angka 45 yang tertera di spanduk direka sedemikian rupa hingga menyisipkan rupa palu arit. Kebijakan menebar spanduk beraroma komunisme itu tak sekadar di tingkat lokal. Terbukti, spanduk serupa bertebaran pula di kota-kota, seperti Tasikmalaya (Jawa Barat), Magelang, dan Solo. Ketika pemunculan spanduk bermasalah ini mendapat kritik masyarakat, pihak partai pun mengklarifikasinya.

Geliat komunisme di Tanah Air tak sekadar menampilkan atribut komunisme di tengah khalayak. Para pegiat yang pro-komunisme memanfaatkan situasi politik yang ada. Saat kekuasaan beralih ke kader PDI-P, para pegiat pro-komunisme ramai-ramai mendorong sang presiden untuk menyampaikan permohonan maaf. Tuntutan permohonan maaf ini sebagai bentuk rehabilitasi dan rekonsiliasi terhadap para korban dari kalangan komunis. Terutama, anggota PKI yang menjadi korban pihak militer.

Tuntutan agar presiden menyampaikan permohonan maaf sempat menguat. Peristiwa ini menjadi sinyal bahwa beberapa anak keturunan PKI masih menyimpan dendam sejarah.

Kondisi psikologis semacam ini tentu bisa menjadi bahaya laten bagi kelangsungan hidup berbangsa. Ketidakpuasan terhadap sikap pemerintah yang mengabaikan permohonan mereka bisa menjadi daya untuk melakukan langkah yang lebih jauh.

Komunisme tetap hidup di dada mereka. Semangat juang para orang tua mereka melawan pemerintah yang dianggap sebagai antek-antek para borjuis (tuan tanah) dan kapitalis (pemegang modal) bisa jadi terus menginspirasi. Dengan ini semangat untuk menghidupkan paham komunisme pun terus berkobar. Komunisme tak akan pernah mati.

Apa buktinya?

Setelah terpentok di Tanah Air, mereka mengangkat isu di negeri Belanda. Didukung para aktivis di bidang hukum, mereka mempersoalkan hak-hak para korban di pihak komunis. Pengadilan Rakyat Internasional 1965 pun di gelar di Den Haag, Belanda. Para saksi sejarah mereka hadirkan. Mereka begitu bersemangat menggelar aksi Pengadilan Rakyat Internasional.

Tak ada lagi perasaan risih telah mempermalukan bangsa di hadapan masyarakat dunia. Upaya menginternasionalisasikan korban dari kalangan komunis di Indonesia tetap berlanjut. Itulah semangat para kader komunis. Mereka dibantu para aktivis yang tak segan untuk menjual bangsanya.

Tak ketinggalan para mantan anggota PKI di Solo. Setelah menghirup udara bebas dalam alam demokrasi yang karut-marut, para mantan anggota PKI coba menyuarakan ganjalan hatinya. Sebuah seminar pun coba diselenggarakan pada akhir Februari 2015 lalu. Dengan tajuk “Layanan Kesehatan Korban Tragedi 1965/1966 untuk Mewujudkan Rekonsiliasi” mereka menaruh harapan dari terselenggaranya seminar tersebut.

Namun, apa yang mereka lakukan tak mendapat restu masyarakat Solo. Seminar itu pun bubar. Walau seminar batal, setidaknya para mantan anggota partai terlarang ini telah menunjukkan keberaniannya untuk bersuara.

Mereka benar-benar memanfaatkan demokratisasi dan liberalisasi yang tengah disuntikkan para imperialis Barat ke negeri-negeri Kaum Muslimin. Momentum kebebasan (liberalisasi), isu Hak Asasi Manusia (HAM), dan demokratisasi menjadi senjata ampuh untuk menghidupkan komunisme.

Tiga faktor tersebut merupakan lahan subur untuk tumbuhnya komunisme dan paham lainnya yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain tentu saja, masyarakat yang tidak memiliki orientasi kehidupan berislam yang lurus dan benar, bisa menjadi titik rawan tersusupinya pemahaman komunis dan paham-paham sesat lainnya.

Tingkat kewaspadaan harus tetap tinggi. Kaum muslimin harus membekali diri, terutama dengan pemahaman Islam yang benar, yang akan membentengi setiap muslim dari pemahaman menyimpang. Berpegang teguh kepada Islam yang benar menjadi sebab turunnya pertolongan

Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمَكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai Ananda, sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah (hukum-hukum) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hukumhukum) Allah, niscaya engkau akan mendapati Allah sebagai pembimbing (pemandu)mu. Apabila engkau meminta, hendaklah meminta kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, hendaklah memohon pertolongan kepada Allah.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Komunis selalu menghalalkan segala cara guna meraih tujuannya. Walau harus dengan cara menumpahkan darah, membantai lawan politiknya, atau cara-cara lain yang jauh dari nilai-nilai perikemanusiaan.

Sejarah komunis di Indonesia telah menorehkan catatan kelam. Tak sedikit korban berjatuhan dari kalangan muslimin. Mereka dibantai, disiksa, hingga meregang nyawa. Sadis. Itulah aksi orang-orang komunis. Sedemikian besar permusuhannya kepada kaum muslimin.

Karena itu, waspadai kebangkitan komunisme di Tanah Air ini. Geliat komunisme telah hadir di depan mata. Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Islam Nusantara dan Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah aliran sesat yang ditolak oleh umat Islam dunia. Walau demikian, ia dapat tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Aliran sesat ini lahir pada tahun 1889 di kota kecil Qadian, Punjab, Pakistan (dulu masuk wilayah India). Kemunculannya tak bisa dipisahkan dari kolonial Inggris yang sedang menjajah. Karena itu, tak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa ia bentukan kolonial Inggris. Targetnya, untuk memecah-belah kekuatan umat Islam India (baca: Pakistan) yang sedang berjuang melawan penjajah Inggris dan menginginkan kemerdekaan kala itu.

Ahmadiyah mempunyai kitab suci sendiri bernama Tadzkirah yang pada hakikatnya adalah bajakan dari ayat-ayat yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’an.

Modusnya ialah dengan melakukan perubahan, penambahan, dan pengurangan, lalu dirangkaikan menjadi ayat-ayat. Setelah itu, diklaim sebagai wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diwahyukan Allah subhanahu wa ta’ala kepada nabi palsu mereka, Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani.

Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani, pendiri aliran sesat tersebut, sebagai al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan kemunculannya pada akhir zaman. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai nabi yang memegang tongkat estafet kenabian setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal hakikatnya adalah nabi palsu.

Dalam akidah Islam, keberadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir adalah harga mati. Demikian pula agama Islam yang dibawa beliau, sebagai agama terakhir nan paripurna.

Barang siapa meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada nabi berikutnya, dan masih ada pula suatu agama yang menyempurnakan agama Islam yang dibawa beliau, dia telah kafir, keluar dari Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi, dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Sesungguhnya akan ada di tengah-tengah umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelahku.” (HR . at-Tirmidzi no. 2145, dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi no. 2219, al-Misykah no. 5406, dan ash-Shahihah no. 1683)

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Jaksa Agung Indonesia, pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama (SKB), yang memerintahkan penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam itu.

Tahukah Anda, sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap aliran sesat ini? Simak penuturan mereka berikut ini,

  • Gus Dur berkata,

“Selama saya masih hidup, saya akan mempertahankan gerakan Ahmadiyah.” (https://youtu.be/1uzROyY61gE)

  • Ulil Abshar Abdalla berkata,

“Ahmadiyah memang Islam. Syarat Islam kan bersyahadat, salat, puasa, zakat, haji. Mereka melakukan semuanya.” (m.republika.co.id 7/8/2015. Twitternya @ulil)

  • Said Aqil Siradj

“Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi? Itu kan saudara kita sebangsa setanah air.”

“Ini ukhuwah wathoniyah. Yang terpenting tidak melanggar undang-undang.” (m.okezone.com 14/11/2013)

Demikianlah sikap Islam Nusantara terhadap aliran sesat Ahmadiyah yang diwakili oleh tiga orang pegiat sejatinya.

Gus Dur akan terus mempertahankan Ahmadiyah, selama masih hidup. Allahul Musta’an.

Ulil Abshar Abdalla dengan entengnya mengatakan, “Ahmadiyah mmg Islam. Syarat Islam kan bersyahadat…..,” tanpa memperhitungkan sama sekali pembatal-pembatal keislaman. Seperti keyakinan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keyakinan adanya kitab suci baru setelah al-Qur’an.

Adapun Said Aqil Siradj, dengan pasrah berkata, “Ahmadiyah itu mau dibagaimanakan lagi?” Dalihnya, saudara sebangsa setanah air alias ukhuwah wathaniyah.

Yang cukup mengherankan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mendapat undangan istimewa dalam acara Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara yang diadakan pada tanggal 1 Agustus 2015 di arena Muktamar NU ke-33, De-Nala Foodcourt, Jombang, Jawa Timur.

Apakah acara tersebut sebagai salah satu refleksi dari Islam Nusantara, yang kala itu dijadikan tema utama muktamar? Wallahu a’lam, yang jelas acara ini dipelopori dan dimoderatori oleh Aan Anshari, seorang aktivis muda NU Jombang sekaligus ketua Gusdurian Jawa Timur. Tema yang diangkat adalah “Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama.” (NU online/www.gusdurianmalang.net)

Pada acara itu hadir perwakilan dari lintas agama, termasuk utusan Ahmadiyah yang diwakili oleh Syaeful Uyun, didampingi Basuki Ahmad dan 12 anggota jemaat lainnya.

Uniknya, Syaeful Uyun menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun ramai mengeksposnya dalam beberapa media sosial mereka, antara lain wartaahmadiyah.org.

Bahkan, dengan bangga mereka unggah dalam akun twitter Ahmadiyah Indonesia @AhmadiyahID (4/8/2015), “Ahmadiyah menjadi pembicara dalam Silaturahmi dan Dialog Kultural Jaringan Lintas Iman Nusantara.”

Demikianlah sikap para pegiat Islam Nusantara terhadap Ahmadiyah yang jelas-jelas sesat. Betapa lemahnya sikap al-bara’ (berlepas diri) mereka terhadap aliran-aliran sesat. Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

Islam Nusantara Pro Syi’ah?

Para ulama yang mulia rahimahumullah, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syi’ah. Hasilnya, Syi’ah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran.

Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya, agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini,

  1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)
  2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (Syi’ah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian beliau ditanya, “Apakah kita menyalatinya (bila meninggal dunia)?”

Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

  1. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)
  2. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syi’ah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)
  3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah) sebagai orang Islam.” (as-Sunnah karya al-Khallal 1/493)
  4. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syi’ah) atau di belakang Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda terheran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syi’ah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda.

Jawaban ringkasnya, karena Syi’ah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam.

Bukankah mereka amat berambisi untuk merobohkan tiga pilar utama agama dalam Islam, yang tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh? Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah).

Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya menurut Syiah Rafidhah seperti Shahih al-Bukhari bagi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada (1/239—240) disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.

Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Adapun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya,

  1. Mengklaim bahwa para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan.

Disebutkan dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

  1. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dengan pengafiran para sahabat, berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan melalui mereka.[1]

Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surah Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat.[2] Bahkan, berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Tak heran apabila didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (seperti dalam Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).(Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, melalui merekalah keduanya sampai kepada kita.

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita, Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Satu hal penting yang tak boleh dilupakan, Syi’ah kerap kali melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.[3] Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami yang beragama Syi’ah.

Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan. Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama.

Selama 40 hari pembantaian terus-menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk, semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam, sementara sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya.[4] Wallahul Musta’an.

Bagaimanakah sikap Islam Nusantara terhadap Syiah? Apakah mereka berada satu barisan dengan para ulama terkemuka semisal al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Malik, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya tersebut? Simaklah penuturan mereka berikut ini.

 Ulil Abshar Abdalla

Dalam akun twitternya @ulil, 26/6/2015 berkata, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah.

Tanggapan:

  1. Ini menunjukkan bahwa Jaringan Islam Liberal (JIL), Islam Nusantara, dan Syi’ah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena itu, mereka tidak saling memusuhi.
  2. Fakta di lapangan membuktikan kebenaran perkataan Ulil tersebut. Tak heran apabila mereka saling mendukung dan membela.
  3. Hal ini semakin memperjelas betapa buruknya wajah Islam Nusantara.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam.”

Tanggapan:

  1. Ini merupakan legitimasi dan rekomendasi bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.
  2. Betapa nekatnya Ulil menabrak fatwa sesat Syi’ah yang dikeluarkan oleh ulama terkemuka umat Islam; al-Imam asy-Sya’bi, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya rahimahumullah. Tidakkah Ulil mengerti kapasitas dirinya?!
  3. Faktor penyebab kenekatan Ulil di atas, bisa jadi karena mengekor hawa nafsu, bisa jadi pula karena kebodohannya. Kedua-duanya tercela. Namun, lebih tercela lagi apabila penyebabnya adalah keduanya, yaitu mengekor hawa nafsu ditambah kebodohan.
  4. Jika fatwa ulama terkemuka di atas tidak dia hiraukan, sudah barang tentu fatwa orang yang di bawah mereka pun akan dicampakkan. Wallahul Musta’an.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Beda dengan Islam Wahabi atau

Tanggapan:

  1. Ini merupakan agresi verbal yang dilancarkan oleh Ulil terhadap pihak yang tak sependapat dengannya. Itu kerap kali terjadi, baik di akun twitternya maupun yang lainnya.
  2. Begitulah “orang-orang” Islam Nusantara. Mereka kerap kali mengangkat tentang etika sosial, keramahan-tamahan, sikap santun, antiradikalisme, cinta damai, dan lain-lain, namun kenyataannya justru merekalah yang kerap berkonfrontasi, mencerca, menghina, dan “menyerang” pihak yang tak disukai melalui media-media yang ada. Justru mereka mendukung kelompok radikal, yaitu Syiah. Fakta dan data di lapangan cukup menjadi bukti.
  3. Islam Wahabi atau simpatisannya memang meyakini bahwa Syi’ah itu sesat, berbeda dengan Islam Nusantara. Lantas, apa yang dipermasalahkan? Bukankah dengan itu berarti Islam Wahabi atau simpatisannya sejalan dengan fatwa para ulama terkemuka di atas? Sungguh, ini suatu kemuliaan, bukan kehinaan.
  4. Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah), selalu buruk di mata pegiat-pegiat Islam Nusantara dan konco-konconya. Mereka menjadikan dakwah Salafiyah yang dibawa asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai musuh bersama. Bahkan, sering kali dijadikan tumbal untuk meraih berbagai kepentingan. Itulah salah satu dari fenomena sosial keberagamaan di Tanah Air kita.

Apabila seseorang mengetahui Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah) yang sebenarnya, sungguh tak akan sanggup lisan dan pena mengumpatnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah, edisi 22, “Konspirasi Meruntuhkan Dakwah Islam”.

  1. Bagi Ulil Abshar, mengkritisi Kitab Suci al-Qur’an saja enteng, apalagi mengkritisi Islam Wahabi!

Simaklah perkataannya berikut ini, “Alkitab memiliki kekuatan yang tak saya temukan di Qur’an, yaitu narasi atau kisah. Di Qur’an, kita jumpai banyak qasas atau kisah. Tetapi kisah-kisah di Qur’an diceritakan tidak secara urut, lengkap, dengan ‘drama’ yang memikat pembaca. Di Alkitab, kisah-kisah tentang bangsa Israel diceritakan dengan cara yang sangat menarik. Saya bisa menyebut bahwa Alkitab mungkin adalah salah satu kitab suci yang terbaik dari segi ‘story telling’.” (Pengalaman Saya Dengan Alkitab-islamlib.com 31/10/2015)

 Said Aqil Siradj

Dalam sambutannya pada peringatan hari Asyura yang diunggah di Youtube, https://youtu.be/bW-S9ch8Slk, pada 14 Desember 2013, dia berkata,

“Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala.

Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi.

Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.

Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya. Karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah…musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala. Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi. Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj secara terang-terang membela kegiatan keagamaan Syi’ah, dalam hal ini peringatan hari Asyura untuk mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain untuk mengenang 40 hari setelah kematian beliau.

Peringatan batil ini berisi ratapan tangis, bahkan adakalanya (di luar Indonesia) sambil melukai diri dengan senjata tajam: pedang, pisau, rantai, dan yang semisalnya. Ini dilakukan oleh laki-laki, wanita, bahkan anak-anak.

Tak seorang pun dari as-Salaf ash-Shalih yang membenarkannya, apalagi melakukannya. Mereka memvonis Syi’ah itu sesat, sebagaimana imam-imam terkemuka di atas, maka bagaimana mungkin mereka melakukan kegiatan keagamaan Syi’ah yang sesat itu?!

  1. Said Aqil Siradj melegitimasi dan merekomendasi kegiatan keagamaan Syi’ah yang batil tersebut dengan beberapa pernyatannya, “keyakinan yang benar”, “baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah”, “shautul haq, suara kebenaran.”

Padahal kegiatan tersebut mungkar, suara kebatilan, dan bukan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah.

  1. Said Aqil Siradj mengasung kaum Syi’ah agar peringatan hari Asyura, mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain dipertahankan, tidak dilupakan, dan supaya terus dihidupkan. Bahkan, membesarkan hati mereka manakala orang yang hadir pada kegiatan batil itu berjumlah sedikit.

Tampak sekali kesan bahwa dia ikut memiliki kegiatan keagamaan Syi’ah tersebut. Bukankah ini pertanda kuat bahwa Said Aqil Siradj hatinya dekat dengan kaum Syi’ah?!

  1. Apabila ditarik mundur, ternyata kedekatan Said Aqil Siradj dengan kaum Syi’ah sudah terjalin lama. Terkhusus dengan Negara Iran yang merupakan markas Syi’ah terbesar di dunia saat ini. Setidaknya sejak tahun 2005 (10 tahun yang lalu), ketika dia menjadi Ketua Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah.

Di masa jabatannya itu, untuk pertama kalinya pendaftaran beasiswa program S2 di Iran dibuka. Jurusan yang dapat diambil adalah filsafat dan agama. Adapun universitas tujuan ada beberapa, seperti Universitas Qum. Sebagaimana pula ada model pendidikan ala pesantren yang dipromosikan lebih bagus kualitasnya. (m.nu.or.id, 15/4/2005)

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya..karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah… musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj berkesimpulan bahwa umat Islam, terkhusus warga Nahdhiyyin dan pesantren-pesantren yang tidak mengikuti atau menolak kegiatan keagamaan kaum Syi’ah yaumu Asyura dan yaumul Arba’in, sebagai orang-orang yang belum mengerti, goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq. Maka dari itu, perlu didoakan, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Ya Allah berilah petunjuk kepada Umat Islam, maklum mereka belum mengerti.

Silakan pembaca yang menilai, apakah itu merangkul atau memukul? Membina atau menghina? Memakai hati atau memaki-maki?

  1. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan Imam Ali Zainal Abidin yang mendiskreditkan kaum Sunni, maka Imam Ali Zainal Abidin juga pernah berkata tentang Syi’ah sebagai berikut, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
  2. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan al-Imam Ali Zainal Abidin bahwa musuh-musuhnya (baca: Sunni) humaqa’ yaitu goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq, al-Imam Muhammad al-Baqir yang juga diklaim sebagai imam oleh Syi’ah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam Nusantara tak bisa dipisahkan dari Syi’ah, sebagaimana tak bisa dipisahkan dari Islam Liberal. Mereka adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan: Jaringan Islam Liberal-Islam Nusantara-Syi’ah (JIS).

Setelah penjelasan ini, para pembaca tentu tidak tidak kesulitan lagi menjawab pertanyaan pada judul artikel ini, “Islam Nusantara Pro Syi’ah?”

Sebagai penutup, simaklah kembali mutiara kata Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berikut ini, semoga menjadi pelengkap jawaban untuk pertanyaan di atas.

“Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah, -pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Untuk mengetahui kemulian sahabat dan pembelaan terhadap mereka, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah Vol. II/No. 17 “Membela Kemuliaan Sahabat Nabi” dan Majalah Asy-Syari’ah Vol. VII/No. 78 “Sahabat Nabi Dihujat, Pembelaan Terhadap Mu’awiyah.”

[2] Lebih dari itu, mereka menjadikan Abu Lu’lu’ al-Majusi, si pembunuh Khalifah Umar bin al-Khaththab, sebagai pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Bahkan, hari kematian Umar dijadikan sebagai hari “Idul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari berkah, serta hari suka ria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

[3] – Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku. Mereka berupaya membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, porak-porandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab kami terbunuh.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

[4] Untuk lebih rinci, silakan membaca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335