Cara Menasehati Penguasa

Mungkin akan muncul pertanyaan, apakah dalam menyikapi kesalahan-kesalahan penguasa kita harus selalu sabar, diam, dan menerima sepenuhnya apa yang dilakukan penguasa? Lantas bagaimana dengan anjuran untuk melakukan ingkarul mungkar dan memberikan nasihat kepada penguasa, yang notabene keduanya adalah bagian dari prinsip-prinsip Islam yang tidak mungkin ditinggalkan? Lanjutkan membaca Cara Menasehati Penguasa

Pemberontakan Tidak Akan Membawa Dampak Positif

Hadits-hadits yang telah dijelaskan sebelumnya mengingatkan kaum muslimin, jika mengharapkan munculnya penguasa yang baik dan saleh, maka harus menjadi rakyat yang baik dan saleh. Jalanilah apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, ikutilah apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sunnahkan, sebarkanlah ilmu, dan anjurkanlah agar manusia beramal dengannya, baik mereka sebagai penguasa maupun sebagai rakyat jelata. Niscaya dengan ini, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan apa yang kita harapkan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa urusannya sangat dekat.

Emosi dan pemberontakan hanya akan melahirkan dampak negatif. Selain itu, pemberontakan hanya akan menghasilkan kekacauan, penjarahan, dan pertumpahan darah. Bahkan yang diperintahkan kepada kaum muslimin adalah bersabar atas kezaliman penguasa dan menghadapi gangguan mereka dengan tabah. Karena yang demikian dapat mencegah timbulnya kerusakan yang lebih besar baik kerusakan pada agama maupun kerusakan materi, yang terjadi akibat ketidaksabaran dan pemberontakan.

Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi rahimahullah berkata, “Adapun keharusan taat kepada mereka walaupun jahat adalah karena dengan memberontak kepada mereka (justru) akan mengakibatkan kerusakan yang berlipat ganda lebih daripada kejahatan mereka. Sungguh dalam kesabaran (terhadap kejahatan mereka), ada penghapusan terhadap dosa-dosa dan pahala yang berlipat-lipat, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menguasakan mereka (yang jahat, pen.) atas kita karena amalan-amalan kita yang jelek. Sedangkan suatu balasan adalah sesuai dengan bentuk amalannya. Maka wajib atas kita untuk bersungguh-sungguh dalam meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bertaubat serta memperbaiki amalan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠

“Dan tidaklah menimpa kalian suatu musibah kecuali disebabkan perbuatan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (yang lainnya).” (asy-Syura: 30)

Abu Bakr al-Marwadzi rahimahullah berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (al-Imam Ahmad rahimahullah) memerintahkan untuk menahan/mencegah tertumpahnya darah dan mengingkari pemberontakan dengan pengingkaran yang keras.” (Riwayat al-Khallal dalam as-Sunnah dengan sanad yang sahih, hlm. 131, cet. Darur Rayyah ar-Riyadh)

Ditulis oleh al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed

Menyikapi Penguasa Yang Kejam

Catatan sejarah membuktikan, setiap pemberontakan yang tidak dibimbing oleh ilmu syar’i selalu melahirkan kerusakan dan berakhir dengan kekacauan yang lebih besar daripada kezaliman penguasa itu sendiri. Maka, sikap sabar sebagaimana diamanatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, mesti kita miliki ketika kita dihadapkan kepada pemerintahan yang zalim.

Lanjutkan membaca Menyikapi Penguasa Yang Kejam

Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo. Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang zalim.

Lanjutkan membaca Kewajiban Taat Kepada Pemerintah

Hizbullah dan Hizbu Syaithan Perseteruan Tiada Akhir

Kebenaran dan kejahatan adalah dua kubu yang tidak mungkin bersatu. Kebenaran didukung oleh Allah ‘azza wa jalla sedangkan kejahatan didukung oleh setan dan pasukannya. Siapa yang mendukung setan maka dia menjadi musuh Allah ‘azza wa jalla dan dia tidak mungkin meraih kemenangan.

Lanjutkan membaca Hizbullah dan Hizbu Syaithan Perseteruan Tiada Akhir

Meluruskan Makna Wali Allah dan Mengenal Wali Syaithan

Di masyarakat, wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang dianggap sudah mencapai derajat wali, segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Mestinya keadaan ini tidak terjadi bila masyarakat paham bahwa tidak semua orang yang dianggap sebagai wali adalah wali Allah ‘azza wa jalla.

Lanjutkan membaca Meluruskan Makna Wali Allah dan Mengenal Wali Syaithan

Adakah Bid’ah Hasanah?

Banyak alasan yang dipakai orang-orang untuk ‘melegalkan’ perbuatan bid’ah. Salah satunya, tidak semua bid’ah itu jelek. Menurut mereka, bid’ah ada pula yang baik (hasanah). Mereka pun memiliki “dalil” untuk mendukung pendapatnya tersebut. Bagaimana kita menyikapinya?

Lanjutkan membaca Adakah Bid’ah Hasanah?

Keburukan Bid’ah

Al-Imam asy-Syathibi rahimahullah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi (bagi kita) bahwa bid’ah itu dari keadaannya yang demikian adalah sesuatu yang tercela. Hal ini dapat diterangkan berdasarkan pandangan teoritis ataupun dari dalil-dalil yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lanjutkan membaca Keburukan Bid’ah