Membongkar Kedok Jamaah Tabligh

Kelompok tabligh atau yang lebih dikenal sebagai Jamaah Tabligh mungkin sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Lahiriahnya, kelompok ini getol mendakwahkan keutamaan amalan-amalan tertentu dan mengajak kaum muslimin untuk senantiasa memakmurkan masjid. Namun, di balik itu mereka memiliki banyak penyimpangan yang membahayakan akidah.

Lanjutkan membaca Membongkar Kedok Jamaah Tabligh

Kristenisasi di Indonesia; Strategi Memangkas Islam

Awal tahun 90-an. Seorang pemuda duduk termenung. Dari balik kaca jendela bus, matanya menerawang ke arah luar. Menatap pepohonan dan lalu lalang manusia yang dilewati bus yang meluncur menuju Semarang. Tak ada kawan bercakap. Hanya sesekali terdengar teriakan kondektur untuk menghentikan laju bus.

Siang itu, saat bus singgah di Salatiga, seorang paruh baya naik. Orang itu duduk di samping sang pemuda. Bus pun merayap perlahan. Meninggalkan Kota Salatiga yang dikenal sebagai salah satu basis kristenisasi di Jawa Tengah. Di kota itu pula berdiri universitas Kristen besar: Satya Wacana. Lanjutkan membaca Kristenisasi di Indonesia; Strategi Memangkas Islam

Makar Orang Kafir Melalui Media Massa

Freedom of the Press. Ya, kebebasan pers. Bebas tanpa batas. Kalau pun ada batas, maka batas itu pun masih ditafsir bebas tiada berbatas.

Freedom of the Press. Deret kalimat ampuh untuk memayungi keberadaan media massa di tengah masyarakat dan di hadapan penguasa. Dengan slogan ‘Kebebasan Pers’ media massa bebas melakukan pemberitaan sesuai misinya. Ungkapan ‘Kebebasan Pers’ sendiri bila ditelisik bukan asli karya anak bangsa Indonesia. Ungkapan itu muncul bersumber dari Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat: “Congress shall make no law… abridging the freedom of speech, or of the press.” (Kongres dilarang membuat hukum… yang membatasi kebebasan berbicara atau pers).

Karena itu, tak aneh bila ‘Kebebasan Pers’ sangat kental beraroma Amerika. Lebih-lebih, lahirnya Undang-undang Pers No. 40/1999 di Indonesia tak lepas dari keterlibatan ahli hukum Article 19, Toby Mendel. Sisi lain, UU Pers No. 40/1999 melandasi dengan Pasal 19 UU HAM: “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat-pendapat dengan tidak mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apa pun juga dengan tidak memandang batas-batas.” (Lihat Membincang Pers, Kepala Negara, dan Etika Media, Sirikat Syah, hlm. 3—4)

Lengkaplah sudah arti sebuah kebebasan. Bebas menerabas kultur masyarakat Indonesia yang banyak diwarnai norma agamis. Bebas tidak memandang batas-batas. Jadi, media massa pun bebas menyiarkan berita selama ada fakta. Tak memedulikan dampak berita itu di tengah masyarakat. Juga tak memedulikan asas kepatutan dan moral. Sebut saja, siaran televisi berisi talk show yang mengadu domba, sinetron yang menyesatkan dan membodohkan, atau sebuah acara yang menayangkan naluri dan perilaku rendah manusia digali dan diekspos (Lihat Membincang Pers, hlm.194), infotainment yang banyak membongkar aib, serta berita yang dikemas sesuai misi meraup dunia dan kekuasaan. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan menyajikan menu yang mengundang syahwat selera rendah.

Media massa telah menjadi alat untuk menyuarakan kebebasan yang tiada kendali. Walau dengan kebebasan itu bakal menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat. Media massa semakin jauh dari kesantunan. Media massa menjadi pupuk penyubur para kapitalis tak berhati lurus.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberi penjelasan terkait ayat di atas bahwa yang dimaksud “menyukai penyebaran perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar di tengah kaum muslimin.

Terkait hal ini, menyebarkan beragam film cabul dan surat kabar (atau media lainnya –red.) yang jelek, jahat dan porno. Media-media semacam ini, tak diragukan lagi, merupakan media yang menyukai penyebaran al-fahisyah di tengah masyarakat muslimin. Mereka menghendaki timbulnya kerusakan agama pada diri seorang muslim. Tentunya, kerusakan itu timbul melalui sebab perbuatan mereka (yang menyebarkan al-fahisyah) melalui beragam majalah, surat kabar, dan media lainnya. Barang siapa menyukai al-fahisyah itu tersebar di tengah kaum muslimin, dia berhak untuk mendapatkan azab nan pedih di dunia dan akhirat.

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar pada kalangan tertentu, bukan lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh.

Balasan bagi yang berbuat demikian ialah diazab di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, I/598)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan pula bahwa musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin, komunis, dan para kaki tangannya sangat bersemangat menebarkan godaan wanita di tengah kaum muslimin. Mereka menyerukan tabarruj, mendedahkan aurat wanita, menghasung ikhtilat, mengajak pada kerusakan akhlak. Mereka dengan gencar menyuarakan semua itu melalui media yang mereka miliki, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka mengetahui, ini merupakan godaan terbesar yang akan menjadikan manusia lupa kepada Rabb dan agamanya. Semua itu bisa terjadi melalui pintu godaan wanita. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/48)

Membincang fitnah wanita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan perihal itu, sebagaimana diungkap hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tiada fitnah sepeninggalku kelak yang lebih membahayakan (selain godaan) wanita terhadap laki-laki.” ( HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim, no. 97)

Apa yang terjadi kini? Makar orang kafir untuk menghancurkan kaum muslimin di antaranya dengan memperalat kaum wanita. Lebih memprihatinkan lagi, banyak kaum muslimah tidak menyadari bahwa dirinya diperalat untuk kepentingan busuk orang-orang kafir. Hingga kaum muslimah berbondongbondong menjajakan diri, memamerkan kecantikan dan kemolekannya, guna dipasarkan oleh kaum kafir melalui media mereka. Nas’alullaha as-salaamah.

“Hendaknya, kita jangan tertipu oleh seruan orang-orang yang berbuat kejelekan dan kerusakan dari kalangan yang membebek orang-orang kafir. Mereka mengajak untuk berikhtilath (membaurkan antara wanita dan laki-laki). Sebab, sungguh itu ajakan setan. Wal ‘iyadzu billah,” demikian penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ’Utsaimin rahimahullah.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kaum wanita untuk menghadiri Shalat ‘Id di lapangan. Namun, tidak menyatukan (membaurkan) antara kaum wanita dan laki-laki. Para wanita dikumpulkan secara khusus di satu tempat yang terpisah dari kaum laki-laki,” kata beliau rahimahullah lebih jelas. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/674—675)

 

Propaganda ala Yahudi

Dalam lintasan sejarah terpatri nama Abdullah bin Saba. Sosok pria keturunan Yahudi kelahiran Kota Shan’a, Yaman. Hidupnya menampakkan seorang muslim, namun yang terpendam dalam hatinya; permusuhan dan kebencian nan sengit kepada Islam dan kaum muslimin. Hidupnya nomaden, selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di setiap wilayah yang disinggahinya senantiasa menebarkan pemahaman sesatnya.

Abdullah bin Saba memompa masyarakat dengan propaganda licik. Menyemai permusuhan dalam tubuh umat agar membenci penguasa muslim, yaitu Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Upaya menghasut kaum muslimin yang dilakukan Yahudi satu ini, digalang di beberapa daerah. Bashrah, Kufah, Syam, Hijaz, dan Mesir adalah lahan garap untuk menumbuhsuburkan kebencian umat kepada pemerintahan kaum muslimin.

Saat pergerakannya tidak menampakkan hasil yang memuaskan, sang Yahudi ini beralih menuju Mesir. Di tempat ini ia melancarkan makarnya. Penduduk Mesir dihasut. Ia tebar beragam informasi menyesatkan. Dalam tempo yang dirasa tepat, penduduk Mesir itu pun digerakkan menuju Kota Madinah.

Aksi provokasi Yahudi telah memerdaya umat. Kebencian, permusuhan, dan kemarahan telah menyelimuti. Mereka tiada segan untuk menekan dan melawan Amirul mukminin, sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan khalifah, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Mata hati mereka telah terkunci. Hawa nafsu mencengkram kukuh, menggelapkan pandangan akal mereka. Terjadilah apa yang terjadi. Para demonstran mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Suplai makanan dan minuman dihentikan. Khalifah beserta keluarga dikungkung.

Akhir dari konspirasi jahat ini, terbunuhlah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman pedang mengoyak tubuh sahabat mulia ini. Tetesan darah seorang syahid membasahi mushaf al-Qur’an. Tindak angkara murka telah menodai sejarah umat Islam. Melalui beragam media yang dikuasai, Abdullah bin Saba’ berhasil merekrut para pengikutnya untuk berbuat anarkis. Sebuah tindak zalim menjijikkan. Persekongkolan jahat telah membuahkan malapetaka. Kekacauan melingkupi umat. Semua tercatat dalam lembaran hitam kelam sejarah umat. Ingat, Yahudi di balik semua peristiwa bersimbah darah ini. (Lihat Mukhtashar Sirah ar-Rasul, asy-Syaikh Muhammad bin Abdilwahhab, hlm. 218)

Begitulah watak Yahudi. Lihai melakukan beragam hilah (tipu muslihat). Dahulu, kaum Yahudi melakukan hilah sebagai upaya menolak kebenaran. Mereka tak segan melakukan tipu muslihat dalam rangka menjaga kekufuran dan kesesatan yang diyakininya. Mereka lakukan tipu muslihat lantaran tak mampu secara kesatria dan terang-terangan menunjukkan hujahnya. Karena itu, seringkali mereka berbuat makar secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Perang Badr usai, manusia berbondong-bondong memeluk Islam. Orang-orang Yahudi pun tak kuasa menghalanginya. Lalu, orang-orang Yahudi di Madinah membuat makar. Mereka ucapkan, “Masuklah Islam saat awal siang. Jika telah akhir siang, murtadlah kalian dari Islam. Katakan, ‘Kami tak memperoleh kebaikan dalam agama Muhammad.’ Niscaya orang akan mengikuti jejak kalian karena kalian ahli kitab.”

Makar Yahudi ini dibongkar Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata, ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

 

Makar Yahudi Kini

Yahudi kerap kali memanfaatkan media guna menyusupkan pemahamannya. Melalui media, disusupkanlah pemahaman-pemahaman yang mengagungkan kaum kafir. Diopinikan, seakan persenjataan dan kelengkapan militer orang-orang kafir itu canggih dan tak ada yang mampu menandinginya.

Propaganda melalui tayangan telivisi, misalnya, bisa berakibat menumbuhkan jiwa inferior (minder, merasa kecil dan tak berdaya) pada sebagian kaum muslimin di hadapan kaum kafir. Seakan-akan orang-orang kafir itu hebat, sedangkan kaum muslimin lemah. Seakan-akan kaum kafir itu unggul, sedangkan kaum muslimin tersisih.

Secara perlahan namun pasti, nilai-nilai itu tertanam dalam benak sebagian kaum muslimin. Mereka mengelu-elukan kehidupan orang-orang kafir, bahkan meniru gaya hidup mereka dan membuang ajaran Islam. Begitu dahsyat pengaruh media massa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ لَوْ دَخُلُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Andai mereka masuk ke lubang dhab (binatang sejenis reptil), niscaya kalian akan mengikutinya. Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah?’ Jawabnya, ‘Siapa lagi?’” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dunia film, sinetron, drama dengan segala bentuk aktingnya menjadi daya tarik. Sebagian kaum muslimin bahkan tergiur dengan pertunjukan akting tersebut. Lebih tragis, ada sekelompok aktivis dakwah yang melabelkan diri dengan sebutan “salaf” pun turut berakting. Melalui sarana televisi yang dikelolanya, mereka tayangkan bentuk-bentuk drama berdurasi pendek. Setapak demi setapak program siaran televisi yang dikelolanya telah membuka celah untuk mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani.

Melalui tayangan televisi yang dikelola mereka terkuak pintu petaka. Di antara pemirsa yang sebagiannya para ibu, mulai tergoda. Para ibu muda belia yang masih bersuami ini mulai berceloteh tentang sang ustadz, tentang baju yang dikenakan sang ustadz, tentang sesuatu yang membangkitkan daya tarik.

Siapa yang bisa menjamin hati bisa tetap selamat? Siapa pula yang bisa menjamin bulir-bulir syahwat tak akan bersemi di lubuk hati terdalam?

Kala pintu fitnah itu dikuak semakin terbuka, saat itu rindu dan cinta membara. Syahwat pun menggelora. Nafsu bergejolak. Telah tiadakah kecemburuan di relung hati sang suami kala celoteh sang istri berucap tentang pria lain? Melalui televisi yang dikelolanya, mereka tengah menabur badai. Nas’alullaha as-salamah.

 

Propaganda ala Munafikin

Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari peperangan Bani Musthaliq. Adapun Bani Musthaliq itu sendiri merupakan salah satu nama kabilah dari rumpun kabilah Khuza’ah. Bani Musthaliq menetap di wilayah Qudaid, berdekatan dengan mata air al-Muraisi.

Setelah kaum muslimin berhasil menaklukan pasukan Bani Musthaliq, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pasukan kaum muslimin pulang ke Madinah. Saat tiba di satu daerah dekat Madinah, beliau beserta pasukannya beristirahat. Turut dalam rombongan pasukan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha. Kala malam tiba, beliau dan pasukannya bergerak meninggalkan tempat itu menuju Madinah.

Namun, saat pasukan itu bergerak. Aisyah radhiallahu ‘anha tidak bersama mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal. Itu terjadi tatkala Aisyah radhiallahu ‘anha telah menunaikan keperluannya, lalu terasa kalungnya terjatuh. Maka, ia pun segera kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya. Akhirnya, setelah dicari, kalung itu pun ditemukannya. Ia pun bergegas kembali ke rombongan pasukan. Namun, ternyata rombongan pasukan telah berangkat menuju Madinah. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal.

Lantas Aisyah radhiallahu ‘anha berdiam diri di tempatnya semula. Harapannya, rombongan pasukan yang bersamanya mengetahui kalau dirinya tertinggal lalu kembali ke tempat itu. Saat menunggu, Aisyah radhiallahu ‘anha tertidur.

Dalam waktu bersamaan, ada juga seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami radhiallahu ‘anhu tertinggal dari pasukannya. Ia tertinggal lantaran tertidur dan tidak diketahui oleh anggota pasukan lainnya. Maka, ketika ia bergerak mengejar rombongan pasukan, Shafwan radhiallahu ‘anhu melihat sesuatu. Ia dekati. Ternyata, yang ada di hadapannya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat itu perintah berhijab belum turun sehingga Shafwan radhiallahu ‘anhu mengenali bahwa itu adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun, seorang istri Rasulullah?” Kata-kata itu terucap olehnya.

Aisyah radhiallahu ‘anha pun terbangun lalu menutupkan jilbab ke wajahnya.

Shafwan pun mendekatkan untanya. Setelah Shafwan dudukkan binatang tunggangannya, Aisyah radhiallahu ‘anha pun menaikinya. Shafwan berjalan di depan binatang tunggangannya seraya memegang tali kendali. Ia berjalan cepat tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga kemudian dirinya berhasil mengejar rombongan pasukan di satu daerah bernama Nahru azh-Zhahirah.

Abdullah bin Ubay, sang munafik, melihat hal itu. Akal busuknya langsung bergerak. Kebenciannya nan memuncak mendapat angin untuk dimuntahkan. Ia langsung mencari informasi. Menampung beragam berita. Menyebarkannya. Dengan gencar provokasi dilancarkan. Tuduhan keji pun dilontarkan. Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh melakukan maksiat. Masyarakat pun goncang. Bara telah menyala.

Keadaan runyam di tengah kaum muslimin tentu menyenangkan orang-orang munafik di Madinah. Kesempatan untuk menggunjing rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah menguat. Fitnah berkecamuk.

Namun, makar orang-orang munafik itu hancur berserak setelah wahyu turun. Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan suci bersih. Tuduhan keji tiada terbukti. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam para penyebar berita dusta nan keji dengan ancaman mengerikan. Firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan itu ada baiknya (hikmahnya) bagi kalian. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam menyiarkan berita bohong itu, maka baginya siksa yang besar.” (an-Nur: 11)

 

Upaya Menghancurkan Agama Allah ‘azza wa jalla

Orang-orang kafir dan munafik tiada henti untuk menghancurkan agama Allah ‘azza wa jalla. Semenjak dahulu hingga sekarang makar itu terus berlangsung. Mereka hendak memadamkan cahaya Islam melalui beragam media yang dimilikinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (ash-Shaf: 8)

Untuk menghancurkan akhlak kaum muslimin, orang-orang kafir, dan munafik merancang strategi dengan menerbitkan majalah, tabloid, surat kabar, dan media audio-visual, seperti televisi, yang menyuguhkan kisah-kisah berselera rendah. Menampilkan gambar-gambar seronok. Menyajikan informasi yang membangkitkan birahi.

Sementara itu, dalam dunia sosial politik ditebar beragam berita yang merendahkan penguasa, bahkan mencela dan mencacatnya. Walau pun mereka membungkusnya dengan kemasan kata “mengkritisi” atau dengan bahasa “pers sebagai alat kontrol sosial”.

Dampak dari media semacam ini, masyarakat terdidik untuk suka mencela pemerintah. Padahal tindakan demikian bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa yang merendahkan (menghina, mencela) penguasa Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, Allah ‘azza wa jalla akan merendahkan (menghinakan)nya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2224, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 2296)

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحُ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, hendaknya jangan melakukannya di hadapan publik (secara terbuka). Akan tetapi, lakukanlah dengan cara mengambil tangannya lantas (menasihatinya) di tempat tersembunyi bersamanya (tidak dipublikasikan). Jika ia menerima (nasihat)nya, itulah (yang diharap). Jika tidak menerima nasihatnya, sungguh nasihat itu telah sampai kepadanya.” (HR. Ahmad dari Syuraih bin Ubaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun untuk menebar kerancuan memahami Islam, sejumlah media telah getol menyuguhkannya. Pemahaman Islam Liberal, Syiah, Mu’tazilah dijajakan dalam beragam bentuk, baik secara terang-terangan maupun melalui cara halus tersembunyi. Bahkan, ada sebuah terbitan yang menyediakan halaman khusus.

Selain itu, media pun kerapkali menggiring masyarakat untuk membenci dan tak menyukai orang-orang yang menampakkan syiar-syiar keislaman. Peristiwa terorisme dijadikan kuda tunggangan untuk menghantam orang-orang yang berpegang teguh kepada Islam yang benar. Tak sedikit media yang tak mampu membedakan siapa teroris dan siapa yang benar-benar mengamalkan Islam secara baik dan benar. Satu contoh, tuduhan Wahabi identik terorisme seringkali dilontarkan media. Padahal, bila ditelisik, pengelola media itu sendiri tidak memahami sejatinya apa dan bagaimana Wahabi itu. Tragis!

Kini, tampak di hadapan kita betapa banyak anggota masyarakat yang tak mengindahkan bimbingan Islam yang mulia ini. Senyatanya, inilah yang dikehendaki orang-orang kafir dan munafik. Mereka menghendaki agar ajaran Islam ditinggalkan oleh umatnya. Dengan begitu Islam tiada menyinari kehidupan manusia. Begitulah makar orang-orang kafir dan munafik. Wal ‘iyadzu billah.

Namun, yang menjaga Islam adalah Allah ‘azza wa jalla. Kesucian dan keberadaannya dipelihara Allah ‘azza wa jalla. Betapa pun busuk makar orang-orang kafir dan munafik, Allah ‘azza wa jalla tetap akan menampakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Kebenaran akan tetap tampak walau orang-orang kafir, munafik, musyrik membencinya.

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (ash-Shaf: 9)

Hati-hati memilih media. Sebab, hal ini menyangkut keselamatan agama yang ada pada kita.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin

Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Telah menjadi suratan ilahi bahwa manusia termasuk salah satu makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang menjalani roda kehidupan di dunia yang fana ini. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan mereka makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Berawal dari sepasang insan suami dan istri, kemudian berkembang biak menurunkan anak-anak dan cucu-cucu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ ٧٢

“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberi kalian rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 72)

Dalam pandangan Islam, istri dan anak tak sebatas anugerah yang patut disyukuri. Lebih dari itu, mereka adalah amanat yang berada di pundak setiapkepala keluarga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Terkait ayat di atas, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah kepada diri kalian dan keluarga kalian kebaikan, serta didiklah mereka!”

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jauhilah kemaksiatan kepada-Nya subhanahu wa ta’ala, dan suruhlah keluarga kalian berzikir; niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Beliau juga berkata, “Didiklah keluarga kalian!” (Fathul Qadir 5/305, al-Imam asy-Syaukani)

Betapa indahnya Islam manakala menjadikan pendidikan anak sebagai kegiatan bersama (amal jama’i) yang melibatkan suami dan istri. Istri selaku ibu bagi anak-anak benar-benar dihargai keberadaannya dan diposisikan sebagai patner utama sang suami selaku kepala keluarga dalam mendidik anak-anak mereka. Harapannya, keduanya saling bekerja sama dan bahu membahu secara optimal dalam memikul tanggung jawab pendidikan yang besar tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang wanita adalah pengatur bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” ( HR. al-Bukhari no. 6605 dan Muslim no. 3408 dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, dengan lafaz Muslim)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang yang paling pantas mendapatkan baktimu dan paling berhak memperoleh kebaikanmu adalah anak-anakmu. Sungguh, mereka adalah amanat yang diletakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di sisimu. Allah subhanahu wa ta’ala pun mewasiatkan kepadamu agar mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, baik terkait dengan jasmani maupun rohani mereka. Semua yang engkau lakukan terhadap mereka dari kegiatan yang bersifat mendidik, baik yang kecil maupun yang besar, termasuk penunaian kewajiban yang diwajibkan kepadamu dan amalan termulia yang dapat mendekatkanmu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bersungguh-sungguhlah dalam hal ini dan berharaplah pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala.” (Bahjatu Qulub al-Abrar wa Qurratu Uyuni al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar, hlm. 154/ pembahasan hadits ke-67)

Di antara bentuk tanggung jawab dan kesungguhan orang tua dalam mendidik buah hatinya adalah adanya nilai-nilai keteladanan dari orang tua yang dirasakan secara nyata oleh si buah hati. Demikian pula lantunan do’a yang senantiasa dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon kebaikan si buah hati. Keduanya, diyakini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perjalanan hidup si buah hati.

 

Sejauh Manakah Peran Orang Tua dalam Pendidikan Si Buah Hatinya?

Setiap anak terlahir di atas fitrah yang suci. Kedua orang tuanya sebagai peletak batu dasar pertama pendidikannya, sangat berperan dalam mengantarkannya kepada kehidupan yang baik ataupun yang buruk (dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali di atas fitrah yang suci. Hanya saja kedua orang tuanya yang berperan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Layaknya seekor hewan ternak yang melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna fisiknya, apakah kalian melihat pada tubuhnya bagian yang terputus?” (HR. al-Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Setiap orang tua bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, di samping kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi secara optimal, demikian pula kebutuhan rohaninya; akidah, ibadah, akhlak, dan manhaj. Bahkan itulah yang semestinya lebih diutamakan.

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Manakala Anda (orang tua, pen.) memenuhi kebutuhan anak-anak dalam hal pangan, sandang, dan jasmani terbilang telah menunaikan hak dan mendapatkan pahala karenanya, demikian pula—bahkan lebih utama dari itu—manakala Anda memenuhi kebutuhan mereka dalam hal pendidikan jiwa dan kerohanian dengan memberikan ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang benar, arahan kepada budi pekerti luhur, serta peringatan dari dekadensi moral.

Pembekalan anak-anak dengan adab yang mulia tersebut sungguh lebih baik bagi mereka dari pemberian emas, perak, dan ragam fasilitas duniawi lainnya baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Sebab, dengan adab-adab yang mulia itulah mereka akan terhormat, berbahagia, dimudahkan dalam menunaikan berbagai kewajiban baik terkait dengan hak Allah subhanahu wa ta’ala maupun hak sesama, dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang merusak, dan lebih sempurna dalam mempersembahkan bakti kepada kedua orang tua mereka.” (Bahjatu Qulub al-Abrar wa Qurratu Uyuni al-Akhyar fi Syarhi Jawami’ al-Akhbar, hlm. 154/ pembahasan hadits ke-67)

Realita menunjukkan bahwa tidak sedikit dari orang tua yang hanya memperhatikan kebutuhan jasmani si buah hatinya. Adapun kebutuhan rohaninya diabaikan begitu saja. Padahal itulah bekal utamanya dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan ini.

Tak jarang pula orang tua yang siap menuruti segala permintaan buah hatinya walaupun harus menabrak norma agama dan budi pekerti yang luhur. Menurutnya, dengan itu dia memuliakan buah hatinya, padahal hakikatnya menyengsarakannya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang tua yang menyengsarakan si buah hatinya di dunia dan di akhirat dengan menelantarkannya, tidak mendidiknya, dan bahkan mendukungnya dalam mewujudkan berbagai keinginan hawa nafsunya.

Dia beranggapan bahwa itulah wujud pemuliaan terhadap si buah hati, padahal hakikatnya menyengsarakannya. Dia beranggapan bahwa itulah wujud kasih sayang kepada si buah hati, padahal hakikatnya menzaliminya. Akibatnya, sirnalah kesempatannya untuk mengambil kemanfaatan dari si buah hatinya, sebagaimana pula (dengan itu, -pen.) dia telah melenyapkan sisi kebaikan dari buah hatinya di dunia dan di akhirat.

Jika Anda memperhatikan kerusakan yang menimpa anak-anak, sungguh Anda akan melihat bahwa mayoritas sebabnya berasal dari pihak orang tua.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 242)

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahim al-Bukhari hafizhahullah berkata, “Di antara kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah menyelamatkan mereka dari api neraka. Bahkan, inilah amalan termulia yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk anak-anak mereka.

Termasuk hal aneh—dan yang aneh itu banyak—Anda dapat melihat sebagian orang tua sangat gundah dan gulana manakala prestasi sekolah (rangking) putra-putrinya menurun. Suasana duka dan lara benar-benar menyelimutinya! Namun, manakala iman dan akhlaknya yang menurun, hatinya tak tergerak sedikitpun dan tak mau peduli, kecuali para hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang dirahmati-Nya, dan betapa sedikitnya mereka! Manakala si buah hati absen sekolah, Anda dapat melihat sebagian orang tua stress karenanya. Namun, manakala si buah hati enggan pergi ke masjid, absen shalat berjamaah dan shalat Jumat—terkhusus anak laki-laki—Anda dapat melihat banyak orang tua yang hatinya tak tergerak karenanya! Hanya kepada Allah-lah tempat mengadu.” (Huququl Aulad ‘Alal Abaa’ wal Ummahat, hlm. 13—14)

 

Keteladanan Para Nabi dan Orang Saleh dalam Mendidik Si Buah Hati

Apabila kita mencermati keteladanan para nabi dan orang-orang saleh dalam mendidik si buah hati, sangat tampak sekali perhatian dan kepedulian mereka terhadap sisi kerohanian dibandingkan dengan sisi kejasmanian. Sebab, kesuksesan pendidikan dalam hal kerohanian; akidah, ibadah, akhlak, dan manhaj akan mengantarkan si buah hati kepada kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Tak mengherankan apabila sisi inilah yang menjadi perhatian dan kepedulian “orang-orang besar” di setiap generasi ketika mendidik buah hatinya. Lihatlah Nabi Ibrahim q dan Nabi Ya’qub q yang mendidik anak-anak mereka agar selalu berpegang teguh dengan agama Islam dan berada di atas tauhid.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٣٢

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.”

Adakah kalian hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Rabbmu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Rabb yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (al-Baqarah: 132—133)

Lihatlah hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang saleh, Luqman al-Hakim yang mendidik buah hatinya di atas norma luhur kerohanian.

  • Mendidiknya agar selalu memerhatikan hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dengan mentauhidkan-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, senantiasa merasa dalam pengawasan-Nya (muraqabatullah), dan menegakkan shalat sebagai bentuk ibadah dan munajat kepada-Nya.
  • Mendidiknya agar selalu memperhatikan hak-hak kedua orang tua dengan berbakti kepada keduanya dan tidak mendurhakainya.
  • Mendidiknya agar selalu memperhatikan hak-hak orang lain dengan berlaku santun, melunakkan suara, dan tidak sombong baik dalam sikap maupun perbuatan.
  • Mendidiknya agar selalu istiqamah dan peduli dengan urusan dakwah beserta segala konsekuensinya dengan menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar atas segala ujian dan cobaan.

Paparan norma-norma luhur itu diabadikan dalam Kitab Suci al-Qur’an surat Luqman ayat 13—19. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada- Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya), sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya hal itu termasuk halhal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 13—19)

Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan pendidikan dasar akidah kepada putra paman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang kala itu masih kanak-kanak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Hai anak! Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa petuah penting. Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala (syariat-Nya), niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala (syariat-Nya), niscaya Dia akan berada di hadapanmu (menolongmu). Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah tolong kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah, jika seandainya umat manusia bersatu-padu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya tak dapat memberikan kemanfaatan itu kepadamu kecuali jika Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkannya untukmu. Jika seandainya mereka bersatu-padu untuk memberikan suatu kemudharatan kepadamu, niscaya tak dapat memberikan kemudharatan itu kepadamu kecuali jika Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkannya atasmu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran (takdir).” (HR. at-Tirmidzi no. 2516 dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma; dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi no. 2516, al-Misykah no. 5302, dan Zhilal al-Jannah no. 316—318)

Lihatlah pula pendidikan adab yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma, putra bawaan dari istri beliau, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, yang berada dalam asuhan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma menuturkan, “Kala itu aku adalah seorang anak kecil yang hidup dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku makan (bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) tanganku bergerak ke berbagai sisi nampan ke mana aku suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Hai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari sisi yang terdekat denganmu!” (HR. al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dari nilai-nilai keteladanan di atas dapat diambil pelajaran berharga bahwa di antara sisi terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua dalam pendidikan buah hatinya adalah norma-norma luhur kerohaniannya; akidah, ibadah, akhlak, dan manhaj.

Dengan demikian, si buah hati akan menjadi pribadi mulia yang terdidik dan sekaligus memahami hak yang harus ditunaikannya, baik terkait dengan hak Allah subhanahu wa ta’ala selaku penciptanya, hak kedua orang tuanya, maupun hak orang lain selaku partner interaksinya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

 

Urgensi Memahami Lingkungan Pendidikan Si Buah Hati

Hal penting yang harus diketahui dan diperhatikan oleh setiap orang tua bahwa seorang anak tak selalu hidup bersamanya di rumah. Cepat atau lambat dia akan berinteraksi dengan lingkungan di luar rumahnya dari radius yang terdekat hingga yang berikutnya dan berikutnya.

Maka dari itu, setiap orang tua harus memahami dan peduli dengan lingkungan yang mengitari buah hatinya. Sebab, lingkungan juga mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan seorang anak, baik ke arah positif maupun negatif.

Adakalanya seorang anak tergolong baik dan taat, lantas menjadi rusak manakala berinteraksi dengan lingkungan yang jelek. Adakalanya pula seorang anak tergolong kurang baik, lantas menjadi baik manakala berinteraksi dengan lingkungan yang baik. Tentu saja, semua itu dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara lingkungan si buah hati yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua setelah lingkungan intern keluarganya adalah,

 

1) Lingkungan belajar (sekolah dan yang semisalnya)

Bentuk perhatiannya, dengan cara memilihkan lingkungan belajar yang tepat untuk buah hatinya. Sekolah yang berkualitas dan berpijak di atas manhaj yang lurus. Demikian pula para pengasuh dan gurunya dari kalangan orang-orang saleh, berpijak di atas manhaj yang lurus, dan berbudi pekerti yang luhur. Rajin mengontrolnya dan berkomunikasi secara intensif dengan para pengasuh dan gurunya terkait problem belajarnya.

Tak kalah pentingnya, perhatian terhadap majelis-majelis taklim yang dihadiri oleh si buah hati. Jangan sampai si buah hati terperangkap dalam majlis taklim yang mengajarkan kesesatan atau kebid’ahan. Mengajak kepada paham terorisme (Khawarij), pluralisme, dan paham sesat lainnya.

 

2) Lingkungan ibadah (masjid)

Bentuk perhatiannya, dengan cara memilihkan masjid yang tepat untuk buah hatinya. Masjid yang dibangun dan dimakmurkan di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih. Masjid yang jauh dari ritual ibadah yang tak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

3) Lingkungan bermain

Bentuk perhatiannya, dengan cara memilihkan tempat bermain yang aman bagi mental anak (bersih dari pelanggaran syariat), aman bagi fisiknya, dan rajin mengontrol jalannya permainan tersebut.

4) Lingkungan pergaulan dan pertemanan

Bentuk perhatiannya, dengan cara memilihkan untuk si buah hati teman bergaul dan lingkungan pertemanan yang baik secara akidah, ibadah, akhlak, dan manhaj, serta rajin mengontrolnya.

Hati-hatilah! Pergaulan bebas dapat merusak masa depan si buah hati, termasuk pergaulannya di dunia maya (internet) yang sangat sulit pengontrolannya dan telah banyak memakan korban.

Rasulullah bersabda shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan 2/293, at-Tirmidzi dalam as-Sunan 2/278, al-Hakim dalam al-Mustadrak 4/171 dan Ahmad dalam al-Musnad 2/303 dan 334 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 927)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal tumbuh kembangnya bersama Ahlus Sunnah wal Jamaah, optimislah akan keadaannya (di kemudian hari). Jika engkau melihat di awal tumbuh kembangnya bersama ahlul bid’ah, pesimislah akan keadaannya (di kemudian hari).” (al-Adab asy-Syar’iyyah 3/77, al-Imam Ibnu Muflih)

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Rambu-rambu Penting dalam Mengkaji, Memahami, dan Menafsirkan al-Qur’an

Di antara nikmat terbesar yang Allah ‘azza wa jalla karuniakan kepada umat Islam adalah Kitab Suci al-Qur’an. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai pedoman dan lentera bagi kehidupan umat manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabb-mu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (an-Nisa’: 174)

Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling mulia. Hikmah yang dikandungnya pun sangat luas dan berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Al_Quran

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena. Sebab, ia adalah sumber segala ilmu dan hikmah, tempat setiap petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an adalah bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya, sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat; barang siapa berjalan di atasnya, sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)

 

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an

Kitab Suci al-Qur’an tidaklah diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk dibaca dan dihafalkan semata. Allah ‘azza wa jalla menurunkannya supaya direnungkan ayat-ayatnya dan dipetik pelajaran-pelajaran berharga darinya. Itulah hikmah diturunkannya al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (Shad: 29)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menerangkan (dalam ayat ini) bahwa hikmah dari penurunan al-Qur’an yang penuh berkah itu, supaya manusia mentadabburi (merenungkan) ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran berharga darinya. Maksud dari mentadabburi adalah merenungkan lafadz-lafadznya hingga dapat memahami kandungan maknanya. Jika upaya perenungan tersebut tak dilakukan, hilanglah hikmah penurunan al-Qur’an. Jadilah ia lafadz-lafadz yang tak bermakna. Lebih dari itu, tidaklah mungkin pelajaran-pelajaran berharga dapat dipetik darinya tanpa memahami kandungan maknanya.” (Tafsir al-Qur’an karya asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Telah maklum bahwa target dari setiap perkataan yang diucapkan adalah agar dipahami maknanya dan tidak sekadar dikenali lafadz-lafadznya. Sudah barang tentu, yang lebih utama untuk dipahami makna-maknanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).

Demikian pula menurut kebiasaan, tidaklah dibenarkan sekelompok orang yang mempelajari suatu disiplin ilmu seperti ilmu kedokteran atau matematika, namun tidak berupaya memahaminya dengan baik. Bagaimanakah dengan kalamullah yang merupakan pedoman hidup mereka, dan dengannya akan diraih keselamatan, kebahagiaan, dan tegaknya urusan agama dan dunia mereka?! (Majmu’ Fatawa 13/332)

 

Kewajiban Mengkaji dan Memahami Kitab Suci Al-Qur’an dengan Baik dan Benar

Betapa besar hikmah dari penurunan Kitab Suci al-Qur’an. Hikmah itu pun tak mungkin terwujud tanpa adanya upaya mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an dengan baik dan benar.

Atas dasar itu, mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan kewajiban setiap muslim. Dengannya, pengamalan terhadap al-Qur’an menjadi benar dan sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Demikianlah yang dilakukan oleh para pendahulu umat ini (salaful ummah).

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Para pendahulu umat ini (salaful ummah) berjalan di atas kewajiban ini, mereka mempelajari al-Qur’an lafadz dan maknanya. Karena itu, mereka lebih mudah mengamalkan al-Qur’an sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Sebab, tidak mungkin beramal dengan sesuatu yang tidak dipahami.

Abu Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, ‘Telah memberitakan kepada kami orang-orang yang mengajarkan al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dan selain keduanya bahwa mereka dahulu mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah mereka melanjutkannya hingga memahami kandungan maknanya dari ilmu dan pengamalannya. Mereka pun mengatakan, kami mempelajari al-Qur’an, ilmu, dan pengamalannya secara sekaligus’.” (Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/21)

Mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an adalah amalan mulia. Dengannya, hati seseorang akan hidup. Sebaliknya, sikap enggan mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an adalah perbuatan tercela. Karena itu, hati seseorang akan mati terkunci. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memerhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla berfirman memerintahkan agar al-Qur’an ditadabburi dan dipahami, serta melarang dari sikap berpaling darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir 7/320)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tidakkah orang-orang yang berpaling dari kitabullah mau merenungi dan memerhatikannya dengan saksama? Sungguh, jika mereka mau merenunginya. niscaya ia akan mengarahkan mereka kepada seluruh kebaikan dan memperingatkan mereka dari seluruh kejelekan. Kalbu mereka akan dipenuhi iman. Hati mereka pun akan dipenuhi keyakinan.

Al-Qur’an mengantar mereka kepada cita-cita yang mulia dan karunia yang tak terhingga; menjelaskan kepada mereka jalan yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Jannah-Nya, serta hal-hal yang dapat menyempurnakan jalan tersebut dan merusaknya. Demikian pula jalan yang mengantarkan kepada azab-Nya dan bagaimana cara menghindarinya; mengenalkan kepada mereka Rabb mereka; nama-nama dan sifat-sifat- Nya serta kebaikan-Nya; memotivasi mereka untuk selalu merindukan pahala yang besar dan mewanti-wanti mereka dari azab yang pedih.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 788)[1]

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla mencela orang-orang yang enggan mentadabburi al-Qur’an, dan mengisyaratkan bahwa itu termasuk penguncian terhadap hati mereka dan tidak sampainya kebaikan kepadanya.” (Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/21)

Tak mengherankan apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengan begitu, predikat terbaik akan diraih. Dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Jangan Salah Mengkaji, Memahami, dan Menafsirkan Al-Qur’an!

Mengkaji dan memahami al-Qur’an tak boleh asal-asalan. Kecerdasan atau kebersihan jiwa semata tak cukup untuk mengkaji dan memahaminya. Sebab, al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang datang dari Allah Rabb Semesta Alam. Kedudukannya pun sangat sakral dalam agama ini.

Tak mengherankan apabila para pendahulu terbaik umat ini (as-salafush shalih) selalu berpegang dengan atsar (riwayat-riwayat) dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkannya. Tidak bermudah-mudahan menggunakan logika atau ijtihad, padahal mereka adalah orang-orang yang jenius. Tidak gegabah mengeluarkan gagasan jiwa, meski mereka adalah orang-orang yang dikaruniai kebersihan jiwa. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an haruslah dikaji, dipahami, dan ditafsirkan sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara metode yang tepat dan benar dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkan al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat yang lainnya.

Sebab, Allah ‘azza wa jalla yang menurunkannya dan Dia ‘azza wa jalla lebih mengetahui maksudnya. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Yunus: 62)

Siapakah wali-wali Allah ‘azza wa jalla itu? Mereka adalah orang yang beriman dan selalu bertakwa sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang sesudahnya,

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 63)

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-Sunnah).

Sebab, beliau adalah utusan Allah ‘azza wa jalla yang bertugas menyampaikan segala yang datang dari Allah ‘azza wa jalla. Tentunya, beliaulah orang yang paling mengetahui kandungan makna Al-Qur’an. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Yang dimaksud dengan “tambahan” di sini adalah kenikmatan melihat wajah Allah ‘azza wa jalla sebagaimana keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim no. 297—298 dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu dan hadits-hadits selainnya.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan perkataan para sahabat g terutama para ulama mereka yang mumpuni di bidang tafsir.

Sebab, al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan di masa mereka. Merekalah orang yang paling bersungguh-sungguh mencari kebenaran setelah para nabi, orang yang paling jauh dari kesesatan, dan paling bersih dari hal-hal yang menghalangi mereka dari kebenaran. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan.” (an-Nisa’: 43)

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan “menyentuh perempuan” dengan jima’.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu tafsir dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebab, mereka adalah orang terbaik umat ini setelah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih terselamatkan dari kesesatan daripada generasi sesudah mereka, dan bahasa Arab pun belum banyak berubah di masa mereka. Pemahaman mereka tentang al-Qur’an jauh lebih benar daripada generasi sesudah mereka.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan pengertiannya secara terminologi (istilah) atau etimologi (bahasa) yang sesuai dengan redaksinya.

(Diringkas dari Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/23-24)

Demikianlah lima tahapan penting dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkan al-Qur’an. Barang siapa berpegang teguh dengannya niscaya akan terbimbing kepada kebenaran. Barang siapa tak mengindahkannya, niscaya akan terjauhkan dari kebenaran.

 

Menelisik Syarat-Syarat Penafsir

Tafsir ( التَّفْسِير ), secara etimologi berasal dari kata al-fasr ( الفَسْر ) yang bermakna; menyingkap dari sesuatu yang tertutup. Secara terminologi bermakna; penjelasan tentang kandungan makna al-Qur’anul Karim.[2] Orang yang menjelaskan kandungan makna al-Qur’anul Karim disebut mufassir ( المفَسِّر ) atau penafsir.

Mengingat betapa rawan dan bahayanya menafsirkan Al-Qur’an dengan logika atau ijtihad, maka para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memberikan syarat-syarat yang ketat sebagaimana berikut.

  1. Berilmu tentang akidah as-Salaf dan tauhid dengan tiga jenisnya, agar tidak terkontaminasi dengan akidah kelompokkelompok sesat ketika menafsirkan semisal; Jahmiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Murji’ah, dan yang lainnya.
  2. Berilmu tentang al-Qur’an dan menghafalnya, agar memungkinkan baginya menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat yang lainnya atau mampu menempatkan al-mutasyabih pada tempatnya dan al-muhkam pada tempatnya. Lebih bagus lagi jika menguasai ilmu qiraat.
  3. Berilmu tentang as-Sunnah, sehingga ijtihadnya tentang tafsir ayat tertentu bersandarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Berilmu tentang perkataan-perkataan sahabat, sehingga tafsirnya tidak berseberangan dengan tafsir mereka.
  5. Berilmu tentang peradaban bangsa Arab, agar dapat menempatkan sebuah ayat pada tempatnya.
  6. Menguasai bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu yang terkait dengannya seperti; nahwu, sharaf, ilmu al-ma’ani, dan balaghah. (Diringkas dari kitab Manahij al-Mufassirin karya asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh 1/15-16)

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata, “Tujuan dari semua ini adalah agar orang-orang yang mengira dirinya layak menafsirkan al-Qur’an padahal tidak layak, tidak gegabah menafsirkan dengan ijtihad dan istinbath sementara perangkat-perangkatnya belum dimiliki. Sebab, permasalahan tafsir itu berat.

Oleh karena itu, sekelompok as-Salaf mengharamkan tafsir dengan ijtihad. Mereka pun mengatakan, ‘Kami tidak menafsirkan al-Qur’an kecuali dengan apa yang dinukil dari para sahabat. Adapun setelah sahabat, maka tak seorang pun berhak menafsirkan al-Qur’an.’ Namun, ini pendapat sekelompok kecil dari tabi’in. (Manahij al-Mufassirin karya asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh 1/17)

 

Sekelumit Tentang Sejarah Penyelewengan Tafsir

Sejarah telah mencatat bahwa Khawarij, kelompok sesat pertama dalam Islam tidaklah tersesat melainkan karena memahami dan menafsirkan al-Qur’an dengan logika mereka tanpa metode yang tepat dan benar. Mereka mengambil ayat-ayat yang berisi ancaman azab (wa’id) dan mengesampingkan ayat-ayat lainnya yang berisi rahmat dan ampunan Allah ‘azza wa jalla. Kemudian mereka mengembangkannya dengan logika hingga terjatuh ke dalam praktik takfir (pengkafiran) terhadap pelaku dosa besar di bawah dosa syirik. Kafir di dunia dan kekal abadi di neraka.

Sejarah pun mencatat, tatkala terjadi rekonsiliasi antara pihak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Gubernur Syam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, pasca-Perang Shiffin, dengan kesepakatan mengembalikan amar putusan (bertahkim) kepada para juru pendamai (hakam), yaitu Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari pihak Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, maka kaum Khawarij tanpa keraguan sedikit pun mengkafirkan kedua belah pihak dengan alasan “telah berhukum kepada manusia dan tidak berhukum kepada Allah ‘azza wa jalla”. Mereka berdalil dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengingatkan mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla memerintahkan agar mengutus juru pendamai dari pihak suami dan pihak istri manakala terjadi pertikaian antara keduanya, guna mendapatkan solusi yang terbaik. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu khawatirkan ada pertikaian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (an-Nisa’: 35)

Kalaulah mengutus dua juru pendamai untuk urusan rumah tangga diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla, lebih berhak lagi mengutus dua juru pendamai untuk urusan yang lebih besar, dalam hal ini berkaitan dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Beliau radhiallahu ‘anhuma juga membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.” (al-Maidah: 95)

Kalaulah putusan harga (denda) hewan buruan tersebut diserahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada dua orang yang adil, tentunya boleh juga menyerahkan amar putusan kepada para juru pendamai terkait dengan kemaslahatan kaum muslimin yang jauh lebih besar. Kalaulah permasalahan hewan buruan tergolong penting untuk segera diselesaikan dengan dipercayakan kepada ahlinya, lebih-lebih lagi permasalahan yang berkaiatan dengan darah dan kehormatan kaum muslimin.[3]

Demikianlah di antara contoh kasus memahami dan menafsirkan al-Qur’an tanpa menggunakan metodologi yang tepat dan benar. Akibatnya, mereka terjatuh dalam takfir (pengkafiran) yang sesat dan menyesatkan. Bahkan, kesudahannya adalah mengkafirkan siapa saja yang bukan kelompoknya, serta menghalalkan darah dan hartanya.[4] Wallahul Musta’an.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi


[1] Beliau juga berkata, “Membaca al-Qur’an dengan penuh tadabbur lebih utama daripada membacanya dengan cepat (banyak) tanpa mentadabburinya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 712)

[2]Tafsir Al-Qur’an karya asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/20.

[3] Lihat Kitab al-Khashaish karya al-Imam an-Nasa’i hlm. 195, Talbis Iblis karya al-Imam Ibnul Jauzi hlm. 82, dan al-Ajwibah al-Atsariyyah ‘anil Masail al-Manhajiyyah karya asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali hlm. 91-93.

[4] Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Kemudian mereka berpendapat bahwa siapa saja yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka, maka ia kafir, halal darah, harta dan keluarganya.” (Fathul Bari, 12/297)

Gerakan Menyusup Kaum Pendusta

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Apel-beda-warna

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.

Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”

Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)

Sejak revolusi kaum Syiah berlangsung di negeri Iran, penyebaran paham agama Syiah mendapat suntikan kekuatan. Poster-poster Khomeini dengan berbagai ukuran merebak di kalangan aktivis pergerakan, tak terkecuali di Indonesia. Demam revolusi mewabah para aktivis pergerakan. Revolusi kaum Syiah di Iran seakan-akan menginspirasi semangat para pemuda Islam di Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan yang kala itu masih di tampuk pemerintahan Orde Baru. Kantor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjadi markas penyebaran paham Syiah kala itu. Banyak umat Islam yang berdecak kagum terhadap revolusi ala kaum Syiah Iran tersebut.

Namun, seiring perjalanan waktu, sebagian kaum muslimin di Indonesia mulai tersadar. Revolusi yang mengusung nama Islam yang digembar-gemborkan kaum Syiah ternyata dusta. Bukan Islam yang mereka usung, melainkan akidah Syiah dengan segala kesesatannya yang mereka taburkan ke dalam benak para aktivis pergerakan Islam.

 

Upaya Menyusupkan Paham

Hangatnya revolusi kaum Syiah di Iran benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menularkan virus sesat kaum Syiah. Beberapa pemuda, di antaranya dari Solo, Pekalongan, dan kota lainnya di Indonesia diberangkatkan ke Iran.

Sejak saat itu, gelombang pengiriman anak muda yang dibius ajaran sesat Syiah terus berlangsung. Dari merekalah kemudian bercokol satu demi satu markas penyebaran Syiah di Indonesia. Lampung, Bandung, Pekalongan, Jepara, Yogyakarta, Bangil, dan beberapa kota lainnya mulai unjuk taring. Mereka suarakan paham Syiah. Walau di antara mereka, kala itu, ada yang masih menyembunyikan kesyiahannya alias bertaqiyah. Ada juga yang lantaran semangat langsung mendendangkan paham Syiah ke tengah-tengah masyarakat.

Generasi awal ini terolong militan. Untuk kalangan intelektual, terkhusus di kampus, sosok Jalaluddin Rakhmat tak bisa diabaikan peranannya. Melalui sekolah menengah yang dirintisnya, Jalaluddin Rakhmat giat melakukan kaderisasi kesyiahan. Berbagai beasiswa ditawarkan kepada tunas muda tersebut untuk melanjutkan studi ke Qum atau perguruan tinggi di kota lainnya di Iran. Seiring dengan itu, di barisan media masa, Surat Kabar Republika pun kerap menjadi corong menyusupkan paham Syiah. Tak jarang, Republika menuai protes lantaran dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengemudikan kebijakannya ke arah pemahaman Syiah.

Melalui media buku, surat kabar, dan lainnya kerap diusung tema-tema mendekatkan antara Sunni-Syiah. Mereka berupaya menghembuskan titik kesamaan antara Sunni-Syiah. Di antaranya, disebutkan bahwa “baik Sunni maupun Syiah sama-sama menyembah Allah,” “Allah dan Rasul Syiah sama dengan Sunni,” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menjadikan umat tertipu. Syubhat (kesamaran) inilah yang bisa menggelincirkan akidah seorang muslim sehingga berubah menjadi seorang Syi’i (penganut agama Syiah).

Padahal, apa yang ada di dalam ajaran Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Syiah. Perbedaan tersebut justru terkait masalah yang bersifat prinsip. Misal, dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk tidak mencela seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai ada seorang dari kalian yang menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, yang demikian itu belum bisa menyamai sesuatu yang telah mereka infakkan (walau) satu mud (segenggam) atau seperduanya.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana bisa dikatakan ada titik dekat antara Islam dan Syiah? Seorang muslim menghormati sahabat yang mulia, Muawiyah radhiallahu ‘anhuma, sedangkan orang Syiah mencelanya, bahkan mengafirkannya.

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam dengan Syiah? Padahal Islam mengajarkan penghormatan terhadap sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sedangkan Syiah mencercanya dengan segala penghinaan yang mendalam. Bahkan, mereka menyebut beliau munafik dan murtad.

Islam mengajari umatnya untuk memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, sedangkan Syiah menuduhnya sebagai pelacur.

Islam mengajari kita untuk memuliakan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, sementara Syiah mencaci maki dan mengafirkan keduanya, serta menggelari keduanya dengan gelar buruk, “dua berhala Quraisy”.

Padahal para sahabat yang dicerca oleh orang Syiah adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas, jika mereka bukan orang-orang terpercaya, bagaimana halnya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka?

Ini sebuah tipu daya musuh Islam. Sungguh, orang-orang Syiah adalah musuh Islam dan kaum muslimin. Mereka menebarkan berbagai kerusakan ke dalam tubuh umat. Berbagai kerusakan itu mereka susupkan melalui beragam cara.

 

Menyusup ke Kalangan Intelektual dan Masyarakat

Dalam rangka mendekatkan pemahaman Syiah kepada masyarakat, pemerintah Syiah Iran melakukan langkah-langkah pendekatan ke berbagai ormas Islam. Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berhasil dirangkul.

Untuk hal ini, pemerintah Syiah Iran mengutus pejabat setingkat menteri guna mengunjungi pimpinan tertinggi ormas Islam. Langkah ini pun diikuti para pengurus organisasi Syiah di daerah untuk berdialog dengan pimpinan daerah ormas Islam.

Penyebaran ajaran Syiah makin meruyak ke kalangan intelektual melalui pendirian Iran Corner. Di beberapa perguruan tinggi berlabel Islam, Iran Corner dijadikan semacam syiahisasi berbaju pertukaran budaya. Paham Syiah langsung ditebarkan di jantung kalangan akademisi yang memang rentan disusupi pemahaman agama warna-warni.

Tak kurang dari 12 Iran Corner berhasil didirikan di perguruan-perguruan tinggi berlabel Islam. Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, UIN Ciputat adalah beberapa perguruan tinggi yang telah berhasil dirangkul oleh negara Syiah Iran. Program ini akan terus bergulir sebagai manifestasi dari tekad kaum Syiah untuk menebar pemahaman Syiah Rafidhahnya di Indonesia.

Sisi lain, berbagai yayasan dan pondok pesantren Syiah pun tak tinggal diam. Mereka menggarap kalangan kaum muslimin menengah ke bawah. Melalui pendekatan kemasyarakatan, mereka mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Awal dakwah mereka mengesampingkan perbedaan paham yang ada. Mereka mengusung jargon bahwa tuhan mereka sama, nabi mereka sama, kiblatnya pun sama, serta unsur-unsur yang sama lainnya. Apabila diungkit tentang nikah mut’ah dan kesesatan lainnya, mereka pun akan bertaqiyah. Dusta dalam hal ini adalah ibadah menurut keyakinan mereka.

Beberapa waktu lalu sebagian kaum muslimin sempat dihebohkan dengan munculnya nama Jalaluddin Rakhmat di jajaran caleg salah satu partai politik. Bahkan, rumor dirinya akan menduduki jabatan menteri agama sempat pula merebak. Kemunculan Jalaluddin Rakhmat di barisan partai politik tanpa embel-embel agama ini tentu memiliki target dan tujuan tersendiri.

Seiring maraknya intimidasi terhadap kalangan Syiah di berbagai daerah, tentu Jalaluddin Rakhmat telah berkalkulasi menetapkan pilihannya pada salah satu partai politik. Setidaknya, partai politik yang dijadikan pilihannya memiliki satgas yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari itu, partai politik ini memiliki masa fanatik yang lumayan solid. Dengan figur Jalaluddin Rakhmat, kaum Syiah di daerah bisa menyusup dan berlindung di balik kandang banteng.

Setelah melebur, ke depan akan teropini, bahwa mengganggu orang Syiah sama dengan mengganggu kader partai. Itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan satgas dan masa fanatik partai politik satu ini. Implikasi semacam ini tentu yang diharap. Akhirnya, kaum Syiah yang masih minoritas di berbagai daerah bisa terlindungi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,  “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 41)

Lebih dari itu, hal ini diharap bisa memengaruhi para pengikut partai politik satu ini untuk menjadi penganut Syiah atau bersimpati pada kaum Syiah. Nas’alullaha as-salamah.

Menilik perjalanan sejarah, sungguh tidak mengherankan apabila kaum Syiah melakukan gerakan penyusupan. Infiltrasi model Syiah telah ada pendahulunya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah, ratusan ribu kaum muslimin tertumpah darah hingga memerahkan air sungai Dajlah di Baghdad, Irak, serta berikutnya air sungai itu berganti warna biru lantaran kitab-kitab karya ulama dibuang ke sana, merupakan akibat ulah penyusup Syiah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya penganut Syiah Rafidhah yang mendendam kepada Ahlus Sunnah, berhasil menyusup ke pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan. Dari sanalah keduanya menyusun makar hingga pasukan Tartar pimpinan Hulagu Khan berhasil masuk Baghdad dan melakukan perbuatan keji. (Lihat Asy-Syariah, edisi 101)

Gerakan penetrasi ke berbagai perguruan tinggi, pemerintahan, ormas-ormas Islam merupakan salah satu strategi dakwah kaum Syiah di Indonesia. Melalui strategi dakwah semacam itu, kaum Syiah berupaya mendekatkan ajarannya kepada umat. Dengan demikian, umat tidak merasa asing dengan paham Syiah, dan akan menganggap bahwa Syiah adalah salah satu mazhab sebagaimana mazhab lainnya yang diakui oleh Ahlus Sunnah. Akhirnya, paham Syiah tidak lagi dianggap sebagai paham sempalan yang sesat dan menyesatkan.

 

Syiah Itu Radikal

Radikalisme melekat kuat dalam ajaran Syiah. Para ulama mereka mengajarkan kepada penganutnya bahwa seluruh sahabat telah murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. (al-Kulaini dalam al-Kafi 8/245, lihat Taudhihu an-Naba’ ‘an Mu’assisi asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, hlm. 121)

Sikap radikal ini ditanamkan sedemikian rupa sehingga bagi penganut syiah hanya ada ahlu bait dan sahabat yang disebutkan saja yang patut mereka cintai. Selain yang disebutkan di atas, para sahabat lainnya dianggap manusia tercela.

Radikalisme dalam ajaran Syiah tergambar dari ungkapan yang ditulis Jalaluddin Rakhmat saat mengungkap makna syahadah. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Syahadah, atau mencari kematian di dalam jihad fi sabilillah, sebenarnya merupakan salah satu nilai penting dalam perjuangan hidup seorang muslim. Akan tetapi, nilai syahadah di kalangan kaum Syiah merupakan nilai yang relatif lebih meresap daripada yang diresapi oleh kaum Sunni. Ini tercermin dalam slogan-slogan saat terjadinya revolusi Iran, ‘Mihrab Syi’ah adalah mihrab darah,’ ‘Dalam hidup Syiah, tiap hari merupakan Asyura; setiap tempat adalah Karbala,’ atau seperti diucapkan Husein, Imam Syiah yang ketiga, ‘Kematian bagiku hanyalah kebahagiaan (Inni laa aral mauta illas sa’adah)’.” (Islam Alternatif, hlm. 245—246)

Bau amis darah menyengat kuat dalam paham Syiah. Sejarah telah membuktikan betapa kaum Syiah telah menulis perjalanan sejarah umat inidengan darah. Sebuah radikalisme telah dipertontonkan secara vulgar di hadapan umat. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya laten kaum Syiah juga perlu ditingkatkan.

Sejarah berdarah yang telah ditoreh oleh Syiah jangan sekali-kali dilupakan. Sedikit saja kaum Syiah memiliki kekuatan, niscaya kaum muslimin bisa mendapat perlakuan tidak patut. Dalam keadaan lemah saja kaum Syiah berani mencerca para sahabat yang dimuliakan oleh kaum muslimin. Apalagi ketika kekuatan itu ada pada mereka. Entah, apa yang akan diperbuat mereka terhadap kaum muslimin. Nas’alullaha as-salamah.

Kaum Syiah merasa lebih agung dan tinggi kedudukannya dibanding dengan umat lainnya. Bahkan, para imam Syiah memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan para nabi dan rasul sekalipun. Dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (hlm. 47-48), Khomeini mengungkapkan, “Kedudukan para imam kami lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan rasul.”

Maka dari itu, dengan segala paham sesat dan menyesatkan, akankah paham Syiah dibiarkan? Kaum Syiah di Indonesia benar-benar memanfaatkan celah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang ada di Indonesia, walau harus mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walau dengan cara merendahkan martabat para nabi dan rasul, sebagaimana diungkapkan oleh Khomeini. Masihkah mereka layak mendapat tempat di negeri ini?

Siapa pun kita, selama mencintai Islam sebagai agamanya, hendaknya mewaspadai gerakan kaum Syiah ini. Jangan sampai terulang lagi sejarah yang bersimbah darah. Wallahu a’lam.

 

Teror Ala Syiah

Pemerintah Malaysia menyikapi secara tegas pemahaman dan penganut syiah. Pihak pemerintah memberi label kepada komunitas Syiah di Malaysia sebagai gerakan yang mempunyai elemen militan. Bahkan, pernah beberapa orang ditahan unit anti terorisme, dan mereka mengaku sebagai pengikut Syiah.

Sebagai sebuah paham, Syiah memiliki doktrin yang menjadikan pengikutnya bersikap militan dan radikal. Revolusi di Iran yang dilakukan kaum Syiah memberi gambaran betapa radikalisme kaum Syiah sedemikian kuat.

Penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Teheran juga memberi sinyal kuat unsur radikalisme dalam komunitas Syiah. Drama penyanderaan yang berawal 4 Nopember 1979 tersebut berlangsung selama 444 hari. Penyanderaan ini didukung pihak pemerintah Iran, bahkan di bawah kendali langsung Khomeini.

Aksi-aksi teror biasanya didukung oleh pemahaman radikal yang membabi buta. Saat musim haji pun, sekelompok pengikut Syiah memanfaatkannya untuk melakukan demo. Khomeini pernah memerintah jamaah haji Iran untuk melakukan demo terhadap pemerintah Saudi. Tragedi 31 Juli 1987 menewaskan ratusan orang. Sebuah tindakan tak patut dilakukan oleh kaum Syiah di Tanah Haram. Kekhusyukan beribadah sirna akibat radikalisme membabi buta yang dilakukan para pengikut syiah. Sejarah tentu mencatat tragedi menyedihkan ini.

Dalam perjalanan sejarah, aksi kaum Syiah diwarnai merah darah. Tengoklah apa yang terjadi di Suriah. Pemerintahan Syiah membantai sekian banyak manusia. Darah tertumpah di bumi Syam. Sebuah tragedi yang memilukan.

Mewaspadai gerakan kaum Syiah tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, fakta sejarah telah mengungkapkan tentang perbuatan licik kaum Syiah yang berakhir dengan aksi teror dan banjir darah. Katanya, mereka mencintai Husain, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nyatanya, sejarah mengungkap bahwa kaum Syiahlah yang membunuh Husain di Karbala. Mereka licik. Sejarah pun diputarbalikkan. (Lihat Asy Syariah edisi 101)

Lebih dari itu, mewaspadai gerakan kaum Syiah merupakan upaya membentengi umat dari pemahaman sesat yang dijejalkan ke tengah-tengah umat.

Apabila dusta menjadi inti ajarannya, lantas kebaikan apa yang bisa diperoleh darinya? Apabila mut’ah dilegalkan, lantas kehidupan bermasyarakat yang bagaimana yang hendak dibentuk? Apabila para imam mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan para nabi dan rasul, lantas agama model apakah yang akan ditanamkan pada umat?

Kerusakan demi kerusakanlah yang akan dituai manakala ajaran Syiah ini menjalar di tubuh umat. Islam justru berlepas diri dari model pemahaman yang diyakini oleh kaum Syiah. Ingatlah, tangan Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi, saat melahirkan agama Syiah ini dilumuri darah.

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila umat Islam tetap harus mewaspadai ajaran sesat satu ini. Nas’alullaha as-salamah.

Wallahu a’lam.

Rapor Merah Akidah Syiah

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

“Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. …”

bola

Sejak dahulu, kelompok sesat Syiah sangat agresif melakukan makar terselubung terhadap Islam dan umat Islam. Ambisi mereka untuk merobohkan pilar-pilar Islam pun sangat besar.

Kitab Suci al-Qur’an mereka klaim telah mengalami banyak perubahan bahkan pemalsuan.[1] Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummahatul Mukminin (ibunda kaum mukminin) yang suci, mereka tuduh berbuat zina.[2] Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mereka vonis kafir.[3]

Sungguh, ini adalah penyimpangan besar dalam kehidupan beragama kaum Syiah, terutama dalam hal akidah.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Kaum Syiah berambisi menjatuhkan (harga diri) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berhasil. Akhirnya, mereka mencela para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesankan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jahat. Sebab, jika beliau orang baik-baik, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang yang baik pula.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah (kepada kita) adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) demi mengenyahkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kekafiran.” (al-Kifayah, al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Akidah Syiah penuh dengan “catatan merah”. Beberapa poin akidah mereka pernah dimuat dalam edisi Asy-Syari’ah yang telah lalu.[4]

Di antara akidah Syiah yang menarik untuk dikaji dan dicermati lebih saksama adalah sikap mereka yang sebenarnya terhadap umat Islam (Sunni) yang kerap mereka sebut dengan Nashibi.[5] Hal ini sering luput dari pembahasan atau sengaja dikaburkan, bahkan dikubur, oleh pihak yang getol mengampanyekan persatuan antara Sunni dan Syiah.

Sebagai pendahuluan tentang potret nyata kehidupan kaum Syiah, marilah menyimak persaksian salah seorang (mantan) tokoh besar Syiah, Sayyid Husain al-Musawi berikut ini.

“Masih segar dalam ingatanku, ayahku pernah berjumpa dengan orang asing di salah satu pasar Kota Najef, Irak. Ayahku menyukai kebaikan, sehingga diajaklah orang tersebut ke rumah kami  sebagai tamu keluarga malam itu. Kami pun memuliakannya.

Selepas isya, kami duduk begadang menjamunya. Ketika itu, aku seorang pemuda yang baru mengawali belajar di al-Hauzah (pusat pendidikan ilmu agama kaum Syiah). Dari perbincangannya bersama kami, nyatalah bahwa dia seorang Sunni (sebutan untuk selain Syiah) dari Kota Samira yang datang ke Najef karena sebuah keperluan.

Malam itu, dia bermalam di rumah kami. Ketika datang waktu pagi, kami menyajikan makan pagi untuknya dan dia menyantapnya. Seusai makan pagi, dia berpamitan kepada kami. Ayahku menghadiahinya sejumlah uang untuk tambahan bekal dalam perjalanannya. Orang itu sangat berterima kasih atas penghormatan yang kami berikan kepadanya.

Selepas kepergiannya, ayahku memerintahkan agar kasur yang digunakan tidur oleh tamu tersebut dibakar dan peralatan makan yang digunakannya dicuci sebersih-bersihnya.” (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 66)

Mengapa sang ayah memerintahnya demikian?

Sayyid Husain al-Musawi menjelaskan, “Sebab, menurut akidah beliau, Sunni itu najis. Ini adalah akidah orang Syiah secara keseluruhan. Semua ahli fikih kami menyejajarkan Sunni dengan orang kafir, orang musyrik, babi, dan menggolongkannya sebagai jenis benda najis.” (Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 66)

 

SYIAH MENGAFIRKAN DAN MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM (SUNNI)

Mengafirkan umat Islam (Sunni) dan menghalalkan darah mereka termasuk prinsip dalam agama Syiah.

Penulis Awailul Maqalat berkata, “Aku katakan bahwa kekafiran Nashibi (baca: Sunni) sungguh termasuk hal prinsip dalam mazhab Syiah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Mufid dalam kitab al-Muqni’ah dan lainnya. Tidak ada seorang faqih (ahli fikih) pun yang menyelisihi hal ini.” (Awailul Maqalat, hlm. 285)[6]

Dalam kitab al-Hadaiq an-Nadhirah (10/42), disebutkan, “Tidak ada perselisihan di kalangan kawan-kawan kami ridhwanullah ‘alaihim tentang vonis kafir terhadap Nashibi (baca: Sunni), najis, halal darah dan hartanya, dan sama dengan kafir harbi.”[7]

Al-Khau’i, salah seorang rujukan mereka, menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara orang murtad, kafir harbi, kafir dzimmi, dan Nashibi (baca: Sunni). (Minhajus Shalihin 1/116)[8]

Para pembaca yang mulia, prinsip di atas bukanlah hasil kajian dari para tokoh Syiah semata. Akan tetapi, itulah akidah mereka yang dibangun di atas riwayat-riwayat para imam Syiah yang sangat banyak. Hal ini disebutkan oleh al-Jawahiri dalam kitabnya Jawahirul Kalam (41/436) dalam bab “Halalnya Darah Nashibi (baca: Sunni)”.

Di antaranya adalah riwayat dari Dawud bin Farqad, ia berkata, “Aku katakan kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) ‘alaihissalam, ‘Apa pendapatmu tentang membunuh Nashibi (baca: Sunni)?’

Beliau menjawab, ‘Halal darahnya, namun aku mengkhawatirkan dirimu. Jika kamu berkesempatan merobohkan dinding hingga menimpanya atau menenggelamkannya ke dalam air, lakukanlah! Semua itu agar tidak ada bukti kuat bahwa kamu membunuhnya.’

Aku pun berkata, ‘Bagaimana dengan hartanya?’

Beliau menjawab, ‘Silakan ambil, selama kamu mampu’.”

Dalam kitab mereka Tahdzibul Ahkam (10/213), disebutkan kisah orang yang mengingkari Abu Bujair—seorang Syiah—karena telah membunuh tujuh orang Sunni. Akhirnya keduanya berhukum kepada Abu Abdillah, imam mereka.

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Bagaimana caramu membunuh mereka, hai Abu Bujair?”

Dia berkata, “Di antara mereka ada yang aku panjat loteng rumahnya dengan menggunakan tangga, kemudian aku membunuhnya. Sebagian ada yang berpapasan denganku di sebuah jalan, lantas aku membunuhnya. Sebagian lagi ada yang aku masuki rumahnya kemudian aku membunuhnya. Semua itu aku lakukan secara senyap, tak ada orang yang mengetahui jejakku.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Hai Abu Bujair, wajib bagimu (membayar denda). Untuk setiap orang yang kamu bunuh, (dendanya) satu ekor kambing dan disembelih di Kota Mina, karena kamu melakukannya tanpa izin dari imam (Syiah). Sekiranya kamu membunuh mereka dengan seizin imam, niscaya kamu tidak dikenai denda sama sekali.”

Ni’matullah al-Jazairi—salah seorang ulama mereka—berkomentar tentang riwayat di atas, “Lihatlah denda yang sangat ringan tersebut. Sebuah denda yang lebih rendah daripada denda membunuh ‘adik laki-laki mereka’, yaitu anjing buruan, 25 dirham. Tidak pula menyamai denda membunuh ‘kakak laki-laki mereka’, yaitu Yahudi atau Majusi, 800 dirham. Sungguh, keadaan mereka (Sunni) di dunia ini lebih hina dan rendah.” (al-Anwar an- Nu’maniyyah 2/308)[9]

Betapa murahnya nyawa seorang Sunni di mata kaum Syiah. Dia lebih rendah daripada Yahudi atau Majusi, bahkan lebih rendah daripada seekor anjing buruan.

Demikianlah kaum Syiah. Makar terselubung terus mereka lakukan. Dengan semangat gerilya yang tinggi mereka tebarkan racun-racun akidah di tengah umat. Tampilan bersahaja dan bersahabat, mereka tonjolkan untuk menipu umat. Manakala ada peluang untuk menghabisi Sunni, secepat kilat akan mereka lakukan. Runtuhnya Daulah Abbasiyah di tangan Tartar, hancurnya Kota Baghdad, dan melayangnya jutaan nyawa umat Islam, termasuk sang khalifah kala itu, merupakan salah satu bukti sejarah atas kejahatan dan kesadisan kaum Syiah.[10]

Wallahul Musta’an.

MENGHALALKAN HARTA UMAT ISLAM

Tak hanya vonis kafir dan halalnya darah yang dijatuhkan oleh kaum Syiah terhadap umat Islam. Harta mereka pun halal diambil dan dimiliki.

Dalam beberapa kitab Syiah[11], diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihissalam, dia berkata, “Ambillah harta seorang Nashibi (baca: Sunni) di mana saja kamu mendapatinya dan serahkan kepada kami al-khumus (seperlima).”

Dalam kitab Syiah Bihar al-Anwar (93/194—195), disebutkan[12] bahwa Alba’ al-Asadi, seorang Syiah, menjadi pegawai di pemerintahan Bani Umayyah. Dia mendapati uang sebesar tujuh ratus ribu dinar, hewan tunggangan, dan budak (milik pemerintah). Lantas dia membawanya ke hadapan Abu Abdillah ‘alaihissalam dan menyerahkan semua harta itu kepadanya seraya berkata, “Sesungguhnya aku dipercaya oleh Bani Umayyah untuk memegang wilayah Bahrain. Aku berkesempatan mengambil kekayaannya sekian dan sekian, yang sekarang ini kubawa semuanya ke hadapan Anda. Aku meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikan harta itu untuk mereka, dan sungguh, semua itu untuk Anda.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Bawalah harta itu kemari!”

Harta itu diletakkan di hadapan Abu Abdillah ‘alaihissalam. Dia berkata, “Kami telah menerima harta ini darimu dan sekarang kami memberikannya kepadamu. Kami menghalalkannya untukmu dan kami menjaminmu di hadapan Allah ‘azza wa jalla masuk surga.”

 

HUKUM MENIKAHI UMAT ISLAM

Diriwayatkan dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir), disebutkan kepadanya tentang orang-orang Nashibi (baca: Sunni), dia lalu berkata, “Jangan kamu menikahi mereka, jangan memakan sembelihan mereka, jangan pula tinggal bersama mereka.”[13]

Salah seorang Syiah bertanya kepada Abu Ja’far tentang wanita Syiah Imamiyyah, apakah boleh dinikahi oleh seorang Nashibi (baca: Sunni)?

Dia menjawab, “Tidak boleh, karena Nashibi (baca: Sunni) itu kafir.”[14]

 

HUKUM SHALAT DI BELAKANG UMAT ISLAM

Ath-Thusi—salah seorang tokoh mereka—berkata dalam ringkasan fikihnya[15], “Jangan shalat di belakang orang Nashibi (baca: Sunni) dan orang yang mencintai Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib pen.) namun tidak berlepas diri dari musuh beliau kecuali dalam keadaan bertaqiyah.”

Muhammad al-Baqir ditanya tentang shalat di belakang selain Syiah. Dia menjawab, “Tidaklah mereka di sisiku kecuali seperti dinding.”[16]

Para pembaca yang mulia, dalam akidah Syiah tidak diperbolehkan shalat di belakang selain Syiah kecuali terpaksa sebagai bentuk taqiyah (berpura-pura). Itu pun dengan menganggap si imam tak ubahnya seperti dinding. Wallahul Musta’an.

 

HUKUM MENYALATI UMAT ISLAM

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang pernah melihat seorang Syiah turut menyalati jenazah seorang muslim (Sunni). Tentu, kesan yang ditangkap adalah masya Allah, alias bagus. Namun, perlu pembaca ketahui bahwa dia tidak melakukannya kecuali karena bertaqiyah (berpura-pura). Yang lebih mencengangkan, ternyata doa yang dibaca dalam shalat jenazah itu adalah doa kebinasaan untuk si mayit.

Al-Mufid dalam kitab al-Muqni’ah (hlm. 229—230) berkata, “Jika si mayit seorang Nashibi (baca: Sunni), shalatkanlah sebagai bentuk taqiyah (berpura-pura). Kemudian ucapkanlah setelah takbir keempat, ‘Ya Allah, hamba-Mu putra hamba-Mu ini, tidaklah kami mengetahuinya kecuali kejelekan. Hinakanlah dia di kalangan para hamba-Mu dan di negeri-negeri-Mu, masukkanlah dia ke dalam neraka-Mu yang paling dahsyat. Ya Allah, sesungguhnya dia mencintai para musuh-Mu, memerangi para wali-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu. Penuhilah kuburnya dengan api; dari arah depan, kanan, dan kirinya. Kuasakanlah ular dan kalajengking untuk membinasakannya di kuburnya’.”

Dalam riwayat lain, “Ya Allah, sesungguhnya si fulan ini, tidaklah kami mengetahuinya kecuali sebagai musuh-Mu dan musuh Rasul-Mu. Ya Allah, penuhilah kuburnya dengan api, penuhi pula perutnya dengan api, dan segerakanlah dia masuk ke dalam neraka, karena dia mencintai para musuh-Mu, memerangi para wali-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu. Ya Allah, sempitkanlah kuburnya.”

Ketika jenazahnya diangkat, ucapkanlah, “Ya Allah, jangan Engkau angkat derajatnya dan jangan pula Engkau sucikan dia.”[17]

 

VONIS NAJIS TERHADAP UMAT ISLAM

Sayyid Husain al-Musawi sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan di atas menjelaskan bahwa semua ahli fikih Syiah menyejajarkan Sunni dengan orang kafir, orang musyrik, babi, dan menggolongkannya sebagai jenis benda najis.

Sayyid Ni’matullah al-Jazairi berkata, “Sesungguhnya mereka—Ahlus Sunnah— adalah orang kafir dan najis, menurut kesepakatan ulama Syiah Imamiyah. Sesungguhnya mereka lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Di antara ciri-ciri Nashibi (baca: Sunni) adalah mendahulukan selain Ali bin Abi Thalib dalam hal imamah (khilafah).” (al-Anwar an-Nu’maniyyah 2/206—207; dinukil dari Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 71)

Satu hal yang sangat mencengangkan adalah keyakinan mereka bahwa seorang Sunni itu lebih najis dari makhluk yang paling najis sekalipun.

Dalam kitab Bihar al-Anwar (73/72), disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla belum pernah menciptakan makhluk yang lebih najis daripada anjing. Adapun seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami, ahlul bait, lebih najis darinya.

Bejana seorang Sunni hukumnya najis, tanpa diragukan. Yang lebih berhati-hati dalam membersihkannya adalah dengan debu dan air, sebagaimana yang dilakukan terhadap bejana yang terkena jilatan anjing.

Sayyid Musthafa al-Khomaeni dalam kitab Tahrir al-‘Urwah al-Wutsqa (1/89) berkata, “Bahkan, tidak diragukan lagi tentang najisnya seorang Nashibi (baca: Sunni)… dan yang lebih berhati-hati adalah membersihkan bejana Nashibi (baca: Sunni) dengan debu dan air sebagaimana yang dilakukan terhadap bejana yang terkena jilatan anjing.”

Diriwayatkan dari Abu Abdillah bahwasanya dia membenci bekas minum anak zina, Yahudi, Nasrani, musyrik, dan semua yang menyelisihi Islam. Yang paling dia benci adalah bekas minum seorang Nashibi (baca: Sunni).[18]

Bagaimanakah berjabat tangan dengan seorang Sunni?

Dalam akidah mereka, seusai berjabat tangan dengan seorang kafir dzimmi, cukup diusapkan ke tanah atau dinding. Namun, seusai berjabat tangan dengan seorang Sunni, harus dicuci dengan air. Wallahul Musta’an

Dalam kitab al-Kafi (2/650), disebutkan bahwa seseorang berkata kepada Abu Abdillah ‘alaihissalam, “Aku bertemu dengan seorang kafir dzimmi lalu dia mengajakku berjabat tangan.”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Usapkanlah tanganmu itu ke tanah atau dinding.”

Orang itu pun berkata, “Bagaimanakah (usai berjabat tangan) dengan seorang Nashibi (baca: Sunni)?”

Abu Abdillah ‘alaihissalam berkata, “Cucilah tanganmu!”[19]

 

VONIS KEKAL DI NEREKA

Dalam kitab Bihar al-Anwar (27/234), disebutkan bahwa Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata, “Sekiranya semua malaikat yang diciptakan oleh Allah, semua nabi yang diutus oleh Allah, dan semua syahid memberikan syafaat kepada seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami, ahlul bait—maksudnya adalah Syiah—agar Allah mengeluarkannya dari neraka; Allah tidak akan mengeluarkannya dari neraka selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman dalam Kitab-Nya, ‘Mereka berada di dalamnya untuk selama-lamanya’.”

Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya seorang Nashibi (baca: Sunni) yang menyelisihi kami ahlul bait—maksudnya adalah Syiah—tidak perlu dihiraukan, entah dia berpuasa atau shalat, berzina atau mencuri; karena sesungguhnya dia di neraka! Sesungguhnya dia di neraka!”[20]

Dari pemaparan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa umat Islam (Sunni) di mata kaum Syiah adalah kafir, halal darah dan hartanya, tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya kecuali jika bertaqiyah (berpura-pura), tidak boleh menyalati jenazahnya kecuali ketika bertaqiyah (berpura-pura) dan mendoakan kebinasaan atasnya, najis bahkan lebih najis dari anjing, dan kekal di dalam neraka selama-lamanya. Wallahul Musta’an.

Perlu diketahui, kesimpulan di atas bukanlah kesimpulan di atas kertas semata, melainkan sebuah prinsip keyakinan (akidah) yang terhunjam dalam sanubari setiap penganut Syiah, yang akan direalisasikan dalam bentuk nyata manakala ada peluang dan kesempatan.

Marilah kita simak bersama persaksian Sayyid Husain al-Musawi berikut ini.

“Ketika pemerintahan Pahlevi di Iran tumbang pascarevolusi Islam (baca: Syiah) dan Imam Khomaeni dikukuhkan sebagai pemimpin bangsa, menjadi kewajiban bagi ulama Syiah untuk berkunjung dan memberi ucapan selamat kepadanya atas kemenangan yang agung ini; yaitu berdirinya Negara Syiah pertama di era modern ini yang dipimpin oleh para fuqaha (ahli fikih). Kewajiban ini secara lebih khusus tertuju kepada diriku, karena hubunganku yang sangat dekat dengan Imam Khomaeni.

Berangkatlah aku ke Iran satu setengah bulan atau lebih setelah kedatangannya di Teheran, sepulang beliau dari tempat pengasingannya di Paris, Perancis. Beliau benar-benar menyambut hangat kunjunganku itu. Kebetulan, kunjungan kali ini tidak bersama para ulama Syiah Irak lainnya. Dalam pertemuan khusus itu, beliau berkata kepadaku, “Sayyid Husain, tibalah saatnya menerapkan wasiat para imam shalawatullah ‘alaihim. Kita akan tumpahkan darah orang-orang Nashibi (baca: Sunni). Kita akan membunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Takkan kita biarkan seorang pun dari mereka lolos dari penyiksaan. Harta mereka akan menjadi hak milik para pembela Ahlul Bait.

Kita akan enyahkan Makkah dan Madinah dari muka bumi ini karena telah menjadi markas Wahabi. Sudah seharusnya Kota Karbala menjadi bumi Allah yang diberkahi lagi suci, kiblat manusia dalam shalat. Dengan demikian, kita akan wujudkan impian para imam ‘alaihissalam.

Sungguh, telah berdiri sebuah negara yang sejak sekian tahun lamanya kita perjuangkan. Tidaklah tersisa bagi kita selain mewujudkan itu semua!!” (Lillahi Tsumma Lit Tarikh, hlm. 73)

Akhir kata, demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam.

Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Amin….


[1] Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi umat Islam) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634.

Dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihassalam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa Mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di Mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

[2] Dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

[3] Dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi, hlm. 12—13 dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir), dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….”

Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah)….” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

[4] Di antaranya pada Majalah Asy-Syari’ah edisi 05, 18, dan 92.

[5] Dalam literatur Islam, sebutan Nashibi digunakan untuk seseorang yang membenci dan memusuhi ahlul bait (keluarga/keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beriman).

Berbeda halnya dalam literatur Syiah, sebutan Nashibi digunakan untuk semua orang yang menyelisihi Syiah dan mengingkari sistem keimamahan yang ada pada mereka. Demikianlah yang ditegaskan oleh al-Bahrani, seorang tokoh Syiah yang bergelar “al-Muhaqqiq” dalam kitabnya al-Hadaiq an-Nadhirah 14/159.

Bahkan, sekadar mendahulukan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab atas Ali bin Abi Thalib dalam hal kekhilafahan, sudah masuk dalam kategori Nashibi, sebagaimana dalam kitab Wasail as-Syiah (Alu al-Bait) karya al-Hur al-‘Amili 9/490—491. Tatkala seseorang divonis Nashibi, berarti dia telah kafir, musyrik, najis, serta halal harta dan darahnya.

[6] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.

[7] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 133.

[8] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah karya Hamid Masuhali al-Idrisi, hlm. 134.

[9] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 136.

[10] Anda bisa membaca Kajian Utama edisi ini. Untuk lebih rinci, silakan baca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir (13/200—211), Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi (48/33—40), dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi (hlm. 325—335).

[11] Wasail asy-Syiah 9/487, al-Hadaiq an-Nadhirah 10/361, Tahdzib al-Ahkam 4/121, dan Bihar al-Anwar 93/191. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 137.

[12] al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 138.

[13] al-Istibshar 3/184, Tahdzib al-Ahkam 7/303, dan Wasail asy-Syiah 20/554. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 138.

[14] Tahdzib al-Ahkam 7/303

[15] an-Nihayah, hlm. 112.

[16] Jawahir al-Kalam 13/196.

[17] al-Kafi 3/189, Bihar al-Anwar 44/202, Wasail asy-Syiah 3/70, dan Tahdzib al-Ahkam 3/197. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 141.

[18] al-Kafi 3/11, dan Wasail asy-Syiah 1/229. Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 143.

[19] Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 143.

[20] Dinukil dari al-Fadhih Li Madzhab asy-Syiah al-Imamiyyah, hlm. 144.

Kedaulatan Negara Berada di Tangan Partai

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

peta-indonesia

Masa orde baru, pemilihan umum (pemilu) sering didengungkan sebagai pesta demokrasi. Sebagian masyarakat menyambut gegap gempita. Walau tak sedikit yang lantas menjadi korban kebrutalan massa, namun semangat untuk membela partai tetap menyala.

Pesta demokrasi pada masa orde baru pernah ditetapkan hanya diikuti oleh tiga partai politik. Keberadaan tiga kontestan dalam pemilu tersebut lebih disebabkan kebijakan pemerintah orde baru yang melebur beberapa partai bercorak “Islam” ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Begitu pula dengan partai berbau nasionalis-marhaen yang dicelup dalam bingkai Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Adapun Partai Golkar merupakan partai penguasa yang didukung segenap onderbouw, seperti KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) serta dukungan kebijakan pemerintah yang menetapkan peraturan monoloyalitas PNS (Pegawai Negeri Sipil). Kebijakan-kebijakan penguasa kala itu menjadikan Golkar selalu menjadi pemenang pemilu mulai 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Bagi PPP dan PDI, keikutsertaannya dalam pemilu seakan sebagai pemanis pesta demokrasi.

Sebagai catatan sejarah, proses penyelenggaraan pemilu saat itu seringkali memakan korban. Entah itu kerusuhan yang sifatnya massif atau hanya bersifat individual. Pemilu itu sendiri mencuatkan pertarungan yang kompetitif. Satu pendukung dengan pendukung partai lainnya bisa saling berbenturan, adu jotos, bahkan saling membunuh.

Lebih dari itu, pemilu yang merupakan produk paham demokrasi tidak pernah memberi kebaikan kepada kaum muslimin. Di belahan bumi mana pun, pemilu dan demokrasi selalu menimbulkan mudarat. Keburukan demi keburukan selalu dipanen oleh sebagian kaum muslimin yang masih berkeyakinan bahwa jungkir balik dalam pesta demokrasi termasuk perjuangan mulia.

Becerminlah dari sejarah. Saat masa pemerintahan orde lama, pernah naik ke pentas politik nasional Partai Masyumi. Inilah satu-satunya partai berasas Islam yang memperjuangkan tegaknya hukum Islam di Indonesia. Walau dengan tingkat soliditas yang luar biasa, Partai Masyumi akhirnya dijegal oleh kalangan nasionalis sekuler dan kalangan komunis. Melalui Surat Keputusan Presiden (Kepres) No. 200/1960, Presiden Ir. Soekarno saat itu menekan agar Partai Masyumi membubarkan diri. Apabila tidak, akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Dengan tekanan politik seperti itu, akhirnya Partai Masyumi membubarkan diri (Asy-Syariah, No. 49/V/1430 H/2009 hlm.17). Kandas sudah perjuangan menegakkan syariat Islam melalui jalur demokrasi. Sejarah telah mencatat tragedi memilukan ini.

Tidak hanya itu, di era reformasi sekarang pun, masih ada sebagian kaum muslimin yang coba-coba menceburkan diri ke kubangan demokrasi. Kata mereka, ingin memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan kebenaran bagi masyarakat. Namun, apa yang terjadi dengan para pemeran di panggung politik ini?

Sebagian terjungkal karena korupsi. Mengapa sampai harus korupsi? Jawabannya bisa beragam. Namun, membesarkan partai, menggemukkan perolehan suara dalam pemilu, dan mempertahankan kursi di partai dan legislatif perlu biaya banyak. Karena itulah, dana pun harus didapat walau dengan cara tidak terpuji. Nas’alullaha as-salamah.

Partai yang dahulu dilabeli dengan bersih dan peduli pun kini tak lagi bisa dipercaya. Sebagian masyarakat bahkan merasa jijik. Tangan penggede partai berlumuran maksiat. Masihkah yang seperti ini dipercaya memperjuangkan Islam?

Pangkal dari musibah ini ialah karena jalan yang ditempuh telah menyelisihi syariat. Demokrasi dan pemilu telah mendorong orang-orang partai politik bergelut dengan ketidakjujuran. Demokrasi dan pemilu telah membentuk jiwa-jiwa kerdil yang dirasuki mimpi-mimpi keduniaan nan menggiurkan dan penuh tipuan.

Jadi, masih belum jerakah hidup mengusung demokrasi? Belum jerakah berpesta pora lagi mabuk kepayang dengan pemilu? Masihkah bersemangat merajut impian-impian tak pasti? Betapa kasihan, apabila demi satu kursi, dirimu terjatuh dalam beragam pelanggaran syariat. Duhai, bilakah kesadaran itu bangkit menyelimuti dirimu?

Kini, apa yang terjadi di dunia luar setelah mereka bersorak sorai menyambut pesta demokrasi? Mesir, Palestina, Turki, dan Aljazair telah menjadi saksi. Betapa demokrasi dan pemilu tiada menjanjikan apa pun selain penistaan terhadap kaum muslimin. Ya, nista, hina, dina.

 

Berdemokrasi Bakal Menuai Bencana

Di Mesir, saat pemilu dilaksanakan, partai politik Ikhwanul Muslimin berhasil memenangkan pemilu. Muhammad Mursi pun lantas menjadi presiden terpilih. Tak berapa lama setelah menduduki kursi kepresidenan yang diraih melalui pemilu, kekuatan militer menggulingkan kekuasaannya. Mursi pun dimakzulkan, lengser. Dampaknya, terjadi kericuhan di Bumi Piramid itu. Darah tertumpah. Tak sedikit nyawa melayang. Harta benda hancur begitu saja. Entah berapa besar kerugian yang diderita. Sungguh, mengikuti langgam orang kafir dalam berdemokrasi hanya menyisakan kepiluan. Demokrasi tiada memberi manfaat kepada kaum muslimin.

Di Turki, nyaris sama. Erbakan memenangi pemilu dan sempat duduk di kursi perdana menteri selama dua tahun. Namun, ia akhirnya harus menghadapi laras senjata militer. Erbakan diturunkan secara paksa. Sekali lagi, demokrasi dan pemilu tak menjanjikan kebaikan apapun selain mudarat.

Di Aljazair, karena demokrasi dan pemilu, rakyat menjadi korban pembantaian. Saat Partai FIS memperoleh kemenangan dalam pemilu, pihak militer lantas mengambil alih kekuasaan. Militer membatalkan hasil pemilu. Abbas Madani dan Ali Belhaj sebagai petinggi partai dijebloskan ke penjara. Kekacauan terjadi di mana-mana. Tak semata atribut partai yang dilarang, bahkan syiar-syiar keislaman pun dilarang oleh penguasa. Segala yang berbau Islam dienyahkan. Musibah nan teramat mengerikan. Ternyata, berdemokrasi hanya bakal menuai bencana.

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengatakan, pemilu merupakan ujian yang merusak hati dan menimbulkan dendam permusuhan, lalu bisa menjerumuskan pada pertumpahan darah. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah wa Annaha Laisat min al-Islam, hlm. 30)

Karena itu, sungguh sangat sulit dipercaya apabila jalur demokrasi bisa memperbaiki keadaan kaum muslimin. Demokrasi tidak akan memberikan kebaikan kepada kaum muslimin. Bahkan, jalur demokrasi dan pemilu menyebabkan kaum muslimin lemah memegang prinsip agamanya. Bagaimana tidak, saat seorang muslim larut dalam pesta demokrasi, senyatanya ia tengah luntur sikap loyalitasnya kepada al-haq dan ahlul haq. Di sisi lain, ia justru menyokong teman berbeda agama hanya karena sang teman tergabung dalam satu partai dengannya.

Bagaimana kaum muslimin tidak menuai bencana, ketika yang menentukan seseorang ditampilkan sebagai figur dalam pemilu adalah rekomendasi partai. Seorang Nasrani pun bisa tampil menjadi kandidat dari partainya selama pihak partai merekomendasi sang Nasrani. Lantas, bagaimana halnya dengan seorang muslim yang ada dalam satu partai tersebut? Apabila menolak dan tidak mendukung, berarti melawan keputusan partai. Memberi dukungan berarti telah luntur sikap al-wala’ wa albara’. Sungguh, apabila terjadi demikian, tentu merupakan bencana bagi diri dan agamanya. Nas’alullaha as-salamah.

Itulah sisi buruk sistem demokrasi bagi kaum muslimin. Sistem demokrasi hanya berlaku bagi partai politik berlabel “Islam” yang sekiranya tidak membahayakan kepentingan Barat dan tidak mematikan keberlangsungan sistem sekuler. Manakala membahayakan, maka sistem demokrasi akan menampakkan wajah aslinya sebagai monster yang haus darah. Siap memangsa dan membantai lawan. Sejarah di belahan bumi kaum muslimin telah menorehkan kesaksiannya.

 

Kedaulatan Berada di Tangan Partai

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengemukakan, tidak diragukan lagi bahwa sistem (nizham) demokrasi merupakan sistem menyimpangdan jahil. Tidak dibenarkan bagi kita di negara Saudi Arabia, bahkan di segenap negeri Islam yang beriman dengan sistem Islam, menerapkan sistem demokrasi ini. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 14)

Menerapkan sistem demokrasi dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu tercerabutnya tradisi keislaman di negaranegara kaum muslimin. Di Yaman, Abdul Majid az-Zindani meniupkan sistem demokrasi hingga mendorong para muslimah melenggang di dunia politik. Ini dilakukan tanpa memedulikan lagi ketentuan syariat. (Tuhfatu al-Mujib ‘ala As’ilati al-Hadhiri wa al-Gharib, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, hlm. 417)

Di Sudan, melalui sistem demokrasi yang diterapkan, hasil pemilu di negara tersebut memunculkan wakil presiden beragama Kristen. Hasan at-Turabi menjadi pelopor gerakan penerapan sistem menyimpang dan jahil ini.

Apa yang digembar-gemborkan sistem demokrasi bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat nyatanya masih dipertanyakan. Walaupun rakyat melakukan pemilihan langsung wakil atau pemimpin mereka, kenyataannya justru pemimpin atau wakil rakyat tersebut ditetapkan oleh partai. Rakyat memilih setelah pilihan itu disodorkan partai. Melalui mekanisme partai inilah wakil/pemimpin dipilih.

Karena itu, tak mengherankan apabila setelah lolos dan terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin, komitmen memperjuangkan partai lebih menonjol dibanding dengan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Bisa jadi, meski dirinya memperjuangkan nasib rakyat, diharapkan juga bisa mendongkrak pamor partai di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, semua yang dilakukannya merupakan politik pencitraan terhadap partai yang menjadi kendaraan para politikus tersebut.

Lebih aneh lagi, seorang yang dicalonkan pada dapil (daerah pemilihan) tertentu, ternyata sang calon ini tidak berdomisili di daerah dapil itu. Bahkan, ia tidak berasal dari daerah pemilihan tersebut. Dengan kondisi semacam itu, apakah mungkin sang calon akan benar-benar memperjuangkan nasib rakyat yang memilihnya? Padahal dirinya bukan berasal dari daerah itu dan tidak mengenal secara dekat denyut kehidupan masyarakatnya.

Berapa banyak sang wakil rakyat yang tidak memiliki ikatan batin dengan rakyat yang memilihnya? Rakyat cukup disodori gambar dengan segala akting manis sang calon wakil rakyat saat menjelang pemilu. Setelah terpilih, ia pun melupakan rakyat yang memilihnya. Jangankan datang berkunjung untuk melihat langsung keadaan rakyat yang memilihnya, namanya saja sudah dilupakan orang. Kedaulatan ada di tangan partai; seperti itulah buahnya.

Kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, “Demokrasi bermakna rakyat menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri. Seandainya (melalui pemilu) menghasilkan suara (terbanyak) bahwa homoseksual itu halal, niscaya hasil pemilu itu lebih didahulukan daripada al-Kitab dan as-Sunnah.” (Tuhfatu al- Mujib, hlm. 431)

Karena itu, orang yang cerdas dan berakal normal akan melihat sistem demokrasi sebagai sistem yang rusak dan tidak menjanjikan kebaikan. Sungguh naif sekali apabila menentukan baik-buruk, halal-haram, ataupun benar-salah melalui pemungutan suara. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), ketahuilah bahwa Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 49—50)

Kedaulatan berada di tangan partai. Rakyat tinggal memilih wakilnya berdasar apa yang disodorkan oleh partai. Di dalam partai, tentu ada mekanisme yang mengatur sehingga Mr. Fulan yang disodorkan ke publik memiliki komitmen, loyal, dan terikat kepada partai. Jika tidak, Mr. Fulan tentu akan dicutik hingga tak berkutik.

Di sebuah negeri bersendi demokrasi, partai memegang kedaulatan. Partai memiliki kekuasaan dan pengaruh. Karena itu, banyak orang tergiur menjadi pengurus partai. Ramai-ramai mendirikan partai. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi hidayah.

 

Dampak Buruk Sistem Demokrasi

Di antara kerusakan yang ditimbulkan sistem demokrasi terhadap masyarakat, seseorang didorong untuk mewujudkan ambisinya menjadi pejabat publik. Padahal jabatan adalah amanat yang kelak harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

Lebih tragis lagi, upaya untuk meraup jabatan itu disertai janji-janji kosong yang tidak ada realitasnya. Demi meraih apa yang diinginkannya, ia tak memedulikan lagi nilai kejujuran, praktik suap, dan menyia-nyiakan harta demi memasyhurkan dirinya. Selanjutnya, kebohongan akan menjadi watak jahat yang muncul mengiringi keberhasilannya menampuk kursi jabatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati sahabat yang mulia, Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu,

 يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Sebab, sungguh, jika engkau diberi kedudukan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (Allah ‘azza wa jalla) atas jabatan (yang engkau emban). Adapun jika jabatan itu diperoleh dari hasil meminta, engkau bakal dibebani jabatan tersebut (tidak akan ditolong Allah ‘azza wa jalla).” (HR. al-Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)

Demokrasi telah turut andil mengobarkan ambisi merebut jabatan, meruntuhkan moral, dan menyianyiakan nikmat yang diberikan Allah ‘azza wa jalla. Padahal, kelak Allah ‘azza wa jalla akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat-nikmat tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang telah diberikan padamu).” (at-Takatsur: 8)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami menyebutkan beberapa kerusakan yang bisa ditimbulkan lantaran melaksanakan sistem demokrasi di negeri kaum muslimin. Di antara kerusakan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Muncul kebebasan berakidah. Maksudnya adalah bebas untuk memilih agama (murtad dari Islam). Sistem demokrasi membuka peluang setiap individu untuk mengubah keyakinan dan agamanya. Kebebasan ini bahkan dilindungi undang-undang.
  2. Kebebasan dalam berperilaku, kebebasan menampilkan nilai-nilai kaum kafir, dan kebebasan berekspresi.
  3. Kebebasan berpikir dan berpendapat, kebebasan mengeluarkan pemikiran dan pendapat tanpa dibatasi ketentuan yang ada; tanpa menimbang baik-buruk.

Khusus di Indonesia, kebebasan ini mencakup kebebasan “mengkritik” dan mencela pemerintah di depan publik; baik dengan cara demonstrasi, membeberkan melalui media masa, atau ceramah umum. Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam diatur sedemikian rupa.

Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam dibatasi oleh ketentuan syariat; baik dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar, nasihat, maupun saling mengingatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, hendaklah berbicara yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا لَعَّانٍ وَلَا فَاحِشٍ وَلَا بَذِيءٍ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berbuat keji, dan kotor.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim, beliau menyatakan sahih)

Inilah perbedaan nilai kebebasan demokrasi dan Islam. Kebebasan yang diberikan oleh Islam dibingkai dengan nilai syariat, tidak sebagaimana kebebasan yang ditentukan oleh sistem demokrasi yang bersifat mutlak tanpa ada kaidahyang melingkupinya. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 20—25 dinukil secara ringkas)

Menanam sistem demokrasi sama dengan menanam kebebasan tanpa batas. Sebab, demokrasi itu sendiri bermakna liberalisasi; yaitu sebuah sistem yang meniupkan hawa buruk yang bernama kebebasan mutlak tanpa batas. Buah dari itu semua, moral masyarakat akan tercabik-cabik, keimanan akan melemah dan hancur, cara berpikir masyarakat tidak terbangun secara sehat, dan ambisi untuk menekuk rival politik akan semakin liar. Demokrasi hanya menjanjikan kerusakan demi kerusakan.

Kalau mau jujur, keluhan yang tampak sekarang, senyatanya menggambarkan betapa kebejatan demokrasi telah menggerogoti sistem bermasyarakat bangsa Indonesia ini. Adapun yang bisa melihat semua kebobrokan itu hanya orang-orang yang mau berpikir secara jernih dan sehat dengan bimbingan Islam.

Wallahu a’lam.

Di Balik Keagungan Kitab Suci Al-Qur’an

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

langit

Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan produk budaya.[1] Keberadaannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) memosisikannya sebagai kitab suci yang mulia. Ia bukan makhluk, bukan perkataan Malaikat Jibril ‘alaihissallam, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula perkataan makhluk manapun. Allah ‘azza wa jalla telah menulisnya secara sempurna dalam Lauh Mahfuzh sejak langit dan bumi belum tercipta.

Demikianlah yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas c dan selain beliau dari as-Salaf (pendahulu umat ini) yang mulia.[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab supaya kalian memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”  (az-Zukhruf: 1—4)

“Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (al-Buruj: 21—22)

“Sesungguhnya al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil ‘alamin.” (al-Waqi’ah: 77—80)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an telah ditulis oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Syifa’ul ‘Alil, hlm. 41)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ini adalah perkataan as-Salaf dan Ahlus Sunnah tentang al-Qur’an. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 225 dan Syarh al-Aqidah as-Safariniyah 1/215, catatan kaki no. 1)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar yang penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” (al-Qadr: 1)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke dunia kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Dengan sebuah hikmah, agar lebih mudah dalam proses penyampaian dan pengajarannya kepada umat, dan lebih mengokohkan jiwa beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang ada. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (asy-Syu’ara’: 192—194)

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’: 106)

“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya secara sekaligus saja?’; demikianlah supaya Kami mengokohkan jiwamu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (al-Furqan: 32)

Abdullah bin Abbas c berkata, “Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci selama 23 tahun, sesuai dengan kasus dan peristiwa yang ada.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Dalam kurun waktu 23 tahun itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabatnya,mengajarkan tafsir (rincian makna)-nya, dan mencontohkan berbagai bentuk pengamalannya dalam kehidupan sebagai pembelajaran dan keteladanan terbaik untuk mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan bahwa al-Qur’an mempunyai dua keadaan; tertulis (maktub) dan didengar (masmu’). Adapun yang tertulis (maktub) maka ada pada tiga hal:

1) Lauh Mahfuzh, ditulis padanya al-Qur’an secara sempurna dari awal hingga akhir.

2) Baitul Izzah di langit dunia. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an (dari Lauh Mahfuzh) secara sekaligus dalam bentuk tulisan dan menempatkannya di Baitul Izzah.

3) Mushaf al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin.

Dalam tiga hal ini, tidak ada peran dari Malaikat Jibril sama sekali. Berikutnya, al-Qur’an yang tertulis di Lauh Mahfuzh, Baitul Izzah, dan Mushaf al-Qur’an semuanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) bukan makhluk. Adapun yang didengar (masmu’) maka terjadi saat al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla menyampaikannya kepada Malaikat Jibril ‘alaihissallam dengan huruf (lafadz) dan maknanya yang didengar, kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissallam menyampaikannya secara langsung apa yang didengarnya dari Allah ‘azza wa jalla tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dengan cara seperti itu. (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 382 dan Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 1/363)

 

Kedudukan Al-Qur’an dalam Kehidupan Umat Manusia

Al-Qur’an merupakan pedoman dan lentera kehidupan bagi umat manusia. Kedudukannya sangat tinggi dan hikmah yang dikandungnya pun sangat berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, cahaya kebenaran, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena, karena ia sumber segala ilmu dan hikmah, tempat semua petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an merupakan bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya maka sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat. Barang siapa yang berjalan di atasnya maka sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (Al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)

Tak heran, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengannya, predikat terbaik akan diraih dan dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Al-Qur’an, Kitab Suci yang Sangat Terpelihara

Al-Qur’an kitab suci yang sangat terpelihara. Tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Karena yang menurunkannya ialah Allah ‘azza wa jalla Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia ‘azza wa jalla telah berjanji memeliharanya untuk selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Lebih dari itu, al-Qur’an berkedudukan sebagai tolok ukur kebenaran terhadap kandungan kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan tolok ukur kebenaran terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (al-Maidah: 48)

Demikian agung dan terpeliharanya Kitab Suci al-Qur’an. Namun, di mata kaum Syi’ah yang sesat ternyata tidak demikian adanya. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634 dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’ Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 5)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (al-Isra’: 88)

 

Al-Qur’an Kalamullah, Bukan Makhluk

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman dengannya secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk dari keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kitab-kitab-Nya adalah beriman bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang diturunkan dari Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Dari Allah ‘azza wa jalla al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya pula ia akan kembali. Allah ‘azza wa jalla berfirman (berkata) dengannya secara hakiki. Al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) secara hakiki, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh menyatakan bahwa al-Qur’an hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) atau ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla). Bahkan, jika al-Qur’an itu dibaca oleh manusia atau ditulis dalam mushaf-mushaf, tidaklah mengeluarkan dia dari kedudukannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang sebenarnya. Sebab, sebuah perkataan disandarkan hanya kepada yang pertama kali mengatakannya, tidak kepada pihak (kedua, -pen.) yang berstatus sebagai penyampainya. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), huruf (lafadz) dan maknanya. Kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) itu bukanlah huruf (lafadz) semata tanpa makna, dan bukan pula makna semata tanpa huruf (lafadz).” (al-Aqidah al-Wasithiyah)

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut sungguh berbeda dengan prinsip kelompok sesat Mu’tazilah[3] dan Jahmiyah[4] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Berawal dari niatan ingin menyucikan Allah ‘azza wa jalla dari sifat-sifat makhluk-Nya—dengan mengandalkan akal tanpa bimbingan ilmu—akhirnya terjatuh dalam sikap yang lebih ekstrem, yaitu ta’thil (meniadakan) sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla secara total, termasuk sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla. Dengan itu, mereka menetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai sifat berbicara alias bisu. Mahasuci Allah ‘azza wa jalla dari pernyataan keji mereka itu. Karenanya, para ulama Ahlus Sunnah menyatakan, “Barang siapa mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir.”

Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan sifat kalam (berbicara) untuk diri-Nya yang  Mahamulia sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat dari al-Qur’an, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya. Tentunya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak serupa sama sekali dengan sifat makhluk-Nya. Adapun al-Qur’an, dengan tegas Allah ‘azza wa jalla menyatakan bahwa ia adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar kalamullah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Padanya terdapat hujah (argumen) yang gamblang bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, karena Dia ‘azza wa jalla yang berfirman dengannya (al-Qur’an). Allah ‘azza wa jalla menyandarkan (mengidhafahkan) al-Qur’an kepada diri-Nya sebagai bentuk penyandaran sifat kepada Dzat yang disifati (yakni Allah ‘azza wa jalla). Padanya pula terdapat bukti kebatilan mazhab Mu’tazilah dan yang mengikuti mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Betapa banyak dalil yang menunjukkan batilnya pernyataan tersebut, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya.” (Taisir al-Karimirrahman 1/329)

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah syubhat-syubhat Mu’tazilah dan Jahmiyah cukup banyak, terkhusus dalam permasalahan al-Qur’an. Di antaranya; ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wal Jahmiyah karya al- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah, al-Haidah wa al-I’tidzar firraddi ‘ala Man Qala Bikhalqi al-Qur’an karya al-Imam Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani rahimahullah, dan yang lainnya.

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut juga sangat berbeda dengan prinsip kelompok sesat Kullabiyah[5] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), atau kelompok sesat Asya’irah[6] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).[7]

Dasar mereka adalah bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla adalah qadim (azali), sama dengan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah ‘azza wa jalla, sehingga tidak berbilang karena adanya suatu kehendak atau kejadian. Maka dari itu, al-Qur’an adalah kalam nafsi bagi Allah ‘azza wa jalla bukan kalam hakiki. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla berbicara dalam jiwanya (tidak terdengar), lantas menjadikan Malaikat Jibril ‘alaihissallam paham tentangnya, kemudian Malaikat Jibrillah yang mengungkapkannya dalam bentuk firman yang mempunyai huruf dan lafadz (suara). Jadi, maknanya berasal dari Allah ‘azza wa jalla sedangkan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam. (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilah ‘Adidah, asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hlm. 26 dan Syarh al- Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hlm. 113)

Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah, prinsip Asya’irah tentang al-Qur’an ini sama dengan prinsip orang Kristen tentang Isa al-Masih. Menurut orang Kristen, Isa al-Masih merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan Maryam (makhluk). Demikian pula menurut Asya’irah, al-Qur’an merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan makhluk. Yakni maknanya dari Allah ‘azza wa jalla (kalam nafsi), sedangkan huruf dan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam atau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 98)

Para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jallaqadimun nau’ wa haditsul ahad”. Qadimun nau’ maksudnya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla itu qadim (azali), selalu ada dan melekat pada Dzat Allah ‘azza wa jalla. Haditsul ahad maksudnya, Allah ‘azza wa jalla Maha Berbicara kapan saja Dia ‘azza wa jalla berkendak untuk berbicara, sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya. Tidak dengan huruf (lafadz)-nya semata tanpa maknanya sebagaimana klaim Mu’tazilah dan Jahmiyah, dan tidak pula dengan maknanya semata tanpa huruf (lafadz) sebagaimana klaim Kullabiyah dan Asya’irah. Dengan itulah, pemahaman tentang sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla menjadi benar, dan dengan itu pula pemahaman tentang hakikat al-Qur’an menjadi lurus.[8]

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah secara detail kelompok sesat Asya’irah dan yang semisalnya cukup banyak, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di beberapa tempat darinya), kitab at-Tis’iniyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebutkan padanya sembilan puluh sisi bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka, karena itu disebut dengan at-Tis’iniyah, karya-karya al-Imam Ibnul Qayyim terutama kitab Mukhtashar ash-Shawaiq al-Mursalah, dan selainnya dari kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang mulia.

Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 113), dan asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 119) dan Syarh al-Aqidah al- Wasithiyah (1/354).

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya jiwa kami, pelipur lara kesedihan kami, dan penyirna kegundahan kami.


[1] Belakangan ini muncul statemen sesat bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, dalam hal ini budaya masyarakat Arab yang al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Statemen ini datang dari antek-antek para orientalis barat, semisal Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir. Ujungnya, al-Qur’an bukan kitab suci yang sakral sehingga layak dikritisi secara teks apalagi maknanya karena ia hanyalah produk budaya. Betapa bahayanya statemen tersebut. Fakta membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang justru banyak membongkar berbagai kesesatan budaya Arab ketika itu, bahkan memaparkan jalan-jalan kebenaran yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Lebih dari itu, al-Qur’an meluruskan makna kosa kata Arab yang lekat dengan budaya mereka kepada makna yang islami. Misalnya kosa kata ikhwah, dalam budaya Arab ketika itu berkonotasi pada kekuatan dan fanatik kesukuan, lantas diubah maknanya dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman, yang lebih tinggi dari sebatas hubungan darah dan kesukuan.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Abbas (2/135), Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (15/223—224), Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (1/225), dan Adhwa’ul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, tafsir QS. Fushshilat: 2 dan QS. al-Qadr: 1

[3] Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Bashri, mantan murid al-Imam Hasan al-Bashri yang

menyimpang dari kebenaran.

[4] Pengikut Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang merupakan murid dari Ja’ad bin Dirham. Ja’ad bin Dirham sendiri tergolong orang pertama dari umat ini yang meniadakan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

[5] Pengikut Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri.

[6] Pengikut Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang berpegang dengan prinsip-prinsip beliau pada fase ketika bersama Kullabiyah. Adapun beliau sendiri, telah menyatakan rujuk dari berbagai penyimpangan tersebut dan berupaya berpijak di atas prinsip Ahlus Sunnah (fase ketiga), walaupun masih ada beberapa hal yang terluput dari beliau. Lihat Majalah asy-Syari’ah edisi Mengupas Paham Asy’ariyah.

[7] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (12/160—161).

[8] Lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matni al-Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan (hlm. 66—71), Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras (hlm. 181—187), Syarh Lum’atul I’tiqad karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hlm. 19—20), dll.