Apa Itu Salafiyah?

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

mahiya

Pernahkah Anda mendengar nama asy-Syaikh Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhahullah? Sosok ulama Ahlus Sunnah yang pernah berkunjung ke Indonesia dua tahun silam. Penampilannya sederhana, namun memendam ilmu nan melimpah.

Alkisah, suatu pagi ada seseorang yang menawarkan diri untuk membacakan kitab yang akan dikaji di majelis asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. Mendengar permohonan tersebut, beliau hafizhahullah menjawab, “Saya adalah orang yang diperintah.”

Beliau mengatakan demikian karena beliau bukan orang yang memiliki kekuasaan untuk menentukan dan mengatur acara kajian tersebut. Beliau adalah pihak yang diundang. Jadi, segala sesuatu beliau serahkan kepada pihak penyelenggara. Demikianlah akhlak dan adab yang bisa dipetik dari kehadiran seorang ulama Ahlus Sunnah. Begitu tawadhu’. Begitu menghargai dan menghormati keberadaan pihak lain.

Berinteraksi dengan ulama tak semata meraih ilmu yang diajarkannya. Lebih dari itu, interaksi itu menjadi media pembelajaran yang sangat berguna dari sisi bentuk amalan. Seseorang akan langsung melihat contoh perilaku kebaikan pada diri ulama tersebut.

Berinteraksi dengan ulama tak semata belajar mengambil ilmu, namun mengambil pula nilai aplikatif ilmu yang diajarkan. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bertutur,

كُنَّا لَا نَتَجَاوَزُ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ فَمِ رَسُولِ اللهِ حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَعْنَاهَا وَالْعَمَلَ بِهَا. فَقَالَ :كُنَّا نَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ

Kami mempelajari tak lebih dari sepuluh ayat dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kami mempelajari makna ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya.” “Kami mempelajari ilmu dan amal,” kata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Demikian salafu ash-shalih mengajarkan kepada kita. Sebab, sebagaimana disebutkan para ulama, sesungguhnya buah dari ilmu adalah amal. Maka dari itu, ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tiada berbuah. Karena itu, tak mengherankan apabila ada dari kalangan salafu ash-shalih yang hidup bersama al-Imam Ahmad rahimahullah sekadar mempelajari akhlak beliau. Tidak menulis hadits sekian tahun, hanya mempelajari bagaimana al-Imam Ahmad berperilaku dalam keseharian. Demikian pula yang dilakukan Abdullah bin Mubarak rahimahullah yang menghabiskan waktunya sekitar 30 tahun hanya untuk mempelajari adab.

Demikian penting masalah aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim. Keislaman seseorang tak sekadar dinilai dari kepiawaiannya bercakap dan memaparkan kajian. Sebab, Islam tak cukup semata dengan retorika.

Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah mengungkapkan bahwa Yahudi disebut maghdhub ‘alaihim (mereka dimurkai) lantaran mereka tak mau mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya, kaum Nasrani beramal, namun tidak dilandasi oleh ilmu. Mereka beribadah didasari kejahilan dan kesesatan. (Ithafu al-‘Uqul bi asy-Syarhi ats-Tsalati al-Ushul, hlm. 10)

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (Al-Baqarah: 44)

Firman-Nya ‘azza wa jalla,

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.(ash-Shaff: 2—3)

Kelekatan antara ilmu dan amal tiada bisa dipisahkan. Keduanya bagai keping mata uang, tak bisa pupus salah satunya. Ketiadaan salah satuya akan membawa konsekuensi yang amat berat bagi seorang muslim. Ia bisa terjatuh menyerupai Yahudi atau Nasrani. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi dan menjaga kita semua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa kebaikan, kebahagiaan, kesalehan, dan kesempurnaan disimpul dalam dua hal, yaitu pada ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh. (Majmu’ Fatawa 19/169. Lihat Ma Hiya as- Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 51).

Prinsip berilmu dan beramal adalah prinsip yang diajarkan oleh salafu ash-shalih. Siapakah salafu ash-shalih itu? Sebagaimana disebutkan oleh hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha mengungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga’.”

 

Arti Salaf

Salaf secara bahasa bermakna orang yang terdahulu. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.(az-Zukhruf: 56)

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya (7/218) menyebutkan bahwa kata as-salaf dalam ayat di atas bermakna orang terdahulu dari kalangan bapak-bapak (mereka). Maknanya, Kami jadikan mereka orang-orang yang terdahulu agar bisa memberi pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.

“… dan (diharamkan) mengumpulkan dalam pernikahan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau (terdahulu).(an-Nisa’: 23)

Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara kepada putrinya, Fathimah radhiallahu ‘anha,

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

Sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarhu Shahih Muslim (16/7) bahwa as-salaf ialah orang yang terdahulu. Makna dari pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah aku adalah orang yang mendahuluimu. Maka dari itu, dalam urusan agama lihatlah aku. Secara istilah, salaf bisa dilihat melalui firman Allah ‘azza wa jalla,

“Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.(at-Taubah:100)

Kemudian sebagaimana disebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha diungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ’Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga.”

Dengan pemaparan di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud salafu ash-shalih adalah orang-orang terdahulu yang saleh dari generasi utama (dalam hal) ilmu dan iman, yaitu para sahabat dan dua generasi berikutnya. (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 11—15)

 

Beragama Mengikuti Tuntunan Salaf

Saat seorang muslim shalat, salah satu yang dibaca dalam shalatnya ialah surat al-Fatihah. Ia ucapkan,

Tunjukilah kami jalan yang lurus.(al-Fatihah: 6)

Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya (1/75) dengan sanad yang hasan, sesungguhnya Hamzah bin al-Mughirah berkata, “Aku bertanya kepada Abul ‘Aliyah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Tunjukillah kami jalan yang lurus.’

Abul ‘Aliyah menjawab, ‘Itu adalah (jalan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabat sepeninggal beliau, Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma.’

Lantas, Hamzah bin al-Mughirah mendatangi (dan menyampaikan hal itu) kepada al-Hasan. Jawab al-Hasan, ‘Benar’.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu. Hendaklah kalian berhatihati dari perkara yang diada-adakan dalam agama. Sebab, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya dari ‘Irbadh bin Sariyyah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Dzammi at-Ta’wil (hlm. 7) menyebutkan, barang siapa suka menetap bersama salaf di akhirat dan menempati kedudukan yang telah dijanjikan, yaitu surga, hendaklah mengikuti mereka (salafu ash-shalih) dengan baik. Barang siapa mengikuti selain jalannya, berarti ia masuk dalam keumuman firman Allah ‘azza wa jalla di atas.”

Disebutkan lebih lanjut, “Telah ada perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah al-Khulafa (para pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya perintah untuk memegang teguh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dikabarkan pula bahwa mengada-adakan satu perkara dalam agama adalah bid’ah dan kesesatan, sesuatu yang tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tak ada sunnah para sahabatnya.” (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, hlm. 29—31)

Seorang muslim yang menginginkan keselamatan hendaklah mengikuti apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh salafu ash-shalih. Sebab, banyak orang dan kelompok menawarkan pemahaman agama dengan mengenakan baju Islam, tetapi bukan pemahaman agama yang lurus. Mereka menawarkan pemahaman agama berdasar hawa nafsu mereka.

Di antara mereka ada yang berusaha memahami agama hanya berdasar mengikuti orang yang ditokohkan. Sebagian lagi menawarkan agama dalam rangka mengikuti tradisi semata, mengikuti nenek moyangnya yang menyelisihi syariat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.(al-Baqarah: 170)

Sebagian mereka mengemas agamanya dengan warna akal. Segala sesuatu yang berasal dari agama mereka selaraskan dengan akal. Sesuatu yang tak sesuai dengan akal ditolak, walaupun itu berasal dari hadits yang sahih. Akal dijadikan sebagai sandaran untuk menentukan sesuatu itu sah atau tidak. Padahal Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاهُ

Seandainya agama itu dengan akal, maka mengusap khuf (sepatu atau yang sejenis) lebih utama diusap bagian bawah daripada (mengusap) bagian atasnya.” (HR. Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan, penetapan satu hukum dalam agama tidaklah dengan akal. Sebuah hukum agama ditetapkan berlandaskan kepada syariat. Adapun akal tidak termasuk dalam unsur yang digunakan untuk menetapkan sebuah hukum agama. (Tashil al-Ilmam, 1/159)

Karena itu, hendaklah seseorang senantiasa mengikuti tuntunan yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagaimana disebutkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosadosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali Imran: 31)

Mengikuti pemahaman salafu ash-shalih dalam beragama menjadikan seorang muslim terbebas dari pemahaman yang berdasar hawa nafsu. Ia akan mengamalkan agamanya sesuai dengan tuntunan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dengan pemahaman yang benar. Ia akan terjauhkan dari pengikut hawa nafsu dan kalangan ahlu bid’ah, seperti kelompok sempalan Syi’ah, Mu’tazilah, Sufi, Islam liberal, dan yang lainnya.

 

Adab Para Penyeru Dakwah Salafiyah

Di antara adab yang harus dijunjung tinggi oleh setiap da’i Ahlus Sunnah, selain memancangkan keikhlasan dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah memiliki semangat untuk menabur hidayah dan menyampaikan agama Allah ‘azza wa jalla kepada segenap manusia. Seorang da’i hendaklah pula senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut. Sebab, tiadalah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya indah. Sebaliknya, apabila kelemahlembutan itu tercerabut dari sesuatu, tiada lain akan menjadikannya buruk.

Bagi yang berdakwah, bekalilah diri dengan sikap hikmah, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Lalu sampaikanlah nasihat dalam bentuk memotivasi mengamalkan kebaikan dan memberikan peringatan untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Apabila harus berdiskusi, hendaklah dengan cara yang baik. Demikian beberapa arahan dari asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. (Ithafu al-‘Uqul hlm. 12)

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mulia. Dakwah yang menyeru manusia untuk senantiasa berjalan di atas tauhid dan memberantas kesyirikan serta menjauhi para pelaku kesyirikan. Dakwah yang senantiasa berupaya menghidupkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi bid’ah dan para pelakunya. Dakwah ini merujuk kepada kalamullah dan Rasul-Nya, bukan merujuk pada pemikiran manusia, apalagi bersikap taklid dan ta’ashub (fanatik buta) pada seseorang. Namun, dalam dakwah ini, seorang muslim dididik untuk senantiasa menghormati para ulama sebagai pewaris para nabi, yang menyampaikan nilai-nilai kebenaran sesuai dengan pemahaman salafu ash-shalih.

Barang siapa meniti hidup ini dengan pemahaman agama yang benar, yang selaras dengan salafu ash-shalih, ia telah menempuh jalan kebenaran. Ia menempuh jalan keselamatan. Karena itu, orang-orang yang mengusung manhaj salaf ini disebut pula dengan al-Firqatu an-Najiyah (kelompok yang selamat). Kata al-Imam Muhammad bin Muslim az-Zuhri rahimahullah,

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.” (Dikeluarkan oleh ad-Darimi dalam as-Sunan 1/44 dengan sanad yang sahih. Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah hlm. 61).

Allahu a’lam.

Suami Ideal, Antara Kenyataan & Harapan

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai kehidupan yang penuh hikmah, menyimpan segudang asa, dan menyisipkan banyak rahasia. Ada suka, ada pula duka. Walau jeram-jeram kehidupan selalu ada di hadapan, namun bunga-bunga kasih sayang dan cintalah yang kerap menjadi auranya. Dari kehidupan rumah tangga ini, lahirlah cikal bakal orang-orang besar yang mengantarkan umat menuju kejayaannya.

Itulah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala di alam semesta. Namun, hanya kaum yang berpikirlah yang dapat mencerna dan memahaminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

 

Berumah Tangga, Kebutuhan Manusia yang Sangat Vital

Hidup berumah tangga merupakan kebutuhan manusia yang sangat vital. Tak heran, bila setiap pemuda dan pemudi yang memasuki usia dewasa terfitrah untuk menjalaninya. Secara manusiawi, jiwanya mendambakan seorang pendamping dalam hidupnya, membangun mahligai rumah tangga yang diliputi sakinah (ketenteraman), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Walaupun seseorang telah mencapai puncak keimanan yang tertinggi semisal rasul yang mulia, fitrah suci itu pun selalu bersemayam dalam kalbunya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (ar-Ra’d: 38)

 

Pintu Gerbang Kehidupan Rumah Tangga

Dalam pandangan Islam, hidup berumah tangga tak bisa dijalani begitu saja. Semuanya harus melalui proses nikah yang merupakan pintu gerbang kehidupan rumah tangga. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas keridhaan keduanya (mempelai laki-laki dan wanita), diketahui/disetujui oleh wali dari pihak wanita, dengan maskawin (mahar) yang ditentukan, disaksikan minimalnya oleh dua orang saksi, dan pernikahannya tidak dibatasi dengan batasan tertentu dari masa (bukan kawin mut’ah).

Dengan itulah, hubungan sepasang insan dinyatakan sah sebagai suami-istri dalam pandangan syariat Islam dan berhak menjalani hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Demikian selektifnya Islam dalam mengesahkan hubungan sepasang insan. Semua itu menunjukkan perhatian Islam terhadap moral, kehormatan, harkat, dan martabat manusia beserta keturunannya (masa depan mereka).

Dengan nikah, akan terjaga agama dan kehormatan seseorang. Dengan nikah akan terjaga pula nasab anak keturunannya. Jiwa pun menjadi tenteram, masyarakat pun menjadi nyaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu berumah tangga hendaknya menikah, karena sesungguhnya nikah (itu) lebih menundukkan pandangan (dari sesuatu yang haram dipandang, –pen.) dan lebih menjaga kemaluan. Bagi siapa belum mampu hendaknya berpuasa, karena sesungguhnya puasa (itu) sebagai perisai baginya (dari sesuatu yang haram, pen.).” (HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Manakala kehidupan rumah tangga dijalani tanpa proses nikah (kumpul kebo, selingkuh, dll.) maka ia adalah zina. Islam mengharamkan zina dengan segala jenisnya. Karena ia termasuk perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Bahkan Islam mengharamkan segala sesuatu yang bisa mengantarkan kepada zina seperti; pacaran, berjabat tangan dengan selain mahram, berduaan dengan selain mahram (khalwat), dll. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

Dengan zina, moral dan kehormatan seseorang akan hancur. Dengan zina, nasab anak keturunan akan rusak. Dengan zina pula, penyakit kelamin yang mematikan semisal AIDS menjalar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jiwa tak lagi tenteram, masyarakat pun tak lagi nyaman. Wallahul musta’an.

 

Memilih Pasangan Hidup

Memilih pasangan hidup termasuk masalah prinsip dalam kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, setiap orang berhak memilih pasangan hidupnya masing-masing tanpa ada paksaan dari siapa pun. Di sisi yang lain, Islam juga memberikan batasan-batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrah suci dan kehormatan insan yang beriman.

Islam mengharamkan nikah dengan sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki, atau wanita dengan wanita. Allah subhanahu wa ta’ala mengutuk perbuatan tersebut dan murka terhadap pelakunya. Fitrah suci pun menolak dan membencinya. Hanya orang-orang yang jahat dan terbelenggu hawa nafsulah yang melakukannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang keji itu (homoseksual), yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.’ Jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan pengikutpengikutnya) dari kota kalian ini; Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang jahat itu.” (al-A’raf: 80—84)

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami jungkir-balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Hud: 77—82)

Islam mengharamkan wanita mukmin menikah dengan laki-laki musyrik atau nonmuslim secara keseluruhan (termasuk ahli kitab; Yahudi dan Nashrani) walaupun dia rupawan lagi menawan. Sebagaimana pula Islam mengharamkan laki-laki mukmin menikah dengan wanita musyrik walaupun dia cantik jelita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menawan hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menawan hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (al-Baqarah: 221)

Namun, Islam menghalalkan laki-laki mukmin menikahi wanita dari kalangan ahli kitab baik Yahudi maupun Nasrani yang menjaga kehormatannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (al-Maidah: 5)

Dalam memilih pasangan hidup ideal, Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat kriteria; hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang kuat agamanya, niscaya kamu akan meraih keberuntungan.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna yang benar untuk hadits ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang kebiasaan yang terjadi di tengah masyarakat (dalam hal memilih pasangan hidup, –pen.). Mereka menjadikan empat kriteria tersebut sebagi acuan dalam memilih. Kriteria agama biasanya kurang diperhitungkan oleh mereka, maka pilihlah wanita yang kuat agamanya—wahai seorang yang meminta bimbingan— niscaya akan meraih keberuntungan. Ini adalah arahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sebagai perintah.” (Syarah Shahih Muslim 10/51)

Tak terlewatkan pula kaum wanita, karena hadits di atas juga sebagai acuan bagi mereka dalam mendapatkan pasangan hidup yang ideal.

 

Mengidentifikasi Suami Ideal

Setiap wanita pasti mendambakan suami yang ideal. Seorang yang berfungsi sebagai pemimpin, pengayom, dan pembina keluarga. Keberadaannya di tengah keluarga sebagai pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk dalam kehausan. Sosoknya sebagai figur keteladanan bagi istri dan anak-anaknya.

Setiap wanita pasti mendambakan suami yang penuh pengertian, bijak, bergaul dengan istrinya secara patut, dan bersabar atas berbagai kekurangan yang ada padanya. Suami yang selalu membimbingnya menuju al-Jannah dan membentenginya dari azab an-Nar. Dengan itulah akan tergapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui dambaan hamba-hamba-Nya dari kalangan wanita itu. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyeru kaum laki-laki terkhusus para suami untuk mewujudkan dambaan kaum wanita tersebut dengan firman-Nya,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa’: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dari semua ini, maka dapat diketahui bahwa seorang suami layaknya pemimpin dan tuan bagi istrinya, sedangkan sang istri layaknya bawahan, pembantu dan budaknya. Tugas suami adalah menjalankan segenap tanggung jawab kepemimpinan rumah tangga yang Allah bebankan kepadanya, sedangkan istri berkewajiban menaati Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian menaati suaminya.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 177)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)

 

Distorsi Makna Suami Ideal

Apa yang telah disebutkan di atas merupakan rincian dari sosok suami ideal yang istiqamah di atas agamanya dan berhias dengan akhlak yang mulia. Tentu akan lebih sempurna lagi bila dia seorang yang rupawan, hartawan, atau terhormat di tengah-tengah masyarakatnya. Namun, manakala semua itu tak bisa berkumpul pada seseorang, tentu yang menjadi barometernya adalah agama dan kemuliaan akhlaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika datang meminang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (terimalah pinangannya). Jika kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi.” (HR. at-Tirmidzi no. 1084, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al- Albani dalam al-Irwa’ no. 1668 dan ash-Shahihah no. 1022)

Apabila seorang wanita hidup bersanding dengan suami ideal sebagaimana keterangan di atas niscaya akan terbantu bi’aunillah untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Walaupun dengan latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda, dan kekurangan masing-masing.

Demikianlah gambaran tentang suami ideal menurut pandangan Islam dan fitrah yang suci. Namun dalam kehidupan sosial masyarakat ada beberapa versi tentang suami ideal yang hakikatnya adalah penyimpangan atau pemutarbalikan fakta (distorsi). Dengan kata lain, salah kaprah dalam mengidentifikasikan suami ideal.

Ada yang mengidentifikasikan suami ideal sebagai lelaki yang memiliki banyak uang, walaupun jauh dari agama. Dalam angan-angannya, uang adalah segala-galanya. Dengan uang, semuanya menjadi mudah, hidup pun akan serba berkecukupan.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya karena uang akhirnya berantakan dan kesudahannya adalah cerai. Cinta dan kasih sayangnya mengalami pasang surut seiring dengan pasang surutnya uang. Tak heran bila ada celetukan, “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang dibuang.” Wallahul Musta’an.

Kalau sekiranya angan-angan itu dapat terwujud dalam kenyataan, sehingga hidup pun serba berkecukupan, maka keberadan sang suami yang jauh dari agama akan membawa istri dan anakanaknya— dengan harta yang dimilikinya itu—kepada pola hidup mewah yang dapat melalaikan akhirat. Target hidupnya hanyalah dunia dan dunia. Kehidupannya nyaris hampa dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal kebahagiaan yang hakiki adalah di akhirat kelak.

Ada yang mengidentifikasikan suami ideal sebagai sosok yang senantiasa memanjakan istri. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti itu niscaya semua keinginannya akan diperhatikan dan segala permintaannya akan dikabulkan. Dengan itu, diraihlah kebahagiaan. Laksana seorang ratu yang bebas berekspresi dan berinovasi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Betapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah sikap memanjakan dari suami, akhirnya menjadi berantakan dan kesudahannya adalah cerai. Secara realitas, sikap memanjakan dari suami seringkali merusak mental dan akhlak sang istri. Peluang demi peluang yang diberikan kepadanya akan semakin membuatnya lupa daratan. Jiwanya sulit dikendalikan. Ingin lepas dari kewajiban ibu rumah tangga dan cenderung untuk hidup bebas. Akhirnya ketenteraman dan kenyamanan hidup berumah tangga tak lagi dirasakan. Bila demikian, cepat atau lambat suami akan kecewa. Rumah tangga pun dalam problema.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah sosok yang rupawan, walaupun bukan orang yang taat beragama. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang rupawan niscaya rumah tangganya akan selalu bahagia dan diliputi bunga-bunga cinta.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Betapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah ketampanan suami semata akhirnya menjadi berantakan. Secara realitas, kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya dengan modal ketampanan. Kehidupan rumah tangga membutuhkan ilmu dan akhlak mulia. Kehidupan rumah tangga membutuhkan kesejukan hati sang suami di samping kesejukan wajahnya. Tak heran, telah terjadi kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh istri, padahal suaminya jauh lebih tampan daripada laki-laki selingkuhannya. Di antara sebabnya adalah karena sang suami tidak dapat memberikan kepuasan batin kepadanya, dan itu bisa diperoleh dari laki-laki selainnya. Lebih dari itu, ketampanan seseorang tidaklah abadi. Ia akan berangsur pudar seiring dengan bertambahnya usia.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah seorang yang berpangkat dan berkedudukan. Menyandang gelar dan mempunyai jabatan. Walaupun jauh dari agama dan akhlak yang mulia. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti ini niscaya rumah tangganya akan terhormat. Kebahagiaan pun akan selalu mengiringi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah pangkat dan kedudukan suami lantas berakhir dengan nestapa. Secara realitas, pangkat dan kedudukan suami bukanlah jaminan kebahagiaan rumah tangga. Apalagi jika jauh dari agama dan akhlak yang mulia. Jabatan yang disandangnya pun bukanlah selamanya. Manakala masih aktif menjabat, tampak gagah dan berwibawa. Namun, semua itu akan berubah manakala pamornya menurun, atau mulai memasuki masa purna (pensiun). Kala itu sang istri akan merasakan ujian berat. Jika tak diimbangi dengan iman yang kuat dan akhlak yang mulia niscaya rumah tangga akan berantakan.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah sosok yang sangat pengertian terhadap istri. Berjiwa besar, toleran, dan lapang dada, walaupun bukan orang yang taat beragama. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti ini niscaya rumah tangganya akan tenang dan sepi dari masalah. Kebahagiaan pun akan selalu mengiringi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah toleransi dan kelonggaran suami, berakhir dengan berantakan. Secara realitas, kehidupan rumah tangga yang seperti ini sangat rawan masalah. Pelanggaran syar’i pun kerapkali terjadi. Istri sering keluar malam, hidup royal, dan berhubungan dengan banyak laki-laki tak jadi soal. Alhasil, apapun yang dilakukan oleh istri, tak akan dipermasalahkan. Betapa sepah kehidupan rumah tangga yang mereka jalani. Jauh dari bimbingan syar’i dan fitrah yang suci. Jauh dari manisnya cinta kasih dan kerja sama suami istri yang harmoni. Cepat atau lambat, hidup mereka akan didominasi oleh kepentingan individu dan ego pribadi. Anak-anak pun akhirnya sebagai korbannya.

Demikianlah sajian kami tentang kehidupan rumah tangga dan identifikasi suami ideal. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Tradisi Seputar Kelahiran

Bubur Merah Putih

Di antara tradisi yang masih tersisa di tengah-tengah masyarakat Jawa ialah tradisi terkait kelahiran. Semenjak jabang bayi masih dalam kandungan, kaum tradisionalis Jawa telah melakukan sebuah prosesi yang disebut dengan tingkeban. Prosesi ini dilakukan saat janin berada dalam kandungan berusia tujuh bulan. Setelah janin yang masih di dalam perut sang ibu mendekati kelahiran, ditunaikanlah upacara procotan. Tentunya, penunaian upacara ini diiringi maksud agar kelahiran bayi dilimpahi keselamatan. Selamat bagi sang ibu, juga selamat bagi sang bayi.

Bahkan, berkembang sebuah keyakinan pada sebagian masyarakat, apabila seseorang menghendaki keturunan laki-laki yang tampan rupawan, sang ibu didorong untuk senantiasa membaca Surat Yusuf. Apabila ia menghendaki keturunan perempuan yang cantik, dianjurkan membaca Surat Maryam. Entah, berawal dari mana keyakinan menyesatkan seperti ini mencuat pada sebagian masyarakat.

Pada tatanan masyarakat Jawa, peristiwa kelahiran adalah momentum yang sangat bernilai. Kehadiran seorang anak menjadi anugerah tiada terkira.Karena itu, perlakuan saat prosesi

kelahiran itu pun sangat penting bagi sebagian masyarakat Jawa. Brokohan, satu di antara tradisi kelahiran di seputar masyarakat Jawa. Brokohan, yang konon berasal dari kata berkah, adalah sebuah tradisi yang diselenggarakan saat jabang bayi telah hadir. Para tetangga diundang untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Bentuk tradisi lainnya, prosesi mengebumikan ari-ari. Tradisi ini disebut pula dengan aruman atau embing-embing (mbing-mbing). Bagi kaum tradisionalis Jawa, prosesi ini dilatari tumbuhnya keyakinan bahwa ari-ari adalah saudara bayi yang lahir. Karena itu, ia harus dirawat dan dijaga sebaik mungkin. Wujud perawatannya ialah ari-ari dimasukkan ke dalam kendil yang ditutup rapat bagian atasnya, lalu dibungkus dengan kain mori. Setelah itu, ari-ari beserta kendil yang telah terbungkus kain mori dikebumikan.

Menguburkan ari-ari ini pun tidak sembarangan. Pengebumian ari-ari diletakkan di sebelah kanan depan pintu masuk (rumah). Setelah ari-ari ditanam, di atasnya diletakkan lampu sebagai simbol pepadhang (penerang) bagi bayi, lalu dipagari dan ditutup agar ari-ari merasa terlindungi. Hal ini berlangsung hingga 35 hari.

Seiring dengan itu, upacara sepasaran dilangsungkan di rumah yang baru dikaruniai bayi. Sepasaran berarti: pon, wage, kliwon, legi dan pahing, yaitu nama hari-hari berdasar kalender Jawa. Acara sepasaran ditunaikan pada hari kelima dengan acara njagongan.

Prosesi berikutnya adalah puputan atau dhautan, yaitu saat terlepasnya tali pusar sang bayi. Saat usia bayi memasuki 35 hari diadakan upacara selapanan. Acara kenduri selapanan ini biasanya dengan mengundang para tetangga sebagai wujud syukur atas hadirnya sang jabang bayi.

Tak hanya sampai di sini. Ketika bayi ini mulai menapak tanah, di kalangan sebagian masyarakat Jawa diadakan lagi prosesi upacara yang disebut tedak siten. Tedak berarti turun, sedang siten berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Inilah di antara ritual yang masih mengental di sebagian masyarakat Jawa, terutama kaum tradisionalis yang masih bersikukuh dengan prosesi-prosesi tersebut.

Kembali Kepada Islam

Seorang muslim dituntut untuk mengamalkan ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang hamba Allah—manakala telah meyakini nilai-nilai Islam sebagai ajaran yang benar—ialah mewujudkannya dalam kehidupan seharihari. Keyakinan yang tidak diajarkan dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Sebab, pada diri seorang muslim harus terpateri sikap berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim harus menegakkan tauhid dan memberantas kesyirikan, menghidupkan sunnah dan meninggalkan kebid’ahan. Segenap tradisi peninggalan nenek moyang yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat harus dikubur. Tak selayaknya seorang muslim masih berkutat dengan nilainilai tradisi yang akan memudaratkan diri dan masyarakat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikianlah Allah memerintah hamba-Nya untuk meninggalkan segala ketentuan yang bertentangan dengan syariat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

“Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (al-Maidah: 48)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang wajib diteladani dalam hal mengamalkan syariat. Saat Islam mulai didakwahkan, banyak tradisi nenek moyang yang berkembang di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. Satu di antara tradisi itu, tradisi minum arak. Setelah ayat yang mengharamkan minum khamr turun, maka secara massal minuman khamr dimusnahkan. Di jalanan minuman itu ditumpahkan. Setiap diri melakukan perubahan. Mengubah kebiasaan lama yang akrab dengan minuman memabukkan, kepada kebiasaan baru yang bebas khamr. Mereka tak merasa berat untuk meninggalkan kebiasaan yang telah mendarah daging. Semua ini karena taufik dari Allah.

Ketaatan para sahabat inilah yang patut diteladani. Mereka senantiasa menaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

(al-Hasyr:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, ia masuk surga. Dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah enggan.” ( HR . al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula tentunya dalam menyikapi berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat, terkhusus tradisi yang menyangkut kelahiran. Semuanya tentu harus dikembalikan kepada ajaran Islam. Apakah pelaksanaan kenduri, upacara, dan prosesi lainnya yang telah turun temurun itu tidak bertentangan dengan Islam? Sudah bebaskah segenap tradisi tadi dari keyakinan-keyakinan kesyirikan, kebid’ahan, dan hal yang bisa memudaratkan?

Islam adalah agama yang sempurna. Ajaran Islam meliputi semua sisi kehidupan masyarakat. Islam mengatur masalah kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, membina anak, mengatur kehidupan rumah tangga, jual-beli, hingga urusan pemerintahan. Ajaran Islam meliputi semuanya. Dalam masalah kelahiran seorang bayi, Islam menuntun umatnya agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara sifat syariat Islam adalah mudah untuk ditunaikan oleh pemeluknya. Tidak mempersulit dan membuat ribet. Simpel, praktis, dan terasa meringankan, tidak memberatkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah.” (Thaha: 2)

Firman-Nya,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada dua perkara, beliau memilih yang paling ringan untuk ditunaikan, selama (yang ringan itu) tidak menimbulkan dosa. Apabila bakal menimbulkan dosa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umat dari perkara tersebut. Dalam sebuah hadits dari Aisyah x disebutkan,

“Tiadalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada pilihan antara dua perkara kecuali beliau ambil yang lebih ringan (lebih mudah) selama tidak menimbulkan dosa. Apabila mengandung unsur dosa, beliau menjauhkan manusia darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Permudahlah, jangan kalian persulit. Senangkanlah, jangan kalian (menjadikannya) lari menjauh.” ( HR . al-Bukhari no. 69)

Demikianlah sifat ajaran Islam. Begitu mudah. Begitu ringan. Di antara tuntunan Islam ketika menyambut kelahiran sang bayi ialah mengakikahinya, yaitu menyembelih kambing pada hari ketujuh, menggundul rambut kepada sang bayi, dan memberinya nama. Ini tergambar dari hadits sahabat mulia Samurah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya. Disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ketujuh, dicukur gundul (rambutnya kepalanya) dan dinamai (bayi itu dengan nama yang baik).” (HR . Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan selainnya. Lihat al- Irwa’ no. 1165)

 

Menyambut Kelahiran, MenyambutAmanat

Tentu, sebuah suka cita yang tiada terkira saat anak yang dinanti hadir di depan pelupuk mata. Kebahagiaan menggunung di hamparan kalbu, menyambut sang buah hati nan dinanti. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang tak boleh dilalaikan. Kehadiran anggota baru dalam keluarga berarti memikulkan satu amanat besar pada pundak orang tuanya. Amanah untuk senantiasa menjaga fitrah sang anak yang telah disematkan padanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah . (Itulah) agama yang lurus.” (ar-Rum: 30)

 

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang anak yang dilahirkan melainkan (dilahirkan) dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR . al-Bukhari)

Jumhur ulama menyebutkan, yang dimaksud al-fitrah pada hadits di atas adalah Islam. Karena itu, keadaan agama pada diri seorang anak sangat dipengaruhi kedua orangtuanya.

Kata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, hak anak-anak itu banyak. Salah satu yang terpenting yang harus diberikan kepada seorang anak ialah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang menumbuhkan agama dan akhlak pada jiwa anak hingga mereka tumbuh dewasa. Beliau rahimahullah menukil sebuah ayat,

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap diri kalian adalah penggembala (pemimpin) dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki (ayah) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR . al-Bukhari)

Maka dari itu, anak adalah amanat yang terpikul pada pundak kedua orang tua. Amanat itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Ketika kedua orang tua memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anaknya, maka kedua orang tua tersebut telah menunaikan amanatnya. Anak pun menjadi baik dan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan mereka). Setiap orang terikat dengan apa yang telah dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah segenap amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan sepeninggalnya, dan anak salih yang mendoakan orang tuanya.” (HR . Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hal itu, asy-Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, “Inilah buah dari mendidik anak (ta’dibul walad). Jika mendidik dengan pendidikan yang baik niscaya (anak) akan memberi manfaat bagi kedua orang tuanya walaupun keduanya telah meninggal dunia.”

Akan tetapi, setan tentu tak akan tinggal diam. Dia selalu berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam di mana pun mereka berada. Hal ini disebutkan oleh hadits ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu, “ Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, lantas para setan menggelincirkan mereka.” (HR . Muslim)

Setan beserta bala tentaranya terus menggempur keimanan hamba-hamba Allah. Dengan berbagai tipu daya, mereka senantiasa berupaya menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Mereka membisiki hati manusia untuk menolak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Mereka teguhkan hati sebagian manusia untuk membela dan mempertahankan tradisi-tradisi nenek moyang yang kental dengan aroma kesyirikan, kebid’ahan, dan kisahkisah khurafat. Kejahilan mereka menjadi salah satu perekat makin kokohnya cengkeraman setan.

Karena itu, marilah kita merujuk pada nilai-nilai Islam. Jangan berpaling dan mengambil nilai-nilai selain Islam. Kaum Yahudi dan Nasrani pun tak kalah sengitnya untuk menyusupkan ajaran-ajarannya ke dalam tubuh kaum muslimin. Dengan berbagai media yang mereka miliki, kaum muslimin dijejali dengan nilai kekufuran. Mereka berusaha memengaruhi kaum muslimin agar sebagian mereka merasa bangga apabila mengikuti cara pandang dan gaya hidup kaum Yahudi dan Nasrani. Wal ’iyadzu billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh, kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian (seperti) sejajarnya bulu anak panah dengan bulu anak panah (lainnya), hingga seandainya mereka masuk lubang dhab (binatang spesies reptil), niscaya kalian akan masuk juga (mengikutinya).” Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau

bukan mereka).” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Di antara yang disusupkan ke dalam tubuh kaum muslimin terkait dengan kelahiran anak ialah membudayakan tradisi peringatan hari ulang tahun. Peringatan natal, yang maknanya memperingati hari kelahiran (dalam bahasa Arab: maulud), adalah termasuk kebiasaaan orang di luar Islam. Bahkan, hal itu dianggap sebagai sebuah tradisi yang bernilai ibadah. Peringatan semacam inilah yang dikembangkan di tengahtengah masyarakat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Barang siapa menyerupai satu kaum, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).” (HR . Abu Dawud)

Saat menyambut kelahiran sang buah hati, seorang muslim yang baik tentu akan merujuk kepada apa yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan berupaya menjauhkan segala bentuk tradisi peninggalan nenek moyang yang telah turun temurun yang tak selaras dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita selalu. Amin.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah Dalam Pandangan Islam

Manusia terfitrah sebagai makhluk sosial. Hidup mereka saling bergantung satu dengan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan mereka dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lantas menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lakilaki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kalian saling mengenal.” (al-Hujurat: 13)

Manakala menjalani kehidupannya dengan berbangsa-bangsa dan bersukusuku, secara sunnatullah manusia membutuhkan pemimpin yang dapat mengurusi berbagai problem yang mereka hadapi. Itulah manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang mendapatkan kepercayaan dari-Nya untuk memakmurkan bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan berbagai fasilitas kehidupan untuk mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami mengangkut mereka di daratan dan di lautan, Kami memberi mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami melebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (al-Isra’: 70)

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai penguasa di bumi? Adakah selainAllahsembahan yang lain?! Amat sedikitlah kalian dalam mengingat(Nya).” (an- Naml: 62)

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tak membiarkan manusia hidup begitu saja. Berbagai aturan hidup dan jalan yang terang pun Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada merekasupaya berbahagia di dunia dan di akhirat. Termasuk dalam hal hubungan antara rakyat dan pemerintahnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

Rakyat dan Pemerintah, Kesatuan yang Tak Bisa Dipisahkan

Dalam Islam, rakyat selaku anggota masyarakat dan pemerintah selaku penguasa yang mengurusi berbagai problem rakyatnya adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Berbagai program yang dicanangkan oleh pemerintah tak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dan sambutan ketaatan dari rakyat. Berbagai problem yang dihadapi oleh rakyat juga tak akan usai tanpa kepedulian dari pemerintah. Gayung bersambut antara pemerintah dan rakyatnya menjadi satu ketetapan yang harus dipertahankan.

Ka’b al-Akhbar rahimahumallah berkata, “Perumpamaan antara Islam, pemerintah, dan rakyat laksana kemah, tiang, dan tali pengikat berikut pasaknya. Kemah adalah Islam, tiang adalah pemerintah, sedangkan tali pengikat dan pasaknya adalah rakyat. Tidaklah mungkin masingmasing dapat berdiri sendiri tanpa yang lainnya.” (Uyunul Akhbar karya al-Imam Ibnu Qutaibah 1/2)

Maka dari itu, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintahnya, dengan saling bekerja sama di atas Islam dan saling menunaikan hak serta kewajiban masing-masing, akan menciptakan kehidupan yang tenteram, aman, dan sentosa. Betapa indahnya bimbingan Islam dalam masalah ini. Sebuah aturan hidup dan jalan yang terang bagi manusia. Namun, ada pihak-pihak yang tak rela dengan semua itu. Salah satunya adalah Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir (HT). Dia menyatakan, “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antaranggota masyarakat dalam rangka memengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dan rakyatnya, harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Mengenal HT, hlm. 24 dan Terjun ke Masyarakat, hlm. 7)

Lebih dari itu, dia mengungkapkan, “Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hlm. 35—36)

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa menaatiku, ia telah menaati Allah Subhanahu wata’ala. Barang siapa menentangku, ia telah menentang Allah l. Barang siapa menaati pemimpin (umat)ku, ia telah menaatiku; dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku, ia telah menentangku.” (HR. al-Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumallah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang kewajiban menaati penguasa dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan. Hikmahnya adalah menjaga persatuan dan kesatuan (umat). Sebab, perpecahan mengandung kerusakan.” (Fathul Bari 13/120)

Jika Pemerintah Melakukan Kemaksiatan

Bagaimanakah jika pemerintah melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya? Apakah rakyat melepaskan ketaatan kepadanya secara total dan memberontaknya? Pemerintah adalah manusia biasa yang terkadang jatuh pada dosa. Ketika mereka melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya, setiap pribadi muslim harus membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak boleh menaatinya dalam hal itu. Akan tetapi, ia tetap berkewajiban mendengar dan menaatinya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan), serta tidak boleh memberontak karenanya. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Maka dari itu, umat Islam wajib menaati pemerintah dalam hal yang ma’ruf (kebaikan), tidak dalam hal kemaksiatan. Jika mereka memerintahkan kemaksiatan, tidak boleh ditaati. Akan tetapi, mereka tetap tidak boleh memberontak karenanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Ingatlah, barang siapa mempunyai seorang penguasa lalu melihatnya berbuat kemaksiatan, hendaknya ia membenci perbuatan maksiat yang dilakukannya itu, namun jangan sekali-kali melepaskan ketaatan (secara total) kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855, Ahmad 4/24, dan ad-Darimi no. 2797, dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu)

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa keluar dari ketaatan (terhadap pemerintah) dan memisahkan diri dari al-jamaah lalu mati, niscaya matinya dalam keadaan jahiliah (di atas kesesatan, tidak punya pemimpin yang ditaati, pen.).” (HR. Muslim no. 1848, an-Nasa’i no. 4114, Ibnu Majah no. 3948, dan Ahmad 2/296, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِم السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Setiap pribadi muslim wajib mendengar dan menaati (pemerintahnya) dalam hal yang dia sukai dan yang tidak disukai, kecuali jika diperintah untuk melakukan kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk melakukan kemaksiatan, tidak ada mendengar dan ketaatan kepadanya (dalam hal itu, pen.).” (HR. al-Bukhari no. 7144, Muslim no. 1839, at-Tirmidzi no. 1707, Abu Dawud no. 2626, Ibnu Majah no. 2864, dan Ahmad 2/142, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/201—203)

Asy-Syaikh Abdus Salam Barjas rahimahumallah berkata, “Hadits ini tidak memaksudkan tidak menaati pemerintah secara total ketika mereka memerintahkan kemaksiatan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah wajib menaati pemerintah secara total selain dalam hal kemaksiatan. Ketika demikian, tidak boleh didengar dan ditaati.” (Muamalatul Hukkam, hlm. 117)

Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahumallah berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa jika seorang penguasa memerintahkan sesuatu yang bersifat sunnah atau mubah, wajib ditaati.” (Tuhfatul Ahwadzi 5/365)

Jika Pemerintah Mementingkan Diri Sendiri

Bagaimanakah jika pemerintah mementingkan dirinya sendiri? Misalnya, memperkaya diri, korupsi, tidak memedulikan kesejahteraan rakyat, bahkan berbuat zalim? Menyikapi hal ini, setiap pribadi muslim hendaknya bersabar dan tetap menunaikan hak-hak pemerintah yang harus ditunaikan. Dia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala haknya yang tidak dipedulikan oleh pemerintah dan tidak memberontak kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللهَ الَّذِي لَكُمْ

“Akan ada perbuatan mementingkan diri sendiri (mengumpulkan harta dan tidak memedulikan kesejahteraan rakyat) pada pemerintah dan hal lain yang kalian ingkari.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami (jika mendapati kondisi tersebut, pen.)?”

Beliau bersabda, “Hendaknya kalian menunaikan hak (pemerintah) yang wajib kalian tunaikan, dan mohonlah kepada Allah Subhanahu wata’ala hak kalian.” (HR. al-Bukhari no. 3603 dan Muslim no. 1843, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

يَكُونُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ) قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِ عْ !

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/ jalanku. Akan ada pula di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam jasad manusia.” Hudzaifah z berkata, “Apa yang aku perbuat bila mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim no. 1847, dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu)

Apabila berbagai bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas dicermati, semuanya menunjukkan bahwa rakyat dan pemerintah adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Dengan penuh hikmah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan bahwa berbagai penentangan dan pemberontakan terhadap pemerintah bukanlah solusi untuk mendapatkan hak atau memperkecil ruang lingkup kejelekan yang dilakukan oleh pemerintah.

Solusinya justru sebaliknya. Bersabar dengan berbagai kejelekan itu, menaati mereka dalam hal yang ma’ruf (kebajikan) dan tidak menaati mereka dalam hal kemaksiatan, menunaikan hak mereka dan memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala hak yang tidak dipedulikan oleh pemerintah, serta tidak menentang dan tidak memberontak terhadap mereka.

Berbagai bimbingan itu beliau n sampaikan agar hubungan (kesatuan) antara rakyat dan pemerintahnya senantiasa utuh, tak terkoyak, dan tercerai-berai. Sebab, manakala hubungan (kesatuan) itu terkoyak dan terceraiberai, kerusakan dan musibah besarlah yang terjadi.

Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz al-Hanafi rahimahumallah berkata, “Kewajiban menaati pemerintah tetap berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Sebab, menentang (tidak menaati) mereka dalam hal yang ma’ruf (kebaikan) akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari kejahatan yang mereka lakukan. Bersabar terhadap kejahatan mereka justru mendatangkan ampunan dari segala dosa dan pahala yang berlipat dari Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 368)

Al-Imam al-Barbahari rahimahumallah berkata, “Ketahuilah, kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wata’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya mendapat pahala yang sempurna, insya Allah. Kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at, dan jihad bersama mereka. Berperan sertalah bersamanya pada seluruh jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat al-Hanabilah karya al-Imam Ibnu Abi Ya’la rahimahumallah 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hlm.14)

Merajut Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah

Gesekan antara rakyat dan pemerintah merupakan fenomena yang sering terjadi. Penyebabnya terkadang dari pihak rakyat dan terkadang dari pihak pemerintah. Demikianlah manusia, tak ada yang sempurna. Kelalaian sering kali menghinggapinya walaupun telah berilmu tinggi dan berkedudukan mulia. Menurut Islam, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintah merupakan satu kemuliaan. Karena itu, gesekan yang terjadi di antara mereka pun termasuk sesuatu yang tercela dan harus segera diselesaikan.

Tak mengherankan apabila banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan seputar masalah ini. Para ulama yang mulia pun tiada henti mengingatkannya. Petuah dan bimbingan mereka terukir dalam kitab-kitab yang terkenal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا () يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 58—59)

Ayat pertama di atas berkaitan dengan pemerintah agar menjalankan amanat kepemimpinan yang diemban dengan sebaik-baiknya. Adapun ayat yang kedua berkaitan dengan rakyat agar mereka taat kepada pemerintahnya. Dengan dilaksanakannya hak dan kewajiban oleh setiap pihak, akan terajut hubungan yang baik di antara mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Menurut para ulama, ayat pertama (dari dua ayat di atas) turun berkaitan dengan pemerintah (ulil amri), agar mereka menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkannya dengan adil.

Adapun ayat yang kedua turun berkaitan dengan rakyat, baik dari kalangan militer maupun sipil, supaya senantiasa menaati pemerintahnya dalam hal pembagian (jatah), keputusan/ kebijakan, komando perang, dan lainnya. Berbeda halnya jika mereka memerintahkan kemaksiatan, rakyat tidak boleh menaati makhluk (pemerintah tersebut) dalam hal bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah Subhanahu wata’ala). Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan rakyatnya dalam suatu perkara, hendaknya semua pihak merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, jika pemerintah tidak mau menempuh jalan tersebut, rakyat masih berkewajiban menaatinya dalam hal yang tergolong ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Sebab, ketaatan kepada pemerintah dalam hal ketaatan adalah bagian dari ketaatan kepada AllahSubhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula hak mereka (pemerintah), tetap harus dipenuhi (oleh rakyatnya), sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa- Nya’ (al-Maidah: 2).” (Majmu’ Fatawa 28/245—246)

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar hubungan mereka dengan rakyat senantiasa terajut dengan baik ialah berlaku adil dan memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sebab, semua itu adalah amanat yang kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” ( HR. al-Bukhari no. 2554, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu)

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba diberi amanat sebuah kepemimpinan oleh Allah Subhanahu wata’ala, lalu meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim no. 227, dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu)

Apabila pemerintah berlaku adil dalam mengemban amanat kepemimpinan tersebut, Allah Subhanahu wata’ala akan menganugerahinya sebuah naungan di hari kiamat, hari ketika manusia sangat membutuhkan naungan dari terik matahari yang amat menyengat di Padang Mahsyar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ

“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan (Arsy) Allah Subhanahu wata’ala pada hari kiamat, hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya; penguasa yang adil….” (HR. al-Bukhari no. 6806, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Adapun hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat agar hubungan mereka dengan pemerintah senantiasa terajut dengan baik adalah memuliakan pemerintah, menaati mereka dalam hal kebajikan, dan membangun kerja sama yang baik dengan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa memuliakan penguasa (yang diberi amanat oleh) Allah Subhanahu wata’ala di dunia, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memuliakannya di hari kiamat. Barang siapa menghinakan penguasa (yang diberi amanat oleh) Allah Subhanahu wata’ala di dunia, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menghinakannya di hari kiamat.” (HR. Ahmad 5/42, 48—49, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 5/376)

Al-Imam Sahl bin Abdullah at- Tustari rahimahumallah berkata, “Manusia (rakyat) akan senantiasa dalam kebaikan selama memuliakan pemerintah dan ulama. Jika mereka memuliakan keduanya, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka. Namun, jika mereka menghinakan keduanya, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikan jelek urusan dunia dan akhirat mereka.” (Tafsir al-Qurthubi 5/260—261)

Kala pemerintah terjatuh dalam kesalahan dan kemungkaran, hendaknya diingatkan dengan cara yang terbaik. Tidak dengan cara demonstrasi, orasi di mimbar-mimbar, atau menghujatnya di media. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ

Adapun hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat agar hubungan mereka dengan pemerintah senantiasa terajut dengan baik adalah memuliakan pemerintah, menaati mereka dalam hal kebajikan, dan membangun kerja sama yang baik dengan mereka.

مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“ Barang siapa hendak menasihati orang yang mempunyai kekuasaan (pemerintah), janganlah menyampaikannya secara terangterangan. Namun, dia mengambil tangannya dan menyampaikan nasihat tersebut secara pribadi. Jika (pemerintah itu) mau menerima nasihatnya, itu yangdiharapkan. Jika tidak, sungguh dia telah menyampaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Iyadh bin Ghunm al-Fihri radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah no. 1096)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf menyebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah dan menyampaikannya di mimbar/forum publik. Sebab, hal itu akan mengantarkan kepada kekacauan dan hilangnya ketaatan kepadanya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan). Selain itu, tindakan tersebut akan mengantarkan kepada hal-hal yang membahayakan (rakyat) dan tidak ada manfaatnya. Adapun cara yang dijalani oleh as-salaf (pendahulu terbaik umat ini) adalah menyampaikan nasihat secara pribadi kepada pemerintah, menulisnya dalam bentuk surat, atau menyampaikannya kepada ulama agar bisa diteruskan kepada yang bersangkutan dengan cara yang terbaik.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/210)

Termasuk hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat adalah tidak mengambil alih tugas yang menjadi kewenangan pemerintah, seperti mengingkari kemungkaran dengan kekuatan, sweeping kemaksiatan, penentuan awal Ramadhan dan hari raya, serta yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa ormas yang mengatasnamakan Islam. Wallahul musta’an.

Al-Imam Abu Abdillah bin al- Azraq rahimahumallah—ketika menyebutkan beberapa bentuk penentangan terhadap pemerintah—berkata, “Penentangan yang ketiga adalah menyempal dari pemerintah dengan cara mengambil alih tugas yang menjadi kewenangannya. Yang paling besar kerusakannya adalah mengingkari kemungkaran (dengan kekuatan, – pen.) yang tidak boleh dilakukan oleh selain pemerintah. Apabila perbuatan itu dibiarkan, niscaya hal ini akan berkembang dan justru dilakukan terhadap pemerintah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa termasuk dari siyasah (politik syar’i) adalah segera menangani orang yang gemar melakukan perbuatan menyempal itu.” (Bada’ius Sulk fi Thiba’il Mulk 2/45, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 189)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Adapun dalam hal yang di luar kekuasaan dan kewenangannya, seseorang tidak boleh melakukan perbuatan mengubah kemungkaran dengan kekuatan. Sebab, jika dia mengubah kemungkaran dengan kekuatan terhadap pihak-pihak yang berada di luar kekuasaan dan kewenangannya, akan muncul kejelekan yang lebih besar.

Selain itu, akan memunculkan problem besar antara dia dan orang lain, serta antara dia dan pemerintah.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/208) Demikianlah catatan penting tentang hubungan rakyat dan pemerintah menurut pandangan Islam. Semoga hal ini menjadi titian emas bagi pemerintah dan rakyat untuk menuju kehidupan yang tenteram, aman, dan sentosa yang diberkahi oleh Allah l. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Meraih Pahala Dengan Bersabar

Tak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam keadaan sulit. Tidak ada seorang pun menginginkan musibah terjadi atas dirinya. Namun, kenyataan hidup berbeda dengan apa yang diinginkan oleh setiap manusia. Hidup manusia tak selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tidak pula hidup selalu diliputi kesuksesan. Terkadang manusia harus jatuh bangun menghadapi kehidupan. Ia harus menghadapi sekian banyak cobaan. Beruntunglah orangorang yang sabar.

Apa itu Sabar?

Secara bahasa sabar adalah

الْحَبْسُ وَالْمَنْعُ

Artinya, menahan atau mencegah.

Adapun secara istilah dimaknai:

حَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي وَالتَّسَخُّطِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ وَالْجَوَارِحِ عَنْ لَطْم الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ

Artinya, kemampuan seseorang untuk menahan lisan, mengendalikan diri (jiwa), serta menahan anggota tubuh dari memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian). (It-hafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalati al-Ushul, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Penyebutan “memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian)” dalam definisi di atas, terkait dengan kebiasaan orang-orang Arab jahiliah (sebelum Islam datang) ketika ditimpa musibah kematian orang yang dicintai. Mereka menunjukkan perilaku memukul-mukul wajah dan merobek kerah baju. Ini dilakukan sebagai wujud kesedihan yang mendalam.

Berdasar definisi di atas, sabar memiliki tiga unsur pokok: pengendalian diri (jiwa), pengendalian lisan, dan pengendalian anggota tubuh. Kesabaran seseorang akan tecermin dari sejauh mana tingkat dan kemampuan dirinya melakukan pengendalian diri, lisan, dan anggota tubuhnya.

Seseorang belum dikatakan bersabar manakala tangan atau kakinya melakukan aksi perusakan saat dirinya emosi menghadapi ketidakpuasan. Dia melakukan tindakan agresif secara membabi buta. Seseorang belum juga dikatakan bersabar manakala dirinya ditimpa musibah lantas lisannya mengeluarkan kata-kata kekufuran atau kesyirikan, kata-kata tidak terpuji, umpatan atau sumpah serapah, caci maki, dan yang sejenis.

Seseorang juga belum bisa dikatakan bersabar saat dirinya didera musibah lantas jiwanya goncang dan hilang kontrol diri. Dia tidak bisa mengendalikan diri, dan justru menampakkan kemarahan dan sikap emosi. Lebih dari itu, dalam keadaan goncang, dirinya terjatuh pada perbuatan syirik atau bid’ah. Dirinya tak sabar menghadapi kesulitan hidup lantas mendatangi dan meminta-minta kepada yang ada di dalam kubur atau mendatangi dukun, wal ’iyadzu billah. Maka dari itu, seseorang bisa dikatakan bersabar manakala dirinya mampu mengendalikan dan mengontrol emosi, lisan, dan segenap anggota badannya saat menghadapi musibah atau situasi tidak menyenangkan yang menimpanya. Ia tetap dalam garis ketaatan seraya tawakal (berserah diri) dan memohon pertolongan-Nya.

Macam Kesabaran

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahumallah menyebutkan bahwa kesabaran itu meliputi tiga macam.

1. Bersabar dalam rangka menaati Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wata’ala,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ

“Perintahlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)

Firman-Nya pula,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا () فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu secara bertahap, maka bersabarlah dalam menetapi hukum Rabb-mu.” (al-Insan: 23—24)

Sabar dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala  ialah bentuk kesabaran merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.

2. Bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala

Bentuk kesabaran ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat seorang wanita berkedudukan dan terpandang mengajaknya melakukan perbuatan maksiat, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam justru menghindar. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar (menahan) diri untuk tidak terseret pada perilaku durhaka. Dia memilih untuk mendekam dalam penjara daripada harus melakukan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengungkapkan kisah itu,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh’.” (Yusuf: 33)

3. Bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Termasuk kesabaran ini ialah kesabaran ketika menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai gangguan yang dilancarkan oleh anggota masyarakat.

Ujian Hidup Pasti Ada

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orangorang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya (yaitu, Allah Subhanahu wata’ala) dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Di dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan bahwa setiap manusia akan mendapat ujian di dalam kehidupannya. Ujian tersebut bisa dalam bentuk gagal panen, kehilangan modal usaha (harta), kehilangan orang yang dicintai (kematian), atau hilangnya rasa aman (ketakutan), dan lainnya. Meski demikian, orang-orang yang beriman, akan menyikapi semua ujian hidup tersebut dengan penuh kesabaran. Orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa musibah yang menimpanya akan memberikan kebaikan pada dirinya.

Betapa tidak, dengan musibah itu dia harus bersabar. Manakala dirinya bisa bersabar, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan pahala. Misal, seseorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan rasa sakit. Jika dirinya bersabar dengan apa yang menimpanya, niscaya dia akan mendapat ganjaran. Dia akan mendapat ampunan, yaitu dosa-dosanya dihapus dan mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala Dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa kepayahan, sakit (yang berkepanjangan/lama), kecemasan (gundah), kesedihan, kesakitan, dan dukacita hingga (ditimpa musibah) tertusuk duri, kecuali Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya.” ( HR. al-Bukhari, no. 5642 dan Muslim, no. 52, 2573)

Demikianlah, ujian hidup itu pasti ada. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ  أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟  فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ رَقِيقَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ، وَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ. قَالَ: فَمَا تَزَالُ الْبَلَايَا بِالرَّجُلِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah manusia yang paling berat mendapat ujian?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun lantas menjawab, “Para nabi lalu yang semisal dengan mereka kemudian yang semisal dengan mereka. Seseorang akan mendapat ujian sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh, keras pula ujiannya. Bila keadaan agamanya lemah, ia akan diuji sebanding dengan keadaan agamanya. Ujian itu tak akan terlepas dari seseorang hingga dirinya berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa.” ( HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan selainnya. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 143)

Sabar Menghadapi Ujian dalam Dakwah

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berupaya mengembangkan dakwah ke wilayah Thaif, yang beliau temui bukanlah sambutan yang baik. Beliau bersama seorang sahabat mendapat cercaan, hinaan, dan kekerasan fisik. Beliau dilempari batu. Tubuh beliau yang mulia terluka. Dari wajah beliau mengucur darah. Mengajak manusia menuju kebaikan malah dibalas kejelekan.

Betapa kejahilan yang begitu akut telah melekat pada masyarakat Thaif kala itu. Kejahiliahan yang ada pada mereka sedemikian menggulita sehingga tak mampu mencerna isi ajakan yang disampaikan manusia pilihan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hati mereka buta dan tuli, tiada mampu membedakan kebaikan dan keburukan.

Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. tetap bersabar. Lisan beliau terjaga, tidak membalas umpatan dan caci maki dengan yang semisal. Demikian pula anggota tubuh beliau tak membalas dengan balasan yang semisal. Jiwa beliau tetap kokoh, tak lantas goncang, dan berputus asa dari menebar kebaikan. Kesabaran terhunjam kukuh pada diri beliau. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah bertutur bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,

“Ada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim dipukul oleh kaumnya. Lantas mengucurlah darahnya. Nabi itu pun mengusap darah dari wajahnya seraya berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

‘Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’ (HR. al-Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792).”

Dikisahkan pula dari Abu Abdillah Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu. Katanya,

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ  وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ  الْكَعْبَةِ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِه وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kala itu tengah berbantal dengan kain burdahnya di bawah Ka’bah. Kami sampaikan, ‘Mengapa engkau tidak memintakan tolong dan mendoakan kami?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada seorang laki-laki yang hidup sebelum kalian ditangkap dan ditanam di dalam tanah. Kemudian gergaji diletakkan di kepalanya sehingga terbelahlah kepala laki-laki itu menjadi dua. Dengan sisir dari besi, kepala itu pun disisir sehingga terkelupas daging dan tulangnya. Semua itu tak lantas memalingkan dirinya dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan menyempurnakan perkara ini (Islam) hingga orang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah Subhanahu wata’ala dan serigala yang mengancam kambingnya. Akan tetapi, kalian begitu tergesa-gesa’.” (HR. al-Bukhari, no. 2943, 3852)

Demikianlah ujian itu akan senantiasa ada. Telah menjadi tabiat dalam dakwah adanya beragam tantangan menghadang. Terkhusus, bagi para da’i yang menyerukan dakwah salafiyah. Beragam upaya untuk meruntuhkan sendi-sendi dakwah akan senantiasa dilakukan. Mulai dari upaya melakukan taqrib, upaya mendekatkan antarjamaah, hingga upaya pengaburan pemahaman dengan melalui berbagai media yang ada. Mereka bersinergi untuk mengoyak dakwah nan mulia ini. Mereka tuduh orang-orang yang bersikukuh di atas manhaj yang haq sebagai kelompok garis keras atau pernyataan yang semisal. Selama hawa nafsu mereka belum tercapai, mereka akan terus menggerogoti dakwah ini dengan berbagai syubhat dan syahwat. Nas’alullahu as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala).

Terkait adanya ujian ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)

Dalam berbagai keadaan, kesabaran harus senantiasa ada. Saat menghadapi masalah, apabila tidak disertai kesabaran, niscaya akan bisa mengarah pada keadaan yang lebih buruk. Dengan sikap sabar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dan mengambil tindakan yang lebih baik (dengan izin Allah Subhanahu wata’ala). Sikap sabar akan mengantarkan seseorang pada kebaikan. Disebutkan dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Menakjubkan untuk urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidaklah yang demikian itu bisa diperoleh seseorang kecuali hanya oleh seorang mukmin. Jika dirinya mendapatkan kesenangan lantas bersyukur, sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa musibah lantas bersabar, sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan sikap sabar seseorang bisa meraup pahala nan tak terkira. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Mukjizat sebagai Tanda Kenabian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

“Apabila lalat hinggap (menjilat) pada minuman salah seorang kalian, tenggelamkanlah lalat itu lantas angkat (buang) lalat tersebut. Sesungguhnya salah satu sayapnya mengandung racun dan sayap lainnya mengandung penawar.” (HR. al-Bukhari, no. 3320, Abu Dawud no. 3844)

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah, hadits ini menjelaskan tentang salah satu dari sekian banyak mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan sebagai mukjizat dari sisi kabar yang disampaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam perihal keburukan yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan pada seekor lalat, dan kebaikan (penawar) yang Allah Subhanahu wata’ala lekatkan pula pada lalat tersebut. Hal ini tidaklah bisa dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali melalui wahyu. Sebab, urusan ini bersifat gaib, tak satu pun makhluk mengetahuinya. Ini termasuk mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tashil al-Ilmam bi Fiqh lil Ahadits min Bulughil al-Maram, I/63)

Dalam kisah lain, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bepergian bersama para sahabat , di tengah-tengah perjalanan mereka kehabisan air. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ali dan seorang sahabat lainnya guna mencari air. Ketika mencari air, Ali dan seorang sahabat ini bertemu dengan seorang wanita bersama untanya. Pada unta milik si wanita terdapat dua tempat air yang tergantung. Lantas keduanya bertanya kepada wanita tersebut letak sumber mata air. Keduanya menyangka bahwa sumber mata air dekat. Wanita itu menjelaskan bahwa untuk memperoleh air itu ia harus berjalan sejak kemarin. Ini menunjukkan bahwa lokasi sumber air sangatlah jauh. Wanita itu pun lantas diminta menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wanita itu pun memenuhi permintaan keduanya dan berangkat menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah berada di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk mengambil tempat air wanita itu yang tinggal sedikit airnya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil para sahabat seraya bersabda, “Tuangkan, tuangkan!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau pada air tersebut. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan air yang sedikit itu menjadi berkah. Seluruh prajurit muslim yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan air itu dan berwudhu. Tak hanya itu, mereka pun bisa mengambil air itu dan menyimpannya untuk bekal di perjalanan. Inilah mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah lain terjadi saat Perang Tabuk.

Pasukan kaum muslimin kehabisan perbekalan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta para sahabat untuk menyembelih sebagian unta yang mereka bawa untuk dimakan. Melihat hal itu, Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, engkau memperkenankan para sahabat menyembelih untanya. Saya khawatir bakal kehabisan bekal lagi (yaitu, jika unta-unta itu disembelih, mereka hendak berkendara apa, padahal jarak ke tempat yang dituju masih jauh).” Kata Umar, “Saya usul, bagaimana jika engkau meminta para sahabat untuk mengumpulkan perbekalan mereka yang tersisa lalu engkau doakan agar mendapat berkah?” Jawab beliau, “Ya, baik.”

Kemudian diserulah para sahabat agar mengumpulkan bekal yang tersisa. “Barang siapa masih memiliki sedikit bekal, datanglah kemari seraya membawa bekalnya!” seruan itu menggema. Dibentangkanlah permadani. Ada yang menyerahkan sisa kurmanya. Ada pula yang menyerahkan tepung. Terkumpullah segala bentuk bekal yang ada pada mereka. Lantas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi tempat dikumpulkannya perbekalan. Beliau pun mendoakan keberkahannya. Setelah itu, para sahabat diperintah untuk mengambilnya. Mereka mengambil dalam keadaan penuh. Mereka membawa bekal yang tak sedikit lagi. Inilah mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pernah disajikan susu kepada Rasulullah. Saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di Madinah. Setelah ada suguhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta agar ahlu shuffah dipanggil. Ahlu shuffah adalah orang-orang yang menetap di masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena ingin menuntut ilmu. Saat itu jumlah mereka tujuh puluh orang. Ahlu shuffah itu pun berdatangan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan susu itu agar diberkahi. Selanjutnya, beliau memerintahkan kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk membagikan susu tersebut. Orang-orang pun lantas meminum susu hingga kenyang. Begitu pun Abu Hurairah z turut meminumnya hingga kenyang pula. Setelah semua orang minum, barulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam minum. Ini termasuk mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tashil al-Ilmam, I/81—82)

Beragam mukjizat telah dijelaskan oleh as-Sunnah, di antaranya kisah memancarnya air dari jari-jemari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagainya. Termasuk mukjizat adalah al-Qur’an al-Aziz sendiri, yang merupakan kalamullah.

Ragam Khawariqul ’Adah

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mukjizat para nabi adalah tandatanda dan bukti-bukti kenabian mereka. Karena itu, mendasarkan pada beberapa petunjuk, untuk membedakan status kenabian yang melekat pada seseorang di antaranya bisa dilihat dari peristiwaperistiwa di luar kebiasaan yang terjadi padanya. Adapun ragam khawariqul ’adah (hal-hal di luar kebiasaan) di antaranya sebagai berikut.

1. Hal-hal di luar kebiasaan tersebut bisa terjadi lantaran kebaikan dan takwa yang ada pada dirinya. Macam khawariqul ’adah seperti ini melingkupi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya. Beberapa peristiwa di luar kebiasaan yang terjadi dilatari oleh faktor agama dan kebutuhan kaum muslimin.

2. Hal-hal di luar kebiasaan itu terjadi karena faktor yang bersifat mubah. Misalnya, orang yang dibantu oleh jin untuk menyelesaikan kebutuhankebutuhannya yang bersifat mubah. Khawariqul ’adah semacam ini bersifat pertengahan. Bukan tingkatan yang tinggi atau rendah. Ini serupa dengan bentuk memperkerjakan jin yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedunggedung yang tinggi, patung-patung, serta piring-piring (yang besar) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungkunya). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba: 13)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah diutus kepada kalangan jin, mendakwahi mereka agar beriman dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada kalangan manusia.

3. Hal-hal yang di luar kebiasaan itu disebabkan oleh faktor yang haram, seperti kemaksiatan, kezaliman, dan kesyirikan, atau melalui perkataan batil. Jenis ini merupakan macam khawariqul ’adah para tukang sihir, dukun, kafir, dan para pendurhaka. Contohnya, ahlul bid’ah dari kalangan tarekat (sufi) Rifaiyah dan selainnya. Mereka meminta bantuan melalui cara-cara yang berselubung kesyirikan, membunuh jiwa tanpa hak, dan maksiat. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan tiga macam perbuatan tersebut. Firman-Nya,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar dan tidak berzina. Barang siapa melakukan hal itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” ( al-Furqan: 68) ( an- Nubuwat, hlm. 27—28)

Salah satu tanda kenabian diiringi dengan kejadian di luar kebiasaan. Namun, maknanya bukan hal-hal di luar kebiasaan yang diperuntukkan bagi kalangan manusia biasa. Inilah hakikat mukjizat. Sebab, bisa saja kejadiankejadian yang di luar kebiasaan itu terjadi melalui cara-cara sihir dan perdukunan. Jika khawariqul ’adah itu terjadi melalui cara-cara perdukunan atau sihir, hal seperti itu bukan termasuk khawariqul adah yang menjadi tanda kenabian. Ilustrasi peristiwa ini bisa dicermati dari kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam melawan para tukang sihir Fir’aun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَجْمِعُوا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوا صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَىٰ () قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَن تُلْقِيَ وَإِمَّا أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ () قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ () فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُّوسَىٰ () قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنتَ الْأَعْلَىٰ () وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Maka himpunkan segala macam daya  (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini. (Setelah mereka berkumpul) berkata, “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamilah orang yang mula-mula melemparkan?” Musa menjawab, “Silakan kamu sekalian melemparkan.” Tiba-tiba tali dan tongkat mereka, terbayang pada Musa seakan-akan merayap cepat lantaran sihir mereka. Musa pun merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang)! Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Tidak akan menang tukang sihir itu dari mana pun dia datang.” (Thaha: 64—69)

Kisah di atas menggambarkan dua fenomena yang bersifat di luar kebiasaan. Satu dalam bentuk mukjizat, sedangkan yang lain dalam bentuk sihir. Karena itu, segala bentuk keanehan, keluarbiasaan, dan keajaiban yang terjadi lantaran sihir dan perdukunan tidak memiliki kesamaan dengan ma’unah, karamah wali, apalagi mukjizat. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Subhanahu wata’ala, hal-hal yang di luar kebiasaan yang ditimbulkan oleh sihir atau perdukunan terjadi melalui bantuan jin. Sebelumnya, kalangan jin membuat kesepakatan dengan para penyihir dan dukun (tukang ramal dan paranormal) dalam halhal yang melanggar syariat, seperti membunuh atau menyakiti orang lain (sebagai tumbal). Kesepakatan (sebagai syarat) itu bisa dalam bentuk kesyirikan dan bid’ah.

Banyak manusia teperdaya dan tertipu lantaran hal ini. Keanehan, keajaiban, dan peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan tersebut dikira merupakan karamah. Padahal, itu berasal dari kalangan setan (jin). Kisah-kisah pengultusan terhadap kiai atau rohaniawan yang terbiasa melakukan bid’ah, khurafat, dan maksiat, selalu dibumbui dengan bentuk-bentuk khawariqul ’adah (kejadian-kejadian di luar kebiasaan) ini. Contoh yang masyhur dan klasik yang beredar di masyarakat adalah Kiai Fulan yang tidak menunaikan shalat Jumat di Indonesia, tetapi di Makkah, atau kisah-kisah semisal yang sengaja atau tidak, telah diedarkan di masyarakat. Kisah-kisah itu akan menimbulkan pelabelan sebagai kiai yang memiliki karamah. Dalam bahasa yang dikemas lebih anggun, “kiai karismatik”.

Siapakah Yang Berhak Mendapat Karamah?

Al-Imam al-Allamah Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahumallah menjelaskan bahwa orang-orang yang tergolong para wali Allah Subhanahu wata’ala adalah mereka yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, serta beriman kepada takdir-Nya yang baik atau buruk. Mereka harus menegakkan apa yang telah diwajibkan Allah Subhanahu wata’ala atasnya, meninggalkan apa yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala dan senantiasa memperbanyak ketaatan kepada-Nya. Orang yang seperti inilah yang termasuk para wali Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berhak menyandang karamah yang tidak menyelisihi syariat.

Karamah ini adalah karunia dari Allah Subhanahu wata’ala, dan tidak halal bagi seorang muslim mengingkarinya. Barang siapa memiliki sifatsifat yang berlawanan dengan yang disebutkan di atas, dia bukan wali Allah Subhanahu wata’ala melainkan bala tentara setan. Adapun “karamah”nya adalah bentuk kesamaran yang dilemparkan oleh setan terhadap dirinya dan umat manusia. Yang seperti ini bukanlah hal yang aneh dan tak bisa diingkari, karena kebanyakan mereka menjadikan jin sebagai pembantunya. Para setan dari kalangan jin membantunya berbuat kejelekan, bahkan melakukan halhal yang diharamkan. (Qathru al-Wali ‘ala al-Hadits al-Wali, hlm. 64—65)

Kisah Para Wali Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

“Ingatlah ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguangangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan dan memperteguh denganmu telapak kakimu.” (al-Anfal: 11)

Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya saat itu ditimpa kantuk pada Hari Uhud. Pedang pun jatuh dari tangan saya berkali-kali. Saat jatuh, saya ambil. Jatuh lagi, saya ambil lagi. Saya melihat mereka (para sahabat), mereka pun dalam keadaan terkantuk-kantuk di bawah perisai kulit.” Menurut Ibnu Katsir rahimahumallah , “Kantuk memang menimpa kalangan para sahabat pada Hari (Perang) Uhud. Adapun ayat ini terkait kisah (Perang) Badar. Ini menunjukkan peristiwa yang sama. Saat itu orang-orang beriman mengalami kegoncangan jiwa yang luar biasa. Kejadian (mengantuk) itu menyebabkan hati mereka aman dan tenang dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala serta nikmat atas mereka.” (Mukhtashar Tafsir al- Quran al-Azhim, 2/108)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

“Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku akan umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Senantiasa hamba- Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (amalan) sunnah hingga Aku mencintai- Nya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dengan penglihatan itu dia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengan tangan itu dia bertindak, dan menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah. Jika dia meminta, sungguh akan Aku beri. Jika dia minta perlindungan kepada- Ku, niscaya Aku lindungi dia.” ( HR. al-Bukhari, no. 2502)

Mukjizat adalah tanda dan bukti kenabian. Mengimaninya merupakan bentuk keimanan terhadap para rasul Allah Subhanahu wata’ala. Berbeda halnya dengan orang-orang yang mengingkarinya dan menganggapnya bagian dari mimpi. Al-Farabi dan filosof yang semisalnya memiliki anggapan demikian. Tentu saja, ini adalah pemahaman yang salah. Hanya orang-orang berimanlah yang tunduk hatinya kepada apa yang dibawa oleh para rasul Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Mewaspadai Bahaya Gerakan Syiah

Permasalahan Syiah, sungguh tak bisa dipisahkan dari agama. Bahkan, sangat bersentuhan dengan akidah yang merupakan fondasi agama. Maka dari itu, cara menilainya pun harus dengan timbangan agama. Hal-hal lain terkait dengan hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat harus disesuaikan dengannya. Lantas, bagaimanakah penilaian agama tentang Syiah?

Penilaian agama tentang Syiah sebenarnya sudah final. Para ulama yang mulia, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syiah. Hasilnya, Syiah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran. Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini.

1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syiah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)

2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (yakni Syiah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

3. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak mampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orangorang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)

4. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)

5. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ) itu orang Islam.” (as- Sunnah karya al-Khallal 1/493)

6. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syiah) atau di belakang Yahudi dan Kristen. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda berkata, “Itu kan versi ulama Sunni! Bagaimanakah keterangan ulama ahlul bait tentang mereka?” Baiklah, kalau begitu simaklah keterangan berikut ini.

1. Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syiah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka dari itu, gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku…” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

2. Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah! Menurutku, Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syiah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syiah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

3. Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syiah) kehidupan hingga saat ini, porakporandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syiah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta untuk membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab terbunuhnya kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy- Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

4. Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin rahimahullahberkata, “Mereka (Syiah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

5. Al-Imam Muhammad al-Baqir rahimahullah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syiah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syiah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

6. Al-Imam Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala berlepas diri dari orang-orang yang membenci Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’ karya al-Imam adz-Dzahabi 6/260) Bisa jadi, Anda heran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syiah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda. Jawaban ringkasnya, karena Syiah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya ikutilah pembahasan berikut ini.

 

Kedekatan Syiah dengan Yahudi

Syiah sangat dekat dengan Yahudi. Kedekatan itu setidaknya dalam dua hal yang sangat prinsip:

1. Pendirinya

2. Prinsip keyakinannya (akidahnya).

Pendiri agama Syiah adalah seorang peranakan Yahudi kota Shan’a, Yaman. Dia bernama Abdullah bin Saba’ al- Yahudi al-Himyari.2 Ibunya seorang wanita yang berkulit hitam, sehingga dikenal pula dengan sebutan Ibnu Sauda’ (putra seorang wanita yang berkulit hitam). Layaknya keumuman bangsa Yahudi, Abdullah bin Saba’ berkarakter buruk, licik, dan penuh makar terhadap Islam dan umat Islam. Dia menyusup di tengah-tengah umat Islam untuk merusak tatanan agama dan masyarakat. Awal kemunculannya di akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah) dia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya akidah sesat yang dia tebarkan di tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu hingga terbunuhlah beliau.

Di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia menampakkan kecintaan dan loyalitas yang tinggi terhadap sang Khalifah dan ahlul bait. Dia dan komplotannya menamakan diri sebagai syi’atu Ali (para pengikut Ali). Dengan kedok kecintaan dan loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlul bait itulah agama Syiah terus menggurita di tengah umat. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 8/479, Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 490, dan Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 123)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Para ulama menyebutkan bahwa latar belakang Rafdh (Syiah) adalah dari seorang zindiq (Abdullah bin Saba’) yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan identitas Yahudinya. Dia berupaya merusak Islam sebagaimana Paulus (seorang Yahudi, -pen.) yang menampakkan diri sebagai seorang kristiani untuk merusak agama Kristen.” (Majmu’ Fatawa 28/483)

Adapun prinsip keyakinan (akidah) Syiah, banyak kesamaannya dengan prinsip keyakinan (akidah) Yahudi. Hal ini tentu tidak aneh, sebab pendirinya adalah seorang Yahudi. Di antara prinsip keyakinan (akidah) mereka yang sama dengan Yahudi adalah sebagai berikut.

1. Tentang washiy

Washiy adalah seseorang yang mendapat wasiat untuk melanjutkan tugas atau misi si pemberi wasiat. Dalam agama Yahudi, adanya washiy adalah satu keharusan. Demikian pula dalam agama Syiah. Kalau washiy dalam agama Yahudi adalah Yusya’ bin Nun yang didaulat sebagai pengganti Nabi Musa ‘Alaihissalam, maka washiy dalam agama Syiah adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai pengganti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, dalam prinsip keyakinan (akidah) Syiah, para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib rahimahullah, yaitu Abu Bakr, Umar, dan Utsman g adalah perampas kekuasaan dan mereka telah kafir. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/169—197)

2. Tentang kepemimpinan umat

Dalam agama Yahudi, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Nabi Dawud q. Dalam agama Syiah, kepemimpinan umat hanya berada pada keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Demikianlah kondisi 12 imam mereka yang diyakini ma’shum (terlindungi dari dosa), termasuk Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Dalam pandangan Islam, Imam Mahdi adalah keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, bukan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/201—224)

3. Tentang raj’ah

Raj’ah adalah hidup kembali setelah mati sebelum hari kiamat. Dalam agama Yahudi, orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Demikian pula menurut agama Syiah. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang sudah mati dan tinggi keimanannya akan dihidupkan kembali di masa Imam Mahdi (akhir zaman) untuk dimuliakan. Demikian pula orang-orang yang sudah mati dan tinggi tingkat kejahatannya akan dihidupkan kembali untuk dihinakan. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/275—312)

4. Tentang al-bada’

Al-bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam agama Yahudi, al-bada’ terjadi pada Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula menurut agama Syiah. Bahkan, mereka menjadikannya bagian dari tauhid. Berbeda halnya dengan agama Islam, ilmu Allah Subhanahu wata’ala sangat luas, tak dibatasi oleh sesuatu pun. Ilmu Allah Subhanahu wata’ala bersifat azali (tak bermula dan berakhir). Tidak ada sesuatu pun yang terluput dari ilmu- Nya. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al- Jumaili 1/317—352)

5. Tentang mengubah Kitab Suci

Mengubah Kitab Suci adalah sifat tercela yang melekat pada ulama Yahudi, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah l dalam banyak ayat-Nya. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengubah al-Qur’an hingga berlipat jumlah ayatnya. Anehnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islamlah yang telah mengalami pengubahan. Wallahul musta’an. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 1/355—438)

6. Tentang kecintaan dan kebencian

Kaum Yahudi berlebihan dalam hal mencintai sebagian nabi mereka dan membenci sebagian yang lainnya. Demikian pula sikap mereka terhadap para ulama yang membimbing mereka. Kaum Syiah tak jauh berbeda. Mereka berlebihan mencintai para imam mereka, bahkan memosisikan mereka di atas para malaikat dan para nabi. Di sisi lain, mereka membenci para sahabat , bahkan mengafirkan mereka. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/443—513)

7. Tentang pengagungan diri mereka

Kaum Yahudi meyakini bahwa mereka adalah manusia terbaik, bahkan mereka mengklaim sebagai anak-anak Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Demikian pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengklaim sebagai orang-orang pilihan Allah Subhanahu wata’ala dan lebih mulia dari para malaikat. Kaum Yahudi mengklaim bahwa merekalah manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina.

Demikian pula halnya dengan kaum Syiah, mereka mengklaim sebagai manusia yang seutuhnya, sedangkan selain mereka hina dina. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/517—554)

8. Tentang pengafiran selain mereka

Kaum Yahudi memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. Demikian pula halnya kaum Syiah, memvonis selain mereka sebagai orang kafir, halal darah dan hartanya. (Lebih lanjut, lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al-Jumaili 2/559—597)

9. Tentang kedustaan yang ada pada mereka

Sifat dusta sudah menjadi karakter kaum Yahudi, baik dalam kehidupan beragama maupun keseharian. Tak beda jauh dengan kaum Syiah, mereka menjalankan kehidupan beragama dengan kedustaan yang mereka sebut dengan taqiyah. Oleh karena itu, al-Imam asy-Syafi’I rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syiah) dalam hal persaksian palsu.” (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Badzlul Majhud fi Itsbat Musyabahatir Rafidhah lil Yahudi karya Abdullah al Jumaili 2/631—669)

Patut dicatat di sini bahwa semua yang telah disebutkan tentang kesamaan agama Syiah dengan agama Yahudi di atas, tak didapati pada umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab, mereka meyakini kewajiban menyelisihi kaum Yahudi dalam kehidupan ini, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Anehnya, seiring dengan banyaknya kesamaan antara agama Syiah dengan agama Yahudi, sebanyak itu pula perbedaannya dengan agama Islam. Perbedaan itu bukan dalam hal yang kecil, melainkan dalam hal mendasar yang merupakan prinsip dalam kehidupan beragama. Cobalah perhatikan! Al-Qur’an mereka berbeda dengan al-Qur’an umat Islam, azan dan iqamat mereka berbeda dengan azan dan iqamat umat Islam, tata cara berwudhu mereka berbeda dengan tata cara berwudhu umat Islam, kaifiyah shalat mereka berbeda dengan kaifiyah shalat umat Islam, dan hari wukuf mereka di Arafah (ketika berhaji) pun berbeda dengan hari wukuf umat Islam. (Lihat VCD Bahaya Kesesatan Syiah dan VCD Ada Syiah di Indonesia)

Syiah Merobohkan Tiga Pilar Utama Umat Islam

Ada tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah n, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah). Bagaimanakah upaya Syiah merobohkan tiga pilar itu? Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya. Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Disebutkan juga dari Abu Abdillah ( 1 / 2 3 9 — 2 4 0 ) , dia berkata , “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.” Abu Bashir bertanya, “Apa mushaf Fatimah itu?” Dia (Abu Abdillah) berkata, “Mushaf yang isinya tiga kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian.” (Dinukil dari kitab asy-Syiah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi zhahir, hlm. 31—32)

Bahkan, salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath- Thabrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab mengumpulkan berbagai riwayat dari para imam mereka yang diyakini ma’shum (terjaga dari dosa), bahwa al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam itu telah terjadi pengubahan dan penyimpangan. Adapun terhadap Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya:

1. Mengklaim bahwa para istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan. Disebutkan dalam kitab mereka, Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, karya ath-Thusi (hlm. 57—60), dinukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

2. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Tentu saja, dengan dikafirkannya para sahabat berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan melalui mereka. Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.” Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi….” kemudian dia menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy- Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka cela dan laknat. Bahkan, mereka berlepas diri dari keduanya adalah bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…. (yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).” (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al- ‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak mmampu. Akhirnya, mereka mencela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 580)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, Rasul bagi kita adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka (Syiah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Lebih dari itu, dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa pun akan kesulitan untuk memahami agama Islam dengan baik dan benar. Sebab, melalui merekalah ilmu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diwariskan dan melalui mereka pula pemahaman yang benar tentang agama ini didapatkan. Tanpa itu, kesesatanlah kesudahannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al- Andalusi rahimahullah berkata, “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah Subhanahu wata’ala (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi pertama dari umat ini.” (al-Marqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 36—37)

Pengkhianatan Syiah Terhadap Umat Islam

Syiah tercatat kerap melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. (Lihat ungkapan kekecewaan mereka pada pembahasan sebelumnya)

Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami, yang beragama Syiah. Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan.

Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama. Selama 40 hari pembantaian terus menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam. Sementara itu, sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya. Wallahul musta’an. (Untuk lebih rincinya, silakan membaca al- Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335)

Demikianlah sekelumit tentang agama Syiah, kesesatan, kejahatan, dan bahayanya terhadap umat Islam. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Berkaca Pada Ulama

Ulama adalah sosok manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasa takut yang lekat pada dirinya adalah rasa takut yang lahir dilatari oleh ilmu yang dimilikinya. Ulama adalah sosok manusia yang benar-benar mengetahui dan memahami siapa yang ditakuti. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan hal itu melalui firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena itu, ulama adalah sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa menerapkan ilmunya di dalam kehidupan sehari-hari. Tindak-tanduk, perbuatan, tutur kata, dan amaliah hatinya senantiasa bersendi pada apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan disabdakan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu yang disandangnya tidak semata tecermin dari lisannya. Tak semata dari kefasihannya berbicara. Lebih dari itu, segenap amal perbuatan mencerminkan bahwa sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala tersebut adalah seorang alim. Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaim bin Abdirrahman al-‘Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi termasuk salah seorang ulama. Apa yang telah beliau rahimahullah perbuat, memberikan manfaat yang teramat banyak pada umat ini. Lebih dari 90 kitab, baik dalam bentuk risalah maupun yang berjilid, telah beliau rahimahullah wariskan kepada kaum muslimin. Kecintaan beliau rahimahullah terhadap ilmu telah tampak sejak usia pertumbuhan. Al-Qur’an telah dihafal pada usia dini.

Belum menginjak usia 15 tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan kitab Zadul Mustaqni’ dan Alfiyah Ibn Malik. Beliau rahimahullah telah mendapat bimbingan dari para ulama sejak usia yang teramat muda. Meski hidup dalam kesederhanaan, beliau tetap bersemangat menuntut ilmu hingga menyelesaikan pendidikan di Universitas al-Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Beliau adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang hidup diselimuti kezuhudan. Meski demikian, sebagai seorang yang mencintai ilmu dan amal, beliau senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri. Sikap zuhud beliau tergambar saat beliau menerima bantuan dari Raja Khalid bin Abdul Aziz. Setelah diterima, bantuan tersebut beliau wakafkan untuk kepentingan para penuntut ilmu syar’i.

Demikian pula saat diberi sesuatu dalam jumlah besar, beliau langsung mengumumkan bahwa pemberian itu digunakan untuk para penuntut ilmu syar’i. Pemberian itu tidak dijadikan sebagai milik pribadi, tetapi diserahkan kepada umat. Sikap zuhud yang sedemikian agung. Sikap zuhud demikian tertanam pada diri beliau rahimahullah. Sikap itu pula yang beliau ajarkan kepada umat. Kata asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Seseorang wajib menjadi manusia yang zuhud. Dia zuhud dalam urusan dunia dan lebih mencintai urusan akhirat. Apabila Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai harta, jadikanlah harta itu sebagai pembantu ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hendaklah dia jadikan dunia sebatas di tangannya, tidak sampai merasuk ke dalam hati, sehingga dirinya meraup dua keberuntungan, yaitu keberuntungan dunia dan keberuntungan akhirat.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Zuhud, kata beliau rahimahullah adalah upaya meninggalkan sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin I/790 dan 799, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah) Suatu hari, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyerahkan bantuan dalam jumlah yang besar. “Wahai Abdullah, aku dan engkau di sini hanya berdua. Tak ada yang melihat selain Allah Subhanahu wata’ala. Ambillah dana ini. Bantuan ini murni dari hartaku. Belikan mushaf al-Qur’an dan bagikan mushaf tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan di penjara-penjara yang berada di Amerika,” ucap beliau kepada orang yang diamanati membagikan bantuan tersebut. Beliau berpesan, “Engkau yang bertanggung jawab membelikan dan membagikannya. Aku minta kepadamu, demi Allah, agar tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 23)

Beliau zuhud, dermawan, suka membantu, dan rendah hati. Sedemikian kokoh ketawadhuan menyelimuti beliau hingga membentuk sikap tak suka memamerkan keadaan diri. Jauh dari publisitas, sebuah sikap terpuji nan luhur yang patut ditiru. Sebagai seorang ulama yang banyak dikenal masyarakat luas, beliau sangat dekat dengan umat. Kemasyhuran namanya tak lantas menjadikan dirinya tinggi hati. Kisah berikut menggambarkan sikap “hangat” beliau terhadap umat. Kejadian ini di kota Makkah sebelum asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah wafat. Setelah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah, beliau hendak pergi ke satu tempat. Karena tempat yang dituju cukup jauh, beliau naik taksi. Di tengah perjalanan, sang pengemudi taksi menyapa dan ingin mengenal lebih dekat penumpangnya. Terjadilah obrolan di antara keduanya.

Pengemudi taksi itu bertanya, “Siapakah Anda, wahai syaikh (panggilan akrab untuk orang yang telah tua, red.)?” Jawab asy-Syaikh, “Muhammad bin ‘Utsaimin.” Mendengar nama tersebut, sang pengemudi taksi heran dan bertanya, “Syaikh (Ibnu Utsaimin yang itu)?” Pengemudi taksi menyangka bahwa penumpangnya membohonginya. “Ya, saya asy-Syaikh,” kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menegaskan guna meyakinkannya. Namun, pengemudi taksi itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya lantaran heran dan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, asy-Syaikh berbalik tanya kepada pengemudi taksi, “Siapakah Saudara?” Pengemudi taksi menjawab, “Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz!” Mendengar jawaban tersebut, asy- Syaikh ‘Utsaimin tertawa. “Engkau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?” tanya asy-Syaikh. Sang pengemudi berbalik tanya, “Apakah engkau juga asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin?” Kata asy-Syaikh, “Akan tetapi, asy- Syaikh bin Baz memiliki keterbatasan fisik (buta). Beliau tentu tidak mampu mengemudikan mobil.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 39—40)

Dialog ringan di atas begitu cair mengalir bagaikan air, menggambarkan salah satu akhlak beliau. Kesabaran beliau teramat kental kala menghadapi orang awam. Dengan santun penuh rahmat dan ramah, ungkapan-ungkapan polos itu ditanggapi dengan bijak. Tidak ada ketersinggungan apalagi amarah. Semua dihadapi secara wajar. Saat menjelaskan firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku “Wahai  mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Beliau sebutkan bahwa ‘ala bashirah bermakna ‘ilmu’. Dakwah ini harus diliputi keikhlasan dan ilmu. Sungguh, kebanyakan dakwah ini hancur berderai lantaran hampa dari keikhlasan dan ilmu. Yang dimaksud ‘ala bashirah adalah ilmu, bukan semata ilmu syar’i. Namun, meliputi pula ilmu tentang mad’u (orang yang didakwahi). Ilmu yang mengantarkan pada keberhasilan meraih yang dituju, yaitu hikmah. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat hendak mengutus Abu Musa al- Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma ke negeri Yaman,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi dan HR. Muslim, Kitab al-Iman, dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat kitab karya beliau al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabi at-Tauhid, hlm. 85)

Keutamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin terekam pula dari kebiasaannya dalam beribadah. Beliau rahimahullah senantiasa menegakkan ibadah yang bersifat fardhu, sunnah, dan ketaatan lainnya. Hal itu tergambar di antaranya dari amalan haji yang dilakukannya setiap tahun dalam jangka waktu yang panjang. Demikian pula umrah, beliau selalu berumrah saat Ramadhan atau waktu lainnya saat musim liburan. Bagaimana dengan shalat malam? Tentu, shalat malam selalu beliau tunaikan walau saat kelelahan mendera. Asy- Syaikh Hamd al-‘Utsman, salah seorang murid beliau bertutur, bahwa saat safar bersama asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ke Riyadh, mereka menyempatkan singgah ke Jeddah untuk selanjutnya menunaikan umrah di Makkah (sekadar diketahui, jarak Riyadh-Jeddah sekitar 851 km, dan Jeddah-Makkah sekitar 66 km, -red.).

Setelah selesai menunaikan umrah, keadaan fisik diliputi kelelahan yang sangat sehingga mereka tertidur pulas. Namun, tengah malam asy-Syaikh Hamd al-‘Utsman terbangun karena ada keperluan ke kamar kecil. Saat itulah beliau melihat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin tengah menegakkan shalat malam. Melihat peristiwa tersebut, asy- Syaikh Hamd al-Utsman berkata, “Subhanallah, saya masih muda, tetapi justru tidur nyenyak. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah lanjut usia. Dalam keadaan fisik kepayahan, beliau tetap menegakkan shalat malam.” Apa yang dilakukan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin malam itu memberi dorongan kepada teman seperjalanannya untuk menunaikan shalat malam. Dia pun bersegera mengambil air wudhu, lantas berusaha untuk shalat malam walau kantuk hebat menerpanya. (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 29—30)

Prinsip untuk senantiasa mengerjakan amal kebaikan secara berkesinambungan termasuk nasihat emas beliau rahimahullah. Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Hendaklah seseorang senantiasa mengerjakan kebaikan.” (Syarhu Riyadhi as-Shalihin, hlm. 403) Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

‘Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan. Dahulu ia senantiasa shalat malam, lantas ia tinggalkan kebiasaannya’.” (HR. al-Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 185)

Yang diperbuat oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin adalah dakwah berupa keteladanan. Beliau memberi contoh dengan landasan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wata’ala. Keteladanan beliau, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, telah mampu menyadarkan hamba Allah Subhanahu wata’ala yang terlelap. Membangunkan jiwa yang tertidur untuk kemudian bangkit menegakkan ketaatan. Betapa dalam dampak keteladanan pada umat. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam dakwah ini manakala para pendakwah hanya mampu menyampaikan pada tataran lisan atau yang diserukan oleh lisan tidak diikuti oleh amalan. Tak ada kesesuaian antara kata dan amal nyata. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Dalam menyikapi ahlul bid’ah, asy- Syaikh bin ‘Utsaimin memiliki pandangan bahwa ahlul bid’ah wajib di-hajr. Makna hajr menurut beliau adalah menjauhi mereka, tidak mencintai, tidak berloyalitas, tidak memberi salam, mengunjungi, menengok mereka, dan lainnya. Menghajr ahlul bid’ah wajib berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling menyayangi dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadilah: 22)

Kepada yang bukan ahli bid’ah pun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerapkan hajr terhadap sahabat Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua orang temannya tatkala mereka enggan mengikuti Perang Tabuk. (HR. al-Bukhari no. 4418 dan HR. Muslim no. 2869 dan no. 53) Termasuk dalam kerangka hajr pula, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berpandangan bahwa seseorang dilarang menelaah bukubuku ahlul bid’ah. Sebab, dikhawatirkan akan terpengaruh dengan buku-buku tersebut. Terlarang pula menyebarkan dan mengedarkan buku ahlul bid’ah. Akan tetapi, manakala dibaca untuk dibantah dan diluruskan ke arah pemahaman yang benar, selama pelakunya mampu, tidak mengapa buku tersebut diteliti. Sebab, bagaimana pun, membantah kebid’ahan itu adalah kewajiban. (Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabili ar-Rasyad, disyarah oleh asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin, hlm. 157—158)

Sikap ini diajarkan kepada umat, tak lain demi menjaga umat dari berbagai penyimpangan dalam memahami Islam. Beliau menghendaki agar umat berada di atas pemahaman salafus shalih, pemahaman yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para imam terdahulu. Inilah tugas ulama. Kini, beliau telah tiada di tengah umat. Namun, karya-karya beliau tetap menjadi rujukan. Karya-karya beliau memberi pencerahan terhadap umat, mengalir tiada henti. Sudah sepantasnya apabila kita berkaca pada ulama. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Shalat Berjamaah Menuai Banyak Keutamaan

Suatu hari, seorang lelaki buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kata lelaki buta itu, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seorang penuntun guna pergi ke masjid.” Pernyataannya ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam demi memohon keringanan untuk tidak menghadiri shalat berjamaah di masjid.

Saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberi keringanan kepada lelaki buta itu untuk shalat di rumahnya. Namun, saat lelaki buta itu berbalik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat (azan)?” Jawab lelaki buta itu, “Ya, saya mendengarnya.” “Kalau begitu, penuhilah seruan tersebut!” kata beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR . Muslim, no. 255)

Kisah di atas memberi gambaran betapa menegakkan shalat berjamaah di masjid adalah kewajiban bagi seorang muslim. Menurut asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, kisah yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslimrahimahullah dalam Shahih-nya, menunjukkan hukum wajib shalat berjamaah bagi penyandang kebutaan manakala tak memiliki uzur. Riwayat itu pun mengandung sisi pendalilan bahwa shalat berjamaah tersebut wajib ditunaikan di masjid.

Sebab, hadits tersebut tidak memaksudkan semata-mata shalat berjamaah, tetapi menekankan pula pelaksanaannya di masjid. Dalam riwayat lain yang semakna disebutkan dari Abdullah bin Amr bin Qais radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum Sang Muadzin, ia berucap,

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ.فَقَالَ النَّبِيُّ أَتَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ :  عَلَى الْفَلَاحِ، فَحَيَّ هَل

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah banyak binatang berbisa dan binatang buas.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Kalau engkau mendengar seruan ‘hayya ‘ala ash-shalah, hayya alal falah’, segeralah penuhi seruan tersebut!” (HR . Abu Dawud no. 553)

Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa shalat berjamaah adalah seutama-utama ibadah dan bentuk ketaatan yang termulia. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukumnya, apakah shalat berjamaah ini sunnah, wajib, atau termasuk salah satu dari syarat sah shalat. Seperti dijelaskan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, ada tiga pendapat ulama dalam menghukumi shalat berjamaah ini, yaitu:

1. Ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Seseorang yang menegakkan shalat berjamaah ini akan mendapat pahala dan yang meninggalkannya tiada berdosa.

2. Pendapat yang menetapkan hukumnya wajib. Seseorang berkewajiban menunaikan shalat berjamaah, apabila tak menunaikannya maka ia berdosa. Adapun shalatnya tetap sah (bila ditunaikan sendiri).

3. Sesungguhnya shalat berjamaah adalah salah satu syarat untuk keabsahan sebuah shalat. Bagi yang berpendapat demikian, shalatnya akan dinyatakan batal manakala tidak ditunaikan secara berjamaah. Shalatnya tidak diterima. Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. (Pendapat pertama di atas adalah pendapat ulama kalangan mazhab Maliki, pendapat kedua adalah pendapat ulama mazhab Hanbali dan Zhahiri). Adapun yang diriwayatkan dari al-Imam Ahmad rahimahullah bahwa seseorang yang menunaikan shalat sendirian tanpa uzur syar’i (halangan yang bersifat syar’i), maka shalatnya tidak diterima, seperti halnya orang yang shalat tanpa berwudhu. Karena itu, shalat berjamaah itu hukumnya wajib.

Dari ketiga pendapat tersebut, asy- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menilai bahwa yang rajih (kuat) adalah pendapat yang kedua, yaitu hukum shalat berjamaah adalah wajib. Siapa yang meninggalkannya, ia berdosa dan jika ditunaikan sendirian (tanpa berjamaah) shalatnya tetap diterima. Berjamaah bukanlah syarat sahnya shalat. Adapun dalil pendapat ini adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama dibanding shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” (HR . al-Bukhari no. 645 dan Muslim no. 249)

Sisi pendalilan dari hadits ini, jika shalat sendirian tidak mengandung pahala, tentu tidak sah menyebutkan keutamaan (shalat berjamaah). Karena itu, seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah berarti telah melakukan perbuatan dosa (meskipun shalatnya sah). (Syarhu Riyadhu ash-Shalihin, 2/1297—1298)

Allah Subhanahu wata’ala menetapkan syariat kepada hamba-hamba-Nya tidak bermaksud menjadikannya sebagai sesuatu yang menyusahkan, tidak sama sekali. Justru segenap ketentuan yang Allah Subhanahu wata’ala tetapkan akan memberi kebaikan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

طه () مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ () إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ

“Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)

Termasuk syariat-Nya ialah ketentuan untuk menunaikan shalat secara berjamaah di masjid. Di antara hikmah yang bisa dipetik dari ketentuan shalat berjamaah ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya,

1. Jam’u al-kalimah (persatuan kaum muslimin).

Sungguh Islam datang dengan membawa rahmat dan kasih sayang. Islam datang untuk menyatukan segenap manusia di atas cahaya tauhid, di bawah kemilau cahaya as-Sunnah. Islam datang memupus perseteruan, meluruhkan perpecahan, dan menyatukan hati. Sebab, sesungguhnya berukhuwah (bersaudara) didasari cahaya nubuwah adalah nikmat. Adapun perselisihan dan perseteruan adalah sebuah perbuatan nan buruk. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah kamu akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu bersaudara dan berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Berselisih itu jelek.” (sebagaimana diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah)

Dalam shalat berjamaah tampak syiar persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tampak satu kata dalam barisan. Tak menyisakan satu celah pun dalam shaf (barisan) shalat. Tak membiarkan setan menyelinap di tengah-tengah kaum muslimin. Shaf dalam shalat lurus, rapat antara satu dengan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Luruskan (shaf-shaf) kalian! Jangan berselisih sehingga berselisih hati-hati kalian.” (HR . Muslim no. 122)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, atau sungguh Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian.” (HR . al- Bukhari no. 719 dan HR . Muslim, no. 125, hadits dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu)

Terkait dengan hadits di atas, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin rahimahullah menyebutkan, sebagaimana dimaklumi, perselisihan yang bersifat lahiriah bisa mengarah pada perselisihan yang bersifat batin. Apabila telah timbul perbedaan-perbedaan yang bersifat lahir, akan terjadi perselisihan di antara hati-hati mereka. Jika perselisihan itu telah menancap dalam hati-hati mereka, tentu menjadi sesuatu yang jelek dan rusak. Wal ‘iyadzubillah. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 2/1318)

Karena itu, menunaikan shalat berjamaah selain selaras dengan tuntunan sunnah nabi-Nya, juga akan memberi dampak yang sangat positif bagi tegaknya syiar persatuan umat. Jam’u al-kalimah (satu kata) dalam diri umat akan terpatri seiring tertunaikannya amalan-amalan yang selaras tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melalui shalat berjamaah, tumbuh kelemahlembutan dan kasih sayang di antara orang-orang yang berjamaah.

2. Menjauhkan pelakunya dari setan.

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah,menunaikan shalat berjamaah akan menjauhkan seseorang dari setan. Apabila kaum muslimin berkumpul lalu mereka shalat berjamaah, yang demikian ini akan menjauhkan mereka dari setan. Adapun apabila seseorang sendirian, maka setan akan menyelinap padanya. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang terpisah dari kelompoknya.” (Hasan, HR . Ahmad no. 13022)

Karena itu, shaf wajib dirapatkan dan jangan sampai ada celah di antara jamaah shalat. Ini dalam rangka menutup celah agar setan tak masuk di antara celah-celah shaf (barisan) orang-orang yang shalat berjamaah. Apabila mereka saling meluruskan, merapatkan, dan menutup celah, setan tak akan mendapat peluang untuk membisiki mereka demi merusak apa yang ada pada mereka. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

“Rapatkanlah shaf kalian, dekatkanlah di antara shaf-shaf, dan sejajarkan tengkuk-tengkuk kalian. Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar melihat setan masuk ke sela-sela shaf seperti domba kecil.” (HR . Abu Dawud no. 667)

3. Pembelajaran bagi yang jahil.

Shalat berjamaah bisa menjadi wahana pembelajaran bagi orang yang mengerti Islam dengan baik dan benar. Bisa jadi, seseorang selama umurnya belum paham bagaimana shalat yang benar, tak paham tentang rukun, syarat, hal-hal yang wajib, atau tata caranya. Bahkan, kadang ada yang belum paham bagaimana rukuk dan sujud yang benar.

Maka dari itu, dengan menghadiri shalat berjamaah seseorang akan bisa mengambil pelajaran, terutama dalam hal shalat. Sungguh, belajar dengan metode praktik terkadang lebih mengena daripada dengan ucapan.

4. Menumbuhkan kasih sayang.

Melalui shalat berjamaah, kaum muslimin dibimbing untuk saling memerhatikan. Melalui shalat berjamaah yang terus-menerus berkesinambungan, akan tumbuh sikap rahmah, lemah lembut, dan perhatian terhadap sesama mukmin. Apabila seseorang tak tampak di masjid, jamaah yang lain akan mempertanyakan ketidakhadirannya. Yang lain akan merasa kehilangan lantaran ketidakhadirannya. Jika ketidakhadirannya itu karena sakit, jamaah akan mengunjungi dan menjenguknya. Apabila ketidakhadirannya karena meremehkan, malas, atau selain itu, jamaah yang lain bisa menasihatinya.

Dengan demikian, akan tumbuh sikap perhatian, kasih sayang, dan sifat kelemahlembutan di antara kaum muslimin. Amal yang bisa mengarahkan kepada demikian di antaranya adalah shalat berjamaah. (Tashilu al-Imam bi Fiqhi al-Ahadits min Bulughi al-Maram, 2/401—402)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan syariat bagi manusia dalam beberapa hal yang dilakukan secara berjamaah atau berkelompok. Di antara yang dilakukan secara berkelompok (dalam kurun setahun sekali) adalah haji. Yang dilakukan dalam setahun dua kali adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun yang dilakukan secara berjamaah sepekan sekali adalah shalat Jumat. Yang dilakukan setiap hari, siang dan malam, adalah shalat lima waktu. (Ta’liqat ‘ala Umdati al-Ahkam, karya asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, hlm. 202)

Hendaknya seorang muslim tidak meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah ini di masjid. Selain hikmah hikmah di atas, shalat berjamaah di masjid memberi keutamaan yang begitu tinggi bagi seorang hamba. Di antara keutamaan itu digambarkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ؛ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Shalat seseorang (lelaki) secara berjamaah lebih banyak pahalanya dua puluh sekian derajat dibanding shalatnya seseorang di rumah atau di pasarnya. Hal ini (bisa diraih) manakala salah seorang dari mereka membaguskan wudhunya kemudian datang ke masjid. Tidaklah ia menggerakkan (anggota tubuhnya) kecuali untuk shalat, tiada pula yang ia inginkan kecuali selain menunaikan shalat. Tiadalah satu langkah kaki yang ia ayunkan kecuali akan meninggikan derajatnya dan ayunan langkah kaki lainnya akan menghapus dosa-dosanya hingga ia memasuki masjid. Apabila telah masuk masjid, selama ia di dalam masjid maka dihitung shalat terus-menerus dan para malaikat mendoakannya selama ia duduk menanti shalat. Para malaikat berdoa, ‘Ya Allah, rahmati dia, ampuni dia, terimalah tobatnya’ (hal itu terusmenerus berlangsung) selama dia tak berbuat aniaya (kejelekan) dan tidak batal dari hadats’.” (HR . al-Bukhari 647 dan Muslim no. 272)

Tampak, betapa banyak keutamaan bisa dituai manakala shalat berjamaah ditunaikan dengan tuntunan yang benar. Hadits di atas memberi kabar gembira kepada hamba Allah Subhanahu wata’ala yang mencintai sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara keutamaan itu adalah:

1. Besarnya pahala dan keutamaan shalat berjamaah dibanding dengan shalat yang dilakukan secara menyendiri.

2. Allah Subhanahu wata’ala meninggikan derajat orang yang shalat berjamaah.

3. Allah Subhanahu wata’ala memupus dosa melalui langkah kaki seseorang yang menuju masjid dalam rangka shalat berjamaah. Ini tentu keutamaan yang teramat agung dan luhur.

4. Keutamaan berwudhu sebelum berangkat ke masjid.

5. Seseorang yang menanti shalat ditegakkan di dalam masjid terhitung menunaikan shalat terus-menerus. Ini menunjukkan ladang untuk meraih ganjaran sebesar-besarnya.

6. Para malaikat turut mendoakan orang yang menanti shalat berjamaah ditegakkan. Seorang mukmin tentu tak akan melewatkan saat-saat emas untuk merengkuh kebaikan dan keutamaan di atas. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi kekuatan dan kemudahan untuk bisa menunaikan kewajiban kewajiban yang diembankan. Amin.Wallahu a’lam

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Sepenggal Catatan Tentang Terorisme

Ketika dunia dalam keheningan, terorisme menggoncangnya dengan penuh kekuatan. Sejarahnya yang selalu haus darah, sungguh menjadi ancaman bagi kehidupan. Tiada hunian yang dirambahnya pasti diliputi keresahan. Terorisme benar-benar menggemparkan, menakutkan, dan mengerikan. Ironinya, terorisme diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam mengutuk terorisme dan berlepas diri darinya.

Pada beberapa tahun terakhir ini, dunia digoncang oleh serangkaian aksi teror1 bom yang mengerikan. Umat manusia terenyak bingung saat mendengar atau menyaksikan episode horor yang menakutkan itu. Aksi teror bom yang dilakukan secara rahasia, baik dengan meledakkan bom waktu, bom bunuh diri, maupun dengan sebatas pemberian ancaman bom berupa kiriman paket, parcel, dan surat.

Praktik batil yang tak selaras dengan Islam yang murni dan fitrah yang suci. Akibatnya, tak sedikit kerugian yang diderita oleh umat manusia. Gedung – gedung luluh lantak, mayat-mayat bergelimpangan, korban luka-luka pun harus hidup menderita. Demikian pula kerugian yang bersifat psikis, sangat terasa dalam kehidupan. Kegalauan jiwa muncul walau berada di tengahtengah hunian yang ditinggali. Sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menodai lembaran sejarah dengan penderitaan dan kehancuran.

Tragisnya, aksi teror bom terus merambah banyak negeri, termasuk Indonesia, tanah air kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menjaganya, membimbing para pemimpinnya di atas Islam, dan menjadikan masyarakatnya sebagai komunitas insan yang beriman lagi bertakwa. Amiin….

Terorisme Bukan dari Islam

Tak dimungkiri bahwa tragedi 11 September 2001 benar-benar menggemparkan dunia. Sebuah aksi teror yang terhitung perdana dalam kisaran dasawarsa (sepuluh tahun) terakhir ini. Aksi teror yang dilakukan oleh dua pesawat Boeing 767 yang menabrakkan diri ke menara kembar WTC dan Pentagon New York, Amerika Serikat (AS). Kedua pesawat itu meledak saat menabrakkan diri ke menara kembar yang tinggi menjulang. Kebakaran pada bagian atas gedung yang dibangun dengan konstruksi baja itu tak dapat dihindarkan. Tak lama kemudian, menara kembar WTC yang megah itu pun hancur luluh lantak. Sekitar tiga ribu jiwa tewas, dan tak sedikit jumlah korban luka-luka. Muncul pertanyaan, siapakah pelakunya? Di antara sejumlah nama yang disebut-sebut berada di balik tragedi itu adalah Usamah bin Laden dengan jaringan al-Qaedanya. Dengan jitu media massa Barat (baca: kafir) memanfaatkan peluang emas tersebut sebagai modal utama untuk menebar opini bahwa Islam adalah agama terorisme dan melahirkan para teroris.

Tak sebatas itu, AS dan sekutunya menjadikan peluang emas itu sebagai alasan kuat untuk melakukan berbagai operasi teror berskala internasional. Siapakah korbannya? Di antara korbannya adalah rakyat Afghanistan yang notabene muslim. Mereka dibombardir oleh AS dan sekutunya dengan amat kejam. Alasannya sederhana, memburu para teroris yakni Usamah bin Laden dan jaringan al-Qaedanya yang ditengarai bersembunyi di sana. Akibatnya, tak sedikit dari kaum muslimin Afghanistan yang menjadi korban. Jumlahnya pun tak sebanding dengan jumlah korban WTC. Selang setahun kemudian, aksi teror bom beralih ke tanah air. Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2002 aksi peledakan bom terjadi di Legian, Bali. Sekitar 202 jiwa tewas dan ratusan orang korban luka-luka. Peristiwa ini dikenal dengan Tragedi Bom Bali I, mengingat menyusul aksi peledakan bom Bali berikutnya pada tanggal 1 Oktober 2005 yang dikenal dengan Tragedi Bom Bali II. Siapakah pelakunya? Lagi-lagi nama yang disebut-sebut dari pihak muslim. Mereka adalah Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas.

Setelah Bom Bali II, masih berlanjut berbagai aksi teror bom lainnya di tanah air. Identifikasi pelakunya pun dari pihak muslim. Akibatnya, muncul sebuah penilaian (paradigma) yang salah di kalangan “masyarakat luas” bahwa Islam adalah agama terorisme. Padahal siapa pun yang mengkaji Islam secara proporsional pasti menyimpulkan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin) dan bukan agama terorisme.

Terorisme Bukan Jihad

Para pembaca yang mulia, bila mencermati berbagai aksi teror yang mengatasnamakan Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, faktor utama yang melandasi para pelakunya adalah prinsip keyakinan (ideologi), bukan harta atau yang semisalnya. Mereka meyakini bahwa berbagai aksi teror itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Adapun pelakunya menyandang predikat mujahid, bukan teroris. Padahal jihad tidak bisa dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan yang harus dimengerti dengan baik dan benar. Lebih dari itu, jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.2

Cobalah perhatikan serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok sesat Khawarij terdahulu. Tidaklah mereka melakukannya kecuali karena keyakinan jihad, bukan karena harta atau yang semisalnya. Padahal serangkaian aksi teror yang mereka lakukan itu targetnya adalah orang-orang pilihan dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perhatikanlah paparan ringkas tentang serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kaum Khawarij berikut ini.
1. Pengepungan terhadap rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka saat itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.

2. Pembantaian terhadap Abdullah bin Khabbab bin al-Art rahimahullah, saat itu beliau adalah Gubernur Madain (sebuah kota di Irak, arah tenggara Baghdad) pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Kaum Khawarij membunuhnya dan membunuh budak wanitanya yang sedang hamil saat
melewati wilayah kekuasaan mereka. Tak hanya itu, mereka merobek perut budak wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pemimpin utama mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.

3. Pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, saat beliau keluar rumah hendak mengimami shalat subuh. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.

4. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Syam (sekarang meliputi Palestina, Syiria, Lebanon, dan Yordania, pen.). Operasi tidak berhasil, karena beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi korban adalah seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut.

5. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tidak berhasil, karena beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sebagai korbannya, seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t, 12/296—298; al- Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, 7/281; dan Lamhatun ‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy- Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, hlm. 31—33)3

Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional saat itu. Tidak tanggung-tanggung, target operasi mereka adalah dua khalifah mulia kaum muslimin yang keduanya adalah menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah memetik janji surga dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilakukan kecuali karena satu keyakinan bahwa para korban operasi itu telah kafir dan aksi yang mereka lakukan itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul musta’an.

Bagaimanakah dengan serangkaian aksi teror bom yang terjadi belakangan ini? Apa landasan para pelakunya? Jawabannya, tak beda dengan kaum Khawarij terdahulu itu. Landasannya adalah ideologi “jihad”. Mari kita simak penuturan mereka yang terlibat dalam serangkaian aksi teror bom tersebut. Usamah bin Laden berkata dalam sebuah kaset yang berjudul “Bersiapsiaplah Untuk Jihad”, “… Hendaknya setiap muslim segera terjun ke medan jihad memerangi orang-orang Yahudi dan Amerika! Sesungguhnya ini termasuk kewajiban yang paling wajib, dan termasuk ibadah yang paling besar…. Tidak perlu kalian bermusyawarah dengan seorang pun untuk membantai Amerika.

Lakukanlah (berjihadlah) dengan berkah dari Allah Subhanahu wata’ala!” Bagaimana realisasi dari jihad yang dimaksud? Simaklah ucapan Usamah bin Laden berikut ini, “Aku memandang dengan penuh pemuliaan dan penghormatan kepada para pemuda mulia yang telah menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah melakukan peledakan bom di kota Riyadh (ibu kota Saudi Arabia), peledakan di kota Khubar (Saudi Arabia), atau peledakan-peledakan di Afrika Timur, dan yang semisalnya.”

Adapun Imam Samudra—termasuk pengagum Usamah bin Laden—berkata, “Konyolnya, ada ulama dari kalangan kaum muslimin yang termakan celotehan vampire-vampire tersebut sehingga dengan seenaknya berfatwa, ‘Apa pun alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apa pun!’.” Ucapan senada terdengar juga ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 110) Imam Samudra berkata terkait dengan aksi teror bom Bali, “Bom Bali adalah salah satu jihad yang harus dilakukan, sekalipun oleh segelintir kaum muslimin.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 115) Demikianlah, serangkaian aksi teror bom berskala internasional itu mereka yakini sebagai jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Padahal jauh panggang dari api. Aksi teror bom itu bukan jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Aksi teror bom itu tak sesuai dengan prinsip salaf, generasi terbaik umat ini.

Justru tindakan tersebut adalah napak tilas gerakan Khawarij, sekte sesat pertama yang muncul dalam ranah kehidupan Islam.4 Mengapa dikatakan napak tilas gerakan Khawarij? Bukankah target operasi kaum Khawarij adalah kaum muslimin, bahkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan para aktor bom tersebut target operasinya adalah orang-orang kafir, AS dan sekutunya? Ya, itu sebagian target mereka. Tetapi, bukankah kemudian teror itu juga dilakukan di negeri-negeri kaum muslimin, bahkan sebagiannya menjadikan kaum muslimin sebagai target?

Ketahuilah bahwa kondisi para aktor bom tersebut tak jauh berbeda dengan kondisi kaum Khawarij terdahulu. Mereka sama-sama terlibat dalam serangkaian aksi teror berskala internasional yang meresahkan umat. Apabila merujuk pada kamus, berarti mereka itu sama-sama disebut teroris. Dalam hal target operasi, hakikatnya tak jauh berbeda juga. Jika Amerika dan sekutunya dinilai kafir oleh para aktor bom tersebut, demikian pula Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia, mereka pun dinilai kafir oleh kaum Khawarij.

Jadi, target operasi keduanya sama-sama orang kafir di mata para eksekutor teroris itu. Pernyataan bahwa target operasi para aktor bom tersebut adalah orang kafir, hakikatnya hanya kamuflase saja. Bukankah di antara korban peledakan yang dilakukan oleh para aktor bom tersebut baik dalam tragedi Khubar (Saudi Arabia) maupun bom Bali I & II adalah kaum muslimin?! Entahlah, jika mereka semua juga dihukumi sebagai orang kafir! Lalu, apa yang membedakan mereka dengan kaum Khawarij terdahulu yang menghukumi Khalifah Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang mulia sebagai orang kafir?! Bahkan, mereka lebih sadis dan kejam dibandingkan kaum Khawarij terdahulu.

Mengingat korban kaum Khawarij bersifat spesifik pada orang-orang yang ditarget saja, sedangkan korban para aktor bom tersebut bersifat sporadis dan membabi buta. Para wanita, anak-anak, dan semisalnya dari kalangan lemah pun tak urung jadi korbannya. Kalau kaum Khawarij terdahulu dengan sadis merobek perut seorang wanita muslimah untuk mengeluarkan janinnya, maka bom para teroris itu dengan sadis dapat menghancurkan tubuh korbannya berkeping-keping dan meluluhlantakkan gedung-gedung yang kokoh.

Berikutnya, jika diandaikan bahwa korban pengeboman itu adalah orang kafir semata (padahal ada yang muslim), maka dari jenis kafir apakah mereka? Bukankah korban pengeboman tersebut mayoritasnya dari jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh dalam syariat yang mulia ini?! Sebagian mereka dari jenis kafir musta’min yaitu orang kafir yang berkunjung/wisata ke negeri muslim setelah mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dalam batas waktu tertentu. Sebagian lagi dari jenis kafir mu’ahad yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun terikat perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sebagian yang lain dari jenis kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslim dan mendapatkan jaminan dari pemerintah kaum muslimin untuk hidup secara aman.

Demikianlah tiga jenis orang kafir yang tak boleh dibunuh dan tak boleh pula dirampas hartanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih dan dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam berbagai karya tulis mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk dibunuh adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, seorang kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min.” (al-Qaulul Mufid ala Kitabittauhid 1/38)

Melacak Akar Keislaman Para Teroris

Apa yang telah lalu merupakan sepenggal catatan tentang terorisme dan korelasinya dengan kaum Khawarij terdahulu. Tentunya bila kita lebih giat mempelajari sejarah mereka, niscaya akan lebih banyak catatan berharga tentang terorisme dan para teroris itu. Setidaknya terkait dengan akar keislaman yang selalu dipegang erat oleh mereka dari masa ke masa. Berikut ini adalah tiga akar kekeliruan mendasar yang telah menjerumuskan para teroris Khawarij ke dalam lumpur terorisme yang hitam dan mengerikan itu. Mudah. mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita semua darinya.

Pertama: Akidah Takfir

Terorisme tak bisa dipisahkan dari akidah takfir, yaitu sikap mudah mengafirkan orang lain tanpa proses yang benar (syar’i). Bahkan, berbagai aksi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dan semisalnya, baik yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok, mayoritasnya disebabkan oleh akidah takfir ini. Menurut sejarah, akidah takfir diprakarsai oleh kaum Khawarij terdahulu.

Dengan akidah takfir, mereka lancang mengafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia. Mereka menghalalkan darah dan harta siapa saja yang tak sepaham dengan mereka. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan melancarkan berbagai aksi teror berskala internasional. Akidah takfir dan pergerakannya terus berlanjut secara estafet dari masa ke masa hingga hari ini. Efeknya terhadap umat sangat berbahaya sepanjang masa, yaitu mengafirkan orang yang tak sepaham, menghalalkan darah dan harta mereka, melakukan serangkaian aksi teror, serta memberontak terhadap pemerintah muslim. Apakah Usamah bin Laden dan Imam Samudra mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu? Ya, keduanya mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu. Simaklah penuturan mereka berikut ini.

• Usamah bin Laden berkata, “Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, dengan itulah mereka telah keluar dari agama (Islam) ini dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.” (Ceramah Terakhir untuk Rakyat Irak pada bulan Dzulhijjah 1423 H, MAT hlm. 252)

• Usamah bin Laden berkata, “Para pemerintah itu telah melanggar dua kalimat syahadat (syahadatain) dalam masalah yang paling prinsip. Yaitu sikap loyal mereka terhadap orang-orang kafir, menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai syariat, dan persetujuan mereka untuk berhukum kepada undang-undang atheis. Maka kepemimpinan mereka itu secara syar’i sudah lama gugur dan tidak ada lagi pemerintahan Islam setelahnya.” (al-Jazeera 5-12-1423 H, MAT hlm. 252)

• Imam Samudra berkata, “23 Mei 1924, mercusuar terakhir, benteng terakhir umat Islam, tumbang sudah… Saat Khilafah Islamiyah musnah, dunia kembali ke zaman jahiliah….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 89—90)

• Imam Samudra berkata, “Aku di jalan Islam, di jalan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mereka di atas jalan jahiliah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200)

• Imam Samudra berkata, “Tetapi manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang zalim, bodoh lagi lemah, malah membuat way of life sendiri, menandingi hukum Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna. Manusia telah menyekutukan hukum Allah dengan hukum buatannya sendiri. ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(al-Ahzab: 72) TETAPI MEREKA ANGKUH LAGI MUSYRIK, ‘Manusia dijadikan bersifat lemah.(an-Nisa’: 28)Di Indonesia, dan di mana pun, banyak kita temukan tipe manusia seperti itu. Bahkan jumlah mereka mayoritas. Mereka telah menyekutukan hukum Allah Subhanahu wata’ala dengan hukum made-in gado-gado.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200—201)

• Imam Samudra berkata , “Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara seislam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 15) Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Mengapa mereka terjatuh pada akidah takfir yang sangat berbahaya itu?” Menurut asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah sebabnya ada dua:

1. Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.

2. Ini yang terpenting, yaitu memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, pen.). (Fitnatut Takfir, hlm. 13) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas niat yang jelek. (Fitnatut Takfir, hlm. 19) Demikian pula asy-Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut-Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir wa-Dhawabithuha, hlm. 14)5

 

Kedua: Melecehkan Para Ulama Kibar (Besar)

Sejarah mencatat bahwa orangorang yang terbelenggu akidah takfir, tidak akan berjalan di atas bimbingan para ulama kibar (besar) dalam menyikapi berbagai permasalahan strategis yang ada di tengah umat. Lihatlah kaum Khawarij terdahulu! Mereka mencampakkan bimbingan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para ulama kibar (besar) di masa itu. Apa sebabnya? Tidak lain karena para sahabat tersebut tidak menyetujui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Bagaimanakah dengan Usamah bin Laden dan Imam Samudra dalam hal ini? Ternyata mereka tak jauh berbeda dengan kaum Khawarij terdahulu. Untuk lebih jelasnya, simaklah penuturan mereka berikut ini:

• Usamah bin Laden, saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa asy-Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Baz t, berkata, “Oleh karena itu, kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264)

• Imam Samudra berkata, “Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

• Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92) Mengapa para ulama kibar (besar) tersebut disikapi oleh mereka sedemikian rupa? Jawabannya sama, yaitu karena para ulama kibar (besar) tersebut tidak menyepakati penyimpanganpenyimpangan yang ada pada mereka. Subhanallah, setali tiga uang. Oleh karena itu, ketika para ulama kibar (besar) dicampakkan, tentu saja yang akan dijadikan rujukan adalah ruwaibidhah yaitu orang dungu yang berani berbicara tentang urusan strategis umat. Apabila demikian, maka jaminannya adalah kesesatan.

 

Ketiga: Akidah Khuruj alal Hukkam

Akidah khuruj alal hukkam, yaitu keyakinan boleh/wajib memberontak terhadap penguasa kaum muslimin. Sejarah mencatat bahwa akidah khuruj alal hukkam galibnya merupakan paket lanjutan dari akidah takfir, dan pelecehan terhadap para ulama kibar (besar). Demikianlah proses yang terjadi pada kaum Khawarij ketika memberontak terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Akidah khuruj alal hukkam sangat bertentangan dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahkan sebagai sebab terbesar bagi hancurnya kehidupan umat manusia.

Al-Imam Ibnul Qayyim Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan harapan dapat berbuah kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Jika pengingkaran terhadap kemungkaran itu memunculkan kemungkaran yang lebih besar (memperparah keadaan) serta lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wata’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Di antaranya pengingkaran terhadap para raja dan penguasa (kaum muslimin) dengan pemberontakan. Sungguh, hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah sepanjang masa.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/ 6) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, di antara prinsip Ahlus Sunnah yang masyhur adalah tidak boleh membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh pula memerangi mereka dengan senjata, walaupun mereka berbuat zalim. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih lagi banyak jumlahnya. Mengingat kerusakan (yang ditimbulkan oleh sikap membangkang dan memberontak, -pen.) berupa perang dan kekacauan yang lebih parah dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kezaliman penguasa semata.…. Hampir-hampir tidak ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kerusakan yang hendak dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, 3/391)6 Demikianlah sepenggal catatan tentang terorisme, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi