Kesurupan dalam Timbangan Islam

Fenomena kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Kalangan yang menolak, (lagi-lagi) masih menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”. Semoga, kajian berikut bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil, bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.

  Lanjutkan membaca Kesurupan dalam Timbangan Islam

Buku-Buku Sesat Perusak Agama Umat

Buku (agama) adalah pengikat ilmu. Adagium demikian memang tidak ada yang mengingkarinya. Namun, tak semua yang ada di buku adalah ilmu dan tak semua buku layak dibaca. Sebab, di tengah-tengah kita, banyak bertebaran buku-buku ‘agama’ yang justru menyesatkan.

Awas Buku-Buku Sesat!

Bertebarannya beragam buku sesat di tengah-tengah umat merupakan bahaya laten yang mesti diwaspadai. Terlebih jika buku-buku itu dikemas dan diberi judul menarik serta berkesan ilmiah. Tanpa terasa, pembaca pun akan terbawa, terpola oleh isi buku, dan ujung-ujungnya terjerumus ke dalam kesesatan.

Pasalnya, buku-buku sesat merupakan salah satu media paling efektif yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk merusak agama umat dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran.

Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir al-’Uraini rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, di antara media terkuat yang mereka gunakan untuk menyebarkan pemikiran menyimpang dan menyesatkan hamba-hamba Allah adalah buku-buku yang dihiasi dengan judul-judul menarik untuk mengesankan kepada para pembaca bahwa ia baik, padahal isinya racun yang mematikan.” (at-Tahdzir Minat Tasarru’ fit Takfir, hlm. 51)

Mungkin Anda terheran-heran, seraya bergumam, “Apalah arti sebuah buku, benda yang tak mampu berbicara apalagi berceramah. Mungkinkah ia menjadi salah satu media paling efektif untuk merusak agama umat?”

Sebagai jawabannya, simaklah keterangan berikut:

  1. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (ketika menjelaskan kronologi terjadinya kesesatan di muka bumi, –pen.) berkata, “ … Hingga sampailah pada awal abad ke-3 Hijriah, ketika kaum muslimin dipimpin Khalifah Abdullah al-Ma`mun (salah seorang khalifah Bani ‘Abbasiyah,-pen.). Dia mencintai ilmu. Majelisnya selalu diramaikan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Sampai akhirnya (beliau terpengaruh dengan sebagian mereka,-pen.) dan terkondisikan untuk gandrung dengan hal-hal yang berbau akal (mengedepankan logika).

Dia akhirnya memerintahkan penerjemahan buku-buku sesat Yunani kuno. Bahkan, demi programnya ini, ia datangkan para penerjemah dari berbagai negeri hingga terciptalah terjemahan dalam bahasa Arab. Akibatnya kaum muslimin disibukkan dengan (membaca) buku-buku sesat tersebut.

Al-Ma`mun sendiri yang memprakarsai program tersebut semakin larut dan terbawa buku-buku sesat itu hingga majelisnya pun didominasi gerombolan Jahmiyah (yang banyak mengandalkan akal dalam memahami agama,-pen.) yang pada masa Khalifah al-Amin, kakak al-Ma`mun, justru menjadi buronan. Ada yang tertangkap kemudian dipenjara, ada pula yang dibunuh.

Orang-orang inilah yang meracuni dan membisikkan bid’ah Jahmiyah ke telinga dan hati al-Ma`mun, hingga merasuklah bid’ah itu pada dirinya dan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan, dia mengajak manusia kepada bid’ah tersebut dan menghukum siapa saja yang tidak menyambut ajakannya.” (ash-Shawa’iq al-Mursalah, 1/148)

  1. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al-Fadhl bin Ziyad.

Ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (al-Imam Ahmad) tentang al-Karabisi dan pemikiran yang ia lontarkan.

Muka beliau pun tampak masam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata, “Orang ini telah menyuarakan pemikiran Jahmiyah … Sesungguhnya kesesatan yang menimpa mereka itu disebabkan buku-buku sesat yang mereka susun. Mereka tinggalkan atsar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kemudian mendalami buku-buku sesat tersebut.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif karya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali hlm. 132)

Pembaca, dari keterangan di atas dapatlah diambil pelajaran yang sangat berharga bahwa buku-buku sesat sangat berbahaya bagi umat. Buku-buku tersebut merusak agama umat dan dapat menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sampai-sampai al-Ma`mun yang ketika itu menjabat khalifah dan sejak kecil hafal al-Qur`an menjadi sesat akibat buku-buku sesat Yunani Kuno dan buku-buku sesat karya tokoh-tokoh Jahmiyah pada masanya.

Sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaah Terhadap Buku-buku Sesat

Setiap muslim berkewajiban untuk membentengi dirinya dari kesesatan dan segala bentuk medianya. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman,

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓاْ أَهۡوَآءَ قَوۡمٖ قَدۡ ضَلُّواْ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيرٗا وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ٧٧

“Katakanlah, ‘Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelumnya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma`idah: 77)

 

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikatakan oleh sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu,

“Orang-orang (para sahabat) selalu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku selalu bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku.

Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu tenggelam dalam kehidupan jahiliyah dan kejelekan, kemudian Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan (Islam) ini. Apakah setelah kebaikan ini akan ada kejelekan?’

Beliau bersabda, ‘Ya.’

Aku pun berkata, ‘Dan apakah setelah kejelekan itu akan ada kebaikan lagi?’

Beliau bersabda, ‘Ya, namun padanya terdapat kesuraman (pergeseran dalam agama).’

Aku berkata, ‘Apa bentuk kesuraman itu?’

Beliau bersabda, ‘Adanya suatu kaum yang berprinsip dengan selain Sunnahku dan mengambil petunjuk dengan selain petunjukku. Engkau mengetahui apa yang datang dari mereka dan bisa mengingkari.’

Aku pun berkata, ‘Apakah setelah adanya kebaikan itu akan ada kejelekan lagi?’

Beliau bersabda, ‘Ya, munculnya sekelompok dai yang berada di pintu-pintu Jahannam. Barang siapa menyambut ajakan mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam itu.’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa nasihatmu jika aku mendapati kondisi seperti itu?’

Beliau bersabda, ‘Berpegangteguhlah dengan jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka.’

Aku berkata, ‘Bagaimana jika mereka (kaum muslimin) tidak mempunyai jamaah dan imam?’

Beliau bersabda, ‘Hendaknya engkau tinggalkan semua kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) itu, walaupun engkau terpaksa harus menggigit akar pohon, sampai kematian mendatangimu dalam keadaan engkau seperti itu.’ (HR. al-Bukhari, no. 7084 dan Muslim no. 1847, dengan lafadz Muslim)

Adapun para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam gambarkan dalam sabdanya,

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari pemutarbalikan pemahaman agama yang dilakukan orang-orang yang menyimpang, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang jahil.” (HR. al-Khathib al-Baghdadi dalam Syaraf Ash-habil Hadits hlm. 11; asy-Syaikh al-Albani menukilkan penilaian sahih dari al-Imam Ahmad dan al-’Ala`i dalam Misykatul Mashabih)

Karena itu, ketika merasakan adanya bahaya terselubung dari buku-buku sesat tersebut, mereka tampil untuk membentengi umat dari kesesatan-kesesatannya.

Hal itu bisa dilihat dari sikap dan pernyataan mereka berikut ini:

  1. Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata,

“Asy-Syaikh Muwaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah melarang (umat, -pen.) membaca buku-buku ahlul bid’ah. Beliau berkata, ‘Dahulu salafus shalih melarang duduk-duduk bersama ahlul bid’ah, membaca buku mereka, dan mendengarkan ucapan mereka’.” (al-Adab asy-Syar’iyah, dinukil dari kitab Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 132)

  1. Al-Marrudzi rahimahullah berkata,

Aku sampaikan kepada al-Imam Ahmad, “Aku telah meminjam sebuah buku yang di dalamnya banyak sekali kejelekan. Setujukah Anda apabila aku merobek atau membakarnya?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Aku pun membakarnya. (ath-Thuruq al-Hukmiyah, karya Ibnul Qayyim hlm. 282)

  1. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di tangan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, sebuah buku yang disadur dari Taurat. Ketika itu ‘Umar merasa takjub akan kesesuaiannya dengan al-Qur`an. Memerahlah wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena marah) hingga akhirnya ‘Umar membawa buku tersebut lalu memasukkannya ke dalam tungku.

Bagaimana halnya seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat buku-buku yang ditulis sepeninggal beliau yang menyelisihi kandungan al-Qur`an dan as-Sunnah? Wallahul Musta’an.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memerintahkan siapa saja yang menulis sesuatu dari beliau selain al-Qur`an agar menghapusnya, walaupun akhirnya beliau mengizinkan penulisan as-Sunnah dan tidak mengizinkan selain itu. Semua buku yang menyelisihi Sunnah Nabi tidaklah diperbolehkan. Sepantasnya buku-buku tersebut dihapus atau dimusnahkan karena demikian berbahaya bagi umat.

Para sahabat pernah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf ‘Utsmani karena kekhawatiran mereka akan perselisihan umat. Bagaimanakah apabila mereka melihat buku-buku sesat yang dapat menjerumuskan umat kepada perselisihan dan perpecahan?!”

Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan perkataannya,

“Maksud kami, buku-buku yang mengandung kedustaan dan kebid’ahan itu harus dimusnahkan. Memusnahkannya lebih utama daripada memusnahkan alat-alat musik dan bejana-bejana khamar. Sebab, bahaya buku-buku itu jauh lebih besar daripada bahaya alat-alat musik dan bejana khamar. Tidak ada denda bagi yang memusnahkannya, sebagaimana pula tidak ada denda bagi siapa saja yang memecahkan bejana-bejana khamar dan merusak tempat-tempat penyimpanan khamar lainnya.” (ath-Thuruq al-Hukmiyah hlm. 282)

  1. Al-Hafizh Sa’id bin ‘Amr al-Bardza’i berkata,

“Aku telah menyaksikan Abu Zur’ah ar-Razi ditanya tentang al-Harits al-Muhasibi dan buku-buku karya tulisnya. Beliau menjawab, ‘Hati-hatilah engkau dari buku-buku itu, karena ia merupakan buku-buku bid’ah dan sesat. Cukuplah bagimu hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena engkau akan mendapati (di dalam hadits-hadits itu) apa yang memuaskanmu.’

Kemudian disampaikanlah kepada Abu Zur’ah bahwa di dalam buku-buku itu terdapat ibrah (pelajaran berharga). Beliau pun menjawab, ‘Barang siapa tidak bisa mendapatkan ibrah dari al-Qur`an maka dia tidak akan bisa mendapatkan ibrah dari buku-buku tersebut.’

Apakah telah sampai pada kalian bahwa al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, dan al-Imam al-Auza’i pernah menulis buku-buku semacam ini? Betapa cepatnya umat manusia condong kepada kepada kebid’ahan!” (Mizanul I’tidal fi Naqdir Rijal karya al-Imam adz-Dzahabi, 1/431)

  1. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata,

“Itu baru semacam al-Harits! Lalu bagaimanakah jika Abu Zur’ah melihat buku-buku para mutaakhirin, seperti kitab al-Quut karya Abu Thalib? Itu baru buku semacam al-Quut!

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Bahjatul Asrar karya Ibnu Jahdham dan kitab Haqaiq at-Tafsir karya as-Sulami?! Sungguh, akan copot jantungnya.

Bagaimanakah jika beliau melihat karya Abu Hamid ath-Thusi (al-Ghazali) yang tidak jauh dari itu dan sarat dengan hadits-hadits palsu di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin?

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab al-Ghunyah karya Abdul Qadir?

Bagaimana pula jika beliau melihat Fushushul Hikam dan al-Futuhat al-Makkiyah?! (Mizanul I’tidal, 1/431)

  1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali berkata,

“Semoga Allah merahmati al-Imam adz-Dzahabi. Bagaimana seandainya beliau melihat kitab semacam ath-Thabaqat karya asy-Sya’rani, Jawahirul Ma’ani dan Bulughul Amani fi Faidhi Abil ‘Abbas at-Tijani karya ‘Ali bin Harazim al-Fasi, Khazinatul Asrar karya Muhammad Haqqi an-Nazili, Nurul Abshar karya asy-Syablanji, Syawahidul Haq fi Jawazi al-Istighatsah bi Sayyidil Khalqi dan kitab Jami’ Karamatil Auliya karya an-Nabhani?!

Bagaimanakah jika beliau melihat kitab Tablighi Nishab dan buku karangan tokoh-tokoh tarekat Sufi selainnya?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Ghazali masa kini yang menyerang Sunnah Nabi, melecehkan para pembawanya dan para pemuda Salafi yang berpegang teguh dengannya, serta menikam mereka dengan tuduhan-tuduhan yang sangat keji dan julukan-julukan yang sangat jelek?!

Bagaimanakah beliau jika melihat karya-karya al-Maududi dan segala bentuk penyimpangannya, baik dalam hal akidah, akal, dan suluk?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Qaradhawi yang membela ahlul bid’ah dan memperjuangkan kebid’ahan, bahkan mempromosikan prinsip-prinsip kebid’ahan tersebut? Yusuf al-Qaradhawi sejalan dengan al-Ghazali masa kini, bahkan lebih berbahaya!

Bagaimanakah jika beliau melihat sekelompok dai pada zaman kita ini, yang justru mendalami buku-buku sesat, bahkan memperjuangkan dan membela kelompok-kelompok sesat dan tokoh-tokohnya dari kalangan ahlul bid’ah?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya Sa’id Hawwa dalam hal kesufian dan politik yang jauh menyimpang?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Kautsari dan murid-muridnya, Abu Ghuddah dkk., dari kalangan gembong (bid’ah, -pen.) yang sangat fanatik kepada sufi dan mazhab?!

Bagaimanakah jika beliau melihat karya-karya al-Buthi dan sejenisnya dari musuh-musuh as-Sunnah, musuh-musuh madrasah tauhid, dan madrasah Ibnu Taimiyah?!

Bagaimanakah jika beliau melihat umat ini bahkan kalangan pemudanya yang condong kepada tauhid tetapi tidak mengerti manhaj salaf, bahkan tidak mengerti al-Qur’an dan as-Sunnah, dan justru menyambut baik buku-buku yang menyesatkan tersebut?!

Duhai kiranya… Adakah orang-orang yang tampil membantah buku-buku sesat tersebut dengan misi membentengi agama dan akidah para pemuda dari kesesatan buku-buku itu?!

Duhai kiranya… Adakah orang-orang yang menjaga agama ini dari bidikan panah tokoh-tokoh sesat itu dan tuduhan-tuduhan keji mereka yang sangat keterlaluan?! (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 132)

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits yang diriwayatkan Abdul Malik bin Harun,

“Akan tetapi, hadits ini juga diriwayatkan oleh para ulama yang menulis tentang amalan-amalan pagi dan petang, seperti Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim. Di dalam buku-buku semacam ini banyak sekali hadits-hadits palsu yang tidak boleh dijadikan sandaran dalam syariat, menurut kesepakatan ulama.

Hadits ini juga diriwayatkan Abusy Syaikh al-Ashbahani di dalam kitabnya Fadhail A’mal, dan di dalam kitab ini juga terdapat hadits-hadits dusta dan palsu yang cukup banyak.” (al-Qa’idah al-Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hlm. 164—165)

Masih banyak lagi buku-buku yang diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam tulisan dan fatwa beliau. Hal itu semata-mata untuk membentengi umat dari berbagai kesesatan.

  1. Para imam Islam sepanjang masa juga senantiasa berpegang teguh dengan prinsip ini. Bahkan, mereka tak segan-segan menulis buku bantahan terhadap buku-buku sesat itu. Lihatlah apa yang ditulis al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyati waz Zanadiqah.

Lihatlah bantahan al-Imam ad-Darimi terhadap Bisyr al-Marisi, juga bantahan Ibnu Abdil Hadi -salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- terhadap as-Subki.

Adapun bantahan-bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap ahlul bid’ah tidak terhitung banyaknya. Beliau benar-benar seperti pedang terhunus bagi mereka. Lihatlah kitabnya ar-Raddu ‘alal Akhna’i dan ar-Raddu ‘alal Bakri, bantahannya terhadap Imamul Haramain dalam kitab Dar’u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naqli, bantahan terhadap ar-Razi dalam kitab Talbisul Jahmiyyah, dan bantahannya terhadap al-Ghazali dan Ibnul Muthahhar dalam kitab Minhajus Sunnah.

Demikianlah secara berkesinambungan hingga zaman kita ini, para ulama as-Sunnah selalu mengangkat tinggi bendera as-Sunnah dan membelanya, memerangi bid’ah, memperingatkan (umat) dari ahlul bid’ah dan buku-buku mereka.

Segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan di zaman kita ini orang-orang yang menjaga kemurnian agama dan membela akidah salafiyah sehingga tidak tercemari oleh berbagai kotoran.

Perhatikanlah kitab-kitab asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, penuh dengan bantahan-bantahan terhadap ahlul bid’ah. Perhatikanlah bantahan beliau terhadap al-Kautsari dan muridnya, Abdul Fattah Abu Ghuddah, serta ash-Shabuni dalam hal sifat-sifat Allah! Anda akan mendapatinya dengan jelas di dalam kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah.

Al-Mu’allimi juga membantah al-Kautsari dalam kitab at-Tankil.

Perhatikan pula bantahan-bantahan asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah terhadap ahlul bid’ah, seperti bantahannya terhadap Abu Ghuddah di dalam mukadimah kitab al-’Aqidah ath-Thahawiyah dan kitab beliau Kasyfun Niqab, juga bantahan beliau terhadap Muhammad al-Buthi. Kaset-kaset beliau pun penuh dengan diskusi tentang ahlul bid’ah serta membongkar tipu daya dan kerancuan-kerancuan mereka.

Demikian pula bantahan-bantahan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan terhadap ahlul bid’ah, seperti bantahan beliau terhadap al-Buthi dalam kitab as-Salafiyyah dan bantahan beliau terhadap ash-Shabuni.

Bantahan-bantahan asy-Syaikh al-‘Allamah Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah terhadap ahlul bid’ah pun sangat banyak. Di antaranya kitab ar-Raddul Qawi ‘Alal Mujrimil Atsim, al-Qaulul Baligh Fit Tahdzir Min Jama’atit Tabligh, dan al-Ihtijaj Bil Atsar ‘Ala Man Ankara al-Mahdi al-Muntazhar.

Lihatlah apa yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam menyingkap akidah Sayyid Quthub dan bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan terhadapnya dalam empat kitab yang sangat berharga: (1) Adhwa Islamiyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, (2) Matha’in Sayyid Quthub Fi Ash-habi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, (3) al-‘Awashim Mimma Fi Kutubi Sayyid Quthub Minal Qawashim, dan (4) al-Haddul Fashil Bainal Haqqi wal Bathil.

Masih banyak lagi ulama selain mereka yang membongkar buku-buku sesat, siang dan malam, baik secara sembunyi dan terang-terangan, dengan mengharap pahala dari Allah azza wa jalla. (Untuk lebih rincinya, silakan lihat Majalah Asy Syariah, edisi “al-Jarh wat Ta’dil”)

Prinsip Al-Muwazanah, Sebuah Metode Sesat yang Mengatasnamakan Ahlus Sunnah

Belakangan ini marak al-muwazanah, sebuah metode dalam mengkritisi buku-buku dan yang lainnya. Metode ini mengharuskan penyebutan kebaikan di samping penyebutan kesalahan/kesesatannya. Metode ini diusung para tokoh Sururiyah semacam Salman al-’Audah dalam bukunya Akhlaqud Da’iyah dan Ahmad bin Abdurrahman ash-Shuwayyan dalam bukunya Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Taqwiimir Rijali wal Muallafat, serta para pengekornya.

Dengan metode bid’ah ini, terlindungilah para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka. Umat pun bingung, karena tidak adanya ketegasan dalam menyikapi para penyeru kesesatan dan buku-buku sesat mereka itu.

Berikut ini fatwa para ulama tentang prinsip sesat al-muwazanah:

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz

Beliau ditanya tentang manhaj Ahlus Sunnah dalam mengkritik ahlul bid’ah dan buku-buku mereka. Apakah harus menyebutkan kebaikan dan kejelekan-kejelekan mereka sekaligus, ataukah hanya menyebutkan kejelekannya saja?

Beliau menjawab, “Yang dikenal dari perkataan ulama adalah mengkritik kejelekan (kesesatan) dalam rangka peringatan (tahdzir); menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada pada mereka (ahlul bid’ah dan buku-buku mereka,-pen.) dalam rangka memperingatkan (umat,-pen.) dari kesalahan-kesalahan tersebut. Adapun hal-hal yang baik, semuanya tahu dan bisa diterima. Namun, tujuannya adalah memperingatkan (umat,-pen.) dari kesesatan-kesesatan mereka. Jahmiyah, Mu’tazilah, Syi’ah Rafidhah, dan sejenisnya.

Adapun jika mendesak untuk disebutkan sisi kebenaran yang ada pada mereka, boleh disebutkan. Demikian juga bila ada yang bertanya, ‘Apa sisi kebenaran yang ada pada mereka? Sisi mana saja yang sama dengan Ahlus Sunnah?’ Apabila yang ditanya mengetahui hal tersebut, boleh dia menyebutkannya. Namun, tujuan utama dan terpenting dari ini semua adalah menjelaskan kebatilan yang ada pada mereka agar si penanya berhati-hati dari kebatilan tersebut dan tidak condong kepada mereka.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa`if, hlm. 8)

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz juga ditanya, “Ada orang-orang yang mewajibkan al-muwazanah. (Menurutnya) apabila engkau mengkritik dan memperingatkan umat dari seorang ahlul bid’ah karena kebid’ahannya, engkau harus menyebutkan kebaikan-kebaikannya pula, agar tidak menzalimi-nya!”

Beliau menjawab, “Tidak. Tidak harus demikian, tidak harus demikian! Sebab, jika engkau membaca buku-buku Ahlus Sunnah, niscaya engkau akan mendapati bahwa tujuan mereka itu adalah dalam rangka peringatan (tahdzir).

Bacalah buku-buku al-Imam al-Bukhari: Khalqu Af’alil ‘Ibad, “Kitabul Adab” dari Shahih al-Bukhari; as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad, Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, bantahan ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi terhadap ahlil bid’ah, dan sebagainya.

Mereka menyebutkan (kebatilan-kebatilan ahlul bid’ah) dalam rangka memperingatkan umat darinya. Tujuannya tidaklah untuk menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, tetapi memperingatkan (umat) dari kebatilan mereka.

Adapun kebaikan-kebaikan mereka tidaklah bermanfaat bagi orang yang telah kafir. Jika bid’ahnya dari jenis bid’ah yang menyebabkan kekafiran, sirnalah kebaikannya. Jika bid’ahnya tidak menyebabkan kekafiran, dia berada pada kondisi yang membahayakan.

Jadi tujuan dari itu semua adalah menerangkan kesesatan dan kesalahan yang umat wajib diperingatkan darinya.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 9)

  1. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz al-Muhammad as-Salman berkata,

“Ketahuilah, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin, belum pernah ada sejarahnya seorang pun dari kalangan Salafus Shalih baik dari kalangan sahabat ataupun tabi’in yang mengagungkan ahlul bid’ah, mencintai mereka, dan mengajak orang untuk mencintai mereka.

Sebab, ahlul bid’ah adalah orang-orang yang berpenyakit hati. Siapa saja yang bergaul atau berhubungan dengan mereka, dikhawatirkan terjangkiti penyakit yang membahayakan itu. Seseorang yang berpenyakit dapat menularkan penyakitnya pada orang sehat, tetapi tidak sebaliknya. Maka dari itu, hati-hatilah, dan hati-hatilah dari seluruh ahlul bid’ah….” (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 9—10)

  1. Ketika ditanya tentang prinsip al-muwazanah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab,

“Jika engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, berarti engkau telah mengajak orang untuk mengikuti mereka. Jangan! Jangan engkau sebutkan (kebaikan-kebaikan mereka)! Sebutkanlah kesalahan/kesesatan yang ada pada mereka saja. Sebab, sesungguhnya engkau tidaklah berkewajiban untuk mempelajari keadaan mereka dan meluruskannya… Tugasmu adalah menerangkan kesesatan yang ada pada mereka agar mereka bertobat darinya dan agar orang-orang berhati-hati (dari kesesatan tersebut).

Adapun apabila engkau sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, niscaya mereka akan berterima kasih padamu seraya mengatakan, ‘Semoga Allah membalasimu dengan kebaikan, dan inilah yang kami inginkan…’.” (Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif hlm. 10)

  1. Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali benar-benar telah membantah prinsip sesat al-muwazanah ini hingga akar-akarnya dalam kitab beliau Manhaj Ahlis Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.

Penutup

Dari bahasan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwasanya:

  1. Buku-buku sesat dengan beragam jenisnya harus selalu diwaspadai, karena merupakan bahaya laten yang dapat merusak agama umat dan memalingkan mereka dari kebenaran.
  2. Kewajiban untuk membentengi diri dari segala jenis kesesatan, termasuk kesesatan yang terkandung dalam buku-buku sesat yang beredar di tengah-tengah umat.
  3. Di antara bentuk pembentengan diri dari buku-buku sesat adalah tidak membacanya, tidak membelinya, tidak meminjamnya; ataupun dengan memusnahkannya.
  4. Para ulama adalah pewaris para nabi. Di antara tugas mereka adalah membentengi umat dari buku-buku sesat, dengan cara memperingatkannya ataupun menulis secara khusus bantahan terhadap buku-buku sesat tersebut.
  5. Prinsip al-muwazanah di dalam menyikapi tokoh, buku, ataupun kelompok merupakan prinsip bid’ah. Dengan prinsip ini, ahlul bid’ah dan kesesatan mereka menjadi terlindungi. Akibatnya umat menjadi bingung dalam menyikapi para penyeru kebatilan dan karya tulis mereka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc

 

Kontroversi Sikap Terhadap Ahlul Bait

        Di kalangan umat, muncul perbedaan yang demikian mencolok dalam menyikapi Ahlul Bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada yang demikian tinggi memuliakan merekasampai menganggap sebagian Ahlul Bait sebagai Tuhanada pula yang demikian merendahkan dan membenci mereka.

        Ahlus Sunnah, sebagai kelompok yang senantiasa bersikap pertengahan, memiliki sikap memuliakan mereka namun tidak terlalu berlebihan. Karena Ahlul Bait juga manusia biasa, yang kemuliaan mereka tergantung pada agama mereka.

 

Siapakah Ahlul Bait?

        Ahlul Bait (أَهۡلُ ٱلۡبَيۡتِ) merupakan sebutan lain dari Alul Bait (أَلُ ٱلۡبَيۡتِ) dan Al-’Itrah (الْعِتْرَةَُ), sebagaimana yang dinyatakan al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad, asy-Syarif Abu Ja’far, dan yang lainnya. (Minhajus Sunnah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [7/75] dan Daf’ul Kadzibil Mubin, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad ‘Atha hlm. 27)

        Mereka adalah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik keluarga yang tinggal serumah dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (yakni para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) maupun keluarga yang terkait hubungan nasab dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak diperbolehkan memakan harta shadaqah. Mereka adalah semua Bani Hasyim, semua putri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga anak cucu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat. Demikian pula Bani al-Muththalib menurut salah satu pendapat para ulama. (Lihat ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya al-Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami hlm. 222, dan Minhajus Sunni, 4/595, 7/239—240)

 

Bagaimanakah Menyikapi Ahlul Bait?

        Secara garis besar, ada tiga kelompok manusia yang berkontroversi di dalam menyikapi Ahlul Bait.

  1. Kelompok Pertama: Syi’ah Rafidhah

Mereka adalah orang-orang yang sangat berlebihan di dalam memuliakan dan mengultuskan Ahlul Bait (versi mereka)[1], bahkan di antara mereka (yakni kelompok Saba’iyyah) memosisikan ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan yang berhak diibadahi. (lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, juz 1, hlm. 144—146)

        Mereka juga menyatakan bahwa para imam Ahlul Bait adalah ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui perkara-perkara gaib. Sebagaimana disebutkan al-Kulaini dalam kitabnya al-Kaafi (setingkat Shahih al-Bukhari di sisi Ahlus Sunnah) Kitabul “Hujah” juz 1, hlm. 149, dengan menukil (secara dusta) perkataan Ja’far ash-Shadiq (salah seorang Imam Ahlul Bait),

        “Kami adalah perbendaharaan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, kami adalah penerjemah wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, kami adalah kaum yang ma’shum, Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan (umat manusia) untuk menaati kami dan melarang mereka untuk menyelisihi kami… Kami adalah hujah Allah subhanahu wa ta’ala yang kokoh atas seluruh makhluk yang berada di bawah naungan langit dan berpijak di atas bumi.”

        Adapun keyakinan bahwa para imam Ahlul Bait mengetahui perkara-perkara gaib, maka bisa dilihat dalam kitab al-Kaafi pula juz 1, hlm. 200-203 Kitabul Hujah, bab ‘Sesungguhnya para imam mengetahui sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi dan tidak ada sesuatu pun yang terluput dari mereka.’

        Mereka juga berkeyakinan bahwa para imam Ahlul Bait lebih mulia dari malaikat dan nabi, sebagaimana yang dikatakan Khomeini, “Sesungguhnya di antara prinsip terpenting dari agama kami adalah tidak ada seorang pun yang dapat meraih kedudukan para imam (kami), walaupun malaikat terdekat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala atau nabi utusan Allah subhanahu wa ta’ala sekalipun.” (lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 25)

        Syi’ah Rafidhah juga berpandangan, bahwa di antara konsekuensi kecintaan kepada Ahlul Bait adalah bersikap bara’ (benci/berlepas diri) dari Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma serta mayoritas para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyyah, karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 697). Sehingga—dalam kaca mata mereka—siapa saja yang mencintai Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, maka dia tergolong sebagai musuh Ahlul Bait.

 

2. Kelompok Kedua: An-Nawashib atau An-Nashibah atau Ahlun Nashb.

        Mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa membenci dan memusuhi ‘Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya (Ahlul Bait) merupakan bagian dari agama. (Lihat Lisanul ‘Arab dan Minhajus Sunnah, 4/554)

        Mereka sangat bangga ketika berhasil menyakiti Ahlul Bait, sampai-sampai tokoh kondang mereka yang bernama ‘Imran bin Hiththan melantunkan bait-bait kegembiraannya atas keberhasilan Abdurrahman bin Muljim al-Muradi dalam operasinya membunuh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Bait “petaka” itu adalah sebagai berikut:

        “Duhai sebuah tebasan pedang dari seorang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala

        Tidaklah dia melakukannya kecuali untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala

        Sungguh hari-hariku selalu mengingatnya

Karena keyakinanku bahwa dia (Abdurrahman bin Muljim) adalah seorang yang telah meraih pahala besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Milal wan Nihal, karya asy-Syahrastani, hlm. 120)

 

3. Kelompok Ketiga: Ahlus Sunnah wal Jamaah atau as-Salafiyyun.

        Mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa mencintai Ahlul Bait merupakan suatu kewajiban dalam agama.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlu Bait Nabi merupakan kewajiban dalam agama. (Minhajus Sunnah, 7/102)

        Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Termasuk dari pemuliaan dan berbakti kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (asy-Syifa 2/47, dinukil dari catatan kaki kitab Shabbul ‘Azab, hlm. 276)

        Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kami tidak mengingkari adanya wasiat dan perintah untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan mereka. Karena mereka berasal dari keturunan yang baik, dan dari keluarga yang termulia di muka bumi ini dalam hal ketinggian derajat, kedudukan, dan nasab. Lebih-lebih jika mereka termasuk orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi….” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat asy-Syuraa ayat 23)

        Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak berlebihan dalam memuliakan Ahlul Bait sebagaimana halnya Syi’ah Rafidhah, dan juga tidak membenci Ahlul Bait sebagaimana an-Nawashib. Sikap mereka penuh dengan keadilan dan jauh dari ekstrem (ghuluw). Pijakan mereka adalah wahyu Ilahi dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hawa nafsu.

        Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Ahlus Sunnah wal Jamaah berlepas diri dari jalan Syi’ah Rafidhah yang berlebihan di dalam memuliakan sebagian Ahlul Bait dan mengklaim bahwa mereka (Ahlul Bait) ma’shum. Ahlus Sunnah juga berlepas diri dari jalan an-Nawashib yang memusuhi dan mencela Ahlul Bait yang istiqamah di atas agama ini, sebagaimana mereka berlepas diri dari jalan Ahlul Bid’ah dan Khurafat yang bertawassul dengan Ahlul Bait dan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah subhanahu wa ta’ala.” (Kitabut Tauhid, hlm. 92)

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka mereka mencintai seluruh orang-orang yang beriman, selalu berbicara dengan ilmu dan keadilan, bukan dari kalangan orang-orang bodoh lagi pengikut hawa nafsu. Mereka berlepas diri dari jalan Syi’ah Rafidhah sekaligus jalan an-Nawashib. Mereka mencintai semua sahabat yang terdahulu masuk Islam; mengerti kedudukan, keutamaan, dan keistimewaan para sahabat, serta selalu memerhatikan hak-hak Ahlul Bait yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka….” (Minhajus Sunnah, 2/71)

        Namun bukan berarti pula setiap Ahlul Bait itu lebih utama dari seluruh manusia dan semuanya wajib dicintai.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Namun bukan berarti setiap Ahlul Bait itu lebih utama dan lebih berilmu dari seluruh kaum mukminin. Karena tolok ukur keutamaan adalah sempurnanya keimanan dan ketakwaan, bukan kedekatan hubungan nasab semata, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

        “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

        Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Sikap Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait adalah sikap yang adil, yaitu mencintai mereka yang istiqamah di atas agama ini, dan berlepas diri dari yang menyimpang dan menyelisihi Sunnah Nabi walaupun dari kalangan Ahlul Bait. Karena posisinya sebagai Ahlul Bait dan kerabat Rasul tidaklah bermanfaat hingga benar-benar istiqamah di atas agama ini.

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika turun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤

        “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (asy-Syu’ara’: 214)

        maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        “Wahai kaum Quraisy!atau yang senada dengan itu. Belilah (berusahalah untuk) diri-diri kalian, aku tidak bisa menjamin kalian dari azab Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththalib! Aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun. Wahai Fathimah bintu Muhammad! Mintalah harta kepadaku sekehendakmu, namun aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun.” (HR. al-Bukhari Kitabut Tauhid, hlm. 91—91)

 

Bukti Kebenaran Sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan Kesesatan Syi’ah Rafidhah dan An-Nawashib

        Para pembaca, setelah kita ulas tiga kelompok yang berseberangan di dalam menyikapi Ahlul Bait, maka tampak jelas bagi siapa saja yang di hatinya ada kejujuran dan keadilan bahwa Ahlus Sunnahlah kelompok yang benar dan adil di dalam menyikapi Ahlul Bait. Adapun Syi’ah Rafidhah dan an-Nawashib telah terjatuh dalam sikap ekstrem (ghuluw), baik dalam hal pengultusan maupun pelecehan. Dan akan semakin jelas insya Allah, ketika mencermati ulasan berikut ini:

  1. Sikap ekstrem yang ada pada Syi’ah Rafidhah dan an-Nawashib dalam menyikapi Ahlul Bait adalah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

        Sebagaimana dalam firman-Nya,

          يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ

        “Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian ekstrem (berlebihan) dalam agama kalian.” (an-Nisa’: 171)

        Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala selalu memerintahkan untuk berbuat adil, sebagaimana dalam firman-Nya,

          ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

        “Berbuatlah adil (karena) ia lebih dekat kepada ketakwaan.” (al-Ma’idah: 8)

  1. Sikap (permusuhan) yang ditempuh an-Nawashib terhadap Ahlul Bait merupakan sikap yang batil.

        Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

          إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا ٣٣

        “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)

        Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan sabdanya,

        أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتيِ

        “Aku ingatkan kalian dengan nama Allah untuk selalu berbuat baik kepada Ahlul Baitku.” (HR. Muslim, 4/1873)

  1. Sikap pengultusan Syi’ah Rafidhah terhadap Ahlul Bait juga merupakan sikap yang batil, bahkan jauh dari kejujuran dan keadilan. Perhatikanlah poin-poin berikut ini!
    • Mayoritas mereka membatasi Ahlul Bait hanya pada ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husain. Mereka tidak memasukkan 12 putra dan 18/19 putri ‘Ali lainnya ke dalam lingkaran Ahlul Bait. Mereka juga tidak memasukkan putri-putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah ke dalam lingkaran Ahlul Bait.

Lebih dari itu mereka keluarkan anak cucu Hasan dari lingkaran Ahlul Bait. Bahkan mereka keluarkan pula anak cucu Husain yang tidak disukai seperti Zaid bin ‘Ali bin Husain dan putranya yang bernama Yahya. Demikian pula putra imam mereka Musa al-Kazhim yang bernama Ibrahim dan Ja’far. (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 20 dan Shabbal ‘Azab ala Man Sabbal Ash-haab, karya al-Imam al-Alusi hlm. 279—281)

        Di dalam Shahih Muslim (2/752—753), disebutkan bahwasanya Fadhl bin ‘Abbas dan Abdul Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muththalib, (keduanya) meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dijadikan sebagai petugas shadaqah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَحِلُّ لُحِمَمَّد وَلاَ لِآلِ مُحَمَّدٍ، وَإِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

         “Sesungguhnya shadaqah itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait), karena shadaqah merupakan kotoran manusia.”

        Para pembaca, kalau putra ‘Abbas bin Abdul Muththalib dan anak cucu al-Harits bin Abdul Muththalib masuk ke dalam lingkaran Ahlul Bait, tentunya anak cucu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dan anak cucu ‘Ali bin Abi Thalib lebih berhak masuk ke dalam lingkaran Ahlul Bait. Tidakkah kaum Syi’ah Rafidhah mau berpikir, walau sejenak?!

        Demikian pula, mereka keluarkan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari lingkaran Ahlul Bait. Mereka berdalil dengan surat al-Ahzab ayat 33, yakni lafadz (عَنكُمْ)[2] menunjukkan bahwa yang dituju adalah laki-laki, sehingga para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk dari Ahlul Bait.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—setelah menyebutkan surat al-Ahzab ayat 30—34—berkata, “Ini (justru -pen.) menunjukkan bahwa para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul Bait. Karena konteks ayat-ayat tersebut sesungguhnya tertuju untuk mereka (dimulai dengan seruan يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ / Wahai para istri Nabi -pen.).

        Firman-Nya, لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ  (untuk menghilangkan kotoran dari kalian hai Ahlul Bait) justru menunjukkan bahwa seruan tersebut juga mencakup para Ahlul Bait lainnya, seperti Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Dan Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dengan bentuk mudzakkar (laki-laki) agar seruan ini lebih mencakup orang-orang yang dituju dari lelaki dan wanita Ahlul Bait.”[3] (Minhajus Sunnah, 4/23—24)

  • Keyakinan batil mereka bahwa para imam Syi’ah mengerti perkara-perkara gaib, sehingga ketinggian kedudukan mereka tidak bisa dicapai oleh malaikat terdekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan nabi utusan Allah subhanahu wa ta’ala sekalipun, merupakan pendustaan dan pelecehan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

        Bagaimana tidak?! Dialah yang telah berfirman,

          قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ

        Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65)

        Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

        أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

        “Aku adalah pemimpin (pemuka) anak cucu Adam di hari kiamat.” (HR. Muslim, 4/1782 no. 2278)

        Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas seluruh makhluk.” (al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj 15/40)

  • Adapun klaim mereka bahwa para imam Ahlul Bait itu ma’shum berdasarkan surat al-Ahzab ayat 33, maka sungguh tidak benar.

        Karena /pembersihan dalam ayat tersebut tidak bermakna ‘ishmah (terjaga dari segala dosa). Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

        “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Ma’idah: 6)

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di dalam ayat tersebut terdapat keterangan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala suka, ridha, dan memerintahkan kalian untuk melakukan amalan-amalan tersebut[4].

        Siapa saja yang mengerjakannya maka dia akan meraih kecintaan dan keridhaan-Nya, dan siapa saja yang tidak mengerjakannya maka dia tidak dapat meraihnya.” (Minhajus Sunnah, 4/260)

        Adapun pembersihan dosa itu sendiri, maka dengan dua cara yaitu; tidak mengerjakan perbuatan dosa tersebut atau bertaubat dari dosa yang dilakukan. (Minhajus Sunnah, 7/79—80)

 

Aneh Tapi Nyata

        Dalam bahasan yang lalu, telah dijelaskan bahwasanya Syi’ah Rafidhah sangat berlebihan dalam mencintai Ahlul Bait (versi mereka). Namun ketahuilah, hakikatnya mereka tidak beda dengan an-Nawashib di dalam memusuhi Ahlul Bait. Memang ini terasa aneh, tapi itulah fakta dan kenyataan.

        Di antara sekian bukti dari permusuhan mereka terhadap Ahlul Bait adalah sebagai berikut:

  • Pernyataan mereka bahwa para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “pelacur”. Dalam Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal 57—60, ath-Thusi menukilkan (secara dusta) perkataan Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….” (Daf’ul Kadzibil Mubin, hlm. 11)
  • Pelecehan mereka terhadap ‘Ali bin Abi Thalib sebagaimana dalam kitab Salim bin Qais, hlm. 221, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama ‘Aisyah hanya mempunyai satu selimut, dan beliau pun shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur (ketika itu) di antara Ali dan ‘Aisyah dengan satu selimut tersebut. Di saat bangun malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil selimut tersebut dan meletakkannya di antara Ali dan ‘Aisyah.” (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 273)
  • Pelecehan mereka terhadap Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dia menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib karena terpaksa. Sebagaimana dalam kitab al-Kaafi (al-Furuu’ minal Kaafi), “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan ‘Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah, maka beliau pun menemui keduanya, dan Fathimah saat itu sedang menangis.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menangis? Demi Allah, kalaulah ada dari keluargaku yang lebih baik dari ‘Ali maka aku akan nikahkan kamu dengannya, tidak dengan ‘Ali. Namun Allah subhanahu wa ta’ala yang menikahkan kamu.” (Dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 272)
  • Mereka ramai-ramai mengeroyok (memukuli) Hasan bin ‘Ali, hingga salah seorang dari mereka (al-Jarrah bin Sinan) berhasil menusuk paha Hasan hingga robek dan mengenai tulangnya. (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm.
  • Mereka telah berkhianat kepada Husain bin Ali, hingga menyebabkan terbunuhnya beliau radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana yang disebutkan Muhsin al-Amin dalam A’yaanusy Syi’ah bagian I hlm. 34, “Kemudian 20.000 penduduk Irak membai’at Husain, lalu mereka berkhianat dan tidak menaatinya, padahal bai’at ada di leher mereka. Hingga akhirnya mereka membunuhnya.” (Dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 272)
  • Adapun Ahlul Bait lainnya, maka sangat banyak pelecehan terhadap mereka, sebagaimana dalam buku-buku ternama Syi’ah. (Lebih rincinya lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 266—297)

        Karena itu, tidaklah mengherankan bila:

  1. ‘Ali bin Abi Thalib berdoa (seperti yang mereka nukilkan), “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 300)
  2. Hasan bin ‘Ali berkata, “Demi Allah, menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 300)

        radhiallahu ‘anhuma. Husain bin ‘Ali berdoa, “Ya Allah, jika Engkau beri mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, maka porak porandakanlah mereka dan jadikanlah mereka berkeping-keping. Dan janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Karena kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan membunuh kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 302)

  1. ‘Ali bin Husain Zainal Abidin berkata, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 303)
  2. Muhammad al-Baqir berkata, “Kalau seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 303)
  3. Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala berlepas diri dari orang-orang yang benci terhadap Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’, karya Adz-Dzahabi, 6/260)

        Demikianlah apa yang dapat kami sajikan seputar bahasan Ahlul Bait. Mudah-mudahan kita dibimbing Allah subhanahu wa ta’ala untuk selalu bersikap adil terhadap Ahlul Bait, dan dijauhkan dari jalan an-Nawashib yang berlebihan di dalam memusuhi mereka, serta jalan Syi’ah Rafidhah yang juga memusuhi Ahlul Bait dengan berkedok kecintaan kepada mereka.

        Amiin, ya Mujibas Sa’iliin.

 Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

 


[1] Karena mereka membatasi Ahlul Bait pada orang-orang tertentu saja, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

[2] Dhamir ‘kum’ adalah kata ganti orang kedua laki-laki dalam bentuk jamak.

[3] Di dalam bahasa Arab, dhamir (kata ganti) laki-laki terkadang ditujukan untuk laki-laki dan wanita (sekaligus).

[4] Pembersihan yang terdapat pada surat Al-Ahzab ayat 33 terkait dengan perintah dan larangan yang terdapat dalam ayat 30-32. Adapun pembersihan yang terdapat pada surat al-Ma‘idah ayat 6 terkait dengan perintah bersuci (thaharah).

Kedudukan Para Sahabat di Sisi Allah dan Rasul-Nya serta Kaum Mukminin

Sesungguhnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta di sisi kaum mukminin.

Allah ‘azza wa jalla telah memuji mereka dalam al-Qur’anul Karim, mengabarkan keridhaan-Nya kepada mereka dan keridhaan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Firman Allah ‘azza wa jalla,

          كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

        “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)

 

          وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ

        “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan) kalian.” (al-Baqarah: 143)

 

Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Lafadz ini (di atas) walaupun sifatnya umum, namun yang dimaksud adalah orang-orang tertentu (yaitu para sahabat). Ada yang berpendapat bahwa ini hanya berkaitan dengan para sahabat.”

لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨

        “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya.” (al-Fath: 18)

 

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ

        “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan mereka pun ridha pada Allah.” (at-Taubah: 100)

 

          وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلسَّٰبِقُونَ ١٠  أُوْلَٰٓئِكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ ١١ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ١٢

        “Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk al-jannah). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Dalam al-jannah yang penuh dengan kenikmatan.” (al-Waqi’ah: 1012)

 

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٤

        “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (al-Anfal: 64)

 

          لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ٨

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

        “(Juga) bagi para orang-orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya), mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 89)

 

Ayat-ayat lainnya cukup banyak tentang keutamaan dan kedudukan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memuji para sahabat dan menjelaskan keutamaan mereka dalam banyak haditsnya. Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

        خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَجِيئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia (generasi) adalah yang hidup di abadku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. al-Bukhari no. 3650 dari ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, dan Muslim no. 4533 dari Ibnu Mas’ud, ‘Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum)

 

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah mencela para sahabatku, janganlah mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), kalaul salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka (para sahabat) yang hanya sebesar cakupan tangan atau setengahnya.” (HR. al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

 

Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Janganlah kalian mencela para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, keberadaan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walau sesaat, lebih baik daripada ibadah salah seorang dari kalian sepanjang hidupnya.” (Syarh ath-Thahawiyyah hlm. 532, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sahih”)

 

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla melihat kepada hati segenap hamba-Nya. Didapatilah hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hati yang terbaik di antara hati para hamba. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla memilih dan mengutusnya untuk mengemban risalah-Nya.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla melihat kepada hati para hamba, maka didapatilah hati para sahabat Nabi sebagai hati-hati terbaik (setelah hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), sehingga Allah ‘azza wa jalla jadikan mereka sebagai para pembela Nabi-Nya, siap bertempur di atas agamanya. Segala yang dipandang baik oleh para sahabat, maka di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah baik; dan segala yang dipandang buruk oleh mereka, buruk pula di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 532, asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata bahwa hadits ini hasan mauquf, diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, Ahmad, dan yang lainnya dengan sanad yang hasan, dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

 

Al-Imam ath-Thahawi rahimahullah (ketika menjelaskan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah) berkata, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak pula berlepas diri (bara’) terhadap siapa pun dari mereka.

Kami membenci siapa saja yang membenci para sahabat dan yang menjelek-jelekkan mereka. Tidaklah kami menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.

Kecintaan kepada mereka adalah bagian dari agama, iman, dan ihsan. Adapun kebencian terhadap mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan perbuatan yang melampaui batas.” (Syarh ath-Thahawiyyah, hlm. 528)

 

Setelah menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits seputar kedudukan dan keutamaan para sahabat, al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang semakna dengan ini cukup banyak. Semuanya sesuai dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an. Semua itu membuktikan tentang kesucian para sahabat, kepastian keadilan dan kebersihan mereka.

Dengan adanya rekomendasi untuk mereka dari Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, sungguh tidak seorang pun dari mereka yang butuh rekomendasi siapa pun dari makhluk di muka bumi ini.

 

Para sahabat akan senantiasa berada dalam posisi yang mulia ini. Kecuali apabila salah seorang dari mereka benar-benar terbukti melakukan kemaksiatan dengan sengaja, gugurlah keadilan (rekomendasi) tersebut.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala telah membersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut, bahkan mengangkat derajat mereka di sisi-Nya. Kalaulah nash-nash pujian dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya untuk mereka ini tidak ada, amalan-amalan mereka, seperti hijrah, jihad, membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, mengorbankan nyawa dan harta, siap bertempur melawan orang tua dan anak mereka (karena agama), saling menasihati dalam urusan agama, serta kuatnya iman dan keyakinan mereka, sudah menunjukkan secara yakin tentang keadilan dan kesucian mereka serta menjadi bukti bahwa mereka lebih utama dari semua pemberi rekomendasi dari generasi yang setelah mereka selama-lamanya. Inilah pendapat keseluruhan ulama dan fuqaha yang diperhitungkan ucapannya.” (al-Kifayah, hlm. 96)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam firman-Nya,

          وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ ١٠

        “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan sudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)

 

Juga menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ‘Janganlah mencela para sahabatku, janganlah mencela para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka (para sahabat) yang hanya sebesar cakupan dua telapak stangan atau setengahnya’, menerima segala yang terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ tentang keutamaan dan martabat mereka, berlepas diri dari prinsip Syi’ah Rafidhah yang membenci dan mencela mereka, serta dari prinsip Nawashib yang menyakiti Ahlul Bait (keluarga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan perkataan dan perbuatannya.

 

Ahlus Sunnah Wal Jamaah menahan diri dari apa yang terjadi di antara para sahabat (berupa fitnah), dengan mengatakan, Sesungguhnya riwayat-riwayat tentang kejelekan mereka ada yang palsu, ada yang ditambah dan dikurangi, serta diubah-ubah dari yang sebenarnya.

Adapun yang terjadi dengan sebenarnya, mereka mendapatkan uzur dalam permasalahan tersebut. Di antara mereka ada yang berijtihad dan benar ijtihadnya, ada pula yang berijtihad, namun keliru ijtihadnya.

 

Barang siapa memerhatikan perjalanan hidup mereka dan segala keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada mereka dengan ilmu dan bashirah, pasti dia akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa mereka adalah makhluk terbaik setelah para nabi. Tidak ada yang menyamai mereka, baik dahulu maupun di masa yang akan datang.

Mereka adalah generasi pilihan umat ini, sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla.” (al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 142151)

 

(Diterjemahkan dari kitab Matha’in Sayyid Quthb fi Ash-habi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “al-Fashluts Tsani: Makanatu Ashhabir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘indallahi wa Rasulihi wal Mu’minin,” hlm. 5256, karya Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi)

 

Buah karya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali

Kesudahan Orang-Orang Yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan demikian tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sungguh mengherankan, ada orang-orang yang berani melecehkan mereka dan senantiasa berusaha mencari kelemahan mereka. Orang-orang yang berani merendahkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar tidak tahu diri, tidak tahu kapasitas dirinya.

Lanjutkan membaca Kesudahan Orang-Orang Yang Mencela Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan

 

Bagi orang yang tidak mengenal secara mendalam tentang kelompok Hizbut Tahrir, tentu akan menganggap tujuan mereka yang ingin mendirikan Khilafah Islamiyah sebagai cita-cita mulia. Namun bila mengkaji lebih jauh siapa mereka, siapa pendirinya, bagaimana asas perjuangannya dan sebagainya, kita akan tahu bahwa klaim mereka ingin mendirikan Khilafah Islamiyah ternyata tidak dilakukan dengan cara-cara yang Islami.

Lanjutkan membaca Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat Suatu Gerakan

Bai’at Antara Prespektif Ilmiah Ahlussunnah dan dugaan Sesat ahlul Bid’ah wal Furqoh

Ketika mendengar kata bai’at, sebagian kita barangkali akan terbayang pada sebuah sikap ketundukan dan kesetiaan dari seorang pengikut jamaah (baca: Islam sempalan) kepada pemimpinnya. Realita yang ada memang menunjukkan mayoritas jamaah yang ada menerapkan aturan bai’at ini kepada anggota kelompoknya. Tentu dengan pemahaman keliru dari masing-masing kelompok tersebut.

Dari pemahaman keliru itu kemudian lahir perilaku menyimpang yang menjurus kepada perbuatan ekstrem, seperti rela menyerahkan sebagian besar hartanya untuk kelompoknya atau menganggap kafir orang-orang yang tidak berbai’at kepada pemimpin kelompoknya. Tulisan berikut mencoba mendudukkan permasalahan bai’at dalam perspektif Ahlus Sunnah, supaya kita mendapatkan pemahaman yang benar tentang bai’at dan menerapkannya secara benar pula.

Masalah bai’at merupakan salah satu topik menarik untuk dikaji saat ini. Pasalnya, masalah yang satu ini cukup ramai dibicarakan di dunia dakwah. Simpang siur pendapat dalam masalah ini pun cukup membuat bingung kaum muslimin bahkan para aktivis dakwah itu sendiri. Sementara itu, realita yang berkembang menunjukkan tidak sedikit dari mereka yang memahami hadits-hadits tentang bai’at dengan akal pikiran mereka semata, tanpa merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kondisi pun semakin runyam ketika kepentingan pribadi, kepentingan kelompok ataupun ideologi kelompok ikut berkompeten, sehingga tak ayal bila bai’at akhirnya menjadi senjata pamungkas untuk menjaring para pengikut jamaah dakwah agar tidak lepas darinya. Kalaulah akhirnya lepas juga, maka vonis khianat,

murtad dari jamaah, kafir, bahkan target operasi pembunuhan pun terkadang dijatuhkan, sebagaimana yang kerap dilakukan oleh ahlul bid’ah wal furqah. Wallahul musta’an.

 

Apa Itu Bai’at?

Bai’at ( بَيْعَةٌ ) merupakan bentuk mashdar dari ( بَاعَ-يَبِيعُ ), yang maknanya: Berjabat tangan atas terjadinya jual beli atau berjabat tangan untuk berjanji setia dan taat. (Lisanul ‘Arab, 1/195, cet. Daar Shadir)

Adapun secara terminologi maka maknanya adalah: Pengikatan janji setia dan taat kepada seorang pimpinan untuk selalu menaati perintahnya baik di kala senang ataupun terpaksa, serta menyerahkan segala urusan dirinya dan urusan kaum muslimin kepadanya, dengan tidak menentangnya sedikit pun dalam urusan itu. (Iklilul Karamah, karya al-Imam Shiddiq Hasan Khan, hlm. 26)

Pelaksanaan bai’at dilakukan dengan menjabat tangan pimpinan yang dibai’at, seraya mengatakan, “Aku membai’atmu” atau “Aku membai’atmu untuk selalu mendengar dan taat, di masa sulit atau mudah dan di kala senang atau terpaksa (sebatas kemampuanku –pen.).” Bila pembai’at itu dari kalangan wanita, maka cukup dengan ucapan tanpa berjabat tangan. (Lihat I’lamul Muwaqqi’in, 3/97)

Dan bai’at yang dilaksanakan ahlul halli wal ‘aqdi, sudah mewakili kaum muslimin di suatu negeri tertentu. Sehingga dengan bai’at mereka kaum muslimin di negeri tersebut menjadi wajib untuk mendengar dan taat kepada pemimpin yang telah dibai’at itu. (Lihat al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 134)

 

Siapakah yang Berhak Dibai’at?

Bai’at hanya berhak diberikan kepada seorang imam (pemimpin) kaum muslimin. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah kepada Ishaq bin Ibrahim bin Hani, “Tahukah kamu siapakah yang dimaksud dengan imam? Dia adalah seorang yang disepakati oleh kaum muslimin sebagai pemimpin mereka, itulah makna imam.” (Masa’il Ibni Hani no. 2011, dinukil dari Nashihah Dzahabiyyah, karya Masyhur Hasan Salman, hlm. 281; as-Sunnah karya al-Khalal, 1/81)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Bai’at tidak (boleh) diberikan kecuali kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin. Adapun aneka ragam bai’at yang diberikan kepada selain pemimpin kaum muslimin maka merupakan bai’at yang bid’ah.” (Fiqhus Siyasah Asy-Syar’iyyah, hlm. 9—10)

Lalu bagaimana bila kaum muslimin tidak mempunyai pemimpin (khalifah) yang memimpin mereka secara keseluruhan di dunia ini, kepada siapakah mereka berbai’at?

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Para imam dari setiap mazhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum al-Imam Ahmad sampai hari ini tidak berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.” (ad-Durar as-Saniyyah, 7/239, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 34, lihat pula masalah ini dalam Iklilul Karamah hlm. 127)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Adapun setelah tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasa pun tidak berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karena itu, (dalam kondisi seperti itu -pen.) tidak mengapa berbilangnya pemimpin dan penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen.). Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan larangan (aturan -pen.) pimpinan tersebut untuk menaatinya.” (as-Sailul Jarrar, 4/512 dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 37)

Berdasarkan penukilan yang demikian jelas dari sebagian ulama di atas tentang boleh berbilangnya pemimpin, dikarenakan darurat dan kebutuhan (kaum muslim kepadanya-pen.), maka para pemimpin kaum muslimin yang ada di dunia ini (baik yang memimpin kerajaan ataupun negara-pen.) secara syar’i (sah) mempunyai wewenang sebagaimana wewenang al-Imam al-A’zham (khalifah) ketika masih ada, sehingga mereka berwenang untuk menegakkan hudud dan yang sejenisnya, mereka berhak untuk didengar dan ditaati serta tidak diperbolehkan keluar dari ketaatan terhadap mereka (baik dengan cara memberontak ataupun yang lainnya -pen.). (Mu’amalatul Hukkam, karya asy-Syaikh Abdus Salam Barjas hlm. 38)

Demikianlah perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Adapun ahlul bid’ah wal furqah, mereka terbagi menjadi 2 kelompok yang saling bertolak belakang :

 

  1. Kelompok Pertama

Berkeyakinan bahwa bai’at hanya berhak diberikan kepada seorang khalifah yang memimpin kaum muslimin secara keseluruhan di dunia ini, lebih dari itu harus dari kalangan Quraisy.

Maka dari itu, seluruh pemimpin kaum muslimin yang ada di dunia saat ini baik presiden maupun raja tidak berhak dibai’at serta tidak berhak didengar dan ditaati perintah-perintahnya. (Disarikan dari al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hlm. 108)

 

Bantahan:

  1. Pernyataan ini sangat batil dan jauh dari kebenaran.
  • Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

مَنْ خَرَجَ عَنِ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الَجمَاعَةَ وَمَاتَ فَمِيْتَتُهُ مِيْتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Barang siapa keluar dari ketaatan (kepada penguasa) dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin, lalu meninggal dunia, maka meninggalnya dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim, Kitabul “Imarah,” 3/1476)

Beliau berkata, “Yang dimaksud keluar dari ketaatan (dalam hadits di atas-pen.) adalah (keluar dari) ketaatan terhadap pemimpin yang disepakati. Dan tampaknya yang dimaksud adalah pemimpin di wilayahnya masing-masing, karena sejak masa Daulah Abbasiyyah kaum muslimin di dunia ini tidak lagi berada dalam kepemimpinan seorang pemimpin (khalifah), bahkan masing-masing dari penduduk suatu daerah berdiri sendiri bersama seorang pemimpin yang mengatur urusan mereka. Kalaulah hadits ini diterapkan hanya pada seorang khalifah yang memimpin kaum muslimin secara keseluruhan di dunia ini, maka sangatlah sedikit fungsinya.” (Subulus Salam 3/347, cet. Darul Hadits)

  • Al-Allamah Ibnul Azraq al-Maliki Qadhi (hakim) al-Quds (di masanya) berkata, “Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila memang tidak memungkinkan.” (Bada’i’us Salik fi Thaba’i’il Malik 1/76, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 37)
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Kaum muslimin belum pernah mengetahui seorang ulama pun yang menyatakan bahwa pelaksanaan hukum Islam tidak sah kecuali oleh al-Imam al-A’zham (khalifah).” (ad-Durar as-Saniyyah, 7/239)
  • Asy-Syaikh Abu Ibrahim Ibnu Sulthan al-Adnani berkata, “Aku nyatakan kepada mereka: Apakah kalian tidak mengerti kondisi kaum muslimin ketika runtuhnya Daulah Umawiyyah di Syam, lalu berdiri lagi di Andalusia (Spanyol), dan berdiri pula Daulah Abbasiyyah di Baghdad, sehingga ketika itu ada 2 daulah bagi kaum muslimin, bahkan ada pula selain itu daulah Aghalibah dan Adarisah?” (al-Quthbiyyah hlm.109)

Sementara itu, tidak ada seorang ulama Ahlus Sunnah pun di masa itu yang mengatakan bahwa para pemimpin daulah-daulah tersebut tidak berhak dibai’at, didengar, dan ditaati perintahnya.

  1. Adapun persyaratan bahwa khalifah itu harus dari kalangan Quraisy, maka:
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hal ini (khalifah harus dari Quraisy -pen.) berlaku bila proses yang ditempuh adalah pemilihan. Bahkan, seandainya pun ada seorang budak yang berhasil berkuasa melalui kudeta, sesungguhnya dalam rangka meredam fitnah dia wajib ditaati selama yang diperintahkan itu bukan kemaksiatan, sebagaimana yang telah lalu penjelasannya.” (Fathul Bari, 13/131)
  • Lebih dari itu asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata, “Persyaratan bahwa seorang khalifah itu harus Quraisy memang benar adanya. Akan tetapi, nash-nash syar’i menunjukkan bahwasanya hal itu bila orang-orang Quraisy tersebut adalah orang-orang yang menerapkan ad-Din (agama) dan menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Jika ternyata mereka menyelisihi perintah Allah subhanahu wa ta’ala, orang selain mereka yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjalankan perintah-perintah- Nya lebih berhak dari orang Quraisy tersebut.” (Adhwa’ul Bayan, 1/123)

Kalau kita perhatikan, hakikat kondisi kelompok pertama ini, maka sangatlah parah dan saling bertolak belakang. Bukankah tidak sedikit dari mereka yang meratapi runtuhnya Daulah Utsmaniyyah dengan ratapan histeris dan berlebihan? Padahal khalifah Daulah Utsmaniyyah ketika itu bukanlah khalifah yang memimpin kaum muslimin secara keseluruhan di dunia ini, lebih dari itu bukan dari kalangan Quraisy. (Lihat al-Quthbiyyah hlm.109)

Yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata keyakinan di atas dijadikan sebagai motor penggiring bagi para pemuda Islam untuk bersikap berani, arogan, bahkan memberontak terhadap pemerintahnya. Atau sebagai doktrin agar para pemuda Islam benci dan memusuhi negeri tauhid Kerajaan Saudi Arabia. (Lihat al-Quthbiyyah, hlm. 107)

Tidak bisa dibayangkan bila kaum muslimin selalu berselisih dengan pemerintahnya… tidak pula terbayang bila kaum muslimin dipisahkan dengan negeri tauhid, pusat, dan jantung kekuatan Islam dunia… Bukankah musuh-musuh Islam akan bergembira dan bersorak-sorai?!

  1. Kelompok Kedua

Berkeyakinan bahwa bai’at kepada para pemimpin kelompok-kelompok Islam itu boleh, bahkan wajib. (Lihat al-Quthbiyyah, hlm. 109)

 

Bantahan:

  1. Apa yang mereka yakini ini tidak ada dasarnya baik dari al-Qur’an, as- Sunnah, ataupun amalan para sahabat, tabi’in dan para ulama yang mengikuti jejak mereka.
  2. Para ulama ketika menerangkan hadits-hadits bai’at dan imamah, semuanya (sejauh apa yang kami ketahui) mengarahkan pembicaraan kepada satu fokus bahwa yang dimaksud dengan imam adalah pemimpin/penguasa kaum muslimin (bukan para pimpinan kelompok-kelompok Islam).

Hal ini sebagaimana pernyataan al-Imam Ahmad bin Hanbal (Masa’il Ibnu Hani no. 2011), al-Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, Kitabul Ahkam 13/122—131), al-Imam an-Nawawi (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Kitabul Imarah 12/403—448), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah 3/390, Majmu’ Fatawa 28/390—391), al-Imam Ibnul Qayyim (Miftah Darissa’adah 1/62), al-Imam Ibnu Rajab (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/222), al-Imam asy-Syaukani (as-Sailul Jarrar 4/556), al-Imam al-Ajurri (asy-Syari’ah, hlm. 28), al-Imam ath-Thahawi (Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyyah, hlm. 368), asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (ar-Riyadhun Nadhirah, hlm. 49—50)[1], asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz (al- Ma’lum Min Wajibil ‘Ilaqah Bainal Hakim wal Mahkum), dan para ulama lainnya yang tak terhitung jumlahnya.

Hal itu—wallahu a’lam—karena dalam hadits-hadits bai’at dan imamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa lafadz, “Amir” (HR.Muslim no.1835, 1849), “Khalifah” (HR.Muslim no. 1853), “Imam” (HR.Muslim no.1841, 1844), “Waalin” (HR.Muslim, Kitabul Imarah no. 66), “Sulthan” (HR. Muslim, Kitabul Imarah no. 56), lafadz yang berbeda-beda namun maknanya satu, yakni pemimpin/penguasa kaum muslimin.

  1. Adapun alasan mereka bahwa bai’at terhadap para pemimpin kelompokkelompok Islam serta kepemimpinan mereka, sama dengan bai’at dan kepemimpinan amir (pimpinan) safar sehingga hukumnya boleh bahkan wajib, maka jawabnya adalah sungguh tidak sama antara keduanya.

Karena kepemimpinan amir safar tidaklah bertentangan dengan bai’at yang diberikan kepada penguasa, kalau seandainya bertentangan maka tidak boleh dilakukan. Selain itu, kepemimpinan amir safar khusus di waktu safar saja. Jika telah berakhir safar tersebut maka berakhir pula kepemimpinannya, bahkan jika mereka saling berpisah (masih dalam keadaan safar) karena suatu hal yang mendesak berakhirlah kepemimpinan tadi. Bukankah bai’at dan kepemimpinan amir jamaah (menurut mereka) tidak berakhir sebagaimana berakhirnya safar?!

Bukankah di dalam praktiknya ketaatan kepada amir jamaah benarbenar segala-galanya, bahkan melebihi ketaatan kepada pemerintah?! Atas dasar itulah maka tidaklah sama antara keduanya.

  1. Lebih dari itu, para ulama mengingkarinya, terlepas yang dipakai lafadz bai’at atau ‘ahd. Sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kelompok di masa ini yang mengganti nama bai’at dengan ‘ahd di hadapan para pengikutnya, setelah kedok kesesatan bai’at-bai’at mereka diketahui umat.

Begitulah kebiasaan hizbiyyun dan ahlul bid’ah ketika kedok kesesatan mereka terbongkar, berusaha menutupi kesesatannya dengan kedok baru yang diharapkan dengannya bisa menipu dan menjaring pengikutnya.

  • Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Adapun bai’at-bai’at yang diberikan kepada selain pemimpin/penguasa kaum muslimin, maka aneka ragam bai’at tersebut adalah bid’ah.” (Fiqhus Siyasah asy-Syar’iyyah, hlm. 281)
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan tidaklah boleh seorang pun dari mereka (syaikh/murabbi/pimpinan kelompok -pen.) mengambil ‘ahd (janji setia) dari orang lain untuk menyetujui segala apa yang diinginkan, berloyal terhadap orang yang setia padanya dan memusuhi orang yang memusuhinya.

Bahkan orang yang melakukan demikian ini tak ubahnya mirip dengan Jenghis Khan dan yang semisalnya, yang berkebiasaan memosisikan orang yang mendukungnya sebagai kawan dekatnya dan orang yang menyelisihinya sebagai musuh yang keji.” (Majmu’ Fatawa, 28/16)

  • Ibnu ‘Abidin ditanya tentang seseorang dari kalangan Sufi yang telah mengambil ‘ahd (janji setia) dari seorang (syaikh), kemudian dia memilih syaikh lainnya dan mengambil ‘ahd (janji setia) pula darinya. Manakah yang harus dia penuhi, yang pertama atau yang kedua? Beliau menjawab, “Dia tidak berkewajiban memenuhi yang pertama atau yang kedua, dan hal itu tidak ada asalnya (dalam syariat -pen.).” (Tanqihul Fatawa al-Hamidiyyah 2/334, dinukil dari Nashihah Dzahabiyyah, hlm. 11)
  • Demikian pula fatwa al-Imam as-Suyuthi, sebagaimana dalam al-Hawi lil Fatawa (1/253). (Lihat Nashihah Dzahabiyyah, hlm. 11)

Para pembaca, bukankah dengan aneka ragam bai’at/’ahd yang bid’ah ini kaum muslimin menjadi terkotak-kotak, saling menjatuhkan bahkan mengkafirkan orang-orang yang di luar kelompok/jamaahnya atau yang tidak berbai’at kepada pimpinannya?!

Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kebatilannya. Oleh karena itu, jauh-jauh hari seorang ulama besar dari kalangan tabi’in yang bernama Mutharrif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir menolak dan mengingkari bai’at/ahd yang semacam ini, ketika Zaid bin Shuhan memerintahkan kepadanya dan para hadirin untuk membai’at dirinya. (Lihat Hilyatul Auliya’ 2/204, dan Siyar A’lamin Nubala’ 4/192)

 

Hukum Berbai’at

Dari keterangan yang lalu, tidaklah diragukan lagi bahwa berbai’at kepada pemimpin/penguasa kaum muslimin di negeri masing-masing merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam agama Islam, sedangkan berbai’at kepada syaikh/murabbi/pimpinan jamaah dan yang sejenisnya tidaklah disyari’atkan bahkan termasuk perkara bid’ah.

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya bai’at (kepada pemimpin/penguasa kaum muslimin) tersebut adalah :

  1. Hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibai’at oleh para sahabatnya, di antaranya hadits Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

كُنَّا نبُاَيِعُ رَسُولَ اللهِ عَلىَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ. يَقُولُ لَنَا: فِيْمَا اسْتَطَعْتُ

“Dahulu kami membai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan menaati perintah beliau, kemudian beliau katakan kepada kami, ‘(Katakanlah dalam bai’atmu), di dalam perkara yang aku mampu’.” (HR. Muslim no. 1867, lihat keterangan an-Nawawi tentang hadits ini)

  1. Ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sekian haditsnya terhadap orang-orang yang tidak mau berbai’at atau yang melepaskan bai’at dari penguasanya.

Di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan tidak berbai’at (kepada pemimpin/penguasanya -pen.) maka meninggalnya dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim no. 1851 dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

مَنْ فَارَقَ الَجمَاعَة شِربًا فَقَدْ خَلعَ رِبقَة الِإْسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ

“Barang siapa memisahkan diri dari jamaah (kesatuan kaum muslimin) sejengkal saja, dia telah melepas kalung Islam dari lehernya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 4758)

 

Hukum Orang yang Tidak Mau Berbai’at atau Mencabut Bai’atnya

Hukum orang yang seperti ini adalah berdosa besar, namun tidak dikafirkan. Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas “meninggalnya dalam keadaan jahiliah,” maka:

  • Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksudnya seperti keadaan matinya orang jahiliah dari sisi mereka itu tercerai-berai tidak punya imam.” (Syarh Shahih Muslim, 12/441)
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang dimaksud (mati dalam keaadaan jahiliah) adalah keadaan matinya seperti matinya orang jahiliah, yakni di atas kesesatan tidak punya imam yang ditaati, karena mereka dahulu tidak tahu yang demikian. Yang dimaksud bukanlah ia mati kafir, melainkan mati dalam keadaan maksiat….” (Fathul Bari, 13/7)
  • Al-Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata, “Yakni seperti matinya orangorang jahiliah di atas kesesatan dan perpecahan.” (Zahrurruba Syarah an- Nasa’i juz 7—8/139)
  • Asy-Syaikh As-Sindi berkata, “Yang dimaksud seperti matinya orang-orang jahiliah di atas kesesatan bukan yang dimaksud kekafiran.” (Hasyiyah/ catatan kaki pada an-Nasa’i juz 7—8/139)

Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya, “Maka dia telah melepas kalung Islam dari lehernya,” maka tidak pula berarti kafir:

  • Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “(Maksudnya) ia telah menanggalkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak berserah diri kepada perintah-Nya, kepada Rasul dan kepada pimpinan. Dan saya tidak mengetahui seseorang diberi hukuman lebih dari hukuman itu… Ini pada orang-orang Islam.” (at-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar, 21/283)
  • Al-Imam al-Khaththabi berkata, “(Maksudnya) dia telah tersesat dan binasa, seperti binatang jika dilepaskan dari kalungnya yang terikat padanya, maka binatang tersebut tidak aman dari kebinasaan atau hilang.” (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 13/72—73)

Demikian pula yang dijelaskan oleh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (8/131), al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/11), as-Suyuthi dalam syarahnya terhadap Sunan an-Nasa’i (8/65), tidak ada seorang pun dari mereka yang menggolongkannya ke dalam kekafiran.

Demikianlah secercah cahaya seputar masalah bai’at yang terpancar dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan keterangan para ulama tepercaya. Semoga hal ini menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Wallahu Waliyyut Taufiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc. & Al-Ustadz Qomar Su’aidi Lc.


[1] Sumber-sumber di atas, sebagian besarnya kami nukilkan dari kitab Wujubu Tha’atis Sulthan fi Ghairi Ma’shiyatir Rahman, karya Muhammad bin Nashir al-‘Uraini, hlm. 21-27.

Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Sikap kritis tampaknya memang tidak mudah dibudayakan di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kultus individu dan fanatisme golongan. Yang muncul justru sikap kritis yang kebablasan: kebenaran yang telah pasti justru diotak-atik, sementara yang nyata-nyata menyimpang justru dibiarkan tanpa dikritisi dengan dalih ukhuwah Islam ataupun demi persatuan umat. Lanjutkan membaca Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Jihad Bersama Penguasa

Sebagai sebuah amal besar, jihad mensyaratkan adanya seorang pemimpin. Dalam prinsip Ahlus Sunnah, pihak yang paling berhak untuk memimpin jihad adalah penguasa (pemerintah). Penguasa yang bagaimana yang pantas menjadi pemimpin jihad? Bila pemimpin itu seorang yang jahat, apakah kita tetap menaatinya atau boleh menolak perintahnya? Lanjutkan membaca Jihad Bersama Penguasa

Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah

Aktivitas ulama dalam berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, meneliti hadits, dsb, sering dituding sebagai bentuk ketidakpekaan dalam menyikapi kondisi kekinian umat. Repotnya, mereka yang menuding justru sibuk dengan parpol dan segala tetek bengeknya.

Lanjutkan membaca Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah