Agama ini Telah Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan agama Islam dalam keadaan telah sempurna. Ia tidak membutuhkan penambahan ataupun pengurangan. Namun toh, banyak manusia menciptakan amalan-amalan baru yang disandarkan pada agama hanya karena kebanyakan dari mereka menganggap baik perbuatan tersebut. Lanjutkan membaca Agama ini Telah Sempurna

Al-Hizbiyah

Tak bisa dimungkiri, kondisi umat Islam saat ini telah berpecah menjadi sejumlah kelompok. Tiap-tiap kelompok memiliki aturan dan jalan sendiri-sendiri. Masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada di kelompoknya dan tentu merasa benar dengan aturan-aturan yang dibuat kelompoknya. Satu keniscayaan yang pasti ada di tiap kelompok adalah adanya ‘belenggu-belenggu’ yang dipakai untuk menjerat anggotanya agar tidak lari.

Lanjutkan membaca Al-Hizbiyah

Tinggalkanlah Segala Kebimbanganmu

Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang mulia bersabda,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَةٌ

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju kepada perkara yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah ketenangan di hati sedangkan kedustaan itu adalah keraguan.”

Lanjutkan membaca Tinggalkanlah Segala Kebimbanganmu

Berlindung dari Kebinasaan Ahlul Kitab; bagian ke-2

Pada edisi lalu telah disinggung pelanggaran-pelanggaran Ahlul Kitab yang menyebabkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala. Poin pertama adalah mengubah agama Allah subhanahu wa ta’ala dan menafsirkannya dengan penafsiran yang batil. Pelanggaran berikutnya adalah:

 

  1. Menyembunyikan al-Haq

Menyembunyikan al-haq merupakan salah satu dosa besar yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Firman-Nya:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤٢

“Dan janganlah kalian mencampuradukkan yang haq dengan kebatilan dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran sedangkan kalian mengetahuinya.” (al-Baqarah: 42)

Dan firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelas dan petunjuk serta setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itulah yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (al-Baqarah: 159)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Para ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya menyampaikan ilmu yang haq.” (Tafsir al-Qurthubi, 2/185). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا مِنْ رَجُلٍ حَفِظَ عِلْمًا ثُمَّ سُئِلَ فَكَتَمَهُ إِلاَّ كَانَ مَلْجُومًا بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ

“Tidaklah seseorang menghafal suatu ilmu kemudian dia ditanya tentangnya, lalu dia menyembunyikannya, kecuali didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan terkekang dengan kekangan dari api neraka.” (HR. Ahmad, 2/263, at-Tirmidzi, 5/29, Ibnu Majah, 1/96/261, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, disahihkan oleh al-Albani rahimahullah dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir, Ibnu Mas’ud, dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhum)

Qatadah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mengilmui sesuatu, hendaklah dia menyebarkannya, serta jauhilah sikap menyembunyikan ilmu. Sesungguhnya menyembunyikan ilmu adalah kebinasaan.” (Tafsir ath-Thabari, 4/207)

Nash-nash di atas menunjukkan kepada kita diharamkannya menyembunyikan ilmu yang semestinya untuk disampaikan kepada manusia, baik itu disebabkan takut kehilangan kenikmatan dunia berupa jabatan, harta, kemasyhuran, maupun bertentangan dengan pendapat, mazhab, ataukah golongannya. Semuanya termasuk dalam ancaman mendapatkan laknat dari Allah ‘azza wa jalla.

Termasuk di sini adalah para pelaku bid’ah yang menisbahkan bid’ah tersebut kepada Islam. Bahkan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dosa ahli bid’ah lebih besar daripada dosa orang yang hanya menyembunyikan (al-haq). Karena jenis yang kedua hanya menyembunyikan al-haq, sementara ahli bid’ah menyembunyikan al-haq dan mengajak kepada yang menyelisihinya. Maka, setiap ahli bid’ah menyembunyikan (al-haq) dan tidak sebaliknya.” (Madarijus Salikin, 1/263)

mic1.jpg26362d06-b262-4007-8e2d-0cb2cc736b59Larger 

c. Ulama yang jahat

Penyebab terbesar terjadinya penyimpangan adalah munculnya para ulama jahat yang memfatwakan sesuatu yang menyelisihi al-haq dalam keadaan mereka mengetahuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُهُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari manusia tetapi (Allah subhanahu wa ta’ala) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama. Sehingga ketika tidak tinggal seorang alim pun, manusia mengambil pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umayyah al-Jumahi radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَاعَةِ ثَ ثَالٌ: إِحْدَاهُنَّ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat ada tiga: di antaranya adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi, Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd [61], al-Lalikai dalam ‘Ushul ‘Itiqad Ahlus Sunnah [1/102]. Hadits ini hasan, lihat Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi hlm. 201)

Nu’aim berkata ketika ditanya Ibnul Mubarak, “Siapakah orang-orang kecil?”

Ia menjawab, “Orang-orang yang berpendapat dengan akalnya.” (Shahih Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 201)

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasulullah, kapankah kita meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar?’

Beliau menjawab, ‘Apabila telah tampak pada kalian apa yang telah tampak pada umat-umat sebelum kalian.’

Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang tampak pada umat (sebelum kami)?’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُلْكُ فِي صِغَارِكُمْ وَالْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِي رَذَالَتِكُمْ. قَالَ زَيْدٌأَحَدُ الرُّوَاةِ-: إِذَا كَانَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْفُسَّاقِ

“Kekuasaan dipegang oleh orang-orang kecil (maksudnya adalah orang-orang yang bukan ahlinya) di antara kalian, perbuatan keji dilakukan para pembesar kalian, dan ilmu dimiliki oleh orang yang hina dari kalian.”

Zaid (salah seorang perawi hadits) berkata, “Yaitu apabila ilmu diambil oleh orang-orang fasik.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/2)

Oleh karena itu, orang-orang yang selama ini dianggap sebagai orang ‘alim’ atau ‘kiai’ oleh masyarakat, semestinya menjadi panutan dan pembimbing umat Islam untuk kembali ke jalan Allah ‘azza wa jalla, karena ketergelinciran mereka merupakan ketergelinciran banyak manusia.

Kita menyaksikan di zaman ini, ada orang yang dianggap sebagai ‘alim’ atau ‘kiai’ hanya karena kepandaiannya berorasi di hadapan publik, meskipun ceramahnya kosong dari lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya dengan bermodalkan sorban di atas kepala, namun sesungguhnya dia adalah orang yang paling tersesat dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan sangat jauh dari ilmu.

Ada lagi yang disebut ‘alim’ hanya karena berhasil menyandang gelar doktor dari Universitas Chicago AS. Sungguh keadaan umat ini sangat menyedihkan dalam keadaan majelis taklim hanya dijadikan sebagai lembaga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: ilmu semakin sedikit dan kebodohan merajalela.” (Sahih, HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

 Uang

  1. Menjual agama karena berharap dunia

Dunia adalah tempat penyeberangan seorang mukmin dan bukan tempat persinggahan abadi. Maka, alangkah meruginya orang-orang yang rela menjual agamanya dan mengganti dengan nilai dunia yang hina-dina. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ١٦ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ ١٧

“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia sedangkan akhirat lebih baik dan kekal.” (al-A’la: 16—17)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang semestinya dituntut untuk mendapatkan wajah Allah ‘azza wa jalla (namun) dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (Sahih, HR. Abu Dawud, 12/3664. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah menyebutkan di antara perbuatan-perbuatan jahiliah adalah “dibesarkannya dunia di dalam hati-hati mereka.”

Padahal jika kembali kepada penjelasan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan kita ketahui betapa hina dan rendahnya nilai dunia. Berapa pun nilai dunia, walaupun dikumpulkan dunia beserta seluruh isi kekayaannya dari awal hingga hari kiamat, tidak akan bisa menandingi satu pun dari amalan syariat yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى فِيْهَا كَافِرًا شُرْبَةَ مَاءٍ

“Sekiranya dunia ini mempunyai nilai di sisi Allah setara sayap nyamuk, maka (Allah) tidak akan memberikan seteguk air kepada orang kafir.” (HR. at-Tirmidzi, 4/2320, Ibnu Majah, 2/4110, dari hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu disahihkan oleh al-’Allamah al-Albani rahimahullah dalam Silsilah ash-Shahihah no. 686)

 harta-haram

  1. Mengambil harta muslimin dengan cara yang haram

Asal harta kaum muslimin adalah haram bagi orang lain untuk mengambilnya tanpa seizin pemiliknya. Sebab dengan keislaman seseorang, Allah subhanahu wa ta’ala telah memelihara darah, harta, dan kehormatannya. Hal ini telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada haji Wada’ sebagaimana yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Apa yang telah dimiliki oleh seseorang berupa harta, maka tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk mengambilnya kecuali atas izin pemiliknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ عَنْ طِيْبٍ مِنْ نَفْسِهِ

“Tidak halal harta seorang muslim kecuali atas keridhaan dari dirinya.” (Sahih, HR. Abu Dawud dari Hanifah ar-Raqasyi. Lihat Shahihul Jami’ no. 7662)

Maka bagaimana halnya dengan orang-orang yang mengambil harta orang lain tanpa haq? Yang lebih kejam lagi adalah mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang dihiasi “agama”, sehingga seseorang tidak menyangka bahwa hartanya dikuras dengan cara yang tidak halal, dalam keadaan dia menyangka bahwa itu merupakan amal jariyahnya di kemudian hari.

Telah disebutkan oleh al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah, bahwa orang yang mengambil harta orang lain tanpa haq berkedok agama (“berdalilkan agama”) adalah perbuatan yang sangat batil, bahkan lebih kejam dari orang yang mengambil harta tersebut dengan cara merampas, mencuri, dan yang semisalnya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengancam mereka dengan dua ancaman:

kecelakaan terhadap apa yang ditulis oleh tangan-tangan mereka” dan “kecelakaan terhadap apa yang telah mereka peroleh berupa harta.”

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan perlindungan kepada kita agar tidak terjerumus di dalam jeratan setan untuk mengikuti langkah-langkah para penghuni neraka Jahannam.

Wabillahi at-taufiq.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari

Ucapan Para Imam tentang Taklid

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.”
Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Sebab, sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka dari itu, perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya, tinggalkanlah.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Akan tetapi, ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

Menjaga Diri dari Maksiat

Menjaga Diri dari Maksiat

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata, “Seseorang mengingat Allah subhanahu wa ta’ala ketika hendak bermaksiat (sehingga menahan diri darinya) itu lebih baik dan lebih utama daripada zikir kepada Allah dengan lisan.”

 

Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Aku mengembalikan uang syubhat satu dirham lebih aku sukai daripada aku bersedekah seratus ribu, kemudian seratus ribu lagi, hingga mencapai sembilan ratus ribu dirham.”

 

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan, “Takwa itu bukan hanya shalat tahajud dan puasa di siang hari, lalu merusaknya dengan sesuatu di antara keduanya. Akan tetapi, takwa adalah menunaikan kewajiban yang ditentukan oleh Allah dan meninggalkan yang diharamkan oleh-Nya. Jika bersama itu ada amalan, itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 128)

Kondisi Masyarakat Sebelum diutusnya Rasulullah

Kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kekacauan yang luar biasa. Mereka menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, banyak berbuat maksiat, tidak memiliki norma, percaya kepada khurafat, dan berbagai bentuk kebobrokan moral lainnya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan Nabi dan Rasul terakhir, diutus di saat tidak adanya para Rasul.  Vakum masa itu dari para pembawa risalah. Allah subhanahu wa ta’ala murka kepada penduduk bumi baik orang Arab dan selainnya (‘ajam), kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) yang  sebagian besar dari mereka telah meninggal. Dalam sebuah riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah melihat kapada penduduk bumi. Lalu murka kepada mereka, Arabnya atau ajamnya, kecuali sisa-sisa dari ahlul kitab.” (Shahih, HR. Muslim)

Saat itu, baik bangsa Arab atau lainnya, hanya ada dua jenis manusia. Pertama, yang berpegang dengan kitab yang sudah dirubah atau dihapus. Kedua, yang berpegang dengan agama yang punah. Agama yang sebagiannya tidak diketahui dan sebagian yang lain sudah ditinggalkan. Akibatnya, seorang ummi (tidak bisa baca tulis) hanya bisa bersemangat ibadah namun hanya berdasar apa yang ia anggap baik atau disangka memberi manfaat. Sehingga terjadi penyembahan kepada bintang, berhala, kubur, benda keramat, dan yang lainnya.

Manusia saat itu benar-benar dalam  kebodohan yang parah. Bodoh akan ucapan-ucapan mereka yang disangka baik padahal bukan, serta bodoh akan amalan mereka yang disangka baik padahal rusak. Paling pintarnya mereka, adalah yang mendapat ilmu dari warisan para nabi terdahulu, namun telah rancu antara yang haq dan batil. Atau yang sibuk dengan sedikit amalan, itupun kebanyakannya bid’ah yang dibuat-buat. Walhasil, kebatilannya berlipat-lipat kali dari kebenarannya. (Iqtidha’ Sirathil Mustaqim, 1/74-75)

Inilah gambaran ringkas keadaan manusia yang sangat parah pada saat itu, khususnya di kota Makkah dan sekitarnya. Keadaan tersebut mulai terlihat sejak munculnya Amr bin Luhay Al-Khuza’iy. Ia dikenal sebagai orang yang gemar ibadah dan beramal baik sehingga masyarakat waktu itu menempatkannya sebagai seorang ulama. Sampai suatu saat, Amr pergi ke daerah Syam. Ketika mendapati para penduduknya beribadah kepada berhala-berhala, Amr menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan benar. Apalagi, Syam dikenal sebagai tempat turunnya kitab-kitab Samawi (kitab-kitab dari langit).

Ketika pulang, Amr membawa oleh-oleh berhala dari Syam yang bernama Hubal. Ia kemudian meletakkannya di dalam Ka’bah dan menyeru penduduk Makkah untuk menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah subhanahu wa ta’ala dengan beribadah kepadanya. Disambutlah seruan itu oleh masyarakat Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya karena disangka sebagai hal yang benar. (Mukhtashar Sirah Rasul hal. 23 & 73)

Sejak itulah, berhala tersebar di setiap kabilah. Di samping Hubal yang menjadi berhala terbesar di Ka’bah dan sekitarnya, sekaligus menjadi sanjungan orang-orang Makkah, terdapat pula berhala Manat di antara Makkah dan Madinah. Manat merupakan sesembahan orang-orang Aus dan Khazraj (dua qabilah dari Madinah). Juga ada Latta di Thaif dan ‘Uzza. Ketiga berhala ini merupakan yang terbesar dari yang ada. (lihat Mukhtashar Sirah Rasul 75-76, Rahiqul Makhtar, hal. 35)

Akibatnya, peribadatan kepada berhala menjadi pemandangan yang sangat menyolok. Apalagi, kesyirikan tersebut disangka masyarakat waktu itu sebagai bagian dari agama Ibrahim ‘alaihissalam. Padahal, tradisi menyembah berhala-berhala itu kebanyakannya adalah hasil rekayasa Amr bin Luhay yang kemudian dianggap bid’ah hasanah.

Dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perbuatan Amr ini, “Aku melihat Amr bin Amir (bin Luhay) Al-Khuza’iy menyeret ususnya di neraka. Dia yang pertama kali melukai unta (sebagai persembahan kepada berhala dan yang pertama mengubah agama Ibrahim ‘alaihissalam)” (HR. Al-Bukhari)

Di antara tradisi syirik masyarakat waktu itu adalah menginap di sekitar berhala itu, memohonnya, mencari berkah darinya -karena diyakini dapat memberi manfaat-, thawaf, tunduk dan sujud kepadanya, menghidangkan sembelihan dan sesaji kepadanya, dan lain-lain. Mereka melakukan hal itu karena meyakini itu akan mendekatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memberi syafaat sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan dalam Al-Qur’an. Mereka mengatakan,

مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (az-Zumar: 3)

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat. Dan mereka berkata, ’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)

Selain kesyirikan, kebiasaan jelek yang mereka lakukan adalah perjudian dan mengundi nasib dengan tiga anak panah. Caranya dengan menuliskan pada masing-masingnya dengan “ya”, “tidak” dan kosong. Ketika ingin bepergian misalnya, mereka mengundinya. Jika yang keluar “ya”, mereka pergi, jika “tidak”, tidak jadi pergi, dan jika yang keluar kosong maka diundi lagi.
Selain dengan anak panah, mereka juga menggantungkan nasib melalui burung-burung, yaitu mengusir burung ketika ingin bepergian. Jika terbang ke kanan berarti terus, dan jika ke kiri berarti harus diurungkan.
Mereka mempercayai berita-berita ahli nujum, peramal dan dukun.

Mereka juga pesimis dengan bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Shafar.  Mereka mengubah aturan haji dengan tidak mengijinkan orang luar Makkah berhaji kecuali dengan memakai pakaian dari mereka. Jika tidak mendapatkan, maka diharuskan melakukan thawaf dengan telanjang.

Di bidang sosial kemasyarakatan, hubungan lain jenis pun sangat rendah, khususnya di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sampai-sampai pada salah satu cara pernikahan mereka, seorang wanita menancapkan bendera di depan rumah. Ini merupakan tanda untuk mempersilahkan bagi laki-laki siapapun yang ingin ‘mendatanginya’. Jika sampai melahirkan, maka semua yang pernah melakukan hubungan dikumpulkan dan diundang seorang ahli nasab untuk menentukan siapa bapaknya, kemudian sang bapak harus menerimanya.

Poligami saat itu juga tidak terbatas, sehingga seorang laki-laki bisa menikahi wanita sebanyak mungkin. Bahkan sudah menjadi hal yang biasa seorang anak menikahi bekas istri ayahnya dengan mahar semau laki-lakinya. Jika wanita itu tidak mau, maka anak tersebut bisa melarang si wanita untuk menikah kecuali dengan laki-laki yang diizinkannya. Sehingga dalam banyak hal, wanita terdzalimi. Sampai yang tidak berdosapun merasakan kedzaliman itu, yaitu bayi-bayi wanita yang ditanam hidup-hidup karena takut miskin dan hina.

Tentunya, kenyataan yang ada lebih dari yang tergambar di atas. Meski tidak dipungkiri di sisi lain mereka memiliki sifat atau perilaku yang baik, namun itu semua lebur dalam kerusakan agama, moral yang bejat, yang di kemudian hari seluruhnya ditentang oleh Islam dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelita yang sangat terang bagi umat ini.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Siapa Para Ulama

Terlalu banyak dan mudah orang digelari ulama. Di negeri ini saja, mungkin ada jutaan orang bergelar “ulama”. Namun siapakah sesungguhnya ulama itu?

Hingga kini banyak perbedaan dalam mendefinisikan ulama. Sehingga perlu dijelaskan siapa hakekat para ulama itu.

Untuk itu kita akan merujuk kepada penjelasan para ulama Salafus Shalih dan orang-orang yang menelusuri jalan mereka. Kata ulama itu sendiri merupakan bentuk jamak dari kata ‘alim, yang artinya orang berilmu. Untuk mengetahui siapa ulama, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu dalam istilah syariat, karena kata ilmu dalam bahasa yang berlaku sudah sangat meluas. Adapun makna ilmu dalam syariat lebih khusus yaitu mengetahui kandungan Al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah dan ucapan para shahabat dalam menafsiri keduanya dengan mengamalkannya dan menimbulkan khasyah (takut) kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seluruh ilmu selain Al-Qur’an adalah hal yang menyibukkan kecuali hadits dan fiqh, serta memahami agama. Ilmu adalah yang padanya terdapat haddatsana (telah mengkabarkan kepada kami – yakni ilmu hadits) dan selainnya adalah bisikan-bisikan setan.”

Ibnul Qayyim menyatakan, “Ilmu adalah berkata Allah subhanahu wa ta’ala, berkata Rasul-Nya, berkata para shahabat yang akal sehat tiada menyelisihinya.” (Al-Haqiqatusy-Syar’iyah: 119-120)

Dari penjelasan makna ilmu dalam syariat, maka orang alim atau ulama adalah orang yang menguasai ilmu tersebut, mengamalkannya, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya dahulu sebagian ulama menyatakan ulama adalah orang yang mengetahui Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui perintah-Nya. Ia adalah orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengetahui batasan-batasan syariat-Nya dan kewajiban-kewajiban-Nya. Rabi’ bin Anas menyatakan, “Barangsiapa tidak takut kepada Allah bukanlah seorang ulama.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama .” (Fathir: 28)

Kesimpulannya, orang-orang yang pantas menjadi rujukan dalam masalah ini adalah yang berilmu tentang kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya serta ucapan para shahabat. Dialah yang berhak berijtihad dalam hal-hal yang baru. (Ibnu Qoyyim, subhanahu wa ta’ala’lam Muwaqqi’in 4/21)

Ibnu Majisyun, salah seorang murid Al-Imam Malik mengatakan, “Dahulu (para ulama) menyatakan, ‘Tidaklah seorang itu menjadi imam dalam hal fiqh sehingga menjadi imam dalam hal Al Qur’an dan Hadits. Dan tidak menjadi imam dalam hal hadits sehingga menjadi imam dalam hal fiqh.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan, “Jika ada sebuah perkara yang musykil (rumit) jangan mengajak musyawarah kecuali kepada orang yang terpercaya dan berilmu tentang Al Kitab dan As Sunnah, ucapan para shahabat, pendapat para ulama’, qiyas dan bahasa Arab.” (Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/818)

Merekalah ulama yang hakiki, bukan sekedar pemikir harakah, orator, mubaligh penceramah, aktivis gerakan dakwah, ahli membaca kitabullah, ahli taqlid dalam madzhab fiqh, dan ulama suu’ (jahat), atau ahlu bid’ah. Tapi ulama hakiki yang istiqamah di atas As-Sunnah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh  Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Menaruh Kepercayaan Terhadap Ulama

Banyak orang yang tidak percaya lagi dengan ulama. Mereka menganggap ulama sebagai orang yang tidak tahu realitas sosial.

Permasalahan ini perlu dikaji karena tidak sedikit orang-orang yang hanya terdorong ghirah dan semangat keagamaan yang tinggi namun tidak terdidik di atas ilmu yang mapan dan di bawah bimbingan Ahlussunnah, menyangsikan fatwa para ulama dan nasehatnya di saat tidak sesuai dengan keinginan mereka. Dalam pandangan mereka, para ulama tidak mengetahui realita, tidak mengerti makar-makar musuh, ilmu mereka hanya sebatas haid dan nifas atau masalah thaharah (bersuci). Sedang mereka merasa lebih tahu realita sehingga merasa lebih berhak berfatwa dan dianggap ucapannya.

Komentar orang-orang semacam ini di samping mengandung celaan terhadap para ulama yang jelas terlarang dalam agama -apapun alasannya-,  juga menyelisihi aturan agama. Karena ayat, hadits, dan uraian para ulama yang lalu dalam hal perintah atau anjuran rujuk kepada para ulama menyiratkan makna kepercayaan kepada mereka dalam urusan-urusan ini.Sangat naif jika tidak percaya kepada orang yang telah dipercaya Allah subhanahu wa ta’ala serta Rasul-Nya.

Ada sebuah kisah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang barangkali dari situ kita bisa mengambil ‘ibrah. Saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah yang menghasilkan kesepakatan-kesepakatan antara kaum muslimin dengan musyrikin Quraisy di antaranya kaum muslimin harus menangguhkan keinginan umrah pada tahun itu, tidak sedikit dari shahabat merasa keberatan dengan perjanjian itu dan menampakkan ketidaksetujuannya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyepakati perjanjian tersebut.

Para shahabat itu menilai ada diskriminasi dari pihak musuh sehingga merasa keberatan meski akhirnya mau menerima. Di antara shahabat itu adalah Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, orang terbaik setelah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Dan ternyata keputusan Nabi itu membawa manfaat sangat banyak di kemudian hari dan membawa kerugian besar bagi musyrikin, sehingga mereka sendirilah yang mengkhianatinya.

Kenyataan itu menyampaikan Umar bin Al-Khaththab -setelah taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala– untuk menyesali perbuatannya dan mengatakan: “Wahai manusia, ragulah terhadap pendapat akal dalam masalah agama, sungguh aku telah melihat diriku pernah membantah keputusan Nabi dengan pendapatku karena ijtihad. Demi Allah, saya tidak akan pergi dari kebenaran, dan kejadian itu pada pagi hari Abi Jandal, yakni perjanjian Hudaibiyyah.” (Marwiyat Ghazwah Hudaibiyyah hal. 301)

Perhatikan kisah ini, bagaimana Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mesti menundukkan penilaian-penilaian pribadi di hadapan keputusan agama. Tidak heran bila seorang ulama bernama Abu Bakar Ath-Turthusyi setelah menyebutkan hadits, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan dicabut dari hati-hati manusia. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan meninggalnya para ulama sehingga tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, maka mereka akan ditanya sehingga berfatwa tanpa ilmu akhirnya sesat dan menyesatkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Beliau menyatakan, “Perhatikan hadits ini! Hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan tertimpa musibah disebabkan ulama mereka sama sekali, akan tetapi sebabnya jika ulama mereka meninggal, akhirnya yang bukan ulama berfatwa…

Dari situlah berawalnya musibah.” (Al-Ba’its hal. 179)

Rabi’ah bin Abdurrahman, guru Al-Imam Malik, ketika melihat tanda-tanda itu di masanya beliau menangis tersedu-sedu. Maka Al-Imam Malik bertanya, “Apa yang menjadikanmu menangis. Apakah ada musibah yang menimpamu?”

Beliau menjawab, “Tidak. Tapi karena orang-orang yang tidak berilmu telah dimintai fatwa dan muncullah perkara besar dalam Islam.” (Al-Ba’its hal. 179)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Rujuk Kepada Ulama adalah Jalan Keluar dari Fitnah

Fitnah atau ujian senantiasa hadir dalam perjalanan hidup manusia. Fitnah akan semakin besar ketika manusia jauh dari agamanya. Kembali kepada ulama sebagai orang yang paling mengerti hukum-hukum Allah dan yang paling takut kepada-Nya merupakan jalan yang mesti ditempuh bila ingin keluar dari lingkaran fitnah.

Fitnah adalah sebuah ungkapan yang sangat ditakuti oleh segenap manusia. Hampir-hampir tak seorang pun kecuali akan berusaha menghindarinya.
Begitulah Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan tabiat manusia ingin selalu terhindar dari hal-hal yang menakutkan atau membahayakan.

Lebih dari itu, dalam pandangan syariat Islam, secara umum fitnah adalah sesuatu yang harus dihindari. Oleh karenanya, ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak mewanti-wanti kita dari fitnah sehingga tidak sedikit dari para ulama menulis buku khusus atau meletakkan bab khusus dalam buku-buku mereka, menjelaskan perkara fitnah baik dari sisi makna atau bentuk dan gambarannya, atau sikap yang mesti diambil saat menghadapi fitnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu.” (al-Anfal: 25)

Juga Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

“Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Zaman-zaman akan saling berdekatan, amalan akan berkurang, sifat pelit akan diberikan, fitnah dan haraj akan banyak.” Para shahabat berkata, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan.”

Demikian pula Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma menceritakan apa yang beliau alami dari peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap fitnah,  “Kami dahulu duduk-duduk bersama Nabi, maka beliau menyebut fitnah dan berulang kali menyebutnya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 42431)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan, “Segeralah beramal, karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap, seorang di waktu pagi sebagai mukmin dan masuk sore menjadi kafir atau di waktu sore sebagai mukmin, di waktu pagi menjadi kafir, ia menukar agamanya dengan harta benda dunia.” (HR. Muslim)

Demikian mengerikan fitnah-fitnah itu. Karenanya beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang benar-benar dijauhkan dari fitnah-fitnah dan yang diberi cobaan lalu bersabar.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 975) Bahkan dalam lafadz yang lain beliau mengulang-ulang kalimat pertamanya sampai 3 kali.

Makna Fitnah

Apa yang dimaksud dengan fitnah? Apakah berarti tuduhan tanpa bukti sebagaimana makna yang dipahami masyarakat? Untuk mengetahui maksudnya kami akan menukilkan penjelasan salah seorang ulama ahli tafsir Al Qur’an yaitu Asy-Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi. Beliau berkata: “Penelitian Al Qur’an menunjukkan bahwa kata fitnah dalam Al Qur’an jika disebut secara mutlak memiliki 4 makna, yaitu membakar dengan api, cobaan dan ujian, hasil yang jelek dari cobaan, dan hujjah.” (Lihat Adhwa’ul Bayan 6/254-255)

Disebut pula dalam kamus-kamus bahasa Arab bahwa artinya perbedaan-perbedaan pendapat manusia dan kegoncangan pemikiran mereka (Kamus Al-Muhith dan Al-Mu’jam Al-Wasith).

Dari uraian makna fitnah di atas, menjadi jelas gambaran-gambaran fitnah di dunia ini, di antaranya:

Pertama, banyaknya kelompok dan aliran yang menisbatkan diri mereka kepada Islam.

Kedua, pembantaian yang menimpa kaum muslimin di berbagai belahan dunia.

Ketiga, kedzaliman yang dilakukan oleh para umara (penguasa).

Keempat, kesimpangsiuran pendapat dalam perkara-perkara baru yang membutuhkan pembahasan para ulama dan lain-lain.

Dalam menghadapi fitnah-fitnah yang ada, Ahlus Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah itu atau meminimalkannya. Di antara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingan dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.

Mengapa demikian? Kenapa perkara ini tidak diserahkan kepada masing-masing individu saja agar mereka menentukan sikap sendiri-sendiri? Menjawab pertanyaan yang terkadang muncul itu, kita katakan bahwa perkara fitnah bukan perkara biasa, bahkan perkara yang amat berbahaya sebagaimana telah disinggung. Dan tidak setiap orang bisa menyikapinya dengan tepat dan bijak sehingga kita kembalikan kepada para ulama karena beberapa hal.

Pertama, karena fitnah pada awal munculnya tidak ada yang mengetahui kecuali para ulama. Kalau sudah pergi baru orang-orang jahil ikut mengetahuinya sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Kedua, menyikapi fitnah sangat diperlukan pertimbangan maslahat (keuntungan) dan mafsadah (kerusakan) yang akan diakibatkan, terutama yang berkaitan erat dengan syariat. Dan yang sangat mengerti dalam masalah ini adalah para ulama. Juga peninjauan perkara itu dilihat dari sekian banyak sisi syariat yang tidak mungkin bagi orang awam bahkan pemula thalibul ilmi (penuntut ilmu agama) untuk memahami perkara yang sifatnya umum dan menyeluruh.
Sehubungan dengan ini Al-Imam An-Nawawi menjelaskan, jika sebuah kemungkaran ada pada masalah-masalah yang pelik baik dari perbuatan atau perkataan dan membutuhkan ijtihad, maka tiada jalan bagi orang awam untuk terlibat di dalamnya. Itu hanya hak para ulama.

Ketiga, bahwa Islam telah memberikan tuntunan-tuntunan yang berkaitan dengan fitnah dan yang mengetahuinya adalah para ulama.

Keempat, Islam memerintahkan dan menganjurkan untuk bertanya kepada ahlu dzikir (ulama) pada permasalahan yang tidak diketahuinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Bertanyalah kepada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Kelima, mengembalikan perkara ini kepada orang-orang awam akan mengakibatkan terpecahnya persatuan kaum muslimin.

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menyatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perkara-perkara perdamaian dan peperangan serta urusan-urusan yang sifatnya umum dan menyeluruh kembalinya kepada para umara dan ulama secara khusus. Dan tidak boleh masing-masing individu terlibat dalam masalah ini, karena yang demikian akan mengacaukan urusan dan memecah persatuan serta memberikan peluang kepada orang-orang yang memiliki tujuan jahat yang selalu menanti-nanti bencana untuk kaum muslimin.” (Lihat Qawa’id fitta’amul ma’al ulama’: 120-122)

Keenam, yang mampu menganalisa hakekat akibat dari fitnah adalah para ulama yang benar-benar kokoh dalam berilmu.

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Tidak setiap orang yang mengerti fiqh dalam bidang agama mengerti takwil, hakekat yang berakhir padanya sebuah makna. Yang mengetahui perkara ini khusus orang-orang yang kokoh dalam berilmu.” (subhanahu wa ta’ala’lamul Muwaqqi’in 1:332)

Beberapa alasan tersebut sangat cukup untuk menjadi landasan dalam berpijak di atas prinsip ini yaitu merujuk para ulama dalam perkara fitnah. Dan alangkah baiknya kalau kita merenungi beberapa ayat atau hadits yang memerintahkan atau mengandung anjuran untuk melakukan hal ini sebagaimana telah diisyaratkan di atas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٤٣

“Bertanyalah kepada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya, “Bertanyalah kepada ahli ilmu… sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan siapa saja yang tidak mengetahui untuk rujuk kepada mereka dalam seluruh kejadian…” (Taisir al-Karimir Rahman hal. 441)

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ

“Dan apabila datang kepada mereka suatu cerita tentang ketentraman atau ketakutan mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang mampu menyimpulkan di antara mereka akan mengetahuinya.” (an-Nisa: 83)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menerangkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, katanya, “Ini adalah teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dari perbuatan yang tidak sepantasnya. Seharusnya jika sampai kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara penting dan maslahat yang bersifat menyeluruh yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum muslimin, atau ketakutan yang mengandung musibah, mereka mengecek dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar, tapi mengembalikan pada Rasul dan kepada Ulil Amri di antara mereka. Yaitu orang-orang yang memiliki pendapat yang baik, ilmu, keinginan yang baik, berakal dan memiliki kebijakan, yang memahami perkara-perkara dan mengetahui maslahat serta mafsadah. Jika mereka (ulil amri dan para ulama) memandang panyebarannya ada maslahat dan memberi semangat kaum mukminin, kebahagiaan dan keselamatan dari musuh, mereka akan melakukannya. Tapi jika mereka memandang tidak ada maslahat atau ada tapi mudharatnya lebih besar, mereka tidak akan menyiarkannya.”

Lalu beliau menyatakan, “Dalam penjelasan ini terkandung sebuah kaedah beradab, yaitu jika ada pembahasan sebuah perkara, hendaknya diserahkan kepada ahlinya (dalam hal ini ulama) dan jangan mendahului mereka. Itu lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Dan ayat itu mengandung larangan terburu-buru menyebarkan berita saat mendengarnya. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk berfikir sebelum berbicara, bila ada maslahatnya maka dia maju, bila tidak maka menahan diri. (Taisir Al-Karimir Rahman: 198)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Masalah fitnah biasanya juga mengundang kontroversi. Makanya kita mesti mengembalikannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya yakni Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan yang memahami benar-benar hukum yang terkandung di dalamnya adalah para ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidakkah mereka bertanya ketika mereka tidak tahu, sesungguhnya obatnya bodoh itu hanya bertanya…” (HR. Abu Dawud dari Jabir bin Abdillah, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no: 4362)

Telah dimaklumi bahwa kita diperintah untuk bertanya kepada Ahlu Dzikr yakni ulama, sebagaimana ayat yang lalu.

Dalam kisah seorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ingin bertaubat disebut di sana: Maka ia ditunjukkan kepada seorang ahli ibadah, lalu ia mendatanginya dan menyatakan bahwa telah membunuh 99 jiwa, bisakah bertaubat? Jawabnya: “Tidak.” Maka dibunuhnya sekalian sehingga genap menjadi 100.

Kemudian ia mencari orang yang paling alim dimuka bumi ini, maka ditunjukkanlah dia kepada seorang ulama lalu ia katakan kepadanya bahwa telah membunuh 100 jiwa apakah bisa bertaubat? Jawabnya: “Ya, apa yang menghalangi antara kamu dengan taubat?” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini nampak jelas perbedaan antara seorang ulama dengan ahli ibadah. Fatwa seorang ulama membawa maslahat, sebaliknya fatwa seorang ahli ibadah tapi tanpa ilmu membawa mafsadah. Oleh karenanya Asy-Sya’bi menyatakan: “Apa yang datang kepadamu dari para shahabat Nabi, ambillah. Dan tinggalkan olehmu Sha’afiqah. Yakni yang tidak berilmu.”(Syarhus Sunnah Baghawi 1/318)

Atas dasar itu, prinsip ini menjadi pilihan para ulama Ahlus Sunnah sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim Ar-Razi, “Pilihan kami dalam masalah-masalah yang tidak terdapat padanya riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat dan tabi’in, adalah apa yang dipilih para imam Ahlus Sunnah di berbagai negeri…, dan meninggalkan (membuang) ide serta pendapat orang-orang yang mengaburkan masalah (dan seakan) menghiasinya, yaitu dari kalangan para pendusta.” (Syarh Ushul subhanahu wa ta’ala’tiqad Al Lalika’i: 1/202-323)

Hal ini juga ditegaskan Ibnul Qayyim melalui penjelasannya, “Seorang yang memahami kitab Allah subhanahu wa ta’ala, Sunnah Rasulullah, dan ucapan shahabat dialah yang berhak berijtihad pada perkara nawazil (kejadian atau masalah yang baru). Golongan inilah yang boleh berijtihad dan boleh diminta fatwa.” (subhanahu wa ta’ala’lamul Muwaq’in, 4/212)

Uraian di atas baik dari ayat, hadits serta penjelasan para ulama merupakan dasar yang sangat kuat yang melandasi tegaknya prinsip ini. Maka hendaknya kita berusaha keras untuk tidak bergeser darinya meskipun hanya sejengkal?

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.