Ruqyah antara Tuntunan dan “Tontonan”

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Di tengah marak dan larisnya pengobatan alternatif, ruqyah juga menjadi salah satu pilihan masyarakat. Namun ruqyah jelas berbeda dengan pengobatan lainnya. Menyamakan ruqyah dengan pengobatan alternatif lain rasa-rasanya memang kurang pas. Karena mayoritas  pengobatan alternatif yang ada banyak menggunakan klenik mistis. Dan tak semua yang dinamakan ruqyah, benar-benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak juga ‘ruqyah’ yang menggunakan mantera-mantera tertentu atau jika menggunakan doa, seringnya jauh dari tatacara yang dituntunkan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maraknya klaim atas ruqyah ini memang menyiratkan betapa pengobatan ini tengah ‘naik daun’. Sehingga banyak penghusada (baca: paranormal) yang tak malu untuk menempelkan label ruqyah pada praktek pengobatannya. Tinggal sekarang, masyarakatlah yang memilih dan memilah. Mana pengobatan yang benar-benar disebut ruqyah dan mana yang ‘ruqyah-ruqyah’-an. Apalagi, ruqyah kini juga menjadi salah satu komoditi entertainment (hiburan). Sehingga dikhawatirkan, animo masyarakat yang tinggi sebagai salah satu dampak dieksposnya ruqyah di  media massa, justru terakomodasi oleh pengobatan yang sejatinya bukan ruqyah.

Sebuah amalan yang banyak digandrungi memang memiliki kerawanan yang tinggi untuk terjadi penyimpangan. Awalnya, ibadah tersebut memang ada dasarnya dalam syariat. Namun ketika ia berubah menjadi komoditi yang mendatangkan uang, rambu-rambu syariat pun lantas dibuang.

Kita bisa melihat ketika di masyarakat muncul fenomena dzikir ramai-ramai, maka saat itulah muncul kekeliruan yang serius karena ternyata amalan tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika masyarakat demikian suka dengan cerita-cerita untuk menggugah hati atau agar manusia mau bertobat kepada Allah ‘subhanahu wa ta’ala, muncul pula penyimpangan-penyimpangan yang sangat berbahaya. Karena di samping cerita-cerita itu banyak yang dusta (fiktif), juga di dalamnya banyak mengandung khurafat yang bisa merusak akidah umat.

Karena itulah dalam edisi ini kami menyuguhkan kepada anda, pembaca, apa dan bagaimana ruqyah syar’i itu. Sehingga kita tidak terjebak dengan model pengobatan berkedok ruqyah, namun sejatinya klenik mistis. Apalagi kalau hanya terpesona dengan busana yang dikenakan sang tabib. Parameter yang digunakan adalah dalil. Karena banyak terjadi di sekitar kita, pengobatan yang dilakukan oleh ‘kyai’ atau ‘tokoh agama’ namun menggunakan doa-doa yang tidak dikenal syariat, bahkan menggunakan jin sebagai alat.

Apa yang kami lakukan ini semata sebagai nasehat bagi kaum muslimin. Karena memang celah untuk terjadi penyimpangan bisa berasal dari mana saja. Bisa jadi apa yang menurut akal dan perasaan kita baik dan memberi banyak manfaat, namun dalam pandangan syariat ternyata sesuatu yang keliru dan berbahaya. Karenanya, tidak ada jalan lain agar kita senantiasa selamat selain dengan banyak-banyak mempelajari agama ini.

Pembaca, “membentuk keluarga yang Sakinah Mawaddah warahmah”, tentu bukan kalimat yang asing di telinga kita. Karena selain memang sesuatu yang dicita-citakan pasangan suami istri, kalimat itu tanpa sadar sering diucapkan sebagai ikrar mereka yang baru melangsungkan pernikahan. Namun bagaimana memahami hal ini dengan jernih? Sehingga kalimat itu tidak sekedar pemanis bibir namun bisa diimplementasikan secara arif? Temukan jawabannya di rubrik Mengayuh Biduk.

Tema menarik lainnya juga dapat anda simak di lembar Sakinah. Seperti tema ‘mani’ wanita dalam Wanita dalam Sorotan dan kisah Fathimah, adik ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dalam Cerminan Shalihah.

Terakhir, kami segenap keluarga besar Majalah Asy-Syariah menyampaikan dukacita yang mendalam atas musibah gempa bumi yang menimpa kaum muslimin di DIY dan Jawa Tengah. Semoga para korban diberikan ketabahan serta bisa mengambil hikmah dari ini semua. Pembaca, selamat menyimak!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Buku, Racun Atau Ilmu?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Belakangan, kutipan tulisan “ilmuwan” Barat semakin banyak dijumpai dalam artikel atau buku-buku agama yang ditulis oleh mereka yang pernah mengenyam bangku perguruan tinggi ‘Islam’ atau yang terlanjur disebut ‘cendekiawan’ muslim negeri ini.

Fenomena yang terus menggejala dalam beberapa tahun terakhir ini seolah menyiratkan betapa sebagian umat Islam masih minder dengan perbendaharaan ilmu Islam. Khazanah Islam dianggap tidak memadai hingga dirasa perlu menggunakan ‘dalil-dalil’ Barat yang konon lebih dinamis dan lebih peka dengan perkembangan jaman. Atau kemungkinan kedua, mereka justru kurang mengerti Islam karena sebagian besar masa pendidikannya dicekoki oleh pemikiran-pemikiran di luar Islam yang sekuler.

Jadi, ‘bisa dimaklumi’ jika mereka kemudian sangat ‘berani’ mengeluarkan pemikiran kontroversial meski pengetahuan fiqih Islamnya dipertanyakan. Mereka juga berani mengotak-atik redaksi ayat atau hadits meski ilmu bahasa arab mereka sangat dangkal.

Itu tadi adalah ekstrem kiri. Sebaliknya, bertebaran juga buku-buku yang dipenuhi ayat al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga menyesatkan. Barangkali akan muncul pertanyaan, bagaimana mungkin menyesatkan padahal di dalamnya termuat ayat al-Qur’an dan hadits-hadits?

Inilah yang masih banyak disalahpahami masyarakat. Mereka umumnya tertipu dengan banyaknya hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memenuhi sebuah buku. Padahal jamak diketahui, tak semua hadits itu sahih. Banyak hadits lemah, hadits palsu, bahkan yang tidak ada asalnya sama sekali bertebaran “menghiasi” buku-buku di sekitar kita.

Kita juga tahu, betapa banyak kelompok di dalam dan luar (yang mengatasnamakan) Islam. Dan buku, logikanya akan menjadi corong pembenaran masing-masing kelompok. Kalau sudah begini, menjadi ‘wajar’ jika ayat atau hadits-hadits yang dimuat adalah ayat dan hadits ‘pilihan’, artinya ayat dan hadits-hadits yang mendukung pemahaman kelompok tersebut.

Caranya, ayat atau hadits—sahih ataupun tidak—dipotong-potong, ditempatkan tidak sebagaimana mestinya (dengan mengabaikan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat/asbabun nuzul dan sebab terjadinya hadits/asbabul wurud, juga digabungkan dengan hadits-hadits yang sejatinya tidak berhubungan dengan konteks masalah.

Selain itu, ayat atau hadits bakal dipahami secara ngawur dengan alasan kontekstual, disesuaikan dengan perkembangan jaman, demi mengakomodasi problem kekinian, atau cara-cara lain yang menyimpang dari pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum, murid-murid terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling mengerti apa yang dimaukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ayat dan hadits tersebut.

Atau yang paling ekstrem, adalah menciptakan hadits-hadits palsu untuk mengokohkan ide-ide kesesatan mereka. Padahal jika hadits palsu itu sudah menyentuh masalah prinsip, yakni akidah, tak ayal kesesatan yang dihasilkan pun berlipat-lipat.

Karena itu, jika masih ada yang berupaya menolerir buku-buku itu dengan alasan toleransi, “kebenaran bukan monopoli satu pihak”, apalagi cuma alasan “kebebasan berekspresi” (meminjam istilah para pembela pornografi dan pornoaksi), keimanannya patut dipertanyakan. Pasalnya, tegas-tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam orang-orang yang berdusta atas nama diri beliau.

Maka dari itu, jika kebenaran telah nyata di hadapan kita, tidak ada alasan lagi untuk membela kesalahan. Apalagi jika hanya berdalih bahwa yang menulis adalah tokoh idolanya atau orang-orang yang seide dengan kelompok atau partainya, kemudian justru membelanya mati-matian.

Galibnya, parameter buku yang baik bukanlah karena best seller, atau asal “sejuk” atau “bisa diterima semua kalangan” dan sejenisnya. Parameternya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Pembaca, bahasan tentang ziarah kubur, gambar makhluk bernyawa, dan alat kontrasepsi adalah beberapa tema menarik yang bisa Anda kaji di lembar Sakinah. Dengan tiada berpanjang kata lagi, kami persilakan Anda menyimak sajian kami!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Rintangan Dakwah, Sebuah Kemestian

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

        Meniti jalan dakwah memang tidak semulus laiknya melintasi jalan tol. Selalu ada aral, tantangan, dan berbagai bentuk ujian lainnya. Setidaknya itulah yang kami rasakan dalam bulan-bulan terakhir ini. Ketika kami mengangkat tema terorisme, ungkapan protes hingga pernyataan bernada cacian mengalir ke meja redaksi kami. Tak hanya itu. Ancaman peledakan kantor redaksi dari para pemuja Usamah bin Laden juga nyata menyela kesibukan kami.

        Berikutnya, ketika kami “mengurai” Hizbut Tahrir, juga ada pihak-pihak yang kemudian merasa gerah. Pihak HTI, secara khusus, bahkan merilis pembelaan diri melalui situs resmi mereka.

Lanjutkan membaca Rintangan Dakwah, Sebuah Kemestian

Jalan Keselamatan: Kembali kepada Shahabat!

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

 

Ketika mendengar nama Dakwah Salafiyyah, ada sebagian orang yang dalam benaknya langsung terbayang berbagai gambaran buruk. Mereka beranggapan bahwa Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang keras, suka membid’ahkan, mau benar sendiri, dan berbagai kesan negatif lainnya. Benarkah demikian? Lanjutkan membaca Jalan Keselamatan: Kembali kepada Shahabat!

Islam Hanya Satu

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Keberagaman tak selamanya indah. Syi’ah, Sufi, Ahmadiyah, Khawarij, Mu’tazilah, dan lain-lain adalah wujud keberagaman itu. Tapi toh, sekte-sekte ini tak serta merta menjadikan wajah Islam lebih manis. Yang terjadi, Islam justru kian “porak-poranda” dengan berbagai pemikiran dan fiqih “kekinian” yang sarat penyimpangan hingga membuat ajaran Islam yang sesungguhnya menjadi kabur. Sehingga amatlah naïf jika keberadaan berbagai isme ini kemudian dianalogikan dengan ragam bunga di taman yang indah dan sejuk jika dipandang, sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan para pecinta pluralisme.

“Hantu” bernama keberagaman (baca: perpecahan) ini juga menyasar pada madzhab-madzhab dalam Islam. Madzhab yang sejatinya mencirikan pembagian kelompok fiqih kemudian “berkembang” menjadi garis pemisah yang tegas di antara para penganutnya. Lebih jauh, madzhab diposisikan sebagai pintu yang harus dimasuki oleh setiap pemeluk Islam. Artinya, setiap orang Islam wajib bermadzhab. Yang ekstrim, madzhab kemudian muncul sebagai “agama” baru. Terbukti, di sejumlah negara, muncul larangan pernikahan di antara pengikut madzhab yang berbeda, larangan ber-ma`mum kepada imam yang berbeda madzhab, dan lain sebagainya.

Inikah potret indah keberagaman itu? Tentu saja tidak. Persatuan memang menjadi keharusan. Namun model persatuan yang dimaukan Islam tentu berbeda dengan produk dari teori pluralis yang hanya mencari titik kesamaan dan menafikan perbedaan-perbedaan yang prinsip. Pun bukan pula konsep “tong sampah” ala kelompok Ikhwanul Muslimin yang berusaha merangkul dan menyatukan semua aliran (termasuk kesesatannya) dengan dalih ukhuwah Islam.

Secara akal sehat, tidak mungkin orang yang mencintai shahabat disatukan dengan orang-orang yang mengkafirkannya (baca: Syi’ah). Orang yang mengimani taqdir tidak bakalan mau bergabung dengan orang-orang yang mengingkari taqdir (baca: Qadariyah). Demikian pula para pembela Sunnah Nabi, tidak akan sudi bergabung dengan para pengingkar dan penentang As Sunnah.

Islam memang melarang umatnya untuk berpecah belah. Namun bukan berarti kemudian kita bermudah-mudah dalam menjalin persatuan dengan melanggar prinsip-prinsip yang telah digariskan Islam. Sebaliknya, perpecahan umat yang telah menjadi ketetapan Allah sebagaimana disinggung dalam berbagai hadits Rasulullah, tidak lantas dijadikan alasan untuk kemudian kita pasrah dan berdiam diri, saling menghormati satu sama lain dengan dalih menjaga keutuhan umat.

Jika merujuk pada hadits Nabi tentang pecahnya Islam menjadi 73 golongan, tegas-tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa semua golongan tersebut masuk neraka, kecuali satu, yakni al-jamaah. Siapakah al-jamaah itu? Termasukkah kita di dalamnya? Lalu bagaimana cara agar kita tidak keluar dari al-jamaah? Jawaban lengkapnya dapat pembaca simak di Kajian Utama.

Di Sakinah, Mengayuh Biduk kali ini mengangkat tema seputar manajemen konflik dalam rumah tangga. Artikel ini barangkali terlalu ringkas untuk menggali secara utuh bagaimana sesungguhnya Islam mengatur kehidupan rumah tangga pemeluknya. Tapi setidaknya, kisah-kisah yang dicontohkan dalam artikel itu nantinya sedikit banyak bisa melepas dahaga kita akan ilmu mengenai hal ini.

Di rubrik Mutiara Kata, tema yang diangkat adalah larangan bagi anak-anak kita untuk keluar rumah di waktu antara Maghrib hingga ‘Isya. Barangkali, sebagiannya telah dipraktekkan oleh masyarakat karena ini merupakan ajaran orang tua ‘tempo doeloe’. Namun dalih yang dikemukakan adalah alasan-alasan yang tidak berdasar, seperti takut diculik setan, pamali, kualat, dan sebagainya. Nah di sinilah pentingnya ilmu. Alasan-alasan yang tidak berdasar ini dipatahkan dengan dalil yang sharih (jelas) yang menjadi inti ajaran Islam. Pembaca dapat menyelami lebih jauh bagaimana syariat Islam mengatur hal itu di rubrik tersebut.

Tak hanya itu. Pembaca masih dapat menyelami lautan ilmu di rubrik-rubrik menarik lainnya. Nah pembaca, tanpa berpanjang kata, kami persilahkan anda untuk langsung membuka halaman demi halaman majalah kesayangan kita ini!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Al-Jarh wa At-Ta’dil

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

“Konon”, “kabarnya”, “menurut sumber terpercaya”, “berdasarkan informasi yang masuk ke redaksi” adalah istilah-istilah yang jamak dipakai oleh media penyebar informasi kita saat ini. Di sini, kita tentu tak hendak mengulas itu semua dari perspektif kelayakan bahasa. Namun kita hendak menunjukkan betapa berita, kabar, atau apapun yang bersifat informatif yang beredar di masyarakat kita, sesungguhnya memiliki akurasi yang diragukan.

Selama ini, media banyak dicitrakan sebagai pengontrol kebijakan pemerintah, agen perubahan, penyambung lidah masyarakat, dan sebagainya.  Namun kita sering lupa, bahwa yang namanya media sulit untuk bisa bersikap objektif dan independen. Media yang anti pemerintah atau TNI/Polri misalnya, di balik ‘keindahan’ redaksionalnya, tentu akan menebar amunisi –sekecil apapun– untuk menyerang ‘musuh’-nya. Demikian juga media yang ditunggangi (kepentingan) sekelompok LSM, dipastikan bakal mendewakan penggiatnya sebagai sosok yang bersih dan tanpa cela.

Berbeda dengan Islam. Sebagai agama ilmiah, Islam –bukan oknum pemeluknya– mengedepankan sikap kehati-hatian yang tinggi dalam menyebarkan informasi kepada umatnya. Hadits, atsar shahabat, perkataan ulama, tarikh (sejarah) dan sebagainya, semuanya merupakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kepada publik. Sehingga dalam Islam tidak dikenal istilah “legenda rakyat” atau “cerita mitos”, karena Islam memang bukan rekaan atau karya sastra.

Namun demikian bukan berarti Islam menihilkan perbedaan. Perbedaan dalam mengukur kesahihan informasi memang terkadang muncul tanpa bisa dielakkan. Tapi perbedaan yang ditolerir Islam di sini adalah perbedaan yang dilatari dalil-dalil ilmiah. Bukan dalil yang dibangun di atas fanatisme madzhab atau golongan. Bukan pula pembenaran yang dibangun di atas logika yang dangkal.
Nah, al-jarh wat ta’dil adalah bagian dari proses keilmiahan Islam ini. Dengan metode ini, kesahihan informasi didasarkan atas integritas dan kapabilitas penyampainya. Bukan laiknya media agitator di mana mata rantai informasinya berdasarkan katanya dan katanya. Siapa sesungguhnya pembawa informasi tidak begitu menjadi soal. Yang penting bombastis, layak jual, syukur-syukur bisa melahirkan polemik.

Selain sebagai dasar ilmu hadits, al-jarh wat ta’dil juga diterapkan sebagai benteng bagi tersebarnya pemikiran atau isme-isme menyimpang yang banyak dikumandangkan sejumlah ‘intelektual’ Islam, orientalis, para ‘penjaja’ dan pengekor ideologi Barat. Lebih jauh tentang apa dan bagaimana al-jarh wat ta’dil ini dapat anda simak dalam Kajian Utama.

Lembar Sakinah, masih menghadirkan kajian-kajian menarik seputar kewanitaan dan keluarga. Di rubrik Mengayuh Biduk, giliran “khidmat” menjadi tema ulasan. Sikap khidmat (bakti) istri kepada suami, secara teori, sepertinya memang bukan hal yang sulit dilakukan oleh seorang istri. Namun prakteknya justru jauh panggang dari api. Banyak kita jumpai fenomena rumah tangga di mana istri cenderung bermalas-malasan dan menyerahkan segalanya kepada pembantu. Padahal bagi suami, nilai ketulusan istri, meski itu hanya menyajikan secangkir teh setiap pagi bisa menjadi penyemai cinta suami kepada sang istri. Repotnya, jika sang suamilah yang selama ini justru melakukan rutinitas rumah tangga setelah seharian lelah bekerja. Sementara sang istri justru asyik ngrumpi di rumah tetangga. Bahkan, bagi yang sibuk meniti karir, sekedar berbincang dengan suami hanya bisa dilakukan saat sarapan dan akhir pekan.

Lanjutan dari edisi sebelumnya, Wanita dalam Sorotan kali ini masih mengulas hukum berhijab. Kali ini yang diulas adalah Hukum Berhijab di hadapan Pria Banci atau lazim disebut waria. Detilnya, pembaca dapat menyimaknya di halaman 68.

Nah pembaca, langsung saja anda buka majalah kesayangan anda ini, simak kajian menarik dan temukan lautan ilmu di dalamnya, karena ilmu adalah ciri khas kami!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Potret Buram Jihad

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Jihad memang bukan lagi ‘sesuatu’ yang baru. Seiring maraknya aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia, jihad menjadi istilah yang sangat populer dan acap menghiasi berbagai media. Di sini, pandangan masyarakat sebenarnya beragam. Sebagian ada yang ‘memaklumi’ karena ada akumulasi motif yang melatari tindakan pelakunya, terlepas dari apa dan siapa sasaran aksinya. Namun, kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan jihad itu tak pelak memicu sentimen negatif terhadap salah satu amalan yang disyariatkan Islam ini. Terlebih, para pelaku umumnya mengklaim aksinya merupakan salah satu bentuk jihad melawan pihak-pihak (termasuk kepentingannya) yang selama ini dianggap telah banyak menistakan Islam. Berbekal klaim ini, masyarakat umum pun kian yakin bahwa jihad memang identik dengan kekerasan.

Di pihak lain, ada tokoh-tokoh Islam yang justru berusaha mempreteli amalan jihad dari bangunan syariat. Dengan berbagai argumen dan propaganda, mereka berusaha mereduksi jihad sedemikian rupa sehingga jihad tak lebih dari sekedar istilah belaka. “Jihad adalah kesungguhan,” kata mereka. Jadi orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam banyak hal. Demikian manis racun propaganda ini ditebarkan -meski secara etimologis dan terminologis salah- di kalangan kaum muslimin. Walhasil, mereka pun menutup mata ketika ada saudara-saudaranya seiman diperangi, dibunuh secara keji, diusir dari negeri-negeri mereka, dan seterusnya.

Potret ‘buram’ jihad di atas memang menuntut kita untuk meluruskannya. Karena itu, jihad menjadi tema yang layak diangkat sebagai Kajian Utama kita kali ini. Di dalamnya juga ada kajian khusus yang membantah tulisan-tulisan dalam buku “Aku Melawan Teroris”. Imam Samudra, sang penulis memang sangat populer karena terkait dengan sejumlah aksi peledakan bom di tanah air  Untuk itulah kami sengaja memuat bantahan ini mengingat racun yang ‘sang teroris’ tebarkan dalam bukunya itu amat berbahaya bagi umat.

Di rubrik Sakinah, pembaca juga akan disuguhi sejumlah tema menarik. Di antaranya adalah kiat-kiat menjadi istri yang baik. Galibnya, wanita memang mengangankan dirinya menjadi wanita/ istri yang shalihah. Namun kepada siapa mereka bercermin selama ini? Kepada artis X atau supermodel Y atau biduanita Z? Lalu siapakah sebaik-baik teladan bagi para muslimah? Jawaban lengkapnya dapat anda simak di rubrik Mengayuh Biduk.

Sakinah kali ini juga menyoroti hukum Melepas Hijab di hadapan sesama wanita dan budak yang dimiliki. Kajian ini menjadi urgen mengingat para muslimah cenderung mengabaikan hal ini, sehingga tanpa sadar mereka sering memamerkan auratnya meski itu dilakukan di depan sesama wanita. Sebagai agama nan sempurna, Islam sesungguhnya detil menjelaskan bagaimana batasan aurat wanita yang boleh diperlihatkan kepada sesama jenis. Lebih jauh, pembaca dapat menyelaminya dalam Wanita dalam Sorotan. Dan masih banyak kajian lainnya yang bisa anda simak.

Terakhir, redaksi mengajak pembaca  untuk turut membantu saudara-saudara kita di Aceh yang tengah mengalami musibah. Meski agak ‘terlambat’ karena terbentur jadwal terbit, Anda masih dapat mengirimkan sumbangan melalui rekening yang tertera dalam maklumat di majalah kita ini.
Selamat menyimak!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Makna ulama

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Di negeri muslim terbesar di dunia ini, kata ulama banyak diinterpretasikan sebagai sosok tua yang memiliki banyak pengikut, memiliki “kelebihan” tertentu, dan bila menjelang pemilu ia banyak di-sowani tokoh-tokoh politik untuk minta restu dan dukungan. Bila datang ke suatu tempat, berbondong-bondong orang datang untuk melihatnya, mencium tangannya, dan minta “berkah” darinya. Apa yang dikatakan selalu diikuti tanpa sedikitpun ada pertanyaan apalagi bantahan.

Bagi sebagian muslimin lainnya, yaitu dari kalangan yang merasa dirinya terpelajar, kemunculan orang-orang yang mengusung dakwah Islamiyah dengan metode yang sedikit lebih ‘ilmiah’ dan retorika menawan –terlebih bila banyak diselipi lelucon–, akan dengan mudah diterima oleh mereka. Sang da’i pun langsung ditahbiskan sebagai ulama.

Kritikan yang muncul kepada tokoh ini akan ditanggapi oleh pengikutnya sebagai sikap mau menang sendiri dan iri hati terhadap keberhasilan tokoh tersebut. Meski di belakang hari diketahui sang “ulama” tersebut telah meniti karir baru sebagai seorang politikus, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan dirinya ingin menjadi presiden.

Ulama, dalam sebuah ayat diterangkan, mereka adalah orang yang paling takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mengapa? Karena mereka adalah orang yang paling paham tentang Allah subhanahu wa ta’ala, paling paham tentang kebesaran kekuasaan-Nya, tentang al-jannah (surga), dan an-naar (neraka), tentang balasan yang akan diterima dari tiap amal seseorang, dan hal-hal lain yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Lantas, apa jadinya umat ini bila memiliki ulama seorang politikus atau seorang yang berambisi menjadi presiden?

Inilah realita yang banyak muncul di sekeliling kita. Ketidaktahuan umat akan makna ulama yang benar banyak menggiring manusia ke jalan kesesatan. Akibatnya, banyak perilaku umat yang sebenarnya telah keluar dari koridor syariat dianggap sebagai sebuah amal ibadah, bahkan dianggap sebagai jihad. Sebabnya karena mereka mengikuti orang yang tidak pantas untuk diikuti, namun oleh mereka dianggap sebagai ulama.

Pembaca, inilah kajian utama majalah kita edisi ini, yaitu pembahasan seputar ulama menurut pandangan Ahlus Sunnah. Apa ciri-ciri ulama yang hakiki itu? Tentunya dari pembahasan ini nantinya tidak ada lagi pembaca yang dengan mudah memberi gelar ulama kepada seseorang hanya semata disebabkan aktivitas dakwah yang dilakukannya.

Berikutnya ingin kami sampaikan kepada segenap pembaca sebuah berita yang sebenarnya kami pun merasa berat untuk menyampaikan. Berkaitan dengan rencana pemerintah yang dalam waktu dekat akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), berimbas pada kenaikan harga barang-barang lain, termasuk juga harga kertas.

Kami telah mendapat kabar dari pihak percetakan bahwa mereka telah menetapkan kepastian kenaikan harga cetak majalah. Kemungkinan kenaikan tersebut mulai berlaku awal tahun 2005. Selain kenaikan biaya cetak, kami juga harus menghadapi kenaikan-kenaikan di bidang lain, di antaranya adalah biaya pengiriman majalah. Karenanya, mau tidak mau kami pun berencana menaikkan harga Asy Syariah menjadi Rp 6.000,00 (Jawa) dan Rp 7.000,00 (luar Jawa). Kami harap pembaca memakluminya.

Kami beritahukan pula, untuk edisi kali ini kami terpaksa menghilangkan halaman berwarna agar biaya cetak bisa sedikit berkurang, sehingga sisa biaya yang ada bisa untuk mengantisipasi harga-harga di bidang lain yang sudah mulai naik. Insya Allah setelah harga Asy Syariah benar-benar naik, halaman berwarna akan kembali kami munculkan.

Harapan kami, kenaikan harga itu tidak semata untuk menyesuaikan dengan tuntutan biaya produksi semata. Namun kami ingin kenaikan harga itu juga diiringi dengan makin bagusnya pelayanan kami kepada pembaca, sehingga kenaikan harga itu tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang memberatkan. Mudah-mudahan demikian. Wallahu a’lam.

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Meniru Perilaku Kafir

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Setiap mengawali pergantian tahun (Masehi), akan kita jumpai bagaimana meriahnya  masyarakat dalam merayakannya. Fenomena tahun baru berikut ritus yang dilakukan masyarakat itu hanyalah secuil fakta betapa produk budaya Barat telah menjadi bagian dari ritme kehidupan umat. Di tempat lain, “dengan niat baik”, sebagian umat Islam menggelar “ritual tahun baru” guna menandingi maraknya acara-acara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Paling akhir, menjamurnya acara reality show di televisi semacam AFI dan Indonesian Idol juga “menggugah” sebagian umat Islam untuk  menggelar acara serupa. Lahirlah kemudian kontes Nasyid.

Dua fenomena di atas seolah merupakan dua sisi dari sekeping uang logam. Namun jika ditelusuri lebih dalam, keduanya sama-sama cermin dari sikap latah umat ini meski niat yang melatarinya berbeda.

Lembar sejarah telah lama mencatat, lahirnya peringatan Maulid Nabi beberapa abad sepeninggal generasi terbaik umat ini, juga lahir dari “niat baik” semata. Teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya seolah diabaikan begitu saja.

Tanpa sadar, umat Islam telah mempunyai “hari natal tandingan” sendiri. Yang miris, melihat faktanya, peringatan Maulud Nabi dan semacamnya pada prakteknya juga sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan boleh dikatakan menyentuh pun tidak. Setelah hari-hari yang dirayakan itu berlalu, masyarakat yang merayakannya pun tak memperoleh nilai tambah. Mereka masih awam tentang sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih untuk mengamalkannya.

Masih soal latah. Dalam hal pemahaman agama, para ‘pakar’ Islam juga lebih percaya diri menggunakan konsep-konsep yang ditawarkan tokoh-tokoh Barat. Dalil mereka bukan lagi Al Qur’an dan As Sunnah, tetapi pendapat para orientalis. Pemahaman Islam yang masih murni justru ditempeli segudang julukan negatif seperti puritan, tekstual, jumud, ekstrim, dan kaku. Sementara pemahaman yang merupakan hasil olah pikir pemikir Barat merupakan langkah maju dan sikap kritis yang demokratis.

Di bidang eknomomi, para pakar kita jugalah yang paling bersemangat membela sistem ekonomi Barat. Meski terbukti, konsep ekonomi mereka tak mampu mengentaskan permasalahan yang membelit negeri ini.

Sekali lagi, itulah fenomena keminderan umat ini. Kesan bahwa apa-apa yang dari Barat (baca: Nashrani) lebih maju demikian kuat. Segala yang berbau Barat, baik berupa busana, pola hidup, maupun pemikiran ditelan mentah-mentah oleh umat. Celana jeans tentu lebih dipilih kawula muda ketimbang sirwal atau sarung. Jas lengkap dengan dasi juga menjadi prioritas utama dibandingkan dengan gamis misalnya. Para ABG barangkali juga lebih mengenal artis-artis Hollywood ketimbang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semua ini adalah gambaran betapa umat ini tanpa sadar telah menjadi pengekor budaya kaum kafir. Sikap menyerupai orang kafir dalam pemikiran, budaya, pola hidup, terbukti demikian kronis menjangkiti umat ini.

Tema tasyabbuh inilah yang kami angkat untuk kajian utama edisi kita kali ini. Mengingat, tasyabbuh merupakan perilaku umat yang sering dilakukan namun tidak pernah disadari bahayanya bagi aqidah. Lebih detil, pembaca dapat menyimak beberapa rubrik lain yang juga membahas tema di atas.

Di lembar Sakinah, tepatnya dalam rubrik Mengayuh Biduk, pembaca akan disuguhi artikel tentang sikap sabar dalam melihat kekurangan pasangan (suami/ istri) masing-masing. Sebuah sikap yang barangkali sulit dijumpai di tengah kehidupan rumah tangga saat ini. Juga masih ada kajian tentang mahram susuan, sebagai kelanjutan dari artikel edisi-edisi sebelumnya. Tanpa berpanjang kata, kami dari redaksi, mempersilahkan anda untuk menyimak lembar demi lembar majalah ini.

Selamat mengkaji!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته