Hakikat Umur Kita

 

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

“Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya, niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Apabila engkau berbuat buruk terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula dengan malammu.”

“Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil apa pun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa sedang mengurangi usiamu, sejak engkau dilahirkan dari perut ibumu.”

“Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu, yang keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan bahayanya siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa jadi engkau datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar (neraka). Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu sendiri?”

“Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap kali berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu.”

(Mawa’izh Lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 35)

Tangisan Seorang Mukmin

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Barang siapa yang ilmunya membuat dia menangis, maka dia seorang yang alim.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَۤ لِلۡأَذۡقَانِۤ سُجَّدٗاۤ ١٠٧

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepadanya, mereka menyungkurkan muka mereka sambil bersujud.” (al-Isra’: 107)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُ ٱلرَّحۡمَٰنِ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَبُكِيّٗا۩ ٥٨

“Apabila dibacakan ayat-ayat Ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pemurah) kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan sujud dan menangis.” (Maryam: 58) (Mawa’izh lil Imam Sufyan ats-Tsauri, hlm. 132—133)

 

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Andai seseorang menangis pada sekumpulan manusia karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, niscaya mereka dirahmati semuanya.”

“Tidak ada satu amalan pun kecuali ada timbangannya yang jelas kecuali menangis karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tidak membatasi sedikit pun nilai dari setiap tetes air matanya.”

Beliau juga berkata, “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaan dia.” (Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 109)

 

Abdul Karim bin Rasyid rahimahullah berkata, “Aku pernah berada di majelis al-Hasan al-Bashri, kemudian ada yang menangis dengan mengeraskan tangisannya. Al-Hasan berkata, ‘Sesungguhnya sekarang setan telah membuat orang ini menangis’.” (Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 152)

Bekerja dan Beramal

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,

Wahai saudaraku, hendaknya engkau memiliki pekerjaan dan penghasilan yang halal yang kamu peroleh dengan tanganmu. Hindari memakan atau mengenakan kotoran-kotoran manusia (maksudnya pemberian manusia, –ed.). Sebab, sesungguhnya orang yang memakan kotoran manusia, laksana orang yang memiliki sebuah kamar di bagian atas, sedangkan yang di bawahnya bukan miliknya. Ia selalu takut terjatuh dan kamarnya roboh. Karena itu, orang yang memakan kotoran-kotoran manusia akan berbicara sesuai hawa nafsu. Dia merendahkan dirinya di hadapan manusia karena khawatir mereka akan menghentikan (bantuan) untuknya.

Wahai saudaraku, jika menerima sesuatu dari manusia, engkau pun memotong lisanmu (bungkam, tidak berani bicara di saat wajib menegur mereka). Engkau akan memuliakan sebagian orang dan merendahkan yang lain, padahal ada balasan yang akan menimpamu di hari kiamat. Maka dari itu, harta yang diberikan oleh seseorang kepadamu hakikatnya adalah kotorannya. Tafsir dari ‘kotorannya’ adalah pembersihan amalannya dari dosa-dosa.

Jika menerima sesuatu dari manusia, saat mereka mengajakmu kepada kemungkaran engkau pun menyambutnya. Jadi, orang yang memakan kotoran manusia bagaikan orang yang memiliki sekutu-sekutu dalam suatu perkara yang mau tidak mau dia akan menjadi bagian dari mereka.

Wahai saudaraku, kelaparan dan ibadah yang sedikit itu lebih baik daripada engkau kenyang dengan kotoran-kotoran manusia sekalipun banyak beribadah. Sungguh, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah n bersabda, “Andai salah seorang dari kalian mengambil seutas tali lalu mengumpulkan kayu bakar dan memikulnya di belakang punggungnya, niscaya lebih baik baginya daripada terus-menerus meminta kepada saudaranya atau mengharap darinya.”

(Dinukil dari kitab Mawa’izh lil Imam Sufyan ats-Tsauri, hlm. 82—84)

Menjahui Popularitas

Dari Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, katanya, “Pada suatu hari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya, lantas (ada beberapa) orang membuntutinya. Ia bertanya, ‘Apakah kalian punya keperluan?’

‘Tidak, akan tetapi kami ingin berjalan bersamamu,’ jawab mereka.

‘Kembalilah, sesungguhnya hal itu sebuah kehinaan bagi yang mengikuti dan membahayakan (fitnah) hati bagi yang diikuti,’ tukas Ibnu Mas’ud.” (Shifatush Shafwah, 1/406)


Dari al-Harits bin Suwaid rahimahullah, katanya, “Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Seandainya kalian mengetahui diriku (seperti) yang aku ketahui, pasti kalian akan menaburi tanah di atas kepalaku’.” (Shifatush Shafwah, 1/406, 497)


Dari Bistham bin Muslim rahimahullah, katanya, “Adalah Muhammad bin Sirin rahimahullah jika berjalan bersama seseorang, ia berdiri dan berkata, ‘Apakah kamu punya keperluan?’

Jika orang yang berjalan bersamanya mempunyai keperluan, maka ia tunaikan. Jika kembali berjalan bersamanya, ia bertanya lagi, ‘Apakah kamu mempunyai keperluan?’.” (Shifatush Shafwah 3/243)


Dari al-Hasan rahimahullah, salah seorang murid Ibnul Mubarak rahimahullah, katanya, “Pada suatu hari aku bepergian bersama Ibnul Mubarak. Lalu kami mendatangi tempat air minum yang manusia berkerumun untuk mengambil airnya. Ibnul Mubarak mendekat untuk minum. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya sehingga mereka mendesak dan menyingkirkannya. Ketika telah keluar, berkatalah ia kepadaku, ‘Inilah kehidupan, yaitu kita tidak dikenal dan tidak dihormati.’

Ketika berada di Kufah, kitab manasik dibacakan kepadanya, hingga sampai pada hadits dan terdapat ucapan Abdullah bin al-Mubarak (Ibnul Mubarak, red.) dan kami mengambilnya. Ia berkata, ‘Siapa yang menulis ucapanku ini?’

Aku katakan, ‘Penulis.’

Maka ia mengerik tulisan itu dengan jari tangannya hingga terhapus kemudian berkata, ‘Siapakah aku hingga ditulis ucapannya?’.” (Shifatush Shafwah, 4/135)


Dari seseorang, katanya, “Aku melihat wajah al-Imam Ahmad sangat muram setelah dipuji seseorang (dengan ucapan) ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah subhanahu wa ta’la membalas Anda dengan kebaikan, red.) atas perjuangan Islam Anda.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘Bahkan Allah subhanahu wa ta’la telah memberi kebaikan Islam kepadaku. Siapakah dan apa aku ini?’.” (Siyar A’lamin Nubala, 11/225)

Dosa

Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berdusta saat aku mengetahui bahwa kedustaan merugikan pelakunya.” (Siyar A’lam an-Nubala, 5/121)

 

Ibn Syubrumah rahimahullah berkata,  “Aku heran terhadap orang yang memerhatikan makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam an-Nubala, 6/348)

 

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah l itu lebih besar dari yang bisa hamba tunaikan dan nikmat Allah l itu lebih banyak dari yang bisa dihitung. Hendaknya seseorang itu bertobat di pagi dan sore hari.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/602)

 

Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah berkata, “Tanda tobat ialah menangis (menyesal) atas perbuatan (dosa) yang telah dilakukan dan takut akan terjatuh kembali ke dalam dosa (tersebut), tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, dan senantiasa bersama dengan orang-orang yang baik.” (Siyar A’lam an-Nubala, 9/315)

Akhir Perjalanan Ahli Bid’ah

Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Tidak ada seseorang yang mengadakan suatu kebid’ahan melainkan suatu saat dia akan menganggap halal menghunus pedang (menumpahkan darah kaum muslimin atau memberontak kepada pemerintah).” (al-I’tisham 1/112, ad-Darimi, 1/58 no. 99)

  Lanjutkan membaca Akhir Perjalanan Ahli Bid’ah

Al-Ilmu

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah berkata: “Para ulama di muka bumi seperti bintang-bintang di langit. Bila bintang-bintang itu tampak, maka orang-orang mengambil petunjuk dengan bintang-bintang itu. Dan bila bintang-bintang itu tidak terlihat oleh mereka, mereka menjadi bingung.”

Abul Aswad Ad-Duali rahimahullah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu. Para raja adalah hakim atas manusia sedangkan para ulama adalah hakim atas raja-raja.”

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata:  “Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu’.”

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala adalah orang yang kedudukannya berada di antara Allah dan hamba-hamba-Nya. Mereka adalah para Nabi dan para ulama.”

(Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, Ibnu Jamaah Al-Kinani)

Iman

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata kepada sahabatnya, “Marilah kita menambah iman!” Lalu mereka berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hubaib bin Hamasah radhiallahu ‘anhu berucap, “Sesungguhnya iman bertambah dan berkurang.”

Ia ditanya, “Apakah tanda bertambah dan berkurangnya?”

Ia menjawab, “Jika kita mengingat dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu tanda bertambahnya keimanan; dan jika kita lalai, lupa, dan menyia-nyiakan waktu, itu pertanda berkurangnya iman.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Seluruh keyakinan yang benar adalah keimanan.” (Maksudnya keyakinan yang mendorong amal saleh).

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata, “Marilah duduk bersamaku untuk beriman (berzikir) sesaat.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bertutur, “Aku mencari jannah (surga) dengan keyakinan, lari dari neraka dengan keyakinan, menunaikan kewajiban dan sabar di atas kebenaran dengan keyakinan.” (maksudnya dengan iman)

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah menulis surat kepada ‘Adi bin ‘Adi, “Sesungguhnya iman mempunyai kewajiban-kewajiban, syariat-syariat, hukum-hukum, dan sunnah-sunnahnya. Barang siapa menyempurnakan perkara-perkara tersebut maka ia telah menyempurnakan keimanannya. Dan barang siapa tidak menyempurnakannya berarti ia belum menyempurnakan keimanannya. Jika aku masih diberi umur panjang, aku akan menjelaskan masalah ini kepadamu hingga kamu melaksanakannya. Jika aku mati, maka aku memang tidak bersemangat untuk bersama kalian.”

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bila keimanan bersemi dalam hati sesuai dengan tuntunan syariat niscaya hati rindu terbang ke jannah dan takut dari siksa neraka.”

Luqman berkata, “Amal tidak mampu tegak kecuali dengan iman. Barang siapa lemah keimanannya, maka lemah amalnya.”

Abdullah bin Ukaim rahimahullah bercerita, “Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdoa, ‘Ya Allah, tambahkan keimanan, keyakinan, dan pemahamanku’.”

(Dari Fathul Bari karya Ibnu Rajab al-Hanbali, Maktabah Sahab)

Takut Kepada Allah

Abu ‘Ubaidah radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketahuilah, berapa banyak orang memutihkan baju tetapi mengotori agama. Ketahuilah berapa banyak manusia memuliakan diri sendiri padahal ia hina. Gantilah amal-amal jelek yang telah lewat dengan amal-amal baik sekarang!” (Siyar A’lamin Nubala, 1/18)


Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berpesan, “Kalian dalam perjalanan malam dan siang, umur-umur berkurang, amal-amal tercatat, serta kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa yang menanam kebaikan akan segera menuai kesenangan dan siapa yang menanam kejelekan akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam mendapatkan apa yang ditanam. Yang telah menjadi bagiannya tidak akan meleset darinya, dan ketamakan tidak akan meraih apa yang tidak ditakdirkan. Siapa yang memberi kebaikan maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya kebaikan dan siapa yang menjaga diri dari kejelekan maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjaganya. Orang-orang bertakwa adalah pemimpin, ahli fiqih adalah penuntun, dan duduk bersama mereka adalah tambahan (ilmu).” (Siyar A’lamin Nubala, 1/497)


Qubaishah bin Qais al-’Anbari rahimahullah bertutur, “Adalah adh-Dhahhak bin Muzahim, bila datang waktu sore selalu menangis. Lalu ia ditanya, ‘Mengapa kamu menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu apakah amalku naik (diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala) pada hari ini.’” (Shifatush Shafwah, 4/150)


Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah mengisahkan,”Kami pernah bepergian bersama Ibnul Mubarak dan banyak pertanyaan yang terlintas di benakku terhadap dirinya, apa yang menyebabkan lelaki ini dihormati hingga ia sangat populer di kalangan manusia? Jika ia shalat, puasa, jihad dan haji; kami juga shalat, puasa, jihad dan haji. Pada suatu perjalanan menuju Syam pada malam hari, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu mati. Seseorang berdiri mengambil lampu dan menyalakannya. Sejenak ia diam kemudian lampu menyala. Sesaat kemudian aku melihat wajah Ibnul Mubarak dan janggutnya basah dengan air mata. Batinku berkata, “Karena rasa takut itulah lelaki ini dihormati melebihi kami, barangkali ketika lampu dibawa, ia berjalan menuju kegelapan dan mengingat hari kiamat lalu menangis.” (Shifatush Shafwah, 4/140)


Ibnu Syaudzab rahimahullah, “Ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu wafat, dia (Ibnu Syaudzab  rahimahullah) menangis. Ia ditanya mengapa menangis, ia menjawab, ‘Jauhnya perjalanan akhirat, sedikitnya bekal, dan perjalanan menanjak. Orang yang jatuh ke dalamnya bisa jadi jatuh ke dalam surga atau ke dalam neraka.’” (Siyar A’lamin Nubala, 1/694)

(Dipetik dari Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hlm. 17—18)