Balasan untuk Kaum Perusak

 

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Maidah: 33)

 

Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang dari kabilah Urainah yang datang ke Madinah.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang berkata,

“Sekelompok orang yang berasal dari ‘Ukul mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas masuk Islam. Kemudian mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota Madinah karena cuaca yang tidak bersahabat dengan kondisi mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk mendatangi tempat unta sedekah digembalakan agar mereka bisa meminum air kencing dan susu unta tersebut. Mereka pun melakukannya dan menjadi sehat. Tak disangka, mereka justru murtad dan membunuh para penggembalanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar jejak mereka diikuti. Mereka pun berhasil diringkus dan dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memotong tangan dan kaki mereka, mencungkil mata mereka, dan mata mereka ditusuk dengan besi panas hingga mereka mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim, mereka berasal dari kabilah ‘Ukul atau ‘Urainah. Dalam riwayat lain, mereka dibuang di bawah terik matahari dan dibiarkan hingga mati.

Dalam riwayat lain, mereka meminta minum dan mereka tidak diberi minum.

Dalam riwayat al-Bukhari, Abu Qilabah berkata, “Mereka mencuri lalu membunuh, murtad setelah beriman, dan memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencungkil mata-mata mereka karena mereka telah mencungkil mata-mata para penggembala unta tersebut.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya berkaitan dengan kejadian ini.

  

  1. Ayat ini berkaitan dengan sekelompok ahli kitab yang memiliki perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lalu membatalkan perjanjian itu dan melakukan perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla kemudian memberi pilihan: membunuh mereka atau memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.

Ini adalah pendapat adh-Dhahhak dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

 

  1. Ayat ini berkenaan dengan teman-teman Abu Burdah al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Mereka melakukan perampokan terhadap satu kaum yang datang ingin memeluk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin.

Ini merupakan pendapat al-Hasan dan diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Zadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/540—541)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang benar, ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrikin dan selain mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Tafsir Ayat

يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا

“Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ada beberapa penjelasan ulama tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta berjalan di muka bumi dengan kerusakan.

  • Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya,

Muharabah artinya melakukan perlawanan dan menyelisihi. Yang dimaksud bisa jadi kekufuran, menyamun di jalan, dan mendatangkan rasa takut dalam perjalanan. Demikian pula bentuk melakukan perusakan di muka bumi, yang dikategorikan beberapa jenis perbuatan kejahatan.

“Bahkan, banyak kalangan ulama salaf, termasuk Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa pinjam-meminjam uang dinar dan dirham (dengan cara riba –pen.) termasuk bentuk perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(al-Baqarah: 205)

 

  • Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah yang menampakkan permusuhan secara terang-terangan, merusak di muka bumi dengan kekufuran dan pembunuhan, merampas harta, dan memberi rasa takut di jalan-jalan.

“(Pendapat) yang masyhur, ayat yang mulia ini menjelaskan tentang hukum para penyamun di jalanan, yang mengganggu perjalanan manusia di kota-kota dan pedalaman, mengambil paksa harta mereka, membunuh, menakut-nakuti mereka, sehingga manusia tidak mau melewati jalan yang mereka ada di sana yang berakibat terhentinya aktivitas mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Dari penjelasan di atas, di antara kesimpulannya, yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya tidak terkhusus untuk orangorang kafir, tetapi juga kaum muslimin yang memiliki sifat “memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di muka bumi”.

Bahkan, seseorang yang bermuamalah dengan cara riba pun termasuk kategori mereka yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Demikian pula para ahli bid’ah yang menghalalkan darah kaum muslimin, melakukan perusakan, merampas harta, menculik, mendatangkan rasa takut masyarakat di sebuah negeri, dan yang semisalnya. Semua itu merupakan bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa yang dimaksud “memerangi” dalam ayat ini adalah jika dilakukan di jalan-jalan. Adapun jika dilakukan di dalam perkotaan, hal itu tidak termasuk.

Pendapat ini menyelisihi pandangan mayoritas para ulama mazhab Maliki, Syafi’i, al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Ahmad bin Hambal. Bahkan, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seseorang yang dikelabui orang lain lantas dibawa ke dalam rumah lalu dibunuh dan dirampas hartanya, juga termasuk bentuk peperangan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan kaum teroris yang melakukan pembantaian dan perusakan di muka bumi, seperti yang dilakukan oleh

  • kaum Khawarij dengan berbagai nama dan kelompoknya,
  • kaum Syiah Rafidhah yang memerangi kaum muslimin di berbagai negeri, dan
  • kaum komunis dengan berbagai bentuknya.

Itu adalah bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi.

Diterangkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap kelompok yang memiliki kekuatan namun enggan taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. “Siapa yang beramal di muka bumi tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dia telah melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, para ulama salaf menjelaskan bahwa ayat ini berlaku untuk kaum kafir dan ahli kiblat (kaum muslimin).

“Karena itulah, mayoritas imam agama menggolongkan para penyamun yang menampakkan senjatanya untuk sekadar merampas harta dan orang yang berperang untuk mengambil harta, sebagai orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan; meskipun mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan itu haram; meski mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Orang yang meyakini halalnya darah dan harta kaum muslimin, serta menganggap halal memerangi mereka, lebih pantas disebut sebagai “orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan” daripada mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya).

“Hal ini sebagaimana halnya seorang kafir harbi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dan berpandangan bolehnya memerangi mereka, lebih pantas diperangi daripada orang fasik yang meyakini diharamkannya hal tersebut.

“Demikian pula halnya ahli bid’ah yang meninggalkan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya. Mereka lebih pantas diperangi daripada orang fasik; meskipun mereka menganggap perbuatannya sebagai agama yang mendekatkan dirinya kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Demikian pula halnya kaum Yahudi dan Nasrani yang meyakini tindakan memerangi kaum muslimin sebagai cara mereka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Oleh karena itu, para pemimpin Islam bersepakat bahwa bid’ah yang berat ini lebih berbahaya daripada dosa-dosa yang diyakini oleh pelakunya sebagai dosa.

“Hal ini telah berlaku dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan untuk memerangi kaum Khawarij yang meninggalkan sunnah beliau, dan memerintah kaum muslimin untuk bersabar menghadapi kezaliman para penguasa dan tetap shalat di belakang mereka, meski mereka melakukan perbuatan dosa.

“Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan sebagian sahabatnya yang masih melakukan perbuatan dosa bahwa dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Beliau juga melarang melaknat mereka. Beliau memberitakan pula tentang Dzul Khuwaishirah dan para pengikutnya—yang memiliki ibadah dan sikap wara’—bahwa mereka telah keluar meninggalkan Islam seperti halnya anak panah yang keluar meninggalkan sasarannya. (Majmu’ al-Fatawa, 28/470—471)

 

Hukuman Bagi Perusak di Muka Bumi

Adapun makna firman Allah ‘azza wa jalla,

أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ

“Mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.

Di dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tentang hukum orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi, bahwa hukum terhadap mereka;

  • dibunuh
  • disalib
  • dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang
  • diasingkan dari muka bumi

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, apakah hukum yang disebutkan ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada penguasa negeri?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada keputusan penguasa negeri. Ini merupakan pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan adh-Dhahhak, serta dihikayatkan pula dari Malik bin Anas.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Barang siapa menghunuskan senjatanya di tengah kaum muslimin, mendatangkan rasa takut di jalan, lalu ia berhasil diringkus dan dihukum, pemimpin kaum muslimin diberi pilihan dalam menetapkan hukumnya: (1) jika ingin, dibunuh, (2) dan jika ingin, disalib, (3) dan jika ingin, dipotong tangan dan kakinya.”

Abu Tsaur berkata, “Penguasa diberi pilihan berdasarkan zahir ayat ini. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata ‘atau’ maka pelakunya diberi pilihan.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat ini lebih tampak berdasarkan zahir ayat.” (Tafsir al-Qurthubi)

Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini diterapkan sesuai dengan keadaan, seperti yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang hukum para penyamun, “Jika membunuh dan merampas harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika membunuh namun tidak merampas harta, mereka dibunuh tanpa disalib. Jika merampas harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Jika melakukan teror di jalan tanpa merampas harta, mereka diasingkan dari muka bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika dia merampas harta, dipotong tangan kanannya dan dipotong kaki kirinya, lalu dia dilepas. Sebab, kejahatan ini lebih dari sekadar mencuri dengan cara menyerang. Jika dia membunuh, dia pun dibunuh. Jika dia merampas harta dan membunuh, dia dibunuh dan disalib.” (Tafsir al-Qurthubi)

Ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam Tafsir-nya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihissalam tentang hukum yang diterapkan bagi orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Siapa yang mencuri dan membuat teror di jalan, potonglah tangannya sebagai hukuman dia mencuri; dan potong kakinya sebagai hukuman dia melakukan teror di jalan. Siapa yang membunuh, bunuhlah dia. Siapa yang membunuh lalu membuat teror di jalan dan menghalalkan kemaluan (memperkosa), saliblah dia!” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Makna Disalib

Ada perselisihan di kalangan para ulama tentang cara menyalibnya.

  • Sebagian para ulama mengatakan bahwa ia dibunuh terlebih dahulu lalu disalib. Ini merupakan pendapat yang zahir dari mazhab Syafi’i.
  • Ada pula yang berpendapat ia disalib dalam keadaan hidup lalu ditusuk hingga mati dalam keadaan tersalib. Ini merupakan pendapat Laits bin Sa’ad.
  • Ada pula yang berpendapat disalib selama tiga hari dalam keadaan hidup, lalu diturunkan dari tiang salib dan dibunuh. (Tafsir al-Baghawi)

Adapun makna dipotong tangan dan kaki secara bersilang adalah apabila tangan kanan yang dipotong, kaki yang dipotong adalah yang kiri. (Zadul Masir)

 

Makna Diasingkan dari Muka Bumi

Asal makna ( يُنفَوۡاْ ) adalah diusir dan dijauhkan. Ada beberapa penjelasan ulama terkait dengan makna diasingkan dari permukaan bumi.

 

  1. Dijauhkan dari negara Islam dan dimasukkan ke dalam negara kafir yang diperangi oleh kaum muslimin.

Ini merupakan pendapat Anas bin Malik, Hasan, dan Qatadah.

Ibnul Jauzi berkata, “Ini diberlakukan jika pelakunya musyrik dan kafir. Adapun jika dia seorang muslim, tidak diberlakukan hal tersebut.”

 

  1. Mereka dicari untuk ditegakkan hukum had atasnya, lalu setelah itu dijauhkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

 

  1. Mereka dikeluarkan dari kampung tempat tinggalnya menuju kampung yang lain, seperti hukuman yang ditimpakan kepada pelaku zina.

Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair. Al-Imam Malik berkata, “Diasingkan ke sebuah negeri yang bukan negerinya, lalu dipenjara di negeri tersebut.”

 

  1. Yang dimaksud adalah dipenjara.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Mereka berpaandangan bahwa yang dimaksud diasingkan adalah dipenjarakan dari kebebasan dunia luar menuju dunia yang sempit. Pendapat ini dikuatkan pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Makhul rahimahullah menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali menahan pelaku kejahatan dengan penjara. Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku memenjarakannya hingga aku mengetahui bahwa dia telah bertobat. Aku tidak mengasingkannya dengan cara memindahkannya dari satu negeri ke negeri lain supaya tidak menyebabkan gangguan terhadap penduduk negeri tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Hukuman Terhadap Teroris Khawarij

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam banyak hadits tentang munculnya satu kelompok perusak di muka bumi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dengan mengatasnamakan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan penguasa kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Dalam sebuah hadits yang sahih dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berada di negeri Yaman, dia mengirim sebongkah emas yang masih bercampur dengan tanahnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaginya kepada empat orang: al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, ‘Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-‘Amiri, salah seorang dari kabilah Bani Kilab, dan Zaid al-Khair at-Tha’i, salah seorang dari Bani Nabhan.

Kaum Quraisy marah. Mereka berkata, “Engkau berikan kepada para pemuka kabilah Najd dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk membuat hati mereka semakin kuat (dalam memeluk Islam).”

Datanglah seorang lelaki berjenggot lebat, menonjol bagian atas pipinya, kedua matanya tenggelam ke dalam, menonjol dahinya, botak kepalanya. Dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Siapa yang akan taat kepada Allah ‘azza wa jalla jika aku bermaksiat kepada-Nya? Allah ‘azza wa jalla percaya kepadaku untuk menjadi utusan-Nya ke penduduk bumi, sementara kalian tidak percaya kepadaku?”

Orang itu pun pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد.

“Sesungguhnya akan muncul dari cikal-bakal orang ini satu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka keluar meninggalkan agama Islam sebagaimana anak panah yang meninggalkan sasarannya. Jika aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuhnya seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya, “seperti terbunuhnya kaum Tsamud”.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa makna ‘seperti terbunuhnya kaum ‘Aad’ adalah membunuh mereka secara massal hingga ke akar-akarnya.

Beliau juga berkata, “Dalam hadits ini, terdapat dalil anjuran memerangi mereka. Demikian pula dalil tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka.” (Syarah Muslim, an-Nawawi, 7/162)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama, “Sungguh, kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi kaum Khawarij dan Rafidhah dan yang semisal mereka, apabila mereka memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kaum muslimin, sebagaimana halnya Ali radhiallahu ‘anhu memerangi mereka.” (al-Fatawa al-Kubra, 3/ 548)

Hanya saja perlu diingat, yang berhak memerangi mereka adalah pemerintah kaum muslimin yang berkuasa di negeri tersebut.

 

ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Al-Baghawi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Itulah yang aku sebutkan tentang hukum had. Mereka mendapat kehinaan, siksaan, dan kerendahan dalam kehidupan dunia; dan mereka mendapat azab yang pedih dalam kehidupan akhirat.”

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Larangan Condong Kepada Orang Zalim

 

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ

“Dan janganlah kamu cenderung…”

Asalnya dari kata “rukun”, yang dalam bahasa Arab bermakna bersandar, merasa tenang, dan ridha terhadap sesuatu.

Qatadah rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah, “Janganlah kalian mencintai dan menaati mereka.”

Ibnu Juraij rahimahullah berkata, “Janganlah kalian condong kepada mereka.”

Abul Aliyah rahimahullah berkata, “Janganlah kalian meridhai amalan-amalan mereka.”

Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Semua penafsiran ini memiliki makna yang berdekatan.”

 

إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ

“…kepada orang-orang yang zalim…”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang makna orang-orang yang zalim yang dimaksud oleh ayat ini. Sebagian ulama berkata bahwa yang dimaksud adalah kaum musyrikin. Ada pula yang menyatakan bahwa ayat ini bersifat umum meliputi seluruh para pelaku maksiat, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ

“… yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…”

Maksudnya, neraka akan membakarmu karena engkau bergaul dengan mereka dan menyetujui sikap berpalingnya mereka dari kebenaran.

 

Larangan Membantu Orang Zalim

Ayat Allah ‘azza wa jalla yang mulia ini melarang seorang muslim untuk turut membantu, menolong, dan menampakkan kecondongannya kepada orang-orang yang zalim atas kezaliman yang mereka perbuat.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Jangan kalian condong kepada orang-orang yang zalim. Sebab, jika kalian condong kepada mereka, menyetujui kezaliman yang mereka lakukan, atau meridhai kezaliman yang mereka perbuat, kalian akan dibakar oleh api neraka.

“Jika melakukan hal tersebut, kalian tidak memiliki penolong selain Allah l yang dapat mencegah kalian dari azab Allah ‘azza wa jalla. Mereka tidak akan mampu menghasilkan untuk kalian pahala dari Allah ‘azza wa jalla, lalu kalian tidak akan diberi pertolongan. Maksudnya, tidak ada yang mampu menghalangi kalian dari azab apabila telah menimpa kalian.

“Jadi, ayat ini merupakan peringatan agar tidak condong kepada setiap orang zalim. Yang dimaksud تَرۡكَنُوٓاْ adalah kecondongan, bergabung dengan kezalimannya, menyepakatinya dalam hal tersebut, serta ridha dengan kezaliman yang diperbuat.

“Jika ini adalah ancaman bagi orang yang condong kepada orang-orang yang zalim, lantas bagaimana lagi keadaan orang-orang zalim itu sendiri? Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar diselamatkan dari perbuatan zalim.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang yang zalim tidak boleh sama sekali ditolong untuk melakukan kezaliman. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

        “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

 

Firman-Nya,

          قَالَ رَبِّ بِمَآ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ فَلَنۡ أَكُونَ ظَهِيرٗا لِّلۡمُجۡرِمِينَ ١٧

        Musa berkata, “Wahai Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (al-Qashash: 17)

 

Firman-Nya,

وَلَا تَرۡكَنُوٓاْ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ١١٣

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)

 

Firman-Nya,

          مَّن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةً حَسَنَةٗ يَكُن لَّهُۥ نَصِيبٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن يَشۡفَعۡ شَفَٰعَةٗ سَيِّئَةٗ يَكُن لَّهُۥ كِفۡلٞ مِّنۡهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ مُّقِيتٗا ٨٥

        “Barang siapa memberi syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barang siapa memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nisa: 85)

 

“Makna asy-syafi’ adalah yang menolong. Jadi, siapa yang menolong seseorang untuk melakukan sesuatu, sungguh dia telah memberi syafaat kepadanya. Maka dari itu, siapa pun tidak boleh untuk dibantu, baik penguasa maupun yang lainnya, untuk melakukan apa yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Adapun seseorang yang memiliki perbuatan dosa, sementara dia sedang melakukan satu kebaikan, jika ia dibantu untuk melakukan satu kebaikan, ini tidaklah diharamkan. Ini sebagaimana halnya seorang pelaku dosa yang hendak menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji, melunasi utang, hendak mengembalikan berbagai bentuk kezaliman yang dia lakukan (kepada pemiliknya), atau mewasiatkan kepada sebagian putrinya. Jika dia dibantu untuk melakukannya, ini merupakan bentuk memberi pertolongan di atas kebaikan dan takwa, bukan di atas dosa dan permusuhan.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 6/117)

 

Penjelasan para ulama di atas menunjukkan bahwa orang-orang zalim yang dimaksud dalam ayat ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang melakukan berbagai bentuk kemungkaran: perbuatan syirik, kekafiran, bid’ah dengan berbagai macamnya, serta kemungkaran lainnya. Termasuk pula segala bentuk kelompok kufur dan bid’ah, seperti komunis, liberalis, Syi’ah, Khawarij, dan lainnya. Demikian pula setiap ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam dan akidahnya.

 

Setelah menyebut firman Allah ‘azza wa jalla,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوكُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَٰسِرِينَ ١٤٩

        “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 149)

Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan, “Kami memperingatkan kaum muslimin agar tidak menaati orang-orang kafir dan mengikuti mereka. Sebab, orang-orang kafir berusaha menyebarkan kerusakan di negeri-negeri Islam. Di antaranya adalah kerusakan akidah, kerusakan dalam hal berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, serta mengajak kaum muslimin untuk menyimpang dan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla, berhukum dengan sistem demokrasi. Demikian pula berbagai kesesatan lain yang diserukan oleh musuh-musuh Islam, yang bertujuan untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam, berpindah kepada keyakinan batil mereka.

“Kami memperingatkan kaum muslimin seluruhnya, baik penguasa maupun rakyat, agar tidak menaati musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla, condong kepada mereka, dan mengikuti mereka dalam berbagai urusan.” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?rahimahullah=35887)

 

Anjuran Memboikot Pelaku Maksiat

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Pendapat inilah yang sahih tentang penjelasan makna ayat ini. Ayat ini menunjukkan tentang diboikotnya para pelaku kekufuran, kemaksiatan, ahli bid’ah, dan lainnya. Sebab, bersahabat dengan mereka merupakan kekufuran atau kemaksiatan karena persahabatan tidak mungkin terjadi kecuali didasari rasa saling cinta. Seorang yang bijak berkata,

        عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ، فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Jangan engkau bertanya tentang seseorang, namun bertanyalah tentang teman dekatnya. Sebab, setiap teman akan mengikuti siapa yang menjadi teman dekatnya.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Memberi peringatan, memboikot, dan tidak bermajelis dengan setiap orang yang mengikuti hawa nafsu, adalah bagian yang terpenting dalam Islam yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Yang dimaksud ayat ini adalah setiap individu dari kalangan umat ini tidak boleh duduk bersama dengan orang-orang yang mendustakan, yang melakukan perubahan atas ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dan meletakkannya tidak pada tempat yang sebenarnya. Jika duduk bersama mereka karena lupa, jangan sekali-kali engkau duduk bersama mereka setelah mengingatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Demikian pula firman-Nya,

          وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

        “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk beserta mereka, hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sebab, sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (an-Nisa: 140)

 

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

        Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari Rabb kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah membaca ayat ini,

        إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

“Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat tersebut, mereka itulah orang-orang yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari mereka.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

Jika kita memerhatikan zaman kita ini, begitu banyak manusia yang muncul dan membawa berbagai pemikiran yang menyimpang dari syariat Allah ‘azza wa jalla. Pemikiran-pemikiran tersebut sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat.

Ada yang membawa paham komunis, yang hakikat inti ajarannya adalah pengingkaran terhadap adanya Allah ‘azza wa jalla sebagai pencipta alam semesta, apalagi menjadikannya sebagai sesembahan satu-satunya. Ideologi ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap rububiyah Allah ‘azza wa jalla.

Ada pula yang membawa paham liberal terlaknat. Dengan bendera “Islam liberal”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh umat Islam dan memengaruhi sekian banyak kaum muslimin yang jahil dan tidak mengerti prinsip-prinsip Islam yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun jatuh ke dalam kubangan kekafiran dalam keadaan mereka masih merasa sebagai seorang muslim.

 

Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh seorang tokoh liberal yang bernama Ahmad Wahib. Dalam salah satu makalahnya, dia berkata, “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib)

Perhatikanlah ucapan jahat nan kufur yang keluar dari tulisan seorang liberalis ini. Dia hendak menyamakan Islam dengan seluruh keyakinan kufur dan syirik. Tidak tersisa satu keyakinan pun di muka bumi ini kecuali semua dianggap benar oleh mereka. Tidak ada syirik, tidak ada kekufuran, tidak ada penyimpangan; semua adalah benar, semuanya adalah sama.

 

Tidak kalah jahatnya, tokoh liberal lain yang bernama Abdul Munir Mulkhan, berkata, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini, kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar)

 

Demikian pula yang disebutkan oleh Sumanto al-Qurtuby, tatkala menjawab pertanyaan, “Agama manakah yang benar?”

Dia berkata dengan pandangan akalnya yang bodoh, “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya Yang Mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain Jesus, Muhammad, sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto al-Qurtuby, dari buku Lubang Hitam Agama)

 

Beberapa ucapan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak pernyataan kekafiran yang diucapkan oleh tokoh-tokoh liberal. Pernyataan-pernyataan tersebut hakikatnya mengajak manusia untuk berlomba-lomba memasuki pintu-pintu kekafiran dan kemurtadan. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah).

Sudah sepantasnya kaum muslimin mewaspadai dari berbagai pemahaman dan pemikiran yang dapat merobohkan fondasi-fondasi agamanya. Sikap waspada tersebut direalisasikan dengan cara menjauhkan diri, berpaling sejauh-jauhnya, dan tidak mengikuti orang-orang yang zalim yang mengajak kepada kesesatan.

 

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللهِ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Barang siapa mendengar tentang Dajjal, hendaknya dia segera menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seorang lelaki mendatanginya dalam keadaan menyangka bahwa dirinya aman hingga dia mengikutinya, karena berbagai syubhat yang dia sampaikan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang sahih)

Al-‘Allamah Abdul Muhsin al-Abbad y mengatakan, “Dari hadits ini dipetik faidah: menjauhkan diri dari ahli bid’ah dan bermajelis dengan mereka, karena mereka adalah para dajjal dan karena khawatir dari berbagai syubhat mereka. Seseorang yang tidak memiliki ilmu mudah terpengaruh—kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla—oleh kefasihan dan keindahan bahasa mereka. Oleh karena itu, menjauhkan diri dari mereka merupakan hal yang dituntut.” (Syarah Abu Dawud)

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk membantu seseorang agar terbebas dari kejahatan, selain menjauhkan diri dari sebab-sebabnya. Ini merupakan perbuatan setan yang sangat tersamarkan. Tidak akan selamat darinya selain orang yang cerdik. Setan memperlihatkan beberapa kebaikan pada jalan kejahatan tersebut, dan mengajaknya untuk meraih kebaikan tersebut. Tatkala orang itu telah mendekat, setan segera menjerumuskannya ke dalam jeratannya.” (‘Uddatus Shabirin, Ibnul Qayyim hlm. 63)

Semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita dari berbagai keburukan dan kesesatan. Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

Apakah Pencipta Itu Ada?

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥  أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

 “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

 Ayat yang Menggetarkan Hati

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Jubair bin Muth’im radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Surat Thur dalam shalat maghrib. Tatkala sampai pada firman-Nya,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٧

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (ath-Thur: 35—36)

Jubair berkata, “Hampir saja hatiku melayang (karena tercengang mendengar hujah yang sangat kokoh dalam ayat ini).” (HR. al-Bukhari 6/4854)

Dalam riwayat lain pada Shahih al-Bukhari, Jubair radhiallahu ‘anhu berkata, “Itu merupakan pertama kali iman menetap dalam hatiku.”

As-Sindi rahimahullah menjelaskan makna ‘hampir saja hatiku melayang’, “Karena begitu jelasnya kebenaran dan begitu terangnya kebatilan sesuatu yang batil.” (Hasyiah as-Sindi ala Sunan Ibni Majah, 1/275)

Tafsir Ayat

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun….”

Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini.

  1. Maksudnya, “apakah mereka diciptakan tanpa ada Rabb yang menciptakan?”

Tafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Diciptakan tanpa Rabb yang menciptakannya.”

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa ayah dan ibu sehingga mereka seperti benda-benda yang tidak berakal?”

Penafsiran ini dinyatakan kuat oleh ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsir-nya.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu seperti halnya langit dan bumi?”

Maksudnya, manusia tidaklah lebih susah penciptaannya daripada langit dan bumi. Sebab, langit dan bumi diciptakan tanpa sesuatu sebelumnya, sementara manusia diciptakan dari Adam, dan Adam alaihissalam dari tanah.

  1. Maknanya, “Apakah mereka diciptakan bukan untuk sesuatu?” Kataمِنۡ di sini bermakna lam. Jadi, maksudnya, mereka tidaklah diciptakan dalam keadaan sia-sia tanpa ada perintah dan larangan. (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Kebanyakan ulama menafsirkan dengan penafsiran yang pertama.

Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan hujah yang membantah mereka dengan sesuatu yang tidak ada kemungkinan selain harus menerima kebenaran atau keluar dari akal sehat dan agama.

Penjelasannya, orang-orang yang mengingkari tauhid dalam hal ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendustakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berkonsekuensi mereka mengingkari bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah yang menciptakan mereka. Padahal akal menetapkan bahwa segala sesuatu yang berwujud ini tidaklah terlepas dari tiga kemungkinan:

1) Mereka diciptakan tanpa ada sesuatu, maksudnya tanpa ada pencipta yang menciptakan mereka. Mereka berwujud tanpa diwujudkan dan tanpa ada yang mewujudkannya. Ini hal yang mustahil.

2) Atau mereka mewujudkan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil karena tidak bisa dibayangkan ada sesuatu yang mewujudkan dirinya sendiri.

Jika dua kemungkinan di atas batil dan mustahil, tidak ada kemungkinan lain kecuali:

3) Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka.

Jika ini telah pasti, diketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla semata yang berhak untuk disembah. Tidak sepantasnya, bahkan tidak boleh, suatu ibadah diserahkan kecuali hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata.” (Taisiral Karimir Rahman)

Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas, “Apakah orang-orang musyrik itu diciptakan tanpa sesuatu, yakni tanpa ayah dan ibu, sehingga mereka seperti benda-benda lainnya yang tidak berakal dan tidak memahami hujah Allah ‘azza wa jalla, tidak dapat mengambil pelajaran, dan tidak bisa memetik sebuah nasihat?” (Tafsir ath-Thabari, 22/481)

Demikian pula yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Seorang manusia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum memiliki wujud, dia tidak ada. Tidak ada adalah bukan sesuatu, dan apa yang bukan sesuatu tidak mungkin mewujudkan sesuatu.

Ayahnya tidaklah menciptakannya, tidak pula ibunya, tidak pula seorang makhluk pun. Tidak mungkin pula dia muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang mewujudkan. Sebab, setiap yang ada permulaan wujudnya, ada yang mewujudkannya.

Adanya wujud seluruh makhluk yang teratur dan sepadan, saling melengkapi, menjadikan tidak mungkin hal tersebut terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Sebab, sesuatu yang terjadi secara spontan, tidaklah beraturan pada asal wujudnya. Bagaimana mungkin bisa tetap teratur dan tersusun rapi dalam perjalanan dan perkembangannya?!

Maka dari itu, sudah pasti bahwa Allah ‘azza wa jalla Dialah satu-satu-Nya pencipta. Tidak ada pencipta dan tidak ada yang menetapkan satu urusan pun selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

Tidak diketahui ada seorang makhluk pun yang mengingkari rububiyah Allah ‘azza wa jalla, kecuali karena kesombongannya, seperti yang terjadi pada Fir’aun.” (Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah hlm. 29)

Tiga pembagian yang disebutkan dalam ayat ini dikenal dalam istilah ushul dengan sebutan as-sabr wat-taqsim, yaitu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu karena suatu hal, lalu menyebutkan kebatilan berbagai kemungkinan itu dan menetapkan satu kebenaran yang pasti.

Hal ini diterangkan oleh al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah dalam Adhwaul Bayan. Beliau rahimahullah berkata, “Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa keadaan ini tidak terlepas dari salah satu di antara tiga keadaan berdasarkan pembagian yang sahih:

1) Mereka diciptakan tanpa sesuatu, yaitu tanpa ada yang menciptakannya sama sekali.

2) Mereka menciptakan diri mereka sendiri

3) Ada Pencipta yang menciptakan mereka selain mereka sendiri.

Tidak diragukan lagi bahwa dua poin yang pertama adalah batil. Kebatilannya merupakan hal yang pasti sebagaimana yang disaksikan. Karena itu, tidak perlu ditegakkan hujah untuk menjelaskan kebatilannya karena begitu jelasnya kebatilan tersebut. Poin yang ketiga adalah kebenaran yang tidak diragukan bahwa Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan mereka, satu-satu-Nya yang berhak mereka ibadahi.” (Adhwaul Bayan 3/493)

 Wujud Allah, Sesuatu yang Pasti

Beriman kepada adanya Allah ‘azza wa jalla adalah kepastian yang tidak dapat diingkari, baik secara akal, pancaindra, fitrah, dan terlebih lagi berdasarkan tanda-tanda yang bersifat kauniyah (alam) dan syar’iyah (ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla).

Adapun secara akal, tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa ada pencipta yang menciptakannya terlebih ketika kejadian tersebut muncul dengan sangat teratur dan berjalan dengan begitu rapi. Ini merupakan kepastian yang diyakini tanpa harus dipelajari.

Seorang yang berasal dari suku Badui ditanya, “Dengan apa engkau mengetahui Rabbmu?”

Ia menjawab, “Jejak menunjukkan bekas perjalanan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Maka dari itu, langit yang berbintang, bumi yang memiliki jalan, lautan yang berombak, bukankah itu menunjukkan adanya Maha Mendengar dan Maha Melihat?”

Dikisahkan, ada sekelompok orang dari firqah (sekte) Sumaniyah (salah satu kelompok pengingkar adanya Rabb) mendatangi Abu Hanifah rahimahullah. Mereka berasal dari India. Mereka mendebat Abu Hanifah tentang Sang Pencipta, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Abu Hanifah menjanjikan mereka untuk datang kembali setelah sehari atau dua hari.

Mereka pun datang pada hari yang ditentukan. Mereka berkata, “Apa yang hendak engkau katakan?”

Abu Hanifah berkata, “Saya sedang memikirkan sebuah kapal yang penuh barang dan berbagai rezeki. Ia datang membelah gelombang hingga tiba di sebuah pelabuhan. Lalu barang-barang itu turun dan kapal pun pergi. Kapal ini tidak memiliki nakhoda, tidak pula buruh.”

Mereka berkata, “Engkau berpikir demikian?”

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal, ada sebuah kapal yang datang tanpa nakhoda, lalu barang-barang turun sendiri dan kapal pun pergi? Ini tidak masuk akal.”

Abu Hanifah pun berkata kepada mereka, “Bagaimana bisa kalian menganggap itu tidak masuk akal, sedangkan kalian menganggap masuk akal bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, pegunungan, pepohonan, hewan, dan manusia, semuanya ada tanpa pencipta?!”

Akhirnya mereka sadar bahwa Abu Hanifah sedang mendebat mereka dengan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak mampu menemukan jawabannya.

Adapun secara pancaindra, ditetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dari dua sisi:

1) Kita mendengar berita tentang terkabulnya doa manusia dan pertolongan terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan.

Ini jelas menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَنَجَّيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلۡكَرۡبِ ٱلۡعَظِيمِ ٧٦

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar.” (al-Anbiya: 76)

Demikian pula firman-Nya,

إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu dikabulkan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (al-Anfal: 9)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki masuk ke dalam masjid pada hari Jum’at saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki itu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa harta (hewan ternak) dan perjalanan terhenti (karena lemahnya hewan tunggangan). Berdoalah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menurunkan hujan kepada kami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat ada kumpulan awan tebal maupun tipis di langit. Tiada penghalang antara kami dan Bukit Sala’, baik rumah maupun bangunan. Tibatiba, dari arah belakang bukit tersebut muncul sekumpulan awan yang berbentuk seperti perisai (bulat), Awan tersebut menuju ke arah tengah lalu menyebar dan segera menurunkan hujan. Demi Allah, kami tidak pernah menyaksikan matahari selama enam hari.

Jum’at berikutnya, seorang lelaki masuk dari pintu masjid tersebut saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah. Lelaki tersebut mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, telah binasa hewan ternak (disebabkan banyaknya air dan sulitnya memelihara hewan tersebut) dan perjalanan terhenti (karena sulitnya menempuh perjalanan yang dipenuhi air, -pen.). Berdoalah kepada Allah agar menahan hujan tersebut dari wilayah kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan di atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah, serta tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.”

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Hujan tiba-tiba berhenti. Kami pun keluar di tengah terik matahari.” (Muttafaq ‘alaihi)

Manusia masih terus merasakan terkabulnya doa tatkala mereka berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semua ini menunjukkan bahwa Dia benar-benar ada.

 2) Tanda-tanda kekuasaan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperlihatkan melalui kebenaran para rasul-Nya yang disebut mukjizat

Mukjizat para rasul disaksikan dan didengarkan oleh manusia. Mukjizat adalah urusan yang di luar kemampuan manusia. Mukjizat tersebut adalah bagian dari kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang menguatkan para rasul-Nya.

Misalnya, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintah untuk memukulkan tongkatnya ke lautan yang menyebabkan terbelahnya lautan tersebut dan membentuk dua belas jalan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ ٦٣

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Contoh yang kedua, mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam diberi kemampuan menghidupkan orang yang telah mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya, dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنِّي قَدۡ جِئۡتُكُم بِ‍َٔايَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ أَنِّيٓ أَخۡلُقُ لَكُم مِّنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأۡكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٤٩

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka),  “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali Imran: 49)

Firman-Nya,

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱذۡكُرۡ نِعۡمَتِي عَلَيۡكَ وَعَلَىٰ وَٰلِدَتِكَ إِذۡ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِي ٱلۡمَهۡدِ وَكَهۡلٗاۖ وَإِذۡ عَلَّمۡتُكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَۖ وَإِذۡ تَخۡلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيۡ‍َٔةِ ٱلطَّيۡرِ بِإِذۡنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيۡرَۢا بِإِذۡنِيۖ وَتُبۡرِئُ ٱلۡأَكۡمَهَ وَٱلۡأَبۡرَصَ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِيۖ وَإِذۡ كَفَفۡتُ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَنكَ إِذۡ جِئۡتَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ١١٠

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu waktu Aku menguatkanmu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia sewaktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) waktu Aku mengajarimu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izin-Ku, dan (ingatlah) waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikian pula mukjizat yang Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala kaum Quraisy meminta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menampakkan tanda kebenaran wahyu Allah l yang beliau bawa. Beliau pun mengisyaratkan ke bulan, lalu bulan tersebut terbelah menjadi dua. Manusia melihat kejadian yang menakjubkan tersebut. Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,

ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ ١  وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka  (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.” (al-Qamar: 1—2)

Masih banyak mukjizat para rasul yang lain yang di luar kemampuan manusia. Semua itu menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada dan senantiasa memberi pertolongan kepada para rasul-Nya.

Secara fitrah, yang menunjukkan adanya Allah ‘azza wa jalla ialah bahwa fitrah setiap hamba meyakini adanya pencipta, tanpa harus berfikir secara mendalam dan waktu yang lama. Tidak ada seorang pun yang keluar dari fitrah ini kecuali yang fitrahnya telah dirusak oleh berbagai pemikiran sesat dan menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتِجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti halnya hewan melahirkan seekor hewan, apakah engkau melihat telinganya terpotong?” (Muttafaq ‘alaihi)

Semua bukti dan petunjuk ini merupakan hujah pasti yang menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla itu ada, Dzat yang menciptakan segala yang ada di jagad raya ini, dan Dia sajalah yang berhak untuk disembah. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia semata. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ٣٧

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Rasul Itu Manusia, Bukan Malaikat

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.(al-Anbiya’: 7)

Ayat yang serupa terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala surat an-Nahl: 43.

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata bahwa pada kata نُّوحِيٓ mayoritas qurra’ (ulama ahli qiraah) membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah huruf ha’.

Sementara itu, Hafsh bin Ashim menyendiri dalam membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah huruf ha’. Demikian pula ayat yang terdapat pada surat an-Nahl: 43, akhir surat Yusuf: 109, dan awal surat al-Anbiya: 7, semua ayat di atas oleh Hafsh bin Ashim dibaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ya’. Adapun yang lain membacanya يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Adapun pada surat al-Anbiya’: 25, ulama ahli qiraah seperti Hamzah, al-Kisa’i, dan Hafsh membaca نُوحِي dengan nun dan mengkasrah ha’, dan yang lain membaca يُوحَى dengan ya’ dan menfathah ha’.

Pada ayat yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Dia tidaklah mengutus para rasul sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari kaum laki-laki (dari kalangan manusia), dan bukan malaikat.

Orang-orang kafir sangat heran dengan rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari jenis manusia. Menurut mereka, Allah subhanahu wa ta’ala seharusnya lebih mampu daripada sekadar mengutus utusan dari jenis manusia yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Seandainya benar-benar mengutus utusan, Dia pasti akan mengutus dari kalangan malaikat.

Ucapan orang-orang kafir ini disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an. Di antaranya,

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka?(Yunus: 2)

 بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ

(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri.(Qaf: 2)

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?(al-Furqan: 7)

وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولٗا ٩٤

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka, ”Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul.(al-Isra’: 94)

فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٗا مِّنَّا وَٰحِدٗا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذٗا لَّفِي ضَلَٰلٖ وَسُعُرٍ ٢٤

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita?” (al-Qamar: 24)

فَقَالَ ٱلۡمَلَؤُاْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡكُمۡ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ مَّا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِيٓ ءَابَآئِنَا ٱلۡأَوَّلِينَ ٢٤

Pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.(al-Mu’minun: 24)

وَلَئِنۡ أَطَعۡتُم بَشَرٗا مِّثۡلَكُمۡ إِنَّكُمۡ إِذٗا لَّخَٰسِرُونَ ٣٤

Dan sesungguhnya jika kamu sekalian menaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.(al-Mu’minun: 34)

۞قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَدۡعُوكُمۡ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ قَالُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا

Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga.(Ibrahim: 10)

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pula dalam banyak ayat bahwa Dia subhanahu wa ta’ala tidaklah mengutus kepada manusia kecuali seorang utusan dari kalangan manusia juga, yaitu seorang laki-laki yang memakan makanan, berjalan di pasar-pasar, menikah, dan memiliki sifat-sifat manusiawi lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka.(an-Nahl: 43)

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَذُرِّيَّةٗۚ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.(ar-Ra’d: 38)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa rasul yang Dia utus berasal dari kalangan manusia dan orang laki-laki. Hal ini tidak bertentangan dengan adanya sebagian malaikat yang menjadi rasul utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱللَّهُ يَصۡطَفِي مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلٗا وَمِنَ ٱلنَّاسِۚ

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia.(al-Hajj: 75)

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagi utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan).(Fathir: 1)

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus malaikat kepada para rasul, dan para rasul diutus kepada manusia. Yang diingkari oleh orang-orang kafir (dalam hal ini) adalah diutusnya para rasul (dari kalangan manusia) yang diutus kepada manusia. Inilah yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan (dalam pembahasan ayat ini), yaitu para rasul adalah orang laki-laki dari kalangan manusia.

Hal ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala juga menjadikan malaikat sebagai rasul utusan-Nya. Di antara mereka ada yang diutus membawa wahyu, menggenggam arwah (mencabut nyawa), menundukkan (mengatur) angin dan awan, mencatat amal perbuatan bani Adam, dan lainnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَٱلۡمُدَبِّرَٰتِ أَمۡرٗا ٥

Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (an-Nazi’at: 5)

Dari ayat di atas dipahami juga bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengutus seorang utusan pun dari kaum wanita. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِمۡۖ

Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (al-Anbiya’: 7) ( Adhwaul Bayan, pada tafsir surat an-Nahl: 43)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ayat ini menjadi bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adanya utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang berasal dari manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka.

Semua rasul yang terdahulu adalah manusia dari jenis laki-laki, tidak ada seorang pun dari kalangan malaikat. Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ إِلَّا رِجَالٗا نُّوحِيٓ إِلَيۡهِم مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰٓۗ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.(Yusuf: 109)

قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ

Katakanlah, “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (al-Ahqaf: 9)

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang umat terdahulu yang mengingkari adanya rasul dari kalangan manusia,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأۡتِيهِمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَقَالُوٓاْ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا فَكَفَرُواْ وَتَوَلَّواْۖ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ٦

Hal itu karena sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan lalu mereka berkata, “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Lalu mereka ingkar dan berpaling, dan Allah tidak memerlukan (mereka) lagi Maha Terpuji. (at-Taghabun: 6)

Oleh karena itu, pada kelanjutan ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala berfiman, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Maksudnya, bertanyalah kepada orang yang berilmu dari umat yang ada dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan semua golongan; Apakah rasul-rasul yang pernah datang kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Mereka itu tiada lain hanyalah manusia (bukan malaikat).

Itulah sebagian dari kesempurnaan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala atas ciptaan-Nya (manusia). Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri agar mereka bisa mengambil apa yang disampaikan oleh para rasul tersebut.

Untuk mempertegas bahwa rasul-rasul itu adalah manusia yang berjasad, memerlukan makan, dan tidak kekal, pada ayat berikutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَٰهُمۡ جَسَدٗا لَّا يَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَمَا كَانُواْ خَٰلِدِينَ ٨

Dan tiadalah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.(al-Anbiya’: 8)

Maknanya, mereka adalah jasad yang memakan makanan. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.(al-Furqan: 20

Maknanya, mereka seperti manusia yang lain, memerlukan makan dan minum. Mereka berjalan di pasar-pasar untuk mencari pendapatan dan berdagang.

Hal ini sama sekali tidak memudaratkan dan mengurangi keberadaan mereka (sebagai rasul), sebagaimana anggapan orang-orang musyrik. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقَالُواْ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ٧ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٨

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” (al-Furqan: 7—8)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal”, maknanya mereka hidup di dunia kemudian mereka wafat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34). (Tafsir al-Qur’an al- ‘Azhim, pada tafsir surat al-Anbiya: 7)

Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata bahwa ayat ini membantah pernyataan orang-orang yang mendustakan rasul. Mereka berkata, “Mengapa dia bukan malaikat, hingga tidak butuh dengan makanan dan minuman dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa dia tidak kekal? Jika tidak demikian, berarti dia bukan rasul.” Syubhat ini terus bercokol pada diri para pendusta rasul. Kekufuran mereka serupa, demikian pula pemikiran mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menjawab syubhat tersebut berdasarkan kenyataan bahwa mereka mengakui adanya para rasul sebelumnya. Seandainya hanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (yang mereka akui sebagai rasul)—dalam keadaan seluruh golongan menetapkan bahwa beliau adalah nabi dan kaum musyrikin mengaku berada di atas agama dan ajarannya—(tentu hal ini sudah cukup).

Mereka mengakui bahwa para rasul sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (berasal dari kalangan manusia), memakan makanan, berjalan di pasar-pasar. Mereka juga mengakui bahwa para rasul tersebut tertimpa hal-hal yang biasa dialami manusia, berupa kematian dan lainnya. Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para rasul tersebut kepada umat dan kaumnya. Sebagian umat membenarkan mereka, sebagian yang lain mendustakan.

Mereka juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membenarkan janji para rasul tersebut, yaitu keselamatan dan kebahagiaan baginya berikut para pengikutnya, serta membinasakan orang-orang yang melampaui batas lagi mendustakannya.

Jika demikian, apa bedanya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mengapa dimunculkan syubhat yang batil untuk mengingkari kerasulan beliau? Padahal, hal yang sama juga ada pada para rasul sebelum beliau yang mereka akui keberadaannya.

Jawaban ini sangat jelas dan mengandung tuntutan bagi mereka. Mereka mengakui adanya rasul dari kalangan manusia, namun (di sisi lain) tidak mengakui kerasulan dari selain manusia. Tentu saja ini adalah sebuah syubhat yang batil. Mereka sendiri yang menyanggahnya, karena mengakui kerusakan dan kontradiksinya.

Jika mereka beralih dari syubhat ini, lantas justru mengingkari sama sekali adanya nabi dari kalangan manusia, dan tidak dianggap sebagai nabi jika dia bukan malaikat yang kekal dan tidak memakan makanan; Allah subhanahu wa ta’ala pun telah menjawab syubhat ini dengan firman-Nya,

وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ ٨ وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ ٩

Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat? Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu.(al-An’am: 8—9)

Di samping itu, manusia tidak memiliki kemampuan mengambil wahyu dari malaikat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا ٩٥

Katakanlah, “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.(al-Isra’: 95)

Jadi, jika kalian masih ragu dan tidak mengetahui perihal rasul-rasul yang terdahulu, “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu,” dari kalangan ahlul kitab terdahulu yang memiliki kitab Taurat dan Injil (Yahudi dan Nasrani). Mereka pasti akan mengabarkan kepada kalian bahwa rasul-rasul itu seluruhnya manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala utus kepada mereka.

Meskipun sebab perintah bertanya kepada ulama adalah tentang para rasul yang terdahulu, namun ayat ini bermakna umum. Artinya, masalah apa pun yang terkait dengan agama yang tidak diketahui ilmunya, baik yang prinsip maupun yang cabang, hendaknya ditanyakan kepada orang yang mengajari agama.

Jadi, ayat di atas mengandung perintah untuk belajar agama dan bertanya kepada ahlinya. Tidaklah manusia diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama kecuali karena para ulama itu wajib mengajarkan agama dan menjawab sesuai dengan ilmu yang mereka ketahui.

Perintah bertanya masalah agama hanya kepada ahli ilmu (ulama), sekaligus mengandung larangan bertanya kepada orang yang dikenal jahil dan tidak memiliki ilmu. Selain itu, perintah ini juga mengandung larangan bagi orang yang jahil (tidak tahu) untuk tampil (menjawab pertanyaan tentang agama).

Ayat ini juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari kaum wanita yang menjadi nabi. Tidak Maryam, tidak pula yang lainnya. (Taisir Karimur Rahman, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata bahwa ayat ini, “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu…,” dijadikan dalil (oleh sebagian orang) tentang bolehnya taklid. Ini suatu kesalahan. Kalau memang benar, maka makna ayat ini adalah (perintah kepada) mereka untuk bertanya kepada ahli ilmu tentang penjelasan dari al-Kitab dan sunnah, bukan tentang pendapat (ra’yu) mereka semata. Taklid ialah menerima pendapat orang lain tanpa ada hujah (dalil). (Fathul Qadir, pada tafsir surat al-Anbiya’: 7)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Mencari Jalan Menuju Kebaikan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah: 35)

 


Tafsir Ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah….”

Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla kepada seluruh kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

“Hendaknya kalian mencari wasilah menuju kepada-Nya.”

Para ulama tafsir menyebutkan dua makna tentang makna wasilah di dalam ayat ini.

 

  1. Pendekatan diri (qurbah), yaitu bentuk pendekatan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang sepantasnya bagi seseorang untuk mencarinya.

Qatadah rahimahullah berkata, “Dekatkanlah diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan taat kepada-Nya dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.”

Yang semakna dengan ini juga dijelaskan oleh Abu Wail, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qatadah, Atha’, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan Abdullah bin Katsir.

Semisal dengan ayat ini yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra: 56—57)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Al-Wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk engkau berusaha mencarinya. Allah memberitakan pula tentang para malaikat dan para nabi-Nya bahwa mereka senantiasa mencarinya, adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pendekatan diri kepada-Nya berupa amalan yang wajib atau yang mustahab (sunnah).

Wasilah inilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk senantiasa mencarinya, yang mencakup hal yang wajib dan mustahab.

Adapun yang bukan hal wajib dan bukan mustahab, tidak termasuk ke dalamnya, seperti hal yang haram, makruh, atau mubah.

Yang wajib dan mustahab adalah yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintahnya yang mencakup perintah wajib dan mustahab. Inti dari semua itu adalah beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inti dari wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada makhluk-Nya untuk mencarinya adalah menjadikan wasilah menuju kepada-Nya dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada wasilah yang akan menyampaikan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali hal tersebut.” (Qa’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hlm. 79, tahqiq al-Allamah Rabi’ bin Hadi)

 tali-terikat

  1. Wasilah bermakna “buktikanlah kecintaanmu kepada Allah”, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi)

Di antara makna al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang paling mulia di dalam surga yang telah dipersiapkan Allah ‘azza wa jalla untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari rahimahullah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan tatkala mendengarkan panggilan azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدِّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada sebuah kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Al-Wasilah yang disebutkan dalam hadits ini dijelaskan dalam riwayat lainnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma. Ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengarkan muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah untukku. Sebab, sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah ‘azza wa jalla bershalawat kepadanya sepuluh kali.

Lalu mintalah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan dalam surga yang tidak sepantasnya diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah ‘azza wa jalla. Aku berharap akulah yang akan mendapatkannya. Barang siapa memohon untukku al-wasilah, halal baginya syafaatku.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wasilah ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah memerintah kita untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar wasilah ini diberikan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kedudukan itu tidak diberikan kecuali kepada seseorang dari hamba Allah ‘azza wa jalla dan berharap agar dialah hamba yang akan meraihnya.

Wasilah inilah yang diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberitakan kepada kita bahwa siapa yang memintakan wasilah untuknya, sungguh telah halal syafaat baginya pada hari kiamat. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang dikerjakan.

Tatkala mereka berdoa untuk Nabi-Nya, mereka pun berhak mendapatkan balasan dari Rasul, yaitu doa beliau untuk mereka. Sebab, syafaat merupakan salah satu jenis dari doa, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa bershalawat untukku sekali, Allah ‘azza wa jalla akan bershalawat untuknya sepuluh kali’.” (Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal-Wasilah, 84)

 

Makna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Wasilah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ‘azza wa jalla

Dalam bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua makna yang sahih dan dibenarkan dalam syariat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yaitu:

  1. Bertawassul dengan beriman kepada beliau sebagai seorang rasul dan taat kepadanya.

Ini merupakan prinsip iman dan agama Islam. Tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya, dan tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengingkarinya.

  1. Bertawassul dengan doa beliau dan syafaatnya.

Kedua hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Rantai

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa saat mereka tertimpa musim paceklik, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu meminta hujan melalui perantara Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Beliau berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hujan pun diturunkan kepada mereka. (HR. al-Bukhari no. 1010)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah bertawassul dengan doa dan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun bertawassul dengan doa yang dilakukan oleh paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan berdoa meminta hujan dengan bertawassul menyebut diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipahami oleh sebagian orang yang keliru dalam memahami makna hadits ini. Sebab, kalau yang dimaksud dalam hadits ini berdoa meminta hujan dengan bertawassul dalam doa tersebut menyebutkan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka tidak akan berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abbas radhiallahu ‘anhu, setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, mereka beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu. Jelas hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bertawassul dengan doa Abbas radhiallahu ‘anhu untuk meminta hujan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal yang seperti ini sering dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di masjid pada hari Jumat, seorang lelaki masuk ke masjid lalu berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak binasa, perjalanan terputus (disebabkan khawatir binasanya kendaraan mereka, atau melemahnya karena kurangnya makanan –pen.). Berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menurunkan hujan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan.” (Muttafaq alaihi)

Tawassul inilah yang dimaksud dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya agar berdoa meminta turunnya hujan. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu agar beliau berdoa meminta hujan untuk kaum muslimin.

Hal ini lebih dikuatkan oleh riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Disebutkan dalam riwayat itu, manusia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tertahannya hujan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar mimbar dikeluarkan dan diletakkan di tanah lapang. Beliau menjanjikan hari tertentu kepada manusia untuk mereka keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar saat dhuha lalu duduk di atas mimbar, bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, dan berkata, “Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah kalian, dan lambatnya hujan turun kepada kalian, dan sungguh Allah memerintah kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dan shalat memimpin manusia. Allah ‘azza wa jalla kemudian menurunkan hujan kepada mereka hingga air mengalir. (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya, at-Tawassul, hlm. 54)

Adapun bertawassul dengan diri/bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berdoa dengan mengucapkan, “Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kemuliaan Nabi-Mu,” dan yang semisalnya, hal ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diamalkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tawassul dengan bersumpah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berwasilah kepada bagian tubuh Nabi dan meminta dengan berwasilah kepada bagian tubuh beliau tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, baik dalam meminta hujan maupun yang semisalnya.

Para sahabat tidak melakukan ini pada masa hidup beliau atau setelah meninggalnya. Tidak di sisi kuburannya dan tidak pula di selain kuburannya. Tidak diketahui hal ini dalam doa-doa yang masyhur di antara mereka.

Yang ada hanyalah penukilan tentang hal tersebut dalam hadits-hadits lemah yang marfu’ dan yang mauquf, atau penukilan dari orang yang ucapannya bukan merupakan hujah.” (Qa’idah Jalilah, hlm. 86)

وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Di antara sekian banyak ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya, Allah ‘azza wa jalla mengkhususkan jihad di jalan-Nya.

Berjihad ialah mengerahkan kemampuan untuk memerangi orangorang kafir, dengan harta, jiwa, pikiran dan lisan; serta beramal untuk menolong agama Allah ‘azza wa jalla dengan segala yang mampu dilakukan oleh hamba.

(Allah mengkhususkan jihad) karena ibadah ini termasuk ketaatan yang paling agung dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang mampu menegakkan amalan ini tentu lebih mampu menegakkan amalan lainnya.

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Semoga kalian meraih keberuntungan,”

Jika kalian bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan maksiat, lalu mencari wasilah menuju Allah ‘azza wa jalla dengan mengamalkan ketaatan dan berjihad di jalan-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Al-Falah (keberuntungan) adalah kemenangan dan keberhasilan dalam segala yang dicari dan yang diinginkan. Adapun an-najah adalah selamat dari hal-hal yang ditakuti. Hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tidak akan sirna.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

Meneladani Pemimpin Umat

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam teladan yang patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (an-Nahl: 120)

 

Lanjutkan membaca Meneladani Pemimpin Umat

Menjauhi Majelis Syubhat

 وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”  (Al-An’am: 68)

  Lanjutkan membaca Menjauhi Majelis Syubhat

Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya),

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang muk min) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

  Lanjutkan membaca Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

Jangan Gampang Menggosip!

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(an-Nur: 19)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

        أَن تَشِيعَ

Bermakna muncul, tampak, tersiar, tersebar.

ٱلۡفَٰحِشَةُ

Bermakna perbuatan jelek, keji, perkara besar; seperti zina atau perkataan buruk.

        لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ

Bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.

Azab di dunia, yaitu azab yang menyakitkan berupa hukuman dera (cambukan) sebanyak delapan puluh kali bagi yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik berbuat zina.

Azab di akhirat, yaitu azab jahannam bagi yang meninggal dalam keadaan meneruskan perbuatan tersebut dan tidak bertobat darinya.

 

Penjelasan Makna Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan pendidikan dan hukuman bagi siapa saja yang mendengar berita buruk, lantas timbul pikiran untuk membicarakan dan menyiarkannya; serta memilih tersiarnya pembicaraan yang keji pada kaum mukminin. Oleh karena itu, kembalikanlah urusan tersebut kepada Allah, pasti kalian akan mendapatkan bimbingan.”

Beliau rahimahullah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, jangan kalian menjelek-jelekkannya, jangan pula kalian mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, Allah akan menemukan aib (mereka) hingga memperlihatkan kejelekan dia di rumahnya.”

Dalam Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi rahimahullah, setelah mencantumkan ayat,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong.(an-Nur: 11)

disebutkan, “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa ayat ini dan setelahnya yang ada hubungannya turun berkaitan dengan kisah Aisyah radhiallahu ‘anha atas berita bohong yang dituduhkan kepadanya.

Ketika memaknai ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar,’ Mujahid rahimahullah berkata, “Maksudnya (keinginan untuk) mengumumkan dan menceritakan tentang urusan Aisyah.”

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah ‘azza wa jalla befirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan itu tersiar/tersebar di kalangan orang-orang yang membenarkan (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengumumkannya di tengah-tengah mereka bagi mereka azab yang pedih di dunia,’ maknanya adalah azab yang menyakitkan di dunia dengan cara didera. Hukuman ini Allah ‘azza wa jalla timpakan kepada orang yang menuduh wanita dan laki-laki yang baik-baik berbuat zina tanpa mendatangkan empat orang saksi.

Dalam ayat lain Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤

        “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak medatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.(an-Nur: 4)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu (menuduh) wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan dirinya. Demikian pula laki-laki (yang menjaga kehormatan dirinya), tidak ada perbedaan antara dua hal ini. Ketika mereka (yang menuduh) tidak medatangkan empat orang saksi laki-laki yang baik agamanya (‘udul), deralah mereka 80 kali dera dengan cambuk/cemeti berukuran sedang, yang menyakitkan dan terasa pedih. Tidak boleh mendera secara melampaui batas dan mengakibatkan kematian. Sebab, tujuan utamanya adalah hukuman dera, bukan merusak (membinasakan).

Inilah ketetapan hukum bagi seorang yang melakukan tuduhan zina, dengan syarat bahwa yang dituduh adalah orang baik-baik lagi beriman, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla di atas.

        وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ

Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya,

Mereka mendapatkan hukuman yang lain, yaitu persaksian mereka tidak diterima meskipun hukuman tersebut telah diterapkan terhadapnya hingga ia bertobat, sebagaimana yang akan datang penjelasannya.

        وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Dan mereka itulah orang-orang yang fasik,” yaitu keluar dari ketaatan

kepada Allah ‘azza wa jalla dan terlalu banyak kejelekannya. Sebab, ia telah melanggar apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan dan merusak kehormatan saudaranya. Selain itu, ia telah memengaruhi manusia dengan tuduhan yang ia ucapkan. Ia telah merusak tali persaudaraan yang Allah ‘azza wa jalla ikat (tetapkan) di antara ahlul iman. Dia justru ingin agar berita perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang yang beriman.

Ini semua menjadi bukti bahwa menuduh orang baik-baik berbuat keji merupakan dosa besar.

Kecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tobat dalam hal ini adalah dengan cara mendustakan dirinya sendiri. Maksudnya, ia menyatakan bahwa apa yang telah ia ucapkan adalah kedustaan. Dia wajib menyatakan bahwa dirinya berdusta walaupun yakin bahwa hal (yang dituduhkan) betul-betul terjadi, karena ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi.

Jika dia bertobat dan memperbaiki amal perbuatannya, mengganti keburukan dengan kebaikan, dia terbersihkan dari kefasikan. Demikian pula kesaksiannya akan diterima, menurut pendapat yang benar (dalam masalah ini). Sebab, Allah ‘azza wa jalla Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; mengampuni seluruh dosa hamba yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Hukum dera ini berlaku apabila tuduhan tersebut muncul dari selain suami dan tidak mendatangkan empat orang saksi. Jika tuduhan tersebut datang dari suami, Allah ‘azza wa jalla telah menyebutkan urusannya dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٦ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٧ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۢ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٨ وَٱلۡخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٩

Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri; maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, (bahwa) sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

Istrinya dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah (bahwa) sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta; dan (sumpah) yang kelima bahwa kemarahan Allah atasnya jika suami itu termasuk orang-orang yang benar.(an-Nur: 6—9)

Sumpah ini diucapkan sebagai pengganti kedudukan saksi. Para ulama menyebut masalah ini dalam kitab fikih dengan nama li’an; yaitu persaksian yang dikuatkan dengan sumpah disertai dengan laknat dan ghadhab (kemarahan) Allah ‘azza wa jalla.

Disebut dengan li’an, karena ketika seorang suami menuduh istrinya berzina, ada dua tuntutan baginya.

  1. Mendatangkan bukti (saksi) atas tuduhannya.
  2. Jika tidak dapat mendatangkan saksi, dia dijatuhi hukuman dera sebanyak 80 kali.

Sebab, hukum asal seorang yang menuduh zina orang yang baik-baik dan tidak mendatangkan empat orang saksi adalah didera 80 kali. Hukuman ini tidak gugur, kecuali apabila dia bersaksi untuk dirinya sendiri dengan empat kali bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Sumpah kelima adalah laknat Allah ‘azza wa jalla atasnya jika dia berdusta. Jika hal ini dia lakukan, gugurlah hukum dera tersebut.

Adapun seorang istri yang dituduh oleh suaminya berzina, tidak lepas dari dua hal: membenarkan tuduhan tersebut atau mendustakannya.

  1. Jika membenarkan, dia terkena hukum rajam.
  2. Jika istri mendustakan tuduhan tersebut dan suami tidak mempunyai saksi selain dirinya sendiri dengan lima kali bersumpah, sang istri terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas nama Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya suaminya benar-benar berdusta. Sumpah kelima adalah kemarahan Allah ‘azza wa jalla atasnya jika suaminya termasuk orang-orang yang benar (jujur, ed.).

Mengapa ucapan sumpah yang kelima antara suami dan istri lafalnya berbeda?

Kata la’nat (laknat) mengandung makna seseorang dijauhkan dari rahmat Allah ‘azza wa jalla tanpa disertai kemarahan (kemurkaan) Allah ‘azza wa jalla padanya. Adapun ghadhab, mengandung makna laknat disertai kemarahan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh sebab itu, seorang istri diharuskan bersumpah dengan sumpah yang lebih kuat bahwa kemarahan Allah atasnya… dst.

Alasannya, suami lebih dekat kepada kejujuran dan istri mengetahui kenyataan yang terjadi apabila dia benar-benar berzina. Apabila hal ini diingkari oleh istri, ia berhak dan pantas mendapatkan kemarahan Allah ‘azza wa jalla. Sebab, dia mengingkari sebuah kebenaran (kenyatan yang sesungguhnya) padahal mengetahuinya. Karena itu, dia mendapatkan kemarahan Allah. Oleh sebab itu, orang Yahudi dimurkai karena mengetahui kebenaran namun menentangnya.

Dari sisi inilah, istri berhak mendapat ghadhab (kemurkaan) Allah. Adapun suami haknya adalah laknat-Nya. Tuduhan suami mengharuskan manusia menjauhi wanita ini, meninggalkannya, dan mendoakan laknat baginya.

Berikut ini beberapa persyaratan sah pelaksanaan li’an.

  • Terjadi antara suami dengan istri, baik terlaksana sebelum atau sesudah bercampur dengannya.
  • Pengucapannya harus dengan bahasa Arab, karena lafalnya (lafadz, Arab) sebagaimana yang termuat dalam al-Qur’an. Menggunakan selain bahasa Arab dikhawatirkan tidak mencakup makna yang dikehendaki dalam bentuk yang sempurna. Barang siapa mampu berbahasa Arab, tidak sah melakukan li’an menggunakan bahasa lain.

Contoh lafal li’an bagi suami,

أَشْهَدُ بِاللهِ إِنِّي لَمِنَ الصَّادِقِينَ فِيمَا رَمَيْتُهَا بِهِ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang benar terhadap apa yang aku tuduhkan kepadanya.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima dengan ditambah lafal,

أَنَّ لَعْنَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“dan laknat Allah atas diriku jika aku termasuk orang-orang yang berdusta.”

Demikian pula istri yang dituduh, bersumpah dengan mengatakan,

أَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (x4)

“Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa sesungguhnya suamiku itu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.” (sebanyak 4 kali)

Li’an kelima bagi istri ditambah lafal,

غَضَبَ اللهُ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“(Sumpah kelima), bahwa kemurkaan Allah atasku jika suamiku itu termasuk orang-orang yang benar.”

  • Harus sesuai dengan urutan, yaitu pengucapan sumpah tidak terbolak-balik. Suami yang memulai terlebih dahulu baru disusul oleh sang istri.
  • Tidak boleh ada kekurangan sedikitpun dari kalimat sumpah sebagaimana yang tersebut dalam al-Qur’an.
  • Tidak boleh ada sesuatupun yang diganti, seperti asyhadu diganti dengan aqsamu, bersumpah tetapi tidak menggunakan nama Allah, ghadhab diganti dengan sukhth.
  • Perkara li’an berlaku khusus bagi suami yang menuduh istrinya berbuat zina dan tidak berlaku sebaliknya.

Apabila suami-istri telah menyatakan hal di atas (terjadi li’an), seketika itu pula keduanya harus pisah (cerai) selama-lamanya, dan tidak boleh menikah kembali walaupun istri pernah dinikahi oleh orang lain setelahnya.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, Fulan (seseorang) telah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika salah seorang di antara kami mendapati istrinya melakukan perbuatan yang amat keji (zina), apa yang harus ia lakukan? Jika dia ceritakan, niscaya ia telah bercerita tentang perkara yang agung (besar). Jika diam, niscaya dia diam dari (perkara besar) seperti itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (diam) tidak menjawabnya. Sesudah itu, dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Sesungguhnya urusan yang pernah aku tanyakan kepadamu telah menimpa saya.”

Kemudian turun ayat-ayat yang terdapat dalam surat an-Nur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan kepadanya, menasihati, dan mengingatkannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan bahwa azab dunia itu lebih ringan daripada azab akhirat.

Orang itu berkata, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran, saya tidak berdusta terhadapnya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil dia (istrinya), dinasihatinya pula. Dia menjawab, “Tidak! Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran. Sesungguhnya dia benar-benar berdusta.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan orang itu memulai (bersumpah). Ia bersumpah empat kali dengan nama Allah, lalu diikuti oleh istrinya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan keduanya (diceraikan). (HR. Muslim)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat di ini (yaitu an-Nur: 19) menjelaskan tentang hukum dera bagi orang yang menuduh wanita yang merdeka, baligh, dan menjaga kehormatan diri. Demikian pula jika yang dituduh adalah seorang laki-laki; hukumannya sama, dicambuk. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Apabila yang menuduh dapat membuktikan dengan sebuah alasan yang menunjukkan benarnya apa yang dia ucapakan, ia dihindarkan dari hukuman tersebut.”

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila ancaman berupa azab yang pedih di dunia dan akhirat, karena sekadar keinginan agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dan membuat senang hati, bagaimana halnya dengan yang lebih besar dari itu, dengan cara mengumumkan, memunculkan, dan menyampaikannya?! Terlepas dari berita itu benar atau tidak.”

Semua ini adalah bentuk kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya yang mukmin dan perlindungan terhadap kehormatan mereka, sebagaimana dilindunginya darah dan hartanya.

Allah ‘azza wa jalla perintah mereka melakukan sesuatu yang menunjukkan kemurnian persahabatan, yaitu mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri; dan membenci sesuatu terjadi pada saudaranya sebagaimana ia membenci hal itu terjadi pada dirinya sendiri.

        وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla mengetahui kedustaan orang yang membawa berita bohong dan siapa yang jujur di antara mereka. Adapun kalian wahai manusia, tidak mengetahui hal itu. Sebab, kalian tidak mengetahui perkara yang gaib. Dzat Yang Maha Mengetahui hal yang gaib (Allah ‘azza wa jalla) sajalah yang tahu. Janganlah kalian menceritakan hal yang tidak kalian ketahui, yaitu berita bohong, kepada orang yang beriman kepada Allah; terlebih terhadap para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat membuat kalian binasa.

Oleh sebab itu, Allah ‘azza wa jalla mengajarkan dan menjelaskan kepada kalian urusan yang kalian belum ketahui.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Maraji:

Maktabah Syamilah—Kutub at-Tafsir

Asy-Syarhul Mumti

Tashilul Ilmam

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Ashabul Kahfi, Para Pemuda Mukmin

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (al-Kahfi: 13—15)

 

Tafsir Ayat

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ

“Kami mengisahkan kepadamu berita mereka dengan benar.”

Ayat ini merupakan awal penjelasan rinci tentang kisah Ashabul Kahfi yang telah disebutkan sebelumnya, yang Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kepada nabinya dengan kebenaran apa yang mereka alami, yang tidak ada keraguan dalam kisah tersebut.

Pada ayat sebelumnya, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا ١٢

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Wahai Rabb, kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).” (al-Kahfi: 10—12)

Sebagian mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang berasal dari keturunan bangsawan kota Diqyus, dari seorang raja kafir yang bernama Daqinus. Mereka berasal dari bangsa Romawi yang mengikuti ajaran Nabiyullah Isa q. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka hidup sebelum zaman Isa q. Wallahu a’lam. (Tafsir al-Qurthubi 214/13)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang tampak, mereka hidup sebelum munculnya agama Nasrani secara umum. Sebab, seandainya mereka berkeyakinan Nasrani, tentu para pendeta Yahudi tidak terlalu perhatian untuk menjaga kisah mereka dan memerintahkan untuk menjauhinya.

Telah disebutkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa kaum Quraisy mengutus kepada para pendeta Yahudi untuk meminta mereka menguji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengutus untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah mereka ini (Ashabul Kahfi -pen.), tentang kisah Dzulqarnain, dan tentang ruh.

Ini menunjukkan bahwa kisah ini telah disebutkan dalam kitab-kitab ahli kitab, dan lebih dahulu dari kemunculan agama Nasrani. Wallahu a’lam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Perlu diketahui bahwa kisah Ashabul Kahfi, siapa nama-nama mereka, dan negeri tempat tinggal mereka, semua itu tidak sahih datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada penjelasan tambahan dari apa yang telah disebutkan dalam al-Qur’an, dan yang menafsirkan hal itu banyak berasal dari berita israiliyat.

Kami sengaja tidak menyebutkannya karena tidak adanya kevalidan berita tentangnya.” (Adhwa’ul Bayan, 4/27)

 

Makna Al-Fata/Al-Fityah

إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Al-Fityah adalah bentuk jamak taksir dari al-fata.

Fityah bermakna para remaja/pemuda. Akan tetapi, terkadang yang dimaksud dengan istilah al-fata adalah budak sahaya, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

مِّن فَتَيَٰتِكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۚ

“… dari budak-budak wanita kalian yang mukminah….” (an-Nisa: 25)

Tatkala seorang pemuda memiliki tabiat yang lebih lembut, memiliki kedermawanan dan kemuliaan yang tidak ditemukan pada banyak orang tua, mereka menyematkan julukan al-fata bagi seorang yang dermawan dan mulia. Penggunaan istilah al-fata untuk menyebut orang yang memiliki sifat mulia, banyak ditemukan pada kebanyakan ucapan para ulama.

Di antaranya adalah perkataan ahli bahasa, “Inti al-futuwwah (kepemudaan) adalah keimanan.”

Junaid berkata, “Al-futuwwah (kepemudaan) adalah menginfakkan harta, menghilangkan gangguan, dan meninggalkan keluhan.”

Ada pula yang berkata, al-Futuwwah adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan dan bersegera melakukan hal-hal yang mulia.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang makna yang terakhir, “Pendapat ini bagus sekali karena bersifat umum, mencakup semua yang disebutkan tentang makna futuwwah.” (Tafsir al-Qurthubi, 13/223, Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 11/83)

Di antaranya pula perkataan Abu Ismail al-Anshari rahimahullah, “Al-futuwwah adalah engkau mendekati orang yang mendatangimu, engkau memuliakan orang yang menyakitimu, berbuat baik kepada yang berbuat buruk kepadamu, sebagai bentuk pemberiaan maaf, bukan menahan amarah; bentuk rasa cinta, bukan kesabaran.”

Dinukil dari Ahmad bin Hambal rahimahullah bahwa beliau berkata, “Al-futuwwah adalah meninggalkan sesuatu yang engkau inginkan karena ada sesuatu yang engkau khawatirkan.”

Ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Siapa yang mengajak kepada sesuatu yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya mengajak kepadanya, berupa akhlak yang mulia, dialah orang yang telah berbuat kebaikan, baik hal itu dinamakan futuwwah maupun tidak. Siapa yang mengada-ada di dalam agama Allah ‘azza wa jalla sesuatu yang bukan berasal darinya, ia tertolak.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 11/84)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan bahwa mereka adalah para pemuda. Mereka lebih mudah menerima kebenaran dan hidayah untuk menempuh jalan Allah subhanahu wa ta’ala dibandingkan dengan orang-orang tua yang telah lama tenggelam dalam keyakinan yang batil. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang menerima ajakan agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para pemuda. Adapun mayoritas orang tua dari Quraisy bersikukuh mempertahankan keyakinan mereka.Tidak ada yang selamat dari mereka kecuali sedikit. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla memberitakan tentang Ashabul Kahfi bahwa mereka adalah para pemuda yang masih remaja.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/109)

          وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى

“dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”

Maknanya, Kami memudahkan mereka untuk beramal saleh, dengan mengkhususkan diri beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, menjauhkan diri dari manusia, dan bersikap zuhud dalam kehidupan dunia. Ini merupakan tambahan dari keimanan yang telah ada.(Tafsir al-Qurthubi, 13/ 223)

Ayat ini merupakan salah satu dalil yang dijadikan hujah oleh para ulama bahwa keimanan itu bisa bertambah dan bertingkat-tingkat, sebagaimana bisa berkurang. Hal ini dikuatkan lagi dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدٗى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ١٧

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (al-Fath: 4)

dan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla yang lain.

Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah berkata setelah menyebutkan ayat-ayat tentang bertambahnya keimanan, “Ayat-ayat yang disebutkan ini adalah nash-nash yang jelas menunjukkan bahwa iman itu bertambah. Maka dari itu, dipahami bahwa iman juga dapat berkurang. Hal ini sebagaimana al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjadikannya sebagai dalil tentang hal tersebut. Ini menunjukkan dengan sangat jelas tanpa keraguan. Jadi, tidak ada alasan untuk berselisih tentang bertambahnya iman dan berkurangnya sebagaimana yang Anda lihat.” (Adhwaul Bayan, 4/39)

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi.”

Kata “rabth” dalam ayat ini menunjukkan kekuatan tekad kesabaran yang tinggi, yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, sehingga mereka mampu berkata di hadapan orang-orang kafir, “Rabb Kami adalah Rabb pemilik seluruh langit dan bumi.”

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini, “Kami memberi kesabaran kepada mereka untuk menyelisihi kaum dan masyarakatnya, dan meninggalkan kehidupan yang lapang, bahagia, serta kenikmatan yang mereka rasakan sebelumnya. Telah disebutkan oleh banyak ahli tafsir dari kalangan salaf maupun khalaf, mereka adalah anak-anak raja Romawi dan pembesarnya.

Pada suatu hari, mereka keluar menuju perayaan sebagian kaumnya. Mereka memiliki hari berkumpul dalam setahun. Mereka berkumpul di lapangan negeri tersebut, melakukan penyembahan kepada patung-patung dan thaghut, dan menyembelih untuknya. Mereka memiliki seorang penguasa angkuh dan penentang kebenaran yang bernama Diqyanus. Dia memerintah manusia untuk melakukan penyembahan tersebut, menganjurkannya, dan menyerukannya.

Tatkala manusia keluar menuju tempat perkumpulan itu, para pemuda ini juga turut keluar bersama ayah-ayah mereka dan kaumnya. Mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri apa yang dilakukan oleh kaumnya. Mereka pun meyakini bahwa apa yang dilakukan kaumnya tersebut,yaitu sujud kepada berhala dan melakukan penyembelihan kepadanya, tidak sepantasnya dilakukan kecuali hanya untuk Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan langit dan bumi.

Alhasil, masing-masing memisahkan diri dari kaumnya dan menjauhkan diri dari mereka. Para pemuda tersebut mendatangi satu bagian daerah itu. Orang pertama dari mereka duduk di bawah sebuah pohon, lalu seorang lagi datang dan duduk di dekatnya, lalu datang lagi yang lainnya dan duduk di dekatnya pula, begitu seterusnya. Tidak seorang pun di antara mereka yang saling mengenal. Yang mengumpulkan mereka di tempat tersebut adalah bersatunya mereka di atas keimanan.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh manusia itu berkelompok sesuai dengan sifatnya. Jika saling mengenal sifatnya, ia akan saling mencintai, dan jika berbeda sifatnya, ia akan berselisih.” (Muttafaq alaihi)

Manusia mengatakan, “Sejenis adalah sebab menyatu.”

Yang jelas, masing-masing berusaha menyembunyikan ihwalnya dari sahabatnya karena khawatir. Mereka tidak tahu bahwa mereka memiliki kesamaan prinsip. Hingga salah seorang dari mereka berkata, “Kalian mengetahui—demi Allah—bahwa tidak ada yang mengeluarkan kalian dari kaum kalian, dan kalian menjauh dari mereka melainkan ada sesuatu. Maka dari itu, hendaknya setiap orang dari kalian menjelaskan tujuannya.”

Seseorang berkata, “Adapun saya, demi Allah, sesungguhnya aku melihat apa yang dilakukan oleh kaumku. Aku meyakini bahwa itu adalah kebatilan. Sesungguhnya yang berhak disembah hanyalah Allah ‘azza wa jalla semata, tiada sekutu baginya. Dialah Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan segala sesuatu, langit, bumi dan yang di antara keduanya.”

Yang lain berkata, “Demi Allah demikian pula yang aku alami.”

Yang lain juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya, mereka semua sepakat di atas satu kalimat. Mereka pun menyatu dan menjadi saudara yang dibangun di atas kejujuran. Mereka pun membuat tempat ibadah yang di dalamnya mereka menyembah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika diketahui oleh kaumnya, orang-orang melaporkan perbuatan para pemuda kepada raja mereka. Sang raja pun meminta untuk menghadirkan mereka di hadapannya. Sang raja bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan. Para pemuda itu menjawabnya dengan kejujuran dan mengajaknya kepada jalan Allah ‘azza wa jalla.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang mereka,

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ

Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Pemilik seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Rabb selain Dia.” (Tafsir Ibnu Katsir, 9/110—111)

Namun kisah rinci yang disebutkan tentang kejadian ini merupakan berita israiliyat. Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Kisah mereka disebutkan dalam semua kitab-kitab tafsir. Kami sengaja tidak menyebutkannya karena beritanya israiliyat.” (Adhwaul Bayan, 4/40)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Dipahami dari ayat yang mulia ini bahwa siapa yang berada dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, Dia akan menguatkan hatinya, meneguhkannya untuk memikul beban yang berat, dan memberinya kesabaran yang tinggi.

Allah ‘azza wa jalla telah mengisyaratkan hal ini pada beberapa kejadian dalam ayat-ayat yang lain. Di antaranya firman Allah ‘azza wa jalla tentang mereka yang mengikuti Perang Badr. Allah ‘azza wa jalla mengatakan kepada Nabi-Nya dan para sahabatnya,

إِذۡ يُغَشِّيكُمُ ٱلنُّعَاسَ أَمَنَةٗ مِّنۡهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِۦ وَيُذۡهِبَ عَنكُمۡ رِجۡزَ ٱلشَّيۡطَٰنِ وَلِيَرۡبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمۡ وَيُثَبِّتَ بِهِ ٱلۡأَقۡدَامَ ١١

إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ١٢

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguangangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).

(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku susupkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (al-Anfal: 11—12)

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla kepada ibu Musa ‘alaihissalam,

وَأَصۡبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًاۖ إِن كَادَتۡ لَتُبۡدِي بِهِۦ لَوۡلَآ أَن رَّبَطۡنَا عَلَىٰ قَلۡبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٠

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).” (al-Qashash: 10) (Adhwaul Bayan, 4/39)

 

لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا ١٤

            “Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”

Syathath maknanya penyimpangan yang jauh dari kebenaran, dan jalan yang sangat jauh dari kebenaran.

Jadi, makna ayat di atas ialah, jika kami menyembah bersama Allah subhanahu wa ta’ala sembahan-sembahan yang lain setelah kami mengetahui bahwa Dia-lah Rabb yang merupakan sembahan yang tidak sepantasnya diibadahi kecuali hanya Dia, berarti kami mengucapkan kalimat yang batil dan sangat menyimpang dari kebenaran.

          هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا ١٥

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”

Al-Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini, “Tatkala para pemuda ini mengingat anugerah yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka, berupa keimanan, hidayah, dan ketakwaan, mereka pun memerhatikan apa yang dilakukan oleh kaumnya yang membuat sembahan-sembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Mereka pun membencinya. Para pemuda itu menjelaskan bahwa sesungguhnya kaumnya tidak berjalan di atas keyakinan dalam urusan mereka. Kaumnya justru benar-benar berada dalam kejahilan dan kesesatan.

Oleh karena itu, para pemuda itu berkata, “Tidakkah mereka mendatangkan hujah dan bukti atas kebatilan yang mereka perbuat—dan tidak mungkin mereka mampu melakukannya? Sesungguhnya, itu hanyalah kebohongan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan kedustaan atas-Nya. Ini adalah kezaliman yang paling besar.”

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا

“Siapakah yang paling besar kezalimannya dari orang-orang yang mengada-ada terhadap Allah?” (Tafsir al-Karim ar-Rahman, hlm. 950)

Wallahul Muwaffiq.

Bahasa Arab Semata Tidaklah Cukup

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(al-An’am: 82)

 pintu-gelap

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, para sahabat merasa berat ketika ayat ini turun. Mereka lalu menyampaikan (apa yang mereka pahami tentang makna ayat tersebut) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat zalim (menganiaya) terhadap diri sendiri?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya (penafsirannya) bukanlah seperti yang kalian maksud. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh pada firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezaliman yang besar.(Luqman: 13)”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman (dalam ayat ini) adalah syirik.

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat g memahami kesyirikan (memiliki makna) yang lebih besar daripada sekadar kezaliman. Mereka memahami makna ‘zhulm’ (kezaliman) dalam ayat ini ialah selain syirik, yaitu kemaksiatan. Kemudian mereka menanyakan hal tersebut sehingga turunlah ayat ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pendapat al-Khaththabi ini perlu ditinjau ulang. Yang tampak bagi saya, mereka (para sahabat) memahami kata ‘zhulm’ dengan makna yang umum, baik syirik maupun yang lainnya (kemaksiatan). Sebab, kata ‘zhulm’ berbentuk nakirah (tidak tertentu) dalam konteks nafi (kalimat peniadaan, sehingga bermakna umum). Akan tetapi, makna yang umum di sini ditinjau dari sisi zahirnya.

Ternyata, (keumuman makna yang) dipahami sebatas yang tampak dari ayat (mencakup syirik dan kemaksiatan) bukan itu yang dikehendaki dalam ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata tersebut tergolong dalam bab ‘sesuatu yang umum, namun dimaksudkan untuk hal yang khusus’. Dengan demikian, maksud kezaliman di sini ialah jenis yang tertinggi darinya, yaitu syirik.” (Fathul Bari, 1/109—111)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ

Tidak mencampuradukkan.”

Maknanya adalah لَمْ يَخْلِطُوا  , yaitu tidak mencampurkan.

Muhammad bin Ismail at-Taimi berkata, “(Ada kemungkinan maknanya) ialah mencampurkan antara keimanan dan kesyirikan, meskipun ini makna yang tidak bisa dibayangkan. Yang dimaksud ialah tidak terkumpul pada mereka dua sifat, yakni kekufuran setelah keimanan; tidak akan terjadi kemurtadan. Bisa jadi pula, maknanya ialah mereka tidak mengumpulkan antara keimanan dan kekufuran secara lahir dan batin, yaitu tidak terdapat kemunafikan.”

بِظُلۡمٍ

Dengan kezaliman.”

Maknanya adalah ‘dengan syirik’. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Pada riwayat yang lain, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzalimi dirinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Maknanya) bukan seperti yang kalian katakan. Makna ayat ‘mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman’, ialah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan Luqman?”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat, “Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Penafsiran ini juga diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Ubay bin Ka’b, Salman, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Amr bin Syarahbil, Abu Abdurrahman as-Sulami, Mujahid, ‘Ikrimah, an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan selain mereka. (Fathul Bari, 1/111; Ibnu Katsir, 2/145)

 

Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.

 

Kandungan Ayat

Seperti yang terdapat dalam riwayat di atas, ketika ayat itu turun, para sahabat radhiallahu ‘anhum merasa berat.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Yang menyebabkan mereka merasa berat adalah sangkaan mereka bahwa kezaliman yang harus ditiadakan adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya. (Maknanya,) tidak ada yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk kecuali orang yang sama sekali tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa makna (yang benar) ialah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kitabullah, yaitu syirik merupakan kezaliman. Barang siapa tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezaliman (yakni syirik), ia termasuk golongan yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang pilihan, seperti firman Allah,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٣٢

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan ada di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu sudah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat lain yang menerangkan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat dari kezaliman dirinya sendiri—yakni berbuat dosa—akan dihukum. Firman Allah,

(فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ (٧)  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُ  (٨

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,  niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.(az-Zalzalah: 7—8)

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kejelekan?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Bakr, bukankah kamu pernah ditimpa letih (sakit), sedih, dan cobaan? Dengan itulah kalian mendapatkan balasan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, seorang mukmin yang jika meninggal masuk ke dalam jannah (surga), terkadang kejelekannya dibalas sewaktu di dunia dengan ditimpa berbagai musibah. Barang siapa selamat dari tiga jenis kezaliman: syirik, menzalimi orang, dan menzalimi diri sendiri selain kesyirikan, ia akan mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Barang siapa tidak selamat dari berbuat kezaliman, ia akan mendapatkan jaminan dan petunjuk yang tidak sempurna. Maknanya, ia pasti akan masuk ke dalam jannah, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat lain. Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah kepada jalan yang lurus, yang kesudahannya berakhir masuk ke jannah. Akan tetapi, jaminan keamanan dan petunjuk yang didapatnya tidak sempurna, sesuai dengan kadar berkurangnya keimanannya akibat kezaliman yang dia lakukan.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menafsirkan makna kezaliman) dengan syirik tidaklah bermakna bahwa siapa yang tidak melakukan syirik akbar lantas mendapat jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna. Sebab, sekian banyak hadits dan dalil yang ada dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa para pelaku dosa besar (muslim yang tidak berbuat syirik) akan menghadapi keadaan yang menakutkan (mencemaskan). Mereka tidak mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Dengan sebab keduanya (jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna), seseorang mendapatkan petunjuk menuju ash-shirath al-mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ‘azza wa jalla anugerahkan nikmat kepada mereka, tanpa harus mengalami proses azab terlebih dahulu.

Namun, pada diri mereka (yang melakukan kezaliman selain syirik akbar) ada pokok hidayah dan pokok kenikmatan sehingga mereka akan dimasukkan ke dalam jannah.

Jadi, jika makna syirik dalam pembahasan ini diartikan dengan syirik besar, maksudnya adalah orang yang tidak berbuat syirik (besar) akan aman dari ancaman yang ditimpakan kepada kaum musyrikin, yaitu azab di dunia dan di akhirat.

Adapun jika yang dimaksud syirik di sini adalah jenisnya (semua jenis syirik), maknanya adalah seseorang menzalimi diri sendiri. Contohnya, kekikiran karena cinta harta akan mendorong seseorang membenci hal yang wajib (semisal menunaikan zakat, -ed.), ini tergolong dalam syirik ashghar. Seseorang mencintai sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla benci sehingga hawa nafsu lebih dia kedepankan daripada cintanya kepada Allah, ini syirik ashghar, dan yang semisalnya.

Orang yang semacam ini akan kehilangan jaminan keamanan dan hidayah sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Oleh karena itu, dari tinjauan dan sisi inilah para ulama salaf memasukkan perbuatan dosa sebagai bentuk syirik.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “(Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum atas tafsir ayat di atas) merupakan jawaban yang menenteramkan dan melegakan. Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.” (Fathul Majid, hlm. 48—50)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, hadits yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini mengandung beberapa faidah sebagai berikut:

  1. Suatu kalimat dimaknai umum hingga datang dalil yang mengkhususkannya.
  2. Bentuk kalimat nakirah dalam konteks nafi, mengandung makna umum.
  3. Pengkhususan menerangkan hal yang umum, dan yang rinci menerangkan hal yang global.
  4. Sebuah lafadz (kata) dapat dibawa kepada makna yang berbeda dengan makna yang tampak secara zahir, untuk sebuah kemaslahatan dalam rangka menolak pendapat yang bertentangan (keliru).
  5. Kezaliman itu bertingkat-tingkat, terjadi perbedaan (antara satu dan yang lain).
  6. Kemaksiatan tidak disebut sebagai kesyirikan.
  7. Seorang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun mendapat jaminan keamanan dan mendapat petunjuk.

Jika muncul pertanyaan, seorang pelaku dosa kadang harus diazab, jaminan keamanan dan petunjuk apakan yang diperoleh? Jawabannya adalah dia akan mendapatkan jaminan untuk tidak kekal di dalam api neraka. Dia akan masuk ke dalam jannah. (Fathul Bari, 1/111)

Wallahu a’lam. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Ternyata Syiah Juga Mu’tazilah

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Tafsir

إنّ جعلنه قرءنا عربيّا

Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az- Zukhruf: 3)

Mu'tazilah

Sa’id bin Jubair rahimahullah menjelaskan bahwa makna جعلنه (Kami menjadikan) ialah أَنْزَلْنَاهُ (Kami turunkan). (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Maknanya adalah Kami turunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Kami menjadikan, yaitu Kami turunkan dalam bahasa Arab yang fasih lagi jelas.”

As-Suyuthi dalam tafsirnya, ad-Durrul Mantsur, menyebutkan sebuah riwayat Ibnu Mardawaih dari Atha’, beliau mengatakan bahwa seorang yang berasal dari Hadramaut datang kepada Ibnu Abbas lalu bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, beritakan kepadaku tentang al-Qur’an, apakah al-Qur’an itu kalam (firman) dari kalam Allah ‘azza wa jalla atau makhluk dari ciptaan Allah ‘azza wa jalla?”

Beliau menjawab, “Al-Qur’an adalah kalam dari kalam Allah ‘azza wa jalla.”

Beliau bertanya kepada orang tersebut, “Apakah kamu tidak mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah(at-Taubah: 6).

Orang itu balik bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab’?”

Beliau menjawab, “Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh dengan bahasa Arab. Tidakkah kamu mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.(al-Buruj: 21—22)

Makna al-Majid adalah al-‘Aziz, yaitu Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh.”

Sebagian kita mungkin mengira, penyimpangan yang ada pada ajaran Syiah hanya Mut’ah dan mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diketahui bahwa dari sekian penyimpangan ajaran Syiah yang sesat, salah satunya adalah kebencian mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berapa banyak ayat mereka tafsirkan menurut versinya, kandungan atau muatan tafsir tersebut berupa celaan, cercaan, bahkan pengafiran terhadap sebagian sahabat yang mulia, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, maupun yang lainya radhiallahu ‘anhum.

Sementara itu, salah satu prinsip dari sekian prinsip-prinsip Ahlus Sunnah adalah memuliakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengenal hak-hak mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

Janganlah kalian mencela sahabatku. Kalau saja ada salah seorang dari kalian yang menginfakkan harta berupa emas seberat Gunung Uhud, sungguh (hal itu) belum dapat menyamai apa yang telah mereka infakkan, meskipun hanya dua genggam atau satu genggaman tangan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Zamanin dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, darial-Imam Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtiyani, beliau berkata, “Barang siapa mencintai Abu Bakr, ia telah menegakkan agama. Barang siapa mencintai Umar, ia telah memperjelas jalan agama. Dan Barang siapa mencintai Ali, ia telah berpegang dengan tali yang kuat.

Barang siapa memuji para sahabat Rasulullah, ia telah membersihkan dirinya dari kemunafikan. Barang siapa mencela salah seorang dari sahabat dan membenci salah satu perkara yang ada pada mereka, ia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), serta telah menyelisihi sunnah dan salafush shalih. Dikhawatirkan amal baik yang telah ia lakukan tidak diangkat ke langit (tidak diterima), sampai ia mencintai seluruh sahabat dan hatinya selamat (dari mencela dan mengkritik mereka).”

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Apabila kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Sebab, di sisi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hak, dan al-Qur’an adalah hak. Hanya para sahabatlah yang menjadi penyampai al-Qur’an dan sunnah kepada kami. Adapun mereka (para pencela sahabat) menghendaki persaksian sahabat ditolak, dengan tujuan agar al-Qur’an dan sunnah ditolak juga. Maka dari itu, mengkritik mereka (para pencela) lebih utama dan mereka adalah kaum zindiq.”

Ternyata Syiah tidak hanya memiliki paham sesat dalam hal kehormatan dan kemuliaan para sahabat—walaupun hal ini sudah cukup sebagai catatan buruk bagi mereka—namun mereka juga memiliki penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak ringan bahaya dan akibatnya bagi pengikut kaum muslimin dan agama Islam.

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i dalam kitabnya Sa’qatul Zilzal (2/486) menerangkan, “Kaum Rafidhah juga teranggap Khawarij, karena mereka mengafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka—dan cukup banyak (bukti) tentang hal ini bagi Anda.

Mereka teranggap Mu’tazilah dalam urusan akidah. Mereka juga memusuhi para penyeru tauhid dan sunnah. Mereka senantiasa menjauhkan manusia dari Ahlus Sunnah dan para penyeru tauhid. Bahkan, hal ini menjadi proyek terbesar bagi mereka.

Mereka juga membangun kubah di atas kuburan, berdoa (meminta) kepada selain Allah ‘azza wa jalla, seperti berdoa kepada yang sudah meninggal.

Mereka pun membenci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuat mereka menyerupai perbuatan orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).(al-Fath: 29)

Mereka membantu orang-orang kafir guna memerangi orang-orang muslim. Di Yaman mereka telah membantu partai komunis dalam memerangi kaum muslimin.”

Sebagaimana telah dijabarkan di atas, Syiah ikut menyebarkan akidah sesat Mu’tazilah. Hal ini bukanlah tuduhan tanpa bukti atau tidak beralasan. Bukan para ulama sunni salafi atau Ahlus Sunnah saja yang berbicara tentang hal ini sehingga mereka (kaum Syiah) dengan gampangnya mengatakan bahwa itu hanyalah pendapat Sunni Salafi, sedangkan mereka (kaum Syiah) punya tokoh ulama tersendiri.

Jika benar demikian, kalau ada tokoh ulama mereka yang mengakui adanya keyakinan sesat tersebut, apakah mereka akan mengakuinya?!

Jika hal itu benar adanya, apakah keyakinan yang sesat itu harus dipertahankan dan dibela?! Lantas apa yang menjadi pijakan seorang dalam beragama?

Tidak ada jawaban yang lain kecuali al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafush shalih.

Al-Hadi (salah satu tokoh Syiah, yang darinya muncul sekte Syiah Hadawiyyah) dalam Majmu’ Rasailnya, tatkala menjabarkan kesesatannya bahwa al-Qur’an ialah makhluk, berdalil dengan beberapa ayat al-Qur’an.

Di antaranya ialah firman Allah ‘azza wa jalla,  “Sesungguhnya Kami menjadikan[1] al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az-Zukhruf: 3)

Firman Allah ‘azza wa jalla, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan istrinya.” (al-A’raf: 189)

Demikianlah Allah ‘azza wa jalla menciptakan al-Qur’an. Tatkala Ia menjadikannya (menciptakan al-Qur’an) dalam bahasa Arab, sebagaimana Ia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, karena keduanya juga diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla, “Atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (Thaha: 113)

Pada ayat ini Allah ‘azza wa jalla memberitakan bahwa al-Qur’an adalah perkara yang muhdats (sesuatu yang diadakan), bukan qadim (sesuatu yang dahulu dan tidak diawali oleh apa pun). Apabila al-Qur’an adalah sesuatu yang muhdats, berarti Allah ‘azza wa jalla yang mengadakannya. Dengan demikian, (al-Qur’an) adalah makhluk, dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

Demikian pula, Allah ‘azza wa jalla menamai kalam-Nya sebagai wahyu dengan perintah-Nya. Ini maknanya, al-Qur’an adalah makhluk dari ciptaan-Nya, sebuah aturan dari pengaturan dan perintah-Nya.

Dengan ayat-ayat ini dan yang lainnya, telah menyelisihi orang yang berpendapat bahwa al-Qur’an bukan makhluk telah menyelisihi pendapat kami. Kami meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk, sesuatu yang diadakan dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

-selesai nukilan ucapan al-Hadi-

Keyakinan Syiah bahwa al-Qur’an adalah makhluk membawa mereka sampai pada tingkatan menjadikan hal ini sebagai salah satu perkara yang prinsip. Hingga sekarang mereka masih berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

Dengan keyakinan ini, mereka telah keluar dari al-Qur’an dan as-Sunnah, keyakinan para ulama salaf secara umum, dan keyakinan ahlul bait secara khusus.

‘Amr bin Dinar berkata, “Aku berjumpa dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang hidup setelah mereka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Mereka berpendapat bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Pencipta; Apa saja selain Allah ‘azza wa jalla adalah makhluk; Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni bukan makhluk, -ed.), dari-Nya keluar dan kepada-Nya kembali.”

Telah diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dari jalan Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih, dari ayahnya, yang berkata, “Amr bin Dinar telah berjumpa dengan para sahabat Rasul yang mulia dari kalangan ahli Badar, para Muhajirin dan Anshar, seperti Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin ‘Amr, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair—semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka—dan para tabiin yang mulia—semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati mereka—dan di atas keyakinan inilah (al-Qur’an kalamullah) generasi awal umat ini berlalu. Mereka tidak berselisih dalam hal tersebut.”

Al-Humaidi berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah. Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, barang siapa berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dia mubtadi’. Kami belum pernah mendengar seorang pun berkata demikian.”

Al-Imam Muhammad bin Ibrahim al-Wazir berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Para imam ‘itrah (keturunan ahli bait): Zaid bin Ali, Ja’far ash Shadiq, Abdullah bin Musa, Hasan bin Yahya, dan yang lainnya, berpendapat demikian.

Kaum muslimin yang hanya melihat tampilan lahiriah kaum Syiah, bisa jadi akan menyangka bahwa ajaran mereka mengandung sesuatu yang membahayakan. Ketahuilah, sekian banyak sekte dalam Islam yang memiliki ajaran sesat, namun karena dibungkus dengan kebaikan, ibadah, dan perbuatan yang banyak memberi manfaat, membuat banyak pihak yang tertipu.

Asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan menerangkan, “Dampak buruk dari sebuah pemikiran (yang menyimpang) lebih membahayakan dan lebih besar, apabila pemikiran tersebut dibungkus dengan pakaian (tampilan) ketakwaan, menampakkan cinta kepada kebaikan dan hal yang bermanfaat. Sebab, manusia—alhamdulillah—memiliki tabiat senang kepada kebaikan.”

Oleh karena itu, apabila kita melihat para penyeru kebid’ahan di zaman dahulu, kita dapati mereka seluruhnya tidaklah mengibarkan bendera dakwahnya kecuali berada di bawah naungan tampilan lahiriah yang agamis dan ahli ibadah.

Wallahul muwaffiq.

 

Sumber Bacaan

  • Tamamul Minnah fi Syarh Ushulis Sunnah, asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari
  • Syarh Qauli Ibni Sirin, asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar Bazmul

 


 

[1] Dalam bahasa Arab, fi’il (kata kerja) ja’ala ada yang muta’addi (membutuhkan) satu maf’ul bih (objek), ada yang membutuhkan dua maf’ul bih. Yang membutuhkan satu objek memang berarti menciptakan. Akan tetapi, yang membutuhkan dua objek artinya bukanlah menciptakan. Oleh karena itu, para ulama tafsir menafsirkan ayat di atas dengan “menurunkan”. Jadi, tidak ada dalil pada ayat di atas bagi kaum Syiah untuk menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. (-ed.)

Mencalonkan Diri Jadi Pemimpin

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

REC_021

 Tafsir Ayat

Ayat ini menerangkan permintaan Yusuf ‘alaihissalaam kepada penguasa di zaman itu untuk mengangkatnya sebagai bendahara yang menjaga gudang perbendaharaan harta negeri, agar keadilan merata dan kezaliman disirnakan. Yusuf ‘alaihissalaam akan menjadikan hal itu sebagai sarana mengajak penduduk negeri tersebut agar beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala.

Yusuf ‘alaihissalaam berkata, “Jadikanlah aku untuk mengawasi khazainul ardh.”

Ungkapan خَزَائِنُ الْأَرْضِ , kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari kata .خَزَانَةٌ Asalnya adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan sesuatu. Yang dimaksud di sini adalah tempattempat yang dijadikan sebagai gudang harta. (Fathul Qadir, asy-Syaukani)

Yusuf ‘alaihissalaam menawarkan hal ini kepada sang raja ketika dia benar-benar telah mengetahui bahwa Yusuf ‘alaihissalaam terbebas dari segala tuduhan yang dialamatkan kepada beliau sehingga masuk penjara karenanya. Sang raja telah mengetahui keutamaan yang dimiliki oleh Yusuf ‘alaihissalaam, yaitu ilmu, kemuliaan akhlak, kepandaian menakwil mimpi, dan keutamaan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (Yusuf: 54)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah meriwayatkan dari Syaibah bin Na’amah, dia mengatakan bahwa kata حَفِيظٌ maknanya ialah menjaga apa yang engkau titipkan untuk disimpan, عَلِيمٌ artinya yang mengetahui akan datangnya tahun-tahun paceklik. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 51)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Beliau meminta jabatan itu karena tahu kemampuan beliau untuk menunaikan tugas tersebut. Selain itu, beliau juga ingin memberikan kemaslahatan bagi manusia. Beliau hanya meminta untuk menjaga perbendaharaan bumi, berupa piramida-piramida yang menyimpan kumpulan hasil bumi bangsa Mesir, karena mereka akan menyambut tahun-tahun (paceklik) yang diberitakan oleh Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf ‘alaihissalaam dapat bertindak dengan cara yang lebih efisien, lebih maslahat, dan lebih terbimbing untuk kepentingan mereka. Maka dari itu, permintaan beliau dikabulkan dengan penuh rasa senang dan pemuliaan terhadap beliau.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 56)

Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Yusuf ‘alaihissalaam berkata demi kemaslahatan umum, ‘Jadikanlah aku sebagai bendaharawan negara’, yaitu sebagai bendaharawan yang menjaga hasil bumi, sebagai perwakilan, penjaga, dan yang mengurusi.

‘Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’ Maksudnya, aku mampu menjaga apa yang ditugaskan kepadaku, sehingga tidak sedikit pun yang telantar bukan pada tempatnya. Aku mampu mengatur dengan baik barang yang masuk dan yang keluar, mengetahui cara mengatur, memberi, mencegah, dan bertindak dengan segala macam cara.

Ini bukanlah sikap ketamakan Yusuf ‘alaihissalaam untuk mendapatkan kepemimpinan, melainkan tekad beliau yang kuat untuk memberi manfaat secara umum. Beliau sendiri tahu bahwa beliau memiliki kecukupan, amanah, dan kepandaian menjaga, yang mereka tidak mengetahui hal itu dari beliau. Oleh karena itu, beliau meminta dari sang raja untuk mengangkatnya sebagai bendaharawan gudang harta negeri itu. Sang raja pun mengangkatnya sebagai bendaharawan negara dan memberi kedudukan itu kepadanya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Hukum Mencalonkan Diri Menjadi Pemimpin

Ayat ini lahiriahnya menunjukkan diperbolehkannya seseorang menawarkan diri untuk mengambil sebuah kedudukan yang memang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Al-Qurthubi rahimahullah menerangkan, “Ayat ini menunjukkan pula tentang bolehnya seseorang melamar sebuah pekerjaan yang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 11/385)

Asy-Syaukani rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalamnya terdapat dalil bagi seseorang yang meyakini jika dirinya masuk ke salah satu urusan pemerintahan akan bisa mengangkat cahaya kebenaran dan menghancurkan kebatilan yang mampu dia lakukan, diperbolehkan meminta hal itu untuk dirinya. Di samping itu, dia boleh menyebutkan sifat-sifat (kelebihan) yang dia miliki yang mendukung tercapainya kemauan, mengundang ketertarikan para penguasa yang akan menyerahkan kendali urusan kepadanya, dan menjadikannya sebagai dasar agar lamarannya diterima.” (Fathul Qadir juz 3, hlm. 49)

Akan tetapi, telah diriwayatkan beberapa hadits yang menunjukkan tercelanya seseorang meminta kedudukan untuk menjadi seorang pemimpin.

Di antaranya adalah hadits Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan engkau meminta kepemimpinan. Sebab, jika engkau diberi kepemimpinan karena memintanya, sungguh akan diserahkan kepadamu (yakni Allah ‘azza wa jalla tidak akan menolongmu). Namun, jika engkau diberi bukan karena memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah ‘azza wa jalla) untuk mengembannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang dari kabilah Asy’ari. Salah satunya di sebelah kananku dan yang lain di sebelah kiriku. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersiwak, keduanya meminta jabatan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Abu Musa,” atau beliau berkata, “Wahai Abdullah bin Qais.” Aku menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, keduanya tidak memberitahuku tentang apa yang ada pada dirinya. Aku tidak menyangka kalau keduanya meminta pekerjaan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَا نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

“Kami tidak meyerahkan jabatan kami kepada orang yang memintanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, “Aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang lelaki dari kaumku, salah satunya berkata, ‘Angkatlah kami menjadi pemimpin, wahai Rasulullah.’ Yang lainnya juga mengucapkan hal yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

‘Sesungguhnya kami tidak menyerahkan hal ini kepada orang yang memintanya dan yang sangat berharap mendapatkannya’.” (HR. al-Bukhari, no. 6730)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian berkeinginan kuat untuk mendapatkan kepemimpinan, dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak, nikmat di dunia, namun sengsara di akhirat.” (HR. al-Bukhari, no. 6729)

Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku kedudukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk pundakku dengan tangannya, lalu berkata, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya ini adalah amanat dan sesungguhnya akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan menunaikan haknya dan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya’.” (HR. Muslim, no. 1825)

Hal ini telah dijawab oleh al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dari beberapa sisi.

  1. Yusuf ‘alaihissalaam meminta kedudukan karena beliau mengetahui bahwa tidak seorang pun yang mampu menduduki jabatan tersebut dalam hal keadilan, perbaikan, dan pemberian hak-hak orang miskin.

Jadi, ia melihat bahwa hal itu menjadi fardhu ‘ain baginya karena tidak ada orang lain yang mampu melakukannya. Demikian pula hukumnya sekarang, jika seseorang mengetahui bahwa dia mampu menegakkan kebenaran dalam hal menetapkan hukum dan menegakkan kebenaran, serta tidak ada orang lain yang layak dan bisa mengganti kedudukannya, hal ini menjadi wajib baginya. Dia pun wajib menduduki jabatan itu dan memintanya. Dia juga wajib memberitakan tentang sifat-sifat (kelebihan) yang dimilikinya, berupa ilmu, kemampuan, dan lainnya, yang dengannya dia berhak berada pada posisi tersebut, seperti halnya yang dikatakan oleh Yusuf ‘alaihissalaam.

Adapun jika orang lain yang mampu menegakkan dan memperbaikinya, dan dia mengetahui hal tersebut, sebaiknya dia tidak memintanya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan engkau meminta kepemimpinan.”

Jika dia memintanya dan bersemangat untuk mendapatkannya—padahal dia tahu bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan sulit berlepas diri darinya—ini merupakan tanda bahwa dia meminta jabatan itu untuk dirinya dan kepentingan pribadinya. Barang siapa yang demikian keadaannya, tidak lama kemudian hawa nafsu akan menguasainya sehingga dia binasa. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah ‘azza wa jalla, -pen.).

Barang siapa enggan mendapatkan kedudukan itu karena mengetahui kekurangan dirinya dan khawatir tidak mampu menegakkan hak-haknya, atau dia berlari meninggalkannya, kemudian dia diberi ujian untuk menanganinya, diharapkan dia mampu keluar dari berbagai problemnya. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dia akan ditolong.’

  1. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku orang yang mampu menjaga lagi berilmu.”

Jadi, beliau tidak memintanya karena faktor keturunan dan ketampanannya.

  1. Beliau mengucapkan itu saat tidak ada orang yang mengenalnya sehingga merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya. Ini adalah pengecualian dari firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” (an-Najm: 32)

  1. Beliau menganggap bahwa hal itu adalah fardhu ‘ain baginya, karena tidak ada orang lain yang mampu. Ini adalah jawaban yang paling tampak kebenarannya.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 11, hlm. 385—386)

 

Kerusakan Pemilu dalam Demokrasi

Ayat yang kita bahas ini bukanlah dalil yang membenarkan seseorang untuk ikut terjun ke dalam pentas politik demokrasi dan mencalonkan diri untuk mendapat bagian dari jabatan tersebut. Hal ini disebabkan banyak faktor, di antaranya:

  1. Pemilu merupakan bagian dari menyekutukan[1] Allah ‘azza wa jalla, sebab pemilu merupakan bagian dari demokrasi, yang aturannya berasal dari musuh-musuh Islam untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya.
  2. Menuhankan suara terbanyak dan menjadikannya sebagai standar kebenaran meskipun Islam menganggapnya sebagai kebatilan; di sisi lain menolak suara minoritas meskipun itu adalah hal yang pasti kebenarannya menurut agama.
  3. Menganggap syariat Islam itu kurang dalam menetapkan peraturan di tengah-tengah manusia, sehingga merasa butuh dengan sistem demokrasi yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam.
  4. Menyebabkan pudarnya sikap al-wala wal-bara (loyalitas dan kebencian) berdasarkan Islam.
  5. Tunduk kepada undang-undang sekuler.
  6. Hanya memberi kemaslahatan kepada musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
  7. Menyebabkan semakin terpecah belahnya kaum muslimin dengan terbentuknya partai-partai yang sering kali berupaya saling menjatuhkan.

Masih banyak lagi kerusakan-kerusakan pemilu yang merupakan bagian penting dari sistem demokrasi tersebut.

Al-Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah ditanya, “Apakah mengikuti pemilu/masuk parlemen merupakan wasilah yang disyariatkan untuk menolong agama atau tidak?”

Beliau menjawab, “Tidak.” (al-Fatawa al-Jaliyyah ‘anil Manahij ad-Da’wiyah, hlm. 25)

Selain itu, beliau mengatakan bahwa termasuk di antara bentuk penipuan dengan suara terbanyak adalah yang disebut pemilu, pencalonan diri, atau yang semisalnya. Siapa yang berhasil meraih suara terbanyak, dia yang diutamakan untuk diangkat, meskipun dia termasuk manusia yang paling buruk. Ini adalah metode orang-orang kafir yang mereka gunakan untuk menetapkan pemimpin negara, menteri, atau yang lainnya. (al-Amali an-Najmiyah ‘ala Masail al-Jahiliyah, no. 12)

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat perincian hal ini pada catatan kaki no. 1 pada artikel Kerusakan-kerusakan Pemilu. (-ed.)H

Akibat Mengimani Sebagian Kitab dan Mengingkari Sebagian Lainnya

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

susun puzzle

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Makna خِزْيٌ dalam ayat di atas adalah kerendahan dan kenistaan.

 

Tafsir Ayat

Berikut ini pernyataan Ibnu Katsir tentang tafsir ayat di atas.

Allah berfirman (pada ayat ini) mengingkari tindakan orang-orang Yahudi Madinah yang hidup di zaman Rasulullah karena mereka membantu peperangan yang terjadi antara Aus dan Khazraj. Aus dan Khazraj (orang-orang Anshar) di masa jahiliah adalah para penyembah berhala dan sering terjadi peperangan di antara mereka. Beliau juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa mereka adalah pelaku kesyirikan,penyembah berhala, tidak mengenal surga dan neraka, tidak mengenal hari kebangkitan, kiamat, tidak mengenal al-Kitab, dan halal-haram. Sementara itu, orang-orang Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga suku, yaitu Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir yang bersekutu dengan Khazraj, serta Bani Quraizhah yang bersekutu dengan Aus.

Beliau juga memaparkan riwayat dari Asbath dari as-Suddi bahwa Bani Quraizhah bersekutu dengan Aus, sedangkan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj.

Apabila perang berkecamuk (antara Aus dan Khazraj), masing-masing pihak (dari kabilah Yahudi) membantu sekutunya memerangi lawan. Akibatnya,ketika kabilah Yahudi membunuh lawan, terkadang yang mereka bunuh adalah Yahudi lain yang berpihak kepada lawan (artinya, mereka membunuh saudara sebangsa). Padahal tindakan itu diharamkan atas mereka berdasarkan tuntunan agama dan kitab mereka: mengusir sebagian Yahudi dari kampung halamannya dan merampas perkakas rumah, perhiasan, serta harta.

Jika peperangan telah berhenti, pihak yang kalah menebus tawanan. Hal ini berdasarkan hukum yang terdapat di dalam Taurat. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Berdasarkan bimbingan dan konteks ayat ini, terdapat celaan terhadap orang Yahudi ketika mereka menjalani apa yang diperintahkan dalam kitab Taurat yang mereka yakini kebenarannya, yaitu penentangan terhadap syariat dalam keadaan mereka mengetahui dan mempersaksikannya.

Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan bahwa berdasarkan lafadz sebelumnya (dalam ayat ini) tampak dengan jelas bahwa sebagian perkara yang diimani oleh mereka (Bani Israil) yang ada dalam al-Kitab adalah penebusan tawanan. Adapun sebagian perkara yang mereka ingkari adalah pengusiran, pembunuhan, dan bantu-membantu dalam hal dosa dan permusuhan. (Hal ini tersebut dalam ayat sebelumnya,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan kepadamu; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu.” (al-Baqarah: 84—85, -pen.)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa beberapa perbuatan yang disebutkan dalam ayat ini adalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di zaman (turunnya) wahyu di Madinah (orang-orang Yahudi, -pen.). Sebelum diutusnya Nabi Muhammad, orang-orang dari suku Aus dan Khazraj—mereka adalah kaum Anshar—menyekutukan Allah (musyrik). Ketika berperang, mereka berada di atas kebiasaan jahiliah.

Kemudian turunlah kepada mereka tiga kelompok dari kelompok Yahudi, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’. Setiap kelompok Yahudi tersebut mengadakan perjanjian persahabatan (bersekutu) dengan kelompok penduduk Madinah (suku Aus dan suku Khazraj, -pen.). Ketika terjadi perang saudara di antara mereka (Aus dan Khazraj), sebagian Yahudi berpihak kepada sekutunya melawan (musuhnya) yang juga dibantu oleh pihak Yahudi yang lain (Bani Quraizhah membantu suku Aus dan Bani Nadhir membantu suku Khazraj, -pen.). Akhirnya, terjadilah Yahudi membunuh Yahudi. Jika terjadi pengusiran, mereka pun mengusir pihak lain dari kampung halamannya atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Antara kedua belah pihak terjadi tawan-menawan. Jika ada orang Yahudi yang tertawan, kedua belah pihak bersepakat menebusnya, meskipun sebelumnya mereka saling berperang.

Tiga hal di atas (tidak boleh membunuh, tidak mengusir, dan tidak menawan sesama Yahudi) seluruhnya diwajibkan atas mereka. Diwajibkan atas mereka untuk tidak menumpahkah darah, tidak mengusir sebagian yang lain, dan apabila mereka mendapati tawanan, hendaknya mereka menebusnya.

Dari ketiga hal tersebut hanya satu yang mereka tunaikan, yaitu yang terakhir (menebus tawanan). Akan tetapi, dua hal lain mereka ingkari, yaitu dua yang pertama (untuk tidak membunuh dan tidak mengusir).

Hal ini diingkari oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

Apakah kamu mengimani sebahagian al-Kitab,” yaitu dengan menebus tawanan;

dan ingkar terhadap sebahagian yang lain,” yaitu dengan membunuh dan mengusir.

Dalam ayat ini terdapat dalil terbesar bahwa iman menuntut adanya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, dan bahwa segala hal yang diperintahkan adalah perkara keimanan.

Firman Allah, “Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia.”

Kenistaan hidup telah menimpa mereka. Allah ‘azza wa jalla menghinakan mereka dan menguasakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas mereka ketika di dunia. Sebagian mereka pun terbunuh, sebagian mereka tertawan dan sebagian yang lain terusir. Adapun pada hari kiamat nanti, mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

 

Alasan Mereka Mengimani dan Mengingkari Sebagian Al-Kitab

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Pada ayat berikutnya Allah memberitakan tentang sebab pengingkaran mereka terhadap sebagian al-Kitab dan mengimani sebagiannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat.(al-Baqarah: 86)

Mereka (orang Yahudi) mengira bahwa apabila tidak membantu sekutunya (dalam peperangan), hal itu menjadi sebuah cacat dan aib bagi mereka. Dengan demikian, mereka lebih memilih neraka daripada harus menanggung keaiban. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Maka tidak akan diringankan siksa mereka.(al-Baqarah: 86)

Siksa itu justru tetap ada dan sangat keras serta sedikit pun mereka tidak pernah mengalami kesenangan (keadaan lega).

Dan mereka tidak akan ditolong.(al-Baqarah: 86)

Maksudnya, tidak akan dijauhkan dari keburukan.

 

Beberapa Faedah Ayat

  1. Disyariatkan untuk memberi peringatan dan nasihat kepada manusia dengan hal-hal yang dapat menjadi sebab hidayah bagi mereka.
  2. Umat Islam juga akan menghadapi bahaya berupa kenistaan dalam kehidupan dunia dengan sebab menerapkan sebagian hukum syariat dan meninggalkan sebagian yang lain.
  3. Kekufuran bagi orang yang memilih sebagian hukum syariat lantas mengamalkan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, kemudian meninggalkan perkara syariat yang tidak cocok dengan hawa nafsunya.
  4. Kekufuran bagi orang yang tidak menjalankan agama Allah karena berpaling dan tidak perhatian kepadanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Membenci Sahabat Nabi, Tanda Kekafiran

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ وَ الذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ. تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ. ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ. وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

 traditional arrows

Penjelasan Makna Ayat

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ

Muhammad adalah nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling masyhur. Tatkala orang-orang kafir mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengubah nama Muhammad menjadi “mudzammam” yang berarti orang yang tercela, beliau bersabda,

أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

Tafsir“Tidakkah kalian heran melihat bagaimana Allah ‘azza wa jalla memalingkan dariku cercaan kaum Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencerca dan melaknat (dengan sebutan) Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad.” (HR. al-Bukhari no. 3340, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ayat ini menjadi saksi atas kedudukan beliau sebagai rasulullah yang diutus oleh Allah ‘azza wa jalla kepada umat yang hidup di akhir zaman, yang diutus kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia hingga akhir zaman. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)

Firman-Nya,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini adalah persaksian Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya, dengan menjelaskan, menerangkan, dan memaparkan kebenarannya dengan pemaparan yang jelas. Penjelasan ini memutus alasan antara Allah ‘azza wa jalla dan hamba-Nya, serta menegakkan hujah atas mereka. Allah ‘azza wa jalla yang menjadi saksi atas kebenaran Rasul-Nya, merupakan hal yang telah diketahui melalui berbagai jenis penjelasan, baik secara dalil aqli, dalil naqli, secara fitrah, ilmu pasti, maupun penalaran.” (Bada’i’ at-Tafsir, 2/460)

وَ الذِينَ مَعَهُ

“Dan orang-orang yang bersamanya….”

Ada tiga penafsiran para ulama dalam menjelaskan tentang siapa yang dimaksud orang-orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ayat ini:

  1. Yang dimaksud adalah sahabat yang hadir dalam peristiwa Hudaibiyah.
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah adalah yang keras terhadap orang-orang kafir, yaitu mereka keras seperti singa-singa terhadap mangsanya.” (Tafsir al-Qurthubi 19/341)
  3. Para sahabat secara umum, baik yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah maupun tidak.
  4. Seluruh kaum mukminin.

Yang tampak, ayat ini adalah sifat para sahabat secara umum, meskipun berkaitan dengan peristiwa Hudaibiyah. Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Yang utama adalah memahami ayat ini secara umum (yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Fathul Qadir 5/74)

أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ

“Keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi di antara mereka….”

Ayat ini sama seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir….” (al-Maidah: 54)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah sifat kaum mukminin yang salah satu dari mereka memiliki sifat yang keras terhadap orang-orang kafir, menyayangi dan berbuat baik kepada orang-orang yang mulia, bersikap marah dan ketus di hadapan wajah orang kafir, tersenyum dan berseri-seri di hadapan wajah saudaranya mukmin, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” (at-Taubah: 123)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu jasad. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh tubuh turut merasakan dengan bergadang dan demam.” (HR. Muslim no. 2586, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًاوَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya,” lalu beliau menyela di antara jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu) (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

 

تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا

“Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya….”

Ini menerangkan tentang banyaknya shalat yang mereka lakukan, dengan mengharapkan keutamaan dari Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya dengan meraih surga-Nya.

Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sifat mereka, yakni banyak amalan dan shalat, yang merupakan sebaik-baik amalan, keikhlasan beramal hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, mengharapkan ridha dan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah ‘azza wa jalla berupa surga yang merupakan anugerah Allah ‘azza wa jalla, kelapangan rezeki kepada mereka, dan ridha-Nya kepada mereka. Ridha Allah ‘azza wa jalla sendiri lebih besar daripada kenikmatan yang awal (yaitu surga-Nya,-pen.), sebagaimana firman-Nya,

‘dan keridhaan Allah adalah lebih besar…’ (at-Taubah: 72).” (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

Ayat ini menunjukkan bahwa memperbanyak shalat termasuk amalan yang paling mulia, yang mengantarkan seorang hamba untuk meraih surga dan keridhaan-Nya.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ سَجْدَةً إلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (shalat) kepada Allah ‘azza wa jalla, karena sesungguhnya tidaklah engkau melakukan satu sujud kepada Allah ‘azza wa jalla melainkan Allah ‘azza wa jalla mengangkat satu derajat dan menghapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim, no. 488)

Al-Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mintalah sesuatu kepadaku.”

Rabi’ah menjawab, “Aku memohon untuk menjadi pendampingmu di surga.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mungkin permintaan yang lain?”

Ia menjawab, “Itulah permintaanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku untuk mencapai keinginanmu dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim, no. 489)

 

            سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

Terdapat beberapa penafsiran ulama dalam menjelaskan tentang tanda sujud yang dimaksud di dalam ayat ini.

  1. Ada yang mengatakan, “Perilaku yang baik.” Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
  2. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksud adalah sifat khusyuk dan tawadhu’,” sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid dan yang lainnya.
  3. Sebagian lagi mengatakan,
  4. “Dengan memperbanyak shalat akan membaguskan wajah, seperti perkataan sebagian salaf, barang siapa banyak melakukan shalat di malam hari, akan menjadi baik wajahnya di siang hari.”
  5. Sebagian lagi berkata, “Sesungguhnya amalan kebaikan memunculkan cahaya di dalam hati, sinar pada wajah, kelapangan rezeki, dan rasa cinta di dalam hati-hati manusia.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Yang dimaksud ialah bahwa sesuatu yang tersimpan dalam jiwa akan tampak pada raut wajahnya. Apabila seorang mukmin memiliki isi hati yang baik dan benar bersama Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahirnya di hadapan manusia, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Barang siapa memperbaiki isi hatinya, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahiriahnya’.”

Beliau kemudian berkata, “Tatkala para sahabat radhiallahu ‘anhum ikhlas dan amalan mereka saleh, setiap orang yang memandang mereka merasa takjub melihat perangai dan perilakunya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/134)

            ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”

Sifat yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan ini ada dalam Taurat. Adapun sifat mereka yang Injil disebutkan dengan perumpamaan yang lain, yaitu tentang kesempurnaan mereka dan sikap mereka yang saling menolong, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tumbuh berkembang menjadi muda, dan kemudian menjadi kuat dan keras, dan berdiri kokoh di atas batangnya, yang membuat kagum para penanamnya karena kesempurnaan tanaman dan keindahannya.

Demikian pula para sahabat radhiallahu ‘anhum, mereka ibarat tanaman yang selalu memberi manfaat kepada makhluk dan manusia selalu membutuhkan mereka. Kekuatan iman dan amalan yang mereka miliki bagaikan kuatnya akar dan batang pada sebuah tanaman.

Yang lebih dahulu masuk Islam menolong dan membimbing orang yang masuk Islam belakangan dalam hal menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla dan menyeru kepadanya, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu menolongnya hingga menjadi kuat.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan setelahnya,

لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ

“Karena Allah ‘azza wa jalla hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Yaitu, tatkala mereka melihat persatuan para sahabat radhiallahu ‘anhum dan kokohnya mereka di atas agama, demikian pula tatkala terjadi pertempuran dalam medan perang. (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Berdasarkan ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat kafirnya kaum Rafidhah yang membenci para sahabat radhiallahu ‘anhum. Sebab, para sahabat telah membuat mereka marah. Padahal, siapa yang marah kepada para sahabat, maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini. Hal ini disetujui oleh sekelompok ulama.

Hadits-hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mendiskreditkan mereka sangat banyak. Cukuplah pujian dan keridhaan Allah ‘azza wa jalla kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 13/135. Lihat pula Tafsir al-Qurthubi 19/347)

وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا

“Allah ‘azza wa jalla telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah orang-orang yang mengumpulkan iman dengan amalan saleh, sehingga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan pula untuk mereka ampunan yang konsekuensinya adalah dijaga dari berbagai keburukan di dunia dan akhirat, serta pahala yang besar di dunia dan akhirat.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Waliyyul Amr, Rujukan Umat

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Jauzi rahimahumallah dalam Zadul Masir menyebutkan bahwa ada dua pendapat tentang sebab turunnya ayat ini.

1. Berdasarkan riwayat yang hanya dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengasingkan diri dari istri-istri beliau, Umar masuk ke dalam masjid dan mendengar manusia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istriistrinya. Lalu beliau menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar pun keluar sambil menyeru, “Ketahuilah, Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya.” Lalu turunlah ayat ini.

2. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sariyyah (pasukan khusus yang jumlahnya 4 sampai 400 orang). Kemudian terdengar berita bahwa mereka menang atau kalah. Akhirnya orang-orang  membicarakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Mereka tidak bersabar hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan berita itu, kemudian turunlah ayat ini.

Mufradat Ayat

وَإِذَا جَاءَهُمْ

Dan apabila telah datang kepada mereka.”

Mereka yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang munafik, menurut penafsiran Ibnu Abbas c dan jumhur ulama.

الْأَمْنِ

Kemenangan.

Terdapat beberapa penafsiran di kalangan ulama ahli tafsir tentang maknanya . Mayoritas mereka memaknainya dengan kemenangan dan harta rampasan perang yang diperoleh pasukan (sariyyah).

 الْخَوْفِ

Ketakutan.

Mayoritas ulama ahli tafsir memaknainya sebagai musibah atau bencana (kekalahan) yang menimpa pasukan muslimin.

أَذَاعُوا بِهِ

Mereka lalu menyiarkannya,

yaitu menyebarluaskan. Asy-Syaukani rahimahumallah berkata dalam kitab tafsirnya,

أَذَاعَ الشَّيْءَ وَأَذَاعَ بِهِ: إِذَا أَفْشَاهُ وَأَظْهَرَهُ

Adza’a artinya menyiarkan, menyebarkan, dan mengumumkan. Menurut Ibnu Jarir rahimahumallah, dhamir ha’ pada kalimat ini kembali ke amrun (berita).

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ

Dan kalau mereka mau menyerahkannya kepada Rasul….

Maksudnya, menunggu hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyampaikan (berita).

 وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ

Dan ulil amri di antara mereka.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mereka seperti Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali . Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij rahimahumullah berpendapat bahwa mereka adalah para ulama.

Adapun menurut Ibnu Zaid dan Muqatil, mereka adalah para pemimpin pasukan. Asy-Syaukani rahimahumallah mengatakan bahwa mereka adalah para ulama dan orang-orang yang memiliki akal yang kokoh—yang kepada merekalah urusan kaum muslimin dikembalikan (ditanyakan)—atau para penguasa.

يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Mereka akan dapat mengetahuinya.

Kata istinbath berasal dari kata istikhraj (mengeluarkan). Az-Zajjaj mengatakan, istinbath berasal dari kata النَّبْطُ , yaitu air yang pertama kali keluar dari sumbernya ketika sumur digali.

 فَضْلُ اللَّهِ

Karunia Allah.

Ada yang memaknainya sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Islam, al-Qur’an, atau ulil amri.

 وَرَحْمَتُهُ

Dan rahmat-Nya.

Sebagian ulama memaknainya sebagai wahyu, kelembutan, kenikmatan, atau taufik.

Makna Ayat

Asy-Syaukani rahimahumallah menyatakan, kaum muslimin yang memiliki sikap lemah, ketika mendengar salah satu urusan kaum muslimin—seperti berita kemenangan mereka, terbunuhnya musuh, atau ketakutan seperti kekalahan dan terbunuhnya mereka—mereka menyiarkannya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak bermasalah. (Alangkah baiknya) kalau mereka tidak melakukannya (yakni tidak menyiarkannya dengan segera) dan sabar menunggu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri atau ulil amri di antara mereka yang menyampaikannya. Sebab, merekalah yang lebih mengetahui, berita mana yang seharusnya disiarkan dan berita mana yang harus disembunyikan.

Sebagian ulama tafsir memaknainya, “Kalau bukan karena karunia Allah l kepada kalian, yaitu diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab (al-Qur’an), tentulah kalian mengikuti setan dan tetap berada di atas kekufuran, kecuali sebagian kecil saja.”

Ada pula yang memaknainya, “Mereka lalu menyiarkannya kecuali sebagian kecil saja.” Ada pula yang memaknainya, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja.”

Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahumallah mengatakan, (ayat ini mengandung) pengingkaran terhadap orang yang begitu mendapat berita (perkara) lalu tergesa-gesa memberitakan, menyiarkan, dan menyebarkan, sebelum memastikan keberadaannya. Sebab, bisa jadi berita tersebut tidak benar.

Al-Imam Muslim rahimahumallah—dalam mukadimah kitab Shahih-nya— menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Seorang dianggap telah berdusta apabila memberitakan seluruh perkara yang ia dengar.

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahumallah dalam “Kitabul Adab”, dari jalan Muhammad bin Husain bin Asykab, dari Ali bin Hafsh, dari Syu’bah secara musnad (sanadnya sampai kepada Nabi n). Selain itu, dikeluarkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dan Abu Dawud rahimahumallah dari jalan yang lain secara mursal (sanadnya tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu suka menyiarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa memastikan, mencermati, dan mencari kejelasan terlebih dahulu tentang ucapan orang lain tersebut.

Asy – Syaikh as – Sa ’di rahimahumallah mengatakan, ini adalah pengajaran dari Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya terhadap tindakan mereka yang tidak patut dilakukan. Seharusnya, ketika suatu perkara (berita)—yang penting; atau menyangkut kemaslahatan bersama terkait dengan kemenangan dan kegembiraan orang-orang mukmin; atau ketakutan, seperti musibah yang menimpa—sampai kepada mereka, hendaknya mereka pastikan terlebih dahulu dan tidak tergesagesa menyiarkannya. (Yang sepantasnya mereka lakukan ialah) mengembalikannya kepada Rasul n atau ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, penasihat, orang yang memahami permasalahan, bagus pendapatnya, yang mengetahui urusan(dengan baik), mana yang membawa maslahat dan mana yang tidak. Jika mereka pandang menyiarkan berita mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, menambah semangat dan menyenangkan mereka, serta terjaga dari musuh, mereka akan menyebarkannya.

Jika mereka pandang tidak ada maslahat, atau ada maslahat namun kemadaratan yang terjadi lebih besar, mereka tidak menyiarkannya. Ayat di atas menjadi pedoman yang mendidik, yaitu apabila terjadi penelitian tentang suatu masalah, hendaknya diserahkan kepada ahlinya dan kita tidak mendahului mereka. Hal ini lebih mendekatkan kita kepada kebenaran dan lebih patut bagi kita agar selamat dari kesalahan.

Ayat di atas juga mengandung larangan seseorang terburu-buru menyiarkan sebuah berita saat pertama kali mendengarnya. Dia diperintahkan untuk memikirkan dan memandang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, apakah hal itu membawa maslahat sehingga disampaikan atau tidak ada manfaat sehingga tidak boleh disebarkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Beberapa Contoh Tafsir Ala Syiah

Salah satu keutamaan yang sepantasnya seorang muslim berhias dengannya ialah kejujuran. Sebaliknya, di antara seburuk-buruk perilaku yang seharusnya dijauhi oleh seorang muslim ialah berdusta. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ البِّرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً

Wajib atas kalian untuk berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun (masuk ke dalam) surga. Seorang yang selalu jujur dan berusaha untuk berlaku jujur, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Hati-hatilah kalian dari berdusa, karena dusta akan menuntun kepada kefasikan, dan kefasikan akan menuntun (masuk ke dalam) neraka. Senantiasa seseorang berdusta dan bermaksud untuk selalu dusta, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, kedustaan yang paling besar dan paling buruk adalah berdusta atas nama Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Rabb mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (Hud: 18)

Ghuluw Syiah Terhadap Ahlul Bait

Di antara manusia yang paling besar kedustaannya terhadap Allah dan Rasul- Nya adalah orang-orang yang ghuluw (melampaui batas) dari kalangan Syiah, terutama dalam hal keutamaan ahlul bait. Mereka menisbatkan kepada ahlul bait hal-hal yang justru yang menurunkan kedudukannya, sampai pada tingkat menyekutukan Allah. Ini bukanlah hal yang aneh. Sebab, mereka meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki sifat rububiyah, dalam keadaan beliau z masih hidup. Ketika berkali-kali beliau radhiyallahu ‘anhu melarang mereka (dari sikap ghuluw ini) dan ternyata tidak mau berhenti, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu mereka dibakar (di parit tersebut). Beliau berkata,

لَمَّا رَأَيْتُ الْأَمْرَ أَمْرًا مُنْكَرًا أَجَّجْتُ نَارِي وَدَعَوْتُ قُنْبُرًا

Tatkala aku melihat suatu perkara adalah kemungkaran Aku nyalakan api dan aku memanggil Qunbur

Maksudnya, tatkala sikap ghuluw dalam hal ini adalah perkara yang mungkar, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu meminta pembantu beliau yang bernama Qunbur menyeret mereka untuk diceburkan ke dalam parit tersebut. Wallahu a’lam.

Dalam hal ini para sahabat sepakat, kecuali Ibnu Abbas. Beliau berpandangan, hukuman yang pantas bagi mereka adalah dibunuh, bukan dibakar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لاَ يُعَذِّبُ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ

Tidak boleh mengazab dengan api, kecuali Rabb pencipta api.

Semua ini dilakukan karena sikap melampaui batas yang dilarang oleh syariat (agama). Mereka berupaya kedustaan ke dalam bidang ilmu tafsir (ayat-ayat al-Qur’an). Mereka susupkan hadits-hadits palsu ke dalam bidang ilmu hadits (periwayatan). Pada dasarnya orang-orang Syiah Rafidhah tidak memiliki perhatian terhadap menghafal al-Qur’an, memahami makna dan tafsirnya, serta upaya untuk menjadikannya sebagai dalil sesuai dengan makna yang terkandung. Apabila ada dari mereka yang  kitab tafsir, mereka mengambil ilmunya dari selain mereka, sebagaimanamhalnya yang dilakukan oleh ath-Thusi dan yang lainnya.

Karena itu, dalam kitab tafsir mereka dimuat ucapan atau pendapat menurut versi Mu’tazilah. Demikian pula pembahasan-pembahasan yang bersifat pendapat. Hal yang paling menonjol dari kitab tafsir mereka adalah ucapan mereka yang mencerca sahabat, menolak pendapat mereka dan pendapat jumhur ulama,lantas mengaku-aku bahwa ucapan  merekalah yang sesuai dengan teks al-Qur’an.

Tatkala tidak memungkinkan bagi seorang pun untuk menyusupkan ke dalam al-Qur’an sesuatu pun, sebagian orang berinisiatif untuk menyebutkan ayat bersama sebab-sebab turunnya. Perlu diketahui, tidak semua ayat yang ada pada al-Quran harus ada asbab nuzulnya. Tidak ada sebuah kelompok yang sedemikian rupa menyusupkan ke dalam Islam hal-hal yang bukan darinya dan memalingkan hukum syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah. Mereka memasukkan ke dalam agama ini kedustaan terhadap Rasulullah, menolak kebenaran, dan memalingkan makna ayat, tidak seperti kedustaan, penolakan, dan penyimpangan yang dilakukan oleh sekte lainnya.

Asy-Syaukani mengatakan dalam al-Fawaid al-Majmu’ah, sebagaimana yang dinukil oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau, Riyadhul Jannah, “Demikianlah. Di antara kedustaan yang disebutkan oleh orang-orang (Syiah) Rafidhah dalam tafsir mereka, adalah ketika mereka menyebutkan firman Allah,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orangorang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah).(al- Maidah: 55)

Kata mereka, ayat ini turun berkenaan dengan Ali, ketika beliau bersedekah dengan cincinnya di waktu shalat. Demikian pula firman Allah,

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.(ar-Ra’d: 7)

dan firman Allah,

وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.(al-Haqqah:12)

Menurut mereka, semua ayat di atas sebab turunnya terkait dengan Ali. Asy-Syaukani mengatakan bahwa ini adalah riwayat yang palsu, tanpa ada keraguan dan perselisihan. Dalam tafsir mereka juga disebutkan, tatkala Allah menurunkan ayat,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.(ar-Rahman: 19)

Menurut mereka, maksudnya adalah Ali dan Fatimah.

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.(ar-Rahman: 22)

Menurut mereka, maksudnya adalah Hasan dan Husain.

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).(Yasin: 12)

Kata mereka, sebab turunnya adalah pada Ali.  Penafsiran ala mereka ini hampir mirip dengan penafsiran sebagian ahli tafsir yang menyimpang dari metode penafsiran yang benar pada ayat,

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) dan yang memohon ampun di waktu sahur.(Ali Imran: 17)

Menurut sebagian ahli tafsir tersebut, yang dimaksud orang yang sabar adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang benar adalah Abu Bakr, orang yang tetap taat adalahUmar, orang yang menafkahkan hartanya adalah Utsman, dan orang yang meminta ampun di waktu sahur adalah Ali. Demikian pula firman Allah dalam surat al-Fath ayat 29,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamadengannya,” yaitu Abu Bakr, “adalah keras terhadap orang-orang kafir” yaitu Umar, “tetapi berkasih sayang sesama mereka” yaitu Utsman, “kalian lihat mereka rukuk” yaitu Ali. Firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).(Ali ‘Imran: 33)

Menurut mereka, yang dimaksud dengan keluarga Imran adalah keluarga Abu Thalib karena nama Abu Thalib adalah Imran. Masih banyak contoh kedustaan yang mereka perbuat dalam bidang ilmu tafsir. Menurut Syiah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan sampai langit yang ketujuh, di setiap langit Allah memperlihatkan kepada beliau keanehan-keanehan. Keesokan harinya beliau bercerita kepada manusia tentang keajaiban tersebut. Sebagian penduduk Makkah mendustakannya dan ada pula yang membenarkan. Saat itulah ada bintang yang jatuh dari langit. Nabi bertanya, “Di rumah siapakah bintang itu jatuh? Dialah yang akan menjadi khalifah setelahku.”

Mereka pun mencari di mana bintang itu jatuh. Ternyata mereka mendapatkannya di rumah Ali bin Abi Thalib. Penduduk Makkah lantas berkata, “Muhammad telah sesat dan keliru, terbenam kepada ahli baitnya, condong kepada putra pamannya.” Saat itulah turun surat an-Najm  ayat 1—4,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ () مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ () وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Tidaklah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits (riwayat) ini tidak diragukan kepalsuannya. Dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama Kalbi, kata Abu Hatim ibnu Hibban, “Kalbi termasuk yang mengatakan bahwa Ali masih hidup dan akan muncul lagi di dunia.” Di antara yang menjadi bukti kepalsuan hadits ini adalah tidak masuk akal jika bintang jatuh ke dalam rumah. Demikian pula Ibnu Abbas, waktu itu beliau baru berumur dua tahun, bagaimana bisa menyaksikan kejadian al-Mi’raj dan menceritakannya?

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah mengatakan, “Cukuplah sikap ghuluw orang-orang Syiah menjadikan mereka rendah, hina, dan tersesat. Periwayatan mereka terhadap hadits seperti ini akan menjauhkan tabiat yang baik darinya, pendengaran pun tidak akan menghiraukannya. Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disibukkan dengan urusan dakwah, sedangkan mereka menyibukkan diri dengan masalah khilafah (kepemimpinan). Seolah-olah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki cita-cita selain menanamkan secara mendasar tentang khilafah kepada Ali dan keturunannya.

Cercaan Terhadap Para Sahabat

Berikut beberapa ayat yang mereka tafsirkan, dengan anggapan bahwa hal itu sesuai dengan tekstual ayat, tetapi hakikatnya adalah pemalingan makna dan kedustaan. Firman Allah,

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

Maka perangilah pemimpinpeminpin orang-orang kafir itu.(at- Taubah: 12)

Mereka tafsirkan, Thalhah dan Zubair.

وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ

Dan (begitu pula) pohon yang terlaknat dalam al-Quran.(al-Isra’: 60)

Mereka katakan, maksudnya adalah Bani Umayyah.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.(al-Baqarah: 67)

Kata mereka, maksudnya adalah ‘Aisyah.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu.(az- Zumar: 65)

Kata mereka, maksudnya ialah mempersekutukan antara Abu Bakr dan Ali dalam hal kekuasaan. (Lihat Minhajus Sunnah an- Nabawiyyah, Ibnu Taimiyah; Riyadhul Jannah, Muqbil al-Wadi’i; Mauqif Ahlis Sunnah wa Syiah, Muhammad bin Abdirahman bin Qasim)

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Al-Kautsar, Sungai di dalam Surga

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat

الْكَوْثَرَ

“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.

Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu. Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata al-Kautsar, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.

أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

ڍ

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)

Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”

Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syanaan artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ

“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)

Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Rasul Allah, Sang Penegak Hujah

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 165)

Tafsir Ayat

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Ayat Allah Subhanahu wata’ala ini menerangkan tentang tugas yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada para rasul-Nya. Mereka adalah pembawa risalah yang haq dari Allah Subhanahu wata’ala untuk disampaikan kepada umatnya, sekaligus sebagai penegak hujah atas mereka, sehingga manusia kembali kepada jalan Allah Subhanahu wata’ala dan bimbingan-Nya. Agar mereka merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang itu merupakan suatu kegembiraan yang tiada akhir. Sebaliknya, mereka yang menyelisihi dan menentang para rasul-Nya, berhak mendapatkan peringatan dan ancaman berupa siksaan yang dahsyat. Mereka adalah yang telah sampai kepadanya hujah/risalah, namun enggan mengikuti petunjuk dan bimbingan rasul-Nya. Al- Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menjelaskan ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus mereka sebagai pembawa berita gembira bagi yang taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengikuti para rasul-Nya, berupa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sekaligus memberi peringatan kepada yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menyelisihi para rasul-Nya, berupa kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat, agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala setelah diutusnya para rasul. Agar mereka tidak lagi beralasan,

مَا جَاءَنَا مِن بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ

Tidak datang kepada kami pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Maka sungguh telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (al-Maidah: 19)

Jadi, makhluk tidak lagi memiliki hujah dan alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan diutusnya para rasul secara berturut-turut, yang menjelaskan kepada mereka tentang perkara agamanya, apa saja yang diridhai dan yang dimurkai-Nya, serta menjelaskan jalan-jalan surga dan juga jalan-jalan neraka. Maka barang siapa yang kafir setelah itu, maka jangan dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Jalan Kebenaran Hanya Melalui Rasul Allah Subhanahu wata’ala

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa para rasul merupakan perantara antara Allah Subhanahu wata’ala  dengan hamba-hamba- Nya dalam menyampaikan hukumhukum- Nya, sehingga bagi yang taat akan mendapatkan kabar gembira berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga-Nya, yang hanya ditinggali oleh hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orangorang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa: 69)

Firman-Nya,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul- Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisa:13)

Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat  serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Barang siapa kafir di antaramu sesudah itu, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 12)

Masih banyak ayat yang semakna dengan ayat-ayat ini. Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Demi Allah, kalau seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan memenggalnya dengan ketajaman pedang ini.”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda,

تَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ وَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ

Kalian merasa heran dengan kecemburuan Sad? Demi Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah Subhanahu wata’ala lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Tiada satu pun yang lebih senang menerima uzur dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia mengutus para pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan tidak satu pun yang paling menyenangi pujian dari Allah Subhanahu wata’ala, karena itulah Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan bagi mereka surga. (Muttafaq Alaihi dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Barang siapa taat kepadaku maka dia pasti masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan. (HR. al- Bukhari no. 6851)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat ini, apakah dia Yahudi atau Nasrani, yang telah mendengar tentangku, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim, no. 153)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang masalah ini. Jadi, jelas bagi kita, hidayah dan jalan yang benar hanyalah dapat ditempuh melalui jalan para rasul yang diutus Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Barang siapa menyangka bahwa ada jalan lain yang dapat mengantarkan kepada surga selain Rasul Allah Subhanahu wata’ala, sungguh dia telah sesat dan keluar dari Islam, berdasarkan dalildalil yang telah kita sebutkan.

Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah menegaskan, “Tidaklah diragukan bagi orang yang memiliki pengetahuan dalam Islam bahwa tidak ada jalan yang dengannya dapat diketahui perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala dan larangan- Nya, segala hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya, melainkan harus melalui jalan wahyu. Barang siapa menyangka bahwa untuk sampai kepada amalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala tidak perlu melalui jalan para rasul dan risalah yang mereka bawa, meskipun dalam satu masalah, tidak diragukan lagi bahwa dia seorang zindiq. Ayat-ayat dan hadits sangat banyak menjelaskan hal ini. Di antaranya,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ

(Mereka kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (an-Nisa: 165)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Beliau melanjutkan, “Dengan ini engkau mengetahui bahwa apa yang disangka oleh kebanyakan orang jahil yang mengikuti tasawuf bahwa mereka dan syaikh-syaikh mereka memiliki “jalan batin” yang sejalan dengan kebenaran di sisi Allah Subhanahu wata’ala, meskipun menyelisihi yang zahir dari syariat. Seperti berbedanya apa yang dilakukan oleh Khadir ‘Alaihissalam terhadap ilmu zahir yang dimiliki Musa ‘Alaihissalam. Ini adalah perbuatan zindiq yang dapat menjerumuskan kepada kemurtadan secara menyeluruh dari agama Islam dengan alasan bahwa kebenarannya ada dalam ilmu batin yang menyelisihi ilmu zahir. (Adhwaul Bayan, asy-Syinqithi, 3/ 324)

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Berkata syaikh kami, Abul Abbas, ada satu kaum dari kalangan zindiq batiniyah yang menempuh cara tertentu dalam menetapkan hukum syar’i. Mereka berkata, ‘Hukum-hukum syar’i ini hanya diterapkan kepada para nabi dan masyarakat umum. Adapun para wali dan orang-orang khusus, mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, namun cukup bagi mereka sesuatu yang terbetik di dalam hati mereka yang berupa persangkaan kuat yang ada di dalam benak mereka.’ Mereka juga berkata, ‘Hal itu disebabkan karena bersihnya hati mereka dari berbagai kotoran dan perubahan (fitrah) sehingga menyebabkan ilmuilmu ilahiyah hakikat Rabbaniyah tersingkap oleh mereka, sehingga mereka mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengerti hukum-hukum secara terperinci, sehingga mereka tidak membutuhkan hukum-hukum syariat secara menyeluruh. Sebagaimana halnya Khadir, yang dia merasa tidak memerlukan yang zahir dari ilmu yang dimiliki oleh Musa berupa pemahaman-pemahaman, dan telah datang riwayat yang mereka nukilkan:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun para mufti memberi fatwa kepadamu.

Lalu berkata Syaikh kami, ‘Ini adalah ucapan zindiq dan kekufuran, dibunuh orang yang mengucapkannya dan tidak diminta bertobat, sebab dia mengingkari syariat yang diketahui secara pasti. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan sunnah- Nya dan menjalankan kebijakan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak dapat diketahui melainkan melalui para rasul- Nya yang menjadi perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Merekalah yang menyampaikan dari Allah Subhanahu wata’ala risalah dan wahyu-Nya yang menerangkan tentang syariat dan hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’ala telah memilih dan memberi keistimewaan kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia. (al- Hajj: 75)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (al-Anam: 124)

Firman-Nya,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (al-Baqarah: 213)

Dan ayat-ayat yang lainnya. Kesimpulannya, menjadi sebuah ilmu yang pasti dan keyakinan yang jelas, demikian pula kesepakatan para ulama salaf dan khalaf, tidak ada jalan untuk memahami hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala yang seluruhnya kembali kepada perintah dan larangan-Nya, tiada satu pun dapat diketahui darinya, kecuali melalui jalan para rasul. Jadi, barang siapa menyatakan bahwa ada sebuah metode alternatif yang dengannya dapat mengetahui perintah dan larangan-Nya selain dari para rasul, sehingga dia tidak merasa membutuhkan para rasul, sungguh dia telah kafir dan boleh dibunuh—oleh pemerintah muslim. Tidak perlu pula dimintai bertobat dan diskusi. Ditambah lagi, ucapan ini sama dengan menetapkan adanya nabi setelah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah Allah Subhanahu wata’ala jadikan beliau sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul setelahnya. Penjelasan tentang hal ini, bahwa orang yang berkata bahwa dia mengambil wahyu melalui hatinya, dan apa yang terbetik di dalam hatinya; itulah hukum Allah Subhanahu wata’ala sehingga dia beramal sesuai sesuai petunjuk hatinya, tidak butuh kepada kitab Allah Subhanahu wata’ala dan juga sunnah; maka sungguh dia telah menetapkan dirinya memiliki sifat kenabian, ini seperti halnya yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي

Sesungguhnya ruhul qudus (Jibril ‘Alaihissalam) telah meniupkan ke dalam sanubariku. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 7/79, dari Abdullah bin Mas’ud z) (Tafsir Al-Qurthubi, 11/40—41)

Tiada Siksaan Tanpa Ditegakkan Hujah Risalah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

 Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya untuk membawa hujah yang akan ditegakkan kepada setiap hamba-Nya, agar siapa di antara mereka yang taat mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat, serta siapa di antara mereka yang bermaksiat maka Allah Subhanahu wata’ala berhak menyiksa mereka untuk menegakkan keadilan-Nya. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

Demikian pula firman-Nya,

ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Hal itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah. (al-Anam: 131)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Makna ayat ini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan satu kaum dalam keadaan mereka lalai tanpa memberi peringatan kepada mereka, bahkan Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan seorang pun melainkan setelah menghilangkan uzur bagi mereka dan setelah mendapatkan peringatan melalui lisan para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Adhwaul Bayan, 1/493) Di dalam ayat ini, tidak disebutkan hujah apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, namun dijelaskan di dalam ayat yang lain bahwa hujah yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Juga firman-Nya,

وَلَوْلَا أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin. (al-Qashash: 47)

Adapun firman-Nya,

وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Diutusnya para rasul ini menunjukkan kemuliaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebijaksanaan- Nya. Hal ini juga menunjukkan keutamaan dan kebaikan-Nya, di saat manusia sangat membutuhkan para nabi, lalu Allah Subhanahu wata’ala memberikan anugerah kepada mereka (yaitu dengan diutusnya para rasul). Bagi-Nya segala puji dan syukur.” (Taisir al-Karim ar-Rahman) Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal