Bahasa Arab Semata Tidaklah Cukup

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(al-An’am: 82)

 pintu-gelap

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, para sahabat merasa berat ketika ayat ini turun. Mereka lalu menyampaikan (apa yang mereka pahami tentang makna ayat tersebut) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat zalim (menganiaya) terhadap diri sendiri?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya (penafsirannya) bukanlah seperti yang kalian maksud. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh pada firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezaliman yang besar.(Luqman: 13)”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman (dalam ayat ini) adalah syirik.

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat g memahami kesyirikan (memiliki makna) yang lebih besar daripada sekadar kezaliman. Mereka memahami makna ‘zhulm’ (kezaliman) dalam ayat ini ialah selain syirik, yaitu kemaksiatan. Kemudian mereka menanyakan hal tersebut sehingga turunlah ayat ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pendapat al-Khaththabi ini perlu ditinjau ulang. Yang tampak bagi saya, mereka (para sahabat) memahami kata ‘zhulm’ dengan makna yang umum, baik syirik maupun yang lainnya (kemaksiatan). Sebab, kata ‘zhulm’ berbentuk nakirah (tidak tertentu) dalam konteks nafi (kalimat peniadaan, sehingga bermakna umum). Akan tetapi, makna yang umum di sini ditinjau dari sisi zahirnya.

Ternyata, (keumuman makna yang) dipahami sebatas yang tampak dari ayat (mencakup syirik dan kemaksiatan) bukan itu yang dikehendaki dalam ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata tersebut tergolong dalam bab ‘sesuatu yang umum, namun dimaksudkan untuk hal yang khusus’. Dengan demikian, maksud kezaliman di sini ialah jenis yang tertinggi darinya, yaitu syirik.” (Fathul Bari, 1/109—111)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ

Tidak mencampuradukkan.”

Maknanya adalah لَمْ يَخْلِطُوا  , yaitu tidak mencampurkan.

Muhammad bin Ismail at-Taimi berkata, “(Ada kemungkinan maknanya) ialah mencampurkan antara keimanan dan kesyirikan, meskipun ini makna yang tidak bisa dibayangkan. Yang dimaksud ialah tidak terkumpul pada mereka dua sifat, yakni kekufuran setelah keimanan; tidak akan terjadi kemurtadan. Bisa jadi pula, maknanya ialah mereka tidak mengumpulkan antara keimanan dan kekufuran secara lahir dan batin, yaitu tidak terdapat kemunafikan.”

بِظُلۡمٍ

Dengan kezaliman.”

Maknanya adalah ‘dengan syirik’. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Pada riwayat yang lain, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzalimi dirinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Maknanya) bukan seperti yang kalian katakan. Makna ayat ‘mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman’, ialah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan Luqman?”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat, “Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Penafsiran ini juga diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Ubay bin Ka’b, Salman, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Amr bin Syarahbil, Abu Abdurrahman as-Sulami, Mujahid, ‘Ikrimah, an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan selain mereka. (Fathul Bari, 1/111; Ibnu Katsir, 2/145)

 

Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.

 

Kandungan Ayat

Seperti yang terdapat dalam riwayat di atas, ketika ayat itu turun, para sahabat radhiallahu ‘anhum merasa berat.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Yang menyebabkan mereka merasa berat adalah sangkaan mereka bahwa kezaliman yang harus ditiadakan adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya. (Maknanya,) tidak ada yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk kecuali orang yang sama sekali tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa makna (yang benar) ialah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kitabullah, yaitu syirik merupakan kezaliman. Barang siapa tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezaliman (yakni syirik), ia termasuk golongan yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang pilihan, seperti firman Allah,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٣٢

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan ada di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu sudah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat lain yang menerangkan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat dari kezaliman dirinya sendiri—yakni berbuat dosa—akan dihukum. Firman Allah,

(فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ (٧)  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُ  (٨

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,  niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.(az-Zalzalah: 7—8)

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kejelekan?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Bakr, bukankah kamu pernah ditimpa letih (sakit), sedih, dan cobaan? Dengan itulah kalian mendapatkan balasan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, seorang mukmin yang jika meninggal masuk ke dalam jannah (surga), terkadang kejelekannya dibalas sewaktu di dunia dengan ditimpa berbagai musibah. Barang siapa selamat dari tiga jenis kezaliman: syirik, menzalimi orang, dan menzalimi diri sendiri selain kesyirikan, ia akan mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Barang siapa tidak selamat dari berbuat kezaliman, ia akan mendapatkan jaminan dan petunjuk yang tidak sempurna. Maknanya, ia pasti akan masuk ke dalam jannah, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat lain. Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah kepada jalan yang lurus, yang kesudahannya berakhir masuk ke jannah. Akan tetapi, jaminan keamanan dan petunjuk yang didapatnya tidak sempurna, sesuai dengan kadar berkurangnya keimanannya akibat kezaliman yang dia lakukan.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menafsirkan makna kezaliman) dengan syirik tidaklah bermakna bahwa siapa yang tidak melakukan syirik akbar lantas mendapat jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna. Sebab, sekian banyak hadits dan dalil yang ada dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa para pelaku dosa besar (muslim yang tidak berbuat syirik) akan menghadapi keadaan yang menakutkan (mencemaskan). Mereka tidak mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Dengan sebab keduanya (jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna), seseorang mendapatkan petunjuk menuju ash-shirath al-mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ‘azza wa jalla anugerahkan nikmat kepada mereka, tanpa harus mengalami proses azab terlebih dahulu.

Namun, pada diri mereka (yang melakukan kezaliman selain syirik akbar) ada pokok hidayah dan pokok kenikmatan sehingga mereka akan dimasukkan ke dalam jannah.

Jadi, jika makna syirik dalam pembahasan ini diartikan dengan syirik besar, maksudnya adalah orang yang tidak berbuat syirik (besar) akan aman dari ancaman yang ditimpakan kepada kaum musyrikin, yaitu azab di dunia dan di akhirat.

Adapun jika yang dimaksud syirik di sini adalah jenisnya (semua jenis syirik), maknanya adalah seseorang menzalimi diri sendiri. Contohnya, kekikiran karena cinta harta akan mendorong seseorang membenci hal yang wajib (semisal menunaikan zakat, -ed.), ini tergolong dalam syirik ashghar. Seseorang mencintai sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla benci sehingga hawa nafsu lebih dia kedepankan daripada cintanya kepada Allah, ini syirik ashghar, dan yang semisalnya.

Orang yang semacam ini akan kehilangan jaminan keamanan dan hidayah sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Oleh karena itu, dari tinjauan dan sisi inilah para ulama salaf memasukkan perbuatan dosa sebagai bentuk syirik.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “(Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum atas tafsir ayat di atas) merupakan jawaban yang menenteramkan dan melegakan. Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.” (Fathul Majid, hlm. 48—50)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, hadits yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini mengandung beberapa faidah sebagai berikut:

  1. Suatu kalimat dimaknai umum hingga datang dalil yang mengkhususkannya.
  2. Bentuk kalimat nakirah dalam konteks nafi, mengandung makna umum.
  3. Pengkhususan menerangkan hal yang umum, dan yang rinci menerangkan hal yang global.
  4. Sebuah lafadz (kata) dapat dibawa kepada makna yang berbeda dengan makna yang tampak secara zahir, untuk sebuah kemaslahatan dalam rangka menolak pendapat yang bertentangan (keliru).
  5. Kezaliman itu bertingkat-tingkat, terjadi perbedaan (antara satu dan yang lain).
  6. Kemaksiatan tidak disebut sebagai kesyirikan.
  7. Seorang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun mendapat jaminan keamanan dan mendapat petunjuk.

Jika muncul pertanyaan, seorang pelaku dosa kadang harus diazab, jaminan keamanan dan petunjuk apakan yang diperoleh? Jawabannya adalah dia akan mendapatkan jaminan untuk tidak kekal di dalam api neraka. Dia akan masuk ke dalam jannah. (Fathul Bari, 1/111)

Wallahu a’lam. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Ternyata Syiah Juga Mu’tazilah

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Tafsir

إنّ جعلنه قرءنا عربيّا

Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az- Zukhruf: 3)

Mu'tazilah

Sa’id bin Jubair rahimahullah menjelaskan bahwa makna جعلنه (Kami menjadikan) ialah أَنْزَلْنَاهُ (Kami turunkan). (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Maknanya adalah Kami turunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Kami menjadikan, yaitu Kami turunkan dalam bahasa Arab yang fasih lagi jelas.”

As-Suyuthi dalam tafsirnya, ad-Durrul Mantsur, menyebutkan sebuah riwayat Ibnu Mardawaih dari Atha’, beliau mengatakan bahwa seorang yang berasal dari Hadramaut datang kepada Ibnu Abbas lalu bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, beritakan kepadaku tentang al-Qur’an, apakah al-Qur’an itu kalam (firman) dari kalam Allah ‘azza wa jalla atau makhluk dari ciptaan Allah ‘azza wa jalla?”

Beliau menjawab, “Al-Qur’an adalah kalam dari kalam Allah ‘azza wa jalla.”

Beliau bertanya kepada orang tersebut, “Apakah kamu tidak mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah(at-Taubah: 6).

Orang itu balik bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab’?”

Beliau menjawab, “Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh dengan bahasa Arab. Tidakkah kamu mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.(al-Buruj: 21—22)

Makna al-Majid adalah al-‘Aziz, yaitu Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh.”

Sebagian kita mungkin mengira, penyimpangan yang ada pada ajaran Syiah hanya Mut’ah dan mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diketahui bahwa dari sekian penyimpangan ajaran Syiah yang sesat, salah satunya adalah kebencian mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berapa banyak ayat mereka tafsirkan menurut versinya, kandungan atau muatan tafsir tersebut berupa celaan, cercaan, bahkan pengafiran terhadap sebagian sahabat yang mulia, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, maupun yang lainya radhiallahu ‘anhum.

Sementara itu, salah satu prinsip dari sekian prinsip-prinsip Ahlus Sunnah adalah memuliakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengenal hak-hak mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

Janganlah kalian mencela sahabatku. Kalau saja ada salah seorang dari kalian yang menginfakkan harta berupa emas seberat Gunung Uhud, sungguh (hal itu) belum dapat menyamai apa yang telah mereka infakkan, meskipun hanya dua genggam atau satu genggaman tangan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Zamanin dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, darial-Imam Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtiyani, beliau berkata, “Barang siapa mencintai Abu Bakr, ia telah menegakkan agama. Barang siapa mencintai Umar, ia telah memperjelas jalan agama. Dan Barang siapa mencintai Ali, ia telah berpegang dengan tali yang kuat.

Barang siapa memuji para sahabat Rasulullah, ia telah membersihkan dirinya dari kemunafikan. Barang siapa mencela salah seorang dari sahabat dan membenci salah satu perkara yang ada pada mereka, ia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), serta telah menyelisihi sunnah dan salafush shalih. Dikhawatirkan amal baik yang telah ia lakukan tidak diangkat ke langit (tidak diterima), sampai ia mencintai seluruh sahabat dan hatinya selamat (dari mencela dan mengkritik mereka).”

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Apabila kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Sebab, di sisi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hak, dan al-Qur’an adalah hak. Hanya para sahabatlah yang menjadi penyampai al-Qur’an dan sunnah kepada kami. Adapun mereka (para pencela sahabat) menghendaki persaksian sahabat ditolak, dengan tujuan agar al-Qur’an dan sunnah ditolak juga. Maka dari itu, mengkritik mereka (para pencela) lebih utama dan mereka adalah kaum zindiq.”

Ternyata Syiah tidak hanya memiliki paham sesat dalam hal kehormatan dan kemuliaan para sahabat—walaupun hal ini sudah cukup sebagai catatan buruk bagi mereka—namun mereka juga memiliki penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak ringan bahaya dan akibatnya bagi pengikut kaum muslimin dan agama Islam.

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i dalam kitabnya Sa’qatul Zilzal (2/486) menerangkan, “Kaum Rafidhah juga teranggap Khawarij, karena mereka mengafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka—dan cukup banyak (bukti) tentang hal ini bagi Anda.

Mereka teranggap Mu’tazilah dalam urusan akidah. Mereka juga memusuhi para penyeru tauhid dan sunnah. Mereka senantiasa menjauhkan manusia dari Ahlus Sunnah dan para penyeru tauhid. Bahkan, hal ini menjadi proyek terbesar bagi mereka.

Mereka juga membangun kubah di atas kuburan, berdoa (meminta) kepada selain Allah ‘azza wa jalla, seperti berdoa kepada yang sudah meninggal.

Mereka pun membenci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuat mereka menyerupai perbuatan orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).(al-Fath: 29)

Mereka membantu orang-orang kafir guna memerangi orang-orang muslim. Di Yaman mereka telah membantu partai komunis dalam memerangi kaum muslimin.”

Sebagaimana telah dijabarkan di atas, Syiah ikut menyebarkan akidah sesat Mu’tazilah. Hal ini bukanlah tuduhan tanpa bukti atau tidak beralasan. Bukan para ulama sunni salafi atau Ahlus Sunnah saja yang berbicara tentang hal ini sehingga mereka (kaum Syiah) dengan gampangnya mengatakan bahwa itu hanyalah pendapat Sunni Salafi, sedangkan mereka (kaum Syiah) punya tokoh ulama tersendiri.

Jika benar demikian, kalau ada tokoh ulama mereka yang mengakui adanya keyakinan sesat tersebut, apakah mereka akan mengakuinya?!

Jika hal itu benar adanya, apakah keyakinan yang sesat itu harus dipertahankan dan dibela?! Lantas apa yang menjadi pijakan seorang dalam beragama?

Tidak ada jawaban yang lain kecuali al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafush shalih.

Al-Hadi (salah satu tokoh Syiah, yang darinya muncul sekte Syiah Hadawiyyah) dalam Majmu’ Rasailnya, tatkala menjabarkan kesesatannya bahwa al-Qur’an ialah makhluk, berdalil dengan beberapa ayat al-Qur’an.

Di antaranya ialah firman Allah ‘azza wa jalla,  “Sesungguhnya Kami menjadikan[1] al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az-Zukhruf: 3)

Firman Allah ‘azza wa jalla, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan istrinya.” (al-A’raf: 189)

Demikianlah Allah ‘azza wa jalla menciptakan al-Qur’an. Tatkala Ia menjadikannya (menciptakan al-Qur’an) dalam bahasa Arab, sebagaimana Ia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, karena keduanya juga diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla, “Atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (Thaha: 113)

Pada ayat ini Allah ‘azza wa jalla memberitakan bahwa al-Qur’an adalah perkara yang muhdats (sesuatu yang diadakan), bukan qadim (sesuatu yang dahulu dan tidak diawali oleh apa pun). Apabila al-Qur’an adalah sesuatu yang muhdats, berarti Allah ‘azza wa jalla yang mengadakannya. Dengan demikian, (al-Qur’an) adalah makhluk, dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

Demikian pula, Allah ‘azza wa jalla menamai kalam-Nya sebagai wahyu dengan perintah-Nya. Ini maknanya, al-Qur’an adalah makhluk dari ciptaan-Nya, sebuah aturan dari pengaturan dan perintah-Nya.

Dengan ayat-ayat ini dan yang lainnya, telah menyelisihi orang yang berpendapat bahwa al-Qur’an bukan makhluk telah menyelisihi pendapat kami. Kami meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk, sesuatu yang diadakan dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

-selesai nukilan ucapan al-Hadi-

Keyakinan Syiah bahwa al-Qur’an adalah makhluk membawa mereka sampai pada tingkatan menjadikan hal ini sebagai salah satu perkara yang prinsip. Hingga sekarang mereka masih berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

Dengan keyakinan ini, mereka telah keluar dari al-Qur’an dan as-Sunnah, keyakinan para ulama salaf secara umum, dan keyakinan ahlul bait secara khusus.

‘Amr bin Dinar berkata, “Aku berjumpa dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang hidup setelah mereka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Mereka berpendapat bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Pencipta; Apa saja selain Allah ‘azza wa jalla adalah makhluk; Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni bukan makhluk, -ed.), dari-Nya keluar dan kepada-Nya kembali.”

Telah diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dari jalan Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih, dari ayahnya, yang berkata, “Amr bin Dinar telah berjumpa dengan para sahabat Rasul yang mulia dari kalangan ahli Badar, para Muhajirin dan Anshar, seperti Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin ‘Amr, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair—semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka—dan para tabiin yang mulia—semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati mereka—dan di atas keyakinan inilah (al-Qur’an kalamullah) generasi awal umat ini berlalu. Mereka tidak berselisih dalam hal tersebut.”

Al-Humaidi berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah. Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, barang siapa berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dia mubtadi’. Kami belum pernah mendengar seorang pun berkata demikian.”

Al-Imam Muhammad bin Ibrahim al-Wazir berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Para imam ‘itrah (keturunan ahli bait): Zaid bin Ali, Ja’far ash Shadiq, Abdullah bin Musa, Hasan bin Yahya, dan yang lainnya, berpendapat demikian.

Kaum muslimin yang hanya melihat tampilan lahiriah kaum Syiah, bisa jadi akan menyangka bahwa ajaran mereka mengandung sesuatu yang membahayakan. Ketahuilah, sekian banyak sekte dalam Islam yang memiliki ajaran sesat, namun karena dibungkus dengan kebaikan, ibadah, dan perbuatan yang banyak memberi manfaat, membuat banyak pihak yang tertipu.

Asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan menerangkan, “Dampak buruk dari sebuah pemikiran (yang menyimpang) lebih membahayakan dan lebih besar, apabila pemikiran tersebut dibungkus dengan pakaian (tampilan) ketakwaan, menampakkan cinta kepada kebaikan dan hal yang bermanfaat. Sebab, manusia—alhamdulillah—memiliki tabiat senang kepada kebaikan.”

Oleh karena itu, apabila kita melihat para penyeru kebid’ahan di zaman dahulu, kita dapati mereka seluruhnya tidaklah mengibarkan bendera dakwahnya kecuali berada di bawah naungan tampilan lahiriah yang agamis dan ahli ibadah.

Wallahul muwaffiq.

 

Sumber Bacaan

  • Tamamul Minnah fi Syarh Ushulis Sunnah, asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari
  • Syarh Qauli Ibni Sirin, asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar Bazmul

 


 

[1] Dalam bahasa Arab, fi’il (kata kerja) ja’ala ada yang muta’addi (membutuhkan) satu maf’ul bih (objek), ada yang membutuhkan dua maf’ul bih. Yang membutuhkan satu objek memang berarti menciptakan. Akan tetapi, yang membutuhkan dua objek artinya bukanlah menciptakan. Oleh karena itu, para ulama tafsir menafsirkan ayat di atas dengan “menurunkan”. Jadi, tidak ada dalil pada ayat di atas bagi kaum Syiah untuk menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. (-ed.)

Mencalonkan Diri Jadi Pemimpin

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

REC_021

 Tafsir Ayat

Ayat ini menerangkan permintaan Yusuf ‘alaihissalaam kepada penguasa di zaman itu untuk mengangkatnya sebagai bendahara yang menjaga gudang perbendaharaan harta negeri, agar keadilan merata dan kezaliman disirnakan. Yusuf ‘alaihissalaam akan menjadikan hal itu sebagai sarana mengajak penduduk negeri tersebut agar beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala.

Yusuf ‘alaihissalaam berkata, “Jadikanlah aku untuk mengawasi khazainul ardh.”

Ungkapan خَزَائِنُ الْأَرْضِ , kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari kata .خَزَانَةٌ Asalnya adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan sesuatu. Yang dimaksud di sini adalah tempattempat yang dijadikan sebagai gudang harta. (Fathul Qadir, asy-Syaukani)

Yusuf ‘alaihissalaam menawarkan hal ini kepada sang raja ketika dia benar-benar telah mengetahui bahwa Yusuf ‘alaihissalaam terbebas dari segala tuduhan yang dialamatkan kepada beliau sehingga masuk penjara karenanya. Sang raja telah mengetahui keutamaan yang dimiliki oleh Yusuf ‘alaihissalaam, yaitu ilmu, kemuliaan akhlak, kepandaian menakwil mimpi, dan keutamaan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (Yusuf: 54)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah meriwayatkan dari Syaibah bin Na’amah, dia mengatakan bahwa kata حَفِيظٌ maknanya ialah menjaga apa yang engkau titipkan untuk disimpan, عَلِيمٌ artinya yang mengetahui akan datangnya tahun-tahun paceklik. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 51)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Beliau meminta jabatan itu karena tahu kemampuan beliau untuk menunaikan tugas tersebut. Selain itu, beliau juga ingin memberikan kemaslahatan bagi manusia. Beliau hanya meminta untuk menjaga perbendaharaan bumi, berupa piramida-piramida yang menyimpan kumpulan hasil bumi bangsa Mesir, karena mereka akan menyambut tahun-tahun (paceklik) yang diberitakan oleh Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf ‘alaihissalaam dapat bertindak dengan cara yang lebih efisien, lebih maslahat, dan lebih terbimbing untuk kepentingan mereka. Maka dari itu, permintaan beliau dikabulkan dengan penuh rasa senang dan pemuliaan terhadap beliau.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 56)

Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Yusuf ‘alaihissalaam berkata demi kemaslahatan umum, ‘Jadikanlah aku sebagai bendaharawan negara’, yaitu sebagai bendaharawan yang menjaga hasil bumi, sebagai perwakilan, penjaga, dan yang mengurusi.

‘Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.’ Maksudnya, aku mampu menjaga apa yang ditugaskan kepadaku, sehingga tidak sedikit pun yang telantar bukan pada tempatnya. Aku mampu mengatur dengan baik barang yang masuk dan yang keluar, mengetahui cara mengatur, memberi, mencegah, dan bertindak dengan segala macam cara.

Ini bukanlah sikap ketamakan Yusuf ‘alaihissalaam untuk mendapatkan kepemimpinan, melainkan tekad beliau yang kuat untuk memberi manfaat secara umum. Beliau sendiri tahu bahwa beliau memiliki kecukupan, amanah, dan kepandaian menjaga, yang mereka tidak mengetahui hal itu dari beliau. Oleh karena itu, beliau meminta dari sang raja untuk mengangkatnya sebagai bendaharawan gudang harta negeri itu. Sang raja pun mengangkatnya sebagai bendaharawan negara dan memberi kedudukan itu kepadanya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 

Hukum Mencalonkan Diri Menjadi Pemimpin

Ayat ini lahiriahnya menunjukkan diperbolehkannya seseorang menawarkan diri untuk mengambil sebuah kedudukan yang memang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Al-Qurthubi rahimahullah menerangkan, “Ayat ini menunjukkan pula tentang bolehnya seseorang melamar sebuah pekerjaan yang dia memiliki keahlian dalam bidang tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 11/385)

Asy-Syaukani rahimahullah juga menjelaskan, “Di dalamnya terdapat dalil bagi seseorang yang meyakini jika dirinya masuk ke salah satu urusan pemerintahan akan bisa mengangkat cahaya kebenaran dan menghancurkan kebatilan yang mampu dia lakukan, diperbolehkan meminta hal itu untuk dirinya. Di samping itu, dia boleh menyebutkan sifat-sifat (kelebihan) yang dia miliki yang mendukung tercapainya kemauan, mengundang ketertarikan para penguasa yang akan menyerahkan kendali urusan kepadanya, dan menjadikannya sebagai dasar agar lamarannya diterima.” (Fathul Qadir juz 3, hlm. 49)

Akan tetapi, telah diriwayatkan beberapa hadits yang menunjukkan tercelanya seseorang meminta kedudukan untuk menjadi seorang pemimpin.

Di antaranya adalah hadits Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan engkau meminta kepemimpinan. Sebab, jika engkau diberi kepemimpinan karena memintanya, sungguh akan diserahkan kepadamu (yakni Allah ‘azza wa jalla tidak akan menolongmu). Namun, jika engkau diberi bukan karena memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah ‘azza wa jalla) untuk mengembannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang dari kabilah Asy’ari. Salah satunya di sebelah kananku dan yang lain di sebelah kiriku. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersiwak, keduanya meminta jabatan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Abu Musa,” atau beliau berkata, “Wahai Abdullah bin Qais.” Aku menjawab, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, keduanya tidak memberitahuku tentang apa yang ada pada dirinya. Aku tidak menyangka kalau keduanya meminta pekerjaan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَا نَسْتَعْمِلُ عَلَى عَمَلِنَا مَنْ أَرَادَهُ

“Kami tidak meyerahkan jabatan kami kepada orang yang memintanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, “Aku menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama dua orang lelaki dari kaumku, salah satunya berkata, ‘Angkatlah kami menjadi pemimpin, wahai Rasulullah.’ Yang lainnya juga mengucapkan hal yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

‘Sesungguhnya kami tidak menyerahkan hal ini kepada orang yang memintanya dan yang sangat berharap mendapatkannya’.” (HR. al-Bukhari, no. 6730)

Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

“Sesungguhnya kalian berkeinginan kuat untuk mendapatkan kepemimpinan, dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak, nikmat di dunia, namun sengsara di akhirat.” (HR. al-Bukhari, no. 6729)

Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku kedudukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk pundakku dengan tangannya, lalu berkata, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Sesungguhnya ini adalah amanat dan sesungguhnya akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan menunaikan haknya dan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya’.” (HR. Muslim, no. 1825)

Hal ini telah dijawab oleh al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dari beberapa sisi.

  1. Yusuf ‘alaihissalaam meminta kedudukan karena beliau mengetahui bahwa tidak seorang pun yang mampu menduduki jabatan tersebut dalam hal keadilan, perbaikan, dan pemberian hak-hak orang miskin.

Jadi, ia melihat bahwa hal itu menjadi fardhu ‘ain baginya karena tidak ada orang lain yang mampu melakukannya. Demikian pula hukumnya sekarang, jika seseorang mengetahui bahwa dia mampu menegakkan kebenaran dalam hal menetapkan hukum dan menegakkan kebenaran, serta tidak ada orang lain yang layak dan bisa mengganti kedudukannya, hal ini menjadi wajib baginya. Dia pun wajib menduduki jabatan itu dan memintanya. Dia juga wajib memberitakan tentang sifat-sifat (kelebihan) yang dimilikinya, berupa ilmu, kemampuan, dan lainnya, yang dengannya dia berhak berada pada posisi tersebut, seperti halnya yang dikatakan oleh Yusuf ‘alaihissalaam.

Adapun jika orang lain yang mampu menegakkan dan memperbaikinya, dan dia mengetahui hal tersebut, sebaiknya dia tidak memintanya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan engkau meminta kepemimpinan.”

Jika dia memintanya dan bersemangat untuk mendapatkannya—padahal dia tahu bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan sulit berlepas diri darinya—ini merupakan tanda bahwa dia meminta jabatan itu untuk dirinya dan kepentingan pribadinya. Barang siapa yang demikian keadaannya, tidak lama kemudian hawa nafsu akan menguasainya sehingga dia binasa. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan diserahkan kepadanya (tidak akan ditolong oleh Allah ‘azza wa jalla, -pen.).

Barang siapa enggan mendapatkan kedudukan itu karena mengetahui kekurangan dirinya dan khawatir tidak mampu menegakkan hak-haknya, atau dia berlari meninggalkannya, kemudian dia diberi ujian untuk menanganinya, diharapkan dia mampu keluar dari berbagai problemnya. Inilah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dia akan ditolong.’

  1. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku orang yang mampu menjaga lagi berilmu.”

Jadi, beliau tidak memintanya karena faktor keturunan dan ketampanannya.

  1. Beliau mengucapkan itu saat tidak ada orang yang mengenalnya sehingga merasa perlu untuk memperkenalkan dirinya. Ini adalah pengecualian dari firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” (an-Najm: 32)

  1. Beliau menganggap bahwa hal itu adalah fardhu ‘ain baginya, karena tidak ada orang lain yang mampu. Ini adalah jawaban yang paling tampak kebenarannya.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 11, hlm. 385—386)

 

Kerusakan Pemilu dalam Demokrasi

Ayat yang kita bahas ini bukanlah dalil yang membenarkan seseorang untuk ikut terjun ke dalam pentas politik demokrasi dan mencalonkan diri untuk mendapat bagian dari jabatan tersebut. Hal ini disebabkan banyak faktor, di antaranya:

  1. Pemilu merupakan bagian dari menyekutukan[1] Allah ‘azza wa jalla, sebab pemilu merupakan bagian dari demokrasi, yang aturannya berasal dari musuh-musuh Islam untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya.
  2. Menuhankan suara terbanyak dan menjadikannya sebagai standar kebenaran meskipun Islam menganggapnya sebagai kebatilan; di sisi lain menolak suara minoritas meskipun itu adalah hal yang pasti kebenarannya menurut agama.
  3. Menganggap syariat Islam itu kurang dalam menetapkan peraturan di tengah-tengah manusia, sehingga merasa butuh dengan sistem demokrasi yang jelas-jelas bukan berasal dari Islam.
  4. Menyebabkan pudarnya sikap al-wala wal-bara (loyalitas dan kebencian) berdasarkan Islam.
  5. Tunduk kepada undang-undang sekuler.
  6. Hanya memberi kemaslahatan kepada musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
  7. Menyebabkan semakin terpecah belahnya kaum muslimin dengan terbentuknya partai-partai yang sering kali berupaya saling menjatuhkan.

Masih banyak lagi kerusakan-kerusakan pemilu yang merupakan bagian penting dari sistem demokrasi tersebut.

Al-Allamah Ahmad bin Yahya an-Najmi rahimahullah ditanya, “Apakah mengikuti pemilu/masuk parlemen merupakan wasilah yang disyariatkan untuk menolong agama atau tidak?”

Beliau menjawab, “Tidak.” (al-Fatawa al-Jaliyyah ‘anil Manahij ad-Da’wiyah, hlm. 25)

Selain itu, beliau mengatakan bahwa termasuk di antara bentuk penipuan dengan suara terbanyak adalah yang disebut pemilu, pencalonan diri, atau yang semisalnya. Siapa yang berhasil meraih suara terbanyak, dia yang diutamakan untuk diangkat, meskipun dia termasuk manusia yang paling buruk. Ini adalah metode orang-orang kafir yang mereka gunakan untuk menetapkan pemimpin negara, menteri, atau yang lainnya. (al-Amali an-Najmiyah ‘ala Masail al-Jahiliyah, no. 12)

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat perincian hal ini pada catatan kaki no. 1 pada artikel Kerusakan-kerusakan Pemilu. (-ed.)H

Akibat Mengimani Sebagian Kitab dan Mengingkari Sebagian Lainnya

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

susun puzzle

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Makna خِزْيٌ dalam ayat di atas adalah kerendahan dan kenistaan.

 

Tafsir Ayat

Berikut ini pernyataan Ibnu Katsir tentang tafsir ayat di atas.

Allah berfirman (pada ayat ini) mengingkari tindakan orang-orang Yahudi Madinah yang hidup di zaman Rasulullah karena mereka membantu peperangan yang terjadi antara Aus dan Khazraj. Aus dan Khazraj (orang-orang Anshar) di masa jahiliah adalah para penyembah berhala dan sering terjadi peperangan di antara mereka. Beliau juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa mereka adalah pelaku kesyirikan,penyembah berhala, tidak mengenal surga dan neraka, tidak mengenal hari kebangkitan, kiamat, tidak mengenal al-Kitab, dan halal-haram. Sementara itu, orang-orang Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga suku, yaitu Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir yang bersekutu dengan Khazraj, serta Bani Quraizhah yang bersekutu dengan Aus.

Beliau juga memaparkan riwayat dari Asbath dari as-Suddi bahwa Bani Quraizhah bersekutu dengan Aus, sedangkan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj.

Apabila perang berkecamuk (antara Aus dan Khazraj), masing-masing pihak (dari kabilah Yahudi) membantu sekutunya memerangi lawan. Akibatnya,ketika kabilah Yahudi membunuh lawan, terkadang yang mereka bunuh adalah Yahudi lain yang berpihak kepada lawan (artinya, mereka membunuh saudara sebangsa). Padahal tindakan itu diharamkan atas mereka berdasarkan tuntunan agama dan kitab mereka: mengusir sebagian Yahudi dari kampung halamannya dan merampas perkakas rumah, perhiasan, serta harta.

Jika peperangan telah berhenti, pihak yang kalah menebus tawanan. Hal ini berdasarkan hukum yang terdapat di dalam Taurat. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Berdasarkan bimbingan dan konteks ayat ini, terdapat celaan terhadap orang Yahudi ketika mereka menjalani apa yang diperintahkan dalam kitab Taurat yang mereka yakini kebenarannya, yaitu penentangan terhadap syariat dalam keadaan mereka mengetahui dan mempersaksikannya.

Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan bahwa berdasarkan lafadz sebelumnya (dalam ayat ini) tampak dengan jelas bahwa sebagian perkara yang diimani oleh mereka (Bani Israil) yang ada dalam al-Kitab adalah penebusan tawanan. Adapun sebagian perkara yang mereka ingkari adalah pengusiran, pembunuhan, dan bantu-membantu dalam hal dosa dan permusuhan. (Hal ini tersebut dalam ayat sebelumnya,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan kepadamu; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu.” (al-Baqarah: 84—85, -pen.)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa beberapa perbuatan yang disebutkan dalam ayat ini adalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di zaman (turunnya) wahyu di Madinah (orang-orang Yahudi, -pen.). Sebelum diutusnya Nabi Muhammad, orang-orang dari suku Aus dan Khazraj—mereka adalah kaum Anshar—menyekutukan Allah (musyrik). Ketika berperang, mereka berada di atas kebiasaan jahiliah.

Kemudian turunlah kepada mereka tiga kelompok dari kelompok Yahudi, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’. Setiap kelompok Yahudi tersebut mengadakan perjanjian persahabatan (bersekutu) dengan kelompok penduduk Madinah (suku Aus dan suku Khazraj, -pen.). Ketika terjadi perang saudara di antara mereka (Aus dan Khazraj), sebagian Yahudi berpihak kepada sekutunya melawan (musuhnya) yang juga dibantu oleh pihak Yahudi yang lain (Bani Quraizhah membantu suku Aus dan Bani Nadhir membantu suku Khazraj, -pen.). Akhirnya, terjadilah Yahudi membunuh Yahudi. Jika terjadi pengusiran, mereka pun mengusir pihak lain dari kampung halamannya atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Antara kedua belah pihak terjadi tawan-menawan. Jika ada orang Yahudi yang tertawan, kedua belah pihak bersepakat menebusnya, meskipun sebelumnya mereka saling berperang.

Tiga hal di atas (tidak boleh membunuh, tidak mengusir, dan tidak menawan sesama Yahudi) seluruhnya diwajibkan atas mereka. Diwajibkan atas mereka untuk tidak menumpahkah darah, tidak mengusir sebagian yang lain, dan apabila mereka mendapati tawanan, hendaknya mereka menebusnya.

Dari ketiga hal tersebut hanya satu yang mereka tunaikan, yaitu yang terakhir (menebus tawanan). Akan tetapi, dua hal lain mereka ingkari, yaitu dua yang pertama (untuk tidak membunuh dan tidak mengusir).

Hal ini diingkari oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

Apakah kamu mengimani sebahagian al-Kitab,” yaitu dengan menebus tawanan;

dan ingkar terhadap sebahagian yang lain,” yaitu dengan membunuh dan mengusir.

Dalam ayat ini terdapat dalil terbesar bahwa iman menuntut adanya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, dan bahwa segala hal yang diperintahkan adalah perkara keimanan.

Firman Allah, “Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia.”

Kenistaan hidup telah menimpa mereka. Allah ‘azza wa jalla menghinakan mereka dan menguasakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas mereka ketika di dunia. Sebagian mereka pun terbunuh, sebagian mereka tertawan dan sebagian yang lain terusir. Adapun pada hari kiamat nanti, mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

 

Alasan Mereka Mengimani dan Mengingkari Sebagian Al-Kitab

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Pada ayat berikutnya Allah memberitakan tentang sebab pengingkaran mereka terhadap sebagian al-Kitab dan mengimani sebagiannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat.(al-Baqarah: 86)

Mereka (orang Yahudi) mengira bahwa apabila tidak membantu sekutunya (dalam peperangan), hal itu menjadi sebuah cacat dan aib bagi mereka. Dengan demikian, mereka lebih memilih neraka daripada harus menanggung keaiban. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Maka tidak akan diringankan siksa mereka.(al-Baqarah: 86)

Siksa itu justru tetap ada dan sangat keras serta sedikit pun mereka tidak pernah mengalami kesenangan (keadaan lega).

Dan mereka tidak akan ditolong.(al-Baqarah: 86)

Maksudnya, tidak akan dijauhkan dari keburukan.

 

Beberapa Faedah Ayat

  1. Disyariatkan untuk memberi peringatan dan nasihat kepada manusia dengan hal-hal yang dapat menjadi sebab hidayah bagi mereka.
  2. Umat Islam juga akan menghadapi bahaya berupa kenistaan dalam kehidupan dunia dengan sebab menerapkan sebagian hukum syariat dan meninggalkan sebagian yang lain.
  3. Kekufuran bagi orang yang memilih sebagian hukum syariat lantas mengamalkan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, kemudian meninggalkan perkara syariat yang tidak cocok dengan hawa nafsunya.
  4. Kekufuran bagi orang yang tidak menjalankan agama Allah karena berpaling dan tidak perhatian kepadanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Membenci Sahabat Nabi, Tanda Kekafiran

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ وَ الذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ. تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ. ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ. وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

 traditional arrows

Penjelasan Makna Ayat

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ

Muhammad adalah nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling masyhur. Tatkala orang-orang kafir mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengubah nama Muhammad menjadi “mudzammam” yang berarti orang yang tercela, beliau bersabda,

أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

Tafsir“Tidakkah kalian heran melihat bagaimana Allah ‘azza wa jalla memalingkan dariku cercaan kaum Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencerca dan melaknat (dengan sebutan) Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad.” (HR. al-Bukhari no. 3340, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ayat ini menjadi saksi atas kedudukan beliau sebagai rasulullah yang diutus oleh Allah ‘azza wa jalla kepada umat yang hidup di akhir zaman, yang diutus kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia hingga akhir zaman. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)

Firman-Nya,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini adalah persaksian Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya, dengan menjelaskan, menerangkan, dan memaparkan kebenarannya dengan pemaparan yang jelas. Penjelasan ini memutus alasan antara Allah ‘azza wa jalla dan hamba-Nya, serta menegakkan hujah atas mereka. Allah ‘azza wa jalla yang menjadi saksi atas kebenaran Rasul-Nya, merupakan hal yang telah diketahui melalui berbagai jenis penjelasan, baik secara dalil aqli, dalil naqli, secara fitrah, ilmu pasti, maupun penalaran.” (Bada’i’ at-Tafsir, 2/460)

وَ الذِينَ مَعَهُ

“Dan orang-orang yang bersamanya….”

Ada tiga penafsiran para ulama dalam menjelaskan tentang siapa yang dimaksud orang-orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ayat ini:

  1. Yang dimaksud adalah sahabat yang hadir dalam peristiwa Hudaibiyah.
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah adalah yang keras terhadap orang-orang kafir, yaitu mereka keras seperti singa-singa terhadap mangsanya.” (Tafsir al-Qurthubi 19/341)
  3. Para sahabat secara umum, baik yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah maupun tidak.
  4. Seluruh kaum mukminin.

Yang tampak, ayat ini adalah sifat para sahabat secara umum, meskipun berkaitan dengan peristiwa Hudaibiyah. Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Yang utama adalah memahami ayat ini secara umum (yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Fathul Qadir 5/74)

أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ

“Keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi di antara mereka….”

Ayat ini sama seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir….” (al-Maidah: 54)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah sifat kaum mukminin yang salah satu dari mereka memiliki sifat yang keras terhadap orang-orang kafir, menyayangi dan berbuat baik kepada orang-orang yang mulia, bersikap marah dan ketus di hadapan wajah orang kafir, tersenyum dan berseri-seri di hadapan wajah saudaranya mukmin, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” (at-Taubah: 123)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu jasad. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh tubuh turut merasakan dengan bergadang dan demam.” (HR. Muslim no. 2586, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًاوَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya,” lalu beliau menyela di antara jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu) (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

 

تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا

“Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya….”

Ini menerangkan tentang banyaknya shalat yang mereka lakukan, dengan mengharapkan keutamaan dari Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya dengan meraih surga-Nya.

Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sifat mereka, yakni banyak amalan dan shalat, yang merupakan sebaik-baik amalan, keikhlasan beramal hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, mengharapkan ridha dan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah ‘azza wa jalla berupa surga yang merupakan anugerah Allah ‘azza wa jalla, kelapangan rezeki kepada mereka, dan ridha-Nya kepada mereka. Ridha Allah ‘azza wa jalla sendiri lebih besar daripada kenikmatan yang awal (yaitu surga-Nya,-pen.), sebagaimana firman-Nya,

‘dan keridhaan Allah adalah lebih besar…’ (at-Taubah: 72).” (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

Ayat ini menunjukkan bahwa memperbanyak shalat termasuk amalan yang paling mulia, yang mengantarkan seorang hamba untuk meraih surga dan keridhaan-Nya.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ سَجْدَةً إلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (shalat) kepada Allah ‘azza wa jalla, karena sesungguhnya tidaklah engkau melakukan satu sujud kepada Allah ‘azza wa jalla melainkan Allah ‘azza wa jalla mengangkat satu derajat dan menghapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim, no. 488)

Al-Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mintalah sesuatu kepadaku.”

Rabi’ah menjawab, “Aku memohon untuk menjadi pendampingmu di surga.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mungkin permintaan yang lain?”

Ia menjawab, “Itulah permintaanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku untuk mencapai keinginanmu dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim, no. 489)

 

            سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

Terdapat beberapa penafsiran ulama dalam menjelaskan tentang tanda sujud yang dimaksud di dalam ayat ini.

  1. Ada yang mengatakan, “Perilaku yang baik.” Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
  2. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksud adalah sifat khusyuk dan tawadhu’,” sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid dan yang lainnya.
  3. Sebagian lagi mengatakan,
  4. “Dengan memperbanyak shalat akan membaguskan wajah, seperti perkataan sebagian salaf, barang siapa banyak melakukan shalat di malam hari, akan menjadi baik wajahnya di siang hari.”
  5. Sebagian lagi berkata, “Sesungguhnya amalan kebaikan memunculkan cahaya di dalam hati, sinar pada wajah, kelapangan rezeki, dan rasa cinta di dalam hati-hati manusia.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Yang dimaksud ialah bahwa sesuatu yang tersimpan dalam jiwa akan tampak pada raut wajahnya. Apabila seorang mukmin memiliki isi hati yang baik dan benar bersama Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahirnya di hadapan manusia, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Barang siapa memperbaiki isi hatinya, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahiriahnya’.”

Beliau kemudian berkata, “Tatkala para sahabat radhiallahu ‘anhum ikhlas dan amalan mereka saleh, setiap orang yang memandang mereka merasa takjub melihat perangai dan perilakunya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/134)

            ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”

Sifat yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan ini ada dalam Taurat. Adapun sifat mereka yang Injil disebutkan dengan perumpamaan yang lain, yaitu tentang kesempurnaan mereka dan sikap mereka yang saling menolong, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tumbuh berkembang menjadi muda, dan kemudian menjadi kuat dan keras, dan berdiri kokoh di atas batangnya, yang membuat kagum para penanamnya karena kesempurnaan tanaman dan keindahannya.

Demikian pula para sahabat radhiallahu ‘anhum, mereka ibarat tanaman yang selalu memberi manfaat kepada makhluk dan manusia selalu membutuhkan mereka. Kekuatan iman dan amalan yang mereka miliki bagaikan kuatnya akar dan batang pada sebuah tanaman.

Yang lebih dahulu masuk Islam menolong dan membimbing orang yang masuk Islam belakangan dalam hal menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla dan menyeru kepadanya, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu menolongnya hingga menjadi kuat.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan setelahnya,

لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ

“Karena Allah ‘azza wa jalla hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Yaitu, tatkala mereka melihat persatuan para sahabat radhiallahu ‘anhum dan kokohnya mereka di atas agama, demikian pula tatkala terjadi pertempuran dalam medan perang. (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Berdasarkan ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat kafirnya kaum Rafidhah yang membenci para sahabat radhiallahu ‘anhum. Sebab, para sahabat telah membuat mereka marah. Padahal, siapa yang marah kepada para sahabat, maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini. Hal ini disetujui oleh sekelompok ulama.

Hadits-hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mendiskreditkan mereka sangat banyak. Cukuplah pujian dan keridhaan Allah ‘azza wa jalla kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 13/135. Lihat pula Tafsir al-Qurthubi 19/347)

وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا

“Allah ‘azza wa jalla telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah orang-orang yang mengumpulkan iman dengan amalan saleh, sehingga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan pula untuk mereka ampunan yang konsekuensinya adalah dijaga dari berbagai keburukan di dunia dan akhirat, serta pahala yang besar di dunia dan akhirat.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Waliyyul Amr, Rujukan Umat

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Jauzi rahimahumallah dalam Zadul Masir menyebutkan bahwa ada dua pendapat tentang sebab turunnya ayat ini.

1. Berdasarkan riwayat yang hanya dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengasingkan diri dari istri-istri beliau, Umar masuk ke dalam masjid dan mendengar manusia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istriistrinya. Lalu beliau menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar pun keluar sambil menyeru, “Ketahuilah, Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya.” Lalu turunlah ayat ini.

2. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sariyyah (pasukan khusus yang jumlahnya 4 sampai 400 orang). Kemudian terdengar berita bahwa mereka menang atau kalah. Akhirnya orang-orang  membicarakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Mereka tidak bersabar hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan berita itu, kemudian turunlah ayat ini.

Mufradat Ayat

وَإِذَا جَاءَهُمْ

Dan apabila telah datang kepada mereka.”

Mereka yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang munafik, menurut penafsiran Ibnu Abbas c dan jumhur ulama.

الْأَمْنِ

Kemenangan.

Terdapat beberapa penafsiran di kalangan ulama ahli tafsir tentang maknanya . Mayoritas mereka memaknainya dengan kemenangan dan harta rampasan perang yang diperoleh pasukan (sariyyah).

 الْخَوْفِ

Ketakutan.

Mayoritas ulama ahli tafsir memaknainya sebagai musibah atau bencana (kekalahan) yang menimpa pasukan muslimin.

أَذَاعُوا بِهِ

Mereka lalu menyiarkannya,

yaitu menyebarluaskan. Asy-Syaukani rahimahumallah berkata dalam kitab tafsirnya,

أَذَاعَ الشَّيْءَ وَأَذَاعَ بِهِ: إِذَا أَفْشَاهُ وَأَظْهَرَهُ

Adza’a artinya menyiarkan, menyebarkan, dan mengumumkan. Menurut Ibnu Jarir rahimahumallah, dhamir ha’ pada kalimat ini kembali ke amrun (berita).

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ

Dan kalau mereka mau menyerahkannya kepada Rasul….

Maksudnya, menunggu hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyampaikan (berita).

 وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ

Dan ulil amri di antara mereka.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mereka seperti Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali . Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij rahimahumullah berpendapat bahwa mereka adalah para ulama.

Adapun menurut Ibnu Zaid dan Muqatil, mereka adalah para pemimpin pasukan. Asy-Syaukani rahimahumallah mengatakan bahwa mereka adalah para ulama dan orang-orang yang memiliki akal yang kokoh—yang kepada merekalah urusan kaum muslimin dikembalikan (ditanyakan)—atau para penguasa.

يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Mereka akan dapat mengetahuinya.

Kata istinbath berasal dari kata istikhraj (mengeluarkan). Az-Zajjaj mengatakan, istinbath berasal dari kata النَّبْطُ , yaitu air yang pertama kali keluar dari sumbernya ketika sumur digali.

 فَضْلُ اللَّهِ

Karunia Allah.

Ada yang memaknainya sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Islam, al-Qur’an, atau ulil amri.

 وَرَحْمَتُهُ

Dan rahmat-Nya.

Sebagian ulama memaknainya sebagai wahyu, kelembutan, kenikmatan, atau taufik.

Makna Ayat

Asy-Syaukani rahimahumallah menyatakan, kaum muslimin yang memiliki sikap lemah, ketika mendengar salah satu urusan kaum muslimin—seperti berita kemenangan mereka, terbunuhnya musuh, atau ketakutan seperti kekalahan dan terbunuhnya mereka—mereka menyiarkannya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak bermasalah. (Alangkah baiknya) kalau mereka tidak melakukannya (yakni tidak menyiarkannya dengan segera) dan sabar menunggu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri atau ulil amri di antara mereka yang menyampaikannya. Sebab, merekalah yang lebih mengetahui, berita mana yang seharusnya disiarkan dan berita mana yang harus disembunyikan.

Sebagian ulama tafsir memaknainya, “Kalau bukan karena karunia Allah l kepada kalian, yaitu diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab (al-Qur’an), tentulah kalian mengikuti setan dan tetap berada di atas kekufuran, kecuali sebagian kecil saja.”

Ada pula yang memaknainya, “Mereka lalu menyiarkannya kecuali sebagian kecil saja.” Ada pula yang memaknainya, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja.”

Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahumallah mengatakan, (ayat ini mengandung) pengingkaran terhadap orang yang begitu mendapat berita (perkara) lalu tergesa-gesa memberitakan, menyiarkan, dan menyebarkan, sebelum memastikan keberadaannya. Sebab, bisa jadi berita tersebut tidak benar.

Al-Imam Muslim rahimahumallah—dalam mukadimah kitab Shahih-nya— menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Seorang dianggap telah berdusta apabila memberitakan seluruh perkara yang ia dengar.

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahumallah dalam “Kitabul Adab”, dari jalan Muhammad bin Husain bin Asykab, dari Ali bin Hafsh, dari Syu’bah secara musnad (sanadnya sampai kepada Nabi n). Selain itu, dikeluarkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dan Abu Dawud rahimahumallah dari jalan yang lain secara mursal (sanadnya tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu suka menyiarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa memastikan, mencermati, dan mencari kejelasan terlebih dahulu tentang ucapan orang lain tersebut.

Asy – Syaikh as – Sa ’di rahimahumallah mengatakan, ini adalah pengajaran dari Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya terhadap tindakan mereka yang tidak patut dilakukan. Seharusnya, ketika suatu perkara (berita)—yang penting; atau menyangkut kemaslahatan bersama terkait dengan kemenangan dan kegembiraan orang-orang mukmin; atau ketakutan, seperti musibah yang menimpa—sampai kepada mereka, hendaknya mereka pastikan terlebih dahulu dan tidak tergesagesa menyiarkannya. (Yang sepantasnya mereka lakukan ialah) mengembalikannya kepada Rasul n atau ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, penasihat, orang yang memahami permasalahan, bagus pendapatnya, yang mengetahui urusan(dengan baik), mana yang membawa maslahat dan mana yang tidak. Jika mereka pandang menyiarkan berita mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, menambah semangat dan menyenangkan mereka, serta terjaga dari musuh, mereka akan menyebarkannya.

Jika mereka pandang tidak ada maslahat, atau ada maslahat namun kemadaratan yang terjadi lebih besar, mereka tidak menyiarkannya. Ayat di atas menjadi pedoman yang mendidik, yaitu apabila terjadi penelitian tentang suatu masalah, hendaknya diserahkan kepada ahlinya dan kita tidak mendahului mereka. Hal ini lebih mendekatkan kita kepada kebenaran dan lebih patut bagi kita agar selamat dari kesalahan.

Ayat di atas juga mengandung larangan seseorang terburu-buru menyiarkan sebuah berita saat pertama kali mendengarnya. Dia diperintahkan untuk memikirkan dan memandang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, apakah hal itu membawa maslahat sehingga disampaikan atau tidak ada manfaat sehingga tidak boleh disebarkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Beberapa Contoh Tafsir Ala Syiah

Salah satu keutamaan yang sepantasnya seorang muslim berhias dengannya ialah kejujuran. Sebaliknya, di antara seburuk-buruk perilaku yang seharusnya dijauhi oleh seorang muslim ialah berdusta. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ البِّرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً

Wajib atas kalian untuk berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun (masuk ke dalam) surga. Seorang yang selalu jujur dan berusaha untuk berlaku jujur, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Hati-hatilah kalian dari berdusa, karena dusta akan menuntun kepada kefasikan, dan kefasikan akan menuntun (masuk ke dalam) neraka. Senantiasa seseorang berdusta dan bermaksud untuk selalu dusta, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, kedustaan yang paling besar dan paling buruk adalah berdusta atas nama Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Rabb mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (Hud: 18)

Ghuluw Syiah Terhadap Ahlul Bait

Di antara manusia yang paling besar kedustaannya terhadap Allah dan Rasul- Nya adalah orang-orang yang ghuluw (melampaui batas) dari kalangan Syiah, terutama dalam hal keutamaan ahlul bait. Mereka menisbatkan kepada ahlul bait hal-hal yang justru yang menurunkan kedudukannya, sampai pada tingkat menyekutukan Allah. Ini bukanlah hal yang aneh. Sebab, mereka meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki sifat rububiyah, dalam keadaan beliau z masih hidup. Ketika berkali-kali beliau radhiyallahu ‘anhu melarang mereka (dari sikap ghuluw ini) dan ternyata tidak mau berhenti, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu mereka dibakar (di parit tersebut). Beliau berkata,

لَمَّا رَأَيْتُ الْأَمْرَ أَمْرًا مُنْكَرًا أَجَّجْتُ نَارِي وَدَعَوْتُ قُنْبُرًا

Tatkala aku melihat suatu perkara adalah kemungkaran Aku nyalakan api dan aku memanggil Qunbur

Maksudnya, tatkala sikap ghuluw dalam hal ini adalah perkara yang mungkar, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu meminta pembantu beliau yang bernama Qunbur menyeret mereka untuk diceburkan ke dalam parit tersebut. Wallahu a’lam.

Dalam hal ini para sahabat sepakat, kecuali Ibnu Abbas. Beliau berpandangan, hukuman yang pantas bagi mereka adalah dibunuh, bukan dibakar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لاَ يُعَذِّبُ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ

Tidak boleh mengazab dengan api, kecuali Rabb pencipta api.

Semua ini dilakukan karena sikap melampaui batas yang dilarang oleh syariat (agama). Mereka berupaya kedustaan ke dalam bidang ilmu tafsir (ayat-ayat al-Qur’an). Mereka susupkan hadits-hadits palsu ke dalam bidang ilmu hadits (periwayatan). Pada dasarnya orang-orang Syiah Rafidhah tidak memiliki perhatian terhadap menghafal al-Qur’an, memahami makna dan tafsirnya, serta upaya untuk menjadikannya sebagai dalil sesuai dengan makna yang terkandung. Apabila ada dari mereka yang  kitab tafsir, mereka mengambil ilmunya dari selain mereka, sebagaimanamhalnya yang dilakukan oleh ath-Thusi dan yang lainnya.

Karena itu, dalam kitab tafsir mereka dimuat ucapan atau pendapat menurut versi Mu’tazilah. Demikian pula pembahasan-pembahasan yang bersifat pendapat. Hal yang paling menonjol dari kitab tafsir mereka adalah ucapan mereka yang mencerca sahabat, menolak pendapat mereka dan pendapat jumhur ulama,lantas mengaku-aku bahwa ucapan  merekalah yang sesuai dengan teks al-Qur’an.

Tatkala tidak memungkinkan bagi seorang pun untuk menyusupkan ke dalam al-Qur’an sesuatu pun, sebagian orang berinisiatif untuk menyebutkan ayat bersama sebab-sebab turunnya. Perlu diketahui, tidak semua ayat yang ada pada al-Quran harus ada asbab nuzulnya. Tidak ada sebuah kelompok yang sedemikian rupa menyusupkan ke dalam Islam hal-hal yang bukan darinya dan memalingkan hukum syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah. Mereka memasukkan ke dalam agama ini kedustaan terhadap Rasulullah, menolak kebenaran, dan memalingkan makna ayat, tidak seperti kedustaan, penolakan, dan penyimpangan yang dilakukan oleh sekte lainnya.

Asy-Syaukani mengatakan dalam al-Fawaid al-Majmu’ah, sebagaimana yang dinukil oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau, Riyadhul Jannah, “Demikianlah. Di antara kedustaan yang disebutkan oleh orang-orang (Syiah) Rafidhah dalam tafsir mereka, adalah ketika mereka menyebutkan firman Allah,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orangorang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah).(al- Maidah: 55)

Kata mereka, ayat ini turun berkenaan dengan Ali, ketika beliau bersedekah dengan cincinnya di waktu shalat. Demikian pula firman Allah,

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.(ar-Ra’d: 7)

dan firman Allah,

وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.(al-Haqqah:12)

Menurut mereka, semua ayat di atas sebab turunnya terkait dengan Ali. Asy-Syaukani mengatakan bahwa ini adalah riwayat yang palsu, tanpa ada keraguan dan perselisihan. Dalam tafsir mereka juga disebutkan, tatkala Allah menurunkan ayat,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.(ar-Rahman: 19)

Menurut mereka, maksudnya adalah Ali dan Fatimah.

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.(ar-Rahman: 22)

Menurut mereka, maksudnya adalah Hasan dan Husain.

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).(Yasin: 12)

Kata mereka, sebab turunnya adalah pada Ali.  Penafsiran ala mereka ini hampir mirip dengan penafsiran sebagian ahli tafsir yang menyimpang dari metode penafsiran yang benar pada ayat,

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) dan yang memohon ampun di waktu sahur.(Ali Imran: 17)

Menurut sebagian ahli tafsir tersebut, yang dimaksud orang yang sabar adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang benar adalah Abu Bakr, orang yang tetap taat adalahUmar, orang yang menafkahkan hartanya adalah Utsman, dan orang yang meminta ampun di waktu sahur adalah Ali. Demikian pula firman Allah dalam surat al-Fath ayat 29,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamadengannya,” yaitu Abu Bakr, “adalah keras terhadap orang-orang kafir” yaitu Umar, “tetapi berkasih sayang sesama mereka” yaitu Utsman, “kalian lihat mereka rukuk” yaitu Ali. Firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).(Ali ‘Imran: 33)

Menurut mereka, yang dimaksud dengan keluarga Imran adalah keluarga Abu Thalib karena nama Abu Thalib adalah Imran. Masih banyak contoh kedustaan yang mereka perbuat dalam bidang ilmu tafsir. Menurut Syiah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan sampai langit yang ketujuh, di setiap langit Allah memperlihatkan kepada beliau keanehan-keanehan. Keesokan harinya beliau bercerita kepada manusia tentang keajaiban tersebut. Sebagian penduduk Makkah mendustakannya dan ada pula yang membenarkan. Saat itulah ada bintang yang jatuh dari langit. Nabi bertanya, “Di rumah siapakah bintang itu jatuh? Dialah yang akan menjadi khalifah setelahku.”

Mereka pun mencari di mana bintang itu jatuh. Ternyata mereka mendapatkannya di rumah Ali bin Abi Thalib. Penduduk Makkah lantas berkata, “Muhammad telah sesat dan keliru, terbenam kepada ahli baitnya, condong kepada putra pamannya.” Saat itulah turun surat an-Najm  ayat 1—4,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ () مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ () وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Tidaklah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits (riwayat) ini tidak diragukan kepalsuannya. Dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama Kalbi, kata Abu Hatim ibnu Hibban, “Kalbi termasuk yang mengatakan bahwa Ali masih hidup dan akan muncul lagi di dunia.” Di antara yang menjadi bukti kepalsuan hadits ini adalah tidak masuk akal jika bintang jatuh ke dalam rumah. Demikian pula Ibnu Abbas, waktu itu beliau baru berumur dua tahun, bagaimana bisa menyaksikan kejadian al-Mi’raj dan menceritakannya?

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah mengatakan, “Cukuplah sikap ghuluw orang-orang Syiah menjadikan mereka rendah, hina, dan tersesat. Periwayatan mereka terhadap hadits seperti ini akan menjauhkan tabiat yang baik darinya, pendengaran pun tidak akan menghiraukannya. Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disibukkan dengan urusan dakwah, sedangkan mereka menyibukkan diri dengan masalah khilafah (kepemimpinan). Seolah-olah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki cita-cita selain menanamkan secara mendasar tentang khilafah kepada Ali dan keturunannya.

Cercaan Terhadap Para Sahabat

Berikut beberapa ayat yang mereka tafsirkan, dengan anggapan bahwa hal itu sesuai dengan tekstual ayat, tetapi hakikatnya adalah pemalingan makna dan kedustaan. Firman Allah,

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

Maka perangilah pemimpinpeminpin orang-orang kafir itu.(at- Taubah: 12)

Mereka tafsirkan, Thalhah dan Zubair.

وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ

Dan (begitu pula) pohon yang terlaknat dalam al-Quran.(al-Isra’: 60)

Mereka katakan, maksudnya adalah Bani Umayyah.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.(al-Baqarah: 67)

Kata mereka, maksudnya adalah ‘Aisyah.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu.(az- Zumar: 65)

Kata mereka, maksudnya ialah mempersekutukan antara Abu Bakr dan Ali dalam hal kekuasaan. (Lihat Minhajus Sunnah an- Nabawiyyah, Ibnu Taimiyah; Riyadhul Jannah, Muqbil al-Wadi’i; Mauqif Ahlis Sunnah wa Syiah, Muhammad bin Abdirahman bin Qasim)

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Al-Kautsar, Sungai di dalam Surga

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat

الْكَوْثَرَ

“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.

Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu. Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata al-Kautsar, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.

أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

ڍ

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)

Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”

Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syanaan artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ

“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)

Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Rasul Allah, Sang Penegak Hujah

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 165)

Tafsir Ayat

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Ayat Allah Subhanahu wata’ala ini menerangkan tentang tugas yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada para rasul-Nya. Mereka adalah pembawa risalah yang haq dari Allah Subhanahu wata’ala untuk disampaikan kepada umatnya, sekaligus sebagai penegak hujah atas mereka, sehingga manusia kembali kepada jalan Allah Subhanahu wata’ala dan bimbingan-Nya. Agar mereka merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang itu merupakan suatu kegembiraan yang tiada akhir. Sebaliknya, mereka yang menyelisihi dan menentang para rasul-Nya, berhak mendapatkan peringatan dan ancaman berupa siksaan yang dahsyat. Mereka adalah yang telah sampai kepadanya hujah/risalah, namun enggan mengikuti petunjuk dan bimbingan rasul-Nya. Al- Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menjelaskan ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus mereka sebagai pembawa berita gembira bagi yang taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengikuti para rasul-Nya, berupa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sekaligus memberi peringatan kepada yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menyelisihi para rasul-Nya, berupa kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat, agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala setelah diutusnya para rasul. Agar mereka tidak lagi beralasan,

مَا جَاءَنَا مِن بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ

Tidak datang kepada kami pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Maka sungguh telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (al-Maidah: 19)

Jadi, makhluk tidak lagi memiliki hujah dan alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan diutusnya para rasul secara berturut-turut, yang menjelaskan kepada mereka tentang perkara agamanya, apa saja yang diridhai dan yang dimurkai-Nya, serta menjelaskan jalan-jalan surga dan juga jalan-jalan neraka. Maka barang siapa yang kafir setelah itu, maka jangan dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Jalan Kebenaran Hanya Melalui Rasul Allah Subhanahu wata’ala

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa para rasul merupakan perantara antara Allah Subhanahu wata’ala  dengan hamba-hamba- Nya dalam menyampaikan hukumhukum- Nya, sehingga bagi yang taat akan mendapatkan kabar gembira berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga-Nya, yang hanya ditinggali oleh hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orangorang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa: 69)

Firman-Nya,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul- Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisa:13)

Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat  serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Barang siapa kafir di antaramu sesudah itu, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 12)

Masih banyak ayat yang semakna dengan ayat-ayat ini. Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Demi Allah, kalau seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan memenggalnya dengan ketajaman pedang ini.”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda,

تَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ وَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ

Kalian merasa heran dengan kecemburuan Sad? Demi Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah Subhanahu wata’ala lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Tiada satu pun yang lebih senang menerima uzur dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia mengutus para pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan tidak satu pun yang paling menyenangi pujian dari Allah Subhanahu wata’ala, karena itulah Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan bagi mereka surga. (Muttafaq Alaihi dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Barang siapa taat kepadaku maka dia pasti masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan. (HR. al- Bukhari no. 6851)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat ini, apakah dia Yahudi atau Nasrani, yang telah mendengar tentangku, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim, no. 153)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang masalah ini. Jadi, jelas bagi kita, hidayah dan jalan yang benar hanyalah dapat ditempuh melalui jalan para rasul yang diutus Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Barang siapa menyangka bahwa ada jalan lain yang dapat mengantarkan kepada surga selain Rasul Allah Subhanahu wata’ala, sungguh dia telah sesat dan keluar dari Islam, berdasarkan dalildalil yang telah kita sebutkan.

Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah menegaskan, “Tidaklah diragukan bagi orang yang memiliki pengetahuan dalam Islam bahwa tidak ada jalan yang dengannya dapat diketahui perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala dan larangan- Nya, segala hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya, melainkan harus melalui jalan wahyu. Barang siapa menyangka bahwa untuk sampai kepada amalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala tidak perlu melalui jalan para rasul dan risalah yang mereka bawa, meskipun dalam satu masalah, tidak diragukan lagi bahwa dia seorang zindiq. Ayat-ayat dan hadits sangat banyak menjelaskan hal ini. Di antaranya,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ

(Mereka kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (an-Nisa: 165)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Beliau melanjutkan, “Dengan ini engkau mengetahui bahwa apa yang disangka oleh kebanyakan orang jahil yang mengikuti tasawuf bahwa mereka dan syaikh-syaikh mereka memiliki “jalan batin” yang sejalan dengan kebenaran di sisi Allah Subhanahu wata’ala, meskipun menyelisihi yang zahir dari syariat. Seperti berbedanya apa yang dilakukan oleh Khadir ‘Alaihissalam terhadap ilmu zahir yang dimiliki Musa ‘Alaihissalam. Ini adalah perbuatan zindiq yang dapat menjerumuskan kepada kemurtadan secara menyeluruh dari agama Islam dengan alasan bahwa kebenarannya ada dalam ilmu batin yang menyelisihi ilmu zahir. (Adhwaul Bayan, asy-Syinqithi, 3/ 324)

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Berkata syaikh kami, Abul Abbas, ada satu kaum dari kalangan zindiq batiniyah yang menempuh cara tertentu dalam menetapkan hukum syar’i. Mereka berkata, ‘Hukum-hukum syar’i ini hanya diterapkan kepada para nabi dan masyarakat umum. Adapun para wali dan orang-orang khusus, mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, namun cukup bagi mereka sesuatu yang terbetik di dalam hati mereka yang berupa persangkaan kuat yang ada di dalam benak mereka.’ Mereka juga berkata, ‘Hal itu disebabkan karena bersihnya hati mereka dari berbagai kotoran dan perubahan (fitrah) sehingga menyebabkan ilmuilmu ilahiyah hakikat Rabbaniyah tersingkap oleh mereka, sehingga mereka mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengerti hukum-hukum secara terperinci, sehingga mereka tidak membutuhkan hukum-hukum syariat secara menyeluruh. Sebagaimana halnya Khadir, yang dia merasa tidak memerlukan yang zahir dari ilmu yang dimiliki oleh Musa berupa pemahaman-pemahaman, dan telah datang riwayat yang mereka nukilkan:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun para mufti memberi fatwa kepadamu.

Lalu berkata Syaikh kami, ‘Ini adalah ucapan zindiq dan kekufuran, dibunuh orang yang mengucapkannya dan tidak diminta bertobat, sebab dia mengingkari syariat yang diketahui secara pasti. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan sunnah- Nya dan menjalankan kebijakan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak dapat diketahui melainkan melalui para rasul- Nya yang menjadi perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Merekalah yang menyampaikan dari Allah Subhanahu wata’ala risalah dan wahyu-Nya yang menerangkan tentang syariat dan hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’ala telah memilih dan memberi keistimewaan kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia. (al- Hajj: 75)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (al-Anam: 124)

Firman-Nya,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (al-Baqarah: 213)

Dan ayat-ayat yang lainnya. Kesimpulannya, menjadi sebuah ilmu yang pasti dan keyakinan yang jelas, demikian pula kesepakatan para ulama salaf dan khalaf, tidak ada jalan untuk memahami hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala yang seluruhnya kembali kepada perintah dan larangan-Nya, tiada satu pun dapat diketahui darinya, kecuali melalui jalan para rasul. Jadi, barang siapa menyatakan bahwa ada sebuah metode alternatif yang dengannya dapat mengetahui perintah dan larangan-Nya selain dari para rasul, sehingga dia tidak merasa membutuhkan para rasul, sungguh dia telah kafir dan boleh dibunuh—oleh pemerintah muslim. Tidak perlu pula dimintai bertobat dan diskusi. Ditambah lagi, ucapan ini sama dengan menetapkan adanya nabi setelah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah Allah Subhanahu wata’ala jadikan beliau sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul setelahnya. Penjelasan tentang hal ini, bahwa orang yang berkata bahwa dia mengambil wahyu melalui hatinya, dan apa yang terbetik di dalam hatinya; itulah hukum Allah Subhanahu wata’ala sehingga dia beramal sesuai sesuai petunjuk hatinya, tidak butuh kepada kitab Allah Subhanahu wata’ala dan juga sunnah; maka sungguh dia telah menetapkan dirinya memiliki sifat kenabian, ini seperti halnya yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي

Sesungguhnya ruhul qudus (Jibril ‘Alaihissalam) telah meniupkan ke dalam sanubariku. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 7/79, dari Abdullah bin Mas’ud z) (Tafsir Al-Qurthubi, 11/40—41)

Tiada Siksaan Tanpa Ditegakkan Hujah Risalah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

 Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya untuk membawa hujah yang akan ditegakkan kepada setiap hamba-Nya, agar siapa di antara mereka yang taat mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat, serta siapa di antara mereka yang bermaksiat maka Allah Subhanahu wata’ala berhak menyiksa mereka untuk menegakkan keadilan-Nya. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

Demikian pula firman-Nya,

ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Hal itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah. (al-Anam: 131)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Makna ayat ini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan satu kaum dalam keadaan mereka lalai tanpa memberi peringatan kepada mereka, bahkan Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan seorang pun melainkan setelah menghilangkan uzur bagi mereka dan setelah mendapatkan peringatan melalui lisan para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Adhwaul Bayan, 1/493) Di dalam ayat ini, tidak disebutkan hujah apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, namun dijelaskan di dalam ayat yang lain bahwa hujah yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Juga firman-Nya,

وَلَوْلَا أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin. (al-Qashash: 47)

Adapun firman-Nya,

وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Diutusnya para rasul ini menunjukkan kemuliaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebijaksanaan- Nya. Hal ini juga menunjukkan keutamaan dan kebaikan-Nya, di saat manusia sangat membutuhkan para nabi, lalu Allah Subhanahu wata’ala memberikan anugerah kepada mereka (yaitu dengan diutusnya para rasul). Bagi-Nya segala puji dan syukur.” (Taisir al-Karim ar-Rahman) Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal