Perumpamaan al-Haq Dan al-Bathil (2)

Sunnatullah yang Tak Berubah

Hari demi hari, dakwah yang penuh berkah ini semakin bersinar. Bertambah banyak kaum muslimin yang mulai menyadari hakikat agama yang seharusnya mereka yakini dan mereka anut.

Demikian pula semakin banyak orang-orang yang masih sehat akal dan masih bersih fitrahnya di antara orang-orang yang kafir (musyrik dan ahli kitab) kembali kepada fitrahnya, yaitu Islam.

Melihat hal tersebut, semakin besar kebencian dan dendam musuh-musuh dakwah ini. Berbagai gelar buruk disematkan kepada dakwah ini dan semua yang terlibat di dalam menyebarkan dan membelanya. Tidak perlu heran, karena sejak awal Islam ini didakwahkan ke tengah-tengah manusia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pertama kali, tidak luput dari berbagai gelar yang buruk yang dilemparkan masyarakat yang telah mengenal beliau sejak kecil.

Bahkan, sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu, lalu beliau menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan khawatir sesuatu menimpa diri beliau, kemudian dibawa oleh Khadijah kepada Waraqah bin Naufal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendengar keterangan Waraqah bahwa tidak ada seorang pun yang membawa ajaran seperti yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti disakiti; diusir atau dibunuh.

Sejak rasul pertama diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke tengah-tengah masyarakat manusia, yaitu Nuh ‘alaihissalam, orang-orang yang didatangi Sang Utusan yang mulia ini menuduhnya dengan ungkapan yang buruk. Nabi Nuh ‘alaihissalam dianggap ingin meraih keutamaan melebihi masyarakatnya, atau dikatakan gila dan dusta. Begitu pula para nabi dan rasul shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim sesudah beliau, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدۡ كُذِّبَ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَ جَآءُو بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ١٨٤

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ٤٣

        “Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 43)

Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُواْ سَاحِرٌ أَوۡ مَجۡنُونٌ ٥٢

        Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (adz-Dzariyat: 52)

Orang-orang kafir di kalangan Quraisy menuduh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merusak persatuan dan hubungan keluarga. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh meretakkan kerukunan masyarakat Hijaz, khususnya penduduk Makkah.

Tuduhan ini pun sudah dialamatkan kepada nabi-nabi yang terdahulu. Fir’aun menuduh Nabi Musa ‘alaihissalam datang membawa kerusakan, ingin mengubah tatanan hidup masyarakat yang—menurut kebodohan dan kesombongan Fir’aun—mulia.

Seperti itu kecaman bahkan ejekan serta tuduhan yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendakwahkan agama yang lurus ini pertama kali. Seperti itu pula yang akan diterima oleh orang-orang yang telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kapan dan di mana saja.

Seolah-olah, generasi kafir dan orang-orang yang durhaka yang datang belakangan ini mewarisi ungkapan-ungkapan buruk ini dari orang-orang yang kafir dan durhaka sebelum mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,

أَتَوَاصَوۡاْ بِهِۦۚ بَلۡ هُمۡ قَوۡمٞ طَاغُونَ ٥٣

        “Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (adz-Dzariyat: 53)

Tidak hanya melemparkan tuduhanburuk terhadap para pembawa dakwah yang penuh berkah ini, tetapi juga mengaburkan dan membuat manusia lari bahkan membenci dakwah ini sendiri. Berbagai ungkapan yang mengaburkan kebenaran dakwah ini disebarkan melalui tulisan dan lisan.

Dakwah ini dianggap sebagai ajaran sesat, mazhab baru yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Atau, dikatakan bukan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan diidentikkan sebagai ajaran kekerasan yang mengajak manusia menumpahkan darah satu sama lain.

Subhanallahi, hadza buhtanun ‘azhim. (Mahasuci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar).

Semua kecaman terhadap para dainya, ataupun terhadap dakwah yang diajarkan dan disebarkan ini, tidak lain karena kejahilan orang-orang yang menyuarakan tuduhan-tuduhan tersebut. Seperti kata al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Siapa yang tidak tahu (jahil) tentang sesuatu, dia tentu memusuhinya.”

Kalau tidak demikian, apa yang mendorong mereka membenci dan menutup diri terhadap dakwah yang sumbernya ada juga di hadapan mereka, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah (para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik)?

Mereka begitu berang ketika banyak pemuda, bahkan sebagian tokoh mereka keluar dari barisan mereka, kembali kepada fitrahnya yang suci, jauh dari syubhat ilmu kalam dan filsafat serta bersih dari sikap taklid buta kepada tuan guru ataupun imamnya.

Mengapa mereka harus marah? Apakah karena mereka tidak tahu? Maka memang benarlah apa yang dikatakan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Kalau tidak? Tentu, kalau bukan karena kejahilan, sudah pasti ada alasan lain yang mendorong mereka membenci dakwah yang penuh berkah ini. Wallahul musta’an.

Akan tetapi, sunnatullah yang tidak akan berubah di alam ini, kemenangan dan akhir yang baik (menyenangkan) adalah milik al-haq (kebenaran) beserta para pembelanya. Adapun yang batil, semua kesesatan—apa pun bentuknya—dan seluruh kejelekan, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Demikianlah yang diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia,

أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَسَالَتۡ أَوۡدِيَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّيۡلُ زَبَدٗا رَّابِيٗاۖ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيۡهِ فِي ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَآءَ حِلۡيَةٍ أَوۡ مَتَٰعٖ زَبَدٞ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ ١٧

        “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)

 

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada akibat hukumnya, sebagaimana halnya pada yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Al-bathil adalah lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya, tidak diakui dan tidak disifati sebagai sesuatu yang sah, dan harus ditinggalkan serta tidak berhak untuk tetap ada. Semua itu sudah tentu dengan ketetapan syariat.

Dari uraian ini, al-haq meliputi semua yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan, sedangkan yang batil adalah semua yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertarungan antara yang haq dan yang batil berikut para pengusung dan pembela masing-masing adalah sebuah kemestian hidup. Sebab, keduanya bertolak belakang, tidak mungkin berkumpul satu sama lain melainkan saling berusaha mengenyahkan yang lain. Berpegang kepada salah satunya, mesti akan meninggalkan yang lain, dan itu kepastian. Paling tidak, akan melemahkan yang ditinggalkan atau ditolak.

Seandainya terlihat ‘kerukunan’ antara yang haq dan yang batil tanpa ada perseteruan dan pertikaian di antara para pembela dan pengusungnya, boleh jadi karena ada sebab tertentu. Di antaranya ialah karena kelemahan para pengusung dan pembela masing-masing (al-haq dan al-bathil) ini, atau ketidaktahuan para pengikut masing-masing tentang hakikat dari kebenaran atau kebatilan yang mereka perjuangkan, berikut konsekuensinya, sehingga melemahkan pengaruh kebatilan dan kebenaran itu pada pihak yang membela dan mengusungnya.

Boleh jadi pula, yang dimaksud dengan al-haq ialah pengertiannya secara umum, yaitu semua bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan al-bathil adalah semua bentuk ketaatan kepada setan. Oleh karena itu, keduanya tidak mungkin bersatu selama-lamanya.

Wallahu a’lam.

 

Kebatilan Pasti Lenyap

Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (dalam surat ar-Ra’du) dalam bentuk permisalan atau tamsil ini, dengan tegas menggambarkan bahwa kebenaran itu pasti kokoh, tetap eksis meskipun tertutupi oleh kebatilan. Dan kebatilan itu, betapapun banyaknya serta menarik perhatian manusia, pasti lenyap, cepat atau lambat.

Perumpamaan-perumpamaan di dalam al-Qur’anul Karim tidak akan dapat dipahami melainkan oleh orangorang yang berilmu. Karena itu, kami akan memaparkan sebagian keterangan ahli ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Wallahul Muwaffiq.

Dalam ayat yang mulia ini (ar-Ra’du: 17) Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perumpamaan tentang al-haq dengan dua hal terkait dengan kekekalan dan kekokohannya; juga tentang kebatilan, terkait dengan kefanaan dan keadaannya yang pasti semakin berkurang (menyusut) lalu lenyap.

Pernahkah kita memerhatikan air hujan saat turun dari langit? Ia membasahi bumi dan mengangkut semua sampah dan membawa buih-buih air di permukaannya. Buih-buih itu begitu banyak, menyelimuti permukaan air yang bening dan mengalir. Gelembung-gelembung udara dalam buih itu membuatnya terlihat besar, ikut bersama aliran dan genangan air.

Akan tetapi, pernahkah kita perhatikan bahwa buih-buih kecil yang tadinya menari-nari di atas permukaan air itu akhirnya pecah dan hilang? Ya, kita sering melihatnya, tetapi kita melewatkannya begitu saja tanpa mengambil pelajaran yang tersirat di dalamnya. Wallahul Musta’an.

Coba kita lihat pula para pengrajin emas, ketika mereka melebur biji-biji emas yang mereka dapatkan dari tambang emas, atau saat proses pendulangan. Lihatlah pada wadah yang menampung emas-emas cair yang mendidih itu. Ada buih yang sangat banyak, terapung di atas cairan emas murni di bawahnya.

Ke mana akhirnya buih-buih peleburan emas, atau logam-logam dan mineral lain yang diambil manusia dari pertambangan? Hilang dan terbuang menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Kita cermati lagi buih-buih atau gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air atau logam-logam mulia yang sedang dilebur itu. Begitu ringan, menyelimuti permukaan air atau cairan emas dan logam mulia lainnya. Mereka begitu angkuhnya bermain-main di atas permukaan air itu, padahal gelembung buih itu kosong, hampa, dan tiada harganya.

Air dan cairan logam mulia yang diharapkan dan diperlukan manusia dalam tungku peleburan, tetap tenang. Dia percaya diri bahwa dia lebih berguna dan pasti dimanfaatkan manusia. Itulah sebagian dari kekuasaan Allah Yang Mahaperkasa. Dia menetapkan buih-buih itu mengambang, merasa besar dengan ukuran, bentuk, dan gelembung udaranya. Dia juga merasa lebih tinggi dari air yang ada di bawahnya.

Seperti itulah gambaran kebatilan, apa pun bentuknya. Bagaikan buih dan gelembung kecil yang terapung di atas aliran air, menjadi ujian bagi sebagian orang, mencuri hati dan perhatian mereka, lalu mereka pun tunduk dan merendahkan diri kepadanya, demi mengharapkan kemuliaan atau kesuksesan bersamanya dan menginginkan kedudukan yang tinggi. Atau laksana busa atau buih yang mengambang di atas sejumlah barang tambang, ketika dipanaskan untuk mengeluarkan emas dan logam mulia darinya. Buih-buih itu akan menyusut dan lenyap, hilang tiada bekas atau terbuang tanpa ada harganya.

Adapun kebenaran, itulah yang bermanfaat bagi manusia, dia seperti air yang tetap tinggal dan tergenang di tanah. Atau seperti cairan emas dan logam mulia lainnya yang sudah dibersihkan dari kotorannya.

Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala membuat perumpamaan. Demikianlah al-Qur’an menjadikan peristiwa alam sebagai dalil tentang hakikat syariat, agar orang-orang yang berakal memahaminya lalu selamat dan berbahagia. Juga, mereka yang binasa karena bukti yang jelas dan hiduplah mereka yang hidup karena bukti yang jelas pula.

Dari perumpamaan di atas, jelaslah bahwa betapapun banyaknya dan menariknya keadaan kebatilan, dia pasti lenyap. Itu semua adalah sunnatullah yang tidak mungkin berubah. Berbagai syubhat dan kerancuan berpikir, seindah apa pun menghiasi sebuah kebatilan, pasti akan tersingkap kepalsuannya.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala berjanji bahwa Dia pasti menampakkan hakikat kebenaran (al-haq),

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

        “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fushshilat: 53)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا ٨١

        Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (al-Isra’: 81)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨

        “Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (al-Anbiya’: 18)

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ٤٨  قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ٤٩

        Katakanlah, “Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.” Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Saba’: 48—49)

Bahkan, semakin keras tekanan kebatilan dan usahanya menutup-nutupi cahaya kebenaran, sinar kebenaran itu pasti menyeruak dari sela-sela kebatilan itu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak rela kecuali menampakkan cahaya kebenaran ini, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

Lantas, apa yang membuat kaum muslimin minder dan rendah diri serta kecil hati melihat musuh-musuh Islam seolah-olah menguasai semua lini kehidupan, saat ini? Apakah karena sedikitnya jumlah orang-orang yang mengusung dan membela kebenaran? Ataukah karena kurangnya fasilitas dan sarana jika dia berpegang dengan kebenaran?

 

Beberapa Faedah dan Hikmah

  1. Pertarungan antara yang haq dan yang batil adalah sebuah sunnatullah yang tidak berubah. Kadang kebatilan yang menang, tetapi tetap saja pada akhirnya kebenaranlah yang berkuasa.

Oleh karena itu, bagaimanapun bangga dan bahagianya orang-orang yang memperjuangkan kesesatan, melihat banyaknya perlengkapan dan pengikut mereka, sesungguhnya itu hanya sementara. Seperti buih dan sampah yang hanya sementara berada di permukaan air ketika hujan turun, kemudian hilang dan tersingkir.

 

  1. Ayat yang mulia (ar-Ra’du: 17) ini boleh dikatakan sebagai hiburan bagi orang-orang yang beriman. Janji Allah subhanahu wa ta’ala adalah pasti, dan Dia tidak pernah menyelisihi janji.

 

  1. Kebenaran itu tidak diukur dari jumlah orang-orang yang membela dan memperjuangkannya, tetapi dari hakikat kebenaran itu sendiri; sesuai dengan pengertiannya secara bahasa, bahwa dia pasti eksis selamanya.

 

  1. Karena kejahilan kita, sering kita ditipu oleh pandangan mata kita sendiri. Kita hanya melihat buih-buih yang ada di atas air ketika hujan turun. Air yang ada di bawahnya tidak menjadi perhatian kita. Bahkan, kita tertarik melihat buih dan gelembung air yang menari-nari di atas permukaan air tersebut.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Mut’ah, Pelaris Syiah

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh itu terdapat segumpal daging. Apabila dia (segumpal daging itu) baik, maka akan menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Apabila rusak, maka akan menjadi rusaklah seluruh tubuhnya. Ketauhilah bahwa dia (segumpal daging tadi) adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Abdillah an-Numan bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perkara ini secara khusus (dalam hadits ini), karena jantung adalah pemimpin bagi seluruh anggota badan. Dengan sebab baiknya pemimpin pula, masyarakat akan menjadi baik. Sebaliknya, dengan rusaknya pemimpin, masyarakat juga akan menjadi rusak.” (Fathul Bari, 1/3)

Jika kita perhatikan agama Syiah dengan menggunakan “kaca mata” hadits yang mulia ini, berbagai kerusakan, kezaliman, dan kekacauan yang dilakukan oleh Syiah itu terjadi dengan sebab keyakinan (akidah) rusak yang telah tertanam di dalam hati mereka.

Sebagai contoh dan sekaligus pelaris agama Syiah adalah nikah mut’ah (baca: kawin kontrak). Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini terdapat di dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq berkata, “Diperbolehkan bagi laki-laki melakukan nikah mut’ah sebanyak mungkin tanpa wali dan saksi.” (al-Wasil, juz 21/64)

 debu

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah adalah pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh mereka (satu hari, dua hari, bisa kurang atau lebih) dengan si laki-laki memberikan sesuatu kepada si perempuan; bisa berupa harta, makanan, pakaian, atau yang lain. Apabila masa yang telah disepakati telah habis, maka secara otomatis terjadi perpisahan di antara mereka berdua tanpa talak (perceraian) dan tidak saling mewarisi. (Jami’ Ahkam an-Nisa, 3/182)

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman al-Bassam rahimahullah berkata, “Mut’ah adalah pecahan dari kata tamattu’ (menikmati) sesuatu. Dinamakan nikah mut’ah karena tujuan pernikahan itu ialah seorang laki-laki bisa bersenang-senang dengan perempuan yang diikat dengan sebuah perjanjian sampai batas waktu tertentu.” (Taudhih al-Ahkam, 5/294)

 

Mut’ah Telah Merebak di Indonesia

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus yang teletak di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan lainnya. Sebagai contoh adalah apa yang diungkapkan oleh seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah”. Hasil survei yang dilakukannya menunjukkan bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika, di antaranya adalah para mahasiswa yang tersebar hampir di seluruh kampus di Makassar. Salah satu alasan para perempuan ingin melakukan nikah mut’ah adalah karena merantau dan jauh dari orang tua/keluarga sehingga membutuhkan perlindungan dari mahramnya agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapatkan menunjukkan bahwa mereka yang melakukan nikah mut’ah ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

 

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

 

Dalil-Dalil yang Mengharamkan Nikah Mut’ah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5-7)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ وَعَنْ أَكْلِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَر

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah terhadap para wanita dan memakan daging keledai piaraan pada perang Khaibar.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah di dalam hadits Rubayyi bin Sabrah, dari ayahnya,

أَلَا إِنَّهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَانَتْ أَعْطَى شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ

“Ketahuilah bahwa nikah mut’ah itu haram sejak sekarang ini sampai hari kiamat. Barang siapa (telah nikah mut’ah) dan memberi sesuatu (kepada seorang perempuan), dia tidak boleh mengambilnya.”

Abdullah bin Zubair berkata di dalam khutbahnya di Mekah, “Sungguh ada beberapa orang yang Allah butakan hati mereka sebagaimana Dia telah membutakan mata mereka. Mereka berfatwa bolehnya nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Riwayat-riwayat yang mutawatir menunjukkan makna yang sama, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan nikah mut’ah yang sebelumnya dihalalkan. Pendapat yang benar, nikah mut’ah ini tidak akan menjadi halal setelah diharamkan; yaitu setelah diharamkan pada masa Fathu Makkah. Mut’ah tidak akan menjadi halal setelah itu.” (Nukilan Abdullah al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam, 5/295)

 

Pengkhianatan Syiah terhadap Imam Mereka

Salah satu ciri khas Syiah Rafidhah adalah berlebihan dalam mengultuskan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Dalam kitab mereka al-Kafi, diriwayatkan dari Muhammad bin al-Fadhl, dari Abul Hasan, dia berkata, “Perwalian Ali radhiallahu ‘anhu sudah tertulis pada seluruh kitab para nabi, terlebih lagi al-Qur’an. Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang rasul kecuali dengan nubuwwah Muhammad dan dengan washiyat Ali.” (Kitab al-Hujjah dari al-Kafi, 1/437)

Meski demikian, dalam hal nikah mut’ah ini, mereka justru mengkhianati fatwa imam mereka, yaitu Ali radhiallahu ‘anhu, yang telah mengharamkannya. Alangkah besarnya kedustaan mereka!

 

Praktik Para Tokoh Syiah

  1. Ayatullah Khomeini

Sayyid Husain al-Musawi al-Husaini, salah seorang mantan murid Khomeini menceritakan bahwa dia pernah safar bersama Khomeini ke daerah al-‘Atifiah. Di daerah itu, tinggal seorang lelaki yang berasal dari Iran, Sayyid Shahib. Ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Khomeini.

Sayyid Shahib sangat bergembira dengan kedatangan kami. Kami tiba di tempatnya waktu Zuhur. Beliau menyediakan makan siang yang istimewa untuk kami dan memaklumkan kepada kerabat dekatnya tentang kedatangan kami. Mereka hadir dan memenuhi rumah beliau untuk menyambut kedatangan kami dengan penuh penghormatan.

Sayyid Shahib meminta kepada kami supaya bermalam di rumahnya pada malam tersebut, Imam pun setuju. Ketika tiba waktu Isya’, dihidangkan disediakan makan malam untuk kami. Para hadirin mencium tangan Imam dan berbincang-bincang dengannya.

Ketika hampir tiba waktu tidur, para hadirin bubar kecuali penghuni rumah tersebut. Khomeini melihat anak-anak perempuan berumur empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta dari ayahnya, Sayyid Shahib untuk melakukan nikah mut’ah dengan anaknya. Ayahnya pun setuju dengan perasaan gembira. (Lillahi Tsumma lit Tarikh)

 

  1. Sayyid Husain Shadr

Sayyid Husain Musawi bercerita pula, “Seorang perempuan datang kepadaku dan bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh Syiah, Sayid Husain Shadr, pernah melakukan nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun lalu. Dia pun hamil dari hubungan itu. Setelah puas, dia menceraikannya.

Setelah berlalu beberapa waktu, perempuan itu dikaruniai seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil hasil hubungannya dengan Sayyid Husain Shadr, karena saat itu tidak ada yang melakukan nikah mut’ah dengannya selain Sayyid Shadr.

Setelah anak perempuannya dewasa, dia menjadi seorang gadis cantik dan siap menikah. Namun, sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, dia mengabarkan bahwa Sayyid Shadr telah melakukan nikah mut’ah dengannya dan menghamilinya.”

 

Peran Jalaludin Rakhmat Melariskan Mut’ah

Harian Fajar Makassar pernah memuat wawancara khusus dengan Jalaludin Rakhmat pada 25 Januari 2009 tentang nikah mut’ah.

Ketua Dewan Syura IJABI ini berkata, “Nikah mut’ah itu memang boleh saja dalam pandangan agama, karena masih dihalalkan oleh Nabi. Apa yang dihalalkan oleh Nabi berlaku sampai hari kiamat.”

 

Akibat Nikah Mut’ah

Tidak ada yang mengetahui jumlah dan macam kerusakan akibat perbuatan keji dan menjijikkan ini secara terperinci selain Allah.

Sebagian akibat yang bisa kita ketahui di antaranya:

 

  1. Dusta atas nama Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidaklah ada dosa dan kejahatan yang lebih berbahaya tehadap umat dibandingkan keyakinan bahwa nikah mut’ah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (ash-Shaff: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلَيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mengambil tempat duduknya dari neraka.” (HR. Muslim)

Berapa banyak orang yang tertipu dengan sebab kedustaan mereka ini?

 

  1. Rusaknya nasab

Dengan sebab gonta-ganti pasangan ketika nikah mut’ah, maka tatkala seorang wanita hamil, dia tidak akan tahu, hasil dari hubungan dengan siapakah kehamilannya itu? Na’udzubillah min dzalik. Terlebih lagi dengan sangat sering dan cepatnya periode nikah mut’ah.

Menurut klaim Syiah, Ja’far ash-Shadiq, yang mereka anggap sebagai imam mereka, pernah ditanya, “Apa boleh seorang laki-laki melakukan nikah mut’ah untuk jangka waktu satu atau dua saat saja?”

Dia menjawab, “Bukan hanya satu atau dua saat saja, bahkan sehari atau dua hari juga boleh.” (al-Kafi, 5/459)

 

  1. Pelecehan terhadap kaum wanita

Disebutkan dalam kitab mereka, al-Kafi (5/452), “Nikah mut’ah-lah dengan mereka, walau sampai 1000 orang wanita. Sebab, wanita itu bagaikan barang sewaan.”

Pelecehan ini menjadi lebih parah ketika kita tengok realita bahwa dalam nikah mut’ah, seorang wanita tidak memiliki hak mendapatkan sandang, pangan, maupun papan.

 

  1. Tersebarnya berbagai penyakit kelamin

Berdasarkan sebuah penelitian, Irak merupakan negara dengan jumlah penderita aids terbesar kedua se-Eropa dan Arab, setelah Iran. Melalui sejumlah penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa virus HIV di Irak menyebar melalui hubungan dengan lawan jenis secara intensif melebihi yang biasa dilakukan oleh seorang pelacur.

Inilah sekilas tentang nikah mutah kaum Syiah berikut tinjauan syariat dan bahaya yang menyertainya.

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi petunjuk kepada kita sehingga selamat dari berbagai kesesatan. Kita berharap agar Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita keistiqamahan di atas jalan-Nya sampai kita bertemu dengan-Nya, dalam keadaan mendapat keridhaan dan ampunan-Nya yang merupakan sebab kita dimasukkan ke dalam jannah-Nya. Amin.

Cara Menghadapi Syiah

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Dart

Syiah menjadi bahaya laten yang mengancam cukup serius di negara kita. Maka dari itu, bekal yang paling penting untuk menghadapi mereka adalah bertafaqquh fiddin, mempelajari ilmu agama Islam dengan benar yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf, generasi terbaik umat ini.

Ilmu akidah adalah ilmu yang paling penting bagi setiap muslim. Sebab, akidah adalah fondasi dan pilar-pilar yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan Islam lainnya. Akidah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan tameng untuk menjaga seorang muslim dari penyimpangan, kesesatan, dan kesyirikan.

Seluruh kaum muslimin hendaknya tidak mencoba untuk menelaah pemikiran-pemikiran mereka atau mendengar syubhat-syubhatnya. Sungguh, akan menjadi musibah yang besar manakala seseorang membaca dan meneliti serta mendengar syubhat-syubhat kelompok Syiah sedangkan pemikirannya kosong dari akidah yang benar. Hal itu akan menyeretnya kepada penyimpangan.

Begitulah akidah dan paham-paham yang menyimpang. Ia tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang bodoh. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain….” (an-Nisa: 140)

Para ulama telah menetapkan melalui tafsiran dari ayat ini bahwa tidak diperbolehkan mendengarkan perkataan orang yang menyimpang, sesat, dan ahli bid’ah, serta tidak boleh duduk bersama mereka. Sebab, apabila mendengarkannya, seseorang akan terlibat bersama mereka dalam dosanya. Selain itu, bisa jadi mereka akan meniupkan racun (syubhat) kepada dirinya. Inilah musibah yang menimpa agama seseorang.

Generasi muda kaum muslimin hendaknya tidak menyepelekan bahaya laten Syiah yang terus menggerogoti umat. Sebab, tidaklah mereka tinggal di suatu negara melainkan akan meniupkan api, membakar setiap yang basah dan kering, serta mengembuskan racunnya. Kelompok Syiah siap menggelontorkan materi dan dana kepada kaum muslimin asalkan mereka mau mengambil akidahnya, mengambil akhlaknya, bahkan agamanya. Inilah yang perlu diwaspadai.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dalam nasihatnya menghadapi kelompok Syiah Rafidhah, menegaskan, “Kami menasihati seluruh kaum muslimin agar tidak tertipu olh seruan-seruan kelompok Syiah. Sebab, segala seruan mereka yang mengatasnamakan Islam, tidak berdasar dan tidak benar. Semuanya masuk dalam kerangka perbuatan munafik. Mereka adalah para munafik dan tukang taqiyyah. Siapa yang melihat kitab-kitabnya, pasti mengetahuinya. Kaum mukminin dan muslimin semestinya mengetahui bahwa seruan (Republik Islam Iran), semua itu tidak ada hakikatnya. Tampak dari luar saja seperti Islam, namun batinnya menyelisihi Islam. Batinnya adalah watsaniyyah (penyembahan terhadap berhala) dan permusuhan terhadap Islam serta seluruh para sahabat, serta tidak menampakkan keridhaan kepada mereka. Yang ada, mereka malah mengafirkan dan memvonis fasik para sahabat, kecuali sebagian kecil saja.

Intinya, Khomeini dan para pengikutnya adalah tokoh-tokoh (Syiah) Rafidhah, pengagum akidah Rafidhah dan berpegang teguh dengannya. Mereka mengagungkan imam yang dua belas serta mengklaim bahwa imam-imam itulah yang paling berhak atas predikat imam dan mendapatkan kepemimpinan, dan yang paling tingginya adalah Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengakui kepemimpinan yang lain dan menganggapnya batil. Benar bahwa Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah seorang imam yang saleh, khalifah keempat setelah tiga khalifah sebelumnya, sahabat yang paling utama setelah tiga sahabat sebelumnya. Demikian juga al-Hasan dan al-Husein, merupakan sahabat, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Akan tetapi, mereka tidak menjadi pemimpin, kecuali al-Hasan menjadi pemimpin sebentar kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, al-Husein sama sekali tidak menjadi pemimpin. Orang-orang Rafidhah (Syiah) tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak ada pada diri mereka kecuali klaim-klaim yang tidak berdasar.” (www.binbaz.org)

Salah satu pintu menyesatkan umat yang dilakukan oleh kelompok Syiah adalah slogan “cinta Ahlul Bait”. Maka dari itu, seorang muslim tidak boleh tertipu ketika kaum Syiah mengawali pembicaraannya dengan hal itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah ada penyimpangan dalam hatinya. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencaricari takwilnya....” (Ali Imran: 7)

Yang dapat membentengi kita dari kesesatan Syiah adalah dengan mengetahui akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan senantiasa merujuk kepada tafsiran-tafsiran para salaf, serta kembali kepada para ulama rabbani.

Menurut akidah Ahlus Sunnah, tidak ada seorang imam yang diagungkan, yang diambil semua perkataannya dan ditinggalkan semua yang menyelisihannya, selain Rasulullah n. Keistimewaan ini tidaklah ada pada imam-imam yang lain. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan, tidak ada yang maksum selain beliau n.

Ahlus Sunnah mengikuti jalan para pendahulu dari kalangan sahabat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Ahlus Sunnah selalu menjaga lisan dan hatinya terkait dengan para sahabat Rasulullah n, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi n, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai salah seorang dari kalian berinfak dengan emas seperti Gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan dapat menyamai infak salah seorang dari mereka walau satu mud, tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah menerima apa yang datang dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n serta apa yang telah menjadi konsensus (ijma’) yang terkait dengan keutamaan dan kedudukan para sahabat.

Kelompok Syiah tidak jujur dalam klaimnya sebagai pecinta Ahlul Bait, karena pada kenyataannya mereka tidak mencintai Ahlul Bait Nabi n, tidak pula Ahlu Bait Ali shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengambil petunjuknya, tidak mengikuti jalannya, tidak menaati perintahnya. Mereka justru menentang dan menyelisihinya, bahkan dengan terang-terangan hal itu mereka lakukan terutama kepada al-Khulafa ar-Rasyidin, Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi n), dan seluruh sahabat beliau g.

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala ridha kepada para sahabat. Al-Qur’an pun memberi rekomendasi tentang keimanan yang sesungguhnya pada diri mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah: 117)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (al-Anfal: 74)

Wallahu a’lam.

Pilar-pilar Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 Pillars

Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam yang eksis sepanjang masa. Dimulai dari dakwah yang diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masanya hingga mencapai puncak kejayaan dan era keemasan. Jazirah Arab dipenuhi oleh cahaya tauhid dan sunnah yang sebelumnya gelap dengan beragam syirik dan bid’ah.

Dakwah salafiyah kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya di era al-Khulafa ar-Rasyidin. Dakwah ini berkembang dan tersebar luas di seantero jagat raya, membentang dari timur ke barat, menaklukkan dua kekuatan kekufuran terbesar masa itu, Romawi dan Persia.

Dakwah salafiyah terus menerangi bumi dengan sunnah dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sepak terjang para ulama dakwah salafiyah yang dengan sabar, tegar, tekun, dan bersungguh-sungguh menyebarkan Islam dan sunnah melalui karya-karya besar mereka dalam berbagai bidang ilmu agama. Dengan gagah berani mereka membela Islam dan sunnah dengan jiwa raga, harta, dan benda melawan rongrongan kaum kafir. Dengan kedalaman ilmu dan ketajaman argumentasi, mereka meruntuhkan beragam paham sesat yang dikampanyekan oleh ahlul bid’ah dan syubhat.

Dakwah salafiyah ini akan terus eksis, tidak akan pernah sirna sepanjang masa selama masih ada ath-Thaifah al-Manshurah, hingga generasi terakhir mereka nanti akan bergabung dengan Nabi Isa ‘alaihissalam dan Imam Mahdi, berperang melawan Dajjal dan pengikutnya. Satu hal yang menakjubkan—dan ini salah satu bukti bahwa mereka di atas al-haq—adalah dakwah salafiyah sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kelak di masa Imam Mahdi tidak pernah berubah manhaj dan akidahnya.

Sebab, dakwah salafiyah yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dibangun di atas pilar-pilar baku yang kokoh, tak goyah, apalagi berubah, sepanjang masa.

Pilar-pilar tersebut seolah menjadi keistimewaan dakwah salafiyah yang membedakannya dengan dakwah bid’ah yang ada.

Barang siapa berdakwah berdasarkan pilar-pilar tersebut, dia akan lurus dan selamat. Sebaliknya, barang siapa menyimpang darinya, dia akan tersesat.

Pilar Pertama: Berpegang Teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan segenap kaum muslimin kembali kepada pilar ini. . . . . . .

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai….” (Ali Imran: 103)

Tali Allah ‘azza wa jalla dalam ayat ini adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

“Dan bahwasanya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya….” (al-An’am: 153)

Dalam ayat ini disebutkan dua jalan:

  1. Jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim)

Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Jalan ini dipandu oleh bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah, berujung kepada jannah.

  1. Subul (jalan-jalan kecil lagi banyak) yang berseberangan dengan ash-shirathal mustaqim. Yang dimaksud dengan subul adalah jalan-jalan bid’ah dan syubhat, sebagaimana penafsiran Mujahid rahimahullah. Jalan ini dipandu oleh setan dari kalangan manusia, yaitu ahli bid’ah, berujung kepada neraka.

Kita diperintah mengikuti jalan yang lurus, yang dijamin dengan persatuan dan keselamatan di dunia dari perpecahan dan penyimpangan, serta keselamatan di akhirat dari api neraka.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah….” (al-Hasyr: 7)

“Perintah ini umum mencakup prinsip-prinsip agama dan hukum-hukumnya, lahir dan batinnya. Apa saja yang didatangkan oleh Rasul, maka semua hamba wajib mengambil dan mengikutinya, haram menyelisihinya. (Ayat ini juga menunjukkan) bahwa nash Rasul dalam menghukumi sesuatu sama seperti nash Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada rukhshah (keringanan) dan alasan bagi siapa pun untuk meninggalkannya. Tidak boleh pula ada pendapat yang didahulukan di atas sabda (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), siapa pun dia,” ulas asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla menjamin keselamatan dari kesesatan dan kesengsaraan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya,

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Yang dimaksud dengan ‘petunjuk’ di sini adalah kitab suci dan Rasul.

Barang siapa mengikuti al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunnah), ia diberi dua jaminan:

  1. Tidak tersesat ( فَلَا يَضِل ) baik di dunia maupun di akhirat.

Lafadz ini umum mencakup keselamatan dari semua jenis dan bentuk kesesatan.

  1. Tidak sengsara/celaka ( و لا يشقى ). baik di dunia maupun di akhirat.

Lafadz ini juga umum mencakup keselamatan dari segala bentuk kesengsaraan dan kecelakaan di dunia dan di akhirat.

Kedua jaminan di atas menunjukkan bahwa orangnya terbimbing ke jalan yang lurus di dunia dan akhirat, serta meraih kebahagiaan dan rasa aman di dunia dan akhirat. (Tafsir as-Sa’di)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, mayoritas kesesatan yang ada ini terjadi pada seseorang yang tidak berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana halnya al-Imam az-Zuhri rahimahullah berkata bahwa dahulu ulama kita menyatakan,

الْاِعْتِصَامُ بِالسَّنَّةِ هُوَ النَّجَاةُ

“Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”

Al-Imam Malik rahimahullah juga berkata,

السُّنَّةُ كَسَفِينَةِ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ وَهَوَى

“Sunnah diumpamakan seperti kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam. Siapa saja yang menaikinya, dia selamat; dan siapa saja yang tertinggal darinya, dia tenggelam dan jatuh.” (Majmu’ Fatawa 4/56—57)

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kaum muslimin kembali kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkara dan masalah yang mereka perselisihkan.

“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bukti Cinta kepada Allah ‘azza wa jalla

Mengikuti sunnah adalah bukti kejujuran cinta kita kepada Allah ‘azza wa jalla dan sebab mendapat ampunan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian…’.” (Ali Imran: 31)

Cinta kepada Allah ‘azza wa jalla tidak cukup semata pengakuan, tetapi harus ada pembuktian. Ayat di atas menegaskan bahwa bukti kejujuran cinta seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla adalah mengikuti sunnah Rasul-Nya dalam semua hal, baik yang terkait dengan prinsip-prinsip agama maupun hukum-hukumnya, secara lahir maupun batin. Barang siapa mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala kondisi, ucapan, dan perbuatan; dia telah jujur dalam mencintai Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla pun mencintainya, mengampuni dosanya, merahmatinya, dan meluruskan langkahnya dalam semua tindak-tanduknya. (Tafsir as-Sa’di)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah (teladan) yang wajib kita contoh dalam hal beragama dan dalam segala aspek kehidupan kita

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan dia banyak berzikir kepada Allah.” (al-Ahzab: 21)

“Ayat yang mulia ini adalah kaidah besar dalam mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkataan, perbuatan, dan semua keadaannya,” kata Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini.

Dalam ayat yang lain Allah ‘azza wa jalla melarang kaum muslimin bertindak mendahului Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya,

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

Ayat ini mengandung pelajaran adab kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengagungkan, menghormati, dan memuliakan beliau.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla meniadakan keimanan dari siapa saja yang tidak mau kembali kepada hukum sunnah atau merasa keberatan dengan ketetapan hukum sunnah. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menguatkan masalah ini dengan sumpah,

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

Bahkan, dalam beberapa ayat Allah ‘azza wa jalla mengecam dan mengancam dengan keras di dunia dan di akhirat siapa saja yang menyelisihi dan menentang sunnah.

“Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Lafadz أَمْرِهِ di sini maknanya adalah jalan yang ditempuh oleh Rasul: manhaj, metode, dan sunnah beliau.

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

“Dan barang siapa menentang Allah dan Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Musyaqqah (menentang) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi semua bentuk penentangan, di antaranya menyelisihi sunnah, mendustakan, menolak sebagian atau seluruh sunnah, mengingkari sebagian atau seluruhnya, tidak mengamalkannya dan tidak bertahkim kepadanya, serta meniti jalan selain jalan sunnah yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengikuti selain jalan kaum mukminin meliputi beberapa hal, di antaranya adalah menentang ijma’ sahabat dan tidak mau kembali kepada pemahaman salaf. Tindakan ini diancam oleh Allah ‘azza wa jalla dengan dua ancaman keras di dunia dan akhirat:

  1. Ancaman di dunia, yaitu نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى. Allah ‘azza wa jalla membiarkan dia bergelimang dalam penyimpangannya dan kesesatan yang dia pilih, tanpa dia sadari bahwa dirinya telah menyimpang.

“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) maka Allah pun memalingkan hati mereka….” (ash-Shaff: 5)

Oleh sebab itu, jarang ada ahli bid’ah yang diberi taufik untuk bertobat dari ragam kebid’ahannya. Dia justru akan semakin jauh dari kebenaran, terbenam dalam lumpur penyimpangan. Na’udzu billah min dzalik.

  1. Ancaman di akhirat yaitu dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Sebab, siapa saja yang keluar dari petunjuk, maka dia tidak punya jalan selain menuju neraka.

Ini menjadi pertanda mengerikan bahwa menentang Rasul dan menyelisihi jalan sahabat dapat mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ancaman di atas ditujukan kepada seseorang yang telah jelas baginya petunjuk dan ilmu, namun dengan sengaja melakukan tindakan di atas. Adapun seseorang yang prinsip dasarnya adalah ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla dan berupaya keras mengikuti sunnah Rasul serta menetapi jalan para sahabat lantas terjatuh dalam tindakan dosa dan penyimpangan, Allah ‘azza wa jalla tidak akan membiarkannya dalam dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla memberi dia taufik segera bertobat dari dosanya. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla akan menjaganya dan menyelamatkannya dari beragam kejelekan. (Tafsir as-Sa’di)

Al-Imam Abu Muhammad Hasan bin Ali al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah (no. 69 hlm. 87) menyatakan, “Apabila engkau mendengar seseorang menikam atsar, tidak menerimanya atau mengingkari sesuatu dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, curigailah keislamannya. Sebab, dia adalah seseorang yang jelek pendapat dan mazhabnya, karena dia hakikatnya menikam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Kita mengenal Allah ‘azza wa jalla, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Qur’an, kebaikan, kejelekan, dunia dan akhirat hanyalah dengan atsar.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menegaskan, “Barang siapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia di tepi jurang kebinasaan.” (al-Ibanah al-Kubra 1/97, Ibnu Baththah)

Dari uraian panjang di atas, menjadi jelas bahwa dakwah salafiyah adalah dakwah yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dalam semua sisi dakwahnya.

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mengajak segenap umat manusia kembali kepada bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam berakidah, beribadah, bermuamalah, beradab dan berakhlak mulia, dan beragama secara total.

Pilar Ke-2: Kembali kepada Pemahaman Salaf

Pilar kedua inilah yang membedakan dakwah salafiyah dengan dakwah-dakwah lain yang berbaju Islam. Dakwah salafiyah mengajak umat kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sementara itu, dakwah-dakwah lainnya mengaku mengajak umat kepada al-Qur’an dan sunnah, namun dipahami sesuai dengan pemahaman tokoh bid’ahnya atau AD/ART dakwahnya.

Ikhwanul Muslimin (IM) pada hakikatnya mengajak umat kepada pemahaman Hasan al-Banna, Said Hawa, Sayyid Quthb, dan tokoh-tokoh mereka lainnya.

Firqah Tabligh pada hakikatnya mengajak umat kepada pemahaman Muhammad Ilyas dan kitab Fadhail A’mal yang memuat banyak hadits palsu dan dhaif.

Sururiyah pada kenyataannya mengajak umat kepada pemahaman dan gerakan hizbiyah yang dilancarkan oleh Muhammad Surur Zaenal Abidin dengan Yayasan al-Muntada al-Islami serta majalah al-Bayan dan as-Sunnah nya, selain juga pemikiran-pemikiran Salman al-‘Audah, Safar Hawali, ‘Aidh al-Qarni, Nashir al-Umar, dan kawan-kawannya.

Sururiyah juga mengajak umat untuk berwala dan bara di atas yayasan-yayasan penyandang dana yang mereka jadikan sebagai corong dakwah mereka. Sebut saja semisal Ihyaut Turats Kuwait yang bencananya sudah mendunia, mencabik-cabik persatuan dakwah salafiyah di seluruh dunia, menelan korban para da’i yang lemah manhaj sehingga bergabung menjadi para pembela mereka.

Haddadiyah juga demikian, pada hakikatnya mengajak semua pihak untuk fanatik kepada Abu Abdillah al-Haddad dan istrinya, Ummu Abdillah, serta tokoh-tokoh paham Haddadiyah lainnya, semisal Abdul Lathif Basymeel.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan, “Syiar sekte-sekte (sesat) ini adalah memisahkan diri dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’.” (Majmu’ Fatawa 3/346)

Beliau juga mengatakan, “Dengan demikian, diketahui bahwa syiar ahli bid’ah adalah tidak mau kembali kepada paham salaf. Oleh sebab itu, al-Imam Ahmad dalam Risalah Abdus bin Malik berkata, ‘Prinsip-prinsip sunnah menurut kami (Ahlus Sunnah) adalah berpegang teguh dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam….” (Majmu’ Fatawa 4/155).

Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani rahimahullah menyatakan, “Syiar Ahlus Sunnah adalah mengukuti salafus shalih dan meninggalkan segala bentuk kebid’ahan.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/364)

Cukup banyak argumentasi yang disebutkan oleh para ulama tentang pilar kedua ini. Di antaranya:

  1. Doa yang dipanjatkan oleh setiap muslim dalam shalatnya tatkala membaca al-Fatihah,

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Ash-Shirathal mustaqim adalah jalan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, yaitu al-Qur’an dan sunnah.

“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka….” (al-Fatihah: 7)

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan siapa saja yang mendapatkan anugerah nikmat.

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasulnya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh; mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (an-Nisa: 69)

Pihak yang paling berhak mendapatkan sifat shiddiqiyah, syahadah, dan kesalehan adalah salafus shalih.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin (1/72—73) menjelaskan, “Setiap orang yang lebih mengenal dan mengikuti al-haq adalah orang yang lebih berhak dengan ash-shirathal mustaqim. Tidak ada keraguan lagi bahwasanya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih berhak dengan kriteria ini daripada Rafidhah….”

Oleh karena itulah, para ulama salaf[1] menafsirkan ash-shirathal mustaqim dan pemeluknya sebagai “Abu Bakr, Umar, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….”

Dengan uraian di atas, menjadi jelas bahwa makna doa yang dipanjatkan oleh setiap orang yang membaca al-Fatihah ini adalah memohon kepada Allah ‘azza wa jalla hidayah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih. Inilah hakikat ash-shirathal mustaqim dan puncak hidayah. Wallahul muwaffiq.

  1. Hadits yang mengabarkan tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, semua diancam dengan neraka kecuali satu golongan yang selamat (al-Firqah an-Najiyah).

Pada riwayat yang lain dijelaskan tentang golongan yang selamat itu adalah

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Apa yang aku dan para sahabatku ada di atasnya.”

Lafadz di atas sangat tegas menunjukkan bahwa jalan keselamatan yang ditempuh al-Firqah an-Najiyah adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunnah) dan para sahabatnya (pemahaman salafush shalih).

  1. Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu,

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah k dan mendengar serta taat walaupun (dipimpin oleh) budak Habasyah. Siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti niscaya akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian….” (HR. Ahmad no. 41126 dll., hadits ini sahih dengan banyaknya penguat)

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan, “Dalam hadits ini—sebagaimana yang engkau lihat—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin dengan sunnah beliau. (Ini menunjukkan) bahwa termasuk mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka.” (al-I’tisham 1/104)

Selain itu, hadits di atas tegas menunjukkan bahwa sebab keselamatan dari berbagai perpecahan, perselisihan, dan penyimpangan bid’ah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah berpegang teguh dengan sunnah dan kembali kepada pemahaman salafush shalih.

Lafadz عَلَيْكُمْ juga menjadi dalil yang menunjukkan kewajiban berpegang teguh dengan sunnah dan kewajiban kembali kepada pemahaman salaf. Kewajiban ini diperkuat oleh beberapa hal, di antaranya:

  1. Perintah ini disebutkan dalam konteks wasiat yang menunjukkan perkara tersebut sangatlah urgen.
  2. Wasiat ini disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya.
  3. Perintah ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai solusi umatnya dari fenomena perpecahan yang ada.
  4. Beliau menegaskan perintah ini dengan sabdanya,

تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian.”

  1. Keutamaan yang ada pada generasi salafush shalih, terutama sahabat, tercantum dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan penjelasan ulama.

Ini adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun dan generasi mana pun, kecuali orang-orang yang meniti jejak langkah mereka dengan baik.

Di antara keutamaan tersebut adalah:

  • Mendapatkan predikat ‘khairul ummah’ (umat terbaik).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….” (Ali Imran: 110)

Yang pertama kali mendapat pujian ini adalah para sahabat. Sebab, mereka adalah muslimin generasi pertama dan ayat ini turun di masa mereka. Termasuk di dalam ayat ini ialah siapa saja yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh para sahabat.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Pendapat yang sahih adalah ayat ini umum pada tiap umat. Setiap generasi sesuai dengan kondisinya masing-masing. Generasi yang terbaik adalah generasi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya, lalu yang berikutnya….”

  • Salafus shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in adalah tiga generasi terbaik umat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik orang adalah generasiku (sahabat), kemudian yang setelahnya (tabi’in), lalu yang berikutnya (tabi’ut tabi’in).” (HR. al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533/212 dari Abdullah bin Mas’ud z)

Terbaik yang dimaksud di sini bersifat umum, meliputi iman, amal, dan pemahaman agamanya.

  • Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla, dan Allah ‘azza wa jalla menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Ayat ini tegas menjelaskan keutamaan dan pujian Allah ‘azza wa jalla terhadap sahabat Muhajirin dan Anshar dari beberapa sisi:

  • Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla meridhai iman, akidah, manhaj, ibadah, amalan, dan pemahaman mereka dalam beragama.
  • Allah ‘azza wa jalla telah menjamin mereka dengan surga yang abadi.
  • Mereka adalah orang-orang yang meraih kemenangan besar di dunia dan akhirat dengan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka.

Keutamaan di atas dianugerahkan kepada para sahabat, dan telah berlalu masanya. Adapun orang-orang yang tidak termasuk sahabat Nabi, mereka hanya dapat meraih keutamaan di atas dengan sebuah persyaratan yang sangat prinsip, yaitu,

وَ الذِّينَ اْتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ  

“Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”

  • Keutamaan khusus yang dimiliki oleh para sahabat.

Allah ‘azza wa jalla telah memilih mereka untuk menemani dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa di antara kalian yang hendak mengikuti sunnah (jalan hidup), hendaklah mengikuti sunnah orang yang telah mati (Rasul dan para sahabat). Sebab, orang yang masih hidup belum aman dari fitnah (godaan).

Merekalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang paling afdal pada umat ini, yang terbaik hatinya, yang paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit memberat-beratkan diri.

Mereka adalah suatu kaum yang Allah ‘azza wa jalla pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, ketahuilah keutamaan mereka. Ikutilah jejak langkah mereka. Berpegang teguhlah dengan akhlak dan agama mereka semampu kalian. Sebab, mereka adalah orang-orang yang di atas petunjuk yang lurus.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, 2/97, Ibnu Abdil Barr)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Kekhususan ini tidak ditetapkan untuk siapa pun selain para sahabat, walau amalannya lebih banyak daripada amalan salah seorang sahabat.” (Majmu’ Fatawa 4/465)

  • Para sahabat adalah pintu yang mengamankan umat dari beragam fitnah dan kesesatan.

Al-Imam Muslim rahimahullah (no. 2531) meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Aku adalah pengaman bagi para sahabatku. Apabila aku pergi (wafat), akan datang kepada sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku. Apabila mereka telah pergi, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan….”

“Para sahabat sebagai pengaman bagi umat Islam dari munculnya bid’ah, aneka peristiwa dalam agama, berbagai fitnah pada agama, terbitnya tanduk setan, penguasaan Romawi dan yang lainnya atas muslimin, kehormatan Madinah dan Makkah yang ternodai, dan lain-lainnya. Ini semua adalah mukjizat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah an-Nawawi terhadap hadits ini)

  • Manhaj salaf senantiasa dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla.

Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan sesungguhnya kami benar-benar menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Adz-Dzikr adalah al-Qur’an.

Di antara konsekuensi pasti terjaganya al-Qur’an adalah terjaganya sunnah, karena sunnah adalah penjelas isi al-Qur’an.

Di antara konsekuensi pasti terjaganya al-Qur’an dan as-Sunnah adalah terjaganya pemahaman dan manhaj salaf, karena al-Qur’an dan as-Sunnah harus dipahami dengan pemahaman mereka.

  • Ijma’ (kesepakatan) sahabat adalah hujah yang baku.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sumber pengambilan dalil dalam menetapkan hukum-hukum syariat, di antaranya, “Ijma’ disepakati oleh kaum muslimin, baik fuqaha, Sufi, ahli hadits, ahli kalam, maupun selain mereka secara global, namun diingkari oleh sebagian ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan Syi’ah. Akan tetapi, ijma’ yang diketahui (dengan pasti) adalah (ijma’) para sahabat. Adapun setelah (masa) itu, pada umumnya ada halangan untuk diketahui.” (Majmu’ Fatawa 11/341)

  • Amalan (meliputi ucapan dan perbuatan) seorang sahabat adalah hujah, selama tidak bertentangan dengan al- Qur’an dan as-Sunnah serta tidak ada sahabat yang lain yang menyelisihinya.

Apabila ada khilaf, yang sesuai dengan dalil adalah pendapat rajih (kuat) yang diamalkan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya Abu Hanifah, Malik, pendapat yang masyhur dari Ahmad, dan salah satu pendapat asy-Syafi’i. (Majmu’ Fatawa 20/14)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya, A’lamul Muwaqqi’in, bahkan menyebutkan 46 sisi argumentasi yang menegaskan bahwa amalan sahabat adalah hujah.

  • Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah panjang lebar menjelaskan dan kemudian menyimpulkan, “Ilmu yang paling afdal tentang tafsir al-Qur’an dan makna hadits serta pembicaraan tentang halal dan haram adalah apa yang ma’tsur (diriwayatkan) dari sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in hingga sampai pada masa imam-imam (ulama) Islam yang tersohor yang dijadikan teladan, seperti yang telah kita sebutkan namanya.” (Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘Ala Khalaf 41)

Beliau rahimahullah juga menegaskan (hlm. 45), “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu yang ada adalah menghafal nash-nash al-Qur’an dan sunnah, memahami maknanya dan terkait dengan apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, dalam memahami makna al-Qur’an dan hadits.”


[1] Yang menafsirkan ash-shirathal mustaqim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar adalah Abul Aliyah dan al-Hasan al-Bashri. Lihat Tafsir ath-Thabari.

Menanti Setetes Embun

Sebagian dinding rumah itu nyaris rubuh. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu tak lagi tegak. Keadaannya telah lama miring. Rumah milik Suparjo, warga Dusun Muara Dua, Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, telah lama mengenaskan keadaannya. Saat Majalah Asy-Syariah berkunjung, Suparjo tengah merawat anaknya yang sakit. Suparjo, dalam usia 60 tahun lebih, harus berjuang menghadapi kehidupan yang keras. Suparjo adalah salah satu sosok mualaf di Kecamatan Kampung Laut. Saat belum menemukan cahaya

Islam, ia banyak mengajak warga Kampung Laut memeluk Katolik. Ia termasuk orang kepercayaan Charles Patrick Edward Burrows, pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, Jawa Tengah. Baginya, Kampung laut, terkhusus Dusun Muara Dua, Desa Panikel, adalah wilayah jelajah pengembangan misinya. Kini, setelah cahaya Islam menembus kalbunya, Suparjo berusaha mengislamkan kembali orang-orang yang dahulu diajaknya memeluk Katolik. “Kini, kegiatan gereja Katolik di Muara Dua diisi jamaah dari luar daerah,” kata Suparjo. “Pihak paroki mendatangkan jamaah dari luar daerah dengan kendaraan,” katanya menekankan.

Keadaan masyarakat Kampung Laut yang banyak dililit kemiskinan menjadi lahan empuk bagi aksi kristenisasi. Selain misionaris dari kalangan Katolik, kalangan Kristen dari sekte Advent pun turut pula mewarnai. Setelah itu muncul dari kalangan Kristen sekte Bethel. Tak terlalu lama, jamaah Bethel langsung mendirikan gereja di Ujung Gagak dan Cibeureum. Itulah aksi nyata mereka guna melakukan pemurtadan di tengah kaum muslimin. Kecamatan Kampung Laut yang terdiri dari Desa Klaces, Panikel, Ujung Alang, dan Ujung Gagak telah lama menjadi ajang pemurtadan. Charles Patrick Edward Burrows alias Romo Carolus sejak tahun 1973 telah menyambangi Kampung Laut. Pria kelahiran Irlandia 69 tahun lalu ini sengaja menjadi Warga Negara Indonesia pada 1983. Tentu saja, agar semua aktivitasnya di Indonesia bisa mulus. Termasuk, memuluskan aksi-aksi misionarisnya. Untuk mengelabui masyarakat, ia mengemas aksi pemurtadannya dengan wujud aksi kemanusiaan. Dibentuklah  Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), Lembaga Pendidikan Yos Sudarso, Yayasan Pembina Pendidikan Kemaritiman, Mikro Kredit Swadaya Wanita Indonesia, dan lainnya, yang merupakan kepanjangan tangan dari misi gereja.

Kampung Laut adalah sebutan untuk permukiman di seputar Segara Anakan. Letaknya di antara daratan Cilacap sebelah barat dan Pulau Nusakambangan. Jika dari arah Kota Cilacap, menuju desa Kampung Laut, yaitu Ujung Alang, bisa ditempuh sekitar 1—2 jam perjalanan. Selain itu, dari arah Ciamis, melalui Pelabuhan Majingklak bisa lebih dekat. Banyak perahu yang ditambat di pelabuhan untuk melaju ke Kampung Laut. Segara Anakan merupakan pertemuan air laut Samudra Hindia dengan air tawar dari beberapa muara sungai yang mengalir dari daratan Pulau Jawa, seperti Sungai Citandui , Sungai Cibeureum, Sungai Cikonde, Sungai Cemenang, dan lainnya. Segara Anakan dari tahun ke tahun mengalami pendangkalan akibat air sungai yang membawa lumpur.

Dari lumpur itulah terbentuk mud island (tanah timbul) yang kemudian ditumbuhi mangrove, yaitu hutan dengan jenis tetumbuhan tertentu, seperti ada apiapi (jenis avicenia, yaitu avicenia alba, avicenis marina, dan avicenia oficenalis), bogem (sconneratia alba), bakau (jenis rizophora mucronata dan rizophora apiculata), tancang (bruguirea sp), dan  ainnya. Dari mangrove tumbuh berbagai akar yang menjadi rumpon bagi udang, ikan, dan kepiting. Karena itu, ikan, kepiting, dan udang merupakan penghasilan andalan masyarakat nelayan Kampung Laut. Tak tertinggal, burung bangau, kuntul, dan hewan lainnya turut memberi corak alam Kampung laut. Melalui mangrove, Allah Subhanahu wata’ala mencurahkan rezeki bagi segenap makhluk-Nya di sana. Itulah nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang tiada terkira dan patut disyukuri.

Dibelahan wilayah lainnya, Kampung Laut menyimpan keindahan eksotik. Di tepian Solok Jero, terhampar pantai berpasir putih . Apabila dibentangkan, pantai ini bersambung ke pantai Pangandaran. Subhanallah, begitu menakjubkan. Menangkal laju kristenisasi di Kampung Laut tak semata berbekal penyajian materi bersifat fisik. Namun, gerakan harus dilakukan secara sinergi. Segenap kekuatan digabung, dikoordinasi secara rapi dan terprogram. Ma’had An-Nur Al-Atsary, Banjarsari, Ciamis, adalah yang mengawali penggalangan aksi melawan kristenisasi di Kampung Laut. Bekerja sama dengan para ustadz dan ikhwan salafiyin Cilacap, Ma’had An-Nur Al-Atsary terus melakukan pembinaan terhadap para mualaf. Tentu, seraya Masjid di Dusun Muara Dua, Desa Panikel, Kec. Kampung Laut menyalurkan berbagai bantuan dari para muhsinin kepada para mualaf. Tak hanya itu, di bawah arahan al-Ustadz Khatib Muwahhid, Ma’had an-Nur al-Atsary pun menggalang pula sinergi dengan para ustadz salafiyin dari berbagai daerah untuk diterjunkan di Kampung Laut. “Kami sadar, perjuangan ini tak bisa dilakukan sendirian,” tutur al-Ustadz Fauzan, salah seorang pengasuh di Ma’had an-Nur al-Atsary yang banyakterjun ke basis-basis kristenisasi.

T a k h a n y a setahun atau dua tahun, perjuangan i n i m e n u n t u t waktu yang lama. Keadaan keimanan para mualaf harus dikokohkan. Seraya memohon pertolongan- Nya, kajian-kajian keagamaan harus terus ditingkatkan intensitasnya. Maka dari itu, partisipasi dari para ustadz jangan sampai terhambat dan tidak berkesinambungan. Bagaimana pun, kehadiran para ustadz akan memberi dampak yang tak sedikit untuk para mualaf. Biidznillah.

Bagaimana hati ini tak trenyuh melihat sosok Suparjo yang telah berusaha mengislamkan kembali masyarakat Kampung Laut. Bagaimana pula hati  tak trenyuh melihat para mualaf mulai menyukai pakaian yang menampakkan syiar keislaman, sebuah fenomena baru nan menyejukkan hati. Begitu pula ketika melihat ibu-ibu petani di Solok Jero yang begitu antusias belajar Islam. Selepas shalat Jumat mereka menuruni perbukitan seraya membawa buku dan alat tulis. Bahkan, di tengah kegulitaan malam, berbekal obor di tangan, mereka melabuhkan hati di masjid untuk taklim. Mereka berharap bisa memahami Islam dengan baik dan benar. Setelah itu mereka beramal dengan ilmu yang telah direngkuhnya. Hati siapakah yang tak trenyuh melihat semangat belajar para mualaf begitu menyala? “Setelah Islam saya peluk, hati ini tenang,” aku Suparjo. Isi hatinya tercurah saat bincang-bincang tengah hari di beranda masjid yang belum selesai dibangun. Bangunan masjid itu berada persis di muka rumahnya. Untuk sekadar shalat lima waktu masjid itu bisa digunakan.

Meski untuk berwudhu harus menggunakan air yang menggenang tanah berlubang di halaman masjid. Air bersih termasuk masalah pokok yang dihadapi masyarakat Kampung Laut. “Saya merasa banyak saudara setelah berislam,” ungkap Suparjo lebih lanjut dengan polos. Sebuah pengakuan yang menyiratkan, betapa mereka sangat membutuhkan perhatian. Mereka menanti setetes embun yang menyegarkan jiwa. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),

Barang siapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, Allah Subhanahu wata’ala akan melepas satu kesulitan padanya dari berbagai kesulitan pada Hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan pada seseorang yang Genangan air untuk berwudhu ditimpa kesusahan, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memberi kemudahan padanya di dunia dan akhirat…. Allah Subhanahu wata’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR. al- Bukhari-Muslim)

Ketulusan hati untuk mengangkat derita mereka adalah kemestian. Ya, membantu mereka dari keterpurukan. Bukan mengeksploitasi mereka demi kepentingan-kepentingan sesaat selaras hawa nafsu. Bukan pula mengeksploitasi mereka demi popularitas dan membesarkan nama pribadi. Bukan, bukan untuk itu. “Dahulu, sempat ada tudingan miring kepada kami. Dikira kami mau menjual isu Kampung Laut,” papar dr. Ade, relawan yang membantu tim medis. Namun, seiring waktu, tudingan itu sirna. Alhamdulillah.

Betapa keikhlasan beramal menjadi perkara teramat penting. Kampung Laut ada di depan pelupuk mata. Akankah ia biarkan tergolek begitu saja? Mengerang, menanti kepastian. Akankah ia biarkan dicabik-cabik manusia tiada bermoral? Tentu tidak. Kampung Laut telah menjadi bagian dari kehidupan Islam. Ia tak boleh dibiarkan meratap sendiri. Luka mereka, duka kita. Saatnya menyeka air mata kesedihan. Basahi tubuh dengan cucuran peluh. Saat ini, berpangku tangan bukanlah sesuatu nan elok. Sebab, sesungguhnya orang-orang Nasrani tak akan tinggal diam guna menjejalkan makar pemurtadannya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka.” (al- Baqarah: 120)

Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menolong dan memberi kemudahan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya. Kampung Laut memanggil kita….

Wallahu a’lam.

Tim Reportase Majalah Asy-Syariah