Keamanan sebuah negeri adalah harapan setiap manusia. Lebih-lebih seorang muslim yang ingin menegakkan agamanya dalam keadaan tenteram, mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah.

Keamanan adalah nikmat Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ ٣ ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۢ ٤

“Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 3—4)

Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alahissalam berdoa untuk kota Makkah, memohon agar Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya aman dan mendapatkan limpahan rezeki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلٗا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٢٦

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman sentosa, berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan kepada orang yang kafir pun, Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.(al-Baqarah: 126)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam agar menjadikan Makkah sebagai negeri yang aman serta memohon agar beliau dan keturunannya dijauhkan dari sebab dicabutnya keamanan, yaitu syirik.

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ ٣٥

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, serta jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)

Doa-doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam terkabul. Allah menjadikan Makkah aman dan diberkahi. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Ka’bah— yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail ‘alahimassalam —sebagai kiblat kaum muslimin, dan hati orang yang beriman tertuju kepada negeri ini untuk menunaikan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Kunci Keamanan

Al-Qur’an mengabarkan bahwa kunci keamanan dan keberkahan sebuah negeri adalah iman dan takwa, menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi kesyirikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96)

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

Ketika sebuah negeri jauh dari tauhid, jauh dari keimanan dan takwa, bahkan diliputi kesyirikan, ketika itu keamanan akan dicabut sesuai kadar kemaksiatan mereka.

Dahulu, kota Makkah pernah diliputi masa jahiliah. Patung-patung diibadahi di sekeliling Ka’bah. Berhala-berhala dijadikan sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika kesyirikan merebak, Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan berbagai kejelekan di kota Makkah.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala bangkitkan nabi terakhir di kota Makkah, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk memperbarui kembali agama Nabi Ibrahim ‘alahissalam.

Sekali lagi, doa Nabi Ibrahim ‘alahissalam ribuan tahun yang lalu terkabul.

رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١٢٩

“Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah: 129)

Makkah kembali menjadi negeri yang aman dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makkah kembali menjadi negeri tauhid. Keberkahan Allah subhanahu wa ta’ala tercurah ketika keimanan dan takwa meliputi kota Makkah.

Seperti halnya Makkah, tempat hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Madinah, juga menjadi negeri yang aman. Sebelumnya, negeri tersebut diliputi kesyirikan, peperangan, pembunuhan, dan berbagai kejelekan. Keamanan terwujud ketika penduduk Madinah menerima dakwah Rasul, beriman dan bertakwa.

Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendoakan keberkahan bagi Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim mendoakan keberkahan Makkah al-Mukarramah.

Pembaca, sejarah Makkah dan Madinah adalah contoh bagi negeri kita Indonesia dan negeri lainnya. Mustahil bagi Indonesia mencapai keamanan dan ketenteraman kecuali dengan kunci yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan, yaitu iman dan takwa.

Pertanyaannya; sudahkah penduduk negeri ini berjuang untuk beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir? Sudahkan penduduk negeri ini memurnikan ibadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan segala kesyirikan?

 

Musuh Islam Tidak Ridha Negeri Islam Aman

Musuh-musuh Islam tidak pernah ridha dengan kejayaan Islam. Dada mereka menjadi sempit ketika melihat negeri-negeri Islam diliputi keamanan. Upaya mengacaukan negeri-negeri Islam pun menjadi cita-cita dan perjuangan mereka.

Mereka mengerti bahwa umat Islam mencapai kejayaannya ketika berpegang dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, tidak ada jalan untuk menghancurkan Islam dan mengacaukan keamanan negeri Islam kecuali dengan menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Proyek besar musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dipancangkan. Berbagai makar dan strategi dirancang untuk menjauhkan kaum muslimin dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesyirikan dan kebid’ahan ditumbuhsuburkan, kran-kran kemaksiatan dibuka sebesar-besarnya.

Saudaraku, perhatikan apa yang menimpa negeri Saba’. Sebelumnya negeri Saba diliputi kesejahteraan dan keamanan. Allah subhanahu wa ta’ala lalu mencabut dari mereka nikmat-nikmat tersebut karena mereka berpaling dari agama Allah subhanahu wa ta’ala dan kufur kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ ١٥

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Saba’: 15)

فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ ١٦  ذَٰلِكَ جَزَيۡنَٰهُم بِمَا كَفَرُواْۖ وَهَلۡ نُجَٰزِيٓ إِلَّا ٱلۡكَفُورَ ١٧

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka.

Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16—17)

Musuh-musuh Islam, terutama ahlul kitab—Yahudi dan Nasrani—memahami bahwa untuk cara menguasai dan merusak negeri Islam adalah dengan menjauhkan penduduknya dari agama Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala sisinya, akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan adab. Mereka berusaha keras agar umat Islam mau mengikuti langkah-langkah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya,

          وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Indonesia dipastikan tidak lepas dari bidikan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala. Upaya-upaya penggerogotan keamanan telah dan sedang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Yahudi dan saudaranya, Syiah Rafidhah. Sadarkah kita? Sadarkah kaum muslimin di negeri ini? Atau kita justru terbuai dan terbawa arus makar musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala?

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc