Fathimah Bintu Al-Aswad

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Seorang sahabiyah yang mulia. Namun, keadaannya sebagai seorang manusia biasa tak lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Walau begitu, kemuliaannya yang besar sebagai seorang sahabiyah menelan habis sedikit kesalahan yang pernah dia lakukan. Terlebih, kesalahan itu membuahkan hikmah yang amat besar.
Satu per satu manusia menerima seruan Rasulullah n untuk beriman kepada Allah l. Mereka berbai’at, berjanji setia untuk mendengar dan taat kepada Rasulullah n.
Di antara mereka ada seorang wanita Quraisy dari Bani Makhzum, Fathimah bintu al-Aswad bin Abdil Asad bin Hilal bin Abdillah bin Umar bin Makhzum al-Makhzumiyah x. Dia putri saudara laki-laki Abu Salamah z, suami Ummu Salamah x. Dia menyatakan beriman dan berbai’at kepada Rasulullah n.
Suatu hari, Fathimah bintu al-Aswad al-Makhzumiyah x tergelincir dalam kesalahan. Dia mencuri perhiasan suatu kaum. Mereka pun mengadukannya kepada Rasulullah n.
Kejadian ini membuat heboh orang-orang Quraisy. Mereka tahu bahwa Rasulullah n seorang yang adil. Apabila hukum Allah l dilanggar, beliau tidak segan menegakkan hukumannya pada siapa pun, dari kalangan mana pun. Mereka galau. Mereka khawatir Rasulullah n juga akan memotong tangan Fathimah bintu al-Aswad x sebagai hukum had atas pencurian yang dilakukannya. Sementara itu, Fathimah adalah seorang wanita Quraisy, kabilah terpandang di kalangan Arab.
Orang-orang Quraisy mulai membicarakan masalah ini. Akhirnya, bersepakatlah mereka pada satu keputusan. Mereka akan meminta Usamah bin Zaid c, kesayangan Rasulullah n, untuk mencoba berbicara dengan beliau. Mereka berharap akan ada keringanan dari beliau hingga Fathimah terbebas dari hukum had yang hendak ditegakkan.
Usamah bin Zaid c datang menghadap Rasulullah n, menyampaikan keinginan Quraisy.
Akan tetapi, beliau n menyatakan dengan tegas, “Apakah kalian ingin meminta syafaat dalam penegakan hukum Allah l?!”
Setelah itu beliau bergegas berdiri di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan para sahabat, “Wahai manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tersesat karena dahulu ketika ada orang yang mulia mencuri mereka tidak menghukumnya, sedangkan itu apabila orang rendahan yang mencuri mereka tegakkan hukum had atasnya. Demi Allah! Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, sungguh Muhammad akan memotong tangannya!”

Demikianlah. Akhirnya ditegakkan hukum Allah l atas Fathimah bintu al-Aswad x. Tangannya dipotong, sebagaimana perintah Rasulullah n.
Fathimah bintu al-Aswad, semoga Allah l meridhainya….
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan
al-Isti’ab, al-Hafizh Ibnu Abdil Barr (8/269—270)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/250—251)