Majalah Islam Asy-Syariah http://asysyariah.com Khazanah Ilmu-ilmu Islam Ilmiah di atas Sunnah Tue, 10 Oct 2017 00:22:14 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.2 Hamba-hamba Ar-Rahman http://asysyariah.com/hamba-hamba-ar-rahman/ Thu, 10 Aug 2017 05:02:59 +0000 http://asysyariah.com/?p=9907 Surah al-Furqan adalah salah satu surah yang biasa kita baca atau bahkan kita hafal dari al-Qur’an yang mulia, kalam Rabbul Alamin.

Surah ini dinamakan al-Furqan yang bermakna pembeda (antara yang haq dengan yang batil) karena ayat pertama memuat kata tersebut,

http://bekpekberdua.com/?p=business-plan-for-gift-shop تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

        “Mahasuci Dzat yang telah menurunkan al-Furqan (yakni al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi peringatan bagi segenap alam.” http://ranchobanchetti.com/?p=write-my-admissions-essay (al-Furqan: 1)

 

Saudariku muslimah…

Entah sudah berapa kali kita menamatkan bacaan surah tersebut bila mengkhatamkan al-Qur’an merupakan kebiasaan kita. Namun, adakah sesuatu yang kita dapat dari surah tersebut yang bisa menjadi bahan renungan?

Tentu saja, jawabannya, banyak sekali! Nah, kita ingin membicarakan salah satunya, yaitu ayat-ayat yang memuat sifat-sifat para hamba Allah Yang Maha Penyayang (ar-Rahman), yang selanjutnya kita sebut dengan ‘ibadurrahman.

Al-Allamah al-Muhaddits Imam aljarh wat ta’dil zaman ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali—semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga beliau dan memanjangkan usianya dalam berkhidmat kepada sunnah—pernah menyampaikan keterangan tentang ayat-ayat tersebut dalam beberapa majelis di rumah beliau pada Ramadhan 1430 H.

Terkesan dengan keterangan beliau, kami menyusun tulisan ini dengan berbekal sebuah kitab yang memuat keterangan beliau yang berjudul Nafahat al-Huda wa al-Iman min Majalis al-Qur’an (hlm. 437—449).

Bacalah terlebih dahulu surah al-Furqan ayat 63—76. Itulah ayat-ayat yang memuat sifat-sifat ‘ibadurrahman, akhlak mereka, dan interaksi mereka dengan Rabb mereka serta dengan sesama manusia.

 

http://www.suannmotorandpump.com.au/phd-application-essay-education/ phd application essay education Tawadhu dalam Berjalan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

go وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا

        “Dan hamba-hamba ar-Rahman itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” get link (al-Furqan: 63)

Berjalan dengan rendah hati yang mereka lakukan tumbuh dari sifat tawadhu’ kepada Allah ‘azza wa jalla. Sifat ini adalah satu sifat yang terpuji dalam agama ini, bahkan terpuji dalam seluruh ajaran agama terdahulu. Tengoklah salah satu wasiat Luqman kepada putranya terkait adab ini.

http://occasionzgifts.com/?p=custom-research-proposal وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan angkuh (merasa besar diri/tinggi hati).” business plan custom jewelry (Luqman:18)

Dalam surah al-Isra’, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

http://04.ma/?p=help-with-sociology-coursework وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧

        “Janganlah engkau berjalan di atas bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali tidak pula engkau bisa mencapai tingginya gunung-gunung.” http://www.kstechnologybd.com/christoph-simons-dissertation/ christoph simons dissertation (al-Isra’: http://vaygaptrongngay.com/pay-to-have-coursework-done/ 37)

Ayat ini menunjukkan Allah ‘azza wa jalla menghinakan orang yang angkuh yang merasa dirinya besar, “Siapa kamu hingga kamu merasa besar diri dan meremehkan orang lain? Bukankah kamu tidak bisa mencapai tingginya gunung-gunung?”

Adapun ‘ibadurrahman berjalan di atas bumi-Nya Allah ‘azza wa jalla ini dengan penuh tawadhu kepada Allah ‘azza wa jalla , menghinakan diri di hadapan-Nya ‘azza wa jalla, dan rendah hati kepada orang-orang beriman.

Mereka berjalan dengan tenang, penuh kesantunan, tanpa dibuat-buat, sebagaimana orang sombong berjalan dengan gaya yang dibuat-buat.

 

Best College Application Essay Service Desk Tidak Membalas Kebodohan dengan Kebodohan

Karena sempurnanya akhlak dan mulianya jiwa mereka, mereka tidak membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada mereka dengan keburukan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

link وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣

“Jika orang-orang bodoh mengajak bicara mereka (menujukan kepada mereka ucapan-ucapan buruk), mereka mengatakan, ‘salaman’ (perkataan yang baik).” do students have too much homework (al-Furqan: 63)

Mereka menjaga lisan mereka dari dosa dan dari ucapan yang dapat mencacati kehormatan dan kemuliaan mereka dengan tidak membalas ucapan buruk dengan keburukan.

Sebab, melayani perkataan buruk dari orang-orang bodoh yang tidak paham kemuliaan jiwa, akan mencacati kemuliaan orang-orang yang cerdas. Walaupun orang-orang bodoh itu mencaci dan menujukan kata-kata keji kepada mereka, mereka justru membalasnya dengan akhlak yang tinggi berupa kesabaran, kelembutan, dan ucapan yang baik. Saat dicaci orang bodoh, sebagian orang yang mulia berkata, “Assalamu ‘alaikum.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

click سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥

        “Salamun ‘alaikum, kami tidak ingin bergaul (melayani) orang-orang jahil.” http://alcbahamas.org/buy-college-application-essay-introduction/ (al-Qashash: 55)

Janganlah engkau menjadi orang bodoh yang membalas cacian dengan cacian. Akan tetapi, tetaplah tenang dan sabar. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

        “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Balaslah (keburukan itu) dengan yang lebih baik. (Jika engkau berbuat demikian) engkau dapati orang yang tadinya antara engkau dan dia ada permusuhan, (di belakang hari) seolah-olah merupakan teman yang sangat setia. Sifat itu (membalas keburukan dengan kebaikan) tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan kecuali kepada orang yang memiliki keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34—35)

Inilah akhlak yang diajarkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kita. Dia menerangkan sifat-sifat kekasih dan hamba-hamba pilihan-Nya agar kita menirunya.

Ayat ke-63 dari surah al-Furqan di atas memuat dua interaksi yang dilakukan hamba: dengan Allah ‘azza wa jalla dan dengan sesama hamba Allah ‘azza wa jalla.

 

Menggunakan Sebagian Malamnya untuk Shalat

Ayat berikutnya (ayat 64) dalam surah al-Furqan khusus menyebutkan hubungan hamba dengan Rabbnya,

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤

        “Orang-orang yang bermalam untuk Rabb mereka dengan banyak sujud dan berdiri.” (al-Furqan: 64)

Mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan qiyamul lail.

Bermalam untuk Rabb mereka’, bukanlah maknanya mereka shalat sepanjang malam, tetapi sebagian waktu malam, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa?

Karena syariat agama kita ini mudah dan ringan, tidak memberati pemeluknya. Islam adalah agama yang pertengahan antara sifat meremehkan dan sifat berlebih-lebihan.

Karena itulah, tatkala sebagian sahabat ingin membebani diri dengan ibadah tertentu, ada yang berkata, “Aku akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur.”

Yang lain berkata, “Aku akan selalu berpuasa dan tidak pernah berbuka.”

Yang satunya lagi berkata, “Aku akan fokus ibadah dan tidak akan menikah.”

Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada mereka dengan menyatakan,

        مَا بَالُ أَقْوَامٌ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنّيِ أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Mengapa orang-orang itu mengatakan ini dan itu? Aku shalat dan aku juga tidur. Aku puasa dan aku juga berbuka. Aku pun menikahi banyak wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukanlah temasuk golonganku.” (HR. al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401 dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dan ini adalah lafadz Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan puasa dan shalat yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla, dalam sabda beliau kepada Abdullah ibn Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma,

        أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرَ يَوْمًا. وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Puasa yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam berpuasa sehari dan berbuka (tidak puasa) sehari. Shalat (malam) yang paling Allah ‘azza wa jalla cintai adalah shalat Dawud ‘alaihissalam. Beliau tidur separuh malam dan bangun shalat (setelahnya) selama dua pertiga malam dan tidur lagi (setelah shalat) seperenam malam (yang tersisa).” (HR. al-Bukhari no. 3420 dan Muslim no. 1159)

 ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan penuh khusyuk. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢

        “Sungguh, beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) mereka yang khusyuk dalam mengerjakan shalat.” (al-Mukminun: 1—2)

Senantiasa Berdoa agar Dijauhkan dari Neraka

        ‘Ibadurrahman mengimani adanya surga dan neraka. Mereka yakin akan dahsyatnya azab neraka dan kesengsaraan para penghuninya, hingga mereka memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari neraka. Doa yang mereka lantunkan,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥

        Dan orang-orang yang berdoa, “Wahai Rabb kami, palingkanlah dari kami (jauhkanlah) azab Janannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal.” (al-Furqan: 65)

Orang-orang kafir akan diazab dalam neraka selama-lamanya. Azab itu senantiasa menyertai mereka. Mereka ingin rehat walau sebentar dari azab, namun tidak mereka dapatkan.

Mereka tidak mati dalam neraka, namun hidup yang semestinya pun tidak. Mereka terus diazab sebagai balasan kekufuran mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, kesyirikan mereka, dan gelimang maksiat saat hidup di dunia.

Adapun hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang saat di dunia beriman kepada-Nya, beramal saleh, menjauhi perbuatan buruk dan tercela—terutama kekafiran—sembari memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari api neraka. Sebab, seseorang tidak bisa menjamin dirinya selamat dari azab, apa pun amalannya.

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan satu doa untuk dibaca pada akhir setiap shalat sebelum salam, baik shalat fardhu atau nafilah, sebagaimana yang tersampaikan lewat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الَحْمْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahhud akhir, hendaknya dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (yaitu); dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Muslim no. 588)

 ‘Ibadurrahman tidaklah teperdaya dan silau dengan iman, amal saleh, dan ibadah mereka yang banyak. Mereka juga tidak tertipu oleh qiyamul lail yang mereka lakukan hingga dengan percaya diri mengatakan, “Kami pantas masuk surga dengan kelebihan yang ada pada kami.” Hal itu sebagaimana yang terjadi pada orang-orang dungu, ahlul bid’ah dan kesesatan, yang merasa yakin masuk surga.

Becerminlah kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul, yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka tidak merasa aman dengan diri-diri

mereka.

Seorang tabi’in, Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan menimpa diri-diri mereka.”

Demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dia tidak merasa aman terhadap dirinya, tidak bangga diri dan membanggakan amalnya.

Kata al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Tidaklah khawatir dari kemunafikan, kecuali seorang mukmin. Tidak ada yang merasa aman dari tertimpa kemunafikan, kecuali seorang munafik.”

Sungguh, kita tidak merasa aman dengan diri kita.

أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩٩

        “Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

Perbanyaklah berdoa,

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا

        “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau simpangkan kalbu kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.” (Ali Imran: 8)

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan kalbu, tetap kokohkanlah kalbu kami di atas agama-Mu.”

Tidak ada jaminan bagi kita hingga bisa merasa aman dari azab. Siapa kita bila dibandingkan dengan sahabat mulia, Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Meski telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetap saja Umar merasa takut akan nasibnya. Karena itu, menjelang wafatnya beliau berkata,

        وَاللهِ لَوْ أَنَّ لِي طِلاَعَ الْأَرْضِ ذَهَبًا لَافْتَدَيْتُ بِهِ مْنَ عَذَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ أَرَاهُ

“Demi Allah,seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya aku akan jadikan tebusanku dari azab Allah sebelum aku melihatnya.”

Bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tidak takut, sementara azab neraka demikian pedih.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦

        “Sesungguhnya neraka itu sejelek-jelek tempat menetap dan tempat berdiam.” (al-Furqan: 66)

Apabila neraka merupakan tempat yang demikian buruk, jangan tanya tentang nasib penghuninya. Neraka adalah rumah abadi bagi orang-orang kafir, tempat azab yang pedih yang tidak sanggup kita bayangkan.

وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

        “Bahan bakar neraka adalah manusia dan batu. Di atasnya ada para malaikat (penyiksa) yang keras, kasar, dan kaku. Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah dalam apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jangan dikira api neraka sama dengan api di dunia. Api dunia hanyalah sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوْقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam (manusia) ini adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. al-Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843, ini adalah lafadz riwayat Muslim)

Pernah pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan,

اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٌ فِي الصَّيْفِ. فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ

Neraka mengeluh kepada Rabbnya dengan berkata, “Duhai Rabbku, sebagian aku melahap sebagian yang lain.”

Allah pun mengizinkan neraka untuk bernapas dua kali; satu napas pada musim dingin dan satu napas pada musim panas. Panas yang sangat yang kalian dapatkan dan dingin yang sangat yang kalian dapatkan (itu dari napas neraka). (HR. al-Bukhari no. 3260 dan Muslim no. 615 & 617, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّهَا تَرۡمِي بِشَرَرٖ كَٱلۡقَصۡرِ ٣٢  كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٞ صُفۡرٞ ٣٣

        “Sesungguhnya neraka itu melemparkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seakan-akan bunga api yang terlontar itu berupa iringan unta yang berwarna kuning.” (al-Mursalat: 32—33)

Ya Allah, lindungi kami dari api neraka-Mu!

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

]]>
Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat? http://asysyariah.com/apakah-rezeki-jodoh-sudah-tercatat/ Thu, 10 Aug 2017 04:56:33 +0000 http://asysyariah.com/?p=9905 Apakah Rezeki & Jodoh Sudah Tercatat?

Apakah rezeki dan jodoh sudah termaktub di Lauhul Mahfuzh? Apakah telah tercatat bahwa saya akan menikah dengan si Fulanah tertentu misalnya? Adakah rezeki itu ditentukan atau tergantung dengan usaha dan kepayahan seseorang? Apakah dalilnya?

asy-syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin rahimahullah menjawab:

“Sejak Allah ‘azza wa jalla menciptakan pena, segala sesuatu sampai hari kiamat sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Sebab, saat pertama kali menciptakan pena, Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada pena,

        اُكْتُبْ. قَالَ: رَبِّي وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَا هُوَ كَاِئنٌ. فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ مِمَّا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Tulislah!”

Pena bertanya, “Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis?”

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Tulislah apa saja yang akan terjadi.”

Berjalanlah pena pada saat itu menuliskan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.[1]

Ada kabar yang pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila telah berlalu empat bulan dari usia janin dalam rahim ibunya, Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang malaikat yang akan meniupkan ruh pada si janin dan menuliskan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya[2].

Rezeki sudah tercatat,tidak bertambah dan tidak berkurang. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki. Di antara sebabnya adalah seseorang bekerja untuk mencari rezeki, sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman,

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥

        “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)

Temasuk sebab pula adalah menyambung hubungan rahim (silaturahim) dalam bentuk birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan menyambung hubungan dengan kerabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

        “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung rahimnya (silaturahim).”[3]

Temasuk sebab beroleh rezeki adalah bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia ‘azza wa jalla janjikan dalam firman-Nya,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا  ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

        “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dan Allah akan beri rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)

Namun janganlah dikatakan bahwa rezeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan sebab-sebab (upaya) yang bisa menyampaikan kepada rezeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk kelemahan. Sikap yang cerdas dan menunjukkan kekokohan adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rezeki kita dan melakukan hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الْأَمَانِي

“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah yang mengikuti keinginan hawa nafsunya lantas mengharapkan dari Allah angan-angannya.”[4]

Sebagaimana rezeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Ia telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Tidaklah tersembunyi bagi Allah ‘azza wa jalla sesuatu pun yang ada di bumi dan yang ada di langit.

(Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 2/752)

 

Orang Tua Melarangku Menikahi Wanita Pilihanku

Saya seorang pemuda yang ingin menikah dan telah meminang seorang gadis yang bukan kerabat kami. Saya beritahukan hal itu kepada ayah dan ibu saya, namun ternyata keduanya menolak rencana pernikahan tersebut. Saya bersikeras tetap akan menikah dengan gadis tersebut.

Hanya saja (yang membuatku risau) ibuku mengancamku, “Jika kamu sampai menikahi gadis tersebut, ibu tidak akan memaafkan kamu di dunia dan di akhirat. Jangan kamu berhubungan lagi dengan kami selama-lamanya.”

Sikap saudara dan ayahku sama dengan sikap ibu, mereka semua menolak pernikahan tersebut. Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka menolak rencana pernikahanku tersebut. Menurut saya, tidak ada sesuatu dari gadis itu yang dapat menjadi alasan untuk meninggalkannya, sehingga saya bersikukuh untuk menikahinya.

Pertanyaan saya, apakah saya berdosa jika menikahi gadis itu? Apakah perbuatan saya ini dianggap durhaka kepada ibu saya? Berilah saya fatwa, apa yang harus saya lakukan, menikahinya atau meninggalkannya?

asy-syaikh shalih bin Fauzan al-fauzan hafizhahullah menjawab:

“Selama kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu sepakat untuk menentang pernikahanmu dengan gadis tersebut, padahal mereka adalah orang yang paling menginginkan kebaikan untukmu dan paling menyayangimu, (turutilah mereka).

Seandainya mereka tidak mengetahui ada sesuatu yang tidak pantas pada si gadis, niscaya mereka tidak akan melarangmu untuk menikahinya. Terkhusus kedua orang tuamu, kasih sayang kedua orang tua dan semangat keduanya agar anaknya mendapat kebaikan (amatlah besar).

Tidak sepantasnya engkau menikahi gadis itu karena mereka (orang tua dan saudara-saudaramu) telah memperingatkan dan menasihatimu untuk tidak menikahinya. Bukankah perempuan lain masih banyak (yang bisa engkau peristri)?

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah ‘azza wa jalla, niscaya Dia gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Ketaatanmu kepada kedua orang tuamu dan saudara-saudaramu itu lebih baik bagimu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦

“Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal dia lebih baik bagi kalian. Bisa jadi pula, kalian mencintai sesuatu padahal dia lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.”  (al-Baqarah: 216)

(al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 3/213— 214)

[1] HR. at-Tirmidzi no. 3319, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 133.

[2] HR.al-Bukhari dan Muslim.

[3] HR. al-Bukhari.

[4] HR. at-Tirmidzi no. 2459, namun hadits ini dinyatakan dhaif oleh asy-Syaikh Albani rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin no. 67.

]]>
Rumahmu Tetap Istanamu http://asysyariah.com/rumahmu-tetap-istanamu/ Thu, 10 Aug 2017 04:47:28 +0000 http://asysyariah.com/?p=9903 Rumah yang dihuni satu keluarga yang bisa jadi terdiri dari ayah, ibu, kakek, nenek, dan anak-anak, atau dihuni lebih dari itu atau kurang, dalam lebih dari satu ayat al-Qur’an disandarkan (diidhafahkan –bhs. Arab) kepada wanita.

Salah satunya ayat ke-33 dari surah al-Ahzab,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…” (al-Ahzab: 33)

Seluruh ahli qiraah Madinah dan sebagian orang-orang Kufah membaca ayat di atas dengan memfathah huruf qaf, yaitu وَقَرْنَ. Asal katanya adalah al-qarar الْقَرَارُ yang berarti berdiam dan menetap selamanya tanpa berubah atau berpindah. Jadi, ayat di atas bermakna, “Tetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) berdiam di rumah-rumah kalian….”

Sementara itu, mayoritas ahli qiraah Kufah dan Bashrah membacanya dengan mengkasrah huruf qaf sehingga dibaca وَقِرْنَ. Asal katanya dari kata al-waqar الْوَقَارُ maknanya, “Jadilah kalian (wahai para istri Nabi), orang-orang yang tenang dan berwibawa di dalam rumah-rumah kalian….” (Jami’ al-Bayan fit Ta’wil al-Qur’an, 10/294)

Qiraah وَقَرْنَ mengungkapkan keadaan semestinya seorang wanita terhadap rumahnya, yaitu senantiasa menetap dan berdiam di dalamnya.

Al-Imam al-Jashshash rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa para wanita diperintah untuk terus tinggal dalam rumah dan dilarang untuk keluar.” (Ahkamul Qur’an, 3/471)

Sementara itu, qiraah وَقِرْنَ menunjukkan ketenangan dan kewibawaan yang menyertai seorang wanita yang selalu berdiam dalam rumahnya. Dengan senantiasa berdiam di dalam rumahnya, seorang wanita akan mendapatkan kenyamanan, ketenteraman, ketenangan, dan kewibawaan.

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menyandarkan pemilikan rumah kepada wanita, dalam hal ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Firman-Nya فِي بُيُوتِكُنَّ berarti “dalam rumah-rumah kalian”, sementara secara keumuman rumah adalah milik suami atau disewa oleh suami untuk dihuni istri dan anak-anaknya. Sebab, termasuk hak istri dari suaminya adalah mendapatkan tempat tinggal.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa rumah disandarkan pemilikannya kepada istri?

Rahasianya terletak pada perintah syariat agar wanita selalu menetap dalam rumah. Karena itu, rumah seakan-akan menjadi miliknya karena kuatnya keterkaitan wanita dengan rumah.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah membuat satu bab dalam kitab Shahihnya untuk ayat di atas, dengan judul “Bab Ma Ja’a fi Buyuti Azwajin Nabi wa Ma Nusiba minal Buyuti ilaihinna”. Artinya, bab keterangan tentang rumah-rumah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penyandaran rumah kepada mereka.

Kemudian beliau rahimahullah membawakan ayat ke-33 surah al-Ahzab dan menyusulkan dengan ayat

لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتَ ٱلنَّبِيِّ إِلَّآ أَن يُؤۡذَنَ لَكُمۡ

Janganlah kalian masuk ke rumah-rumah Nabi terkecuali kalian diizinkan….” (al-Ahzab: 53)

Seakan-akan al-Imam al-Bukhari tingin menerangkan, hakikatnya rumah-rumah yang dihuni para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rumah-rumah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, disandarkan kepemilikannya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan yang telah disebutkan di atas.

Ada tiga ayat lain dalam al-Qur’an yang menyebutkan penyandaran rumah kepada wanita.

  1. Surah Yusuf: 23

       وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ

“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya).”

  1. Surah al-Ahzab: 34

       وَٱذۡكُرۡنَ مَا يُتۡلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلۡحِكۡمَةِۚ

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di dalam rumah-rumah kalian (wahai istri-istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan hikmah….”

  1. Surah ath-Thalaq: 1

       لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ

“Janganlah kalian (para suami) mengusir mereka (para istri yang ditalak) dari rumah-rumah mereka….” (ath-Thalaq: 1)

Setelah memerintah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetap di dalam rumah mereka—yang juga berlaku untuk para muslimah selain mereka[1]—, Allah subhanahu wa ta’ala susulkan dengan larangan bertabarrruj. Apabila seorang wanita enggan diam di rumahnya, malah sering keluar rumah tanpa sebab yang dibolehkan syariat, hal itu akan mengantarkan dirinya untuk bertabarruj dan menampakkan perhiasannya kepada lelaki di luar rumah. Jadi, pantas sekali perintah berdiam di rumah digandengkan dengan larangan bertabarruj.

Berdiamnya wanita di dalam rumahnya adalah hukum asal. Ia adalah suatu kewajiban yang sepatutnya tidak dilanggar oleh wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهَا وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Sesungguhnya wanita itu aurat. Jika dia keluar rumah, maka setan akan menghias-hiasinya[2]. Sedekat-dekat keadaannya terhadap rahmat Rabbnya ialah saat ia di tengah-tengah rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1173, lihat Irwaul Ghalil no. 273)

Seorang wanita tidak boleh senang keluar rumah, sering mondar-mandir di jalanan, di pasar-pasar, di mal, atau keluar masuk rumah orang lain.

Apabila dia keluar rumah, haruslah karena suatu keperluan yang diperkenankan oleh syariat dan mengandung kemaslahatan agama, dengan tetap memerhatikan hijab yang syar’i dan menjaga rasa malu.

Dalil tentang hal ini adalah hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, dia menceritakan, “Saudah radhiallahu ‘anha keluar rumah untuk memenuhi hajatnya, setelah turun perintah berhijab. Saudah bertubuh besar sehingga tidak tersembunyi bagi orang yang mengenalinya.

“Suatu ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu melihatnya keluar rumah. Umar menegur, ‘Wahai Saudah, demi Allah, (walaupun engkau berhijab) engkau tidak tersembunyi bagi kami. Perhatikanlah bagaimana engkau keluar rumah’.”

Aisyah radhiallahu ‘anha melanjutkan, “Saudah pun pulang kembali. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di rumahku. Beliau sedang makan malam dan tangan beliau memegang tulang yang menempel padanya sedikit daging.

Saudah pun masuk seraya mengadu, ‘Wahai Rasulullah, aku tadi keluar rumah untuk menunaikan sebagian kebutuhanku. Saat melihatku, Umar berkata begini dan begitu…’.”

Aisyah kemudian berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala pun menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan tulang dengan sedikit daging masih di tangan beliau, belum lagi diletakkan. Selesai wahyu turun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ قَدْ أُذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَاجَتِكُنَّ

“Sungguh, telah diizinkan kepada kalian untuk keluar rumah guna memenuhi kebutuhan kalian.” (HR. al-Bukhari no. 4795)

Hadits ini menunjukkan bahwa izin keluar rumah dikaitkan dengan kebutuhan. Jadi, apabila tidak ada kebutuhan, seorang wanita tidak diperkenankan keluar dari rumahnya.

 

Seperti apa kebutuhan keluar rumah bagi wanita?

Al-Imam al-Alusi tmemberi contoh, seperti menjalankan ibadah haji, umrah, safar bersama suami/mahram untuk membantu dalam peperangan (mengobati prajurit yang luka, memberi minum pasukan yang kehausan, dan hal lain yang diperkenankan oleh syariat), mengunjungi kedua orang tua, menjenguk orang sakit, takziah kerabat yang wafat, dan semisalnya.

Hanya saja, dia keluar dengan tetap memerhatikan syarat-syaratnya seperti tidak memakai wangi-wangian, tidak berhias, tidak menimbulkan godaan, dsb. (Rauhul Ma’ani, 11/492, 495)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Walaupun pembicaraan dalam ayat di atas ditujukan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wanita selain mereka juga termasuk di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala menyebut secara khusus istri-istri Nabi-Nya sebagai pemuliaan bagi mereka. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 3/ 117).

[2] Menghias-hiasinya dalam pandangan lelaki sehingga mereka tergoda. Atau setan akan menghias-hiasi dalam diri si wanita bahwa dia cantik, indah, dsb., sehingga si wanita melenggak-lenggokkan tubuhnya atau berbuat sesuatu untuk menunjukkan dirinya menarik. (Tuhfatul Ahwadzi)

]]>
Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim http://asysyariah.com/mengajari-anak-mencintai-pemerintah-muslim/ Thu, 10 Aug 2017 04:33:19 +0000 http://asysyariah.com/?p=9901 Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.

Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….

Kita tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Bahkan kita mohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari itu semua.

Selain doa yang kita panjatkan, tentu ada upaya yang harus ditempuh oleh orang tua dalam membimbing anaknya. Kita harus mengetahui bimbingan syariat dalam hal ini. Sembari memohon pertolongan dan taufik dari Allah ‘azza wa jalla, kita akan menelaah masalah ini melalui kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.

Dalam poin pembahasan Tarbiyatuhum ‘ala Mahabbatil ‘Ulama wa Wulatil Amr dijelaskan bahwa di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu adalah mendidik anak-anak untuk mencintai ulama dan pemimpin negerinya.

Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham atau dinar, tetapi sematamata mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang melimpah dari warisan tersebut.

Di samping itu, apabila orang tua menanamkan pada diri anak sikap keraguan terhadap para ulama dan ilmu mereka, tidak menghormati mereka, serta menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan anak, semua ini akan menimbulkan bahaya besar bagi umat. Sebab, ilmu diambil dari para ulama, begitu juga syariat Islam diambil dari jalan mereka pula. Sikap yang demikian kadangkala akan membawa kehancuran bagi syariat Islam.

Ketika anak tumbuh dewasa kelak, dia akan mencari orang yang akan diambil ilmunya. Dia tidak akan mengambil dari para ulama, karena sudah dibuat ragu terhadap para ulama dan ilmu mereka. Mereka akan mengambil ilmu dari para ulama sesat dan orang-orang yang berpemikiran menyimpang. Akhirnya, anak akan menjadi alat untuk merusak masyarakat.

Adapun ulil amri adalah orang-orang yang menangani segala urusan rakyat, menegakkan syariat, memelihara stabilitas keamanan, serta menjaga persatuan kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan taatilah ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah para ulama dan penguasa. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di berbagai forum melakukan ghibah dan namimah terhadap penguasa. Mereka menyingkap dan mengungkap kesalahan-kesalahan mereka. Padahal kalau dia mau melihat kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri, niscaya lebih banyak daripada kesalahan penguasa yang dia ungkapkan. Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa jika dia memberitakan semua yang didengarnya.

Amat disayangkan pula, anak-anak duduk di majelis yang semacam ini. Mereka menyerap ucapan seperti ini dan tumbuh dewasa di atas kebencian terhadap para ulama dan penguasanya. Semua ini akan menjadi sebab timbulnya kerusakan, munculnya tuduhan bid’ah atau fasik terhadap ulama dan penguasa tanpa dilandasi ilmu.

Seringkali ucapan yang dinukil tentang ulama dan penguasa tersebut adalah kedustaan dan kebohongan, tanpa ada hujah dan bukti. Itu semata-mata propaganda musuh Islam dan musuh akidah yang murni ini.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah berkata, “Bukan merupakan manhaj salaf, perbuatan menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebut-nyebutnya di atas mimbar. Ini akan menyeret pada penentangan serta keengganan untuk mendengar dan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan tersebut juga akan menyebabkan sikap memberontak yang amat berbahaya dan sama sekali tak ada manfaatnya.

“Jalan yang ditempuh oleh para salaf adalah menasihati penguasa secara empat mata, menulis surat kepada mereka, atau menyampaikannya melalui para ulama yang dapat menyampaikan hal itu kepada penguasa, sehingga ulama tersebut bisa mengarahkan sang penguasa pada kebaikan.” (al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqah bainal Hakim wal Mahkum, hlm. 22)

Manhaj salaf dalam menyikapi kesalahan penguasa adalah tidak mengingkari kemungkaran penguasa secara terbuka, tidak pula menyebarkan kesalahan-kesalahan penguasa di hadapan banyak orang. Sebab tindakan tersebut bisa menyeret pada berbagai hal buruk yang lebih besar, dan berujung pemberontakan kepada penguasa.

Pernah ada yang bertanya kepada Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, “Mengapa Anda tidak menemui Utsman untuk menasihatinya?”

Usamah pun menjawab, “Apakah kalian anggap aku ini harus memperdengarkan kepada kalian jika aku menasihatinya? Sungguh, aku telah menasihatinya empat mata. Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka (secara terang-terangan, -ed.) suatu perkara!” (Dikeluarkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, 36/117, 21784, al-Bukhari no. 3267, Muslim no. 2989; dan lafadz ini dalam riwayat Muslim)

Diterangkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh Usamah, beliau tidak ingin membuka pintu mujaharah (terang-terangan) mengingkari penguasa, karena mengkhawatirkan berbagai dampak buruknya. Beliau justru bersikap lemah-lembut dan menasihatinya secara diam-diam.

Sebab, nasihat dengan cara seperti ini lebih layak diterima.” (Dinukil dalam Fathul Bari, 13/67, 7098)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Ada orang-orang yang setiap majelisnya berisi pembicaraan jelek terhadap penguasa, menjatuhkan kehormatan mereka, menyebarkan keburukan dan kesalahan mereka, tanpa memedulikan sama sekali berbagai kebaikan dan kebenaran yang ada pada penguasa tersebut. Tidak diragukan lagi, melakukan cara-cara seperti ini dan menjatuhkan kehormatan penguasa tidak akan menambah apa-apa selain memperberat masalah.

“Cara seperti ini tidak bisa memberikan solusi dan tidak melenyapkan kezaliman. Ia justru hanya menambah musibah bagi suatu negeri, menimbulkan kebencian dan antipati terhadap pemerintah, serta memunculkan keengganan untuk melaksanakan perintah penguasa yang seharusnya wajib ditaati.”

“Tidaklah kita ragukan bahwa terkadang pemerintah melakukan hal-hal yang negatif atau berbuat kesalahan, seperti halnya anak Adam yang lainnya. Setiap anak Adam pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah yang banyak bertobat (sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kita pun tidak menyangsikan bahwa kita tidak boleh mendiamkan seorang pun yang berbuat kesalahan. Semestinya kita menunaikan kewajiban nasihat bagi Allah ‘azza wa jalla, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah muslimin, serta bagi seluruh kaum muslimin sesuai kemampuan kita.”

“Apabila kita melihat kesalahan penguasa, kita sampaikan secara langsung, baik melalui lisan maupun tulisan yang ditujukan kepada mereka (bukan dengan mengumbar aib mereka di hadapan khalayak, di mimbar-mimbar atau media massa), menasihati mereka dengan menempuh jalan yang paling dekat untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka dan menerangkan kesalahan mereka. Kemudian kita beri nasihat, kita ingatkan kewajiban mereka agar menunaikan dengan sempurna hak orang-orang yang ada di bawah kekuasaan mereka dan menghentikan kezaliman mereka terhadap rakyatnya.” (Wujubu Tha’atis Sulthan fi Ghairi Ma’shiyatir Rahman, hlm.23—24)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Membicarakan aib penguasa adalah perbuatan ghibah dan namimah, di mana keduanya adalah keharaman terbesar setelah syirik. Apalagi jika ghibah atau namimah itu ditujukan pada ulama dan penguasa, ini lebih parah lagi. Sebab, bisa menyeret pada berbagai kerusakan: memecah-belah persatuan, buruk sangka terhadap pemerintah, dan menumbuhkan pesimisme serta keputusasaan pada diri rakyat.” (al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah, hlm. 60)

Tentang masalah ini, para ulama Ahlus Sunnah—baik yang terdahulu maupun sekarang—berdalil dengan hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

  1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat pada penguasanya sesuatu yang dia benci, hendaknya dia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jamaah (penguasa) satu jengkal saja lalu dia mati, matinya seperti mati orang jahiliah.”[1]

 

  1. Dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي السُّلْطَانِ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَإِنْ سَمِعَ مِنْهُ فَذَلِكَ، وَإِ كَانَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah dia sampaikan secara terbuka. Hendaknya dia gamit tangan penguasa itu (untuk menasihatinya secara diam-diam). Jika penguasa itu mau mendengar (nasihatnya –pen.), itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajibannya.”[2]

 

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا :قَالَ رَسُولُ اللهِ: لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَ تَغُشُّوهُمْ، وَ تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ، وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

“Dahulu kami dilarang oleh para tokoh kami dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan mengkhianati mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat’.”[3]

 

  1. Dari Ziyad al-‘Ad i , beliau menceritakan, “Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang saat itu sedang berkhutbah sembari mengenakan pakaian sutra.

Abu Bilal berkata, ‘Coba kalian lihat pimpinan kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasik!’

Abu Bakrah pun menyahut, ‘Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa menghinakan penguasa Allah di dunia, niscaya Allah akan hinakan dia.”[4]

 

Demikian ini adalah pengajaran dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap hamba, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ditanamkan kepada anak-anaknya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

(Diterjemahkan dari kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah, karya ‘Abdus Salam bin ‘Abdillah as-Sulaiman, hlm.39—42, oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

[1] HR. al-Imam Ahmad (4/290)(2487), al-Imam al-Bukhari (7053,7143), dan al-Imam Muslim (1849)(55).

[2] HR. al-Imam Ahmad (24/48-49)(15333) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/507)(1096).

[3] HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/474)(1015) dan al-Baihaqi dalam al-Jami’ li Syu’abil Iman (10/27) (7117).

[4] HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (34/79)(20433), at-Tirmidzi (2224) dan lafadz ini dalam riwayat beliau. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

]]>
Keistimewaan Pernikahan http://asysyariah.com/keistimewaan-pernikahan/ Thu, 10 Aug 2017 04:26:04 +0000 http://asysyariah.com/?p=9899 Pernikahan yang disyariatkan Allah ‘azza wa jalla untuk para hamba-Nya merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat-Nya yang agung. Dengan pernikahan, akan tercapai maslahat dan manfaat yang tak terhingga.

Allah ‘azza wa jalla mengaitkan pernikahan dengan banyak hukum syar’i berikut hak dan kewajibannya. Allah ‘azza wa jalla juga menjadikannya sebagai bagian dari sunnah para rasul dan jalan para hamba yang saleh, di samping sebagai kebutuhan mendasar segenap insan.

Ada banyak keutamaan dan kelebihan pernikahan bila dibanding dengan akad-akad perjanjian yang selainnya. Untuk masuk ke dalam akad pernikahan ada syarat-syarat dan adabnya. Untuk keluar pun, ada batasan dan pintunya.

Di antara keistimewaan pernikahan adalah sebagai berikut.

  1. Pernikahan merupakan syariat yang diperintahkan.

Hukumnya bisa jadi wajib atau mustahab, tergantung pada kondisi yang ada.

 

  1. Dihalalkan bagi seorang lelaki memandang wanita ajnabiyah (nonmahram) saat ingin meminang wanita.

Sementara itu, di luar prosesi nazhar memandang a jnabiyah hukumnya haram. Nazhar dimaksudkan untuk mendapatkan kecocokan dan kemantapan menikahi si wanita.

 

  1. Penetap syariat memerintahkan untuk memilih pasangan yang memiliki sifat-sifat kebaikan dalam agama; sifat-sifat aqliyah (pandai, cakap), dan akhlak yang indah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ

        “Nikahilah wanita-wanita yang menyenangkan bagi kalian.” (an-Nisa’: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِحسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ

 “Wanita itu dinikahi karena empat sebab; karena keturunannya (nasab), hartanya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yaminuk.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran untuk memerhatikan sisi agama sebelum sisi lain, karena agama akan memperbaiki urusan yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Wanita yang baik agamanya tentu akan menjaga kehormatannya untuk suaminya, menjaga harta suami, anak-anak, dan seluruh yang terkait dengan suaminya.

 

  1. Seluruh akad selain nikah boleh dilakukan berapa kali pun tanpa pembatasan bilangan.

Adapun pernikahan, seorang lelaki hanya diperbolehkan mengumpulkan empat istri, tidak boleh lebih. Sebab, pernikahan adalah urusan yang mulia. Selain itu, dikhawatirkan seseorang akan menanggung kewajiban di luar batas kemampuannya. Di samping itu, karena memerhatikan kemaslahatan bagi istri.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

        “Jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil (di antara para istri), nikahilah seorang istri saja atau budak wanita yang kalian miliki….” (an-Nisa: 3)

 

  1. Seseorang tidak bisa masuk dalam ikatan pernikahan terkecuali dengan ijab dan qabul sebagai rukun nikah.

Yang dimaksud ijab adalah ucapan wali mempelai wanita,

زَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُكَ فُلَانَةَ

“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah,” atau kalimat yang semisalnya.

Qabul adalah ucapan mempelai pria,

قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ زَوَاجَهَا

“Aku terima nikahnya,” atau kalimat semisalnya.

Adapun akad selain nikah, sudah terlaksana dengan ucapan dan perbuatan.

 

  1. Dalam akad nikah, harus dinyatakan secara tertentu, siapa mempelai pria dan siapa mempelai wanitanya; jelas menunjuk orangnya, namanya, ataupun ciri dan sifat pengenalnya.

Untuk mempelai wanita, disebutkan dengan ucapan wali nikah, “Aku nikahkan engkau dengan putriku yang bernama Fulanah.” Disebut namanya dan dibedakan dari yang lain atau disebutkan sifatnya seperti, “Aku nikahkan engkau dengan putri sulungku,” “putri bungsuku”, atau hanya disebut ‘putriku’; apabila si wali tidak memiliki putri selainnya.

Adapun penentuan mempelai pria dari dua sisi:

  • Saat meminang calon mempelai wanita.

Tidak cukup keluarga calon mempelai pria atau wakilnya mengatakan kepada keluarga si wanita, “Aku ingin meminang Fulanah untuk salah satu putraku, saudara laki-lakiku, atau untuk salah seorang pria dari Bani Fulan.”

Akan tetapi, harus disebutkan siapa lelaki yang akan menjadi mempelai pria tersebut.

  • Waktu qabul.

Jika mempelai pria itu sendiri yang menjawab ijab, dia berkata, “Aku terima dia,atau, “Aku terima nikahnya dia.”

Apabila perwakilan mempelai pria yang berhadapan dengan wali, saat ijab wali harus berkata, “Aku nikahkan Fulan yang mewakilkan kepadamu, dengan putriku.”

Wali mempelai perempuan tidak boleh berkata kepada si wakil, “Aku nikahkan engkau….”

Saat qabul si wakil berkata, “Aku terima untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku,” atau, “Aku terima dia untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku.”

Sementara itu, pada akad-akad lain, hal seperti ini tidaklah menjadi persyaratan.

 

  1. Dipersyaratkan harus ada minimal dua saksi yang adil dalam akad nikah.

Adapun akad-akad yang lain tidak wajib dihadirkan saksi, hukumnya sunnah.

 

  1. Dipersyaratkan adanya wali dalam pernikahan.

Pernikahan tidak sah tanpa adanya wali. Yang menjadi wali nikah adalah ayah si wanita. Jika ayah berhalangan atau tidak ada lagi, digantikan oleh pihak lelaki dari garis ayah (‘ashabah) yang paling dekat kekerabatannya dengan si wanita. Jika semua tidak ada, hakim/pemerintah yang menjadi walinya.

Secerdas dan secakap apa pun seorang wanita, dia tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan akad-akad yang lain, pengurusan baru diserahkan kepada wali apabila seseorang yang hendak melakukan akad tersebut kurang akalnya sehingga tidak cakap untuk bertindak, saat itulah walinya yang berperan mewakilinya. Jika dia seorang yang cakap, dia bebas mengurusi sendiri akadnya dan bertanggung jawab atas tindak-tanduknya.

 

  1. Apabila hendak menikahkan gadis kecil berusia sembilan tahun yang di bawah perwaliannya, wali selain ayah harus meminta izin kepada si gadis.

Berbeda halnya dengan akad jual beli; wali anak yang masih kecil dan belum cakap tidak wajib meminta izin kepada si anak saat hendak berbuat terhadap harta si anak, baik membeli maupun menjual sesuatu dari hartanya.

 

  1. Ada akad-akad lain yang harus memberi ganti dan ada pula tanpa ganti alias gratis, pemberian dengan suka rela.

Sementara itu, dalam akad nikah harus ada penyerahan sesuatu dari pihak lelaki kepada pihak wanita yang disebut mahar, sedikit atau banyak.

Jika mahar itu disebutkan atau ditentukan, wajib ditunaikan sebagaimana yang disebutkan. Jika mahar tidak disebutkan, pihak lelaki harus memberikan mahar yang sesuai untuk si wanita dengan melihat wanita-wanita yang setaraf dengannya dalam hal kecantikan, harta, agama, kecerdasan dan sifat-sifat yang lain, berapa biasanya mahar yang diberikan kepada mereka.

Jika dipersyaratkan tidak ada mahar dalam suatu pernikahan, syarat tersebut batil, tidak boleh ditunaikan. Mahar adalah suatu kemestian dalam akad nikah, bisa dalam bentuk harta, kemanfaatan agama[1], atau kemanfaatan duniawi[2].

 

  1. Dalam urusan pernikahan, penetap syariat membagi wanita menjadi dua macam[3].
  2. Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan/nasab, karena penyusuan, atau hubungan kekeluargaan yang terjalin lewat pernikahan.
  3. Wanita-wanita yang halal untuk dinikahi, yaitu selain yang di atas. Untuk yang haram dinikahi, berikut perinciannya.

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab adalah:

– ibu kandung, nenek kandung dan seterusnya ke atas.

– putri kandung, cucu perempuan dari anak kandung, dan seterusnya ke bawah.

– keturunan ayah dan ibu dan seterusnya ke bawah, seperti: saudari perempuan, anak-anak perempuan mereka (keponakan), anak-anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan).

– saudari perempuan ayah dan ibu (disebut dalam bahasa Arab; amah untuk saudari ayah dan khalah untuk saudari ibu).

Selain mereka yang disebutkan di atas dari kalangan kerabat maka halal dinikahi, seperti putri paman dari pihak ayah maupun ibu, putri bibi dari pihak ayah maupun ibu (sepupu atau saudara misan).

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan penyusuan adalah sama dengan wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab dari pihak ibu susu dan ayah susu, dengan syarat terjadi minimal lima kali penyusuan dalam masa usia menyusu (kurang dari dua tahun).

Adapun anak susu, hubungan kemahramannya dengan keluarga susunya tidak tersebar kepada keluarga senasabnya kecuali sebatas dirinya sendiri dan anak keturunannya seterusnya ke bawah.

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan pernikahan (mushaharah) adalah:

– istri ayah (ibu tiri) dan seterusnya ke atas (ibu mertua ayah, dst)

– istri anak kandung (menantu) dan seterusnya ke bawah.

– ibu istri (ibu mertua) dan seterusnya ke atas.

Para wanita yang telah disebutkan ini haram dinikahi dengan semata-mata adanya akad nikah.

Ada yang selainnya, tetapi keharamannya tidak semata dengan akad nikah, namun dipersyaratkan telah terjadi ‘dukhul’ (mempelai pria mencampuri wanita yang telah resmi menjadi istrinya), yaitu anak-anak perempuan istri. Jika si lelaki telah ‘dukhul’ dengan si ibu, putri-putri si ibu dari pernikahan dengan selain si lelaki, haram dinikahi oleh si lelaki. Namun, jika belum sempat ‘dukhul’ lantas pernikahan berakhir, dibolehkan bagi si lelaki menikahi putri mantan istrinya.

Semua wanita yang telah disebutkan di atas, baik karena hubungan nasab, karena penyusuan, ataupun karena mushaharah, haram dinikahi selama-lamanya atau diistilahkan tahrim muabbad.[4]

Ada pula wanita-wanita yang haram dinikahi namun pengharamannya tidak selamanya, diistilahkan tahrim ila amad (haram sampai waktu tertentu), seperti saudari perempuan istri (ipar perempuan) dan bibinya istri (dari pihak ayah maupun dari pihak ibunya).

Selama seorang lelaki masih bersama istrinya dalam ikatan pernikahan, haram bagi si lelaki menikah lagi (berpoligami) dengan ipar perempuannya atau bibi istrinya, karena dikhawatirkan akan merusak hubungan si istri dengan saudari/kerabatnya dan dikhawatirkan si suami tidak dapat menunaikan kewajibannya dengan semestinya.

Adapun apabila telah bercerai, baik cerai hidup maupun cerai mati, halal baginya menikahi bekas iparnya atau bibi mantan istrinya.

Diharamkan pula menikahi wanita yang masih berstatus istri orang, istri orang yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya[5], atau karena talak raj’i (talak satu dan dua)[6]. Pengharaman ini disebabkan masih tersisanya hak suami pertama terhadap wanita tersebut.

Satu lagi wanita yang haram dinikahi, yaitu wanita muhrimah. Yang dimaksud muhrimah adalah wanita yang sedang berihram haji atau umrah. Dia haram dinikahi sampai tahallul dari ihramnya[7].

Termasuk yang haram dinikahi adalah wanita kafir selain ahlul kitab. Adapun wanita muslimah haram dinikahi oleh lelaki kafir secara mutlak, ahlul kitab atau selainnya[8].

 

  1. Terjalinnya akad nikah menyebabkan ada wanita-wanita dari kerabat istri yang haram dinikahi selama-lamanya (tahrim mu’abbad), seperti ibunya istri (mertua).

Hal ini tetap berlaku walaupun pernikahan itu berujung perceraian. Saat masa iddah telah habis, si istri akan menjadi ajnabiyah (bukan mahram lagi bagi mantan suaminya).

Adapun akad-akad yang lain, hukum pemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu, hanya terkait dengan orang yang melakukan akad, tidak terkena kepada selainnya.

 

  1. Untuk keluar dari pernikahan, ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuannya.

Apabila seorang suami berniat menceraikan istrinya, dianjurkan sebelumnya untuk bersabar, tidak terburu-buru menjatuhkan talak. Sebab, bisa jadi dengan tetap menahan istrinya dalam pernikahan, Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan untuknya kebaikan yang besar.

Apabila seorang suami memang harus menceraikan istrinya, tidak bisa lagi bersabar bersamanya, dia harus menceraikannya pada saat si istri bisa menghadapi masa iddahnya dengan semestinya. Maksudnya, saat ditalak, si istri langsung bisa menghitung awal masa iddahnya dengan yakin.

Dengan demikian, suami tidak dibolehkan menceraikan istrinya di masa haid atau masa suci namun sudah digauli sampai dipastikan si istri hamil, karena dengan kehamilan tersebut diperoleh kepastian bahwa masa iddah akan berakhir dengan melahirkan.

Istri yang dalam masa suci belum digauli, apabila dijatuhkan talak padanya, dia bisa langsung menghadapi masa iddahnya dengan tiga kali quru’. Istri yang masih kecil yang belum mengalami haid dan istri yang sudah berhenti haid (menopause) bisa dijatuhkan talak padanya kapan saja. Sebab, keduanya bisa langsung menghadapi iddah tanpa terkait dengan haid. Hitungan iddah mereka adalah tiga bulan.[9]

Seorang suami hanya diberi kesempatan tiga kali menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak satu demi satu, apabila memang dibutuhkan[10]. Langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus tidak diperbolehkan.

Dibolehkan pula khulu’ dalam pernikahan apabila memang dibutuhkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ

“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

Dalam khulu’ ini, istri menyerahkan tebusan dirinya kepada si suami. Hal ini menunjukkan bahwa khulu’ termasuk perpisahan selamanya (seperti halnya talak bain, tidak ada rujuk lagi setelah itu)[11]. Khulu’ pun tidak terhitung dalam tiga kali talak. Artinya, talak berbeda dengan khulu’.

 

  1. Dalam hubungan yang terjalin karena pernikahan, apabila seorang suami menceraikan istrinya, selama masa iddah si istri tetap terkait dengan suaminya.

Ini tentu berbeda dengan hubungan karena selain pernikahan. Segala sesuatu apabila dipindahkan pemilikannya oleh seseorang dengan cara dijual, dihibahkan, atau lainnya, terputuslah keterkaitan si pemilik pertama yang telah memindahkan haknya tersebut. Pemilik kedua menjadi pihak yang menggantikan posisinya dalam hal kepemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu tersebut.

Apabila suami menjatuhkan talak raj’i kepada istrinya (sebelum talak tiga), selama masa iddah, si suami berhak merujuk istrinya tanpa memperbarui akad. Ikatan pernikahan pun kembali sebagaimana sedia kala. Selama masa iddah pula, istri tetap berhak mendapat nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

Apabila dalam masa iddah tersebut salah satunya meninggal dunia, yang hidup menjadi salah satu dari ahli warisnya.

Selama iddah tidak halal bagi lelaki lain meminang si istri, dengan sindiran apalagi secara terang-terangan.

Apabila talak yang dijatuhkan adalah talak bain, iddah yang dijalani istri adalah untuk pemenuhan hak suami yang menalaknya dan memastikan bersihnya rahim (istibra’ rahim) dari kemungkinan mengandung anak dari suami yang menalaknya.

Semua ini dilakukan untuk kehati-hatian dalam rangka menjaga hak anak dan hak suami berikutnya bila dia menikah lagi.

Selama iddah dari talak bain ini, tidak halal lelaki lain menikahinya atau meminangnya secara terang-terangan. Adapun meminang dengan kalimat sindiran[12] tidaklah terlarang.

 

  1. Dalam akad nikah tidak ada yang namanya khiyar majlis, khiyar ghabn, khiyar syarth[13] dan selainnya sebagaimana yang ditetapkan dalam akad jual beli.

Yang ada hanya khiyar ‘aib, yaitu jika salah seorang dari sepasang insan yang melangsungkan pernikahan nantinya mendapati cacat, aib, atau kekurangan pada pasangannya yang membuat ‘lari’ (tidak nyaman berdekatan dengannya) dia boleh memilih untuk melanjutkan pernikahan tersebut atau membatalkannya.

 

  1. Akad-akad yang lain harus ditentukan masa berlakunya, yakni sampai kapan dilangsungkan.

Adapun akad nikah, tidak halal ditetapkan batas waktunya. Apabila sampai terjadi penetapan waktu nikah, itu teranggap nikah mut’ah yang telah diharamkan dalam sunnah yang sahihah.

Pernikahan seharusnya diniatkan bertahan seumur hidup sampai maut memisahkan keduanya, terkecuali apabila tidak ada lagi kecocokan di antara keduanya.

 

  1. Dalam akad-akad yang lain dibolehkan bermuamalah dengan orang-orang kafir.

Dalam pernikahan, tidak boleh seorang lelaki kafir menikahi seorang wanita muslimah selama-lamanya. Demikian pula lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita kafir terkecuali wanita ahlul kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hikmahnya dinyatakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ

“Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”(al-Baqarah: 221)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Diringkas oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, karya al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di, hlm. 172—184, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal ‘Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, kitab yang berisi kumpulan fatwa sejumlah ulama terkemuka, hlm. 821—829. Catatan kaki dari yang meringkas)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Dalam hadits Sahl ibn Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, disebutkan ada seorang sahabat yang tidak memiliki harta walaupun hanya sebuah cincin dari besi untuk dijadikannya sebagai mahar pernikahannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Apa yang engkau hafal dari surah al-Qur’an?”

“Surah ini dan surah itu,” jawabnya menyebutkan beberapa surah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Kamu betul bisa membaca semua surah itu dari hafalanmu?”

Sahabat itu menjawab, “Ya.”

Rasulullah pun menikahkan sahabat tersebut dengan wanita yang ingin diperistrinya dengan mahar berupa pengajaran surah-surah al-Qur’an yang dihafalnya.

[2] Mahar berupa kemerdekaan dari perbudakan diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menikahi Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha. Kisahnya dibawakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam hadits yang muttafaq ‘alaihi.

[3] Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surah an-Nisa ayat 23—24 tentang wanita-wanita yang haram dinikahi sebagaimana dirinci di no. 11.

[4] Keharaman menikahi seorang wanita terbagi dua:

– haram dinikahi selamanya (tahrim mu’abbad)

– haram dinikahi dalam batas waktu tertentu (tahrim ila amdin).

[5] Iddahnya selama 4 bulan 10 hari, bila dia tidak sedang hamil sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 234.

Adapun bila dia mengandung, iddahnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, dengan dalil firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah ath-Thalaq ayat 4.

[6] Iddahnya selama tiga quru’ sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 228.

[7] Sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَنْكِحُ الُحْمْرِمُ وَلاَ يُنْكِحُ

“Orang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan.” (HR. Muslim)

[8] Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hal ini dalam surah al-Baqarah ayat 221.

[9] Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah surah ath-Thalaq ayat 4.

[10] Misalnya ditalak satu kemudian rujuk. Suatu ketika ditalak lagi sehingga sudah terhitung dua kali talak (talak dua), lalu rujuk. Tersisa satu talak lagi yang merupakan talak terakhir (talak tiga). Apabila sampai suami menjatuhkan talak lagi untuk ketiga kalinya, mantan istri tidak bisa dirujuk lagi selama-lamanya, sampai mantan istri dinikahi lelaki lain dengan dasar suka sama suka (bukan nikah muhallal, melainkan nikah yang syar’i), lalu karena ketidakcocokan pernikahan tersebut kandas. Di saat selesai iddah dari pernikahan yang kedua, barulah mantan istri bisa dinikahi oleh mantan suami pertamanya tersebut.

[11] Apabila suatu saat suami istri yang berpisah karena khulu’ tersebut ingin bersatu kembali, tidak ada jalan bagi keduanya selain memperbarui nikah. Sebab, tidak ada kata rujuk untuk khulu’.

[12] Seperti berkata, “Wanita seperti kamu tidak sepantasnya ditolak untuk menjadi istri.”

[13] Macam-macam khiyar dalam akad.

]]>
Qalbun Salim, Hati yang Selamat http://asysyariah.com/qalbun-salim-hati-yang-selamat/ Thu, 10 Aug 2017 04:18:27 +0000 http://asysyariah.com/?p=9896  

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Jama’ah sidang Jumat rahimakumullah,

Kami mewasiatkan kepada diri kami pribadi dan kepada segenap hadirin agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

        “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (Ali ‘Imran: 102)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya ketakwaan seseorang berada di dalam kalbunya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

التَّقْوَى هَهُنَا! التَّقْوَى هَهُنَا!

        “Ketakwaan itu di sini! Ketakwaan itu di sini!” (Seraya menunjukkan ke arah dada beliau) (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

        “Yang demikian itu, barang siapa yang memuliakan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan kalbu.” (al-Hajj: 32)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, jagalah kalbu. Sebab, kalbu ibarat generator penggerak setiap tindakan dan perbuatan seseorang. Baik-buruk perbuatannya tergantung pada bagus atau rusaknya kalbu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma)

Yang dilihat dan dinilai dari seseorang di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah kalbu dan amalannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk-bentuk (badan) dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat ke dalam kalbu dan amalan kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Di sisi lain, kalbu merupakan bagian yang mudah sekali mengalami perubahan. Kalbu itu lemah dan mudah terwarnai. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ أَصْبِعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kalbu Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.” (HR. Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah berkata, “Sesungguhnya kalbu Bani Adam itu lemah, sedangkan syubhat selalu menyambar-nyambar.”

Sekali lagi, mari kita jaga kalbu-kalbu kita. Dengan kata lain, jagalah hati! Seseorang memang bisa menyembunyikan yang ada dalam kalbunya dari penilaian manusia. Namun, dia tidak akan mampu menyembunyikannya dari Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمۡۚ

        “Dan Allah mengetahui apa yang ada di dalam kalbu kalian.” (al-Ahzab: 51)

 

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah!

Di dalam al-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan kondisi kalbu manusia ada tiga macam: qalbun salim, qalbun maridh, dan qalbun mayyit.

 

  1. Qalbun salim, yaitu kalbu yang selamat atau bersih

Kalbu ini disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

        “Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)

 

Kalbu jenis inilah yang harus dijaga kesucian dan keselamatannya. Kalbu ini suci dan selamat dari kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, kesesatan, dan bersih dari segala bentuk kemaksiatan. Sudah barang tentu, tingkat keselamatan antara satu kalbu dan yang lain berbeda-beda.

Di antara langkah yang ditempuh untuk menjaga eksistensi qalbun salim ini adalah dengan menjaga keimanan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُ

        “Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada kalbunya.” (at-Taghabun: 11)

 

Sebaliknya, kekafiran bisa menyebabkan kalbu menjadi tertutup. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ٣

        “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (al-Munafiqun: 3)

 

  1. Qalbun maridh yaitu kalbu yang sakit atau berpenyakit

Ketika menyebutkan sifat orang-orang munafik, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

        “Dalam hati mereka ada penyakit. Lalu Allah tambahkan penyakitnya. Dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

 

Ada beberapa bentuk penyakit yang menyerang kalbu manusia, di antaranya sebagai berikut.

  • Penyakit syubhat

Penyakit ini sangat berbahaya terhadap kalbu. Sebab, pengaruh penyakit ini dapat membuat seseorang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil. Terkadang kesesatan atau bid’ah dianggap baik dan dijadikan sebagai amalan ibadah.

Di dalam al-Qur’an ayat yang ketujuh surah Ali ‘Imran, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sebagian ciri-ciri orang yang kalbunya terjangkit penyakit ini,

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ

        “Adapun orang-orang yang di dalam kalbunya terdapat penyimpangan, dia mengikuti yang mutasyabihat (yang samar) karena ingin membuat fitnah dan ingin mentakwilkannya (sesuai dengan akal pikirannya).” (Ali ‘Imran: 7)

 

  • Penyakit syahwat

Penderita penyakit kalbu jenis ini biasanya senang melakukan yang haram dan mudah tergoda untuk bermaksiat. Oleh karena itu, di antara yang diajarkan di dalam Islam adalah menutup segala celah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan maksiat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسۡ‍َٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ

        “Dan manakala kalian meminta sesuatu kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir, karena yang demikian itu lebih suci bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.” (al-Ahzab: 53)

 

  1. Qalbun mayyit yaitu kalbu yang mati

Kalbu ini telah mati hingga tidak bisa melihat kebenaran, walaupun matanya melihat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦

        “Sebenarnya bukan mata yang buta, melainkan yang buta adalah kalbu-kalbu yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Lihatlah! Kalbu mereka telah tertutup, telinga telah tersumbat sehingga tidak bisa lagi menerima kebenaran. Bahkan, keadaan mereka seperti ini diakui oleh diri mereka sendiri, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ٥

        Dan mereka berkata, “Kalbu kami telah tertutup dari yang kamu serukan kepada kami. Telinga kami telah tersumbat. Dan di antara kami dengan dirimu ada pembatas. Maka berbuatlah, kami pun akan berbuat sekehendak kami.” (Fushshilat: 5)

 

Ini semua akibat sikap mereka yang berpaling dari kebenaran. Allah ‘azza wa jalla

berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٥

        “Ketika mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan kalbu mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (as-Shaff: 5)

 

Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga kalbu-kalbu kita, serta mewafatkan kita dalam keadaan beriman.

أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ؛ أَمَّا بَعْدُ:

 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَ مِنْهَا قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبُهُ، فَذَلِكَ الرَّانُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang mukmin, manakala berbuat dosa, akan mengakibatkan noda hitam pada kalbunya. Jika dia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristigfar, kalbunya akan kembali bersih. Jika dosanya bertambah, akan bertambah pula noda hitam tersebut hingga memenuhi kalbunya. Itulah yang dimaksud “raan” (noda) dalam firman Allah ‘azza wa jalla, “Sekali-kali tidak, namun (ada) noda di kalbu-kalbu mereka disebabkan apa yang mereka perbuat.” (al-Muthaffifin: 14)

Di antara faktor penyebab kotor dan rusaknya kalbu adalah dosa dan maksiat. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, sehingga bisa terhindar dari dosa dan maksiat.

Demikian pula sebaliknya, bertobat dan beristighfar merupakan langkah yang harus ditempuh oleh orang yang ingin memelihara kalbunya.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara sebab rusaknya kalbu seseorang adalah lalai dari berzikir dan lalai mengingat Allah ‘azza wa jalla. Di antara penenang kalbu orang-orang yang beriman adalah dengan berzikir. Tentunya zikir yang disyariatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

        “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’d: 28)

 

Sebagai penutup khutbah pada kesempatan kali ini, kami mengajak diri kami dan jamaah sekalian untuk memperbanyak berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar senantiasa menjaga dan memelihara kalbu-kalbu kita. Di antara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

        “Wahai yang membolak-balikkan kalbu, teguhkanlah kalbuku di atas agama-Mu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا فِي طَاعَتِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْم لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh  al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

]]>
Dua Tangan Allah http://asysyariah.com/dua-tangan-allah/ Thu, 10 Aug 2017 04:12:28 +0000 http://asysyariah.com/?p=9894  Pada Asy Syariah edisi 112 hlm. 71, terjemahan hadits riwayat Muslim tertulis, “… kemudian Dia melipat bumi dengan kiri-Nya….”

Bukankah seharusnya dengan kanan-Nya? Mohon diperhatikan!

085696xxxxxx

 Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Allah Memiliki Dua Tangan

Di antara sifat Allah ‘azza wa jalla adalah memiliki dua tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ

        “(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (al-Maidah: 64)

 

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥

        Allah berfirman, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

 

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        يَطْوِ ى اللهُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّقَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الْأُخْرَىثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah ‘azza wa jalla melipat bumi-bumi kemudian mengambilnya.—Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan: dengan tangan-Nya yang lain)—Allah berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” ( HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Ibnu Khuzaimah rahimahullah menuliskan dalam Kitab at-Tauhid bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan yang terbentang dan berinfak sekehendak-Nya. Dengan kedua tangan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam.

Kedua tangan tersebut adalah tangan hakiki yang tidak sama dengan tangan makhluk-Nya. Mahasuci Allah dari kesamaan dengan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

        “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)

 

Apakah Dua Tangan Allah Kanan dan Kiri?

Adapun terkait dengan pertanyaan di atas, apakah kedua tangan Allah ‘azza wa jalla itu kanan dan kiri, dalam hal ini terdapat beberapa riwayat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Dua tangan kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

        “Dan kedua tangan Allah itu kanan.” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan kanan dan kiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطْوِى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِى الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ، أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟

Allah ‘azza wa jalla melipat langit-langit pada hari kiamat lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?”

Lalu Allah melipat bumi-bumi dengan tangan kiri-Nya seraya berkata, “Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?” (HR. Muslim)

 

  1. Tangan yang lain

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ ابْنُ الْعَلاَءِ: بِيَدِهِ الأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ.

Ibnul ‘Ala`, salah seorang perawi hadits mengatakan, “… dengan tangan- Nya yang lain, lalu Allah ‘azza wa jalla berkata, ‘Akulah Sang Raja, di manakah para diktator? Di manakah orang-orang yang sombong?’.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Dari beberapa riwayat di atas, para ulama berbeda pendapat setelah ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah memiliki dua tangan.

 

  1. Semua riwayat itu sahih.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan, kanan dan kiri. Hanya saja, tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak boleh dipahami seperti kiri pada makhluk. Sebab, kiri pada makhluk identik dengan kelemahan dan kekurangan, sementara tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tidak memiliki kelemahan dan kekurangan sama sekali. Tangan kiri Allah ‘azza wa jalla tetap sempurna dalam segala hal.

Oleh karena itu, riwayat pertama menyebutkan bahwa kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan, untuk menghilangkan kesan lemah dan kekurangan pada tangan Allah ‘azza wa jalla.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dalam hadits terdapat penyebutan dua tangan Allah (kanan dan kiri). Pada hadits lain, ‘dan kedua tangan-Nya kanan’ (tangan yang satu kiri). Akan tetapi, tidak seperti kirinya tangan makhluk. Kiri Allah ‘azza wa jalla tetap kanan. Berbeda halnya dengan makhluk, kirinya bukan kanan.

“Sifat semacam ini hanya khusus bagi Allah ‘azza wa jalla, yaitu kedua tangan Allah ‘azza wa jalla kanan. Jadi, Allah ‘azza wa jalla memiliki tangan kanan dan tangan kiri sebagaimana disebutkan dalam hadits; kanan tidak seperti kanannya makhluk dan kiri tidak sepeti kirinya makhluk.” (I’anatul Mustafid)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila lafal kiri itu sahih, menurut saya tidak bertentangan dengan lafal lain ‘kedua tangan-Nya kanan’. Sebab, maknanya adalah tangan yang lain tidak seperti kiri pada makhluk, yaitu kurang dibanding dengan tangan kanannya.

“Oleh karena itu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘kedua tangan Allah itu kanan’, yakni tiada kekurangan padanya.” (al-Qaul al-Mufid)

 

  1. Riwayat yang menyebutkan kiri adalah lemah dan dinilai sebagai riwayat yang syadz (ganjil).

Ini adalah pandangan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dan yang sependapat dengan beliau, yaitu asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh.

Saat menjawab pertanyaan tentang dua riwayat tersebut, asy-Syaikh Albani rahimahullah berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kedua tangan Allah itu kanan,” menegaskan firman Allah ‘azza wa jalla, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.

Sifat yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beritakan tersebut menegaskan kesucian Allah ‘azza wa jalla dari penyerupaan dengan makhluk. Tangan Allah ‘azza wa jalla tidak sama dengan tangan manusia, kiri dan kanan. Bahkan, kedua tangan Allah ‘azza wa jalla adalah kanan.

Selain itu, riwayat “dengan tangan kiri-Nya” adalah syadz (ganjil), seperti yang telah beliau terangkan dalam takhrij beliau terhadap kitab al-Musthalahat al-Arba’ah fil Qur’an, tulisan al-Maududi.

 Termasuk yang menguatkan pendapat lemahnya (riwayat yang menyebutkan lafal kiri) adalah riwayat Abu Dawud yang menyebutkan dengan lafal “tangan-Nya yang lain” sebagai pengganti riwayat “dengan tangan kiri-Nya,”.

Riwayat Abu Dawud tersebut sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kedua tangan Allah kanan.” (Majalah al-Ashalah)

Wallahu a’lam.

]]>
Perbedaan Shabr, Tashabbur, Ishtibar, dan Mushabarah http://asysyariah.com/perbedaan-shabr-tashabbur-ishtibar-dan-mushabarah/ Thu, 10 Aug 2017 04:09:49 +0000 http://asysyariah.com/?p=9892 Perbedaan istilah-istilah di atas dapat ditinjau dari keadaan seorang hamba dalam menerapkan kesabaran pada dirinya atau pada orang lain.

 Shabr

Menahan diri dan mengekangnya dari hal-hal yang tidak pantas disebut shabr (sabar), jika didasari oleh karakter asli dan akhlak bawaan.

 

Tashabbur

Jika menahan diri dan mengekangnya dengan memaksa diri, berlatih, dan berusaha menenggak pahitnya kesabaran, itu disebut tashabbur.

Hal ini ditunjukkan oleh bentuk kata tashabbur yang ditinjau dari ilmu etimologi bahasa Arab. Bentuk itu menunjukkan makna berusaha dan memaksakan diri, seperti kata tahallum (berusaha tenang), tasyajja’ (memberanikan diri), takarram (berusaha berderma), tahammul (berusaha memikul beban), dan semisalnya.

Apabila seorang hamba memaksa diri dan berupaya mendatangkan kesabaran, kesabaran akan menjadi sebuah kepribadian baginya. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran.” (HR. al-Bukhari)

Demikian pula akhlak yang lain, seperti seorang hamba yang berusaha menjaga iffah (kehormatan), lambat laun sifat tersebut akan menjadi karakternya.

Apakah akhlak bisa diusahakan? Ini merupakan masalah yang diperselisihkan oleh manusia.

Apakah mungkin mengusahakan suatu akhlak atau sama sekali tidak mungkin? Seperti perkataan penyair,

يُرادُ مِنَ الْقَلبِ نِسْيَانُكُم

وَتَأْبَى الطِّبَاعُ عَلَى النَّاقِلِ

Hati ini diminta untuk melupakan kalian

tetapi tabiat tidak mampu melakukan

 

Penyair lain berkata,

يَا أَيُّهَا الْمُتَحَلِّي غَيْرَ شِيمَتِهِ

إِنَّ التَّخَلُّقَ يَأْتِي دُوْنَهُ الْخُلُقُ

        Wahai orang yang mencoba berhias dengan selain akhlaknya,

 Sesungguhnya usahamu meraih akhlak akan disusul akhlak aslimu.

 

Dikatakan pula,

فَقُبْحُ التّطَبُّعِ شِيْمَةُ الْمَطْبُوعِ

        Jeleknya mengusahakan tabiat adalah tabiat yang sudah tercetak

 

Golongan ini mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan akhlak, penciptaan, rezeki, dan ajal, maka hal tersebut tidak mungkin untuk diubah.

Golongan lain berpendapat bahwa akhlak itu mungkin diusahakan sebagaimana halnya akal, kehati-hatian, kedermawanan, dan keberanian dapat diusahakan.

Realitas di alam ini merupakan bukti nyata. Mereka mengatakan bahwa latihan akan menghasilkan kepribadian. Maknanya, barang siapa melatih dirinya dengan sesuatu dan membiasakannya, ia akan memiliki sebuah akhlak, karakter, dan tabiat.

Kebiasaan hidup akan mengubah tabiat. Jika seorang hamba terus-menerus bertashabbur (berusaha bersabar), kesabaran akan menjadi karakter dirinya. Demikian pula halnya jika dia selalu mengusahakan sikap hati-hati, ketenangan, kewibawaan, dan keuletan, semua itu akan menjadi akhlak dan tabiatnya.

Alasan lainnya, Allah ‘azza wa jalla telah memberi manusia kemampuan untuk menerima perubahan dan kemampuan untuk belajar.

Oleh karena itu, mengubah sebuah tabiat bukanlah mustahil. Akan tetapi, perubahan terkadang sangat lemah sehingga tabiat asalnya mudah muncul kembali dengan sedikit penyebab saja. Bisa jadi juga perubahan itu kuat, tetapi belum sepenuhnya berpindah dari tabiat asal sehingga akan muncul kembali jika penyebabnya sangat kuat. Terkadang pula, tabiat bisa berpindah sepenuhnya.

 

Ishthibar

Ishthibar lebih dari sekadar tashabbur. Secara etimologi, kata ishtibar merupakan bentuk ifti’al dari shabr, yang memiliki makna kontinuitas.

Tashabbur (berusaha sabar) adalah awal dari ishthibar (perjuangan bersabar), sebagaimana takassub (bekerja) adalah awal dari iktisab (profesi). Jika terus-menerus bertashabbur, jadilah ishthibar.

 

Mushabarah

Adapun mushabarah adalah menghadapi musuh dalam medan kesabaran.

Sebab, bentuk kata mufa’alah menunjukkan perbuatan yang melibatkan dua belah pihak, seperti musyatamah (saling mencela) atau mudharabah (saling memukul).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱصۡبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, bermushabarah, dan ribathlah kalian.” (Ali ‘Imran: 200)

 

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan bersabar (terhadap dirinya sendiri), bermushabarah (terhadap seterunya), murabathah (komitmen dan kokoh dalam kesabaran dan mushabarah).

Seorang hamba terkadang bisa bersabar, tetapi tidak bisa bermushabarah. Bisa jadi, dia dapat bermushabarah, tetapi tidak bisa bermurabathah. Terkadang dia bisa bersabar, bermushabarah, dan bermurabathah, tetapi tanpa bertakwa.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan dalam kelanjutan ayat di atas, kunci semua itu adalah takwa, sedangkan kesuksesan dibangun di atas fondasi takwa.

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٢٠٠

“Dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

Kata murabathah, selain bermakna menjaga benteng pertahanan dari serangan musuh secara lahiriah, juga bermakna menjaga hati dari serangan setan dan hawa nafsu.

Wallahul Muwaffiq.

(diambil dari ‘Uddatush Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin hlm. 21—23 cetakan Darul Afaq al-Jadidah, Beirut)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

]]>
Al-Maula dan Al-Waliy http://asysyariah.com/al-maula-dan-al-waliy/ Thu, 10 Aug 2017 04:02:35 +0000 http://asysyariah.com/?p=9890 Al-Maula adalah salah satu dari asmaullah, nama-nama Allah ‘azza wa jalla yang mulia. Semakna dengan nama itu adalah nama Allah ‘azza wa jalla, al-Waliy. Kedua nama tersebut terdapat dalam ayat dan hadits sebagaimana akan disebutkan.

Allah ‘azza wa jalla adalah al-Maula bagi kaum mukminin. Maknanya ‘Dzat yang menolong hamba-hamba-Nya yang beriman, menyampaikan maslahat-maslahat kepada mereka, dan memudahkan untuk mereka berbagai manfaat ukhrawi dan duniawi’.

Allah adalah sebaik-baik al-Maula, yakni bagi siapa yang ditolong dan dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla, sehingga dia akan memperoleh apa yang diinginkan.

Makna al-Waliy secara garis besar sama dengan al-Maula.

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa (Allah) al-Waliy adalah Dzat yang hamba-Nya mencintai-Nya dengan mengibadahi-Nya dan menaati-Nya, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dia mampu dari berbagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri).

Allah ‘azza wa jalla membantu hamba-Nya secara umum (yakni baik yang beriman maupun tidak), dengan mengaturnya dan memberlakukan takdir-Nya kepada mereka. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla menolong hamba-Nya yang beriman secara khusus dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, mengatur dan menjaga mereka dengan kelembutan-Nya, serta membantu mereka dalam segala urusan mereka. (Tafsir as-Sa’di)

Dalam bahasa Arab, huruf waulamya ( ولي ) memiliki beberapa arti, di antaranya: kedekatan, kecintaan, pertolongan, mengikuti, pengaturan, dan pengurusan. (Tahdzib al-Lughah, karya al-Azhari bab “Wau-lam-ya”. Lihat juga kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah)

Berdasarkan makna secara bahasa dan keterangan asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di di atas, Allah ‘azza wa jalla menjadi al-Maula dan al-Waliy bagi hamba-Nya, maknanya mencakup hamba yang beriman dan hamba yang tidak beriman.

Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi hamba yang beriman berarti Allah ‘azza wa jalla mengatur, mengurusi, mencintai, dekat dengan mereka, dan menolong mereka.

Ketika menafsirkan firman-Nya,

ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

        “Allah Wali bagi orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 257)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berpendapat, “Maksudnya, pembela mereka dan penolong mereka, membantu mereka dengan pertolongan dan taufik-Nya. Dari sini Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ١١

        “Hal itu karena sesungguhnya Allah adalah al-Maula bagi orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai al-Maula.” (Muhammad: 11)

 

Ketika Perang Uhud, Abu Sufyan sebagai pimpinan musyrikin berkata kepada muslimin, “Kami memiliki Uzza, sementara kalian tidak memiliki Uzza.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya, “Tidakkah kalian jawab?”

“Wahai Rasulullah, apa yang mesti kami katakan?” sahut para sahabat radhiallahu ‘anhum.

        “Katakanlah, ‘Allah Maula kami dan kalian tidak punya Maula’.”

 

Adapun Allah ‘azza wa jalla sebagai al-Maula dan al-Waliy bagi orang yang tidak beriman, maknanya Allah ‘azza wa jalla mengurusi mereka dan mengatur mereka dengan takdir dan ketetapan-Nya. Inilah makna pengaturan dan ketetapan yang bersifat umum, mencakup semua makhluk-Nya, yang mukmin dan yang kafir.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أَمِ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۖ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٩

        “Atau patutkah mereka mengambil maula-maula selain Allah? Allah, Dialah al-Wali, pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (asy-Syura: 9)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Maula dan al-Wali

Mengimani kedua nama Allah di atas dan mengetahui maknanya dengan yakin, akan menumbuhkan rasa tawakal yang tinggi pada diri seorang hamba. Sebab, dia tahu bahwa sembahannya, Allah ‘azza wa jalla, adalah sebaik-baik Dzat yang mengurusi dan melindunginya. Barang siapa bertawakal penuh kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan mencukupinya.

Lihatlah ketika keyakinan ini menghunjam dalam dada sahabat az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Az-Zubair radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, saat terjadi Perang Jamal yang kemudian dia gugur saat itu,

        قَالَ الزُّبَيْرُ لِابْنِهِ عَبْدِ اللهِ يَوْمَ الْجَمَلِ: يَا بُنَيَّ، إِنْ عَجِزْتُ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ )يَعْنِي : دَيْنَهُ(؛ فَاسْتَعِنْ عَلَيْهِ بِمَوْلَايَ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا دَرَيْتُ مَا أَرَادَ حَتَّى قُلْتُ: يَا أَبَتِ، مَنْ مَوْلَاكَ؟ قَالَ: اللهُ. قَالَ: فَوَاللهِ، مَا وَقَعْتُ فِي كُرْبَةٍ مِنْ دَيْنِهِ إِلاَّ قُلْتُ: يَا مَوْلَى الزُّبَيْرِ، اقْضِ عَنْهُ دَيْنَهُ فَيَقْضِيهِ

“Wahai anakku, bila aku tidak mampu membayar sebagian utangku, mintalah tolong kepada Maulaku.”

Sang anak berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dia maksudkan sampai akhirnya aku bertanya kepada beliau, ‘Wahai ayah siapakah Maulamu?’

‘Allah,’ jawab az-Zubair.

“Demi Allah, tidaklah aku mengalami kesusahan ketika membayarkan utangnya kecuali aku berdoa, ‘Wahai, Maula Zubair, bayarkanlah utangnya,’ kecuali Allah ‘azza wa jalla berikan jalan untuk membayarkan utangnya. (HR. al-Bukhari, sahih)

Wallahul Muwaffiq.

 Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

]]>
Mari Beriman Sejenak http://asysyariah.com/mari-beriman-sejenak/ Thu, 10 Aug 2017 03:56:31 +0000 http://asysyariah.com/?p=9888 Sejarah telah menukilkan kepada kita gambaran nyata buah keimanan yang kokoh di hati sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai mereka. Mereka yang dahulunya, seperti digambarkan oleh Ja’far bin Abi Thalib, Dzul Janahain (Si Pemilik Dua Sayap) radhiallahu ‘anhu, dalam dialognya bersama Negus (Najasyi) Raja Habasyah masa itu,

“Wahai Baginda Raja, kami dahulu hidup di masa jahiliah, menyembah berhala, memakan bangkai (karena tidak disembelih dengan nama Allah –ed), melakukan perbuatan keji, memutuskan silaturrahmi (hubungan kasih sayang, kekerabatan), menyakiti tetangga, yang kuat di antara kami menindas yang lemah, memperturutkan syahwat, dan kami tetap dalam keadaan demikian sampai Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami….”[1]

Setelah mereka menerima petunjuk, lalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, iman itu tertanam kuat dalam hati dan menggerakkan seluruh tubuh pemiliknya kepada yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla. Akhirnya, mereka menjadi pelopor dalam kemajuan peradaban manusia.

Siang hari mereka seperti serigala padang pasir yang buas menerkam musuh-musuhnya. Akan tetapi, di malam hari, mereka menangis terisak-isak karena takut, harap dan rindu kepada Pencipta mereka, jauh lebih khusyuk dan tunduk daripada pendeta di biara-biara mereka.

Kepada merekalah ditujukan pujian dari langit, dari Pencipta dan Penguasa alam semesta dengan semua isinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran: 110)

Jika dikatakan ayat ini bersifat umum, para sahabat adalah orang-orang yang pertama dituju dengan ayat-ayat tersebut dan yang semisalnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan pujian untuk mereka dalam banyak hadits, di antaranya,

        خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka.” (HR. al-Bukhari (5949) dan Muslim (4601))

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah berkata,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ. ثُمَّ نَظَرَ فِى قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ. فَما رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Sungguh, Allah melihat kepada hati hamba-hamba-Nya, maka Dia mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati hamba-Nya yang paling baik. Lalu Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya membawa risalah-Nya.

Kemudian Allah melihat kepada hati hamba-hamba-Nya setelah hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Dia mendapati hati para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati hamba-Nya yang paling baik. Dia pun menjadikan mereka para pembantu Nabi-Nya, mereka berperang karena (membela) agamanya.

Oleh karena itu, apa yang dipandang kaum muslimin baik, maka di sisi Allah, hal itu adalah baik. Dan apa yang mereka pandang buruk, maka di sisi Allah, hal itu adalah buruk.” (HR. Ahmad (3667) dari ucapan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.)

Generasi mereka memang telah pergi. Jasad mereka kini terbujur kaku dalam perut bumi. Akan tetapi, warisan mereka tak akan pernah sirna dari dada orang-orang yang beriman sampai hari kiamat.

Mereka adalah generasi yang menyatu pada mereka perumpamaan dan kenyataan. Merekalah yang telah mewujudkan inti ajaran Islam dalam kehidupan nyata, mengangkat derajat manusia ke tingkat tertinggi, meskipun mereka bukan nabi. Mereka adalah murid-murid dua wahyu, al-Qur’anul Karim dan Sunnah yang sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh sebab itu, alangkah perlunya kita mengenal generasi ini untuk kita jadikan teladan dalam kehidupan di zaman seperti ini. Kemudian kita coba membandingkan seberapa jarak antara kita dan ajaran Islam yang dahulu mereka terima secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah titik pangkal pembahasan kita, meskipun kita tidak akan menceritakan sejarah setiap sahabat tersebut. Sekadar mengingatkan kita bahwa di bumi ini pernah ada orang-orang yang menorehkan gambaran iman yang agung di atas prasasti kehidupan manusia. Adapun tentang bukti keutamaan mereka, telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya.

 

Mari Beriman Sejenak

Kita tentu masih ingat Abdullah bin Rawahah, pahlawan Islam terkemuka dari kalangan Anshar. Beliau gugur sebagai kembang syuhada di Mu’tah, bersama dua saudaranya, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Dia adalah salah satu panglima perang yang ditunjuk oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin pasukan muslimin menghadapi seratus ribu lebih kekuatan salibis.

Ada sebagian ungkapan beliau yang telah diabadikan dalam sejarah, sebagai bukti dan tanda kejujuran iman yang ada di hati-hati mereka.

Semasa hidupnya, Abdullah bin Rawahah, jika bertemu dengan sebagian sahabatnya, dia menjabat tangan sahabatnya lalu berkata, “Mari duduk sejenak, kita beriman sesaat.”

Ternyata, ungkapan ini juga dinukil dari sahabat lainnya, seperti Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, meskipun lafadznya berbeda.

Diceritakan oleh Anas radhiallahu ‘anhu, jika Abdullah bertemu dengan sebagian sahabatnya, dia berkata,

تَعَالَ نُؤْمِنُ سَاعَةً

        “Kemarilah, kita beriman sesaat.”

Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata,

هَيَّا بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

“Marilah kita beriman sesaat.”

Adapun yang dinukil dari Mu’adz adalah,

اِجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنُ سَاعَةً

“Duduklah dengan kami, kita beriman sesaat.” (HR. al-Bukhari “Kitabul Iman”, secara mu’allaq (tanpa sanad), disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah (30363), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Kitabul Iman Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (20).)

Ini menunjukkan besarnya perhatian mereka kepada hal-hal yang berkaitan dengan iman yang tempatnya adalah hati.

Dalam ungkapan ini, banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik.

Perlu kita ketahui, sudah tentu, maksud mereka mengungkapkan kalimat-kalimat ini bukan mengajak kepada sesuatu yang tadinya belum ada lalu diupayakan menjadi ada.

Artinya, mereka mengucapkan ini bukan mengajak agar seseorang yang tidak beriman menjadi orang yang beriman. Bukan begitu.

Mengapa?

Sebab, mereka adalah orang-orang yang terbina oleh dua wahyu, al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keimanan mereka sudah teruji dan terbukti hingga sampai kepada kita berbagai riwayat yang menceritakan tentang ketakwaan dan keyakinan mereka yang hampir seperti dongeng. Artinya, seakan-akan mustahil ada manusia biasa yang mampu meraih kedudukan yang telah mereka capai. Akan tetapi, itu semua kenyataan yang telah diabadikan oleh sejarah, bukan sekadar legenda, apalagi dongeng pengantar tidur.

Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih banyak memuji mereka, yang tentu saja mengisyaratkan kepada orang-orang yang berakal sehat dan hati yang masih bersih untuk meniru dan mengikuti langkah mereka.

Karena itu, tidak mungkin ajakan ini dipahami bahwa mereka mengajak kepada asal (pokok pangkal) keimanan karena mereka memang sudah mukmin bahkan benar-benar mukmin. Akan tetapi, maknanya adalah ajakan untuk berzikir kepada Allah, karena zikir kepada Allah akan menambah keimanan.6

Mari beriman sejenak, kita berzikir mengingat Allah sesaat, mengingat-ingat berbagai kebaikan, urusan akhirat, dan hukum agama yang membuat iman dan keyakinan kita bertambah. Biarlah mereka di luar sana sibuk dengan dunia mereka. Doakan saja semoga mereka diberi taufik oleh Allah ‘azza wa jalla.

Alangkah penting kiranya kita mengulang-ulang kalimat ini. Di saat-saat tersebarnya majelis-majelis ghaflah, berbagai bentuk laghwu dan lahwu yang merata di seluruh lapisan dan dalam setiap lini kehidupan. Tidak hanya menimpa orang-orang yang kafir, tetapi juga sebagian besar kaum muslimin. Kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabb (Yang Mencipta, Memiliki, Menguasai, Memberi rezeki dan Mengatur)-nya.

Di zaman yang hawa nafsu semakin liar tak terkendali seperti ini, mungkin berbagai sikap materialis semakin kokoh, bahkan menjadi standar dan acuan di seluruh lini kehidupan. Segala sesuatu diukur dengan materi, kebendaan. Seseorang dinilai (dianggap berhasil, terhormat) karena kekayaan, pangkat, jabatan dalam masyarakat, atau gelar kesarjanaannya.

Ahli ilmu agama, dikatakan sebagai ulama cendikia ialah kalau dia berharta, memiliki pesantren yang megah dengan murid ribuan orang dan donatur yang bonafide, sering diundang ke sana ke mari memberikan ceramah, atau menjadi imam shalat di masjid-masjid besar.

Bahkan, ternyata sifat materialis ini merambah pula segi-segi keimanan, di mana banyak orang—kecuali yang dirahmati Allah—yang menyatakan beriman tetapi hanya sebatas atau didasari oleh apa yang dapat ditangkap oleh indra dan akalnya. Di luar itu, tidak perlu diimani, karena tidak masuk akal dan tidak tertangkap oleh indra.

Alangkah butuhnya kita kepada orang-orang yang mengatakan kalimat-kalimat ini kepada kita,

“Mari kita beriman sejenak”

Namun, dari mana kita memulainya?

Yang jelas, karena bermula dari ucapan sebagian sahabat, tentu kita akan menelusuri pula arti iman ini berangkat dari pemahaman mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (al-Baqarah: 13)

Demikian pula,

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٖۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ١٣٧

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menjadikan jalan hidup mereka sebagai anutan atau teladan yang harus diikuti setiap mukmin yang datang sesudah mereka. Firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Wallahu a’lam.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sirah Ibnu Hisyam (1/335), Ahmad (1/201—203) dan Abu Nu’aim (Dalailun Nubuwah no. 189), dinyatakan sahih sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Fiqhus Sirah (135)

]]>
Pintu Itu Dipecah : Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (20) http://asysyariah.com/pintu-itu-dipecah-al-faruq-umar-bin-al-khaththab-20/ Thu, 10 Aug 2017 03:49:20 +0000 http://asysyariah.com/?p=9886 Tidak ada lagi Kisra di Persia. Tidak ada lagi istana putih yang megah berdiri angkuh. Tidak ada lagi Rustum, tidak ada lagi Yazdajird. Berhala api di kuil-kuil pemujaan padam. Masjid-masjid mulai didirikan, lalu berkumandanglah azan di seluruh negeri Persia itu.

Akan tetapi, lelatu api dendam itu ternyata tidak padam, bahkan tak pernah padam.

Sampai hari ini, sampai detik ini. Di balik hati gelap seorang budak api, budak yang seharusnya menjadi mulia karena dipelihara oleh orang-orang yang terhormat, agar menjadi orang yang mulia karena mendengar Kalam Ilahi setiap waktu. Namun, dia lebih memilih kehinaan dalam dendam kesumat keruntuhan bangsanya.

 

Pintu Itu Dipecah

Suatu ketika, Amirul Mukminin berbincang-bincang dengan sahabat-sahabatnya, dia bertanya, “Siapa di antara kamu yang hafal sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menyebut-nyebut berbagai fitnah, sebagaimana yang beliau ucapkan?”

“Aku. Aku hapal sebagaimana yang diucapkan oleh beliau,” kata Hudzaifah radhiallahu ‘anhu.

“Ayo, sebutkan. Sungguh, kamu benar-benar berani,” kata ‘Umar.

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّ ةَالُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ .

‘Fitnah (ujian yang menimpa) seseorang dalam urusan keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya, dihapus oleh puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar’.”

‘Umar berkata, “Bukan ini yang aku inginkan, melainkan tentang fitnah yang melanda seperti gelombang lautan.”

“Ada urusan apa antara Anda dan fitnah itu, wahai Amirul Mukminin? Sungguh, antara Anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

‘Umar bertanya, “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka?”

Hudzaifah berkata, “Tidak (dibuka), tetapi dipecah.”

‘Umar berkata, “Itu lebih pantas untuk tidak akan terkunci lagi selamanya.”

Rawi berkata, “Kami bertanya kepada Hudzaifah, ‘Apakah ‘Umar tahu perihal pintu itu?’.”

“Ya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah siang adalah malam. Sungguh, aku pernah menyampaikan satu hadis kepadanya yang bukan aghalith (yang tidak pasti dan jelas -ed).”

Akan tetapi, kami segan menanyakan kepadanya (kepada Hudzaifah) siapa pintu itu. Kami kemudian menyuruh Masruq untuk bertanya kepadanya,

“Siapakah pintu itu?”

Hudzaifah berkata, “(Pintu itu) adalah ‘Umar.”[1]

Pintu itu adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Pintu itu pecah berantakan.

Namun, dia jatuh bagai mutiara yang pecah berserakan. Setelah itu, badai fitnah mulai melanda kaum muslimin persis seperti gelombang lautan yang susul-menyusul. Satu demi satu korban berjatuhan. Ada yang gugur sebagai syahid, karena tetap tegar di atas alhaq; ada yang terbenam dalam kehinaan kesesatan bahkan kekufuran.

 

Dendam Budak Majusi

Kebencian orang-orang Iran (Persia) tidak hanya tertuju kepada bangsa Arab, tetapi juga kepada Islam. Sebab, dengan Islamlah, Allah ‘azza wa jalla mengangkat harkat martabat bangsa Arab—juga manusia seluruhnya—sebagai hamba Allah ‘azza wa jalla yang utuh. Islamlah yang melepaskan mereka dari belenggu perbudakan antarsesama menuju penghambaan hanya kepada Rabb semesta alam.

Islam pula yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang lurus, mengakui dan mencintai kebenaran serta cenderung kepadanya.

Ibnu Abi Syaibah menukil riwayat dari ‘Abdullah bin al-Harits al-Khuza’i yang mengatakan, “Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata dalam khutbahnya, ‘Sungguh, aku melihat dalam mimpi, seekor ayam jantan mematukku, dan aku melihat orang-orang menyingkirkannya dariku’.”

Seperti itu juga diceritakan oleh al-Imam Ahmad, dari Juwairiyah bin Qudamah yang datang ke Madinah pada tahun terbunuhnya ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhu menceritakan mimpinya kepada istrinya, Asma’ bintu ‘Umais bahwa dia dipatuk oleh seekor ayam merah. Asma menafsirkan mimpi itu bahwa beliau akan dibunuh oleh seseorang dari kalangan ajam (non-Arab).

Beberapa hari setelah itu, beliaupun ditikam oleh budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

Di antara peraturan yang dibuat oleh ‘Umar adalah melarang budak kaum muslimin—yang masih kafir—yang telah dewasa, memasuki Madinah.

Al-Mughirah bin Syu’bah yang berada di Kufah menyurati ‘Umar agar mengizinkan budaknya Abu Lu’luah ini memasuki Madinah. Dia adalah seorang pandai besi yang ahli, mampu membuat peralatan dari besi yang diperlukan manusia.

Budak itu datang ke Madinah dan mengadukan al-Mughirah yang mengambil pajaknya setiap hari empat dirham.

Abu Lu’lu’ah menemui ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, al-Mughirah menaikkan pajakku, bicaralah kepadanya agar menurunkannya.”

‘Umar berkata, “Bertakwalah kamu kepada Allah, berbuat baiklah kepada majikanmu. Bekerjalah, bekerjalah!”

“Aku dengar, kamu pandai membuat penggilingan yang digerakkan oleh angin? Buatkan untukku.”

“Ya, akan kubuatkan untukmu agar jadi buah bibir orang-orang yang di kota.”

Abu Rafi’, salah satu sumber yang mengisahkan kejadian itu berkata, “Sebetulnya, ‘Umar berniat menemui al-Mughirah dan memintanya meringankan beban budak itu.”

Namun, budak itu marah mendengar perkataan ‘Umar, diapun berkata, “Keadilanmu hanya berlaku untuk orang lain, tidak buatku.”

Budak itu membuat sebilah belati bermata dua, lalu melumurinya dengan racun. Kemudian dia menunjukkannya kepada Hurmuzan dan berkata, “Bagaimana menurutmu belati ini?”

Hurmuzan berkata, “Menurutku, tidak ada yang terkena belati ini kecuali pasti mati.”

Kemudian dia menunggu waktu lengahnya ‘Umar.

Rabu, empat hari menjelang akhir bulan Dzulhijjah 23 H, saat shalat subuh sudah mulai diiqamatkan. ‘Amr bin Maimun, salah seorang saksi mata menceritakan kejadian tragis itu.

“Aku berada di saf kedua. Tidak ada yang menghalangiku dari saf pertama selain rasa segan karena wibawa ‘Umar.”

Amirul Mukminin melangkah maju untuk memimpin shalat. Beliaupun mulai merapikan barisan kaum muslimin.

Belum sempat bertakbir, dari kegelapan subuh hari itu, sosok tubuh dengan cepat menyelinap, langsung menuju ke arah sang imam, tiba-tiba….

“Aku diterkam serigala!!” Terdengar teriakan sang imam.

Beberapa orang sahabat di barisan depan berusaha menangkap bayangan yang menyelinap hendak lari itu. Sebagian lagi mengangkat tubuh sang imam yang sudah berlumur darah dan membawanya ke sudut masjid.

Sosok bayangan tadi mengayunkan belatinya yang ternyata bermata dua ke kiri dan ke kanan. Lima atau enam orang bahkan lebih, segera meregang nyawa terkena sabetan dan tusukan belati itu yang ternyata beracun.

Tiba-tiba, salah seorang jamaah melemparkan sehelai kain menutupi pembunuh itu. Orang itu kaget dan panik. Akal pendeknya melihat tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri, dia yakin pasti terbunuh. Dengan cepat dia menikamkan belati ke tubuhnya, maka diapun tewas seketika.

Siapa orang ini?

Ternyata dia adalah budak al-Mughirah bin Syu’bah, Abu Lu’lu’ah al-Majusi.

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu masih sempat mengingatkan agar shalat segera dilaksanakan, maka ‘Abdur Rahman bin ‘Auf segera maju mengimami kaum muslimin.

Shalat subuh itu dikerjakan dengan cepat. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf hanya membaca dua surat pendek dalam dua rakaat tersebut.

Usai shalat, kaum muslimin menjenguk ‘Umar yang sudah dibawa ke rumahnya. Ada yang menanyakan kabarnya, ada pula yang mendoakan kebaikan baginya.

Beliau meminta diberi perasan air kurma, lalu meminumnya. Ternyata air kurma itu keluar bersama darah. Setelah itu, beliau minta segelas susu, ternyata susu itu keluar dari luka yang menganga bersama darah.

Melihat hal itu, ‘Umar yakin tidak mungkin lolos dari kematian. Kemudian beliau bertanya kepada orang-orang yang di sekelilingnya, “Siapa yang (mau) membunuhku?”

“Budak al-Mughirah bin Syu’bah,” kata mereka.

“Semoga Allah ‘azza wa jalla membinasakannya. Aku pernah menyuruhnya kepada yang baik. Segala puji bagi Allah yang tidak menyebabkan kematianku di tangan seseorang yang mengaku muslim.”

Satu per satu sahabat menyebut-nyebut kebaikan beliau, tetapi ‘Umar justru mengatakan, “Demi Yang jiwa ‘Umar di Tangan-Nya. Aku sangat senang seandainya bagianku di akhirat hanya pas-pasan, tidak untung dan tidak rugi.”

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang ada di dekat kepala beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, Anda tidak kembali dalam keadaan hanya membawa apa yang dapat digenggam kedua tanganmu.

Anda sudah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baik persahabatan. Anda selalu melaksanakan perintahnya dan menjadi sebaik-baik pembantu sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan beliau meridhaimu.

“Kemudian Anda mendampingi Abu Bakr yang diangkat sebagai khalifah dan melaksanakan perintahnya serta menjadi sebaik-baik pembantu baginya sampai beliau wafat, radhiallahu ‘anhu. Kemudian Anda diangkat sebagai wali dan memimpin dengan sebaik-baiknya.”

‘Umar diam mendengarkan, lalu memintanya mengulangi kata-kata tersebut dan berkata, “Demi Allah, seandainya aku mempunyai emas sepenuh bumi ini, pasti aku tebus diriku agar lepas dari kengerian hari kiamat.”

Seperti itu juga yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Selamat dengan syahid yang akan kau terima. Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Aku datang dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakr dan ‘Umar, dan aku pergi dengan Abu Bakr dan ‘Umar,’ aku memohon kepada Allah agar Dia mengumpulkan engkau bersama kedua sahabatmu itu.”

‘Umar menangis dan berkata, “Duhai kiranya aku selamat, tanpa pahala dan dosa.”

Tiba-tiba, terdengar suara Shuhaib berseru sambil mendekati pembaringan ‘Umar, “Ooh, saudaraku, saudaraku.”

“Tenanglah, wahai Shuhaib, tenanglah. Apakah kamu lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa mayit akan disiksa karena diratapi?”

Beliau pun memanggil putranya, ‘Abdullah, dan menyuruhnya menghitung utangnya lalu melunasi utang-utang tersebut. Ternyata semuanya berjumlah 86 ribu (dirham). Penguasa sepertiga belahan dunia ini ternyata menyimpan utang sekian banyak, padahal kunci kekayaan negara ada di tangannya.

Setelah itu, beliau memerintahkannya agar menemui Ibunda ‘Aisyah untuk memintakan izin agar dapat dikuburkan bersama kedua sahabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu.

Ternyata Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengizinkan dan lebih mendahulukan beliau, padahal Ibunda ‘Aisyah justru ingin dikuburkan di dekat kubur suami dan ayahnya. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

Namun, ‘Umar justru berkata, “Kalau aku mati, bawalah jenazahku menemui beliau lalu katakanlah, ‘Umar meminta izin,’ kalau diizinkan, bawalah masuk. Kalau beliau tidak mengizinkan, kuburkanlah aku di kuburan kaum muslimin.”

‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya yang paling akhir menyertai ‘Umar. Saya masuk menemuinya, dan saya lihat kepalanya di atas paha putranya, ‘Abdullah. ‘Umar berkata kepada putranya, ‘Letakkan pipiku di tanah’.”

“Pahaku dan tanah sama saja,” kata ‘Abdullah.

“Letakkanlah pipiku di tanah, kecewa ibumu,” kata ‘Umar.

Kemudian saya (‘Utsman) berkata, “Aku mendengarnya berkata, ‘Celakalah aku dan ibuku kalau Engkau (Ya Allah) tidak mengampuni dosa-dosaku,’ sampai beliau wafat.”

Inilah ‘Umar, tidak ada seorang wanita pun sanggup melahirkan seorang anak seperti ‘Umar. Mereka, khususnya yang bersama ‘Umar dari orang-orang yang telah dijamin surga oleh Allah ‘azza wa jalla melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara dengan hawa nafsu, meraih kedudukan yang agung ini tidak lain adalah karena agama yang mulia ini.

Tidak ada kemuliaan tanpa Islam. Akan tetapi, seberapa banyak orang yang mengerti akan hal ini?

Oleh karena itu, siapa yang bersemangat ingin berjaya dan mulia, ambillah dari mana mereka mengambil. Berpeganglah dengan sekuat-kuatnya kepada apa yang menjadi pegangan mereka dalam hidup.

Surga yang diinginkan oleh setiap jiwa yang berakal sehat adalah ciptaan Allah ‘azza wa jalla dan disediakannya untuk orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Jalan menuju surga itu telah pula dibentangkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Tidak hanya itu, bagaimana cara menempuh jalan tersebut juga telah diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, disertai pula contoh konkret berupa orang-orang yang pernah melintasi jalan tersebut. Salah satunya adalah ‘Umar, radhiallahu ‘anhu.

Merekalah contoh nyata yang telahmeraih keridhaan dan kemuliaan yang disediakan oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka bukan orang-orang yang maksum dari dosa dan kesalahan. Namun, juga bukan orang-orang yang membiarkan dirinya selamanya terkotori oleh dosa dan kesalahan. Perjuangan dan upaya mereka meraih keridhaan dari Allah ‘azza wa jalla diakui dan diterima oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga mereka menjadi teladan untuk orang-orang yang datang setelah mereka.

Bahkan Allah ‘azza wa jalla menegaskan dalam firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

        “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Sebelum wafat, ‘Umar menunjuk enam orang sahabat besar yang termasuk orang-orang yang dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk surga, agar membahas siapa yang akan menjadi khalifah menggantikan ‘Umar.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

[1] HR. al-Bukhari (6567) dan Muslim (5150).

]]>
Orang yang Bangkrut http://asysyariah.com/orang-yang-bangkrut/ Thu, 10 Aug 2017 03:43:29 +0000 http://asysyariah.com/?p=9884 Ketika mendengar kata bangkrut, benak kita membayangkan seorang yang hancur usahanya atau orang yang tidak lagi punya harta atau uang. Orang yang bangkrut sebelumnya memiliki sesuatu untuk menyambung hidupnya. Kini, semua itu sirna sehingga kondisinya mengenaskan dan berhak mendapatkan uluran tangan dari saudaranya.

Apa yang kita sebutkan di atas adalah kebangkrutan dalam hal harta benda yang seseorang masih mungkin untuk bangkit kembali. Atau setidaknya ada orang yang masih punya hati sehingga membantu meringankan bebannya.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda dengan kebangkrutan pada hari kiamat nanti, hari yang tiada berguna lagi harta dan anak.

Hakikat orang yang bangkrut pada hari kiamat adalah orang yang membawa segudang amal kebaikan, tetapi dia membawa beragam kezaliman terhadap manusia, baik dalam bentuk merampas harta, melukai kehormatan, mencederai tubuh orang, atau melenyapkan nyawa orang tanpa alasan syar’i. Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

 

        أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَ ةَالٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca ini (seseorang), menuduh orang (berzina), memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. (Orang) ini diberi (amal) kebaikannya dan yang ini diberi dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hukuman yang Mengerikan

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menghancurkan dirinya sendiri, seperti dikatakan, “Barang siapa menggali lubang untuk (mencelakakan) saudaranya, ia terjatuh sendiri ke dalam lubang itu.”

Bisa dibayangkan betapa rugi dan menyesalnya orang tersebut nanti. Saat ia mengharapkan amal kebaikannya akan menolongnya dari kedahsyatan kiamat, kebaikannya justru lenyap diambil orang lain, bahkan dia dicampakkan ke dalam neraka.

Kalau orang zalim yang masih punya amal kebaikan saja seperti ini nasibnya, lantas bagaimana halnya bila dia tidak punya kebaikan sama sekali, bahkan kitab catatan amalnya semuanya berisi kejelekan?

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ٢٩

        “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

 

Tiada yang ditunggu oleh orang yang zalim kecuali kehancuran. Kekuasaan akan lenyap, keperkasaan akan sirna.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةَۢ بِمَا ظَلَمُوٓاْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٥٢

        “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.” (an-Naml: 52)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Seandainya suatu gunung berbuat zalim terhadap gunung yang lain, maka yang zalim akan dihancurkan.” (al-Adabul Mufrad no. 601)

Kalau gunung yang materialnya batu-batu yang keras dan besar saja akan diluluhlantahkan apabila berbuat zalim, bagaimana kiranya dengan manusia yang hanya berupa daging, darah, dan tulang yang lemah?

 

Kezaliman Itu Beragam

Kezaliman itu bermacam-macam. Ada yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan ada yang berhubungan dengan hak-hak manusia.

Yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla adalah dengan menerjang larangan-larangan Allah ‘azza wa jalla, meninggalkan perintah-Nya, dan mendustakan berita-Nya. Kezaliman paling besar adalah menyekutukan Allah ‘azza wa jalla (syirik). Apabila orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla mati dalam keadaan belum bertobat dari kesyirikannya, dia tidak akan diampuni.

Adapun dosa setelah syirik adalah dosa-dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman di dunia, azab di akhirat, atau kutukan dan kemurkaan Allah ‘azza wa jalla. Setelah itu, ada dosa-dosa kecil.

Dosa selain menyekutukan Allah ‘azza wa jalla masih ada harapan untuk diampuni.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ

        “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 116)

 

Adapun kezaliman yang berkaitan dengan hak-hak manusia, urusannya lebih rumit. Seseorang yang menzalimi hak-hak orang lain hendaknya segera mengembalikannya atau meminta kehalalannya. Jika tidak demikian, ancaman di akhirat sangat mengerikan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

 

Kehormatan Seorang Muslim

Ketika menunaikan haji wada’ (perpisahan) yang dihadiri oleh puluhan ribu sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan-pesan akhirnya menjelang wafat. Di antara pesan beliau adalah menjaga darah, harta, dan kehormatan seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian (kaum muslimin) itu haram (untuk dirampas) seperti sucinya hari ini, di bulan ini (haji ini), dan di negeri kalian ini (Makkah).” ( HR . Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu)

 

Bahkan, lenyapnya dunia lebih ringan daripada melenyapkan nyawa seorang muslim tanpa hak. Demi terjaganya kehormatan dan kepemilikan seorang muslim serta terwujudnya stabilitas keamanan di tengah masyarakat, Islam memberikan ancaman hukuman fisik (had) bagi yang mencabik-cabik hak seorang muslim.

Sebagai contoh, hukuman bagi perampok adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang atau hukuman lain yang telah ditetapkan oleh agama. Orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, tanpa ada kesalahan yang berhak untuk dibunuh, pelakunya terancam hukuman qishash (nyawa dibalas nyawa).

Tanpa ada ancaman dan hukuman yang setimpal, orang yang melakukan kejahatan akan menganggap enteng ketika melanggar hak-hak orang lain.

 

Muslim yang Baik

Seorang muslim yang hakiki memiliki ketulusan sikap dalam beragama dan mempunyai kepribadian yang bagus.

Apabila datang perintah agama, muslim yang baik akan siap menjalankannya dengan sepenuh ketulusan apapun kondisinya.

Berikutnya, larangan agama disikapi dengan meninggalkan apa yang dilarang agama meskipun hawa nafsu ini ingin melakukannya. Dia menjauhkan dirinya dari hal-hal yang bisa memudaratkan orang lain, baik sengaja maupun tidak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

        “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Asy-Syaikh as-Sa’di menerangkan, “Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla, menyempurnakan peribadatan kepada-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, dan hak-hak kaum muslimin. Keislaman (seseorang) tidak dikatakan sempurna sampai ia mencintai untuk kaum muslimin apa yang ia cintai bagi dirinya. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan terhindarnya mereka dari kejahatan lisan dan tangannya.

Hal ini merupakan pokok kewajiban yang harus ia berikan kepada muslimin. Barang siapa yang kaum muslimin tidak terhindar dari (kejelekan) lisan dan tangannya, bagaimana mungkin ia akan menunaikan kewajibannya terhadap saudaranya kaum muslimin?!” (Bahjatul Qulub, hlm. 14)

Kemudian, ketahuilah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim (yang baik) adalah muslim lain terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” tidak berarti kita boleh menzalimi orang kafir dengan merampas haknya. Sebab, orang kafir pun bermacam-macam.

Ada kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tinggal di negeri muslimin dan membayar jizyah kepada pemerintah muslimin. Ada pula orang kafir yang masuk ke negara muslimin dan mendapatkan jaminan keamanan (suaka politik) dari pemerintah muslimin. Ada lagi orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.

Tiga jenis orang kafir tersebut tidak boleh dirampas hartanya atau dilukai tubuhnya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ.

“Berhati-hatilah dari doa orang yang dizalimi meskipun ia kafir, karena tidak ada penghalang bagi doanya.” (HR . Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ no. 119)

 

Adapun jenis kafir yang keempat adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang memerangi muslimin dan angkat senjata terhadap muslimin. Orang kafir seperti ini halal darah dan hartanya.

 

Orang yang Merugi Amalnya

Tidak semua orang yang beramal kebaikan itu diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Ada syarat dan ketentuan untuk diterimanya sebuah amal. Semata-mata niat yang tulus dalam beramal tidak berguna apabila amalan tersebut tidak ada perintahnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

        “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dalam agama kami, amalan itu tertolak.” (HR . Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Contohnya sangat banyak. Misalnya adalah bentuk perjuangan/jihad menegakkan agama yang dilakukan oleh orang yang berpemahaman Khawarij semacam ISIS dan al-Qaeda.

Sebagian mereka melakukan pembunuhan kepada pihak-pihak yang dituduh kafir dengan cara di luar batasan agama. Mereka juga melakukan bom bunuh diri, yang sejatinya dalam Islam adalah dosa besar. Akan tetapi, mereka menjuluki pelaku bom bunuh diri sebagai syahid. Mereka menghancurkan fasilitas-fasilitas umum. Tidak sedikit yang menjadi korbannya justru kaum muslimin.

Jihad yang sejatinya adalah amalan mulia untuk menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla, mereka rusak dengan aksi-aksi yang konyol. Karena ulah bodoh mereka, orang kafir enggan masuk Islam. Orang kafir justru fobia terhadap Islam dan sinis terhadap muslimin.

Tidak sedikit kaum muslimin yang diintimidasi setiap ada aksi teror kelompok ini di belahan bumi lainnya.

Padahal ketika ditanya tentang siapa orang yang dikatakan berperang di jalan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Barang siapa berperang agar kalimat (agama) Allah itu mulia, itulah yang jihad fi sabilillah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan aksi mereka, apakah orang kafir jadi masuk Islam? Apakah Islam dimuliakan oleh kaum muslimin sendiri—jangan Anda tanya bagaimana reaksi nonmuslim? Apakah agama Allah ‘azza wa jalla menjadi mulia dengan itu?

Jawabannya, hasilnya bertolak belakang. Kalau sudah seperti ini, apakah masih dikatakan jihad syar’i? Hendaknya mereka merujuk kepada bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat agar tidak sia-sia amalannya.

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا ١٠٣ ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا ١٠٤

        “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)

Pada sebagian aksi teror mereka, ada korban dari pihak muslimin. Lalu mana pertanggungjawaban mereka terhadap keluarga korban? Mana penyesalan mereka?

Nabi Musa ‘alaihissalam saja saat dahulu memukul orang Qibthi yang kafir sampai mati ketika orang Qibthi ini berkelahi dengan seorang Bani Isra’il dari kaumnya, beliau ‘alaihissalam menyesali hal tersebut dan bertobat, padahal yang ia pukul seorang Qibthi kafir.

Namun, karena Nabi Musa ‘alaihissalam tidak diperintah untuk membunuhnya, beliau ‘alaihissalam menyesali perbuatannya yang keliru. Bahkan, penyesalan tersebut terus beliau bawa hingga hari kiamat di Padang Mahsyar sebagaimana dalam hadits syafaat.

Akan tetapi, anehnya para teroris justru bangga dengan aksi terornya yang merenggut nyawa orang yang seharusnya tidak berhak untuk dicederai. Mereka menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Mengapa mereka tidak menyesalinya?

Karena mereka beranggapan bahwa aksinya adalah ibadah, meskipun sejatinya bertentangan dengan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi awal umat ini.

Syarat sahnya amal berikutnya adalah harus ikhlas, semata-mata hanya mencari wajah Allah ‘azza wa jalla.

Ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu amal kebaikan bisa lenyap atau minimalnya menjadi berkurang karena perbuatan dosa. Sebagaimana amal saleh bisa melenyapkan dosa, dosa juga bisa melenyapkan amal saleh.

Di antara dosa yang bisa melenyapkan amal saleh adalah menzalimi orang lain. Bahkan, pelakunya akan disegerakan azabnya di dunia ini sebelum azab pada hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فِي الْآخِرَة مِنَ الْبَغْي وَقَطِيعَةِ الرَّحِم

Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas Allah akan segerakan azab bagi pelakunya di dunia—di samping azab yang Allah simpan baginya di akhirat—melebihi (dosa) kezaliman dan memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR . Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adab, dan lain-lain dari sahabat Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ no. 5704)

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

]]>
Mengharap Syafaat Pada Hari Kiamat http://asysyariah.com/mengharap-syafaat-pada-hari-kiamat/ Thu, 10 Aug 2017 03:38:11 +0000 http://asysyariah.com/?p=9882 Setiap muslim pasti mengharapkan syafaat di akhirat nanti. Dia berharap agar pada hari tersebut syafaat bermanfaat baginya. Sungguh, alangkah sengsaranya seorang yang pada hari tersebut terhalang untuk mendapatkan syafaat.

Memang tidak semua orang pantas mendapatkan syafaat. Hanya orang yang memenuhi syarat yang bisa mendapatkan syafaat di akhirat. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan keadaan mereka ini dalam firman-Nya,

فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ٤٨

        “Tidaklah bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat.”(al-Muddatstsir: 48)

 

Apa Itu Syafaat?

Syafaat adalah menjadi perantara bagi yang lain untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudarat. Contohnya, syafaat untuk mendatangkan kebaikan, syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi penduduk surga agar mereka memasukinya.

Contoh syafaat agar terhindar atau selamat dari kejelekan adalah syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi mereka yang pantas dimasukkan neraka sehingga tidak masuk neraka. (al-Qaulul Mufid, 1/203)

 

Hakikat Syafaat

Allah ‘azza wa jalla memberikan karunia kepada seorang yang ikhlas, mengampuninya melalui perantaraan doa orang yang diberi izin memberi syafaat, dalam rangka memuliakannya dan agar meraih maqaman mahmuda. (Kitab at-Tauhid)

Jadi, syafaat adalah karunia dan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan bagi yang diberi syafaat.

Adapun yang memberi syafaat, Allah ‘azza wa jalla ingin memuliakannya dan menampakkan keutamaannya di hadapan hamba Allah ‘azza wa jalla yang lain.

 

Siapakah yang Akan Memberikan Syafaat?

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan memberikan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Malaikat memberikan syafaat, para nabi dan kaum mukminin memberi syafaat, tidak ada lagi kecuali Dzat Yang Paling Penyayang….” (Shahih Muslim, hadits no. 302)

Seorang yang syahid, meninggal di medan jihad, memiliki kesempatan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِن الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ

“Seorang mati syahid mendapatkan enam keutamaan di sisi Allah:

(1) mendapatkan ampunan sejak pertama kali meninggal dan melihat tempatnya di surga,

(2) dijaga dari azab kubur,

(3) diberi keamanan dari rasa takut yang besar,

(4) akan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan dari yaqut (batu permata) yang nilainya lebih baik daripada dunia dan isinya,

(5) akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan

(6) akan diterima (permintaan) syafaatnya bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR . Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib)

 

Macam-Macam Syafaat

Ahlus Sunnah meyakini bahwa syafaat yang ada sangatlah banyak. Ada syafaat yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang dilakukan oleh selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Asy-Syafaatul ‘Uzhma (syafaat teragung)

Syafaat ini khusus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafaat ini disepakati keberadaannya. Ketika manusia merasakan dahsyatnya Padang Mahsyar, mereka mendatangi Nabi Adam ‘alaihissalam, Nabi Nuh ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun, mereka semua tidak bersedia. Akhirnya manusia datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Syafaat bagi penduduk surga untuk masuk surga
  2. Syafaat bagi penduduk surga untuk ditinggikan derajatnya di surga
  3. Syafaat bagi ahli tauhid yang berada di neraka agar keluar darinya
  4. Syafaat bagi satu kaum yang pantas masuk neraka agar tidak masuk neraka
  5. Syafaat khusus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, hingga dia diringankan azabnya. (I’anatul Mustafid, 1/239—240)

 

Siapakah yang Berhak Mendapatkan Syafaat?

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa syafaat hanyalah didapatkan oleh orang yang ikhlas dan dengan izin Allah ‘azza wa jalla. Syafaat tidak akan didapat oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.

Syafaat di akhirat hanya akan didapat dengan dua syarat:

  1. Izin dari Allah ‘azza wa jalla bagi syafi’ (orang yang memintakan syafaat)
  2. Adanya ridha Allah ‘azza wa jalla bagi orang yang dimintakan syafaat untuknya

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ

        “Tidak ada yang memberikan syafaat disisi Allah kecuali dengan izin-Nya.” (al-Baqarah: 255)

 

       وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ

        “Mereka tidak akan memberi syafaat kecuali bagi orang yang diridhai-Nya.”(al-Anbiya’: 28)

 

Khawarij Mengingkari Syafaat

Ada dua kelompok tersesat dalam masalah syafaat.

  1. Kelompok yang ghuluw (berlebihan) menetapkannya, hingga menjerumuskan mereka ke dalam kesyirikan dengan alasan mengharapkan syafaat.
  2. Kelompok yang mengingkari syafaat selain syafaat ‘uzhma.

Mereka mengingkari syafaat yang lain, terkhusus syafaat bagi muslim pelaku dosa besar yang telah masuk neraka. Merekalah kelompok wai’diyah dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, dan lainnya.

Keyakinan bid’ah tersebut menjemuskan mereka kepada kesesatan yang berikutnya, yakni mengingkari syafaat bagi mukmin yang melakukan dosa besar dan syafaat bagi mukmin yang telah masuk neraka.

Khawarij menyatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar telah kafir dan kekal di neraka. Mereka pun menolak sekian banyak hadits yang menerangkan adanya orang muslim yang masuk neraka lalu dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

Al-Imam Muslim rahimahullah membawakan satu kisah tentang masalah ini dari seseorang yang bernama Yazid al-Faqir.

Dahulu aku terpengaruh syubhat pemikiran Khawarij. Kami berangkat melakukan ibadah haji, kemudian keluar (mendakwahkan paham Khawarij) kepada manusia.

Ketika itu kami melewati kota Madinah. Kami dapati di sana ada seorang yang bersandar di tiang masjid sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau menceritakan tentang jahanamiyin (penduduk neraka jahannam). Aku pun berkata, “Wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau sampaikan ini? Bukankah Allah ‘azza wa jalla berfirman,

رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥ

‘Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka berarti telah Engkau hinakan ….’ (Ali Imran: 192)

 

       كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا

‘Ketika mereka ingin keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya….’ (as-Sajdah: 20)

 

Apa yang engkau sampaikan ini?” Sahabat tersebut berkata, “Apakah engkau bisa membaca al-Quran?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Tidakkah engkau membaca maqam (kedudukan) yang Allah ‘azza wa jalla akan berikan kepada Nabi kita?”

Aku (Yazid) berkata, “Ya.”

Sahabat tersebut berkata, “Itulah kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpuji. Dengan sebabnya, Allah ‘azza wa jalla mengeluarkan orang dari neraka.”

Kemudian beliau menyebut sifat dipancangkannya shirath dan melintasnya manusia di atas shirath tersebut….”

Sampai ucapan Yazid al-Faqir, “Demi Allah, ketika kami kembali, tidak ada lagi di antara kami yang berpemikiran Khawarij kecuali satu orang saja.” (Shahih Muslim no. 320)

 

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran.

  1. Khawarij mengingkari syafaat bagi seorang muslim yang masuk neraka. Sebab, mereka meyakini bahwa seorang pelaku dosa besar adalah kafir dan akan masuk neraka lantas kekal di dalamnya.
  2. Keutamaan bermajelis dengan ulama.

Kita lihat Yazid al-Faqir selamat dari kebid’ahan Khawarij dengan sebab bertemu dan mendengar ilmu dari seorang yang berilmu.

  1. Ahlul batil bersemangat menyebarkan akidah sesat mereka, memanfaatkan setiap kesempatan. Karena itu, seharusnya Ahlus Sunnah bersemangat berdakwah menyampaikan al-haq kepada umat.
  2. Dalam kisah ini ada bukti bahwa satu kesesatan akan menyeret pada kesesatan lainnya.

Ketika mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, mereka pun mengingkari syafaat-syafaat yang disebutkan oleh dalil-dalil.

 

Memperkuat Akidah untuk Meraih Syafaat

Syafaat semuanya milik Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ

        “Katakanlah semua syafaat hanyalah milik Allah.” (az-Zumar: 44)

Hendaknya seorang mencari syafaat dengan jalan yang Allah ‘azza wa jalla syariatkan. Allah ‘azza wa jalla menerangkan, syafaat didapat seseorang jika Allah ‘azza wa jalla meridhainya dan memberi izin kepada yang syafi’ (yang memintakan syafaat untuknya).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦

        “Betapa banyak malaikat di langit, tidaklah syafaat mereka bermanfaat kecuali setelah Allah memberi izin untuk orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” (an-Najm: 26)

Orang yang diridhai untuk diberi syafaat adalah muwahid (seorang yang bagus tauhidnya), sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayim rahimahullah.

Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita dan menguatkan tauhid kita. Itulah sebab kebahagiaan seseorang sehingga bisa meraih syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang paling bahagia dengan syafaat beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,

        أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘la ilaha illallah’ secara ikhlas dari kalbunya.” (HR . al-Bukhari. 99)

Adapun syafaat yang diharapkan oleh para penyembah kubur adalah syafaat yang batil. Tidak mungkin mereka mendapatkan syafaat dalam keadaan terus melakukan kesyirikan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا

“Semua nabi memiliki doa yang mustajab. Semua nabi menyegerakan doa mustajab mereka. Adapun aku menyimpannya untuk umatku sebagai syafaat bagi mereka, dan itu akan didapat oleh umatku yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu pun.” (HR . Muslim no. 338)

 

Sebab-Sebab Mendapat Syafaat

Marilah kita bersemangat untuk melakukan sebab mendapatkan syafaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita amalan-amalan yang bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat.

Di antara yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan:

  1. Perhatian dengan al-Qur’an

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

“Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi yang membaca dan mengamalkannya pada hari kiamat nanti.” (HR . Muslim)

 

  1. Berdoa setelah mendengar azan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mendengar azan kemudian membaca,

        اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

maka telah tetap syafaatku untuk dia di hari kiamat.” (HR . al-Bukhari no. 614)

 

  1. Tinggal di Madinah dengan sabar hingga meninggal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلاَّ كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seorang bersabar dari kesulitan dan kelaparan di Madinah sampai meninggal, kecuali aku akan menjadi pemberi syafaat atau saksi baginya pada hari kiamat, jika dia seorang muslim.” (HR . Muslim no. 3405)

 

  1. Dishalati oleh ahli tauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِا شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ ا فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatupun, niscaya Allah ‘azza wa jalla menerima syafaat mereka pada orang tersebut.” (HR . Muslim no. 2242)

Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kemudahan kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat nanti.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

]]>
Misi Duniawi di Balik Gerakan Terorisme http://asysyariah.com/misi-duniawi-di-balik-gerakan-terorisme/ Thu, 10 Aug 2017 03:32:24 +0000 http://asysyariah.com/?p=9880 Dari sahabat Jabir bin Abdillah, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan (no. 1063) sebuah peristiwa yang terjadi sepulang kaum muslimin dari pertempuran di Lembah Hunain.

Saat itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai bersabda dengan nada yang agak berbeda dari biasanya. Sabda itu ditujukan kepada seseorang yang menuduh beliau tidak berlaku adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ.

“Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika saya tidak berbuat adil?! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

 

Riwayat Selengkapnya

Hadits di atas menceritakan peristiwa yang terjadi di Ji’ranah, yaitu sebuah lokasi yang kurang lebih 25 km dari Makkah. Ketika itu, kaum muslimin dalam perjalanan pulang menuju Makkah dari Perang Hunain yang dimenangkan oleh umat Islam.

Di Ji’ranah, Rasulullah membagi-bagikan harta rampasan perang berupa perak kepada yang berhak. Sahabat Bilal radhiallahu ‘anhu yang bertugas untuk membawa perak tersebut di atas kain baju miliknya.

Saat itu, seseorang datang sambil berteriak, “Hai, Muhammad! Bersikaplah adil!”

Nabi Muhammad pun merespon dengan bersabda, “Celakalah engkau! Lantas siapakah yang akan bersikap adil, jika aku tidak berbuat adil! Sungguh, engkau celaka dan merugi jika aku tidak dapat bersikap adil!”

Sahabat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu lantas berseru, “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk membunuh orang munafik semacam ini!”

Akan tetapi, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ma’adzallah! Jangan sampai orang-orang membicarakan bahwa aku membunuh teman-temanku sendiri.”

Kemudian beliau bersabda,

إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, mereka membaca al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar melesat darinya sebagaimana anak panah yang keluar melesat dari sasaran tembaknya.”

 

Hadits Lain yang Mirip

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dengan nomor 1063. Tepat setelahnya, yaitu nomor 1064, al-Imam Muslim menyebutkan riwayat lain yang mirip dan serupa. Namun, apakah benar-benar sama?

Hadits dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri (no. 1064) menyebutkan tentang sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai duta Islam untuk negeri Yaman.

Setelah sekian waktu, sahabat Ali radhiallahu ‘anhu mengirim emas yang masih belum diolah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, emas-emas itu dibagikan untuk beberapa tokoh terkemuka di daerah Najd. Mereka adalah al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-Amiri, Zaid al-Khair ath-Tha’i, seorang tokoh dari suku Kilab dan seorang tokoh dari suku Nabhan.

Sebagian kalangan dari suku Quraisy tersinggung. Mereka mengatakan, “Mengapa Rasulullah hanya membagikan untuk tokoh-tokoh Najd, sementara kita dilupakan?”

Akan tetapi, mereka akhirnya menerima dan bisa memahami alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh, tujuanku hanyalah untuk melunakkan hati mereka.”

Tiba-tiba datang seseorang yang berjenggot tebal, bagian atas kedua pipinya menonjol, cekung kedua matanya, dahinya mencuat, dan berkepala botak. Tanpa malu, orang itu menghardik Rasulullah, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Muhammad!”

Beliau kemudian bersabda,

فَمَنْ يُطِعِ اللهَ إِنْ عَصَيْتُهُ، أَيَأْمَنُنِي عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَلَا تَأْمَنُونِي؟

“Siapakah orangnya yang akan taat kepada Allah, jika aku durhaka kepada-Nya? Apakah Allah memercayai diriku (sebagai pembawa risalah) untuk penduduk bumi, sementara kalian malah tidak memercayai diriku?”

Setelah itu, orang tersebut berlalu pergi. Kemudian salah seorang sahabat yang ikut hadir meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh orang tersebut. Akan tetapi, beliau melarang dan bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya, dari jenis orang ini akan muncul sebuah kelompok. Mereka pandai membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati tenggorokan. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka terlepas keluar dari Islam, sebagaimana keluarnya anak panah dari objek buruan. Jika aku menjumpai mereka, aku akan membunuh mereka sebagaimana kaum ‘Ad dibunuh.”

 

Kedua Riwayat di Atas, Sama Ataukah Berbeda?

Dua riwayat di atas adalah riwayat yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa hal;

  1. Hadits pertama, yaitu hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu menyebutkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan pulang dari pertempuran di Lembah Hunain.

Adapun hadits kedua, yaitu hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ke negeri Yaman.

  1. Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu terjadi pada bulan Dzulqa’dah 8 H, sementara hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu pada 9 H.
  2. Harta yang dibagi-bagikan pada hadits Jabir adalah perak. Adapun dalam riwayat Abu Sa’id disebutkan bahwa harta yang dibagi adalah emas.
  3. Menurut hadits Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan perak kepada setiap orang yang datang. Hadits Abu Sa’id tidak demikian, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan untuk beberapa kalangan saja.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (12/360) memberikan keterangan, “Keduanya adalah kisah yang terjadi dalam dua waktu yang berbeda. Namun, sama-sama menyebutkan sikap pengingkaran dari pihak pengkritik. Di dalam hadits Abu Sa’id disebutkan secara jelas namanya, yaitu Dzul Khuwaisirah.”

Al-Hafizh melanjutkan, “Sementara itu, dalam hadits Jabir tidak disebutkan nama si pengkritik. Yang menyebutkan nama Dzul Khuwaisirah dalam hadits Jabir telah salah, karena ia menganggap kedua kisah tersebut sama.”

Dengan demikian, Dzul Khuwaisirah sebagai cikal bakal munculnya kaum teroris Khawarij adalah orang yang mengkritik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pembagian emas kiriman dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu; bukan dalam peristiwa pembagian perak sepulang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pertempuran di Lembah Hunain.

Wallahu a’lam.

 

Bukti Sejarah Misi Duniawi Kaum Teroris

Hanya dakwah Ahlus Sunnah yang tegak berdiri di atas fondasi keikhlasan. Tidak ada tendensi dan tujuan duniawi; bukan harta benda yang dicari, bukan pula popularitas. Ahlus Sunnah tidak bertujuan mencari kedudukan, pangkat, atau jabatan.

Dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah suci yang bertujuan mengajak umat Islam untuk benar-benar kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali (at-Tahdzir minal Fitan, hlm. 90—91) mengingatkan tentang dakwah Ahlus Sunnah, “Demi Allah, wahai anak-anakku. Kita tidaklah sedang memerangi seorang pun. Kita tidak menginginkan politik. Kita tidak menginginkan kekuasaan. Kita tidak menginginkan kedudukan. Demi Allah, seandainya kedudukan itu ditawarkan untuk kita, niscaya kita tidak akan menerimanya.”

Adapun selain Ahlus Sunnah, tujuan dan cita-cita mereka adalah dunia. Termasuk kaum teroris Khawarij, seperti ISIS, al-Qaeda, dan yang semisal mereka. Secara sejarah, kaum teroris Khawarij memang tidak lepas dari target-target duniawi. Bahkan, asal-muasal dan cikal-bakal mereka adalah peristiwa Dzul Khuwaisirah yang mengkritik pembagian harta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia nilai tidak mencerminkan ketakwaan.

Berikut ini beberapa contoh lainnya.

  1. Tragedi pemberontakan yang berujung pada gugurnya sahabat mulia, Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Sebelum tragedi itu terjadi, Khalifah Ustman telah berusaha untuk mengatasi gerakan pemberontakan dengan menemui dan menyetujui tuntutan mereka.

Ada lima poin yang menjadi kesepakatan antara Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu dan kaum pemberontak, yaitu

(1) orang yang diasingkan harus dikembalikan,

(2) orang yang tidak punya harta harus diberi,

(3) harta fai harus dibagikan secara sempurna,

(4) harus bersikap adil dalam pembagian harta, dan

(5) yang diangkat sebagai pemimpin haruslah amanah dan kuat.

Jika kita perhatikan, bukankah tuntutan dari para pemberontak teroris di atas, selalu dikaitkan dengan harta dan kedudukan? (Fitnah Maqtal Utsman, karya Muhammad as-Subhi)

Bagaimanakah yel-yel dan pekik suara kaum pemberontak ketika mengepung dan membunuh Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu?

Kaum teroris Khawarij berteriak-teriak setelah membunuh Khalifah Ustman radhiallahu ‘anhu, “Cepat kuasai Baitul Mal! Jangan sampai kalian didahului!”

Seperti itulah teriakan mereka, gamblang memperlihatkan salah satu tujuan yang ingin mereka capai. Allahul musta’an.

 

  1. Pada masa kekhilafahan sahabat Ali bin Abi Thalib, kaum teroris Khawarij semakin menjadi-jadi.

Sepulang dari Perang Shiffin, sejumlah pasukan menyatakan keluar dan memisahkan diri dari kesatuan pasukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sebagian ulama menyebut jumlah mereka 16.000 personel. Ada yang berpendapat 12.000. orang. Namun, ada lagi yang mengatakan 6.000 personel.

Atas izin Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berinisiatif menemui para pemberontak dengan tujuan berusaha menyadarkan mereka. Al-Imam an-Nasa’i (al-Khasais, hlm. 195 dan sanadnya dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil di dalam ash-Shahihul Musnad 1/564) meriwayatkan secara detail tentang pertemuan Ibnu Abbas dengan kaum pemberontak.

Di dalam riwayat tersebut, kaum teroris menyampaikan tiga alasan yang mendorong mereka keluar dan memisahkan diri dari pasukan Ali bin Abi Thalib.

Salah satunya, mengapa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berperang, namun tidak menawan dan mengambil harta ghanimah dalam Perang Jamal? Jika mereka yang diperangi adalah kaum kafir, halal untuk ditawan. Namun, jika mereka masih kaum mukminin, tidak boleh ditawan dan diperangi.

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab kritikan ini, “Adapun Ali bin Abi Thalib berperang melawan pihak Aisyah (Perang Jamal), namun tidak menawan dan mengambil harta ghanimah; apakah kalian akan menawan Ibunda kalian sendiri, yakni Aisyah?

Apakah kalian akan menghalalkan dari beliau sebagaimana kalian menghalalkan dari yang lain? Padahal beliau adalah Ibunda kalian?”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma melanjutkan, “Jika kalian menjawab, ‘Kami menghalalkan dari beliau sebagaimana kami menghalalkan dari yang lain’, kalian telah kafir. Jika kalian mengatakan, ‘Aisyah bukan Ibunda kami’, kalian pun kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

  ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzab: 6)

Dengan jawaban Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, poin kritikan tersebut pun dinyatakan terhapus oleh kaum teroris. Namun, yang patut untuk digarisbawahi adalah poin kritikan mereka yang dikait-kaitkan dengan harta, dalam hal ini adalah harta ghanimah dalam Perang Jamal.

 

Jangan Tertipu dengan Penampilan Luar Kaum Teroris

Demikianlah bid’ah kaum Khawarij! Agama digunakan untuk alat mengejar kepentingan dunia. Walaupun kenyataan ini coba dibantah dan diingkari, kenyataan tak mungkin dielakkan. Fakta dan realitas di lapangan menjadi saksi akan kebenaran hal ini.

Jika ada informasi yang menyebutkan bahwa ISIS, al-Qaeda, dan lain-lain memberikan janji dan iming-iming kehidupan yang layak dengan pendapatan dan ekonomi yang baik, hal ini bukanlah jauh dari kenyataan.

Jika mereka dikatakan saling memperebutkan daerah kaya minyak, juga bukanlah satu hal yang aneh. Sebab, pada dasarnya tujuan mereka adalah dunia.

Barangkali tidak semua pihak bisa menerima kenyataan ini. Alasannya, secara lahiriah kaum teroris seperti ISIS dan al-Qaeda menunjukkan ketaatan dan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka digambarkan sebagai kelompok yang rajin berzikir, senang berdoa, menjaga shalat, suka membaca al-Qur’an, dan ingin menegakkan syariat Islam. Bukankah demikian? Begitu kata mereka.

Apakah Anda lupa, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan keadaan mereka sejak dahulu?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada para sahabatnya, “Kalian menganggap kecil shalat kalian jika dibandingkan dengan shalat mereka.”

Jadi, jangan terkecoh dengan penampilan luar mereka!

Tentang hal ini, seorang ulama bernama Muhammad bin al-Husain menerangkan (asy-Syariah, karya al-Imam al-Ajurri hlm. 25),

“Seseorang yang melihat orang yang berpemahaman Khawarij, yang memberontak kepada pemerintah—baik yang adil maupun yang jahat—, mengumpulkan massa dan menghunus pedang, serta menghalalkan untuk memerangi kaum muslimin; janganlah dia terkecoh dengan bacaan al-Qur’an (si Khawarij tersebut), panjang shalatnya, puasanya yang terus-menerus, keindahan cara berbicaranya dalam ilmu, jika orang itu berpaham Khawarij.”

Melalui penjelasan singkat ini, marilah bersama-sama menyimpulkan bahwa tujuan dan cita-cita kaum teorirs Khawarij, semacam ISIS dan al-Qaeda, adalah dunia. Entah itu harta, kedudukan, atau lainnya. Penampilan lahiriah mereka tidak dapat menyembunyikan tujuan-tujuan duniawi tersebut. Fakta, kenyataan, dan realitas di lapangan telah mendustakan penampilan lahiriah mereka.

Sebagai penutup, marilah kita membaca kesimpulan tegas yang disampaikan oleh asy-Syaikh Abdur Rahman Muhyiddin, seorang ulama di zaman ini, saat menjelaskan Kitabul Imarat dari Shahih Muslim pada 26/11/1437 H, melalui akun twitter[1], “Sekarang ini, ambisi kaum Khawarij (ISIS) adalah dunia.”

Allahul musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

 


[1] https://twitter.com/channel_moh/status/770305378613600256/

]]>
Balasan untuk Kaum Perusak http://asysyariah.com/balasan-untuk-kaum-perusak/ Thu, 10 Aug 2017 03:25:59 +0000 http://asysyariah.com/?p=9878  

إِنَّمَا جَزَٰٓؤُاْ ٱلَّذِينَ يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.(al-Maidah: 33)

 

Sebab Turunnya Ayat

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang dari kabilah Urainah yang datang ke Madinah.

Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang berkata,

“Sekelompok orang yang berasal dari ‘Ukul mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas masuk Islam. Kemudian mereka merasa tidak nyaman tinggal di kota Madinah karena cuaca yang tidak bersahabat dengan kondisi mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk mendatangi tempat unta sedekah digembalakan agar mereka bisa meminum air kencing dan susu unta tersebut. Mereka pun melakukannya dan menjadi sehat. Tak disangka, mereka justru murtad dan membunuh para penggembalanya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar jejak mereka diikuti. Mereka pun berhasil diringkus dan dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memotong tangan dan kaki mereka, mencungkil mata mereka, dan mata mereka ditusuk dengan besi panas hingga mereka mati.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat Muslim, mereka berasal dari kabilah ‘Ukul atau ‘Urainah. Dalam riwayat lain, mereka dibuang di bawah terik matahari dan dibiarkan hingga mati.

Dalam riwayat lain, mereka meminta minum dan mereka tidak diberi minum.

Dalam riwayat al-Bukhari, Abu Qilabah berkata, “Mereka mencuri lalu membunuh, murtad setelah beriman, dan memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencungkil mata-mata mereka karena mereka telah mencungkil mata-mata para penggembala unta tersebut.”

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya berkaitan dengan kejadian ini.

  

  1. Ayat ini berkaitan dengan sekelompok ahli kitab yang memiliki perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lalu membatalkan perjanjian itu dan melakukan perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla kemudian memberi pilihan: membunuh mereka atau memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang.

Ini adalah pendapat adh-Dhahhak dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

 

  1. Ayat ini berkenaan dengan teman-teman Abu Burdah al-Aslami radhiallahu ‘anhu. Mereka melakukan perampokan terhadap satu kaum yang datang ingin memeluk Islam. Lalu turunlah ayat ini.

Ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

 

  1. Ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin.

Ini merupakan pendapat al-Hasan dan diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. (Zadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/540—541)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang benar, ayat ini bersifat umum, mencakup kaum musyrikin dan selain mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Tafsir Ayat

يُحَارِبُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادًا

“Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ada beberapa penjelasan ulama tentang orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta berjalan di muka bumi dengan kerusakan.

  • Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Tafsir-nya,

Muharabah artinya melakukan perlawanan dan menyelisihi. Yang dimaksud bisa jadi kekufuran, menyamun di jalan, dan mendatangkan rasa takut dalam perjalanan. Demikian pula bentuk melakukan perusakan di muka bumi, yang dikategorikan beberapa jenis perbuatan kejahatan.

“Bahkan, banyak kalangan ulama salaf, termasuk Sa’id bin al-Musayyab yang mengatakan bahwa pinjam-meminjam uang dinar dan dirham (dengan cara riba –pen.) termasuk bentuk perusakan di muka bumi.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.(al-Baqarah: 205)

 

  • Al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata, “Orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah yang menampakkan permusuhan secara terang-terangan, merusak di muka bumi dengan kekufuran dan pembunuhan, merampas harta, dan memberi rasa takut di jalan-jalan.

“(Pendapat) yang masyhur, ayat yang mulia ini menjelaskan tentang hukum para penyamun di jalanan, yang mengganggu perjalanan manusia di kota-kota dan pedalaman, mengambil paksa harta mereka, membunuh, menakut-nakuti mereka, sehingga manusia tidak mau melewati jalan yang mereka ada di sana yang berakibat terhentinya aktivitas mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Dari penjelasan di atas, di antara kesimpulannya, yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya tidak terkhusus untuk orangorang kafir, tetapi juga kaum muslimin yang memiliki sifat “memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan melakukan perusakan di muka bumi”.

Bahkan, seseorang yang bermuamalah dengan cara riba pun termasuk kategori mereka yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Demikian pula para ahli bid’ah yang menghalalkan darah kaum muslimin, melakukan perusakan, merampas harta, menculik, mendatangkan rasa takut masyarakat di sebuah negeri, dan yang semisalnya. Semua itu merupakan bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa yang dimaksud “memerangi” dalam ayat ini adalah jika dilakukan di jalan-jalan. Adapun jika dilakukan di dalam perkotaan, hal itu tidak termasuk.

Pendapat ini menyelisihi pandangan mayoritas para ulama mazhab Maliki, Syafi’i, al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, dan Ahmad bin Hambal. Bahkan, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa seseorang yang dikelabui orang lain lantas dibawa ke dalam rumah lalu dibunuh dan dirampas hartanya, juga termasuk bentuk peperangan terhadap Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Termasuk dalam hal ini adalah perbuatan kaum teroris yang melakukan pembantaian dan perusakan di muka bumi, seperti yang dilakukan oleh

  • kaum Khawarij dengan berbagai nama dan kelompoknya,
  • kaum Syiah Rafidhah yang memerangi kaum muslimin di berbagai negeri, dan
  • kaum komunis dengan berbagai bentuknya.

Itu adalah bentuk memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi.

Diterangkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Setiap kelompok yang memiliki kekuatan namun enggan taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. “Siapa yang beramal di muka bumi tanpa berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, dia telah melakukan perusakan di muka bumi. Oleh karena itu, para ulama salaf menjelaskan bahwa ayat ini berlaku untuk kaum kafir dan ahli kiblat (kaum muslimin).

“Karena itulah, mayoritas imam agama menggolongkan para penyamun yang menampakkan senjatanya untuk sekadar merampas harta dan orang yang berperang untuk mengambil harta, sebagai orang-orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan; meskipun mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan itu haram; meski mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

“Orang yang meyakini halalnya darah dan harta kaum muslimin, serta menganggap halal memerangi mereka, lebih pantas disebut sebagai “orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan berjalan di muka bumi dengan kerusakan” daripada mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya).

“Hal ini sebagaimana halnya seorang kafir harbi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dan berpandangan bolehnya memerangi mereka, lebih pantas diperangi daripada orang fasik yang meyakini diharamkannya hal tersebut.

“Demikian pula halnya ahli bid’ah yang meninggalkan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya. Mereka lebih pantas diperangi daripada orang fasik; meskipun mereka menganggap perbuatannya sebagai agama yang mendekatkan dirinya kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Demikian pula halnya kaum Yahudi dan Nasrani yang meyakini tindakan memerangi kaum muslimin sebagai cara mereka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Oleh karena itu, para pemimpin Islam bersepakat bahwa bid’ah yang berat ini lebih berbahaya daripada dosa-dosa yang diyakini oleh pelakunya sebagai dosa.

“Hal ini telah berlaku dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memerintahkan untuk memerangi kaum Khawarij yang meninggalkan sunnah beliau, dan memerintah kaum muslimin untuk bersabar menghadapi kezaliman para penguasa dan tetap shalat di belakang mereka, meski mereka melakukan perbuatan dosa.

“Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan sebagian sahabatnya yang masih melakukan perbuatan dosa bahwa dia mencintai Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Beliau juga melarang melaknat mereka. Beliau memberitakan pula tentang Dzul Khuwaishirah dan para pengikutnya—yang memiliki ibadah dan sikap wara’—bahwa mereka telah keluar meninggalkan Islam seperti halnya anak panah yang keluar meninggalkan sasarannya. (Majmu’ al-Fatawa, 28/470—471)

 

Hukuman Bagi Perusak di Muka Bumi

Adapun makna firman Allah ‘azza wa jalla,

أَن يُقَتَّلُوٓاْ أَوۡ يُصَلَّبُوٓاْ أَوۡ تُقَطَّعَ أَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم مِّنۡ خِلَٰفٍ أَوۡ يُنفَوۡاْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِۚ

“Mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.

Di dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tentang hukum orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya serta melakukan perusakan di muka bumi, bahwa hukum terhadap mereka;

  • dibunuh
  • disalib
  • dipotong tangan dan kaki mereka secara menyilang
  • diasingkan dari muka bumi

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, apakah hukum yang disebutkan ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada penguasa negeri?

Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini bersifat pilihan yang diserahkan kepada keputusan penguasa negeri. Ini merupakan pendapat Said bin Musayyab, Mujahid, Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, dan adh-Dhahhak, serta dihikayatkan pula dari Malik bin Anas.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Barang siapa menghunuskan senjatanya di tengah kaum muslimin, mendatangkan rasa takut di jalan, lalu ia berhasil diringkus dan dihukum, pemimpin kaum muslimin diberi pilihan dalam menetapkan hukumnya: (1) jika ingin, dibunuh, (2) dan jika ingin, disalib, (3) dan jika ingin, dipotong tangan dan kakinya.”

Abu Tsaur berkata, “Penguasa diberi pilihan berdasarkan zahir ayat ini. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa apa yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata ‘atau’ maka pelakunya diberi pilihan.”

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat ini lebih tampak berdasarkan zahir ayat.” (Tafsir al-Qurthubi)

Adapun jumhur ulama menyatakan bahwa ayat ini diterapkan sesuai dengan keadaan, seperti yang dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang hukum para penyamun, “Jika membunuh dan merampas harta, mereka dibunuh dan disalib. Jika membunuh namun tidak merampas harta, mereka dibunuh tanpa disalib. Jika merampas harta dan tidak membunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Jika melakukan teror di jalan tanpa merampas harta, mereka diasingkan dari muka bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika dia merampas harta, dipotong tangan kanannya dan dipotong kaki kirinya, lalu dia dilepas. Sebab, kejahatan ini lebih dari sekadar mencuri dengan cara menyerang. Jika dia membunuh, dia pun dibunuh. Jika dia merampas harta dan membunuh, dia dibunuh dan disalib.” (Tafsir al-Qurthubi)

Ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam Tafsir-nya, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihissalam tentang hukum yang diterapkan bagi orang yang memerangi Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.

Jibril ‘alaihissalam menjawab, “Siapa yang mencuri dan membuat teror di jalan, potonglah tangannya sebagai hukuman dia mencuri; dan potong kakinya sebagai hukuman dia melakukan teror di jalan. Siapa yang membunuh, bunuhlah dia. Siapa yang membunuh lalu membuat teror di jalan dan menghalalkan kemaluan (memperkosa), saliblah dia!” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

Makna Disalib

Ada perselisihan di kalangan para ulama tentang cara menyalibnya.

  • Sebagian para ulama mengatakan bahwa ia dibunuh terlebih dahulu lalu disalib. Ini merupakan pendapat yang zahir dari mazhab Syafi’i.
  • Ada pula yang berpendapat ia disalib dalam keadaan hidup lalu ditusuk hingga mati dalam keadaan tersalib. Ini merupakan pendapat Laits bin Sa’ad.
  • Ada pula yang berpendapat disalib selama tiga hari dalam keadaan hidup, lalu diturunkan dari tiang salib dan dibunuh. (Tafsir al-Baghawi)

Adapun makna dipotong tangan dan kaki secara bersilang adalah apabila tangan kanan yang dipotong, kaki yang dipotong adalah yang kiri. (Zadul Masir)

 

Makna Diasingkan dari Muka Bumi

Asal makna ( يُنفَوۡاْ ) adalah diusir dan dijauhkan. Ada beberapa penjelasan ulama terkait dengan makna diasingkan dari permukaan bumi.

 

  1. Dijauhkan dari negara Islam dan dimasukkan ke dalam negara kafir yang diperangi oleh kaum muslimin.

Ini merupakan pendapat Anas bin Malik, Hasan, dan Qatadah.

Ibnul Jauzi berkata, “Ini diberlakukan jika pelakunya musyrik dan kafir. Adapun jika dia seorang muslim, tidak diberlakukan hal tersebut.”

 

  1. Mereka dicari untuk ditegakkan hukum had atasnya, lalu setelah itu dijauhkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid.

 

  1. Mereka dikeluarkan dari kampung tempat tinggalnya menuju kampung yang lain, seperti hukuman yang ditimpakan kepada pelaku zina.

Pendapat ini diriwayatkan dari Said bin Jubair. Al-Imam Malik berkata, “Diasingkan ke sebuah negeri yang bukan negerinya, lalu dipenjara di negeri tersebut.”

 

  1. Yang dimaksud adalah dipenjara.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan para pengikutnya. Mereka berpaandangan bahwa yang dimaksud diasingkan adalah dipenjarakan dari kebebasan dunia luar menuju dunia yang sempit. Pendapat ini dikuatkan pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Makhul rahimahullah menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah orang yang pertama kali menahan pelaku kejahatan dengan penjara. Beliau radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku memenjarakannya hingga aku mengetahui bahwa dia telah bertobat. Aku tidak mengasingkannya dengan cara memindahkannya dari satu negeri ke negeri lain supaya tidak menyebabkan gangguan terhadap penduduk negeri tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi)

 

Hukuman Terhadap Teroris Khawarij

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam banyak hadits tentang munculnya satu kelompok perusak di muka bumi yang menghalalkan darah dan harta kaum muslimin dengan mengatasnamakan agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan penguasa kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Dalam sebuah hadits yang sahih dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa saat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berada di negeri Yaman, dia mengirim sebongkah emas yang masih bercampur dengan tanahnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaginya kepada empat orang: al-Aqra’ bin Habis al-Hanzhali, ‘Uyainah bin Badar al-Fazari, Alqamah bin ‘Ulatsah al-‘Amiri, salah seorang dari kabilah Bani Kilab, dan Zaid al-Khair at-Tha’i, salah seorang dari Bani Nabhan.

Kaum Quraisy marah. Mereka berkata, “Engkau berikan kepada para pemuka kabilah Najd dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melakukan hal ini untuk membuat hati mereka semakin kuat (dalam memeluk Islam).”

Datanglah seorang lelaki berjenggot lebat, menonjol bagian atas pipinya, kedua matanya tenggelam ke dalam, menonjol dahinya, botak kepalanya. Dia berkata, “Bertakwalah kepada Allah ‘azza wa jalla, wahai Muhammad!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Siapa yang akan taat kepada Allah ‘azza wa jalla jika aku bermaksiat kepada-Nya? Allah ‘azza wa jalla percaya kepadaku untuk menjadi utusan-Nya ke penduduk bumi, sementara kalian tidak percaya kepadaku?”

Orang itu pun pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد.

“Sesungguhnya akan muncul dari cikal-bakal orang ini satu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melampaui tenggorokannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka keluar meninggalkan agama Islam sebagaimana anak panah yang meninggalkan sasarannya. Jika aku mendapati mereka, niscaya aku akan membunuhnya seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya, “seperti terbunuhnya kaum Tsamud”.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa makna ‘seperti terbunuhnya kaum ‘Aad’ adalah membunuh mereka secara massal hingga ke akar-akarnya.

Beliau juga berkata, “Dalam hadits ini, terdapat dalil anjuran memerangi mereka. Demikian pula dalil tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang memerangi mereka.” (Syarah Muslim, an-Nawawi, 7/162)

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama, “Sungguh, kaum muslimin telah bersepakat tentang wajibnya memerangi kaum Khawarij dan Rafidhah dan yang semisal mereka, apabila mereka memisahkan diri dari jamaah (pemerintah) kaum muslimin, sebagaimana halnya Ali radhiallahu ‘anhu memerangi mereka.” (al-Fatawa al-Kubra, 3/ 548)

Hanya saja perlu diingat, yang berhak memerangi mereka adalah pemerintah kaum muslimin yang berkuasa di negeri tersebut.

 

ذَٰلِكَ لَهُمۡ خِزۡيٞ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٣٣

Hal itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

Al-Baghawi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Itulah yang aku sebutkan tentang hukum had. Mereka mendapat kehinaan, siksaan, dan kerendahan dalam kehidupan dunia; dan mereka mendapat azab yang pedih dalam kehidupan akhirat.”

Wallahul muwaffiq.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

]]>
Tanya Jawab Ringkas Edisi 117 http://asysyariah.com/tanya-jawab-ringkas-edisi-117/ Thu, 10 Aug 2017 03:21:38 +0000 http://asysyariah.com/?p=9876 Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 Menyediakan Tempat Tinggal Untuk Istri

Seorang wanita sudah 4 tahun lamanya masih hidup bersama mertua. Si wanita sering digoda untuk berbuat layaknya suami isteri oleh bapak mertuanya ketika suami tidak di rumah.

Apa yang harus dilakukan wanita tersebut jika suami belum punya tempat tinggal dan tidak mempunyai nafkah yang cukup untuk mengontrak rumah?

 Jawaban:

Suami wajib menempatkan istrinya di rumah yang aman. Dalam kondisi di atas, suami wajib mencarikan tempat tinggal untuk istri, walau dengan mengontrak, bahkan walaupun harus berutang. Sebab, keberadaan istri di rumah mertua sudah terancam kehormatannya.

Di samping itu, suami wajib menegur dan menasihati orang tuanya.

 ——————————————————————————————————————————————

Pembelian Bayar di Muka

Seorang produsen pakaian menjual pakaian dengan warna tertentu di internet. Ada pembeli yang ingin dibuatkan pakaian tersebut dengan warna lain. Produsen mengecek ketersediaan warna yang diminta di toko kain. Jika warna itu ada, produsen meminta pembeli membayar di muka. Setelah menerima pembayaran, produsen membeli bahan yang diminta dan membuatnya untuk si pembeli.

Apakah ini termasuk larangan menjual barang yang belum dikuasai?

Jawaban:

Akad di atas lebih dikenal dengan istishna’, yang rajih hukumnya boleh. Diperbolehkan ada uang muka. Apabila barang sudah jadi sesuai dengan permintaan, pemesan tinggal melengkapi pembayaran. Apabila barang tidak sesuai dengan permintaan, pemesan bisa membatalkan akad dan uang kembali. Harga barang sesuai dengan kesepakatan bersama.

Apabila pembayaran utuh sesuai dengan harga barang dan dilakukan di muka untuk barang tertentu, dengan spesifikasi tertentu, dan diserahkan pada waktu tertentu, akad itu disebut akad salam. Hukumnya boleh.

 ——————————————————————————————————————————————

Ziarah Kubur Orang Tua yang Tidak Pernah Shalat

Apakah boleh menziarahi kubur dan mendoakan ortu yang tidak pernah shalat? Beberapa bulan sebelum meninggal, orang tua sempat minta diajari shalat, tetapi sampai akhir hayatnya belum bisa melakukan dan belum mengerjakannya.

Apakah ia sudah dihukumi kafir? Apa kewajiban anak bagi yang memiliki orang tua yang meninggal dengan keadaan seperti itu?

 Jawaban:

Orang yang tidak pernah shalat adalah kafir, bukan muslim. Dia tidak boleh didoakan, namun boleh diziarahi makamnya dengan tujuan:

  1. Mengingat mati.
  2. Mengingat akhirat.

Hanya saja, tidak boleh didoakan.

 ——————————————————————————————————————————————-

Kuburan di Depan Masjid

Saya shalat berjamaah di masjid yang depannya (sebelah tembok) ada kuburan. Bagaimana sebaiknya?

 Jawaban:

Kalau ada pembatas, semacam jalan setapak, selokan, pagar, dll, tidak masalah shalat di masjid tersebut.

Tidak ada pembatas, hanya saja shalatnya agak mundur dari mihrab. Kata takmirnya, belum bisa memberi pembatas karena terhalang dana. Bagaimana solusinya?

 Jawaban:

Lebih baik tidak shalat di masjid itu untuk kehati-hatian. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Sering Cemas karena Masalah Kecil

Ada seorang wanita sering merasa putus asa, resah, cemas, dan menangis, bahkan stres jika ada masalah walaupun masalah kecil, misal hanya tersandung sedikit.

Wanita tersebut lalu menikah. Setelah menikah juga demikian, ia sering menangis, ketakutan, putus asa, seolah-olah tidak ada harapan hidup padahal hanya dihadapkan pada masalah kecil.

Apakah itu termasuk gangguan jin? Bagaimana cara mengatasinya? Wanita tersebut juga sering meruqyah diri sendiri, berdoa, dan thalabul ilmi. Muncul ketenangan, tetapi gangguan itu tetap hilang-datang? Hubungan dengan suami & keluarga baik-baik saja.

 Jawaban:

Wanita tersebut berjiwa sensitif. Solusinya adalah:

  1. Mempertebal keimanan kepada takdir Allah.
  2. Meningkatkan dan melatih kesabaran dengan selalu berupaya meredam hati, lisan, dan anggota badan dari segala yang mungkar dan keluh kesah.
  3. Meningkatkan rasa tawakal kepada Allah dengan memasrahkan segala urusan kepada Allah setelah berikhtiar secara maksimal.
  4. Meningkatkan ibadah dan taqarub (pendekatan diri) kepada Allah.
  5. Membaca sejarah Nabi dan kaum salaf yang penuh keteladanan dalam mengarungi kehidupan.
  6. Meminta wejangan kepada orang yang bisa menenteramkan hati.

 —————————————————————————————————————————————–

Zakat Diserahkan kepada Ibu

Kalau ada kewajiban harta yang harus dikeluarkan, semisal zakat dan kafarah, apakah boleh diberikan kepada ibu kandung yang janda dan miskin, tetapi bukan saya yang menanggung kebutuhan hidup beliau?

 Jawaban:

Zakat mal, zakat fitrah, dan kafarah bisa diserahkan kepada sanak famili dengan dua syarat:

  1. Mereka termasuk mustahiq.
  2. Mereka bukan orang yang kita tanggung kehidupan kesehariannya.

 —————————————————————————————————————————————–

Tetangga Putar Musik

Bagaimana hukumnya memutar murattal atau kajian ilmiah untuk mengimbangi tetangga yang memutar musik?

 Jawaban:

Tujuan utama adalah mengambil faidah ilmiah dari ceramah tersebut dan tadabbur dari murattal tersebut.

Tindakan di atas bukan solusi persoalan, bahkan bisa jadi menambah runyam. Lebih baik berbicara dan menasihati tetangga dengan cara yang baik tentang haramnya musik. Target minimalnya adalah suaranya kecil supaya tidak mengganggu ketenangan.

——————————————————————————————————————————————-

Pendidikan Anak

Anak memasuki usia sekolah. Rencana saya masukkan di pondok salafi. Istri kurang setuju dengan alasan belum tega karena sehari tidak melihat anak. Bagaimana solusinya? Jarak rumah saya dengan pondok sekitar 1/4 jam perjalanan sepeda motor.

 Jawaban:

Seyogianya anak mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya secara maksimal. Anak tidak dilepas jauh untuk dipondokkan (asrama) kecuali apabila sudah mandiri dan siap secara psikologis.

Apabila belum siap, anak diikutkan belajar di pondok salafi yang full day atau setengah hari. Apalagi jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.

Orang tua yang bertanggung jawah atas tarbiyah anak-anaknya harus siap berkorban. Di sisi lain, istri juga perlu dinasihati dan dibimbing agar meyakini kebenaran manhaj salaf dan mendukung tarbiyah salafiyah untuk anak-anaknya.

——————————————————————————————————————————————-

Wali Wanita Tidak Setuju

Seorang wanita ingin menikah, tetapi orang tua wanita tidak setuju/tidak merestui dengan calon laki-lakinya tersebut karena si laki-laki tersebut duda. Bolehkah wanita itu menikah siri dengan laki-laki duda tersebut tanpa persetujuan orang tua si wanita?

Pertanyaan ini dari si duda, karena dia khawatir terjatuh dalam hal-hal yang tidak diinginkan.

 Jawaban:

Apabila yang dimaksud nikah siri adalah tanpa wali, pernikahannya tidak sah.

Nasihat secara umum dalam pernikahan: Lakukan pernikahan sesuai dengan syariat dari jalur yang benar dan aman baik secara syar’i maupun aturan negara, agar tidak timbul fitnah di kemudian hari.

Apabila ortu wanita belum setuju, berjuanglah untuk meluluhkan hatinya dengan cara-cara yang baik. Itulah perjuangan. Apabila sudah berusaha secara maksimal dan tanpa hasil, cari wanita lain yang orang tuanya bisa menerima keadaan.

 ——————————————————————————————————————————————-

Keutamaan Tarawih Bersama Imam bagi Wanita

Apakah keutamaan melaksanakan shalat tarawih dengan imam sampai selesai juga berlaku bagi para wanita? Ataukah tetap lebih utama bagi kami untuk melaksanakannya munfarid di rumah sebagaimana shalat-shalat yang lain? Mohon penjelasannya.

 Jawaban:

Wanita lebih afdal shalat di rumah berdasarkan keumuman hadits dan tentu akan mendapat pahala besar. Apabila wanita tersebut shalat berjamaah dengan imam, dia mendapat pahala seperti yang tersebut dalam hadits.

——————————————————————————————————————————————-

Satu Barang, Satu Toko, Beda Harga

Pada 24/05/2016 saya membeli obat di sebuah toko dengan harga 155 ribu. Karena obat akan habis, pada 11/06/2016 saya akan membeli obat yang sama, dengan harga 255 ribu.

Karena harga naik terlalu tinggi, saya bertanya mengapa naiknya tinggi sekali. Saya menyebutkan harga dan menunjukkan nota bulan kemarin. Penjaga yang lain heran dengan harganya yang murah. Dia mengatakan bahwa obat yang dahulu salah harga. Dia meminta tambahan kekurangan uang dari harga yang kemarin.

Melihat kasus ini saya mempunyai pertanyaan. Bagaimana sikap saya sebagai pembeli? Bagaimana sikap saya apabila sebagai penjual?

 Jawaban:

Pada kasus jual beli di atas sang penjual perlu menunjukkan bukti valid terkait harga jual obat tersebut. Apabila benar harganya salah pada akad pertama, langkah berikutnya adalah islah antara penjual dan pembeli. Dicari solusi terbaik yang disepakati.

Namun, apabila alot dan sang pembeli tidak mau, itu menjadi risiko penjual. Sebab, pembeli sedikit pun tidak melakukan penipuan atau kecurangan.

 —————————————————————————————————————————————–

Tamu Berpemahaman Menyimpang

Bagaimana sikap sebagai seorang muslim yang cendikia dan berilmu ketika didatangi tamu yang berpemahaman menyimpang:

  1. Tamu tersebut dari kalangan ustadz (orang yang sudah mengerti)?
  2. Simpatisan (orang yang terkadang ikut kajian mereka dan belum mengerti ilmu syar’i secara benar)?

 Jawaban:

Muamalah dengan orang yang menyimpang atau pelaku bid’ah dalam perspektif manhaj salaf ada perincian:

  1. Pelaku bid’ah karena keawamannya atau yang tertipu dengan penyimpangan. Kaidah bermuamalah dengan mereka adalah ta’liful qulub, melembutkan hati mereka dengan nasihat yang baik, berinteraksi secara umum dengan baik tanpa kita mengorbankan prinsip. Mereka inilah ladang dakwah kita.

Sikap ta’lif ini ada batasnya, yaitu sampai mereka menunjukkan penentangan, tidak lagi mau mendengar nasihat dan justru menebar fitnah. Jika demikian keadaannya, kita terapkan prinsip hajr.

 

  1. Para dai dan dedengkot penyimpangan.

Kaidah bermuamalah dengan mereka adalah hajr (boikot) dan tahdzir (memperingatkan dan mewaspadai) dengan ketentuan-ketentuannya. Perincian di atas dikecualikan kondisi tertentu yang tidak terelakkan. Pada saat itu sajalah kita lakukan prinsip ta’lif dalam rangka meredam keburukan. Inilah siyasah syar’iyah yang disebut mudarah.

Contohnya, ada tokoh penyimpangan bertamu ke rumah kita. Ada dua keadaan:

  1. Kita bisa mengusirnya atau menolaknya tanpa menimbulkan fitnah di tengah masyarakat.

Jika demikian keadaannya, itulah yang harus kita lakukan sebagai kaidah asal bermuamalah dengan mereka. Praktik salaf dalam bab ini banyak, seperti tindakan Thawus, Ibnu Sirin, dll.

  1. Tidak mungkin menolak dan mengusirnya karena banyak sebab, misalnya:
  • kita menunggu tamu dari kalangan awam atau pejabat, ternyata dia numpang ikut tanpa konfirmasi.
  • dia sudah di ruang tamu karena dipersilakan oleh orang tua atau anak kita karena ketidaktahuan.
  • dia datang bertamu dalam keadaan di luar rumah banyak masyarakat awam, bahkan mungkin pihak yang tidak suka dengan dakwah kita.

Dalam kondisi-kondisi semisal di atas, kita terapkan kaidah ta’lif. Kita temui mereka dengan baik sesuai dengan hajatnya dan berinteraksi secara umum tanpa kita mengorbankan prinsip. Inilah yang dicontohkan dalam sunnah.

 

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

 Masjid yang Boleh Menjadi Tempat I’tikaf

Apakah benar pendapat yang mengatakan itikaf hanya bisa dilaksanakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

 Jawaban:

Pendapat itu marjuh (lemah). Lihat secara lengkap di buku kami Fikih Puasa Lengkap.

 —————————————————————————————————————————————–

Bekerja di Diler Kendaraan

Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya bekerja di diler kendaraan? Sebagaimana kita ketahui, diler mustahil tidak menjual kendaraan secara kredit.

 Jawaban:

Jika demikian, tidak boleh bekerja di situ.

 —————————————————————————————————————————————-

Menikahi Sepupu

Saya ingin bertanya tentang pernikahan. Sepupu saya yang bila dirujuk dari hukum pernikahan Islam boleh dinikahi. Namun, suatu hari sepupu saya tersebut mengatakan bahwa saya sudah dianggap sebagai saudara/kakak. Pertanyaan saya, jika kami tetap menikah, apakah pernikahan itu halal atau haram? Sebab, dia sudah mengatakan saya dianggap sebagai kakak.

 Jawaban:

Ucapannya tidak menghalangi pernikahan Anda berdua. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————-

Mahar dari Pemberian

Apakah sah suatu perkawinan dengan mahar yang diberikan oleh seseorang. Terima kasih.

 Jawaban:

Maksudnya pengantin tidak punya mahar atau kesulitan, kemudian ada yang bantu memberikan kepadanya harta untuk jadi mahar pernikahannya? Jika demikian, sah.

 ——————————————————————————————————————————————

Menikah Saat Hamil

Saya ingin bertanya. Saya sekarang sudah menikah, tetapi saya menikah karena saya sudah hamil. Apakah pernikahan saya sah menurut agama? Yang menikahi saya adalah laki-laki yang menghamili saya.

 Jawaban:

Tidak sah. Anda harus berpisah hingga anak zina itu lahir. Anak tersebut dinisbahkan kepada ibunya tanpa ayah.

Setelah itu Anda boleh menikah, dengan syarat Anda berdua telah tobat dari zina dengan tobat yang benar.

 —————————————————————————————————————————————-

Tidak Mau Menikah

Apakah saya berdosa jika tidak mau menikah? Sebelumnya saya sudah hampir menikah dengan laki-laki yang saleh dan sesuai dengan apa yang saya inginkan, namun ia meninggal dunia. Sejak saat itu saya menutup diri dari semua laki-laki.

Sekarang saya hanya menyibukkan diri mencari ilmu dan berusaha untuk mengamalkannya dengan harapan dapat berkumpul dengannya di akhirat kelak. Mohon nasihatnya.

 Jawaban:

Menikah adalah sunnah Nabi. Kami nasihatkan agar Anda tetap menikah dengan pria saleh lainnya untuk menjalankan sunnah Nabi dan menjaga diri Anda. Sebab, menikah lebih menjaga diri dari godaan syahwat.

Apalagi seorang wanita butuh mahram, pelindung, dan pemberi nafkah agar jalan hidupnya lebih mudah dan ringan. Lihatlah para wanita sahabat, walau ditinggal mati suami, mereka tetap menikah lagi setelahnya.

 —————————————————————————————————————————————–

Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Bolehkah shalat tarawih 4 rakaat dengan sekali salam? Apakah diperbolehkan shalat malam/tarawih dikerjakan 4 rakaat, 4 rakaat, lalu 3 rakaat?

 Jawaban:

Sebagian ulama, seperti an-Nawawi dan al-Albani, berpendapat boleh.

Akan tetapi, shalat tarawih 4 rakaat, 4 rakaat, lalu 3 rakaat pada hadits Aisyah (muttafaq ‘alaih) ditafsirkan oleh riwayat Muslim yang merincikan bahwa 4 rakaat itu adalah 2 rakaat 2 rakaat dengan dua salam, lalu istirahat.

 Demikian pula hadits Ibnu ‘Umar,

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

        “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.”

Ini yang ditegaskan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.

 Adapun witir ada dua cara:

  • Dua rakaat ditutup salam, lalu satu rakaat.
  • Tiga rakaat dengan satu tahiyat.

 ——————————————————————————————————————————————

Ucapan Talak

Saya mau tanya, seorang suami mengucapkan, “Kamu saya antar pulang ke rumah orang tuamu,” karena merasa sudah tidak kuat sama si istri.

Apakah itu dinamakan talak? Sebab, si suami mengucapkannya dengan perasaan marah dan kesal. Bagaimana hukumnya?

 Jawaban:

Tergantung niatnya. Jika dia niatkan talak, jatuh talak. Jika tidak dia niatkan talak, tidak jatuh talak.

 —————————————————————————————————————————————–

Resepsi Pernikahan Nonmuslim

Saya mau tanya, apakah kita boleh menghadiri resepsi pernikahan orang nonmuslim yang makanannya dari katering (halal) tetapi acaranya di dekat kompleks gereja, tidak di dalamnya?

 Jawaban:

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini membolehkan menghadiri undangan acara resepsi pernikahan nonmuslim, karena tidak tergolong acara momen keagamaan.

Namun, perlu diperhatikan syarat lainnya, di antaranya syarat tidak ada perkara haram pada acara itu, seperti musik, campur baur laki-laki dan wanita, kedua pengantin dipajang, dokumentasi gambar dengan foto atau video, dan semcamnya.

Jika syarat ini tidak terpenuhi, resepsi tersebut tidak boleh dihadiri. Wallahu a’lam.

——————————————————————————————————————————————

Talak Saat Suci Setelah Digauli

Tiga bulan lalu A menalak istrinya dengan sadar 100% dalam masa suci tetapi telah digauli.

Bagaimana status istrinya sekarang? Sampai sekarang istrinya belum haid, hamil pun tidak.

Perempuan yang haidnya tidak lancar tiap bulan, pernah dalam setahun hanya 3 kali, bagaimana menghitung masa iddahnya?

 Jawaban:

Talaknya sah menurut pendapat yang rajih. Masa iddahnya adalah 3 kali haid.

Dia menanti sampai melewati 3 kali haid, meskipun setahun. Wallahu a’lam.

 ——————————————————————————————————————————————

Khulu’ Saat Haid

Mohon bimbingannya secara syariat. Khulu’ saat keadaan haid, apakah sah?

 Jawaban:

Khulu’ saat haid boleh dan sah. Sebab, khulu’ bukan talak, melainkan fasakh dan atas permintaan istri.

 ——————————————————————————————————————————————-

Kasus Waris

Saudara kandung almarhum hanya tinggal bapak saya dan adik lelaki bapak saya, sementara almarhum tidak punya anak. Ada keponakan bapak saya yang ikut tinggal di rumahnya. Rumah tersebut hasil penjualan dari rumah peninggalan kakek saya.

Tanpa sepengetahuan bapak saya, ternyata sertifikat rumah tersebut sudah dibalik nama atas nama keponakan bapak saya. Katanya, sudah dihibahkan almarhum kepada keponakan bapak saya.

Secara hukum bagaimana? Orang tua saya sudah menggugat secara kekeluargaan dengan kerabat keluarganya.

 Jawaban:

Tampak dari pertanyaan bahwa rumah itu diwarisi oleh anak-anak sang kakek, yaitu bapak Anda dan saudaranya itu.

Jika anak kakek Anda hanya tinggal mereka berdua, saudaranya tersebut seharusnya hanya menghibahkan bagiannya dari rumah itu. Adapun bagian bapak Anda diserahkan kepada bapak Anda.

Jadi, hibah tersebut untuk keponakan bapak Anda dari rumah itu tidak sah. Bapak Anda punya hak menggugatnya untuk meminta bagian warisan yang merupakan haknya dari rumah itu. Wallahu a’lam.

Tersisa sebuah masalah, kami mengingatkan Anda agar tidak menggunakan istilah almarhum. Sebab, menurut orang Indonesia istilah semacam itu berstatus gelar, bukan doa, yang berarti memastikan dia dirahmati dan masuk surga.

 ———————————————————————————————————————————

Oper Kredit Mobil

Si A membeli mobil ke diler dengan DP sekitar 5 juta rupiah, diangsur per bulan 2 juta rupiah lebih selama 5 tahun.

Baru berjalan 3 tahun, keluarga Si A oper kredit ke B karena tidak mampu membayar. Si A sudah meninggal. Keluarga Si A meminta uang kepada Si B sebagai ganti uang DP dan angsuran selama 3 tahun, setelah dikurangi kerusakan akibat pemakaian, dsb.

Bagaimana hukumnya? Apabila mobil dikembalikan ke diler, uang tidak kembali, barang pun hilang.

 Jawaban:

Ketahuilah bahwa jual beli dengan diler mobil/motor dengan sistem kredit adalah riba, ditinjau dari dua sisi:

  1. Ada denda apabila menunggak pembayaran.
  2. Dibayari/dilunasi dulu oleh pihak ketiga yang bekerja sama dengan diler, lalu pembeli membayar ke pihak ketiga tersebut.

Sistem seperti ini hakikatnya diutangi uang senilai harga kontan barang, lalu membayar utang secara kredit dengan nominal lebih besar daripada utang sebenarnya. Oleh karena itu, pembeli membayar melalui bank ke pihak ketiga tersebut.

Jika sudah terlanjur membeli/mengambil alih mobil cicilan itu dari pemiliknya, terpaksa Anda melunasinya daripada terzalimi lebih besar lagi, disertai bertobat kepada Allah karena telah terlibat dalam urusan muamalah dengan bank dan kredit riba yang terlaknat.

 —————————————————————————————————————————————

Mahar Tertunda Diserahkan

Saya ingin bertanya apabila dalam ijab kabul disebutkan jenis maharnya dan dibayarkan tunai. Akan tetapi, saat akad uang tunai tersebut tidak diserahkan langsung. Uangnya baru diserahkan seminggu kemudian dan istri ikhlas akan hal itu.

Apakah pernikahan tersebut sah?

Jawaban:

Pernikahan tersebut sah.

 ——————————————————————————————————————————————

Buka Bersama Puasa Arafah

Apakah ada atsar dari salaf tentang mengadakan buka bersama pada puasa sunnah Arafah?

 Jawaban:

Jika maksudnya buka bersama dengan keyakinan hal itu lebih utama daripada berbuka sendiri lantas sengaja berkumpul untuk buka bersama, hal itu bid’ah.

Adapun jika ada orang yang memiliki rezeki dan ingin mendapatkan keutamaan memberi buka puasa orang yang berpuasa sampai kenyang, hal itu tidak masalah.

Adapun atsar salaf yang ditanyakan, kami tidak mengetahui adanya hal itu.

——————————————————————————————————————————————-

Daging Kurban Sebagai Lauk Fidyah

Bolehkah membayar fidyah dengan memberi makan dari daging kurban sebagai lauknya?

Jawaban:

Boleh. Akan tetapi, harus diingat bahwa yang wajib adalah beras atau nasi dengan kadar/porsi yang mengenyangkan untuk satu kali makan sebagai pembayar satu puasa. Lauk hanyalah menjadi pelengkap.

—————————————————————————————————————————————–

Suami Ingin Mendaftarkan Cerai

Apakah sudah jatuh talak apabila suami sudah berkeinginan ingin mendaftarkan perceraian kami, tanpa mengucapkan mau cerai dengan saya? Suami pernah bilang, “Kalau memang harusnya pisah, ya pisah, mau gimana lagi.”

 Jawaban:

Diperjelas saja kepada suami, apakah dia telah menjatuhkan cerai dengan kalimat itu atau tidak. Sebab, konotasinya begitu, apalagi dia sudah ingin mendaftarkan perceraian ke pengadilan.

 —————————————————————————————————————————————

Melihat yang Tidak Pantas di Internet

Saya mau tanya, jika suka melihat hal-hal yang tidak pantas di internet, apa yang harus saya lakukan untuk menghapus dosa saya?

 Jawaban:

Bertobat dan istighfar, mohon ampun kepada Allah. Imbangi dengan amal saleh.

Lawan dorongan hawa nafsu Anda dengan iman, jangan sampai berkelanjutan, menjadi kebiasaan dan penyakit.

 —————————————————————————————————————————————–

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

]]>
Tokoh-tokoh Teroris Khawarij Internasional http://asysyariah.com/tokoh-tokoh-teroris-khawarij-internasional/ Thu, 10 Aug 2017 03:12:32 +0000 http://asysyariah.com/?p=9874 Mengenal tokoh-tokoh teroris Khawarij adalah hal yang penting agar kita mengetahui jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar dan agar kaum muslimin seluruhnya mewaspadai pemikiran, buku, serta tulisannya yang tersebar luas, tak terkecuali di negeri kita.

 

Abul A’la al-Maududi

Abul A’la al-Maududi adalah nama yang tidak asing lagi di kalangan teroris Khawarij. Mereka begitu menyanjung laki-laki ini dan menggandrungi tulisan dan buku-bukunya. Ia menjadi rujukan utama para teroris Khawarij di seluruh dunia.

Bagaimanakah pemahaman keislaman tokoh teroris yang satu ini? Berikut ini kami akan sebutkan sebagiannya.

 

  1. Mengingkari dan meragukan berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal

Dalam bukunya Rasail wa Masail hlm. 57, ia menuliskan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira akan keluar Dajjal di masanya atau dekat dari masanya. Akan tetapi, telah berlalu seribu tiga ratus lima puluh tahun namun Dajjal tidak juga keluar. Nyatalah bahwa apa yang disangkakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak benar.”

Ia juga menegaskan, “Semua hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal hanyalah pemikiran dan analogi dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ragu tentangnya.”

 

  1. Mencela para sahabat

Abul A’la al-Maududi menuduh sahabat Utsman radhiallahu ‘anhu telah berbuat curang ketika menjabat sebagai khalifah. Dia mengklaim bahwa Utsman secara diam-diam memberikan jabatan-jabatan penting kepada kerabatnya.

Ia juga menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dengan kebid’ahan, mencela sahabat Sa’d bin Ubadah dan Abu sufyan radhiallahu ‘anhum. Semua itu dituangkan dalam bukunya al-Khilafah wal Mulk.

Penting diketahui, buku al-Khilafah wal Mulk yang berisi celaan-celaan kepada para sahabat justru dijadikan referensi oleh Syiah Rafidhah.

Seorang pentolan Syiah Rafidhah dalam surat kabar yang dimuat di Teheran pada Rajab 1407 H menyatakan, “Kami menasihati siapa yang menghendaki agar merujuk pada buku al-Khilafah wal Mulk karya Abul A’la al-Maududi.”

 

  1. Memuji Revolusi Iran yang dilakukan oleh Khomeini sang Majusi

Dalam kitab asy-Syaqiqan, Abul A’la al-Maududi menyatakan tentang Revolusi Syiah Rafidhah ala Khomeini,

“Sesungguhnya revolusi Khomeini adalah revolusi Islam. Yang menegakkannya adalah kelompok Islam dan para pemuda Islam yang mendapatkan pendidikan dalam harakah Islamiyah. Segenap kaum muslimin secara umum dan khususnya harakah (pergerakan) Islamiyah, hendaknya mendukung revolusi ini dan bekerja sama dalam seluruh aspeknya.”

 

Sayyid Quthb

Sayyid Quthb adalah sosok yang sangat dielu-elukan oleh para teroris Khawarij. Ia dianggap sebagai tokoh perbaikan. Dakwahnya disejajarkan dengan dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah.

Karena itu, al-‘Allamah Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan penyimpangan dan kesesatan-kesesatannya dalam lima atau enam buku yang ditulisnya. Berikut beberapa penyimpangannya:

 

  1. Meyakini aqidah al-hulul wal ittihad (manunggaling kawula gusti/wihdatul wujud)

Sayyid Quthb menyatakan dalam bukunya Fi Dzil al-Qur’an, ketika menjelaskan surat al-Ikhlas, “Sesungguhnya ia adalah kesatuan wujud. Tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya. Tidak ada wujud hakiki kecuali wujud-Nya. Segala hal lainnya yang wujud, itu hanyalah berasal dari wujud-Nya yang hakiki. Hakikat wujud itu berasal dari hakikat Dzat.”

Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengomentari tafsir Sayyid Quthb terhadap surat di atas tadi, beliau rahimahullah berkata, “Sungguh, dia (Sayyid Quthb) telah mengucapkan perkataan yang besar, menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini menunjukkan bahwa dia meyakini wihdatul wujud.” (Majalah Da’wah, 1418 H)

 

  1. Menakwil sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla

Dalam buku Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb rahimahullah berkata, “Istiwa’-nya (Allah ‘azza wa jalla) di atas Arsy adalah gambaran kesempurnaan kekuasaan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ini maknanya adalah pengingkaran terhadap istiwa’ yang sudah dikenal, yang berarti tinggi di atas Arsy. Apa yang dinyatakan Sayyid Qutb ini adalah batil, menunjukan bahwa dia miskin dan lemah dalam hal ilmu tafsir.” (Kaset ceramah Aqwalul Ulama fi Mu’allafaati Sayyid Quthb)

 

  1. Mengkafirkan masyarakat muslimin

Sayyid Quthb dalam hal ini sangat terpengaruh dengan gaya pengkafiran Abul ‘Ala al-Maududi. Parahnya lagi, Sayyid Quthb mengklaim bahwa masyarakat muslim yang ada sekarang ini adalah masyarakat jahiliah, telah keluar dari Islam.

Sayyid Quthb berkata, “Sesungguhnya jahiliah adalah sebuah keadaan dan fenomena. Ia bukan masa yang terkait dengan penanggalan zaman. Jahiliah pada hari ini telah menyebar di setiap penjuru bumi dan pada aneka ragam keyakinan, mazhab, dan undang-undang serta hukum.”

Ia juga berkata, “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi pada hari ini, negara muslim dan masyarakat muslim yang kaidah muamalah di dalamnya adalah syariat Allah ‘azza wa jalla dan fikih Islam.” (Fi Zhilalil Qur’an cet. Darusy Syuruq)

 

Umar Mahmud Abu Qatadah al-Falistini

Namanya Umar Mahmud Abu Umar, namun lebih dikenal dengan Abu Qatadah. Ia seorang tokoh takfir teroris Khawarij yang terkenal dengan fatwa berdarah di Aljazair yang menyebabkan terbunuhnya ribuan orang yang tidak berdosa.

Umar Mahmud Abu Qatadah sangat membenci Arab Saudi. Uniknya, dia memilih tinggal di kota London, bahkan menerima gaji dari Pemerintah Inggris. Di sisi lain, dia mengharamkan gaji pegawai di pemerintahan Saudi dengan alasan itu harta yang tidak halal. Bagi Umar Mahmud Abu Qatadah harta pemerintahan Inggris itu halal, sedangkan harta pegawai di negeri-negeri Islam adalah haram.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

        “(Mereka) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir).” ( Tandzim al-Qaeda Jaraim Fadzi’ah)

 

Usamah bin Laden

Pada awalnya, Usamah pergi ke Afganistan untuk menolong kaum muslimin. Ia menginfakkan hartanya dalam jumlah besar. Adapun manhaj dan pemikirannya adalah seperti keumumannya para anak muda yang hanya semangat belaka. Tidak diketahui dirinya sebagai seorang ahli dalam bidang (ilmu) syar’i. Tidak pula diketahui ia memiliki guru dalam bidang ilmu syar’i.

Usamah bin Laden banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthb dan Abul A’la al-Maududi, sehingga akidah takfir (pengkafiran) begitu kental dalam dirinya.

Ia pun senantiasa menyanjung para teroris Khawarij yang menjadi pelaku-pelaku peledakan di berbagai tempat. Ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati saudara-saudara kami para syuhada di setiap tempat, di Palestina, Irak, Haramain, Maroko, Kashmir, Afganistan, Chechnya, Nigeria, Indonesia, dan Filipina serta Thailand….” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Usamah bin Laden meyakini bahwa Islam akan lenyap manakala sebuah negara dipimpin oleh seorang yang tidak menerapkan hukum Islam, dan dia telah kafir karenanya. Demikian juga seluruh rakyat yang hidup di bawahnya menjadi kafir.

Ia (Usamah bin Laden) berkata, “Agama tidak akan abadi apabila yangmenjadi pemimpin negara telah kafir. Pemahaman seperti ini harus tetap ada, tampak dan jelas. Ketika pemimpin telah kafir, manusia akan kacau sehingga Islam akan lenyap. Oleh karena itu, harus ada sebuah gerakan untuk menetapkan pemimpin baru yang menegakkan hukum Allah ‘azza wa jalla di tengah-tengah manusia.”

Inilah sejatinya akidah Khawarij, yang secara mutlak mengkafirkan siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla. Tentu saja, ini menyelisihi akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, persoalan tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla dikembalikan kepada keadaan orangnya dan apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu.

Al-Qur’an pun telah merinci hal tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

        “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

 وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 47)

Usamah bin Laden meyakini bahwa jihad adalah membunuh, menghancurkan, merusak, mengusir, melakukan makar, dan memancing musuh ke negeri-negeri Islam. Tentu saja, jihad yang seperti ini akan membuat kaum muslimin yang berakal berlepas diri dan menjauh darinya.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Aku berlepas diri dari (Usamah) bin Laden. Dia adalah kejelekan dan bencana yang menimpa umat. Perbuatan-perbuatannya sangat buruk.” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

 

Ayman al-Zhawahiri

Ayman al-Zhawahiri adalah seorang dokter spesialis mata. Ia sangat terpengaruh dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebagaimana pengakuannya sendiri dalam bukunya, al-Washiyah al-Akhirah.

Di antara keyakinan Ayman al-Zhawahiri, menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah rukun akidah yang paling penting. Karena urusan inilah, terjadi front pertempuran antara yang haq dan yang batil.

Inilah akidah teroris Khawarij sejak dahulu. Mereka selalu menyatakan, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah ‘azza wa jalla,” yang kemudian dikomentari oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Kalimat yang benar, namun yang dimaukan darinya adalah kebatilan.”

Misi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah untuk menegakkan negara dengan hukum Allah ‘azza wa jalla, tetapi untuk menegakkan tauhid, mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah, dan memerangi berbagai kemusyrikan. Adapun kekhalifahan atau kepemimpinan adalah janji Allah ‘azza wa jalla yang akan diberikan kepada orang-orang yang mentauhidkan-Nya dengan benar.

Ayman al-Zhawahiri meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir, termasuk wanita, anak kecil, orang tua yang lemah, serta yang tidak terlibat dalam peperangan sekalipun.

Ia juga mengimbau untuk mencuri dan merampok harta milik negara (yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla), dan menganggapnya sebagai ghanimah serta bentuk perang melawan negara tersebut. (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Keyakinan-keyakinan di atas jelas bertentangan dengan syariat Islam yang senantiasa memerhatikan keadilan, etika, dan adab, sekalipun dalam situasi jihad.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ

“Dan jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an-Nahl: 126)

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa (al-Maidah: 8)

 

Abu Muhammad al-Maqdisi

Nama lengkapnya adalah ‘Isham al-Barqawi. Tokoh teroris ini sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb. Ia termasuk tokoh teroris Khawarij yang dijadikan rujukan oleh kelompok teroris yang ada di negara kita, baik kelompok JI ataupun kelompok dan jaringan lainnya.

Di antara keyakinan-keyakinannya adalah:

  1. Meyakini bahwa seluruh negara di dunia ini adalah negara kafir. Ia berkata, “Di dunia pada hari ini semuanya adalah negeri kafir. Tidak ada yang aku kecualikan, termasuk Makkah dan Madinah.” (Tsamaratil Jihad hlm. 14, karya al-Maqdisi)
  2. Meyakini bahwa pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah kafir, murtad, dan lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. (al-Qishshah al-Kamilah)

Pernyataan Abu Muhammad al-Maqdisi di atas adalah sikap yang ekstrem. Sekalipun mereka yang dia sebutkan telah melakukan kekufuran, namun mereka tidaklah lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Apalagi mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam secara zahir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik dari semua yang mengkufurinya. Walaupun pada diri yang beriman itu ada satu jenis kebid’ahan; bid’ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyyah, atau yang lainnya.

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani telah kafir dengan kekafiran yang diketahui secara pasti dari agama Islam. Seorang pelaku bid’ah, jika dia mengira bahwa dirinya menyepakati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihinya, dia tidak kafir karenanya. Andaikata dia menjadi kafir, kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ul Fatawa, 35/122)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

]]>
Organisasi Teroris Khawarij Internasional http://asysyariah.com/organisasi-teroris-khawarij-internasional/ Thu, 10 Aug 2017 03:05:49 +0000 http://asysyariah.com/?p=9872 Sesungguhnya tegaknya agama yang lurus ini dibangun di atas dua perkara penting, yaitu benarnya sumber pengambilan ilmu dan benarnya metodologi (manhaj) penerapan dalil. Jika salah satunya rusak—atau bahkan kedua-duanya rusak—, segala persoalan akan menjadi rancu dan melahirkan hal-hal yang berakibat tidak terpuji, baik di dunia maupun di akhirat. Sunnah akan menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah. Syirik menjadi tauhid dan tauhid menjadi syirik. Benar menjadi batil dan yang batil menjadi yang benar.

Di masa belakangan ini, terjadi musibah besar yang menimpa negara-negara kaum muslimin dan menghentakkan hati orang-orang yang beriman. Musibah tersebut adalah munculnya kembali sebuah pemahaman jelek yang terlahir dari pemahaman Khawarij, sebuah sekte yang menjadi bencana bagi umat ini sejak terbunuhnya Amirul Mukminin sang khalifah yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga hari ini.

Kaum Khawarij dan seluruh kelompok yang berafiliasi kepadanya telah melakukan tindak terorisme berikut dua pelanggaran dan dosa besar setelah kesyirikan, yaitu melakukan bom bunuh diri dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Sebutan teroris adalah kata yang pantas disematkan kepada orang-orang Khawarij, baik generasi terdahulu maupun yang sekarang; merujuk pada pemahaman agamanya yang ekstrem dan tindakannya yang radikal.

Persoalan darah kaum muslimin yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

        “Hilangnya dunia di sisi Allah jauh lebih ringan daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.” (HR. an-Nasai)

Bagi orang-orang Khawarij teroris darah tak ubahnya seperti mainan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan dalam satu rekaman khutbah Jum’at beliau, “Inilah pemahaman Khawarij. Hari ini mereka membunuh orang kafir dzimmi, dan besok mereka menumpahkan darah kaum muslimin.” (al-Hadits al-‘Ajib fi Baladil Habib)

Tindakan tersebut diyakini oleh para teroris Khawarij masa kini sebagai jalan yang dapat mendekatkan diri ke surga. Inilah yang kemudian memicu terjadinya aksi-aksi pembunuhan atas nama Islam. Bahkan, ada sebagian dari mereka sebelum memulai aksinya sudah merasa yakin bahwa dirinya sangat dekat dengan ridha Allah dan surga.

Fenomena ini semakin menguatkan dan memberikan gambaran bahwa teroris Khawarij adalah seperti yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: anak-anak muda usia yang dangkal ilmunya dan jelek pemahamannya, membunuh umat Islam dan membiarkan kaum musyrikin.

Berikut ini sejumlah organisasi internasional yang berhaluan teroris Khawarij.

 

Gerakan Pemuda Taliban

Kata taliban adalah bentuk jamak dari kata thalib (pelajar) menurut bahasa Bastuniyah. Maksud kata tersebut adalah (kumpulan) para pelajar di sekolah sekolah agama yang tersebar di Afganistan. Sekolah-sekolah tersebut adalah cabang sekolah agama yang ada di Pakistan dan India yang menganut paham Deobandi Sufi. Kelompok Taliban notabene berpemahaman Sufi Maturidi.

Gerakan ini mendapatkan pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh al-Qaeda, seperti Usamah bin Laden, dalam siaran al-Jazeera 20/09/2001. Ia berkata, “Kami menyeru kaum muslimin agar membantu negeri ini (Taliban) dengan segenap kekuatan, kemampuan, dan pikiran serta harta dan zakatnya. Sebab, dengan izin Allah ‘azza wa jalla negeri tersebut menjadi gambaran bendera Islam. Perlawanan Amerika pada hari ini terhadap Afganistan, sesungguhnya Afganistan yang telah mengangkat bendera Islam di dunia, Islam yang benar mujahid di jalan Allah.”

Sulaiman Abu Ghaits, juru bicara resmi al-Qaeda, dalam surat kabar al-Wathan al-Quwaitiyah menegaskan bahwa undang-undang hukum di negara-negara Islam dan Arab adalah undang-undang kafir, kecuali undang-undang hukum di Afganistan.

Sungguh aneh pernyataan para tokoh al-Qaeda bahwa gerakan Taliban adalah satu-satunya gerakan yang memberlakukan syariat dan undang-undang Islam. Sebab, faktanya banyak sekali kuburan dan kuil yang diibadahi di samping ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla oleh orang-orang Taliban. Bahkan, sampai pada tingkatan bertabaruk (mencari berkah) dari kuburan relawan-relawan al-Qaeda yang terbunuh di Afganistan. Manakah syariat Islam yang katanya mereka berhukum kepadanya?! (Tanzhimul Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

 

Al-Qaeda

Kelompok al-Qaeda didirikan dalam rentang waktu akhir 1989 hingga 1990 di Afganistan. Saat itu, para pemuda Arab secara serentak dari berbagai wilayah menuju Afganistan untuk berjihad melawan Rusia.

Sebab penamaan al-Qaeda bermula dari relawan-relawan Arab yang datang ke bumi Afganistan. Mereka menuliskan nama, tanggal kedatangan, dan tanggal keikutsertaannya di medan perang agar mudah untuk mendata dan mengetahui tempatnya. Muncullah dari pendataan ini nama al-Qaeda.

Pimpinan pertama al-Qaeda adalah Usamah bin Laden. Sekarang dia digantikan seorang dokter mata bernama Aiman azh-Zhawahiri yang tinggal di Denmark dan Norwegia dengan paspor dan dokumen palsu.

Aiman azh-Zhawahiri mulai bergabung dengan kelompok al-Qaeda pada era 90-an. Dahulu ia bergabung dengan Tanzhim Jihad di Mesir. Dia tidak berada di Afganistan saat perang melawan Rusia.

Banyak sekali tindakan jahat dan radikal yang dilakukan oleh kelompok ini yang kemudian diklaim sebagai jihad, seperti menawan dan menculik turis-turis asing dan wartawannya. Bahkan, mereka tidak sungkan untuk membunuhnya di depan umum lalu diekspos secara terbuka.

Mereka juga merusak fasilitas umum dan kantor milik negara. Pernah terjadi di Tanzania pada 1998, mereka meledakkan bom di Kedubes Amerika. Korban dalam peristiwa itu mencapai jumlah 224 jiwa, dua belas orang di antaranya warga AS. Sisanya adalah warga sipil dan orang-orang yang tidak berdosa.

 

Jamaah Islamiyah di Mesir

Jamaah ini dipimpin oleh Umar bin Abdurrahman al-Mishri. Sejak awal kemunculannya, mereka sudah mengumumkan perang melawan pemerintah.

Umar sendiri hidup di Amerika. Inilah salah satu sisi keanehan teroris Khawarij semacam Umar bin Abdurrahman, Abu Hamzah al-Mishri, Abu Qatadah al-Falistini, dan yang lainnya. Mereka menjauhi negeri kaum muslimin dengan alasan negeri tersebut kafir meskipun ramai dengan syiar-syiar Islam, tetapi mereka justru tinggal di negeri gereja dan salib yang penuh dengan syiar Nasrani, daging babi, dan minuman khamar.

 

Gerakan Pemuda Somalia

Gerakan ini dinamai juga dengan Harakatul Mujahidin dan Harakatus Syababil Islami atau Harakatus Syababil Mujahidin. Gerakan ini didirikan pada 2004, namun baru mulai mencuat dan dikenal pada 2007. Gerakan ini dipimpin oleh Aden Hasyi ‘Airu yang berkuniah Abu Husein al-Anshari.

Tujuan utama gerakan ini adalah mendirikan negara Islam. Inilah yang kemudian mendorong mereka berulang kali melakukan percobaan revolusi dengan melakukan pembunuhan dan merampas harta benda yang dianggapnya sebagai ghanimah.

Parahnya, mereka mengklaim bahwa gerakannya adalah gerakan Salafiyah Jihadiyah. Tentu ini adalah sebuah kesalahan besar sekaligus menunjukkan dangkalnya pemahaman mereka terhadap Salafiyah. Sebab, sangat jelas perbedaan antara Salafiyah dan Jihadiyah Takfiriyah.

 

Hamas

Gerakan ini berbeda dengan al-Qaeda dan organisasi jihad lainnya karena hanya melibatkan warga setempat, yakni jihad di Palestina. Pelan tetapi pasti, gerakan ini mengarah kepada Ikhwanul Muslimin.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Adapun Hamas, mereka adalah sekte hizbiyah, tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, justru memerangi Ahlus Sunnah. Seandainya mereka mendapat kemenangan, akan terjadi seperti apa yang telah terjadi di Afganistan; yaitu saling menyerang antarkelompok karena mereka tidak satu hati.” (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

]]>
Jihad Ala Isis dan Al-Qaeda http://asysyariah.com/jihad-ala-isis-dan-al-qaeda/ Thu, 10 Aug 2017 02:59:26 +0000 http://asysyariah.com/?p=9870 ISIS dan al-Qaeda adalah kelompok yang menyeru kepada sebuah istilah dan pemahaman yang tidak sesuai dengan koridor syariat. Tanpa memerhatikan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan para ulama, timbullah pergeseran dan penyimpangan besar terkait dengan ilmu dan dakwah. Ujungnya adalah terjadinya kerusakan yang berkepanjangan di tengah-tengah kaum muslimin.

Mereka masuk ke dalam golongan yang dicap “muda usianya dan jelek pemahamannya.” Mereka menyerukan jihad fi sabilillah sesuai dengan pemahamannya yang minim, tanpa mengetahui batasan dan ketentuan syar’i.

Padahal, penting diketahui bahwa jika jihad fi sabilillah menyimpang dari cara yang benar, akan menjadi jihad yang bid’ah, seperti jihad kaum Khawarij, Rafidhah, dan golongan sesat lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam ar-Rad ‘ala al-Akhna’i, “Al-Kitab dan as-Sunnah, keduanya dipenuhi dengan perintah jihad dan penyebutan keutamaannya. Namun, wajib diketahui, mana jihad syar’i yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, mana jihad bid’ah (yaitu) jihad (yang dilakukan) golongan sesat dalam ketaatan kepada setan (keduanya sangat jauh berbeda, -ed.), dalam keadaan mereka mengira berjihad dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

“Jihad bid’ah contohnya jihad ahli bid’ah pengikut hawa nafsu dari kalangan Khawarij dan semisalnya. Mereka justru berjihad melawan orang-orang Islam, berjihad melawan (Khalifah) Ali radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, melawan sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan yang bersamanya, dan melawan orang-orang yang jauh lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya dibanding mereka; (yaitu) para sahabat as-sabiqun al-awwalun dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.”

ISIS dan al-Qaeda berjihad dengan membunuh kaum muslimin dari kalangan aparat, warga sipil, orang tua, para wanita hingga anak-anak kecil tanpa ampun dengan melakukan peledakan bom atau penculikan. Tidak ada bedanya antara muslim dan kafir. Bahkan, orang kafir yang sebenarnya tidak boleh dibunuh, mereka bunuh juga, seperti musta’manin, orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah muslim, atau mu’ahadin, orang kafir yang terikat perjanjian.

Selain itu, tujuan utama jihad syar’i adalah memerangi orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan yang murtad untuk meninggikan kalimat tauhid.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ لِلَّهِۖ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَلَا عُدۡوَٰنَ إِلَّا عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ ١٩٣

“Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 193)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla setinggi-tingginya, itulah berperang di jalan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Metode Islam dalam berjihad adalah mendakwahkan Islam terlebih dahulu kepada orang kafir, sebelum yang lainnya. Jika orang-orang kafir menolak Islam, mereka diharuskan membayar jizyah. Jika mereka enggan, barulah diperangi.

Islam hanya memerangi siapa yang melakukan penyerangan. Adapun warga sipil yang tidak terlibat, mereka dibiarkan; para wanita dibiarkan di rumah-rumahnya, orang tua dan anak kecil yang tidak terlibat dalam peperangan tidak diganggu dan disakiti. Adakah adab Islam yang seperti ini dalam kelompok jihad ISIS dan al-Qaeda?!

Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, berkata,

وَجَدْتُ امْرَأَةً مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

“Aku pernah mendapati seorang perempuan terbunuh dalam sebagian peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melarang membunuh para wanita dan anak-anak kecil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berikut ini beberapa bentuk metode dari jihad ala ISIS dan al-Qaeda.

  • Menumpahkan darah yang diharamkan dalam keadaan mengetahuinya. Mereka sangat siap untuk membunuh manusia dan beralasan bahwa semuanya akan dibangkitkan menurut niatnya masing-masing.
  • Menyandera orang-orang asing lalu menyembelih para sandera, baik warga sipil maupun militer. Lalu mereka mendokumentasikannya dalam bentuk video dan diunggah melalui internet. Tujuan utamanya adalah menebar ketakutan di tengah-tengah warga setempat.
  • Melakukan berbagai aksi penculikan.
  • Menggunakan bom mobil untuk merusak fasilitas umum.
  • Memalsukan paspor dan data resmi semacamnya.
  • Mencukur jenggot, memakai pakaian orang kafir dan fasik, memasuki tempat hiburan, serta menyaksikan hal-hal yang diharamkan dengan tujuan melakukan penyamaran. Bahkan, ada juga yang berpakaian wanita untuk menyamar, padahal orang yang melakukannya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ( al-Bukhari no. 5546)
  • Melanggar aturan negara tentang perlindungan terhadap darah dan harta.

 

Jihad Ada Syaratnya

Sejatinya, jihad tidak ada bedanya dengan amalan lainnya yang ditetapkan oleh syariat, memiliki ketentuan dan syarat. Barang siapa menegakkannya di luar waktunya atau menunda dari waktunya, itu adalah sebuah kesalahan; sama seperti orang yang menunaikan shalat sebelum waktunya atau mengakhirkannya.

Di antara syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.

  1. Benar-benar memerangi orang-orang kafir (harbi, -ed.).

Memerangi orang Islam yang terlindungi darahnya adalah haram.

 

  1. Memerhatikan keadaan kaum muslimin dalam hal kekuatan dan kelemahannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan dalam ash-Sharimul Maslul hlm. 221, siapa di antara kaum mukminin yang berada di suatu negeri yang lemah atau waktu yang lemah, hendaknya mengamalkan ayat (tentang) sabar dan pengampunan terhadap orang-orang yang menyakiti Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal-awal Islam tidak mensyariatkan jihad. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dilarang melakukan peperangan karena umat Islam tidak memiliki negara dan pemimpin. Di samping itu, mereka belum memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh-musuhnya.

 

  1. Jihad harus dilakukan bersama pemerintah.

Jika jihad tidak dilaksanakan bersama pemerintah, akan terjadi kekacauan dan menjadi sebab terpecah-belahnya kaum muslimin. Pemerintah itulah yang menetapkan segala kebijakan, apakah mengangkat senjata untuk berperang jika dibutuhkan, ataukah menahan diri apabila melihat ada maslahat di balik itu.

Oleh karena itu, tidak mungkin bendera jihad dikibarkan tanpa disertai waliyul amri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأِمامُ جُنَّةٌ يُقاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ

“Sesungguhnya pemimpin itu pelindung, diperangi bersamanya (musuh-musuh).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa jihad dilakukan bersama setiap pemimpin.

Al-Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Haji dan jihad terus berlangsung dilakukan bersama waliyul amri dari kaum muslimin, yang baik dan yang jelek, sampai hari kiamat. Tidak ada yang membatalkan dan menggugurkannya.”

Al-Imam Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni, “Urusan jihad diserahkan kepada pemerintah dan ijtihadnya. Rakyat harus menaati keputusannya.”

 

  1. Tidak memerangi orang-orang yang tidak ikut berperang.

Para wanita, anak-anak, orang tua, dan siapa saja yang tidak ikut berperang tidak disyariatkan untuk diperangi. Memeranginya tidaklah dianggap sebagai bagian dari jihad syar’i.

Apabila telah menunjuk seseorang memimpin sebuah pasukan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat secara khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendoakan kaum muslimin yang bersamanya di atas kebaikan. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اغْزُوا بِسْمِ اللهِ، فِي سَبِيلِ اللهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Berangkatlah berperang dengan menyebut nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah! Berangkatlah berperang dan jangan mencuri harta rampasan perang, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan janganlah membunuh anak-anak!” (HR. Muslim) (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Di samping syarat-syarat di atas, masih ada aturan-aturan yang lain dalam syariat.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

]]>
Fenomena ISIS dan Al-Qaeda http://asysyariah.com/fenomena-isis-dan-al-qaeda/ Wed, 09 Aug 2017 09:42:38 +0000 http://asysyariah.com/?p=9868 Di pertengahan 2014, dunia digemparkan dengan eksistensi sebuah organisasi yang menggunakan jalur kekerasan untuk mencapai kepentingannya membentuk negara Islam, yaitu ISIS. Organisasi ini merupakan pecahan dari al-Qaeda, sebuah kelompok teroris Khawarij yang terkenal setelah peristiwa 11 September.

ISIS adalah singkatan dari (bahasa Inggris) Islamic State of Iraq and Syria, atau dalam bahasa Arab disebut DAIS, singkatan dari ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa al-Sham yang artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok seperti Dewan Syura Mujahidin dan al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok Anshar al-Tauhid wal Sunnah dan Jeish al-Taifa al-Mansoura.

Kelompok ini dibentuk pada April 2013. Tokoh sentral di balik militan ISIS adalah Abu Bakar al-Baghdadi yang lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971. Dia bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu.

Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Jabhah (Front) al-Nusra, sebuah kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya yang berafiliasi kepada al-Qaeda di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan al-Qaeda hingga 2014. Namun, perbedaan misi perjuangan menyebabkan al-Qaeda kemudian tidak lagi mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya.

Seperti halnya organisasi al-Qaeda, kelompok ini juga sebagai gambaran dari kelompok militan teroris Khawarij takfiri. Hal itu dibuktikan dengan keyakinan sesat dan tindakan-tindakan mereka yang melanggar syariat Allah ‘azza wa jalla dan melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya, seperti:

  • mengafirkan siapa saja yang tidak mau mengakui dan bergabung dengan mereka,
  • menganggap bahwa semua negara kaum muslimin pada hari ini adalah negara kafir,
  • mengklaim bahwa negerinya adalah negeri iman dan hijrah, adapun selainnya adalah negeri kafir dan murtad,
  • menyatakan bahwa Makkah dan Madinah adalah negeri yang boleh diperangi dan bukan negeri Islam,
  • menghalalkan darah kaum muslimin,
  • meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir kapan pun dan di mana pun,
  • meyakini bolehnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang dianggapnya tidak menerapkan hukum Islam,
  • mengafirkan seluruh rakyat yang hidup di bawah pemerintahan tersebut,
  • dan keyakinan-keyakinan lainnya yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Khawarij menghalalkan darah kaum muslimin, karena dianggap telah murtad, melebihi penghalalannya terhadap darah orang-orang kafir yang mereka tidak disebut murtad.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Orang-orang Khawarij mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi kebid’ahannya, menghalalkan darah dan hartanya. Begitulah ahlul bid’ah pada umumnya, mereka melakukan kebid’ahan lalu mengkafirkan siapa yang menyelisihinya.” (Majmu’ul Fatawa)

 

ISIS Bukan Salafi Wahabi

Tidak sedikit media nasional dan internasional, makalah atau statement, yang mengait-ngaitkan kelompok teroris Khawarij dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah salafiyah, dengan tuduhan akidah takfir yang ada padanya.

Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan perkara yang dibuat-buat. Sebab, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah orang yang paling jauh dari perihal takfir (pengkafiran) terhadap kaum muslimin ahli tauhid. Hal tersebut dapat diketahui oleh siapa saja yang membaca dan menelaah karya-karyanya.

Di antara perkataan beliau rahimahullah, “Adapun yang disebutkan oleh musuh-musuh tentangku, bahwa aku mengkafirkan dengan dasar prasangka dan loyalitas, atau aku mengkafirkan orang yang bodoh yang belum tegak hujah atasnya; ini adalah kedustaan yang besar. Mereka ingin agar manusia lari dari agama Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya.”

Beliau juga berkata, “Adapun soal pengkafiran, aku mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasul lalu setelah mengetahuinya, dia mencela, melarang manusia darinya, serta memusuhi orang yang melakukannya. Namun, kebanyakan umat ini mereka tidaklah seperti itu.”

Pada kesempatan lainnya, beliau rahimahullah berkata, “Apabila telah tampak keislaman seseorang, (kaum muslimin) wajib menahan diri sampai jelas darinya ada sesuatu yang menyelisihi (keislamannya) itu.”

Beliau juga menyatakan, “Kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah patung yang berada di atas kuburan Abdul Qadir, Ahmad al-Badawi, atau semisal keduanya, karena kebodohannya dan tidak ada yang mengingatkannya; lantas bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak menyekutukan Allah dan mengkafirkan orang yang tidak hijrah ke tempat kami?!”

Kemudian beliau menegaskan, “Aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin hanya karena sebuah dosa. Aku tidak pula mengeluarkannya dari wilayah Islam.”

Inilah sikap asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam masalah pengkafiran. Lantas bagaimana bisa beliau dinisbatkan kepada akidah takfir dan kelompok-kelompok takfir/teroris Khawarij?!

Dalam hal jihad, beliau rahimahullah berkata, “Kami tidak membunuh seorang pun, kecuali dalam situasi menyelamatkan jiwa dan kehormatan dalam bentuk membela diri. Kami juga tidak memandang bolehnya membunuh wanita dan anak-anak kecil.”

Jika kelompok ISIS berdalil dengan sebagian perkataan ulama dakwah salafiyah, ini sama sekali tidaklah mengotori para ulama. Sebab, kekeliruannya akan kembali kepada kebodohan dan pemahaman mereka yang rusak. Persis seperti keadaan pendahulu kaum Khawarij yang berdalil untuk mendukung akidah yang rusak dengan ayat al-Qur’an yang tidak dipahami dengan benar.

Tidak ada hubungan antara ISIS & al-Qaeda dengan dakwah salafiyah. Sebab, pemikiran ISIS & al-Qaeda dibangun di atas ideologi Khawarij dan buku-buku yang berisi takfir.

Asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya, mereka adalah para perusak (kaum radikal) yang mengadopsi pemikiran rusaknya dari Khawarij.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya perihal pernyataan sebagian pihak bahwa kelompok teroris Khawarij itu berakidah salafi.

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini adalah pernyataan yang batil, telah dibantah oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Khawarij,

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari sasarannya, melesat begitu cepat. Di mana pun kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena dalam memerangi mereka ada pahala pada hari kiamat, bagi siapa yang melakukannya.’

Dalam lafadz lain, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

‘(Kaum Khawarij) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kaum musyrikin/kafir)’.” (Bara’atu Da’watil Imam Muhammad bin Abdul Wahhab min Fikril Khawarij)

ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

]]>