Bagian Ke-4

Setan akan terus menggoda manusia dengan berbagai cara, dari berbagai pintu. Berikut ini adalah lanjutan pembahasan tentang beberapa pintu setan untuk menggoda anak keturunan Adam.

Apabila setan masih belum mampu menjatuhkan seorang manusia, dia akan beralih kepada yang berikutnya :

Pintu yang keempat, yaitu dosa-dosa kecil (ash-shaghair) dan sering diremehkan. Setan akan berusaha membuat seseorang mudah dan terbiasa melakukan dosa-dosa kecil, hingga manusia itu memandang ringan perbuatannya.

Andaikata setan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu;

Pintu yang kelima, setan akan menyibukkan manusia itu dengan hal-hal yang bersifat mubah yang tidak ada pahala dan siksa padanya. Padahal tidak juga demikian, karena di balik itu sebetulnya ada hukumannya, yaitu hilangnya pahala sesuatu yang disia-siakannya karena mengerjakan yang mubah tersebut.

Apabila manusia itu termasuk orang yang ketat memelihara waktunya, tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa diisinya dengan kegiatan yang bernilai ibadah, walaupun itu adalah bergurau dengan anak dan istrinya dia juga memahami siapa dirinya, yang hanya seorang manusia, banyak salah dan lupa serta sarat dengan berbagai kelemahan dan kekurangan dia menyadari pula kenikmatan dan siksa yang ada di hadapannya sehingga menjaga dirinya dari urusan yang mubah tersebut setan berpindah kepada pintu yang berikutnya, yaitu…

Pintu yang keenam, setan berupaya menyibukkan manusia itu dengan amalan yang sifatnya kurang bernilai (mafdhul), hingga menyia-nyiakan amalan yang lebih utama (afdhal). Setan mendorongnya dan membuatnya memandang indah mengerjakan kebaikan yang kurang bernilai.

Tidak hanya itu, setan justru menyemangatinya agar berkutat dengan amalan tersebut, apabila dengan mengerjakan kebaikan tersebut ada amalan lain yang justru lebih bernilai menjadi telantar atau ditinggalkan.

Akan tetapi, kenyataan ini sangat sedikit yang menyadarinya. Sebab, kebanyakan orang mengira bahwa kebaikan yang dikerjakannya tidak mungkin atas perintah setan, karena setan tidak akan menyuruh kepada kebaikan. Sudah tentu—menurut dia—kebaikan ini adalah taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Inilah salah satu bukti lain akan kelemahan manusia. Dan dia dimaafkan karena ilmunya belum sampai kepada tingkatan di mana dia mampu menimbang dan memilih mana amalan yang bernilai tinggi dan mana yang tidak, meskipun sama-sama sebagai ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Betapa banyak manusia yang tidak menyadari bahwa setan membuka tujuh puluh pintu kebaikan untuk dua tujuan yang pertama agar dengan melalui pintu kebaikan itu setan menjerumuskan seorang manusia ke dalam satu kejahatan. Atau yang kedua, manusia itu kehilangan pahala yang lebih besar dan lebih utama daripada tujuh puluh kebaikan tersebut.

Wallahul Musta’an.

convergence

Apabila setan gagal menghancurkan manusia melalui enam kejahatan ini, dia akan mengerahkan pasukannya dari kalangan jin dan manusia untuk menyakiti dan mengganggu manusia tersebut. Dia akan menghasung tentaranya menyebarkan isu bahwa orang itu kafir, sesat, membuat perpecahan, dan upaya lain agar nama orang itu terkubur, tidak lagi dilirik oleh siapa pun. Dengan cara ini pula setan berusaha menyibukkan hati orang tersebut agar menyiapkan diri untuk memerangi setan dan mencegah orang lain mengambil manfaat dari ilmunya.

Oleh sebab itu, selama hidupnya, seorang mukmin harus memanggul senjata menghadapi setan dan tentaranya, sampai dia berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala.[1]

Akhirnya, dengan berbekal keyakinan, setiap saat dia harus berjihad melawan badai syubhat yang ditiupkan oleh setan. Setiap saat pula dia harus bertahan menangkis gelombang syahwat yang dibisikkan setan dengan kesabaran.[2]

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengingatkan manusia agar waspada terhadap kejahatan dan tipu daya setan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٢١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur: 21)

Dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan pula,

وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِى مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا

“Dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, semuanya. Dan sungguh, mereka didatangi oleh para setan lalu menyeret mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan untuk mereka dan memerintahkan mereka menyekutukan Aku, padahal Aku tidak menurunkan keterangan sedikit pun tentangnya.” (HR. Muslim no. 2865 dari ‘Iyadh bin Himar z)

Jadi, setanlah yang merusak fitrah manusia. Dan itulah pembuktian sumpah yang telah diucapkannya.

Apakah dengan kenyataan ini, manusia masih merelakan dirinya diperdaya oleh musuhnya?

Begitu hebat permusuhan setan terhadap manusia, sehingga membuat setiap mukmin harus senantiasa waspada melawan makarnya. Selain itu, dia juga harus senantiasa membekali dirinya dengan senjata untuk menghalau musuhnya yang satu ini.

Sudah tentu, senjata yang paling utama adalah berpegang teguh dengan Kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah Rasul-Nya di atas manhaj salaf radhiallahu ‘anhum.

al_quran

Yang kedua, jangan lalai dari dzikrullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan zikir ini seperti seseorang yang dikejar musuhnya, lalu dia masuk ke dalam sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Benteng itu adalah dzikrullah yang tingkatan pertamanya adalah;

Zikir yang bersifat lahiriah, yaitu yang terucap oleh lisan dan sejalan dengan yang di dalam hati, bukan sekadar ucapan lisan. Sebagai contoh ialah ucapan-ucapan sanjungan atau pujian dan doa, serta pengawasan.

Dalam bentuk sanjungan atau pujian misalnya, subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallahu, wallahu akbar. Yang dalam bentuk doa seperti,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٢٣

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orangorang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Contoh zikir dalam bentuk pengawasan, seperti ucapan orang yang berzikir, “Allah subhanahu wa ta’ala selalu menyertaiku, Dia melihat dan menyaksikanku,” dan sebagainya, yang digunakan untuk menghadirkan kebersamaan Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam tingkatan ini ada pengawasan terhadap kemaslahatan hati, mengatur adab terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, menjaga diri dari kelalaian, dan berlindung dari setan serta dorongan jiwa/nafsu.

Dan zikir-zikir nabawi meliputi tiga hal tersebut, karena zikir-zikir yang beliau ajarkan mengandung sanjungan atau pujian dan doa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, serta menunjukkan adab dan kebersamaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala, perhatian terhadap kebaikan hati dan menjaga diri dari sifat lalai, serta berlindung dari waswas dan godaan setan.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)

Setan seperti seekor anjing kelaparan yang selalu mendekati manusia. Apabila di tangan seseorang tidak terdapat daging ataupun roti, seekor anjing akan pergi ketika dia mendengar hardikan atau bentakan orang tersebut. Akan tetapi, jika di tangan manusia itu ada makanan, roti, ataupun daging, niscaya dia tetap mendekat, bahkan berusaha keras sampai daging dan roti itu diperolehnya, tidak akan pergi hanya dengan bentakan atau hardikan.

Begitu pula halnya setan. Apabila hati seorang manusia tidak menyimpan makanan untuk setan, setan akan lari ketika manusia itu berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi, jika hati itu kosong dari zikir, bahkan terisi oleh syahwat, setan akan berdiam di sana.

Dan hakikat zikir itu tidak mungkin tertanam dalam hati kecuali jika hati itu dipenuhi oleh ketakwaan dan dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela. Jika tidak demikian, zikir hanya sekadar gerakan bibir yang tidak menyentuh hati, sehingga tidak mungkin mampu mengusir setan.

Yang ketiga ialah tobat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ إِبْلِيْسُ: وَعِزَّتِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُم فِي أَجْسَادِهِمْ. فَقَالَ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُم مَا اسْتَغْفِرُونِي

Iblis berkata, “Demi Kemuliaan-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan para hamba-Mu selama nyawa masih di jasad mereka.”

Allah berfirman, “Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, Aku akan selalu memberi ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampunan kepada-Ku.”

Sekali lagi, ingatlah bahwa setan telah mengumumkan permusuhannya terhadap umat manusia, maka perlakukanlah dia sebagai musuh; lawan yang setiap saat berusaha mengintai kelengahan kita untuk mencelakakan kita.

Orang yang berakal (sehat) tentu tidak akan membiarkan dirinya dikelabui apalagi dikalahkan oleh lawannya. Lebih-lebih lagi apabila lawannya lebih rendah dari dirinya. Orang yang cerdas tentu akan berusaha melumpuhkan lawannya. Bukan menjadikannya teman dekat, lebih-lebih sebagai penasihat yang ditaati.

Wallahul Muwaffiq.

(Insya Allah bersambung)

 Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Dari uraian Ibnul Qayyim dalam Badai’ul Fawaid dengan beberapa perubahan.

[2] Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim dengan ringkas.